Tampilkan postingan dengan label Rumiyah Edisi 2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rumiyah Edisi 2. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 April 2018

SYAIKH ABU ALI AL-ANBARI, SEORANG ALIM, DAI, ABID DAN MUJAHID

RUMIYAH 2 - SYUHADA

SYAIKH ABU ALI AL-ANBARI
SEORANG ALIM, DAI, ABID DAN MUJAHID

Allah azza wa jalla memberi karunia kepada Iraq sebelum invasi Amerika dengan sekumpulan muwahhid yang memikul harapan dakwah tauhid dan memerangi kesyirikan serta bid’ah sekalipun di bawah tirani Partai Ba’ats sekuler yang selalu memerangi Islam dan kaum muslimin. Ketika salibis menjejakkan kakinya di bumi Iraq, merekalah tembok kokoh yang menghalangi derap salibis. Mereka berhasil menggagalkan strategi salibis dan mengusirnya dengan kehinaan. Mereka tegakkan Daulah Islam di bumi Rafidain (Iraq). Mereka terus teguh dalam jihadnya. Sebagian dari mereka telah menemui Rabbnya dan sebagian lain Allah beri kesempatan untuk menikmati hidup ketika seluruh Dien itu milik Allah, dalam naungan Daulah Islam yang dipimpin oleh seorang Khalifah keturunan Quraisy yang mengarahkan manusia dengan manhaj kenabian.

Diantara para juru dakwah itu yang menapaki manhaj para Nabi dalam mempelajari dan mengajarkan tauhid, menjihadi musuh-musuh Allah dengan pedang dan hujjah, bersabar atas ujian yang menimpa mereka di jalan ini, sampai mereka terbunuh syahid di jalan Allah; adalah Syaikh Mujahid Abu Ali Al Anbari taqabbalahullah, demikian kami kira dan kami tidak menyucikan seorangpun di hadapan Allah.

Ketika thaghut Ba’ats Saddam Husein yang binasa itu bersama partai murtadnya menguasai Iraq layaknya Fir’aun yang kejam, yang tidak saja mengganti hukum Allah dengan undang-undang buatan, namun juga berusaha merubah akidah kaum muslimin dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya dan membuka pintu selebar-lebarnya kepada orang-orang sufi musyrik dan Rafidhah untuk menyebarkan agama rusak mereka, serta menyebarkan sekulerisme dan berbagai isme lain, di saat manusia dikangkangi oleh thaghut kejam ini; di salah satu masjid kota Tal ‘Afar yang terletak di barat kota Mosul, Syaikh Abdurrahman Al Qoduli (yaitu nama aslinya) berdiri menyeru manusia kepada tauhid. Tiap hari Jum’at, orang banyak selalu berkumpul di masjidnya sampai memenuhi jalan-jalan di sekitarnya. Dan iapun tidak terlepas dari kekejaman thaghut dan perangkat intelijennya.

Namun ancaman-ancaman Ba’atis tidak dipedulikannya. Sekalipun ia adalah satu-satunya tulang punggung keluarga besarnya, hal itu tidak mencegahnya terus menggelorakan jihad. Di antara tiang-tiang masjidnya, ia terus menyeru kepada Allah, mengkafirkan Partai Ba’ats dan anggotanya, serta memprovokasi teman-temannya untuk juga mengkafirkan dan memerangi mereka.

Orang-orang Ba’ats murtad tidak mampu bersabar lebih lama lagi terhadapnya. Segera saja mereka mencekalnya dari berkhutbah, bahkan adzanpun mereka melarangnya. Mereka terus mempersempit ruang geraknya sampai tidak pernah berlalu satu bulan kecuali ia dipanggil oleh intelijen thaghut.

Pada saat itu, rezim Ba’ats Iraq semakin melemah setelah rangkaian perang gagal yang mereka terjuni. Para muwahhid sedang menunggu-nunggu kehancurannya. Mereka sudah mengira jika di saat yang sama salibis Amerika akan datang menginvasi Iraq dengan alasan menjatuhkan pemerintahan thaghut. Namun mereka tidak mempunyai kemampuan untuk membentuk gerakan yang kuat yang mampu melengserkan thaghut pada saatnya. Maka solusinya adalah setiap elemen di setiap daerah berkumpul membentuk kelompok-kelompok kecil untuk saling mengenal dan mempelajari Dien pada tempat yang jauh dari pantauan orang-orang Ba’ats. Terbentuklah beberapa kelompok yang tidak saling terikat di Baghdad dan daerah sekitarnya, di Anbar dan pedesaannya, di Diyala, Karkuk, Mosul, dan Tal ‘Afar yang mana Syaikh Abu ‘Ala’ (yaitu kunyah aslinya) adalah pemimpinnya dan sumber fatwa serta keputusannya.

Aktifitas Syaikh Abu ‘Ala tidak terbatas di kota Tal ‘Afar, kota tempat tinggalnya dan tempat mengajarnya pada salah satu ma’had syar’i’ di sana. Aktifitasnya meliputi banyak tempat lain di Iraq, khususnya Baghdad sebagai tempatnya mengajar pada salah satu universitasnya, yang mana di situ terjalin hubungannya dengan jama’ah salafiyah Syaikh Fayiz rahimahullah dengan para muwahhid kota Mosul yang ketika itu berada di utara Iraq, dan dengan para mujahid Kurdistan yaitu Jama’ah Anshar al Islam yang mengatur satu-satunya medan jihad di daerah tersebut yang menjadi tujuan jihad banyak pemuda Iraq dan negeri-negeri lain.

Dakwah Syaikh Abu ‘Ala dan kawan-kawannya di Tal ‘Afar membuahkan hasil baik. Banyak dari elemen-elemen Rafidhah penduduk kota Tal ‘Afar bertaubat di hadapannya. Penduduknya juga banyak yang telah mengkafirkan akidah Ba’ats, dan berlepas diri dari bekerja di dinas ketentaraan dan perangkat keamanan thaghut Saddam. Diantara mereka ada yang Allah tetap teguhkan pada akidahnya dan menjadi sebaik-baik mujahidin sampai Allah wafatkan mereka sebagai syuhada di jalan-Nya, demikianlah kami kira dan kami tidak mensucikan seorangpun di hadapan Allah.

Disamping kegiatan dakwah, Syaikh tidak melalaikan jihad fie sabilillah. Maka beliau bekerja sama dengan mujahidin di gunung-gunung Kurdistan. Ia juga bekerja sama dengan muwahidin Tal ‘Afar yang dipercayanya membentuk jama’ah jihad untuk melaksanakan operasi militer melawan pemerintahan thaghut Saddam Husein dan partai jahiliyahnya, serta tentara dan pendukung murtadnya. Pelatihan jama’ah jihad tersebut dikomandoi oleh Syaikh Abu Al Mu’taz Al Qurasyi rahimahullah yang sebelumnya merupakan perwira Ba’ats yang telah bertaubat dan mengkufuri serta berlepas diri dari loyalitas kepada thaghut dan tentara murtadnya. Namun Allah mentakdirkan aktifitas jama’ah jihad ini menghadapi musuh yang lebih besar, yaitu tentara salibis pimpinan Amerika yang menginvasi Iraq.

Invasi salibis atas Iraq mengakibatkan banyak hal. Hancurnya pemerintahan Ba’ats dan tentara serta seluruh perangkat keamanannya, kekacauan melanda seluruh negeri, senjata tersebar di tangan penduduk, hantaman kuat atas Jama’ah Anshar Al Islam dengan banyaknya anggotanya yang terbunuh oleh rudal-rudal penjelajah Amerika, masuknya sejumlah besar muhajirin ke bumi Iraq memanfaatkan kekacauan tersebut yang diantaranya adalah Syaikh Abu Mush’ab Az Zarqawi rahimahullah demikian juga Ikhwanul Murtaddin di Iraq memanfaatkan kekacauan tersebut untuk menampakkan akidah syirik dan manhaj kufur mereka dengan masuk ke dalam barisan salibis dan Rafidhah.

Tidak beberapa lama setelah Baghdad jatuh ke tangan salibis, di seluruh penjuru Iraq telah terbentuk sejumlah besar faksi-faksi perlawanan dengan aliran dan tujuan yang bermacam-macam. Diantara jama’ah-jama’ah tersebut terbentuklah Jama’ah Tauhid wal Jihad yang beranggotakan sejumlah muhajirin dan anshar di bawah pimpinan Syaikh Abu Mush’ab Az Zarqawi, dan Jama’ah Ansharussunnah yang terbentuk dari sisa-sisa Anshar Al Islam setelah mereka mundur ke kota-kota Iraq ditambah dengan sekelompok muwahid yang tersebar di berbagai penjuru Iraq, yang petingginya melindungi petinggi Anshar Al Islam setelah mereka kehilangan kontrol atas gunung-gunung Kurdistan. Majmu’ah salafi Tal ‘Afar adalah diantara kelompok-kelompok yang bergabung dalam Ansharussunnah, segera setelah mereka memulai aktifitas militernya dengan nama Batalyon Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Tidak berselang lama sampai Syaikh Abu Iman (yaitu kunyah Syaikh Al Anbari yang dipilihnya sendiri setelah invasi Amerika) diangkat menjadi penanggung jawab syar’i tentara Ansharussunnah. Allah menakdirkan kedua syaikh, yaitu Syaikh Abu Mush’ab dan Syaikh Abu Iman bertemu. Pertemuan itu membuahkan kecintaan di antara mereka berdua, dan masing-masing pihak senang mengetahui kebersihan akidah dan manhajnya. Ketika itu opini umum mujahidin Ansharussunnah adalah berusaha menyatukan kalimat dan bersatu di bawah kepemimpinan Syaikh Abu Mush’ab Az Zarqawi dan Tanzhim Al Qoidah. Maka mereka menekan petinggi jama’ah untuk mewujudkan hal itu.

Syaikh Abu Iman sendiri berusaha sungguh-sungguh mengadakan pertemuan langsung petinggi kedua jama’ah. Pertemuan antara Syaikh Abu Mush’ab Az Zarqawi dengan amir Ansharussunnah Abu Abdillah Asy Syafi’i berhasil diadakan, namun Syaikh Abu Abdillah menolak bergabung dengan alasan hendak bermusyawarah terlebih dahulu dengan prajuritnya, sekalipun sebenarnya ia mengetahui bahwa prajuritnyalah yang mendorong Ansharussunnah berbaiat kepada Tanzhim Al Qoidah. Ketika itu Syaikh Abu Iman segera mengumumkan baiatnya kepada Syaikh Abu Mush’ab Az Zarqawi dan bergabung dalam barisan Tanzhim Al Qoidah fi Bilad Ar Rafidain bersama dengan mayoritas mujahidin Ansharussunnah. Baiat ini merupakan baiat terbesar dalam sejarah jihad Iraq, yang ketika itu terkenal dengan baiat “Al Fatihin”.

Syaikh Abu Mush’ab lalu memilih Syaikh Abu Iman sebagai wakilnya dalam struktur Tanzhim. Namun tidak beberapa lama salibis berhasil menangkapnya dan menjebloskannya dalam penjara Abu Ghuraib. Tetapi selang beberapa bulan beliau kembali bebas setelah mata salibis dibutakan oleh Allah sehingga tidak mengetahui identitasnya dan perannya dalam medan pertempuran yang sedang memanas. Ketika itu media salibis sedang melancarkan kampanye media sengit untuk merusak nama baik mujahidin Iraq, khususnya Syaikh Abu Mush’ab Az Zarqawi rahimahullah dan teman-temannya.

Kampanye ini diikuti oleh petinggi-petinggi faksi-faksi sesat itu dan juga petinggi partai Ikhwanul Murtaddin yaitu Al Hizbu Al Islami, khususnya setelah nama Syaikh Az Zarqawi berdengung memenuhi langit Iraq, dan mujahidin Tanzhim Al Qoidah fi Bilad Ar Rafidain menjadi batu sandungan kokoh setiap proyek khianat orang-orang sesat yang terang-terangan murtad itu.

Namun yang membuat Syaikh Az Zarqawi bersedih adalah kritikan-kritikan yang bersumber dari Tanzhim Al Qoidah di Khurasan. Tidak diragukan lagi jika mereka malah percaya dengan isu yang disebarkan oleh media salibis. Namun dengan tersingkapnya topeng penyimpangan mayoritas faksi-faksi perlawanan, mereka tidak punya pilihan kecuali mengkritik buruknya hubungan Syaikh Az Zarqawi dan kawan-kawannya dengan petinggi Ansharussunnah, dan ketika itu petinggi Ansharussunnah terus berhubungan dengan Athiyatullah Al Libi melalui jalur Iran.

Menghadapi prasangka buruk dan kritikan demi kritikan Tanzhim Al Qoidah Khurasan, pilihan terbaik yang ada adalah mengutus utusan khusus kepada mereka untuk menjelaskan hakikat permasalahan yang terjadi dan tuduhan-tuduhan petinggi Ansharussunnah atas mujahidin. Dan siapa yang lebih baik daripada Syaikh Abu Iman untuk melaksanakan tugas ini. Beliau dahulu adalah penanggung jawab syar’i Ansharussunnah yang pasti lebih tahu dengan kondisi mereka dan mengerti hal-hal yang mereka sembunyikan. Maka Syaikh menyambut dengan senang hati permintaan amirnya.

Beliau lalu pergi ke Khurasan, menerangkan hakikat permasalahan yang terjadi, lalu kembali ke Iraq untuk memberitahukan kisah perjalanannya dan hasil yang dicapainya.

Tentara salibis Amerika semakin merajalela di Iraq. Proyek orang-orang sesat juga mulai mencengkeram bumi Iraq. Semuanya berusaha mencuri buah jihad Iraq melalui permainan setansetan Sururi dan intelijen pemerintahan Arab murtad terkhusus negara-negara Teluk. Maka Syaikh Az Zarqawi dengan kawan-kawannya segera bergerak mengembangkan proyeknya dengan menyatukan faksi-faksi terbaik dari sisi aqidah dan manhajnya termasuk Tanzhim Al Qoidah fi Bilad Ar Rafidain dalam payung Majelis Syuro Mujahidin Iraq. Mereka sepakat bahwa kepemimpinan majelis digilir di antara faksi-faksi yang menjadi anggota majelis. Dan dipilihlah Syaikh Abu Iman sebagai amir pertama Majelis Syuro Mujahidin. Beliau sendiri yang menyampaikan statemen pertama majelis dengan nama samaran Abdullah bin Rasyid Al Baghdadi, yang kemudian menjadi terkenal dikalangan media.

Pada bulan Rabi’ul Awwal 1437 H, Allah mentakdirkan Syaikh Abu Iman harus pergi dari utara Iraq untuk bertemu dengan dua penanggung jawab tanzhim yang lalu mereka bersama-sama pergi untuk bertemu dengan Syaikh Az Zarqawi di daerah selatan Baghdad. Ketika mereka sedang menginap di suatu rumah dalam perjalanan ke Baghdad, mereka dikejutkan dengan penerjunan pasukan Amerika pada rumah yang mereka tempati. Ketika itu mereka terpaksa tidak membawa senjata karena harus melewati jalur yang banyak terdapat cekpoin.

Dengan takdir Allah, salibis berhasil menangkap mereka setelah baku tembak dengan majmu’ah istisyhadi yang tinggal di dekat rumah tersebut. Sehingga tersingkaplah tempat peristirahatan yang ditempati Syaikh Abu Iman dan kawan-kawannya. Peristiwa itu adalah pukulan terberat yang menghantam Tanzhim Al Qoidah fi Bilad Ar Rafidain.

Di penjara, Allah kembali membutakan penglihatan interogator akan hakikat mayoritas peran dua mas’ul (penanggung jawab) tanzhim yang menjadi tawanannya. Ketika salibis mendapati betapa para ikhwah bersungguh-sungguh berusaha menjauhkan Syaikh Abu Iman (ketika itu salibis Amerika menyebutnya Haji Iman) dari segala tuduhan dan membebaskannya dengan segala cara sekalipun para ikhwah harus menanggung tuduhan itu, mereka semakin curiga dengan beliau. Kecurigaan itu semakin bertambah melihat betapa tenang dan bermartabatnya Syaikh. Mereka meningkatkan usaha penyelidikan untuk menyingkap indentitasnya karena mereka yakin beliau adalah orang penting dalam tanzhim. Namun Allah menggagalkan usaha mereka, paling jauh mereka hanya mendapati bahwa beliau adalah anggota tanzhim, dan mereka menyangkanya amir Tal ‘Afar lantaran Syaikh beraktifitas di kotanya hampir terang-terangan karena beliau adalah orang yang dikenal di daerahnya.

Sehingga mendekamlah beliau di penjara selama beberapa tahun. Masa-masa penahanannya dihabiskan dengan berpindah-pindah dari satu blok ke blok lain dan dari satu penjara Amerika ke penjara-penjara lain di penjuru Iraq. Tidak lama berdiam di salah satu blok sampai segera dipindahkan ke blok lain, tidak lama berdiam di satu penjara sampai segera dipindahkan ke penjara lain yang jauh. Karena mereka mengetahui pengaruhnya atas para tahanan. Di setiap tempat yang dimasukinya, para tahanan segera berkumpul di sekelilingnya. Hampir-hampir salibis membunuhnya di penjara ketika salah satu murtadin terbunuh namun tidak diketahui pelaku dan provokatornya.

Namun Allah menyelamatkannya dari makar mereka dengan keutamaan-Nya. Mereka terus berusaha meletihkannya dengan terus memindah-mindahkannya di berbagai penjara. Sedang mereka tidak tahu usaha itu justru amat membantunya. Tiap kali pindah ke tempat yang baru, kesempatan untuk berdakwah dan mengajar kembali terbuka di hadapannya. Mayoritas dakwahnya berfokus pada pengajaran tauhid kepada Allah dalam hukum-Nya dan yang membatalkannya berupa syirik keta’atan, istana dan undang-undang. Tidaklah beliau bertempat di suatu tempat kecuali menyeru penghuninya dengan seruan Yusuf alaihis salam: (Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa). Maka para ikhwah pun berkumpul di sekelilingnya menadah ilmu yang mengalir darinya, dan jadilah beliau amir serta sumber keputusan dalam seluruh perkara mereka.

Pada saat itu banyak dari Junud Daulah yang belajar lewat tangan dinginnya, diantaranya adalah dua orang wali yang Allah jadikan keduanya adzab bagi Rafidhah di Baghdad, yaitu Manaf Ar Rawi dan Hudzaifah Al Bathawi taqabbalahumullah.

Pada masa penahanan beliau, terjadi peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah jihad Iraq. Yaitu kepindahan Syaikh Abu Mush’ab Az Zarqawi rahimahullah ke Diyala untuk menyiapkan deklarasi Daulah Islam Iraq. Namun beliau terbunuh di tangan salibis sebelum mendeklarasikannya sendiri.

Tongkat kepemimpinan kemudian diterima oleh Syaikh Abu Hamzah Al Muhajir rahimahullah, yang kemudian mengumumkan pembubaran Tanzhim Al Qoidah fi Bilad Ar Rafidain dan berbaiat kepada Syaikh Abu Umar Al Baghdadi rahimahullah, amir pertama Daulah Islam Iraq. Juga peristiwa murtad kolektif faksi-faksi perlawanan yang berpartisipasi dalam proyek shahawat Amerika. Bumi menjadi sempit bagi muwahidin. Mujahidin banyak yang terbunuh, sampai Syaikh Abu Umar Al Baghdadi dan Abu Hamzah Al Muhajir rahimahumullah pun terbunuh.

Kemudian bendera diambil oleh Syaikh Abu Bakar Al Baghdadi dan dimulailah tahapan baru dalam sejarah Daulah Islam Iraq. Syaikh Abu Ali Al Anbari bebas dari penjara pada permulaan tahapan penting ini yang ditandai dengan masuknya mujahidin Daulah Islam Iraq ke Syam setelah gelombang demonstrasi yang melanda banyak dari negeri-negeri kaum muslimin (revolusi Arab spring).

Daulah Islam Iraq berekspansi ke Syam, berubah menjadi Daulah Islam Iraq dan Syam. Beliau rahimahullah berpartisipasi dalam banyak peristiwa penting sampai kematiannya, setelah matanya disejukkan dengan tegaknya Dien dan kembalinya Khilafah. Dan ini yang akan kita bicarakan pada biografi indah beliau rahimahullah berikutnya.

Diantara tanda-tanda penjagaan Allah atas jihad Iraq adalah Ia menjaga banyak dari pemimpin-pemimpinnya setelah hampir dibinasakan oleh salibis dan antek-anteknya. Ia titipkan mereka dalam penjara dan tahanan thaghut agar merasakan kebengisannya, lalu Ia selamatkan mereka dengan kehendakNya, sehingga dengan takdir-Nya Ia jadikan mereka para penegak agama dan penjunjung panji jihad.

Setelah mengecap kebebasan, mereka segera kembali menerjuni medan jihad. Dengan perantara mereka Allah hidupkan front-front jihad. Mereka tularkan pengalaman selama bertahuntahun menghadapi berbagai macam musyrik dan murtad. Lewat mereka Allah mengangkat semangat para mujahidin dan meneguhkan mereka.

Diantara orang yang Daulah Islamiyah diberi anugerah besar dengan kebebasan mereka itu adalah Syaikh Abu Ali al Anbari.

Setelah menjalani masa penahanan selama enam tahun, beliau keluar dari kurungannya. Ternyata situasi yang didapatinya berbeda jauh daripada sebelum masa penahanannya.

Salibis telah hengkang dari Iraq dengan berdarah-darah dan terlilit ekonominya, meninggalkan budaknya musyrik Rafidhah menguasai Iraq. Mujahidin mundur ke gurun-gurun dan daerah terpencil setelah mengecap masa-masa emas kemuliaan, yang pada masa itu mereka deklarasikan Daulah dan membaiat seorang imam. Sedangkan faksi-faksi perlawanan sudah tidak ada wujudnya lagi setelah mayoritasnya jatuh dalam kubangan lumpur shahawat. Mereka rontokkan sendiri amalnya dengan palu murtad yang nyata.

Rezim thaghut di beberapa negara berjatuhan satu demi satu. Tahapan baru perjuangan menuju berkuasanya islam telah dimulai, dibuka dengan keikut sertaan mujahidin Daulah Islam dalam memerangi thaghut Syam Basyar Asad.

Beliau keluar dari penjaranya. Kehadirannya telah ditunggu ikhwan-ikhwan yang dahulu bersamanya di Majelis Syuro Mujahidin untuk kembali menempati posisinya di barisan Daulah Islamiyah yang deklarasinya telah didengarnya sewaktu masih berada di penjara. Beliau memimpin prajurit Daulah Islamiyah, mengajari, dan menjadi rujukan mereka tiap kali dipindahkan di suatu penjara. Maka tidak lama setelah kebebasannya beliau segera memperbarui baiat kepada Amirul Mukminin Syaikh Abu Bakar al-Baghdadi hafizhahullah dan menjadi salah satu prajuritnya. Tidak peduli dengan masa lalunya yang mempunyai kedudukan tinggi dimata murid-murid dan sahabatnya, juga sekalipun ia mempunyai segudang ilmu dan pengalaman. Beliau relakan dirinya diatur oleh ikhwan-ikhwan yang dahulu dipimpinnya baik ketika sebelum ditahan atau ketika di penjara. Namun mereka bukanlah orang yang tidak mengetahui kedudukan orang atau pura-pura tidak tahu, apalagi jika ia adalah seorang ulama mujahid. Mereka memberinya posisi yang sesuai dengan kedudukannya dan sangat bersungguh-sungguh menampung ilmu dan pengalamannya.

Tugas pertama yang dibebankan kepadanya adalah membangun hubungan dengan jamaah-jamaah jihad di luar Iraq khususnya cabang-cabang Tanzhim al-Qaidah. Bertujuan membangun kembali hubungan yang sempat terputus selama beberapa tahun lantaran factor keamanan, juga karena ketika itu para pengurus Tanzhim menjelek-jelekkan Daulah. Para ikhwah mengira hal itu lantaran ketidak tahuan akan kondisi sebenarnya karena masifnya pencitraan buruk media atas Daulah Islamiyah. Maka Syaikh Abu Ali mengirim beberapa surat untuk menerangkan beberapa perkara yang dikiranya sulit dipahami oleh petinggi Tanzhim. Beliau menganggap dirinya sedang berdiskusi dengan suatu kaum yang sama manhajnya dengan Syaikh az-Zarqawi rahimahulllah yang telah dikenalnya dan rela dengan manhajnya lalu membaiatnya berdasarkan atas manhaj itu. Surat-surat itu adalah awal mula rehebalitisi hubungan antara Daulah Islamiyah dengan Tanzhim al-Qaidah beserta seluruh cabangnya.

Di tengah-tengah usaha itu, prajurit Daulah Islamiyah di Syam telah mempunyai kekuatan dan menyebar di berbagai penjuru Syam. Sekalipun kabarkabar kemenangan dan futuhat Syam terus mengalir, namun laporan-laporan yang sampai di Iraq menunjukkan sebaliknya. Khususnya yang berhubungan dengan melencengnya para penanggung jawab amal di sana dari manhaj Daulah Islamiyah. Ternyata mereka dari awal sudah berusaha mendapatkan dukungan kelompok-kelompok musyrik dan murtad. Disamping administrasi yang buruk dan ditambah dengan kuatnya fanatisme keluarga dan daerah dalam barisan internal. Semua itu menyebabkan amal yang telah dibangun terancam runtuh atau dicuri lewat konspirasi sekelompok pengkhianat.

Maka Amirul Mukminin memutuskan mengutus perwakilannya untuk mengetahui duduk permasalahannya dan memeriksa keabsahan laporan tersebut. Beliau memilih Syaikh Abu Ali al-Anbari untuk mengemban tugas tersebut dengan alasan telah mengenal al-Jaulani pada beberapa kesempatan ketika di penjara. Ketika itu si konspirator ini menunjukkan pengormatannya kepada beliau baik ketika di penjara atau setelah bebas. Sampai-sampai ia menyebut Syaikh dalam beberapa suratnya sebagai “bapakku yang mulia”. Beliau juga berhusnuzhan kepadanya, mengira bahwa kesaksiankesaksian yang melawannya itu layaknya perselisihan yang terjadi antara prajurit dan komandannya, atau antara para komandan itu sendiri.

Syaikh Abu Ali al-Anbari segera menyeberang ke Syam. Perjalanannya itu ternyata adalah anugerah besar dari Allah kepada Daulah Islamiyah. Sesampainya beliau di Syam, beliau segera berkeliling ke berbagai daerah sampai menghabiskan waktu beberapa minggu. Beliau melihat dengan mata kepala sendiri seberapa buruknya administrasi yang berjalan. Beliau juga mengidentifikasi penyimpangan yang melanda pimpinan dan anggotanya, yang terjadi lantaran para penanggung jawabnya tidak mentarbiyah dan membekali anggotanya dengan ilmu syar’I yang cukup. Namun beliau rahimahullah menganggap bahwa kekekeliruan itu masih bisa diperbaiki asal berusaha berusaha sekeras mungkin.

Kemudian datanglah kesempatan emas bagi Syaikh untuk menyingkap tirai yang menutupi ketika beliau memutuskan tinggal di kediaman yang sama dengan al-Jaulani agar bisa membersamainya selama beberapa waktu sehingga bisa mengamati lebih dekat karakter dan sikapnya. Maka selama sebulan atau kurang Allah singkapkan untuknya banyak perkara, yang menyebabkannya segera mengirim surat peringatan kepada Amirul Mukminin untuk segera bertindak sebelum lepas kontrol. Beliau mengirim surat yang menyingkapkan hakikat al-Jaulani si pengkhianat.

Beliau ceritakan apa yang dilihatnya. Beliau gambarkan dengan teliti karakternya. Diantara yang beliau tulis tentang al-Jaulani adalah: “Seorang konspirator, bermuka dua, mencintai dirinya sendiri dan tidak peduli dengan agama prajuritnya. Ia siap mengorbankan darah mereka agar media menyebut-nyebutnya. Jika media menyebut-nyebutnya kegembiraannya meluap-luap seperti anak kecil…”

Surat inilah faktor utama kedatangan Amirul Mukminin ke Syam. Baginya Syaikh Abu Ali bukanlah pendusta, dan ia tidak mempunyai motivasi menjatuhkan lawan. Maka beliau segera menyeberangi perbatasan sekalipun amat berbahaya. Di Syam beliau telah ditunggu Syaikh Abu Ali yang segera meminta izin untuk kembali ke Iraq karena telah menunaikan tugasnya, lagipula ia juga tidak menyukai buruknya kondisi di Syam. Namun permintaannya ditolak oleh Amirul Mukminin yang memintanya menemaninya dan menjadi tangan kanannya untuk memperbaiki kekeliruan al-Jaulani dan kawan-kawannya.

Usaha al-Jaulani dan kawan-kawannya untuk mempersempit gerakan Amirul Mukminin dengan alasan berusaha menjaga keselamatannya itu tidak berhasil. Beberapa pertemuan terbatas dengan para penanggung jawab dan sedikit berkeliling kepada para prajurit, cukup bagi Amirul Mukminin untuk mengetahui persoalannya. Beliau yakin bahwa para penanggung jawab amal sudah membuat kerusakan. Mereka hanya mementingkan dirinya sendiri, yang berdampak negatif kepada para prajurit.

