Tampilkan postingan dengan label Syaikh Abul Hassan Al-Muhajir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syaikh Abul Hassan Al-Muhajir. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 April 2018

DAN TATKALA ORANG-ORANG BERIMAN MELIHAT PASUKAN AHZAB

RUMIYAH 11 - STATEMEN

DAN TATKALA ORANG-ORANG BERIMAN MELIHAT PASUKAN AHZAB
STATEMEN JURU BICARA DAULAH ISLAMIYAH, SYAIKH ABUL HASSAN AL-MUHAJIR

Segala puji bagi Allah yang berfirman di dalam Kitab-Nya yang mulia: “Dan tatkala orang-orang beriman itu melihat pasukan Ahzab (golongan-golongan yang bersekutu), mereka berkata, ‘inilah yang Allah janjikan kepada kita.’ Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.’ Dan demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (Al-Ahzab: 22)

Dan aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadati selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Allah telah mengutus beliau dengan pedang menjelang akhir zaman, sebagai pembawa kabar gembira, pemberi peringatan, penyeru manusia kepada Allah dengan izin-Nya, serta pelita yang menerangi. Melalui beliaulah, Allah menegakkan hujah, menjelaskan jalan yang lurus, membela millah hanifiyah (agama lurus), dan berjihad di jalan Allah sehingga agama pun tegak melalui beliau. Semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah deras kepada beliau, amma ba’du:

Sesungguhnya, di antara sunnah-sunnah Allah yang takkan berubah dan berganti adalah cobaan-Nya kepada para hamba-Nya yang beriman, sebagaimana dikabarkan Allah ‘azza wa jalla melalui firman-Nya: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami beriman’, sedangkan mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-’Ankabut: 2-3)

Dan Allah ‘azza wa jalla berfirman: “Dan sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia membinasakan mereka, tetapi Dia hendak menguji kamu satu sama lain. Dan orang-orang yang gugur dijalan Allah, Allah tidak menyia-nyiakan amalan mereka.” (Muhammad: 4)

Maka orang beriman sudah semestinya memposisikan dirinya untuk (menghadapi) ujian. Disebutkan di dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari Rabbnya subhanahu wa ta’ala:

“Ketahuilah bahwasannya Rabbku memerintahkanku untuk mengajari apa yang kalian tidak ketahui dari apa yang telah Dia ajarkan kepadaku pada hariku ini, semua harta yang Aku berikan kepada hambaku adalah halal, dan Aku telah menciptakan hambaku itu dalam keadaan lurus semuanya, namun sesungguhnya setan-setan itu mendatangi mereka, sehingga setan mengalihkan mereka dari agama mereka, dan mengharamkan atas mereka apa yang telah Aku halalkan untuk mereka, (setan) menyuruh mereka untuk menyekutukan Aku yang Aku tidak pernah menurunkan keterangan pun tentangnya. Dan sesungguhnya Allah b melihat penduduk bumi maka Dia sangat membencinya, baik mereka bangsa Arab maupun merka ‘Ajam (non-Arab), kecuali sisa-sisa dari Ahli Kitab, maka Dia berfirman, ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya Aku hanyalah mengutusmu untuk mengujimu, dan Aku menguji (manusia) denganmu, dan Aku menurunkan kepadamu sebuah kitab yang air tidak dapat mencucinya, yang engkau baca baik dalam keadaan tidur maupun terjaga.’ Dan sesungguhnya Allah memerintahkanku untuk membakar Quraisy, maka aku berkata, ‘Wahai Rabbku jadi mereka akan memecahkan kepalaku dan meninggalkannya seperti roti.’ Dia berfirman, ‘Usirlah mereka seperti mereka telah mengusirmu, perangilah mereka seperti mereka mereka telah memerangimu, berinfaklah maka engkau akan diberi, utuslah satu pasukan maka Aku akan mengutus lima kali lipatnya, berperanglah bersama orang yang taat kepadamu melawan orang yang mendurhakaimu.”

Beragam cobaan yang tengah dilalui Daulah Islam pada hari ini, berupa berhimpunnya berbagai agama kekafiran dan bersekutunya golongan-golongan berkoalisi melawannya, tidak lain adalah bukti akan kebenaran janji itu. Maka kami tidaklah mengatakan kecuali seperti perkataan para pendahulu kami yang shalih dari kalangan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tatkala mereka melihat golongan-golongan yang bersekutu itu: “Inilah yang Allah janjikan kepada kita.” Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.”

Dan Allah telah menurunkan ayat di dalam Surat Al-Baqarah: “Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, ‘Kapankah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungghunya pertolongan Allah itu dekat.” (Al- Baqarah: 214)

Allah jalla fi ‘ula menjelaskan seraya mengingkari orang yang mengira sebaliknya, bahwasannya mereka itu tidak akan masuk surga kecuali setelah mereka diuji seperti umat-umat sebelum mereka, dengan ‘malapetaka’ yaitu (minimnya) kebutuhan dan kemiskinan, dengan ‘kesengsaraan’ yaitu derita dan penyakit, dan dengan ‘keguncangan’ yaitu guncangan musuh.

Maka tatkala datang golongan-golongan yang bersekutu pada Perang Khandaq, kemudian mereka melihatnya, mereka berkata, “Inilah yang Allah janjikan kepada kita.” Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.” Dan mereka menyadari bahwa Allah telah menguji mereka dengan guncangan, dan telah datang kepada mereka (cobaan) seperti yang (dialami) orang-orang terdahulu sebelum mereka, dan hal demikian itu tidaklah menambah kepada mereka selain keimanan dan ketundukan terhadap hukum Allah dan perintah-Nya.

Dan inilah kondisi kaum muslimin yang jujur pada hari ini, sebagaimana juga kondisi kaum muslimin yang jujur di setiap masa, dan sesungguhnya fitnah (huru-hara) yang diujikan kepada kaum muslimin di Daulah Khilafah melawan orang-orang kafir perusak yang menyerang syariat Islam ini, sungguh pernah berlaku juga semisalnya pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengannya Allah menguji Nabi-Nya dan kaum mukmin, dan dalam peristiwa-peristiwa itu Allah ‘azza wa jalla menurunkan sejumlah surat yang gamblang dan ayat-ayat yang terang. Lalu kitab-kitab sunah sangat melimpah dengan pembahasan mengenainya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya nash-nash Al-Quran dan As-Sunnah yang keduanya merupakan dakwah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, berlaku bagi segenap makhluk. Dan berbagai janji Allah di dalam kitab-Nya dan sunah Rasul-Nya akan diberlakukan untuk generasi akhir umat ini, sebagaimana telah berlaku untuk generasi awalnya. Sesungguhnya, Allah mengisahkan kepada kita berbagai kisah kaum dari umat-umat sebelum kita untuk menjadi ‘ibrah (pelajaran) bagi kita, sehingga kita bisa menyandingkan keadaan kita dengan keadaan mereka, dan menimbang umatumat generasi belakangan dengan generasi-generasi awalnya. Agar kaum mukmin dari generasi mutakhir memiliki persamaan dengan kaum mukmin terdahulu.” Selesai perkataan beliau rahimahullah.

Di Perang Badar, Allah menceritakan keadaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat beliau yang mulia berhadapan dengan musuh-musuh mereka. Allah berfirman, “Sungguh, telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang berhadap-hadapan. Satu golongan berperang di jalan Allah dan yang lain (golongan) kafir yang melihat dengan mata kepala, bahwa mereka (golongan muslim) dua kali lipat mereka. Allah menguatkan dengan pertolongan- Nya bagi siapa yang Dia kehendaki. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orangorang yang mempunyai penglihatan (mata hati).” (Ali Imran: 13)

Allah juga mengisahkan kepada kita terkait pengepungan mereka terhadap Bani Nadhir, Dia berfirman, “Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara Ahli Kitab dari kampung halamannya pada saat pengusiran pertama. Kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin, benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah mendatangkan (siksaan) kepada mereka dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah menanamkan rasa takut kedalam hati mereka; sehingga mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangannya sendiri dan tangan-tangan orang-orang Mukmin. Maka amblillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan!” (Al-Hasyr: 2)

Allah ta’ala memerintahkan kita untuk mempelajari hal ihwal orang yang mendahului kita dari umat ini, dan dari umat-umat sebelumnya. Kemudian Allah ‘azza wa jalla menyebutkan di lebih dari satu tempat di dalam Kitab-Nya, bahwa ketetapan-Nya terkait suatu umat adalah suatu keniscayaan dan terus berlanjut. Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Dan sekiranya orang-orang kafir itu memerangi kamu pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah) kemudian mereka tiada memperoleh pelindung tidak pula penolong. Sebagai suatu sunatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tidak akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu.” (Al-Fath: 22-23)

Maka setiap mujahid di Daulah Islam seyogyanya mempelajari sunnatullah dan segenap peristiwanya terkait para hamba-Nya, terlebih lagi di saat agresi semakin sengit terhadap Darul Islam dan negeri Khilafah. Kemunafikan mulai menampakkan jati dirinya dan kekafiran telah memperlihatkan taringnya. Orang-orang munafik dan orang-orang berpenyakit hati mengira bahwa yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya itu adalah tipu-daya belaka, serta mengira bahwa golongan Allah dan Rasul-Nya tidak akan kembali bertemu keluarganya selamalamanya. Dan hal itu dipandang baik di dalam hati mereka, dan mereka berprasangka yang buruk, sedangkan mereka adalah kaum yang binasa.

Sejatinya sudut pandang dari berbagai peristiwa agung ini adalah sebagaimana kaum mukmin diuji bersama Rasulullah pada Perang Ahzab, dan Allah menurunkan satu surat yang mengandung hikayat peperangan ini yang mana Allah menolong golongan tepercaya-Nya, menolong bala tentara-Nya, dan menghancurkan sendiri semua musuh-Nya tanpa melalui peperangan, bahkan hanya dengan keteguhan kaum mukmin dalam menghadapi musuh mereka. Pun demikian keadaan hari ini di Raqqah, Mosul, dan Tal Afar, sangat persis menyerupai kondisi masa-masa itu.

Pada hari ini, manusia telah terbagi sebagaimana terbaginya mereka pada masa Perang Khandaq. Pada perang Ahzab, kaum muslimin dikeroyok oleh seluruh kaum musyrik yang mengepung. Dengan pasukan besar, mereka mendatangi Madinah untuk membasmi kaum muslimin. Bangsa Quraisy dan para sekutu mereka berhimpun, mulai dari kabilah Bani Asad, Asyja’, Fazarah, dan kabilah-kabilah Nejed lainnya. Dan berhimpun pula kaum Yahudi dari Bani Quraizhah dan Bani Nadhir. Sebelumnya, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengusir Bani Nadhir, sebagaimana dikisahkan Allah dalam Surat Al-Hasyr.

Dalam Perang Ahzab, mereka bergabung dengan Bani Quraizhah, padahal mereka telah menekan perjanjian dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan hidup berdampingan dengan beliau dekat Madinah. Mereka tetap dalam kondisi demikian, sampai akhirnya Bani Quraizhah melanggar perjanjian dan bergabung ke dalam golongan-golongan bersekutu.

Pasukan Ahzab yang besar ini berhimpun, jumlah dan persenjataan mereka mengungguli kaum muslimin berlipat-lipat ganda. Rasulullah pun mengungsikan para wanita dan anak-anak kecil ke perbukitan Madinah. Kemudian memposisikan mereka membelakangi Gunung Sila’ dan membuat parit antara beliau dan musuh. Sedangkan musuh yang mengepung mereka dari atas dan bawah adalah musuh dengan permusuhan yang sangat keras. Seandainya mereka berhasil mengalahkan kaum mukmin, niscaya akan menyiksa dengan siksaan yang luar biasa.

