Rabu, 25 April 2018

KENALI MUSUHMU, SIAPAKAH SYI'AH SHAFAWIYAH?

DABIQ 13 - SEJARAH

KENALI MUSUHMU,
SIAPAKAH SYI'AH SHAFAWIYAH?

Singkatnya, Negara Shafawl adalah politik pengkultusan dari Rafidhah Itsna 'Asyariyah (Dua Belas Imam), yang negaranya didirikan oleh Isma’il Ibnu Haidar tahun 906 H dan resmi jatuh tahun 1148 H. Selain mereka secara kejam membangkitkan kembali Rafd (agama orang Rafidhah), mereka menaruh perhatian besar pada bahasa Persia (Farsi) dan budayanya. Rafidhah hari ini yang tidak diragukan lagi merupakan kelanjutan dari pengkultusan ini karena mereka mempraktekan Rafd yang sama, menerapkan perlakuan yang sama terhadap Ahlus Sunnah, dan menyebarkan Persianisme yang sama.

Dinamakan berdasarkan Ishaq al-Ardabili (mati tahun 735 H), orang asli Turkmenistan atau Kurdi dan dikenal sebagai "Safi ad-Din," Shafawiyah adalah kelompok yang awalnya adalah thariqah/ tarekat (tingkatan Sufl) Syafi'i, yang berubah menjadi gerakan militan Rafidhi untuk menjadi negara tirani yang menguasai Persia dengan ambisi untuk menghapus semua jejak Sunnah dan orang-orangnya.

"Shah" (raja Persia) pertama mereka berkuasa pada tahun 906 H. Dia adalah Isma’il Ibnu Haidar, keturunan langsung dari Safi ad-Din, dan dikenal dengan penyimpangan yang parah dan kekejamannya. Asy-Syaukani berkata tentangnya, "Pengikutnya bertambah hingga ia menyerang dan mengalahkan Sultan Shirvan, yang ditangkap oleh pasukannya. Dia memerintahkan mereka untuk memasaknya dalam kuali lalu memakannya" [Al-Badr at-Tali']. Tidak mengherankan jika kemudian ketika Ismall mengalahkan amir Merv, ia memutilasinya -menyebar anggota tubuhnya ke penjuru Persia- dan menutupi tengkorak dengan emas dan permata untuk digunakan sebagai piala di acara-acara sosial.

Isma’il mengklaim bahwa ia menerima perintah dari "al-Mahdi" yang dinanti, untuk menjadi "perwakilan Allah di bumi" untuk mengurus negara baru dan membela 12 imam yang dianggap "ma’shum" oleh Rafidhah. Karena latar belakang Sufi-nya, ia mengaku menerima "ilham ghaibi", semacam "inspirasi ghaib," sehingga pengikutnya menganggap ia memiliki status ketuhanan, bahkan menganggap ia "penjelmaan dari ruh Allah," kita berlindung kepada Allah dari kekafiran terang-terangan seperti itu!

Dengan dukungan penuh dari milisi Rafidhi Qizilbash*, Isma’il membantai banyak Muslim, terutama setiap ulama yang mengajarkan Sunnah. Dia membantai ribuan orang dan membakar semua buku Ahlus Sunnah, bahkan tidak menyisakan salinan Al-Qur’an mereka. Awalnya berpenduduk mayoritas Sunni, Persia, timur Iraq, dan Khurasan pernah dipenuhi ilmu pengetahuan yang disampaikan oleh ulama ahli bahasa Sibawaih dan al-AzharI; ahli hadits al-Bukharl dan Muslim; ahli tafsir ath-Thabari dan al-Baghawi, dan fuqaha al-MarwazI dan Ibnul Mundzir. Namun begitu dikuasai oleh Shafawiyah, wilayah itu hampir kosong dari ilmu.

*Mereka adalah milisi Turki yang dikelola oleh ayah Isma’il dan dikenal dengan Qizilbash (bahasa Turki dari "Kepala Merah") karena mahkota merah mereka yang masing-masing memiliki dua belas tanduk, menunjukkan kesetiaan mereka kepada sekte Dua Belas Imam.

Zaman kegelapan dengan cepat menyebar di Persia yang sebelumnya terang benderang (dengan ilmu). Isma’il dan keturunannya secara paksa mengubah mayoritas Sunni ke agama Rafidhi. Hal yang sama terjadi di daerah bermayoritas Sunni lainnya, termasuk Azerbaijan. "Ulama" Rafidhi Arab dari Lebanon, Bahrain, dan Iraq diimpor untuk mengajarkan aqidah-aqidah sesat mereka. Yang paling terkenal dari mereka -dan yang pertama datang- adalah Ali bin Husain al-Karaki (mati tahun 940 H), yang diberikan posisi "Syaikhul Islam" dan memimpin lembaga yang didirikan untuk mengawasi perubahan Ahlus Sunnah. Al-Karaki itulah yang mengeluarkan fatwa membolehkan Rafidhah Itsna AsyarI untuk menggunakan kekuatan militer guna mendirikan pemerintahan mereka, sehingga “memperkuat” klaim Isma’il dan membenarkan semua pelanggarannya. Banyak Sunni meninggalkan Persia, tapi mereka yang tetap tinggal dianiaya, harus memilih antara murtad atau mati. Mengenai proses ini dan kekejamannya terhadap Ahlus Sunnah, Isma’il berkata, "Hal ini tidak membuat ku khawatir, karena Allah dan imam yang ma’shum bersamaku, jadi aku tidak takut siapapun. Jika satu saja tujuanku menemui halangan, aku akan menghunus pedangku dan tidak meninggalkan seorang pun hidup."

