Rabu, 25 April 2018

TELADAN BAIK DARI ABU BASHIR AL-IFRIQI

DABIQ 7 - SPESIAL

TELADAN BAIK DARI ABU BASHIR AL-IFRIQI

Segala puji hanya bagi Allah yang telah menjadikan untuk zaman kesengsaraan kita seorang laki-laki dengan rasa cemburu (ghirah) untuk agama Allah. Mereka meninggalkan dunia untuk akhirat dengan keyakinan akan ganjaran yang telah Allah siapkan bagi mereka yang membunuh musuh-musuh-Nya. Suatu keharusan bagi seseorang yang menapaki jalan Islam kemudian jihad untuk mengetahui bahwa jalan ini sangat panjang dan bahwa dia membutuhkan perbekalan untuk meneguhkannya dan memupuk keyakinannya terhadap jalan yang akan berujung di Surga, insyaa’Allah. Perbekalan ini adalah dengan istiqomah dalam beribadah kepada Allah, membaca kitab-Nya, shalat sunnah, sedekah, dzikrullah, dan mencari ilmu tentang Al Qur’an dan As Sunnah. Sifat-sifat tersebut ada pada shabahat dari Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana yang salah seorang Salaf, al-Auza’i –yang wafat saat ribath di dekat Beirut di tahun 150 H– katakan, “Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berada di atas lima perkara: berpegang kepada Jama’ah, mengikuti Sunnah, mendatangi masjid, membaca Al Qur’an, dan berjihad fi sabilillah” (Syarh Ushul I’tiqad Ahlis-Sunnah).

Dan sifat-sifat tersebut juga ada pada saudara kita Abu Bashir (Amedy Coulibaly – rahimahullah), seorang ikhwan yang dekat dengannya yang belum lama ini berhijrah ke Syam menceritakan kepada kita sebagaimana berikut ini…

AMAR MA'RUF NAHI MUNGKARNYA

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali ‘Imran: 104).

Di rumahnya, di antara keluarganya, dengan sesama Muslim, di jalanan, jika dia melihat sebuah kemungkaran, dia tidak akan membiarkannya, sebaliknya –dengan bijaksana dan kerendahan hati– dia akan memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah keburukan.

DAKWAHNYA

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?”.“ (Fussilat: 33).

Dia mengajak banyak orang kepada Allah, terutama saat dia di penjara. Dia bertemu seseorang di penjara yang aslinya Muslim tetapi membenci agama dan segala sesuatu tentangnya, sampai-sampai orang ini melarang istrinya untuk berhijab dan melarang saudaranya pulang dari belajar bahasa Arab. Di penjara, lelaki ini bertemu Abu Bashir dan bersamanya selama 2-3 bulan. Setelah itu, dia melaksanakan semua shalat pada waktunya, qiyamul lail (tahajud) setiap malam, dan membaca Al Qur’an setiap hari. Dia memerintahkan istrinya berhijab dan menjual rumah yang telah dibelinya dengan pinjaman yang sangat tinggi sehingga terhindar dari yang haram. Kisah ini adalah salah satu dari lusinan kisah-kisah sesungguhnya. Mereka yang pernah bertemu Abu Bashir akan menangis atas kesyahidannya. Dia juga mengajak orang yang dia percaya untuk melaksanakan perintah Allah untuk berbai’at kepada Amirul-Mu’minin Abu Bakar al-Baghdadi.

DZIKIRNYA

Yahya ‘alaihis salam berkata, “Dan aku memerintahkan kalian untuk berzikir kepada Allah Allah karena permisalan orang yang berzikir seperti orang yang dikejar oleh musuh dengan cepat hingga ketika ia mendatangi sebuah benteng yang kokoh ia berlindung di dalamnya dari kejaran musuh. Demikian pula seorang hamba, ia tidak dapat melindungi dirinya dari setan kecuali dengan berzikir kepada Allah.” (Shahih: riwayat at-Tirmidzi dan lainnya).

Dia tidak meninggalkan dzikir pagi dan petang, baik di dalam mobil, di rumah, atau di manapun. Dia banyak membaca Al Qur’an. Dzikir terbaik adalah membaca firman-Nya subhanah –ayat-ayat yang Dia wahyukan kepada Nabi-Nya shallalllahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana hadits, “Engkau tidak kembali kepada Allah dengan sesuatu yang lebih baik daripada apa yang Dia tinggalkan (untuk kalian).” (Shahih: diriwayatkan al-Hakim).

MENGIKUTI DALIL

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).” (Al-A’raaf: 3).

Ikhwan kita ini tidak akan menerima masalah apa pun tanpa dalil. Dia akan berjuang untuk memeriksa setiap masalah tidak peduli siapa yang mengatakannya. Jika dalil sampai kepadanya, dia akan segera tunduk kepada aturan Allah sesuai dengan ayat, “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (An-Nuur: 51).

Betapa banyak mereka yang taqlid buta kepada ulama’ jahat, imam sesat, dan da’I (penyeru) kepada pintu-pintu neraka! Mereka mendahulukan pendapat “ulama” tersebut atas perkataan Allah dan perkataan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun kebenaran telah jelas berkaitan dengan tauhid, dan wala’ wal bara’ – millah Ibrahim ‘alaihis salam. Kebenaran juga jelas berkaitan dengan hijrah dari Darul Kufri ke Darul Islam. Kebenaran juga jelas mengenai bai’at kepada Khalifah Abu Bakar al-Baghdadi hafizhahullah dan jihad melawan Yahudi, Nashrani, Rafidhah, dan pengusung demokrasi. Tidak ada yang mendahulukan perkataan seorang ulama atas perintah dari Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam selain mereka yang dijelaskan dalam firman Allah, “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahibrahib mereka sebagai tuhan selain Allah.” (At-Taubah: 31).

KEHAUSAN MENUNTUT ILMU

Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan, Dia akan memberikan pemahaman dalam urusan agamanya.” (Al-Bukhari dan Muslim).

Dia selalu menanyakan banyak persoalan berkaitan hukum-hukum fiqh dan meneliti permasalahan tersebut sendiri. Allah memberinya pemahaman yang dengannya dia mampu membandingkan beberapa permasalahan dan menyimpulkan hokum-hukum berbeda yang disebabkan suatu aturan. Abu Bashir sangat pandai dalam perkara ini.

PUASANYA

Dia berpuasa Senin dan Kamis sesuai hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurayrah radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Amalan diangkat kepada Allah pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka jika amalanku diangkat sedangkan aku sedang berpuasa.” (Diriwayatkan at-Tirmidzi).

SHALAT MALAMNYA

Dia shalat qiyamul lail (tahajud) sesuai firman Allah, “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap.” (As-Sajdah: 16).

SIKAP KERASNYA KEPADA ORANG KAFIR DAN KELEMBUTANNYA KEPADA ORANG BERIMAN

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (Al-Fath: 29).

Setiap orang yang mengenalnya mencintainya karena sifatnya yang baik dan kelembutannya kepada orang-orang yang beriman. Jika dia merasa telah berbuat salah kepada seseorang, dia akan meminta maaf. Dia akan mengorbankan haknya jika dia memiliki keragu-raguan kecil berkaitan dengan harta seorang Muslim. Tidak ada yang meragukan keberaniannya. Dia adalah singa; perbuatannya memberi kesaksian atasnya. Dia menunjukkan kekuatannya kepada orang-orang kafir.

KEMURAHAN HATINYA

“BERANGKATLAH KAMU BAIK DALAM KEADAAN MERASA RINGAN MAUPUN BERAT, DAN BERJIHADLAH KAMU DENGAN HARTA DAN DIRIMU DI JALAN ALLAH. YANG DEMIKIAN ITU ADALAH LEBIH BAIK BAGIMU, JIKA KAMU MENGETAHUI.” (AT-TAUBAH: 41) .

Dia banyak bersedekah kepada orang-orang miskin, akhwat (istri-istri mujahidin yang dipenjara), dan mujahidin. Sebagai contohnya ketika dia melihat kondisi finansial yang sulit dari dua mujahid Cherif dan Said Kouachi, dia memberinya beberapa ribu euro sehingga mereka dapat membeli apa yang mereka perlukan untuk operasi, setelah bersama-sama mengkoordinasi waktu untuk operasi berbeda mereka. Dia banyak memberikan perhatian untuk menolong akhwat (istri-istri mujahidin yang dipenjara). Dia tidak bisa melihat masjid-masjid tertutup sedangkan akhwat tersebut tidak memiliki rumah. Dia akan menawarkan uang dan rumahnya sebagai solusi.

RASA CEMBURUNYA KEPADA AGAMA

Sa’d bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Jika aku melihat seorang laki-laki bersama istriku, aku akan menebasnya dengan pedangku.” Hal ini sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka dia berkata, “Apakah kalian heran dengan rasa cemburu Sa’ad? Demi Allah, aku lebih cemburu daripadanya dan Allah lebih cemburu daripadaku.” (Al-Bukhari dan Muslim).

Abu Bashir menjadi sangat sedih setiap kali dia melihat agama Islam atau kaum Muslim dilanggar. Dia ingin untuk merubah keburukan tersebut. Semoga Allah menerimanya di antara para syuhada’ dan memberikan rahmat atasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar