Tampilkan postingan dengan label Dabiq Edisi 6. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dabiq Edisi 6. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 April 2018

KERUNTUHAN

DABIQ 6 - SPESIAL

KERUNTUHAN
Oleh : John Cantlie

Perang terus meningkat, nilai (jual) minyak mengalami penurunan, dan Amerika sedang mencetak $ 85 miliar dolar per bulan untuk mencegah kehancuran total. Krisis ekonomi mendekat dengan cepat dan dunia membutuhkan mata uang yang stabil dan dapat diandalkan. Sejak 5.000 tahun, mata uang itu adalah emas.

Ada terlalu banyak "uang" di dunia hari ini dan sebagai akibatnya hal itu tidak akan berjalan begitu lancar dalam beberapa tahun ke depan. Kamu bisa melihatnya dalam setiap perekonomian hampir di setiap negara. Biaya hidup akan naik bersamaan nilai mata uang yang semakin berkurang nilainya dan bank pusat mencoba untuk mengatasi masalah dengan mencetak lebih banyak lagi kertas dengan nomor di atasnya.

Sudah mencoba puluhan kali sepanjang sejarah dan selalu gagal. Dolar akan selalu turun bahkan kali akan menyeret dunia bersamanya.

Sejak tahun 1971, sistem keuangan dunia berdasarkan kepercayaan. Mata Uang hanya bernilai sebagai sesuatu dalam pertukaran untuk barang karena bank mengatakan bahwa - $ 5 bisa membelikanmu kopi dan sandwich kemarin sehingga Anda percaya bahwa ia akan melakukannya juga besok. Tapi kepercayaan dalam hal keuangan antara masyarakat dan pemerintah kini jatuh ke titik terendah yang tidak terlihat sejak tahun 1930-an, dan dengan tidak adanya mata uang dunia yang terikat dengan apa pun dari nilai sebenarnya, kenyataan krisis ekonomi global menyeret semakin dekat.

Sebagai mata uang cadangan dunia dan, sampai saat ini mata uang tunggal perdagangan minyak, bentuk dolar AS sekitar 60% dari semua nilai mata uang pada planet ini, dan lebih dari setengah uang itu berada di luar Amerika Serikat. Sehingga di saat dolar runtuh, itu akan menciptakan efek domino dan yang lain akan ikut menerjang runtuh bersamanya.

Pada saat seperti itu, dunia mencari sesuatu yang sedikit lebih berharga daripada kertas untuk menopang keuangannya. Sesuatu ini harus memiliki nilai intrinsik, nilai yang tidak naik atau turun liar hanya dengan menekan beberapa tombol di bank sentral. Sesuatu itu bisa jadi sapi, sekarung gandum, atau satu barel minyak, tetapi untuk ribuan tahun terakhir item yang paling popular nilainya adalah emas.

Dia memiliki batasan jumlah, sehingga tidak akan pernah kehilangan nilainya, bank tidak bisa mencetak lebih dari itu ketika mereka memilih, dan itu sangat berharga sesuai apa yang pasar katakan, bukan apa yang bank tentukan. Dia juga tahan lama, Anda dapat menukarnya dengan barang, dan nilai harganya bukan hanya pada hari ini saja, bahkan sejak ribuan tahun lalu. Sekarang, inilah uang sesungguhnya.

Sungguh menakjubkan untuk membayangkan bahwa segumpal emas yang mungkin telah digunakan selama ribuan perdagangan bertahun-tahun lalu sekarang masih beredar. Mungkin dilebur dan menjadi bagian dari sebuah emas batangan atau dikenakan di leher seseorang, tapi dia masih ada. Cobalah jika itu selembar kertas.

MENGAPA KITA BERBICARA TENTANG UANG?

Bulan lalu Daulah Islam mengumumkan rencana mencetak untuk kalangan mereka sendiri dinar emas dan dirham perak dalam sebuah langkah untuk memisahkan diri dari dolar terkait mata uang fiat dan membangun uang mereka sendiri, mata uang yang memiliki nilai intrinsik.

Setiap negara perlu mata uang sendiri dan peralihan yang dilakukan Daulah Islam kepada dinar emas akan menjadi sesuatu yang cerdas di pergolakan pasar saat ini. Situs keuangan Quartz menulis, "Dinar emas menyentuh sejarah yang mendalam dari mata uang Islam yang membentang ke belakang sejak masa Muhammad sendiri. Dinar Islam muncul di 696 AD, ketika Dinasti Umayah –berpusat di Damaskus– membentang dari semenanjung Iberia hingga Sungai Indus di Asia Selatan."

Dan nilai emas melonjak. Pada tahun 2006, saya memiliki 1 kg batangan emas yang berharga, diwaktu itu, sekitar $ 17.000. Sayangnya itu bukan milikku; sebuah agen emas batangan meminjamkannya kepada saya untuk sebuah artikel. Seluruh staf di gedung itu mendengar tentang hal itu dan datang untuk bermain mata atas keindahannya. Emas murni membuat orang menjadi sedikit aneh seperti itu. Tapi kalau aku punya uang untuk membelinya, batangan emas yang sama akan bernilai lebih dari $ 60.000 hari ini.

Ketika mereka bergerak untuk memperluas Khilafah, akan sesuai bagi Daulah Islam untuk memperkenalkan dinar dan dirham mereka sendiri. Ini bisa diterapkan, bentuk praktis dari mata uang yang menempatkan kekuasaan pengeluaran ke tangan bisnis dan konsumen. Dinar emas adalah salah satu mata uang yang paling abadi di dunia. Emas cukup masuk akal ketika ada krisis ekonomi yang cepat mendekati orang-orang seperti yang belum pernah terlihat sejak waktu yang sangat lama.

Cengkraman dolar AS di dunia sejak perjanjian Bretton Woods tahun 1944 –ketika mata uang dunia disematkan ke dolar, yang dia dipautkan pada emas $ 35 per ons– kurang lebih. Dunia telah mengirim emas mereka ke Amerika untuk diamankan saat Perang Dunia 2 dan mereka mengumpulkan sekitar 20.000 ton. Selama waktu beberapa tahun peperangan, dolar menjadi mata uang cadangan dari dunia internasional yang diakui melalui standar emas.

Amerika memutarnya secara tunai. Tapi dia over pengeluaran, peperangan, dan keserakahan nyata bahwa pada 1960-an mereka mencetak dolar jauh lebih banyak dari emas yang bisa mereka tebus. AS diperkirakan telah menghabiskan $ 546 miliar hanya selama Perang Dingin. Mereka mencetak dolar seperti mereka menegluarkan fashion, sehingga dunia gugup, mulai mengembalikan dolar, dan meminta emas mereka kembali sebagai gantinya.

Ini menciptakan tanah longsor dan Federal Reserve "Bank Sentral Amerika, pent" terpaksa mengakui bahwa mereka tidak memiliki cukup emas untuk diserahkan kembali. Pada tahun 1971, Presiden Nixon menyatakan Amerika tidak lagi menebus dolar untuk emas kecuali itu dalam "kepentingan Amerika Serikat."

Itu adalah penolakan pembayaran hutang terbesar dalam sejarah modern. Nixon segera menggantikan emas dengan minyak pada tahun 1973 dengan menyatakan bahwa semua transaksi internasional dengan negara-negara penghasil minyak OPEC harus dilakukan dalam bentuk dolar. Reputasi buruk keluarga korup kerajaan Saudi pun setuju. Sebagai imbalan untuk hanya menggunakan dolar sebagai mata uang perdagangan minyak dan investasi miliaran dalam obligasi AS, Amerika akan memberikan mereka dukungan militer dan melindungi ladang minyak mereka. Pada penawaran Saudi, negara-negara OPEC lainnya ikut jatuh ke garis ini, dan lahirlah petrodollar. Dolar telah disematkan ke emas, sekarang disematkan ke minyak.

"Tidak ada dolar, maka tidak ada akses ke komoditas terpenting dunia," kata Nick Giambruno, seorang penasihat keuangan di Casey Research. "Jika Italia ingin membeli minyak dari Kuwait, berarti harus terlebih dahulu membeli dolar AS pada kurs pasar untuk membayar minyak, sehingga menciptakan kebutuhan palsu untuk dolar AS yang tidak akan ada jika Italia bisa membayar dalam euro."

UNTUK SEMENTARA, SEMUA SESUAI RENCANA

Saudi membuat triliunan. Amerika membuat triliunan. Tapi kemudian Saddam mencaplok Kuwait pada tahun 1991 dan AS, membuang bagian mereka untuk tawar-menawar, dihancurkanlah tentara Baath-nya. Tapi mereka tidak berhenti di situ. Mereka kemudian dikenakan sanksi berat atas rakyat Iraq sendiri bahwa, karena kemiskinan, mengakibatkan kematian lebih dari 500.000 anak-anak saja, sampai tahun 2000, rezim Baath menyatakan mereka hanya akan menjual minyak mereka dengan Euro dan tidak kepada "musuh negara."

Amerika kembali pada tahun 2003 di bawah kebohongan tentang "senjata pemusnah massal" dan "perang melawan teror", setelah merusak negara lain untuk rakyatnya sendiri, segera dia mengembalikan penjualan minyak ke dalam dolar. Amerika akan memulai perang dan membunuh ratusan ribu orang untuk melindungi nilai dolar demi kepentingan ekonomi lainnya. Ini sangat jelas ketika AS dan sekutunya hanya duduk dan menonton sementara Asad menyembelih lebih dari 200.000 orang Suriah. Namun, segera setelah Daulah Islam bergerak menuju ladang minyak Iraq dan Saudi, Amerika langsung berusaha terlibat.

Dan meskipun melakukan agresi untuk melindungi nilai dolar di seluruh dunia, pemimpin politisi AS dan para pemodal tahu hari itu telah ditentukan. Kongres Ron Paul mengatakan runtuhnya dolar sudah dekat. "Kita akan mengetahui bahwa hari itu telah mendekat ketika negara-negara penghasil minyak meminta emas, atau yang setara, untuk minyak mereka, bukan dengan dolar atau euro," katanya.

Dan itulah yang terjadi sekarang. Rusia dan China dalam perdagangan minyak menggunakan mata uang mereka sendiri dan mereka mengumpulkan begitu banyak emas batangan sehingga mereka siap untuk membunuh dolar dan petrodollar sebagai alat perdagangan internasional. China telah membangun sebuah gunung emas terdiri dari 6.500 ton emas batangan. Negara lain berdagang dengan menggunakan euro dan emas atau berencana untuk melakukannya dalam waktu dekat.

Produsen gas alam terbesar di planet ini, Perusahaan Rusia Gazprom, baru-baru ini menandatangani perjanjian untuk beralih pembayaran dari dolar ke Euro. Gazprom juga merupakan produsen minyak yang besar dan itu adalah langkah besar dalam upaya de-dolarisasi Rusia. China akan mengikutinya.

Dan aksi militer Daulah Islam telah memeras monopoli minyak Amerika dengan menyerang, mempermalukan, dan mengambil alih atas pasokan minyak di wilayah yang telah mereka kuasai.

Iraq adalah pemasok minyak terbesar kedua setelah Saudi, tapi Daulah Islam mencapai ke sana dan telah mengganggu banyak pasokan minyak. Pasokan Libya telah terganggu oleh serangan Daulah Islam, sementara produksi Nigeria sedang diserang mujahidin di sana.

Ini bukan kebetulan dan ini sebuah cara cerdas untuk memukul Amerika di tempat mana yang sakit, sehingga AS harus bergantung lebih pada pasokan sendiri. Panik untuk menghentikan situasi yang bertambah parah, Amerika telah menginvestasikan milyaran ke dalam program pengeboran minyak dan gas mereka sendiri, membuat mereka sekarang menjadi produsen minyak terbesar di dunia pada 11 juta barel per hari dan masuk ke dalam perang harga minyak bersama sahabat mereka sendiri, Saudi.

Sehingga tiba-tiba pasar dibanjiri dengan minyak murah di mana setiap orang sekarang dapat membeli yang membuat semakin tidak berharganya dolar AS mereka. Anda tidak perlu menjadi seorang ahli keuangan untuk melihat kea rah mana ini semua menuju. Perang, ledakan ekonomi, deflasi kronis dan, akhirnya, sistem keuangan global yang baru yang akan muncul dari abu.

Beralih ke emas pada saat seperti ini sangat masuk akal. Emas dan perak masih dianggap uang yang terkuat di dunia karena orang membutuhkannya. Mereka tahu nilainya dan telah digunakan selama ribuan tahun. Tidak ada yang menciptakan tempat yang lebih baik bagi manusia untuk hidup daripada di rumah. Tidak ada yang menemukan cara yang lebih baik bagi manusia untuk tetap hangat daripada memakai baju. Dan tidak ada yang menemukan uang lebih stabil dari emas. Pada tahun 1944, dolar terpaut dengan emas $ 35 per ounce - hari ini akan perlu $ 15,400 dolar per ounce untuk menutupi jumlah dolar yang beredar! 61

Presiden Venezuela, Hugo Chavez, melihatnya hal ini datang dan memulai kampanye pada tahun 1998 untuk mendapatkan kembali 211 ton emas Venezuela dari AS. Butuh sejumlah besar perdebatan sebelum emas mereka pulang; negara tidak suka melepaskan emas setelah itu dari brankas mereka. Tapi bola mulai menggelinding dan sekarang semua orang menginginkan kembali emas batangan mereka. Swiss, Ekuador, Belanda, dan Austria semua berteriak meminta emas mereka kembali. Jerman meminta emas mereka kepada The Fed pada 2012 dan dengan mudah dibalas bahwa itu tidak ada.

Negara-negara sekarang dengan cepat menjauhkan diri dari dolar sebelum krisis terjadi. Oleh karena itu, sebuah ide cerdas Daulah Islam untuk mencetak dinar emas mereka sendiri. Jika Anda berdagang uang yang memiliki nilai di pasar bebas saat banyak negara lain di sekitar anda berjalan dengan gerobak uang kertas untuk membayar sepotong roti, berarti Anda berada dalam posisi jauh lebih kuat daripada mereka. Ekonomi Anda akan berkembang sementara mereka akan runtuh.

Emas dan perang selalu hidup berdampingan, sebagai penulis keuangan David Graeber menulis : "Selama perang ekspansi pada masa Dinasti Umayah, sejumlah besar emas dan perak yang direbut dari istana, kuil, biara-biara dan dicetak ke mata uang, memungkinkan Khilafah untuk menghasilkan dinar emas dan dirham perak dengan kemurnian yang luar biasa."

Tentu saja, banyak bank sentral di seluruh dunia membuang gagasan kembali kepada emas atau standar emas dalam abad ke-21, dengan alasan bahwa itu akan menjadi langkah besar ke arah kemunduran. Tapi itulah tugas mega bankir untuk membuang emas, karena jika dunia kembali ke sistem moneter berdasarkan logam mulia, kontrol mereka dan pemerintah terhadap seluruh negeri dan kesehatan keuangan publik akan berhenti. Mereka akan keluar dari pekerjaan. Anda tidak dapat memanipulasi nilai emas. Ini adalah apa yang pasar tuntut. Tetapi dengan uang kertas anda bisa menipu sekitar sebanyak yang Anda suka. Dan itu semua dirancang untuk memaksa uang sebanyak mungkin keluar dari saku para konsumen.

"Sistem moneter kita mencuri dari kelas menengah dan mentransfer kekayaan ke bank," kata pakar keuangan Mike Maloney. "Kami sudah melihat ini sepanjang sejarah dan itu hanya mengulangi lagi dan lagi."

Sistem dunia perbankan adalah penipuan yang dirancang untuk memakan dirinya sendiri dan pemerintah. Tidak ada yang benar-benar nyata, hanya sejumlah besar kertas dan banyak nomor pada komputer. Dengan sistem saat ini, pemerintah dan bank memegang semua emas sementara publik memiliki potongan-potongan kertas yang tidak berharga untuk bermain dengannya, dan ketika ekonomi runtuh tebak siapakah yang masih akan memiliki emas...

Itu sebabnya menempatkan logam mulia ke dalam peredaran adalah baik bagi semua orang kecuali bank. Ini membalikkan proses dan menempatkan uang kertas kembali ke dalam sistem sementara kekayaan nyata, logam berharga, ada di tangan rakyat.

The Federal Reserve (Bank Sentral) AS kini mencetak lebih dari $ 1 triliun per tahun dalam "Quantitative Easing 3" dalam upaya putus asa untuk mencegah deflasi dan mencetak jalan keluar dari kehancuran. Mereka mungkin kehabisan kertas dalam upaya mereka, tetapi tetap tidak akan berfungsi. Waktu keruntuhan dolar sekarang semakin dekat seperti yang terjadi pada setiap mata uang kertas lain sebelumnya, dan meskipun ratusan ribu orang mati untuk menundanya, sejarah menunjukkan itu tak terelakkan. Dan untuk pertama kalinya, semua mata uang dunia, juga mata uang fiat tidak didukung oleh sesuatu apa pun. Ketika keruntuhannya datang, maka ia akan hancur...

PERBINCANGAN MUSUH - DABIQ 6

DABIQ 6 - PERBINCANGAN MUSUH

DAULAH ISLAM DALAM PERBINCANGAN MUSUH

Benjamin Netanyahu –kepala Negara Yahudi– ditanya oleh CBS News pada program "Face of Nation" jika Daulah Islam merupakan ancaman bagi negara Yahudi. Dia menjawab:

"Tentu saja. Maksudku, ISIS dapat dikalahkan karena dia melakukan apa yang semua militan Islam coba lakukan. Mereka semua ingin; pertama mendominasi bagian mereka di Timur Tengah dan kemudian dari sana mereka pergi untuk menjalankan ide aneh mereka mendominasi dunia. (...) Pada dasarnya, mereka ingin mengumpulkan kekuatan yang cukup untuk kemudian melakukan ambisi gila mereka. Jadi, itu adalah bahaya ISIS. Hal ini menciptakan sebuah pernyataan. Dia memiliki dua juta petrodolar sehari. Sekarang mereka telah mengambil alih senjata dari tentara Iraq dan sebagainya. Dan itu berbahaya, tidak diragukan."

Dia kemudian ditanya apakah negara Yahudi akan terlibat secara langsung dalam perang melawan Daulah Islam. Maka dia menjawab: "Kami siap mendukung dan membantu dalam setiap cara apabila kita diminta untuk melakukannya."

Terakhir, ia diminta pendapatnya tentang perluasan serangan udara Amerika untuk memasukkan target rezim Nushairi.

Dia menjawab: "Saya pikir, sekarang, masalah yang sebenarnya adalah ISIS. ISIS telah mengambil alih pasokan minyak di Suriah. Dia telah mendapatkan – secara mendasar menggunakan Suriah sebagai tempat yang aman dan wilayah untuk melancarkan serangan. Dan saya pikir, hal yang bijaksana, sebuah keputusan telah dibuat bahwa ISIS di Suriah dan Iraq sama-sama ditargetkan."

CHUCK HAGEL MENINJAU ULANG

Pada 19 November 2014, seorang tentara salib dan Mantan Menteri Pertahanan AS ditanya:

"Pertanyaannya adalah apakah kita memiliki kemauan dan kapasitas untuk mempengaruhi peristiwa sebagaimana biasa?"

Dia menjawab: "Saya kira ini tidak begitu banyak kemauan, saya tidak berpikir itu. Saya pikir kemampuan kita berbeda karena ancaman dan tantangan yang jauh lebih menyebar dan bervariasi. Saya berbicara tentang ancaman asimetris. Maksudku kecanggihan ISIL – hanya akan berlangsung singkat. Kami belum pernah melihat organisasi seperti ISIL yang begitu terorganisir dengan baik, begitu terlatih, sangat baik pendanaannya, sangat strategis, sangat brutal, dan benar-benar kejam. Kita belum pernah melihat sesuatu seperti itu dalam satu institusi. Lalu mereka mencampurnya dalam ideologi yang akhirnya mereka akan kalah*, kita tahu itu, dan juga media sosial. Kecanggihan program media sosial mereka juga sesuatu yang kita belum pernah lihat sebelumnya. Lalu Kamu campur semua itu bersamasama, sehingga menjadi ancaman sangat kuat dan luar biasa. Maka kita coba untuk menyesuaikan diri dan- kita tidak bisa melakukannya sendiri."

*Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk (Al-Qur'an) dan agama yang benar untuk dimenangkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (At-Taubah: 33)

Al-QA'IDAH WAZIRISTAN, SEBUAH KESAKSIAN DARI DALAM

DABIQ 6 - FEATURE

Al-QA'IDAH WAZIRISTAN, SEBUAH KESAKSIAN DARI DALAM
Oleh : Abu Jarir Asy-Syimali

Aku mulai dengan nama Allah. Shalawat serta salam semoga tercurah atas Nabi Allah yang diutus dengan pedang sebagai rahmat bagi semesta alam. Semoga salam dan berkah juga tercurah atas semua keluarganya, istri, sahabat, dan pengikutnya yang benar sampai Hari Kiamat. Amma ba'du.

Di Yordania dan di masjid-masjid Amman, az-Zarqa', Irbid, dan kota-kota lain, aku terhubung dengan beberapa anak-anak kota tersebut yang menyebut diri mereka Jama'ah At-Tauhid. Tidak ada yang menghubungkan kita satu sama lain kecuali wala' dan bara' yang kita pelajari dari Al-Qur'an, kitab-kitab tauhid, dan apa yang Abu Muhammad al-Maqdisi tulis tentang kufur kepada thaghut dan iman kepada Allah, serta tulisan lain tentang tauhid seperti tulisan 'Abdul Qadir Ibnu 'Abdil Aziz "Sayid Imam" –semoga Allah membawa mereka berdua kembali ke atas kebenaran yang mereka dulu berada di atasnya– dan buku-buku yang lebih klasik milik Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayim, dan lain-lain. Kami belajar dari buku-buku ini di bawah arahan ikhwah senior yang memiliki ilmu pengetahuan syar'i.

Kami berselisih dengan semua kelompok sesat, seperti Ikhwanul Muslimin, Jama'ah Tabligh, Sufi, dan lain-lain. Perkara kami menjadi nyata, dan dengan demikian kita mulai sering bolak-balik dikirim ke berbagai departemen intelijen dan keamanan atau dikirim kembali ke rumah kita untuk ditempatkan sebagai tahanan rumah dengan pembatasan keamanan, dan sebagainya.

Abu Mush'ab az-Zarqawi adalah contoh muwahhid yang mempraktekkan jihad. Dia memperhatikan semua hati para ikhwah. Dia seperti seorang amir untuk kita. Aku tidak melihat siapa pun di tempat itu yang menentang pendapat atau hal ini. Sebelum 11 September, kita biasa menganggap bahwa Tanzhim al Qa'idah menjadi organisasi jihad dengan pandangan murji'ah karena apa yang telah dinyatakan di masa lalu (akhir 80-an dan awal 90an) oleh beberapa pemimpinnya mengenai berbagai penguasa murtad –terutama Saudi– dan tentara mereka, dan keragu-raguan dari individu-individu dalam menyatakan kemurtadan penguasa mereka dan tentara mereka [1]. Kami juga menganggap Thaliban di Afghanistan memiliki kekurangan berkaitan dengan pengajaran Tauhid kepada anggotanya sendiri. Kekurangan ini menyebabkan banyak individu mereka jatuh dalam perkara syirik seperti mengelilingi kuburan dan memakai jimat. Dan sayangnya, hal ini tetap ada sampai sekarang.

Abu Mush'ab az-Zarqawi pergi ke Afghanistan selama penjajahan Rusia sehingga dapat mengusir musuh komunis yang menyerang tanah kaum Muslim, Afghanistan, meskipun apa yang dia lihat terdapat pelanggaran syar'i oleh orang-orang awam. Untuk alasan ini, kita sebagai majelis terpecah menjadi dua kelompok: satu kelompok mendukung untuk tetap beroperasi di Afghanistan meskipun apa yang ada, dan kelompok lain yang tidak mendukung operasi di Afghanistan. Abu Mush'ab az-Zarqawi kembali ke Yordan sebelum Perang Teluk Pertama. Dia kemudian dimasukkan ke penjara setelah berakhirnya perang selama 5 tahun. Ia ditempatkan di penjara Yordania bersama Abu Muhammad al-Maqdisi atas kasus terhadap Rezim Yordania yang disebut pada saat itu kasus "Bai'at Imam". Dia bebas dari penjara dan cepat berkemas lalu melakukan perjalanan ke Afghanistan, dan menetap di sana hingga peristiwa 11 September terjadi. Dia tetap ada di sana karena wilayah Afghanistan cocok untuk jihad karena kurangnya kontrol rezim Kufur, hamparan luas wilayah untuk saudara-saudara mujahid di dalamnya, kemudahan untuk bergerak, dan kelimpahan senjata untuk persiapan dan pelatihan. Tapi -seperti yang diketahui- Amerika memasuki Afghanistan dan menjajahnya.

Setelah kampanye militer Amerika dimulai, semua kelompok mujahidin mundur dan meninggalkan medan ini menuju medan lain, yang terpenting adalah Waziristan. Di sana kaya dengan kelompok, aqidah, dan manhaj yang berbeda dalam memandang jihad. Mereka semua mengambil bagian dalam memerangi musuh "Amerika". Dari banyaknya kelompok-kelompok ini adalah Tanzhim al-Qa'idah yang menjadi paling terkenal karena sifat operasinya yang khusus, yang paling terkenal di antaranya adalah peledakan menara di New York, dan serangan terhadap USS Cole, dan kedutaan AS di Nairobi dan Darussalam.

Pada akhir tahun 90an, Abu Mush'ab az-Zarqawi dan kelompoknya yang berjumlah sangat kecil memiliki markas di salah satu Kota Afghanistan; Herat (sebuah kota dengan mayoritas penduduk Rafidhah). Jauh dari majelis kelompok mujahid muhajir. Dia melakukannya untuk mengisolasi kelompoknya dari orang lain pada saat itu dan mencegah perjalanan kunjungan rutin sehingga dengan demikian melindungi kelompoknya dari infiltrasi intelijen. Dia juga mengisolasi mereka karena apa yang dia dan kelompoknya terima dari tuduhan oleh anggota kelompok lain. Mereka menuduhnya dengan Takfiri, Khawarij, dan orang yang berpandangan ekstrem.

Adapun kelompok kedua yaitu para ikhwah yang tetap di Yordania, yang kemudian kita tidak mendukung pertempuran di Afghanistan (sebelum 11 September). Sebaliknya, kita menganggap lebih baik bagi kita untuk tetap di Yordania dan mendakwahkan tauhid, terutama setelah ada ikhwah yang datang dari Afghanistan dan menjelaskan kondisi Afghanistan, Thaliban, dan pelanggaran syar'i mereka.

Pada awal abad yang baru, Thaliban Afghanistan menghancurkan patung Buddha atas perintah Amir Mulla Muhammad 'Umar, sehingga jiwa-jiwa mulai merindukan medan Afghanistan, tetapi karena tidak ada cara untuk pergi ke sana, hal itu pun terhentikan sendiri oleh kondisi.

Pada tahun 2001, atas karunia Allah, Menara Manhattan Amerika runtuh dengan sukses, melalui serangan dari saudara-saudara di Tanzhim al-Qa'idah. Jika ini merupakan petunjuk akan sesuatu, ini menunjukkan akan kebenaran jiwa manusia ini –Syaikh Usamah Ibn Ladin– dengan izin Allah, dan Allah Maha Tahu.

Pada tahun 2002, saya bertemu dengan saudara Abu Mush'ab Az-Zarqawi di Yordania dan memberitahukan maksudku untuk meninggalkan Yordan menuju medan jihad dimana saja. Syaikh "rahimahullah" menyiapkan rute bagi saya dan akhirnya saya meninggalkan Jordan. Dalam perjalanan ke Afghanistan, saya tertangkap di Iran tidak lama setelah pengambil-alihan Baghdad.

Beberapa saat setelah serangan 11 September, Syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah secara eksplisit menyatakan kemurtadan penguasa al-Haramain dan tentara mereka serta kewajiban untuk melawan mereka dalam beberapa pidatonya. Halangan yang mencegah penyatuan barisan muwahhidin mujahidin –az-Zarqawi dan jama'ahnya, dan Ibnu Ladin dan organisasinya– akhirnya terhapus.

Setelah itu, pada akhir 2004, di saat pasukan Mujahidin yang dipimpin oleh Syaikh Abu Mush'ab sedang menyerang Rafidhah, Amerika, dan orang-orang yang bersama mereka dari orang-orang murtad dan para agen, Syaikh mengumumkan bai’atnya kepada Syaikh Usamah. Ini menempatkan kami –Kelompok Abu Mush'ab yang ada dalam penjara Iran– juga memberikan bai'at. Telah bersama kami sekelompok ikhwah dari Tanzhim al-Qa'idah di penjara Rafidhah. Mereka telah ada di penjara itu ketika saudara Khalid al-'Aruri (semoga Allah membebaskannya) dan saya ditangkap. Kami, para anggota Kelompok Abu Mush'ab az-Zarqawi, Jama'ah at-Tauhid wal Jihad, semua memberikan bai'at kecuali saudara Khalid al-'Aruri dan Suhaib al-Urduni [2]. Kami tidak mendengar komentar dari mereka tentang masalah tersebut. Ada kemungkinan itu karena mereka percaya bahwa Tanzhim masih berlaku lemah lembut terhadap tentara rezim murtad dan karena perbedaan mereka dengan tahanan dari Tanzhim di Iran yang tidak menganggap orang Rafidhah maupun sipir sebagai murtad. 
Melalui pengumuman Syaikh Ibnu Ladin rahimahullah, pandangan kami akan Tanzhim berubah dari sebelumnya. Organisasi sekarang menjadi sebuah gambar cermin yang aku gunakan untuk melihat kondisi saudara-saudara di Yordania, Jama'ah At-Tauhid. Aku sangat berharap bisa bebas sehingga bisa memeluk Syaikh Abu Mush'ab rahimahullah karena telah mengumpulkan barisan di atas tauhid dan membuat kemarahan musuh dengan bai'at ini. Gambaran ini tetap dalam pikiranku seperti itu. Saya sedang menunggu waktu untuk meninggalkan penjara untuk bisa hidup bersama saudara-saudara di medan jihad dengan organisasi baru dan lebih besar yang sekarang saya berada di dalamnya.

Dan akhirnya kita semua dibebaskan menjelang akhir tahun 2010, namun Rafidhah tetap menahan beberapa ikhwah di penjara mereka, di antaranya dua ikhwah tersebut yang tidak memberikan bai'at untuk al-Qa'idah: Khalid al-'Aruri dan Suhaib al-Urduni. Saya percaya bahwa alasan mereka untuk tidak dibebaskan adalah tidak adanya bai'at dari mereka kepada Tanzhim.

Aku pergi ke kota Quetta di Pakistan dan berada di sana selama 6 bulan, sampai aku diizinkan untuk memasuki wilayah Waziristan oleh Tanzhim. Alasan penundaan dari mereka adalah tingkat keparahan serangan Amerika terhadap para ikhwah di Waziristan. Oleh karena itu, kesaksian saya mencakup apa yang saya saksikan dan alami di Waziristan pasca meninggalnya Amir dan pendiri dari Tanzhim –Syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah– dalam operasi yang dilakukan oleh pasukan Amerika di dekat Abbottabad.

Kejutan pertama dan kejutan besar bagi saya adalah apa yang biasa saya fikirkan bahwa wilayah Waziristan adalah daerah yang benar-benar telah dibebaskan di mana seseorang akan melakukan perjalanan ke timur, barat, utara, dan selatan, tanpa melihat tentara murtad dan tidak mendengar suara mereka. Saya pikir para mujahidin adalah para pengambil keputusan di sana dan bahwa hukum syar'i telah ditegakkan oleh mereka di sana. Tapi sayangnya dan sayangnya, hukum yang dominan adalah hukum suku. Undang-undang syari'ah tidak berlaku, hukum-hukum suku mengatur rakyat di wilayah itu. Pasukan Pakistan murtad menutup setiap bukit dan gunung serta mengawasi semua tempat tinggal orang-orang, dan semua desa dan kota. Tentara Pakistan mengatur jam malam untuk satu hari setiap pekan, untuk bergerak di antara berbagai zona dan memasok ulang amunisi dan dana. Jika suatu hal yang menjengkelkan terjadi pada mereka, mereka akan memperpanjang jam malam semau mereka.

Jika Anda ingin melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, Anda selalu harus menjauh dan menghindari jalan utama agar tidak mendekati perkemahan mereka dan tidak bertemu dengan mereka. Dan perkemahan mereka ada banyak! Ini akan memperpanjang perjalanan Anda, membuatnya sulit, dan menambah kerepotan anda.

Adapun kondisi mujahidin di negeri itu, maka Anda akan melihat keanehan! Pemimpin organisasi jihad "Al-Qa'idah" seharusnya memiliki reputasi besar di mata dan hati masyarakat Muslim yang baik, dengan suara fitrah merindukan dan harapan. Mereka mengharapkan tanzhim untuk membimbing mereka menuju pembebasan, berdiri melawan para thaghut mereka, menegakkan hukum Allah di negeri mereka, dan untuk mendukung hak-hak mereka dan membantu mereka yang tertindas...

Tapi, kami tidak melihat hal ini sama sekali di lapangan, karena Tanzhim asyik mengkategorikan para mujahidin di lapangan ke dalam kelompok Takfiri ekstrim, Khawarij, dan sedikit Takfiri. Mereka akan membawa semua orang yang tenggelam ke faham Irja' lebih dekat kepada diri mereka di bawah kepura-puraan ingin menghancurkan pemikiran Khawarij dan mengusir itu dari Tanzhim. Untuk alasan ini, tangga piramida organisasi yang mengarah ke Kepemimpinan tertinggi adalah tangga yang dikelilingi oleh para penyaring yang terdiri dari aparat intelijen dari manhaj pengadu. Sehingga, tidak ada ikhwah dengan manhaj yang benar yang mereka dianggap menentang akan mampu mengubah kemungkaran dan menyuarakan kebenaran mengoreksi kekeliruan Tanzhim secara syar'i dan militer. Sebaliknya, ikhwah ini akan mendapatkan peringatan, pengucilan, pemisahan dan bahkan fitnah.

Seperti yang Anda tahu, kejahatan kaum Rafidhah menjadi nyata, terutama makar mereka, rencana mereka, dan kebencian terpendam mereka terhadap Islam dan kaum Muslimin dari kalangan Shahabat, tabi'in, dan salafush shaleh. Allah membongkar kedok mereka dan kejahatannya. Media ini (Stasiun TV satelit Rafidhah) telah menjadi bukti yang jelas dan terbuka dalam mengungkap siapa mereka, perbuatan mereka, dan tuduhan mereka terhadap Rasul dan agama kita. Media mereka akan menjadi hujjah atas kami di dunia dan di hari kiamat karena kami tidak melakukan apa-apa untuk melawan bid'ah ini.

Setelah beberapa hari sejak saya mencapai Miransyah, saya diancam dan dimarahi oleh Amir Dewan Syar'i Tanzhim al-Qa'idah karena menggunakan kata "Rafidhi" untuk menggambarkan Iran di mana saya di penjara sebagai tahanan selama sekitar 8 tahun. Saya menggunakan kata itu ketika saya ditanya tentang kondisi saya, titik keberangkatan, dll, oleh ikhwah yang akan mengunjungiku setelah kedatanganku dari perjalanan. Saya kemudian dituduh Khawarij dan Takfiri! Saya diberitahu oleh Amir Dewan Syar'i pada saat itu (Salim Ath-Tharablusi al-Libi Rahimahullah), "Pergilah ke Yordania dan buatlah takfir di sana kepada siapapun yang engkau inginkan, dan kami akan mendukungmu!" Itu adalah kejutan kedua bagi saya.

Tapi aku memutuskan untuk tetap bertahan dan memperbaiki apa yang aku bisa. Aku mulai berbicara dengan semua ikhwah di Tanzhim di semua tingkatan mengenai masalah yang saya lihat di lapangan. Diantaranya adalah :

1. Wilayah ini penuh dengan mujahidin bersenjata dan mereka memiliki kemampuan untuk mengambil kendali wilayah, sehingga mengapa hukum Allah tidak ditegakkan di atasnya?

2. Mengapa hukum adat thaghut (Jirga) dan hukum lain dilaksanakan tanpa komentar atau bahkan mencoba untuk memberitahu orang-orang?

3. Mengapa ada Mujahidin masuk dan keluar wilayah Afghanistan melalui tentara Pakistan ketika memerangi Amerika?

4. Bukankah perbaikan jalan antara kota-kota dan daerah Waziristan oleh pemerintah Pakistan menunjukkan bahwa negara Pakistan memiliki misi di wilayah tersebut?

5. Mengapa anak-anak putra-putri di wilayah tersebut dimasukkan ke sekolah-sekolah pemerintah sekuler secara besar-besaran dan diketahui tanpa upaya sedikitpun atau persiapan untuk membangun sekolah oleh mujahidin, khususnya al-Qa'idah pusat, yang telah sangat lalai mengenai masalah sekolah dan pendidikan anak-anak mujahid muhajirin dan Anshar kecuali baru-baru ini ketika hal itu disediakan untuk sejumlah anak-anak dari Tanzhim?

6. Mengapa ada desakan untuk tidak menyelidiki pelanggaran syar'i dan akhlaq dan kesalahan orang-orang, dengan klaim bahwa ada manfaat syar'i, seperti agar mereka tidak menjauh atau kita berbenturan dengan mereka?

7. Saya telah meminta dari pimpinan Tanzhim melalui kepala keamanan dan ideolog mereka Abu 'Ubaidah al-Maqdisi (Abdullah al-'Adam rahimahullah) untuk berhenti memuji secara berlebihan revolusi Arab atau apa yang disebut sebagai Arab Spring.

8. Kita harus mengumpulkan barisan berbagai kelompok pejuang yang berbeda-beda, menyatukan mereka, dan menyelesaikan masalah yang tertunda di antara mereka dan Tanzhim.

9. Kita harus mengasingkan para wanita dari lapangan sehingga kehadiran mereka tidak menjadi hambatan yang membuat gerakan ikhwah mujahidin menjadi sulit apabila ada aksi militer tiba-tiba yang tidak diharapkan. Gerakan menjadi sulit dengan kehadiran mereka karena ketinggian gunung di wilayah tersebut. Juga tidak ada tempat berkumpul bagi mereka untuk menetap.

Poin-poin ini akan disampaikan baik melalui pesan tertulis disampaikan oleh saudara Abu Shalih al-Mishri rahimahullah atau secara lisan langsung kepada saudara Abu 'Ubaidah al-Maqdisi yang bertanggung jawab menjadi penengah antara para ikhwah di lapangan dan pimpinan Tanzhim. Saudara Abu Shalih al-Mihsri adalah teman dekat saya ketika kami bersama-sama berada di penjara di Iran. Hubungan kami berlanjut hingga kami di Waziristan. Allah menjadikan lelaki ini pembelaku dan pelindungku karena hubungan dekatnya dengan pimpinan Tanzhim. Dia juga amir saya dalam beberapa pekerjaan khusus yang kita lakukan bersama.

Tanzhim tetap dalam keadaan seperti ini, tidak mau mendengar dan melihat, dan tidak mau berubah, terutama karena dia seperti kelompok rahasia, dan untuk sampai kepada pimpinan adalah sangat sulit, kecuali dalam hal tertentu, seperti kunjungan dari seorang pimpinan ke kamp-kamp di pegunungan. Hal inilah yang membuat seorang ikhwah yang memiliki keperluan dan pertanyaan akan kesulitan tidak mendapatkan jawaban, dan jika dia mendapatkannya, berarti itu adalah keberuntungan. Jawaban akan datang setelah berpekan-pekan, berbulan-bulan, atau tidak sama sekali. Ini adalah sistem yang tidak bisa ditembus. Filter yang dibuat oleh tanzhim akan menyaring semua orang di lapangan. Siapa yang tidak menentang manhaj Qiyadah maka dia akan naik ke piramida kepemimpinan.

Sayangnya aku mendapati bahwa manhaj al-Qa'idah pasca meninggalnya Syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah sama dengan manhaj sebelum beliau secara eksplisit menyatakan takfir terhadap rezim Saudi dan tentaranya. Jadi Al-Qa’idah sebelum saya di penjara adalah sama dengan al-Qa’idah setelah saya dibebaskan. Manhajnya adalah irja' yang banyak menahan diri dari berbagai hal dengan alasan kehati-hatian dan demi kemaslahatan. Hal yang paling aneh adalah keragu-raguan untuk mengkafirkan Rafidhah pada masa di mana kejahatan mereka tidak tersembunyi dari setiap orang, baik dekat maupun jauh. Adapun kondisi Tanzhim selama masa penahananku, maka saya tidak tahu apa yang sedang terjadi pada mereka.

Saya tidak menasihati mereka dengan cara merendahkan, menjelek-jelekkan, atau menentang keras, sebab saya pikir hal seperti itu tidak akan mencapai tujuan. Saya pikir saya akan menemukan seseorang yang mau mendengar atau melihat perubahan tertentu di dalam Tanzhim. Akan tetapi, sayangnya, tidak ada seorang pun yang mau mendengarkanku, tidak juga dari tingkatan kedua atau ketiga Tanzhim. Justru sebaliknya, anda akan mendapatkan pencegahan, pelarangan, penolakan ide, dan penghindaran.

Abu 'Ubaidah Al-Maqdisi adalah seorang pemikir yang membawa pemahaman irja' yang "Qa'idi", namun dia tidak akan mengelak dari dialog atau diskusi dan mau mendengarkan, berbicara, dan berdiskusi. Waktu itu kupikir ada hal yang baik pada dirinya, meskipun kita saling mengeraskan suara satu sama lain di tempat-tempat umum atau rahasia. Hingga pada akhirnya, aku mendengar hal-hal aneh dari dirinya, termasuk pernyataannya bahwa Tanzhim memandang Ath-Thanthawi (mantan mufti Al-Azhar) dan Al-Qardhawi adalah ulama Islam dan Tanzhim tidak mengkafirkan keduanya.

Pada waktu yang sama, majalah Arab As-Shumud mengeluarkan pernyataan dari Mulla Muhammad 'Umar yang berpesan kepada umat Islam pada hari raya 'Idul Fitri 1433 H. Ia menjelaskan masa depan Afghanistan setelah kepulangan tentara Amerika. Ia menyebutkan beberapa klausul yang merusak Islam dan –dengan menggunakan suara yang patriotik dan kebangsaan– menyerukan untuk menghormati perjanjian internasional dan perbatasan, mengucapkan selamat atas revolusi bangsa Arab yang mengganti rezim mereka, dan meminta kepada orang-orang yang meninggalkan negara-negara tersebut –maksudnya para mujahid muhajir yang dizhalimi– agar pulang ke negeri mereka [3].

Aku bisa mengatakan pada diriku sendiri, di mana Tanzhim Al-Qa'idah –yang memerangi Amerika sang gembong kekafiran dan demokrasi– bereaksi terhadap hal ini? Apakah pernyataan benar-benar disampaikan oleh Qa'idah al-Jihad? Dan pernyataan ini keluar setelah sebelumnya diawali dengan konferensi Paris dan pertemuan dengan delegasi Mulla Muhammad 'Umar di Universitas Tokyo, di mana mereka berbicara dengan dunia Barat mengenai masa depan Afghanistan setelah kepulangan tentara Amerika dan politik baru Thaliban. Pertanyaan ini terus muncul, terutama karena amir Tanzhim Al-Qa'idah (Azh-Zhawahiri) biasanya berulang kali menyatakan bahwa ia mempunyai bai'at kepada Mulla Muhammad 'Umar dan menyerukan agar cabang dan kelompok lain untuk melakukan hal yang sama.

Hal tersebut memunculkan banyak pertanyaan dalam benakku.

Aku menulis sebuah bantahan terhadap pernyataan Mulla Muhammad 'Umar dan mengingatkan Tanzhim mengenai pernyataan tersebut. Abu 'Ubaidah Al-Maqdisi telah menyuruhku untuk menuliskannya. Aku juga menanyakannya kepada faksi Haqqani yang mewakili Mulla Muhammad 'Umar di Waziristan. Mereka juga menyuruhku untuk menuliskan sebuah bantahan terhadap Mulla Muhammad 'Umar. Lalu saya menulis bantahan dan mengirim salinannya lewat faksi Haqqani kepada Mulla Muhammad 'Umar. Mereka mengatakan bahwa suratnya akan sampai ke dia pada Hari 'Idul Adha.

Akan tetapi, sayangnya tidak ada jawabannya hingga sekarang. Aku bertemu perwakilan Mulla Muhammad 'Umar –Muhibbullah– dan memberikan kepadanya sebuah salinan tentang bantahan tersebut. Sayangnya, lagi-lagi tidak ada jawaban yang datang sampai sekarang.

Aku melihat sekeliling dan tidak menemukan jalan untuk keluar di mana aku dapat melihat Islam yang benar-benar menerapkan hukum-hukumnya. Bumi terasa sempit bagiku. Maka, yang pertama kali aku pikirkan adalah pergi ke Burma (Myanmar) untuk berperang di sana. Aku menanyakannya kepada salah satu ikhwan dan kawan dari mujahidin senior dan terkemuka di daerah tersebut, yaitu ikhwan dari Punjab. Ia mengatakan bahwa untuk pergi ke Burma adalah suatu hal yang mustahil, karena rutenya sulit dan panjang dan adanya rezim thaghut Bangladesh yang rasis. Aku lalu berpikir untuk pergi ke Yaman. Itu adalah rencana yang ingin kulakukan.

Akan tetapi, aku kemudian mengetahui adanya ikhwan di utara Waziristan –Tahrik Thaliban Pakistan / TTP– di wilayah Khaibar. Mereka sungguh-sungguh berada di atas kebaikan. Mereka membawa aqidah Salafi serta berkeinginan dan berjuang untuk menerapkan hukum-hukum Islam di wilayah tersebut. Akhirnya aku mengambil keputusan tersebut dan pergi ke sana pada tanggal 26 Januari 2013. Aku mencapai daerah Kuki Khail pada tanggal 7 Maret 2013. Aku mempelajari karakter alam, penduduk, dan masalah-masalah lain yang sebelumnya tidak kuketahui. Aku mempelajari tentang berbagai kelompok, terutama kelompok-kelompok yang berkaitan dengan Thaliban [4].

1. Thaliban Afghanistan semacam faksi Haqqani. Mereka adalah orang-orang Afghanistan asli. Mereka menganggap Mulla Muhammad 'Umar sebagai pemimpin tertinggi mereka.

2. Thaliban Waziristan yang menganggap diri mereka orang Pakistan. Mereka mempunyai banyak pemimpin, termasuk Qalbhadir, Ghulam Khan, Gud 'Abdurrahman, dan yang lainnya. Mereka memandang diri mereka orang-orang Pashtun dari Pakistan. Mereka bekerja untuk kepentingan mereka di daerah tersebut sekalipun jika itu merugikan faksi-faksi lain. Mereka mempunyai hubungan yang kuat dengan intelijen Pakistan. Mereka menganggap Mulla Muhammad 'Umar sebagai pemimpin mereka.

3. Thaliban independen di wilayah Khaibar, sebelah utara Waziristan. Mereka bersekutu kuat dengan pemerintah Pakistan. Mereka hidup dari opium dan marijuana. Mereka melawan Tahrik Thaliban Pakistan dan menghalangi mereka untuk menggunakan jalan perjuangan dengan senjata. Mereka mempunyai banyak nama, di antaranya: "Lasykar Islam", "Anshar Al-Islam [5]", "Jama'ah At-Tauhid", "Munghul Bagh", dan lain-lain.

4. Tahrik Thaliban Pakistan, para muhajirin dari wilayah-wilayah yang dimasuki tentara Pakistan di Lembah Swat dan daerah-daerah lainnya dekat Peshawar. Barangkali mereka adalah kelompok terbaik yang ada di wilayah Waziristan. Namun sayangnya, intelijen Pakistan mampu menyusupkan beberapa personilnya dan menghasut di antara beberapa pemimpin suku mereka untuk berperang di antara sesamanya dalam perkara kepemimpinan. Mereka terdiri dari gabungan beberapa suku dan setiap gabungan mempunyai pemimpin sendiri. Mereka telah menegakkan hukum-hukum syari'at di Lembah Swat sebelum saya datang ke Waziristan, dan Tanzhim Al-Qa'idah langsung mengirim seorang pria Pashtun bernama Mufti Hasan untuk bertemu kelompok Tahrik dan membujuk mereka agar tidak terburu-buru menegakkan hukum syari'at. Alasannya adalah demi kebaikan umum yang lebih besar… Ketika Mufti Hasan bertemu Syaikh Maqbul (Mufti dari Tahrik), Syaikh Maqbul meyakinkan dia akan kebaikan penerapan hukum-hukum syari'at pada waktu itu. Lalu Mufti Hasan kembali dengan ide baru dan memberitahukannya kepada Tanzhim Al-Qa'idah, tetapi dia dibalas dengan diusirnya dari Tanzhim. Dia sekarang menjadi anggota Tahrik Thaliban Pakistan. Peristiwa ini diceritakan kepadaku oleh beberapa pemimpin Tahrik yang ikut menyaksikan.

Pemerintah Pakistan mampu menghasut semua faksi melawan kelompok Tahrik di daerah mereka di utara Waziristan, karena diperkirakan Tahrik Thaliban akan menguasai wilayah tersebut.

Tahrik mampu memasuki dan membebaskan wilayah terbesar Waziristan utara bernama Midan "wilayah yang dikuasai oleh Thaliban "Anshar Al Islam [6]" yang beraliansi dengan rezim Pakistan dengan pemimpinnya Mahbub Al-Haqq", setelah menyerang wilayah tersebut. Hal itu segera memunculkan rasa takut dalam militer Pakistan dan sekutu-sekutu mereka, maka mereka segera lari tanpa melakukan perlawanan. Kami berada di sana selama tiga bulan sebelum tentara mulai membombardir wilayah tersebut. Midan akhirnya menjadi arena pertarungan militer Pakistan dan wilayah perang yang dikotori oleh tembakan-tembakan pasukan militer. Kami kemudian mundur dari Midan dan kembali ke Kuki Khail dan Tura Dara. Pasukan militer kemudian memasuki Midan, memperoleh kemenangan dengan menghancurkan musuh terkuat mereka "Tahrik" dan mengusirnya dari daerah tersebut.

Program pemerintah selanjutnya adalah bergerak ke arah selatan ke Waziristan tengah, yaitu daerah Miransyah, Mir 'Ali, dan daerah lainnya di mana terdapat mujahidin muhajir… daerah-daerah yang hampir tidak ada mujahidin, karena mereka pergi dari satu medan ke medan lainnya. Tanzhim Al-Qa'idah bertanggung jawab atas perginya mereka.

Aku memandang amir Tanzhim Al-Qa'idah dan semua yang memperindah dan mendukung perbuatannya sebagai orang yang bertanggung jawab atas pengosongan wilayah.

Tahrik Thaliban Pakistan adalah mujahidin terbaik yang kulihat di lapangan. Mereka berada di atas kebenaran. Kebanyakan pemimpinnya memiliki aqidah shahih dan berada di atas manhaj Salaf, kami memandangnya demikian. Adapun orang-orang awamnya, maka mereka mempunyai beberapa permasalahan disebabkan memiliki taraf pengetahuan keislaman yang rendah dan fanatisme madzhab.

Pemimpin mereka Fadhlullah bertemu dengan Mulla 'Umar lebih dari 15 tahun yang lalu dan berbai'at kepadanya pada waktu itu. Mulla 'Umar memberikan sorbannya sendiri sebagai hadiah. Dia loyal kepada Mulla 'Umar hingga sekarang, meskipun Mulla 'Umar mempunyai kesalahan-kesalahan fatal secara syar'i yang tidak disadari oleh Fadhlullah.

Saya memutuskan untuk kembali ke Miransyah untuk memberitahu ikhwan di Tanzhim Al-Qa'idah dan qiyadah-nya –demi harga diri dan kehormatan serta keinginan untuk menasihati mereka– setelah saya memutuskan untuk meninggalkan Waziristan utara dan memasuki Afghanistan, sehingga dapat keluar sepenuhnya dari wilayah tersebut. Akan tetapi, Allah telah menyiapkan sesuatu yang lebih baik bagiku. Maka, aku kembali ke Waziristan tengah.

Tatkala tiba di Miransyah, saya menulis sebuah pesan kepada Lajnah Bukhara (Lajnah Bukhara, sebuah komite administratif milik qiyadah Al-Qa'idah dibentuk setelah terbunuhnya 'Athiyatullah dan Abu Yahya Al-Libi rahimahumullah). Aku menjelaskan apa yang terjadi dan menjelaskan pandanganku mengenai masa depan Waziristan serta masuknya tentara Pakistan yang tidak bisa dihindari ke wilayah-wilayah tengah setelah secara menyeluruh menguasai bagian utara. Aku lampirkan ke dalam surat satu salinan berisi bantahanku yang telah kutulis terhadap pesan yang disampaikan oleh Mulla Muhammad 'Umar sebelumnya. Ini untuk mengingatkan para ikhwan bahwa medan perang sekarang berada di antara palu nasionalisme dan blok kesukuan di Afghanistan dan Waziristan.

Sayangnya, aku tidak mendapatkan jawaban apa-apa dari Tanzhim atas pernyataan ini.

Sejumlah masalah terjadi di lapangan selama enam bulan ketidakhadiranku di utara Waziristan. Masalah-masalah tersebut membuat Tanzhim berada di jurang kehancuran. Masalah yang paling nyata adalah kasus yang melibatkan anak-anak ikhwan Tanzhim. Mereka adalah putera-putera syuhada' (kama nahsabuhu), putera-putera para pemimpin. Mereka terjatuh dalam perbuatan fahisyah (sodomi) yang mengarah ke spionase (sebagaimana juga terjadi di Sudan dan yang lainnya). Pengkhianatan mereka menyebabkan terjadinya sepuluh kali serangan udara yang membunuh banyak ikhwan.

Kami menentang atas diamnya Tanzhim dan menekan agar mereka diadili oleh Tanzhim secara independen dari Imarah Afghanistan. Akan tetapi, Tanzhim bersikeras untuk mendatangkan seorang hakim dari Imarah, mengklaim bahwa Tanzhim berada di bawah Imarah dan mereka telah berbai'at. Permintaan kami untuk mengadakan sidang peradilan yang dibuat oleh Tanzhim secara independen dari Imarah disebabkan adanya perbedaan antara kami dan Imarah –karena fanatisme madzhabnya– dalam menetapkan hukuman terhadap mata-mata dan sodomi [7].

Imarah menolak untuk menyelidiki masalah ini dan justru menyerahkannya kembali kepada Tanzhim [8]. Cerita tentang para pemuda yang terlibat dalam kasus tersebut menyebar ke mana-mana, membuat Tanzhim jadi bahan olok-olokan. Muncul berbagai pertanyaan dari mujahidin dan penduduk. Mengapa Tanzhim menunda persidangan mereka? Mengapa Tanzhim bersikeras terhadap hal ini? Mengapa Tanzhim melepaskan para pelaku kasus tersebut dari penjara sebelum hukuman diputuskan?

Pada saat yang sama, para ikhwan yang bergerak dari utara Afghanistan ke arah Miransyah bertemu dengan kami. Mereka dalam perjalanan menuju Daulah Islam. Pada saat itu, Daulah menjadi sorotan mata dan pertanyaan, karena saya tidak begitu banyak mendengar perihal itu sebelumnya. Saya tidak tahu banyak mengenai Daulah disebabkan lemahnya jaringan internet di wilayah tersebut. Informasinya sangat lambat dan tidak stabil.

Satu-satunya sumber informasi mengenai Syam adalah Tanzhim itu sendiri. Mereka tidak ingin menunjukkan kepada orang lain apa pun mengenai Daulah, seolah-olah tidak pernah ada. Demikian pula, ketika Daulah Islam Iraq diumumkan oleh Amirul Mu'minin Abu 'Umar Al-Baghdadi rahimahullah, sorotan tidak terfokus padanya. Media kafir benar-benar menyembunyikannya dari pandangan umum.

Selain itu, pada waktu itu kami juga ditahan di Iran, sama sekali terputus dari dunia luar. Kami memandangnya seolah-olah sebuah kelompok kecil atau organisasi dengan beberapa aksi yang terjadi di sana sini, hanya dikarenakan adanya tabir yang menyembunyikan informasi mengenai aksi-aksi mereka. Bahkan ketika Daulah melanjutkannya di bawah kepemimpinan Amirul Mu'minin Abu Bakar Al-Baghdadi hafizhahullah, penjara menjadi penghalang. Demikian pula, informasi media yang datang dari Daulah atau mengenai Daulah sangat sedikit.

Bahkan sayangnya, ketika Daulah memasuki Syam lewat frontnya, Jabhah An-Nushrah, umat Islam tidak mengetahuinya disebabkan keamanan dan program media milik Daulah. Persoalan semakin buruk dan menjadikannya semakin kompleks dan samar-samar. Selain itu, problem mengenai konflik kami dengan Tanzhim di wilayah Waziristan menyebabkan aku tidak menaruh perhatian atas apa yang sebenarnya tengah terjadi di Suriah.

Akan tetapi, Allah merahmatiku dengan kedatangan ikhwan dari Waziristan utara yang berpengalaman dalam menggunakan internet. Semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan. Gambaran mulai tampak jelas bagiku. Demikian pula dengan visi yang jelas dan kebenaran yang nyata mengenai Daulah Islam. Daulah Islam ini –dengan rahmat Allah– merupakan karunia dari Allah yang menjadi alternatif atas kekacauan yang terjadi di lapangan pada saat itu.

Konflik dengan Tanzhim semakin parah. Kami menulis surat kepada Tanzhim, mendorong mereka untuk menyidangkan kasus para tersangka. Setelah menekan mereka dan mendorong mereka dengan surat bernada keras langsung ke Lajnah Bukhara, pimpinan majelis dan salah seorang anggotanya –Al-Basya (Al-Bahiti)– bertemu denganku. Selama pertemuan, dia menjelaskan penolakannya untuk mendirikan peradilan yang independen dari Imarah dan jauh dari fanatisme madzhab.

Dia mengatakan mengenai persoalan yang berkaitan dengan kasus tersebut, bahwa suatu hal yang bodoh mengadili individu yang tertuduh karena tidak dilandasi kebijaksanaan dan para pelaku tidak mengakui kejahatan mereka, dan konsekwensinya para penuduh akan dicambuk… Para penuntut adalah kepala Majelis Keamanan dan asistennya. Kemudian setelah terjadi tarik-menarik dan meminta para tersangka dikembalikan ke penjara dan diadili, ia mengatakan agar keluar dari persoalan rumit yang dihadapinya, "Kita akan mengumpulkan mereka semua. Itu hal yang mudah. Lalu kita akan mengadili mereka. Lalu kita akan membebaskan mereka."

Pertemuan akhirnya berakhir setelah Al-Basya menyetujui untuk membujuk ikhwan di Lajnah Bukhara agar menahan para tersangka dan mengadili mereka. Pada waktu yang sama, persoalan Daulah Islam mulai mempengaruhi terhadap apa yang terjadi di sini (Daulah Islam telah meraih tamkin dan menegakkan hukum; hal sebaliknya dengan kondisi Tanzhim).

Kasus yang melibatkan tersangka mulai menemui jalan buntu, karena Tanzhim menyatakan kekhawatiran terhadap ibu-ibu para tersangka. Mereka mengatakan bahwa ibu-ibu itu bisa saja mengontak media asing dan mengadakan aksi protes di jalan-jalan di Miransyah dan menghasut penduduk melawan Tanzhim. Al-Basya lalu berkata bahwa Tanzhim sudah tidak bisa menangani persoalan ini.

Masalah Al-Jaulani dan pengkhianatannya terhadap amirnya mulai diperbincangkan. Gambaran semakin jelas seiring dengan apa yang tengah berlangsung dengan Tanzhim.

Dengan melihat ke belakang, jelas tampak bagiku bahwa pengosongan wilayah Waziristan memang sengaja dilakukan oleh Tanzhim. Aku ingat bagaimana Abu 'Ubaidah Al-Maqdisi, pada awal pergerakan jihad di Suriah, akan meletakkan tangannya di atas tangan para muhajirin yang pergi Suriah. Dia meminta mereka untuk berbai'at yang diperkirakan akan diberikan kepada Jabhah An-Nushrah, yaitu pada saat Jabhah An-Nushrah belum memisahkan diri dari Daulah dan waktu itu belum banyak kelompok di lapangan.

Kelompok yang paling menonjol pada waktu itu adalah rezim Assad, FSA, dan Jabhah An-Nushrah. Hal ini adalah teka-teki bagiku yang tidak aku pahami pada waktu itu. Mengapa ada orang yang menyuruh mujahid pergi ke Syam untuk memberikan bai'at kepada Jabhah An-Nushrah, padahal dia sendiri berkata lantang untuk tidak akan pergi ke mana-mana? Abu 'Ubaidah Al-Maqdisi secara berulang akan membuat pernyataan, "Kita akan membangun tempat bagi kita di wilayah itu." Hal ini seolah-olah dia hendak mengikat para mujahid kepada Jabhah An-Nushrah karena adanya rencana yang disusun oleh Tanzhim untuk masa yang akan datang.

Apa yang dilakukan Al-Jaulani setelah itu, termasuk penolakannya untuk menerima perluasan Daulah Islam ke Syam, hanyalah makar yang jelas dari Aiman Azh-Zhawahiri dan kroni-kroninya yang meninggalkan wilayah Waziristan. Kroni-kroninya ini membawa pesan rahasia dan pribadi yang melibatkan Azh-Zhawahiri dengan Al-Jaulani dalam usaha mereka membangun tempat bagi Tanzhim Al-Qa'idah di Syam dengan mengorbankan Daulah Islam. Buktinya adalah langsung diterimanya bai'at Al-Jaulani oleh Azh-Zhawahiri. Azh-Zhawahiri juga meminta amir Daulah Islam untuk kembali ke Iraq "sebagai pertukaran" atas "pengakuannya" terhadap Al-Baghdadi sebagai Amirul Mu'minin dan negaranya sebagai sebuah Daulah Islam. Semua ini jika Amirul Mu'minin jadi kembali ke Iraq. Jika tidak, maka negaranya dipandang sebagai Daulah Khawarij dan Azh-Zhawahiri tidak akan "mengakuinya" sebagai Amirul Mu'minin.

Azh-Zhawahiri terus muncul di media, memperlihatkan dirinya sebagai domba yang lemah lembut terhadap masalah Daulah dan pembai'atan. Ia bersikeras karena mempunyai "hak" atas kepemimpinan dan "kewajiban" untuk didengar dan ditaati. Ia mulai menggambarkan Daulah dan pemimpinnya memiliki sifat-sifat paling buruk, sehingga Daulah menjadi target bagi semua orang yang membawa senjata di Syam. Daulah telah masuk ke dalam labirin pemikiran Azh-Zhawahiri setelah ia memasukkan banyak orang ke dalam perangkap pemikirannya yang berbelit-belit. Pemikiran-pemikirannya bertentangan dengan jihad dan pengangkatan senjata. Ia malah menganjurkan manhaj cinta damai (protes yang tiada akhir) dan mencari dukungan manusia. Semua ini mengarah pada munculnya Fir'aun-Fir'aun baru yang mengambil alih Mesir dan negara-negara lain.

Di sana akan terjadi banyak wanita, anak-anak, dan pria yang terbunuh tanpa alasan yang benar. Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain turun ke jalan-jalan, lapangan-lapangan, dan plaza-plaza, mempraktekkan politik baru yang diserukan Azh-Zhawahiri. Dan semua orang yang sama (pemikirannya) dengan dia, yaitu yang mengklaim bahwa apa yang dilakukan oleh para pendemo adalah jihad yang sesungguhnya yang akan mengubah kezhaliman menjadi keadilan dan kufur menjadi Islam. Karena dia, kebenaran tidak lagi bisa dibedakan dari kebathilan. Si Thaghut (Mursi) dipuji dan tawaran dibuat untuknya, sementara kebenaran dan orang-orangnya dicela. Dengan demikian, ia telah menghancurkan Tanzhim Al-Qa'idah.

Pada saat yang sama, Tanzhim tidak mengumpulkan para tersangka yang telah disebutkan sebelumnya mengenai kejahatannya (spionase dan sodomi). Akan tetapi, mereka mengadakan kamp-kamp khusus bagi para tersangka di antara kamp-kamp Tanzhim yang disebut dengan Katibah Usamah ibnu Zaid radhiyallahu 'anhuma. Dua orang mata-mata –anak-anak dari dua pemimpin Tanzhim– yang termasuk di antara para tersangka, dibunuh oleh Majelis Keamanan setelah Majelis bersaksi untuk mengabaikan kepemimpinan Tanzhim terhadap kasus mereka. Hal ini menimbulkan kegemparan di dalam Tanzhim, yang sejak itu tidak berhenti, terlepas dari fakta Majelis Keamanan membunuh mereka setelah faksi Shiddiqullah dengan bantuan faksi Gud 'Abdurrahman –yang mempunyai hubungan dengan intelijen Pakistan dan mempunyai peran dalam merekrut kedua mata-mata itu– berusaha membebaskan mereka dari penjara. Majelis Keamanan diusir dari Tanzhim, dikeluarkan dari wilayah tersebut, dan dipaksa untuk tetap berada di dalam rumah.

Karena terus-menerus ditekan oleh Majelis Keamanan dan banyak ikhwan, Tanzhim akhirnya dipaksa untuk membawa kasus kepada Al-Akh Abu Malik At-Tamimi yang telah sampai di Miransyah setelah datang dari Nuristan, Afghanistan, dalam rangka perjalanannya menuju Daulah Islam. Al-Akh Abu Malik menilai bahwa darah kedua mata-mata itu sah secara hukum (untuk ditumpahkan).

Sebelum hijrah ke Syam, saya dan sejumlah ikhwan yang kelak akan menandatangani deklarasi bai'at kepada Daulah Islam, memutuskan untuk menyatakan perang melawan Tanzhim Al-Qa'idah dengan cara mengeksposnya, setelah semua jalan menuju resolusi tertutup. Kami –baik itu Arab maupun non-Arab, muhajirin maupun anshar– memulainya dengan mempertanyakan apa yang tengah terjadi di lapangan, maka kami membuat daftar pertanyaan untuk Tanzhim sehingga bisa bereaksi terhadap mereka. Dan reaksi-reaksi ini akan menjadi pertemuan final yang akan mengakhiri hubungan kami dengan Tanzhim.

Tanzhim berusaha untuk meredakan kemarahan kami dengan membeli hati kami dengan jabatan dan harta, namun atas karunia Allah, mereka gagal. Adapun permintaan yang diajukan adalah:

1. Tanzhim menuliskan aqidahnya, khususnya pandangannya terhadap Rafidhah.
2. Memberikan alasan syar'i atas doa Azh-Zhawahiri kepada thaghut Mursi.
3. Alasan Azh-Zhawahiri menuduh Daulah Islam sebagai Khawarij.
4. Alasan untuk mengubah bentuk jihad dari perang menjadi demonstrasi yang damai dan demi meraih dukungan masyarakat.

Tidak ada jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini, bahkan sampai mujahid terakhir meninggalkan wilayah Miransyah, di mana pada bulan Juni 2014 militer Pakistan memasuki wilayah tersebut dan menutupnya. Pada saat itu, detik itu, ketika kami memberikan cukup waktu bagi Tanzhim untuk berpikir kembali dan bermuhasabah atas kesalahan-kesalahan dan kezhaliman-kezhalimannya, Azh-Zhawahiri sayangnya menggiring Tanzhim ke dalam lobang (kehancuran), bahkan sampai artikel ini ditulis.

Kami memisahkan diri kami dari Tanzhim Al-Qa'idah dan dari penyimpangan-penyimpangan syar'i yang dibuat oleh Azh-Zhawahiri, lalu berbai'at kepada Daulah Islam dan amirnya, Amirul Mu'minin Abu Bakar Al-Baghdadi. Ini disebabkan penggabungan antara tauhid dan syari'at yang kami lihat, sesuatu yang selama ini kami cari, dirindukan oleh jiwa seseorang, menyenangkan hati, dan menenangkan pikiran. Hal inilah yang memaklumatkan akhir dari perjalanan untuk mencari kebenaran, yaitu jalan jihad yang benar dan jalan jama'ah yang akan membawa seseorang ke Firdaus, bi'idznillah.

Ya, kami berbai'at kepada Amirul Mu'minin Abu Bakar Al-Baghdadi setelah sebelumnya saya telah memberikan bai'at imarah kepada Mulla Muhammad 'Umar dan berbai'at kepada Syaikh Usamah. Demikian pula, saya berbai'at kepada Dr. Aiman Azh-Zhawahiri. Hanya karena batalnya syarat-syarat bai'at yang dilakukan oleh Mulla Muhammad 'Umar dan Dr. Aiman Azh-Zhawahiri, yaitu berupa risalah rusak yang ditulis oleh Mulla Muhammad 'Umar kepada kaum Muslimin pada Hari Raya Islam. Adapun untuk Azh-Zhawahiri, maka alasannya adalah penolakannya untuk menerapkan hukum syari'at (dengan argumentasi yang lemah, seperti dalil "maslahat") dan bersikeras untuk itu. Selain itu, dia menutup mata terhadap pelanggaran-pelanggaran fatal syari'at yang dilakukan amirnya Mulla Muhammad 'Umar. Dan karena hal itu, saya tidak bisa disalahkan dan mereka tidak mempunyai hak untuk didengar dan ditaati.

Kemudian Tanzhim terlihat bagai banteng yang mengamuk, tersandung ke sana kemari, sementara kroni-kroninya menyebar, pergi ke setiap tempat dan menemui setiap orang, baik itu mujahidin ataupun bukan, baik kelompok ataupun individu. Mereka berusaha dalam keputusasaan untuk menyelamatkan lembaga yang tengah tenggelam dan berjuang untuk bernafas di air yang dalam, sementara ia sudah kehabisan tenaga dan capek karena kelelahan dan perjuangan di dalam air.

Mereka membuat kebohongan-kebohongan atas kami dan menggambarkan kami dalam bentuk paling kasar: takfiri, Khawarij, pembunuh kaum Muslimin, Wahhabi… dan mereka akan memperingatkan manusia bahwa kita adalah pembunuh yang akan membantai mereka.

Kemudian Tanzhim Al-Qa'idah mulai memainkan fanatisme madzhab, terutama karena masyarakat bermadzhab Hanafi. Mereka juga mengklaim bahwa dengan bai'at ini kami mengumumkan peperangan dengan mereka, madzhab mereka, dan amir mereka. Selain itu, kehadiran kami di wilayah itu sebagai tentara Daulah Islam merupakan penyimpangan bagi mereka dan amir mereka.

Berkat karunia Allah, manusia mulai berduyun-duyun ke arah kami untuk mencari jawaban atas berbagai pertanyaan. Sebagian berusaha memperoleh informasi dan sebagian lainnya berusaha mendapatkan klarifikasi atas beberapa syubhat yang disebarkan oleh Tanzhim di antara mereka.

Beberapa ikhwan –semoga Allah membalas mereka– mulai berkomunikasi lewat internet, memperoleh gambar yang diambil dari dalam Daulah Islam, memperlihatkannya kepada penduduk, dan menunjukkan video-video yang dirilis di restoran-restoran dan warung-warung kopi. Ini bisa menjadi sebuah dakwah bagi mereka dan sarana untuk memberikan penerangan tentang Daulah Islam, jihad sebenarnya yang diembannya, serta penaklukan-penaklukan yang Allah berikan. Hal ini mampu memberikan pengaruh positif, baik kepada pihak Anshar maupun penduduk umumnya. Dan ini, dengan rahmat Allah, berkontribusi untuk mengguncang Tanzhim dan orang-orang yang tidak peduli dengan rilisan-rilisan videonya, yang sebenarnya mereka sudah rapuh.

Demikian pula, kelompok-kelompok mujahid di wilayah tersebut mulai membahas beberapa proposal Tanzhim yang terkait dengan paham cinta damai dan mencari dukungan, jihad yang diusung oleh Daulah Islam, dan gagasan mengenai demonstrasi damai yang diusung Tanzhim dengan mengorbankan jihad yang tidak akan bisa melenyapkan thaghut atau menghilangkan kezhaliman dari leher rakyat. Justru itu merupakan sumber terbesar kehancuran. Apa yang terjadi malah terbunuhnya wanita dan anak-anak di lapangan umum dan jalan-jalan di tangan para tentara dan polisi thawaghit, sementara para pembunuh tidak dihukum atas perbuatannya. Sesungguhnya pemikiran seperti inilah yang menciptakan Fir'aun-Fir'aun baru.

Kroni-kroni Al-Qa'idah mengangkat suara mereka. Mereka mengumumkan perang tanpa rasa takut dan malu, karena Tanzhim dengan segera memotong tunjangan bagi keluarga ikhwan yang telah menanda tangani bai'at tanpa mempertimbangkan kehadiran wanita, anak-anak, dan orang sakit. Dengan demikian, harta donasi yang diberikan oleh para dermawan kepada Al-Qa'idah dan para anggotanya yang ditujukan untuk mengangkat jihad, sehingga Allah menerimanya dari mereka sebagai shadaqah, kini telah diputus oleh Azh-Zhawahiri.

Apa yang dilakukan terhadap mereka yang berhak menerimanya adalah tanpa alasan yang jelas, selain karena hasrat mereka kepada kebenaran, mendukung kebenaran, dan menegakkan agama. Sebaliknya, Azh-Zhawahiri memanfaatkannya untuk memerangi kebenaran dan orang-orangnya, subhanallah! Dia akan menemui Allah dalam kondisi seperti itu, jika dia tidak bertaubat dan kembali ke keadaan semula. Dan tidak ada tabir antara Allah dan doa orang yang di zhalimi.

Tanzhim Al-Qa'idah tidak berhenti sampai di situ. Akan tetapi, orang-orangnya pergi ke kelompok Uzbekistan (kelompok Thahir Jan) dan amir mereka 'Utsman, terlepas dari adanya keretakan di antara mereka karena peperangan yang terjadi di kota Wana pada akhir tahun 2008. Tanzhim Al-Qa'idah pada waktu itu melepaskan dukungannya kepada kelompok tersebut, yaitu ketika kelompok Uzbek itu memerangi tentara Pakistan dan sekutunya Nadzir. Mereka beralasan bahwa kelompok Uzbek tersebut takfiri, Khawarij, dan ekstrimis. Akibatnya, banyak anggota kelompok Uzbek terbunuh. Kelompok tersebut diusir secara paksa dari Wana, Waziristan selatan. Mereka kemudian pindah ke Mir 'Ali dan Miransyah. Tanzhim Al-Qa'idah berupaya untuk meminta mereka agar menentang ikhwan yang berbai'at kepada Daulah Islam, namun Tanzhim kembali tanpa hasil.

Mereka bertemu dengan kelompok Rushin dan berbicara dengan amir mereka Hamidullah, sebagaimana juga dengan anggota kelompok lainnya. Mereka bertemu kelompok Uzbek di Afghanistan. Mereka bertemu para ikhwan Tajikistan dan amir mereka 'Abdul Wali. Mereka bertemu dengan Haji Basyir dari kelompok Uzbek. Mereka bertemu dengan ikhwan dari kelompok Turkistan. Mereka bertemu dengan Al-Akh 'Abdullah Asy-Syisyani dari kelompok yang berafiliasi kepada Imarah Islam Qauqaz di Miransyah. Mereka bertemu dengan sekutu Al-Qa'idah, jaringan Haqqani, yang merupakan perwakilan dari Imarah Afghanistan – Imarah Mulla Muhammad 'Umar. Mereka bertemu beberapa ikhwan Tahrik (Pakistan).

Tidak ada satu kelompok pun kecuali mereka temui dengan tujuan untuk menjauhkan mereka dari kami dan dari Daulah Islam serta menghasut mereka melawan kami. Akan tetapi, usaha mereka gagal. Justru sebaliknya, banyak dari mereka yang dibujuk telah memberikan bai'at kepada Daulah Islam ataupun tengah bersiap untuk melakukannya.

Tanzhim bertemu dengan perwakilan Imarah yang ikut merekrut mata-mata untuk Amerika dan intelijen Pakistan, Gud 'Abdurrahman, dalam upaya untuk merekonsiliasi antara Gud 'Abdurrahman dan Al-Qa'idah setelah usaha pembunuhan yang gagal terhadap Gul 'Abdurrahman. Buah dari rekonsiliasi ini ialah mereka bersama-sama berangkulan setelah Gud 'Abdurrahman menyatakan bahwa perangnya adalah terhadap orang-orang yang ingin membunuhnya, dan ia tidak menunjuk kepada Tanzhim Al-Qa'idah. Akan tetapi, ia menunjuk kepada mantan Majelis Keamanan Tanzhim yang telah diusir oleh Thaliban dan berbai'at kepada Daulah Islam.

Tanzhim Al-Qa'idah menerima perwakilan Anshar Al-Islam (Iraq) yang bertujuan untuk melakukan operasi gabungan di Iraq bersama dengan Tanzhim melawan Daulah Islam. Tanzhim mulai memfasilitasi perwakilan tersebut untuk bertemu dengan anggota -anggota Tanzhim Al-Qa'idah Kurdi dengan membawa mereka turun dari gunung ke kota Miransyah untuk melakukan konsultasi dan perencanaan. Konsultasi dan perencanaan ini bertujuan untuk menghimpun personil Tanzhim Kurdi, baik militer maupun syar'i, untuk membantu mereka dalam pelatihan di Afghanistan dan operasi di Iraq setelah melewati Iran. Mereka memproduksi video berjudul "Kamp Latihan Mulla Ghazi 'Abdir-Rasyid". Mulla Ghazi dibunuh oleh militer Pakistan di Islamabad. Kami menganggapnya bagian dari syuhada', dan Allahlah yang menilainya. Allah menggagalkan makar mereka, karena Anshar Al-Islam mengumumkan bai'at mereka kepada Daulah Islam. Demikian pula, futuhat besar yang Allah berikan kepada Daulah Islam di Mosul dan tempat-tempat lain tidak lain kecuali sebagai penghalang atas rencana jahat Tanzhim.

Sungguh hatiku menjadi sejuk tatkala mengingat kembali kelompok Punjab yang jujur meninggalkan Tanzhim Al-Qa'idah. Mereka meninggalkan di belakang segala yang tersisa dari Tanzhim, agar dipermainkan oleh Azh-Zhawahiri dan kelompok Sufi Punjab yang dipimpin oleh dua orang dari sekte Deobandi, 'Ashim 'Umar dan Ahmad Faruq. Mereka itulah yang diserahkan Tanzhim untuk mengelola pusat urat syaraf organisasi tersebut, yaitu As-Sahab Media dalam bahasa Urdu, menghancurkan semua yang tersisa. Sang insinyur Tanzhim, Mukhtar Al-Maghribi – penghubung antara Tanzhim dan kedua orang Deobandi Punjab – mengubah Tanzhim Al-Qa'idah menjadi sebuah Tanzhim beraliran Deobandi dengan nama "Tanzhim Al-Qa'idah di Negeri India" [9]. Lalu mereka menjauhkan diri dari personil muhajirin, tidak merasa butuh kepada mereka.

Ya Allah, akhirilah semua rencana yang berusaha memerangi Daulah Islam. Ya Allah, cerai-beraikan setiap rencana dan musnahkanlah. Aku memohon kepada Allah Yang Maha Perkasa, Rabbul 'Arsy yang agung, agar memelihara Daulah dan menolongnya, membimbing langkah-langkah amirnya di atas kebenaran, mengangkat tinggi panjinya, dan mengizinkan kami untuk menginjak-injak dengan kaki kami setiap orang yang menunjukkan permusuhan dengan kami dan memerangi agama kami. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pendengar do'a.

Dan penutup do'a kami adalah segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.

Saudara kalian, pencari kebenaran – dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati,

Abu Jarir Asy-Syimali
19 Syawal 1435 H / 15 Agustus 2014

Catatan kaki :

[1] Catatan Editor: Kehadiran perbedaan sejarah dalam aqidah dan manhaj antara Abu Mush'ab dan Tanzhim ditunjukkan dalam kata-kata pemimpin tinggi al-Qa'idah –Sayful 'Adl– yang menyatakan, "Poin-poin perbedaan dengan Abu Mush'ab bukan sesuatu yang baru bagi kita dan bukan hal aneh, karena ratusan saudara yang biasa datang kepada kita dari berbagai tempat di dunia, dan kami akan berbeda dengan mereka dalam beberapa hal dan isu-isu. Semua ini adalah karena pemahaman yang berbeda dari beberapa aspek aqidah yang berhubungan dengan Al-wala' wal bara' dan apa yang kemudian mengharuskan dalam hal takfir dan Irja'. Masalah kedua adalah bagaimana bertindak dan menangani keadaan umat sekarang bagi setiap mujahid di wilayahnya dan tanah airnya. Poin yang paling penting untuk Abu Mush'ab adalah sikapnya terhadap pemerintah Saudi dan metode untuk menangani dan mengatasinya dalam tinjauan hukum syar'i terkait dengan kekufuran dan iman." (Tajribati Ma'a Abi Mush'ab az-Zarqawi). Perhatikan bahwa Saiful 'Adl mencoba untuk mengecilkan pentingnya perbedaan-perbedaan ini.

(2) Catatan Editor: Kedua ikhwah tersebut merupakan kalangan sahabat tertua Syaikh az-Zarqawi. Semoga Allah membebaskan mereka dari penjara.

[3] Catatan Editor: Pernyataan Mulla 'Umar, sebagaimana juga pendukung dan imarahnya, merujuk pada kutipannya dalam artikel pada edisi ini berjudul "Al-Qa'idah Azh-Zhawahiri, Al-Harari, An-Nazhari dan Hikmah Yaman yang Hilang".

[4] Catatan Editor: Istilah ini memiliki arti "pelajar" dalam bahasa Pashto dan digunakan untuk merujuk pada kelompok mana pun yang terlihat sebagai "siswa/santri" walaupun mereka tidak masuk dalam satu lembaga atau bahkan mereka saling berperang satu sama lain.

[5] Catatan Editor: Kelompok ini tidak ada kaitannya dengan Anshar Al Islam Iraq.

[6] Catatan Editor: Lihat footnote sebelumnya.

[7] Catatan Editor: Para hakim Imarah bermadzhab Deobandi (Maturidi Hanafi). Mereka memiliki pemikiran irja' dalam menghukumi mata-mata "Muslim" yang murtad dengan membantu kuffar memerangi kaum Muslimin. Mereka juga mempunyai had yang kurang keras atas perbuatan keji ini (perbuatan sodomi) sebagaimana dibandingkan dengan madzhab fiqh lainnya. Pada hakikatnya, Tanzhim memaksa untuk mengembalikan persoalan ke Imarah hanya untuk mencegah hukuman mati terhadap pelaku. Atas dasar ini, penulis dan ikhwan-ikhwan lainnya meminta sebuah pengadilan yang diatur oleh Tanzhim yang independen, lepas dari Imarah.

[8] Catatan Editor: Dengan ini, Tanzhim tidak memiliki alasan lagi untuk tetap berada di bawah sayap Imarah karena mengelak untuk menyidangkan kasus tersebut secara langsung.

[9] Catatan Editor: Kesaksian ini dibuat oleh penulis sebelum diumumkannya Tanzhim cabang India. Lihat dalam edisi ini pada artikel "Al-Qa'idah Azh-Zhawahiri, Al-Harari, An-Nazhari dan Hikmah Yaman yang Hilang", karena berisi pernyataan dari Imarah –demikian yang dikatakan Tanzhim– bertentangan dengan apa yang disebut dengan "ekspansi" Tanzhim.

PENANGKAPAN PILOT PASUKAN SALIB YORDANIA, MUADZ KASASBEH

DABIQ 6 - LAPORAN

PENANGKAPAN PILOT PASUKAN SALIB YORDANIA, MUADZ KASASBEH

Pada hari Rabu 2 Rabiul awal 1436, seorang Pilot murtad terbang untuk misi aliansi tentara salib berhasil ditangkap oleh Daulah Islam setelah pesawatnya ditembak jatuh dengan rudal anti-pesawat pencari panas. Tembakan itu sukses menghantam target dan selanjutnya menjatuhkannya dengan izin Allah. Segala puji dan syukur hanya untuk-Nya saja. Rezim Jordania mengakui bahwa pesawat mereka jatuh tertembak, hanya dibantah oleh Amerika yang khawatir jika sekutu mereka akan berhenti berpartisipasi dalam serangan udara, di mana sekutu mereka takut akan rasa malu yang harus dihadapi jika tentara mereka juga akhirnya ditangkap oleh Daulah Islam. Ayah dan saudaranya kemudian memohon agar dia dibebaskan, mengklaim bahwa dia adalah seorang "Muslim tulus", tidak menyadari dia adalah seorang pembunuh murtad karena bantuan militernya untuk Taghut Yordania dan partisipasinya dalam perang salib yang menewaskan banyak orang Muslim.

Berikut ini adalah wawancara dengan orang murtad tersebut.

DABIQ: Ceritakan kepada kami tentang diri anda. Siapa nama anda? Dari mana asal anda? Dan berapa usia anda?

SI MURTAD: Namaku Mu'adz Safi Yūsuf al-Kasāsibah. Aku orang Yordania, dari al-Karak. Aku lahir pada tahun 1988. Aku berumur 26 tahun.

DABIQ: Apa posisi anda di angkatan udara murtad? Kapan anda mulai ikut pada jalan Kufur ini?

SI MURTAD: Aku adalah seorang pilot letnan satu. Aku lulus dari King Hussein Air College pada tahun 2009. Aku melanjutkan pelatihanku hingga menjadi pilot operasional pada tahun 2012 dengan skuadron pertama di Pangkalan Udara Muwaffaq al-Salti.

DABIQ: Ceritakan kepada kami tentang penerbangan yang menyebabkan penangkapan memalukan anda pada hari Rabu itu.

MURTAD: Kami diberitahu tentang misi ini sehari sebelumnya pada jam 4 sore. Peran kami dalam misi ini adalah menjadi tim penyapu dan melindungi jet penyerang. Kami menyapu daerah untuk menghancurkan persenjataan anti-pesawat di darat dan memberikan perlindungan dalam kasus apabila jet musuh muncul. Kemudian jet penyerang yang dilengkapi dengan rudal berpemandu laser datang untuk melaksanakan bagian mereka dari misi ini. Kami take off ke Irak dari pangkalan udara Muwaffaq al- Salti – di kota al-Azraq di wilayah Zarqa – pada pukul 6:15 pagi. Kami menerima pengisian bahan bakar di udara pada pukul 7:55, lalu pergi ke area tunggu di mana kita bertemu beberapa regu yang terdiri dari F-15 Saudi, F-16 Emirat, dan F-16 Maroko. Kami memasuki wilayah tersebut dari ArRaqqah untuk membersihkan daerah tersebut, setelah itu jet penyerang masuk untuk memulai serangan mereka. Pesawatku ditembak oleh rudal pencari panas. Aku mendengar dan merasakan benturannya. Pilot Yordania lainnya yang juga dalam misi ini – pilot letnan satu Saddam Mardini - menghubungiku dari jet yang juga ikut serta dan mengatakan kepadaku bahwa aku terkena tembakan dan ada api yang keluar dari belakang nozzle mesinku. Aku memeriksa system display dan menunjukkan bahwa mesin rusak dan terbakar. Pesawat mulai menyimpang dari jalur normal penerbangan, maka segera ejected. Aku mendarat di Sungai Furat dengan parasut dan kursi lontar yang menyangkut di beberapa daratan, membuatku tidak bisa bergerak, hingga kemudian aku ditangkap oleh tentara Daulah Islam.

DABIQ: Resim Murtad Arab mana saja yang ikut mengambil bagian dengan anda dalam serangan udara tentara salib?

SI MURTAD: Yordania dengan F16, Emirates dengan F16 yang telah diupgrade dilengkapi dengan bom berpemandu laser, Saudi dengan F15 upgrade yang dilengkapi dengan bom berpemandu laser, Kuwait dengan Pesawat pengisi bahan bakar udara (Aerial refueling aircraft), Bahrain dengan F16, Maroko dengan upgrade F16, Qatar, dan Oman.

DABIQ: Pangkalan udara apa yang digunakan oleh orang-orang murtad dalam perang salib ini?

MURTAD: Jet Yordania lepas landas dari Jordan. Jet Teluk pada umumnya lepas landas dari Kuwait, Saudi, dan Bahrain. Ada juga beberapa bandara yang ditunjuk untuk pendaratan darurat: Bandara Azraq di Yordania, bandara Ar'ar di Arab, Bandara Internasional Baghdad, Bandara Internasional Kuwait, dan bandara di kota Turki – yang namanya aku lupa – sekitar 100 kilometer dari perbatasan Suriah.

DABIQ: Dan tentara salib, pangkalan mana yang mereka gunakan?

MURTAD: Beberapa jet Amerika dan Perancis lepas landas dari Prince Hassan Air Base dan Muwaffaq al-Salti Air Base. Beberapa jet Amerika juga lepas landas dari Turki.

DABIQ: Bagaimana misi penerbangan dikoordinasikan?

SI MURTAD: Ada pangkalan Amerika di Qatar dimana misi direncanakan, menentukan target, dan pembagian tugas. Mereka membagi gambaran tugas misi untuk setiap negara peserta sehari sebelumnya. Pihak-pihak yang berpartisipasi diberitahu tentang tugas mereka pada pukul 04:00 keesokan harinya. Amerika menggunakan penembak jitu udara, satelit, mata-mata, dan drone yang lepas landas dari negara-negara Teluk untuk menentukan dan mempelajari target. Kita diberi peta udara dan gambar target.

DABIQ: Apakah Anda bertemu tentara salib Amerika?

MURTAD: Tentu saja. Ada sekitar 200 orang Amerika di Muwaffaq al-Salti Air Base. Di antara mereka, ada sekitar 16 pilot AS, salah satunya adalah perempuan, dan sisa dari 200 porsi itu bertugas sebagai teknisi, insinyur, dan tugas pendukung lainnya. Orang-orang Amerika kadang-kadang makan malam dengan kami dan makan mansaf, yang mereka banyak suka. Obrolan mereka tidak termasuk tentang rincian operasi karena masalah kerahasiaan dan keamanan.

DABIQ: Apakah ada salah satu pilot AS yang tewas ketika sedang menjalankan misi?

SI MURTAD: Pada awal Desember, salah satu dari mereka lepas landas dari Muwaffaq al-Salti Air Base ke arah Irak di mana banyak jet koalisi bergabung di udara untuk membentuk skuadron serangan. Dia diikuti oleh jet kedua yang lepas landas di arah yang sama. Landing gear jet kedua itu gagal untuk masuk kembali (ke badan pesawat) setelah lepas landas. Pilot meminta jet pertama untuk berbalik ke arahnya dan memverifikasi masalah. Pilot pertama mengkonfirmasi ada masalah dengan landing gear. Ada kabut tebal ketika itu dan salah satu jet jatuh di Yordania. Si Pilot meninggal karena kecelakaan ini.

DABIQ: Apakah Anda sudah melihat video yang diproduksi oleh Daulah Islam?

SI MURTAD: Tidak, aku belum melihatnya.

DABIQ: Kami akan memastikan sipir memberikan Anda kesempatan untuk melihat video "Walau Karihal Kafirun", Apakah Anda tahu apa yang akan dilakukan Daulah Islam kepada Anda?

MURTAD: Ya... Mereka akan membunuhku...

PEMBEBASAN BAIJI

DABIQ 6 - LAPORAN

PEMBEBASAN BAIJI

Hanya satu bulan setelah "kemenangan" melawan mujahidin yang banyak digembar-gemborkan di Baiji, pasukan Shafawi menemukan diri mereka dikejar-kejar dari kota yang mereka klaim telah dikuasai sepenuhnya. "Pembebasan sepenuhnya" satu bulan yang lalu, pada kenyataannya, hanya sedikit contoh dari bentuk kebohongan untuk mencoba menyembunyikan ketidakmampuan orang-orang Murtad yang didukung tentara salib. Mereka telah berhasil meraih beberapa keuntungan kecil di dalam kota dan berhasil menipu pendukung bodoh mereka untuk percaya bahwa mereka telah benar-benar mengusir para mujahidin.

Maka tidak mengherankan mereka bisa dikalahkan secara memalukan pekan lalu, di saat Daulah Islam membebaskan kota secara keseluruhan, yang tidak disorot oleh media internasional, yang malah memilih untuk fokus pada cerita Peshmerga Murtaddin yang bergerak "maju" di Sinjar... maju ke Jahannam...

Kota Baiji, terletak di sebelah utara Baghdad di atas Sungai Tigris, memegang nilai strategis karena berdekatan dengan kilang minyak. Pasukan kufur telah berulang kali mencoba untuk mengambil kendali penuh kota ini dan mengusir kembali Daulah Islam, tetapi terus-menerus gagal meskipun didukung oleh serangan udara Amerika.

Segera setelah pembebasan kota, ada laporan dan foto-foto yang diduga merupakan bala bantuan Shafawi yang akan dikirim ke daerah tersebut. Maka bergembiralah tentara Khilafah dan bersyukur kepada Allah, mereka bersiap untuk lebih banyak pertempuran, lebih banyak kemenangan, lebih banyak ghanimah, dan lebih banyak kesempatan -dengan izin Allah- untuk membalaskan dendam Ahlus Sunnah kepada Shafawi najis dan sekutu mereka...

MEMBONGKAR SEL KHAWARIJ

DABIQ 6 - LAPORAN

MEMBONGKAR SEL KHAWARIJ

Sungguh, di antara sunnatullah adalah menguji hamba-Nya untuk membedakan antara orang-orang yang baik dan orang-orang yang buruk.

“(Ini) agar Allah memisahkan (golongan) yang buruk dari yang baik.” (Al-Anfal: 37)

Dalam melakukannya, Dia akan memisahkan antara orang yang tulus dari yang tidak tulus, yang benar dari pendusta, orang yang beriman dari munafik, dan pasukan Allah dari musuh Allah. Selama ujian penyaringan (tamhish) ini, kita melihat beberapa kelompok yang condong ke arah satu sikap ekstrim sementara yang lain juga bersandar kepada sikap ekstrim lainnya dan jatuh ke dalamnya. Adapun Ahlus-Sunnah, dia tetap teguh di atas jalan pertengahan.

Daulah Islam telah berulang kali menjelaskan posisinya pada sejumlah isu yang telah menjadi sumber fitnah bagi banyak orang, yang sebagian mengikuti jalan ekstrim dari Khawarij, dan lain mengikuti jalan sangat longgar dari Murji'ah. Hal ini karena klarifikasi fakta adalah sunnah Allah dan Rasul-Nya.

“Dan Demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al-Qur'an, (agar terlihat jelas jalan orang-orang yang saleh) dan agar terlihat jelas (pula) jalan orangorang yang berdosa.” (Al-An'am: 55)

Dengan klarifikasi fakta, bagaimanapun. Inilah satu dan satunya cara untuk bisa mengungkap target penyimpangan. Fakta ini dibuktikan dengan ditemukannya sel Khawarij yang bersembunyi di dalam negeri Daulah Islam yang mana mereka berusaha untuk merekrut orang lain untuk masuk ke dalam kesesatan mereka. Di antara syubhat-syubhat yang mereka gunakan sebagai dasar untuk takfir mereka adalah bahwa Daulah Islam tidak menetapkan takfir atas masyarakat Sunni di Irak dan Syam, dan Daulah Islam menyatakan bahwa orang-orang Rafidah dihukumi dengan hukum Murtad, dan berbeda dengan kafir asli.[1]

Mereka kemudian merencanakan untuk menyerang para mujahidin Khilafah serta masyarakat Sunni, yang mereka anggap musyrik. Mereka diam-diam merekam diskusi rencana mereka dan menyebutkan niat mereka untuk mengkoordinasikan serangan mereka terhadap Daulah Islam dengan kemajuan potensial yang dibuat oleh tentara salib, FSA, dan PKK.

Sel itu kemudian disusupi oleh aparat keamanan Daulah Islam, para anggotanya kemudian ditangkap, dan sel dibubarkan dan dihukum menurut syari'at Allah. Semoga Allah terus memberikan kemenangan atas Daulah Islam dalam menghadapi orang-orang kafir dan mubtadi'ah (ahli bid’ah sesat).

Catatan :
[1] Ulama kontemporer berbeda pendapat tentang hukum sekte kafir yang ada selama beberapa generasi dan menganggap diri Islam, apakah mereka Murtad atau kafir asli. Beberapa ulama kemudian menganggap mereka kafir asli. Ulama terkenal pertama yang memegang pendapat ini adalah imam Ash-Shan'ani. Akan Tetapi, ulama sebelumnya seperti Ibnu Taimiyah menganggap sekte ini sebagai murtad. Maka dengan itu, ini juga adalah sikap resmi dari Daulah Islam sebagaimana dinyatakan oleh Syaikh Abu Umar al-Baghdadi rahimahullah dalam pernyataan audio-nya "Qul Inni 'Ala Bayyinah Min Rabbi." Putusan murtad pada Rafidah tidak berarti mereka pernah menjadi Muslim, melainkan bahwa mereka harus ditangani dengan lebih keras, karena berarti mereka harus masuk ke dalam Islam atau menghadapi pedang, berbeda dengan perlakuan yang harus dilakukan terhadap orang kafir asli yang kadang-kadang dapat dibiarkan tetap pada kekufuran mereka dalam keadaan tertentu (seperti dengan perjanjian, perbudakan, dll). Perbedaan dalam cara menghukumi keduanya dapat kita temui dalam kitab-kitab fiqh.

OPERASI DI WILAYAH BARU, SINAI DAN LIBYA

DABIQ 6 - LAPORAN

OPERASI DI WILAYAH BARU, SINAI DAN LIBYA

Setelah pengumuman ekspansi Khilafah untuk wilayah baru, para mujahidin di Wilayah baru mulai meningkatkan serangan mereka dalam memerangi orang-orang kafir dan Murtad.

Di Sinai, kita pertama kali melihat video yang dirilis yang menggambarkan bagaimana mujahidin di wilayah itu menargetkan dan melakukan pembalasan terhadap tentara murtad As-Sisi. Setelah itu, di Wilayah baru ini operasi militer terus dilakukan dengan berbagai serangan yang sukses dilakukan di seluruh bulan Muharram. Selain itu, mereka berhasil menargetkan dan membunuh seorang ahli minyak Amerika -William Henderson- di gurun barat, serta ditangkap dan dieksekusinya sejumlah mata-mata As-Sisi.

Di Libya, sementara itu, para prajurit Daulah Islam di Wilayah Barqah memulai peperangan terhadap orang-orang Murtad, mereka melakukan serangan terhadap barak militer di Benghazi. Pertempuran ini hanya sebagian contoh dari kedatangan badai yang dijanjikan untuk mengguncang para thaghut dan membersihkan tanah kaum Muslimin dari kekufuran dan penindasan mereka untuk selamanya, bi'idznillah.

MU'ASKAR SYAIKH ABU HAMZAH AL-MUHAJIR RAHIMAHULLAH

DABIQ 6 - LAPORAN

MU'ASKAR SYAIKH ABU HAMZAH AL-MUHAJIR RAHIMAHULLAH

"DAN PERSIAPKANLAH UNTUK MENGHADAPI MEREKA SEGALA APA YANG KALIAN MAMPU DARI KEKUATAN DAN DARI KUDA YANG TERTAMBAT, YANG DENGANNYA KALIAN MENGGENTARKAN MUSUH ALLAH DAN MUSUH KALIAN, DAN SELAIN MEREKA YANG TIDAK KALIAN KETAHUI DAN ALLAH MENGETAHUINYA" [AL-ANFAL: 60].

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Seorang mukmin yang kuat lebih baik dari mukmin yang lemah, dan ada kebaikan pada keduanya." [HR Muslim dari Abu Hurairah].

Dari petunjuk Allah dan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam, umat Islam didorong agar mempersiapkan diri (i'dad) untuk berjihad di jalan Allah untuk meneror musuh-Nya. Persiapan ini mencakup semua bidang yang relevan, termasuk i'dad fisik, taktik dan strategi, i'dad sumber daya dan logistik, dan yang paling penting i'dad ruhiyah. Kita dituntut untuk memanfaatkan dan mempersiapkan segala sarana yang tersedia bagi kita yang akan memberikan kontribusi pada tujuan berperang di jalan Allah dan membawa kemenangan bagi agama-Nya, namun bagaimanapun kita tetap meletakkan keyakinan kita (bertawakkal) kepada Allah semata. Sarana seharusnya tidak mengalihkan perhatian kita dari Allah.

"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu pasukan (musuh), maka berteguh hatilah dan sebutlah (nama) Allah banyak-banyaknya (berdzikir dan berdoa) agar kamu beruntung." [Al-Anfal: 45].

Karenanya, Daulah Islam telah membentuk banyak kamp-kamp pelatihan yang didedikasikan untuk menyediakan pelatihan tingkat dasar untuk mujahidin, termasuk fisik, taktik, senjata, dan daurah syar'i, sebelum mengirim mereka ke medan pertempuran atau menugaskan mereka ke dalam unit khusus untuk pelatihan yang lebih khusus.

Di sini akan kami berikan sekilas gambaran tentang Mu'askar Syaikh Abu Hamzah al-Muhajir Rahimahullah di Fallujah.

AL-QA'IDAH AZH-ZHAWAHIRI, AL-HARARI DAN AN-NAZHARI, SERTA HIKMAH YAMAN YANG HILANG

DABIQ 6 - ARTIKEL

AL-QA'IDAH AZH-ZHAWAHIRI, AL-HARARI DAN AN-NAZHARI, SERTA HIKMAH YAMAN YANG HILANG
Oleh : Syaikh Abu Maisarah Asy-Syami

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, dan kesudahan yang baik hanya bagi orang yang bertakwa, dan tidak ada permusuhan kecuali atas orang-orang yang zhalim. Dan shalawat serta salam atas penutup para Nabi dan Rasul; Muhammad, juga atas keluarga dan para shahabatnya seluruhnya. Amma ba'du.

Telah bersabda orang yang jujur lagi dipercaya (Rasul shallallahu alaihi wa sallam): "Telah datang para penduduk Yaman, mereka memiliki hati yang paling lembut, iman adalah Yaman, Fiqh adalah Yaman, dan Hikmah adalah Yaman." (Diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu)

Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata: "Renungkanlah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam "Iman adalah Yaman, fiqh adalah Yaman dan Hikmah adalah Yaman". Beliau bersabda memuji penduduk Yaman dan keutamaan mereka, bersaksi bagi mereka dengan fiqh dan iman, dan menisbatkan kepada mereka karena mereka telah mencapai batas tertinggi dalam fiqih, iman dan hikmah. Dan kita tidak mengetahui sekumpulan ulama manapun dari kalangan kaum muslimin yang paling sedikit bicaranya dari penduduk Yaman, yang paling sedikit perdebatannya dari mereka, baik salaf maupun khalaf, beliau menunjukkan bahwa ilmu dan fiqh yang terpuji menurut timbangan syari’at adalah ilmu tentang Allah yang melahirkan rasa cinta kepada-Nya, menghormati dan mengagungkan-Nya, dan keduanya ini dibarengi dengan ilmu yang juga dibutuhkan tentang perintah-perintah dan larangan-Nya, sebagaimana dahulu ulama-ulama penduduk Yaman, seperti Abu Musa Al-Asy'ari, Abu Muslim al-Khaulani, Uwais Al-Qarni dan selain mereka, tanpa menambah ilmu yang lebih dari itu, seperti tentang mengkomentari orang satu sama lain, atau banyak mencari aib manusia dan kesalahan mereka, (…) begitu juga banyak mencari ilmu-ilmu tambahan yang tidak bermanfaat dalam agama dan hanya menyibukkan dari Allah, membuat hati keras untuk mengingat-Nya, yang hanya mendorong pemiliknya untuk suka dengan jabatan dan popularitas di mata manusia, dan ini semua tidaklah terpuji, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat (diriwayatkan oleh Muslim dari Zaid), dan didalam hadits darinya, bahwasanya beliau bersabda: "Mintalah kepada Allah ilmu yang bermanfaat dan berlindunglah kalian kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat". (diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Jabir). Dan di dalam hadits lain, beliau bersabda: "Sesungguhnya di dalam sebagian ilmu ada kebodohan". (diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Buraidah). Dan bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak suka panjang berbicara dan banyak berkata-kata, tapi beliau suka mempersingkat kata, dan dalam hal ini banyak sekali hadits yang menyebutkannya, yang cukup banyak untuk disebutkan". (Majmu' Rasa'il Ibnu Rajab)

Dan beliau rahimahullah juga berkata : "Ibnu Mas'ud juga berkata: ‘Sesungguhnya kalian sekarang hidup di zaman yang banyak ulamanya dan sedikit khathibnya, dan kelak akan datang suatu zaman sesudah kalian yang sedikit ulamanya dan banyak khathibnya'. Maka siapa yang banyak ilmunya dan sedikit ucapannya maka dia terpuji dan siapa yang berlawanan dengan itu maka dia tercela, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersaksi untuk Ahli Yaman dengan iman dan fiqih, dan orang Yaman adalah manusia yang paling sedikit bicaranya dan luas ilmunya, karena ilmu mereka adalah ilmu yang bermanfaat yang ada di dalam hati mereka, sehingga mereka membahasakannya lewat lisan mereka dengan sekedarnya sesuai yang dibutuhkan, dan inilah yang disebut dengan fiqh dan ilmu yang bermanfaat". (Fadhlu 'Ilmi as-Salaf)

Setelah membaca "Fadhlu 'Ilmi as-Salaf 'Ala 'Ilmi al-Khalaf" karya al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah masih menggantung di benakku bertahun-tahun akan tulisannya "penduduk Yaman adalah manusia paling sedikit bicaranya", hingga kemudian aku menyaksikan di alam nyata dan dengan mata kepalaku sendiri saat bai'at terang-terangan dari mujahidin Jazirah Arab, Yaman, Sinai, Aljazair dan Libia dideklarasikan, dan yang paling pendek ucapan dari lima tempat ini adalah mujahidin Yaman, dan di dalamnya terdapat hikmah, fiqh dan iman, mereka membahasakan tentang keyakinan mereka dengan singkat dan ringkas. Aku berharap semoga Allah meneguhkan mereka di atas sumpah mereka hingga bertemu Allah dan Dia ridha terhadap mereka.

Berkata para Mujahidin Yaman: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan kabar gembira kepada kami akan kekhilafahan di atas minhaj nubuwwah, dan sungguh –demi Allah– kami telah menyaksikannya, sebuah khilafah di atas minhaj nubuwwah, dan di saat kami mendengar para terompet Yahudi dan Nasrani, yakni mereka para penyeru kepada pintu-pintu Jahannam, maka kami menjawab perintah Rasulullah untuk melazimi Jama'ah kaum Muslimin dan imam mereka, dan dari Hudzaifah "Radhiyallahu anhu" berkata: "Manusia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir dia akan mengenaiku…" dan di dalam hadits itu disebutkan: "…Apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan?". Beliau menjawab: "Ya, yaitu para da'i yang menyeru kepada pintu-pintu jahannam, siapa yang memenuhi seruannya maka mereka akan mencampakkannya ke dalamnya". Aku berkata: "Wahai Rasulullah, beritahu kami sifat-sifat mereka". Rasulullah menjawab: "Mereka berasal dari kulit yang sama dengan kita, dan berbicara dengan lisan kita". Aku bertanya: "Lalu apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku mendapati masa itu?". Rasulullah bersabda: "Engkau melazimi jama'ah kaum muslimin dan imam mereka". (Diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim)

Maka mereka mengetahui penyakitnya –berkelompok dan perpecahan– dan mengetahui obatnya – yakni persatuan dan jama'ah, mereka juga memahami (fiqh) bahwa persatuan yang dimaksud adalah dengan melazimi jama'ah kaum muslimin (khilafah) dan imam mereka (khalifah), bukan berkumpul dengan membentuk kelompok dan partai, mereka berucap dengan hikmah kenabian dan mengatakan sami'na wa atha'na (kami mendengar dan kami taat), tanpa sedikitpun ragu, bimbang dan merasa sombong.

Sedangkan yang lain mengatakan: "kami mendengar dan kami mengingkari dan masuklah ke dalam hati mereka semangat hizbiah dengan kesombongan mereka, lalu membuat-buat perkataan sebagaimana Bani Israel ketika diperintah untuk menyembelih seekor sapi, lalu mereka berkilah atas perintah dan larangan, sehingga mereka membuat hizbiyah "golongan" adalah tali Allah yang kita diperintah untuk berpegang teguh padanya, dan menjadikan khilafah adalah perpecahan yang kita telah dilarang darinya!

Dan beginilah penolakan Harits An-Nazhari terhadap tentara Daulah Islamiyah di Yaman dan terhadap imam kaum muslimin Khalifah Ibrahim (semoga Allah menjaganya, membimbing pandangannya, menepatkan tembakannya, dan mematahkan dengannya kekuatan orang-orang murtad, kaum salib, ahli bid'ah dan para bughat), An-Nazhari telah mengikuti Al-Jaulani dengan pujiannya yang penuh makar, Al-Harari dengan fitnah dan celaannya (yakni sebelum keduanya menampakkan sikap iri, dengki, permusuhan dan kebencian atas kami), Abu Abdullah Asy-Syami dengan banyak bicaranya, panjang perkataannya dan pembagian-pembagiannya, berfilosofi dan dengki, dan Azh-Zhawahiri dengan kontradiksinya... [1]

An-Nazhari tidak seperti tentara Yaman, bahkan dia sangat panjang dalam penjelasannya yang kosong, dan membawakan perkataan Khalifah dengan kemungkinan sangat buruk, bagian perkataan Amirul Mu’minin tentang masalah peleburan kelompok-kelompok dan situasi Yaman saat ini yang tidak lebih satu menit, ditanggapi oleh An-Nazhari dengan perkataan yang panjangnya setengah jam, mengikuti langkah Abu Abdullah Asy-Syami yang mengambil kitab Al-Kaba'ir dan menjadikan bab-babnya sebagai judul atas penjelasannya dalam menolong shahawat melawan Daulah Islam, seperti ini: Pertama, kedua, ketiga… kedelapan belas… pertama, kedua, ketiga… pertama, kedua, ketiga… dst.

Dan yang menyedihkan bahwa sebagian kata-katanya meneteskan darah, menandakan keburukan, dan mengandung kejahatan, seperti pada perkataannya: "Dan kami akan menuntut dari mereka tanggung jawab atas apa yang telah terjadi, berupa ta'ashub terhadap pendapat dan berlapang-lapang dalam ijtihad dari menumpahkan darah yang haram dengan hujjah perluasan dan melebarkan kekuasaan Daulah, dan kami tekankan bahwa tidak akan memulai permusuhan atau peperangan terhadap seorang muslim, dan kami tidak akan merampas kehormatan mereka dan harta mereka".

