Tampilkan postingan dengan label Sariyah Ghazwah Dan Futuhat Di Bulan Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sariyah Ghazwah Dan Futuhat Di Bulan Ramadhan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 April 2018

SARIYAH, GHAZWAH DAN FUTUHAT DI BULAN RAMADHAN (BAGIAN 4)

SARIYAH, GHAZWAH DAN FUTUHAT DI BULAN RAMADHAN (BAGIAN 4)

Disini kita akan menyebutkan kembali sebagian ghazwah Daulah Islamiyah yang terjadi di bulan Ramadhan dari umur Daulah yang diberkahi ini –semo¬ga Allah memanjangkan umurnya dan meluaskan kekuasaannya– sesuai den¬gan statemen-statemen resmi Daulah pada waktu itu. Kita akan menyebutkan beberapa saja dari ghazwah-ghazwah tersebut, karena ghazwah-ghazwah Dau¬lah yang terjadi di bulan Ramadhan itu amat banyak, semisal pada Ramadhan tahun 1434, amaliyah jihad yang tercatat saja berjumlah (867) amaliyah, itu selain amaliyah yang tidak tercatat. Berikut beberapa ghazwah yang terjadi selama Ramadhan:

25. Ghazwah al-Asiir (pembebasan tawanan) Pertama – 4 Ramadhan 1430 H

Ghazwah yang diberkahi, diinisiasi oleh Menteri Perang Daulah Islamiyah Syaikh Abu Hamzah Al Muhajir rahimahullah dan dieksekusi di jantung kota Baghdad dengan amaliyah-amaliyah istisyhadiyah yang akurat. Merobohkan markas-markas kekafiran dan benteng-benteng syirik pemer¬intahan Shafawiyah: Kementrian Luar Negeri, Kementrian Keuangan, Ke¬mentrian Pertahanan, dan bangunan gubernur Baghdad, serta sebagian sarang-sarang keburukan di Zona Hijau (Green Zone). Gempuran-gempuran ini mengakibatkan hancurnya markas-markas ini dan memakan korban mati dan luka ratusan dedengkot Shafawiyin.

26. Ghazwah al-Asiir Kedua – 18 Ramadhan 1431 H

Gelombang mengguncang dari gelombang-gelombang gempuran Ghazwah al-Asiir setahun setelah dimulainya operasi ini. Dalam operasi ini, mayori¬tas formasi Kementrian Perang Daulah Islam dikerahkan, baik dari detase¬men tempur ataupun keamanan, dipelopori oleh barisan istisyhadi. Seluruh rangkaian ghazwah yang berhasil dieksekusi hanya dalam beberapa jam saja ini mencakup seluruh wilayah Irak. Target dipilih secara teliti baik berupa markas-markas, pemusatan kekuatan dan pos-pos pemeriksaan Shafawiyin, juga gembong-gembong murtad dan perusak. Operasi ini memakan korban ratusan murtaddin terbunuh atau terluka.

27. Shoulah al-Muwahidin (serangan para muwahid membela kehormatan Ummahatul Mukminin) - 30 Ramadhan 1431 H

Setelah Rafidhah secara terang-terangan dengan lancangnya mencaci Umma¬hatul Mukminin –semoga Allah ta’ala meridhai mereka–, beberapa pemuda Daulah Islam yang telah menadzarkan nyawa mereka sebagai tebusan untuk kehormatan Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam segera bangkit. Mereka segera mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik, dan memilih salah satu lambing proyek Shafawi sebagai target, yaitu (Komando Operasi Janib ar-Rushafah (salah satu dari Sembilan distrik administratif di Baghdad), dan Komando Pusat militer Irak di Kementerian Pertahanan) yang terletak di daerah administratif Baghdad yang paling dijaga ketat, yaitu daerah Bab al-Mu’azzam.

Ghozwah ini dimulai dengan bomber istisyhadi yang berhasil meledakkan mobilnya di gerbang belakang kompleks, yang berhasil meng¬hancurkan Menara pengawas dan membinasakan seluruh penjaganya. Diten¬gah-tengah kebingungan dan kengerian yang menimpa murtaddin, empat inghi¬masi menyerbu masuk komplek dan berhasil menguasai bangunan utama. Baku tembak dengan tentara Shafawi yang berada di dalam komplek terjadi lebih dari sejam.

Tak ketinggalan pesawat Salibis ikut mengambil bagian, na¬mun Allah mengaruniakan kepada para pembela-Nya berupa puluhan mur¬taddin yang terbunuh dan terluka, sebelum akhirnya para in-ghimasi itu ke¬habisan peluru, lalu meledakkan sabuk peledak mereka pada tentara Shafawi yang mencoba menerobos masuk.

28. Ghazwah pembalasan untuk para pemimpin mulia – 14 Ramadhan 1432 H

Pembalasan untuk darah-darah suci yang tertumpah dari Syaikh: Ibn Ladin, Abu ‘Umar, Abu Hamzah, Abu Ibrahim taqabbalahumullah. Pada pertenga¬han Ramadhan, Kementrian Perang melancarkan serangan luas yang meliputi 100 operasi penyergapan yang bermacam-macam. Yang paling besar adalah penyerbuan inghimasi ke komplek istana pemerintah di Tikrit, penyerbuan inghimasi ke komplek milik Dewan Pemerintahan Provinsi Anbar, penyer¬buan tiga inghimasi atas markas pusat kepolisian Al Baghdadi, seorang bomber istisyhad yang menyerbu markas intelijen militer di Taji, serangan istisyhad atas Direktorat Bina Marga yang terletak di tengah-tengah kota Najaf, dan serangan istisyhad atas Markas Direktorat Jenderal Kepolisian Tarmiyah, bersamaan dengan peledakkan 16 bom mobil yang diparkir di Karbala, Hil¬lah, Bashrah dan lainnya, peledakkan puluhan IED atas target yang berma¬cam-macam, mengeksekusi puluhan perwira dengan pistol berperedam, dan masih banyak lagi amaliyah lainnya.

29. Gelombang pertama operasi Hadmul Aswar (menghancurkan jeruji) – 14 Ramadhan 1432 H

Untuk melaksanakan instruksi Amirul Mukminin Abu Bakr Al Baghdadi ha¬fizhahullah lewat pengumuman proyek Hadmul Aswar dan menandai fase baru amal jihad merebut kembali wilayah-wilayah yang pada waktu sebelum¬nya Daulah mundur darinya; Katibah-katibah mujahidin berangkat berge¬lombang dalam operasi berskala luas menargetkan sendi-sendi proyek Shafa¬wi, pengikut dan simpatisannya di seluruh wilayah ‘Iraq.

Dalam ghazwah ini, operasi-operasi jihad dalam satu hari berjumlah mencapai 166 amaliyah, yang berhasil memanen kepala-kepala najis Shafawi.

30. Ghazwah Direktorat Kontra Terorisme – 14 Ramadhan 1433 H

Berangkatlah sekelompok orang-orang mukmin bomber istisyhadi untuk menggempur salah satu simbol proyek Shafawi dan sendi keamanannya di Iraq, yaitu Depertemen Kontra Terorisme yang terletak di pusat kota Bagh¬dad. Amaliyah ini dimulai dengan meledakkan dua bom mobil yang diparkir di pintu gerbang komplek, yang berhasil menewaskan dan melukai puluhan penjaganya. Setelahnya, satu detasemen yang berkekuatan lima inghimasi mernyerbu masuk. Target mereka adalah akses masuk di lantai dua dima¬na para perwira investigasi biasanya beristirahat. Setelah membunuh sia-papun yang berusaha menghalangi, para ikhwah berhasil mengakses lantai dua. Kemudian mereka memblokade seluruh pintu masuknya dan berhasil mengeksekusi 30 perwira di mejanya masing-masing.

Setelah itu, murtaddin berusaha keras untuk mengontrol kembali komplek tersebut, yang seluruhn¬ya berujung pada kegagalan. Setelah 7 jam baku tembak sengit, para ikhwah kehabisan peluru, maka tibalah perang sabuk peledak. Tiap kali pasukan penyerbu berusaha masuk, mereka dikejutkan dengan ledakan yang men¬cabik-cabik tubuh. Ghazwah ini berhasil menewaskan 70 perwira dan calon perwira, dan komplek tersebut hampir seluruhnya hancur. Para eksekutor ghazwah menulisi dinding-dindingnya dengan kalimat: dengan darah mu¬wahhid; Daulah Islam akan terus eksis.

31. Ghazwah Ramadi dan Muqdadiyah – 6 Ramadhan 1434 H

Tiga inghimasi menyerang markas kepolisian andalus di Ramadi. Ghazwah dimulai dengan salah seorang istisyhadi menyerbu masuk menggunakan bom mobil dan meledakkannya ditengah-tengah mereka, disusul dengan dua inghimasi yang lain menyerbu masuk untuk menghabisi siapa saja yang tersisa dari mereka. Ketika patroli bantuan sampai, mereka segera terlibat baku tembak sengit selama enam jam. Dalam baku tembak ini salah satu dari keduanya terbunuh, sedangkan yang inghimasi yang lain menyergap dan meledakkan sabuk peledaknya di garda terdepan patroli. Disaat itu juga, seorang bomber istisyhadi meledakkan sabuk peledaknya di tengah-tengah pertemuan besar pemimpin dan elemen-elemen milisi Rafidhah di kota Miq¬dadiyah, provinsi Diyala. Dua ghazwah ini berhasil membunuh dan melukai lebih dari 100 shafawi.

32. Ghozwah Qahru Thawaghit (memukul mundur thaghut) – 13 Ramadhan 1434 H

Untuk memenuhi seruan Syaikh Mujahid Abu Bakar al-Baghdadi hafizhahul¬lah, yaitu agar menutup proyek “Hadmul Aswar” dengan ghazwah kualitatif yang bisa mengalahkan thaghut, menghancurkan belenggu, dan membebas¬kan para singa; Berangkatlah katibah-katibah mujahidin, setelah persiapan dan perencanaan berbulan-bulan, menargetkan dua penjara terbesar Pemer¬intahan Shafawi, yaitu Penjara Sentral Baghdad (Abu Ghuraib) dan Penjara Al Haut (At Taaji).

Di malam ke 13 Ramadhan, para singa tauhid menyerang pintu-pintu utama dan dinding terluar kedua penjara secara bergelombang dengan aliran bom-bom mobil yang dikemudikan oleh bomber istisyhadi. Jumlah bom mobil berhasil diledakkan total mencapai 12 bom mobil den¬gan beragam ukuran. Sebelumnya, jalan-jalan yang menuju ke dua penjara tersebut diblokade total setelah cekpoin yang bertebaran berhasil di musnah¬kan. Bersamaan dengan itu, semua kamp militer Shafawi yang berdekatan dengan lokasi dihujani dengan lontaran roket dan mortar. Dengan demiki¬an, akses-akses menuju ke dua penjara tersebut berhasil diamankan secara sempurna, dan pergerakan bantuan dara dan udara juga berhasil dihalangi.

Setelahnya barulah dimulai fase penyerangan dengan detasemen-detasemen inghimasi. Baku tembak dengan penjaga pejara berlangsung selama beberapa jam, dan berakhir dengan dikuasainya seluruh Menara pengawas serta ter¬bunuhnya seluruh penjaganya. Lalu, bersama dengan detasemen-detasemen yang berhasil dibebaskan, mereka menyisir seluruh bangunan. Dalam bebera¬pa jam saja, ribuan tawanan berhasil dibebaskan dan dipindahkan ke tempat yang aman. Lebih dari 160 elemen-elemen Shafawi terbunuh dan puluhan lainnya terluka.

33. Ghozwah sepuluh hari terakhir – 20 Ramadhan 1434 H

Sebagai pembalasan atas tekanan dan pengusiran Rafidhah terhadap terha¬dap orang-orang yang lemah dari kalangan ahlus sunnah; Para tentara Dau¬lah Islamiyah segera bergerak dalam amaliyah pertama dalam proyek “Ha¬shad al-Ajnad” untuk meluluhlantakkan protektorat Shafawi di Baghdad dan wilayah selatan dalam satu hari. Target-target khusus yang telah mengalami proses pemilihan dan pemantauan dipilih dengan teliti. Target-target tersebut berupa komplek-komplek pemerintahan, markas-markas keamanan dan mi¬liter, dan sorban-sorban Rafidhah serta sekutu mereka dari pengkhianat ahlus sunnah. Amaliyah ini dieksekusi ketika puncaknya penyebaran personel-per¬sonel keamanan pemerintahan Rafidhah. Operasi ini berhasil membunuh dan melukai ratusan dari mereka.

34. Ghazwah pembebasan bandar militer Minnigh – 27 Ramadhan 1434 hijriyah
Setelah memblokade bandara tersebut selama lebih dari Sembilan bulan; para prajurit Daulah Islam bergerak untuk membebaskan bandara militer Minnigh dari cengkeraman Nushairiyah. Ghazwah dibuka dengan serangan bombar¬dir selama tiga hari berkesinambungan. Setelah musuh kelelahan, pasukan pelopor penyerbu segera bergerak, didahului dengan seorang muhajir yang mengendarai BMP, yang berjalan pelan lantaran beratnya bahan peledak. Al¬lah memudahkan bomber istisyhadi ini memasuki komplek utama bandara dan meledakkan kendaraannya, yang segera disusul dengan kompi-kompi penyerbu dari tiga sisi.

Setelah baku tembak sengit yang berlangsung dari pagi sampai tengah malam, seluruh komplek bandara berhasil dikuasai secara sempurnya, puluhan tentara Nushairi berhasil ditawan.

35. Fathu al-Futuuh (kemenangan gilang gemilang) – 1 Ramadhan 1435 H

Setelah perjalanan jihad yang sedemikian panjang, dengan aliran sungai darah para syuhada, dan kehancuran proyek Salibis, Shafawi, orang-orang sekuler, serta setelah Daulah Islamiyah berhasil mengontrol wilayah luas di Irak dan Syam melalui berbagai pertempuran sengit; juru bicara Daulah Islamiyah Syaikh Abu Muhammad Al ‘Adnani hafizhahullah mendeklarasikan di hari Ahad di hari pertama Ramadhan 1435 H kembalinya Khilafah Islamiyah dan pengangkatan Syaikh Ibrahim Ibn ‘Awwad Al-Badri Al-Husaini hafi¬zhahullah sebagai Khalifah bagi setiap muslim.

Selesai…

Ya Allah, terimalah syuhada kami, sembuhkan luka-luka kami, bebaskan dari kami yang tertawan.
Ya Allah, jagalah Khilafah ini, pemimpin, prajurit dan rakyatnya.

Maktabah Al Himmah

SARIYAH, GHAZWAH DAN FUTUHAT DI BULAN RAMADHAN (BAGIAN 3)

SARIYAH, GHAZWAH DAN FUTUHAT DI BULAN RAMADHAN (BAGIAN 3)

Pada edisi yang lalu (edisi kedua) kita telah sampai pada pertempuran ke duapuluh dari pertempuran-pertempuran yang terjadi di bulan Ramadhan yang berbarakah. Sekarang kita akan membicarakan pertempuran-pertempuran berikutnya.

21 Pertempuran az-Zallaqah – Ramadhan 479 H

Sejak awal abad ke 5 Hijriyah, Negeri Andalusia al-Islami terbagi menjadi thawaif (negara-negara kecil) yang saling bermusuhan, yang menyebabkan air liur ketamakan salibis meleleh. Maka kerajaan-kerajaan Kristen Eropa berkoalisi untuk menyerbu Andalusia, dan mencabut Islam di sana sampai ke akar-akarnya. Bergeraklah mereka di bawah kepemimpinan (Alfonso VI) dengan pasukan yang berjumlah lebih dari (100.000) orang. Mereka menyerbu dan menduduki kota Toledo, Coria, dan Zaragoza, membakar, menghancurkan dan membantai penduduknya.

Para pemimpin negara-negara kecil itu berkumpul dan sepakat untuk mengirim utusan meminta bantuan Daulah Murabithin di Negeri Maghrib, yang terletak berseberangan dengan Laut Mediterania. Mereka memohon kepada pemimpinnya, yaitu Yusuf ibn Tasyfin (al-Mauritani), agar sudi mengirimkan
bantuan. Sekalipun umurnya sudah melebihi 70 tahun, akan tetapi ia segera menyambut seruan saudara seaqidahnya, dan bangkit untuk membantu Andalusia. Ia berlayar dari Pantai Sabtah (Ceuta) dan melabuhkan kapal-kapalnya di Pulau Khadra, yang kemudian dijadikannya sebagai benteng utamanya. Kemudian ia memasuki Sevilla, dan menetap di sana selama delapan hari, sambil menunggu kedatangan para pemimpin Andalusia dengan pasukan mereka, untuk secara bersama-sama menggempur pasukan Salibis. Setelah berkumpulnya kaum muslimin yang jumlahnya mencapai (48.000) mujahid, yang mana setengahnya adalah pasukan Andalusia dan sisanya adalah orang-orang Murabithun, mereka segera bergerak untuk menemui musuhnya.

Di saat yang sama, pasukan Salibis juga terus berdatangan dari segala penjuru. Maka kedua pasukan ini pun bertemu di dataran Zallaqah, Provinsi Badajoz (terletak di barat daya Spanyol, berbatasan dengan Portugal). Kedua kubu berhadaphadapan selama tiga hari, selama tiga hari itu Ibnu Tasyfin bernegosiasi dengan Alfonso memberikan tiga opsi, yaitu: masuk Islam, membayar jizyah, atau diperangi. Ternyata si
tinggi hati itu (Alfonso) memilih opsi ketiga. Pada suatu hari yang bersejarah dalam sejarah panjang Islam, barisan mujahidin yang merindukan kesyahidan berjibaku dengan barisan orang-orang Nashrani para penyembah dunia.

Pertempuran berkecamuk sengit selama seharian penuh, memakan korban (3000) kaum muslimin syahid, diantara mereka terdapat para 'ulama, fuqaha, dan hakim. Hampir-hampir salibis mendapat kemenangan, namun Ibnu Tasyfin yang mengamati jalannya peperangan dari anak bukit, bersama dengan pengawalnya yang berjumlah (4000) ksatria dari para prajurit Sudan pilihan, langsung menceburkan dirinya ke dalam kancah pertempuran. Mereka berhasil memecah barisan Salibis, membantai mereka habis-habisan, sampai bisa mendekati Alfonso, dan Ibnu Tasyfin berhasil menusuknya dengan pisau di pahanya. Ketika itulah jalannya pertempuran berbalik seratus delapan puluh derajat. Allah menganugerahi kaum muslimin pundak-pundak musuhnya. Kaum muslimin membantai, menawan, dan membakar musuhnya. Sedangkan Alfonso sendiri melarikan diri bersama dengan para pengiringnya, hampir-hampir mereka tidak selamat jika saja malam tidak memayungi medan pertempuran. Ketika fajar terbit, para mujahidin menunaikan shalat shubuh di dataran Zallaqah, setelah sebelumnya Ibnu Tasyfin memerintahkan untuk memenggal kepala bangkai-bangkai Salibis lalu menyusunnya membentuk piramida, kemudian memerintahkan untuk mengumandangkan adzan di atas tumpukan kepala tersebut.

Pertempuran Zallaqah telah berakhir dengan kemenangan kaum muslimin dan kehinaan Salibis, sebuah tragedi yang tidak akan bisa mereka lupakan selamanya. Mayoritas tentara Salib tewas pada pertempuran ini, tidak ada yang selamat kecuali hanya (500) orang yang melarikan diri dengan tubuh penuh luka, dan (400) orang dari mereka tewas di tengah perjalanan. Lebih dari (10.000) tentara Salib berhasil ditawan, dan kaum muslimin memperoleh ghanimah yang tak terhitung, diantaranya adalah (100.000 tenda), (70.000) senjata, dan (146.000) hewan tunggangan seperti kuda, bighal, dan keledai. IbnuTasyfin meninggalkan semuanya untuk raja-raja thawaif, dan ia kembali ke negeri Maghrib bersama tentaranya dengan membawa pahala yang besar, setelah berhasil membendung banjir bah Nashrani yang menyerbu Andalusia.

Setelahnya, masyarakat Andalusia kembali menikmati hidup di bawah naungan syariat selama empat abad berikutnya.

22 Pertempuran Mematahkan Pengepungan Syam  – Ramadhan 532 H

Sekalipun terdapat perselisihan internal, para salibis berkoalisi dengan orang-orang Byzantium untuk menyerang negeri Syam. Maka mereka segera berlayar ke selatan dengan pasukan berkekuatan (100.000) penunggang kuda dan (100.000) infantri. Mereka mampu menjajah beberapa daerah di bagian utara Syam dan melakukan perusakan, kemudian mengepung beberapa kota seperti Aleppo, Syaizar dan kota-kota lain.

Meskipun perlengkapan dan jumlah kaum muslimin sedikit, lemahnya Khilafah 'Abbasiyah ketika itu, dan munculnya beberapa negara-negara kecil – seperti Daulah Saljuq (Seljuk) yang loyal terhadap orang-orang 'Abbasiyah dan menguasai banyak wilayah di Irak dan Syam –para mujahidin dibawah kepemimpinan seorang komandan yang cemerlang, yaitu 'Imaddudin Zanki, mampu mematahkan pengepungan atas Syam, dan mengusir musuh yang menyerang.

Zanki, ia berasal dari kabilah Turkmen, ketika itu menjabat sebagai gubernur Mosul, mampu mengatur jalannya perang sampai mendapatkan kemenangan atas koalisi Byzantium–Salibis, dan berhasil merebut kembali kota-kota di Syam, serta memaksa mereka mundur jauh ke utara Syam. Ia terus memburu mereka dan berhasil membunuh banyak dari mereka. Kesuksesannya itu karena ia berhasil mengobarkan permusuhan dan menanamkan rasa takut diantara mereka (atau lebih dikenal dalam istilah modern sebagai perang urat syaraf). Juga keberhasilannya mengeksploitasi metode pertempuran baru, ia tidak menghadapi mereka secara langsung, namun ia mengirim detasemen-detasemen kecil untuk menyergap pasukan musuh dan membunuh siapapun yang bisa dibunuh, dan detasemen untuk memutus jalur logistic. Terakhir, Zanki berhasil menyatukan kaum muslimin yang terpecah-belah dalam beberapa imarah yang saling bertikai.

23 Pertempuran Manshurah – Ramadhan 647 H

Dengan restu dari dewan gereja Katholik, orang-orang Eropa bergerak dalam sebuah pasukan Salib yang dipimpin oleh Raja Perancis (Louis IX) dalam rangka menjajah Mesir dan Baitul Maqdis. Mereka berkumpul di Pulau Cyprus, jumlah mereka mencapai lebih dari (80.000) tentara. Dalam perjalanan, banyak dari tentara kerajaan-kerajaaan Salib pesisir yang bergabung. Mereka berlayar dengan (1800) kapal perang. Ketika sampai di kota Dumyat (Damietta), mereka mendudukinya setelah mendapatinya kosong karena ditinggalkan penduduknya. Mereka menetap di kota tersebut selama lebih dari 5 bulan, mereka merubah masjid-masjidnya menjadi gereja dan membentenginya dengan amat kokoh.

Mesir ketika itu dikuasai oleh keluarga Ayub, dan rajanya adalah Najmuddin Ayub (seorang Kurdi asli). Raja yang shalih initelah berhasil menyatukan Mesir dan Syam dibawah kekuasaannya. Sebelumnya ia berhasil merebut kembali Baitul Maqdis dari tangan para Salibis setelah beberapa pertempuran sengit yang memakan korban lebih dari (30.000) tentara salib. Dan setelah 30 tahun berlalu para Salibis kembali memobilisasi kekuatannya dan mengumpulkan seluruh persenjataannya dalam rangka membalas dendam.

Ketika para Salibis menjajah kota Dumyat, Raja yang shalih ini sedang berada di Damaskus, karena menderita sakit keras, namun beliau tetap berangkat meninggalkan pembaringannya, dan bergegas menuju Mesir dengan ditandu, lalu mengumumkan mobilisasi umum. Maka berkumpulah bersamanya sebanyak (25.000) mujahidin. Namun, bersamaan dengan mulainya pergerakan Salibis untuk menjajah Mesir, raja yang shalih ini wafat. Kabar wafatnya beliau disembunyikan agar tidak merusak moral para tentara.

Setelah  wafatnya, pada waktu itu muncul seorang komandan cerdas yang bernama Ruknuddin Baibars al-Bunduqdari (seseorang berkebangsaan Turki Kipchak, negara Kazakhstan sekarang). Ia mengajukan strateginya untuk membendung laju Salibis, yang intinya adalah memancing Salibis untuk memasuki kota Manshurah (terletak di Provinsi Daqhaliyah sekarang), lalu diblokade dan diserbu secara tiba-tiba dan sekaligus. Baibars lalu menutup seluruh jalan-jalan keluar dari Manshurah, dan membuka pintu gerbangnya untuk memancing tentara Salibis. Dia memerintahkan para mujahidin untuk berdiam dan bersiap-siap di seluruh lorong-lorong kota. Pasukan Salibis memakan umpan ini.

Pasukan garis depannya (Knight Templar) memasuki kota dan menyangkanya kosong sebagaimana halnya Dumyat, lalu diikuti oleh seluruh pasukan. Setelah itu, kaum muslimin bergegas menutup jalan kembali dengan perisai. Ketika itulah para mujahidin keluar secara serempak dan menyerbu habis-habisan pasukan Salibis. Prajurit yang tidak terbunuh di tangan mujahidin menenggelamkan dirinya di sungai Nil.

Dan diwaktu fajar pada hari berikutnya, para mujahidin segera bergerak ke Dumyat untuk menghabisi sisa-sisa pasukan Salib. Mereka berhasil menghabisi pasukan Salib di kota Fariskur, sebuah kota di dekat Dumyat. Para mujahidin berhasil membunuh (30.000) Salibis dan menawan (10.000) lainnya, diantara yang tertawan adalah Raja Louis IX itu sendiri. Para Salibis terpaksa menebusnya bersama dengan tawanan lain dengan imbalan (500.000) dinar dan seluruh kaum muslimin yang ditawan harus dibebaskan, serta menanggung penuh pembanguan kembali kota Dumyat dan Manshurah, juga bersumpah untuk tidak kembali menyerbu negeri-negeri kaum muslimin.

Setelah mereka menduduki Baghdad dan membunuh Khalifah 'Abbasiy al-Mu'tashim Billah, dibawah kepemimpinan (Hulagu Khan), Mongol bergerak menuju Syam. Mereka menduduki Damaskus, Aleppo, dan Hama. Kemudian Hulagu kembali ke ibukotanya di (Tabriz), memberikan mandat kepada komandannya (Kitbuqa Noyan) untuk melanjutkan ekspansi. Maka bergeraklah pasukan Mongol untuk menjajah Mesir, yang ketika itu dikuasai oleh Daulah Mamluk, dan pemimpinnya adalah Komandan Muzhaffar Saifuddin Quthz al-Khawarizmi (terletak di sebelah barat Uzbekistan sekarang).

Ia mulai mempersiapkan pasukan Islam, memperbaiki jembatan, benteng, dan kastil, kemudian ia bergerak untuk menggempur Tartar dengan pasukan berkekuatan (20.000) mujahid. Ia membagi pasukan menjadi dua detasemen, yang pertama berjumlah sedikit dengan penunggang kuda pilihan, dan yang kedua adalah pasukan induk yang dipimpinnya sendiri. Kemudian ia memasuki Palestina dan sampai di Gaza yang telah diduduki Mongol, maka dia pun menaklukkannya.

Ia terus melanjutkan perjalanan hingga sampai di daerah yang bernama ('Ain Jalut), sebuah dataran yang terletak di antara kota Bisan dan Nablus di Palestina, dan wilayah ini saat ini dibawah kekuasaan Yahudi semoga Allah melaknat mereka. Di 'Ain Jalut ini pasukan kaum muslimin bertemu dengan pasukan Tartar yang berjumlah (20.000) prajurit.

Pada suatu hari Jum'at di bulan Ramadhan, pertempuran dimulai. Strategi Quthz adalah menempatkan kubu pertama dari pasukannya berada di garda terdepan, sedang pasukan inti yang dipimpinnya bersembunyi di balik bukit. Strategi ini berhasil mengecoh Kitbuqa, dia menyangka bahwa pasukan yang dihadapinya ini adalah seluruh pasukan kaum muslimin, maka ia menyerang dengan kekuatan penuh. Pasukan kaum muslimin pura-pura kalah dan mundur untuk memancing Mongol, terpancinglah tentara Mongol dan terjebak dalam perangkap. Maka ketika mereka berada ditengah-tengah dataran 'Ain Jalut, keluarlah pasukan yang dipimpin Quthz dan mengepung pasukan Mongol dari seluruh penjuru.

Mengetahui hal ini, Mongol terus bertempur membabi buta. Ketika Quthz melihat hal ini, ia melempar topi bajanya, turun dari kudanya, dan bergerak memecah barisan Mongol seraya berteriak “wa Islamaah”. Dengan ini, pasukan Islam mulai menguasai keadaan. Komandan Mongol, Kitbuqa sendiri terbunuh. Tentara Mongol terus berperang membabi buta untuk membuka jalan, sehingga sejumlah besar pasukan berhasil selamat dan bergerak menuju utara. Kaum muslimin segera bergerak mengejar mereka. Pengejaran terus berlanjut sampai di kota Bisan. Di sana pertempuran besar kembali terjadi.

Dalam pertempuran ini, pasukan Mongol ditumpas habis, tidak ada seorangpun tentara Mongol yang selamat. Sekalipun pasukan kaum muslimin ditimpa musibah dengan banyaknya jumlah syuhada, Quthz tetap memutuskan bergerak bersama pasukannya yang penuh luka untuk membebaskan Damaskus. Akan tetapi ketika penduduk Damaskus mendengar kabar kemenangan kaum muslimin atas Tartar di 'Ain Jalut, mereka menyerang Tartar, berhasil membunuh beberapa dari mereka, menawan sebagian lain dan sedangkan sisa-sisa Tartar kabur dari Damaskus. Quthz memasuki Damaskus pada hari terakhir di Bulan Ramadhan dengan sambutan meriah penduduknya. Kemudian ia mengirim pasukan untuk membebaskan kota-kota lainnya. Allah mengaruniakannya keberhasilan membebaskan seluruh negeri Syam dari cengkeraman Tartar, dan membebaskan banyak kaum muslimin yang tertawan di penjara-penjara Mongol.

Bersambung In Sya Allah...

