DABIQ 14 - SPESIAL
DARAH KEHINAAN
Oleh: John Cantlie
“Dalam sebuah respon Amerika yang lambat atas eksekusi mantan teman satu sel ku tahun lalu, Negara itu secara resmi telah mengubah kebijakannya dalam masalah tebusan tawanan. Jelas sudah, kekerasan adalah satu-satunya pesan yang akan mereka tanggapi.”
Benar, aku memiliki pandangan mengenai krisis tawanan internasional –yang begitu menggemparkan headline media-media massa dunia pada tahun 2014- yang tidak dimiliki orang lain. Ini bukanlah hal yang perlu aku banggakan, tapi aku tahu lebih banyak atas apa yang dirasakan oleh tawanan asal Eropa terakhir yang berhasil pulang ke rumahnya daripada mereka yang lain yang masih hidup.
Saat tu, aku tidak berpikir dan banyak berbicara tentang apa yang akan terjadi setelahnya. Aku sudah kembali pulih secara fisik maupun mental, dan mencoba tak mengingatnya lagi. Kita tidak bias hidup di masa lalu selamanya. Namun hidup ini adalah rangkaian peristiwa, yang sebenarnya bisa dihindari secara keseluruhan, yang akan terwarnai selamanya dengan darah mantan teman satu sel ku dan akan menjadi aib memalukan bagi pemerintahan yang terlibat atas terbunuhnya dia. Tak akan ada yang bisa mengubah cara pandang Amerika dan Inggris yang dengan sinis meninggalkan warga Negara mereka terbunuh sementara semua Negara lain mampu memulangkan warga Negara mereka.
Dampak dari diumumkannya perubahan kebijakan Amerika Serikat terkait negosiasi tawanan tahun lalu jelas memiliki konsekuensi serius di Barat, mengejutkan publik. Tiba-tiba saja keluarga tawanan dibolehkan untuk membahas uang tebusan yang mencapai jutaan dollar, padahal kurang dari setahun sebelum pergeseran kebijakan ini, setiap rakyat yang mencoba untuk melakukannya –dan Diane Foley juga yang lain telah mencobanya- diancam untuk dituntut oleh Badan Keamanan Nasional (NSA).
Aku belum mendengar apapun mengenai sikap inggris dalam hal ini, namun karena mereka selalu mengikuti apapun yang diikuti amerika sekecil apapun itu, maka sangat mungkin bagi mereka sekarang juga telah merubah sikapnya.
Agaknya cukup aneh untuk kembal membahas semua yang telah terjadi lebih dari satu setengah tahun yang lalu, namun penting adanya untuk merenungkan apa yang sejarah tunjukkan dengan jelas berupa salah satu krises tawanan paling berdarah dan penanganannya paling buruk di era modern. Ini bukan hanya berdasarkan pengamatan ku semata, tapi juga berasal dari perasaan yang diutarakan oleh para wartawan diberbagai surat kabar terkait masalah ini.
Dampak kebodohan dari sikap keras enggan bernegosiasi Nampak jelas waktu itu, yaitu teman-teman satu sel ku dipenggal satu per satu. Karena mayoritas Negara memilih untuk bernegosiasi, baik diatas atau dibawah meja (dan semuanya memilih dibawah), dengan sikap keras kepala enggan berdialog, semua yang kalian lakukan hanyalah menyalahkan warga Negara kalian yang di penjara sampai mati. Tidak lebih.
Kalian tidak membuat sikap politik yang besar karena hal itu tidak terlihat dan tidak ada di media, kalian tidak menunjukkan pada dunia bagaimana kesulitan kalian membuat dalih alas an yang sama, dan nyatanya kalian memang sama sekali tidak membuat perbedaan apapun terhadap sikap global mengenai sandera. Para penyandera tidak memeriksa paspormu ketika mereka menangkapmu dan berkata, “Oh lihat, dia orang inggris. Kita lebih baik membiarkannya pergi dan hanya menahan semua orang prancis sebagai gantinya.” Ia tidak bekerja seperti itu.
Semua yang kalian lakukan hanyalah menyalahkan warga Negara yang telah memasuki sebuah situasi yang sulit demi uang beberapa juta dollar yang –mari kita jujur- tidak seberapa di dunia masa kini.
Daulah Islamiyah memompa jutaan dollar per hari dari pendapatan minyak sehingga mereka tidak membutuhkan uang hasil tebusan tawanan itu, dan belum membutuhkan untuk beberapa waktu. Aku tidak mengklaim berbicara atas nama mereka, namun aku percaya, cukup masuk akal untuk berkata bahwa mujahidin meminta uang tebusan hanya untuk melaksanakan perintah dalam Al-Qur’an.
{Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti...} (QS. Muhammad : 4)
Jangan salah, mujahidin mengikuti Al-Qur’an di tiap huruf-hurufnya, mengatakan apa yang mereka inginkan, dan melakukan apa yang mereka katakan. Mereka tidak main-main. Sebuah fakta yang tidak hilang dari Negara-negara Eropa yang warganya tertawan.
Amerika, disisi lain memilih untuk dengan entengnya mengabaikan bencana yang sedang mendatangi mereka, dan sekarang dalam sehari menghabiskan lebih banyak uang untuk membombardir Daulah Islamiyah daripada menyediakan uang yang diperlukan untuk membawa pulang Kayla Mueller yang berusia 26 tahun. Terima kasih atas kebijakan amerika saat itu, semua yang diperoleh keluarganya hanyalah bukti bahwa dia telah terbunuh akibat bom Koalisi di Raqqah. Dan sebuah nyala lilin di kampung halamannya Prescott, Aricona.
Jadi, beberapa bulan lalu aku menonton dengan seksama sebuah video dokumenter berdurasi 27 menit yang berjudul “Biaya Untuk Hidup”, yang ditayangkan ABC Australia pada Juni lalu. Presenter program ini, Jonathan Holmes, mewawancarai salah satu mantan teman satu sel ku, Frenchman Nicholas Henin. Nic adalah seseorang yang unik tapi aku cukup menikmati kebersamaan dengannya karena ia orang yang tenang, dan mengatakan hal-hal yang sangat aneh. Salah satu Nic-isme favoritku ketika ia dipukul oleh penjaga karena melemparkan roti ke toilet dan ia berteriak di dalam kamar dengan suara bernada tinggi, menyaksikan kepalanya melesat melewati pintu, berada cukup dekat di depan kami semua dan berteriak, “Aku baru saja dipukuuuuulllll”. Ah, hari yang menyenangkan.
Sesampainya dirumah, keempat orang prancis muncul ke hadapan publik bak pahlawan yang kembali dari medan perang. Nic, sama seperti semua tawanan prancis, spanyol, italia, jerman dan Denmark lainnya, kembali pulang ke rumah mereka dengan sedikit receh yang ditemukan pemerintah di dalam sakunya dan dibayarkan melalui seorang “perwakilan”. Biasanya ia adalah pengusaha kaya yang bertindak sebagai penyangga keuangan sehingga tidak ada hubungan langsung kepada pemerintah yang bersangkutan dan mereka dapat mengatakan –tanpa berbohong sedikitpun- bahwa mereka tidak membayar uang tebusan pada pihak yang menawan. Aku tidak tahu apakah pembayaran ini dilakukan secara elektronik atau seikat uang $50 usang didalam sebuah tas Adidas, namun itu tidak penting.
Terdapat banyak foto bahagia dank lip berita saat para tawanan pulang dan berkumpul kembali dengan orang yang mereka cintai. Ada air mata, pelukan, senyuman, dan jika kamu orang prancis, ciuman tak tulus di pipi dari presiden. Media menyukainya, masyarakat senang dengan pemerintah mereka, para mantan tawanan begitu bersyukur karena masih hidup, dan semua orang bersatu dalam kemarahan terhadap “para penawan yang kejam” yang telah melakukan “hal busuk” seperti itu sejak awal. Pemerintah membayar perusahaan marketing seperti Saatchi & Saatchi berjuta-juta untuk menghasilkan respon positif seperti itu dari masyarakat.
Sekarang, bandingkan hal itu dengan cemooh kemarahan dan kepahitan publik yang meletus di layar kaca publik ketika James Foley dieksekusi pada tanggal 18 Agustus 2014. “Hebat, ditangkap di hari Thanksgiving, dibunuh di hari ulang tahun ibuku,” ucapnya dengan tenang, beberapa menit sebelum ia dituntun keluar. Kepala kami dicukur gundul semua pagi itu dan pasti akan ada sesuatu yang pasti terjadi. “Ini hanya sebuah video, baik untuk kita semua,” kata James. “Tidak”, aku menjawab. “Ini bukan hanya sebuah video”.
94% warga amerika mendengar tentang kematian Foley. Ini menjadi berita terbesar di tahun itu karena gambar eksekusinya dan yang lain setelahnya disiarkan ke seluruh dunia. Belum pernah ada yang melihat hal seperti itu, tentu saja tidak dalam skala sebesar ini dan peristiwa itu memenuhi halaman depan (headline) di setiap surat kabar dan berita utama tv di seluruh dunia. Awalnya kemarahan ditujukan kepada mujahidin sebagai pihak eksekutor, tapi tidak lama kemudian Nampak jelas bahwa pemerintah yang terlibat sebenarnya mampu membuat kesepakatan untuk membebaskan warga mereka, akhirnya semua mata tertuju pada mereka. Kematian tersebut adalah akibat dari tindakan –atau lebih tepatnya kelambatan total- dari politisi amerika dan inggris.
“Terdapat perbedaan yang sangat besar antara bagaimana respon pemerintah perancis dan spanyol terkait hal itu,“ kata wartawan New York Times Rukmini Callimachi ketika diwawancarai dalam program tersebut. “Sedangkan warga amerika menyeret kaki mereka dan memberi tahu Mrs. Foley ‘Kami tidak akan membayar, mintalah bukti hidup yang lain, dll.’ Yang lain masuk ke mode negosiasi dan berkata, ‘Oke, 100 juta, 50 juta, itu diluar dari pertanyaan. Mari kita bicara hal yang lebih masuk akal’.
Aku melihat sejumlah email antara negosiator dari Daulah Islam dan beberapa keluarga tawanan amerika pada saat itu. Keputusasaan dan permohonan untuk perpanjangan waktu oleh para ibu sementara mereka sendirian mencoba untuk memfasilitasi pembebasan tawanan di penjara “hitam” amerika sebagai media pertukaran untuk anak-anak mereka, tampak mengerikan untuk dibaca dan membuktikan betapa sedikit yang pemerintah mereka telah lakukan atau bahkan diskusikan dengan mereka sementara jam terus berputar tanpa henti. Hanya beberapa hari sebelum ia dibunuh, ibu Steven Sotloff masih, dengan sangat mustahil, mencoba membuat Obama mau membahas pembebasan Dr. Aafia Siddiqui sebagai pertukaran untuk hidup Steven. Satu ibu melawan pemerintah. Tentu saja, dia kalah.
“FBI memiliki penyadap komunikasi, serta memiliki pengawasan udara, mereka hamper pasti memiliki SDM (mata-mata) di wilayah Suriah,” kata bos Global Post Philip Balboni, agen media dimana Foley bekerja, dalam program tersebut. “Jadi tidak diragukan lagi banyak informasi yang tersedia bagi mereka. Tidak ada sama sekali, sepanjang periode waktu Jim masih hidup, sepotong informasi pun yang datang kepada kami. Tapi yang benar-benar membuat marah Diana dan John Foley adalah ancaman yang disampaikan oleh anggota NSA dalam teleconference dengan para keluarga tawanan lainnya”. Ancamannya sederhana: Jika anda mencoba untuk mengumpulkan uang tebusan demi menyelamatkan anak anda, anda bisa dituntut karena mendanai terorisme.
Mungkin cara paling sederhana untuk menilai kegagalan menyedihkan dari kebijakan tawanan amerika dan inggris dibandingkan dengan, katakanlah, pendekatan perancis adalah dengan melihat segala sesuatu yang terjadi selama lebih dari 18 bulan terakhir dan menilai apakah sikap “keras kepala” amerika dan inggris telah merubah semuanya menjadi lebih baik, apakah tidak bernegosiasi dengan cara apapun ketika yang lain melakukannya bahwa mereka telah meningkatkan kemampuan politik atau militer mereka dalam memerangi Daulah Islamiyah.
Mari kita lihat fakta. Sebagai contoh, dengan tidak membayar tebusan, bahkan melarang pihak keluarga untuk mencobanya dan menolak untuk membahas pertukaran tawanan dengan Daulah Islamiyah untuk hidup kelima mantan teman sel ku, apakah keputusan Obama dan Cameron tersebut mencegah Khilafah memperluas perbatasan wilayahnya di Timur dan Barat? Tidak sama sekali.
Apakah keputusan tersebut menghentikan afiliasi kelompok-kelompok islam di semenanjung Sinai, Afghanistan, Pakistan, yaman, Nigeria dan Libya untuk berjanji setia kepada Khilafah, sehingga menciptakan pemerintahan syari’at terbesar yang pernah ada di era modern? Tidak sama sekali.
Apakah itu menghentikan Daulah Islamiyah memukul mundur militer Iraq menuju kehancuran dan menaklukkan sebagian besar provinsi Anbar sementara para militant syi’ah membuang senjata mereka dan kabur? Tidak sama sekali.
Apakah itu menghentikan amerika untuk menghabiskan miliaran dollar dalam operasi militer udara sejauh ini dan menyebarkan ribuan penasehat militernya di Negara yang baru mereka tinggalkan pada tahun 2011? Tidak sama sekali.
Dan apakah itu menghentikan serangan mujahidin di Texas, New York, Tunisia dan California di sepanjang tahun 2015 yang menyebabkan puluhan warga inggris dan amerika tewas atau terluka? Sama sekali tidak.
Perancis memulangkan semua tawanan mereka dan masih mendapat serangan di dalam wilayah negaranya, jadi fakta itu menjengkelkan. Dengan memilih untuk tidak bernegosiasi dengan cara apapun dengan mujahidin, semua yang amerika dan inggris lakukan hanyalah membuat enam warga Negara mereka terbunuh tanpa alasan apapun, selain kesombongan tak berperasaan.
Aku ingat sebuah wawancara David Cameron dengan Sky News mengenai batas waktu yang akan dating untuk Briton David Haines pada bulan Agustus 2014. Dia tahu, 100% tahu, bahwa David akan dipenggal kepalanya sama seperti yang lain, namun Cameron sangat egois dan sombong. “Kami tidak akan membayar uang tebusan,” katanya. “Pikiran kami bersama keluarganya di masa sulit ini dan kami sedang melakukan segala sesuatu yang mungkin (padahal tidak sama sekali), tapi negara manapun yang membayar (tebusan) berarti mendanai terorisme,” katanya, menyerang Negara-negara yang sudah membebaskan warganya.
Namun faktanya adalah mereka sebenarnya bisa membawa pulang semua warga mereka tanpa masalah, baik amerika maupun inggris, dan perang mereka terhadap Daulah Islamiyah akan berlangsung sama persis dengan hari ini. Peristiwa-peristiwa satu setengah tahun terakhir telah membuktikan kebenaran pernyataan ini. “Kita mendapati empat pemuda warga amerika, dan semua tawanan eropa masih hidup. Semuanya kembali dengan keluarga mereka,” kata Philip Balboni.
“Itu adalah perbedaan yang mencolok. Pemerintah amerika dan inggris perlu merenungkan hasilnya, dan tidak hanya berpatok pada kebijakan sederhana yang mereka junjung tinggi dan merasa bangga dengannya. Hasilnya tidak baik, dan semestinya bisa lebih baik.”
Setelah video “propaganda” yang aku buat untuk Daulah Islamiyah di tahun 2014, terdapat semacam kegembiraan dalam melihat amerika merubah kesombongannya dan kebijakan yang tidak bijaksana mengenai negosiasi tawanan. Jika sekarang diperbolehkan bagi keluarga untuk membahas pembayaran uang tebusan dan mengumpulkannya, mungkin pemerintah sebenarnya membantu mereka untuk membayar, dibawah meja tentunya, dan secara diam-diam. Ini semua adalah hasil kerja dari keluarga Kassig, Sotloff dan Foley serta para pendukungnya, tapi mungkin ucapan kemarahanku telah membantu sedikit. Peter Kassig bukanlah lelaki yang mudah untuk bergaul di penjara, tetapi ketika tahu ajalnya akan tiba, ia menjadi tenang dan reflektif. Beberapa hari sebelum ia mati ia berkata, “Mungkin setelah aku mati, entah bagaimana sesuatu yang baik akan dating darinya.” Kematiannya dan kematian tawanan lain, membuat malu amerika hingga berubah (kebijakannya). Namun tertumpahnya darah mereka bisa saja dengan mudah dihindari sejak awal.
DARAH KEHINAAN
Oleh: John Cantlie
“Dalam sebuah respon Amerika yang lambat atas eksekusi mantan teman satu sel ku tahun lalu, Negara itu secara resmi telah mengubah kebijakannya dalam masalah tebusan tawanan. Jelas sudah, kekerasan adalah satu-satunya pesan yang akan mereka tanggapi.”
Benar, aku memiliki pandangan mengenai krisis tawanan internasional –yang begitu menggemparkan headline media-media massa dunia pada tahun 2014- yang tidak dimiliki orang lain. Ini bukanlah hal yang perlu aku banggakan, tapi aku tahu lebih banyak atas apa yang dirasakan oleh tawanan asal Eropa terakhir yang berhasil pulang ke rumahnya daripada mereka yang lain yang masih hidup.
Saat tu, aku tidak berpikir dan banyak berbicara tentang apa yang akan terjadi setelahnya. Aku sudah kembali pulih secara fisik maupun mental, dan mencoba tak mengingatnya lagi. Kita tidak bias hidup di masa lalu selamanya. Namun hidup ini adalah rangkaian peristiwa, yang sebenarnya bisa dihindari secara keseluruhan, yang akan terwarnai selamanya dengan darah mantan teman satu sel ku dan akan menjadi aib memalukan bagi pemerintahan yang terlibat atas terbunuhnya dia. Tak akan ada yang bisa mengubah cara pandang Amerika dan Inggris yang dengan sinis meninggalkan warga Negara mereka terbunuh sementara semua Negara lain mampu memulangkan warga Negara mereka.
Dampak dari diumumkannya perubahan kebijakan Amerika Serikat terkait negosiasi tawanan tahun lalu jelas memiliki konsekuensi serius di Barat, mengejutkan publik. Tiba-tiba saja keluarga tawanan dibolehkan untuk membahas uang tebusan yang mencapai jutaan dollar, padahal kurang dari setahun sebelum pergeseran kebijakan ini, setiap rakyat yang mencoba untuk melakukannya –dan Diane Foley juga yang lain telah mencobanya- diancam untuk dituntut oleh Badan Keamanan Nasional (NSA).
Aku belum mendengar apapun mengenai sikap inggris dalam hal ini, namun karena mereka selalu mengikuti apapun yang diikuti amerika sekecil apapun itu, maka sangat mungkin bagi mereka sekarang juga telah merubah sikapnya.
Agaknya cukup aneh untuk kembal membahas semua yang telah terjadi lebih dari satu setengah tahun yang lalu, namun penting adanya untuk merenungkan apa yang sejarah tunjukkan dengan jelas berupa salah satu krises tawanan paling berdarah dan penanganannya paling buruk di era modern. Ini bukan hanya berdasarkan pengamatan ku semata, tapi juga berasal dari perasaan yang diutarakan oleh para wartawan diberbagai surat kabar terkait masalah ini.
Dampak kebodohan dari sikap keras enggan bernegosiasi Nampak jelas waktu itu, yaitu teman-teman satu sel ku dipenggal satu per satu. Karena mayoritas Negara memilih untuk bernegosiasi, baik diatas atau dibawah meja (dan semuanya memilih dibawah), dengan sikap keras kepala enggan berdialog, semua yang kalian lakukan hanyalah menyalahkan warga Negara kalian yang di penjara sampai mati. Tidak lebih.
Kalian tidak membuat sikap politik yang besar karena hal itu tidak terlihat dan tidak ada di media, kalian tidak menunjukkan pada dunia bagaimana kesulitan kalian membuat dalih alas an yang sama, dan nyatanya kalian memang sama sekali tidak membuat perbedaan apapun terhadap sikap global mengenai sandera. Para penyandera tidak memeriksa paspormu ketika mereka menangkapmu dan berkata, “Oh lihat, dia orang inggris. Kita lebih baik membiarkannya pergi dan hanya menahan semua orang prancis sebagai gantinya.” Ia tidak bekerja seperti itu.
Semua yang kalian lakukan hanyalah menyalahkan warga Negara yang telah memasuki sebuah situasi yang sulit demi uang beberapa juta dollar yang –mari kita jujur- tidak seberapa di dunia masa kini.
Daulah Islamiyah memompa jutaan dollar per hari dari pendapatan minyak sehingga mereka tidak membutuhkan uang hasil tebusan tawanan itu, dan belum membutuhkan untuk beberapa waktu. Aku tidak mengklaim berbicara atas nama mereka, namun aku percaya, cukup masuk akal untuk berkata bahwa mujahidin meminta uang tebusan hanya untuk melaksanakan perintah dalam Al-Qur’an.
{Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti...} (QS. Muhammad : 4)
Jangan salah, mujahidin mengikuti Al-Qur’an di tiap huruf-hurufnya, mengatakan apa yang mereka inginkan, dan melakukan apa yang mereka katakan. Mereka tidak main-main. Sebuah fakta yang tidak hilang dari Negara-negara Eropa yang warganya tertawan.
Amerika, disisi lain memilih untuk dengan entengnya mengabaikan bencana yang sedang mendatangi mereka, dan sekarang dalam sehari menghabiskan lebih banyak uang untuk membombardir Daulah Islamiyah daripada menyediakan uang yang diperlukan untuk membawa pulang Kayla Mueller yang berusia 26 tahun. Terima kasih atas kebijakan amerika saat itu, semua yang diperoleh keluarganya hanyalah bukti bahwa dia telah terbunuh akibat bom Koalisi di Raqqah. Dan sebuah nyala lilin di kampung halamannya Prescott, Aricona.
Jadi, beberapa bulan lalu aku menonton dengan seksama sebuah video dokumenter berdurasi 27 menit yang berjudul “Biaya Untuk Hidup”, yang ditayangkan ABC Australia pada Juni lalu. Presenter program ini, Jonathan Holmes, mewawancarai salah satu mantan teman satu sel ku, Frenchman Nicholas Henin. Nic adalah seseorang yang unik tapi aku cukup menikmati kebersamaan dengannya karena ia orang yang tenang, dan mengatakan hal-hal yang sangat aneh. Salah satu Nic-isme favoritku ketika ia dipukul oleh penjaga karena melemparkan roti ke toilet dan ia berteriak di dalam kamar dengan suara bernada tinggi, menyaksikan kepalanya melesat melewati pintu, berada cukup dekat di depan kami semua dan berteriak, “Aku baru saja dipukuuuuulllll”. Ah, hari yang menyenangkan.
Sesampainya dirumah, keempat orang prancis muncul ke hadapan publik bak pahlawan yang kembali dari medan perang. Nic, sama seperti semua tawanan prancis, spanyol, italia, jerman dan Denmark lainnya, kembali pulang ke rumah mereka dengan sedikit receh yang ditemukan pemerintah di dalam sakunya dan dibayarkan melalui seorang “perwakilan”. Biasanya ia adalah pengusaha kaya yang bertindak sebagai penyangga keuangan sehingga tidak ada hubungan langsung kepada pemerintah yang bersangkutan dan mereka dapat mengatakan –tanpa berbohong sedikitpun- bahwa mereka tidak membayar uang tebusan pada pihak yang menawan. Aku tidak tahu apakah pembayaran ini dilakukan secara elektronik atau seikat uang $50 usang didalam sebuah tas Adidas, namun itu tidak penting.
Terdapat banyak foto bahagia dank lip berita saat para tawanan pulang dan berkumpul kembali dengan orang yang mereka cintai. Ada air mata, pelukan, senyuman, dan jika kamu orang prancis, ciuman tak tulus di pipi dari presiden. Media menyukainya, masyarakat senang dengan pemerintah mereka, para mantan tawanan begitu bersyukur karena masih hidup, dan semua orang bersatu dalam kemarahan terhadap “para penawan yang kejam” yang telah melakukan “hal busuk” seperti itu sejak awal. Pemerintah membayar perusahaan marketing seperti Saatchi & Saatchi berjuta-juta untuk menghasilkan respon positif seperti itu dari masyarakat.
Sekarang, bandingkan hal itu dengan cemooh kemarahan dan kepahitan publik yang meletus di layar kaca publik ketika James Foley dieksekusi pada tanggal 18 Agustus 2014. “Hebat, ditangkap di hari Thanksgiving, dibunuh di hari ulang tahun ibuku,” ucapnya dengan tenang, beberapa menit sebelum ia dituntun keluar. Kepala kami dicukur gundul semua pagi itu dan pasti akan ada sesuatu yang pasti terjadi. “Ini hanya sebuah video, baik untuk kita semua,” kata James. “Tidak”, aku menjawab. “Ini bukan hanya sebuah video”.
94% warga amerika mendengar tentang kematian Foley. Ini menjadi berita terbesar di tahun itu karena gambar eksekusinya dan yang lain setelahnya disiarkan ke seluruh dunia. Belum pernah ada yang melihat hal seperti itu, tentu saja tidak dalam skala sebesar ini dan peristiwa itu memenuhi halaman depan (headline) di setiap surat kabar dan berita utama tv di seluruh dunia. Awalnya kemarahan ditujukan kepada mujahidin sebagai pihak eksekutor, tapi tidak lama kemudian Nampak jelas bahwa pemerintah yang terlibat sebenarnya mampu membuat kesepakatan untuk membebaskan warga mereka, akhirnya semua mata tertuju pada mereka. Kematian tersebut adalah akibat dari tindakan –atau lebih tepatnya kelambatan total- dari politisi amerika dan inggris.
“Terdapat perbedaan yang sangat besar antara bagaimana respon pemerintah perancis dan spanyol terkait hal itu,“ kata wartawan New York Times Rukmini Callimachi ketika diwawancarai dalam program tersebut. “Sedangkan warga amerika menyeret kaki mereka dan memberi tahu Mrs. Foley ‘Kami tidak akan membayar, mintalah bukti hidup yang lain, dll.’ Yang lain masuk ke mode negosiasi dan berkata, ‘Oke, 100 juta, 50 juta, itu diluar dari pertanyaan. Mari kita bicara hal yang lebih masuk akal’.
Aku melihat sejumlah email antara negosiator dari Daulah Islam dan beberapa keluarga tawanan amerika pada saat itu. Keputusasaan dan permohonan untuk perpanjangan waktu oleh para ibu sementara mereka sendirian mencoba untuk memfasilitasi pembebasan tawanan di penjara “hitam” amerika sebagai media pertukaran untuk anak-anak mereka, tampak mengerikan untuk dibaca dan membuktikan betapa sedikit yang pemerintah mereka telah lakukan atau bahkan diskusikan dengan mereka sementara jam terus berputar tanpa henti. Hanya beberapa hari sebelum ia dibunuh, ibu Steven Sotloff masih, dengan sangat mustahil, mencoba membuat Obama mau membahas pembebasan Dr. Aafia Siddiqui sebagai pertukaran untuk hidup Steven. Satu ibu melawan pemerintah. Tentu saja, dia kalah.
“FBI memiliki penyadap komunikasi, serta memiliki pengawasan udara, mereka hamper pasti memiliki SDM (mata-mata) di wilayah Suriah,” kata bos Global Post Philip Balboni, agen media dimana Foley bekerja, dalam program tersebut. “Jadi tidak diragukan lagi banyak informasi yang tersedia bagi mereka. Tidak ada sama sekali, sepanjang periode waktu Jim masih hidup, sepotong informasi pun yang datang kepada kami. Tapi yang benar-benar membuat marah Diana dan John Foley adalah ancaman yang disampaikan oleh anggota NSA dalam teleconference dengan para keluarga tawanan lainnya”. Ancamannya sederhana: Jika anda mencoba untuk mengumpulkan uang tebusan demi menyelamatkan anak anda, anda bisa dituntut karena mendanai terorisme.
Mungkin cara paling sederhana untuk menilai kegagalan menyedihkan dari kebijakan tawanan amerika dan inggris dibandingkan dengan, katakanlah, pendekatan perancis adalah dengan melihat segala sesuatu yang terjadi selama lebih dari 18 bulan terakhir dan menilai apakah sikap “keras kepala” amerika dan inggris telah merubah semuanya menjadi lebih baik, apakah tidak bernegosiasi dengan cara apapun ketika yang lain melakukannya bahwa mereka telah meningkatkan kemampuan politik atau militer mereka dalam memerangi Daulah Islamiyah.
Mari kita lihat fakta. Sebagai contoh, dengan tidak membayar tebusan, bahkan melarang pihak keluarga untuk mencobanya dan menolak untuk membahas pertukaran tawanan dengan Daulah Islamiyah untuk hidup kelima mantan teman sel ku, apakah keputusan Obama dan Cameron tersebut mencegah Khilafah memperluas perbatasan wilayahnya di Timur dan Barat? Tidak sama sekali.
Apakah keputusan tersebut menghentikan afiliasi kelompok-kelompok islam di semenanjung Sinai, Afghanistan, Pakistan, yaman, Nigeria dan Libya untuk berjanji setia kepada Khilafah, sehingga menciptakan pemerintahan syari’at terbesar yang pernah ada di era modern? Tidak sama sekali.
Apakah itu menghentikan Daulah Islamiyah memukul mundur militer Iraq menuju kehancuran dan menaklukkan sebagian besar provinsi Anbar sementara para militant syi’ah membuang senjata mereka dan kabur? Tidak sama sekali.
Apakah itu menghentikan amerika untuk menghabiskan miliaran dollar dalam operasi militer udara sejauh ini dan menyebarkan ribuan penasehat militernya di Negara yang baru mereka tinggalkan pada tahun 2011? Tidak sama sekali.
Dan apakah itu menghentikan serangan mujahidin di Texas, New York, Tunisia dan California di sepanjang tahun 2015 yang menyebabkan puluhan warga inggris dan amerika tewas atau terluka? Sama sekali tidak.
Perancis memulangkan semua tawanan mereka dan masih mendapat serangan di dalam wilayah negaranya, jadi fakta itu menjengkelkan. Dengan memilih untuk tidak bernegosiasi dengan cara apapun dengan mujahidin, semua yang amerika dan inggris lakukan hanyalah membuat enam warga Negara mereka terbunuh tanpa alasan apapun, selain kesombongan tak berperasaan.
Aku ingat sebuah wawancara David Cameron dengan Sky News mengenai batas waktu yang akan dating untuk Briton David Haines pada bulan Agustus 2014. Dia tahu, 100% tahu, bahwa David akan dipenggal kepalanya sama seperti yang lain, namun Cameron sangat egois dan sombong. “Kami tidak akan membayar uang tebusan,” katanya. “Pikiran kami bersama keluarganya di masa sulit ini dan kami sedang melakukan segala sesuatu yang mungkin (padahal tidak sama sekali), tapi negara manapun yang membayar (tebusan) berarti mendanai terorisme,” katanya, menyerang Negara-negara yang sudah membebaskan warganya.
Namun faktanya adalah mereka sebenarnya bisa membawa pulang semua warga mereka tanpa masalah, baik amerika maupun inggris, dan perang mereka terhadap Daulah Islamiyah akan berlangsung sama persis dengan hari ini. Peristiwa-peristiwa satu setengah tahun terakhir telah membuktikan kebenaran pernyataan ini. “Kita mendapati empat pemuda warga amerika, dan semua tawanan eropa masih hidup. Semuanya kembali dengan keluarga mereka,” kata Philip Balboni.
“Itu adalah perbedaan yang mencolok. Pemerintah amerika dan inggris perlu merenungkan hasilnya, dan tidak hanya berpatok pada kebijakan sederhana yang mereka junjung tinggi dan merasa bangga dengannya. Hasilnya tidak baik, dan semestinya bisa lebih baik.”
Setelah video “propaganda” yang aku buat untuk Daulah Islamiyah di tahun 2014, terdapat semacam kegembiraan dalam melihat amerika merubah kesombongannya dan kebijakan yang tidak bijaksana mengenai negosiasi tawanan. Jika sekarang diperbolehkan bagi keluarga untuk membahas pembayaran uang tebusan dan mengumpulkannya, mungkin pemerintah sebenarnya membantu mereka untuk membayar, dibawah meja tentunya, dan secara diam-diam. Ini semua adalah hasil kerja dari keluarga Kassig, Sotloff dan Foley serta para pendukungnya, tapi mungkin ucapan kemarahanku telah membantu sedikit. Peter Kassig bukanlah lelaki yang mudah untuk bergaul di penjara, tetapi ketika tahu ajalnya akan tiba, ia menjadi tenang dan reflektif. Beberapa hari sebelum ia mati ia berkata, “Mungkin setelah aku mati, entah bagaimana sesuatu yang baik akan dating darinya.” Kematiannya dan kematian tawanan lain, membuat malu amerika hingga berubah (kebijakannya). Namun tertumpahnya darah mereka bisa saja dengan mudah dihindari sejak awal.