Tampilkan postingan dengan label Demikian Para Rasul Diuji Lalu Diberi Kemenangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Demikian Para Rasul Diuji Lalu Diberi Kemenangan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 April 2018

DEMIKIANLAH PARA RASUL ITU DIUJI, LALU DIBERI KEMENANGAN (BAGIAN 2)

RUMIYAH 9 - ARTIKEL

DEMIKIANLAH PARA RASUL ITU DIUJI, LALU DIBERI KEMENANGAN (BAGIAN 2)
SYAIKH ABU MUSH’AB AL-ZARQAWI TAQABBALAHULLAH

Di Antara Gambaran Ini

Dahulu kabilah-kabilah Quraisy sepakat untuk mengembargo dan mengisolasi kaum mukminin bersama Bani Hasyim di kubu Abu Thalib. Tidak ada jual beli apapun selama tiga tahun, sampai-sampai mereka terpaksa memunguti serangga untuk dimakan. Hampir saja kaum mukminin binasa jika saja bukan karena rahmat Allah.

Ashabul-Ukhdud, mereka dicampakkan ke dalam api. Mereka tidak mau menegosiasikan agamanya dan lebih memilih mati di jalan Allah. Hingga kemudian thaghut menggali parit, menyalakan api, dan menyuruh para algojo dan tentaranya untuk membakar kaum mukminin. Terjadilah sesuatu yang mengejutkan, tak ada satupun yang menjadi lemah atau kabur. Tidak ada riwayat pun yang menyebutkan bahwa ada yang kabur, mundur, atau bersikap pengecut, akan tetapi kita dapati mereka maju dan berani. Mereka berlomba-lomba menceburkan dirinya ke dalam api. Seolah sang ghulam telah menghembuskan keberanian dan keteguhan ke dalam jiwa mereka. Inilah mereka, menyusulnya menjemput kematian, seolah mereka merasakan nikmat ketika menyuguhkan jiwa sebagai tebusan bagi agama. Mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan, bahkan Allah ta'ala menyebutnya sebagai “kemenangan yang besar.” “Sesungguhnya orangorang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah kemenangan yang besar.” (QS. al-Buruj: 11).

Dari Anas ibn Malik h, berkata, “Pamanku Anas bin an-Nazhr tidak hadir dalam perang Badar, maka dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak hadir dalam perang yang pertama kalinya engkau memerangi kaum musyrikin. Jika Allah memberikanku kesempatan untuk memerangi orang-orang musyrik, niscaya Dia akan melihat apa yang akan aku perbuat.’ Maka ketika Perang Uhud, dan kaum muslimin tersingkap, ujarnya, ‘Ya Allah, aku meminta uzur kepada-Mu dari apa yang mereka perbuat – yakni para shahabatnya – dan aku berlepas diri dari apa yang mereka perbuat – yakni orang-orang musyrik.’ Dia pun segera maju. Dia berpapasan dengan Sa’ad bin Muadz, katanya, ‘Hai Sa’ad bin Muadz, surga, demi Rabbnya an-Nazhr, surga demi Rabbnya an-Nazhr, sungguh aku mencium baunya dari arah Uhud.’ Sa’ad berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak sanggup beraksi seperti aksinya.’ Anas berkata, “Kami dapati ada lebih dari 80 luka sabetan pedang, tikaman tombak, atau tusukan anak panah. Kami dapati jasadnya telah dimutilasi oleh orang-orang musyrik. Tidak ada yang dapat mengenali jasadnya kecuali saudara perempuannya, lewat jari-jemarinya.” Anas berkata, “Kami mengira bahwa ayat ini turun untuknya atau yang semisalnya, ‘Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggununggu dan mereka tidak mengubah (janjinya)’.” (QS. al-Ahzab: 23).

Kita dapati makna kemenangan ini di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Khabbab. Ia datang menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu bertanya, “Tidakkah engkau memintakan kemenangan untuk kami? Tidakkah engkau berdoa untuk kami?” Beliau bersabda, “Dahulu di antara orang-orang sebelum kalian ada seorang laki-laki yang ditanam di dalam lubang, lalu digergajilah tubuhnya dari kepala hingga terbelah menjadi dua, namun hal itu tidak menghalanginya dari Diennya. Ada juga yang disisir dengan sisir besi hingga dagingnya terpisah dari tulangnya, namun hal itu tidak menghalanginya dari Diennya.”

Di antara kemenangan samar yang hanya bisa dilihat oleh mukmin bahwa musuh-musuh kebenaran, meskipun mereka begitu kuat dan berlebih-lebihan dalam memperlakukan lawan-lawannya, hanya saja mereka harus menelan berbagai macam kepahitan moral dan siksaan jiwa sebelum menyakiti musuhmusuhnya. Bahkan terkadang setelah melakukan kejahatannya mereka tidak bisa menemukan ketenangan dan merasakan kebahagiaan. Karena itu, tatkala al-Hajjaj ibn Yusuf membunuh Sa’id ibn Jubair, berbagai tekanan batin dirasakannya hingga tak dapat tidur nyenyak. Ia sering terbangun tiba-tiba dari tidurnya dan berkata, “Ada apa antara aku dan Sa’id?”, hingga dia mati dalam kesedihan dan kekhawatirannya itu.

Inilah yang kita yakini dalam perang melawan pembawa panji salib si thaghut durjana Amerika ini. Sekalipun dengan segala kedurjanaan dan kediktatorannya, dengan segala kekuatan dan persenjataannya, hanya saja mereka tertimpa kehinaan jiwa dan kehancuran moral yang seandainya ditumpahkan ke sebuah gunung niscaya gunung itu akan hancur.

Al-Qur’an telah menggambarkan kenyataan ini dalam surat Ali Imran, Allah ta'ala berfirman, “Dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kalian. Katakanlah (kepada mereka), ‘Matilah kalian karena kemarahan kalian itu.’ Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali Imran: 119-120).

Allah juga berfirman, “Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Mahakuat lagi Maha Perkasa.” (QS. al-Ahzab: 25).

Di antara gambaran-gambaran tersebut, yang samar bagi mereka yang tertutup mata hatinya, ialah kerinduan akan kehidupan sempurna yang telah Allah siapkan bagi para wali-Nya dan orang-orang pilihan-Nya. Allah ta'ala berfirman, “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Rabbnya dengan mendapat rizki.” (QS. Ali Imran: 169).

Siapa yang tidak mati dengan pedang maka dia pasti akan mati dengan selainnya
Sebab kematian itu beragam namun kematian itu satu

Dari penjelasan di atas, jelaslah bagi kita makna yang menyeluruh dari kemenangan, dan bahwasanya tidak boleh kita membatasi jenis kemenangan pada apa yang kita kehendaki.

Sesungguhnya di antara faktor penguat keteguhan dan kuatnya perjuangan – seperti yang kita lihat di Fallujah – bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam memberi tahu kita bahwa di antara tanda kemenangan Dien Islam adalah tidak ada kekuatan apa pun di muka bumi ini yang dapat membinasakan seluruh kaum mukminin, sebagaimana dahulu hampir terjadi di zaman nabi Nuh atau di awal risalah. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjelaskan bahwa jihad akan tetap ada dan dijalankan di muka bumi, seperti yang ditunjukkan dalam hadits shahih, “Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang menjalankan perintah Allah, tidak membahayakan mereka siapa yang menggembosi atau menyelisihi mereka, hingga datanglah keputusan Allah dan mereka tetap dalam keadaan seperti itu.”

Kemenangan dan kelangsungan dien ini ada di tangan Allah. Dia telah menjaminnya dan berjanji akan hal itu. Jika Dia berkehendak maka akan menolong dan memenangkannya, dan jika Dia berkehendak maka akan menundanya dan mengakhirkannya, dan Dia Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui akan urusan-Nya. Jika Dia memperlambatnya maka itu semua karena kebijaksanaanNya yang telah ditentukan-Nya, dan tentu di dalamnya terdapat kebaikan bagi mukmin. Tidak ada yang lebih cemburu terhadap kebenaran dan pemeluknya daripada Allah ta'ala, “Pada hari itu bergembiralah orang-orang yang beriman karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dialah Yang Maha Perkasa lagi Penyayang. (Sebagai) janji yang sebenarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. ar-Rum: 4-6).

Jangan engkau kira kemuliaan itu seperti kurma yang engkau memakannya
Engkau tidak akan meraih kemuliaan hingga engkau mengecap kesabaran

Sesungguhnya Allah ta'ala, Mahatinggi keputusanNya dan Mahamulia keagungan-Nya, Dia terkadang mengaruniakan kemenangan kepada orang-orang beriman dan terkadang menguji mereka. Dia menghalangi mereka dari nikmat ini dan menimpakan ujian karena hikmah yang telah ditentukan dan diketahui-Nya. Terkadang Allah memberikan nikmat dalam ujian meski berat dan terkadang Allah menguji suatu kaum dengan nikmat.

Ibnul Qayim rahimahullah di dalam Zadul Ma’ad telah menyebutkan hikmah-hikmah ini secara sekilas, ujarnya, “Di antaranya bahwa ini adalah salah satu ciri para rasul, seperti yang dikatakan Heraklius kepada Abu Sufyan, ‘Apakah kalian memeranginya?’ ‘Ya’, jawabnya. Heraklius bertanya lagi, ‘Bagaimana perang antara kalian dengannya?’ Jawabnya, ‘Terkadang dia mengalahkan kami dan terkadang kami mengalahkannya.’ Heraklius berujar, ‘Begitulah para Rasul, mereka diuji lalu kesudahan yang baik bagi mereka.’

Di antaranya hikmahnya yaitu untuk memisahkan antara mukmin yang jujur dan munafik pendusta. Tatkala Allah memberikan kemenangan kepada kaum muslimin pada Perang Badar sehingga mereka ditakuti, ada orangorang yang masuk Islam secara lahir namun tidak secara batin. Sehingga Allah menguji hamba-Nya, berdasarkan hikmah-Nya, agar memisahkan antara muslim dan munafik. Pada perang orang-orang munafik mengangkat kepalanya dan melontarkan apa yang selama ini mereka sembunyikan, menampakkan apa yang mereka tutupi, dan menyerukan apa yang mereka ucapkan secara samar, sehingga ketika itu manusia terbagi menjadi mukmin, kafir, dan munafik secara jelas. Kaum mukminin menjadi tahu bahwa mereka memiliki musuh dalam selimut yang hidup bersama mereka dan tidak terpisah, sehingga bisa bersiap dan bersikap waspada.

Di antaranya; jika Allah selalu menolong dan memenangkan kaum mukminin di setiap pertempuran, membuat mereka berkuasa atas musuhnya terus menerus, maka mereka akan menjadi tinggi hati, angkuh, dan berlebihan. Jika pertolongan dan kemenangan dibentangkan atas mereka tentu keadaan mereka akan menjadi seperti jika rizki dibentangkan atas mereka. Hamba-hamba-Nya tidak akan menjadi lurus kecuali dengan kemudahan disertai kesulitan, dan kesempitan disertai kelapangan. Dia menggilirkan urusan hambaNya sesuai apa yang layak menurut hikmah-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Mengetahui dan Melihat.

Di antaranya; menumbuhkan rasa penghambaan total para wali dan golongan-Nya, dalam kelapangan dan kesempitan, dalam sesuatu yang mereka sukai dan yang mereka benci, dalam keadaan menang atau ketika musuh menang. Jika mereka tetap taat dan menghamba dalam keadaan yang disukai maupun dibenci, maka itulah hamba-Nya yang sesungguhnya, bukan seperti mereka yang beribadah kepada Allah hanya dalam tepian saja, dalam kesenangan, kelapangan dan kemudahan.

Di antaranya; apabila Dia menguji mereka dengan kekalahan, kesulitan dan kehancuran, mereka akan melemah, sedih dan tunduk, sehingga akan mengundang kejayaan dan pertolongan. Kalung kemenangan selalu bersama dengan sikap merendah dan menghinakan diri, Allah ta'alaerfirman, ‘Sungguh Allah telah menolong kalian dalam perang Badar padahal kalian (ketika itu) orang- orang yang lemah.’ (QS. Ali Imran: 123), dan firman-Nya, ‘Dan (ingatlah) perang Hunain, yaitu di waktu kalian menjadi congkak karena banyaknya jumlah kalian, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun.’ (QS. at-Taubah: 25). Jika Allah ta'ala berkehendak menjayakan, menguatkan dan menolong hamba-Nya, Dia akan mematahkannya terlebih dahulu, sehingga penawar, penyembuh, dan pertolongannya berbanding lurus dengan lukanya.

Di antaranya; bahwasannya Allah telah menyiapkan kedudukan di negeri kemuliaan-Nya bagi hamba-Nya yang tidak bisa diraih dengan amal-amal mereka. Mereka tidak dapat meraihnya kecuali dengan ujian dan cobaan, hingga Dia mengikat sebab-sebab yang dapat mengantarkan mereka kepada-Nya, dengan ujian dan cobaan-Nya itu. Allah juga memberi taufiq untuk melakukan amal shalih, yang itu semua termasuk bagian dari sebab-sebab sampainya mereka kepada-Nya.

Di antaranya; sesungguhnya jika jiwa terus menerus sehat, menang, dan kaya, maka dia akan angkuh dan cenderung tergesa-gesa. Itu adalah penyakit yang menghalanginya bersungguh-sungguh berjalan menuju Allah dan negeri akhirat. Jika Rabb, Pemilik, dan Sang Maha Pengasih menginginkan kemulian baginya, maka Dia akan berikan padanya ujian dan cobaan untuk menjadi obat dari penyakit itu, yang menghalangi jalan menuju kepada-Nya. Ujian dan cobaan ini laksana dokter yang memberikan obat yang pahit kepada orang sakit, dan memutus semua faktor penyebab rasa sakit, yang seandainya dibiarkan maka penyakit itu akan menguasainya dan membinasakannya.

Di antaranya; syahid di sisi Allah adalah derajat paling tinggi bagi para wali-Nya. Para syuhada adalah orang-orang khusus dan hamba-hamba-Nya yang dekat. Tidak ada derajat setelah orang-orang jujur selain mati syahid. Dia senang untuk menjadikan dari hamba-hamba-Nya sebagai syuhada. Darah mereka mengalir demi meraih kecintaan dan kerelaan-Nya. Mereka lebih suka kerelaan dan kecintaan-Nya daripada dirinya sendiri. Tidak ada jalan untuk meraih derajat ini kecuali dengan menyuguhkan sebab-sebab yang mengarah kepadanya, seperti dengan dikuasai musuh dan lainnya.”

Allah ta'ala berfirman, “Diwajibkan atas kalian berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kalian benci. Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal itu amat baik bagimu, dan boleh jadi kalian menyukai sesuatu, padahal itu amat buruk bagi kalian; Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 216).

Imam Ibnul Qoyim rahimahullah berkata di dalam al-Fawaid, “Di dalam ayat ini terdapat sejumlah hikmah, rahasia dan kebaikan bagi hamba. Jika seorang hamba tidak mengetahui bahwa sesuatu yang dibenci terkadang membawa sesuatu yang disukai, dan sesuatu yang disukai terkadang membawa sesuatu yang dibenci, maka dia tidak boleh merasa aman dari sesuatu yang membahayakan jika datang kepadanya sesuatu yang membahagiakan, dan dia tidak boleh berputus asa dari datangnya sesuatu yang membahagiakan jika datang padanya sesuatu yang membahayakan, karena dia tidak mengetahui bagaimana suatu urusan itu akan berakhir. Allah membuatnya melakukan hal itu karena Dia mengetahui apa yang tidak diketahui hamba-Nya. Di antara hikmah ayat ini ialah bahwa tidak ada hal yang lebih bermanfaat baginya selain menjalankan semua perintah meskipun pada awalnya itu adalah hal yang berat, karena pada akhirnya semua adalah kebaikan, kebahagiaan, kenikmatan, dan kesenangan. Jika nafsunya membenci maka itu adalah kebaikan dan manfaat baginya. Juga tidak ada yang lebih berbahaya baginya dari melakukan apa yang Dia larang meski nafsunya menyukainya dan condong kepadanya, karena kesudahan itu semua adalah rasa sakit, kesedihan, keburukan dan musibah. Orang yang memiliki akal akan lebih memilih menahan rasa sakit yang ringan, yang setelahnya adalah kenikmatan yang besar dan kebaikan yang banyak, serta menjauhi kenikmatan yang sebentar yang setelahnya rasa sakit yang berkepanjangan dan keburukan yang lama.

Di antara hikmah ayat ini ialah bahwa ayat ini menuntut hamba untuk menyerahkan segala urusan kepada siapa yang mengetahui akhir segala urusan, dan rela dengan apa yang dipilih dan ditentukannya, karena mengharap kesudahan yang baik.

Di antara hikmah ayat ini ialah hendaknya seorang hamba tidak mengritik Rabbnya, tidak memilih sesuatu di luar apa yang telah ditentukan untuknya, dan tidak meminta sesuatu yang tiada diketahuinya. Bisa jadi bahaya dan kebinasaan telah menunggu pada pada hal itu dan dia tidak mengetahuinya. Maka janganlah dia memilih di luar apa yang telah ditentukan Rabbnya. Hendaknya dia meminta agar dirinya mampu melaksanakan hal itu dengan sebaik-baiknya dan agar Dia menjadikannya rela dengan apa yang telah ditentukan untuknya, tidak ada yang lebih bermanfaat baginya dari hal itu.

Di antaranya juga, apabila dia menyerahkan urusannya kepada Rabbnya serta rela dengan apa pilihan-Nya, maka Dia akan memberikan kekuatan, tekad, dan kesabaran untuk menjalani pilihan-Nya itu. Ia akan dialihkan dari keburukan, yang merupakan konsekuensi pilihannya sendiri, dan akan diperlihatkan padanya kesudahan yang dari pilihan-Nya, yang mungkin tidak bisa diraih walau sebagiannya jika dia bertindak menurut pilihannya dirinya.

Di antaranya juga, bahwa hal itu akan membuatnya tenang dari beban pikiran yang melelahkan tentang bermacam-macam pilihan, dan melegakan dadanya dari berbagai perhitungan yang terkadang naik dan terkadang turun, yang itu semua tetap tidak keluar dari ketentuanNya. Andai dia rela dengan pilihan Allah maka dia akan tertimpa takdir dalam keadaan terpuji dan mendapat pahala serta kelembutan-Nya. Jika tidak maka takdir tetap berlaku atasnya sedang dia dalam keadaan tercela dan tidak mendapat kelembutan-Nya, karena dia bertindak menurut pilihannya sendiri. Ketika kerelaan dan berserah diri-nya itu telah benar maka apa yang telah ditakdirkan akan meliputinya dibarengi dengan kelembutan dan kasih sayang, sehingga dia berada di antara kelembutan dan kasih sayang-Nya. Kasih sayang-Nya akan melindunginya dari apa yang dia takutkan, kelembutan-Nya akan membuatnya merasa ringan dengan apa yang ditakdirkan-Nya. Jika suatu takdir berlaku pada seorang hamba, maka faktor utama berlakunya takdir itu adalah ketika ia berusaha untuk menolaknya, maka tidak ada yang lebih bermanfaat daripada menyerahkan diri dan memasrahkannya di hadapan takdir sebagaimana mayat, karena binatang buas tidak senang untuk memakan bangkai.”

Dia terus mengingatkanku kepada Allah sembari duduk sedang air mata mengalir deras dari kedua pelupuknya
Wahai putri pamanku, Kitabullah telah mengeluarkanku dengan paksa, maka apakah Allah akan menghalangiku lantaran air matamu
Jika aku kembali maka alangkah banyak orang yang mengembalikanku, jika aku menemui Rabbku maka carilah pengganti
Aku bukan orang pincang atau buta sehingga itu mengudzurku, bukan juga anak kecil yang lemah yang tidak mampu berbuat apa-apa

Diriwayatkan oleh at-Thabrani dari Ibnu Ishaq bahwa ada sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang berkata, “Aku mengikuti Perang Uhud bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersama saudaraku. Lalu kami berdua kembali dalam keadaan terluka. Tatkala penyeru Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengumumkan untuk keluar mengejar musuh, aku berkata kepada saudaraku – atau saudaraku berkata kepadaku – ‘Apakah engkau akan terlewat dari perang bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam?’ Demi Allah, kita tidak memiliki tunggangan dan kita terluka berat. Maka kami pun keluar bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Lukaku lebih ringan daripada saudaraku, sehingga ketika dia kelelahan aku menggendongnya hingga ia kuat berjalan lagi, hingga kami berhasil menyusul ke lokasi konsentrasi kaum muslimin.”

Abu Darda berkata, “Puncak keimanan adalah sabar terhadap ketentuan dan rela terhadap takdir.” Maka dengan obat ini kita membebat luka-luka yang tertoreh di sana-sini.

Wahai Umat Islam

Tubuhmu telah penuh luka tusukan. Luka dan penyakit yang telah membuatmu terbaring tidak akan dapat diobati kecuali dengan tauhid yang terikat di atas panji-panji jihad. Maka kapankah engkau memutuskan dengan benar untuk berangkat berperang dan melepaskan diri dari para algojo? Pertempuran hari ini tidak pernah jeda dan tidak mereda. Sungguh Nabi kita shallallahu alaihi wasallam berharap untuk tidak tertinggal dari satu pasukan pun yang berperang di jalan Allah. Kebiasaannya adalah terus menerus berperang dan berjihad.

Aku ingatkan kalian dengan hadits Jibril bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam paska perang Ahzab, yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, dia berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kembali ke kota Madinah, baru saja beliau meletakkan pedangnya, Jibril mendatanginya dan mengatakan, ‘Apakah engkau meletakkan senjata? Demi Allah, sesungguhnya para malaikat belum juga meletakkan senjatanya. Bangkitlah engkau bersama sahabatmu ke Bani Quraizhah, sesugguhnya aku berjalan di depanmu untuk menggoncang benteng mereka dan menanamkan rasa gentar di dalam hati mereka.’ Maka Jibril berjalan bersama rombongan para malaikat dan Rasulullah berjalan di belakangnya bersama rombongan para muhajirin dan anshar.”

Bagaimana bisa kalian, wahai kaum muslimin, ringan saja melihat saudara-saudara dan putra-putra Dien kalian tertimpa berbagai macam siksaan, pembunuhan dan kehancuran, sedangkan kalian merasa aman di negeri kalian, nyaman bersama keluarga dan harta kalian, bagaimana bisa seperti itu?!

DEMIKIANLAH PARA RASUL ITU DIUJI, LALU DIBERI KEMENANGAN (BAGIAN 1)

RUMIYAH 8 - ARTIKEL

DEMIKIANLAH PARA RASUL ITU DIUJI, LALU DIBERI KEMENANGAN (BAGIAN 1)
SYAIKH ABU MUSHAB AL-ZARQAWI TAQABBALAHULLAH

Bismillahirrahmanirrahim.
“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi. Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. al-Ankabut: 1-3).

Segala puji bagi Allah, yang memuliakan Islam dengan pertolongan-Nya dan yang menghinakan kesyirikan dengan kuasa-Nya. Dia Yang Maha Berkuasa dengan segala perintah-Nya. Dia yang menghancurkan orang-orang kafir dengan makar-Nya. Dia yang mempergilirkan hari demi hari dengan keadilan-Nya. Dia yang menjadikan akhir yang baik untuk orang-orang bertaqwa dengan anugerah-Nya. Shalawat dan salam kepada Nabi yang dengan pedangnya Allah meninggikan menara Islam. Amma ba’du.

Inilah tetesan air mata baru yang ku kirim melalui untaian kalimat …
Inilah denyut pedih yang ku keluarkan dari lubuk hati terdalam melalui tiap helaan nafas …

Dari seorang prajurit di tengah riuh pertempuran dan denting pedang bersahutan …
Dari Abu Mush’ab az-Zarqawi kepada siapapun pemilik sikap kesatria.

Kepedihan ummat yang memprihatinkan terus menerus menyergapku. Siluet ummat yang terluka tak pernah lepas dari benakku. Ummat mulia lagi agung, namun tangan-tangan khianat telah menimpakan berbagai macam keburukan; bantalnya adalah kehinaan, minumannya adalah cangkir-cangkir kekalahan dan khianat, dilumpuhkan dari fungsi dan kewajibannya, serta dirintangi dari impian dan cita-citanya.

Penyakit telah menjangkiti seluruh tubuhnya. Lalu kemudian dihempaskan ke tanah dan tubuhnya diikat erat. Serigala-serigala kelaparan dan binatang buas mengerubutinya. Hingga seluruh tubuhnya tercabik-cabik di antara paruh dan taring.

Inilah sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud dari Tsauban radhiyallahu anhu berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Hampir-hampir bangsa-bangsa dari berbagai penjuru mengerubuti kalian layaknya orang-orang mengerubuti hidangan di atas meja.’ Kami bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah karena jumlah kita sedikit? Jawabnya, ‘Kalian ketika itu berjumlah banyak namun tak lebih seperti buih. Rasa gentar dicabut dari hati musuh kalian dan hati kalian terjangkiti wahn.’ Kami bertanya, ‘Apa itu wahn? Sabdanya, ‘Cinta hidup dan benci mati.’ Dalam riwayat Ahmad, ‘Kalian membenci perang'."

Ketahuilah wahai ummat Islam, ujian adalah sebuah kisah dan sejarah panjang sejak turunnya La ilaha illallah ke bumi ini. Diujilah karenanya para nabi, orang-orang jujur, dan para imam muwahhid. Barangsiapa mengorbankan dirinya untuk memikul kalimat La ilaha illallah, menolong dan menegakkannya di muka bumi maka hendaknya dia bersiap untuk membayar harga mahal kemuliaan itu berupa rasa letih, ujian, dan bencana.

Dimanakah dirimu?

Jalan ini adalah jalan yang melelahkan Adam dan membuat Nuh mengeluh. Di jalan ini Sang Kekasih Allah dicampakkan ke kobaran api, Isma’il dibaringkan untuk disembelih, Yusuf dijual dengan harga murah dan terperangkap dalam penjara selama beberapa waktu. Di jalan ini Zakaria digergaji hingga terbelah, Yahya disembelih, Ayub tertimpa penyakit, Dawud menangis terus menerus, Isa terpaksa hidup dengan binatang buas, dan Muhammad shallallahu alaihi wasallam tertimpa kemiskinan dan segala macam gangguan. Sedangkan engkau malah bergelimang senda gurau dan permainan?

Allah azza wa jalla menguji makhluk dengan sesamanya. Dia menguji mukmin dengan kafir, sebagaimana juga menguji kafir dengan mukmin. Semua makhluk mendapat ujian semacam ini.

Allah azza wa jalla berfirman, “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. al-Mulk: 1-2).

Muslim meriwayatkan dari Nabi kita shallallahu alaihi wasallam mengenai yang diriwayatkannya dari Rabbnya azza wa jalla, “Hanyasanya Aku mengutusmu untuk mengujimu dan menguji denganmu.”

Yang kita ketahui dari al-Qur’an dan Sunnah bahwa diantara para nabi ada yang disiksa dan dibunuh oleh musuh-musuhnya seperti Yahya alaihis salam. Ada juga yang kaumnya berkehendak membunuhnya sehingga terpaksalah ia kabur menyelamatkan dirinya seperti Ibrahim alaihis salam yang berhijrah ke Syam dan Isa alaihis salam yang diangkat ke langit. Diantara orang-orang mukmin juga ada yang tertimpa ujian berat. Ada yang dicampakkan ke parit yang menyala-nyala, ada yang menjadi syahid, ada yang sengsara lagi terancam hidupnya. Maka dimanakah janji Allah akan kemenangan kepada mereka di dunia, padahal mereka terusir, terbunuh, atau disiksa?

Ujian adalah ketentuan Allah atas seluruh makhluknya. Namun beratnya bertambah ketika menimpa orang-orang pilihan yang mendapatkan naungan Allah, khususnya para mujahidin. Mereka pasti akan menempuh madrasah ujian. Mereka pasti akan menerima pelajaran tamhish (seleksi), tahdzib (pemurnian), dan tarbiyah.

Disebutkan dalam Shahihain dari Saad bin Abi Waqqash radhiyallahu anhu berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah yang paling berat ujiannya?' Sabdanya, ‘Para nabi, kemudian orang-orang shalih dan lalu selanjutnya. Seseorang itu diuji sesuai kadar dinnya. Jika agamanya itu kokoh maka ujiannya akan ditambah. Jika diennya itu lunak maka ujiannya akan diringankan. Ujian akan terus menimpa seorang mukmin sampai ia berjalan di muka bumi tanpa dibebani kesalahannya’.”

Baihaqi meriwayatkan dalam Syu’abul Iman, ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabir, dan Ibnu Saad dalam at-Thabaqat dari Abdullah bin Iyas bin Abi Fathimah dari ayahnya dari kakeknya berkata, “Suatu kali aku sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu beliau bersabda, ‘Siapa yang ingin sehat terus tanpa terkena sakit?' Kami menjawab, ‘Tentu kami wahai Rasulullah'. ‘Apa?' Kata beliau. Kami melihat wajahnya berubah. Beliau lalu bertanya, ‘Apa kalian ingin menjadi seperti keledai buas?' Mereka menjawab, ‘Wahai Rasulullah, tentu tidak'. Beliau bertanya, ‘Tidakkah kalian ingin menjadi orang-orang yang selalu diuji dan dihapuskan dosanya?' Mereka menjawab, ‘Tentu wahai Rasulullah'. Maka beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Demi Allah, sesungguhnya Allah betul-betul akan menguji seorang mukmin. Tidaklah Dia mengujinya kecuali karena hendak memuliakannya. Si mukmin di sisi Allah mempunyai kedudukan yang tidak bisa diraih hanya dengan amalnya saja, maka ujian ditimpakan padanya sampai ia bisa meraih kedudukan itu’.”

Tirmidzi meriwayatkan dari Jabir radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Orang-orang yang sentosa di dunia di hari kiamat benar-benar berharap kulit mereka diiris-iris dengan pisau lantaran melihat ganjaran yang didapatkan orang-orang yang terkena ujian.”

Dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam beliau bersabda, “Pada hari kiamat nanti akan didatangkan orang yang paling sentosa hidupnya di dunia. Allah azza wa jalla berfirman, ‘Celupkanlah ia ke neraka secelupan saja’. Kemudian dia dihadapkan dan ditanya, ‘Wahai anak Adam, apakah kamu dapati nikmat sekecil apapun itu? Apakah kamu melihat hal yang sedap dipandang? Apakah kamu mendapati kebahagiaan?' Jawabnya, ‘Tidak, demi kemuliaan-Mu.’ Kemudian Allah berfirman, ‘Campakkan dia ke neraka.’ Lalu dihadapkan orang yang paling sengsara hidupnya di dunia. Allah azza wa jalla lalu berfirman, ‘Celupkanlah ia ke surga secelupan saja.’ Lalu kemudian dia dihadapkan lagi dan ditanya, ‘Wahai anak Adam, apakah kamu melihat sesuatupun yang kamu benci?' Jawabnya, ‘Tidak, demi kemuliaan-Mu, aku tidak mendapati sesuatupun yang aku benci’.”

Syaqiq al-Balkhi berkata, “Barangsiapa melihat ganjaran lantaran ujian tentu ia tidak akan ingin terlepas darinya.”

Allah azza wa jalla mensyariatkan jihad sebagai penyempurna syariat-syariat agama ini. Dia angkat kedudukan jihad hingga menjadi puncaknya kewajiban-kewajiban Rabbani. Dia jadikan jihad diliputi ujian yang dibenci oleh jiwa dan ditakuti oleh watak. Kemudian didekatkan-Nya dan dijadikan-Nya bagian dari intinya iman dan mutiara tauhid. Maka tidak ada yang mencintai, mendekati, dan mencarinya kecuali orang yang jujur imannya lagi kuat pengetahuannya.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. al-Hujurat: 15).

Jihad pada hakikatnya berdiri di atas jiwa yang mengkilap lagi berserah diri kepada Rabb dan penciptanya. Ia laksanakan perintah-Nya. Ia meyakini dan berusaha meraih janji-janji-Nya. Hal ini tidak akan terjadi kecuali jika jalan ini diliputi dengan ujian dan rintangan. Oleh karena itu, Allah azza wa jalla berfirman, “Apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Allah akan memberi pimpinan kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka dan memasukkan mereka ke dalam jannah yang telah diperkenankan-Nya kepada mereka.” (QS. Muhammad: 4-6).

Dia juga berfirman, “Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (QS. al-Baqarah: 253).

Ibnu Katsir berkata mengenai tafsir ayat ini, “Yakni bahwa haruslah terjadi sebuah ujian yang akan menampakkan wali-Nya dan menyingkap musuh-Nya. Dengannya diketahui mana mukmin yang bersabar dan mana munafik yang fajir. Yaitu pada Perang Uhud. Allah menguji orang-orang beriman sehingga muncullah keimanan, kesabaran, kekuatan, keteguhan, dan ketaatan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam. Pada Perang Uhud pula Dia bongkar topeng orang-orang munafik hingga terlihat keengganan mereka dari berjihad dan pengkhianatan mereka atas Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam.”

Perhatikanlah, wahai hamba Allah, firman-Nya azza wa jalla, “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. alHajj: 11).

Imam al-Baghawi meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, “Dahulu ada badui yang beriman kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Jika setelah masuk Islam ia dikaruniai keturunan yang banyak dan hartanya melimpah maka dia berkata bahwa ini adalah agama yang bagus. Dia lalu beriman dan tetap teguh. Namun jika setelah masuk Islam ia tidak dikaruniai keturunan, hartanya tidak bertambah melimpah malah tertimpa paceklik maka dia berkata ini agama yang buruk. Kemudian dia kembali kafir dan menentang.”

Penulis Fi Zhilalil Qur’an berkata, “Jiwa itu harus mengalami didikan dengan cobaan. Kekukuhan untuk terus berjuang demi kebenaran itu harus diuji. Dengan rasa takut, situasi genting, rasa lapar, kurangnya harta, hilangnya jiwa, dan hancurnya sumber pangan. Orang-orang mukmin harus mengalami ujian agar mereka mampu menanggung harga mahal akidah. Sehingga mereka tahu bahwa akidah yang tertanam dalam jiwa mereka itu sesuai dengan pengorbanan yang mereka bayar, yang tak mungkin dihindari ketika terjadi benturan pertama. Pengorbanan ini berupa sesuatu yang berharga yang membuat akidah itu tertanam kuat dalam jiwa pemeluknya terlebih dahulu sebelum tertanam dalam jiwa lainnya. Tiap kali penderitaan mereka bertambah dan tiap kali mereka berkorban demi akidah itu maka semakin dalam mengakar dalam jiwa mereka membuat mereka makin pantas. Orang lain juga tidak akan mengerti nilai dari akidah itu kecuali setelah melihat ujian yang menimpa pemeluknya dan kesabaran mereka. Ujian juga merupakan keharusan demi mengokohkan dan menguatkan pemeluk akidah itu. Musibah-musibah itu menyerang inti kekuatan dan upaya yang terpendam hingga menciptakan celah dan retakan dalam hati yang tidak mungkin dirasakan oleh seorang mukmin kecuali dalam himpitan ujian.”

Imam Syafi’i rahimahullah ditanya, “Mana yang lebih baik bagi seorang mukmin, diuji atau diberi kekuasaan?" Jawabnya, “Celaka kamu, bukankah kekuasaan itu didapat setelah ujian?"

Dari Shafwan bin Umar ia berkata, “Dahulu aku menjadi gubernur Himsh (Homs). Aku pernah mendapati seorang lelaki renta penduduk Damaskus yang alisnya telah memanjang sedang duduk di atas tunggangannya hendak ikut berperang. Maka aku berkata, ‘Wahai paman, Allah telah memberi udzur padamu.’ Maka dia mengangkat alisnya dan menjawab, ‘Wahai anak saudaraku, Allah telah memerintahkan kita untuk berperang dalam keadaan lapang dan sempit’.”

Ketahuilah wahai yang dicintai Allah dan diuji-Nya.
Bersabarlah atas hari-hari genting
Setelahnya akan ada kebahagiaan
Tiada bersabar kecuali orang-orang mulia
Sebentar lagi Allah akan membukakan jalan
Ketika itulah engkau akan terbebas dari letihmu

Penulis Fi Zhilal Qur’an berkata, “Iman bukanlah sekedar kata-kata belaka yang terucap. Ada hakikat dan harganya. Iman adalah amanat yang berat, jihad yang membutuhkan kesabaran, dan kesungguhan yang membutuhkan ketangguhan. Manusia tidak cukup hanya berkata kami beriman lalu dibiarkan begitu saja dengan klaimnya itu. Mereka harus menghadapi fitnah. Dengan fitnah itu akan membuktikan keteguhan mereka hingga mereka lulus dengan hati yang bersih dan unsur yang suci. Layaknya api yang menempa emas sehingga terlepaslah unsur-unsur yang mengotorinya. Itu juga merupakan makna kalimat fitnah secara bahasa, dan demikianlah isyarat serta indikasi yang ditunjukkannya. Demikian jugalah pengaruh fitnah kepada hati. Fitnah atas keimanan ini adalah sebuah kaidah tetap dan sunnah yang berjalan dalam timbangan Allah azza wa jalla, “Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orangorang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. al-Ankabut: 3). Iman adalah amanat Allah di bumi-Nya. Pemikulnya adalah orang yang benar-benar pantas. Mereka memang mampu dan hatinya dipenuhi pengorbanan dan keikhlasan. Orang-orang yang lebih memilih kenyamanan, rasa aman dan sentosa, serta indahnya perhiasan dunia tak akan mampu memikulnya. Karena ini adalah amanat khilafah di bumi-Nya. Ini adalah amanat memimpin manusia menuju jalan Allah dan mewujudkan kalimat-Nya dalam alam kehidupan ini. Ini adalah amanat mulia, dan juga amanat yang berat. Ini adalah perintah Allah. Manusia harus menguatkan dirinya untuk melaksanakannya. Maka dari itu ia membutuhkan sikap khusus yang bisa tetap kokoh ketika diterpa ujian.”

Hendaknya sekelompok prajurit yang menempuh jalan jihad fi sabilillah itu menyadari karakteristik dan konsekuensi pertempuran ini. Jalan yang ditempuh ini sampai pada tujuan yang diinginkannya itu harus dimuluskan dengan darah pandeganya. Hendaknya mereka menyadari bahwa jalan ini berakibat hilangnya orang-orang tercinta dan para sahabat serta terusir dari tanah tumpah darah. Sebagaimana para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam merasakan pahitnya hijrah, hilangnya harta, keluarga, dan tanah kelahiran semuanya di jalan Allah sekalipun mereka adalah sebaik-baik makhluk setelah para nabi, lalu bagaimana halnya dengan kita?

Tidak ada pilihan bagi sekelompok kecil ini kecuali bersabar pada jalan yang ditempuhnya. Hendaknya ia terus menapaki jalannya itu. Hendaknya ia berharap pahala kepada Allah melaui apa yang menimpanya berupa kehilangan pemimpin dan sahabat. Hendaknya ia menyadari bahwa itu adalah sunnatullah azza wa jalla. Hendaknya ia mengetahui bahwa Allah telah memilih hamba-hamba-Nya yang shalih dari ummat ini. Hendaknya ia tidak meminta pertolongan Allah disegerakan karena sesungguhnya pertolongan-Nya pasti datang.

Hendaknya seorang muslim mengetahui bahwa mengikuti kebenaran dan bersabar di atasnya adalah jalan kemenangan tersingkat betapapun panjangnya dan banyaknya rintangan yang dihadapinya. Ia harus menyadari bahwa menyimpang dari kebenaran hanya akan membuahkan pembelotan. Jalan yang mudah dan kemenangan yang terlihat dekat hakikatnya adalah fatamorgana. Allah azza wa jalla berfirman, “Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertaqwa.” (QS. al-An’am: 153).

Inilah jihad. Puncak dan buah yang datang setelah kesabaran panjang dan berdiri lama di tengah medan tempur menunggu serbuan musuh dan menahan gempurannya. Penantian selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun terus menerus. Jika engkau tidak merasakan kepedihan seperti ini maka Allah tidak akan membuka pintu kemenangan untukmu, karena kemenangan itu bersama kesabaran. Ibnu Taimiyah telah berkata, “Kepemimpinan dalam Dien ini hanya diraih dengan kesabaran dan yakin.”

Konsep kebenaran dan kejujuran akidah serta tauhid itu tak lebih dari boneka tak bernyawa dalam dunia khayalan kecuali jika didukung oleh orangorang yang jujur lagi sabar. Mereka tanggung beban beban perjalanan yang teramat berat ini hingga siksa terasa indah dan letih terasa manis. Mereka tidak rela kecuali kematian demi hidupnya konsep ini dan beraksi dalam dunia nyata. Bukan sebagaimana diangankan oleh sebagian orang yang ingin menyulam konsep ini dengan benang emas dalam sebuah teori filsafat, atau pidato-pidato yang menggaung namun jauh dari ruh amal, kejujuran, dan praktek.

Sungguh Islam pada hari ini amat membutuhkan lelaki-lelaki jujur lagi sabar, bersegera untuk bersungguh-sungguh, menikmati rasa letih, dan beristirahat dengan rasa lelah. Dengan diam mereka terjemahkan tuntutan-tuntutan tahapan demi tahapan. Lelaki-lelaki pemilik jiwa yang jujur, semangat yang tinggi, dan azam yang kuat. Lelaki-lelaki yang tidak memahami kecuali siap mendengar dan melaksanakan perintah tanpa patah semangat, bosan, dan tak perlu berdebat. Maka singsingkanlah lengan bajumu untuk beraksi dan bersabarlah atas kepayahan dan beratnya perjalanan. Dikatakan bahwa, “Sungguh lemahlah siapa yang tidak menyiapkan kesabaran untuk menghadapi ujian, rasa syukur untuk setiap nikmat, dan yang tidak mengerti bahwa di tiap kesulitan ada kemudahan.”

Oh wahai jiwa, semangat ini telah memuncak
Menuju surga di bawah naungan pohon Tuba
Menuju bidadari yang tunduk pandangannya
Nikmat abadi dan nyanyian yang merasuk kalbu
Menuju kandil-kandil emas yang tergantung pada ‘Arasy Rabbku
Bagi orang-orang yang terbunuh dan tiadalah mereka mati

Allah azza wa jalla berfirman, “Dan mereka tiada menafkah- kan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula) karena Allah akan memberi balasan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. at-Taubah: 121).

Imam ath-Thabari meriwayatkan dari Qotadah mengenai tafsir ayat ini, “Tidaklah suatu kaum bertambah jauh jaraknya di jalan Allah dari keluarga mereka kecuali mereka bertambah dekat kepada Allah.”

Maka perkara ini adalah di tangan Allah sebelum dan sesudahnya. Kita hanyalah hamba-Nya azza wa jalla yang sedang berusaha mewujudkan penghambaan kepada-Nya. Diantara kesempurnaan ibadah pada-Nya adalah bahwa kita mengetahui dan meyakini dengan pasti tanpa ragu bahwa janji Allah itu pasti akan terwujud. Namun kita tidak mengerti hakikatnya karena suatu hikmah yang hanya diketahui Allah. Terkadang terlambatnya pertolongan itu sebagai bentuk ujian dan cobaan. Mahabenar Allah Yang Mahaagung, “Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (QS. ar-Rum: 47).

Dia Yang Mahasuci telah menjanjikan pertolongan kepada hamba-hamba-Nya para muwahhid. Dia berikan kekuasaan pada orang-orang yang sabar. Dia kabarkan bahwa kemenangan, kekuasaan, dan kekuatan yang diraih oleh umat-umat terdahulu adalah karena seluruh kesabaran dan ketawakalan mereka kepada-Nya, sebagamana firman-Nya, “Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir´aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.” (QS. al-A’raf: 137).

Allah mengabarkan bahwa kemuliaan dan kekuasaan yang diperoleh nabi-Nya Yusuf setelah keterasingan dan kejadian yang dialaminya dalam istana al‘Aziz adalah buah dari kesabaran dan ketaqwaannya, “Sesungguhnya barang siapa yang bertaqwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik” (QS. Yusuf: 90).

Dia azza wa jalla juga menghubungkan kemenangan dengan kesabaran dalam firman-Nya, “Hai orangorang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imran: 200).

Dia azza wa jalla juga menyebutkan bahwa kesudahan yang baik di dunia adalah bagi orang-orang sabar dan bertaqwa, “Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Hud: 49).

Kita mengerti dengan yakin bahwa janji Allah itu selamanya tidak akan terlambat. Persoalannya adalah pandangan kita terbatas pada salah satu macamnya saja yaitu kemenangan dan kekuasaan. Belum tentu itulah kemenangan yang dijanjikan-Nya pada para nabi, rasul, dan hamba-hamba-Nya yang beriman. Terkadang kemenangan terwujud dalam bentuk lain yang tidak disadari jiwa yang lemah dan rapuh.