Tampilkan postingan dengan label Dabiq Edisi 14. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dabiq Edisi 14. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 April 2018

WAWANCARA DENGAN AMIR JUNUD KHILAFAH DI BENGAL, SYAIKH ABU IBRAHIM AL-HANIF

DABIQ 14 - WAWANCARA

WAWANCARA DENGAN AMIR JUNUD KHILAFAH DI BENGAL,
SYAIKH ABU IBRAHIM AL-HANIF

Bulan ini, Dabiq memiliki kesempatan untuk mewawancarai Syaikh Abu Ibrahim al-Hanif, Amir tentara Khilafah di Bengal. Kami sajikan pertanyaan kami dan jawabannya di sini.

Dabiq: Mengapa Anda bersama dengan tentara Anda memutuskan untuk membaiat Khilafah?

Syaikh Abu Ibrahim: Segala puji hanya bagi Allah, Semoga shalawat serta salam selalu tercurah pada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Segala puji hanya bagi Allah yang telah mengembalikan Khilafah yang diberkahi diatas manhaj kenabian kepada kaum Muslimin setelah periode panjang penindasan dan kegelapan. Dan kami bersyukur kepada-Nya siang dan malam untuk menerima kami –Meskipun adanya dosa-dosa dan kelemahan kita- sebagai tentara khilafah yang diberkati, walillahil-hamd. Kami berbaiat kepada Khilafah karena berbagai alasan. Yang Pertama yaitu adalah kewajiban bagi setiap muslim untuk bersatu dibawah imam tunggal Quraisy dan untuk tidak bercerai berai. Allah berfirman,

{Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.} [Ali 'Imran: 103].

Hal ini telah disebutkan oleh Syaikh Muhammad Ibn 'Abdil Wahhab rahimahullah dalam bukunya "6 landasan pokok," di mana ia menyatakan bahwa prinsip kedua dan ketiga dari agama, setelah Tauhid pada prinsip pertama, adalah untuk tetap bersatu di bawah satu imam untuk mendengar dan mematuhinya. Kedua, kita telah melihat bahwa Khilafah yang dideklarasikan pimpinan Daulah Islam telah memenuhi semua syarat yang tuntut oleh para ulama Salaf dari Ummah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

"Barangsiapa mati tanpa memiliki baiat, maka ia mati Jahiliyah." [HR muslim dari Ibnu 'Umar].

Ketiga, kami melihat bahwa tentara salib, Rafidhah, atheis PKK, dan semua kelompok kafir lainya menyatukan barisan melawan Khilafah dan memanah dari satu busur. Dan dengan demikian, kami menyadari bahwa adalah kewajiban atas kami dan kaum mu’minin untuk bergabung dengan kamp Iman untuk melawan kamp kafir dan menyerang mereka dari busur yang sama seperti mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

{Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.} [Al-Anfal: 73].

Dabiq: Bagaimana reaksi di kalangan umat Islam dari Bengal terhadap operasi yang dilakukan oleh tentara Khilafah di sana?

Syaikh Abu Ibrahim: para muwahiddin di Bengal memberikan dukungan yang besar atas operasi kami terhadap orang-orang kafir, wal hamdu lillah. Mereka melihat kami berjuang melawan semua kafir dan penargetan kami atas tentara salib, Rafidhah, Qodiyaniyah, Hindu, misionaris, dan lain-lain dalam waktu singkat. Mereka melihat bahwa dengan bantuan Allah, sejumlah kecil Mujahidin dengan sarana terbatas dapat menarget dan mengintimidasi berbagai sekte kufur di setiap bagian dari wilayah tersebut meskipun semua klaim palsu atas keunggulan yang sering dikaitkan kepada pasukan thaghut dan didesain untuk meng-intimidasi kaum beriman. Hal ini membawa harapan bagi muslim di Bengal setelah kekosongan jihad yang lama di daerah tersebut. Dengan demikian, dengan karunia Allah kebangkitan jihad di Bengal melalui operasi kami telah membawa kebahagiaan bagi muslim di Bengal dan di manapun, juga membuat marah orang-orang kafir. Dan segala puji hanya bagi Allah.

Dabiq: apakah kemunculan tentara Khilafah di Bengal memiliki efek untuk mengintimidasi atau membungkam murtaddin yang menghina Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan mereka yang menyeru kepada sekularisme?

Syaikh Abu Ibrahim: al-hamdu lillah, munculnya pasukan Khilafah telah menakuti Kuffar di daerah ini secara umum dan khususnya atheis dan sekularis yang mengejek Islam serta Nabi kita tercinta shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini terjadi ketika beberapa pemuka atheis di daerah tersebut mengaku telah menerima ancaman kematian dari tentara Khilafah di Bengal. Namun itu bukanlah metodologi tentara Khilafah hanya untuk mengirim ancaman untuk musuh-musuh Allah. Kami berbicara hanya dengan tindakan. Saat ini tentara kami sedang mengasah pisau untuk menyembelih atheis para pengejek Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan setiap murtaddin lainnya di daerah tersebut, bi idznillah. Kami berkata sebagaimana perkataan Syaikh Usamah Ibnu Ladin rahimahullah, "Jika kebebasan kalian berbicara tidak ada batasannya, maka berlapang dadalah menerima kebebasan tindakan kami."

Dabiq: Beritahu kami tentang keadaan Islam secara umum dan keagamaan di Bengal.

Syaikh Abu Ibrahim: secara umum, penduduk Bengal mencintai Islam dan mencoba untuk berlatih beribadah dengan antusiasme yang besar. Namun, adanya ketidaktahuan yang mendalam akan al-Qur’an dan Sunnah di sini, mengakibatkan tumbuhnya sekte sesat dan kelompok murtadd. Wa Laa Hawla wa laa quwwata illa billah.

Dabiq: sekte sesat dan murtadd apa saja yang ada di Bengal?

Syaikh Abu Ibrahim: Sayangnya, ada banyak sekte sesat dan murtadd di Bengal. Pertama, ada sejumlah kecil Rafidhah di Bengal yang didanai dan didukung oleh pemerintah Iran. kedua, ada Qadiyaniyah dalam jumlah signifikan di Bengal. Ketiga, ada sejumlah besar murtaddin yang telah beralih dari Islam ke Kristen karena khotbah tipuan yang dilakukan oleh misionaris lokal dan asing dan upaya tak henti dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bekerja di Bengal. Dan akhirnya ada banyak Sufi penyembah kuburan dan "nabi" palsu yang menyeru manusia untuk berbuat syirik.

Dabiq: Dengan adanya pengkhianatan thaghut dan eksekusi beberapa Murtaddin dari kelompok yang disebut "Jamaat-e-Islami," apakah mereka mau mengambil pelajaran dan bertobat dari demokrasi?

Syaikh Abu Ibrahim: baru-baru ini, pemerintah thaghut telah memenjarakan dan mengeksekusi banyak pemimpin "Jamaat-e-Islami." Hal ini mirip dengan apa yang terjadi terhadap Shahawat di Iraq dan Ikhwan di Mesir, sebagaimana sunnatulloh yang tidak akan pernah berubah. Dia akan menghinakan dan menghukum di dunia dan akhirat siapapun yang membuang agamanya dan bersekutu dengan Kuffar. Ada beberapa pengikut rumput tingkat dasar dan pendukung dari "Jamaat-e-Islami" yang bertobat dari syirik dan bergabung dengan barisan tentara Khilafah di Bengal, wal hamdu lillah. Namun, pemimpin organisasi tetap bersikeras pada jalur kehancuran dan kehinaan dan terus bersaing dengan thaghut Pemerintah Hasina dalam hal siapa yang bisa lebih banyak melakukan kekufuran. Wa la Hawla wa la quwwata illa billah.

Dabiq: Pemerintah "Bangladesh" dikenal sebagai kontributor terbesar dari pasukan PBB untuk operasi "penjaga perdamaian", bagaimana ini bisa terjadi?

Syaikh Abu Ibrahim: Setelah akhir dari thaghut pro-India Mujibur Rahman tewas dalam sebuah kudeta militer, tentara murtadd Bengali dan intelijen militer (DGFI) didirikan oleh Dhiyaur Rahman yang pro thaghut "Pakistan" dengan meminjam strategi militernya dan juga bentuk dari militer "Pakistan" serta lembaga intelijennya (ISI). Sementara itu jenderal tentara Bengal tidak mampu mengambil dominasi penuh atas urusan negara seperti rekan "Pakstan" mereka meskipun banyak yang mencoba untuk melaksanakan kudeta militer, mereka adalah aktor paling kuat dalam mempertahankan eksistensi keuangan independen, karena mereka tidak sepenuhnya bergantung pada pemerintah sipil untuk pendanaan mereka. Sebaliknya, mereka lebih bergantung pada PBB dan misi "menjaga perdamaian"nya untuk menggaji perwira dan prajurit mereka yang serakah. Dan tidak peduli siapa yang memerintah sipil –apakah pro BNP "Pakistan" atau pro-India Liga Awami- yang memegang kekuasaan, mereka dengan senang hati akan membuat kesepakatan dengan jenderal militer bahwa tidak akan ada kudeta militer selama mereka berpolitik dengan membiarkan gaji tinggi tetap mengalir ke rekening mereka dari misionaris PBB, yang memungkinkan mereka untuk membeli rumah mewah dan menyimpan uang untuk pensiun. Dengan demikian, perkawinan kesejahteraan antara thaghut pemerintahan sipil dan jenderal militer murtadd yang menjual agama mereka untuk harga menyedihkan adalah alasan utama mengapa Pemerintah Bengali menjadi kontributor atas apa yang disebut “misi menjaga perdamaian ”. Dan Allah lebih mengetahui.

Dabiq: Apa pesan Anda kepada tentara murtadd Bengali yang melayani thaghut lokal atau penyembah berhala, sekutu murtadd, dan tentara salib internasional?

Syaikh Abu Ibrahim: Seruan kami kepada para tentara murtadd Bengali baik di kepolisian, tentara, intelijen, dll yang bekerja di bawah naungan thaghut Hasina adalah untuk menghidupkan kembali rasa malu, kedewasaan dan membebaskan diri dari menjadi budak seorang wanita kafir. Kami meminta mereka untuk bertobat dari pekerjaan kufur mereka sebelum kita menguasai, menangkap dan menyembelih mereka satu per satu, bi idznillah. Kami meminta mereka untuk mengambil pelajaran dari nasib Murtaddin di Iraq, Syam, Mesir, dan daerah lain dan melihat bagaimana Allah mempermalukan mereka di tangan orang-orang beriman. Kami memperingatkan pengecut dari tentara murtadd Bengali bahwa kami akan membalas atas setiap muslim yang mereka bunuh, mereka penjara dan mereka siksa ketika ditangkap bi idznillah, meskipun itu tidak terjadi sekarang. {Dan sungguh orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka.} [as-Syuro: 41].

Dabiq: Bagaimana Anda menjawab ruwaibidhah yang mencela Khilafah karena men-takfir apa yang mereka sebut partai "Islamis" eperti "Jamaat-e-Islami Bangladesh" atau partai lainnya yang serupa?

Syaikh Abu Ibrahim: "Jamaat-e-Islami Bangladesh" adalah Partai politik yang telah banyak melakukan kekufuran dan syirik. Pertama, mendukung dan menyeru Muslim di Bengal ke agama demokrasi, dan ini adalah syirik terang-terangan. Demokrasi adalah agama dengan keyakinan untuk memberikan kekuasaan kepada manusia untuk membuat undang-undang dan menetapkan halal dan haram, sedangkan itu merupakan hak Allah saja. Kedua, ia adalah organisasi nasionalis yang mempromosikan nasionalisme –seruan busuk jahiliyah. Dan siapa pun yang menyeru ke jahiliyah Kufri dan mati di atasnya maka ia di dalam neraka bahkan meskipun dia shalat, puasa, dan mengklaim sebagai seorang Muslim. Ketiga, selama periode ketika mereka berkuasa dari "2001" hingga "2006" mereka tidak pernah menerapkan hukum Allah, dan siapa pun yang tidak menghukumi dengan apa yang diturunkan oleh Allah adalah kafir. Keempat, selama periode mereka berkuasa, mereka tidak ragu untuk bersekutu dengan kuffar baik Timur dan Barat dalam melawan muwahhidin di Bengal yang ingin menegakkan hukum Allah dan barang siapa yang mengambil orang kafir sebagai sekutu dalam memerangi Muslim maka ia keluar dari ikatan Islam. Kelima, mereka telah secara resmi mengucapkan selamat kepada musyrikin Narendra Modi, Perdana Menteri India atas Kemenangan demokratisnya dan mereka juga mengucapkan selamat kepada masyarakat pagan Hindu penyembah sapi saat upacara syirik mereka. Ini hanya beberapa dari tindakan kufur dan Syirik yang dilakukan oleh organisasi murtadd ini. Organisasi yang "Membenarkan" semua tindakan kufur dan syirik terang-terangan di bawah dalih "mashlahat." Namun, satu-satunya yang benar-benar tertipu adalah pengikut mereka pada tingkat paling dasar yang jatuh dalam pidato manis pemimpin mereka.

Dabiq: Bagaimana rencna Anda untuk membantu Muslim yang lemah dan terintidas di wilayah itu, terutama orang-orang Burma?

Syaikh Abu Ibrahim: Muslim Burma telah ditindas oleh musyrik Buddha dalam jangka waktu yang panjang. Hati kami bersama mereka dan kami percaya bahwa adalah kewajiban bagi kami untuk membantu mereka dan mendukung mereka dengan setiap cara yang memungkinkan. Dan kami akan mulai meluncurkan operasi terhadap Burma setelah kami memiliki kemampuan untuk melakukannya bi idznillah. Bagaimanapun, kami yakin akan lebih efektif untuk memperkuat jihad di front Bengal sebelum sepenuhnya berpindah ke Burma, karena pertempuran dengan Murtaddin terdekat harus didahulukan daripada musuh jauh yang terdiri dari kaffir asli (kafir non-murtadd). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, {Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kalian, dan hendaklah mereka menemui kekerasan pada diri kalian, dan ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa.} [At-Taubah: 123]. Kafir rezim di Burma hanya bisa diperangi secara efektif setelah kami mengakhiri rezim murtadd Bengali, bi idznillah, seperti negara Yahudi yang tidak dapat diperangi secara efektif sampai rezim murtadd as-Sisi dan Basyar dimusnahkan terlebih dulu insya Allah. Ini adalah apa yang kami pelajari dari Qur’an, Sunnah, sejarah Khulafa' dan sejarah Perang Salib. dan Allah maha mengetahui yang terbaik.

Dabiq: Bagaimana dengan upaya da’wah di Bengal, terutama terkait seruan kepada Tauhid dan Khilafah?

Syaikh Abu Ibrahim: al-hamdu lillah upaya da’wah di Bengal mendapatkan beberapa momentum besar dan banyak umat Islam yang merspon seruan kami dan bergabung dengan barisan prajurit Khilafah. Dengan adanya penyebaran da’wah Tauhid dan khilafah di media sosial dalam berbagai bahasa, semakin banyak orang yang menyadari kebenaran dan bergegas mengikutinya, wal hamdu lillah.

Dabiq: Apakah kendala terbesar yang Anda hadapi dalam jihad di Bengal?

Syaikh Abu Ibrahim: Kendala terbesar yang kami hadapi dalam memperkuat front jihad di Bengal setelah dosa kami, adalah kurangnya pengetahuan Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman yang benar dari Salaf diantara penduduk di wilayah tersebut. Ada banyak kelompok dan "ulama" menyimpang seperti "Jama'ah Tabligh" dan "Jamaat-e-Islami Bangladesh" yang mengajarkan pemahaman agama palsu yang menyebabkan kebingungan di kalangan rata-rata penduduk tentang kewajiban sebenarnya terhadap agama. Bahkan dia yang disebut gerakan "Ahli hadist" di Bengal hanya mengajarkan "Tauhid" sebagai pemanis bibir, "Tauhid" yang ramah dengan thaghut yang tidak menolak dan menentang thawaghit parlemen ataupun memerangi mereka untuk menegakkan agama, mereka terus menyembunyikan dari masyarakat prinsip tentang kekufuran kepada thaghut, wala 'dan baro', serta jihad sambil dengan licik mengaku sebagai pengikut salaf. Sebaliknya, mereka hanya berusaha untuk mengajak masyarakat kepada ajaran "Ulama" pro-Arab dari semenanjung Arab dan dengan ajaran corong lokal mereka dan "murid" yang telah belajar di bawah dukun dari universitas yang didirikan dan dijalankan oleh thawaghit Saudi. Dengan demikian, sangat sedikit orang di wilayah ini yang memiliki pemahaman yang benar tentang agama dan metodologi Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Inilah tantangan terbesar kami saat ini di wilayah tersebut, dan Allah maha mengetahui yang terbaik.

Dabiq: Beritahu kami tentang sejarah Rafidhah di Bengal?

Syaikh Abu Ibrahim: Rafidhah telah lama tinggal di Bengal sejak zaman kaisar Mughal. Kuil Husseini Dalan di Dhaka dibangun pada "1642" pada masa pemerintahan Shajahan. Juga, banyak dari Nawabs (Penguasa semi-otonom di bawah kaisar Mughal) di Bengal adalah Rafidhah. Sulit untuk menemukan sejarah secara menyeluruh yang didokumentasikan dari Rafidhah di Bengal karena mereka terkenal dengan "Taqiyah." Mereka mampu untuk bercampur dan berbaur secara menyeluruh dalam populasi Sunni di sini. Saat ini ada sekitar 50.000 Rafidhiy Murtaddin yang tinggal di Bengal.

Dabiq: Bisakah Anda menjelaskan pentingnya Bengal bagi Khilafah dan jihad secara global?

Syaikh Abu Ibrahim: Bengal adalah wilayah yang penting bagi Khilafah dan jihad global karena Posisi geografis yang strategis. Bengal terletak di bagian timur dari sisi India, sedangkan wilayah Khurasan terletak di sebelah barat sisinya. Dengan demikian, dengan adanya dasar yang kuat akan jihad di Bengal akan memfasilitasi serangan gerilya terhadap India secara bersamaan dari kedua sisi dan menjadi faktor terciptanya kondisi tawahhusy di India bersama dengan bantuan dari mujahidin lokal di sana bi idznillah, sampai tentara konvensional Khilafah dapat masuk dan benar-benar membebaskan wilayah dari musyrikin setelah pertama-tama menyingkirkan rezim "Pakistan" dan "Afghan" insya Allah. Juga, jihad di Bengal adalah batu loncatan untuk jihad di Burma sebagaimana yang telah disebutkan.

Dabiq: Sangat menarik ketika mengetahui bahwa kewenangan Khilafah sepanjang sejarah tidak pernah mendapatkan tamkin nyata di Khurasan pada masa lalu. Bagaimana perasaan Anda ketika mengambil misi untuk membangun tamkin untuk Khilafah di Bengal?

Syaikh Abu Ibrahim: Sungguh, hal ini membawa suka cita dan kenyamanan atas kami setiap waktu ketika kita merenungkan fakta bahwa Allah telah memilih kami untuk menjadi bagian dari prajurit Khilafah dengan manhaj kenabian meskipun kelemahan kami begitu besar dan kekurangan kami juga banyak, wal hamdu lillah. Dan kami belumlah cukup dalam bersyukur kepada Allah untuk berkah ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah berjanji kepada kita bahwa agama ini akan mencapai di mana malam dan siang dapat mencapainya. Dan ada hadits otentik yang dikumpulkan dalam Musnad Imam Ahmad dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan berbagai tahap urutan yang akan dilewati Ummat hingga hari terakhir, dia shallallahu ‘alaihi wasallam diam setelah menyebutkan masa Khilafah pada manhaj kenabian, yang menunjukkan bahwa ini akan menjadi tahap akhir dari Ummat sebelum Hari penghakiman. Dengan demikian, kami yakin bahwa Khilafah yang diberkahi akan tetap berdiri hingga Hari terakhir dan bahwa semua wilayah di dunia, termasuk Bengal, cepat atau lambat berada di bawah naungannya dan dikuasai oleh apa yang telah Allah ungkapkan, insya Allah.

Memang, ini adalah berkah yang besar dari Allah bahwa Dia telah memilih kami untuk membawa menara cahaya ini di wilayah tersebut. Dan sekarang bahwa pohon Khilafah di Bengal telah tumbuh keluar dari bawah tanah dan menjadi terlihat, dan itu akan terus tumbuh dan berkembang hingga hari terakhir insya Allah, karena Allah yang Maha Penyayang akan melindunginya dari setan baik dari kalangan manusia dan jin yang berusaha untuk mencabutnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, {Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya."} [As-Shaff: 8]. Dan orang-orang beriman yang datang, menyirami tanaman ini dan mengurusnya sampai menjadi pohon dewasa seutuhnya akan diberi balasan terbaik, dan kami memohon kepada Allah untuk memberikan kami bagian dari balasan mereka sebagai shadaqah jariyah (amal yang berkesinambungan) sampai hari kiamat.

