Tampilkan postingan dengan label Dari Lembaran Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dari Lembaran Sejarah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 April 2018

JAWABAN KEPADA DAKWAH NABI

DABIQ 15 - SEJARAH

JAWABAN KEPADA DAKWAH NABI

Setelah Perjanjian Hudaibiyah di tahun ke-6 hijriyah, Daulah Islam, dibawah pimpinan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, mengambil keuntungan dari perjanjian damai sementara dengan kaum kafir Quraisy untuk mulai menyebarkan cahaya Islam ke wilayah sekitar dari Jazirah Arab dan negeri-negeri yang jauh. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim utusan kepada para penguasa di berbagai negeri, menyampaikan kepada mereka risalah Islam, mengajak mereka untuk masuk Islam dan mengikutinya diatas jalan petunjuk, serta memberi mereka peringatan bahwa jika mereka menolak mereka akan bertanggungjawab atas kekafiran dan kesesatan rakyatnya.

Diantara penguasa yang dikirimi surat oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Raja Habasyah “Asyamah ibnu Abjar” yang dikenal dengan Najasyi (Negus), Raja Koptik Mesir “Juraij ibnu Mina” yang dikenal dengan Muqauqas, dan Kaisar Bizantium “Heraklius”. Ketiga penguasa Kristen tersebut masing-masing menerima Islam, namun jawaban dan respon mereka berbeda.

Adapun Asyamah, yang telah menampung puluhan sahabat (yang berhijrah) di kerajaannya –termasuk sepupunya Ja’far radhiyallahu ‘anhu- ketika mereka lari dari penganiayaan musyrikin Makkah, dia menyadari kebenaran Islam dan segera menyatakan keislamannya (mengikuti risalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) di depan istananya. Ini terjadi ketika kaum Quraisy mengirim dua utusan kepadanya untuk memintanya menyerahkan Ja’far dan kaum muslimin yang bersamanya agar bisa kembali ke Makkah.

Kedua utusan itu adalah “Amr ibnu Al-Ash” dan “Abdullah ibnu Abi Rabi’ah”, yang membawa berbagai untuk Asyamah dan para menterinya. Terlebih dahulu mereka memberikan hadiah kepada para menteri dan menjelaskan kepada mereka permintaan yang akan mereka ajukan kepada Asyamah dengan harapan para menteri itu akan membantu mereka dan membujuk Asyamah untuk memenuhi permintaan mereka. Para menteri menerima hadiah itu dan setuju untuk melakukannya. Kedua utusan itu lalu menemui Asyamah memberikan hadiah dari mereka, dan kemudian berbicara kepadanya, “Wahai raja, sesungguhnya sejumlah pemuda bodoh telah mengungsi ke negerimu. Mereka telah meninggalkan agama kaumnya dan tidak masuk ke agamamu. Mereka telah datang dengan sebuah agama baru yang mereka ciptakan dan yang tidak diketahui oleh kami dan olehmu. Kami telah diutus kepadamu, terkait mereka, oleh para pembesar kaum kami, dari kalangan bapak-bapak mereka, paman-paman mereka, dan kabilahkabilah mereka, supaya engkau mengembalikan (para pemuda ini) kepada mereka, karena mereka yang paling mengenal mereka dan lebih mengetahui atas apa mereka menyalahkan dan mengingatkan mereka.”

Para menteri berkata, "Mereka telah berkata jujur, wahai raja. Serahkanlah mereka sehingga mereka bisa dikembalikan ke kaum dan negeri mereka." Namun, Asyamah, ingin mendengar kisah dari sisi lainnya, maka dia memanggil kaum Muslimin dan bertanya kepada mereka, "Apakah agama yang karenanya kalian telah meninggalkan kaum kalian, karenanya kalian tidak masuk ke agamaku tidak pula agama-agama lainnya?"

Ja'far radhiyallahu ‘anhu, sebagai juru bicara kaum Muslimin, berkata, "Wahai raja, kami dulunya ialah orang-orang bodoh yang menyembah berhala, memakan bangkai binatang, melakukan zina, memutus silaturahim, dan menyakiti tetangga kami; dan orang-orang kuat di antara kami menzhalimi yang lemah."

"Kami terus seperti itu sampai Allah mengutus kepada kami seorang rasul dari kalangan kami yang keturunan, kejujuran, sifat terpercaya, dan kedermawanannya kami kenal. Dia menyeru kami kepada mentauhidkan Allah, memerintahkan kami untuk beribadah kepada-Nya dan meninggalkan apa yang kami dan bapak-bapak kami sembah berupa batu-batu dan berhala, dan memerintahkan kami untuk berbicara jujur, memenuhi amanah [kepada yang berhak], menyambung silaturahim, berbuat baik pada tetangga, dan menahan diri dari perkara-perkara haram dan penumpahan darah yang haram, dan dia melarang kami dari zina, berbicara dusta, memakan harta anak yatim, dan menuduh wanita yang suci berzina. Dia memerintahkan kepada kami untuk beribadah kepada Allah semata dan tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya dan memerintahkan kami dengan shalat, zakat, dan puasa. Maka kami mengakui kebenarannya dan beriman kepadanya, dan kami mengikutinya di atas apa yang ia bawa dari agama Allah.

"Kami beribadah kepada Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun, kami mengharamkan apa yang telah ia haramkan atas kami, dan menghalalkan apa yang ia halalkan atas kami, maka kaum kami memusuhi kami. Mereka menyiksa kami dan ingin mengeluarkan kami dari agama kami dengan bujukan dan penganiayaan untuk mengembalikan kami untuk menyembah berhala selain Allah yang Maha Mulia, dan untuk menghalalkan hal-hal jahat yang dulu kami halalkan. Jadi, ketika mereka merendahkan kami, menzhalimi kami, membuat segala sesuatu sulit bagi kami, dan menghalang-halangi kami dari agama kami, maka kami pergi ke negerimu. Kami memilihmu dari semua selainmu, dan kami menginginkan perlindunganmu, dan berharap kami tidak akan terzhalimi di depanmu, wahai raja."

Asyamah bertanya padanya, “Apakah engkau membawa sesuatu dari apa yang ia bawa dari Allah?” Ja’far menjawab, “Ya.” Maka Asyamah berkata, “Bacakanlah ia untukku.” Maka Ja’far membacakan untuknya bagian pertama Surat Maryam. Asyamah menangis hingga jenggotnya menjadi basah dan para menterinya juga menangis hingga buku-buku mereka menjadi basah saat mereka mendengar apa yang dibacakan Ja’far untuk mereka.

Asyamah kemudian berkata, “Sesungguhnya, ini dan apa yang dibawa Yesus datang dari sumber yang sama.” Dia pun kemudian berkata kepada dua utusan Quraisy, “Pergilah, karena demi Allah aku tidak akan menyerahkan mereka kepadamu dan mereka tidak akan disakiti.” Maka mereka pergi, dan ‘Amr berkata kepada ‘Abdullah, “Demi Allah, besuk aku akan membawakannya sesuatu dari mereka yang akan mencabut kegembiraan mereka.”

Keesokan harinya, ‘Amr berkata kepada Asyamah, “Wahai raja, mereka mengatakan sesuatu yang besar mengenai ‘Isa putra Maryam.” Maka Asyamah memanggil Ja’far dan kaum Muslimin yang bersamanya dan menanyai mereka tentang apa yang mereka katakan tentang ‘Isa. Ja’far berkata, "Kami katakan tentangnya sebagaimana yang diajarkan nabi kami shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kami – bahwa dia adalah hamba Allah, rasul-Nya, ruh [pilihan]-Nya, dan kalimat-Nya yang Dia sampaikan ke perawan Maryam.”[1] Asyamah lalu mengambil sebuah tongkat lantas berkata, “Demi Allah, ‘Isa putra Maryam tidak melebihi apa yang engkau katakan walau sepanjang tongkat ini.” Para menterinya mendengus, maka dia berkata kepada mereka, “Demi Allah, meskipun kalian mendengus!” (Sirah Ibnu Hisyam).

Beberapa tahun kemudian, ketika surat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sampai padanya, dia telah menyatakan syahadat keimanan, menjawab Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kata-kata berikut:

“Bismillaahirrahmaanirrahiim. Kepada Muhammad, Rasulullah, dari Najasyi Asyamah: Semoga shalawat dan salam Allah terlimpah kepadamu, wahai Nabi Allah, sekaligus rahmat dan kasih sayang-Nya; Laa ilaaha illallaah.”

“Amma ba’du: Suratmu telah sampai padaku, wahai Rasulullah, termasuk apa yang engkau sebutkan mengenai ‘Isa. Demi Tuhan langit dan bumi, ‘Isa tidak melebihi dari apa yang engkau katakan. Bahkan, dia adalah apa engkau katakan. Kami telah mempelajarinya dengan apa yang engkau kirimkan kepada kami, dan kami telah menampung sepupumu dan para sahabatmu. Maka, aku bersaksi, dengan kebenaran dan keyakinan, bahwa engkau adalah Rasulullah, dan aku berbai’at kepadamu. Aku telah berbai’at kepada sepupumu dan, di tangannya, aku telah berserah diri pada Allah, Tuhan seluruh makhluk” (Zadul Ma’ad).

Jadi, setelah dipercaya untuk mengurus dan melindungi keluarga dan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia, hubungan Asyamah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beralih ke babak baru. Dengan masuk Islam, dia telah membatalkan loyalitasnya kepada orang-orang kafir dan menggenggam ikatan Islam yang kuat, menjadikannya satu-satunya timbangan untuk menentukan hubungan dia dengan orang lain. Hal ini terwujud ketika dia memutus hubungan dengan kaisar Byzantium, Heraklius, dengan membatalkan pajak yang biasa ia bayarkan kepadanya.

Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus ‘Amr bin Al-Ash kepada dua raja Oman dengan suratnya yang menyeru mereka untuk masuk Islam, 'Amr bertemu dengan yang lebih muda dari dua saudara yang memerintah negeri itu, menjawab beberapa pertanyaannya, dan memberitahunya bahwa Asyamah memeluk Islam.[2] Raja itu menyatakan keyakinannya bahwa kaisar Byzantium, Heraklius, tidak menyadari hal ini, tapi 'Amr memberitahunya bahwa ia menyadari fakta ini. Ketika dia bertanya pada 'Amr bagaimana ia tahu hal ini, 'Amr berkata bahwa Asyamah biasa membayar pajak kepada Heraklius, tetapi setelah masuk Islam ia berhenti membayar pajak berikutnya, dan mengatakan, "Tidak, demi Allah! Jika ia meminta dariku satu dirham, aku tidak akan memberikannya" (Zadul Ma'ad).

Ketika Asyamah wafat, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan para sahabatnya untuk shalat ghaib bagi jenazahnya, hal ini dilakukan pertama kali dalam Islam. Beliau memberitahu sahabatnya tentang kematian raja Habasyah, dengan bersabda, "Seorang shaleh telah wafat hari ini, maka bangkit dan mintakanlah ampunan bagi saudara kalian Asyamah" (Al-Bukhari).

Adapun Heraklius, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim Dihyah al-Qalbi radhiyallahu ‘anhu kepada pemimpin Busra dengan suratnya agar ia akan meneruskannya ke Heraklius. 'Abdullah Ibnu 'Abbas radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa Abu Sufyan ibn Harb radhiyallahu ‘anhu memberitahunya bahwa Heraklius datang padanya ketika ia bersama kafilah Quraisy melakukan bisnis di Syam selama periode Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan perjanjian damai dengan Abu Sufyan dan kafir Quraisy.[3] Maka ia dan sahabatnya datang ke Heraklius ketika dia berada di Yerusalem. Heraklius memanggil mereka ke istana dengan dihadiri pemimpin Romawi. Dia kemudian memanggil mereka ke depan dan memanggil penerjemah, dan kemudian berkata, "Siapa di antara kalian yang paling dekat kekerabatannya dengan orang ini yang mengklaim dirinya sebagai seorang nabi?"

Abu Sufyan berkata, "Akulah yang paling dekat." Dia lalu berkata, "Bawa dia mendekat padaku dan biarkan mereka berdiri di belakangnya." Dia lalu berkata kepada penerjemah, "Katakan kepada mereka bahwa aku akan bertanya padanya tentang orang ini [Nabi], maka jika ia membohongiku mereka harus membantahnya."

Ketika mengisahkan peristiwa itu pada Ibnu 'Abbas, Abu Sufyan berkata, "Demi Allah, jika tidak karena aku takut mereka akan mendapatiku berbohong, aku akan berbohong tentang beliau. Lalu, hal pertama yang ia tanyakan adalah, 'Bagaimana kedudukan nasabnya di antara kalian?' Aku berkata, 'Beliau memiliki nasab yang mulia di antara kami.' Dia berkata, 'Adakah seseorang dari kalian pernah mengklaim seperti ini [kenabian]?" Aku berkata, 'Tidak.’ Dia berkata, 'Adakah salah satu dari leluhurnya seorang raja?" Aku berkata, 'Tidak.' Dia berkata, 'Apakah yang mengikutinya adalah dari kalangan bangsawan atau kalangan lemah?' Aku berkata, 'Kalangan lemah.' Dia berkata, 'Apakah jumlah mereka terus meningkat atau menurun?" Aku berkata, 'Mereka meningkat.’ Dia berkata, 'Adakah dari mereka yang meninggalkan agamanya karena tidak menyukainya setelah mereka masuk ke dalamnya? "Aku berkata, 'Tidak.’ Dia berkata, 'Apakah kamu pernah mendapatinya berbohong sebelum ia membuat klaim ini?’ Aku berkata, 'Tidak.’ Dia berkata, 'Apakah dia berkhianat?" Aku berkata, 'Tidak, tapi kami sedang dalam perjanjian damai dengannya dan tidak tahu apa yang akan ia lakukan dengannya."

Aku tidak menemukan kesempatan untuk mengatakan sesuatu yang melawannya selain itu. Dia lalu berkata, 'Apakah kamu memeranginya?" Aku berkata, 'Ya.; Dia berkata, ‘Bagaimana hasil peperanganmu dengannya?’ Aku berkata, 'Perang antara kami bergantian menang dan kalah; ia mengalahkan kami dan kami mengalahkannya.’ Dia berkata, 'Apa yang ia perintahkan padamu?’ Aku berkata, 'Dia menyuruh kami, 'Sembahlah Allah saja dan jangan menyekutu-Nya, dan tinggalkan perkataan nenek moyangmu.’ Dia menyuruh kami untuk shalat, bersedekah, berkata jujur, menjaga kehormatan, dan menjaga silaturahim.”’

“Dia lalu berkata pada penerjemahnya, 'Katakan padanya, 'Aku bertanya padamu mengenai nasabnya dan kau katakan ia memiliki nasab yang mulia dari kaumnya. Demikianlah para Rasul; mereka berasal dari nasab yang mulia diantara kaumnya. Aku bertanya padamu adakah di antara kalian yang pernah membuat klaim serupa [kenabian] dan kau katakan ‘Tidak.’ Aku katakan pada diriku jika ada seseorang yang membuat klaim serupa sebelumnya, aku akan berpikir bahwa dia hanya seseorang yang meniru apa yang dilakukan orang lain sebelumnya. Aku bertanya padamu adakah dari leluhurnya yang seorang raja dan kau katakan, ‘Tidak.’ Aku katakan pada diriku jika ada dari leluhurnya yang pernah menjadi raja aku akan berpikir bahwa dia adalah seorang lelaki yang ingin mengambil kembali kerajaan leluhurnya. Aku bertanya padamu apakah kau pernah mendapatinya berbohong sebelum ia membuat klaim ini dan kau katakan, ‘Tidak.’ dan yang aku tahu bahwa jika dia tidak menghindari berbohong tentang manusia maka ia juga akan berbohong tentang Allah. Aku bertanya padamu apakah yang mengikutinya dari kalangan bangsawan atau kalangan lemah dan kamu berkata bahwa kalangan lemahlah yang mengikutinya, dan memang, merekalah yang biasanya menjadi pengikut para Rasul. Aku bertanya padamu apakah jumlah mereka semakin bertambah atau berkurang dan kau katakan bahwa jumlah mereka terus bertambah, dan memang, begitulah perkara keimanan hingga ia sempurna. Aku bertanya padamu apakah ada yang meninggalkan agamanya karena tidak menyukainya setelah masuk ke dalamnya dan kau berkata, ‘Tidak,’ dan demikianlah keimanan ketika manisnya telah masuk ke hati dan bersatu dengannya. Aku bertanya padamu apakah ia berkhianat dan kau berkata, ‘Tidak.’ Dan begitulah para Rasul mereka tidak berkhianat. Aku bertanya padamu apa yang dia perintahkan padamu dan kau berkata bahwa perintahnya adalah untuk menyembah Allah saja dan tidak menyekutukan-Nya, melarangmu dari menyembah berhala, menyuruhmu untuk shalat, berkata jujur, dan menjaga kehormatan. Jika yang kau katakan adalah benar maka tak lama lagi dia akan memiliki [kerajaan] yang ada di bawah kakiku. Sungguh, aku tahu bahwa ia akan muncul tapi aku tidak berpikir bahwa ia akan datang dari kalian (bangsa Arab). Jika aku yakin aku bisa mencapainya aku akan bersegera menemuinya, dan jika aku bersamanya aku akan mencuci kakinya.’”

Dia lalu meminta surat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam –yang dikirim melalui Dihyah untuk pemimpin Busra yang kemudian diteruskan ke Heraklius– dan ia membacanya. Isi surat itu adalah sebagai berikut."

"'Bismillaahirrahmaanirrahiim. Dari Muhammad, Rasulullah, kepada Heraklius, pemimpin Roma: Keselamatan bagi yang mengikuti petunjuk.’”

“Amma ba’du: Aku mengajakmu dengan seruan Islam. Masuklah ke dalam Islam dan kau akan selamat, dan Allah akan memberimu pahala dua kali. Tapi jika kamu berpaling, maka kamu menanggung dosa [menyesatkan] rakyatmu.’"

"'Selanjutnya: 'Hai Ahli Kitab, marilah [berpegang] pada suatu kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak [pula] sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.' Namun jika mereka berpaling, maka katakan, 'Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang Muslim [yang berserah diri kepada-Nya]' (Ali 'Imran : 64)'"

"Ketika ia mengatakan apa yang dia katakan dan selesai membaca surat, terjadilah hiruk-pikuk dan suara-suara ribut, hingga mengusir kami. Ketika kami keluar, aku berkata pada temanku, 'Perkara [Muhammad] telah menjadi besar. Raja Romawi takut padanya.' Lalu aku senantiasa yakin bahwa ia akan meraih kejayaan hingga Allah membimbingku pada Islam."

Dalam mempertimbangkan seruan Nabi, Heraklius menulis surat kepada temannya di Roma yang setara dengannya dalam ilmu, lalu ia melakukan perjalanan ke Homs. Sebelum pergi dari Homs, ia menerima balasan dari temannya di Roma, yang menyetujui pendapatnya bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memang seorang nabi. Maka Heraklius memanggil para pembesar Byzantium ke istananya di Homs lalu memerintahkan agar pintupintu dikunci. Lantas dia berpidato pada mereka, mengatakan, "Wahai bangsa Rum, maukah kalian semua memperoleh kemenangan dan petunjuk sedangkan kerajaan kalian tetap utuh dengan berbai'at kepada nabi ini?" Lalu mereka lari ke pintu-pintu bagaikan keledai liar dan mendapatinya terkunci. Ketika Heraklius melihat mereka melarikan diri dan putus harapannya agar mereka menerima Islam, ia berkata, “Bawa mereka kembali padaku.” Ia kemudian mengatakan pada mereka, “Aku hanya mengucapkan apa yang kuucapkan untuk menguji keteguhan hati kalian pada agama kalian, dan aku telah melihatnya.” Maka mereka bersujud padanya dan ridha dengannya, dan inilah akhir kisah Heraklius terkait dengan Islam (Al-Bukhari).

Maka, kaisar Romawi memilih untuk menolak kebenaran –setelah jelas-jelas mengakuinya– dan tetap di atas kebathilan karena takut kehilangan kerajaan dan kekuasaan. Kurang dari dua tahun kemudian, di tahun ke-8 setelah hijrah nabi, peperangan antara umat Muslim dan Imperium Byzantium dimulai. Peperangan yang berlanjut selama beberapa tahun sebelum Byzantium terusir dari Syam secara total, setelah mereka mendapat kekalahan di Pertempuran Yarmuk, dan dipaksa mundur ke benteng mereka di Eropa. Jadi, Heraklius akhirnya kehilangan banyak dari kerajaannya, sebelum akhirnya mati beberapa tahun kemudian, meski telah mengorbankan keselamatan akhiratnya dalam usahanya yang sia-sia untuk mempertahankan kekuasaannya.

Adapun Juraij, raja Koptik Mesir, Ibnul Qayyim menyebutkan dalam "Zadul Ma'ad" bahwa surat Nabi disampaikan kepadanya oleh Hatib ibnu Abi Balta'ah radhiyallahu ‘anhu. Surat itu berisi sebagai berikut:

"Bismillaahirrahmaanirrahiim. Dari Muhammad, hamba Allah, kepada Muqauqas, pemimpin umat Koptik: Keselamatan bagi yang mengikuti petunjuk."

“Amma ba’du: Sesungguhnya aku menyerumu dengan seruan Islam. Masuklah ke dalam Islam maka kau akan selamat. Masuklah ke dalam Islam maka Allah akan memberimu pahala dua kali lipat. Tapi jika kamu berpaling, maka kamu menanggung dosa [menyesatkan] umat Koptik. 'Hai Ahli Kitab, marilah [berpegang] pada suatu kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan suatu apapun dan tidak [pula] sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.' Namun jika mereka berpaling, maka katakanlah, 'Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang Muslim [yang berserah diri kepada- Nya]'" (Ali 'Imran : 64)."

Setelah memberikan surat kepadanya, Hatib menasihatinya, dengan berkata, "Sungguh, ada seorang lelaki sebelum kamu yang mengaku bahwa dirinya adalah Tuhan, Yang Maha Tinggi, sehingga Allah menghukumnya dengan hukuman yang dapat menjadi peringatan untuk yang pertama dan yang terakhir [dari kezhalimannya], menghukum orang lain dengannya dan kemudian menghukumnya. Maka jadikanlah ia sebagai pelajaran dan jangan biarkan orang lain menjadikanmu sebagai pelajaran." Dia lalu menjawab, "Sesungguhnya, kami memiliki agama yang tidak akan kami tinggalkan kecuali untuk yang lebih baik dari itu."

Lalu Hatib berkata, "Kami menyerumu kepada agama Allah, ia adalah agama Islam yang mana Allah menurunkannya untuk menggantikan agama selainnya. Sesungguhnya, nabi ini mengajak manusia [kepada Islam]. Orang-orang yang paling keras memusuhinya adalah [suku] Quraisy, yang paling memusuhinya adalah orang-orang Yahudi, dan yang paling dekat [menerima] dengannya adalah umat Kristen. Aku bersumpah bahwa kabar gembira Musa mengenai Yesus adalah sebagaimana kabar gembira Yesus mengenai Muhammad, dan seruan kami kepada Al-Qur’an adalah sebagaimana seruan pengikut Taurat (yaitu kaum Yahudi) terhadap Injil. Jika ada nabi yang menjangkau suatu umat, mereka adalah orang-orang yang kepada merekalah risalah ditujukan, maka wajib bagi mereka untuk mematuhinya. Dan kalian adalah diantara orang-orang yang Nabi ini jangkau. Kami tidak menghalangimu dari agama Al-Masih yang benar, bahkan kami memerintahkanmu dengannya.”[4]

Meskipun Hatib menasihati dengan baik, Juraij menolak seruan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tapi menanggapi dengan cara yang sopan, dengan menyatakan, "Sesungguhnya, aku telah melihat ke dalam urusan nabi ini dan mendapati bahwa dia tidak memerintahkan apa-apa yang tidak disukai atau melarang dari hal-hal yang diinginkan. Aku tidak mendapati bahwa ia seorang tukang sihir yang sesat atau dukun pembohong, dan aku telah mendapati tanda-tanda kenabian padanya dengan kemampuannya menyingkap apa-apa yang tersembunyi dan mengabarkan apa-apa yang dibicarakan secara rahasia, jadi aku akan memeriksanya."

Dia kemudian mengambil surat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan meletakkannya di sebuah kotak dari gading lalu menyegelnya dan menyerahkannya kepada seorang budak perempuannya. Dia kemudian memanggil salah seorang juru tulisnya untuk menulis surat berikut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Bismillaahirrahmaanirrahiim. Kepada Muhammad ibn ‘Abdillah dari Muqauqas, pemimpin umat Koptik: Semoga keselamatan bagimu. Amma ba’du.”

“Aku telah membaca suratmu dan mengerti apa yang engkau sebutkan di dalamnya dan apa yang kau seru kepadaku. Aku mengetahui bahwa masih ada seorang Nabi [yang belum datang] dan menyangka bahwa ia akan muncul dari Syam. Aku menghormati risalahmu, dan telah aku kirim kepadamu dua orang budak perempuan yang memiliki status yang tinggi diantara umat Koptik, dengan tambahan beberapa pakaian, dan menghadiahimu dengan keledai untuk kamu kendarai. Semoga keselamatan bagimu.”

Demikianlah, meskipun jawaban sopan yang ia berikan, ia tidak menerima Islam dan malah memilih untuk tetap di atas kekafirannya. Setelah menerima surat dan hadiah-hadiahnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan, "Lelaki jahat ini sedang mencengkeram kerajaannya, tapi kerajaannya tidak akan bertahan."

Hanya beberapa tahun kemudian, ekspansi umat Muslim mencapai Mesir di masa Khalifah 'Umar radhiyallahu ‘anhu, dan pemimpin pasukan Muslim di Mesir, 'Amr ibn al-'Ash radhiyallahu ‘anhu, mencapai gerbang Aleksandria dan menawarkan Juraij salah satu dari tiga pilihan: Islam, jizyah, atau perang. Dia memilih untuk membayar jizyah dalam kehinaan, sehingga mengakhiri kekuasaannya saat ia memilih untuk tetap hidup dalan kedamaian –dengan ditundukkan dan diturunkan dari tahta– daripada memasuki perang berkepanjangan dengan umat Muslim.

Oleh karena itu, jawaban yang berbeda dari ketiga pemimpin Kristen itu terhadap dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengantarkan mereka kepada nasib yang berbedabeda. Asyamah memilih Islam dan dengannya menjaga kehidupan dunianya ditambah dengan mendapatkan kebahagiaan yang kekal di akhirat, sedangkan Juraij dan Heraklius menolak dakwah, masing-masing memilih pilihan yang berbeda dalam berusaha untuk mempertahankan apa yang bisa ia pertahankan dari kehidupan dunianya. Juraij memilih untuk membayar jizyah dengan harapan menghindari terjadinya pertumpahan darah dan perbudakan dalam waktu dekat dan memperoleh kedamaian, meskipun dalam keadaan terhina, dan penurunan tahta. Sementara itu, Heraklius, memilih perang, berharap dapat menghalau ancaman terhadap kedudukan dan hartanya, masing-masing berusaha mempertahankan secuil bagian dari kehidupan dunianya sembari mengorbankan keselamatan di akhirat, namun sebaliknya, masing-masing dari mereka harus kehilangan keduanya.

Ini adalah pilihan yang sama yang ditawarkan kepada umat Kristen hari ini. Mereka mempunyai pilihan untuk mencoba menggenggam kemewahan hidup yang sementara, menolak kebenaran dengan jalan antara membayar jizyah kepada Daulah Islam atau terus melancarkan perang perlawanan yang sia-sia terhadapnya. Atau, mereka dapat memperhatikan peringatan Allah bahwa kehidupan duniawi tidak terjamin bahkan bagi mereka yang mengejarnya dengan mengorbankan keselamatan mereka, sehingga mereka memilih untuk memeluk islam, meraih kebenaran, menggapai rahmat dari Tuhan mereka, dan masuk ke dalam Taman-Taman Surga.

“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang [duniawi], maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya Jahannam, ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arahnya dengan sungguhsungguh sedang ia adalah orang yang beriman, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya akan dibalas dengan baik” (Al-Isra : 18-19).

