Tampilkan postingan dengan label Perbincangan Musuh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perbincangan Musuh. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 April 2018

PERBINCANGAN MUSUH - DABIQ 15

DABIQ 15 - PERBINCANGAN MUSUH

DAULAH ISLAM DALAM PERBINCANGAN MUSUH

Sejak awal kontroversi Arian antara Trinitarian (trinitas) dengan Unitarian (ketunggalan Tuhan), kantor Paus Roma telah diisi oleh uskup-uskup yang menentang keras monoteisme. Kobaran Api ini dinyalakan kembali pada abad ketujuh (masehi), ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diutus dan menyatakan bahwa tidak ada yang layak untuk disembah kecuali hanya Allah dengan tanpa menyekutukan-Nya. Beberapa abad kemudian di Dewan Clermont, Paus Urbanus II membuat sudut pandang Gereja tentang Islam menjadi jelas. Yaitu ketika ia Mengklaim dirinya mendapat wahyu ilahi dan menyerukan untuk membinasakan semua Muslim yang menyebarkan hukum Allah dengan berkata, "Pada kesempatan ini, saya atau lebih tepatnya Tuhan, menasehatkan kamu sebagai pembawa kabar dari Kristus untuk mempublikasikan ini di manapun dan membujuk semua orang dengan pangkat apapun, baik tentara infantri maupun ksatria berkuda, miskin dan kaya, untuk segera membawa bantuan kepada orang-orang Kristen dan menghancurkan ras keji dari tanah teman kita." inilah perkataan yang meluncurkan Perang Salib, dan masih terus berlangsung hingga saat ini. Selama berabad-abad, Paus sesudahnya juga terang-terangan dan dengan keras mengakui tujuan mereka untuk memberantas Islam melalui perang dan pemurtadan, Paus Callixtus III pada abad ke-15 bersumpah "untuk membasmi habis-habisan sekte jahat dan terkutuk dari pengikut setia Muhammad [Islam] di Timur;" dan sebagaimana Eugene IV, pendahulunya yang menyatakan harapan bahwa "dengan segera akan banyak dari pengikut sekte keji Muhammad yang memeluk agama Katolik" (Dewan Basel pada 1434).

Selama terus berkecamuknya peperangan antara Islam dan Gereja pagan, dan juga ketakutan akan kehilangan pengikutnya yang memeluk Islam, beberapa pihak Kristen mulai mengatakan hal yang lebih tepat tentang musuh mereka dan tujuan Islam yang sesungguhnya, yaitu untuk menghancurkan sistem buatan manusia dan "kebebasan" yang rusak. Benediktus XVI misalnya - pendahulu Francis – menjelaskan bahwa demokrasi "bertentangan dengan esensi Islam yang tidak memiliki pemisahan antara ranah politik dan agama dimana hal ini telah dimiliki oleh kristen sejak awal" (Kebenaran dan Toleransi). Meskipun ia seorang pendusta, namun dia berkata tentang kebenaran dalam masalah ini – tidak diragukan lagi bahwa demokrasi bertentangan dengan esensi Islam – dan dengan cara demikian menunjukkan kemurtaddan (penyeru demokrasi) dari Islam, seperti sebagian besar "imam" di Barat dan mereka yang disebut guru di universitas "Islam" yang memiliki pemahaman lebih rendah dari kafir Benediktus tentang Islam.

Beberapa waktu kemudian, Benediktus berusaha melecehkan Islam lagi dengan mengejek Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tapi hal itu merupakan sesuatu yang sama dengan apa yang diserukan oleh sebagian besar nabi yang membawa Taurat, Zabur, dan Injil, yaitu perintah untuk menyebarkan agama dengan pedang*. Dengan demikian, Benediktus menghinakan perintah yang ditemukan didalam Perjanjian Lama dan baru untuk memerangi orang-orang musyrik dengan mengutip perkataan Manuel II Palaiologos, Kaisar Bizantium yang berkata: "Tunjukkan padaku bahwa apa yang dibawa Muhammad adalah hal baru, dan di sana Anda hanya akan menemukan hal-hal jahat dan tidak manusiawi, seperti perintah untuk menyebarkan agama dengan pedang dalam ajaran agamanya." agama Islam akan terus disebarkan dengan pedang, meskipun Benediktus membencinya. Semoga Allah menyingkap kejahatan dan kekejaman Benediktus dan membongkar aibnya didunia, yaitu alasan sebenarnya di balik skandal pengunduran dirinya dari paganisme Kepausan.

*Untuk membaca beberapa ayat dalam bibel / injil terkait kewajiban menyebarkan agama dengan pedang, silahkan merujuk artikel dengan judul “Dengan Pedang” pada edisi ini di halaman 78-80.

Meskipun dengan adanya kejelasan dari masa lalu dan kebusukan Paus terkait kebenciannya terhadap islam dan ajarannya, Francis, paus saat ini telah berjuang melawan kenyataan untuk mengiklankan penyimpangan (imam) murtaddin sebagai ajaran agama yang sebenarnya bagi umat Islam. Jadi ketika Benediktus dan banyak paus sebelumnya menekankan permusuhan antara paganisme Kristen dengan monotheisme (tauhid) Muslim, apa yang dikerjakan Francis sekarang ini lebih tajam dan memperjelas kata-kata konfrontatif yang akan menghinakan mereka yang dengan dusta mengklaim Islam, yaitu mereka (murtaddin) yang dapat memerankan peran sempurna sebagai alibi infiltrasi kristen ke negeri-negeri Muslim. Sementara Benediktus XVI menemui celaan publik karena mengutip perkataan dari seorang kaisar Bizantium berabad-abad lalu, Francis malah terus bersembunyi di balik tabir tipuan "perbuatan baik," demi menutupi niat yang sebenarnya untuk menenangkan bangsa Muslim. Hal ini dicontohkan dalam pernyataan Francis bahwa "rasa hormat kami kepada pengikut Islam yang sebenarnya, seharusnya membawa kita untuk menghindari generalisasi kebencian, Islam yang otentik dan menafsirkan Qur’an dengan tepat akan dapat melawan setiap bentuk kekerasan" (sukacita Injil).

Bagian dari pendekatan untuk menaklukan umat Islam dan menenangkannya yaitu berkoordinasi dengan lembaga terkenal seperti Universitas al-Azhar, sebuah institute Sufi Asy'ari yang dengan dusta diangkat sebagai wakil dari Muslim Sunni dari seluruh dunia. Metode ini merupakan upaya untuk membenarkan klaim sesat bahwa negara Muslim tidak memiliki pusat kewenangan - seperti dalam kekhalifahan - tapi ia "diatur" oleh beberapa ulama di universitas. Adnane Mokrani, seorang budak Gereja Katolik dari Tunisia mengomentari pelukan Francis kepada Ahmed el-Tayeb - pemimpin Universitas al-Azhar Kairo – dengan berkata, "Islam tidaklah seperti Gereja Katolik. Tidak ada satu pusat sentral kewewenangan dalam islam. Yang Ada hanyalah lembaga-lembaga, dan perguruan tinggi tradisional di dunia Islam." Sebaliknya, sejarah dan berbagai buku membantah pernyataan bodoh dan jelas bertujuan buruk ini. Setelah wafatnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam, para sahabatnya bersepakat bahwa hal yang paling penting yang dihadapi bangsa Muslim saat itu adalah menunjuk pemimpin berikutnya sebagai pusat wewenang. Mereka melakukannya dengan tepat waktu, dan wewenang itupun terus berjalan tak terputus selama ratusan tahun. Otoritas (pemegang wewenang) ini disebut dengan kekhalifahan, dan didirikan kembali pada "2014" melalui janji setia (bai’at) kepada Syaikh Abu Bakr al-Baghdadiy Hafizhahullah.

Disaat paus yang sebelumnya berbicara menentang Islam dikarenakan kenyataan yang mereka hadapi, serta berdasarkan permusuhan timbal balik antara paganisme Kristen dan monotheisme (tauhid) Muslim, paus yang sekarang - dan terutama Paus Francis - telah berusaha untuk melukis sebuah gambar persahabatan yang menghangatkan hati serta mengarahkan massa Muslim untuk pergi menjauh dari kewajiban jihad melawan kekafiran. Demi membantu Tentara Salib untuk mengambil hati muslim, el-Tayeb berkata kepada Francis, teman dekatnya: "orang ini adalah orang yang cinta damai, seorang pria yang mengikuti ajaran Kristen, yang merupakan agama cinta dan perdamaian ... seorang pria yang menghormati agama-agama lain dan menunjukkan perhatian kepada pengikut mereka “ (Radio Vatikan).

Dalam lapisan ini, tidak hanya pandangan sejarah Gereja tentang Islam yang Francis ubah dan disalahpahami. Setelah serangan Orlando oleh Omar Mateen Taqabbalahumullah, Francis mengatakan bahwa pelaku sodomi "tidak boleh didiskriminasi, dan mereka harus dihormati serta disertai bimbingan pastoral ... Masalahnya adalah seseorang dengan sebuah kondisi, yang memiliki niat baik untuk mencari Allah. Maka siapakah kita yang berhak menilai mereka?". Ia secara total telah mengabaikan doktrin Gerejanya sendiri dalam menilai homoseksual yang merupakan tindakan tak bermoral demi menyenangkan hati dan membenarkan tindakan menyimpang kaum sodom, sekali lagi Francis kembali mengesampingkan agama demi opini publik. Tetapi untuk benar-benar mengubah langkah sejarah dan ajaran Alkitab, Paus sekali lagi menyerukan umat Kristen untuk meminta maaf kepada sodomi atas kerugian yang menimpa mereka.

Sekarang sangatlah mungkin bahwa kepedulian Francis kepada pelaku sodom mencerminkan sejarah mereka dalam Kepausan, termasuk paus-paus sebelumnya: Benediktus IX, Julius II, Leo X, dan Julius III, serta pendeta Katolik yang tak terhitung jumlahnya - penyebutan ini identik dengan pemerkosaan terhadap anak laki-laki. Jika demikian, sebagaimana Paus merupakan representasi pengikut setianya, maka seseorang tanpa ragu lagi akan mengatakan bahwa ini adalah apa yang akan diterima oleh kekristenan. Bagaimanapun, itu akan menjadi lebih jelas saat - mengingat waktu komentar Paus tentang homoseksualitas, yang keluar dengan segera setelah serangan Orlando terhadap kaum salibis Sodom - ini adalah bagian dari misi kepausan untuk menggalang dukungan apapun yang memungkinkan, bahkan dari orang-orang kotor diantara banci sodom, dalam perang salib melawan bangsa Muslim pada umumnya dan Daulah Islam pada khususnya. Dengan demikian, Francis adalah mengambil rute yang telah dijalani oleh rekan-rekannya dari "ulama" murtadd di al-Azhar dan di Madinah, yaitu jalan untuk melupakan seruan yang jelas, berperang melawan kesyirikan dan orang-orangnya dalam seluruh Qur’an dan Sunnah - dan sebagai gantinya malah mengubah agama untuk dicocokkan dengan "agama" fantasi iblis yang jauh dari kebenaran, dan tentu saja jauh dari sebuah agama alami yang cenderung untuk dicari.

Ini adalah bagian dari sebuah rencana untuk men-demiliterisasi Islam, atau untuk menjelaskannya dengan lebih tepat yaitu untuk menghapus perintah Qur’an dan Sunnah yang dengan jelas memerintahkan untuk melancarkan jihad terhadap orang kafir sampai semua manusia dunia dikuasai oleh syari’at. Ini tidak beda dengan Lawrence Franklin, seorang mata-mata Israil yang bekerja kepada pemerintah Amerika Serikat ketika memberi saran Paus bahwa ia harus "menantang para pemimpin lembaga Islam untuk mereformasi dan membasmi justifikasi teologis demi melakukan kekerasan dan intoleran."

Hal ini juga diamini oleh William Kilpatrick, mantan dosen di universitas Boston di sebuah lembaga Jesuit, yang menyerukan surat ensiklik dari Paus untuk umat globalnya dan menjelaskan bahaya Islam itu sendiri - dan ini bukan hanya sebuah versi "buruk" atau "radikal" saja. Kilpatrick mengakui taktik penyesuaian diri Francis dalam meremehkan peran sebenarnya dari pedang dalam ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam, tetapi ia juga menyadari bahwa semakin banyak orang kafir dan murtadd yang mencoba untuk menghapus aspek Islam dari agama, maka semakin banyak orang taat yang menjauh dari apa yang biasa disebut "mainstream" dan menuju Daulah Islam, Daulah yang merepresentasikan seruan global asli dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam. Dan menjadi Alasan langsung tentang ancaman Islam secara keseluruhan - yang ia klaim adalah agama "1,6 miliar orang" – dan ini teringkas dalam kata-kata Kilpatrick, "Dan alasan kita harus mengkritik berkembang pesat dan agresifnya da'wah iman ini adalah bahwa jika kita tidak (menghentikannya), mungkin akan segera menjadi iman 7,6 miliar orang – atau dapat dikatakan : seluruh penduduk planet ini."

PERBINCANGAN MUSUH - DABIQ 14

DABIQ 14 - PERBINCANGAN MUSUH

DAULAH ISLAM DALAM PERBINCANGAN MUSUH

Pada "29 Januari 2016," Ban Ki-moon -thaghut dari cabang "PBB"- merilis sebuah laporan yang panjang terkait kebangkitan kembali Khilafah. Didalamnya dia mengatakan:

"Laporan ini diajukan ... untuk memberikan sebuah laporan strategis tahap awal yang menunjukkan dan mencerminkan tingkat bahaya akan ancaman terhadap perdamaian dan keamanan internasional oleh Negara Islam ..."

"Dalam waktu kurang dari dua tahun , ISIL telah menguasai sebagian besar wilayah baik di Iraq dan Suriah, dan mengelola-nya melalui sistem yang canggih dengan struktur pendapatan pajak kuasi-birokrasi yang cukup flexibel dan beragam untuk mengkompensasi penurunan pendapatan dari satu aliran pendapatan ... mereka menggunakan sumber daya keuangan untuk mendukung kampanye militer yang sedang berlangsung, mengelola wilayah dan mendanai perluasan konflik di luar Iraq dan Suriah, dan telah mengembangkan strategi komunikasi yang sangat canggih dan efektif untuk memastikan bahwa... sudut pandang dunia beresonansi dengan ... pertumbuhan jumlah akan ... individu ... "

"Meskipun upaya masyarakat internasional untuk melawan ISIL melalui operasi militer, keuangan dan pengetatan keamanan perbatasan ... ISIL tetap terus mempertahankan eksistensinya di Iraq dan Suriah. Mereka juga memperluas ruang lingkup operasinya ke daerah lain. serangan teroris yang dilakukan di bulan-bulan terakhir tahun 2015 menunjukkan bahwa mereka mampu melakukan serangan terhadap ... target diluar wilayah yang mereka kontrol. Luasnya jangkauan khususnya ditunjukkan dengan adanya bom bunuh diri di Beirut pada 12 November 2015, serangan terkoordinasi di Paris pada 13 November 2015 dan serangan di Jakarta oleh afiliasi ISIL pada 14 Januari 2016 yang sangat menyerupai dengan serangan Paris... "

"Ekspansi terbaru dari lingkup ISIL telah mencapai Afrika Barat dan Utara, Timur Tengah serta Asia Selatan dan Tenggara dimana hal ini menunjukkan kecepatan dan skala di mana tingkat ancaman telah berevolusi hanya dalam 18 bulan. Kompleksitas serangan baru-baru ini dan tingkat perencanaan, koordinasi dan kecanggihan yang kasat mata telah menambah keprihatinan tentang evolusi-nya lagi di masa depan. Selain itu, kelompok-kelompok teroris lainnya ... cukup tertarik dengan ideologi dan mendasarinya untuk berbaiat kepada apa yang mereka sebut dengan khilafah dan yang memproklamirkan dirinya sebagai Khalifah. ISIL juga mendapatkan keuntungan dari kedatangan aliran pejuang teroris asing yang terus meninggalkan komunitas mereka untuk mengisi barisanya. Kembalinya para petempur dari medan perang Iraq dan Suriah dan wilayah konflik lainnya akan menjadi perhatian utama kedepannya, karena mereka yang kembali akan memperluas kehadiran ISIL ke Negara asal mereka dan menggunakan keterampilan dan pengalaman perang mereka untuk merekrut simpatisan baru lalu membangun jaringan teroris dan melakukan aksi teroris ... "

Laporan itu kemudian melanjutkan dengan rinci bagaimana Khilafah menerapkan syariat zakat, da’wah, jihad, jizyah, hisbah, perbudakan dan hudud –namun menyebut semua hukum ini dengan kalimat pelecehan- dan bagaimana syari'at ini dapat menimbulkan ancaman terhadap "perdamaian dan keamanan internasional" alias "tatanan dunia baru." Alih-alih menyerah dengan menyadari bahwa Khilafah di sini akan tetap ada dan akan terus berkuasa dengan syari'at dan meneror musuh-musuhnya, ia malah merekomendasikan kepada thawaghit cabang "PBB" sebagai berikut:

"Resolusi konflik yang sedang berlangsung, termasuk konflik Suriah akan berdampak langsung pada kontrol kekuatan di balik perekrutan pejuang teroris asing oleh ISIL ... demi menyambut ancaman serius yang ditimbulkan oleh ISIL, termasuk masuknya teroris asing ke Iraq dan Suriah dan aktifitas pendanaan ekstensif ISIL, adalah penting untuk mengidentifikasi resolusi politik untuk konflik Suriah. Proses ini akan membutuhkan komitmen internasional yang berkelanjutan dan efektif serta implementasi dari resolusi Dewan Keamanan 2254 (2015), yang menetapkan jalan menuju negosiasi intra-Suriah secara resmi pada proses transisi politik sesuai dengan kesepakatan Genewa tahun 2012 akan gencatan senjata nasional secara paralel."

Dengan demikian, setelah Konferensi Riyadh dari thaghut Saudi, disimpulkan bahwa Nushairiyah dan sekutu ateis mereka dari Angkatan bersenjata demokratis Suriah - dengan dukungan dan persetujuan Rusia dan Amerika – di-“Blitzkrieg” di daerah yang dipegang oleh Shahawat murtadd, pengambilan banyak kota-kota besar dan kota kecil melalui "negosiasi" dengan para pemimpin Shahawat yang merupakan bagian dari konspirasi untuk mencapai "resolusi politik untuk konflik Suriah."

Bukankah ini adalah waktu yang tepat bagi tentara Shahawat naif untuk menyadari rencana jahat di mana mereka mengabdi, lalu bertobat dari kemurtadan mereka dan bergabung dengan barisan Khilafah?

PERBINCANGAN MUSUH - DABIQ 13

DABIQ 13 - PERBINCANGAN MUSUH

DAULAH ISLAM DALAM PERBINCANGAN MUSUH

Pada sebuah edisi majalah "TIME" yang dirilis tidak lama setelah serangan Paris yang diberkahi, Michael Morell -mantan wakil direktur CIA yang juga dua kali menjabat direktur operasinya- menulis sebuah artikel berjudul "Apa Yang Akan Datang Selanjutnya, Dan Bagaimana Kita Menanganinya? ISIS Akan Menyerang Amerika."

Meskipun ada kesalahan fatal pada judul tersebut -karena kesatria Daulah Islam telah berulang kali menyerang Amerika sebelum majalah itu dirilis, termasuk serangan yang dilakukan oleh syuhada Usama Rahim, Zale Thompson, Elton Simpson, Nadir Soofi, dan lainnya, semoga Allah menerima mereka semua, kami sajikan artikel tersebut di bawah ini.

Kekhawatiran Morell segera terjawab dengan cepat oleh dua pahlawan pemberani Khilafah: suami istri yang syahid, Syed Rizwan Farook dan Tashfeen Malik, semoga Allah menerima mereka berdua.

Ya memang, Daulah Islam telah sekali lagi menyerang Amerika di negaranya sendiri.

Meskipun demikian, salibis Michael Morell menyebutkan kata-kata berikut ini dalam artikelnya:

"ISIS menjadi ancaman besar bagi Amerika Serikat dan kepentingannya di luar negeri, dan ancaman itu tumbuh setiap hari. Sifat dan makna ancaman berasal dari fakta bahwa ISIS adalah -semua pada saat yang sama- kelompok teroris, negara dan gerakan revolusi politik. Kami tidak pernah menghadapi musuh seperti ini."

"Sebagai kelompok teroris, ISIS menjadi ancaman bagi tanah air. Ancaman itu sebagian besar tidak langsung dan disebabkan kemampuan ISIS meradikalisasi pemuda Amerika untuk melakukan serangan di sini. FBI memiliki lebih dari 900 penyelidikan terbuka terhadap ekstrimis dalam negeri, sebagian besar diradikalisasi oleh ISIS, dan sejumlah besar investigasi itu tentang mereka yang mungkin merencanakan makar di sini..."

"Ada potensi jumlah serangan (dalam negeri) berjumlah besar. Banyaknya jumlah pengikut ISIS membuat jumlah pengikut al-Qaeda terlihat kecil. Seiring waktu, ancaman tidak langsung, jika tidak dikurangi secara signifikan, akan berubah menjadi ancaman langsung, yaitu ISIS akan memiliki kemampuan untuk merencanakan dan memerintahkan serangan-serangan dalam negeri ini dari basisnya di Iraq dan Suriah, seperti yang mereka lakukan di Paris."

"Serangan seperti itu harus diperhatikan secara mendalam karena mereka berpotensi menjadi jauh lebih canggih dan kompleks -sehingga lebih berbahaya- daripada serangan dari dalam negeri, sekali lagi, seperti di Paris baru-baru ini, London tahun 2005 atau bahkan 9/11. Dan tertera dalam berita, yang harus diperhatian semua orang, ISIS telah menunjukkan minat kepada senjata pemusnah massal."

"Serangan di Paris adalah wujud pertama dari upaya ISIS untuk mengumpulkan kemampuan menyerang Eropa - upaya yang dimulai kurang dari setahun yang lalu. Kepala agen keamanan domestik Inggris baru-baru ini memperingatkan bahwa ISIS sedang merencanakan serangan massal di Inggris. Kekhawatirannya cukup beralasan. Kami tidak akan jauh di belakang."

"Sebagai negara, ISIS mengancam stabilitas regional - sebuah ancaman bagi integritas wilayah negara dan bangsa saat ini, sebuah ancaman akan berkobarnya perang sektarian di seluruh wilayah..."

"Sebagai gerakan revolusi politik, ISIS mendapat sekutu- sekutu dari kelompok ekstremis di seluruh dunia. Mereka bersepakat atas apa yang menjadi tujuan ISIS: sebuah khilafah global di mana kehidupan sehari-hari diatur oleh pandangan agama yang ekstrim. Menurut ISIS, kekhalifahan global akan meluas hingga Amerika Serikat."

"Ketika mereka bergabung dengan ISIS, afiliasi/sekutu tersebut berkembang dari berfokus pada isu-isu lokal menjadi berfokus pada perluasaan kekhalifahan. Dan target mereka berubah dari lokal menjadi internasional. Ini adalah kisah pemboman maskapai Rusia oleh kelompok ISIS di Sinai Mesir."

"ISIS telah mendapatkan afiliasi lebih cepat dari yang pernah didapat al-Qaeda. Sejak kurang dari setahun yang lalu, sekarang kelompok-kelompok militan yang berbai'at kepada ISIS di hampir 20 negara. Mereka telah melakukan serangan yang membunuh orang Amerika, dan mereka berpotensi untuk merebut wilayah yang besar..."

Morell mengakhiri artikel dengan mengatakan:

"Pak Presiden, jatuhnya pesawat Rusia dan serangan di Paris membuatnya sejelas kristal bahwa strategi kita terhadap ISIS tidak bekerja."

Ya, strategi salibis tidak bekerja karena Daulah Islam akan tetap eksis. Ini adalah negara yang melakukan teror pembalasan terhadap musuh-musuhnya yang kafir, musyrik, dan murtad. Dan ia akan terus meluas sampai panjinya berkibar di atas Konstantinopel dan Roma. Sampai saat itu, biarkan tentara salib terbiasa dengan suara ledakan dan gambar dari pembantaian di tanah air mereka sendiri.

PERBINCANGAN MUSUH - DABIQ 12

DABIQ 12 - PERBINCANGAN MUSUH

DAULAH ISLAM DALAM PERBINCANGAN MUSUH

Pada tanggal 25 Dzul Qa'dah-1436, Abu Firas as-Suri – mantan Juru bicara resmi Jabhah Jaulani, dan saat ini menjabat sebagai Pemimpin Jabhah Jaulani serta kepala "dewan syar'i-nya"– menerbitkan sebuah artikel yang mengekspos penyimpangan dari sekutu Jabhah Jaulani dan ini berarti penyimpangan dirinya beserta kelompoknya juga. Dalam artikelnya Dia memberi judul : "Saya pemberi peringatan yang terbuka" Meskipun ia mengkritik faksi-faksi secara umum, tetapi kritik utamanya terfokus pada "Ahrar Asy-Syam." Berikut ini adalah kutipan dari artikelnya yang panjang:

"Mereka mengelabui orang-orang dan berkata, 'Sebuah proyek untuk umat .' Kemudian mereka menafsirkan ini kapanpun mereka butuhkan sebagai sebuah proyek untuk Suriah saja, yang hanya meliputi tanah dan Revolusinya saja... permainan kata-kata ini merupakan upaya untuk mempercantik proposal dari orang-orang kafir dan murtad. Sang Samma'in (pendengar setia orang-orang kafir) melakukan hal ini agar tawaran proposal dari kuffar dapat disulap menjadi proposal yang Islami melalui diri mereka. Mereka mempercantik proposal dan menawarkannya seolah-olah proposal itu buatan mereka sendiri, padahal kenyataannya mereka bukanlah apa-apa kecuali hanya utusan dari orang murtad, atau dalam kasus terbaik, mereka adalah beo yang hanya mengulang usulan dari orang-orang munafik dan murtad yang menggunakan sifat samma'in ini sebagai bagian dari perang melawan Islam ... Proyek-proyek kufur tidak akan bisa menyusup kedalam barisan kami kecuali melalui samma'in ini, dan bukannya melalui jajaran sekularis murtad, kaum liberal ateis, atau pendukung-pendukung mereka ... "

"Saya akan menyebutkan beberapa sifat mereka di masa ini ... meskipun kejadian ini tidaklah terjadi pada setiap faksi dan mereka belum tentu memiliki semua ciri-ciri ini:
1) Mereka mempercantik dan menyebarkan prinsip-prinsip orang-orang kafir termasuk nasionalisme, hak asasi manusia, dan hak-hak minoritas.
2) Mereka menyanjung kelompok murtad dan mengklaim bahwa mujahidin menindas mereka.
3) Mereka meminta para mujahidin dan orang-orang murtad untuk berhukum kepada mereka dan seakan-akan dua pihak ini kedudukannya sama.
4) Mereka mengumumkan menerima orang-orang kafir sebagai pemimpin bagi wilayah-wilayahnya. Lalu mereka bekerja sama dengan mereka, menyambut mereka, dan mengikuti perintah mereka.
5) Mereka menjaga dan membenarkan perbatasan yang dibuat oleh tentara salib dan keturunan babi.
6) Mereka secara implisit dan eksplisit memfitnah mujahidin. Mereka bersekutu dengan setiap orang rendahan dan kelompok murtad, kemudian memberikan perlindungan kepada mereka karena takut tangan mujahidin dapat menjangkau mereka.
7) Mereka menuduh orang-orang mukmin sebagai ekstremis dan kurangnya kebaikan padanya. mereka juga berfatwa bahwa tidak boleh berjihad bersama mereka.
8) Mereka menggambarkan pengecut yang menerima kekalahan sebagai seorang moderat.
9) Mereka menyatakan loyalitas / kesetiaan mereka kepada hukum internasional.
10) Mereka bersekutu dengan musuh-musuh jihad dan mereka yang menerima bantuan keuangan dari orang-orang kafir dan agresor.
11) Mereka meminta dukungan dan bantuan dari orang-orang kafir dan murtad.
12) Mereka menutup mata terhadap kejahatan orang-orang murtad dan kafir, sedangkan mereka mencari-cari kesalahan para mujahidin.
13) Mereka membutakan mata, menutup telinga, dan mengunci mulut mereka terhadap musuh dari orang-orang kafir dan murtad, sedangkan mereka memiliki lidah yang tajam terhadap orang-orang yang beriman dan berjihad.
14) Mereka melemparkan label yang buruk kepada Mujahidin. Mereka menyebutnya sebagai wajah lain dari negara Khawarij, kelompok sesat dan penyebar teror, sedangkan deskripsi itu lebih layak untuk diri mereka sendiri atas penyimpangan dan jauhnya mereka dari kenyataan dan kebenaran.
15) Mereka menyatakan Bara'ah kepada faham salafi jihadi.
16) Mereka menggambarkan mujahidin sebagai Khawarij, ekstrimis, dan koruptor. Serta mereka mengibaskan ekornya (mengambil hati) didepan orang-orang murtad.
17) Mereka menyebut Thawaghit dengan “waliyul amr “ ('orang-orang yang diberi otoritas '). Tapi ini adalah sebuah kebohongan, kesesatan, dan kepalsuan.
18) Mereka melarang tersebarnya jihad kepada setiap Muslim dan menafsirkan Ummah itu hanya sebatas di Suriah, ditanah Suriah dan di Negara Suriah saja!
19) Jika seorang kafir atau Thaghut mati, mereka buru-buru untuk berbelasungkawa dan meneteskan air mata di atasnya. Serta mereka mendukung perangnya, padahal itu bukanlah jihad fie sabilillah.
20) Mereka menyebut mujahidin sebagai 'takfiriyin' (yang mudah mengkafirkan) hanya karena Mujahidin menyatakan takfir kepada salibis, orang-orang Yahudi, zanadiqah (orang-orang zindik), dan murtadin.
21) Mereka menyambut kerjasama dari negara kafir dan murtad.
22) Mereka mengikuti dan menyeru dengan kuat faham regionalisme (sistem perdagangan internasional), seolah-olah garis batas negara Sykes-Picot itu sesuatu yang suci lagi keramat.
23) Mereka menyeru kepada Negara yang berdasarkan keadilan, hukum, dan kebebasan, itu karena mereka malu dengan Negara yang berdasarkan Islam .
24) Mereka berusaha untuk menjamin keselamatan bagi semua sekte kufur, murtad, dan bid'ah, agar sekte ini dan kepala kekufuran (Amerika) menyetujui faksi-faksi ini.
25) Mereka mengumumkan rasa hormat dan ketundukan mereka kepada pakta (perjanjian internasional) hak asasi manusia.
26) Mereka malu dengan kata 'jihad,' lalu menggantinya dengan 'revolusi,' 'revolusioner,' dan 'aksi revolusioner.'
27) Mereka berjanji untuk tidak memiliki atau berusaha memperoleh senjata pemusnah massal, hanya untuk menenangkan Israel.
28) Mereka mengumumkan bahwa operasi mereka dibatasi di tanah Suriah saja, hanya untuk menenangkan orang-orang Yahudi.
29) Mereka meminta Amerika untuk menggunakannya sementara mereka tidak takut bahwa Allah akan mengganti mereka ... Ini adalah beberapa ciri-ciri mereka. Dan masalah ini akan menimbulkan bencana dan malapetaka yang bahkan akan terus meluas ... "

"Mereka mencoba untuk merayu para mujahidin untuk menerima ketentuan yang dirumuskan di pondok iblis. Iblis kemudian memoles dengan riasan yang sesuai dan memberikan ketentuan tersebut kepada samma'in agar mereka bisa mempromosikannya. Di antara tuntutan yang mereka buat yang sesuai dengan keinginan setan dan wakilnya adalah: ... bahwa operasi hanya dijalankan oleh orang Suriah asli saja dan para Muhajirin harus diusir. Mereka juga menolak untuk mengecam pakta (perjanjian internasional) yang mereka rilis sebelumnya, mereka melakukannya sebagai pelayanan kepada setan dan wakil-wakilnya".

"Mari kita membahas tuntutan tersebut dari beberapa sudut. Siapa sebenarnya yang meminta ketentuan ini? Apakah tuntutan ini berasal dari samma'in ataukah aparat intelijen dari rezim murtad yang berada dibalik samma'in ini, ataukah aparat ini bekerja sama dengan samma'in? "

"Dari pakta (perjanjian internasional) yang telah diumumkan sebelumnya oleh samma'in ini - perjanjian yang baru saja mereka nyatakan untuk melanjutkan komitmen mereka dan penolakan untuk tidak mengakuinya- adalah perjanjian yang diterbitkan karena instruksi dari Turki dan Qatar, yang dihasilkan dari permintaan barat. Samma'in sendiri mengakui hal ini didepan Kehadiran banyak pemimpin Mujahidin, dan saya berada di antara mereka. Ini menjadi jelas bahwa deklarasi dan tuntutan samma'in ini tidak lain hanyalah sebuah pelaksanaan tuntutan dari negara-negara murtad, yang dibelakang mereka merupakan pusat kekufuran dan freemasonry internasional. Jadi tuntutan samma'in ini tidak lain hanyalah sebuah tuntutan dari murtadin dan pelaksanaan permintaan ini juga dilakukan dalam ketaatan kepada murtadin, dan menjadikan mereka sejalan dalam barisan mereka. Dapatkah hal ini diterima oleh seseorang yang hatinya telah tersentuh oleh Iman atau yang telah mencicipi ketaatan kepada Allah?"

"Dan apakah tuntutan ini sesuai dengan syari’ah atau malah bertentangan dengannya ?
1) Tidak ada keraguan bahwa mereka menentang syari’ah dari berbagai sudut ...penyatuan barisan itu tidaklah dilihat oleh mereka kecuali melalui sudut pandang ayam. Mereka melihat Suriah seakan akan itu seperti terjadi diseluruh dunia ... Mereka kemudian menyatukan diri dengan orang-orang dari ruang “kerjasama operasi Militer” Amerika, para pengikut Amerika, tentara Iblis, dan semua orang yang mewarisi keinginan setan.
2) Menerima ketentuan dari samma'in berarti menyetujui atau bahkan mengambil bagian dalam hubungannya dan penerimaan mereka instruksi dari negara-negara murtad, dan ini adalah Manaat .
3) Menerima ketentuan dari samma'in berarti menyetujui pencarian bantuan mereka dari orang-orang kafir, dan ini tidak diperbolehkan menurut syari'at.
4) Menerima ketentuan dari samma'in berarti menyetujui pelarangan meraka akan jihad ke tanah Suriah, yang menjadi sebuah pesan untuk membuat tenang orang-orang Yahudi. Dan Ini tidak diperbolehkan menurut Syari'ah, dan merupakan bentuk regionalisme busuk.
5) Menerima ketentuan dari samma'in berarti menyetujui pengamanan mereka atas murtadin dan sekte-sekte sesat, dan ini juga merupakan sebuah Manaat.
6) Bencana yang tersisa yang ditemukan di pakta (perjanjian internasional) mereka termasuk perjuangan untuk mendirikan negara yang ber-asas-kan keadilan, kebebasan, dan hukum, dan penyimpangan lainnya, hal ini tidaklah tersembunyi dari siapa pun bahkan jika ia hanya seorang awam dalam hal syari'at."

Dia (abu firas as suri) kemudian menggambarkan mereka (samma'in) sebagai "sekutu yang keputusannya berada ditangan rezim murtad" dan mereka yang "bersekutu dengan rezim murtad dan sekutunya”. Mereka menyebut dengan terang-terangan apa yang dituntut dari mereka oleh orang-orang kafir dan murtad. Persekutuan ini dengan sifat-sifat seperti ini akan menggiring jabhah (jabhah jaulani) kearah kamp pengkhianatan. Dan jika jabhah menolak untuk mengambil bagian dalam pengkhianatan samma'in ini, maka itu tidak akan dapat mengembalikanya ke tempat semula, sehingga akan membawa akhir bagi dirinya sendiri ..."

Dia melanjutkan dengan mengatakan, "Mungkin beberapa penipu dan pemain sirkus dari jabhah berpikir bahwa kemampuan mereka sangatlah hebat dan mereka mampu untuk mengelabui samma'in dan mentolerir mereka. Tapi saya dapat mengatakan bahwa ide ini sangat mirip dengan ide Ikhwan yang ingin mengelabui Amerika, dan samma'in bukanlah pemain di depan jabhah, mereka sesungguhnya adalah pengantin di panggung pengantin yang digerakkan oleh benang yang berada ditangan Amerika, kepala poros kejahatan, yang mewakili koalisi tentara salibis-Zionis dan orang-orang yang ikuti kafilah ini dari rezim murtad, Mossad, dan semua kekuatan kufur yang telah menyatakan perang terhadap islam. Saya tahu bahwa pendapat penipu tidaklah seperti ini dan saya juga tahu bahwa mereka terus memperkIraqan yang terbaik dalam samma'in. Dengan sangat menyesal Saya katakan bahwa orang-orang ini sangat-sangat sedikit. Alhamdulillah. Mereka berada dalam khayalan yang jauh, menyimpang melalui kepalsuan dan diabadikan dalam kesesatan."

"Samma'in mengumumkan dan terus mengumumkan bahwa mereka tidak akan pernah meninggalkan setiap dukungan yang datang kepada mereka dari negara-negara murtad. Jadi ketika jabhah bersatu dengan mereka dalam satu tubuh, apa yang berlaku untuk mereka berlaku juga untuknya, termasuk pencarian bantuan dari orang-orang kafir dan ketundukan akan ketetapan mereka. Dan Ini bertentangan dengan ajaran-agama..."

"Secara singkatnya, samma'in adalah seperti seorang gadis yang kehilangan keperawanannya karena menjalin hubungan Haram dengan rezim murtad dibelakangnya. Dia membuat marah setiap wanita yang menjaga kehormatannya, kesuciannya, prinsipnya, dan agamanya, dan bukannya dia bertobat kepada Allah, dia malah ingin menjerat setiap wanita suci agar mereka seperti dia yang terjerumus dalam kehinaan. Allah ta’ala berfirman, “Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah” (An-Nisa ': 89) ... "

"Beberapa dari mereka yang terbakar hatinya bertanya, kemana panggung jihad ini akan diarahkan dan mereka juga mengharapkan konflik militer dengan samma'in ini ... saya katakan, ya, kondisi ini berbahaya. kondisi di arena juga berbahaya ... Adapun masalah dari konflik dengan samma'in, maka saya memohon kepada Allah agar tidak mencapai taraf itu, dan kami bersiap untuk menerima samma'in yang ingin kembali kepada kebenaran. Akan tetapi, hal ini sangatlah sulit…"

"Apa perbedaan antara kelompok samma'in dengan harakah Hazm serta Jamal Ma'ruf? Perlu diingat bahwa mereka memberikan perlindungan kepada harakah Hazm dan ma'ruf setelah kami terlibat konflik dengan mereka. Apa perbedaan antara kelompok dari samma'in dengan Zinki dan Zahran 'Allush? Perlu diingat bahwa samma'in terhubung dengan 'Allush melalui koalisi dan juga berusaha untuk membentuk koalisi dengan Zinki! mereka Semua mengumpulkan uang dari luar negri. mereka semua mengikuti agenda dan arahan dari luar. Dan ketika samma'in bersekutu dengan orang-orang seperti ini, maka hal ini berarti bahwa tidak ada perbedaan diantara mereka. Dan ketika samma'in mencela tindakan jabhah terhadap Jamal Ma'ruf dan Hazm, ini berarti mereka berada di kamp yang lain. Dan ketika mereka mengambil senjata dari kelompok jamal ma'ruf, mereka mengklaim bahwa ada bay'ah rahasia dari grup jamal Ma'ruf kepada mereka, yang membuat mereka melindunginya dari jabhah, ini berarti mereka berada di barisan yang lain. "

"Hazm, Jamal Ma'ruf, samma'in, Zinki, dan orang-orang seperti mereka itu terhubung kepada agenda asing. Mereka semua menerima bantuan dari pemerintah murtad dan kufur. Samma'in memberi perlerlindungan kepada Ma'ruf dan Hazm dari kami. mereka Semua menjalankan apa yang telah didiktekan kepada mereka. Tapi majikan mereka semua belumlah meminta dari samma'in apa yang telah dimintanya kepada Hazm dan ma'ruf. Permisalan mereka adalah seperti ulama Thaghut ... Apa yang dituntut dari Thaghut di Suriah dan Thaghut dari Mesir dari mufti mereka, tidaklah berbeda dengan apa yang dituntut oleh Thaghut Saudi pada awalnya. Dan disinilah para ulama Saudi tampil dengan dandanan yang mudah diterima. Tapi ketika Thaghut Saudi menuntut dari ulama mereka dengan tuntutan yang sama dengan Thawaghit lainnya, mereka memberikan segala sesuatu apa yang diperlukan oleh mereka ... tentu saja, mereka melakukannya dengan cara yang lebih berbahaya. Inilah perbedaan yang tepat diantara samma'in dan antara Hazm serta ma'ruf. Semua pergerakan mereka hanya untuk mengumpulkan uang - sepanjang sejarah, hari ini dan abad ini – untuk menuruti kemauan majikan mereka dan menjalankan perintah dan tututan mereka. Mereka akan tetap menjadi budak bagi orang-orang yang membayar mereka."

Dia kemudian menutup artikelnya dengan sajak di mana ia mendedikasikannya kepada faksi yang berperan sebagai "duta besar dari orang-orang Yahudi dan tentara salib yang merayu kesucian dan kemurnian rakyat. Duta besar ini menggerakkan misi kufur kepada kami seraya menampakkan kecintaan untuk tanah Syam... Mereka hanyalah utusan dari musuh dan pasukan dari aparat murtad."

Artikel ini kemudian ditanggapi secara tertulis oleh "Ideolog" Shahawat, Abu Qatadah al-Filistini dan Shahawat pembohong Abu 'Abdillah Asy-Syami (pemimpin teratas Jabhah Jaulani), keduanya mengkritik Abu Firas atas kritik terbuka kepada "Ahrar Asy-Syam." Kemudian Abu Firas menanggapinya dengan menulis Artikel berjudul "orang-orang yang merugi." Di dalamnya ia berkata, "Siapa saja yang membaca respon dari saudara saya Abu 'Abdillah Asy-Syami akan mendapat kesan bahwa Abu 'Abdillah hanya membaca artikel saya ini secara online dan tidak mengetahui isinya sebelum publikasinya! Padahal kenyataaanya adalah bahwa saya telah menunjukkan artikel ini kepada sadaraku Abu 'Abdillah Asy-Syami dua bulan sebelum aku mempublikasikannya. Dan dia memuji tulisanku ini... Jadi kenapa dia menyetujui dan memuji artikelku itu yang kemudian hanya untuk dikecamnya? Apakah pernyataan kecamannya itu sebuah pendapat yang independen yang ia capai setelahnya, atau adakah tekanan pada saudara kita Abu 'Abdillah Asy-Syami ? Apakah ia ditekan dengan sangat hebat? Hanya Allah yang maha mengetahuinya. "

Abu Firas kemudian mengkritik Abu 'Abdillah Asy-Syami atas ketidak peduliaannya pada pernyataan terang-terangan dari penyimpangan yang dilakukan oleh Abu 'abdil-Malik "asy-syar'i, " Abu Yazan Asy-Syami, Abu Ayman al-Hamwi, Abu Sariyah Asy-Syami (semuanya adalah mantan pemimpin "Ahrar Asy-Syam yang telah mati"), dan Abu Jabir asy-Syaikh (mantan pemimpin "Ahrar Asy-Syam"), termasuk pengingkaran mereka akan jihad internasional, kesiapan mereka untuk bekerja sama dengan dan bahkan berperang bersama negara-negara kafir dan rezim murtad, perlindungan mereka kepada sekte sesat, panggilan mereka kepada Negara keadilan, hukum, dan kebebasan, keinginan mereka untuk mendukung negara murtad dalam perang lain, dukungan mereka terhadap intervensi Turki di Syam, dan keinginan mereka untuk bersatu dengan agen kekufuran dan musuh-musuh Islam. Dan setelah mengutipnya, dia berkata, "pendapat saya pada samma'in ini didasarkan pada fakta-fakta. Dan sebelumnya saya telah menyeleksi Anda dari fakta-fakta ini. Kata-kata saya tidaklah berdasarkan pada persangkaan belaka."

Tentu saja, pembatalan pendirian dari Abu 'Abdillah Asy-Syami ini bukanlah hal yang baru, sebagaimana sebelumnya dia melabeli "Ahrar asy-Syam" sebagai "Hamas masa depan" (mengacu pada metodologi sesat dari Hamas dan pemerintahan mereka yang menggunakan hukum buatan manusia). Dan meskipun Abu 'Abdillah mengkritik Abu Firas, ia sendiri telah membuat pernyataan yang mirip meskipun kurang eksplisit tentang faksi Suriah dalam tanggapannya untuk at-Tartusi dan wawancaranya dengan "Al-Manarah al-Bayda '." Pemimpin-Nya -Jaulani- telah menyebut "Ahrar Asy-Syam" sebagai "yang Shahawat masa depan" dan mengkritik faksi ini karena menerima bantuan dari tentara salib dan Thawaghit karena tidak ada satupun bantuan tanpa syarat, sebagaimana ia sendiri telah menyatakannya dalam interview dengan Al Jazeera.

Apa yang kita lihat di depan kita ini adalah tanda-tanda utama dari runtuhnya dari Jabhah Jaulani. Dimana Pemimpin puncaknya telah mempublikasikan dan mencela penyimpangan ekstrim dari sekutu terdekat mereka, saling mengkritik satu sama lain, dan saling menuduh sebagai pembohong, tidak mematuhi perintah, dan tidak menghormati atau mematuhi syura. Mereka memuji Shahawat lainnya, dan takut mereka mungkin akan berubah seperti mereka, setelah melayani mereka dalam pengkhianatan mereka terhadap Daulah Islam. Mereka meng-ekspos kenyataan Shahawat lainnya, yaitu bahwa mereka adalah agen dari tentara salib dan Thawaghit, hal ini menunjukkan bahwa Jabhah Jaulani mengetahui ini semua setelah melewati hubungan yang dekat bersama mereka dan dalam pertemuan tertutup dengan para pemimpin Shahawat. Tapi karena para pengklaim jihad ini berfaham 'Irja', maka berbagai bentuk kemurtadan yang sekutu mereka telah jatuh ke dalamnya tidaklah pantas untuk di takfir atau diperangi menurut mereka! hingga mereka bekerja sama dengan sekutu murtad ini dalam memerangi Daulah Islam, dan menenggelamkan diri mereka sendiri di kedalaman kemurtadan.

Semoga Allah terus mengekspos kemurtadan Shahawat, termasuk Jabhah Jaulani, hingga tidak ada lagi keraguan walau sebesar biji sawi tentang mereka di hati kaum Muslimin.

PERBINCANGAN MUSUH - DABIQ 11

DABIQ 11 - PERBINCANGAN MUSUH

DAULAH ISLAM DALAM PERBINCANGAN MUSUH

Pada tanggal 8 Agustus 2015, Michael Scheuer (mantan Kepala CIA "Bin Laden Issue Station") merilis sebuah artikel berjudul "Islamic State menang, Amerika harus segera menggunakan salah satu pilihan yang tersisa". Di dalamnya, ia membahas tentara salib Amerika, menyeru mereka untuk mengakhiri perang tanpa harapan mereka terhadap Islam dan Khilafahnya. Dia membawa perhatian mereka kepada realitas bahwa Islamic State menang dan akan terus meluas apapun usaha negara yang makin melemah Amerika. Berikut ini adalah artikelnya :

Islamic State Menang, Amerika Harus Segera Menggunakan Salah Satu Pilihan yang Tersisa
Oleh : Michael Scheuer

Ada tiga hal dari pemerintah nasional AS yang memaksakan diri dan benar-benar cacat parah dalam menangani ancaman Islam adalah :

(a) melihat dengan cermat terhadap masalah melalui cara negara demi negara: yaitu, apa yang kita lakukan di Irak? Apa yang kita lakukan di Afghanistan? Apa yang kita lakukan di Libya? Dll.

(b) selalu—tetapi sudah lama terbantahkan bahwa dalam perang dengan Islam, Barat memiliki waktu (pada) sisinya. Dan,

(c) kecanduan pada hal yang tidak bijaksana, tidak perlu, dan intervensi membangkrutkan yang merupakan motivator utama dari gerakan Islam internasional, fenomena yang diayahi dan masih dipelihara oleh Barat yang kemudian disebut "sekutu dan teman-teman", Arab Saudi, Kuwait, Qatar, dll.

Dengan membentuk dan melaksanakan kebijakan intervensionis kepada setiap negara bangsa di mana ancaman Islam teridentifikasi sehingga perlu ditangani, Washington dan sekutunya, NATO, kehilangan point bahwa musuh utama Islamis mereka –Islamic State (IS) dan al-Qaeda,(1) dan terutama mantan anggotanya– berpikir dengan cara regional lalu kemudian merancang dan melaksanakan kebijakan yang bertujuan untuk membangun basis yang dari sana mereka dapat melakukan perluasan di jalan yang memiliki tujuan akhir untuk mengusir Barat dari dunia Muslim dan menciptakan kesatuan dan negara bagi seluruh dunia Islam atau Khilafah. Apakah negara seperti itu dapat diciptakan atau tidak itu adalah pertanyaan terbuka, tapi untuk saat ini subject ini menjadi ditinggalkan kepada para akademisi untuk perdebatan tanpa henti, teoritis, dan tidak meyakinkan, sehingga meninggalkan hal yang waras untuk mencoba mempertahankan Amerika Serikat.

Yang penting, pada saat ini, terletak pada ketidakmampuan dan ketidakcakapan para pembuat kebijakan AS dan NATO untuk melihat apa yang disusun oleh Daulah Islam (IS) dari perencanaan regional, atau bagaimana perencanaan yang tidak hanya imun tapi terus didorong oleh intervensi Barat di setiap Negara Muslim yang tak kenal kasihan, terus menerus dan tidak menyenangkan mereka – Kecuali, tentu saja, para tirani Muslim peliharaan Barat, yang dilindungi dan disuapi olehnya.

(NB: Ini tidak berarti menjadi alasan bahwa intervensi Pasukan AS-NATO terhadap bangsa multi-Muslim diperlukan. Pertama, bahwa induk dari semua intervensi Barat akan menjadi sekutu tunggal paling kuat bagi tujuan IS menyatukan dunia Sunni. Kedua, militer AS telah haus setelah dua dekade mengalami kalah perang: yang dikebiri oleh hitung-hitungan Obama –untuk menghancurkan– pemotongan anggaran, pengurangan tenaga kerja, dan effeminisasi: dan militer NATO –melindungi Turki– adalah Kecil, kuno, kekurangan dana, dan tidak bisa menghentikan panzer Putin berputar di Champs Elysees tanpa menggunakan senjata nuklir. Satu-satunya pertahanan efektif AS-NATO terhadap Islamis adalah dengan menghentikan semua intervensi, dan membiarkan Sunni, Syi‘ah, dan Israel membereskan perbedaan mereka masing-masing dengan cara membunuh bagaimana saja yang menyenangkan mereka)

Saat ini, para pemimpin IS tampaknya memiliki tiga tempat pijakan regional yang kuat di mana mereka berniat untuk melakukan ekspansi, dan tentu salah satunya sebagai sasaran ekonomi strategis, keempat choke-point maritim, jika ditutup atau bahkan diserang secara sporadis, maka akan mengganggu pasokan minyak dunia dan tentu kemudian ekonominya.

1) Balkan

IS telah menancapkan dirinya dengan sangat kuat ke dalam komunitas Islam Bosnia, Kosovo, dan Albania, dan memiliki kehadiran di setiap negara-negara Balkan lainnya. Dalam upaya ini , IS telah memanfaatkan apa yang sekarang adalah masa-masa kampanye yang panjang, dimulai dari kematian Uni Soviet, di mana Arab Saudi, mitra Teluknya, dan sejumlah NGO(2) mereka telah merubah sejumlah besar penduduk Muslim Balkan dari seorang yang beriman pada umumnya menjadi Muslim yang dididik war-prone (mudah perang) dengan doktrin Salafi dan Wahhabi.

Usaha yang dipimpin Saudi(3) belum membuat Balkan menjadi benteng doktrin mereka, tetapi telah membuat peningkatan jumlah Muslim Balkan yang menjadi Salafi dan Wahhabi. Orang-orang yang telah berubah ini telah menantang –dan dalam beberapa kasus– berhasil menggusur para pemimpin Islam yang lebih moderat, membangun organisasi Islam yang telah menyerang secara sporadis individu, pasukan keamanan, dan bangunan, dan telah mengirimkan aliran relawan –dengan bantuan unit logistik IS di Turki, Yunani, Spanyol, dan Italia– untuk berperang bersama pasukan IS di Suriah dan Irak. Sebagaimana Kehadiran IS di Balkan yang terus tumbuh, dengan melirik peta maka akan terlihat bahwa relatif mudah bagi IS untuk mendapatkan akses yang aman menuju negara-negara Uni Eropa dan melalui negara Eropa Timur ke Rusia.

2) Libya

IS menghadapi perlawanan lokal yang kuat untuk kehadirannya di Libya, tetapi dia merupakan organisasi yang dapat melakukan lebih dari satu hal pada satu waktu. Di saat pejuangnya mempertahankan dan secara perlahan-lahan memperluas wilayah yang dikuasai IS, para pemimpin IS dan administrator lainnya terlibat dalam menciptakan ketertiban dan memperbaiki layanan sosial dan sarana publik di daerah yang mereka pegang, sebuah pola yang sebelumnya juga terlihat di Suriah dan Irak.

IS juga, di samping mulai mengeksploitasi posisi geografis barunya –melalui serangan sukses di Tunisia, dan dukungan kepada organisasi IS di semenanjung Mesir Sinai– juga mempersiapkan ekspansi lebih lanjut dari Libya ke Aljazair, Maroko, Mauritania, dan Sudan. Libya juga memberikan kepada IS akses perbatasan ke Niger dan Chad, yang keduanya akan memfasilitasi kontak langsung dengan sekutu peluasan IS di Nigeria: Boko Haram.

Selain itu, Niger memberikan jalan masuk yang mudah ke Mali di mana Organisasi Islam yang putus asa bisa saja tertarik untuk bekerja sama dengan IS sehingga dapat memperoleh keuntungan dari militer mereka yang sudah dikenal, reputasi untuk sukses, cukup kaya, dan kembalinya para veteran Mujahidin Mali yang telah bertempur bersama IS di Suriah, Irak, dan Libya.

3) Afghanistan

Kehadiran IS di Afghanistan baru berusia satu tahun tapi pejuang mereka dilaporkan telah dikerahkan pada lebih dari setengah dari 34 provinsi di negara tersebut, di dekat ibukota Kabul, di wilayah suku Pakistan, Provinsi Baluchistan, dan kota Karachi. IS jauh dari mendominasi negara, tetapi sedikit aliran dari para pembelot Thaliban Afghanistan dan Pakistan telah menjadi sumber yang kuat sejak kematian pemimpin Thaliban Mullah Omar –yang telah lama disembunyikan– diumumkan pada tanggal 30 Juli 2015 dan pemimpin baru dengan cepat dipilih oleh sejumlah kecil pemimpin Thaliban yang telah ikut membantu menyembunyikan fakta bahwa Omar telah meninggal sejak April 2013.

Strategi IS melihat Afghanistan sebagai kunci untuk perluasan dan penyempurna Khilafah IS, sebagai pemberi aliran pendapatan yang potensial dari negara penghasil heroin(4) dan kekayaan mineral, akses yang mudah menuju Pakistan, menuju India dan Kashmir, serta ke negara-negara Muslim di Asia Tengah, Populasi Muslim Uighur di Provinsi Xinjiang China, dan basis yang berpotensi untuk menyerang Iran, dan pasti membunuh Syi‘ah, sehingga memaksa Teheran untuk berperang di dua front melawan pasukan IS dan sekutu mereka.

4) Maritim choke-point

Di sinilah proyek strategis paling ambisius, IS saat ini memiliki peluang awal untuk membangun kehadirannya di empat maritim choke-point dunia yang paling penting. Pintu masuk ke Selat Bab el Mandab di ujung selatan Laut Merah terletak di antara IS dan kelompok-kelompok pejuang Islam lainnya yang ingin mengontrol Yaman dan bajak laut –Islamis dan kaya– di Tanduk Afrika; Terusan Suez rentan terhadap cabang IS yang sekarang beroperasi hampir tak tersentuh hukum (impunitas) di semenanjung Sinai Mesir; Selat Malaka, yang membentang sepanjang tepian Provinsi Aceh yang didominasi oleh Islam di Indonesia; pemerintah Jakarta mengklaim adanya kehadiran IS dan berkembang dengan cepat di daerah itu; dan Selat Gibraltar, yang telah lama menjadi target Al-Qaeda dan sekarang dikepung di sebelah selatan oleh kekuatan IS yang terus tumbuh dan mencapai Maroko; dan di sebelah utara dengan lebih dari cukup IS hadir di selatan Eropa dan bala bantuannya datang dari para pejuang IS yang beragam berasal dari massa imigran ilegal yang memasuki Eropa melalui laut dari Afrika Utara.

Ringkasan di atas menjelaskan akan harga yang pasti dari setengah abad intervensi AS dalam budaya, politik, ekonomi, dan militer, baik secara sepihak atau dengan pengikut NATO -nya. Dan ringkasan ini tidak termasuk pijakan IS yang masih dalam pengembangan di Kaukasus Utara dan Yaman, yang dalam waktu sama memungkinkan bagi IS untuk melakukan ekspansi ke Rusia dan ke Arab Saudi dan Negara-negara Sunni Teluk lainnya.

Dalam menghadapi ekspansi penting IS secara geografis dan pasukan, pemimpin AS di kedua belah pihak telah mempertahankan sebuah pendekatan yang berdasarkan hukum dan ketertiban dengan mujahidin dan telah meremehkan –bila tidak disebut mengabaikan– kemampuan IS, motivasi dan niat mereka, dan perang agama yang mereka kobarkan. Mereka juga telah menghabiskan setahun terakhir ini dengan membuang-buang waktu mengeluh tentang pemenggalan yang dilakukan IS, tentang senjata nuklir Iran yang tidak bisa dicegah untuk diraih(5), dan memicu perang di Eropa karena membantu pemerintah Ukraina yang tidak dapat mempertahankan diri dan sanksi sia-sia rezim Rusia yang tidak akan dapat mengembalikan Crimea dan sehingga kita tahu bahwa istilah "macan kertas" tidak pernah lebih pantas untuk diberikan selain kepada Amerika Serikat dan NATO.

Ketika saatnya tiba –dan itu pasti akan tiba– bagi para pemimpin AS untuk melihat di dalam lemari dan menemukan alat yang bisa mengakhiri ancaman IS, mereka akan menemukannya dalam keadaan kosong. Dengan dua kekalahan perang yang disengaja, sebuah militer yang rusak, sebuah elit pemerintahan dan presiden yang tidak terikat dengan realitas, anggaran yang bangkrut, sistem politik yang rusak oleh warga AS yang menjadi agen-agen dari kekuatan asing, sekutu tidak berguna Eropa berikutnya, sebuah dunia Barat yang lebih menyukai kematiannya sendiri daripada menyembelih musuhnya, dan musuh Islamis yang jauh lebih pintar dan lebih berbakat, kemudian ini diberikan sebagai kredit kepada elit pemerintahan AS yang hanya akan memiliki satu pilihan. Berubah dari lemari kosong, jiwa-jiwa miskin ini akan tahu apa fikiran orang-orang Amerika yang bersih dari pendidikan Ivy League yang telah dikenal selama ini. Yaitu, bahwa sekaranglah saatnya untuk menempatkan Amerika seperti dahulu dan mengembalikan warisan kebijakan luar negeri Jenderal Washington dengan segera menyatakan berakhirnya intervensi AS, penghentian dukungan untuk semua negara dan kelompok di Timur Tengah, penarikan AS dari NATO, dan mengembalikan Kebijakan keamanan nasional Amerika yang paling efektif – netralitas yang ketat(6). Dan saat melakukan hal ini, kita semua bisa berharap –mungkin dengan optimisme yang salah tempat,– semoga itu tidak terlambat.

Catatan kaki :

1. Catatan Editor: Al-Qa'idah telah menjadi perisai Media dan dalam beberapa kasus menjadi senjata militer dari Shahawat yang didukung Thaghut di Syam, Libya, Yaman, dan Khurasan. Setelah Zhawahiri memerintahkan al-Qa'idah di Aljazair untuk menghentikan semua serangan melawan rezim murtad terutama pasca-revolusi Dunia Arab, dia memerintahkan al-Qa'idah di Suriah untuk meyakinkan Barat bahwa Amerika dan Eropa tidak akan menjadi sasaran mereka, dan dirinya berbai‘at kepada Akhtar Mansur, yang mendukung rekonsiliasi nasional dengan Rezim Murtad Afghan dan normalisasi dengan seluruh tentara salib, musyrik, atheis, dan dunia murtad, sehingga tentara salib Amerika dapat yakin, perang utama al-Qa'idah sekarang adalah terhadap Daulah Islam (IS).

2. Catatan Editor: Para thaghut Alu Salul dan sekutu mereka bekerja sama untuk menggambarkan diri mereka sebagai penjaga Islam dan kaum Muslimin, ketika dalam kenyataannya mereka menyebarkan penyimpangan, perbuatan keji, dan bahkan sodomi melalui "Rotana Group" mereka dan hiburan mereka yang lain dan religius outlet, terlebih secara fakta mereka memerintah dengan hukum buatan manusia baik internasional dan domestik serta mendukung orang-orang Yahudi dan Kristen memerangi Islam dan kaum Muslimin. Dukungan lemah dan munafik mereka terhadap "dakwah" –dalam banyak kasus– seolah menjadi bumerang bagi mereka dan menyebabkan orang mempelajari Al-Qur'an dan Sunnah, mengadopsi tauhid dan syari'at, dan menyatakan takfir dan jihad melawan Pasukan dan agen dari Alu Salul.

3. Lihat footnote sebelumnya.

4. Catatan Editor: Kepemimpinan Daulah Islam di Wilayah Khurasan telah menjadi musibah paling parah bagi para petani opium Pakistan dan Afghanistan –perkebunan dan tanaman opium dibakar– karena produksi opium adalah termasuk amal perbuatan yang paling buruk, bahkan dia termasuk sumber pendapat yang baling buruk. Thaliban pimpinan Akhtar, bagaimanapun, menganggap orang-orang yang membakar tanaman opium sebagai "Khawarij" yang telah menghancurkan "kekayaan" kaum Muslimin dan menghancurkan pendapatan "zakat"!

5. Catatan Editor: Kaum murtad Rafidhah Iran harus berterima kasih kepada tentara salib Amerika karena telah memberikan kepada mereka kondisi dan sumber daya yang dibutuhkan untuk memfasilitasi pengembangan program nuklir mereka menjadi senjata nuklir untuk digunakan melawan Ahlus Sunnah, apalagi fakta bahwa jet salibis –dalam rangka membela Iran dan milisi Rafidhahnya– menyerang Mujahidin di Irak dan Syam.

6. Catatan Editor: Bagaimana pun, satu-satunya solusi lengkap untuk perang Amerika terhadap Islam adalah dengan Amerika menerima Islam atau dengan membayar jizyah. Jika tidak, maka bisa dengan mengakui kekalahan dan menerima solusi parsial dengan mematuhi gencatan senjata sementara dengan ketentuan yang sesuai dengan syari'at.

PERBINCANGAN MUSUH - DABIQ 10

DABIQ 10 - PERBINCANGAN MUSUH

DAULAH ISLAM DALAM PERBINCANGAN MUSUH

Mujahidin belum pernah melihat pesawat-pesawat tempur salibis dan thaghut menyerang "Khawarij" dalam rangka membela "Ahlus Sunnah wal Jama’ah" kecuali pada era yang dikenal dengan nama "Arab Spring". Ketika pesawat-pesawat tempur kuffar yang jahat datang menyerang dan membela koalisi Shahawat -termasuk diantaranya Jabhah Jaulani- dan menolong koalisi Shahawat memerangi Daulah Islamiyah di bawah payung Koalisi salibis, meskipun diantara mereka terdapat permusuhan yang sangat hebat dan hati mereka berpecah-belah*, mereka saling bersekutu satu sama lain**.

*Lihat Surat al-Hasyr ayat 14.

**Lihat Surat al-Ma’idah ayat 51.

Pasca Junud Khilafah menguasai wilayah Shauran di l'zaz dan memukul mundur koalisi Shahawat dengan kondisi memalukan dari tempat tersebut, Koalisi Nasional Suriah (SNC) dan kepala faksi-faksi serta dewan mereka di Turki meminta bantuan Amerika atas nama Koalisi Shahawat (pemimpin Ahrar asy-Syam dan Jabhah Syamiyah tidak lupa untuk ambil bagian dalam seruan ini), dan dua orang Republikan, John McCain dan Lindsey Graham mendesak serta menekan pemegang kebijakan Salibis, yakni Obama. Maka Obama menjawab permintaan mereka dengan menyerang Daulah Islamiyah di Shauran, l'zaz dan wilayah-wilayah yang berdekatan dengannya pada tanggal "7 Juni 2015", dan "14 Juni 2015", pun pada hari-hari lainnya, demi melayani kepentingan koalisi Shahawat.

Lembaga SOHR "Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia" (yang dipimpin oleh si murtad Rami Abdurrahman) mengomentari peristiwa pada tanggal "7 Juni 2015" tersebut dengan kalimat, "Jet-jet koalisi Internasional dan negara-negara Arab sedikitnya memuntahkan empat serangan udara menargetkan lokasi-lokasi dan tempat berkumpulnya para anggota organisasi 'Daulah Islamiyah' di desa Shauran, l'zaz di pinggiran utara Aleppo, dilaporkan terjadi pertempuran dahsyat selama sekitar 10 hari antara organisasi 'Daulah Islamiyah' pada satu pihak melawan pihak lain yang diantaranya: Jabhah an-Nushrah -Tanzhim al Oa'idah fi Biladusy Syam- bersama dengan faksi militer Islamis lainnya. Kawasan tersebut juga menyaksikan terjadinya saling serang antara dua pihak dan kehancuran kendaraan-kendaraan tempur milik organisasi 'Daulah Islamiyah' oleh serangan an-Nushrah dan faksi lainnya yang menggunakan misil TOW Amerika".

Ketua SOHR "Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia", Rami Abdulrahman berkata, "Ini pertama kalinya Koalisi Internasional mendukung oposisi non Kurdi dalam pertempuran melawan para pejuang organisasi 'Daulah Islamiyah'".

Dia juga mengatakan, "Serangan ini merupakan bantuan secara tidak langsung bagi Ahrar asy-Syam dan Jabhah an-Nushrah". (Dia lupa akan seruan yang dibuat koalisi salibis oleh pemimpin Ahrar asy-Syam dan Jabhah Syamiyah via satelit televisi dan tweet internet).

Dia juga mengatakan bahwa serangan udara tersebut mengindikasikan jawaban "keputusan Amerika untuk menghalangi kemajuan organisasi 'Daulah Islamiyah' dari Shauran menuju pinggiran kota l'zaz yang berbatasan dengan Turki." [dikutip dari sebuah artikel berjudul "Koalisi Internasional Menargetkan Para Jihadis Dekat Aleppo demi Kepentingan Faksi-Faksi Islamis, Termasuk Diantaranya an-Nushrah", yang diterbitkan oleh website "Observatorium Suriah" pada tanggal "8 Juni 2015"].

Nampaknya kebijakan para salibis terhadap Jabhah Jaulani meniru kebijakan para thaghut terhadap kelompok tersebut. Serupa dengan thaghut Turki, Qatar, dan alu Salul yang mendukung faksi "Jaisyul Fath" dengan bantuan bersyarat (tidak ada bantuan tak bersyarat, sebagaimana kesaksian Jaulani sendiri dalam wawancaranya bersama Al-Jazeera), kemudian bantuan yang di distribusikan pada seluruh faksi yang berpartisipasi dalam "Jaisyul Fath" termasuk Jabhah Jaulani, pun sama halnya dengan serangan Salibis menargetkan Khilafah demi kepentingan koalisi Shahawat dimana Jaulani juga berada dalam koalisi tersebut.

Inilah simbiosis mutualisme "pragmatis" antara Amerika dan koalisi Shahawat termasuk diantaranya Jabhah Jaulani.

"Jangan berhukum dengan Syari'ah dan kami akan menyerang musuh kalian". "Berhentilah beroperasi melawan para salibis dan lainnya atau kami akan membombardir kalian" Inilah politik 'stick and carrot'.

Ini mungkin menjadi awal dari implementasi dari proposal grup pemikir salibis, yang pernah dikutip dalam beberapa edisi terakhir Dabiq, pada segmen kategori "Perbincangan Musuh". Boleh jadi dimulai setelah aksi pembunuhan Salibis terhadap para pemimpin al-Qa’idah sehingga Tanzhim tersebut menyerah dalam rasa takut bersama saudara-saudara mereka di Taliban di hadapan politik Amerika. Saat ini Taliban tidak lagi menjadi ancaman bagi keamanan negeri-negeri para salibis, begitu juga al Qaidah. Terutama setelah Zhawahiri mengambil kebijakan yang melawan kebijakan Syaikh Mujahid Usamah bin Ladin. Maka Zhawahiri menjadikan tanah air para salibis aman sentosa, thaghut merasa aman, mantan thaghut "Arab Spring" aman, thaghut Ikhwani aman, pasukan murtaddin aman, dan para pengikut Rafidhi yang biadab merasa aman [sebagaimana yang dikutip dalam wawancara Jaulani dengan Al-Jazeera dan tertulis dalam "Panduan Umum bagi Amal Jihad" oleh Zhawahiri].

Yang menjadi masalah terbesar adalah mencapai "maslahah paling besar" dengan meninggalkan implementasi Syari'ah dan hukum-hukumnya! Sebuah kebijakan yang pragmatis, sebagaimana yang dikatakan oleh para Salibis. New York Times juga mengatakan pada tanggal "9 Juni 2015" dalam sebuah artikel bertajuk "Al-Qaeda Mencoba Taktik Baru untuk Mempertahankan Kekuasaan: Berbagi", "Setelah mereka mengirim pasukan ke Yaman Selatan, para prajurit Al-Qaeda menyerang kota al Mukalla, mengambil alih gedung-gedung pemerintahan, melepaskan para jihadis dari penjara dan mencuri jutaan dollar dari bank sentral. Kemudian mengejutkan setiap orang. Bukannya mengibarkan bendera mereka dan menegakkan hukum Islam, mereka malah melepaskan kontrol kota pada Dewan Sipil dan memberikannya anggaran untuk membayar gaji, mengimpor bahan bakar dan menggaji para pekerja untuk membersihkan sampah. Sementara itu, para prajurit mereka mundur ke belakang, hanya mengatur sebuah kantor polisi untuk menengahi pertikaian".

"Cabang [dari Al-Qaeda] di Yaman dan Suriah saat ini semakin sering bertikai dengan kelompok lokal hanya pada masalah-masalah yang umum..."

"Cabang Al Qaeda di Suriah dan Yaman telah mengambil sebuah jalan yang berbeda [dari Daulah Islamiyah], dengan membangun ikatan bersama kelompok lokal dan menahan diri dari pengaplikasian Syari'ah secara ketat, yakni hukum Islam, ketika berhadapan dengan kekuatan lokal, demikian menurut pernyataan penduduk di wilayah yang berada di bawah pengaruh Al Qa'eda. Demikian menurut penduduk yang tinggal di daerah yang dikuasai Al-Qa'eda. Ketika mengambil alih Al Mukalla pada bulan April, Al-Qa'eda merebut gedung pemerintah dan menggunakan truk untuk mengangkut lebih dari $120 juta dari bank sentral. Namun kemudian mereka menyerahkan kekuasaan kepada sebuah Dewan Sipil dengan memberikan anggaran belanja lebih dari $4 juta dolar untuk menyediakan pelayanan, suatu program yang bisa diterima oleh pejabat lokal yang berusaha membantu penduduk selama masa perang. 'Kami bukan kaki tangan Al-Qa'eda’ kata Abdul Hakim ibnu Mahfuud, sekretaris jendral dewan kota dalam sebuah wawancara via telepon. 'Kami membentuk dewan ini untuk mencegah terjadinya perusakan atas kota ini’.

Menurut warga, dewan sementara tersebut memberikan gaji dan mendistribusikan bahan bakar minyak. Akan tetapi Al Qa'idah tetap mengontrol kantor kepolisian untuk menyelesaikan perselisihan. Sejauh ini mereka tidak berusaha mengadakan larangan merokok dan mengatur bagaimana cara wanita berpakaian. Mereka pun tidak menyebut dirinya al-Qa'eda, tetapi menggunakan nama Putra-Putra Hadhramaut untuk menekankan hubungannya dengan provinsi di sekitarnya. .."

Afiliasi al Qa'idah di Suriah, Jabhah an-Nushrah, telah menjadikan dirinya sebagai komponen penting bagi pasukan pemberontak untuk menggulingkan Assad. Baru-baru ini mereka bergabung dengan sebuah koalisi pemberontak bernama Jaisyul Fath, menyatukan diri mereka dalam satu kubu sebagai kelompok yang mendapat dukungan dari Barat. 'Kelompok-kelompok di dalamnya adalah Muslim, tidak ada bedanya dengan kami’ kata Abu Muhammad al Jaulani, pemimpin Jabhah an-Nushrah, dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera baru-baru ini. Dia juga mengatakan kelompok ini telah diminta oleh Aiman azh-Zhawahiri untuk tidak melancarkan serangan terhadap negara-negara asing yang bisa mengacaukan peperangan melawan Assad..."

"Para warga sipil yang hidup di wilayah-wilayah Jabhah An-Nushrah juga berkata bahwa kelompok tersebut telah berupaya membangun dukungan warga lokal, menahan diri untuk tidak menerapkan syari'at Islam ketika warga menolak. Sementara itu, para pejuangnya telah mendistribusikan makanan dan memperbaiki pipa saluran air. Di desa Binnisy, akhir-akhir ini mereka membuat tim dalam sebuah pertandingan sepakbola persahabatan melawan kelompok pemberontak lainnya. Tim An-Nushrah menggunakan pakaian sejalan dengan Islam yang moderat dan mereka kalah melawan para pemain yang menggunakan celana pendek. 'An-Nushrah bukan ekstrimis’ kata seorang aktivis yang menyaksikan pertandingan. 'Mereka mendistribusikan selebaran di pos-pos pemeriksaan dan mengajak manusia menuju agama Islam."

Berdasarkan pandangan politik thawaghit terhadap Al Qa'idah di Suriah, penulis dan jurnalis murtad Ahmed Rashid menulis sebuah artikel di "New York Review of Books" pada "15 Juni 2015" yang menjelaskan kondisi pendekatan dan rekonsiliasi antara rezim thaghut dengan Al Qa'idah. Judul artikel tersebut adalah "Mengapa Kami Membutuhkan Al-Qa'eda"! Sebagian dari apa yang ditulisnya ialah, "Apakah kelompok dalam periode yang lama dipandang sebagai organisasi teroris paling berbahaya di dunia itu akan menjadi opsi tersisa di Timur Tengah bagi AS dan sekutu-sekutunya? Para anggota koalisi pimpinan AS melawan ISIS, termasuk Turki dan Arab Saudi, secara aktif mendukung an-Nushrah dengan senjata dan uang [berupa dukungan tidak langsung, melalui operasi gabungan dewan dan militer oposisi, dewan sipil dan lokal, serta dengan pengakuan dan pengawasan negara-negara pemberi bantuan]. Sebagian besar dunia Arab saat ini intinya berpihak kepada AQAP dalam perang yang dipimpin Saudi melawan para pemberontak Houtsi di negara tersebut. Faktanya ialah, Al-Qa'eda mengalami perubahan besar semenjak kematian Usamah bin Ladin dan kemunculan ISIS. Mereka terus menjauhkan diri dari ISIS dalam perkara strategi dan menentukan sasaran di medan pertempuran, baik di Suriah maupun Yaman."

"Dalam perang ini negara-negara Arab secara terbuka menghindari pemboman dan penyerangan terhadap an-Nushrah dan AQAP. Justru sekarang mereka menyediakan untuk keduanya dukungan dana dan senjata [secara tidak langsung, lewat faksi-faksi yang bersekutu dengan mereka]. Oleh karena kedua kelompok tersebut memiliki tujuan yang sejalan dengan negara-negara Arab. Maka an-Nushrah dan AQAP telah menjadi sekutu dan bukan musuh bagi negara-negara Arab, meskipun faktanya al-Qa'eda sendiri pernah berupaya menggulingkan rezim-rezim ini..."

"Negara-negara Arab membenarkan kesimpulan bahwa al-Qa'eda sedang berkembang. Kedua kelompok itu kini telah mengambil alih kota-kota besar dan kecil di negara operasi masing-masing. Dan keduanya telah membuat kebijakan lokal yang secara mencolok berbeda dengan ISIS."

"Mengingat an-Nushrah adalah rival utama bagi ISIS di Suriah. Tidak seperti ISIS, an-Nushrah bekerjasama dengan kelompok anti-Assad lainnya dan akhir-akhir ini ikut andil dalam aliansi bersama milisi-milisi pemberontak "Jaisyul Fath" di utara Suriah. Lebih dari itu, berbeda dengan ISIS yang sebagian besar terdiri dari pasukan internasional dan pejuang non-Suriah, para pejuang an-Nushrah hampir seluruhnya orang asli Suriah, sehingga mereka lebih dapat diandalkan dan lebih sesuai dengan masa depan Suriah. Sementara itu, dalam wawancara dengan al-Jazeera, para pemimpin an-Nushrah telah berjanji untuk tidak membuat target-target serangan di Barat, memperkenalkan sebuah ideologi yang bisa disebut 'jihadis nasionalis' daripada jihad global. Beberapa bulan terakhir ini, para pemimpin an-Nushrah telah menurunkan intensitas seruan penegakan hukum Islam versi mereka yang brutal, sambil memegang rencana mereka untuk membangun sebuah Khilafah".

"Perubahan-perubahan serupa ini sebagian besar terjadi pula dengan AQAP di Yaman. Kelompok tersebut merebut ibukota Mukalla, merampok bank, lalu mundur. Mereka sendiri tidak menjalankan pemerintahan atau memberlakukan hukum syari'at, tetapi menerapkan sebuah dewan yang terdiri dari para tokoh. Mereka meminta dewan tersebut untuk berfokus dalam mengurus dan menyediakan layanan bagi masyarakat..."

Yaroslav Trofimov menulis sebuah tulisan serupa untuk Wall Street Journal pada "11 Juni 2015" berjudul "Bagi Sekutu-Sekutu AS, Afiliasi al-Qa'eda di Suriah Dipandang Berkurang Kejahatannya - Ketika Daulah Islamiyah meraih kemenangan, seruan untuk mendekati Jabhah an-Nushrah meningkat." Di dalamnya dia berkata, "Dalam perang tiga arah yang melanda Suriah, apakah cabang lokal al-Qa'eda dipandang kurang jahat hingga perlu dirayu daripada dibom? Ini merupakan pandangan yang terus meningkat dari beberapa sekutu regional Amerika dan bahkan beberapa pejabat Barat. Tiga kekuatan utama yang tersisa di lapangan [di Suriah] saat ini ialah rezim Assad, Daulah Islamiyah, dan aliansi pemberontak Islamis di mana Jabhah An-Nushrah -afiliasi al Qa'idah yang digolongkan ke dalam kategori kelompok teroris oleh AS dan PBB- memainkan peran besar. Karena kalah, para pemberontak yang didukung Barat dan lebih sekuler kini bahu-membahu bersama dengan an-Nushrah di medan-medan tempur kunci. Di saat rezim Assad terguncang, sementara Daulah Islamiyah atau ISIS menang, baik di Suriah maupun lraq, maka mendekati an-Nushrah yang lebih pragmatis merupakan satu-satunya pilihan rasional bagi komunitas internasional, yaitu mereka yang menyokong model pendekatan ini..."

"Pada awalnya, sebagian besar pihak Turki dan Qatar lah yang membantu kerjasama para pemberontak Islam Suriah dengan an-Nushrah. Negara regional yang besar seperti Saudi Arabia nampak sedikit enggan dan berhati-hati dalam bekerjasama dengan al-Qa'eda [dengan mendukung faksi-faksi yang beraliansi dengan Jabhah Jaulani]. Dalam beberapa bulan terakhir, Raja Arab Saudi yang baru, Salman mulai semakin mendekati Doha dan Ankara di dalam mendukung aliansi pemberontak yang didominasi kaum Islamis termasuk an-Nushrah. Demikian seperti yang dikatakan para diplomat dan pejabat regional. Negara-negara ini memandang awalnya penderitaan yang dialami Suriah oleh rezim Assad sebagai penyebab utama kemunculan Daulah Islamiyah, sementara mereka lebih suka melihat an-Nushrah dan sekutu-sekutunya daripada Daulah Islamiyah yang masuk ke wilayah yang dikuasai oleh Damaskus."

"Tidak seperti Daulah Islamiyah, an-Nushrah sebagian besar terdiri dari orang Suriah, sedangkan pandangan keagamaannya, meski pastinya radikal, tapi tidak terlalu ekstrim. Sementara mereka menahan diri untuk tidak menyerang Israel meskipun memegang kendali atas kota-kota sepanjang garis perbatasan di Dataran Tinggi Golan, kelompok tersebut berbeda dengan Daulah Islamiyah dan memiliki kemauan bekerjasama dengan para kelompok pemberontak non-lslamis."

Frederic Hof yang bekerja sebagai wakil Presiden Obama bagi oposisi Suriah berkata, "An-Nushrah benar-benar telah menjadi magnet bagi para pejuang muda Suriah yang tidak mempunyai agenda jihadis tertentu atau bahkan kelompok sektarian yang radikal. Upaya an-Nushrah untuk membedakan diri dari Daulah Islamiyah tampak jelas akhir-akhir ini, terutama setelah wawancara bersama pemimpin kelompok tersebut, Abu Muhammad al-Jaulani, dengan jaringan televisi Qatar al-Jazeera. Sambil mengenaikan kemeja kotak-kotak dengan wajahnya tertutup, Jaulani duduk di atas kursi bersandar tinggi seperti singgasana yang pernah diduduki oleh mantan gubernur Idlib. la menjawab dengan tangkas pertanyaan-pertanyaan yang menjebak selama berlangsungnya siaran terpisah hampir satu jam lamanya yang disiarkan secara luas di kawasan tersebut sebagai upaya Qatar untuk membuat an-Nushrah tampak lebih menarik. Seraya berulang kali menyatakan kesetiaannya kepada pemimpin al-Qa'eda Aiman azh-Zhawahiri, Jaulani berkata bahwa an-Nushrah tidak menjadikan Barat sebagai target serangan dan menyebutkan kata-kata perdamaian berkaitan dengan minoritas Kristen".

"Sementara itu Daulah Islamiyah bersifat ofensif, tampaknya Washington bertindak 'cukup jauh' untuk mentolerir awal kolaborasi antara sekutu-sekutu regionalnya dan an-Nushrah. Demikian seperti yang dikatakan Admiral Angkatan Laut AS James Stavridis yang telah pensiun dua tahun lalu sebagai panglima sekutu tertinggi NATO. Dia berkata, 'Tampaknya kita akan beroperasi bersama-sama dengan kader-kader an-Nushrah. Tetapi jika sekutu-sekutu kita bekerja bersama mereka, maka hal itu bisa diterima. Jika anda melihat kembali Perang Dunia II, maka kita berkoalisi dengan orang-orang yang mempunyai pandangan yang jauh berbeda, termasuk Stalin dari Rusia' ... 'Saya kira itu bukan sebuah hal yang membuat AS harus terhenti terkait masalah keterlibatan dalam koalisi itu."

Dengan mengenyampingkan berita dan analisis mereka, perkara ini masih menjadi opini yang paling banyak ditawarkan para salibis dan orang murtad bagi pemerintah Amerika! Jadi, kapan tentara Jabhah Jaulani mau bertaubat dan menyadari bahwa perang mereka melawan Daulah Islamiyah hanya melayani kepentingan sekutu-sekutu mereka di Koalisi Shahawat yang merupakan bagian dan sekutu dari sekutu mereka (Koalisi Salibis)? Kapan pula orang-orang yang "berpikiran rasional" di dalam al-Qa'idah memperbaiki kondisi organisasi mereka sebelum al Qa'idah -dengan semua cabangnya- menjadi gerakan Shahawat, yang dikendalikan oleh kedengkian, permusuhan, sikap berat sebelah, dan media-media penyihir dalam perang melawan Khilafah yang telah bangkit kembali?

PERBINCANGAN MUSUH - DABIQ 9

DABIQ 9 – PERBINCANGAN MUSUH

DAULAH ISLAM DALAM PERBINCANGAN MUSUH

Salah satu posisi yang paling hina dari para pengklaim jihad adalah di saat mendapati dirinya mulai dipertimbangkan oleh para Tentara Salib dan Tawaghit Arab sebagai kemungkinan alternatif untuk melawan Khilafah atau "solusi" parsial untuk mencegah ekspansinya. Di mana seseorang sekarang mendengar bahwa Tentara Salib menganggap sekelompok pengklaim jihad sebagai sekutu potensial untuk melayani kepentingan Tentara Salib terhadap Daulah Islam, maka cucilah tanganmu dari kelompok itu dan larilah dari mereka dengan membawa agamamu sebagaimana engkau lari dari para penderita kusta!

Masalahnya adalah bukan karena Tentara Salib menganggap pengklaim Jihad memiliki musuh bersama –yang salah salah satu dari mereka telah dianggap oleh kaum Muslimin, seperti Rafidhah, Nusairiyah, kaum sekuler, dan para pendukung demokrasi ... dan yang ditakuti Tentara Salib lebih dari kaum Muslimin karena alasan materi, seperti musuh mereka; orang-orang Shafawi yang ingin memproduksi senjata nuklir. Akan tetapi, yang dianggap musuh bersama oleh mereka adalah Daulah Islam, yang mana para pemimpin kelompok pengklaim jihad ini yang telah syahid menganggap diri mereka telah memujinya berulang kali.

Berikut ini Anda akan menemukan kata-kata para think-tank Tentara Salib, para analis, penasihat, dan wartawan, yang menyarankan kepada pimpinan Tentara Salib Amerika akan perlunya melestarikan para pemimpin pengklaim jihad dan kelompoknya, serta membangun hubungan dengan mereka, karena dengan melakukan hal ini mereka akan melayani perang salib melawan Daulah Islam.

Di antara yang pertama kali mengeluarkan ide ini kepada pemimpin Tentara Salib Amerika adalah si Yahudi Barak Mendelsohn.

Dalam sebuah artikel Urusan Luar Negeri (Foreign Affairs) yang dipublikasitkan pada tanggal 13 Februari 2014, dia mengatakan, "Amerika Serikat juga harus bersikap rileks untuk kerjasama dengan Islamic Front (Jabhah Islamiyah) dan bahkan mempertimbangkan hubungan lebih dekat dengan JN (Jabhah An-Nusrah) di mana keduanya bekerja untuk menurunkan Presiden Suriah Bashar al-Assad. Hal ini akan memberikan tekanan lebih kepada ISIS, sementara tetap mengizinkan negara Inggris dan kelompok-kelompok Islam untuk saling akrab satu sama lain, memahami sudut pandang dan kekhawatiran masing-masing, dan bahkan mungkin untuk mengurangi orang-orang yang menderita di Suriah. Hubungan mereka pasti akan berharga ketika datang waktunya untuk merekonstruksi negara." (Catatan: Jabhah "Islamiyah" sebelumnya telah bekerja sama dengan agen AS - Qatar, Turki, dan Saudi - tetapi tidak secara langsung dan terbuka, kemudian dengan AS sendiri.)

Konsep ini telah dipetakan oleh Tentara Salib dalam Wall Street Journal pada 29 Agustus 2014 yang berjudul "United Against Islamic State", Mereka menjelaskan peta ini dengan mengatakan secara singkat, "Ketakutan atas penyebaran Islamic State berarti telah menjadikan pihak-pihak yang sering bertentangan sekarang berbagi musuh bersama ... Kelompok- kelompok yang memperlihatkan gesekan atau saling menyerang terhadap satu sama lain sekarang mendapati diri mereka satu barisan dalam keinginan untuk melawan Islamic State ... Dan pertemanan yang paling aneh dari semuanya adalah: Islamic State mengancam al-Qaeda sebagaimana mengancam Barat, yang berarti bahwa, secara fakta, al-Qaeda dan AS sekarang memiliki musuh bersama."

Small Wars Journal milik Tentara Salib menjelaskan fenomena ini secara singkat pada tanggal 22 Maret 2015, "Sekutu kita; para pemberontak yang didominasi basis Sunni dan termasuk dosis sehat Al-Qaeda - musuh setia kita di Iraq dan Afghanistan entah bagaimana sekarang berhasil berada di pihak kita di Suriah."

Dan setelah ini menjadi sekedar penggabungan kepentingan untuk melawan Daulah Islam –bukan untuk melawan orang kafir– Tentara Salib yang lain akan mulai menekankan pentingnya untuk membangun sebuah hubungan yang sebenarnya.

Seorang think-tank utama Tentara Salib –Carnegie Endowment– menulis pada tanggal 24 Maret 2015, "Barat sekarang melihat Jabhah Nusra sebagai ancaman. Tapi pragmatisme Nusra dan evolusi berkelanjutan menunjukkan bahwa mereka bisa menjadi sekutu dalam perjuangan melawan Islamic State ... Sebaliknya apabila menempatkan Nusra dan Islamic State di keranjang yang sama, Barat harus melihat melalui Afiliasi ideologis Nusra dan mendorong pragmatisme sebagai usaha mengakhiri konflik di Suriah."

Kalimat selanjutnya menjabarkan makna "Pragmatisme" Jabhah Jaulani secara rinci: Kerjasama dengan faksi lainnya adalah tanpa syarat dan "Ideologi" yang tidak dipaksakan dengan kekerasan. Penulis artikel mengatakan dalam nada memuji Jabhah Jaulani, "... Nusra tidak memaksakan ideologinya secara borongan. Sementara sumber-sumber lokal mengatakan bahwa 80 persen anggota Islamic State di Suriah bukanlah orang Suriah, sedangkan anggota Nusra sebagian besar adalah warga dan karena itu lebih menyadari akan keragaman budaya dan adat istiadat di daerah itu. Hal ini memungkinkan Nusra untuk memodifikasi pelaksanaan ideologi menurut keragaman tersebut ... "

"... Kemampuan Jabhah Nusra untuk mendapatkan hasil sebagian besar didorong oleh pragmatisme ini. Kelompok ini telah berkolaborasi dengan berbagai kekuatan lokal tanpa mendorong mereka untuk berjuang di bawah payungnya. Sebaliknya, mereka berjuang dengan Nusra sebagai sekutu –perubahan radikal dari model Islamic State, yang tidak mentolerir kolaborasi kecuali benar-benar diperlukan. Pendekatan ini telah memungkinkan Jabhah Nusra untuk memperluas jaringan dukungan dengan cepat, termasuk penambahan beberapa brigade FSA di Aleppo, Hama, dan Dar'a."

Penjabaran tentang Jabhah Jaulani juga dicerminkan di bagian lain yang ditulis oleh Tentara Salib dari Middle East Eye pada tanggal 30 April 2015. Setelah menjelaskan "Pragmatisme" dari Jabhah Jaulani (yaitu bekerjasama dengan semua orang dan tidak menerapkan hudud), penulis mengatakan, "Nusra juga bisa bermanfaat bagi serangan udara AS terhadap IS. Amerika Serikat mendaftar Jabhah Nusra sebagai organisasi teroris pada Desember 2012, jauh sebelum munculnya IS, tapi sejak tahun lalu, intervensi yang dipimpin AS di Suriah dan Iraq sebagian besar telah difokuskan pada tujuan meredam dan 'akhirnya menghancurkan' IS. Walau serangan udara koalisi juga telah menargetkan posisi Nusra, kelompok ini kurang kurang mendapat prioritas dari serangan yang dipimpin AS."

"IS secara signifikan akan melemah oleh serangan dukungan Barat, ... Nusra terlihat lebih baik untuk ditempatkan mengisi kekosongan di bagian utara, tengah dan timur dari Suriah."

"... Nusra bahkan telah menunjukkan dirinya bersedia bekerja sama dengan masyarakat internasional di wilayah itu, tahun lalu dia mau bekerja sama dengan Qatar dalam negosiasi untuk melepaskan 45 pasukan penjaga perdamaian PBB Fiji yang disandera di Golan pada bulan September."

"Dalam jangka panjang, (aktivis media oposisi dari Idlib, Juma al-Qasim) percaya bahwa penolakan rakyat Suriah terhadap IS akan mendorong oposisi untuk merangkul Nusra. ... Dan dengan kemungkinan payung kesepakatan untuk mengikutsertakan perwakilan Islam, Nusra, yang dipersenjatai, didanai dan terorganisir dengan baik, ada di posisi terbaik untuk mengisi peran itu."

Kebijakan untuk mengandalkan para pengklaim jihad untuk melawan Daulah Islam sudah diadopsi oleh beberapa thaghut Arab. Carnegie Endowment menulis pada tanggal 20 April 2015, "Islamic State berusaha untuk menyusup ke Yordania dengan banyak cara. Cara yang paling efektif untuk membangunnya tidak dengan menyerang melalui perbatasan, tetapi dengan memilih Faksi ekstremis Yordania dan mengeksploitasi kemarahan ketidakpuasan sosial di antara pemuda Yordania. Untuk mengatasi tren ini, pemerintah telah berusaha untuk mengeksploitasi perpecahan antara al-Qaida dan Islamic State, melepaskan beberapa ulama (al-Maqdisi dan al-Filistini) yang selaras dengan mantan kelompok mereka dan membiarkan mereka muncul di media."

Kebijakan ini bahkan juga telah disarankan untuk Afghanistan dan Pakistan, bahwa kehadiran Daulah Islam di sana mengancam stabilitas regional. Tentara Salib dalam "War on the Rocks" menulis pada tanggal 13 April 2015, "Namun yang jelas, Mullah Omar masih memiliki nilai penting - terutama di Asia Selatan, di mana dua perkembangan penting bermain keluar. Keduanya secara langsung terkait dengan stabilitas, di mana pemimpin Washington berkepentingan di wilayah tersebut. Dan terlepas dari nasibnya, Mullah Omar akan memiliki dampak pada masing-masing dari mereka. Perkembangan nomor satu adalah pengaruh Daulah Islam yang semakin dalam di Selatan Asia. … Tren kunci kedua adalah bersegeranya Kabul melakukan rekonsiliasi dengan Taliban. ... Akhir tahun lalu, para pejabat AS menyatakan bahwa pasukan Amerika tidak akan lagi aktif mengejar Mullah Omar. Mereka mengisyaratkan bahwa dia tidak lagi menimbulkan ancaman langsung terhadap pasukan AS. Secara zhahir, alasan ini menunjukkan bahwa Washington tidak lagi khawatir terhadapnya ... Namun, keputusan AS untuk tidak memburu Mullah Omar bisa jadi merupakan indikasi bahwa mereka masih menganggap dirinya sebagai orang yang relevan dan berguna. Washington dapat menyimpulkan bahwa jalan apapun untuk pembicaraan damai di Afghanistan tidak akan terlaksana kecuali melalui dia, dan menangkap atau menyerang dia akan menjadi bencana strategi."

Yang terburuk dari semuanya, apa yang ditulis oleh Barak Mendelsohn dalam sebuah artikel berjudul "Menerima Al-Qaeda - Musuh dari Musuh Amerika Serikat" untuk urusan Luar Negeri pada 9 Maret 2015. Di dalamnya ia berkata, "Sejak 9/11, Washington telah menganggap al-Qaeda sebagai ancaman paling besar terhadap Amerika Serikat, yang harus dimusnahkan tanpa peduli berapa banyak biaya dan waktu yang dibutuhkan. Setelah Washington membunuh Osama bin Laden pada tahun 2011, menjadikan Ayman al-Zhawahiri, pemimpin baru Al Qaeda sebagai target nomor satu selanjutnya. Tapi ketidakstabilan di Timur Tengah setelah revolusi Arab dan munculnya Negara Islam Iraq dan al-Sham (ISIS) dengan cepat, mengharuskan Washington memikirkan kembali kebijakannya terhadap al-Qaeda, terutama penargetannya terhadap Zhawahiri. Mendestabilisasi al-Qaeda saat ini mungkin sangat efektif dalam upaya AS untuk mengalahkan ISIS."

"... Hari ini, Al Qaeda, meskipun masih menjadi ancaman serius, hanya saja dia hanyalah salah satu dari beberapa ancaman yang berasal dari Tengah Timur. Washington tidak hanya harus menghadang aspirasi hegemoni Iran, yang mengancam para sekutu AS, tetapi juga harus melawan ekspansi ISIS. Kegagalan Washington untuk menyeimbangkan kepentingan-kepentingan yang beragam ini menjadi terlihat jelas ketika membuat kesalahan dalam pemboman target ISIS di Suriah dengan serangan terhadap kelompok al-Qaeda Khurasan..."

"Hingga Presiden AS Barack Obama berhasil memenuhi janjinya untuk 'menurunkan dan akhirnya menghancurkan' ISIS, ia harus melemahkan kontrol ISIS atas Mosul, Raqqa, dan pusat-pusat populasi besar lainnya, serta menghentikan ekspansinya. Sehingga secara tidak sengaja, administrasi pendekataan secara hati-hati menuju intervensi militer menjadikan al Qaeda –yang dipandang ISIS sebagai cabang murtad– pemain penting dalam membatasi pertumbuhan ISIS."

"... Selama Zhawahiri masih hidup, para pemimpin cabang Al-Qaeda yang terikat kepadanya oleh sumpah setia akan sedikit yang bergeser kesetiaan dan bergabung ke ISIS. Tetapi apabila, jika Washington berhasil membunuh Zhawahiri, para pemimpin cabang Al Qaeda akan memiliki kesempatan untuk menilai kembali apakah akan tetap dengan al Qaeda atau bergabung dengan Kekhalifahan Baghdadi…"

"Dan lebih daripada selama era Osama bin Laden, kekompakan al-Qaeda tergantung pada kemampuan kepemimpinan untuk menyatukan berbagai cabang secara bersamaan, dan tidak jelas apakah al-Qaeda dapat bertahan setelah suksesi kepemimpinan baru sejak para senior al-Qaeda telah menyusut dalam beberapa tahun terakhir, membuatnya lebih tergantung pada tokoh senior seperti Zhawahiri untuk mempertahankan kesatuan. Nampaknya, nasib kelompok ini tergantung pada kelangsungan hidup sosok Zhawahiri. Ada sebuah ironi pada titik ini, ketika Amerika telah mencapai titik paling dekat yang belum pernah diraih sebelumnya dalam menghancurkan al-Qaeda, kepentingannya ternyata menunjukkan akan lebih baik untuk tetap menjaga organisasi teroris ini tetap ada dan Zhawahiri tetap hidup." 
(gambar)
Teman yang Aneh
Kelompok-kelompok yang bergesekan atau bersinggungan langsung satu sama lain sekarang mendapati diri mereka sejajar dalam keinginan melawan Islamic State. Kelompok garis yang berwarna sama mewakili kepentingan bersama.
(teks dan gambar berasal dari media Salibis Wall Street Journal!)

Apakah Tentara Salib telah mengikuti atau akan mengikuti "nasihat" ini, itu tidak penting. Fakta ini telah disarankan oleh begitu banyak Tentara Salib dan analis murtad yang akan menjadi sumber malu untuk setiap pengklaim jihad!

Sesungguhnya kepentingan Tentara Salib ini terwujud secara jelas dengan fakta bahwa pasukan sekularis dari FSA yang didukung Tentara Salib tidak akan eksis tanpa Jabhah Jaulani, seperti yang diungkapkan oleh si murtad sekuler Orient News dalam sebuah laporan video pada tanggal 15 April 2015 menyatakan bahwa bentrokan antara FSA dan Jabhah Jaulani tidak akan memberi manfaat untuk kepentingan kedua sisi "terutama mengingat ekspansi Islamic State di sisi selatan, serangan mereka atas pangkalan udara Khalkhalah, dan an-nusrah selalu memukul mundur setiap ekspansi Islam State, membuat kehadiran An-Nusrah ini terus menjamin agar ekspansi tersebut tidak terjadi." Fakta ini telah didemostrasikan baru-baru ini oleh kerjasama antara Jabhah Jaulani dan FSA di Dar'a melawan mujahidin yang sesungguhnya, yang mereka dituduh sebagai Khawarij.

Puncak dari ini adalah sebutan yang dibuat oleh beberapa salibis ("Protected Zone for Syria" oleh John McCain, Lindsey Graham) dan orang-orang murtad (Koalisi Nasional Suriah, SNC) untuk pembentukan "zona yang dilindungi" di Idlib, Dar'a, dan Halab –daerah yang saat ini dihuni oleh "al-Qa'idah " Suriah dan sekutunya yang didukung negara-negara Teluk. Zona ini yang harus dilindungi dari Daulah Islam oleh Tentara Salib dan jet murtad! Semoga Allah mengampuni Syaikh Mujahid Usamah bin Ladin rahimahullah, di mana para pengklaim jihad ini telah merubah seruannya melenceng begitu jauh.

Jabhah Jaulani dan yang semisalnya, cepat atau lambat pasti akan mendapati diri mereka di antara dua pilihan, apakah mereka harus bergabung menjadi satu dengan faksi-faksi yang didukung oleh thaghut sebagaimana yang terjadi pada Fajr Libya, atau mereka akan menunggu pengkhianatan dari para sekutu mereka sebagaimana Jabhah Jaulani sebelumnya mengkhianati para muhajirin dan Anshar Daulah Islam.

PERBINCANGAN MUSUH - DABIQ 8

DABIQ 8 - PERBINCANGAN MUSUH

DAULAH ISLAM DALAM PERBINCANGAN MUSUH

Beberapa bulan terakhir, sejumlah tentara salib menyuarakan keprihatinan mereka atas kekuatan dan gerakan Daulah Islam, kebangkitan Islam dan khalifah, dan ekspansi ini akhirnya masuk ke dalam Eropa dan seluruh dunia.

Tentara salib Katolik dan politisi Amerika Rick Santorum mengatakan hal berikut:

"Ini adalah khalifah yang telah ditegakkan dan itu berarti mereka memanggil orang-orang dari di seluruh dunia untuk datang dan bertempur dalam peperangan ini. Selama mereka terus mempertahankan wilayah mereka dan terus memperluas kekuasaan, maka semakin banyak dan banyak lagi yang akan datang. Fakta bahwa jika kita menunda berarti Khilafah ini akan terus ada. Mereka tidak kehilangan wilayah, mereka tidak lagi didiskreditkan dalam mata dunia Muslim. Mereka akan semakin kuat. ... Ini benar-benar penting untuk difahami. Alasan Barat berperang ribuan tahun dengan Islam adalah karena Islam pernah meluas. Pada Saat Islam mulai berkontraksi, maka dia runtuh, dan kekhalifahan telah dihapus. Sekarang mereka telah mendirikan sebuah kekhalifahan. Mereka mati-matian untuk mengembangkannya. Kecuali kita mulai merebut kembali wilayah itu dan membuat kekhalifahan ini hanya relevan di mata dunia Muslim radikal, (jika tidak) kita akan memiliki lebih besar dan lebih besar lagi masalah."

Dan tentara salib Amerika dan mantan Komandan Misi CIA Gary Berntsen harus mengatakan hal berikut ini:

"Dalam enam minggu terakhir kita telah melihat kelompok di Pakistan telah bersumpah setia kepada ISIS, Anshar Bait al-Maqdis di Semenanjung Sinai telah bersumpah setia kepada mereka, kelompok Libya juga, dan sekarang Boko Haram.... ISIS memiliki miliaran dolar. Mereka memiliki jaringan komunikasi. Mereka menjangkau orang-orang ini dan semua ini hanya menunjukkan kepadamu betapa mematikan dan efektifnya ISIS. ISIS benar-benar kelompok teroris Sunni paling sukses dalam sejarah karena mereka sudah menghapus batas negara-bangsa. Kelompok ini mengakui itu... Mereka Tentara Salib Amerika di negara-negara itu melihat kelompok ini sebagai kelompok Islam, dan ini merupakan kelompok teroris Islam, tetapi ini adalah kelompok teroris yang telah menjadi sebuah negara-bangsa. Dan itu diterima luas di daerah-daerah oleh individu yang sekarang menolak untuk menerima konsep negara-bangsa sekuler. Dan ISIS memiliki cara-cara brilian dalam menyebarkan propaganda. Hal ini telah benar-benar bisa menjual nama mereka dengan sendirinya kepada ratusan juta orang di luar sana yang mencari pesan."

Akhirnya, tentara salib Amerika dan senator negara bagian Virginia Richard Black mengatakan sebagai berikut:

"Satu hal yang jelas, jika Damaskus jatuh, bendera hitam dan putih menyeramkan ISIS akan berkibar di atas Damaskus. Dalam tempo beberapa bulan setelah jatuhnya Damaskus, maka Yordania akan jatuh dan Lebanon akan jatuh. Dengan daerah ekspansi itu dari sebuah gerakan Islam paling ekstrem, saya pikir Anda secara otomatis akan melihat awal dari tekanan sejarah Islam terhadap Eropa, dan saya pikir, pada akhirnya, Eropa akan ditaklukkan, dan itu sebabnya saya melihat Suriah sebagai pusat gravitasi. Itulah apa yang mesti kita diskusikan di perguruan tinggi perang militer ketika kita akan melakukan studi perang dan tujuannya. Di sana selalu ada pusat gravitasi – yang ini merupakan hal yang akan menentukan hasil perang. Jika Anda bisa mengalahkan pusat gravitasi, maka Anda menang. Apa yang saya lihat, Suriah adalah pusat gravitasi untuk peradaban Barat. Jika itu jatuh, maka kita akan mulai melihat kemajuan sangat pesat Islam di Eropa dan saya pikir pada akhirnya, sangat berpotensi, runtuhnya seluruh Eropa."

PERBINCANGAN MUSUH - DABIQ 7

DABIQ 7 – PERBINCANGAN MUSUH

DAULAH ISLAM DALAM PERBINCANGAN MUSUH

Bulan ini, Patrick Cockburn – seorang jurnalis kafir dan warga Inggris, anggota koalisi salibis melawan Daulah Islam – menulis sebuah artikel berjudul “Krisis Tawanan ISIS: Kelompok Militan Berdiri Kuat karena Musuh-Musuhnya yang Sangat Banyak Gagal Menemukan Rencana Bersama untuk Mengalahkannya.” Dalam artikel ini, penulis membandingkan kesuksesan-kesuksesan Daulah Islam dengan kegagalan menyeluruh salibis dalam perang mereka melawan Khilafah. Walaupun artikel tersebut membesar-besarkan “kemampuan” dan “keunggulan” yang disematkan kepada murtaddin dari pasukan Shafawi, PKK, dan Peshmerga, penulis membuat sejumlah poin bijaksana. Dia mengatakan seperti ini :

“ISIS bertahan dari upaya-upaya untuk mengalahkannya dan memegang jumlah wilayah yang hampir sama di Iraq dan Suriah –wilayah yang lebih luas dari Inggris Raya– sebagaimana pada akhir serangan kilat mereka tahun lalu. Musuh-musuh mereka sangat banyak, tetapi terpecah belah dan tanpa rencana bersama. Baik tentara Iraq maupun Suriah, musuh militer utama mereka, tidak cukup kuat untuk menyerbu negara jihadi tersebut.”

“Selama ISIS masih ada, mereka mempertahankan kemampuan untuk mendominasi agenda politik dan media berhari-hari pada satu waktu dengan ancaman eksekusi tawanan di depan umum. Kejadian-kejadian kelabu tersebut, sebagaimana kita lihat pada tawanan Jepang dan Jordania, dibuat dengan tujuan mendapat publikasi maksimum dan menyebarkan teror umum.”

“ISIS mengalami kemunduran, namun juga mendapat kesuksesan-kesuksesan. Minggu ini, pasukannya akhirnya terusir dari kota Kaum Kurdi Suriah “Kobane” setelah pengepungan berlangsung selama 134 hari, di mana mereka menderita kerugian yang banyak dari 606 serangan udara Amerika. Tetapi di tempat lain di Suriah, ISIS mengalami kemajuan terhadap kota Homs juga mendapat kekuataan di Damaskus selatan dan al-Qalamun, dekat Lebanon timur. Oleh suatu kesaksian, ISIS telah memenangkan kontrol terhadap wilayah tersebut sejak September lalu di mana satu juta penduduk Suriah hidup, ditambah wilayah yang telah mereka kuasai sebelumnya.”

“Di Iraq, pasukan pemerintah telah mengalami kemajuan di provinsi-provinsi sekitar Baghdad, tetapi awal minggu ini peluru-peluru berhasil mengenai sebuah pesawat dan melukai penumpang-penumpangnya di Bandara Internasional Baghdad, memaksa maskapai besar untuk menghentikan penerbangan ke sana. Hal ini mengisolasi ibukota Iraq dan, walaupun bandara tidak sepenuhnya tutup, ISIS mungkin dapat merebutnya kapan pun.”

Dia kemudian mengatakan:

"Menurut Pusat Internasional untuk Studi Radikalisasi dan Kekerasan Politik, jumlah pejuang asing yang bergabung dengan ISIS di Iraq dan Suriah meningkat dari 15.000 pada Oktober lalu menjadi 20.000 sekarang. Seperlima darinya datang dari Eropa Barat. ISIS juga menerapkan wajib militer kepada pejuang di wilayah yang mereka kontrol.”

“ISIS terjepit secara militer dan ekonomi, tetapi tidak ada tanda-tanda ia akan hancur. Bahkan kekalahannya di Kobane tidak menunjukkan kelemahannya, karena ISIS telah menguasainya berbulan-bulan walaupun berperang dengan Kurdi Suriah, yang didukung bombardir udara intensif oleh Amerika dalam tempat yang terbatas. Analis Barat termotivasi dengan terbunuhnya sejumlah komandan berpengalaman ISIS tahun lalu, tetapi ideologi mereka dibangun di atas martir, dan angka kematian yang tinggi di antara para pemimpinnya menunjukkan mereka berperang di garis depan. Presiden Obama berkata upaya utama Amerika adalah di Iraq namun jika tidak mampu membangun kembali tentara Iraq maka hampir tidak mungkin untuk mengalahkan ISIS di sana. Dan selama ISIS telah ada, akan terus ada penawanan dan eksekusi terhadap tokoh-tokoh penting."

Dewan Redaksi The Washington Post juga mengomentari “kemenangan” koalisi, mereka berkata:

“Kemenangan kecil di Suriah tidak layak untuk dirayakan karena Islamic State semakin kuat. Pejabat Amerika merayakan kemenangan kecil dalam peperangan melawan Islamic State di Suriah – tampaknya kesuksesan mempertahankan kota Kurdi Kobane, di perbatasan dengan Turki. Dalam pengepungan sejak Oktober, Kobane memiliki nilai strategis kecil tetapi tampaknya menjadi uji coba apakah Amerika dan sekutunya mampu menghentikan ekspansi Daulah Islam … Dengan bantuan pasukan darat Kurdi, para ekstrimis berhasil dipukul mundur. Tetapi mungkin fakta paling penting dari Kobane adalah ia menghabiskan 75 persen dari hampir 1000 serangan udara yang dilakukan pesawat-pesawat sekutu di Suriah sejak September … Di wilayah lainnya di Suriah yang di bawah kontrolnya, termasuk ibu kotanya Raqqah, Islamic State … tumbuh semakin kuat bukannya semakin lemah.”

Atau perkataan salibis Eric Shawn dari Fox News:

“Presiden berjanji ISIS akan dihancurkan. Sebaliknya, mereka malah semakin menyebar … Kekuatan koalisi akhirnya memukul mundur ISIS di perbatasan kunci mereka di kota Kobane … Dilaporkan hal tersebut menghabiskan 75 persen dari semua serangan udara yang dilancarkan di sana sejauh ini. Dan walaupun secercah harapan tersebut, Islamic State bersumpah untuk mengambil alih kembali kota tersebut ketika pasukannya mendapat kesuksesan di tempat lain … Wilayah Islamic State telah tumbuh dalam lima bulan terakhir … walaupun (ditengah) semua serangan udara koalisi.”

PERBINCANGAN MUSUH - DABIQ 6

DABIQ 6 - PERBINCANGAN MUSUH

DAULAH ISLAM DALAM PERBINCANGAN MUSUH

Benjamin Netanyahu –kepala Negara Yahudi– ditanya oleh CBS News pada program "Face of Nation" jika Daulah Islam merupakan ancaman bagi negara Yahudi. Dia menjawab:

"Tentu saja. Maksudku, ISIS dapat dikalahkan karena dia melakukan apa yang semua militan Islam coba lakukan. Mereka semua ingin; pertama mendominasi bagian mereka di Timur Tengah dan kemudian dari sana mereka pergi untuk menjalankan ide aneh mereka mendominasi dunia. (...) Pada dasarnya, mereka ingin mengumpulkan kekuatan yang cukup untuk kemudian melakukan ambisi gila mereka. Jadi, itu adalah bahaya ISIS. Hal ini menciptakan sebuah pernyataan. Dia memiliki dua juta petrodolar sehari. Sekarang mereka telah mengambil alih senjata dari tentara Iraq dan sebagainya. Dan itu berbahaya, tidak diragukan."

Dia kemudian ditanya apakah negara Yahudi akan terlibat secara langsung dalam perang melawan Daulah Islam. Maka dia menjawab: "Kami siap mendukung dan membantu dalam setiap cara apabila kita diminta untuk melakukannya."

Terakhir, ia diminta pendapatnya tentang perluasan serangan udara Amerika untuk memasukkan target rezim Nushairi.

Dia menjawab: "Saya pikir, sekarang, masalah yang sebenarnya adalah ISIS. ISIS telah mengambil alih pasokan minyak di Suriah. Dia telah mendapatkan – secara mendasar menggunakan Suriah sebagai tempat yang aman dan wilayah untuk melancarkan serangan. Dan saya pikir, hal yang bijaksana, sebuah keputusan telah dibuat bahwa ISIS di Suriah dan Iraq sama-sama ditargetkan."

CHUCK HAGEL MENINJAU ULANG

Pada 19 November 2014, seorang tentara salib dan Mantan Menteri Pertahanan AS ditanya:

"Pertanyaannya adalah apakah kita memiliki kemauan dan kapasitas untuk mempengaruhi peristiwa sebagaimana biasa?"

Dia menjawab: "Saya kira ini tidak begitu banyak kemauan, saya tidak berpikir itu. Saya pikir kemampuan kita berbeda karena ancaman dan tantangan yang jauh lebih menyebar dan bervariasi. Saya berbicara tentang ancaman asimetris. Maksudku kecanggihan ISIL – hanya akan berlangsung singkat. Kami belum pernah melihat organisasi seperti ISIL yang begitu terorganisir dengan baik, begitu terlatih, sangat baik pendanaannya, sangat strategis, sangat brutal, dan benar-benar kejam. Kita belum pernah melihat sesuatu seperti itu dalam satu institusi. Lalu mereka mencampurnya dalam ideologi yang akhirnya mereka akan kalah*, kita tahu itu, dan juga media sosial. Kecanggihan program media sosial mereka juga sesuatu yang kita belum pernah lihat sebelumnya. Lalu Kamu campur semua itu bersamasama, sehingga menjadi ancaman sangat kuat dan luar biasa. Maka kita coba untuk menyesuaikan diri dan- kita tidak bisa melakukannya sendiri."

*Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk (Al-Qur'an) dan agama yang benar untuk dimenangkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (At-Taubah: 33)