Maktabah Al-Himmah

SARIYAH, GHAZWAH DAN FUTUHAT DI BULAN RAMADHAN (BAGIAN 2)

SARIYAH, GHAZWAH DAN FUTUHAT DI BULAN RAMADHAN (BAGIAN 2)

Dengan berkah dari Allah, kita akan meneruskan pembahasan mengenai pertempuran-pertempuran yang terjadi di bulan Ramadhan; setelah pada edisi pertama kita sampai pada pembahasan ghazwah yang ketiga belas.

14 Perang Qadisiyah – Ramadhan 15 H

Mutsanna ibn Haritsah selaku gubernur Irak mengutus pembawa pesan kepada Khalifah Umar Radhiyallahu 'anhu, memberitahunya bahwa Raja Persia yaitu Yazdajir (Yazdegerd III) sedang memobilisasi pasukannya untuk menyerbu Irak, maka Umar mengumumkan mobilisasi umum dan mengutus sepasukan tentara –disebutkan jumlahnya mencapai empat sampai enam ribu orang, dan bantuan terus mengalir sampai mencapai (30,000) mujahid, diantara mereka ada (70) sahabat yang ikut serta pada perang Badar dan (300) lainnya adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam– Umar mengangkat Sa'ad ibn Abi Waqqash sebagai komandan pasukan. Persia keluar dengan pasukan yang berkekuatan (120.000) tentara, atau lebih, mereka mengendarai gajah-gajah perang dan dikomandoi (Rustum). Dua pasukan ini pun bertemu suatu tempat yang bernama (Qadisiyah), yang terletak di selatan 'Irak. Terjadi pertempuran sengit yang berlangsung selama tiga hari, yang berujung pada kemenangan kaum muslimin. Kaum muslimin terus mengejar sisa-sisa pasukan Persia dan berhasil membunuh ribuan prajurit, diantaranya Rustum sendiri. Dan pertempuran ini adalah awal mula dari runtuhnya Imperium Persia.

15 Penaklukkan Pulau Rhodes – Ramadhan 53 H

Pulau Rhodes – terletak di timur Laut Mediterania yang menghadap ke arah Iskandariyah, Mesir, dan pulau ini pada saat itu berada dibawah kekuasaan Romawi, kemudian armada angkatan laut kaum muslimin berhasil menaklukkannya dibawah kepemimpinan sahabat Junadah ibn Abi Umayah di zaman Mu'awiyah Radhiyallahu 'anhuma. Posisi pulau ini amat strategis, setelah kaum muslimin berhasil menguasainya, maka kaum muslimin menggunakan pulau ini sebagai pos untuk menghadang dan menyergap kapal-kapal Romawi. Hal itu dikemudian hari berpengaruh besar dalam melemahkan armada laut Romawi.

16 Penaklukkan Andalusia – Ramadhan 96 H

Setelah Musa ibn Nushair berhasil melabuhkan (beliau adalah gubernur Ifriqiyah di zaman Khalifah Umawiy al-Walid ibn Abdil Malik) pondasi-pondasi islam di al-Maghrib al-Kabir (daerah-daerah di barat Mesir sampai di pesisir Samudera Atlantik) dan mengokohkan tauhid serta jihad dalam jiwa penduduk Maghrib dan Ifriqiyah (suku Berber atau Amazigh), maka langkah berikutnya yang tertinggal adalah penaklukkan Andalusia (Semenanjung iberia, yaitu negara Spanyol dan Portugal saat ini), yang mana semenanjung ini dikuasai oleh kerajaan Goth (Visigoth). Maka Musa ibn Nushair mengutus bekas budaknya, yaitu komandan Thariq ibn Ziyad bersama 12.000 mujahid, yang mayoritasnya adalah suku Berber, pasukan ini berlayar ke utara dan berlabuh di gunung Calpe (Mons Calpe, dalam Bahasa Romawi) dan gunung ini adalah yang dikemudian hari dinamakan dengan nama sang komandan, sehingga jadilah gunung ini dikenal dengan nama Jabal Thariq (Gibraltar).

Namun Raja Andalusia (Rodrigo atau Roderic) telah bersiap menyambut kaum muslimin dengan pasukan berkekuatan 100.000 prajurit, maka bertemulah kedua pasukan ini di lembah Lakkah atau dataran Barbath (yang sekarang dikenal dengan nama Guadalete). Terjadi pertempuran yang amat sengit selama delapan hari, memakan korban 3000 prajurit muslim sebagai syahid dan puluhan ribu tentara Goth, termasuk raja mereka (Roderic). Lalu Allah pun menaklukkan negeri Andalusia untuk kaum muslimin dan mereka mendirikan sebuah negara Islam yang eksis selama lebih dari tujuh abad.

17 Penaklukkan Negeri Sind – Ramadhan 96 H

Di zaman Khalifah Umawiy al-Walid ibn 'Abdil Malik, dengan perintah dan arahan dari al-Hajaj ibn Yusuf sebagai gubernur Irak pada zaman Daulah Umawiyah, berangkatlah Komandan Muhammad ibn al-Qasim ats-Tsaqafi –ketika itu ia berumur 17 tahun– membawa pasukan sejumlah 20.000 prajurit, dalam rangka menaklukkan negeri Sind (Pakistan dan sekitarnya) yang ketika itu berada dibawah kekuasaan orang-orang Budha dan Hindu. Setelah kaum muslimin berhasil menaklukkan beberapa wilayah, tentara islam pun mengepung kota Debal (dekat dengan kota Karachi pada saat ini). Mereka berhasil menaklukkannya setelah pertempuran sengit selama tiga hari, yang setelahnya penduduk Sind meminta damai tanpa syarat, dan Muhammad al-Qosim menerima dengan baik perdamaian itu.

Lalu kaum muslimin menaklukkan kota Bayrun (yaitu kota Haidarabad). Setelahnya satu demi satu, kota demi kota dan benteng demi benteng terus berjatuhan, sampai akhirnya gerak pasukan Islam terhalangi sungai Mihran (sungai Indus). Segera setelah mereka berhasil menyeberangi sungai tersebut, pasukan Raja Sind (Raja Dahir) telah menyambut mereka, maka terjadilah pertempuran sengit yang hasil akhirnya adalah terbunuhnya Dahir dan seluruh negeri Sind menyerah. Maka Muhammad al-Qasim langsung memerintahkan untuk menghancurkan berhala-berhala dan peninggalan-peninggalan ajaran budha, serta membangun masjid-masjid.

18 Pertempuran Balath Syuhada – Ramadhan 114 H

Kaum muslimin terus merayap untuk melanjutkan ekspansinya ke seluruh daratan Eropa. Kota demi kota berhasil ditaklukkan. Sampai pada zaman Khalifah Hisyam ibn 'Abdil Malik kaum muslimin berhasil mencapai ujung barat Perancis, dan kota terakhir yang berhasil ditaklukkan adalah kota (Tours), yang berjarak (295 km) dari Paris. Di kota ini, pasukan Islam yang dipimpin gubernur Andalusia Abdurrahman al-Ghafiqi bermarkas.

Disisi yang lain, orang-orang Frank (yaitu orang-orang Prancis) sedang menghimpun seluruh kekuatan dan sekutu-sekutu mereka dari orang-orang Germania, Saxxon dan kumpulan-kumpulan tentara bayaran, dibawah kepemimpinan (Charles Martel), untuk menghentikan ekspansi Islam. Maka di suatu tempat yang bernama (Balath), dinamakan berdasarkan sebuah istana yang tak berpenghuni di situ, kedua belah pihak bertempur sengit dan berlangsung sampai berhari-hari. Ribuan tentara Frank terbunuh, demikian juga ribuan prajurit kaum muslimin gugur sebagai syahid, termasuk komandan mereka al-Ghafiqi.

Setelah komandan mereka terbunuh, kaum muslimin mundur dari pertempuran pada malam hari, orang-orang Nashrani tidak mengejar mereka karena dihinggapi rasa takut dan ngeri. Para ahli sejarah menamakan pertempuran ini dengan nama Balath Syuhada, untuk mengenang kejadian tersebut.

19 Penaklukkan Sisilia – Ramadhan 212 H

Di zaman Khalifah 'Abbasiyah al-Ma'mun ibn Harun ar-Rasyid, Gubernur Ifriqiyah yaitu Ziyadatullah ibn al-Aghlab at-Tamimi menyiapkan angkatan laut yang berkekuatan (10.000) prajurit atau lebih, dan mengirimnya untuk menaklukkan Pulau Shiqiliyah (Sisilia), pulau terbesar di Laut Mediterania, provinsi terbesar Italia, dan pulau terbesar dalam rangkaian kepulauan yang menghubungkan Benua Afrika dan Eropa serta Laut Mediterania Barat dan Timur. Tentara Islam lalu mengarungi Laut Mediterania di bawah kepemimpinan seorang faqih madzhab Maliki hakim Qairawan, yaitu Komandan Asad ibn Furat, ketika itu ia berumur 70 tahun. Setelah berlayar selama lima hari, armada Islam berlabuh di pantai-pantai Sisilia, tepatnya di daerah yang bernama (Mazara). Romawi menyambut mereka dengan pasukan yang berkekuatan (150.000) prajurit.

Terjadilah pertempuran sengit, dan dimenangkan oleh pasukan kaum muslimin. Kemudian Ibn Furat terus bergerak maju dan mengepung kota (Sarqusah) (Syracuse), ditengah-tengah pengepungan Ibn Furat terkena luka-luka yang menyebabkan kematiannya, dan beliau pun dimakamkan disana. Ketika para prajurit melihat Komandan mereka syahid, mereka justru bertempur mati-matian dan mampu memukul mundur pasukan Romawi dan memaksa mereka kabur. Selang beberapa lama, seluruh pulau Sisilia berhasil ditaklukkan, syariat ditegakkan, dan pulau Sisilia tetap berada di pangkuan kaum muslimin selama lebih dari empat abad.

20 Penaklukkan ‘Ammuriyah – Ramadhan 223 H

Ditengah-tengah kesibukan Khalifah 'Abbasiyah al-Mu'tashim Billah memadamkan pemberontakan (Babak al-Khorrami) di negeri Persia, dimana Babak memimpin pemberontakan orang-orang Gerakan Bathiniyah kotor melawan pemerintahan Bani Abbas; Kaisar Romawi (Bizantium Theophilos Michael) memanfaatkan kesempatan dengan menyerang Zibathrah dan Malathyah (Sozopetra dan Arsamosata), dua kota Islam, terletak di Turki pada saat ini. Ia menghancurkannya, membantai penduduknya, memutilasi mayat-mayatnya dan menawan wanita-wanita kaum muslimin, diantara yang ditawan itu ada seorang wanita dari Bani Hasyim, seorang Romawi menamparnya dan wanita ini pun meminta tolong kepada Khalifah dengan sebuah perkataan yang terkenal: “Wa mu'tashimah (Wahai Mu'tashim!)”

Ketika kabar tentang wanita tersebut sampai di telinga al-Mu'tashim, ia segera berteriak di istananya: “Aku penuhi panggilanmu, aku penuhi panggilanmu! Perang, perang!”

Beliau bergegas bangkit dan langsung memerintahkan untuk menyiapkan pasukan. Maka keluarlah dari Baghdad sepasukan tentara yang berkekuatan lebih dari 100.000 prajurit. Kemudian dia bertanya kepada para komandannya: “Negeri Romawi apa yang paling kuat dan kokoh?”

Maka dikatakan kepadanya: “Yaitu 'Ammuriyah (Amorium), tidak ada salah seorang pun dari kaum muslimin yang bisa mencapainya”, dan 'Ammuriyah merupakan kota penting orang-orang Nashrani, serta tempat lahirnya Dinasti Ammuriyah yang merupakan nenek moyang Kaisar Theophilos itu sendiri. Maka bergeraklah al-Mu'tashim dan pasukannya menuju 'Ammuriyah (yang terletak negara Turki saat ini, di barat daya Ankara). Ketika sampai di suatu tempat yang bernama (Saruj), al-Mu'tashim membagi tentaranya menjadi dua detasemen, detasemen pertama menuju Ankara dipimpin seorang komandan Turki bernama (Haidar ibn Kawus) yang dijuluki al-Afsyin, sedang al-Mu'tashim memimpin pasukan induk.

Dalam perjalanannya, pasukan al-Afsyin bertemu dengan pasukan Kaisar Theophilos di wilayah (Dazimon), terjadilah pertempuran sengit yang mengakibatkan kekalahan pasukan Romawi, sehingga membuat Theophilos kabur ke Konstantinopel (sekarang dinamakan Istanbul). Kedua detasemen pasukan Islam bergabung di Ankara, dan berhasil menaklukkannya tanpa mendapat perlawanan berarti. Lalu kedua detasemen itu bergerak bersama-sama menuju 'Ammuriyah. Sesampainya di kota itu, mereka mengepungnya dengan amat ketat, karena kota ini adalah sebuah kota yang dibentengi dengan kuat dan kokoh serta mempunyai menara-menara yang tinggi.

Ditengah-tengah pengepungan, Kaisar Romawi Theophilos mengutus utusan kepada al-Mu'tashim, meminta damai, dan meminta maaf atas perbuatannyakepada kaum muslimin. Ia berjanji untuk melepaskan seluruh tawanan wanita, serta membangun kembali kota-kota yang dihancurkannya, akan tetapi Khalifah menolak tawaran itu, dan terus melakukan pengepungan sampai jatuhnya Ammuriyah; untuk memberi pelajaran kepada Romawi dan mengembalikan kemuliaan wanita-wanita yang suci.

Setelah (11) hari pengepungan dan melontari kota dengan manjaniq, 'Ammuriyah berhasil ditaklukkan. Pasukan Islam memasuki kota dengan bertakbir. Mereka membunuh banyak orang-orang Romawi dan mendapatkan ghanimah; berupa harta yang tak terhitung dan tawanan berupa wanita dalam jumlah banyak. Mereka membakar manjaniq (katapel raksasa untuk melontarkan batu) dan dabbabah (battering ram, untuk menjebol dinding atau pintu benteng), serta membebaskan wanita Bani Hasyim tersebut dan membunuh orang Romawi yang menamparnya.

Setelah 'Ammuriyah jatuh, Theophilos mengirim utusan yang kedua kalinya kepada al-Mu'tashim dengan membawa hadiah yang banyak dan surat permohonan maaf serta berjanji untuk melaksanakan seluruh syarat al-Mu'tashim, dengan syarat al-Mu'tashim mengembalikan 'Ammuriyah, namun al-Mu'tashim kembali menolak untuk kedua kalinya, bahkan ia bertekad untuk terus bergerak untuk menaklukkan ibu kota Romawi, yaitu Konstantinopel. Namun ia urung bergerak dan malah kembali, karena sebab fitnah internal.

Al-Mu'tashim kembali ke Baghdad setelah membunuh (30.000) Romawi dan menawan (30.000) lainnya, serta menaklukkan banyak kota, sembari membawa pulang ghanimah yang melimpah. Seorang penyair yaitu Abu Tamam ath-Thaiy menggambarkan penaklukkan 'Ammuriyah ini dalam suatu kasidah yang bagus sekali, yang pembukaannya berbunyi:

Pedang adalah pembawa berita yang lebih jujur daripada buku
Dengan ketajamannya memisahkan antara senda gurau dan sungguh-sungguh

Bersambung In Sya Allah...

Inilah Ramadhan! Dan beginilah dahulu para salafus shalih! Jihad, penyerbuan, dan semangat, dan dukungan serta kemenangan dari Allah! Jauh, dan betapa jauhnya perbedaan antara mereka dengan yang menghabiskan hari-hari Ramadhan dengan tidur dan mempersiapkan beraneka ragam makanan dan minuman! Dan menghabiskan malam-malamnya dengan bergadang, senda gurau dan bermain-main.

Wahai Junud Daulah Islamiyah! Wahai yang menyiapkan Khilafah 'ala minhajin nubuwwah! Inilah bulan Ramadhan yang mulia mendatangi kalian, maka tunjukkan kepada Allah apa yang dicintai dan diridhai-Nya, lanjutkan jihad kalian, lipat gandakan kesungguhan kalian, sucikan najis orang-orang shafawi dan bungkam orang-orang sekuler, patahkanlah aliansi salibis, dan jangan kalian lupakan para singa dan wanita-wanita merdeka yang terpenjara, karena keluarga mereka telah menunggu untuk merayakan hari raya…

Maktabah Al-Himmah

SARIYAH, GHAZWAH DAN FUTUHAT DI BULAN RAMADHAN (BAGIAN 1)

SARIYAH, GHAZWAH DAN FUTUHAT DI BULAN RAMADHAN (BAGIAN 1)

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam tercurah kepada bag¬inda Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya dan semua yang mengikutinya, amma ba’du:

Sesungguhnya bulan Ramadhan mempunyai keistimewaan dibanding bulan-bulan lainnya; yaitu bulan berpuasa, menegak¬kan sholat, membaca Al-Qur’an, sedekah dan seluruh ibadah lain¬nya. Dalam bulan ini kesungguhan kaum muslimin dalam berib¬adah lebih dari bulan-bulan lainnya.

Adapun berperang di jalan Allah pada bulan ini, maka para mujahidin memberikan sambutan yang teramat hangat dan perhatian yang lebih besar. Karena da¬lam bulan Ramadhan, Allah menaklukkan banyak tempat untuk muslimin dan menurunkan kepada mereka rahmat-Nya. Ia adalah bulan yang diberkati, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup, serta setan-setan terbelenggu. Bulan yang mulia, dimana kebaikan dilipatgandakan dan syahwat-syahwat terkekang.

Suatu bulan, dimana orang yang berpuasa dan menghidupkan malam-malamnya dengan sungguh-sungguh, akan diampuni dosanya yang telah lalu, lalu bagaimana halnya dengan yang dia berpuasa, mendirikan malamnya, dan berjihad didalamnya dengan jiwa, harta dan lisannya!

Oleh sebab itu, sepanjang sejarah, hari-hari di bulan Ramadhan adalah hari-hari jihad dan pertempuran. Dalam bulan ini banyak terjadi pengiriman sariyah (detasemen tempur), penyerbuan, dan penaklukan-penaklukan Islam yang merubah wajah sejarah. Kami akan menyebutkan beberapa saja, karena tidaklah cukup jika peristiwa-peristiwa bersejarah tersebut dirinci satu demi satu:

Ghazwah adalah pertempuran yang dihadiri atau dip¬impin sendiri oleh Rasul Shallallahu ’alaihi wasallam. Adapun Sariyah adalah detasemen tempur yang dikirim oleh Rasul Shallallahu ’alaihi wasallam, namun Beliau tidak menghadiri atau memi¬mpin pasukan ini. Jumlah sariyah yang diutus oleh Nabi Shallal¬lahu ’alaihi wasallam adalah 73 sariyah, 11 diantaranya dikirim di bulan Ramadhan.

Sariyah-sariyah yang diutus oleh Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam ketika Ramadhan

1. Sariyah Sahil Al-Bahr (pesisir laut) – Ramadhan, tahun pertama Hijrah

Bendera perang yang pertama kali diangkat dalam sejarah Islam, dan langkah pertama dalam perjalanan panjang jihad. Rasulullah memberikannya pada Hamzah dan mengutusnya memimpin 30 laki-laki muhajirin. Mereka berangkat untuk menghadang kafilah dagang Quraisy yang datang dari Syam. Ketika mereka sampai di Siif Al-Bahr (suatu daerah di pesisir Laut Merah), kedua belah pihak bertemu dan berbaris untuk bertempur. Akan tetapi kedua kelompok ini dihalang-halangi oleh Majdi ibn ‘Amr Al-Juhani, dan ia adalah sekutu dari kedua belah pihak, sehingga pertempu¬ran tidak terjadi.

2. Sariyah ‘Umair Ibn ‘Adi Al-Khathami – Ramadhan, tahun kedua Hijrah

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam mengutus sariyah ini untuk membunuh ‘Ashmaa Binti Marwan yang telah mengejek Islam dan menghasut orang-orang untuk membunuh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Pada tengah malam, Umair bin ‘Adi men¬datanginya di rumahnya, kemudian menghunus pedangnya dan berhasil menusuk dadanya sampai tembus punggungnya.

3. Sariyah Zaid Ibn Haritsah – Ramadhan, tahun keenam Hijrah

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengirimnya ke Bani Fazarah, yang bertempat di salah satu sisi Wadil Qura, lantaran ada beberapa orang Bani Fazarah yang menghadang dagangan kaum muslimin dan merampoknya. Zaid ibn Haritsah kemudian berangkat mengepalai beberapa orang sahabat, mereka berhasil menyergap orang-orang itu secara tiba-tiba, mengepung mereka, dan berhasil menawan Ummu Qirfah Fathimah Binti Rabi’ah Al-Fazariyah, dia seorang wanita yang sudah tua, ditaati dan dimuliakan oleh kaumnya, sebelumnya dia telah menyiapkan 40 penunggang kuda dari anak-anak dan cucu-cucunya untuk mem¬bunuh Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam. Maka Zaid Ibn Haritsah membunuh mereka semua juga membunuh Ummu Qirfah.

4. Sariyah ‘Abdullah Ibn ‘Atiq – Ramadhan, tahun keenam Hijrah

Adalah suku Aus dan Khazraj selalu berlomba dalam membela Ra¬sulullah Shallallahu ’alaihi wasallam. Tatkala suku Aus membunuh Ka’ab Ibn Asyraf, yang telah menyakiti Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam, suku Khazraj mencari-cari siapa yang permusuhannya atas Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam menyerupai Ibn Asyraf. Merekapun menemukan Abu Rafi’ Salam Ibn Abi Al-Haqiq An-Nadhari. Dialah yang mengumpulkan pasukan Ahzab pada perang Khandaq, mendanai kabilah Ghathafan untuk ikut serta dalam koalisi itu, dan selalu mencaci Rasulullah dalam setiap kes¬empatan. Maka para sahabat dari kalangan Khazraj meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam untuh membunuh Abu Rafi’. Rasulullah memberi izin kepada mereka, lalu mengu¬tus 5 orang dari mereka dan menunjuk Abdullah ibn ‘Atiq untuk memimpin mereka. Sariyah itupun kemudian menyerbu kedia¬man Abu Rafi’, menghabisinya, dan kemudian kembali ke Madi¬nah dengan selamat.

5. Sariyah Ghalib Al-Laitsi – Ramadhan, tahun keenam Hijrah

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam mengutusnya kepada Bani ‘Awal dan Bani ‘Abd ibn Tsa’labah yang keduanya itu adalah kabi¬lah Arab Badui di Nejd. Sebelumnya, orang-orang dari kedua kabi¬lah itu menyerbu pinggiran Madinah ketika kaum muslimin sibuk bertempur melawan kafir Quraisy dan Yahudi. Maka kaum mus¬limin bergerak dengan berkekuatan 130 prajurit yang dikomandoi oleh Ghalib ibn ‘Abdullah Al-Laitsi. Mereka menyerbu pada waktu fajar, dan membunuh siapapun yang melawan, sedangkan sisanya melarikan diri. Mereka berhasil mendapatkan ghanimah berupa unta dan kambing dalam jumlah banyak, lalu menggiringnya ke Madinah.

6. Sariyah Abu Qatadah As-Sulami – Ramadhan, tahun kedelapan Hijrah

Ketika Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam berencana untuk menginvasi Makkah, diutuslah Abu Qatadah Al-Harits Ibn Rib’i dalam satu sariyah berkekuatan 8 orang menuju Batn Idhom (suatu lembah di utara Makkah) untuk menipu Quraisy dan mengkamuflasekan tujuan kaum muslimin yang sebenarnya. Se¬hingga mereka mengira kaum muslimin sedang bergerak menuju arah tersebut. Sariyah ini berhasil sampai ke tujuannya tanpa me¬nemui hambatan. Kemudian mereka pergi dan bergabung dengan pasukan induk kaum muslimin.

7. Sariyah Khalid ibn Walid – Ramadhan, tahun kedelapan Hijrah

Setelah Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam menghancurkan seluruh berhala yang berada di dalam Ka’bah ketika penaklukan kota Makkah, Rasulullah mengutus beberapa sariyah untuk menghancurkan berhala-berhala di daerah-daerah tetangga. Maka diutuslah Kholid dengan 30 pasukan berkuda menuju berhala Al ‘Uzza di Nakhlah (lembah diantara Makkah dan Thaif) dan dihan¬curkanlah berhala itu.

8. Sariyah ‘Amru Ibn Al-‘Ash – Ramadhan, tahun kedelapan Hijrah

Pada waktu yang sama, Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam mengirim Amru ibn Al-‘Ash memimpin sariyah menuju berhala Suwaa’ di Ruhath (jauhnya sekitar 3 mil dari Makkah), mereka lalu meng¬hancurkan berhala itu beserta rumah penyimpanannya.

9. Sariyah Sa’ad Ibn Zaid Al-Asyahili – Ramadhan, tahun kedelapan Hijrah

Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam juga mengutus Sa’ad Ibn Zaid den¬gan 20 pasukan berkuda menuju berhala Manat di wilayah yang dikenal dengan nama Musyallal (di pesisir Laut Merah). Tatkala mereka sampai di tempat itu, dari dalam bangunan berhala itu muncul seorang perempuan berkulit hitam yang telanjang, dengan rambut acak-acakan, sembari berteriak-teriak akan kecelakaan dan kebinasaan, sambil memukul-mukul dadanya, maka Sa’ad mem¬bunuhnya dan menghancurkan berhalanya.

10. Sariyah ‘Ali Ibn Abi Tholib – Ramadhan, tahun kesepuluh Hijrah

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam mengutus ‘Ali menuju Yaman, menetapkan untuknya sebuah panji khusus dan menyerahkannya dengan tangan beliau sendiri. Maka berangkatlah ‘Ali dengan 300 pasukan berkuda. Ketika tiba, ia mengutus prajuritnya, dan mere¬ka kembali dengan membawa rampasan berupa wanita, anak-anak, binatang ternak dan ghanimah lainnya. Kemudian kaum muslim¬in bertemu dengan pasukan mereka. Diserulah mereka kepada Is¬lam, namun mereka menolak, malah memanahi serta melempari kaum muslimin dengan batu. Maka Ali membariskan pasukannya, kemudian menyerbu mereka, dan berhasil membunuh 20 orang. Maka mereka mundur tercerai berai. Ali lalu menghentikan penge¬jaran, kemudian menyeru mereka kepada Islam dan mereka men-yambutnya.

11. Sariyah Jarir Ibn ‘Abdullah Al-Bajali – Ramadhan, tahun kesepuluh Hijrah

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam mengutus Jarir Ibn ‘Abdullah bersama 150 pasukan berkuda menuju berhala Dzil Khalashah, se¬buah rumah sesembahan di wilayah Tabaalah (antara Makkah dan Yaman). Rumah ini dinamakan Ka’bah Yamaniyah, karena orang-orang jahiliyah berhaji menuju rumah itu. Tatkala mereka sampai di rumah itu, mereka membakarnya, lalu kemudian menghancur¬kannya.

Ghazwah yang dipimpin oleh Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam ketika Ramadhan

Ghazwah yang dipersiapkan dan dipimpin sendiri oleh Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam berjumlah 28 ghazwah, dua ghazwah yang paling penting terjadi di bulan Ramadhan, yaitu: Ghazwah Badar Al-Kubra dan Fathu Makkah.

12. Perang Badar – Ramadhan, tahun kedua Hijrah

Adalah Perang Badr Al-Kubra, perang yang digambarkan oleh Al¬lah Ta’ala dalam firmannya: “Di hari Furqan, yaitu di hari berte¬munya dua pasukan.” [Al Anfal : 41], dan Allah Yang Maha Suci menggambarkan pertolongan-Nya kepada kaum muslimin setelah kondisi lemah mereka dengan firman-Nya: “Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepa¬da Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.” [Ali Imran : 123]

Ketika itu kaum muslimin keluar bersama Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam untuk menghadang kafilah Quraisy yang dip¬impin Abu Sufyan, akan tetapi Abu Sufyan mengubah rute kaf¬ilahnya melalui pesisir, dan ia memprovokasi penduduk Makkah untuk menolongnya. Maka keluarlah mereka untuk menghadang kaum muslimin, di bawah pimpinan Abu Jahal. Kedua belah pihak bertemu di Badr (sebuah sumur diantara Makkah dan Madinah). Allah memenangkan orang-orang mukmin, yang ketika itu hanya berjumlah 317 prajurit menghadapi kaum musyrikin yang jum¬lahnya melebihi seribu prajurit. Dalam pertempuran ini 14 orang sahabat gugur syahid, 6 orang dari kalangan Anshar dan 8 dari ka-langan muhajirin, sedangkan korban dari kaum musyrikin seban¬yak 70 orang dan 70 lainnya tertawan.

13. Ghazwah Fathu Makkah – Ramadhan, tahun kedelapan Hijrah

Makkah Al-Mukarramah, negeri yang aman sentosa dan dihormati. Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bergerak untuk menakluk¬kannya dengan 10.000 pasukan setelah kafir Quraisy melanggar perjanjian. Allah menaklukkannya untuknya dengan kemenangan yang nyata setelah terjadi kontak senjata ringan yang memakan korban 16 orang musyrikin dan tiga orang sahabat gugur syahid.

Ibnul Qayim mendeskripsikan Fathu Makkah dengan ka¬ta-katanya: “Ini adalah kemenangan besar; yang dengannya Allah memuliakan Dien-Nya, Rasul-Nya, dan tentara-Nya, ser¬ta golongan-Nya yang terpercaya, dan menyelamatkan neg¬eri dan rumah-Nya, yang dijadikannya petunjuk bagi semesta alam, dari tangan orang-orang kafir dan musyrik. Ia adalah ke¬menangan yang membuat gembira penduduk langit, gendang kemuliaan ditabuh dibawah kerlip bintang Alfa Orion, ber¬bondong-bondong manusia masuk kedalam Dien-Nya, dan bumi memancarkan kemilau kebahagiaan. [Zaadul Ma’ad]

Bersambung In Sya Allah...

Wahai Junud Daulah Islamiyah! Wahai yang menyiapkan Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah! Inilah bulan Ramadhan yang mulia mendatangi kalian, maka tunjukkan kepada Allah apa yang dicintai dan diridhai-Nya, lanjutkan jihad kalian, lipat gandakan kesungguhan kalian, sucikan najis orang-orang shafawi dan bungkam orang-orang sekuler, patahkanlah aliansi salibis, dan jangan kalian lupakan para singa dan wanita-wanita merdeka yang terpenjara, karena keluarga mereka telah menunggu untuk merayakan hari raya…

Maktabah Al Himmah