Tampilkan postingan dengan label Laporan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Laporan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 April 2018

PERKEMBANGAN PESAT JUNUD KHILAFAH DI KAUKASUS

DABIQ 10 - LAPORAN

PERKEMBANGAN PESAT KAFILAH KAUKASUS

Awal tahun ini, barisan Khilafah diperkuat oleh saudara-saudara kita dari Kaukasus dengan sejumlah besar mujahidin di wilayah tersebut menyatakan bai’at mereka untuk Amirul Mu'minin*. Sejak itu, semakin banyak mujahidin Kaukasus yang bergabung dengan barisan Khilafah di wilayah tersebut. Dan -setelah konsultasi dan koordinasi dengan kepemimpinan Khilafah- kini Khilafah telah resmi mendeklarasikan kawasan tersebut sebagai Wilayah baru.

*Baca rubrik Laporan berjudul “Wilayah Khurasan dan Bai’at dari Kaukasus” pada Dabiq edisi 7 hal. 35.

Deklarasi wilayah Kaukasus dinyatakan dalam sebuah rilis audio oleh Syaikh Abu Muhammad al-'Adnani pada awal Ramadhan, sehingga memberikan kabar gembira kepada umat Islam pada awal bulan yang diberkahi. Dalam pernyataannya yang berjudul "Wahai kaumku, penuhilah seruan Allah", Syaikh Abu Muhammad al-'Adnani hafizhahullah menyatakan, "Dan kami mengucapkan selamat kepada para tentara Daulah Islamiyah di Kaukasus atas pengumuman Wilayah baru ini. Kami mengucapkan selamat kepada mereka atas bai’at dan bergabungnya mereka dengan barisan Khilafah. Amirul Mu’minin telah menerima bai’at kalian dan telah menunjuk Syaikh Abu Muhammad al-Qadari sebagai wali bagi wilayah Kaukasus dan mengingatkannya untuk bertaqwa kepada Allah baik dalam urusan pribadi dan ummat, serta bersikap lembut terhadap orang-orang yang bersamanya. Kami menyeru kepada semua mujahidin di Kaukasus agar segera bergabung dalam kafilah untuk mendengar dan taat dalam segala hal kecuali dalam kemaksiatan. Dan kami memohon kepada Allah subhanahu wa ta'ala agar menguatkan kalian, menolong dan memberikan kalian kemenangan".

Berikut ini adalah pernyataan resmi dari Mujahidin Kaukasus tentang bai’at mereka untuk Amirul Mu’minin Ibrahim Ibnu 'Awwad hafizhahullah:

Dengan Nama Allah, yang Maha Penyayang, Maha Pemurah.

Pernyataan dari Mujahidin Kaukasus, Mendeklarasikan Bai’at mereka kepada Khalifah Muslimin, Abu Bakar al-Baghdadi, dan Bergabung dengan Daulah Islam.

Sungguh segala puji hanya bagi Allah. Kami memuji Dia, memohon pertolongan dan pengampunan-Nya, dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan dari keburukan amal kami. Siapa saja yang Allah beri petunjuk, maka tidak akan ada yang dapat menyesatkannya. Dan siapapun yang Allah sesatkan, tidak akan ada yang dapat memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, tidak ada sekutu baginya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, {Dan berpegang teguhlah kalian semua pada tali Allah bersama-sama dan jangan berpecah belah} [Ali 'Imran: 103].

Rasulullah bersabda, "Barangsiapa mati sementara tidak memiliki ikatan bai’at, maka ia mati sebagaimana kematian jahiliyah" [Shahih Muslim].

Oleh karena itu, sebagai wujud ketaatan kepada perintah Allah subhanahu wa ta’ala, dan ketaatan kepada rasul-Nya, yang memerintahkan untuk menetapi Jama'ah dan tidak berpecah belah, kami menyatakan bai’at kami kepada Khalifah Ibrahim Ibnu 'Awwad bin Ibrahim al-Qurasyi al-Husaini, untuk senantiasa mendengar dan taat, dalam kesulitan maupun kemudahan, dan pada saat gembira ataupun terpaksa. Kami berjanji untuk tidak merebut kekuasaan dari pemiliknya kecuali jika kami melihat kekufuran yang nyata, yang kami memiliki bukti dari Allah.

Kami, para mujahidin Kaukasus di daerah Chechnya, Dagestan, Ingushetia, dan Kabika bersaksi bahwa kami semua sepakat akan hal ini, dan bahwa tidak ada perbedaan antara kami mengenai hal ini. Kami menyeru kepada kaum Muslimin dan para mujahidin dimana saja untuk memberikan bai'atnya kepada khalifah sebagai ketaatan atas perintah Allah, kebenaran telah jelas, sejelas matahari di tengah hari, dan hanya orang buta yang tidak mampu melihatnya.

Allah berfirman, {Dan katakanlah, "Kebenaran telah datang, dan kebathilan telah lenyap. Sungguh kebathilan itu pasti akan lenyap"} [Al-lsra : 81].

Khalifatul Muslimin telah mengulurkan tangannya untuk dukungan kalian, agar ia dapat melaksanakan perintah Allah dan menetapkan syari'at Allah di mana-mana. Jadi sambutlah khalifah kalian, dan ulurkan tangan kalian dan berbai’at lah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, {Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh diantara kamu, bahwa Dia pasti akan memberikan mereka kekuasaan atas bumi sebagaimana Dia berikan kepada orang-orang sebelum mereka, dan Dia pasti akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia pasti akan mengganti keadaan mereka, setelah mereka dalam ketakutan, menjadi aman sentosa, karena mereka menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan apapun dengan Aku. Tetapi siapa yang kafir setelah itu, maka mereka adalah orang-orang yang fasik} [An-Nur: 55].

Jadi patuhilah perintah Allah untuk bersatu dan tidak berpecah belah, dan jangan dengarkan para ulama jahat, dan jangan pula mematuhi para pemimpin yang menyeru kalian untuk tidak bersatu, berpecah dalam berbagai kelompok, dan tercerai berai. [Ini akhir pernyataan mereka]

Kami memohon kepada Allah agar menjaga dan menguatkan mereka dan memberi mereka kemenangan melawan tentara salib Rusia.

KURDISTAN AMERIKA

DABIQ 10 - LAPORAN

KURDISTAN AMERIKA

{Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah} [al-Hasyr: 14].

Ketika pesawat tempur Amerika mulai membombardir kawasan Ain al-lslam tahun lalu dalam rangka mendukung antek YPG mereka -cabang PKK Suriah- dalam upaya menghalangi ekspansi Daulah Islam, para pendukung PKK secara antusias menyambut intervensi Amerika di kawasan tersebut. Kegembiraan mereka dilatari oleh kekuatan senjata angkatan udara Amerika bahkan tidak surut ketika angkatan udara yang sama yang membinasakan Ain al-lslam, merubah kota Kurdi menjadi tumpukan puing dan reruntuhan. Para salibis putus asa itu membutuhkan kekuatan antek yang kompeten di darat yang berarti mereka telah siap mengeluarkan ratusan juta dollar, bahkan lebih, untuk membantu melalui udara bagi sebuah organisasi yang masih dianggap memiliki entitas teroris. Bagi PKK, itulah alasan untuk merayakannya. Tiba-tiba mereka memiliki kekuatan udara sendiri, dan sangat jelas para salibis juga membutuhkan mereka, dan sepanjang mereka perhatikan, tidak ada yang dapat memungkiri hal ini, inilah kelahiran Kurdistan Amerika.

Membentang dari Turki belahan timur, melalui utara Suriah dan lraq, seluruh jalur menuju barat laut Iran, kawasan yang acap kali dikaitkan dengan Kurdistan yang terdiri dari mayoritas penduduk Kurdi. Meskipun warisan muslim kurdi menghasil- kan pahlawan seperti Shalahuddin al-Ayubi, diantara lainnya, bagian terbesar dari faksi politik dan militer Kurdi hari ini ialah sekularis atau Marxis murni. Faksi yang paling menonjol dari faksi-faksi yang saling bersaing ini ialah PKK[1], KDP[2], dan PUK[3].

Digerakkan oleh jiwa oportunis mereka, bukan karena rasa takut mereka pada berkuasanya syariah Allah di Kurdistan, kelompok ini telah bersekutu dengan salibis dalam perang mereka melawan Daulah Islam, yang darinya mereka berharap dukungan citra pada layar politik internasional, dan mengamankan Amerika dan dukungan internasional bagi tujuan politik mereka yang ditukar dengan peran busuk Kurdi di garis depan melawan mujahidin. Para salibis meyakini bahwa PKK adalah kunci strategi mereka di Syam, untuk menyelamatkan rasa malu mereka karena telah mengandalkan Free Syrian Army (FSA) yang gagal. Di Syam, PKK digambarkan sebagai kekuatan yang mampu melawan dan menang atas mujahidin. Kenyataannya, bagaimanapun, PKK sama saja, tidak lebih kompenten dibandingkan FSA. Merekka kehilangan ratusan desa dan menyerah pada teritori yang luas membentang di pinggiran Ain al-lslam di Wilayah Halab dan Wilayah Raqqah dalam hitungan hari, oleh tentara khilafah yang akhirnya dapat masuk dan merebut jalur mereka melalui Ain al-lslam, dan bahkan menguasai sebagian besar kota.

Beberapa bulan kemudian, para salibis memfokuskan tiga perempat serangan udaranya di lraq dan Syam pada kota Ain al-lslam saja, dalam upaya mengeluarkan para mujahidin - semua ini dalam rangka mendukung para prajurit PKK yang "menakutkan". Dalam ketidak mampuan PKK melawan Daulah Islam, koalisi salibis terus menfasilitasi mereka dengan bantuan serangan melalui udara dalam pertempuran melawan mujahidin. PKK akan mengklaim bahwa mereka mengalami kemajuan melawan Daulah Islam, sedang kenyataannya ialah mereka dan sekutu mereka FSA hanya bergerak ke area-area Daulah Islam yang telah dibom para salibis, meninggalkan area yang telah menjadi ouing untuk diambil. PKK dan sekutunya tidak berjuang untuk mendapatkan wilayah, mereka bersembunyi dan menunggu, membiarkan para salibis melakukan kerja mereka dan kemudian masuk dan memanen hasilnya ketika semua selesai. Taktik para pengecut inilah yang menjadi cara mereka dan sekutu mereka FSA -Jamal Ma'ruf[4], Abu Isa ar-Raqqah[5], dan Abdul Jabbar al-Akidie[6]- akhir-akhir ini dapat maju ke kota Suluk dan Tal Abyad di Wilayah ar-Raqqah[7].

Masih sebagai antek yang inkompeten, PKK -tak lama setelahnya- terjepit oleh tentara Daulah Islam yang menginfiltrasi teritori mereka dan memasuki Ain al-lslam sekali lagi, dengan pencapaian para mujahidin yang lebih dari sebelumnya di belahan selatan dan barat kota. Ditambah lagi dengan penyerangan Khilafah di Wilayah Barakah dimana para mujahidin maju menuju kota al-Barakah dari dua titik, memukul kekuatan Nushairi dan menutup teritori PKK di kota tersebut.

Demikian, Daulah Islam memaksa PKK pada posisi bertahan dengan menyerang mereka di beberapa daerah yang melintang dari Wilayah al-Barakah, melalui Wilayah ar-Raqqah, menuju Wilayah Halab, yang secara signifikan menambah jumlah front militer yang harus dihadapi PKK. Kekuatan PKK sedang dalam keadaan "bunuh diri militer" dengan menarik diri mereka sendiri menjadi kurus bagi teritori yang luas membentang seperti itu dan berupaya untuk menjaga banyak garis depan sementara hanya bersandar pada serangan udara salibis. Dan tanpa rekruitmen lokal yang efektif di daerah yang mereka kuasai -inilah kasus yang terjadi di daerah berpenduduk Kurdi, karena PKK dibenci oleh Muslim Kurdi yang mereka tindas- PKK tidak punya harapan dalam menggenggam pencapaian yang mereka buat, hanya akan memberi celah kemajuan yang lebih lagi bagi Daulah Islam. PKK bahkan harus bersandar pada rekruitmen prajurit asing dari Barat, yang banyak dari mereka datang hanya untuk lari pulang setelah merasakan dahsyatnya peperangan dalam beberapa hari saja.

Permasalahan yang lebih komplek lagi bagi PKK ialah situasi politik di Turki. Naiknya Selahattin Demirtas, pimpinan murtad dari partai politik Kurdi di Turki yang dikenal sebagai Partai Demokrasi Rakyat, akan muncul sebagai permulaan dari berakhirnya thaghut Turki Erdogan. Demirtas dapat mengamankan 13% suara dalam pemilu kufur di Turki, mencabut dominasi mayoritas thaghut Erdogan dan memaksa Erdogan pada posisi dimana partai politiknya harus membentuk sebuah koalisi dengan partai Turki lainnya saat ini demi menjaga pengaruh politik dan memiliki kesempatan mendapat kekuatan politik yang lebih besar. Untuk menghadapi Demirtas dan PKK, bagaimanapun Erdogan tidak mungkin bersekutu dengan inti sekularis dari Partai Rakyat Republik - partai yang pernah dipimpin oleh Mustafa Kemal Ataturk. Pilihan yang lebih disukai bagi Erdogan ialah bersekutu dengan Partai Pergerakan Nasionalis, yang memiliki entitas politik lebih kanan yang menolak seluruh gagasan untuk berdamai dengan PKK dan akan meminta agar Erdogan meninggalkan proses perdamaian dengan PKK dalam pertukaran dengan perjanjian antara mereka.

Karenanya, thaghut Erdogan memiliki satu pilihan: memilih tetap dalam kondisi mudah diserang secara politik atau, atau meninggalkan proses perdamaian dan melanjutkan perang Turki melawan PKK. Pilihan terakhir lebih disukai dan murtad- din PKK segera akan memperbaharui permusuhannya dengan murtaddin Turki, yang akan menambah kelemahan mereka dalam melawan Daulah Islam[8].

Situasi bagi murtaddin Kurdi di lraq -saingan PKK- tidaklah lebih baik. Di lraq, milisi Peshmerga -kekuatan bersenjata dari KDP dan PUK- yang digambarkan oleh media salibis sebagai kekuatan darat yang liar yang dapat menangkis serangan Daulah Islam, menyelamatkan tentara salibis dari rasa malu karena mengandalkan tentara lraq. Dan masih saja mereka dikalahkan di tangan para mujahidin. Hari demi hari tentara Khilafah menyerang posisi Peshmerga di beberapa daerah di lraq dengan dikelilingi mortar dan artileri berat, dan mentarget kendaraan-kendaraan mereka dengan bom pinggir jalan. Ditambah lagi bahwa KDP dan PUK memiliki sejarah kekerasan, kebohongan, dan dendam antara mereka, sebagian besar dikarenakan perbedaan pendirian politik mereka.

KDP milik Masoud Barzani didirikan oleh ayahnya, Mustafa Barzani, dan menikmati dukungan dari suku Kurdi, sementara rivalnya PUK didirikan oleh Jalai Tabalani setelah memisahkan diri dari KDP membawa pengaruh "intelektualis" Kurdi. Dua faksi ini memiliki sejarah satu sama lain, permusuhan mereka menemui puncaknya pada konflik militer pada pertengahan 90-an. Diikuti dengan pakta perdamaian yang didalangi Amerika pada tahun 1998, kedua sisi membagi kekuasaan di Kurdistan lraq, dengan KDP memerintah di barat laut setengah dari kawasan, dan PUK memerintah di barat daya setengah sisanya. Sebagaimana anggota KDP yang terpecah membentuk PUK pada 1975, tokoh senior PUK memisahkan diri membentuk sebuah partai baru pada 2009 dengan sebutan Gerakan untuk Perubahan, dan hal ini hanyalah bentuk lain ketiga dari entitas politik Kurdi di lraq, sebagaimana satu di Turki, Suriah, dan Iran. Inilah perpecahan diantara murtadin Kurdistan lraq, pendudukan menjijikan terhadap satu sama lain, sejarah perkelahian mereka, dan kerakusan dan korupsi mereka semua menggarisbawahi ketidakmampuan mereka secara efektif memerangi Khilafah. Bahkan dengan kekuatan udara Amerika, Peshmerga harus berjuang untuk maju melampaui teritori yang telah mereka tinggalkan menuju tentara lraq yang hancur tahun lalu. Sehingga tidak aneh jika kemudian, Menteri Pertahanan Inggris baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka akan mengirim perban dan peralatan medis senilai £600.000* kepada Peshmerga. Perpecahan dan keretakan mereka di arena politik tidak akan ada akhirnya, juga perdarahan dan pendarahan mereka di medan perang.

*1£ (Euro) sekitar Rp. 15.000, £600.000 berarti sekitar Rp. 9.000.000.000 (Sembilan miliar rupiah)

Harus dicatat disini bahwa seluruh agenda perebutan kekuasaan nasionalis di tanah Muslim pasti gagal, bahkan mereka yang berupaya menyatukan satu Negara atau bahkan satu etnis seperti dalam kasus murtaddin Kurdi. Ini termasuk agenda nasionalis "Islam", yang siap mengorbankan agama mereka demi pencapaian politik temporer, kontras sekali dengan mujahidin Khilafah yang siap memotong kepala para murtaddin dari kaum mereka sendiri dalam mempertahankan syariah Allah. Sebuah contoh yang sangat baik diperlihatkan oleh mujahidin Kurdi dari Daulah Islam yang terus mengeksekusi prajurit PKK dan Peshmerga setelah mereka mengingatkan kaum mereka sendiri untuk tidak berdiri di sisi nasionalis sekularis, dan menyeru mereka untuk bergabung dengan barisan mereka yang berjuang untuk menegakkan hukum Allah.

Syaikh Abu Muhammad al-Adnani menyoroti pendirian teguh mereka melawan murtaddin dari kaum mereka dengan mengatakan, "Akhirnya, kami tidak ingin melupakan pesan langsung kepada saudara muslim kami dan saudara dari Kurdi di lraq, Syam, dan dimanapun. Perang kami dengan Kurdi ialah perang agama. Bukan perang nasionalistis - kami meminta perlindungan Allah. Kami tidak memerangi Kurdi karena mereka Kurdi, tapi kami memerangi kufar diantara mereka, sekutu para salibis dan Yahudi dalam perang mereka melawan Muslim. Sedangkan bagi Muslim Kurdi, maka mereka adalah rakyat dan saudara kami dimanapun mereka. Ada banyak sekali Muslim Kurdi dalam barisan Daulah Islam. Mereka adalah para pejuang paling tangguh melawan kufar dari kaum mereka." [Sesungguhnya Rabb Mu Benar-Benar Mengintai].

Dengan kelemahan dan luasnya front Kurdi di Syam dan lraq, maka para salibis hanya memiliki sedikit pilihan yang tersisa. Sekutu PKK mereka bukan hanya inkompeten, tapi juga merupakan Machiavelli asli. Mereka mendukung Bashar sejak permulaan tahun revolusi di Syam melalui milisi Shabihah Kurdi yang bekerja menghancurkan setiap percobaan melawan Bashar. Kemudian mereka membentuk persekutuan dan menandatangani gencatan senjata dengan FSA dan murtaddin "Islami", hanya untuk melanjutkan kerjasama dengan Nushairiyah nantinya.

Sementara itu di lraq, perkenalan mereka dengan ketidakmampuan Peshmerga untuk meraih pencapaian perang -sebagaimana kegagalan Shafawiyin- menggiring para salibis untuk membuat parit terakhir mencoba untuk membuat kekuatan darat lokal yang cukup "kuat" untuk menghadapi mujahidin Khilafah. Mereka ingin membuat kekuatan "Sunni" yang terdiri dari inti Garda Nasional "Sunni"yang akan berada dibawah otoritas gubernur propinsi lraq. Pengajuan ini mendapat kritik dari Rafidhah dan faksi Kurdi, tapi tetap berjalan dengan sisa sejumlah faksi "jihadi"[9] murtadin yang pro demokrasi dan kepentingan salibis.

Formasi antek baru sampai ke tahap ini dalam panggung permainan ini tidaklah mengagetkan. Para salibis kehilangan harapan dengan antek Shafawi mereka dan mulai goyah pendirian dikarenakan inkompetensi mereka. Sekretaris Pertahanan Amerika, Ashton Carter, baru-baru ini menyalahkan kurangnya semangat berperang para Shafawiyin karena kekalahan dan kemunduran memalukan dari Ramadi. Sejak keterkejutan mereka karena inkompetensi antek Shafawi mereka, sehingga Mosul dibebaskan. Kemudian mereka mulai menempatkan harapan pada murtadin Kurdi. Sekarang mereka melihat ketidak efektifan antek Kurdi mereka dalam mengambil teritori mereka sendiri dari Daulah Islam, para salibis mulai bertaruh dengan Shahawat "Sunni" baru. Kejatuhan Kurdi Amerika tak dapat terhindarkan, dan para salibis tidak akan mempunyai pilihan lain selain mengejar gencatan senjata atau menempatkan pasukan mereka sendiri ke lapangan. Hasilnya, kita akan melihat koalisi salibis -dalam bahasa Amerika- menurun dan pasti dikalahkan, bi’iznillah.

Catatan kaki :

[1] Partai Pekerja Kurdistan (PKK) di Turki -termasuk cabang Suriah mereka, PYD (Partai Persatuan Demokratik Kurdi) bersama dengan milisi YPG (Unit Perlindungan Rakyat)- dipimpin oleh thaghut Abdullah Ocalan. Dianggap sebagai organisasi teroris oleh US, NATO, Inggris dan Uni Eropa.

[2] Partai Demokratik Kurdi, berbasis di Irbil dan dipimpin oleh si murtad Masoud Barzani.

[3] Persatuan Patriotik Kurdi, berbasis di Sulaimaniyah dan dipimpin oleh si murtad Jalai Talabani. Rival utama KDP-nya Masoud Barzani.

[4] Pemimpin FSA dan mantan sekutu Jabhah Jaulani.

[5] Mantan pemimpin Jabhah Jaulani di Raqqah selama hampir 3 bulan kepada Shahawat. la kemudian tidak diakui oleh Jabhah Jaulani karena karena dianggap tidak dapat berhubungan lagi dengannya -bukan karena kekufurannya- dan masih mengklaim bahwa mereka tiap hari berhubungan dengan al-Qa’idah Zhawahiri di Khurasan!

[6] Seorang mantan pemimpin "Liwa at-Tauhid".

[7] Kemajuan PKK bersandingan dengan penghapusan etnik dalam usaha melawan Arab dan bangsa Turk dalam rangka mendirikan "Kurdistan Amerika" murni bangsa Kurdi. Kebencian sekularis Kurdi terhadap Arab khususnya mendorong kebencian mereka berujung pada Islam dan bahkan bersimpati pada Yahudi dan Negara Yahudi mereka! Meskipun pada kenyataannya, pernyataan yang dikeluarkan oleh Shahawat mengutuk PKK tidak membuat takfir atas mereka, tidak juga mencela kebencian mereka terhadap Islam dan Syari’ah. Malahan mereka fokus pada isu nasionalis, mencela penganiayaan Arab Suriah dan bangsa Turki, dan menyatakan bahwa mereka tidak menyetujui perpecahan "bangsa Suriah".

[8] tidak mengejutkan melihat partai milik Erdogan merasa terancam pada naiknya seorang pemimpin politik yang terkait PKK, meskipun ada usaha Erdogan untuk berdamai dengan PKK. Dan hal yang tidak akan mengejutkan nantinya melihat thaghut Erdogan akan dikhianati dan diusir oleh PKK, orang-orang yang ia serukan damai.

[9] faksi ini sebenarnya memerangi salibis karena invasi di lraq pada "2003", tapi kemudian meninggalkan jihad mereka dan malah mengarahkan senjata mereka kearah Daulah Islam. Seluruh faksi ini telah disapu bersih, dengan rahmat Allah, dan tidak ada yang tersisa hari ini. Murtadin menjijikkan yang saat ini bejalan bergandengan tangan dengan salibis dan mengobarkan perang melawan Syariah Allah.

PEMBEBASAN KAMP YARMUK, DAMASKUS

DABIQ 9 - LAPORAN

PEMBEBASAN KAMP YARMUK, DAMASKUS

Wilayah yang dikenal sebagai Kamp Yarmuk awal didirikan pada tahun 1957 sebagai sebuah kamp pengungsi bagi orang-orang Palestina yang lari dari agresi Yahudi terkutuk. Walau dulunya merupakan sebuah kamp pengungsi, tetapi kemudian berubah menjadi distrik padat yang lebih tampak seperti umumnya kota-kota di Suriah daripada sebuah kamp pengungsi. Rezim Nushairiyah akhirnya memasukkannya ke dalam kota-kota yang berbatasan dengan kota Damaskus.

Bulan lalu Tentara Khilafah bergerak memasuki kawasan Yarmuk dari wilayah Al-Hajar Al-Aswad yang berada di bawah kontrol Daulah Islam selama beberapa bulan. Mereka memerangi milisi Hamas lokal, Aknaf Baitul Maqdis, dan mengambil alih distrik tersebut. Kemudian muncul laporan –termasuk deklarasi faksi-faksi lokal yang ada di daerah tersebut– bahwa para pejuang Aknaf telah bergabung dengan Rezim Nushairiyah untuk memerangi Daulah Islam dan mengambil alih kembali Yarmuk.

Sifat pengkhianatan dari faksi Shahawat tersebut terlihat bahkan sebelum Daulah Islam mulai bergerak ke arah kawasan Yarmuk. Sesaat sebelum Daulah Islam memasuki kawasan tersebut, Aknaf menyimpulkan sebuah kesepakatan dengan Thaghut Bashar yang terlihat mereka memberikan penguasaan Yarmuk kepada Rezim Nushairiyah. Sungguh, pengkhianatan kontrak ini hanyalah contoh lain dari rentetan persetujuan yang dibuat antara Nushairiyah dan berbagai faksi Shahawat di kawasan tersebut. Dan ini merupakan faktor utama yang mendorong Daulah Islam memasuki Yarmuk ketika itu.

Tentu saja, pengkhianatan semacam itu yang datang dari faksi Hamas tidak mengejutkan, sebuah kesatuan Ikhwani yang mulai mencoba untuk "menormalisasi" hubungannya dengan Rezim Nushairiyah kurang dari dua bulan yang lalu. Juga tidak mengherankan ketika Pemimpin Hamas Isma’il Haniyah, sebagai respon atas masuknya Khilafah ke Yarmuk dan mengusir milisinya, menyeru para thaghut Arab dan bahkan Majusi Iran untuk mengadakan intervensi. Ikhwan, dalam berbagai bentuknya, mau menjual rakyatnya demi keuntungan duniawi dan menamai transaksi itu dengan "maslahat".

Persiapan Perang Yarmuk dimulai dalam beberapa bulan dengan berkumpulnya agen intelijen Daulah Islam, kemudian mereka berhasil menyusup sampai dengan pemimpin tingkat tinggi Shahawat dan mendapatkan informasi sensitif. Pihak intelijen mengungkapkan bahwa Aknaf tengah menyusun rencana untuk memberikan kawasan kepada Rezim Nushairiyah dengan dalih "kepentingan nasional".

Daulah Islam merespon hasil intelijen ini dengan membuat suatu rencana untuk melawan pergerakan Aknaf, dan dengan karunia Allah, mujahidin berhasil menggagalkan perjanjian tersebut. Perang untuk merebut Yarmuk dimulai ketika Daulah Islam menyerang dari berbagai arah dan mengambil alih sejumlah areal. Ketika pertempuran berlanjut, sel-sel Daulah Islam di Yarmuk dan kawasan sekitarnya terus menjalankan peran kunci, termasuk berbagai unit sel Daulah Islam di kawasan Tadamun, utara kota Yalda, berhasil memblokir sejumlah suplai dan bala bantuan yang datang dari wilayah timur laut Yarmuk.

Tentara Khilafah terus bergerak maju melawan Shahawat di Yarmuk dan berhasil mengusir mereka ke pinggiran kawasan tersebut. Pada titik ini, banyak pejuang mereka yang menyerahkan diri dengan sukarela dan sebagian lainnya terbunuh. Beberapa lagi membuat kontak dengan Rezim Nushairiyah dan faksi-faksi pro-Rezim Palestina di daerah tersebut yang kemudian mulai menyuplai mereka dengan senjata, amunisi, dan makanan. Kerjasama tahap baru dengan Nushairiyah ini cukup untuk memperlihatkan tingkat pengkhianatan Aknaf kepada penduduk Yarmuk.

Setelah mujahidin membebaskan Yarmuk, media tiba-tiba bergerak dan menyebarkan kebohongan terhadap Daulah Islam serta berteriak-teriak atas penyebab kejatuhan Yarmuk, sesuatu hal yang sebagian besar dari mereka tidak peduli sepanjang tahun-tahun atas pengepungan dan kelaparan yang diderita penduduk di kawasan tersebut.

Adapun bagi Rezim Nushairiyah, dengan cepat mereka mencari basis dukungan dengan para thaghut sekuler di kawasan Tepi Barat –yaitu PLO. Tidak lama setelah Daulah Islam mengambil alih Yarmuk, Rezim Nushairiyah mencapai kesepakatan dengan wakil PLO untuk Damaskus yang akan melihat faksi-faksi Palestina bertempur bersama Nushairiyah melawan Daulah Islam. Maka thaghut Hamas meminta tolong kepada Iran untuk ikut campur, sementara thaghut PLO setuju agar milisi mereka bertugas sebagai Shahawat Nushairiyah, persis seperti yang sering dikatakan, "’Isy Rajaban, tara ‘ajaban" (Jika kamu hidup pada bulan Rajab, maka kamu akan melihat hal-hal aneh).

Pembebasan Yarmuk terjadi dilatarbelakangi oleh sejumlah kemajuan Daulah Islam di bagian lain Wilayah Damaskus. Tentara Khilafah merebut Gunung ‘Adah di timur laut, menyapu bersih sejumlah benteng Shahawat di Pegunungan Qalamun dalam suatu serangan dinamai "La Tubqi Wa La Tadzar" (Tidak Menyisakan dan Tidak Membiarkan). Selama berlangsungnya penyerangan, mujahidin Daulah Islam berhasil membunuh komandan Jabhah Jaulani untuk wilayah timur Qalamun, serta komandan Jaisyul “Islam” untuk kawasan tersebut.

Kemenangan-kemenangan atas kamp Shahawat ini bertepatan dengan serangan berani terhadap sejumlah titik militer di daerah pedesaan Suwaida’, selatan kota Damaskus yang meliputi garis pertama pertahanan militer Nushairiyah yang termasuk ke dalam pangkalan udara Khalkhalah. Pertempuran yang panjang pun terjadi di mana mujahidin Khilafah meninggalkan militer Nushairiyah yang menjilati lukanya dengan kematian lebih dari 70 orang tentaranya. Hanya dua minggu kemudian, mujahidin terus menaburkan garam di atas luka Khalkhalah dengan menembak jatuh sebuah pesawat tempur Nushairiyah di sekitar pangkalan udara tersebut.

Dalam keadaan seperti inilah Yarmuk dibebaskan, ketika Tentara Khilafah tiba-tiba telah berada hanya beberapa kilometer jauhnya dari Istana Kepresidenan Thaghut Bashar. Perkembangan baru ini berarti bahwa faksi-faksi Shahawat di kawasan selatan Suriah melihat kota simbolik Damaskus terlepas dari tangan mereka. Mereka ingin mengklaim kemenangan bagi diri mereka sendiri dengan mengusir militer Nushairiyah keluar dari Damaskus, sehingga fikiran bahwa kota tersebut kemungkinan besar akan dibebaskan oleh Tentara Khilafah ibarat belati yang menusuk leher mereka.

Tidak lama kemudian para pemimpin Jaisyul “Islam" dan "Ahrar Asy-Syam", dua faksi utama Shahawat di medan pertarungan Syam, buru-buru terbang ke Pangkalan Militer Shahawat #1 –Turki– dan mengadakan pertemuan dengan beberapa sekutu mereka yang murtad –Turki, Qatar, dan Alu Salul– dalam upaya untuk mengeluarkan persetujuan yang bisa mengamankan kepentingan regional mereka.

Pada saat faksi-faksi Shahawat terus melaksanakan perintah rezim-rezim boneka tersebut dan pasukan Nushairiyah terus mengadakan serangkaian pemboman di Yarmuk dalam upaya yang sia-sia untuk menghentikan gerak laju Daulah Islam, Tentara Khilafah akan terus bergerak maju ke arah Damaskus, dan setelah itu, ke arah Al-Aqsha dengan izin Allah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Benteng pertahanan kaum Muslimin pada Hari Al-Malhamah berada di Al-Ghuthah, dekat kota bernama Damaskus, salah satu kota terbaik di Syam." (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abu Ad-Darda’)

BERGERAK MAJU KE TIMUR DAN BARAT, DI IRAQ DAN SURIAH

DABIQ 9 - LAPORAN

BERGERAK MAJU KE TIMUR DAN BARAT, DI IRAQ DAN SURIAH

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan." (Al-Anfaal : 36)

Meskipun telah membentuk koalisi dengan puluhan negara, bersekutu dengan musuh lama di daerah tersebut –Iran– di mana milisinya menyebut mereka sebagai "Setan Besar", telah melakukan pemboman tiada henti di Irak dan Syam, merekrut berbagai milisi Shahawat dan faksi Marxis Kurdi, dan menghabiskan milyaran dolar untuk melancarkan perang media, Tentara Salib hanya bisa menyaksikan dengan pasrah ketika Daulah Islam terus maju di Iraq dan Syam, memperluas wilayahnya, baik di timur maupun barat.

Di timur, kota Ar-Ramadi –ibukota Al-Anbar– berhasil dibebaskan oleh Tentara Khilafah yang secara penuh kembali membuat tentara Shafawi mundur secara memalukan seperti di Mosul. Penduduk kota menyaksikan dan bahkan merekam lewat video, yaitu ketika konvoi Shafawi bergerak melewati mereka, lari dari mujahidin yang bergerak maju.

Hal ini terjadi setelah mujahidin Khilafah mengadakan serangan dahsyat bernama "Ghazwah Abu Muhannad As-Suwaidawi" selama direbutnya sejumlah areal dan fasilitas kunci di dalam kota dan sekitarnya, termasuk gedung "Dewan Provinsi Al-Anbar", gedung administrasi kepolisian Al-Anbar, pusat komando operasi Al-Anbar, area stadion, pangkalan Brigade ke-8, dan gedung pemerintah "kontraterorisme", di mana mereka membebaskan kaum Muslimin yang dipenjara bawah tanah milik Shafawiyin.

Kemenangan ini benar-benar didapatkan dengan perjuangan keras, namun mujahidin tidak berlama-lama merayakannya. Mereka lebih memilih untuk mengejar tentara Shafawi dan sekutu-sekutu mereka Shahawat, melanjutkan pergerakan mereka ke daerah-daerah terdekat dan bersiap-siap menghadapi pertempuran besar berikutnya.

Pembebasan Ar-Ramadi terjadi bersama dengan sebuah kemajuan besar Tentara Khilafah di sebelah barat. Mereka memperbaharui serangan ofensifnya di Wilayah Homsh. Mereka berhasil membebaskan kota As-Sukhnah dan perusahaan gas Najib Company yang letaknya tidak jauh dari sana. Selain itu juga, mereka menguasai sebagian besar kota Tadmur (Palmyra).

Kemudian mereka merebut pos perbatasan yang terletak di lapangan gas Al-Hail di jalan antara As-Sukhnah dan Tadmur. Hal ini terjadi setelah berhasil mengambil alih sebagian besar lapangan gas itu sendiri dan mengepung militer Nushairiyah di dalam perusahaan gas. Hanya beberapa hari kemudian, mujahidin menguasai perusahaan gas Arak setelah menewaskan setidaknya 170 tentara Nushairiyah dalam peperangan yang berlangsung selama empat hari. Kesuksesan ini disempurnakan dengan kemenangan besar lainnya kemarin setelah mujahidin akhirnya merebut total kota Tadmur.

Kemajuan yang dibuat oleh Daulah Islam di Al-Anbar dan Homsh, berkat karunia Allah, memperlihatkan keteguhan mujahidin terhadap serangan udara koalisi salib dan tekad mereka untuk menghukum musuh-musuh Allah di mana saja mereka menemukannya, tidak peduli banyaknya rintangan yang harus dilalui untuk meraihnya –dan ini tanpa perlu menyatakan sebuah "badai keputusan". Tentara Salib sangat meremehkan keteguhan dan kekuatan mujahidin namun makar mereka –dengan izin Allah– akan segera hancur.

Segala puji hanya milik Allah di mana semua limpahan kenikmatan dari-Nya didapatkan.

LAYANAN KESEHATAN DI DAULAH KHILAFAH

DABIQ 9 - LAPORAN

LAYANAN KESEHATAN DI DAULAH KHILAFAH

Infrastruktur Kesehatan yang Ada Sekarang

Daulah Islam memberikan pelayanan kesehatan yang luas kepada kaum Muslimin dengan menjalankan sejumlah fasilitas medis, di antaranya rumah sakit dan klinik di semua kota besar yang menawarkan berbagai macam pelayanan kesehatan, dari jenis operasi yang sulit hingga pelayanan sederhana seperti hijamah (bekam).

Infrastruktur ini dibantu oleh jaringan luas farmasi yang dijalankan oleh ahli-ahli farmasi yang berkualitas dan dikelola di bawah pengawasan dan kontrol Dewan Kesehatan. Seperti halnya di rumah sakit dan klinik dengan staf medis yang berkualitas dan terlatih secara profesional, begitu pula bagian farmasi yang hanya dijalankan oleh ahli-ahli farmasi yang berkualitas dan bersertifikat.

Persiapan Masa Depan

Dalam rangka untuk memastikan tersedianya pasokan tenaga medis yang berkualitas di masa depan, serta untuk memperluas dan meningkatkan pelayanan medis yang ada sekarang, baik dari pandangan profesional maupun Islam, Daulah Islam baru-baru ini membuka Fakultas Kesehatan di Ar-Raqqah dan Fakultas Ilmu Kesehatan di Mosul.

(gambar)
Data Statistik Gabungan Untuk Satu Bulan Di Rumah Sakit Al-Faruq Dan Aisyah (Wilayah Halab)

Untuk mencapai tujuan yang telah disebutkan itu, sebuah kurikulum baru dengan rentang 3 tahun/6 semester dikembangkan oleh para pakar medis senior. Kurikulum ini terdiri dari studi teoritis intensif pada tahun pertama serta pengenalan bertahap ke arah praktek di bawah bimbingan pada tahun kedua dan ketiga. Kurikulum baru yang berorientasi praktis ini sangat kontras dengan kurikulum-kurikulum terdahulu yang di dalamnya disisipi ilmu palsu yang disponsori oleh thaghut seperti "budaya" (yaitu nasionalisme sekuler) atau mata pelajaran tak bermanfaat yang tidak relevan dengan pekerjaan seorang dokter sehari-hari. Kurikulum baru ini mencakup spesialisasi seperti operasi umum, patah tulang dan operasi ortopedi, operasi trauma, ginekologi dan obstretik, kardiologi, pediatrik dan perawatan darurat, optalmologi, operasi uriner, operasi syaraf, operasi torasik, dan operasi vaskuler.

Staf pengajar terdiri dari para penyandang gelar khusus. Gerbang ini terbuka untuk mahasiswa pria dan wanita, dengan gedung belajar khusus, rumah sakit, dan tenaga pengajar wanita bagi para mahasiswi. Untuk mendukung siswa dalam pendidikan mereka, Daulah Islam tidak membebankan bayaran apa pun dan memberikan segala apa yang dibutuhkan bagi para mahasiswa, baik itu makanan, pakaian, tempat tinggal, transportasi, dan buku-buku. Sebagai dorongan, mahasiswa yang berprestasi tinggi diberi penghargaan.

Seruan Untuk Beraksi

Seorang pekerja medis senior di Dewan Kesehatan di Ar-Raqqah menjelaskan kepada Dabiq bahwa Fakultas Kesehatan menarik lebih dari 300 pendaftar, di antaranya 100 orang diterima, separuhnya adalah muhajirin. Dia juga menjelaskan bahwa badan kemahasiswaan sangat termotifasi dan memperoleh hasil menggembirakan dalam bulan-bulan pertama, namun para staf menginginkan dukungan dari para pengajar tambahan, lebih diutamakan muhajirin yang memiliki pengalaman di bidang kesehatan. Dia juga mengindikasikan bahwa laboratorium praktek akan segera dibuka bagi mahasiswa.

Hal ini seharusnya disambut sebagai panggilan untuk bangkit bagi banyak mahasiswa Muslim di negeri-negeri kufur yang menyatakan bahwa mereka belajar untuk "kepentingan dan dukungan bagi umat Islam", namun kemudian tetap berada di negeri-negeri tersebut. Mereka mengejar kesenangan duniawi daripada melakukan hijrah ke Daulah Islam –dan hal ini terlepas dari hijrah sebagai suatu kewajiban syari’at yang tidak diragukan lagi, selain faktanya bahwa hijrah itu relatif mudah, baik dulu maupun sekarang. Daulah Islam menawarkan segala yang anda butuhkan untuk hidup dan bekerja di sini. Lalu, apa yang Anda tunggu?

MEDAN TEMPUR LIBYA

DABIQ 8 - LAPORAN

MEDAN TEMPUR LIBYA

Selama masa pemberontakan melawan thaghut Libya (Gaddafi) pada 1432 H, sejumlah individu sesat berkumpul di kota Benghazi untuk membentuk dan selanjutnya mendapatkan dukungan Barat bagi lembaga politik yang akan membawa bendera kufur demokrasi. Lembaga ini, dikenal dengan Dewan Transisi Nasional (NTC), membuka jalan bagi terbentuknya sebuah pemerintahan boneka dan diangkatnya seorang thaghut lainnya untuk menggantikan mantan thaghut tersebut.

NTC mendapatkan pengakuan dan dukungan dari negara-negara salib ketika mereka terus mengisi kursi mantan thaghut Libya di Perserikatan Bangsa-Bangsa. PBB kemudian memberi lampu hijau bagi negara-negara salib untuk mengadakan zona larangan terbang di atas Libya dan intervensi militer dalam rangka mendukung boneka-boneka baru mereka.

Setelah penggulingan badut Libya Gaddafi, NTC terus berupaya untuk merampas kepentingan rakyat. Mereka memperkenalkan sebuah konstitusi kufur baru menggantikan manifesto kufur milik Gaddafi dan mengadakan pemilihan umum untuk memilih anggota-anggota Kongres Nasional Umum (GNC).
GNC ialah kekuasaan legislatif yang akan memegang "kekuasaan" untuk memperkenalkan hukum-hukum buatan manusia yang lebih parah. Ini menjadi pentas bagi "Islamis" demokrat yang berada di atas manhaj Ikhwanul "Muslimin" yang rusak untuk menguasai pemerintahan dengan menempatkan kandidat untuk menjalankan pemilihan umum demokrasi yang syirik.

