Tampilkan postingan dengan label Tadabbur Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tadabbur Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 April 2018

MERENUNGKAN PENCIPTAAN, TADABBUR QS ALI IMRAN AYAT 190-191

DABIQ 15 - ARTIKEL

MERENUNGKAN PENCIPTAAN,
TADABBUR QS ALI IMRAN AYAT 190-191

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. “ (Ali Imran: 190-191)[1]

'Amir Ibn' Abd Qais rahimahullah berkata, "Aku mendengar lebih dari satu, dua, dan tiga sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang berkata, 'Cahaya iman adalah tafakur (perenungan)." Hal itu juga dikatakan oleh al-Auza'i rahimahullah, "hal pokok Apa yang dapat direnungkan dari ayat ini (mengacu ayat diatas)?" Dia menjawab, "Untuk membacanya dengan memahaminya." Umm ad-Darda rahimahullah ditanya, "Apa ibadah terbaik yang dilakukan oleh Abud-Darda?" dia menjawab, "tafakur dan memperhatikan contoh." dan baik Ibn 'Abbas maupun Abud-Darda rahimahullah mengatakan, "tafakur selama satu jam lebih baik daripada menghabiskan malam dengan shalat" (Ad-Durr al-Mantsur)

Itu adalah hari yang sangat dingin saat ribath (menjaga perbatasan) di dekat zona industri Layramun ketika musim dingin yang kadang antara akhir "2012" dan awal "2013." Saat itu adalah jadwal jagaku dan aku menggigil saat duduk di atas batu di pos ribath. Dengan kacamata “night vision”, aku memantau setiap gerakan pasukan Nushairiy yang mungkin maju dari arah Khalidiyah. Tiba-tiba saja sesuatu bergerak mendekat, dua meter kurang dariku. Hal itu menarik perhatianku dan menggangguku. Aku melihat bahwa itu adalah seekor kucing yang kedinginan seperti diriku. Ia mengawasiku selama beberapa detik sebagaimana aku mengawasinya, Ia kemudian Nampak menimbang, apakah jiwaku agresif atau penyayang, kemudian ia memutuskan maju ke arahku, melompat ke pangkuanku dan mulai mendengkur.

Hal ini membimbingku untuk merenung lebih dalam dari semua yang telah kualami. Ia adalah makhluk dengan jiwa, yang mampu mengamati makhluk lainnya dengan jiwa, kemudian menentukan apakah makhluk lainnya itu akan menyambut atau tidak, hingga akhirnya memutuskan untuk mengambil risiko dengan mendekat ke pangkuan makhluk lain demi kenyamanan dan kehangatan. Betapa hebatnya Dia yang menciptakan kedua makhluk ini dan memfasilitasi keduanya dengan sebuah sarana komunikasi yang tidak dapat diukur oleh salah satu dari mereka!

Itu adalah momen tafakur yang tiada duanya, sebuah karunia dari Allah subhanahu wa ta’ala. Setelah giliran jagaku selesai, aku bergegas berbicara tentang hal ini dengan Murobit lainnya, Abul Mutsanna as-Sumaliy[2] (Taqabbalahumullah). Setelah Selama beberapa bulan kami bersama, kami berdua pernah berada di barisan Daulah Islam, lalu beroperasi ke Syam dengan nama "Jabhah an-Nushrah." Aku mengatakan kepadanya tentang pengalaman dengan seekor kucing, dia lalu tersenyum dan memahami tanda-tanda Allah dalam ciptaan-Nya. Percakapan tersebut mendorong kami untuk lebih memperhatikan tanda-tanda Allah lainnya, bahkan meruncing pada asumsi baik kami akan kebangkitan khalifah dengan berlanjutnya jihad di Syam, in syaa-a Allah. Abul Mutsanna kemudian melanjutkan giliran ribat nya, mengamati kucing yang sama dan melihat keluar bila akan setiap adanya potensi tentara Nushairiy.

Sekarang aku tidak ingat jika sesudah itu atau beberapa saat sebelumnya, ketika aku duduk di pangkalan kami didekat Aleppo dan menulis daftar tanda-tanda yang berbeda dalam ciptaan Allah untuk direnungkan saat ribath. Aku kemudian bertanya kepada Abul Mutsanna, apakah ia ingin tahu daftar yang telah kubuat. Dia sangat gembira… Lalu aku membacakan kepadanya berbagai hal yang telah kutulis dan ia akan mengomentari terkait bagaimana hal itu pasti adalah tanda-tanda dari Allah yang memanifestasikan kebijaksanaan-Nya, pengetahuan, kebesaran, kekuasaan, dan rahmat-Nya, serta dukungan konstannya bagi Islam dan kaum Muslimin. Itu adalah percakapan yang menyegarkan iman, sesuatu yang sangat sulit ditemui di Barat, sebagaimana Muslim akan menemukan dirinya menjadi orang asing di antara kawanan yang telah kebarat-baratan oleh lingkungan Murtadd.

Di sini, aku akan menyebutkan secara singkat beberapa tanda-tanda yang telah kami bahas. Tapi sebelum melakukannya, izinkan aku menyajikan contoh bagi atheis dan agnostik di Barat yang mungkin akan membaca tulisan ini, orang-orang kafir aneh yang angkuh dengan menolak Allah dan menolak kesaksian fitrah mereka sendiri yang telah Allah tanamkan kedalam diri mereka.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, "Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian menghidupkannya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan bagi-Nyalah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Ar-Rum: 27-28).

Dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta’ala mengajarkan pada kita apa itu "contoh kesombongan". Ketika kaum pagan meragukan kemampuan Allah untuk membangkitkan orang mati, Ia menjelaskan kepada mereka bahwa bila tidak ada kesulitan dalam menciptakan kehidupan, maka dari itu tidaklah lebih sulit untuk menciptakan mereka yang pada awalnya berada dalam kondisi ketiadaan. Contoh yang ingin aku ambil untuk orang-orang kafir penyangkal adalah sebagai berikut:

Bayangkanlah diri Anda –wahai orang kafir- duduk dibelakang superkomputer canggih yang dirancang untuk mengelola produksi bom hidrogen seukuran koper. Bahan baku dibawa ke jalur produksi dan dirakit oleh android rumit dengan mode yang tepat. Saat Anda sedang bermain video game di superkomputer, seseorang mengirim pesan yang mengatakan bahwa komputer Anda -baik hardware maupun softwarenya- serta pabrik, lini produksinya, androidnya, bahan baku, video game, pesan, pemilik, dan bahkan Anda sendiri adalah sesuatu yang terpisah dan ada karena kekacauan, peristiwa kacau ini menghasilkan ter-klik-nya mouse anda didalam susunan perintah yang cermat dari pabrik! Fitrah tidak akan menerima argumen seperti itu, namun ateis mengklaimnya!

Bagaimanapun, diantara apa yang aku bahas dengan Abul Mutsanna adalah daya tarik fisik dan kerinduan emosional yang Allah tempatkan di hati lelaki terhadap wanita dan dan dihati wanita terhadap lelaki. Ini tidaklah seperti rasa lapar, kehidupan individu manusia tidaklah tergantung pada kerinduan ini. Akan tetapi ia akan terus-menerus merindukan separuh jiwanya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan akung. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Ar-Rum: 21).

Kecenderungan ini mendorong setiap individu untuk mencari pasangan, dan berlanjut dari generasi ke generasi manusia. Kecenderungan antara pasangan adalah sesuatu yang penuh hikmah, tapi orang kafir arogan menganggap fenomena ini sebagai akibat dari kekacauan.

Kecenderungan antar pasangan bergantung pada banyak faktor termasuk indera, dan yang paling penting adalah penglihatan, penciuman, sentuhan, pendengaran, dan hati. Masing-masing indra tersebut adalah tanda didalam dan diluar dirinya sendiri. mata misalnya, adalah organ kompleks yang blok terkecilnya adalah partikel sub-atom yang membentuk berbagai sel dan jaringan organ. Setiap sel bertugas sesuai perannya dalam sistem optik. Cahaya dapat dirasakan oleh mata dan rinciannya diteruskan ke otak melalui saluran yang canggih untuk membawa informasi visual. Dengan demikian, pasangan dapat melihat satu sama lain, dan ini mengarah pada pembentukan perasaan didalam hati. Namun orang kafir mengklaim bahwa mata dan emosi itu lahir dari hasil dari kekacauan!

Hati adalah tanda lainnya dan sangat terkait dengan lidah. Tidak seperti makhluk hidup lainnya, manusia adalah makhluq yang paling fasih dalam menyampaikan isi hatinya. Dia bahkan mampu menyampaikan sebaliknya, baik itu menipu atau berkhianat, seperti karakter munafik. kemampuan manusia untuk berbicara begitu besar, ia mampu menulis puisi dan prosa, fiksi dan non-fiksi, menghabiskan berjam-jam hanya untuk hal ini, merangkai kalimat dari hatinya dengan makna yang luas dan emosional.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, "Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." (Al-'Alaq: 3-5). Bahkan berbagai bahasa manusia adalah tanda. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (Ar-Rum: 22).

Dengan demikian, keragaman yang ditemukan dalam bahasa manusia -dari bahasa “Klik” Afrika sampai bahasa Semit di Timur Tengah- adalah tanda besar untuk direnungkan. Seorang anak bisa belajar bahasa Arob dimana ia tumbuh dan berbicara pada sebagian besar masa mudanya, kemudian mempelajari bahasa lain -Ibrani, Persia, Inggris, dll- untuk memata-matai komunikasi musuh atau untuk menghentikan operasi musuh. Dia mungkin menulis prosa dengan fasih dalam bahasa baru sebagaiman yang ia lakukan dalam bahasa “ibu” untuk menyeru orang-orang Yahudi, Kristen, dan orang kafir lainnya agar memeluk Islam. Dia bahkan bisa merekayasa bahasanya sendiri untuk meng-enkripsi komunikasi bolak-balik antara dirinya dan pimpinan operasi luar negri Daulah Islam sebelum mengeksekusi serangan terhadap target yang telah disurvei. Keterampilan bawaan ini tidak akan ditemukan pada makhluk lain selain manusia. Betapa hebat ciptaan-Nya!

Seorang suami dan istrinya dapat memiliki anak, inilah hasil dari kecenderungan komposit diantara keduanya, sebuah misteri yang ditanamkan ke dalamnya oleh Pencipta mereka. Anak lahir dengan sejumlah tanda-tanda dalam dirinya, namun hanya sedikit di antara manusia mau yang merenungkannya. Salah satu tanda itu adalah belas kasih yang ditempatkan di hati orang tua terhadap makhluk ini yang bersikeras mendorong dan mencegah mereka dari tidur malam demi malam. Ukurannya yang kecil, kondisi rapuhnya yang nampak melalui penglihatan dan pendengaran mereka adalah salah satu dari banyak alasan di balik belas kasih ini. Tapi mengapa anak manusia tidak dilahirkan dalam bentuk dewasa dengan ukuran mini - dengan berat lahir 3 kilogram tapi dengan kumis, jenggot, dan tanda wajah dari orang dewasa?

Tentu polos sorot matanya tidak akan terlihat dengan jelas oleh orang tuanya. Kelucuan di senyum dan tawanya yang memicu banyak sensasi kebahagiaan di hati kedua orang tuanya tidak akan benar-benar tergambar disana dengan tidak adanya pipi tembem dan badan gemuk. Dan lagi, dia lahir hampir buta, tetapi saat ia tumbuh matanya berkembang dan memungkinkan dia untuk melihat wajah orang tuanya dan memahaminya ketika mereka bermain dengannya dan tahu bahwa mereka mencintainya. pendengarannya memungkinkan dia untuk tumbuh dan berbicara seperti yang orang tuanya lakukan, dan setelah itu ia mungkin akan bersaing dengan penyair yang telah mendahuluinya di sepanjang sejarah.

Ketika manusia lapar, ia pergi ke pasar untuk membeli daging, buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian, semua ada untuknya di sebuah planet yang lingkungan hidup, makanan dan keberadaannya cocok untuknya. Tidak ada yang permanen baik itu malam, atau siang, atau hujan, atau panas.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, "Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar? Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan? Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya." (Al-Qashash: 71- 73).

Dia subhanahu wa ta’ala juga berfirman,"Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.” (Al-An'am: 99).

Jadi, manusia hidup di bumi dengan segala apa yang ia butuhkan itu berada dalam genggamannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, " Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi" (Al-Baqarah: 29).

Dia tidak akan meninggalkan manusia mencari makanan hingga kelaparan. Sebaliknya, Allah memfasilitasi manusia itu sendiri hingga mampu bercocok tanam dan bertani, bahkan mendistribusikannya serta menjualnya. Dia juga mampu memelihara ternak dan hidup dari daging dan susu. Semua ini adalah hasil dari kecerdasan yang Allah tanamkan pada dirinya.

Di antara makhluq, manusia juga dapat memanfaatkan lebah madu untuk makanan. Koloni lebah -pada dasarnya pabrik madu- terdiri dari pekerja yang bertugas dengan berbagai pekerjaan: pembersih, pengipas, pengumpul, pengangkut air, penjaga, pembangun, pengisi, pembantu, penutup, pengepak, dll, selain itu ada juga ratu dan lebah jantan. koloni tidak akan bertahan atau dapat melanjutkan generasinya kecuali masing-masing peran tersebut diisi oleh sekelompok lebah terpilih. Para anggota yang berbeda dari koloni semua mengetahui tanggung jawab mereka sendiri dan mampu berkomunikasi satu sama lain dalam bahasa yang tidak dikenal makhluk lainnya. Berbagai lebah bertugas pada pekerjaan yang berbeda, dan ini bukanlah hasil dari kekacauan, begitu juga dengan madu hasil dari lebah yang dikumpulkan oleh manusia.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia", kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.“ (An-Nahl: 68-69). Namun arogansi orang kafir tidak membuatnya untuk mengakui tanda-tanda ini!

Selain itu, manusia tidaklah dibiarkan tanpa kekebalan terhadap beragam racun, parasit, virus, dan bakteri di Bumi. Jika dia merasa dirinya sakit, tubuhnya mampu menolak banyak penyakit yang menyerangnya. Sistem imunitasnya memiliki kemampuan untuk memproduksi sel darah putih, antibodi, dan demam untuk mengusir beberapa penyusup. sistem pencernaannya -yang terdiri dari hati, ginjal, kantung empedu, dan organ lain- juga cocok untuk menyingkirkan banyak racun yang mungkin telah terkontaminasi dalam makanan, apalagi peran sistem ini yang bekerja untuk meng-ekstrak nutrisi dari makanan yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup dan memproduksi darah serta sel-sel yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan juga penyembuhan. Dengan demikian, generasi manusia tidak akan mati atau menjadikan bumi kosong dari kehadirannya. Namun orang kafir berpikir bahwa penempatannya di Bumi hanyalah hasil dari kekacauan.

Tidak seperti yang lain, manusia memiliki keinginan jauh lebih besar pada makanan dan pasangan. Dia digerakkan oleh kebahagiaan, kesedihan, cinta dan benci, dan kerinduan untuk sesuatu yang lebih besar. Semua emosi ini juga dipakainya dalam ibadah kepada Tuhannya. Jika ia didera oleh penderitaan, ia kembali kepada Tuhannya dan berdoa meminta-Nya untuk mengangkat penderitaannya. Jika dia merasakan bahagia, ia pun kembali kepada Tuhannya dan bersyukur. Dia mencintai Tuhan-Nya dan mencintai semua yang dicintai oleh Tuhan-Nya. Dia juga menbenci apa yang dibenci Tuhannya demi meraih keridhoannya. Dan ada rasa haus dalam jiwanya untuk sesuatu yang lebih besar daripada semua yang ia lihat dan dengar, yaitu untuk berada di dekat Tuhannya di surga.

Manusia juga memiliki rasa ingin tahu yang mendorongnya untuk membuat sesuatu yang baru, dengan izin Tuhannya. Ia mampu membuat gerobak, mobil, pesawat, superkomputer, dan bom hidrogen. Penemuan ini bukanlah hasil dari seorang pria yang hanya duduk dan menulis di atas sebuah kertas dengan serampangan. Sebaliknya, ia duduk dan merenung dari hari ke hari untuk membuat dasar konstruksi tersebut. Ada fisikawan terkenal, ahli kimia, dan matematika - yang seharusnya "jenius" padahal ia hanya merefleksikan alam semesta, melupakan Penciptanya dan melupakan tugas mereka terhadap-Nya. Dia yang disebut "jenius" ini memiliki pikiran yang mampu meng-observasi, meng-analisa, dan mengambil kesimpulan yang menjadi dasar dari mesin paling kompleks dan ilmu pada eranya, seperti kalkulus integral, fisika nuklir, pemrograman berorientasi object, dan bom termonuklir.

Ilmu dan teknologi maju ini -yang diklaim orang kafir adalah hasil dari kekacauan- merupakan dasar dari pabrik bom hidrogen diatas, tempat dimana ia sedang bermain video game di superkomputernya.

Kecerdasan, memori, dan pengenalan akan diri sendiri telah mendorong beberapa manusia untuk membangun android dengan "kecerdasan" tiruan, pola dasarnya hanyalah satu set algoritma yang diimplementasikan dalam “hardware” dan “sofware” dalam sebuah komputer robotik, tapi satu yang tidak akan ada didalamnya pada realitas komputer cerdas ini adalah ia tidak akan pernah memiliki kecerdasan yang ada pada manusia, seperti emosi yang diakibatkan karena persahabatan dan kebersamaan yang ia nikmati. Namun, kompleksitas konstruksi ini -menurut orang kafir- adalah penemuan makhluk yang keberadaannya merupakan hasil dari kekacauan! Berapa banyak lagi bukti untuk memastikan bahwa androidnya itu hanyalah hasil dari kekacauan!

Makhluk yang dikenal sebagai manusia dan berkeinginan untuk sesuatu yang lebih besar ini membagi penciptaan ke dalam dua kubu, satu kubu yang menggunakan cinta dan benci sebagai dasar ketundukannya kepada Sang Pencipta dan keimanan kepada Rasul-Nya, dan pada kubu lainnya adalah mereka yang memanfaatkan cinta dan benci sebagai dasar ketundukannya pada nafsu, dan tetap setia padanya tanpa keraguan. Kubu ini telah saling mengobarkan perang satu sama lain sejak zaman Nuh ‘Alaihis salam ketika menyeru manusia untuk menyembah Tuhan mereka yang Esa. Konflik ini berlanjut sampai sekte dari sekte arogan -sekte yang tersebar sebelumnya di seluruh bumi- berkumpul di Palestina meskipun pertemuan tersebut yang pada awalnya hampir mustahil. Sementara itu, sekutu mereka berkumpul di Syam sebelah utara meskipun kematian dan kehancuran telah mereka rasakan di Iraq dan Afghanistan.

Pada saat yang sama, kubu kejujuran juga telah berkumpul di Syam dan Iraq dan menyebar ke sudut bumi lainnya, menghidupkan kembali Khilafah yang telah absen selama berabad-abad sejak runtuhnya Daulah Abbasiyah. Pertempuran antara Muslim dan Yahudi, antara Muslim dan Romawi, dan kebangkitan Khilafah, semua itu adalah di antara tanda-tanda yang di nubuahkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melalui wahyu. Namun, orang kafir meragukannya!

Sesungguhnya, Dia adalah Allah subhanahu wa ta’ala yang menyiapkan Bumi untuk pertempuran paling berdarah sebelum kiamat, untuk melihat hamba-Nya berkeringat dan menumpahkan darah mereka dan juga darah musuh-Nya. Semua faktor telah terpenuhi secara tepat. Salibis dan orang-orang Yahudi di Syam, Rafidhah di Iraq dan Persia, dan Khilafah di tengah-tengahnya. Ini adalah tempat perkemahan dari benturan -"peradaban"– yang akan datang, sebagaimana telah ditemukan tanda-tanda Allah dalam sepanjang sejarah dan peristiwa terkini. Namun orang kafir mengklaim bahwa semua ini adalah hasil dari sekadar kekacauan!

Kesimpulannya, orang kafir harus merenungkan arogansi lemahnya dan membandingkannya dengan banyaknya tanda Penciptaan, termasuk yang ada di dalam dirinya. Dia harus bertobat dari keangkuhannya, mengenali Tuhannya dan tunduk kepada-Nya dengan mengikuti Rasul-Nya yang terakhir, Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

Adapun untuk Muslim, ia harus terus merenungkan tanda-tanda Allah, karena ini adalah salah satu amalan ibadah terbaik dan salah satu cara terbaik untuk meningkatkan imannya. Dan ketika merenungkan ayat-ayat Allah, ia juga harus mengakui berkah dan nikmat yang mereka miliki. Kecondongan antara seorang pria dengan istrinya yang saling memenuhi kerinduan akan kebersamaan dan memastikan manusia terus beregenerasi, madu yang dihasilkan oleh lebah dan sifat penyembuhan yang terkandung di dalamnya, silih bergantinya siang dan malam yang memungkinkan manusia untuk istirahat dan bekerja, pencapaian biologis kompleks pada manusia yang meliputi sarana untuk melawan penyakit - semua ini adalah salah satu tanda-tanda yang mengandung keberkahan dari Tuhan sang pencipta. Dengan demikian, seseorang yang gagal untuk merenungkan tanda-tanda Allah juga akan gagal mengenali dan mengakui banyaknya nikmat Tuhannya yang telah diberikan kepadanya.

"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim: 7).

Catatan kaki :

[1] Terdapat banyak ayat dalam al-Qur’an dimana Allah Subhanahu wa ta’ala menyeru hamba-Nya untuk merenungkan penciptaan. Lihat, misalnya, ar-Ra'd: 2-4, an-Nahl: 3-18 dan 65-69, ar-Rum: 8 dan 18-27, al-Jatsiyah: 12-13, al-Ghasiyah: 17-20, Fussilat: 53 , Surah Adz-Dzariyat: 20-23.

[2] Abul Mutsanna as-Sumaliy (Ali Dirie) adalah orang dengan karakter dan ibadah yang baik. Setelah dipenjara oleh Tentara Salib selama 7 tahun, ia mampu melarikan diri dari Kanada meskipun adanya larangan perjalanan. Ia berencana, berusaha, dan bertawakkal hanya pada Allah saja hingga ia tiba di Syam. Ketika aku pertama kali bertemu dengannya, ia akan membaca secara rutin mushaf yang sama yang telah menemaninya di sel penjara di Kanada. Setelah ekspansi resmi dari Daulah Islam ke Syam, ia bergegas untuk menghidupkan kembali Jama'ah Kaum Muslimin melalui bai'at-nya. Ia tidak terpengaruh oleh keraguan pengklaim jihad dan tetap teguh pada janjinya. Beberapa minggu kemudian, dia bermimpi di mana Hurr (bidadari surga) memberinya kabar gembira akan kesyahidannya pada tanggal tertentu (salah satu yang aku lupa). Seminggu sebelum kesyahidannya, beberapa teman kami memutuskan untuk pergi berbelanja pakaian militer baru. Dia mengatakan kepada mereka bahwa ia tidak akan pergi dengan mereka, karena ia mengharapkan syahid dengan segera, dan menceritakan mimpinya kepada mereka. Dan ketika hari itu tiba, tiba tiba semua tentara Daulah Islam waspada dan siap siaga karena kemajuan tiba-tiba dari tentara Nushairiy dan sekutu Rafidhiy mereka di garis depan didekat Kafar Hamroh (di utara pedesaan Aleppo). Abul Mutsanna bergegas ke pertempuran dan maju ke arah musuh, berperang sampai ia terluka parah dan perdarahan hebat hingga ia menyerahkan jiwanya kepada Rabbnya. dikarenakan tingginya intensitas tembakan musuh, maka tidak memungkinkan untuk mengevakuasi tubuhnya dari posisi yang telah ia capai. Semoga Allah menerimanya dan menambahkan barakah kekhalifahan yang kita nikmati hari ini dalam lembaran perbuatan baik.

TADABBUR QS AN-NISA’ AYAT 66-68

DABIQ 14 – ARTIKEL

APAKAH MEREKA TIDAK MENTADABBURI AL-QUR’AN?
TADABBUR QS AN-NISA’ AYAT 66-68

{Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: “Bunuhlah diri kalian atau keluarlah kalian dari negeri kalian”, niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan apa yang diajarkan pada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka). Dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami. Dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus.} [An-Nisa: 66-68]

Dalam bagian dari surat an-Nisa’ ini, setelah menampakkan hakikat orang-orang munafiq dan keinginan mereka untuk berhukum kepada Thaghut dan bukannya kepada kitab Allah dan Rasul-Nya, Allah menyatakan bahwa ia subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan kepada mereka untuk membunuh diri mereka sendiri sebagai penebus dosa karena telah mengambil sekutu selain Allah dalam berhukum –sebagaimana Allah telah memerintahkan kepada umat Musa ‘alaihis salaam untuk saling membunuh sebagai penebus dosa karena telah mengambil sekutu selain Allah ketika mereka menyembah anak sapi – munafiqin tidak akan melakukan apa yang diperintahkan kecuali sebagian kecil dari mereka saja. Dalam tafsirnya mengenai firman Allah {Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari negerimu”, niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka}, Imam at-Thabari rahimahullah menafsirkannya dengan mengatakan, “Dan seandainya jika Kami mewajibkan atas orang-orang yang mengaku bahwa mereka telah beriman terhadap apa yang telah diturunkan kepadamu – yaitu yang lebih memilih berhukum kepada thaghut – bahwa mereka harus membunuh diri mereka sendiri, dan telah diperintahkan kepada mereka untuk melakukan itu, atau bahwa mereka harus meninggalkan negri mereka, emigrasi dari negrinya, maka mereka tidak akan melakukan hal itu. Dia berkata: mereka tidak akan membunuh diri mereka dengan tangan mereka sendiri dan tidak pula akan berhijrah dari negri mereka, meninggalkan negri mereka menuju Allah dan Rasul-Nya sebagai bentuk kepatuhan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya, kecuali sedikit diantara mereka.”

At-Thabari kemudian meriwayatkan bahwa Mujahid –salah satu mufassir terkemuka di zaman Tabi’in– mengatakan bahwa seandainya mereka diperintahkan untuk membunuh diri mereka sendiri “sebagaimana yang diperintahkan kepada para sahabat Musa untuk saling membunuh menggunakan belati, mereka tidak akan melakukannya kecuali hanya sedikit diantara mereka.”*

*Ini merujuk kepada firman Allah, {Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: ”Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak sapi (sembahanmu) maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menciptakan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menciptakan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dia maha menerima taubat lagi maha penyayang” [Al-Baqarah: 54]. Ibnu ‘Abbas meriwayatkan bahwa Musa ‘alaihis salam menyampaikan perintah Allah kepada umatnya bahwa mereka harus membunuh diri mereka sendiri, sehingga bagi mereka yang menyembah anak sapi diperintahkan untuk duduk, dan bagi mereka yang tidak menyembah anak sapi masing-masing diperintahkan mengambil belati. Kegelapan yang pekat kemudian menyelimuti mereka dan mereka mulai membunuh satu sama lain. Kegelapan itu pun perlahan hilang dan mereka menemukan bahwa 70,000 orang telah terbunuh. Siapapun dari mereka yang terbunuh mendapatkan ampunan, dan siapapun dari mereka yang tersisa juga mendapatkan ampunan. [At-Thabari]

At-Thabari juga meriwayatkan bahwa as-Suddiy – mufassir terkemuka lainnya dari kalangan Tabi’in – mengatakan, “Tsabit Ibn Qais Ibn Syammas rahimahullah dan seorang dari kalangan yahudi terlibat perdebatan [satu sama lain]. Orang yahudi itu mengatakan, ‘demi Allah, sesungguhnya Allah menurunkan perintah kepada kami dengan berfirman, ‘bunuhlah dirimu,’, ‘maka kami membunuh diri kami sendiri!’ kemudian Tsabit berkata, ‘demi Allah, apabila perintah ‘bunuhlah dirimu’ diturunkan atas kami, maka kami akan membunuh diri kami sendiri!’” menurut atsar lainnya yang disebutkan oleh At-Thabari, ketika berita mengenai pembicaraan itu sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “sesungguhnya, dari umatku terdapat orang-orang dengan iman yang tertanam di dalam hati mereka lebih kuat daripada gunung gunung yang akar dalam.”

Hikmah-hikmah yang terkandung dalam ayat ini sangatlah bernilai tinggi. Pada ayat ini terkandung perbandingan yang halus antara syirik dalam berhukum (kepada thaghut), yang mana pada hari ini sudah tersebar luas diantara mereka yang mengaku sebagai pengikut Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan syirik dalam beribadah yang mana telah menyebar luas diantara mereka yang mengaku menjadi pengikut Nabi Musa ‘alaihis salaam ketika mereka tiba-tiba menyembah patung anak sapi yang terbuat dari emas. Allah subhanahu wa ta’ala mengajarkan kepada muslimin bahwa menyerahkan hukum kepada thawaghit tidaklah lebih ringan kemusyrikannya jika dibandingkan dengan menyembah berhala; dengan demikian maka tidak ada perbedaan antara partai-partai “Islami” pro-demokrasi yang menyerahkan hak pembuatan undang-undang kepada puluhan atau ratusan pejabat terpilih (legislator) dengan Hindu pagan yang secara jelas menyembah berhala-berhala yang tak terhitung jumlahnya. Meskipun demikian, berkat belas kasih Allah subhanahu wa ta’ala, Dia tidak membebankan terhadap umat ini suatu cara penebusan dosa yang berat ketika berbuat syirik sebagaimana yang Dia lakukan terhadap Bani Isra’il, namun Dia hanya mensyaratkan kepada mereka yang jatuh kepada kesyirikan agar meninggalkan perbuatan syirik yang telah mereka perbuat dan bertaubat dengan sungguh-sungguh.

Selanjutnya, dengan menyatakan bahwa hanya sebagian kecil dari munafiqin yang akan patuh kepada-Nya seandainya Dia memerintahkan mereka untuk membunuh diri mereka sendiri atau untuk melakukan hijrah, Allah menampakkan hakikat dari orang-orang munafiq yang manis di mulutnya saja dalam agamanya tanpa benar-benar melakukan ketaatan kepada Tuhannya. Dengan demikian, jika mereka dihadapkan dengan perintah yang dengan tingkat kesulitan yang tinggi dan pengorbanan yang besar, mereka tentu akan mencari-cari alasan untuk diri mereka sendiri daripadaa mentaati perintah yang jelas itu. Hal ini memperkuat poin bahwa hamba Allah yang sesungguhnya adalah mereka yang tidak mempertanyakan hikmah dari perintah-Nya dan juga tidak ragu-ragu dalam melaksanakannya, terlepas dari betapa sulitnya perintah tersebut. Perlu dicatat bahwa banyak dari mereka yang mengaku mengikuti Allah dan Rasul-Nya menemukan kesulitan dalam beramal –baik itu Hijrah atau lainnya– dengan memurnikan ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka mengklaim bahwa mereka harus mengetahui hikmah terkait suatu amalan –dan tidaklah ada keraguan adanya hikmah atas setiap ketetapan Allah– namun jika mereka tidak dapat melihat hikmah tersebut, atau jika mereka percaya bahwa hikmah tersebut sudah tidak lagi cocok dengan jaman modern atau dengan masyarakat mereka, maka mereka mengabaikan amalan tersebut, melemahkan dan mengolok-olok mereka yang melakukan amalan tersebut, dan bahkan mengumumkan perang terhadap kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya, dan setelah semua itu mereka masih mengaku sebagai muslim!

Mereka yang melakukan hal ini terdiri dari berbagai tingkatan. Ada diantara mereka yang melakukan hal ini dengan terang-terangan dan tidak malu ketika mengumumkan bahwa Syari’ah itu “biadab”, atau tidak dapat diterapkan di masa kita, dan ada diantara mereka yang lebih samar, termasuk orang-orang yang memilih tetap tinggal di negara-negara kafir, menolak untuk berhijrah dan membuat berbagai macam alasan dalam rangka menghindari kewajiban yang mulia itu. Hal ini, bagaimanapun juga tidaklah mengejutkan ketika seseorang menganggap bahwa pengorbanan dan kesulitan yang diperlukan dalam berhijrah sangatlah besar sehingga Allah subhanahu wa ta’ala menyebutnya pada ayat diatas berdampingan dengan perintah untuk membunuh diri sendiri! Bahkan para Nabi pun tidaklah bebas dari kesulitan yang terjadi dalam berHijrah, termasuk manusia terbaik shallallahu ‘alaihi wasallam, yang berHijrah ke kota yang didalamnya terdapat populasi beberapa yahudi pengkhianat dan munafiqin serta dikelilingi oleh suku-suku badui yang bermusuhan setelah sebelumnya meninggalkan perlindungan dari suku nya sendiri dan keluarganya, menghadapi percobaan pembunuhan, dan mencari perlindungan di gua selama beberapa hari. berhijrah sering kali menjadi ujian yang serius terhadap keimanan dan tawakkal seseorang, dan dengan demikian, seorang mukmin ketika berhijrah membutuhkan persiapan diri dengan memastikan bahwa dia siap untuk melaksanakan perintah Allah yang sebenarnya merupakah sebuah perintah yang sederhana, bahkan meskipun ia tidak memahami hikmah keseluruhan dibaliknya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, {Boleh jadi kamu membenci sesuatu , padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.} [al-Baqarah:216].

Juga, seseorang dapat mengambil dari riwayat Tsabit Ibn Qoys tersebut diatas bahwa seorang mukmin harus menunjukkan kepercayaan diri dalam kesediaanya untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya dalam keadaan yang paling sulit sekalipun dan tidak ragu-ragu akan dirinya sendiri, bahkan jika menghadapi skenario yang paling buruk sekalipun. Dengan melakukan hal itu bukan berarti merupakanTazkiyat an-Nafs (membanggakan diri sendiri) jika diiringi dengan niat yang benar, selama yang dilakukannya bertujuan untuk menunjukkan kehormatan dan kekuatannya didepan orang-orang kafir, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Tsabit rahimahullah di depan seorang yahudi, atau bertujuan untuk menyemangati diri sendiri akan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, bahkan hal tersebut memiliki makna yang lebih besar, seperti ayat yang disebutkan sebelumnya, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, {dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya mereka itu akan bersamadengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah.} [An-Nisa:69], dan pada ayat sebelum ayat tersebut, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, {dan kami tidak mengutus seorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan izin Allah.} [An-Nisa’ :64]. Dengan demikian, orang mukmim harus sadar akan tingkatan ketaatannya terhadap Allah dan Rasul-Nya, dan menyemangati dirinya dalam hal ini.
   
Mengenai firman Allah, {dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka).} [An-Nisa:66], at-Thabari mengatakan bahwa as-Suddi menjelaskan “kedudukan yang lebih teguh” berarti “tasdiq (keyakinan terhadap kebenaran) yang lebih kuat.” Hal ini sangatlah sesuai, karena sesungguhnya seseorang dapat menguatkan keyakinannya terhadap kebenaran Islam dengan kata-katanya, tetapi jika ini tidak didukung dengan amalan mulia, seperti hijrah, maka itu hanyalah omong kosong, sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya mengenai orang munafiq. Allah mengajari kita bahwa dengan melakukan amalan yang telah diperintahkan untuk mengerjakannya – terutama amalan -amalan yang sulit dan memerlukan tingkat ketaatan dan pengorbanan lebih – seorang muslim harus mengerahkan lebih dari kekuatannya untuk membuktikan pengakuannya sebagai seorang mukmin. Sebagai hasilnya, Allah mengkaruniakan kepadanya dua pertolongan yang besar, sebagaimana yang telah disebutkan di dua ayat yang berikutnya: {dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami, dan pasti kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus.} [An-Nisa’: 67-68].

Semoga Allah menjadikan kita termasuk diantara orang-orang yang tidak enggan melakukan amalan-amalan yang sulit yang akan memberikan kita petunjuk dan ketaatan dalam menuju jalan yang lurus di dunia yang diikuti dengan pahala yang besar di akhirat nanti.

TADABBUR QS AN-NISA’ AYAT 84

DABIQ 13 - ARTIKEL

APAKAH MEREKA TIDAK MENTADABBURI AL-QUR’AN?
TADABBUR QS AN-NISA’ AYAT 84

"Maka berperanglah kamu di jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan kewajibanmu sendiri. Kobarkan semangat orang mukmin [untuk berperang]. Semoga Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan(Nya)" [An-Nisa’ : 84].

Al-Qurthubi menyebutkan dalam tafsir ayat ini, Az-Zajjaj berkata, “Allah ta’ala memerintah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam untuk berjihad, walau beliau harus berperang seorang diri, karena Dia telah menjamin datangnya pertolongan.” Ibnu Athiyah mengatakan, “Ini adalah makna harbah dari perkataan tersebut, tetapi tidak ada riwayat bahwa jihad hanya wajib atas beliau saja dalam suatu waktu kecuali itu juga wajib atas umat seluruhnya. Maka artinya -Waliahu a’lam- ayat tersebut tertuju pada beliau, tapi ia juga berlaku umum bagi setiap individu; yakni, kalimat untukmu, “Wahai Muhammad”, dan setiap individu dari umatmu adalah, “Maka berperanglah kamu di jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan kewajibanmu sendiri”. Dan karena sebab ini, maka wajib setiap mukmin untuk berjihad, walau dia harus melakukannya seorang diri. Dan mengenai hal ini Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Demi Allah, Aku pasti akan berperang melawan mereka, walaupun seorang diri.” [HR. al-Bukhari dari al-Miswar dan Marwan], juga perkataan Abu Bakar ketika kemurtaddan marak terjadi, “Dan bila tangan kananku melawanku, aku akan berjihad melawannya dengan tangan kiriku”.”

Pernyataan al-Qurthubi ini, beserta ahli tafsir lainnya, menggarisbawahi tentang apa yang dibebankan pada mukmin. Keimanan kepada Allah dan kemudian berusaha meninggikan kalimat -Laa Ilaha Illallah- begitu penting, sehingga jika seseorang tidak punya pilihan lain selain maju dan berperang sendiri untuk mencapai hal ini, maka ia harus melakukannya. Begitu pula, Allah ta’ala mengingatkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang-orang mukmin bahwa setiap diri bertanggung jawab atas dirinya. Dia seharusnya tidak melihat orang lain dan membuat keputusan untuk berhijrah dan berjihad di jalan Allah berdasarkan pada apa yang dilakukan orang lain. Ia juga seharusnya tidak ragu untuk menyerang musuh-musuh Allah ta’ala jika ia mampu melakukannya, bahkan jika ia harus melakukannya seorang diri.

Tentang firman Allah, “tidaklah kamu dibebani melainkan kewajibanmu sendiri”, Ibnu Katsir meriwayatkan dari Ibnu Abi Hatim bahwa al-Bara' Ibnu 'Azib radhiyallahu ‘anhu ditanya, jika seorang pria berhadapan dengan ratusan musuh dan berjuang melawan mereka, apakah ia termasuk orang yang dimaksud di dalam firman Allah, “dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan” [Al-Baqarah: 195]. Dia menjawab, "Allah ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya, “Maka berperanglah kamu di jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan kewajibanmu sendiri. Kobarkan semangat para mukmin [untuk berperang]”.

Jadi, orang-orang beriman haruslah siap untuk berjuang sendiri jika memang diharuskan, serta mengobarkan semangat orang lain untuk turut berjihad. Dia tidak boleh berkecil hati dengan sedikitnya jumlah dan harus memahami bahwa balasan dari amal shaleh akan dilipatgandakan ketika seseorang menghadapi kesulitan yang lebih besar, seperti ketika seseorang tidak menemukan seorangpun untuk mendukungnya dalam memerangi kuffar, namun tetap berani maju ke depan dan meneror musuh-musuh Allah.

Dalam tafsir ayat tersebut, al-Qurthubi kemudian menjelaskan firman Allah, “Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang kafir itu”, dia mengatakan, "Allah telah menahan serangan musyrikin di Perang Badar Sughra dan mereka berbalik ke belakang dan mengingkari perjanjian dengan Nabi shallallahu ‘alaihi untuk berperang dan bertempur*...

*Perang Badar Sughra yang dimaksud adalah perjanjian untuk berperang antara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan musyrikin Quraisy dua tahun setelah Perang Badar. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat berkemah di Badar selama delapan hari menunggu pasukan musuh datang. Musyrikin menghentikan rombongan mereka yang menuju Badar ketika mereka sampai di Marr adh-Dhahran, dan memutuskan untuk membatalkan peperangan dan dan kembali ke Makkah karena ketakutan mereka.

Allah juga melegakan hati orang-orang beriman di Hudaibiyah dari usaha pengkhianatan kaum musyrikln dan upaya mereka mengambil keuntungan dari perjanjian itu. Maka orang-orang beriman mencium makar mereka, lalu keluar dan menangkap mereka sebagai tawanan, dan ini terjadi ketika kedua utusan antara mereka akan menegosiasikan perdamaian**. Ini adalah apa yang dimaksudkan oleh firman-Nya ta’ala, “Dan Dialah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kamu” [Al-Fath: 24]

**Ini mengacu pada insiden yang terjadi ketika Nabi berkemah di luar Makkah ketika Perjanjian Hudaibiyah sedang dinegosiasikan dengan kaum Quraisy. Banyak pemuda-pemuda Quraisy yang begitu berapi-api melihat para pemimpin mereka akan mengadakan perjanjian dengan Nabi, maka mereka mencari cara untuk menggagalkan negosiasi tersebut. Mereka memutuskan untuk keluar di malam hari dan secara sembunyi-sembunyi maju ke perkemahan Muslim dimana mereka akan memantik peperangan. Sekitar 70-80 dari mereka turun dari gunung at-Tan'im, mencoba untuk diam-diam masuk ke perkemahan Muslim, akan tetapi semuanya tertangkap oleh Muhammad Ibn Maslamah, panglima pasukan Muslim. Nabi kemudian membebaskan mereka semua untuk mensukseskan negosiasi perjanjian. Mengenai ini, Allah menurunkan ayat, “Dan Dialah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kamu dan (menahan) tangan kamu dari (membinasakan) mereka di tengah kota Makkah sesudah Allah memenangkan kamu atas mereka.” [Al-Fath: 24].

Dan Allah menanamkan rasa takut ke dalam hati golongan yang bersekutu [selama perang Khandaq] dan mereka pergi tanpa pembunuhan atau peperangan, seperti firman-Nya ta’ala: “Dan Allah (menahan) tangan kalian dari (membinasakan) mereka.”

Demikian juga, orang-orang Yahudi meninggalkan rumah dan harta mereka [di dekat Madinah] tanpa kaum Muslimin harus berperang melawan mereka.

Maka semua ini adalah karena Allah menahan serangan mereka terhadap orang-orang beriman, terlebih lagi ketika sejumlah besar orang Yahudi dan Kristen meninggalkan perang dan menyetujui perjanjian jizyah dengan penuh kehinaan dan ketundukkan. Demikianlah, Allah menahan serangan mereka terhadap orang-orang yang beriman."

Ayat-ayat ini memiliki pelajaran yang sangat penting bagi orang-orang beriman: Tak peduli seberapa kuat orang-orang kafir itu terlihat, Allah mampu menahan serangan mereka dan menjaganya dari orang-orang beriman, dan Dia mampu melakukannya dengan berbagai cara; baik dengan menimbulkan perselisihan dalam barisan mereka, atau menciptakan kondisi yang mustahil bagi mereka untuk menyerang orang-orang beriman***, atau dengan mengintervensi serangan mereka lalu menghancurkan mereka dengan cara yang tak terbayangkan, karena “Tidak ada yang mengetahui tentara Rabb-mu kecuali Dia sendiri” [Al-Muddatsir: 31].

***

Contoh mengenai hal ini pada hari ini adalah, keengganan pasukan salibis untuk mengirim pasukan darat dalam peperangan mereka melawan Khilafah. Hal ini dikarenakan Allah telah menahan serangan mereka yang membuat Daulah Islam terus meluas sementara salibis sibuk mengawasi, menyuap, dan melatih murtaddin agar berperang untuk mereka, dengan usaha mereka yang terbukti tidak membuahkan hasil.

Begitu pula, tak peduli selemah apapun umat ini kelihatannya, Allah mampu memberikan kemenangan kepada hamba-Nya yang shaleh, karena Dia ta’ala berkuasa atas segala sesuatu. Karenanya, kelemahan kekuatan militer kaum muslimin dibandingkan dengan musuh mereka, bukanlah alasan untuk tidak berjihad, karena “Allah berkuasa terhadap urusan-Nya” [Yusuf: 21] dan karena itu Dia akan menolong hamba-Nya dan menganugerahkan mereka kemenangan bahkan terhadap musuh yang memiliki kekuatan berkali lipat daripada mereka. Banyaknya kekuatan mereka tidak berarti, karena “Sesungguhnya tipu daya Syaitan sangatlah lemah” [An-Nisa : 76], dan “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang yang banyak dengan izin Allah” [Al-Baqarah: 249].

Maka berapa banyak lagi jaminan yang dibutuhkan oleh orang- orang mukmin untuk mengerti bahwa kemenangan telah tertulis untuk mereka dan yang harus mereka lakukan hanyalah maju ke depan dan mencarinya!

Ini adalah perkara yang gagal dipahami oleh Bani Israil, ketika Musa ‘alaihis salam memerintahkan mereka maju ke depan dan mengambil tanah yang Allah tetapkan untuk mereka, mereka menggunakan besarnya kekuatan musuh sebagai alasan untuk tidak berjihad fi sabilillah.

“Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi. Mereka berkata: Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar darinya. Jika mereka keluar darinya, pasti kami akan memasukinya." [Al-Ma’idah: 21-22].

Kegagalan mereka dalam menempatkan kepercayaan kepada Rabb mereka dan berjihad fi sabilillah telah menggiring mereka kepada hukuman-Nya, yakni mereka dilarang memasuki Tanah Suci dan dibuat berputar-putar kebingungan selama empat puluh tahun.

Allah berfirman: "(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasiq itu." [Al-Ma'idah: 26].

Jadi, seorang muslim haruslah waspada dari mengabaikan perintah Allah untuk berjihad di jala-Nya, dan bahkan harus lebih waspada dari menerima alasan-alasan rapuh yang diajukan oleh ulama suu yang mengklaim bahwa umat terlalu lemah untuk berjihad, dan anggapan ini telah dibuktikan salah oleh Daulah Islam hari demi hari.

Semoga Allah mengembalikan umat Islam pada dien mereka dan membimbing mereka kembali ke jalan jihad.