Jumat, 27 April 2018

SEPULUH PERKARA DALAM AQIDAH YANG WAJIB DIKETAHUI DAN DIPELAJARI OLEH SEORANG MUSLIM

SEPULUH PERKARA DALAM AQIDAH YANG TIDAK BOLEH TIDAK DIKETAHUI OLEH SEORANG MUSLIM DAN WAJIB DIPELAJARI

Segala puji bagi Alloh. Sholawat dan salam semoga terlimpah kepada Rosululloh, keluarganya, para sahabatnya, dan siapa saja yang loyal padanya. Amma ba'd:

Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam telah bersabda:

طَلَبُ العِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ.
“Menuntut ilmu adalah kewajiban atas setiap muslim.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya. Sanadnya didho’ifkan oleh mayoritas ahli ilmu dan dihasankan oleh yang lain seperti as-Suyuthi dan al-Mizziy. Tetapi ma’na hadis disepakati di antara ahlul ilmu.]

Mengomentari hadits ini, al-Bayhaqiy berkata: “Yang beliau maksud —wallohu a’lam— tidak lain adalah ilmu umum yang tidak boleh tidak diketahui oleh orang baligh yang berakal.” [al-Madkhal ila as-Sunan al-Kubro]

Imam asy-Syafi’i ditanya: “Apa itu ilmu? Dan apa di antara yang wajib atas manusia?” Dia berkata: “Ilmu itu ada dua macam. (Pertama), ilmu yang tidak boleh tidak diketahui oleh orang baligh yang akalnya tidak rusak. Ilmu ini ada dalam Kitab Alloh, serta diriwayatkan dan diceritakan oleh kaum muslimin dari Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam. Dan mereka tidak berselisih tentang kewajibannya.” [ar-Risalah karya asy-Syafi’i]

Di antara yang disepakati oleh para ahlul ‘ilmi adalah bahwa ilmu syar’i terbagi —dari segi kewajibannya— ke dalam dua jenis:

Pertama, fardhu kifayah, yaitu yang wajib dipelajari dan dijaga oleh umat Islam secara keseluruhan. Jika sebagian dari kaum muslimin telah mengerjakannya dengan cukup, maka mereka mendapatkan keutamaan dan pahala, dan dosa telah gugur dari semua. Dan jika tidak ada sebagian yang mengerjakannya dengan cukup, maka seluruh kaum muslimin berdosa. Di antara ilmu yang fardhu kifayah adalah: menghafal al-Qur-an dan tafsirnya, hadits dan ilmu-ilmunya, ushul fiqh, dsb.

Jenis kedua dari ilmu sya’i adalah fardhu ‘ayn, wajib atas setiap mukallaf —yaitu setiap muslim yang baligh dan berakal— untuk mempelajarinya. Jika dia berpaling darinya atau melalaikannya, maka dia berdosa. Dan di antara perkara-perkara yang hukumnya fardhu ‘ain atas setiap muslim dan muslimah untuk mempelajarinya dalam aqidah adalah:

Perkara pertama: al-Ushul ats-Tsalatsah (Tiga Hal Pokok)

Yaitu pengetahuan hamba tentang Robbnya, agamanya, dan Nabi-Nya Muhammad shollallohu ‘alayhi wasallam.

Jika dikatakan kepadamu: “Siapa Robbmu?” maka katakanlah: Robbku adalah Alloh yang telah mengurusku dan mengurus alam semesta dengan nikmat-nikmat-Nya. Dan Dia adalah Sembahanku. Aku tidak memiliki sembahan selain-Nya.

Jika dikatakan kepadamu: “Apa agamamu?” maka katakanlah: Agamaku adalah Islam. Dan ia adalah berserah diri pada Alloh dengan tauhid, tunduk pada-Nya dengan ketaatan, serta berlepas diri dari kesyirikan dan para para penganutnya.

Dan jika dikatakan kepadamu: “Siapa Nabimu?” maka katakanlah: Muhammad bin Abdulloh bin Abdul Muththolib bin Hasyim. Hasyim adalah sebagian dari kabilah Quroisy. Kabilah Quroisy adalah sebagian dari bangsa Arab. Dan bangsa Arab adalah keturunan Isma’il bin Ibrohim ‘alayhima wa ‘ala nabiyyina afdholush sholati wat taslim.

Perkara kedua: pokok agama dan pondasinya adalah dua perkara

1. Perintah untuk beribadah kepada Alloh semata tiada sekutu bagi-Nya, motivasi untuk melakukan itu, loyalitas atas dasarnya, dan mengkafirkan orang yang meninggalkannya.
2. Peringatan akan syirik dalam beribadah kepada Alloh, kecaman keras terhadapnya, permusuhan atas dasarnya, dan pengkafiran orang yang mengerjakannya.

Dari pokok ini bercabanglah aqidah al-wala’ wal baro’ yang kokoh. Dan pokok aqidah ini berdiri di atas prinsip pemisahan dan pembedaan antara kaum muslimin dan lainnya atas dasar agama, bukan atas dasar tanah dan nasionalisme. Seorang muslim muwahhid adalah saudaraku di jalan Alloh, aku loyal kepadanya dan menolongnya, meskipun dia adalah orang yang (berjarak) paling jauh. Sementara orang kafir dan orang murtad adalah musuhku, aku membenci dan memusuhinya, meskipun dia adalah orang yang (berjarak) paling dekat.

Perkara ketiga: ma’na la ilaha illalloh

Laa Ilaaha Illalloh adalah pemisah antara kufr dan Islam, ia adalah kalimat taqwa (kalimatut taqwa) dan ia adalah tali yang kuat (al-‘urwah al-wutsqo), ia tidak terwujud dengan sekadar mengucapkannya di sertai ketidaktahuan tentang ma’nanya dan tanpa mengerjakan konsekuensinya. Sebab, orang-orang munafiq mengucapkannya, tetapi mereka berada di tingkatan paling bawah dari neraka. Ia hanya terwujud dengan mengucapkannya, mengetahui ma’nanya, mencintainya, mencintai para penganutnya dan loyal kepada mereka, serta membenci orang yang menyelisihinya, memusuhinya, dan memeranginya.

Syahadat Laa Ilaaha Illalloh adalah penafian dan penetapan. Laa ilaaha (tiada ilah) menafikan segala macam peribadatan dari selain Alloh ta’ala. Dan illalloh (kecuali Alloh) menetapkan segala macam peribadatan kepada Alloh semata tiada sekutu bagi-Nya.

Di antara konsekuensi syahadat Laa Ilaaha Illalloh adalah syahadat bahwa Muhammad Rosululloh. Dan syahadat Muhammad Rosululloh terwujud dengan mentaati Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam dalam apa yang diperintahkannya, menjauhi apa yang dilarang dan dicegahnya, dan membenarkannya dalam apa yang diberitakannya.

Perkara keempat: syarat-syarat Laa Ilaaha Illalloh

Alloh ta’ala menjadikan kalimat tauhid Laa Ilaaha Illalloh sebagai tanda masuk ke dalam Islam, harga surga dan sebab keselamatan dari neraka. Tetapi ia tidak akan bermanfaat bagi orang yang mengucapkannya selama dia tidak mewujudkan syarat-syaratnya. Telah dikatakan kepada al-Hasan al-Bashri: “Sesungguhnya ada orang-orang yang megatakan: Barang siapa mengucapkan Laa Ilaaha Illalloh, maka dia akan masuk surga?” Dia berkata: “Barang siapa mengucapkan Laa Ilaaha Illalloh, lalu menunaikan hak dan kewajibannya, maka dia akan masuk surga.” [Jami’ul ‘Ulum wal Hikam karya Ibnu Rojab al-Hanbali]

Imam al-Bukhori berkata: Dikatakan kepada Wahb bin Munabbih: “Bukankah Laa Ilaaha Illalloh adalah kunci surga?” Dia berkata: “Benar. Tetapi tidak ada kunci kecuali ia memiliki gerigi. Jika engkau membawa kunci yang memiliki gerigi, maka akan dibukakan bagimu. Dan jika tidak, maka tidak akan dibukakan bagimu.” [Jami’ul ‘Ulum wal Hikam karya Ibnu Rojab al-Hanbali]

Gerigi kunci surga adalah syarat-syarat Laa Ilaaha Illalloh. Dan syarat-syarat Laa Ilaaha Illalloh adalah:

1. Pengetahuan tentang ma’nanya dari segi penafian dan penetapan.
2. Yaqin, yaitu kesempurnaan pengetahuan tentangnya yang meniadakan keraguan dan kebimbangan.
3. Ikhlash yang meniadakan syirik.
4. Kejujuran yang meniadakan kedustaan.
5. Kecintaan kepada kalimat ini dan kepada apa yang ditunjukkan olehnya, serta kegembiraan dengan hal itu.
6. Ketundukan terhadap hak-haknya dengan ikhlash untuk Alloh dan demi mencari ridho-Nya.
7. Penerimaan yang meniadakan penolakan.

Semua syarat ini ditunjukkan oleh dalil-dalil yang jelas dari al-Kitab dan as-Sunnah yang shohih.

Perkara kelima: pembatal-pembatal Islam

Ada banyak hal-hal yang mengeluarkan seorang muslim dari lingkaran Islam, dan jika dia melanggarkan maka dijatuhkan padanya nama murtad dari agama tauhid. Yang terbesar di antaranya sepuluh, yaitu:

1. Syirik dalam beribadah kepada Alloh ta’ala.
2. Menjadikan antara dirinya dan Alloh perantara-perantara yang dia seru, dia mintai syafa’at dan dia jadikan sebagai sandaran (tawakkal).
3. Tidak mengkafirkan orang-orang musyrik, atau meragukan kekafiran mereka, atau membenarkan madzhab mereka.
4. Meyakini bahwa selain petunjuk Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam lebih sempurna daripada petunjuk beliau atau bahwa keputusan selain beliau lebih baik daripada keputusan beliau.
5. Membenci sesuatu dari apa yang dibawa oleh Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam.
6. Mengolok-olok Alloh atau Kitab-Nya atau Rosul-Nya.
7. Sihir, di antaranya shorf (memalingkan laki-laki dari istrinya atau sebaliknya, -pent) dan ‘athf (menimbulkan kecintaan laki-laki kepada istrinya atau sebaliknya, -pent).
8. Mendukung kaum musyrikin dan membantu mereka terhadap kaum muslimin.
9. Meyakini bahwa sebagian manusia boleh keluar dari syariat Nabi Muhammad shollallohu ‘alayhi wasallam, sebagaimana Khidhir boleh keluar dari syariat Musa ‘alayhis salam.
10. Berpaling dari agama Alloh ta’ala, tidak mempelajarinya dan tidak mengamalkannya.

Dalam seluruh pembatal Islam tersebut tidak ada bedanya antara orang yang bersenda gurau, serius ataupun karena takut, kecuali orang yang terpaksa.

Perkara keenam: macam-macam tauhid

1. Tauhid ar-rububiyyah, yaitu mentauhidkan Alloh dengan perbuatan-perbuatan-Nya. Itu terwujud dengan meyakini bahwa Alloh adalah yang menciptakan semua makhluk sendirian, memberi mereka rezeki sendirian, dan mengatur segala urusan sendirian.

Mayoritas manusia —dengan fitrah mereka— meyakini bahwa Alloh adalah Al-Kholiq (yang menciptakan), Ar-Roziq (yang memberi rezeki), Al-Muhyi (yang menghidupkan), dan Al-Mumit (yang mematikan). Mereka mengakui semua itu dan membenarkannya. Bahkan sampai orang-orang kafir yang diperangi oleh Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam dan dihalalkan oleh beliau darah dan harta mereka pun membenarkan semua itu. Dalilnya firman Alloh ta’ala:

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمْ مَنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللهُ.
“Katakanlah (Muhammad): Siapakah yang memberi rezeki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang menguasai pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan? Maka mereka akan menjawab: Alloh.” [Yunus: 31]

Tetapi tauhid ar-rububiyyah saja —dengan hamba mengimani bahwa Alloh adalah yang menciptakannya, memberinya rezeki dan menghidupkannya— tidak cukup untuk masuknya dia ke dalam Islam selama dia tidak meyakini tauhid al-uluhiyyah.

2. Tauhid al-uluhiyyah, yaitu mentauhidkan Alloh ta’ala dengan perbuatan-perbuatan hamba, seperti berdoa, bernadzar, menyembelih, berharap, takut, keinginan, cemas, bertaubat, memohon pertolongan, memohon perlindungan, mengagungkan, rukuk, berjihad, dsb. Ma’nanya adalah bahwa hamba menunaikan ibadah demi mendekatkan diri kepada Alloh semata. Jika dia melakukan itu, maka dia telah menjadi seorang muslim yang telah mewujudkan tauhid. Adapun jika hamba menunaikan ibadah seraya mendekatkan diri dengannya kepada selain Alloh, atau mengarahkan sebagian darinya kepada Alloh dan sebagian yang lain kepada selain Alloh, maka dia belum mewujudkan tauhid dan jatuh ke dalam syirik. Wal ‘iyadzu billah.

Tauhid al-uluhiyyah yang juga dinamakan tauhid ibadah, adalah sebab para rosul ‘alayhimus salam diutus. Karena, setiap rosul memulai dakwahnya kepada kaumnya dengan perintah untuk mentauhidkan ibadah. Alloh ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللهَ.
“Dan sungguh, Kami telah mengutus dalam setiap umat seorang rosul (untuk menyerukan): Sembahlah Alloh …” [an-Nahl: 36]

Dan Nuh, Hud, Sholih, dan Syu’aib mengatakan perkataan yang sama,
يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ.
“Wahai kaumku! Sembahlah Alloh! Tidak ada sembahan bagi kalian selain Dia.” [al-A’rof: 59, 65, 73, 85]

Di antara jenis-jenis tauhid, jenis inilah yang diperselisihan sejak zaman dahulu hingga zaman sekarang antara para rosul dan umat-umat mereka, serta menjadi sebab Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam memerangi orang-orang kafir Quroisy dan sebab Khulafa’ Rosyidun memerangi orang-orang murtad.

3. Tauhid al-asma’ wa ash-shifat, yaitu mengimani semua yang disebutkan dalam al-Qur-an al-Karim dan hadis-hadis shohih dari nama-nama Alloh dan sifat-sifat-Nya yang dengan itu Dia menyifati diri-Nya sendiri atau dengannya Rosul-Nya shollallohu ‘alayhi wasallam menyifati-Nya, dalam pengertian yang sebenarnya, serta meyakini bahwa Alloh itu:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ.
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia maha mendengar lagi maha melihat.” [asy-Syuro: 11]

Wajib hukumnya mengimani nama-nama Alloh dan sifat-sifat-Nya yang ada dalam al-Kitab dan as-Sunnah dengan ma’na-ma’nanya dan hukum-hukumnya berdasarkan pemahaman salaf sholih. Nama-nama Alloh dan sifat-sifat-Nya diketahui dari al-Qur’an dan As-Sunnah. Tidak boleh bagi seseorang —siapapun dia— untuk mendatangkan dari dirinya sendiri sebuah nama atau sebuah sifat bagi Alloh ta’ala. Sebab, nama-nama Alloh dan sifat-sifat-Nya adalah perkara tauqifiyyah. Artinya, di dalamnya kita berhenti pada nama-nama yang disebutkan atau disifati Alloh untuk diri-Nya sendiri, atau yang disebutkan atau disifati oleh Rosul-Nya shollallohu ‘alayhi wasallam.

Nama-nama Alloh semuanya bagus (husna), Dan ada banyak, di antaranya: ash-Shomad (tempat meminta segala sesuatu), al-Bari’ (Sang Pencipta), as-Sami’ (Maha Mendengar), al-Bashir (Maha Melihat), ar-Rohman (Maha Pengasih), ar-Rohim (Maha Penyayang), … sebagaimana Alloh subhanahu memiliki banyak sifat yang semuanya luhur, di antaranya; ar-rohmah, al-quwwah (kuat), al-hikmah (bijaksana), al-hayah (hidup), al-‘izzah (perkasa), al-‘ilmu, al-jabarut (kekuasaan), dsb.

Perkara ketujuh: macam-macam syirik

1. Syirik akbar, yaitu dosa besar yang Alloh tidak akan mengampuninya dan tidak akan menerima amal sholih bersamanya. Alloh ta’ala berfirman:

إِنَّ اللهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ.
“Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa yang selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” [an-Nisa’: 48]

Alloh subhanahu berfirman:
إِنَّهُ ُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ، وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ.
“Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan Alloh, maka sungguh Alloh mengharamkan baginya surga dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang zholim.” [al-Maidah: 72]

Dan Alloh jalla jalaluhu berfirman:
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.
“Sungguh, jika kamu mempersekutukan (Alloh), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang-orang yang rugi.” [az-Zumar: 65]

Syirik akbar ada empat macam, yaitu: (a) syirik doa; (b) syirik niat, keinginan dan tujuan; (c) syirik ketaatan; (d) syirik cinta.

2. Syirik ashghor, yaitu segala sesuatu yang menjadi jalan menuju syirik akbar dan perantara untuk jatuh ke dalamnya, seperti riya’, bersumpah dengan selain Alloh, mengucapkan “ma sya’allohu wa syi’ta (sesuai yang Alloh kehendaki dan yang kamu kehendaki)”, mengucapkan “aku bersandar kepada Alloh dan kepadamu”, dan hal-hal lainnya yang sedikit sekali orang yang selamat darinya. Kafarat (penghapus)-nya adalah mengucapkan:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا أَعْلَمُهُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ مِمَّا لَا أَعْلَمُ.
“Ya Alloh! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu agar tidak mempersekutukan dengan-Mu sesuatu yang aku ketahui. Dan aku memohon ampunan kepada-Mu dari apa yang tidak aku ketahui.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan lainnya, dan dishohihkan oleh al-Haytsami dan Ibnu Hibban]

Perkara kedelapan: macam-macam kufur

1. Kufur akbar yang mengeluarkan dari agama, dan ini ada lima macam, yaitu: (a) kufur pendustaan; (b) kufur penolakan dan kesombongan diri; (c) kufur keraguan; (d) kufur keberpalingan; (e) kufur nifaq.

2. Kufur ashghor yang tidak mengeluarkan dari agama, dan ini adalah kufur ni’mat. Dalilnya firman Alloh ta’ala:

وَضَرَبَ اللهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آَمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ، فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللهِ، فَأَذَاقَهَا اللهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ.
“Dan Alloh telah membuat suatu perumpamaan sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya  ating kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, lalu (penduduk)nya mengingkari ni’mat-ni’mat Alloh, maka Alloh menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan disebabkan apa yang mereka perbuat.” [an-Nahl: 112]

Perkara kesembilan: macam-macam nifaq

1. Nifaq akbar (i’tiqodi), yaitu menyembunyikan kufr dalam hati dan memperlihatkan iman pada lisan dan anggota tubuh. Jenis-jenisnya ada enam, yang pelakunya termasuk penghuni tingkatan paling bawah dari neraka, yaitu: (a) mendustakan Rosul; (b) mendustakan sebagian dari apa yang dibawa oleh Rosul; (c) membenci Rosul; (d) membenci sebagian dari apa yang dibawa oleh Rosul; (e) bergembira atas kejatuhan agama Rosul; (f) membenci kemenangan agama Rosul ‘alayhis sholatu wassalam.

2. Nifaq ashghor (‘amali). Ini terjadi dengan mengerjakan sesuatu dari perbuatan-perbuatan orang-orang munafiq dan bersifat dengan satu sifat dari sifat-sifat mereka, disertai dengan tetap adanya pokok iman. Ia adalah lima macam yang disebutkan oleh Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam dalam sabda-Nya:

آيَةُ المُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ.
“Tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara berbohong, jika berjanji mengingkari dan jika dipercaya berkhianat.”

Dan dalam riwayat lain:

إِذَا خَاصَمَ فَجَرَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ.
“Jika bertengkar menyimpang dari kebenaran dan jika membuat perjanjian mengkhianati.” [Muttafaq ‘alaih]

Perkara kesepuluh: ma’na thoghut dan jenis-jenisnya yang paling utama

Yang pertama kali diwajibkan oleh Alloh kepada anak Adam adalah kufur kepada thoghut dan berimanz kepada Alloh. Dalilnya firman Alloh ta’ala:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ.
“Dan sungguh, Kami telah mengutus dalam setiap umat seorang rosul (untuk menyerukan): Sembahlah Alloh dan jauhilah thoghut.” [an-Nahl: 36]

Bentuk kufur kepada thoghut adalah meyakini kebatilan beribadah kepada selain Alloh, meninggalkannya, membencinya, serta mengkafirkan pelakunya dan memusuhi mereka. Adapun bentuk iman kepada Alloh adalah meyakini bahwa Alloh adalah satu-satunya ilah yang disembah tanpa selain-Nya, memurnikan semua jenis ‘ibadah untuk Alloh dan menafikannya dari semua sesembahan selain Alloh, serta mencintai di jalan Alloh dan membenci di jalan Alloh.

Thoghut adalah segala sesuatu yang menyebabkan hamba melampaui batas, berupa suatu yang disembah, yang diikuti, atau yang ditaati.

Contoh yang disembah adalah setan-setan jin yang menyuruh para penyihir manusia untuk menyembah mereka, lalu mereka pun menyembah para jin tersebut. Contoh yang ditaati adalah para presiden, para raja dan para pemimpin yang memerintahkan rakyat mereka untuk menyalahi syariat dan berhukum kepada undang-undang buatan manusia, serta memerangi penegakan hukum syariat dan orang yang menyeru kepada penerapannya, lalu rakyat mengikuti mereka. Adapun yang ditaati contohnya para ulama, para rahib, dan para syekh jahat yang menghalalkan apa yang diharamkan oleh Alloh dan mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Alloh, lalu mereka ditaati dalam hal itu.

Sementara muslim muwahhid mengingkari setiap yang disembah, diikuti dan ditaati selain Alloh, berlepas diri dari mereka dan dari para pengikut mereka, serta memusuhi dan membenci mereka. Inilah millah Ibrohim ‘alayhis salam yang barang siapa membencinya maka dia telah membodohi dirinya sendiri. Dan ia adalah teladan baik yang Alloh ta’ala menganjurkan kita untuk mengikutinya dalam firman-Nya:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآَءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللهِ، كَفَرْنَا بِكُمْ، وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللهِ وَحْدَهُ.
“Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada Ibrohim dan orang-orang yang bersamanya, ketika mereka berkata kepada kaum mereka: ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Alloh. Kami kufur kepada kalian. Dan telah nyata permusuhan dan kebencian antara kami dan kalian selamanya, sampai kalian beriman kepada Alloh saja.’” [al-Mumtahanah: 4]

Dan di antara millah Ibrohim adalah memerangi para thoghut, para wali (penolong) mereka, dan para pengikut mereka demi meninggikan kalimat Alloh. Alloh ta’ala berfirman,

الَّذِينَ آَمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ، فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ، إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا.
“Orang-orang yang beriman berperang di jalan Alloh, dan orang-orang kafir berperang di jalan thoghut. Maka perangilah wali-wali (penolong-penolong) setan. Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.” [an-Nisa’: 76]

Thoghut-thoghut itu banyak, yang paling utama di antara mereka lima:

1. Setan yang menyeru kepada ibadah kepada selain Alloh. Dalilnya firman Alloh ta’ala:

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آَدَمَ أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ، إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ.
“Bukankah Aku telah memerintahkan kepada kalian wahai anak cucu Adam agar kalian tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian.” [Yasin: 60]

Setan adalah thoghut akbar yang terus-menerus berusaha memalingkan manusia dari ketaatan kepada Alloh. Ada juga di antara manusia yang menyertai setan dalam menghalangi manusia dari beribadah kepada Alloh, dan mereka itu juga thoghut-thoghut.

2. Penguasa zholim yang merubah  okum-hukum Alloh ta’ala. Dalilnya firman Alloh ta’ala:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آَمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ، وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا.
“Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan orang-orang yang mengaku bahwa mereka telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu, mereka ingin berhukum kepada thoghut padahal mereka telah diperintahkan untuk kufur kepadanya. Dan setan ingin menyesatkan mereka dengan kesesatan yang jauh.” [an-Nisa’: 60]

3. Orang yang memutuskan dengan selain apa yang diturunkan oleh Alloh. Dalilnya firman Alloh ta’ala:
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ.
“Dan barang siapa tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan Alloh, maka mereka itulah orang-orang kafir.” [al-Ma’idah: 44]

Jika hakim atau qodhi memutuskan di antara dua orang yang bersengketa dengan selain apa yang diturunkan oleh Alloh, seperti menggunakan undang-undang buatan manusia, adat-istiadat, serta tradisi-tradisi suku dan kabilah, maka dia telah murtad dari agama Alloh dan menjadi thoghut.

Orang yang memutuskan dengan selain apa yang diturunkan oleh Alloh adalah kafir. Dan orang-orang bersengketa yang berhukum kepadanya juga kafir. Alloh ta’ala berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
“Maka demi Robbmu, mereka tidak beriman sampai mereka menjadikanmu (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka atas putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” [an-Nisa’: 65]

Alloh subhanahu menafikan keimanan dari mereka karena mereka tidak menegakkan  okum Alloh di antara mereka dan berhukum kepada thoghut.

4. Orang yang mengklaim mengetahui perkara ghoib. Dalilnya firman Alloh ta’ala:

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللهُ، وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ.
“Katakanlah (Muhammad): Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara ghoib kecuali Alloh. Dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.” [an-Naml: 65]

Barang siapa mengklaim bahwa dia mengetahui perkara ghoib, maka dia adalah thoghut yang mendustakan ayat al-Qur-an al-Karim yang jelas. Dan wajib atas seorang muslim untuk menghidari pergi ke setiap orang yang mengklaim mengetahui perkara ghoib, seperti para penyihir, para dukun, dan para peramal dan tidak mempercayai mereka dalam apa yang mereka klaim. Sebab,

مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ.
“Barang siapa mendatangi seorang dukun atau seorang peramal, lalu dia membenarkan apa dikatakannya, maka dia telah kufur apa yang diturunkan kepada Muhammad.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan dihasankan oleh Syu’aib al-Arna’uth]

5. Orang yang disembah selain Alloh dan dia ridho dengan penyembahannya, atau orang yang menyeru manusia untuk menyembah dirinya. Dalilnya firman Alloh ta’ala,

وَمَنْ يَقُلْ مِنْهُمْ إِنِّي إِلَهٌ مِنْ دُونِهِ فَذَلِكَ نَجْزِيهِ جَهَنَّمَ، كَذَلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ.
“Dan barang siapa di antara mereka berkata: ‘Sesungguhnya aku adalah tuhan selain Alloh,’ maka orang itu Kami beri balasan Jahanam. Demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang zholim.” [al-Anbiya’: 29]

Ibadah adalah haq Alloh ‘azza wa jalla (atas hambanya). Tidak boleh bagi seorang pun untuk menyeru manusia untuk menyembah dirinya atau untuk menyembah seseorang selain Alloh ta’ala. Barang siapa melakukan itu, atau dia tidak melalukan itu tetapi ridho disembah selain Alloh, maka dia adalah thoghut.
   
Demikianlah. Dan sesungguhnya manusia tidak menjadi orang yang beriman kepada Alloh kecuali dia kufur kepada thoghut. Dalilnya firman Alloh ta’ala:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ، قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ، فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا، وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ.
“Tidak ada paksaan dalam agama. Sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara kebenaran dan kesesatan. Barang siapa kufur kepada thoghut dan beriman kepada Alloh, maka sungguh dia telah berpegang pada tali yang kuat yang tidak akan putus. Dan Alloh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [al-Baqoroh: 256]

Kebenaran (ar-Rusydu) adalah agama Muhammad shollallohu ‘alayhi wasallam, kesesatan (al-Ghoyy) adalah agama Abu Jahl, sedangkan tali yang kuat (al-‘urwah al-wutsqo) adalah syahadat Laa Ilaaha Illalloh.

Hamba tidak dianggap berpegang pada tali yang kuat (tauhid) kecuali jika padanya terdapat dua sifat: kufur kepada thoghut dan iman kepada Alloh.

Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam. Sholawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi kita Muhammad, serta kepada semua keluarga dan sahabatnya.

Maktabah Al-Himmah

MAKNA LAA ILAAHA ILLALLOH

APAKAH ENGKAU MENGETAHUI MA’NA LAA ILAAHA ILLALLOH

Diambil dari perkataan asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rohimahulloh

Segala puji hanya bagi Alloh. Sholawat dan salam semoga tercurahkan ke atas Rosululloh, keluarga dan sahabat beliau, serta orang-orang yang berwala' kepada beliau, adapun kemudian;

Ini adalah penjelasan singkat tentang ma’na kalimat “Laa ilaaha illalloh”. Kalimat tawhid yang merupakan hak Alloh atas seorang hamba. “Laa ilaaha illalloh” adalah kalimat yang tinggi, mulia dan berharga. Barangsiapa yang berpegang teguh padanya dia akan selamat dan siapa yang menjaganya maka dia akan terjaga. “Laa ilaaha illalloh” adalah al-‘Urwah al-Wutsqo (ikatan yang kokoh), kalimat taqwa, al-Hanifiyah (kelurusan), millah (ajaran) Ibrohim ‘alayhis salam.

“Laa ilaaha illalloh” adalah kalimat yang karenanya makhluk-makhluk diciptakan, yang dengannya tegaklah langit dan bumi, dan karenanya diutuslah para Rosul serta diturunkanlah Kitab-kitab. Alloh ta'ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku" [adz-Dzaariyaat: 56].

Dan Dia berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
"Dan tidaklah Kami utus seorang Rasul pun sebelum kamu (Muhammad), kecuali Kami wahyukan kepadanya bawa tiada ilaah kecuali Aku, maka beribadahlah kepada-Ku" [al-Anbiyaa': 25]

Akan tetapi “Laa ilaaha illalloh” itu memiliki lafadz dan juga ma’na. Mengucapkannya adalah kulit sedangkan ma’nanya adalah intisari. Lafadz adalah cangkang sedangkan ma’na adalah mutiara. Apa guna kulit tanpa adanya intisari?! Dan apa guna cangkang tanpa adanya mutiara?!

Kedudukan “Laa ilaaha illalloh” terhadap ma’nanya, seperti kedudukan ruuh terhadap jasadnya. Maka tidak bermanfaat jasad itu tanpa adanya ruuh. Begitu juga tidak bermanfaat kalimat ini tanpa disertai ma’nanya.

Maka ketahuilah –semoga Alloh merahmatimu– bahwa bukanlah yang diinginkan itu pengucapan kalimat ini dengan disertai kebodohan terhadap ma’nanya. Karena orang-orang munafiq mengucapkannya tetapi mereka berada di bawah orang-orang kafir di dalam dasar neraka! Akan tetapi yang diinginkan adalah pengucapan kalimat ini disertai pemahaman dengan hati terhadap ma’nanya, mencintainya, mencintai para pemeluknya, serta membenci dan memusuhi orang-orang yang menyelisihinya.

Lalu apa ma’na kalimat yang agung ini?

Jika dikatakan: ma’na “Laa ilaaha illalloh” itu adalah: Tidak ada pencipta selain Alloh, maka ini telah diketahui. Karena tidak ada yang menciptakan makhluk kecuali Alloh. Tidak ada seorangpun yang bersekutu dengan-Nya dalam hal ini. Jika dikatakan: bahwa ma’nanya adalah tidak ada pemberi rizqi kecuali Alloh, maka inipun bisa diterima.

Maka pikirkanlah –semoga Alloh memberimu taufiq– tentang hal ini. Bertanyalah tentang ma’na Al Ilaah. Sebagaimana engkau bertanya tentang ma’na al-Kholiq dan ar-Roziq.

Maka ma’na “Laa ilaaha illalloh” adalah:

لا معبود بحق إلا الله
"Tidak ada sesuatu yang berhak diibadahi kecuali Alloh."

Kalimat ini terdiri dari nafyun (peniadaan) dan itsbaatun (penetapan). Peniadaan terhadap ilahiyah (ketuhanan) segala sesuatu selain Alloh ta'ala dari kalangan makhluk-makhluk, bahkan terhadap Nabi shollallohu 'alayhi wasallam sekalipun, apalagi selain beliau dari kalangan para wali dan orang-orang sholih. Dan penetapan ilahiyah (ketuhanan) itu seluruhnya hanya untuk Alloh semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Tidak ada hak ilahiyah (ketuhanan) bagi selain-Nya, tidak bagi malaikat yang didekatkan, tidak pula bagi nabi yang diutus.

Al-Ilahiyah dari kata al-ilah dan al-ilah itu adalah al-Ma'bud (sesuatu yang diibadahi), ini adalah tafsir dari lafadz ini dengan kesepakatan (ijma') ahlul ilmi. Maka siapa pun yang beribadah kepada sesuatu, dia telah menjadikan sesuatu itu sebagai ilah (tuhan) selain Alloh.

Jika engkau ingin memahami hal ini dengan pemahaman yang sempurna maka pahamilah dua hal:

Yang pertama: Hendaknya engkau memahami bahwa orang-orang kafir yang Rosululloh shollallohu 'alayhi wasallam memerangi dan membunuh mereka serta merampas harta mereka dan menghalalkan wanita-wanita mereka (untuk dijadikan budak -.pent.). Mereka itu mengakui Tauhid Rububiyah. Yaitu tidak ada yang menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan, mengatur segala urusan kecuali Alloh semata. Dalilnya adalah Firman Alloh ta'ala:

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ
"Katakanlah: 'Siapakah yang memberi rizqi kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?' Maka mereka akan menjawab: 'Alloh'." [Yunus: 31]

Ini adalah perkara yang sangat penting! Yaitu engkau memahami bahwa orang-orang kafir itu bersaksi terhadap hal ini sepenuhnya dan mengakuinya. Mereka juga shodaqoh, haji, ‘umroh, beribadah, serta meninggalkan perkara-perkara yang diharomkan karena takut kepada Alloh 'azza wa jalla. Meskipun begitu, semua itu tidak menjadikan mereka masuk ke dalam Islam. Dan tidak menjadikan haram darah dan harta mereka.

Akan tetapi perkara yang kedua: hal yang menjadikan mereka kafir dan menjadikan halal darah dan harta mereka adalah bahwa mereka tidak bersaksi terhadap Alloh dengan Tauhid Uluhiyah, yaitu bahwa tidak berdoa kecuali kepada Alloh tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak dimohon pertolongan (istighotsah) dengan selain-Nya, tidak disembelih untuk selain-Nya dan tidaklah hukum dikembalikan kepada selain syari'at-Nya. Maka barangsiapa memohon pertolongan (istighotsah) dengan selain-Nya maka dia kafir, barangsiapa menyembelih untuk selain-Nya maka dia kafir dan barangsiapa memutuskan hukum dengan selain syari'at-Nya maka dia kafir ... dan lain sebagainya.

Sebagai penyempurna hal ini, hendaknya engkau mengetahui bahwa orang-orang musyrik yang diperangi oleh Rosululloh, mereka itu berdoa kepada orang-orang sholih maka mereka kafir dengan sebab doa mereka kepada orang-orang sholih itu, sekalipun mereka mengakui bahwa Alloh adalah al-Kholiq (Sang Pencipta), ar-Roziq (Sang Pemberi Rezeki) dan al-Mudabbir (Sang Pengatur)! Jika engkau telah memahami hal ini maka engkau telah memahami ma’na (Laa Ilaaha Illallaah). Dan engkau telah memahami bahwa jika seorang muslim mengkultuskan seorang nabi, wali atau malaikat, atau dia memohon pertolongan (istighotsah) kepadanya, maka dia telah keluar dari Islam.

Jika seseorang dari kalangan orang-orang musyrik berkata: Kami tahu hal itu, akan tetapi orang-orang sholih itu mereka adalah orang-orang yang dekat dengan Alloh, maka kami berdoa kepada mereka, bernadzar kepada mereka, mengunjungi (makam) mereka, dan ber-istighotsah kepada mereka. Dan dengan itu kami mengharapkan kedudukan dan syafa'at. Sebaliknya kami memahami dan beriman bahwa Alloh itu al-Kholiq (Sang Pencipta), al-Mudabbir (Sang Pengatur) dan satu-satunya Dzat Yang Diibadahi!!

Maka katakanlah: Perkataanmu ini adalah madzhab Abu Jahal dan orang-orang semisalnya, karena sesungguhnya mereka dahulu berdoa kepada patung-patung dan para wali itu dengan menginginkan (seperti) apa yang kalian inginkan.

Sebagaimana Alloh Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى
"...Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Alloh (berkata): 'Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat-dekatnya'..." [Az-Zumar: 3]

Dan Dia Berfirman:

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ
"Dan mereka menyembah selain daripada Alloh apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfa`atan, dan mereka berkata: 'Mereka itu adalah pemberi syafa`at kepada kami di sisi Alloh'..." [Yunus: 18]

Dan itu dikarenakan mereka menyangka –sebagaimana (sangkaan) kalian– bahwa Alloh menjadikan orang-orang tertentu memiliki kedudukan khusus di sisi-Nya, di mana Dia Ridho agar manusia berlindung dan beristighotsah kepada mereka, serta menjadikan orang-orang tertentu itu sebagai wasilah (perantara) antara diri mereka dengan Alloh. Sedangkan hal itu merupakan pembatal kalimat (Laa ilaaha illalloh), karena tuntutan dari (Laa ilaaha illalloh) adalah meniadakan perantara di hadapan Alloh...

Selesai, dikutip dari "ad-Duror as-Saniyah fil Ajwibati an-Najdiyah"

Maktabah Al-Himmah

KOALISI INTERNASIONAL ADALAH PENYARINGAN DAN UJIAN

التحالف العالمي تمحيص وابتلاء
KOALISI INTERNASIONAL ADALAH PENYARINGAN DAN UJIAN

Dengan menyebut nama Alloh Yang maha pengasih lagi maha penyayang, Segala puji bagi Alloh Robb semesta alam, yang atas rohmah-Nya –subhanahu wa bihamdih- telah menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman (manhaj) untuk ummat ini. Sholawat dan salam semoga terlimpah kepada nabi kita Muhammad ibnu Abdillah, yang telah bersabda :

تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدِي أبدا؛ كتاب الله وسنتي
“Aku tinggalkan untuk kalian, yang jika kalian berpegang teguh dengannya niscaya kalian tidak akan tersesat sepeninggalku nanti selama-lamanya, Kitabulloh dan Sunnahku.” (Diriwayatkan oleh al-Hakim dan yang lainnya)

Saudara-saudaraku yang mulia, Alloh Yang maha mulia dan maha suci nama-nama-Nya, mengetahui akan kelemahan ummat ini, mengetahui fitnah-fitnah dan musuh-musuh kejam yang menantinya, maka dari bentuk kemuliaan dan kedermawanan-Nya, Alloh senantiasa menjaga atas ummat ini manhajnya (pedomannya), Alloh ta’ala berfirman :

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur’an dan pasti kami pula yang memeliharanya.” (al-Hijr : 9)

al-Qur’an terjaga oleh penjagaan Alloh Jalla jalaaluh, adapun kitab-kitab terdahulu yang terjaga pada kita hingga hari ini adalah sebatas nama-namanya. Sedangkan apa yang Alloh subhanahu wa ta’ala sebutkan di dalam kitab-kitab tersebut berupa syari’at, telah terkotori oleh tangan-tangan pendosa, di dalamnya meraka mencampur adukkan (kebenaran dengan kebatilan), menyelewengkan maknanya, dan menjual ayat-ayat Alloh dengan harga yang sedikit.

Lalu muncullah Manhaj Pemelintiran (Manhaj at-Tahrif), yang Alloh ta’ala sebutkan untuk kita agar kita mengetahui para pelakunya dan agar ummat ini tidak tertipu oleh mereka, agar mereka mengetahui orang yang benar (Jujur) dan siapa mereka yang membuat kedustaan, siapa orang-orang yang memiliki kepentingan yang benar (jujur) dan siapa siapa saja yang mengulurkan tangannya pada kekufuran dan berbicara dengan (mengutip) kalam Alloh dan Rosul-Nya shollallohu ‘alayhi wasallam.

Seluruh bentuk konggres kekafiran hari ini, sejak diutusnya nabi shollallohu ‘alayhi wasallam hingga hari ini, hingga Alloh membangkitkan makhluq-Nya kelak, seluruh konggres dan konspirasi, Alloh ta’ala telah meringkasnya untuk kita dalam satu ayat atau sebagian dari ayat, Alloh ta’ala berfirman :

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ
“Orang-orang yahudi dan nasrani tidak akan ridho kepadamu (Muhammad) hingga kamu mengikuti millah mereka.” (al-Baqoroh 120)

Oleh karena itu Alloh ta’ala juga berfirman,:

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا
“Pasti akan engkau dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman adalah orang-orang yahudi dan orang-orang musyrik.” (al-Maidah : 82)

Pada hari ini kaum yahudi dan salibis beserta para pengikutnya, mereka ini berjalan diatas apa yang telah digariskan oleh kakek moyang dan bapak-bapak mereka, sebagaimana firman Alloh ta’ala :

أَتَوَاصَوْا بِهِ بَلْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ
“Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu, sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas.” (adz-Dzariyat : 53)

Maka, pasukan ahzab hari ini, mereka adalah perpanjangan dari pasukan ahzab kemarin, pasukan ahzab kemarin yang menjadi pelopor siapa? ulama bani Nazhir, merekalah yang mempelopori untuk melawan Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam, bersama mereka kaum Quroisy, Ghothofan dan yang lainnya, mereka menyulut kelompok-kelompok kekafiran hingga meraka sampai di kota Madinah.