Catatan kaki :

[1] Di sini, 'Amr merujuk kepada fakta bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabatnya menyatakan bahwa Yesus bukanlah anak Allah sebagaimana yang diklaim secara dusta oleh umat Kristen karena penyimpangan agama mereka.

[2] Selama pembicaraan, raja Oman bertanya kepada 'Amr tentang kapan dia sendiri masuk Islam. 'Amr memberitahunya bahwa ia masuk Islam di tangan Najasyi Asyamah di Habasyah.

[3] Hal ini sebelum Abu Sufyan masuk Islam, yang terjadi tidak lama sebelum penaklukan Makkah.

[4] Di sini, Hatib mengacu pada agama 'Isa Putra Maryam 'alaihis salam –agama tauhid yang murni, yang mana setiap nabi Allah menyeru kepadanya– sebelum dirusak oleh orang-orang Kristen musyrik. Hatib juga mengacu pada nubuat 'Isa mengenai datangnya rasul terakhir, Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Jadi Hatib pada dasarnya memerintahkannya untuk tunduk pada tauhid dan kerasulan Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

PELAJARAN DARI FITNAH BANGSA MONGOL

DABIQ 14 - SEJARAH

PELAJARAN DARI FITNAH BANGSA MONGOL

Tujuh ratus tahun yang lalu, bala tentara yang dipimpin oleh penguasa Mongol, Mahmud Ghazan menginvasi tanah Syam, menyebarkan kebusukan di dalam negri dan menyebabkan kepanikan di antara penduduk. Setelah mengalahkan tentara Muslim pada Pertempuran Wadi al-Khazandar, Ghazan terus merengsek maju ke arah Damaskus. Ia kemudian menarik diri dari tanah Syam dan menginggalkan umat Islam di dalam negri untuk menghadapi cobaan berat yang akan menguji keyakinan mereka pada Allah dan kepercayaan mereka akan janji-Nya untuk memberikan dukungan dan kemenangan sebagaimana ketika tentara Mongol mencoba menguasai Damaskus dan menyerang bentengnya terus menerus.

Berikut adalah beberapa perkataan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah yang menceritakan awal fitnah yang mencengkeram kaum Muslimin dan mengguncang mereka hingga ke masalah pokok sebagaiman musuh berbaris kian mendekat dan terus mendekat ke Damaskus. Syaikh mengambil perbandingan antara Pertempuran al-Ahzab pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan fitnah dari Ghazan, sebuah pelajaran yang menyajikan kepada kaum mu’minin yang akan tetap terus relevan dan penting sampai kubu Iman akan mengalahkan kubu kufur sekali lagi dan selamanya.

Ibnu Taimiyah rahimahullah memulai dengan menyatakan pentingnya pelajaran dari peristiwa yang menimpa kaum mu’minin sebelum kita, dan perlunya membandingkan situasi antara kita dengan mereka. "Memang, telah terjadi fitnah dalam hal ini –dimana Allah telah menimpakan umat Islam dengan adanya musuh yang menyerang yang berada di luar naungan syari’ah Islam- mirip dengan apa yang telah terjadi dengan kaum muslimin dan musuhnya pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam... Allah telah berjanji dalam kitab-Nya dan dalam Sunnah Rasul-Nya bahwa apa yang menimpa bagian terakhir dari umat ini adalah sebagaimana yang menimpa kaum muslimin pada masa awal. Allah mengaitkan kisah dari bangsa-bangsa terdahulu dalam rangka untuk memberikan sebuah pelajaran bagi kita, sehingga kita akan membandingkan situasi kita dengan situasi mereka dan mengukur negara terakhir berdasarkan negara pertama.

"Syaikh kemudian melanjutkan dengan membagi orang-orang menjadi tiga kategori sehubungan dengan dukungan mereka terhadap agama Allah. "Dan kelompok yang menang –yang menegakkan Agama dan tidak akan merugikan mereka siapa saja yang menentang atau meninggalkannya sampai hari kiamat - menjadi jelas, manusia dibagi menjadi tiga kelompok: kelompok yang berjuang menegakkan agama, yang meninggalkannya dan yang lainnya berada di luar syari’ah Islam ... pembagian ini merupakan penafsiran dari firman Allah,

{supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafiq jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. } [Al-Ahzab: 24].

"Dia kemudian menyebutkan beberapa ayat tentang Perang Uhud untuk menarik perbandingan antara penyebab perpecahan di barisan Muslim selama Perang Uhud, dengan penyebab perpecahan di barisan Muslim selama invasi Mongol. Dia mengatakan, "Allah berfirman,

{Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antara kalian pada hari bertemunya dua pasukan itu, hanya saja mereka digelincirkan oleh syaython disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau) dan sesungguhnya Allah telah memberi ma'af kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.} [Ali ‘Imran: 155].

Allah subhanahu wa ta’ala juga mengatakan,

{Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kalian, ketika kalian membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada sa'at kalian lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepada kalian apa yang kalian sukai. Di antara kalian ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kalian ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kalian dari mereka untuk menguji kalian, dan sesunguhnya Allah telah mema'afkan kalian. Dan Allah memiliki karunia atas orang orang yang beriman.} [Ali ‘Imran: 152].

Allah juga mengatakan,

{Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: "Darimana datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah: "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri." Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu} [Ali ‘Imran: 165].

[Selama pertempuran] Setan berteriak lantang kepada manusia, "Muhammad telah terbunuh". Sehingga di antara mereka ada sebagian manusia yang terguncang dan melarikan diri, dan sebagian lainnya mereka adalah orang-orang yang tetap teguh dan berjuang. Kemudian Allah berfirman,

{Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh sebelumnya telah berlalu para Rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kalian berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan kerugian pada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.} [Ali ‘Imran: 144].

Dan hal ini mirip dengan kondisi umat Islam saat mereka hancur pada tahun lalu.

"Dia kemudian menyebutkan bahwa kekalahan umat Islam pada zamannya adalah karena dosa, niat buruk, bermegah-megahan, kesombongan, dll, dan kemudian berkata, "jadi itu sudah keluar dari hikmah Allah dan rahmat-Nya atas orang-orang beriman bahwa Dia akan menimpakan mereka dengan cobaan dimana Ia mereka akan menderita dengannya, sehingga Allah dapat memurnikan orang-orang beriman dan mereka dapat kembali pada Robb mereka dengan taubat ... Sama seperti dukungan Allah untuk barisan muslim pada hari Badar, itu adalah rahmat dan berkah, dan kekalahan mereka pada hari Uhud adalah berkat dan rahmat bagi orang-orang beriman, karena sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, "Allah tidak akan menetapkan sesuatu kepada orang mu’min kecuali kebaikan. Dan ini tidak didapati oleh siapa pun kecuali oleh seorang mu’min. Jika ia menerima kebaikan maka ia bersyukur kepada Allah dan itu baik baginya, dan jika ia mengalami kesulitan maka ia bersabar dan itu adalah baik baginya'.

"Perkataan Syaikhul Islam di atas amat tepat dengan apa yang berlaku atas umat saat ini. Dan di luar rahmat besar Allah terhadap umat Islam, Dia telah menimpakan kepada mereka dengan satu demi satu bencana untuk membangunkan mereka dari tidur mereka, memurnikan barisan mereka, dan membimbing mereka untuk bertaubat dari setiap dosa dan kembali kepada-Nya. Jadi, jika mereka bersabar atas musibah yang menimpa mereka, itu akan menjadi rahmat dan berkah dengan izin Allah.

Ibnu Taimiyah rahimahullah lalu membagi orang ke dalam tiga kategori sehubungan dengan Iman dan mulai menguraikan ciri-ciri munafiqin. Sangatlah penting untuk dapat mengenali munafiqin, karena mereka akan selalu memalingkan kepala jelek mereka ke belakang dan membuat suara mereka terdengar keras ketika fitnah muncul. Hal ini juga penting untuk mengetahui sifat-sifat dan kebiasaan mereka seperti yang telah dijelaskan dalam al-Qur’an dan Sunnah karena banyak orang mungkin akan jatuh ke dalam nifaq selama masa fitnah tanpa menyadarinya, dan pengetahuan akan sifat-sifat ini adalah untuk menghindari munafiqin, membantu orang melindungi dirinya dari meniru munafiqin dan mengikuti jalan mereka yang rusak, sebagaimana yang telah terjadi di antara murtaddin yang sebelumnya menapaki jalan ilmu dan jihad namun sekarang berdiri bahu-membahu dengan sekularis dan faksi nasionalis di parlemen syirik mereka. Syaikh menyatakan, "Dan orang-orang terbagi [dalam pertempuran kita ini] sama seperti mereka terbagi pada tahun al-Khandaq (yaitu Pertempuran al-Ahzab). Dan ini adalah karena sejak Allah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan memuliakannya dengan Hijrah dan dengan dukungan yang ia terima, orang-orang terbagi menjadi tiga kelompok: kelompok mu’minin yaitu orang-orang yang beriman kepada-Nya lahir dan batin, kelompok kafir yaitu orang-orang yang mengingkari-Nya dengan jelas, dan kelompok munafiq yaitu orang-orang yang beriman kepada-Nya hanya secara lahiriah, sedangkan hatinya mengkufurinya.

"Syaikh kemudian menjelaskan tipu muslihat dari berbagai sekte Bathiniy murtadd pada masanya, seperti Kharamiyah, Bathiniyah, Qaramithah, Isma’iliyah, dan Nushairiyah. Dia menyatakan, "Dan kebanyakan dari munafiqin* ini bersandar pada negara Tatar '(bangsa Mongol) karena mereka tidak mewajibkan syari’ah Islam kepada mereka. Beberapa dari mereka melarikan diri dari Tatar bukan demi agamanya,namun hanya karena track record korupsi Tatar dalam hal dunya saja, penyitaan kekayaan mereka, dan pertumpahan darah tak terkendali dan perbudakan." Sayangnya, beberapa hal yang disebutkan Ibnu Taimiyah di sini dalam mendeskripsikan para anggota sekte Bahtiniy juga berlaku untuk banyak umat Islam saat ini. Mereka melarikan diri dari kesempatan untuk ber-jihad dan penegakan syari'at menuju dunia mereka. Namun, jika mereka takut karena Iman mereka, mereka akan membela tanah Muslim dalam melawan murtaddin. Wallahul musta'an.

*Perhatikan penisbatan Ibnu Taimiyah terhadap nifaq (kemunafikan) atas sekte-sekte Bathiniy hanyalah secara bahasa saja, karena mereka mengklaim Islam sementara realitasnya bertentangan dengan ‘amaliyah. Dia tidaklah memandang mereka sebagai sekadar munafiqin yang umumnya diperlakukan sebagai Muslim. Akan tetapi sekte ini secara terbuka telah melakukan kekufuran dan syirik, dan dengan demikian hukum atas sekte ini adalah bahwa mereka itu murtaddin, sebagaiman Syaikh sendiri telah menyebutkannya dalam beberapa literatur yang terkenal.

Syaikh kemudian menyebutkan salah satu ciri utama dari munafiqin: "Dan juga termasuk dalam topik ini adalah berpaling dari jihad, karena itu adalah salah satu diantara ciri-ciri munafiqin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 'Barangsiapa meninggal tanpa berjihad dan juga tidak berniat untuk berjihad, maka ia mati pada salah satu cabang nifaq' [HR Muslim].

"Dia kemudian membahas Surat at-Taubah dengan menyatakan, "Dan surat ini diturunkan selama 2 masa terakhir dari pertempuran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Pertempuran Tabuk pada tahun 9 setelah Hijrah ketika Islam telah menjadi kuat dan nyata. Di dalamnya Allah membongkar kondisi munafiqin, menggambarkan mereka sebagai pengecut dan meninggalkan jihad, serta menggambarkan mereka sebagai menahan kekayaan fii sabilillah dan pelit terhadap kekayaan mereka."

Sangatlah penting untuk dicatat bahwa pemaparan Allah akan sifat pengecut dan pelit terhadap munafiqin dalam surah ini –yang juga bernama "al-Fadihah" (yang membuka aib) sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu 'Abbas radhiyallahu ‘anhu– dengan memperhatikan perang Tabuk yang merupakan jihad ofensif. Jadi berapa banyak lagi label dari nifaq dapat berlaku bagi orang-orang yang meninggalkan jihad pada hari ini ketika tanah kaum muslimin diserang dari segala arah oleh musuh-musuh Allah dan dikungkung oleh hukum dan konstitusi syirik yang diberlakukan dan ditegakkan oleh tentara salib dan boneka mereka! Dengan demikian kaum Muslim harus takut bila nama mereka tercatat dalam sejarah sebagai orang-orang yang meninggalkan jihad pada salah satu masa paling kritis, dan juga harus takut pada hari ketika mereka akan berdiri di hadapan Allah beserta seluruh makhluq akan menjadi saksi sebagaimana mereka akan menjawab pertanyaan akan perbuatan tercela dan memalukan. Dan pasti Dzat yang membongkar aib dan membuka tabir munafiqin di dunya karena meninggalkan jihad ofensif di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tanpa alasan yang sah, pasti mampu membongkar aib dan mengekspos mereka yang meninggalkan jihad defensif pada hari tanpa alasan syar’i.

Syaikhul Islam kemudian menyatakan, "dengan demikian, bagian dari ma’na 'mu’min' dan 'munafiq' telah menjadi jelas. Jadi, jika seseorang membaca surat Al-Ahzab dan mempelajari –dari apa yang telah jelaskan dalam hadits, tafsir, Fiqh, dan Siroh- sebab di mana Qur’an diturunkan, dan kemudian merenungkan masa kini dengan apa yang diterangakan di dalamnya, maka ia akan melihat kebenaran dari apa yang telah kita sebutkan; bahwa manusia telah dibagi -dalam kejadian saat ini- ke dalam tiga kelompok sebagaimana mereka dibagi pada masa lalu".

Dan hari ini, di mana manusia juga dibagi menjadi tiga kelompok sehubungan dengan pembentukan Daulah Islam dan kembalinya Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah: sebuah kelompok yang mendukung kebangkitan Khilafah dan pelaksanaan syari’ah, kemudian kelompok yang menolak dan memerangi Khilafah dan syari’ah, dan kelompok ketiga yang mengklaim sebagai di pendukungan kembalinya Khilafah dan penerapkan syari’ah namun tampaknya berpikir bahwa ini hanya dapat terjadi dengan meninggalkan jihad, menyebar ketakutan dan mengkritik para mujahidin atas setiap kekurangannya.

Syaikhul Islam kemudian secara singkat menceritakan kisah pertempuran al-Ahzab dan menggambarkan situasi di Syam. Dia kemudian menyebutkan firman Allah:

{(Yaitu) ketika mereka datang kepada kalian dari atas dan dari bawah kalian, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(kalian) dan hati (kalian) naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kalian menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam prasangka. Disitulah orang-orang mu’min diuji dan digoncangkan (hati mereka) dengan goncangan yang keras} [Al-Ahzab: 10-11],

lalu menyatakan, "Musuh datang dari kedua sisi yang tinggi dari wilayah Syam ... hingga mata orang-orang bergeser dalam ketakutan dan hati mereka mencapai tenggorokannya karena besarnya penderitaan, terutama ketika tersiar kabar bahwa tentara Muslim telah meninggalkan Mesir dan musuh mendekat ke Damaskus. Orang-orang memiliki berbagai prasangka pada Allah. Salah seorang berpikir bahwa tidak ada lagi seorang dari tentara Syam yang akan berdiri dan menghadapi mereka dan mereka akan membasmi orang-orang Syam, yang lainnya berpikir bahwa jika mereka berdiri di hadapan mereka [orang Mongol] akan benar-benar mematahkan mereka dan mengelilingi mereka seperti bulan dikelilingi oleh cahaya, dan yang lainnya berpikir bahwa mereka tidak bisa lagi tinggal di tanah Syam dan bahwa hal itu akan tidak lagi menjadi negeri Islam, dan yang satu ini berpikir bahwa [Mongol] akan mengambil [Syam] dan kemudian lanjutkan ke Mesir dan merebutnya dan tidak ada yang akan menghalangi mereka sehingga ia berencana untuk melarikan diri ke Yaman dan tempat-tempat lainnya, dan yang satu ini –berpikir agak positif- berkata, 'mereka akan memerintah [Syam] pada tahun ini sebagaimana mereka pemerintahan Hulagu pada tahun 657 Hijriyah. Lalu tentara dapat keluar dari Mesir dan menyelamatkannya dari mereka sebagaimana mereka keluar pada tahun itu. "Dan ini adalah prasangka terbaik di antara mereka."

Sebagaimana orang-orang Syam dulu mulai berprasangka buruk ketika menghadapi fitnah dari Mongol, demikian juga dengan kebanyakan umat Islam saat ini yang berprasangka buruk ketika menghadapi fitnah dari thawaghit dan salibis, bahkan jatuh dalam riddah karena prasangkanya! Meskipun Khilafah telah dikembalikan, syari'at ditegakkan, wilayah Daulah Islam diperluas dan pembantaian terhadap Murtaddin tak terhitung jumlahnya di tangan tentaranya, banyak dari faksi Suriah –termasuk yang menamakan dirinya "Islamis" - terus berperilaku seolah Bashar tidak mungkin dikalahkan oleh sekelompok Muslim yang hanya menyandarkan kemenangannya pada Allah. Faksi ini, bukannya menempatkan kepercayaan mereka kepada Allah dan berjuang untuk tujuan-Nya, akan tetapi malah berprasangka buruk pada Allah dan bertindak atas praduga negatif mereka dengan mengemis kepada tentara salib untuk memasok mereka dengan senjata dan membangun zona larangan terbang. Dan sebagai pertukaran untuk tentara salib dan dukungan thaghut, faksi ini bekerja sama dengan orang-orang kafir melawan Muhajirin dan Anshor dari Daulah Islam. tawakkal faksi ini pada orang-orang kafir telah menjadikan mereka menerima negosiasi dengan rezim Nushairiy untuk "transisi damai" menuju pemerintahan thaghut baru.

Ibnu Taimiyah rahimahullah kemudian menyatakan, "Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

{Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata: "Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu (kerumahmu)."} [Al-Ahzab: 13].

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah berkemah dengan kaum Muslimin di Gunung Sila'dan menempatkan parit diantara dia dan musuhnya. Sekelompok dari kalangan munafiqin berkata, “Tidak ada tempat bagimu untuk mengambil posisi di sini karena banyaknya jumlah musuh, jadi kembalilah ke Madinah.” Dan telah dikatakan [yang artinya], “Anda tidak memiliki kemampuan bertahan pada agama Muhammad, maka kembalilah ke agama syirik." Dan dikatakan [yang artinya], “Anda tidak memiliki kemampuan untuk berperang, jadi pertimbangkanlah untuk berlindung di bawah kekuasaan mereka." Dan juga, ketika musuh ini datang, ada orang-orang dari kalangan munafiqin yang berkata, “Daulah Islam tidak lagi tegak, jadi hal yang tepat untuk dilakukan adalah masuk ke dalam barisan Tatar." Dan beberapa orang mengatakan, “Kami tidak bisa lagi tinggal di tanah Syam. Dan kita akan pindah ke Hijaz, Yaman atau ke Mesir.” Dan di antara mereka berkata, “kepentingan umum terletak ketika menyerah kepada mereka dan menempatkan diri di bawah otoritas mereka seperti orang-orang Iraq yang menyerahkan diri kepada mereka." ketiga pernyataan yang diucapkan dalam insiden ini sama seperti yang diucapkan mereka dalam insiden itu. Inilah sekelompok munafiqin dan mereka yang di dalam hatinya ada penyakit akan mengatakan kepada orang-orang di Damaskus pada khususnya dan untuk orang-orang Syam pada umumnya: “Anda tidak memiliki kemampuan untuk tetap di negeri ini.”

Pernyataan dari munafiqin ini juga telah terulang dalam era kita oleh berbagai faksi Shahawat murtadd dan ideolog mereka. Mereka menanam keraguan akan kemampuan para mujahidin untuk menghadapi orang-orang kafir, bahkan memperingatkan bahwa Mosul akan jatuh dan menyarankan kepada perempuan untuk meninggalkan kota. sementara itu yang lainnya terus bersikeras atas manhaj "pragmatisme" mereka dengan mengklaim bahwa itu tidaklah "pragmatis" (rasional) untuk mencoba melawan orang-orang kafir langsung, dan bahwa Muslim harus menyembunyikan niat mereka untuk menerapkan syari’ah dan harus mengambil bagian dalam demokrasi untuk mendapatkan kekuasaan. Ini tentu saja tidak berbeda dengan pernyataan dari orang-orang munafiqin di atas, "Anda tidak memiliki kemampuan untuk tetap bertahan pada agama Muhammad, maka kembalilah ke agama syirik." Sedangkan yang lainnya percaya bahwa mereka tidak memiliki kemampuan untuk melawan salibis, sehingga mereka tidaklah terpaksa mencari bantuan dan perlindungan dari salibis melawan musuh lainnya, apalagi jika hal itu membawa mereka untuk bekerjasama dengan tentara salib memerangi umat Islam!

Syaikhul Islam kemudian menjelaskan bahwa mereka tidak akan puas dengan meninggalkan jihad saja dan mereka akan mencegah orang lain dari berjuang di jalan Allah. Di zaman kita, hal ini bahkan mencapai taraf di mana orang tua bersedia memberitahu otoritas kafir untuk menangkap anak-anak mereka sendiri dan memenjarakan mereka selama puluhan tahun demi menghentikan mereka dari bergabung dengan Mujahidin. Dalam menggambarkan orang-orang yang mencegah orang lain untuk berjihad fii sabillah, Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, "Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

{Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya: "Marilah kepada kami."} [Al-Ahzab: 18]

Para ulama mengatakan, “di antara munafiqin [selama Pertempuran al-Ahzab] ada orang-orang yang kembali dari parit dan masuk ke Madinah. Jika ada yang datang kepada mereka, mereka akan mengatakan kepadanya, 'Celakalah kamu! Tinggalah di sini dan jangan pergi keluar. "Dan mereka juga akan menulis pesan kepada saudara-saudara mereka di barisan tentara [Muslim], dengan mengatakan, 'Datanglah kepada kami di Madinah, karena kita sedang menunggu Anda.’ Yang demikian itu untuk mengecilkan semangat berperangnya.”

"Syaikhul Islam kemudian membahas sifat lain dari munafiqin yang disinggung dalam ayat ini (dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam), ini merupakan penghinaan kasar mereka kepada mujahidin, termasuk penghinaan dan pernyataan mereka. Dia menyatakan, "Dan pada waktu mereka berkata, 'Anda –dengan jumlah kecil dan kelemahan Anda- ingin mematahkan musuh. Sungguh, agamamu telah menipumu, 'sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

“(Ingatlah), ketika orang-orang munafiq dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: "Mereka itu (orang-orang mu’min) ditipu oleh agamanya." (Allah berfirman): "Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."} [Al-Anfal: 49]

Dan pada waktu mereka berkata, 'Anda gila dan bodoh. Anda akan menghancurkan diri Anda dan menghancurkan orang-orang lain yang bersamamu. "Dan pada waktu mereka membuat berbagai jenis pernyataan kasar lagi menyakitkan."

Ibnu Taimiyah rahimahullah kemudian menyebutkan pernyataan dari Allah,

{Mereka mengira (bahwa) golongan yang bersekutu itu belum pergi; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badui, sambil menanya-nanyakan tentang berita-berita kalian.} [Al-Ahzab: 20]

Ini seperti kasus dari orang-orang yang tetap tertinggal dari jihad dan terus mengikuti berita secara teratur agar tetap mengikuti informasi terbaru. Mereka berpikir bahwa mereka mendapatkan informasi terbaru, tetapi kenyataannya adalah bahwa mereka sering sebodoh Badui mengenai urusan mujahidin, dengan banyak dari mereka mengandalkan media kafir penghujat sebagai sumber utama informasi mereka tentang jihad.

Ibnu Taimiyah rahimahullah maka membahas arti dari kejujuran dalam klaim seseorang akan Iman. Dia menyebutkan ayat,

{Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merobah janjinya (hingga mati).} [Al-Ahzab: 23],

dan juga ayat,

{Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.} [Al-Hujurat: 15].

Dia kemudian menyatakan, "Jadi Dia (Allah) membatasi Iman hanya kepada mu’min mujahid dan memberitahu bahwa mereka adalah orang-orang yang jujur ketika menyatakan, ‘Kami beriman.'”

Setelah sebelumnya menyebutkan ciri-ciri munafiqin itu, Syaikhul Islam kemudian menggaris bawahi bahwa meskipun kejahatan mereka mereka masih bisa diampuni jika mereka bertobat sebelum terlambat. Dia menyatakan, "Adapun munafiqin, mereka hanya berada dalam dua hal: Entah Allah menghukum mereka atau menerima tawbat mereka. Ini adalah kondisi manusia terkait al-Khandaq dan tentang ghozawat. Allah Subhanahu wa ta’ala juga menimpakan manusia dengan fitnah ini yang karenanya Allah akan memberi pahala bagi orang yang jujur atas kejujuran mereka –dan mereka adalah orang-orang yang tetap teguh dan bersabar dalam rangka membela Allah dan Rasul-Nya- dan menghukum munafiqin jika Dia menghendaki atau menerima taubat mereka."

Semoga Allah melindungi kaum mu’minin dari makar munafiqin. Aamiin.

KENALI MUSUHMU, SIAPAKAH SYI'AH SHAFAWIYAH?

DABIQ 13 - SEJARAH

KENALI MUSUHMU,
SIAPAKAH SYI'AH SHAFAWIYAH?

Singkatnya, Negara Shafawl adalah politik pengkultusan dari Rafidhah Itsna 'Asyariyah (Dua Belas Imam), yang negaranya didirikan oleh Isma’il Ibnu Haidar tahun 906 H dan resmi jatuh tahun 1148 H. Selain mereka secara kejam membangkitkan kembali Rafd (agama orang Rafidhah), mereka menaruh perhatian besar pada bahasa Persia (Farsi) dan budayanya. Rafidhah hari ini yang tidak diragukan lagi merupakan kelanjutan dari pengkultusan ini karena mereka mempraktekan Rafd yang sama, menerapkan perlakuan yang sama terhadap Ahlus Sunnah, dan menyebarkan Persianisme yang sama.

Dinamakan berdasarkan Ishaq al-Ardabili (mati tahun 735 H), orang asli Turkmenistan atau Kurdi dan dikenal sebagai "Safi ad-Din," Shafawiyah adalah kelompok yang awalnya adalah thariqah/ tarekat (tingkatan Sufl) Syafi'i, yang berubah menjadi gerakan militan Rafidhi untuk menjadi negara tirani yang menguasai Persia dengan ambisi untuk menghapus semua jejak Sunnah dan orang-orangnya.

"Shah" (raja Persia) pertama mereka berkuasa pada tahun 906 H. Dia adalah Isma’il Ibnu Haidar, keturunan langsung dari Safi ad-Din, dan dikenal dengan penyimpangan yang parah dan kekejamannya. Asy-Syaukani berkata tentangnya, "Pengikutnya bertambah hingga ia menyerang dan mengalahkan Sultan Shirvan, yang ditangkap oleh pasukannya. Dia memerintahkan mereka untuk memasaknya dalam kuali lalu memakannya" [Al-Badr at-Tali']. Tidak mengherankan jika kemudian ketika Ismall mengalahkan amir Merv, ia memutilasinya -menyebar anggota tubuhnya ke penjuru Persia- dan menutupi tengkorak dengan emas dan permata untuk digunakan sebagai piala di acara-acara sosial.

Isma’il mengklaim bahwa ia menerima perintah dari "al-Mahdi" yang dinanti, untuk menjadi "perwakilan Allah di bumi" untuk mengurus negara baru dan membela 12 imam yang dianggap "ma’shum" oleh Rafidhah. Karena latar belakang Sufi-nya, ia mengaku menerima "ilham ghaibi", semacam "inspirasi ghaib," sehingga pengikutnya menganggap ia memiliki status ketuhanan, bahkan menganggap ia "penjelmaan dari ruh Allah," kita berlindung kepada Allah dari kekafiran terang-terangan seperti itu!

Dengan dukungan penuh dari milisi Rafidhi Qizilbash*, Isma’il membantai banyak Muslim, terutama setiap ulama yang mengajarkan Sunnah. Dia membantai ribuan orang dan membakar semua buku Ahlus Sunnah, bahkan tidak menyisakan salinan Al-Qur’an mereka. Awalnya berpenduduk mayoritas Sunni, Persia, timur Iraq, dan Khurasan pernah dipenuhi ilmu pengetahuan yang disampaikan oleh ulama ahli bahasa Sibawaih dan al-AzharI; ahli hadits al-Bukharl dan Muslim; ahli tafsir ath-Thabari dan al-Baghawi, dan fuqaha al-MarwazI dan Ibnul Mundzir. Namun begitu dikuasai oleh Shafawiyah, wilayah itu hampir kosong dari ilmu.

*Mereka adalah milisi Turki yang dikelola oleh ayah Isma’il dan dikenal dengan Qizilbash (bahasa Turki dari "Kepala Merah") karena mahkota merah mereka yang masing-masing memiliki dua belas tanduk, menunjukkan kesetiaan mereka kepada sekte Dua Belas Imam.

Zaman kegelapan dengan cepat menyebar di Persia yang sebelumnya terang benderang (dengan ilmu). Isma’il dan keturunannya secara paksa mengubah mayoritas Sunni ke agama Rafidhi. Hal yang sama terjadi di daerah bermayoritas Sunni lainnya, termasuk Azerbaijan. "Ulama" Rafidhi Arab dari Lebanon, Bahrain, dan Iraq diimpor untuk mengajarkan aqidah-aqidah sesat mereka. Yang paling terkenal dari mereka -dan yang pertama datang- adalah Ali bin Husain al-Karaki (mati tahun 940 H), yang diberikan posisi "Syaikhul Islam" dan memimpin lembaga yang didirikan untuk mengawasi perubahan Ahlus Sunnah. Al-Karaki itulah yang mengeluarkan fatwa membolehkan Rafidhah Itsna AsyarI untuk menggunakan kekuatan militer guna mendirikan pemerintahan mereka, sehingga “memperkuat” klaim Isma’il dan membenarkan semua pelanggarannya. Banyak Sunni meninggalkan Persia, tapi mereka yang tetap tinggal dianiaya, harus memilih antara murtad atau mati. Mengenai proses ini dan kekejamannya terhadap Ahlus Sunnah, Isma’il berkata, "Hal ini tidak membuat ku khawatir, karena Allah dan imam yang ma’shum bersamaku, jadi aku tidak takut siapapun. Jika satu saja tujuanku menemui halangan, aku akan menghunus pedangku dan tidak meninggalkan seorang pun hidup."

Adzan diubah menyesuaikan "fiqh" Rafidhi, menambahkan kalimat "Asyhadu anna Aliyan waliyullah” (Aku bersaksi bahwa Ali adalah wali Allah"). Para imam diperintah untuk mengutuk Abu Bakar ash-Shiddlq, Umar bin Khatthab, dan Utsman bin Affan dalam setiap khutbah Jumat.

Pemakaman Sunni dinodai dan masjid mereka dihancurkan. Tome Pires, seorang salibis dan duta besar Portugis untuk Cina, yang melewati Persia selama 916 dan 917 H, menyaksikan hal ini dan mengatakan, "Dia [Isma’il] merenovasi gereja kami padahal mereka menghancurkan masjid umat Islam yang mengikuti Sunnah" [Summa Oriental].

Mengikuti Ibnu Buwaih, pemimpin Rafidhi di abad keempat, Isma’il menghidupkan kembali ritual untuk meratapi kematian al-Husain, ritual yang dijelaskan oleh Ibnu Katsir, "Perintah diberikan [oleh Ibnu Buwaih] untuk menutup pasar, perempuan memakai kain tenun dari rambut, dan pergi keluar menampakkan wajah dan rambut mereka, lalu mereka menampar wajah mereka dan meratap untuk al-Husain bin Ali bin Abi Thalib. Ahlus Sunnah tidak dapat mencegahnya karena banyaknya jumlah kaum Syi’ah dan dominasi mereka, karena kekuasaan ada di tangan Syi’ah" [Al-Bidayah wan Nihayah].

Perayaan untuk memperingati terbunuhnya Umar bin Khatthab juga digalakkan ketika itu. Praktek ini didukung oleh Muhammad Baqir al-Majlisi (mati tahun 1111 H), yang dianggap sebagai salah satu "ulama" istana Shafawi yang paling utama dan juga diberi gelar "Syaikhul Islam" oleh "Shah." Dalam perayaan kematian Umar, ia berkata, "Yang terkenal di antara Syi’ah di kota-kota dan daerah-daerah besar pada waktu kita ini adalah bahwa hal itu [pembunuhan Umar] terjadi tanggal 9 Rabi’ul Awwal, dan itu adalah hari raya" [Biharul Anwar]. Lalu dia menyebutkan riwayat palsu sebagai dalil bahwa itu adalah hari kematian Umar (yang sebenarnya adalah 26 Dzulhijjah) dan bahwa hari itu adalah hari raya ied terbesar bagi pendukung Ahlul Bait!

Sebagaimana Rafidhah masa ini, Shafawiyah juga dikenal akan kesetiaan mereka kepada salibis. Isma’il -kemudian memegang kendali Hormuz- bersekutu dengan salibis Portugis antara tahun 921 dan 927 H untuk membantu mereka menaklukkan al-Bahrain dan al-Qatif di timur Jazirah Arab, yang secara langsung melanggar salah satu perintah terakhir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengusir kaum musyrikin dari Jazirah Arab. Namun karena Portugis mengambil bantuan dari boneka-boneka "Sunni" dan bukan dari Rafidhi, cicit Isma’il bernama 'Abbas memutus hubungan Shafawi dengan salibis itu - hanya untuk merayu salibis Inggris dalam persekutuan lain yang diawali dengan surat-menyurat terus menerus dengan penguasa Eropa sejak era kakeknya, Tahmasp Ibnu Isma’il.

'Abbas itulah yang mengundang salibis Anthony dan Robert Shirley, di bawah komando Earl dari Essex, untuk "memodernisasi" tentara Shafawi untuk membantu sekutu penyembah salib mereka. Bahkan menjelang akhir dari Dinasti Rafidhi, di 1119 H, Husain Safawi meminta bantuan angkatan laut dari Louis XIV Perancis untuk menaklukkan sebagian Teluk Arab.

Mereka menggunakan persekutuan seperti itu, serta politik licik dengan tetangga mereka, untuk semakin memasuki daerah-daerah Sunni. Melalui perjanjian dengan penyembah kubur Dinasti Utsmaniyah di tahun 962 H, Rafidhi Shafawiyah diberi izin untuk masuk ke Jazirah Arab -sebagaimana Alu Salul mengizinkan mereka hari ini- untuk melakukan haji di Makkah, meskipun Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang- orang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini” [at-Taubah: 28].

Meskipun pengaruh mereka tersebar ke seluruh negeri yang mereka taklukkan, dan efek jangka panjang mereka dirasakan bahkan hari ini, "Shah" Shafawi hidup dan mati dalam kehinaan. Isma’il, setelah kekalahan parah yang merusak citra "ketuhanan" yang diklaimnya, mengurung diri di istananya, di mana ia menghabiskan sisa hidupnya dengan mabuk-mabukan lalu mati tahun 930 H, hanya berumur 38 tahun. Tahmasp Ibnu Isma’il mati karena keracunan tahun 984 H. Isma’il Ibnu Tahmasp harus membuat saudara-saudaranya mati dan buta untuk mengamankan tahtanya, tapi setelah hanya satu tahun berkuasa ia dituduh kurang Rafidhi, diracun sampai mati, dan digulingkan oleh saudaranya yang hampir buta Muhammad Khudabandah. Bertindak sebagai "Shah" selama 10 tahun, pemerintahan Khudabandah berakhir ketika ia dipenjarakan oleh anaknya sendiri, 'Abbas, yang menginginkan posisi ayahnya. Selain pemabuk dan pelaku sodomi, ia membunuh pewarisnya sendiri Muhammad Baqir, membutakan dua anaknya yang lain, lalu mati tahun 1038 H. Cucunya yang kecanduan alkohol dan opium, dan sekaligus lemah, Sam Ibnu Muhammad Baqir, menggantikannya dan mati tahun tahun 1052 H. Putranya 'Abbas memerintah sampai kematiannya tahun 1077 H. Sulaiman Ibnu 'Abbas Ibnu Sam mengambil alih dan mati karena penyalahgunaan alkohol tahun 1105 H. Diikuti oleh Husain, yang ditangkap di ibukotanya sendiri, lalu sekarat dan gila di dalam penjara. Tahmasp Ibnu Husain memimpin beberapa tahun, sampai anaknya 'Abbas menggulingkannya dengan bantuan Nadir Khan yang tidak memiliki kaitan keluarga, yang kemudian mengambil alih kekuasaan untuk dirinya sendiri. Sehingga berakhirlah Dinasti Shafawi, tetapi ideologi politik Rafidhi-Shafawi dan penganiayaannya terhadap Ahlus Sunnah dilanjutkan di Persia oleh Ashfariyah dari Nadir Khan, lalu Zandiyah, lalu Qajariyah, lalu Pahlaviyah, dan kemudian hari ini rezim Iran yang terinspirasi Khomeini, yang didukung oleh "ulama" yang mengambil "bimbingan" dari Shafawiyah, menganggap mereka sebagai standar bagi pemerintahan yang "baik".

"Ulama" Rafidhi Iran, Abbas al-Qummi (mati tahun 1359 H) menulis, "Safi ad-Din al-Ardabili: Dia adalah Wali Agung, Bukti dari Kemurnian Sempurna... Keturunannya adalah Sultan Shafawi yang menyebarkan syiar-syiar agama dan menolong pembela Amirul Mu'minln (yaitu Ali bin Abi Thalib), semoga keselamatan atasnya." [Al-Kuna wal Alqab]. Bagi ulama Rafidhi hari ini, Isma’il telah menegakkan agama Allah, berjihad di jalan-Nya. "Ulama" Rafidhi Iraq, Hasan as-Sadr (mati tahun 1354 H) menyebutnya, "Penyerang di jalan Allah, Shah Isma’il ash-Shafawi" [Takmilat Amal al-Amil].

Namun, sebagaimana penerus Rafidhi mereka hari ini, Shafawiyah tidak ada kaitannya dengan Islam selain hanya untuk menghalang-halangi manusia darinya. Negara Rafidhi mereka meninggalkan warisan budaya busuk penuh kedengkian, dan kebencian itu diarahkan tidak lain kepada Ahlus Sunnah. Adalah penting untuk menghubungkan fakta bahwa warisan jahat ini -tentang permusuhan utama mereka terhadap Ahlus Sunnah, bukan Yahudi, salibis, atau murtaddin- masih diterapkan oleh Iran, Iraq, Lebanon dan Rafidhah lainnya pada zaman kita ini sebagai agama mereka di samping peribadahan mereka kepada orang mati dan berbagai bentuk kekafiran serta kesyirikan lainnya.

Sama seperti Kekaisaran Romawi yang tidak pernah sepenuhnya jatuh, tapi hanya mengadopsi nama baru, Shafawiyah berkembang -dengan basis di Iran- dengan tujuan Rafidhi mereka untuk memberantas Ahlus Sunnah dan menggantinya dengan kaum murtad.

KEBANGKITAN JIHAD DI BANGLADESH, DENGAN MENYEBARNYA CAHAYA KHILAFAH

DABIQ 12 - SEJARAH

KEBANGKITAN JIHAD DI BANGLADESH,
DENGAN MENYEBARNYA CAHAYA KHILAFAH
Oleh : Abu Abdirrahman Al-Bangali

Sejarah Jihad Di Bengal

Sebagaimana jihad Afghanistan dalam melawan komunis yang berakhir pada "tahun delapan puluhan," banyak veteran yang berasal dari berbagai belahan dunia -termasuk bengal(1)- kembali ke tanah air mereka dengan membawa ide pembukaan front jihad baru berdasarkan pengalaman mereka yang baru diperoleh. Namun banyak diantara mereka yang kembali ke Bengal dari Khurasan memiliki kesalahan dalam aqidah dan manhaj mereka, termasuk kesalahan yang terkait dengan Tauhid, wala' dan bara', berdirinya sebuah organisasi jihad yang baik di Bengal yang berdasarkan Qur'an dan Sunnah serta pemahaman salaf tertunda selama bertahun-tahun sampai akhir "tahun sembilan puluhan" ketika Allah memberkahi asy-syahid ulama Mujahid Syaikh 'Abdur-Rahman rahimahullah yang sukses mengumpulkan beberapa muwahhidin dari berbagai wilayah di bengal untuk membentuk sebuah organisasi bernama "Jama'atul Mujahidin" yang tujuan utamanya adalah menegakkan kembali hukum Allah di atas bumi. Dengan demikian, lahirlah cahaya baru di tengah-tengah harapan kaum Muslimin di Bengal, tanah yang selama ratusan tahun tenggelam kedalam syirik dan bid'ah karena efek dari Kolonisasi Eropa ataupun invasi budaya Hindu.

Dengan bersandar kepada Allah saja, Syaikh 'Abdur-Rahman rahimahullah dan beberapa ulama mujahid lainnya mengerahkan segala upaya terbaik mereka untuk mengumpulkan umat Islam Bengal dibawah satu payung tunggal berdasarkan Qur'an, Sunnah, dan pemahaman salaf. Kelompok yang baru terbentuk ini menyediakan pelatihan militer yang tepat bagi para mujahidin dan juga melakukan operasi melawan tentara murtad dan hakim dari pemerintahan Thaghut yang memerintah dengan hukum buatan manusia. Dengan operasi-operasi yang diberkahi tersebut, Jama'atul Mujahidin mencoba yang terbaik untuk membangkitkan kesadaran kaum Muslimin dari Bengal akan pentingnya penegakan syari'at berdasarkan wala' dan Bara'. Dan atas karunia dari Allah, panggilan jihad ini telah mencapai berbagai Madaris (sekolah Islam) di Bengal dan orang-orangpun mulai bergabung dengan jama'ah dalam jumlah besar. Dan karena itu, Pasukan Thaghut dan para ulama istana yang menyimpang terguncang, sehingga pemerintah murtad memenjarakan dan meng-eksekusi Syaikh yang mulia 'Abdur-Rahman bersama dengan beberapa ulama jujur serta komandan Mujahid pada tahun "2007." Semoga Allah menerima mereka sebagai syuhada dan memberikan mereka tempat tertinggi di Jannah.

Pemerintah yang terdahulu, terutama yang terdiri dari sebuah koalisi Murtaddin baik dari "Bangladesh Nasionalist Party" (BNP) dan "Jamaat-e-Islami Bangladesh" (yang pada dasarnya "Persaudaraan Muslim" versi benua India), yang dengan bodohnya berpikir bahwa panggilan tauhid, jihad, dan Khilafah akan hancur oleh kesyahidan beberapa ulama sholeh. Thawaghit, para ulama istana, dan mereka yang hatinya berpenyakit lupa akan janji Allah subhanahu wa ta'ala, yang berfirman, “mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya” (Ash-Shaff: 8). Mereka telah lupa bahwa pohon umat ini tidaklah disiram kecuali dengan darah para syuhada.

Murtaddin ini juga mengabaikan peringatan Allah yang disebutkan dalam hadits Qudsi, "Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya" (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Abu Hurairah). Dan karenanya, mereka merasa aman dari azab Allah, mengabaikan deklarasi perang-Nya dalam melawan mereka. Dan hanya berselang beberapa tahun, banyak pejabat dan komandan tinggi pasukan Thaghut -Termasuk yang terlibat dalam eksekusi ulama Mujahid- tewas dalam pemberontakan barisan murtadin "Penjaga Perbatasan Bangladesh." Dalam beberapa hari terakhir, baik Murtaddin nasionalis dari BNP dan parlemen Murtaddin dari "Jamaat-e-Islami"- yang bersukacita, dan secara aktif mengambil bagian dalam "hukum" dan eksekusi atas ulama mujahid– Murtaddin ini juga dipermalukan, diseret ke penjara, dan diberi hukuman mati oleh pengadilan Thaghut yang sama. Beberapa dari mereka telah dieksekusi oleh pemerintah Thaghut dari "Liga Awami." Itu adalah akhir yang mirip dengan apa yang menimpa Shahawat Iraq di tangan mantan sekutu Rafidhah mereka. Dan inilah contoh dari Allah bagi berbagai kelompok kufur yang telah bekerja sama dalam memerangi muwahhidin. Ini adalah pelajaran bagi yang lain untuk tidak menapaki jalan menuju siksaan baik di dunia maupun diakhirat.

Dengan kesyahidan pemimpin Mujahid, maka kafilah terpecah dan diuji dengan berat serta membersihkan barisannya dari sejumlah besar orang-orang yang berpotensi menjadi munafik yang bergabung dengan kafilah yang awalnya hanya bertujuan mencari keuntungan duniawi. Dengan demikian, yang tertinggal hanya Beberapa muwahhidin yang tetap sabar pada jalan yang sulit dari jihad dan pengorbanan, sambil selalu menjaga kepastian janji dari Allah dan selalu mengharapkan yang terbaik dari Allah. Mereka tidak meniggalkan jihad seperti orang yang lemah hatinya, dan mereka juga tidak menyimpang dari manhaj yang lurus dari Qur'an dan Sunnah demi mengejar "dukungan rakyat" sebagaimana banyak pengklaim jihad yang (sedihnya) telah terinfeksi dengan Irja' dan cinta dunia. Mujahidin yang jujur tahu bahwa bukan drone dari tentara salib atau persenjataan modern mereka yang berteknologi tinggi yang akan membahayakan mereka, akan tetepi penurunan secara bertahap akan wala' dan bara' dalam hatilah yang dapat memberikan luka terbesar dalam jihad.

Dan seperti yang terjadi di "Arab Spring," penurunan secara bertahap akan wala' dan bara' ini mencapai titik terendahnya selama protes massa di Dhaka terhadap blogger atheis tahun "2013," sebagaimana pengklaim jihad mulai secara terbuka menyerukan aliansi dengan penyembah kubur palsu yang mengaku sebagai "pecinta Nabi" Shallallahu alaihi wassalam, "Jamaat-e-Islami" yang secara terbuka menyerukan dan mendukung agama demokrasi, dan Deobandis yang mengadopsi keyakinan Jahmiyah. "Aliansi" ini dibentuk untuk menghadapi "musuh bersama" dari ateis dan kaum kiri yang mengutuk Islam dan Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Pengklaim jihad menuduh bahwa yang menyebabkan perpecahan "Ummat" atas masalah "kecil" akan melemahkan "Muslim" di depan ateis. Demikian juga, mereka mengklaim bahwa Mujahidin harus melakukan sholat menurut madzhab Hanafi dan bahkan jika hal itu harus meninggalkan sunan yang mutawatir. Mereka membenarkan ini berdasarkan prinsip yang telah diubah, yaitu bahwa mazhab dari Mujahidin harus melakukan shalat sesuai dengan kebiasaan masyarakat setempat, seolah-olah mazhab dari Mujahid harus berbeda dari Salaf! (2)

Pengklaim jihad ini menuntut berbagai kelompok jihad di Bengal memberikan preferensi untuk mempertahankan "dukungan umum" dan menyenangkan "ulama" sesat diatas Qur'an dan Sunnah, jika tidak maka "gerakan jihad" akan "hancur" oleh kesyahidan pemimpinannya yang tidak memiliki "Dukungan rakyat" seperti klaim mereka yang telah terjadi di masa lalu pada Jama'atul Mujahidin. Mereka memfokuskan pada cara materialistis daripada fokus mencari dukungan ilahi dari Allah, mereka bergegas berkompromi dengan Murtaddin dan ahlu bid’ah daripada menyandarkannya hanya kepada Allah subhanahu wa ta'ala saja serta tetap teguh pada manhaj Ahlus-Sunnah wal-Jama'ah, atau setiap Muslim yang mentakfir mereka yang jatuh ke dalam pembatal Islam yang nyata seperti penyembah kuburan, bergabung keparlemen, dan bersekutu dengan Kuffar dalam melawan Muslim, maka mereka melabelinya sebagai "Khariji". Dengan demikian, sebuah fitnah baru diluncurkan menyasar orang-orang bingung, yaitu Mujahidin muda yang masih labil pemikirannya. Tapi sayangnya, banyak dari mereka yang terpengaruh oleh panggilan busuk ini. Berbagai kelompok "Jihad" di Bengal kemudian terfragmentasi melalui perselisihan atas isu-isu iman, manhaj, kepemimpinan, strategi, dan taktik.

Deklarasi Khilafah

Dan atas karunia Allah, Khilafah dibangkitkan kembali di Syam di tanah yang diberkahi dari pada 1 Ramadhan 1436. Terbitnya Khilafah dan efektifitas kampanye medianya telah membawa cahaya harapan di hati Mujahidin muda di Bengal, seperti yang terjadi di berbagai belahan dunia lainnya. Sebagaimana kuatnya Kampanye militer dari tentara Khilafah dalam menghancurkan kekuatan kufur di medan perang fisik, kampanye media dalam perang idiologis yang di luncurkan oleh tentara media khilafah juga terus menghancurkan setiap argumen yang diciptakan munafik pengklaim jihad atau mereka yang terinfeksi penyakit Irja' dan hizbiyah. Dan kebenaran mulai memancarkan cahayanya dengan sangat cepat sehingga muwahhidin Bengal-pun bergegas untuk membaiat Khalifah.

Mujahidin Bengal menyadari bahwa tidak ada ruang untuk taqlid buta terhadap organisasi apapun setelah Khilafah diumumkan, dan bahwa tidak ada lagi legitimasi bagi setiap organisasi jihad independen apakah itu "Jama'atul mujahidin," "Al-Qa'idah," atau kelompok lainnya. Dengan demikian, orang-orang jujur dari berbagai kelompok jihad bergegas untuk mendukung Khilafah dan bergabung dengan barisan tentara di Bengal. Mereka menyatukan barisan mereka di belakang seorang imam Quraisy dan tidak takut celaan orang yang mencela yang memilih untuk tetap tertinggal di belakang, yaitu mereka yang membabi buta dalam mempertahankan organisasinya dengan mengklaim bahwa "Mullah Umar adalah Amirul-Mukminin" meskipun ia telah mati selama bertahun-tahun. Dan bahkan ia telah mati sebelum mereka mulai menggunakannya sebagai alasan untuk tidak menyatukan seluruh umat di belakang satu pemimpin tunggal. Mujahidin menyadari bahwa kesatuan umat hanya bisa tercapai melalui seorang pemimpin dengan otoritas yang kakiki, dan bukannya orang bodoh di tempat persembunyian yang tidak diketahui serta yang merilis pesan video usang yang berbaiat kepada orang mati dan memarahi mereka yang tidak melakukan hal yang sama! Dengan demikian, Allah subhanahu wa ta'ala menyatukan barisan Mujahidin di Bengal sekali lagi setelah mereka terpecah. Dia subhanahu wa ta'ala memberi mereka kehormatan menjadi tentara Khilafah dengan manhaj kenabian, insya Allah.

Kebangkitan Jihad Melalui Cahaya Khilafah

Pada tanggal 14 Zulhijah 1436, dan hanya karena karunia Allah, sel keamanan milik tentara Khilafah di Bengal membunuh seorang tentara salib Italia bernama Cesare Tavella di jalan Gulshan di kota Dhaka. Amaliah mulia ini mengguncang Thawaghit penguasa serta tentara salib yang hidup di sana, karena pembunuhan ini terjadi di dalam "Zona Diplomatik" di "ibukota" yang konon menjadi perumahan paling aman dari seluruh wilayah negara.

Hanya beberapa hari kemudian, pada 19 Zulhijah 1436, dan hanya karena karunia Allah, sel keamanan lain milik tentara Khilafah di Bengal menargetkan warga Jepang di utara wilayah Rangpur. Serangan yang diberkahi ini menyebabkan malapetaka di antara warga negara tentara salib dan sekutunya yang tinggal di Bengal serta memaksa diplomat mereka, wisatawan, dan ekspatriat untuk membatasi gerakan mereka dan hidup dalam ketakutan terus menerus. Selain itu, pesan yang kuat dari Ummat yang telah bersatu dan bekerja di bawah kepemimpinan Khilafah, telah disampaikan dengan indah melalui serangan-serangan yang diberkahi seperti ini, dan hal ini sekali lagi telah membuktikan kepada tentara salib yang sombong dari negara Tunisia hingga ke Bengal, selama mereka terus memerangi Daulah Islam maka warga mereka tidak akan pernah menikmati perdamaian atau keamanan di setiap bagian dari Tanah kaum Muslimin, bi-idznillah.

Syaikh Abu Muhammad al-'Adnani hafizhahullah –Juru bicara resmi Daulah Islam– berkata, "Wahai muwahhidin di Eropa, Amerika, Australia, dan Kanada… Wahai muwahhidin di Maroko dan Aljazair… Wahai muwahhidin di Khorasan, Kaukasus, dan Iran… Wahai muwahhidin di manapun di atas muka bumi… Wahai ikhwah seaqidah… Wahai ahlu Al wala wal bara… Wahai Anshar Daulah Islamiyah… Wahai orang yang telah berbai’at kepada Khalifah Ibrahim di manapun… Wahai orang yang mencintai Daulah Islamiyah… Wahai orang yang mendukung Khilafah… Wahai orang yang menganggap dirinya sebagai junud dan Ansharnya (Daulah Islamiyah)… Daulah kalian sedang menghadapi kampanye Perang Salib Baru. Maka wahai muwahhid di manapun kalian berada, apa yang akan kalian lakukan untuk menolong ikhwan kalian? Apa yang kalian tunggu sedangkan orang-orang telah terbelah menjadi dua perkemahan, dan suhu perang yang terus meningkat dari hari ke hari? Wahai muwahhid, kami memanggil kalian untuk membela Daulah Islam, puluhan negara telah berkumpul untuk menyerangnya, mereka memulai perang mereka melawan kita di segala bidang. Maka bangkitlah wahai muwahhid. Bangkit dan belalah Daulah kalian dari tempat kalian di manapun kalian berada. "(Sesungguhnya Rabb-mu Benar-Benar Mengintai).

Dia juga mengatakan, "wahai muwahhid, jangan biarkan pertempuran ini berlalu begitu saja di manapun kalian berada. Kalian harus menyerang tentara, Anshar, dan pasukan Thawaghit tersebut. Serang polisi, keamanan, dan anggota intelijen mereka, serta agen berbahaya mereka. Hancurkan tempat tidur mereka. Persulitlah kehidupan mereka dan buat mereka sibuk dengan diri mereka sendiri. Jika kalian bisa membunuh kafir Amerika atau Eropa -terutama pendengki Perancis yang najis- atau Australia, atau Kanada, atau kafir harbi lainnya, termasuk warga negara yang negaranya menandatangani koalisi penyerangan terhadap Daulah Islam, maka tawakkallah kepada Allah, dan bunuhlah dengan cara atau jalan apapun juga!" (Sesungguhnya Rabb-mu Benar-Benar Mengintai).

Selain itu, Daulah Islam telah memperingatkan bangsa pagan Jepang bahwa ia akan lebih banyak menargetkan warga Jepang karena dukungan Jepang dalam perang salib Amerika. Dabiq mengomentari tentang kesombongan Keputusan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe yang akan terus mendukung koalisi tentara salib: "Sebelum Shinzo Abe berpikir untuk berjanji memberikan dukungan dalam perang salib ini, Jepang tidak masuk daftar dalam prioritas yang akan ditargetkan oleh Daulah Islam, tapi karena kebodohan Shinzo Abe, semua warga negara Jepang dan kepentingannya -di mana pun mereka berada- maka sekarang menjadi target bagi para prajurit dan pendukung Khilafah di manapun" (edisi 7, "Muqadimah," Halaman 4).

Dengan demikian, para prajurit Khilafah di Bengal yang telah berbaiat kepada Khalifah Ibrahim hafizhahullah, lalu menyatukan barisan mereka, mengangkat pemimpin regional, berdiri di belakangnya, meleburkan fraksi mereka, menyelenggarakan persiapan militer yang cukup, dan bergegas menjawab perintah dari pimpinan Daulah Islam, dengan menargetkan tentara salib dan sekutu mereka di mana pun mereka dapat ditemukan.

Pada hari 'Asyura' tanggal 10 Muharram 1437, tentara Khilafah meledakkan serangkaian bom dimana Rafidhah berkumpul untuk pawai syirik yang besar di depan salah satu kuil terbesar mereka –yang dikenal dengan "Hosseini Dalan" - Di kota Dhaka. Operasi yang diberkahi ini adalah yang pertama kali menargetkan Rafidhah Bengal selama hampir 400 tahun. Lebih dari seratus Murtaddin tewas dan terluka. Kemudian dengan mengambil Momentum dari serangan yang diberkahi ini, kurang dari dua minggu kemudian Mujahidin melakukan penggerebekan dengan gagah berani pada 21 Muharram 1437, dengan memilih untuk menyerang sekelompok polisi yang bersiap untuk mendirikan pos pemeriksaan di sebuah daerah di Dhaka. Mereka menikam salah satu dari mereka hingga mati dan melukai empat orang lainnya, Alhamdulillah.

Sementara tentara Khilafah di Bengal sibuk mempersiapkan serangan berikutnya kepada orang-orang kafir, dengan izin Allah, Murtaddin sekuler dari pemerintah Liga Awami melanjutkan memelintir fakta lapangan dan memainkan isu dalam upaya untuk menempatkan tekanan politik dan menyalahkannya pada Murtaddin baik BNP nasionalis dan parlemen "Jamaat-e-Islami." Sementara itu, para prajurit Khilafah di Bengal terus meningkat dan berkembang, dan berkat rahmat Allah, ia akan terus meneror tentara salib dan sekutunya sampai hukum Allah ditegakkan di muka bumi.

Setelah berbulan-bulan menangkapi muwahhidin serta mengklaim palsu lebih dari sekali bahwa mereka telah menangkap "koordinator tertinggi IS" wilayah Bengal, pemerintah murtad yang tak tahu malu keluar tepat setelah operasi yang diberkahi atas Tavella Cesare dimana mereka mengatakan "tidak ada IS di Bangladesh"! dan Mereka mengulangi kebohongan yang sama berulang kali seperti kaset rusak setelah setiap kali operasi yang diberkahi dilakukan oleh prajurit Khilafah, semuanya adalah upaya putus asa demi menyelamatkan muka didepan masyarakat kufur internasional dan menyembunyikan ketidakmampuan mereka serta impotensi lembaga penegak hukum dalam memberikan keamanan untuk tuan tentara salib mereka dan warga Rafidhi.

Pemerintah murtadd Bengali akan segera menyadari, dengan Izin Allah, yang tanpa malu-malu menyangkal fakta di lapangan dan memainkan permainan anak-anak dengan menyalahkan oposisi murtadd, dan itu akan menjadi sia-sia bagi mereka, sebagaimana Daulah Islam memang ada dan akan menetap di sini, insya Allah. Ia memang ada dan akan menetap di Syam dan Iraq. Ia memang ada dan akan menetap di Khurasan dan Kaukasus. Ia memang ada dan akan menetap di Tunisia sampai ke Bengal bahkan jika Murtaddin menghina hal ini. Khilafah akan terus meluas hingga bayangannya menaungi seluruh bumi, disetiap tanah dimana masih terjangkau oleh siang dan malam, insya Allah.

Pada akhirnya, adalah menjadi tanggung jawab umat Islam di Bengal untuk mendukung Khilafah. Dan ini juga menjadi tugas semua Mujahidin di Bengal yang mendukung Daulah Islam untuk merapatkan barisan mereka, bersatu di bawah tentara Khilafah di Bengal, dan membantu mereka dengan setiap cara apapun.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”(Ash-Shaff: 4).

Dia juga subhanahu wa ta'ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa.” (At Taubah: 123).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Berjihadlah / Perangilah kaum musyrikin dengan harta, jiwa dan lisan kalian" (Shahih, Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan An-Nasa'i dari Anas).

Semoga Allah memberkahi para mujahidin di Bengal, mendukung mereka, dan memberi mereka kesuksesan yang terus menerus sehingga mereka dapat menjadi sumber kekuatan dan dukungan atas Muslim yang tertindas di Bengal dan Burma. Semoga Allah menyatukan barisan umat Islam di setiap wilayah di bawah naungan Khilafah.

Catatan kaki :

(1)  Catatan Editor: Bengal adalah nama wilayah sebelum adanya Negara "Bangladesh" oleh kaum nasionalis tahun "1971."

(2) Catatan Editor: Sayangnya, pendapat aneh ini disebarkan lewat buku panjang setebal 1600 halaman yang tidak penting dan berjudul "Da'wah al-Muqawamah al-Islamiyah al-'Alamiyah "("Panggilan Global Perlawanan Islam"). Dalam buku ini, Abu Mush’ab as-Suri menyarankan kelompok jihad untuk tidak mengerahkan upaya atau memperingatkan Quburiyah, Ash'ariyah, bid'ah, dan taqlid, dan mengklaim bahwa dakwah ini akan dikerjakan oleh pihak lain! Menurut dia, sebuah kelompok jihad - demi "dukungan rakyat"- malah harus membiarkan orang lain memikul beban untuk dakwah seperti! Dia juga mengkritik mujahidin jujur yang mentakfir "Islamis" parlemen dan Rafidhah, dan mengklaim bahwa ini bukan manhaj "mayoritas jihadis"! Dia juga menyarankan "mujahidin" harus bersikap lunak terhadap nasionalis Arab demi perang bersama melawan musuh "asing"! Ia juga menyarankan agar mujahid mengikuti madzhab lokal dalam ibadah zhahir / yang Nampak, bahkan jika hal itu bertentangan dengan Sunnah yang jelas!

Perlu dicatat bahwa Tidak seperti klaim media Barat, buku ini tidak pernah mendefinisikan manhaj para mujahidin. Kepemimpinan Daulah Islam -termasuk Syaikh Abu Mush'ab az-Zarqawi rahimahullah- tidak merekomendasikan buku as-Suri ini. Adapun buku ringkasan yang baik dan menguntungkan setebal 100-halaman berjudul "Idarah at-Tawahhush" ("Manajemen Chaos") yang ditulis oleh orang yang tidak dikenal kecuali dengan nama samaran"Abu Bakr Naji," maka ketika Syaikh az-Zarqawi membaca buku ini ia berkomentar, " Seolah-olah penulis tahu atas apa yang saya rencanakan".

Catatan: Meskipun buku Naji menjelaskan dengan sangat tepat strategi keseluruhan dari Mujahidin, tapi Naji terjatuh kedalam beberapa kesalahan dalam diskusi tentang isu-isu yang berkaitan dengan takfir dari pihak yang tegas menolak syari'at dan hukum-hukumnya. Manhaj salaf tentang masalah ini telah dijelaskan dalam Dabiq, edisi 10 halaman 56-57, edisi 8 halaman 43-46, dan edisi 6 halaman 19-20 (catatan kaki 3-4).

BAQIYAH WA TATAMADDAD (TETAP EKSIS DAN TERUS MELUAS)

DABIQ 12 - SEJARAH

BAQIYAH WA TATAMADDAD

Sembilan tahun yang lalu, pada hari dimana Daulah Islam di deklarasikan di Iraq (Ramadhan 1427) Mungkin menjadi hari yang paling berkesan setelah 11 September untuk kebanyakan muwahhidin. Ia adalah Negara yang berdasarkan tauhid dan jihad dengan seorang Imam dari Quraisy. Dan ia menjadi dasar dari masa depan Khilafah. Kepemimpinannya telah di ingkari oleh orang-orang kompromistis dan merekapun diperangi oleh seluruh pejuang kekufuran dan kesesatan, dan menjadikan mereka bersandar hanya kepada Allah saja.

Beberapa bulan kemudian, Shahawat Iraq didirikan. Amerika menyediakan insentif dan bantuan kepada Shahawat dari suku-suku korup dan beberapa faksi yang baru dibentuk untuk mengobarkan perang melawan Daulah Islam. Lalu pada tahun 1427-1428 hijriyah, Daulah Islam mulai kehilangan beberapa wilayah yang direbut pejuang murtad yang didukung tentara salib. Dan itu merupakan bagian dari cobaan dan kesengsaraan yang pasti akan menimpa orang orang mukmin sebagaimana dalam hadits, “Orang yang paling berat cobaannya adalah Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya.” (Shahih at-Tirmidzi dari Sa’ad Ibn Abi Waqqas).

Selama terjadinya kekacauan atas konspirasi Shahawat ini, sebuah bisikan mulai muncul ditengah orang-orang yang berhati lemah, bahwa Daulah Islam hanya akan menjadi legenda dimasa lalu, dan ini mengingatkan kita pada Pertempuran al-Ahzab ((Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika penglihatan(mu) terpana dan hatimu menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu berprasangka yang bukan-bukan terhadap Allah. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan diguncangkan (hatinya) dengan guncangan yang dahsyat. Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang hatinya berpenyakit berkata, “Yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami hanya tipu daya belaka.”) (Al-Ahzab: 10-12). Dan inilah seluruh peristiwa yang terjadi selama adanya Shahawat di Iraq. Orang-orang mukmin terguncang dengan hebat namun mereka kembali kokoh, sedangkan orang-orang munafik menampakkan diri dan mengkritik aqidah dan manhaj Daulah Islam.

Dan meskipun berada dalam kesengsaraan yang besar ini, ada seorang pria yang berbicara dengan lidah yang jujur serta hati yang tulus: kita menganggapnya demikian sedang Allah adalah hakimnya. Dialah orang yang baru ditunjuk sebagai amirul mukminin, Syaikh Abu Umar al-Husaini al-Baghdadi taqabbalahullah. Dia berbicara dengan kata-kata yang senantiasa berbaik sangka kepada Allah, yakin akan setiap janji Allah, serta tidak memiliki keraguan bahwa Allah tidak akan pernah menelantarkan mereka. Dia mengatakan dalam pidatonya yang terkenal “Masa panen pada Tahun ini oleh Negara para Muwahhid”, yang dirilis enam bulan setelah deklarasi Daulah Islam di Iraq, pada saat gelombang gelap terdahsyat dari Shahawat:

“Daulah Islam akan tetap baqiyah (eksis). Ia akan tetap baqiyah (eksis) karena itu dibangun dari jasad pada Syuhada yang disirami dengan darah mereka, dan dengan ini pasar-pasar surga diselenggarakan. Ia akan tetap baqiyah (eksis) karena kemenangan yang diberikan Allah dalam jihad ini lebih terang daripada matahari di tengah hari. Ia akan tetap baqiyah (eksis) karena tidak terkontaminasi oleh barang haram ataupun manhaj yang menyimpang. Ia akan tetap baqiyah (eksis) karena kejujuran dari para pemimpinnya yang telah mengorbankan darah mereka dan juga kejujuran dari tentaranya yang telah meninggikannya dengan senjata mereka; kami menganggapnya demikian, sedangkan Allah adalah hakim mereka. . Ia akan tetap baqiyah (eksis) karena menyatukan para mujahidin dan memberi kabar gembira bagi yang tertindas. Ia akan tetap baqiyah (eksis) karena Islam telah bangkit dan bersinar, awan gelap telah teruraikan, dan kekufuran sudah mulai tak terlindungi dan terkalahkan. Ia akan tetap baqiyah (eksis) karena doa dari orang-orang yang tertindas, air mata orang yang berduka, jeritan tahanan, dan harapan anak yatim. Ia akan tetap baqiyah (eksis) karena semua agama kufur dan sekte sesat telah berkumpul untuk menentangnya dan karena setiap pengkhianat dan pengecut mulai menyebarkan fitnah dan mencemarkan nama baiknya; dan yang tertinggal disana hanya kejujuran dalam tujuan dan kelurusan jalan. Ia akan tetap baqiyah (eksis) karena kita berada diatas kepastian bahwa Allah tidak akan mengecewakan hati muwahhidin yang tertindas dan Dia tidak akan membiarkan para penindas bersukacita kecuali atas kekalahan mereka. Ia akan tetap baqiyah (eksis) karena Allah telah menjanjikan secara eksplisit dengan berfirman, “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridhai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa.” (An- Nur: 55). “Dan Allah berkuasa terhadap urusan- Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengerti.” (Yusuf: 21).“

Dia mengatakan kata-kata ini dengan kepastian bahwa itu hanya akan dikabulkan oleh Allah saja. Kata-katanya telah menyentuh hingga hati yang terdalam, mengingatkan mereka akan janji Allah kepada orang-orang mukmin serta menjaga agar mereka tetap kokoh pada tahun-tahun mendatang. Daulah Islam akan tetap eksis, meskipun tentara salib, Thawaghit, suku-suku dan faksi Shahawat, Rafidhah, Peshmerga, dan ulama kerajaan bersatu menyerangnya.

Setelah adanya Shahawat Iraq, tentara yang tersisa dari Daulah Islam hanya di kamp militer di padang pasir al-Anbar saja, di kota-kota Iraq yang beroperasi hanyalah sel-sel keamanan, dan hakim syar’i hanya menghukumi mereka yang datang kepadanya saja.

Orang-orang munafik pengklaim jihad mulai menampar Daulah Islam dengan mengklaim bahwa itu semua karena kesalahan dari Daulah Islam yang membiarkan Shahawat masuk kedalam barisan, Dan ketika tidak ada lagi akar dari Shahawat yang tersimpan kecuali kemunafikan yang ada dalam hati para penjahat korup, faksi-faksi pecahan, dan bidah yang menyimpang. Hingga akhirnya sejarah dari kata “baqiyah” terus menggema di hati para mujahidin.

Dan hanya dalam waktu yang singkat, hanya beberapa tahun kemudian Daulah Islam muncul kembali dengan kemanangan besar di kancah peperangan Iraq. Dan disaat yang sama, ia telah menginjakkan kakinya di Syam dan mempersiapkan pondasi dasar untuk pelebaran Wilayah disana. Kata-kata “Daulatul Islam baqiyah” memenuhi udara dan menggema sebelum ini dan juga setelahnya di berbagai tempat di wilayah Daulah Islam. Daulah Islam tidak hanya eksis di Iraq saja, tetapi sekarang telah menyebar ke semenajung arab, Syam, Afrika Utara dan Afrika Barat, Khurasan, al-Qauqaz, dan di tempat-tempat lain.

Ini adalah sejarah di balik pernyataan “Daulatul Islam Baqiyah”.

Semoga Allah menjaga Daulah Islam untuk tetap eksis dan meluas hingga para mujahidin muwahhid melawan tentara salib di dekat Dabiq. Daulatul Islam baaqiyah (dan terus meluas). Ia akan tetap baqiyah (eksis) karena itu dibangun dari jasad pada Syuhada yang disirami dengan darah mereka, dan dengan ini pasar-pasar surga diselenggarakan.

DARI JIHAD MENJADI FASAD

DABIQ 11 - SEJARAH

DARI JIHAD MENJADI FASAD

Ibrahim at-Taimi rahimahullah (Wafat 92 H) mengatakan: "Siapakah yang aman dari fitnah jika Khalilullah Ibrahim alaihissalam saja berdoa: "Wahai Rabb kami, Jagalah aku dan anak-anakku dari menyembah berhala (Ibrahim: 35)"." (Diriwayatkan oleh ath-Thabari di dalam tafsirnya)

Ummu Salamah radhiyallahu anha pernah ditanya: "Doa apakah yang paling sering diulang oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika beliau bersamamu?" Beliau menjawab, "Doa yang paling sering beliau ulang-ulang adalah: "Wahai Yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu". Beliau berkata: "Wahai Rasulullah, alangkah seringnya engkau membaca doa: "Wahai Yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu"? Beliau menjawab: "Wahai Ummu Salamah, tidaklah seorang Bani Adam kecuali hatinya berada di antara dua jemari Ar-Rahman. Jika Dia berkehendak maka Dia akan meluruskannya dan jika Dia berkehendak Dia akan membengkokkannya". (Hasan: diriwayatkan oleh at-Tirmidzi)

Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah berkata: "Aku telah bertemu tiga puluh shahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam, semua dari mereka khawatir akan kemunafikan menimpa diri mereka sendiri." (Dinukil oleh al-Bukhari di dalam Shahih-nya)

Umar radhiyallahu anhu berkata: "Kami hampir saja menjadi kufur dalam satu pagi jika saja Allah tidak menyelamatkan kami melalui Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu anhu." (Diriwayatkan oleh Ibnu Batthah di dalam Al-Ibanah al-Kubra)

Ini gerangan sikap salaf. Kemudian datanglah generasi setelahnya yang terjangkiti penyakit Irja' hingga ke titik di mana mereka berani mengklaim bahwa iman mereka adalah sama dengan imannya Jibril! Mereka tidak takut terhadap sifat kemunafikan kecil (nifaq ashghar), tidak pernah khawatir terhadap kemunafikan besar (nifaq akbar), apalagi kemurtadan terang-terangan. Mereka yakin bahwa mereka benar, dan yakin bahwa mereka tulus, sehingga merasa perbuatan mereka tentu akan diterima, dan setelah itu mereka pasti akan memiliki akhir yang baik!

Semoga Allah melindungi hati kita dan perbuatan kita dari kemunafikan dan sifat ujub.

Dan demi klarifikasi, pada kolom "Dari Lembaran Sejarah" kita akan menyajikan secara singkat daftar para militan(1) dan bahkan "Mujahidin" yang jatuh ke dalam kemurtadan secara terang-terangan entah karena mereka berpihak kepada tentara salib atau para thaghut melawan Mujahidin atau masuk ke dalam agama parlemen dan kepresidenan Thaghut. Setelah itu, janganlah terkejut jika kemudian melihat berbagai faksi di Syam atau tempat lain berpihak dengan Shahawat, para thaghut atau tentara salib, menyerang Daulah Islam.

Afghanistan

Abdul Rasul Sayaf (mantan kepala "Persatuan Islam untuk Pembebasan Afghanistan," sekarang anggota parlemen Thaghut), Burhanuddin Rabbani (mantan kepala "Masyarakat Islam Afghanistan," meninggal saat menjadi Ketua Dewan Tinggi Perdamaian Afghanistan), dan Ahmad Shah Massoud (mantan komandan militer, meninggal ketika sebagai komandan "Front Persatuan Islam"), semuanya adalah mantan para pemimpin faksi-faksi utama yang berjuang melawan komunis Rusia dan selanjutnya melawan komunis Afghanistan. Ketiganya berjuang bersama 'Abdullah 'Azzam dan sebelumnya sering dipuji olehnya di dalam pidato dan surat-suratnya. Setelah runtuhnya rezim komunis Afghanistan, mereka semua secara bersama dengan yang lain mendirikan apa yang disebut "Negara Islam Afghanistan" pada tahun 1992. "Negara" ini yang kelak membentuk "Front Persatuan Islam untuk Keselamatan Afghanistan" alias "Afghanistan Aliansi Utara" yang berjuang demi kepentingan tentara salib dan para thaghut, ini menjadi sangat nyata setelah operasi 11 September yang penuh berkah.

Tajikistan

Abdullah Nuri (mantan kepala "Partai Kebangkitan Islam Tajikistan") berperang melawan komunis Tajikistan. Amir Khaththab Chechnya rahimahullah dirinya datang ke Tajikistan untuk berjihad dan berjuang bersama berbagai kelompok di sana, termasuk yang bersekutu dengan Nuri. Kelompok Nuri kemudian menandatangani perjanjian damai dengan komunis murtad. Partai ini kemudian menjadi anggota utama parlemen Thaghut, sehingga murtad dari Islam.

Libya

Abdelhakim Belhadj (Abu 'Abdillah ash-Shadiq), Abdel Wahab Qaid (Abu Idris al-Libi), Abdel-Hakim al-Hasidi, Sami Mustafa as-Sa'idi (Abul-Mundzir as-Sa'idi), semua adalah mantan anggota "Kelompok Pejuang Islam Libya" di mana kepemimpinannya berbasis di Afghanistan sebelum 11 September dan anggota pejuangnya telah melakukan berbagai operasi di Libya melawan Thaghut Qaddafi dan rezim murtadnya. Banyak pemimpin ini pernah menyertai Syaikh Usamah Ibnu Ladin rahimahullah di Afghanistan. Setelah runtuhnya Imarah Thaliban, para pemimpin "Kelompok Pejuang Libya" ditangkap oleh tentara salib dan kemudian diserahkan kepada boneka tentara salib Qaddafi lalu dibebaskan. Para mantan pemimpin jihad ini kemudian bergabung dengan parlemen Thaghut dan mengambil bagian dalam pemilu syirik setelah bertempur dalam perang melawan Thaghut Gaddafi pada tahun "2011".

Somalia

Sheikh Ahmed Syarif adalah komandan kepala Persatuan Pengadilan Islam pada "2006". Selama waktu ini, ia berperang melawan Thaghut Transisi Federal Pemerintah Republik Somalia. Setelah jatuhnya Mogadishu ke tangan tentara salib Afrika dan murtad Somalia, ia melarikan diri, kemudian kembali ke Somalia, ikut dalam pemilu syirik, dan menjadi presiden Thaghut, DABIQ 25 Si murtad Abbud Zumar setelah itu dia mengatur dengan hukum buatan manusia sejak "2009" hingga "2012." Dia terus menjadi sekutu tentara salib Amerika.

Iraq

Ali Bapir (mantan kepala "Kelompok Islam Kurdistan"), Mahmoud al-Masyhadani (mantan syar'i(2) dan pemimpin puncak di Anshar al-Islam), Sa'dun al-Qadhi Abu Wa'il (mantan kepala syar'i dari Anshar al-Islam), Muhammad Husain al-Juburi Abu Sajjad (mantan pemimpin Anshar al-Islam), Amin as-Sab' Abu Khadijah (mantan kepala "Jaisyul Islam"), Abul-Abd al-'Amiriyah (mantan komandan "Jaisyul Islam"), Abu 'Azzam at-Tamimi (mantan pemimpin "Jaisyul Islam"), Muhammad Abu Hardan Sa'id (mantan kepala "Jaisyul Mujahidin"), dan Haqqi Ismail asy-Syurtani (mantan komandan "Jaisyul Mujahidin"). Para pemimpin ini mengambil bagian dalam jihad di Irak. Ali Bapir mengambil bagian dalam jihad melawan Thaghut Saddam dan murtadin Peshmerga sebelum invasi Amerika ke Irak. Di saat invasi Amerika dimulai, ia bekerja sama dengan Peshmerga yang didukung tentara salib guna melawan Mujahidin di Kurdistan dan kemudian bergabung dengan parlemen Thaghut. Tokoh-tokoh lainnya semua mengambil bagian dalam jihad melawan tentara salib Amerika hingga beberapa dari mereka berakhir di penjara tentara salib dan membentuk kesepakatan dengan Amerika untuk menghentikan perang melawan tentara salib dan hanya berperang melawan "Khawarij". Mereka kemudian dibebaskan dan meyakinkan berbagai kelompok mereka dan bawahan mereka untuk ikut serta dalam pengkhianatan(3). Ini adalah Shahawat Irak pertama yang terang-terangan keluar dari al-Qa'idah dan bahkan Azh-Zhawahiri sendiri memperingatkan terhadap mereka pada beberapa kesempatan sebelum Azh-Zhawahiri sendiri menjadi pion di tangan Shahawat Suriah.

Mesir

Mohamed Abu Samra, Kamal Habib, Nabil Nu'aim, Karam Zuhdi, Abbud al-Zumar, Tarek al-Zumar, Najih Ibrahim, Usamah Hafidh, 'Asim 'Abdil-Majid, 'Isam Dirbalah, 'Abdul-Akhir al-Ghunaymi, dan Usamah Rusydi semuanya adalah mantan pemimpin dari "Jama'ah Islamiyah Mesir " atau "Jama'ah Jihad Mesir". Kedua kelompok ini telah melakukan jihad terhadap Thaghut dan tentara murtad Mesir. Semua pemimpin ini meninggalkan keyakinan mereka yang dulu dan ikut ambil bagian dalam pemilu Mesir setelah jatuhnya Thaghut Mubarak dengan membentuk dan mendukung partai politik termasuk "Partai Pembangunan dan Pengembangan" yang menjadi lengan politik dari "Jama'ah Islamiyah Mesir", "Partai Islam" (Partai Perdamaian dan Pembangunan), "Partai Jihad Demokrat" serta yang lain ...

Chechnya

Akhmad Kadyrov, Ramzan Kadyrov, Akhmed Zakayev, Ilyas Akhmadov, Sulim Yamadayev, Ruslan Yamadayev, dan Dzhabrail Yamadayev semua mantan nasionalis, pemimpin militan yang berjuang dalam Perang Chechnya Pertama melawan tentara salib Rusia di mana Amir Khaththab dan Syamil Basayev rahimahumullah juga berperang. Akhmed Zakayev dan Ilyas Akhmadov kemudian didukung tentara salib Barat di dalam media melawan Mujahidin. Sedangkan yang lain semuanya secara militer adalah satu pihak dengan tentara salib Rusia melawan mujahidin pada Perang Chechnya II. Mereka pada dasarnya adalah Shahawat Chechnya.

Palestina

Berbagai pemimpin dan cabang Hamas sejak bertahun-tahun mengaku akan melakukan "jihad" melawan Yahudi. Kenyataan menyatakan sebenarnya milisi ini adalah entitas nasionalis yang aktif mengadopsi demokrasi sebagai sarana perubahan sejak tahun "2005". Ini termasuk pemerintahan, presiden, dan pemilu legislatif, ikut ambil bagian dalam undang-undang dan pelaksanaan hukum buatan manusia. Ideologi demokrasi ini telah dipropagandakan oleh para pemimpinnya bahkan sebelum tahun "2005" sejak zaman Ahmad Yassin. Ia pernah ditanya dalam sebuah wawancara, "Orang-orang Palestina menginginkan negara demokrasi. Mengapa Anda menentang ini?" Dia menjawab, "Saya juga ingin negara multi-partai demokratis di mana otoritas adalah bagi mereka yang memenangkan pemilu." Dia kemudian ditanya, "Jika partai komunis yang menjadi pemenang pemilu, bagaimana Anda menempatkan posisi Anda?" Dia menjawab, "Bahkan jika partai komunis yang memenangkan pemilu, saya akan menghormati keinginan rakyat Palestina." Dia lalu ditanya, "Jika dari pemilu menjadi jelas bahwa rakyat Palestina menginginkan negara demokratis multi-partai, bagaimana Anda menempatkan posisi Anda saat itu?" Dia menjawab,"Wallahi, kita adalah bangsa yang memiliki martabat dan hak. Jika rakyat Palestina mengekspresikan penolakan mereka terhadap negara Islam, maka saya akan menghormati dan memuliakan keinginan dan kemauan mereka." (Ahmad Yasin, azh-Zhahirah al-Mu'jizah, Ahmad Ibnu Yusuf: 116, 118).

Kesimpulan

Ini adalah sebagian kecil dari sebuah daftar panjang. Semoga Allah menjaga hati kita di atas tauhid dan terbebas dari syirik hingga kita berjumpa dengan-Nya sementara Dia ridha terhadap kita. Aamiin.

Catatan kaki :

1. Catatan: Beberapa individu dan kelompok yang akan disebutkan tidak pernah berperang di jalan Allah sejak awal – mirip dengan kondisi banyak faksi di Syam – namun sebagian orang bodoh menganggap mereka sebagai "mujahidin" hanya lantara mereka berperang melawan tentara salib, komunis, dan orang kafir lainnya untuk alasan nasionalis.

2. Istilah ini digunakan untuk menunjukkan orang yang bertanggung jawab atas fatwa, dakwah, dan pengadilan pada sebuah kelompok.

3. Anshar al-Islam menolak untuk ambil bagian dalam Shahawat ini, sehingga Sa'dun dan al-Juburi memisahkan diri dari kelompok tersebut dan membentuk kelompok mereka sendiri bernama "Ansharus Sunnah".