DABIQ 15 - FEATURE
MENGHANCURKAN SALIB
“Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan), bahwa kita hanya akan mengibadahi Allah, tidak mempersekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain daripada Allah. Jika kamu berpaling maka Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (Ali ‘Imran: 64).
Sesungguhnya, Tuhan yang Maha Penyayang tidak akan pernah meninggalkan manusia tanpa petunjuk. Setiap kali manusia menyimpang dari meng-ibadahi-Nya, Ia mengutus kepada mereka seorang Rasul yang membawa peringatan dan kabar gembira. Mereka yang menyembah kepada selain Sang Pencipta, diperingatkan dengan hukuman, siksaan, dan ‘azab yang kekal, dan bagi mereka yang tekun mengibadahi Raja yang Haq, dijanjikan dengan ampunan, keselamatan, dan kebahagiaan yang kekal. Tetapi manusia lebih sering memilih untuk menjadi sesat.
Seruan dari Nuh sederhana, hanya menyeru kaumnya untuk menyembah Tuhannya Adam dan Tuhannya nenek moyang mereka yang meninggal tidak lama sebelum mereka, namun direspon oleh segelintir saja, sedangkan sisanya dihukum dengan air bah. Lalu Ibrahim yang menyeru ayah dan kaumnya untuk meniadakan berhala dan hanya menyembah Sang Pencipta namun ditolak dan dengan demikian ia berangkat ke negeri lain untuk melanjutkan melayani Tuhan. Setelah itu Yusuf putra Israil membawa cucu Ishaq ke Mesir, dimana mereka diperbudak oleh Firaun, Tuhan lalu mengirim Musa untuk menyelamatkan mereka, agar dapat mengabdikan diri sepenuhnya untuk beribadah hanya kepada-Nya hingga mereka akan memerintah negrinya dengan Hukum dan di bawah pengawasan-Nya. Dan bahkan setelah berbagai mukjizat disajikan kepada mereka, dari malapetaka yang dikirim kepada rakyat Firaun hingga pemisahan laut dan turunnya manna (makanan) dari langit, beberapa diantara mereka mempercayai Musa, sedangkan yang lain mengambil -pada saat yang sama– sesuatu yang diciptakan untuk disembah dan bukannya menyembah Sang Pencipta itu sendiri. Kemudian, untuk membeberkan kecurangan orang-orang Yahudi dan untuk menyatakan turunnya lagi sebagai al masih yang dijanjikan dan menghadapi dajjal di akhir zaman, Yesus Putra Maryam datang kepada Bani Israil, namun menemui perlawanan yang sengit. Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah yang menjelaskan fenomena penolakan mayoritas manusia dari kebenaran, "Tapi kebanyakan manusia menolak (untuk mengikuti segala sesuatu ) kecuali mengingkari (nya)" (Al-Isra : 89).
Sebagaimana telah mahsyur bahwa utusan ini tidaklah datang dengan tangan kosong. Masing-masing diantara mereka membawa sebuah pesan bersamanya dan sering dalam bentuk naskah (kitab) suci, sesuatu untuk dibaca dan difahami oleh orang-orang terpelajar, namun dengan perintah sederhana untuk menunggalkan ibadah kepada Sang Pencipta yang bahkan dapat diikuti oleh orang yang buta huruf.
Musa membawa Taurat ditempat dimana Bani Israil memerintah selama beberapa generasi. Namun mereka tersesat dari seruan aslinya, dan bahkan para ahli Taurat mereka sendiri mengubah teks Taurat sebagaimana kesaksian Tanakh[1], "Bagaimanakah kamu berani berkata: Kami bijaksana, dan kami mempunyai Taurat Tuhan? Sesungguhnya, pena palsu penyurat sudah membuatnya menjadi kedustaaan" (Yeremia 8: 8)[2].
Lalu Yesus membawa Injil, membenarkan apa yang datang sebelumnya dan mengizinkan Taurat – atasizin Tuhannya– tapi ada beberapa yang dilarang di dalamnya. Diriwayatkan bahwa ia berkata, "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya" (Matius 5:17). Bagaimanapun juga, Injil dirusak sebagaimana Taurat yang tidak sepenuhnya dipertahankan dan bahkan diubah. Teks aslinya seakan hilang dan yang tersisa hanyalah naskah tertua yang ditulis terkait dengan komentar terhadap aslinya. Jadi, bukannya "Injil Yesus" yang telah diubah, namun seseorang hanya akan menemukan Injil menurut Matius, atau Mark, atau Lukas, atau Yohanes. Masing-masing memiliki gaya unik tersendiri dalam mengambil berbagai aspek ajaran Yesus, kadang bertentangan satu dengan lain. sederhananya, kitab asli mereka telah hilang dan mereka tersesat.
Sesuai dengan cara ilahi dari Tuhan, Rasul lain dikirim untuk membawa gembala yang hilang agar kembali ke jalan kebenaran. Dia merupakan Nabi yang ditunggu yang dinubuatkan oleh Musa dan didukung oleh nubuat Yesus. Selain itu, ia akan membawa pesan dan perlindungan sebagai penutup para nabi, Rasul terakhir ini dikirim tidak ke Bani Israil saja - tetapi kepada semua umat manusia.
Allah yang mengutus Musa dan Yesus dan Dia juga yang mengutus Muhammad, tentang ini Dia berfirman, "Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu. tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi." (Al-Ahzab: 40), dan tentang wahyu, Dia berfirman, "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya" (Al-Hijr: 9).
Mencari Kebenaran
Kedustaan harus ditolak karena itu adalah dusta, sebagaimana kebenaran harus diterima dan diikuti karena itu adalah benar. Ini bukan soal tradisi karena Tuhan telah memerintahkan semua bangsa untuk menyembah-Nya. Bahkan orang Pagan yang berpura-pura dengan alasan bahwa agama tidak lebih dari tradisi keluarga tidak boleh tertinggal dari menerima seruan yang sebenarnya. Tidak boleh ada yang tertinggal.
Demikian juga, tidak ada ummat -tidak peduli seberapa murni awalnya– yang bebas dari infiltrasi yang merusak. Bahkan ummat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam seperti tahun-tahun yang berlalu setelah kematiannya, menjadi korban dari berbagai penyimpangan dalam iman -beberapa bahkan sampai murtadd- di tangan orang-orang yang menolak memahami iman dengan benar akan ke-Esa-an Allah, dan hukum ilahi secara umum.
Ini adalah sebagaimana yang di nubuatkan oleh Rasulullah, “Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob, pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?" (Al-Bukhari dan Muslim).
Meskipun penyimpangan dari orang-orang Kristen dan Yahudi sudah tidak diragukan lagi kejelasannya, sebagaimana telah dijelaskan Qur’an dan Sunnah[3] Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam secara rinci kepada kami, seseorang tidak perlu melihat terlalu jauh ke dalam sejarah mereka, cukup merujuk pada teks Alkitab atau tulisan Gereja untuk melihat penyimpangannya. Bahkan, Alkitab menyatakan, "Sesungguhnya, pena palsu penyurat sudah membuatnya menjadi kedustaaan" (Yeremia 8: 8).
Demikian juga, Paulus dari Tarsus yang menyatakan diri sebagai Rasul adalah seorang penjahat yang dikenal karena menganiaya orang beriman dan bahkan mengaku sebagai pembohong, namun ia diangkat sebagai sumber terpenting dalam Trinitarian Kristen[4], yang hidup lebih lama dengan segala kekarasan terhadap pendahulu mereka (Unitarian).
Jadi bagaimana kita menentukan bahwa kitab suci itu benar dan otentik? Setidaknya ada tiga kondisi utama agar setiap orang berakal dapat menyimpulkan dasar otentikasi teks yang diklaim berasal dari Tuhan.
Pertama, bahwa wahyu itu murni, tidak ternoda oleh keyakinan syirik, seperti Monotheisme (tauhid) yang sesungguhnya yang merupakan satu-satunya bentuk yang dapat diterima seseorang sebagai keyakinan bagi kaum yang merenungkan alam semesta.
Kedua, bahwa wahyu harus bebas dari kontradiksi, karena kontradiksi itu tidak layak bagi Tuhan yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui. Ini tidak berarti bahwa itu bersih dari apa yang mungkin tampaknya "bertentangan," tetapi melalui analisa, pelajaran dan penemuan, kita dapat menyimpulkan bahwa dua hal yang seolah-olah bertentangan itu merujuk pada situasi atau konteks yang berbeda. Sebaliknya, seharusnya tidak boleh ada kontradiksi yang tak terdamaikan.
Syarat ketiga adalah keotentikan berdasarkan periwayatan. Artinya, harus dibuktikan bahwa itu diturunkan dari generasi ke generasi oleh periwayat terpercaya, sehingga dapat menunjukkan bahwa wahyu itu benar diberikan oleh Nabi tersebut dan bukan oleh yang lain.
Mematahkan Salib
Ketika al Masih (Yesus bin Maryam) turun pada akhir zaman untuk melawan Dajjal –al-masih palsu- dan pasukannya, ia akan membongkar semua dongeng terkait penyaliban dan “ketuhanannya” sekali dan selamanya. Ini terjadi saat dia mematahkan salib, sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, "Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh telah dekat turunnya putera Maryam di tengah-tengah kalian sebagai hakim yang adil, dia akan mematahkan salib, membunuh babi, menghentikan jizyah dan melimpahkan harta sehingga tidak ada seorang pun yang mau menerima pemberian harta, dan hingga satu kali sujud lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (Al-Bukhari dan Muslim).
Dalam penghambaan kepada Tuhan yang Maha Pencipta dan Raja yang sebenarnya, maka bagian dari misinya adalah untuk mematahkan salib dan untuk menghancurkan gagasan palsu Kristen yang diikuti oleh jutaan orang bodoh. Kondisi tersebut di atas menjadi dasar dalam menilai ahli kitab yang benar, dan menunjukkan bahwa agama sejati Yesus Kristus adalah penyerahan diri kepada monoteistik (Tauhid) murni -yang disebut Islam- dan ketika ia turun kembali pada akhir zaman, Al-Masih akan mematuhi Hukum Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan berjihad di jalan Allah.
Lebih jauh lagi, ketika ada kutipan Alkitab yang disebutkan di sini, itu tidaklah dapat diterima sebagai wahyu ilahi dalam bentuk kata aslinya. Namun, sebagaimana dikonfirmasi oleh Qur’an, Musa tidak diragukan lagi telah menerima Taurat, Dawud menerima Mazmur (Zabur), dan Yesus menerima Injil. di dalamnya terdapat perintah untuk menyembah (meng-esa-kan) Tuhan dan mengikuti Nabi Muhammad sebagai bukti bagi Ahli Kitab. Demikian juga, bila ada seruan apapun kepada paganisme, meremehkan para nabi, dan kontradiksi, maka itu pasti alkitab palsu. Adapun apa yang belum diverifikasi atau dijelaskan oleh Qur’an dan Sunnah, kemudian karena keraguan yang mengelilingi beberapa bagian terpelihara dari Taurat, Zabur, dan Injil dan bagian yang diselewengkan, seseorang tidak akan bisa menguatkan hal itu dan juga tidak dapat menyangkalnya.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengatakan, "Janganlah kalian membenarkan perkataan Ahli Kitab dan janganlah kalian dustakan mereka" (Al-Bukhari).
Nama "Allah"
Kata "God" dalam bahasa Inggris memiliki berbagai asal-usul teoritis. Apapun itu tidak ada hubungannya dengan kata yang diucapkan oleh keluarga Semit dari nabi yang ayahnya adalah Ibrahim, dengan keturunannya termasuk Musa, Yesus, dan Muhammad. Adapun bahasa keluarga yang diucapkan oleh para nabi, maka mereka menggunakan akar huruf ALH (Ibrani אלה, Suryani ܗ ܠܐ, Arob اله) sebagai yang tertinggi. Dalam bahasa Ibrani, nama Maha Kuasa adalah אלהים "Elohim," dengan “im” menjadi akhiran penghormatan. Dialek Suryani Aram untuk panggilan Tuhan adalah ܐܗ ܠܐ "Elaha." Bahkan bahasa seperti Kasdim sebelum Semit yang diucapkan pada masa Ibrahim dalam menyebut Pencipta sebagai 𐎛𐎍 "Il," tanpa H, juga merupakan bahasa Arab untuk kata (ال) yang terkait dengan keTuhanan. setelah Abu Bakar ash-Shiddiq mendengarkan beberapa “wahyu” yang di klaim Musailamah al-Kazzab, ia mengatakan: "Ini bukan dari Il," yaitu tidak diwahyukan ilahi.
Disebutkan dengan Kuat dalam kamus bahasa Ibrani, bab 410 bahwa "el atau ale" digunakan dalam referensi untuk apapun yang berhubungan dengan "Allah (Tuhan)," seperti dalam nama yang diakhiri dengan el, contoh: Israel, Gabriel, Michael, dan sebagainya.
Walaupun kata "god" telah menjadi kata dalam bahasa Inggris yang hanya berarti "sesuatu yang disembah," tapi itu tidaklah benar untuk menggunakan kata "God" sebagai nama yang tepat untuk Sang Pencipta, sebagaimana Dia telah menyebut diri-Nya dalam sejumlah teks Semit dengan akar ALH.
Dengan demikian, setiap orang harus mematuhi acuan Tuhan dengan nama sebenarnya-Nya, dengan apa yang telah Dia sebutkan oleh salah satu nabi Semit - seperti Musa, Yesus dan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dan bahwa nama dalam Bahasa Arab -satu-satunya bahasa Semit yang dijaga- adalah الله "Allah", yang berasal dari kata اله "ilah," yang berarti "Dzat yang paling berhaq untuk disembah."
Keaslian Tekstual
Salah satu aspek terpenting dari setiap teks yang mengklaim kebenaran agama adalah keasliannya. Harus diketahui apakah Alkitab itu benar-benar kitab dari yesus. Dalam jalur riwayatnya, sebagian besar Alkitab pada umumnya ditulis oleh penulis yang tidak dikenal. Demikian juga dengan sejarah dan teks Alkitab itu sendiri menampakkan banyak keraguan tentang keaslian dari keseluruhan isi kitab suci ini.
Yahudi memiliki sejarah tentang negaranya sejak berdiri hingga mendapat pijakan di tanah (kekuasaan). Meskipun pada akhirnya kalah, namun mereka memiliki cukup waktu untuk mengedarkan Taurat, namun para ahli Taurat penipu yang dibebani untuk menjaganya malah merubahnya. Yeremia 8: 8 berbunyi, "Bagaimanakah kamu berani berkata: Kami bijaksana, dan kami mempunyai Taurat Tuhan? Sesungguhnya, pena palsu penyurat sudah membuatnya menjadi kedustaaan." Pada ayat ini, Adam Clarke seorang sarjana Alkitab berkomentar, "Pernyataan untuk mengatakan bahwa orang-orang Yahudi tidak pernah memalsukan firman suci adalah pernyataan yang terlalu berani; mereka telah melakukannya lagi dan lagi. Mereka telah menulis kepalsuan-kepalsuan ketika mereka tahu mereka seperti apa" (komentar terhadap Alkitab). Dan ini diverifikasi oleh Allah dalam firman-Nya, "Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya " (An-Nisaa’: 46), dan juga firman-Nya, "Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: "ini (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah", padahal itu bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui" (Ali ‘Imran: 78).
Adapun orang-orang Kristen pada masa awal termasuk murid-murid Yesus, berbeda pada waktu itu, dan murid-murid mereka, maka mereka tidaklah memiliki tempat aman. Mereka tidak memiliki otoritas. Hidup, mereka ditempa dengan penganiayaan, dan dengan demikian mereka berada pada ketidakjelasan. Jadi tidaklah mengherankan ketika tidak ada naskah asli yang selamat dari kitab suci Kristen, atau bahkan riwayat lisan yang otentik daripadanya.
Mengenai para penulis dari Injil yang bahkan diantara mereka yang mengaku sebagai murid-murid Yesus, mereka tidaklah memiliki bukti pendukung.
Injil Matius tidak menyebutkan penulisnya, bahkan nama "Matius" ditambahkan setelahnya.
Injil Markus konon ditulis oleh Mark Penginjil, seorang murid yang menolak Kristus tetapi kemudian diduga bertobat namun kepenulisannya diragukan karena naskah yang paling awal dibuat pada abad ke-4.
Injil Lukas dikatakan ditulis oleh seorang Yunani dan bukan murid Yesus, melainkan dari Paulus yang juga bukan murid Yesus. Dan kepenulisan injil ini juga diragukan.
Adapun Injil Yohanes, itu ditulis oleh beberapa perevisi, tapi Yohanes Penginjil bukanlah diantara mereka.
Selain itu, bahasa adalah hal terpenting dalam kitab suci apapun, sebagaimana wejangan dapat dipahami dengan baik melalui bahasa yang ditulis - dan wahyu ilahi sepenuhnya dapat dipahami melalui ungkapan bahasa. Aram dituturkan oleh beberapa orang di zaman Yesus. Dan Ibrani adalah bahasa bersejarah bangsa Israil. Namun, salinan paling awal dari wejangan Kristen (yang bahkan tidak asli, dan tidak ada aslinya) ditulis dalam bahasa Yunani Koine, bahasa resmi pemerintahan Romawi Timur.
Jadi, seharusnya tidak ada keraguan bahwa teks Alkitab modern bukanlah kata-kata (yesus) yang sebenarnya dan juga bukan ajaran yang sebenarnya dari para nabi asli seperti Musa dan Yesus. Untuk lebih menunjukkan ini, seseorang hanya perlu melihat begitu banyaknya kontradiksi dan pernyataan palsu yang ditemukan di seluruh alkitab itu sendiri.
Dari Halaman Paling Awal
Segala puji hanya bagi Allah yang membuat kebenaran menjadi mudah dan jelas bagi mereka yang mencarinya. Para ahli Alkitab digerakkan oleh ketidaktahuan dan kesombongan mereka untuk menulis hal-hal yang tidak bisa diterima oleh manusia berakal, terutama bagi seseorang yang mengaku beriman kepada Tuhan yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui. kontradiksi ini tampak jelas pada halaman pertama dari Taurat yang dipalsukan.
Dalam kitab pertama dari Perjanjian Lama ditemukan, "Kemudian tuhan allah memberikan perintah kepada manusia itu, "Engkau boleh makan dari pohon apa pun yang ada di taman ini, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya pastilah engkau mati" (Kejadian 2:16-17).
Dengan demikian para ahli Taurat Yahudi mengutip perkataan Pencipta dengan menyatakan bahwa jika Adam memakan buah dari pohon pengetahuan tentang baik dan jahat, ia akan mati pada hari itu juga. Setelah itu mereka menyebutkan kisah Setan - ular - yang menggoda istri Adam. "Ular adalah yang paling cerdik dari semua binatang liar di padang yang diciptakan tuhan allah. Katanya kepada perempuan itu: "Tentu allah berkata, 'Janganlah engkau makan buah dari pohon mana pun di taman ini bukan? Perempuan itu berkata kepada ular: "Kami boleh memakan buah dari pohon-pohon di taman, tetapi kami tidak boleh makan dari pohon yang ada di tengah taman. allah berkata, 'Jangan engkau makan buah dari pohon itu; menyentuhnya pun jangan, atau kamu akan mati.' Akan tetapi, ular itu berkata kepada perempuan itu, "Kamu sama sekali tidak akan mati, sebab allah tahu, jika kamu memakan buah dari pohon itu, matamu akan terbuka dan kamu akan menjadi seperti allah; mengetahui tentang yang baik dan yang jahat! “ (Kejadian 3:1-5).
Jadi di sini para ahli Taurat mengatakan bahwa "allah" mengatakan kepada Adam bahwa ia akan mati jika makan dari pohon ini, dan di sini Setan menyebut "allah" sebagai pembohong, alih-alih mengatakan mati, setan malah berkata bahwa siapa pun yang makan dari pohon itu maka akan menjadi seperti "allah", Tentu saja Setan adalah pembohong, tetapi kebohongan ini dibenarkan para ahli Taurat yang berdiri memihak Setan dan setuju dengannya, yang dijelaskan di ayat-ayat setelahnya, bahwa setelah Adam dan istrinya makan dari pohon itu, mereka tidak mati, tetapi sebaliknya malah ditemukan, "Lalu, tuhan allah berkata, "Lihatlah, manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita; ia tahu tentang yang baik dan yang jahat. Sekarang, jangan sampai ia juga mengambil buah dari pohon kehidupan dan memakannya sehingga ia dapat hidup kekal." (Kejadian 3:22).
Penyebutan bahwa pohon dapat memberikan kehidupan kekal menunjukkan bahwa Adam pada awalnya adalah makhluk yang dapat mati menurut Alkitab, sehingga menyangkal penafsiran seseorang yang mengatakan bahwa setelah makan dari pohon pengetahuan, adam menjadi makhluk yang dapat mati, atau hanya "mati" simbolis pada hari itu.
Ada juga kontradiksi teologis yang dimulai dengan kaidah dasar, seperti, "Lagi pula, Sang Mulia (tuhan) dari Israil tidak akan berdusta dan tidak akan menyesal, sebab Ia bukanlah manusia sehingga harus menyesal" (1 Samuel 15:29). Namun dalam bab yang sama, ditemukan bahwa, "Datanglah firman tuhan kepada Samuel, demikian, Aku menyesal karena telah menjadikan Saul sebagai raja, (1 samuel 15: 10-11).
Cacat yang mirip ini dianggap berasal dari Tuhan diseluruh Alkitab; Dia jauh lebih mulia diatas klaim sesat tersebut. Misalnya, dalam Taurat mereka yang diubah, ditemukan, "tuhan menyesal telah menciptakan manusia di bumi, dan hal itu menyakitkan hati-Nya." (Kejadian 6:6), serta, "Maka pada masa itu bersesalah Tuhan, akan celaka yang hendak didatangkan-Nya atas segala umat-Nya, seperti firman-Nya" (Keluaran 32:14), dan kata Ibrani untuk "menyesal" di sini adalah sama dengan yang digunakan untuk "menyesal" dalam 1 Samuel.
"Perubahan hati" ini jelas adalah dusta terhadap Tuhan, karena pengetahuan dan kebijaksanaan-Nya jauh melewati ketetapannya, sesuatu yang tidak akan pernah Dia sesali.
Pola kontradiktif dan tidak masuk akal ini berlanjut di sepanjang sebagian besar Perjanjian Lama dan Baru - akan disebutkan lebih lanjut. Beberapa contoh menyebabkan seorang murid yang berdedikasi akan memberikan jawaban yang kacau dalam menjawab pertanyaan sederhana terkait sejarah, terutama ketika kita menganggap bahwa sejarah itu terinspirasi ilahi. Alkitab juga penuh dengan inkonsistensi numerik dan kebingungan yang tidak dapat diterima sebagai teks asli yang sempurna, karena dikatakan, "Karena Tuhan tidak menghendaki kebingungan" (1 Korintus 14:33, KJV).
Trinitas Pagan Vs Tauhid Murni
Dalam konsep Trinitas, "Tuhan" terdiri dari tiga orang dan semuanya "Tuhan" itu sendiri, khususnya "Tuhan" Bapa, "Tuhan" Anak, dan "Tuhan" Roh Kudus adalah pilar dari teologi pagan Kristen. Tapi itu tidak selalu begitu. Sebenarnya, seseorang dapat menemukan tidak bersambungnya antara sejarah dan keyakinan dalam masalah ini, dari Gereja Romawi Timur di syam dan Gereja Romawi barat di Byzantium, dimana yang terakhir mendukung konsep pagan keTuhanan manusia dan yang sebelumnya membuat pemisahan yang jelas antara Tuhan dan manusia.
Contohnya, Theodotus Byzantium (akhir abad ke-2 Masehi) adalah seorang penulis Kristen dari abad kedua yang percaya bahwa Yesus adalah manusia biasa, yang lahir dari Perawan Maria dan yang di usapi minyak, yaitu Kristus yang di dibaptis. Ada juga Paulus dari Samosata (200-275 M), yang merupakan Uskup Antiokhia -bukan posisi rendah- yang percaya dan memberitakan bahwa Yesus bukanlah Tuhan atau bagian dari beberapa konsep politeistik yang disebut "Trinitas". Namun karena keluhan dari para pendeta Trinitarian Italia, Aurelian, kaisar Romawi (sesama pagan) membantu menyingkirkan Paulus dari jabatannya. Bahkan beberapa "orang-orang kudus Gereja yang diakui" menolak Trinitas, termasuk Lucian dari Antiokhia yang tewas atau terbunuh pada 312 M.
Perdebatan antara Trinitarian dan Unitarian mencapai puncak popularitasnya pada abad keempat dari kalender Kristen antara Arius (250-336 M) dan Athanasius (296-373 M). Arius, yang mengadopsi keimanan Lucian dari Antiokhia menyatakan bahwa Yesus –yang diberkahi dengan kenabian dan kelahiran dari perawan- adalah manusia yang menghamba kepada Sang Pencipta Yang Maha Kuasa. Athanasius, di sisi lain adalah pendukung setia gagasan pagan bahwa Yesus adalah -"Anak Tuhan"– memiliki esensi yang sama seperti "Bapa," dan membuat keduanya sama dan menjadi satu bersama dengan "Roh Kudus", sebuah keTuhanan Tritunggal.
Upaya untuk menyelesaikan sengketa ini dipresentasikan di Konsili Nicea Pertama pada 325M, di mana keputusan terkenal Nicea dibuat setelah Trinitarian menang jumlah atas Unitarian. Hal ini mengakibatkan sejumlah uskup dari berbagai bagian Kekaisaran Romawi dikucilkan karena berpihak kepada Arius dan menolak Trinitas. Tapi ini tidak berlangsung lama, karena setelah itu kita menemukan beberapa uskup agung Konstantinopel, seperti Eusebius dan Eudoxius mengikuti keyakinan "Arian" dan berhasil mencopot Athanasius dari jabatannya.
Selanjutnya, daftar uskup lainnya yang mendukung keyakinan "Arian" terkait teologi tunggal meluas, dan tipuan ilmiah serta skema politik itu dibuat hanya untuk menggambarkan bahwa mayoritas Kristen selalu berada pada keyakinan Trinitas. Sebaliknya, telah jelas bahwa konsep Trinitas telah dimodifikasi berabad-abad lamanya untuk memenuhi tuntutan politik masyarakat Romawi, untuk menenangkan kaisar pagan dan elit musyrik.
Sesungguhnya, Hal ini jelas bagi mereka yang mempelajari sejarah dan mereka yang tahu bahwa tanggal 25 Desember –yang dipilih oleh kaum trinitas sebagai hari lahir Yesus- adalah hari dimana Roma pagan merayakan kelahiran Sol Invictus, “Dewa matahari" mereka.
Pertempuran antara Trinitas dan Unitarian kemudian membentuk Kristen, meskipun awalnya konflik ini hanya berkisar agama, namun akhirnya yang memutuskan untuk "Gereja" adalah kekuatan politik. Khususnya para kaisar Romawi pada abad keempat yang memainkan peran kunci dalam pertempuran ini. Constantine, Kaisar Pagan Romawi mendukung sekutu Trinitariannya dan membakar semua tulisan Arius. Namun, di ranjang kematiannya, Constantine menerima pemahaman Kristen Arius dan dibaptis oleh Eusebius dari Nikomedia yang merupakan pendukung terkuat Arius pada saat itu. Eusebius juga bertugas mengirimkan guru Arian untuk mengajar agama ke orang-orang Kristen Gothic pertama, yang akhirnya menolak Trinitas pada generasi berikutnya. Anak Constantine, Constantine II dan Konstans memiliki motivasi politik untuk mendukung Trinitarian, sementara saudara mereka Constantius II berpendapat dan mengikuti Arian. Yang terakhir digantikan oleh Julian, murtaddin dari agama Kristen ke pagan penyembah berhala Romawi, yang sedikit peduli dengan sengketa kedua belah pihak. Kemudian Jovian, yang mendukung Trinitas, dan sesudah dia Valens - seorang pengikut Arian. Tapi kematiannya membawa akhir bagi dukungan kekaisaran untuk Unitarianisme dan kaisar Romawi berikutnya membuat trinitas Kristen sebagai agama negara.
Perselisihan ini melahirkan berbagai sekte selama berabad-abad. Lalu datanglah Aetius dari Antiokhia yang menolak Trinitas bersama sejumlah uskup, termasuk Theodulus, Eunomius, Paemenius dan Euphronius, serta sejarawan Philostorgius. di abad kelima yang mengikuti mereka adalah Nestorius (386-450 M), Uskup Agung Konstantinopel, pendeta dengan peringkat tertinggi pada awal Gereja Timur. Dia menolak memanggil Maryam dengan ΘΕΟΤΌΚΟΣ "yang melahirkan allah," yang berarti menolak "KeTuhanan" Yesus sendiri. Setelah menghadapi penyiksaan oleh Trinitarian, pengikutnya dipaksa untuk mengakui kesalahan atau melarikan diri. Sebagian besar melarikan diri ke Arab, di mana Nabi yang ditunggu yang disebutkan dalam kitab Ulangan.
Meskipun perdebatan sejarah hanya berkisar Trinitas, logika sederhana membuktikan sifat politeistik dari konsep ini. Karena trinitas mengaku bahwa "Bapa adalah Allah," "Anak adalah Allah," dan "Roh Kudus adalah Allah," dan masing-masing mereka orang yang berbeda, maka tidak diragukan lagi ada tiga "Tuhan" dalam doktrin ini. Definisi politeisme adalah "kepercayaan terhadap banyak Tuhan," jadi menurut definisi, Kristen trinitas adalah agama kesyirikan. Bantahan mereka bahwa trinitas adalah misteri, tidak lain hanyalah sebuah penolakan akan tugas menjawab tanpa argumen karena kebodohannya. Mereka dapat melakukan lebih baik untuk mengenali ketiadaan trinitas dalam Yahudi pra-Kristen, serta mempertimbangkan ayat teologis terkait dalam Perjanjian Lama, seperti dalam, "Sebab Akulah Tuhan, Aku tidak berubah" (Maleakhi 3: 6).
Adapun bukti tekstual yang disediakan oleh pendeta mereka, maka itu hanya sedikit sekali dan benar-benar tidak dapat diterima. Konsep Trinitas adalah aspek terpenting dari teologi Kristen modern, karena ia adalah gagasan utama di sekitar objek dalam setiap ibadah Kristen. Namun, meskipun dengan makna ekstrim, tidak ada teks langsung di seluruh Alkitab yang menunjukkan keyakinan ini. Artinya, tidak ada ayat yang langsung menyatakan bahwa "Allah adalah tiga: Bapa, Anak, dan Roh Kudus" ini menimbulkan masalah besar bagi pendeta trinitas, solusinya hanya dengan memasukkan perubahan tersebut ke ayat yang ada, menipu penganut yang tak terhitung jumlahnya agar percaya bahwa Trinitas didukung oleh Alkitab. Pada bagian pertama dari surat-surat Yohanes, akan ditenemukan, "Karena ada tiga yang menjadi saksi di surga, yaitu Bapa, Firman dan Rohul kudus, maka ketiga-Nya itu menjadi Satu" (1 Yohanes 5: 7, KJV).
Ayat ini mengandung apa yang disebut Comma Johanneum, klausul yang mengikuti kata-kata "karena ada tiga yang menjadi saksi." Terlepas dari asal-usulnya yang diperdebatkan, ada kesepakatan tekstual yang menyebutkan bahwa tekstual "Bapa, Firman, dan Roh Kudus " adalah palsu, yang tidak ditemukan di naskah tertua dan tidak digunakan oleh Trinitarian dalam menghadapi Arius dan pengikutnya – karena jika itu otentik, pasti akan diambil sebagai bukti pendukung. Dengan demikian, versi yang lebih baru dari Perjanjian Baru menghilangkan modifikasi ini. Namun, masih ditemukan di terjemahan Latin "resmi" dan Eropa Barat, yang digunakan oleh kebanyakan orang Kristen pada ratusan tahun terakhir.
Yang Lain mencoba untuk membenarkan Trinitas dari segi bahasa, merujuk ke kata Ibrani untuk Yang Maha Kuasa, אלהים "Elohim," yang secara tata bahasa "plural." Tapi jika pluralitas adalah konteks di mana mereka berusaha untuk memahami kata "Elohim," mereka harus mengakui bahwa ada beberapa Tuhan dan bukan hanya satu. Adapun diantara mereka yang tak tahu malu yang akan mengakui ini, mereka kemudian harus mengakui diri mereka sebagai musyrik (politeis). Sebaliknya, akhiran jamak ים –“im” digunakan di sini dan di tempat lain sebagai "plural," yang merupakan referensi untuk satu kesatuan dan meninggikan penyebutkan melalui pluralitas. Ini tidak berbeda dengan penggunaan kata yang sangat umum, dalam seluruh Qur’an yang sangat monoteistik dalam bentuk jamak megah untuk Allah, Dia berfirman, "Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku." (Al-Anbiyaa’: 25).
Yesus Tak Punya Ayah
Bersama dengan Trinitas, diskusi penting dalam sejarah Kristen adalah terkait sifat Yesus. Kemungkinan besar dikarenakan populasi pendeta yang berasal dari latar belakang agama penyembah "dewa" Olympia dan "anak-anaknya," yang mereka pandang sebagai "setengah dewa," pertanyaan tentang Yesus -yang mereka sebut "Anak Allah"- adalah signifikan kepada mereka. Daripada menerimanya sebagai seorang manusia biasa seperti nabi lain sebelumnya, mereka berusaha untuk mengangkat statusnya sebagai keturunan ilahi untuk meredakan kecenderungan pagan mereka.
Kata Aram untuk anak adalah בר "bar." Kata yang sama juga bisa berarti "ahli waris," "kekasih" atau "murni," seperti dalam Mazmur 73: 1, yang meliputi לברי לבב "li-bari Lebab," "yang memiliki hati murni." Jika Yesus benar-benar mengakui dirinya sebagai "bar" Allah, seperti klaim orang Kristen, maka itu berarti bahwa ia mewarisi pesan dari Allah, atau ia kekasih Allah, atau bahwa ia murni penyembah Allah. Dengan pilihan lain dalam memahami kata ini, mengapa "Gereja" bersikeras bahwa makna “bar” hanyalah "anak?" bisa saja terjemahan yang buruk dari bahasa Ibrani dan Aram ke Yunani dan Latin yang harus disalahkan, karena kebanyakan dari "Gereja Bapa" adalah orang asli Yunani dan asli Latin. Tapi kemungkinan besar pengaruh pagan pra-Kristen Roma adalah faktor terbesar dalam penyimpangan tersebut.
Apapun itu, penyimpangan lain yang jelas adalah klaim bahwa Yesus tidak hanya "Anak Allah," tetapi bahkan "Anak Tunggal", sementara David mengklaim bahwa yesus telah berkata, "Tuhan berkata kepadaku, 'Engkaulah Anak-Ku; hari ini aku harus menurunkanmu" (Mazmur 2: 7). Dalam Keluaran, Musa diduga diberitahu oleh Tuhan, "Kemudian kamu akan berkata kepada Firaun: Beginilah firman Tuhan, Israil adalah anak sulung ku" (Keluaran 4:22). Ada beberapa contoh lain dalam Alkitab yang menyebutkan yang seharusnya menjadi "anak-anak Allah," mereka itu termasuk malaikat, seperti dalam Kejadian 6: 2 dan Ayub 1: 6, atau semua orang yang membuat perdamaian, seperti dalam Matius 5: 9, atau semua yang dipimpin oleh "Ruh Allah," seperti dalam Roma 8:14, atau semua orang yang percaya, seperti dalam Yohanes 1:12 dan Galatia 3:26. Argumen penyesalan bahwa ada perbedaan antara "diperanakkan", yaitu lahir, dan menjadi anak simbolik dilupakan oleh kata-kata Penginjil Yohanes, dengan mengatakan, "Setiap orang yang percaya bahwa Yesus adalah Kristus yang lahir dari Allah “ (I Yohanes 5: 1)[5]
Jika dikatakan bahwa karena ia tidak memiliki ayah didunia, dan hanya terlahir dari seorang perawan, maka ia harus memiliki ayah disurga -dan ini memang argumen yang digunakan beberapa orang Kristen– hal ini adalah sebuah kekeliruan logis yang tidak dapat diikuti. Sebaliknya, ia hanyalah seseorang yang tidak memiliki ayah didunia manusia biasa yang tidak memiliki ayah didunia. Tidak ada derivasi logis yang mengharuskan dia untuk memiliki ayah didunia, atau disurga.
Sebaliknya, kita hanya perlu melihat Adam, sebagai contoh ayah dari umat manusia, dimana dirinya tak memiliki ibu atau ayah – baik didunia maupun disurga. Meskipun demikian ia tinggal di surga Firdaus, malaikat tunduk kepadanya, dan Allah telah berbicara kepadanya, mengajarinya nama-nama segala sesuatu, dan menjadi ayah dari semua nabi dan rasul, sebagaimana Maryam ibu Yesus, mereka tidak meninggikan Adam sebagai "anak Allah" atau bahkan sebagai "ayah Yesus," sementara mereka mengatakan bahwa Yesus menamai dirinya sendiri "anak Manusia," sebuah referensi yang jelas untuk nenek moyang terbesarnya yaitu Adam. Allah berfirman, "Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia.” (Ali ‘Imran: 59), baik penciptaan Adam maupun Yesus dilakukan tanpa ayah, tetapi hanya dengan perintah dari Allah, mereka akan hidup.
Realitas Yesus sepenuhnya disebutkan dalam Qur’an, dalam ayat yang ditujukan kepada Kristen dan Yahudi, sebagaimana Allah berfirman, "Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Yesus putera Maryam adalah utusan Allah dan (diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara.“ (An-Nisaa’: 171).
Apakah Yesus Benar-Benar Disalib?
Adapun orang-orang apologis modern yang mengklaim bahwa penyaliban Yesus adalah fakta sejarah yang tidak dapat disangkal, maka ini adalah sesuatu yang sangat diragukan oleh teks Alkitab. Injil Sinoptik, yaitu Matius, Markus dan Lukas, berbagi cerita dasar yang sama dan informasi terkait dugaan penyaliban, masing-masing hanya ada perbedaan kecil dari lainnya. Namun dalam Injil Yohanes, berbeda dengan yang lain dalam cara yang sangat tepat. Mengenai penyaliban, Yohanes menyatakan bahwa Yesus dengan tegas memikul salib-Nya sendiri ke tempat dia akan disalibkan. "Dan ia pergi keluar, memikul salib-Nya sendiri, ke tempat yang disebut Tempat Tengkorak, yang dalam bahasa Ibrani disebut Golgota" (Yohanes 19:17).
Tetapi yang lain mendustakan pernyataan ini. Dalam Matius, "Saat mereka keluar, mereka menemukan seorang pria dari Kirene, namanya Simon. Mereka memaksa orang ini untuk memikul salib Yesus" (27:32). Dalam Markus, "Dan mereka memaksa seorang yang lewat, Simon dari Kirene, yang baru datang dari luar kota, ayah dari Aleksander dan Rufus, untuk memikul salib Yesus" (15:21). Dan dalam Lukas, "dan karena mereka membawa Yesus, mereka menahan seorang yang bernama Simon dari Kirene, yang baru datang dari luar kota, dan meletakkan pada dirinya salib untuk dipikulnya sambil mengikuti Yesus" (23:26).
Matius meneruskan, "Dan ketika mereka datang ke sebuah tempat yang bernama Golgota (yang berarti Tempat Tengkorak), mereka menawarkan anggur untuk diminum yang dicampur dengan empedu, tetapi ketika ia mencicipinya, ia tidak akan meminumnya. Dan ketika mereka menyalibkannya, mereka membagi pakaian-Nya dengan mengundi. Lalu mereka duduk dan melihatnya dari sana. Dan di atas kepalanya mereka menempatkan tuduhan terhadap dirinya, yang tertulis, 'Inilah Yesus, Raja orang Yahudi" (Matius 27: 33-37).
Jadi setelah menyebutkan pemindahan salib kepada Simon, tidak disebutkan dikembalikan kepada Yesus, ada serangkaian kata ganti yang tampaknya merujuk kepada Simon - bukan Yesus, yaitu "menawarinya anggur," "ia mencicipinya," "dia tidak akan meminumnya," "mereka menyalibkan dia," "membagi pakaian-nya," "menjaga dia," dan "di atas kepalanya." Sebuah kesamaan mencolok yang ditemukan dalam injil Markus.
Ini adalah hal yang paling penting untuk memahami implikasi historis dalam situasi ini. Artinya, Simon berasal dari provinsi Romawi, Cyrenaica, saat ini dikenal dengan Barqah, Wilayah Daulah Islam. Seperti warga Romawi lainnya, statusnya sebagai warga merdeka menyelamatkannya dari penangkapan yang tidak semestinya dan diperlakukan buruk oleh militer pemerintah Romawi. Tidak ada alasan, setidaknya tidak diberikan atau yang rasional, mengapa ia dipaksa untuk memikul salib atas nama Yesus. Jika Yesus sepenuhnya terluka karena penyiksaan dan kerasnya perlakuan, sebagaimana beberapa tuduhan, maka akan ada budak yang tak terhitung jumlahnya, yang sudah dihukum, atau salah satu dari murid-murid Yesus sendiri yang melindunginya untuk melakukan tugas ini. Tapi di sini, kita melihat bahwa itu adalah Simon dari Kirene, seorang warga negara Romawi tanpa catatan kriminal dan tidak ada keterikatan dengan seruan Yesus, tapi hanya "baru datang dari kota," yang membawa salib Yesus'.
Basilides, seorang pengkhotbah Kristen awal yang meninggal sekitar 140 M, meyakini -mungkin karena mempelajari Injil Matius kepada gurunya, yang kabarnya memiliki salinan otentik dari padanya- bahwa Yesus tidak disalibkan, tetapi yang meninggal di atas kayu salib adalah Simon dari Kirene. Irenaeus mengutip keyakinan Basilides dengan mengatakan, "Oleh karena itu ia tidak menderita kematian, tapi Simon, seorang laki-laki dari Kirene, yang dipaksa menanggung salib menggantikan dia; sehingga akhirnya dirubah rupa olehnya, sehingga ia mungkin akan dianggap Yesus, disalibkan, melalui kebodohan dan kesalahan “ (buku: Against Heresies I 24: 4).
Keyakinan bahwa Simon yang disalibkan bukan Yesus tetap bertahan di antara orang-orang Kristen selama berabad-abad dan muncul kembali pada abad ketiga, risalah kedua dari “the great seth” yang ditulis dari sudut pandang orang pertama dari Yesus, menyatakan, "Untuk kematian saya, yang mereka pikir terjadi, (terjadi) kepada mereka dalam kesalahan dan kebutaan mereka, karena mereka memaku orang mereka hingga kematiannya... itu orang lain, ayah mereka, yang meminum empedu dan cuka; itu bukan aku. Mereka memukul saya dengan buluh; itu orang lain, Simon, yang memikul salib di pundaknya. Itu orang lain yang kepadanya mereka pakaikan mahkota duri ... Dan aku tertawa di atas ketidaktahuan mereka."
Jika dikatakan bahwa Simon adalah seorang Yahudi, maka itu bisa saja dibatalkan karena yahudi memiliki "hak khusus orang Romawi", maka ini menjadi konyol karena dua alasan.
Pertama, orang Yahudi sendiri mengklaim bahwa mereka memerangi Yesus dan menginginkan kematiannya dan pemerintah Romawi setuju atas tuntutan mereka.
Kedua, orang-orang Romawi memiliki hukum-hukum dalam kehidupannya, dan setiap warga negara Romawi, bahkan jika ia adalah seorang Yahudi, punya hak yang tidak dapat dilanggar oleh pemerintah Romawi - setidaknya tidak di depan umum. Hal ini ditulis dalam undang-undang, mengenai interogasi Paulus di mimbar oleh perwira Romawi, "Dan ketika mereka telah membentangkannya keluar untuk dicambuk, Paulus berkata kepada perwira yang berdiri, 'Apakah diperbolehkan bagi Anda untuk mencambuk seorang pria yang merupakan warga negara Romawi dan tidak bersalah? 'Ketika perwira mendengar ini, dia pergi ke mimbar dan berkata kepadanya,' Apa yang akan Anda lakukan? orang ini adalah warga negara Romawi." Lalu orang di mimbar datang dan berkata kepadanya, 'Katakan, apakah Anda seorang warga negara Romawi?" Dan dia berkata, "Ya.' Orang di Mimbar itu menjawab, 'saya membeli kewarganegaraan anda dengan jumlah besar." Paulus berkata, "Tapi saya seorang warga negara sejak lahir." Jadi mereka yang hendak memeriksanya segera menarik diri darinya, dan orang mimbar juga takut, karena ia tahu bahwa Paulus adalah warga negara Romawi dan ia telah membelenggunya.“ (22: 25-29).
Tentu saja, orang mimbar -pejabat Romawi- takut setelah menyadari bahwa ia telah terikat, yaitu memaksa dan menundukkan seorang warga negara Romawi. Maka apa yang menarik dengan Simon dari Kirene, seorang warga negara Romawi yang datang dari negeri ini, bahkan jika ia seorang Yahudi yang memanggul salib atas nama penjahat yang seharusnya dihukum? Terlepas dari itu, dia bukanlah orang Yahudi. Selain itu ia juga menamai anak-anaknya dengan Alexander dan Rufus, kedua nama tradisional Romawi, namanya juga tercatat di semua tiga Injil sebagai ΣΊΜΩΝ "Simon," kata Yunani Kuno yang berarti "berhidung datar," dan tidak ΣΥΜΕΏΝ "Simeon," yang merupakan ejaan Yunani untuk nama Ibrani שמעון "Shim'on" – seperti beberapa klaim apologis bodoh yang mengklaim sebagai nama aslinya. Selanjutnya, Kirene waktu itu mayoritas didiami oleh penduduk Yunani.
Jadi, menurut Injil Sinoptik yang memuat setiap kisah Alkitab tentang penyaliban, dapat disimpulan bahwa Yesus tidak disalibkan. Sebaliknya, kebenarannya adalah bahwa itu dibuat hanya agar nampak seperti itu. Dan tidak diketahui dengan persis siapa yang di salib, karena tidak ada kitab suci otentik yang dapat memberikan nama atau latar belakangnya, dan itu pasti bukan Yesus. Pada titik ini, Allah berkata kepada orang Yahudi, "Dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa" (An-Nisaa’: 157).
Paulus Sang Penipu
Saat Kristen mengaku sebagai pengikut Kristus, kita dapat menemukan banyak sekali doktrin mereka yang bersandar pada tulisan Paulus. Bahkan, Paulus -dikenal dalam bahasa Ibrani sebagai Saul- menulis sebagian besar surat di Perjanjian Baru. Dia mengaku diajari Injil oleh Yesus sendiri, meskipun ia tidak pernah bertemu dengannya. Dia berkata, "Karena aku ingin kau tahu, saudara-saudara, bahwa Injil yang diberitakan kepadaku bukanlah Injil manusia. Karena aku tidak menerimanya dari manusia manapun, aku juga tidak mempelajarinya, tapi aku menerimanya melalui penyataan Yesus Kristus" (Galatia 1: 11-12).
Tidaklah mengherankan jika doktrinnya sering bertentangan dengan perkataan Yesus yang tercatat dalam empat Injil resmi. Awalnya, Paulus adalah musuh Nashrani, Kristen yang asli. Dia menjelaskan kebenciannya kepada Yesus dengan mengatakan, "Saya sendiri yakin bahwa saya harus melakukan banyak hal yang menentang nama Yesus dari Nazaret. Dan saya melakukannya di Yerusalem. Saya tidak hanya mengurung banyak orang kudus di penjara setelah menerima kuasa dari imam kepala, tetapi ketika mereka dihukum mati, saya memberikan suara saya terhadap mereka. aku sering menyiksa mereka di sinagog dan berusaha untuk membuat mereka menghujat Tuhan, dan dalam amukan marah terhadap mereka aku telah menganiaya mereka bahkan di kota-kota asing" (Kisah Para Rasul 26: 9-11).
Ada kemungkinan bahwa ia mengubah misi pribadinya setelah dugaan pertobatannya. Namun, itu lebih mungkin ia sengaja berusaha menyimpangkan monoteistik Nashrani untuk menodai nama Yesus -bahkan jika itu berarti menganiaya Paulus sendiri- seperti cara orang Yahudi khianat, yang terkenal karena merusak Kitab Suci. Hal ini dibuktikan setelah pertobatannya, dimana ia tetap berdusta dan dengan gigih menentang Hukum ilahi Musa sambil menegakkan ketaatan terhadap hukum manusia. Walaupun ia mengklaim mentaati ajaran Kristus, namun ia malah mengajarkan hal-hal yang secara langsung bertentangan dengan apa yang dibawa Yesus. Seperti Paulus yang berbicara kasar terhadap Hukum Musa dengan mengatakan, "Kristus telah menebus kita dari kutukan hukum" (Galatia 3:13). Sebaliknya, ia mengklaim, "Tetapi jika Anda dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak berada di bawah hukum" (Galatia 5:18).
Ini seperti sufi ekstrim yang mengklaim bahwa ketika seseorang mencapai status spiritual yang tinggi, syari’at tidak lagi berlaku untuknya – konsep yang ditolak mentah-mentah oleh semua kaum muslimin.
Paulus juga menulis, "dikarenakan Kristus adalah akhir dari hukum untuk kebenaran kepada semua orang yang mempercayainya. Dan Musa hanya menulis tentang kebenaran didasarkan pada hukum orang yang hanya hidup pada masanya. [...] maka jika kamu mengaku dengan mulutmu, dan meyakini Yesus adalah Tuhan dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia diantara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.“ (Roma 10: 4-9). Pengabaian utuh atas Hukum Musa ini tidak sesuai dengan perkataan yang dianggap berasal dari Yesus, "Jangan berpikir bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena sebenarnya Aku berkata kepadamu, sampai langit dan bumi berlalu, tidak ada sedikitpun, tidak setitikpun, akan ditiadakan dari hukum Taurat, hingga semuanya selesai (lengkap). Oleh karena itu siapa yang meniadakan salah satu dari perintah ini dan mengajarkan orang lain untuk melakukan hal yang sama, ia akan dipanggil paling akhir ke Kerajaan Sorga, tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkannya akan dipanggil paling awal di Kerajaan Sorga. Aku berkata kepadamu, kecuali kebenaran Anda melebihi ahli-ahli Taurat dan orang Farisi, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga" (Matius 5: 17-20).
Dengan "kesaksian" Matius dari kata-kata Yesus, Paulus akan disebut paling akhir - tepatnya, ia bahkan tidak akan masuk surga karena ketaatannya pada Hukum tidak melebihi ahli-ahli Taurat dan orang Farisi. Sebaliknya, itu adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amalan kalian" (Muslim).
Untuk menjadi pembohong, Paulus bersaksi melawan dirinya sendiri dengan mengatakan, "Namun, walaupun aku bebas atas semua orang, aku menjadikan diriku sendiri hamba bagi semua orang agar aku boleh memenangkan lebih banyak lagi. Bagi orang Yahudi, aku menjadi seperti orang Yahudi agar aku dapat memenangkan orang Yahudi. Bagi orang yang hidup di bawah Hukum Taurat, aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah Hukum Taurat (meskipun aku sendiri tidak di bawah Hukum Taurat) agar aku dapat memenangkan mereka yang ada di bawah Hukum Taurat. Bagi mereka yang tanpa Hukum Taurat, aku menjadi seperti tanpa Hukum Taurat (bukannya tanpa hukum Allah, tetapi di bawah hukum Kristus) agar aku dapat memenangkan mereka yang tanpa Hukum Taurat. Bagi orang yang lemah, aku menjadi lemah agar aku dapat memenangkan mereka yang lemah. Aku sudah menjadi segala sesuatu bagi semua orang agar dengan segala cara aku dapat menyelamatkan beberapa orang." (1 Korintus 9: 19-22).
Jadi, bukannya bersikap tegas dengan kebenaran dari satu wahyu, ia malah berpura-pura menjadi Nazarene, Yahudi, kafir, dan apa pun demi membodohi orang untuk menerima dia. Penjelasannya tidak lebih dari pembenaran diplomatik atas sebuah dosa besar.
Tapi di luar ini, kita harus bertanya: Mengapa Paulus, seseorang yang bahkan tidak pernah bertemu dengan Yesus dianggap sebagai orang paling terkemuka dan berwenang dalam agama Kristen di saat murid-murid Yesus yang sebenarnya masih hidup? Banyak orang Kristen menunjuk ke sebuah cerita yang diceritakan oleh Paulus sendiri, di mana Kristus menampakan diri kepada Paulus dan menunjuk sebagai wakilnya di bumi. Di depan Herodes Agripa II di Caesarea, Palestina, Paulus menceritakan kisah pertobatannya dalam perjalanan ke Damaskus. Ia mengatakan, "Dan dalam keadaan demikian, ketika aku dengan kuasa penuh dan tugas dari imam-imam kepala sedang dalam perjalanan ke Damsyik, Saat tengah hari, ya Raja, di tengah perjalananku, aku melihat suatu cahaya dari langit, lebih terang daripada matahari, yang bersinar di sekelilingku dan orang-orang yang berjalan bersamaku, Lalu, ketika kami semua tersungkur di atas tanah, aku mendengar suatu suara berkata kepadaku dalam bahasa Ibrani, 'Saul, Saul, mengapa kamu menyiksa Aku? Sulit bagimu untuk menendang galah rangsang. Lalu aku bertanya, 'Siapakah Engkau, Tuhan?' Kemudian, Tuhan menjawab, 'Aku Yesus, yang sedang kamu siksa. Namun, bangun dan berdirilah dengan kakimu. Sebab, Aku telah menampakkan diri kepadamu untuk tujuan ini, yaitu menetapkanmu sebagai seorang pelayan dan saksi, tidak hanya untuk hal-hal yang telah kamu lihat, tetapi juga untuk hal-hal yang akan Aku tunjukkan kepadamu. Aku akan menyelamatkanmu dari bangsamu ini dan dari bangsa-bangsa lain, yang kepada mereka aku mengutusmu, untuk membuka mata mereka sehingga mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah agar mereka menerima pengampunan atas dosa-dosa serta menerima bagian di antara orang-orang yang telah dikuduskan oleh iman di dalam Aku.” (Kisah Para Rasul 26: 12-18).
Pertemuan ini hanya disaksikan oleh Paulus, seorang antagonis yang terkenal dan terbukti pembohong, sebagaimana orang-orang yang berada di sana tidak dapat memahami apa yang dikatakan yesus, karena ia sendiri mengaku, "Orang-orang yang bersamaku melihat cahaya itu, tetapi tidak mengerti suara Orang yang sedang berbicara kepadaku.” (Kisah para Rasul 22: 9), atau dalam ayat lain yang bertentangan, "Orang-orang yang pergi bersama dengan Saul berdiri tanpa berkata-kata setelah mendengar suara itu, tetapi tidak melihat siapa pun” (Kisah para Rasul 9: 7)
Terkait penglihatan ilahiah yang malah menyebabkan kesesatan, Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, "Banyak orang telah melihat penampakan itu, mereka berasumsi bahwa itu adalah Allah –Maha Tinggi Dia- tapi itu benar-benar setan. Cerita seperti ini terjadi kepada lebih dari satu orang, beberapa di antaranya Allah lindungi dengan mengizinkan mereka untuk mengenalinya sebagai setan. Contohnya adalah Syaikh 'Abdul Qadir [al-Jailaniy] dalam cerita yang terkenal, di mana ia berkata, "Saya pernah berada dalam ibadah, ketika aku melihat takhta besar – di atas cahaya. Dikatakan kepada saya, 'Wahai' Abdul-Qadir! Aku adalah Tuhanmu, dan aku telah mengizinkan untukmu apa yang aku larang bagi orang lain." Jadi saya berkata, 'Apakah kamu Allah, Dia yang tidak ada Tuhan selain Dia ?! Enyahlah kamu, Wahai musuh Allah! "Cahaya itu memudar dan menjadi gelap. kemudian ia berkata kepada saya, Anda lolos dariku karena pemahaman, pengetahuan, dan dengan kesadaranmu tentang agama. sesungguhnya, saya sudah menggoda tujuh puluh orang dengan cara ini.'' Ketika dia ditanya bagaimana dia tahu bahwa itu setan, dia berkata, "ketika dia berkata kepada saya, 'Saya telah mengizinkan untukmu apa yang aku larang bagi orang lain,' karena aku tahu bahwa syari’at Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak akan dibatalkan atau diganti. Dan karena dia berkata, 'Aku adalah Tuhanmu,' dan ia tidak mengatakan, 'Aku adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku' “ (Qa'idah Jalilah fit Tawassul wal Wasilah).
Jika pada kenyataannya Paulus melihat sesuatu, maka itu bukan Yesus yang ia lihat dalam perjalanan ke Damaskus, namun itu adalah Setan, dia yang menginspirasi Paulus untuk mengizinkan apa yang dilarang, meninggalkan Hukum, dan menyembah Kristus dan bukannya Allah. Hal ini sangat jelas tertulis dalam teks-teks mereka sendiri bahwa Yesus berkata, "Sebab, banyak yang akan datang dalam nama-Ku dan berkata, 'Aku adalah Kristus,' dan mereka akan menyesatkan banyak orang." (Matius 24: 5)[6]
Bergerak Kedepan
Setelah menunjukkan hal di atas -dan mengetahui bahwa ada banyak pertimbangan kelemahan lain dalam kekristenan– seseorang harus menindaklanjuti dengan merefleksikan tradisi Tuhan dalam mengirim utusan untuk membimbing manusia kembali beribadah kepada-Nya. Ketika wahyu yang dibawa Yesus diubah dan hilang, itu hanya masalah waktu saja bagi Pencipta umat manusia untuk mengirim utusan lainnya. Dan pengetahuan bahwa Alkitab telah diubah tidaklah membatalkannya dari mempertahankan beberapa pesan aslinya. Memang, selain dari kontradiksi dan perubahan yang jelas oleh manusia, kita dapat menemukan banyak ayat-ayat monotheisme (tauhid) dan hukum ilahi dalam Perjanjian Lama dan referensi terhadap kebenaran yang tersebar di seluruh Perjanjian Baru.
Alkitab tidak pernah menghalangi keberadaan nabi setelah Yesus. Dengan demikian, seorang Kristen harus mempertimbangkan klaim nubuat setelahnya, tetapi ia harus mengikuti beberapa dasar kriteria yang masuk akal agar dapat menentukan kebenaran klaim kenabian dari siapa pun. Jika tidak, manusia akan dibiarkan untuk menerima setiap klaim, tidak peduli seberapa hina dan menggelikannya klaim itu, atau menolak setiap klaim sehingga meninggalkan keyakinan kepada nabi tanpa bukti. Kriteria Berikut akan menunjukkan bahwa setelah Yesus, telah ada satu nabi yang benar -Muhammad– dia yang dinyatakan Qur’an sebagai utusan terakhir dari Tuhan, sehingga itu menutup setiap jalan bagi pembohong yang datang setelah dia dan menyebut dirinya seorang nabi.
Yang pertama dan mungkin kondisi terbaik ketika menerima klaim bahwa nabi yang akan datang adalah kekukuhan dari keyakinannya. Jika ia datang dengan sesuatu yang memelintir ibadah menjadi jauh dari Sang Pencipta menuju kepada yang di cipta, maka ini menjadi tanda dari nubuat palsu dengan intervensi setan. Muhammad datang bersama dengan monoteisme (tauhid) murni. Meskipun penting, Trinitas tidak disebutkan secara langsung -dan hanya melalui interpretasi rusak- diseluruh isi dari Kitab Suci (alkitab). Hal ini kontras dengan Al-Qur’an, yang secara eksplisit menyatakan puluhan kali bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan mungkin tak terhitung jumlahnya dengan cara yang tak dapat diuraikan secara detail yang berulang kali menyebutkan ketunggalan-Nya, bahwa tidak ada sesuatupun yang seperti Dia, bahwa Dia tidak memiliki anak dan tidak memiliki sekutu, dan bahwa semua ibadah hanya untuk-Nya sendiri.
Kondisi lain adalah bahwa nabi ini harus menjadi teladan bagi mereka yang diseru. Seorang pembunuh terkenal, pezina, pencuri, pembohong, atau orang yang dinyatakan tidak bermoral tidak akan cocok dengan deskripsi ini. Tentang hal ini, Allah mengatakan terkait Nabi-Nya, "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu" (Al-Ahzab: 21). Dan bahkan sebelum menjadi nabi, Muhammad dikenal sebagai "al-Amin," yang dapat dipercaya, dan tidak ada seorangpun -bahkan musuhnya yang paling sengit- akan menafikan bukti karakter moralnya yang tinggi.
Sebagai rahmat dari Tuhan dan sebagai tantangan bagi mereka yang ragu-ragu untuk percaya, para nabi mendapat mukjizat dengan izin yang Maha Kuasa. Sama seperti Musa yang membelah laut dengan izin Allah, dan seperti Yesus yang menyembuhkan orang buta dan membangkitkan orang mati melalui kehendak Yang Maha Kuasa, demikian juga Muhammad yang membawa apa yang melanda keraguan manusia dan membuatnya terpesona. Mukjizatnya yang terbesar adalah Qur’an itu sendiri. Orang-orang Arab selalu dikenal akan puisi mereka dan menitik beratkan pada bahasanya, masing-masing suku menikmatinya dalam dialek tersendiri. Kompetisi menjadi hal yang umum, sehingga salah satu penyair akan menantang yang lain, biasanya dari suku atau klan yang berbeda untuk mengadakan pertempuran puisi dadakan. Kontes diadakan di pasar besar untuk menentukan siapa yang menguasai bahasa lebih baik. Tapi Muhammad bukanlah seorang penyair dan Qur’an juga bukan puisi. Namun ketika orang Arab, dan bahkan orang-orang yang mengingkari Al-Qur’an mendengar pengucapannya, mereka bersaksi bahwa itu tidak berasal dari manusia - orang beriman menegaskannya sebagai wahyu ilahi tapi orang-orang kafir menuduhnya terinspirasi oleh jin atau melalui sihir. Namun, karena ketiadaan kesalahan dan hanya menyerukan monoteistik (tauhid), maka di antara orang-orang Arab akhirnya menyerah pada kebenaran, meyakini bahwa Qur’an adalah firman Allah yang tidak dapat ditiru atau dapat dikalahkan. mukjizat lain yang dilakukan oleh Muhammad adalah membelah dan menggabungkan kembali Bulan, memberi makan ratusan orang dengan sejumlah kecil barley (gandum), bahkan pernah memberi makan 900 tentara hanya dengan beberapa kurma, memuaskan dahaga seluruh tentara dengan air yang mengalir dari jari-jarinya, dan lebih dari puluhan mukjizat lain yang diriwayatkan oleh sebagian besar manusia. Dia juga menceritakan apa yang akan datang, serta menyiarkan berita kematian Negus' pada hari yang sama saat ia meninggal di Abyssinia yang berjarak ratusan mil jauhnya dari nabi.[7]
Nabi Dalam Kitab “Ulangan”
Sebuah anugerah dari Tuhan yang diceritakan oleh Wahyu sebelumnya adalah akan datangnya seorang nabi. Ini merujuk kepada Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dimana Allah berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka" (Al-A'raf: 157). Ini menjadi sebuah klaim yang benar-benar berani bagi seseorang untuk melakukannya pada abad keenam di arob, sebuah daerah yang menjadi tuan bagi pasar populer yang sering dikunjungi suku Yahudi dan Kristen. Tapi memang disebutkan dalam apa yang mereka miliki dari Taurat bahwa Tuhan berkata, "Aku akan membangkitkan baginya seorang nabi sepertimu dari tengah-tengahmu sendiri. Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulut-Nya, dan ia akan berkata kepada mereka seperti yang Kuperintahkan kepadanya.” (Ulangan 18:18).
Ayat ini menjelaskan akan adanya seorang nabi seperti Musa diantara kaumnya dari Bani Israil, yaitu Suku Ismail, yang disetujui dengan suara bulat menjadi nenek moyang dari 'Adnaniy Arab, lalu Suku Quraisy, bani Hasyim, dan dengan demikian termasuk Muhammad. Dia akan mengucapkan kata-kata Tuhan dari mulutnya sendiri, sebagaimana diketahui bahwa Qur’an adalah kalamullah (tidak hanya bermakna "terinspirasi" dari penulis yang dapat mati, seperti klaim Alkitab); dia akan mengatakan apa pun yang Tuhan perintahkan kepadanya untuk berkata "Katakanlah!". Ya, terdapat lebih dari 200 tempat didalam Qur’an dimana Allah memerintahkan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk "Katakanlah!". Sebagai contoh, "Katakanlah: "Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?" Katakanlah: "Allah." Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku agar dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Qur’an (kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada Tuhan-Tuhan lain di samping Allah?" Katakanlah: "Aku tidak mengakui." Katakanlah: "Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)." (Al-An'am: 19).
Dan sebagai tanda dalam Ulangan adalah bahwa "dia akan berbicara kepada mereka," itu hanya tepat untuk dicatat bahwa sejumlah ayat yang berisi perintah untuk " Katakanlah!" diarahkan ke Ahli Kitab itu sendiri, seperti dalam ayat, "Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah." Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri.” (Ali ‘Imran: 64). Dan, "Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al-Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu." (Al-Maa’idah: 68). Dan, "Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus." (Al-Maa’idah: 77). Demikian pula, "Dan mereka berkata: "Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang Yahudi atau Nashrani. Katakanlah: "Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar." (Al-Baqarah: 111). "Dan mereka berkata: "Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nashrani, niscaya kamu mendapat petunjuk". Katakanlah : "Tidak, melainkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia dari golongan orang musyrik.” (Al-Baqarah: 135).
Nubuat berbasis Taurat yang ditunggu oleh orang-orang Yahudi bahkan sampai masanya Yesus dan setelahnya jelas tertulis dalam Perjanjian Baru, kemudian terkait Yohanes Pembaptis yang mempertanyakan tentang statusnya, "Mereka bertanya kepadanya, 'Lalu mengapa engkau membaptis, jika kamu bukan yesus, bukan Elia, dan bukan Nabi? (Yohanes 01:25). Hal ini menunjukkan bahwa penafsiran "Nabi" dalam kitab Ulangan adalah Kristus atau Yohanes Pembaptis, seperti yang diyakini oleh berbagai sekte Kristen, namun tidak didukung oleh teks-teks mereka sendiri. Sebaliknya, tidak ada seorangpun dalam sejarah yang sesuai dengan deskripsi seperti ini tentang nabi yang akan datang melebihi Muhammad Rasulullah, yang telah dikenal dengan sangat baik oleh teman dan lawannya sebagai "Nabi."
Demikian juga suku-suku Yahudi -terutama keluarga Cohen dari Quraizhah dan Nadir, serta suku Manasseh dari Qainuqa’– yang pindah ke utara dari Paran (yaitu Hijaz) untuk menunggu Nabi, mencari orang yang cocok dengan deskripsi dan tanda-tanda yang disebutkan kepada mereka dalam Taurat dan kitab suci lainnya. Sebuah catatan pra-Islam yang terkenal dan diceritakan oleh orang-orang Yahudi dari Yasthrib, menceritakan bagaimana dua Robbi menyelamatkan kota dari kehancuran total dari tangan seorang raja Yaman dengan menjelaskan bahwa Nabi yang ditunggu akan datang dari Makkah dan menetap di Yatshrib - tepat seperti yang dilakukan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam . Zaid Ibn Sa'nah, seorang penulis Yahudi Yastrib di zaman Muhammad, melihat semua tanda-tanda itu dan memeluk Islam lalu berjuang bersama Nabi dalam banyak pertempuran, akhirnya ia terbunuh dijalan Allah dalam Pertempuran Tabuk. Pendeta Israil lainnya, 'Abdullah Ibn Salam juga menerima Muhammad sebagai Nabi dan mengikutinya dan menjadi salah satu sahabat dekatnya. Diantara orang Kristen, juga diketahui bahwa sebagian besar dari suku Tha’i dari Arab menjadi Muslim setelah 'Adi Ibnu Hatim -anak dari Hatim ath-Thai yang terkenal akan kemurahan hatinya- dan Zaid al-Khail setelah bertemu Nabi dan memeluk Islam.
Juga di dalam Taurat yang sekarang, ditemukan, "Dan Allah datang dari Sinai; dan terbit bagi mereka dari Seir; ia tampak bersinar dari Gunung Paran" (Ulangan 33: 2). kata kerja "datang," "terbit," dan "bersinar" adalah dalam bentuk lampau, ada konsensus di antara para sarjana Alkitab yang menyebutkan selain Sinai, ayat ini berisi nubuat kejadian dimasa depan. "Kedatangan" dari Sinai tidak diragukan lagi sebagai referensi ketika Tuhan berbicara kepada Musa di puncak Gunung Horeb di Sinai. Adapun "terbit" dari Seir, maka itu mengacu pada awal misi Yesus di Nazaret, sebuah kota yang tidak jauh dari Seir, keduanya terletak digunung dan desa, diantara Tiberias dan Acre (Mu'jam al-Buldan).
Mengenai "bersinar" dari Gunung Paran, maka itu ada diarea pegunungan Hijaz -di sanalah letak Makkah- dikenal oleh orang Ibrani sebagai Paran, dan sesungguhnya, seruan dari Muhammad bersinar terang. Allah berfirman, "Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan." (Al-Maa’idah: 15).
Selain itu, tidak ada keraguan bahwa Makkah adalah tempat tinggal Ismail dan Hajar ibunya, yang Tuhan arahkan ke sumur Zamzam di tempat suci Makkah. Kisah ini disebutkan dengan jelas dalam Kejadian 21, di mana dalam referensinya kepada Ismail, dikatakan, "Dia tinggal di padang gurun Paran" (Kejadian 21:21). Pada Ayat sebelumnya disebutkan dalam Ulangan 33 yang berakhir dengan, "dan ia datang dengan sepuluh ribu orang kudus: dari tangan kanannya tampak kepada mereka hukum yang menyala" (33: 2, KJV). Sejarawan Ibnu Ishaq menulis tentang hari ketika Makkah ditaklukkan oleh Nabi bahwa "semua orang yang mengambil bagian dalam penaklukan Mekkah -Muslim– berjumlah sepuluh ribu" (Sirah Ibn Hisyam), dan memang hukum yang dibawa oleh Nabi Muhammad menyala bagi mereka yang tidak taat. Smith dan Van Dyck, dalam terjemahan bahasa Arab mereka dari Alkitab menulis: "dan dari tangan kanannya, ada api dari syari’at mereka."
Perlu dicatat, sebuah ayat dalam Al-Qur’an dimulai dengan, "Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun. dan demi bukit Sinai. dan demi kota (Makkah) ini yang aman," (At-Tin: 1-3).
Ulama Muslim telah mengaitkan referensi dari Tin dan zaitun ke Syam, yang merupakan tempat yang subur untuk pohon-pohon ini khususnya Palestina, tempat di mana Yesus dilahirkan, dibesarkan, dan mengajar. Mereka menghubungkan dengan gunung sinin, nama lain dari Gunung Horeb di Sinai, tempat Musa menerima ilham dari Tuhannya. Dan untuk "tanah yang aman ini," maka tidak ada keraguan bahwa itu mengacu ke Makkah dan sekitarnya - yaitu, Paran.
Paraclete
Ketika mengatakan kepada murid-muridnya bahwa seorang nabi akan datang setelah dia, Yesus mengatakan, "Meskipun demikian, aku katakan yang sebenarnya: itu adalah keuntungan bagi Anda ketika aku pergi, karena jika aku tidak pergi, para penolong tidak akan datang kepada kamu. Tetapi jika aku pergi, aku akan mengirim dia untuk Anda. Dan ketika ia datang, ia akan menginsafkan dunia tentang dosa dan kebenaran dan penghakiman: tentang dosa, karena mereka tidak percaya kepada-Ku; tentang kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa, dan Anda tidak akan melihat Aku lagi; tentang penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum.“ (Yohanes 16: 7-11).
Kata Yunani untuk penolong seperti yang tertulis dalam naskah yang selamat adalah ΠΑΡΆΚΛΗΤΟΝ "Parakliton." Dengan maknanya menjadi "orang yang membantu yang lain yang sedang diuji, dengan mengatasnamakannya," yaitu penolong atau advokat. Membaca Η "i" sebagai Ε "e", yaitu ΠΑΡΆΚΛΕΤΟΝ "Parakleton," akan menghasilkan makna kata menjadi “(satu) yang terpuji," (sebagaimana para- adalah sebuah akhiran menjadi, dan kleton berarti "pujian"). Ini adalah terjemahan langsung dari nama Muhammad, yang identik dengan nama Ahmad, yang berarti "seseorang yang didefinisikan oleh pujian." "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." (seseorang yang didefinisikan dengan pujian)" (Ash-Shaff: 6). Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri bersabda, "Aku adalah Muhammad dan Ahmad" (Al-Bukhari dan Muslim).
Meskipun dapat dipastikan bahwa yang asli telah diubah baik melalui kesalahan atau bisikan setan, membaca kata yang berarti "perantara" masih lebih akurat untuk menunjukkan Muhammad daripada orang lain yang diajukan. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengatakan, "Setiap nabi memiliki doa yang dikabulkan, akan tetapi aku simpan doa ku untuk dapat memberikan syafaat kepada umatku pada hari kiamat" (Al-Bukhari dan Muslim).
Beliau menjelaskan syafaat ini dengan mengatakan bahwa pada hari kiamat, manusia akan berbondong-bondong ke Adam, lalu Nuh, lalu Ibrahim, lalu Musa, dan kemudian Yesus, mereka mencari syafaat dari Allah atas nama mereka. Namun masing-masing dari mereka akan menyangkal tanggung jawab dan merekomendasikan mereka ke nabi lainnya. Yang terakhir dari mereka ialah Yesus yang merespon permintaan mereka akan syafaat dengan mengatakan, "Sungguh, hari ini Robbku sangat murka. Belum pernah Dia murka seperti ini sebelumnya dan Dia tidak akan murka seperti ini lagi setelahnya.’ ‘Jiwaku, Jiwaku, Jiwaku, pergilah ke selain aku. Pergilah pada Muhammad! "Mendengar ini, mereka pergi kepadanya dan berkata, Wahai Muhammad, engkau adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Allah telah mengampuni dosamu yang lalu maupun yang akan datang. Mohonkanlah syafaat kepada Robbmu untuk kami, tidakkah kau lihat apa yang kami alami?” Lalu Nabi Muhammad pergi menuju bawah ‘Arsy. Di sana beliau bersujud kepada Robbnya, kemudian Allah mengajarkan kepadanya puji-pujian bagi-Nya, sesuatu yang tidak pernah diajarkan kepada seorangpun sebelumnya. Kemudian Allah berkata kepada Muhammad, “Wahai Muhammad, angkat kepalamu, mintalah, niscaya kau diberi, dan berilah syafa’at niscaya dikabulkan!” Maka Muhammad mengangkat kepalanya dan berkata, “Ummatku wahai Robb-ku, ummatku wahai Robb-ku, ummatku wahai Robb-ku! Kemudian dikatakan kepadanya, “Wahai Muhammad, masukkan ke surga di antara umatmu yang tanpa hisab dari pintu sebelah kanan dari pintu surga" (Al-Bukhari dan Muslim). Kemudian Nabi melanjutkan dan berkata, "Ummatku wahai Robb-ku, ummatku!" Maka Allah berfirman, "Pergi dan ambilah keluar dari neraka siapa yang di hatinya memiliki iman walau seberat biji sawi." Dia melakukannya dan mengulangi permintaannya sampai ia memberi syafaat bagi seluruh ummatnya, yaitu orang-orang diantara mereka yang memiliki iman sekecil apapun (Al-Bukhari dan Muslim).
Pernyataan "Dan ketika dia datang, dia akan menghukum dunia" merupakan indikasi yang jelas dari misi global, bahwa tidaklah ia ditunjuk hanya untuk ummatnya sendiri. Allah berfirman, " Katakanlah: "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua,” (Al-A’raf: 158). ini berbeda dengan misi khusus Musa dan Yesus, dimana keduanya hanya dikirim untuk Bani Israil. Orang-orang Kristen yang berpikir bahwa Yesus juga diutus kepada gentile (non-Yahudi) harus membaca, "Lalu, Ia menjawab dan berkata, "Aku hanya diutus kepada domba-domba yang hilang dari umat Israil" (Matius 15:24). Bahkan murid-murid-Nya diberi perintah tegas tentang kepada siapa mereka harus menyebarkan Injil, " Yesus mengutus kedua belas rasul itu dan memerintahkan mereka, "Jangan pergi ke jalan bangsa-bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang tersesat di antara umat Israil.” (Matius 10: 5-6).
"tentang dosa, karena mereka tidak percaya kepada-Ku" berarti keyakinannya akan melawan sebuah dunia dari orang-orang yang tidak meyakini Yesus dengan benar, dan bahkan diantara orang Kristen yang tersesat terlalu jauh, yaitu yang penuh dosa dengan mengibadahinya. "Dan ketika Allah berfirman: "Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah?" Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghoib-ghoib." (Al-Maa’idah: 116).
Demikianlah keyakinan yang benar tentang Yesus yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya, "Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam adalah utusan Allah dan (diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara.“ (An-Nisaa’: 171).
"Tentang kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa, dan Anda tidak akan melihat Aku lagi" jadi dia akan mengajari mereka yang tersesat, yang selama berabad-abad tidak dipandu dengan pesan ilahi yang bermakna kebenaran. Hal ini ditemukan dalam Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah, "Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.” (Al-Baqarah: 177).
Dan "tentang penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum" maka adakah sesuatu yang lebih jelas kesalah fahamannya pada saat ini daripada isu kepemimpinan?! Sesungguhnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjelaskan kepada dunia tentang kebenaran hakiki dari kehidupan di dunia ini, yaitu untuk hidup hanya dengan aturan Allah, memvonis mati dan menghukum mereka yang menentangnya. Allah berfirman, "Dan perangilah mereka, agar jangan ada fitnah dan agar agama itu semata-mata untuk Allah" (Al-Anfal: 39), dan "agama" di sini berarti otoritas tertinggi dalam pengambilan keputusan (hukum) dan kepemerintahan.
Hal ini juga tertulis dari para penolong bahwa, "Namun ketika Ia, Roh Kebenaran itu datang, Dia akan membimbingmu ke dalam semua kebenaran. Sebab, Ia tidak berbicara atas keinginan-Nya sendiri, melainkan semua hal yang Ia dengar itulah yang akan Ia katakan; dan Ia akan memberitahumu hal-hal yang akan terjadi" (Yohanes 16:13). Menunjukkan bahwa setiap kata yang dia ajarkan itu didiktekan kepadanya oleh Tuhan, Nabi digambarkan oleh Allah, dengan mengatakan, "dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan.” (An-Najm: 3-4). Adapun menyatakan suatu hal yang akan datang maka ada banyak contoh nubuat seperti yang dikatakan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam terutama mengenai kedatangan kedua Yesus Kristus. Dan mengenai akhir zaman Nabi berkata, "Allah akan mengirim Isa putra Maryam turun di sebelah timur Damaskus di menara putih dengan mengenakan dua baju seraya meletakkan kedua tangannya di atas sayap dua malaikat, bila ia menundukkan kepala, air pun menetas. Bila ia mengangkat kepala, air pun bercucuran seperti mutiara. Tidaklah orang kafir mencium bau dirinya melainkan ia akan mati. Sungguh bau nafasnya sejauh mata memandang. Isa mencari Dajjal hingga menemuinya di pintu Ludd lalu membunuhnya." (Muslim), dan kemudian beliau menyebutkan pertemuan dengan ya’juj dan ma’juj dan hal-hal lain di masa depan, sampai hari kiamat.
Sebuah Seruan Terakhir
Wahai Ahli Kitab, ikutilah kebenaran dari Tuhanmu, Dia yang anda klaim anda cintai. Apakah Anda akan tetap mengikuti orang tua dan nenek moyang Anda jika anda tahu mereka berjalan ke api (neraka)? Telah jelas dari doktrin dan sejarah "Gereja" mereka, bahwa anda tidak memiliki panduan ataupun pemahaman dalam agama. Sebagaimana firman Allah, "Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: “ (Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari nenek moyang kami", walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?". “ (Al-Baqarah: 170).
Berimanlah kepada Allah, Raja yang sebenarmya, Sang Pencipta, dan satu satunya Tuhan, yang tidak memiliki anak maupun pasangan, yang tidak beranak dan tidak diperanakkan. Sembahlah Tuhanmu yang menciptakan Anda dan orang-orang sebelum anda agar anda mendapat petunjuk. Dia menciptakan bumi untuk Anda sebagai tempat tidur, langit sebagai atap, dan menurunkan air dari langit, yang dengannya menghasilkan buah-buahan sebagai rezeki atas Anda. Jadi janganlah mempersekutukan Allah dengan apapun sedangkan Anda mengetahuinya.
Wahai Ahli Kitab, ketahuilah bahwa kami beriman kepada Allah dan apa yang Dia wahyukan kepada kami melalui Muhammad, seperti apa yang Dia wahyukan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yakub, dan apa yang diberikan kepada Musa, Yesus, dan para nabi-nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membedakan antara salah satu diantara mereka, karena mereka semua dikirim dalam petunjuk dari Allah, dan hanya kepada-Nya kami berserah diri.
Mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah? Yakinlah, Allah menyaksikan apa yang Anda perbuat. Selain itu, mengapa Anda menghindari orang-orang yang beriman yang berada dalam petunjuk Allah, dan malah berupaya mengubah dan membuatnya bengkok, sementara Anda sendiri memberi mempersaksikan? perang Anda terhadap Islam tidak akan berhasil atau menguntungkan Anda. Anda akan gagal karena Anda melawan mereka yang bersekutu dengan Allah. Kami beriman kepada-Nya, kepada apa yang diungkapkan kepada kami, dan kepada nubuat dimasa akan datang, menyatakan dan menetapkan aturan-Nya. Tapi Anda tidak jujur wahai pendosa yang kafir. Anda bahkan tidak berusaha untuk menegakkan Taurat dan Injil dengan mengikuti nabi yang dinubuatkan dalam kedua kitab suci ini, dan Allah tidak lengah dari apa yang Anda lakukan.
Apakah Anda mengklaim bahwa orang-orang Yahudi dan Kristen mengikuti agama yang benar dan bahwa mereka akan masuk ke dalam Kerajaan Surga? Tidak ada bukti untuk ini. Sebaliknya, mereka yang meperoleh hasil baik hanyalah mereka yang berada di atas agama Ibrahim, ia yang pernah mendaki untuk kebenaran dan tidak pernah kafir. Tetapi jika Anda terus kafir, maka ketahuilah bahwa Anda akan dikalahkan dan kemudian diseret ke dalam seburuk-buruk tempat tinggal yaitu kekekalan neraka.
Ketahuilah bahwa perjuangan kami akan terus berlanjut hingga Anda kalah dan tunduk pada aturan Pencipta Anda, atau sampai kami mencapai syahadah. Allah telah menetapkan misi kepada kami untuk berperang melawan kekafiran dimanapun itu berada, karena Dia telah memerintahkan kami untuk membunuh semua orang kafir dimanapun mereka ditemukan. Ia berfirman, "maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka" (At-Taubah: 5).
Dalam kebijaksanaan-Nya yang kekal, Ia membuat pengecualian hanya kepada satu kelompok kafir. Ia berfirman, "Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar, (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (At-Taubah: 29).
Jadi kepada orang-orang yang telah diturunkan Alkitab sebelum Qur’an, yaitu orang-orang Yahudi dan Kristen, akan dikecualikan jika mereka membayar jizyah dan menerima syarat-syaratnya. Syarat ini didasarkan untuk meninggikan orang beriman -umat Islam- di atas Orang kafir dari Ahli kitab yang angkuh dan menolak pesan Tuhan. Ini dapat ditemukan dalam teks otentik ketika Khalifah 'Umar Ibn al-Khottob Radhiyallahu ‘anhu membuat perjanjian dengan orang-orang Kristen di Syam, yaitu bahwa mereka tidak akan membangun biara, gereja, atau kuil baru didalam atau disekitar kota mereka; bahwa mereka tidak boleh memperbaiki apa yang rusak darinya; bahwa mereka tidak boleh membatasi perjalanan Muslim yang menggunakan bangunan mereka untuk tempat berlindung; bahwa mereka tidak boleh melindungi mata-mata atau musuh lainnya; bahwa mereka tidak boleh merahasiakan ketika Muslim sedang ditipu dan dikhianati; bahwa mereka tidak boleh menampilkan praktik pagan mereka atau menyeru siapa pun kepada paganisme; bahwa mereka tidak boleh mencegah dari keluarga mereka untuk menerima Islam; bahwa mereka harus membuat ruang untuk umat Islam dan berdiri untuk mereka ketika mereka ingin duduk; bahwa mereka tidak boleh memakai senjata atau mengangkat senjata; bahwa mereka tidak boleh menjual alkohol; bahwa mereka tidak boleh menampilkan salib di atas gereja atau yang tempay yang dapat dilihat umat Islam; bahwa mereka tidak boleh meningkatkan suara mereka di gereja mereka; dan seterusnya. Kristen atau Yahudi yang menerima jizyah dan kemudian mengingkari dari salah satu kesepakatan yang ditentuan tidak akan menemukan keamanan, dan dengan demikian darah mereka menjadi halal untuk ditumpahkan dan kekayaan mereka boleh di rebut. Karena sesungguhnya, "kehormatan itu hanyalah bagi Allah, Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui." (Al-Munafiqun: 8).
Kesimpulan
Pada akhirnya, kami menantang semua orang kafir Kristen arogan dengan tantangan yang disajikan oleh Allah bagi mereka yang berbohong terhadap Yesus, seperti yang difirmankan Tuhan, "Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia. (Apa yang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu, maka katakanlah (kepadanya): "Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta agar la'nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta." (Ali ‘Imran: 59-61).
Catatan kaki :
[1] Tanakh adalah kitab suci Yahudi yang terdiri dari tiga bagian: Hukum (Taurat), Para Nabi, dan Tulisan-tulisan.
[2] Untuk memudahkan membaca, alkitab versi online yang digunakan dikutip dari sini http://alkitab.sabda.org. Kecuali ada versi lainnya.
[3] Al-Qur’an adalah firman dari Yang Maha kuasa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dan dijaga dalam bentuk aslinya sampai hari ini. Sunnah adalah kumpulan laporan otentik dari ucapan, tindakan, persetujuan, dan apa yang ditinggalkan Nabi Muhammad.
[4] Didalam Al-Qur’an disebut "Nasrani," maka demi menghindari kebingungan, kata umum "Kristen" digunakan disini dan ditujukan kepada mereka yang menyembah Yesus Kristus, Al masih Putra Maryam.
[5] Konsep lengkap dari manusia untuk menjadi “anak” Allah adalah sebuah karangan dari pendeta dan Rabbi (yahudi). Allah berfirman : Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: "Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya." Katakanlah: "Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?" (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia(biasa) diantara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu). (Al Maa’idah:18)
[6] Semua yang tertulis di sini hanya sekilas, hanya setetes di lautan kontradiksi, pemalsuan, dan saran bodoh yang ditemukan dalam teks sumber Kristen. Untuk informasi lebih lanjut, seseorang harus melihat ke salah satu dari banyak laporan terperinci tentang ketidakakuratan Alkitab yang ditemukan dalam karya ilmiah klasik, seperti al-Fishal fil-Milal oleh Ibn Hazm, al-I'lam oleh al-Qurtubiy, al-Jawab as-Shahih oleh Ibnu Taimiyah, Hidayat al-Hayara oleh Ibnul-Qayim, dan lainnya.
[7] Mukjizat ini diuraikan dengan bukti keaslian yang tak terbantahkan, dalam buku-buku berjudul Dalail an-Nubuwwah dari berbagai penulis, seperti al-Firyabi, Abu Nu'aim, dan al-Baihaqi serta dalam catatan Sirah Nabi oleh Ibnu Hisyam, al Jawami' Ibnu Hazm, ad-Durar oleh Ibn' Abdil-Barr, Zadul Ma'ad oleh Ibnul-Qayim, al-Bidayah wan Nihayah oleh Ibnu Katsir, dan banyak lainnya.