Tampilkan postingan dengan label Nasehat Untuk Mujahid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasehat Untuk Mujahid. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 April 2018

RISALAH SYAIKHUL ISLAM KEPADA JUNUD DAULAH ISLAM

RISALAH SYAIKHUL ISLAM KEPADA JUNUD DAULAH ISLAM

Serial Bisikan-bisikan Pada Telinga Mujahid 7

Kepada para mujahid di jalan Alloh ta’ala, prajurit Daulatul Islam, kami hadirkan bisikan dari Syaikhul Islam Abu al-‘Abbas Ahmad bin Taimiyah. Ini adalah risalah yang ditulisnya pada tahun 699 H kepada para mujahid di masanya. Yaitu ketika bangsa Mongol Tartar sampai ke Syam, lalu larilah orang yang lari dan bertahanlah orang yang bertahan. Maka al-imam al-mujahid Ibnu Taimiyah qaddasallohu ruhahu menulis:

Amma ba’d;

Sesungguhnya Alloh ‘azza wa jalla berfirman: “Dan Muhammad hanyalah seorang rosul yang sebelumnya telah berlalu beberapa rosul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa berbalik ke belakang, maka dia tidak akan merugikan Alloh sedikit pun. Dan Alloh akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” [Ali ‘Imron: 144]

Alloh tidak menurunkan satu ayat pun dalam al-Qur’an kecuali telah diamalkan oleh suatu kaum dan akan diamalkan oleh kaum-kaum yang lain. Maka barang siapa termasuk orang-orang yang bersyukur dan teguh di atas agama, yang dicintai oleh Alloh dan Rosul-Nya, maka dia akan memerangi orang-orang yang berbalik ke belakang. Yaitu orang-orang yang keluar dari agama dan mengambil sebagian darinya dan meninggalkan sebagian yang lain, sebagaimana kondisi kaum yang berbuat kejahatan dan kerusakan itu (maksudnya invasi Mongol yang menyerang negeri-negeri Islam dan orang-orang murtad yang membantu mereka pada waktu itu). Kubu mereka terdiri dari empat golongan:

1. Golongan kafir yang tetap pada kekafirannya, dari bangsa Georgia, Armenia dan Mongol.

2. Golongan yang sebelumnya muslim lalu murtad dari Islam dan berbalik ke belakang, dari bangsa Arab, Persia, dan lainnya. Mereka itu lebih besar kejahatannya di sisi Alloh, Rosul-Nya, dan kaum mukminin daripada kafir asli.

3. Di antara mereka ada juga yang sebelumnya kafir lalu menisbatkan diri pada Islam dan tidak mematuhi syariat-syariatnya. Mereka itu wajib diperangi berdasarkan ijma’ kaum muslimin, sebagaimana ash-Shiddiq rodhiyallohu ‘anhu memerangi orang-orang yang menolak membayar zakat dan sebagaimana Ali rodhiyallohu ‘anhu memerangi orang-orang Khowarij.

4. Di antara mereka ada jenis keempat yang lebih buruk daripada mereka, yaitu kaum yang murtad dari syariat-syariat Islam namun tetap bersikukuh menisbatkan diri pada Islam.

Orang-orang kafir dan murtad itu semuanya wajib diperangi berdasarkan ijma’ kaum muslimin, sampai mereka mentaati syariat-syariat Islam, sampai tidak ada lagi fitnah dan agama hanya untuk Alloh semata, dan sampai kalimat Alloh —yaitu kitab-Nya serta apa yang ada di dalamnya berupa perintah-Nya, larangan-Nya dan berita-Nya— menjadi yang tertinggi. Ini jika orang-orang kafir itu tinggal di tanah mereka. Maka bagaimana jika mereka menguasai tanah-tanah Islam dan menyerang kaum muslimin dengan lalim dan aniaya?

Ketahuilah —semoga Allah memperbaiki kalian— bahwa dalam fitnah ini manusia terbagi ke dalam tiga kelompok:

1. ath-Thoifah al-Manshuroh (golongan yang diberi kemenangan). Mereka adalah para mujahid yang memerangi kaum yang berbuat kerusakan itu.

2. ath-Thoifah al-Mukholifah (golongan yang melawan). Mereka adalah kaum itu (yang berbuat kerusakan) dan siapa saja yang berpihak kepada mereka di antara orang-orang berafiliasi kepada Islam yang membuat kekacauan.

3. ath-Thoifah al-Mukhodzilah (golongan yang mengabaikan). Mereka adalah orang-orang yang tidak mau memerangi kaum itu, meskipun mereka benar keislamannya.

Maka hendaklah setiap orang melihat, apakah dia termasuk ath-Tho’ifah al-Manshuroh, al-Mukhodzilah atau al-Mukholifah? Tidak ada kelompok keempat.

Ketahuilah —semoga Allah merahmati kalian— bahwa di dalam jihad terdapat kebaikan dunia dan akhirat, dan di dalam meninggalkannya terdapat kerugian dunia dan akhirat. Alloh ta’ala berfirman dalam Kitab-Nya, “Katakanlah (Muhammad), Tidak ada yang kalian tunggu-tunggu pada kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan.” [at-Taubah: 52]

Yakni, antara kemenangan dan kejayaan, atau syahadah dan jannah. Barang siapa yang hidup di antara para mujahid, maka dia terhormat dan mulia. Dan barang siapa yang mati atau terbunuh di antara mereka, maka ke surga.

Para ulama telah bersepakat bahwa tidak ada di antara ibadah-ibadah tathowwu’ (sunnah) yang lebih utama daripada jihad. Jihad lebih utama daripada haji, lebih utama daripada puasa tathowwu’ (sunnah), dan lebih utama daripada sholat tathowwu’ (sunnah). Dan melakukan ribath di jalan Alloh lebih utama daripada tinggal di Mekah, Madinah, dan Baitul Maqdis. Sampai-sampai Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu berkata: “Sungguh, melakukan ribath satu malam di jalan Alloh lebih aku cintai daripada mendapati lailatul qadr di Hajar Aswad.”

Abu Huroyroh rodhiyallohu ‘anhu lebih memilih ribath satu malam daripada ibadah di malam yang paling mulia pada tempat yang paling mulia!! Karena itu, Nabi shollallohu ‘alayhi wa sallam dan para sahabat beliau tinggal di Madinah, bukan di Mekah, karena berbagai alasan, di antaranya: bahwa mereka melakukan ribath di Madinah.

Ini tentang ribath. Maka bagaimana dengan jihad? Nabi shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Debu di jalan Alloh dan asap Jahannam tidak akan berkumpul pada wajah seorang hamba selamanya.” [Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi. Dan dia berkata: “Hadits hasan shohih.”]

Dan Nabi shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang kedua kakinya berdebu di jalan Alloh, maka Alloh haramkan keduanya bagi neraka.” [Diriwayatkan oleh al-Bukhori]

Ini tentang debu yang mengenai wajah dan kaki. Maka bagaimana dengan sesuatu yang lebih berat darinya, seperti salju, hawa dingin, dan lumpur?

Karena itu, Alloh ‘azza wa jalla mencela orang-orang munafik yang menjadikan berbagai rintangan, seperti panas dan dingin, sebagai alasan. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman: “Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) bergembira dengan duduk diamnya mereka sepeninggal Rosululloh. Mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Alloh. Dan mereka berkata: ‘Janganlah kalian berangkat (berperang) dalam panas.’ Katakanlah (Muhammad): Api Jahannam lebih panas, jika mereka mengetahui.” [at-Taubah: 81]

Begitu pula orang-orang yang berkata: “Janganlah kaliang berangkat (berperang) dalam dingin,” dikatakan kepada mereka: “Api Jahannam lebih dingin.”

Orang mukmin menolak panas dan dinginnya Jahannam dengan kesabarannya menghadapi panas dan dingin di jalan Alloh. Dan orang munafiq lari dari panas dan dinginnya dunia sampai dia tercebur ke dalam panas dan dinginnya Jahannam.

Ketahuilah —semoga Allah memperbaiki kalian— bahwa pertolongan adalah bagi orang-orang yang beriman dan kesudahan (yang baik) adalah bagi orang-orang yang bertakwa, bahwa Alloh beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan, dan bahwa kaum itu akan dikalahkan dan ditundukkan. Alloh penolong kita dalam menghadapi mereka dan pembalas dendam kita kepada mereka. Maka bergembiralah dengan pertolongan Alloh dan kesudahan-Nya yang baik. Ini adalah perkara yang telah kita yakini dan kita buktikan. Maka janganlah kalian merasa lemah dan janganlah kalian bersedih, padahal kalian adalah yang tertinggi, jika kalian beriman.

Ketahuilah —semoga Allah memperbaiki kalian—bahwa di antara nikmat terbesar bagi orang yang Alloh menginginkan kebaikan baginya adalah bahwa Dia menghidupkannya sampai zaman ini, yang di dalamnya Alloh memperbarui agama, dan di dalamnya Alloh menghidupkan syiar-syiar kaum muslimin dan kondisi-kondisi kaum mu’minin dan mujahidin, hingga menyerupai orang-orang yang terdahulu dan pertama (masuk Islam) dari Muhajirin dan Anshor. Barang siapa di zaman ini yang melakukan itu, maka dia termasuk orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, yang Alloh meridhoi mereka dan mereka pun ridho kepada Alloh, dan Alloh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.

Karena itu, kaum mu’minin selayaknya bersyukur kepada Alloh ta’ala atas ujian yang pada hakikatnya adalah anugerah yang mulia dari Alloh ini, dan fitnah yang di dalamnya terdapat nikmat ini. Sampai-sampai —demi Alloh— seandainya orang-orang yang terdahulu dan pertama dari Muhajirin dan Anshor, seperti Abu Bakr, Umar, Utsman dan Ali rodhiyallohu ‘anhum hidup di zaman ini, niscaya amal mereka yang paling utama adalah memerangi kaum yang berbuat kejahatan itu.

Tidaklah melewatkan perang semacam ini kecuali orang yang merugi perdagangannya, membodohi dirinya sendiri dan dihalangi untuk mendapatkan bagian yang besar dari dunia dan akhirat, selama dia tidak termasuk orang yang diberi udzur oleh Alloh ta’ala, seperti orang sakit, orang miskin, orang buta dan lainnya. Jika tidak, maka barang siapa memiliki harta, sedangkan dia tidak mampu (berperang) dengan tubuhnya, maka hendaklah dia berperang dengan hartanya.

Dalam ash-Shohihayn, diriwayatkan dari Nabi shollallohu ‘alayhi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Barang siapa menyiapkan seorang prajurit, maka dia telah berperang. Dan barang siapa menggantikannya dalam (mengurus) keluarganya dengan baik, maka dia telah berperang.”

Barang siapa mampu (berperang) dengan tubuhnya, sedangkan dia miskin, maka hendaklah dia mengambil sedikit dari harta kaum muslimin untuk mempersiapkan dirinya. Sama saja apakah yang diambil itu adalah zakat, pemberian, dari Baytul Mal atau selain itu. Bahkan seandainya seorang laki-laki mendapatkan di tangannya harta haram, sedangkan dia tidak bisa mengembalikannya kepada para pemiliknya karena tidak mengetahui siapa mereka dan sejenisnya, atau di tangannya terdapat titipan, gadaian, atau pinjaman yang tidak bisa diketahui para pemiliknya, maka hendaklah dia membelanjakannya di jalan Alloh. Sebab, itulah tempat pembelanjaannya.

Barang siapa ingin membersihkan diri dari harta haram dan bertaubat, sedangkan dia tidak mungkin mengembalikannya kepada para pemiliknya, maka hendaklah dia membelanjakannya dalam jihad di jalan Alloh. Sebab, itu adalah jalan yang baik untuk membersihkannya, di samping pahala jihad yang akan didapatkannya.

Barang siapa memiliki banyak dosa, maka obat terbesar baginya adalah jihad. Sebab, Alloh akan mengampuni dosa-dosanya, sebagaimana Dia subahanahu memberitahukan di dalam Kitab-Nya dengan firman-Nya: “Wahai orang-orang yang beriman! Maukah Aku tunjukkan kepada kalian suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kalian dari azab yang pedih? (Yaitu) kalian beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya dan berjihad di jalan Alloh dengan harta dan jiwa kalian. Itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui. Niscaya Alloh mengampuni dosa-dosa kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan ke tempat-tempat tinggal yang baik di dalam surga-surga ‘Adn. Itulah kemenangan yang agung.” [ash-Shoff: 10-12]

Begitu pula, barang siapa menginginkan agar Alloh menghapuskan keburukan-keburukannya dalam seruan dan fanatisme Jahiliyah, maka hendaklah dia berjihad. Sebab, orang-orang yang bersikap fanatik kepada kabilah atau selain kabilah, mereka semua jika terbunuh, maka yang membunuh dan yang dibunuh di dalam neraka. Telah shohih dari Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Jika dua orang muslim berhadap-hadapan dengan pedang keduanya, maka yang membunuh dan yang dibunuh di dalam neraka.” [Muttafaq ‘alayh]

Beliau juga bersabda: “Barang siapa terbunuh di bawah bendera buta, marah demi fanatisme dan menyeru demi fanatisme, maka dia di dalam neraka.” [Diriwayatkan oleh Muslim]

Maka kalian harus berjamaah, bersatu mengerjakan ketaatan dan berjihad di jalan Alloh, niscaya Alloh akan menyatukan hati kalian, menghapuskan keburukan-keburukan kalian, dan memberikan pada kalian kebaikan dunia dan akhirat.

Semoga Alloh menolong kami dan kalian untuk menaati-Nya, memalingkan dari kami dan dari kalian jalan untuk mendurhakai-Nya, serta menjadikan kami dan kalian di antara orang-orang yang Dia ridhoi dan mereka pun ridho kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Cukuplah Alloh bagi kita dan Dia sebaik-baik pelindung. Semoga Alloh melimpahkan sholawat dan salam kepada junjungan dan nabi kita Muhammad, serta kepada keluarga dan sahabatnya.

Selesai, dengan peringkasan dan sedikit perubahan dari Majmu’ Fatawa Syaikhil Islam rohimahullohu.

Maktabah Al-Himmah

SERI NASEHAT 5 - RAMADHAN, BULAN KESUNGGUHAN, KETAATAN, JIHAD DAN KEMENANGAN

RAMADHAN, BULAN KESUNGGUHAN, KETAATAN, JIHAD DAN KEMENANGAN

Serial Bisikan-bisikan Pada Telinga Mujahid 5

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam atas Rasulullah, keluarga, para shahabat dan orang-orang yang berwala kepadanya, Amma ba‟du:

Kami telah memilihkan untuk kalian wahai saudaraku –para mujahid– sebuah risalah milik Syaikh al-Wazir Abu Hamzah al-Muhajir Abdul Mun’im al-Badawi al-Mishri taqabbalahullah yang beliau nasihatkan kepada para ikhwan mujahidin enam tahun yang lalu, kalimat ini berjudul “Ramadhan Bulan Jihad dan Ampunan”, dan kami persembahkan untukmu secara ringkas dan sedikit perubahan, maka simaklah apa yang dituturkan oleh Al-Muhajir rahimahullah.

Segala puji bagi Allah Raja Diraja, yang Maha Suci dari sifat nista, Maha Memiliki segala keagungan dari berbuat zhalim, yang Maha Tunggal dalam keabadian, Yang Maha Mendengar segala aduan, yang Maha Menyingkap segala musibah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada yang diutus dengan pedang menjelang hari Kiamat sebagai pembawa kabar gembira dan peringatan, sebagai penyeru kepada Allah dengan izin-Nya dan sebagai lentera yang terang benderang. Amma ba’du.

Kita memuji kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Memberi yang telah menyampaikan kita kepada bulan ini, dan kita ucapkan selamat kepada Umat Islam dan Mujahidin di jalan Allah yang sedang berribath di perbatasan (tsughur) kemuliaan dan tempat kebanggaan, baik di timur maupun di barat, orang-orang yang baik dan ikhlas, yang jujur dan sabar, singa-singa peperangan dan ksatria kejayaan, para Rijal Daulah Islamiyah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Apabila tiba bulan Ramadhan, maka dibukalah pintu-pintu surga, dan ditutuplah pintu-pintu neraka dan dibelenggu syaithan-syaithan”. [Diriwayatkan oleh Muslim].

Al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Boleh membawa pengertian hadits ini secara zhahir, sehingga maknanya berarti surga dibuka dan dihiasi bagi siapa yang meninggal pada bulan Ramadhan dikarenakan kemuliaan ibadah yang terjadi di dalamnya, dan ditutup pintu neraka sehingga tidak akan memasukinya orang yang meninggal pada bulan itu”. [Al-Mufham].

Dan bulan kita yang mulia ini merupakan rukun dari salah satu rukun-rukun Islam yang agung, dan tidak akan tegak dien kecuali dengan rukun-rukunnya. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda; “Islam dibangun di atas lima perkara; Syahadat bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah rasul Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berhaji, dan puasa di bulan Ramadhan” (Muttafaq alaih).

Al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Dan pengkhususan menyebutkan lima perkara ini tanpa menyebutkan di dalamnya jihad, padahal jihad yang membuat dien ini unggul dan yang menghancurkan kekuatan orang-orang kafir, karena lima hal ini merupakan kewajiban yang langgeng atas setiap individu (fardhu ain) dan tidak gugur atas orang yang memenuhi syarat-syaratnya, sedangkan jihad adalah fardhu kifayah yang terkadang gugur pada beberapa waktunya” [Al-Mufham].

Dengan gamblang beliau rahimahullah menyebutkan apabila keadaan jihad telah fardhu ain maka dia menjadi salah satu penopang Islam yang dia tidak akan tegak dan mulia kecuali dengannya, bagaimana tidak, sedangkan jihad memiliki manfaat yang umum, dan bahaya meninggalkannya sangat besar bagi dien, kehormatan, jiwa dan harta. Dan mujahid di jalan Allah mereka adalah orang-orang yang merealisasikan makna iman, yang membenarkan nash al-Qur’an dengan pengakuan mereka kepadanya, Allah berfirman di dalam surat Al-Hujurat: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian dia tidak ragu dan berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah, mereka itulah orang-orang benar.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Ini menjelaskan bahwa berjihad adalah wajib dan meninggalkan keraguan adalah wajib, dan jihad walau dia secara hukum adalah fardhu kifayah –yakni di masa-masa ketika hukumnya adalah fardhu kifayah– namun secara asal kaum mukminin menjadi objek dari firman ini, sehingga mereka harus meyakini akan kewajibannya dan bertekad untuk mengerjakannya manakala hukumnya telah menjadi fardhu ain”. [Majmu’ Al-Fatawa].

Maka jihad termasuk bagian dari iman dan bahkan dia adalah puncak tertingginya, maka janganlah sampai engkau luput darinya –semoga Allah menjagamu– dari mendapatkan bagianmu pada bulan yang mulia ini. Di dalam Ash-Shahih diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wasallam beliau bersabda: “Allah menjamin atas orang yang keluar untuk berjihad di jalan-Nya, tidak ada yang mengeluarkannya kecuali karena iman kepada-Ku dan membenarkan rasul-rasul-Ku, untuk mengembalikannya kecuali dengan membawa pahala yang dia raih atau ghanimah, atau memasukkannya ke dalam surga, jika bukan karena aku khawatir akan memberatkan umatku tentu aku tidak akan tertinggal dari satu sariyah pun, dan sungguh aku sangat berharap seandainya aku terbunuh di jalan Allah kemudian aku dihidupkan lagi, lalu aku terbunuh lalu dihidupkan lagi lalu aku terbunuh”.


Ibnu baththal rahimahullah berkata “Makna ‘intadaballah’ maksudnya adalah Allah mewajibkan dan memuliakan bagi orang yang mengikhlaskan niat di dalam jihadnya untuk memperoleh apa yang Dia janjikan” [Syarh Al-Bukhari].

Jadikanlah hidupmu nikmat di dalam jihad dan di dalam petunjuk … sesungguhnya jihad penghimpun keimanan
Panggullah senjatamu dan janganlah kilaunya menjadi hilang ... sesungguhnya senjata adalah ciri para pahlawan
Benamkanlah dirimu di dalam pertempuran ... karena umur tidak akan menjadi pendek lantaran keberanian
Bulan mulia telah menyambut paginya ... dan terkadang orang yang pengecut justru menendang banyak kebaikan

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda; “Di antara jalan hidup yang terbaik manusia adalah seorang laki-laki yang menarik kendali kudanya di jalan Allah, dia akan melesat di atasnya, setiap kali dia mendengar suara perang dia akan terbang melesat di atasnya berharap agar dia terbunuh atau mencari kematian di tempat yang dia perkirakan”. [Diriwayatkan oleh Muslim].

An-Nawawi rahimahullah berkata: “Yakni sebaik-baik keadaan hidup mereka adalah seorang laki-laki yang memegang dst…” [Syarh Al-Muslim].

Al-Qurthubi rahimahullah berkata di dalam Al-Mufham; “Yakni di antara jalan kehidupan paling mulia adalah jihad”.

Maka renungkanlah –semoga Allah merahmatimu– sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam, “berharap terbunuh” setelah sabdanya “Di antara jalan hidup yang terbaik manusia”, sesungguhnya ini menunjukkan bahwa mati di jalan Allah pada hakikatnya adalah hidup –walau nafsumu yang senantiasa memerintahkanmu keburukan mendustakannya, serta syahwat dan syubhat yang membuatmu berat darinya– maka sesungguhnya Allah telah berfirman: “Dan janganlah sekali-kali kalian mengira bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu telah mati, akan tetapi mereka itu hidup di sisi Rabb mereka dan diberi rizki.”

Maka bersemangatlah –wahai mujahid– untuk memperoleh syahadah pada bulan yang mulia ini, dan janganlah engkau pernah mengira bahwa syahadah adalah barang pungutan yang tidak ada harganya, namun dia adalah harta simpanan yang sangat agung yang tidak akan diraih kecuali oleh mereka yang telah mengambil jatah kebaikan yang banyak, sebuah kedudukan mulia yang tidak akan diperoleh kecuali oleh mereka yang telah naik ke atas derajat yang tinggi.

Kemudian ketahuilah, bahwa jalan menuju surga tidak ada tempat bagi orang-orang penakut dan pengecut, namun hanya dilalui oleh para pemberani dan orang-orang mulia, mulia jiwa dan dien, orang-orang yang menjual jiwanya kepada Allah di jalan Allah, dia adalah jalan kesungguhan, kelelahan dan kepayahan, jiwa akan terenggut dan harta akan sirna, sebagaimana jihad adalah kemuliaan dan keagungan.

Dan bagimu terdapat banyak sekali keteladaan dari kakek-kakek kita:

Suatu ketika raja Salibis Romawi bernama Romanos sangat bersemangat untuk menghancurkan kaum muslimin lantaran jumlah mereka yang sedikit dan persiapan mereka yang lemah dipandagannya. Maka dia pun datang membawa pasukan berjumlah dua ratus ribu pasukan untuk memerangi sultan Alp Arslan hingga tiba di Malazgirt, dan sultan mendengar jumlah mereka yang banyak, sedangkan dia tidak memiliki pasukan kecuali sekitar lima belas ribu penunggang kuda, maka di pagi hari dia pun mengumpulkan pasukannya di tempat pertemuan, dan ketika kedua pasukan sudah saling bertemu, sultan mengirim utusan untuk meminta perjanjian damai, akan tetapi thaghut Romawi yang tertipu ini berkata; “Tidak ada perjanjian damai kecuali di Ray (yakni di pusat negeri kaum muslimin).”

Sultan Alp Arslan pun marah, dan kedua pasukan akhirnya beradu pada hari Jum’at di saat para khatib sedang di atas minbar-minbar, sultan lalu turun dan menaburi wajahnya dengan tanah, kemudian menangis dan menundukkan diri kepada Allah yang di tangan-Nya terdapat pertolongan, Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, kemudian dia membawa senjatanya dan menaiki kudanya, mereka pun berbuat jujur kepada Allah, sehingga turunlah pertolongan dan mereka berhasil membunuh orang-orang Romawi sesuai apa yang mereka inginkan, dan hancurlah pasukan salib dan penuhlah tanah dengan mayat-mayat mereka, bahkan thaghut Romawi Raja Romanos tertawan, lalu dia dihadapkan kepada Sultan dan Sultan menamparnya sebanyak tiga kali, kemudian raja itu menebus dirinya dengan uang sebanyak seribu lima ratus dinar dan dengan setiap tawanan kaum muslimin yang dia miliki.

Wahai para pahlawan, wahai para muwahhidin mujahidin:

Engkau berada pada bulan yang mulia dan penuh berkah, kalian menda-patkan pertolongan dari Allah atas jiwa kalian dan musuh kalian, Allah memuliakan kalian dengan jihad atas kaum murtaddin dan salibis, kalian telah memikul beban iqamatuddin dan membela kaum lemah dan tertindas, maka kuatkanlah semoga Allah merahmati kalian, sungguh Amirul Mukminin Abu Umar Al-Baghdadi telah mengucapkan sebuah perkataan agung di saat dia berkata; “Maka wajib atas setiap muslim yang memuliakan Allah dengan kemuliaan yang sebenarnya dan mengagungkan agama Allah dan syariat-Nya, untuk mencurahkan jiwanya dengan murah di jalan Allah”.

Dan ketika dia berkata tentang penjara dan tawanan yang ditujukan kepada para ummahat: “Dan wajib bagi kita untuk kalian, biarlah mereka (para wanita) melihat darah kami mengalir di bawah pagar-pagarnya hingga mereka melihat keluarga kalian terbebas”.

Maka berlakulah ikhlas dan ikhlas, jama’ah dan jama’ah, teguhlah dan teguhlah, waspadalah dan waspadalah, berdoa dan berdoa, tawakkal dan tawakkal wahai para tentara Allah, di hadapan kalian musuh-musuh kalian. “Maka bunuhlah kaum Musyrikin di mana saja kalian temui, sergaplah mereka, kepunglah mereka, dan intailah mereka di setiap tempat pengintaian”.

