Rabu, 25 April 2018

ANGKA TINGGI KERUGIAN PERANG YANG DIDERITA NEGARA-NEGARA SALIBIS

RUMIYAH 13 - PENGANTAR

ANGKA TINGGI KERUGIAN PERANG YANG DIDERITA NEGARA-NEGARA SALIBIS

Salah seorang pejabat pemerintahan Salibis mengomentari persoalan serangan mereka terhadap bala tentara Daulah Islam. Dia mengatakan, “Sungguh mereka telah masuk ke dalam peperangan, dan mereka mesti menduga bahwa kematian mereka adalah salah satu hasilnya.”

Sesungguhnya, ketetapan Allah melalui mulut si kafir ini adalah suatu kebenaran aksiomatik (yang tidak diperdebatkan lagi), terutama bagi bala tentara Daulah Islam. Sejatinya, tatkala mujahidin melangkah untuk bertempur, bagi mereka kematian bukan sebatas kemungkinan lagi, akan tetapi cita-cita mulia yang mereka cari dan mereka berusaha untuk meraihnya. Karena kematian dalam kondisi ini merupakan kesyahidan di jalan Allah. Dengannya, seorang mukmin mendapatkan derajat tertinggi disisi Rabb Sang Pengatur bumi dan langit.

Akan tetapi, nampaknya para Salibis masih saja tidak menyadari realita efek dari ucapan salah seorang pejabat mereka. Oleh karena itu, kami mendapati mereka menampakkan keheranan dan terkejut luar biasa setiap kali tentara Daulah Islam menyerang mereka di negeri mereka, dan seolah-olah mereka hidup di dunia lain, yaitu bukan dunia di mana tentara mereka sedang terjun dalam pertempuran dahsyat melawan tentara Daulah Islam, di mana mereka mengerahkan seluruh kemampuan untuk menghancurkan negeri-negeri Islam, dan membunuh sebanyak mungkin anak-anak dan wanita kaum Muslimin; tua maupun muda.

Sejatinya hal itu bukanlah awal permulaan yang menyeret negara-negara Salibis di belakang pengemban panji Salib pada masa ini, yaitu Amerika Serikat. Sebagaimana hal itu juga bukanlah pertama kalinya mereka membayar kerugian dengan harga mahal akibat dependensi kepada para thaghut dalam memerangi kaum muslimin.

Rupa-rupanya, para thaghut negara-negara Eropa; setiap kali mereka mengirimkan tentara untuk memerangi kaum Muslimin dan membunuh mereka di AS, mereka hanya sekadar mengira keuntungan yang akan kembali kepada mereka dari kerjasama dalam peperangan ini. Mereka lupa dengan tagihan biaya selangit yang harus mereka bayarkan untuk mendapatkan kembali keuntungan yang mereka impikan.

Spanyol telah merasakan sendiri hal ini sebelumnya. Ia terseret mengekor di belakang Si Dungu Bush yang ditaati dalam Perang Irak. Spanyol masih memimpikan ladang-ladang minyak dan dana rekonstruksi. Namun nyatanya, Spanyol mendapati tentara yang dikirim kesana, mereka berada di garda depan menjadi target mujahidin yang membantai mereka dengan dahsyatnya. Sampai-sampai pemerintah Spanyol terpaksa menarik tentaranya dari Irak dalam keadaan terusir lagi hina, menjilat luka-lukanya, dan menerima ribuan laknat dari rakyatnya. Kendati demikian, nampaknya pelajaran tersebut tidaklah cukup bagi para Salibis itu.

Ketika pemerintahan baru Spanyol mengira bahwa ia telah memahami pelajaran pertama, dan bertekad untuk tidak mengikutsertakan tentaranya dalam perang langsung di darat, ia masih memutuskan berpartisipasi dalam memerangi Daulah Islam melalui pengadaan pelatihan bagi tentara Rafidhah. Sebagaimana Spanyol juga memberikan bantuan besar untuk mereka, demikian itu dalam bingkai pembayaran biaya untuk bagian bebannya, dalam rangka kerjasamanya dalam koalisi negara-negara Salibis bentukan AS guna memerangi Daulah Islam.

Sebagaimana Spanyol tidak mengambil pelajaran dari pengalaman sebelumnya, ternyata ia juga tidak belajar dari pengalaman negara-negara Salibis Eropa lainnya yang memerangi kaum muslimin. Negara-negara yang notabene lebih kuat darinya, lebih aman, dan lebih ketat perbatasannya, seperti Inggris, Perancis, Jerman, juga AS, yang semuanya telah merasakan kekuatan bala tentara Daulah Islam. Bala tentara yang bergerak menjawab seruan ulil amri (pemimpin) mereka untuk memerangi orang-orang kafir di negeri mereka. Namun Spanyol tetap saja memerangi kaum muslimin, dengan mengira dirinya jauh dari bencana yang telah menimpa kroni-kroninya.

Hari ini, bala tentara Daulah Islam di bumi yang jauh mengulang apa yang dilakukan para pahlawan; saudara-saudara mereka di negera-negera Salibis lainnya. Mereka lakukan pembantaian di negara Turki, Spanyol, Rusia, Belgia, serta negara-negara Salibis dan negara-negara murtad lainnya.

Pada 21 Dzulqa’dah, di Turki, salah satu ‘singa’ dari bala tentara Daulah Islam menikam salah seorang polisi thaghut Erdogan di pos terdepannya, sebelum dia terbunuh, semoga Allah menerimanya.

Pada 25 Dzulqa’dah, sekelompok bala tentara Daulah Islam di Spanyol melancarkan dua operasi di dua kota berbeda –dengan karunia Allah Ta’ala— dan menimpakan malapetaka dahsyat untuk ranah terbesarnya, yaitu sektor pariwisata yang menopang bagian terbesar perekonomiannya. Bala tentara Daulah Islam berhasil membunuh 16 jiwa dan melukai lebih dari 130 orang Yahudi dan Salibis di kampung halaman mereka, untuk memberi pelajaran baru dalam ranah kebijakan politik, dan mengingatkan keharusan persiapan membayar segenap ongkos mahal, baik nyawa maupun perekonomian, dalam peperangan mereka melawan Daulah Islam, sebelum mereka menghitung keuntungan yang dinanti-nanti dalam perang ini.

Lalu pada 27 Dzulqa’dah, kesatria tunggal Daulah Islam melukai tujuh orang menggunakan pisau di negara kriminal Rusia. Dengan keberanian tindakannya itu, dia mempertontonkan bahwa melancarkan sejumlah operasi tidak membutuhkan banyak orang. Kami memohon kepada Allah agar menerima amalannya.

Pada 3 Dzulhijjah, seorang tentara Daulah Islam merangsek ke sekelompok tentara Belgia dengan pekikan takbir dan berbekal pisau. Dia kemudian menikam mereka, sampai dia pun gugur. Kami memohon kepada Allah supaya menerima amalannya.

Serta operasi-operasi lainnya di mana bala tentara Daulah Islam menyerang para Salibis, Yahudi, dan murtadin di negeri mereka sendiri, membunuh dan melukai sejumlah besar dari mereka, terutama akhir-akhir ini. Rentetan peristiwa tersebut membuktikan bahwa negara-negara Salibis Eropa masih harus membayar ongkos besar, bahkan selama berbulan-bulan setelah operasi-operasi penuh berkah yang dilakoni bala tentara Khilafah di negeri-negeri mereka, mulai dari mobilisasi tentara, pengetatan prosedur keamanan, penurunan pendapatan pariwisata dan perdagangan, kondisi teror yang fenomena terbesarnya tidak ditunjukkan oleh patroli-patroli yang tersebar sejumlah alun-alun dan berbagai pos pemeriksaan menjulang yang dibangun di jalanan.

Sejatinya serangan-serangan terhadap Spanyol dan kroni-kroninya dari negara-negara kafir akan terus berlanjut –dengan izin Allah— selama negara-negara ini tidak henti memerangi Daulah Islam. Mereka tidak akan mampu menghentikan serangan-serangan ini –dengan izin Allah— betapapun mereka membuat berbagai macam prosedur, meningkatkan tindakan-tindakan pencegahan, dan mereka mengetahui hal ini dengan baik.

Sesungguhnya eskalasi operasi-operasi ini dengan skala yang lebih besar adalah harapan para tentara Daulah Islam selama periode yang akan datang. Maka hendaklah pemerintahan Salibis bersiap menerima angka tinggi kerugian-kerugian perang, dan angka tinggi terkurasnya harta dan jiwa, karena sesungguhnya hari esok sangatlah dekat, segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar