Rabu, 25 April 2018

TENTARA TEROR (DI YAMAN)

DABIQ 8 - LAPORAN

TENTARA TEROR (DI YAMAN)

Pada bulan ini, tentara Khilafah mengirim sebuah pesan keras kepada kamp kufur dan murtad, yaitu dengan menyerang dan meneror mereka di berbagai negeri. Dan itu dilakukan tanpa visa, perbatasan, dan paspor yang menghalanginya. Serangan dilakukan di Yaman dan Tunisia oleh para lelaki yang loyalitas mereka disandarkan kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, tidak kepada kewarganegaraan yang bathil. Mereka siap mengorbankan jiwa mereka karena Allah di negeri mereka sendiri, mengadakan pembantaian atas orang-orang kafir dan murtad dengan tidak membeda-bedakan di antara mereka dalam hal latar belakang nasionalisme.

Di kota Tunis, dua tentara Daulah Islam menyerang para turis kafir di Museum Nasional Bardo. Kedua mujahidin, yaitu Abu Zakariya At-Tunisi dan Abu Anas At-Tunisi, dikirim dengan suatu misi setelah dilatih bersama saudara-saudara mereka di Libya dan mendeklarasikan bai'at mereka kepada Khalifah hafizhahullah. Mereka kembali ke Tunisia, lalu dengan gagah berani mereka bergerak ke arah markas keamanan di Tunis, memasuki museum –terletak di seberang gedung Parlemen Tunisia– dan menebar teror kepada orang-orang kafir di dalamnya dengan membunuh lebih dari 20 orang di antaranya dan mencederai puluhan lainnya. Kemudian mereka berbalik menghadapi pasukan keamanan murtad lokal dengan menggunakan senapan serbu AK mereka, granat tangan, dan sabuk peledak, lalu terbunuh fi sabilillah.

Operasi sukses dengan membawa hasil berupa kemarahan sejumlah negara yang terlibat dalam koalisi salib (Italia, Perancis, Inggris, Jepang, Polandia, Australia, Spanyol, dan Belgia) setelah beberapa warganya menjadi sasaran tentara Daulah Islam.

Hanya dua hari kemudian, di Wilayah Shan'a empat tentara Daulah Islam mengadakan operasi istisyhad terkoordinasi dengan menyerang kelompok Houtsi murtad di kota Shan'a. Mereka menyusup ke dua kuil di mana orang-orang Houtsi berkumpul dan meledakkan bom, membunuh lebih dari seratus orang, termasuk ulama besar Rafidhah Murtadha Al-Mahatwari dan sejumlah pemimpin Houtsi serta melukai ratusan lainnya. Secara hampir bersamaan, mujahid kelima melaksanakan operasi di Sa'dah dengan menargetkan gedung pemerintah Houtsi dan meledakkan bom.

Hanya beberapa hari setelah operasi dilakukan, Amerika mengumumkan bahwa mereka telah menarik mundur pasukan khusus mereka yang terakhir di Yaman. Operasi ini membawa ingatan kembali kepada serangan penuh berkah yang diperintahkan oleh Syaikh Abu Mush'ab Az -Zarqawi rahimahullah, ketika menargetkan Rafidhah Iraq dan membunuh ulama mereka Muhammad Baqir Al-Hakim.

Tidak lama setelah operasi yang diberkahi di Shan'a dan Sa'dah ini, Al-Qa'idah cabang Yaman keluar dan memperlihatkan sikap muka dua dengan mencela serangan dan menegaskan kembali kesetiannya pada garis-garis besar Azh-Zhawahiri, seolah-olah menyiratkan bahwa operasi Daulah Islam dilakukan terhadap kaum Sunni di tempat umum dan tidak khusus bagi kaum Houtsi, padahal kenyataannya sebaliknya. Pada saat (yang sama) orang membandingkan operasi yang diberkahi ini dengan serangan Al-Qa'idah terhadap demonstrasi orang-orang Houtsi di Lapangan Tahrir di Shan'a akhir musim gugur, kemunafikan nyata menjadi jelas: apakah boleh bagi Al-Qa'idah –menurut garis-garis besar Azh-Zhawahiri yang lemah– membom unjuk rasa Houtsi di lapangan umum, tetapi haram bagi Daulah Islam untuk membom sebuah majelis Houtsi di kuil Houtsi? Atau apakah pembedaan ini didasari fanatisme yang buta?

Semoga Allah menerima semua mujahid yang berperang, membantai, dan meneror kuffar tanpa membeda-bedakan di antara mereka di bawah pengaruh irja' atau latar belakang nasionalisme.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar