TOKOH ATAU BERHALA?!
Fitnah sosok tokoh yang menyebabkan manusia tergantung dan membebek tokoh-tokoh tersebut sekalipun telah jelas sesat, tidak hanya menerpa orang itu aja. Orang-orang yang terfitnah itu juga berusaha menjadikan sahabat atau orang-orang dekat si tokoh menggantikan tokoh tersebut. Jika si tokoh tersebut meninggal segeralah mereka mengangkat dan mengagungkan salah satu keluarga atau orang-orang dekatnya untuk menggantikan si tokoh itu. Yang dipilih atau dipaksa diangkat mayoritasnya adalah orang-orang yang berada di lingkaran si tokoh, atau bisa jadi orang jauh akan tetapi mereka berhasil mencari-cari hubungannya dengan si tokoh dan mengotentikkannya agar menjadi legitmasi bagi tokoh baru itu. Sehingga manhaj ketokohan yang lama terus berlangsung.
Cukup mudah sebenarnya, dengan izin Allah, memahami fenomena pengagungan keluarga dan orang-orang dekat si tokoh ini. Orang-orang yang membangun manhaj mereka berdasar atas tokoh dan tokoh akan merasa sesak jika si tokoh tidak ada karena meninggal atau sebab lain. Maka pilihannya adalah mereka mengklaim sebagaimana klaim Rafidhah jika si tokoh itu masih hidup dan terus bermajelis dengan mereka secara rahasia untuk membetulkan kesalahan-kesalahan yang terjadi, atau mereka mengangkat salah satu keluarga atau sahabatnya sebagai tokoh selanjutnya. Kemudian mereka menjadikannya menara seruan agar manusia melandaskan Diennya diatasnya, setelah mereka buktikan bahwa si tokoh baru ini memang telah mewarisi ilmu dan sifat tokoh lama, sehingga dialah yang paling mampu menjaga manhajnya dan membimbing pengikutnya.
Oleh karena itu, engkau dapati mereka tak kenal lelah untuk terus menampakkan tokoh barunya, terus berduel dengan bersenjatakan kuatnya hubungan tokoh barunya dengan tokoh lamanya. Entah dia itu “sahabat si tokoh”, atau “penjaga si tokoh”, “supir si tokoh”, “anak si tokoh”, atau bahkan pernah muncul bersama si tokoh pada suatu waktu. Semuanya itu –menurut Dien mereka– mengharuskan umat islam untuk mentaati dan mengikut mereka, sebagaimana menurut mereka umat islam harus mentaati dan mengikuti si tokoh yang lama itu.
Bahkan bisa jadi kerabat atau sahabat si tokoh itu lebih berbahaya fitnahnya atas manusia. Hal itu lantaran banyak dari orang yang dijadikan sebagai tokoh itu tidak rela dirinya dijadikan tokoh, hanya karena mereka melakukan aksi yang berbuah pujian dan pengagungan manusia kepadanya sedangkan mereka sendiri tidak peduli. Adapun si tokoh baru ini, mereka ingin dan menuntut keterkenalan, sekalipun mereka tidak punya kelayakan selain hubungan dengan tokoh lama itu. Maka akhirnya engkau dapati mereka bertindak sesuka hatinya, bersandarkan hubungannya itu. Parahnya, sekalipun betapa sesat dan menyesatkannya tokoh baru ini, orang-orang yang terfitnah terus membelanya dan mengingatkan manusia akan hubungannya dengan tokoh lama mereka. Mereka menganggap kritikan atas si sesat ini sebagai kritikan atas si tokoh lama, bagai suatu dosa besar yang tidak termaafkan.
Oleh karena itu, kita akan mendapati si tokoh baru itu selalu berusaha menjaga kedudukan pendahulunya baik di dalam maupun di luar jama’ah. Karena ia mendapatkan kedudukan tokohnya itu lantaran hubungannya dengan tokoh lama. Jika tokoh lama itu kehilangan kedudukannya maka ia juga akan banyak kehilangan tokohnya itu lantaran hubungan langsungya. Bahkan hubungannya itu bisa menjadi malapetaka jika si tokoh lama jatuh martabatnya ketika pengikutnya menemukan suatu aib dalam biografinya yang sebelumnya tidak mereka ketahui. Pada kondisi ini, pembelaan si tokoh baru atas tokoh lama itu hanyalah bentuk dari membela dirinya sendiri.
Bahaya lain yang ditimbulkan orang-orang itu atas suatu jama’ah atau tanzhim adalah bahwa mereka dalam banyak kesempatan ternyata menduduki hirarki kepemimpinan tertinggi tanpa mempunyai kapasitas dan kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas yang sesuai dengan kedudukannya. Maka yang timbul hanyalah kerusakan. Sebagaimana juga bahwa kedudukan mereka itu akan menimbulkan kecemburuan internal jika ternyata ada yang lebih mumpuni, yang pasti akan mengakibatkan perpecahan dan kehancuran.
Di sisi lain, kerabat dan orang-orang dekat si tokoh akan lebih terancam kedudukannya mengalami pergeseran dari pusat komando jama’ah. Karena orang-orang yang tidak puas dengan kepemimpinan baru itu akan berkumpul di sekeliling mereka menuntut berbagai macam hal untuk menutup celah bagi para pembelot sekalipun sekedar imajinasi, memanfaatkan ketokohan mereka untuk mengungguli anggota dan petinggi lainnya melalui tuduhan telah melenceng dari garis perjuangan otentik.
Mereka memanfaatkan tokoh-tokoh baru itu sebagai bukti tuduhan yang mereka tudingkan itu, dengan anggapan bahwa tokoh-tokoh baru itu adalah pewaris manhaj tokoh lama dan pembela mazhabnya dari para perusak. Mereka juga lebih terancam mendapatkan penentangan dan pembangkangan jika dimakzulkan (dilengserkan) dari kedudukannya maupun disingkap sebagian ketidak mampuannya, karena terkadang mereka merasa kebal dari hukuman dan merasa yakin ada pihak yang ikut marah jika mereka marah. Inilah yang jelas kita dapati di partai-partai politik maupun organisasi-organisasi, baik sekuler maupun islamis. Bahkan kita dapati secara nyata pada tarekat-tarekat sufi dan firqah-firqah sesat menyesatkan lainnya.
Fakta ini mendorong thaghut, petinggi kelompok, dan pemimpin partai serta organisasi berusaha semaksimal mungkin mendapatkan persetujuan kerabat-kerabat si tokoh. Maka mereka selalu berusaha mendekati anak-anak dan cucu-cucunya, untuk mendapatkan legitimasi di mata para pengikutnya.
Contoh yang paling jelas adalah rezim Alu Su’ud. Sekalipun mereka adalah thaghut murtad yang telah membuang jauh-jauh Dien dan melenceng dari jalan nenek moyangnya yang muwahid, namun mereka masih terus berusaha mendekati sebagian cucu Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah yang dikenal dengan marga Alu Syaikh. Mereka tarik sebagian cucu Syaikh menjadi murtad dengan mengangkatnya menjadi menteri dan mufti untuk menipu orang-orang bodoh. Sehingga dengan adanya mereka itu, para ulama suu akan menjadikannya bukti bahwa rezim Alu Su’ud masih menapaki manhaj tauhid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sebagaimana pendahulu mereka Imam Muhammad bin Su’ud. Selama Alu Syaikh masih berada di barisan Alu Su’ud maka –dalam pandangan orang-orang bodoh itu– itu bukti bahwa mereka masih mengikuti manhaj Syaikh dan jejak para pendahulu Alu Su’ud.
Sekalipun sebagian cucu Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab jelas-jelas telah jatuh murtad –seperti mufti Alu Su’ud sekarang yaitu Abdul Aziz Alu Syaikh, Menteri Wakaf Shalih Alu Syaikh dan masyayikh resmi serta tidak resmi lainnya– lantaran berwali kepada thaghut yang berhukum kepada selain syariat Allah, membantu salibis dan murtadin memerangi para muwahid dengan dukungan doa dan perkataan mereka, sekalipun demikian, kebanyak orang tidak menerima jika mereka dikritik, karena baginya mereka adalah pewaris ilmu Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan pelindung mazhabnya.
Simbiosis mutualisme antara thaghut Alu Su’ud dan murtadin Alu Syaikh bisa dipastikan segera berakhir ditengah percepatan proyek westernisasi dan sekularisasi Jazirah Arab. Tidak aneh jika hubungan ini nantinya berakhir dengan kampanye distorsi yang dilancarkan media Alu Su’ud atas Alu Syaikh berupa tuduhan-tuduhan keji, menganggap mereka kelompok kekanak-kanakan yang mendapatkan keuntungan dari kedekatannya kepada rezim sekalipun tidak memberi keuntungan kepada negara. Hal itu dilakukan untuk mematahkan ketokohan mereka yang telah dimanfaatkan Alu Su’ud selama ini, sebagai langkah pertama untuk melemahkan lalu menyingkirkan mereka dari panggung, mencegah mereka berubah menjadi pusat tujuan orang-orang yang ingin memanfaatkan ketokohan mereka dalam rangka menyaingi Alu Su’ud.
Demikian juga si thaghut nasionalis yang telah mati itu yaitu Akhtar Manshur yang segera meminta bai’at dari keluarga amirnya yang dulu yaitu Mullah Umar, namun ternyata ia baru mendapatkannya berbulan-bulan berikutnya setelah melalui negosiasi alot yang berbuntut diserahkannya beberapa jabatan penting di gerakan nasionalis Taliban kepada anggota keluarga Mullah Umar. Sehingga jadilah bai’at ini sebagai legitimasi thaghut Akhtar Manshur yang tanpanya ia tidak akan bisa mendapatkan dukungan dalam gerakan ini.
Gerakan yang amat terwarnai dengan adat-adat kabilah dan pemikiran sufi Deoband berupa pewarisan kepemimpinan syaikh kabilah atau tarekat kepada putra tertuanya. Jika Akhtar Manshur diberi umur panjang mungkin kita akan menemukannya berusaha menyingkirkan keluarga Mullah Umar dari panggung pergolakan setelah merebut kembali beberapa jabatan yang terpaksa diserahkannya setelah berhasil mengokohkan kedudukannya dan menyingkirkan titik-titk yang mengancam kewibawaannya dalam gerakan nasionalis Taliban, setelah ia terbukti mengangkangi kepemimpinan Taliban selama beberapa tahun dengan cara menyembunyikan kabar kematian Mullah Umar.
Sesungguhnya para ahli tauhid yang murni dan pengikut manhaj nabawi yang lurus selamanya tidak akan mendasarkan ideologi mereka atas tokoh-tokoh tertentu seberapapun berjasa dan terpujinya ia. Mereka mendasarkannya atas pondasi yang kokoh dari Kitabullah dan Sunnah. Oleh karena itu, mereka tidak pernah merasa harus selalu menguatkan jama’ah dengan tokoh, dan terus menciptakan sosok tokoh demi tokoh di setiap generasi untuk menjaga keutuhan jama’ah, tidak seperti yang dilakukan partai-partai dan organisasi-organisasi yang sesat dan menyimpang. Sehingga kita dapati para kerabat dan sahabat petingginya mendapatkan penghormatan dan penghargaan dari anggotanya sesuai dengan komitmen mereka kepada manhaj yang lurus, sesuai dengan kadar kebaikan dan amal shaleh yang mereka lakukan, bukan berdasarkan kekerabatan, persahabatan, maupun hubungan khusus.
Ayat-ayat dan hadits-hadits yang terang telah menunjukkan kepada mukmin bahwa hubungan kekerabatan dengan orang shaleh itu tidak bermanfaat sama sekali. Siapapun yang menapaki jalan keshalehan pendahulunya maka ia termasuk dari mereka, dan siapapun yang menyimpang dan tersesat maka Allah akan menjauhkannya dan nasabnya sama sekali tidak bisa mendekatkannya, sebagaimana firman Allah ta’ala, “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya (QS ath-Thuur: 21)
Dan firman-Nya, “Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan diantara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang zhalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata (QS as-Shaffat: 113)
Serta firman-Nya, “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji- Ku (ini) tidak mengenai orang yang zhalim” (QS Al-Baqarah: 124)
Dan juga firman-Nya, “Dan Nuh berseru kepada Rabbnya sambil berkata: “Ya Rabbku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya”. Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan) nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat) nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan” (QS Huud: 45-46)
Sabda beliau shallallahu alaihi wasallam: “Wahai ibu Zubair bin Awwam bibi Rasulullah, wahai Fatimah binti Muhammad, belilah jiwa kalian sendiri karena aku tidak mampu memberikan perlindungan sedikitpun dari Allah.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dan sabda beliau: “Barangsiapa yang dilambatkan oleh amalnya maka nasabnya sama sekali tidak bisa mendorongnya” (HR Muslim)
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.
