Rabu, 25 April 2018

PERBINCANGAN MUSUH - DABIQ 15

DABIQ 15 - PERBINCANGAN MUSUH

DAULAH ISLAM DALAM PERBINCANGAN MUSUH

Sejak awal kontroversi Arian antara Trinitarian (trinitas) dengan Unitarian (ketunggalan Tuhan), kantor Paus Roma telah diisi oleh uskup-uskup yang menentang keras monoteisme. Kobaran Api ini dinyalakan kembali pada abad ketujuh (masehi), ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diutus dan menyatakan bahwa tidak ada yang layak untuk disembah kecuali hanya Allah dengan tanpa menyekutukan-Nya. Beberapa abad kemudian di Dewan Clermont, Paus Urbanus II membuat sudut pandang Gereja tentang Islam menjadi jelas. Yaitu ketika ia Mengklaim dirinya mendapat wahyu ilahi dan menyerukan untuk membinasakan semua Muslim yang menyebarkan hukum Allah dengan berkata, "Pada kesempatan ini, saya atau lebih tepatnya Tuhan, menasehatkan kamu sebagai pembawa kabar dari Kristus untuk mempublikasikan ini di manapun dan membujuk semua orang dengan pangkat apapun, baik tentara infantri maupun ksatria berkuda, miskin dan kaya, untuk segera membawa bantuan kepada orang-orang Kristen dan menghancurkan ras keji dari tanah teman kita." inilah perkataan yang meluncurkan Perang Salib, dan masih terus berlangsung hingga saat ini. Selama berabad-abad, Paus sesudahnya juga terang-terangan dan dengan keras mengakui tujuan mereka untuk memberantas Islam melalui perang dan pemurtadan, Paus Callixtus III pada abad ke-15 bersumpah "untuk membasmi habis-habisan sekte jahat dan terkutuk dari pengikut setia Muhammad [Islam] di Timur;" dan sebagaimana Eugene IV, pendahulunya yang menyatakan harapan bahwa "dengan segera akan banyak dari pengikut sekte keji Muhammad yang memeluk agama Katolik" (Dewan Basel pada 1434).

Selama terus berkecamuknya peperangan antara Islam dan Gereja pagan, dan juga ketakutan akan kehilangan pengikutnya yang memeluk Islam, beberapa pihak Kristen mulai mengatakan hal yang lebih tepat tentang musuh mereka dan tujuan Islam yang sesungguhnya, yaitu untuk menghancurkan sistem buatan manusia dan "kebebasan" yang rusak. Benediktus XVI misalnya - pendahulu Francis – menjelaskan bahwa demokrasi "bertentangan dengan esensi Islam yang tidak memiliki pemisahan antara ranah politik dan agama dimana hal ini telah dimiliki oleh kristen sejak awal" (Kebenaran dan Toleransi). Meskipun ia seorang pendusta, namun dia berkata tentang kebenaran dalam masalah ini – tidak diragukan lagi bahwa demokrasi bertentangan dengan esensi Islam – dan dengan cara demikian menunjukkan kemurtaddan (penyeru demokrasi) dari Islam, seperti sebagian besar "imam" di Barat dan mereka yang disebut guru di universitas "Islam" yang memiliki pemahaman lebih rendah dari kafir Benediktus tentang Islam.

Beberapa waktu kemudian, Benediktus berusaha melecehkan Islam lagi dengan mengejek Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tapi hal itu merupakan sesuatu yang sama dengan apa yang diserukan oleh sebagian besar nabi yang membawa Taurat, Zabur, dan Injil, yaitu perintah untuk menyebarkan agama dengan pedang*. Dengan demikian, Benediktus menghinakan perintah yang ditemukan didalam Perjanjian Lama dan baru untuk memerangi orang-orang musyrik dengan mengutip perkataan Manuel II Palaiologos, Kaisar Bizantium yang berkata: "Tunjukkan padaku bahwa apa yang dibawa Muhammad adalah hal baru, dan di sana Anda hanya akan menemukan hal-hal jahat dan tidak manusiawi, seperti perintah untuk menyebarkan agama dengan pedang dalam ajaran agamanya." agama Islam akan terus disebarkan dengan pedang, meskipun Benediktus membencinya. Semoga Allah menyingkap kejahatan dan kekejaman Benediktus dan membongkar aibnya didunia, yaitu alasan sebenarnya di balik skandal pengunduran dirinya dari paganisme Kepausan.

*Untuk membaca beberapa ayat dalam bibel / injil terkait kewajiban menyebarkan agama dengan pedang, silahkan merujuk artikel dengan judul “Dengan Pedang” pada edisi ini di halaman 78-80.

Meskipun dengan adanya kejelasan dari masa lalu dan kebusukan Paus terkait kebenciannya terhadap islam dan ajarannya, Francis, paus saat ini telah berjuang melawan kenyataan untuk mengiklankan penyimpangan (imam) murtaddin sebagai ajaran agama yang sebenarnya bagi umat Islam. Jadi ketika Benediktus dan banyak paus sebelumnya menekankan permusuhan antara paganisme Kristen dengan monotheisme (tauhid) Muslim, apa yang dikerjakan Francis sekarang ini lebih tajam dan memperjelas kata-kata konfrontatif yang akan menghinakan mereka yang dengan dusta mengklaim Islam, yaitu mereka (murtaddin) yang dapat memerankan peran sempurna sebagai alibi infiltrasi kristen ke negeri-negeri Muslim. Sementara Benediktus XVI menemui celaan publik karena mengutip perkataan dari seorang kaisar Bizantium berabad-abad lalu, Francis malah terus bersembunyi di balik tabir tipuan "perbuatan baik," demi menutupi niat yang sebenarnya untuk menenangkan bangsa Muslim. Hal ini dicontohkan dalam pernyataan Francis bahwa "rasa hormat kami kepada pengikut Islam yang sebenarnya, seharusnya membawa kita untuk menghindari generalisasi kebencian, Islam yang otentik dan menafsirkan Qur’an dengan tepat akan dapat melawan setiap bentuk kekerasan" (sukacita Injil).

Bagian dari pendekatan untuk menaklukan umat Islam dan menenangkannya yaitu berkoordinasi dengan lembaga terkenal seperti Universitas al-Azhar, sebuah institute Sufi Asy'ari yang dengan dusta diangkat sebagai wakil dari Muslim Sunni dari seluruh dunia. Metode ini merupakan upaya untuk membenarkan klaim sesat bahwa negara Muslim tidak memiliki pusat kewenangan - seperti dalam kekhalifahan - tapi ia "diatur" oleh beberapa ulama di universitas. Adnane Mokrani, seorang budak Gereja Katolik dari Tunisia mengomentari pelukan Francis kepada Ahmed el-Tayeb - pemimpin Universitas al-Azhar Kairo – dengan berkata, "Islam tidaklah seperti Gereja Katolik. Tidak ada satu pusat sentral kewewenangan dalam islam. Yang Ada hanyalah lembaga-lembaga, dan perguruan tinggi tradisional di dunia Islam." Sebaliknya, sejarah dan berbagai buku membantah pernyataan bodoh dan jelas bertujuan buruk ini. Setelah wafatnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam, para sahabatnya bersepakat bahwa hal yang paling penting yang dihadapi bangsa Muslim saat itu adalah menunjuk pemimpin berikutnya sebagai pusat wewenang. Mereka melakukannya dengan tepat waktu, dan wewenang itupun terus berjalan tak terputus selama ratusan tahun. Otoritas (pemegang wewenang) ini disebut dengan kekhalifahan, dan didirikan kembali pada "2014" melalui janji setia (bai’at) kepada Syaikh Abu Bakr al-Baghdadiy Hafizhahullah.

Disaat paus yang sebelumnya berbicara menentang Islam dikarenakan kenyataan yang mereka hadapi, serta berdasarkan permusuhan timbal balik antara paganisme Kristen dan monotheisme (tauhid) Muslim, paus yang sekarang - dan terutama Paus Francis - telah berusaha untuk melukis sebuah gambar persahabatan yang menghangatkan hati serta mengarahkan massa Muslim untuk pergi menjauh dari kewajiban jihad melawan kekafiran. Demi membantu Tentara Salib untuk mengambil hati muslim, el-Tayeb berkata kepada Francis, teman dekatnya: "orang ini adalah orang yang cinta damai, seorang pria yang mengikuti ajaran Kristen, yang merupakan agama cinta dan perdamaian ... seorang pria yang menghormati agama-agama lain dan menunjukkan perhatian kepada pengikut mereka “ (Radio Vatikan).

Dalam lapisan ini, tidak hanya pandangan sejarah Gereja tentang Islam yang Francis ubah dan disalahpahami. Setelah serangan Orlando oleh Omar Mateen Taqabbalahumullah, Francis mengatakan bahwa pelaku sodomi "tidak boleh didiskriminasi, dan mereka harus dihormati serta disertai bimbingan pastoral ... Masalahnya adalah seseorang dengan sebuah kondisi, yang memiliki niat baik untuk mencari Allah. Maka siapakah kita yang berhak menilai mereka?". Ia secara total telah mengabaikan doktrin Gerejanya sendiri dalam menilai homoseksual yang merupakan tindakan tak bermoral demi menyenangkan hati dan membenarkan tindakan menyimpang kaum sodom, sekali lagi Francis kembali mengesampingkan agama demi opini publik. Tetapi untuk benar-benar mengubah langkah sejarah dan ajaran Alkitab, Paus sekali lagi menyerukan umat Kristen untuk meminta maaf kepada sodomi atas kerugian yang menimpa mereka.

Sekarang sangatlah mungkin bahwa kepedulian Francis kepada pelaku sodom mencerminkan sejarah mereka dalam Kepausan, termasuk paus-paus sebelumnya: Benediktus IX, Julius II, Leo X, dan Julius III, serta pendeta Katolik yang tak terhitung jumlahnya - penyebutan ini identik dengan pemerkosaan terhadap anak laki-laki. Jika demikian, sebagaimana Paus merupakan representasi pengikut setianya, maka seseorang tanpa ragu lagi akan mengatakan bahwa ini adalah apa yang akan diterima oleh kekristenan. Bagaimanapun, itu akan menjadi lebih jelas saat - mengingat waktu komentar Paus tentang homoseksualitas, yang keluar dengan segera setelah serangan Orlando terhadap kaum salibis Sodom - ini adalah bagian dari misi kepausan untuk menggalang dukungan apapun yang memungkinkan, bahkan dari orang-orang kotor diantara banci sodom, dalam perang salib melawan bangsa Muslim pada umumnya dan Daulah Islam pada khususnya. Dengan demikian, Francis adalah mengambil rute yang telah dijalani oleh rekan-rekannya dari "ulama" murtadd di al-Azhar dan di Madinah, yaitu jalan untuk melupakan seruan yang jelas, berperang melawan kesyirikan dan orang-orangnya dalam seluruh Qur’an dan Sunnah - dan sebagai gantinya malah mengubah agama untuk dicocokkan dengan "agama" fantasi iblis yang jauh dari kebenaran, dan tentu saja jauh dari sebuah agama alami yang cenderung untuk dicari.

Ini adalah bagian dari sebuah rencana untuk men-demiliterisasi Islam, atau untuk menjelaskannya dengan lebih tepat yaitu untuk menghapus perintah Qur’an dan Sunnah yang dengan jelas memerintahkan untuk melancarkan jihad terhadap orang kafir sampai semua manusia dunia dikuasai oleh syari’at. Ini tidak beda dengan Lawrence Franklin, seorang mata-mata Israil yang bekerja kepada pemerintah Amerika Serikat ketika memberi saran Paus bahwa ia harus "menantang para pemimpin lembaga Islam untuk mereformasi dan membasmi justifikasi teologis demi melakukan kekerasan dan intoleran."

Hal ini juga diamini oleh William Kilpatrick, mantan dosen di universitas Boston di sebuah lembaga Jesuit, yang menyerukan surat ensiklik dari Paus untuk umat globalnya dan menjelaskan bahaya Islam itu sendiri - dan ini bukan hanya sebuah versi "buruk" atau "radikal" saja. Kilpatrick mengakui taktik penyesuaian diri Francis dalam meremehkan peran sebenarnya dari pedang dalam ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam, tetapi ia juga menyadari bahwa semakin banyak orang kafir dan murtadd yang mencoba untuk menghapus aspek Islam dari agama, maka semakin banyak orang taat yang menjauh dari apa yang biasa disebut "mainstream" dan menuju Daulah Islam, Daulah yang merepresentasikan seruan global asli dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam. Dan menjadi Alasan langsung tentang ancaman Islam secara keseluruhan - yang ia klaim adalah agama "1,6 miliar orang" – dan ini teringkas dalam kata-kata Kilpatrick, "Dan alasan kita harus mengkritik berkembang pesat dan agresifnya da'wah iman ini adalah bahwa jika kita tidak (menghentikannya), mungkin akan segera menjadi iman 7,6 miliar orang – atau dapat dikatakan : seluruh penduduk planet ini."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar