RUMIYAH 11 - STATEMEN
DAN TATKALA ORANG-ORANG BERIMAN MELIHAT PASUKAN AHZAB
STATEMEN JURU BICARA DAULAH ISLAMIYAH, SYAIKH ABUL HASSAN AL-MUHAJIR
Segala puji bagi Allah yang berfirman di dalam Kitab-Nya yang mulia: “Dan tatkala orang-orang beriman itu melihat pasukan Ahzab (golongan-golongan yang bersekutu), mereka berkata, ‘inilah yang Allah janjikan kepada kita.’ Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.’ Dan demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (Al-Ahzab: 22)
Dan aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadati selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Allah telah mengutus beliau dengan pedang menjelang akhir zaman, sebagai pembawa kabar gembira, pemberi peringatan, penyeru manusia kepada Allah dengan izin-Nya, serta pelita yang menerangi. Melalui beliaulah, Allah menegakkan hujah, menjelaskan jalan yang lurus, membela millah hanifiyah (agama lurus), dan berjihad di jalan Allah sehingga agama pun tegak melalui beliau. Semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah deras kepada beliau, amma ba’du:
Sesungguhnya, di antara sunnah-sunnah Allah yang takkan berubah dan berganti adalah cobaan-Nya kepada para hamba-Nya yang beriman, sebagaimana dikabarkan Allah ‘azza wa jalla melalui firman-Nya: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami beriman’, sedangkan mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-’Ankabut: 2-3)
Dan Allah ‘azza wa jalla berfirman: “Dan sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia membinasakan mereka, tetapi Dia hendak menguji kamu satu sama lain. Dan orang-orang yang gugur dijalan Allah, Allah tidak menyia-nyiakan amalan mereka.” (Muhammad: 4)
Maka orang beriman sudah semestinya memposisikan dirinya untuk (menghadapi) ujian. Disebutkan di dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari Rabbnya subhanahu wa ta’ala:
“Ketahuilah bahwasannya Rabbku memerintahkanku untuk mengajari apa yang kalian tidak ketahui dari apa yang telah Dia ajarkan kepadaku pada hariku ini, semua harta yang Aku berikan kepada hambaku adalah halal, dan Aku telah menciptakan hambaku itu dalam keadaan lurus semuanya, namun sesungguhnya setan-setan itu mendatangi mereka, sehingga setan mengalihkan mereka dari agama mereka, dan mengharamkan atas mereka apa yang telah Aku halalkan untuk mereka, (setan) menyuruh mereka untuk menyekutukan Aku yang Aku tidak pernah menurunkan keterangan pun tentangnya. Dan sesungguhnya Allah b melihat penduduk bumi maka Dia sangat membencinya, baik mereka bangsa Arab maupun merka ‘Ajam (non-Arab), kecuali sisa-sisa dari Ahli Kitab, maka Dia berfirman, ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya Aku hanyalah mengutusmu untuk mengujimu, dan Aku menguji (manusia) denganmu, dan Aku menurunkan kepadamu sebuah kitab yang air tidak dapat mencucinya, yang engkau baca baik dalam keadaan tidur maupun terjaga.’ Dan sesungguhnya Allah memerintahkanku untuk membakar Quraisy, maka aku berkata, ‘Wahai Rabbku jadi mereka akan memecahkan kepalaku dan meninggalkannya seperti roti.’ Dia berfirman, ‘Usirlah mereka seperti mereka telah mengusirmu, perangilah mereka seperti mereka mereka telah memerangimu, berinfaklah maka engkau akan diberi, utuslah satu pasukan maka Aku akan mengutus lima kali lipatnya, berperanglah bersama orang yang taat kepadamu melawan orang yang mendurhakaimu.”
Beragam cobaan yang tengah dilalui Daulah Islam pada hari ini, berupa berhimpunnya berbagai agama kekafiran dan bersekutunya golongan-golongan berkoalisi melawannya, tidak lain adalah bukti akan kebenaran janji itu. Maka kami tidaklah mengatakan kecuali seperti perkataan para pendahulu kami yang shalih dari kalangan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tatkala mereka melihat golongan-golongan yang bersekutu itu: “Inilah yang Allah janjikan kepada kita.” Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.”
Dan Allah telah menurunkan ayat di dalam Surat Al-Baqarah: “Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, ‘Kapankah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungghunya pertolongan Allah itu dekat.” (Al- Baqarah: 214)
Allah jalla fi ‘ula menjelaskan seraya mengingkari orang yang mengira sebaliknya, bahwasannya mereka itu tidak akan masuk surga kecuali setelah mereka diuji seperti umat-umat sebelum mereka, dengan ‘malapetaka’ yaitu (minimnya) kebutuhan dan kemiskinan, dengan ‘kesengsaraan’ yaitu derita dan penyakit, dan dengan ‘keguncangan’ yaitu guncangan musuh.
Maka tatkala datang golongan-golongan yang bersekutu pada Perang Khandaq, kemudian mereka melihatnya, mereka berkata, “Inilah yang Allah janjikan kepada kita.” Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.” Dan mereka menyadari bahwa Allah telah menguji mereka dengan guncangan, dan telah datang kepada mereka (cobaan) seperti yang (dialami) orang-orang terdahulu sebelum mereka, dan hal demikian itu tidaklah menambah kepada mereka selain keimanan dan ketundukan terhadap hukum Allah dan perintah-Nya.
Dan inilah kondisi kaum muslimin yang jujur pada hari ini, sebagaimana juga kondisi kaum muslimin yang jujur di setiap masa, dan sesungguhnya fitnah (huru-hara) yang diujikan kepada kaum muslimin di Daulah Khilafah melawan orang-orang kafir perusak yang menyerang syariat Islam ini, sungguh pernah berlaku juga semisalnya pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengannya Allah menguji Nabi-Nya dan kaum mukmin, dan dalam peristiwa-peristiwa itu Allah ‘azza wa jalla menurunkan sejumlah surat yang gamblang dan ayat-ayat yang terang. Lalu kitab-kitab sunah sangat melimpah dengan pembahasan mengenainya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya nash-nash Al-Quran dan As-Sunnah yang keduanya merupakan dakwah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, berlaku bagi segenap makhluk. Dan berbagai janji Allah di dalam kitab-Nya dan sunah Rasul-Nya akan diberlakukan untuk generasi akhir umat ini, sebagaimana telah berlaku untuk generasi awalnya. Sesungguhnya, Allah mengisahkan kepada kita berbagai kisah kaum dari umat-umat sebelum kita untuk menjadi ‘ibrah (pelajaran) bagi kita, sehingga kita bisa menyandingkan keadaan kita dengan keadaan mereka, dan menimbang umatumat generasi belakangan dengan generasi-generasi awalnya. Agar kaum mukmin dari generasi mutakhir memiliki persamaan dengan kaum mukmin terdahulu.” Selesai perkataan beliau rahimahullah.
Di Perang Badar, Allah menceritakan keadaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat beliau yang mulia berhadapan dengan musuh-musuh mereka. Allah berfirman, “Sungguh, telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang berhadap-hadapan. Satu golongan berperang di jalan Allah dan yang lain (golongan) kafir yang melihat dengan mata kepala, bahwa mereka (golongan muslim) dua kali lipat mereka. Allah menguatkan dengan pertolongan- Nya bagi siapa yang Dia kehendaki. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orangorang yang mempunyai penglihatan (mata hati).” (Ali Imran: 13)
Allah juga mengisahkan kepada kita terkait pengepungan mereka terhadap Bani Nadhir, Dia berfirman, “Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara Ahli Kitab dari kampung halamannya pada saat pengusiran pertama. Kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin, benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah mendatangkan (siksaan) kepada mereka dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah menanamkan rasa takut kedalam hati mereka; sehingga mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangannya sendiri dan tangan-tangan orang-orang Mukmin. Maka amblillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan!” (Al-Hasyr: 2)
Allah ta’ala memerintahkan kita untuk mempelajari hal ihwal orang yang mendahului kita dari umat ini, dan dari umat-umat sebelumnya. Kemudian Allah ‘azza wa jalla menyebutkan di lebih dari satu tempat di dalam Kitab-Nya, bahwa ketetapan-Nya terkait suatu umat adalah suatu keniscayaan dan terus berlanjut. Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Dan sekiranya orang-orang kafir itu memerangi kamu pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah) kemudian mereka tiada memperoleh pelindung tidak pula penolong. Sebagai suatu sunatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tidak akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu.” (Al-Fath: 22-23)
Maka setiap mujahid di Daulah Islam seyogyanya mempelajari sunnatullah dan segenap peristiwanya terkait para hamba-Nya, terlebih lagi di saat agresi semakin sengit terhadap Darul Islam dan negeri Khilafah. Kemunafikan mulai menampakkan jati dirinya dan kekafiran telah memperlihatkan taringnya. Orang-orang munafik dan orang-orang berpenyakit hati mengira bahwa yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya itu adalah tipu-daya belaka, serta mengira bahwa golongan Allah dan Rasul-Nya tidak akan kembali bertemu keluarganya selamalamanya. Dan hal itu dipandang baik di dalam hati mereka, dan mereka berprasangka yang buruk, sedangkan mereka adalah kaum yang binasa.
Sejatinya sudut pandang dari berbagai peristiwa agung ini adalah sebagaimana kaum mukmin diuji bersama Rasulullah pada Perang Ahzab, dan Allah menurunkan satu surat yang mengandung hikayat peperangan ini yang mana Allah menolong golongan tepercaya-Nya, menolong bala tentara-Nya, dan menghancurkan sendiri semua musuh-Nya tanpa melalui peperangan, bahkan hanya dengan keteguhan kaum mukmin dalam menghadapi musuh mereka. Pun demikian keadaan hari ini di Raqqah, Mosul, dan Tal Afar, sangat persis menyerupai kondisi masa-masa itu.
Pada hari ini, manusia telah terbagi sebagaimana terbaginya mereka pada masa Perang Khandaq. Pada perang Ahzab, kaum muslimin dikeroyok oleh seluruh kaum musyrik yang mengepung. Dengan pasukan besar, mereka mendatangi Madinah untuk membasmi kaum muslimin. Bangsa Quraisy dan para sekutu mereka berhimpun, mulai dari kabilah Bani Asad, Asyja’, Fazarah, dan kabilah-kabilah Nejed lainnya. Dan berhimpun pula kaum Yahudi dari Bani Quraizhah dan Bani Nadhir. Sebelumnya, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengusir Bani Nadhir, sebagaimana dikisahkan Allah dalam Surat Al-Hasyr.
Dalam Perang Ahzab, mereka bergabung dengan Bani Quraizhah, padahal mereka telah menekan perjanjian dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan hidup berdampingan dengan beliau dekat Madinah. Mereka tetap dalam kondisi demikian, sampai akhirnya Bani Quraizhah melanggar perjanjian dan bergabung ke dalam golongan-golongan bersekutu.
Pasukan Ahzab yang besar ini berhimpun, jumlah dan persenjataan mereka mengungguli kaum muslimin berlipat-lipat ganda. Rasulullah pun mengungsikan para wanita dan anak-anak kecil ke perbukitan Madinah. Kemudian memposisikan mereka membelakangi Gunung Sila’ dan membuat parit antara beliau dan musuh. Sedangkan musuh yang mengepung mereka dari atas dan bawah adalah musuh dengan permusuhan yang sangat keras. Seandainya mereka berhasil mengalahkan kaum mukmin, niscaya akan menyiksa dengan siksaan yang luar biasa.
Pada peristiwa-peristiwa hari ini, seluruh musuh dari kalangan Salibis, Atheis, Syiah Rafidhah, dan kelompok-kelompok murtadin lainnya, mereka datang disertai pesawat-pesawat tempur dan kapal-kapal perang mereka, serta seluruh kekuatan yang mereka miliki, untuk menyerang dan menjajah negeri-negeri kaum muslimin. Mereka mengepung negeri-negeri kaum muslimin dari segala penjuru, sebagaimana Allah Rabb firmankan mengenai Perang Ahzab, “Yaitu ketika mereka datang dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatanmu dan hatimu menyesak sampai tenggorokan dan kamu menyangka kepada Allah dengan berbagai purbasangka. Di situlah orang-orang mukmin diuji dan diguncang hatinya dengan goncangan yang sangat.” (Al-Ahzab: 10-11)
Imam Ibnu Katsir r berkata tentang penafsiran ayat ini, “Allah ‘azza wa jalla berfirman mengkabarkan keadaan tersebut, ketika golongan-golongan yang bersekutu itu tiba di sekitaran Madinah, sedangkan kaum Muslimin terkepung dalam keadaan sangat sulit dan sempit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ada di tengah-tengah mereka; di saat mereka diuji, diberikan cobaan, dan diguncang dengan guncangan sangat hebat, maka saat itulah muncul sifat kemunafikan, lalu orang-orang berpenyakit hati mulai melontarkan isi hati mereka. Adapun orang munafik, kemunafikannya menyeruak. Dan orang yang hatinya menyimpang, maka pendiriannya melemah, dia merasakan kebimbangan di dalam jiwanya; disebabkan kelemahan imannya, dan penderitaan yang menimpanya berupa kesulitan.” Selesai ucapannya rahimahullah.
Hari ini, manusia berhamburan mengikuti keyakinan masing-masing. Orang-orang yang lemah lagi bingung akan berburuk sangka.
Kelompok ini menyangka bahwa tidak ada seorang mujahid pun yang akan mampu menghadapi pasukan koalisi, dan para pemeluk Islam akan binasa. Kelompok ini menyangka bahwa seandainya mereka melawan niscaya musuh-musuh itu akan melumat mereka dengan sekali hentakan, dan akan membelenggu mereka tak ubahnya gelang melilit pergelangan tangan. Kelompok ini juga menyangka bahwa bumi Iraq, Syam, dan negeri-negeri Islam lainnya tidak lagi menjadi tempat berlindung kaum muslimin, dan tak lagi berada di bawah kekuasaan Daulah Islam. Jiwanya membisikinya untuk kabur ke darul kufur. Kelompok ini mengira bahwa apa yang diinformasikan para ulama hadits Nabi Muhammad dan para pakar periwayatan berupa kabar-kabar gembira, tiada lain hanyalah angan-angan dusta dan dongeng yang sia-sia. Kemudian Allah menyebutkan perkataan kalangan munafikin yang berada dalam barisan pasukan kaum muslim di Perang Ahzab, “Dan ingatlah ketika segolongan diantara mereka berkata, ‘Wahai penduduk Yatsrib (Madinah)! Tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu.’” (Al- Ahzab: 13)
Saat itu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah membangun kamp bersama kaum muslimin di Gunung Sila’, dan membuat parit antara beliau dengan musuh. Segolongan dari mereka lantas berkata, “Tidak ada tempat bagimu di sini, karena begitu banyaknya musuh, maka kembalilah ke Madinah.” Dan dikatakan juga: “Tidak ada tempat bagi kalian di atas agama Muhammad, maka kembalilah kepada agama kesyirikan.” Dan dikatakan pula: “Tidak ada tempat bagi kalian untuk berperang, maka kembalilah meminta jaminan keamanan dan perlindungan kepada mereka.” Kemudian Allah c menyebutkan kondisi kaum munafikin dalam perang itu dan ucapan mereka, di lebih dari satu tempat, terkadang mereka berkata, “Kalianlah yang telah menyuruh kami untuk tinggal di tempat ini dan menetap di tsughur (front) ini sampai sekarang. Jika sekiranya kami pergi sebelum ini, maka musibah ini tidak akan menimpa kami.” Terkadang mereka mengatakan, “Dengan jumlah pasukan yang sedikit dan kelemahan kalian, maka kalian hendak mengalahkan musuh, sungguh kalian telah tertipu oleh agama kalian.” Sebagaimana Allah ‘azza wa jalla berfirman, “(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata, ‘Mereka itu (orang-orang Mukmin) ditipu oleh agamanya.’ (Allah berfirman), ‘Barang siapa bertawakal kepada Allah, ketahuilah bahwa Allah Maha perkasa, Maha bijaksana.’” (Al-Anfal: 49)
Terkadang mereka berkata, “Kalian sudah gila, kalian tidak punya akal. Kalian hendak membinasakan diri kalian dan membinasakan manusia bersama kalian.” Kadang mereka juga mengatakan berbagai macam ucapan yang sangat menyakitkan. Lalu setelah Allah menyebutkan keadaan orang-orang munafik dan orang-orang yang teguh dari kalangan kaum mukminin dalam surat Al-Ahzab, Dia memerintahkan para hamba-Nya yang beriman untuk meneladani dan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di peristiwa-peristiwa seperti ini. Allah berfirman, “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat danyang banyak mengingat Allah.” (Al-Ahzab: 21)
Allah mengabarkan bahwa orang-orang yang diuji dengan musuh seperti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diuji, maka diri beliau menjadi teladan yang baik bagi mereka, yang mana mereka tertimpa seperti apa yang menimpa beliau. Maka hendaklah mereka itu mencontoh beliau dalam hal ketawakalan dan kesabaran, serta janganlah menyangka bahwa hal ini merupakan siksaan bagi dirinya, penistaan untuknya. Karena jika begitu, maka Rasulullah yang notabene makhluk terbaik, tidak akan diuji dengan cobaan. Bahkan dengan cobaan, derajat-derajat tinggi akan diraih, dan dengannya pula Allah menghapus kesalahankesalahan bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan Hari Akhir, serta banyak mengingat Allah.
Imam Ibnu Katsir berkata mengenai tafsir ayat ini, “Ayat mulia ini menjadi fondasi sangat agung dalam meneladani Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, baik dalam ucapan, perbuatan, dan peristiwaperistiwa yang dialami beliau. Oleh karena itu, Allah memerintahkan manusia untuk meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di Perang Ahzab dalam hal kesabaran, saling berwasiat dalam kesabaran, keteguhan dalam ribath, kesungguhan dan kesabaran beliau menanti jalan keluar dari Rabb beliau jalla fi ‘ula, semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau hingga Hari Kiamat. Oleh karena itu, Allah berfirman kepada orang-orang yang gundah, terguncang, dan gelisah akan kondisinya pada Perang Ahzab, “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu,” yaitu mengapa kalian tidak meneladani beliau dan mencontoh sifat-sifat beliau? Oleh sebab itu, Dia berfirman, “(Yaitu) bagi mereka yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” Selesai perkataannya rahimahullah.
Sungguh Allah menghalau Pasukan Ahzab dengan mengirim angin topan dan mencerai-beraikan hati mereka sehingga meluluh-lantakkan persatuan mereka, dan mereka tidak memperoleh kebaikan sedikit pun, sebagaimana terdapat di dalam firman- Nya: “Dan Allah menghalau orang-orang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, kerena mereka (juga) tidak memperoleh keuntungan apapun. Cukuplah Allah yang menolong dan menghindarkan orang-orang mukmin dalam peperangan. Dan Allah Mahakuat, Mahaperkasa.” (Al-Ahzab: 25)
Maka kita memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar menghalau Pasukan Koalisi dari Daulah Khilafah sebagaimana Dia telah menghalaunya dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat beliau yang mulia –semoga Allah meridhai mereka–.
Duhai Rabb Penjaga Baitullah limpahkan ampunan-Mu dan pertaubatan
Dengan keagunganmu ilhamkan kepada kami kebenaran
Dengan karunia-Mu pakaikanlah kami mahkota kemenangan
Dan kenakan siksa kepada kumpulan kekafiran
Demikianlah sayap setiap orang menunjukkan penghormatan
Dan demi kemuliaan-Mu leher-leher kami patahkan
Wahai tentara Khilafah, telaah dan pelajarilah berbagai peristiwa yang terjadi di sekitarmu. Renungkan kemudian lihatlah. Demi Allah, semua itu tidak lain hanyalah kematian yang satu dan kebinasaan yang satu. Maka jadilah orang yang mulia dengan agamamu dan berpegang teguhlah dengan keimananmu, mudah-mudahan engkau menghadap Tuhanmu yang meridhaimu, sedang engkau tetap maju dan pantang mundur.
Wahai tentara Khilafah, hindarilah dan jauhilah forum-forum fitnah. Ikutilah wasiat Nabimu shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala bersabda, “Barangsiapa yang menaatiku, berarti dia telah menaati Allah. Dan barangsiapa bermaksiat kepadaku, berarti dia telah bermaksiat kepada Allah. Barangsiapa yang menaati amir, berarti telah menaati ku, dan barangsiapa yang bermaksiat kepada amir, berarti dia telah bermaksiat kepadaku.”
Dalam kesempatan ini, tak lupa kami mengingatkan para ikhwah mujahidin dan umat Islam secara umum agar memanfaatkan sisa waktu di bulan mulia ini, yang mana Allah berfirman tentangnya, “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia sekaligus penjelasan dari petunjuk dan pembeda.” (Al-Baqarah: 185)
Sesungguhnya, di antara nikmat Allah subhanahu wa ta’ala untuk para hamba-Nya yang beriman adalah diantarkannya mereka ke musim kebaikan ini, demi menyucikan jiwa mereka dan membersihkan kotoran yang melekat agar kembali jernih dan murni. Sehingga mereka bersegera menjalankan amalan-amalan shalih dan memanfaatkan hari-hari yang tersisa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila datang Bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu surga, dan ditutuplah pintupintu neraka dan para setan dibelenggu.”
Maka selamat bagi yang sukses mendapatkannya, berarti sungguh dia telah menyerahkan diri kepada Allah, sedang dia berbuat kebajikan dan mengikuti millah (agama) Ibrahim yang hanif (lurus). Selamat bagi yang mengamalkan seluruh syariat islam. Selamat bagi yang tetap teguh di atas kebenaran dan “mengambil” Al-Quran dengan sungguh-sungguh. Selamat bagi yang menyambut seruan Allah, beriman kepada para rasul-Nya, berjihad melawan para musuh-Nya, dan membenarkan janji-Nya.
Wahai bala tentara Khilafah para penggenggam bara api yang bersabar lagi teguh di atas janji, yang menyadari bahwa dunia ini hanyalah negeri cobaan dan ujian, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, “Dan Kami benar-benar akan menguji kalian hingga Kami mengetahui orang-orang yang berjihad di antara kalian dan orang-orang yang sabar di antara kalian, serta akan Kami uji perihal kalian.” (Muhammad: 31)
Ketahuilah, semoga Allah merahmati kalian, sejatinya kalian saat ini adalah katibah (batalion) dan para pelopor Islam dalam melawan koalisi-koalisi kekafiran. Dengan keteguhan, determinasi, dan kesabaran kalian, terdapat kemuliaan bagi Islam, kemenangan bagi kaum muslimin dan Daulah mereka, maka tunjukkanlah kepada Allah kebaikan diri kalian.
Wahai singa-singa Mosul, Raqqah dan, Tal ‘Afar...
Wahai ikon kemuliaan dan kebanggaan, serta penyulut kemarahan orang-orang kafir.
Semoga Allah memberkahi lengan-lengan kokoh dan wajah-wajah bercahaya. Seranglah orang-orang Rafidhah dan murtadin serta gempurlah mereka dengan kehebatan satu orang laki-laki. Tidak akan terhina orang yang kembali kepada Sang Pencipta dan Sang Tuannya, dan tidak akan mulia orang yang berlindung kepada selain-Nya. Kalian berperang di jalan Allah memerangi orang yang kafir kepada Allah, dan kalian mempertaruhkan nyawa demi mendekatkan diri kepada Allah, demikianlah kami menilai kalian dan Allah-lah penilai kalian. Perbaruilah niatan, perbaikilah amal, dan bersabarlah atas pedihnya luka dan tikaman, bersabarlah dan sulut kemarahan para wali setan. Dan bertakwalah kepada Allah, karena ia adalah sebaik-baik bekal dalam peperangan dan seutama-utama muslihat, agar kalian beruntung. Sungguh, kemenangan itu adalah kesabaran sesaat, kemudian kemenangan akan berpihak kepada kalian dengan izin Allah.
Wahai bala tentara Khilafah di wilayah Dijlah, Al-Badiyah, Shalahuddin, Diyala, Karkuk, Utara dan Selatan Baghdad...
Wahai bala tentara Islam di Fallujah, Anbar, dan Al-Furat...
Waspadalah, jangan sampai kalian melewatkan malam-malam bulan yang utama ini, melainkan kalian telah membuat orang-orang Rafidhah dan murtadin mencicipi berbagai macam pembunuhan dan malapetaka. Dan inilah mereka, pada hari ini telah memasuki halaman rumah kalian. Tak ada gunanya hidup jika diinjak-injak oleh anak-cucu kaum Majusi, di tengah negeri-negeri yang telah kalian atur dengan syariat Allah. Maka aturlah perangkap-perangkap, pasanglah ranjau-ranjau, dan pecahkanlah kepala dengan tembakan senapan-senapan sniper (penembak jitu), binasakan perkumpulan mereka dengan berbagai peledak.
Wahai bala tentara Khilafah di wilayah Halab (Aleppo), Al-Khair, Al-Barakah, Hims, Hama, dan Damaskus...
Wahai anak-cucu Khalid dan Abu Ubaidah...
Wahai para pahlawan Islam dan singa-singa pemberani...
Seranglah orang-orang Nushairi, orang-orang Kurdi Atheis, dan para Shahawat murtad di Syam. Terkamlah mereka tak ubahnya singa yang mengamuk. Sergaplah mereka dari setiap pintu, Jangan kalian lewatkan keberuntungan kalian di bulan ini. Temuilah Rabb kalian dalam keadaan tunduk, patuh, dan bertaubat. Kejar dan carilah kesyahidan. “Dan bersegeralah menuju ampunan Rabb kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.” (Ali ‘Imran: 133)
Wahai bala tentara Islam di wilayah Sinai, Mesir, Khurasan, Yaman, Afrika Barat, Somalia, Libya, Tunisia, Aljazair, dan di semua tempat....
Lantaskan jihad kalian, bertahanlah di front-front dan pos-pos ribath kalian. Jangan kalian menunda menyerang musuh-musuh Allah meskipun hanya sesaat di siang hari, berupayalah berjihad menegakkan syariat dan hukum Allah di muka bumi. Karena tujuan jihad kita adalah supaya agama ini semuanya menjadi milik Allah, dan semua belahan bumi di atur dengan hukum Allah.
Wahai para putra Khilafah di Asia Timur...
Kami mengucapkan selamat kepada kalian atas takluknya kota Marawi, Ingatlah selalu Allah dalam keteguhan. Syukurilah nikmat Allah yang dianugerahkan kepada kalian. Mintalah pertolongan Allah untuk menghadapi musuh kalian, niscaya Dia akan mencukupi kalian, Dialah penolong kalian, Dialah sebaik-baik pelindung dan penolong. Kepada para mujahid pemberani yang bertempur melawan musuh...
Wahai bala tentara Khilafah putra-putra Ahlussunnah di bumi Persia...
Semoga Allah memberkahi aksi kalian terhadap musuh-musuh millah dan agama. Kalian melegakan dada dan membuat kaum muslimin bergembira, kalian telah menimpakan orang-orang musyrik dengan sesuatu yang selama ini mereka takutkan. Maka lantaskanlah serangan-serangan kalian. Sungguh, benteng negara Majusi lebih lemah dari pada rumah (sarang) laba-laba.
Kepada saudara-saudara seakidah dan seiman, di Eropa, Amerika, Rusia, Australia, dan yang lainnya...
Saudara-saudara kalian telah menunaikan udzur (mengangkat dosa) di negeri kalian, menerkamlah mengikuti jejak mereka, tirulah aksi mereka, dan ketahuilah bahwa surga ada di bawah kilatan pedang.
Wahai saudara-saudara kami yang menjadi tawanan di mana saja...
Demi Allah, tidak pernah sehari pun kami melupakan kalian. Kami tidak akan pernah melupakan kalian. Kalian memiliki hak atas kami. Maka bersabarlah dan teguhlah. Jangan kalian berkata kecuali kebaikan. Karena besarnya pahala seiring dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, niscaya Dia akan menguji mereka. Maka barangsiapa yang ridha, maka baginya keridhaan (Allah), dan barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan. Perbanyaklah berdoa di bulan penuh berkah ini, agar Dzat Yang Mahalembut lagi Maha Mengetahui memberikan kebebasan dan jalan keluar kepada kalian. Berdoalah agar Allah menganugerahkan kemenangan, keteguhan, dan tamkin kepada para ikhwah mujahidin kalian. Dengan izin Allah, kami tidak pernah menghemat-hemat usaha keras untuk membebaskan kalian.
“Wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan dalam urusan kami, teguhkan kaki kami dan tolonglah kami melawan orang-orang kafir.”
Dan akhir seruan kami; segala puji bagi Allah Rabb Semesta Alam.
DAN TATKALA ORANG-ORANG BERIMAN MELIHAT PASUKAN AHZAB
STATEMEN JURU BICARA DAULAH ISLAMIYAH, SYAIKH ABUL HASSAN AL-MUHAJIR
Segala puji bagi Allah yang berfirman di dalam Kitab-Nya yang mulia: “Dan tatkala orang-orang beriman itu melihat pasukan Ahzab (golongan-golongan yang bersekutu), mereka berkata, ‘inilah yang Allah janjikan kepada kita.’ Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.’ Dan demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (Al-Ahzab: 22)
Dan aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadati selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Allah telah mengutus beliau dengan pedang menjelang akhir zaman, sebagai pembawa kabar gembira, pemberi peringatan, penyeru manusia kepada Allah dengan izin-Nya, serta pelita yang menerangi. Melalui beliaulah, Allah menegakkan hujah, menjelaskan jalan yang lurus, membela millah hanifiyah (agama lurus), dan berjihad di jalan Allah sehingga agama pun tegak melalui beliau. Semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah deras kepada beliau, amma ba’du:
Sesungguhnya, di antara sunnah-sunnah Allah yang takkan berubah dan berganti adalah cobaan-Nya kepada para hamba-Nya yang beriman, sebagaimana dikabarkan Allah ‘azza wa jalla melalui firman-Nya: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami beriman’, sedangkan mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-’Ankabut: 2-3)
Dan Allah ‘azza wa jalla berfirman: “Dan sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia membinasakan mereka, tetapi Dia hendak menguji kamu satu sama lain. Dan orang-orang yang gugur dijalan Allah, Allah tidak menyia-nyiakan amalan mereka.” (Muhammad: 4)
Maka orang beriman sudah semestinya memposisikan dirinya untuk (menghadapi) ujian. Disebutkan di dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari Rabbnya subhanahu wa ta’ala:
“Ketahuilah bahwasannya Rabbku memerintahkanku untuk mengajari apa yang kalian tidak ketahui dari apa yang telah Dia ajarkan kepadaku pada hariku ini, semua harta yang Aku berikan kepada hambaku adalah halal, dan Aku telah menciptakan hambaku itu dalam keadaan lurus semuanya, namun sesungguhnya setan-setan itu mendatangi mereka, sehingga setan mengalihkan mereka dari agama mereka, dan mengharamkan atas mereka apa yang telah Aku halalkan untuk mereka, (setan) menyuruh mereka untuk menyekutukan Aku yang Aku tidak pernah menurunkan keterangan pun tentangnya. Dan sesungguhnya Allah b melihat penduduk bumi maka Dia sangat membencinya, baik mereka bangsa Arab maupun merka ‘Ajam (non-Arab), kecuali sisa-sisa dari Ahli Kitab, maka Dia berfirman, ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya Aku hanyalah mengutusmu untuk mengujimu, dan Aku menguji (manusia) denganmu, dan Aku menurunkan kepadamu sebuah kitab yang air tidak dapat mencucinya, yang engkau baca baik dalam keadaan tidur maupun terjaga.’ Dan sesungguhnya Allah memerintahkanku untuk membakar Quraisy, maka aku berkata, ‘Wahai Rabbku jadi mereka akan memecahkan kepalaku dan meninggalkannya seperti roti.’ Dia berfirman, ‘Usirlah mereka seperti mereka telah mengusirmu, perangilah mereka seperti mereka mereka telah memerangimu, berinfaklah maka engkau akan diberi, utuslah satu pasukan maka Aku akan mengutus lima kali lipatnya, berperanglah bersama orang yang taat kepadamu melawan orang yang mendurhakaimu.”
Beragam cobaan yang tengah dilalui Daulah Islam pada hari ini, berupa berhimpunnya berbagai agama kekafiran dan bersekutunya golongan-golongan berkoalisi melawannya, tidak lain adalah bukti akan kebenaran janji itu. Maka kami tidaklah mengatakan kecuali seperti perkataan para pendahulu kami yang shalih dari kalangan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tatkala mereka melihat golongan-golongan yang bersekutu itu: “Inilah yang Allah janjikan kepada kita.” Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.”
Dan Allah telah menurunkan ayat di dalam Surat Al-Baqarah: “Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, ‘Kapankah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungghunya pertolongan Allah itu dekat.” (Al- Baqarah: 214)
Allah jalla fi ‘ula menjelaskan seraya mengingkari orang yang mengira sebaliknya, bahwasannya mereka itu tidak akan masuk surga kecuali setelah mereka diuji seperti umat-umat sebelum mereka, dengan ‘malapetaka’ yaitu (minimnya) kebutuhan dan kemiskinan, dengan ‘kesengsaraan’ yaitu derita dan penyakit, dan dengan ‘keguncangan’ yaitu guncangan musuh.
Maka tatkala datang golongan-golongan yang bersekutu pada Perang Khandaq, kemudian mereka melihatnya, mereka berkata, “Inilah yang Allah janjikan kepada kita.” Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.” Dan mereka menyadari bahwa Allah telah menguji mereka dengan guncangan, dan telah datang kepada mereka (cobaan) seperti yang (dialami) orang-orang terdahulu sebelum mereka, dan hal demikian itu tidaklah menambah kepada mereka selain keimanan dan ketundukan terhadap hukum Allah dan perintah-Nya.
Dan inilah kondisi kaum muslimin yang jujur pada hari ini, sebagaimana juga kondisi kaum muslimin yang jujur di setiap masa, dan sesungguhnya fitnah (huru-hara) yang diujikan kepada kaum muslimin di Daulah Khilafah melawan orang-orang kafir perusak yang menyerang syariat Islam ini, sungguh pernah berlaku juga semisalnya pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengannya Allah menguji Nabi-Nya dan kaum mukmin, dan dalam peristiwa-peristiwa itu Allah ‘azza wa jalla menurunkan sejumlah surat yang gamblang dan ayat-ayat yang terang. Lalu kitab-kitab sunah sangat melimpah dengan pembahasan mengenainya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya nash-nash Al-Quran dan As-Sunnah yang keduanya merupakan dakwah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, berlaku bagi segenap makhluk. Dan berbagai janji Allah di dalam kitab-Nya dan sunah Rasul-Nya akan diberlakukan untuk generasi akhir umat ini, sebagaimana telah berlaku untuk generasi awalnya. Sesungguhnya, Allah mengisahkan kepada kita berbagai kisah kaum dari umat-umat sebelum kita untuk menjadi ‘ibrah (pelajaran) bagi kita, sehingga kita bisa menyandingkan keadaan kita dengan keadaan mereka, dan menimbang umatumat generasi belakangan dengan generasi-generasi awalnya. Agar kaum mukmin dari generasi mutakhir memiliki persamaan dengan kaum mukmin terdahulu.” Selesai perkataan beliau rahimahullah.
Di Perang Badar, Allah menceritakan keadaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat beliau yang mulia berhadapan dengan musuh-musuh mereka. Allah berfirman, “Sungguh, telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang berhadap-hadapan. Satu golongan berperang di jalan Allah dan yang lain (golongan) kafir yang melihat dengan mata kepala, bahwa mereka (golongan muslim) dua kali lipat mereka. Allah menguatkan dengan pertolongan- Nya bagi siapa yang Dia kehendaki. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orangorang yang mempunyai penglihatan (mata hati).” (Ali Imran: 13)
Allah juga mengisahkan kepada kita terkait pengepungan mereka terhadap Bani Nadhir, Dia berfirman, “Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara Ahli Kitab dari kampung halamannya pada saat pengusiran pertama. Kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin, benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah mendatangkan (siksaan) kepada mereka dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah menanamkan rasa takut kedalam hati mereka; sehingga mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangannya sendiri dan tangan-tangan orang-orang Mukmin. Maka amblillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan!” (Al-Hasyr: 2)
Allah ta’ala memerintahkan kita untuk mempelajari hal ihwal orang yang mendahului kita dari umat ini, dan dari umat-umat sebelumnya. Kemudian Allah ‘azza wa jalla menyebutkan di lebih dari satu tempat di dalam Kitab-Nya, bahwa ketetapan-Nya terkait suatu umat adalah suatu keniscayaan dan terus berlanjut. Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Dan sekiranya orang-orang kafir itu memerangi kamu pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah) kemudian mereka tiada memperoleh pelindung tidak pula penolong. Sebagai suatu sunatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tidak akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu.” (Al-Fath: 22-23)
Maka setiap mujahid di Daulah Islam seyogyanya mempelajari sunnatullah dan segenap peristiwanya terkait para hamba-Nya, terlebih lagi di saat agresi semakin sengit terhadap Darul Islam dan negeri Khilafah. Kemunafikan mulai menampakkan jati dirinya dan kekafiran telah memperlihatkan taringnya. Orang-orang munafik dan orang-orang berpenyakit hati mengira bahwa yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya itu adalah tipu-daya belaka, serta mengira bahwa golongan Allah dan Rasul-Nya tidak akan kembali bertemu keluarganya selamalamanya. Dan hal itu dipandang baik di dalam hati mereka, dan mereka berprasangka yang buruk, sedangkan mereka adalah kaum yang binasa.
Sejatinya sudut pandang dari berbagai peristiwa agung ini adalah sebagaimana kaum mukmin diuji bersama Rasulullah pada Perang Ahzab, dan Allah menurunkan satu surat yang mengandung hikayat peperangan ini yang mana Allah menolong golongan tepercaya-Nya, menolong bala tentara-Nya, dan menghancurkan sendiri semua musuh-Nya tanpa melalui peperangan, bahkan hanya dengan keteguhan kaum mukmin dalam menghadapi musuh mereka. Pun demikian keadaan hari ini di Raqqah, Mosul, dan Tal Afar, sangat persis menyerupai kondisi masa-masa itu.
Pada hari ini, manusia telah terbagi sebagaimana terbaginya mereka pada masa Perang Khandaq. Pada perang Ahzab, kaum muslimin dikeroyok oleh seluruh kaum musyrik yang mengepung. Dengan pasukan besar, mereka mendatangi Madinah untuk membasmi kaum muslimin. Bangsa Quraisy dan para sekutu mereka berhimpun, mulai dari kabilah Bani Asad, Asyja’, Fazarah, dan kabilah-kabilah Nejed lainnya. Dan berhimpun pula kaum Yahudi dari Bani Quraizhah dan Bani Nadhir. Sebelumnya, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengusir Bani Nadhir, sebagaimana dikisahkan Allah dalam Surat Al-Hasyr.
Dalam Perang Ahzab, mereka bergabung dengan Bani Quraizhah, padahal mereka telah menekan perjanjian dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan hidup berdampingan dengan beliau dekat Madinah. Mereka tetap dalam kondisi demikian, sampai akhirnya Bani Quraizhah melanggar perjanjian dan bergabung ke dalam golongan-golongan bersekutu.
Pasukan Ahzab yang besar ini berhimpun, jumlah dan persenjataan mereka mengungguli kaum muslimin berlipat-lipat ganda. Rasulullah pun mengungsikan para wanita dan anak-anak kecil ke perbukitan Madinah. Kemudian memposisikan mereka membelakangi Gunung Sila’ dan membuat parit antara beliau dan musuh. Sedangkan musuh yang mengepung mereka dari atas dan bawah adalah musuh dengan permusuhan yang sangat keras. Seandainya mereka berhasil mengalahkan kaum mukmin, niscaya akan menyiksa dengan siksaan yang luar biasa.
Pada peristiwa-peristiwa hari ini, seluruh musuh dari kalangan Salibis, Atheis, Syiah Rafidhah, dan kelompok-kelompok murtadin lainnya, mereka datang disertai pesawat-pesawat tempur dan kapal-kapal perang mereka, serta seluruh kekuatan yang mereka miliki, untuk menyerang dan menjajah negeri-negeri kaum muslimin. Mereka mengepung negeri-negeri kaum muslimin dari segala penjuru, sebagaimana Allah Rabb firmankan mengenai Perang Ahzab, “Yaitu ketika mereka datang dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatanmu dan hatimu menyesak sampai tenggorokan dan kamu menyangka kepada Allah dengan berbagai purbasangka. Di situlah orang-orang mukmin diuji dan diguncang hatinya dengan goncangan yang sangat.” (Al-Ahzab: 10-11)
Imam Ibnu Katsir r berkata tentang penafsiran ayat ini, “Allah ‘azza wa jalla berfirman mengkabarkan keadaan tersebut, ketika golongan-golongan yang bersekutu itu tiba di sekitaran Madinah, sedangkan kaum Muslimin terkepung dalam keadaan sangat sulit dan sempit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ada di tengah-tengah mereka; di saat mereka diuji, diberikan cobaan, dan diguncang dengan guncangan sangat hebat, maka saat itulah muncul sifat kemunafikan, lalu orang-orang berpenyakit hati mulai melontarkan isi hati mereka. Adapun orang munafik, kemunafikannya menyeruak. Dan orang yang hatinya menyimpang, maka pendiriannya melemah, dia merasakan kebimbangan di dalam jiwanya; disebabkan kelemahan imannya, dan penderitaan yang menimpanya berupa kesulitan.” Selesai ucapannya rahimahullah.
Hari ini, manusia berhamburan mengikuti keyakinan masing-masing. Orang-orang yang lemah lagi bingung akan berburuk sangka.
Kelompok ini menyangka bahwa tidak ada seorang mujahid pun yang akan mampu menghadapi pasukan koalisi, dan para pemeluk Islam akan binasa. Kelompok ini menyangka bahwa seandainya mereka melawan niscaya musuh-musuh itu akan melumat mereka dengan sekali hentakan, dan akan membelenggu mereka tak ubahnya gelang melilit pergelangan tangan. Kelompok ini juga menyangka bahwa bumi Iraq, Syam, dan negeri-negeri Islam lainnya tidak lagi menjadi tempat berlindung kaum muslimin, dan tak lagi berada di bawah kekuasaan Daulah Islam. Jiwanya membisikinya untuk kabur ke darul kufur. Kelompok ini mengira bahwa apa yang diinformasikan para ulama hadits Nabi Muhammad dan para pakar periwayatan berupa kabar-kabar gembira, tiada lain hanyalah angan-angan dusta dan dongeng yang sia-sia. Kemudian Allah menyebutkan perkataan kalangan munafikin yang berada dalam barisan pasukan kaum muslim di Perang Ahzab, “Dan ingatlah ketika segolongan diantara mereka berkata, ‘Wahai penduduk Yatsrib (Madinah)! Tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu.’” (Al- Ahzab: 13)
Saat itu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah membangun kamp bersama kaum muslimin di Gunung Sila’, dan membuat parit antara beliau dengan musuh. Segolongan dari mereka lantas berkata, “Tidak ada tempat bagimu di sini, karena begitu banyaknya musuh, maka kembalilah ke Madinah.” Dan dikatakan juga: “Tidak ada tempat bagi kalian di atas agama Muhammad, maka kembalilah kepada agama kesyirikan.” Dan dikatakan pula: “Tidak ada tempat bagi kalian untuk berperang, maka kembalilah meminta jaminan keamanan dan perlindungan kepada mereka.” Kemudian Allah c menyebutkan kondisi kaum munafikin dalam perang itu dan ucapan mereka, di lebih dari satu tempat, terkadang mereka berkata, “Kalianlah yang telah menyuruh kami untuk tinggal di tempat ini dan menetap di tsughur (front) ini sampai sekarang. Jika sekiranya kami pergi sebelum ini, maka musibah ini tidak akan menimpa kami.” Terkadang mereka mengatakan, “Dengan jumlah pasukan yang sedikit dan kelemahan kalian, maka kalian hendak mengalahkan musuh, sungguh kalian telah tertipu oleh agama kalian.” Sebagaimana Allah ‘azza wa jalla berfirman, “(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata, ‘Mereka itu (orang-orang Mukmin) ditipu oleh agamanya.’ (Allah berfirman), ‘Barang siapa bertawakal kepada Allah, ketahuilah bahwa Allah Maha perkasa, Maha bijaksana.’” (Al-Anfal: 49)
Terkadang mereka berkata, “Kalian sudah gila, kalian tidak punya akal. Kalian hendak membinasakan diri kalian dan membinasakan manusia bersama kalian.” Kadang mereka juga mengatakan berbagai macam ucapan yang sangat menyakitkan. Lalu setelah Allah menyebutkan keadaan orang-orang munafik dan orang-orang yang teguh dari kalangan kaum mukminin dalam surat Al-Ahzab, Dia memerintahkan para hamba-Nya yang beriman untuk meneladani dan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di peristiwa-peristiwa seperti ini. Allah berfirman, “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat danyang banyak mengingat Allah.” (Al-Ahzab: 21)
Allah mengabarkan bahwa orang-orang yang diuji dengan musuh seperti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diuji, maka diri beliau menjadi teladan yang baik bagi mereka, yang mana mereka tertimpa seperti apa yang menimpa beliau. Maka hendaklah mereka itu mencontoh beliau dalam hal ketawakalan dan kesabaran, serta janganlah menyangka bahwa hal ini merupakan siksaan bagi dirinya, penistaan untuknya. Karena jika begitu, maka Rasulullah yang notabene makhluk terbaik, tidak akan diuji dengan cobaan. Bahkan dengan cobaan, derajat-derajat tinggi akan diraih, dan dengannya pula Allah menghapus kesalahankesalahan bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan Hari Akhir, serta banyak mengingat Allah.
Imam Ibnu Katsir berkata mengenai tafsir ayat ini, “Ayat mulia ini menjadi fondasi sangat agung dalam meneladani Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, baik dalam ucapan, perbuatan, dan peristiwaperistiwa yang dialami beliau. Oleh karena itu, Allah memerintahkan manusia untuk meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di Perang Ahzab dalam hal kesabaran, saling berwasiat dalam kesabaran, keteguhan dalam ribath, kesungguhan dan kesabaran beliau menanti jalan keluar dari Rabb beliau jalla fi ‘ula, semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau hingga Hari Kiamat. Oleh karena itu, Allah berfirman kepada orang-orang yang gundah, terguncang, dan gelisah akan kondisinya pada Perang Ahzab, “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu,” yaitu mengapa kalian tidak meneladani beliau dan mencontoh sifat-sifat beliau? Oleh sebab itu, Dia berfirman, “(Yaitu) bagi mereka yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” Selesai perkataannya rahimahullah.
Sungguh Allah menghalau Pasukan Ahzab dengan mengirim angin topan dan mencerai-beraikan hati mereka sehingga meluluh-lantakkan persatuan mereka, dan mereka tidak memperoleh kebaikan sedikit pun, sebagaimana terdapat di dalam firman- Nya: “Dan Allah menghalau orang-orang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, kerena mereka (juga) tidak memperoleh keuntungan apapun. Cukuplah Allah yang menolong dan menghindarkan orang-orang mukmin dalam peperangan. Dan Allah Mahakuat, Mahaperkasa.” (Al-Ahzab: 25)
Maka kita memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar menghalau Pasukan Koalisi dari Daulah Khilafah sebagaimana Dia telah menghalaunya dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat beliau yang mulia –semoga Allah meridhai mereka–.
Duhai Rabb Penjaga Baitullah limpahkan ampunan-Mu dan pertaubatan
Dengan keagunganmu ilhamkan kepada kami kebenaran
Dengan karunia-Mu pakaikanlah kami mahkota kemenangan
Dan kenakan siksa kepada kumpulan kekafiran
Demikianlah sayap setiap orang menunjukkan penghormatan
Dan demi kemuliaan-Mu leher-leher kami patahkan
Wahai tentara Khilafah, telaah dan pelajarilah berbagai peristiwa yang terjadi di sekitarmu. Renungkan kemudian lihatlah. Demi Allah, semua itu tidak lain hanyalah kematian yang satu dan kebinasaan yang satu. Maka jadilah orang yang mulia dengan agamamu dan berpegang teguhlah dengan keimananmu, mudah-mudahan engkau menghadap Tuhanmu yang meridhaimu, sedang engkau tetap maju dan pantang mundur.
Wahai tentara Khilafah, hindarilah dan jauhilah forum-forum fitnah. Ikutilah wasiat Nabimu shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala bersabda, “Barangsiapa yang menaatiku, berarti dia telah menaati Allah. Dan barangsiapa bermaksiat kepadaku, berarti dia telah bermaksiat kepada Allah. Barangsiapa yang menaati amir, berarti telah menaati ku, dan barangsiapa yang bermaksiat kepada amir, berarti dia telah bermaksiat kepadaku.”
Dalam kesempatan ini, tak lupa kami mengingatkan para ikhwah mujahidin dan umat Islam secara umum agar memanfaatkan sisa waktu di bulan mulia ini, yang mana Allah berfirman tentangnya, “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia sekaligus penjelasan dari petunjuk dan pembeda.” (Al-Baqarah: 185)
Sesungguhnya, di antara nikmat Allah subhanahu wa ta’ala untuk para hamba-Nya yang beriman adalah diantarkannya mereka ke musim kebaikan ini, demi menyucikan jiwa mereka dan membersihkan kotoran yang melekat agar kembali jernih dan murni. Sehingga mereka bersegera menjalankan amalan-amalan shalih dan memanfaatkan hari-hari yang tersisa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila datang Bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu surga, dan ditutuplah pintupintu neraka dan para setan dibelenggu.”
Maka selamat bagi yang sukses mendapatkannya, berarti sungguh dia telah menyerahkan diri kepada Allah, sedang dia berbuat kebajikan dan mengikuti millah (agama) Ibrahim yang hanif (lurus). Selamat bagi yang mengamalkan seluruh syariat islam. Selamat bagi yang tetap teguh di atas kebenaran dan “mengambil” Al-Quran dengan sungguh-sungguh. Selamat bagi yang menyambut seruan Allah, beriman kepada para rasul-Nya, berjihad melawan para musuh-Nya, dan membenarkan janji-Nya.
Wahai bala tentara Khilafah para penggenggam bara api yang bersabar lagi teguh di atas janji, yang menyadari bahwa dunia ini hanyalah negeri cobaan dan ujian, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, “Dan Kami benar-benar akan menguji kalian hingga Kami mengetahui orang-orang yang berjihad di antara kalian dan orang-orang yang sabar di antara kalian, serta akan Kami uji perihal kalian.” (Muhammad: 31)
Ketahuilah, semoga Allah merahmati kalian, sejatinya kalian saat ini adalah katibah (batalion) dan para pelopor Islam dalam melawan koalisi-koalisi kekafiran. Dengan keteguhan, determinasi, dan kesabaran kalian, terdapat kemuliaan bagi Islam, kemenangan bagi kaum muslimin dan Daulah mereka, maka tunjukkanlah kepada Allah kebaikan diri kalian.
Wahai singa-singa Mosul, Raqqah dan, Tal ‘Afar...
Wahai ikon kemuliaan dan kebanggaan, serta penyulut kemarahan orang-orang kafir.
Semoga Allah memberkahi lengan-lengan kokoh dan wajah-wajah bercahaya. Seranglah orang-orang Rafidhah dan murtadin serta gempurlah mereka dengan kehebatan satu orang laki-laki. Tidak akan terhina orang yang kembali kepada Sang Pencipta dan Sang Tuannya, dan tidak akan mulia orang yang berlindung kepada selain-Nya. Kalian berperang di jalan Allah memerangi orang yang kafir kepada Allah, dan kalian mempertaruhkan nyawa demi mendekatkan diri kepada Allah, demikianlah kami menilai kalian dan Allah-lah penilai kalian. Perbaruilah niatan, perbaikilah amal, dan bersabarlah atas pedihnya luka dan tikaman, bersabarlah dan sulut kemarahan para wali setan. Dan bertakwalah kepada Allah, karena ia adalah sebaik-baik bekal dalam peperangan dan seutama-utama muslihat, agar kalian beruntung. Sungguh, kemenangan itu adalah kesabaran sesaat, kemudian kemenangan akan berpihak kepada kalian dengan izin Allah.
Wahai bala tentara Khilafah di wilayah Dijlah, Al-Badiyah, Shalahuddin, Diyala, Karkuk, Utara dan Selatan Baghdad...
Wahai bala tentara Islam di Fallujah, Anbar, dan Al-Furat...
Waspadalah, jangan sampai kalian melewatkan malam-malam bulan yang utama ini, melainkan kalian telah membuat orang-orang Rafidhah dan murtadin mencicipi berbagai macam pembunuhan dan malapetaka. Dan inilah mereka, pada hari ini telah memasuki halaman rumah kalian. Tak ada gunanya hidup jika diinjak-injak oleh anak-cucu kaum Majusi, di tengah negeri-negeri yang telah kalian atur dengan syariat Allah. Maka aturlah perangkap-perangkap, pasanglah ranjau-ranjau, dan pecahkanlah kepala dengan tembakan senapan-senapan sniper (penembak jitu), binasakan perkumpulan mereka dengan berbagai peledak.
Wahai bala tentara Khilafah di wilayah Halab (Aleppo), Al-Khair, Al-Barakah, Hims, Hama, dan Damaskus...
Wahai anak-cucu Khalid dan Abu Ubaidah...
Wahai para pahlawan Islam dan singa-singa pemberani...
Seranglah orang-orang Nushairi, orang-orang Kurdi Atheis, dan para Shahawat murtad di Syam. Terkamlah mereka tak ubahnya singa yang mengamuk. Sergaplah mereka dari setiap pintu, Jangan kalian lewatkan keberuntungan kalian di bulan ini. Temuilah Rabb kalian dalam keadaan tunduk, patuh, dan bertaubat. Kejar dan carilah kesyahidan. “Dan bersegeralah menuju ampunan Rabb kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.” (Ali ‘Imran: 133)
Wahai bala tentara Islam di wilayah Sinai, Mesir, Khurasan, Yaman, Afrika Barat, Somalia, Libya, Tunisia, Aljazair, dan di semua tempat....
Lantaskan jihad kalian, bertahanlah di front-front dan pos-pos ribath kalian. Jangan kalian menunda menyerang musuh-musuh Allah meskipun hanya sesaat di siang hari, berupayalah berjihad menegakkan syariat dan hukum Allah di muka bumi. Karena tujuan jihad kita adalah supaya agama ini semuanya menjadi milik Allah, dan semua belahan bumi di atur dengan hukum Allah.
Wahai para putra Khilafah di Asia Timur...
Kami mengucapkan selamat kepada kalian atas takluknya kota Marawi, Ingatlah selalu Allah dalam keteguhan. Syukurilah nikmat Allah yang dianugerahkan kepada kalian. Mintalah pertolongan Allah untuk menghadapi musuh kalian, niscaya Dia akan mencukupi kalian, Dialah penolong kalian, Dialah sebaik-baik pelindung dan penolong. Kepada para mujahid pemberani yang bertempur melawan musuh...
Wahai bala tentara Khilafah putra-putra Ahlussunnah di bumi Persia...
Semoga Allah memberkahi aksi kalian terhadap musuh-musuh millah dan agama. Kalian melegakan dada dan membuat kaum muslimin bergembira, kalian telah menimpakan orang-orang musyrik dengan sesuatu yang selama ini mereka takutkan. Maka lantaskanlah serangan-serangan kalian. Sungguh, benteng negara Majusi lebih lemah dari pada rumah (sarang) laba-laba.
Kepada saudara-saudara seakidah dan seiman, di Eropa, Amerika, Rusia, Australia, dan yang lainnya...
Saudara-saudara kalian telah menunaikan udzur (mengangkat dosa) di negeri kalian, menerkamlah mengikuti jejak mereka, tirulah aksi mereka, dan ketahuilah bahwa surga ada di bawah kilatan pedang.
Wahai saudara-saudara kami yang menjadi tawanan di mana saja...
Demi Allah, tidak pernah sehari pun kami melupakan kalian. Kami tidak akan pernah melupakan kalian. Kalian memiliki hak atas kami. Maka bersabarlah dan teguhlah. Jangan kalian berkata kecuali kebaikan. Karena besarnya pahala seiring dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, niscaya Dia akan menguji mereka. Maka barangsiapa yang ridha, maka baginya keridhaan (Allah), dan barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan. Perbanyaklah berdoa di bulan penuh berkah ini, agar Dzat Yang Mahalembut lagi Maha Mengetahui memberikan kebebasan dan jalan keluar kepada kalian. Berdoalah agar Allah menganugerahkan kemenangan, keteguhan, dan tamkin kepada para ikhwah mujahidin kalian. Dengan izin Allah, kami tidak pernah menghemat-hemat usaha keras untuk membebaskan kalian.
“Wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan dalam urusan kami, teguhkan kaki kami dan tolonglah kami melawan orang-orang kafir.”
Dan akhir seruan kami; segala puji bagi Allah Rabb Semesta Alam.