Tampilkan postingan dengan label Pengantar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengantar. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 April 2018

ANGKA TINGGI KERUGIAN PERANG YANG DIDERITA NEGARA-NEGARA SALIBIS

RUMIYAH 13 - PENGANTAR

ANGKA TINGGI KERUGIAN PERANG YANG DIDERITA NEGARA-NEGARA SALIBIS

Salah seorang pejabat pemerintahan Salibis mengomentari persoalan serangan mereka terhadap bala tentara Daulah Islam. Dia mengatakan, “Sungguh mereka telah masuk ke dalam peperangan, dan mereka mesti menduga bahwa kematian mereka adalah salah satu hasilnya.”

Sesungguhnya, ketetapan Allah melalui mulut si kafir ini adalah suatu kebenaran aksiomatik (yang tidak diperdebatkan lagi), terutama bagi bala tentara Daulah Islam. Sejatinya, tatkala mujahidin melangkah untuk bertempur, bagi mereka kematian bukan sebatas kemungkinan lagi, akan tetapi cita-cita mulia yang mereka cari dan mereka berusaha untuk meraihnya. Karena kematian dalam kondisi ini merupakan kesyahidan di jalan Allah. Dengannya, seorang mukmin mendapatkan derajat tertinggi disisi Rabb Sang Pengatur bumi dan langit.

Akan tetapi, nampaknya para Salibis masih saja tidak menyadari realita efek dari ucapan salah seorang pejabat mereka. Oleh karena itu, kami mendapati mereka menampakkan keheranan dan terkejut luar biasa setiap kali tentara Daulah Islam menyerang mereka di negeri mereka, dan seolah-olah mereka hidup di dunia lain, yaitu bukan dunia di mana tentara mereka sedang terjun dalam pertempuran dahsyat melawan tentara Daulah Islam, di mana mereka mengerahkan seluruh kemampuan untuk menghancurkan negeri-negeri Islam, dan membunuh sebanyak mungkin anak-anak dan wanita kaum Muslimin; tua maupun muda.

Sejatinya hal itu bukanlah awal permulaan yang menyeret negara-negara Salibis di belakang pengemban panji Salib pada masa ini, yaitu Amerika Serikat. Sebagaimana hal itu juga bukanlah pertama kalinya mereka membayar kerugian dengan harga mahal akibat dependensi kepada para thaghut dalam memerangi kaum muslimin.

Rupa-rupanya, para thaghut negara-negara Eropa; setiap kali mereka mengirimkan tentara untuk memerangi kaum Muslimin dan membunuh mereka di AS, mereka hanya sekadar mengira keuntungan yang akan kembali kepada mereka dari kerjasama dalam peperangan ini. Mereka lupa dengan tagihan biaya selangit yang harus mereka bayarkan untuk mendapatkan kembali keuntungan yang mereka impikan.

Spanyol telah merasakan sendiri hal ini sebelumnya. Ia terseret mengekor di belakang Si Dungu Bush yang ditaati dalam Perang Irak. Spanyol masih memimpikan ladang-ladang minyak dan dana rekonstruksi. Namun nyatanya, Spanyol mendapati tentara yang dikirim kesana, mereka berada di garda depan menjadi target mujahidin yang membantai mereka dengan dahsyatnya. Sampai-sampai pemerintah Spanyol terpaksa menarik tentaranya dari Irak dalam keadaan terusir lagi hina, menjilat luka-lukanya, dan menerima ribuan laknat dari rakyatnya. Kendati demikian, nampaknya pelajaran tersebut tidaklah cukup bagi para Salibis itu.

Ketika pemerintahan baru Spanyol mengira bahwa ia telah memahami pelajaran pertama, dan bertekad untuk tidak mengikutsertakan tentaranya dalam perang langsung di darat, ia masih memutuskan berpartisipasi dalam memerangi Daulah Islam melalui pengadaan pelatihan bagi tentara Rafidhah. Sebagaimana Spanyol juga memberikan bantuan besar untuk mereka, demikian itu dalam bingkai pembayaran biaya untuk bagian bebannya, dalam rangka kerjasamanya dalam koalisi negara-negara Salibis bentukan AS guna memerangi Daulah Islam.

Sebagaimana Spanyol tidak mengambil pelajaran dari pengalaman sebelumnya, ternyata ia juga tidak belajar dari pengalaman negara-negara Salibis Eropa lainnya yang memerangi kaum muslimin. Negara-negara yang notabene lebih kuat darinya, lebih aman, dan lebih ketat perbatasannya, seperti Inggris, Perancis, Jerman, juga AS, yang semuanya telah merasakan kekuatan bala tentara Daulah Islam. Bala tentara yang bergerak menjawab seruan ulil amri (pemimpin) mereka untuk memerangi orang-orang kafir di negeri mereka. Namun Spanyol tetap saja memerangi kaum muslimin, dengan mengira dirinya jauh dari bencana yang telah menimpa kroni-kroninya.

Hari ini, bala tentara Daulah Islam di bumi yang jauh mengulang apa yang dilakukan para pahlawan; saudara-saudara mereka di negera-negera Salibis lainnya. Mereka lakukan pembantaian di negara Turki, Spanyol, Rusia, Belgia, serta negara-negara Salibis dan negara-negara murtad lainnya.

Pada 21 Dzulqa’dah, di Turki, salah satu ‘singa’ dari bala tentara Daulah Islam menikam salah seorang polisi thaghut Erdogan di pos terdepannya, sebelum dia terbunuh, semoga Allah menerimanya.

Pada 25 Dzulqa’dah, sekelompok bala tentara Daulah Islam di Spanyol melancarkan dua operasi di dua kota berbeda –dengan karunia Allah Ta’ala— dan menimpakan malapetaka dahsyat untuk ranah terbesarnya, yaitu sektor pariwisata yang menopang bagian terbesar perekonomiannya. Bala tentara Daulah Islam berhasil membunuh 16 jiwa dan melukai lebih dari 130 orang Yahudi dan Salibis di kampung halaman mereka, untuk memberi pelajaran baru dalam ranah kebijakan politik, dan mengingatkan keharusan persiapan membayar segenap ongkos mahal, baik nyawa maupun perekonomian, dalam peperangan mereka melawan Daulah Islam, sebelum mereka menghitung keuntungan yang dinanti-nanti dalam perang ini.

Lalu pada 27 Dzulqa’dah, kesatria tunggal Daulah Islam melukai tujuh orang menggunakan pisau di negara kriminal Rusia. Dengan keberanian tindakannya itu, dia mempertontonkan bahwa melancarkan sejumlah operasi tidak membutuhkan banyak orang. Kami memohon kepada Allah agar menerima amalannya.

Pada 3 Dzulhijjah, seorang tentara Daulah Islam merangsek ke sekelompok tentara Belgia dengan pekikan takbir dan berbekal pisau. Dia kemudian menikam mereka, sampai dia pun gugur. Kami memohon kepada Allah supaya menerima amalannya.

Serta operasi-operasi lainnya di mana bala tentara Daulah Islam menyerang para Salibis, Yahudi, dan murtadin di negeri mereka sendiri, membunuh dan melukai sejumlah besar dari mereka, terutama akhir-akhir ini. Rentetan peristiwa tersebut membuktikan bahwa negara-negara Salibis Eropa masih harus membayar ongkos besar, bahkan selama berbulan-bulan setelah operasi-operasi penuh berkah yang dilakoni bala tentara Khilafah di negeri-negeri mereka, mulai dari mobilisasi tentara, pengetatan prosedur keamanan, penurunan pendapatan pariwisata dan perdagangan, kondisi teror yang fenomena terbesarnya tidak ditunjukkan oleh patroli-patroli yang tersebar sejumlah alun-alun dan berbagai pos pemeriksaan menjulang yang dibangun di jalanan.

Sejatinya serangan-serangan terhadap Spanyol dan kroni-kroninya dari negara-negara kafir akan terus berlanjut –dengan izin Allah— selama negara-negara ini tidak henti memerangi Daulah Islam. Mereka tidak akan mampu menghentikan serangan-serangan ini –dengan izin Allah— betapapun mereka membuat berbagai macam prosedur, meningkatkan tindakan-tindakan pencegahan, dan mereka mengetahui hal ini dengan baik.

Sesungguhnya eskalasi operasi-operasi ini dengan skala yang lebih besar adalah harapan para tentara Daulah Islam selama periode yang akan datang. Maka hendaklah pemerintahan Salibis bersiap menerima angka tinggi kerugian-kerugian perang, dan angka tinggi terkurasnya harta dan jiwa, karena sesungguhnya hari esok sangatlah dekat, segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

PERTEMPURAN RAQQAH AKAN MEMBAKAR SALIBIS

RUMIYAH 12 - PENGANTAR

PERTEMPURAN RAQQAH AKAN MEMBAKAR SALIBIS

Saudara-saudara kita di Mosul telah menampakan keteguhan, ketabahan, dan keyakinan yang kuat di hadapan segala jenis kekafiran, yang tidak pernah terjadi sepanjang sejarah, hingga sekarang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah mengumpulkan dan menyiapkan ribuan tentara sekaligus persenjataannya, akan tetapi pasukan dan singa-singa prajurit Daulah Islam gagah berani menghadangnya. Hingga mereka mengalami kerugian puluhan ribu tentara dan persenjataannya. Kekuatannya telah hancur sehancur-hancurnya. Mereka menderita kerugian lebih dari 10 ribu tentara dan pasukan, dengan izin Allah ta'ala.

Orang-orang kafir tidak mampu memahami tekad kuat para laki-laki dan perempuan Daulah Islam. Kematian dan pesawat tempur tidak akan bisa menghentikan mereka.

Orang-orang beriman memandang bahwa dunia ini adalah penjara. Mereka menunggu hari pembebasan dengan melakukan ketaatan kepada Allah. Dalam Perang Mosul ini, banyak dari kalangan ikhwan maupun akhwat terbebas dari penjara dan mendapatkan kesyahidan di jalan Allah, dengan izin Allah.

Sejumlah media kafir memberitakan, “Pada hari pertama peperangan Mosul, para tentara Daulah Islam bertekad akan terus berperang hingga tentara yang terakhir binasa. Ini untuk pertama kalinya dalam sejarah perang melawan teroris.”

Orang-orang picik itu tidak memahami hakekat kami. Mereka tidak mengetahui bahwa semua tentara Daulah Islam beraqidah dan bermanhaj satu. Mereka ingin terbunuh di jalan Allah. Betul, semua tentara Daulah Islam siap untuk berperang di jalan Allah hingga tetes darah penghabisan, dan kabar gembira untuk orang-orang kafir bahwa junud Daulah Islam akan membuka bumi syam secara keseluruhan, walaupun harus melalui waktu yang panjang, hingga sampai ke negeri mereka, Insyaa Allah.

Di edisi ini kami mempersembahkan kepada kalian tulisan “Refleksi Mujahid” yang membahas tentang peperangan di jantung kota Mosul. Para dokter dan para medis di sana menjadi pahlawan yang siap mengorbankan jiwa mereka demi membela agama ini.

Orang-orang kafir dan antek-anteknya yang murtad mengklaim mampu mengendalikan pertempuran Raqqah, tapi menutup mata atas tentaranya yang kalah tewas berjatuhan dan kerugian yang menggunung. Mereka masih saja jumawa akan bisa membebaskan Raqqah selama beberapa minggu saja. Mereka telah rugi dan nantinya akan lebih rugi lagi, dengan izin Allah.

Kami juga mempersembahkan wawancara bersama Komanda Militer Raqqah dengan tema “Pertempuran Raqqah Akan Membakar Salibis”, berisi perjalanan perang serta strategi tempur di sana.

Untuk kesekian kalinya, tentara Daulah Islamiyyah di Marawi menegaskan bahwa tidak ada batasan untuk menegakkan Daulah Islam. Cita-cita menegakkan negara di bawah syariat Islam dan meninggikan kalimat-Nya tidak tidak dibatasi oleh tempat dan waktu.

Selama Kitabullah bersarang di dada orang-orang yang ingin menegakkannya, hendaklah orang-orang kafir bersiap diri untuk menghadapi pasukan yang akan menumpahkan darah mereka.

Saudara kami yang berjuang seperti di Marawi ada di berbagai belahan bumi, sebut saja; Jazirah Arab, Maghrib (Maroko), Aljazair, Tunisia, Turkistan, sampai Malaysia. Panji Daulah Islamiyyah akan berkibar di seluruh penjuru bumi dangan izin Allah meskipun musuh-musuh-Nya benci. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah.

Edisi ini dimulai dengan makalah berjudul “Masyarakat Muslim” yang menjelaskan kepada kita tentang masyarakat yang dibangun oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam bersama para sahabat. Yaitu masyarakat yang tidak hanya menegakkan syariat Islam dan menegakkan hukum saja, tetapi juga masyarakat yang berdakwah mengajak kepada kebaikan dan menunjukkan jalan menuju ampunan.

Dalam makalah berjudul “Hukum Mendakwahi Kafir Harbi” dijelaskan permasalahan berkaitan dengan kewajiban mendakwahi orang-orang kafir yang diperangi, sebelum dan ketika peperangan.

“Wanita Hamba Allah di Rumah Allah” adalah artikel yang menjelaskan tentang kewajiban para muslimah sebelum pergi ke masjid.

Terakhir, kami mempersembahkan “Nasehat Penting untuk Para Mujahid”, di situ kami menyebutkan wasiat-wasiat Syaikh Abu Mush’ab Az-Zarqawi rahimahullah untuk mujahidin fi sabilillah.

Kami memohon kepada Allah agar menjaga semua yang dekat maupun jauh dalam membantu mensukseskan terbitnya edisi ini. Aamiin.

ENTAH MUSYRIKIN YANG BINASA ATAU KAMI YANG BINASA

RUMIYAH 11 - PENGANTAR

ENTAH MUSYRIKIN YANG BINASA ATAU KAMI YANG BINASA

Para Rafidhah telah memerangi Mosul. Mereka pamerkan mobil-mobil tempur mereka, tank-tank baja mereka dalam barisan konvoi yang sangat panjang, hampir-hampir ujungnya tak terlihat. Mereka janjikan para majikan Salibis mereka bahwa mereka akan menuntaskan peperangan hanya dalam beberapa hari. Dan inilah –dengan karunia Allah– peperangan yang dahsyat telah memasuki bulan ke delapan. Konvoi kendaraan Rafidhah hancur lebur di tangan junud Khilafah yang sabar dalam ribath. Divisi dan brigade mereka musnah. Sementara yang lari dari peperangan akan mendapatkan hukuman dari ‘tuan’ mereka (Salibis) berupa bombardir atau dibunuh. Akan tetapi dengan keadaan demikian, kaum musyrikin masih selalu menjanjikan para tuannya dengan kemenangan dalam beberapa hari saja.

Semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepada mujahidin Mosul, baik bala tentara maupun komandannya, atas jasanya untuk Islam dan kaum muslimin. Mereka telah menyelami peperangan yang paling dahsyat dan paling besar sepanjang sejarah. Mereka contohkan makna keteguhan kepada seluruh dunia yang sangat jarang terjadi di zaman kita ini. Mereka sama sekali tidak membiarkan agama ini dalam kehinaan, tidak menyerah kepada para musuh, dan tidaklah mereka mundur dari suatu tempat kecuali mereka telah penuhi dengan potongan tubuh dan darah musyrikin hingga mereka tidak senang untuk terus maju dan tidak mudah pula merasa gembira dengan kemenangan yang mudah. Seperti inilah karakter para ahli tauhid di mana saja.

Kisah tentang keteguhan dan kepahlawanan mereka dalam berperang tidaklah asing. Inilah peperangan di Sirte, Fallujah, Al-Bab, dan peperangan mereka yang tercatat oleh sejarah menjadi saksi atas kejujuran perkataan mereka, eloknya perilaku mereka, Sungguh, barangsiapa yang loyal kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman, maka ketahuilah bahwa pasukan Allah (Hizbullah), mereka yang akan menang.

Hari ini adalah milik ahli tauhid dan tentara khilafah di Raqqah, supaya mereka menyaingi saudara-saudara mereka dalam mendapatkan ridha Sang Pencipta alam semesta dan mendapatkan kedudukan tinggi di jannah kelak, yaitu dengan menggigit teguh perbatasan dengan gigi geraham, mengorbankan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, serta membenarkan janji Allah yang akan diberikan kepada mereka.

Hendaklah setiap dari mereka berkata; Allah akan melihat apa yang aku lakukan pada hari ini, lalu bertemu musuh pada barisan pertama, sama sekali tidak menoleh ke belakang ketika peperangan berkecamuk sampai menemui Rabb mereka. Maka sungguh Allah azza wa jalla tersenyum atas yang mereka perbuat, dan Dia Ridha kepada mereka.

Para murtadin datang dengan keadaan takut dan grogi, mereka yakin bahwa perang ini tidak seperti perang sebelumnya dalam menghadapi tentara khilafah. Maka dari itu, mereka menyiapkan segalanya untuk menghadapi peperangan ini tidak sebagimana pada perang yang lain. Mereka menyiapkan pasukan melebihi persiapan pasukan pada peperangan yang lain.

Para Salibis memberikan bantuan yang belum pernah ada sebelumnya. Para petinggi militer Salibis selalu mengingatkan kepada sekutunya bahwa perang ini bukan peperangan yang mudah, akan memakan waktu yang tidak sedikit, dan berupaya semaksimal mungkin untuk terus bertempur meski harus mendapatkan kerugian dan memerlukan waktu yang panjang.

Tetapi pada kenyataannya, Salibis dan sekutunya meyakini bahwa tidak ada satu pasukan pun yang bisa bertahan berperang untuk mengganti kerugian yang lebih besar dari kemampuannya. Masanya lebih panjang dari kekuatannya dari segi waktu dan beban.

Jika demikian adanya, tentara Salibis Amerika akan lari meninggalkan perang, hengkang dari Irak dalam keadaan kalah telak setelah mendapatkan perlawanan keras dari mujahidin. Begitu juga, para petinggi mereka mengetahui masalah besar yang akan mereka hadapi, yang setiap saat mengancam negara mereka seperti krisis ekonomi, kewibawaan mereka jatuh, dan strategi yang kacau disebabkan beban yang tinggi.

Dan termasuk faktor terbesar ketakutan para Salibis dan sekutunya yang murtad adalah mereka memahami dengan baik kapasitas kekuatannya, dan mengetahui bahwa pasukan PKK dengan jumlah yang sedikit dengan perlengkapan persenjataan yang memberatkan keuangan Salibis, dan pasukan murtadin yang mereka tangkap di jalan supaya ikut bertempur setelah melakukan pelatihan yang buruk.

Semua itu –dengan izin Allah— membuat mereka tidak akan mampu bertahan dalam perang dahsyat seperti perang di Mosul. Juga, mereka tidak akan mampu menanggung sebagian kecil dari beban sangat besar yang menimpa pasukan Rafidhah dalam perang tersebut. Mereka tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk membantu mengganti semua kerugian.

Kita telah melihat apa yang terjadi di perang Manbij, bahwa hampir saja mereka hancur hanya dalam waktu dua bulan saja. Kalaulah bukan karena Allah memutuskan sesuatu yang pasti terjadi.

Sesungguhnya kewajiban bagi setiap mujahid di Raqqah, di manapun ia berada, hendaklah berpikir untuk menjadikan perang ini sebagai medan laga untuk menghancurkan murtadin, sebagai balasan atas kekafiran mereka kepada Allah Yang Maha Besar, permusuhan mereka terhadap agama-Nya, dan penyelesaian terakhir dari peperangan yang panjang.

Maka perang ini tidak akan berhenti kecuali salah satu dari kedua pasukan hancur. Entah kita mengancurkan mereka dengan kekuatan Allah lalu mereka merugi di dunia dan di akhirat atau kita yang akan binasa hingga menemui Allah dalam keadaan teguh dalam agama, dan membantai musuh-musuhnya, lalu kami menang sebagaimana Ashabul Ukhdud mendapatkan kemenangan, beruntung di akhirat, negeri yang kekal.

Tidak ada pilihan ketiga antara kami dan mereka. Sungguh Allah akan menolong orang-orang yang menolong-Nya. Sungguh Allah Maha kuat lagi Maha Mulia.

ALLAH DATANGKAN SIKSAAN KEPADA MEREKA DARI ARAH YANG TIDAK DISANGKA

RUMIYAH 10 - PENGANTAR

ALLAH DATANGKAN SIKSAAN KEPADA MEREKA DARI ARAH YANG TIDAK DISANGKA

Allah ta’ala berfirman, “Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama. Kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari (siksa) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka.” (QS. Al Hasyr:2)

Hanya sepekan sebelum tibanya bulan Ramadhan yang berbarokah, seluruh dunia terfokus pada kota Manchester di Inggris. Salah satu prajurit Khilafah melancarkan serangan terror, menargetkan Manchester Arena di Inggris pada saat diselenggarakanya pesta musik. Ledakannya mengguncang seluruh kota dan menimpakan ketakutan yang dahsyat ke dalam hati penduduknya. Mereka pun terperanjak hingga spontant menghubungi saudara-saudara mereka untuk meminta jaminan keamanan. Kemudian jumlah korban mulai terlihat. Lebih dari 20 yang tewas dan puluhan lainnya luka-luka. Jumlah korban terus meningkat hingga mencapai 100 korban tewas dan luka-luka.

Setelah ledakan, para teman-teman korban dan kerabat orang-orang yang ketakutan itu bersegera menuju media sosial guna meminta bantuan untuk mencari orang-orang Besayangannya. Bar-bar mulai menyugukan minuman kerasnya kepada para petugas darurat untuk menenangkan dirinya dari trauma setelah mereka melihat pemandangan mengerikan. Dan sebagaimana biasanya orang-orang yang menamai dirinya sebagi “muslim” British keluar mengutuk serangan ini lantaran takut kepada kuffar dan kwahatir mereka akan membalas dan menyakitinya. Sejumlah besar polisi dan tentara dikerahkan di jalanan. Tingkat ancaman di Inggris dinaikkan menjadi “Kritis”. Para politikus menghentikan kampanye pemilu umum yang akan datang, si Ariana Grande mengurungkan rencana jalan-jalanya keliling Eropa dan kembali ke negaranya dalam keadaan ketakutan, dan Team Chelsea membatalkan pawai kemenangannya di London. Para musuh-musuh Islam itu berusaha menampakkan keberanian, namun usaha mereka itu gagal, justru kepedihan mereka sangatlah nampak.

‘Survei’ membuktikan, Operasi di Manchaster ini menguatkan apa yang selama ini diprediksi oleh para pengamat sejak dulu : Bahwa untuk menggantikan kerugianya di Iraq dan Syam, Daulah Islamiyah memefokuskan operasinya di negri-negri salibis. Namun yang belum diakui oleh para pengamat itu adalah bahwa kerugian daerah bukanlah hal baru bagi Daulah Islamiyah. Daulah Islamiyah mulai kehilangan banyak daerahnya pada saat munculnya agresi Shahawat di Iraq yang menyebabkan kekalahannya. Tetapi, pada akhirnya itulah yang menyebabkan Daulah Islamiyah kembali, melipat gandakan usahanya, dan menyalakan api peperangannya sekali lagi. Dengan itu Daulah bisa merebut kembali setiap jengkal yang hilang darinya. Ia berhasil meluas ke Syam, Sinai, Khurasan, dan daerah-daerah lainnya di dunia, bahkan sampai ke beberapa daerah yang tidak disangka mujahidin bahwa mereka bisa menguasainya dan menegakkan hukum Allah di dalamnya.

Kejutan terjadi, -ribuan mil jaraknya dari Manchester- tatkala para prajurit khilafah di Timur Asia, tepatnya di kota Marawi yang terletak di kepulauan Mindanao Filipina Selatan membantai para polisi lokal dan para tentara, dan mengibarkan bendera Daulah Islamiyah. Hal ini mengingatkan kita peristiwa pembebasan kota Mosul dari para Syi’ah Rafidhah murtad dan para sekutu salib mereka. Kemenangan ini terjadi hanya selang beberapa minggu setelah pengakuan Rodrigo Duterte si thaghut salibis Filipina bahwa kondisi di wilayah Selatan Filipina membuatnya pusing dan gelisah di malam hari.

Si thaghut ini mengambil kendali pemerintahan dengan asumsi mampu mengendalikan “para militan islam bersenjata” di wilayah Selatan Filipina, terutama yang tinggal di pulau Mindanao, mengakhiri jihad mereka dan selanjutnya mengusir kekuatan Amerika yang ada di Filipina. Tetapi tatkala para prajurit Khilafah terus memperlihatkan sikap bahwa mereka tidak bernegoisasi kecuali dengan peluru dan bom, diapun mulai mengemis kepada para pemimpin “islam” lokal di wilayah Selatan agar membantunya dalam menghadapi para mujahidin. Di samping itu, dia juga mengancam akan memberlakukan darurat militer di wilayah-wilayah mereka jika masalah ini tidak selesai. Selanjutnya, ketika para prajurit khilafah menyerang kota Marawi, sesuai janjinya... diapun memberlakukan status darurat militer dan mengirim para tentara nya untuk kembali merebut kota. Tetapi justru para mujahidin berhasil membunuh puluhan para tentara salibnya dan membuka front baru dalam memerangi orang-orang kafir.

Realitas yang dihadapi oleh salibis hari ini, meskipun mereka beranggapan bahwa Daulah Islamiyah melemah, tetapi para mujahidin masih mampu untuk mengusir para salibis dan antek-antek mereka, serta dengan cepat mampu mewujudkan tamkin dari arah yang tidak diperkIraqan oleh musuh di belahan bumi manapun. Sebagaimana yang terjadi di Mosul sebelumnya, serangan-serangan mereka di tengah Negeri-negeri salibis di Barat terus menjadi surprise dan kejutan, seperti yang terjadi di Manchester. Sebagaimana terusirnya para salibis kafir pada pengiriman dan operasi mereka yang pertama di Iraq, maka demikian pula mereka akan kembali harus hengkang dari negerinegeri islam di Filipina, dan mereka akan terteror di tengah Negara mereka sendiri.

“Dan Allah maha kuasa atas urusan Nya, meskipun banyak manusia yang tidak tahu”. (QS. Yusuf : 21)

SEMBAHLAH RABBMU SAMPAI AJAL MENJEMPUT

RUMIYAH 8 - PENGANTAR

SEMBAHLAH RABBMU SAMPAI AJAL MENJEMPUT

Ketika Allah menganugerahkan nikmat kepada hamba-Nya, maka dijadikan-Nya zhahirnya sejalan dengan batinnya, dan ucapannya sejalan dengan tindakannya. Dia tidak menjadikannya seorang munafik yang kontradiktif antara tindakan dan ucapannya. Inilah apa yang telah Allah anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya di Daulah Islamiyah –dengan karunia-Nya– dalam berbagai sendi yang tak terhitung lagi. Utamanya dalam faktor utama wujudnya yaitu iqomatud din dan tahkim syariat.

Daulah yang menyelisihi orang-orang sesat dan menyesatkan, yaitu para pejuang faksi-faksi perpecahan dan perselisihan serta sekte-sekte madharat. Sebelumnya mereka memenuhi dunia dengan pernyataan dan teori-teori bahwa mereka berupaya menegakkan dien. Mereka bertekad merealisasikannya ketika kekuasaan berada dalam genggamannya. Namun kemudian tampaklah bahwa slogan-slogan itu dusta belaka. Ketika mereka menggenggam kekuasaan, segera saja janji-janji manis itu dilanggar. Mereka berhukum dengan aturan thaghut. Keeksisan organisasi dan figurnya lebih mereka pilih daripada menegakkan agama.

Setiap kali Allah menaklukkan dan menguasakan sebidang tanah atas Daulah, maka prajuritnya segera menegakkan agama Allah, memerintahkan penduduknya kepada kebaikan, dan melarang mereka dari keburukan. Meski mereka yakin bahwa hal itu akan menyebabkan orang-orang kafir menyerang dan menyesakkan dada orang-orang munafik, namun hanya ridha Allah Rabb semesta alam yang mereka inginkan.

Di antara kebaikan yang menggembirakan hati muwahid ini adalah ketika ia melihat shalat didirikan, zakat dikumpulkan, amar makruf nahi munkar dilaksanakan, dan hudud ditegakkan di setiap jengkal tanah Islam, walaupun pertempuran membara di berbagai sudut-sudutnya.

Engkau lihat singa-singa Islam menggoreskan pertempuran-pertempuran bersejarah dan mengorbankan jiwa raganya. Mereka terus mengawasi gerak-gerik kaum musyrikin dari ujung-ujung kota. Di saat yang sama adzan dikumandangkan, lalu kaum muslimin berkumpul untuk menegakkan shalat, sekalipun medan tempur hanya berjarak satu atau dua blok saja. Terlihat ikhwah lainnya berkeliling untuk membagi-bagi zakat kepada yang berhak. Pengaduan demi pengaduan terus mengalir pada peradilan-peradilan Islam yang berhakim dengan syariat Allah. Hudud tetap ditegakkan kepada terdakwa. Dakwah kepada kebaikan tidak berhenti, begitupula amar makruf nahi mungkar. Begitulah Dienul Islam yang ditegakkan secara sempurna sebagaimana diperintahkan oleh Allah azza wa jalla.

Tidaklah prajurit yang berada di front terdepan tetap bertahan kecuali untuk menjaga syariat Allah yang ditegakkan di bumi, yang orang-orang musyrik berusaha menghapuskannya. Ia yakin betul bahwa kemenangannya atas musuh bukanlah lantaran kekuatan lengannya, ketajaman pedang, atau lengkapnya persenjataan, namun murni karunia Allah. Setiap kali bertambah keyakinan jika agama ini ditegakkan sebagaimana dikehendaki-Nya, bertambah pula keyakinan akan pertolongan Allah. Dengan berjihad melawan orang-orang musyrik dan melindungi kaum muslimin, berarti dia telah menegakkan Dien dari sisi yang dibebankan imamnya padanya.

Rekan-rekannya menyokong, melindungi, dan membantunya dari belakang. Mereka menjaga kehormatan dan harta kaum muslimin. Hanya ketaatan kepada pemimpin yang membuat mereka menjauh dari front-front pertempuran dan garis-garis perbatasan. Mereka hanya menunaikan beban yang dipikulkan di bahu mereka yakni amanah penegakan dien. Lantaran mereka syiar-syiar agama dihormati, batasan-batasannya terjaga, dan hukum-hukumnya diterapkan. Jika ada perintah mobilisasi maka mereka segera bergerak, jika dimintai tolong maka mereka memberi pertolongan, dan jika diperintahkan maka mereka mematuhi.

Begitulah keadaan yang berlangsung di setiap jengkal Negeri Islam. Prajurit Daulah Islam terus menegakkan Dien selagi nikmat tamkin masih digenggam. Hingga ketika Rabb mereka menguji dengan serbuan musuh sampai terpaksa mundur atas izin para pemimpin mereka, setelah seluruh kemampuan dikerahkan untuk menghalau orang-orang musyrik, di hadapan Allah beban itu telah lepas dari pundak mereka. Lalu mereka kembali mengerahkan kemampuan untuk mendapatkan kembali kontrol atas wilayah itu dan menegakkan syariat. Dengan ini terbuktilah ketulusan seruan mereka dan kesetiaan mereka akan janjinya. Mereka membuat ridha Rabbnya, dan tampaklah kebenaran manhaj mereka.

Bukhari meriwayatkan dari hadits Anas dari Nabi shallallahu alaihi wasallam yang bersabda, “Jika kiamat telah terjadi sedangkan kalian sedang memegang benih maka jika mampu hendaknya ia tetap menanamnya.”

Wahai tentara-tentara Islam dan penjaga-penjaga syariat. Janganlah kalian meremehkan perkara makruf sekecil apapun itu. Janganlah merasa lemah untuk menegakkan syiar Islam apapun itu jika ia mampu, atau menyeru kepada keutamaan suatu amalan sekalipun sedang sibuk menghalau musuh, melindungi kaum muslimin, dan menjaga perbatasan.

Jangan sekali-kali menunda-nunda penegakkan Dien dengan sempurna setelah Allah memberikan kekuasaan di bumi walaupun sehari ataupun beberapa hari. Jangan sekali-kali menggantungkan syiar-syiar dan hukum-hukum Dien di bumi yang kalian pijak walaupun sehari atau beberapa hari sehingga Rabb kalian murka dan kalian dikalahkan musuh.

Allah azza wa jalla berfirman, “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. az-Zalzalah: 7-8).

AGAR ALLAH MENYARING ORANG BERIMAN DAN MEMBASMI ORANG KAFIR

RUMIYAH 7 - PENGANTAR

AGAR ALLAH MENYARING ORANG BERIMAN DAN MEMBASMI ORANG KAFIR

Bukanlah rahasia lagi bahwa tujuan bala tentara murtad “Perisai Eufrat” dari milisi Shahawat dan pasukan Turki adalah melenyapkan hukum Allah dari muka bumi, dan mengembalikan daerah-daerah yang telah dikuasainya kepada hukum jahiliyah, dengan mendirikan pengadilan-pengadilan yang di dalamnya diterapkan undang-undang buatan syirik, dengan berbagai macam nama dan undang-undang yang dijadikan landasan.

Namun, banyak manusia yang tidak mengetahui realita sebenarnya, bahwa dalam mewujudkan misi itu mereka siap menghancurkan segala sesuatu dan membantai manusia yang ada di muka bumi ini, bahkan para penduduk sipil sekalipun, yang mereka klaim bahwa memerdekakan warga sipil termasuk kewajiban agama dan penegakkan syariat. Hal ini nampak jelas melalui pengumuman mereka bahwa setiap daerah yang ingin mereka serang adalah “Zona Militer” dan didahului dengan bombardir menggunakan segala jenis persenjataan yang mereka miliki. Fakta menjadi semakin jelas, tatkala setiap desa dan kota di pinggiran utara dan timur wilayah Halab mereka bombardir secara sporadis baik dengan tembakan artileri pasukan murtad Turki maupun pesawat-pesawat tempurnya, pun halnya dengan bantuan pesawat Salibis Rusia dan Amerika, tanpa mempedulikan jumlah korban warga sipil yang terus bertambah puluhan tiap harinya.

Kebanyakan orang tidak mengetahui bahwa para murtaddin itu dalam mewujudkan misinya siap bekerjasama dengan siapapun dalam memerangi Daulah Islamiyah, sekalipun dengan rezim penjahat Nushairisi yang mereka klaim sebagai musuh mereka selama bertahun-tahun. Bahkan dengan pasukan Salibis Rusia yang masih senantiasa membombardir penduduk Syam dimana selama bertahun-tahun mereka mengklaim bahwa tujuan mereka berperang adalah untuk menolong penduduk Syam dan mengangkat kedzaliman yang menimpanya. Apatah lagi dengan Salibis Amerika yang dalam perspektif mereka –beberapa tahun lalu- merupakan setan terbesar, dan mereka laknat siapa saja yang mendukungnya. Air mata penduduk Syam telah mengucur selama bertahun-tahun akibat pembantaian pasukan Nushairi dan para sekutu-sekutunya, dari kalangan Rafidhah serta Salibis Rusia yang telah menghancurkan kota demi kota dan desa tempat tinggal mereka. Mereka terus menggembar-gemborkan seruan untuk menolong penduduk Syam, dan menghentikan penghancuran rumah-rumah tempat berlindung mereka, dan seruan itu datang dari lisan para Thawaghit dan wali-walinya dari kalangan faksi-faksi bersenjata dan partai murtad. Sejatinya hal itu hanyalah untuk memotivasi manusia agar berfokus pada satu mu- suh yaitu rezim Nushairi dan anteknya dari kalangan Rafidhah dan Rusia saja, bukan menyemangatinya untuk melawan siapa saja yang membunuhi kaum muslimin di Syam dan menghancurkan rumah-rumah pun masjid-masjid mereka di atas kepala dan anak-anak mereka.

Peperangan yang berlangsung di kota al-Bab antara wali-wali ar-Rahman yaitu pasukan Daulah Islamiyah dan wali-wali setan yaitu pasukan murtad Turki dan Nushairi, faksi-faksi Shahawat dan milisi-milisi Rafidhah yang dibekingi oleh Salibis Rusia dan Amerika, beserta wali-wali mereka dari kalangan ulama Suu’, para pengklaim jihad, partai-partai dan tandzim-tandzim ini, telah menyingkap fakta sebenarnya, sehingga bagi mereka yang memiliki dua mata mampu dengan jelas melihat tabiat para murtaddin yang menolak syariat tersebut, serta persiapan mereka untuk melakukan kejahatan melebihi apa yang dilakukan para Salibis, Rafidhah dan Nushairiyah dalam peperangan mereka melawan Islam, pun permusuhan mereka terhadap ahli tauhid serta penjunjung Syariat Islam melebihi permusuhan mereka terhadap Yahudi, Salibis, Rafidhah dan Nushairi yang mereka keluhkan telah membantai mereka dan memperkosa wanita-wanita mereka.

Kota al-Bab dan daerah-daerah lainnya yang tidak mampu diserbu oleh pasukan “Perisai Eufrat” lebih dari 100 hari, kini kondisinya hancur lebur, dan kehancurannya belum pernah disaksikan sebelumnya oleh kota-kota di Syam di tangan Rafidhah dan Nushairi. Dan ratusan warga muslimin di dalamnya meninggal akibat bombardir intensif yang disokong oleh musyrikin dan murtaddin satu sama lainnya.

Segala macam musuh Islam bersatu padu untuk menghancurkannya, padahal sebelumnya mereka saling bermusuhan satu sama lain, seperti murtaddin Shahawat dengan milisi-milisi Rafidhah, pasukan Turki dengan Nushairi, pasukan Salibis Amerika dengan Rusia. Ini fenomena gotong royong dan saling kerjasama musyrikin satu sama lainnya guna memerangi ummat Islam yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Namun para Ulama durjana, dan para pengklaim jihad hanya bisa diam membisu tatkala mereka dapati bahwa yang membombardir al-Bab dan membantai para penduduknya adalah Thawaghit Ikhwanul Murtaddin baru, yaitu Si Erdogan, dan teman-temannya dari kalangan murtaddin Shahawat. Mereka berpura-pura tak tahu tentang partisipasi Nushairiyah, Rafidhah, dan para Salibis dalam membomardir kota al-Bab saat mereka dapati bahwa yang menghalaunya adalah Junud Daulah Islamiyah, justru malah memotivasi saudara-saudara murtaddinnya untuk ikut bergabung dalam pasukan “Perisai Eufrat” saat mereka dapati bahwa dengan itu akan mendapatkan ridha tuan-tuan mereka dari para Thawaghit dan Salibis.

Sesungguhnya, pertempuran al-Bab yang singa-singa Khilafah –atas karunia Allah- tetap teguh di dalamnya bak kokohnya gunung, tidak hanya menimpakan kerugian dari segi personil, jumlah, dan kewibaan bala tentara mereka saja, namun juga menyingkap banyak fakta dari kelompok-kelompok yang mengklaim Islam, dan gigih menjaga darah muslimin, serta berusaha menolong mereka.

Beginilah hasil keteguhan mujahidin di setiap tempat di hadapan musuh-musuh mereka, dengan izin Allah telah membongkar kedok mereka, menampakkan aib-aib mereka, maka keteguhan melawan mereka merupakan sarana terbaik untuk dakwah kepada jalan Allah, dan menelanjangi jalan para penjahat.

SERAYA BERKATA, KAMI TAKUT AKAN MENDAPAT BENCANA

RUMIYAH 6 - PENGANTAR

SERAYA BERKATA, KAMI TAKUT AKAN MENDAPAT BENCANA

Ketika pemimpin faksi-faksi shahawat dengan prakarsa salibis Rusia pergi ke Astana ibukota Kazakhstan untuk bertemu dengan utusan rezim Nushairi guna menekankan perjanjian damai diantara mereka, para prajurit murtad mereka tetap melanjutkan serangan ke kota Albab di bawah bantuan dan back up dari salibis Rusia, sebagai sekutu thaghut shahawat terbesar yaitu Erdogan.

Bahkan mereka tidak berhenti sampai sini saja. Siapa yang mengikuti celotehan pemimpin mereka dewasa ini akan mendapati bahwa mereka berbicara mengenai Rusia seolah membicarakan seorang teman, bukan lagi Rusia salibis sekutu rezim Nushairi yang telah membunuh ribuan orang-orang lemah, menghancurkan kota-kota dan perkampungan, dan membantu pasukan Nushairi merebut kembali kota Aleppo serta mengusir mereka. Ternyata hari ini mereka justru menyebutnya sebagai “pahlawan perdamaian” dan berharap bisa berkoalisi dengannya untuk menumpas Daulah Islam.

Persahabatan antara shahawat murtad Syam (dengan thaghut Erdogan di belakang mereka) dan salibis Rusia terjadi setelah selama bertahun-tahun orang-orang murtad itu memberikan loyalitas kepada Amerika yang telah membantai umat islam, membantu thawaghit, dan melindungi negara kecil Yahudi yang telah menjajah tanah umat islam.

Ketika mereka sudah putus asa dengan Amerika, maka tidak sulit bagi mereka untuk beralih kepada Rusia, bahkan tidak ada sesuatu pun yang menghalangi mereka untuk sekaligus bersahabat dengan negara kecil Yahudi. Karena wala wal bara benar-benar telah hilang dari jiwa mereka. Jadi mudah saja bagi mereka untuk berwala kepada Yahudi, Kristen dan orang-orang musyrik, dan bersahabat dengan mereka melawan kaum mukminin ahlu sunnah, karena takut terhadap orang-orang musyrik atau berharap keuntungan dari mereka.

Shahawat murtad Syam juga menjustfifikasi kedekatan baru mereka dengan salibis Rusia, bahkan kemungkinan untuk bergabung di bawah bendera mereka dan bendera pemerintah Nushairi demi menghadapi Daulah Islamiyah, dengan alasan melemahkan campur tangan Iran di Syam dan mencegah rezim Nushairi memanfaatkan milisi Rafidhah karena mereka telah menggantikannya menumpas jamaah “teroris”, maksudnya Daulah Islamiyah.

Dengan demikian mereka mengulang kembali semua dalih yang dikemukakan shahawat Irak ketika menjustifikasi keikutsertaan mereka di bawah bendera Amerika beberapa tahun yang lalu, yaitu bahwa mereka ingin menjadi pengganti milisi Syiah Rafidhah yang menjadi ujung tombak Amerika dalam menumpas mujahidin, dan mengklaim bahwa kerjasama dengan salibis Amerika –yang telah mereka perangi selama bertahun-tahun– adalah dalam menghadapi musuh bersama yaitu Daulah Islamiyah. Mereka berharap Amerika menepati janjinya dengan menyerahkan pemerintahan kepada mereka setelah Amerika mundur dari Irak segera setelah berhasil menumpas Daulah Islamiyah.

Tentunya Amerika tidak akan menepati satupun janji-janjinya.

Pada akhirnya mereka hancur di tangan milisi Syiah Rafidhah yang berpakaian polisi dan tentara, setelah para shahawat memikul seluruh beban berat menumpas Daulah Islamiyah. Seluruh Irak jatuh ke tangan Rafidhah laksana rampasan perang gratis.

Kalaulah bukan karena kelembutan Allah terhadap umat islam dengan kembalinya Daulah Islamiyah hanya dalam beberapa tahun setelahnya untuk menimpakan petaka atas Rafidhah dan kroni shahawatnya serta merebut kembali negeri-negeri yang didudukinya.

Allah azza wa jalla  telah menjelaskan keadaan mereka yang mengaku beriman. Di setiap zaman dan tempat mereka bersegera untuk loyal kepada orang-orang kafir karena takut tertimpa petaka sekaligus berhasrat untuk meraup keuntungan. Mereka murtad dari agama Allah azza wa jalla secara massal.  Kelak Allah akan mengganti mereka dengan para hamba-Nya yang ikhlas, yang berwala kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman, yang merupakan Hizbullah dan satu-satunya golongan yang akan mendapatkan kemenangan dan kekuasaan, sebagaimana firman Allah azza wa jalla,

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai aulia (mu); mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka aulia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim. Maka kamu akan melihat orang-orang yang hatinya berpenyakit segera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata, ‘Kami takut akan mendapat bencana.’ Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya, sehingga mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka. Dan orang-orang yang beriman akan berkata, ‘Inikah orang yang bersumpah secara sungguh-sungguh dengan (nama) Allah, bahwa mereka benar-benar beserta kamu? Segala amal mereka menjadi sia-sia, sehingga mereka menjadi orang yang rugi. Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui. Sesungguhnya penolongmu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, seraya tunduk (kepada Allah). Dan barang siapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, maka sungguh, pengikut (agama) Allah itulah yang menang.” (QS. al-Maidah: 51-56).

SHAHAWAT SURIAH, PERSATUAN YANG RAPUH DAN KETERGANTUNGAN PADA THAGHUT

RUMIYAH 5 - PENGANTAR

SHAHAWAT SURIAH, PERSATUAN YANG RAPUH DAN KETERGANTUNGAN PADA THAGHUT

Allah azza wa jalla telah memecah belah persatuan faksi-faksi Shahawat Syam, mencerai beraikan hati-hati mereka, menciptakan perselisihan di antara mereka dan melepaskan kekacauan di tengah-tengah mereka hingga mereka saling bunuh membunuh. Ini tak lain buah akibat dari berpalingnya mereka dari amal kewajiban yang Allah perintahkan dalam firman-Nya, "Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah dan janganlah kalian berpecah belah." (QS. Ali Imran : 103), yaitu mentauhidkan Allah dalam hukum-Nya, bersatu di bawah satu pemimpin yang menegakkan syariat di tengah-tengah mereka dan memerangi kelompok kelompok kafir yang menentangnya.

Tatkala sebagian kelompok Shahawat Syam tahu bahwa kondisi mereka akan berujung sama halnya yang diderita Shahawat Irak, berupa kehinaan dan kemiskinan, mereka sebarkan kabar bahwa mereka tengah mengupayakan persatuan jahiliyah palsu, namun saling laknat melaknat demi kepentingan pribadi dan kelompok, sebagaimana yang dikatakan dalam firman Allah azza wa jalla, "Kamu kira mereka bersatu padahal hati-hati mereka tercerai berai. Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tidak berakal.“ (QS. al Hasyr : 14)

Perpecahan ini merupakan buah perbuatan yang mereka lakukan. Allah berfirman, "Dan diantara orang-orang yang mengatakan, 'Kami ini orang-orang Nasrani', kami telah mengambil perjanjian mereka. Tetapi mereka sengaja melupakan sebagian pesan yang telah diperingatkan kepada mereka, maka Kami timbulkan permusuhan dan kebencian diantara mereka hingga hari kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.“ (QS. al Maidah : 14)

Dan Allah berfirman, "Dan orang-orang Yahudi berkata, 'Tangan Allah terbelenggu'. Sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan mereka lah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu, padahal kedua tangan Allah terbuka, Dia memberi rezeki sebagaimana yang Dia kehendaki. Dan Al Qur'an yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu itu pasti akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan mereka. Dan Kami timbulkan permusuhan dan kebencian diantara mereka hingga hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan Allah memadamkannya. Dan mereka berusaha menimbulkan kerusakan di bumi. dan Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan“. (QS. al Maidah : 64)

Bagaimanapun usaha mereka untuk bersatu dan mengumumkan berbagai proyeknya, persatuan fatamorgana mereka akan segera musnah, "Perumpamaan orang-orang yang mengambil wali selain Allah adalah seperti laba laba yang membuat rumah, dan sungguh rumah yang paling lemah itu adalah rumah laba laba, jika mereka mengetahui.“ (QS. al Ankabut : 41)

Maka, loyalitas mereka satu sama lain karena selain Allah, berpegangnya mereka dengan selain tali-Nya dan peperangan mereka yang tidak di atas jalan-Nya, menjadikan mereka begitu lemah untuk melindungi panji mereka atau menjaga negara mereka setelah sebelumnya mereka mengaku Islam namun sejatinya mereka murtad, oleh sebab pemberian loyalitas mereka kepada Salibis dan murtaddin dalam peperangan mereka melawan kaum yang menegakkan hukum Allah di muka bumi.

Tidakkah para komandan Shahawat murtad itu berpikir dan tahu bahwa persatuan sejati yang diserukan kepada mereka hanyalah berada di bawah naungan Dien Islam dan Jamaatul Muslimin (Khilafah), bukan di bawah manhaj nasionalis dan hizbiyah (fanatisme kelompok). Tapi mereka tidak mengerti apapun selain hawa nafsu dan taklid buta. Maka, siapa saja ulama Thaghut dan analis Jahmiyah pun Qu’ud (yang enggan berjihad) yang bisa mewujudkan hawa nafsu mereka niscaya akan mereka ikuti, sedangkan pendapat golongan yang tidak sesuai dengan nafsunya mereka campakkan ke dinding.

Adapun untuk mengikuti apa yang diturunkan oleh Allah sebagaimana yang Dia perintahkan dengan firman-Nya, “Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian dan jangan kalian ikuti wali selainNya. Sedikit sekali apa yang kalian ambil pelajaran?” (QS. al A’raf : 3)

Dan Firman Nya, “Dan barang siapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orangorang mukmin. Kami biarkan dia dalam kesesatan yang dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam neraka jahanam. Dan itu seburuk buruk tempat kembali.” (QS. an-Nisa : 115), maka inilah yang tidak mereka inginkan.

Al-Mujaddid (Ulama Pembaharu) Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata guna menjelaskan sebagian kondisi orang-orang macam ini, “Mereka berpecah belah dalam agama mereka sebagaimana firman Allah azza wa jalla, 'Setiap kelompok merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka.’ (QS. al Mukminun : 53), begitu juga dalam urusan dunia mereka . Mereka melihat bahwa yang mereka lakukan sudah benar... Dan menyelisihi Imam serta tidak tunduk kepadanya (menurut asumsi mereka) adalah keutamaan, sedangkan mendengar dan taat kepadanya adalah sebuah kehinaan. Sikap taklid adalah landasan terbesar dari agama yang mereka bangun diatasnya. Taklid, pondasi terbesar untuk semua orang kafir baik generasi awal maupun akhir mereka, sebagaimana firman Allah azza wa jalla, 'Dan demikian juga ketika Kami mengutus seorang pemberi peringatan sebelum engkau (Muhammad) dalam suatu negeri, orang-orang yang hidup mewah di negeri itu selalu berkata, 'Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami sekedar pengikut jejak jejak mereka.’ (QS. az-Zukhruf : 23)” (Masailul Jahiliyah)

Beliau juga berkata, “Allah memerintahkan kita untuk bersatu di dalam agama dan melarang dari sikap berpecah belah di dalamnya. Allah menjelaskan hal ini dengan sangat jelas yang bisa difahami oleh orang awam sekalipun... Hingga sampai pada masalah bahwa perpecahan dalam Ushuluddin (pokok-pokok agama) dan cabang-cabangnya adalah bukti keilmuan dan kefakihan dalam agama. Sedangkan cukup bersatu dalam agama saja hanyalah ucapan orang zindiq atau orang gila... Karena diantara bentuk kesempurnaan ijtima' (persatuan) adalah mendengar dan taat kepada orang yang memimpin kita meskipun dia adalah seorang budak dari negeri Habasyah (berkulit hitam). Allah menjelaskan hal ini dengan sangat jelas lagi gamblang dari berbagai aspek baik syar'i maupun qodari. Kemudian prinsip ini tidak dikenal oleh mayoritas orang yang mengaku berilmu, lalu bagaimana bisa mengamalkannya?". (Ushulu Sittah)

Bersatunya faksi-faksi Shahawat demi fanatisme kelompok dan nasionalisme serta bersikukuhnya mereka di atas amal kesyirikan dan kemurtadan, tidaklah menjadikan mereka semakin garang lagi kuat, tapi sebaliknya justru semakin terhina akibat perpaduan yang rancu diantara aqidah dan manhaj yang beragam pun banyaknya perselisihan. Akan muncul percekcokan di tengah-tengah barisan mereka dan satu sama lain akan berupaya melakukan aksi khianat, dan Allah tidak memberikan petunjuk pada kaum yang zhalim.

Maka, barangsiapa yang hendak berpegang dengan tali Allah yang kuat, hendaklah dia bertobat kepada Allah dan berpegang teguh dengan agama Islam serta jamaah kaum muslimin hingga meninggal. Jika tidak, maka dia akan menjadi penghuni dan bahan bakar neraka jahannam.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang bergantung pada sesuatu niscaya dia akan diserahkan kepada sesuatu itu.“ (HR. an-Nasa'i dari Abu Hurairah)

Syaikh Sulaiman Alu Syaikh berkata, "Barang siapa yang menggantungkan hatinya kepada sesuatu di mana dia bersandar dan berharap kepadanya, niscaya Allah akan menyerahkannya kepada sesuatu tersebut. Maka jika seorang hamba bergantung kepada Rabb, Ilah, Sayid dan Maulanya, yakni Rabb segala sesuatu sekaligus Sang Raja, niscaya semua urusannya akan diserahkan kepada-Nya, sehingga Allah akan mencukupinya, menjaganya, melindunginya, dan mengurusinya. Dan Dialah sebaik baik pelindung dan penolong . Sebagaimana Firman Allah azza wa jalla,“Bukankah Allah yang mencukupi para hambaNya?“ (QS. az-Zumar : 36) Pun halnya barangsiapa yang bergantung dengan sihir serta para setan, maka urusannya akan diserahkan kepada mereka, dimana mereka kemudian akan membinasakannya di dunia dan akhirat. Artinya secara umum, siapapun yang bersandar kepada selain Allah entah siapa itu niscaya dia akan diserahkan kepada sesuatu itu, dia juga akan mendapatkan keburukan di dunia dan akhirat, dan akan mendapatkan kebalikan dari apa yang dia inginkan. Inilah sunnatullah atas para hamba-Nya yang tidak akan bisa diganti dan ketetapan yang tidak akan bisa dirubah, bahwasanya siapa yang menggantungkan harapan kepada selain-Nya atau percaya dengan selain-Nya, ataupun condong kepada makhluk yang akan mengurus dirinya, niscaya Allah azza wa jalla akan menimpakan kepadanya sesuatu yang bertolak belakang dengan harapan yang digantungkannya, baik karena faktor perbuatannya atau dirinya. Ini adalah perkara yang sudah maklum, baik dengan nash maupun terlihat secara kasat mata. Siapa yang merenungkan kondisi para makhluk dengan mata bashirah yang transparan niscaya dia akan melihatnya dengan jelas." (Taisir al-Aziz al-Hadits)

Beliau rahimahullah juga berkata, "Bergantung itu bisa dengan hati dan perbuatan atau keduanya sekaligus. Artinya, siapa yang bergantung pada sesuatu dengan hatinya atau dengan hati dan perbuatannya, niscaya dia akan diserahkan kepada sesuatu itu. Artinya Allah akan menyerahkannya kepada sesuatu yang dia gantungi. Jadi, siapa yang jiwanya bergantung pada Allah, meminta segala kebutuhannya kepada-Nya, berlindung kepada-Nya dan dia titipkan urusannya kepada-Nya, niscaya Allah akan mencukupi semua kebutuhannya, semua yang jauh didekatkan dan semua kesulitan dimudahkan. Sedangkan siapa yang bergantung kepada yang lain atau condong kepada ilmu, logika akal, obat dan jimat-jimatnya serta bersandar pada daya dan kekuatannya, niscaya Allah akan menyerahkannya kepada hal tersebut dan menghinakannya. Ini adalah perkara yang sudah diketahui baik berdasarkan nash dan eksperimen pengalaman manusia. Allah azza wa jalla berfirman, "Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Dia akan mencukupinya.“ (QS. ath Thalaq : 3) Wahb bin Munabbih berkata, "Allah azza wa jalla mewahyukan kepada Dawud, Hai Dawud, adapun demi kemuliaan dan keagungan-Ku, tidaklah seorang hamba diantara para hamba-Ku yang berpegangan dengan-Ku, bukan kepada makhluk-Ku, dan hal itu Aku ketahui dari niatnya, lalu langit yang tujuh serta apa ada di dalamnya maupun bumi yang tujuh berikut isinya berbuat makar kepadanya, melainkan Aku akan berikan jalan keluar baginya dari semua makar tersebut. Adapun demi kemuliaan dan keagungan-Ku, tidaklah seorang hamba diantara para hambaku yang berpegangan dengan Makhluk dan bukan kepada-Ku, Aku mengetahui hal itu dari niatnya, melainkan akan Aku putus sebab-sebab turunnya (rizki) langit pada tangannya dan Aku rusak bumi yang berada di bawah kedua kakinya, kemudian Aku tidak pedulikan di lembah mana dia akan binasa.' " (Taisir Aziz al-Hamid)

Belum tibakah saatnya bagi para Shahawat murtad dengan semua firqah dan kelompok mereka untuk merenungkan realitas pun kondisi mereka? Tidakkah mereka melihat bahwa bersandarnya mereka kepada para Thaghut, loyalitas mereka pada para penyembah Salib dan ucapan mereka “kami akan menaati kalian dalam sebagian urusan” tidak berguna sama sekali, selain menyebabkan Dzat yang Maha Adil lagi bijaksana Allah azza wa jalla tak melindungi mereka dari musuh yang dzalim, hingga pasukan Nushairi dan para sekutunya dari kalangan Rafidhah serta Salibis datang ke dalam negeri mereka, menghalalkan darah pun harta mereka di sejumlah komplek timur kota Aleppo dan komplek kota lama? Musuh memasuki daerah yang mereka kontrol dalam sekejap tanpa memuntahkan bombardir ataupun serangan Koalisi Internasional yang tidak ada bandingnya dalam sejarah modern, tidakkah mereka merenung?

Thaghut Ikhwanul Murtaddin Erdogan tidak pernah memberikan sesuatu pun untuk para Shahawat yang menjadi budaknya, selain 'nongkrong' duduk-duduk bersama Salibis Rusia para penghisab darah, pun mengucapkan selamat kepada Salibis Amerika terkait hasil pemilu presiden terbaru dan serangan terhadap para Muhajirin dan Anshar Daulah Islamiyah yang pada beberapa tahun silam sebelum kemunculan aksi pengkhianatan Shahawat murtad menjadi benteng kokoh dalam menghalangi agresi militer Nushairiyah terhadap kota Aleppo dan berbagai distrik di sekitarnya?

Ya, siapa yang bergantung kepada sesuatu niscaya akan dipasrahkan kepadanya. Maka, siapa yang bergantung kepada Thaghut yang tunduk kepada hawa nafsunya, niscaya akan dipasrahkan kepadanya yang akan memeperbudaknya demi mewujudkan kepentingan pribadi dan partainya, kemudian melemparkannya ke dalam tong sampah sejarah bersama para pengkhianat yang lain.

Lalu bagaimana jika mereka yang bersandar kepada Thaghut tersebut berperang di bawah panji jahiliyah, di atas jalannya dan demi meninggikan kalimatnya di bumi Syam yang berbarokah..?

Kalaupun Thaghut mereka, yaitu Erdogan khawatir atas kehormatan mereka, niscaya dia pasti akan mengirimkan bala tentaranya yang kafir lagi fajir untuk memerangi dan membunuh Nushairiyah Batiniyah Ba'ats Sekuler, dan dia akan mensuplai persenjataan Pasukan Turki berupa senjata canggih anti-pesawat Rusia dan Suriah pada Shahawat, tapi mana mungkin mereka melakukannya? Aleppo bukanlah bagian dari negara murtadnya, dan kroni-kroninya dari kalangan Salibis tidak akan membolehkan hal itu. Tidak ada kepentingan lain bagi Turki di dalam Suriah selain menumpas PKK yang murtad, guna mencegah mereka yang hendak menggoncang singgasana Erdogan yang fana.

Sedangkan para mujahidin yang bertauhid berharap, bagi yang mengaku Islam dan Ahlus Sunnah diantara para shahawat Aleppo dan Idlib serta yang lain, dan orang yang telah murtad baik dia Nasionalis atau Sekuler, atau menolak syariat ataupun lantaran loyalitas kepada para murtaddin, untuk bertaubat kepada Allah azza wa jalla, mengingkari selain-Nya, berwala karena-Nya semata, bermusuhan karena-Nya dan berperang di jalan-Nya saja yang tidak ada sekutu bagi-Nya, mengumumkan millah dua orang kekasih (Ibrahim dan Muhammad) alaihimus salam di depan umum, dengan bersandar pada Dzat yang Maha Hidup lagi selalu terjaga dan berlepas diri dari semua bantuan bersyarat dan si kafir Thaghut.

Barang siapa yang telah membunuh sejuta orang Muhajirin dan Anshar lalu mau bertaubat, maka dia mendapat jaminan keamanan, sebagaimana yang dikatakan Amirul Mukminin hafizhahullah, “Dan kekuasaan Syariat lebih baik baginya dari pada negeri yang diatur dengan undang-undang para faksi dan para peramalnya (Dan siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Dia akan mencukupinya)."

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

HIJRAH TIDAK AKAN TERPUTUS SELAMA ORANG KAFIR MASIH DIPERANGI

RUMIYAH 4 - PENGANTAR

HIJRAH TIDAK AKAN TERPUTUS SELAMA ORANG KAFIR MASIH DIPERANGI

Dari Abi Hind al-Bajali, berkata, “Suatu ketika kami bersama Muawiyah sedangkan ia telah berbaring di ranjangnya memejamkan mata. Kita berdiskusi tentang hijrah. Salah satu dari kita berkata hijrah telah terputus. Yang lain berkata hijrah belum terputus. Muawiyah pun terbangun dan berkata, ‘Apa yang kalian perbincangkan? Kami pun memberitahunya. Ia terkenal sedikit meriwayatkan hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam maka ia berkata, ‘Kami pernah membicarakan hijrah ini dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Maka beliau bersabda, ‘Hijrah tidak terputus sampai terputusnya taubat, dan taubat tidaklah terputus sampai matahari terbit dari barat’.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan ad-Darimi)

Ya, hijrah tidak terputus selama musuh kafir maupun murtad masih diperangi. Baik peperangan itu terjadi di Irak, Syam, maupun selain keduanya. Sekelompok umat ini akan senantiasa berperang di jalan Allah sampai turunnya al-Masih Isa alaihis salam yang dia akan menjadi imam pada pertempuran terakhir sebelum tibanya hari kiamat, sebagaimana yang dikabarkan oleh sosok yang jujur dan dipercaya shallallahu alaihi wasallam.

Meskipun para penyembah Salib dan juga para murtaddin berusaha memutus jalan hijrah, jalan akan senantiasa terbuka bagi orang-orang yang bertawakal. Moto para muhajirin yang pergi menuju front Islam adalah, “Mudah-mudahan Rabbku memimpinku ke jalan yang benar.” (QS. al-Qashas: 22). “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. as-Shaffat: 99). “Sesungguhnya aku berhijrah menuju Rabbku, dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. al-Ankabut: 26). “Aku bersegera kepada-Mu wahai Rabbku, supaya Engkau ridha (kepadaku).” (QS. Thaha: 84). Teladan mereka dalam hijrah adalah para rasul ulul azmi alaihimussalam yang mendapatkan siksaan karena beriman kepada Allah, namun tidak menganggap siksaan manusia itu sebagai azab Allah.

Bahkan seorang Muhajir mengerti bahwa jalannya dipenuhi dengan onak dan duri serta berbagai ujian yang mendekatkan seorang hamba kepada penciptanya, sebagaimana disebutkan dalam hadits Qudsi, “Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta, jika ia mendekat kepadaku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Meski jalan ini menuntut cucuran keringat dan darah untuk melewatinya, seorang muhajir akan tetap bersungguh-sungguh untuk mendapatkan kebaikan (Surga) dan tambahan (melihat wajah Allah). Ia akan memerangi musuh terbesarnya (Setan) di jalannya menuju negeri yang ia bisa hidup sebagai seorang muwahhid mujahid yang mulia lagi perkasa di dalamnya. Jika ia meninggal ataupun terbunuh tempat kembalinya adalah di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya setan menghadang manusia di setiap jalan kebaikan. Ia menghadang manusia di jalan Islam. Katanya, “Apakah kamu hendak masuk Islam dan meninggalkan agamamu, agama bapakmu dan agama moyangmu? Ia tidak menuruti setan dan masuk Islam. Maka setan menghadangnya di jalan hijrah, katanya, “Kamu hendak hijrah, meninggalkan tanah air dan langit yang menanungimu? Ia tidak menuruti setan dan berhijrah. Maka setan menghadangnya di jalan jihad, katanya, “Kamu hendak berjihad sehingga terbunuh dan istrimu diambil orang lain serta hartamu dibagi-bagi? Ia tidak menuruti setan dan tetap berjihad. Siapa saja melakukan hal itu kemudian dia mati, maka sudah menjadi kewajiban Allah untuk memasukkannya ke Surga. Jika terbunuh, maka sudah menjadi kewajiban Allah untuk memasukkannya ke surga. Jika tenggelam maka sudah menjadi kewajiban Allah untuk memasukkannya ke surga. Jika terlempar dan diinjak tunggangannya (saat hijrah atau jihad) maka sudah menjadi kewajiban Allah untuk memasukkannya ke surga.”(HR Ahmad dan an-Nasa’i dan Ibnu Hibban dari Sibrah bin Abi Fakihah).

Hasil pasti hijrah adalah ampunan dan surga, jika seorang muhajir mengikhlaskan niatnya hanya untuk Allah dan teguh di jalannya. Allah azza wa jalla berfirman, “Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. an-Nisa: 100).

Bahkan dalam hijrah terdapat barokah yang besar. Andai seorang muwahhid mengetahuinya, niscaya ia akan menjual seluruh kenikmatan dunia yang dimilikinya untuk membeli dirinya sendiri demi meraih ridha Allah.

Dari Amru bin al-Ash radhiyallahu anhu berkata, “Ketika Allah memasukkan Islam ke dalam hatiku, aku mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam dan berkata, ‘Ulurkan tangan kananmu aku ingin berbai’at kepadamu.’ Maka beliau pun mengulurkan tangannya, namun aku menggenggamkan tanganku. Nabi bersabda, ‘Mengapa wahai Amr? ‘Aku ingin meminta satu syarat,’ jawabku. ‘Apa syaratnya? Sabdanya lagi. Aku menjawab, ‘Aku ingin agar diampuni dosa-dosaku.’ Jawabnya, ‘Tidakkah engkau tahu bahwa (masuk) Islam itu menghapuskan dosa yang sebelumnya? Bahwa hijrah juga menghapuskan (dosa-dosa) sebelumnya? Demikian juga haji menghapuskan (dosa-dosa) sebelumnya?.” (HR Muslim).

Dari Thufail bin Amru ad-Dausi radhiyallahu anhu bahwa ia pernah berhijrah ke Madinah bersama seseorang dari kaumnya. Temannya itu tidak suka tinggal di Madinah. Ia jatuh sakit dan tidak sabar. Dia mengambil pisaunya lalu memotong urat nadi tangannya dan membiarkannya mengucurkan darah sampai mati. Maka Thufail bin Amru melihatnya dalam mimpi dengan penampilan yang sangat bersih sembari menyembunyikan tangannya. Thufail bertanya, ‘Rabbmu berbuat apa kepadamu? Dia menjawab, ‘Dia mengampuniku lantaran hijrahku menuju Nabi-Nya?. Thufail bertanya lagi, “Ada apa gerangan kamu menutup tanganmu? Dia menjawab, ‘Dikatakan kepadaku: Kami tidak akan memperbaiki apa yang kamu rusak.’ Thufail menceritakan hal itu kepada Rasulullah? maka beliau bersabda, ‘Ya Allah, adapun tangannya ampunilah’.”

Ya, Sang Maha Pelindung azza wa jalla telah mengampuni seseorang yang membunuh dirinya lantaran hijrah yang ia ikhlaskan hanya untuk Allah.

Wahai kalian yang dihalangi untuk berhijrah ke Irak ataupun ke Syam oleh konspirasi thaghut, sungguh pintu-pintu hijrah masih senantiasa terbuka sampai hari kiamat. Barang siapa tidak sanggup untuk berhijrah ke Irak dan Syam, hendaknya ia berhijrah ke Libya, Khurasan, Sinai, Afrika Barat, dan wilayah-wilayah Khilafah selainnya, yang bala tentaranya berada di belahan bumi timur dan barat.

RUMAH TERLEMAH ADALAH JARING LABA-LABA

RUMIYAH 3 - PENGANTAR

RUMAH TERLEMAH ADALAH JARING LABA-LABA

Bersamaan dengan dimulainya agresi militer salibis atas negeri-negeri kaum muslimin, yang targetnya adalah mengokohkan rezim thaghut dan menghalangi para muwahhid dari menegakkan Din dan penerapan syariat, Salibis meluncurkan proyek setara yang bertujuan mengganti Din dan merubah prinsip-pinsip Islam beserta cabangnya agar sesuai dengan visi jahiliyah Amerika untuk dunia. Proyek itu disebutnya “Tatanan Dunia Baru”. Untuk mewujudkannya meka tidak menemukan model yang lebih baik kecuali Ikhwanul Murtaddin agar diikuti oleh manusia jika mereka menginginkan kepuasan Amerika. Salibis telah menguji mereka dengan baik dan membuktikan rusaknya akidah mereka dan bagaimana mereka loyal kepada musuh-musuh Dien dimanapun mereka berada.

Tatkala pengikut thaghut Erbakan (mantan Presiden Turki) adalah sekolah Ikhwanul Murtaddin yang paling rusak dan paling tenggelam dalam lumpur kesyirikan serta loyalitas kepada orang-orang musyrik, Maka salah satu muridnya yakni si kriminal Erdogan mengajukan dirinya dalam menjalankan proyek ini, karena si murid merasa telah melampaui gurunya beberapa langkah dalam menapaki manhaj demokrasi dan kerelaan dengan sekulerisme. Maka diangkatlah ia sebagai presiden. Diciptakanlah kondisi histeria yang dibutuhkannya sehingga orang-orang bodoh banyak yang tertipu. Setelah itu ia diserahi tanggung jawab mengelola beberapa persoalan regional. Sehingga jadilah ia punya peran penting dengan thaghut negara-negara Arab dalam mensukseskan proyek shahawat di Irak yang bisa menutupi aib kekalahan Salibis dan membantu mereka mengokohkan pondasi rezim Rafidhah di Baghdad.

Sejak awal permulaan jihad di Syam, Erdogan dan badan intelijennya sudah berusaha menyeret dan mengikat faksi-faksi perlawanan agar melalui dirinya negara-negara Salibis bisa mengeksploitasi mereka untuk memerangi Daulah Islamiyah dan memerintahkan mereka untuk membiarkan rezim Nushairi, sehingga konvoi mereka mulai meninggalkan front-front pertempuran melawan rezim dan bergerak -dengan perlindungan pasukan dan dana rezim thaghut Erdogan- memerangi para muwahhid.

Erdogan dan negara busuknya itu menyelubungi permusuhannya kepada Daulah Islamiyah dengan tudung faksi-faksi murtad yang dibentuk dengan sepengetahuan mereka dan dicekoki dana mereka. Mereka takut para muwahhid berpaling ke Turki dan menyalakan api peperangan yang tak akan padam sampai garis perbatasannya hilang sebagaimana garis perbatasan Sykes-Picott lain.

Namun ketika pertempuran antara Daulah Islamiyah dan koalisi Salibis semakin sengit, si thaghut Turki itu menyingkap peran yang telah digariskan untuknya. Ia membuka langit negerinya untuk dilewati pesawat-pesawat Salibis. Ia juga buka perbatasannya untuk mensupplai atheis Kurdi di ‘Ain al-Islam (Kobane). Ia buka gudang-gudang senjatanya untuk murtaddin shahawat di Halab. Ketika diminta lebih, ia segera menyambutnya. Maka dikirimnya pasukannya ke medan tempur untuk menggempur Junud Khilafah. Pesawat-pesawatnya terbang untuk membombardir posisi mereka. Artilerinya diperintahkan untuk menghujani pedesaan dan kota-kota kaum muslimin, dan ia masih saja menjanjikan lebih. Dia mengira aksinya itu akan melindunginya dari keburukan akibat perbuatannya. Siapa yang mengira tidak akan dihukum pasti ia akan semakin jahat.

Erdogan dan rezimnya yang rapuh itu tidak belajar dari rezim-rezim murtad yang Allah telah menguasakan Junud Daulah Islamiyah atas mereka; mereka porak-porandakan strukturnya dan menghancurleburkan pondasinya sebagaimana yang terjadi atas Rafidhah. Dia tidak belajar dari Salibis sekutunya yang diserang berkali-kali oleh mujahidin; mereka membuat pasar-pasar dan taman bermainnya menjadi medan perang terbuka sebagaimana terjadi di Paris dan Brussel. Dia juga tidak mengerti makna seruan Daulah Islamiyah kepada kaum muslimin untuk memerangi musuh-musuhnya dengan apapun yang mereka mampu; seruan ini disambut oleh puluhan tentara Allah yang tersembunyi, mereka meneror dengan pisau-pisaunya, sabuk peledaknya, bom-bom mobilnya dan senjata apapun yang dimilikinya dengan metode apapun yang diilhamkan Allah pada mereka.

Rezim Turki saat ini dengan keikut sertaan mereka dalam koalisi internasional melawan Daulah Islamiyah itu sebenarnya sedang menyembelih lehernya dengan pisaunya sendiri, memotong urat nadinya dengan tangannya sendiri, menggantung dirinya sendiri dengan talinya sendiri dan menghancurkan rumahnya sendiri, dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah jaring laba-laba.

Maka, wahai Junud Khilafah di Turki, wahai muslim yang dihalangi oleh murtaddin Gendarmerie (aparat keamanan Turki yang bekerja di luar yurisdiki polisi umum, seperti wilayah pinggiran di perbatasan Negara.Pent) dari berhijrah ke Darul Islam, targetkanlah si thaghut Turki dan pengikut murtadnya itu. Perangilah mereka agar Allah mengazab dan menghinakan mereka melalui tangan kalian, menolong kalian, dan melapangkan dada-dada orang-orang yang beriman. Mulailah dari imam-imam kekafiran dan pendukung-pendukung thaghut. Sasarlah polisi, hakim, dan tentara. Sasarlah ulama-ulama thaghut dan pendukung partai Erdogan dan partai-partai murtad lain yang loyal padanya. Namun tetap jangan lupakan penduduk negara-negara Salibis jika kalian menjumpainya disana. Cerai beraikan dan tumpaslah mereka. Balaslah kejahatan mereka terhadap saudara-saudara kalian dengan membunuhi mereka.

Kepada setiap prajurit yang menjaga garis perbatasan dengan pasukan Turki dan sekutu-sekutunya, tetap teguhlah kalian, hendaknya mereka mendapati betapa kerasnya kalian. Semoga dengannya Allah melemahkan daya mereka, dan Dia lebih kuat daya-Nya dan lebih keras siksa-Nya.

BUNUHLAH ORANG-ORANG MUSYRIK DIMANAPUN KAMU JUMPAI

RUMIYAH 2 - PENGANTAR

BUNUHLAH ORANG-ORANG MUSYRIK DIMANAPUN KAMU JUMPAI

Sesungguhnya berperang di jalan Allah adalah pemenuhan atas perjanjian antara Allah azza wa jalla dengan orang-orang yang benar-benar beriman kepada-Nya. Allah azza wa jalla telah menyebutkan tentang hal ini di dalam firman-Nya:

(Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.) (QS at-Taubah: 111)

Tidaklah sempurna iman seorang muslim sampai menenuhi syarat jual beli itu, yang balasannya adalah mendapatkan surga yang telah dijanjikan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang benar imannya. Yang demikian itu adalah kemenangan yang agung.

Karena agungnya derajat syuhada diantara orang-orang mukmin, maka tekad mereka berlomba untuk mendapatkan derajat dan meraih martabat itu. Jiwa mereka berlomba menuju kolam kematian, memperebutkan pialanya, dan menerjang ke medan pertempuran setiap kali mendengar dentingnya, hendak mencari kematian di tempatnya. Semua itu untuk mendekatkan diri kepada Allah Rabb semesta alam, tentunya tanpa melupakan kosekuensi perintah Rabbani bagi mereka, yaitu dengan membunuh musyrikin dan memenggal kepala mereka, sebagai bentuk pengorbanan lainnya untuk Allah Rabbul ‘alamin.

Untuk mempertegas keutamaan ibadah ini, Allah azza wa jalla menjadikan membunuh dan menumpahkan darah orang kafir sebagai kafarat (penghapus) dosa-dosa maksiat dan berjanji akan menyelamatkan orang mukmin yang melaksanakannya dari api neraka, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Tidaklah berkumpul orang kafir dengan pembunuhnya di neraka selamanya” (HR. Muslim).

Bahkan imannya akan bertambah dengan menambah dan memperbanyak melakukan hal itu, sebagaimana firman Allah azza wa jalla: (...dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal shaleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.) (QS at-Taubah: 120)

Semua keutamaan itu Allah karuniakan kepada muslimin, meskipun Ia membunuh mereka dengan ketentuan-Nya. Sebagaimana firman Allah azza wa jalla: (Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar...) (QS al-Anfal: 17).

Allah mengaruniakan nikmat kepada orang-orang beriman berupa membunuh orangorang kafir melalui tangan mereka. Sesungguhnya beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah azza wa jalla serta meminta penghapusan dosa dengan membunuh orang kafir dan menumpahkan darah mereka merupakan ibadah yang diperintahkan kepada para muwahid sebelum kita. Allah menjadikan hal itu sebagai syarat diterimanya taubat Ban Israil setelah mereka terjerumus dalam kesyirikan dengan menyembah anak sapi, dengan memerintahkan orang-orang muslim diantara mereka membunuh orang-orang murtadnya, sebagaimana dalam firman Allah azza wa jalla:

(Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.) (QS al-Baqarah: 54).

Meskipun Allah azza wa jalla mengambil perjanjian dari mereka untuk tidak saling menumpahkan darah, namun dikarenakan besarnya dosa kesyirikan, Allah menjadikannya lebih berat dari pada membunuh dan menumpahkan darah, sebagai balasan untuk orang-orang kafir di dunia sebelum menemui azab yang pedih di akhirat. Sebagaimana firman Allah azza wa jalla:

(Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekkah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mererka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir. (QS. al-Baqarah: 191)

Jika seorang muwahid mengetahui bahwa balasan bagi orang-orang kafir di dunia adalah dibunuh oleh tangan-tangan orang beriman maka wajib atasnya beribadah kepada Allah azza wa jalla dengan membunuh mereka sesuai kemampuan, dan dengan wasilah apa saja yang Allah azza wa jalla mudahkan baginya. Allah azza wa jalla tidak membebani seseorang melainkan sesuai kemampuannya. Janganlah menganggap remeh membunuh seorang musyrik harbi betapapun ia terlihat tidak dianggap. Lebihlebih jika berusaha untuk menjadikan pemimpin-pemimpin orang kafir terutama para thagut, tentara, ulama’ su’, dan para keturunan Qarun yang bersekutu dengan mereka sebagai sasaran, maka hal itu lebih menghancurkan kekuatan mereka dan menjatuhkan panji mereka.

Hendaknya para pengikut millah Ibrahim alaihis salam bersungguh-sungguh dalam membunuh orang musyrik sebagaimana kesungguhan mereka dalam mencari syahid di jalan Allah azza wa jalla. Juga hendaknya para Kesatria Inghimasi berusaha semaksimal mungkin menimpakan korban sebanyak mungkin dalam barisan orang-orang musyrik. Karena disetiap nyawa yang melayang terhitung sebagai amal shalih, penghapus dosa, jalan selamat dari neraka, azab untuk orang-orang kafir, penyembuh dada dan peredam kemarahan orang-orang mukmin, serta penerimaan taubat dari Allah atas hamba-Nya yang dikehendaki dari para muwahidin. Allah Maha Mengetahui dan Mahabijaksana.

BANGKIT DAN MATILAH DIATAS APA YANG DIPERJUANGKAN SAUDARAMU

RUMIYAH 1 - PENGANTAR

BANGKIT DAN MATILAH DIATAS APA YANG DIPERJUANGKAN SAUDARAMU

Para penganut kebathilan di setiap waktu menjadikan terbunuhnya orang-orang shalih di tangan musuh-musuh islam baik dari kalangan musyrikin maupun murtaddin sebagai kabar gembira bagi mereka dan menganggap itu adalah kehancuran bagi muwahhidin; apakah orang-orang bodoh itu tidak tahu bahwa Allah ta’ala telah menetapkan ajal bagi setiap jiwa sebelum diciptakannya langit dan bumi?

Allah ta’ala berfirman:

(Tiap-tiap umat mempunyai (ajal); maka apabila telah datang ajalnya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya) (QS al-A’raf: 34)

Takdir ini mencakup seluruh manusia baik dia Nabi, wali, orang bertaqwa, maupun orang kafir atau Dzalim. Orang-orang bodoh itu tidak tahu bahwa Allah ta’ala dengan segala kehendak-Nya akan terus menjagaDien-Nya. Dien ini akan senantiasa tegak, tidak berpengaruh dengan gugurnya siapapun. Jika kematian itu berpengaruh dan membahayakan dien, tentu kematian Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya akan sangat membahayakannya.

Namun kenyataannya dien ini tetap eksis setelah kematian mereka. Bahkan Allah semakin menguatkannya dan meluaskan penyebarannya di seluruh penjuru bumi, dengan penjagaan-Nya dan dengan menggerakkan hamba-hamba-Nya yang shalih untuk menolong dien-Nya, yang ciri mereka terdapat dalam firman-Nya:

(Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela) (QS al-Maidah: 54)

Para rabbani yang benar-benar takut kepada Allah dan beribadah untuk-Nya dengan sebenar-benar ibadah, jika ada orang shalih dari mereka yang meninggal, mereka tidak akan berkata kecuali mengingatkan saudara-saudaranya dengan apa yang pernah dikatakan Abu Bakar as-Shidiq –radhiyallahu ‘anhu– kepada para sahabatnya setelah wafatnya Nabi shalallahu ‘alaihi wassallam:

“Barang siapa yang menyembah Muhammad sungguh Muhammad telah mati, dan barang siapa yang menyembah Allah maka Allah hidup dan tidak akan mati.”

Adapun para mujahidin di jalan Allah, mereka adalah ciptaan Allah yang spesial, yang Allah pilih dari sekian banyak hamba-Nya untuk menjadikannya sebagai syuhada’, dan memberikan mereka ganjaran yang besar. Kematian para komandan dan umara’ yang dahulu menerjuni kancah peperangan di depan mereka dan berperang demi Dien, tidak menambah kecuali keteguhan dan semangat untuk tetap memerangi musuh-musuh Allah. Mereka tidak akan berkata kecuali seperti kata-kata Anas bin Nadhr –radhiyallahu ‘anhu– kepada para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tatkala ia melihat semangat mulai mengendor setelah tersiar kabar dusta kematian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Katanya: “Apa yang mengendorkan semangat kalian? Mereka berkata: “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah meninggal!” Ia membalas: “Lalu apa yang kalian harapkan dari kehidupan setelah kematiannya? Bangkit dan matilah di atas apa yang diperjuangkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam!” Maka mereka pun bangkit dan berperang hingga terbunuh.

Ini adalah sunnah bagi muwahhidin di setiap zaman dan tempat. Setiap kali satu generasi gugur maka munculah generasi lain yang kembali mengemban panji tauhid dan bangkit menyelami peperangan sekali lagi dalam melawan kesyirikan dan para penganutnya. Moto setiap dari mereka adalah: ”Bangkit dan matilah di atas apa yang diperjuangkan saudaramu yang telah mendahuluimu dalam keimanan”.

Sungguh terbunuhnya saudara-saudara kita terdahulu yang kokoh kesabarannya seperti Syaikh Abu Muhammad al-‘Adnani –taqobbalahullah– tidak akan membahayakan islam sedikitpun, karena islam akan selalu dijaga oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Juga tidak akan membahayakan saudara-saudara kami sedikitpun, karena kami menganggap mereka semua tidaklah keluar berperang di jalan Allah kecuali untuk mengharapkan mati syahid, maju pantang mundur. Allah ta’ala berfirman tentang mereka:

(Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Rabbnya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati* Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman..) (QS Ali Imran: 169-171).

Sungguh terbunuhnya mereka tidak akan membahayakan Daulah Islamiyah dengan izin Allah selama ia tetap teguh di atas tauhid dan Sunnah. Allah akan mengaruniakan kepada Daulah para kesatria yang membuat geram orang-orang kafir dan melegakan dada-dada orang beriman. Sebagaimana Allah mengaruniakannya para kesatria yang membangun pondasinya, menegakkan tiangnya, dan meninggikan bangunannya, sampai hari ini ia memperoleh kemuliaan dan tamkin dengan karunia Allah.

Ketika orang-orang musyrik dan murtad gembira dengan terbunuhnya Syaikh Abu Mus’ab az-Zarqawi –taqobbalahullah– mereka tidak tahu bahwa Allah akan menggerakan bala tentara Syaikh yang akan menyungkurkan muka mereka ke dalam tanah. Diantara para kesatria yang membuat mereka geram adalah Syaikh Abu Muhammad al-‘Adnani taqobbalahullah.

Hari ini mereka bergembira dengan terbunuhnya Syaikh Abu Muhammad al-‘Adnani –taqobbalahullah–, namun kelak mereka berteriak meratap ketika Allah –dengan izin-Nya– mengirim orang-orang yang akan memberikan mereka siksaan pedih, yaitu bala tentara Abu Muhammad dan rekan-rekannya,

(Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa) (QS al-Hajj: 40)