Aku katakan: "Seolah dia berkata; Daulah telah merampas kehormatan kaum muslimin". Sungguh kami heran terhadap sebagian orang yang lalai yang mengatakannya "Syaikh yang terhormat semoga dijaga Allah" dan lain-lain, dan lupa bahwa Al-Jaulani telah memulai perkataannya pertama kali pasca deklarasi Daulah Islam di Iraq dan Syam dengan pujiannya yang licik terhadap hak Amirul Mu’minin, tentaranya dan Daulahnya, bukan dengan kedengkian yang nyata ini, dan di antara yang dikatakan Al-Jaulani: "Allah telah memuliakanku dengan mengenal Syaikh Al-Baghdadi, seorang syaikh yang mulia yang telah memenuhi hak penduduk Syam, dan membayar hutang berkali-kali lipat".

Maka apabila pada permulaan An-Nazhari dengan kalimat-kalimat yang meneteskan darah, maka janganlah sekali-kali orang mengira bahwa akhir dari Nazhari akan menjadi lebih baik dari akhir Jaulani, kecuali jika Allah merahmati, kita memohon kepada Allah agar memberinya petunjuk, juga atas para sahabatnya, untuk berpegang teguh kepada imam.

Maka jatuhlah An-Nazhari ke dalam kontradiksi yang mengherankan. Di mana dia tetap pada afiliasinya kepada Amirnya; Azh-Zhawahiri yang tidak mengkafirkan orang-orang rafidhah pada asalnya, dan apabila Azh-Zhawahiri berfikir akan mengkafirkan mereka maka dia tidak akan mengkafirkan mereka kecuali dengan satu sebab: mereka menolong Amerika dalam memusuhi kaum Muslimin.

Azh-Zhawahiri berkata: "Sikapku terhadap orang Syiah awam seperti sikap para ulama Ahlus Sunnah [2], yakni bahwa mereka diudzur karena sebab kebodohan mereka. Adapun siapa yang ikut serta dari mereka, kepada pemimpin-pemimpin mereka dalam kerja sama bersama pasukan salib dan memusuhi kaum muslimin, maka hukum mereka ketika itu seperti hukum terhadap kelompok-kelompok yang melarang syari’at Islam [3]. Adapun golongan awam mereka, yang tidak ikut serta dalam permusuhan atas kaum muslimin, dan tidak berperang di bawah panji pasukan salib internasional, maka yang seperti ini, jalan kami kepada mereka adalah dengan dakwah dan menyingkap kebenaran, menjelaskan betapa jahatnya keburukan yang dilakukan oleh para pemimpin mereka kepada Islam dan kaum Muslimin". (al-Liqa al-Maftuh al-Halaqah al-Ula).

Azh-Zhawahiri juga tidak mengkafirkan sebagian Anshar thaghut, kecuali para petugas yang ikut menyiksa kaum muslimin di sebagian departemen keamanan Negara, di mana dia berkata: "Para petugas keamanan pemerintah bagian yang memerangai aktifitas agama, yang memeriksa masalah keislaman dan menyiksa kaum muslimin, aku berpendapat mereka adalah kafir secara ta'yin, mereka ini lebih banyak mengenal pergerakan islam lebih dari anggota-anggota lainnya. Dan diperbolehkan membunuh petugas keamanan Negara dan seluruh anggota kepolisian baik yang engkau kafirkan secara ta'yin atau engkau kafirkan secara umum, apabila hal itu termasuk dalam operasi perang yang dengan mengincar mereka sebagai sarana membentuk kerusakan dan ada maslahat jihad, ini karena para kelompok murtad yang menghalangi akan diperangi sebagai satu kesatuan. Dan dibolehkan untuk membunuh siapa yang lari dari mereka dan menghabisi siapa yang terluka dari mereka. Dan ini adalah pembunuhan terhadap seseorang yang tidak diketahui keadaannya secara inidividu, dan karena mencari kejelasan dari keadaan satu orang ini adalah hal yang maqdur ‘alaihi "mungkin dilakukan" sedangkan atas keseluruhan mereka tidak mungkin dilakukan, dan tidaklah kewajiban jihad defensif yang fardhu ‘ain akan dibatalkan lantaran mencari kejelasan keadaan mereka". (al-Liqa al-Maftuh al-Halaqah al-Ula)

Dan dia berkata: "Takfir terhadap tentara dan institusi keamanan memiliki rincian, dan pandanganku adalah; bahwa aparat penyidik di dinas keamanan Negara bagian kontra-aktifis agama dan yang semisalnya, yang menyidik kaum muslimin dan menyiksa mereka, adalah kafir secara ta'yin. Dan yang menjadi perbedaan pendapat adalah dalam masalah yang sangat sedikit, terbatas pada masalah pribadi seperti nikah dan warisan. Adapun dari sisi aplikasi, maka tidak ada perbedaan antara dua pendapat ini dalam hukum memeranginya, perbedaan dalam masalah ini terdapat kelapangan". (al-Liqa al-Maftuh al-Halaqah al-Ula)

Menyembah kubah-kubah dan menolong undang- undang –menurut Azh-Zhawahiri– tidak akan mengkafirkan seseorang, adapun menyiksa kaum muslimin dan memusuhi mereka, menolong tentara salib atau bergabung dengan "dinas kontra-aktifitas agama" adalah hal lain…

Maka bagaimana An-Nazhari mengkafirkan rafidhah dan tentaranya tanpa rincian Azh-Zhawahiri?[4] Apakah dia akan mendurhakai amirnya yang telah 'membelanya' karena menganggap tidak ada penyimpangannya![5] Maka bagaimana dia menyeru untuk memerangi Hautsi yang berarti menyelisihi arahan dari Azh-Zhawahiri yang telah memerintahkan untuk tetap beriltizam dengannya dan yang dengannya membuat kejahatan Hautsi menjadi gawat dan menjadi thaghut baru di Yaman.

Hakikat sebenarnya bahwa strategi yang diikuti dalam "Taujihaat 'Aammah lil 'Amal al-Jihadi" (karya Azh-Zhawahiri) dibangun di atas pembedaan antara dua jenis kelompok dan individunya walau beliau mengatakan bahwa tidak ada perbedaan dalam perlakuan menurut dua pendapat ini, maka apabila seseorang memperkirakan adanya 'muslim' pada suatu kelompok, maka akan meluas bagi mereka lingkaran udzur karena mencakupnya kebodohan dalam pokok agama, sehingga ini akan memaksa, cepat atau lambat, untuk "berhati-hati" dan "khawatir", sehingga dia tidak akan menargetkan orang-orang murtad karena takut akan membunuh "orang yang mereka anggap muslim". Ini sangat jelas dalam sebagian statemen dan kalimatnya, seperti perkataannya: "Dan apabila ada suatu kelompok yang menisbatkan diri kepada Islam dan dalam posisi yang sulit dan ikut berperang bersama musuh kafir, maka dia dilawan dengan sebisa mungkin meminimalisir permusuhannya, demi menutup pintu fitnah antara kaum muslimin, atau menimpakan bahaya terhadap siapa yang tidak ikut serta bersama musuh". (Taujihaat 'Aammah lil 'Amal al-Jihadi)

Dan aqidah ini –yang pada awalnya tidak melihat adanya perbedaan antara takfir dalam lingkup kelompok dan takfir secara ta'yin– akan terlihat pengaruhnya secara praktik dalam siasat perang, tidak seperti yang disangka sebagian orang yang menggampangkan bahwa siasat tanzhim murni hanya strategi militer saja, namun hakikatnya sesungguhnya mereka khawatir untuk membunuh siapa yang dikhawatirkan bahwa dia muslim: tentara thaghut atau rafidhah majusi!

Dan telah memberitahuku seorang yang tsiqah di Yaman, bahwa An-Nazhari pernah berdebat tentang orang-orang Houtsi dan dia tidak memastikan takfir mereka, karena mereka adalah "zaidiyah", kemudian setelah banyaknya penolakan, dia mulai mengatakan bahwa mereka adalah "thaifah mumtani'ah, kelompok membangkang" tanpa mengkafirkannya, kemudian mengkafirkannya –tapi tidak secara ta'yin– karena perlawanan mereka bukan karena syirik akbar atau karena mereka mengkafirkan para shahabat "karena ada kemungkinan kebodohan pada individu mereka!", dan ini adalah pendapat kebanyakan "pemimpin syar'i senior" tanzhim di Yaman, karena itulah kebanyakan mereka menghindari untuk menjadikan target orang -orang Houtsi kecuali setelah kejahatan mereka semakin gawat akhir-akhir ini, mereka menguasai negeri dan menumpahkan darah orang-orang. Para tentara Ali Abdullah Shalih dan Abdu Rabbuh, menurut mereka, adalah di antara orang yang perlu ditakwil atau terpaksa atau murtad, dan tidak memerangi mereka dengan sebab mereka menolong thaghut yang berhukum dengan hukum buatan manusia, namun karena mereka membantu Salibis memerangi kaum muslimin saja, mereka menganggap bahwa syubhat pada sebab kedua lebih lemah, dan ini sama dengan manhaj Azh-Zhawahiri: menyiksa kaum muslimin dan menolong pasukan salib adalah kekufuran dan tidak diudzur, "dan di dalam taujihatnya; diudzur jika kelompok ini menisbatkan diri kepada Islam", adapun penyembah orang mati dan menolong thaghut adalah kekufuran dan kebodohan maka diudzur. Dan sebab penyimpangan ini adalah tidak terlarangnya bagi mereka untuk bekerja sama dengan kelompok "shahawat" (seperti partai Ishlah dan Hajuriyah) dalam melawan Houtsi… di jalan Allah! Mereka mengira… dan melebarnya kerjasama ini yang menyebabkan Jabhah Jaulani akhir-akhir ini seperti ini keadaannya, di mana mereka mengembangkan kerjasama menjadi ketundukan dan mengasihi, berdamai hingga membantu Shahawat Salul "Jabhah Islamiyah" dan SNC [6] melawan Daulah Islam…

Dan di antara yang sampai kepadaku juga dari orang yang tsiqah di Yaman, bahwa "Anshar Syari'ah" di propinsi Al-Jauf berperang bersama dengan tentara murtad (tentara Arab Spring, tentara Abdu Rabbuh) dan Ikhwanul Muflisin melawan Houtsi, bahkan mobilisasi pasukan di garis pertempuran menggunakan kendaraan tentara Murtad dan kendaraan lapis baja mereka, bahkan perbekalan mereka, amunisi dan makanan berasal dari markas-markas tentara murtad… Wallahul Musta'an… (Dan sampai juga kabar kepadaku dari ikhwan yang tsiqah bahwa komando tanzhim di Yaman menyesal atas periode tamkin yang mereka atur di dalamnya di wilayah-wilayah yang telah mereka kuasai di Abyan dan sekitarnya sebelum satu tahun, bahkan sebagian mereka mengatakan: "Seandainya kita lebih memperbanyak harta dan usaha untuk mengatur wilayah ini dalam perekrutan dan membeli senjata, tentu akan lebih baik bagi kita", mereka jatuh ke dalam kebimbangan antara jihad defensif dan tamkin parsial yang telah Allah anugerahkan kepada mujahidin untuk menegakkan syari’atnya).

Kembali kepada An-Nazhari yang telah dibutakan oleh kedengkiannya, sehingga tidak dapat memahami maksud ucapan Amirul Mu’minin hafizhahullah : "Sesungguhnya kaum rafidhah adalah umat yang terkalahkan, seandainya mereka mendapati dari kalangan muwahhidin orang yang melawan mereka, tentu kejahatan mereka tidak akan semakin buruk".

Maka aku katakan, dengan memohon pertolongan Allah, maksudnya adalah, seandainya mereka, yakni orang-orang Rafidhah, mendapati dari kalangan muwahhidin orang yang memerangi mereka, tidak berpegang kepada siasat Taujihat Ammah lil 'Amal al-Jihadi tentu kejahatan mereka tidak akan semakin buruk, dan beliau tidak menafikan adanya pertempuran dalam bentuk "Zhawahiri" yang memperlakukan Houtsi bahwa mereka adalah kelompok muslim, mereka diperangi dengan seminimal mungkin sekedar untuk menolak permusuhan mereka, yakni: sekedar melawan, tanpa sikap keras dan kasar di dalamnya, tidak dikejar siapa yang lari dari mereka, tidak dihabisi yang terluka dari mereka, dan tidak dieksekusi orang yang tertawan dari mereka, dan tanpa menyerang kelompok mereka dengan skala yang besar, Wallahul Musta'an…

Dan di saat An-Nazhari keluar dari pendapat ini dan memberikan takfir atas Houtsi, pendorong utamanya adalah siasat politik, dia terpaksa untuk menyelisihi amirnya; Azh-Zhawahiri dengan takfir itu, karena dia tahu bahwa tentaranya tidak akan mengikutinya jika dia terus menerus memegang pandangan bathil yang menyebabkan memburuknya kejahatan rafidhah dan menyebarnya sekulerisme…

Dan apabila datang seseorang yang mengkritisi dengan membawa perkataan-perkataan lama milik sebagian komandan mereka atau kalimat sebagian syuhada mereka yang mulia, atau mengingatkan operasi terdahulu melawan orang-orang murtad yang dijalankan sama dengan cara Daulah Islam, yang kemudian diberhentikan secara tiba-tiba sehingga orang-orang murtad berhasil menguasai pemerintahan di Yaman. (Dan juga telah sampai kabar kepadaku dari ikhwan yang tsiqah di Yaman bahwa sebagian operasi yang berani ini merupakan ijtihad pribadi tanpa keridhaan qiyadah, dan orang yang memerintahkannya mendapat hukuman ta'zir, tapi tanzhim dengan terpaksa harus mengklaim bertanggung jawab), maka aku akan katakan: "Setelah dimulainya Arab Spring dan sebagian pemimpin Al-Qa’idah yang mulia syahid, keluarlah arahan dan siasat yang tidak bijak dari Azh-Zhawahiri, (Adam Ghodahn) Al-Amriki, Al-Basya dan Hussam Abdurra'uf (penulis buku "Lau Kuntu Makana Mursi wa Qa'adtu Alal Kursi, Andai Aku di Posisi Mursi dan Aku Duduk di Atas Kursi Presiden") di Khurasan, An-Nazhari dan yang semisalnya di Yaman memperlihatkan apa yang selama ini mereka sembunyikan di dalam hati mereka dari hawa nafsu selama bertahun-tahun, maka terjadilah kecocokan, dan dijalankanlah taujihat Azh-Zhawahiri dengan sepenuhnya, hingga menjadikan Yaman di bawah kaki Rafidhah dan thaghut baru. Wallahul Musta'an…

Dan perlu diketahui, keluarnya pernyataan "Al-Munasharah, Pertolongan" dari Al-Qa’idah Yaman untuk Daulah Islamiyah, tidak lain karena disebabkan banyaknya penolakan dari para tentara dan amir (tidak termasuk jajaran level tertinggi) atas 'kenetralan' Al-Qa’idah Yaman dan "Zhawahiriyah", dan ketika dibentuk wilayah dengan koordinasi dari Daulah –dan itu sebelum deklarasi resmi tentang wilayah baru dan diketahui tanzhim di Yaman di mana telah dikabarkan tentang proyek ekspansi– para ahlul manhaj bersegera memberikan bai'at kepada Daulah, lalu sebagian orang yang mudzabdzab (yang bimbang) ingin melepaskan bai'at dari Daulah karena tujuan tertentu dalam diri mereka, tapi dengan syarat tanzhim Yaman mau membebaskan Daulah dari tuduhan ghuluw dan menolongnya dalam berperang melawan pasukan salib dan menetapkan kesyar'iannya hingga tidak terjadi ketidak-enakan di hadapan pengikut mereka, maka komando tanhzim di Yaman pun menulis pernyataan Al-Munashir yang terakhir (sebelum statemen An-Nazhari), padahal pernyataan sebelumnya pura-pura tidak tahu akan adanya Daulah Islamiyah di tengah-tengah kancah besar perang di Iraq dan Syam, dan pada sebagiannya mengkritik juru bicara resminya; Syaikh Al-Adnani dengan hinaan dan celaan secara tidak langsung setelah dia menjelaskan penyimpangan manhaj Azh-Zhawahiri, dan pada sebagiannya memberikan tarahhum (ucapan rahimahullah) atas orang murtad dari Shahawat Salul (para komandan Ahrar Syam), lalu mengapa Tanzhim tidak memberikan tarahhum atas Abu Abdurrahman Al-Bilawi, Abu Bakar Al-Iraqi dan Abu Usamah Al-Maghribi rahimahumullah?

Dan terakhir, semoga Allah tidak memberkahi bai'at Al-Qa’idah kepada Mulla Umar, maka apakah Mulla Umar yang telah mendoakan Hamad dan Tamim Al Thani (Raja Qatar, pent), dan "menasehati" para pemerintah muslim (para Thaghut) dengan lisannya dan lisan imarahnya… Apakah dia membolehkan operasi di luar batas negara Afghanistan modern melawan "para pemimpin muslim", "Negara tetangga" atau "Negara-negara sewilayah" atau "Negara-negara dunia"? Atau apakah dia justru mengingkari proyek apapun untuk melakukan operasi di luar Afghanistan demi menenangkan "masyarakat Internasional"? Lalu bagaimana imarahnya mengajak kepada hubungan bilateral dilandasi rasa saling menghormati dan bertetangga yang baik dengan India, kemudian datanglah Azh-Zhawahiri dan mengumumkan cabang Tanzhim Al-Qa’idah di India? Dan imarah Afghannya mengajak untuk berhubungan yang baik dengan Iran Rafidhah, dan An-Nazhari menyeru untuk memerangi Rafidhah? Apakah pengakuan bai'at kepadanya berasal dari hikmah Yaman atau karena semangat hizbiyah Jahiliyah? Maka tinggalkanlah dia, karena busuk baunya…

Jika tidak –maka demi Allah– mereka akan menjadi seperti segolongan manusia dari Bani Israil, sungguh telah datang kepada mereka khilafah di atas manhaj kenabian dan bersamanya orang-orang yang terpisah dari kabilah mereka –orang-orang yang berhijrah ke tempat hijrahnya Ibrahim–, malaikat telah membentangkan sayapnya kepada mereka dan daulah mereka… Namun mereka menolaknya… dan berjalan menuju lembaran sampah sejarah… kecuali jika Allah menghendaki…

Hanya kepada Allah tempat meminta pertolongan, hanya kepada-Nya bertawakal, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya, dan Dia cukup bagi kami dan sebaik-baik penolong...

Catatan kaki :

[1] Azh-Zhawahiri telah menyeru untuk berbai'at kepada Daulah Islam ketika didirikan di Iraq, tapi kini dia termasuk yang paling keras penolakannya terhadap Daulah Islamiyah.