Maka untuk itu, pada hari saat terjadinya perang Ahzab, Alloh ta’ala menyifati keadaan kaum muslimin karena kerasnya permusuhan lawan atas mereka, Alloh ta’ala berfirman kepada kaum mu’minin :

إِذْ جَاءُوكُمْ مِنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا (10) هُنَالِكَ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا زِلْزَالًا شَدِيدًا (11)
“(yaitu) ketika mereka datang kepada kalian dari atas dan dari bawah kalian, dan ketika penglihatan kalian terpana dan hati kalian menyesak sampai ke tenggorokan dan kalian berprasangka yang bukan-bukan terhadap Alloh, di situlah diuji orang-orang yang mu’min dan diguncangkan hatinya dengan guncangan yang dahsyat.” (al-Ahzab :10 -11)

Pada hari ini dikatakan pada kaum mu’minin seperti ini; “hari ini ummat dalam keadaan jika tidak melewati sunnah (ketetapan) ini, setidaknya mendekati sunnah ini.” Akan tetapi manusia itu terbagi (menjadi beberapa golongan) dalam situasi seperti ini. Di antara mereka ada yang isi hatinya keluar, ternyata hatinya penuh dengan nifaq, dan islam yang ia klaim, tidak lain hanya untuk mendapatkan kemashlahatan duniawi, ia berjalan bersama para penyeru syari’ah dan ia memakai pakaian islam demi kepentingan pribadi, maka selama islam masih memberi harapan baik padanya, berupa makanan, minuman dan tempat tinggal, dia tidak segan untuk menisbatkan diri padanya.

Akan tetapi,
مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّى يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ
“Alloh tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman sebagaimana dalam keadaan kalian sekarang ini.” (Alu ‘Imron : 179),

Harus ada pemisahan (pembersihan) barisan.

Maka saat terjadi kondisi seperti ini, berbicaralah sifat kemunafiqannya, mereka mengatakan:

مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلَّا غُرُورًا
“yang dijanjikan Alloh dan rosul-Nya kepada kami hanyalah tipu daya belaka.” (al-Ahzab : 12)

Alloh juga berfirman tentang mereka di ayat yang lain,

إِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلَّا غُرُورًا
“tatkala orang-orang munafiq dan orang-orang yang hatinya berpenyakit mengatakan, “yang di janjikan Alloh dan rosul-Nya kepada kami hanyalah tipu daya belaka” (al-Ahzab : 12 )

Dan Alloh berfirman :
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Alloh, maka sesungguhnya Alloh maha perkasa lagi maha bijaksana.” (al-Anfal : 49)

Jadi Alloh ta’ala dalam kondisi seperti ini memberikan kita sebesar-besar gambaran (sifat) dari sel-sel yang paling berbahaya dalam masyarakat, yaitu nifaq, orang orang munafiq, para pemilik jenggot panjang, pakaian (celana) cingkrang dan mereka hadir di masjid-masjid, sosok mereka menyerupai sosok orang-orang mu’min, akan tetapi hati-hati mereka terpisah dari orang-orang mu’min, mereka bergabung dengan pasukan kekufuran, bergabung dalam satu parit kekufuran, mereka berhubungan dengannya sepanjang malam dan siang,

Terhadap Mereka itu … ummat sangat membutuhkan penjelasan Alloh akan sifat-sifat mereka, menampakkan aib-aib mereka dan agar mereka menampakkan diri mereka pada pergolakan semacam ini, mereka berceloteh, dan pada hari ini, al-hamdu lillah … mereka jatuh, kelompok-kelompok yang banyak dari mereka, dan kita bisa melihatnya di layar-layar kaca, Ulama suu’ dan ulama negeri, kita bisa melihat analisa mereka pada berita-berita di channel-channel mereka dan selain mereka, kita bisa melihat di majlis-majlis yang mengatasnamakan islam dan kaum muslimin.

Jadi pada hari ini kita, perkara kita adalah seperti halnya perkara kemarin, yaitu perkara Diin, perkara aqidah, perkara ikatan dengan Alloh Jalla jalaaluhu. Kekufuran hari ini, ketika berkembang ditengah-tengah ummat di setiap tempat, Fenomena ini memberikan kabar gembira dengan kebaikan, al-hamdu lillah… Fenomena ini membuat orang yang beriman bergembira karenanya, tidak sebagaimana firman Alloh ta’ala terhadap suatu kaum, “mereka berbalik ke belakang, merugi di dunia dan di akhirat.” (al-Haj : 11)

Bahkan Alloh ta’ala memberi kabar tentang hamba-hamba Nya yang terdahulu yang mengikuti orang-orang yang telah berjumpa (dengan-Nya), Alloh ta’ala berfirman: “(Yaitu) orang orang (yang menaati Alloh dan Rosul Nya) ketika ada orang-orang mengatakan kepada mereka: ”orang-orang (Quroisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, karena itu takutlah pada mereka”  Apa yang terjadi? bertambah Keimanan, bukan gentar dan ketakutan ,.. Alloh ta’ala hanya berifirman,: (Ucapan itu) menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab “Cukuplah Alloh menjadi penolong bagi kami dan Dia adalah sebaik-baik pelindung.” (Alu ‘Imron : 173)

Dengan demikian ketika Alloh memperlihatkan dengan pandangan kita tetang jumlah kekafiran dan pasukannya, mesin-mesin mereka yang berada di udara dan mesin-mesin mereka yang berada di lautan, ketika Alloh memperlihatkan melalui pandangan kita, kemudian kita menganalisa permasalahan-permasalahan dan kita membuat gambaran dari masalah itu dengan mata hati kita, jadi beresekutunya kaum kafir hari ini perkara yang menakutkan atau menggembirakan? Dalam tolok ukur syari’at menggembirakan, sedangkan dalam tolok ukur manusiawi itu menakutkan dan menggentarkan, bukankah demikian ?

Maka yang membaca di channel-channel, yang membaca di surat-surat kabar dan seluruh media informasi, akan mengatakan apa? Bahwa masalahnya telah ditetapkan (semoga Alloh menguatkan kalian) oleh anggota dewan, selesai. Mereka adalah para pembuat keputusan, bukankah demikian?

Ya, akan tetapi bagi yang menelaah al-Qur’an, dia mendengar bahwa Alloh Ta’ala berfirman,:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ فَسَيُنْفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ وَالَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ يُحْشَرُونَ
“Sesungguhnya orang-orang kafir itu menginfaq kan harta mereka untuk menghalang-halangi (orang) dari jalan Alloh, mereka (terus) menginfaq kan harta itu, kemudian mereka akan menyesal sendiri, dan akhirnya mereka akan dikalahkan, ke dalam neraka Jahannamlah orang-orang kafir itu akan dikumpulkan.” (al-Anfal : 36)

Jadi, inilah timbangan kita, dengan kadar kekuatan keimanan kita, akan terjadi, dengan kadar kekuatan aqidah kita, akan terjadi, maka kita di zaman ini, terkhusus di saat ini, perkara paling wajib diantara kewajiban-kewajiban lain adalah lari kepada Alloh Jalla jalaaluhu, yaitu kembali kepada Alloh subhanallohu Wa bihamdihi, memohon pertolongan kepada Nya Jalla jalaaluhu,

Dia adalah maha dekat yang maha mengabulkan do’a ketika kalian memohon pertolongan pada Nya, dan pertolongan Alloh paling agung terhadap para hamba Nya adalah Dia Alloh menurukan ketenangan kepada mereka, apabila Alloh menurunkan ketenangannya kepada mereka maka artinya adalah Alloh mendatangkan kemenangan pada mereka disetiap tempat, dan musibah terbesar yang Alloh timpakan terhadap musuh-musuh Nya adalah rasa takut, ketika Alloh Ta’ala menetapkan rasa takut kepada musuh-musuh Nya, maka di sanalah kekalahan yang sebenarnya,

إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا سَأُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَاضْرِبُوا فَوْقَ الْأَعْنَاقِ وَاضْرِبُوا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍ
“Ingatlah ketika Robb mu mewahyukan kepada para malaikat, Sesungguhnya Aku bersama kalian maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman”, kelak akan Aku berikan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka pukullah diatas leher mereka dan pukullah tiap-tiap ujung jari mereka.” (al-Anfal : 12)

Kita memohon kepada Alloh yang maha Agung, Robb pemilik ‘Arsy yang mulia, agar meneguhkan hati-hati kaum muslimin dan terkhusus para mujahidin, dan menurunkan kepada mereka ketenangan, menyatukan barisan mereka, menguatkan keimanan mereka, serta menjadikan pertolongan kepada mereka adalah bentuk kemenangan bagi kaum muslimin di belahan bumi timur dan barat,

Hendaklah setiap muslim mengetahui dengan seyaqin-yaqinnya, bahwa Daulah Islam ini… demi Alloh, Alloh lah yang menjadi penolong nya, demi Alloh ia adalah Daulah yang dimenangkan dengan pertolongan dan janji Alloh terhadapnya.

Dan hendaklah setiap orang mengetahui, baik yang dekat ataupun yang jauh, bahwa daulah ini tidak dibangun di atas kemashlahatan kepentingan tertentu, tetapi daulah ini terbangun urusannya untuk menegakkan syari’at Alloh, maka Alloh adalah yang menjadi penolong dan pembelanya.

Dan siapa saja yang akan menangis maka menangislah untuk dirinya sendiri, siapa saja yang ingin bersedih hati, bersedihlah untuk dirinya sendiri, dan siapa saja yang berprasangka bahwa Daulah ini akan terkalahkan, sungguh dia telah berburuk sangka kepada Alloh jalla jalaluhu, Demi Alloh, Dialah Alloh yang menjadi penolongnya, sebagaimana Ia telah menolong Rosul Nya shollallohu ‘alayhi wasallam di gua Tsaur, dan Alloh yang memberikan tamkin selama Daulah menolong agama Nya, selama daulah menegakkan syari’at Alloh Jalla jalaaluhu, maka ini adalah janji Alloh, dan Alloh tidak akan pernah menyalahi janji Nya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya,

Adapun negeri-negeri kufur, maka ia akan dikalahkan, demi Alloh ia akan terkalahkan, dan yang mengalahkan di hari kemarin, yang memprakarsai pasukan ahzab kemarin, mereka akan dikalahkan pada hari ini, Alloh Jalla jalaaluhu berfirman, :
   
سَيُهْزَمُ الْجَمْعُ وَيُوَلُّونَ الدُّبُرَ
“Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang.” (al-Qomar : 45)

Dan Alloh juga berfirman,:
 قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا سَتُغْلَبُونَ وَتُحْشَرُونَ إِلَى جَهَنَّمَ
“Katakanlah (Muhammad) kepada orang-orang yang kafir, “kalian (pasti) akan dikalahkan dan akan digiring ke dalam neraka Jahannam.” (Alu Imron :12)

Tapi tidak Tawaakal (hanya bersandar tanpa membuat sebab) tapi dengan apa? Dengan Tawakkal (bersandar setelah dan membuat sebab)

Alloh ta’ala Yang berfirman :
 وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَبَقُوا إِنَّهُمْ لَا يُعْجِزُونَ
“Dan janganlah orang-orang kafir mengira bahwa mereka akan dapat lolos (dari kekuasaan Alloh), sungguh mereka tidak dapat melemahkan (Alloh).” (al-Anfal : 59)

Setelah itu Dia juga Yang berfirman :

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ,
“Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuataan yang kalian miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh-musuh Alloh dan musuh-musuh kalian.” (al-Anfal : 60)

Maka hendaklah para mujahidin dan setiap orang yang jujur bergembira bahwa pertolongan Alloh akan datang, dan itu hanya dalam beberapa hari yang sudah ditentukan.

Firman Alloh ta’ala telah menetapkannya untuk ummat islam, sebagaimana ketetapan sabda Nabi shollallohu alayhi wasallam setelah kalahnya kaum ahzab, “pada hari ini kita yang memerangi mereka dan mereka tidak lagi menyerang kita,” Maka besok kita akan mendengar Amiirul Mu’minin dengan perkataan seperti itu di atas setiap mimbar, “pada hari ini kita yang memerangi mereka dan mereka tidak lagi memerangi kita, dengan izin Alloh Ta’ala.

سبحان ربك رب العزّة عمّا يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله ربّ العالمين, وصلى الله وسلّم على نبيّنا محمّد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Maktabah Al-Himmah

PENJELASAN LENGKAP FIQH PUASA

HUKUM-HUKUM SEPUTAR PUASA
PENJELASAN LENGKAP FIQH PUASA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Segala puji hanya bagi Alloh. Sholawat dan salam semoga tercurahkan ke atas Rosululloh, keluarga dan sahabat beliau, serta orang-orang yang berwala' kepada beliau, adapun kemudian;

Sesungguhnya puasa Romadhon merupakan salah satu rukun Islam. Wajib bagi setiap muslim untuk melaksanakan rukun ini agar sempurna keislamannya. Hal tersebut tidak mungkin dicapai kecuali ia memahami hukum-hukum terpenting dalam puasa Romadhon.

Definisi Puasa

Puasa (الصوم) secara bahasa: yaitu berasal dari kata صام - يصوم - صوما و صياما adalah menahan dari segala sesuatu, diantaranya makanan, minuman, perkataan atau lain sebagainya. Alloh ta'ala berfirman:

فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَٰنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنسِيًّا
“Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: Sesungguhnya aku telah bernadzar berpuasa untuk Robb Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini." [Maryam: 26]. Adapun صوما disini adalah dimaknai menahan diri dari berbicara [Lisanul 'Arob - Ibnu Manzhur].

