Tampilkan postingan dengan label Tazkiyatun Nafs. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tazkiyatun Nafs. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 April 2018

KOALISI INTERNASIONAL ADALAH PENYARINGAN DAN UJIAN

التحالف العالمي تمحيص وابتلاء
KOALISI INTERNASIONAL ADALAH PENYARINGAN DAN UJIAN

Dengan menyebut nama Alloh Yang maha pengasih lagi maha penyayang, Segala puji bagi Alloh Robb semesta alam, yang atas rohmah-Nya –subhanahu wa bihamdih- telah menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman (manhaj) untuk ummat ini. Sholawat dan salam semoga terlimpah kepada nabi kita Muhammad ibnu Abdillah, yang telah bersabda :

تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدِي أبدا؛ كتاب الله وسنتي
“Aku tinggalkan untuk kalian, yang jika kalian berpegang teguh dengannya niscaya kalian tidak akan tersesat sepeninggalku nanti selama-lamanya, Kitabulloh dan Sunnahku.” (Diriwayatkan oleh al-Hakim dan yang lainnya)

Saudara-saudaraku yang mulia, Alloh Yang maha mulia dan maha suci nama-nama-Nya, mengetahui akan kelemahan ummat ini, mengetahui fitnah-fitnah dan musuh-musuh kejam yang menantinya, maka dari bentuk kemuliaan dan kedermawanan-Nya, Alloh senantiasa menjaga atas ummat ini manhajnya (pedomannya), Alloh ta’ala berfirman :

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur’an dan pasti kami pula yang memeliharanya.” (al-Hijr : 9)

al-Qur’an terjaga oleh penjagaan Alloh Jalla jalaaluh, adapun kitab-kitab terdahulu yang terjaga pada kita hingga hari ini adalah sebatas nama-namanya. Sedangkan apa yang Alloh subhanahu wa ta’ala sebutkan di dalam kitab-kitab tersebut berupa syari’at, telah terkotori oleh tangan-tangan pendosa, di dalamnya meraka mencampur adukkan (kebenaran dengan kebatilan), menyelewengkan maknanya, dan menjual ayat-ayat Alloh dengan harga yang sedikit.

Lalu muncullah Manhaj Pemelintiran (Manhaj at-Tahrif), yang Alloh ta’ala sebutkan untuk kita agar kita mengetahui para pelakunya dan agar ummat ini tidak tertipu oleh mereka, agar mereka mengetahui orang yang benar (Jujur) dan siapa mereka yang membuat kedustaan, siapa orang-orang yang memiliki kepentingan yang benar (jujur) dan siapa siapa saja yang mengulurkan tangannya pada kekufuran dan berbicara dengan (mengutip) kalam Alloh dan Rosul-Nya shollallohu ‘alayhi wasallam.

Seluruh bentuk konggres kekafiran hari ini, sejak diutusnya nabi shollallohu ‘alayhi wasallam hingga hari ini, hingga Alloh membangkitkan makhluq-Nya kelak, seluruh konggres dan konspirasi, Alloh ta’ala telah meringkasnya untuk kita dalam satu ayat atau sebagian dari ayat, Alloh ta’ala berfirman :

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ
“Orang-orang yahudi dan nasrani tidak akan ridho kepadamu (Muhammad) hingga kamu mengikuti millah mereka.” (al-Baqoroh 120)

Oleh karena itu Alloh ta’ala juga berfirman,:

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا
“Pasti akan engkau dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman adalah orang-orang yahudi dan orang-orang musyrik.” (al-Maidah : 82)

Pada hari ini kaum yahudi dan salibis beserta para pengikutnya, mereka ini berjalan diatas apa yang telah digariskan oleh kakek moyang dan bapak-bapak mereka, sebagaimana firman Alloh ta’ala :

أَتَوَاصَوْا بِهِ بَلْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ
“Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu, sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas.” (adz-Dzariyat : 53)

Maka, pasukan ahzab hari ini, mereka adalah perpanjangan dari pasukan ahzab kemarin, pasukan ahzab kemarin yang menjadi pelopor siapa? ulama bani Nazhir, merekalah yang mempelopori untuk melawan Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam, bersama mereka kaum Quroisy, Ghothofan dan yang lainnya, mereka menyulut kelompok-kelompok kekafiran hingga meraka sampai di kota Madinah.

Maka untuk itu, pada hari saat terjadinya perang Ahzab, Alloh ta’ala menyifati keadaan kaum muslimin karena kerasnya permusuhan lawan atas mereka, Alloh ta’ala berfirman kepada kaum mu’minin :

إِذْ جَاءُوكُمْ مِنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا (10) هُنَالِكَ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا زِلْزَالًا شَدِيدًا (11)
“(yaitu) ketika mereka datang kepada kalian dari atas dan dari bawah kalian, dan ketika penglihatan kalian terpana dan hati kalian menyesak sampai ke tenggorokan dan kalian berprasangka yang bukan-bukan terhadap Alloh, di situlah diuji orang-orang yang mu’min dan diguncangkan hatinya dengan guncangan yang dahsyat.” (al-Ahzab :10 -11)

Pada hari ini dikatakan pada kaum mu’minin seperti ini; “hari ini ummat dalam keadaan jika tidak melewati sunnah (ketetapan) ini, setidaknya mendekati sunnah ini.” Akan tetapi manusia itu terbagi (menjadi beberapa golongan) dalam situasi seperti ini. Di antara mereka ada yang isi hatinya keluar, ternyata hatinya penuh dengan nifaq, dan islam yang ia klaim, tidak lain hanya untuk mendapatkan kemashlahatan duniawi, ia berjalan bersama para penyeru syari’ah dan ia memakai pakaian islam demi kepentingan pribadi, maka selama islam masih memberi harapan baik padanya, berupa makanan, minuman dan tempat tinggal, dia tidak segan untuk menisbatkan diri padanya.

Akan tetapi,
مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّى يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ
“Alloh tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman sebagaimana dalam keadaan kalian sekarang ini.” (Alu ‘Imron : 179),

Harus ada pemisahan (pembersihan) barisan.

Maka saat terjadi kondisi seperti ini, berbicaralah sifat kemunafiqannya, mereka mengatakan:

مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلَّا غُرُورًا
“yang dijanjikan Alloh dan rosul-Nya kepada kami hanyalah tipu daya belaka.” (al-Ahzab : 12)

Alloh juga berfirman tentang mereka di ayat yang lain,

إِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلَّا غُرُورًا
“tatkala orang-orang munafiq dan orang-orang yang hatinya berpenyakit mengatakan, “yang di janjikan Alloh dan rosul-Nya kepada kami hanyalah tipu daya belaka” (al-Ahzab : 12 )

Dan Alloh berfirman :
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Alloh, maka sesungguhnya Alloh maha perkasa lagi maha bijaksana.” (al-Anfal : 49)

Jadi Alloh ta’ala dalam kondisi seperti ini memberikan kita sebesar-besar gambaran (sifat) dari sel-sel yang paling berbahaya dalam masyarakat, yaitu nifaq, orang orang munafiq, para pemilik jenggot panjang, pakaian (celana) cingkrang dan mereka hadir di masjid-masjid, sosok mereka menyerupai sosok orang-orang mu’min, akan tetapi hati-hati mereka terpisah dari orang-orang mu’min, mereka bergabung dengan pasukan kekufuran, bergabung dalam satu parit kekufuran, mereka berhubungan dengannya sepanjang malam dan siang,

Terhadap Mereka itu … ummat sangat membutuhkan penjelasan Alloh akan sifat-sifat mereka, menampakkan aib-aib mereka dan agar mereka menampakkan diri mereka pada pergolakan semacam ini, mereka berceloteh, dan pada hari ini, al-hamdu lillah … mereka jatuh, kelompok-kelompok yang banyak dari mereka, dan kita bisa melihatnya di layar-layar kaca, Ulama suu’ dan ulama negeri, kita bisa melihat analisa mereka pada berita-berita di channel-channel mereka dan selain mereka, kita bisa melihat di majlis-majlis yang mengatasnamakan islam dan kaum muslimin.

Jadi pada hari ini kita, perkara kita adalah seperti halnya perkara kemarin, yaitu perkara Diin, perkara aqidah, perkara ikatan dengan Alloh Jalla jalaaluhu. Kekufuran hari ini, ketika berkembang ditengah-tengah ummat di setiap tempat, Fenomena ini memberikan kabar gembira dengan kebaikan, al-hamdu lillah… Fenomena ini membuat orang yang beriman bergembira karenanya, tidak sebagaimana firman Alloh ta’ala terhadap suatu kaum, “mereka berbalik ke belakang, merugi di dunia dan di akhirat.” (al-Haj : 11)

Bahkan Alloh ta’ala memberi kabar tentang hamba-hamba Nya yang terdahulu yang mengikuti orang-orang yang telah berjumpa (dengan-Nya), Alloh ta’ala berfirman: “(Yaitu) orang orang (yang menaati Alloh dan Rosul Nya) ketika ada orang-orang mengatakan kepada mereka: ”orang-orang (Quroisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, karena itu takutlah pada mereka”  Apa yang terjadi? bertambah Keimanan, bukan gentar dan ketakutan ,.. Alloh ta’ala hanya berifirman,: (Ucapan itu) menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab “Cukuplah Alloh menjadi penolong bagi kami dan Dia adalah sebaik-baik pelindung.” (Alu ‘Imron : 173)

Dengan demikian ketika Alloh memperlihatkan dengan pandangan kita tetang jumlah kekafiran dan pasukannya, mesin-mesin mereka yang berada di udara dan mesin-mesin mereka yang berada di lautan, ketika Alloh memperlihatkan melalui pandangan kita, kemudian kita menganalisa permasalahan-permasalahan dan kita membuat gambaran dari masalah itu dengan mata hati kita, jadi beresekutunya kaum kafir hari ini perkara yang menakutkan atau menggembirakan? Dalam tolok ukur syari’at menggembirakan, sedangkan dalam tolok ukur manusiawi itu menakutkan dan menggentarkan, bukankah demikian ?

Maka yang membaca di channel-channel, yang membaca di surat-surat kabar dan seluruh media informasi, akan mengatakan apa? Bahwa masalahnya telah ditetapkan (semoga Alloh menguatkan kalian) oleh anggota dewan, selesai. Mereka adalah para pembuat keputusan, bukankah demikian?

Ya, akan tetapi bagi yang menelaah al-Qur’an, dia mendengar bahwa Alloh Ta’ala berfirman,:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ فَسَيُنْفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ وَالَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ يُحْشَرُونَ
“Sesungguhnya orang-orang kafir itu menginfaq kan harta mereka untuk menghalang-halangi (orang) dari jalan Alloh, mereka (terus) menginfaq kan harta itu, kemudian mereka akan menyesal sendiri, dan akhirnya mereka akan dikalahkan, ke dalam neraka Jahannamlah orang-orang kafir itu akan dikumpulkan.” (al-Anfal : 36)

Jadi, inilah timbangan kita, dengan kadar kekuatan keimanan kita, akan terjadi, dengan kadar kekuatan aqidah kita, akan terjadi, maka kita di zaman ini, terkhusus di saat ini, perkara paling wajib diantara kewajiban-kewajiban lain adalah lari kepada Alloh Jalla jalaaluhu, yaitu kembali kepada Alloh subhanallohu Wa bihamdihi, memohon pertolongan kepada Nya Jalla jalaaluhu,

Dia adalah maha dekat yang maha mengabulkan do’a ketika kalian memohon pertolongan pada Nya, dan pertolongan Alloh paling agung terhadap para hamba Nya adalah Dia Alloh menurukan ketenangan kepada mereka, apabila Alloh menurunkan ketenangannya kepada mereka maka artinya adalah Alloh mendatangkan kemenangan pada mereka disetiap tempat, dan musibah terbesar yang Alloh timpakan terhadap musuh-musuh Nya adalah rasa takut, ketika Alloh Ta’ala menetapkan rasa takut kepada musuh-musuh Nya, maka di sanalah kekalahan yang sebenarnya,

إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا سَأُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَاضْرِبُوا فَوْقَ الْأَعْنَاقِ وَاضْرِبُوا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍ
“Ingatlah ketika Robb mu mewahyukan kepada para malaikat, Sesungguhnya Aku bersama kalian maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman”, kelak akan Aku berikan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka pukullah diatas leher mereka dan pukullah tiap-tiap ujung jari mereka.” (al-Anfal : 12)

Kita memohon kepada Alloh yang maha Agung, Robb pemilik ‘Arsy yang mulia, agar meneguhkan hati-hati kaum muslimin dan terkhusus para mujahidin, dan menurunkan kepada mereka ketenangan, menyatukan barisan mereka, menguatkan keimanan mereka, serta menjadikan pertolongan kepada mereka adalah bentuk kemenangan bagi kaum muslimin di belahan bumi timur dan barat,

Hendaklah setiap muslim mengetahui dengan seyaqin-yaqinnya, bahwa Daulah Islam ini… demi Alloh, Alloh lah yang menjadi penolong nya, demi Alloh ia adalah Daulah yang dimenangkan dengan pertolongan dan janji Alloh terhadapnya.

Dan hendaklah setiap orang mengetahui, baik yang dekat ataupun yang jauh, bahwa daulah ini tidak dibangun di atas kemashlahatan kepentingan tertentu, tetapi daulah ini terbangun urusannya untuk menegakkan syari’at Alloh, maka Alloh adalah yang menjadi penolong dan pembelanya.

Dan siapa saja yang akan menangis maka menangislah untuk dirinya sendiri, siapa saja yang ingin bersedih hati, bersedihlah untuk dirinya sendiri, dan siapa saja yang berprasangka bahwa Daulah ini akan terkalahkan, sungguh dia telah berburuk sangka kepada Alloh jalla jalaluhu, Demi Alloh, Dialah Alloh yang menjadi penolongnya, sebagaimana Ia telah menolong Rosul Nya shollallohu ‘alayhi wasallam di gua Tsaur, dan Alloh yang memberikan tamkin selama Daulah menolong agama Nya, selama daulah menegakkan syari’at Alloh Jalla jalaaluhu, maka ini adalah janji Alloh, dan Alloh tidak akan pernah menyalahi janji Nya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya,

Adapun negeri-negeri kufur, maka ia akan dikalahkan, demi Alloh ia akan terkalahkan, dan yang mengalahkan di hari kemarin, yang memprakarsai pasukan ahzab kemarin, mereka akan dikalahkan pada hari ini, Alloh Jalla jalaaluhu berfirman, :
   
سَيُهْزَمُ الْجَمْعُ وَيُوَلُّونَ الدُّبُرَ
“Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang.” (al-Qomar : 45)

Dan Alloh juga berfirman,:
 قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا سَتُغْلَبُونَ وَتُحْشَرُونَ إِلَى جَهَنَّمَ
“Katakanlah (Muhammad) kepada orang-orang yang kafir, “kalian (pasti) akan dikalahkan dan akan digiring ke dalam neraka Jahannam.” (Alu Imron :12)

Tapi tidak Tawaakal (hanya bersandar tanpa membuat sebab) tapi dengan apa? Dengan Tawakkal (bersandar setelah dan membuat sebab)

Alloh ta’ala Yang berfirman :
 وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَبَقُوا إِنَّهُمْ لَا يُعْجِزُونَ
“Dan janganlah orang-orang kafir mengira bahwa mereka akan dapat lolos (dari kekuasaan Alloh), sungguh mereka tidak dapat melemahkan (Alloh).” (al-Anfal : 59)

Setelah itu Dia juga Yang berfirman :

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ,
“Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuataan yang kalian miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh-musuh Alloh dan musuh-musuh kalian.” (al-Anfal : 60)

Maka hendaklah para mujahidin dan setiap orang yang jujur bergembira bahwa pertolongan Alloh akan datang, dan itu hanya dalam beberapa hari yang sudah ditentukan.

Firman Alloh ta’ala telah menetapkannya untuk ummat islam, sebagaimana ketetapan sabda Nabi shollallohu alayhi wasallam setelah kalahnya kaum ahzab, “pada hari ini kita yang memerangi mereka dan mereka tidak lagi menyerang kita,” Maka besok kita akan mendengar Amiirul Mu’minin dengan perkataan seperti itu di atas setiap mimbar, “pada hari ini kita yang memerangi mereka dan mereka tidak lagi memerangi kita, dengan izin Alloh Ta’ala.

سبحان ربك رب العزّة عمّا يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله ربّ العالمين, وصلى الله وسلّم على نبيّنا محمّد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Maktabah Al-Himmah

SERI NASEHAT 1 - PERBARUI NIAT DAN PERBAIKI HATI

PERBARUI NIAT DAN PERBAIKI HATI

Serial Bisikan-bisikan Pada Telinga Mujahid 1

Segala puji bagi Alloh, sholawat dan salam semoga terlimpah kepada Rosululloh, keluarganya, para sahabatnya, dan siapa saja yang loyal padanya. Amma ba’d;

Agama kita yang hanif telah mendorong seluruh manusia kepada akhlaq yang mulia dan memperingatkan mereka akan akhlaq yang tercela dalam semua kondisi dan urusan mereka. Sementara ia secara khusus memerintahkan beberapa golongan tertentu dari manusia agar menghias diri dengan sekumpulan adab yang berkaitan dengan mereka lebih banyak daripada selain mereka, seperti adab-adab penuntut ilmu, adab-adab para pengusung al-Qur-an (para hafizh), adab-adab para qodhi, serta adab-adab mufti dan mustafti (orang yang meminta fatwa). Dan engkau, wahai mujahid di jalan Alloh, engkau wajib menghias diri dengan akhlaq-akhlaq dan adab-adab khusus yang dituntut darimu lebih banyak daripada selainmu. Engkau sedang menjalani sebuah ibadah yang besar. Engkau mengusung keprihatinan umat. Dan engkau dilihat tidak sebagaimana orang lain dilihat. Karena itu, engkau harus menjadi panutan dalam segala sesuatu.

Dari sini, kami —saudara-saudaramu yang mencintai di jalan Alloh— akan menunjukkanmu dalam serial ini kepada sifat-sifat terpuji yang penting, yang bagus bagimu untuk menghias diri dengannya. Dan kami akan memperingatkanmu dari sifat-sifat yang tidak layak bagimu sebagai seorang mujahid, yang tersebar di antara barisan-barisan para mujahid saat ini, dan tidak ada satu medan jihad pun yang sama sekali bersih darinya. Agar engkau dapat memperbaiki apa yang bisa diperbaiki dan menjauhi apa yang harus dijauhi darinya, terutama untuk membuat ridho Robbmu ‘azza wa jalla, dan yang kedua untuk mengangkat “Kepala” Khilafah Islam yang engkau wakili.

Adab pertama dan terpenting di antara adab-adab yang engkau wajib menghias diri dengannya, wahai saudaraku, adalah mengikhlaskan (memurnikan) niat kepada Alloh ta’ala dalam jihad dan menginginkan ridho Alloh jalla jalaluhu semata, bukan menginginkan harta benda atau keuntungan-keuntungan dunia. Keikhlasan dalam jihad terwujud dengan saudara meniatkan dalam jihadnya perkara-perkara yang syar’iy, seperti; menegakkan syari’ah Alloh, mencegah kezholiman, membebaskan tawanan, menjaga agama, terbunuh sebagai syahid dan niat-niat yang baik lainnya. Sementara akan merusak keikhlasan mujahid dan menjerumuskannya ke lembah riya’ jika niatnya adalah selain itu, seperti ghanimah, reputasi, kebanggaan, posisi terdepan, kedudukan, kepemimpinan, dan niat-niat yang rusak lainnya, wal ‘iyadzu billah.

Dalam ash-Shohihayn, diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari rodhiyallohu ‘anhu, dia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam dan berkata: “Laki-laki berperang demi ghanimah, laki-laki berperang demi reputasi, dan laki-laki berperang agar dilihat keberadaanya, siapakah yang di jalan Alloh?” Beliau bersabda, “Barang siapa berperang agar kalimat Alloh menjadi yang tertinggi, maka dia di jalan Alloh.”

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa laki-laki itu bertanya kepada Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam: “Apa itu perang di jalan Alloh? Sesungguhnya seorang dari kami berperang karena marah dan berperang karena antusiasme.” Beliau shollallohu ‘alayhi wasallam pun bersabda kepadanya: “Barang siapa berperang agar kalimat Alloh menjadi yang tertinggi, maka dia di jalan Alloh ‘azza wa jalla.”

Ketahuilah, saudaraku di jalan Alloh, bahwa pengaruh-pengaruh keikhlasan niat dalam jihad itu terlalu banyak untuk dihitung dan buah-buahnya terlalu banyak untuk dibatasi. Di antaranya sebagai contoh:

1. Diterimanya amal

Jihad adalah ‘ibadah. Dan ia harus memenuhi syarat keikhlasan agar diterima. Ia tidak akan diterima kecuali jika murni untuk Alloh subhanahu, sebagaimana Dia jalla fii ‘ulahu berfirman: “Padahal mereka tidak diperintah kecuali untuk menyembah Alloh dengan mengikhlaskan agama ini kepada-Nya dan bersikap hanif.” [al-Bayyinah: 5]

Diriwayatkan dari Abu Umamah rodhiyallohu ‘anhu, dia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam dan berkata, “Tidakkah Anda melihat seorang laki-laki berperang demi mencari bayaran dan reputasi, apa yang didapatkannya?” Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda, “Tak sesuatu pun yang dia dapatkan.”

Laki-laki itu mengulanginya tiga kali dan Rosululloh berkata kepadanya, “Tak sesuatu pun didapatkan yang dia dapatkan.” Kemudian beliau shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Alloh tidak menerima ‘amal kecuali yang murni untuk-Nya dan dengannya ingin dicapai ridho-Nya.” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan an-Nasa’i, dan dinilai hasan oleh al-Hafizh al-‘Iroqiy dan al-Mundziri]

Ibnul Qoyyim berkata, “Dan amal-amal itu ada empat. Satu diterima dan tiga ditolak. Yang diterima adalah yang murni untuk Alloh dan sesuai dengan as-Sunnah. Dan yang ditolak adalah yang tidak memiliki kedua sifat ini atau salah satu dari keduanya.” [I’lamul Muwaqqi’in ‘an Robbil ‘Alamin]

2. at-Tawfiq dan as-Sadad (Kesesuaian dan Kelurusan)

Alloh ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang berjihad di jalan Kami, Kami benar-benar akan tunjukkan
jalan-jalan Kami kepada mereka. Dan sesungguhnya Alloh benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” [al-‘Ankabut: 69]

Pertama sekali ayat ini membatasi jalan jihad (berjihad di jalan Kami). Alloh subhanahu tidak mengatakan “berjihad” saja. Tetapi Dia subhanahu mensifati jihad yang menghasilkan hidayah sebagai jihad yang murni demi ridho Alloh (di jalan Kami). Dalam komentarnya terhadap ayat ini, as-Sa’di berkata: “Ini menunjukkan bahwa manusia yang paling pantas untuk selaras dengan kebenaran adalah para pelaku jihad, dan bahwa barang siapa mengerjakan dengan baik apa yang diperintahkan kepadanya maka Alloh akan menolongnya dan memudahkan baginya sebab-sebab hidayah.” [Taisir al-Karim ar-Rohman fi Tafsiri Kalamil Mannan]

3. Masuk surga yang penuh kenikmatan

Alloh ta’ala berfirman, “Kecuali hamba-hamba Alloh yang terpilih / yang ikhlash. Mereka itu memperoleh rezeki yang sudah ditentukan. (Yaitu) buah-buahan, dan mereka dimuliakan. Di dalam surga-surga yang penuh keni’matan.” [ash-Shoffat: 40-43]

Penduduk Madinah dan Kufah membaca dengan memfathahkan lam (al-mukhlashin), artinya: orang-orang yang dipilih oleh Alloh untuk menaati-Nya dan mentauhidkan-Nya. Dan sebagiannya membaca dengan mengkasrohkan lam (al-mukhlishin), artinya: orang-orang yang memurnikan ibadah dan tauhid untuk Alloh. [Fathul Qadir al-Jami’ bayna Fannayr Riwayah wad Diroyah min ‘Ilmit Tafsir karya asy-Syawkaniy]

4. Penjagaan dari tipu daya setan

Alloh ta’ala berfirman, “Dia (Iblis) berkata: wahai Robb-ku, oleh karena Engkau telah menyesatkanku, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka
semua, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih / yang ikhlash.” [al-Hijr: 39-40]

Dan Alloh subhanahu berfirman tentang nabi-Nya yang mulia, Yusuf ash-Shiddiq ‘alayhis salam: “Demikianlah, Kami palingkan darinya keburukan dan kekejian. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih / yang ikhlash.” [Yusuf: 24]

5. Sebab kemenangan dan tamkin

Diriwayatkan dari Sa’d bin Abu Waqqosh rodhiyallohu ‘anhu berkata, Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Alloh memberikan kemenangan kepada umat ini karena orang-orang lemahnya, karena doa mereka, sholat mereka dan keikhlasan mereka.” [Diriwayatkan oleh an-Nasa’i dengan sanad yang shohih, dan pokoknya ada dalam Shohih al-Bukhoriy]

al-Mundziriy berkata, “Maknanya adalah bahwa ibadah orang-orang lemah dan doa mereka lebih ikhlas, karena bersihnya hati mereka dari kecintaan pada perhiasan dunia. Dan mereka menjadikan tujuan mereka satu. Maka doa mereka dikabulkan dan amal-amal mereka menjadi bersih.” [‘Awnul Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud karya Syamsul Haq Abadi]

Maka, wahai orang-orang yang menantikan kemenangan atas koalisi Salibis yang saat ini sedang memerangi Daulah Islam! Kalian harus menjaga keikhlasan. Kalian harus menjaga keikhlasan. Sebab, di dalamnya terdapat keselamatan, dengan izin Alloh ta’ala.

6. Turunnya kelapangan dan keselamatan dari bencana serta pertolongan dalam kesulitan

Mungkin engkau akan merasa heran jika mengetahui bahwa Alloh ta’ala memberikan kelapangan kepada orang musyrik karena keikhlasan, seandainya dia sedikit berbuat ikhlas kepada Alloh, padahal dia seorang musyrik. Lalu bagaimana menurutmu dengan orang mu’min? Alloh ta’ala berfirman: “Dan apabila mereka digulung ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Alloh dengan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya. Tetapi ketika Alloh menyelamatkan mereka sampai di daratan, maka di antara mereka ada yang sedang-sedang saja (dalam ber’amal). Dan tidaklah mengingkari ayat-ayat Kami kecuali setiap pengkhianat yang tidak bersyukur.” [Luqman: 32]

Maka, wahai para muqotil di jalan Alloh, yang berada di front-front pertempuran!
Wahai para murobith di perbatasan-perbatasan! Wahai para junud Khilafah semuanya!
Ikhlaskan dan murnikanlah niat untuk Alloh. Sebab, di dalamnya terdapat kelapangan yang dekat in syaa-a Alloh.

7. Merasakan ketenangan dan kedamaian iman

Alloh ta’ala berfirman: “Sungguh Alloh telah meridhoi orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon. Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka. Maka Dia menurunkan kedamaian pada mereka dan membalas mereka dengan kemenangan yang dekat.” [al-Fath: 18]

Ath-Thobariy berkata dalam Tafsirnya: “Firman-Nya: ‘Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka.’ Alloh ta’ala dzikruhu berfirman: Robbmu, wahai Muhammad, mengetahui apa yang ada dalam hati orang-orang yang beriman di antara para sahabatmu ketika mereka bersumpah setia kepadamu di bawah pohon, yakni kejujuran niat, penepatan apa yang mereka sumpahkan kepadamu dan kesabaran untuk menyertaimu. Dia berfirman: Maka Dia menurunkan ketenangan dan keteguhan di atas apa yang mereka tetapi, yakni agama mereka dan penglihatan mereka yang baik terhadap kebenaran yang Alloh tunjukkan kepada mereka.”

Ibnun Nuhas berkata dalam Tafsirnya: “‘Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka,’ yakni keikhlasan. Ayat ini adalah dalil bahwa Alloh ta’ala meneguhkan orang yang mukhlis dalam jihad dengan kemenangan, pertolongan untuk menjalankan ketaatan, penguatan iman, dan ganjaran di dunia selain itu, di luar ganjaran akhirat.

Ya Alloh! Karuniakanlah kepada kami keikhlasan dalam perkataan dan perbuatan.

Maktabah Al-Himmah

KEBAHAGIAAN MERAIH MATI SYAHID

KEBAHAGIAAN MERAIH MATI SYAHID

Syahid di jalan Allah, saat-saat yang dicita-citakan orang-orang mukmin sepanjang masa, saat-saat yang selalu dirindukan orang-orang yang jujur, yang selalu ditangisi dengan penuh kerinduan. Itulah pertemuan dengan Rabb semesta alam, pertemuan dengan Allah dan Ia ridha padamu, bahkan Dia tertawa padamu. Itulah pertemuan yang dihiasi surga dan bidadarinya. Sesungguhnya syahid adalah saat-saat yang penuh nikmat yang kekal, setelahnya tak ada rasa sakit dan penat.

Maka siapakah syahid itu? Apa saja keutamaannya?

Syahid adalah seseorang yang terbunuh di jalan Allah, untuk meninggikan kalimah Allah, dan berhukum dengan syari’ah Allah, bukan yang terbunuh lantaran fanatisme, kesombongan, nasionalisme, patriotisme, pamer (riya) atau sum’ah (ingin didengar makhluk). Dari Abu Musa al-‘Asy’ari radhiyallahu anhu bahwasanya seorang laki-laki mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, ada seseorang berperang demi harta rampasan perang, dan seseorang berperang agar namanya diingat [sebagai pahlawan], dan seseorang berperang untuk memperoleh penilaian dalam kedudukannya. Dalam suatu riwayat, “Ia berperang lantaran keberanian, berperang lantaran kesombongan, dan berperang untuk melepaskan amarah, manakah di antara mereka yang berperang di jalan Allah? Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab, “Barangsiapa yang berperang untuk meninggikan kalimah Allah, maka dialah fi sabilillah.” [Muttafaq ‘alaih]

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Syahid adalah (orang meninggal) yang jenazahnya tidak dimandikan dan tidak disholatkan. Dia meninggal karena terbunuh ketika memerangi kafir, baik terbunuh oleh kafir, atau terkena senjata nyasar kaum muslimin, atau bahkan terkena senjatanya sendiri, atau terjatuh dari kendaraannya, atau disengat binatang berbisa lalu mati, atau tergilas kendaraan perang kaum muslimin atau selainnya, atau terkena senjata nyasar yang tidak diketahui apakah itu senjata muslim atau senjata kafir, atau orang yang didapati terbunuh seusai peperangan dan tidak diketahui sebab kematiannya; baik pada tubuhnya terdapat darah atau tidak, baik kematiannya disaat itu atau selang beberapa waktu kemudian meninggal dengan sebab-sebab tersebut sebelum pertempuran usai, baik ia telah makan, minum atau berwasiat atau bahkan tak melakukan apapun. Ini semua bagi kami telah menjadi kesepakatan.” (Syarh al-Muhadzdzab).

Ada banyak sekali keutamaan syahid.

Allah azza wa jalla Yang Mahabenar berfirman, “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (Qs al-Baqarah: 154).

Allah azza wa jalla juga berfirman, “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.” (QS Ali Imran: 169-171).

Allah azza wa jalla berfirman, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang haq dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS at-Taubah: 111).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Ketika saudara-saudara kalian terbunuh di Uhud, maka Allah menjadikan ruh-ruh mereka berada di dalam tembolok burung berwarna hijau yang berada dipinggir sungai di surga. Burung itu memakan buah-buahan surga, kemudian bertengger di atas lampu-lampu yang terbuat dari emas yang tergantung di bawah Arsy. Saat mereka telah mendapat makanan, minuman, dan tempat tidur yang menyenangkan, mereka berkata jika saja saudara kita yang masih hidup di dunia mengetahui bagaimana Allah membalas kita mereka tidak akan meninggalkan jihad di jalan Allah dan tidak akan lari dari medan perang. Allah pun berfirman, ‘Aku menyampaikan kepada mereka tentang kalian.’ Maka turunlah ayat, “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Rabbnya dengan mendapat rezeki.” (Hadits shahih, HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya ruh-ruh para syuhada itu ada di dalam tembolok burung hijau. Baginya ada lentera-lentera yang tergantung di Arsy. Mereka bebas beterbangan di surga sekehendak mereka, kemudian singgah pada lentera-lentera itu. Kemudian Rabb mereka memperlihatkan diri kepada mereka dengan jelas, lalu bertanya, ‘Apakah kalian menginginkan sesuatu? Mereka menjawab, ‘Apalagi yang kami inginkan sedangkan kami bisa menikmati surga dengan sekehendak kami? Rabb mereka bertanya seperti itu sebanyak tiga kali. Maka tatkala mereka merasa bahwasanya mereka harus minta sesuatu, mereka berkata, ‘Wahai Rabb kami! Kami ingin ruh kami dikembalikan ke jasad-jasad kami sehingga kami dapat berperang di jalan-Mu sekali lagi.’ Maka tatkala Dia melihat bahwasanya mereka tidak mempunyai keinginan lagi, mereka dibiarkan.” (HR. Muslim).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Orang yang mati syahid mempunyai 7 karunia di sisi Allah, yaitu diampuni pada waktu tetesan darah yang pertama, dapat melihat kedudukannya di surga, dihiasi dengan pakaian keimanan, dijodohkan dengan 72 istri dari bidadari yang cantik jelita, dilindungi dari adzab kubur dan diamankan dari rasa takut yang paling besar dan dipakaikan pada kepalanya mahkota kehormatan, satu mutiara darinya lebih baik daripada dunia dan seisinya, serta ia dapat memberikan syafaat kepada 70 orang keluarganya.” (HR. Tirmidzi dan dia berkata, ‘Hadits shahih gharib’).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Tidak ada seorangpun masuk surga yang ingin kembali ke dunia dan memiliki semua hal yang dimilikinya di dunia, kecuali orang yang mati syahid. Ia berangan-angan kembali ke dunia dan terbunuh sepuluh kali lantaran kemuliaan yang didapatnya.” (HR. Muslim).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang terluka di jalan Allah, dan Allah-lah yang paling tahu siapa yang terluka di jalan-Nya, kecuali dia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan berwarna darah dan wanginya semerbak minyak kasturi.” (HR. Muslim).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah orang yang mati syahid itu merasakan kematian kecuali seperti halnya kamu merasakan cubitan.” (HR Nasai, Ibnu Majah, dan Tirmidzi, ia berkata, ‘Ini hadits hasan gharib’).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Orang terbunuh itu ada tiga. Seorang Mukmin yang berjihad dengan nyawa dan hartanya di jalan Allah. Apabila bertemu musuh ia memerangi mereka sampai terbunuh. Itulah syahid yang telah teruji, yang dianugerahi kemah Allah di bawah Arsy-Nya. Para Nabi mengunggulinya hanya lantaran keutamaan derajat kenabian. Kemudian seseorang yang takut terhadap dosa-dosa dan kesalahannya, lalu berjihad dengan jiwa dan hartanya di jalan Allah sampai bertemu musuh dan memeranginya sampai terbunuh. Dialah yang tercuci bersih kesalahan dan dosa-dosanya. Sesungguhnya pedang itu penghapus kesalahan. Dia dipersilahkan masuk dari pintu surga mana saja yang dikehendakinya. Surga itu memiliki 8 pintu, dan Neraka memiliki 7 pintu, sebagiannya lebih utama atas sebagian yang lain. Terakhir yaitu orang munafik yang berjihad dengan jiwa dan hartanya sampai bertemu musuh dan terbunuh di jalan Allah, maka ia di neraka. Sesungguhnya pedang itu tak bisa menghapus kemunafikan.” [HR. Ahmad, dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban].

Ayat-ayat mulia dan hadits-hadits shahih tersebut menjelaskan agungnya keutamaan syahadah di jalan Allah dan derajatnya yang tinggi. Itulah mengapa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkeinginan untuk terbunuh di jalan Allah, bukan hanya sekali tetapi berkali-kali. Sabda beliau shallallahu alaihi wasallam, “Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh aku benar-benar menyukai diriku terbunuh di jalan Allah, lalu hidup lagi, lalu terbunuh lagi, lalu hidup lagi, lalu terbunuh lagi, lalu hidup lagi, lalu terbunuh lagi.” [Muttafaq ‘alaih].

Demikianlah yang mendorong orang mukmin yang jujur memilih sebaik-baik akhir hidup dan seutama-utama terbunuh (di medan perang) untuk diri mereka. Maka terbunuh yang seperti apa yang paling disukai Allah dan Rasul-Nya?

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah ditanya mengenai hal itu, “Mati bagaimanakah yang paling utama? Jawabnya, ‘Yang tertumpah darahnya dan terbunuh kudanya di jalan Allah’.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud). Yang dimaksud tertumpah darahnya yaitu darahnya tertumpah dan mengalir. Yang dimaksud terbunuh kudanya yaitu terpotong kaki-kakinya dengan pedang. Inilah mati yang paling utama, karena si mujahid berjihad dengan jiwa dan hartanya dan tidak ada yang kembali sedikitpun.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Tidak ada hari-hari untuk berbuat amal shalih yang lebih Allah cintai kecuali sepuluh hari ini”, yakni sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Beliau  ditanya, ‘Sekalipun jihad fi sabilillah? Jawabnya, “Sekalipun jihad fi sabilillah, kecuali seorang lelaki yang pergi berjihad dengan harta dan jiwanya lalu tidak ada yang kembali sedikitpun.” (HR. Bukhari dan Tirmidzi).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Syahid yang paling utama adalah yang berperang di front terdepan. Mereka tidak memalingkan wajah hingga terbunuh. Itulah orang-orang yang menikmati kesenangan di kamar tertinggi di surga. Rabbmu tertawa pada mereka. Jika Rabbmu tertawa pada seorang hamba pada suatu peristiwa, maka tiada hisab baginya.” (HR. Ahmad).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Penghulu para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthallib dan orang yang pergi menemui penguasa kejam, ia memperingati dan melarang (penguasa tersebut), maka (sang penguasa) membunuhnya.” (Dikeluarkan oleh Hakim dan dishahihkannya dan oleh al-Khatib).

Darah orang yang syahid di jalan Allah laksana api atas musuh-musuh Allah yang membakar dan menggoncang kekuatan mereka. Darahnya juga laksana cahaya bagi mujahidin penerusnya. Dengannya Allah hidupkan hati yang mati untuk menyempurnakan jalan itu. Sudah diketahui oleh orang banyak –baik yang melihat dengan mata kepalanya, mendengar, dan mencium sendiri– ternyata syuhada Daulah Islamiyah tersenyum mengacungkan telunjuk tasyahudnya, terdengar kata-kata terakhir mereka Laa Ilaaha Illallaah, dan tercium aroma misk dari jasad dan kuburan mereka. Ini, demi Allah, adalah kabar gembira untuk kaum muslimin sebagai penguat jihad Daulah dan kebenaran jalannya serta sebagai penambah keteguhan mujahidin.

Kehormatan mengharuskan kita membaringkan badan
Laksana jembatan untuk menyeberang kawan-kawan kita

Apakah boleh menyebut si fulan syahid?

Ketika kami mengatakan si fulan syahid yang dimaksud adalah kami memperlakukannya sebagaimana orang yang mati syahid di dunia, yaitu tidak dimandikan dan tidak pula dishalatkan. Tetapi kami tidak bersaksi seseorang itu berada di surga atau neraka. Sebab urusan hati itu ada di tangan Allah. Dialah yang mengetahui segala hal yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nyalah semua urusan dikembalikan.

Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhu berkata, “Umar bin Khattab bercerita padaku, ‘Saat Perang Khaibar beberapa sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam berkeliling dan berkata, ‘Si fulan syahid, si fulan syahid’, hingga mereka melewati seorang laki-laki dan berkata, ‘Si fulan syahid.’ Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Sekali-kali tidak. Sesungguhnya aku melihat dia di dalam neraka lantaran burdah (selimut) atau sorban (dari ghanimah) yang dicurinya’.” (HR.Muslim).

Istilah syahid sudah menjadi praktek yang dilakukan oleh para penulis sejarah dan pertempuran-pertempuran Islam. Mereka menulis; syuhada Uhud, Hunain, Yarmuk, dan Qodisiyyah. Dalam buku-buku tentang biografi rijal (perawi) hadits juga ditulis (si fulan) syahid di Yamamah, (si fulan) terbunuh syahid di Qodisiyyah, dan seterusnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga menyebut Jenderal Nurudiin Mahmud Zanki dengan asy-syahid di berbagai tempat di Majmu’ Fatawa, seperti ungkapannya, “Yang terakhir dari mereka itu seperti asy-Syahid Nuruddin Mahmud yang berhasil menaklukkan banyak wilayah Syam dan membebaskannya dari cengkeraman Kristen.”

Adz-Dzahabi juga berkata dalam as-Siyar, “Imam panutan asy-Syahid Abu Bakar Muhammad bin Ahmad bin Sahl ar-Ramalli, yang dikenal sebagai Ibnu an-Nablusi.”

Adapun pendapat Bukhari yang membuat bab “Tidak boleh dikatakan fulan itu syahid” maksudnya tidak boleh memastikan, dikarenakan sabda Rasul shallallahu alaihi wasallam dalam hadits, “Allah-lah yang paling tahu siapa yang terluka di jalan-Nya.” Jadi tidak boleh memastikan seseorang itu berada di surga selama Allah dan Rasul-Nya tidak bersaksi. Wallahu a’lam.

Ya Allah anugerahkanlah mati syahid kepada kami di jalan-Mu
Ya Allah jadikanlah penutup hidup kami dalam keadaan terbunuh
di jalan-Mu
Ya Allah kumpulkanlah kami bersama para syuhada dari perut binatang liar dan tembolok burung

Maktabah Al-Himmah

AGAMA ADALAH KETULUSAN

AGAMA ADALAH KETULUSAN

Alloh ta’ala berfirman: “Tidak ada dosa (karena tidak pergi berperang) atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit, dan orang-orang yang tidak mendapatkan sesuatu untuk mereka belanjakan (orang-orang miskin), apabila mereka bersikap tulus kepada Alloh dan Rosul-Nya. Tidak ada alasan apa pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [at-Taubah: 91]

Kedudukannya

“Diriwayatkan dari Jarir bin ‘Abdulloh, dia berkata: Aku berbaiat (berjanji setia) kepada Rosululloh untuk menegakkan sholat, menunaikan zakat, dan bersikap tulus kepada setiap muslim.” [Diriwayatkan oleh al-Bukhori dan Muslim]

Kepada Siapa Ketulusan Diberikan?

“Diriwayatkan dari Tamim ad-Dariy rodhiyallohu ‘anh bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Agama itu adalah ketulusan.’ Mereka berkata: ‘Kepada siapa?’ Beliau bersabda: ‘Kepada Alloh, kepada Kitab-Nya, kepada Rosul-Nya, kepada para imam (pemimpin) kaum muslimin dan awam mereka.’” [Diriwayatkan oleh al-Bukhori dan Muslim]

Hakikat Ketulusan

Ibnu Hajar al-‘Asqolani berkata dalam Fathul Bari:

1.    Ketulusan kepada Alloh ta’ala: menyifatinya dengan apa yang layak untuk-Nya, tunduk kepada-Nya secara lahir dan batin, berkeinginan untuk mendapatkan cinta-Nya dengan mengerjakan ketaatan kepada-Nya, takut akan murka-Nya dengan menjauhi kemaksiatan kepada-Nya, dan berjuang untuk mengembalikan kepada-Nya orang-orang yang durhaka.

2.    Ketulusan kepada Kitab Alloh: mempelajarinya, mengajarkannya, menegakkan huruf-hurufnya dalam tilawah, memperbagusnya dalam tulisan, memahami makna-maknanya, menjaga had-had (batasan-batasan)nya, mengamalkan isinya, dan mempertahankannya dari penyelewengan para pendusta.

3.    Ketulusan kepada Rosul-Nya shollallohu ‘alaihi wa sallam: mengagungkannya, menolongnya semasa hidup dan setelah mati, menghidupkan Sunnahnya dengan mempelajarinya dan mengajarkannya, mengikutinya dalam perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatannya, serta mencintainya dan mencintai para pengikutnya.

4.    Ketulusan kepada para imam (pemimpin) kaum muslimin: membantu mereka dalam melaksanakan apa yang mereka pikul, mengingatkan mereka saat lalai, menutup aib mereka saat khilaf, bersatu mendukung mereka, dan mengembalikan kepada mereka “hati-hati yang lari”. Di antara ketulusan yang paling agung kepada mereka adalah: menghalangi mereka dari berbuat kezhaliman dengan cara yang paling baik. Termasuk ke dalam golongan para imam kaum muslimin adalah: para imam ijtihad. Dan ketulusan kepada mereka dilakukan dengan menebarkan ilmu-ilmu mereka, menyebarkan kebajikan-kebajikan mereka, dan berbaik sangka kepada mereka.

5.    Ketulusan kepada awam kaum muslimin: berbelas kasih kepada mereka, mengusahakan apa yang mendatangkan manfaat kepada mereka, mengajari mereka apa yang bermanfaat bagi mereka, mencegah segala bentuk gangguan terhadap mereka, menyukai untuk mereka apa yang disukainya untuk dirinya sendiri, dan membenci untuk mereka apa yang dibencinya untuk dirinya sendiri.

Infografik An-Naba’ Edisi 60

PENYAKIT HATI

PENYAKIT HATI

Allah azza wa jalla berfirman : “Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Alloh dengan hati yang bersih.” [asy-Syu’aro’: 88-89]

Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda: “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan sesungguhnya yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara syubhat (samar) yang tidak diketahui oleh banyak orang. Barang siapa menjauhi perkara-perkara syubhat, maka dia telah membersihkan agama dan kehormatannya. Dan barang siapa jatuh ke dalam perkara-perkara syubhat, maka dia telah jatuh dalam perkara haram. Ibarat penggembala yang menggembala di sekitar tanah terlarang. Dengan cepat dia akan menggembala di dalamnya. Ketahuilah, sesungguhnya setiap raja memiliki tanah terlarang. Ketahuilah, sesungguhnya tanah terlarang Alloh adalah perkara-perkara yang diharamkan-Nya. Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh terdapat segumpal darah, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, ia adalah hati.” [Diriwayatkan oleh al-Bukhori dan Muslim]

Di Antara Sebab-sebab Penyakit Hati

- Bergaul dengan orang-orang yang lalai
- Dosa-dosa kholwat
- Melepaskan pandangan kepada perkara-perkara yang haram
- Menyibukkan diri dengan dunia
- Lalai dari mengingat Alloh

Beberapa Jenis Penyakit Hati

Nifaq
Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda: “Empat perkara, barang siapa keempatnya ada padanya maka dia adalah munafiq murni, dan barang siapa padanya terdapat satu sifat darinya maka padanya terdapat satu sifat dari nifaq, sampai dia meninggalkannya: jika dipercaya berkhianat, jika berbicara berdusta, jika membuat perjanjian mengkhianati, dan jika bertengkar/ bermusuhan menyimpang dari kebenaran.” [Diriwayatkan oleh al-Bukhori]

Mengikuti hawa nafsu
Alloh ta’ala berfirman: “Wahai Dawud! Sesungguhnya Kami telah menjadikan engkau kholifah di bumi. Maka berilah keputusan di antara manusia dengan adil dan janganlah mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkanmu dari jalan Alloh. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Alloh akan mendapat azab yang berat, disebabkan mereka melupakan hari  perhitungan.” [Shod: 26]

Sombong
Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat seberat atom dari kesombongan.” Seorang laki-laki berkata: “Sesungguhnya laki-laki menyukai pakaiannya bagus dan sandalnya bagus.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya Alloh itu indah, mencintai keindahan. Kesombongan itu adalah mengingkari kebenaran dan menghina orang lain.” [Diriwayatkan oleh Muslim]

Hasad
Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda: “Janganlah saling membenci, janganlah saling mendengki, janganlah saling membelakangi, dan jadilah hamba-hamba Alloh yang bersaudara. Dan tidaklah halal bagi seorang muslim untuk mendiamkan saudaranya di atas tiga malam.” [Diriwayatkan oleh al-Bukhori]

Riya’
Dari Abu Sa’id al-Khudri rodhiyallohu ‘anhu, dia berkata: Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda: “Maukah kalian aku beri tahu tentang sesuatu yang paling menakutkan terhadap kalian bagiku daripada al-Masih ad-Dajjal.” Abu Sa’id berkata: Kami berkata:  “Ya.” Beliau pun bersabda: “Syirik tersembunyi. Yaitu orang berdiri mengerjakan sholat, lalu dia memperbagus sholatnya karena melihat orang lain memerhatikannya.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Majah]

Buruk sangka
Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda: “Jauhilah prasangka, karena sesungguhnya prasangka adalah pembicaraan yang paling dusta. Janganlah mencari-cari aib (orang lain), janganlah memata-matai (orang lain), janganlah saling mendengki, janganlah saling membelakangi, janganlah saling mendengki, dan jadilah hamba-hamba Alloh yang bersaudara.” [Diriwayatkan oleh al-Bukhori]

Obat Penyakit Hati

- Bermuhasabah diri
- Taubat dan istighfar
- Berdoa
- Memperbanyak ketaatan-ketaatan yang tersembunyi
- Mengingat Alloh dan membaca Al-Qur’an
- Menundukkan pandangan
- Mengingat akhirat
- Ikhlas dalam beramal

Infografik An-Naba

INILAH YANG TELAH DIJANJIKAN OLEH ALLOH DAN ROSUL-NYA

INILAH YANG TELAH DIJANJIKAN OLEH ALLOH DAN ROSUL-NYA


RENUNGAN MENGENAI PENGEROYOKAN PASUKAN SEKUTU TERHADAP AHLUL HAQ

Sesungguhnya serangan gencar yang kita saksikan saat ini terhadap Daulah Khilafah dan pengeroyokan terhadapnya oleh sekutu dari golongan salibis, atheis, musyrikin, bathiniyah, yahudi, murtad dan munafiq, benar-benar merupakan ujian yang harus dialami oleh jama’ah kaum muslimin. Ujian selalu menyertai iman. Alloh ta’ala berfirman: “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan: ‘Kami telah beriman,’ dan mereka tidak diuji? Dan sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Alloh benar-benar mengetahui orang-orang yang jujur dan benar-benar mengetahui orang-orang yang dusta.” [al-‘Ankabut: 2-3]

Sebagian ahli tafsir berkata: “Artinya: Manusia tidak akan dibiarkan tanpa fitnah, yaitu ujian dan cobaan, demi perkataan mereka: ‘Kami telah beriman.’ Justru jika mereka berkata: ‘Kami telah beriman,’ maka mereka akan di-fitnah, yakni diuji dan dicoba dengan berbagai ujian, sehingga dengan ujian itu akan dapat dibedakan orang yang tulus dalam perkataannya: ‘Kami telah beriman,’ dari orang yang tidak tulus.

Konsep ini juga dijelaskan oleh apa yang diriwayatkan dalam As-Sunnah dari Mush’ab bin Sa’d dari bapaknya, Sa’d bin Abu Waqqosh, dia berkata: Aku berkata: “Wahai Rosululloh, manusia mana yang paling berat ujiannya?” Beliau bersabda: “Para nabi, kemudian yang paling mulia (di bawahnya) lalu yang paling mulia (di bawahnya). Hamba diuji sesuai dengan agamanya. Jika ada kekuatan dalam agamanya, maka ujiannya berat. Dan jika ada kelemahan dalam agamanya, maka dia diuji sesuai dengan agamanya. Ujian akan terus menyertai hamba sampai ia meninggalkannya berjalan di atas bumi tanpa satu dosa pun ditanggungnya.” [Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah]

Jama’ah yang berada di atas kebenaran pasti akan mendapatkan ujian yang di antara buahnya adalah dua pembersihan. Pertama, perbersihan barisan. Kedua, pembersihan hati.

Dengan ujian yang menimpa ahli kebenaran, barisan-barisan mereka akan menjadi bersih. Orang-orang munafik dan orang-orang yang mengaku-aku akan keluar. Sementara orang-orang yang beriman akan tinggal, dan jama’ah akan menjadi kuat. Alloh ta’ala berfirman: “Alloh tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman sebagaimana dalam keadaan kalian sekarang ini, sehingga Dia membedakan yang buruk dari yang baik.” [Alu ‘Imron: 179]

Keberadaan orang-orang yang mengaku-aku dan kotoran akan melemahkan jamaah dan merapuhkannya. Dan dengan keluarnya mereka, jama’ah akan menjadi enerjik, kuat, dan produktif. Tidakkah engkau melihat bahwa dari waktu ke waktu pohon membutuhkan pemangkasan dan pemotongan dahan-dahannya yang telah rusak, agar ia dapat memperoleh kembali vitalitas dan memperbarui buah.

Karena itu, setelah pembersihan datanglah pembinasaan terhadap orang-orang kafir. Alloh ta’ala berfirman: “Dan agar Alloh membersihkan orang-orang yang beriman dan membinasakan orang-orang kafir.” [Alu ‘Imron: 141]

Di antara buah ujian dan pengeroyokan musuh juga adalah pembersihan kedua, yaitu pembersihan hati orang-orang yang beriman. Dengan ujian itu hati akan kembali dan pulang kepada Robbnya. Hati pun menjadi bersih dari kotoran-kotorannya, seperti riya’, hasad, egoisme, kesombongan, serta ambisi untuk meraih kepemimpinan dan kedudukan. Alloh ta’ala berfirman: “Agar Alloh menguji apa yang ada dalam dada kalian dan membersihkan apa yang ada dalam hati kalian. Dan Alloh Maha Mengetahui isi hati.” [Alu ‘Imron: 154]

Alloh ta’ala juga berfirman: “Dan sungguh Kami benar-benar akan menguji kalian sampai Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kalian, dan sampai Kami menyingkap kabar-kabar (keadaan-keadaan) kalian.” [Muhammad: 31]

Pengeroyokan oleh umat-umat kekufuran terhadap Daulah Islamiyah ini adalah ujian yang telah dijanjikan kepada jama’ah kaum muslimin. Alloh ta’ala berfirman: “Dan ketika orang-orang mukmin melihat golongan-golongan (yang bersekutu) itu, mereka berkata: ‘Inilah yang dijanjikan Alloh dan Rosul-Nya kepada kita. Dan benarlah Alloh dan Rosul-Nya.’ Dan itu tidak menambah mereka kecuali keimanan dan penyerahan diri.” [al-Ahzab: 22]

Karena itu, pastilah ada ketakutan yang merasuki hati mujahid dan pastilah ada berbagai bencana. Tetapi tak lama setelahnya akan datang kelegaan dan akan tercipta keamanan. Alloh ta’ala berfirman: “Dan sungguh Dia benar-benar akan merubah (keadaan) mereka setelah ketakukan mereka dengan keamanan.” [an-Nur: 55]

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Alloh, sungguh Dia benar-benar akan menyempurnakan perkara ini sampai seorang pengendara berjalan dari Shon’a’ ke Hadhromaut tanpa takut kepada selain Alloh, dan serigala terhadap kambingnya. Akan tetapi kalian terburu-buru.” [Diriwayatkan oleh al-Bukhori]

Abu ‘Ubaidah bin al-Jarroh pernah menulis surat kepada ‘Umar bin al-Khoththob, menyebutkan kepadanya perkumpulan-perkumpulan pasukan Romawi dan apa yang ditakutkannya dari mereka. ‘Umar pun menulis balasan kepadanya:  “Amma ba’d. Sesungguhnya seberat apa pun bencana yang menimpa seorang hamba yang beriman, niscaya Alloh akan menjadikan baginya kelapangan setelahnya. Sesungguhnya satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan. Dan sesungguhnya Alloh berfirman di dalam Kitab-Nya: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah, kalahkanlah kesabaran (musuh-musuh Alloh), lakukanlah ribath (menjaga perbatasan), dan bertakwalah kepada Alloh, agar kalian beruntung.’ [Alu ‘Imron: 200]” [al-Muwaththo’]

Sebagaimana Alloh telah menjanjikan kemenangan kepada para wali-Nya, begitu pula Dia telah menjanjikan ujian kepada mereka. Maka bersabarlah dan bersabarlah.

An-Naba’ Edisi 29

RISALAH TENTANG NIFAQ DAN ORANG MUNAFIQ

RISALAH TENTANG NIFAQ DAN ORANG MUNAFIQ
KARYA SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB
DIRINGKAS DARI RISALAH SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYAH RAHIMAHULLAH

Ketahuilah -semoga Allah merahmatimu- bahwa sejak Allah azza wa jalla mengutus Muhammad shallallahu alaihi wasallam manusia terbagi menjadi tiga;
Pertama. orang-orang mukmin yang beriman kepadanya zhahir dan batinnya,
Kedua. orang-orang kafir yang terang-terangan mengkufurinya, dan
Ketiga. orang-orang munafik yang beriman secara zhahir namun tidak batinnya.
Oleh karena itu, Allah membuka surat al-Baqarah dengan empat ayat seputar sifat mukmin, dua ayat seputar sifat kafir, dan tiga belas ayat seputar sifat munafik.

Semua bagian itu; iman, kufur, dan nifak, masing-masing mempunyai pondasi dan cabang-cabangnya sebagaimana disebutkan dalam Kitab dan Sunnah, dan sebagaimana ditafsirkan oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu dalam hadits yang diriwayatkannya. Maka nifak terbagi menjadi nifak akbar yang mengakibatkan pelakunya dijerumuskan dalam dasar neraka yang terdalam. Yaitu seperti nifaknya Abdullah bin Ubay dan selainnya, atau terang-terangan mendustakan Rasul, menentang atau membenci sebagian risalahnya, meyakini tidak wajib mengikutinya, senang dengan keterpurukan Dien dan sebaliknya sedih dengan kemenangan Dien, dan yang semisalnya yang tidak mungkin muncul kecuali dari musuh Allah dan Rasul-Nya. Yang seperti itu sudah muncul pada zaman Rasul shallallahu alaihi wasallam dan zaman setelahnya. Padahal pada zamannya faktor pendukung keimanan amat kuat. Jika pada zamannya saja yang faktor pendukung keimanan itu amat kuat sudah muncul nifak apalagi pada zaman setelahnya. Ini adalah contoh nifak akbar, kita berlindung kepada Allah.

Adapun nifak asghar adalah seperti nifak amal dan yang semisalnya. Yaitu seperti berdusta ketika berbicara, menyelisihi janji dan berkhianat jika dipercaya seperti disebutkan dalam hadits masyhur, bersabda shallallahu alaihi wasallam, “Tanda-tanda munafik itu ada tiga; jika berbicara maka berdusta, jika berjanji maka mengingkari, jika dipercaya maka berkhianat, (dia itu munafik) sekalipun shalat, berpuasa dan mengaku muslim.” (HR. Muslim).

Termasuk nifak asghar juga adalah enggan berjihad. Enggan berjihad adalah salah satu sifat munafik berdasarkan sabdanya shallallahu alaihi wasallam, “Barangsiapa mati sedangkan ia belum berperang atau meniatkan dirinya untuk berperang, maka dia mati dalam salah satu cabang kemunafikan.” (HR. Muslim).

Allah telah menurunkan surat Bara’ah yang juga dinamakan al-Fadhihah lantaran membongkar orang-orang munafik, sebagaimana perkataan Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, “Ia (surat at-Taubah) adalah al-Fadhihah (pembongkar), terus menerus turun “Dan diantara mereka” sampai mereka mengira tidak ada seorangpun yang tidak disebutkan.” Dari al-Miqdad bin al-Aswad berkata, “Ia adalah surat al-Bahuts karena menyingkap lubuk hati terdalam orang-orang munafik.” Qotadah berkata, “Ia adalah al-Mutsirah karena mempermalukan orang-orang munafik”.

Surat ini turun ketika ghazwah terakhir Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yaitu Ghazwah Tabuk. Pada ghazwah ini Allah memuliakan Islam dan pemeluknya, dan membongkar kondisi orang-orang munafik. Allah menyifati mereka dengan sifat kikir dan pengecut. Yang dimaksud pengecut adalah meninggalkan jihad.

Adapun kikir, yaitu enggan berinfak fi sabilillah. Allah berfirman, “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali Imran: 180), dan berfirman, “Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” (QS. al-Anfal: 16).

Allah juga menyifati mereka dengan sifat pengecut dan panik, firman-Nya azza wa jalla, “Dan mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa sesungguhnya mereka termasuk golonganmu; padahal mereka bukanlah dari golonganmu, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang sangat takut (kepadamu). Jikalau mereka memperoleh tempat perlindungan”, yaitu seperti benteng atau kastil, “atau gua-gua”, untuk bersembunyi dengan cepat seperti air yang mengalir, “atau lobang-lobang (dalam tanah)”, yaitu tempat-tempat yang susah payah dibangun atau susah dimasuki (seperti bunker – pent), “niscaya mereka pergi kepadanya” dan kabur dari jihad “dengan secepat-cepatnya.” (QS. at-Taubah: 56-57). Yaitu pergi secepat-cepatnya tanpa bisa dicegah lagi seperti kuda liar yang jika dihardik maka tali kekangnya tidak akan bisa mencegahnya.

Allah azza wa jalla berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. al-Hujurat: 15). Maka Dia membatasi orang-orang beriman pada yang beriman dan berjihad.

Allah berfirman, “Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertaqwa. Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya.” (QS. at-Taubah: 4445). Maka ini merupakan kabar dari Allah bahwa seorang mukmin tidak akan meminta ijin untuk meninggalkan jihad, hanyasanya yang meminta ijin adalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, maka bagaimana halnya dengan yang meninggalkan jihad tanpa ijin?

Firman-Nya tentang sifat kikir mereka, “Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (QS. at-Taubah: 54). Jika dalam ayat ini Allah azza wa jalla mencela orang-orang yang berinfak dengan rasa enggan, maka bagaimana halnya dengan yang sama sekali tidak mau berinfak?

Telah dikabarkan bahwa ketika orang-orang munafik mendekati Madinah (setelah selesai dari ghazwah –pent), terkadang mereka berkata-kata kepada orang-orang mukmin, “Inilah kesialan yang menimpa kita lantaran kalian, kalianlah yang menyeru manusia kepada Din ini, kalianlah yang memerangi dan menyelisihi mereka.” Terkadang mereka mengecam, “Kalianlah yang memerintahkan kita untuk berdiam di sini, jika kita pergi tentu tidak akan tertimpa yang sepert ini! Terkadang juga mereka menyindir, “Kalian itu sudah sedikit dan lemah namun tetap nekat hendak mengalahkan musuh, sungguh agama kalian telah menipu kalian! Juga kecamannya, “Kalian orang-orang gila, tidak berakal, kalian hendak membinasakan diri kalian dan menyeret manusia dalam kebinasaan!

Mereka juga sering menyemburkan kata-kata yang menyakitkan lainnya. Maka Allah berfirman tentang mereka, “Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badwi, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu. Dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja.” (QS. al-Ahzab: 20).

Dalam ayat ini Allah azza wa jalla menyifati mereka dengan tiga sifat;

Pertama: bahwa mereka –lantaran ketakutannya– mengira golongan-golongan sekutu itu tidak akan pergi. Seperti inilah kondisi para pengecut yang hatinya sakit. Ia akan segera memakan mentah-mentah kabar yang menakutkan dan sebaliknya mendustakan kabar baik.

Kedua; jika pasukan sekutu datang mereka berangan-angan bisa kabur jauh ke pedalaman di antara orang-orang badui dan menanyakan kabar kalian, “Bagaimana kabar Madinah? Bagaimana kondisi manusia?

Ketiga; jika pasukan sekutu telah datang sedangkan mereka ada di antara kalian maka mereka tidak akan bertempur kecuali sedikit. Ketiga sifat ini ternyata banyak didapati pada diri banyak manusia.

An-Naba Edisi 50