Tampilkan postingan dengan label Aliansi Al-Qa'idah Di Syam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aliansi Al-Qa'idah Di Syam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 April 2018

ALIANSI AL-QA’IDAH DI SYAM (BAGIAN 5, TAMAT)

DABIQ 12 - ARTIKEL

ALIANSI AL-QA’IDAH DI SYAM (BAGIAN 5, TAMAT)

Semenjak de-"Islamisasi" oleh nasionalis Shahawat “islam” di mulai, -faksi yang memiliki loyalitas terhadap Thawaghit Arab dan Turki- tidak ada bulan yang berlalu tanpa deklarasi nasionalisme dan demokrasi yang dirilis oleh sekutu al-Qa'idah di Syam ini. Thawaghit telah diperintahkan oleh tentara salib untuk menekan Shahawat agar terus menerus mengumumkan pengakuannya sehingga bantuan militer dan non-militer terus mengalir untuk mereka baik untuk mendapatkan dukungan politik internasional ataupun bantuan tentara salib dari udara.

Pengakuan itu tidak akan berakhir, dengan demikian kemurtadan mereka akan semakin menjadi-jadi dan lebih terang-terangan sehingga tidak ada lagi yang meragukannya, bahkan Murji’ah yang paling menyimpang sekalipun[1]. hal itu telah mencapai titik dimana setiap seorang dalam Jabhah Jaulani telah menyadari bahwa sekutunya terlalu memalukan untuk terus didukung secara terbuka[2]. Dengan demikian aliansi yang terdahulu dilengserkan, diremehkan, atau diabaikan, sampai pada titik dimana Jabhah Jaulani mempublikasikan penyerahan pos garis depan mereka ke Jabhah Syamiyah, sekutu terbuka dari tentara salib Amerika dan Thawaghit Turki. Itu bukanlah sekedar penarikan biasa tanpa tekanan militer, tapi penyerahan itu dikoordinasikan oleh kepemimpinan Jabhah Jaulani dan didokumentasikan dalam foto yang dirilis oleh sekutu dekat mereka. "Penarikan" Ini dimaksudkan untuk menyajikan bukti kepada "Muhajirin" di Jabhah Jaulani bahwa pemimpin mereka tidak bekerja sama dengan agen Amerika.

Tapi apakah ada kelompok "jihad" yang menyerahkan pos-nya kepada agen tentara salib yang didukung oleh jet untuk melawan Muslim?

Dan bagaimanapun juga, selama dua bulan terakhir telah ada tiga kali deklarasi besar yang dirilis oleh sekutu nasionalis Al-Qa'idah di Syam. Dan ketiga deklarasi itu berbau nasionalisme dan demokrasi.

Pada "15 September 2015," sebuah deklarasi dirilis oleh "Faksi Revolusioner Suriah" di mana mereka mengatakan:

"Perwakilan dari faksi revolusioner Suriah telah bertemu bersama dan membahas Pernyataan presiden oleh Dewan Keamanan PBB yang dikeluarkan pada tanggal 17 Agustus 2015, serta rencana yang diusulkan oleh utusan PBB untuk Suriah, Staffan de Mistura. Faksi-faski yang ikut dalam Pertemuan telah mengakui bahwa pernyataan dewan Keamanan PBB dapat menciptakan lingkungan yang kondusif untuk memulai negosiasi politik obyektif dan membangun kepercayaan di antara semua pihak. Dan faksi-faksi dalam pertemuan telah mencapai beberapa persetujuan umum diantaranya:"

"1. Kami menyambut panggilan untuk memulai proses politik yang mengarah kepada transisi politik menurut kesepakatan Jenewa yang mengatur pembentukan pemerintahan transisi yang akan difungsikan segera setelah solusi kesepakatan tercapai, termasuk semua otoritas eksekutif, dan kepresidenan."

"2. Kami menekankan prasyarat dari pelengseran Bashar al-Assad dan semua pilar rezimnya, dan tidak satupun dari mereka yang akan memiliki tempat atau peran dalam Suriah baru atau selama fase transisi."

"Kami memandang bahwa ini adalah prasyarat dasar dalam pelaksanakan setiap proses politik."

"3. Melaksanakan resolusi No. 2139 yang menyerukan semua kelompok untuk menghentikan setiap serangan terhadap warga sipil; dan untuk menahan diri dari menggunaan senjata di daerah padat penduduk, hal ini mencakup pemboman membabi buta dan penjatuhan barel peledak pada warga sipil, serta penghentian segera penahanan paksa, penyiksaan dan penculikan, serta membebasan semua tahanan."

"4. Kami menekankan pelaksanaan Resolusi Dewan Keamanan PBB No. 2165 pada tahun 2014 yang memungkinkan semua pihak dalam konflik Suriah untuk menyampaikan bantuan kemanusiaan sesegera mungkin dan tanpa hambatan, seperti memberikan bantuan langsung kepada penduduk."

"5. Kami menolak untuk mengabaikan dan diam terhadap kelompok teror dibawah rezim Assad yang dipanggil ke Suriah, sementara mereka disini hanya berlatih genosida dan memaksakan perpindahan penduduk serta perubahan demografis di Suriah; Diantara kelompok tersebut termasuk milisi sektarian, Pengawal Republik Iran dan Hizbullah Lebanon. Kami meminta agar kelompok ini dimasukan dalam Daftar kelompok Teroris."

"6. Menghormati keinginan rakyat Suriah; karena orang suriah adalah satu-satunya pemegang kuasa untuk mendirikan konstitusi masa depan Suriah. Ini berarti bahwa tidak boleh ada prinsip-prinsip yang dikenakan pada orang-orang untuk memenjarakan kebebasan mereka."

"7. Kami minta untuk mengeluarkan Iran dari setiap perundingan terkait Suriah, karena Iran benar-benar basah dengan darah rakyat Suriah, menjadi pendukung milisi teroris, serta bertindak untuk menyalakan perselisihan sektarian antara orang-orang Suriah, di samping fakta bahwa Iran tidak mengakui kesepakatan Jenewa sebagai dasar (meskipun kesepakatan ini telah didukung penuh oleh Resolusi Dewan Keamanan PBB No. 2118)."

"8. Kami menekankan kelangsungan penyediaan layanan Lembaga negara sebagai isu penting dan vital. Namun, kami menolak kelangsungan penyediaan tentara dan keamanan lembaga. Kita ingin membubarkan aparat keamanan dan restrukturisasi militer dan peradilan."

"9. Dewan Keamanan PBB menyatakan dan menyerukan untuk berpegang pada negosiasi politik dan transisi politik atas dasar kesepakatan Jenewa. Pembangunan badan transisi telah sangat jelas dan eksplisit dalam kesepakatan. Dan dengan demikian, kita menyeru Utusan PBB untuk terlibat langsung dalam pelaksanaan kesepakatan Jenewa dengan jaminan regional dan internasional; semua itu tanpa kembali kebelakang untuk menata ulang atau membentuk komite baru yang akan memakan waktu dan menjadikan kesepakatan Jenewa hanyalah pepesan kosong."

"10. Kami menekankan perlunya memiliki jaminan nyata yang mewajibkan semua pihak untuk melaksanakan apapun yang disepakati; sebagaimana rezim Suriah telah terbiasa melanggar komitmen atas semua resolusi selama lima tahun ini."

"11. intervensi Rusia yang jelas dan semakin parah pada wilayah Suriah menggerogoti upaya untuk mencapai kesepakatan politik."

"12. Kami menyerukan kepada PBB dan Dewan Keamanan PBB untuk bertanggung jawab atas tragedi Suriah, dan untuk bertindak serius terhadap pelaksanaan resolusi yang relevan dengan tujuan melayani kepentingan masyarakat Suriah."

Deklarasi ini ditandatangani oleh faksi utama yang bersekutu dengan al-Qa'idah di Syam, dan juga dipuji oleh pembohong Abu 'Abdillah Asy-Syami (pemimpin Jabhah Jaulani yang kebohongannya menyebabkan mubahalah yang terkenal), serta faksi yang menjadi anggota "Jaisyul Fath" dan "Jundul Malahim," dan keduanya memiliki koalisi dengan Jabhah Jaulani. Faksi yang menandatangani deklarasi ini termasuk "FSA", "Harakah Nuruddin Zinkī," "Jabhah Syamiyah," "Faylaq Asy-Syam," "Jaisyul Mujahidin," "Al-Ittihad al-islami li Ajnād Asy-Syam," dan "Ahrar Asy-Syam."

Deklarasi ini dengan jelas menampilkan sisi nasionalis serta berlatar belakang Thaghut dari faksi-faksi. Klausul nomer enam secara terbuka menyerukan implementasi dari agama pagan demokrasi, dan bukannya Syari'ah.

Kemudian pada "18 September 2015," sebuah dokumen dirilis dengan judul "Lima Prinsip Revolusi Suriah" yang dihiasi dengan bendera jahiliyah dari Sykes-Picot. Di dalamnya, mereka mengatakan:

"Deklarasi Ini adalah untuk rakyat Suriah dan warga kehormatan di belahan dunia manapun. As-salamu 'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh. Revolusi Suriah diluncurkan untuk melawan tirani, korupsi, dan penindasan, dan untuk menggapai keadilan, transparansi, dan pemulihan kehormatan dan kebebasan yang tercampakan. Revolusi menolak apa yang dilakukan rezim termasuk berbagai macam represi dan pelanggaran. Orang-orang Suriah, peluncur revolusi ini belum mampu mengkompromikan hak asasi manusia dan nasional mereka yang di jamin oleh Islam, semua agama surgawi dan hukum serta sistem internasional. Tapi mereka akan melanjutkan jalan mereka dan berpegang pada semua tujuannya. Di antara cara ini adalah solusi politik berdasarkan prinsip-prinsip tetap sebagai berikut:

1) Melengserkan Bashar Al-Assad dan semua pilar rezim dan membawa mereka kepengadilan.

2) Membongkar tirani intelijen dan aparat militer serta membangun keamanan dan aparat militer berdasarkan nilai kehormatan nasional sambil membangun lembaga negara lainnya.

3) Pengusiran semua kekuatan teroris asing dan sektarian dari Suriah, Pengawal Revolusi Iran, Hizbullah, milisi Abul-Fadl al-'Abbas, dan organisasi Daulah Islam.

4) Pembangunan kesatuan Suriah sebagai negara serta menjaga independensinya, kedaulatan, dan yang identitas rakyat.

5) Penolakan distribusi kekuasaan berdasarkan agenda politik dan sektarianisme."

"Setiap metode yang dipakai dalam negosiasi untuk penyelesaian politik tidak boleh menyingkirkan mimpi orang Suriah atau malah menjadi upaya untuk memotong tujuan mereka. Dan itu hanyalah membuang-buang waktu. Demikian pula, setiap upaya untuk menyelesaikan isu-isu penting seperti rekonstruksi, memerangi terorisme, tercapainya keamanan dalam negeri dan perdamaian, dan penegakan sistem konstitusional, yang tidak berdasar dari prinsip-prinsip orang suriah tidak akan diterima, karena hal itu hanya mengabaikan akar masalah serta mengkerdilkan tujuan mereka dan meneliti gejalanya saja. Tapi kami menganggap bahwa setiap usaha yang diberikan untuk menyelamatkan Suriah haruslah dihargai, kami percaya bahwa penundaan keputusan pada masalah utama –melengserkan Al-Assad dan milisi-nya, pembentukan persatuan, independensi, kepentingan nasional, negara Suriah- dengan tanpa jaminan dari setiap kesepakatan, dengan segala hormat, maka itu hanya akan meningkatkan kompleksitas masalah dan kedalaman luka. Dewan Keamanan -yang bertanggung jawab secara hukum, politik, dan moral untuk memelihara perdamaian dunia- telah gagal dalam membela rakyat Suriah atau gagal berkontribusi dalam mencapai tujuan mulia mereka, serta gagal mencegah terjadinya pembantaian yang dilakukan terhadap mereka. kita malah melihat upaya untuk merehabilitasi rezim, bahkan upaya serius untuk membuatnya menjadi bagian dari masa kini dan depan masa Suriah. Kami juga melihat Dewan Keamanan mengabaikan pembantaian mengerikan yang terjadi dan terus terjadi sebelum dan setelah pernyataan presiden. Pasukan Nasional yang menandatangani dokumen ini menegaskan kembali kepatuhan mereka akan prinsip-prinsip rakyat Suriah yang mulia dalam revolusi mereka dan menganggap bahwa setiap pelanggaran terhadap prinsip ini menjadi pengabaian akan hak hak orang suriah, penghinaan darah dan pengorbanan mereka, dan usaha yang tidak akan pernah berhasil, karena mengasumsikan dan memaksakan dasar yang tertolak secara hukum, politik, dan moral."

Dokumen ini ditandatangani oleh faksi utama yang bersekutu dengan Jabhah Jaulani. Faksi ini termasuk faksi "FSA", "Harakah Nuruddin Zinkī," "Jabhah Syamiyah," "Faylaq Asy-Syam," "Jaisyul Mujahidin," dan "Al-Ittihad al-Islami li Ajnād Asy-Syam." Hal ini juga ditandatangani oleh sekuleris Dewan Nasional Suriah / dewan provinsi regional, Khalid Khawjah (kepala Koalisi Nasional Suriah), 'Abdul-Jabbar al-'Akidi (mantan kolonel rezim, sekarang sekutu ateis PKK), dan bahkan George Sabra dan Michel Kilo (politisi oposisi Kristen). Hal aneh dalam deklarasi ini ada pada poin pertama, Bashar Al-Assad adalah seorang Thaghut murtad pemimpin sekte murtad Nushairiyah dan partai murtad Baats; adalah kewajiban untuk membunuhnya bahkan jika ia tidak pernah membunuh seorang Muslim sekalipun. Maka betapa wajib untuk membunuhnya setelah semua pembantaian yang ia lakukan! kejahatannya begitu yang jelas dan tidak memerlukan pengadilan untuk membuktikan kemurtadan dan kejahatannya, kecuali agama tentara salib dimana para nasionalis bersusah payah menyenangkan mereka.

Hal ini diikuti oleh dokumen ketiga yang dirilis pada "3 Oktober 2015." Dimana, mereka berkata:

"Kantor Politik dibawah faksi pemberontak dan Komite politik Koalisi Suriah telah mengadakan pertemuan dan mempelajari dengan seksama proposal yang diajukan oleh Utusan PBB Staffan de Mistura, yang berjudul prakarsa 'Kelompok kerja'. Setelah meninjau dari sisi realitas regional dan internasional yang melanda wilayah Suriah serta Perkembangan baru-baru ini yang sensitif dalam arena dan pengaruh politik, maka kami menyampaikan kepedulian kami terhadap respon dari peluncuran politik yang baru saja gagal dan memakan ribuan nyawa lebih, serta kehancuran atas sisa-sisa infrastruktur negara, maka kami menegaskan poin-poin berikut:"

"Pertama: Peserta dalam pertemuan tersebut menekankan komitmen mereka untuk mencapai solusi politik sebagai tangga menuju tujuan revolusi, menyelamatkan identitas rakyat Suriah dan mengakhiri penderitaan mereka. Proses politik ini harus memastikan bahwa rezim saat ini tidak direproduksi lagi baik kepalanya maupun pilarnya, tangan mereka talah berlumuran darah rakyat Suriah, dan tidak akan diberi peran dalam proses transisi politik demi masa depan Suriah."

"Kedua: Meskipun kekuatan revolusi dan oposisi selalu memandang positif utusan PBB (walaupun tidak dipraktikan), mereka menekankan bahwa mereka akan terus mendengarkan saran positif dari PBB dalam rangka mencapai kepentingan rakyat Suriah."

"Ketiga: Kepercayaan rakyat Suriah telah benar-benar hilang atas kemampuan masyarakat internasional untuk mendukung perjuangan mereka setelah lima tahun melawan kejahatan rezim yang mereka lakukan dengan dukungan militer Iran, serta cakupan politik Rusia dan legitimasinya bahwa komunikasi internasional bersikeras pada penyediaan tempat untuk rezim pembunuh. kemarahan yang merata saat ini harus diperhitungkan dalam setiap proses politik dan harus didahului dengan langkah-langkah nyata untuk memenangkan kepercayaan dari rakyat Suriah. Hal yang paling penting dari langkah ini adalah untuk secara eksplisit menyatakan bahwa kepala rezim dan pilar nya tidak akan diberikan peran untuk bermain dalam politik proses."

"Keempat: Bashar al-Assad tidak memiliki tempat dalam setiap proses politik berdasarkan pada alasan hukum dan praktikalnya: Bashar al-Assad mewarisi kekuasaan dengan cara yang sepenuhnya ilegal. Bashar al-Assad menjadi penjahat perang saat ia memulai membunuh rakyat Suriah yang menuntut hak-hak mereka. Dia menggunakan senjata kimia ilegal terhadap warga sipil yang tak berdosa. Dan kejahatan ini telah didokumentasikan oleh organisasi internasional yang netral untuk mencegah keraguan dalam hal ini. Bashar al-Assad dan rezimnya telah menunjukkan penolakan mutlak untuk terlibat dalam proses politik, tidak mematuhi setiap deklarasi gencatan senjata, dan tidak mau bekerjasama dengan masyarakat internasional dalam masalah kemanusiaan. Semua ini telah menanggalkan kredibilitas dan kepercayaan atasnya. Sementara Bashar al-Assad dan rezimnya telah gagal dalam upaya mereka memerangi ISIS dan tidak mendapatkan kemenangan baik secara intelektual maupun lapangan terhadap organisasi ekstremis ini, namun ada bukti yang menarik terkait koordinasi penuh antara kedua belah pihak dan Rezim Assad pun memainkan peran dalam munculnya ISIS. Bashar al-Assad telah membuka pintu Suriah bagi milisi asing untuk melakukan pembantaian sektarian terburuk dan pada saat yang sama memainkan retorika sektarian dan menyiramnya dengan bensin, dan hal ini talah merampas haknya untuk berpartisipasi dalam setiap proses politik yang bertujuan untuk menyatukan negara. Hingga akhirnya, Bashar al-Assad menyerahkan Suriah kepada penjajah Iran dan Rusia, dan itu merupakan suatu tindakan pengkhianatan tak termaafkan baik dalam sejarah Negara ini, masa depan dan martabatnya."

"Kelima: Kami menganggap bahwa pembubaran badan keamanan dan restrukturisasi institusi militer merupakan isu penting untuk setiap solusi politik. Institusi militer telah terkepung dan runtuh dan berubah menjadi milisi sektarian yang dipimpin oleh Iran. Dan mereka tidak bisa berada disana karena mereka akan membentuk tim inti dari tentara nasional, serta tidak akan mendapat kepercayaan rakyat Suriah dalam memulihkan keamanan dan stabilitas negara."

"Keenam: Pembentukan badan transisi merupakan Proses transfer kekuasaan secara penuh di mana Bashar al-Assad dan pilar rezimnya tidak akan memiliki tempat. Kami menekankan perlunya membangun lembaga negara dan mencegah perpecahan karena itu adalah hak rakyat Suriah, dan untuk mencegah negara tergelincir kedalam kekacauan yang semakin dalam."

"Ketujuh: Kami menganggap bahwa pengusulan prakarsa 'Kelompok kerja' telah mengabaikan sebagian besar resolusi PBB yang relevan terhadap Suriah, terutama resolusi No. 2118, 2165 dan 2139. Prakarsa ini sebenarnya proses politik yang rumit dan membutuhkan pembangunan kepercayaan antara rakyat Suriah di satu sisi dan PBB sebagai fihak yang akan mensponsori proses politik. Pembangunan kepercayaan hanya dapat dicapai melalui pelaksanaan atas apa yang disebutkan dalam resolusi PBB bahwa rezim Suriah telah dinonaktifkan."

"Kedelapan: Kami menganggap bahwa prakarsa 'Kelompok kerja' dalam bentuk yang sekarang dan mekanisme yang tidak jelas telah menyediakan lingkungan yang sempurna untuk mereproduksi rezim baru. 'kelompok kerja' ini harus didasarkan pada prinsip-prinsip yang berdasarkan pada standar yang jelas untuk memilih peserta dalam kelompok-kelompok ini dan solusi dari visi akhir."

"Kesembilan: Kami mengutuk eskalasi langsung militer Rusia di Suriah dan menganggap bahwa rezim Suriah yang harus bertanggung jawab penuh karena telah mengubah Suriah menjadi sarang bagi intervensi asing. Diamnya masyarakat internasional juga menjadi tanggung jawab atas eskalasi ini dan mencerminkan tidak adanya titik terang dalam hubungan antara rakyat Suriah dan Rusia. Eskalasi ini jelas menunjukkan bahwa Rusia tidak serius dalam komitmennya dalam proses politik, dan bahwa mereka tidak pernah menjadi mediator yang jujur tapi malah menjadi bagian dari konflik dan menjadi sekutu utama rezim kriminal. "

"Kesepuluh: Sementara kekuatan revolusi dan lembaga-lembaganya menegaskan kembali komitmen kepada orang-orang kami, kami bersumpah untuk mengerahkan sebagian besar upaya untuk merapatkan barisan dan memperbaiki kesalahan sebelumnya. Kami juga bersumpah bahwa revolusi akan tetap setia pada prinsip-prinsip dan darah para pahlawan yang gugur, dan bahwa kita akan menjaga keseimbangan antara pencapaian tujuan dan prinsip dasar kami. Kami juga berjanji untuk meringankan penderitaan dari orang-orang kami, mempercepat kemenangan dan untuk mendedikasikan kemampuan politik dan militer kami untuk tujuan ini."

"Dengan demikian, prakarsa 'Kelompok kerja' dalam bentuknya yang sekarang tidak dapat diterima baik secara praktis atau secara hukum kecuali poin poin yang disebutkan di atas dipertimbangkan sehingga ambiguitas mekanisme prakarsa ini dapat diselesaikan."

Deklarasi ini berbau nasionalisme dan demokratisasi yang menyimpang dan ditandatangani lagi oleh sekutu utama Jabhah Jaulani di Syam termasuk "Ahrar Asy-Syam." Dan juga ditandatangani oleh Koalisi Nasional Suriah (Thaghut "sementara” Pemerintah Suriah) dan beberapa faksi yang bersekutu dengan ateis PKK. Sekali lagi, tidak ada wala' dan bara' dalam keyakinan faksi tersebut, dan ini merupakan realitas dari semua faksi "Islam" nasionalis yang bersekutu dengan Jabhah Jaulani. Mereka adalah pihak murtad yang tidak memiliki agama kecuali kepentingan faksi. Dan jika ada keberhasilan dari faksi atau keberlangsungan kepemimpinan mereka yang mengharuskan adanya penyembahan kepada PBB, demokrasi, atau nasionalisme, maka mereka sungguh telah menyembah berhala ini. Dikarenakan mereka ingin menarik pejuang yang naif, maka mereka sesekali menyisipkan pesan "Islami" atau mengutip beberapa ayat-ayat Qur'an sini atau di sana. Namun, misi akhir mereka adalah pembentukan Thaghut nasionalis dan demokratis. Dan karena alasan ini, salah satu sekutu "jihad" Jabhah Jaulani - "Jundul Aqsa" - tidak lagi bisa mentolerir kondisi faksi dan merilis sebuah pernyataan yang mengumumkan penarikan dirinya dari "Jaisyul Fath." Mereka menjelaskan alasan atas keputusan mereka ini sebagai berikut:

"Penarikan diri kami dari Jaisyul Fath memiliki beberapa alasan, diantaranya.

A) Beberapa fraksi dalam Jaisyul Fath memiliki misi yang bertentangan dengan syari'at Islam. Hal ini telah jelas dalam pernyataan terakhir De Mistura yang dirilis di mana pada klausul keenam menyatakan: 'Menghormati kehendak rakyat Suriah; sebagaimana orang suriah merupakan satu-satunya pemegang kekuasaan untuk menetapkan Konstitusi masa depan Suriah. Ini berarti bahwa tidak boleh ada prinsip yang dipaksakan kepada orang-orang sebagai cara untuk menyita keinginan bebas mereka'! Ada klausul lain dalam dokumen ini yang kita anggap menentang syari’at diantaranya penyambutan Intervensi Turki dan pernyataan orang kalah lainnya.” Kemudian mereka (Jundul aqsa) mengumumkan kesediaan mereka untuk kembali ke "Jaisyul Fath" di bawah beberapa kondisi, termasuk, "Semua faksi dalam Jaisyul Fath harus mengklarifikasi secara terbuka dan menjelaskan posisi mereka dalam semua misi yang bertentangan dengan pelaksanaan Syari'ah." Meskipun pernyataan mereka mendeklarasikan perang melawan faksi jahiliyah ini, tapi klarifikasi itu hanyalah pernyataaan yang memperjelas segalanya sehingga tidak lagi memerlukan klarifikasi lebih lanjut dari Dabiq.

Adapun dengan Jabhah Jaulani, apakah mereka sekarang akan bertobat dari pengkhianatan dan kemurtadan mereka serta menjauhkan diri dari sekutu nasionalis "Islam" mereka, dimana mereka bersama-sama menyerang Daulah Islam meskipun mereka sangat tahu dengan baik kemurtadan faksi nasionalis ini? Apakah jabhah jaulani akan memerangi mereka dan kembali ke barisan Daulah Islam? Tapi tampaknya keberpihakan dan cinta mereka akan kepemimpinan telah mengalahkan mereka, dan mereka akan terus tetap di barisan dari Shahawat sampai sekutu mereka sendiri yang memerangi mereka. Dan Allah maha mengetahui yang terbaik.

Akhirnya, inilah koalisi Shahawat murtad – faksi nasionalis dan sekutu pengklaim jihad mereka - dan orang-orang yang seperti mereka di dalam dan di luar Syam yang bersatu melawan Daulah Islam, Syaikh Abu Muhammad al-'Adnani hafizhahullah telah mentakfir mereka pada saat beliau mengatakan,

“Dan kami juga mengulangi seruan kami kepada para tentara kelompok-kelompok di Syam dan Libya, kami mengajak mereka untuk berfikir berulang kali sebelum maju memerangi Daulah Islamiyah, yang telah berhukum dengan apa yang Allah turunkan, ingatlah wahai engkau yang terkena fitnah sebelum engkau maju memeranginya, sesungguhnya tidak ada di muka bumi ini satu jengkal tanah pun yang ditegakkan di atasnya syari’at Allah kecuali daerah-daerah yang berada di bawah kekuasaan Daulah Islam, ingatlah jika engkau berhasil merebut satu jengkal tanah darinya atau satu kota atau satu desa, maka hukum Allah di dalamnya akan diganti dengan hukum manusia, maka tanyakanlah kepada dirimu, apa hukum bagi orang yang mengganti atau menyebabkan hukum Allah berganti dengan hukum manusia? Ya, engkau menjadi kafir dengan hal itu, maka berhati-hatilah sesungguhnya engkau dengan memerangi Daulah Islamiyah engkau akan terjatuh ke dalam kekafiran baik engkau sadar atau tidak." (Wahai Kaum Kami, Penuhilah Seruan Orang Yang Menyeru Kepada Allah).

Dalam pidato selanjutnya, beliau menegaskan bahwa Daulah Islam tidak akan membedakan niat masing-masing fihak yang memeranginya. Hal ini karena faksi ini telah masuk dalam aliansi tunggal di mana pemimpinnya adalah nasionalis murtad, sebuah kenyataannya yang sekarang tidak lagi tersembunyi dari tentara peringkat terendah mereka. Oleh karena itu, tidak peduli berapa banyak dari mereka yang menekankan ukuran atas sebuah "niat" demi menerapkan "syari'ah," karena supremasi aliansi mereka dalam memerangi Daulah Islam bukanlah “niat” untuk menegakkan syari'at, melainkan itu adalah penolakan Syari'ah secara tegas dan sebagian besarnya termasuk manifestasi dari pemutusan wala' dan bara', pelaksanaan hudud, dan kinerja hisbah (amar ma'ruf dan nahi mungkar). Dengan demikian, aliansi mereka adalah salah satu dari kemurtadan, dan individu tidak dikecualikan hanya karena “niat” mereka.

Oleh karena itu, Syaikh Abu Muhammad al-'Adnānī mengatakan, "Adapun kalian para kelompok murtad dan agen-agen musuh; hai kelompok-kelompok hina di setiap tempat, hai manusia-manusia sampah, tidakkah kalian mengambil pelajaran dengan para pendahulu kalian dari berbagai kelompok di Iraq sepanjang tahun? Atau kalian tidak mengambil pelajaran dari apa yang kalian dapatkan di Syam? ... dengan izin Allah akan mendatangi kalian, dan sesugguhnya kami kasihan kepada kalian. Maka ambillah kata-kata kami dan renungkanlah... kami tahu bahwa niat kalian beragam, keadaan dan tujuan kalian beragam: ada dari kalian yang memerangi kami karena agama kami dan tidak menginginkan Daulah Islamiyah, karena benci dengan syari’at Allah dan untuk menolong thaghut, dan ridha dengan undang-undang buatan, dan golongan ini sedikit, alhamdulillah. Dan banyak dari kalian yang memerangi kami walau dia ingin menerapkan syari’at Allah, akan tetapi dia tersesat dan tidak mendapatkan petunjuk. Ada juga dari kalian yang memerangi kami karena mengira kami adalah musuh yang menyerang, ada juga karena ingin mendapat sebagian keuntungan dunia dan gaji dari kelompoknya, ada juga dari kalian yang berperang karena semangat kesukuan atau ingin dibilang berani atau niatan lainnya dan perdagangan yang buruk, maka ketahuilah bahwa kami tidak membeda-bedakan kelompok dan tujuan-tujuan ini; hukumnya bagi kami setelah dia tertangkap adalah satu: tembakan di kepala atau pisau tajam di leher." (Katakan Kepada Orang-Orang Kafir: Bahwa Kalian Pasti Akan Dikalahkan).

Jika mereka memiliki niat yang baik dan mereka jujur atas niatnya, maka mereka akan meninggalkan aliansi Shahawat, bertobat dari kemurtadan mereka, mengucapkan takfir kepada mantan sekutu mereka, dan menyalakan peperangan untuk melawan mereka, dan bukannya dengan memerangi Daulah Islam. Syaikh Abu Muhammad al-'Adnani menasehati tentara Shahawat, "Dengan izin Allah. Sesungguhnya kami akan datang dengan izin Allah wahai para prajurit kelompok-kelompok di mana saja kalian berada walau dalam tempo lama. Bukan kalian yang kami inginkan, maka janganlah berdiri menghadang mujahidin. Maka siapa yang menyerahkan senjata dan bertaubat maka dia aman. Maka siapa yang duduk di masjid karena bertaubat maka dia aman. Siapa yang masuk ke dalam rumahnya dan mengunci pintunya karena taubat maka dia aman. Siapa yang memisah dirinya dari fashilah atau katibah yang memerangi kami dan bertaubat maka dia aman. Dia aman terhadap jiwa dan hartanya, bagaimanapun permusuhannya terdahulu kepada mujahidin dan kejahatannya. Ya Allah, bukankah kami telah memberi udzur? Ya Allah saksikanlah." (Katakan kepada Orang-orang kafir: Bahwa kalian pasti akan dikalahkan).

Semoga Allah subhanahu wa ta'ala memberikan kemenangan bagi mujahidin di Syam, bahkan jika tentara salib, Thawaghit, agen-agen mereka, dan sekutu mereka membencinya.

Catatan kaki :

[1] Meskipun realitas bahwa faksi nasionalis telah diketahui oleh kepemimpinan pengklaim jihad, mereka menggunakan klaim dari Murji'ah untuk memperlakukan faksi murtad dan munafik sebagai Muslim serta membenarkan aliansi mereka dalam melawan Daulah Islam. Lihat Dabiq, edisi 8, "Irja': Bid'ah Paling Berbahaya". Lihat juga Dabiq, edisi 10, "Wawancara dengan Abu Samir al-Urdunī,".

[2] Lihat dalam edisi ini, "Dalam perbicangan Musuh".

ALIANSI AL-QA'IDAH DI SYAM (BAGIAN 4)

DABIQ 11 - ARTIKEL

ALIANSI AL-QA'IDAH DI SYAM (BAGIAN 4)

Lebih dari setahun yang lalu di tahun 1435 H, kebohongan Abu 'Abdillah Asy-Syami dari Jabhah Jaulani disuarakan kepada dunia, "Aku melakukan mubahalah terhadap kalian (Daulah Islam) atas pengujian kalian terhadap manusia atas aqidah mereka. ... Justru kalian sedang menguji manusia yang terbaik. Maksudku adalah para mujahidin dari faksi Mujahid seperti Jabhah Islamiyah, Jaisyul Mujahidin, dan lain-lain" (Al-Mubahalah).

Dia juga mengatakan, "Menggambarkan pertempuran yang terjadi sebagai pertempuran antara kelompok Daulah di satu sisi dan mereka yang berdiri dengan Jarba dan Idris (pemimpin SNC, Koalisi Nasional Suriah) di sisi lain, adalah jauh dari kebenaran. Mereka yang memikul beban terbesar perang melawan kelompok Daulah di utara adalah Jabhah Islamiyah dan Jaisyul Mujahidin ... Adapun Jabhah Islamiyah dan Jaisyul Mujahidin –dua pemain utama dalam perang melawan kelompok Daulah– maka belum tetap bagi kami bukti bahwa mereka telah jatuh ke dalam kemurtadan, dan kami lebih mengerti kondisi mereka daripada kelompok Daulah karena kedekatan kita kepada mereka." (Wa Lau Annahum Fa'alu Maa Yu'azhuuna Bih)

Sangat cepat setelah mubahalah ini, "Jaisyul Mujahidin" secara terbuka memamerkan hubungan mereka dengan kelompok sekuler Koalisi Nasional Suriah (SNC), "Pemerintah Sementara," dan "Kementerian Pertahanan" (1). Mereka baru saja menambahkan daftar perbuatan murtad mereka dengan merilis sebuah pernyataan di mana mereka mengatakan, "Para pemimpin Jaisyul Mujahidin mengirimkan rasa belasungkawa kepada Turki, pemerintah dan rakyatnya, atas pembunuhan satu tentara Turki dan warga di tangan teroris "Tanzhim Daulah" dan partai PKK. Kami dari Jaisyul Mujahidin mengumumkan solidaritas dan dukungan lengkap kepada pemerintah Turki terhadap teroris "Tanzhim Daulah" dan partai PKK ... Kami berdiri dengan negara Turki dalam satu parit dan menganggap pembunuhan ini sebagai serangan terhadap sikap Turki yang mendukung rakyat Suriah." Mereka tidak lupa untuk menghias pernyataan mereka dengan bendera jahiliyah negara Turki!

Turki adalah salah satu anggota aliansi tentara salib NATO. Dia ikut ambil bagian dalam berbagai kampanye perang tentara salib yang diluncurkan dan dipimpin oleh Amerika, termasuk "Operasi Enduring Freedom - Afghanistan", "Operasi Enduring Freedom - Tanduk Afrika" (di Somalia dan wilayah sekitarnya), dan "Operasi Resolve Inherent" (di Irak dan Suriah terhadap Daulah Islam). Pemerintah Turki adalah salah satu negara yang secara legislatif, eksekutif, dan hukumnya diatur dengan hukum buatan manusia. Tentaranya dirancang untuk membela thaghut Turki dan sekutu salibis mereka. Pemerintahan ini dan tentaranya adalah salah satu dari kemurtadan yang sangat jelas, namun "Jaisyul Mujahidin" berdiri dalam mendukung pemerintah Turki melawan Islam dan kaum muslimin.

Imam Muhammad ibnu Abdil Wahhab mengatakan bahwa di antara pembatal keislaman adalah "Mendukung dan membantu orang-orang musyrik memerangi kaum Muslimin. Dalilnya adalah firman Allah ta'ala : "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia(mu): mereka satu sama lain saling melindungi. Barangsiapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka . Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang zhalim" (Al-Ma'idah: 51)". (Nawaqidul Islam)

Sebagaimana Jabhah "Islamiyah", "Ahrar Syam" mewakili blok terbesar dari front yang terpecah-pecah ini. Para pemimpin Jabhah Jaulani telah berusaha keras untuk menggambarkan bahwa kelompok ini sebagai kelompok "Islam" bahkan "Jihadi", tapi statemen terbaru dari pemimpin resminya hanya bisa membuat malu para pengklaim jihad dari Jabhah Jaulani. Dalam kenyataannya, perang dingin media sedang berkobar antara kedua belah pihak dalam cinta kepemimpinan dan kebanggaan pandangan, dan seperti es yang mencair, kedua belah pihak akan mulai saling mengirimkan sel keamanan mereka untuk menyerang secara diam-diam setiap pemimpin lawan dengan IED dan senjata berperedam, ini jika memang belum dimulai. Bagaimana pun juga, kelompok murtad "Ahrar Asy-Syam" dulunya dianggap Shahawat potensial dan proyek menyimpang dalam pembentukannya oleh para pemimpin Jabhah Jaulani.(2)

Ya, sejak diluncurkannya Shahawat Suriah, Jabhah Jaulani berupaya keras untuk menggambarkan "Ahrar Asy-Syam" sebagai "mujahidin", hingga Jabhah Jaulani dan para "ideolog" duduk di bawah naungan Thaghut Yordania yang dipermalukan oleh artikel tak tahu malu yang dirilis oleh Labib al-Nahhas, Direktur Urusan Luar Negeri "Ahrar Asy-Syam." Artikel terbarunya baru-baru ini(3) dirilis pada "21 Juli 2015" melalui media salibis Inggris "Telegraph" yang berjudul "Aku Orang Suriah dan Aku Berperang Melawan ISIS setiap hari. Diperlukan lebih dari sekedar bom dari Barat untuk mengalahkan ancaman ini". Di dalamnya dia mengatakan: "Di Raqqah … warga menerima arahan (karena kelambanan Barat) dari apa yang disebut Islamic State (ISIS), itu semua hanyalah bayangan pucat dari apa yang ada saat ini, kapitalisasi di Barat telah gagal untuk memerintah Assad. Narasi propaganda mereka : Barat bersekongkol dengan Assad dan pendukung Syi‘ah Iran dalam sebuah konspirasi untuk mengalahkan dan mempermalukan Arab Sunni di wilayah tersebut..."

"Kebanyakan warga Suriah … memiliki tujuan tunggal dari revolusi yaitu kebebasan, kehormatan, dan kualitas hidup yang lebih baik. Kami di Ahrar Asy-Syam dan Grup Bersenjata Revolusi (ARGs) lainnya berjuang untuk rakyat Suriah. Kita mengangkat senjata karena kita tidak memilik pilihan lain, yaitu antara apakah kami harus menyerah tanpa syarat kepada rezim atau kita berjuang demi kebebasan rakyat kita…"

"Semakin lama perang berlangsung, semakin sedikit bagian Suriah yang bisa diselamatkan. Ahrar Asy-Syam ingin melihat berakhirnya pemerintahan Assad, dikalahkannya ISIS secara komprehensif dan dibentuknya pemerintahan yang stabil dan representatif di Damaskus yang akan menempatkan Suriah pada jalan menuju perdamaian, rekonsiliasi dan pemulihan ekonomi. Kita ingin melihat sistem politik yang menghormati identitas dan legitimasi aspirasi politik mayoritas rakyat Suriah sekaligus melindungi masyarakat minoritas dan memberikan kesempatan mereka untuk bermain nyata dan peran positif dalam negara masa depan. Kami ingin melihat persatuan Suriah dan integritas wilayah yang dikekalkan ..."

"Kami menyadari bahwa harapan kami ini tidak akan bisa diraih hanya dengan cara militer saja. Dia butuh proses politik dan kami tahu bahwa itu berarti membuat keputusan-keputusan yang sulit..."

"Dalam beberapa hari terakhir Perdana Menteri David Cameron mengisyaratkan kemungkinan adanya perubahan kebijakan pemerintah terhadap intervensi bersenjata di Suriah. Dia mengatakan bahwa Inggris harus 'melangkah dan melakukan hal lebih' dalam memerangi ISIS di Irak dan Suriah. Itu semua bagus dan baik. Di Ahrar Asy-Syam kita telah kehilangan 700 pejuang kami dalam pertempuran melawan IS sejak Januari 2014, dan kami serta sekutu kami mempertahankan garis depan front sepanjang 45km terhadap ISIS di Aleppo. Kita tahu hal seperti apa untuk menghadapi ancaman ISIS. ... Kami percaya bahwa ISIS bukan hanya ancaman keamanan atau militer saja tetapi merupakan fenomena sosial dan ideologis yang perlu dihadapi di setiap levelnya dan membutuhkan sebuah alternatif Sunni nasional untuk menghadapi Assad dan Islamic State."

"Ahrar Asy-Syam, sebagai kelompok Islam Sunni mainstream yang berakar kuat di atas lanskap revolusioner, sedang menjalin alternatif itu. Tetapi mereka (Barat) mengharapkan Sunni alternatif yang 'sempurna' sesuai dengan standar liberal Barat, sehingga pasti akan kecewa. Seperti yang kita semua harus tahu sekarang, sistem politik dan model pemerintahan tidak bisa di impor ke Timur Tengah dan diharapkan untuk berkembang karena pengalaman sejarah, budaya dan struktur politik sosial begitu berbeda secara radikal. Dibutuhkan sebuah hal yang akan menjadi peran utama untuk agama dan budaya setempat dalam pengaturan politik yang muncul dari puing-puing konflik, dan itu harus berasal dari salah satu hal yang sesuai dengan keyakinan mayoritas rakyat Suriah yang berlaku. ..."