Adzan diubah menyesuaikan "fiqh" Rafidhi, menambahkan kalimat "Asyhadu anna Aliyan waliyullah” (Aku bersaksi bahwa Ali adalah wali Allah"). Para imam diperintah untuk mengutuk Abu Bakar ash-Shiddlq, Umar bin Khatthab, dan Utsman bin Affan dalam setiap khutbah Jumat.

Pemakaman Sunni dinodai dan masjid mereka dihancurkan. Tome Pires, seorang salibis dan duta besar Portugis untuk Cina, yang melewati Persia selama 916 dan 917 H, menyaksikan hal ini dan mengatakan, "Dia [Isma’il] merenovasi gereja kami padahal mereka menghancurkan masjid umat Islam yang mengikuti Sunnah" [Summa Oriental].

Mengikuti Ibnu Buwaih, pemimpin Rafidhi di abad keempat, Isma’il menghidupkan kembali ritual untuk meratapi kematian al-Husain, ritual yang dijelaskan oleh Ibnu Katsir, "Perintah diberikan [oleh Ibnu Buwaih] untuk menutup pasar, perempuan memakai kain tenun dari rambut, dan pergi keluar menampakkan wajah dan rambut mereka, lalu mereka menampar wajah mereka dan meratap untuk al-Husain bin Ali bin Abi Thalib. Ahlus Sunnah tidak dapat mencegahnya karena banyaknya jumlah kaum Syi’ah dan dominasi mereka, karena kekuasaan ada di tangan Syi’ah" [Al-Bidayah wan Nihayah].

Perayaan untuk memperingati terbunuhnya Umar bin Khatthab juga digalakkan ketika itu. Praktek ini didukung oleh Muhammad Baqir al-Majlisi (mati tahun 1111 H), yang dianggap sebagai salah satu "ulama" istana Shafawi yang paling utama dan juga diberi gelar "Syaikhul Islam" oleh "Shah." Dalam perayaan kematian Umar, ia berkata, "Yang terkenal di antara Syi’ah di kota-kota dan daerah-daerah besar pada waktu kita ini adalah bahwa hal itu [pembunuhan Umar] terjadi tanggal 9 Rabi’ul Awwal, dan itu adalah hari raya" [Biharul Anwar]. Lalu dia menyebutkan riwayat palsu sebagai dalil bahwa itu adalah hari kematian Umar (yang sebenarnya adalah 26 Dzulhijjah) dan bahwa hari itu adalah hari raya ied terbesar bagi pendukung Ahlul Bait!

Sebagaimana Rafidhah masa ini, Shafawiyah juga dikenal akan kesetiaan mereka kepada salibis. Isma’il -kemudian memegang kendali Hormuz- bersekutu dengan salibis Portugis antara tahun 921 dan 927 H untuk membantu mereka menaklukkan al-Bahrain dan al-Qatif di timur Jazirah Arab, yang secara langsung melanggar salah satu perintah terakhir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengusir kaum musyrikin dari Jazirah Arab. Namun karena Portugis mengambil bantuan dari boneka-boneka "Sunni" dan bukan dari Rafidhi, cicit Isma’il bernama 'Abbas memutus hubungan Shafawi dengan salibis itu - hanya untuk merayu salibis Inggris dalam persekutuan lain yang diawali dengan surat-menyurat terus menerus dengan penguasa Eropa sejak era kakeknya, Tahmasp Ibnu Isma’il.

'Abbas itulah yang mengundang salibis Anthony dan Robert Shirley, di bawah komando Earl dari Essex, untuk "memodernisasi" tentara Shafawi untuk membantu sekutu penyembah salib mereka. Bahkan menjelang akhir dari Dinasti Rafidhi, di 1119 H, Husain Safawi meminta bantuan angkatan laut dari Louis XIV Perancis untuk menaklukkan sebagian Teluk Arab.

Mereka menggunakan persekutuan seperti itu, serta politik licik dengan tetangga mereka, untuk semakin memasuki daerah-daerah Sunni. Melalui perjanjian dengan penyembah kubur Dinasti Utsmaniyah di tahun 962 H, Rafidhi Shafawiyah diberi izin untuk masuk ke Jazirah Arab -sebagaimana Alu Salul mengizinkan mereka hari ini- untuk melakukan haji di Makkah, meskipun Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang- orang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini” [at-Taubah: 28].

Meskipun pengaruh mereka tersebar ke seluruh negeri yang mereka taklukkan, dan efek jangka panjang mereka dirasakan bahkan hari ini, "Shah" Shafawi hidup dan mati dalam kehinaan. Isma’il, setelah kekalahan parah yang merusak citra "ketuhanan" yang diklaimnya, mengurung diri di istananya, di mana ia menghabiskan sisa hidupnya dengan mabuk-mabukan lalu mati tahun 930 H, hanya berumur 38 tahun. Tahmasp Ibnu Isma’il mati karena keracunan tahun 984 H. Isma’il Ibnu Tahmasp harus membuat saudara-saudaranya mati dan buta untuk mengamankan tahtanya, tapi setelah hanya satu tahun berkuasa ia dituduh kurang Rafidhi, diracun sampai mati, dan digulingkan oleh saudaranya yang hampir buta Muhammad Khudabandah. Bertindak sebagai "Shah" selama 10 tahun, pemerintahan Khudabandah berakhir ketika ia dipenjarakan oleh anaknya sendiri, 'Abbas, yang menginginkan posisi ayahnya. Selain pemabuk dan pelaku sodomi, ia membunuh pewarisnya sendiri Muhammad Baqir, membutakan dua anaknya yang lain, lalu mati tahun 1038 H. Cucunya yang kecanduan alkohol dan opium, dan sekaligus lemah, Sam Ibnu Muhammad Baqir, menggantikannya dan mati tahun tahun 1052 H. Putranya 'Abbas memerintah sampai kematiannya tahun 1077 H. Sulaiman Ibnu 'Abbas Ibnu Sam mengambil alih dan mati karena penyalahgunaan alkohol tahun 1105 H. Diikuti oleh Husain, yang ditangkap di ibukotanya sendiri, lalu sekarat dan gila di dalam penjara. Tahmasp Ibnu Husain memimpin beberapa tahun, sampai anaknya 'Abbas menggulingkannya dengan bantuan Nadir Khan yang tidak memiliki kaitan keluarga, yang kemudian mengambil alih kekuasaan untuk dirinya sendiri. Sehingga berakhirlah Dinasti Shafawi, tetapi ideologi politik Rafidhi-Shafawi dan penganiayaannya terhadap Ahlus Sunnah dilanjutkan di Persia oleh Ashfariyah dari Nadir Khan, lalu Zandiyah, lalu Qajariyah, lalu Pahlaviyah, dan kemudian hari ini rezim Iran yang terinspirasi Khomeini, yang didukung oleh "ulama" yang mengambil "bimbingan" dari Shafawiyah, menganggap mereka sebagai standar bagi pemerintahan yang "baik".

"Ulama" Rafidhi Iran, Abbas al-Qummi (mati tahun 1359 H) menulis, "Safi ad-Din al-Ardabili: Dia adalah Wali Agung, Bukti dari Kemurnian Sempurna... Keturunannya adalah Sultan Shafawi yang menyebarkan syiar-syiar agama dan menolong pembela Amirul Mu'minln (yaitu Ali bin Abi Thalib), semoga keselamatan atasnya." [Al-Kuna wal Alqab]. Bagi ulama Rafidhi hari ini, Isma’il telah menegakkan agama Allah, berjihad di jalan-Nya. "Ulama" Rafidhi Iraq, Hasan as-Sadr (mati tahun 1354 H) menyebutnya, "Penyerang di jalan Allah, Shah Isma’il ash-Shafawi" [Takmilat Amal al-Amil].

Namun, sebagaimana penerus Rafidhi mereka hari ini, Shafawiyah tidak ada kaitannya dengan Islam selain hanya untuk menghalang-halangi manusia darinya. Negara Rafidhi mereka meninggalkan warisan budaya busuk penuh kedengkian, dan kebencian itu diarahkan tidak lain kepada Ahlus Sunnah. Adalah penting untuk menghubungkan fakta bahwa warisan jahat ini -tentang permusuhan utama mereka terhadap Ahlus Sunnah, bukan Yahudi, salibis, atau murtaddin- masih diterapkan oleh Iran, Iraq, Lebanon dan Rafidhah lainnya pada zaman kita ini sebagai agama mereka di samping peribadahan mereka kepada orang mati dan berbagai bentuk kekafiran serta kesyirikan lainnya.

Sama seperti Kekaisaran Romawi yang tidak pernah sepenuhnya jatuh, tapi hanya mengadopsi nama baru, Shafawiyah berkembang -dengan basis di Iran- dengan tujuan Rafidhi mereka untuk memberantas Ahlus Sunnah dan menggantinya dengan kaum murtad.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar