RUMIYAH 9 - ARTIKEL
DEMIKIANLAH PARA RASUL ITU DIUJI, LALU DIBERI KEMENANGAN (BAGIAN 2)
SYAIKH ABU MUSH’AB AL-ZARQAWI TAQABBALAHULLAH
Di Antara Gambaran Ini
Dahulu kabilah-kabilah Quraisy sepakat untuk mengembargo dan mengisolasi kaum mukminin bersama Bani Hasyim di kubu Abu Thalib. Tidak ada jual beli apapun selama tiga tahun, sampai-sampai mereka terpaksa memunguti serangga untuk dimakan. Hampir saja kaum mukminin binasa jika saja bukan karena rahmat Allah.
Ashabul-Ukhdud, mereka dicampakkan ke dalam api. Mereka tidak mau menegosiasikan agamanya dan lebih memilih mati di jalan Allah. Hingga kemudian thaghut menggali parit, menyalakan api, dan menyuruh para algojo dan tentaranya untuk membakar kaum mukminin. Terjadilah sesuatu yang mengejutkan, tak ada satupun yang menjadi lemah atau kabur. Tidak ada riwayat pun yang menyebutkan bahwa ada yang kabur, mundur, atau bersikap pengecut, akan tetapi kita dapati mereka maju dan berani. Mereka berlomba-lomba menceburkan dirinya ke dalam api. Seolah sang ghulam telah menghembuskan keberanian dan keteguhan ke dalam jiwa mereka. Inilah mereka, menyusulnya menjemput kematian, seolah mereka merasakan nikmat ketika menyuguhkan jiwa sebagai tebusan bagi agama. Mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan, bahkan Allah ta'ala menyebutnya sebagai “kemenangan yang besar.” “Sesungguhnya orangorang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah kemenangan yang besar.” (QS. al-Buruj: 11).
Dari Anas ibn Malik h, berkata, “Pamanku Anas bin an-Nazhr tidak hadir dalam perang Badar, maka dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak hadir dalam perang yang pertama kalinya engkau memerangi kaum musyrikin. Jika Allah memberikanku kesempatan untuk memerangi orang-orang musyrik, niscaya Dia akan melihat apa yang akan aku perbuat.’ Maka ketika Perang Uhud, dan kaum muslimin tersingkap, ujarnya, ‘Ya Allah, aku meminta uzur kepada-Mu dari apa yang mereka perbuat – yakni para shahabatnya – dan aku berlepas diri dari apa yang mereka perbuat – yakni orang-orang musyrik.’ Dia pun segera maju. Dia berpapasan dengan Sa’ad bin Muadz, katanya, ‘Hai Sa’ad bin Muadz, surga, demi Rabbnya an-Nazhr, surga demi Rabbnya an-Nazhr, sungguh aku mencium baunya dari arah Uhud.’ Sa’ad berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak sanggup beraksi seperti aksinya.’ Anas berkata, “Kami dapati ada lebih dari 80 luka sabetan pedang, tikaman tombak, atau tusukan anak panah. Kami dapati jasadnya telah dimutilasi oleh orang-orang musyrik. Tidak ada yang dapat mengenali jasadnya kecuali saudara perempuannya, lewat jari-jemarinya.” Anas berkata, “Kami mengira bahwa ayat ini turun untuknya atau yang semisalnya, ‘Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggununggu dan mereka tidak mengubah (janjinya)’.” (QS. al-Ahzab: 23).
Kita dapati makna kemenangan ini di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Khabbab. Ia datang menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu bertanya, “Tidakkah engkau memintakan kemenangan untuk kami? Tidakkah engkau berdoa untuk kami?” Beliau bersabda, “Dahulu di antara orang-orang sebelum kalian ada seorang laki-laki yang ditanam di dalam lubang, lalu digergajilah tubuhnya dari kepala hingga terbelah menjadi dua, namun hal itu tidak menghalanginya dari Diennya. Ada juga yang disisir dengan sisir besi hingga dagingnya terpisah dari tulangnya, namun hal itu tidak menghalanginya dari Diennya.”
Di antara kemenangan samar yang hanya bisa dilihat oleh mukmin bahwa musuh-musuh kebenaran, meskipun mereka begitu kuat dan berlebih-lebihan dalam memperlakukan lawan-lawannya, hanya saja mereka harus menelan berbagai macam kepahitan moral dan siksaan jiwa sebelum menyakiti musuhmusuhnya. Bahkan terkadang setelah melakukan kejahatannya mereka tidak bisa menemukan ketenangan dan merasakan kebahagiaan. Karena itu, tatkala al-Hajjaj ibn Yusuf membunuh Sa’id ibn Jubair, berbagai tekanan batin dirasakannya hingga tak dapat tidur nyenyak. Ia sering terbangun tiba-tiba dari tidurnya dan berkata, “Ada apa antara aku dan Sa’id?”, hingga dia mati dalam kesedihan dan kekhawatirannya itu.
Inilah yang kita yakini dalam perang melawan pembawa panji salib si thaghut durjana Amerika ini. Sekalipun dengan segala kedurjanaan dan kediktatorannya, dengan segala kekuatan dan persenjataannya, hanya saja mereka tertimpa kehinaan jiwa dan kehancuran moral yang seandainya ditumpahkan ke sebuah gunung niscaya gunung itu akan hancur.
Al-Qur’an telah menggambarkan kenyataan ini dalam surat Ali Imran, Allah ta'ala berfirman, “Dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kalian. Katakanlah (kepada mereka), ‘Matilah kalian karena kemarahan kalian itu.’ Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali Imran: 119-120).
Allah juga berfirman, “Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Mahakuat lagi Maha Perkasa.” (QS. al-Ahzab: 25).
Di antara gambaran-gambaran tersebut, yang samar bagi mereka yang tertutup mata hatinya, ialah kerinduan akan kehidupan sempurna yang telah Allah siapkan bagi para wali-Nya dan orang-orang pilihan-Nya. Allah ta'ala berfirman, “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Rabbnya dengan mendapat rizki.” (QS. Ali Imran: 169).
Siapa yang tidak mati dengan pedang maka dia pasti akan mati dengan selainnya
Sebab kematian itu beragam namun kematian itu satu
Dari penjelasan di atas, jelaslah bagi kita makna yang menyeluruh dari kemenangan, dan bahwasanya tidak boleh kita membatasi jenis kemenangan pada apa yang kita kehendaki.
Sesungguhnya di antara faktor penguat keteguhan dan kuatnya perjuangan – seperti yang kita lihat di Fallujah – bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam memberi tahu kita bahwa di antara tanda kemenangan Dien Islam adalah tidak ada kekuatan apa pun di muka bumi ini yang dapat membinasakan seluruh kaum mukminin, sebagaimana dahulu hampir terjadi di zaman nabi Nuh atau di awal risalah. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjelaskan bahwa jihad akan tetap ada dan dijalankan di muka bumi, seperti yang ditunjukkan dalam hadits shahih, “Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang menjalankan perintah Allah, tidak membahayakan mereka siapa yang menggembosi atau menyelisihi mereka, hingga datanglah keputusan Allah dan mereka tetap dalam keadaan seperti itu.”
Kemenangan dan kelangsungan dien ini ada di tangan Allah. Dia telah menjaminnya dan berjanji akan hal itu. Jika Dia berkehendak maka akan menolong dan memenangkannya, dan jika Dia berkehendak maka akan menundanya dan mengakhirkannya, dan Dia Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui akan urusan-Nya. Jika Dia memperlambatnya maka itu semua karena kebijaksanaanNya yang telah ditentukan-Nya, dan tentu di dalamnya terdapat kebaikan bagi mukmin. Tidak ada yang lebih cemburu terhadap kebenaran dan pemeluknya daripada Allah ta'ala, “Pada hari itu bergembiralah orang-orang yang beriman karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dialah Yang Maha Perkasa lagi Penyayang. (Sebagai) janji yang sebenarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. ar-Rum: 4-6).
Jangan engkau kira kemuliaan itu seperti kurma yang engkau memakannya
Engkau tidak akan meraih kemuliaan hingga engkau mengecap kesabaran
Sesungguhnya Allah ta'ala, Mahatinggi keputusanNya dan Mahamulia keagungan-Nya, Dia terkadang mengaruniakan kemenangan kepada orang-orang beriman dan terkadang menguji mereka. Dia menghalangi mereka dari nikmat ini dan menimpakan ujian karena hikmah yang telah ditentukan dan diketahui-Nya. Terkadang Allah memberikan nikmat dalam ujian meski berat dan terkadang Allah menguji suatu kaum dengan nikmat.
Ibnul Qayim rahimahullah di dalam Zadul Ma’ad telah menyebutkan hikmah-hikmah ini secara sekilas, ujarnya, “Di antaranya bahwa ini adalah salah satu ciri para rasul, seperti yang dikatakan Heraklius kepada Abu Sufyan, ‘Apakah kalian memeranginya?’ ‘Ya’, jawabnya. Heraklius bertanya lagi, ‘Bagaimana perang antara kalian dengannya?’ Jawabnya, ‘Terkadang dia mengalahkan kami dan terkadang kami mengalahkannya.’ Heraklius berujar, ‘Begitulah para Rasul, mereka diuji lalu kesudahan yang baik bagi mereka.’
Di antaranya hikmahnya yaitu untuk memisahkan antara mukmin yang jujur dan munafik pendusta. Tatkala Allah memberikan kemenangan kepada kaum muslimin pada Perang Badar sehingga mereka ditakuti, ada orangorang yang masuk Islam secara lahir namun tidak secara batin. Sehingga Allah menguji hamba-Nya, berdasarkan hikmah-Nya, agar memisahkan antara muslim dan munafik. Pada perang orang-orang munafik mengangkat kepalanya dan melontarkan apa yang selama ini mereka sembunyikan, menampakkan apa yang mereka tutupi, dan menyerukan apa yang mereka ucapkan secara samar, sehingga ketika itu manusia terbagi menjadi mukmin, kafir, dan munafik secara jelas. Kaum mukminin menjadi tahu bahwa mereka memiliki musuh dalam selimut yang hidup bersama mereka dan tidak terpisah, sehingga bisa bersiap dan bersikap waspada.
Di antaranya; jika Allah selalu menolong dan memenangkan kaum mukminin di setiap pertempuran, membuat mereka berkuasa atas musuhnya terus menerus, maka mereka akan menjadi tinggi hati, angkuh, dan berlebihan. Jika pertolongan dan kemenangan dibentangkan atas mereka tentu keadaan mereka akan menjadi seperti jika rizki dibentangkan atas mereka. Hamba-hamba-Nya tidak akan menjadi lurus kecuali dengan kemudahan disertai kesulitan, dan kesempitan disertai kelapangan. Dia menggilirkan urusan hambaNya sesuai apa yang layak menurut hikmah-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Mengetahui dan Melihat.
Di antaranya; menumbuhkan rasa penghambaan total para wali dan golongan-Nya, dalam kelapangan dan kesempitan, dalam sesuatu yang mereka sukai dan yang mereka benci, dalam keadaan menang atau ketika musuh menang. Jika mereka tetap taat dan menghamba dalam keadaan yang disukai maupun dibenci, maka itulah hamba-Nya yang sesungguhnya, bukan seperti mereka yang beribadah kepada Allah hanya dalam tepian saja, dalam kesenangan, kelapangan dan kemudahan.
Di antaranya; apabila Dia menguji mereka dengan kekalahan, kesulitan dan kehancuran, mereka akan melemah, sedih dan tunduk, sehingga akan mengundang kejayaan dan pertolongan. Kalung kemenangan selalu bersama dengan sikap merendah dan menghinakan diri, Allah ta'alaerfirman, ‘Sungguh Allah telah menolong kalian dalam perang Badar padahal kalian (ketika itu) orang- orang yang lemah.’ (QS. Ali Imran: 123), dan firman-Nya, ‘Dan (ingatlah) perang Hunain, yaitu di waktu kalian menjadi congkak karena banyaknya jumlah kalian, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun.’ (QS. at-Taubah: 25). Jika Allah ta'ala berkehendak menjayakan, menguatkan dan menolong hamba-Nya, Dia akan mematahkannya terlebih dahulu, sehingga penawar, penyembuh, dan pertolongannya berbanding lurus dengan lukanya.
Di antaranya; bahwasannya Allah telah menyiapkan kedudukan di negeri kemuliaan-Nya bagi hamba-Nya yang tidak bisa diraih dengan amal-amal mereka. Mereka tidak dapat meraihnya kecuali dengan ujian dan cobaan, hingga Dia mengikat sebab-sebab yang dapat mengantarkan mereka kepada-Nya, dengan ujian dan cobaan-Nya itu. Allah juga memberi taufiq untuk melakukan amal shalih, yang itu semua termasuk bagian dari sebab-sebab sampainya mereka kepada-Nya.
Di antaranya; sesungguhnya jika jiwa terus menerus sehat, menang, dan kaya, maka dia akan angkuh dan cenderung tergesa-gesa. Itu adalah penyakit yang menghalanginya bersungguh-sungguh berjalan menuju Allah dan negeri akhirat. Jika Rabb, Pemilik, dan Sang Maha Pengasih menginginkan kemulian baginya, maka Dia akan berikan padanya ujian dan cobaan untuk menjadi obat dari penyakit itu, yang menghalangi jalan menuju kepada-Nya. Ujian dan cobaan ini laksana dokter yang memberikan obat yang pahit kepada orang sakit, dan memutus semua faktor penyebab rasa sakit, yang seandainya dibiarkan maka penyakit itu akan menguasainya dan membinasakannya.
Di antaranya; syahid di sisi Allah adalah derajat paling tinggi bagi para wali-Nya. Para syuhada adalah orang-orang khusus dan hamba-hamba-Nya yang dekat. Tidak ada derajat setelah orang-orang jujur selain mati syahid. Dia senang untuk menjadikan dari hamba-hamba-Nya sebagai syuhada. Darah mereka mengalir demi meraih kecintaan dan kerelaan-Nya. Mereka lebih suka kerelaan dan kecintaan-Nya daripada dirinya sendiri. Tidak ada jalan untuk meraih derajat ini kecuali dengan menyuguhkan sebab-sebab yang mengarah kepadanya, seperti dengan dikuasai musuh dan lainnya.”
Allah ta'ala berfirman, “Diwajibkan atas kalian berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kalian benci. Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal itu amat baik bagimu, dan boleh jadi kalian menyukai sesuatu, padahal itu amat buruk bagi kalian; Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 216).
Imam Ibnul Qoyim rahimahullah berkata di dalam al-Fawaid, “Di dalam ayat ini terdapat sejumlah hikmah, rahasia dan kebaikan bagi hamba. Jika seorang hamba tidak mengetahui bahwa sesuatu yang dibenci terkadang membawa sesuatu yang disukai, dan sesuatu yang disukai terkadang membawa sesuatu yang dibenci, maka dia tidak boleh merasa aman dari sesuatu yang membahayakan jika datang kepadanya sesuatu yang membahagiakan, dan dia tidak boleh berputus asa dari datangnya sesuatu yang membahagiakan jika datang padanya sesuatu yang membahayakan, karena dia tidak mengetahui bagaimana suatu urusan itu akan berakhir. Allah membuatnya melakukan hal itu karena Dia mengetahui apa yang tidak diketahui hamba-Nya. Di antara hikmah ayat ini ialah bahwa tidak ada hal yang lebih bermanfaat baginya selain menjalankan semua perintah meskipun pada awalnya itu adalah hal yang berat, karena pada akhirnya semua adalah kebaikan, kebahagiaan, kenikmatan, dan kesenangan. Jika nafsunya membenci maka itu adalah kebaikan dan manfaat baginya. Juga tidak ada yang lebih berbahaya baginya dari melakukan apa yang Dia larang meski nafsunya menyukainya dan condong kepadanya, karena kesudahan itu semua adalah rasa sakit, kesedihan, keburukan dan musibah. Orang yang memiliki akal akan lebih memilih menahan rasa sakit yang ringan, yang setelahnya adalah kenikmatan yang besar dan kebaikan yang banyak, serta menjauhi kenikmatan yang sebentar yang setelahnya rasa sakit yang berkepanjangan dan keburukan yang lama.
Di antara hikmah ayat ini ialah bahwa ayat ini menuntut hamba untuk menyerahkan segala urusan kepada siapa yang mengetahui akhir segala urusan, dan rela dengan apa yang dipilih dan ditentukannya, karena mengharap kesudahan yang baik.
Di antara hikmah ayat ini ialah hendaknya seorang hamba tidak mengritik Rabbnya, tidak memilih sesuatu di luar apa yang telah ditentukan untuknya, dan tidak meminta sesuatu yang tiada diketahuinya. Bisa jadi bahaya dan kebinasaan telah menunggu pada pada hal itu dan dia tidak mengetahuinya. Maka janganlah dia memilih di luar apa yang telah ditentukan Rabbnya. Hendaknya dia meminta agar dirinya mampu melaksanakan hal itu dengan sebaik-baiknya dan agar Dia menjadikannya rela dengan apa yang telah ditentukan untuknya, tidak ada yang lebih bermanfaat baginya dari hal itu.
Di antaranya juga, apabila dia menyerahkan urusannya kepada Rabbnya serta rela dengan apa pilihan-Nya, maka Dia akan memberikan kekuatan, tekad, dan kesabaran untuk menjalani pilihan-Nya itu. Ia akan dialihkan dari keburukan, yang merupakan konsekuensi pilihannya sendiri, dan akan diperlihatkan padanya kesudahan yang dari pilihan-Nya, yang mungkin tidak bisa diraih walau sebagiannya jika dia bertindak menurut pilihannya dirinya.
Di antaranya juga, bahwa hal itu akan membuatnya tenang dari beban pikiran yang melelahkan tentang bermacam-macam pilihan, dan melegakan dadanya dari berbagai perhitungan yang terkadang naik dan terkadang turun, yang itu semua tetap tidak keluar dari ketentuanNya. Andai dia rela dengan pilihan Allah maka dia akan tertimpa takdir dalam keadaan terpuji dan mendapat pahala serta kelembutan-Nya. Jika tidak maka takdir tetap berlaku atasnya sedang dia dalam keadaan tercela dan tidak mendapat kelembutan-Nya, karena dia bertindak menurut pilihannya sendiri. Ketika kerelaan dan berserah diri-nya itu telah benar maka apa yang telah ditakdirkan akan meliputinya dibarengi dengan kelembutan dan kasih sayang, sehingga dia berada di antara kelembutan dan kasih sayang-Nya. Kasih sayang-Nya akan melindunginya dari apa yang dia takutkan, kelembutan-Nya akan membuatnya merasa ringan dengan apa yang ditakdirkan-Nya. Jika suatu takdir berlaku pada seorang hamba, maka faktor utama berlakunya takdir itu adalah ketika ia berusaha untuk menolaknya, maka tidak ada yang lebih bermanfaat daripada menyerahkan diri dan memasrahkannya di hadapan takdir sebagaimana mayat, karena binatang buas tidak senang untuk memakan bangkai.”
Dia terus mengingatkanku kepada Allah sembari duduk sedang air mata mengalir deras dari kedua pelupuknya
Wahai putri pamanku, Kitabullah telah mengeluarkanku dengan paksa, maka apakah Allah akan menghalangiku lantaran air matamu
Jika aku kembali maka alangkah banyak orang yang mengembalikanku, jika aku menemui Rabbku maka carilah pengganti
Aku bukan orang pincang atau buta sehingga itu mengudzurku, bukan juga anak kecil yang lemah yang tidak mampu berbuat apa-apa
Diriwayatkan oleh at-Thabrani dari Ibnu Ishaq bahwa ada sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang berkata, “Aku mengikuti Perang Uhud bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersama saudaraku. Lalu kami berdua kembali dalam keadaan terluka. Tatkala penyeru Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengumumkan untuk keluar mengejar musuh, aku berkata kepada saudaraku – atau saudaraku berkata kepadaku – ‘Apakah engkau akan terlewat dari perang bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam?’ Demi Allah, kita tidak memiliki tunggangan dan kita terluka berat. Maka kami pun keluar bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Lukaku lebih ringan daripada saudaraku, sehingga ketika dia kelelahan aku menggendongnya hingga ia kuat berjalan lagi, hingga kami berhasil menyusul ke lokasi konsentrasi kaum muslimin.”
Abu Darda berkata, “Puncak keimanan adalah sabar terhadap ketentuan dan rela terhadap takdir.” Maka dengan obat ini kita membebat luka-luka yang tertoreh di sana-sini.
Wahai Umat Islam
Tubuhmu telah penuh luka tusukan. Luka dan penyakit yang telah membuatmu terbaring tidak akan dapat diobati kecuali dengan tauhid yang terikat di atas panji-panji jihad. Maka kapankah engkau memutuskan dengan benar untuk berangkat berperang dan melepaskan diri dari para algojo? Pertempuran hari ini tidak pernah jeda dan tidak mereda. Sungguh Nabi kita shallallahu alaihi wasallam berharap untuk tidak tertinggal dari satu pasukan pun yang berperang di jalan Allah. Kebiasaannya adalah terus menerus berperang dan berjihad.
Aku ingatkan kalian dengan hadits Jibril bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam paska perang Ahzab, yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, dia berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kembali ke kota Madinah, baru saja beliau meletakkan pedangnya, Jibril mendatanginya dan mengatakan, ‘Apakah engkau meletakkan senjata? Demi Allah, sesungguhnya para malaikat belum juga meletakkan senjatanya. Bangkitlah engkau bersama sahabatmu ke Bani Quraizhah, sesugguhnya aku berjalan di depanmu untuk menggoncang benteng mereka dan menanamkan rasa gentar di dalam hati mereka.’ Maka Jibril berjalan bersama rombongan para malaikat dan Rasulullah berjalan di belakangnya bersama rombongan para muhajirin dan anshar.”
Bagaimana bisa kalian, wahai kaum muslimin, ringan saja melihat saudara-saudara dan putra-putra Dien kalian tertimpa berbagai macam siksaan, pembunuhan dan kehancuran, sedangkan kalian merasa aman di negeri kalian, nyaman bersama keluarga dan harta kalian, bagaimana bisa seperti itu?!
DEMIKIANLAH PARA RASUL ITU DIUJI, LALU DIBERI KEMENANGAN (BAGIAN 2)
SYAIKH ABU MUSH’AB AL-ZARQAWI TAQABBALAHULLAH
Di Antara Gambaran Ini
Dahulu kabilah-kabilah Quraisy sepakat untuk mengembargo dan mengisolasi kaum mukminin bersama Bani Hasyim di kubu Abu Thalib. Tidak ada jual beli apapun selama tiga tahun, sampai-sampai mereka terpaksa memunguti serangga untuk dimakan. Hampir saja kaum mukminin binasa jika saja bukan karena rahmat Allah.
Ashabul-Ukhdud, mereka dicampakkan ke dalam api. Mereka tidak mau menegosiasikan agamanya dan lebih memilih mati di jalan Allah. Hingga kemudian thaghut menggali parit, menyalakan api, dan menyuruh para algojo dan tentaranya untuk membakar kaum mukminin. Terjadilah sesuatu yang mengejutkan, tak ada satupun yang menjadi lemah atau kabur. Tidak ada riwayat pun yang menyebutkan bahwa ada yang kabur, mundur, atau bersikap pengecut, akan tetapi kita dapati mereka maju dan berani. Mereka berlomba-lomba menceburkan dirinya ke dalam api. Seolah sang ghulam telah menghembuskan keberanian dan keteguhan ke dalam jiwa mereka. Inilah mereka, menyusulnya menjemput kematian, seolah mereka merasakan nikmat ketika menyuguhkan jiwa sebagai tebusan bagi agama. Mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan, bahkan Allah ta'ala menyebutnya sebagai “kemenangan yang besar.” “Sesungguhnya orangorang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah kemenangan yang besar.” (QS. al-Buruj: 11).
Dari Anas ibn Malik h, berkata, “Pamanku Anas bin an-Nazhr tidak hadir dalam perang Badar, maka dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak hadir dalam perang yang pertama kalinya engkau memerangi kaum musyrikin. Jika Allah memberikanku kesempatan untuk memerangi orang-orang musyrik, niscaya Dia akan melihat apa yang akan aku perbuat.’ Maka ketika Perang Uhud, dan kaum muslimin tersingkap, ujarnya, ‘Ya Allah, aku meminta uzur kepada-Mu dari apa yang mereka perbuat – yakni para shahabatnya – dan aku berlepas diri dari apa yang mereka perbuat – yakni orang-orang musyrik.’ Dia pun segera maju. Dia berpapasan dengan Sa’ad bin Muadz, katanya, ‘Hai Sa’ad bin Muadz, surga, demi Rabbnya an-Nazhr, surga demi Rabbnya an-Nazhr, sungguh aku mencium baunya dari arah Uhud.’ Sa’ad berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak sanggup beraksi seperti aksinya.’ Anas berkata, “Kami dapati ada lebih dari 80 luka sabetan pedang, tikaman tombak, atau tusukan anak panah. Kami dapati jasadnya telah dimutilasi oleh orang-orang musyrik. Tidak ada yang dapat mengenali jasadnya kecuali saudara perempuannya, lewat jari-jemarinya.” Anas berkata, “Kami mengira bahwa ayat ini turun untuknya atau yang semisalnya, ‘Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggununggu dan mereka tidak mengubah (janjinya)’.” (QS. al-Ahzab: 23).
Kita dapati makna kemenangan ini di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Khabbab. Ia datang menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu bertanya, “Tidakkah engkau memintakan kemenangan untuk kami? Tidakkah engkau berdoa untuk kami?” Beliau bersabda, “Dahulu di antara orang-orang sebelum kalian ada seorang laki-laki yang ditanam di dalam lubang, lalu digergajilah tubuhnya dari kepala hingga terbelah menjadi dua, namun hal itu tidak menghalanginya dari Diennya. Ada juga yang disisir dengan sisir besi hingga dagingnya terpisah dari tulangnya, namun hal itu tidak menghalanginya dari Diennya.”
Di antara kemenangan samar yang hanya bisa dilihat oleh mukmin bahwa musuh-musuh kebenaran, meskipun mereka begitu kuat dan berlebih-lebihan dalam memperlakukan lawan-lawannya, hanya saja mereka harus menelan berbagai macam kepahitan moral dan siksaan jiwa sebelum menyakiti musuhmusuhnya. Bahkan terkadang setelah melakukan kejahatannya mereka tidak bisa menemukan ketenangan dan merasakan kebahagiaan. Karena itu, tatkala al-Hajjaj ibn Yusuf membunuh Sa’id ibn Jubair, berbagai tekanan batin dirasakannya hingga tak dapat tidur nyenyak. Ia sering terbangun tiba-tiba dari tidurnya dan berkata, “Ada apa antara aku dan Sa’id?”, hingga dia mati dalam kesedihan dan kekhawatirannya itu.
Inilah yang kita yakini dalam perang melawan pembawa panji salib si thaghut durjana Amerika ini. Sekalipun dengan segala kedurjanaan dan kediktatorannya, dengan segala kekuatan dan persenjataannya, hanya saja mereka tertimpa kehinaan jiwa dan kehancuran moral yang seandainya ditumpahkan ke sebuah gunung niscaya gunung itu akan hancur.
Al-Qur’an telah menggambarkan kenyataan ini dalam surat Ali Imran, Allah ta'ala berfirman, “Dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kalian. Katakanlah (kepada mereka), ‘Matilah kalian karena kemarahan kalian itu.’ Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali Imran: 119-120).
Allah juga berfirman, “Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Mahakuat lagi Maha Perkasa.” (QS. al-Ahzab: 25).
Di antara gambaran-gambaran tersebut, yang samar bagi mereka yang tertutup mata hatinya, ialah kerinduan akan kehidupan sempurna yang telah Allah siapkan bagi para wali-Nya dan orang-orang pilihan-Nya. Allah ta'ala berfirman, “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Rabbnya dengan mendapat rizki.” (QS. Ali Imran: 169).
Siapa yang tidak mati dengan pedang maka dia pasti akan mati dengan selainnya
Sebab kematian itu beragam namun kematian itu satu
Dari penjelasan di atas, jelaslah bagi kita makna yang menyeluruh dari kemenangan, dan bahwasanya tidak boleh kita membatasi jenis kemenangan pada apa yang kita kehendaki.
Sesungguhnya di antara faktor penguat keteguhan dan kuatnya perjuangan – seperti yang kita lihat di Fallujah – bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam memberi tahu kita bahwa di antara tanda kemenangan Dien Islam adalah tidak ada kekuatan apa pun di muka bumi ini yang dapat membinasakan seluruh kaum mukminin, sebagaimana dahulu hampir terjadi di zaman nabi Nuh atau di awal risalah. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjelaskan bahwa jihad akan tetap ada dan dijalankan di muka bumi, seperti yang ditunjukkan dalam hadits shahih, “Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang menjalankan perintah Allah, tidak membahayakan mereka siapa yang menggembosi atau menyelisihi mereka, hingga datanglah keputusan Allah dan mereka tetap dalam keadaan seperti itu.”
Kemenangan dan kelangsungan dien ini ada di tangan Allah. Dia telah menjaminnya dan berjanji akan hal itu. Jika Dia berkehendak maka akan menolong dan memenangkannya, dan jika Dia berkehendak maka akan menundanya dan mengakhirkannya, dan Dia Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui akan urusan-Nya. Jika Dia memperlambatnya maka itu semua karena kebijaksanaanNya yang telah ditentukan-Nya, dan tentu di dalamnya terdapat kebaikan bagi mukmin. Tidak ada yang lebih cemburu terhadap kebenaran dan pemeluknya daripada Allah ta'ala, “Pada hari itu bergembiralah orang-orang yang beriman karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dialah Yang Maha Perkasa lagi Penyayang. (Sebagai) janji yang sebenarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. ar-Rum: 4-6).
Jangan engkau kira kemuliaan itu seperti kurma yang engkau memakannya
Engkau tidak akan meraih kemuliaan hingga engkau mengecap kesabaran
Sesungguhnya Allah ta'ala, Mahatinggi keputusanNya dan Mahamulia keagungan-Nya, Dia terkadang mengaruniakan kemenangan kepada orang-orang beriman dan terkadang menguji mereka. Dia menghalangi mereka dari nikmat ini dan menimpakan ujian karena hikmah yang telah ditentukan dan diketahui-Nya. Terkadang Allah memberikan nikmat dalam ujian meski berat dan terkadang Allah menguji suatu kaum dengan nikmat.
Ibnul Qayim rahimahullah di dalam Zadul Ma’ad telah menyebutkan hikmah-hikmah ini secara sekilas, ujarnya, “Di antaranya bahwa ini adalah salah satu ciri para rasul, seperti yang dikatakan Heraklius kepada Abu Sufyan, ‘Apakah kalian memeranginya?’ ‘Ya’, jawabnya. Heraklius bertanya lagi, ‘Bagaimana perang antara kalian dengannya?’ Jawabnya, ‘Terkadang dia mengalahkan kami dan terkadang kami mengalahkannya.’ Heraklius berujar, ‘Begitulah para Rasul, mereka diuji lalu kesudahan yang baik bagi mereka.’
Di antaranya hikmahnya yaitu untuk memisahkan antara mukmin yang jujur dan munafik pendusta. Tatkala Allah memberikan kemenangan kepada kaum muslimin pada Perang Badar sehingga mereka ditakuti, ada orangorang yang masuk Islam secara lahir namun tidak secara batin. Sehingga Allah menguji hamba-Nya, berdasarkan hikmah-Nya, agar memisahkan antara muslim dan munafik. Pada perang orang-orang munafik mengangkat kepalanya dan melontarkan apa yang selama ini mereka sembunyikan, menampakkan apa yang mereka tutupi, dan menyerukan apa yang mereka ucapkan secara samar, sehingga ketika itu manusia terbagi menjadi mukmin, kafir, dan munafik secara jelas. Kaum mukminin menjadi tahu bahwa mereka memiliki musuh dalam selimut yang hidup bersama mereka dan tidak terpisah, sehingga bisa bersiap dan bersikap waspada.
Di antaranya; jika Allah selalu menolong dan memenangkan kaum mukminin di setiap pertempuran, membuat mereka berkuasa atas musuhnya terus menerus, maka mereka akan menjadi tinggi hati, angkuh, dan berlebihan. Jika pertolongan dan kemenangan dibentangkan atas mereka tentu keadaan mereka akan menjadi seperti jika rizki dibentangkan atas mereka. Hamba-hamba-Nya tidak akan menjadi lurus kecuali dengan kemudahan disertai kesulitan, dan kesempitan disertai kelapangan. Dia menggilirkan urusan hambaNya sesuai apa yang layak menurut hikmah-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Mengetahui dan Melihat.
Di antaranya; menumbuhkan rasa penghambaan total para wali dan golongan-Nya, dalam kelapangan dan kesempitan, dalam sesuatu yang mereka sukai dan yang mereka benci, dalam keadaan menang atau ketika musuh menang. Jika mereka tetap taat dan menghamba dalam keadaan yang disukai maupun dibenci, maka itulah hamba-Nya yang sesungguhnya, bukan seperti mereka yang beribadah kepada Allah hanya dalam tepian saja, dalam kesenangan, kelapangan dan kemudahan.
Di antaranya; apabila Dia menguji mereka dengan kekalahan, kesulitan dan kehancuran, mereka akan melemah, sedih dan tunduk, sehingga akan mengundang kejayaan dan pertolongan. Kalung kemenangan selalu bersama dengan sikap merendah dan menghinakan diri, Allah ta'alaerfirman, ‘Sungguh Allah telah menolong kalian dalam perang Badar padahal kalian (ketika itu) orang- orang yang lemah.’ (QS. Ali Imran: 123), dan firman-Nya, ‘Dan (ingatlah) perang Hunain, yaitu di waktu kalian menjadi congkak karena banyaknya jumlah kalian, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun.’ (QS. at-Taubah: 25). Jika Allah ta'ala berkehendak menjayakan, menguatkan dan menolong hamba-Nya, Dia akan mematahkannya terlebih dahulu, sehingga penawar, penyembuh, dan pertolongannya berbanding lurus dengan lukanya.
Di antaranya; bahwasannya Allah telah menyiapkan kedudukan di negeri kemuliaan-Nya bagi hamba-Nya yang tidak bisa diraih dengan amal-amal mereka. Mereka tidak dapat meraihnya kecuali dengan ujian dan cobaan, hingga Dia mengikat sebab-sebab yang dapat mengantarkan mereka kepada-Nya, dengan ujian dan cobaan-Nya itu. Allah juga memberi taufiq untuk melakukan amal shalih, yang itu semua termasuk bagian dari sebab-sebab sampainya mereka kepada-Nya.
Di antaranya; sesungguhnya jika jiwa terus menerus sehat, menang, dan kaya, maka dia akan angkuh dan cenderung tergesa-gesa. Itu adalah penyakit yang menghalanginya bersungguh-sungguh berjalan menuju Allah dan negeri akhirat. Jika Rabb, Pemilik, dan Sang Maha Pengasih menginginkan kemulian baginya, maka Dia akan berikan padanya ujian dan cobaan untuk menjadi obat dari penyakit itu, yang menghalangi jalan menuju kepada-Nya. Ujian dan cobaan ini laksana dokter yang memberikan obat yang pahit kepada orang sakit, dan memutus semua faktor penyebab rasa sakit, yang seandainya dibiarkan maka penyakit itu akan menguasainya dan membinasakannya.
Di antaranya; syahid di sisi Allah adalah derajat paling tinggi bagi para wali-Nya. Para syuhada adalah orang-orang khusus dan hamba-hamba-Nya yang dekat. Tidak ada derajat setelah orang-orang jujur selain mati syahid. Dia senang untuk menjadikan dari hamba-hamba-Nya sebagai syuhada. Darah mereka mengalir demi meraih kecintaan dan kerelaan-Nya. Mereka lebih suka kerelaan dan kecintaan-Nya daripada dirinya sendiri. Tidak ada jalan untuk meraih derajat ini kecuali dengan menyuguhkan sebab-sebab yang mengarah kepadanya, seperti dengan dikuasai musuh dan lainnya.”
Allah ta'ala berfirman, “Diwajibkan atas kalian berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kalian benci. Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal itu amat baik bagimu, dan boleh jadi kalian menyukai sesuatu, padahal itu amat buruk bagi kalian; Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 216).
Imam Ibnul Qoyim rahimahullah berkata di dalam al-Fawaid, “Di dalam ayat ini terdapat sejumlah hikmah, rahasia dan kebaikan bagi hamba. Jika seorang hamba tidak mengetahui bahwa sesuatu yang dibenci terkadang membawa sesuatu yang disukai, dan sesuatu yang disukai terkadang membawa sesuatu yang dibenci, maka dia tidak boleh merasa aman dari sesuatu yang membahayakan jika datang kepadanya sesuatu yang membahagiakan, dan dia tidak boleh berputus asa dari datangnya sesuatu yang membahagiakan jika datang padanya sesuatu yang membahayakan, karena dia tidak mengetahui bagaimana suatu urusan itu akan berakhir. Allah membuatnya melakukan hal itu karena Dia mengetahui apa yang tidak diketahui hamba-Nya. Di antara hikmah ayat ini ialah bahwa tidak ada hal yang lebih bermanfaat baginya selain menjalankan semua perintah meskipun pada awalnya itu adalah hal yang berat, karena pada akhirnya semua adalah kebaikan, kebahagiaan, kenikmatan, dan kesenangan. Jika nafsunya membenci maka itu adalah kebaikan dan manfaat baginya. Juga tidak ada yang lebih berbahaya baginya dari melakukan apa yang Dia larang meski nafsunya menyukainya dan condong kepadanya, karena kesudahan itu semua adalah rasa sakit, kesedihan, keburukan dan musibah. Orang yang memiliki akal akan lebih memilih menahan rasa sakit yang ringan, yang setelahnya adalah kenikmatan yang besar dan kebaikan yang banyak, serta menjauhi kenikmatan yang sebentar yang setelahnya rasa sakit yang berkepanjangan dan keburukan yang lama.
Di antara hikmah ayat ini ialah bahwa ayat ini menuntut hamba untuk menyerahkan segala urusan kepada siapa yang mengetahui akhir segala urusan, dan rela dengan apa yang dipilih dan ditentukannya, karena mengharap kesudahan yang baik.
Di antara hikmah ayat ini ialah hendaknya seorang hamba tidak mengritik Rabbnya, tidak memilih sesuatu di luar apa yang telah ditentukan untuknya, dan tidak meminta sesuatu yang tiada diketahuinya. Bisa jadi bahaya dan kebinasaan telah menunggu pada pada hal itu dan dia tidak mengetahuinya. Maka janganlah dia memilih di luar apa yang telah ditentukan Rabbnya. Hendaknya dia meminta agar dirinya mampu melaksanakan hal itu dengan sebaik-baiknya dan agar Dia menjadikannya rela dengan apa yang telah ditentukan untuknya, tidak ada yang lebih bermanfaat baginya dari hal itu.
Di antaranya juga, apabila dia menyerahkan urusannya kepada Rabbnya serta rela dengan apa pilihan-Nya, maka Dia akan memberikan kekuatan, tekad, dan kesabaran untuk menjalani pilihan-Nya itu. Ia akan dialihkan dari keburukan, yang merupakan konsekuensi pilihannya sendiri, dan akan diperlihatkan padanya kesudahan yang dari pilihan-Nya, yang mungkin tidak bisa diraih walau sebagiannya jika dia bertindak menurut pilihannya dirinya.
Di antaranya juga, bahwa hal itu akan membuatnya tenang dari beban pikiran yang melelahkan tentang bermacam-macam pilihan, dan melegakan dadanya dari berbagai perhitungan yang terkadang naik dan terkadang turun, yang itu semua tetap tidak keluar dari ketentuanNya. Andai dia rela dengan pilihan Allah maka dia akan tertimpa takdir dalam keadaan terpuji dan mendapat pahala serta kelembutan-Nya. Jika tidak maka takdir tetap berlaku atasnya sedang dia dalam keadaan tercela dan tidak mendapat kelembutan-Nya, karena dia bertindak menurut pilihannya sendiri. Ketika kerelaan dan berserah diri-nya itu telah benar maka apa yang telah ditakdirkan akan meliputinya dibarengi dengan kelembutan dan kasih sayang, sehingga dia berada di antara kelembutan dan kasih sayang-Nya. Kasih sayang-Nya akan melindunginya dari apa yang dia takutkan, kelembutan-Nya akan membuatnya merasa ringan dengan apa yang ditakdirkan-Nya. Jika suatu takdir berlaku pada seorang hamba, maka faktor utama berlakunya takdir itu adalah ketika ia berusaha untuk menolaknya, maka tidak ada yang lebih bermanfaat daripada menyerahkan diri dan memasrahkannya di hadapan takdir sebagaimana mayat, karena binatang buas tidak senang untuk memakan bangkai.”
Dia terus mengingatkanku kepada Allah sembari duduk sedang air mata mengalir deras dari kedua pelupuknya
Wahai putri pamanku, Kitabullah telah mengeluarkanku dengan paksa, maka apakah Allah akan menghalangiku lantaran air matamu
Jika aku kembali maka alangkah banyak orang yang mengembalikanku, jika aku menemui Rabbku maka carilah pengganti
Aku bukan orang pincang atau buta sehingga itu mengudzurku, bukan juga anak kecil yang lemah yang tidak mampu berbuat apa-apa
Diriwayatkan oleh at-Thabrani dari Ibnu Ishaq bahwa ada sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang berkata, “Aku mengikuti Perang Uhud bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersama saudaraku. Lalu kami berdua kembali dalam keadaan terluka. Tatkala penyeru Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengumumkan untuk keluar mengejar musuh, aku berkata kepada saudaraku – atau saudaraku berkata kepadaku – ‘Apakah engkau akan terlewat dari perang bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam?’ Demi Allah, kita tidak memiliki tunggangan dan kita terluka berat. Maka kami pun keluar bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Lukaku lebih ringan daripada saudaraku, sehingga ketika dia kelelahan aku menggendongnya hingga ia kuat berjalan lagi, hingga kami berhasil menyusul ke lokasi konsentrasi kaum muslimin.”
Abu Darda berkata, “Puncak keimanan adalah sabar terhadap ketentuan dan rela terhadap takdir.” Maka dengan obat ini kita membebat luka-luka yang tertoreh di sana-sini.
Wahai Umat Islam
Tubuhmu telah penuh luka tusukan. Luka dan penyakit yang telah membuatmu terbaring tidak akan dapat diobati kecuali dengan tauhid yang terikat di atas panji-panji jihad. Maka kapankah engkau memutuskan dengan benar untuk berangkat berperang dan melepaskan diri dari para algojo? Pertempuran hari ini tidak pernah jeda dan tidak mereda. Sungguh Nabi kita shallallahu alaihi wasallam berharap untuk tidak tertinggal dari satu pasukan pun yang berperang di jalan Allah. Kebiasaannya adalah terus menerus berperang dan berjihad.
Aku ingatkan kalian dengan hadits Jibril bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam paska perang Ahzab, yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, dia berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kembali ke kota Madinah, baru saja beliau meletakkan pedangnya, Jibril mendatanginya dan mengatakan, ‘Apakah engkau meletakkan senjata? Demi Allah, sesungguhnya para malaikat belum juga meletakkan senjatanya. Bangkitlah engkau bersama sahabatmu ke Bani Quraizhah, sesugguhnya aku berjalan di depanmu untuk menggoncang benteng mereka dan menanamkan rasa gentar di dalam hati mereka.’ Maka Jibril berjalan bersama rombongan para malaikat dan Rasulullah berjalan di belakangnya bersama rombongan para muhajirin dan anshar.”
Bagaimana bisa kalian, wahai kaum muslimin, ringan saja melihat saudara-saudara dan putra-putra Dien kalian tertimpa berbagai macam siksaan, pembunuhan dan kehancuran, sedangkan kalian merasa aman di negeri kalian, nyaman bersama keluarga dan harta kalian, bagaimana bisa seperti itu?!