Dabiq: Apa peran India dan Hindu dalam perang melawan Islam dan Khilafah pada umumnya, dan di Bengal pada khususnya?

Syaikh Abu Ibrahim: Hindu, baik di Bengal maupun India selalu memerangi Islam dan kaum Muslimin. Satu-satunya perbedaannya adalah bahwa Hindu di India menunjukkan permusuhan mereka terhadap Islam dan Muslim secara terbuka sedangkan Hindu di Bengal melakukannya dengan tipu muslihat dan secara rahasia karena mereka adalah sebuah sekte minoritas di sini. Hindu di Bengal sangat aktif dalam menciptakan propaganda anti-Islam baik di media massa dan media sosial, dan juga menyebarkan fahisyah di kalangan umat Islam dari Bengal. Bahkan, sejumlah besar dari propagandis anti-Islam di Bengal sebenarnya mengikuti agama kotor penyembah sapi ini pada awalnya sebelum menjadi atheis secara utuh dan meniadakan "Agama". Selain itu, banyak dari posisi tinggi dalam kekuatan thaghut di badan kepolisian dan intelijen di Bengal sekarang diduduki oleh orang Hindu, seperti pemerintah murtadd sekuler Hasina melihat orang-orang kafir kotor sebagai loyalis partai garis keras. Lebih lanjut, umat Hindu di Bengal juga terkenal akan dukungnya kepada inteilijen india (RAW) dalam memerangi Muslim di Bengal sejak hari yang mereka sebut "Perang liberal Bangladesh" pada "1971". Jadi, kami yakin bahwa Syariah di Bengal tidak akan tegak sebelum Hindu lokal ditargetkan dan sampai keadaan polarisasi terbentuk di wilayah tersebut, yang akan membagi antara orang beriman dan kafir, bi idznillah. dan Allah lebih mengetahui.

Dabiq: Apakah Anda memiliki kemampuan untuk bekerja sama dengan wilayah Khurasan dan tentara lainnya dari Khilafah di wilayah terdekat?

Syaikh Abu Ibrahim: Dengan rahmat Allah, kita mampu menghubungi dan bekerja sama dengan mujahidin di berbagai wilayah dari Khilafah, termasuk ikhwah di Wilayah Khurasan, wal hamdu lillah. Memang, Jamaah kaum muslimin yang diwakili oleh Khilafah ini seperti satu tubuh di mana beberapa bagian tubuh yang lain bekerja sama dengan satu kepala. Kami memohon kepada Allah untuk menyatukan semua Mujahidin di bawah naungan Khilafah dan memperkuat persatuan Muslim. Aamiin.

Dabiq: Apakah Anda memiliki nasehat kepada umat Islam dari Bengal dan wilayah terdekat?

Syaikh Abu Ibrahim: Untuk kaum Muslimin di Bengal dan di wilayah terdekatnya, saya katakan: Wahai saudara-saudara saya, takutlah kepada Allah akan agama Anda dan tinggalkanlah semua sekte sesat yang sibuk menyesatkan manusia. Ikutilah jalan petunjuk yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan diikuti oleh sahabatnya radhiyallahu ‘anhum, dan mereka yang meraih kemenangan besar baik di dunia dan akhirat adalah mereka yang telah diberkahi dengan petunjuk dari Allah, dan yang terburuk dari makhluk adalah mereka yang disesatkan Allah.

Allah berfirman, {Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.} [Al-Bayinah: 6-7].

Dia juga berfirman, {dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertaqwa.} [Al-An'am: 153].

Dan tetaplah berada di jalan yang Allah tetapkan sebagaimana orang-orang yang jujur dalam Qur’an.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, {Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang jujur.} [Al-Hujurat: 15].

Allah juga berfirman, {Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.} [At-Taubah: 119].

Dan tidak ada keraguan bahwa mereka yang paling mendekati kejujuran di era dan masa ini adalah orang-orang yang telah Allah berkahi dengan kehormatan untuk membangun kembali Khilafah.

Allah berfirman, {Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang shaleh.} [Al Anbiya ': 105].

Oleh karena itu, bersegeralah untuk berbaiat kepada Khalifah kaum Muslimin dan bergabung dalam barisan tentara Khilafah. Saya menasehati Anda untuk "mematuhi Jamaatul Muslim dan imam mereka." sebagaimana nasehat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu ketika ditanya tentang akhir zaman. Dan sesungguhnya kita sedang mendekati masa dimana pertempuran terakhir dari al-Malhamah telah dipersiapkan, dan tidak diragukan lagi kemenangan akhir hanya bagi orang-orang beriman, bi’idznillah.

Juga, saya menasehati Anda untuk bergabung dengan kami dan berjihad dengan harta dan jiwa Anda, karena itu merupakan kewajiban atas Muslim yang bermampuan. Tidak ada cara untuk menegakkan agama selain dari jalan qital. Jadi tinggalkanlah dunia kebelakang dan cepat-cepat bergabung dengan kami di medan perang. Dan ketahuilah bahwa kami tidak menyeru Anda untuk bergabung dengan kami karena jumlah kami yang sedikit atau kurangnya peralatan militer kami, karena sesungguhnya kami kuat dengan bantuan Allah saja, wal hamdu lillah. Dan kami yakin bahwa kita akan menang dengan dukungan Allah, cepat atau lambat insyaa' Allah.

Kami tidak khawatir dengan sedikitnya personel atau kurangnya peralatan militer, dan bagaimana kita bisa khawatir ketika Allah telah berfirman, {Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah.} [Al-Baqarah: 249]. Bagaimana bisa kita khawatir tentang kurangnya personel dan kekuatan militer karena ini sangat mirip dengan keadaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan sahabatnya pada masa awal sebelum Allah memberkahi mereka dengan kemenangan dan tamkin setelah periode panjang dari shobr dan Yaqin. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, {Dan ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur.} [Al-Anfal: 26]. Bagaimana kita bisa khawatir tentang kurangnya personel atau kurangnya kekuatan ketika Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, {Dan Allah menghindarkan orang-orang mu’min dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.} [Al-Ahzab: 25]. Bagaimana kita bisa khawatir tentang kurangnya personel atau kurangnya kekuatan ketika Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, {Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.} [Ar-Rum: 47].

Kami yakin akan kemenangan kami baik di dunia maupun di akhirat insyaa Allah, karena Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam yang terpercaya telah berjanji, "Akan senantiasa ada sekelompok orang dari kalangan umatku yang berperang berdasarkan urusan Allah yang mengalahkan musuh mereka. Orang yang menyelisihi mereka tidak membahayakan mereka sampai datang kiamat kepada mereka dan mereka tetap dalam keadaan seperti itu." [HR. Muslim dari 'Uqbah Ibn Amir].

Dia shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, "Akan senantiasa ada satu kelompok dari umatku yang meraih kemenangan (karena berada) di atas kebenaran, orang-orang yang menelantarkan mereka tidak akan mampu menimbulkan bahaya kepada mereka, sampai datangnya urusan Allah sementara keadaan mereka tetap seperti itu." [HR at-Tirmidzi dari Tsauban].

Dengan demikian, Wahai Muslim di Bengal, kami tidak meminta dukungan Anda karena kelemahan, karena kita akan menang dengan dukungan dari Allah saja baik Anda bergabung dengan kami atau tidak. Sebaliknya, kami mengundang Anda untuk memulai menuju kehidupan terhormat dengan menjawab panggilan dari Allah subhanahu wa ta’ala dan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dan berjihad fii sabilillah sehingga Anda dapat menyelamatkan diri dari kehinaan dan hukuman baik di dunia dan akhirat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, {Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah.} [An-Nisa': 76].

Dan Dia subhanahu wa ta’ala berfirman, {Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.} [Ash-Shaff: 4].

Jadi siapa pun diantara mereka yang mengaku beriman, biarkanlah dia bergabung dengan kami dan biarkan kami melawan orang kafir bersama-sama sebagaimana mereka memerangi kami bersama-sama. Kami memohon kepada Allah untuk memberikan kami semua pemahaman yang benar akan agama dan untuk menjaga keistiqomahan kami dalam memerangi orang-orang kafir. Aamiin.

PERBINCANGAN MUSUH - DABIQ 14

DABIQ 14 - PERBINCANGAN MUSUH

DAULAH ISLAM DALAM PERBINCANGAN MUSUH

Pada "29 Januari 2016," Ban Ki-moon -thaghut dari cabang "PBB"- merilis sebuah laporan yang panjang terkait kebangkitan kembali Khilafah. Didalamnya dia mengatakan:

"Laporan ini diajukan ... untuk memberikan sebuah laporan strategis tahap awal yang menunjukkan dan mencerminkan tingkat bahaya akan ancaman terhadap perdamaian dan keamanan internasional oleh Negara Islam ..."

"Dalam waktu kurang dari dua tahun , ISIL telah menguasai sebagian besar wilayah baik di Iraq dan Suriah, dan mengelola-nya melalui sistem yang canggih dengan struktur pendapatan pajak kuasi-birokrasi yang cukup flexibel dan beragam untuk mengkompensasi penurunan pendapatan dari satu aliran pendapatan ... mereka menggunakan sumber daya keuangan untuk mendukung kampanye militer yang sedang berlangsung, mengelola wilayah dan mendanai perluasan konflik di luar Iraq dan Suriah, dan telah mengembangkan strategi komunikasi yang sangat canggih dan efektif untuk memastikan bahwa... sudut pandang dunia beresonansi dengan ... pertumbuhan jumlah akan ... individu ... "

"Meskipun upaya masyarakat internasional untuk melawan ISIL melalui operasi militer, keuangan dan pengetatan keamanan perbatasan ... ISIL tetap terus mempertahankan eksistensinya di Iraq dan Suriah. Mereka juga memperluas ruang lingkup operasinya ke daerah lain. serangan teroris yang dilakukan di bulan-bulan terakhir tahun 2015 menunjukkan bahwa mereka mampu melakukan serangan terhadap ... target diluar wilayah yang mereka kontrol. Luasnya jangkauan khususnya ditunjukkan dengan adanya bom bunuh diri di Beirut pada 12 November 2015, serangan terkoordinasi di Paris pada 13 November 2015 dan serangan di Jakarta oleh afiliasi ISIL pada 14 Januari 2016 yang sangat menyerupai dengan serangan Paris... "

"Ekspansi terbaru dari lingkup ISIL telah mencapai Afrika Barat dan Utara, Timur Tengah serta Asia Selatan dan Tenggara dimana hal ini menunjukkan kecepatan dan skala di mana tingkat ancaman telah berevolusi hanya dalam 18 bulan. Kompleksitas serangan baru-baru ini dan tingkat perencanaan, koordinasi dan kecanggihan yang kasat mata telah menambah keprihatinan tentang evolusi-nya lagi di masa depan. Selain itu, kelompok-kelompok teroris lainnya ... cukup tertarik dengan ideologi dan mendasarinya untuk berbaiat kepada apa yang mereka sebut dengan khilafah dan yang memproklamirkan dirinya sebagai Khalifah. ISIL juga mendapatkan keuntungan dari kedatangan aliran pejuang teroris asing yang terus meninggalkan komunitas mereka untuk mengisi barisanya. Kembalinya para petempur dari medan perang Iraq dan Suriah dan wilayah konflik lainnya akan menjadi perhatian utama kedepannya, karena mereka yang kembali akan memperluas kehadiran ISIL ke Negara asal mereka dan menggunakan keterampilan dan pengalaman perang mereka untuk merekrut simpatisan baru lalu membangun jaringan teroris dan melakukan aksi teroris ... "

Laporan itu kemudian melanjutkan dengan rinci bagaimana Khilafah menerapkan syariat zakat, da’wah, jihad, jizyah, hisbah, perbudakan dan hudud –namun menyebut semua hukum ini dengan kalimat pelecehan- dan bagaimana syari'at ini dapat menimbulkan ancaman terhadap "perdamaian dan keamanan internasional" alias "tatanan dunia baru." Alih-alih menyerah dengan menyadari bahwa Khilafah di sini akan tetap ada dan akan terus berkuasa dengan syari'at dan meneror musuh-musuhnya, ia malah merekomendasikan kepada thawaghit cabang "PBB" sebagai berikut:

"Resolusi konflik yang sedang berlangsung, termasuk konflik Suriah akan berdampak langsung pada kontrol kekuatan di balik perekrutan pejuang teroris asing oleh ISIL ... demi menyambut ancaman serius yang ditimbulkan oleh ISIL, termasuk masuknya teroris asing ke Iraq dan Suriah dan aktifitas pendanaan ekstensif ISIL, adalah penting untuk mengidentifikasi resolusi politik untuk konflik Suriah. Proses ini akan membutuhkan komitmen internasional yang berkelanjutan dan efektif serta implementasi dari resolusi Dewan Keamanan 2254 (2015), yang menetapkan jalan menuju negosiasi intra-Suriah secara resmi pada proses transisi politik sesuai dengan kesepakatan Genewa tahun 2012 akan gencatan senjata nasional secara paralel."

Dengan demikian, setelah Konferensi Riyadh dari thaghut Saudi, disimpulkan bahwa Nushairiyah dan sekutu ateis mereka dari Angkatan bersenjata demokratis Suriah - dengan dukungan dan persetujuan Rusia dan Amerika – di-“Blitzkrieg” di daerah yang dipegang oleh Shahawat murtadd, pengambilan banyak kota-kota besar dan kota kecil melalui "negosiasi" dengan para pemimpin Shahawat yang merupakan bagian dari konspirasi untuk mencapai "resolusi politik untuk konflik Suriah."

Bukankah ini adalah waktu yang tepat bagi tentara Shahawat naif untuk menyadari rencana jahat di mana mereka mengabdi, lalu bertobat dari kemurtadan mereka dan bergabung dengan barisan Khilafah?

DARAH KEHINAAN

DABIQ 14 - SPESIAL

DARAH KEHINAAN
Oleh: John Cantlie

“Dalam sebuah respon Amerika yang lambat atas eksekusi mantan teman satu sel ku tahun lalu, Negara itu secara resmi telah mengubah kebijakannya dalam masalah tebusan tawanan. Jelas sudah, kekerasan adalah satu-satunya pesan yang akan mereka tanggapi.”

Benar, aku memiliki pandangan mengenai krisis tawanan internasional –yang begitu menggemparkan headline media-media massa dunia pada tahun 2014- yang tidak dimiliki orang lain. Ini bukanlah hal yang perlu aku banggakan, tapi aku tahu lebih banyak atas apa yang dirasakan oleh tawanan asal Eropa terakhir yang berhasil pulang ke rumahnya daripada mereka yang lain yang masih hidup.

Saat tu, aku tidak berpikir dan banyak berbicara tentang apa yang akan terjadi setelahnya. Aku sudah kembali pulih secara fisik maupun mental, dan mencoba tak mengingatnya lagi. Kita tidak bias hidup di masa lalu selamanya. Namun hidup ini adalah rangkaian peristiwa, yang sebenarnya bisa dihindari secara keseluruhan, yang akan terwarnai selamanya dengan darah mantan teman satu sel ku dan akan menjadi aib memalukan bagi pemerintahan yang terlibat atas terbunuhnya dia. Tak akan ada yang bisa mengubah cara pandang Amerika dan Inggris yang dengan sinis meninggalkan warga Negara mereka terbunuh sementara semua Negara lain mampu memulangkan warga Negara mereka.

Dampak dari diumumkannya perubahan kebijakan Amerika Serikat terkait negosiasi tawanan tahun lalu jelas memiliki konsekuensi serius di Barat, mengejutkan publik. Tiba-tiba saja keluarga tawanan dibolehkan untuk membahas uang tebusan yang mencapai jutaan dollar, padahal kurang dari setahun sebelum pergeseran kebijakan ini, setiap rakyat yang mencoba untuk melakukannya –dan Diane Foley juga yang lain telah mencobanya- diancam untuk dituntut oleh Badan Keamanan Nasional (NSA).

Aku belum mendengar apapun mengenai sikap inggris dalam hal ini, namun karena mereka selalu mengikuti apapun yang diikuti amerika sekecil apapun itu, maka sangat mungkin bagi mereka sekarang juga telah merubah sikapnya.

Agaknya cukup aneh untuk kembal membahas semua yang telah terjadi lebih dari satu setengah tahun yang lalu, namun penting adanya untuk merenungkan apa yang sejarah tunjukkan dengan jelas berupa salah satu krises tawanan paling berdarah dan penanganannya paling buruk di era modern. Ini bukan hanya berdasarkan pengamatan ku semata, tapi juga berasal dari perasaan yang diutarakan oleh para wartawan diberbagai surat kabar terkait masalah ini.

Dampak kebodohan dari sikap keras enggan bernegosiasi Nampak jelas waktu itu, yaitu teman-teman satu sel ku dipenggal satu per satu. Karena mayoritas Negara memilih untuk bernegosiasi, baik diatas atau dibawah meja (dan semuanya memilih dibawah), dengan sikap keras kepala enggan berdialog, semua yang kalian lakukan hanyalah menyalahkan warga Negara kalian yang di penjara sampai mati. Tidak lebih.

Kalian tidak membuat sikap politik yang besar karena hal itu tidak terlihat dan tidak ada di media, kalian tidak menunjukkan pada dunia bagaimana kesulitan kalian membuat dalih alas an yang sama, dan nyatanya kalian memang sama sekali tidak membuat perbedaan apapun terhadap sikap global mengenai sandera. Para penyandera tidak memeriksa paspormu ketika mereka menangkapmu dan berkata, “Oh lihat, dia orang inggris. Kita lebih baik membiarkannya pergi dan hanya menahan semua orang prancis sebagai gantinya.” Ia tidak bekerja seperti itu.

Semua yang kalian lakukan hanyalah menyalahkan warga Negara yang telah memasuki sebuah situasi yang sulit demi uang beberapa juta dollar yang –mari kita jujur- tidak seberapa di dunia masa kini.

Daulah Islamiyah memompa jutaan dollar per hari dari pendapatan minyak sehingga mereka tidak membutuhkan uang hasil tebusan tawanan itu, dan belum membutuhkan untuk beberapa waktu. Aku tidak mengklaim berbicara atas nama mereka, namun aku percaya, cukup masuk akal untuk berkata bahwa mujahidin meminta uang tebusan hanya untuk melaksanakan perintah dalam Al-Qur’an.

{Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti...} (QS. Muhammad : 4)

Jangan salah, mujahidin mengikuti Al-Qur’an di tiap huruf-hurufnya, mengatakan apa yang mereka inginkan, dan melakukan apa yang mereka katakan. Mereka tidak main-main. Sebuah fakta yang tidak hilang dari Negara-negara Eropa yang warganya tertawan.

Amerika, disisi lain memilih untuk dengan entengnya mengabaikan bencana yang sedang mendatangi mereka, dan sekarang dalam sehari menghabiskan lebih banyak uang untuk membombardir Daulah Islamiyah daripada menyediakan uang yang diperlukan untuk membawa pulang Kayla Mueller yang berusia 26 tahun. Terima kasih atas kebijakan amerika saat itu, semua yang diperoleh keluarganya hanyalah bukti bahwa dia telah terbunuh akibat bom Koalisi di Raqqah. Dan sebuah nyala lilin di kampung halamannya Prescott, Aricona.

Jadi, beberapa bulan lalu aku menonton dengan seksama sebuah video dokumenter berdurasi 27 menit yang berjudul “Biaya Untuk Hidup”, yang ditayangkan ABC Australia pada Juni lalu. Presenter program ini, Jonathan Holmes, mewawancarai salah satu mantan teman satu sel ku, Frenchman Nicholas Henin. Nic adalah seseorang yang unik tapi aku cukup menikmati kebersamaan dengannya karena ia orang yang tenang, dan mengatakan hal-hal yang sangat aneh. Salah satu Nic-isme favoritku ketika ia dipukul oleh penjaga karena melemparkan roti ke toilet dan ia berteriak di dalam kamar dengan suara bernada tinggi, menyaksikan kepalanya melesat melewati pintu, berada cukup dekat di depan kami semua dan berteriak, “Aku baru saja dipukuuuuulllll”. Ah, hari yang menyenangkan.

Sesampainya dirumah, keempat orang prancis muncul ke hadapan publik bak pahlawan yang kembali dari medan perang. Nic, sama seperti semua tawanan prancis, spanyol, italia, jerman dan Denmark lainnya, kembali pulang ke rumah mereka dengan sedikit receh yang ditemukan pemerintah di dalam sakunya dan dibayarkan melalui seorang “perwakilan”. Biasanya ia adalah pengusaha kaya yang bertindak sebagai penyangga keuangan sehingga tidak ada hubungan langsung kepada pemerintah yang bersangkutan dan mereka dapat mengatakan –tanpa berbohong sedikitpun- bahwa mereka tidak membayar uang tebusan pada pihak yang menawan. Aku tidak tahu apakah pembayaran ini dilakukan secara elektronik atau seikat uang $50 usang didalam sebuah tas Adidas, namun itu tidak penting.

