Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Januari 2018

BIOGRAFI AMIRUL MU’MININ SYAIKH ABU BAKAR AL-BAGHDADI

BIOGRAFI AMIRUL MU’MININ SYAIKH ABU BAKAR AL-BAGHDADI

Judul Asli
Risalah Muddu Al-Ayadi li Bai’at Al-Baghdadi

Penerjemah
Ganna Pryadha

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha memberi nikmat dan petunjuk. Shalawat serta salam tercurahkan bagi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang diutus kepada segenap manusia di kota-kota metropolitan maupun di pedesaan, juga kepada para kerabat keluarga, para sahabat beliau, dan siapa saja yang meniti jalan mereka dengan baik hingga Hari Kiamat kelak.

Inilah risalah singkat yang ditulis demi memotivasi kaum muslimin untuk membai’at Khalifah Ibrahim Al-Badri As-Samarra`i –semoga Allah menjaganya.

Nasab Mulia

Dia adalah seorang syaikh mujahid, ahli ibadah, zuhud, amirul mukminin, panglima segenap katibah mujahidin, Abu Bakar Al-Qurasyi Al-Husaini Al-Baghdadi yang merupakan cucu dari ‘Armusy bin Ali bin ‘Id bin Badri bin Badruddin bin Khalil bin Husain bin Abdullah bin Ibrahim Al-Awadh bin Asy-Syarif Yahya ‘Izzuddin bin Asy-Syarif bin Bisyir bin Majid bin Athiyah bin Ya’la bin Duwaid bin Majid bin Abdurrahman bin Qasim bin Asy-Syarif Idris bin Ja’far Az-Zaki bin Ali Al-Hadi bin Muhammad Al-Jawwad bin Ali Ar-Ridha bin Musa Al-Kazhim bin Ja’far Ash-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib dan Fathimah binti Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Ibnu Katsir berkata di dalam tafsirnya, “Kita tidak boleh mengingkari orang-orang yang mewasiatkan agar berbuat baik, menghormati, dan memuliakan Ahul Bait. Karena mereka berasal dari keturunan yang suci, berasal dari keluarga paling mulia yang pernah ada di muka bumi, dalam hal keluhuran derajat, kedudukan, dan nasab. Terlebih lagi apabila mereka adalah orang-orang yang mengikuti Sunnah Nabi yang shahih, jelas, dan terang. Hal ini sebagaimana telah dilakukan para pendahulu mereka, seperti Al-Abbas dan kedua putra-putranya, Ali dan keluarganya. Semoga Allah meridhai mereka semuanya.”

Imam Ahmad melansir sebuah riwayat di dalam Musnad-nya dari Al-Abbas bin Abdul Muthalib Radhiyallahu ‘Anhu. Al-Abbas menceritakan, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, apabila sebagian kaum Quraisy bertemu dengan sebagian lainnya, maka mereka akan menyambut dengan wajah berseri-seri dan sikap baik. Namun apabila mereka bertemu dengan kami, maka mereka tampil dengan roman muka yang tidak kami kenali?”

Al-Abbas berkata, “Maka Rasulullah marah besar dan bersabda, “Demi Allah, tidak akan masuk keimanan ke dalam hati seseorang, sehingga dia mencintai kalian karena Allah dan keluarga kerabatku.”

Perjuangan Mencari Ilmu

Syaikh Abu Bakar Al-Husaini –semoga Allah selalu menjaganya– tumbuh dalam keluarga yang baik dan shalih. Beliau tumbuh dewasa berbekal semangat tinggi mencintai agama dan kebahagiaan hakiki. Sampai akhirnya melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi dalam bidang syariat Islam. Syaikh Al- Baghdadi lulus dari Universitas Islam Iraq di Baghdad setelah menyelesaikan jenjang Sarjana S1 (Bachelor Degree), Magister (S2), dan Doktoral (S3). Syaikh yang memiliki wawasan sangat luas dalam bidang ilmu historiografi (sejarah/tarikh) dan genealogi (ilmu nasab) ini juga menguasai metode baca Al-Qur’an qira`at ‘asyrah (qiroat sepuluh). Hal ini berkat petunjuk dan kehendak baik Allah untuknya. Di dalam dua kitab Shahih disebutkan, diriwayatkan dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Nabi Muhammad bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkannya agama.”

Ini merupakan faktor kedua mengapa Syaikh Abu Bakar Al-Baghdadi dihormati orang banyak.

Al-Hakim dan Ath-Thabarani meriwayatkan dari Ubadah bin Ash-Shamit, katanya: “Aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Bukan termasuk golongan umatku siapa yang tidak memuliakan orang yang lebih tua, menghormati orang yang lebih muda, dan mengetahui hak-hak orang alim.”

Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari Radhiyallahu Anhu, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya termasuk pengagungan kepada Allah adalah memuliakan orang yang sudah beruban lagi muslim, memuliakan penghafal Al-Qur’an dengan tidak berlebihan dan tidak menyepelekannya, dan memuliakan para pemimpin yang berbuat adil.”

Syaikh Abu Bakar Al-Baghdadi benar-benar memiliki dua hal yang tidak dimiliki orang lain, yaitu keilmuan dan nasab yang bermuara kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Syaikh Abu Bakar Al-Baghdadi sungguh meneladani pernyataan yang diriwayatkan dari Umar bin Khattab –sebagaimana dikeluarkan Imam Al-Bukhari. Umar pernah berkata, “Belajarlah, sebelum kalian menjadi pemimpin.”

Tidaklah Syaikh Al-Baghdadi dipercaya menjabat kedudukannya sekarang ini, melainkan telah banyak belajar dan berilmu. Sehingga membuat Syaikh dipercaya untuk memberi pengajaran, mengimami shalat wajib, dan menyampaikan khutbah di berbagai masjid di Iraq. Lalu Syaikh juga diamanahkan untuk memimpin sebagai amir di salah satu jamaah jihad di Iraq, lalu menjadi anggota di Majelis Syura Mujahidin (cikAl-bakal Daulah Islam), lalu menjadi amir di Al-Lajnah Al-‘Amah Al-Musyrifah (Dewan Umum Pengawasan) wilayah-wilayah kekuasaan Daulah Islam, lalu dipercaya sebagai Amir Daulah Islam Iraq setelah mendapatkan bai’at dari Majelis Syura dan Ahlul Halli wal Aqdi.

Kemudian beberapa tahun berlalu setelah bai’at tersebut, kekuasaan Daulah Islam Iraq melebar ke negeri Syam, dan Syaikh Abu Bakar Al-Baghdadi pun diamanahkan sebagai Amirul Mukminin Daulah Islam di Iraq dan Syam.

Setelah setahun lebih, melalui tangan sang imam, Allah membuka dan membersihkan berbagai kawasan di Iraq dan Syam dari kotoran orang-orang Syiah Shafawi, Syiah Nushairiyah, dan para Shahawat murtad, serta memberlakukan hukum Islam di wilayah-wilayah yang telah ditaklukkan.

Akhirnya pada 1 Ramadhan 1435 H, dideklarasikanlah Khilafah Islamiyah, dan Syaikh Abu Bakar dibai’at sebagai Khalifah kaum muslimin.

Amal Jihadnya

Rasanya mustahil apabila Syaikh Abu Bakar Al-Baghdadi meraih reputasi tinggi tanpa pengorbanan tiada henti yang mendatangkan hasil manis. Dalam amal jihad, Syaikh Al-Baghdadi sudah sangat lama mengenakan pakaian tempur yang takkan pernah dilepaskan selamanya. Beliau dikenal berani menghadapi resiko dengan terjun ke berbagai neraka pertempuran, dan tidak pernah takut kepada siapapun. Syaikh Al-Baghdadi tidak pernah melonggarkan semangatnya barang sedetik pun dan pengorbanannya sungguh tiada batas! Beliau mulai melakukan perlawanan sejak tentara Amerika Serikat (AS) menginjakkan kaki di negerinya, guna mengusir musuh yang mencoba mencabik-cabik agama dan kehormatannya.

Syaikh Al-Baghdadi pun mendirikan Jamaah Salafiyah Jihadiyah yang telah teruji oleh musuh dengan ujian yang elok, dan sukses menerjang berbagai cobaan yang datang silih berganti.
Kemudian berkecamuklah jihad Iraq. Musuh pun akhirnya semakin melemah dan semakin dekat menuju kematiannya. Tanpa menunggu lama, Ahlul Halli wal Aqdi pun membentuk Majelis Syura Mujahidin. Syaikh Abu Bakar Al-Baghdadi lantas bergabung ke dalamnya bersama para mujahid lainnya. Kemenangan semakin nampak jelas. Pasukan mujahidin berhasil menguasai sejumlah kota, desa, dan front pertempuran. Mereka kemudian mendeklarasikan berdirinya Daulah Islam Iraq yang menerapkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad bagi hamba-hamba Allah.

Pada fase ini, Syaikh Abu Bakar Al-Baghdadi benar-benar berjuang luar biasa, berpindah dari satu wilayah ke wilayah lainnya, mendengarkan segudang keluhan masyarakat, duduk satu lantai dengan orang-orang yang lebih tua, anak-anak muda, para pembesar kabilah, masyarakat miskin, untuk menerapkan hukum Allah. Pada masa ini pula, Syaikh blusukan ke sejumlah kabilah, suku, jamaah jihad, balatentara dan milisi kaum beriman. Beliau mengajak mereka untuk merapatkan barisan, mengikis perpecahan dan perbedaan, serta berdialog bersama mereka dengan penuh netralitas dan rasa keadilan. Syaikh Al-Baghdadi mengajak mereka untuk melakukan bai’at secara syar’i kepada Amirul Mukminin saat itu, yaitu Syaikh Abu Umar Al-Baghdadi Rahimahullahu. Banyak orang dari kalangan muda dan tua yang menyambut ajakannya saat itu.

Melihat semakin kokohnya Daulah Islam Iraq mendorong banyak kubu dari kalangan orang-orang murtad, Syiah Rafidhah, dan Nasrani untuk bersatu padu. Mereka bekerjasama melancarkan serangan brutal ke arah Daulah Islam Iraq yang masih seumur jagung. Sampai-sampai kaum muslimin berduka cita atas syahidnya dua petinggi, yaitu Abu Umar Al-Baghdadi dan Abu Hamzah Al-Muhajir, dalam satu pertempuran.

Sepeninggal keduanya, sang imam mulia pun tampil menggantikan mereka yang telah gugur. Syaikh Abu Muhammad Al-Adnani Hafizhahullahu mengisahkan, “Sesungguhnya kami, segala puji bagi Allah, tidaklah kami didera suatu serangan, melainkan membuat kami semakin kuat dan solid. Tatkala Abu Umar gugur, kami sempat mengeluh; kapan lagi kami memiliki pemimpin semisal Abu Umar? Namun nyatanya, tak lama kemudian muncullah Syaikh Abu Bakar Al-Baghdadi. Tahukah kalian siapa Abu Bakar Al-Baghdadi?! Jika kalian bertanya tentang sosoknya, beliau adalah seorang keturunan Al-Husain dari suku Quraisy dari keturunan Ahlul Bait yang suci. Beliau seorang alim, pengamal ilmu, ahli ibadah, dan mujahid. Pada diri beliau, saya melihat keselamatan aqidah, ketabahan, tekad kuat, dan ambisi seorang Abu Mush’ab Az-Zarqawi. Ditambah kesabaran, keadilan, kedewasaan, dan kerendahan hati seorang Abu Umar Al-Baghdadi. Serta kecerdikan, kebulatan tekad, dan kesabaran seorang Abu Hamzah Al-Muhajir.

Berbagai cobaan yang mendera membuatnya semakin tangguh, segudang fitnah menjadikannya semakin cemerlang. Dalam delapan tahun fase jihad bak lautan ganas, memunculkannya sebagai sosok pelaut tangguh. Sehingga Daulah Islam Iraq tampil menjadi tempat berlindung banyak orang, superioritas, dihormati banyak manusia. Tak berlebihan rasanya jika Syaikh Abu Bakar mendapat apresiasi yang luar biasa, berdasarkan dakwah yang telah dilakukan Amirul Mukminin, pengorbanan yang telah dilakoninya dengan harta, jiwa, dan anak-anaknya. Sungguh saya menjadi saksi untuk semuanya. Saya anggap, Allah telah memilih, menyimpan, dan menyiapkan Syaikh Abu Bakar untuk membawa kita menjalani masa-masa yang berat. Wahai putra-putra Daulah Islam, semoga saja Syaikh Abu Bakar dapat membuat kalian merasa senang dan puas!”

Pengamalan terhadap keilmuan yang dimiliki Syaikh Abu Bakar Al-Baghdadi menjadi faktor ketiga mengapa beliau dicintai setiap para pencari kebenaran. Mengingat keutamaan yang tiada tara, masih banyak alasan lainnya untuk mencintai dan menghormati Syaikh Abu Bakar Al-Baghdadi. Bagi orang yang tidak mau keutamaan-keutamaan Syaikh, orang yang mencela dan memfitnah keji beliau, maka hentikanlah sendawanya dari kami! Alih-alih menganiaya kita, tindakan pendengki itu sejatinya justru malah menganiaya dirinya sendiri.

Syubhat dan Bantahannya

Ada yang mengatakan, “Apakah seluruh syarat imamah ‘uzhma (kepemimpinan tertinggi / khilafah) sudah terpenuhi Syaikh Abu Bakar Al-Baghdadi?

Sesungguhnya syarat-syarat imamah ‘uzhma adalah syarat-syarat yang telah ditetapkan para ulama Islam. Mereka berketetapan berdasarkan petunjuk-petunjuk di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad, dan sedikitpun tidak mengacu kepada kebiasaan-kebiasaan (politik atau tata negara) yang diterapkan oleh tirani negara-negara modern atau Persatuan Bangsa-Bangsa.

Imam Badrudin bin Jamaah menerangkan tentang syarat-syarat imamah, “Kelayakan terhadap imamah mencakup 10 syarat, yaitu: imam haruslah laki-laki, merdeka, baligh, berakal, muslim, adil, berani, dari Quraisy, berilmu, kapabel untuk memikul kebijakan (policy) dan kepentingan umat. Kapan saja diselenggarakan suatu bai’at terhadap untuk seseorang dengan karakter tersebut –dan tidak ada lagi imam selainnya– maka tegakkanlah pembai’atan dan imamahnya, serta patuhilah sang imam dalam perkara yang bukan kemaksiatan kepada Allah dan Rasul-Nya.” (Tahrir Al-Ahkam fi Tadbir Ahli Al-Islam, Ar-Raudhah, Al-Ahkam As-Sulthaniyah, dan Ghiyats Al-Umam)

Dan Amirul Mukminin Abu Bakar Al-Husaini Al-Baghdadi telah memenuhi semua persyaratan tersebut. Tidak ada satu pun syarat yang tidak terpenuhi, baik syarat-syarat wajib maupun syarat-syarat yang sunnah.

Lalu apabila ada yang mengatakan, “Apakah sah kepemimpinan Syaikh Abu Bakar Al-Baghdadi, sedangkan semua orang belum membai’atnya?”

Tidak disyaratkan adanya pembai’atan dari semua manusia dan seluruh ahlul halli wal aqdi. Bahkan cukup apabila hanya dibai’at oleh ahlul halli wal aqdi yang ada.

Imam An-Nawawi berkata di dalam Syarh Shahih Muslim, “Adapun bai’at, para ulama sepakat bahwa keabsahan bai’at tidak disyaratkan adanya pembai’atan dari semua manusia dan semua ahlul halli wal aqdi. Namun cukup disyaratkan dengan adanya kesepakatan para ulama, petinggi, dan tokoh terkemuka yang ada saja.” Ini adalah pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan yang lainnya.

Imam Al-Qalqasyandi berkata di dalam Ma`tsir Al-Anafah, “Kedelapan –pendapat paling shahih dari para sahabat kami ulama madzhab Asy-Syafi’i– sesungguhnya ia (bai’at) dapat terselenggara atas kehadiran siapa saja yang bisa hadir saat itu di tempat tersebut, dari kalangan ulama, petinggi, dan orang terkemuka yang memiliki sifat-sifat yang layak sebagai saksi. Bahkan seandainya hanya ada satu ahlul halli wal aqdi yang dipatuhi, maka sudah cukup.”

Amirul Mukminin Abu Bakar Al-Baghdadi –semoga Allah menjaganya– telah ditahbiskan melalui pembai’atan dari ahlul halli wal aqdi yang hadir. Karena syarat pembai’atan yang meniscayakan seluruh ahlul halli wal aqdi merupakan pendapat kelompok sesat Mu’tazilah. Lalu syarat pembai’atan yang meniscayakan persetujuan seluruh manusia adalah pendapat para pengusung demokrasi. Perhatikanlah sikap yang diambil oleh pendengki khilafah; dari dua pendapat tersebut, pendapat mana yang dia ambil?!

Bila dia mengatakan: Bagaimana bisa diakui imamah Syaikh Abu Bakar Al-Baghdadi, sedangkan sejumlah wilayah penaklukan belum mendapatkan bai’at dari ahlul halli wal aqdi.
Karena wilayah-wilayah yang ditaklukkan balatentara Syaikh Abu Bakar Al-Baghdadi sejatinya masih berada dalam kekuasaan penguasa yang tidak berhukum dengan syariat Allah.

Merampas kembali tanah yang mereka kuasai dengan penuh kekuatan (baca: jihad) merupakan puncak ajaran Islam. Bahkan seandainya Syaikh Abu Bakar Al-Baghdadi mengambil tanah tersebut dari para penguasa muslim yang berhukum dengan syariat Islam, maka wajib untuk mendengar dan patuh kepadanya, selama bukan memerintahkan kepada kemaksiatan dan selama tetap berhukum dengan syariat.

Al-Hafizh Ibnu Hajar melansir sebuah ijma’ (konsensus) tentang hal tersebut, dia menerangkan, “Para fuqaha menyepakati kewajiban untuk mematuhi seorang penguasa (raja/sultan) yang menaklukkan suatu negeri (dengan merampas atau memberontak) dan kita wajib berjihad bersamanya. Mentaatinya lebih baik daripada memberontak kepadanya, karena mentaatinya berarti mencegah tertumpahnya darah dan lebih menentramkan masyarakat luas.”

Syaikhul Islam Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berkata, “Para imam (ulama) dari segenap madzhab bersepakat bahwa siapa saja yang berhasil menaklukkan suatu negeri atau negeri-negeri, maka dia berhak ditetapkan sebagai imam dalam segala urusan. Karena jika tidak ada ketetapan demikian, niscaya kehidupan dunia tidak akan tegak. Karena sesungguhnya manusia sejak zaman dahulu, sebelum Imam Ahmad sampai sekarang, tidaklah mereka sepakat atas satu Imam.” (Ad-Durar As-Sunniyah fi Al-Ajwibah An-Najdiyah, 7/239)

Nasihat Penuh Kasih

Kepada setiap mujahid yang berperang di jalan Allah, dan masih senantiasa berperang dan mengorbankan segenap jiwa dan barang berharganya demi melawan musuh yang menyerang. Kepada para petinggi jamaah jihad dan petinggi kabilah. Bukankah telah tiba masanya bagi kalian untuk saling membantu bersama saudara-saudara kalian? Agar kalian menegakkan dan mengokohkan Daulah kalian? Sesungguhnya musuh telah bersatu-padu memerangi kalian, maka bersatulah untuk memeranginya! Balatentara musuh telah bergerak menyerang kalian, maka sergaplah konvoy pasukan mereka! Karena dengan bersatu dan bertempurnya kalian bersama Daulah Islam, akan mendatangkan kemuliaan dan tamkin (pengokohan / kekuasaan), pertolongan dan kemenangan gemilang.

Namun sebelum semua hal itu, yang paling penting adalah mentaati Allah Rabb semesta alam. Wahai para pembesar dan panglima perang, wahai para pemangku kekuasaan dan komando, apabila kalian melihat diri kalian sebanding dengan Amirul Mukminin Syaikh Al-Baghdadi yang dipandang masih di bawah kalian dalam hal keutamaan dan kebaikan, maka bersikap rendah hatilah demi kebenaran, dan jangan kalian merasa tinggi (arogan) dari yang lainnya.

Maka ulurkanlah tangan beramai-ramai membai’at Al-Baghdadi. Betapa mengherankannya sebagian manusia –bukan di antara kalian– yang rela bersumpah setia (bai’at) kepada para thaghut selama bertahun-tahun, namun tidak senang untuk berbai’at kepada Amirul Mukminin!

Di penghujung penjelasan ini diucapkan selamat kepada singa-singa Daulah Islam atas kepemimpinan Syaikh Abu Bakar Al-Baghdadi. Selamat kepada seluruh kaum muslimin atas terpilihnya khalifah mereka. Sebaik-baik Daulah, dan sebaik-baik Khalifah. Kesengsaraanlah untuk para pendengki dan pencela Daulah Islam!

Akhir seruan kami, segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat serta salam untuk nabi dan rasul paling luhur.

Penulis
Syaikh Turki Al-Bin’ali (Abu Sufyan As-Sulami)

Al-Furqan Media

Jumat, 10 Februari 2017

BIOGRAFI JURU BICARA RESMI DAULAH ISLAMIYAH SYAIKH ABU MUHAMMAD AL-ADNANI

BIOGRAFI JURU BICARA RESMI DAULAH ISLAMIYAH
SYAIKH ABU MUHAMMAD AL-ADNANI

Judul asli:
Al-Lafzhu As-Sani min Tarjamah Al-‘Adnani

Penerjemah:
Ganna Pryadha

بسم الله الرحمن الرحيم

Prolog

Segala puji bagi Allah yang memuliakan orang-orang bertauhid. Shalawat serta salam untuk Nabi yang jujur lagi terpercaya, juga untuk kerabat keluarga dan para sahabat beliau. Amma ba’du.

Sebenarnya untuk orang sekaliber seperti Syaikh Mujahid Abu Muhammad Al-Adnani –semoga Allah menjaganya– tidak perlu lagi dijelaskan biografinya. Para ulama mengatakan, “Orang-orang yang terkenal tidak perlu diperkenalkan lagi.”

Hanya saja, akhir-akhir ini, saya menyaksikan banyak pelanggaran dan pelecehan terhadap simbol-simbol umat, para tokohnya, para pahlawannya, dan para ksatrianya. Sampai-sampai saya mendengar seorang “murid” Syiah Rafidhah Hani As-Siba’i melecehkan Syaikh kami dengan penuh distorsi dan kedustaan. Dia melabelinya dengan label-label yang melecehkan dan menistakan. Ada adagium (pepatah) Arab mengatakan, “Setiap wadah akan menumpahkan muatannya!”

Oleh karena itu, ada baiknya bagi saya untuk menuliskan biografi singkat untuk Sang Ksatria penyampai penjelasan dan keterangan (baca: juru bicara) yang akan disukai para wali Allah dan dibenci para musuh-Nya!

Imam Muslim mengeluarkan sebuah riwayat di dalam Shahih-nya, dari Ibnu Sirin Rahimahullahu yang berkata,

لَمْ يَكُونُوا يَسْأَلُونَ عَنِ الْإِسْنَادِ، فَلَمَّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ، قَالُوا: سَمُّوا لَنَا رِجَالَكُمْ، فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ فَيُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ، وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ فَلَا يُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ

“Dulu mereka (para ulama) tidak pernah bertanya tentang sanad. Namun ketika terjadi fitnah, mereka pun berkata, ‘Sebutkan pada kami rijal (para pelansir hadits) kalian.’ Apabila dilihat rijal tersebut dari kalangan Ahlus sunnah, maka diterimalah haditsnya, dan jika dari kalangan ahli-bid’ah, maka tidak diterima.”

Perjuangan Mencari Ilmu

Sejak kecil, Syaikh Abu Muhammad Al-Adnani Asy-Syami tumbuh dalam kecintaan terhadap masjid. Beliau rutin mendatanginya setiap waktu. Sejak kecil juga, beliau memiliki kegemaran terhadap membaca dan menelaah. Sampai-sampai, jika keluarga dan kerabatnya hendak membelikan hadiah, maka mereka membelikan buku-buku cerita dan buku-buku kecil untuknya. Karena mereka tahu bahwa Al-Adnani kecil lebih menyukai buku, sehingga mereka lebih mengutamakan membeli buku ketimbang mainan anak-anak!

Oleh sebab itu, Syaikh Al-Adnani mendapatkan banyak wawasan umum sejak kecilnya. Beliau akan membaca buku apa pun yang ada di tangannya, termasuk kitab-kitab tentang bahasa, filsafat, dan lain sebagainya. Kemudian Syaikh Al-Adnani diberi kesempatan untuk mengikuti halaqah (pengajian) Al-Qur’an, dan mulailah memperdalam bacaan Al-Qur’an kepada salah seorang qari` Al-Qur’an, lalu menghafal Al-Qur’an, dan berhasil menyelesaikan hafalan secara sempurna dalam waktu kurang dari setahun!

Hobi membaca yang dimiliki Syaikh Al-Adnani selanjutnya beralih dari buku-buku umum ke buku-buku bertema khusus –dalam disiplin ilmu-ilmu agama—dimulai dari kitab-kitab tafsir Al-Qur’an. Kitab tafsir favoritnya adalah Tafsir Ibnu Katsir yang dibacanya berulang-ulang kali, kemudian kitab tafsir Fi Zhilal Al-Qur`an. Sampai-sampai Syaikh Al-Adnani begitu menyukai gaya penulisan tafsir Fi Zhilal Al-Qur`an. Pun demikian dengan kitab-kitab hadits, terutama literatur terpenting menurutnya, yaitu kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim yang ditelaahnya secara bergantian. Begitu juga dengan kitab-kitab fikih secara umum. Syaikh Al-Adnani sangat menyenangi kitab-kitab karya Imam Asy-Syaukani Rahimahullahu, terutama kitab Nail Al-Authar, dan bersungguh-sungguh menelaah pembahasan fikih jihad. Syaikh Al-Adnani juga membaca kitab semisal Masyari’ Al-Aswaq yang dibacanya lebih dari tiga kali. Begitu pula dengan kitab-kitab sirah dan tarikh yang diberi porsi perhatian paling utama, khususnya kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah yang telah dibaca sebanyak enam kali. Sedangkan kitab-kitab bahasa dan sastra Arab, sebutkanlah literatur-literatur keduanya sekehendak Anda. Ini mengingat, keduanya merupakan disiplin keilmuan yang menjadi spesialisasi dan ranah yang paling dikuasainya! Syaikh Abu Muhammad Al-Adnani menelaah hampir semua kitab adab (sastra), semisal Al-Bayan wa At-Tabyin, kitab Al-‘Aqdu Al-Farid, dan yang lainnya. Sebagaimana beliau juga membaca kitab-kitab dawawin (berkenaan dengan syair-syair bangsa Arab) semisal Al-Mu’allaqat beserta sejumlah syarh-nya (kitab penjelas), dan menghafal begitu banyak syair mereka. Saya menduga bahwa Syaikh Al-Adnani hafal diwan (kitab syair) Al-Mutanabbi. Beliau berkata tentang Al-Mutanabbi, “Tidaklah aku memandangnya, melainkan aku merasakan kondisi bangsa Arab ketika masa Jahiliyah dan Islam.” Selain itu, beliau juga menguasai disiplin ilmu nahwu (tata gramatika bahasa Arab) dan mempelajari kitab Al-Ajrumiyah, Qatrun-nada, juga Alfiyah Ibnu Malik. Sedangkan kitab-kitab mu’jam (kamus), Syaikh Al-Adnani menelaah Lisanul-‘Arab karya Ibnu Manzhur, dan lain sebagainya.

Tiada kemuliaan, melainkan bagi ahli ilmu karena mereka berada di atas petunjuk
Siapa yang meminta petunjuk, maka akan mendapatkan dalil-dalil
Timbangan setiap orang berdasarkan apa yang menjadikannya baik
Bagi ahli ilmu, orang-orang bodoh adalah musuh

Guru-Gurunya

Selain belajar dan mengambil manfaat ilmu dari berbagai kitab literatur, Syaikh Abu Muhammad Al-Adnani juga menuntut ilmu dari sejumlah tokoh ulama di Syam. Dan mengingat situasi keamanan sangat ketat di Suriah yang berada di bawah cengkeraman para thaghut, Syaikh Al-Adnani bersama para rekan sejawatnya bersepakat secara rahasia untuk belajar bersama-sama di sejumlah rumah secara bergiliran, selama bertahun-tahun.

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya kesempatan pergi ke Iraq, untuk menuntut ilmu dan belajar ke sejumlah ulama. Di antara para ulama yang menjadi guru-gurunya:

1. Syaikh Abu Anas Asy-Syami Rahimahullahu. Syaikh Al-Adnani menemaninya dalam waktu lama, sehingga dapat mengambil banyak hal baik dari dirinya dan ilmu yang dimilikinya. Syaikh Al-Adnani mengomentari gurunya dalam dua buah bait indah:

Dari Syam terdapat singa Iraq, yaitu Abu Anas
Dengan gurauannya sirnalah segala musibah dan terbitlah bahagia
Dalam ranah ilmu, dia bak lautan. Di pertempuran, dia ahli strategi bak insinyur
Dalam ilmu hadits dia ulamanya, dan dalam bidan politik dia seorang jenius

2. Syaikh Abu Maisarah Al-Gharib Rahimahullahu. Syaikh Al-Adnani menemaninya baik ketika di penjara atau ketika bebasnya, dan belajar banyak hal darinya.

3. Amirul Mu’minin Abu Bakar Al-Baghdadi Hafizhahullahu. Syaikh Al-Adnani menyelesaikan bacaan Al-Qur’an secara sempurna kepada Syaikh Abu Bakar, melalui hafalannya. Begitu kagumnya, Syaikh Abu Bakar sampai mengomentari, “Saya tidak pernah melihat orang dengan hafalan sepertinya, selain hafalan si Fulan! (mengisyaratkan kepada Syaikh Al-Adnani)”

Jangan mengambil ilmu selain dari para pakar
Dengan ilmu kita hidup dan dengan nyawa kita berkorban
Adapun terhadap orang bodoh maka jauhilah duduk bersama mereka
Akan tersesat orang yang diberi petunjuk oleh orang bodoh

Buku-buku dan Karya Tulisnya

Karena waktu yang dimiliki Syaikh Abu Muhammad Al-Adnani begitu sempit, maka kebanyakan tulisannya masih berbentuk manzhumah (naskah atau syair yang terpisah-pisah). Di antara tulisan-tulisannya yang mencolok dan berbentuk manzhumah atau mantsur (natsar/prosa):

1. Matan (teks) tentang fikih dan persoalan-persoalan jihad.

2. Manzhumah fikih jihad. Hanya saja, tentara Amerika merampas naskah tersebut ketika Syaikh Al-Adnani berada di penjara.

3. As-Silsilah Adz-Dzahabiyah fi Al-A’mal Al-Qalbiyah, naskah tentang amalan-amalan hati dan segenap persoalannya.

4. Mu’inah Al-Huffazh, naskah yang memandu para penghafal Al-Qur’an, dan segala persoalan yang berkaitan dengannya.

5. Qashidah fi Dzikri Ma’rakah Al-Fallujah Ats-Tsaniyah, memuat sekitar lebih dari 200 bait sajak.

6. Syair-syair berjudul Al-Qa`idi. Kumpulan syair kehormatan untuk membantah para pengkritik Al-Qaidah generasi pertama.

Mengajar dan Menyampaikan Ceramah

Syaikh Al-Adnani sangat memerhatikan aktivitas ta’lim (pendidikan) dan tadris(pengajaran), terutama untuk mujahidin fi sabilillah. Bahkan Syaikh Al-Adnani pernah memberikan sekitar 14 pengajaran dalam sehari semalam untuk mereka.

Syaikh Al-Adnani juga mengarahkan upaya dan kerja kerasnya untuk mengajarkan ilmu-ilmu syari’at secara umum, serta pelajaran-pelajaran aqidah, Al-Qur’an, bahasa, dan fikih jihad secara khusus. Dalam bidang aqidah, Syaikh Al-Adnani mengajarkan hampir seluruh kitab yang berisi matan-matan aqidah semisal:

1. Al-Ushul Ats-Tsalatsah (Tiga Pokok Utama)
2. Al-Qawa’id Al-Arba’ (Empat Kaidah Aqidah)
3. Syuruth wa Nawaqidh La Ilaha Illallah (Syarat-Syarat dan Pembatal-Pembatal Tauhid)

Tak hanya itu, Syaikh Abu Muhammad Al-Adnani juga menaruh perhatian terhadap pendidikan terkait persoalan-persoalan keimanan, kekafiran, dan segala hal yang berkaitan dengan pembahasan serius tersebut.

Adapun Al-Qur’an, Syaikh Al-Adnani menyempatkan diri untuk mengisi berbagai halaqah tashhih tilawah (kajian koreksi baca Al-Qur’an) dan halaqah tahfizh (menghafal Al-Qur’an). Di seluruh halaqah itu, Syaikh Al-Adnani lebih memprioritaskan untuk mengajarkan orang-orang yang tidak bisa baca-tulis Al-Qur’an.

Syaikh Al-Adnani yang merupakan Juru Bicara Daulah Islam ini juga menyampaikan pengajaran dalam bidang bahasa Arab, dan mengajarkan sejumlah matan, termasuk matan Al-Ajurumiyah. Syaikh memiliki metode khusus dalam mengajarkan ilmu nahwu, melalui enam fase pengajaran yang beliau adaptasi dari sejumlah gurunya.

Dalam bab fikih jihad, Syaikh Abu Muhammad Al-Adnani Asy-Syami mengajarkan sejumlah kitab, di antaranya adalah kitab yang ditulisnya tentang fikih dan persoalan jihad, lalu kitab Al-‘Umdah fi I’dad Al-‘Uddah (karya Syaikh Abdul Qadir bin Abdul Aziz), serta berbagai kitab dan matan lainnya.

Jabatan-jabatan Penting

Syaikh Abu Muhammad Al-Adnani Asy-Syami terjun ke dalam kancah pergerakan tanzhim jihad sejak permulaan tahun 2000 M, ketika saat itu berbaiat kepada Syaikh Abu Mush’ab Az-Zarqawi Rahimahullahu di Suriah, bersama sekitar 35 ikhwan yang lain. Mereka melakukan I’dad (latihan) untuk memerangi rezim Nushairiyah pada waktu itu, sebelum Amerika masuk ke Iraq. Ketika Amerika melakukan invasi ke Iraq, Syaikh Al-Adnani berangkat menuju Iraq, dan bertemu dengan Syaikh Abu Muhammad Al-Libnani Rahimahullahu.

Berkat keutamaan Allah, sejak saat itu, Syaikh Al-Adnani senantiasa tampil sebagai seorang mujahid di Iraq dan Syam. Di antara berbagai kedudukan dan jabatan penting yang pernah diembannya:

1. Instruktur di kamp pelatihan militer Haditha pada masa Jamaah Tauhid wal Jihad.
2. Pemimpin kamp pelatihan militer Haditha dan dilantik oleh Syaikh Abu Mush’ab Az-Zarqawi.
3. Instruktur di kamp pelatihan militer Al-Jazira.
4. Syar’i (ulama pemegang otoritas) di Sektor Barat, Wilayah Al-Anbar.
5. Juru Bicara Resmi Daulah Islam Iraq.
6. Juru Bicara Resmi Daulah Islam Iraq dan Syam.
7. Juru Bicara Resmi Daulah Islam (Khilafah Islamiyah).

Cobaan dan Ujian

Jalan dakwah tauhid dan jihad sarat dengan cobaan dan ujian. Orang yang menapaki jalan ini tidak akan luput dari siksaan dan pemenjaraan! Pemenang di jalan ini hanyalah orang yang konsisten dan sabar. Sebagaimana disebutkan, “Orang yang tidak menjalani permulaan yang membara, maka dia takkan merasakan manisnya akhir yang berkilauan.”

Syaikh Abu Muhammad Al-Adnani Hafizhahullahu merupakan salah seorang putra yang lahir dari kerasnya gemblengan jalan tersebut. Mereka adalah orang-orang yang mendapat ujian dan cobaan di jalan Allah. Di antara ujian yang pernah dijalani Syaikh Al-Adnani:

1. Di awal-awal masa dewasa, Al-Adnani muda berulang kali dipanggil aparat keamanan rezim Syiah Nushairiyah Suriah, dan menjalani proses interogasi.

2. Mendekam dalam penjara rezim Nushairiyah sebanyak tiga kali disebabkan aktivitas dakwah dan jihad, salah satunya di kawasan Albukamal ketika untuk pertama kalinya Syaikh Al-Adnani bertolak menuju Iraq. Syaikh Al-Adnani mendekam di dalam penjara selama berbulan-bulan, sampai akhirnya dibebaskan, karena tidak mau memberi pengakuan, padahal sudah mendapatkan siksaan.

3. Ditahan di penjara-penjara pasukan Amerika sebanyak dua kali. Di salah satu tahanan mereka, Syaikh Al-Adnani dipenjara selama enam tahun, dan dimasukkan ke dalam tenda bersama orang-orang Az-Zarqawi yang notabene adalah sosok-sosok terkemuka yang mengenal lingkaran pertama dari para mujahid di sekitar Syaikh Abu Mush’ab Az-Zarqawi.

4. Di segenap tubuhnya terdapat berbagai bekas luka. Dan menderita retak di sejumlah tulang di tubuhnya.

Saya memohon kepada Allah agar senantiasa menjaga Syaikh Al-Adnani dari segenap keburukan dan memberi keberkahan pada umur dan amalnya untuk umat ini.

Lika-Liku Kehidupannya

Sepanjang meniti jalan kehidupan intelektual, dakwah, dan jihad, Syaikh Abu Muhammad Al-Adnani Hafizhahullahu memiliki sejumlah fragmen kehidupan berkesan, di antaranya:

1. Sewaktu pertama kali duduk mengikuti halaqah tilawah Al-Qur’an, di dalam jiwa Al-Adnani kecil terpatri tekad bahwa dia akan menjadi qori Al-Qur’an terbaik di antara rekan-rekannya. Karena baginya, Al-Qur’an adalah sebuah hobi. Ketika tiba gilirannya untuk membaca, Al-Adnani kecil mengalami lahn (kekeliruan), lalu sang guru mengajinya pun membenarkan bacaannya. Hal tersebut menggoreskan kesan buruk di dalam jiwa sang guru. Dari kesalahan membaca itu, Syaikh Al-Adnani muncullah tekad baja untuk menyempurnakan bacaan dan hafalan Al-Qur’an.

2. Pernah, ketika pelajaran tilawah, Syaikh Al-Adnani sampai pada firman Allah:“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir,” (Al-Maa`idah: 44), seketika dirinya tersentak oleh ayat tersebut, lalu berkata kepada salah seorang rekannya, “Apa sumber undang-undang Suriah?” Kemudian sang kawan pun menjawabnya. Syaikh Al-Adnani bertanya kembali, “Seperti apa kekuasaan legislatifnya?” Kawannya pun menjawab lagi. Lalu Syaikh bertanya lagi, “Seperti apa kekuasaan yudikatif dan eksekutifnya?” Setiap kali Syaikh Al-Adnani bertanya, sang kawan pun menjawabnya dengan pengetahuan yang didapat dari sekolah. Syaikh Al-Adnani pun menegaskan, “Wahai Fulan, berarti pemerintahan kita semuanya adalah kafir!” Mendengar pernyataan demikian, kawannya lantas berkata, “Assalamu’alaikum.” Dia pun berpaling meninggalkan Syaikh Al-Adnani. Seperti itulah prinsip yang dimiliki Syaikh Al-Adnani ketika membahas suatu persoalan.

3. Suatu kali, di usia remaja, Syaikh Al-Adnani dipanggil pihak intelijen rezim Syiah Nushairiyah. Kemudian salah seorang tentara thaghut berkata kepadanya, “Mengapa kamu memanjangkan janggutmu?” Syaikh Al-Adnani menjawab, “Karena saya membaca sejumlah hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam yang menganjurkan hal ini.” Tentara thaghut tadi berseloroh, “Apa hadits-hadits tersebut hanya ditelaah olehmu seorang?!” Sebagaimana Syaikh Al-Adnani menjelaskan kepadanya tentang persoalan memendekkan celana. Lalu tentara kafir itu berkata kepada Syaikh, “Kenapa kamu menggerakkan jarimu ketika tasyahud?” Memang Syaikh Al-Adnani terkadang menggerakkan jari telunjuknya ketika shalat. Syaikh pun memberikan jawaban berdasarkan riwayat hadits Rasulullah yang dihafalnya. Tentara thaghut itu berkata menyindir, “Masalahnya, di malam hari kalian begini.” Dia mengisyaratkannya tauhid dengan jari telunjuk yang tegak ke atas tanpa bergerak-bergerak. “Dan di siang hari, kalian begini,” ujarnya sambil mengisyaratkan jari telunjuk menunjuk ke arah depan (mendeskripsikan senjata). Syaikh Al-Adnani menandaskan, “Sejak itu tanpa disadarinya, tentara keji itu mengagitasi diriku untuk berjihad.”

4. Suatu hari di Iraq, Syaikh Al-Adnani berangkat bersama tiga orang ikhwan untuk melakukan operasi. Namun rencana mereka terbongkar, sehingga mereka pun diusir oleh para tentara murtad dengan mengendarai mobil. Sampai sekitar 8 kilometer, mereka mengalami kecelakaan disebabkan kecepatan tinggi. Dua orang tentara mencoba untuk menawan mereka. Namun Syaikh Al-Adnani kemudian bersegera lari, dan Abu Bakar Al-Kuwaiti mengikuti di belakang, lalu keduanya bersembunyi di balik batu besar. Mereka berdua terlibat bentrok senjata dengan pasukan murtad dari pukul 9 pagi hingga pukul 12 siang. Selama bentrokan senjata, kedua mujahid itu berhasil mundur melarikan diri sejauh 3 kilometer di padang pasir, sampai akhirnya keduanya berhasil sampai ke sebuah lembah. Saat itu, pasukan murtad pun menarik diri, setelah pasukan Amerika memberitahu bahwa di lembah tersebut terdapat sekitar sekompi pasukan ‘teroris’. Tak lama kemudian, konvoy pasukan Amerika menyambangi lembah dengan diperkuat sekitar 23 kendaraan tempur –tank dan kendaraan lapis baja lainnya— dan enam jet tempur. Amerika mulai menggempur dengan meluncurkan dua roket, dan seketika mengakibat tewasnya Abu Bakar Al-Kuwaiti di hadapan mata Syaikh Al-Adnani yang juga menderita luka cukup serius. Syaikh Al-Adnani menenteng senjatanya dan berusaha sekuat tenaga untuk memerangi musuh dengan darah yang tiada henti mengalir dari lukanya. Sampai akhirnya beliau kehabisan amunisi, dan waktu sudah menginjak waktu Ashar. Jarum jam saat itu menunjukkan pukul 16.45. Sungguh elok segala yang telah dan akan dilakukannya.

Sekelumit Kehidupannya

Allah Ta’ala menganugerahkan Syaikh Abu Muhammad Al-Adnani berbagai perkara mulia dalam setiap perjalanan intelektual, dakwah, dan jihadnya. Di antaranya:

1. Menghafal surat Al-Maa`idah secara utuh hanya dalam waktu sehari saja.

2. Termasuk salah seorang mujahid yang pertama kali berjihad di Haditha bersama sekitar 13 orang mujahid. Sampai akhirnya Haditha berhasil mereka kuasai.

3. Tatkala Syaikh Abu Umar Al-Baghdadi Rahimahullahu dipercaya sebagai Amir Haditha, maka Syaikh Al-Adnani menjadi salah seorang penasihatnya. Syaikh Abu Umar Al-Baghdadi saat itu berkata, “Laki-laki ini akan mempunyai kedudukan penting di kemudian hari!”

4. Syaikh Al-Adnani termasuk salah seorang mujahid yang paling terakhir meninggalkan kota Fallujah bersama Syaikh Abu Hamzah Al-Muhajir, Abu Al-Ghadiyah, Abu Ar-Rabi’, Abu Ja’far Al-Maqdisi, dan Abu Ashim Al-Urduni.

5. Selama tugas ribath (jaga perbatasan) –terkadang— Syaikh Al-Adnani berlomba membuat syair dengan Syaikh Abu Hamzah Al-Muhajir Rahimahullahu. Mereka bisa menghabiskan waktu sampai berjam-jam.

6. Syaikh Al-Adnani begitu dihormati oleh Syaikh Abu Mush’ab Az-Zarqawi. Sampai-sampai Pemimpin Para Syahid itu berkata kepada Syaikh Al-Adnani, “Engkau jangan berkonsultasi kepadaku, tapi berilah aku informasi.”

7. Tangan dingin Syaikh Al-Adnani melahirkan sejumlah pencari ilmu yang di kemudian hari memangku jabatan penting di Daulah Islam. Di antaranya adalah Syaikh Manaf Ar-Rawi Rahimahullahu.

8. Syaikh Al-Adnani adalah orang yang pertama kali menyusun program komprehensif bagi para tahanan, meliputi segenap aspek; syari’at, jasmani, dan kemampuan militer. Kemudian program yang diciptakannya ini diikuti oleh para pemuda di segenap bidang.

Epilog

Inilah beberapa informasi terkait biografi Syaikh Abu Muhammad Al-Adnani Asy-Syami Hafizhahullahu yang dijuluki sebagai ‘Manjanik’ Daulah Islam. Kami menuliskannya bukan berdasarkan rumor atau kabar burung, melainkan langsung dari sumber terpercaya berdasarkan informasi valid. Sebagaimana difirmankan Allah:

... وَمَا شَهِدْنَا إِلَّا بِمَا عَلِمْنَا وَمَا كُنَّا لِلْغَيْبِ حَافِظِينَ

“...Dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui, dan sekali-kali kami tidak dapat menjaga (mengetahui) barang yang ghaib,” (Yusuf: 81)

Kami memohon kepada Allah Ta’ala agar memanjangkan umur Syaikh Al-Adnani; menjadikan baik seluruh amalannya, membuat benar setiap perkataannya, dan meneguhkannya di atas kebenaran sampai beliau bertemu Allah dalam keadaan ridha.

Akhir seruan kami, segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat serta salam bagi nabi dan rasul mulia.

Penulis
Syaikh Abu Sufyan Turki bin Mubarak Al-Bin’ali

Maktabah Al-Himmah, Kantor Media Wilayah Nainawa