Dengan GNC di bawah kontrol mereka, "Islamis" demokrat dan sekutu-sekutu sekuler mereka meletakkan hukum Allah untuk dipilih, berusaha untuk memotong-motong dan mengimplementasikan "syari'at" sebagian kecil saja di atas fondasi demokrasi yang najis, penuh pertentangan, dan permusuhan, walaupun Allah bebas dari kebutuhan untuk mendapat pengakuan siapa pun terhadap hukum-Nya.

"Dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan hukum-Nya" [QS. Al-Kahfi : 26].

GNC yang didominasi "Islamis" memilih untuk mengimplementasikan suatu bentuk "syari'ah" yang telah terpotong-potong, namun sekularis garis keras dan para pendukung salibisnya tidak akan menyetujuinya. Sebagaimana mereka tidak bisa menolerir Islam murni yang diperjuangkan oleh mujahidin yang ikhlas di Libya, para salibis tidak bisa menerima "Islam" yang telah terdistorsi dan lemah yang dipraktekkan oleh "Islamis" demokrat murtad.

Jadi, pihak salibis melepaskan sekutu-sekutu mereka yang lebih dicintai -yang lebih sekuler di antara kedua pihak- dan dengan rahmat Allah kamp kufur yang terbelah mulai melahap dirinya sendiri.

Di satu sisi, para sekularis murtad berjalan di belakang aset terbaru salibis, Khalifa Haftar, yang telah melancarkan "Operasi Kehormatan" untuk mengambil alih negeri dan menyerahkannya ke tangan orang-orang sekuler garis keras yang mendapat porsi terbesar di Dewan Perwakilan.

Di sisi lain, kelompok-kelompok bersenjata yang setia kepada kelompok demokrat murtad berjalan di belakan GNC di bawah bendera "Fajar Libya" dan menyerang balik Haftar dalam upaya untuk mempertahankan kekuasaan mereka yang dengan cepat merebut bandara Tharabulus.

Beberapa faksi yang masuk ke dalam "Fajar Libya" merupakan mantan pengklaim jihad, termasuk "Islamis" demokrat Abdelhakim Belhadj dan para mantan anggota Al-Jama'ah Al-lslamiyah Al-Muqatilah bi Libya (Kelompok Perlawanan Islam Libya). Para mantan pengklaim jihad ini telah murtad dan bergabung dengan agama demokrasi dengan memasuki sistemnya dan berjuang untuk menegakkannya.

Di saat situasi memanas dan faksi-faksi riddah terus berperang satu sama lain, Allah memudahkan bagi munculnya Daulah Islam di kancah Libya dengan sejumlah kelompok mujahid di sepanjang tiga wilayah Libya, yaitu Barqah, Fazzan, dan Tharabulus yang mendeklarasikan bai'at mereka kepada Amirul Mu'minin.

Dengan menyatukan kekuatan mereka dan berjalan di belakang bendera Khilafah, mujahidin Libya meningkatkan serangan mereka melawan kedua faksi riddah itu setelah kedua faksi itu mengkhianati agama dan rakyatnya. Mujahidin tidak perlu membedakan orang-orang yang mengkhianati Islam dengan mengadopsi sekularisme yang kufur dan orang-orang yang mengkhianati Islam dengan mengadopsi demokrasi yang kufur, karena kedua faksi tersebut telah memasuki kamp kufur.

"Dan perangilah orang-orang kafir secara keseluruhan sebagaimana mereka memerangi kamu secara keseluruhan" [QS. At-Taubah : 36].

Pada saat perang di Libya semakin meningkat, Daulah Islam menikmati konsolidasi yang lebih besar. Hukum Allah diterapkan, kebutuhan kaum Muslimin dipenuhi, dan tentara Khilafah terus bergerak maju untuk membebaskan daerah-daerah baru. Libya telah menjadi negeri hijrah yang ideal bagi orang yang mendapat kesulitan untuk memperoleh jalan ke Syam, khususnya saudara-saudara kita di Afrika.

Kami mohon kepada Allah untuk terus memperkokoh dan memperkuat muwahhidin di Libya serta terus menjatuhkan murtaddin di bawah telapak kaki mereka.

MENGHANCURKAN WARISAN KAUM YANG DIBINASAKAN

DABIQ 8 - LAPORAN

MENGHANCURKAN WARISAN KAUM YANG DIBINASAKAN

"DAN BERAPA BANYAK KAUM YANG TELAH KAMI BINASAKAN SEBELUM MEREKA" [SHAD : 3]

Bulan lalu, tentara Khilafah, dengan menggunakan palu di tangan, menghidupkan kembali Sunnah bapak mereka Nabi Ibrahim 'alaihis salam ketika mereka membuang warisan syirik sebuah umat yang telah berlalu lama dari muka bumi. Mereka memasuki reruntuhan Assyria kuno di Wilayah Nainawa dan menghancurkan patung-patung, arca-arca, serta ukiran patung dan raja. Hal tersebut menimbulkan kegemparan musuh-musuh Daulah Islam yang sangat marah dengan hilangnya "warisan terpendam".

Sebaliknya, mujahidin sama sekali tidak peduli perasaan dan sentimen kaum kafir, sebagaimana Nabi Ibrahim tidak peduli perasaan dan sentimen kaumnya ketika beliau menghancurkan berhala-berhala mereka.

Pada saat kaum kafir memprotes pengrusakan besar-besaran oleh tangan Daulah Islam, aksi yang dilakukan mujahidin tidak hanya menyamai pengrusakan yang dilakukan Nabi Ibrahim 'alaihis salam terhadap berhala-berhala kaumnya dan pengrusakan yang dilakukan Nabi Muhammad terhadap berhala- berhala di sekitar Ka'bah ketika beliau menaklukkan Makkah, namun juga membuat kaum kafir marah. Hal itu sendiri merupakan sebuah amal yang dicintai oleh Allah.

"Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal shaleh" [QS. At-Taubah : 120].

Pihak kuffar telah menggali patung-patung dan reruntuhan ini dalam beberapa generasi terakhir dan berusaha untuk memberi gambaran kepadanya sebagai bagian dari warisan dan identitas budaya yang dianut dan dibanggakan oleh kaum Muslimin Iraq. Padahal ini bertentangan dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya dan hanya memperlihatkannya sebagai agenda nasionalis yang benar-benar melemahkan al-wala' yang menjadi syarat bagi Muslimin terhadap Rabb mereka.

Tidaklah orang-orang dari bangsa kafir di mana Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam diperintahkan untuk memuji-muji dan mengidentifikasi diri beliau sendiri. Sebaliknya, beliau diperintahkan untuk mengidentifikasi dan menyamai tauladan bapak beliau Nabi Ibrahim 'alaihis salam dan orang-orang yang bersamanya.

"Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: 'Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu ibadahi selain Allah, kami ingkari (kekafiran)-mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian untuk selama- lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja" [QS. Al-Mumtahanah : 4].

Selain itu, Al-Qur'an secara berulang-ulang menyebutkan -di beberapa ayat- bahwa banyak umat syirik telah dihancurkan karena kekafiran mereka kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan tetap bertahan di atas kesyirikan mereka.

"Dan berapa banyaknya kaum sesudah Nuh kami binasakan" [QS. Al-lsraa' : 17].

"Katakanlah, 'Adakan perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)." [QS. Ar-Ruum : 42].

"Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka; Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka" [QS. Muhammad : 10].

Dengan demikian, kita diminta untuk mengambil pelajaran dari umat kafir yang datang sebelum kita dan menghindari apa yang menyebabkan kehancuran mereka, sebagai lawan dari penggalian dan pemeliharaan patung-patung mereka dan mempertontonkannya bagi manusia untuk dipuji.

Hal ini ditunjukkan oleh fakta bahwa Allah telah memelihara jasad Fir'aun, tidak untuk dikagumi namun sebaliknya, agar manusia mengambil pelajaran darinya.

"Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu!" [QS. Yunus : 92].

Kita diminta untuk menjadikan orang-orang dan umat-umat yang dibinasakan sebagai pelajaran lebih lanjut sebagaimana yang telah ditekankan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang bersabda,

"Janganlah kalian memasuki tempat-tempat umat yang diadzab itu kecuali sambil menangis. Jika kalian tidak menangis, jangan memasuki daerah mereka. Jangan sampai adzab yang menimpa mereka, menimpa kalian." [HR. Al-Bukhari dan Muslim].

Umat-umat tertentu dihancurkan karena beribadah kepada selain Allah dan mengingkari nabi-nabi-Nya. Kekafiran dan kebencian mereka terhadap kebenaran lebih jauh lagi bahkan mencapai keberanian untuk memaki-maki nabi-nabi serta ayat-ayat dan mukjizat-mukjizat yang telah ditunjukkan kepada mereka, dan bahkan mengancam untuk membunuh nabi-nabi tersebut.

Maka Allah mempermalukan mereka dan membiarkan tempat tinggal mereka agar dilihat oleh generasi-generasi yang datang sesudah mereka. Bukan untuk ditatap penuh takjub, namun untuk dilihat dengan perasaan jijik dan benci, bercampur dengan rasa takut untuk jatuh ke dalam syirik dan tertimpa azab serupa yang telah mereka rasakan.

Dalam hal ini, ada kalimat terkenal yang diucapkan oleh Nabi Ibrahim 'alaihis salam yang memandang perlunya untuk meminta perlindungan Allah dari kejahatan syirik, selain dia merupakan salah satu di antara rasul Allah terbesar dan terkenal karena sikap terus-terangnya melawan kesyirikan kaumnya.

"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata, 'Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini (Makkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. Ya Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia'" [QS. Ibrahim : 35-36].

Semoga Allah membersihkan seluruh negeri Muslimin dari berhala- berhala, baik masa lampau maupun masa kini.

TENTARA TEROR (DI YAMAN)

DABIQ 8 - LAPORAN

TENTARA TEROR (DI YAMAN)

Pada bulan ini, tentara Khilafah mengirim sebuah pesan keras kepada kamp kufur dan murtad, yaitu dengan menyerang dan meneror mereka di berbagai negeri. Dan itu dilakukan tanpa visa, perbatasan, dan paspor yang menghalanginya. Serangan dilakukan di Yaman dan Tunisia oleh para lelaki yang loyalitas mereka disandarkan kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, tidak kepada kewarganegaraan yang bathil. Mereka siap mengorbankan jiwa mereka karena Allah di negeri mereka sendiri, mengadakan pembantaian atas orang-orang kafir dan murtad dengan tidak membeda-bedakan di antara mereka dalam hal latar belakang nasionalisme.

Di kota Tunis, dua tentara Daulah Islam menyerang para turis kafir di Museum Nasional Bardo. Kedua mujahidin, yaitu Abu Zakariya At-Tunisi dan Abu Anas At-Tunisi, dikirim dengan suatu misi setelah dilatih bersama saudara-saudara mereka di Libya dan mendeklarasikan bai'at mereka kepada Khalifah hafizhahullah. Mereka kembali ke Tunisia, lalu dengan gagah berani mereka bergerak ke arah markas keamanan di Tunis, memasuki museum –terletak di seberang gedung Parlemen Tunisia– dan menebar teror kepada orang-orang kafir di dalamnya dengan membunuh lebih dari 20 orang di antaranya dan mencederai puluhan lainnya. Kemudian mereka berbalik menghadapi pasukan keamanan murtad lokal dengan menggunakan senapan serbu AK mereka, granat tangan, dan sabuk peledak, lalu terbunuh fi sabilillah.

Operasi sukses dengan membawa hasil berupa kemarahan sejumlah negara yang terlibat dalam koalisi salib (Italia, Perancis, Inggris, Jepang, Polandia, Australia, Spanyol, dan Belgia) setelah beberapa warganya menjadi sasaran tentara Daulah Islam.

Hanya dua hari kemudian, di Wilayah Shan'a empat tentara Daulah Islam mengadakan operasi istisyhad terkoordinasi dengan menyerang kelompok Houtsi murtad di kota Shan'a. Mereka menyusup ke dua kuil di mana orang-orang Houtsi berkumpul dan meledakkan bom, membunuh lebih dari seratus orang, termasuk ulama besar Rafidhah Murtadha Al-Mahatwari dan sejumlah pemimpin Houtsi serta melukai ratusan lainnya. Secara hampir bersamaan, mujahid kelima melaksanakan operasi di Sa'dah dengan menargetkan gedung pemerintah Houtsi dan meledakkan bom.

Hanya beberapa hari setelah operasi dilakukan, Amerika mengumumkan bahwa mereka telah menarik mundur pasukan khusus mereka yang terakhir di Yaman. Operasi ini membawa ingatan kembali kepada serangan penuh berkah yang diperintahkan oleh Syaikh Abu Mush'ab Az -Zarqawi rahimahullah, ketika menargetkan Rafidhah Iraq dan membunuh ulama mereka Muhammad Baqir Al-Hakim.

Tidak lama setelah operasi yang diberkahi di Shan'a dan Sa'dah ini, Al-Qa'idah cabang Yaman keluar dan memperlihatkan sikap muka dua dengan mencela serangan dan menegaskan kembali kesetiannya pada garis-garis besar Azh-Zhawahiri, seolah-olah menyiratkan bahwa operasi Daulah Islam dilakukan terhadap kaum Sunni di tempat umum dan tidak khusus bagi kaum Houtsi, padahal kenyataannya sebaliknya. Pada saat (yang sama) orang membandingkan operasi yang diberkahi ini dengan serangan Al-Qa'idah terhadap demonstrasi orang-orang Houtsi di Lapangan Tahrir di Shan'a akhir musim gugur, kemunafikan nyata menjadi jelas: apakah boleh bagi Al-Qa'idah –menurut garis-garis besar Azh-Zhawahiri yang lemah– membom unjuk rasa Houtsi di lapangan umum, tetapi haram bagi Daulah Islam untuk membom sebuah majelis Houtsi di kuil Houtsi? Atau apakah pembedaan ini didasari fanatisme yang buta?

Semoga Allah menerima semua mujahid yang berperang, membantai, dan meneror kuffar tanpa membeda-bedakan di antara mereka di bawah pengaruh irja' atau latar belakang nasionalisme.

BAI'AT DARI AFRIKA BARAT

DABIQ 8 - LAPORAN

BAI'AT DARI AFRIKA BARAT

Pada tanggal 16 Jumadal Ula Al-Mujahid Syaikh Abu Bakar Shekau hafizhahullah, pemimpin Jama'ah Ahlus Sunnah lid Dakwah wal Jihad di Afrika Barat, mengumumkan bai'at kelompoknya kepada Amirul Mu'minin Ibrahim ibnu 'Awwad Al-Qurasyi hafizhahullah. Bai'at yang muncul bersamaan dengan keberhasilan besar yang dicapai oleh mujahidin di Nigeria dan ke kawasan negara-negara tetangga merupakan peristiwa sangat besar yang dirayakan oleh Muslimin dan kembali menjadi sumber kemuraman bagi orang-orang kafir.

Hati kaum Muslim terobati setelah mereka melihat saudara-saudara mereka di Afrika Barat meneror orang-orang Nasrani dan tentara murtad Nigeria, di mana kebanyakan mereka dipaksa lari secara memalukan dan mencari perlindungan di Chad. Sementara itu, media kafir yang telah mengantisipasi akan penyatuan mujahidin Afrika Barat dengan Daulah Islam, kini meratapi kenyataan bahwa suatu kekuatan yang tidak kenal henti dan agresif dengan tingkat konsolidasi yang kuat telah memutuskan untuk meraih panji Khilafah dalam perang melawan tentara salib dan orang-orang murtad.

Selama bertahun-tahun mujahidin Afrika Barat telah berdiri kokoh melawan pasukan murtad dan salib yang berusaha untuk menghapuskan jejak Islam di kawasan tersebut. Mereka berdiri kokoh dalam menghadapi celaan dan penentangan dari para ulama suu dan munafik lainnya. Mereka berdiri kokoh ketika pemimpin mereka, Syaikh Mujahid Muhammad Yusuf rahimahullah, dieksekusi mati oleh polisi murtad Nigeria. Mereka tidak takut celaan para pencela ketika mereka menangkap dan memperbudak ratusan perempuan Kristen, bahkan ketika mesin media salib melakukan serangan gencar agar menjadi perhatian dunia terhadap isu tersebut. Mereka tetap kokoh, sehingga Allah meningkatkan kekuatan mereka, mempercepat kemenangan mereka, memberikan mereka kekuatan, dan menghinakankan musuh-musuh mereka.

"Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)." (Ar-Rahmaan : 60)

Apa respon mereka terhadap kebaikan dan rahmat Allah?

Mereka menunjukkan rasa syukur mereka kepada-Nya lewat sebuah amal yang bahkan lebih besar daripada apa yang telah berhasil mereka dapatkan; mereka merapatkan barisan bersama saudara-saudara mereka di Daulah Islam, bersatu di atas kebenaran, membai'at untuk mendengar dan menaati Amirul Mu'minin dan terus berjalan untuk meninggikan kalimat Allah. Bai'at mereka diakui oleh Daulah Islam, dan mujahidin Afrika Barat sekarang menjaga satu lagi perbatasan Khilafah.

Juru bicara Daulah Islam, Syaikh Abu Muhammad Al'Adnani hafizhahullah, berkata, “Kami memberikan kabar baik bagi anda hari ini mengenai ekspansi Khilafah ke Afrika Barat, karena Khalifah hafizhahullah telah menerima bai'at yang dilakukan oleh saudara-saudara kami di Jama'ah Ahlus Sunnah lid Dakwah wal Jihad. Kami mengucapkan selamat kepada kaum Muslimin dan saudara mujahidin kami di Afrika Barat atas pemberian bai'at mereka dan kami mengucapkan selamat kepada mereka dengan bergabungnya bersama kafilah Khilafah. Maka bergembiralah, wahai Muslimin, karena ini adalah pintu baru yang telah dibuka oleh Allah Yang MahaKuat dan MahaAgung, sehingga kalian dapat berhijrah ke negeri Islam dan mengobarkan jihad. Jadi, barangsiapa yang dihentikan para penguasa kafir dan dihalang-halangi untuk berhijrah ke Iraq, Syam, Yaman, Jazirah Arab, atau Khurasan, maka dia tidak dihalangi-halangi –dengan izin Allah– dari berhijrah ke Afrika. Jadi, kemarilah, wahai Muslimin, ke Daulah kalian, karena kami menyeru kalian agar bergerak untuk jihad, mengajak kalian, dan mengundang kalian untuk berhijrah ke Afrika Barat. Dan secara khusus, kami mengajak thallabul 'ilm (para penuntut ilmu) dan da'i-da'i Islam. Bersegeralah, wahai Muslimin, ke negeri Khilafah.” (Lalu Mereka Membunuh atau Terbunuh)

Setelah pengumuman bai'at dan Daulah Islam menerimanya, kaum Muslimin di berbagai wilayah Khilafah turun ke jalan-jalan untuk untuk mengadakan perayaan, karena tidak ada yang lebih menggembIraqan bagi orang-orang beriman daripada melihat saudara-saudara mereka bersatu bersama mereka di bawah satu bendera dan satu imam, berjanji untuk mengobarkan perang melawan kekafiran hingga agama seluruhnya hanya milik Allah.

Kondisi mujahidin di Afrika Barat adalah sebuah kondisi persatuan di atas tauhid yang menyaksikan mereka berjalan di belakang pemimpin di antara mereka untuk mengobarkan perang melawan kekafiran dan menerapkan syari'at di negeri mereka. Maka, ketika mereka menyaksikan kaum Muslimin, terutama mujahidin di seluruh dunia bersatu di belakang Khalifah untuk mengangkat tinggi bendera Allah, mereka melakukannya pula, tidak untuk harta, ketenaran, atau kekuasaan, tetapi untuk hal yang lebih besar.

Dengan menggemakan kalimat mujahidin Libya, mereka berkata, “Kami berbai'at karena kebajikan umat ini, berkaitan dengan perkara keagamaan dan dunia. Hal ini tidak akan dicapai kecuali dengan mengobarkan perang terhadap orang-orang yang tiada henti melawan dan terhadap orang-orang yang merintangi manusia dari agama Allah. Ini adalah pondasi dasar agama, kitab sebagai pemberi petunjuk dan pedang sebagai penolong. "Dan cukuplah Rabbmu sebagai pemberi petunjuk dan penolong" (QS. Al-Furqan : 31).”

Mujahidin Afrika Barat terus mengobarkan jihad melawan musuh-musuh Allah di negeri yang terdiri dari sejumlah besar penduduk salibis pembenci. Massa Kristen di Nigeria kebanyakan menempati bagian selatan negeri dan mencakup kurang dari setengah populasi. Mereka belum terlepas dari membantai kaum Muslimin di Afrika Barat. Walaupun ada kebencian dari pasukan salib, namun mujahidin membawa bendera tauhid, menyeru kepada kebenaran, bentrok dengan orang-orang yang bathil, dan melancarkan pembalasan terhadap pasukan salib dan murtad, hingga keputusan Allah datang dan mujahidin dianugerahi kekuasaan di negeri. Mereka menerapkan syari'at-Nya, mendirikan shalat, serta amar ma'ruf dan nahi mungkar.

"(Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar;" (QS. Al-Hajj: 41)

Mereka tetap berada di atas jalan ini sekarang di bawah bendera Khilafah, bahkan ketika pasukan kafir melipatgandakan upaya mereka untuk menghentikan kemajuan mereka (mujahidin Nigeria) di Afrika Barat, tidak lama setelah mendeklarasikan bai'at, mereka lalu berhadapan dengan serangan kombinasi udara dan darat yang agresif yang dilancarkan oleh pasukan murtad Chad dan Niger. Ini sebagai tambahan atas pasukan yang akhir-akhir ini didatangkan dari Kamerun, sebagaimana pula tentara bayaran, dan bahkan pasukan salib Perancis yang berbasis di Chad. Semua berusaha untuk menghentikan pembebasan mujahidin atas Afrika Barat.

Kami memohon kepada Allah agar langkah mereka tetap kokoh melawan orang-orang yang berusaha menghapus syari'at-Nya.

MENGHENTIKAN PENYIMPANGAN SEKSUAL

DABIQ 7 - LAPORAN

MENGHENTIKAN PENYIMPANGAN SEKSUAL

“Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji” (Al-Baqarah: 168-169).

Dengan munculnya “revolusi seksual” lima dekade lalu, Barat jatuh ke dalam jurang penyimpangan seksual dan tindakan tak bermoral. Bersama dengannya muncul banyak penyakit menular seksual yang mematikan –termasuk AIDS yang belum bisa disembuhkan– karena pria dan wanita membiarkan hawa nafsu mereka menguasai keputusan mereka dan membawa mereka untuk terlibat dalam perbuatan zina dan “bereksperimen” dengan segudang metode setan untuk memenuhi hasrat mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Penyimpangan seksual tidak akan meluas di antara manusia sampai ke titik (di mana orang-orang) melakukannya secara terbuka, kecuali hal tersebut akan disusul oleh wabah dan penyakit yang yang belum pernah diderita nenek moyang mereka yang datang sebelum mereka” (Hasan: Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan al-Hakim dari ‘Abdullah Ibnu ‘Umar)

Penyakit merajalela, laju kelahiran anak di luar pernikahan meroket, dan keluarga inti sedang dalam perjalanannya untuk menjadi kenangan di masa lalu. Bukannya mengambil pelajaran dari apa yang mereka saksikan berupa kehancuran struktur sosial mereka, dan mengubah “cara hidup” mereka, orang-orang kafir malah bersikeras untuk bertahan dalam misi mereka menghancurkan moral mereka. Mereka menggunakan industri hiburan mereka untuk mengejek dan meremehkan siapa saja yang memerangi penyimpangan seksual, menggunakan parlemen syirik mereka untuk melegalkan pernikahan pelaku sodom, menggunakan sistem pendidikan mereka untuk merusak anakanak mereka secara langsung dari tingkat taman kanak-kanak dengan memperkenalkan buku ke dalam kurikulum untuk membarantas “homofobia,” dan menggunakan gereja-gereja dan pendeta mereka untuk mengampuni dosa-dosa melalui “revisionisme.” Contoh taktik terakhir ini termasuk pengurapan (upacara perminyakan suci) Imam Sodomi, penolakan Paus Katolik untuk “ikut dalam penghakiman” Imam sodomi, ia (Paus) berkata, “Siapa aku (sehingga berhak) untuk menghakimi?” dan penerbitan artikel yang menentang dan membantah pemahaman tradisional mereka sendiri dari Kitab yang telah diubah, seperti mengklaim bahwa kaum sodom dibinasakan karena kekejaman dan arogansi mereka, bukan karena sodomi mereka.

Di tengah meluasnya penghinaan atas fitrah (kecondongan alami manusia) ini, Daulah Islam terus berupaya menentang perbuatan sesat tersebut – perbuatan di mana “Peradaban” Barat menghormatinya sebagai bagian dari “nilai” mereka – dengan menerapkan hukum Allah kepada orang-orang yang mempraktekkan setiap bentuk penyimpangan atau pelanggaran seksual.

Hal tersebut ditunjukkan baru-baru ini di wilayah ar-Raqqah, di mana Daulah Islam menerapkan hadd pada seorang pria yang terbukti bersalah atas keterlibatannya dalam sodomi. Ia dibawa ke puncak bangunan dan dilempar, seperti salah satu teladan yang dilakukan sahabat yang mulia Abu Bakar ash-Shiddiq radiyallahu ‘anhu kepada orang-orang yang melakukan perbuatan kotor ini. Juga di wilayah ar-Raqqah, seorang wanita dirajam setelah terbukti bersalah karena zina. Sementara itu di wilayah al-Khair, seorang pria baru-baru ini dicambuk sebagai sebuah ta’zir (hukuman pelajaran) setelah ia terbukti memiliki hal-hal yang berbau pornografi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pelaksanaan satu hadd di bumi adalah lebih baik bagi penduduk bumi daripada hujan empat puluh pagi di bumi” (Hasan: Diriwayatkan oleh an-Nasa’i dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

Hal ini merupakan pelaksanaan hukum Allah dan kepatuhan terhadap petunjuk-Nya, bi idznillah, yang akan melindungi umat Islam dari mengikuti jalan busuk yang sama dengan yang telah dipilih Barat untuk diikuti.

WILAYAH KHURASAN DAN BAI'AT DARI KAUKASUS

DABIQ 7 - LAPORAN

WILAYAH KHURASAN DAN BAI'AT DARI KAUKASUS

Bulan ini, sejumlah kelompok mujahidin dari Khurasan mengumumkan bai’at mereka kepada Amirul Mu’minin Ibrahim ibn ‘Awwad al-Qurasyi setelah berkumpul dan melakukan perundingan untuk memenuhi persyaratan untuk ekspansi, sebagaimana yang diperintahkan oleh Khalifah.

Setelah menyatakan bai’at mereka, mujahidin mempublikasikan eksekusi yang mereka lakukan kepada seorang tentara murtad yang merupakan anggota dari tentara Pakistan, sebuah tindakan yang menekankan perbedaan antara ‘aqidah Daulah Islam –‘aqidah Ahlus-Sunnah– dan dari sebagian pengklaim jihad yang memandang tidak ada ada yang salah dari mendoakan thaghut-thaghut yang melancarkan perang melawan kaum Muslim. Pernyataan kemurtadan tentara Pakistan ini dan eksekusi setelahnya adalah perkara yang mana para pengklaim jihad akan menganggapnya sangat bermasalah mengingat penyimpangan mereka dan sikap lemah lembut mereka kepada tentara Pakistan, yang mana telah membuat mereka melembutkan “jihad” mereka melawan thaghut Pakistan, sehingga memungkinkan mereka (tentara Pakistan) untuk cukup hanya berjalan masuk dan melakukan penangkapan di seluruh wilayah Waziristan. Skenario yang sama terjadi di Yaman ketika cabang lokal al-Qa’idah menganggap tidak dibenarkan untuk mengkafirkan rafidhah Houthi dalam tingkatan individual, menyebabkan sikap lunak mereka dalam masalah iman dan kufr menjadi penghalang untuk mempertahankan hidup dan tanah kaum Muslimin.

Hasilnya?

Kota terbesar Yaman hancur dalam sekejap oleh Houthi dan dikuasai hanya dengan satu gerakan, menempatkan hidup kaum Muslimin yang tak terhitung jumlahnya di bawah kekuasaan sekelompok orang yang agamanya adalah memfitnah dan melecehkan istri-istri dan para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ironi bahwa orang-orang yang mengklaim jihad tersebut sebelumnya enggan dari mengkafirkan Rafidhah yang najis, padahal Rafidhah yang sama tidak ragu-ragu dalam mengkafirkan shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Oleh karenanya, mujahidin Khurasan memutuskan untuk berdiri bersama Daulah Islam dalam usahanya untuk meninggikan kalimat Allah ta’ala di bawah bendera Khilafah yang satu dan bukan bendera dari imarah yang terbagi-bagi dan golongan yang berbeda.

Deklarasi bai’at mencakup banyak kelompok dari Afghanistan dan Pakistan yang berada di wilayah-wilayah berikut:

Afghanistan: Nuristan, Kunar, Kandahar, Khost, Pakti, Paktia, Ghazni, Wardak, Helmand, Kunduz, Logar, dan Nangarhar, juga wilayah-wilayah lainnya.

Pakistan: Wilayah Khyber (termasuk Peshawar, Swat, Maidan, Marwat, Kuki Khel, Tor Dara, Dir, Hangu, dan lainnya), Bajaur, Orakzai, Kurram, dan Waziristan, juga wilayah-wilayah lainnya.

Perundingan telah memilih Hafidz Sa’id Khan sebagai Wali (Gubernur) untuk Khurasan, yang kemudian memimpin semua yang hadir untuk menyatakan bai’at kepada Khalifah Ibrahim al Qurasyi. Kemudian hal tersebut diikuti oleh pengumuman dari Daulah Islam yang secara resmi menyatakan ekspansinya ke Khurasan dan menjadikannya sebagai sebuah wilayah baru.

Juru bicara Syaikh Abu Muhammad al-‘Adnani berkata, “Dan walaupun gelombang serangan salibis semakin dahsyat dan walaupun tetap berlangsungnya persekongkolan pihak yang jauh dan yang dekat terhadap Daulah Islamiyah, serta walaupun serangan pihak yang jauh dan yang dekat terhadapnya, kami memberikan kabar gembira kepada para mujahidin bahwa Daulah Islamiyah telah melebar ke Khurasan, di mana para mujahidin dari junud Khilafah di sana telah menyempurnakan syarat-syarat dan mereka telah memenuhi tuntutan-tuntutan untuk pendeklarasian Wilayah Khurasan, di mana dahulu mereka telah menyatakan bai’at mereka kepada Amirul Mu’minin hafizhahullah Al Khalifah Ibrahim, dan beliau-pun telah menerimanya dan telah menunjuk Asy Syaikh Al Fadlil Hafidh Sa’id Khan hafizhahullah sebagai wali (gubernur) bagi Wilayah Khurasan, dan menunjuk sebagai wakilnya Asy Syaikh Al Fadlil Abdurrauf Khadim Abu Thalhah hafizhahullah. (Katakanlah: Matilah Dengan Kegeraman Kalian!)

 Apa yang disebutkan Syaikh al-‘Adnani berupa kondisi-kondisi dan syarat-syarat dari deklarasi ini adalah merujuk kepada proses yang harus diikuti jama’ah dari setiap wilayah yang jauh agar secara resmi diakui sebagai sebuah wilayah baru bagi Daulah Islam. Proses ini termasuk mendokumentasikan bai’at mereka, melakukan perundingan untuk memilih seorang wali dan anggota majelis syura’ regional, merencanakan strategi untuk mencapai persatuan di wilayahnya bagi Khilafah sebagaimana juga untuk menegakkan Syari’ah, dan menyajikan semua itu di hadapan para amir Daulah Islam untuk mendapat persetujuan.

Aturan dari Daulah Islam telah diketahui; Daulah Islam menyeru kaum Muslimin di setiap penjuru dunia untuk memberikan bai’at kepada Khalifah, dan tidak menolak bai’at dari setiap kelompok Muslim atau individu. Di samping itu, Daulah Islam tidak memberikan izin bagi siapapun atau kelompok manapun untuk mengumumkan sebuah wilayah atau menyatakan diri mereka sebagai perwakilan resmi dari kepemimpinan Daulah Islam sampai proses-proses yang disebutkan di awal telah selesai.

Proses yang sama saat ini sedang berjalan untuk wilayah Kaukasus, dan juga wilayah-wilayah lain yang mana pengumuman akan ekspansinya akan –dengan izin Allah– membawa kegembiraan bagi kaum Muslimin sebagaimana yang terjadi pada wilayah Khurasan dan wilayah-wilayah yang diumumkan sebelumnya.

Melalui bai’at mereka kepada Khilafah, mujahidin Khurasan telah bergegas dalam memenuhi kewajiban mereka untuk melazimi Jama’ah kaum Muslimin dan Imam mereka. Dalam melakukannya, mereka menghadapi permusuhan dari para pembuat fitnah di wilayah tersebut, yang mulai memerangi mereka sebelumnya ketika mereka pertama kali menyatakan kesetiaan kepada Amirul Mu’minin sebagai faksi-faksi individu sebelum berkumpul bersama untuk membentuk wilayah. Para pembuat fitnah tersebut mulai membuat kedustaan tentang mereka serta menghasut masyarakat yang bodoh untuk melawan mereka, sebagaimana yang terjadi sebelumnya di Iraq dan Syam. Mereka mengklaim bahwa Daulah Islam adalah takfiri, suatu hal yang asing yang bertentangan dengan mahdzab fiqh mereka.

Junud khilafah di Khurasan, bagaimanapun, tidak sendirian mengalami celaan, penolakan, dan fitnah oleh para pembuat fitnah. Hal yang sama pernah dialami mujahidin Kaukasus ketika mereka belum lama ini mengumumkan bai’at kepada Amirul Mu’minin; mereka dikritik oleh orang-orang di Kaukasus yang dibutakan oleh ketakukan mereka akan kehilangan kepemimpinan dan kekuasaan [1]. Individu-individu tersebut memilih berada di atas kelompok-kelompok dan perpecahan, daripada merapatkan barisan dan menguatkan Jama’ah Muslim dan Imam mereka, yang dapat memelihara bahkan melipatgandakan kekuatan, keberanian, dan kemampuan mereka selama proses tersebut.

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu” (Al-Anfal: 46).

Bai’at dari mujahidin Kaukasus –sebagaimana mujahidin Khurasan– adalah sesuatu yang telah lama ditunggu oleh banyak orang di dalam barisan mereka. Banyak dari mereka telah lama mendukung Daulah Islam dan menunggu para pemimpin mereka untuk memberikan bai’at ketika Khilafah sudah diumumkan. Ketika mereka melihat, bagaimanapun, bahwa pemimpin-pemimpin mereka tidak memiliki keingingan untuk berbai’at, maka mereka memutuskan untuk memenuhi kewajiban ini oleh diri mereka sendiri tanpa takut akan disalahkan dengan kritikan apapun.

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk” (Al-Ma’idah: 105).

Begitulah, mayoritas kelompok mujahidin di Dagestan (termasuk Rabbanikala, Tabasaran, Wilayah Selatan, Lezgistan, Babayurt, Khasavyurt, Shamil Kaminsk, Kizlyar, dan lainnya) dan Chechnya (Nokhchicho) menyatakan bai’at, bersama sejumlah kelompok mujahidin lain yang berlokasi di wilayah lain Kaukasus.

Ketika berita tentang bai’at terus terdengar dari seluruh penjuru dunia, persatuan umat Muslim di atas kebenaran semakin kuat dan kamp kekafiran dan kemunafikan semakin melemah. Sungguh, ada beberapa kalimat yang diucapkan mujahidin Libya ketika mengumumkan bai’at mereka kepada Khalifah yang bagus sekali untuk ditulis dengan tinta emas.

Mereka mengatakan, “Kami bersumpah setia karena tidak ada obat bagi perselisihan umat selain Khilafah. Oleh karenanya, kami menyeru kepada setiap Muslim kepada kebaikan ini, karena sesungguhnya, hal ini lebih membuat geram musuh-musuh Allah. Demi Allah, berkumpulnya kita di bawah seorang pemimpin lebih berat bagi musuh-musuh Allah daripada seribu kemenangan di medan tempur.”

Pelajaran yang bisa kita catat di sini adalah,

Pertama, tidak ada solusi –baik syar’i maupun qadari– untuk permasalahan bendera yang bermacam-macam kecuali semua kelompok untuk bersatu di dalam iman kepada Allah dan mengingkari thaghut, dan melancarkan jihad untuk meninggikan kalimat Allah.

Kedua, persatuan seperti itu lebih membuat kesal orang-orang kafir daripada jika kaum Muslimin mendapat kemenangan yang berturut-turut dan tak terhitung jumlahnya di medan perang melawan musuh mereka sedangkan mereka masih berada di atas perpecahan atas diri mereka. Muslim seperti itu tetap patut disalahkan atas sikap keras kepala mereka di atas kelompok dan perpecahan walaupun mereka memegang ‘aqidah yang benar. Kelompok dan perpecahan ini hanya akan membahayakan mereka yang bersikeras di atas perpecahan mereka, sedangkan mereka yang melazimi Jama’ah akan terus tumbuh lebih kuat.

Dengan pengumuman wilayah baru di berbagai daerah di dunia, mujahidin mendapat momentum lebih dalam perang mereka melawan tentara kafir, tetapi momentum ini juga menjadi ujian bagi mereka yang menguji keteguhan, ketetapan hati, dan keikhlasan mereka. Sesungguhnya, merupakan sesuatu yang bodoh untuk berpikir bahwa musuhmusuh akan duduk tenang dan memandang dengan pandangan yang sama sementara kemajuan-kemajuan tersebut terus berdatangan. Sebaliknya, pasukan salib pasti berusaha untuk meningkatkan usaha mereka untuk menghentikan ekspansi Daulah Islam, dan ini tidak lain berarti meningkatnya pelanggaran mereka terhadap Islam dan kaum Muslimin, dan meningkatnya agresi mereka dalam upaya membatasi kesuksesan mujahidin. Oleh sebab itu, Syaikh Abu Muhammad meningkatkan al-‘Adnani menyeru tentara wilayah Khurasan untuk menguatkan diri mereka untuk menghadapi badai yang akan datang.

“Dan kami menghimbau kepada seluruh junud Daulah Islamiyah di Khurasan untuk mendengar dan taat kepada Al Wali Hafidh Said Khan dan Wakilnya hafizhahumullah, dan juga untuk bersiap-siap menghadapi apa yang akan mereka jumpai berupa kejadian-kejadian besar, di mana akan bersekongkol terhadap kalian Al Ahzab (Pasukan Koalisi) dan akan banyak serangan dan hujaman terhadap kalian, sedangkan kalian adalah orangorang yang mampu menghadapinya dengan izin Allah” (Katakanlah: Matilah Dengan Kegeraman Kalian!)

Mujahidin Khurasan mampu menghadapinya. Mujahidin Kaukasus mampu menghadapinya. Mujahidin Iraq, Syam, Sinai, Jazirah Arab, Yaman, Libya, dan Aljazair mampu menghadapinya. Mujahidin yang berjalan di tengah-tengah pasukan salib –di negeri mereka dan jalan-jalan mereka– mampu menghadapinya. Allah memiliki tentara-tentara di setiap negeri yang mampu menghadapinya, siap untuk berperang dan menteror salibis di manapun mereka ditemui sebagai pembelaan kepada Khilafah mereka.

Berkaitan dengan tentara-tentara Allah yang berada di negeri kafir, Daulah Islam menggunakan kesempatan ini untuk memperbarui seruannya untuk menyerang, membunuh, dan menteror salibis di jalan-jalan mereka dan di rumah-rumah mereka. Syaikh Abu Muhammad al-‘Adnani berkata,

“Dan kami kembali mengajak para muwahhidin di Eropa dan negara-negara Barat yang kafir dan di setiap tempat, untuk mentarget orang-orang salibis di kampung halaman mereka dan di mana saja mereka berada, dan sesungguhnya kami di hadapan Allah akan menghujat setiap muslim yang mampu menumpahkan darah seorang salibis namun ia tidak melakukannya, baik dengan ranjau atau tembakan atau pisau atau mobil atau batu atau hatta dengan tendangan atau tamparan. Dan sungguh kalian telah melihat apa yang dilakukan oleh seorang muslim terhadap Kanada dan terhadap Parlemen syiriknya, dan apa yang dilakukan oleh ikhwan kita di Prancis, Autralia dan Belgia semoga Allah merahmati mereka semuanya dan memberikan balasan kebaikan bagi mereka atas jasanya terhadap Islam, dan orang-orang selain mereka yang sangat banyak, yang telah membunuh, memberikan pukulan, mengancam, menebar rasa takut dan membuat teror, sampai kami melihat bala tentara salib mengerahkan kekuatannya di Australia, Kanada, Prancis, Belgia dan negara-negara salib lainnya, yang kami menjanjikan kepadanya insyaa Allah bahwa kondisi siaga satu, kondisi mencekam, rasa takut serta kehilangan rasa aman akan terus berlangsung, sedangkan yang akan datang itu lebih dahsyat dan lebih pahit dengan izin Allah, dimana kalian belum melihat sesuatupun dari kami.” (Katakanlah: Matilah Dengan Kegeraman Kalian!)

Catatan :

[1] Sebuah contoh dari kritik yang haus kekuasaan ini adalah sebuah bayan (penjelasan) yang belum lama ini dirilis oleh pembuat fitnah yang sama dan disetujui dengan tanda tangan orang-orang yang mengklaim bahwa penegakan Daulah Islam dan imarah-imarah merupakan buang-buang waktu dan tenaga secara sia-sia selama Amerika masih kuat! Dengan demikian, orang-orang yang menandatangani pernyataan tersebut telah membatalkan dukungan mereka sendiri kepada imarah-imarah dahulu di Chechnya dan Afghanistan… Mereka juga menyelisihi Syaikh Usamah dan Syaikh ‘Atiyah rahimahumullah –yang kepada keduanya mereka menyandarkan pemikiran cacat ini– karena kita tahu bahwa keduanya, dalam banyak kesempatan, secara terang-terangan mengajak kaum Muslimin dan mujahidin di Iraq untuk memberi bai’at kepada Daulah Islam. Lebih buruk dari itu, para penanda tangan lupa bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendirikan negara beliau –dengan hanya bersandar kepada Allah– sementara beliau dikepung oleh orang-orang musyrik Jazirah Arab dan negara adidaya pada saat itu: Kerajaan Romawi dan Kerajaan Persia!