Adapun puasa secara syar'i: puasa adalah menahan diri dari hal-hal yang bisa membatalkan puasa (diantaranya makan, minum, dan jima') dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari dengan disertai niat.

Hukum Puasa

Puasa Romadhon adalah salah satu rukun Islam. Maka wajib (fardhu) atas setiap muslim melakukannya dengan berdasarkan al-Qur’an, as-Sunnah serta ijma’.

Alloh ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas kaum sebelum kalian agar kalian bertaqwa” [al-Baqoroh: 183].

Dan Alloh Subhanah juga berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
“Bulan Romadhon, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu” [al-Baqoroh: 185].

Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda:

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ   
"Islam dibangun atas lima perkara: syahadat “Laa Ilaaha IllaAlloh, Muhammad Rosululloh”, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa Romadhon" [Muttafaqun ‘alayh].

'Ulama telah bersepakat atas wajibnya puasa bulan Romadhon bagi seluruh muslim. Sedang siapa saja yang mengingkarinya maka ia telah kafir [Marotibul Ijma' - Ibnu Hazm azh-Zhohiri].

Syarat Diwajibkannya Puasa

Tidaklah diwajibkan puasa melainkan atas:
1. Muslim, tidak wajib bagi kafir.
2. Berakal, orang gila tidak wajib puasa.
3. Baligh, anak-anak yang belum baligh tidak wajib puasa. Akan tetapi disunnahkan untuk puasa sebagai upaya mendidiknya dan agar dia siap ketika telah baligh.
4. Sehat, tidak wajib atas orang sakit jika puasa itu membuat dia tambah sakit, atau memperlambat kesembuhannya.
5. Menetap, puasa tidak wajib bagi musafir, dan disunnahkan untuk berpuasa jika tidak ditemukan halangan.
6. Mampu, tidak wajib bagi yang terhalang ‘udzur, misal orang tua renta, orang yang sakit yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya, hamil, ibu yang menyusui jika puasa itu membawa mudhorot bagi ibu dan anaknya.

Rukun Puasa

1. Niat: tempatnya di hati, dan niat itu cukup dimulai di hari pertama sejak awal Romadhon untuk satu bulan, dan niat itu harus dibarengi dengan persiapan bangun untuk sahur serta dibolehkan menikmati hidangan sahur sampai terbitnya fajar.
2. Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa: diantaranya makan, minum, jima' (menahan syahwat perut dan kemaluan).
3. Waktu: waktu puasa adalah sejak terbitnya fajar shodiq sampai terbenamnya matahari.

Keutamaan Puasa

Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Barang siapa yang berpuasa Romadhon karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni baginya dosa-dosanya yang terdahulu" [HR. al-Bukhori].

Jika engkau berpuasa Romadhon karena keimanan dari dirimu, bahwa itu merupakan kewajiban dari Alloh yang harus dilaksanakan –dan tidak berpuasa karena ingin menurunkan berat badan, atau untuk menyembuhkan penyakit dan lain sebagainya– maka engkau telah mengamalkan syarat awal dalam hadits, dan jika engkau berpuasa Romadhon karena berharap ganjaran dan pahala di sisi Alloh ta'ala, dan tidak berpuasa karena riya’ dan sum'ah; maka engkau telah mengamalkan syarat yang kedua dari hadits tersebut, dan setelah itu engkau berhak mendapat berita gembira dari Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam berupa ampunan untuk dosa-dosamu yang terdahulu in syaa Alloh.

Hikmah Puasa

Puasa Romadhon memiliki hikmah yang luar biasa. Seluruh rangkaian ibadah puasa memiliki hikmah sebagaimana yang telah Alloh tetapkan, dan ia adalah taqwa, yang terepresentasikan dengan menjalankan apa yang Alloh perintahkan dan menahan diri dari apa yang Alloh larang. Alloh berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas kaum sebelum kalian agar kalian bertaqwa” [al-Baqoroh: 183].

Dan (لعل) dalam ayat tersebut bermakna menjelaskan sebab atau agar bertaqwa kepada Alloh. Dimana engkau akan meninggalkan apa yang Alloh haramkan dan melaksanakan apa yang Alloh wajibkan.

Hukum Bagi Yang Meninggalkan Puasa

Barangsiapa yang meninggalkan puasa Romadhon dengan ‘udzur maka tidak berdosa, sebagaimana orang yang tidak berpuasa karena sakit atau sedang safar, atau ‘udzur lainnya.

Sedangkan siapa saja yang meninggalkan puasa tanpa ada ‘udzur syar'i maka harus dilihat dulu keadaannya. Jika dia tidak berpuasa karena malas atau ingin makan, minum, jima' dan lain sebagainya, namun dia masih meyakini wajibnya puasa Romadhon dan statusnya sebagai rukun Islam, maka yang demikian adalah dosa besar. Dan apabila dibarengi dengan makan di hadapan manusia (ketika Romadhon), maka ia fasiq karena terang-terangan dalam kemaksiatannya.

Berkata al-Hafizh adz-Dzahabi: "Di dalam hati orang mu'min ada keyakinan bahwa siapa saja yang meninggalkan puasa Romadhon tanpa sakit atau tanpa ‘udzur yang membolehkannya, maka dia lebih buruk daripada seorang pezina serta peminum khomr" [al-Kabair].

Adapun yang mengingkari wajibnya puasa, semisal ia mengatakan: "Di dalam Islam tidak diwajibkan untuk berpuasa Romadhon," maka ia kafir menurut ijma' ahli fiqih dikarenakan kewajiban puasa Romadhon telah dipahami. Dan puasa Romadhon adalah rukun dimana Islam dibangun atasnya. Dan barangsiapa yang mengingkari rukun itu, maka ia telah membatalkan pondasi agamanya.

Hukuman Bagi Yang Tidak Berpuasa Tanpa ‘Udzur

Yang dimaksud hukuman disini adalah balasan duniawi yang berlaku bagi yang tidak berpuasa Romadhon tanpa sebab ‘udzur syar'i.

Dan hukumannya bercabang tergantung pada keyakinan pelakunya terhadap hukum puasa. Barangsiapa yang meninggalkan puasa Romadhon tanpa ada ‘udzur akan tetapi ia tidak mengingkari akan wajibnya, maka ia dihukum cambuk atau dikurung dan dilarang untuk makan di siang hari di bulan Romadhon atau sebagaimana imam memberlakukan hukuman-hukuman yang bersifat mengekang baginya. Sedangkan siapa saja yang meninggalkan puasa Romadhon dengan menghalalkan untuk tidak berpuasa maka ia dibunuh.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: "Jika seseorang membatalkan puasa Romadhon dengan menghalalkan perbuatannya sedangkan dia mengetahui keharamannya, wajib baginya dibunuh. Dan jika ia adalah orang fasiq dihukum berdasarkan pembatalan puasanya sesuai keputusan imam" [Majmu' al-Fatawa].

Sunnah-Sunnah Puasa Romadhon

Hal-hal yang disunnahkan dalam puasa Romadhon ada banyak, diantaranya yang terpenting adalah:
1. Sahur, waktu sahur lebih baik diakhirkan hingga menjelang terbitnya fajar.
2. Do’a dipanjatkan saat berpuasa dan ketika berbuka puasa.
3. Menyegerakan berbuka setelah tenggelamnya matahari.
4. Berbuka dengan ruthob (kurma matang sebelum menjadi tamr) dengan jumlah ganjil. Jika tidak ada ruthob maka boleh dengan tamr. Atau sekedar air putih.
5. Memberi buka orang-orang yang berpuasa.
6. Memperbanyak sholat sunnah, diantaranya: qiyamul lail dengan tarowih dan tahajjud, membaca al-Qur’an, shodaqoh, serta i'tikaf di masjid.
7. Senantiasa sholat berjama'ah di masjid.
Dan selain itu terdapat banyak ketaatan-ketaatan yang lain.

Hal-Hal Yang Dimakruhkan Dalam Puasa

1. Berlebih-lebihan dalam hal yang mubah, seperti berlebihan saat berkumur dan menghirup air saat wudhu, mencicipi makanan di luar keperluannya.
2. Meninggalkan sunnah-sunnah puasa, seperti menyegerakan sahur dan mengakhirkan buka.
3. Terlalu banyak berbicara yang tidak dalam rangka mengingat Alloh, juga tanpa keperluan dan menghabiskan malam-malam dengan hal-hal yang sia-sia.
4. Akhlaq tercela, seperti hasad (dengki), dendam, berbohong, berbicara kotor, memandang yang haram, dan lain sebagainya.

Hal-Hal Yang Mubah Dalam Puasa

1. Mengakhirkan mandi wajib bagi yang junub, haid, nifas apabila suci sampai terbitnya fajar.
2. Menelan sesuatu yang dimaklumi, seperti ludah, atau menghirup debu yang ada di jalan.
3. Mencicipi makanan (tanpa menelannya) untuk keperluan seperti memasak, membeli, atau memberi makan bayi.
4. Mencium bau-bauan (parfum atau makanan).
5. Menyiramkan air di kepala atau badan dan begitu pula ketika kehujanan atau berendam dalam air.
6. Berobat, yang tidak sampai menjangkau lambung seperti tusuk jarum (bukan makanan) ke dalam otot dan pembuluh darah.

Pembatal Puasa

1. Membatalkan salah satu syarat sah puasa. Misalnya murtad, gila, serta haid dan nifas bagi wanita.
2. Membatalkan salah satu rukun puasa. Misalnya sengaja makan atau minum saat puasa (sedangkan apabila karena lupa, maka puasa tidak menjadi batal), jima', mengeluarkan air mani dengan sengaja (adapun mimpi basah saat berpuasa, maka tidak membatalkan).
3. Muntah dengan sengaja. Adapun jika memang benar-benar muntah, maka tidak membatalkan puasa.
4. Berbekam saat berpuasa. Sebagaimana hadits Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam: "Orang yang membekam dan yang dibekam, menjadi batal puasanya" [Hadist Shohih riwayat Abu Dawud dan lainnya]. Orang yang membekam dikarenakan menghisap dengan cuping bekam, dimungkinkan ia menghirup sesuatu yang keluar dari darah. Akan tetapi kalau dia membekam menggunakan alat, maka puasanya tidak batal.

Sebagai penutup, kita meminta pada Alloh Ta'ala agar berkenan untuk menerima amalan puasa, shalat, jihad kami dan kalian juga seluruh amalan lainnya. Dan bulan Romadhon dikembalikan pada kami di dalam naungan khilafah di saat Baghdad dan Damaskus / Dimasyq telah ditaklukkan untuk kita, dan semoga para tawanan (laki-laki dan perempuan) yang dikurung di penjara-penjara thowaghit telah dibebaskan…

Ya Alloh, limpahkanlah sholawat kepada Nabi kami Muhammad dan kepada keluarganya dan seluruh sahabatnya.

Maktabah Al-Himmah

ENAM PERKARA POKOK DALAM AGAMA (TERJEMAH AL-USHUL AS-SITTAH)

ENAM PERKARA POKOK DALAM AGAMA (TERJEMAH AL-USHUL AS-SITTAH)
asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rohimahulloh

Segala puji bagi Alloh, Sholawat dan salam semoga terlimpah kepada Rosululloh, serta kepada keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang loyal kepadanya. Amma ba’d:

Al-Imam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab —rohimahulloh— berkata:

Di antara perkara-perkara yang paling mengagumkan dan di antara tanda-tanda kekuasaan Sang Raja Yang Maha Mengalahkan adalah enam pokok yang dijelaskan oleh Alloh ta’ala dengan penjelasan yang terang kepada orang-orang awam, melebihi prasangka orang-orang yang berprasangka. Kemudian setelah itu banyak di antara ulama-ulama dunia dan pemikir-pemikir Bani Adam yang salah di dalamnya, kecuali sangat sedikit sekali.

Pokok pertama: Pemurnian agama untuk Alloh ta’ala semata (ikhlash), tiada sekutu bagi-Nya, dan penjelasan tentang kebalikannya, yakni syirik kepada Alloh. Sebagian besar dari al-Qur’an menjelaskan pokok ini dari berbagai sisi dengan ungkapan yang dipahami oleh orang awam yang paling bodoh. Kemudian ketika terjadi pada sebagian besar umat apa yang terjadi, syaithon memperlihatkan kepada mereka keikhlasan dalam bentuk merendahkan orang-orang sholih dan mengabaikan hak-hak mereka, serta memperlihatkan kepada mereka kesyirikan kepada Alloh dalam bentuk mencintai orang-orang sholih dan mengikuti mereka.

Pokok kedua: Perintah Alloh untuk bersatu dalam agama dan larangan untuk bercerai-berai di dalamnya. Alloh menjelaskan ini dengan penjelasan memuaskan yang dapat dipahami oleh orang-orang awam. Dia melarang kita agar tidak menjadi seperti orang-orang sebelum kita yang bercerai-berai dan berselisih sehingga mereka binasa. Dia menyebutkan (dalam al-Qur’an) bahwa Dia memerintahkan kaum muslimin agar bersatu dalam agama dan melarang mereka dari bercerai-berai di dalamnya. Dan ini diperjelas oleh hal-hal yang sangat mengagumkan yang disebutkan oleh As-Sunnah terkait hal itu. Kemudian perkara ini berubah, sehingga perpecahan dalam pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya menjadi ilmu dan fiqh dalam agama, dan perintah untuk bersatu dalam agama menjadi tidak diucapkan kecuali oleh orang Zindiq atau orang gila!

Pokok ketiga: Di antara penyempurna persatuan adalah kepatuhan dan ketaatan kepada orang yang memimpin kita, meskipun dia adalah seorang budak Habasyah. Alloh menjelaskan ini secara panjang lebar dan mencukupi, dengan berbagai jenis penjelasan dalam bentuk pensyariatan dan ketetapan. Kemudian pokok ini menjadi tidak dikenal oleh mayoritas orang-orang yang mengaku sebagai ulama! Maka bagaimana ia diamalkan?

Pokok keempat: Penjelasan tentang ilmu dan ulama’, fiqh dan fuqoha’, serta penjelasan tentang orang yang menyerupai mereka tetapi bukan bagian dari mereka. Alloh ta’ala telah menjelaskan pokok ini pada awal surat al-Baqoroh dari firman-Nya: “Wahai Bani Isro’il! Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku limpahkan kepada kalian,” [al-Baqoroh: 40]. Sampai firman-Nya: “Wahai Bani Isro’il!” [al-Baqoroh: 122] sebelum penyebutan Ibrohim ‘alaihis salam.

Dan ini diperjelas oleh pembicaraan yang panjang, jelas dan terang bagi orang awam yang bodoh yang disebutkan oleh As-Sunnah terkait hal ini.

Kemudian ini menjadi perkara yang paling asing! Ilmu dan fiqh menjadi bid’ah dan kesesatan! Sebaik-baik apa yang ada pada mereka adalah mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan. Ilmu yang diwajibkan oleh Alloh atas makhluk dan dipuji-Nya menjadi tidak diucapkan kecuali oleh orang Zindiq atau orang gila! Dan orang yang mengingkarinya, memusuhinya, serta menulis kitab tentang peringatan dan larangan terhadapnya menjadi orang faqih yang ‘alim!

Pokok kelima: Penjelasan Alloh subhanahu tentang wali-wali-Nya dan pembedaan antara mereka dan orang-orang yang menyerupai mereka di antara musuh-musuh Alloh yang munafiq dan durhaka. Cukup dalam hal ini satu ayat dalam surat Alu ‘Imron, yaitu firman-Nya: “Katakanlah, Jika kalian mencintai Alloh, maka ikutilah aku, niscaya Alloh akan mencintai kalian.” [Alu ‘Imron: 31]

Satu ayat dalam surat al-Ma-idah, yaitu firman-Nya: “Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, niscaya Alloh akan mendatangkan suatu kaum yang Dia cintai dan mencintai-Nya.” [al-Ma’idah: 54]

Dan satu ayat dalam surat Yunus, yaitu firman-Nya: “Ingatlah wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa.” [Yunus: 62]

Kemudian perkara ini berubah di kalangan mayoritas orang-orang yang mengaku sebagai ulama dan bagian dari pemberi petunjuk bagi makhluk dan penjaga syariat: para wali haruslah orang-orang yang tidak mengikuti para rosul, sehingga orang yang mengikuti para rosul bukanlah bagian dari mereka; para wali haruslah orang-orang yang meninggalkan jihad, sehingga orang yang berjihad bukanlah bagian dari mereka; dan para wali haruslah orang-orang yang meninggalkan iman dan taqwa, sehingga orang yang memelihara iman dan taqwa bukanlah bagian dari mereka! Ya Robb kami! Kami memohon kepada-Mu maaf dan ampunan. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar segala permohonan.

Pokok keenam: Bantahan terhadap syubhat yang dibuat oleh syaithon untuk meninggalkan al-Qur’an dan As-Sunnah serta mengikuti pendapat dan hawa nafsu yang berbeda-beda. Yaitu bahwa al-Qur’an dan As-Sunnah tidak bisa diketahui kecuali oleh mujtahid muthlaq, dan mujtahid adalah orang yang memiliki sifat demikian dan demikian; sifat-sifat yang barangkali tidak ditemukan secara sempurna pada Abu Bakr dan Umar. Jika seseorang tidak memiliki sifat-sifat ini, maka hendaklah dia berpaling dari al-Qur’an dan as-Sunnah, sebagai suatu keharusan yang pasti, tanpa ada keraguan dan permasalahan di dalamnya. Dan barang siapa mencari petunjuk dari al-Qur’an dan as-Sunnah, maka dia antara orang Zindiq atau orang gila, karena sangat sulitnya memahami keduanya.

Subhanalloh wa bi hamdih. Berapa banyak Alloh subhanahu menjelaskan dalam bentuk pensyariatan, ketetapan, akhlaq dan perintah dalam membantah syubhat yang terla’nat ini, dari berbagai macam sisi, sehingga sampai ke tingkat perkara-perkara umum yang diketahui secara aksiomatis. Tetapi sebagian besar manusia tidak mengetahui.

“Sungguh, pasti berlaku perkataan (hukuman) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman. Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, karena itu mereka tertengadah. Dan Kami jadikan di hadapan mereka sekat (dinding) dan di belakang mereka juga sekat, dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. Dan sama saja bagi mereka, apakah engkau memberi peringatan kepada mereka atau engkau tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman juga. Sesungguhnya engkau hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, walaupun mereka tidak melihat-Nya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.” [Yasin: 7-11]

Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam. Semoga Alloh melimpahkan sholawat kepada junjungan kita Muhammad, serta kepada keluarga dan para sahabatnya, serta melimpahkan salam yang sebanyak-banyaknya sampai hari kiamat (qiyamah).

Dikutip dari: ad-Duror as-Saniyyah fi al-Ajwibah an-Najdiyyah.

Maktabah Al-Himmah

BULAN SYA’BAN, KEUTAMAAN DAN IBADAH SUNNAH DIDALAMNYA

BULAN SYA’BAN, KEUTAMAAN DAN IBADAH SUNNAH DIDALAMNYA

Segala puji bagi Alloh, sholawat serta salam semoga tercurah atas Rosululloh, beserta keluarga, para sahabatnya dan orang-orang yang berwala’ padanya. Adapun selanjutnya;

Sesungguhnya bulan Sya’ban disebut sya’ban karena penduduk Arab dahulu memiliki kebiasaan pada bulan itu berpencar untuk menyerbu dan berperang (Fathul Bari - Ibnu Hajar).

Bulan yang mulia ini memiliki hukum-hukum yang membedakannya dengan bulan-bulan lainnya.

Keutamaan berpuasa pada bulan Sya’ban

Berpuasa pada bulan sya’ban memiliki keutamaan tidak seperti keutamaan puasa pada bulan-bulan lainnya. Karena itu, Rosululloh shollallohu 'alayhi wasallam memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban.

Dari Ummul Mu’minin ‘Aisyah rodhiyallohu 'anha berkata: “Tidak pernah Nabi shollallohu 'alayhi wasallam berpuasa pada suatu bulan melebihi puasanya pada bulan Sya’ban. Sesungguhnya beliau berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya".

Dan dalam riwayat lain: "Beliau berpuasa pada bulan sya’ban seluruhnya, beliau berpuasa pada bulan sya’ban kecuali beberapa hari." [Muttafaqun ‘alayh].

Berpuasa sehari pada bulan Sya’ban memiliki nilai yang sama seperti berpuasa dua hari di bulan lain

Diriwayatkan oleh Syaykhon (al-Bukhori dan Muslim) dari ‘Imron bin Husayn rodhiyallohu 'anhu dari Rosululloh shollallohu 'alayhi wasallam, beliau bersabda padanya: "Apakah kamu berpuasa sehari saja pada (saror) hari-hari terakhir bulan Sya’ban?" laki-laki itu menjawab, "Tidak." Maka Rosululloh shollallohu 'alayhi wasallam bersabda: “maka jika kamu telah melewati bulan romadhon, berpuasalah dua hari untuk menggantikannya."

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: al-Qurthubi berkata: “Padanya terdapat tanda yang menunjukkan keutamaan berpuasa pada bulan Sya’ban, dan bahwasannya berpuasa sehari (pada bulan tersebut) setara dengan dua hari berpuasa di bulan lain. Disimpulkan dari sabda beliau dalam hadits tersebut yaitu "maka berpuasalah dua hari untuk menggantikannya" yakni menggantikan hari yang kamu lewatkan dari puasa Sya’ban.

Hikmah memperbanyak puasa di bulan Sya’ban

Usamah bin Zayd rodhiyallohu 'anhu bertanya kepada Nabi shollallohu 'alayhi wasallam, maka ia berkata: "Wahai Rosululloh, Aku tidak pernah melihatmu berpuasa pada satu bulan di antara bulan-bulan lainnya seperti engkau berpuasa pada bulan Sya’ban?" Maka Nabi shollallohu 'alayhi wasallam menjawab dengan berkata: "Ini adalah bulan yang dilalaikan oleh manusia, di antara Rojab dan Romadhon. Ia adalah bulan di mana diangkatnya amalan-amalan pada Rabb semesta alam. Dan aku suka jika amalanku di angkat sedang aku dalam keadaan berpuasa." [Hadits hasan riwayat an-Nasa’i].

Maka dari sini menjadi jelaslah bahwasanya memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban memiliki sebab-sebab tertentu. Di antaranya;

Pertama: Lalainya manusia, sedangkan ibadah pada waktu-waktu lalainya manusia memiliki keutamaan yang agung. Dan kami memiliki sejumlah pelajaran yang disebutkan oleh Ibnu Rojab al-Hambali dalam kitab “Lathoiful Ma’arif fiima li Mawasimil ‘Am minal Wazhoif”. Di mana dia berkata di antaranya, "Apa yang Alloh tetapkan dari pahala yang melimpah bagi orang yang mengingat-Nya Subhaanah di pasar-pasar (doa memasuki pasar), karena pasar adalah tempat yang melalaikan! Di dalamnya banyak penipuan, suap, riba dan memandang pada sesuatu yang diharamkan … , karena itu Alloh mencatat bagi mereka yang membaca doa masuk ke pasar satu juta kebaikan, menghapus darinya satu juta keburukan, dan megangkat untuknya satu juta derajat.” [Hadits shohih, riwayat an-Nasa’i dan lainnya].

Dan dari Salman rodhiyallohu 'anhu ia berkata, “Apabila manusia telah melaksanakan sholat Isya', mereka tergolong menjadi tiga keadaan: Di antara mereka orang yang mendapatkan dosa dan tidak mendapatkan pahala, di antara mereka ada yang mendapatkan pahala dan tidak mendapatkan dosa, dan di antara mereka ada yang tidak mendapatkan pahala dan tidak mendapatkan dosa. Dan orang yang mendapatkan pahala dan tidak mendapatkan dosa adalah seorang yang merampas gelapnya malam dan kelalaian manusia, lalu ia berdiri untuk sholat. Maka dialah orang yang mendapatkan pahala dan tidak mendapatkan dosa.” [Diriwayatkan ath-Thobroni secara mauquf dengan sanad tidak mengapa baginya].

Dan di antara contohnya adalah sabda beliau shollallohu 'alayhi wasallam, “Ibadah yang dilaksanakan dalam keadaan kekacauan (bernilai) seperti berhijrah kepadaku.” [HR. Muslim].

An-Nawawi berkata: “Ma’na dari kekacauan di sini adalah fitnah dan bercampur baurnya urusan manusia, dan sebab banyaknya keutamaan-keutamaan ibadah dalamnya adalah karena manusia melalaikannya dan menyibukkan diri darinya dan tidak menyibukkan diri untuk ‘ibadah kecuali hanya beberapa orang saja.”

Sebab yang kedua: Bahwasanya Sya’ban adalah bulan di mana diangkatnya amalan-amalan kepada Alloh, dan berikut adalah 3 macam pengangkatan amal:

Pengangkatan amal harian: Nabi shollallohu 'alayhi wasallam bersabda: “Sesungguhya Alloh Azza wa Jalla tidak tidur dan tidak pantas bagi-Nya untuk tidur, Dia merendahkan dan meninggikan timbangan, mengangkat amalan malam sebelum amalan siang dan amalan siang sebelum alaman malam.”

Dan dalam riwayat lainnya: “dan diangkatnya amalan siang hari dengan amalan malam dan amalan malam hari dengan amalan siang hari”. (Diriwayatkan oleh Muslim)

An-Nawawi berkata: “Diangkat kepada-Nya amalan malam hari sebelum diangkat kepada-Nya amalan siang hari setelahnya. Dan diangkatnya amalan siang hari sebelum diangkatnya amalan malam hari setelahnya. Dan ma’na dari riwayat kedua adalah diangkat kepada-Nya amalan siang hari di awal malam setelahnya, dan diangkat kepadanya amalan malam hari di awal siang setelahnya. Karena sesungguhnya para malaikat yang menjaga membawa naik amalan-amalan malam setelah selesainya di waktu awal siang dan membawa naik amalan-amalan siang setelah selesai di awal malam. WaAllohu a’lam.”

Pengangkatan amal pekanan: Rosululloh shollallohu 'alayhi wasallam bersabda: “Diperiksanya amalan-amalan (manusia) pada setiap Senin dan Kamis. Maka Alloh akan mengampuni setiap orang yang tidak menyekutukan Alloh dengan suatu apapun, kecuali seorang hamba yang antara dia dan saudaranya terjadi permusuhan, lalu dikatakan “tinggalkanlah (pengampunan) atas kedua orang ini hingga mereka melakukan perbaikan.” [HR. Muslim].

Nabi shollallohu 'alayhi wasallam bersabda tentang hari Senin dan Kamis: “Kedua hari ini merupakan hari diangkatnya amalan-amalan kepada Robb semesta alam, dan aku suka jika amalanku diangkat dalam keadaan aku berpuasa.” (Hadits Hasan, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi)
   
Pengangkatan amal tahunan: dilakukan dalam bulan Sya’ban pada setiap tahunnya.Sebagaimana hal itu dijelaskan di dalam hadits yang telah disebutkan: “Ia adalah bulan dimana diangkatnya amalan-amalan pada Robb semesta alam”.

Sebab ketiga: Dalam hadits tersebut juga terdapat isyarat dari Nabi shollallohu 'alayhi wasallam yang menunjukkan adanya hal istimewa lain bulan Sya’ban, yaitu ia merupakan bulan yang terletak diantara bulan rojab yang merupakan bulan haram dan Romadhon yang diagungkan. Maka engkau mendapati bahwa manusia bersungguh sungguh dalam melakukan ibadah mereka di bulan Rojab yang tidak mereka lakukan di bulan Sya’ban!

Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan dalam kitabnya [Tabiyinul ‘Ajab bima Warada fii Syahri Rojab]: “Maka di sini terdapat pemberitahuan bahwasanya Rojab memiliki keserupaan dengan Romadhon, dan manusia sibuk beribadah di bulan Rojab sebagaimana mereka sibuk beribadah di bulan Romadhon dan mereka melalaikan dari memperhatikan ibadah di bulan Sya’ban. Karena itu Nabi shollallohu 'alayhi wasallam berpuasa (di bulan Sya’ban).

Kemudian disebutkan di dalam Atsar dengan sanadnya dari Ummu Azhar bin Sa’id, bahwasanya ia menemui 'Aisyah rodhiyallohu 'anha, lalu ia katakan padanya bahwasamya ia sedang berpuasa Rojab, maka 'Aisyah rodhiyallohu 'anha berkata padanya: “Berpuasalah pada bulan Sya’ban, karena padanya terdapat keutaman."

Adapun hadits 'Aisyah rodhiyallohu 'anha, “Aku tidak pernah melihat Rosululloh shollallohu 'alayhi wasallam berpuasa lebih banyak dari bulan Sya’ban,"

Maka nampak di sini keutamaan berpuasa di bulan Sya’ban melebihi bulan lainnya.

Sebab keempat: Dan di antara hikmah-hikmah puasa Sya’ban juga adalah sebagai latihan untuk melaksanakan puasa Romadhon. Ibnu Rojab berkata: “Dan sungguh telah dikatakan bahwa terdapat ma’na lain dalam puasa Sya’ban, yaitu bahwasanya puasa pada bulan tersebut adalah seperti latihan untuk menghadapi puasa Romadhon agar ia tidak masuk dalam bulan Romadhon di atas kesukaran dan terbebani, tetapi ia telah terlatih dan terbiasa untuk berpuasa dan melaluinya. Dan dengan berpuasa Sya’ban sebelumnya dia mendapatkan manis dan lezatnya berpuasa. Maka ia masuk dalam bulan Romadhon dengan kuat dan bersemangat.” (Lathoiful Ma’arif fiimaa li Mawasimil A’am minal Wazhoif).

Apakah disyariatkan berpuasa di bulan Sya’ban itu sebulan penuh atau sebagiannya?

Dalam hadits 'Aisyah rodhiyallohu 'anha sebelumnya, ada dua riwayat, riwayat pertama “Beliau (Rosululloh shollallohu 'alayhi wasallam) berpuasa Sya’ban seluruhnya” dan riwayat kedua “Beliau berpuasa Sya’ban kecuali sedikit”.

Dan untuk menyatukan kedua riwayat ini, Nampak bahwa Rosululloh shollallohu 'alayhi wasallam berpuasa pada mayoritas hari di bulan Sya’ban. Imam Nawawi berkata: “Dan perkataannya (Aisyah rodhiyallohu 'anha) bahwasanya beliau berpuasa Sya’ban seluruhnya, bahwasanya beliau berpuasa pada bulan Sya’ban kecuali hanya sedikit. Kalimat kedua merupakan penafsiran dari kalimat pertama dan penjelasan perkataannya “seluruhya” yaitu mayoritasnya.” (Syarh Shohih Muslim)

Dan berkata al-Qodhi ‘Iyadh: Dan begitulah ditafsirkannya perkataan, “beliau berpuasa Sya’ban seluruhnya” dan “beliau berpuasa Sya’ban kecuali sedikit darinya”. Dan perkataan kedua menafsirkan perkataan yang pertama. Dan penjelasan dari kalimat ‘seluruhnya’ adalah mayoritas.” [Ikmalul Mu’allim fii Syarhi Shohih Muslim].

Pendapat ini dikuatkan dengan apa yang diriwayatkan Muslim dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu 'anhu ia berkata, “Tidak pernah Nabi shollallohu 'alayhi wasallam berpuasa sebulan penuh kecuali Romadhon.”

An-Nawawi berkata: “Para Ulama’ berkata: Dan sesungguhnya beliau tidak menyempurnakan (puasa sebulan penuh) selain bulan Romadhon agar tidak disangka wajib." [Syarh Shohih Muslim].

Memisahkan antara puasa Sya’ban dan puasa Romadhon

Dari Abu Huroyroh rodhiyallohu 'anhu bahwasanya Rosululloh shollallohu 'alayhi wasallam bersabda, "Janganlah salah satu di antara kalian mendahului Romadhon dengan berpuasa satu atau dua hari kecuali bagi seorang yang sedang menjalankan puasa kebiasaannya maka berpuasalah pada hari itu.” [Muttafaqun ‘alaiyh].

Dan dari Ammar bin Yassir rodhiyallohu 'anhu ia berkata, "Barangsiapa yang berpuasa pada hari diragukan atasnya, maka sungguh ia telah mendurhakai Abul Qosim." [Hadits hasan, diriwayatkan oleh Abu Dawud dan lainnya].

Berkata ash-Shon’ani, “Ketahuilah bahwasanya hari yang meragukan adalah pada hari ke 30 dari Sya’ban, apabila tidak terlihat hilal di malam karena mendung hari yang menutupinya atau keadaan yang serupa dengannya maka bisa jadi ia masuk ke dalam bulan Romadhon atau bisa jadi masuk ke dalam bulan Sya’ban, dan hadits ini dan ma’na yang terkandung dalamnya menunjukkan atas haramnya berpuasa pada hari itu." [Subulus Salam].

Dan dari Atha’, ia berkata: "Aku sedang berada bersama Ibnu Abbas sehari atau dua hari sebelum Romadhon, maka ia mendekatkan padaku makan malamnya lalu ia berkata: 'Berbukalah wahai orang-orang yang berpuasa! Janganlah kalian menyambung romadhon dengan puasa apapun dan pisahkanlah.'" [Diriwayatkan oleh Abdur Rozzaq dalam Mushonnafnya].

Berkata Ibnu Abdil Barr: "Ibnu Abbas dan orang-orang terdahulu rohimahumulloh menyukai untuk memisahkan antara Sya’ban dan Romadhon dengan berbuka sehari atau beberapa hari, sebagaimana mereka menyukai memisahkan antara sholat fardhu dengan cara berbicara atau berdiri atau berjalan atau maju atau mundur dari tempat mereka." [Al-Istidrok, Al-Jami’ li Madhahib al-Fuqohail Amshor].

Menghitung hilal Sya’ban untuk Romadhon

Dari Abu Huroyroh rodhiyallohu 'anhu dia berkata; Rosululloh shollallohu 'alayhi wasallam bersabda, “Hitunglah hilal Sya’ban untuk Romadhon.” [Hadits hasan, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan lainnya)

Berkata al-Mubarokfuri, “Ahshu –hitunglah– dengan terpotongnya hamzah kata perintah dari al-ihsho’ dan ia pada asalnya adalah menghitung dengan kerikil, maksudnya hitunglah. (hilal Sya’ban) yaitu hari-harinya. “Untuk Romadhon” yaitu karena Romadhon atau untuk memperhatikan puasa Romadhon …”

Dan berkata Ibnu Hajar: yaitu berusaha untuk menghitungnya dan dengan cermat agar engkau meneliti penampakannya dan memperhatikan kedudukannya agar kalian bisa menjangkau hilal Romadhon dengan penglihatan secara pasti sehingga tidak terlewatkan darinya sedikitpun.” [Tuhfatul Ahwadzi fi Syarh Sunan at-Tirmidzi].

Ya Alloh, mudahkanlah bagi kami puasa Sya’ban dan sampaikan kami pada Romadhon.
Ya Alloh, limpahkan sholawat serta salam atas Nabi kita Muhammad dan atas keluarganya serta seluruh sahabat beliau.

Maktabah Al-Himmah

SURAT DARI JUNUD KHILAFAH KEPADA MEREKA YANG ENGGAN BERJIHAD

SURAT DARI JUNUD KHILAFAH KEPADA MEREKA YANG ENGGAN BERJIHAD

Segala puji bagi Allah ta’ala, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Muhammad shallallahu alaihi wasallam, juga kepada keluarga dan para sahabatnya. Amma ba'du.

Kepada kaum muslimin di mana saja berada, terkhusus bagi mereka di Iraq dan Syam.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Terdapat sebuah ketentuan dari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda: “Tidaklah sempurna iman seorang hamba sehingga dia mencintai sesuatu untuk saudaranya, sebagaimana dia mencintai sesuatu tersebut untuk dirinya”, dan beliau juga bersabda, “agama itu adalah nasehat”.

Aku bersaksi di hadapan Allah bahwa aku sangat mencintai kalian karena Allah, dan sungguh aku adalah penasehat bagi kalian, maka dengarkanlah nasehat dariku dan renungilah, karena sesungguhnya pada hari ini (di dunia) hanya ada amalan tanpa hisab, dan hari esok (di akhirat) adalah hisab tanpa amalan!

Wahai kaum muslimin, sesungguhnya aku berbicara kepada sebagian dari kalian yang enggan untuk pergi berjihad. Kita saksikan langsung dengan mata kita, dan mendengarkan dengan telinga-telinga kita bagaimana sepak terjang orang-orang kafir. Mereka semua bersatu baik dari arab ataupun non-arab untuk memerangi Khilafah Islamiyyah, dan berusaha mencabut islam yang haqiqi (sebenarnya) ini sampai ke akar-akarnya, dan memberantas kaum muslimin yang bertauhid, apa peran kalian untuk realita yang amat dahsyat ini?

Apa kalian rela berpangku tangan dan duduk-duduk dengan golongan yang mendapatkan udzur dari Allah (wanita, anak-anak,dan orang-orang cacat), sedangkan kalian mengintip peperangan dari kejauhan?

Apakah kalian rela berdiam diri dengan para munafiqin yang berpaling dari jihad, yang mana Allah azza wa jalla berfirman tentang mereka: “Mereka rela menjadi bagian orang yang berudzur dan di butakan hatinya sedangkan mereka tidak sadar,” (QS. at-Taubah: 87).

Apakah kalian merasa aman dengan makar Allah dan penangguhan-Nya terhadap kalian? Tidakkah kalian takut akan murka Allah yang Maha Perkasa?

Wahai orang yang enggan berijhad! Apa yang sudah kalian korbankan untuk agama kalian? Sedangkan kalian menyaksikan bahwasanya agama ini di perangi di setiap tempat dan waktu!

Bagaimana kalian enak-enakan duduk, sedangkan saudara kalian para mujahidin membayar harga mahal untuk kesejahteraan kalian dengan darah-darah mereka, anggota badan mereka yang tercabik cabik, harta mereka dan juga keluarga mereka?!

Bagaimana kalian merasa nyaman dengan jabatan kalian, sedangkan kaum muslimin di racun dengan berbagai adzab oleh tangan-tangan makhluk Allah yang paling keji di muka bumi (yakni orang-orang kafir dan musyrik)?

Bahkan bagaimana kalian bisa menikmati kasur-kasur kalian, sedangkan kalian memiliki saudari-saudari perempuan yang tertawan di penjara para thaghut?!

Di Iraq saja, sesuai data sensus dari Menteri Dalam Negeri (Shafawi), ada sekitar 5.130 wanita yang tinggal di balik jeruji besi, dan 3.330 diantaranya direnggut kehormatanya. 1.200 di antaranya ada yang hamil dan sampai melahirkan, dan ada sekitar 180 wanita yang meninggal di karenakan penganiayaan terhadap mereka, laa haula wa laa quwwata illa billah.

Apa alasan kalian di hadapan Allah kelak? Ketika Allah bertanya tentang wanita-wanita muslimah yang di tawan di Baghdad, Damaskus, dan Al-Khair? Padahal mereka meminta pertolongan dan bantuan dari kalian beratus-ratus kali untuk membebaskan mereka dari belenggu orang-orang kafir.

Wahai kalian yang malas untuk berjihad, apakah kalian mengira bahwasanya kalian tidak termasuk orang yang di perintahkan berjihad! Apakah kalian mengira kewajiban kalian hanya mendoakan para mujahidin sehingga jika kalian melakukan hal tersebut akan memberi kemenagan buat mereka?

Bukankah kitab kalian adalah Al-Qur’an? Bukankan nabi kalian adalah Muhammad shallallahu alaihi wasallam? Bukankah agama kalian adalah islam? Bukankah Allah telah berfirman, “Diwajibkan atas kalian untuk berperang”?

Lalu jihad apakah yang diwajibkan Allah kepada kalian, coba pikirkan?! Apakah yang di maksud adalah jihad kalian di rumah-rumah bersama istri-istri kalian, dan di atas ranjang-ranjang dan sofa-sofa kalian sebagaimana yang kalian anggap? Kenapa kalian mengamalkan ayat “diwajibkan atas kalian berpuasa” dan ayat “di wajibkan atas kalian qishosh” sedangkan kalian tidak mengamalkan “di wajibkan atas kalian berperang”?

Apakah kalian memiliki tuhan selain Allah? Apakah kalian memiliki kitab selain Al-Qur’an? Apakah menahan musuh-musuh Allah yang ingin mencabut islam sampai akar-akarnya ini hanya kewajiban para mujahidin yang ada saat ini saja? Dan apakah kalau kalian duduk-duduk di rumah-rumah kalian akan menjamin keselamatan kalian?!

Kemudian, apakah Khilafah Islamiyah yang telah tegak pada hari ini di Iraq, Syam dan wilayah-wilayah lainnya (yang telah bergabung/berbai’at) hanya milik mujahidin semata? Yang mana jumlah mereka beberapa ribu saja sedangkan kalian berjuta juta?!

Bukankah dia merupakan Daulah kalian juga? Bukankah kalian sudah menikmati banyak nikmat dari tegaknya hukum Allah di muka bumi? Sehingga terwujud adanya keadilan untuk orang yang terzhalimi dan balasan bagi orang yang zhalim sehingga kalian bisa tidur dalam rasa tenang dan aman akan harta, diri dan kehormatan kalian?

Tidakkah kalian berjalan di dalam naungan khilafah dengan penuh kemuliaan? Apakah semua itu tidak ada harganya? Para mujahidin selalu berkorban dan kalian hanya bersenang-senang?

Wahai orang-orang yang malas berjihad!! Bukankah Allah sudah berfirman,”Perangilah mereka, maka Allah akan mengadzab mereka dengan tangan-tangan kalian, dan menghinakan mereka dan menolong kalian atas mereka, dan menyembuhkan dada-dada orang beriman dan menghilangkan kemarahan mereka.” (QS. At-Taubah: 14).

Bukankah Allah subhanahu wa ta’aala menyuruh kalian, “Perangilah mereka yang tidak mau beriman kepada Allah dan hari akhir, dan tidak mengharamkan apa-apa yang di haramkan Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang haq dari para ahlul kitab sampai mereka membayar jizyah dalam keadaan tunduk,”? (QS. at-Taubah: 29).

Maka apa yang sudah kalian lakukan dari ayat di atas, dan banyak lagi ayat lain semisalnya di dalam al-Qur’an? Kitabmu adalah kitab agama islam yang tidak ada di dalamnya suatu kebathilan dan kekurangan, yang di turunkan oleh yang Maha Bijaksana lagi terpuji, yang mana kitab ini kalian baca di siang dan petang hari.

Wahai para pemalas dalam jihad, tidakkah kalian takut dengan firman Allah azza wa jalla, "Wahai orang-orang yang beriman, ada apa dengan kalian jika kalian di seru untuk berangkat jihad di jalan Allah kalian merasa berat dengan dunia kalian, apakah kalian lebih menyenangi kehidupan dunia dari pada kehidupan akhirat? Sesungguhnya kehidupan dunia tidak sebanding dengan akhirat, jika kalian tidak berangkat berperang niscaya Allah akan menghukum kalian dengan adzab yang pedih, dan mengganti kalian dengan kaum yang lain, dan kalian tidak akan merugikanya sedikitpun, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu,” (QS. at-Taubah: 38).

Tidakkah membuat takut kalian firman Allah azza wa jalla, “orang-orang yang tidak ikut berperang merasa gembira dengan duduk diam sepeninggal Rasulullah, mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah dan mereka berkata “janganlah kamu berangkat (berperang) dalam panas terik ini”, katakanlah (Muhammad) “api neraka jahanam lebih panas” jika mereka mengetahui.” (QS. at-taubah: 81).

Tidakkah kalian berfikir pada hari kiamat kelak dengan hukuman atas jauhnya kalian dari jihad di sebabkan ketertinggalan kalian, berdasarkan firman Allah ta’ala, “maka jika Allah mengembalikan kamu wahai Muhammad kepada suatu golongan dari mereka (orang-orang munafik) kemudian mereka meminta izin kepadamu untuk keluar (berperang) maka katakanlah,: kamu tidak boleh keluar selama-lamanya dan tidak boleh boleh memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya kamu telah rela tidak pergi (berperang) sejak semula. Karena itu duduklah (tinggalah ) bersama orang yang tidak ikut berperang” (QS. at-Taubah: 83).

Apakah kalian tidak mendengar kisah 3 sahabat yang tertinggal dalam jihad dimana Allah berfirman, “dan terhadap tiga orang yang di tinggalkan. Hingga bumi terasa sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah terasa sempit bagi mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksaan) Allah, melainkan kepadanya saja, kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dakam taubatnya. Sesungguhya Allah Menerima Taubat, Maha Penyayang” (QS. at-Taubah: 118).

Apa dosa mereka? Kejahatan apa yang telah mereka buat? Sesungguhnya dosa itu adalah tertinggal dari jihad, duduk-duduk dari peperangan. Maka renungkanlah! Sesungguhnya mereka adalah sahabat Nabi, dari sebaik-baik manusia, dan mereka pernah keluar bersama nabi di beberapa kancah peperangan, maka apa balasan bagi mereka? Rasulullah dan kaum muslimin telah mengasingkan mereka dan menjauhi mereka selama lima puluh hari, padahal mereka telah bertaubat dan jujur terhadap Allah dan Rasul-Nya! Akan tetapi Allah tidak menerima taubat mereka kecuali setelah lima puluh hari! Maka sesungguhnya perkara ini sangat bahaya. Maka introspeksilah diri kalian sebelum datangnya hari hisab (penghitungan amal).

Wahai orang yang enggan berjihad, kita belum melihat bantuan kalian untuk saudara-saudara kalian para mujahidin, dan juga peperangan kalian terhadap pasukan salib, orang-orang liberal, tentara shafawi, dan para thaghut yang lain, atas dasar apa kalian duduk-duduk? Dan apa sebab kelemahan yang menimpa kalian?

Sesungguhnya orang jahiliyah di zaman ini, dengan kekufuran dan kerusakan mereka yang parah, tidak rela dengan kehinaan yang di alaminya. Mereka tidak rela melihat anak-anak perempuan mereka di tangan-tangan musuh mereka dan merebut kehormatan anak-anaknya. Mereka tidak rela jika ada seorang musuh pun yang merebut harta mereka, dan mengotori kehormatan mereka. Lalu bagaimana dengan kalian wahai kaum muslimin yang mana Allah telah memuliakan kalian dan menghinakan musuh kalian, dan Allah berfirman, “mereka berkata “sungguh jika kami kembali ke madinah (dari perang Bani Musthaliq) pastilah orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari sana, padahal kekuatan itu hanya bagi Allah, Rasul-Nya dan bagi orang orang mukmin, tetapi orang-orang munafiq itu tidak mengetahui.” (QS. al-Munafiqun: 8).

Apakah orang-orang jahiliyah yang buta itu lebih baik dari kalian?

Wahai para pemalas dalam berjihad, jika kalian menganggap bahwasanya kalian berada di front, sebagaimana bisikan setan kepada sebagian kalian, dan memberi syubhat kepada kalian bahwa mendidik anak-anak kalian ini adalah jihad, mengajari manusia dan mendakwahi mereka ini adalah jihad, dan seterusnya. Maka dia (setan) akan mempengaruhi kalian sehingga kalian berkata “kalau begitu tak perlu lagi mengangkat senjata untuk menjadi mujahidin, karena banyak sekali pintu untuk berjihad,”!

Ini semua benar wahai para pemalas dalam jihad, bahwasanya kalian di front, akan tetapi bukan front bumi jihad melainkan front istri-istri kalian, perut-perut kalian dan nafsu kalian. Kesenangan dunia dan takut mati menjadikan kalian berat untuk berjihad. Ini semua adalah kenyataan yang terdapat pada diri kalian yang kami tidak mau berbasa basi denganya. Dan ini, adalah sebab kehinaan dan hancurnya kepribadian yang mana kalian hidup dengan kehinaan tersebut sampai saat ini. Sebagaimana yang di kabarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: "jika kalian berjual beli dengan inah, suka dengan sapi-sapi ternak kalian, dan ridho dengan percocok tanaman kalian sedangkan kalian meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kalian dengan kehinaan dan tidak akan di cabut sampai kalian kembali kepada agama kalian” (Hadist shahih Riwayat Ahmad dan Abu Dawud).

Sungguh tidak akan dicabut kehinaan ini dari hidup kalian kecuali dengan mengangkat senjata, darah, tubuh-tubuh yang tercincang dan pengorbanan yang besar.

Wahai orang-orang yang malas berjihad, kalian dulu pernah merasa jengkel atas pembantaian mujahidin terhadap tentara dan polisi Rafidhah dan Nusairiyah! Dan membela mereka atas dasar mereka muslim (seperti anggapan kalian) supaya kalian tidak berperang! Demi Allah, setelah kalian melihat dengan mata kalian apa yang telah di lakukan oleh tentara Rafidhah dan Nushairiyah yang sudah membunuh orang-orang terbaik kalian, menghalalkan kehormatan kalian, memperkosa wanita-wanita kalian, merampok harta kalian, membakar rumah-rumah dan tanaman kalian, dan bersekutu dengan pasukan salib, majusi dan Rusia untuk mencabut agama kalian sampai akar-akarnya dan menghilangkan akhlaq mulia kalian, Aku ingin bertanya; apakah kalian masih ragu dalam memerangi mereka? Bahkan apa kalian masih ragu dengan kekafiran mereka? Orang-orang terlaknat yang masuk pintu kekafiran dari berbagai arah? Demi Allah kita tidak membahas pembatal-pembatal keislaman yang jumlahnya sepuluh kecuali kita akan mendapatkan semua hal tersebut terdapat pada diri mereka! Dan kalian mengetahui hal itu dengan baik.

Wahai orang yang malas berjihad, sungguh mereka adalah orang-orang kafir, murtad lagi munafik, maka jangan dengarkan ulama suu dan pendeta-pendeta thaghut yang mengkaburkan pandangan manusia terhadap urusan agamanya hanya sekedar untuk mendapatkan secuil dunia. Allah berfirman, “wahai orang-orang beriman sesungguhnya banyak dari rahib-rahib dan pendeta yang memakan harta-harta manusia dengan cara bathil, dan mereka menghalang halangi dari jalan Allah”. Kemudian, “wahai para ahlul kitab, kenapa kalian mencampur adukan yang haq dan yang bathil dan kalian menyembunyikan kebenaran sedangkan kalian mengetahuinya?”

Dan bagi siapa yang mempercayai mereka dan mengamalkan perintah-perintah mereka dalam memerangi kaum muslimin dan loyal kepada orang-orang kafir maka dia telah menjadikan mereka arbab (tuhan) selain Allah. Allah berfirman, “mereka menjadikan orang-orang alim (yahudi) dan rahib rahibnya (nasrani) sebagai tuhan selain Allah, dan juga al masih putra maryam; padahal mereka hanya di suruh menyembah tuhan yang Maha Esa tidak ada tuhan selain dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sekutukan”.

Maka jangan percaya dengan mereka, sungguh mereka tidak akan memberi manfaat apapun untuk kalian di hadapan Allah kelak. Jangan percaya jika mereka berkata kepada kalian sesugguhnya fase untuk berjihad telah lewat, TIDAK. Demi Allah sekarang, ya sekaranglah waktunya berperang.

Dari Salamah bin Nufail Al-Kindi radhiyallahu anhu berkata: “Saya pernah duduk bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan seorang laki-laki berkata; Wahai Rasulullah, manusia telah menelantarkan kuda dan meletakkan senjata, dan mereka mengatakan tidak ada lagi jihad, perang telah usai, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mendatangi laki-laki tadi, dan berkata: "mereka berdusta, sekarang... Ya sekaranglah saatnya perang telah tiba, dan masih akan selalu ada dari umatku kelompok yang berperang di atas kebenaran, maka Allah Allah condongkan hati suatu kaum untuk menyerang mereka, dan memberikan mereka rizki darinya, kuda telah terikat di tiang-tiangnya, selalu ada kebaikan sampai hari kiamat” (Hadits shahih diriwayatkan oleh Ahmad, Nasa’i, dan Thabrani).

Wahai orang-orang yang malas dalam berjihad, bertakwalah kalian kepada Allah dan kembalilah kepada agama kalian, yang mana agama kalian adalah jihad, maka penyeru jihad telah menyeru, mari kita berjihad. Allah berfirman: “wahai orang-orang beriman penuhilah seruan Allah dan Rasul-Nya jika mereka menyerumu kepada hal yang memberi kehidupan kepadamu”.

Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berkata: “Memberi kehidupan artinya adalah jihad”, kembalilah kepada jihad! Kembalilah!

“Jangan ceburkan diri kalian dalam kehancuran” (QS. al Baqarah:195). Kehancuran di sini maknanya adalah meninggalkan jihad dan sibuk dengan dunia, sebagaimana yang tertulis di dalam tafsir.

Dan kami akan menunggu kalian wahai orang yang malas berjihad, kami tunggu kalian di kamp-kamp mu’askar Daulah Islamiyah yang tersebar di mana-mana. Kami tunggu kalian untuk menolong agama kalian, dan mengangkat bendera kalian (laa ilaaha illallah, Muhammad Rasulullah). Kami tunggu supaya kalian membasmi musuh kalian dan kalian meraih antara dua perkara, kemenangan atau mati syahid. Jika kalian hidup maka hidup kalian akan mulia, dan kalaupun kalian mati, maka insya Allah mati kalian sebagai syuhada.

Oh betapa dekatnya surga dan elok, minumannya yang dingin dan segar, dan Romawi telah dekat kehancurannya, akan aku hancurkan jika aku bertemu dengan mereka.

Jika kalian tidak melakukan hal tersebut (jihad) maka berilah peluang untuk wanita-wanita kalian untuk menggantikan kalian, sebagaimana perkataan Ibnul Jauzi rahimahullah kepada umat di zamannya: “wahai manusia, telah berlangsung peperangan dan telah memanggil para penyeruh jihad, dan telah terbuka pintu-pintu langit, jika kalian tidak menjadi pasukan-pasukan kuda yang berperang, maka berilah kesempatan untuk wanita-wanita kalian, dan pergilah kalian dengan mengambil kosmetik, dan celak wahai wanita yang bersorban dan berjenggot”.

Kita berdoa semoga Allah menetapkan kita pada jalan jihad sampai kita bertemu dengan-Nya, dan melapangkan dada-dada kaum muslimin untuk berjihad di jalan-Nya dan menghiasi jihad ini di hati-hati mereka, dan menjadikan mereka benci duduk-duduk serta mencabut rasa pengecut dari dada mereka, aamiin.

Maktabah Al-Himmah