Sesungguhnya mereka adalah orang-orang zhalim dan kafir yang melampaui batas, mereka tidak memelihara (hubungan) kekerabatan dengan orang mukmin dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian, mereka berjalan di muka bumi dengan membuat kerusakan dan senang jika tersebar perbuatan keji terhadap orang-orang yang beriman, dan mereka sangat ingin seandainya kalian kafir sebagaimana mereka kafir sehingga kalian menjadi sama, maka tidak ada jalan keluar bagi mereka kecuali mereka dibunuh atau disalib atau tangan dan kaki mereka dipotong secara silang.

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, dan tidak ada permusuhan kecuali atas kaum yang zhalim.

Saudara kalian,
Abu Hamzah Al-Muhajir
Ramadhan 1430 H

Maktabah Al-Himmah

SERI NASEHAT 2 - BERHATI-HATILAH DARI BENCANA RIYA'

BERHATI-HATILAH DARI BENCANA RIYA'

Serial Bisikan-bisikan Pada Telinga Mujahid 2

Segala puji bagi Allah, semoga shalawat dan salam selalu tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, para shahabatnya serta orang yang loyal kepadanya, amma ba’ad:

Pada pertemuan pertama dari silsilah “Seri Nasehat Untuk Mujahid” kita telah membahas tentang akhlak ikhlas dan pengaruh-pengaruhnya yang besar. Di sini -wahai mujahid- kita akan membicarakan tentang lawan dari ikhlas dan yang membatalkan amal, yang merupakan penyakit terbesar yang menyerang mujahid dalam perjuangan jihadnya, dan merupakan seburukburuk penyakit hati; yaitu riya, kita berlindung kepada Allah dari penyakit tersebut.

Apa definisi riya?
Apa jenis-jenisnya?
Apa dampaknya?

Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian merusak pahala sedekah-sedekah kalian dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena ingin riya terhadap manusia, dan tidaklah dia itu beriman kepada Allah dan hari akhir.” (QS al-Baqarah: 264).

Imam ath-Thabari rahimahullah berkata dalam tafsirnya: “’Yang menafkahkan hartanya karena ingin riya terhadap manusia’, yakni memperlihatkan amalnya di hadapan manusia. Seperti menginfakkan hartanya terang-terangan agar nampak bagi manusia bahwa ia ikhlas karena Allah sehingga meluncurlah padanya pujian manusia, padahal hakikatnya tidaklah dia menginginkan Allah dan tidak pula mengharap balasan dari-Nya. Demikian juga maksudnya agar manusia memujinya dan berkata, ‘Sungguh dia merupakan seorang yang dermawan mulia lagi orang shaleh.’ Sehingga semakin bertambah-tambah pujian mereka padanya, padahal mereka tiada mengetahui niat sebenarnya dalam menginfakkan hartanya.”

Allah ta'ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang munafiq itu hendak menipu Allah, dan Allah-lah yang akan membalas tipuan mereka, dan apabila mereka hendak menegakkan shalat, mereka shalat dengan malas serta bermaksud riya dan tidak pula mereka menyebut nama Allah kecuali sedikit.” (QS an-Nisa: 142).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsirnya, “’Mereka bermaksud riya’, yakni tidak ada keikhlasan dalam diri mereka dan tidak hendak berhubungan dengan Allah. Mereka melakukannya dalam rangka membentuk citra dan mencari muka di hadapan manusia.

Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu 'anhu berkata, “Seorang laki-laki datang menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan bertanya, ‘Seseorang berperang demi kejantanan dan berperang demi keberanian serta berperang karena riya, maka apakah semua hal tersebut merupakan di jalan Allah? Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, ‘Barang siapa yang berperang agar kalimat Allah menjadi tinggi maka dia fi sabilillah.’ Dalam suatu riwayat, ‘Seseorang berperang demi mendapatkan ghanimah, dan seseorang berperang agar namanya disebut serta seseorang yang berperang agar kedudukannya dilihat’.” (Muttafaq ‘alaihi).

Ibnu Daqiq al-‘Ied berkata, “Adapun riya maka dia merupakan lawan dari ikhlas itu sendiri, mustahil keduanya bisa bertemu; yang aku maksud seseorang berperang karena Allah sekaligus karena manusia.” (Ihkamul Ahkam Syarh ‘Umdatil Ahkam).

Sebagaimana halnya bahwasanya riya itu merupakan suatu kesyirikan wal ‘iyadzubillah.

Dari Abu Sa’id al-Khudriy radhiyallahu 'anhu berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, ‘Ingatlah sesungguhnya aku mengabarkan kepada kalian tentang sesuatu yang lebih aku takutkan atas kalian dari Dajjal.’ Kami bertanya, ‘Apa itu wahai Rasulullah? Beliau bersabda, ‘Sesuatu itu adalah syirik tersembunyi, seseorang shalat lalu memperindah shalatnya ketika mengetahui manusia melihatnya’.” (HR. Ibnu Majah dan dihasankan oleh al-Haitsamiy).

Riya itu bermacam-macam, sebagiannya lebih buruk dibanding sebagian yang lain, dampak sebagiannya lebih berbahaya daripada yang lain. Yang paling besar keburukannya adalah riya yang murni, dan yang paling rendah adalah bersitan dalam hati yang jika berhasil dicegah maka beruntunglah dia namun ketika dibiarkan maka rugilah dia.

Macam-macam riya yaitu :

Pertama; Riya murni

Riya murni merupakan suatu amal yang sama sekali tidak mengharap wajah Allah, hanya menginginkan dunia dan tujuan-tujuan pribadi lainnya. Yang seperti ini adalah kondisi munafik murni, hampir tidak muncul pada seorang mukmin.

Kedua; Beramal mengharapkan wajah Allah sekaligus ingin dilihat, (riya' macam ini) ada dua macam:

1. Riya mencampuri amalnya sejak permulaan. Maka amalnya batal dan rusak. Dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu 'anhu berkata, “Bahwasanya seorang laki-laki datang menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apa pendapatmu tentang seorang laki-laki yang berperang karena mengharap pahala sekaligus keterkenalan? Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, ‘Tidak mendapatkan apapun’, beliau mengulangnya sebanyak tiga kali dan bersabda kepadanya, ‘Tidak mendapatkan apapun’, kemudian Rasulullah melanjutkan, ‘Sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amalan kecuali jika amalan tersebut ikhlas dan karena menginginkan wajah Allah’.” (Dikeluarkan oleh an-Nasa’i dan dihasankan oleh al-Hafizh al-‘Iraqi).

2. Riya itu datang tiba-tiba ketika beramal. Dalam hal ini Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata, “Adapun jika asalnya amal itu untuk Allah, kemudian tiba-tiba riya menimpanya, maka jika dia menolaknya tidak diperselisihkan lagi riya tersebut tidak akan membahayakannya. Namun jika riya tersebut dibiarkan maka apakah hal ini membatalkan amal, ataukah tidak membahayakannya, dan apakah dia dibalas dengan niat aslinya? Dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat dikalangan para ulama… Imam Ibnu Jarir rahimahullah menyebutkan bahwasanya perbedaan pendapat ini terjadi pada suatu amal yang akhirnya itu terikat dengan awalnya seperti shalat, shaum dan haji. Adapun amal yang tidak seperti itu seperti membaca Al-Qur’an, zikir, berinfaq dan menyebarkan ilmu, maka sungguh terputuslah ia dengan niat riya yang datang tiba-tiba tadi, dan mesti baginya untuk memperbaharui niatnya.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam).

Jihad di jalan Allah merupakan suatu amal yang senantiasa membutuhkan pembaruan niat untuk membersihkannya dari noda riya dan hal-hal yang serupa dengannya.

Ketiga; Ingin beramal demi mengharap wajah Allah dan pahala sekaligus ghanimah:

Seperti orang yang ingin berjihad sekaligus ingin mendapatkan ghanimah, maka amalnya ini tidaklah batal akan tetapi pahalanya berkurang. Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Maka sesungguhnya mencampur niat jihad dengan niat selain riya, seperti mengambil upah untuk melayani, atau mengambil sesuatu dari ghanimah atau perdagangan, maka ini mengurangi pahala jihad mereka dan tidak membatalkannya secara keseluruhan.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam).

PERINGATAN:

Jika seorang hamba beramal dengan suatu amalan demi mencari wajah Allah, kemudian dia dipuji atas hal tersebut dan dia senang dengan pujian tersebut dengan keutamaan Allah atasnya, maka hal tersebut insya Allah tidak membahayakannya. Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Maka apabila dia beramal ikhlas karena Allah kemudian Allah menyelipkan pujian untuknya dalam hati kaum muslimin, dan dengan hal tersebut ternyata dia senang akan keutamaan dari Allah dan rahmat-Nya, dan dia gembira dengan hal tersebut, maka tidaklah hal tersebut membahayakannya. Tentang makna ini terdapat hadits Abu Dzar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, ‘Bahwasanya beliau ditanya tentang seorang laki-laki yang beramal dengan suatu amalan untuk Allah dan manusiapun memujinya, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, ‘Itu merupakan suatu kabar gembira yang disegerakan untuk seorang mukmin’. (HR. Muslim).

Ibnu Majah mentakhrij dalam riwayat miliknya, ‘Seorang laki-laki beramal karena Allah maka manusiapun mencintainya’, dan atas makna inilah Imam Ahmad, Ishaq bin Rahawaih, Ibnu Jarir ath-Thabari dan selain mereka menafsirkannya.” (Jami’ul Ulum wal Hikam).

PERINGATAN KEDUA:

Riya itu bisa terjadi baik dengan melakukan suatu perbuatan maupun meninggalkannya sebagaimana perkataan Fudhail bin ‘Iyadh, “Meninggalkan suatu amal karena manusia adalah riya, dan beramal karena manusia adalah syirik. Ikhlas adalah Allah melindungimu dari keduanya.” (al-Adab asy-Syar’iyyah, Ibnu Muflih al-Maqdisi).

Dampak dan pengaruh riya pada diri mujahid cukup banyak dan berbahaya. Akibat riya di dunia di antaranya:

1. Tidak mendapatkan hidayah dan taufik. Allah tidak menunjuki kepada kebenaran dan memberi taufik kecuali orang-orang yang ikhlas, Allah ta'ala berfirman, “Dan orang-orang yang berjihad karena kami maka kami akan menunjukkan atas mereka jalan-jalan kami dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang muhsin.” (QS al-‘Ankabut: 69).

2. Malas dan tidak sempurna dalam beramal. Orang yang riya akan berlipat ganda kesungguhannya ketika manusia memujinya, dan dia menjadi malas ketika dia diabaikan dan dicela, sebagaimana seorang yang riya itu bersungguh-sungguh apabila bersama manusia, dan menjadi malas ketika dia sendiri dan jauh dari manusia. Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu 'anhu berkata, “Tanda untuk orang yang riya itu ada tiga, yaitu malas apabila dia sendiri, rajin apabila dia bersama manusia dan dia ingin menambahkan amalannya apabila dia dipuji, serta mengurangi amalnya apabila dia dicela. (az-Zawajir ‘an Iqtirafil Kabair, al-Haitami).

3. Aibnya tersingkap. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa menampak-nampakkan amalnya, maka Allah akan menyingkap aib-aibnya, dan barangsiapa yang ingin amalnya dilihat, maka Allah akan mempertontonkan isi hatinya.” (Muttafaq alaihi). Imam an-Nawawi berkata, (samma’a), dengan mim bertasydid, maknanya adalah dia menampakkan amalnya kepada manusia karena riya. (samma’allahu bihi; Allah akan menampakkannya) yaitu menyingkap aib-aibnya pada hari kiamat. Adapun ‘barang siapa yang ingin amalnya dilihat’ yakni barang siapa menampak-nampakkan amal shalih yang dilakukannya agar terlihat penting, maka Allah akan memperlihatkannya, yakni mempertontonkan isi hatinya pada seluruh makhluk. (Riyadush Shalihin).

Adapun dampak di akhirat adalah:

4. Amalannya batal. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Apabila Allah telah mengumpulkan manusia yang pertama kali diciptakan dan yang terakhir di hari yang tidak ada keraguan didalamnya, maka berserulah seorang penyeru, ‘Barang siapa menyekutukan sesuatu dengan Allah pada amalan yang dilakukannya maka mintalah pahala darinya, karena Allah tidaklah membutuhkan akan sekutu-sekutu.” (HR. Ahmad dan dihasankan oleh al-Arnauth). Berkata al-Munawi rahimahullah, “Dalam hadits ini terdapat hujjah bagi orang yang berpendapat bahwasanya riya meskipun sedikit itu membatalkan amal.” (Faidhul Qadir).

5. Masuk neraka. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah seorang yang syahid, maka didatangkanlah ia dan dia diberi tahu akan nikmatnikmatnya maka ia pun mengetahui, Allah berkata kepadanya, ‘Apa yang engkau lakukan? Dia berkata, ‘Aku berperang karenamu sehingga aku pun syahid, Allah berkata, ‘Engkau dusta, akan tetapi engkau berperang karena ingin disebut pemberani, dan telah dikatakan. Kemudian diperintahkan agar dia diseret paksa dan dilemparkan ke dalam Nereka.” (HR. Muslim).

Wahai akhi mujahid, demikianlah telah jelas bagimu dampak-dampak riya, maka bersungguh-sungguhlah untuk membersihkan niatmu karena Allah ta'ala dalam semua kondisimu ketika menempuh jalan jihad ini. Peganglah selalu keikhlasanmu. Perbarui selalu niatmu dan perbaiki sanubarimu ketika setan menutup-nutupi hatimu. Hati anak manusia itu terkadang kuat dan terkadang lemah.

Ya Allah sesungguhnya kami berlindung kepadamu dari riya.

Maktabah Al-Himmah

SERI NASEHAT 1 - PERBARUI NIAT DAN PERBAIKI HATI

PERBARUI NIAT DAN PERBAIKI HATI

Serial Bisikan-bisikan Pada Telinga Mujahid 1

Segala puji bagi Alloh, sholawat dan salam semoga terlimpah kepada Rosululloh, keluarganya, para sahabatnya, dan siapa saja yang loyal padanya. Amma ba’d;

Agama kita yang hanif telah mendorong seluruh manusia kepada akhlaq yang mulia dan memperingatkan mereka akan akhlaq yang tercela dalam semua kondisi dan urusan mereka. Sementara ia secara khusus memerintahkan beberapa golongan tertentu dari manusia agar menghias diri dengan sekumpulan adab yang berkaitan dengan mereka lebih banyak daripada selain mereka, seperti adab-adab penuntut ilmu, adab-adab para pengusung al-Qur-an (para hafizh), adab-adab para qodhi, serta adab-adab mufti dan mustafti (orang yang meminta fatwa). Dan engkau, wahai mujahid di jalan Alloh, engkau wajib menghias diri dengan akhlaq-akhlaq dan adab-adab khusus yang dituntut darimu lebih banyak daripada selainmu. Engkau sedang menjalani sebuah ibadah yang besar. Engkau mengusung keprihatinan umat. Dan engkau dilihat tidak sebagaimana orang lain dilihat. Karena itu, engkau harus menjadi panutan dalam segala sesuatu.

Dari sini, kami —saudara-saudaramu yang mencintai di jalan Alloh— akan menunjukkanmu dalam serial ini kepada sifat-sifat terpuji yang penting, yang bagus bagimu untuk menghias diri dengannya. Dan kami akan memperingatkanmu dari sifat-sifat yang tidak layak bagimu sebagai seorang mujahid, yang tersebar di antara barisan-barisan para mujahid saat ini, dan tidak ada satu medan jihad pun yang sama sekali bersih darinya. Agar engkau dapat memperbaiki apa yang bisa diperbaiki dan menjauhi apa yang harus dijauhi darinya, terutama untuk membuat ridho Robbmu ‘azza wa jalla, dan yang kedua untuk mengangkat “Kepala” Khilafah Islam yang engkau wakili.

Adab pertama dan terpenting di antara adab-adab yang engkau wajib menghias diri dengannya, wahai saudaraku, adalah mengikhlaskan (memurnikan) niat kepada Alloh ta’ala dalam jihad dan menginginkan ridho Alloh jalla jalaluhu semata, bukan menginginkan harta benda atau keuntungan-keuntungan dunia. Keikhlasan dalam jihad terwujud dengan saudara meniatkan dalam jihadnya perkara-perkara yang syar’iy, seperti; menegakkan syari’ah Alloh, mencegah kezholiman, membebaskan tawanan, menjaga agama, terbunuh sebagai syahid dan niat-niat yang baik lainnya. Sementara akan merusak keikhlasan mujahid dan menjerumuskannya ke lembah riya’ jika niatnya adalah selain itu, seperti ghanimah, reputasi, kebanggaan, posisi terdepan, kedudukan, kepemimpinan, dan niat-niat yang rusak lainnya, wal ‘iyadzu billah.

Dalam ash-Shohihayn, diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari rodhiyallohu ‘anhu, dia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam dan berkata: “Laki-laki berperang demi ghanimah, laki-laki berperang demi reputasi, dan laki-laki berperang agar dilihat keberadaanya, siapakah yang di jalan Alloh?” Beliau bersabda, “Barang siapa berperang agar kalimat Alloh menjadi yang tertinggi, maka dia di jalan Alloh.”

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa laki-laki itu bertanya kepada Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam: “Apa itu perang di jalan Alloh? Sesungguhnya seorang dari kami berperang karena marah dan berperang karena antusiasme.” Beliau shollallohu ‘alayhi wasallam pun bersabda kepadanya: “Barang siapa berperang agar kalimat Alloh menjadi yang tertinggi, maka dia di jalan Alloh ‘azza wa jalla.”

Ketahuilah, saudaraku di jalan Alloh, bahwa pengaruh-pengaruh keikhlasan niat dalam jihad itu terlalu banyak untuk dihitung dan buah-buahnya terlalu banyak untuk dibatasi. Di antaranya sebagai contoh:

1. Diterimanya amal

Jihad adalah ‘ibadah. Dan ia harus memenuhi syarat keikhlasan agar diterima. Ia tidak akan diterima kecuali jika murni untuk Alloh subhanahu, sebagaimana Dia jalla fii ‘ulahu berfirman: “Padahal mereka tidak diperintah kecuali untuk menyembah Alloh dengan mengikhlaskan agama ini kepada-Nya dan bersikap hanif.” [al-Bayyinah: 5]

Diriwayatkan dari Abu Umamah rodhiyallohu ‘anhu, dia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam dan berkata, “Tidakkah Anda melihat seorang laki-laki berperang demi mencari bayaran dan reputasi, apa yang didapatkannya?” Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda, “Tak sesuatu pun yang dia dapatkan.”

Laki-laki itu mengulanginya tiga kali dan Rosululloh berkata kepadanya, “Tak sesuatu pun didapatkan yang dia dapatkan.” Kemudian beliau shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Alloh tidak menerima ‘amal kecuali yang murni untuk-Nya dan dengannya ingin dicapai ridho-Nya.” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan an-Nasa’i, dan dinilai hasan oleh al-Hafizh al-‘Iroqiy dan al-Mundziri]

Ibnul Qoyyim berkata, “Dan amal-amal itu ada empat. Satu diterima dan tiga ditolak. Yang diterima adalah yang murni untuk Alloh dan sesuai dengan as-Sunnah. Dan yang ditolak adalah yang tidak memiliki kedua sifat ini atau salah satu dari keduanya.” [I’lamul Muwaqqi’in ‘an Robbil ‘Alamin]

2. at-Tawfiq dan as-Sadad (Kesesuaian dan Kelurusan)

Alloh ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang berjihad di jalan Kami, Kami benar-benar akan tunjukkan
jalan-jalan Kami kepada mereka. Dan sesungguhnya Alloh benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” [al-‘Ankabut: 69]

Pertama sekali ayat ini membatasi jalan jihad (berjihad di jalan Kami). Alloh subhanahu tidak mengatakan “berjihad” saja. Tetapi Dia subhanahu mensifati jihad yang menghasilkan hidayah sebagai jihad yang murni demi ridho Alloh (di jalan Kami). Dalam komentarnya terhadap ayat ini, as-Sa’di berkata: “Ini menunjukkan bahwa manusia yang paling pantas untuk selaras dengan kebenaran adalah para pelaku jihad, dan bahwa barang siapa mengerjakan dengan baik apa yang diperintahkan kepadanya maka Alloh akan menolongnya dan memudahkan baginya sebab-sebab hidayah.” [Taisir al-Karim ar-Rohman fi Tafsiri Kalamil Mannan]

3. Masuk surga yang penuh kenikmatan

Alloh ta’ala berfirman, “Kecuali hamba-hamba Alloh yang terpilih / yang ikhlash. Mereka itu memperoleh rezeki yang sudah ditentukan. (Yaitu) buah-buahan, dan mereka dimuliakan. Di dalam surga-surga yang penuh keni’matan.” [ash-Shoffat: 40-43]

Penduduk Madinah dan Kufah membaca dengan memfathahkan lam (al-mukhlashin), artinya: orang-orang yang dipilih oleh Alloh untuk menaati-Nya dan mentauhidkan-Nya. Dan sebagiannya membaca dengan mengkasrohkan lam (al-mukhlishin), artinya: orang-orang yang memurnikan ibadah dan tauhid untuk Alloh. [Fathul Qadir al-Jami’ bayna Fannayr Riwayah wad Diroyah min ‘Ilmit Tafsir karya asy-Syawkaniy]

4. Penjagaan dari tipu daya setan

Alloh ta’ala berfirman, “Dia (Iblis) berkata: wahai Robb-ku, oleh karena Engkau telah menyesatkanku, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka
semua, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih / yang ikhlash.” [al-Hijr: 39-40]

Dan Alloh subhanahu berfirman tentang nabi-Nya yang mulia, Yusuf ash-Shiddiq ‘alayhis salam: “Demikianlah, Kami palingkan darinya keburukan dan kekejian. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih / yang ikhlash.” [Yusuf: 24]

5. Sebab kemenangan dan tamkin

Diriwayatkan dari Sa’d bin Abu Waqqosh rodhiyallohu ‘anhu berkata, Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Alloh memberikan kemenangan kepada umat ini karena orang-orang lemahnya, karena doa mereka, sholat mereka dan keikhlasan mereka.” [Diriwayatkan oleh an-Nasa’i dengan sanad yang shohih, dan pokoknya ada dalam Shohih al-Bukhoriy]

al-Mundziriy berkata, “Maknanya adalah bahwa ibadah orang-orang lemah dan doa mereka lebih ikhlas, karena bersihnya hati mereka dari kecintaan pada perhiasan dunia. Dan mereka menjadikan tujuan mereka satu. Maka doa mereka dikabulkan dan amal-amal mereka menjadi bersih.” [‘Awnul Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud karya Syamsul Haq Abadi]

Maka, wahai orang-orang yang menantikan kemenangan atas koalisi Salibis yang saat ini sedang memerangi Daulah Islam! Kalian harus menjaga keikhlasan. Kalian harus menjaga keikhlasan. Sebab, di dalamnya terdapat keselamatan, dengan izin Alloh ta’ala.

6. Turunnya kelapangan dan keselamatan dari bencana serta pertolongan dalam kesulitan

Mungkin engkau akan merasa heran jika mengetahui bahwa Alloh ta’ala memberikan kelapangan kepada orang musyrik karena keikhlasan, seandainya dia sedikit berbuat ikhlas kepada Alloh, padahal dia seorang musyrik. Lalu bagaimana menurutmu dengan orang mu’min? Alloh ta’ala berfirman: “Dan apabila mereka digulung ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Alloh dengan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya. Tetapi ketika Alloh menyelamatkan mereka sampai di daratan, maka di antara mereka ada yang sedang-sedang saja (dalam ber’amal). Dan tidaklah mengingkari ayat-ayat Kami kecuali setiap pengkhianat yang tidak bersyukur.” [Luqman: 32]

Maka, wahai para muqotil di jalan Alloh, yang berada di front-front pertempuran!
Wahai para murobith di perbatasan-perbatasan! Wahai para junud Khilafah semuanya!
Ikhlaskan dan murnikanlah niat untuk Alloh. Sebab, di dalamnya terdapat kelapangan yang dekat in syaa-a Alloh.

7. Merasakan ketenangan dan kedamaian iman

Alloh ta’ala berfirman: “Sungguh Alloh telah meridhoi orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon. Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka. Maka Dia menurunkan kedamaian pada mereka dan membalas mereka dengan kemenangan yang dekat.” [al-Fath: 18]

Ath-Thobariy berkata dalam Tafsirnya: “Firman-Nya: ‘Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka.’ Alloh ta’ala dzikruhu berfirman: Robbmu, wahai Muhammad, mengetahui apa yang ada dalam hati orang-orang yang beriman di antara para sahabatmu ketika mereka bersumpah setia kepadamu di bawah pohon, yakni kejujuran niat, penepatan apa yang mereka sumpahkan kepadamu dan kesabaran untuk menyertaimu. Dia berfirman: Maka Dia menurunkan ketenangan dan keteguhan di atas apa yang mereka tetapi, yakni agama mereka dan penglihatan mereka yang baik terhadap kebenaran yang Alloh tunjukkan kepada mereka.”

Ibnun Nuhas berkata dalam Tafsirnya: “‘Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka,’ yakni keikhlasan. Ayat ini adalah dalil bahwa Alloh ta’ala meneguhkan orang yang mukhlis dalam jihad dengan kemenangan, pertolongan untuk menjalankan ketaatan, penguatan iman, dan ganjaran di dunia selain itu, di luar ganjaran akhirat.

Ya Alloh! Karuniakanlah kepada kami keikhlasan dalam perkataan dan perbuatan.

Maktabah Al-Himmah