"Sebagaimana RAF (Royal Air Force) yang bersiap untuk ikut bergabung dalam koalisi militer melawan ISIS, akan lebih bijaksana bagi pemerintah Inggris untuk mempertimbangkan pendekatan baru dalam memerangi kelompok ekstrimis lebih dari sekedar menjatuhkan bom."

Selesai kata-kata sesatnya.

Sebagai ringkasan: Dia menggunakan nasionalis, dialek demokratis untuk mendukung penentuan nasib sendiri, kekuatan bagi mayoritas, perlindungan bagi minoritas (termasuk Rafidhah, Nusairiyah, Druze, dan Ismailiyah), dan pengekalan perbatasan nasionalis. Dia mencalonkan "Ahrar Asy-Syam" sebagai "alternatif" moderat untuk Daulah Islam, "alternatif" yang bersedia bekerja sama dengan Barat dalam perang salib melawan Daulah Islam. Dia memuji perang dan serangan udara tentara salib Inggris terhadap Daulah Islam, tetapi juga menyarankan kepada mereka dengan mengatakan itu tidaklah cukup dan ada hal lebih yang harus dilakukan!

Setelah artikel ini, "Kantor Politik" dari "Ahrar Asy-Syam" merilis "Pernyataan mengenai Zona Aman di Suriah utara" pada "11 Agustus 2015." Di dalamnya mereka mengatakan:

"Dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketaqwaan, dan janganlah kalian tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan." (Al-Ma'idah: 2)

"Ini adalah fakta yang tak terbantahkan bahwa sepanjang empat tahun terakhir pemerintah Turki dan rakyat Turki telah mendukung rakyat Suriah dan revolusi mereka dengan segala cara. Dukungan ini terus berjalan meskipun ancaman yang muncul terhadap keamanan nasional Turki dan tekanan kuat internal dan eksternal terhadap pemerintah Turki terus datang. Turki tetap teguh dalam sikap di atas etika dan nilai kemanusiaan terhadap rakyat dan revolusi kami. Posisi bijaksana dan bertanggung jawab ini telah membuat Turki sekutu paling penting dari revolusi Suriah dan telah membuka jalan baru dari kepentingan bersama antara kedua bangsa, baik di front internal maupun regional. Jalan terbaru dari kepentingan bersama untuk berdiri melawan Daisy (Daulah Islam). Daisy telah terbukti menjadi bencana terbesar yang menimpa revolusi serta menjadi ancaman nyata bagi keamanan dan stabilitas Turki. Kebijakan sektarian dari Bashar Assad dan kebijakan bodoh Daisy telah merubah Suriah menjadi arena konflik internasional dan perang proksi. Ini semua menjadi ancaman nyata bagi keamanan sekutu rakyat Suriah. Sementara mempertahankan posisi untuk berprinsip pada menolak perintah dan kehendak asing, sekarang telah menjadi kenyataan yang harus ditangani sesuai dengan prinsip-prinsip kepentingan bersama dan kepentingan jangka panjang negara secara keseluruhan."

"Berdasarkan visi komprehensif Gerakan Islam Ahrar Asy-Syam terhadap bidang internal dan regional Suriah, dan bertindak sesuai dengan kepentingan rakyat Suriah dan sekutunya dalam hal politik atau militer, dan sangat percaya perlunya solidaritas Sunni dalam menghadapi ancaman Iran, kami percaya bahwa pengumuman niat Turki untuk mendirikan zona aman di utara Suriah adalah hal yang melayani kepentingan rakyat Suriah. Zona aman akan memiliki dampak positif pada tingkat kemanusiaan, politik dan militer, juga manfaat yang akan dirasakan oleh kedua negara. Zona aman juga kebutuhan penting yang diperlukan untuk meningkatkan keamanan nasional Turki dan menghentikan rencana teroris atau separatis Daisy dan PKK. ... Zona aman di utara Suriah akan membantu para pengungsi kembali ke rumah mereka dan makar musuh revolusi akan digagalkan. Karena itu Gerakan Islam Ahrar Asy-Syam mendukung sepenuhnya zona aman dengan bantuan Turki dan kerjasama politik dan militer dari Grup Angkatan Bersenjata Revolusioner. Kami mengambil kesempatan ini untuk menguatkan ikatan yang tak bisa dipecahkan dan kebaikan bersama rakyat Suriah dan Turki dan menggaris-bawahi kebutuhan untuk hubungan strategis dengan Turki untuk menjadi landasan pendekatan umum untuk mengatasi tantangan saat ini dan masa depan."(4)

Dengan demikian, "Ahrar Asy-Syam" telah mengulurkan tangannya secara terang-terangan terhadap rezim murtad dan tentara Turki dan mencalonkan diri menjadi agen mereka di Suriah. Maka akankah para pengklaim jihad Jabhah Jaulani bertobat dari kemurtadan dan mengucapkan bara'ah dari sekutu terdekat mereka di mana pemimpin mereka pernah dianggap sebagai "Shahawat masa depan"? Atau akankah lereng licin "udur" yang didikte oleh hizbiyah terus membuat mereka jatuh hingga nanti mereka berjuang di bawah bendera fitnah terbesar –Al-Masih Ad-Dajjal– demi kepemimpinan, perpecahan, dan penyimpangan.(5)

Kita berharap kepada Allah agar menolong para Mujahidin Daulah Islam dalam melawan para agen thaghut dan agen tentara salib hingga bendera Khilafah berkibar tinggi di atas Istanbul dan Vatikan.

Catatan kaki :

1. Lihat halaman 24-25 pada Dabiq edisi 2.

2. Lihat halaman 75 pada Dabiq edisi 10.

3. Artikelnya sebelum ini pernah dinukil pada majalah Dabiq edisi 10 halaman 12-13.

4. Perhatikan bahwa dalam statemen dari berbagai faksi Shahawat mereka mengklaim untuk melindungi rakyat Syam padahal diketahui bahwa serangan udara itu dirancang untuk membentuk "zona aman" Turki yang akan menargetkan Mujahidin Khilafah, para prajurit yang paling keras melawan pasukan Nushairi. Faksi ini juga menggunakan atheis PKK sebagai alasan untuk berperang di bawah bendera Thaghut Turki tetapi lupa bahwa mereka sendiri melakukan gencatan senjata dan perjanjian yang mereka jalin dengan PKK murtad di Halab, beberapa perjanjian ini bahkan yang melibatkan pembagian kekuasaan untuk mengelola wilayah yang berada di bawah kontrol PKK. Perjanjian paling terkenal di Halab dengan PKK ditandatangani oleh Ahrar Asy-Syam dan Jabhah Syamiyah, yaitu perjanjian Operation Room. Dalam perjanjian ini ikut termasuk "Jaisyul Mujahidin" dan "Ahrar Asy-Syam" sebagai anggota. Jika mereka benar-benar khawatir terhadap atheis PKK sebagaimana yang mereka klaim, maka daripada menandatangani gencatan senjata dengan mereka, tentu mereka akan mengobarkan perang terhadap mereka sebagaimana Daulah Islam telah melakukannya.

5. Baru-baru ini, Robert Ford (mantan duta besar AS untuk Suriah) menulis sebuah artikel berjudul "Ya, Bicara dengan Ahrar Asy-Syam Suriah" di mana ia sangat mengusulkan kerjasama langsung AS dengan "Ahrar Asy-Syam" melawan Daulah Islam, setelah hampir dua tahun bekerjasama secara tidak langsung melalui para thaghut. Hal ini diikuti oleh sebuah artikel pada "Daily Beast" berjudul "Kesepakatan dengan Setan, Petraeus: Menggunakan Pejuang Al Qaeda untuk Mengalahkan ISIS," di mana ide David Petraeus (mantan komandan jenderal tentara salib di Irak dan pendiri Shahawat Irak) untuk bekerja sama dengan Jabhah Jaulani melawan Daulah Islam telah dipublikasikan. Hal ini diikuti oleh kebohongan Abu 'Abdillah Asy-Syami membenarkan kerjasama dengan berbagai Shahawat Turki, Amerika, dan para thaghut Teluk berdasarkan klaim bahwa seseorang tidak bisa mengucapkan takfir pada faksi ini karena udzur yang dia buat untuk Shahawat lantaran kerjasama mereka dengan tentara salib dan murtad! Dia kemudian berbohong dan menyatakan bahwa Daulah Islam sendiri pernah "bekerja sama" dengan Turki dan ia menggunakan sebagai "bukti" adalah pertukaran tahanan di mana 46 tahanan Turki ditukar dengan hampir 200 Muhajirin! Apakah ini "kerjasama" atau memenuhi kewajiban untuk berjuang membebaskan tahanan Muslim! Dia membuat kebohongan yang memalukan padahal dia tahu bahwa rezim murtad Turki dan tentaranya merupakan bagian dari NATO dan perang salib pimpinan Amerika terhadap Daulah Islam dan bahwa Turki mengambil bagian dalam memenjarakan para Muhajirin dan bersama-sama dengan Amerika menyerang posisi Daulah Islam di Halab demi Shahawat sekutu Jabhah Jaulani, bahkan terkadang untuk mendukung posisi Jabhah Jaulani itu sendiri! Hanya satu hal yang bisa dikatakan kepadanya, "Jika Anda tak tahu malu, maka berbuatlah sesukamu" (HR Al-Bukhari dari Abu Mas'ud). Asy-Syami bisa berbohong sebanyak yang dia sukai, tetapi kenyataannya terlalu jelas. Ketika domba Shahawat terbangun dan akan menyadari bahwa mereka pada akhirnya melayani kepentingan tentara salib?

ALIANSI AL-QA’IDAH DI SYAM (BAGIAN 3)

DABIQ 10 - ARTIKEL

ALIANSI AL-QA’IDAH DI SYAM (BAGIAN 3)

Pada Jum'at, 2 Rabi'ul Awal 1435 H (3 Januari 2014), koalisi Shahawat di Suriah menggelorakan peperangan terhadap Daulah Islamiyah setelah para pemimpin faksi-faksi tersebut berkumpul untuk menyusun makar konspirasi mereka. "Jaisyul Mujahidin" dan "Jabhah Tsuwwar Suriya" (pimpinan Jamal Ma'ruf) melakukan langkah awal dan diikuti secara sistematis oleh "Jabhah Islamiyah" dan Jabhah Jaulani. Salah satu sekutu terbesar bagi Jabhah Jaulani sejak kemunculan Shahawat ialah "Jabhah Islamiyah" dengan Zahran Alloush menjabat sebagai komandan militer tertingginya.

Pada bulan Sya'ban, si salibis "McCIatchy" mewawancarai Zahran Alloush di Turki, yang notabene pemimpin kesayangan Shahawat. Berikut kutipan wawancara dari artikel yang dirangkum oleh pewawancara:

"Para pemberontak Islamis mundur secara retoris dalam wawancara pertama dengan media AS."

"Dalam wawancara pertama dengan media AS, Alloush sangat pragmatis."

"Berangkat dari tujuan awalnya untuk mengeluarkan anggota sekte Alawi yang berkuasa di Damaskus. Dalam wawancara ia menyebut mereka sebagai 'bagian dari rakyat Suriah' dan berkata hanya dengan darah di tangan-tangan mereka hal ini akan terbayar."

"Dia juga mengabaikan pembicaraan terkait pembentukan Negara Islam. Saat ini, ia lebih suka mengikuti kemauan rakyat Suriah untuk memutuskan negeri seperti apa yang mereka inginkan."

"Kami ingin mendirikan sebuah Negara dimana semua hak kami dipenuhi," ujarnya, menyebutkan sesuatu yang ia namakan sebagai 'diskriminasi sektarian' melawan mayoritas Muslim Sunni. "Setelah itu, rakyat harus menentukan Negara seperti apa yang mereka inginkan." la menuturkan lebih menyukai sebuah pemerintah teknokrat, dan professional."

"Ditanya oleh McCIatchy terkait perubahan pendiriannya, Alloush mengatakan bahwa pernyataan asli dari dirinya sebagai akibat dari tekanan yang ia alami ketika hidup di Ghouta (Al-Ghuthah), menyaksikan serangan gas beracun dua tahun silam yang telah membunuh ratusan orang."

"Kami hidup dalam kondisi terkepung. Kami semua mengalami tekanan psikologis. Dulu ketika saya berada dalam penjara dan para sipir datang guna menyiksa para tahanan, kemudian dia pergi, para tahanan saling bertengkar dan saling memukul satu sama lain, katanya."

"Juru bicaranya yang bernama Islam Alloush, mengatakan bahwa pidato Zahran Alloush di Ghouta hanya untuk konsumsi internal, guna menyatukan semua barisan pejuang satu sama lain, menjauhkan mereka dari kekuatan islam radikal seperti Daulah Islamiyah. 'Ada pidato tertentu yang ditujukan untuk kalangan internal dan juga untuk kalangan eksternal, katanya’. Pidato internal diperuntukkan dengan tujuan menyelamatkan anak-anak kami agar tidak bergabung dengan Daulah Islamiyah’."

"Pernahkah [Zahran] merubah pandangannya? 'Sebuah pertanyaan yang bagus’, kata Joshua Landis, seorang pakar pengamat Suriah di Universitas Oklahoma yang menulis profil tentang Alloush.’ Alloush dan para stafnya sudah mulai bisa dipahami’, katanya, mengambil kesimpulan dari percakapan yang dilakukan Zahran dengan komandan juru bicaranya di jejaring sosial Twitter."

"Setiap orang sangat memahami bahwa rezim saat ini begitu lemah dan tengah bergerak menuju kehancurannya, kata Bassam Barabandi, mantan diplomat Suriah yang tinggal di Washington. 'Dan tiap pemain utama ingin diterima secara terbuka oleh Barat dan komunitas dunia Internasional’."

"Zahran ingin berada di pihak para pemenang, katanya."

"Landis berkata Alloush akan berada di sisi itu. 'Dia akan menjadi pemenang di hati Barat’, katanya. Jaisyul Islam yang dipimpin oleh Alloush dan kelompok Islam lainnya, tipe pejuang patriotik nan gigih... pada akhirnya akan menang, katanya."

"Salah satu alasan perjalanan Alloush ke Istanbul boleh jadi guna menampilkan wajah baru di hadapan sesi wawancaranya, kemudian berpergian menuju Yordania, guna berunding dengan para komandan pemberontak lainnya yang beroperasi di Suriah Selatan, dimana mereka membutuhkan bantuan Internasional. Kelompok pejuang mereka membutuhkan bantuan persenjataan."

"Dalam wawancaranya bersama McCIathy, ia menyematkan sebuah kalimat moderat: 'Jika kita berhasil menggulingkan rezim, kita akan menyerahkan negara pada rakyat Suriah untuk memilih bentuk Negara macam apa yang mereka inginkan’, katanya. 'Supaya bisa hidup berdampingan dengan kaum minoritas, merubah situasi yang telah berlangsung di Suriah ratusan tahun lamanya. Kami tidak ingin memaksakan kekuatan pada kaum minoritas atau melakukan penindasan pada mereka. Justru kami menentang hal tersebut, mengkritisi rezim dan melawannya karena ia mempraktekkan diskriminasi sektarian melawan kaum mayoritas selama ia berkuasa di Suriah’."

"Orang kepercayaan Alloush juga mengatakan bahwa ia siap untuk menanggalkan bendera hitam dan putih Islam, kemudian mengibarkan bendera Suriah yang digunakan oleh kelompok pemberontak lainnya, demi menaikkan citra dirinya."

"[Zahran] berkata bahwa Jaisyul Islam telah berhubungan langsung dengan Daniel Rubinstein, duta besar khusus Obama untuk Suriah, dan dikonfirmasi dengan jelas oleh Departemen Luar Negeri AS."

Itulah kata-kata terakhir dari koalisi Alloush. Bila dirangkum, sebagai berikut: Dia menganut kebebasan berkehendak, yang berpijak dari ajaran Demokrasi. Dia menganut kebebasan beragama dan hidup berdampingan antar agama, berpijak dari paham nasionalisme sekularisme. Dan dia berkompromi dalam hal pokok-pokok agama, bertemu dengan para pemimpin Yahudi yang menjadi bagian dari pasukan salibis dalam memerangi Islam, dan mengangkat panji sekularisme Jahiliyah demi mendapat bantuan.

Dan lagi, Alloush merupakan sekutu utama "al-Oa'idah" di Suriah (Jabhah Jaulani) - dan secara terbuka mendapat pujian dari Jaulani dan Harari (salah satu pemimpin utama Jabhah Jaulani) dalam wawancara yang dikeluarkan secara resmi oleh "Jaisyul lslam"-nya. la sendiri dipuji oleh Harari via jejaring sosial twitter.

Dan lagi, Alloush yang sesat telah dikenal oleh para pengklaim jihad ini lama sebelum ekspansi resmi Daulah Islam ke bumi Syam, dan Jabhah Jaulani mendukung Jabhah “Islamiyah" yang dipimpin oleh Alloush untuk memerangi Daulah Islamiyah.[1]

Wawancara ini diikuti dengan sebuah deklarasi oleh sekutu-sekutu Jabhah Jaulani yang menyalahkan aksi pembunuhan Jabhah Jaulani atas lebih dari 20 murtaddin Druze pada bulan Sya'ban di desa Qalb Lawzah. Hal ini berlangsung tidak lama setelah Jaulani berjanji tidak akan membahayakan mereka dalam wawancaranya dengan saluran thaghut Qatar, "Al Jazeera", dan kebijakan ini sesuai dengan kebijakan Zhawahiri dalam "Pedoman Umum bagi Amal Jihad".

Zhawahiri mengatakan dalam bab "Pedoman yang Dibutuhkan", "Poin Keempat: sekte sesat seperti Rafidhah, Ismailiyah, Qadiniyah, dan Sufiyah sesat, seharusnya tidak diperangi selama mereka tidak memerangi Ahlus Sunnah. Dan jika mereka memerangi Ahlus Sunnah, maka pembalasannya harus dibatasi pada orang-orang yang ikut berperang saja diantara mereka sembari dijelaskan bahwa kami hanya mempertahankan diri saja. Sekte ini bukanlah jenis sekte yang suka berperang, keluarga mereka senang di rumah, dan tempat peribadatan mereka, perayaan dan acara-acara keagamaan mereka tidak boleh menjadi target penyerangan. Dan kita lebih menyoroti tindakan untuk menghilangkan kekeliruan dan kesesatan pada keyakinan dan tingkah laku mereka. Jika daerah-daerah mereka berada dibawah kendali dan otoritas para mujahidin, maka sekte ini harus diperlakukan dengan bijak dengan didakwahi, meningkatkan kewaspadaan, menyingkap keraguan mereka, melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar dengan cara yang tidak menimbulkan bahaya yang lebih besar seperti pengusiran mujahidin dari daerah tersebut, atau pemberontakkan massa melawan mujahidin, atau hasutan fitnah yang yang dimanfaatkan musuh untuk mengambil alih wilayah tersebut". Inilah akhir kalimat Zhawahiri.

Jaulani berkata dalam wawancaranya, "Saat ini, kami tidak memerangi siapapun yang tidak memerangi kami. Seperti kaum Druze yang tidak mendukung Bashar al Assad pun tidak memeranginya. Mereka berada di wilayah yang telah dibebaskan Mujahidin pun tidak membahayakan". Dan saat ditanya, "Tapi Anda tidak mengepung desa mereka, Anda tidak menghancurkan rumah-rumah mereka, Anda tidak merampas harta mereka. Anda tidak menghancurkan kuil-kuil mereka. Anda tidak melakukan apa-apa terhadap mereka sampai detik ini?" la menjawab, "Tidak, tidak sama sekali. Tidak sama sekali... Tidak pernah terjadi satu kalipun penggunaan kekuatan terhadap mereka".

Keduanya memerintahkan untuk meninggalkan jihad memerangi murtaddin Druze.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya mengenai hukum atas Nushairiyah dan Druze, kemudian menjawab, "Druze dan Nushairiyah adalah kuffar menurut ijma’ (kesepakatan) kaum Muslimin. Tidak diperbolehkan makan sembelihan mereka dan menikahi perempuan-perempuan mereka. Selanjutnya, jizyah tidak berlaku atas mereka, karena kemurtaddan mereka dari agama Islam, mereka bukan bagian dari kaum Muslimin, bukan juga Yahudi pun tidak juga Nashrani. Mereka tidak mengenal kewajiban shalat lima waktu, tidak juga puasa Ramadhan, tidak juga menunaikan kewajiban haji, tidak juga menegakkan larangan Allah dan RasulNya terhadap bangkai, khamar, dan lainnya. Dan jika mereka mengucapkan dua kalimat syahadat [tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad rasul-Nya] bersamaan dengan keyakinan akan prinsip-prinsip itu, maka mereka kufur sesuai dengan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Dan mengenai Druze, maka mereka adalah pengikut Hashtakin ad-Darzi, yang merupakan pengikut al-Hakim [penguasa murtad Ubaidi – Dinasti Fathimiyah]. Al Hakim mengirimkannya pada penduduk di lembah Taimullah Ibnu Tsa'labah dan memerintahkan mereka untuk meyakini ketuhanan al-Hakim. Mereka menyebutnya dengan nama al-Bari al-Allam [Maha Pencipta, Maha Mengetahui] dan bersumpah atasnya. Mereka berasal dari sekte Ismailliyah yang mengklaim bahwa Muhammad Ibnu Ismail telah menghapus syari'at Muhammad Ibnu Abdillah shallallahu 'alaihi wasallam. Kekufuran mereka lebih parah dibandingkan Syi’ah ekstrim. Mereka mengklaim bahwa dunia akan terus kekal dan menolak setiap perintah dan larangan dalam Islam. Mereka berasal dari sekte Bathini Qaramithah [mereka yang mengklaim bahwa agama memiliki makna tersembunyi yang berlawanan dengan makna nyatanya] yang lebih parah kekufurannya dibandingkan Yahudi dan Nashrani serta para penyembah berhala dari kaum Arab. Mereka berusaha menjadi ahli filsafat atas doktrin Aristoteles dan yang sejenisnya termasuk ajaran Majusi. Doktrin mereka adalah kombinasi doktrin ahli filsafat dan Majusi. Mereka wujud nyata dari munafiq syi'ah." [Majmu' al-Fatawa]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga berkata terkait sekte Druze, "Status kekufuran orang-orang ini tidaklah diperselisihkan lagi oleh kaum Muslimin. Dan barangsiapa yang ragu akan kekufuran mereka, maka statusnya sama dengan mereka. Bukan pada tingkatan Ahlul Kitab dan bukan pula musyrikin. Mereka adalah orang-orang kufur yang sesat, karenanya daging sembelihan mereka tidaklah halal. Wanita-wanita mereka dapat dijadikan sebagai hamba sahaya (budak) dan harta mereka dapat dirampas. Mereka adalah kaum murtaddin hina yang taubatnya tidak dapat diterima.[2] Mereka boleh dibunuh dimana saja mereka ditemukan dan dikutuk sebagaimana yang telah tergambarkan dengan jelas. Tidak diperbolehkan menggunakan mereka sebagai pengawal, penjaga pintu, atau petugas. Adalah sebuah kewajiban untuk membunuh ulama-ulama dan tokoh-tokoh keagamaan mereka agar mereka tidak menyesatkan orang lain. Dilarang untuk tidur di rumah-rumah mereka, bergabung dengan mereka, berjalan berdampingan dengan mereka, ataupun ikut dalam prosesi pemakaman mereka. Terlarang bagi penguasa Muslim meninggalkan perintah Allah dengan tidak menegakkan hudud atas mereka." [Majmu' al-Fatawa].

Syaikhul Islam juga berkata terkait sekte Bathiniyah (termasuk dalam golongan Druze), "Jika orang-orang ini berkuasa, mereka menyatakan taubat dengan pijakan doktrin taqiyah dan menyembunyikan kondisi mereka yang sebenarnya. Diantara mereka ada yang dapat diketahui dan ada pula yang tidak bisa diketahui. Oleh karenanya, jalan terbaik menghadapi mereka ialah dengan berhati-hati. Mereka tdak diperbolehkan tinggal bersama, tidak diperbolehkan membawa senjata, tidak diperbolehkan menjadi tentara. Mereka harus dipaksa untuk tinggal di bawah naungan hukum Islam, termasuk shalat lima waktu dan membaca al-Our'an. Harus ada yang tinggal di dalam komunitas mereka dan mengajarkan mereka agama Islam dan harus ada guru yang tinggal diantara mereka... Dan siapa saja pemimpin dari kesesatan mereka yang menyatakan taubat harus dipindahkan ke wilayah mayoritas kaum Muslimin dimana tiada dari pengikut sekte tersebut tinggal di dalamnya, dan semoga Allah memberinya petunjuk atau dia mati dalam kemunafikan agar tidak membahayakan Muslimin." [Majmu al-Fatawa].[3]

Inilah fatawa dari Syaikhul Islam yang menjelaskan bahwa Druze tidak bisa dianggap sebagai Ahlu Dzimmah, dan mereka lebih buruk dari Yahudi serta Nasrani, juga apabila mereka bertaubat dan menerima Islam maka penguasa Muslimin harus berhati-hati terhadap mereka karena mereka mengamalkan paham taqiyah dan oleh karenanya musti diambil tindakan pencegahan ketika berhubungan dengan mereka. Apatah lagi jika mereka belum betul-betul bertaubat!

Dalam sebuah fatwa lain disebutkan kekafiran ekstrim Bathiniyah (termasuk di dalamnya sekte Druze dan Nushairiyah) dan pengkhianatan mereka yang bersekutu dengan kuffar lainnya (salibis dan bangsa Tartar) melawan kaum Muslimin.

Syaikhul Islam berkata, "Bahaya mereka terhadap Ummat Muhammad shollallahu 'alaihi wasallam lebih besar daripada bahaya peperangan yang digelorakan kaum kuffar seperti kuffar dari bangsa Tartar, Frank [Salibis Eropa], dan lainnya... Tidak diragukan lagi bahwa jihad melawan orang-orang ini dan pelaksanaan hukum hudud atas mereka adalah bentuk dari amal ketaatan dan kewajiban. Jihad melawan mereka yang tidak memerangi kaum muslimin itu tidak lebih baik daripada jihad memerangi kaum musyrikin dan Ahlul Kitab, karena jihad melawan orang-orang ini ialah jihad melawan murtaddin. Ash-Shiddiq dan para sahabat memulai jihad dengan melawan kuffar dari Ahlul Kitab. Jihad melawan mereka untuk melindungi wilayah Muslimin yang telah ditaklukkan sehingga tidak ada seorangpun yang berniat untuk memerangi kaum Muslimin dapat masuk ke wilayah tersebut. Sedang jihad melawan mereka yang tidak membela kami dari serangan musyrikin dan Ahlul Kitab, maka hal itu adalah perwujudan agama yang lebih jauh lagi. Dan menjaga apa yang dimiliki adalah lebih diprioritaskan dibanding memperluas wilayah kaum Muslimin. Juga bahayanya lebih besar bagi kaum Muslimin daripada bahaya lainnya, bahayanya seperti bahaya kaum musyrikin dan Ahlul Kitab yang memerangi kaum muslimin. Terlebih lagi, bahaya mereka bagi agama lebih besar daripada bahaya tentara musyrikin dan Ahlul Kitab. Karena itu wajib bagi tiap muslim untuk berupaya sebisa mungkin melakukan kewajiban dalam memerangi mereka. Tidak diperbolehkan bagi siapapun untuk menyembunyikan rahasia apapun yang ia ketahui tentang mereka. Dia harus menyebarkannya dan mengumumkannya sehingga kaum muslimin mengetahui realita kondisi mereka. Tidak diperbolehkan bagi siapapun untuk bekerjasama dengan mereka dengan membiarkan mereka tinggal diantara tentara-tentara dan pegawai-pegawai Negara. Tidak diperbolehkan bagi siapapun untuk diam dari menegakkan perintah Allah dan Rasul-Nya dalam memerangi mereka. Tidak diperbolehkan bagi siapapun untuk mencegah penegakkan perintah Allah dan Rasul-Nya untuk melawan mereka. Ini adalah pintu utama amar ma'ruf nahi munkar dan jihad fisabilillah." [Majmu’ al-Fatawa].

Tindakan Jabhah Jaulani terhadap Druze memicu respon dari faksi-faksi yang menjadi sekutunya untuk mengeluarkan beragam pernyataan. Berikut ini sejumlah statemen negatif yang mereka sampaikan:

"Sebuah pernyataan mengenai kejadian menyakitkan yang terjadi pada warga di Desa Qalb Lawzah."

"Allah subhanahu wa ta'ala berkata dalam sebuah hadits qudsi, 'Wahai hamba-Ku, Aku telah melarang kezhaliman atas kalian dan mengharamkannya diantara kalian, jadi janganlah kalian berbuat zhalim'. Diriwayatkan oleh Muslim."

"Umat kami amat berduka mendengar berita menyakitkan tentang kejadian menyedihkan yang terjadi di provinsi Idlib terhadap warga desa Qalb Lawzah dari putra-putra sekte Druze dimana orang-orang yang berada di Suriah Utara bersaksi akan peran positif pengikut Druze dalam mendukung revolusi Suriah dan mengakomodasi para pengungsi dari bangsa ini dari seluruh kawasan di provinsi Idlib, yang harus pergi meninggalkan rumah-rumah mereka karena tekanan dari serangan udara dan kejahatan rezim Assad."

"Faksi-faksi yang kecewa karena kejadian tersebut bersegera mengirim delegasi resmi yang diwakili oleh saudara-saudara mereka di Harakah Ahrar asy-Syam “al-Islamiyah” karena keberadaannya yang berdekatan dengan lokasi kejadian. Delegasi tersebut akan menemui pemuka desa untuk menginvestigasi insiden tersebut dan menyediakan prosedur keamanan yang dibutuhkan untuk memulihkan keamanan dan stabilitas."

"Kami faksi-faksi yang tergabung dalam revolusi militer prihatin dan terkejut atas apa yang telah terjadi. Kami menegaskan kembali hal-hal berikut: ”

“Kami mengutuk kejadian menyakitkan ini yang menambah rasa sakit kami yang menjadi saksi atas peristiwa yang bersamaan dimana bangsa kami dibombardir tiap hari dengan bom barel oleh rezim jahat di beragam tempat di Suriah."

"Apa yang terjadi di desa Qalb Lawzah berlawanan dengan ajaran suci agama kami yang melarang penindasan terhadap manusia dan menumpahkan darah mereka tanpa hak dikarenakan sekte dan suku mereka. Kami akan melaksanakan prosedur yang diperlukan untuk bekerjasama dengan anggota sekte yang tersisa untuk mencegah terulangnya kembali kejadian serupa di tempat lainnya. Kami menegaskan kembali perlunya menangani kasus ini dan semua yang terlibat kepada sebuah pengadilan syar’i yang netral."

"Kami serukan kepada seluruh putra bangsa kami, kami akan berkorban untuk melindungi kalian dan membela kalian. Kami melakukannya melebihi perintah agama kami. Kami katakan: Senjata kami tidak diciptakan untuk menghadapi siapapun kecuali (pihak) yang menyerang dengan kekerasan dan kejahatan (seperti) rezim, Da'ish, dan sekutu-sekutu mereka melawan bangsa kami."

"Kami serukan pada seluruh pihak untuk bermusyawarah, mendahulukan kebajikan umum, dan mengambil prinsip Syar’iah dan revolusi besar kami dalam setiap kata dan perbuatan, karena revolusi ini adalah revolusi bagi bangsa ini dan akan terus berlanjut dengan izin Allah. Jadi siapapun yang tidak bergabung dengan kafilah yang diberkahi ini, maka akan ada konsekunsi baginya, dan rakyat Suriah akan menolaknya."

"Ditandatangani oleh:
[1] Al-Ittihad al-Islami li Ajnad asy-Syam
[2] Kata'ib Tsuwwar asy-Syam
[3] Harakah Ahrar asy-Syam
[4] Al-Jabhah asy-Syamiyah
[5] Tajammu' Fastaqim Kama Umirtu"

"Jum'at, 25 Sya'ban 1436H; 12 Juni 2015M"

Beberapa jam kemudian, Jabhah Jaulani mengeluarkan pernyataan menggemakan sentimen terhadap sekutu mereka. Berikut rinciannya:

"Pernyataan Mengenai Apa yang Terjadi di Desa Qalb Lawzah di Pinggiran Idlib"

"Segala puji bagi Allah yang telah melarang menzhalimi diri sendiri dan mengharamkannya diantara hamba-hamba-Nya. Shalawat dan salam atas Rasulullah yang bersabda, 'Berhati-hatilah atas kezhaliman, karena ia adalah kegelapan pada hari kebangkitan'. Dan semoga shalawat dan salam juga bagi para sahabatnya dan siapa saja yang mengikutinya. Berikut pernyataan kami:"

"Jabhah an-Nushrah telah menerima berita kejadian yang terjadi di desa Qalb Lawzah di pinggiran Idlib pada tanggal 23 Sya'ban 1436/ 10 Juni 2015 ini dengan kedukaan yang amat mendalam, kejadian dimana sejumlah anggota Jabhah an-Nushrah ikut ambil bagian tanpa berkoordinasi dengan pemimpin mereka dan secara jelas melawan instruksi para pemimpin di Jabhah an-Nushrah. Segera setelah kejadian tersebut berlangsung, sejumlah delegasi Jabhah an-Nushrah pergi untuk meminta keterangan terkait kejadian tersebut dan menenangkan penduduk desa serta menegaskan bahwa apa yang terjadi adalah sebuah kesalahan tanpa justifikasi dan apa yang terjadi tidak diketahui oleh para pimpinan. Desa dan rakyatnya tetap aman di bawah perlindungan kami dan di daerah yang berada di bawah kendali kami. Siapapun yang terlibat dalam kejadian akan dibawa ke pengadilan syar’i dan diadakan untuk mengadili apa yang telah diperbuatnya berupa penumpahan darah, dan akan dihukum berdasarkan syari'ah Rabb kami sebab an-Nushrah sejak awal berdiri hanya untuk menegakkan panji Syari'ah dan mengimplementasikan hukumnya."

“Jabhah an-Nushrah menegaskan bahwa sejak awal pecahnya konflik di bumi Syam, kami tidak secara langsung mengarahkan senjatanya untuk memerangi siapapun kecuali komplotan tentara jahat Nushairi, Khawarij yang sesat, dan faksi-faksi korup, yang melanggar hukum dan menyerang kehidupan serta kehormatan kaum muslimin. Musuh telah mengakui hal ini sebelum teman-teman di sekitar kami, Alhamdulillah. Kami juga menyeru semua orang mengecek kebenaran lapangan atas insiden ini secara akurat sebelum mempublikasikannya dan melaporkannya. Pintu Jabhah an-Nushrah terbuka untuk semua pihak. Kesalahan seperti ini dapat terjadi pada semua faksi kelompok, akan tetapi akan segera sirna dengan rahmat Allah selama kita patuh pada hukum Nya.”

"Alhamdulillahirabbil 'alamiin. {Dan Allah Memenangkan segala urusan-Nya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengerti}"

"Jabhah an-Nushrah - Sayap Media Islam Al-Manarah Al-Baidha"

"Tanggal dikeluarkan: Sabtu, 26 Sya'ban 1436H/ 12 Juni 201 5".

Jadi menurut Jabhah Jaulani dan sekutu-sekutunya, menumpahkan darah murtaddin dan pengkhianat Druze adalah kezhaliman! Dan jika terbukti seseorang melakukannya, maka ia harus dihukum sesuai dengan "syari'ah" yang mereka ikuti! Masalahnya adalah, apakah hal tersebut ditangani dengan pengadilan "syar’i yang netral" dari sekutu-sekutu mereka ialah bagian dari "syari'ah" dan jika mereka tidak tunduk pada pengadilan ini, apakah mereka telah abstain dari ketundukkan pada "syari'ah"?

Sebulan setelah insiden ini, Labib an-Nahlas -kepala hubungan politik luar negeri Ahrar asy-Syam- menulis sebuah artikel untuk Washington Post pada 10 Juli 2015 berjudul "Konsekuensi Mematikan dari Salah Penamaan Revolusi Suriah", di dalamnya ia mengatakan:

"Sudah sangat jelas bahwa respon Pemerintahan Obama atas konflik Suriah telah gagal... Langkah-langkah menghentikan Daulah Islamiyah dengan target jangka pendek yang diinformasikan oleh pakar berpengalaman di lraq dan Afghanistan, bersamaan dengan keriuhan media massa pada Daulah Islamiyah, telah berubah menjadi prioritas dengan target jangka panjang... Kegagalan ini dengan jelas tidak memperoleh hasil apa-apa dibandingkan konsekuensi atas pelabelan yang salah menjuluki revolusionaris Suriah sebagai kaum 'moderat' atau 'ekstrimis'.”

"Pada bulan Desember lalu, Sekretaris Negara John F. Kerry mengatakan bahwa 'Rakyat Suriah seharusnya tidak memilih baik tiran ataupun teroris'. Kerry menyatakan, terdapat opsi ketiga: 'Oposisi Suriah yang moderat yang memerangi ekstrimis dan rezim Assad setiap harinya'. Sayangnya, pandangan yang patut dihargai ini telah dipatahkan karena AS telah mendefinisikan kata 'moderat' dalam model yang amat sempit dan berubah-ubah, menjadikannya keluar dari bahasan utamanya".

"Kelompok dimana saya berada di dalamnya, yakni Ahrar asy-Syam, adalah salah satu contoh. Nama kami bermakna 'Pembebas Syam'. Kami menganggap diri kami sebagai kelompok Islam Sunni yang dipimpin oleh orang asli Suriah dan berjuang untuk Suriah. Kami berjuang untuk keadilan rakyat Suriah. Kami sering dituduh memiliki keterkaitan dengan organisasi al-Qaeda dan mendukung ideologinya".

"Tidak ada yang jauh melampaui kebenaran. Kami meyakini bahwa Suriah membutuhkan sebuah proyek kesatuan nasional yang tidak dapat dikendalikan atau disampaikan oleh satu partai atau kelompok pun yang tidak terikat pada ideologi tertentu. Kami meyakini upaya mewujudkan sebuah keseimbangan yang menghormati aspirasi sah dari kelompok mayoritas dan melindungi kelompok minoritas serta mengizinkan mereka untuk berperan positif di masa depan Suriah. Kami yakin masa depan moderat bagi Suriah yang menghadirkan negara dan institusi baru yang bermanfaat bagi seluruh rakyat Suriah... Orang-orang Suriah menganggap kami sebagai kesatuan utuh, elemen bernilai dari sebuah pemandangan revolusioner, namun kami masih difitnah secara tidak adil oleh Pemerintahan Obama dari sejak hari pertama".

"Terperangkap dalam gelembungnya sendiri, para pembuat kebijakan di Gedung putih telah mengalokasikan jutaan dollar pembayar pajak AS untuk mendukung upaya CIA yang gagal untuk mendukung apa yang disebut sebagai kekuatan 'moderat' di Suriah. Tapi kelompok 'moderat' ini telah memperlihatkan kekecewaan dengan segera hanya dalam sekali waktu memerangi Daulah Islamiyah. Lebih jauh lagi, kebijakan yang hancur dengan sendirinya berkenaan dengan perang melawan Daulah Islamiyah, dan usaha untuk menyingkirkan Assad dari tahta kekuasaan telah membawa pertempuran yang tiada akhir".

"Kasus moral melawan Assad harus berhenti menganggapnya bukan sebagai pilihan, tapi saat ini fakta peperangan menunjukkan bahwa ia telah usai. Pertanyaan yang tersisa ialah siapa yang akan mengadakan coup de grace: Daulah Islamiyah atau oposisi Suriah. Pertanyaan itu akan mendesak Washington untuk mengakui bahwa ideologi ektrimis Daulah Islamiyah dapat dikalahkan hanya dengan melalui Sunni asli - dengan definisi 'moderat' bukan melalui CIA tapi oleh rakyat Suriah sendiri".

"Meskipun kekurangan yang amat mengecewakan dari perjanjian komunitas Internasional, kami tetap berkomitmen untuk berdialog. Masalah yang harus didiskusikan ialah bagaimana mengakhiri kekuasaaan Assad, bagaimana mengalahkan Daulah Islamiyah dan menjamin pemerintahan yang stabil dan representatif di Damaskus dan meletakkan Suriah pada jalur perdamaian, rekonsiliasi dan perbaikan ekonomi, sambil menghindari disintegrasi Negara. Belum terlambat bagi AS untuk merubah jalannya. 'Pilihan ketiga' Kerry ada - tapi hanya jika Washington mau untuk membuka mata dan melihatnya".

Jadi ia mengingkari "al-Qaeda" dan menyebutnya sebagai "ideologi" dan mengumumkan bahwa mereka ingin bekerjasama secara terbuka dengan salibis melawan Daulah Islamiyah setelah hampir dua tahun secara tidak langsung bekerjasama melalui sekutu thaghut mereka. Dan faksi ini dianggap faksi paling "Islami" menurut Jabhah Jaulani, yang membantu mereka melawan Daulah Islamiyah meskipun penyimpangan mereka sangat jelas!

Semoga Allah memecah belah hati faksi-faksi koalisi Shahawat sampai perselisihan diantara mereka menjadi sangat dahsyat. Dan semoga Allah menampakkan kemunafikan, sikap dua muka, dan kesesatan para pengklaim jihad.

Catatan kaki :

[1] Seorang mantan anggota dewan syura Jaulani telah menginformasikan Dabiq bahwa Jaulani telah diperintahkan Zhawahiri untuk bergabung dengan murtaddin Jabhah "Islamiyah", namun ia menolak untuk mematuhi perintah tersebut, dengan mengatakan bahwa Zhawahiri tidak memahami situasi di lapangan. Saat Jaulani ditekan oleh mantan pimpinan Ahrar asy-Syam untuk mengikuti perintah Zhawahiri, ia memberi syarat bahwa Zahran Alloush harus dilengserkan dari kepemimpinan Jabhah "Islamiyah", dan ia masih saja bekerjasama dengan sejumlah anggota Jabhah "Islamiyah" yang dipimpin oleh Alloush untuk memerangi Daulah Islamiyah sejak pertama kali kemunculan gerakan Shahawat?!

[2] Para ulama berselisih pendapat apakah taubat kaum Bathiniyah (termasuk Druze) dapat diterima atau tidak oleh penguasa Muslim. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Jika mereka menyatakan taubat, maka ada perbedaan pendapat diantara para ulama apakah dapat diterima atau tidak. Pendapat yang menerima taubat mereka jika mereka ditetapkan dalam syari’at Islam mengizinkan mereka untuk tidak menyerahkan hartanya. Pendapat yang tidak menerima taubat mereka mengatakan untuk tidak memberikan harta warisan mereka keluarga mereka, karena harta mereka diserahkan ke Baitul Mal. [Majmu' al Fatawa]

[3] Individu-individu dari sekte ini yang menyatakan secara jelas akan kejujuran, keikhlasan, dan hasrat untuk mengamalkan agama terlebih lagi setelah pertaubatan dari kemurtadan dan setelah pengajaran Dien, maka, wallahu a'lam, ada teladan dalam kasus ini, pada kisah Tulaihah al-Asadi, seorang murtad yang mengaku sebagai nabi pada masa Khalifah ash-Shiddiq dan kemudian bertaubat dan berperang dalam pertempuran al-Qadisiyah dan Nahawand melawan Persia, ia mendapatkan kesyahidan pada era Khalifah al-Faruq. Lihat biografinya pada kitab "Siyar A'lam an Nubala".

ALIANSI AL-QA’IDAH DI SYAM (BAGIAN 2)

DABIQ 9 - ARTIKEL

ALIANSI AL-QA’IDAH DI SYAM (BAGIAN 2)

Lebih dari sebulan yang lalu, sejumlah koalisi Shahawat baru terbentuk, baik yang bersekutu dengan Jabhah Jaulani atau masuk ke dalam Jabhah Jaulani itu sendiri. Salah satu koalisi lama yang beraliansi dengan Jabhah Jaulani melawan Daulah Islam ialah Jabhah Syamiyah beserta seluruh faksi nasionalisnya [1].

Belum lama ini, satu koalisi lagi terbentuk di Idlib dan dinamai "Jaisyul Fath". Anggota faksinya terdiri dari Jabhah Jaulani dan Failaq Asy-Syam. Di bawah ini, anda akan membaca deklarasi resmi Failaq Asy-Syam, salah satu sekutu utama Jabhah Jaulani melawan Daulah Islam. Setelah membaca deklarasi tersebut, seharusnya sudah tidak lagi menjadi rahasia bahwa faksi ini dan yang semacamnya bekerja untuk melaksanakan agenda para thaghut di kawasan tersebut.

Kemurtadan Failaq Asy-Syam dinyatakan di dalam deklarasi sesatnya berikut ini:

Pernyataan Penting dari Failaq Asy-Syam

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam; serta shalawat dan salam tercurah kepada Rasul-Nya yang mulia.

"Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa." (Al-Hajj : 40)

Berangkat dari rasa tulus yang dalam dan hubungan persaudaraan antara rakyat Suriah dan revolusi serta antara Kerajaan Arab Saudi –baik pemerintah maupun rakyatnya– dan sebagai tanggapan atas apa yang dikehendaki oleh tuntutan bangsa Arab dan Islam kepada kita untuk berdiri bersama Kerajaan Arab Saudi, yang tidak pernah terlambat mendukung urusan bangsa Arab dan umat Islam bahkan satu hari, dan sebagai tanggapan atas apa yang harus dilakukan dalam fase kritis ini agar kepentingan umat Islam tercapai melawan misi sektarian pemecah-belah yang dilakukan oleh pemerintah Iran dan bahayanya bagi umat Islam seluruhnya…

Maka kami yang berada di dalam Failaq Asy-Syam, mengumumkan dukungan total dan sokongan tetap kami serta berdiri bersama Kerajaan Arab Saudi dengan ketetapan hati dan kekuatan di bawah kepemimpinan Pelayan Al-Haramain Asy-Syarifain, Raja Salman ibnu ‘Abdil ‘Aziz Alu Sa’ud, untuk mengusir kekuatan angkuh, jahat, dan rusak yang dengan cepat menyerang tanah yang diberkahi Yaman dan melanggar tanah suci Haramain demi kepentingan asing, kedengkian, pemecah belah oleh rencana Shafawi. Kami menyatakan bahwa misi sektarian ini bertujuan untuk memecah-belah umat Islam, melemahkan kekuatannya, merampas kekayaannya, dan menduduki tempat-tempat suci kaum Muslim di Makkah Al-Mukarramah dan Al-Madinah Al-Munawwarah. Ini adalah hal yang tidak akan kita biarkan untuk terjadi, bagaimanapun keadaannya.

Karena itulah, kami telah mempersiapkan dua ribu prajurit dari pahlawan Failaq Asy-Syam berada di bawah komando Pelayan Al-Haramain Asy-Syarifain, Raja Salman ibnu ‘Abdil ‘Aziz Alu Sa’ud, sehingga mereka membela negeri Haramain yang mulia dan mengalahkan musuh-musuh umat Islam di antara pengikut dan angkatan bersenjata Iran di negeri saudara-saudara kita Yaman. Kami melakukan ini untuk menolong kebenaran dan atas dasar loyalitas kepada orang yang berdiri dan mendukung perjuangan rakyat Suriah. Kami sesungguhnya berdiri dalam rangka membela tempat-tempat suci umat Islam melalui kontribusi sederhana kami, yaitu berupa dua ribu pejuang dari anak-anak terbaik Syam.

Kami mengajak negara-negara Organisasi Konferensi Islam (OKI) untuk bersegera menghadapi makar Shafawi ini dan berjuang untuk menghentikan semua orang yang membiarkankan mereka melanggar kesucian kita dan tempat-tempat suci kita. Sesungguhnya sikap kurang ajar Iran dan para pengikutnya tidak akan bisa dicegah kecuali dengan tekad [2], dan itu tidak akan bisa dihentikan kecuali dengan bahasa tekad. Dan inilah apa yang sedang kita lakukan saat ini yaitu dengan kekuatan dan tekad, kita memohon kepada Allah ta’ala pertolongan dan keteguhan."

"Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, (yaitu) sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang." (Ash-Shaaffaat : 171-173)

Dan akhir seruan kami ialah segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.

Failaq Asy-Syam
25 Rajab 1436 / 14 Mei 2015

Selesai pernyataan mereka yang sesat.

Penting untuk dicatat bahwa ketika murtaddin (para thaghut dan Rafidhah) berperang satu sama lain, tidak diperbolehkan bagi seorang Muslim untuk mendukung salah satu kelompok murtad melawan kelompok murtad lainnya dengan berperang di bawah kepemimpinan salah satu kelompok atau berperang dalam rangka membela mereka.

Allah Ta’ala berfirman, "Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut. Maka perangilah wali-wali Syaitan itu." (An-Nisaa’ : 76)

Sehingga tidak boleh bagi seorang Muslim berperang melawan Alu Salul di bawah kepemimpinan Rafidhah Houtsi ataupun berperang melawan Rafidhah Houtsi di bawah kepemimpinan Alu-Salul. Jika dia berperang di bawah kepemimpinan thaghut dalam rangka membela rezim kufur, maka dia telah keluar dari islam. Karena itu seorang Muslim harus mengetahui kewajibannya ketika dia melihat orang-orang murtad berperang satu sama lain, ketika itu dia harus menyatakan bara'ah (berlepas diri) dari kedua kelompok murtad itu dan –jika mampu– berjihad melawan keduanya di jalan Allah.

Adapun penyebab di balik keluarnya deklarasi sesat ini, tidak lain sikap ketergantungan faksi ini terhadap bantuan thaghut. Pada awalnya thawaghit menjebak mereka dengan bantuan yang dikira "tulus" dan "tanpa syarat" sebelum mereka menuruni konsesi curam dan licin yang berakhir dengan kemurtadan yang nyata.

Maka dengan demikian, akankah para pengklaim jihad dari Jabhah Jaulani mengobarkan "jihad" melawan sekutu-sekutu mereka, yaitu budak-budak Alu Salul yang tidak tahu malu? Atau apakah ada alasan tanpa batas yang telah disiapkan bagi setiap pernyataan kemurtadan nyata yang mereka buat? Secara terbuka, saat ini Alu-Salul menduduki sejumlah tempat di Idlib, Halab, dan Syam –secara keseluruhan– melalui "legiun" ini, Zahran ‘Allusy, dan ikhwan mereka dari Jabhah "Islamiyah". Lebih parah lagi, faksi-faksi "Jaisyul Fath" disebut sebagai "Ahlus Sunnah" dan "mujahidin yang ikhlas" oleh Al-Jaulani dalam pidatonya akhir-akhir ini!

Semoga Allah membongkar kemunafikan dan kemurtadan sekutu-sekutu "Al-Qa’idah" di Syam.[3]

Catatan kaki :

[1] Untuk pembahasan lebih lengkap tentang aliansi ini baca "Aliansi Al-Qaidah di Syam (Bagian 1)" pada Dabiq edisi 8

[2] Catatan editor: ini dan seterusnya penggunaan kata ini merujuk pada istilah "Badai Keteguhan" yang diumumkan oleh Alu Salul

[3] Sikap hizbiyah dan Irja' ini yang memungkinkan "al-Qa'idah" Suriah untuk mendukung faksi murtad ini memerangi Muhajirin dan Anshar. Lihat "Hizbiyin dan Zona Abu-Abu" pada Dabiq edisi 7 halaman 62-66 dan "Irja' Dari Pengklaim Jihad" pada Dabiq edisi 8 halaman 52-56 untuk membaca tentang penyimpangan pengklaim jihad ini dan bagaimana hal itu membawa mereka pada jalan gelap ini.

ALIANSI AL-QA'IDAH DI SYAM (BAGIAN 1)

DABIQ 8 - ARTIKEL

ALIANSI AL-QA'IDAH DI SYAM (BAGIAN 1)

Syaikh Abu Hamzah rahimahullah menyebutkan di dalam nasihatnya kepada kelompok-kelompok nasionalis di Iraq, beliau mengatakan: “Kepada mereka yang berperang demi membebaskan Negara dan di bawah panji nasionalis dan fanatisme golongan, aku katakan, bukankah telah datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seorang laki-laki, seperti yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, laki-laki ini berkata; “Wahai Rasulullah, apa itu perang di jalan Allah? Sesungguhnya ada seorang lelaki dari kita yang berperang karena marah, atau berperang karena hamiyah (fanatisme)”, Rasulullah kemudian mengangkat kepalanya dan bersabda; “Barangsiapa yang berperang untuk menjadikan kalimat Allah yang tertinggi maka dia di jalan Allah Azza wa Jalla”. An-Nawawi, Ibnu Hajar dan yang lainnya berkata; Hamiyah adalah berperang karena kebanggaan, rasa cemburu, atau ingin membela suku, sedangkan menurut Al-Hafizh di dalam Al-Fath; “Bisa jadi menafsirkan perang karena hamiyah adalah perang untuk menolak mudharat dan perang karena marah adalah perang untuk mencari keuntungan”. Maka apakah perang kalian, wahai manusia, pergi kepada apa yang dikhawatirkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Bahkan itu semua menjadi tujuan kalian, karena seharusnya di dalam syariat Allah adalah apa yang dikatakan oleh Al-Hafizh di dalam Al-Fath: “Tidaklah disebut fi sabilillah kecuali jika sebab berperangnya adalah berusaha meninggikan kalimat Allah semata”. Maka membebaskan negeri dan tujuan lainnya bisa masuk ke dalamnya namun bukan menjadi tujuan utama, dan kalian telah mengetahui keburukan hal ini di dalam perang, karena sebagian besar para pemimpin Arab hari ini telah datang setelah usai peperangan untuk mengangkat bendera nasionalisme, dan tidakkah kalian lihat hasil itu semua hanyalah kerugian di dunia dan akhirat." (Makalah Kedua)

Amirul Mukminin Abu Umar Al-Baghdadi rahimahullah berkata: “Sesungguhnya ide nasionalisme dan kesukuan merupakan hal yang berlawanan dengan dien dalam berbagai ushulnya; Pertama: Sesungguhnya perbedaan antara manusia ditentukan dengan taqwanya bukan dengan darahnya. Allah berfirman: "Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya kami telah menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, dan menjadikan kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal, sesungguhnya yang paling mulia dari kalian di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa" (Al-Hujurat: 13). Kedua: Bertentangan dengan aqidah al-Wala' wa al-Bara' –yang ini termasuk dari pokok paling agung di dalam dien– sehingga orang Arab Iraq beragama Nashrani adalah seorang saudara dan berhak mendapat seluruh haknya, sedangkan orang India dan Turki Muslim maka tidak ada hak baginya, dan syari'at mereka ini mengharuskan mendahulukan Uqbah bin Abi Mu'adz dan Abu Jahal daripada Bilal yang orang Habasyah dan Salman yang orang Persia. Ketiga: Bertentangan dengan ikatan persatuan antara kaum mukminin, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Seorang mukmin dengan mukmin lainnya ibarat satu bangunan yang saling menguatkan satu sama lain”. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Musa Al-Asy'ari radhiayallahu anhu). Juga di dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; “Permisalan orang-orang yang beriman di dalam cinta, kasih sayang dan kelembutan mereka ibarat satu tubuh, apabila ada salah satu yang merasakan sakit, maka yang lain akan ikut merasakannya dengan susah tidur dan demam” (diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Nu'man bin Basyir radhiyallahu anhu). Keempat: Ini dibangun di atas pijakan seruan kepada jahiliah dan 'ashabiyah, Allah berfirman "Ketika orang-orang kafir menanamkan di dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah" (Al-Fath: 26). Dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; “Bukan termasuk golongan kami orang yang menyeru kepada 'ashabiyah” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Jubair bin Muth'im)." (Adzillatan 'Alal Mu'minin A'izzatan 'Alal Kafirin)

Berkata juga Amirul mukminin Abu Umar Al-Baghdadi rahimahullah; “Namun sayang, beberapa anak burung sekularisme menyebarkan kebohongan penjajahan, merumuskan dasar untuk itu, berargumen mendukung hal itu, dan mengangkat panji buta dengan nama nasionalisme dan patriotisme, padahal itu adalah hal yang sama dengan apa yang ada di dalam ajaran Majusi, sehingga mereka menjadikan kekayaan negeri Iraq, khususnya air dan minyaknya hanya untuk orang yang memiliki kewarganegaraan Iraq, lalu apakah seandainya dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hijrah ke negeri kita, karena beliau sesungguhnya beliau telah hijrah ke negeri yang bukan negerinya, dan tinggal di negeri yang bukan negerinya, maka apakah halal baginya dan juga bagi para sahabatnya kekakayaan itu semua sesuai dengan doktrin orang-orang ini? Tidak, dan tidak ada jalan bagi Rasulullah dan muhajirin untuk mendapatkan kepemimpinan dan kekuasaan, dan harus mendapatkan apa yang mereka butuhkan dengan susah payah dan kasar. Bagaimana tidak, mereka inilah yang mengatakan bahwa Iraq adalah untuk orang-orang Iraq dan kekayaannya adalah milik mereka. Ya, bagi setiap warga Iraq, tidak peduli walau dia adalah penyembah setan Yazidi, Shabi'ah atau Mandian, semua mereka memiliki kesamaan hak, baik dia muslim sunni, atau seorang rafidhi majusi, dan tidak penting apakah orang Iraq ini menyembah Rabb kita yang mulia atau setan yang hina, maka haknya tetap terjaga! Wahai muwahhidin, sesungguhnya aqidah kita adalah seorang muslim adalah saudara kita walau dia orang Asia Filipina, dan penyembah setan adalah musuh kita walau dia adalah orang Iraq seutuhnya!" (Fa Amma Zubadu fa Yadzhabu Jufa)

Pada tanggal 25 Desember 2014, telah dibentuk Jabhah Syamiyah di Aleppo, termasuk di dalamnya adalah Jabhah 'Islamiyah', Jaisy 'al-Mujahidin', Harakah 'Nuruddin Zanki', Katibah 'Fastaqim Kama Umirta', Jabhah Ashalah wa Tanmiyah, dan yang terakhir adalah Harakah Hazm, dan mayoritas kelompok ini adalah anggota wadah nasionalis Dewan Komando Revolusi Suriah (Majlis Qiyadah Ats-Tsaurah As-Suriya).

Grup-grup ini juga mendapat sokongan dana “tanpa syarat” dari rezim Negara-negara teluk dan juga CIA, SNC (Syrian National Coalition), Jaisy Al-Hurr (FSA), Supreme Military Council juga mendapatkan bantuan walau mereka tidak bergabung kepada arah mana pun dari ini semua. Pada bulan Februari 2015, jabhah baru ini bersepakat dengan kelompok Kurdi; Partai Demokrasi Otonomi Kurdi (PKK) Unit Pelindung Rakyat (YPG) sayap militer Partai Persatuan Demokrasi (YPD) untuk menegakkan syari'at di 'Afrin! Bagaimana caranya kaum Nasionalis 'Islamis' berencana menegakkan syariat bersama kaum Marxis dan Demokratis sekuleris? Satu pertanyaan untuk mereka adalah; Apakah pesawatpesawat Salibis yang membantu partai PKK di Ain Al -Islam juga akan membantu penegakkan “syariat”...

Skenario yang dijalankan oleh para Nasionalis 'Islamis' bersama para nasionalis sekuler untuk membentuk pemerintahan nasionalis yang mencakup undang-undangnya islam dan demokrasi, adalah skenario yang sama yang telah selesai diuji coba di Mesir, Tunisia dan Libya. Dan orang-orang salib tahu bahwa pada akhirnya di sana ada perbedaan antara dua kue ini, dan tinggal duduk sambil menunggu kelompok mana yang lebih menguntungkan kepentingan mereka untuk segera mereka bantu. Dan dua kelompok ini pun saling berlomba untuk bersaing dalam memperlihatkan kemurtadan sebanyak-banyaknya hingga menang dalam mencari keridhaan Barat dan sekutu mereka—para thaghut Arab.

Akan tetapi permainan ini sangat jelas terlihat bagi mereka yang memiliki iman dan memahami waqi', tetapi hal ini tidak demikian bagi para pengklaim jihad di Syam (Jabhah Jaulani). Orang-orang yang menyimpang ini justru memerangi Daulah Islamiyah berdampingan bersama para kelompok Shahawat yang kelak akan membangun Jabhah Syamiyah sembari mengatakan bahwa mereka adalah battalion mujahid yang ikhlas, hanya saja “keikhlasan” yang dikatakan oleh Jabhah Jaulani ketika menggambarkan kelompok ini semakin tampak jelas hakikatnya hari demi hari.

Dan berikut adalah transkip ceramah yang disampaikan oleh ketua Departemen Politik dan Informasi Jabhah Syamiyah (Zakaria Malahifji) di dalam muktamar yang diselenggarakan oleh “Pasukan Revolusioner Aleppo” yang diadakan di Turki pada 1 Maret 2015 :

“Dalam rangka menjawab tuntutan revolusi, dan memenuhi permintaan masyarakat revolusioner di Aleppo, terutama dalam masalah persatuan dan organisasi demi menghadapi agresi tiran, dan atas nama Jabhah Syamiyah, dengan ini saya ingin membacakan kepada hadirin sekalian beberapa dasar keputusan berikut ini :

Pertama: Jabhah Syamiyah adalah bagian dari Dewan Tinggi Revolusi yang wajib untuk mempersatukan kekuatannya demi meraih kemenangan, karena persatuan adalah satu-satunya jalan untuk meraih kemenangan dan perpecahan hanyalah menyenangkan rezim yang jahat.

Kedua: Jabhah Syamiyah adalah faksi yang merepresentasikan Suriah dan warganya, dan menganggap bahwa Suriah untuk warga Suriah, dan prioritas kami adalah membebaskan Suriah dari Iran dan melengserkan rezim yang jahat untuk mengakhiri kezhaliman dan membangun bangsa yang merdeka.

Ketiga: Kami menganggap bahwa identitas kewarganegaraan Suriah adalah untuk setiap warga Suriah, baik itu Arab, Kurdi, Turkman, Asyirian, Druz, sebagaimana kami juga mengakui agama-agama lain.

Keempat: Suriah sebagaimana yang ada sekarang dengan garis batas internasional yang telah diakui, adalah sebuah Negara untuk seluruh warga Suriah, dan Jabhah Syamiyah menolak pembentukan Suriah menurut salah satu faksi, atau agenda politik atau kelompok tertentu.

Kelima: Seluruh dunia mengetahu, bahwa rezim Suriah dahulu dan hingga sekarang menjadi sponsor utama terorisme di wilayah ini, dia telah melatih kelompok-kelompok teror dan menggunakan mereka untuk membunuh dan melakukan teror di Negara-negara tetangga dan sekarang dia menggunakannya untuk membunuh revolusi warga Suriah.

Keenam: Hal yang sangat jelas, bahwa revolusi Suriah menghadapi persekongkolan yang terdiri dari berbagai rezim jahat dan teror di wilayah ini, yang dipimpin oleh Iran yang menjajah negeri Suriah, pada saat yang sama, masyarakat internasional dan seluruh lembaga meninggalkan tanggung jawab mereka secara moral dan hukum untuk menghentikan pembantaian atas warga Suriah yang telah berlangsung selama empat tahun, dan tidak melindungi keselamatan warga yang keluar dalam demonstrasi besar-besaran pada tahun pertama revolusi.

Ketujuh: Jabhah Syamiyah mengucapkan terimakasih kepada semua mitra dan sahabat rakyat Suriah, terutama kepada Turki, Saudi, Qatar, dan Negara-negara lain, dan mengajak mereka untuk bersama mengambil sikap tegas terhadap penjajahan Iran, kelompok-kelompok Iran dan kejahatan rezim.

Kedelapan: Jabhah Syamiyah percaya bahwa proposal Demistora bukan merupakan solusi politik bagi Suriah sekarang, tidak juga sebagai dokumen tertulis, yang justru mengusulkan gencatan senjata di Aleppo untuk menyelamatkan rezim dari kekalahan terus menerus, dan memberikan kesempatan untuk memusnahkan Douma, Daraa, dan semua daerah Suriah lainnya. Demistora ingin melompati Konferensi Genewa I dan II, di mana di dalamnya para revolusionis sepakat untuk mengganti rezim yang jahat dengan Suriah yang merdeka dan mandiri. Wahai saudara sekalian, ini menekankan bagi kita pentingnya mengeluarkan kesepakatan bersatu terhadap proposal Demistora dan lainnya, dan jangan sampai kita terpecah belah dalam membuat kesepakatan melawan proposal itu, demi tanggung jawab kita terhadap darah para syuhada dan masyarakat besar revolusi.

Kesembilan: Jabhah Syamiyah mengajak kepada usaha yang lebih keras lagi untuk menghentikan solusi senjata dalam memutuskan perselisihan antara para revolusionis perselisihan terakhir adalah apa yang terjadi di Aleppo. Dan kami mengajak kepada peradilan yang independen yang bisa menempatkan semuanya pada tempat yang benar, dan menghindari pertumpahan darah yang itu hanya menguntungkan pihak rezim jahat.

Kesepuluh: Kami berterima kasih kepada saudara-saudara yang hadir di dalam konferensi ini, dan kami berterima kasih juga kepada saudara-saudara di Koalisi Nasional Suriah (SNC) dan Pemerintah Interim Suriah, dan kami meminta kepada mereka untuk terus menerus memberikan dukungan secara konstan dan terorganisir terhadap kaum revolusioner di Aleppo, dan bekerja terus menerus dengan sekutu dan sahabat warga Suriah dengan tidak memutus atau mengurangi bantuan ini, dengan demikian mesin kriminal ini bisa terus kita hadapi. Kita juga menegaskan kembali kepada seluruh warga kami untuk tetap memberikan dukungan dengan karunia dari Allah, hingga meraih Syahadah atau kemenangan.

Terakhir, kami sangat senang dengan pertemuan ini, yang kami harap kita bisa menjadi front yang bersatu untuk revolusi di seluruh kota Aleppo dan selainnya, dan seluruh tanah Suriah, karena di sana ada kenyataan yang sangat jelas ketika kita bersatu maka akan tumbanglah rezim ini. Dan terakhir, kami berterima kasih kepada kalian semua.”

Inilah kalimat terakhirnya yang menyimpang, dan beginilah menurut sekutu tanzhim Al-Qaeda di Suriah, yang tidak membedakan antara Muslim dan Kristen (Assyrian/Syriac), Nushairi, Rafidhi, Durz, dan Isma'ili, Suriah adalah Negara untuk semua! Menurut sekutu tanzhim Al-Qaeda di Suriah, Koalisi Nasional Suriah (SNC), Pemerintah Interim Suriah, pemerintah Turki, keluarga Saud dan Qatar semua adalah saudara muslim [1]! Menurut sekutu tanzhim Al-Qaeda di Suriah, dalam pandangan mereka bersatu demi nasionalisme dan patriotisme bangsa lebih penting dari pada perpecahan lantaran tauhid dan kebenaran! Dan mereka membuat pernyataan yang menyimpang ini sambil berdiri di bawah bendera jahiliyah nasionalis, bendera dua orang Salib, Sykes dan Picot!

Pertanyaan bagi setiap para pengikut pengklaim jihad: Mengapa para komandan Jabhah Jaulani melakukan kerja sama dengan faksi ini demi melawan Daulah Islamiyah? Apa hukum orang-orang yang masuk ke dalam ruang-ruang operasi dan kerjasama bersama dengan para faksi menyimpang ini untuk melawan Daulah Islamiyah? Apa hukum mereka yang telah bekerja sama dengan kelompongkelompok buruk ini untuk melawan Daulah Islamiyah? Mengapa kelompok ini dengan lantang membuat pernyataan publik dengan membawa slogan nasionalisme jahiliah –sejumlah pernyataannya sebenarnya juga mengandung kekufuran– dan Jabhah Jaulani terus menerus mengabaikan kesalahan ini dan tidak mencela mereka secara publik (terkadang bahkan membela mereka!), dan justru memfokuskan kampanye media mereka untuk melawan Daulah Islamiyah! Apakah kesalahan Nasionalisme sesat ini tidak sebanding dengan 'kesalahan' Daulah Islamiyah!

Terakhir, apa perbedaan haqiqi antara Harakah Hazm dan Jabhah Tsuwar Suria (Mantan sekutu Jabhah Jaulani yang dulu) dan antara Jaisy 'al Mujahidin', 'Zanki', 'Fastaqim Kama Umirtu' dan Jabhah Ashalah wa Tanmiah, dan berbagai faksi dari front-front 'Islami'? Apakah perbedaannya hanya pada panjangnya sentimeter jenggot, dan perbedaan tipis antara Mursi dan SIsi, yang kedua-duanya mengatur dengan undang-undang thaghut dan memimpin kampanye melawan mujahidin di Sinai?

Jabhah Jaulani akan mendapati akibat dari pengkhianatannya terhadap para muhajirin dan anshar Daulah Islamiyah, ini akan berakhir pada pengkhianatan Shahawat terhadap Jabhah Jaulani, dan sedikit demi sedikit hal ini telah terlihat…

Catatan kaki :

[1] Gerakan Shahawat Murtad ini telah membunuh ahlul Islam (Muhajirin dan Anshar Daulah Islamiyah yang mereka sebut sebagai' Khawarij') dan membiarkan Ahlul Awtsan (Penyembah berhala, orang-orang murtad SNC dan pemerintah interim Suriah yang mereka sebut 'Saudara').