Tampilkan postingan dengan label Spesial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Spesial. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 April 2018

DARAH KEHINAAN

DABIQ 14 - SPESIAL

DARAH KEHINAAN
Oleh: John Cantlie

“Dalam sebuah respon Amerika yang lambat atas eksekusi mantan teman satu sel ku tahun lalu, Negara itu secara resmi telah mengubah kebijakannya dalam masalah tebusan tawanan. Jelas sudah, kekerasan adalah satu-satunya pesan yang akan mereka tanggapi.”

Benar, aku memiliki pandangan mengenai krisis tawanan internasional –yang begitu menggemparkan headline media-media massa dunia pada tahun 2014- yang tidak dimiliki orang lain. Ini bukanlah hal yang perlu aku banggakan, tapi aku tahu lebih banyak atas apa yang dirasakan oleh tawanan asal Eropa terakhir yang berhasil pulang ke rumahnya daripada mereka yang lain yang masih hidup.

Saat tu, aku tidak berpikir dan banyak berbicara tentang apa yang akan terjadi setelahnya. Aku sudah kembali pulih secara fisik maupun mental, dan mencoba tak mengingatnya lagi. Kita tidak bias hidup di masa lalu selamanya. Namun hidup ini adalah rangkaian peristiwa, yang sebenarnya bisa dihindari secara keseluruhan, yang akan terwarnai selamanya dengan darah mantan teman satu sel ku dan akan menjadi aib memalukan bagi pemerintahan yang terlibat atas terbunuhnya dia. Tak akan ada yang bisa mengubah cara pandang Amerika dan Inggris yang dengan sinis meninggalkan warga Negara mereka terbunuh sementara semua Negara lain mampu memulangkan warga Negara mereka.

Dampak dari diumumkannya perubahan kebijakan Amerika Serikat terkait negosiasi tawanan tahun lalu jelas memiliki konsekuensi serius di Barat, mengejutkan publik. Tiba-tiba saja keluarga tawanan dibolehkan untuk membahas uang tebusan yang mencapai jutaan dollar, padahal kurang dari setahun sebelum pergeseran kebijakan ini, setiap rakyat yang mencoba untuk melakukannya –dan Diane Foley juga yang lain telah mencobanya- diancam untuk dituntut oleh Badan Keamanan Nasional (NSA).

Aku belum mendengar apapun mengenai sikap inggris dalam hal ini, namun karena mereka selalu mengikuti apapun yang diikuti amerika sekecil apapun itu, maka sangat mungkin bagi mereka sekarang juga telah merubah sikapnya.

Agaknya cukup aneh untuk kembal membahas semua yang telah terjadi lebih dari satu setengah tahun yang lalu, namun penting adanya untuk merenungkan apa yang sejarah tunjukkan dengan jelas berupa salah satu krises tawanan paling berdarah dan penanganannya paling buruk di era modern. Ini bukan hanya berdasarkan pengamatan ku semata, tapi juga berasal dari perasaan yang diutarakan oleh para wartawan diberbagai surat kabar terkait masalah ini.

Dampak kebodohan dari sikap keras enggan bernegosiasi Nampak jelas waktu itu, yaitu teman-teman satu sel ku dipenggal satu per satu. Karena mayoritas Negara memilih untuk bernegosiasi, baik diatas atau dibawah meja (dan semuanya memilih dibawah), dengan sikap keras kepala enggan berdialog, semua yang kalian lakukan hanyalah menyalahkan warga Negara kalian yang di penjara sampai mati. Tidak lebih.

Kalian tidak membuat sikap politik yang besar karena hal itu tidak terlihat dan tidak ada di media, kalian tidak menunjukkan pada dunia bagaimana kesulitan kalian membuat dalih alas an yang sama, dan nyatanya kalian memang sama sekali tidak membuat perbedaan apapun terhadap sikap global mengenai sandera. Para penyandera tidak memeriksa paspormu ketika mereka menangkapmu dan berkata, “Oh lihat, dia orang inggris. Kita lebih baik membiarkannya pergi dan hanya menahan semua orang prancis sebagai gantinya.” Ia tidak bekerja seperti itu.

Semua yang kalian lakukan hanyalah menyalahkan warga Negara yang telah memasuki sebuah situasi yang sulit demi uang beberapa juta dollar yang –mari kita jujur- tidak seberapa di dunia masa kini.

Daulah Islamiyah memompa jutaan dollar per hari dari pendapatan minyak sehingga mereka tidak membutuhkan uang hasil tebusan tawanan itu, dan belum membutuhkan untuk beberapa waktu. Aku tidak mengklaim berbicara atas nama mereka, namun aku percaya, cukup masuk akal untuk berkata bahwa mujahidin meminta uang tebusan hanya untuk melaksanakan perintah dalam Al-Qur’an.

{Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti...} (QS. Muhammad : 4)

Jangan salah, mujahidin mengikuti Al-Qur’an di tiap huruf-hurufnya, mengatakan apa yang mereka inginkan, dan melakukan apa yang mereka katakan. Mereka tidak main-main. Sebuah fakta yang tidak hilang dari Negara-negara Eropa yang warganya tertawan.

Amerika, disisi lain memilih untuk dengan entengnya mengabaikan bencana yang sedang mendatangi mereka, dan sekarang dalam sehari menghabiskan lebih banyak uang untuk membombardir Daulah Islamiyah daripada menyediakan uang yang diperlukan untuk membawa pulang Kayla Mueller yang berusia 26 tahun. Terima kasih atas kebijakan amerika saat itu, semua yang diperoleh keluarganya hanyalah bukti bahwa dia telah terbunuh akibat bom Koalisi di Raqqah. Dan sebuah nyala lilin di kampung halamannya Prescott, Aricona.

Jadi, beberapa bulan lalu aku menonton dengan seksama sebuah video dokumenter berdurasi 27 menit yang berjudul “Biaya Untuk Hidup”, yang ditayangkan ABC Australia pada Juni lalu. Presenter program ini, Jonathan Holmes, mewawancarai salah satu mantan teman satu sel ku, Frenchman Nicholas Henin. Nic adalah seseorang yang unik tapi aku cukup menikmati kebersamaan dengannya karena ia orang yang tenang, dan mengatakan hal-hal yang sangat aneh. Salah satu Nic-isme favoritku ketika ia dipukul oleh penjaga karena melemparkan roti ke toilet dan ia berteriak di dalam kamar dengan suara bernada tinggi, menyaksikan kepalanya melesat melewati pintu, berada cukup dekat di depan kami semua dan berteriak, “Aku baru saja dipukuuuuulllll”. Ah, hari yang menyenangkan.

Sesampainya dirumah, keempat orang prancis muncul ke hadapan publik bak pahlawan yang kembali dari medan perang. Nic, sama seperti semua tawanan prancis, spanyol, italia, jerman dan Denmark lainnya, kembali pulang ke rumah mereka dengan sedikit receh yang ditemukan pemerintah di dalam sakunya dan dibayarkan melalui seorang “perwakilan”. Biasanya ia adalah pengusaha kaya yang bertindak sebagai penyangga keuangan sehingga tidak ada hubungan langsung kepada pemerintah yang bersangkutan dan mereka dapat mengatakan –tanpa berbohong sedikitpun- bahwa mereka tidak membayar uang tebusan pada pihak yang menawan. Aku tidak tahu apakah pembayaran ini dilakukan secara elektronik atau seikat uang $50 usang didalam sebuah tas Adidas, namun itu tidak penting.

Terdapat banyak foto bahagia dank lip berita saat para tawanan pulang dan berkumpul kembali dengan orang yang mereka cintai. Ada air mata, pelukan, senyuman, dan jika kamu orang prancis, ciuman tak tulus di pipi dari presiden. Media menyukainya, masyarakat senang dengan pemerintah mereka, para mantan tawanan begitu bersyukur karena masih hidup, dan semua orang bersatu dalam kemarahan terhadap “para penawan yang kejam” yang telah melakukan “hal busuk” seperti itu sejak awal. Pemerintah membayar perusahaan marketing seperti Saatchi & Saatchi berjuta-juta untuk menghasilkan respon positif seperti itu dari masyarakat.

Sekarang, bandingkan hal itu dengan cemooh kemarahan dan kepahitan publik yang meletus di layar kaca publik ketika James Foley dieksekusi pada tanggal 18 Agustus 2014. “Hebat, ditangkap di hari Thanksgiving, dibunuh di hari ulang tahun ibuku,” ucapnya dengan tenang, beberapa menit sebelum ia dituntun keluar. Kepala kami dicukur gundul semua pagi itu dan pasti akan ada sesuatu yang pasti terjadi. “Ini hanya sebuah video, baik untuk kita semua,” kata James. “Tidak”, aku menjawab. “Ini bukan hanya sebuah video”.

94% warga amerika mendengar tentang kematian Foley. Ini menjadi berita terbesar di tahun itu karena gambar eksekusinya dan yang lain setelahnya disiarkan ke seluruh dunia. Belum pernah ada yang melihat hal seperti itu, tentu saja tidak dalam skala sebesar ini dan peristiwa itu memenuhi halaman depan (headline) di setiap surat kabar dan berita utama tv di seluruh dunia. Awalnya kemarahan ditujukan kepada mujahidin sebagai pihak eksekutor, tapi tidak lama kemudian Nampak jelas bahwa pemerintah yang terlibat sebenarnya mampu membuat kesepakatan untuk membebaskan warga mereka, akhirnya semua mata tertuju pada mereka. Kematian tersebut adalah akibat dari tindakan –atau lebih tepatnya kelambatan total- dari politisi amerika dan inggris.

“Terdapat perbedaan yang sangat besar antara bagaimana respon pemerintah perancis dan spanyol terkait hal itu,“ kata wartawan New York Times Rukmini Callimachi ketika diwawancarai dalam program tersebut. “Sedangkan warga amerika menyeret kaki mereka dan memberi tahu Mrs. Foley ‘Kami tidak akan membayar, mintalah bukti hidup yang lain, dll.’ Yang lain masuk ke mode negosiasi dan berkata, ‘Oke, 100 juta, 50 juta, itu diluar dari pertanyaan. Mari kita bicara hal yang lebih masuk akal’.

Aku melihat sejumlah email antara negosiator dari Daulah Islam dan beberapa keluarga tawanan amerika pada saat itu. Keputusasaan dan permohonan untuk perpanjangan waktu oleh para ibu sementara mereka sendirian mencoba untuk memfasilitasi pembebasan tawanan di penjara “hitam” amerika sebagai media pertukaran untuk anak-anak mereka, tampak mengerikan untuk dibaca dan membuktikan betapa sedikit yang pemerintah mereka telah lakukan atau bahkan diskusikan dengan mereka sementara jam terus berputar tanpa henti. Hanya beberapa hari sebelum ia dibunuh, ibu Steven Sotloff masih, dengan sangat mustahil, mencoba membuat Obama mau membahas pembebasan Dr. Aafia Siddiqui sebagai pertukaran untuk hidup Steven. Satu ibu melawan pemerintah. Tentu saja, dia kalah.

“FBI memiliki penyadap komunikasi, serta memiliki pengawasan udara, mereka hamper pasti memiliki SDM (mata-mata) di wilayah Suriah,” kata bos Global Post Philip Balboni, agen media dimana Foley bekerja, dalam program tersebut. “Jadi tidak diragukan lagi banyak informasi yang tersedia bagi mereka. Tidak ada sama sekali, sepanjang periode waktu Jim masih hidup, sepotong informasi pun yang datang kepada kami. Tapi yang benar-benar membuat marah Diana dan John Foley adalah ancaman yang disampaikan oleh anggota NSA dalam teleconference dengan para keluarga tawanan lainnya”. Ancamannya sederhana: Jika anda mencoba untuk mengumpulkan uang tebusan demi menyelamatkan anak anda, anda bisa dituntut karena mendanai terorisme.

Mungkin cara paling sederhana untuk menilai kegagalan menyedihkan dari kebijakan tawanan amerika dan inggris dibandingkan dengan, katakanlah, pendekatan perancis adalah dengan melihat segala sesuatu yang terjadi selama lebih dari 18 bulan terakhir dan menilai apakah sikap “keras kepala” amerika dan inggris telah merubah semuanya menjadi lebih baik, apakah tidak bernegosiasi dengan cara apapun ketika yang lain melakukannya bahwa mereka telah meningkatkan kemampuan politik atau militer mereka dalam memerangi Daulah Islamiyah.

Mari kita lihat fakta. Sebagai contoh, dengan tidak membayar tebusan, bahkan melarang pihak keluarga untuk mencobanya dan menolak untuk membahas pertukaran tawanan dengan Daulah Islamiyah untuk hidup kelima mantan teman sel ku, apakah keputusan Obama dan Cameron tersebut mencegah Khilafah memperluas perbatasan wilayahnya di Timur dan Barat? Tidak sama sekali.

Apakah keputusan tersebut menghentikan afiliasi kelompok-kelompok islam di semenanjung Sinai, Afghanistan, Pakistan, yaman, Nigeria dan Libya untuk berjanji setia kepada Khilafah, sehingga menciptakan pemerintahan syari’at terbesar yang pernah ada di era modern? Tidak sama sekali.

Apakah itu menghentikan Daulah Islamiyah memukul mundur militer Iraq menuju kehancuran dan menaklukkan sebagian besar provinsi Anbar sementara para militant syi’ah membuang senjata mereka dan kabur? Tidak sama sekali.

Apakah itu menghentikan amerika untuk menghabiskan miliaran dollar dalam operasi militer udara sejauh ini dan menyebarkan ribuan penasehat militernya di Negara yang baru mereka tinggalkan pada tahun 2011? Tidak sama sekali.

Dan apakah itu menghentikan serangan mujahidin di Texas, New York, Tunisia dan California di sepanjang tahun 2015 yang menyebabkan puluhan warga inggris dan amerika tewas atau terluka? Sama sekali tidak.

Perancis memulangkan semua tawanan mereka dan masih mendapat serangan di dalam wilayah negaranya, jadi fakta itu menjengkelkan. Dengan memilih untuk tidak bernegosiasi dengan cara apapun dengan mujahidin, semua yang amerika dan inggris lakukan hanyalah membuat enam warga Negara mereka terbunuh tanpa alasan apapun, selain kesombongan tak berperasaan.

Aku ingat sebuah wawancara David Cameron dengan Sky News mengenai batas waktu yang akan dating untuk Briton David Haines pada bulan Agustus 2014. Dia tahu, 100% tahu, bahwa David akan dipenggal kepalanya sama seperti yang lain, namun Cameron sangat egois dan sombong. “Kami tidak akan membayar uang tebusan,” katanya. “Pikiran kami bersama keluarganya di masa sulit ini dan kami sedang melakukan segala sesuatu yang mungkin (padahal tidak sama sekali), tapi negara manapun yang membayar (tebusan) berarti mendanai terorisme,” katanya, menyerang Negara-negara yang sudah membebaskan warganya.

Namun faktanya adalah mereka sebenarnya bisa membawa pulang semua warga mereka tanpa masalah, baik amerika maupun inggris, dan perang mereka terhadap Daulah Islamiyah akan berlangsung sama persis dengan hari ini. Peristiwa-peristiwa satu setengah tahun terakhir telah membuktikan kebenaran pernyataan ini. “Kita mendapati empat pemuda warga amerika, dan semua tawanan eropa masih hidup. Semuanya kembali dengan keluarga mereka,” kata Philip Balboni.

“Itu adalah perbedaan yang mencolok. Pemerintah amerika dan inggris perlu merenungkan hasilnya, dan tidak hanya berpatok pada kebijakan sederhana yang mereka junjung tinggi dan merasa bangga dengannya. Hasilnya tidak baik, dan semestinya bisa lebih baik.”

Setelah video “propaganda” yang aku buat untuk Daulah Islamiyah di tahun 2014, terdapat semacam kegembiraan dalam melihat amerika merubah kesombongannya dan kebijakan yang tidak bijaksana mengenai negosiasi tawanan. Jika sekarang diperbolehkan bagi keluarga untuk membahas pembayaran uang tebusan dan mengumpulkannya, mungkin pemerintah sebenarnya membantu mereka untuk membayar, dibawah meja tentunya, dan secara diam-diam. Ini semua adalah hasil kerja dari keluarga Kassig, Sotloff dan Foley serta para pendukungnya, tapi mungkin ucapan kemarahanku telah membantu sedikit. Peter Kassig bukanlah lelaki yang mudah untuk bergaul di penjara, tetapi ketika tahu ajalnya akan tiba, ia menjadi tenang dan reflektif. Beberapa hari sebelum ia mati ia berkata, “Mungkin setelah aku mati, entah bagaimana sesuatu yang baik akan dating darinya.” Kematiannya dan kematian tawanan lain, membuat malu amerika hingga berubah (kebijakannya). Namun tertumpahnya darah mereka bisa saja dengan mudah dihindari sejak awal.

PERGESERAN PARADIGMA (BAGIAN 2)

DABIQ 12 - SPESIAL

PERGESERAN PARADIGMA (BAGIAN 2)
Oleh : John Cantlie

"15 bulan setelah deklarasi Khilafah, kampanye yang dipimpin AS untuk melawannya telah meluas lebih daripada sebelumnya, akan tapi di Barat sekarang banyak yang mengakui bahwa Daulah Islam adalah negara yang layak untuk dihuni."

Pada tanggal 31 Maret, saya menulis sebuah artikel di majalah Dabiq edisi 8 dengan judul "Pergeseran Paradigma," di mana saya menganalisa penggambaran Daulah Islam oleh media Barat serta perkembangan politiknya dari hanya sebuah "organisasi" menjadi sebuah entitas nyata. Dan saya menyebutnya sebagai sebuah negara. Saya tidaklah mengetahui apapun tentang pembangunan bangsa. Dan saya juga sangat bodoh yang membuat saya bahkan tidak pernah berhasil sampai ke universitas. Tapi setelah berhenti dari beberapa hal yang saya tulis di masa lalu sebagai "propaganda ISIS", banyak wartawan dan dosen di Barat sekarang setuju dengan kesimpulan saya ini. Mereka berkata, Daulah Islam adalah sebuah negara asli dengan segala perangkatnya.

Realitas akan Khilafah Ini telah dikonfirmasi oleh banyak hal, diantaranya orang-orang dapat hidup di bawah satu pemerintahan. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, umat Islam hidup dalam keadaan aman serta mereka dapat menjalankan bisnisnya dengan lancar. Sistem Zakat telah didirikan dan terus berjalan, dengan mengambil beberapa persen dari harta orang-orang kaya dan membagikannya kepada fakir miskin. Koin dinar emas yang diperkenalkan setahun yang lalu sekarang sedang dicetak, sebagai persiapan sebelum di edarkan. Pengadilan syari’ah telah didirikan disetiap kota untuk mengadili dengan hukum Islam. Korupsi yang merupakan sebuah fakta yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan di Iraq dan Suriah, kini telah dibabat habis hingga hampir mencapai titik nol, sementara tingkat kejahatan menurun drastis.

Sementara itu, seluruh negara-negara Teluk sedang berada dalam kekacauan. Mereka dipecahkan oleh perselisihan keagamaan dan permusuhan antar suku. "Timur Tengah ... telah rusak, marah dan tidak berfungsi dan itu karena mereka sendiri, sehingga itu memberikan arti baru untuk kata 'putus asa,' sebagaimana yang ditulis oleh Aaron David Miller dosen Kebijakan Luar Negeri pada tanggal 11 September. "Hal ini terkoyak dan terbelah karena masalah sektarian, politik, dan kebencian agama dan konfrontasi yang tampaknya telah melampaui kapasitasnya yang tidak mungkin diperbaiki oleh pihak luar." Justru karena alasan seperti inilah yang menjadikan Daulah Islam muncul dan berkembang dengan begitu cepat dan dalam waktu yang relative singkat. Disana Hanya ada satu sekte Sunni Islam, dan Khalifah hanya dari suku Quraisy. Di sini, di kekhalifahan, tidak ada ruang untuk pluralisme.

Dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh The Telegraph pada tanggal 8 Juni, Ruth Sherlock menulis: "jihadis telah ber-evolusi menjadi sebuah birokrasi yang sangat teliti: memaksakan pajak (dia mengacu kepada zakat), membayar gaji tetap dan menetapkan hukum standar dalam perdagangan (dia mengacu pada pelarangan transaksi Haram) dalam upaya untuk membangun ekonomi yang sehat ... banyak pengusaha Suriah yang melihat ISIS sebagai satu-satunya pilihan jika dibandingkan dengan anarkisme yang berlaku di wilayah yang dikuasai oleh pemberontak lainnya, termasuk kelompok yang didukung barat."

Ruth, itu jauh dari sifat barbar yang umumnya digunakan untuk melukiskan Daulah Islam agar dapat diabadikan dalam sebuah gambar dengan entitas jahat, sebuah gambar yang akan dijadikan sebagai dasar propaganda pemerintahan barat. Apa lagi, Ruth?

"Dokter dan insinyur, terutama yang mengelola Ladang minyak yang dikendalikan ISIS, mereka dibayar dengan mahal – setidaknya dibayar ganda, dan seringkali beberapa kali lipat daripada gaji yang ditawarkan di negara lain," dia melanjutkan. "Pelaku bisnis memilih untuk memindahkan industri mereka ke daerah-daerah ISIS”.

Itu bukan aku (john cantlie) yang berbicara, tapi penulis di salah satu koran "terbaik" di Inggris. Dan sentimen ini – menyatakan bahwa Daulah Islam adalah nyata, dan merupakan Negara yang sedang tumbuh—sedang meningkat di Barat. Setelah satu tahun serangan udara, semua bukti menunjukkan bahwa tidak ada "kemunduran" dari para mujahidin, dan setiap penurunan kekuatan perang, baik logistik maupun personel mereka telah di dipasok dengan cepat oleh rampasan perang dan rekrutan baru, CIA memperkiraan tentara tetap di Daulah Islam mencapai 32.000 tentara, tetapi beberapa tokoh mengisyaratkan dapat mencapai hingga 70 atau bahkan 100.000 tentara yang siap dipanggil jika diperlukan. Seorang pejabat AS yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan kepada Associated Press bahwa intelijen AS telah "melihat tidak ada degradasi / penurunan yang berarti dalam jumlah mereka”.

Satu tahun mereka telah berperang dan tidak ada yang berubah. Dan ini merupakan masalah bagi koalisi.

Menurut Barry Posen (professor ilmu politik di Universitas MIT, amerika serikat), militer Iraq sudah tidak ada lagi, dalam artian sebagai kekuatan tempur dalam segala maknanya. Mereka telah banyak digantikan oleh Unit mobilisasi Populer (al-Hasyad Asy-Sya'bi), sebuah milisi Syiah dengan anggota hingga 100.000 pria dengan senjata yang dipasok oleh Iran. Merekalah yang memimpin serangan di Tikrit pada bulan April dan yang bertanggung jawab atas banyaknya kekejaman di beberapa daerah Sunni. Tapi setelah pengambil alihan Tikrit, maka tidak ada lagi penaklukan besar oleh koalisi, dan pertempuran di Iraq tidak berjalan dengan baik, sejauh ini Letnan Jenderal Robert Neller dari USMC, ketika ditanya oleh senator John McCain tentang bagaimana ia pertimbangan tentang kampanye yang akan datang?, ia menjawab, "Saya pikir kita melakukan apa yang harus kita lakukan sekarang ... Saya percaya bahwa mereka berada di jalan buntu sekarang". Dan itu Jauh dari "kemunduran" para mujahidin, Daulah Islam tetap menguasai wilayah dan bahkan terus meluas, dan ini dapat dibuktikan dengan pengambil alihan wilayah-wilayah baru di Iraq dan Suriah.

Ini adalah tuntutan dari pemerintah Amerika dan sekutunya untuk meremehkan Daulah Islam dalam pandangan publik dengan menjadikannya hanya sebagai "organisasi" teroris. Benar, bahwa Negara itu berjalan dan menggunakan teror sebagai alat. Tetapi jika itu hanya sebuah "Organisasi" dan prajurit yang berjuang untuknya hanya teroris, maka ini hanya memberikan pengait kepada publik untuk menggantungkan topi mereka. Ketika orang memahami kata-kata "teroris" atau "jihadis", maka sebagian besar akan mendukung setiap tindakan militer terhadap mereka. Tetapi itu akan kehilangan urgensinya ketika Anda melawan tentara dari sebuah negara. Dan itu tidak akan dapat menyulap gambaran dari pidato politisi yang mengatakan mereka sangat berbahaya. Berperang melawan sekelompok teroris adalah suatu hal kecil, tapi memerangi sebuah negara, bahkan jika negara itu berdiri dan bangga lewat taktik teroris, ini merupakan lain hal. Tapi untuk mengakui bahwa Daulah Islam memang sebuah Negara dalam setiap komentar akan menjadi sebuah pengakuan kemenangan kepada mereka, sehingga tidak ada pemimpin politik saat ini yang siap menyebutnya sebagai negara. Jadi mereka dengan sengaja terus memanggil mereka "sebagai yang disebut" Islam Negara, ISIL, IS, ISIS, Daesh dan apapun julukan berikutnya adalah sebuah langkah untuk menunjukkan: "Bah. Itu hanya omong kosong! Kami bahkan tidak tahu nama mereka. Kami telah punya senapan di tangan."

Itulah yang mereka katakan di depan umum. Tapi apa yang mereka katakan di belakang pintu tertutup dengan sekretaris pertahanan serta kepala intelijen mereka, saya yakin itu akan sangat berbeda dengan sekarang. Menurut laporan Barat, ada sekitar 7 juta orang yang tinggal di Khilafah, di daerah yang lebih besar dari Inggris dan dengan populasi yang lebih dari banyak Denmark, dan banyak dari mereka yang mengatakan bahwa kehidupan sekarang lebih baik daripada di bawah pemerintahan rezim Assad di Suriah dan Syiah di Iraq, dan juga jauh lebih baik daripada daerah yang dikuasai FSA yang banyak korupsi dan kekacauan. Ini bukanlah apa yang diduga dapat dilakukan oleh sekelompok teroris "barbar berambut liar".

Dalam berita di New York Times pada tanggal 21 Juli, Tim Arango menulis, "(Daulah Islam) telah mengalahkan pemerintah korup Suriah dan Pemerintah Iraq sebagaimana dikatakan oleh warga dan para ahli. 'Kamu dapat melakukan perjalanan dari Raqqa ke Mosul, dan tidak akan ada yang berani menghentikan Anda bahkan jika Anda membawa uang 1 juta dollar amerika, " kata Bilal yang tinggal di Raqqa (yang secara de facto adalah ibukota Daulah Islam di Suriah). ‘Dan Tidak satu orangpun yang berani mencuri walau hanya satu dolar. '"

Arango melanjutkan, dengan mengatakannya sebagai Daulah Islam maka kita telah meletakkannya di tempat yang lebih dari sekedar ukuran pemerintahan, termasuk kartu identitas untuk penduduk, menyebarkan pedoman dalam memancing untuk melestarikan alam, mensyaratkan mobil untuk dilengkapi dengan peralatan untuk keadaan darurat, dan Tentu saja mengikuti dan melaksanakan syari'ah. "(Seorang pemilik toko di Raqqa) mengatakan ... 'Di sini mereka menerapkan aturan Allah. Seorang pembunuh akan dibunuh. Pezina dirajam. pencuri dipotong tangannya'. "Stephen M. Walt, seorang profesor hubungan international di Harvard, dikutip dalam Artikel yang sama mengatakan, "Saya pikir tidak perlu ada lagi yang dipertanyakan tentang cara kita untuk memandangnya sebagai organisasi negara revolusioner ". Sebuah organisasi negara revolusioner? Itu tidaklah terdengar seperti hanya "sekelompok" teroris sama sekali. Sangat penting untuk ingat, bahwa Walt telah menjelaskannya ditempat lain, bahwa negara-negara yang baru dibentuk sepanjang sejarah, membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum mereka diakui oleh negara-negara lain. Dia menyebutkan sebagai contoh, bahwa Eropa menolak untuk mengakui Uni Soviet secara resmi selama bertahun-tahun setelah revolusi Bolshevik pada tahun 1917, dan AS juga tidak melakukannya sampai tahun 1933. Demikian juga Amerika yang tidak menjalin hubungan diplomatik dengan Rakyat Republik Cina sampai tahun 1979, dan itu sekitar 30 tahun setelah cina didirikan. "Jika Daulah Islam berhasil mempertahankan kekuasaannya, mengkonsolidasikan posisinya, dan menciptakan sebuah negara de facto asli pada apa yang sebelumnya bagian dari Iraq dan Suriah," Stephen Walt menyimpulkan, "maka negara-negara lain perlu bekerja bersama untuk mengajarkannya tentang fakta-fakta kehidupan dalam sistem internasional". Tapi, itu tidaklah cukup. Karena Daulah Islam memegang prinsip bahwa "sistem internasional" adalah Thaghut, sesuatu yang jahat yang memaksakan hukum positif atas manusia. Mereka tidak akan pernah "belajar" untuk "bekerja sama" dengan hal itu. Tapi gencatan senjata dengan negara-negara Barat selalu menjadi pilihan didalam Hukum Syari'ah.

Dan ada satu hal lagi. Assad sudah hampir selesai, dengan keruntuhan pemerintahannya yang kejam, sekarang ia hanya mengendalikan seperempat dari wilayah Suriah. Iraq terpecah belah karena suku-suku yang bergerak tak teratur dan tidak akan pernah pulih kembali sejak invasi amarika. Daulah Islam sekarang mengangkangi kedua negara itu sebagai sebuah kerajaan muslim, sebuah negara di mana tidak ada Bentrokan suku maupun agama. Hanya ada satu sekte dan satu keyakinan. Tempat Ini dijalankan, diatur, dan dilindungi oleh Mujahidin Sunni, dan sekarang benar-benar menjadi fragmentasi unik, dan tidak seperti di Timur Tengah yang penuh dengan pertikaian dan kekacauan. Ini adalah singularitas, dan menjadi model yang lebih baik untuk stabilitas wilayah di masa depan daripada negara-negara Teluk yang didukung atau dibentuk oleh intervensi Barat yang kemudian menyatakan perang atasnya.

Sekali lagi, ini bukan hanya saya yang mengatakan ini. Yang akan menjadikannya sebagai "Propaganda ISIS," dan kita tidak akan bisa memilikinya sekarang, atau bisakah kita? Brigadir Jenderal Ronald Magnum membuat beberapa komentar menarik dalam sebuah makalah yang diterbitkan oleh Institut Kajian Strategis Georgia Kaukasus pada 29 Mei.

"Daulah Islam telah memenuhi semua persyaratan ... untuk diakui sebagai sebuah negara, "katanya. "ia memiliki struktur pemerintahan, wilayah yang terkontrol, populasi yang besar, ekonomi yang dimanis, kekuatan militer yang besar dan efektif serta memberikan pelayanan kepemerintahan pada umumnya seperti perawatan kesehatan untuk penduduknya. Berurusan dengannya dan menganggapnya seolah-olah itu hanya sebuah gerakan teroris adalah seperti berlomba di pacuan dengan kuda yang lumpuh. Itu adalah Negara dan jika Barat ingin mengalahkannya maka mereka harus menerima salah satu diantara dua hal:
1) Daulah Islam adalah ancaman yang cukup bagi perdamaian dunia atau regional, dan Barat dapat pergi berperang dengan itu, atau
2) Biaya perang yang terlalu besar dan Barat harus berencana untuk menahan dan membatasi Daulah Islam kemudian bernegosiasi dengannya sebagai sebuah Negara yang berdaulat. "

Kegagalan Usaha koalisi untuk "membendung" Khilafah adalah berita lama. Tapi untuk bernegosiasi? Itu adalah bom waktu. Baru-baru ini Obama mengatakan bahwa "tidak akan ada negosiasi"dengan Daulah Islam, dan ini sebuah fakta yang tidak akan hilang atas teman satu sel saya dulu. Tapi kemudian ia mengubah kebijakannya setelah kejadian itu, jadi mungkin dia atau presiden berikutnya harus mengubah kebijakan mereka tentang ini.

Dalam sebuah nukilan yang diterbitkan di “Foreign Policy” pada tanggal 10 Juni di bawah judul "Apa yang Harus Kita Lakukan jika Daulah Islam Menang ?," Profesor Stephen Walt menyarankan bahwa kemenangan bagi mujahidin tidaklah diukur dengan keberhasilan mereka dalam menancapkan bendera hitam di atas gedung gedung baru, tetapi itu diukur jika mereka mampu mempertahankan wilayah mereka yang terkontrol serta tidak ada "kemunduran ataupun kehancuran". Dan sejauh ini, mereka telah mencapai hal ini. "Hingga akhirnya mereka bergerak dari “sampah” menjadi mitra, khususnya ketika kepentingannya mulai beriringan dengan negara lain," tulisnya. "Mungkin kehadiran mereka akan merepotkan di politik dunia, tetapi tidak lagi dikucilkan. Jika Daulah Islam masih bertahan, maka itulah yang saya harapkan." dan Sekali lagi, Walt telah membuat asumsi kotor, Mujahidin akan tidak pernah menerima kemitraan dengan Barat. Tetapi jika Negara Barat ingin gencatan senjata, mereka benar-benar harus berpikir tiga kali sebelum membuang kesempatan itu.

Barat harus terus menjatuhkan bom dan membujuk berbagai kelompok Syiah untuk masuk ke dalam zona kematian setidaknya selama satu atau dua tahun sebelum mempertimbangkan dengan benar agar gencatan senjata dapat tercapai. Tapi itu adalah sebuah prospek yang menarik ketika Barat bernegosiasi dengan Daulah Islam. Dan apakah itu benar-benar mungkin terjadi? Jonathan Powell adalah kepala negosiator di Irlandia Utara pada pemerintahan Tony Blair, dan pada tanggal 12 Agustus, ia berbicara kepada BBC tentang subjek ini.

"Jika Anda ingin menghancurkan Daulah Islam, Anda tidak akan dapat melakukannya dari udara. Namun tampaknya tidak ada satupun Negara Barat yang siap untuk menginjakkan kakinya disana. Jadi tidak ada strategi militer untuk menghancurkan ISIS. Yang diperlukan adalah sebuah strategi politik. Dalam pandangan saya, kita perlu untuk melibatkan mereka dalam negosiasi," katanya.

"Kami telah berbicara kepada IRA, dan itu bukan karena mereka memiliki senjata tapi karena mereka memiliki sepertiga suara dari Katolik. Jika Anda berhadapan dengan kelompok yang tidak memiliki keinginan berpolitik, seperti gangster, Anda tidak akan bisa bernegosiasi karena tidak ada pertanyaan politik disetiap masalah. Tapi bagi saya mungkin ada pertanyaan politik di jantung Suriah dan Iraq. Saya telah melihat konflik lebih di 30 tahun terakhir, saya berpendapat bahwa jika ISIS memiliki keinginan berpolitik, maka kita dapat berbicara kepada mereka. Dan Mungkin mereka akan memudar seperti salju di musim semi, tetapi keadaan semacam ini sedikit sekali terjadi dalam sejarah. Inilah hipotesis saya bahwa masih ada harapan dari sisi politik. Dan ide dari Islam ekstrim... tampaknya memiliki kita cukup kesulitan di dalam menanggulanginya, tapi kita masih memiliki opsi politik pada tahap tertentu, dan tidak hanya dengan kekuatan senjata."

Powell menyimpulkan dengan mengatakan bahwa Barat harus membuka jalan untuk "negosiasi" di masa depan dengan "membangun komunikasi dasar."

Lebih dari satu tahun sejak awal operasi udara terhadap Negera Islam dan belum ada hasilnya, jenderal bintang 4 Martin Dempsey yang bertanggung jawab atas kampanye yang dipimpin AS ini pastilah bertanya-tanya, berikutnya apa?. Orang di Barat selalu menuntut hasil dan tidak sabaran,. Seperti di Vietnam, perang melawan Daulah Islam terlihat hanya seperti perang dengan gesekan untuk mencoba mengurangi jumlah musuh tanpa di ikuti dengan tujuan yang jelas.

Bom-bom itu sudah pasti membunuh banyak Mujahidin, tapi lebih banyak mujahidin yang datang (daripada yang syahid) untuk mengambil tempat mereka setiap hari, masing-masing dari mereka seperti ingin menjadi yang terakhir untuk mati syahid di jalan Allah. Bom juga sudah pasti menghancurkan banyak tank dan kendaraan tempur dari Daulah Islam yang diambil dari rampasan perang tentara Iraq (hanya ada satu perseneling di tank tentara Iraq) tapi Mujahidin telah memperoleh lebih banyak tank dan senjata dari pasukan yang melarikan diri. Para prajurit dari kekhalifahan telah terbukti menjadi kekuatan mengejutkan yang dapat bertahan dari pecahan dan ledakan dari sebuah bom atau rudal Hellfire.

Dan sementara itu, negara Khilafah terus terus tumbuh dan matang atas andil mujahidin yang berjuang dan mati ketika mendukungnya. mujahidin sangat menikmati pertempuran, tetapi mereka telah terbukti sangat baik dalam beradaptasi dengan masyarakat sekitar dan pemerintah. Mereka mendirikan negara dan mengatur suatu tatanan baru di Timur Tengah, maka apa yang mungkin terjadi beberapa tahun ke depan itu terserah kepada Daulah Islam dan bukannya tekanan dari luar.

Opsi pertama adalah mereka akan terus memperluas perbatasan Khilafah di seluruh wilayah sampai mereka dihentikan oleh keterbatasan ekonomi atau militernya, dan setelah itu mereka akan mengonsolidasikan posisi mereka. Tapi harapan terlalu buruk bagi Barat karena tidak terlihat ada keterbatasan pada kekhalifahan. Opsi kedua adalah mereka menghalau Barat dan meluncurkan serangan darat secara keseluruhan, sehingga adegan ini menjadi perang terkahir antara Muslim dan tentara salib sebagaimana yang diramalkan dan akan terjadi di Dabiq Suriah, karena ketika amerika dan sekutunya melakukan operasi di luar negeri maka mereka tidak memiliki pilihan lain selain mengirim pasukan. Aku hanya menebak bahwa "elang" Amerika mungkin dengan senang hati datang ke Dabiq tanpa Daulah Islam perlu untuk meledakkan bom di Manhattan.

Dalam sebuah nukilan yang diterbitkan oleh The Independent pada tanggal 21 Juni yang berjudul "Kami tidak bisa menghancurkan ISIS, jadi kita harus belajar untuk hidup dengannya", Richard Barrett, mantan kepala kontra-terorisme untuk MI6 menulis, "Iraq dan Suriah tidak akan pernah kembali sebagaimana semula, dan siapapun yang menang didalamnya, maka entitas baru telah muncul yang akan tetap ada dalam beberapa bentuk. Untuk saat ini, entitas tersebut sangatlah agresif, tidak toleran dan tanpa kompromi, ISIS menawarkan kepada mereka untuk hidup di bawah kekuasaan pemerintahan yang lebih baik dalam beberapa hal daripada yang mereka terima dari negara sebelumnya. Korupsi jauh berkurang, dan penetapan keadilan lebih cepat dan merata meskipun brutal."

Tidak ada keraguan akan Konsolidasi yang cepat dari Daulah Islam dan kecerdasan pemerintah atas wilayahnya telah membuat kejutan bagi para pempmpin dunia ketika mereka dengan secepat kilat menaklukan mosul. Jika Anda mengatakan hal ini kepada seorang politisi di New York pada Juni 2014 bahwa Daulah Islam akan mencapainya pada bulan Oktober 2015, dia pasti akan tertawa tepat di depan wajah Anda. Sebagaimana ini juga adil untuk mengatakan bahwa politisi yang sama tidak akan tertawa pada hari ini.

PERGESERAN PARADIGMA (BAGIAN 1)

DABIQ 8 - SPESIAL

PERGESERAN PARADIGMA (BAGIAN 1)
Oleh: John Cantlie

Setelah semua gemertakan gigi pada bulan September, sekarang muncul sambutan kebencian oleh banyak politisi Barat bahwa Daulah Islam berbeda dengan apa yang mereka telah lihat sebelumnya. Tanggapan mereka, karena berbagai kebutuhan, juga berbeda-beda.

Pertama, keberatan. Selalu ada bahaya karena saya berada jauh ketinggalan dari beberapa hal yang baru-baru ini berkembang dan bahwa beberapa laporan berita yang saya amati yang disediakan sudah ketinggalan jaman dari awal. Namun adakah yang memperhatikan sebuah titik krusial yang menunjukkan adanya pergeseran dalam cara pandang beberapa pemimpin Amerika dan sekutu mereka dalam mendiskusikan masalah Daulah Islam baru-baru ini?

Dari gertakan ompong ceramah Obama untuk bangsa pada tanggal 10 September, di mana ia menyatakan bahwa Daulah Islam "adalah organisasi teroris, murni dan simpel", akan terlihat bahwa beberapa penasihat terdekatnya, dan banyak tokoh NATO di seluruh dunia dan media secara umum tidak yakin dengan deskripsi sederhana ini, meskipun "teror" tidak diragukan lagi merupakan salah satu taktik, di antara banyak taktik, yang diterapkan secara cekatan dan maju oleh Daulah Islam dalam jihadnya.

Mantan menteri pertahanan Obama sendiri; Chuck Hagel menggambarkan situasi ini sebagai "salah satu periode paling menantang dalam sejarah kepemimpinan Amerika."

Dalam sebuah wawancara dengan CBS, Hagel melanjutkan dengan mengatakan, "Kami belum pernah melihat sebuah organisasi seperti ISIL yang begitu terorganisir dengan baik, sangat terlatih, sangat baik pendanaannya, sangat strategis, begitu brutal, sehingga benar-benar sangat kejam. Kami belum pernah melihat sesuatu seperti itu dalam satu institusi. Kemudian mereka mencampurnya dengan ideologi ... dan media sosial. Kecanggihan program media sosial mereka adalah sesuatu yang kita belum pernah lihat sebelumnya. Mencampur semua itu secara bersama-sama, sehingga menjadi ancaman baru yang sangat kuat."

Untuk seorang mantan menteri pertahanan yang berkata menggunakan bahasa yang relative terkesan memuji, seperti saat mendiskusikan musuh, adalah tanda yang jelas bahwa Washington tidak begitu yakin bahwa mereka sekedar melawan "organisasi". Dan Hagel tidak sendirian dalam penggunaan bahasa hormatnya. Jenderal Martin Dempsey, ketua Kepala Staf Gabungan, mengaku di televisi bahwa "pertama, tidak ada solusi militer murni untuk ISIL. Dan kedua, ada tidak ada solusi kekuatan udara saja baik di Iraq maupun Suriah."

Tidak ada gunanya mengutip perkataan para jurnalis dunia karena begitu banyak dari mereka memoles kata-kata tentang keuntungan dan eksploitasi Daulah Islam - kami berada di sini sepanjang hari menyimak kata-kata orang '.

Tapi penerimaan seperti itu tidak mungkin untuk dibayangkan kembali seperti pada hari-hari ketika para pemimpin Amerika sibuk meletakkan dasar untuk keadaan hari ini. Waktu itu, semua sepakat tentang menghancurkan "teroris nakal " di Iraq dan Afghanistan dengan slogan "shock and awe" dan tentang kekuatan mesin perang Amerika. Tapi hari ini laki-laki yang harus bertanggung jawab itu terpaksa harus mengakui bahwa, mungkin, dan hanya mungkin, mereka agak terlalu dini melenceng untuk mengecap Daulah Islam hanya sebagai "Organisasi teroris, murni dan sederhana." Dan itu hanya tiga bulan menuju kampanye militer mereka.

Saya tentu saja tidak ahli mengenai hal-hal tersebut dan pandangan saya hanyalah pandangan orang awam, tetapi umumnya seseorang tidak akan menganggap sekedar sebuah "organisasi" bisa menyerang dan mengepung kota atau membentuk kepolisian sendiri. Anda tentu tidak membayangkan "organisasi" belaka memiliki tank dan artileri, memiliki pasukan puluhan ribu tentara yang kuat, dan memiliki sendiri drone mata-mata. Dan seorang pun pasti tidak mengharapkan sekedar "organisasi" bisa memiliki bank dengan rencana untuk menghasilkan mata uang mereka sendiri, sekolah dasar untuk anak-anak muda, dan sistem peradilan yang berfungsi.

Ini, tentu, semua keunggulan (berbisiklah jika Anda berani) dari sebuah negara.

Ah, C-words. Ini digunakan secara sporadis oleh media, perlahan pada awalnya, tetapi penggunaannya semakin hari semakin sering. Mungkinkah Daulah Islam, Khilafah yang baru saja diumumkan pada bulan Juni lalu, benar-benar menjadi negara?

"ISIS akan merebut lebih banyak lagi kota-kota, lebih banyak wilayah, meraih lebih banyak penyatuan wilayah dan benar-benar menjadi, sayangnya, sebuah bentuk negara yang kita tidak ingin untuk melihat itu terjadi", dinyatakan oleh mantan Letnan Kolonel Bill Cowan di Fox News pada Oktober 2014.

Sepertinya ini tidak nyaman, karena mungkin bagi banyak orang di Barat, ada sedikit alasan mengapa Daulah tidak boleh dianggap sebagai negara. Negara-negara lain dapat lahir dalam beberapa hari, beberapa jam selama kudeta, atau dalam hitungan menit dengan ditandatangani kertas, mereka seperti ini selama berabad-abad. Sehingga untuk alas an yang seperti ini, tidak bisa Negara lahir dengan cara seperti ini. Dan jika Daulah Islam itu bukan negara, maka milik siapa lagi?

Tentu saja, ini semua tidak lagi milik Bashar al-Assad, yang bersembunyi di Damaskus di saat prajuritnya beruasaha memulihkan keadaan setelah empat tahun membantai kaum Muslim Suriah. Tidak akan pernah memiliki legitimasi apapun untuk kekuasaan tiraninya dan kontrol apapun yang telah lama hilang dan tidak pernah bisa kembali.

Apakah itu kemudian menjadi milik pemerintah sementara dan pemerintah boneka Iraq yang tidak kompeten, terusir jauh di Baghdad sementara tentaranya menjilati luka meronta-ronta dari pembunuhan yang mereka terima dari pembalasan para mujahidin di musim panas? Jelas tidak. Dan itu pasti bukan milik Free Syrian Army, yang telah bertahun-tahun tidak melakukan sesuatu yang menentukan atau bermanfaat tetapi sebaliknya lebih memilih untuk menikmati rokok Gauloises, minum teh, dan mengeluh bahwa tidak ada yang bisa dilakukan tanpa jet NATO yang terbang di atas mereka. Tentu saja mereka sekarang, tidak meraih apa pun kecuali nol.

Tidak ada memang. Jika seseorang memiliki klaim yang sebenarnya atas kawasan yang membentang di Iraq dan Suriah (atau atas daerah lain yang telah dicapai Daulah Islam), memiliki motivasi untuk menjalankannya, dan militer untuk mempertahankannya, maka sulit untuk membantah para pemimpin dan tentara dari Daulah Islam.

Meskipun Barat tidak akan pernah mengakui hal seperti ini, ada politisi Barat yang mulai menyadari fakta ini dan dengan demikian, sedikit demi sedikit, kita melihat perubahan gaya bahasa, pergeseran paradigma dalam cara berbicara para pemimpin tentang Daulah, karena jika itu adalah sebuah negara – baik diakui atau tidak oleh siapa pun (dan Daulah Islam tidak peduli dengan hal itu) – maka itu adalah perubahan hal, secara dramatis. Anda tidak bisa dengan mudah hanya menulis ini sekedar sebagai "Organisasi teroris," karena ini tidak mempengaruhi publik. Anda tidak bisa menjatuhkan beberapa bom lalu berharap ini selesai, tidak mungkin. Dan Anda tidak dapat mengharapkan sekumpulan orang lemah yang tidak terlatih dan bahkan berdisiplin buruk sebagai pasukan darat untuk melakukan pekerjaan yang Anda sendiri tidak ingin menyentuhnya, karena mereka pasti akan gagal.

Pada tahap tertentu, Anda harus menghadapi Daulah Islam sebagai sebuah negara, dan bahkan mempertimbangkan gencatan senjata. Jika tidak ada solusi militer murni untuk Daulah Islam, dan itu sudah terjadi pada catatan berbagai kasus, setelah Anda mencoba mendapatkan dukungan dari sukusuku Sahwah lainnya untuk berbalik melawannya, dan menyudahi membuang-buang waktu untuk berusaha mencari cara untuk memotong dana atau menutup media mereka (yang telah menelan biaya jauh di atas $1.3 miliyar dan benar-benar gagal) pada beberapa point, satu-satunya pilihan yang tersisa adalah tawaran gencatan senjata ...

Dan itu tentu akan mengorbankan harga diri. Tetapi dengan bendera hitam kekhalifahan yang sekarang terlihat di langit Afrika, Arab, dan Asia, maka sebuah jalan keluar sempurna bagaimana Barat memandang Daulah ini sangat diperlukan.

Apa alternatifnya? Meluncurkan serangan udara pada setengah lusin negara sekaligus? Mereka harus menghancurkan setengah wilayah jika itu yang terjadi. Aku berada di Kobani pada Oktober tahun lalu dan ada lebih dari 170 serangan udara AS - "Rentetan terberat sejak kampanye udara dimulai" menurut koresponden CBS Holly Williams – yang hanya selesai saat artileri Daulah Islam dimulai dan menghancurkan sebagian besar kota menjadi puing-puing. Pada akhirnya, itu menjadi lebih dari 600 keping, dan sekarang di sana tidak ada tempat yang tersisa.

Kebetulan, ada serangan udara berat beberapa waktu lalu di tengah malam, dan aku berjanji bahwa Anda yang tidak duduk di sana berpikir, "Hore, itu adalah Angkatan Udara Amerika Serikat,” lalu pintu-pintu terlepas dari engselnya dan dinding bergetar hebat karena gelombang ledakan, Anda kemudian akan menjadi marah. Selama 20 menit setelah itu ada suara bayi menangis dalam ketakutan, ibu berusaha menenangkan anak-anak mereka, dan sirene ambulan yang mengangkut korban menuju ke rumah sakit. Ini adalah salah satu sisi dari pemboman 'presisi' yang tidak akan kalian lihat lagi di Barat.

Apakah gencatan senjata lebih realistis? Untuk sekarang, itu terlalu dini. Karena adegan sekarang yang sedang diatur untuk operasi besar terhadap Daulah Islam akan dieksekusi oleh milisi Iran (alias tentara Iraq) yang didukung oleh AS. Tapi ketika itu gagal karena milisi Syiah yang takut dibakar hidup-hidup, dan ketika pasukan khusus melakukan operasi skyrocket dalam upaya untuk menebus apa yang tidak bisa diraih tentara Iraq, dan ketika mujahidin mulai memenggal kepala tentara Barat, maka setiap pilihan akan berada di meja, dan cepat. Dan gencatan senjata akan menjadi salah satu pilihan.

YANG MENJADI PERTANYAAN ADALAH, BERAPA BANYAK ORANG-ORANG BARAT YANG AKAN TERBUNUH ANTARA WAKTU ITU DAN SEKARANG?

Cara singkat membayangkan hal itu, Jawabannya adalah banyak. Perancis, Belgia, Denmark, Australia, dan Kanada, semuanya telah menjadi target serangan mujahidin selama tiga bulan terakhir sendiri, dan banyak pejuang Islam dari berbagai kelompok di berbagai negara bersumpah setia ke Daulah Islam, serangan tersebut pasti akan menjadi lebih banyak dan lebih mudah untuk dieksekusi.

"Pejuang asing melakukan perjalanan dari mana-mana, dari Eropa, dari Amerika Serikat, Australia, dan dari berbagai belahan lain dari dunia Muslim, lalu berkumpul di Suriah”, kata Obama pada wawancara yang ditayangkan 60 Menit. "Dan ini menjadi ground zero untuk jihad di seluruh dunia. Dan ini adalah salah satu tantangan yang akan kita memiliki secara umum. Sebagaimana jika Anda punya negara yang gagal atau di tengah perang saudara, jenis-jenis organisasi akan berkembang."

Namun berapa lama waktu yang dibutuhkan hingga opsi ini diletakkan di atas meja, perubahan gaya bahasa yang terjadi Barat tidak bisa disangkal adanya. Hanya delapan bulan dari kampanye mereka dan sudah beberapa tokoh politik senior di AS mengakui Daulah Islam tidak seperti lawan yang mereka hadapi sebelumnya dan bahwa solusi militer dengan sendirinya adalah mustahil. Yang berbicara adalah suara mereka sendiri.

Akhirnya, saya mungkin memiliki cara yang terlalu sederhana – yang mungkin kurang memperhatikan kompleksitas besar perang modern dan pembangunan bangsa. Gencatan senjata apapun antara Barat dan Daulah Islam pasti berujung untuk mengakhiri dukungan mereka untuk boneka tiran Arab dan non-Arab atas dunia Islam, juga sebagai akhir dari dukungan untuk Israel. Itu hanya untuk pembuka, tapi bisa mungkin terjadi atau tidak terjadi.

Perang sepenuhnya bisa diprediksi kepada hal itu, tidak lain pasti mengarah ke salah satu dari dua hasil. Salah satu pihak muncul sebagai pemenang sementara yang lain kalah, atau tercapainya gencatan senjata. Ini adalah satu-satunya cara mengakhiri perang [1], dan Amerika dan sekutunya tidak akan pernah menang dalam perang ini. Mereka tahu itu dan semua orang lain juga.

Pada tahap satu-satunya pilihan yang dapat berlaku untuk Amerika dan Barat adalah salah satu hal yang masuk akal.

[1] Catatan Editor: penghentian perang antara Muslim dan orang-orang kafir tidak pernah bisa permanen, di mana perang melawan orang-orang kafir adalah kewajiban dasar atas seorang Muslim yang hanya sementara dihentikan oleh gencatan senjata untuk kepentingan syar'i yang lebih besar, seperti dalam penawaran gencatan senjata dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kepada kaum musyrikin Makkah di Hudaibiyah. Jangka waktu perjanjian Hudaibiyah adalah sepuluh tahun. Setelah gencatan senjata tercapai, jika kemudian dirusak oleh orang-orang kafir, maka mereka akan dihukum secara syar'i (jihad), dan qadar Allah. Pengkhianatan musyrikin Makkah atas perjanjian Hudaibiyah yang ditandatangani oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berujung langsung kepada keberhasilan kaum muslimin menaklukkan Makkah (seperti yang dijelaskan dalam Sirah), sebagaimana pengkhianatan tentara salib Roma terhadap perjanjian dengan Muslim kelak yang akan mengarah langsung kepada keberhasilan umat Islam menaklukkan Roma (seperti yang dijelaskan dalam Sunnah).

PABRIK KEMARAHAN

DABIQ 7 - SPESIAL

PABRIK KEMARAHAN
Oleh: John Cantlie

Adalah taktik kejam pemerintah Barat yang menimbulkan tumbuhnya kemarahan yang akan meruntuhkan negara-negara Barat menjadi abu…

Hal menarik yang aku baca di The Independent pada 19 Januari adalah bahwa hampir setengah penduduk Prancis menentang penerbitan kartun yang menyerang Nabi Muhammad dan bahwa mereka meyakini harus adalah pembatasan lebih terhadap kebebasan berbicara.

Dalam sebuah polling, “42 persen responden menyatakan penentangan terhadap gambar kartun Nabi Muhammad,” kata Zachary Davies Boren dalam artikelnya. Hal ini tidak lama setelah Charlie Hebdo, yang biasanya terjual sekitar 60.000 per edisi, dicetak sebanyak tujuh juta untuk mengatasi permintaan publik setelah serangan Paris. Dan apa yang mereka taruh di sampulnya? Kartun lain dari Nabi Muhammad! Serentak, ratusan ribu Muslim di seluruh dunia meluapkan amarah di jalan-jalan sebagai bentuk protes. Dan siapa yang tahu berapa banyak lainnya yang akan merencanakan serangan lagi kepada Eropa?

Jadi sepertinya setengah dari Prancis memohon agar akal sehat dan rasa saling menghormati yang menang. Dan setengah lainnya ingin meneruskan ucapan asusila dan perilaku agresif. Ini bukan satu-satunya contoh terbelahnya opini menyusul penyerangan setelah seorang komedian ditahan oleh polisi karena memuji operasi tersebut. Jadi dengan kata lain, tidak apa-apa menyinggung Islam dengan mengolok-olok Nabi Muhammad tetapi membela Islam dengan menyatakan dukungan untuk mujahidin adalah suatu pelanggaran.

Serangan Prancis telah menyoroti tumbuhnya kemarahan Muslim di seluruh dunia kepada Eropa. Hanya tiga pemuda Muslim telah mampu membawa satu negara bertekuk lutut sementara di Timur Tengah bom-bom senilai satu milyar dollar telah dijatuhkan hanya dalam waktu tiga bulan terakhir. Namun setiap orang terkejut dan marah setelah serangan yang relatif kecil di sebuah ibukota yang terjadi sebagai akibat langsung darinya.

Kenapa kita? Kenapa di sini? Apa yang telah kita lakukan sehingga berhak mendapatkannya? Nah, ingatlah puluhan Muslim laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang terbunuh di Syria akibat bom-bom koalisi hanya di bulan Januari.

Politisi-politisi segera mendukung Islam, tentu saja, namun hanya “Islam” tipe mereka. Di Inggris, seseorang yang bernama Eric Pickles menulis sebuah surat terbuka kepada komunitas Muslim Inggris meminta bantuan untuk “mengatasi masalah radikalisasi.”

“Nilai-nilai Inggris adalah nilai-nilai Muslim,” ujarnya, sangat jelas dia tidak memahami sama sekali tentang apa yang dia ucapkan, sebelum dengan cepat menambahkan bahwa “pesan perdamaian dan persatuan” Islam membuat negara menjadi lebh baik dan lebih kuat.

Pemimpin Inggris David Cameron memotong fakta, sebagaimana yang biasa ia lakukan, dengan berkata, “Siapa saja yang, dengan terus terang, membaca surat ini, yang memiliki masalah dengannya, aku pikir dia memang memiliki masalah. Apa yang dia katakan bahwa Muslim Inggris membuat kontribusi besar kepada negara kita, itulah yang terjadi dari segi teror para ekstrimis tidak ada hubungannya dengan agama Islam yang sebenarnya. Ia telah diselewengkan oleh segolongan minoritas yang telah teradikalisasi. Terus terang, semua dari kita memiliki tanggung jawab untuk mencoba dan melawan radikalisasi ini, dan memastikan kita menghentikan pemuda-pemuda ditarik ke dalam sekte yang beracun dan gila mati yang telah diciptakan oleh orang-orang yang sangat minoritas.”

Wow.

Apa yang kita saksikan di sini adalah dua orang, politisi, dengan kekuasaan luar biasa, yang tidak memiliki sedikitpun gagasan mengenai apa yang mereka bicarakan. Mereka jelas-jelas hanya memiliki sedikit pengetahuan tentang Islam, Syari’ah, jihad, mujahidin, atau mengapa Muslim menjadi semakin marah tentang bagaimana Barat dengan arogan memaksakan prinsip dan keyakinannya di seluruh dunia.

Namun, sebagai politisi dan pemimpin, mereka memiliki podium untuk menyebarkan opini mereka dan mempengaruhi jutaan lainnya. Sampah yang sama juga kita dengar dari Obama, Hollande, Netanyahu, dan lainnya dan sekali lagi, cacian lama “Islamic State tidak Islami”. Betapa hebat Islam, kami sangat menyukai Muslim, tetapi hanya “Muslim” yang sesuai dengan definisi kami bagaimana seharusnya seorang “Muslim”, yang hampir sesuai dengan definisi pekerja demokrasi. Dan siapa saja yang tidak sesuai dengan definisi “Muslim” yang baru ini akan dianiaya.

Inilah, teman-temanku, Pabrik Kemarahan.

Pemerintah sedang menumbuhkan semakin banyak kemarahan setiap harinya dengan pandangan mereka yang semakin keras yang sama sekali tidak berhasil di dunia nyata. Mereka tidak mau berubah atau beradaptasi. Dihadapkan dengan situasi yang kompleks dan semakin berkembang yang butuh ditangani dengan cerdas atau berbeda, pemerintah Barat hanya mengulang untuk membentuk, dan menggunakan taktik polisi yang kejam atau mendukung intervensi militer ke luar negeri sedangkan respon seperti itulah yang selama beberapa dekade ini membuat situasi semakin memburuk.

Respon mereka seringkali merupakan reaksi yang keras bukannya malah berpikiran ke depan. Menyusul serangan, pemerintah Prancis merespon dengan membanjiri jalan-jalan dengan bala tentara dan tank, sebuah langkah sia-sia yang hanya akan meningkatkan tingkat kepanikan dalam masyarakatnya. Menyusul penangkapan seorang pilot Yordania oleh Daulah Islam, koalisi merespon dengan melancarkan serangan udara intensif dalam satu malam kepada kota ar-Raqqah di Suriah yang hanya akan mendorong mujahidin untuk menembak jatuh lebih banyak pesawat dan mengeksekusi lebih banyak pilot.

Hampir sama dengan politisi yang gagal melihat ledakan pertumbuhan Daulah Islam tahun lalu, mereka juga gagal mengantisipasi gelombang serangan di tanah air mereka dan sama sekali tidak mampu mengatasi situasi tersebut. Kuda telah melesat sejak dulu sedangkan pemerintah baru menutup pintu kandangnya sekarang, hal ini tidak mengherankan karena sejak awal campur tangan mereka-lah yang telah menciptakan cocktail[1] berbahaya ini.

Dan mereka tidak akan pernah mengakuinya.

Pemerintah akan dengan senang hati berbicara dengan organisasi teroris yang dekat dengan tanah air mereka jika cocok dengan mereka. Inggris bernegosiasi dengan separatis IRA dan Spanyol bernegosiasi dengan separatis ETA Basque. Tetapi saat diajak berbicara dengan kelompok Islam, kekerasan dan agresi adalah satu-satunya jawaban, dan mujahidin selalu menimbulkan bahaya yang jauh lebih besar dari kelompok lokal manapun. Jadi betapa sangat jauh lebih berbahaya Khilafah Islam yang didirikan oleh pejuang-pejuang pantang menyerah itu!

Dengan mengambil jalan kekerasan, pemerintah telah menempatkan diri mereka di jalan kematian. Setiap bom yang dijatuhkan di Suriah dan Iraq menjadi alat rekrutmen untuk Daulah Islam. Ini adalah tindakan yang tidak bijaksana ketika jutaan Muslim hidup di negara-negara yang sama yang mungkin saja tidak berlambat-lambat dalam menjawab seruan jihad, dan tindakan ini tak dapat disangkal telah membawa kepada situasi yang sekarang meledak di hadapan mereka baik di rumah maupun luar negeri.

Penolakan mutlak pemerintah untuk melihat gambaran yang lebih besar dan untuk mengambil setiap tindakan perbaikan telah secara gamblang terlihat olehku di dunia kecilku.

Aku telah diperbolehkan untuk mengakses sejumlah laporan berita dan kabar Twitter berkaitan dengan situasiku, dan satu-satunya yang kuperhatikan adalah bahwa yang telah dilakukan pemerintah Inggris dalam kasusku hanyalah berkomentar tak berguna terhadap rilisan video-videoku.

“Kami memperhatikan rilisan video lain dan sedang mempelajari isinya,” kata seorang juru bicara Kantor Luar Negeri. Luar biasa. Kerja yang bagus. Keluarga dan teman-teman telah melakukan jauh lebih banyak untuk orang Inggris lainnya dan diriku yang ditahan di sini. Aku bahkan mengetahui sebuah kampanye online yang diluncurkan oleh sebagian teman-teman lamaku untuk mencoba menyampaikan kisahku di hadapan pemerintah. Terima kasih teman, aku berharap hal tersebut memiliki sedikit efek tapi sungguh, meminta tolong pada pemerintah ketika merekalah yang membuat aturan sejak awal terbukti tidak membuahkan hasil.

Karena dalam kasusku, pemerintah Inggris sangat senang untuk menonton seorang lelaki 81 tahun dari atas ranjang rumah sakit membuat sebuah film meminta pembebasanku, lalu meninggal karena tidak ingin melihat putra terkecilnya dieksekusi. Ia adalah ayahku. Mereka baik-baik saja dengan seorang ibu tiga anak membuat video meminta secara personal kepada Daulah Islam untuk “memulai kembali hubungan langsung” tanpa mereka ikut campur. Ia adalah saudara perempuanku. Dan mereka baik-baik saja dengan seorang wanita yang melakukan banyak wawancara dengan media mencoba menggalang perhatian terhadap situasi sedangkan mereka tidak berbuat sesuatupun. Ia adalah tunanganku, yang kuharapkan namun telah lama melupakanku dan berpaling.

Untuk mereka aku juga mengucapkan terima kasih, terima kasih banyak untuk usaha tanpa kenal lelah kalian. Tetapi biarlah ini terjadi. Biarlah seperti ini dan lanjutkan hidupmu, kalian semua. Apa yang dapat tersisa dari sebuah keluarga, terpukul dan lelah secara emosional setelah dua tahun pencarian, sesuai dugaan mereka harus melakukan sendiri sedangkan pemerintah, penuh dengan pejabat-pejabat cerdas, pemikir, dan lelaki berjas, duduk diam dan tidak melakukan apapun?

Dengan melakukan hal itu Cameron dan teman-temannya telah menarikku ke dalam Pabrik Kemarahan atas penderitaan yang harus ditahan oleh keluargaku atas ulah mereka. Ayahku sedikit membaik tetapi dia tidak seburuk itu ketika aku melihatnya terakhir, dan aku menganggap kurangnya dukungan politik kepada keluargaku, dan oleh karena itu pemerintah, ikut bertanggung jawab atas kematian ayahku.

Oh ya, jangan menyalah artikan ini seperti ucapan “malangnya aku.” Aku benci mengomentari diriku sendiri dan hanya menggunakan diri sendiri sebagai contoh.

Jika kau tidak sesuai masuk ke slot rapi yang dibuatkan pemerintah untukmu, maka kau telah jatuh ke jaring masyarakat biasa dan akan mendapati namamu dalam sebuah daftar atau dengan tenang diabaikan jika situasi menuntutnya. Dan ini tidak hanya politisi. Media juga sayangnya bisa sangat acuh tak acuh dalam pendekatannya. Ini masuk akal jika kau ingat bahwa mayoritas media cetak sekarang juga sayap kanan (di Inggris, the Telegraph, Times, Daily Mail, Sunday Times, dan The Sun semuanya berperang untuk Konservatif) dan sehingga semuanya disuapi dari sistem yang sama. Sangat sedikit laporan yang melihat ke gambaran yang lebih besar atau mengajukan pertanyaan seperti, “Haruskah pemerintah membantu lebih banyak?” Atau, “Dapatkah kita mencegahnya terjadi lagi?” Atau bahkan, “Apa yang bisa dilakukan untuk membantu keluarga-keluarga dalam situasi seperti ini?”

Akhir-akhir ini, dan tetap dengan situasiku sebagai contoh, mereka hanya melaporkan bahwa aku telah membuat video lain dan tampaknya hanya melakukan usaha kecil untuk menelusuri lebih dalam.

“John Cantlie, 43, memainkan peran sebagai wartawan TV di sebuah video jalan-jalan di Mosul yang tampaknya menjadi usaha bagi militan untuk menunjukkan bahwa kehidupan ‘berjalan seperti biasa’ di kota yang dikuasai ISIS di Iraq utara,” lapor Mashable pada 3 Januari.

“Bermaksud untuk menunjukkan bahwa kehidupan berjalan normal di kota Mosul yang dikontrol Jihadi, video ini diproduksi dengan gaya kisah perjalanan televisi mirip dengan yang digunakan dalam program acara liburan,” lapor The Telegraph pada 3 Januari.

“Mr Cantlie berkata bahwa dia telah menerima ‘sejak lama’ bahwa nasibnya ‘sangat mungkin’ sama dengan tawanan-tawanan lainnya,” kata the Express pada 4 Januari.

Dalam banyak laporan ada sedikit komentar atau analisis, hanya “Cantlie membuat film lain dan berbicara mengenai ini dan itu.” Luar biasa, media berpikir situasiku layak untuk dikomentari jika itu membuat orang-orang berpikir melebihi yang tampak tetapi yang pasti poin dari jurnalisme –dan ada beberapa jurnalis yang sangat bagus di luar sana– adalah selalu untuk menembus sedikit lebih dalam dari apa yang nampak di permukaan. Ancaman kematianku selalu disebut-sebut dalam artikel berita dan aku telah membaca hal yang sama berulang kali hingga aku curiga media tidak sabar menunggu eksekusiku. Aku yakin ini akan menjadi hari yang tak terlupakan bagi mereka ketika kepalaku dipotong.

Salah satu situs internet, Newsday 24/7, begitu ingin aku mati, mereka menerbitkan sebuah cerita tentangnya dalam bahasa Inggris yang buruk pada 13 Desember. “Sumber dari dalam Islamic State mengatakan kepada Newsday 24/7 bahwa jurnalis Inggris, John Cantlie telah dieksekusi oleh kelompok tersebut,” kata mereka tanpa, dengan jelas, melakukan verifikasi terhadap pernyataan yang sangat serius tersebut. Luar biasa. Aku menyarankan keluargaku untuk mencari hacker untuk menutup website tersebut karena penderitaan mereka diakibatkan laporan seperti itu.

Publik tampaknya mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan cerdas dan mencoba melihat gambaran yang lebih besar. Perubahan wajah media dalam 10 tahun terakhir berarti publik tidak harus bergantung kepada media yang sama yang telah membuat mereka lelah selama bertahun-tahun, dan membuat media mereka sendiri, yang seringkali lebih cepat, selalu lebih menarik, dan terkadang lebih dapat diandalkan. Setiap hari masyarakat semakin terbuka terhadap dunia yang berkembang dan segala sesuatu yang terjadi di dalamnya dan kurang terpengaruh oleh campur tangan pemerintah dalam apa yang mereka baca. Dalam banyak cara, media sosial telah menjadi alat yang lebih hebat daripada media “nyata”, asalkan Anda tidak terhipnotis oleh tren menipu bahwa media sosial terkadang salah dalam menyampaikan.

Akhir-akhir ini, publiklah yang menjadi pengumpul berita dan para jurnalis membaca apa yang mereka katakan. “Apakah ISIS bermain game kucing dan tikus dengan #JohnCantlie?” tanya seorang tweeter para 3 Januari. “Bermain dan mengejek tawanan hingga mereka membunuhnya? Aku harap tidak namun khawatir iya.”

“Akun twitter ISIS tidak bisa mendapatkan cukup #JohnCantlie,” ucap tweeter lain. “Lupa bahwa dia adalah tawanan dengan pemotong leher tergantung di atas kepalanya.” Dan komentar favoritku, juga di tweet tanggal 3 Januari, “Menggelikan bagaimana seorang tahanan Islamic State terlihat lebih gembira dan lebih bebas daripada sebagian besar dari kita yang hidup di Barat!”

Menarik, hal-hal yang merangsang pikiran, masyarakat mengajukan pertanyaan sulit dan menyuarakan gagasan yang tidak dapat ditemui di media mainstream. Kebenaran dari masalah tersebut, bagi siapapun yang tertarik, adalah bahwa aku menentukan sendiri sebagian besar dari situasiku. Pada bulan September lalu aku berkata bahwa aku akan berbicara melawan pemerintah kita yang pendusta selama mujahidin mengizinkanku untuk hidup, dan sekarang di bulan Februari tetap itulah yang terjadi.

Jika mujahidin memintaku membuat video atau menulis artikel yang dengan cara tertentu ditujukan kepada sistem politik yang sama sekali tidak memperhatikan rakyatnya, walaupun tanpa henti mengatakan sebaliknya, maka aku akan menerima tawaran tersebut. Aku telah melihat puluhan video Cameron mengatakan betapa dia menghargai hidup masyarakat Inggis, namun perbuatan terkadang lebih terdengar daripada perkataan dan hal tersebut bukan yang kusaksikan terkait keluarga rakyat Inggris yang ditahan di Suriah.

Ini hal yang aneh, untuk mengungkapkan kemarahanmu yang sebenarnya kepada pemerintahmu. Bagiku ini sebuah sensasi baru, politik tidak pernah menyentuhku sebelumnya karena aku hidup bahagia di bawah radar. Aku tidak pernah ikut pemilu karena kau menyadari bahwa semua politisi, secara alami, adalah pembohong yang selalu mengatakan apa saja yang perlu dikatakan untuk meraih kekuasaan dan kemudian melakukan persis sama dengan pemimpin sebelumnya kecuali menggunakan warna dasi berbeda.

Sekarang, setelah merasakan secara langsung politisi yang dingin dan bagaimana kejamnya mereka setelah terpilih, aku menyadari betapa aku telah benar sejak awal. (2)

Walaupun menjadi tahanan, aku diperlakukan dengan hormat dan ramah, yang tidak pernah aku lihat dari pemerintahku sendiri, bisakah aku dengan rela hati kembali dan hidup di negara yang tidak mengakui warga Inggris lainnya, semua keluarganya, dan diriku sembari terus menghina?

Aku pikir tidak.

Catatan kaki :

[1] Campuran berbagai macam hal, seringkali tak terduga, berbahaya atau mengejutkan, pent.

(2) Catatan Editor: Keburukan terbesar dalam pemilu dalam sistem demokrasi bukan karena janji-janji palsu dari politisi bermuka dua, melainkan karena hal tersebut mengharuskan melekatkan hak dan sifat Allah –termasuk hak membuat hukum– kepada manusia. Oleh karenanya, ini adalah bentuk syirik akbar. “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih” (Asy-Syuuraa’: 21).

TELADAN BAIK DARI ABU BASHIR AL-IFRIQI

DABIQ 7 - SPESIAL

TELADAN BAIK DARI ABU BASHIR AL-IFRIQI

Segala puji hanya bagi Allah yang telah menjadikan untuk zaman kesengsaraan kita seorang laki-laki dengan rasa cemburu (ghirah) untuk agama Allah. Mereka meninggalkan dunia untuk akhirat dengan keyakinan akan ganjaran yang telah Allah siapkan bagi mereka yang membunuh musuh-musuh-Nya. Suatu keharusan bagi seseorang yang menapaki jalan Islam kemudian jihad untuk mengetahui bahwa jalan ini sangat panjang dan bahwa dia membutuhkan perbekalan untuk meneguhkannya dan memupuk keyakinannya terhadap jalan yang akan berujung di Surga, insyaa’Allah. Perbekalan ini adalah dengan istiqomah dalam beribadah kepada Allah, membaca kitab-Nya, shalat sunnah, sedekah, dzikrullah, dan mencari ilmu tentang Al Qur’an dan As Sunnah. Sifat-sifat tersebut ada pada shabahat dari Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana yang salah seorang Salaf, al-Auza’i –yang wafat saat ribath di dekat Beirut di tahun 150 H– katakan, “Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berada di atas lima perkara: berpegang kepada Jama’ah, mengikuti Sunnah, mendatangi masjid, membaca Al Qur’an, dan berjihad fi sabilillah” (Syarh Ushul I’tiqad Ahlis-Sunnah).

Dan sifat-sifat tersebut juga ada pada saudara kita Abu Bashir (Amedy Coulibaly – rahimahullah), seorang ikhwan yang dekat dengannya yang belum lama ini berhijrah ke Syam menceritakan kepada kita sebagaimana berikut ini…

AMAR MA'RUF NAHI MUNGKARNYA

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali ‘Imran: 104).

Di rumahnya, di antara keluarganya, dengan sesama Muslim, di jalanan, jika dia melihat sebuah kemungkaran, dia tidak akan membiarkannya, sebaliknya –dengan bijaksana dan kerendahan hati– dia akan memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah keburukan.

DAKWAHNYA

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?”.“ (Fussilat: 33).

Dia mengajak banyak orang kepada Allah, terutama saat dia di penjara. Dia bertemu seseorang di penjara yang aslinya Muslim tetapi membenci agama dan segala sesuatu tentangnya, sampai-sampai orang ini melarang istrinya untuk berhijab dan melarang saudaranya pulang dari belajar bahasa Arab. Di penjara, lelaki ini bertemu Abu Bashir dan bersamanya selama 2-3 bulan. Setelah itu, dia melaksanakan semua shalat pada waktunya, qiyamul lail (tahajud) setiap malam, dan membaca Al Qur’an setiap hari. Dia memerintahkan istrinya berhijab dan menjual rumah yang telah dibelinya dengan pinjaman yang sangat tinggi sehingga terhindar dari yang haram. Kisah ini adalah salah satu dari lusinan kisah-kisah sesungguhnya. Mereka yang pernah bertemu Abu Bashir akan menangis atas kesyahidannya. Dia juga mengajak orang yang dia percaya untuk melaksanakan perintah Allah untuk berbai’at kepada Amirul-Mu’minin Abu Bakar al-Baghdadi.

DZIKIRNYA

Yahya ‘alaihis salam berkata, “Dan aku memerintahkan kalian untuk berzikir kepada Allah Allah karena permisalan orang yang berzikir seperti orang yang dikejar oleh musuh dengan cepat hingga ketika ia mendatangi sebuah benteng yang kokoh ia berlindung di dalamnya dari kejaran musuh. Demikian pula seorang hamba, ia tidak dapat melindungi dirinya dari setan kecuali dengan berzikir kepada Allah.” (Shahih: riwayat at-Tirmidzi dan lainnya).

Dia tidak meninggalkan dzikir pagi dan petang, baik di dalam mobil, di rumah, atau di manapun. Dia banyak membaca Al Qur’an. Dzikir terbaik adalah membaca firman-Nya subhanah –ayat-ayat yang Dia wahyukan kepada Nabi-Nya shallalllahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana hadits, “Engkau tidak kembali kepada Allah dengan sesuatu yang lebih baik daripada apa yang Dia tinggalkan (untuk kalian).” (Shahih: diriwayatkan al-Hakim).

MENGIKUTI DALIL

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).” (Al-A’raaf: 3).

Ikhwan kita ini tidak akan menerima masalah apa pun tanpa dalil. Dia akan berjuang untuk memeriksa setiap masalah tidak peduli siapa yang mengatakannya. Jika dalil sampai kepadanya, dia akan segera tunduk kepada aturan Allah sesuai dengan ayat, “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (An-Nuur: 51).

Betapa banyak mereka yang taqlid buta kepada ulama’ jahat, imam sesat, dan da’I (penyeru) kepada pintu-pintu neraka! Mereka mendahulukan pendapat “ulama” tersebut atas perkataan Allah dan perkataan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun kebenaran telah jelas berkaitan dengan tauhid, dan wala’ wal bara’ – millah Ibrahim ‘alaihis salam. Kebenaran juga jelas berkaitan dengan hijrah dari Darul Kufri ke Darul Islam. Kebenaran juga jelas mengenai bai’at kepada Khalifah Abu Bakar al-Baghdadi hafizhahullah dan jihad melawan Yahudi, Nashrani, Rafidhah, dan pengusung demokrasi. Tidak ada yang mendahulukan perkataan seorang ulama atas perintah dari Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam selain mereka yang dijelaskan dalam firman Allah, “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahibrahib mereka sebagai tuhan selain Allah.” (At-Taubah: 31).

KEHAUSAN MENUNTUT ILMU

Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan, Dia akan memberikan pemahaman dalam urusan agamanya.” (Al-Bukhari dan Muslim).

Dia selalu menanyakan banyak persoalan berkaitan hukum-hukum fiqh dan meneliti permasalahan tersebut sendiri. Allah memberinya pemahaman yang dengannya dia mampu membandingkan beberapa permasalahan dan menyimpulkan hokum-hukum berbeda yang disebabkan suatu aturan. Abu Bashir sangat pandai dalam perkara ini.

PUASANYA

Dia berpuasa Senin dan Kamis sesuai hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurayrah radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Amalan diangkat kepada Allah pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka jika amalanku diangkat sedangkan aku sedang berpuasa.” (Diriwayatkan at-Tirmidzi).

SHALAT MALAMNYA

Dia shalat qiyamul lail (tahajud) sesuai firman Allah, “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap.” (As-Sajdah: 16).

SIKAP KERASNYA KEPADA ORANG KAFIR DAN KELEMBUTANNYA KEPADA ORANG BERIMAN

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (Al-Fath: 29).

Setiap orang yang mengenalnya mencintainya karena sifatnya yang baik dan kelembutannya kepada orang-orang yang beriman. Jika dia merasa telah berbuat salah kepada seseorang, dia akan meminta maaf. Dia akan mengorbankan haknya jika dia memiliki keragu-raguan kecil berkaitan dengan harta seorang Muslim. Tidak ada yang meragukan keberaniannya. Dia adalah singa; perbuatannya memberi kesaksian atasnya. Dia menunjukkan kekuatannya kepada orang-orang kafir.

KEMURAHAN HATINYA

“BERANGKATLAH KAMU BAIK DALAM KEADAAN MERASA RINGAN MAUPUN BERAT, DAN BERJIHADLAH KAMU DENGAN HARTA DAN DIRIMU DI JALAN ALLAH. YANG DEMIKIAN ITU ADALAH LEBIH BAIK BAGIMU, JIKA KAMU MENGETAHUI.” (AT-TAUBAH: 41) .

Dia banyak bersedekah kepada orang-orang miskin, akhwat (istri-istri mujahidin yang dipenjara), dan mujahidin. Sebagai contohnya ketika dia melihat kondisi finansial yang sulit dari dua mujahid Cherif dan Said Kouachi, dia memberinya beberapa ribu euro sehingga mereka dapat membeli apa yang mereka perlukan untuk operasi, setelah bersama-sama mengkoordinasi waktu untuk operasi berbeda mereka. Dia banyak memberikan perhatian untuk menolong akhwat (istri-istri mujahidin yang dipenjara). Dia tidak bisa melihat masjid-masjid tertutup sedangkan akhwat tersebut tidak memiliki rumah. Dia akan menawarkan uang dan rumahnya sebagai solusi.

RASA CEMBURUNYA KEPADA AGAMA

Sa’d bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Jika aku melihat seorang laki-laki bersama istriku, aku akan menebasnya dengan pedangku.” Hal ini sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka dia berkata, “Apakah kalian heran dengan rasa cemburu Sa’ad? Demi Allah, aku lebih cemburu daripadanya dan Allah lebih cemburu daripadaku.” (Al-Bukhari dan Muslim).

Abu Bashir menjadi sangat sedih setiap kali dia melihat agama Islam atau kaum Muslim dilanggar. Dia ingin untuk merubah keburukan tersebut. Semoga Allah menerimanya di antara para syuhada’ dan memberikan rahmat atasnya.

KERUNTUHAN

DABIQ 6 - SPESIAL

KERUNTUHAN
Oleh : John Cantlie

Perang terus meningkat, nilai (jual) minyak mengalami penurunan, dan Amerika sedang mencetak $ 85 miliar dolar per bulan untuk mencegah kehancuran total. Krisis ekonomi mendekat dengan cepat dan dunia membutuhkan mata uang yang stabil dan dapat diandalkan. Sejak 5.000 tahun, mata uang itu adalah emas.

Ada terlalu banyak "uang" di dunia hari ini dan sebagai akibatnya hal itu tidak akan berjalan begitu lancar dalam beberapa tahun ke depan. Kamu bisa melihatnya dalam setiap perekonomian hampir di setiap negara. Biaya hidup akan naik bersamaan nilai mata uang yang semakin berkurang nilainya dan bank pusat mencoba untuk mengatasi masalah dengan mencetak lebih banyak lagi kertas dengan nomor di atasnya.

Sudah mencoba puluhan kali sepanjang sejarah dan selalu gagal. Dolar akan selalu turun bahkan kali akan menyeret dunia bersamanya.

Sejak tahun 1971, sistem keuangan dunia berdasarkan kepercayaan. Mata Uang hanya bernilai sebagai sesuatu dalam pertukaran untuk barang karena bank mengatakan bahwa - $ 5 bisa membelikanmu kopi dan sandwich kemarin sehingga Anda percaya bahwa ia akan melakukannya juga besok. Tapi kepercayaan dalam hal keuangan antara masyarakat dan pemerintah kini jatuh ke titik terendah yang tidak terlihat sejak tahun 1930-an, dan dengan tidak adanya mata uang dunia yang terikat dengan apa pun dari nilai sebenarnya, kenyataan krisis ekonomi global menyeret semakin dekat.

Sebagai mata uang cadangan dunia dan, sampai saat ini mata uang tunggal perdagangan minyak, bentuk dolar AS sekitar 60% dari semua nilai mata uang pada planet ini, dan lebih dari setengah uang itu berada di luar Amerika Serikat. Sehingga di saat dolar runtuh, itu akan menciptakan efek domino dan yang lain akan ikut menerjang runtuh bersamanya.

Pada saat seperti itu, dunia mencari sesuatu yang sedikit lebih berharga daripada kertas untuk menopang keuangannya. Sesuatu ini harus memiliki nilai intrinsik, nilai yang tidak naik atau turun liar hanya dengan menekan beberapa tombol di bank sentral. Sesuatu itu bisa jadi sapi, sekarung gandum, atau satu barel minyak, tetapi untuk ribuan tahun terakhir item yang paling popular nilainya adalah emas.

Dia memiliki batasan jumlah, sehingga tidak akan pernah kehilangan nilainya, bank tidak bisa mencetak lebih dari itu ketika mereka memilih, dan itu sangat berharga sesuai apa yang pasar katakan, bukan apa yang bank tentukan. Dia juga tahan lama, Anda dapat menukarnya dengan barang, dan nilai harganya bukan hanya pada hari ini saja, bahkan sejak ribuan tahun lalu. Sekarang, inilah uang sesungguhnya.

Sungguh menakjubkan untuk membayangkan bahwa segumpal emas yang mungkin telah digunakan selama ribuan perdagangan bertahun-tahun lalu sekarang masih beredar. Mungkin dilebur dan menjadi bagian dari sebuah emas batangan atau dikenakan di leher seseorang, tapi dia masih ada. Cobalah jika itu selembar kertas.

MENGAPA KITA BERBICARA TENTANG UANG?

Bulan lalu Daulah Islam mengumumkan rencana mencetak untuk kalangan mereka sendiri dinar emas dan dirham perak dalam sebuah langkah untuk memisahkan diri dari dolar terkait mata uang fiat dan membangun uang mereka sendiri, mata uang yang memiliki nilai intrinsik.

Setiap negara perlu mata uang sendiri dan peralihan yang dilakukan Daulah Islam kepada dinar emas akan menjadi sesuatu yang cerdas di pergolakan pasar saat ini. Situs keuangan Quartz menulis, "Dinar emas menyentuh sejarah yang mendalam dari mata uang Islam yang membentang ke belakang sejak masa Muhammad sendiri. Dinar Islam muncul di 696 AD, ketika Dinasti Umayah –berpusat di Damaskus– membentang dari semenanjung Iberia hingga Sungai Indus di Asia Selatan."

Dan nilai emas melonjak. Pada tahun 2006, saya memiliki 1 kg batangan emas yang berharga, diwaktu itu, sekitar $ 17.000. Sayangnya itu bukan milikku; sebuah agen emas batangan meminjamkannya kepada saya untuk sebuah artikel. Seluruh staf di gedung itu mendengar tentang hal itu dan datang untuk bermain mata atas keindahannya. Emas murni membuat orang menjadi sedikit aneh seperti itu. Tapi kalau aku punya uang untuk membelinya, batangan emas yang sama akan bernilai lebih dari $ 60.000 hari ini.

Ketika mereka bergerak untuk memperluas Khilafah, akan sesuai bagi Daulah Islam untuk memperkenalkan dinar dan dirham mereka sendiri. Ini bisa diterapkan, bentuk praktis dari mata uang yang menempatkan kekuasaan pengeluaran ke tangan bisnis dan konsumen. Dinar emas adalah salah satu mata uang yang paling abadi di dunia. Emas cukup masuk akal ketika ada krisis ekonomi yang cepat mendekati orang-orang seperti yang belum pernah terlihat sejak waktu yang sangat lama.

Cengkraman dolar AS di dunia sejak perjanjian Bretton Woods tahun 1944 –ketika mata uang dunia disematkan ke dolar, yang dia dipautkan pada emas $ 35 per ons– kurang lebih. Dunia telah mengirim emas mereka ke Amerika untuk diamankan saat Perang Dunia 2 dan mereka mengumpulkan sekitar 20.000 ton. Selama waktu beberapa tahun peperangan, dolar menjadi mata uang cadangan dari dunia internasional yang diakui melalui standar emas.

Amerika memutarnya secara tunai. Tapi dia over pengeluaran, peperangan, dan keserakahan nyata bahwa pada 1960-an mereka mencetak dolar jauh lebih banyak dari emas yang bisa mereka tebus. AS diperkirakan telah menghabiskan $ 546 miliar hanya selama Perang Dingin. Mereka mencetak dolar seperti mereka menegluarkan fashion, sehingga dunia gugup, mulai mengembalikan dolar, dan meminta emas mereka kembali sebagai gantinya.

Ini menciptakan tanah longsor dan Federal Reserve "Bank Sentral Amerika, pent" terpaksa mengakui bahwa mereka tidak memiliki cukup emas untuk diserahkan kembali. Pada tahun 1971, Presiden Nixon menyatakan Amerika tidak lagi menebus dolar untuk emas kecuali itu dalam "kepentingan Amerika Serikat."

Itu adalah penolakan pembayaran hutang terbesar dalam sejarah modern. Nixon segera menggantikan emas dengan minyak pada tahun 1973 dengan menyatakan bahwa semua transaksi internasional dengan negara-negara penghasil minyak OPEC harus dilakukan dalam bentuk dolar. Reputasi buruk keluarga korup kerajaan Saudi pun setuju. Sebagai imbalan untuk hanya menggunakan dolar sebagai mata uang perdagangan minyak dan investasi miliaran dalam obligasi AS, Amerika akan memberikan mereka dukungan militer dan melindungi ladang minyak mereka. Pada penawaran Saudi, negara-negara OPEC lainnya ikut jatuh ke garis ini, dan lahirlah petrodollar. Dolar telah disematkan ke emas, sekarang disematkan ke minyak.

"Tidak ada dolar, maka tidak ada akses ke komoditas terpenting dunia," kata Nick Giambruno, seorang penasihat keuangan di Casey Research. "Jika Italia ingin membeli minyak dari Kuwait, berarti harus terlebih dahulu membeli dolar AS pada kurs pasar untuk membayar minyak, sehingga menciptakan kebutuhan palsu untuk dolar AS yang tidak akan ada jika Italia bisa membayar dalam euro."

UNTUK SEMENTARA, SEMUA SESUAI RENCANA

Saudi membuat triliunan. Amerika membuat triliunan. Tapi kemudian Saddam mencaplok Kuwait pada tahun 1991 dan AS, membuang bagian mereka untuk tawar-menawar, dihancurkanlah tentara Baath-nya. Tapi mereka tidak berhenti di situ. Mereka kemudian dikenakan sanksi berat atas rakyat Iraq sendiri bahwa, karena kemiskinan, mengakibatkan kematian lebih dari 500.000 anak-anak saja, sampai tahun 2000, rezim Baath menyatakan mereka hanya akan menjual minyak mereka dengan Euro dan tidak kepada "musuh negara."

Amerika kembali pada tahun 2003 di bawah kebohongan tentang "senjata pemusnah massal" dan "perang melawan teror", setelah merusak negara lain untuk rakyatnya sendiri, segera dia mengembalikan penjualan minyak ke dalam dolar. Amerika akan memulai perang dan membunuh ratusan ribu orang untuk melindungi nilai dolar demi kepentingan ekonomi lainnya. Ini sangat jelas ketika AS dan sekutunya hanya duduk dan menonton sementara Asad menyembelih lebih dari 200.000 orang Suriah. Namun, segera setelah Daulah Islam bergerak menuju ladang minyak Iraq dan Saudi, Amerika langsung berusaha terlibat.

Dan meskipun melakukan agresi untuk melindungi nilai dolar di seluruh dunia, pemimpin politisi AS dan para pemodal tahu hari itu telah ditentukan. Kongres Ron Paul mengatakan runtuhnya dolar sudah dekat. "Kita akan mengetahui bahwa hari itu telah mendekat ketika negara-negara penghasil minyak meminta emas, atau yang setara, untuk minyak mereka, bukan dengan dolar atau euro," katanya.

Dan itulah yang terjadi sekarang. Rusia dan China dalam perdagangan minyak menggunakan mata uang mereka sendiri dan mereka mengumpulkan begitu banyak emas batangan sehingga mereka siap untuk membunuh dolar dan petrodollar sebagai alat perdagangan internasional. China telah membangun sebuah gunung emas terdiri dari 6.500 ton emas batangan. Negara lain berdagang dengan menggunakan euro dan emas atau berencana untuk melakukannya dalam waktu dekat.

Produsen gas alam terbesar di planet ini, Perusahaan Rusia Gazprom, baru-baru ini menandatangani perjanjian untuk beralih pembayaran dari dolar ke Euro. Gazprom juga merupakan produsen minyak yang besar dan itu adalah langkah besar dalam upaya de-dolarisasi Rusia. China akan mengikutinya.

Dan aksi militer Daulah Islam telah memeras monopoli minyak Amerika dengan menyerang, mempermalukan, dan mengambil alih atas pasokan minyak di wilayah yang telah mereka kuasai.

Iraq adalah pemasok minyak terbesar kedua setelah Saudi, tapi Daulah Islam mencapai ke sana dan telah mengganggu banyak pasokan minyak. Pasokan Libya telah terganggu oleh serangan Daulah Islam, sementara produksi Nigeria sedang diserang mujahidin di sana.

Ini bukan kebetulan dan ini sebuah cara cerdas untuk memukul Amerika di tempat mana yang sakit, sehingga AS harus bergantung lebih pada pasokan sendiri. Panik untuk menghentikan situasi yang bertambah parah, Amerika telah menginvestasikan milyaran ke dalam program pengeboran minyak dan gas mereka sendiri, membuat mereka sekarang menjadi produsen minyak terbesar di dunia pada 11 juta barel per hari dan masuk ke dalam perang harga minyak bersama sahabat mereka sendiri, Saudi.

Sehingga tiba-tiba pasar dibanjiri dengan minyak murah di mana setiap orang sekarang dapat membeli yang membuat semakin tidak berharganya dolar AS mereka. Anda tidak perlu menjadi seorang ahli keuangan untuk melihat kea rah mana ini semua menuju. Perang, ledakan ekonomi, deflasi kronis dan, akhirnya, sistem keuangan global yang baru yang akan muncul dari abu.

Beralih ke emas pada saat seperti ini sangat masuk akal. Emas dan perak masih dianggap uang yang terkuat di dunia karena orang membutuhkannya. Mereka tahu nilainya dan telah digunakan selama ribuan tahun. Tidak ada yang menciptakan tempat yang lebih baik bagi manusia untuk hidup daripada di rumah. Tidak ada yang menemukan cara yang lebih baik bagi manusia untuk tetap hangat daripada memakai baju. Dan tidak ada yang menemukan uang lebih stabil dari emas. Pada tahun 1944, dolar terpaut dengan emas $ 35 per ounce - hari ini akan perlu $ 15,400 dolar per ounce untuk menutupi jumlah dolar yang beredar! 61

Presiden Venezuela, Hugo Chavez, melihatnya hal ini datang dan memulai kampanye pada tahun 1998 untuk mendapatkan kembali 211 ton emas Venezuela dari AS. Butuh sejumlah besar perdebatan sebelum emas mereka pulang; negara tidak suka melepaskan emas setelah itu dari brankas mereka. Tapi bola mulai menggelinding dan sekarang semua orang menginginkan kembali emas batangan mereka. Swiss, Ekuador, Belanda, dan Austria semua berteriak meminta emas mereka kembali. Jerman meminta emas mereka kepada The Fed pada 2012 dan dengan mudah dibalas bahwa itu tidak ada.

Negara-negara sekarang dengan cepat menjauhkan diri dari dolar sebelum krisis terjadi. Oleh karena itu, sebuah ide cerdas Daulah Islam untuk mencetak dinar emas mereka sendiri. Jika Anda berdagang uang yang memiliki nilai di pasar bebas saat banyak negara lain di sekitar anda berjalan dengan gerobak uang kertas untuk membayar sepotong roti, berarti Anda berada dalam posisi jauh lebih kuat daripada mereka. Ekonomi Anda akan berkembang sementara mereka akan runtuh.

Emas dan perang selalu hidup berdampingan, sebagai penulis keuangan David Graeber menulis : "Selama perang ekspansi pada masa Dinasti Umayah, sejumlah besar emas dan perak yang direbut dari istana, kuil, biara-biara dan dicetak ke mata uang, memungkinkan Khilafah untuk menghasilkan dinar emas dan dirham perak dengan kemurnian yang luar biasa."

Tentu saja, banyak bank sentral di seluruh dunia membuang gagasan kembali kepada emas atau standar emas dalam abad ke-21, dengan alasan bahwa itu akan menjadi langkah besar ke arah kemunduran. Tapi itulah tugas mega bankir untuk membuang emas, karena jika dunia kembali ke sistem moneter berdasarkan logam mulia, kontrol mereka dan pemerintah terhadap seluruh negeri dan kesehatan keuangan publik akan berhenti. Mereka akan keluar dari pekerjaan. Anda tidak dapat memanipulasi nilai emas. Ini adalah apa yang pasar tuntut. Tetapi dengan uang kertas anda bisa menipu sekitar sebanyak yang Anda suka. Dan itu semua dirancang untuk memaksa uang sebanyak mungkin keluar dari saku para konsumen.

"Sistem moneter kita mencuri dari kelas menengah dan mentransfer kekayaan ke bank," kata pakar keuangan Mike Maloney. "Kami sudah melihat ini sepanjang sejarah dan itu hanya mengulangi lagi dan lagi."

Sistem dunia perbankan adalah penipuan yang dirancang untuk memakan dirinya sendiri dan pemerintah. Tidak ada yang benar-benar nyata, hanya sejumlah besar kertas dan banyak nomor pada komputer. Dengan sistem saat ini, pemerintah dan bank memegang semua emas sementara publik memiliki potongan-potongan kertas yang tidak berharga untuk bermain dengannya, dan ketika ekonomi runtuh tebak siapakah yang masih akan memiliki emas...

Itu sebabnya menempatkan logam mulia ke dalam peredaran adalah baik bagi semua orang kecuali bank. Ini membalikkan proses dan menempatkan uang kertas kembali ke dalam sistem sementara kekayaan nyata, logam berharga, ada di tangan rakyat.

The Federal Reserve (Bank Sentral) AS kini mencetak lebih dari $ 1 triliun per tahun dalam "Quantitative Easing 3" dalam upaya putus asa untuk mencegah deflasi dan mencetak jalan keluar dari kehancuran. Mereka mungkin kehabisan kertas dalam upaya mereka, tetapi tetap tidak akan berfungsi. Waktu keruntuhan dolar sekarang semakin dekat seperti yang terjadi pada setiap mata uang kertas lain sebelumnya, dan meskipun ratusan ribu orang mati untuk menundanya, sejarah menunjukkan itu tak terelakkan. Dan untuk pertama kalinya, semua mata uang dunia, juga mata uang fiat tidak didukung oleh sesuatu apa pun. Ketika keruntuhannya datang, maka ia akan hancur...

Selasa, 24 April 2018

ANDAI AKU PRESIDEN AMERIKA SEKARANG...

DABIQ 5 - SPESIAL

ANDAI AKU PRESIDEN AS SEKARANG...
Oleh : John Cantlie

"...Andai aku presiden AS hari ini, aku mungkin akan mematikan ponselku, mengunci pintu kantor oval, dan pergi bermain golf sebagai gantinya. Perang terhadap Daulah Islam tidak akan aku rencanakan sama sekali."

Jika ada yang bersinar, misalnya emas 24 karat, tentu tidak jadi alasan bagus untuk mengingkari janjimu sendiri dan menyatakan perang lain di Timur Tengah, hingga kita menyaksikan hal itu sekarang. $ 424.000.000 dolar adalah harga dari serangan udara atas Iraq dan Suriah yang telah dilakukan yang hasilnya tidak lebih dari ekspansi yang semakin meluas dan menguatnya Daulah Islam di kedua negara, sedangkan bendera hitam tauhid sekarang berkibar di ufuk dari Libya, Yaman, Sinai, dan di tempat lainnya, sebuah pertumbuhan yang sangat cepat Daulah Islam di luar negeri. Ini benar-benar hal terakhir yang Tim Obama dan sekutunya telah diperingatkan, setelah menabuh genderang perang koalisinya dan berangkat ke medan perang untuk membuat negara mereka menjadi lebih aman, atau, binasa ketika mereka berada di kesombongan mereka sendiri dan ketidakmampuan untuk mempelajari pelajaran masa lalu, bahkan itu yang diharapkan.

Banyak ketakutan para pemimpin politik Barat, Daulah Islam kini benar-benar bergerak dengan momentum besar. Sebagai kelompok yang menikmati kesuksesan, ia menarik lebih banyak lagi ke barisannya, sehingga menyebabkan ekspansi dan berkembang biak lebih banyak hingga mencapai semacam kritis massa, titik di mana ia menjadi menyempurkan diri, mandiri.

Dan untuk saat ini, pembicaraan tentang Daulah Islam tidak hanya tentang ekspansinya ke negara-negara Arab di Timur Tengah, namun jangkauannya hingga ke tanah air dan ruang keluarga dari orang-orang biasa yang hidup ribuan mil jauhnya di kota-kota di barat dan pinggiran kota. Daulah Islam kini telah menjadi pemain global. Demikianlah Syaikh Abu Muhammad al-'Adnani menyeru umat Islam untuk bertindak di mana pun mereka berada, untuk bangkit dan melawan musuh-musuh Daulah Islam, yang seruan ini membawa reaksi hampir instan dari seluruh dunia.

"Jangan biarkan pertempuran ini berlalu begitu saja di mana pun kalian bisa", perintah Syaikh.

"Kalian harus menyerang tentara, pendukungnya, dan pasukan thaghut tersebut. Menyerang polisi mereka, aparat keamanan, dan anggota intelijen. Jika Anda dapat membunuh kafir Amerika atau Eropa -terutama si dengki dan kotor Perancis- atau Australia, atau Kanada, atau setiap kafir lainnya dari orang-orang kafir yang melancarkan perang melawan Daulah Islam, maka bertawakkallah kepada Allah, lalu bunuhlah dengan cara apapun yang bisa dilakukan."

Dan tidak lama, hanya beberapa hari kemudian, kekacauan meletus di seluruh dunia.

Di Australia, Numan Haider menikam dua polisi antiteror. Di Kanada, seorang tentara ditembak dan dibunuh di depan Monumen Perang di Ottawa oleh Michael Zehaf Bibeau (32 tahun) pada tanggal 22 Oktober, yang kemudian masuk ke gedung parlemen Kanada mencari target lain sebelum dirinya ditembak dan dibunuh oleh polisi. Pada minggu yang sama dua tentara ditabrak lari di Quebec oleh Martin Couture Rouleau dan di New York, Zale Thompson menyerang empat polisi di Queens dengan kapak, saat serangan biadab nya tertangkap kamera CCTV dan tersebar ke semua rumah-rumah penduduk di seluruh Amerika.

Semua serangan ini adalah efek langsung dari seruan Syaikh untuk beraksi, mereka telah meneliti apa saja yang mudah terbakar dan mematikan yang mendesis tepat di bawah permukaan setiap negara barat, menunggu meledak ke dalam tindakan kekerasan setiap saat pada kondisi yang tepat. Tiba-tiba para mujahidin Daulah Islam itu tidak seberapa esoteris dengan konsep pertempuran di negara yang tidak dikenal atau tidak dipedulikan, kini mereka berada di ambang pintu jutaan orang yang tinggal di beberapa kota terbesar, kota-kota modern di dunia barat. Serangan ini sebagai dakwaan memberatkan atas kebijakan lanjutan Amerika karena ikut campur negara lain. Semuanya, Amerika Serikat dan sekutu yang telah berjuang dalam "perang melawan teror" dulu mengatakan, "jika kita tidak melawan mereka di sana kita harus melawan mereka di sini". Masuk akal, hanya dalam satu minggu terbukti telah benar-benar gagal.

"Terlatih dan diasah dalam pertempuran, pejuang ini bisa mencoba untuk kembali ke negara asal mereka dan melakukan serangan mematikan", Obama memperingatkan kepada bangsanya pada pidato tanggal 10 September. Tapi apa yang tidak ia perkIraqan adalah ternyata warganya sendiri mengambil senjata dan menyerang polisinya tanpa pelatihan atau pengalaman tempur apapun.

Bagian media dengan cepat akan menyebut para penyerang tunggal ini sebagai "penyendiri yang terganggu jiwanya," seseorang yang hanya mencari alasan untuk melakukan kekerasan kriminal di kampung halaman mereka.

Tapi kenyataan yang terjadi sebenarnya jauh lebih dalam daripada ini.

Ini adalah salah satu hal yang bagi seorang individu akan berpikir ulang bagaimana menyerang atau membunuh pria lain. Hal ini terjadi setiap hari dan pikiran tersebut tidak sedikit atau bahkan mengkhawatirkan. Tapi untuk benar-benar melangkahkan kaki dan melakukannya atas perintah orang yang mereka tidak pernah bertemu, tidak pernah melihat, berjuang di negara beberapa ribu mil jauhnya yang bahkan tidak berbicara bahasa mereka, menunjukkan kekuatan yang tak terbantahkan akan kekuatan jihad. Terlepas dari status sosial mereka, terlepas dari siapa orang-orang ini yang telah melakukan tindakan ini atau berapa lama mereka telah menjadi Muslim, hal ini menunjukkan besarnya kekuatan ayunan jihad atas mereka yang memilih untuk mulai menapakinya.

Arti penting dari serangan ini dan lainnya adalah besar, dan tidak bisa dianggap remeh. Hanya dengan menyerukan umat Islam di seluruh dunia untuk bangkit mengangkat senjata, Syaikh telah melancarkan serangan di Kanada, Amerika, dan Australia (tiga negara ini disebutkan dalam pidatonya) dengan tidak lebih daripada kata-kata dan keyakinan bersama dalam ibadah jihad.

Seorang jenderal pada tentara konvensional tidak mungkin berharap untuk memiliki kekuatan atas laki-laki yang belum pernah bertemu di sisi lain dari dunia, memerintahkan mereka untuk menyerang dan mungkin saja dapat terbunuh, bahkan jika ia menawarkan uang kepada mereka! Petugas NYPD di New York beruntung mereka diserang dengan kapak dan tidak dengan pistol, jika tidak hasilnya bisa saja lebih serius.

Dan jumlah Muslim yang mengangkat senjata atas nama jihad di bawah panji-panji Daulah Islam semakin bertambah, dan mereka tumbuh dengan cepat. Menurut media Barat, Daulah Islam sekarang memiliki lebih dari 35.000 pejuang. Cengkeramannya kini telah menyebar di seluruh Afrika Utara ke Libya dan Aljazair, di Yaman dan hingga Jazirah Arab, di mana kaum Syiah dan rezim sekarang sedang diserang oleh mujahidin yang setia kepada Daulah Islam.

Jika jumlahnya hanya terbatas seperti itu, mengapa Jordan gemetar di sepatunya dan mengapa Turki menggigil setelah mendengar nama Daulah Islam? Dan jika jumlah tersebut sangat tidak signifikan, mengapa sekarang terjadi serangan di daratan benua Amerika Utara oleh pejuang Jihad yang tidak pernah meninggalkan negara asal mereka, bahkan tidak berbicara bahasa Arab?

Aku sudah mengutip terlalu sering di masa lalu tapi aku berharap dia akan memaafkan aku jika aku meraih kotak Michael Scheuer untuk mengutip sekali lagi. Dalam teks yang diterbitkan pada tanggal 2 September ia berkomentar,

"Kita terlalu jauh melewati dalam menghadapi teroris. Sebaliknya, kita berada di tengah-tengah pertempuran pemberontakan internasional, dan kita berada di jalan menuju perang dunia di mana Amerika Serikat harus berjuang di rumah dan di luar negeri jika status quo kebijakan luar negeri ini tetap dipertahankan."

Boom! Dan terjadilah, seperti yang diprediksi Michael. Didorong oleh intervensi Amerika yang terus-menerus, lingkup pengaruh Daulah Islam telah meluas hingga pada tingkat mereka sekarang dapat memberi perintah penyerangan di tanah AS oleh orang asing melalui kata saja. Sebuah pemberontakan internasional. Ini adalah skenario mimpi buruk bagi pemerintah, satu triliun telah mereka habiskan untuk mencoba menghindarinya, tetapi ironisnya, ini dipicu oleh campur tangan mereka terus menerus dalam urusan dunia Muslim.

Dari pengalamanku sendiri di sini, pemerintah kita terlalu menyendiri, sombong, dan konvensional dalam cara mereka berpikir untuk mendapat ide bagaimana cara menghadapi suatu ancaman global. Mereka hanya terus melakukan apa yang mereka sudah lakukan selama dua dekade terakhir, padahal secara bertahap telah membuat situasi lebih buruk dan semakin buruk.

Intervensi di Iraq hari ini, sedikit berbeda dengan yang sebelumnya kecuali dalam hal kedok, dan beberapa point di masa depan, perwakilan pasukan darat bukan orang-orang Amerika, karena bagi orang-orang di Amerika Serikat, mereka tidak peduli berapa banyak sekutu mereka mati. Dan hingga mereka bisa bertindak bersama-sama, Peshmerga akan menanggung beban sekarat dan mereka hanya memasok dari udara dan beberapa Pasukan Khusus membantu di darat.

Pemerintah seperti robot yang terjebak pada lingkaran, terus melakukan urutan yang salah meskipun instruksi diulang oleh tuannya secara terbalik. Master kepada robot: "Kau harus menemukan cara yang berbeda untuk mengatasi bahaya, mujahidin terlihat di sebelah barat." Robot; "Tidak bisa ... menghitung ..." Master; "Aksi militer tidak berhasil, bagaimana dengan negosiasi?" Robot; "Harus ... mematuhi ... pemrograman ..." Master; "Semua yang kau lakukan sejak 9/11 hanya membuat keadaan kita lebih bahaya, tidak lebih". Robot; "Zzzzz ... sintaks ... error ..."

Tentu saja, Robo-Obama tidak mendengarkan suara / alasan, dan dengan demikian ia memprogram dirinya sendiri dengan data lama yang sama-sama rusak, sehingga membuat kesalahan yang sama berulang-ulang. James Comey pada bulan September menggambarkan mujahidin Daulah Islam sebagai "biadab" (contoh klasik dari kesombongan dan cara berpikir konvensionalis yang tidak akan menghasilkan kemajuan apa-apa), sementara Nick Paton-Walsh menggambarkan di CNN tentang taktik Daulah Islam sebagai "canggih dan menakutkan," yang merupakan komentar yang jauh lebih berpendidikan dan mendekati kebenaran, tetapi Nick hanyalah seorang wartawan, sementara James Comey adalah direktur FBI.

Jika aku presiden AS saat ini –dan kalau boleh kukatakan, aku sangat senang ternyata aku bukan–, aku akan terkejut pada kekacauan yang bertiup di wajahku. Menghirup dalam perang yang aku klaim sudah berakhir, membuat sekutu dengan tiran paling keji di Timur Tengah, membuat negaraku dan kepresidenan ke kancah konflik sementara wargaku sendiri bangkit melawanku dalam menanggapi seruan Daulah Islam, sudah setengah jalan yang secara ajaib satu miliar dolar telah dihabiskan dan musuh tampaknya justru melompat dari kuat menjadi lebih kuat. Dan bukan hanya itu, mereka benar-benar memperluas pengaruh dan wilayah mereka ke negara-negara lain yang sudah kubangun basis militer dan berkomitmen untuk memberi miliaran dolar demi menghentikan mereka melakukan hal itu.

Dalam menghadapi seperti kecelakaan kereta api, aku harus mengatakan bahwa 18 lubang di sekitar Martha’s Vineyard adalah alternatif yang jauh lebih masuk akal. Dan begitu jelasnya peristiwa sekarang ini, mungkin lebih konstruktif juga.