Maka beliau segera memanggil al-Jaulani dan kawan-kawannya untuk meminta pertanggung jawaban dan mendengarkan alasan mereka ketika kesalahannya terbukti. Pertemuan ini menjadi pertemuan masyhur yang di situ al-Jaulani mementaskan sandiwara tangisnya dan al-Harari ngotot memperbarui baiatnya kepada Amirul Mukminin yang diikuti oleh kawan-kawannya satu demi satu. Mereka berharap mengulur waktu untuk menyempurnakan konspirasinya memecah barisan dan mengambil semua personel dan dana yang diamanahkan kepada mereka.

Dengan keutamaan Allah, Amirul Mukminin dan majelis syuronya tidak termakan tipuan murahan mereka. Mereka sepakat untuk memakzulkan al-Jaulani dan kawan-kawannya lalu mengangkat pemimpin baru Jabhah Nusrah, nama mujahidin Daulah Islamiyah di Syam ketika itu. Namun sempitnya waktu membuat pilihan itu tidak bisa dilaksanakan karena mereka mengetahui jika para pengkhianat itu mempercepat strateginya untuk membatalkan baiat dan mendeklarasikan keluar dari imam mereka. Karena seminggu setelah pertemuan dengan Amirul Mukminin, terdengar kabar bahwa al-Jaulani memanggil kawan-kawan dekatnya dan memberitahu mereka tentang rencananya memisahkan diri dari Daulah Islam Iraq lewat konspirasi dengan petinggi Tanzhim al-Qo’idah di Khurasan. Maka pilihan terbaiknya ketika itu adalah membubarkan Jabhah Nusrah dan mendeklarasikan bahwa Jabhah Nusrah adalah bagian dari Daulah Islamiyah. Pilihan ini didukung penuh oleh Syaikh Abu Ali al-Anbari, dan pilihan inilah yang kemudian dirilis dalam kalimat Amirul Mukminin yang berisi penghapusan nama Daulah Islam Iraq dan Jabhah Nusrah menjadi ad-Daulatul Islamiyah fi al-Iraq wa as-Syam.

Konspirasi para pengkhianat itu gagal total. Mereka terpaksa memutuskan rangkaian konspirasi yang dijalinnya atas Daulah Islamiyah dengan dukungan amir al-Qo’idah Aiman azh-Zhawahiri. Maka mereka segera mengumumkan baiatnya kepada Zhawahiri untuk membingungkan anggotanya sehingga tidak mampu mengambil keputusan jelas. Dengan ini para pengkhianat itu mendapatkan kesempatan baru untuk mengambil langkah lain. Allah menakdirkan Syaikh Abu Ali al-Anbari disukai dan dihormati banyak kalangan dari para thalibul ilmi, prajurit, dan amir dari berbagai penjuru Syam ketika beliau berkeliling ke berbagai daerah menunaikan amanat Amirul Mukminin.

Hal itu kemudian menjadi salah satu faktor pendukung keteguhan Junud Daulah Islamiyah ketika diterpai badai fitnah. Hanya dengan beberapa kunjungan ke beberapa tempat untuk menjelaskan duduk permasalahannya dan sebab diambilnya keputusan pembubaran Jabhah Nushrah, beliau bisa membuat mayoritas prajurit di daerah-daerah itu tetap memegang baiatnya kepada Amirul Mukminin. Sehingga para pengkhianat itu terpaksa kehilangan sebagian besar sumber dayanya karena tidak tersisa kecuali sedikit orang yang tertipu dan tukang catut dan sebagian kecil anggota wilayah timur yang terikat dengan si dajjal al-Harari.

Konspirasi mereka gagal total. Tidak tersisa kecuali membesarkan persoalan tahkim ala Zhawahiri yang mereka kolaborasikan dengannya dan dengan Abu Khalid as-Suri. Kemurkaan mereka kepada Syaikh Abu Ali al-Anbari yang dengannya Allah menggagalkan sebagian besar proyek itu membuat mereka sampai merancang usaha pembunuhan terhadapnya dan beberapa amir lain. Sebagai bagian dari strategi lebih besar yang bertujuan menguasai garis perbatasan untuk memutuskan hubungan antara Junud Daulah yang berada di Iraq dan Syam. Namun mereka membatalkannya lantaran takut dengan pembalasan Junud Daulah Islamiyah yang mereka ketahui nama-namanya. Mereka yakin detasemen-detasemen keamanan Daulah Islamiyah yang tersebar di Syam mampu menghabisi mereka jika rencana tersebut dilaksanakan.

Syaikh Abu Ali al-Anbari kembali melakukan aktivitasnya tanpa kenal lelah, sebagai penanggung jawab Hai’ah Syar’iyah dan anggota Komite Umum Pengawas seluruh amal di Syam. Masa-masa itu adalah masa yang paling berat baginya karena besarnya tanggung jawab yang dipikulkan di atas pundaknya. Usahanya dicurahkan untuk memberikan taklim, berdakwah, dan melakukan riset-riset syar’i. Ditambah persoalan administrasi daerah yang dikuasai, dan mengatasi permasalahan yang terjadi dengan faksi-faksi dan organisasiorganisasi perlawanan setempat. Diluar tanggung jawab pengawasannya atas hakim dan mahkamah-mahkamah islam yang mulai dibentuk di daerah-daerah yang berhasil dikontrol, yang mana tugasnya adalah menjaga keberlangsungan aktivitas peradilannya sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan.

Pada masa itu, salah satu sifat beliau yang paling nampak adalah beliau tidak pernah putus asa mendakwahi faksi-faksi perlawanan untuk beriltizam kepada tauhid dan Sunnah. Beliau menemui komandannya dan memperingatkan mereka akan bahayanya berhubungan dengan negara-negara thaghut dan intelijennya, beliau memberi tahu mereka bahwa intelijen thaghut itu hendak menyeret mereka menjadi murtad melalui dukungan yang diberikannya. Memanfaatkan bantuan itu untuk mengontrol jihad di Syam dan memanfaatkannnya untuk memerangi Daulah Islamiyah melalui perekrutan proyek-proyek shahawat yang mirip dengan di Iraq.

Dan itulah yang terjadi beberapa bulan kemudian, ketika faksi-faksi itu menyerang Daulah Islamiyah. Kisah pengkhianatan mereka di daerahdaerah di Aleppo, Idlib, as-Sahil, dan wilayah timur Syam bukan rahasia lagi.

Setelah kegagalan proyek shahawat di Syam – dengan keutamaan Allah – dan keberhasilan Daulah Islamiyah mengontrol wilayah yang cukup luas, lembaga-lembaga negara yang berfungsi menopang penegakan hukum Allah mulai bekerja secara aktif. Syaikh Abu Ali al-Anbari bekerja secara aktif mensukseskan proyek pendirian kantor-kantor kenegaraan seperti Dewan Peradilan, Hisbah, Dakwah dan Zakat, disamping juga Kantor Riset dan Penelitian, setelah Haiah Syar’iyah dibubarkan dan tanggung jawabnya dibagi-bagikan kepada dewan-dewan tersebut.

Setelah Allah menaklukkan Mosul dan daerah-daerah lain di Iraq melalui tangan hamba-hambanya para muwahhid, dan penggabungan Iraq dan Syam dengan penghilangan batas-batas negara, beliau rahimahullah memohon dibebastugaskan dari tanggung jawab yang selama ini diembannya untuk kembali ke tempat dimulainya dakwah dan jihadnya, yaitu kota Tal ‘Afar.

Permohonannya dikabulkan. Beliau tinggal di sana selama beberapa waktu menjadi prajurit Daulah Khilafah. Beliau ikut serta dalam berbagai pertempuran melawan atheis Kurdi, Peshmerga murtad, dan Yazidi musyrik di Gunung Sinjar dan daerah sekitarnya. Allah meneguhkan para mujahidin lewat tangan beliau di berbagai pertempuran.

Perjalanan hidupnya ditutup ketika menjadi bendahara baitul mal ketika beliau kembali dipanggil untuk mengaturnya. Beliau tinggal di kota Mosul selama mengemban tanggung jawabnya itu. Beliau mengawasi sendiri banyak dari tahapan proyek penggantian mata uang kertas thaghut yang tidak ada nilainya dengan mata uang logam yang bernilai intrinsik sebagaimana seharusnya. Allah menyejukkan matanya dengan melihat pedagang di Daulah Islamiyah saling tukar menukar dinar emas dan dirham perak.

Ketika itu para salibis terus mengawasi pergerakan Syaikh melalui jaringan mata-mata dan pesawatnya. Beberapa kali mereka mengumumkan berhasil membunuhnya. Sedangkan beliau terus melanjutkan dakwah dan jihadnya, melaksanakan tanggung jawabnya tanpa takut sedikitpun dengan ancaman mereka. Beliau menemui para pedagang, berkumpul dengan para penanggung jawab administrasi Daulah Islamiyah dan berpindah-pindah tempat mengajarkan Dien kepada masyarakat sebagai khatib dan guru.

Sampai kemudian Allah menakdirkan beliau terbunuh di tangan salibis dengan meledakkan sabuk peledaknya ketika terkepung salibis yang diterjunkan untuk menangkapnya dalam perjalanannya menyeberang ke Iraq. Beliau menolak menyerah tidak membiarkan salibis menangkapnya. Syaikh Abdurrahman bin Musthafa al-Hasyimi al-Qurasyi terbunuh ketika umurnya mencapai 60 tahun. Mayoritasnya dihabiskan di mimbar-mimbar masjid, halaqah ilmu, berada di barisan mujahidin dan di balik jeruji penjara salibis. Syaikh Abu Ali al-Anbari terbunuh sebagai syahid di tangan orang-orang musyrik, menyusul kedua anaknya ‘Ala dan Imaduddin yang terbunuh dalam jihad, dan menyusul kawan-kawannya yang telah syahid seperti Abu Mush’ab az-Zarqawi, Abu Hamzah al-Muhajir, Abu Abdurrahman al-Bilawi, Abu al-Mu’taz al-Qurasyi dan Abu al-Harits al-Anshari, demikianlah kami kira dan kami tidak menyucikan seorangpun di hadapan Allah.

Seorang alim, ‘abid, da’i, dan mujahid terbunuh meninggalkan warisan ilmu dan dakwah kepada tauhid dan menjauhi syirik dengan segala macam bentuknya khususnya syirik taat, yang beliau sempat menulis sebuah buku tentang itu dan menyampaikan puluhan khutbah, kuliah umum dan pelajaran dengan tema itu.

Semoga Allah menerima Syaikh mujahid kita, membalasnya dengan pahala sebaik-baiknya, dan mengumpulkan kita dengannya di surga firdaus yang tertinggi bersama para nabi, syuhada, dan orang-orang jujur, dan merekalah sebaik-baik kawan.

AGAR JELAS JALAN PARA PENDOSA

RUMIYAH 2 - ARTIKEL

AGAR JELAS JALAN PARA PENDOSA

Bersamaan dengan kerasnya ujian, penyaringan terus bertambah. Kubu iman dan kubu nifak kian jelas untuk dibedakan, bahkan perpecahan antara keduanya terlihat sangat jelas bagi yang mempunyai dua mata, dan itu semua tidak lain lantaran kaum Mukminin semakin bertambah keimanan dan semakin menampakkan keimanannya sedangkan kaum munafikin dan musyrikin semakin bertambah kekufurannya dan semakin menampakkan kekafirannya.

Setelah bertahun-tahun mereka menyamarkan hubungan mereka dengan para Salibis dan Thaghut dari hadapan manusia, Allah pun menyingkap kedok murtaddin dengan bergabungnya mereka ke barisan pasukan murtad Turki. Tak cukup hanya datangnya ‘support’ udara dari pesawat Koalisi Salibis yang berkoordinasi dengan keduanya, permasalahan ini bahkan menjadi kian jelas dengan masuknya pasukan Salibis Amerika ke sejumlah daerah yang mereka kuasai, dan berdirinya pangkalanpangkalan Salibis di dalamnya. Ini adalah fenomena yang tidak mungkin bisa disamarkan dan disembunyikan dari mata manusia. Pembenaran dan ‘pengelesan’ dari fatwa-fatwa Ulama Su di majelis-majelis serta forum Dhirar (berbahaya) yang mereka dirikan tidak akan berguna baginya.

Allah telah mengaruniakan nikmat pada Daulah Islamiyah berupa manhaj yang lurus yang dibangun di atas pondasi kejujuran dan beramal dengannya. Maka, tatkala Daulah Islamiyah menghukumi sebagian faksi di Syam bahwasanya mereka sama halnya dengan jenis Shahawat di Iraq berdasarkan perbuatan para komandannya, pengakuan-pengakuannya, seruan mereka kepada Demokrasi dan hubungan mereka dengan para Salibis dan Thawaghit di daerah tersebut, berarti Daulah telah jujur dalam menghukumi dan mensifatinya. Itu semua bukan hanya sekedar dalih agar bisa memerangi mereka sebagaimana tuduhan orang-orang sesat, dimana yang paling parah dari mereka ketika menyematkan tuduhan “Khawarij” kepada para Junud Daulah dan mengeluarkan seruan untuk menumpahkan darah Muhajirin dan Ansharnya sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah sesuai klaim mereka, meskipun mujahidin Daulah Islamiyah waktu itu tengah dalam posisi mempertahankan diri dan kehomatan mereka dari serangan pengkhianatan faksi-faksi tersebut dalam rangka memenuhi perintah para Salibis dan Thawaghit.

Gelombang demi gelombang tuduhan miring ini bukanlah hal yang baru lagi atas Daulah Islamiyah. Ia sama halnya dengan mengulang tuduhan-tuduhan miring lama yang ditudingkan padanya di masa fitnah Shahawat Iraq yang berujung kepada hilangya faksi-faksi Shahawat secara total setelah pasukannya menampakkan kemurtadan secara terang-terangan melalui peperangan mereka terhadap Junud Daulah Islamiyah yang dengan ditemani dengan kendaraan-kendaraan lapis baja Amerika yang sebelumnya membunuhi mereka, serta didekengi dengan helikopter yang beberapa hari sebelumnya menggempur kotakota dan desa mereka. Dan tiada guna bagi mereka semua fatwa dan pembenaran yang keluar dari Ulama thaghut boneka Badan Intelijen untuk menolong proyek Shahawat yang menjadi jongos para Salibis.

Pada hari ini, murtaddin Shahawat di Syam berjalan di atas jejak para pendahulu mereka di Iraq. Tidak cukup hanya menjadi antek Salibis dengan memata-matai kaum muslimin dan membunuhi mereka sebagai bentuk pengabdiannya kepada Salibis saja, namun juga berkoordinasi dengan pesawat mereka untuk membombardir Muwahhidin. Bahkan, yang lebih parah dari itu mereka kini berperang di bawah bendera Amerika dan di bawah kepemimpinannya sebagaimana yang kita saksikan pada Shahawat “New Syrian Army” di daerah selatan Syam. Kendaraan-kendaraan lapis baja Amerika kini berputar-putar mengelilingi daerah yang mereka kontrol di utara Halab. Bahkan, kini tentara Amerika memperlihatkan dirinya bersama mereka secara terang-terangan tanpa rasa malu.

Sungguh, Daulah Islamiyah tatkala memerangi murtaddin Shahawat tiga tahun yang lalu, mereka bukanlah memerangi ‘Muwahhidin’ sebagaimana klaim orang-orang bodoh, para Juru Bicara Shahawat, dan Ulama Thawaghit. Justru mereka saat itu memerangi Musyrikin yang loyal kepada Salibis dan Thawaghit bersama dengan orang-orang lain yang loyal kepada mereka. Dan ada diantara mereka adalah (Jabhah Jaulani). Sungguh hukum bagi mereka belumlah berubah sejak mereka memperlihatkan sikap loyal mereka yang berujung pada kekafiran. Namun, yang berubah adalah pernyataan-pernyataan sebagian orang yang memperdebatkan status mereka, setelah sobekan lubang mereka semakin membesar dan membuatnya kian sulit untuk ditambal, sehingga Allah membongkar kedok Shahawat yang jelas-jelas loyal kepada Salibis dengan malu-malu di hadapan bala tentara dan pendukungnya yang murtad yang mengklaim jihad.

Dan mereka tidak mungkin menerima hal yang bertolak belakang dari apa yang mereka dengar berupa wajibnya memerangi Amerika dan harus serius memeranginya lantaran mereka adalah pentolan kekafiran, sedangkan justru mereka melihat pasukan Amerika dengan santainya berjalan-jalan di daerah yang mereka kuasai di bawah perlindungan antek-anteknya yang mengklaim jihad.

Kami katakan pada mereka yang pada hari ini mampu melihat perkara ini dengan terang setelah ashabiyah jahiliyah membutakan matanya, dan fanatik golongan, pun pengkultusan “simbol”.

Setelah hari ini, bagaimana bisa kamu membenarkan kekukuhanmu di atas kemurtadan yang melanda barisan murtaddin? Bagaimana bisa kamu membenarkan dirimu tatkala memerangi muwahhidin Junud Daulah Islamiyah dengan berkoalisi bersama Salibis? Bagaimana bisa kamu membenarkan ketaatanmu kepada masyaikh dan ulama sesat lagi menyesatkan setelah kedustaan mereka atas Daulah dan pembelaan mereka terhadap murtaddin sudah jelas?

Telah tiba saatnya bagimu untuk bertaubat kepada Allah dari jatuhnya kamu ke dalam kubang kemurtadan, dan meninggalkan barisan murtaddin serta berhijrah ke Darul Islam. Maka ketika datangnya saat itu, kamu akan berujar kepada para Muwahhid yang kamu musuhi sebelum ikrar taubatmu: “Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orangorang yang bersalah (berdosa)”. (QS Yusuf 9)

Allah telah memperlihatkan padamu kemurtadan Shahawat, dan membimbingmu untuk mengkafirkan mereka dan berlepas diri darinya. Dan kamu tebus keburukan-keburukanmu dengan kebaikan jihad di jalan Allah serta bergabung dengan Jama’atul Muslimin.

Sesungguhnya negeri Daulah Islamiyah terbuka bagi semua kaum muslimin. Tidaklah menjadi masalah meskipun sebelum taubatnya mereka telah membunuh jutaan Junud Daulah Islamiyah, dan Allah Maha Memberi Petunjuk bagi siapa saja yang Dia kehendaki kembali pada jalan yang lurus.

AKHIR HIDUP ORANG-ORANG YANG MEMINTA BANTUAN KEPADA ORANG-ORANG KAFIR UNTUK MEMERANGI KAUM MUSLIMIN

RUMIYAH 2 - ARTIKEL

AKHIR HIDUP ORANG-ORANG YANG MEMINTA BANTUAN KEPADA ORANG-ORANG KAFIR UNTUK MEMERANGI KAUM MUSLIMIN

Allah mewajibkan atas para hamba-Nya untuk memberikan loyalitas dan pertolongan kepada umat Islam, serta memerintahkan mereka untuk memusuhi dan memerangi kaum musyrikin. Akan tetapi terkadang kita dapati, banyak yang masih rancu, sehingga orang kafir dijadikan teman dekat dan teman yang dicinta jika menguntungkan, bahkan lebih dekat dari pada umat Islam. Akhirnya, mereka meminta tolong kepada Ahlu Syirik untuk menghadapi Ahlu Tauhid, loyal kepada mereka demi keuntungan dan jabatan. Dalam sejarah, banyak kisah tentang orang-orang yang terjerumus dalam masalah seperti ini atau kurang lebih seperti itu yang bisa dijadikan sebagai pelajaran.

Di era Daulah Bani Umayah, setelah Abdurrahman bin al-Asy’ats gagal memberontak Khalifah Umawi Abdul Malik bin Marwan dengan memanfaatkan pasukannya yang kembali dari penaklukan negeri-negeri Turk setelah mengadakan perjanjian damai dengan rajanya. Sebelumnya Ibnu al-Asy’ats telah berjanji kepada sang raja untuk menghentikan penaklukan dan meniadakan pajak Kharaj untuk selamanya. Maka ia mememutuskan untuk berlindung kepada raja Turk karena takut terbunuh ditangan al-Hajjaj. Ibnu Katsir berkata: “Kemudian, Ibnu al-Asy’ats bersama pasukannya memasuki negeri Zunbil raja Turk, lalu Zunbil memuliakannya, memberinya tempat, menjamin keamanan dan mengagungkannya”.

Engkau pasti keheranan dengan penghormatan Zunbil kepada seorang lelaki yang belum lama berselang masih memerangi dan hampir merampas seluruh wilayah negerinya, tetapi itulah tipu daya terhadap Islam dan kaum muslimin. Demikianlah, Zunbil memanfaatkan suaka yang diberikannya kepada Ibnu al-Asy’ats melalu persyaratan yang diajukannya untuk melindungi kepentingan negaranya sebagai syarat penyerahan Ibnu al-Asy’ats.

Ibnu Katsir berkata: “Lalu dia mengirim utusan kepada al-Hajjaj dengan mengajukan syarat untuk tidak berperang selama 10 tahun, dan hanya mau membayar pajak sebesar 100 ribu pertahun. Lalu al-Hajjaj menyetujui hal tersebut”.

Setelah semua kepentingan ini tercapai, raja Turk mengkhianati orang yang telah datang berlindung dan berprasangka baik kepadanya.

Ibnu Katsir berkata: “Ketika itulah, Zunbil mengkhianati Ibnu al-Asy’ats. Ada yang mengatakan bahwa Zunbil memerintahkan agar kepala Ibnu al-Asy’ats dipenggal di hadapannya, lalu kepalanya dikirim kepada Hajjaj. Tetapi pendapat yang masyhur adalah Ibnu Asy’ats ditangkap bersama 30 rekannya dan diborgol lalu dibawa keluar. Di tengah jalan, di suatu tempat bernama Ruhhaj (Arachosia –pent), Ibnu al-Asy’ats yang masih diborgol naik ke atas tembok istana bersama seorang lelaki yang ditugasi untuk menjaganya agar tidak kabur, lalu dia menjatuhkan diri dari atas tembok sehingga sang penjaga pun ikut terjatuh bersamanya, akhirnya keduanya pun mati. Sang utusan lalu mendekatinya dan memenggal kepalanya”.

Inilah akhir kehidupan orang yang berbaik sangka kepada orang kafir dan lari mencari perlindungan kepada mereka, setelah sebelumnya dijanjikan bantuan untuk memudahkan aksi pemberontakannya terhadap Khalifah. Lantas, bagaimana kiranya dengan orang yang berwala’ kepada orang-orang musyrik dari kalangan Salibis dan membantu mereka memerangi umat Islam?!

Diantara mereka yang meminta tolong kepada kuffar Turk adalah Harits bin Suraij yang mengaku menyeru kepada al-Kitab dan as-Sunah setelah aksi pemberontakannya kepada orang-orang Umayah pada tahun 116 H.

Imam ath-Thabari berkata: “Tatkala Harits bertolak menuju Balkh, yang ketika itu pemukanya adalah Tujaibi bin Dhabi’ah al-Murri dan Nashr bin Sayar… Lalu Harits menyeru mereka kepada Kitab dan Sunnah, serta berbaiat kepada ar-Ridha”, maksudnya berbai’at kepada seorang lelaki dari ahli bait Nabi shallallahu alahi wasallam. Harits melanjutkan aksi revolusinya, meneriakkan slogan dan seruannya hingga berhasil menguasai banyak wilayah.

Imam ath-Thabari berkata: “Harits lalu bertolak menuju Marw (Merv –pent). Dia berhasil menakhlukkan Balkh, Guzgan, Faryab, Talqan dan Marw al- Rudh”.

Namun setelah itu dia mengalami beberapa kekalahan telak. Kemudian ia mencari suaka ke negeri-negeri Turk meminta bantuan raja mereka untuk menghadapi kaum muslimin.

Imam ath-Thabari berkata: “Ketika itu Harits bin Suraij berada di Tokharistan, lalu ia bersekutu dengan Khagan (gelar raja-raja Turk – pent)… Pagi harinya, Asad (Asad bin Abdullah al-Qasri komandan pasukan muslimin) melaksanakan sholat dan berkhutbah di hadapan manusia seraya berkata: ‘Sungguh, musuh Allah si Harits bin Suraij telah meminta bantuan kepada thaghutnya untuk memadamkam cahaya Allah dan mengganti agama-Nya. Tetapi Allah akan menghinakannya insya Allah’”.

Pertempuran sengit pun meletus. Kemenangan berpihak kepada umat Islam dan Allah menghinakan kaum kafir dan orang-orang murtad yang loyal kepada mereka.

Imam ath-Thabari berkata: “Sang khagan menempatkan Harits bin Suraij bersama pasukannya di sayap kanan pasukan, sedangkan penguasa Sughd, Shash (Tashkent, ibukota Uzbekistan – pent), Karakana, bapak Kharakhuruh dan kakek Kawus (penguasa Oshrushana, pendahulu ?aydar bin Kawus al-Afshyin –pent), penguasa Khuttal, Jabghu, dan seluruh pasukan Turk menyusun kekuatan pasukan induk… Hingga Harits dan orang-orang Turk pun kalah dalam serbuan umum, lalu Asad berdoa: ‘Ya Allah sungguh mereka telah bermaksiat kepadaku, maka kalahkanlah mereka’. Pasukan Turk lari terbirit-birit tanpa menghiraukan siapapun, lalu dikejar oleh orang-orang sejauh tiga farsakh, dan mereka membunuh siapapun yang tertangkap”.

Setelah kekalahan tersebut, Harits bin Suraij tetap tinggal di Darul Kufr selama kurang lebih 11 tahun, hingga datang surat jaminan keamanan dari Khalifah yang menganjurkannya untuk kembali kepada wilayah Islam.

Ibnu Katsir berkata dalam al-Bidayah wa an-Nihayah: “Pada tahun 127 H, Harits bin Suraij, yang sebelumnya bergabung dengan negeri-negeri Turk dan membantu mereka menghadapi umat Islam, Allah mengaruniakan hidayah dan taufik kepadanya hingga akhirnya dia keluar dan pergi ke negeri Syam; melalui ajakan Yazid bin al-Walid yang mengajaknya untuk kembali kepada Islam dan kaum muslimin, kemudian Haritspun menyambutnya”.

Tetapi, perjalanan hidup Ibnu Suraij berakhir terbunuh, setelah dia kembali melakukan aksi pemberontakan dan memisahkan diri dari Jamaatul Muslimin, serta kembali mengaku menyeru kepada kitab dan sunah, padahal sebelumnya dialah yang telah membantu kuffar melawan kaum muslimin.

Ibnu Katsir berkata: “Lalu Maslamah bin Ahwas yang menjadi kepala polisi bersama sejumlah panglima pasukan dan amir mendatangi Harits dan memintanya untuk menahan lidah dan tangannya serta tidak memisahkan diri dari jamaatul muslimin. Tetapi dia menolak dan justru memisahkan diri dari orang-orang. Ia kembali menyeru Nashr bin Sayar untuk mendukung seruannya pada Kitab dan Sunnahnya itu, namun Nashr menolak”.

Setelah beberapa kali persekongkolan jahat, berupa pengkhianatan, pembangkangan dan pemberontakan, akhirnya Harits bin Suraij terbunuh pada tahun 128 H di tangan rekan-rekannya sesama pemberontak “. (Lihat al-Bidayah wa an-Nihayah)

Adapun pada era Dinasti Abbasiyah, pada masa Imaduddin Zanki berusaha menyatukan umat Islam untuk menghadapi Salibis dan mengusir mereka dari Baitul Maqdis; ketika beliau sedang mengepung kota Damaskus guna menyempurnakan apa yang telah menjadi tekadnya, gubernur Damaskus Mu’inuddin Unur dengan sengaja menulis surat kepada Salibis memberikan peringatan akan masuknya Zanki ke kota tersebut.

Ibnul Atsir berkata: “Ketika Unur melihat bahwa Zanki tidak mau melepaskan mereka, dan tidak mau menghentikan pengepungan, dia menulis surat kepada Perancis dan meminta bantuan mereka, bekerja sama untuk mencegah Zanki memasuki kota Damaskus. Sebagai imbalannya dia akan memberikan apapun termasuk pengepungan dan perampasan kota Baniyas, lalu menyerahkannya kepada mereka. Dia juga menakut-nakuti Salibis jika Zanki berhasil menaklukkan Damaskus”.

Perancispun terkejut akan hal itu, karena itu artinya mereka akan diusir dari Syam secara total.

Oleh karena itu, merekapun segera membantu Unur, hingga Zankipun terpaksa membuka pengepungan terhadap Damaskus. Setelah Perancis tiba, Mu’inuddin Unur menepati janjinya kepada mereka dan berderap bersama Salibis menuju kota Baniyas guna mengepung benteng berikut umat Islam yang berada di dalamnya.

Ibnul Atsir berkata: “Mu’inudin menyerang, memerangi dan mempersempit pergerakan kota Baniyas dibantu sepasukan tentara Perancis. Ia berhasil merebut kota itu, lalu diserahkannya kepada Perancis”.

Dengan demikian, Prancis berhasil memetik 2 keuntungan sekaligus, yaitu: pertama, menjauhkan bahaya Zanki dari Salibis, dan kedua mereka berhasil mencaplok negeri Islam. Meskipun Mu’inuddin Unur begitu dekat dengan Perancis, tetapi mereka tetap mengerahkan pasukan bersama raja Jerman untuk mengepung kota Damaskus pada tahun 543 H, sehingga Mu’inuddin Unur terpaksa meminta bantuan kepada Saifuddin Ghazi bin Zanki, putera orang yang ia bersekutu dengan orang-orang Kristen untuk mengalahkannya.

Namun sang gubernur ini, sekalipun mengetahui pengkhianatan Unur dahulu, memenuhi permintaannya dan bergerak untuk menolong kaum muslimin yang tertindas di Damaskus. Prancis kemudian mundur, dan raja Jerman kembali ke negerinya setelah pasukan Zanki datang ke Damaskus.

Setelah itu, akhirnya Nuruddin Zanki berhasil merebut Damaskus pada tahun 549 H dan berhasil mengalahkan penguasanya meskipun mereka berusaha untuk kembali meminta bantuan Salibis. (Lihat al-Kamil fi at-Tarikh).

Adapun di era Mamalik, penguasa Kerak yang bergelar al-Mughits Umar sengaja menyurati Tartar agar membantunya dalam memerangi negeri-negeri Islam dengan jaminan ia tetap menduduki tampuk kursi kekuasaannya. Sayangnya upayanya ini terbongkar.

Ibnu Katsir berkata: “azh-Zhahir (yakni Baibars) bergerak dari Mesir bersama pasukan al-Manshurah menuju Kerak. Dia meminta agar dipanggilkan penguasa wilayah tersebut, yaitu raja al-Mughits Umar bin Adil bin Abu Bakar bin al-Kamil. Setelah berhasil ditangkap dengan susah payah, Baibars mengirimnya ke Mesir sebagai tawanan, dan demikianlah akhir kekuasaannya. Hal itu karena ia telah menulis surat kepada Hulaghu dan memprovokasinya untuk datang ke negeri Syam sekali lagi. Lalu datanglah surat jawaban dari Tartar yang menyuruhnya agar tetap bertahan dan menjadi penguasa boneka di wilayah itu, dan mereka akan datang dengan 20 ribu pasukan untuk menaklukkan wilayah-wilayah Mesir. Sultan lalu merilis fatwa para fuqaha agar membunuhnya”.

Akhirnya, akhir hidupnya adalah dicopot dari jabatannya, lalu kemudian dibunuh. Jika kita melihat zaman kita ini, niscaya kita akan benar-benar dapati banyak sekali kisah seperti di atas, yaitu orang-orang yang menjual jiwa mereka kepada Salibis secara terang-terangan. Ada juga yang beranggapan bahwa mereka bisa memanfaatkan Salibis tanpa harus mengorbankan agama mereka. Tetapi akibatnya mereka justru mengalami kemerosotan agama sehingga mereka tergabung dengan tipe pertama.

Ada juga kelompok lain yang lebih ringan dari hal itu, mereka tinggal menetap di negara kafir dan murtad secara terhina dan tertindas.

Jadi, setiap muslim harus berupaya serius dalam memusuhi orang-orang musyrik hingga Allah melindunginya dari fitnah ini dan meneguhkannya di atas kebenaran.

DIANTARA KISAH KETEGARAN DALAM KEHIDUPAN SHAHABIYAH

RUMIYAH 2 - MUSLIMAH

DIANTARA KISAH KETEGARAN DALAM KEHIDUPAN SHAHABIYAH

Surga… adalah barang dagangan Allah yang mahal, tempat terbaik dan puncak kemuliaan. Orang-orang beriman bersegera menuju kepadanya dan berlomba untuk menggapainya. Wujudnya sulit dicerna oleh akal, dan tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Tetapi ia dihiasi berbagai onak maupun duri, bukan semerbaknya bunga mawar. Darah dan serpihan tubuh pembelinya adalah saksi akan hal itu, dan pengorbanan nyawa adalah puncak sebuah kedermawanan.

“Demi Allah, Surga bukanlah barang murah yang bisa ditawar-tawar oleh orang yang merugi, tidak pula barang rusak sehingga perlu dijual secara kredit oleh orang-orang yang susah. Sesungguhnya, surga telah ditawarkan di pasar bagi yang menginginkannya. Sang pemiliknya hanya mau menerima pembayaran atasnya dengan harga pengorbanan nyawa, sehingga para penganggur pun lesu, sedangkan para pecinta senantiasa menanti siapakah diantara mereka yang nyawanya layak untuk dijadikan harga pembayaran”. (Zadul Ma’ad)

Allah azza wa jalla berfirman dengan firman yang agung di dalam kitab-Nya yang mulia, beruntunglah orang yang membaca atau mendengarnya, lalu dia memperhatikan dan merenungkannya: “Jika kalian tertimpa luka, maka mereka pun juga telah tertimpa luka seperti itu. Dan hari-hari (kemenangan dan kekalahan) tersebut kami pergilirkan diantara manusia, dan supaya Allah mengetahui orang-orang beriman dan mengambil diantara kalian sebagai syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang dzalim. Dan supaya Allah menyaring orang-orang beriman. Dan menghinakan orang-orang kafir. Apakah kalian mengira akan masuk surga padahal Allah belum mengetahui orang-orang yang berjihad dan mengetahui orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran:140-142)

Itulah sunnah Allah yang bersifat baku. Luka dibalas dengan luka, negara dengan negara yang lain. Diantara orang-orang beriman ada yang menjadi syuhada. Orang-orang beriman, mereka diuji agar bisa dibedakan, dan yang baik akan mengalahkan yang buruk. Surga adalah pahala bagi yang lulus dalam ujian, bersabar ketika ujian datang, tetap tegar di masa sulit, tidak mengeluh atau emosi, pola tingkahnya tak seolah-olah mengatakan: “Tidaklah Allah dan Rasul-Nya menjanjikan sesuatu kepada kami melainkan itu hanya tipuan belaka”. Mustahil orang yang sikapnya seperti ini bisa menikmati surga Rabbnya.

Seorang muslimah yang bertauhid tidak boleh berasumsi bahwa dia akan terhindar dari wilayah tamhish (penyaringan) dan ibtila’ (ujian), karena dalam hal ini wanita dan laki-laki adalah sama. Bahkan, terkadang wanita berperan besar dalam meneguhkan suami dan anak-anaknya.

Ada Khadijah dan Asma, di sana juga ada Sumayah dan Khansa, serta masih banyak lagi yang lain, yang mana tidak cukup tempat untuk menuliskan biografi mereka.

Khadijah radhiyallahu anha, beliau adalah Ummul Mukminin, pemilik hati pertama yang menyatakan beriman terhadap risalah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Khadijah adalah wanita yang dengan perantaranya, Allah meneguhkan Dien ini, melalui motivasi yang dia berikan kepada sang suami, penghulu para Rasul yaitu Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam kitab shahih keduanya, dari hadits Aisyah radhiyallahu anha bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam setelah turunnya wahyu pertama kepada beliau di gua Hira, saat itu beliau merasa cemas, lantas menemui Khadijah sang istri dan menceritakan peristiwa yang menimpanya, kemudian berkata: “Sungguh, aku sangat cemas atas diriku”. Khadijah menjawab: “Sekali-kali tidak, bergembiralah, demi Allah, selamanya Dia tidak akan menelantarkanmu. Demi Allah, engkau benar-benar biasa menyambung tali persaudaraan, berkata jujur, meringankan beban orang lain, berderma untuk yang tidak punya, memuliakan tamu dan menolong para pengemban kebenaran”.

Sungguh, Ummul Mukminin Khadijah -ketika mendengar berita menakjubkan tersebut dari sang suami-, tidak cemas ataupun gusar dan tidak menggembosi sang suami lantaran kekhawatirannya dengan hari-hari yang akan datang. Dia tak melemahkan semangat tapi justru meneguhkannya, hingga para ulama mengomentari ucapan Khadijah tersebut, sebagaimana yang dinukil oleh Imam an-Nawawi yang berkata: Para ulama berkata, “Ucapan Khadijah radhiyallahu anha adalah bukti terbesar dan hujjah terakurat atas kesempurnaan Khadijah, kecerdasan otak, kekuatan jiwa, keteguhan hati dan kedalaman pemahamannya. Wallahu a’lam”. (Syarah Shahih Muslim)

Hari-haripun berlalu, urusan dakwah pun mulai menyebar. Para Thaghut Quraisy pun mulai menyerang para muwahhid dan mengisolir mereka di lembah Abi Thalib, dan melarang pemberian makanan dan air pada mereka. Sedangkan Ummul Mukminin tetap tegar bersama sang suami, bersabar dan berharap akan pahala dari Allah, ikut merasakan apa yang dirasakan oleh kaum Muslimin berupa rasa lapar dan haus. Padahal beliau adalah wanita dengan kedudukan dan nasab yang terpandang, seorang hartawati dan berpangkat tetapi harus turut terisolir selama dua tahun bersama mereka di lembah Abu Thalib, turut tertimpa lapar dan kelelahan. Hingga akhirnya beliau meninggal dalam kondisi bersabar, berharap pahala dan tetap tegar di atas agamanya dengan ridha sang suami shallallahu alaihi wasallam yang menyertainya, semoga Allah meridhainya dan membuatnya ridha.

Adapun Sumayah binti Khayath radhiyallahu anha, ibunda Ammar bin Yasir, termasuk tujuh orang yang pertama masuk Islam dan syahidah pertama yang darahnya menyirami pohon tauhid. Benar, wahai muslimah, sungguh darah pertama yang mengalir di jalan Laa Ilaaha Illallah adalah darah perempuan. Ketika itu Sumayah bersama suami dan anaknya adalah budak Bani Makhzum. Ketika masuk Islam mereka mendapatkan beragam dan aneka siksaan.

Dari Jabir, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah melewati Ammar dan keluarganya yang sedang disiksa, lalu beliau bersabda: “Bergembiralah, wahai keluarga Amar dan keluarga Yasir, karena tempat yang dijanjikan bagi kalian adalah surga”. (HR adh-Dhiya dan al-Hakim)

Tidaklah Sumayah disiksa melainkan karena beriman kepada Allah, agar beliau murtad dari agamanya dan meninggalkan jalan Muhammad shallallahu alaihi wasallam, seorang lelaki yang datang kepada mereka tanpa membawa harta, emas ataupun perak, tetapi dia hanya membawa agama “baru” yang belum pernah ada dalam kehidupan nenek moyang mereka sebelumnya. Yang ia bawa adalah sebuah kalimat yang mereka persaksikan dan amalkan dengan janji surga karenanya. Meskipun disiksa dengan keras, tetapi Sumayah si wanita lemah yang tak berdaya tetap tegar, tak bergeming dari agamanya dan tidak mundur ke belakang dari apa yang telah dia yakini dan ketundukannya kepada Allah.

Ibnu Ishaq berkata dalam “Sirah”: “Beberapa orang dari keluarga Ammar bin Yasir bercerita kepadaku bahwa Sumayah ibunda Ammar telah disiksa oleh keluarga bani Mughirah karena Islam, tetapi beliau tetap menolak hingga akhirnya mereka membunuhnya”. Jadilah akhir hayat beliau dalam syahadah setelah bersabar dan tetap tegar ketika ditusuk oleh musuh Allah, yaitu si Abu Jahal, dengan sebuah tombak yang kemudian membunuhnya.

Adapun Asma, adalah putri Abu Bakar ash-Shiddiq, semoga Allah meridhai diri dan bapaknya. Dialah wanita yang dijadikan sebagai contoh terbaik dalam ketegaran dan jihad. Dialah Asma yang ketika bapaknya keluar untuk berhijrah bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam, membawa seluruh hartanya dan tidak menyisakannya sedikitpun untuk keluarganya. Asma tidak cemas atau gusar, bahkan dia berusaha menepis keraguan kakeknya tentang ayahnya.

Dari Yahya bin Ibad bin Abdillah bin Zubair bahwa ayahnya pernah bercerita terkait sang nenek, yaitu Asma binti Abu Bakar. Asma berkisah: “Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam keluar bersama Abu Bakar, Abu Bakar membawa serta seluruh hartanya, yaitu sekitar 5000 atau 6000 dirham”. Asma melanjutkan kisahnya: “Abu Bakar pergi membawanya”, Asma melanjutkan: “Kakekku yaitu Abu Quhafah yang telah buta matanya menemui kami seraya berkata: “Demi Allah, menurutku Abu Bakar telah menelantarkan kalian dengan membawa seluruh hartanya”. Asma melanjutkan: “Akupun menjawab: Sekali-kali tidak demikian, justru beliau telah meninggalkan harta yang sangat banyak untuk kami”. Asma berkata: “Lalu aku mengambil batu-batu kerikil dan menaruhnya di kotak besi dalam rumah, dimana ayahku biasa meletakkan hartanya di sana, kemudian kututup dengan baju dan kupegang tangan kakek, seraya kukatakan : “Letakkanlah tanganmu di atas harta ini”. Asma melanjutkan: “Lalu kakek meletakkan tangannya di atas benda tersebut, kemudian berkomentar: “Tidak mengapa jika dia meninggalkan harta ini untuk kalian, dia cukup bijak, dan harta ini cukup untuk memenuhi kebutuhan kalian”. Asma melanjutkan: “Padahal demi Allah, beliau sebenarnya tidak meninggalkan sesuatupun untuk kami, aku hanya ingin menenangkan orang tua itu dengan hal itu”. (HR Ahmad dan lainnya)

Sang Dzatu Nithaqain (gelar Asma) tidak luput dari pukulan thaghut Abu Jahal, ketika berkata: “Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam keluar bersama Abu Bakar, beberapa orang Quraisy datang bersama Abu Jahal kepada kami. Mereka berhenti di depan pintu rumah Abu Bakar, lalu aku keluar menemui mereka”. Mereka bertanya: ‘Di mana bapakmu hai putri Abu Bakar ?’. Asma berkata: “Akupun menjawab: Demi Allah, aku tidak tahu di mana bapakku”. Asma berkata: “Lalu Abu Jahal mengangkat tangannya, dia adalah seorang yang bengis dan busuk, lalu menampar pipiku yang berakibat lepasnya anting-antingku”. Lalu Asma berkata: “Kemudian mereka bubar”. (Hilyatul Auliya)

Demikianlah kondisi muslimah yang beriman kepada Rabbnya, yang merasakan kenikmatan iman tatkala mengenyam siksaan di jalan agamanya. Ketika orang-orang keluar melawan Khalifatul Muslimin Abdullah bin Zubair, dan Hajjaj ats-Tsaqafy mengepungnya di Makkah, Asma-lah sang ibu yang meneguhkan sang anak dan memotivasinya untuk mati di jalan Allah ta’ala.

Ibnu Katsir berkata: “Abdullah bin Zubair masuk menemui sang ibu dan mengadukan kepadanya perihal pembangkangan manusia kepadanya, dan banyak yang membelot kepada Hajjaj termasuk anak-anak dan keluarganya. Hanya tinggal sedikit saja yang tetap setia kepadanya, kesabaran mereka sedikitpun tidak tersisa, sedangkan orang-orang menawarkan dunia sekehendakku, apa pendapatmu?”. Asma menjawab: “Wahai anakku, kamu lebih tahu tentang dirimu, jika kamu tahu bahwa kamu berada di atas kebenaran dan menyeru kepada yang benar, maka bersabarlah, karena para sahabatmu telah terbunuh di atasnya. Jangan kamu serahkan tengkuk lehermu yang akan dipermainkan oleh anak-anak bani Umayah. Tetapi jika kamu menghendaki dunia, niscaya seburuk-buruk hamba adalah dirimu. Kamu telah binasakan dirimu dan telah kamu binasakan orang yang telah terbunuh bersamamu. Tetapi jika kamu di atas kebenaran, maka agama ini tidak akan terhina. Berapa lama kamu akan tetap tinggal di dunia? Terbunuh adalah lebih baik...”. Kemudian Asma mulai mengingatkannya akan sang ayah, yaitu Zubair bin Awwam, sang kakek yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq, sang nenek yaitu Shafiyah binti Abdul Muthalib, sang bibi yaitu Aisyah istri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan berpesan untuk mendatangi mereka jika terbunuh sebagai syahid. Kemudian Abdullah bin Zubair keluar dari sisinya, dan itulah pertemuan terakhirnya dengan sang ibu. Semoga Allah meridhai keduanya, ayahnya dan ayah ibunya (kakeknya)”. (al Bidayah wa an Nihayah)

Sedangkan Khansa binti Amru radhiyallahu anha, maka kondisinya tidak jauh berbeda dengan kondisi Asma.

Dari Abu Wajzah dari bapaknya yang berkata: “Khansa binti Amru bin Syarid as-Salamiyah turut serta dalam perang Qadisiyah bersama empat anak laki-lakinya. Pada malam pertama Khansa menasehati mereka: “Wahai anakku, kalian telah masuk Islam secara suka rela, dan berhijrah sesuai pilihan kalian. Demi Allah yang tidak ada Ilah yang hak selain Dia, kalian adalah anak dari seorang lelaki, begitu juga kalian adalah juga putra dari seorang wanita. Aku tidak pernah mengkhianati bapak kalian, tidak pula mempermalukan paman kalian, tidak sama sekali menciderai kemuliaan kalian, dan tidak pula mengotori nasab kalian. Kalian juga telah mengetahui apa yang telah disiapkan oleh Allah bagi umat Islam berupa pahala yang melimpah dalam memerangi orang-orang kafir. Ketahuilah bahwa negeri yang kekal lebih baik dari pada negeri yang fana. Allah azza wa jalla berfirman: ”Hai orang-orang beriman, bersabarlah dan kuatkanlah kesabaran kalian, dan waspadalah kalian serta bertaqwalah kalian agar kalian beruntung”. (Ali Imron: 200). Jika esok pagi kamu masih sehat insya Allah, maka bergegaslah untuk menyerang musuh kalian dengan penuh kewaspadaan, dan mohonlah pertolongan Allah dalam menghadapi musuh-musuh kalian. Jika kalian telah melihat genderang perang telah berkecamuk, dan hawa panasnya mulai menyengat serta apinya telah membakar dedaunan, maka teroboslah medan laga, tantanglah panglimanya untuk berduel ketika perang sedang berkobar, niscaya kalian akan berjaya dengan mendapat ghanimah dan kemuliaan di negeri yang kekal abadi”. (al-Isti’ab)

Akhirnya Khansa mendapatkan apa yang beliau inginkan, tatkala keempat anaknya mencari kematian di tempat yang mereka tuju, lalu mereka semua terbunuh dalam satu hari. Ketika berita kesyahidan mereka sampai kepadanya, beliau hanya berujar: “Segala puji bagi Allah yang telah memuliakanku dengan terbunuhnya mereka. Aku berharap kepada Rabbku agar mengumpulkanku dengan mereka di tempat rahmat-Nya”.

Di sisi Allah-lah pahala wanita seperti mereka yang tidak duduk menangis atau mengeluh ketika kondisi sulit dan ujian, bahkan mereka mengemban tugas agama dan umat di atas pundak-pundak mereka. Yang ini meneguhkan sang suami, sedangkan yang itu memotivasi sang anak... Orang-orang seperti merekalah yang seharusnya diikuti oleh muslimah. Ketika krisis semakin mencekik dan keadaan mulai menyempit, niscaya seorang muslimah akan terhibur dengan mengingat keteguhan mereka dan akan harum dengan parfum perjalanan hidup mereka.

Akhir seruan kami, segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan berkah kepada Nabi kami, Muhammad, keluarga dan semua sahabat beliau.

BERILAH KABAR GEMBIRA PADA ORANG-ORANG YANG BERSABAR AKAN DEKATNYA PERTOLONGAN ALLAH

RUMIYAH 2 - ARTIKEL

BERILAH KABAR GEMBIRA PADA ORANG-ORANG YANG BERSABAR AKAN DEKATNYA PERTOLONGAN ALLAH

Allah azza wa jalla telah menciptakan hamba-hamba-Nya dan menjalankan sunnah ujian-Nya pada mereka, sampai terpisah antara yang buruk dan yang bersih, dan agar orang yang binasa itu binasanya setelah mendapat keterangan dan demikian juga orang yang hidup. Karena itu, tidak ada tamkin kecuali setelah penyeleksian, tidak ada kemenangan kecuali setelah beratnya ujian, dan tidak ada rasa lapang kecuali setelah dihimpit kesulitan.

Jalan menuju Allah azza wa jalla dengan balasan terbaik yang telah disiapkan untuk orang-orang beriman, adalah jalan yang berharga teramat mahal. Harga ini tidak akan mampu dipikul kecuali oleh orang-orang mukmin yang sebenar-benarnya, yang hatinya bergantung hanya kepada Allah saja dan tetap teguh pada manhaj Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya yang mulia. Mereka itu orang-orang yang tidak tertipu dengan figur atau slogan-slogan mentereng. Mereka adalah para pencari kebenaran yang telah menemukan pemeluknya. Para pemegang kebenaran itu bukanlah orang-orang yang telah sekian lama berkecimpung dalam jihad lalu kemudian menyimpang dan melenceng lantaran panjangnya masa sehingga mereka sekarang menjadi para penggembos dan penipu. Juga bukan orang-orang yang menghabiskan umurnya diantara wadah tinta dan lembaranlembaran kosong, lalu ketika seorang penyeru kabar gembira menyeru bahwa inilah Daulah Islam telah tegak maka kemarilah buktikan ilmu kalian dengan amal, tiba-tiba mereka memalingkan muka, seakan-akan ada sumbatan di telinga mereka.

Ibnul Qayim al-Jauziyah rahimahullah berkata menggambarkan jalan yang menuju surga-surga yang kekal: “Dimana engkau, sedangkan jalan ini adalah jalan yang melelahkan Adam alaihis salam, membuat Nuh alaihis salam mengeluh, Ibrahim alaihis salam dilemparkan ke dalam kobaran api, Isma’il alaihis salam dibaringkan hendak disembelih, Yusuf alaihis salam dijual dengan harga murah dan dipenjara selama beberapa masa, Zakariya alaihis salam digergaji, Yahya alaihis salam disembelih, Ayub alaihis salam menderita penyakit keras, membuat Dawud alaihis salam menangis tersengal-sengal, Isa alaihis salam berjalan bersama binatang buas, dan Muhammad shallallahu alaihi wasallam merasakan kerasnya kefakiran dan berbagai macam gangguan”. (al-Fawaid)

Jika seperti itu kondisi para nabi termasuk para ulul azmi – sebaik-baik shalawat dan sejernih-jernihnya salam terhatur kepada mereka dan kepada Nabi kita – mendapatkan apa yang mereka dapatkan itu demi membela Allah azza wa jalla namun mereka tetap bersabar dan teguh, dan mereka disakiti dengan keras lantaran menyeru kepada tauhid yang murni namun tidak merasa lemah dan berkecil hati, maka bagaimana halnya dengan orang-orang selain mereka? Bukankah lebih pantas untuk diuji agar menjadi bersih, dan diseleksi agar mereka menjadi orang-orang mukhlis?

Imam Syafi’i rahimahullah suatu ketika ditanya: “Mana yang lebih utama bagi seorang lelaki, diberi kekuasaan atau diuji? Jawabnya: “Ia tidak akan diberi kekuasaan sampai diuji”. (al-Fawaid karya Ibnu Qoyim)

Ya, siapa langkah awalnya tak diwarnai dengan kelam maka takkan ada penghabisan yang bercahaya. Tidak ada tamkin sampai merasakan pahitnya ujian, sempitnya hidup, dan kerasnya krisis. Karena janji untuk para lelaki dan wanita yang jujur adalah surga. Surga yang di dalamnya wajah Allah azza wa jalla diperlihatkan, yang merupakan setinggi-tingginya nikmat dan angan-angan. Lalu, apakah hal itu bisa didapatkan dengan nyamannya dunia dan nikmatnya hidup? Bahkan sebaliknya, dengan tikaman tombak di bawah kilatan pedang; (Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” (QS al-Baqarah: 214)).

Imam at-Thabari rahimahullah berkata: “Makna firman Allah ini yaitu: Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, apakah kalian mengira akan masuk surga sedangkan kalian belumlah terkena ujian dan tumpukan kesulitan seperti pengikut para nabi dan rasul sebelum kalian. Sehingga kalian diuji dan digoncangkan dengan kesengsaraan, yaitu kefakiran yang amat sangat, dan malapetaka, yaitu wabah penyakit, seperti mereka dahulu. Juga kalian belumlah digoncangkan dengan kegoncangan mereka, yaitu merasakan ketakutan dan kengerian yang teramat sangat lagi melelahkan lantaran musuh, sampai mereka merasa lelah menanti pertolongan Allah dan berkata, “Bilakah Allah akan menolong kita?”.

Hal itu juga diketahui oleh Kaisar Romawi Heraklius ketika berkata kepada Abu Sufyan: “Aku bertanya kepadamu bagaimana peperangan antara kalian dengannya, engkau menjawab bahwa terkadang menang terkadang kalah, maka demikianlah para rasul, mereka diuji lalu kemudian mendapatkan kemenangan”. (Muttafaq ‘alaih).

Maka bagaimana seorang muwahhid yang berprasangka baik kepada Allah tidak mengetahui hal ini?

Sesungguhnya Dien ini adalah mahal. Menyeru kepada tauhid yang murni dan meninggikan kalimat Allah di bumi-Nya membutuhkan pengorbanan teramat besar, seperti pengorbanan Ashabul Ukhdud, yang diberantas dan dihabisi secara dini oleh thaghut sehingga tidak ada seorangpun yang tersisa. Mereka para Ashabul Ukhdud itu – setelah beriman kepada Rabbnya ghulam – menyaksikan para thaghut membuat parit dan menyalakan api untuk membakar yang tetap beriman, namun hal itu tidak mencederai iman mereka dan tidak berhasil menggeserkan Din mereka, sampai datang seorang wanita yang menggendong anak kecil, ia ragu-ragu untuk melemparkan dirinya ke dalam api lantaran anaknya itu, maka anaknya berkata: “Wahai ibu, bersabarlah, karena engkau benar”. (Muttafaq ‘alaih).

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dalam al-Mushannaf dari Hasan yang berkata: “Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam jika menyebutkan kisah Ashabul Ukhdud beliau berlindung dari beratnya ujian”.

Imam Bukhari membuat bab dalam shahihnya, ‘Bab Tentang Orang Yang Memilih Dipukul dan Dihinakan Daripada Kafir”, beliau mengeluarkan hadits dari Khabbab bin al-Art radhiyallahu anhu, berkata: “Kami mengadu kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika beliau tengah bersandar pada Ka’bah beralaskan burdahnya. Kami berkata padanya: ‘Tidakkah engkau mendoakan kita? Tidakkah engkau meminta tolong kepada Allah? Beliau bersabda: ‘Orang sebelum kalian digalikan sebuah lubang untuknya di atas tanah, kemudian mereka dimasukkan ke dalamnya. Setelah itu diambilkan sebuah gergaji dan diletakkan di atas kepalanya hingga terpotong menjadi dua bagian. Akan tetapi, hal tersebut tidak menggoyahkan agamanya. Kemudian ada juga yang disisir besi, sehingga terlepas daging dari tulangnya. Akan tetapi, hal itu juga tidak menggoyahkan agamanya. Allah pasti akan menyempurnakan masalah ini, sehingga akan berjalan seorang dari Shan’a ke Hadramaut, di mana ia tidak takut sedikitpun kecuali kepada Allah, sampai serigala bisa berdampingan dengan kambing (tanpa memangsanya). Akan tetapi, kalian terburu-buru.’

Ada harga yang harus dibayarkan seorang mukmin dalam benturan antara kebenaran dan kebathilan, Allah azza wa jalla berfirman: (Maka mereka membunuh dan dibunuh). (QS at-Taubah: 111).

Betapa berharganya pelajaran dan konsekuensi yang diambil dari Perang Uhud, perang yang memakan korban bukan sekedar menteri, amir, atau komandan, tidak hanya satu, dua, tiga, atau sepuluh, namun justru penghulu para syuhada Hamzah paman Nabi shallallahu alaihi wasallam bersama dengan 70 sahabat terbaik. Dalam satu hari saja para kesatria sejumlah demikian terbunuh, bukan sekedar kesatria biasa, tapi mereka adalah para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam!

Pada Perang Uhud juga suara orang-orang kafir meninggi mengira berhasil membinasakan Islam. “Abu Sufyan naik ke tempat yang tinggi dan berseru, ‘Apakah di antara kalian ada Muhammad? Beliau bersabda: ‘Jangan dijawab’. Abu Sufyan kembali bertanya, ‘Apakah di antara kalian terdapat Ibnu Abi Quhafah (Abu Bakar – pent)? Beliau bersabda: ‘Jangan dijawab’. Dia kembali bertanya, ‘Apakah di antara kalian terdapat Ibnul Khatthab? Abu Sufyan melanjutkan, ‘Sesungguhnya mereka semua telah tewas, sekiranya mereka masih hidup, tentu akan menjawabnya’. Ternyata Umar tidak dapat menahan dirinya dan berkata, ‘Kamu berdusta wahai musuh Allah, Allah masih membiarkan orang yang akan membuat kalian terhina’. Abu Sufyan berkata, ‘Tinggilah Hubal’. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Jawablah’. Para sahabat bertanya, ‘Apa yang harus kami katakan? Beliau bersabda: ‘Katakanlah, Allah lebih tinggi dan lebih mulia’. Abu Sufyan membalas, ‘Kami memiliki ‘Uzza sementara kalian tidak memilikinya’. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Jawablah’. Para sahabat bertanya, ‘Apa yang harus kami katakanya? Beliau bersabda: ‘Katakanlah, Allah adalah penolong kami dan kalian tidak memiliki penolong’”. (HR Bukhari).

Lalu, apakah orang-orang mukmin sekarang itu lebih mulia di sisi Allah daripada generasi pertama itu yang diuji dan digoncangkan segoncang-goncangnya sampai hati menyesak ke tenggorokan? Yang mengira bahwa penaklukan Roma dan Konstantinopel itu bisa dicapai hanya dengan pekikan kata saja(1) tanpa luka-luka, maka sungguh ia telah tertipu lagi berimajinasi saja!

Dengan demikian, jelaslah bahwa melalui ujian dan penyeleksian sajalah seorang mukmin muwahid bisa bertahan seijin Rabbnya, dan seorang munafik serta yang imannya lemah akan terpuruk, sehingga setelahnya tidak tersisa kecuali orang-orang pilihan. Orang-orang yang jiwanya telah tersucikan dari kotoran najis dunia. Ketika itulah, dan hanya ketika itu jiwa mereka dipenuhi suara kebenaran sehingga datanglah pertolongan yang menyejukkan hati mereka: (Ketahuilah, bahwasanya pertolongan Allah itu dekat). (QS al-Baqarah: 214).

Sungguh kami telah merasakan hembusan angin khilafah kita yang diberkahi ini, yang bertiup dari ujung timur bumi sampai ujung baratnya, sekiranya mereka tidak menuduh kita lemah, maka bersabar itulah yang baik, Allahul musta’an.

Catatan kaki :

(1) Penaklukan Konstantinopel terjadi setelah memakan korban sekian banyak syuhada dan prajurit yang terluka. Pada peristiwa sebelumnya, sepertiga pasukan kaum muslimin terbunuh dalam pertempuran sengit melawan salibis di Dabiq. Kemudian pasukan yang tersisa melanjutkan pergerakannya untuk mengepung Konstantinopel sampai mencapai pinggiran kota. Disinilah, dan hanya ketika inilah -setelah banjir darah dan keringat- pertahanan kota jatuh hanya dengan tahlil dan takbir para muwahhid mujahid yang tetap sabar dan teguh. Nikmat dan keutamaan dari Allah ini - pertahanan kota jatuh hanya dengan tahlil dan takbir - adalah balasan keikhlasan niat dan kesungguhan amal, bukan sekedar hasil kata-kata belaka tanpa ada niat dan kesungguhan, seperti kata-kata orang munafik dan yang berpenyakit hatinya.

SIKAP KERAS DAN TEGAS KEPADA ORANG-ORANG KAFIR DALAM SEJARAH NABI DAN KHULAFA'UR RASYIDIN

RUMIYAH 2 - ARTIKEL

SIKAP KERAS DAN TEGAS KEPADA ORANG-ORANG KAFIR DALAM SEJARAH NABI DAN KHULAFA'UR RASYIDIN

Allah mengutus Rasul-Nya Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai rahmat semesta alam. Dengan berani beliau menyeru mereka ke jalan kebenaran dan petunjuk. Siapa yang menerima, niscaya dia akan memperoleh rahmat ini. Sedangkan siapa yang menolak dan membangkang kepadanya, niscaya akan beliau perangi dan beliau perlakukan dengan keras dan tegas hingga mau tunduk kepada perintah Allah azza wa jalla. Perjalanan hidup beliau adalah saksi dan bukti terbaik akan hal itu.

Sekembalinya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dari Perang Badar, beliau memerintahkan agar tawanan bernama Uqbah bin Abi Mu’aith dieksekusi mati, karena Uqbah adalah orang yang paling keras gangguannya kepada Islam dan kaum muslimin. Berkata adz-Dzahabi dalam as-Sirah: “Uqbah bin Abi Mu’aith dieksekusi mati di ‘Irqu azh-Zhubyah (nama tempat -pent). Ketika Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam memerintahkan untuk membunuhnya ia bertanya: “Siapa yang akan mengurus anak-anakku hai Muhammad?" Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam menyergah: “Neraka” (Sebagian Ulama menjelaskan bahwa maksudnya adalah bagimu neraka dan biarkan Allah yang akan menanggung anak-anakmu). Lalu ia dibunuh oleh ‘Ashim bin Tsabit bin Abu al-Aqla radhiyallahu anhu, ada juga yang mengatakan oleh Ali radhiyallahu anhu radhiyallahu anhu”.

Dalam Perang Uhud, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga memerintahkan untuk mengeksekusi mati tawanan bernama Abu ‘Izzah al-Jumahi, yang memiliki beberapa putri. Ibnu Katsir bercerita: “Tidak ada yang ditawan dari kalangan musyrikin selain Abu ‘Izzah al-Jumahi. Sebelumnya dia juga pernah ditawan waktu Perang Badar. Ketika itu dia dibebaskan tanpa tebusan tapi dengan syarat tidak akan memerangi beliau lagi. Maka, ketika kembali ditawan di Perang Uhud, dia berkata, ‘Hai Muhammad, bebaskanlah aku demi putri-putriku, aku berjanji tidak akan memerangimu lagi’. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pun menjawab: “Aku tidak akan membiarkanmu memanfaatkan kedua buah hatimu di Makkah itu dan engkau berkata aku berhasil menipu Muhammad dua kali”. Kemudian Beliau memerintahkan untuk dipenggal lehernya. Sebagian ulama menyebutkan bahwa ketika itu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Seorang mukmin tidak akan terperosok ke lubang yang sama sebanyak dua kali”.

Kedua tawanan ini, kondisinya tidak dalam posisi bisa dibebaskan, ditebus, atau dikasihani. Karena jika sampai terjadi, niscaya akan berpengaruh pada wibawa Rasul Rabb semesta alam, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh beliau ketika mengeksekusi Abu ‘Izzah.

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam tidak pernah membiarkan orang yang telah mengganggu Islam dan umat Islam dalam kondisi aman, meskipun gangguannya cuma dengan ucapan dan tahridh (provokasi), sebagaimana yang terjadi pada si Yahudi Ka’ab bin alAsyraf.

Ibnu Ishaq berkata: “Ka’ab mulai memprovokasi untuk menyerang Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam seraya melantunkan syair-syair. Dia menangisi pembesar-pembesar Quraisy yang dilempar jasadnya ke sumur sewaktu Perang Badar. Kemudian Ka’ab bin al-Asyraf pulang ke Madinah. Dia mulai mengganggu Ummu Fadhal binti Harits, kemudian para muslimah yang lain”.

Sehingga keluarlah perintah dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam untuk memenggal kepala si thaghut ini, beliau bertanya kepada para sahabat siapa yang mampu melaksanakan operasi ini.

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: ‘Siapakah yang bisa membungkam Ka’ab bin al-Asyraf? Sungguh, dia telah menyakiti Allah dan Rasul-Nya’. Muhammad bin Maslamahpun bangkit seraya berkata: ‘Wahai Rasulullah, apakah anda ingin saya membunuhnya? Beliau menjawab: ‘Ya’, hingga akhir hadits. (HR. Bukhari dan Muslim)

Setelah Perang Ahzab, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bertolak menuju Bani Quraizhah guna mengepung mereka akibat pelanggaran mereka terhadap isi perjanjian. Hukum Allah atas mereka yaitu semua lelaki mereka dibunuh, sedangkan para wanita dan anakanak mereka ditawan.

Dari Aisyah berkata: “Sa’ad (Sa’ad bin Mu’adz –pent) terluka di tengkuknya sewaktu perang Khandaq akibat terkena panah yang dilepaskan oleh seorang lelaki Quraisy bernama Ibnul ‘Irqoh. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam membuatkannya sebuah tenda di masjid agar beliau bisa selalu menjenguknya. Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pulang dari Perang Khandaq beliau meletakkan senjata dan bergegas mandi. Jibril alaihissalam pun menemui beliau sambil membersihkan debu dari kepalanya, lalu berkata, ‘Engkau meletakkan senjata? Padahal demi Allah kami belum meletakkannya, keluarlah kepada mereka’. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bertanya, “Kemana? Jibril alaihissalam menunjuk ke arah Bani Quraizhah. Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memerangi mereka hingga mereka menyerah kepada keputusan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, tetapi justru beliau menyerahkan keputusannya kepada Saad radhiyallahu anhu. Saad berkata: ‘Saya putuskan bahwa seluruh petempur mereka dibunuh, anak-anak dan wanitanya ditawan, dan harta mereka dibagi-bagi’. Urwah bin Zubair berkata: ‘Lalu aku diberi tahu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: ‘Sungguh, engkau telah memutuskan sesuai dengan keputusan Allah ta'ala tentang mereka’. (HR. Muslim).

Demikianlah, sikap keras dan tegas pada para pengkhianat itu adalah obat mujarab dan pelajaran amat berharga bagi yang lainnya.

Sebelumnyapun Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah mengusir Bani Nadhir dari tempat tinggal mereka dan merampas harta benda mereka setelah upaya mereka untuk membunuh beliau ketika sedang berada di tengah-tengah mereka dibongkar oleh Allah. Tidak lama setelah itu, beliau segera keluar untuk mengepung dan memerangi mereka, lalu Allah menolong beliau untuk mengalahkan mereka. Begitu juga beliau telah memerangi Bani Qoinuqo’ dan mengepung mereka. Demikian pula tindakan atas Yahudi Khaibar, beliau menyerang dan menaklukkan benteng-benteng mereka secara paksa (lihat: Sirah Ibnu Hisyam).

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga tidak pernah diam saja sekalipun terhadap satu orang muslim yang dibunuh secara khianat dan zhalim, tidak seperti kelakuan para juru dakwah busuk itu yang menggembosi kaum muslim agar tidak mengambil hak mereka dari orang yang membunuh, menumpahkan darah, dan memperkosa kehormatan mereka.

Ibnu Katsir berkata: “al-Waqidi berkata, ‘Pada bulan Syawwal tahun 6 H, Sariyah Kurz bin Jabir al-Fihri berangkat mengejar orang-orang Urainah yang telah membunuh penggembala unta Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan merampas untanya”.

Dari Anas radhiyallahu anhu bahwa serombongan dari suku Ukal dan Urainah pergi ke Madinah untuk bertemu Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan menyatakan keislamannya. Mereka berkata; “Wahai Nabi Allah, sesungguhnya kami adalah orang-orang penggembala ternak bukan orang-orang yang bisa bercocok tanam”. Ternyata mereka tidak suka tinggal di Madinah karena suhunya (hingga menyebabkan sakit). Akhirnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memerintahkan untuk memberikan sejumlah unta dengan penggembalanya agar mereka dapat meminum susu dan berobat dengan air seni unta-unta itu. Mereka lalu pergi, dan sesampainya di luar Madinah mereka kembali kafir, membunuh pengembala Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan merampas unta-unta beliau. Ketika peristiwa ini sampai kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, beliau langsung memerintahkan untuk memburu dan menangkap mereka. (Setelah berhasil ditangkap), beliau memerintahkan untuk men-tasmir mata mereka dengan besi panas, (attasmir artinya memanaskan batang besi lalu mendekatkannya ke mata tanpa menyentuhnya, hanya saja panasnya akan melelehkan mata) memotong tangan-tangan mereka, dan membiarkan mereka di bawah sengatan matahari sampai mati dalam kondisi seperti itu. (HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah hukuman Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, meski beliau melarang untuk mencincang, tetapi hukum qishash telah tetap terkait mereka dan orang-orang semisal mereka. Beliau tidak membiarkan para pembunuh sang penggembala bebas berkeliaran, tetapi beliau segera mengirim sariyah untuk mengejar dan menangkap mereka, lalu menerapkan hukum qishosh kepada mereka.

Pada waktu Fathu Makkah (semoga Allah mengulangnya kembali), Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memerintahkan untuk membunuh beberapa orang meskipun mereka berlindung di balik tirai Ka’bah. Dari Anas radhiyallahu anhu bahwa pada waktu penaklukan kota Makkah, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam memasuki kota Makkah sambil mengenakan penutup kepala diatas kepala beliau, ketika beliau membukannya, seorang laki-laki langsung menemuinya sambil berkata; ‘Wahai Rasulullah, ini Ibnu Khathal sedang bergelayutan di tirai Ka’bah.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Bunuhlah dia! (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari Sa’ad bin Abi Waqqosh radhiyallahu anhu berkata: “Pada waktu penaklukan kota Makkah, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menjamin keamanan semua orang selain empat lelaki dan dua wanita, beliau bersabda: “Bunuhlah mereka meskipun sedang bergelayutan di tirai Ka’bah”. (HR. an-Nasa’i)

Yang demikian itu adalah karena gangguan mereka kepada Islam dan kaum muslimin. Ternyata tirai Ka’bah yang mulia tidak mampu melindungi mereka dari syariat Rabbul ‘alamin setelah kekafiran berat yang mereka lakukan dengan lisan dan tangan mereka.

Inilah bukti-bukti dari “sirah” Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan masih banyak lagi, tanpa menafikan sifat lembut dan kasih sayang beliau, tetapi sebagaimana firman Allah ta'ala: (Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya mereka keras kepada orang-orang kafir dan saling berkasih sayang dengan sesama mereka). (QS. al-Fath: 29).

Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pasti akan melaksanakan perintah Allah ta'ala yang telah berfirman kepadanya: (Hai orang-orang beriman, perangilah orang-orang kafir yang terdekat dari kalian dan hendaklah mereka mendapatkan perlakuan kasar dari kalian dan ketahuilah bahwa Allah bersama orang-orang-orang yang bertaqwa). (QS. at-Taubah: 123)

Demikian juga, disamping beliau Shallallahu Alaihi Wasallam Nabiyur Rahmah (pembawa kasih sayang), beliau juga Nabiyul Malhamah (pengobar perang).

Adapun sikap melihat sisi terkait kelembutan dan kasih sayang beliau kepada para wali Allah, namun justru menerapkannya kepada musuhmusuh Allah, maka ini adalah manhaj para wali thaghut yang ingin supaya umat Islam mau bermudahanah (toleransi) dengan musuh-musuh mereka. Bahkan mereka ingin supaya umat Islam mentaati mereka jika ada jalan untuk itu. Namun jika seorang muslim bangkit untuk menyerang dan melukai musuh-musuh Allah, dan memperlakukan mereka seperti perlakuan mereka kepada umat Islam berupa pembunuhan dan pengusiran, niscaya para setan itu akan segera mengingkarinya dengan alasan perbuatan itu mencoreng nama baik Islam dan kaum muslimin. Islam apa yang mereka bicarakan dan agama apa yang mereka ikuti??

Sikap Keras Dan Tegas Kepada Orang-orang Kafir dalam Sejarah Khulafaur Rasyidin

Para sahabat radhiyallahu anhum adalah kaum yang paling lembut hatinya, paling ramah sikapnya, paling bagus pergaulan dan akhlaknya, dan paling bersemangat dalam menyebarkan Dien dan mengangkat bendera Islam. Mereka juga orang-orang yang paling bersemangat dalam berpegang teguh pada petunjuk nabawi dan ittiba’ sunnah Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam dalam semua perkara. Termasuk persoalan memperlakukan orang kafir dalam peperangan. Mereka adalah orang-orang yang keras terhadap orang kafir dan bersikap kasar terhadap mereka dengan menghunuskan pedang. Sehingga dengan itu mereka bisa meneguhkan pokok-pokok Din, menegakkan pondasi Islam, dan mengangkat bendera tauhid tinggi-tinggi.

Pemuka mereka dalam hal itu adalah ash-Shiddiq radhiyallahu anhu, yang dengan keteguhannya Allah meneguhkan Islam ketika beliau berazam untuk memerangi seluruh orang-orang murtad yang enggan melaksanakan satu syariat saja dari syariat Islam yang nampak dan mutawatir (disepakati), yaitu kewajiban membayar zakat. Beliau tidak membedakan antara mereka dengan orang yang kembali pada penyembahan berhala maupun yang mengikuti para pendusta. Oleh karena itu, beliau membentuk batalyon-batalyon tempur dan mengutus berbagai detasemen, seperti batalyon yang diserahkannya kepada pedang Allah yang terhunus Khalid bin al-Walid radhiyallahu anhu.

Dalam serbuan pertamanya, Khalid berhasil mematahkan dan memporakporandakan kekuatan pasukan Thulaihah bin Khuwailid al-Asadi dan sekutu-sekutunya dari kabilah Arab. Kemudian ash-Shiddiq menyuratinya dan menyuruhnya untuk menghabisi dan menuntaskan mereka.

Ibnu Katsir berkata: “Abu Bakar ash-Shiddiq menyurati Khalid ketika sampai kabar keberhasilannya mematahkan kekuatan Thulaihah dan sekutu-sekutunya; ‘Hendaknya nikmat Allah ini semakin menambah kebaikanmu. Bertaqwalah kepada Allah, karena Allah bersama orang-orang yang bertaqwa dan berbuat baik. Bersungguh-sungguhlah dalam aksimu, tidak perlu berlembutlembut. Jangan biarkan seorang musyrik pun yang berhasil engkau tangkap sedang ia telah membunuh kaum muslimin kecuali engkau habisi, pun juga orang yang menentang Allah atau menganggap baik hal itu yang berhasil engkau tangkap kecuali engkau bunuh’. (al-Bidayah wa an-Nihayah).

Sang Pedang Allah yang terhunus itupun melaksanakan perintah tersebut dengan sebaik-baiknya. Beliau segera mengejar sisa-sisa pasukan murtaddin yang terkalahkan itu dan mengqishash serta menghabisi mereka.

Ibnu Katsir berkata: “Selama sebulan beliau terus memburu mereka dan membalaskan darah kaum muslimin yang dibantai ketika mereka murtad. Diantara mereka ada yang dibakar, ada yang dihantam dengan batu, dan ada yang dilempar dari tebing tinggi. Semua itu agar orang-orang murtad yang mendengar kabar mereka bisa mengambil pelajaran”.

Tindakan ini juga sebuah terror bagi sisa-sisa murtaddin yang mengikuti kabar-kabar ini, sehingga sebagian dari mereka segera bertaubat dan taat, sedang yang lainnya tetap ngotot bertempur.

Ketika utusan Bazakhah datang meminta perdamaian kepada Abu Bakar ash-Shiddiq dan berjanji untuk kembali melaksanakan seluruh syariat Islam, beliau memberi mereka dua opsi yaitu perang yang membinasakan atau perdamaian yang menghinakan. Ibnu Katsir berkata: “Mereka berkata, ‘Wahai khalifah Rasulullah, kita mengerti apa itu perang yang membinasakan, lalu apa maksudnya perdamaian yang menghinakan? Jawabnya, ‘Peralatan tempur kalian diambil, dan kalian akan dibiarkan mengikuti ekor-ekor sapi sampai Allah memperlihatkan pada khalifah Nabinya dan orang-orang mukmin suatu perkara yang membuat kalian bisa dimaafkan. Kalian mengganti semua kerugian kami sedangkan kami tidak mengganti kerugian kalian. Kalian bersaksi bahwa prajurit kami yang terbunuh itu berada di surga sedangkan kalian yang terbunuh berada di neraka”. Diriwayatkan oleh Bukhari secara singkat.

Tindakan ash-Shiddiq radhiyallahu anhu ini merupakan penghinaan kepada orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya agar mereka sadar betapa buruk dan berbahanya aksinya itu. Dengan itu, beliau juga bermaksud mengamankan Daulah Islam dari ancaman mereka dengan melucuti senjata mereka setelah mereka bertaubat. Tindakan ini didasarkan pada kemuliaan Islam dan kaum muslimin. Sekalipun pertempuran dengan murtaddin belumlah selesai, namun beliau tetap mendesakkan syarat ini untuk menunjukkan kemuliaan negaranya dan kaum muslimin dan menghinakan orang yang memusuhi atau memeranginya.

Beliau juga bertindak sama kerasnya terhadap seorang murtad yang menipu dan memerangi kaum muslimin, yaitu Fuja’ah as-Sulami, dengan membakarnya.

Ibnu Katsir berkata: “Adalah ash-Shiddiq pernah membakar Fuja’ah di Baqi’. Sebabnya adalah, sebelumnya ia mendatangi Abu Bakar dan mengklaim telah beriman, kemudian meminta beliau menyiapkan sebuah pasukan untuk memerangi orang-orang murtad. Setelah pasukan itu disiapkan dan diberangkatkan, ternyata ia malah membunuh dan merampas harta setiap muslim dan murtad yang dilewatinya. Ketika hal itu terdengar oleh ash-Shiddiq, beliau segera mengirim pasukan untuk mengejar dan menawannya. Setelah berhasil ditawan ia diseret ke Baqi’, tangannya lalu diikat ke tengkuknya, dan dibakar dalam keadaan terjepit”.

Adapun di Yamamah, pertempuran tersengit berlangsung melawan orangorang murtad pengikut Musailamah al-Kadzab. Para sahabat radhiyallahu anhum terpaksa bekerja keras sampai berhasil menguasai dan menangkapi mereka, lalu menghabisi mereka.

Ibnu Katsir berkata: “Jumlah korban musuh yang terbunuh di Kebun Kematian dan pada pertempuran ini mencapai sepuluh ribu, atau dikatakan dua puluh satu ribu prajurit. Sedang kaum muslimin yang terbunuh mencapai tujuh ratus, atau dikatakan lima ratus prajurit”.

Ibnul Atsir berkata dalam al-Kamil: “Ketika itu surat Abu Bakar yang memerintahkan untuk membunuh setiap orang dewasa baru sampai di tangan Khalid sedangkan ia telah membuat perjanjian damai dengan mereka, sehingga ia tetap menepati perjanjiannya itu dan tidak mengkhianati mereka”.

Jikalau bukan lantaran perjanjian damai yang telah disepakati Khalid bin al-Walid dengan perwakilan Bani Hanifah sebelum surat Abu Bakar radhiyallahu anhu sampai di tangannya niscaya ia akan menghabisi mereka.

Sementara itu di Bahrain, setelah al-‘Ala bin al-Hadhrami radhiyallahu anhu berhasil mematahkan perlawanan murtaddin dan memporakporandakan mereka, orang-orang murtad itu kabur menyeberangi teluk.

Ibnu Katsir berkata: “Kemudian kaum muslimin memburu jejak orang-orang yang terkalahkan itu dan membunuhi serta membantai mereka, sebagiannya atau mayoritasnya kabur menyeberang ke pulau Darin”.

Kaum muslimin tidak memberi kesempatan pada mereka untuk sekedar menghela nafas. Mereka memutuskan untuk menyeberangi teluk dengan menaiki kapal. Namun ketika hal itu ternyata malah memperlambat mereka, al-‘Ala bin al-Hadhrami radhiyallahu anhu dengan bertawakkal kepada Allah memutuskan untuk menceburkan dirinya dan pasukannya ke teluk tanpa menaiki kapal.

Ibnu Katsir berkata: “Dengan izin Allah mereka berjalan menyeberangi teluk laksana pasir lunak yang mengambang, air hanya menyentuh kaki-kaki unta dan kuda tidak mencapai pelananya. Perjalanan menaiki kapal membutuhkan waktu sehari semalam, namun mereka berhasil mencapai pantai pulau itu, bertempur memporakporandakan musuhnya, lalu mengangkuti ghanimah dan kembali ke tempat semula hanya dalam waktu sehari saja. Tidak ada seorangpun tawanan yang tertinggal. Semua ghanimah diangkut dan hewan ternak digiring menuju Madinah”.

Seperti inilah seluruh operasi penumpasan para murtaddin, memporak-porandakan dan menghabisi mereka sampai mereka kembali kepada perintah Allah atau mati dalam kondisi murtad.

Setelah ash-Shiddiq selesai menumpas orang-orang murtad, barulah beliau memulai penaklukkan Iraq dan Syam. Orang-orang murtad adalah batu sandungan terbesar di jalan jihad fisabilillah dan penyebaran Islam di bumi yang harus dibasmi habis, sampai umat Islam bisa berkesempatan menyeru dan memerangi umat-umat lain berdasarkan perintah Allah.

Dalam salah satu pertempurannya melawan Persia Majusi, Sang Pedang Allah yang terhunus bersumpah untuk mengalirkan sungai dengan darah mereka.

Ibnu Katsir berkata: “Khalid berkata, ‘Ya Allah, aku bersumpah jika Engkau menguasakan mereka pada kami maka aku tidak akan menyisakan seorangpun dari mereka sampai mengalirkan sungai dengan darah mereka’. Kemudian Allah ta'ala menganugerahkan kemenangan kepada kaum muslimin. Penyeru Khalid segera berteriak, ‘Tawanlah, tawanlah, jangan dibunuh kecuali yang menolak ditawan’. Maka kuda-kuda datang bergelombang menyeret para tawanan. Kemudian beberapa prajurit diperintahkan untuk memenggal kepala para tawanan satu demi satu di tepi sungai. Hal itu terjadi selama sehari semalam. Hari berikutnya perburuan tawanan masih berlanjut, demikian juga esoknya. Tiap kali seorang tawanan berhasil ditangkap maka diseret ke tepi sungai dan dipenggal lehernya. Sampai air sungai tidak mengalir lantaran darah yang membeku. Maka sebagian komandan berkata kepada Khalid bahwa sungai tidak akan mengalirkan darah mereka sampai ia mengalirkan air untuk membuang darah yang menggumpal sehingga dengan demikian sumpahnya bisa dipenuhi. Dialirkanlah aliran sungai itu, sehingga air sungai memerah karena darah, karena itulah sungai itu kemudian dinamai sungai darah sampai saat ini. Saat itu korban tentara Persia mencapai 70.000 prajurit.”

Dalam salah satu pertempuran Khalid bin al-Walid melawan Romawi, salah satu komandan pasukan Romawi yaitu Mahan meminta berdialog untuk menegosiasikan kembalinya pasukan Islam ke Madinah, jawaban mengerikan Khalid membuatnya terdiam seribu bahasa.

Ibnu Katsir berkata: "Mahan berkata, ‘Kami mengerti kalian keluar dari negeri kalian itu karena faktor kelaparan dan kemisikinan. Kami akan berikan setiap dari kalian 10 dinar, pakaian, dan makanan dengan syarat kalian kembali ke negeri kalian. Demikian juga tahun depan akan kami kirim yang semisalnya pada kalian’. Maka Khalid berkata, ‘Yang engkau sebutkan itu bukanlah yang menyebabkan kami keluar dari negeri kami, tapi kami kaum peminum darah, dan kami mendapat kabar bahwa tidak ada darah yang lebih nikmat dari darah orang Romawi, itulah yang menyebabkan kami datang. Para pengiring Mahan berkata, ‘Yang demikian ini bukanlah yang diceritakan kepada kami tentang orang Arab’."

Di masa khilafah Ali radhiyallahu anhu muncul orang-orang yang ghuluw terhadapnya menganggapnya Tuhan, maka beliau memerintahkan untuk membakar mereka semua.

Disebutkan dalam Tarikh al-Islam oleh adz-Dzahabi: “Beberapa orang mendatangi Ali dan berkata, ‘Engkaulah Dia! Ali membalas, ‘Apa maksudmu? Siapa aku? Mereka berkata, ‘Engkaulah Dia! Balasnya, ‘Celaka kalian, apa maksud kalian? Mereka menjawab, ‘Engkau adalah Tuhan kami! Ali membalas, ‘Bertobatlah kalian! Namun mereka menolak, maka Ali pun memenggal leher mereka. Kemudian digalilah parit dan bangkai mereka diletakkan di dalamnya, kemudian Ali berkata, ‘Wahai Qunbur, ambilkan seikat kayu bakar’, lalu dibakarnya mereka sembari bersyair, ‘Ketika aku melihat perkara munkar, aku nyalakan api dan kupanggil Qunbur’. Kisah ini diriwayatkan secara ringkas oleh Bukhari dari Abbas, disebutkan juga bahwa Ali membakar orang-orang zindiq dalam keadaan hidup-hidup.

Kisah-kisah yang kita sebutkan disini hanyalah sedikit contoh dari tindakan para sahabat atas orang-orang kafir dan murtad ketika memerangi mereka. Siapa yang bertindak sesuai dengan petunjuk mereka maka sungguh telah selamat dan diberi petunjuk. Namun siapa yang hendak mengikuti selain petunjuk mereka maka Allah akan membiarkannya mengikuti manhaj-manhaj dan millah-millah yang sesat lagi menyesatkan. Lalu jika setelah itu ia mengklaim lebih baik dari mereka maka sungguh telah berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam, sedangkan Dialah yang memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.