Tampilkan postingan dengan label Rumiyah Edisi 7. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rumiyah Edisi 7. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 April 2018

DAGING PASANGAN HIDUPMU ITU BERACUN

RUMIYAH 7 - MUSLIMAH

DAGING PASANGAN HIDUPMU ITU BERACUN

Pada hakikatnya hubungan suami istri itu adalah hubungan akhirat, tidak hanya sekedar syahwat dan kenikmatan dunia belaka, sampai masing-masing dari mereka menjejakkan kakinya di surga yang abadi. Allah berfirman, “(yaitu) surga ´Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang shaleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya.” (QS. ar-Ra’du: 23).

Dengan hikmah-Nya, Allah menciptakan manusia itu mustahil mencapai kesempurnaan. Ia menciptakan kita serba kekurangan dan selalu keliru. Sehingga tidak ada rumah tangga pun yang tidak diliputi dengan persoalan.

Namun sebagian pasangan hidup – semoga mereka disadarkan oleh Allah –, baik lelaki maupun wanita, tidak segan menceritakan rahasia rumah tangganya. Banyak para suami yang kita dapati suka menceritakan permasalahan yang terjadi dengan istrinya itu pada obrolan-obrolannya. Demikian juga para istri. Ketika salah satu pihak tidak ada maka pihak lain memanfaatkannya untuk menceritakan keburukan ‘seterunya’ itu. Perbuatan itu sungguh tercela baik dalam kaca mata syariat maupun kebiasaan.

Janganlah Kalian Saling Menggunjing

Ghibah adalah bencana lisan, yang hanya menghasilkan penyesalan dan kekecewaan. “Bukankah manusia itu diseret ke dalam neraka tidak lain lantaran buah ucapan mereka?” (HR. Ahmad).

Allah ta'ala berfirman, “Janganlah menggunjingkan satu Kolom Muslimah sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.” (QS. al-Hujurat: 12).

Firman-Nya, “Janganlah menggunjingkan satu sama lain”, yaitu bahwa Allah tidak mengecualikan suami istri dalam ayat tersebut. Maka tidak halal bagi keduanya saling menyebut keburukan ketika pihak lain tidak ada sekalipun sangkaannya itu benar.

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Tahukah kalian apa itu ghibah? Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Rasul bersabda, “Engkau menyebutkan keburukan-keburukan saudaramu.” Dikatakan, “Bagaimana jika memang hal itu ada pada saudaraku? Beliau menjawab, “Jika memang ada pada saudaramu maka sungguh engkau telah meng-ghibahnya, namun jika tidak maka sungguh engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim).

Sebagian wanita – semoga Allah memperbaiki mereka – sebenarnya mengetahui bahwa ghibah adalah perkara berat di sisi Allah. Sebuah bencana lisan yang hanya menghasilkan penyesalan dan kekecewaan. Namun ia tidak merasa segan menggunjing suami dan madunya. Ia mengira bahwa memakan daging mereka itu halal saja. Ia mengira hal itu tidak akan ditanyakan padanya nanti di hari kiamat. Ditambah lagi, sedikit sekali yang memperingatkannya ketika ia sedang meng-ghibah. Bahkan kebanyakan malah terkagum-kagum dan semakin menyemangatinya untuk menceritakan segala sesuatu tentang suaminya itu.

Imam Nawawi membuat bab dalam kitab Riyadush Shalihin “Bab Haramnya mendengar ghibah, dan yang mendengarnya diperintahkan untuk mengingkarinya dengan keras, namun jika ia tidak mampu atau peringatannya itu tidak diterima maka sebisa mungkin meninggalkan majelis itu”.

Yang amat disayangkan, ternyata para pendengar itu tidak hanya menyimak saja bahkan malah membantu si istri untuk melawan suaminya dengan bathil. Jika ada seorang wanita mengadukan mengenai suaminya, teman-temannya malah semakin menyemangatinya. Bahkan lebih dari itu, ada yang malah menjerumuskan saudarinya dengan menceritakan prosedur pengaduan ke hakim dan tata cara khulu’. Mengakhiri bahtera rumah tangga dibuatnya terlihat indah berharap dapat menikahkan saudarinya itu dengan salah satu kerabatnya atau kerabat suaminya. Bukan demi memperbaiki perkara rumah tangga saudarinya itu. Seakan-akan ia sama sekali tidak pernah membaca hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Bukan bagian dari kami orang yang memprovokasi seorang wanita atas suaminya, dan seorang hamba atas tuannya.”

Demikian juga dengan madunya. Banyak muslimah yang tidak segan-segan membicarakan kejelekan madunya. Bahkan ada yang sampai mencaci maki madunya itu lantaran cemburu buta. Hal itu dilakukannya dalam obrolan sesama wanita maupun di hadapan suami, yang sering tidak mengerti apa yang harus dilakukannya apakah ia membela dirinya dari ketajaman lisan istrinya itu ataukah ia bela istrinya yang sedang dipergunjingkan? Allahul musta’an.

Hendaknya setiap muslimah ingat bahwa menghina saudara dan saudari muslimnya sekalipun hanya dengan isyarat itu adalah dosa besar ghibah yang diharamkan. Dari Aisyah radhiyallahu anha berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, Shafiyah itu wanita seperti ini,’ ia mengisyaratkan dengan tangannya yang maksudnya itu pendek, maka beliau bersabda, ‘Sungguh engkau telah mengatakan kalimat yang seandainya dicampurkan ke laut niscaya akan merubahnya.’ (HR. Abu Dawud).

Inilah Ummul Mukminin Aisyah yang hanya bergurau tidak hendak menghina madunya Shafiyah radhiyallahu anhuma, dan sekedar berisyarat dengan tangannya tidak mengatakannya langsung. Sekalipun demikian Nabi shallallahu alaihi wasallam memperingatkannya bahwa perbuatannya itu keterlaluan. Suatu kalimat yang terkadang seseorang itu tidak mempedulikannya namun jika tercampur dengan air laut niscaya akan merubahnya. Cukuplah sabda Rasul ? mengenai hal itu, “Sesungguhnya seorang hamba itu mengatakan sesuatu yang membuat murka Allah tanpa dipedulikannya, yang membuatnya terperosok ke dalam Jahannam.” (HR. Bukhari)

Orang Berakal Tidak Akan Menyingkap Rahasia Rumah Tangganya

Lebih buruk daripada kelakuan istri yang menzhalimi dirinya sendiri itu, engkau dapati ada lelaki yang berakal namun mengobralkan rahasia rumah tangganya, menyingkap persoalannya dengan istrinya dan mengungkap rahasianya. Ini, demi Allah, adalah tanda kurangnya rasa kehormatannya. Tidak dilakukan kecuali oleh orang dungu. Kecuali dalam rangka mencari solusi kepada hakim, mufti, atau seseorang yang terpercaya agama dan akhlaknya yang tidak akan menceritakannya kepada siapapun, dan diceritakan seperlunya.

Betapa mulianya akhlak seorang tabi’in, suatu kali ia hendak mentalak istrinya, maka orang-orang bertanya, “Kenapa engkau hendak mentalak istrimu? Jawabnya, “Aku bukan orang yang suka menyebutkan keburukan istrinya.” Setelah ia mentalaknya, orang-orang kembali bertanya, “Kenapa engkau mentalak istrimu? Jawabnya, “Aku bukan orang yang suka membicarakan wanita asing.”

Hendaknya suami istri yang suka menggunjingkan pasangan hidupnya itu menyadari bahwa setiap rahasia dan keburukan yang disingkapnya itu sama saja telah menorehkan sobekan pada baju rumah tangga mereka. Ketika sobekan itu semakin lebar maka pasti “musang-musang” akan memanfaatkan kesempatan itu sampai seluruh baju tersobek-sobek, yang tidak akan bisa ditambal lagi.

Sebagaimana rumah tangga itu mempunyai kehormatannya sendiri, juga ada rahasia-rahasia yang tak seyogyanya disebarluaskan lewat lisan-lisan mukmin muwahhid yang suci sekalipun kerabat terdekatnya. Sebaliknya, yang banyak memperhatikan kehidupan rumah tangga akan mendapati bahwa permasalahan akan semakin runyam ketika ada pihak ketiga yang ikut campur dengan alasan hendak mencari solusi, padahal persoalannya terkadang sepele belaka, sehingga justru malah membuat perkara semakin rumit.

Sebagian orang mungkin berkilah jika maksudnya itu sekedar mengadu dan melepaskan stress. Kita katakan; Betul bahwa jiwa itu terkadang merasa tidak kuat lagi menerima tekanan, sedangkan didapatinya kawannya itu pendengar yang baik dan bisa menasihati. Disinilah penyakit sekaligus obat dari fenomena ini. Hendaknya si pengadu itu memilih sebaik-baiknya pendengar atas persoalannya itu. Orang itu hendaknya terpercaya, mampu menjaga nama baiknya, dan pemberi nasihat yang jujur lagi bertaqwa kepada Allah.

Adapun jika sang suami atau istri mengobralkan semua hal yang terjadi di balik dinding rumahnya sehingga menjadi buah bibir sampai setiap orang tahu tiap detail kehidupannya, maka ini bukan mengadu atau melepaskan stress untuk mendapatkan nasihat dan perbaikan.

Jika suami atau istri mengeluhkan hubungan rumah tangga yang semakin memburuk, maka hendaknya menyampaikannya ke seorang hakim atau mufti. Inilah yang dilakukan oleh Khuwailah binti Tsa’labah, ketika suaminya men-zhiharnya ia tidak mengadu kepada seorangpun namun langsung menyampaikannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sehingga turunlah ayat, “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. al-Mujadilah: 1).

Demikian juga yang dilakukan oleh Hindun istri Abu Sufyan, dari Aisyah bahwa Hindun binti ‘Utbah berkata, “Wahai Rasulullah, Abu Sufyan adalah lelaki pelit, ia tidak memberi apa yang mencukupi untuk diriku dan anak-anakku kecuali yang aku ambil tanpa sepengetahuannya.” Rasul menjawab, “Ambillah apa yang mencukupi untukmu dan anak-anakmu dengan cara yang makruf.” (HR. Bukhari dan Muslim)

BERLEPASDIRI DARI ORANG-ORANG MUSYRIK DALAM SIRAH NABI DAN PARA SAHABAT

RUMIYAH 7 - SEJARAH

BERLEPASDIRI DARI ORANG-ORANG MUSYRIK DALAM SIRAH NABI DAN PARA SAHABAT

Al-wala wal bara adalah pondasi agung yang terkandung dalam seluruh syariat para nabi alaihimus salam, termasuk syariat penutup mereka shallallahu alaihi wasallam. Pondasi ini tampak jelas dalam sirahnya dan para sahabatnya. Mereka telah menampakkan permusuhan pada orang-orang musyrik Makkah kemudian bertikai dan memeranginya dengan pedang setelah hijrah ke Madinah. Sampai ada yang membunuh bapak atau saudaranya yang musyrik sebelum orang-orang musyrik lainnya, selama mereka terus memerangi Allah dan Rasul-Nya.

Nabi shallallahu alaihi wasallam Memulai Dakwahnya Dengan Berlepas Diri Dari Thaghut

Sejak Nabi shallallahu alaihi wasallam diperintahkan untuk terang-terangan dalam berdakwah, beliau telah mengumumkan permusuhan yang nyata atas orang-orang musyrik. Beliau cela tuhan-tuhan mereka. Beliau peringatkan mereka jika terus dalam kesyirikan maka akan digolongkan dalam penduduk Neraka.

Ibnu Hisyam berkata, “Ibnu Ishaq berkata, ‘Ketika beliau shallallahu alaihi wasallam mulai terang-terangan menyeru kaumnya kepada Islam sebagaimana diperintahkan, kaumnya tidak menjauhi atau menolaknya – menurut yang sampai padaku -. Namun setelah beliau menyebut-nyebut dan mencela tuhan-tuhan mereka, mulailah permusuhan dan pengingkaran itu. Mereka sepakat menyelisihi dan memusuhinya kecuali yang Allah lindungi lantaran keislamannya, sedangkan mereka itu sedikit lagi lemah’.”

Sekalipun kaum muslimin lemah dan sedikit, namun tauhid menuntut mereka untuk berlepas diri dari thaghut dan menampakkan permusuhan kepada penyembahnya.

Ketika Quraisy mendatangi Rasul shallallahu alaihi wasallam untuk mengajaknya saling bertukar sesembahan sekalipun sesaat, yaitu mereka bersedia menyembah tuhannya walau sesaat dengan syarat beliau menyembah thawaghit mereka itu walaupun sesaat, turunlah ayat yang melarang hal itu dan menjelaskan bahwa tidak ada kompromi antara tauhid dan syirik.

Ibnu Hisyam berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sedang thawaf di Ka’bah, al-Asud bin al-Mutthalib bin Asad bin Abdul Uzza, al-Walid bin al-Mughirah, Umayah bin Khalaf, dan al-‘Ash bin Wail as-Sahmi – mereka adalah pemuka-pemuka kaumnya – menghadangnya, lalu berkata, ‘Wahai Muhammad, marilah kita berkompromi, kita sembah sesembahanmu dan engkau sembah sesembahan kami sehingga kita sama-sama menyembah. Jika sesembahanmu itu lebih baik daripada sesembahan kami maka kami telah mendapat bagiannya. Jika sesembahan kami itu lebih baik daripada sesembahanmu maka engkau juga telah mendapat bagianmu.’ Maka Allah menurunkan ayat, “Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. al-Kafirun: 1-6).

Kaum Muslimin Memerangi Kerabatnya yang Musyrik

Ketika Allah ta'ala memudahkan Nabi-Nya untuk berhijrah ke Madinah dan mendirikan Daulah Islam, tidaklah cukup berlepas diri dari kaum musyrikin itu hanya dengan menampakkan permusuhan dan mencela mereka. Maka disyariatkanlah jihad dan perang sampai mereka tunduk kepada perintah Allah ta'ala.

Terjadilah Perang Badar pada tahun 2 H. Pedang-pedang muwahhid bersilangan dengan pedang-pedang anak-anak paman mereka yang musyrik lagi memerangi agama Allah ?. Sekalipun demikian kaum muslimin tidak menjadi lemah dalam memerangi dan membunuhi mereka. Bahkan sebagian sahabat melihat dengan kepala sendiri bapak dan saudara-saudara mereka terjungkal satu demi satu, malah ada yang membunuh kerabatnya dengan tangannya sendiri.

Ketika Allah menganugerahkan kemenangan kepada kaum muslimin dan memperoleh tawanan dalam jumlah besar, Umar al-Faruq radhiyallahu anhu berpendapat bahwa tawanan itu seluruhnya dibunuh lewat tangan kerabatnya, yang kemudian pendapat ini dikuatkan oleh wahyu.

Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, berkata, “Ketika mereka mendapatkan tawanan, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya kepada Abu Bakar dan Umar, ‘Apa pendapat kalian berdua mengenai para tawanan? Abu Bakar menjawab, ‘Wahai Nabiyullah, mereka masih ada ikatan kerabat, aku berpendapat engkau meminta tebusan sehingga kita mempunyai kekuatan untuk melawan orang-orang kafir. Semoga Allah memberi hidayah Islam pada mereka.’ Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu bertanya, ‘Apa pendapatmu wahai Ibnul Khatthab? Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, demi Allah aku tidak sependapat dengan Abu Bakar. Aku berpendapat bahwa mereka dipenggal saja. ‘Uqail diserahkan kepada Ali untuk dipenggal, si fulan diserahkan padaku untuk ku penggal lehernya. Sesungguhnya mereka adalah para imam kafir dan gembong-gembongnya.’ Rasulullah shallallahu alaihi wasallam cenderung kepada pendapat Abu Bakar, tidak sependapat denganku. Esoknya aku mendatangi Rasulullah, ternyata beliau shallallahu alaihi wasallam dan Abu Bakar sedang duduk menangis. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah apa yang membuatmu dan sahabatmu ini menangis? Aku akan ikut menangis, jika tidak ada yang membuatmu menangis aku akan menangis karena tangisanmu.’ Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Aku menangis karena sahabatmu yang menyarankan untuk meminta tebusan, ditampakkan padaku bahwa azab mereka lebih keras daripada pohon ini,’ beliau menunjuk pohon yang berada di dekatnya. Lalu Allah ta'ala menurunkan ayat, ‘Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil. Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertaqwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Maka Allah menghalalkan ghanimah untuk mereka.” (QS. al-Anfal: 67-69).

Seorang Sahabat Bernadzar Untuk Tidak Menyentuh Orang Musyrik

Dalam perkara ini, sebagian sahabat sampai bernadzar untuk tidak menyentuh musyrik sama sekali karena merasa jijik dengan najis syirik.

Bukhari meriwayatkan kisah sariyah ‘Ashim bin Tsabit al-Anshari dari Abu Hurairrah radhiyallahu anhu, berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengutus sariyah beranggotakan sepuluh orang yang diketuai oleh ‘Ashim bin Tsabit al-Anshari kakek ‘Ashim bin Umar untuk mencari informasi. Mereka bergerak sampai di Hudah, suatu tempat di antara ‘Asfan dan Makkah. Pergerakan mereka terdengar oleh salah satu cabang kabilah Hudzail yang disebut dengan Bani Lihyan. Maka lebih kurang seratus pemanah bergerak menelusuri jejak mereka. Ketika ‘Ashim dan kawan-kawannya melihat pasukan itu mereka segera menaiki sebuah bukit. Pasukan itu mengepung mereka dan berkata, ‘Turunlah kalian, serahkan diri kalian, kami berjanji akan melindungi kalian dan tidak membunuh seorangpun.’ ‘Ashim berkata, ‘Adapun aku, demi Allah, aku tidak akan masuk dalam perlindungan seorang kafir. Ya Allah kabarkanlah Nabi-Mu mengenai kita.’ Maka hujan anak panah pun terjadi. ‘Ashim dan tujuh sahabat lain terbunuh. Tiga orang yang tersisa yaitu Khubaib al-Anshari, Ibnu Datsnah dan seorang lagi turun demi mendapatkan perlindungan. Ketika tiga orang ini terkepung maka orangorang kafir segera melepas tali-tali busur dan mengikat mereka. Maka lelaki ketiga berkata, ‘Ini pengkhianatan pertama. Demi Allah aku tidak akan ikut kalian. Mereka – maksudnya tujuh sahabat yang terbunuh – telah memberi kita contoh.’ Ia tetap menolak meskipun diseret-seret, sehingga mereka membunuhnya. Mereka lalu menyeret Khubaib dan Ibnu Datsnah lalu menjualnya di Makkah.”

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa, “Sekelompok kafir Quraisy mengirimkan seseorang untuk mendapatkan sesuatu dari diri ‘Ashim ketika tersiar kabar bahwa ia terbunuh. ‘Ashim telah membunuh salah seorang pembesar Quraisy pada Perang Badar. Namun tiba-tiba sekawanan besar lebah mengerumuni jasadnya se- hingga utusan itu tidak bisa menyentuh sedikitpun jasad ‘Ashim.”

Dalam Sirah Ibnu Hisyam disebutkan, “Ketika ‘Ashim terbunuh, kabilah Hudzail hendak memotong kepalanya untuk dijual ke Sulafah binti Sa’ad bin Syahid. Wanita ini telah bernadzar ketika dua anaknya terbunuh di tangan ‘Ashim pada Perang Badar bahwa ia akan menggunakan tengkorak ‘Ashim untuk meminum khamr. Namun sekawanan besar lebah menghalangi mereka. Maka mereka berkata, ‘Biarkan saja, nanti sore akan kita ambil.’ Maka Allah mengirimkan banjir yang membawa jasadnya. Semasa hidup ia membuat perjanjian dengan Allah bahwa tidak ada seorang pun musyrik yang menyentuhnya dan ia tidak akan menyentuh musyrik sedikitpun demi terhindar dari najis.”

Demikianlah, ‘Ashim bin Tsabit tidak mau masuk dalam perlindungan kafir. Setelah kesyahidannya Allah melindunginya sehingga tidak ada seorang musyrik pun yang bisa menyentuh jasadnya sebagaimana dilakukannya sepanjang hidupnya.

Seorang Sahabat Memilih Boikot Kaum Muslimin Daripada Perlindungan Raja Musyrik

Para sahabat radhiyallahu anhum tidak pernah menjustifikasi dirinya dalam keadaan apapun untuk condong atau berlindung kepada orang kafir setelah Allah menegakkan Daulah Islam yang dipimpin Nabi shallallahu alaihi wasallam. Inilah Ka’ab bin Malik radhiyallahu anhu, ketika tidak mengikuti Perang Tabuk ia diboikot oleh kaum muslimin, tidak ada seorang pun yang mengajaknya bicara. Kemudian ia diperintahkan untuk menjauhi istrinya. Tidak cukup dengan itu, datang ujian lain untuk menguji kejujuran imannya.

Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Ka’ab bercerita, “Suatu ketika, saat aku berjalan di pasar kota Madinah, seorang laki-laki dari Syam yang menjual makanan di pasar Madinah bertanya kepada orang- orang, ‘Siapakah yang mau menunjukkan Ka’ab bin Malik kepadaku? Orang-orang pun memberitahukannya. Dia pun mendatangiku. Kemudian menyerahkan sehelai surat dari Raja Ghassan. Tertulis dalam surat itu, ‘Telah sampai berita kepadaku, bahwa temanmu telah menyia-nyiakanmu. Sedangkan Allah tidak menjadikanmu orang yang terhina dan tersia-siakan. Bergabunglah dengan kami, maka kami akan menolongmu.’ Aku berkomentar,’lni pun cobaan untukku,’ lalu aku lempar surat itu ke dalam tungku yang menyala.” Sekalipun hidupnya terasa sempit karena seluruh kaum muslimin memboikotnya lantara dosanya itu, namun dia tidak memilih untuk meninggalkan Darul Islam, sekalipun akan mendapatkan kedudukan tinggi di samping Raja Ghassan.

Jika kita ceritakan satu per satu kisah-kisah sahabat dalam perkara ini tentu akan sangat panjang. Cukuplah bagaimana Allah mensifati mereka dalam kalam-Nya, “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, seka- lipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.” (QS. al-Mujadilah: 22).

Semoga Allah menjadikan kita mampu untuk menapaki manhaj dan mengikuti jalan mereka.

Walhamdu lillahi rabbil ‘alamin.

LAA ILAHA ILALLAH DALAM PERKATAAN DAN PERBUATAN

RUMIYAH 7 - ARTIKEL

LAA ILAHA ILALLAH DALAM PERKATAAN DAN PERBUATAN

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata,

“Ketahuilah semoga Allah merahmatimu, bahwa Laa ilaaha illallah adalah kalimat yang tinggi, mulia, dan berharga. Siapa yang berpegang dengannya niscaya akan selamat dan siapa yang berlindung dengannya niscaya akan terjaga. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dan kufur terhadap sesuatu yang disembah selain Allah niscaya harta dan darahnya adalah haram (untuk ditumpahkan), sedangkan perhitungannya adalah kepada Allah ta'ala. (HR. Muslim dari Thariq bin Asyim). Hadits ini menjelaskan bahwa Laa ilaaha illallah itu memiliki lafadz dan makna.

Dalam hal itu manusia terbagi menjadi tiga kelompok :

Pertama; mereka mengucapkan dan merealisasikannya, mengerti maknanya lalu mengamalkannya, dan mengerti pembatal-pembatalnya lalu menjauhinya.

Kedua; mengucapkannya secara lahir, menghiasi lahirnya dengan kata-kata tetapi menyembunyikan kekafiran dan keraguan.

Ketiga; mau mengucapkannya tetapi tidak mau mengamalkan maknanya dan justru menerjang pembatal-pembatalnya. Mereka itulah, “Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. al-Kahfi: 104).

Kelompok pertama adalah yang selamat, mereka adalah orang-orang mukmin yang sebenarnya. Kelompok kedua adalah orang-orang munafik dan kelompok ketiga adalah orang-orang musyrik.

Jadi Laa ilaaha illallah itu laksana benteng, tetapi benteng itu digempur dengan manjanik kebohongan dan dilontari batu kehancuran sehingga musuh leluasa masuk menguasai lalu merampas makna namun bentuknya dibiarkan, sedangkan dalam hadits disebutkan, “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa-rupa dan postur tubuh kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amalan kalian.” (HR Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu).

Mereka merampas makna Laa ilaaha illallah, sehingga yang tersisa hanya lidah yang gagap dan ocehan huruf. Ibarat benteng kokoh tinggal nama. Seperti api yang tinggal nama itu tidak akan membakar, banjir yang tinggal nama itu tidak akan menenggelamkan, roti yang tinggal nama itu tidak akan mengenyangkan, dan pedang yang tinggal nama itu tidak akan memotong. Demikian juga benteng tinggal nama itu tidak akan melindungi. Karena ucapan itu laksana kulit dan makna adalah hatinya. Ucapan itu laksana tempurung kerang dan makna adalah mutiaranya. Apa artinya kulit tanpa hati? Apa artinya kerang tanpa mutiara?

Laa ilaaha illallah beserta maknanya adalah ibarat ruh bagi jasad, tidak ada gunanya jasad tanpa ruh. Begitu juga kalimat ini tidak ada gunanya tanpa maknanya. Orangorang mulia mengambil kalimat ini dengan segenap gambaran dan maknanya. Mereka hiasi gambaran lahirnya dengan kata-kata yang jujur dan batinnya penuh dengan maknanya. Sehingga Yang Maha Kekal menyaksikan kejujuran mereka, “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imran: 18).

Sedangkan si alim musyrik mengambil gambaran kalimat ini tanpa maknanya. Lahirnya dihiasi dengan kata-kata manis namun batinnya penuh kekafiran mengimani sesuatu yang tidak bisa memberi manfaat maupun madharat. Hati mereka hitam lagi gelap. Allah tidak memberikan furqon kepada mereka untuk membedakan antara yang haq dan yang bathil. Pada hari kiamat kelak mereka akan tetap berada dalam gelapnya kekafiran, “Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.” (QS. al-Baqarah: 17).

Siapa yang mengucapkan Laa ilaaha illallah namun dia menjadi hamba hawa nafsu, dirham, dinar, dan dunianya, jawaban apa yang akan dilontarkannya kepada Allah? “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya.” (QS. al-Jatsiyah: 23).

“Celakalah budak dinar, celakalah budak dirham, celakalah budak mode dan pakaian. Jika diberi merasa senang tetapi jika tidak maka dia akan murka. Dia akan celaka lagi terjungkir. Jika tertusuk duri niscaya tidak akan bisa dicabut.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah).

Jika Anda katakan Laa ilaaha illallah namun hanya di lisan saja tanpa ada buah di hati, maka anda adalah munafik. Tetapi jika tempatnya ada di dalam hatimu (dengan komitmen anggota tubuhmu) berarti anda adalah mukmin. Janganlah Anda menjadi mukmin hanya di bibir tanpa hatimu, karena di pengadilan hari kiamat nanti Anda akan digugat oleh kalimat ini, “Duhai tuhanku, aku telah menyertainya sekian sekian tahun, tetapi dia tidak mengakui hakku, dan tidak memelihara kehormatanku dengan baik! Kalimat ini akan bersaksi untukmu atau menggugatmu.

Kalimat ini akan memberikan penghormatannya kepada alim mulia hingga mereka masuk surga. Sedangkan kalimat ini akan mempersaksikan kejahatan alim musyrik hingga mereka masuk neraka, “Sebagian ada yang di surga dan sebagian lagi di neraka sa’ir (yang membakar).” (QS. asy-Syura: 7).

Laa ilaaha illallah adalah pohon kebahagiaan. Jika Anda menanamnya di lahan tashdiq (pembenaran), menyiraminya dengan air keikhlasan dan menjaganya dengan amal shalih niscaya akar-akarnya akan kokoh, dahannya kuat, daun-daunnya menghijau, dan buah-buahnya lebat lagi melimpah, “Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya.” (QS. Ibrahim: 25).

Tetapi jika pohon ini Anda tanam di lahan takdzib (pendustaan) dan perpecahan, disirami dengan air riya dan kemunafikan lalu Anda rawat dengan amalan buruk dan kata-kata kotor, dipenuhi oleh aneka pengkhianatan, dan ditiup oleh berbagai umpatan, niscaya berserakanlah buah-buahannya, berguguranlah daun-daunnya, akan patah dahannya dan terpotong potong akarnya, sehingga ketika topan sampah menghantamnya niscaya dia akan tercabik-cabik, “Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS. al-Furqan: 23).

Jika seorang muslim mampu merealisasikan hal ini, maka dia juga harus menyempurnakan rukun-rukun Islam yang lain, sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih, “Islam dibangun diatas 5 perkara, yaitu bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan berhaji ke Baitullah jika mampu menempuh perjalanan ke sana.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu anhu).

“Dan barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali Imran: 97).

Semoga shalawat dan salam terlimpah kepada Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabat beliau. Selesai nukilan dari kata-kata beliau rahimahullah dengan sedikit perubahan.

HANYASANYA YANG TAKUT PADA ALLAH ADALAH ULAMA

RUMIYAH 7 - ARTIKEL

HANYASANYA YANG TAKUT PADA ALLAH ADALAH ULAMA

Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim ibnu Taimiyah rahimahullah berkata tentang firman Allah ta'ala ‘Diantara hamba-hamba Allah yang takut kepadanya hanyalah para ulama (QS. Fathir: 28) maknanya tiada yang takut kepada-Nya kecuali seorang alim. Allah mengabarkan bahwa semua orang yang takut kepada Allah maka dia seorang alim sebagaimana firman-Nya dalam ayat yang lain “Apakah (kamu orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, karena takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabbnya? Katakanlah: “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.” (QS. az-Zumar: 9), khasy-yah (takut) sampai kapanpun mengandung raja’ (pengharapan). Seandainya khasy-yah tidak diiringi dengan raja’ maka itu berarti keputusasaan. Sebagaimana raja’ harus diiringi dengan khauf, jika tidak maka itu berarti rasa aman. Maka mereka yang memiliki rasa khauf dan raja’ kepada Allah adalah ahli ilmu yang dipuji Allah.

Diriwayatkan dari Abi Hayan at-Taimi bahwasanya dia berkata, “Ulama itu ada tiga, orang yang alim kepada Allah namun tidak alim kepada perintah Allah, alim kepada perintah Allah namun bukan alim kepada Allah, dan alim kepada Allah juga alim kepada perintah Allah. Orang yang alim kepada Allah adalah orang yang takut kepada-Nya, sedangkan orang yang alim kepada perintah-Nya adalah yang mengerti perintah dan larangan-Nya. Disebutkan dalam ash-Shahih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda, “Demi Allah sesungguhnya aku sangat berharap menjadi orang yang paling takut (khasy-yah) diantara kalian kepada Allah, dan orang yang paling mengerti diantara kalian terhadap batasan-batasan (hudud)Nya.”

Ahlul khasy-yah adalah para ulama yang terpuji di dalam Kitab maupun Sunnah, yang tidak berhak dicela, itu tidak lain karena mereka selalu mengerjakan perintah-perintah Allah sebagaimana ditunjukkan dalam firman-Nya, “Maka Rabb mewahyukan kepada mereka, “Kami pasti akan membinasakan orang yang zhalim itu. Dan kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu setelah mereka. Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (menghadap) ke hadirat-Ku dan takut akan ancaman-Ku.” (QS. Ibrahim: 13-14) dan juga firman-Nya: “Dan barangsiapa yang takut akan menghadap Rabbnya baginya dua surga.” (QS. ar-Rahman: 46).

Allah menjanjikan pertolongan di dunia dan pahala akhirat bagi ahlul khauf, tidak lain karena mereka selalu menunaikan kewajibannya. Hal ini menunjukkan bahwa rasa takut mengharuskannya menunaikan perintah Allah. Karena itulah dikatakan kepada orang fajir bahwa dia tidak takut kepada Allah. Makna ini ditunjukkan dalam firman Allah, “Sesungguhnya bertaubat kepada Allah itu hanya (pantas) bagi mereka yang melakukan kejahatan karena tidak mengerti, kemudian segera bertaubat.” (QS. an-Nisa: 17).

Barangsiapa Mengetahui Allah Pasti Mentaati-Nya

Abul Aliyah berkata, “Aku bertanya kepada para sahabat Muhammad tentang ayat ini, maka mereka menjawab, ‘Siapa saja yang bermaksiat kepada Allah maka dia adalah orang yang jahil, dan setiap orang yang bertaubat sebelum mati maka dia telah bersegera bertaubat’.” Demikian juga yang dikatakan oleh semua ahli tafsir. Mujahid berkata, “Setiap orang yang bermaksiat maka dia adalah jahil ketika bermaksiat.” al-Hasan, Qatadah, Atha’ dan as-Suddi serta lainnya berkata, “Mereka dinamakan juhhal (orang-orang bodoh) lantaran maksiatnya, bukan karena mereka tidak mumayiz (tidak dapat membedakan baik dan buruk .penj).” az-Zujjaj berkata, “Makna ayat itu bukanlah bahwa mereka tidak mengerti jika itu adalah buruk. Karena sesungguhnya seorang muslim jika melakukan perbuatan yang tidak diketahuinya (hukumnya) maka dia sama seperti orang yang tidak melakukan keburukan (tidak berdosa .penj), hanya saja mengandung dua kemungkinan:

Pertama: mereka melakukannya sedangkan tidak mengetahui kemakruhan di dalamnya.

Kedua: mereka mengetahui pasti bahwa balasannya akan buruk, akan tetapi mereka lebih memilih dunia daripada akhirat, sehingga mereka disebut sebagai orang-orang bodoh karena mereka lebih memilih yang sedikit dibanding nikmat yang banyak dan selamanya.” Az-Zujjaj memaknai bodoh di situ yaitu ketidaktahuan dengan akibat perbuatannya dan keinginan yang rusak. Bisa juga dikatakan bahwa keduanya saling berkaitan. Rincian penjelasan mengenai hal ini disebutkan dalam pembahasan mengenai Jahmiyah.

Yang dimaksud disini adalah bahwa setiap pelaku kemaksiatan adalah orang jahil, dan setiap orang yang takut kepada Allah adalah orang alim lagi taat kepada Allah. Dia menjadi jahil dikarenakan kurangnya rasa takutnya kepada Allah, karena jika rasa takutnya kepada Allah itu sempurna maka dia tidak akan bermaksiat.

Ibnu Masud radhiyallahu anhu berkata, “Cukuplah takut (khasy-yah) kepada Allah itu sebagai ilmu, dan cukuplah hanya berangan-angan kepada Allah itu sebagai kebodohan.”

Mengetahui sesuatu yang menakutkan akan membuat orang itu menjauhinya, dan mengetahui sesuatu yang disukai akan membuat orang mencarinya. Jika ia tidak menjauhinya juga tidak mencarinya maka itu berarti dia tidak mengetahui dengan sebenar-benarnya. Mungkin saja dia mengetahuinya dari cerita yang didengarnya, namun gambaran yang didapatnya dari cerita yang didengarnya itu tidaklah sama dengan gambaran sesungguhnya. Demikian juga jika yang diceritakan itu ternyata tidak disukai maupun dibencinya. Manusia itu memang bisa membenarkan apa yang ditakuti dan dicintai oleh selain dirinya, namun hal itu tidak mempengaruhinya. Demikian juga jika ia diceritakan mengenai sesuatu yang disukai dan dibencinya, ia tidak mendustakan si pencerita, namun hatinya sibuk dengan perkara-perkara lain sehingga tidak mengacuhkannya, maka dia tidak akan bereaksi sedikitpun.

Siapa Yang Tidak Mengamalkan Ilmunya Maka Dia Bodoh

Ada sebuah kata-kata yang terkenal dari Hasan al-Bashri dan diriwayatkan secara mursal dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, “Ilmu ada dua, ilmu di hati dan ilmu di lisan. Ilmu hati adalah ilmu yang bermanfaat, sedangkan ilmu (sekedar di) lisan adalah hujjah Allah atas hamba-hamba-Nya.”

Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan dalam Shahihnya dari Abu Musa, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwasannya beliau bersabda, “Perumpamaan seorang mukmin yang membaca al-Qur’an itu seperti buah limau, rasanya manis dan baunya harum. Perumpamaan seorang mukmin yang tidak membaca al-Qur’an adalah seperti buah kurma, rasanya manis namun tidak memiliki aroma. Sedangkan perumpamaan seorang munafik yang membaca al-Qur’an dan menghafalnya adalah seperti raihanah (tanaman wangi) aromanya harum namun rasanya pahit. Perumpamaan seorang munafik yang tidak membaca al-Qur’an adalah seperti hanzhalah rasanya pahit dan tidak ada aromanya.”

Si munafiq yang membaca al-Qur’an, menghafalnya, dan memahami makna-maknanya, bisa jadi dia percaya bahwa al-Qur’an adalah kalam Allah dan bahwasanya Rasul adalah haq, akan tetapi dia tidak menjadi mukmin. Seperti Yahudi yang mengenal beliau seperti mengenal anak-anaknya sendiri, akan tetapi mereka bukanlah orang-orang yang beriman. Demikian halnya Iblis, Fir’aun dan lainnya. Yang kondisinya seperti itu maka dia tidaklah mendapatkan ilmu maupun makrifat yang sempurna. Karena ilmu dan makrifat itu harus diamalkan konsekuensinya. Sehingga orang yang tidak mengamalkan ilmunya itu disebut sebagai orang bodoh sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

Demikian juga kata ‘akal’. Asalnya ia adalah mashdar dari kata (‘aqola-ya’qilu). Banyak para peneliti menggolongkannya sebagai salah satu jenis ilmu sehingga harus dianggap sebagai ilmu yang wajib diamalkan. Maka tidak dinamakan orang berakal kecuali orang yang mengerti kebaikan dan mencarinya, serta mengetahui keburukan dan menjauhinya. Karena itulah para penghuni neraka berkata, “Sekiranya dahulu kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) tentulah kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. al-Mulk: 10).

Allah berfirman tentang orang-orang munafik “Kamu kira mereka itu bersatu padahal hati mereka terpecah belah. Yang demikian itu karena mereka orang-orang yang tidak berakal (mengerti).” (QS. al-Hasyr: 14).

Siapa yang melakukan sesuatu yang diketahui akan membahayakannya, maka ia tidaklah memiliki akal. Takut kepada Allah berarti harus mengenal-Nya. Mengenal-Nya berarti harus memiliki rasa takut kepada-Nya, dan takut kepada-Nya berarti taat terhadap-Nya. Maka orang yang takut kepada Allah adalah orang yang melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, dan inilah yang kami maksud dalam penjelasan di awal.

Orang Yang Takut Kepada Allah Akan Mendapat Pelajaran

Hal itu ditunjukkan dalam firman Allah, “Oleh sebab itu berikanlah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat, orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran, dan orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya, (yaitu) orang-orang yang akan memasuki api yang besar (neraka).” (QS. al-A’ala: 9-12).

Allah mengabarkan bahwa orang yang takut kepada-Nya akan mendapat pelajaran, palajaran disini mengharuskan beribadah kepada-Nya, Allah ta'ala berfirman, “Dialah yang memperlihakan tanda-tanda (kukuasaan)-Nya keapdamu dan menurunkan rezeki dari langit untukmu. Dan tidak lain yang mendapat pelajaran hanyalah orang-orang yang kembali kepada (Allah).” (QS. Ghafir: 13), dan kalam-Nya, “Untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi setiap hamba yang kembali (tunduk kepada Allah).” (QS. Qaf: 8).

Karena itu para mufassir berkata tentang kalam Allah, “orang yang takut kepada Allah akan mendapat pelajaran” yaitu bahwa orang yang takut kepada Allahlah yang akan mendapat pelajaran dari al-Qur’an, dan dalam menafsirkan firman-Nya “yang mendapat pelajaran hanyalah orang yang kembali kepada (Allah)” yaitu bahwa orang yang kembali kepada ketaatanlah yang akan mendapat pelajaran. Dikarenakan bahwa ketika betul-betul mengingat kembali sesuatu maka hal itu akan mempengaruhinya, jika ia mengingat sesuatu yang dicintai maka akan dicarinya, dan jika mengingat sesuatu yang ditakuti maka akan dijauhinya, kalam-Nya, “Sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman.” (QS. al-Baqarah: 6). Allah ta'ala berfirman: “Sesungguhnya engkau hanya memberi peringatan kepada orang orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Rabb yang Maha pengasih, walaupun mereka tidak melihat-Nya.” (QS. Yasin: 11)

Dalam firman-Nya, “Sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman” Dia menafikan peringatan dari mereka. Di satu sisi Allah menetapkan peringatan pada mereka dan menafikannya di sisi lain. Indzar (peringatan) itu adalah i’lam (pemberitahuan) terhadap sesuatu yang ditakuti, maka indzar itu adalah seperti mengajari sekaligus menakut-nakuti. Jika orang yang engkau ajari itu belajar maka selesai sudah pengajarannya, namun ada juga yang engkau ajari tetapi tidak mau belajar. Demikian pula orang yang engkau takut-takuti kemudian ia ketakutan, maka engkau berhasil menakut-nakutinya. Adapun siapa yang ditakut-takuti tetapi tidak ketakutan, engkau gagal menakut-nakutinya. Demikian halnya orang yang engkau beri petunjuk kemudian dia mengambil pentunjuk maka sempurna hidayahnya, ini ditunjukkan oleh firman Allah, “Petunjuk bagi orang-orang yang beriman.” (QS. al-Baqarah: 2), namun barangsiapa yang engkau beri petunjuk tetapi tidak mau, maka dia sebagaimana kalam-Nya, “dan adapun kaum Tsamud, mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai kebutaan (kesesatan) daripada petunjuk itu.” (QS. Fushshilat:17). Seperti jika engkau berkata aku memotongnya maka ia terpotong, dan aku memotongnya namun tidak terpotong.

Pengaruh yang sempurna itu harus ada efeknya, jika tidak berefek maka tidak sempurna. Suatu perbuatan jika mendapat tempat yang sesuai maka menjadi sempurna, jika tidak maka tidak sempurna. Mengetahui sesuatu yang disukai maka membuatnya berusaha mencarinya, dan mengetahui sesuatu yang dibenci maka membuatnya berusaha menjauhinya. Oleh karena itu, ilmu ini dinamakan dengan faktor pendorong. Adanya faktor pendorong ditambah dengan kemampuan maka terjadilah tindakan. Mengetahui sesuatu yang hendak dicari maka akan menciptakan keinginan untuk mencari sesuatu yang diketahuinya itu.

Namun semua ini terjadi jika fitrahnya sehat sentosa. Terkadang seseorang itu mengetahui bahwa sesuatu itu enak namun tidak bisa merasakan enaknya bahkan mungkin terasa menyakitkan. Demikian juga jika ia merasa nikmat dengan rasa sakit yang dideritanya. Itu semua jika fitrahnya rusak. Rusaknya disini berefek pada pengetahuan dan tindakannya, seperti orang yang terkena iritasi lidahnya sehingga madu berasa pahit. Indera perasanya telah rusak sampai madu yang manis berasa pahit karena iritasinya itu, juga karena batinnya yang rusak, Allah berfirman, “Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang mereka tidak akan beriman. Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (al Qur’an) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.” (QS. al-An’am: 109-110). Sampai di sinilah kutipan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dari Kitabul Iman dengan sedikit perubahan.

BERTAWAKKALLAH PADA ALLAH, BUKAN PADA KEKUATAN

RUMIYAH 7 - ARTIKEL

BERTAWAKKALLAH PADA ALLAH, BUKAN PADA KEKUATAN

Setiap muslim tidak akan menyangkal bahwa mempersiapkan kekuatan untuk jihad fisabilillah itu adalah perkara wajib yang mendesak. Allah ta'ala telah memerintahkannya di dalam kitab-Nya yang mulia dengan firman-Nya, “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. al-Anfal: 60).

Tidak diragukan lagi bahwa mempersiapkan kekuatan termasuk hal yang sangat membantu untuk meraih kemenangan.

Para tentara khilafah -dengan karunia Allah ta'ala– telah melaksanakan perintah Ilahi ini. Mereka siapkan segala sesuatunya sesuai dengan taufik Allah. Buahnya telah sedikit terlihat oleh musuh, sedang yang akan datang akan lebih mengerikan dan lebih pahit dengan izin Allah. Namun hendaknya seorang muslim muwahhid tidak sepenuhnya bersandar dan bertawakkal kepada apa yang telah disiapkannya. Hendaknya dia berlepas diri dari daya dan kekuatannya dan hanya bersandar pada daya dan kekuatan Allah. Jangan sekali-kali tertipu dengan kekuatan yang dipunyainya. Meski kekuatan materi adalah salah satu faktor kemenangan tetapi tertipu dengannya adalah salah satu sebab kekalahan.

Sejarah para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah teladan yang baik bagi kita. Yang menimpa mereka ketika perang Hunain adalah sebuah pelajaran berharga bagi kita. Allah ta'ala berfirman, “Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai orang-orang mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu ketika kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dan bercerai-berai. Kemudian Allah memberi ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah telah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikian pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. at-Taubah: 25-26).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsirnya, “Allah ta'ala mengingatkan orang-orang beriman akan karunia dan kebajikan-Nya yang telah dilimpahkannya ketika Dia menolong mereka di berbagai pertempuran bersama Rasul-Nya, bahwa pertolongan itu semata-mata dari sisi Allah, dengan sokongan dan takdir-Nya. Kemenangan itu bukanlah karena jumlah maupun persenjataan. Allah mengingatkan bahwa kemenangan itu datang dari sisi Nya, tanpa memandang banyak atau sedikitnya jumlah pasukan. Di saat Perang Hunain, kaum muslim merasa bangga dengan jumlah yang banyak. Tetapi jumlah yang banyak itu tidak bermanfaat sedikitpun, karena mereka lari mundur kecuali sebagian kecil yang tetap bertahan dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Kemudian Allah menurunkan pertolongan dan bantuan-Nya kepada Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.”

Maka wahai mujahid muwahhid, ketahuilah bahwa i’dad kalian itu adalah untuk melaksanakan perintah Allah, sedangkan kemenangan itu hanya datang dari sisi-Nya ?. Engkau beriltizam untuk taat kepada Allah dan menjauhi larangan-Nya itu adalah sebuah kemenangan. Ketahuilah bahwa sebagaimana engkau diperintahkan untuk mempersiapkan kekuatan, engkau juga diperintahkan untuk bertawakkal kepada-Nya saja bukan kepada yang lain. Allah ta'ala berfirman, “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. ath-Thalaq: 3).

Hendaklah seorang mujahid muwahhid memahami bahwa goyahnya niat dan berubahnya hati lebih berbahaya daripada berapapun jumlah musuh dan lebih berbahaya daripada berapapun jumlah pesawat dan bom-bom yang berjatuhan. Hendaknya ia terus periksa hatinya. Hendaknya ia terus waspada terhadap bisikan-bisikan Iblis, karena ia sangat berupaya untuk merubah niatmu. Dia tidak akan bosan hingga ruh berpisah dari jasad. Hendaklah hatinya selalu bergantung pada Allah semata tanpa ada yang bisa mencabutnya sedikitpun. Hendaknya seorang mujahid muwaahid juga harus mewaspadai ungkapan-ungkapan yang terucap namun amat berpengaruh ke hati, seperti misalnya, “Bahwa para istisyhadi – selain mampu memporak-porandakan musuh – lah yang menentukan jalannya pertempuran.” Atau ungkapan, “Selama kita masih memiliki senjata begini begitu niscaya kita tidak akan pernah mundur atau kalah.” Juga ungkapan, “Segala sesuatu yang telah kita siapkan cukup untuk menimpakan kekalahan kepada musuh.”

Hendaklah aktivitas, ucapan, dan keyakinannya yang kokoh mengungkapkan bahwa tidak boleh bersandar kepada apa yang telah disiapkannya – betapapun pentingnya – kecuali bahwa hal ini adalah dalam rangka melaksanakan perintah Allah.

Wahai mujahid, wahai orang yang keluar dengan niat agar kalimatullah tinggi dan kalimat orang-orang kafir menjadi rendah. Wahai orang yang telah berkorban dengan segala sesuatunya supaya tauhid berkuasa di seluruh penjuru dunia. Jagalah tauhidmu, jangan jadi orang yang mengurangi atau merusaknya. Bertawakkallah kepada Allah dengan sebenar-benarnya, karena Dialah yang mengatur segala urusan dan pencipta sebab musabbab dengan perintah-Nya ta'ala.

PENEGAKKAN DAULAH ISLAMIYAH, ANTARA MANHAJ NABAWIYAH DAN YANG MENYIMPANG (BAGIAN 1)

RUMIYAH 7 - ARTIKEL

PENEGAKKAN DAULAH ISLAMIYAH, ANTARA MANHAJ NABAWIYAH DAN YANG MENYIMPANG (BAGIAN 1) KELOMPOK-KELOMPOK YANG GAGAL

Tidak berlebihan kiranya kalau kita katakan bahwa ratusan gerakan, partai, dan faksi yang dibentuk pada dekade lalu, yang mengklaim berusaha menegakkan kembali Khilafah, menerapkan syariat, dan meneguhkan agama Allah, semuanya telah gagal. Sekalipun ada sedikit yang bisa mencapai tahapan tamkin hakiki, atau fiktif, bahkan ada yang bisa melaksanakan beberapa hukum syariat. Namun semua harapan itu tidak terwujud kecuali pada Daulah Islamiyah, karunia hanya milik Allah sebelum dan sesudahnya.

Jika kita perhatikan kondisi gerakan-gerakan itu akan kita dapati bahwa mayoritasnya menciptakan untuk dirinya sendiri hambatan-hambatan yang menghalangi pergerakannya atau yang membuatnya menyimpang dari satu-satunya jalan hakiki menuju cita-cita mulia yang diangan-angankannya. Mereka membebani dirinya sendiri dengan sesuatu yang tidak Allah bebankan dan mendiktekan diri mengikuti sesuatu yang tidak Allah perintahkan, baik yang menempuh jalan ekstrim dengan memproposisikan hal yang tidak bisa diasumsikan kebenarannya, maupun yang menempuh jalan melarikan diri dari hukum-hukum syar’i. Keduanya sama-sama jauh dari jalan yang lurus dan manhaj yang lempeng dalam menegakkan agama Allah.

Imperatif-Imperatif Tak Valid

Inovasi paling jelas yang mereka diktekan pada dirinya sendiri adalah yang dinamakannya tata aturan amal (pedoman perjuangan), yang diciptakan oleh ulama, ideolog, dan pemimpin mereka. Lalu tata aturan itu diberi nama-nama yang mentereng seperti teori politik, minhaj haraki, dan lain sebagainya. Isinya tak lain metode-metode beramal tertentu, sebagai prasyarat pasti, yang dipaksakan untuk dilaksanakan demi mencapai target yang diinginkan melalui aktivitas dan gerakan mereka itu, yaitu menegakkan agama Allah. Metode-metode itu tak lain didasarkan pada pemahaman, dan hawa nafsu para ulama, ideolog, dan pemimpin itu. Sayangnya, mereka tidak cukup hanya menciptakan teori-teori atau hipotesis-hipotesis itu, mereka jadikan hal itu layaknya jalan lurus dalam beramal untuk menegakkan agama Allah. Dalam pandangan mereka, menempuh jalan lain selain metode itu adalah sebuah kesalahan besar. Demikanlah mereka jatuh dalam determinisme. Mereka mendikte dirinya dan pengikutnya dengan sesuatu di luar kemampuannya, yang tidak pernah diperintahkan. Kesesatan di atas kesesatan, dan Allah tidak memberi petunjuk pada orang-orang fasik.

Hipotesis-hipotesis ini didasarkan pada anggapan bahwa untuk menegakkan agama Allah itu harus mencapai suatu target sementara, atau melewati suatu kendala utama, jika tidak maka – dalam pandangan mereka – mustahil untuk menegakkan agama dalam lingkup negara Islam, apalagi membicarakan Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah dan imamah ‘uzhma untuk umat yang satu.

Namun masalah terbesar di balik hipotesis-hipotesis mereka itu, bahwa suatu hipotesis – secara umum – itu tidak bisa dibukitkan kevalidan atau ketidakvalidannya kecuali setelah melalu proses percobaan. Jika hasilnya sesuai dengan yang diinginkan maka hipotesis itu valid, dan dianggap sebagai sebuah teori yang benar. Jika teori ini terus menghasilkan kesuksesan dalam kondisi yang berbeda-beda maka teori ini mendapatkan sifat sebagai sebuah persamaan tetap, yang kemudian dengannya bisa diprediksikan hasil dari suatu tindakan atau masa depan suatu kondisi jika unsur-unsurnya sesuai dengan apa yang dituntut dalam persamaan itu. Di sinilah titik kekeliruan orang-orang itu. Mereka menganggap bahwa Ismail Haniyeh dan Muhammad Mursi - Thaghut yang muncul dari jalan yang menyimpang hipotesisnya itu adalah teori yang sudah dibuktikan kebenarannya, atau hipotesis pihak lain yang tampak benar dalam kondisi-kondisi tertentu, dianggapnya sebuah persamaan tetap yang harus diterapkan dalam setiap zaman, kondisi, dan tempat.

Percobaan Yang Berharga Mahal

Satu-satunya media percobaan teori dan hipotesis yang berhubungan dengan manusia dan kehidupannya adalah menjadikan diri mereka sendiri sebagai kelinci percobaan. Ia harus memaksa dirinya menerapkan hipotesis-hipotesis itu, menunggu hasilnya di dunia nyata, lalu mencatatnya, baru kemudian memutuskan kevalidan hipotesis tersebut berdasarkan bukti-bukti yang diperolehnya. Hal itu berarti membutuhkan pengorbanan besar agar sampai pada target yang diinginkannya. Ditambah dengan kerugian besar, yang bisa diprediksikan, ketika ternyata hipotesis itu salah dari dasarnya, atau diterapkan dengan metode yang salah, atau masuknya variabel atau suatu faktor yang mempengaruhi yang sebelumnya tidak diacuhkan. Sedangkan variabel itu sulit atau mustahil dipisahkan karena kompleksitas dan percampuran faktor-faktor yang mempengaruhi sifat. Berbeda dengan percobaan laboratorium (seperti yang berhubungan dengan ilmu Fisika dan Kimia umum) yang amat memungkinkan untuk memisahkan percobaan dari medium sekitarnya sehingga bisa memperoleh hasil yang paling mendekati nyata.

Para ideolog dan pemimpin harakah-harakah itu membawa hipotesis mereka sendiri lalu segera menerapkannya, memikulkan pada pengikutnya (terkadang dirinya sendiri) harga yang harus dibayar ketika mengujicobakannya. Tiap-tiap mereka mengujicobakan hipotesisnya pada orang-orang yang mengikutinya. Sampai medan dakwah penuh dengan uji-uji coba haraki yang didasarkan pada hipotesis-hipotesis itu. Sehingga pada dekade lalu kita menyaksikan beberapa uji coba utama yang mencabang menjadi beberapa percobaan kecil. Walhasil, kita dapati puluhan percobaan skala luas yang diterapkan dalam satu waktu di tempat-tempat tersebarnya kaum muslimin. Bahkan didapati dalam satu negeri ada beberapa percobaan dalam satu waktu, pelakunya saling bertikai sengit melebihi pertikaiannya dengan pemerintahan thaghut yang untuk menghadapinyalah sebenarnya mereka beraktivitas.

Para Penyembah Teori

Percobaan-percobaan ini benar-benar menghasilkan bencana. Jutaan manusia dibantai, dipenjara, dan diusir lewat tangan pemerintahan thaghut, tanpa ada hasil secuil pun. Faktor utamanya – disamping akidah dan minhaj yang sesat – adalah hipotesis-hipotesis yang salah. Para pencetusnya berusaha mengujicobakannya di dunia nyata setelah sebelumnya meyakinkan para pengikutnya akan kevalidan hipotesisnya itu, dan bahwa hasil positifnya terjamin. Namun justru sebaliknya, hipotesis-hipotesis ini menghasilkan kerugian materi dan jiwa yang besar, hingga merugikan Dien itu sendiri. Disisipkan di dalamnya bid’ah dan kemungkaran dengan nama prasyarat mutlak demi perubahan yang dinginkan. Bahkan lebih jauh lagi ada sebagian yang menempuh jalan syirik kepada Allah, mengklaim bahwa jalan ini akan membawa umat kepada tauhid yang murni. Mereka tidak menegakkan Dien tidak pula mendapatkan keuntungan dunia.

Jika kita pantau medan dakwah dewasa ini ternyata masih dipenuhi hipotesis-hipotesis rusak itu, yang dianggap banyak orang layaknya tuhan selain Allah. Berbagai harakat saling “sikut” demi hipotesis itu. Individu-individu saling membanggakan kefanatikannya. Loyalitas dan anti loyalitas didasarkan padanya. Meski kegagalannya telah terbukti dan menimpakan malapetaka kepada umat. Di atas semua itu, penyimpangannya dari dasar Dienul Islam dan hukum-hukumnya telah begitu jelas.

Ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?

Imam Ath-Thabari rahimahullah berkata mengenai firman Allah ?, “Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapatkan petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus” (QS. al-Mulk: 22), “Allah Yang Mahatinggi berfirman, “Maka apakah orang yang berjalan” wahai manusia, “terjungkal di atas mukanya” tidak melihat apa yang di hadapannya, dan tidak melihat di kanan dan kirinya “lebih banyak mendapatkan petunjuk” yaitu lebih istiqomah dalam meniti jalan dan lebih mendapat petunjuk, “ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus” Dia berfirman, di atas jalan yang tiada berliku.” [Tafsir ath-Thabari]

Tidak masuk akal jika seseorang berjalan tapi tidak melihat jalan di depannya itu mulus perjalanannya daripada yang berjalan di atas jalan lurus yang tiada halangan dan lika-likunya. Yang pertama pasti selalu dikhawatirkan akan tersesat, adapun yang kedua Allah telah mengaruniakan padanya kemampuan untuk melihat sekitarnya dan ia berjalan di atas jalan yang lurus, yang akan membawanya kepada petunjuk.

Demikianlah perbedaan antara mujahidin Daulah Islamiyah dan faksi-faksi serta tandzim-tandzim murtad itu. Para pemegang kebenaran tidak akan berjalan selangkah ke depan kecuali telah mengetahui hukum syar’i langkah ini. Mereka tidak akan menempuhnya kecuali setelah memastikan legitimasi syar’inya, yang tidak akan mengeluarkan mereka dari jalan lurus yang menghantarkan mereka ke surga, apalagi kepada tujuan mereka yaitu iqomatud dien.

Adapun para penganut kesesatan, mereka telah menyungkurkan mukanya ke jalan yang digariskan oleh pemimpinnya, dan mereka tidak melihat selain jalan itu. Mereka tidak melihat rusaknya jalan itu dan tidak melihat rintangan yang akan dihadapinya. Oleh karena itu, tatkala dihadapkan dengan sedikit rintangan saja mereka langsung melenceng dari jalan yang lurus.

Pada tulisan berikutnya – dengan izin Allah – kami akan memaparkan beberapa contoh jalan para penganut kesesatan dalam usahanya menegakkan Dien, menerapkan syariat, dan mengembalikan Khilafah – sangkanya –. Agar terlihat perbedaannya dengan Minhaj Nubuwwah yang – atas karunia Allah – ditempuh oleh Daulah Islamiyah sehingga Allah menganugerahkan tamkin padanya, walhamdu lillahi rabbil ‘alamin.

AGAR ALLAH MENYARING ORANG BERIMAN DAN MEMBASMI ORANG KAFIR

RUMIYAH 7 - PENGANTAR

AGAR ALLAH MENYARING ORANG BERIMAN DAN MEMBASMI ORANG KAFIR

Bukanlah rahasia lagi bahwa tujuan bala tentara murtad “Perisai Eufrat” dari milisi Shahawat dan pasukan Turki adalah melenyapkan hukum Allah dari muka bumi, dan mengembalikan daerah-daerah yang telah dikuasainya kepada hukum jahiliyah, dengan mendirikan pengadilan-pengadilan yang di dalamnya diterapkan undang-undang buatan syirik, dengan berbagai macam nama dan undang-undang yang dijadikan landasan.

Namun, banyak manusia yang tidak mengetahui realita sebenarnya, bahwa dalam mewujudkan misi itu mereka siap menghancurkan segala sesuatu dan membantai manusia yang ada di muka bumi ini, bahkan para penduduk sipil sekalipun, yang mereka klaim bahwa memerdekakan warga sipil termasuk kewajiban agama dan penegakkan syariat. Hal ini nampak jelas melalui pengumuman mereka bahwa setiap daerah yang ingin mereka serang adalah “Zona Militer” dan didahului dengan bombardir menggunakan segala jenis persenjataan yang mereka miliki. Fakta menjadi semakin jelas, tatkala setiap desa dan kota di pinggiran utara dan timur wilayah Halab mereka bombardir secara sporadis baik dengan tembakan artileri pasukan murtad Turki maupun pesawat-pesawat tempurnya, pun halnya dengan bantuan pesawat Salibis Rusia dan Amerika, tanpa mempedulikan jumlah korban warga sipil yang terus bertambah puluhan tiap harinya.

Kebanyakan orang tidak mengetahui bahwa para murtaddin itu dalam mewujudkan misinya siap bekerjasama dengan siapapun dalam memerangi Daulah Islamiyah, sekalipun dengan rezim penjahat Nushairisi yang mereka klaim sebagai musuh mereka selama bertahun-tahun. Bahkan dengan pasukan Salibis Rusia yang masih senantiasa membombardir penduduk Syam dimana selama bertahun-tahun mereka mengklaim bahwa tujuan mereka berperang adalah untuk menolong penduduk Syam dan mengangkat kedzaliman yang menimpanya. Apatah lagi dengan Salibis Amerika yang dalam perspektif mereka –beberapa tahun lalu- merupakan setan terbesar, dan mereka laknat siapa saja yang mendukungnya. Air mata penduduk Syam telah mengucur selama bertahun-tahun akibat pembantaian pasukan Nushairi dan para sekutu-sekutunya, dari kalangan Rafidhah serta Salibis Rusia yang telah menghancurkan kota demi kota dan desa tempat tinggal mereka. Mereka terus menggembar-gemborkan seruan untuk menolong penduduk Syam, dan menghentikan penghancuran rumah-rumah tempat berlindung mereka, dan seruan itu datang dari lisan para Thawaghit dan wali-walinya dari kalangan faksi-faksi bersenjata dan partai murtad. Sejatinya hal itu hanyalah untuk memotivasi manusia agar berfokus pada satu mu- suh yaitu rezim Nushairi dan anteknya dari kalangan Rafidhah dan Rusia saja, bukan menyemangatinya untuk melawan siapa saja yang membunuhi kaum muslimin di Syam dan menghancurkan rumah-rumah pun masjid-masjid mereka di atas kepala dan anak-anak mereka.

Peperangan yang berlangsung di kota al-Bab antara wali-wali ar-Rahman yaitu pasukan Daulah Islamiyah dan wali-wali setan yaitu pasukan murtad Turki dan Nushairi, faksi-faksi Shahawat dan milisi-milisi Rafidhah yang dibekingi oleh Salibis Rusia dan Amerika, beserta wali-wali mereka dari kalangan ulama Suu’, para pengklaim jihad, partai-partai dan tandzim-tandzim ini, telah menyingkap fakta sebenarnya, sehingga bagi mereka yang memiliki dua mata mampu dengan jelas melihat tabiat para murtaddin yang menolak syariat tersebut, serta persiapan mereka untuk melakukan kejahatan melebihi apa yang dilakukan para Salibis, Rafidhah dan Nushairiyah dalam peperangan mereka melawan Islam, pun permusuhan mereka terhadap ahli tauhid serta penjunjung Syariat Islam melebihi permusuhan mereka terhadap Yahudi, Salibis, Rafidhah dan Nushairi yang mereka keluhkan telah membantai mereka dan memperkosa wanita-wanita mereka.

Kota al-Bab dan daerah-daerah lainnya yang tidak mampu diserbu oleh pasukan “Perisai Eufrat” lebih dari 100 hari, kini kondisinya hancur lebur, dan kehancurannya belum pernah disaksikan sebelumnya oleh kota-kota di Syam di tangan Rafidhah dan Nushairi. Dan ratusan warga muslimin di dalamnya meninggal akibat bombardir intensif yang disokong oleh musyrikin dan murtaddin satu sama lainnya.

Segala macam musuh Islam bersatu padu untuk menghancurkannya, padahal sebelumnya mereka saling bermusuhan satu sama lain, seperti murtaddin Shahawat dengan milisi-milisi Rafidhah, pasukan Turki dengan Nushairi, pasukan Salibis Amerika dengan Rusia. Ini fenomena gotong royong dan saling kerjasama musyrikin satu sama lainnya guna memerangi ummat Islam yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Namun para Ulama durjana, dan para pengklaim jihad hanya bisa diam membisu tatkala mereka dapati bahwa yang membombardir al-Bab dan membantai para penduduknya adalah Thawaghit Ikhwanul Murtaddin baru, yaitu Si Erdogan, dan teman-temannya dari kalangan murtaddin Shahawat. Mereka berpura-pura tak tahu tentang partisipasi Nushairiyah, Rafidhah, dan para Salibis dalam membomardir kota al-Bab saat mereka dapati bahwa yang menghalaunya adalah Junud Daulah Islamiyah, justru malah memotivasi saudara-saudara murtaddinnya untuk ikut bergabung dalam pasukan “Perisai Eufrat” saat mereka dapati bahwa dengan itu akan mendapatkan ridha tuan-tuan mereka dari para Thawaghit dan Salibis.

Sesungguhnya, pertempuran al-Bab yang singa-singa Khilafah –atas karunia Allah- tetap teguh di dalamnya bak kokohnya gunung, tidak hanya menimpakan kerugian dari segi personil, jumlah, dan kewibaan bala tentara mereka saja, namun juga menyingkap banyak fakta dari kelompok-kelompok yang mengklaim Islam, dan gigih menjaga darah muslimin, serta berusaha menolong mereka.

Beginilah hasil keteguhan mujahidin di setiap tempat di hadapan musuh-musuh mereka, dengan izin Allah telah membongkar kedok mereka, menampakkan aib-aib mereka, maka keteguhan melawan mereka merupakan sarana terbaik untuk dakwah kepada jalan Allah, dan menelanjangi jalan para penjahat.