Pada peristiwa-peristiwa hari ini, seluruh musuh dari kalangan Salibis, Atheis, Syiah Rafidhah, dan kelompok-kelompok murtadin lainnya, mereka datang disertai pesawat-pesawat tempur dan kapal-kapal perang mereka, serta seluruh kekuatan yang mereka miliki, untuk menyerang dan menjajah negeri-negeri kaum muslimin. Mereka mengepung negeri-negeri kaum muslimin dari segala penjuru, sebagaimana Allah Rabb firmankan mengenai Perang Ahzab, “Yaitu ketika mereka datang dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatanmu dan hatimu menyesak sampai tenggorokan dan kamu menyangka kepada Allah dengan berbagai purbasangka. Di situlah orang-orang mukmin diuji dan diguncang hatinya dengan goncangan yang sangat.” (Al-Ahzab: 10-11)

Imam Ibnu Katsir r berkata tentang penafsiran ayat ini, “Allah ‘azza wa jalla berfirman mengkabarkan keadaan tersebut, ketika golongan-golongan yang bersekutu itu tiba di sekitaran Madinah, sedangkan kaum Muslimin terkepung dalam keadaan sangat sulit dan sempit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ada di tengah-tengah mereka; di saat mereka diuji, diberikan cobaan, dan diguncang dengan guncangan sangat hebat, maka saat itulah muncul sifat kemunafikan, lalu orang-orang berpenyakit hati mulai melontarkan isi hati mereka. Adapun orang munafik, kemunafikannya menyeruak. Dan orang yang hatinya menyimpang, maka pendiriannya melemah, dia merasakan kebimbangan di dalam jiwanya; disebabkan kelemahan imannya, dan penderitaan yang menimpanya berupa kesulitan.” Selesai ucapannya rahimahullah.

Hari ini, manusia berhamburan mengikuti keyakinan masing-masing. Orang-orang yang lemah lagi bingung akan berburuk sangka.

Kelompok ini menyangka bahwa tidak ada seorang mujahid pun yang akan mampu menghadapi pasukan koalisi, dan para pemeluk Islam akan binasa. Kelompok ini menyangka bahwa seandainya mereka melawan niscaya musuh-musuh itu akan melumat mereka dengan sekali hentakan, dan akan membelenggu mereka tak ubahnya gelang melilit pergelangan tangan. Kelompok ini juga menyangka bahwa bumi Iraq, Syam, dan negeri-negeri Islam lainnya tidak lagi menjadi tempat berlindung kaum muslimin, dan tak lagi berada di bawah kekuasaan Daulah Islam. Jiwanya membisikinya untuk kabur ke darul kufur. Kelompok ini mengira bahwa apa yang diinformasikan para ulama hadits Nabi Muhammad dan para pakar periwayatan berupa kabar-kabar gembira, tiada lain hanyalah angan-angan dusta dan dongeng yang sia-sia. Kemudian Allah menyebutkan perkataan kalangan munafikin yang berada dalam barisan pasukan kaum muslim di Perang Ahzab, “Dan ingatlah ketika segolongan diantara mereka berkata, ‘Wahai penduduk Yatsrib (Madinah)! Tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu.’” (Al- Ahzab: 13)

Saat itu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah membangun kamp bersama kaum muslimin di Gunung Sila’, dan membuat parit antara beliau dengan musuh. Segolongan dari mereka lantas berkata, “Tidak ada tempat bagimu di sini, karena begitu banyaknya musuh, maka kembalilah ke Madinah.” Dan dikatakan juga: “Tidak ada tempat bagi kalian di atas agama Muhammad, maka kembalilah kepada agama kesyirikan.” Dan dikatakan pula: “Tidak ada tempat bagi kalian untuk berperang, maka kembalilah meminta jaminan keamanan dan perlindungan kepada mereka.” Kemudian Allah c menyebutkan kondisi kaum munafikin dalam perang itu dan ucapan mereka, di lebih dari satu tempat, terkadang mereka berkata, “Kalianlah yang telah menyuruh kami untuk tinggal di tempat ini dan menetap di tsughur (front) ini sampai sekarang. Jika sekiranya kami pergi sebelum ini, maka musibah ini tidak akan menimpa kami.” Terkadang mereka mengatakan, “Dengan jumlah pasukan yang sedikit dan kelemahan kalian, maka kalian hendak mengalahkan musuh, sungguh kalian telah tertipu oleh agama kalian.” Sebagaimana Allah ‘azza wa jalla berfirman, “(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata, ‘Mereka itu (orang-orang Mukmin) ditipu oleh agamanya.’ (Allah berfirman), ‘Barang siapa bertawakal kepada Allah, ketahuilah bahwa Allah Maha perkasa, Maha bijaksana.’” (Al-Anfal: 49)

Terkadang mereka berkata, “Kalian sudah gila, kalian tidak punya akal. Kalian hendak membinasakan diri kalian dan membinasakan manusia bersama kalian.” Kadang mereka juga mengatakan berbagai macam ucapan yang sangat menyakitkan. Lalu setelah Allah menyebutkan keadaan orang-orang munafik dan orang-orang yang teguh dari kalangan kaum mukminin dalam surat Al-Ahzab, Dia memerintahkan para hamba-Nya yang beriman untuk meneladani dan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di peristiwa-peristiwa seperti ini. Allah berfirman, “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat danyang banyak mengingat Allah.” (Al-Ahzab: 21)

Allah mengabarkan bahwa orang-orang yang diuji dengan musuh seperti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diuji, maka diri beliau menjadi teladan yang baik bagi mereka, yang mana mereka tertimpa seperti apa yang menimpa beliau. Maka hendaklah mereka itu mencontoh beliau dalam hal ketawakalan dan kesabaran, serta janganlah menyangka bahwa hal ini merupakan siksaan bagi dirinya, penistaan untuknya. Karena jika begitu, maka Rasulullah yang notabene makhluk terbaik, tidak akan diuji dengan cobaan. Bahkan dengan cobaan, derajat-derajat tinggi akan diraih, dan dengannya pula Allah menghapus kesalahankesalahan bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan Hari Akhir, serta banyak mengingat Allah.

Imam Ibnu Katsir berkata mengenai tafsir ayat ini, “Ayat mulia ini menjadi fondasi sangat agung dalam meneladani Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, baik dalam ucapan, perbuatan, dan peristiwaperistiwa yang dialami beliau. Oleh karena itu, Allah memerintahkan manusia untuk meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di Perang Ahzab dalam hal kesabaran, saling berwasiat dalam kesabaran, keteguhan dalam ribath, kesungguhan dan kesabaran beliau menanti jalan keluar dari Rabb beliau jalla fi ‘ula, semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau hingga Hari Kiamat. Oleh karena itu, Allah berfirman kepada orang-orang yang gundah, terguncang, dan gelisah akan kondisinya pada Perang Ahzab, “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu,” yaitu mengapa kalian tidak meneladani beliau dan mencontoh sifat-sifat beliau? Oleh sebab itu, Dia berfirman, “(Yaitu) bagi mereka yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” Selesai perkataannya rahimahullah.

Sungguh Allah menghalau Pasukan Ahzab dengan mengirim angin topan dan mencerai-beraikan hati mereka sehingga meluluh-lantakkan persatuan mereka, dan mereka tidak memperoleh kebaikan sedikit pun, sebagaimana terdapat di dalam firman- Nya: “Dan Allah menghalau orang-orang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, kerena mereka (juga) tidak memperoleh keuntungan apapun. Cukuplah Allah yang menolong dan menghindarkan orang-orang mukmin dalam peperangan. Dan Allah Mahakuat, Mahaperkasa.” (Al-Ahzab: 25)

Maka kita memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar menghalau Pasukan Koalisi dari Daulah Khilafah sebagaimana Dia telah menghalaunya dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat beliau yang mulia –semoga Allah meridhai mereka–.

Duhai Rabb Penjaga Baitullah limpahkan ampunan-Mu dan pertaubatan
Dengan keagunganmu ilhamkan kepada kami kebenaran
Dengan karunia-Mu pakaikanlah kami mahkota kemenangan
Dan kenakan siksa kepada kumpulan kekafiran
Demikianlah sayap setiap orang menunjukkan penghormatan
Dan demi kemuliaan-Mu leher-leher kami patahkan

Wahai tentara Khilafah, telaah dan pelajarilah berbagai peristiwa yang terjadi di sekitarmu. Renungkan kemudian lihatlah. Demi Allah, semua itu tidak lain hanyalah kematian yang satu dan kebinasaan yang satu. Maka jadilah orang yang mulia dengan agamamu dan berpegang teguhlah dengan keimananmu, mudah-mudahan engkau menghadap Tuhanmu yang meridhaimu, sedang engkau tetap maju dan pantang mundur.

Wahai tentara Khilafah, hindarilah dan jauhilah forum-forum fitnah. Ikutilah wasiat Nabimu shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala bersabda, “Barangsiapa yang menaatiku, berarti dia telah menaati Allah. Dan barangsiapa bermaksiat kepadaku, berarti dia telah bermaksiat kepada Allah. Barangsiapa yang menaati amir, berarti telah menaati ku, dan barangsiapa yang bermaksiat kepada amir, berarti dia telah bermaksiat kepadaku.”

Dalam kesempatan ini, tak lupa kami mengingatkan para ikhwah mujahidin dan umat Islam secara umum agar memanfaatkan sisa waktu di bulan mulia ini, yang mana Allah berfirman tentangnya, “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia sekaligus penjelasan dari petunjuk dan pembeda.” (Al-Baqarah: 185)

Sesungguhnya, di antara nikmat Allah subhanahu wa ta’ala untuk para hamba-Nya yang beriman adalah diantarkannya mereka ke musim kebaikan ini, demi menyucikan jiwa mereka dan membersihkan kotoran yang melekat agar kembali jernih dan murni. Sehingga mereka bersegera menjalankan amalan-amalan shalih dan memanfaatkan hari-hari yang tersisa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila datang Bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu surga, dan ditutuplah pintupintu neraka dan para setan dibelenggu.”

Maka selamat bagi yang sukses mendapatkannya, berarti sungguh dia telah menyerahkan diri kepada Allah, sedang dia berbuat kebajikan dan mengikuti millah (agama) Ibrahim yang hanif (lurus). Selamat bagi yang mengamalkan seluruh syariat islam. Selamat bagi yang tetap teguh di atas kebenaran dan “mengambil” Al-Quran dengan sungguh-sungguh. Selamat bagi yang menyambut seruan Allah, beriman kepada para rasul-Nya, berjihad melawan para musuh-Nya, dan membenarkan janji-Nya.

Wahai bala tentara Khilafah para penggenggam bara api yang bersabar lagi teguh di atas janji, yang menyadari bahwa dunia ini hanyalah negeri cobaan dan ujian, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, “Dan Kami benar-benar akan menguji kalian hingga Kami mengetahui orang-orang yang berjihad di antara kalian dan orang-orang yang sabar di antara kalian, serta akan Kami uji perihal kalian.” (Muhammad: 31)

Ketahuilah, semoga Allah merahmati kalian, sejatinya kalian saat ini adalah katibah (batalion) dan para pelopor Islam dalam melawan koalisi-koalisi kekafiran. Dengan keteguhan, determinasi, dan kesabaran kalian, terdapat kemuliaan bagi Islam, kemenangan bagi kaum muslimin dan Daulah mereka, maka tunjukkanlah kepada Allah kebaikan diri kalian.

Wahai singa-singa Mosul, Raqqah dan, Tal ‘Afar...
Wahai ikon kemuliaan dan kebanggaan, serta penyulut kemarahan orang-orang kafir.

Semoga Allah memberkahi lengan-lengan kokoh dan wajah-wajah bercahaya. Seranglah orang-orang Rafidhah dan murtadin serta gempurlah mereka dengan kehebatan satu orang laki-laki. Tidak akan terhina orang yang kembali kepada Sang Pencipta dan Sang Tuannya, dan tidak akan mulia orang yang berlindung kepada selain-Nya. Kalian berperang di jalan Allah memerangi orang yang kafir kepada Allah, dan kalian mempertaruhkan nyawa demi mendekatkan diri kepada Allah, demikianlah kami menilai kalian dan Allah-lah penilai kalian. Perbaruilah niatan, perbaikilah amal, dan bersabarlah atas pedihnya luka dan tikaman, bersabarlah dan sulut kemarahan para wali setan. Dan bertakwalah kepada Allah, karena ia adalah sebaik-baik bekal dalam peperangan dan seutama-utama muslihat, agar kalian beruntung. Sungguh, kemenangan itu adalah kesabaran sesaat, kemudian kemenangan akan berpihak kepada kalian dengan izin Allah.

Wahai bala tentara Khilafah di wilayah Dijlah, Al-Badiyah, Shalahuddin, Diyala, Karkuk, Utara dan Selatan Baghdad...
Wahai bala tentara Islam di Fallujah, Anbar, dan Al-Furat...

Waspadalah, jangan sampai kalian melewatkan malam-malam bulan yang utama ini, melainkan kalian telah membuat orang-orang Rafidhah dan murtadin mencicipi berbagai macam pembunuhan dan malapetaka. Dan inilah mereka, pada hari ini telah memasuki halaman rumah kalian. Tak ada gunanya hidup jika diinjak-injak oleh anak-cucu kaum Majusi, di tengah negeri-negeri yang telah kalian atur dengan syariat Allah. Maka aturlah perangkap-perangkap, pasanglah ranjau-ranjau, dan pecahkanlah kepala dengan tembakan senapan-senapan sniper (penembak jitu), binasakan perkumpulan mereka dengan berbagai peledak.

Wahai bala tentara Khilafah di wilayah Halab (Aleppo), Al-Khair, Al-Barakah, Hims, Hama, dan Damaskus...
Wahai anak-cucu Khalid dan Abu Ubaidah...
Wahai para pahlawan Islam dan singa-singa pemberani...

Seranglah orang-orang Nushairi, orang-orang Kurdi Atheis, dan para Shahawat murtad di Syam. Terkamlah mereka tak ubahnya singa yang mengamuk. Sergaplah mereka dari setiap pintu, Jangan kalian lewatkan keberuntungan kalian di bulan ini. Temuilah Rabb kalian dalam keadaan tunduk, patuh, dan bertaubat. Kejar dan carilah kesyahidan. “Dan bersegeralah menuju ampunan Rabb kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.” (Ali ‘Imran: 133)

Wahai bala tentara Islam di wilayah Sinai, Mesir, Khurasan, Yaman, Afrika Barat, Somalia, Libya, Tunisia, Aljazair, dan di semua tempat....

Lantaskan jihad kalian, bertahanlah di front-front dan pos-pos ribath kalian. Jangan kalian menunda menyerang musuh-musuh Allah meskipun hanya sesaat di siang hari, berupayalah berjihad menegakkan syariat dan hukum Allah di muka bumi. Karena tujuan jihad kita adalah supaya agama ini semuanya menjadi milik Allah, dan semua belahan bumi di atur dengan hukum Allah.

Wahai para putra Khilafah di Asia Timur...

Kami mengucapkan selamat kepada kalian atas takluknya kota Marawi, Ingatlah selalu Allah dalam keteguhan. Syukurilah nikmat Allah yang dianugerahkan kepada kalian. Mintalah pertolongan Allah untuk menghadapi musuh kalian, niscaya Dia akan mencukupi kalian, Dialah penolong kalian, Dialah sebaik-baik pelindung dan penolong. Kepada para mujahid pemberani yang bertempur melawan musuh...

Wahai bala tentara Khilafah putra-putra Ahlussunnah di bumi Persia...

Semoga Allah memberkahi aksi kalian terhadap musuh-musuh millah dan agama. Kalian melegakan dada dan membuat kaum muslimin bergembira, kalian telah menimpakan orang-orang musyrik dengan sesuatu yang selama ini mereka takutkan. Maka lantaskanlah serangan-serangan kalian. Sungguh, benteng negara Majusi lebih lemah dari pada rumah (sarang) laba-laba.

Kepada saudara-saudara seakidah dan seiman, di Eropa, Amerika, Rusia, Australia, dan yang lainnya...

Saudara-saudara kalian telah menunaikan udzur (mengangkat dosa) di negeri kalian, menerkamlah mengikuti jejak mereka, tirulah aksi mereka, dan ketahuilah bahwa surga ada di bawah kilatan pedang.

Wahai saudara-saudara kami yang menjadi tawanan di mana saja...

Demi Allah, tidak pernah sehari pun kami melupakan kalian. Kami tidak akan pernah melupakan kalian. Kalian memiliki hak atas kami. Maka bersabarlah dan teguhlah. Jangan kalian berkata kecuali kebaikan. Karena besarnya pahala seiring dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, niscaya Dia akan menguji mereka. Maka barangsiapa yang ridha, maka baginya keridhaan (Allah), dan barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan. Perbanyaklah berdoa di bulan penuh berkah ini, agar Dzat Yang Mahalembut lagi Maha Mengetahui memberikan kebebasan dan jalan keluar kepada kalian. Berdoalah agar Allah menganugerahkan kemenangan, keteguhan, dan tamkin kepada para ikhwah mujahidin kalian. Dengan izin Allah, kami tidak pernah menghemat-hemat usaha keras untuk membebaskan kalian.

“Wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan dalam urusan kami, teguhkan kaki kami dan tolonglah kami melawan orang-orang kafir.”

Dan akhir seruan kami; segala puji bagi Allah Rabb Semesta Alam.

BERSABARLAH, SESUNGGUHNYA JANJI ALLAH ITU BENAR

RUMIYAH 9 - STATEMEN

BERSABARLAH, SESUNGGUHNYA JANJI ALLAH ITU BENAR
STATEMEN JURU BICARA DAULAH ISLAMIYAH: SYAIKH ABUL HASSAN AL-MUHAJIR

Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya, memohon ampun kepada-Nya. Kita memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan amalan kita, barang siapa yang diberi-Nya petunjuk maka tidak akan ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang diberi-Nya hidayah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Aku bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah semata, tiada sekutu baginya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Amma Ba‘du:

Allah ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan RasulNya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS al-Anfal: 46-45)

Allah ta'ala berfirman, “Dan bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekalikali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.” (QS. ar-Rum: 60)

Sabar, teguh dan yakin akan janji Allah, meski ujian dan kesusahan menerpa, meski semua musuh bersekutu, di tengah gelegar tembakan artilleri dan bombardir pesawat. Kaum muslimin tetap yakin akan pertolongan Rabb mereka. Mereka tak bimbang, linglung, ataupun mengendor semangatnya, dengan kesabaran terus maju tanpa mundur, guncangan demi guncangan tiada melemahkannya.

Sebaliknya di gelap gulitanya malam, mereka nyalakan cahaya kebenaran, dengan darahnya menghidupkan lentera hidayah dan menjauhi jalan yang sesat. Mereka serap kitab Rabb mereka, mereka berjalan dan beramal dengan sunnah Nabi mereka shalallahu ‘alaihi wa sallam, mereka tahu bahwa kemenangan berada di sisi Allah dan tak pernah sehari pun kemenangan diraih dengan banyaknya jumlah maupun persenjataan, karena Allah adalah Maha Perkasa, tiada yang bisa mengalahkannya. Dia adalah yang Maha Kuat, bisa menelantarkan siapa saja yang menjadikan kekuatan dan banyaknya jumlah pasukan sebagai kebanggan. Maha Bijaksana dalam mengatur segala urusan dengan semua sebab-sebabnya dan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Maha Bijaksana dalam pengaturan-Nya, dan akan menolong siapa saja yang menolong-Nya dan sebaliknya akan menelantarkan mereka yang menelantarkan-Nya, tiada kelemahan dan celah di dalamnya.

Firman-Nya, “Jika Allah menolongmu, maka tiaada orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong 27 kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.” (QS. Ali Imran: 160)

Ya, sesungguhnya janji Allah adalah benar seperti halnya perintah-Nya untuk hamba-hamba-Nya yang beriman, ketentuan dan hikmah-Nya berlaku terhadap seluruh makhluk-Nya. Dia turunkan ujian kapan Dia kehendaki, dan mengangkatnya kapanpun Dia berkehendak, Maha Mengetahui dan Bijaksana, tidak ada sesuatu pun yang bisa melemahkannya baik di bumi dan di langit. Jika Dia memutuskan sesuatu akan Dia berkata, “Jadilah” maka akan terjadi ia.

Dia berfirman, sedangkan Firman-Nya adalah benar, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?“ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. al Baqarah: 214)

Sesungguhnya sunnah Allah berlaku, kemenangan tidak akan terwujud tanpa keistiqomahan di atas perintah-Nya c dan kembali kepada-Nya dengan jujur. Maka barang siapa yang lebih besar pertolongannya terhadap dien Allah dan lebih keras jihadnya terhadap musuh-musuhNya, serta mentaati Allah pun Rasul-Nya, maka ia lebih besar ketatatannya dan pertolongannya.

Wahai ummat Islam...

Waktu telah berputar, dan sejarah kembali terulang. Apa yang kini terjadi menyerupai kondisi Darul Islam di masa lampau, era generasi terdahulu dimana kejadian-kejadian besar menerpa, meninggalkan bekas yang tidak bisa terhapus, dan luka dalam di tubuh ummat yang tak bisa tersembuhkan. Namun, itu menjadi pelajaran dari para pendahulu, sebuah pengingat dari Jama’ah Muslimin agar menjauhi ketegelinciran yang bisa menjerumuskan mereka dalam kehancuran yang nyata, yakni melepaskan diri mereka dari Islam dan mati di atas selain Millah Islam.

Inilah Salibis Amerika dan antek-anteknya kembali menyerang Darul Islam dan bumi Khilafah. Dalam lintas sejarah, seluruh sekte kekafiran dari berbagai ras dan keyakinannya senantiasa berkumpul bersama kaum yang mengklaim diri sebagai bagian Ahlus Sunnah dari kalangan penguasa murtaddin, ulama dan dai Suu, -bahkan mereka yang mengklaim berjihad dan bermanhaj benar-. Mereka semua dalam satu parit bersama seluruh sekte kekafiran melawan putra-pura Daulah Khilafah. Ada beda antara zaman kala itu dengan peperangan yang kita selama saat ini, bahwasanya Daulah Muslimin pada zaman itu dalam keadaan paling buruk dan jauh dari Dien Rabbnya, negeri mereka telah dibagi-bagi oleh para raja dan kelompok, maka Allah timpakan musuh yang merajalela, menghancurkan hewan-hewan ternak dan tanaman.

Adapun hari ini, bersamaan dengan panas menyengatnya pertempuran baik di timur dan barat atas Darul Islam, kondisi kaum muslimin di negeri Khilafah berlainan dengan zaman itu, dimana Daulah Islamiyah adalah yang membela dan mempertahankan Darul Islam, mengobarkan semangat orang-orang yang beriman, mengasah tekad putra-putranya untuk terlepas dari belenggu perbudakan dan tabiat sekte-sekte kekafiran. Daulah inilah yang mengarungi peperangan sengit demi membela ummatnya, dan tiada pelit untuk mengeluarkan tenaganya guna berperang serta menahan gempuran musuh dengan segenap kekuatan yang dikaruniakan padanya, dengan berbagai macam cara dan sarana.

Atas rahmat dan karunia Allah, Daulah khilafah masih terus mengajak kaum muslimin menuju Dien mereka, sementara Ulama Thawaghit dan corong-corong keburukan menghalang-halanginya dan hanya menginginkan ummat Islam terus dalam keadaan hina dipimpin oleh kaum Salibis pun antek-anteknya dari para penguasa murtaddin. Akan tetapi, Daulah Khilafah atas taufik Allah telah mengetahui penyakit sekaligus penawarnya. Dengan izin Allah ia terus berjalan di atas jalannya, tak akan takut celaan para pencela, sampai menyerahkan panji kepada Isa bin Maryam ‘alaihis salam.

Wahai ummat Islam...

Sesungguhnya kita adalah suatu kaum yang Allah muliakan dengan Islam, maka kita tidak akan mengharap kemuliaan dengan selainnya. Ummat yang terakhir dari ummat ini tidak akan baik kecuali dengan mengikuti generasi awalnya. Dan tidak ada yang mulia dalam Dien-nya kecuali dengan mewujudkan tauhid, menghidupkan al-Wala dan al-Bara dimana keduanya menjadi sikap yang tidak terpisahkan dalam seluruh aspek kehidupannya, baik kondisi lapang maupun sempit, susah maupun senang, tatkala berkumpunya musuh dan bertambahnya jumlah panji pasukan musuh. Dia palingkan muka dari Astana, dan tiada pula mengemis-ngemis pada Thawaghit. Sekali-kali tidak! Sebaliknya, ia tanamkan millah yang mulia dan mengikuti para nabi seraya berkata kepada seluruh sekte kekafiran, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (QS. al Mumtahanah: 4).

Inilah jalan kaum mukminin yang mendapatkan petunjuk, dan selainnya adalah jalan orang-orang kafir yang melampaui batas, merubah dan mengganti Syariat Rabbul ‘Alamin.

Wahai Junud Khilafah dan singa-singa Islam...

Ketahuilah bahwa rahmat Alllah dan surga-Nya tidaklah diraih dengan sekedar angan-angan. Allah tidak akan memberikan ampunan, kasih sayang yang luas kecuali pada orang-orang yang teguh, sabar, jujur, dan membenarkan apa yang dijanjikan kepada mereka.

Tidakkah kalian membaca Firman Rabb kalian, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. at-Taubah: 111)

Asal jual beli antara makhluk adalah seperti yang dikatakan al-Qurthubi rahimahullah yaitu mengganti apa yang keluar dari tangannya berupa barang yang lebih bermanfat atau manfaatnya sebanding dari apa yang dikeluarkan. Maka Allah membeli dari hambahamba-Nya dengan cara membinasakan diri dan hartanya dalam ketaatan pada-Nya, dan meninggal dunia demi meraihridha-Nya. Allah memberi imbalan mereka surga jika mereka melakukan hal demikian, merupakan imbalan yang sangat tiada sebanding dengan hal yang ditukar dengannya. Dia jelaskan transaksi dan imbalannya –seorang hamba mesti korbankan jiwa dan hartanya, lalu Allah akan memberi imbalan pahala, inilah yang dinamakan membeli.

Wahai Junud Khilafah...

Demi Rabb bumi dan langit, ini adalah perdagangan yang menguntungkan. Dengan izin Allah kami tidak akan berhenti dan membatalkan jual beli ini. Maka berlakulah jujur dalam pertempuran. Barang siapa yang suka berjumpa dengan Allah maka Allah suka berjumpa dengannya. Itulah perdagangan menguntungkan yang Allah khusukan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman, yang menjual jiwa-jiwa mereka dengan murah di jalan-Nya, demi meninggikan kalimatNya dan menegakkan syariat-Nya.

Sesungguhnya tujuan yang didiimpikan oleh seorang mujahid di jalan Allah adalah mendapatkan ridha Rabbnya, ampunanNya, kebaikan-Nya, taufik-Nya dan karunia-Nya. Itu semua diraih dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, membantai musuh-musuh-Nya di setiap negeri dan tempat, sampai Dien ini semata-mata milik Allah, dan seluruh bumi ini diatur dengan Syariat-Nya. Jika hidup, dalam keadaan mulia, dan jika mati, mati dalam keadaan mulia. Demikianlah keadaan para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan ummat pilihan terdahulu dari generasi utama.

Dan inilah kabar gembira dari Nabi kalian shallallahu alaihi wasallam ia bersabda, “Allah akan menanggung orang yang keluar di jalan Allah hanya untuk berjihad di jalanku (Allah), beriman kepadaku dan membenarkan kerasulanku, dia akan dijamin untuk masuk ke dalam surga atau kembali ke rumahnya dalam keadaan memperoleh pahala atau ghanimah (harta rampasan). Demi jiwa Muhammad dalam genggaman-Nya, tak satupun luka yang diperoleh di jalan Allah, kecuali datang pada hari kiamat sebagaimana keadaannya ketika dilukai. Warnanya adalah warna darah, wanginya seharum misk (minyak wangi). Demi jiwa Muhammad yang dalam genggaman-Nya, seandainya tidak memberatkan kaum Muslimin, aku tidak akan duduk di belakang pasukan (tidak ikut) berperang di jalan Allah selamanya, akan tetapi aku tidak mampu (baik fisik dan materi) untuk membawa mereka (berperang) dan mereka juga tidak akan mampu, namun mereka akan merasa berat untuk diam (tidak mengikutiku berperang). Demi jiwa Muhammad yang berada dalam genggaman-Nya, aku rindu untuk berperang di jalan Allah lalu terbunuh (kata tersebut diulangi tiga kali).” (HR. Muslim)

Wahai Manusia...

Tidakkah sampai pada kalian cerita tentang orang-orang yang teguh, tidakah sampai ke telinga akan kalian kabar ini? Kabar apakah gerangan? Demi Allah, kabar apakah itu? Tentang zaman yang di dalamnya musibah amatlah berat, kepemimpinan berada di tangan orang-orang kafir dan manusia terburuk.. Katakan pada siapa saja yang tergelincir dalam kotoran, dan menyimpang dari kebenaran, akan kisah keteguhan Ahlul Iman yang memerintahkan kepada perkara yang makruf dan melarang dari perbuatan mungkar. Mereka yang mendobrak pintu-pintu Salibis Eropa dengan peringatan dan ancaman, sampai telinga mereka menjadi tuli, dadanya dipenuhi dengan rasa takut dan gentar. Mereka sadar bahwa itu adalah luapan kematian. Atas karunia Allah, kubu keimanan telah meninggi dengan kemuliaan dan tidak akan merendah, sedangkan kubu kekafiran kian condong pada kesesatan dan kehinaan.

Kemanapun engkau pergi, disana ada Sirte yang akan menceritakan kisah rakyatnya padamu. Tentang kaum Muhajirin, Anshar, orang-orang pilihan nan suci, merekalah yang menancapkan panji Tauhid tinggi-tinggi di atas negeri Libya, setelah mereka tinggalkan perselisihan dan perpecahan, lalu memilih persatuan barisan dan menyatukan kalimat dalam rangka ketaatan pada Allah pun RasulNya. Mereka berbai’at pada Khalifatul Muslimin dan Imam mereka, maka Allah taklukkan beberapa daerah untuk mereka, mereka tegakkan di dalamnya syariat Allah, menegakkan Dien, menerapkan hukuman hudud, memerintahkan perkara yang makruf dan melarang dari perbuatan mungkar. Kaum arogan pun marah menyaksikannya, lantas mereka persiapkan pasukan dan memobilisasi kaum Salibis, mengharapkan pertolongan dan memberikan loyalitasnya demi memerangi Islam serta ummatnya. Semua itu disokong oleh para pembesar Ikhwanusy Syayathin dan para munafik zindiq zaman ini. Mereka kerahkan seluruh kekuatan yang mereka miliki guna memerangi Daulah Khilafah, dan mengeluarkan fatwa demi fatwa menghalalkan kemurtadan menjadi antek Salibis, penumpahan darah-darah yang terjaga lagi haram.

Atas karunia Allah, Junud Khilafah dan cucu-cucu para penakluk tetap teguh dalam peperangan tersengit yang disaksikan daerah tersebut. Keteguhannya bak kokohnya gunung, mulia dengan Dien, dan membusungkan dada dengan keimanan mereka, berkorban dengan jiwa, harta, dan anak-anaknya sembari berkata dengan penuh keyakinan, “Katakanlah: "Tidak ada yang kamu tunggutunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan. Dan Kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab (yang besar) dari sisi-Nya. Sebab itu tunggulah, sesungguhnya kami menunggu-nunggu bersamamu.“ (QS. at-Taubah: 52)

Mereka jadikan antek-antek Salibis penuh rasa frustasi, saling serang menyerang selama lebih dari setengah tahun, dalam pertempuran yang meluluh lantakkan semuanya tanpa bersisa. Sementara para kesatria Islam dan Junud Khilafah kembali kepada Rabb mereka, selepas mereka melaksanakan janjijanjinya, demikianlah penilaian kami dan Allah-lah sebenar-benar penilai, “Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. al-Buruj: 8-9)

Keteguhan ummat yang berjihad itu memiliki bekas yang agung, setelah mereka lebih memilih kematian dan terbunuh di jalan Allah, bersabar seraya mengharap pahala. Mereka bertekad untuk tidak mundur dari negeri yang telah mereka tegakkan syariat Allah di dalamnya, lalu menyerahkannya kepada orang-orang yang kafir terhadap Rabb Semesta Alam. Mereka berikan contoh nyata pada Ahlul Iman dalam perkara kesabaran, penguatan kesabaran, keteguhan, pengorbanan. Mereka persembahkan nyawa dan raga dengan murah, sebagaimana halnya menyeru ummat Islam agar mengetahui putra-putra mereka yang jujur, yang tidak rela kecuali menjadi jembatan yang dengannya ummat ini menyeberang menuju laga kemuliaan, kekuasaan, kemenangan dan penaklukkan, dengan izin Allah.

Ada dua jalan, entah kemenangan yang kita raih
Ataukah taman surga abadi, yang di dalamnya terdapat rumah terbaik,
Kita tidaklah berperang dengan ribuan prajurit yang kita kumpulkan,
Bahkan sejuta pahlawan yang bersenjatakan lengkap

Hanyasanya kami berperang dengan Dien,
Yang menjadi penjamin kemenangan generasi pertama,
Mereka dilengkapi dan dilindungi ketetapan hati untuk bertempur,
Dengan kejujuran dalam peperangan, tanpa terkena tipu daya,

Mereka terus bergerak maju, meskipun gunung menjadi condong lantaran rasa takut,
Persatuan mereka tak terganggu oleh rasa takut, tiada pula mengendor,
Barang siapa yang mendahulukan kebenaran, ia kan korbankan nyawanya,
Dan barang siapa yang tekadnya jauh ke depan, ia kan sanggup meraihnya.

Waspadalah, waspadalah, wahai Junud khilafah, jangan sampai kalian berlemah lembut terhadap musuh kalian, karena hal itu bukanlah apa yang diperintahkan pada kalian. Sesungguhnya inilah yang disaksikan oleh kaum kuffar yang dikepalai Amerika, yang atas karunia Allah tiada pernah merayakan kemenangan sejak mereka seret diri mereka ke dalam peperangan melawan Islam dan kaum muslimin. Kita pada hari ini atas karunia Allah berada di era baru yang di dalamnya bangunan Khilafah meninggi, meskipun kekafiran bersatu dan bersekutu, mereka tidak akan melihat dari kita kecuali hal buruk yang akan menimpa mereka, atas daya dan kekuatan Allah. Dialah sebaik-baik penolong dan pelindung kita. Sesungguhnya Allah adalah penolong kita atas mereka. Ini semua tidak lain baru sebatas kilatan pertempuran dan permulaan dari peperangan besar. Yang menang di dalamnya adalah yang bersabar lagi jujur, bukan yang terlebih dahulu sampai ke depan. Hanyasanya hasil penentuan adalah di akhir.

Wahai bala tentara Islam, dan pengemban panjinya di Libya...

Jagalah Dien dan ummat kalian, jangan sampai Islam diserang dari arah kalian. Saudara-saudara kalian telah menepati janji-janji mereka dan apa yang menjadi tanggung jawab mereka. Jika kalian bersabar, teguh di atas al-Haq, dan yakin, maka kalian akan melihat buah yang baik dari penanaman jual beli yang dengan izin Allah setelah ia disirami dengan darah dan jasad yang suci.

Dikatakan kepada Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah saat hari-hari Mihnah, “Wahai Abu Abdullah tidakkah kamu melihat bagaimana kebathilan mengalahkan kebenaran?” Katanya, “Sekali-kali tidak, kemenangan kebathilan atas al-Haq itu terjadi ketika berpindahnya hati dari petunjuk menuju kesesatan. Sementara hati kita kini masih berada di atas al-Haq.”

Dan saudara-saudara kalian telah menunjukkan kesabaran dan keteguhan sebagai teladan untuk diikuti dan perbuatan yang harus dikerjakan kembali. Karenanya, mintalah pertolongan kepada Allah, jangan sampai murtaddin hidup dan kenyamanan dan tidur dengan terlelap, karena peperangan ini kian sengit, hari demi hari terus berputar, dan hasil akhir yang baik adalah milik para muttaqin.

Wahai Ahlus Sunnah di Irak dan Syam, wahai Ahlus Sunnah...

Pasukan Ahzab dari bala tentara kekafiran pun Salibis yang dikomandoi oleh Amerika untuk memerangi Daulah Khilafah di Irak dan Syam serta seluruh tempat yang tegak kekuasannya, mereka ini mengira sanggup memadamkan cahaya jihad dari jiwa-jiwa muslimin, dan mematikan kobaran kemuliaan yang menyalanyala di dalam dada mereka, setelah ummat Islam memiliki Khilafah yang menyatukan mereka dan merapatkan barisan mereka, kalimat mereka di bawah satu imam, satu panji, dan satu tujuan, inilah mereka pada hari ini mengorbankan segenap usaha mereka untuk menguasai daerah-daerah Daulah Islamiyah, yang atas karunia Allah menjadi benteng kalian yang kuat, perisai kalian yang kokoh dalam melawan Rafidhah, Nushairiyah, dan kaum Atheis. Kalian telah menyaksikan, mendengarkan mobilisasi pasukan Salibis atas Mosul dan Tal Afar, pun apa yang dikorbankan oleh putra-putra Khilafah untuk membela dan mempertahankan keduanya. Kami tidak mengira kalian tak mengetahui pengorbanan putra-putranya yang agung dari kalangan Muhajirin pun Anshar, dan kalian telah melihat atas karunia Allah serta karunia-Nya, bahwa pengorbanan jiwa dengan murah di jalan Allah dan membinasakannya demi meraih ridha-Nya, adalah karakter dan tujuan putra putra Islam pilhan yang mencampakkan fanatisme kesukuan. Bahkan kalian lihat seorang Anshari mendahului saudaranya al-Muhajir. Atas karunia Allah operasi istisyhadiyah tidak hanya terbatas bagi para pemuda tanpa orang tua, bahkan semuanya berusaha mendahului temannya.

Seorang pemuda yang melihat kematian sebagai sebuah kemuliaan
Seperti halnya orang-orang tua yang diuji melalui peperangan

Matilah kalian dalam kegeraman wahai Amerika, matilah dalam kebencian kalian! Tidak akan kalah sebuah ummat dimana para putranya, baik pemuda maupun orang tuanya berlomba-lomba menuju kematian dan menumpahkan nyawa mereka dengan murah di jalan Allah. Tidak akan kalah generasi yang hasratnya adalah akhirat dan hasil yang baik.

Maka bangkitlah wahai Ahlus Sunnah untuk menolong saudara-saudara kalian dan meleburlah ke dalam barisan mereka. Ambillah peran yang menggembirakan kalian, dan Dia dalam keadaan ridha pada kalian. Para ummat Salibis dan umat kafir pada hari ini, berjalan dalam usaha nan picik penuh tipu daya yang busuk, untuk mengosongkan satu per satu wilayah dari eksistensi kalian wahai Ahlu Sunnah di Irak dan Syam, untuk diberikan kekuasaannya pada Rafidhah, Nushairiyah, dan kaum Atheis Kurdi. Mereka tahu, sebelum dan sesudahnya, bahwa kalian adalah manusia yang paling keras permusahannya terhadap mereka, serta membayahakan negeri kecil Yahudi dan antek-antek mereka, dari pemerintahan murtad di negaranegara Teluk serta Timur Tengah.

Disamping kekhawatiran mereka atas sirnanya keuntungan dan penghasilan-penghasilan mereka di negeri-negeri kaum muslimin yang terjajah. Mereka telah manancapkan cakar-cakarnya ke dalam tubuh ummat sejak berabad-abad. Dan sungguh cakar-cakar itu pasti akan dicabut, dan tangantangan itu akan dipotong, dengan izin Allah, dengan keimanan, keteguhan, tawakal, kesabaran dan tekad putra-putra khilafah, In Sya Allah. Itu adalah janji Rabbaniyah, baik mereka suka atau tidak, baik mereka telah membuat rencana dan makar, tidak akan terwujud kecuali urusan Allah dan takdir-Nya. Allah telah menjaga Syam dan penduduknya, kami berbaik sangka dengan Rabb kita bahwa Dia tidak akan menelantarkan kita.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya kalian akan terdiri menjadi beberapa bala tentara, tentara di Syam, Irak, dan Yaman.” Ibnu Hawalah berkata, “Wahai Rasulullah, berilah pilihan padaku.” “Hendaknya kamu memilih Syam, jika tidak maka hendaknya menuju Yaman.”

Bala tentara muslimin akan tetap kokoh di tempatnya dengan izin Allah, baik di Syam, Irak, Yaman, dan seluruh belahan negeri muslimin yang kekuasaan Khilafah sampai kepadanya, meskipun para pembesar kekafiran dan petinggi Salibis mengira mereka akan menahan janji Rabbani dan kejadiankejadian yang akan datang mengenai kehancuran mereka, atau mereka kira telah menang dengan membunuh putra-putra Islam dalam peperangan di tiap daerah, kota ataupun desa, maka anggapan mereka telah salah. Para lelaki yang telah bersikap jujur dan memenuhi janji mereka –kami menilainya demikian dan Allah-lah yang sebenarnya menilainya– keluar berperang berusaha untuk mendapatkan kematian di tempat yang ia tuju, dan itu merupakan cita-cita yang selama ini diharapkannya, sungguh mustahil wahai para penyembah Salib, sesungguhnya Allah ta'ala akan melaksanakan janji-Nya,

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. an-Nur: 55)

Wahai Ahlus Sunnah di Syam...

Kalian telah melihat dan menyaksikan perbuatan antek-antek kafir di kota al-Bab dan pinggirannya. Pun apa yang diperbuat pasukan murtad al-Ikhwani Turki, dan anjing-anjingnya liarnya, yaitu para shahawat hina, antek menjijikkan, berupa pembantaian terhadap Ahlus Sunnah. Kota ini hancur lebur akibat bombardir Rusia, Amerika dan antek-antek murtad mereka. Mereka tiada mengasihani kaum wanita maupun anak-anak ataupun orang tua dari kalangan awam muslimin yang tinggal di dalamnya. Kaum Atheis Kurdi dan Nushairi berkoalisi memerangi desa-desa yang berada di sekitar kota, memanfaatkan serangan sengit yang tengah menimpa ummat Islam, dan kita tidak mendengarkan satupun kata dari para Ulama Suu nan durjana –semoga Allah melaknat dan menghinakan mereka- yang mengingkari, menyangkal atau cemburu atas mahramnya, dan mereka tidak akan cemburu akannya. Hampir-hampir engkau tidak mendengar celotehan mereka kecuali kedustaan atas Mujahidin dan melontarkan kepada mereka sifat terburuk. Demi Allah, mereka tidak lain adalah tombak yang digunakan Salibis untuk menusuk siapa saja yang berusaha mengembalikan ummat menuju kemuliaan generasi terdahulunya, berperang demi membantai partai kafir dunia yang yang menusuk dada ummat yang memerangi ummat Islam.

Maka sadarlah wahai Ahlus Sunnah di Syam, dan pahamilah apa yang dinginkan dari kalian. Sungguh Daulah Islamiyah tidak pernah menutup pintunya sehari pun di hadapan mereka yang berusaha jujur dan bertaubat, serta tidak menginginkan untuk kalian kecuali kebaikan dan hal yang menghantarkan kepada kemuliaan kalian. Kalian telah dikejutkan dengan sebelumnya oleh orang-orang yang meninggalkan kota Halab dari kalangan Shahawat murtad. Dia pun berlari di belakang Dolar untuk memerangi Daulah Khilafah, dan justru menyerahkan Aleppo untuk Nushairiyah tanpa perang. Dan pada hari ini, mereka menjarah serta mencuri rumah-rumah penduduk alBab yang terusir dan terbunuh, dan mayat-mayat penduduknya masih terkubur bawah di puing-puing bangunan yang telah hancur. Dalam keadaan paling hina dan gambaran terburuk dalam kerendahan, khianat, tidak ada dosa setelah kekafiran, dan jangan terkejut jika esok hari nanti ada yang melakukan genjatan senjata dan menggembar-gemborkannya agar Nushairi bisa menghela nafas dan menyatukan front pertempurannya melawan Daulah Khilafah. Menjadi partner Nushairiyah dalam negara dan bekerja melawan terror -mereka menamakan dirinya dengan Jabhah, Hai’ah dan Harakah, bak bunglon yang bergonta-ganti warna, setiap hari mereka berganti urusan dan penampilan. Mereka semua adalah tameng Salibis dan penjaga Nushairiyah, pun sebab kesengsaraan dan kesusahan yang kalian temui.

Tidak ada yang kalian miliki setelah Allah wahai Ahlus Sunnah di Syam, kecuali Daulah Khilafah, yang menjaga Dien kalian yang di dalamnya terdapat kemuliaan kalian dan terlepasnya kalian dari kesengsaraan. Kalian jaga kehormatan kalian, bersegeralah menuju kemuliaan kalian, bergeralah menuju yang menghidupkan kalian dan menyelamatkan kalian dari siksaan Allah. Bersegeralah menuju jihad, ribath menuju ibadah yang kalian telantarkan, setelah kalian tersesat dan hidup berselimutkan kehinaan pun kerendahan. Demi Rabbku, kalian tidaklah diciptakan dengan sia-sia, kalian akan bertemu dengan Rabb kalian, dan Dia akan menanyai kalian, maka siapkanlah jawaban untuk pertanyaan itu.

Wahai bala tentara Khilafah, wahai ummat Islam...

Si dedengkot kejahatan dan kerusakan, yaitu Amerika telah terperdaya dengan kekuatannya dan pandangan matanya yang buta. Ia pun maju menyongsong rawa kehancuran dan kemusnahannya. Ya, dia akan tenggelam, dan kala itu tidak ada tempat untuk melarikan diri. Ia terus berusaha dengan sia-sia untuk menghindar dari jebakan, namun ia tiada memperoleh kehasilan. Ia pun diseret bersama bala tentara dan kendaraannya menuju Syam serta Irak, dan mereka akan diporakpondakan. Setelah ia melarikan diri dalam keadaan kalah dan hina dari Irak, lihatlah mereka kembali lagi, namun inilah yang dijanjikan. Meskipun kita banyak kehilangan daerah, kota atau desa, inilah ujian dan penyaringan Jama’ah muslimin, guna membersihkannya dari keburukan, dan Allah memilih hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya. Itu tak lain merupakan musibah dan himpitan, yang akan datang setelahnya penaklukkan besar dengan izin Allah, penaklukkan Baghdad, Damaskus, al-Quds, Amman dan Jazirah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Batalyon-batalyon keimanan akan memerangi Persia. Qum dan Teheran akan ditaklukkan, dan setelahnya kita akan memerangi Roma. Para singa akan mengaung dengan takbir atas penalukkan Konstantinopel tanpa perang. Inilah janji Rabb kita dan kabar gembira dari Nabi kita shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Atas karunia Allah, generasi di negeri Khilafah terdidik di atas Tauhid al-Wala dan Bara, menikmati pembunuhan dan kematian di jalan Rabbnya, dan kemuliaan Diennya. Kau tak akan berhasil wahai Amerika, kau tidak akan berkutik di hadapannya, sementara nadi/ cahaya keimanan telah berjalan di darahnya dan merasakan rasa mulia pun kebanggaan akan Diennya. Betapa banyak usaha Amerika untuk menghalangi manusia dari dien-Nya di Irak, Syam, Khurasan dan seluruh dunia. Betapa banyak kamu kucurkan seluruh tenagamu untuk menjauhkan manusia dari mujahidin, dan kamu kerahkan manusia-manusia terburuk, namun itu akan sia-sia, ya itu akan siasia. Kamu tidak akan mendapatkan apa yang kamu inginkan, usahamu akan merugi, mereka adalah yang menaiki bom-bom mobil mereka dan berperang di barisan pertama. Lelaki tua yang jenggotnya beruban namun enggan mewarnainya kecuali dengan darah.

Allah telah merealisasikan janji-Nya untuk kita dan kau berdusta wahai Amerika. Pada hari Dia menaklukkan untuk kami beberapa negeri dan menghinakanmu, serta menjadikanmu dan bala tentaramu sebagai pelajaran dan tanda-tanda. Kamu telah membelanjakan harta dan mengerahkan semua yang kamu miliki, yang atas karunia Allah menjadi ghanimah tanpa perlawanan bagi mujahidin yang lemah. Maha Benar Janji Allah, Dia menolong hamba-hamba-Nya, memuliakan bala tentara-Nya. Dan enyahlah kau Amerika, kau telah berdusta, kau menjadi lelucon setelah banyak mengalami kepayahan dan kesengsaraan. Kau mengira telah membasmi mujahidin di Irak dan kau serahkan kepemimpinannya kepada Rafidhah.

Atas karunia Allah, kami hunuskan pedang kebenaran di atas leherleher Rafidhah dan Shahawat murtad dari kalangan kabilah-kabilah suku. Mereka temui kematian mereka, meski mereka membencinya, menggali kuburan mereka dengan tangan mereka sendiri, disembelih di atas kasur-kasur mereka, sebagaimana yang akan datang saat ini yaitu para murtaddin Kurdi dan Shahawat yang kalian telantarkan. Mereka akan menemui nasib mereka sebagaimana nasib pendahulu mereka di Irak, dengan izin Allah.

Allah telah merealisasikan janji-Nya dan kamu berdusta, serta prasangkamu salah wahai Amerika. Di saat kami mengembalikan makna untuk ummat ini yang lenyap dari realita selama beberapa abad, dan atas karunia Allah kami hidupkan syiar-syiar yang telah terkikis dan dilupakan kaum muslimin, bahkan banyak dari mereka tidak mendengarkannya sejak pertama kali ia melihat dunia, maka kami deklarasikan Khilafah. Ya, kami deklarasikan Khilafah dan kami bai’at Khalifah Muslimin yang harus ditaati dalam hal-hal yang makruf, selama yang diterapkannya adalah dari kitab Rabb mereka dan sunnah Nabi-Nya shallallahu alaihi wasallam, menghantarkan mereka pada kemuliaan. Atas karunia Allah, jalan ini semakin jelas, kami tidaklah diceraiberaikan oleh partai-partai, kelompok dan jamaah.

Kamu telah mengetahui wahai Amerika, tidak ada penolong bagimu. Kau menjadi buruan bala tentara Khilafah di seluruh penjuru bumi, kau telah merugi, sedangkan tanda-tanda kebinasanmu telah nampak dengan jelas. Dan yang paling jelas dari tanda-tanda itu adalah kau dipimpin oleh orang idiot yang tak tahu menahu apa itu Syam, apa itu Irak, apa itu Islam, yang selama ini didengungkan oleh musuh-musuhnya dan diumumkannya perang atasnya. Di hadapanmu hanya ada dua pilihan, keduanya adalah pilihan pahit, entah kau ambil pelajaran dari yang telah lalu dan kau mundur, maka mujahidin menikmati apa-apa yang kamu tinggalkan berupa ghanimah. Atau kau turun ke darat dan kau telah melakukan hal itu, maka kamu akan diceburkan ke dalam rawa kematian, dan hal itu melegakan dada– dada muwahhidin, dengan izin Alllah.

Wahai Ahlus Sunnah di Jazirah Muhammad shallallahu alaihi wasallam...

Celakalah kalian, apakah kalian tidak mendengar, apakah kalian tidak melihat mana hati kalian jika memang pandangantelah buta, mana Tauhid dan Iman kalian, dimana al-Wala dan Bara kalian, tidakkah kalian melihat Thawaghit Jazirah –semoga Allah menghinakan dan memusnahkan pekerjaan mereka- mereka melempar lampung penyelamat bagi Rafidhah di Irak, bahkan memberi selamat atas penjarahan terhadap daerah-daerah Ahlus Sunnah.

Belumkah tiba waktunya bagi kalian untuk meniup debu-debu kehinaan dan bangkit menyerang para murtaddin penghianat itu, yang tidak meninggalkan pintu kekafiran kecuali mereka telah memasukinya? Tidak ada rencana Salibis untuk memerangi Mujahidin kecuali mereka tolong dan sokong pun membantunya dengan semua yang mereka miliki. Apakah dari tempat turunnya wahyu dan sumber risalah (Islam), Ahlu Sunnah di Irak dan Syam dihinakan? Apakah dari negeri sahabat, para penakluk pertama, mereka tertimpa malapetaka dan penistaan, mana para pencemburu dari kalian? Mana cucu-cucu ash-Shiddiq dan al-Faruq Umar? Mana cucu-cucu Abu Bashir dan Abu Jandal? Wahai saudara setauhid di negeri Haramain, seranglah bala tentara Thagut, ulama keburukan dan fitnah, seranglah para Presiden dan Menteri, perlihatkan kepada mereka kemurkaanmu dan pertolonganmu untuk Dien, dan pembelaan terhadap saudara-saudaramu. Sungguh penyiksaan mereka terhadap Ahlu Syam telah mencapai puncaknya, para wanita telah mengeluhkan mala petaka dan musibah yang menimpanya, maka jangan sampai ada satupun orang bodoh yang menghalangimu dari menolong mereka.

Wahai Junud Khilafah di Mosul, Tal Afar, Raqqah, dan setiap front Daulah Islamiyah...

Ketahuilah bahwa kita pada hari ini melalui fase terbesar dari sejarah jihad kita dan paling berbahaya, pun titik perubahan dalam sejarah ummat. Maka jadilah kalian pengemban amanah. Kalian dengan izin Allah mampu untuk mengemban beban itu, berbekallah dan sebaik-baik bekal adalah taqwa, mintalah tolong kepada Allah dan jangan merasa lemah. Gantungkan hati kepada yang Maha Tinggi dan Maha Penyayang, mintalah darinya pertolongan dan sokongan. Dia subhanah dekat dan mengabulkan orang-orang yang membutuhkannya dan menyingkap bencana, serta mencukupkan hamba-hamba-Nya.

Maka siapa lagi yang menyelamatkan Ibrahim dari api selain-Nya? Yang membelahkan laut untuk Musa dan menyelamatkan hamba-Nya Yunus dengan kasih saying serta karunia-Nya, dan menolong hamba-Nya, Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan ketakutan musuh sebulan sebelum beliau sampai pada mereka. Maka bersabarlah, teguh dan bertawakallah. “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imran: 200)

Renungkanlah firman Rabb kalian dan hayatilah, “Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangkasangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. ath-Thalaq: 3)

Wahai bala tentara Khilafah. Wahai para penjaga kehormatan, wahai pembalas untuk Dien dan ummat mereka...

Kami mengenal kalian sebagai para pahlawan dan kesatria yang teguh dalam pertempuran dan bersabar dalam peperangan, serta para penguasa mulia, maka songsonglah janji Rabb kalian berupa kemenangan dan penaklukkan, dan siapkan diri kalian untuk menghadapi luka yang terpedih, sungguh itu adalah satu kematian, kemudian setelahnya adalah kemuliaan yang tak akan terputus. Jangan sampai kalian tinggalkan sejengkal tanah kecuali kalian jadikan itu sebagai gunung api bagi orang-orang kafir pendosa. Sergaplah mereka di rumah-rumah, gang-gang dan jalan-jalan, tanamlah ranjau di setiap jembatan, dan lancarkan serangan demi serangan, tangkap, kepung dan intailah mereka.

Wahai para kesatria Baghdad, baik di utara dan selatannya, di Kirkuk, Shalahuddin, Diyala, Fallujah, dan al-Anbar...

Tambahlah pengorbanan kalian, balas musuh-musuh Allah dari kalangan Rafidhah najis dan Ahlus Sunnah yang murtad, buatlah mereka merasakan kepahitan racun mematikan. Kalian adalah kesatria yang menyungkurkan musuh, mintalah ketepatan serangan pada Allah. Jadikan ketergantungan dan tawakal kalian atas-Nya, semua perkara berada di tangan-Nya.

Wahai Junud Khilafah di Khurasan, Yaman, Sinai, Libya, Afrika Barat dan dimana saja kalian berada...

Atas karunia Allah, kalian masih menjadi penolong terbaik untuk Daulah kalian, maka kuatkan agresi militer kalian terhadap musuh-musuh Allah dari kalangan kuffar pun halnya antek-antek mereka yang murtad. Ketahuilah, nyala api peperangan kalian terhadap mereka adalah bentuk aksi pertahanan kalian melawan serangan para ummat kekafiran atas Darul Islam di Irak dan Syam, sama saja dengan engkau mengalahkan koalisi dan mobilisasi pasukan mereka.

Wahai para muwahhidin yang jujur di Amerika, Rusia, dan Eropa. Wahai para Anshar Khilafah, wahai kalian yang rindu untuk bergerak menyerbu musuh, sementara kalian hari ini berada di tengah-tengah kaum musyrikin...

Singsingkan lengan baju kalian dan bersiaplah dengan penuh kesungguhan, serta berlaku jujurlah dalam usaha kalian. Ketahuilah, bahwasanya peperangan melawan musuh kita adalah perang global dengan keuntungan yang mudah diraih. Maka sibukkanlah diri mereka dari Khilafah dan Darul Islam kalian.

Ingatlah selalu sabda Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seorang kafir tidak akan berkumpul dengan pembunuhnya di neraka.” (HR. Muslim)

Ya Allah laknatlah orang-orang kafir yang menghalangi manusia dari jalan-Mu, mendustakan Rasul-Mu, memerangi wali-wali-Mu.

Ya Allah cerai beraikan kalimat mereka, jadikanlah permusuhan dan kebencian diantara mereka, guncangkanlah bawah telapak kaki mereka, turunkan kebengisanMu yang tidak tidak dapat dielakkan oleh kaum penjahat.

Ya Allah, tolonglah Dien dan bala tentaraMu, tinggikan kalimat dan panji-Mu yang haq, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.

Walhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.

MAKA KELAK KALIAN AKAN MENGINGAT APA YANG AKU KATAKAN KEPADA KALIAN

RUMIYAH 4 - STATEMEN

MAKA KELAK KALIAN AKAN MENGINGAT APA YANG AKU KATAKAN KEPADA KALIAN
STATEMEN JURU BICARA DAULAH ISLAMIYAH : SYAIKH ABUL HASSAN AL-MUHAJIR

Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, memohon ampunan-Nya, dan kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri kami, serta kejelekan amal-amal kami. Barangsiapa yang Dia beri petunjuk maka tiada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Dia sesatkan maka tiada yang dapat memberi petunjuk baginya. Dan aku bersaksi bahwasanya tiada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam tasliman katsiron ilaa yaumiddin. Amma Ba’du.

Allah ta'ala berfirman, “Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman. dan menghilangkan panas hati orang-orang mu’min. Dan Allah menerima taubat orang yang dikehendakiNya. Allah maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. at-Taubah: 14-16)

Kepada para Mujahidin fii Sabilillah di setiap tempat.
Wahai Junud Khilafah yang sabar dan penggenggam bara api.
Wahai para pelindung Dien dan kehormatan!
Wahai para pengorban jiwa dengan murah di jalan Allah!
Wahai kalian yang menghadang agresi Salibis paling sengit di sepanjang sejarah, dengan dada-dada kalian.
Dan kalian yang menjaga benih-benih Islam dengan darah kalian.
Wahai kalian yang menggetarkan umat-umat kafir dan tentara-tentara murtad dengan keberanian dan ketabahan hati kalian.

Kalian buat bingung seluruh alam ini dengan ketabahan dan kesabaran kalian. Aku wasiatkan pada kalian apa-apa yang telah diwasiatkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada Ibnu Abbas radhiyallahu anhu. Beliau bersabda padanya:

“Jika seandainya seluruh makhluk itu ingin memberikan manfaat kepadamu dengan sesuatu yang belum Allah tentukan atasmu, niscaya mereka tidak akan mampu memberikannya kepadamu, dan jika mereka ingin menimpakan madharat kepadamu dengan sesuatu yang tidak Allah tentukan menimpamu, maka sungguh mereka tidak akan mampu melakukannya. Dan ketahuilah bahwa didalam kesabaran yang kalian benci itu sesungguhnya terdapat kebaikan yang banyak, dan sesungguhnya kemenangan itu bersama kesabaran, dan jalan keluar itu bersama dengan kesusahan, dan bahwasannya bersama kesulitan itu pasti ada kemudahan.” (HR. Ahmad)

Umar radhiyallahu anhu pernah berkata kepada para pembesar Bani Abbas, “Dengan apa kalian memerangi musuh kalian?” Mereka menjawab, “Dengan kesabaran. Tidaklah kami menghadapi suatu kaumpun kecuali kami akan bersabar menghadapi mereka seperti mereka bersabar ketika menghadapi kami.”

Sebagian salaf berkata, “Kita semua membenci kematian dan pedihnya luka, akan tetapi kita akan lebih unggul jika bersabar.”

Maka bersabarlah kalian wahai saudara-saudaraku dalam Jihad! Teguhkanlah diri kalian dan berbahagialah! Karena demi Allah, sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang menang. Ujian yang kalian lalui ini tidak lain hanyalah sebuah episode dari episode demi episode ujian lainnya, yang dengannya Allah merahmati hamba-hamba-Nya, untuk memisahkan yang buruk dari yang baik. Kemudian Dia akan mempersiapkan kalian untuk mengemban amanah yang lebih berat, dan tanggung jawab yang lebih besar.

Tiada lain yang terkandung dalam ujian ini tidak melainkan anugrah, ia tidaklah lebih sulit daripada masa kesulitan yang telah berlalu. Sebelumnya telah lewat berbagai macam cobaan yang seandainya di timpakan kepada gunung yang kokoh itu niscaya ia akan bergoncang dengan keras, namun kalian senantiasa bersabar atasnya dan kalian tetap teguh di dalamnya. Bahkan, kalian keluar dari rentetan ujian itu dengan keteguhan yang lebih kuat dan kian kokoh.

Wahai bala tentara Mujahidin di Irak dan Syam!
Wahai orang-orang yang terasing lantaran keislamannya.

Kubu kebathilan telah tertipu oleh dunia yang fana, dibohongi hasrat, menumbuhkan kepercayaan diri yang berlebih. Setanpun meniupkan kesombongan ke dalam hidungnya, membangkitkannya, berlagak kuat, lalu menyerbu Darul Islam dan bumi Khilafah dengan serangan yang belum pernah disaksikan sepanjang sejarah manusia yang lalu.

Inilah Salibis Amerika dan Eropa, si Atheis Rusia, Majusi Iran, bersama si Sekuler Turki, Atheis kurdi, Nushairiyah pun halnya para Shahawat serta milisi-milisinya, para Thawaghit Arab dan bala tentaranya, mereka semua berkumpul dalam satu parit, berbekal peralatan tempur mereka yang modern, dan dibantu oleh kedustaan media yang menjijikkan.

Motto mereka satu, “Menghabisi Islam dan umatnya.”
Slogan mereka satu, “Siapakah yang lebih kuat dari kami!”

Maka mereka datangi kalian dengan kemarahan dan senjata mereka, serta mereka jadikan hewan-hewan ternak tunggangan mereka, orang-orang murtad dari bangsa kalian sendiri sebagai tumbal di permulaan perang. Mereka menggiringnya ke arah kalian, hingga mereka sampai di halaman rumah kalian. Pintalah bantuan untuk memerangi mereka dengan kesabaran dan ketabahan, dengan kekuatan dan keteguhan.

Sungguh Rafidhah telah datang dengan pasukan berkuda dan pasukan daratnya di bumi Tal Afar, terbujuk rayu oleh dendam, dan tergiur oleh kekayaan Darul Islam untuk dirampasnya, dan menyiksa Ahlus Sunnah yang ada di dalamnya. Maka janganlah kalian membiarkan musuh-musuh Allah mengambil kembali nafasnya atau menancapkan kembali tameng-tamengnya. Lancarkanlah aksi demi aksi serangan penyergapan, berperanglah tanpa henti pun rasa ampun pada musuh, karena sesungguhnya kalian sedang memerangi kaum yang tidak memiliki akal maupun petunjuk, tidak memiliki agama dan tidak akan tertolong di dunia.

Mereka digiring oleh Salibis untuk menggantikannya sebagai pasukan di medan peperangan dan pertempuran. Demi mewujudkan tujuan dan cita-cita mereka untuk memecah-belah wilayah kaum muslimin, menundukkannya dan penduduknya di bawah hukum Rafidhah Majusi, demi Allah hal itu tidak akan terwujud!

Maka tatkala kedua pasukan telah bertemu di medan perang, penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka! Hancurkanlah peralatan-peralatan tempur mereka! Serbulah mereka! Kejutkanlah mereka dengan serangan di benteng-benteng mereka! Agar mereka merasakan sebagian dari kebengisan kalian, dan kalian tidak akan berhenti hingga Allah memberikan kekuasaan pada kalian untuk mengalahkan mereka.

Dan janganlah kalian membisikkan keinginan untuk lari dari pertempuran ke dalam jiwa kalian! Demi Allah jika kalian lari, kalian tidaklah lari kecuali meninggalkan kehormatan yang tiada lagi pelindungnya, kalian tidaklah lari kecuali dari agama yang mengadu kepada Allah bahwa kaum ini telah menyia-nyiakannya, pun halnya para Anshar yang mereka telantarkan. Ingatlah selalu, firman Allah ta'ala,

“Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan ta‘atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. al-Anfal: 45-46)

Dan firmanNya, “Dan berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada do’a mereka selain ucapan, ‘Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.’ Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran: 146-148)

Demi Allah, kita melihat Allah memperdaya para Salibis, murtadin, dan Atheis untuk melenyapkan mereka. Dengan izin Allah, ini adalah agresi terakhir mereka! Dan sebentar lagi kita akan memerangi mereka di negeri tempat tinggal mereka, inilah keyakinan kami kepada Dzat yang Maha Esa, dan prasangka baik kita kepada Dzat yang Esa lagi tempat bergantung.

Wahai ummat Islam dan para singanya di Raqqah, wahai para pemberani dan para kesatria, pemilik kemuliaan, harga diri, dan kehormatan.

Bukanlah para wanita (PKK) fajir lagi kafir telah merampas bumi kaum Muslimin, setelah mereka tak sanggup menghasilkan para lelaki yang menggantikan urusan mereka. Dan orang-orang kafir dari segala sekte dan penyembah berhala berdatangan pada mereka, demi menolong kebathilannya, memerangi Islam dan pemeluknya. Katakan padaku, demi Rabb kalian, bagaimana jadinya jika kalian tidak menangkal serangan pasukan Atheis dari kalangan milisi Kurdi, dan mereka menang atas kalian, (semoga Allah tidak mewujudkan apa yang mereka inginkan). Peperangan yang demi Allah, digelorakan oleh para wanita kotor (wanita-wanita PKK), atheis nan kafir, hina, bodoh, lagi celaka terhadap agama kalian ini hendak menghapuskan syariatnya, menghinakan masjid-masjid kalian, dan merendahkan kaum kalian, menodai saudari-saudari dan istri-istri kalian. Jika hal ini terjadi, maka tiada lagi kebaikan dan artinya untuk hidup. Ketahuilah bahwa sesungguhnya sekarang adalah masa untuk membuktikan kejujuran dan penunaian janji.

Wahai kaum Muslimin sekaligus Mujahidin!

Tiga hal yang terhimpun pada diri kalian yang sangat di impikan oleh seorang muslim, yakni wilayah yang diatur oleh Syariat Allah, menghadapi serangan musuh dimana tidak ada yang lebih wajib setelah iman selain melawannya, dan mati syahid yang telah lama didam-idamkan oleh orang-orang yang jujur.

Hatiku berada di atas keyakinan dan jiwaku merdeka,
Ia tampik kehinaan dan pedangku yang tajam
Lantas ada apakah gerangan seorang lelaki takut berpisah dengan jiwanya?
Bukankah akhir dari kehidupan sejatinya adalah perpisahan?
Maka angkatlah jiwamu yang masih berada di tempatnya
Jika tiada negeri Syam, ada negeri Irak
Tiada kebaikan dalam hidup yang dikelilingi oleh sifat pengecut
Sebuah kehidupan yang diliputi kehinaan dan nestapa
Mereka mencelaku, lantaran kerendahanku dan kekalahanku
Sedangkan api tidaklah dicela karena ia membakar

Wahai para Ksatria Pemburu Syahadah dan singa-singa jihad di al-Bab dan pinggirannya.

Semoga Allah mencerahkan wajah kalian dan memberkati kalian di atas amal sholeh, karena kalian telah menghinakan pasukan murtad Turki, Shahawat, Kurdi pun halnya sekutu-sekutu Nusairiyah dengan keberanian, keteguhan serta pengorbanan kalian demi membela angama dengan kemuliaan dan ketegaran. Maka bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian, pun tetaplah berjaga-jaga di medan pertempuran dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. Sesungguhnya hari ini, cucu-cucu murtaddin Turki yang membunuhi orang-orang bertauhid tengah meneruskan jejak nenek moyangnya. Mereka telah menyerang Daulah kaum Muslimin dan Jama’ahnya. Karenanya, balaskanlah demi agama dan tauhid kalian.

Sesungguhnya kalian tidaklah memerangi kaum yang kuat. Sejatinya mereka adalah kaum pengecut yang berlindung di balik tembok. Maka bersikap jujurlah dalam melawan mereka. Tekanlah mereka, bunuhlah mereka dimanapun kalian jumpai. Dan incarlah mereka dengan setiap cara di setiap penjuru bumi, di bawah kolong langit.

Sesungguhnya, Ikhwanul Murtaddin Turki dan pemerintahannya mengemis-ngemis di pintu-pintu Salibis Eropa, mengira bahwa mereka dalam keadaan aman. Karenanya, duhai kaum Muslimin di setiap tempat yang cemburu akan agamanya, wahai para Muwahhidin yang jujur, wahai Ahli al-Wala’ wal Bara’! Sungguh si Turki terlaknat ini telah menghimpun orang-orang hina dari kalangan manusia, yaitu Shahawat di Syam, untuk memerangi agama Allah dan memadamkan cahaya-Nya. Tanpa henti mereka bombardir dan hancurkan rumah-rumah di atas kepala penghuninya, melumuri tangannya dengan darah kaum Muslimin, menghinakan agama dan kehormatan mereka.

Karenanya, kami serukan pada setiap muwahhid yang jujur untuk berangkat berperang menyerbu setiap sendi pemerintahan Turki yang Sekuler lagi murtad di setiap tempat, baik badan keamanan, militer, ekonomi, maupun medianya, bahkan setiap kantor kedutaan dan konsulatnya di seluruh negara dunia.

Kemudian, ketahuilah wahai para Mujahidin Muwahhidin, sesungguhnya termasuk yang paling besar kejahatannya dan paling besar kekufuran maupun dosanya diantara mereka adalah anjing-anjing mereka yang menggonggong dari kalangan ulama penyeru kesesatan, kekufuran dan para masyaikh yang rendah lagi lemah, yang loyal kepada kelompok musyrik ini dan pemerintahannya yang murtad, dengan segala bentuk loyalitas dan pertolongan, melalui majelis-majelis ulama, fatwa dan acara-acara media mereka, bahkan di akun-akun pribadi, serta forum-forum dialog mereka. Nama-nama, rumah-rumah, dan program-program tayangan mereka sudah banyak dikenal.

Ya, mereka yang mendoakan keberkahan pada penguasa tiran yang kafir, dan turut berbahagia atas kepresidenannya meskipun telah terbukti kesesatannya. Mereka yang dari seluruh penjuru dunia mendatanginya, dan mengucapkan selamat atas kemurtadan yang ia lakukan secara terang-terangan, dan kekafiran yang nyata. Mereka jadikan negaranya sebagai tempat beraktivitas serta bersenang-senang, dan tempat bernaung bagi kehinaan dan kebodohan mereka. Mereka hapus syiar-syiar hidayah dengan tangan-tangan mereka, dan memusnahkan kemuliaan yang tersisa dengan persaudaran mereka bersama kuffar. Sungguh, betapa buruk tangan-tangan dan kelompok Ikhwanul Murtaddin ini.

Mereka dekati kuffar dan menyambutnya, lantas menjelek-jelekkan dan menyesatkan Dien yang agung ini. Akibatnya, tersebarlah kesesatan dan bid’ah, serta hawa nafsu disembah, itulah seburuk-buruk sesembahan. Orang yang terpuji hampir tiada bedanya dengan yang tercela, begitu juga sebaliknya. Dan iniah musibah pun malapetaka yang besar. Mereka adalah para pendakwah dan imam yang menyeru manusia kepada kesengsaraan. Mereka lebih takut kepada manusia daripada takut kepada Allah, sangat tamak dengan ketenaran, 'doyan' akan pujian dan jabatan, terkena fitnah kecintaan akan kehidupan dunia yang fana dan merasa takut bila kehilangan akannya. Mereka pun melampaui batas dalam berbuat kerusakan dan kesia-siaan. Mereka pendam kebenaran dan sebarkan keburukan. Masih ada banyak lagi dari mereka, namun kami tak akan menyebutkannya lebih jauh karena saking banyaknya keburukan mereka. Semoga Allah memburukkan jiwa-jiawa yang cacat ini, jenggot sewaan dan lidah yang dipenuhi kalimat kepalsuan.

Tatkala pelaut telah pergi dan kapal tunggangannya dihempas angin, katak-katak pun mengambil alihnya

Tiadakah orang yang menahan mereka, memotong hidung-hidung, pun bahkan menghentikan mereka?

Orang-orang yang lebih buruk darinya adalah Bal’am bin Baurah, dan seburuk-buruk orang Musailamah adalah ar-Rijal bin Unfuwah. Diantara para ulama jahat pada hari ini adalah mereka yang paling buruk terhadap Islam dan ummatnya, lebih buruk dari apa-apa yang kalian sangka lebih buruk sebelumnya.

Demi Allah, telah tiba waktunya untuk membelah tengkorak mereka, mencekik jiwa-jiwa mereka, dan memotong lidah-lidah mereka!

Iyadh al-Yahsibi menyebutkan dalam kitabnya “Tartib al-Madarik dan Taqrib al-Masalik” bahwa sang Alim Abu Bakar Ismail bin Ishaq bin Udzrah rahimahullah ditanya tentang para khatib Bani Ubaid, al-Fatimiyin palsu. Dikatakan padanya, “Sesungguhnya mereka adalah Ahlus Sunnah.” Maka ia berkata, “Bukankah mereka berkata, ‘Ya Allah curahkanlah keselamatan pada hamba-Mu, al-Hakim dan wariskanlah bumi ini kepadanya?’ “ Mereka menjawab, “Ya”. Ia berkata, “Apakah menurutmu jika ada seorang khatib berkhutbah ia memuji Allah dan Rasul-Nya, ia puji dengan pujian yang baik, kemudian dia berkata, ‘Abu Jahal berada di Surga’, dia menjadi kafir?” Mereka menjawab, “Ya.” Ia berkata, “Sungguh al-Hakim lebih kafir dari pada Abu Jahal.” Ad-Dawudi ditanya terkait permasalahan ini, maka ia berkata, “Khatib mereka yang berkhutbah dan mendoakan mereka para hari Jum’at adalah kafir harus dibunuh, tidak perlu dimintai taubat, dan istrinya haram untuk digauli, dan tidak mewarisi ataupun mendapatkan warisan, hartanya adalah harta Fai untuk kaum muslimin.” Sampai disini perkataannya.

Wahai bala tentara tauhid yang pencemburu akan Dienullah dimana saja mereka berada, dedikasikanlah diri kalian untuk membunuhi mereka yang menyakiti Allah dari kalangan ulama sesat dan para penyeru fitnah di setiap tempat. Jika salah satu dari kalian melihat mereka, jangan biarkan mereka lepas, hendaknya ia membunuh dan menyerangnya meski ia berada di dalam rumah, di tengah-tengah keluarganya. Maka mulailah menyerang mereka yang menampakkan permusuhan dan menyeru manusia untuk memerangi mujahidin, atau menuduh mereka sebagai kaum atheis atau menelantarkan agama. Hidupkan kembali sunnah pembunuhan Jahm, Ja’d, al-Hallaj dan Ma’bad dengan aksi pembunuhanmu terjadap para ulama sesat ini, yang sungguh, demi Allah apabila setan mendirikan negara, mereka akan mencarikan tentara yang terlatih dan pendukung setia padanya.

Abul Hasan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata, “Akan datang suatu masa yang mana Islam hanya sekedar namanya, dan al-Qur’an hanya sekedar tulisan saja, tatkala itu masjid-masjid ramai namun hakekatnya ia telah rusak dan kosong dari petunjuk. Ulama mereka adalah makhluk terburuk di bawah kolong langit, dari dari merekalah fitnah keluar dan kepadanyalah fitnah itu kembali.” (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi di Syu’ab al-Iman)

Benar, fitnah ini telah dimulai dari mulut-mulut dan mimbar mereka, setelah mereka mengharamkan jihad dan menganggap para pelakunya sebagai kriminil. Mereka mulai menyeru manusia untuk masuk ke dalam kebathilan dan kekafiran dengan cara berperang di bawah panji-panji Thawaghit, demi menggembirakan para penguasanya dan menyelamatkan tahta pun jabatan mereka. Orang yang merugi adalah yang rugi dunianya dengan mengikuti bahwa nafsu dan dunia mereka, siapa yang tidak menyibukkannya dengan kebenaran maka ia akan disibukan syaitan dengan kebathilan. Barang siapa yang tidak berperang di jalan Allah pada hari ini, maka pada suatu hari ia akan dibawa oleh setan untuk berperang di jalannya.

Kepada kaum muslimin umumnya, dan Ahlus Sunnah di Irak dan Syam khususnya.

Keburukan negara Majusi, Iran telah melampaui batas. Keburukannya tersebar luas di berbagai penjuru bumi, membahayakan manusia. Mereka bantai Ahlus Sunnah di Irak dan Syam menggunakan kaki-kaki tangannya, milisi, pakar ahlis dan penasehat militernya, hingga Ahlus Sunnah terbelenggu antara berada di dalam penjara atau menjadi pengikutnya yang tunduk patuh.Tiada yang menghalangi kejahatan mereka terhadap kaum muslimin setelah Allah kecuali Daulah Islamiyah. Ya, kebenaran itu amat terang, dan kebathilan itu gelap. Bagaimana mungkin kaum yang menyimpang ini mampu menandingi Junud Khilafah? Bagaimana bisa dua orang saling berselisih pendapat terkait siapakah yang membela agama, kemuliaan dan negeri mereka? Siapakah yang menjadikan Iran dan para pengikutnya merasakan balasan paling menyakitkan?

Semoga Allah menghinakan jenggot para ulama Su, betapa besar kejahatan dan kerusakan mereka. Siapakah yang menghunuskan pedang kebenaran di hadapan negara majusi Iran dan membuat mereka merasakan kehancuran dari Baghdad, sampai Bairut, Halab, Damaskus, Khurasan dan Shan’a? Siapakah ia wahai para penyeru keburukan dan kehancuran? Siapa?! Dan inilah Iran pada hari ini menjajah negeri Ahlus Sunnah dari timur hingga barat, utara hingga selatan, mengobarlan perang terhadap hamba-hamba Allah dari kalangan muwahhidin dan mujahidin, dengan bantuan dan sokongan Salibis, pun pemerintahan khianat lagi murtad. Mereka perlihatkan kecintaannya pada mereka dan berharap hidup nyaman dengan mereka, semoga Allah, dengan kekuatan dan kuasa-Nya menyegerakan kehancuran akan tahta kekuasaan dan kerajaan mereka di tangan Mujahidin.

Bukankah telah tiba waktunya bagi kalian wahai Ahlus Sunnah untuk meninggalkan kesembronoan kalian, asyik dengan para wanita, dan mitos-mitos legendaris. Mengapa kalian nampak arrogan dan berbangga diri? Apakah kalian telah menghalau agresi musuh kejam yang menyerbu negeri dan mencapai jarak satu lemparan batu dengan Mekkah dan Madinah? Atukah kalian mengira penguasa-penguasa kalian bisa melindungi dan mempertahankan kalian? Demi Allah, tidak! Sesungguhnya ini adalah prasangka yang tidak benar. Dan kalian akan mengingat apa yang aku katakan pada kalian. Sungguh musuh -semoga Allah membinasakan mereka - telah mendobrak negeri kalian, terobsesi untuk menghapus Dien kalian dan menghalalkan kehormatan kalian. Dan inilah jalan lurus yang terlihat sangat jelas, maka bersabarlah. Islam telah memanggil, maka tolonglah ia. Kehormatan berteriak merintih, maka selamatkanlah ia, dan saudara-saudara kalian dari para mujahidin meminta kalian untuk berangkat berjihad, maka jangan telantarkan mereka.

Sungguh Darul Islam ini adalah negeri kalian, dan syariat Allah adalah amanah di pundak kalian. Dan yang bertugas membela keduanya bukanlah hanya mujahidin, maka tiada udzur bagi kalian di hadapan Allah pun halnya di hadapan kaum muslimin, apabila cucu-cucu kera dan babi, dan para penyembah pohon, batu, serta manusia berhasil menguasai Darul Islam ini. Maka bersegeralah untuk bergabung dalam kafilah jihad, dan tolonglah mujahidin di jalan Allah semampu kalian, baik dengan jiwa, harta motivasi dan do‘a.

Kepada Junud Khilafah dan para Ansharnya di seluruh penjuru dunia.

Kepada para singa yang memperkeruh kehidupan murtaddin dan menghilangkan kenikmatan hidup mereka, dan menyungkurkan hidung agen-agen Intelijennya ke dalam tanah, pun merubah rasa aman mereka hanyalah sebatas mimpi.

Ketahuilah -semoga Allah menolong kalian- bahwa operasi-operasi kalian yang berbarokah akan membalikkan keadaan, dan memalingkan moncong-moncong artileri orang-orang kafir yang akan menembaki kaum muslimin. Maka seranglah mereka di rumah-rumah, pasar-pasar dan jalan-jalan serta festival-festival perayaan mereka dari arah yang tidak mereka sangka. Bakarlah bumi di atas telapak kaki mereka, dan cerai beraikan barisan mereka supaya mereka sibuk dengan diri mereka sendiri, dan lipat gandakan usahakan kalian serta operasi kalian semoga Allah memberkahi kalian.

Dan tidak lupa pada kesempatan ini, aku puji para Kesatria di bidang dakwah, medis, media dan Junud Islam lainnya.

Dan aku ucapkan selamat atas kesungguhan mereka, amal ribath mereka di berbagai ranah, peperangan mereka di bidang-bidangnya tidak kalah penting dengan peperangan di medan tempur.

Ya Allah, segala puji bagimu sampai Engkau ridha, dan segala puji bagimu jika kami ridha, dan segala puji bagimu setelah Engkau ridha.

Ya Allah, hancurkanlah orang-orang kafir penjahat, yang mengahalang-halangi manusia dari jalan-Mu dan memerangi wali-wali-Mu dan mendustakan utusanmu serta menginginkan kerusakan di muka bumi.

Ya Allah, tolonglah Dien-Mu dan tinggikan kalimat-Mu, tinggikan panji-Mu.

Wahai sesembahan yang Haq, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan-Mu. Segala puji bagi Allah Rabb semesta Alam.