Terdapat banyak foto bahagia dank lip berita saat para tawanan pulang dan berkumpul kembali dengan orang yang mereka cintai. Ada air mata, pelukan, senyuman, dan jika kamu orang prancis, ciuman tak tulus di pipi dari presiden. Media menyukainya, masyarakat senang dengan pemerintah mereka, para mantan tawanan begitu bersyukur karena masih hidup, dan semua orang bersatu dalam kemarahan terhadap “para penawan yang kejam” yang telah melakukan “hal busuk” seperti itu sejak awal. Pemerintah membayar perusahaan marketing seperti Saatchi & Saatchi berjuta-juta untuk menghasilkan respon positif seperti itu dari masyarakat.

Sekarang, bandingkan hal itu dengan cemooh kemarahan dan kepahitan publik yang meletus di layar kaca publik ketika James Foley dieksekusi pada tanggal 18 Agustus 2014. “Hebat, ditangkap di hari Thanksgiving, dibunuh di hari ulang tahun ibuku,” ucapnya dengan tenang, beberapa menit sebelum ia dituntun keluar. Kepala kami dicukur gundul semua pagi itu dan pasti akan ada sesuatu yang pasti terjadi. “Ini hanya sebuah video, baik untuk kita semua,” kata James. “Tidak”, aku menjawab. “Ini bukan hanya sebuah video”.

94% warga amerika mendengar tentang kematian Foley. Ini menjadi berita terbesar di tahun itu karena gambar eksekusinya dan yang lain setelahnya disiarkan ke seluruh dunia. Belum pernah ada yang melihat hal seperti itu, tentu saja tidak dalam skala sebesar ini dan peristiwa itu memenuhi halaman depan (headline) di setiap surat kabar dan berita utama tv di seluruh dunia. Awalnya kemarahan ditujukan kepada mujahidin sebagai pihak eksekutor, tapi tidak lama kemudian Nampak jelas bahwa pemerintah yang terlibat sebenarnya mampu membuat kesepakatan untuk membebaskan warga mereka, akhirnya semua mata tertuju pada mereka. Kematian tersebut adalah akibat dari tindakan –atau lebih tepatnya kelambatan total- dari politisi amerika dan inggris.

“Terdapat perbedaan yang sangat besar antara bagaimana respon pemerintah perancis dan spanyol terkait hal itu,“ kata wartawan New York Times Rukmini Callimachi ketika diwawancarai dalam program tersebut. “Sedangkan warga amerika menyeret kaki mereka dan memberi tahu Mrs. Foley ‘Kami tidak akan membayar, mintalah bukti hidup yang lain, dll.’ Yang lain masuk ke mode negosiasi dan berkata, ‘Oke, 100 juta, 50 juta, itu diluar dari pertanyaan. Mari kita bicara hal yang lebih masuk akal’.

Aku melihat sejumlah email antara negosiator dari Daulah Islam dan beberapa keluarga tawanan amerika pada saat itu. Keputusasaan dan permohonan untuk perpanjangan waktu oleh para ibu sementara mereka sendirian mencoba untuk memfasilitasi pembebasan tawanan di penjara “hitam” amerika sebagai media pertukaran untuk anak-anak mereka, tampak mengerikan untuk dibaca dan membuktikan betapa sedikit yang pemerintah mereka telah lakukan atau bahkan diskusikan dengan mereka sementara jam terus berputar tanpa henti. Hanya beberapa hari sebelum ia dibunuh, ibu Steven Sotloff masih, dengan sangat mustahil, mencoba membuat Obama mau membahas pembebasan Dr. Aafia Siddiqui sebagai pertukaran untuk hidup Steven. Satu ibu melawan pemerintah. Tentu saja, dia kalah.

“FBI memiliki penyadap komunikasi, serta memiliki pengawasan udara, mereka hamper pasti memiliki SDM (mata-mata) di wilayah Suriah,” kata bos Global Post Philip Balboni, agen media dimana Foley bekerja, dalam program tersebut. “Jadi tidak diragukan lagi banyak informasi yang tersedia bagi mereka. Tidak ada sama sekali, sepanjang periode waktu Jim masih hidup, sepotong informasi pun yang datang kepada kami. Tapi yang benar-benar membuat marah Diana dan John Foley adalah ancaman yang disampaikan oleh anggota NSA dalam teleconference dengan para keluarga tawanan lainnya”. Ancamannya sederhana: Jika anda mencoba untuk mengumpulkan uang tebusan demi menyelamatkan anak anda, anda bisa dituntut karena mendanai terorisme.

Mungkin cara paling sederhana untuk menilai kegagalan menyedihkan dari kebijakan tawanan amerika dan inggris dibandingkan dengan, katakanlah, pendekatan perancis adalah dengan melihat segala sesuatu yang terjadi selama lebih dari 18 bulan terakhir dan menilai apakah sikap “keras kepala” amerika dan inggris telah merubah semuanya menjadi lebih baik, apakah tidak bernegosiasi dengan cara apapun ketika yang lain melakukannya bahwa mereka telah meningkatkan kemampuan politik atau militer mereka dalam memerangi Daulah Islamiyah.

Mari kita lihat fakta. Sebagai contoh, dengan tidak membayar tebusan, bahkan melarang pihak keluarga untuk mencobanya dan menolak untuk membahas pertukaran tawanan dengan Daulah Islamiyah untuk hidup kelima mantan teman sel ku, apakah keputusan Obama dan Cameron tersebut mencegah Khilafah memperluas perbatasan wilayahnya di Timur dan Barat? Tidak sama sekali.

Apakah keputusan tersebut menghentikan afiliasi kelompok-kelompok islam di semenanjung Sinai, Afghanistan, Pakistan, yaman, Nigeria dan Libya untuk berjanji setia kepada Khilafah, sehingga menciptakan pemerintahan syari’at terbesar yang pernah ada di era modern? Tidak sama sekali.

Apakah itu menghentikan Daulah Islamiyah memukul mundur militer Iraq menuju kehancuran dan menaklukkan sebagian besar provinsi Anbar sementara para militant syi’ah membuang senjata mereka dan kabur? Tidak sama sekali.

Apakah itu menghentikan amerika untuk menghabiskan miliaran dollar dalam operasi militer udara sejauh ini dan menyebarkan ribuan penasehat militernya di Negara yang baru mereka tinggalkan pada tahun 2011? Tidak sama sekali.

Dan apakah itu menghentikan serangan mujahidin di Texas, New York, Tunisia dan California di sepanjang tahun 2015 yang menyebabkan puluhan warga inggris dan amerika tewas atau terluka? Sama sekali tidak.

Perancis memulangkan semua tawanan mereka dan masih mendapat serangan di dalam wilayah negaranya, jadi fakta itu menjengkelkan. Dengan memilih untuk tidak bernegosiasi dengan cara apapun dengan mujahidin, semua yang amerika dan inggris lakukan hanyalah membuat enam warga Negara mereka terbunuh tanpa alasan apapun, selain kesombongan tak berperasaan.

Aku ingat sebuah wawancara David Cameron dengan Sky News mengenai batas waktu yang akan dating untuk Briton David Haines pada bulan Agustus 2014. Dia tahu, 100% tahu, bahwa David akan dipenggal kepalanya sama seperti yang lain, namun Cameron sangat egois dan sombong. “Kami tidak akan membayar uang tebusan,” katanya. “Pikiran kami bersama keluarganya di masa sulit ini dan kami sedang melakukan segala sesuatu yang mungkin (padahal tidak sama sekali), tapi negara manapun yang membayar (tebusan) berarti mendanai terorisme,” katanya, menyerang Negara-negara yang sudah membebaskan warganya.

Namun faktanya adalah mereka sebenarnya bisa membawa pulang semua warga mereka tanpa masalah, baik amerika maupun inggris, dan perang mereka terhadap Daulah Islamiyah akan berlangsung sama persis dengan hari ini. Peristiwa-peristiwa satu setengah tahun terakhir telah membuktikan kebenaran pernyataan ini. “Kita mendapati empat pemuda warga amerika, dan semua tawanan eropa masih hidup. Semuanya kembali dengan keluarga mereka,” kata Philip Balboni.

“Itu adalah perbedaan yang mencolok. Pemerintah amerika dan inggris perlu merenungkan hasilnya, dan tidak hanya berpatok pada kebijakan sederhana yang mereka junjung tinggi dan merasa bangga dengannya. Hasilnya tidak baik, dan semestinya bisa lebih baik.”

Setelah video “propaganda” yang aku buat untuk Daulah Islamiyah di tahun 2014, terdapat semacam kegembiraan dalam melihat amerika merubah kesombongannya dan kebijakan yang tidak bijaksana mengenai negosiasi tawanan. Jika sekarang diperbolehkan bagi keluarga untuk membahas pembayaran uang tebusan dan mengumpulkannya, mungkin pemerintah sebenarnya membantu mereka untuk membayar, dibawah meja tentunya, dan secara diam-diam. Ini semua adalah hasil kerja dari keluarga Kassig, Sotloff dan Foley serta para pendukungnya, tapi mungkin ucapan kemarahanku telah membantu sedikit. Peter Kassig bukanlah lelaki yang mudah untuk bergaul di penjara, tetapi ketika tahu ajalnya akan tiba, ia menjadi tenang dan reflektif. Beberapa hari sebelum ia mati ia berkata, “Mungkin setelah aku mati, entah bagaimana sesuatu yang baik akan dating darinya.” Kematiannya dan kematian tawanan lain, membuat malu amerika hingga berubah (kebijakannya). Namun tertumpahnya darah mereka bisa saja dengan mudah dihindari sejak awal.

ABU JANDAL AL-BANGALI

DABIQ 14 - SYUHADA

DI ANTARA ORANG-ORANG YANG BERIMAN ADA KESATRIA:
ABU JANDAL AL-BANGALI

Abū Jandal al-Bangālī (semoga Allah menerimanya) adalah salah satu di antara beberapa muwahhidin yang berhijrah dari Bengal ke bumi Syam yang diberkahi, dengan karunia Allah.

Abu Jandal dibesarkan di Dhaka dan berasal dari keluarga kaya yang memiliki hubungan yang cukup dalam dengan militer Bengal. Ayahnya adalah seorang perwira murtad pasukan thogut dan tewas pada saat terjadinya peristiwa pemberontakan yang terjadi di internal penjaga perbatasan “Bangladesh” pada tahun “2009”, Abu Jandal sering berbicara mengenai ayahnya, “ayahku mati di jalan thogut tetapi aku berharap untuk mati di jalan Allah semata”. Ia tetap berpegang teguh dengan kata-kata yang ia janjikan kepada Allah dan berusaha mencari syahid dengan sungguh-sungguh, dan Allah pun menepati apa yang dijanjikan kepadanya dan mengabulkan apa yang selama ini dia idam-idamkan. Demikian kami menilai beliau, dan Allah lebih menilai beliau.

Selama masa-masa akhir remajanya, Abu Jandal mendapatkan panggilan terhadap kebenaran Islam. Dia mulai mendengarkan ceramah-ceramah Syaikh Anwar al-‘Awlaqiy (semoga Allah menerimanya) dan ulama lainnya yang berada dalam kebenaran. Dia mempunyai semangat yang kuat dalam mencari ilmu yang bermanfaat. Ia biasa membaca al-Qur’an setiap hari dan merenungkan kandungan ayat-ayatnya. Ia juga sering mempelajari bahasa Arob dan buku-buku mengenai aqidah yang ditulis oleh Ibnu Taymiyah dan Muhammad ibnu ‘Abdil-Wahhab. Ia juga seorang hamba yang sholih. Ia secara terus-menerus mengerjakan qiyam setiap malam juga mengerjakan shalat sunnah harian, dan juga selalu menyemangati saudaranya yang lain disekitanya untuk mau melaksanakan qiyam. Selain sebagai seorang individu yang sholih, dia juga secara keuangan turut membantu mujahidin lokal di Bengal dan terhadap tahanan muslim yang ada di sana semampu yang ia bisa lakukan. Ia adalah seorang pemuda yang akan selalu bersegera dalam melakukan amal kebaikan di awal kesempatan.

Ketika Khilafah dideklarasikan di Syam, Abu Jandal adalah termasuk diantara Muwahiddin pertama di Bengal yang menyatakan dukungannya terhadap Daulah Islam dan menyatakan baiatnya kepada sang Khalifah hafizhahullah. Ia juga sangat aktif dalam menyebarkan pesan tauhid dan Khilafah kepada saudara-saudara yang berada di sekitarnya, dan sebagaimana seruan untuk hijrah yang intensif oleh media Daulah Islam, Abu Jandal tidak merasa puas hanya dengan berbicara dengan teman-temanya melalui berbagai media sosial, sebaliknya, ia benar-benar memutuskan untuk berjalan di jalan Allah dan melakukan hijrah menuju Daulah Islam.

Abu Jandal menghadapi banyak rintangan dalam perjalanannya melakukan hijrah. Rencana yang ia miliki pada waktu itu adalah berpura-pura melakukan perjalanan menuju konferensi insinyur yang diadakan di timur tengah sebagai pengalihan hijrah-nya. Untuk melakukannya, ia memerlukan surat referensi dari kampusnya yang mengkonfirmasi alasannya melakukan perjalanan dengan tujuan menghadiri konferensi tersebut, tetapi yang menjadi masalah adalah ia sudah berhenti menghadiri kelas-kelas di kampusnya dikarenakan lingkungan di sekitar kampusnya yang penuh dengan kemaksiatan. Pada akhirnya, sebagai seorang pemuda, mahasiswa pengangguran, ia tidak mempunyai dana untuk membiayai penerbangannya juga untuk membayar biaya konferensi. Meskipun berada pada situasi seperti itu, ia berusaha tetap teguh dan yakin atas janji Allah, yang berfirman, [dan barangsiapa yang taqwa pada Allah, akan Dia berikan jalan keluar untuknya dan akan Dia berikan rizqi dari arah yang tidak ia sangka. Dan barangsiapa yang tawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya [at-Tholaaq: 2-3]. Dan demikianlah Allah memfasilitasi untuknya solusi-solusi dari arah yang tidak ia duga. Dengan menaruh kepercayaannya hanya kepada Allah saja, Abu Jandal mampu untuk memalsukan surat referensi dari kampusnya itu, dan Allah membutakan mata murtaddin, di mana mereka tidak memperhatikan ciri-ciri yang jelas atas kepalsuan surat tersebut baik itu stempel dan tanda tangan pada surat referensi tersebut. ia juga mampu dalam mengumpulkan uang yang diperlukan untuk membiayai perjalanannya dengan cara yang cukup cerdik. Demikianlah, dengan karunia dari Allah, Abu Jandal berhasil untuk melakukan hijrah ke Syam. Ia berjalan menuju Allah, namun Allah berlari menujunya, sebagaimana yang Allah telah janjikan kepada orang-orang beriman.

Ketika berita itu bocor, bahwa Abu Jandal telah meninggalkan negaranya ke timur tengah dan bahwa sebenarnya ia tidak menghadiri konferensi tersebut, seorang pamannya yang murtad, yang memiliki hubungan dengan agen intelijen militer Bengal DGFI (Directorate General of Forces Intelligence), melakukan yang terbaik untuk mencegah dia sampai ke Syam. Meskipun dengan usaha yang dilakukan oleh pamannya dan DGFI, bagaimanapun dengan karunia Allah, Abu Jandal berhasil tiba di Syam dengan sangat mudah, menegaskan apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam katakan terhadap seorang sahabat muda ‘Abdulloh ibnu Abbas, “Ketahuilah seandainya seluruh dunia berkumpul untuk memberikanmu suatu kebaikan, mereka tidak akan mampu memberikan kepadamu satu kebaikan pun selain apa yang telah Allah tuliskan untukmu. Dan jika mereka berkumpul untuk memberikan satu keburukan kepadamu, mereka tidak akan mampu memberikan satu keburukan kepadamu kecuali apa yang telah Allah tuliskan untukmu.” [diriwayatkan oleh at-Tirmidziy].

Setelah berhasil memasuki bumi Syam yang diberkahi, hatinya penuh dengan rasa gembira dan ia menjadi orang yang termuda di antara para muhajirin asal Bengal. Segera setelah dia mengikuti kamp pelatihan, dia memberitahukan kepada pelatihnya bahwa ia ingin melakukan sebuah operasi istisyhad dan kemudian namanya pun masuk ke dalam daftar. Ia selalu tampak ceria dan murah senyum. Sementara menunggu gilirannya untuk melaksanakan operasi istisyhad, ia bergabung dengan sebuah batalion dan ditempatkan untuk ribath di ‘Ainul Islam. Meskipun ia sibuk dalam ribath dan pertempuran, hatinya selalu khawatir dengan saudara-saudara di tempat asalnya dan perkembangan jihad di sana. Ia bermimpi Bengal menjadi garis terdepan Daulah Islam dan menjadi kuburan bagi para murtaddin. Saat ia kembali dari tugas ribathnya ke kota, ia akan segera menanyakan saudara-saudaranya mengenai perkembangan yang terjadi di Bengal.

Ia juga biasa memberikan nasihat yang tulus kepada saudara-saudaranya di sana, meskipun tumbuh dalam keluarga yang kaya, ia selalu menjaga jaraknya dengan kehidupan di kota, dan lebih memilih bersusah payah dalam jihad. Sebelum ia pergi untuk ambil bagian dalam salah satu pertempuran di ‘Ain ‘Isa, ia mengabarkan kepada seorang temannya bahwa ia tidak mau menetap di kota dan berencana untuk pindah ke daerah pegunungan di wilayah Damaskus. Pada saat itu, mulai mendekati bulan romadhon, dan hatinya selalu terikat dengan Syahadah. Ia berkata kepada saudara-saudaranya disana akan keinginanya meraih syahadah dan berdoa agar Allah mau mengabulkannya pada bulan Romadhon. Ia kemudian pergi menuju pertempuran di ‘Ain ‘Isa sebagai seorang prajurit inghimasiy. Selama berjalannya operasi tersebut, ia terkena tembak meriam 23mm. tim medis segera mengevakuasinya dari lokasi pertempuran dan berusaha memberikannya pertolongan pertama, namun nyawanya tidak dapat tertolong karena pendarahan yang parah. Seorang dokter yang bertugas saat itu mengabarkan kepada saudara-saudara seperjuangannya bahwa sebelum nafas terakhirnya ia sempat mengucapkan kalimat syahadah.

Berkenaan dengan tugasnya dalam melaksanakan operasi inghimasi, Abu Jandal menulis surat berikut yang ditujukan kepada saudara-saudaranya seiman:

“dengan nama Allah Yang maha pengasih lagi maha pemurah, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, Dialah satu-satunya yang pantas disembah, Dialah satu-satunya yang hukumnya akan menguasai dunia, hanya pada-Nya hendaknya orang-orang beriman bertawakkal dan berharap. Adapun selanjutnya;”

“ini adalah sebuah pesan yang tulus dari saudaramu yang hidup di tanah Daulah Islam yang diberkahi ini. Adalah hukum-hukum Allah dan pengorbanan para saudara-saudara kita yang menjadikan tanah ini diberkahi, ya ikhwani fillah, empat atau lima bulan yang lalu, aku berada pada posisi yang sama sepertimu. Aku tidak mempunyai rencana apapun untuk menghindari fitnah yang ada di sekelilingku. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk melakukan jihād fī sabīlillāh. Pada saat itu aku berpikir bahwa seluruh keluargaku dan teman-temanku pasti akan menghalangiku. Aku tenggelam di rintangan yang sama dengan apa yang mungkin kamu alami sekarang. Namun itu semua adalah tentang janji Allah, janji mengenai taman surga yang mengalir sungai-sungai dibawahnya, yang membuatku terus mencoba, dan hal itu sudah cukup bagiku, insya Allah.”

“berikut ini adalah beberapa poin nasihat, yang mana aku berusaha dengan keras untuk melakukannya dan berharap bahwa kalian, saudara-saudaraku tercinta, juga berusaha melakukannya. Perlu dicatat bahwa ini hanyalah sudah menjadi tugasku untuk memberikan nasihat yang tulus kepada kalian. Sebaliknya, aku terlalu kecil dan terlalu berdosa untuk memberikanmu nasihat.”

- “Qiyāmul lail. Yā akhī, ini sudah menjadi solusi untuk para sahabat, sudah menjadi solusi untuk para saudara-saudara kita, dan hal ini tentu akan berlaku sama kepada kalian, insya Allah. Cobalah bangun 15 menit sebelum fajar dan shalat dua rakaat qiyamul Lail. Dan ketika kamu mulai terbiasa, tingkatkan 15 menit lagi. Apakah ini terlalu sulit?”

- “Cobalah menjadikan al-Qur’an sebagai teman terbaikmu. Bacalah, dengarlah, hapalkanlah, habiskanlah banyak waktu dengannya, Praktikanlah. Yang demikian itu lebih baik daripada bergunjing dengan teman-temanmu.”

- Cobalah lakukan latihan fisik rutin di rumah. Jangan lewatkan poin yang satu ini.”

Demikianlah, Abu Jandal adalah termasuk di antara para saudara-saudara kita yang tidak merasa puas hanya karena sudah berhasil tiba di tanah Khilafah dan ambil bagian dalam jihad di jalan Allah. Seseorang dapat melihat melalui surat yang ia tulis bahwa meskipun ia telah terlibat dalam jihad, yang merupakan salah satu amalan yang tertinggi, berupa pengorbanan dan ketaatan, ia terus mencoba untuk meningkatkan dirinya menjadi lebih baik dan memperkuat hubungannya dengan Tuhannya. Semoga Allah menerimanya dalam golongan syuhada dan memberikan inspirasi kepada yang lain melalui kata-kata dan perbuatannya.

PELAJARAN DARI FITNAH BANGSA MONGOL

DABIQ 14 - SEJARAH

PELAJARAN DARI FITNAH BANGSA MONGOL

Tujuh ratus tahun yang lalu, bala tentara yang dipimpin oleh penguasa Mongol, Mahmud Ghazan menginvasi tanah Syam, menyebarkan kebusukan di dalam negri dan menyebabkan kepanikan di antara penduduk. Setelah mengalahkan tentara Muslim pada Pertempuran Wadi al-Khazandar, Ghazan terus merengsek maju ke arah Damaskus. Ia kemudian menarik diri dari tanah Syam dan menginggalkan umat Islam di dalam negri untuk menghadapi cobaan berat yang akan menguji keyakinan mereka pada Allah dan kepercayaan mereka akan janji-Nya untuk memberikan dukungan dan kemenangan sebagaimana ketika tentara Mongol mencoba menguasai Damaskus dan menyerang bentengnya terus menerus.

Berikut adalah beberapa perkataan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah yang menceritakan awal fitnah yang mencengkeram kaum Muslimin dan mengguncang mereka hingga ke masalah pokok sebagaiman musuh berbaris kian mendekat dan terus mendekat ke Damaskus. Syaikh mengambil perbandingan antara Pertempuran al-Ahzab pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan fitnah dari Ghazan, sebuah pelajaran yang menyajikan kepada kaum mu’minin yang akan tetap terus relevan dan penting sampai kubu Iman akan mengalahkan kubu kufur sekali lagi dan selamanya.

Ibnu Taimiyah rahimahullah memulai dengan menyatakan pentingnya pelajaran dari peristiwa yang menimpa kaum mu’minin sebelum kita, dan perlunya membandingkan situasi antara kita dengan mereka. "Memang, telah terjadi fitnah dalam hal ini –dimana Allah telah menimpakan umat Islam dengan adanya musuh yang menyerang yang berada di luar naungan syari’ah Islam- mirip dengan apa yang telah terjadi dengan kaum muslimin dan musuhnya pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam... Allah telah berjanji dalam kitab-Nya dan dalam Sunnah Rasul-Nya bahwa apa yang menimpa bagian terakhir dari umat ini adalah sebagaimana yang menimpa kaum muslimin pada masa awal. Allah mengaitkan kisah dari bangsa-bangsa terdahulu dalam rangka untuk memberikan sebuah pelajaran bagi kita, sehingga kita akan membandingkan situasi kita dengan situasi mereka dan mengukur negara terakhir berdasarkan negara pertama.

"Syaikh kemudian melanjutkan dengan membagi orang-orang menjadi tiga kategori sehubungan dengan dukungan mereka terhadap agama Allah. "Dan kelompok yang menang –yang menegakkan Agama dan tidak akan merugikan mereka siapa saja yang menentang atau meninggalkannya sampai hari kiamat - menjadi jelas, manusia dibagi menjadi tiga kelompok: kelompok yang berjuang menegakkan agama, yang meninggalkannya dan yang lainnya berada di luar syari’ah Islam ... pembagian ini merupakan penafsiran dari firman Allah,

{supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafiq jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. } [Al-Ahzab: 24].

"Dia kemudian menyebutkan beberapa ayat tentang Perang Uhud untuk menarik perbandingan antara penyebab perpecahan di barisan Muslim selama Perang Uhud, dengan penyebab perpecahan di barisan Muslim selama invasi Mongol. Dia mengatakan, "Allah berfirman,

{Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antara kalian pada hari bertemunya dua pasukan itu, hanya saja mereka digelincirkan oleh syaython disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau) dan sesungguhnya Allah telah memberi ma'af kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.} [Ali ‘Imran: 155].

Allah subhanahu wa ta’ala juga mengatakan,

{Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kalian, ketika kalian membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada sa'at kalian lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepada kalian apa yang kalian sukai. Di antara kalian ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kalian ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kalian dari mereka untuk menguji kalian, dan sesunguhnya Allah telah mema'afkan kalian. Dan Allah memiliki karunia atas orang orang yang beriman.} [Ali ‘Imran: 152].

Allah juga mengatakan,

{Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: "Darimana datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah: "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri." Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu} [Ali ‘Imran: 165].

[Selama pertempuran] Setan berteriak lantang kepada manusia, "Muhammad telah terbunuh". Sehingga di antara mereka ada sebagian manusia yang terguncang dan melarikan diri, dan sebagian lainnya mereka adalah orang-orang yang tetap teguh dan berjuang. Kemudian Allah berfirman,

{Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh sebelumnya telah berlalu para Rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kalian berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan kerugian pada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.} [Ali ‘Imran: 144].

Dan hal ini mirip dengan kondisi umat Islam saat mereka hancur pada tahun lalu.

"Dia kemudian menyebutkan bahwa kekalahan umat Islam pada zamannya adalah karena dosa, niat buruk, bermegah-megahan, kesombongan, dll, dan kemudian berkata, "jadi itu sudah keluar dari hikmah Allah dan rahmat-Nya atas orang-orang beriman bahwa Dia akan menimpakan mereka dengan cobaan dimana Ia mereka akan menderita dengannya, sehingga Allah dapat memurnikan orang-orang beriman dan mereka dapat kembali pada Robb mereka dengan taubat ... Sama seperti dukungan Allah untuk barisan muslim pada hari Badar, itu adalah rahmat dan berkah, dan kekalahan mereka pada hari Uhud adalah berkat dan rahmat bagi orang-orang beriman, karena sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, "Allah tidak akan menetapkan sesuatu kepada orang mu’min kecuali kebaikan. Dan ini tidak didapati oleh siapa pun kecuali oleh seorang mu’min. Jika ia menerima kebaikan maka ia bersyukur kepada Allah dan itu baik baginya, dan jika ia mengalami kesulitan maka ia bersabar dan itu adalah baik baginya'.

"Perkataan Syaikhul Islam di atas amat tepat dengan apa yang berlaku atas umat saat ini. Dan di luar rahmat besar Allah terhadap umat Islam, Dia telah menimpakan kepada mereka dengan satu demi satu bencana untuk membangunkan mereka dari tidur mereka, memurnikan barisan mereka, dan membimbing mereka untuk bertaubat dari setiap dosa dan kembali kepada-Nya. Jadi, jika mereka bersabar atas musibah yang menimpa mereka, itu akan menjadi rahmat dan berkah dengan izin Allah.

Ibnu Taimiyah rahimahullah lalu membagi orang ke dalam tiga kategori sehubungan dengan Iman dan mulai menguraikan ciri-ciri munafiqin. Sangatlah penting untuk dapat mengenali munafiqin, karena mereka akan selalu memalingkan kepala jelek mereka ke belakang dan membuat suara mereka terdengar keras ketika fitnah muncul. Hal ini juga penting untuk mengetahui sifat-sifat dan kebiasaan mereka seperti yang telah dijelaskan dalam al-Qur’an dan Sunnah karena banyak orang mungkin akan jatuh ke dalam nifaq selama masa fitnah tanpa menyadarinya, dan pengetahuan akan sifat-sifat ini adalah untuk menghindari munafiqin, membantu orang melindungi dirinya dari meniru munafiqin dan mengikuti jalan mereka yang rusak, sebagaimana yang telah terjadi di antara murtaddin yang sebelumnya menapaki jalan ilmu dan jihad namun sekarang berdiri bahu-membahu dengan sekularis dan faksi nasionalis di parlemen syirik mereka. Syaikh menyatakan, "Dan orang-orang terbagi [dalam pertempuran kita ini] sama seperti mereka terbagi pada tahun al-Khandaq (yaitu Pertempuran al-Ahzab). Dan ini adalah karena sejak Allah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan memuliakannya dengan Hijrah dan dengan dukungan yang ia terima, orang-orang terbagi menjadi tiga kelompok: kelompok mu’minin yaitu orang-orang yang beriman kepada-Nya lahir dan batin, kelompok kafir yaitu orang-orang yang mengingkari-Nya dengan jelas, dan kelompok munafiq yaitu orang-orang yang beriman kepada-Nya hanya secara lahiriah, sedangkan hatinya mengkufurinya.

"Syaikh kemudian menjelaskan tipu muslihat dari berbagai sekte Bathiniy murtadd pada masanya, seperti Kharamiyah, Bathiniyah, Qaramithah, Isma’iliyah, dan Nushairiyah. Dia menyatakan, "Dan kebanyakan dari munafiqin* ini bersandar pada negara Tatar '(bangsa Mongol) karena mereka tidak mewajibkan syari’ah Islam kepada mereka. Beberapa dari mereka melarikan diri dari Tatar bukan demi agamanya,namun hanya karena track record korupsi Tatar dalam hal dunya saja, penyitaan kekayaan mereka, dan pertumpahan darah tak terkendali dan perbudakan." Sayangnya, beberapa hal yang disebutkan Ibnu Taimiyah di sini dalam mendeskripsikan para anggota sekte Bahtiniy juga berlaku untuk banyak umat Islam saat ini. Mereka melarikan diri dari kesempatan untuk ber-jihad dan penegakan syari'at menuju dunia mereka. Namun, jika mereka takut karena Iman mereka, mereka akan membela tanah Muslim dalam melawan murtaddin. Wallahul musta'an.

*Perhatikan penisbatan Ibnu Taimiyah terhadap nifaq (kemunafikan) atas sekte-sekte Bathiniy hanyalah secara bahasa saja, karena mereka mengklaim Islam sementara realitasnya bertentangan dengan ‘amaliyah. Dia tidaklah memandang mereka sebagai sekadar munafiqin yang umumnya diperlakukan sebagai Muslim. Akan tetapi sekte ini secara terbuka telah melakukan kekufuran dan syirik, dan dengan demikian hukum atas sekte ini adalah bahwa mereka itu murtaddin, sebagaiman Syaikh sendiri telah menyebutkannya dalam beberapa literatur yang terkenal.

Syaikh kemudian menyebutkan salah satu ciri utama dari munafiqin: "Dan juga termasuk dalam topik ini adalah berpaling dari jihad, karena itu adalah salah satu diantara ciri-ciri munafiqin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 'Barangsiapa meninggal tanpa berjihad dan juga tidak berniat untuk berjihad, maka ia mati pada salah satu cabang nifaq' [HR Muslim].

"Dia kemudian membahas Surat at-Taubah dengan menyatakan, "Dan surat ini diturunkan selama 2 masa terakhir dari pertempuran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Pertempuran Tabuk pada tahun 9 setelah Hijrah ketika Islam telah menjadi kuat dan nyata. Di dalamnya Allah membongkar kondisi munafiqin, menggambarkan mereka sebagai pengecut dan meninggalkan jihad, serta menggambarkan mereka sebagai menahan kekayaan fii sabilillah dan pelit terhadap kekayaan mereka."

Sangatlah penting untuk dicatat bahwa pemaparan Allah akan sifat pengecut dan pelit terhadap munafiqin dalam surah ini –yang juga bernama "al-Fadihah" (yang membuka aib) sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu 'Abbas radhiyallahu ‘anhu– dengan memperhatikan perang Tabuk yang merupakan jihad ofensif. Jadi berapa banyak lagi label dari nifaq dapat berlaku bagi orang-orang yang meninggalkan jihad pada hari ini ketika tanah kaum muslimin diserang dari segala arah oleh musuh-musuh Allah dan dikungkung oleh hukum dan konstitusi syirik yang diberlakukan dan ditegakkan oleh tentara salib dan boneka mereka! Dengan demikian kaum Muslim harus takut bila nama mereka tercatat dalam sejarah sebagai orang-orang yang meninggalkan jihad pada salah satu masa paling kritis, dan juga harus takut pada hari ketika mereka akan berdiri di hadapan Allah beserta seluruh makhluq akan menjadi saksi sebagaimana mereka akan menjawab pertanyaan akan perbuatan tercela dan memalukan. Dan pasti Dzat yang membongkar aib dan membuka tabir munafiqin di dunya karena meninggalkan jihad ofensif di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tanpa alasan yang sah, pasti mampu membongkar aib dan mengekspos mereka yang meninggalkan jihad defensif pada hari tanpa alasan syar’i.

Syaikhul Islam kemudian menyatakan, "dengan demikian, bagian dari ma’na 'mu’min' dan 'munafiq' telah menjadi jelas. Jadi, jika seseorang membaca surat Al-Ahzab dan mempelajari –dari apa yang telah jelaskan dalam hadits, tafsir, Fiqh, dan Siroh- sebab di mana Qur’an diturunkan, dan kemudian merenungkan masa kini dengan apa yang diterangakan di dalamnya, maka ia akan melihat kebenaran dari apa yang telah kita sebutkan; bahwa manusia telah dibagi -dalam kejadian saat ini- ke dalam tiga kelompok sebagaimana mereka dibagi pada masa lalu".

Dan hari ini, di mana manusia juga dibagi menjadi tiga kelompok sehubungan dengan pembentukan Daulah Islam dan kembalinya Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah: sebuah kelompok yang mendukung kebangkitan Khilafah dan pelaksanaan syari’ah, kemudian kelompok yang menolak dan memerangi Khilafah dan syari’ah, dan kelompok ketiga yang mengklaim sebagai di pendukungan kembalinya Khilafah dan penerapkan syari’ah namun tampaknya berpikir bahwa ini hanya dapat terjadi dengan meninggalkan jihad, menyebar ketakutan dan mengkritik para mujahidin atas setiap kekurangannya.

Syaikhul Islam kemudian secara singkat menceritakan kisah pertempuran al-Ahzab dan menggambarkan situasi di Syam. Dia kemudian menyebutkan firman Allah:

{(Yaitu) ketika mereka datang kepada kalian dari atas dan dari bawah kalian, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(kalian) dan hati (kalian) naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kalian menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam prasangka. Disitulah orang-orang mu’min diuji dan digoncangkan (hati mereka) dengan goncangan yang keras} [Al-Ahzab: 10-11],

lalu menyatakan, "Musuh datang dari kedua sisi yang tinggi dari wilayah Syam ... hingga mata orang-orang bergeser dalam ketakutan dan hati mereka mencapai tenggorokannya karena besarnya penderitaan, terutama ketika tersiar kabar bahwa tentara Muslim telah meninggalkan Mesir dan musuh mendekat ke Damaskus. Orang-orang memiliki berbagai prasangka pada Allah. Salah seorang berpikir bahwa tidak ada lagi seorang dari tentara Syam yang akan berdiri dan menghadapi mereka dan mereka akan membasmi orang-orang Syam, yang lainnya berpikir bahwa jika mereka berdiri di hadapan mereka [orang Mongol] akan benar-benar mematahkan mereka dan mengelilingi mereka seperti bulan dikelilingi oleh cahaya, dan yang lainnya berpikir bahwa mereka tidak bisa lagi tinggal di tanah Syam dan bahwa hal itu akan tidak lagi menjadi negeri Islam, dan yang satu ini berpikir bahwa [Mongol] akan mengambil [Syam] dan kemudian lanjutkan ke Mesir dan merebutnya dan tidak ada yang akan menghalangi mereka sehingga ia berencana untuk melarikan diri ke Yaman dan tempat-tempat lainnya, dan yang satu ini –berpikir agak positif- berkata, 'mereka akan memerintah [Syam] pada tahun ini sebagaimana mereka pemerintahan Hulagu pada tahun 657 Hijriyah. Lalu tentara dapat keluar dari Mesir dan menyelamatkannya dari mereka sebagaimana mereka keluar pada tahun itu. "Dan ini adalah prasangka terbaik di antara mereka."

Sebagaimana orang-orang Syam dulu mulai berprasangka buruk ketika menghadapi fitnah dari Mongol, demikian juga dengan kebanyakan umat Islam saat ini yang berprasangka buruk ketika menghadapi fitnah dari thawaghit dan salibis, bahkan jatuh dalam riddah karena prasangkanya! Meskipun Khilafah telah dikembalikan, syari'at ditegakkan, wilayah Daulah Islam diperluas dan pembantaian terhadap Murtaddin tak terhitung jumlahnya di tangan tentaranya, banyak dari faksi Suriah –termasuk yang menamakan dirinya "Islamis" - terus berperilaku seolah Bashar tidak mungkin dikalahkan oleh sekelompok Muslim yang hanya menyandarkan kemenangannya pada Allah. Faksi ini, bukannya menempatkan kepercayaan mereka kepada Allah dan berjuang untuk tujuan-Nya, akan tetapi malah berprasangka buruk pada Allah dan bertindak atas praduga negatif mereka dengan mengemis kepada tentara salib untuk memasok mereka dengan senjata dan membangun zona larangan terbang. Dan sebagai pertukaran untuk tentara salib dan dukungan thaghut, faksi ini bekerja sama dengan orang-orang kafir melawan Muhajirin dan Anshor dari Daulah Islam. tawakkal faksi ini pada orang-orang kafir telah menjadikan mereka menerima negosiasi dengan rezim Nushairiy untuk "transisi damai" menuju pemerintahan thaghut baru.

Ibnu Taimiyah rahimahullah kemudian menyatakan, "Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

{Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata: "Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu (kerumahmu)."} [Al-Ahzab: 13].

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah berkemah dengan kaum Muslimin di Gunung Sila'dan menempatkan parit diantara dia dan musuhnya. Sekelompok dari kalangan munafiqin berkata, “Tidak ada tempat bagimu untuk mengambil posisi di sini karena banyaknya jumlah musuh, jadi kembalilah ke Madinah.” Dan telah dikatakan [yang artinya], “Anda tidak memiliki kemampuan bertahan pada agama Muhammad, maka kembalilah ke agama syirik." Dan dikatakan [yang artinya], “Anda tidak memiliki kemampuan untuk berperang, jadi pertimbangkanlah untuk berlindung di bawah kekuasaan mereka." Dan juga, ketika musuh ini datang, ada orang-orang dari kalangan munafiqin yang berkata, “Daulah Islam tidak lagi tegak, jadi hal yang tepat untuk dilakukan adalah masuk ke dalam barisan Tatar." Dan beberapa orang mengatakan, “Kami tidak bisa lagi tinggal di tanah Syam. Dan kita akan pindah ke Hijaz, Yaman atau ke Mesir.” Dan di antara mereka berkata, “kepentingan umum terletak ketika menyerah kepada mereka dan menempatkan diri di bawah otoritas mereka seperti orang-orang Iraq yang menyerahkan diri kepada mereka." ketiga pernyataan yang diucapkan dalam insiden ini sama seperti yang diucapkan mereka dalam insiden itu. Inilah sekelompok munafiqin dan mereka yang di dalam hatinya ada penyakit akan mengatakan kepada orang-orang di Damaskus pada khususnya dan untuk orang-orang Syam pada umumnya: “Anda tidak memiliki kemampuan untuk tetap di negeri ini.”

Pernyataan dari munafiqin ini juga telah terulang dalam era kita oleh berbagai faksi Shahawat murtadd dan ideolog mereka. Mereka menanam keraguan akan kemampuan para mujahidin untuk menghadapi orang-orang kafir, bahkan memperingatkan bahwa Mosul akan jatuh dan menyarankan kepada perempuan untuk meninggalkan kota. sementara itu yang lainnya terus bersikeras atas manhaj "pragmatisme" mereka dengan mengklaim bahwa itu tidaklah "pragmatis" (rasional) untuk mencoba melawan orang-orang kafir langsung, dan bahwa Muslim harus menyembunyikan niat mereka untuk menerapkan syari’ah dan harus mengambil bagian dalam demokrasi untuk mendapatkan kekuasaan. Ini tentu saja tidak berbeda dengan pernyataan dari orang-orang munafiqin di atas, "Anda tidak memiliki kemampuan untuk tetap bertahan pada agama Muhammad, maka kembalilah ke agama syirik." Sedangkan yang lainnya percaya bahwa mereka tidak memiliki kemampuan untuk melawan salibis, sehingga mereka tidaklah terpaksa mencari bantuan dan perlindungan dari salibis melawan musuh lainnya, apalagi jika hal itu membawa mereka untuk bekerjasama dengan tentara salib memerangi umat Islam!

Syaikhul Islam kemudian menjelaskan bahwa mereka tidak akan puas dengan meninggalkan jihad saja dan mereka akan mencegah orang lain dari berjuang di jalan Allah. Di zaman kita, hal ini bahkan mencapai taraf di mana orang tua bersedia memberitahu otoritas kafir untuk menangkap anak-anak mereka sendiri dan memenjarakan mereka selama puluhan tahun demi menghentikan mereka dari bergabung dengan Mujahidin. Dalam menggambarkan orang-orang yang mencegah orang lain untuk berjihad fii sabillah, Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, "Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

{Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya: "Marilah kepada kami."} [Al-Ahzab: 18]

Para ulama mengatakan, “di antara munafiqin [selama Pertempuran al-Ahzab] ada orang-orang yang kembali dari parit dan masuk ke Madinah. Jika ada yang datang kepada mereka, mereka akan mengatakan kepadanya, 'Celakalah kamu! Tinggalah di sini dan jangan pergi keluar. "Dan mereka juga akan menulis pesan kepada saudara-saudara mereka di barisan tentara [Muslim], dengan mengatakan, 'Datanglah kepada kami di Madinah, karena kita sedang menunggu Anda.’ Yang demikian itu untuk mengecilkan semangat berperangnya.”

"Syaikhul Islam kemudian membahas sifat lain dari munafiqin yang disinggung dalam ayat ini (dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam), ini merupakan penghinaan kasar mereka kepada mujahidin, termasuk penghinaan dan pernyataan mereka. Dia menyatakan, "Dan pada waktu mereka berkata, 'Anda –dengan jumlah kecil dan kelemahan Anda- ingin mematahkan musuh. Sungguh, agamamu telah menipumu, 'sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

“(Ingatlah), ketika orang-orang munafiq dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: "Mereka itu (orang-orang mu’min) ditipu oleh agamanya." (Allah berfirman): "Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."} [Al-Anfal: 49]

Dan pada waktu mereka berkata, 'Anda gila dan bodoh. Anda akan menghancurkan diri Anda dan menghancurkan orang-orang lain yang bersamamu. "Dan pada waktu mereka membuat berbagai jenis pernyataan kasar lagi menyakitkan."

Ibnu Taimiyah rahimahullah kemudian menyebutkan pernyataan dari Allah,

{Mereka mengira (bahwa) golongan yang bersekutu itu belum pergi; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badui, sambil menanya-nanyakan tentang berita-berita kalian.} [Al-Ahzab: 20]

Ini seperti kasus dari orang-orang yang tetap tertinggal dari jihad dan terus mengikuti berita secara teratur agar tetap mengikuti informasi terbaru. Mereka berpikir bahwa mereka mendapatkan informasi terbaru, tetapi kenyataannya adalah bahwa mereka sering sebodoh Badui mengenai urusan mujahidin, dengan banyak dari mereka mengandalkan media kafir penghujat sebagai sumber utama informasi mereka tentang jihad.

Ibnu Taimiyah rahimahullah maka membahas arti dari kejujuran dalam klaim seseorang akan Iman. Dia menyebutkan ayat,

{Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merobah janjinya (hingga mati).} [Al-Ahzab: 23],

dan juga ayat,

{Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.} [Al-Hujurat: 15].

Dia kemudian menyatakan, "Jadi Dia (Allah) membatasi Iman hanya kepada mu’min mujahid dan memberitahu bahwa mereka adalah orang-orang yang jujur ketika menyatakan, ‘Kami beriman.'”

Setelah sebelumnya menyebutkan ciri-ciri munafiqin itu, Syaikhul Islam kemudian menggaris bawahi bahwa meskipun kejahatan mereka mereka masih bisa diampuni jika mereka bertobat sebelum terlambat. Dia menyatakan, "Adapun munafiqin, mereka hanya berada dalam dua hal: Entah Allah menghukum mereka atau menerima tawbat mereka. Ini adalah kondisi manusia terkait al-Khandaq dan tentang ghozawat. Allah Subhanahu wa ta’ala juga menimpakan manusia dengan fitnah ini yang karenanya Allah akan memberi pahala bagi orang yang jujur atas kejujuran mereka –dan mereka adalah orang-orang yang tetap teguh dan bersabar dalam rangka membela Allah dan Rasul-Nya- dan menghukum munafiqin jika Dia menghendaki atau menerima taubat mereka."

Semoga Allah melindungi kaum mu’minin dari makar munafiqin. Aamiin.

GERAKAN IM, IKHWANUL MURTADDIN

DABIQ 14 - FEATURE

IKHWANUL MURTADDIN

Dalam beberapa dekade terakhir, sebuah kanker ganas muncul, bermutasi, dan menyebar. Kanker tersebut berusaha untuk menenggelamkan seluruh umat Islam ke dalam kemurtadan. Bermula dari sebuah kota di Mesir pada "1928 M," dengan cepat menyebar sepanjang Mesir ke Syam, Iraq, dan akhirnya sebagian besar negeri yang dirampas oleh thawaghit murtad, la kemudian menyebar ke Barat -Amerika, Eropa, dan Australia- dan negara-negara lain di seluruh dunia. Di mana ada komunitas Muslim, di situ ia berusaha untuk menangani perkara mereka dan menanamkan ke dalamnya sebuah agama selain Islam dengan nama Islam.

Kesesatan kanker ini bahkan melebihi firqah-firqah yang secara historis paling sesat dan tersebar luas, termasuk Jahmiyah, Mu'tazilah, Maturidiyah, dan Asy'ariyah. Dengan wafatnya para ulama, ketiadaan khalifah berabad-abad lamanya, serta tersebarnya Sufisme, ilmu kalam, ra'yu (pendapat yang menyandarkan pada akal, dengan mengabaikan dalil lain dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah), peribadatan kepada kuburan, dan modernisme di tangan orang-orang 'Utsmani yang sesat, sebagaimana juga penjajahan salibis atas banyak negeri Muslim, kanker tersebut dengan mudahnya menemukan tempat berpijak di setiap negeri yang dicapainya.

Agamanya merupakan kesesatan yang campur aduk berupa warisan 'Utsmaniyah yang dikombinasikan dengan berbagai ajaran dan ritual demokrasi, liberalisme, pasifisme [paham perdamaian], dan sosialisme yang diambil dari pagan Barat dan Timur. Tujuan utamanya ialah untuk melayani kepentingan-kepentingan jangka pendek individu dan partisan dari para pemimpin dan anggotanya, la mengklaim bekerja untuk mengimplementasikan syari'at Islam, mengembalikan khilafah, dan memenuhi jihad, padahal mengobarkan perang melawan Islam dan kaum Muslim! Dalam hal ini, kanker tersebut pada akhirnya akan bekerja dengan thawaghit dan para salibis di Afganistan, Iraq, Aljazair, Filipina, Somalia, Yaman, Tunisia, Libya, Pakistan, Bangladesh, Indonesia, Malaysia, Mesir, dan lain-lain. Penghambaannya kepada para salibis mencapai titik dengan bercokolnya agen-agen intelijen Barat di pusat-pusat "keislaman" di Barat untuk ambil bagian dalam perang melawan jihad!

Kanker tersebut dikenal dengan "Jama'ah Al-lkhwan Al-Muslimin" (Kelompok "Persaudaraan lslam")[1] yang didirikan pada "1928 M" oleh Hasan Al-Banna yang kemudian menjadi "Mursyid 'Aam" [Pemimpin Umum], gelar yang diberikan bagi pemimpin kelompok tersebut. Karena peran yang signifikan dimainkan kelompok ini sepanjang sejarah modern dalam perang melawan Islam dan kaum Muslim, penting bagi mujahid muwahhid untuk memperoleh wawasan ke dalam ajaran, sejarah, dan kondisinya.

Al-lkhwan dan Rafidhah

Sejak Rafidhah didirikan oleh orang Yahudi Ibnu Saba', sekte tersebut telah berperang melawan Islam, bahkan bekerjasama beberapa kali dengan orang-orang musyrik dan salibis melawan Muslimin, la merupakan sekte penyembahan kepada kuburan, takfir atas orang-orang Islam terbaik, dan penistaan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Walaupun Rafidhah murtad, Hasan Al-Banna dan para sahabatnya mengikuti langkah-langkah dua orang modernis Freemasonry Muhammad 'Abduh dan Jamaluddin Al-Aghani (seorang Rafidhah), keduanya memelopori wala' antara Muslimin dan Rafidhah!

“Mursyid 'Aam" ketiga 'Umar At-Tilmisani berkata, "Bagian dari hasrat Hasan Al-Banna untuk menyatukan kaum Muslim ialah dengan mengadakan konferensi yang akan mengumpulkan kelompok-kelompok Muslim. Dia berharap Allah akan menyatukan mereka di atas perkara yang akan mengakhiri takfir mereka satu sama lain, terutama karena Al-Qur'an kita satu, agama kita satu. Rasul kita shallallahu ‘alaihi wasallam satu, dan Tuhan kita satu. Untuk tujuan ini, dia menjadi tuan rumah bagi Syaikh Muhammad Al-Qummi - salah seorang ulama dan pemimpin Syi'ah - di pusat utama Al-lkhwan" [al-Mulham al-Mauhub].

Dia juga mengatakan, 'Selama tahun empat puluhan, seingat saya, As-Sayid Al-Qummi -seorang pengikut madzhab Syi'ah- tinggal sebagai tamu Al-lkhwan di pusat utama Al-lkhwan. Pada saat itu, Hasan Al-Banna bekerja keras untuk membawa perbedaan kelompok semakin dekat satu sama lain, sehingga musuh-musuh Islam tidak memecah-belah di antara kelompok tersebut sebagai jalan masuk yang dapat menghancurkan persatuan Islam. Suatu ketika kami bertanya tentang derajat perbedaan antara Ahlus Sunnah dan Syi'ah, maka dia melarang kami untuk menggali perkara-perkara sensitif yang tidak layak bagi Muslimin untuk menyibukkan diri mereka di dalamnya, karena Muslimin merupakan... pada saat berada di ambang konflik musuh-musuh Islam ingin menyalakan api. Dengan keluhurannya, kami berkata, 'Kami bertanya bukan atas dasar kefanatikan atau memperlebar jarak di antara Muslimin. Kami ingin mengetahui, sebab apa yang ada di antara Sunni dan Syi'ah disebutkan di dalam kitab yang tidak terhitung banyaknya dan kami tidak punya waktu untuk meninjau kembali berbagai referensi tersebut.' Maka dia berkata, 'Ketahuilah bahwa Ahlus Sunnah dan Syi'ah adalah Muslim yang disatukan oleh kalimat bahwa tiada ilah selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah. Ini adalah prinsip 'aqidah. Berdasarkan hal ini, Sunni dan Syi'ah sederajat dan murni. Adapun mengenai berbagai perbedaan di antara mereka, maka itu merupakan perkara yang memungkinkan mereka untuk meneruskan kedekatan bersama-sama" [Dzikrayat la Mudzakkiratj.

At-Tilmisani juga mengatakan, "Hubungan Al-lkhwan dengan para pemimpin Syi'ah tidak melemah. Misalnya, mereka mengontak Ayatullah Al-Kasyani. Mereka menjadi tuan rumah bagi Nawwab Shafawi di Mesir. Al-lkhwan melakukan semua ini bukan supaya Syi'ah meninggalkan madzhab mereka. Sebaliknya, mereka melakukannya karena tujuan mulia yang diserukan oleh Islam, yaitu upaya untuk membawa beragam kelompok Islam dekat satu sama lain sebisa mungkin" [Syi'ah wa Sunnah].

Dengan demikian, Al-lkhwan sama sekali tidak menghendaki agar Rafidhah meninggalkan kemurtadan mereka! Kelompok tersebut bahkan mengeluarkan pernyataan resmi untuk mendukung negara Khomeini, seraya berkata, "Organisasi internasional Ikhwanul Muslimin mengundang para pimpinan harakah Islam di Turki, Pakistan, India, Indonesia, Afganistan, Malaysia, dan Filipina, selain cabang lokal Ikhwanul Muslimin di dunia Arab, Eropa, dan Amerika, ke dalam sebuah pertemuan yang membawa pada pembentukan sebuah delegasi yang dikirim lewat pesawat pribadi ke Teheran.

Delegasi tersebut bertemu dengan Ayatullah Al-Komeini untuk menegaskan kembali solidaritas harakah Islam yang diwakili oleh delegasi tersebut, yaitu Ikhwanul Muslimin, Partai Keselamatan Turki, Jamaat-e-lslami Pakistan, Jamaat-e-lslami Hindi, Partai Masyumi Indonesia, Gerakan Pemuda Muslim Malaysia, dan Al-Jama'ah Al-lslamiyah Filipina. Pertemuan tersebut merupakan suasana yang mewujudkan pada waktu yang tepat kebesaran dan kekuatan Islam untuk mencairkan. ..berbagai perbedaan sektarian. Imam Khomeini menghargai delegasi tersebut dan mengatakan dengan jelas bahwa dia yakin selama pengasingannya tujuannya merupakan tujuan revolusi Islam di seluruh dunia.

Tujuannya ialah menjadikan setiap muwahhid Muslim yang menyatakan tiada ilah selain Allah. Dia mengatakan bahwa revolusi tersebut bukan hanya untuk Iran, namun juga untuk setiap negara Islam yang penguasanya melanggar agama Islam dan menghadang gerakannya yang dinamis dan bahwasanya Allah yang merahmati Khomeini dengan kemenangan melawan Syah akan mendukung setiap Khomeini melawan setiap Syah. Para delegasi juga menekankan dari pihaknya kepada Imam Khomeini bahwa harakah Islam akan terus menegakkan janji mereka untuk membantu revolusi Islam di Iran dan di mana saja beserta seluruh kemampuan kemanusiaan, ilmiah, dan materiil mereka. Setelah delegasi tersebut shalat ghaib bagi syuhada' [Rafidhah], sejumlah pertemuan diadakan ... Pertemuan-pertemuan tersebut fokus pada koordinasi dan kerjasama untuk masa mendatang ... Delegasi tersebut kemudian menyerukan - selama wawancara televisi yang mengharukan - hari solidaritas atas revolusi Iran di seluruh dunia dan di mana saja terdapat komunitas dan kumpulan Islam. Pada hari itu, setelah shalat Jum'at pada 16 Maret 1979, shalat ghaib akan diselenggarakan bagi syuhada' revolusi Iran. Kami menyerukan setiap aktivis di bidang Islam di mana pun untuk mengingat hari tersebut, mengingatkan yang lain, dan mengadakan shalat ghaib sebagai simbol persatuan bagi umat Islam" [al-Mujtama'].

Dengan demikian, Al-lkhwan memandang revolusi Rafidhah ialah sesuatu yang Islami! Revolusi yang sama di mana umat Islam berperang di Suriah, Lebanon, Yaman, Jazirah Arab, dan lain-lain.

Sikap lemah Al-lkhwan terhadap Rafidhah diwarisi oleh Abu Mush'ab As-Suri -seorang "ideolog" pengklaim jihad yang dipuji Azh-Zhawahiri dan sahabat pemimpin Shahawat yang mati Abu Khalid As-Suri- yang berkata, "Aku akan meringkas apa yang telah membimbingku ke masalah aqidah dan masalah madzhab pada poin-poin berikut ... Firqah-firqah yang banyak itu, termasuk Syi'ah...dan firqah-firqah lainnya yang mengucapkan 'tiada ilah selain Allah' dan membiarkan 'aqidah Ahlus Sunnah masih termasuk umat Islam dan Ahlul Kiblat. Takfir secara umum tidak boleh atas mereka. Penisbatan mereka pada Islam dan kiblat jangan dinafikan kecuali berdasarkan timbangan dan batasan yang dijelaskan oleh para ulama Ahlus Sunnah, termasuk terpenuhinya syarat-syarat dan hilangnya mawani' [penghalang-penghalang]. Ini merupakan tugas para ahli ilmu yang telah mencapai taraf mujtahid dalam masalah 'aqidah dan keimanan. Ini bukan tugas individu Muslim, termasuk orang-orang jahil dan awam di antara mereka. Ini juga bukan tugas mereka yang telah mendedikasikan diri mereka pada jihad dan mengusir penjajah" [Da'wah al-Muqawamah].

Setelah secara salah dia menisbatkan sikapnya terhadap Rafidhah kepada para ulama Ahlus Sunnah[2], dia kemudian juga mengklaim bahwa itu adalah sikap apa yang disebut dengan "mayoritas jihadis," dengan mengatakan, "Permasalahan Syi'ah dan Firqah-firqah Non-Sunni Lainnya: Para jihadis memandang semua firqah tergolong umat Islam atau bagian dari Ahlul Kiblat ... Syi'ah Imamiyah Ja'fariyah: Mereka adalah mayoritas Syi'ah di Iran. Mereka adalah minoritas di Lebanon, Pakistan, Afganistan, dan Timteng ... Mayoritas jihadis memandang mereka Muslim, berasal dari Ahlul Kiblat, sesat, dan mubtadi'ah."

Kesesatannya membawanya untuk mengumumkan hal berikut berupa pernyataan '"Aqidah Jihad dan Konstitusi Dakwah Perlawanan Islam Internasional," "Artikel 10: Perlawanan Islam internasional terlepas dari perguruan dan kelompoknya - tergolong dalam lingkaran besar Islam yang dilabeli para ulama dengan 'Ahlul Kiblat.' Perbedaan keyakinan, ajaran, dan aliran dipandang sebagai sesuatu yang harus dihukumi oleh para ulama. Solusi untuk perkara ini perlu pembahasan dan penjelasan yang jujur melalui teguran yang bijaksana dan baik ... Perlawanan [al-Muqawamah] mencela kerusuhan dan perang di antara sesama Muslim, la menyerukan semua Muslim Ahlul Kiblat dalam bentuk perguruan, kelompok, dan individu untuk bekerjasama dalam menentang para penjajah dan mengobarkan jihad melawan musuh kafir yang menginvasi negeri-negeri Muslim, la menyerukan setiap orang untuk meninggalkan dakwah kepada partisan internal yang dalam hal ini hanya menguntungkan musuh kafir untuk menginvasi negeri-negeri Muslim" [Da'wah al-Muqawamah].[3]

Posisi yang menyimpang dari para pengklaim jihad terhadap Rafidhah, identik dengan Hasan Al- Banna dan para pengikutnya, tidaklah mengejutkan ketika seseorang mengetahui bahwa Abu Mush'ab As-Suri merupakan mantan Ikhwani yang tetap menghormati Al-lkhwan...

Al-lkhwan dan Hubungan Antar-Agama yang Menyesatkan

Selain ikatan antara Al-lkhwan dan Rafidhah, Al-lkhwan juga memelopori seruan sesat hubungan antar-agama di antara Muslim, Nasrani, dan Yahudi. Dengan ini, mereka menghancurkan kewajiban bara'ah dari Yahudi dan Nasrani setelah mereka menghancurkan kewajiban serupa terhadap murtaddin. Allah Subhanahu wa Ta'ala, {Kamu tidak akan mendapatkan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir berkasih sayang kepada orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, walaupun mereka adalah bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara, atau karib-kerabat mereka sendiri} [Al-Mujaadilah: 22].

Walaupun demikian, Hasan Al-Banna berkata di depan komite bersama Amerika-lnggris yang mengadakan pertemuan di Mesir untuk mempelajari masalah Palestina, "Perselisihan kami dengan Yahudi bukan masalah agama, karena Al-Qur'an menganjurkan kami untuk bersahabat dengan mereka. Islam merupakan hukum manusia sebelum menjadi hukum etnis. Al-Qur'an memuji orang-orang Yahudi. ..dan ketika Al-Qur'an berhadapan dengan perkara Yahudi, ia mendekatinya dari sudut ekonomi dan hukum" [al-lkhwan al-Muslimun Ahdats Shana'ah at- TarTkh - Mahmud 'Abdul 'Azhim].

Al-Banna juga mengirim surat kepada para rabbi Yahudi Mesir yang isinya, "Pesan dari Mursyid 'Aam kepada para rabbi dan pimpinan umat Yahudi. Salam hangat ... Saya ingin mengambil kesempatan unduk mengatakan bahwa ikatan nasional yang mempersatukan seluruh warga Mesir walaupun mereka berbeda-beda keyakinan tidak memerlukan aturan pemerintah dan perlindungan polisi. Akan tetapi, dahulu kita merupakan sebuah konspirasi kelompok-kelompok hebat internasional yang koheren. Zionisme menghidupi konspirasi ini untuk memeras Palestina dari tubuh bangsa Arab yang mana Palestina adalah jantungnya yang berdenyut. Di hadapan gelombang emosi raksasa di Mesir dan negeri Arab dan Islam lainnya ini, kami pandang perlu untuk menjelaskan kepada anda yang mulia dan anak-anak umat Yahudi di antara warga negara tercinta kami bahwa pertahanan terbaik ialah bahwasanya anda yang mulia dan tokoh-tokoh dari umat anda mengumumkan secara terbuka partisipasi materiil dan moril bersama kawan- kawan senegara anda dari anak-anak bangsa Mesir di dalam kekuatan nasional mereka, sebuah kekuatan di mana Muslimin dan Nasrani telah mengambil bagian untuk menyelamatkan Palestina. Sebelum terlambat, anda yang mulia perlu mengirim pesan ini kepada PBB, Perwakilan Yahudi, dan semua organisasi internasional dan Zionis serta komite-komite yang menaruh perhatian atas masalah ini. Anda perlu membuat mereka tahu bahwa warga Yahudi di Mesir akan berada di garis depan perlawanan untuk menyelamatkan dunia Arab dan Palestina. Wahai kaum yang mulia, dengan cara demikian anda sepenuhnya dapat memenuhi kewajiban nasional anda. Anda juga perlu menghilangkan keraguan apa pun yang disiratkan oleh orang-orang yang fanatik mengenai pendirian warga Yahudi Mesir. Anda perlu juga memberi rasa nyaman kepada seluruh bangsa dan masyarakat Islam selama perjuangan besar untuk menghadapinya dalam sejarah modern. Bangsa dan sejarah tidak akan melupakan sikap yang agung ini. Dan terimalah semua rasa hormat saya yang besar. Hasan Al-Banna" [Fi Oafilah al-lkhwan al-Muslimin - 'Abbas As-Sisi].

Al-Banna juga berkata, "Islam yang murni tidak menentang suatu agama atau menghancurkan 'aqidah lain." Dia juga menyebut orang-orang Oibthi Mesir sebagai "saudara-saudara Kristen kami" [Fi Qafilah al-lkhwan al-Muslimin - 'Abbas As-Sisi].

Sementara merayakan maulid Nabi[4] shallallahu ‘alaihi wasallam bersama orang-orang Nasrani Oibthi, Al-Banna juga mengatakan, 'Kami saat ini merayakan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Semua orang mempunyai hak, baik Muslim maupun non-Muslim, untuk merayakan peristiwa penuh berkah ini, karena Rasul kami shallallahu ‘alaihi wasallam tidak hanya mendatangi orang-orang Muslim" [Fi Qafilah al-lkhwan al-Muslimin - 'Abbas As-Sisi].

Persaudaraan juga merilis sebuah pernyataan resmi yang isinya, "Posisi kami terhadap saudara- saudara kami yang Nasrani di Mesir dan dunia Muslim merupakan posisi yang historis, masyhur, dan jelas. Mereka memiliki hak-hak dan kewajiban yang sama dengan kami. Mereka merupakan rekan kami di dalam berbangsa dan saudara kami dalam perjuangan nasional yang panjang. Mereka memiliki semua hak kewarganegaraan: hak-hak materiil dan moril, hak-hak sipil dan politik" [Bayan li an-Nas].

Ini adalah bahasa Al-lkhwan. Orang-orang Nasrani adalah saudara mereka dalam kekafiran. Mereka tidak ingin menentang agama lain. Mereka ingin memperlakukan semua orang kafir sama dengan Muslimin. Dengan demikian, mereka menolak kewajiban jihad melawan Yahudi dan Nasrani. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, {Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak pula kepada Hari Akhir dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar dari orang-orang yang diberi Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah sedang mereka dalam keadaan tunduk} [QS. At-Taubah: 29].

Al-lkhwan dan Pembuatan Undang-undang

Hubungan gelap Al-lkhwan dengan parlemen merupakan sesuatu yang sudah terkenal yang menggambarkan kelompok tersebut dalam tiga puluh tahun terakhir. Bagaimanapun juga, hal ini bukanlah tradisi yang baru bagi kelompok tersebut mengingat "Mursyid 'Aam" mereka yang pertama, Hasan Al-Banna, mencalonkan dirinya sendiri unuk parlemen Mesir dua kali selama masa kekuasaan thaghut Farouk I -pada "1942" dan "1944"- sebagaimana didokumentasikan oleh jurnalis Al-lkhwan Jabir Rizq di dalam bukunya "Hasan al-Banna bi Aqlam Talamidzatih wa Mu'ashirih." Al-Banna juga berupaya untuk menjustifikasi keikutsertaannya dan begitu pula para pengikutnya di dalam pemilu parlemen dalam sebuah artikel berjudul "Mengapa Al- lkhwan Mengambil Bagian dalam Pemilu Parlemen?" dalam jurnal resmi Al-lkhwan. Semenjak itu, Al-lkhwan telah ikut serta dalam sejumlah pemilihan anggota legislatif di sejumlah negara, meminta untuk diri mereka sendiri hak Allah untuk membuat hukum. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, {Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu yang mensyari'atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?} [Asy-Syuuraa: 21].

Al-lkhwan dengan penuh tipu daya akan "membenarkan" kufur semacam itu dengan dalih 'amar ma'ruf dan nahi munkar, sebagaimana yang ditulis Al-Banna di dalam artikel pada "1938 M" berjudul "Menghancurkan Penghalang Adalah Panggilan Insiden ke Arah Pemikiran Serius". Di dalamnya ia berkata, "Pelarangan khamer merupakan hak imam ... Dengan demikian, kita mengetahui bahwa Islam adalah agama organisasi, la menjadikan pengubahan kemungkaran hak imam ... Pemerintahan pada masa kita mempunyai peran sebagai imam, la bertanggung jawab untuk melarang semua kemungkaran. Jika tidak melakukannya, maka kewajiban atas wakil rakyat untuk mengadakan mosi tidak percaya pada pemerintah. Jika wakil rakyat tidak memenuhi tanggung jawabnya, maka wajib atas umat untuk tidak memberikan kepercayaan mereka dan sebaliknya memilih wakil lainnya. Jika perwakilan Muslim berkumpul di bawah kubah parlemen, akan mungkin untuk mengakhiri semua kemungkaran melalui kekuatan hukum dan kewenangan sistem" [ Majalah An-Nazhirj.

Bukannya menyerukan kewajiban jihad melawan partai-partai tersebut yang tegas-tegas menolak ketaatan terhadap kewajiban syari'at yang jelas, seperti pelarangan khamer dan pengumpulan zakat, Al-lkhwan menyerukan kaum Muslim untuk melakukan kemurtadan dengan memilih orang-orang untuk mewakili mereka di parlemen sebagai pembuat undang-undang selain Allah!

Al-lkhwan dan Demokrasi

Demokrasi ialah agama yang memberikan otoritas tertinggi kepada manusia dan bukan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Di dalamnya, hak untuk membuat syari'at disalurkan di antara manusia supaya dengan itu mereka menentukan apakah hukum-hukum itu layak untuk dipergunakan di negeri-negeri tersebut. Bila mayoritas manusia memutuskan homoseks halal, maka ia dilegalisasikan sekalipun bertentangan dengan syari'at Allah. Dan jika mayoritas manusia menentukan untuk mengharamkan homoseks, maka ia dibuat ilegal, bukan karena hal ini merupakan keputusan Allah, namun karena kekuasaan tertinggi adalah manusia, di atas dan melebihi otoritas Allah! Sungguh suatu agama yang jahat bagi seseorang yang mana semua anggotanya memandang dirinya sebagai "rabb" selain Allah! Akan tetapi, Al-lkhwan bersikeras bahwa ini adalah agama mereka dan mendakwahkannya atas nama Islam! {"Kamu tidak mengibadahi yang selain Dia kecuali hanya nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu. Keputusan hukum itu hanyalah milik Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak beribadah kecuali hanya kepada-Nya. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui"} [QS. Yusuf: 40].

“Ulama" Al-lkhwan Al-Qaradhawi berkata, "Harakah Islam harus senantiasa berada di dalam barisan kebebasan politik yang direpresentasikan oleh demokrasi sejati" (Aulawiyat al-Harakah al-lslamiyahj.

“Mursyid 'Aam" keempat Muhammad Hamid Abu An-Nashr ditanya, "Sebagian orang menuduh Al-lkhwan adalah musuh demokrasi dan menaruh permusuhan dengan pluralisme politik. Apa jawabanmu atas tuduhan tersebut?" Dia menjawab, "Barangsiapa yang mengatakan hal seperti itu tidak mengenal Al-lkhwan. la hanya melempar tuduhan secara bodoh. Kami mendukung seluruh makna dan dimensi penuh dan komprehensif demokrasi. Kami tidak menentang pluralisme partai. Rakyatlah yang memiliki hak untuk menentukan seluruh ideologi dan individu" [Majalah AI-'Alam].

“Ideolog" Al-lkhwan Farid 'Abdul Khaliq mengatakan, "Islam tidak menentang pembentukan partai-partai politik dan tidak menentang demokrasi. Sebaliknya, inti demokrasi berasal dari jantung Islam" [Majalah Al-Mushawwirj.

“Mursyid 'Aam" keenam Ma'mun Al-Hudaibi mengatakan, "Ikhwanul Muslimin mendukung demokrasi nyata" [Majalah Al-Mushawwirj.

'Abdul Mun'im 'Abdul Futuh -anggota Kantor Eksekutif Al-lkhwan- berkata, "Kami memandang semua rezim yang muncul melawan kehendak rakyat ini sebagai rezim yang tidak sah. Kami tidak menerima legitimasi konstitusi mereka sampai mereka mendatangi kotak suara meskipun tidak mengangkat slogan-slogan Islam. Kami akan terus melawan setiap rezim yang tidak konstitusional yang tidak direpresentasikan oleh kehendak rakyat atau yang melawan kehendak rakyat. Kami akan terus melawannya, namun hal itu bukan lewat oposisi militer" [Wawancara Al-Jazirahj.

Al-lkhwan dan Hukum Konstitusi

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, {Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah untuk mengingkari thaghut itu. Dan Syaitan bermaksud untuk menyesatkan mereka dengan penyesatan yang sejauh-jauhnya} [QS. An-Nisaa': 60].

Konstitusi dari beragam pemerintahan murtad yang mengaku Muslim adalah otoritas hukum yang menandingi syari'at Allah. Dengan demikian, mereka itu thawaghit yang harus dihinakan, ditolak, dan diperangi. Wajib menyatakan takfir atas orang-orang yang berhukum dengan konstitusi itu dan mendukungnya. Namun sebaliknya, para pemimpin Al-lkhwan mengungkapkan penghormatan mendalam mereka atas hukum demokrasi konstitusional!

Al-Banna berkata, "Jika penguji melihat pada dasar hukum konstitusional, niscaya ia akan melihat bahwa secara keseluruhan melindungi segala bentuk kebebasan pribadi, konsultasi. derivasi kewenangan dari rakyat, pertanggungjawaban penguasa di hadapan rakyat, diselenggarakannya pertanggungjawaban penguasa atas perbuatan mereka, dan penentuan batas kekuasaan masing-masing badan otoritatif. Bagi penguji, prinsip-prinsip ini semuanya dengan jelas sesuai dengan ajaran dan sistem Islam di dalam tatacara hukum. Atas alasan ini, Ikhwanul Muslimin percaya bahwa sistem hukum konstitusional merupakan sistem hukum yang dibangun di dunia yang paling dekat dengan Islam. Ikhwanul Muslimin tidak memilih bentuk sistem yang lain atas sistem ini" [Mabadi' wa Ushul fl Mu'tamarat Khashshah].

Pimpinan tinggi Al-lkhwan 'Isham AI-'Aryan mengatakan, "Al-lkhwan menganggap hukum konstitusional adalah yang paling dekat dengan hukum Islam. Mereka tidak memilih sistem lain selainnya, terutama sebagaimana ditekankan oleh pernyataan konferensi kelima oleh Hasan Al- Banna ... Mengapa sebagian orang bersikeras bahwa Islamis adalah musuh demokrasi? Ini adalah tuduhan yang bathil. Kami merupakan penyeru dan penerap pertama demokrasi. Kami akan membelanya sampai mati" [Majalah Liwa Al-lslam].

Al-lkhwan tidak hanya memuji konsitusi thaghut yang ada, namun juga menuliskan konstitusi mereka sendiri untuk Mesir pada "1952." la disetujui oleh "Komisi Dasar" partai dan meliputi di antaranya:

Artikel 11: Sebelum anggota Dewan Perwakilan Rakyat menerima tugas mereka, maka mereka harus bersumpah secara terbuka di gedung pertemuan bahwasanya mereka akan ikhlas karena Allah, kemudian bangsa, mematuhi hukum-hukum konstitusi, baik dalam apa yang tertulis maupun semangatnya.

Artikel 17: Tidak boleh menahan para anggota DPR untuk bertanggung jawab atas apa yang mereka tawarkan berupa gagasan dan opini di dalam majelis.

Artikel 18: Tidak diizinkan selama pertemuan anggota majelis untuk menahan seorang anggota majelis kecuali seizin majelis.

Artikel 19: Tidak diizinkan untuk mengeluarkan seorang anggota majelis kecuali dengan keputusan mayoritas anggota majelis.

Artikel 26: Sebelum presiden negara menerima tanggung jawabnya, dia harus mengadakan sumpah sebagai berikut di depan majelis, "Aku bersumpah, demi Allah Yang Maha Kuasa, untuk menghormati isi dan semangat konstitusi."

Artikel 77: Rakyat terlahir bebas dan sama dalam hal kehormatan, hak-hak, dan kebebasan mereka, tanpa perbedaan apa pun yang didasarkan atas asal, bahasa, agama, ataupun warna. Mereka harus memperlakukan satu dengan yang lainnya dengan semangat persaudaraan.

Artikel 78: Setiap individu mempunyai hak penghidupan, kebebasan, kesetaraan di hadapan hukum, dan hidup dalam keamanan dan kenyamanan.

Artikel 88: Setiap individu mempunyai kebebasan dalam berpikir, berkeyakinan, dan agama.

Artikel 89: Setiap individu mempunyai hak kebebasan berpendapat dan berekspresi.

Artikel 90: Setiap individu mempunyai hak berkumpul dan membentuk organisasi damai. Artikel-artikel ini secara nyata menyerukan penerapan dan pemeliharaan berbagai macam prinsip yang mana negara sekuler modern terbentuk. Bagaimana mungkin kelompok ini kemudian digambarkan mempunyai hubungan dengan Islam, kecuali sebanyak apa yang diperbuat oleh Musailamah Al-Kadzdzab.

Al-lkhwan dan Pluralisme

Esensi pluralisme ialah pengesahan partai-partai politik oposisi di dalam kerangka kerja demokrasi dengan memperbolehkan semua partai secara terbuka mengekspresikan diri mereka, terlepas dari keyakinan mereka. Dengan demikian, semua partai mempunyai kesempatan untuk ikut ambil bagian dalam menentukan hukum di negeri tersebut. Jika mayoritas pemilih mendukung sebuah partai - baik partai itu mempromosikan sekularisme liberal ataupun ateisme Marxis - maka ia menjadi kekuasaan "legal" di negeri tersebut. Umat Islam berijma' dalam hal ini bahwa para pemimpinnya haruslah Muslim, sebagaimana difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala {Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan ulil amri di antara kamu} [QS. An-Nisaa': 59]. Namun demikian, Al-lkhwan tidak mempunyai masalah dengan murtaddin maupun setiap kafir lainnya yang mengambil kekuasaan atas kaum Muslim.

“Mursyid 'Aam" keempat Muhammad Hamid Abu An-Nashr berkata, "Kami percaya bahwa hukum Islam memungkinkan pluralisme partai politik, sebab sebagaimana pendapat itu meningkat keuntungan meningkat. Kami juga percaya bahwa hukum Islam harus menjamin kebebasan untuk membentuk partai, sekalipun bagi yang berorientasi, katakanlah, menentang Islam, seperti komunisme dan sekularisme. Hal ini memungkinkan untuk dihadapi dengan dalil dan penjelasan. Ini lebih baik daripada transformasi gerakan-gerakan politik tersebut ke dalam bentuk perkumpulan rahasia. Atas dasar ini, kami tidak memiliki masalah dengan pembentukan sebuah partai komunis di dalam negara Islam" [Majalah AI-'Alam].

“Mursyid 'Aam" kedua Hasan Al-Hudaibi berkata, "Komunisme bukan untuk dilawan dengan kekerasan ataupun hukum. Saya tidak mempunyai masalah dengan mereka ketika mereka memiliki sebuah partai terbuka. Islam akan menjamin keamanan jalur yang diambil negara" [Surat Kabar An-Nur].

“Mursyid 'Aam" ketiga 'Umar At-Tilmisani berkata, "Saya ditanya jika saya memperbolehkan berdirinya partai Nashiriyah di Mesir dan berkata, 'Saya mengizinkan hal itu, karena kebebasan pribadi tidak memiliki batas sama sekali" [Majalah Ad-Da'wah].

At-Tilmisani juga berkata, "Sikap kita terhadap semua partai ialah bebas dan menghargai pandangan orang lain. Jadi, mengapa saya harus melarang manusia apa yang saya bolehkan untuk diri saya sendiri? Apakah itu kebebasan ketika mencegah manusia dari memegang pendapat mereka sendiri?" [Majalah Al-Mujtama'].

Anggota parlemen Al-lkhwan Muhammad Jamal Hishmat mengatakan, "Kami percaya dengan peralihan kekuasaan. ..bahkan seandainya hal itu untuk non-lslamis, selama itu adalah keputusan rakyat. Kami percaya bahwa kekuasaan tertinggi berasal dari rakyat. Mereka memiliki hak untuk memilih, meminta pertanggungjawaban, dan menyingkirkan penguasa mereka" [Wawancara Al-Jazirah].

Al-lkhwan mengatakan dalam sebuah pernyataan resmi, "Dewasa ini, para pemimpin dunia dan orang-orang berakal di situ telah mengangkat slogan pluralisme dan perlunya menerima perbedaan pendapat dan metode dalam berpikir dan berbuat manusia. Islam. ..memandang keanekaragaman merupakan realita universal dan kemanusiaan, la membangun sistem politik, sosial, dan budayanya di atas keanekaragaman dan kemajemukan tersebut ... Ikhwanul Muslimin sekali lagi menekankan kesetiaannya pada pandangan Islami yang benar dan lurus ini. Mereka mengingatkan para pengikutnya bahwa setiap orang dari mereka. ..harus melapangkan hatinya dan peduli dengan semua orang ... Tangannya harus direntangkan bagi setiap orang dengan kebaikan, cinta, dan jujur, dan bahwasanya dia harus memulai perdamaian dengan seluruh dunia, baik dalam ucapan maupun perbuatan" [Bayan li an-Nasj.

Pluralisme juga merupakan seruan yang mengharuskan ditinggalkannya hukum syar'i yang jelas, yaitu kewajiban untuk mengobarkan jihad melawan partai-partai politik murtad. Setelah menolak sejumlah kewajiban yang pasti, kelompok ini berani-beraninya menyebut diri mereka Ikhwanul "Muslimin"!

Al-lkhwan dan "Hak Asasi Manusia"

Bagian dari agama demokrasi syirik ialah apa yang dilabeli pada era ini dengan "hak-hak asasi manusia," termasuk "hak" untuk melakukan riddah, penyembahan kepada syaitan, homoseksual, dan perzinaan. Meskipun "hak-hak" ini nyata betul kontradiksi jika digambarkan dengan Islam, Al-lkhwan tidak berhenti mempromosikannya.

Al-lkhwan mengungkapkan di dalam sebuah pernyataan resmi, "Masalah HAM: ... Kami katakan kepada diri kami sendiri, pengikut kami, dan dunia di sekeliling kita, kami berada di garis terdepan yang menyerukan untuk menghormati HAM, menjamin hak-hak ini kepada semua manusia, dan memfasilitasi jalan untuk mempraktekkan kebebasan di dalam kerangka kitab undang-undang moral dan hukum. Kami sangat mempercayai bahwa kebebasan manusia ialah jalan ke arah setiap kebaikan, renaissance, dan inovasi.

Agresi terhadap hak-hak dan kebebasan di bawah slogan apa pun -bahkan sekalipun di bawah Islam itu sendiri- merendahkan derajat kemanusiaan umat manusia dan menyeret manusia ke status selain apa yang telah Allah tempatkan untuknya dan menghalanginya dari penggunaan kemampuannya dan karunia ... Hal ini terletak pada pemikiran yang rasional dan orang-orang beriman di mana saja untuk mengangkat suara mereka menyerukan kesetaraan, sehingga semuanya menikmati kebebasan dan HAM. Kesetaraan ini merupakan jalan yang benar ke arah perdamaian internasional dan sosial serta ke arah tata dunia baru yang menentang kezhaliman, kerusakan, dan agresi" [Bayan lin-Nasj.

'Abdul Mun'im 'Abdul Futuh -anggota Kantor Eksekutif Al-lkhwan- juga berkata, "Ini adalah masalah utama kami dan semua rakyat Mesir, bukan hanya Al-lkhwan, yaitu masalah kebebasan, HAM, dan keadilan. Ini adalah masalah kami. Masalah kami dengan pemerintah bukanlah Islam. Pemerintah [Husni Mubarak] adalah Muslim. Negara adalah Muslim ... Dengan demikian, problem antara kami dan pemerintah ialah salah satu kebebasan, HAM, dan penjunjungan tinggi konstitusi" [Wawancara Al-Jazirah].

Al-lkhwan dan Pasifisme

Jihad pada masa ini wajib atas setiap Muslim, sebab negeri kaum Muslim banyak yang dirampas oleh kuffar dan di sana kelompok murtad banyak yang muncul. Sampai seluruh negeri ini diambil kembali, dibersihkannya orang-orang murtad, dan berhukum dengan syari'at Islam, maka kewajiban tersebut tidak gugur. Sebaliknya, bukannya menyerukan kaum Muslim untuk berjihad, Al-lkhwan sepanjang sejarah mereka menyerukan pasifisme dan bahkan mencela "terorisme," padahal melakukan teror terhadap kuffar adalah bagian dari Islam. Barangsiapa yang mengingkarinya kafir. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, {Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggup dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang yang dengannya kamu meneror musuh Allah, musuhmu, dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya} [QS. Al-Anfaal: 60].

Al-lkhwan justru mengatakan, "Masalah Ketiga: Aktivisme politik. Penolakan Kekerasan, dan Pengutukan Terorisme: Ikhwanul Muslimin sudah puluhan kali menyatakan beberapa tahun terakhir bahwa mereka ikut terlibat dalam bidang politik sementara bertahan dengan cara-cara legal dan metode damai itu sendiri. Mereka dilengkapi oleh pernyataan jujur dan bebas serta pengorbanan tulus di semua bidang karya sosial ... Mereka percaya bahwa hati nurani bangsa dan kesadaran akan putra-putranya merupakan keputusan adil terakhir antara gerakan ideologi dan politik yang saling bersaing dengan luhurnya di bawah naungan konstitusi dan hukum.

Atas dasar ini, mereka mengulang pernyataan untuk menolak semua cara kekerasan dan paksaan serta semua bentuk kudeta; kesemuanya merusak kesatuan bangsa dan dapat memberi peluang kepada penghasutnya untuk melewati realita politik dan sosial. Namun begitu, hal tersebut tidak akan pernah memberi mereka kesempatan untuk mengatasi kehendak massa umat yang bebas. Cara-cara seperti itu juga menggambarkan suatu celah yang menakutkan di dalam tembok stabilitas politik dan pemberontak yang tidak dapat diterima melawan legitimasi masyarakat yang benar.

Apabila atmosfer penindasan dan gejolak yang mengontrol bangsa telah melibatkan sekelompok anak bangsa dalam mempraktekkan terorisme, menakut-nakuti orang-orang tak bersalah, serta menggoncang negara dan kemajuan ekonomi dan politiknya, maka Ikhwanul Muslimin menyatakan tanpa keraguan dan tanpa ketenangan bahwa ia berlepas diri dari semua bentuk dan sumber kekerasan, la mencela semua bentuk dan sumber terorisme, la menyatakan bahwa mereka yang menumpahkan darah yang tidak sah atau ikut ambil bagian dalam hal semacam itu merupakan kawan dalam dosa dan pelaku dosa. Mereka diminta secara tegas dan tanpa menunda-nunda agar kembali pada kebenaran ... Adapun bagi orang-orang yang dengan sengaja mencampuradukkan fakta dan dengan keliru menuduh Ikhwanul Muslimin ambil bagian dalam kekerasan dan terlibat dalam terorisme - di bawah pernyataan bahwa Ikhwanul Muslimin bersikeras meminta pemerintah untuk tidak merespon kekerasan dengan kekerasan lain, tetapi mengikuti sistem hukum dan peradilan serta memahami semua penyebab dan keadaan di balik kekerasan berada dalam penyelidikan pemerintah dan merespon fenomena tanpa bersandar hanya pada respon keamanan - maka pernyataan semacam itu terhadap Persaudaraan tertolak oleh sejarah yang sangat terang Persaudaraan bertahun-tahun lamanya di mana Persaudaraan ambil bagian di dalam dewan perwakilan dan pemilu legislatif. Selama peristiwa-peristiwa di mana Persaudaraan tidak berpartisipasi, ia terus mengikatkan diri pada hukum konstitusi pemerintah, berupaya untuk menjadikan kalimat yang bebas dan benar sebagai satu-satunya senjata baginya" [Bayan lin-Nasj.

“Mursyid 'Aam" ketiga Umar At-Tilmisani ditanya, "Apakah mungkin persoalan antara anda dan pemerintah mencapai titik perlawanan?" Dia menjawab, "Kami tidak akan mengganggu seorang pun atau berusaha untuk mengganggu seorang pun. Bahkan seandainya persoalan mencapai titik kami ditempatkan di dalam penjara, kami tidak akan melawan mereka" [Majalah Al-Majallahj.

Umar At-Tilmisani berkata, "Ketika Perang Dunia II dimulai pada 1939, Al-lkhwan dengan kekuatan mereka bisa saja menyebabkan banyak kesulitan bagi Sekutu. Namun sang martir imam Hasan Al-Banna memberikan perintah kepada penduduk dan daerah-daerah di mana terdapat Al-lkhwan, memberitahu mereka untuk tetap tenang, mendedikasikan waktu mereka untuk dakwah, dan memfokuskan semua usaha mereka untuk menjauh dari hasutan, sampai pihak Sekutu menang. Keadaan kawasan ini -yang dipenuhi oleh Al-lkhwan di mana-mana - adalah salah satu alasan atas kemenangan pihak Sekutu, namun mereka tidak menghiraukan imam yang martir dan Al-lkhwan serta membalas sang imam dengan pengkhianatan" [Dzikrayat la Mudzakkiratj.

“Mursyid 'Aam" kedua Hasan Al-Hudaibi menyatakan, "Apakah anda pikir bahwa tindak kekerasan akan mengusir orang-orang Inggris dari negeri kami? Kewajiban atas pemerintah pada saat ini ialah melakukan apa yang dilakukan Ikhwanul Muslimin, yaitu mendidik bangsa dan mempersiapkannya. Ini adalah jalan untuk mengusir orang-orang Inggris" [al-Harakah as-Siyasiyah fi Mishr -Thariq Al-Bisyri].

Al-Hudaibi juga berkata, "Saudara-saudaraku, anda mendengar saya berkata lebih dari sekali. Saya tidak berbicara apa pun melainkan perdamaian, keamanan, dan stabilitas. Saya menentang protes, pengrusakan, dan konflik" [Majalah Al-Athibba'].

Dan setelah sebagian Al-lkhwan memutuskan untuk menargetkan beberapa agen Mesir untuk Inggris tanpa persetujuan pimpinan tertinggi, Al-Banna menulis pernyataan resmi yang isinya, "Tujuan dari dakwah kami pada awalnya ialah bekerja untuk kebaikan tanah air, mendukung agama, dan menentang semua seruan berupa ateisme, amoral, dan pengabaian terhadap hukum-hukum dan nilai-nilai Islam ... Jika ini persoalannya, maka pembunuhan, terorisme, dan kekerasan bukan bagian dari caranya, karena ia mengambil Islam sebagai manhaj, menaati batas-batasnya ... Islam yang murni merupakan agama perdamaian menyeluruh, keamanan penuh, spiritual murni, dan teladan kemanusiaan yang tinggi..."

“Sejumlah peristiwa terjadi yang dinisbatkan kepada sebagian orang yang memasuki jama'ah tanpa menyerap semangatnya. Setelah peristiwa-peristiwa menakutkan ini, terjadi peristiwa lain, yaitu pembunuhan Perdana Menteri Mahmud Fahmi An-Naqrashi Pasha. Negara dilanda kesedihan disebabkan kematiannya. Negara kehilangan dengan wafatnya seorang bintang renaissance-nya, seorang pemimpin bagi kemajuannya, seorang teladan yang baik bagi kejujuran, patriotisme, dan kesederhanaan. Dia termasuk salah satu putra terbaiknya. Kami tidak kurang sedihnya dibanding yang lain atas kematiannya, tidak pula penghargaan kami atas jihad dan karakternya kurang dibanding yang lain. Hal ini karena sifat dakwah Islami menentang kekerasan; bahkan mengecamnya, tidak menyukai pembunuhan apa pun bentuknya, dan marah kepada pelakunya. Atas alasan ini, kami menyatakan berlepas diri di hadapan Allah atas para pembunuh dan pelakunya."

“Dikarenakan negara kita saat ini tengah melewati suatu tahap yang termasuk salah satu kehidupannya yang paling signifikan, maka hal ini perlu mempersiapkan ketenangan, keamanan, dan stabilitas yang sempurna. Yang mulia raja yang agung -semoga Allah melindunginya- murah hati dan mengarahkan pemerintahan yang ada, terdiri dari tokoh-tokoh besar Mesir, ke arah yang benar. Tugasnya ialah untuk menyatukan kalimat bangsa, merapatkan barisan, mengarahkan usaha dan kapasitasnya bersama-sama, tidak terpecah, memberikan kebaikan bagi bangsa, serta reformasi dalam dan luar negeri. Dengan segera pemerintah mulai melaksanakan arahan yang mulia dengan ketulusan, berkarakter, dan jujur. Semua ini membuat kita wajib untuk mengerahkan segenap kekuatan dan menghabiskan waktu kita untuk membantu pemerintah dalam melaksanakan dan memenuhi tanggung jawabnya yang besar. Hal ini akan mampu dilakukan dengan benar hingga dipastikan keamanan dan kestabilan tercapai bagi rezim tersebut. Ini wajib bagi setiap warga negara pada kondisi normal. Betapa lebih besar dalam situasi rumit dan penting ini di mana tiada seorang pun mendapatkan keuntungan dari kekacauan emosi, silang pendapat, dan upaya yang terpecah selain musuh- musuh bangsa beserta renaissance-nya.

“Atas dasar ini, saya menyerukan saudara-saudara saya karena Allah dan kepentingan publik bahwa masing-masing membantu untuk mencapai makna ini, mengarahkan diri mereka pada tugasnya, dan menjauhkan diri mereka dari setiap perbuatan yang menentang stabilisasi keamanan dan keselamatan menyeluruh, sehingga dengan demikian mereka memenuhi hak Allah dan hak tanah airnya. Kami mohon kepada Allah agar melindungi yang mulia raja yang agung dan membimbing langkah-langkah negara, baik pemerintah maupun rakyat, di bawah pemerintahannya ke arah apa yang bisa membawa pada kebaikan dan keberhasilan" [al-lkhwan al-Muslimun Ahdats Shana'ah at-Tarikh].

Ketika operasi rahasia lainnya dilakukan oleh sejumlah anggota Al-lkhwan sekali lagi tanpa persetujuan pimpinan tertinggi, Al-Banna menulis pernyataan kedua di bawah judul "Mereka Bukan Ikhwan, dan Bukan Pula Muslimin". Dia mengatakan di dalamnya, "Mereka yang melakukan perbuatan ini bukanlah ikhwan ataupun Muslim. Mereka tidak patut mendapat kehormatan sebagai warga negara Mesir."

Inilah agama Al-lkhwan terhadap jihad; menjadikan pedang sebagai logo mereka dan slogan "Persiapkanlah" -merujuk pada Surat Al-Anfaal ayat 60- sama sekali tidak mengandung arti apa-apa.

Al-lkhwan, Pelindung Raja-raja Thaghut Mesir

Selama Mesir di bawah koloni Inggris, para salibis merayakan tiga puluh tahun monarki kecil yang setia kepada Kerajaan Inggris. Kerajaan ini diperintah oleh hukum sekuler dengan mendudukkan Fuad dan Farouk sebagai "raja"-nya, keduanya keturunan Muhammad 'Ali Pasha, modernis - di bawah bendera para penyembah kuburan Turki 'Utsmani - yang memimpin perang melawan tauhid di Hijaz dan Najd. Kedua orang murtad Fuad dan Farouk tersohor akan kesekulerannya, korup, dan tunduk pada Inggris.

Meskipun demikian, Hasan Al-Banna menyebut satu persatu "jasa" raja Mesir di hadapan para anggota Al-lkhwan, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Banna di dalam autobiografinya. Dia bahkan menyuruh para pengikutnya untuk berkumpul secara terbuka dalam jumlah besar dan menyambut raja atas kunjungan pihak kerajaan ke kota tersebut, seraya berkata, "Kalian harus berkumpul di pinggir jalan dan sambutlah raja, supaya orang-orang asing di negeri ini mengetahui bahwa kita menghormati raja kita dan mencintainya, sehingga penghormatan mereka terhadap kita akan tumbuh" [Mudzakkarat ad-Da'wah].

Jurnal resmi Al-lkhwan pun menyerukan untuk menunjuk sang raja - seorang sekuleris non-Quraisy - untuk menempati kedudukan Khalifah. Secara umum, jurnal Al-lkhwan akan memuji Fuad dan Farouk meskipun mereka menjadi pion murtad Inggris. Di antara judul artikel di jurnal Al-lkhwan adalah "Raja Farouk adalah Teladan bagi Bangsanya," "Farouk: Pembela Al-Qur'an," "Farouk Membangkitkan Sunnah Khulafa'ur Rasyidin," "Raja Menyeru, Umat Menjawab - Kepada Yang Mulia dan Shaleh Raja Farouk, yang Pertama dari Ikhwanul Muslimin," "Kepada Yang Mulia Raja yang Dicintai, Semoga Allah Menolongnya," dan "Farouk: Teladan yang Shaleh." Sebagian artikel ini ditulis sendiri oleh Al-Banna. Pada "1937," Al-lkhwan merayakan pengangkatan resmi Farouk sebagai raja Mesir dalam konferensi umum mereka yang keempat, mengumpulkan dua puluh ribu orang di dalam perayaan, dan mengumumkan bai'at mereka kepadanya.

Kemudian Al-lkhwan menyuruh para pengikutnya setiap tahunnya berkumpul dan mewujudkan loyalitas mereka kepada thaghut tersebut pada peringatan penerimaannya atas tahta, kepulangannya dari perjalanan ke negara-negara lain, dan bahkan ulang tahun pribadinya, sebagaimana didokumentasikan di dalam tulisan sejarawan mereka sendiri.

Al-lkhwan dan Thaghut Mubarak

Meskipun kemusyrikan yang diterapkan Husni Mubarak dan penindasan yang ditimbulkannya atas kaum Muslim Mesir, Al-lkhwan akan membelanya dan pemerintahannya, bahkan bekerjasama dengan rezimnya melawan kaum Muslim.

Ma'mun Al-Hudaibi berkata, "Tidak ada satu pun sensitivitas maupun kebencian antara Ikhwanul Muslimin dan Presiden Husni Mubarak, karena dia tidak ambil bagian dalam penindasan dan penyiksaan atas Al-lkhwan di masa-masa akhir. Selain itu, tidak ada permusuhan apa pun antara partai Al-lkhwan dan partai-partai dan orientasi politik" [Majalah Al-Mujtama'].

Umar At-Tilmisani juga mengungkapkan, "Aku ikut serta dalam banyak sikap di mana pihak pemerintah memerlukan bantuan Ikhwanul Muslimin ... Aku terus mengadakan kontak dengan personel keamanan Kementerian Dalam Negeri. Aku menawarkan segala sesuatu yang dapat memperkokoh keamanan di Mesir. Aku tidak akan membuat tokoh Mesir, baik kecil maupun besar, untuk datang kepadaku. Aku cukupkan dengan mereka menghubungiku lewat telepon untuk pergi ke kementerian, kecuali pada saat-saat sakit atau liburan di mana mereka dapat mengunjungiku dan mengucapkan terima kasih kepadaku. Sebagian karunia Allah kepadaku ialah tidak pernah aku pergi ke perguruan tinggi yang bergejolak karena alasan tertentu selain kembali dengan kesuksesan. Usahaku disyukuri oleh pihak otoritas di Kementerian Dalam Negeri" [Dzikrayat la Mudzakkirat].

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, {Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai wali; sebagian mereka menjadi wali bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka sebagai wali, maka dia termasuk golongan mereka} [QS. AI-Maa-idah: 51].

Ini adalah hukum Allah atas kaum Muslim yang mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai wali. Betapa lebih buruk lagi orang- orang yang mengambil murtaddin sebagai wali, sebab kufur riddah lebih hebat daripada kufurnya orang-orang Yahudi dan Nasrani berdasarkan ijma' Salaf, sebagaimana terlihat pada perkara jizyah, pernikahan, dan hukum lainnya.

Al-lkhwan dan Irja' Ekstrim

Irja' yang ekstrim dari Al-lkhwan bukanlah sebuah fenomena yang tidak diketahui. Hasan Al-Hudaibi -"Mursyid 'Aam" kedua- menulis buku "Du'at la Qudhat" (Da'i Bukan Hakim) yang membantu untuk menyerukan bentuk ekstrim dari Irja' di dalam barisan pengikutnya. Dia menentang vonis takfir terhadap pemerintah yang berhukum dengan hukum buatan manusia, yaitu ketika sebagian anggota Al-lkhwan mulai mengambil pendirian yang lebih kokoh atas masalah ini.

Berkaitan dengan hal ini, anggota parlemen dari Al-lkhwan Muhammad Jamal Hishmat berkata, "Penerbitan buku 'Da'i Bukan Hakim' cukup untuk menafikan masalah takfir, sekalipun masalah tersebut diangkat oleh Sayid Quthb[5]. Manhaj yang dianut oleh Al-lkhwan ialah bahwasanya tidak ada takfir. Prinsip kedua puluh dari dua puluh prinsip [ditulis oleh Hasan Al-Banna] ialah bahwa tidak boleh bagi seorang pun untuk mentakfir orang lain dikarenakan dosa[6]. Ini jelas. Tidak ada upaya pembunuhan yang didorong oleh takfir. Tidak ada penerapan takfir. Anggota Al-lkhwan yang menerapkan takfir meninggalkan partai. Mereka dibantah. Mereka yang memahami, menjadi moderat, dan kembali dari kejahatan mereka, kembali ke partai. Mereka yang tidak kembali, diusir dari partai dan dikatakan oleh orang-orang yang mengusirnya, 'Carilah bendera lain.' Ini adalah perkara yang jelas" [Wawancara Al-Jazirah].

“Mursyid 'Aam" keempat Abu An-Nashr berkata, "Kami menawarkan tangan kami kepada semua aktivis yang menisbatkan diri mereka pada gerakan Islam di dunia dakwah, kecuali mereka yang menyatakan takfir atas penguasa atau manusia lainnya. Ini karena kami menentang takfir secara umum" [Majalah An-Nur].

Al-lkhwan mengemukakan di dalam sebuah pernyataan resmi, "Ikhwanul Muslimin memandang semua orang sebagai pembawa kebaikan, layak untuk membawa amanat dan lurus di atas kebenaran. Ikhwanul Muslimin tidak menyibukkan diri dengan takfir terhadap siapa pun ... Kami, Persaudaraan, selalu mengatakan, kami adalah da'i bukan hakim. Atas dasar ini, kami tidak pernah berpikir sesaat pun untuk memaksa siapa pun ke dalam 'aqidah atau agama orang lain" [Bayan lin-Nasj.

“Mursyid 'Aam" ketiga 'Umar At-Tilmisani mengungkapkan, "Terdapat perbedaan jelas antara sekularisme dan ateisme. Sekularisme tidak menentang agama, la memberikan orang yang beragama hak untuk mengekspresikan dirinya. Adapun untuk ateisme, maka ia merupakan sikap pribadi yang mengarah pada pemburuan para penganut agama secara tidak adil. Dulu saya merupakan kolega Mister Sirajuddin, presiden partai Wafd [sekuler] di Fakultas Hukum. Dia seorang yang shaleh yang shalat dan shaum. Selain itu, partai Al-Wafd tidak pernah mengganggu Al-lkhwan" [Jurnal Al-Mustaqbal].

Dengan demikian, Al-lkhwan tidak menyatakan takfir atas orang-orang sekuler! Mereka bahkan mengingkari para mantan anggota semata-mata disebabkan para anggota tersebut menyatakan takfir atas rezim thaghut!

Para Pengklaim Jihad dan Al-lkhwan

Ini merupakan kesesatan nyata dari Al-lkhwan, namun demikian mampu masuk ke dalam harakah-harakah "Salafi" beberapa dekade yang lalu. Di antara harakah pertama ialah apa yang kemudian dikenal sebagai As-Sururi, nama yang diambil dari "ideolog" besar harakah tersebut, sejarawan Muhammad Surur. Pada penampakannya yang pertama, Sururi mengutuk rezim- rezim thaghut dan mengingatkan untuk tidak berpartisipasi dalam pemilu syirik, namun mereka menjauhi masalah takfir dan jihad. Akan tetapi, ketika sejumlah partai “islam" murtad ikut dalam pemilu Aljazair pada "1991," dengan cepat Sururi mengubah posisi mereka terhadap masalah itu, mendukung partai-partai tersebut di dalam pemilu syirik. Mereka mulai mengeskalasi nada propaganda mereka melawan mujahidin.

Setelah Peristiwa 11 September dan kemudian berbagai 'amaliyah di Jazirah Arab, Sururi mengadakan perubahan dengan pihak thawaghit, terutama keluarga Saudi. Pengikut Sururi yang sebelumnya dilarang dari memasuki negara-negara yang dirampas oleh thawaghit, kemudian diizinkan kembali untuk mengambil bagian dalam memerangi mujahidin.

Fenomena Sururi diikuti oleh fenomena "Hizbul Ummah" (Partai Umat) yang dipimpin oleh Hakim Al-Muthairi. Kelompok ini juga berusaha untuk memasukkan aspek-aspek manhaj Al- Ikhwan ke dalam "Salafiyah." "Salafiyah" yang Ikhwani akhirnya menemukan jalannya ke dalam barisan Al-Qa'idah, yaitu ketika para pemimpinnya banyak yang menghargai para "ulama" Al-lkhwan dan yang berpandangan Al-lkhwan.

Dalam hal ini, contoh-contoh bisa ditemukan di sejumlah besar tulisan para pengklaim jihad. Misalnya, Abu Mush'ab As-Suri, yang mengatakan, "Gerakan Ikhwanul Muslimin benar-benar sebagaimana klaim mereka 'kelompok induk' yang melahirkan sebagian besar gerakan politik fundamentalis dan bahkan pada banyak gerakan jihad di Arab dan dunia Islam" [Da'wah al-Muqawamah].

Dia juga mengatakan, "Gerakan Ikhwanul Muslimin merupakan inkubator alami utama yang dari sini memungkinkan bagi pemikiran jihad tersebar, karena dakwah Hasan Al-Banna merupakan lingkungan yang sesuai untuk pengembangan semacam itu. Tidak ada yang memperlihatkan hal semacam itu sebanyak slogan Persaudaraan yang menggambarkan manhaj Al-lkhwan secara ringkas: 'Allah tujuan kami. Rasulullah teladan kami. Al-Qur'an undang- undang kami. Jihad jalan kami. Mati di jalan Allah cita-cita kami tertinggi' ... Amal jihad pertamanya merupakan bukti sebagai inkubator yang sesuai bagi kelahiran gerakan dan ideologi jihad dari rahimnya" [Da'wah al-Muqawamahj.

Dia pun mengatakan, "Aspek 'aqidah jihad sudah ada pada sebagian besar seruan ini [untuk reformasi komprehensif] dan tidak ada yang lebih indikatif tentang hal ini daripada slogan terkenal induk dan jantung semua gerakan Islam - seruan Ikhwanul Muslimin dan berbagai gerakan yang terlahir darinya di dunia Arab dan Islam ... Aku tidak menemukan dalam karya mengesankan pengarang mana pun pada umat modern ini yang lebih komprehensif mengumpulkan dasar 'aqidah jihad sebagaimana yang terkumpul dalam slogan Al-lkhwan yang mencakup semua aspek, prinsip, dan cabang agama" [Da'wah al-Muqawamah].

Dia juga berkata, "Ideologi revolusioner gerakan jihad dan inkubator ideologi pertamanya -maksudku ideologi Ikhwanul Muslimin- sebagian besar memasuki dunia Arab dan Islam dari Mesir dan Suriah. Ideologi organisasi yang dibentuk di dalam gerakan Ikhwanul Muslimin ini. ..merupakan separuh dari komposisi ideologi gerakan jihad modern" [Da'wah al-Muqawamah].

Dengan demikian, As-Suri memandang Al-lkhwan sebagai pembangkit jihad di era tersebut, seakan-akan dia bodoh dengan fakta bahwa semua upaya mereka dihabiskan untuk mengabdi kepada demokrasi! Sentimennya digemakan oleh Azh-Zhawahiri yang berkata, "Syaikh Hasan Al-Banna, semoga Allah merahmatinya, tanpa diragukan lagi adalah simbol perintis gerakan Islam. Allah merahmatinya dengan kemartiran. Kami mohon kepada Allah untuk menerima darinya dan menerima darinya seluruh amal shalehnya. Allah saja yang mengetahui besarnya kecintaan dan penghormatan saya kepadanya di dalam hati saya ... Syaikh Hasan Al-Banna, semoga Allah merahmatinya, juga menanam benih jihad di dalam gerakan Islam modern" [aI-Hishad al-Murr].

Dia juga mengatakan, "Saya mendedikasikan penghargaan atas karya ini kepada. ..sang imam, pembangkit yang membangunkan kembali Islam, Hasan Al-Banna, orang yang membawa pemuda dari alam tamasya dan bermain di medan perang" [Syadza al-Qaranfulat].

Persoalannya tidak terhenti pada anggapan para pengklaim jihad yang memandang Al-lkhwan berada di belakang kebangkitan jihad, namun juga termasuk mengudzur kemurtadan Al-lkhwan. As-Suri mengatakan, "Adapun untuk pelaku demokrasi, maka mereka bermacam- macam. Dengan demikian hukum atas mereka pun beragam. Namun secara umum, saya percaya pada pendapat yang mengatakan bahwa orang-orang yang mempercayai filosofi dan pembuatan undang-undang dari demokrasi adalah kafir dan berlawanan dengan 'aqidah Islam dan agama tauhid, tetapi mengamalkannya dengan dalih lemah dan satu-satunya cara yang ada untuk meraih kepentingan yang mereka percaya dapat membantu dakwah. Islam, dan Muslimin dan itu cara yang layak bagi tercapainya penerapan syari'at dalam keadaan demikian dan menghapuskan apa saja yang menentang syari'at, atau itu merupakan jalan potensial untuk menyatakan kebenaran, 'amar ma'ruf, nahi munkar, dan menyampaikan suara kebenaran kepada umat, dan sebagainya, maka orang-orang yang tulus di antara mereka diudzur dalam pengamalan demokrasi mereka serta ketergabungannya dengan institusinya disebabkan pemahaman mereka yang salah" [Da'wah al-Muqawamah]l

Dengan demikian, para pengklaim jihad menganggap murtaddin dan thawaghit ini Muslim, sebagaimana pendirian Azh-Zhawahiri terhadap Mursi dan para pengikutnya. Para pengklaim jihad juga menyerukan kerjasama yang lebih besar dengan Al-lkhwan beserta semangatnya.

As-Suri berkata, "'Aqidah Jihad dan Konstitusi Dakwah Perlawanan Islam Internasional: ... Artikel 19: Dakwah Islam internasional memandang berbagai upaya yang dilakukan semua orang yang tulus di dalam kebangkitan Islam -dakwah, reformasi, pendidikan, keagamaan, dan upaya-upaya lain yang disepakati oleh syari'at- yang diamalkan oleh berbagai macam perguruan untuk kebangkitan Islam, di antaranya. Jkhwanul Muslimin. ..layak mendapatkan ucapan terima kasih dikarenakan penjagaan mereka terhadap agama kaum Muslim dan meningkatnya keadaan mereka, la menyerukan mereka untuk bekerjasama dalam kebajikan dan ketaqwaan serta mendukung perlawanan (al-muqawamah). la memandang berbagai upaya mereka di dalam dakwah kepada agama Allah sebagai suatu bentuk dukungan dan pengokohan akar perlawanan di dalam umat ini dan pemeliharaan atas komposisinya, la menyerukan setiap orang untuk memperhatikan titik-titik perbedaan pada tahap ini di mana eksistensi semua Muslim berada dalam ancaman pada semua tingkatan kultural" [Da'wah al-Muqawamah].

Sikap ke arah Al-lkhwan ini diulang kembali di dalam media resmi Al-Qa'idah di bawah kepemimpinan Azh-Zhawahiri, yang paling terkenal terdapat dalam "Garis-Garis Besar Aktivitas Jihad" dan "Pakta untuk Mendukung Islam." Sikap ini membawa para pengklaim jihad bukan hanya untuk mengadakan kerjasama yang lebih besar antara mereka sendiri dan Al-lkhwan, namun bahkan mengkritisi orang-orang yang menyatakan takfir atas Al-lkhwan.

Sebagai misal, As-Suri mengkritik 'Adnan 'Uqlah dan sahabat-sahabat 'Adnan yang bersama- sama meninggalkan Al-lkhwan dan membentuk Ath-Thali'ah Al-Muqatilah (Pejuang Garis Depan). As-Suri menjelaskan, "Perkara-perkara berbahaya yang tampak dalam karya-karya Ath- Thali'ah. Itu adalah kecenderungan mereka - terutama 'Adnan 'Uqlah dan beberapa muridnya - ke arah ektrimisme, khususnya setelah Al-lkhwan mengambil jalan aneh koalisi dan sebuah kampanye media politik yang baru, setelah Al-lkhwan bersikap keras terhadap pendirian 'Adnan lewat desakan mereka untuk memboikot Ath-Thali'ah dan mengadakan permusuhan terhadapnya.

Maka 'Adnan menyatakan takfir atas para pemimpin Ikhwanul Muslimin. ..berkenaan dengan Koalisi Nasional [tahun "delapan puluhan"] dan apa yang mengikutinya berupa kerusakan. Apa yang mendorongnya ke arah ini ialah beberapa publikasi Koalisi Nasional yang benar-benar rusak, yang nyata sekali termasuk di dalamnya Al-lkhwan! ... Dan meskipun sejumlah tokoh yang patut diperhitungkan menghadang jalan takfir yang ekstrim terhadap orang lain ini, 'Adnan tetap pada keyakinannya sementara memiliki sejumlah klaim yang masuk akal yang akan terus diulanginya. Pendapatnya diikuti oleh sejumlah besar anggota Ath-Thali'ah" [ats-Tsaurah al-lslamiyah al-Jihadiyah fi Suriya].

Dia pun menggambarkan salah satu "poin negatif" dengan "peristiwa Ath-Thali'ah" sebagai, "Kecenderungan Ath-Thali'ah ke arah ekstrimisme di saat-saat terakhirnya sebagai akibat dari pemboikotan Al-lkhwani dan Iraq, konspirasi semua kelompok terhadapnya, dan penindasan dan kekerasan nyata yang mereka hadapi. Ekstrimisme merupakan sifat tetap setiap orang yang masuk ke dalam Ath-Thali'ah.

Media Al-lkhwan memainkan peran besar dalam membesar-besarkan ekstrimisme untuk dimanfaatkan menghadapi Ath-Thali'ah, tetapi tidak disangsikan lagi Ath-Thali'ah mempunyai beberapa paham ekstrim yang nyata. Barangkali hal yang paling ekstrim yang bisa dipelajari ialah keyakinan yang dicapai 'Adnan 'Uqlah dan sejumlah sahabatnya dalam menyatakan takfir atas orang-orang Ikhwanul Muslimin. ..yang memberikan putusan sebagai dukungan atas Koalisi Nasional dan mengakuinya sebagai suatu ide dan program. Dia akan menyatakan takfir atas setiap orang yang mengakui kondisi koalisi, lalu bersikeras di atas loyalitasnya kepada pimpinan dan koalisinya. 'Adnan 'Uqlah memiliki sejumlah klaim bagi pendiriannya yang bisa ditemukan dalam beberapa publikasi koalisi dan pernyataan sejumlah Al-lkhwan, terutama 'Adnan Sa'duddin yang mengatakan dalam salah satu wawancaranya bahwa dia memandang para anggota partai Ba'ats Iraq - partai sayap kanan Aflaq - sebagai Muslim dan pimpinannya religius. Lebih dari itu, Sa'duddin menyatakan lebih dari sekali pendiriannya bahwa Saddam Hussein adalah Muslim dan rezimnya Islami! Lebih dari itu, Sa'duddin bahkan mengkritik para pemuda yang menggambarkan Saddam kafir dan meminta para pemuda ini bertaubat dari keyakinan semacam itu. Walaupun pernyataan-pernyataan ini memberikan pengakuan atas pendirian 'Adnan 'Uqlah, tidak diragukan lagi generalisasi yang dianutnya adalah ekstrim! [ats- Tsaurah al-lslamiyah al-Jihadiyah fi Suriya].

Di sini As-Suri mengkritik 'Adnan 'Uqlah karena menyatakan takfir atas Persaudaraan Suriah dengan bergabung ke dalam koalisi nasionalis yang bekerja untuk menegakkan negara sekuler demokratis! Maka setelah pembahasan ini, tidaklah mengherankan bila melihat para pengklaim jihad di Syam dan di mana pun berada di pihak faksi murtad Al-lkhwan dan Sururi melawan mujahidin Daulah Islam dengan dalih muhajirin dan anshar adalah khawarij! Atau dalam kata- kata terdahulu si pendusta sesat Abu Qatadah Al-Filisthini yang berkata benar saat membongkar kebodohan Al-lkhwan atas tauhid, lalu berkata, "Lalu, kebaikan apa yang bisa diharapkan dari partai Persaudaraan? Apakah bisa seseorang mengharap dari mereka sebuah kebangkitan apa saja terhadap jatuhnya bangunan besar Islam?!

Hal yang lebih aneh lagi ialah orang-orang yang percaya bahwa ideologi Hasan Al-Banna merupakan manhaj revivalis bagi umat Islam di era ini, sedangkan orang-orang ini mengklaim sebagai pengikut Salaf dan Salafiyah serta mengangkat slogan Ahlus Sunnah wal Jama'ah! Hal yang lebih aneh lagi ialah orang-orang yang mengklaim bermanhaj jihad sementara meyakini bahwa perbedaan antara partai Ikhwanul Muslimin dan kelompok-kelompok jihad ibarat perbedaan antara Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim! Atas dasar ini, orang-orang ini tidak pernah menyangkal dari kebersatuannya mereka dengan Al-lkhwan, bukan melawan orang-orang murtad, tapi melawan muwahhidin ... Sebaliknya, orang-orang ini dimanfaatkan sebagai puncak gunung oleh kelompok sesat Al-lkhwan untuk mengutuk [muwahhidin] dan menyebut mereka takfiri" [al-Jihad wal-ljtihad].

Bukankah ini yang menyebabkan Shahawat Azh-Zhawahiri yang murtad terjatuh ke dalamnya di setiap negeri?

Bara'ah dari Al-lkhwan

Syaikh Abu Muhammad AI-'Adnani hafizhahullah berkata, "Al-lkhwan tidak ada apa-apanya selain kelompok sekuler berjubah 'Islam, bahkan mereka adalah sejahat-jahat sekuleris. Mereka merupakan kelompok sekuler yang mengibadahi kursi dan parlemen. Mereka memperbolehkan diri mereka sendiri berjuang dan mati di atas jalan demokrasi, tetapi tidak membolehkan diri mereka sendiri mengobarkan jihad dan terbunuh di jalan Allah. Sesungguhnya juru bicara mereka berkoar dalam sebuah majelis yang dihadiri ratusan ribu orang, seraya berkata, 'Berhati-hatilah berbalik ke belakang. Matilah di atas jalan demokrasi.' Tidak diragukan lagi, mereka adalah kelompok yang mau bersujud kepada Iblis jika hal itu sebagai syarat untuk meraih kursi ... Kelompok Al-lkhwan... meninggalkan semua prinsip dasar iman. ..ketika mereka setuju untuk menisbatkan hak pembuatan hukum kepada yang lain selain Allah Subhanahu wa Ta'ala, ketika mereka tanpa malu-malu berkoar, seraya berkata, 'Pembuatan hukum itu untuk rakyat.' Sesudah itu, mereka menambahkan, 'Kami merupakan perwakilan rakyat di parlemen.' Terdapat kontradiksi nyata pada ucapan dan perbuatan mereka terhadap 'aqidah para nabi serta tauhid Rabb langit dan bumi .. Kekafiran yang dilakukan kelompok Al-lkhwan dan menjadikan orang lain terjatuh ke dalamnya merupakan akibat dari ketaatan kepada orang-orang kafir Amerika dan Barat" [as-Silmiyah Diin Man?].

Beliau hafizhahullah juga berkata, "Tidak ada perbedaan antara Mubarak, Qadhdhafi, dan Ben Ali, serta Mursi, Musthafa 'Abdul Jalil, dan Rasyid Al-Ghannusyi, sebab mereka semua thaghut yang memerintah dengan hukum buatan manusia yang sama. Akan tetapi, kelompok yang disebut terakhir lebih berbahaya bagi Muslimin" [as-Silmiyah Diin Man?].

Seharusnya hal ini menjadi jelas bagi Muslimin di Barat, Timur, dan mereka yang hidup di negeri-negeri yang dirampas oleh orang-orang murtad. Yahudi, dan Nasrani, mengapa Persaudaraan adalah sebuah kelompok yang memiliki kemurtadan ekstrim serta mengapa dengan hal tersebut wajib bagi Muslimin menyatakan sikap takfir, bara'ah, kebencian, dan permusuhan kepada kelompok ini dan para anggotanya serta juga berbagai front, cabang, faksi, pusat "keislaman", dan masjid dhirar mereka[7]. Wajib atas setiap anggota kelompok tersebut untuk meninggalkannya dan melepaskan ajaran-ajaran kufurnya.

Demikian pula, wajib atas semua Muslim untuk melakukan hijrah ke Khilafah, karena merupakan satu-satunya wadah yang menghalangi Ikhwanul Murtaddin, tuan-tuan salibis Al- lkhwan, dan Rafidhah yang bersekutu dengan Al-lkhwan. Mereka semua berupaya untuk menghancurkan agama Islam dan menggantikannya dengan sebuah "Islam" yang dikaitkan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana halnya orang-orang Nasrani dan agama Nasrani modern dikaitkan dengan tauhid yang dibawa oleh Nabi 'Isa 'alaihis salam.

Semoga Allah mengakhiri kelompok pagan murtad melalui jihad yang dilakukan Khilafah. Amin.

Catatan kaki :

[1] Kelompok murtad ini akan disebut di sepanjang artikel dengan "Al-lkhwan" atau "Persaudaraan".

[2] Lebih lanjut mengenai takfir atas Rafidhah, lihat Dabiq edisi 13, "Rafidhah: Dari Ibnu Saba' Hingga Dajjal." Irja' secara umum, sebagaimana pula pemahaman yang berlebihan terhadap kebodohan yang diudzur, juga dibantah di sejumlah artikel Dabiq. Lihat edisi 8, "Irja' - Bid'ah Paling Berbahaya," edisi 7, "Islam Adalah Agama Pedang," edisi 6, "Al-Qa'idah Azh-Zhawahiri ... dan Hilangnya Kebijaksanaan Yaman," dan edisi 10, "Hukum Allah atau Hukum-hukum Manusia."

[3] Sikap menyimpang dan lemah terhadap Rafidhah yang disebarkan oleh Abu Mush'ab As-Suri serupa dengan kepemimpinan Azh-Zhawahiri dan Taliban, sebagaimana dijelaskan dalam Dabiq edisi 6, "Al-Qa'idah Azh-Zhawahiri ... dan Hilangnya Kebijaksanaan Yaman,"

[4] Perayaan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah bid'ah yang dibuat oleh firqah Isma'iliyah dari negara 'Ubaidiyah, sesudah itu diwarisi oleh kelompok-kelompok Sufiyah ekstrim. Hanya saja, hal ini dipraktekkan kemudian oleh para pendiri Al-Ikhwan berpaham sufi.

[5] Adakalanya para anggota Al-lkhwan meninggalkan 'aqidah pimpinan Al-lkhwan dengan menjatuhkan takfir atas rezim-rezim yang berhukum dengan hukum buatan manusia, menyatakan permusuhan terhadap rezim-rezim semacam itu, dan mencela keikutsertaan di dalam pemerintahan sekuler. Sebagian anggota juga menyerukan jihad sebagai kewajiban atas setiap Muslim pada masa itu, terutama jihad melawan rezim-rezim murtad dan para penjajah kafir. Seruan-seruan ini ditolak oleh Al-lkhwan, sehingga para pengikut keyakinan ini meninggalkan partai atau menghadapi celaan, marjinalisasi, dan pengusiran jika individu- individu ini tidak menarik kembali keyakinannya.

[6] Tidak boleh membuat takfir atas seorang Muslim karena dosa-dosa seperti membunuh, berzina, dan meminum khamer. Masalah yang terjadi pada ucapan Al-Banna dan orang-orang yang mengikutinya ialah penerapan hukum atas amal-amal yang merupakan kufur akbar di dalam dan dari diri mereka sendiri, misalnya memperolok-olok agama, menyembah orang mati, berhukum dengan hukum buatan manusia, dan membantu kuffar melawan Muslimin. Pelaku yang semata melakukan perbuatan semacam itu tidak diragukan lagi telah murtad.

[7] Allah Subhanahu wa Ta'ala melarang shalat di masjid-masjid yang dibangun oleh orang-orang munafik. Keharaman ini bahkan lebih layak lagi diterapkan ketika masjid dibangun oleh orang- orang murtad ekstrim di mana para imamnya menyampaikan khutbah dan memimpin manusia dalam shalat! {Janganlah kamu shalat di dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar taqwa sejak hari pertama lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih} [QS. At-Taubah: 108].