An-Naba Edisi 44
Fitnah sosok tokoh yang menyebabkan manusia tergantung dan membebek tokoh-tokoh tersebut sekalipun telah jelas sesat, tidak hanya menerpa orang itu aja. Orang-orang yang terfitnah itu juga berusaha menjadikan sahabat atau orang-orang dekat si tokoh menggantikan tokoh tersebut. Jika si tokoh tersebut meninggal segeralah mereka mengangkat dan mengagungkan salah satu keluarga atau orang-orang dekatnya untuk menggantikan si tokoh itu. Yang dipilih atau dipaksa diangkat mayoritasnya adalah orang-orang yang berada di lingkaran si tokoh, atau bisa jadi orang jauh akan tetapi mereka berhasil mencari-cari hubungannya dengan si tokoh dan mengotentikkannya agar menjadi legitmasi bagi tokoh baru itu. Sehingga manhaj ketokohan yang lama terus berlangsung.
Cukup mudah sebenarnya, dengan izin Allah, memahami fenomena pengagungan keluarga dan orang-orang dekat si tokoh ini. Orang-orang yang membangun manhaj mereka berdasar atas tokoh dan tokoh akan merasa sesak jika si tokoh tidak ada karena meninggal atau sebab lain. Maka pilihannya adalah mereka mengklaim sebagaimana klaim Rafidhah jika si tokoh itu masih hidup dan terus bermajelis dengan mereka secara rahasia untuk membetulkan kesalahan-kesalahan yang terjadi, atau mereka mengangkat salah satu keluarga atau sahabatnya sebagai tokoh selanjutnya. Kemudian mereka menjadikannya menara seruan agar manusia melandaskan Diennya diatasnya, setelah mereka buktikan bahwa si tokoh baru ini memang telah mewarisi ilmu dan sifat tokoh lama, sehingga dialah yang paling mampu menjaga manhajnya dan membimbing pengikutnya.
Oleh karena itu, engkau dapati mereka tak kenal lelah untuk terus menampakkan tokoh barunya, terus berduel dengan bersenjatakan kuatnya hubungan tokoh barunya dengan tokoh lamanya. Entah dia itu “sahabat si tokoh”, atau “penjaga si tokoh”, “supir si tokoh”, “anak si tokoh”, atau bahkan pernah muncul bersama si tokoh pada suatu waktu. Semuanya itu –menurut Dien mereka– mengharuskan umat islam untuk mentaati dan mengikut mereka, sebagaimana menurut mereka umat islam harus mentaati dan mengikuti si tokoh yang lama itu.
Bahkan bisa jadi kerabat atau sahabat si tokoh itu lebih berbahaya fitnahnya atas manusia. Hal itu lantaran banyak dari orang yang dijadikan sebagai tokoh itu tidak rela dirinya dijadikan tokoh, hanya karena mereka melakukan aksi yang berbuah pujian dan pengagungan manusia kepadanya sedangkan mereka sendiri tidak peduli. Adapun si tokoh baru ini, mereka ingin dan menuntut keterkenalan, sekalipun mereka tidak punya kelayakan selain hubungan dengan tokoh lama itu. Maka akhirnya engkau dapati mereka bertindak sesuka hatinya, bersandarkan hubungannya itu. Parahnya, sekalipun betapa sesat dan menyesatkannya tokoh baru ini, orang-orang yang terfitnah terus membelanya dan mengingatkan manusia akan hubungannya dengan tokoh lama mereka. Mereka menganggap kritikan atas si sesat ini sebagai kritikan atas si tokoh lama, bagai suatu dosa besar yang tidak termaafkan.
Oleh karena itu, kita akan mendapati si tokoh baru itu selalu berusaha menjaga kedudukan pendahulunya baik di dalam maupun di luar jama’ah. Karena ia mendapatkan kedudukan tokohnya itu lantaran hubungannya dengan tokoh lama. Jika tokoh lama itu kehilangan kedudukannya maka ia juga akan banyak kehilangan tokohnya itu lantaran hubungan langsungya. Bahkan hubungannya itu bisa menjadi malapetaka jika si tokoh lama jatuh martabatnya ketika pengikutnya menemukan suatu aib dalam biografinya yang sebelumnya tidak mereka ketahui. Pada kondisi ini, pembelaan si tokoh baru atas tokoh lama itu hanyalah bentuk dari membela dirinya sendiri.
Bahaya lain yang ditimbulkan orang-orang itu atas suatu jama’ah atau tanzhim adalah bahwa mereka dalam banyak kesempatan ternyata menduduki hirarki kepemimpinan tertinggi tanpa mempunyai kapasitas dan kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas yang sesuai dengan kedudukannya. Maka yang timbul hanyalah kerusakan. Sebagaimana juga bahwa kedudukan mereka itu akan menimbulkan kecemburuan internal jika ternyata ada yang lebih mumpuni, yang pasti akan mengakibatkan perpecahan dan kehancuran.
Di sisi lain, kerabat dan orang-orang dekat si tokoh akan lebih terancam kedudukannya mengalami pergeseran dari pusat komando jama’ah. Karena orang-orang yang tidak puas dengan kepemimpinan baru itu akan berkumpul di sekeliling mereka menuntut berbagai macam hal untuk menutup celah bagi para pembelot sekalipun sekedar imajinasi, memanfaatkan ketokohan mereka untuk mengungguli anggota dan petinggi lainnya melalui tuduhan telah melenceng dari garis perjuangan otentik.
Mereka memanfaatkan tokoh-tokoh baru itu sebagai bukti tuduhan yang mereka tudingkan itu, dengan anggapan bahwa tokoh-tokoh baru itu adalah pewaris manhaj tokoh lama dan pembela mazhabnya dari para perusak. Mereka juga lebih terancam mendapatkan penentangan dan pembangkangan jika dimakzulkan (dilengserkan) dari kedudukannya maupun disingkap sebagian ketidak mampuannya, karena terkadang mereka merasa kebal dari hukuman dan merasa yakin ada pihak yang ikut marah jika mereka marah. Inilah yang jelas kita dapati di partai-partai politik maupun organisasi-organisasi, baik sekuler maupun islamis. Bahkan kita dapati secara nyata pada tarekat-tarekat sufi dan firqah-firqah sesat menyesatkan lainnya.
Fakta ini mendorong thaghut, petinggi kelompok, dan pemimpin partai serta organisasi berusaha semaksimal mungkin mendapatkan persetujuan kerabat-kerabat si tokoh. Maka mereka selalu berusaha mendekati anak-anak dan cucu-cucunya, untuk mendapatkan legitimasi di mata para pengikutnya.
Contoh yang paling jelas adalah rezim Alu Su’ud. Sekalipun mereka adalah thaghut murtad yang telah membuang jauh-jauh Dien dan melenceng dari jalan nenek moyangnya yang muwahid, namun mereka masih terus berusaha mendekati sebagian cucu Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah yang dikenal dengan marga Alu Syaikh. Mereka tarik sebagian cucu Syaikh menjadi murtad dengan mengangkatnya menjadi menteri dan mufti untuk menipu orang-orang bodoh. Sehingga dengan adanya mereka itu, para ulama suu akan menjadikannya bukti bahwa rezim Alu Su’ud masih menapaki manhaj tauhid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sebagaimana pendahulu mereka Imam Muhammad bin Su’ud. Selama Alu Syaikh masih berada di barisan Alu Su’ud maka –dalam pandangan orang-orang bodoh itu– itu bukti bahwa mereka masih mengikuti manhaj Syaikh dan jejak para pendahulu Alu Su’ud.
Sekalipun sebagian cucu Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab jelas-jelas telah jatuh murtad –seperti mufti Alu Su’ud sekarang yaitu Abdul Aziz Alu Syaikh, Menteri Wakaf Shalih Alu Syaikh dan masyayikh resmi serta tidak resmi lainnya– lantaran berwali kepada thaghut yang berhukum kepada selain syariat Allah, membantu salibis dan murtadin memerangi para muwahid dengan dukungan doa dan perkataan mereka, sekalipun demikian, kebanyak orang tidak menerima jika mereka dikritik, karena baginya mereka adalah pewaris ilmu Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan pelindung mazhabnya.
Simbiosis mutualisme antara thaghut Alu Su’ud dan murtadin Alu Syaikh bisa dipastikan segera berakhir ditengah percepatan proyek westernisasi dan sekularisasi Jazirah Arab. Tidak aneh jika hubungan ini nantinya berakhir dengan kampanye distorsi yang dilancarkan media Alu Su’ud atas Alu Syaikh berupa tuduhan-tuduhan keji, menganggap mereka kelompok kekanak-kanakan yang mendapatkan keuntungan dari kedekatannya kepada rezim sekalipun tidak memberi keuntungan kepada negara. Hal itu dilakukan untuk mematahkan ketokohan mereka yang telah dimanfaatkan Alu Su’ud selama ini, sebagai langkah pertama untuk melemahkan lalu menyingkirkan mereka dari panggung, mencegah mereka berubah menjadi pusat tujuan orang-orang yang ingin memanfaatkan ketokohan mereka dalam rangka menyaingi Alu Su’ud.
Demikian juga si thaghut nasionalis yang telah mati itu yaitu Akhtar Manshur yang segera meminta bai’at dari keluarga amirnya yang dulu yaitu Mullah Umar, namun ternyata ia baru mendapatkannya berbulan-bulan berikutnya setelah melalui negosiasi alot yang berbuntut diserahkannya beberapa jabatan penting di gerakan nasionalis Taliban kepada anggota keluarga Mullah Umar. Sehingga jadilah bai’at ini sebagai legitimasi thaghut Akhtar Manshur yang tanpanya ia tidak akan bisa mendapatkan dukungan dalam gerakan ini.
Gerakan yang amat terwarnai dengan adat-adat kabilah dan pemikiran sufi Deoband berupa pewarisan kepemimpinan syaikh kabilah atau tarekat kepada putra tertuanya. Jika Akhtar Manshur diberi umur panjang mungkin kita akan menemukannya berusaha menyingkirkan keluarga Mullah Umar dari panggung pergolakan setelah merebut kembali beberapa jabatan yang terpaksa diserahkannya setelah berhasil mengokohkan kedudukannya dan menyingkirkan titik-titk yang mengancam kewibawaannya dalam gerakan nasionalis Taliban, setelah ia terbukti mengangkangi kepemimpinan Taliban selama beberapa tahun dengan cara menyembunyikan kabar kematian Mullah Umar.
Sesungguhnya para ahli tauhid yang murni dan pengikut manhaj nabawi yang lurus selamanya tidak akan mendasarkan ideologi mereka atas tokoh-tokoh tertentu seberapapun berjasa dan terpujinya ia. Mereka mendasarkannya atas pondasi yang kokoh dari Kitabullah dan Sunnah. Oleh karena itu, mereka tidak pernah merasa harus selalu menguatkan jama’ah dengan tokoh, dan terus menciptakan sosok tokoh demi tokoh di setiap generasi untuk menjaga keutuhan jama’ah, tidak seperti yang dilakukan partai-partai dan organisasi-organisasi yang sesat dan menyimpang. Sehingga kita dapati para kerabat dan sahabat petingginya mendapatkan penghormatan dan penghargaan dari anggotanya sesuai dengan komitmen mereka kepada manhaj yang lurus, sesuai dengan kadar kebaikan dan amal shaleh yang mereka lakukan, bukan berdasarkan kekerabatan, persahabatan, maupun hubungan khusus.
Ayat-ayat dan hadits-hadits yang terang telah menunjukkan kepada mukmin bahwa hubungan kekerabatan dengan orang shaleh itu tidak bermanfaat sama sekali. Siapapun yang menapaki jalan keshalehan pendahulunya maka ia termasuk dari mereka, dan siapapun yang menyimpang dan tersesat maka Allah akan menjauhkannya dan nasabnya sama sekali tidak bisa mendekatkannya, sebagaimana firman Allah ta’ala, “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya (QS ath-Thuur: 21)
Dan firman-Nya, “Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan diantara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang zhalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata (QS as-Shaffat: 113)
Serta firman-Nya, “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji- Ku (ini) tidak mengenai orang yang zhalim” (QS Al-Baqarah: 124)
Dan juga firman-Nya, “Dan Nuh berseru kepada Rabbnya sambil berkata: “Ya Rabbku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya”. Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan) nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat) nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan” (QS Huud: 45-46)
Sabda beliau shallallahu alaihi wasallam: “Wahai ibu Zubair bin Awwam bibi Rasulullah, wahai Fatimah binti Muhammad, belilah jiwa kalian sendiri karena aku tidak mampu memberikan perlindungan sedikitpun dari Allah.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dan sabda beliau: “Barangsiapa yang dilambatkan oleh amalnya maka nasabnya sama sekali tidak bisa mendorongnya” (HR Muslim)
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.
An-Naba Edisi 44