PEMBALASAN UNTUK MUSLIMAH YANG DIANIAYA OLEH SALIBIS KOPTIK MESIR

DABIQ 7 - LAPORAN

PEMBALASAN UNTUK MUSLIMAH YANG DIANIAYA OLEH SALIBIS KOPTIK MESIR

Bulan ini, tentara Khilafah wilayah Tripoli menangkap 21 salibis Koptik, hampir lima tahun setelah operasi yang diberkahi terhadap gereja Baghdad yang dilakukan sebagai pembalasan untuk Kamilia Shehata, Wafa Constantien, dan akhwat lain yang disiksa dan dibunuh oleh Geraja Koptik Mesir. Operasi itu direncanakan oleh Hudzaifah al-Battawi rahimahullah, wali wilayah Baghdad pada saat itu, bersama komandan militer senior, Abu Ibrahim az-Zaidi rahimahullah, keduanya memainkan peran penting –melalui kesabaran dan ketekunan mereka– dalam mempertahankan motivasi dari mujahidin Daulah Islam setelah kesyahidan Abu ‘Umar al-Baghdadi dan Abu Hamzah al-Muhajir rahimahumullah. Saat itu, Daulah Islam jauh dari Mesir sehingga kesulitan untuk menarget salibis Koptik di sana, tetapi para pemimpinnya tahu bahwa di balik permusuhan duniawi dan sektarian antara orang-orang kafir –sebagai kelompok maupun individu– satu sama lain, “Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti” (Al-Hasyr: 14).

Orang-orang kafir yang berbeda tetap memiliki kesetiaan satu sama lain di hadapan Islam, “Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar” (Al-Anfal: 73). “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain” (Al-Ma’idah: 51).

Oleh karena itu, para pemimpin Daulah Islam memutuskan untuk menarget Kristen Katholik Baghdad sehingga menjadi pelajaran bagi thaghut Koptik –Shenouda– bahwa harga darah seorang seorang Muslim sangat mahal dan oleh karenanya, jika gerejanya menganiaya Muslimah di Mesir, maka dia akan secara langsung bertanggung jawab atas setiap orang Kristen yang dibunuh di manapun di dunia di mana Daulah Islam berupaya membalaskan dendamnya… Dan kematian demi kematian tidak dimulai sebelum para salibis menunjukkan keangkuhan mereka dan penolakan untuk memenuhi permintaan dari mujahidin.

Maka lebih dari seratus salibis terbunuh dan terluka hanya oleh lima orang istisyhadiyin pemberani dari Daulah Islam. Dan geraja Kristen yang berbeda-beda tidak memiliki seorangpun untuk benar-benar disalahkan atas kematian saudara-saudara mereka dalam kekafiran kecuali Shenouda …

Bukannya memberi selamat kepada Daulah Islam atas operasi yang diberkahi ini di Iraq yang dilakukan sebagai pembalasan atas saudari-saudari yang dianiaya, si hizbi ‘Azzam al-Amriki mulai memuntahkan dalam beberapa suratnya apa yang sebenarnya ada di dalam hatinya berupa dendam, dengan membela umat Katholik Eropa dalam menanggapi aksi mujahidin! Dia kemudian berusaha untuk bertindak atas dasar dendam pribadinya kepada Daulah Islam segera setelah dia menjadi pemimpin tinggi di al-Qa’idah pasca syahidnya Syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah.

Perilaku aneh ‘Azzam al-Amriki terhadap Kristen mirip dengan yang dinyatakan oleh Aiman Azh-Zhawahiri ketika dia berkata, “Aku ingin menyatakan kembali posisi kami terhadap Kristen Koptik. Kami tidak ingin masuk ke dalam peperangan dengan mereka karena kami sibuk dengan peperangan melawan musuh terbesar dari umat [Amerika] dan karena mereka adalah partner kami dalam negara ini, partner yang mana kami berharap untuk hidup bersama dalam kedamaian dan stabilitas” [Risalah al-Amal wal Bisyr – Bagian 8].

Maka ketika Daulah Islam menarget Katholik sebagai pembalasan atas saudari-saudari yang ditahan oleh Koptik, komandan ‘Azzam al-Amriki sedang merayu pihak yang memicu perang Koptik dengan kata-kata lembut, melupakan ayat, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka” (Al-Fath: 29), dan “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela” (Al-Ma’idah: 54).

Dan kemudian, lima tahun setelah operasi yang diberkahi di Iraq, Allah ta’ala menganugerahi Daulah Islam dengan ekspansinya ke Libya, Sinai, dan lainnya sehingga membuatnya mungkin untuk dengan mudah menangkap salibis Koptik –pengikut Shenouda yang telah mati dan pendukung thaghut Sisi– sebagaimana Salaf berkata, “Ganjaran dari perbuatan baik adalah perbuatan baik lainnya.” Dan karenanya, Daulah Islam melancarkan teror langsung di jantung Koptik setelah melancarkan teror kepada sekutu Katholik mereka sebelumnya, sementara orangorang yang mengklaim jihad dan hizbiyin duduk di belakang dan berpikir panjang –yang sia-sia– tentang bagaimana mereka dapat mencegah ekspansi lebih lanjut dari Khilafah…

Yang terakhir, penting bagi Muslim di manapun untuk mengetahui bahwa tidak ada keraguan di dalam pahala besar di Hari Pembalasan bagi siapa yang menumpahkan darah salibis Koptik tersebut di manapun mereka dijumpai!

WAWANCARA DENGAN SEORANG MATA-MATA MOSSAD ISRAEL

DABIQ 7 - LAPORAN

WAWANCARA DENGAN SEORANG MATA-MATA MOSSAD ISRAEL

DABIQ: Siapa namamu?

SI MURTAD: Namaku adalah Muhammad Sa'id Isma'il Musallam.

DABIQ: Jelaskan kepada kami tentang dirimu.

SI MURTAD: Aku berasal dari Jerusalem. Umurku 19 tahun dan dulu bekerja sebagai pemadam kebakaran.

DABIQ: Bagaimana kamu direkrut sebagai mata-mata?

SI MURTAD: Kami memiliki tetangga Yahudi yang bekerja sebagai petugas kepolisian. Suatu hari dia datang dan memintaku untuk bekerja dengan intelijen Israel. Aku berkata kepadanya bahwa aku akan memikirkannya dan kemudian aku pergi dan bertanya kepada ayah dan saudaraku tentang pendapat mereka. Mereka berdua mendukungku untuk melakukannya dan berkata bahwa ini adalah pekerjaan yang sangat bagus. Mereka berkata bahwa ada banyak uang di dalamnya, dan bahwa kamu bisa naik pangkat ke posisi yang lebih tinggi. Aku tahu sejak saat itu bahwa mereka berdua juga bekerja sebagai mata-mata.

DABIQ: Siapa nama mereka?

SI MURTAD: Ayahku bernama Sa'id Isma'il Musallam. Saudara laki-lakiku bernama Isma'il Sa'id Isma'id Musallam.

DABIQ: Apa yang terjadi ketika kamu memutuskan untuk mengambil pekerjaan itu?

SI MURTAD: Aku bertemu dengan seorang lelaki bernama Eli. Eli ini adalah seorang petugas intelijen dan bertanggung jawab terhadap pos pemeriksaan di Tepi Barat. Dia datang ke rumah kami dan bertemu dengan ayahku. Ayahku menasehatiku di depannya dan menjelaskan kepadaku tentang pekerjaan itu, dan Eli berbicara kepadaku tentang keuntungan dan kompensasi dari pekerjaan itu sendiri.

DABIQ: Berapa banyak kamu dibayar?

SI MURTAD: Secara umum, bayaran akan sebanding dengan tugas dan tingkat kepentingannya, minimal sekitar 5.000 Shekel (mata uang Israel). Semakin besar tugasnya dan dengan semakin berharga informasinya, semakin banyak mereka akan membayarku dan semakin banyak bonus yang akan aku peroleh.

(1 shekel = 4.000 rupiah)

DABIQ: Apakah kamu mendapat pelatihan?

SI MURTAD: Ya, mereka mengirimku ke kamp pelatihan di Jerusalem Timur – Kamp Pelatihan 'Anatawt. Di sanalah aku mulai pelatihanku. Aku menjalani pelatihan mengendalikan diri dan mempertahankan diri dalam interogasi. Aku juga dilatih bagaimana cara penggalian informasi – bagaimana cara mendapat informasi dari orang. Mereka juga memberiku latihan menggunakan senjata. Aku mengikuti pelatihan di kamp selama sebulan penuh dan menyelesaikan pelatihanku.

DABIQ: Apakah kamu dibayar selama pelatihan?

SI MURTAD: Ya, aku mendapat 5.000 Shekel sebagai bayaran selama pelatihan.

DABIQ: Apakah ada orang Palestina lain yang dilatih bersamamu?

SI MURTAD: Ada sembilan yang dilatih, tetapi semuanya adalah Yahudi, aku satu-satunya Arab.

DABIQ: Apa yang terjadi saat kamu menyelesaikan pelatihan?

SI MURTAD: Setelah aku menyelesaikan pelatihan, aku mulai bekerja sebagai mata-mata di tengah-tengah manusia. Aku secara spesifik diberi tugas mengawasi penjual senjata, setiap orang yang dicari, setiap orang yang hendak memasuki wilayah Yahudi, dan melaporkan kepada intelijen setiap operasi yang direncanakan akan dilakukan di Jerusalem.

DABIQ: Bagaimana akhirnya kamu bisa ditugaskan memata-matai Daulah Islam?

SI MURTAD: Suatu hari aku pulang ke rumah dan seorang laki-laki bernama Miro telah ada di sana. Miro ini adalah seorang petugas Mossad Israel. Ayah dan saudaraku hadir. Miro membawa sebuah berkas di tangannya dan membacanya. Dia tiba-tiba berterima kasih kepadaku dan bersyukur karena tugas yang telah aku lakukan dan pertolongan yang telah aku berikan. Dia berkata kepadaku untuk melanjutkannya (melaksanakan tugas memata-matai) sehingga aku akhirnya bias bekerja dengan mereka. Ayah dan saudara laki-lakiku pun mulai berterima kasih kepadaku dan menjelaskan kepadaku bahwa aku akan menjadi lebih baik dan lebih baik, dan terus memberiku semangat. Kemudian dia pergi. Di lain waktu dia datang lagi dan kali ini dia berkata bahwa dia ingin aku untuk bekerja dengan mereka serta datang dan bertemu dengan mereka. Aku menyetujuinya. Dia berkata bahwa dia akan menelepon kami. Dia menelepon-ku setelah itu dan menyuruhku untuk datang dan bertemu dengannya di kantor. Aku pergi ke kantor dan bertemu dengannya. Aku duduk dan dia mulai bertanya kepadaku beberapa pertanyaan. Dia bertanya kepadaku berapa banyak bahasa yang aku tahu, jenis pekerjaan apa yang biasa aku lakukan di negaraku, dan apakah aku bisa menjaga diriku sendiri jika mereka mengirimku di tengah-tengah orang-orang yang tidak kukenal, dan bertanya kepadaku bagaimana aku akan mengendalikan diriku dalam situasi seperti itu. Kemudian dia berkata bahwa mereka ingin aku melakukan misi yang besar. Mereka ingin mengirimku ke Suriah. Aku bertanya kepa danya apa yang akan aku lakukan di Suriah. Dia berkata bahwa mereka ingin mengirimku ke Daulah Islam dan memintaku untuk mengirimkan informasi mengenai mereka.

DABIQ: Berapa banyak bayaran yang mereka tawarkan kepadamu untuk tugas ini?

SI MURTAD: Mereka menawarkan gaji bulanan. Mereka juga akan memberiku rumah, dan akan mengurus segala masalah yang kuhadapi dan setiap dokumen yang kubutuhkan, sekaligus kebutuhan hidupku ketika aku kembali.

DABIQ: Informasi macam apa yang mereka inginkan darimu mengenai Daulah Islam?

SI MURTAD: Pertama, mereka ingin aku melaporkan lokasi senjata-senjata dan missil-missil mereka disimpan. Kedua, lokasi markas-markas mereka, dan ketiga, nama setiap orang Palestina yang telah berhijrah ke Daulah Islam dari Palestina. Mereka juga menjelaskan kepadaku untuk tidak mulai bekerja atau menghubungi mereka sebelum aku menyelesaikan kamp pelatihan dan pendidikan syar'i, dan telah dimasukkan ke dalam sebuah pasukan dan mulai dipercaya. Mereka juga berkata bahwa aku harus menghubungi mereka ketika aku telah menyelesaikan kamp pelatihan dan agar mereka tahu sehingga mereka bisa mengirimkan apa yang aku butuhkan.

DABIQ: Bagaimana kamu masuk ke Daulah Islam?

SI MURTAD: Kami mendapati semua telah disiapkan dan aku meninggalkan Turki sebagaimana diperintahkan Mossad. Aku diberi nomor seorang penyelundup. Aku memberi tahu penyelundup di mana aku berada. Dia memberitahu jalannya, dan aku memasuki Suriah dan berada di wilayah Daulah Islam.

DABIQ: Bagaimana penyamaranmu terbongkar?

SI MURTAD: Tidak lama setelah aku tiba aku mulai berakting dengan cara yang tidak seperti muhajir lain walaupun pelatihan yang telah aku dapatkan dari Mossad. Aku juga gagal untuk mengikuti beberapa perintah yang diberikan amir kepadaku, dan kemudian aku merasa khawatir bahwa sebagai akibatnya dia akan mencurigaiku. Aku takut aku akan dihukum karena tidak mendengar dan taat sebagaimana yang seharusnya kulakukan dan kemungkinan akan diawasi setelahnya. Maka aku pergi dan menelepon ayahku dan menjelaskan kepadanya apa yang telah terjadi, dan dia menyuruhku untuk kembali, tetapi sudah terlambat, karena aku sedang diawasi. Mujahidin meletakkanku di penjara dan memindahkanku dari satu penjara ke penjara lainnya. Selama interogasi, aku mengaku bahwa aku adalah seorang mata-mata yang bekerja sebagai seorang agen untuk Mossad Israel, dan mengakui hal-hal yang telah aku lakukan di negaraku.

DABIQ: Apakah kamu memiliki pesan kepada mata-mata lain yang dikirim orang-orang kafir?

SI MURTAD: Ya, aku katakan kepada semua yang ingin memata-matai Daulah Islam, janga n berpikir kalian sangat pintar dan bahwa kalian dapat menipu Daulah Islam. Kalian tidak akan berhasil sama sekali. Dan akhirnya, mereka akan menangkapmu dan menegakkan hukuman (hadd) atasmu. Menjauhlah dari jalan ini. Menjauhlah dari menolong Yahudi dan orang-orang murtad. Ikutilah jalan yang benar. TAUBATLAH KEPADA ALLAH 'AZZA WA JALLA.

DABIQ: Apakah kamu memiliki sesuatu yang ingin kamu katakan kepada ayahmu dan saudara laki-lakimu?

SI MURTAD: Aku katakan kepada ayahku dan saudara laki-lakiku yang membuatku terlibat dalam masalah ini, kalian yang membawaku ke dalamnya, kalian menggodaku dengan uang dan kehidupan dunia, dan meletakkanku dalam posisiku sekarang. Bertaubatlah kepada Allah 'azza wa jalla. Bertaubatlah kepada Allah 'azza wa jalla. Kalian yang membuatku seperti ini.

PENANGKAPAN PILOT PASUKAN SALIB YORDANIA, MUADZ KASASBEH

DABIQ 6 - LAPORAN

PENANGKAPAN PILOT PASUKAN SALIB YORDANIA, MUADZ KASASBEH

Pada hari Rabu 2 Rabiul awal 1436, seorang Pilot murtad terbang untuk misi aliansi tentara salib berhasil ditangkap oleh Daulah Islam setelah pesawatnya ditembak jatuh dengan rudal anti-pesawat pencari panas. Tembakan itu sukses menghantam target dan selanjutnya menjatuhkannya dengan izin Allah. Segala puji dan syukur hanya untuk-Nya saja. Rezim Jordania mengakui bahwa pesawat mereka jatuh tertembak, hanya dibantah oleh Amerika yang khawatir jika sekutu mereka akan berhenti berpartisipasi dalam serangan udara, di mana sekutu mereka takut akan rasa malu yang harus dihadapi jika tentara mereka juga akhirnya ditangkap oleh Daulah Islam. Ayah dan saudaranya kemudian memohon agar dia dibebaskan, mengklaim bahwa dia adalah seorang "Muslim tulus", tidak menyadari dia adalah seorang pembunuh murtad karena bantuan militernya untuk Taghut Yordania dan partisipasinya dalam perang salib yang menewaskan banyak orang Muslim.

Berikut ini adalah wawancara dengan orang murtad tersebut.

DABIQ: Ceritakan kepada kami tentang diri anda. Siapa nama anda? Dari mana asal anda? Dan berapa usia anda?

SI MURTAD: Namaku Mu'adz Safi Yūsuf al-Kasāsibah. Aku orang Yordania, dari al-Karak. Aku lahir pada tahun 1988. Aku berumur 26 tahun.

DABIQ: Apa posisi anda di angkatan udara murtad? Kapan anda mulai ikut pada jalan Kufur ini?

SI MURTAD: Aku adalah seorang pilot letnan satu. Aku lulus dari King Hussein Air College pada tahun 2009. Aku melanjutkan pelatihanku hingga menjadi pilot operasional pada tahun 2012 dengan skuadron pertama di Pangkalan Udara Muwaffaq al-Salti.

DABIQ: Ceritakan kepada kami tentang penerbangan yang menyebabkan penangkapan memalukan anda pada hari Rabu itu.

MURTAD: Kami diberitahu tentang misi ini sehari sebelumnya pada jam 4 sore. Peran kami dalam misi ini adalah menjadi tim penyapu dan melindungi jet penyerang. Kami menyapu daerah untuk menghancurkan persenjataan anti-pesawat di darat dan memberikan perlindungan dalam kasus apabila jet musuh muncul. Kemudian jet penyerang yang dilengkapi dengan rudal berpemandu laser datang untuk melaksanakan bagian mereka dari misi ini. Kami take off ke Irak dari pangkalan udara Muwaffaq al- Salti – di kota al-Azraq di wilayah Zarqa – pada pukul 6:15 pagi. Kami menerima pengisian bahan bakar di udara pada pukul 7:55, lalu pergi ke area tunggu di mana kita bertemu beberapa regu yang terdiri dari F-15 Saudi, F-16 Emirat, dan F-16 Maroko. Kami memasuki wilayah tersebut dari ArRaqqah untuk membersihkan daerah tersebut, setelah itu jet penyerang masuk untuk memulai serangan mereka. Pesawatku ditembak oleh rudal pencari panas. Aku mendengar dan merasakan benturannya. Pilot Yordania lainnya yang juga dalam misi ini – pilot letnan satu Saddam Mardini - menghubungiku dari jet yang juga ikut serta dan mengatakan kepadaku bahwa aku terkena tembakan dan ada api yang keluar dari belakang nozzle mesinku. Aku memeriksa system display dan menunjukkan bahwa mesin rusak dan terbakar. Pesawat mulai menyimpang dari jalur normal penerbangan, maka segera ejected. Aku mendarat di Sungai Furat dengan parasut dan kursi lontar yang menyangkut di beberapa daratan, membuatku tidak bisa bergerak, hingga kemudian aku ditangkap oleh tentara Daulah Islam.

DABIQ: Resim Murtad Arab mana saja yang ikut mengambil bagian dengan anda dalam serangan udara tentara salib?

SI MURTAD: Yordania dengan F16, Emirates dengan F16 yang telah diupgrade dilengkapi dengan bom berpemandu laser, Saudi dengan F15 upgrade yang dilengkapi dengan bom berpemandu laser, Kuwait dengan Pesawat pengisi bahan bakar udara (Aerial refueling aircraft), Bahrain dengan F16, Maroko dengan upgrade F16, Qatar, dan Oman.

DABIQ: Pangkalan udara apa yang digunakan oleh orang-orang murtad dalam perang salib ini?

MURTAD: Jet Yordania lepas landas dari Jordan. Jet Teluk pada umumnya lepas landas dari Kuwait, Saudi, dan Bahrain. Ada juga beberapa bandara yang ditunjuk untuk pendaratan darurat: Bandara Azraq di Yordania, bandara Ar'ar di Arab, Bandara Internasional Baghdad, Bandara Internasional Kuwait, dan bandara di kota Turki – yang namanya aku lupa – sekitar 100 kilometer dari perbatasan Suriah.

DABIQ: Dan tentara salib, pangkalan mana yang mereka gunakan?

MURTAD: Beberapa jet Amerika dan Perancis lepas landas dari Prince Hassan Air Base dan Muwaffaq al-Salti Air Base. Beberapa jet Amerika juga lepas landas dari Turki.

DABIQ: Bagaimana misi penerbangan dikoordinasikan?

SI MURTAD: Ada pangkalan Amerika di Qatar dimana misi direncanakan, menentukan target, dan pembagian tugas. Mereka membagi gambaran tugas misi untuk setiap negara peserta sehari sebelumnya. Pihak-pihak yang berpartisipasi diberitahu tentang tugas mereka pada pukul 04:00 keesokan harinya. Amerika menggunakan penembak jitu udara, satelit, mata-mata, dan drone yang lepas landas dari negara-negara Teluk untuk menentukan dan mempelajari target. Kita diberi peta udara dan gambar target.

DABIQ: Apakah Anda bertemu tentara salib Amerika?

MURTAD: Tentu saja. Ada sekitar 200 orang Amerika di Muwaffaq al-Salti Air Base. Di antara mereka, ada sekitar 16 pilot AS, salah satunya adalah perempuan, dan sisa dari 200 porsi itu bertugas sebagai teknisi, insinyur, dan tugas pendukung lainnya. Orang-orang Amerika kadang-kadang makan malam dengan kami dan makan mansaf, yang mereka banyak suka. Obrolan mereka tidak termasuk tentang rincian operasi karena masalah kerahasiaan dan keamanan.

DABIQ: Apakah ada salah satu pilot AS yang tewas ketika sedang menjalankan misi?

SI MURTAD: Pada awal Desember, salah satu dari mereka lepas landas dari Muwaffaq al-Salti Air Base ke arah Irak di mana banyak jet koalisi bergabung di udara untuk membentuk skuadron serangan. Dia diikuti oleh jet kedua yang lepas landas di arah yang sama. Landing gear jet kedua itu gagal untuk masuk kembali (ke badan pesawat) setelah lepas landas. Pilot meminta jet pertama untuk berbalik ke arahnya dan memverifikasi masalah. Pilot pertama mengkonfirmasi ada masalah dengan landing gear. Ada kabut tebal ketika itu dan salah satu jet jatuh di Yordania. Si Pilot meninggal karena kecelakaan ini.

DABIQ: Apakah Anda sudah melihat video yang diproduksi oleh Daulah Islam?

SI MURTAD: Tidak, aku belum melihatnya.

DABIQ: Kami akan memastikan sipir memberikan Anda kesempatan untuk melihat video "Walau Karihal Kafirun", Apakah Anda tahu apa yang akan dilakukan Daulah Islam kepada Anda?

MURTAD: Ya... Mereka akan membunuhku...

PEMBEBASAN BAIJI

DABIQ 6 - LAPORAN

PEMBEBASAN BAIJI

Hanya satu bulan setelah "kemenangan" melawan mujahidin yang banyak digembar-gemborkan di Baiji, pasukan Shafawi menemukan diri mereka dikejar-kejar dari kota yang mereka klaim telah dikuasai sepenuhnya. "Pembebasan sepenuhnya" satu bulan yang lalu, pada kenyataannya, hanya sedikit contoh dari bentuk kebohongan untuk mencoba menyembunyikan ketidakmampuan orang-orang Murtad yang didukung tentara salib. Mereka telah berhasil meraih beberapa keuntungan kecil di dalam kota dan berhasil menipu pendukung bodoh mereka untuk percaya bahwa mereka telah benar-benar mengusir para mujahidin.

Maka tidak mengherankan mereka bisa dikalahkan secara memalukan pekan lalu, di saat Daulah Islam membebaskan kota secara keseluruhan, yang tidak disorot oleh media internasional, yang malah memilih untuk fokus pada cerita Peshmerga Murtaddin yang bergerak "maju" di Sinjar... maju ke Jahannam...

Kota Baiji, terletak di sebelah utara Baghdad di atas Sungai Tigris, memegang nilai strategis karena berdekatan dengan kilang minyak. Pasukan kufur telah berulang kali mencoba untuk mengambil kendali penuh kota ini dan mengusir kembali Daulah Islam, tetapi terus-menerus gagal meskipun didukung oleh serangan udara Amerika.

Segera setelah pembebasan kota, ada laporan dan foto-foto yang diduga merupakan bala bantuan Shafawi yang akan dikirim ke daerah tersebut. Maka bergembiralah tentara Khilafah dan bersyukur kepada Allah, mereka bersiap untuk lebih banyak pertempuran, lebih banyak kemenangan, lebih banyak ghanimah, dan lebih banyak kesempatan -dengan izin Allah- untuk membalaskan dendam Ahlus Sunnah kepada Shafawi najis dan sekutu mereka...

MEMBONGKAR SEL KHAWARIJ

DABIQ 6 - LAPORAN

MEMBONGKAR SEL KHAWARIJ

Sungguh, di antara sunnatullah adalah menguji hamba-Nya untuk membedakan antara orang-orang yang baik dan orang-orang yang buruk.

“(Ini) agar Allah memisahkan (golongan) yang buruk dari yang baik.” (Al-Anfal: 37)

Dalam melakukannya, Dia akan memisahkan antara orang yang tulus dari yang tidak tulus, yang benar dari pendusta, orang yang beriman dari munafik, dan pasukan Allah dari musuh Allah. Selama ujian penyaringan (tamhish) ini, kita melihat beberapa kelompok yang condong ke arah satu sikap ekstrim sementara yang lain juga bersandar kepada sikap ekstrim lainnya dan jatuh ke dalamnya. Adapun Ahlus-Sunnah, dia tetap teguh di atas jalan pertengahan.

Daulah Islam telah berulang kali menjelaskan posisinya pada sejumlah isu yang telah menjadi sumber fitnah bagi banyak orang, yang sebagian mengikuti jalan ekstrim dari Khawarij, dan lain mengikuti jalan sangat longgar dari Murji'ah. Hal ini karena klarifikasi fakta adalah sunnah Allah dan Rasul-Nya.

“Dan Demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al-Qur'an, (agar terlihat jelas jalan orang-orang yang saleh) dan agar terlihat jelas (pula) jalan orangorang yang berdosa.” (Al-An'am: 55)

Dengan klarifikasi fakta, bagaimanapun. Inilah satu dan satunya cara untuk bisa mengungkap target penyimpangan. Fakta ini dibuktikan dengan ditemukannya sel Khawarij yang bersembunyi di dalam negeri Daulah Islam yang mana mereka berusaha untuk merekrut orang lain untuk masuk ke dalam kesesatan mereka. Di antara syubhat-syubhat yang mereka gunakan sebagai dasar untuk takfir mereka adalah bahwa Daulah Islam tidak menetapkan takfir atas masyarakat Sunni di Irak dan Syam, dan Daulah Islam menyatakan bahwa orang-orang Rafidah dihukumi dengan hukum Murtad, dan berbeda dengan kafir asli.[1]

Mereka kemudian merencanakan untuk menyerang para mujahidin Khilafah serta masyarakat Sunni, yang mereka anggap musyrik. Mereka diam-diam merekam diskusi rencana mereka dan menyebutkan niat mereka untuk mengkoordinasikan serangan mereka terhadap Daulah Islam dengan kemajuan potensial yang dibuat oleh tentara salib, FSA, dan PKK.

Sel itu kemudian disusupi oleh aparat keamanan Daulah Islam, para anggotanya kemudian ditangkap, dan sel dibubarkan dan dihukum menurut syari'at Allah. Semoga Allah terus memberikan kemenangan atas Daulah Islam dalam menghadapi orang-orang kafir dan mubtadi'ah (ahli bid’ah sesat).

Catatan :
[1] Ulama kontemporer berbeda pendapat tentang hukum sekte kafir yang ada selama beberapa generasi dan menganggap diri Islam, apakah mereka Murtad atau kafir asli. Beberapa ulama kemudian menganggap mereka kafir asli. Ulama terkenal pertama yang memegang pendapat ini adalah imam Ash-Shan'ani. Akan Tetapi, ulama sebelumnya seperti Ibnu Taimiyah menganggap sekte ini sebagai murtad. Maka dengan itu, ini juga adalah sikap resmi dari Daulah Islam sebagaimana dinyatakan oleh Syaikh Abu Umar al-Baghdadi rahimahullah dalam pernyataan audio-nya "Qul Inni 'Ala Bayyinah Min Rabbi." Putusan murtad pada Rafidah tidak berarti mereka pernah menjadi Muslim, melainkan bahwa mereka harus ditangani dengan lebih keras, karena berarti mereka harus masuk ke dalam Islam atau menghadapi pedang, berbeda dengan perlakuan yang harus dilakukan terhadap orang kafir asli yang kadang-kadang dapat dibiarkan tetap pada kekufuran mereka dalam keadaan tertentu (seperti dengan perjanjian, perbudakan, dll). Perbedaan dalam cara menghukumi keduanya dapat kita temui dalam kitab-kitab fiqh.