[2] Posisi yang dia klaim tidak tepat jika disandarkan kepada Ahlus-Sunnah. Pertama; karena jumhur ulama Ahlus-Sunnah telah memberikan takfir terhadap Syiah Rafidhah secara ta'yin. Syaikh Abu Mush'ab Az-Zarqawi rahimahullah berkata: "Pernyataan kaum salaf yang menjelaskan akan kafirnya Rafidhah sangat banyak. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Imam Ahmad rahimahullah apa yang diriwayatkan oleh Imam Al-Khallal dari Abu Bakar Al-Marrudhi, dia berkata, dia bertanya kepada Abu Abdillah (Ahmad bin Hanbal) tentang hukum orang yang mencela Abu Bakr, Umar dan ‘Aisyah. Beliau menjawab; "Menurutku dia tidak lagi di atas Islam" (…) imam Ahmad ibnu Yunus, yang dipuji oleh Imam Ahmad bin Hanbal, ketika beliau berkata kepada seseorang; "Pergilah kepada Ahmad ibnu Yunus, karena dia seorang Syaikhul Islam". Beliau berkata: "Jika ada seorang Yahudi menyembelih seekor kambing dan seorang rafidhi menyembelih seekor kambing, aku akan memakan kambing sembelihan Yahudi dan tidak akan memakan daging sembelihan Rafidhi, karena seorang rafidhi itu murtad dari Islam". (Hal Ataka Haditsur Rafidhah). Dalam pesan yang berbeda, Syaikh Az-Zarqawi juga mengutip pendapat Imam Malik, Asy-Syafi'i, Al-Bukhari, Al-Firyabi, Al-Lalika'I, Ibnu Hazm, As-Sam'ani dan lain sebagainya dari kalangan salaf, khalaf dan ulama kontemporer untuk mendukung sikapnya terhadap Rafidhah.

Kedua; kebodohan bukanlah udzur yang diterima. Imam Muhammad ibnu Abdul Wahhab rahimahullah berkata; "Apa yang engkau sebutkan (…) tentang keraguanmu akan kondisi para thaghut ini dan pengikutnya, dan apakah hujjah telah ditegakkan atas mereka atau tidak, maka ini sangat aneh! Bagaimana engkau masih bisa ragu padahal aku telah menjelaskannya berkali-kali? Bagi seseorang yang hujjah belum ditegakkan karena dia baru masuk Islam, atau yang dibesarkan di tempat yang jauh dan terpencil, atau karena masalahnya masih samar (…) maka vonis kafir tidak bisa dijatuhkan kepada orang seperti ini hingga dia diberi tahu akan masalah ini. Sedangkan dalam masalah pokok agama, dimana Allah telah menjelaskan dan menerangkannya di dalam kitab-Nya, maka hujjah Allah adalah al-Qur'an, maka atas siapapun ketika Al-Qur'an telah sampai padanya, maka hujjah telah sampai padanya. (Ar-Rasa'il Asy-Syakhshiyah). Beribadah kepada Allah saja merupakan masalah pokok agama (ushulud dien) yang telah Allah jelaskan di dalam Al-Qur'an, bukan suatu yang samar sehingga seorang muslim tidak mungkin bodoh akannya. Maka ketika orang Rafidhah menyembah kuburan, mendustakan Al-Qur'an, melaknat istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam maka bagaimana bisa seseorang menganggap mereka adalah "muslim awam"?

[3] Catatan: Sebagian 'Jihadis' senior tidak menghukumi murtad para kelompok yang menentang ushul syari'at "al-hakimiyah" apalagi tentang kelompok yang menentang sebagian dari hukum syari’at! Di antara mereka adalah para pemimpin Jama'ah Islamiyah di Mesir, yang disifati oleh Azh-Zhawahiri, setelah mereka masuk ke dalam praktek demokrasi, dengan sebutan "Para saudara yang mulia… saudara semanhaj, seaqidah dan seujian…" dan yang tampak dari perkataan Azh-Zhawahiri di atas bahwa dia mengkafirkan kelompok penentang pokok syari’at tidak secara ta'yin, sedangkan pandangannya pada kelompok penentang atas sebagian dari hukum syari'at, maka intisari yang disimpulkan dari berbagai pandangannya dalam takfir; bahwa dia tidak mengkafirkannya… adapun madzhab salaf sudah jelas dan gamblang, sesungguhnya para shahabat telah sepakat (ijma') atas kekafiran orang-orang yang menolak membayar zakat –dan zakat adalah sebagian dari syari'at– dan para Shahabat memerangi mereka karena kemurtadan mereka… Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: "Dan para shahabat tidak mengatakan; "Apakah kalian mengakui kewajibannya atau karena membangkang?" ini tidak dilakukan oleh para Khulafa'ur Rasyidin dan para Shahabat, bahkan Abu Bakar Ash-Shiddiq mengatakan kepada Umar radhiyallahu ‘anhu; "Demi Allah, seandainya mereka menolak untuk memberikan kepadaku seutas tali atau seekor anak kambing yang dahulu biasa mereka tunaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentu aku akan memerangi mereka lantaran penolakan mereka!". Maka dia menjadikan hal yang membolehkan mereka diperangi adalah penolakan, bukan pengingkaran kewajiban, karena telah diriwayatkan bahwa sebagian kelompok dari mereka mengakui akan wajibnya namun mereka menolak karena bakhil, dan meski demikian, maka kisah para khalifah terhadap mereka ini satu, yakni membunuh mereka yang berperang, menyandera keluarga mereka, menjadikan ghanimah harta mereka, dan bersaksi bahwa orang yang terbunuh dari mereka adalah di neraka, dan mereka menamai orang-orang ini dengan orang yang murtad." (Ad-Durar As-Saniyah 9/418)

[4] Azh-Zhawahiri membedakan antara kelompok dan individu dalam penamaan kufur dan sebagian hukum-hukumnya, pembedaan ini menyelisihi ijma' salaf dalam hak kelompok -kelompok yang bersatu di atas kekafiran, seperti penolong kubah-kubah dan undang-undang. Syaikh Abu Jandal al-Azdi (semoga Allah membebaskannya) mengatakan; "Para Shahabat sepakat atas kafirnya setiap pengikut dan penolong Musailamah al-Kadzdzab dan Thulaihah Al-Asadi, begitu juga mereka telah sepakat atas kafirnya orang yang enggan membayar zakat dan memperlakukan mereka dengan satu perlakuan, yakni menjadikan harta mereka sebagai ghanimah, memperbudak wanita-wanita mereka, dan bersaksi bahwa yang terbunuh dari mereka adalah di neraka, dan ini adalah takfir dari mereka secara ta'yin". (Al-Ayat wal Ahadits al-Ghazirah 'Ala Kufri Quwwati Dar'i Al-Jazirah)

Maka setiap individu dari kelompok ini, "Kita hukumi mereka bahwasanya mereka kafir secara ta'yin, dan kita memberlakukan atas mereka segala hukum kufur, seperti wajibnya bara' dari mereka, haramnya memulai mengucapkan salam kepada mereka, haramnya seorang muslimah menikah dengannya, tidak menshalati jenazahnya, dan larangan menguburkannya di pekuburan kaum muslimin, dan halal darahnya baik di medan perang atau selainnya." (Dikatakan oleh Syaikh Abdul Aziz Ath-Thuaili'i fakkallahu asrah), perbedaan sikap antara pandangan Azh-Zhawahiri dan Daulah tampak jelas dalam sikap keras dan kasar yang disertakan dalam siasat perang dan wasilahnya.

Adapun jika kemurtadan terjadi pada kepala suatu kelompok islam, yang kelompok ini berkumpul di atas suatu amal syar'i, seperti jihad di jalan Allah misalnya, maka membedakannya terkadang memiliki sisi kebenaran pada permulaannya, hingga ditegakkan hujjah atas para anggota kelompok itu "yang bodoh tidak tahu keadaan komandannya setelah diganti", namun mereka tetap diperangi secara umum karena keengganannya hingga tidak terjadi fitnah dan dien itu hanya untuk Allah.

[5] Azh-Zhawihiri tidak menjatuhkan takfir atas orang-orang ‘Islamis' yang masuk parlemen dan orang-orang Rafidhah Majusi.

[6] "Jaisyul Mujahidin", "Jabhah Tsuwar Suriya", "Liwa Tsuwar Ar-Raqqah", Dewan militer FSA (yang kemudian membentuk Misymisy misalnya…) semuanya didukung dan berhubungan dengan murtadin Syrian National Council (SNC). Lihat sebagai contoh, halaman 25 majalah Dabiq edisi 2 tentang hubungan "Jaisyul Mujahidin" dan menteri pertahanan SNC.

[7] Imarah mengatakan: "Imarah Islam Afghanistan menyerukan kepada pemimpin-pemimpin kaum muslimin di Negara-negara ini untuk bergabung di dalam koalisi Islami untuk membela Masjid Al-Aqsha sebagai ganti dari membela kepentingan AS, dan memikul beban tanggung jawab Islami dan moral dalam rangka melawan kejahatan Yahudi atas kiblat pertama umat Islam. Para pemimpin Negara-negara Islam hendaknya meninggalkan perselisihan antar sesama, dan mengambil tanggung jawab untuk membela Masjid Al-Aqsha." (Bayan Imarah Afghanistan al-Islamiyah Haula I'tida' al-Ihtilal Ash-Shuhyuni 'Ala al-Masjidi Al-Aqsha)

Dan berkata Mulla Umar: kami juga sangat berterimakasih secara khusus kepada yang mulia Emir Negara Qatar, Syaikh Tamim bin Hamad bin Khalifa Al Thani, yang telah mencurahkan usahanya yang penuh ikhlas, dan berperan sebagai mediasi yang sukses, dalam rangka pembebasan para komandan dan menjamu mereka, aku mengharap kepada Allah untuk menggantikan baginya yang lebih baik di dunia dan pahala yang besar di akhirat. Sebagaimana aku kepada Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Kuasa semoga membebaskan semua tahanan kami, para penduduk yang dizhalimi seperti para komandan itu, yang dipenjara dalam rangka memerdekakan negeri, dan berkhidmat untuk dien.

Imarah juga mengatakan: "Dan sangat penting kami sebutkan, kami menghaturkan rasa terimakasih dan penghormatan kepada Negara- Saudara Qatar, dan kepada yang mulia emirnya yang agung, Syaikh Hamad bin Khalifah Alu Thani –hafizhahullah– yang telah setuju atas pembukaan kantor politik bagi imarah Islam di negerinya, dan banyak memberikan kemudahan yang berkenaan dengan itu". (Statemen seputar dibukanya Biro Politik Emirat Afghanistan di negara Qatar)

[8] Mulla Umar melarang niat apa pun untuk beroperasi atau ekspansi keluar batas Negara Afghanistan modern yang digariskan oleh kaum Salibis, dan klaim bahwa cabang-cabang Al-Qa’idah telah berbai’at atasnya adalah kebatilan paling bathil.

Dan di antara yang dikatakan oleh Mulla Umar adalah: "Imarah Islam Afghanistan sangat senang untuk membangun hubungan baik bersama dunia internasional, terutama dengan dunia Islam dan Negara-negara tetangga dalam suasana saling menghormati, saling memberi manfaat dalam naungan pengajaran Islam dan kemaslahatan negeri, dan tidak akan mencoba ikut campur terhadap masalah Negara lain, sebagaimana tidak mengizinkan siapapun untuk ikut campur di dalamnya. Dan imarah Islam akan menjamin ketenangan internasional bahwa dia tidak akan mengizinkan siapa pun untuk mengguankan wilayahnya untuk melawan Negara lain, dan mengumumkan kepada semua bahwa dia menghormati semua undang-undang dan perjanjian internasional dalam timbangan ajaran agama Islam dan kemaslahatan Negara. Kami mengucapkan selamat kepada pemerintahan-pemerintahan pasca revolusi, dan juga kepada bangsa Arab dengan kehidupan dan suasana yang baru, kami berdoa dengan kemajuan di masa depan yang gemilang dan terjaganya ajaran Islam dalam kehidupannya". (Statemen Bertepatan dengan Hari Raya Idul Fithri 1433 H)

Imarah juga mengatakan: "Sesungguhnya Imarah Islamiyah benar-benar ingin bekerjasama secara bilateral dan saling menghormati sesama dengan dunia internasional dan Negara-negara sekawasan, dan Imarah tidak akan membuat bahaya kepada siapapun sebelumnya, dan tidak akan membuat bahaya kepada siapapun sekarang dan di masa depan, sebagaimana tidak akan mengizinkan bagi siapapun untuk menggunakan kawasan Afghanistan untuk melawan siapapun". (Teks Deklarasi Imarah Afghanistan pada Muktamar pembahasan yang diadakan di Perancis)

[9] Telah berkata Juru bicara resmi Imarah: "Akhir-akhir ini muncul dari Negara-negara sekitar –India, China, Rusia– kekhawatiran jika pasukan Amerika ditarik dari Afghanistan dan meninggalkan kawasan maka Negara-negara ini akan mengalami ketidak-stabilan, Negara-negara kawasan ini akan mendapatkan berbagai ancaman dari Afghanistan. Kami anggap kecemasan ini adalah efek negatif dari berbagai pemberitaan media informasi yang dikendalikan intelijen barat. Kami berharap dari Negara-negara kawasan agar kebenaran tersingkap dengan sendirinya dan jelaslah hakikat kebenaran dan kenyataan secara gamblang. Imarah Islam dengan sifatnya yang jelas akan memegang tanggungjawab untuk memberikan ketenangan bagi semua, bahwa dia tidak akan terjadi bahaya dari Afghanistan ke Negara mana pun dari Negara-negara di wilayah atau Negara tetangga, kami mencari keamanan untuk Negara kami dan juga untuk Negara-negara di wilayah". (Dikutip dari juru bicara Imarah Islam seputar kekhawatiran sebagian Negara di wilayah itu)

[10] Imarah berkata: Dan berangkat dari masalah ini, di bawah timbangan politik luar negeri yang logis dan seimbang, Imarah Islam ingin mengadakan hubungan diplomatik yang dibangun di atas pondasi saling menghormati, persamaan, tidak ikut campur urusan dalam negeri Negara sekawasan dan dunia internasional lainnya, dan berusaha memperluas batas hubungan politiknya, dan meluas hingga ke Negara-negara lainnya, dan sesungguhnya hubungan kami dengan Negara Islam Iran merupakan rangkaian dari ini semua. Iran meminta dan mengundang, dan berangkatlah pimpinan biro politik Imarah Islam bersama utusan yang menemaninya, dan pembicaraan positif pun berlangsung dengan para pemimpin Iran, semua ini membuktikan dengan jelas akan politik luar negeri Imarah Islam yang sensible, damai, independen, dan seimbang, dan juga utusan ini beruasaha untuk memperbaiki hubungan bilateral, dan mendiskusikan tentang masalah imigran Afghan dan problematikanya, dan semua ini menegaskan akan tujuan utama dan terpenting dari diadakannya hubungan dengan dunia interna- sional adalah demi memenuhi kebutuhan masyarakat Afghan dan tujuannya, merealisasikan kemashlahatan utama Negara, tidak yang lain. Sesungguhnya Iran adalah Negara Islam, dan dia memiliki perbatasan langsung dengan Afghanistan, dan di sana ada dua juta lebih imigran Afghan, dan dia negeri yang kaya akan minyak, dan menikmati perekonomian yang baik, memiliki wilayah dataran dan pantai, sehingga dia adalah Negara penting baik di tingkat wilayah maupun internasional, inilah beberapa sisi yang mendekatkan dua Negara ini, bahkan memaksa keduanya untuk memiliki hubungan baik dalam bingkai kemashlahatan bangsa dan baiknya bertetangga, dan supaya terbentuk hubungan politik, sosial dan ekonomi". (Politik Luar negeri Imarah Islam untuk Mewujudkan kemaslahatan tertinggi rakyat)

Imarah mengatakan: "Kantor Berita Iran, Faris mengabarkan sebuah berita yang mengungkap perjalanan utusan Imarah Islam ke Republik Islam Iran, dan sesungguhnya Imarah Islam membenarkan hal itu dan menekankannya. Dan sebelum ini, delegasi yang dipimpin oleh ketua biro politik Imarah Islam melakukan perjalanan selama tiga hari ke ibu kota Iran, Teheran, dan kunjungan ini ditutup dengan diskusi tentang hubungan bilateral antara kedua belah pihak, dan delegasi ini kembali setelah mendiskusikan topik-topik tersebut (…) kunjungan ini terjadi karena undangan resmi dari pihak pemerintah Iran, dan dalam kunjungan ini delegasi Imarah Islam menyampaikan suara rakyat dan mujahidin serta tuntutan mereka ke telingan utusan berbagai Negara, dan memberitahu mereka tentang keadaan terkini yang terjadi, juga sekaligus melakukan pembicaraan positif bersama pemimpin senior Republik Islam Iran dalam berbagai topic beragam. (…) dan kami harus mengatakan bahwa Imarah Islam senantiasa berusaha untuk menjaga hubungan dengan Negara-negara kawasan dan internasional, dalam bingkai saling menghormati, dan tidak terputus usaha dalam masalah ini". (Catatan Qari Muhammad Yusuf Ahmadi seputar delegasi Imarah ke Republik Iran)

Dan Mulla Umar berkata: "Wajib bagi setiap kaum muslimin untuk menutup semua rencana jahat musuh yang licik, dan tidak memberikan kesempatan sedikit pun bagi mereka untuk menyalakan api perpecahan antara kaum muslimin. Bagian terbesar dari strategi Amerika adalah menciptakan perpecahan dengan membuat label Syiah dan Sunni di Iraq, dan di Afghanistan dengan nama Pusthun, Tajik, Hazara, Uzbek, sehingga meminimalisir kekuatan perlawanan rakyat dan perlawanan senjata kepadanya. (…) dan inilah yang aku harapkan dari ikhwah Iraq supaya meninggalkan perselisihan dengan nama syiah-ahlussunnah, dan berdiri bersama melawan musuh penjajah, karena kemenangan mustahil diraih dengan perpecahan". (Risalah kepada Rakyat Mujahidin Afghan dan Iraq)

CATATAN: Telah menceritakan kepadaku beberapa Muhajirin Khurasan yang sudah cukup lama bahwa di sana ada beberapa komandan senior di Afghanistan dan Waziristan yang meragukan masih hidupnya Mulla Umar dan lebih meyakini bahwa dia telah meninggal atau ditawan, di mana tidak satu pun dari mereka yang melihatnya sejak permulaan perang salib modern atas Afghnaistan, dan dinukil dari anak Mulla Umar bahwa dia tidak pernah melihat ayahnya sejak 12 tahun, dan bisa jadi bahwa kata-kata yang mengandung penyimpangan sangat jelas ini berasal dari orang lain, walaupun orang yang mengamati akan melihat dalam perkataan yang dinisbatkan kepadanya akhir-akhir ini ada kesamaan dengan perkataannya terdahulu, akan tetapi tidak pada tingkat seperti yang kita lihat sekarang, wallahul Musta'an.