Tampilkan postingan dengan label Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 April 2018

RISALAH TENTANG NIFAQ DAN ORANG MUNAFIQ

RISALAH TENTANG NIFAQ DAN ORANG MUNAFIQ
KARYA SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB
DIRINGKAS DARI RISALAH SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYAH RAHIMAHULLAH

Ketahuilah -semoga Allah merahmatimu- bahwa sejak Allah azza wa jalla mengutus Muhammad shallallahu alaihi wasallam manusia terbagi menjadi tiga;
Pertama. orang-orang mukmin yang beriman kepadanya zhahir dan batinnya,
Kedua. orang-orang kafir yang terang-terangan mengkufurinya, dan
Ketiga. orang-orang munafik yang beriman secara zhahir namun tidak batinnya.
Oleh karena itu, Allah membuka surat al-Baqarah dengan empat ayat seputar sifat mukmin, dua ayat seputar sifat kafir, dan tiga belas ayat seputar sifat munafik.

Semua bagian itu; iman, kufur, dan nifak, masing-masing mempunyai pondasi dan cabang-cabangnya sebagaimana disebutkan dalam Kitab dan Sunnah, dan sebagaimana ditafsirkan oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu dalam hadits yang diriwayatkannya. Maka nifak terbagi menjadi nifak akbar yang mengakibatkan pelakunya dijerumuskan dalam dasar neraka yang terdalam. Yaitu seperti nifaknya Abdullah bin Ubay dan selainnya, atau terang-terangan mendustakan Rasul, menentang atau membenci sebagian risalahnya, meyakini tidak wajib mengikutinya, senang dengan keterpurukan Dien dan sebaliknya sedih dengan kemenangan Dien, dan yang semisalnya yang tidak mungkin muncul kecuali dari musuh Allah dan Rasul-Nya. Yang seperti itu sudah muncul pada zaman Rasul shallallahu alaihi wasallam dan zaman setelahnya. Padahal pada zamannya faktor pendukung keimanan amat kuat. Jika pada zamannya saja yang faktor pendukung keimanan itu amat kuat sudah muncul nifak apalagi pada zaman setelahnya. Ini adalah contoh nifak akbar, kita berlindung kepada Allah.

Adapun nifak asghar adalah seperti nifak amal dan yang semisalnya. Yaitu seperti berdusta ketika berbicara, menyelisihi janji dan berkhianat jika dipercaya seperti disebutkan dalam hadits masyhur, bersabda shallallahu alaihi wasallam, “Tanda-tanda munafik itu ada tiga; jika berbicara maka berdusta, jika berjanji maka mengingkari, jika dipercaya maka berkhianat, (dia itu munafik) sekalipun shalat, berpuasa dan mengaku muslim.” (HR. Muslim).

Termasuk nifak asghar juga adalah enggan berjihad. Enggan berjihad adalah salah satu sifat munafik berdasarkan sabdanya shallallahu alaihi wasallam, “Barangsiapa mati sedangkan ia belum berperang atau meniatkan dirinya untuk berperang, maka dia mati dalam salah satu cabang kemunafikan.” (HR. Muslim).

Allah telah menurunkan surat Bara’ah yang juga dinamakan al-Fadhihah lantaran membongkar orang-orang munafik, sebagaimana perkataan Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, “Ia (surat at-Taubah) adalah al-Fadhihah (pembongkar), terus menerus turun “Dan diantara mereka” sampai mereka mengira tidak ada seorangpun yang tidak disebutkan.” Dari al-Miqdad bin al-Aswad berkata, “Ia adalah surat al-Bahuts karena menyingkap lubuk hati terdalam orang-orang munafik.” Qotadah berkata, “Ia adalah al-Mutsirah karena mempermalukan orang-orang munafik”.

Surat ini turun ketika ghazwah terakhir Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yaitu Ghazwah Tabuk. Pada ghazwah ini Allah memuliakan Islam dan pemeluknya, dan membongkar kondisi orang-orang munafik. Allah menyifati mereka dengan sifat kikir dan pengecut. Yang dimaksud pengecut adalah meninggalkan jihad.

Adapun kikir, yaitu enggan berinfak fi sabilillah. Allah berfirman, “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali Imran: 180), dan berfirman, “Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” (QS. al-Anfal: 16).

Allah juga menyifati mereka dengan sifat pengecut dan panik, firman-Nya azza wa jalla, “Dan mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa sesungguhnya mereka termasuk golonganmu; padahal mereka bukanlah dari golonganmu, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang sangat takut (kepadamu). Jikalau mereka memperoleh tempat perlindungan”, yaitu seperti benteng atau kastil, “atau gua-gua”, untuk bersembunyi dengan cepat seperti air yang mengalir, “atau lobang-lobang (dalam tanah)”, yaitu tempat-tempat yang susah payah dibangun atau susah dimasuki (seperti bunker – pent), “niscaya mereka pergi kepadanya” dan kabur dari jihad “dengan secepat-cepatnya.” (QS. at-Taubah: 56-57). Yaitu pergi secepat-cepatnya tanpa bisa dicegah lagi seperti kuda liar yang jika dihardik maka tali kekangnya tidak akan bisa mencegahnya.

Allah azza wa jalla berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. al-Hujurat: 15). Maka Dia membatasi orang-orang beriman pada yang beriman dan berjihad.

Allah berfirman, “Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertaqwa. Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya.” (QS. at-Taubah: 4445). Maka ini merupakan kabar dari Allah bahwa seorang mukmin tidak akan meminta ijin untuk meninggalkan jihad, hanyasanya yang meminta ijin adalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, maka bagaimana halnya dengan yang meninggalkan jihad tanpa ijin?

Firman-Nya tentang sifat kikir mereka, “Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (QS. at-Taubah: 54). Jika dalam ayat ini Allah azza wa jalla mencela orang-orang yang berinfak dengan rasa enggan, maka bagaimana halnya dengan yang sama sekali tidak mau berinfak?

Telah dikabarkan bahwa ketika orang-orang munafik mendekati Madinah (setelah selesai dari ghazwah –pent), terkadang mereka berkata-kata kepada orang-orang mukmin, “Inilah kesialan yang menimpa kita lantaran kalian, kalianlah yang menyeru manusia kepada Din ini, kalianlah yang memerangi dan menyelisihi mereka.” Terkadang mereka mengecam, “Kalianlah yang memerintahkan kita untuk berdiam di sini, jika kita pergi tentu tidak akan tertimpa yang sepert ini! Terkadang juga mereka menyindir, “Kalian itu sudah sedikit dan lemah namun tetap nekat hendak mengalahkan musuh, sungguh agama kalian telah menipu kalian! Juga kecamannya, “Kalian orang-orang gila, tidak berakal, kalian hendak membinasakan diri kalian dan menyeret manusia dalam kebinasaan!

Mereka juga sering menyemburkan kata-kata yang menyakitkan lainnya. Maka Allah berfirman tentang mereka, “Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badwi, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu. Dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja.” (QS. al-Ahzab: 20).

Dalam ayat ini Allah azza wa jalla menyifati mereka dengan tiga sifat;

Pertama: bahwa mereka –lantaran ketakutannya– mengira golongan-golongan sekutu itu tidak akan pergi. Seperti inilah kondisi para pengecut yang hatinya sakit. Ia akan segera memakan mentah-mentah kabar yang menakutkan dan sebaliknya mendustakan kabar baik.

Kedua; jika pasukan sekutu datang mereka berangan-angan bisa kabur jauh ke pedalaman di antara orang-orang badui dan menanyakan kabar kalian, “Bagaimana kabar Madinah? Bagaimana kondisi manusia?

Ketiga; jika pasukan sekutu telah datang sedangkan mereka ada di antara kalian maka mereka tidak akan bertempur kecuali sedikit. Ketiga sifat ini ternyata banyak didapati pada diri banyak manusia.

An-Naba Edisi 50

Rabu, 25 April 2018

SEKELUMIT TENTANG NIFAQ

RUMIYAH 4 - ARTIKEL

SEKELUMIT TENTANG NIFAQ
KARYA SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB
DIRINGKAS DARI RISALAH SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYAH RAHIMAHULLAH

Ketahuilah -semoga Allah merahmatimu- bahwa sejak Allah azza wa jalla mengutus Muhammad shallallahu alaihi wasallam manusia terbagi menjadi tiga; 1. orang-orang mukmin yang beriman kepadanya zhahir dan batinnya, 2. orang-orang kafir yang terang-terangan mengkufurinya, dan 3. orang-orang munafik yang beriman secara zahir namun tidak batinnya. Oleh karena itu, Allah membuka surat al-Baqarah dengan empat ayat seputar sifat mukmin, dua ayat seputar sifat kafir, dan tiga belas ayat seputar sifat munafik.

Semua bagian itu; iman, kufur, dan nifak, masing-masing mempunyai pondasi dan cabang-cabangnya sebagaimana disebutkan dalam Kitab dan Sunnah, dan sebagaimana ditafsirkan oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu dalam hadits yang diriwayatkannya. Maka nifak terbagi menjadi nifak akbar yang mengakibatkan pelakunya dijerumuskan dalam dasar neraka yang terdalam. Yaitu seperti nifaknya Abdullah bin Ubay dan selainnya, atau terang-terangan mendustakan Rasul, menentang atau membenci sebagian risalahnya, meyakini tidak wajib mengikutinya, senang dengan keterpurukan Dien dan sebaliknya sedih dengan kemenangan Dien, dan yang semisalnya yang tidak mungkin muncul kecuali dari musuh Allah dan Rasul-Nya. Yang seperti itu sudah muncul pada zaman Rasul shallallahu alaihi wasallam dan zaman setelahnya. Padahal pada zamannya faktor pendukung keimanan amat kuat. Jika pada zamannya saja yang faktor pendukung keimanan itu amat kuat sudah muncul nifak apalagi pada zaman setelahnya. Ini adalah contoh nifak akbar, kita berlindung kepada Allah.

Adapun nifak asghar adalah seperti nifak amal dan yang semisalnya. Yaitu seperti berdusta ketika berbicara, menyelisihi janji dan berkhianat jika dipercaya seperti disebutkan dalam hadits masyhur, bersabda shallallahu alaihi wasallam, “Tanda-tanda munafik itu ada tiga; jika berbicara maka berdusta, jika berjanji maka mengingkari, jika dipercaya maka berkhianat, (dia itu munafik) sekalipun shalat, berpuasa dan mengaku muslim.” (HR. Muslim).

Termasuk nifak asghar juga adalah enggan berjihad. Enggan berjihad adalah salah satu sifat munafik berdasarkan sabdanya shallallahu alaihi wasallam, “Barangsiapa mati sedangkan ia belum berperang atau meniatkan dirinya untuk berperang, maka dia mati dalam salah satu cabang kemunafikan.” (HR. Muslim).

Allah telah menurunkan surat Bara’ah yang juga dinamakan al-Fadhihah lantaran membongkar orang-orang munafik, sebagaimana perkataan Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, “Ia (surat at-Taubah) adalah al-Fadhihah (pembongkar), terus menerus turun “Dan diantara mereka” sampai mereka mengira tidak ada seorangpun yang tidak disebutkan.” Dari al-Miqdad bin al-Aswad berkata, “Ia adalah surat al-Bahuts karena menyingkap lubuk hati terdalam orang-orang munafik.” Qotadah berkata, “Ia adalah al-Mutsirah karena mempermalukan orang-orang munafik”.

Surat ini turun ketika ghazwah terakhir Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yaitu Ghazwah Tabuk. Pada ghazwah ini Allah memuliakan Islam dan pemeluknya, dan membongkar kondisi orang-orang munafik. Allah menyifati mereka dengan sifat kikir dan pengecut. Yang dimaksud pengecut adalah meninggalkan jihad.

Adapun kikir, yaitu enggan berinfak fi sabilillah. Allah berfirman, “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali Imran: 180), dan berfirman, “Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” (QS. al-Anfal: 16).

Allah juga menyifati mereka dengan sifat pengecut dan panik, firman-Nya azza wa jalla, “Dan mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa sesungguhnya mereka termasuk golonganmu; padahal mereka bukanlah dari golonganmu, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang sangat takut (kepadamu). Jikalau mereka memperoleh tempat perlindungan”, yaitu seperti benteng atau kastil, “atau gua-gua”, untuk bersembunyi dengan cepat seperti air yang mengalir, “atau lobang-lobang (dalam tanah)”, yaitu tempat-tempat yang susah payah dibangun atau susah dimasuki (seperti bunker – pent), “niscaya mereka pergi kepadanya” dan kabur dari jihad “dengan secepat-cepatnya.” (QS. at-Taubah: 56-57). Yaitu pergi secepat-cepatnya tanpa bisa dicegah lagi seperti kuda liar yang jika dihardik maka tali kekangnya tidak akan bisa mencegahnya.

Allah azza wa jalla berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. al-Hujurat: 15). Maka Dia membatasi orang-orang beriman pada yang beriman dan berjihad.

Allah berfirman, “Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertaqwa. Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya.” (QS. at-Taubah: 4445). Maka ini merupakan kabar dari Allah bahwa seorang mukmin tidak akan meminta ijin untuk meninggalkan jihad, hanyasanya yang meminta ijin adalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, maka bagaimana halnya dengan yang meninggalkan jihad tanpa ijin?

Firman-Nya tentang sifat kikir mereka, “Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (QS. at-Taubah: 54). Jika dalam ayat ini Allah ? mencela orang-orang yang berinfak dengan rasa enggan maka bagaimana halnya dengan yang sama sekali tidak mau berinfak?

Telah dikabarkan bahwa ketika orang-orang munafik mendekati Madinah (setelah selesai dari ghazwah –pent), terkadang mereka berkata-kata kepada orang-orang mukmin, “Inilah kesialan yang menimpa kita lantaran kalian, kalianlah yang menyeru manusia kepada Din ini, kalianlah yang memerangi dan menyelisihi mereka.” Terkadang mereka mengecam, “Kalianlah yang memerintahkan kita untuk berdiam di sini, jika kita pergi tentu tidak akan tertimpa yang sepert ini! Terkadang juga mereka menyindir, “Kalian itu sudah sedikit dan lemah namun tetap nekat hendak mengalahkan musuh, sungguh agama kalian telah menipu kalian! Juga kecamannya, “Kalian orang-orang gila, tidak berakal, kalian hendak membinasakan diri kalian dan menyeret manusia dalam kebinasaan!

Mereka juga sering menyemburkan kata-kata yang menyakitkan lainnya. Maka Allah berfirman tentang mereka, “Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badwi, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu. Dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja.” (QS. al-Ahzab: 20).

Dalam ayat ini Allah azza wa jalla menyifati mereka dengan tiga sifat;

Pertama: bahwa mereka –lantaran ketakutannya– mengira golongan-golongan sekutu itu tidak akan pergi. Seperti inilah kondisi para pengecut yang hatinya sakit. Ia akan segera memakan mentah-mentah kabar yang menakutkan dan sebaliknya mendustakan kabar baik.

Kedua; jika pasukan sekutu datang mereka berangan-angan bisa kabur jauh ke pedalaman di antara orang-orang badui dan menanyakan kabar kalian, “Bagaimana kabar Madinah? Bagaimana kondisi manusia?

Ketiga; jika pasukan sekutu telah datang sedangkan mereka ada di antara kalian maka mereka tidak akan bertempur kecuali sedikit. Ketiga sifat ini ternyata banyak didapati pada diri banyak manusia.