Rabu, 25 April 2018

PERANG DENGAN PEDANG

DABIQ 15 - ARTIKEL

PERANG DENGAN PEDANG

Gambaran dari singa-singa Daulah Islam yang menyambar mangsanya di medan perang Iraq, Syam, dan lainnya – seperti di Paris, Brussels, Orlando, dan kota-kota lainnya yang berada di belakang garis pertahanan musuh – mengirimkan sebuah pesan yang jelas kepada Salibis dan sekutu mereka : ini adalah sebuah perang agama berantai antara bangsa Muslim dan bangsa kafir. Meskipun dengan kejelasan ini, banyak orang di negara-negara Salibis mengekspresikan keterkejutan dan bahkan kejijikannya ketika kepemimpinan Daulah Islam "menggunakan agama untuk membenarkan kekejamannya." Sesungguhnya, melancarkan jihad - Menyebarkan hukum Allah dengan pedang - merupakan kewajiban yang ditemukan dalam Al-Qur’an, perkataan Tuhan kami, sebagaimana itu juga merupakan kewajiban yang disampaikan didalam Taurat, Zabur, dan Injil.

Di dalam sisa-sisa Taurat, ditemukan bahwa "Tuhan adalah pahlawan perang" (Keluaran 15:3), dan juga - mengenai Bani Israil yang pergi ke Palestina - "TUHAN Allahmu akan membawamu ke negeri yang akan kamu masuki dan miliki. Ia akan mengusir banyak bangsa dari hadapanmu, baik orang Het, orang Girgasi, orang Amori, orang Kan’aan, orang Feris, orang Hewi, dan orang Yebus. Itulah tujuh bangsa yang lebih besar dan lebih kuat daripada kamu. TUHAN, Allahmu, akan membuat mereka di bawah kuasamu. Kamu akan mengalahkan mereka dan kamu harus membinasakan mereka semua. Kamu tidak boleh membuat perjanjian dengan mereka atau mengasihani mereka” (Ulangan 7:1-2).

Perintah genosida ini selanjutnya dijelaskan dengan:

“Apabila kamu sudah mendekati kota yang akan kamu serang, haruslah kamu menyerukan untuk berdamai. Jika mereka menyetujui untuk berdamai dan membuka pintu gerbangnya untukmu, maka semua orang di kota itu akan bekerja dan menjadi budakmu serta melayanimu. Akan tetapi, jika kota itu tidak mau berdamai denganmu dan berperang melawanmu, kamu harus mengepung kota itu. Ketika TUHAN, Allahmu, menyerahkan kota itu ke dalam tanganmu, kamu harus membunuh semua laki-laki yang ada di sana dengan pedang. Namun, perempuan, dan anak-anak, dan hewan, dan segala sesuatu yang terdapat di kota itu untukmu, yaitu seluruh jarahan boleh kamu ambil sebagai barang jarahan untuk diri sendiri. Kamu boleh menggunakan barang jarahan dari musuhmu yang telah diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu. Demikianlah, kamu harus melakukannya terhadap kota-kota yang jauh darimu, yang tidak termasuk kota-kota dari bangsa-bangsa ini. Akan tetapi, kota-kota dari bangsa ini yang diberikan oleh TUHAN, Allahmu, kepadamu sebagai sebuah warisan, janganlah kamu membiarkan hidup apa pun yang bernafas. Namun, kamu harus membinasakan mereka semuanya, orang Heti, orang Amori, orang Kan’aan, orang Feris, orang Hewi, dan orang Yebus, seperti yang telah diperintahkan oleh TUHAN, Allahmu. Dengan demikian, mereka tidak akan mengajarimu untuk melakukan hal-hal menjijikkan yang telah mereka lakukan kepada allah-allah mereka sehingga kamu berdosa terhadap TUHAN, Allahmu.“ (Ulangan 20:16).*

*Catatan penerjemah : dalam alkitab online (http://alkitab.sabda.org) silahkan merujuk: Ulangan: 20:10-18

Dan seperti yang dikutip Daud, dan dikatakan kepada musuhnya, "Pada hari ini juga, engkau akan diserahkan oleh TUHAN ke dalam tanganku. Aku akan mengalahkanmu dan memenggal kepalamu" (1 Samuel 17:46), dan setelah menaklukkannya, dia dilaporkan memenggal kepalanya. "Berlarilah Daud menghampiri orang Palestina (goliat) itu, lalu berdiri di dekatnya. Ia mengambil pedangnya, lalu dihunusnya dari sarungnya untuk menghabisinya dengan memancung kepalanya ... Daud mengambil kepala orang Palestina itu, dan membawanya ke Yerusalem … Ketika Daud kembali setelah mengalahkan orang Palestina itu, Abner pun memanggilnya dan membawanya menghadap Saul, sementara kepala orang Palestina itu di tangannya. “ (1 Samuel 17: 51-57).

Setelah aturan Tuhan didirikan, pedang tidak akan disingkirkan melainkan akan tetap terus terhunus untuk melaksanakan aturan tersebut. penghujat akan dibunuh dengan dirajam. "Setiap orang yang menghujat nama TUHAN haruslah dihukum mati. Seluruh umat harus merajam orang itu. Baik warga Israil maupun orang asing yang menghujat TUHAN harus dihukum mati" (Imamat 24:16).

Adapun orang yang murtad atau yang menyeru untuk menyembah Allah lain, maka "Janganlah kamu menuruti dan mendengarkan mereka atau mengasihani mereka. Janganlah kamu menyayangi atau melindungi mereka. Namun, kamu harus membunuhnya. Haruslah tanganmu yang pertama membunuhnya" (Ulangan 13:8-9).

Demikian juga, seorang pembunuh harus dieksekusi. "Jika seseorang membunuh sesamanya, ia harus dihukum mati" (Imamat 24:17).

Dan pelaku sodomi dibunuh. "Jika seorang laki-laki melakukan hubungan seksual dengan laki-laki lain, seolah melakukannya dengan seorang perempuan, keduanya telah melakukan kekejian. Mereka harus dihukum mati. Darah mereka akan tertanggung atas diri mereka sendiri" (Imamat 24:13)**

**Catatan penerjemah : dalam alkitab online (http://alkitab.sabda.org) silahkan merujuk: Imamat 20:13

Selain itu, ada hukuman setimpal (dikenal sebagai "qishash" dalam syari’at). "Jika seseorang melukai sesamanya, apa pun yang dilakukannya, orang itu harus diperlakukan sama seperti perbuatannya" (Imamat 24:19), dan "maka hukuman untuk kejahatan itu adalah nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki. luka bakar ganti luka bakar, memar ganti memar, terpotong ganti terpotong" (Keluaran 21:23-25).

Disebutkan dalam Mazmur bahwa kebijaksanaan dibalik ditakdirkannya ketetapan ilahi untuk membunuh: "Ketika Ia membunuh mereka, mereka akan mencari-Nya, mereka menyesal dan kembali kepada Allah" (Mazmur 78:34), sama seperti didalam Perjanjian Lama, ditemukan bahwa "terkutuklah orang yang menahan pedang-Nya dari menumpahkan darah" (Yeremia 48:10).

Bahkan Yesus, yang telah dinisbatkan oleh orang-orang Kristen sebagai "Putera peramaian," tercatat dalam kitab suci mereka mengatakan, "Janganlah kamu mengira bahwa Aku datang untuk menebarkan damai di atas bumi; Aku tidak datang untuk menebarkan damai, tetapi pedang" (Matius 10:34).

Begitu juga perintah Yesus kepada para pengikutnya agar mempersenjatai diri, dengan berkata, "dan siapa yang tidak mempunyai pedang, harus menjual jubahnya untuk membeli pedang" (Lukas 22:36).

Dan juga saat menceritakan sebuah perumpamaan, dituliskan bahwa Yesus berkata, "Akan tetapi, tentang musuh-musuhku yang tidak menginginkan aku menjadi raja atas mereka, bawalah mereka kemari dan bunuhlah mereka di hadapanku" (Lukas 19:27).

Adapun dalam menegakkan hukum, maka sebuah langkah yang jelas untuk memerintahkan kebajikan dan melarang perbuatan jahat, terutama yang dilakukan dengan kekuatan fisik, keempat "Injil" menyebutkan kisah Yesus yang mengusir dengan keras penukaran uang dari gereja. "Kemudian Yesus masuk ke Rumah Tuhan, dan mengusir semua orang yang berjual beli di situ. Ia menjungkirbalikkan meja-meja penukar uang, dan bangku-bangku penjual burung merpati. Ia berkata kepada mereka, "Telah tertulis, 'Rumah-Ku akan disebut rumah doa,' tetapi kamu menjadikannya sebagai sarang para perampok." (Matius 21: 12-13).

Selain itu, segala sesuatu yang disebutkan dari Perjanjian Lama terkait perang dan penegakan hukum disimpan, kecuali yang secara khusus disebutkan sebaliknya, dalam Injil, Yesus disebutkan. "Jangan berpikir bahwa Aku datang untuk meniadakan Hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya melainkan untuk menggenapinya" (Matius 5:17).

Namun, meskipun dengan referensi yang jelas untuk menerapkan hukum Tuhan dengan keras, orang Kristen memilih menyingkirkan perintah tersebut dan mengikuti keputusan paus dan khotbah dari pendeta mereka - menunjukkan bahwa cinta mereka kepada manusia lebih besar daripada cinta mereka kepada Pencipta manusia. Sesungguhnya mereka telah menyingkirkan cinta mereka kepada Sang Pencipta dan mengabdikan diri untuk mencintai yang diciptakan, dan juga tidak mengindahkan perkataan Yesus, "Tidak ada pelayan yang dapat melayani dua majikan karena ia akan membenci majikan yang satu dan menyukai majikan yang lain. Atau, ia akan patuh kepada majikan yang satu dan mengabaikan yang lainnya" (Lukas 16:13).

Hal ini mewujudkan kemunafikan masyarakat salibis, yang secara "religius" selalu menyeru kepada slogan perdamaian dan cinta kasih, lalu membenci dan menghina Hukum Musa dan Injil Yesus, karena mereka lebih memilih hukum demokrasi dan keputusan PBB.

Perbedaan yang jelas antara Muslim dan Yahudi dan Kristen yang menyimpang dan sesat adalah bahwa umat Islam tidak malu dalam mematuhi aturan yang diturunkan dari Tuhan mereka tentang perang dan penegakan hukum ilahi. Apabila itu adalah orang Islam dan bukannya salib, yang memerangi Jepang dan Vietnam atau yang menginvasi tanah penduduk asli Amerika, maka tidak akan ada penyesalan ketika membunuh dan memperbudak mereka. Karena mujahidin begitu terikat dengan Hukum ilahi, mereka menerapkannya secara menyeluruh dan tanpa "maslahat politik" dimana harus meminta maaf beberapa tahun kemudian. Jepang misalnya, akan dipaksa masuk Islam dari paganisme mereka - dan jika mereka keras kepala menolak, mungkin nuklir lainnya akan mengubah pikiran mereka. Vietnam juga akan ditawari Islam atau tidur di napalm.

Adapun dengan penduduk asli Amerika - setelah membantai laki-laki mereka, agar sebagian dari mereka menyerah kepada Tuhan - maka Muslim akan mengambil perempuan dan anak-anak yang masih hidup sebagai budak, membesarkan anak-anak dengan model Muslim dan menghamili perempuan mereka untuk menghasilkan generasi baru mujahidin.

Adapun untuk orang-orang Yahudi khianat dari eropa dan di tempat lainnya - mereka yang akan mengkhianati perjanjiannya - maka laki-laki mereka yang telah puber akan menghadapi pembantaian yang akan membuat dongeng Holocaust menjadi seperti cerita pengantar tidur, dan perempuan mereka akan menjadi pelayan dari pembunuh suami dan ayah mereka.

Selanjutnya, perdagangan budak Afrika yang menguntungkan akan terus berlanjut untuk mendukung perekonomian yang kuat. Kepemimpinan Daulah Islam tidak akan melewatkan izin Allah untuk menjual manusia pagan yang tertangkap, untuk mengajar mereka dan mengubah mereka (menjadi muslim), sebagaimana mereka bekerja keras untuk tuan mereka dalam membangun negara yang indah. Tentu saja, secara khusus orang-orang diantara mereka yang bertobat, mempraktekkan agama dengan baik, akan dibebaskan dan diperlakukan sama dengan Muslim merdeka lainnya. Ini tidalah sama dengan budak Kristen yang dibebaskan di Amerika, karena mereka tidak diberikan "hak" yang seharusnya oleh pemerintah yang diakui selama lebih dari satu abad - dan keturunan mereka masih hidup di sebuah negara yang terpecah pada masa kini.

Semua ini akan dilakukan bukan demi rasisme, nasionalisme, atau kebohongan politik, tetapi untuk membuat kalimat Allah menjadi yang tertinggi. Jihad menunjukkan ekspresi kecintaan pokok seseorang kepada Penciptanya, menghadapi dentingan pedang dan dengungan peluru di medan perang, mencari-cari untuk menyembelih musuh-Nya - yang ia benci karena Allah membenci mereka. Sebuah agama bila tanpa dasar-dasar seperti ini merupakan agama yang tidak menyeru pengikutnya untuk mewujudkan agama seutuhnya dan menjunjung tinggi kecintaan kepada Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar