Tampilkan postingan dengan label Dabiq Edisi 7. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dabiq Edisi 7. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 April 2018

PABRIK KEMARAHAN

DABIQ 7 - SPESIAL

PABRIK KEMARAHAN
Oleh: John Cantlie

Adalah taktik kejam pemerintah Barat yang menimbulkan tumbuhnya kemarahan yang akan meruntuhkan negara-negara Barat menjadi abu…

Hal menarik yang aku baca di The Independent pada 19 Januari adalah bahwa hampir setengah penduduk Prancis menentang penerbitan kartun yang menyerang Nabi Muhammad dan bahwa mereka meyakini harus adalah pembatasan lebih terhadap kebebasan berbicara.

Dalam sebuah polling, “42 persen responden menyatakan penentangan terhadap gambar kartun Nabi Muhammad,” kata Zachary Davies Boren dalam artikelnya. Hal ini tidak lama setelah Charlie Hebdo, yang biasanya terjual sekitar 60.000 per edisi, dicetak sebanyak tujuh juta untuk mengatasi permintaan publik setelah serangan Paris. Dan apa yang mereka taruh di sampulnya? Kartun lain dari Nabi Muhammad! Serentak, ratusan ribu Muslim di seluruh dunia meluapkan amarah di jalan-jalan sebagai bentuk protes. Dan siapa yang tahu berapa banyak lainnya yang akan merencanakan serangan lagi kepada Eropa?

Jadi sepertinya setengah dari Prancis memohon agar akal sehat dan rasa saling menghormati yang menang. Dan setengah lainnya ingin meneruskan ucapan asusila dan perilaku agresif. Ini bukan satu-satunya contoh terbelahnya opini menyusul penyerangan setelah seorang komedian ditahan oleh polisi karena memuji operasi tersebut. Jadi dengan kata lain, tidak apa-apa menyinggung Islam dengan mengolok-olok Nabi Muhammad tetapi membela Islam dengan menyatakan dukungan untuk mujahidin adalah suatu pelanggaran.

Serangan Prancis telah menyoroti tumbuhnya kemarahan Muslim di seluruh dunia kepada Eropa. Hanya tiga pemuda Muslim telah mampu membawa satu negara bertekuk lutut sementara di Timur Tengah bom-bom senilai satu milyar dollar telah dijatuhkan hanya dalam waktu tiga bulan terakhir. Namun setiap orang terkejut dan marah setelah serangan yang relatif kecil di sebuah ibukota yang terjadi sebagai akibat langsung darinya.

Kenapa kita? Kenapa di sini? Apa yang telah kita lakukan sehingga berhak mendapatkannya? Nah, ingatlah puluhan Muslim laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang terbunuh di Syria akibat bom-bom koalisi hanya di bulan Januari.

Politisi-politisi segera mendukung Islam, tentu saja, namun hanya “Islam” tipe mereka. Di Inggris, seseorang yang bernama Eric Pickles menulis sebuah surat terbuka kepada komunitas Muslim Inggris meminta bantuan untuk “mengatasi masalah radikalisasi.”

“Nilai-nilai Inggris adalah nilai-nilai Muslim,” ujarnya, sangat jelas dia tidak memahami sama sekali tentang apa yang dia ucapkan, sebelum dengan cepat menambahkan bahwa “pesan perdamaian dan persatuan” Islam membuat negara menjadi lebh baik dan lebih kuat.

Pemimpin Inggris David Cameron memotong fakta, sebagaimana yang biasa ia lakukan, dengan berkata, “Siapa saja yang, dengan terus terang, membaca surat ini, yang memiliki masalah dengannya, aku pikir dia memang memiliki masalah. Apa yang dia katakan bahwa Muslim Inggris membuat kontribusi besar kepada negara kita, itulah yang terjadi dari segi teror para ekstrimis tidak ada hubungannya dengan agama Islam yang sebenarnya. Ia telah diselewengkan oleh segolongan minoritas yang telah teradikalisasi. Terus terang, semua dari kita memiliki tanggung jawab untuk mencoba dan melawan radikalisasi ini, dan memastikan kita menghentikan pemuda-pemuda ditarik ke dalam sekte yang beracun dan gila mati yang telah diciptakan oleh orang-orang yang sangat minoritas.”

Wow.

Apa yang kita saksikan di sini adalah dua orang, politisi, dengan kekuasaan luar biasa, yang tidak memiliki sedikitpun gagasan mengenai apa yang mereka bicarakan. Mereka jelas-jelas hanya memiliki sedikit pengetahuan tentang Islam, Syari’ah, jihad, mujahidin, atau mengapa Muslim menjadi semakin marah tentang bagaimana Barat dengan arogan memaksakan prinsip dan keyakinannya di seluruh dunia.

Namun, sebagai politisi dan pemimpin, mereka memiliki podium untuk menyebarkan opini mereka dan mempengaruhi jutaan lainnya. Sampah yang sama juga kita dengar dari Obama, Hollande, Netanyahu, dan lainnya dan sekali lagi, cacian lama “Islamic State tidak Islami”. Betapa hebat Islam, kami sangat menyukai Muslim, tetapi hanya “Muslim” yang sesuai dengan definisi kami bagaimana seharusnya seorang “Muslim”, yang hampir sesuai dengan definisi pekerja demokrasi. Dan siapa saja yang tidak sesuai dengan definisi “Muslim” yang baru ini akan dianiaya.

Inilah, teman-temanku, Pabrik Kemarahan.

Pemerintah sedang menumbuhkan semakin banyak kemarahan setiap harinya dengan pandangan mereka yang semakin keras yang sama sekali tidak berhasil di dunia nyata. Mereka tidak mau berubah atau beradaptasi. Dihadapkan dengan situasi yang kompleks dan semakin berkembang yang butuh ditangani dengan cerdas atau berbeda, pemerintah Barat hanya mengulang untuk membentuk, dan menggunakan taktik polisi yang kejam atau mendukung intervensi militer ke luar negeri sedangkan respon seperti itulah yang selama beberapa dekade ini membuat situasi semakin memburuk.

Respon mereka seringkali merupakan reaksi yang keras bukannya malah berpikiran ke depan. Menyusul serangan, pemerintah Prancis merespon dengan membanjiri jalan-jalan dengan bala tentara dan tank, sebuah langkah sia-sia yang hanya akan meningkatkan tingkat kepanikan dalam masyarakatnya. Menyusul penangkapan seorang pilot Yordania oleh Daulah Islam, koalisi merespon dengan melancarkan serangan udara intensif dalam satu malam kepada kota ar-Raqqah di Suriah yang hanya akan mendorong mujahidin untuk menembak jatuh lebih banyak pesawat dan mengeksekusi lebih banyak pilot.

Hampir sama dengan politisi yang gagal melihat ledakan pertumbuhan Daulah Islam tahun lalu, mereka juga gagal mengantisipasi gelombang serangan di tanah air mereka dan sama sekali tidak mampu mengatasi situasi tersebut. Kuda telah melesat sejak dulu sedangkan pemerintah baru menutup pintu kandangnya sekarang, hal ini tidak mengherankan karena sejak awal campur tangan mereka-lah yang telah menciptakan cocktail[1] berbahaya ini.

Dan mereka tidak akan pernah mengakuinya.

Pemerintah akan dengan senang hati berbicara dengan organisasi teroris yang dekat dengan tanah air mereka jika cocok dengan mereka. Inggris bernegosiasi dengan separatis IRA dan Spanyol bernegosiasi dengan separatis ETA Basque. Tetapi saat diajak berbicara dengan kelompok Islam, kekerasan dan agresi adalah satu-satunya jawaban, dan mujahidin selalu menimbulkan bahaya yang jauh lebih besar dari kelompok lokal manapun. Jadi betapa sangat jauh lebih berbahaya Khilafah Islam yang didirikan oleh pejuang-pejuang pantang menyerah itu!

Dengan mengambil jalan kekerasan, pemerintah telah menempatkan diri mereka di jalan kematian. Setiap bom yang dijatuhkan di Suriah dan Iraq menjadi alat rekrutmen untuk Daulah Islam. Ini adalah tindakan yang tidak bijaksana ketika jutaan Muslim hidup di negara-negara yang sama yang mungkin saja tidak berlambat-lambat dalam menjawab seruan jihad, dan tindakan ini tak dapat disangkal telah membawa kepada situasi yang sekarang meledak di hadapan mereka baik di rumah maupun luar negeri.

Penolakan mutlak pemerintah untuk melihat gambaran yang lebih besar dan untuk mengambil setiap tindakan perbaikan telah secara gamblang terlihat olehku di dunia kecilku.

Aku telah diperbolehkan untuk mengakses sejumlah laporan berita dan kabar Twitter berkaitan dengan situasiku, dan satu-satunya yang kuperhatikan adalah bahwa yang telah dilakukan pemerintah Inggris dalam kasusku hanyalah berkomentar tak berguna terhadap rilisan video-videoku.

“Kami memperhatikan rilisan video lain dan sedang mempelajari isinya,” kata seorang juru bicara Kantor Luar Negeri. Luar biasa. Kerja yang bagus. Keluarga dan teman-teman telah melakukan jauh lebih banyak untuk orang Inggris lainnya dan diriku yang ditahan di sini. Aku bahkan mengetahui sebuah kampanye online yang diluncurkan oleh sebagian teman-teman lamaku untuk mencoba menyampaikan kisahku di hadapan pemerintah. Terima kasih teman, aku berharap hal tersebut memiliki sedikit efek tapi sungguh, meminta tolong pada pemerintah ketika merekalah yang membuat aturan sejak awal terbukti tidak membuahkan hasil.

Karena dalam kasusku, pemerintah Inggris sangat senang untuk menonton seorang lelaki 81 tahun dari atas ranjang rumah sakit membuat sebuah film meminta pembebasanku, lalu meninggal karena tidak ingin melihat putra terkecilnya dieksekusi. Ia adalah ayahku. Mereka baik-baik saja dengan seorang ibu tiga anak membuat video meminta secara personal kepada Daulah Islam untuk “memulai kembali hubungan langsung” tanpa mereka ikut campur. Ia adalah saudara perempuanku. Dan mereka baik-baik saja dengan seorang wanita yang melakukan banyak wawancara dengan media mencoba menggalang perhatian terhadap situasi sedangkan mereka tidak berbuat sesuatupun. Ia adalah tunanganku, yang kuharapkan namun telah lama melupakanku dan berpaling.

Untuk mereka aku juga mengucapkan terima kasih, terima kasih banyak untuk usaha tanpa kenal lelah kalian. Tetapi biarlah ini terjadi. Biarlah seperti ini dan lanjutkan hidupmu, kalian semua. Apa yang dapat tersisa dari sebuah keluarga, terpukul dan lelah secara emosional setelah dua tahun pencarian, sesuai dugaan mereka harus melakukan sendiri sedangkan pemerintah, penuh dengan pejabat-pejabat cerdas, pemikir, dan lelaki berjas, duduk diam dan tidak melakukan apapun?

Dengan melakukan hal itu Cameron dan teman-temannya telah menarikku ke dalam Pabrik Kemarahan atas penderitaan yang harus ditahan oleh keluargaku atas ulah mereka. Ayahku sedikit membaik tetapi dia tidak seburuk itu ketika aku melihatnya terakhir, dan aku menganggap kurangnya dukungan politik kepada keluargaku, dan oleh karena itu pemerintah, ikut bertanggung jawab atas kematian ayahku.

Oh ya, jangan menyalah artikan ini seperti ucapan “malangnya aku.” Aku benci mengomentari diriku sendiri dan hanya menggunakan diri sendiri sebagai contoh.

Jika kau tidak sesuai masuk ke slot rapi yang dibuatkan pemerintah untukmu, maka kau telah jatuh ke jaring masyarakat biasa dan akan mendapati namamu dalam sebuah daftar atau dengan tenang diabaikan jika situasi menuntutnya. Dan ini tidak hanya politisi. Media juga sayangnya bisa sangat acuh tak acuh dalam pendekatannya. Ini masuk akal jika kau ingat bahwa mayoritas media cetak sekarang juga sayap kanan (di Inggris, the Telegraph, Times, Daily Mail, Sunday Times, dan The Sun semuanya berperang untuk Konservatif) dan sehingga semuanya disuapi dari sistem yang sama. Sangat sedikit laporan yang melihat ke gambaran yang lebih besar atau mengajukan pertanyaan seperti, “Haruskah pemerintah membantu lebih banyak?” Atau, “Dapatkah kita mencegahnya terjadi lagi?” Atau bahkan, “Apa yang bisa dilakukan untuk membantu keluarga-keluarga dalam situasi seperti ini?”

Akhir-akhir ini, dan tetap dengan situasiku sebagai contoh, mereka hanya melaporkan bahwa aku telah membuat video lain dan tampaknya hanya melakukan usaha kecil untuk menelusuri lebih dalam.

“John Cantlie, 43, memainkan peran sebagai wartawan TV di sebuah video jalan-jalan di Mosul yang tampaknya menjadi usaha bagi militan untuk menunjukkan bahwa kehidupan ‘berjalan seperti biasa’ di kota yang dikuasai ISIS di Iraq utara,” lapor Mashable pada 3 Januari.

“Bermaksud untuk menunjukkan bahwa kehidupan berjalan normal di kota Mosul yang dikontrol Jihadi, video ini diproduksi dengan gaya kisah perjalanan televisi mirip dengan yang digunakan dalam program acara liburan,” lapor The Telegraph pada 3 Januari.

“Mr Cantlie berkata bahwa dia telah menerima ‘sejak lama’ bahwa nasibnya ‘sangat mungkin’ sama dengan tawanan-tawanan lainnya,” kata the Express pada 4 Januari.

Dalam banyak laporan ada sedikit komentar atau analisis, hanya “Cantlie membuat film lain dan berbicara mengenai ini dan itu.” Luar biasa, media berpikir situasiku layak untuk dikomentari jika itu membuat orang-orang berpikir melebihi yang tampak tetapi yang pasti poin dari jurnalisme –dan ada beberapa jurnalis yang sangat bagus di luar sana– adalah selalu untuk menembus sedikit lebih dalam dari apa yang nampak di permukaan. Ancaman kematianku selalu disebut-sebut dalam artikel berita dan aku telah membaca hal yang sama berulang kali hingga aku curiga media tidak sabar menunggu eksekusiku. Aku yakin ini akan menjadi hari yang tak terlupakan bagi mereka ketika kepalaku dipotong.

Salah satu situs internet, Newsday 24/7, begitu ingin aku mati, mereka menerbitkan sebuah cerita tentangnya dalam bahasa Inggris yang buruk pada 13 Desember. “Sumber dari dalam Islamic State mengatakan kepada Newsday 24/7 bahwa jurnalis Inggris, John Cantlie telah dieksekusi oleh kelompok tersebut,” kata mereka tanpa, dengan jelas, melakukan verifikasi terhadap pernyataan yang sangat serius tersebut. Luar biasa. Aku menyarankan keluargaku untuk mencari hacker untuk menutup website tersebut karena penderitaan mereka diakibatkan laporan seperti itu.

Publik tampaknya mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan cerdas dan mencoba melihat gambaran yang lebih besar. Perubahan wajah media dalam 10 tahun terakhir berarti publik tidak harus bergantung kepada media yang sama yang telah membuat mereka lelah selama bertahun-tahun, dan membuat media mereka sendiri, yang seringkali lebih cepat, selalu lebih menarik, dan terkadang lebih dapat diandalkan. Setiap hari masyarakat semakin terbuka terhadap dunia yang berkembang dan segala sesuatu yang terjadi di dalamnya dan kurang terpengaruh oleh campur tangan pemerintah dalam apa yang mereka baca. Dalam banyak cara, media sosial telah menjadi alat yang lebih hebat daripada media “nyata”, asalkan Anda tidak terhipnotis oleh tren menipu bahwa media sosial terkadang salah dalam menyampaikan.

Akhir-akhir ini, publiklah yang menjadi pengumpul berita dan para jurnalis membaca apa yang mereka katakan. “Apakah ISIS bermain game kucing dan tikus dengan #JohnCantlie?” tanya seorang tweeter para 3 Januari. “Bermain dan mengejek tawanan hingga mereka membunuhnya? Aku harap tidak namun khawatir iya.”

“Akun twitter ISIS tidak bisa mendapatkan cukup #JohnCantlie,” ucap tweeter lain. “Lupa bahwa dia adalah tawanan dengan pemotong leher tergantung di atas kepalanya.” Dan komentar favoritku, juga di tweet tanggal 3 Januari, “Menggelikan bagaimana seorang tahanan Islamic State terlihat lebih gembira dan lebih bebas daripada sebagian besar dari kita yang hidup di Barat!”

Menarik, hal-hal yang merangsang pikiran, masyarakat mengajukan pertanyaan sulit dan menyuarakan gagasan yang tidak dapat ditemui di media mainstream. Kebenaran dari masalah tersebut, bagi siapapun yang tertarik, adalah bahwa aku menentukan sendiri sebagian besar dari situasiku. Pada bulan September lalu aku berkata bahwa aku akan berbicara melawan pemerintah kita yang pendusta selama mujahidin mengizinkanku untuk hidup, dan sekarang di bulan Februari tetap itulah yang terjadi.

Jika mujahidin memintaku membuat video atau menulis artikel yang dengan cara tertentu ditujukan kepada sistem politik yang sama sekali tidak memperhatikan rakyatnya, walaupun tanpa henti mengatakan sebaliknya, maka aku akan menerima tawaran tersebut. Aku telah melihat puluhan video Cameron mengatakan betapa dia menghargai hidup masyarakat Inggis, namun perbuatan terkadang lebih terdengar daripada perkataan dan hal tersebut bukan yang kusaksikan terkait keluarga rakyat Inggris yang ditahan di Suriah.

Ini hal yang aneh, untuk mengungkapkan kemarahanmu yang sebenarnya kepada pemerintahmu. Bagiku ini sebuah sensasi baru, politik tidak pernah menyentuhku sebelumnya karena aku hidup bahagia di bawah radar. Aku tidak pernah ikut pemilu karena kau menyadari bahwa semua politisi, secara alami, adalah pembohong yang selalu mengatakan apa saja yang perlu dikatakan untuk meraih kekuasaan dan kemudian melakukan persis sama dengan pemimpin sebelumnya kecuali menggunakan warna dasi berbeda.

Sekarang, setelah merasakan secara langsung politisi yang dingin dan bagaimana kejamnya mereka setelah terpilih, aku menyadari betapa aku telah benar sejak awal. (2)

Walaupun menjadi tahanan, aku diperlakukan dengan hormat dan ramah, yang tidak pernah aku lihat dari pemerintahku sendiri, bisakah aku dengan rela hati kembali dan hidup di negara yang tidak mengakui warga Inggris lainnya, semua keluarganya, dan diriku sembari terus menghina?

Aku pikir tidak.

Catatan kaki :

[1] Campuran berbagai macam hal, seringkali tak terduga, berbahaya atau mengejutkan, pent.

(2) Catatan Editor: Keburukan terbesar dalam pemilu dalam sistem demokrasi bukan karena janji-janji palsu dari politisi bermuka dua, melainkan karena hal tersebut mengharuskan melekatkan hak dan sifat Allah –termasuk hak membuat hukum– kepada manusia. Oleh karenanya, ini adalah bentuk syirik akbar. “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih” (Asy-Syuuraa’: 21).

WAWANCARA BERSAMA ABU UMAR AL-BALJIKI

DABIQ 7 - WAWANCARA

WAWANCARA BERSAMA ABU UMAR AL-BALJIKI

Dabiq belum lama ini mendapat kesempatan untuk mewawancarai Abu ‘Umar al-Baljiki (Abdelhamid Abaaoud) – seorang mujahid yang dikejar-kejar oleh agen intelijen Barat karena jihadnya di Belgia. Setelah kedatangannya di Syam, kami mengucapkan salam kepadanya dan menyampaikan kepadanya pertanyaan-pertanyaan berikut ini.

DĀBIQ: Mengapa engkau pergi ke Belgia?

ABŪ ‘UMAR: Alhamdulillah, Allah memilihku, Abu ZubaIr al-Baljiki (Khalid) dan Abu Khalid al-Baljiki (Sufyan) untuk pergi ke Eropa untuk menteror salibis yang memerangi kaum Muslimin. Seperti yang kalian ketahui, Belgia adalah salah satu anggota koalisi salibis yang menyerang kaum Muslimin di Iraq dan Syam.

DĀBIQ: Apakah ada ikhwan lain bersama kalian?

ABŪ ‘UMAR: Tidak, kami hanya bertiga. Nama kami ada di semua berita sekarang.

DĀBIQ: Apa ada kesulitan yang kalian hadapi untuk pergi ke Belgia?

ABŪ ‘UMAR: Kami menemui sejumlah ujian selama perjalanan. Kami menghabiskan berbulan-bulan untuk menemukan jalan ke Eropa, dan dengan kekuatan dari Allah, kami akhirnya berhasil sampai ke Belgia. Kemudian kami bisa mendapatkan senjata dan menyiapkan rumah perlindungan sementara kami merencanakan untuk melakukan operasi terhadap salibis. Semua ini dimudahkan kepada kami oleh Allah. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari-Nya.

DĀBIQ: Bagaimana media kafir mendapatkan foto kalian sebagai pasukan dalam jihad?

ABŪ ‘UMAR: Seorang ikhwan mengambil rekaman video beberapa di antara kami sebelum suatu pertempuran, tetapi kameranya hilang kemudian dijual oleh seorang murtad ke jurnalis Barat. Aku segera melihat gambarku di semua media, tetapi alhamdulillah, orang-orang kafir dibutakan oleh Allah. Aku bahkan sempat dihentikan oleh seorang petugas untuk memeriksaku dan membandingkanku dengan gambar tersebut, namun dia membiarkanku pergi, seakan-akan dia tidak melihat kemiripan! Ini tidak lain adalah karunia dari Allah.

DĀBIQ: Apa yang terjadi pada hari pertempuran dengan otoritas Belgia?

ABŪ ‘UMAR: Abu Zubayr dan Abu Khalid rahimahumullah bersama-sama di rumah perlindungan dan siap dengan senjata dan peledak mereka. Orang-orang kafir menyerbu lokasi tersebut dengan lebih dari 150 pasukan dari pasukan unit khusus Prancis dan Belgia. Setelah baku tembak yang berlangsung 10 menit, kedua saudara kita dikaruniai kesyahidan, suatu yang telah mereka inginkan sejak lama. Aku memohon kepada Allah untuk menerima keduanya.

DĀBIQ: Jika engkau tidak bersama mereka saat penyerbuan berlangsung, mengapa engkau bisa menjadi tersangka?

ABŪ ‘UMAR: Intelijen tahu tentangku sebelumnya karena aku pernah ditahan oleh mereka. Setelah serangan di rumah perlindungan, mereka menemukan bahwa aku pernah bersama-sama kedua ikhwan tersebut dan bahwa kami pernah merencanakan operasi bersama-sama. Maka mereka mengumpulkan agen intelijen dari seluruh dunia –dari Eropa dan Amerika– untuk menangkapku. Mereka menahan Muslim di Yunani, Spanyol, Prancis, dan Belgia untuk menangkapku. Subhanallah, semua yang ditahan tersebut tiada seorang pun yang berhubungan dengan rencana kami! Semoga Allah membebaskan semua Muslim dari penjara salibis itu.

DĀBIQ: Ceritakan tentang perjalananmu ke Syam.

ABŪ ‘UMAR: Alhamdulillah, Allah membutakan mata mereka dan aku berhasil keluar dan datang ke Syam walaupun sedang diburu oleh agen intelijen yang sangat banyak. Semua ini membuktikan bahwa seorang Muslim tidak boleh takut pada gambaran intelijen salibis yang dilebih-lebihkan. Namaku dan fotoku ada di semua berita tetapi aku bisa tinggal di negeri mereka, merencanakan operasi terhadap mereka, dan keluar dengan selamat jika dibutuhkan. Aku memohon kepada Allah untuk menerima amal baik syuhada’ yang meneror salibis Amerika, Prancis, Kanada, Australia, Jerman, dan Belgia.

DĀBIQ: Setelah mewancarai Abu ‘Umar, kami menghadirkan wasiat akhir dari Abu Khalid dan Abu ZubaIr rahimahumullah…

WASIAT:

Dengan menyebut Nama Allah; semoga shalawat dan salam atas Rasulullah. Amma ba’du…

Wahai kaum Muslimin, wahai kalian yang mengaku sebagai umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, tidakkah kalian melihat agama-agama kekafiran berkumpul menghadapi kaum Muslimin sebagaimana binatang buas berkumpul untuk menyantap buruannya?

Tidakkah kalian melihat Al Qur’an diinjak-injak, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dihina, dan ibu kita, ‘Aisyah, dilecehkan?

Anak-anak kita telah dikoyak dengan pengeboman di mana-mana. Kesucian saudarisaudari kita telah dilanggar. Tanah-tanah dan harta kita telah dicuri. Tapi tetap saja kalian tidak melakukan apa pun!

Bagaimana kalian hidup bersama penjahat-penjahat itu, musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya, sementara mereka memerangi Islam dan kaum Muslimin?

Allah berfirman, “(YAITU) ORANG-ORANG YANG MENGAMBIL ORANG-ORANG KAFIR MENJADI TEMAN-TEMAN PENOLONG DENGAN MENINGGALKAN ORANG-ORANG MUKMIN. APAKAH MEREKA MENCARI KEKUATAN DI SISI ORANG KAFIR ITU? MAKA SESUNGGUHNYA SEMUA KEKUATAN KEPUNYAAN ALLAH.” (AN-NISĀ’: 139).

Ketahuilah bahwa orang-orang kafir tidak akan ridha kepada kalian.

Allah berfirman, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (Al-Baqarah: 120).

Dia juga berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi.” (Ali ‘Imran: 149).

Keluarlah untuk berjihad dan membela Islam di manapun kalian berada.

Allah berfirman, “Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Rabb kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!”.“ (An-Nisaa’: 75).

Di mana rasa cemburu kalian terhadap agama kalian? Kalian akan diadili oleh Allah atas diamnya kalian.

Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit.” (At-Taubah: 38).

Berhati-hatilah dari mereka yang diperingatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: ulama’, imam, dan da’i jahat yang menyesatkan Ummah dan menukar kebenaran dengan kesesatan. Mereka merusak Islam untuk menidurkan kaum Muslimin. Mereka hanya melayani pemerintah-pemerintah murtad, budak-budak Yahudi dan Nashrani.

Akhirnya, ingatlah akan firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikanNya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (Al-Ma’idah: 54).

TELADAN BAIK DARI ABU BASHIR AL-IFRIQI

DABIQ 7 - SPESIAL

TELADAN BAIK DARI ABU BASHIR AL-IFRIQI

Segala puji hanya bagi Allah yang telah menjadikan untuk zaman kesengsaraan kita seorang laki-laki dengan rasa cemburu (ghirah) untuk agama Allah. Mereka meninggalkan dunia untuk akhirat dengan keyakinan akan ganjaran yang telah Allah siapkan bagi mereka yang membunuh musuh-musuh-Nya. Suatu keharusan bagi seseorang yang menapaki jalan Islam kemudian jihad untuk mengetahui bahwa jalan ini sangat panjang dan bahwa dia membutuhkan perbekalan untuk meneguhkannya dan memupuk keyakinannya terhadap jalan yang akan berujung di Surga, insyaa’Allah. Perbekalan ini adalah dengan istiqomah dalam beribadah kepada Allah, membaca kitab-Nya, shalat sunnah, sedekah, dzikrullah, dan mencari ilmu tentang Al Qur’an dan As Sunnah. Sifat-sifat tersebut ada pada shabahat dari Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana yang salah seorang Salaf, al-Auza’i –yang wafat saat ribath di dekat Beirut di tahun 150 H– katakan, “Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berada di atas lima perkara: berpegang kepada Jama’ah, mengikuti Sunnah, mendatangi masjid, membaca Al Qur’an, dan berjihad fi sabilillah” (Syarh Ushul I’tiqad Ahlis-Sunnah).

Dan sifat-sifat tersebut juga ada pada saudara kita Abu Bashir (Amedy Coulibaly – rahimahullah), seorang ikhwan yang dekat dengannya yang belum lama ini berhijrah ke Syam menceritakan kepada kita sebagaimana berikut ini…

AMAR MA'RUF NAHI MUNGKARNYA

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali ‘Imran: 104).

Di rumahnya, di antara keluarganya, dengan sesama Muslim, di jalanan, jika dia melihat sebuah kemungkaran, dia tidak akan membiarkannya, sebaliknya –dengan bijaksana dan kerendahan hati– dia akan memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah keburukan.

DAKWAHNYA

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?”.“ (Fussilat: 33).

Dia mengajak banyak orang kepada Allah, terutama saat dia di penjara. Dia bertemu seseorang di penjara yang aslinya Muslim tetapi membenci agama dan segala sesuatu tentangnya, sampai-sampai orang ini melarang istrinya untuk berhijab dan melarang saudaranya pulang dari belajar bahasa Arab. Di penjara, lelaki ini bertemu Abu Bashir dan bersamanya selama 2-3 bulan. Setelah itu, dia melaksanakan semua shalat pada waktunya, qiyamul lail (tahajud) setiap malam, dan membaca Al Qur’an setiap hari. Dia memerintahkan istrinya berhijab dan menjual rumah yang telah dibelinya dengan pinjaman yang sangat tinggi sehingga terhindar dari yang haram. Kisah ini adalah salah satu dari lusinan kisah-kisah sesungguhnya. Mereka yang pernah bertemu Abu Bashir akan menangis atas kesyahidannya. Dia juga mengajak orang yang dia percaya untuk melaksanakan perintah Allah untuk berbai’at kepada Amirul-Mu’minin Abu Bakar al-Baghdadi.

DZIKIRNYA

Yahya ‘alaihis salam berkata, “Dan aku memerintahkan kalian untuk berzikir kepada Allah Allah karena permisalan orang yang berzikir seperti orang yang dikejar oleh musuh dengan cepat hingga ketika ia mendatangi sebuah benteng yang kokoh ia berlindung di dalamnya dari kejaran musuh. Demikian pula seorang hamba, ia tidak dapat melindungi dirinya dari setan kecuali dengan berzikir kepada Allah.” (Shahih: riwayat at-Tirmidzi dan lainnya).

Dia tidak meninggalkan dzikir pagi dan petang, baik di dalam mobil, di rumah, atau di manapun. Dia banyak membaca Al Qur’an. Dzikir terbaik adalah membaca firman-Nya subhanah –ayat-ayat yang Dia wahyukan kepada Nabi-Nya shallalllahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana hadits, “Engkau tidak kembali kepada Allah dengan sesuatu yang lebih baik daripada apa yang Dia tinggalkan (untuk kalian).” (Shahih: diriwayatkan al-Hakim).

MENGIKUTI DALIL

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).” (Al-A’raaf: 3).

Ikhwan kita ini tidak akan menerima masalah apa pun tanpa dalil. Dia akan berjuang untuk memeriksa setiap masalah tidak peduli siapa yang mengatakannya. Jika dalil sampai kepadanya, dia akan segera tunduk kepada aturan Allah sesuai dengan ayat, “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (An-Nuur: 51).

Betapa banyak mereka yang taqlid buta kepada ulama’ jahat, imam sesat, dan da’I (penyeru) kepada pintu-pintu neraka! Mereka mendahulukan pendapat “ulama” tersebut atas perkataan Allah dan perkataan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun kebenaran telah jelas berkaitan dengan tauhid, dan wala’ wal bara’ – millah Ibrahim ‘alaihis salam. Kebenaran juga jelas berkaitan dengan hijrah dari Darul Kufri ke Darul Islam. Kebenaran juga jelas mengenai bai’at kepada Khalifah Abu Bakar al-Baghdadi hafizhahullah dan jihad melawan Yahudi, Nashrani, Rafidhah, dan pengusung demokrasi. Tidak ada yang mendahulukan perkataan seorang ulama atas perintah dari Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam selain mereka yang dijelaskan dalam firman Allah, “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahibrahib mereka sebagai tuhan selain Allah.” (At-Taubah: 31).

KEHAUSAN MENUNTUT ILMU

Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan, Dia akan memberikan pemahaman dalam urusan agamanya.” (Al-Bukhari dan Muslim).

Dia selalu menanyakan banyak persoalan berkaitan hukum-hukum fiqh dan meneliti permasalahan tersebut sendiri. Allah memberinya pemahaman yang dengannya dia mampu membandingkan beberapa permasalahan dan menyimpulkan hokum-hukum berbeda yang disebabkan suatu aturan. Abu Bashir sangat pandai dalam perkara ini.

PUASANYA

Dia berpuasa Senin dan Kamis sesuai hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurayrah radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Amalan diangkat kepada Allah pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka jika amalanku diangkat sedangkan aku sedang berpuasa.” (Diriwayatkan at-Tirmidzi).

SHALAT MALAMNYA

Dia shalat qiyamul lail (tahajud) sesuai firman Allah, “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap.” (As-Sajdah: 16).

SIKAP KERASNYA KEPADA ORANG KAFIR DAN KELEMBUTANNYA KEPADA ORANG BERIMAN

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (Al-Fath: 29).

Setiap orang yang mengenalnya mencintainya karena sifatnya yang baik dan kelembutannya kepada orang-orang yang beriman. Jika dia merasa telah berbuat salah kepada seseorang, dia akan meminta maaf. Dia akan mengorbankan haknya jika dia memiliki keragu-raguan kecil berkaitan dengan harta seorang Muslim. Tidak ada yang meragukan keberaniannya. Dia adalah singa; perbuatannya memberi kesaksian atasnya. Dia menunjukkan kekuatannya kepada orang-orang kafir.

KEMURAHAN HATINYA

“BERANGKATLAH KAMU BAIK DALAM KEADAAN MERASA RINGAN MAUPUN BERAT, DAN BERJIHADLAH KAMU DENGAN HARTA DAN DIRIMU DI JALAN ALLAH. YANG DEMIKIAN ITU ADALAH LEBIH BAIK BAGIMU, JIKA KAMU MENGETAHUI.” (AT-TAUBAH: 41) .

Dia banyak bersedekah kepada orang-orang miskin, akhwat (istri-istri mujahidin yang dipenjara), dan mujahidin. Sebagai contohnya ketika dia melihat kondisi finansial yang sulit dari dua mujahid Cherif dan Said Kouachi, dia memberinya beberapa ribu euro sehingga mereka dapat membeli apa yang mereka perlukan untuk operasi, setelah bersama-sama mengkoordinasi waktu untuk operasi berbeda mereka. Dia banyak memberikan perhatian untuk menolong akhwat (istri-istri mujahidin yang dipenjara). Dia tidak bisa melihat masjid-masjid tertutup sedangkan akhwat tersebut tidak memiliki rumah. Dia akan menawarkan uang dan rumahnya sebagai solusi.

RASA CEMBURUNYA KEPADA AGAMA

Sa’d bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Jika aku melihat seorang laki-laki bersama istriku, aku akan menebasnya dengan pedangku.” Hal ini sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka dia berkata, “Apakah kalian heran dengan rasa cemburu Sa’ad? Demi Allah, aku lebih cemburu daripadanya dan Allah lebih cemburu daripadaku.” (Al-Bukhari dan Muslim).

Abu Bashir menjadi sangat sedih setiap kali dia melihat agama Islam atau kaum Muslim dilanggar. Dia ingin untuk merubah keburukan tersebut. Semoga Allah menerimanya di antara para syuhada’ dan memberikan rahmat atasnya.

KEPUNAHAN ZONA ABU-ABU

DABIQ 7 – FEATURE

KEPUNAHAN ZONA ABU-ABU

ZONA ABU-ABU HAMPIR PUNAH

Zona abu-abu sangat terancam punah, bahkan berada di ambang kepunahan. Kelangkaannya dimulai ketika operasi 11 September yang diberkahi, karena operasi tersebut mewujudkan dua kubu untuk dipilih manusia, satu kubu adalah Islam – tanpa ada tubuh Khilafah pada saat itu – dan satu kubu kekafiran – koalisi salibis. Atau ketika Syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah berkata, “Dunia sekarang terbagi menjadi dua kubu. Bush telah berkata benar ketika dia berkata, ‘Antara kalian bersama kami atau kalian bersama teroris.’ Artinya, antara kalian bersama salibis atau kalian bersama Islam” (Wawancara – 4 Sya’ban 1422 H).(1)

Operasi tersebut dengan cepat menunjukkan gerakan “Islami” berbeda-beda yang menyimpang, “ulama” istana, dan “du’at” sesat, belum lagi thawaghit (2) murtad, ketika mereka semua bergegas melayani pasukan salibis yang dipimpin oleh Bush dalam peperangan melawan Islam. Dan kemudian, zona abu-abu mulai melayu...

Namun semangat berapi-api dari ummat Muslim yang terpecah mulai mendingin karena kejadian samar-samar yang dikenal sebagai “Musim Semi Arab” dan juga ketiadaan badan yang mewakili Islam (Khilafah). Kaum Muslimin melihat bahwa gerakan-gerakan, ulama, du’at, sekte-sekte yang disebutkan sebelumnya, dan bahkan thawaghit (3) murtad ikut berperan dalam “mendukung” penyebab tertekannya kaum Muslimin di Syam. Maka kebingungan menyebar, dan layunya zona abu-abu melambat atau hampir berhenti. Sekali lagi, seruan sesat ke pintu-pintu Jahannam –agama thawaghit– dijawab oleh banyak orang-orang bodoh.

Kemudian datanglah pengumuman ekspansi Daulah Islam ke Syam yang diikuti pengumuman Khilafah setelahnya… membawa zona abu-abu ke ambang kepunahan permanen… dengan menghidupkan kembali tubuh besar umat Islam dan karena itu tidak ada kaum Muslimin yang memiliki alasan untuk berdiri sendiri dari Khilafah yang menaungi mereka dan melaksakan jihad untuk kepentingan mereka melawan kekufuran. Sekarang, sikap “netral” atau “independen” akan membawa malapetaka baginya 4 , karena ia termasuk dosa besar, yang akan menyebabkan dia untuk melakukan dosa yang lebih besar hingga dia bisa jadi melakukan kekufuran demi kepentingan dosanya, sebagaimana dikatakan para ulama, “Balasan suatu dosa adalah dosa yang lain,” dan “Dosa adalah gerbang kekufuran” (Al-Jawab al-Kafi – Ibnul-Qayim).

Kehancuran zona abu-abu sebanding dengan pembagian yang diakibatkan risalah Islam ketika ia pertama kali disampaikan oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana para malaikat berkata ketika mereka mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedangkan beliau sedang tertidur, “Muhammad adalah pececah belah” dan dalam riwayat lain “Muhammad memecah belah di antara manusia” (Shahih al-Bukhari).

Karena alasan ini, orang-orang musyrik memperingatkan orang-orang Arab tentang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan mengatakan, “Kalian telah datang ke negeri kami. Permasalah lelaki ini di antara kami sudah sedemikian besar. Dia telah memecah belah kesatuan kami dan mencerai-beraikan kekuatan kami. Perkataannya seperti tukang sihir. Dia memisahkan seseorang dari bapaknya, seseorang dari saudaranya, seseorang dari istrinya. Kami khawatirkan atas kamu dan orang-orangmu apa yang telah dia bawa kepada kami. Oleh karena itu jangan berbicara dengannya dan jangan pula mendengarkan satu berkata dari kata pun darinya" (Ibnu Hisyam). Mereka juga berkata, “Dia memecah belah antara seseorang dengan agamanya… seseorang dengan kabilahnya” (Ibnu Hisyam). dan “Dia memutuskan hubungan di antara kami” (Ibnu Hisyam).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diutus dengan al-Furqan (Al-Qur’an, pembeda antara kebenaran dan kesesatan) yang dengannya beliau membagi manusia menjadi dua golongan – Muslim versus musyrikin – yang kemudian akan berperang satu sama lain pada hari al-Furqan (Perang Badr), di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyembelih musuh-musuh beliau dengan pedang beliau. Dan ketika sebuah zona abu-abu terbentuk dan sebuah “masjid” didirikan untuknya, Allah ta’ala menurunkan kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam al-Fadihah (Yang Menyingkap, Surat at-Taubah) yang dengannya mereka yang abu-abu tersingkap sekaligus “masjid” mereka berbahaya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pergi untuk menghancurkan “masjid” sekaligus untuk menghindarkan umat dari gerakan abu-abu yang berbahaya, sebab zona abu-abu adalah tempat persembunyian orang-orang munafik, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya' (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka mengingat Allah kecuali sedikit sekali. Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir), maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya” (An-Nisaa’: 142-143).

Dan pedang juga diturunkan untuk digunakan kepada orang-orang munafik abu-abu jika mereka terang-terangan menampakkan kemunafikannya. “Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya” (At-Taubah: 73).

“Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar, dalam keadaan terlaknat. Di mana saja mereka dijumpai, mereka ditangkap dan dibunuh dengan sehebat-hebatnya. Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati peubahan pada sunnah Allah” (Al-Ahzab: 60-62).

Oleh karenanya, orang-orang munafik mengubur kepala mereka di pasir, khawatir akan tersingkap… Mereka tetap demikian hingga perang riddah, ketika sebagian besar orang-orang Arab murtad dari Islam. Kemudian orang-orang munafik muncul dan segera bergabung dengan kubu kesesatan, sehingga pedang kepada orang-orang munafik –Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu– mengambil pendiriannya yang terkenal dan memaksa mereka untuk kembali kepada Islam dengan pedangnya. Sekali lagi, orang-orang munafik menyembunyikan diri mereka hingga fitnah menghantam umat, termasuk kematian alFaruq ‘Umar, Utsman, dan ‘Ali radhiyallahu ‘anhum… fitnah yang melahirkan sekte-sekte dan kelompok-kelompok sesat, yang kemudian menyediakan topeng bagi orang-orang munafik yang susah-payah mencari zona abu-abu lain untuk beroperasi. Dan kemudian, orang-orang munafik mulai berani berbicara terbuka, sebagaimana Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya, orang-orang munafik hari ini lebih buruk daripada yang ada di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; mereka dulu menyembunyikan kemunafikan mereka, sedangkan hari ini, mereka terang-terangan menyatakannya” (Al-Bukhari).

Dan sebagaimana risalah Islam yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membagi jahiliyah dahulu menjadi dua kubu, Daulah Islam –dengan ekspansinya ke Syam– membagi faksi-faksi berbeda di Syam termasuk mereka yang memiliki tujuan-tujuan jahiliyah dan ‘ummi (buta) (6). Mantan Menteri Perang Daulah Islam Abu Hamzah al-Muhajir rahimahullah ditanya, “Sebagian orang menuduhmu menjadi penyebab misi Shahawat, bagaimana untuk mengoreksi klaim ini?”

Beliau menjawab: “Kami sebelumnya telah menegaskan bahwa penyebab sesungguhnya dari misi Shahawat adalah Daulah Islam. Inilah yang mulai tampak pada saat itu, karena setelah pengumuman Daulah, misi Islami berbenturan dengan misi nasionalosme yang diadopsi oleh hampir semua corak warna di Iraq, dan inilah yang telah dinyatakan secara terbuka lagi terang-terangan oleh semua Jabhah Ad-Dhirar (Front Perusak). Tidak aneh jika semua dewan-dewan berbeda tersebut dibentuk setelah pengumuman Daulah Islam karena mereka sebenarnya dibentuk hanya untuk melancarkan peperangan terhadapnya, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.” “Sesungguhnya, dendam dan kedengkian para pembawa bendera Alu Salul (Sururiyah) terbakar setelah kehilangan potongan kue mereka, setelah harapan mereka akan hukum nasionalisme dihancurkan, dan setelah mereka menyadari kami akan menumpahkan darah kami dan mengoyak jasad-jasad kami dengan murah sehingga tidak mengizinkan buah dari jihad untuk terbuang sia-sia dan sehingga Iraq tidak akan diatur lagi kecuali dengan Syari’at ar-Rahman. Dan karena realitas dari musuh-musuh mereka (faksi-faksi Sururi) adalah kebohongan terutama setelah orang-orang jujur di barisan mereka bergabung dengan kami, satu-satunya pilihan mereka adalah untuk berdiri bersama penjajah melawan Daulah Islam karena misi nasionalisme –yang mereka berdebat, mengumpulkan bantuan, dan bersatu untuknya– adalah misi yang sama dengan penjajah. Satu-satunya jalan adalah dengan menjadi agen mereka, dan inilah yang telah mereka tawarkan sebelumnya tanpa imbalan apaapa dari penjajah kecuali beberapa dirham dan rasa aman, yang mulai dicabut oleh penjajah dan sekutu-sekutu mereka” (Wawancara Perdana).

Faksi-faksi berbeda di Syam –sebagaimana yang terjadi di Iraq– mulai berpisah menjadi dua kubu: Daulah Islam versus Shahawat yang didukung oleh pasukan salibis, rezim murtad, dan gerakan-gerakan menyimpang… dan mereka yang mencoba mempertahankan zona abu-abu untuk kepentingan kelompok yang berbeda-beda mendapati zona abu-abu memudar dengan cepat di hadapan mereka, ketika prajurit-prajurit mereka yang jujur meninggalkan mereka dan bergabung dengan Daulah Islam sementara prajurit-prajurit mereka yang berpenyakit hatinya berbondong-bondong bergabung dengan faksi-faksi Shahawat. Pembagian ini cepat tersebar ke negeri-negeri berbeda, ketika mujahidin mujahidin yang jujur melihat para pemimpinnya dahulu khawatir kehilangan kekuasan dan pengaruhnya bersegera menghidupkan kembali zona abu-abu dengan sia-sia, walaupun hal tersebut mengharuskannya mendukung keinginan orang-orang sekuler, nasionalis, dan kelompokkelompok sesat untuk memerangi Daulah Islam untuk kepentingan salibis dan rezim murtad Arab. Zona abu-abu –bagi para pemimpin tersebut– adalah tempat untuk meneruskan keberadaan mereka sebagai kelompok independen sehingga mempertahankan kekuasaan mereka sendiri. Penegakan Khilafah akhirnya mendorong mujahidin yang jujur untuk meninggalkan para pemimpin mereka dahulu, yang terlalu sibuk mengubur diri mereka hidup-hidup dalam tumpukan sampah sejarah.

Kebangkitan Khilafah memberi setiap individu Muslim entitas yang konkrit dan jelas untuk memuaskan keinginan alami mereka untuk bergabung dengan sesuatu yang lebih besar. Kepuasan akan keinginan ini menghidupkan kembali semangat terpendam di dalam hati-hati kaum Muslimin dan ketika entitas yang memanyungi mereka diancam oleh salibis, serangan-serangan segera dilancarkan oleh kaum Muslimin yang bersemangat di negara-negara kafir dengan cara yang unik berbeda dari semua serangan sebelumnya. Bertahun-tahun, organisasi-organisasi jihad yang berbeda telah menyeru pelaksanaan serangan individu terhadap tanah air salibis, namun seruan mereka hanya mendapat respon sedikit.

Setelah kebangkitan Khilafah, banyak serangan dilancarkan dalam selang waktu hanya beberapa bulan. Ini adalah sesuatu yang harus dipikirkan mendalam oleh para salibis… Eropa telah dipukul dengan serangan yang membunuh lebih banyak orang kafir daripada yang terbunuh di serangan Paris belum lama ini. Operasi Madrid tahun 2004 dan operasi London tahun 2005 secara bersama-sama membunuh lebih dari 200 salibis dan melukai lebih dari 2000 lainnya. Eropa juga menyaksikan sebuah serangan terhadap “kebebasan berbicara” ketika seorang mujahid membunuh Theo Van Gogh karena menghina Allah ta’ala, ayat-ayat-Nya, agamaNya, dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu mengapa reaksi dari serangan-serangan belum lama ini jauh lebih besar daripada serangan-serangan sebelumnya?

Ini adalah atmosfer internasional dari teror yang dihasilkan dengan keberadaan Khilafah Islam… Ini adalah kalimat yang hidup yang terkandung dalam seruan Khilafah. Ketika juru bicara Syaikh Abu Muhammad al-‘Adnani asy-Syami hafizhahullah memberi seruan kepada setiap Muslim di mana pun, memerintahkan mereka untuk melaksanakan serangan terhadap salibis di manapun mereka ditemui, seruan ini dijawab dengan segera, dengan operasi individu yang berbeda dilakukan dalam beberapa jam…

Dan di antara mereka yang menjawab seruan belum lama ini adalah seorang mujahid berani Abu Basir al-Ifriqi (Amedy Coulibaly rahimahullah). Adalah pidato "Sesungguhnya Rabbmu Benar-Benar Mengintai" yang paling memotivasinya. Dia telah berbai'at kepada Khilafah sebelumnya –segera setelah pengumumannya– dan duduk menunggu perintah dari pemimpin-pemimpinnya, sementara tidak pernah berpergian ke Iraq maupun Syam. Yang menginspirasi jiwanya adalah entitas Islam yang hidup dan bernafas, yang mana dia telah berjanji setia kepadanya. Dia bertemu dengan Muslim dan mujahidin di Prancis, mengajak mereka untuk berbai’at dan membela Khilafah, serta membantah keragu-raguan terhadapnya. Dia menyediakan untuk lainnya –termasuk dua mujahid bersaudara, Cherif dan Said Kouachi rahimahumullah– dengan uang dan senjata sehingga mampu memenuhi panggilan jihad di bawah bendera Khilafah.

Dan kemudian, telah tiba saat untuk kejadian lain –diperbesar dengan keberadaan Khilafah pada fase global– untuk membagi dunia lebih jauh dan menghancurkan zona abu-abu di mana pun.

KEWAJIBAN MEMBUNUH PARA PENGHINA RASUL

Salah satu masalah pertama yang disangkal oleh orang-orang munafik yang meninggalkan zona abu-abu dan melarikan diri ke kubu kemurtadan dan kekafiran setelah operasi di Paris adalah kewajiban yang sangat jelas untuk membunuh mereka yang menghina Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak ada khilaf (perbedaan pendapat) di antara Salaf bahwa jika seorang kafir dzimmi menghina Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, perjanjiannya menjadi batal dan dia harus dibunuh. Maka betapa jauh lebih jelas kewajiban untuk membunuh kafir yang tidak terikat perjanjian yang menghina Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dari darul harby!

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dalil-dalil akan batalnya perjanjian dengan dzimmi jika dia menghina Allah, kitab-Nya, agama-Nya, Rasul-Nya, dan kewajiban untuk membunuhnya dan membunuh kaum Muslimin yang melakukan hal yang sama adalah: Al Qur’an, As Sunnah, ijma’ para Shahabat dan Tabi’in, dan qiyas” (Ash-Sharim al-Maslul).

Di antara dalil akan hukum ini adalah firman Allah ta’ala, “Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti” (At-Taubah: 12).

Banyak sekali hadits juga menjadi dalil atas hukum ini, termasuk kisah thaghut Yahudi Ka’ab ibn al-Ashraf. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang bersedia membunuh Ka’ab ibn Ashraf karena dia telah menyakiti Allah dan Rasul-Nya?” Muhammad ibn Maslamah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku bersedia membunuhnya, wahai Rasulullah. Apakah engkau ingin aku membunuhnya?" Beliau menjawab, "Ya" (Al-Bukhari dan Muslim).

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengutus Abdullah bin ‘Atik radhiyallahu ‘anhu dengan sekelompok Anshar untuk membunuh seorang Yahudi bernama Abu Rafi karena dia telah menyakiti Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ibnu ‘Atik berhasil melaksanakan tugas tersebut (Al-Bukhari).

Selama penaklukan Makkah, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan keamanan bagi siapa pun yang memasuki Masjidil Haram (Hasan: Abu Dawud), tetapi beliau memerintahkan untuk membunuh Ibnu Khatal walaupun dia didapati bergelantungan di tirai Ka’bah (Al-Bukhari dan Muslim), karena caciannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (Ibnu Hisyam).

‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa seorang wanita Yahudi mencaci Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan merendahkan beliau. Maka seorang laki-laki mencekik lehernya hingga mati. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menghukumi darahnya (wanita Yahudi) telah ditumbahkan dengan sah (Shahih: Abu Dawud).

Ibnu ‘Abbas juga meriwayatkan bahwa seorang lelaki buta yang memiliki budak perempuan yang darinya dia memiliki dua anak. Dia sering mencaci Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak mau menghentikannya walau dia sudah melarangnya, maka lelaki itu membunuhnya dengan pedang kecil yang ia letakkan di perut budak wanita tadi lalu menindihnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menghukumi darahnya telah ditumpahkan dengan sah (Shahih: Abu Dawud).

Dalil-dalil permasalahan ini sangat banyak dan jelas, akan tetapi sebagian orang-orang murtad, yang meninggalkan zona abu-abu, mengklaim bahwa operasi di Paris bertentangan dengan ajaran Islam! Mereka kemudian mengumpulkan massa massa untuk berunjuk rasa di bawah spanduk bertuliskan “Je Suis Charlie (Aku adalah Charlie),” menggiring mereka menuju pintu-pintu Jahannam yang dipersiapkan untuk orang-orang murtad…

DI MANAKAH PENERUS ASH-SHIDDIQ UNTUK MENGHADAPI KEMURTADAN INI?

Allah ta’ala berfirman : Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam. (QS. An-Nisaa: 140)

Syaikh Sulaiman Alu Asy-Syaikh rahimahullah berkata, “Makna ayat tersebut jelas. Maknanya bahwa jika seseorang mendengar ayat-ayat Allah ditolak dan dihina dan duduk-duduk dengan orang-orang kafir yang menghina tanpa paksaan, tanpa melarang mereka, dan tanpa bangkit dan beranjak sampai mereka beralih ke pembicaraan lain, maka dia kafir seperti mereka walaupun dia tidak berbuat yang sama dengan mereka, karena tetap duduknya dia bersama mereka berarti menyetujui kekafiran mereka. Dan persetujuan terhadap kekafiran adalah kekafiran” (Ad-Durar as-Saniyah).

Jika saja duduk diam bersama orang-orang kafir dalam perkumpulan kekafiran adalah kekafiran, betapa jauh lebih kafir mereka yang berunjuk rasa di pihak surat kabar yang menghina Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam? Atau mengangkat spanduk dan slogan bertuliskan “Je Suis Charlie” bersama mereka? Tiada keraguan bahwa perbuatan tersebut adalah kemurtadan, bahwa mereka yang terang-terangan mengajak kepadanya dengan nama Islam dan ilmu adalah du’at (penyeru) kepada kemurtadan, dan ada pahala besar yang menanti Muslim di hari akhir jika dia membunuh imam-imam kemurtadan tersebut.

“Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah (orang-orang Yahudi): 'Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan, sedang Allah mengetahui rahasia mereka. Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila malaikat mencabut nyawa mereka seraya memukul-mukul muka mereka dan punggung mereka? Yang demikian itu mereka adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan karena mereka membenci keridhaan-Nya, sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka” (Muhammad: 25-28).

Ayat ini menjelaskan kondisi seseorang yang berkata bahwa dia tidak akan menghina Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tetapi dia hanya mengikuti unjuk rasa yang dilakukan oleh salibis untuk menentang mujahidin, untuk “solidaritas” dengan para penghina. Dia menaati orang-orang kafir “dalam sebagian masalah” - sebagian yang tetap berupa kekafiran - sehingga dia murtad.

Dan jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah dilarang untuk shalat di “masjid” yang dibangun oleh orang-orang munafik abu-abu dan telah menghancurkannya karena secara sembunyi-sembunyi didirikan untuk kekafiran dan fitnah, betapa jauh lebih wajib meninggalkan “masjid” yang secara terang-terangan meninggikan slogan "Je Suis Charlie" di dinding-dindingnya dan "imam-imam"-nya membela konsep sesat “kebebasan berbicara” untuk membela surat kabar setan?!

“Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang- orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan asul-Nya sejak dahulu. Mereka Sesungguhnya bersumpah: ami tidak menghendaki selain kebaikan. Dan Allah menjadi pendusta itu menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selamalamanya. Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih. Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang alim. Bangunan-bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi pangkal keraguan dalam hati mereka, kecuali bila hati mereka itu telah hancur. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (At-Taubah: 108-110).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah pedang terhadap orang-orang musyrik, dan shahabat terbesar beliau, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu, adalah pedang terhadap orang-orang murtad. Di manakah pedang ini sekarang untuk menebas leher-leher para imam kemurtadan tersebut sekaligus untuk mencegah mereka dari kekafiran dan kezindiqan. Jika salah seorang dari mereka dibunuh, hal ini akan mencegah sebagian dari mereka dan sebagian dari pengikut mereka dari meneruskan iring-iringan ke nereka. Tidak adakah seorang Muslim, yang dicintai Allah dan mencintai Allah, yang siap berjihad dan menumpahkan darah penyeru-penyeru kesesatan tersebut?

Sekali lagi, pengumuman Khilafah mengawali kejadian-kejadian di Eropa yang semakin menghancurkan zona abu-abu, karena banyak Muslim hidup di Eropa dan Amerika membenarkan tinggalnya mereka di antara orang-orang kafir dengan kenyataan bahwa negeri-negeri kaum Muslimin berada di bawah pemerintahan thawaghit murtad. Sekarang, dengan keberadaan Daulah Islam, kesempatan untuk berhijrah dari darul kufri ke darul Islam dan berjihad melawan salibis, Nushairiyah, Rafidhah, dan rezim murtad dan tentara-tentaranya, terbuka lebar bagi setiap Muslim sekaligus kesempatan untuk hidup di bawah naungan Syari’at semata.

Keberadaan Khilafah juga memperbesar pengaruh politik, sosial, ekonomi, dan emosional dari setiap operasi yang dilancarkan mujahidin terhadap salibis yang marah. Peningkatan pengaruh ini memaksa salibis secara aktif menghancurkan zona abu-abu, zona yang mana banyak orang-orang munafik dan pembuat bid’ah sesat yang hidup di Barat untuk bersembunyi.

“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah: 217).

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar). Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (Al-Baqarah: 120).

Kaum Muslimin di Barat segera mendapati mereka berada di antara dua pilihan, antara mereka murtad dan mengadopsi agama kafir yang dipropagandakan oleh Bush, Obama, Blair, Cameron, Sarkozy, dan Hollande atas nama Islam sehingga dapat hidup di antara orang-orang kafir tanpa kesulitan, atau mereka berhijrah ke Daulah Islam sehingga terlepas dari penganiayaan pemerintah dan rakyat salibis.

HIZBIYIN DAN ZONA ABU-ABU

Zona abu-abu adalah tempat yang disukai oleh orang-orang munafik yang sifat-sifat dan maksud tersembunyi mereka telah disingkap oleh Allah ta’ala di kitab-Nya dan oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Sunnahnya. Ayat-ayat tersebut diturunkan sehingga kaum Muslimin dapat berhati-hati terhadap orang-orang munafik dan bertindak jika dibutuhkan dengan menghunuskan pedang kepada orang-orang munafik, jika mereka terang-terangan menampakkan kemunafikan mereka. Sayangnya, mereka yang telah membentuk kelompok dengan tujuan sah untuk berjihad fie sabilillah segera mendapati diri mereka di dalam dilema setelah Muslimin Khilafah ditegakkan. Dunia sekarang semakin terbagi antara Khilafah di satu sisi dan salibis dengan agen-agen murtad mereka di sisi lain. Jika kelompok-kelompok jihad itu mengakui badan besar yang mewakili Islam ini –Khilafah– maka mereka akan membatalkan keabsahan kelompok mereka sendiri, sehingga akan kehilangan kekuasaan dan pengaruh pribadi, termasuk kemampuan untuk mempropagandakan bid’ah, dalam kasus pemimpin-pemimpin tersebut dibutakan oleh irja’. Mereka juga menyadari bahwa banyak kelompok dan individu dari umat yang terpecah ini terpengaruh oleh pemimpin-pemimpin zona abu-abu –“ulama” istana, “du’at” menyimpang, dan pemimpin sekte-sekte (9) dan gerakan-gerakan menyimpang– semuanya mengaku berjuang untuk Islam. Kelompok jihadi mendapati diri mereka dalam dilema lain. Jika mereka membatalkan keabsahan zona abu-abu, mereka juga akan membatalkan keilmuan dari “ulama-ulama” terebut yang mewakili “ummat”! Dan mereka tidak memiliki keberanian untuk melakukannya dan tidak bisa menghilangkan kekhawatiran mereka akan kehilangan kekuasaan, maka mereka menolak konsep zona abu-abu dan berupaya untuk membuktikan kejujuran dari orang-orang munafik… sebuah misi yang ditakdirkan untuk gagal dan dilakukan hanya untuk kepentingan kelompok.

Pengikut buta mereka –pengklaim jihad di Syam– mencoba hal yang sama sebelum konspirasi Shahawat dengan menghidupkan kembali keyakinan-keyakinan berbeda dari Murji’ah – terutama sekte Karramiyah, yang meniadakan kemunafikan. Ulama Salaf, Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Perbedaan antara kita dan Murji’ah adalah tiga perkara. Kita berkata bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan, sedangkan mereka mengatakan ia adalah perkataan tanpa perbuatan. Kita berkata bahwa iman bisa meningkat dan menurun, sedangkan mereka berkata ia tidak meningkat maupun menurun. Kita berkata bahwa kemurtadan itu ada, sedangkan mereka berkata tidak ada kemurtadan" (Sifat an- Nifaq – al-Firyabi).

Walaupun pengklaim jihad mengetahui adanya kemurtadan, secara hipotesis, mereka tidak mematuhi praktek dari hukum-hukum syar’i terhadap orang-orang murtad… Sebaliknya, mereka bersikeras bahwa mereka harus diperlakukan sama persis dengan orang-orang beriman yang tidak menampakkan sifat-sifat kemunafikan. Dan ketika orang-orang munafik tenggelam dalam persangkaan yang paling gelap, para pengklaim jihad bersikeras dalam menguntungkan mereka dengan syubhat-syubhat. Dan ketika kegelapan kekafiran ditampakkan secara terang-terangan dalam perkataan dan perbuatan orang-orang munafik, pengklaim jihad mencari-cari alasan untuk membenarkan perkataan orang-orang munafik, hanya untuk mempertahankan zona abu-abu yang melayu, sehingga membenarkan keberadaan mereka sebagai sebuah entitas yang independen dari Daulah Islam.

Di antara sifat-sifat kemunafikan paling penting yang diabaikan oleh para pengklaim jihad adalah bahwa orang-orang munafik (1) bergegas kepada orang-orang kafir untuk mendapat kekuasaan sementara, (2) khawatir akan malapetaka, (3) berjanji untuk menaati orang-orang kafir “di sebagian perkara,” (4) dan berbicara dengan nada bermuka dua. “Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah” (An-Nisaa': 138-139)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: "Kami takut akan mendapat bencana". Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.” (Al-Ma’idah: 51-52). (10)

“Dan kalau Kami kehendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu.” (Muhammad: 30).

Sifat lainnya adalah menganggap aspirasi dari Muhajirin dan Anshar adalah khayalan yang disebabkan agama mereka. “(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: "Mereka itu (orang-orang mukmin) ditipu oleh agamanya". (Allah berfirman): "Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Al-Anfal: 49).

Syaikhul Islam ibn Taimiyah rahimahullah berkata, “Terkadang orang-orang munafik berkata kepada orang-orang beriman, ‘Apa yang menimpa kami adalah akibat kesialan yang kalian bawa, karena kalian mengajak manusia kepada agama ini, memerangi mereka karenanya, dan memusuhi mereka.’ Ini adalah perkataan orang-orang munafik kepada orang-orang beriman dari kalangan Shahabat. Terkadang mereka berkata, ‘Kalian menyuruh kami untuk tetap tinggal di garis depan ini sampai sekarang, dan seandainya kami pergi sebelumnya, kami tidak akan tertimpa malapetaka ini.’ Terkadang mereka berkata, ‘Kalian –meskipun jumlah kalian kecil dan kelemahan kalian– ingin menghancurkan musuh? Kalian telah tertipu oleh agama kalian.’ … Dan terkadang mereka berkata, ‘Kalian adalah orang-orang gila dan bodoh! Kalian ingin menghancurkan diri kalian sendiri dan orang-orang bersama kalian!’ Dan terkadang mereka berkata perkataan lain yang sangat berbahaya.” (Majmu’ al-Fatawa).

KEPUNAHAN ZONA ABU-ABU

Bukankah ini semua menggambarkan kondisi banyak faksi sebelum dilancarkan konspirasi Shahawat? Mereka bergegas kepada orang-orang kafir untuk mendapat kekuasaan, sedangkan mereka takut akan malapetaka, berjanji untuk mentaati mereka “dalam sebagian masalah,” berbicara dengan suara yang menandakan kemunafikan (perkataan samar-samar yang dapat ditafsirkan untuk menguntungkan orang-orang kafir sementara juga mungkin menyiratkan makna kekufuran), dan menganggap mujahidin di Syam tertipu dalam menyuarakan Millah Ibrahim ‘alaihis salam? Terkadang pemimpin-pemimpin munafik dari faksi-faksi tersebut akan membuat pernyataan menipu yang sulit dipahami dengan nada sekulerisme, demokrasi, dan nasionalisme, dan kemudian sekutu-sekutu “jihadi” mereka akan secara sukarela menafsirkan ulang pernyataan tersebut sedemikian rupa sehingga lebih sesuai dengan klaim Islam para munafikin. Sekutu-sekutu “jihadi” mereka kemudian akan menggunakan penafsiran ulang tersebut untuk meredakan ghirah para prajurit-prajurit mereka yang jujur sehingga bisa mempertahankan zona abu-abu di mana mereka bisa terus ada sebagai kelompok independen yang bekerja dengan damai bersamasama faksi-faksi munafik. Dan ketika aksi Shahawat akhirnya melakukan konspirasi kepada muhajirin dan anshar, para pengklaim jihad – yang mengetahui seluruh konspirasi sebelumnya – bersikeras bahwa para munafikin tidak terangterangan menjadi murtad dengan menolong Dewan Nasional Syria (SNC) murtad dan thaghut Alu Salul melawan mujahidin! Terlepas dari fakta bahwa para pengklaim jihad tersebut mengetahui hubungan yang sangat rumit namun “hush-hush” antara faksi Shahawat dan Alu Salul dan SNC. Dan bukannya membantu mujahidin Daulah Islam, mereka malah membantu faksi-faksi murtad (11)!

Mereka lupa ayat-ayat dalam Al Qur’an yang menjelaskan kewajiban seorang Muslim terhadap orang-orang munafik, tidak pernah memikirkan kewajiban mujahidin terhadap orang-orang murtad…

Mereka lupa bahwa orang-orang munafik tidak boleh dijadikan sekutu maupun teman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya memudharatanmu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata "Kami beriman", dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): "Matilah kamu karena kemarahanmu itu". Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati” (Ali ‘Imran: 118-119).

Mereka lupa bahwa orang-orang munafik harus dijauhi, tidak didengarkan perkataannya, dan dihina dengan keras, “Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka” (An-Nisaa’: 63).

Mereka lupa bahwa orang-orang munafik tidak boleh dibela dengan perkataan, “Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat, dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa, mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak redlai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan” (An-Nisaa’: 105-108).

Mereka lupa bahwa orang-orang munafik tidak boleh dihormati maupun dijadikan pemimpin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Janganlah kalian mengatakan sayid (tuan) kepada orang munafik, karena apabila dia menjadi sayid, maka kalian akan membuat murka Rabb kalian Tabaraka wa Ta'ala" (Shahih: Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, dan an-Nasa'i).

Semua perintah tersebut –termasuk perintah memerangi orang munafik jika mereka terang-terangan menampakkan kemunafikannya (12)– mengandung intruksi praktis untuk dijalankan kaum mukminin. Jika kemunafikan adalah konsep teoritis yang tidak memiliki konsekuensi di dunia, perintah-perintah tersebut akan tak bermakna. Adalah pemahaman tentang iman, berdasarkan keyakinan Ahlus-Sunnah, yang membimbing mujahidin dalam perang mereka melawan faksi-faksi munafik yang berubah menjadi faksi-faksi murtad. Ketiadaan keyakinan ini di antara pemimpin-pemimpin dari para pengklaim jihad yang telah membawa mereka untuk mendukung faksi-faksi tersebut melawan mujahidin dan bersikeras bahwa faksi-faksi tersebut bukan munafikin, bukan pula murtaddin (13)!

Dan bukannya menyadari bahaya besar dari munafikin, “Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiaptiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?” (Al-Munafiqun: 4), mereka malah berteman dengan para munafikin dan mendengarkan mereka, “Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma'ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik” (At-Taubah: 67).

Mereka memperlakukan munafikin sebagaimana mukminin, “Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertaqwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat?” (Shaad: 28). “Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Atau adakah kamu (berbuat demikian): bagaimanakah kamu mengambil keputusan?” (Al-Qalam: 35-36). “Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu.” (Al-Jatsiyah: 21).

Karena itu, kemunafikan bagi mereka adalah sebuah kondisi teoritis tanpa konsukuensi praktis. Dan jika orang-orang munafik bergabung dengan kubu kekafiran (parit faksi-faksi sekuleris dan demokratis), irja’ ekstrim mencegah para pengklaim jihad dari menghukumi murtad terhadap para munafikin tersebut. Murji’ah ekstrim sebaliknya malah membesar-besarkan udzur kebodohan mencakup hal paling mendasar dari agama, ajaran agama yang setiap Muslim harus tahu, dan bahkan kenyataan tak terbantahkan berkaitan dengan waqi’ yang mendasari berbagai hukum syar’i.

Inilah pengalaman yang dihadapi para pengklaim jihad Syam yang mana kelompok-kelompok jihad di seluruh dunia harus berkaca kepadanya sebelum bersikeras pada sebuah posisi “netral” atau “independen” yaitu tidak bersama Khilafah maupun bersama salibis dan murtaddin tetapi di “zona abuabu” yang sedang melayu antara keduanya, sebelum mereka mendapati bahwa diri mereka tanpa disadari menuju kubu kesesatan.

DUA KUBU DENGAN TIADA YANG KETIGA

Ketika dunia berjalan menuju al-Malhamah al-Kubra, pilihan untuk berdiri di tepian hanya sebagai pengamat mulai menghilang. Sebagaimana mereka yang berpenyakit hatinya dengan kemunfikan dan bid’ah digiring menuju kubu kekafiran, mereka yang memiliki sebiji sawi kejujuran dan Sunnah digiring menuju kubu keimanan.

Muslim di negara-negara salibis akan mendapati diri mereka didorong untuk meninggalkan rumah-rumah mereka menuju kehidupan di naungan Khilafah, sebab salibis meningkatkan penganiayaan terhadap Muslim yang hidup di Barat sehingga terhadap mampu memaksa mereka masuk ke kelompok murtad yang ditolerir atas nama “Islam” sebelum memaksa mereka ke dalam Kristen dan demokrasi secara terang-terangan.

Muslim di negeri yang diperintah oleh thawaghit murtad akan mendapati diri mereka didorong ke wilayah Daulah Islam, karena para thaghut meningkatkan penahanan mereka terhadap setiap Muslim yang mereka curigai memiliki sebiji sawi rasa cemburu terhadap agamanya, atau membawa mereka kepada kemurtadan dengan bekerja sebagai agen, tentara, dan boneka yang melayani bendera thaghut.

Mujahidin di bumi jihad akan mendapati diri mereka didorong untuk bergabung dengan barisan Khilafah, atau dipaksa melancarkan perang terhadapnya di sisi mereka yang ingin berkerja sama dengan munafiqin dan murtaddin melawan Khilafah. Jika mereka tidak melaksanakan perintah tersebut, mereka akan disebut khawarij oleh para pemimpin mereka dan menghadapi pedang dari mahkamah “independen” yang disusupi sekte Sufi, Ikhwan, dan Salul.

Pada akhirnya, zona abu-abu akan menjadi punah dan tidak ada tempat untuk seruan-seruan dan gerakan-gerakan abu-abu. Hanya akan ada kubu iman versus kubu kekufuran.

Kemudian, ketika Isa ‘alaihis salam turun, mematahkan salib, menghapus jizyah, tidak akan ada lagi tempat untuk kubu kekufuran tersisa di Bumi, bahkan tidak pula dzimmi terhina yang hidup di antara kaum Muslim di kubu kebenaran… Setelah itu, Dabbah(14) akan muncul dan memberi tanda pada orang-orang munafik yang tersisa sebagai individual tersembunyi di kubu kebenaran, sehingga mengakhiri kemunafikan pada tingkat individu setelah Malahim telah mengakhiri kemunafikan pada tingkat seruan dan gerakan…

Catatan kaki :

(1) Ini aneh bagaimana ‘Azzam al-Amriki di sebagian suratnya yang mengkritik penghalalan Daulah Islam untuk menarget Katolik yang memusuhi di Iraq pada tahun 2010. Dia mengecam bahwa operasi terhadap Katolik adalah berdasarkan pada pembagian dunia oleh Bush, padahal ini sama persis bagaimana Syaikh Usamah rahimahullah melihat dunia!

(2) Thawaghit selalu menampakkan kemurtadan di kubu kekafiran, tetapi karena dukungan yang mereka peroleh dari “ulama” istana dan gerakangerakan menyimpang (Sufi, Sururiy, Ikhwan, dll.), banyak orang bodoh tidak mengerti kemurtadan yang jelas dari pemerintah tersebut. Karena kebingunan ini, thawaghit hanya terlihat “abu-abu” dalam pandangan orang bodoh. Hanya dalam maksud ini kejadian 11 September menggiring thawaghit keluar dari zona abu-abu.

(3) Lihat footnote sebelumnya

(4) Catatan: Setelah 11 September, dua kubu yang berseberangan membagi ummat versus salibis. Sekarang – menurut salibis sendiri – dua kubu ini adalah Daulah Islam versus salibis. Karenanya, zona abu-abu memiliki maksud berbeda pada dua waktu tersebut. Dahulu, zona ini terdiri dari orang-orang munafik, ahli bid’ah sesat, dan orang-orang yang meninggalkan jihad. Setelah Khiladah dan perang salib yang mengikutinya, zona abu-abu juga mencakup kelompok-kelompok Islami “independen” dan “netral” yang menolak untuk bergabung dengan Khilafah, karena kelompok-kelompok tersebut mengaku independen dari kedua kubu yang berseberangan.

(5) Apa yang dimaksud para ulama adalah bahwa dosa-dosa – termasuk bid’ah – akan menyebabkan seseorang untuk melakukan dosa selanjutnya. Setiap kali dia melakukan sebuah dosa, Allah akan menghukumnya dengan dosa yang lebih besar. Pada akhirnya, Allah bisa menghukum dia dengan kekafiran, seperti kasus seseorang yang mengetahui bahwa penerapan Syari’ah akan mencegahnya dari memperturutkan kecanduannya kepada dosa dan oleh sebab itu ia bergabung dengan barisan orang-orang yang memeranginya, sehingga dia bisa mempertahankan kondisi sosial dan politik yang sesuai untuk dosa-dosanya. Atau kasus orang-orang yang sangat terikat kepada bid’ah dan hizbiyah sehingga dia merasa dia harus memerangi Khilafah dan oleh sebab itu dia berkerja sama dengan murtaddin untuk melawannya.

(6) Tujuan jahili dan ‘ummi tidak mesti kekafiran, karena keduanya mencakup berperang karena kesukuan, uang, hizbiyah, bid’ah, dll. Sedangkan untuk demokrasi dan sekulerime, maka tujuan-tujuan tersebut adalah jahili sekaligus kekafiran.

(9) Ulama Salaf, Al-Fudhail ibn ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Jika aku melihat seseorang dari pengikut Sunnah, maka seakan-akan aku melihat seseorang dari para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; dan jika aku melihat seorang ahli bid’ah, seakan-akan aku melihat seseorang dari munafiqin” (Syarh as-Sunnah – al-Barbahari). Orang-orang munafik dan zindiq (bid’ah ekstrim) juga terkenal menyamar sebagai mubtadi’ah (ahli bid’ah) dan menyembunyikan propaganda mereka dengan itu.

(10) Lihat juga ayat 25-31 dari Sūrat Muhammad.

(11) Faksi-faksi munafik yang murtad adalah mereka yang berpindah dari zona abu-abu ke kubu kekafiran dengan menolong orang-orang murtad yang terang-terangan –faksi sekuleris dan demokratis– melawan mujahidin. Mereka mengikuti pengkhiatan ini dengan membuat pernyataan politik kekafiran oleh diri mereka sendiri. Sedangkan murtaddin yang terang-terangan yang menyeru kepada demokrasi (faksi sekuleris dan demokratis), maka mereka tidak pernah berada di zona abu-abu dari awal kecuali dalam pandangan Murji’ah yang paling ekstrim; namun faksi-faksi demokratis tersebut semakin tersingkap oleh perang salib yang mereka dukung dengan segera. Saat itu, para pengklaim jihad mendapati diri mereka berada di dilema yang lain, yaitu “zona abu-abu” yang telah lama mereka pertahankan sedang meninggalkan mereka dan sekarang melancarkan perang terhadap mereka. Sehingga, para pengklaim jihad terpaksa membuat pernyataan “takfiri” kepada sekutu-sekutu terdekat mereka – faksi-faksi Shahawat yang lain! Mengapa mereka tidak bercermin pada mubahalah yang telah menghancurkan mereka? Lihat halaman 20-30 di Dabiq edisi #2 untuk membaca lebih lanjut.

Lebih lanjut, sebagian dari para pengklaim jihad mendapati bahwa tidak mungkin menganggap setiap orang yang berperang dan mengaku seorang mujahid sebagai seorang munafiq. Mereka lupa bahwa orang-orang munafik mau berperang namun menghindari peperangan yang membutuhkan perjalanan yang sulit dan tidak memiliki prospek rampasan perang. “Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka” (At-Taubah: 42). Mereka bisa jadi pergi untuk berperang, sebagaimana pemimpin orang-orang munafik berkata dalam salah satu ekspedisi, “Mereka berkata: "Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya". Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui” (Al-Munafiqun: 8). Mereka bahkan bisa jadi terbunuh dalam peperangan sebagaimana digambarkan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Orang yang mati (dalam peperangan) ada tiga jenis: (1) Seorang mukmin yang berjihad fi sabilillah dengan jiwa dan hartanya hingga dia bertemu musuh dan berperang sampai dia terbunuh. Dia adalah syahid yang dipuji di kemah Allah di bawah Arsy-Nya. Tiada kelebihan para nabi atas mereka kecuali derajat kenabian. (2) Seorang mukmin yang melakukan dosa dan berjihad dengan jiwa dan hartanya, dijalan Allah, saat bertemu musuh ia memerangi mereka hingga terbunuh, maka dosa-dosanya dihapus sebab pedang adalah penghapus dosa. Kemudian ia dipersilahkan masuk surga dari pintu yang ia kehendaki. Sesungguhnya surga itu memiliki delapan pintu dan neraka mempunyai tujuh pintu sebagiannya (pintu surga) lebih baik dari sebagai lainnya. (3) Seorang munafik yang berjihad dengan jiwa dan hartanya, ketika bertemu dengan musuh ia berperang di jalan Allah hingga terbunuh. Orang ini di neraka sebab pedang tidak dapat menghapus kemunafikan” (Hasan: Diriwayatkan Imam Ahmad, Ibnu Hibban, dan lainnya). Perbedaan antara peperangan oleh orang-orang beriman dan oleh orang-orang munafik adalah bahwa orang-orang munafik berperang hanya untuk popularitas, harta rampasan perang,

(12) Lihat ayat 73 dari Sūrat at-Taubah, ayat 9 dari Sūrat at-Tahrīm, dan ayat 60-62 dari Sūrat al-Ahzāb.

(13) Lihat footnote #11.

(14) Lihat riwayat-riwayat shahih dan dha’if berbeda yang menggambarkan tentang Dabbah di tafsir Ibnu Katsir Surat an-Naml, ayat 82. Wallahu a’lam.

PERBINCANGAN MUSUH - DABIQ 7

DABIQ 7 – PERBINCANGAN MUSUH

DAULAH ISLAM DALAM PERBINCANGAN MUSUH

Bulan ini, Patrick Cockburn – seorang jurnalis kafir dan warga Inggris, anggota koalisi salibis melawan Daulah Islam – menulis sebuah artikel berjudul “Krisis Tawanan ISIS: Kelompok Militan Berdiri Kuat karena Musuh-Musuhnya yang Sangat Banyak Gagal Menemukan Rencana Bersama untuk Mengalahkannya.” Dalam artikel ini, penulis membandingkan kesuksesan-kesuksesan Daulah Islam dengan kegagalan menyeluruh salibis dalam perang mereka melawan Khilafah. Walaupun artikel tersebut membesar-besarkan “kemampuan” dan “keunggulan” yang disematkan kepada murtaddin dari pasukan Shafawi, PKK, dan Peshmerga, penulis membuat sejumlah poin bijaksana. Dia mengatakan seperti ini :

“ISIS bertahan dari upaya-upaya untuk mengalahkannya dan memegang jumlah wilayah yang hampir sama di Iraq dan Suriah –wilayah yang lebih luas dari Inggris Raya– sebagaimana pada akhir serangan kilat mereka tahun lalu. Musuh-musuh mereka sangat banyak, tetapi terpecah belah dan tanpa rencana bersama. Baik tentara Iraq maupun Suriah, musuh militer utama mereka, tidak cukup kuat untuk menyerbu negara jihadi tersebut.”

“Selama ISIS masih ada, mereka mempertahankan kemampuan untuk mendominasi agenda politik dan media berhari-hari pada satu waktu dengan ancaman eksekusi tawanan di depan umum. Kejadian-kejadian kelabu tersebut, sebagaimana kita lihat pada tawanan Jepang dan Jordania, dibuat dengan tujuan mendapat publikasi maksimum dan menyebarkan teror umum.”

“ISIS mengalami kemunduran, namun juga mendapat kesuksesan-kesuksesan. Minggu ini, pasukannya akhirnya terusir dari kota Kaum Kurdi Suriah “Kobane” setelah pengepungan berlangsung selama 134 hari, di mana mereka menderita kerugian yang banyak dari 606 serangan udara Amerika. Tetapi di tempat lain di Suriah, ISIS mengalami kemajuan terhadap kota Homs juga mendapat kekuataan di Damaskus selatan dan al-Qalamun, dekat Lebanon timur. Oleh suatu kesaksian, ISIS telah memenangkan kontrol terhadap wilayah tersebut sejak September lalu di mana satu juta penduduk Suriah hidup, ditambah wilayah yang telah mereka kuasai sebelumnya.”

“Di Iraq, pasukan pemerintah telah mengalami kemajuan di provinsi-provinsi sekitar Baghdad, tetapi awal minggu ini peluru-peluru berhasil mengenai sebuah pesawat dan melukai penumpang-penumpangnya di Bandara Internasional Baghdad, memaksa maskapai besar untuk menghentikan penerbangan ke sana. Hal ini mengisolasi ibukota Iraq dan, walaupun bandara tidak sepenuhnya tutup, ISIS mungkin dapat merebutnya kapan pun.”

Dia kemudian mengatakan:

"Menurut Pusat Internasional untuk Studi Radikalisasi dan Kekerasan Politik, jumlah pejuang asing yang bergabung dengan ISIS di Iraq dan Suriah meningkat dari 15.000 pada Oktober lalu menjadi 20.000 sekarang. Seperlima darinya datang dari Eropa Barat. ISIS juga menerapkan wajib militer kepada pejuang di wilayah yang mereka kontrol.”

“ISIS terjepit secara militer dan ekonomi, tetapi tidak ada tanda-tanda ia akan hancur. Bahkan kekalahannya di Kobane tidak menunjukkan kelemahannya, karena ISIS telah menguasainya berbulan-bulan walaupun berperang dengan Kurdi Suriah, yang didukung bombardir udara intensif oleh Amerika dalam tempat yang terbatas. Analis Barat termotivasi dengan terbunuhnya sejumlah komandan berpengalaman ISIS tahun lalu, tetapi ideologi mereka dibangun di atas martir, dan angka kematian yang tinggi di antara para pemimpinnya menunjukkan mereka berperang di garis depan. Presiden Obama berkata upaya utama Amerika adalah di Iraq namun jika tidak mampu membangun kembali tentara Iraq maka hampir tidak mungkin untuk mengalahkan ISIS di sana. Dan selama ISIS telah ada, akan terus ada penawanan dan eksekusi terhadap tokoh-tokoh penting."

Dewan Redaksi The Washington Post juga mengomentari “kemenangan” koalisi, mereka berkata:

“Kemenangan kecil di Suriah tidak layak untuk dirayakan karena Islamic State semakin kuat. Pejabat Amerika merayakan kemenangan kecil dalam peperangan melawan Islamic State di Suriah – tampaknya kesuksesan mempertahankan kota Kurdi Kobane, di perbatasan dengan Turki. Dalam pengepungan sejak Oktober, Kobane memiliki nilai strategis kecil tetapi tampaknya menjadi uji coba apakah Amerika dan sekutunya mampu menghentikan ekspansi Daulah Islam … Dengan bantuan pasukan darat Kurdi, para ekstrimis berhasil dipukul mundur. Tetapi mungkin fakta paling penting dari Kobane adalah ia menghabiskan 75 persen dari hampir 1000 serangan udara yang dilakukan pesawat-pesawat sekutu di Suriah sejak September … Di wilayah lainnya di Suriah yang di bawah kontrolnya, termasuk ibu kotanya Raqqah, Islamic State … tumbuh semakin kuat bukannya semakin lemah.”

Atau perkataan salibis Eric Shawn dari Fox News:

“Presiden berjanji ISIS akan dihancurkan. Sebaliknya, mereka malah semakin menyebar … Kekuatan koalisi akhirnya memukul mundur ISIS di perbatasan kunci mereka di kota Kobane … Dilaporkan hal tersebut menghabiskan 75 persen dari semua serangan udara yang dilancarkan di sana sejauh ini. Dan walaupun secercah harapan tersebut, Islamic State bersumpah untuk mengambil alih kembali kota tersebut ketika pasukannya mendapat kesuksesan di tempat lain … Wilayah Islamic State telah tumbuh dalam lima bulan terakhir … walaupun (ditengah) semua serangan udara koalisi.”

WAWANCARA BERSAMA UMMU BASHIR AL-MUHAJIRAH

DABIQ 7 - MUSLIMAH

KEPADA SAUDARI KAMI :
WAWANCARA SINGKAT BERSAMA UMMU BASHIR AL-MUHAJIRAH

Karena kesetiaannya kepada Khilafah, mujahid Abu Bashir al-Ifriqi (Amedy Coulibaly rahimahullah) mengatur keberangkatan istrinya Ummu Bashir al-Muhajirah ke negeri Khilafah sebelum kesyahidannya pada operasi yang diberkahi di Paris. Setelah dia tiba dengan selamat, Dabiq mendapat kesempatan untuk menyampaikan kepadanya beberapa pertanyaan dan dia menjawab dengan jawaban yang bermanfaat. Semoga Allah menjaga semua istri para syuhada' dan mujahidin dan menjaga mereka tetap teguh di atas kebenaran sampai mereka bertemu Rabb mereka 'azza wa jalla.

DABIQ: Bagaimana perjalanan hijrahmu? Dan bagaimana perasaanmu saat ini di bumi Khilafah?

UMM BASHIR: Segala puji hanya bagi Allah yang memudahkan jalan bagiku. Aku tidak menemukan kesulitan apapun. Hidup di tanah yang mana hukum Allah 'azza wa jalla diterapkan adalah sesuatu yang luar biasa. Aku merasa lebih nyaman sekarang karena aku telah melaksanakan kewajiban ini. Segala puji hanya bagi Allah. Aku memohon Allah agar menjagaku tetap tegar.

DABIQ: Bagaimana reaksi suamimu ketika Khilafah dideklarasikan?

UMM BASHIR: Dia sangat gembira. Dia segera percaya kepada Khalifah dan Khilafah dengan memberi bai'at. Dan segala puji hanya bagi Allah. Kita memohon kepada Allah agar mencurahkan rahmat atasnya, menerimanya, dan menjadikannya di antara orang-orang yang dekat dengan-Nya. Hatinya terbakar untuk menemui saudara-saudaranya di bumi Khilafah dan memerangi musuh-musuh Allah. Matanya selalu berkaca-kaca setiap kali dia menonton video dari Daulah Islam. Dia selalu berkata, “Jangan memperlihatkannya kepadaku,” karena ketika dia menontonnya, hal tersebut akan membuatnya ingin segeranya segera berangkat hijrah dan akan bertentangan dengan keinginannya untuk melancarkan operasi di Prancis.

DABIQ: Apakah engkau memiliki pesan kepada kaum Muslim secara umum dan saudari-saudari Muslimah secara khusus?

UMM BASIR: Ingatlah (firman Allah), "Suatu hari (ketika) tiap-tiap diri datang untuk membela dirinya sendiri dan bagi tiap-tiap diri disempurnakan (balasan) apa yang telah dikerjakannya, sedangkan mereka tidak dianiaya (dirugikan)." (An-Nahl: 111).

Saudara-saudariku, aku mengajakmu untuk prihatin dengan kondisi Ummat di dunia serta untuk bersikap sesuai dengannya berdasarkan Al Qur'an dan As Sunnah. Allah ta'ala memberikan engkau akal untuk berpikir dan kecerdasan untuk memilih. Mengapa engkau merendahkan dirimu sendiri dengan berpikir bahwa engkau tidak dapat memahami Al Qur'an dan As Sunnah dan meyakini bahwa engkau butuh pemahaman dari imam ini atau ulama itu?

Benar, secara umum kita membutuhkan orang-orang yang berilmu, tetapi, alhamdulillah, Allah telah memudahkan (hamba-Nya untuk memahami) Al Qur'an dan As Sunnah. "Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Qur’an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya." (Al-Kahfi: 1).

Pelajarilah sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan kisah para shahabat. Amatilah apa tujuan hidup mereka. Tujuan hidup mereka adalah untuk beribadah kepada Allah sebagaimana yang Dia kehendaki untuk diibadahi bukan sebagaimana yang dikehendaki nafsu kita.

Aku melihat di antara kalian orang-orang yang memiliki antusiasme (tekad / azzam yang) tinggi. Jangan kehilangan sifat tersebut karena mengikuti individu tertentu. Mohonlah kepada Allah dengan ikhlas untuk memberimu petunjuk. Berjuanglah untuk melawan batinmu sehingga engkau bisa berhasil.

Ya Allah, tampakkanlah kebenaran sebagai kebenaran bagi kami dan bimbinglah kami untuk mengikutinya. Dan tampakkkanlah kesesatan sebagai kesesatan bagi kami dan bimbinglah kamu untuk menjauhinya.

Saudara-saudariku, jadilah tempat dukungan dan keamanan bagi suami, saudara, ayah, dan anak-anakmu. Jadilah pemberi nasihat bagi mereka. Mereka harus merasa nyaman dan damai bersamamu. Jangan membuat segala sesuatu menjadi sulit bagi mereka. Mudahkanlah segala urusan untuk mereka. Jadilah kuat dan berani. Penting bagimu untuk menjadikan semua amalmu ikhlas untuk wajah Allah dan berharap akan pahala dari-Nya.

Ketahuilah bahwa para shahabat radhiyallahu 'anhum tidak menyebarkan Islam di negeri yang sangat luas kecuali dengan istri-istri yang baik di belakang mereka. Jangan membuang waktu dan energimu dengan main-main, kesia-siaan, dan apa yang bukan urusanmu.

Pelajarilah agamamu! Pelajarilah agamamu! Bacalah Al Qur'an, bercerminlah dengannya dan amalkanlah. Pupuklah kecintaanmu kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Penting bagimu untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi kecintaan kepada dirimu sendiri, suamimu, anak-anakmu, dan orang tuamu.

Ikutilah teladan Asiyah –istri Fir'aun– yang meninggalkan dunia karena Allah dan akhirat walaupun dia adalah seorang ratu dan memiliki harta kekayaan dunia. Dia disiksa dan dibunuh karena pilihannya, tetapi Allah menjaganya tetap teguh dan meninggikannya (derajatnya) melebihi banyak wanita.

Dan segala puji bagi Allah, Yang Maha Pengampun dan Maha Murah Hati. Ikutilah teladan dari Maryam 'alaihis salam dalam kesucian, kesederhanaan, dan ketaatannya kepada Allah, dan kejujurannya, yang merupakan salah satu sifat terbesarnya, sehingga Allah memilihnya dan meninggikannya (derajatnya) di atas banyak wanita.

Dan segala puji hanya bagi Allah, Yang Maha Agung. Ada banyak wanita-wanita mulia sepanjang sejarah, oleh karena itu ikutilah teladan mereka. Bersabarlah. Kesabaran adalah kebaikan yang sangat besar.

Semoga Allah, Yang Maha Pengasih, menganugerahimu dengan kesabaran. Kehidupan seorang mukmin penuh dengan cobaan dan kesulitan. Maka bersabarlah sembari mengharap pahala dari Allah. Hidup ini pendek (singkat / sebentar), walaupun ia terkadang –selama waktu-waktu sulit– tampak panjang.

Demi Allah, apa yang telah menunggu kita lebih baik dan lebih kekal, insyaa' Allah. Kita memohon kepada Allah pertolongan dan keberhasilan. Dan tidak ada daya dan upaya melainkan milik Allah.

"Maha Suci Rabbmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Rabb sekalian alam." (Ash-Shaffat: 180-182)

ABU QUDAMAH AL-MISHRI

DABIQ 7 – SYUHADA

DIANTARA ORANG BERIMAN ADA KESATRIA :
ABU QUDAMAH AL-MISHRI

Ketika Abu Qudamah al-Mishri memulai hijrah ke Syam dengan sahabatnya Abu Mu’awiyah al-Mishri pada tahun 2012, di antara sedikit yang mereka berdua harapkan adalah, dengan karunia Allah, (mereka) akan menjadi syuhada’ saat berperang di barisan para lelaki sejati yang pergi untuk menghidupkan kembali Khilafah.

Abu Qudamah adalah seorang pemuda kuat yang meninggalkan London Barat, Inggris pada tahun 2012 bersama sahabatnya Abu Mu’awiyah untuk memenuhi panggilan jihad di Syam. Abu Qudamah sangat bersemangat untuk berperang di jalan Allah dan mencari balasan yang terbesar, hingga ia meninggalkan Inggris dua bulan sebelum anak perempuannya lahir.

Meskipun candaan alamiah Abu Qudamah dikenal selalu menghibur saudara-saudaranya, ia tetap menjalin hubungannya kepada Allah dengan sangat serius, tidak pernah melewatkan puasa Dawud ‘alaihis salam atau menikmati tidur malam sendirian tanpa menghabiskan sebagian dari malam itu untuk mengingat Rabb-nya baik melalui shalat maupun bacaan Al-Qur’an. Dia dikenal selalu mencari hukum Islam yang benar dalam setiap hal yang dilakukannya, dan tidak pernah membiarkan keragu-raguan dan kesesatan untuk bertahan di hadapannya.

Ketika melihat video-video awal yang dirilis oleh al-Furqān Media, Abu Qudamah selalu mengungkapkan cintanya kepada Daulah Islam Iraq, bahkan sebelum pengumuman ekspansinya ke Syam. Menjelang akhir tahun 2012, Abu Qudamah mendapati adiknya Yasin telah syahid di Afghanistan, dan hal ini hanya mendorong Abu Qudamah untuk terus berusaha lebih kuat dalam pertempuran sebagaimana ia mendambakan kesempatan untuk mempersembahkan hidupnya kepada Allah. Selama bulan Ramadhan, kedua sahabat ini memerangi Nushairiyah di Halab, dan keduanya terluka dalam waktu satu minggu. Luka tembak Abu Mu’awiyah sembuh dengan cepat, sedangkan Abu Qudamah menderita cedera yang rumit pada tumitnya. Butuh enam bulan untuk fisioterapi intensif dan perawatan sebelum dia bisa menggunakan kakinya kembali dengan baik. Ketika gipsnya akhirnya dilepas ia tersungkur di tanah dalam shalat, bersujud dalam waktu yang lama untuk bersyukur kepada Allah ta’ala.

Satu tahun kemudian di bulan Ramadhan (2013), sahabat lama dan teman terbaiknya, Abu Mu’awiyah, dibunuh oleh sniper (penembak jitu) Nushairiyah saat ia mencoba menyelamatkan seorang mujahid, Abu Musa al-Jazā’irī, yang terluka pada perang dalam operasi di kota Salqīn di Idlib.

Tidak ada yang lebih membuatnya iri daripada kesyahidan sahabatnya: Dia dalam keadaan berpuasa, hal itu terjadi selama 10 hari terakhir Ramadhan, pada hari Kamis –salah satu hari di mana amal perbuatan seseorang diangkat kepada mana Allah– dan semua ini terjadi di bumi Syam tercinta yang diberkati.

Hal ini mempengaruhi Abu Qudamah. Ia menjadi cukup sedih setelah kematian sahabatnya, bukan karena ia merindukannya, tetapi karena dia kehilangan temannya yang selalu menjadi teman bersaingnya. Dia mulai menunjukkan keinginan yang lebih kuat untuk menjemput syahadah. “Ya Allah berilah aku syahadah,” dia mengatakannya dalam doa, mendorong ikhwah di sekelilingnya untuk melakukan hal yang sama.

Dia menjadi orang yang berbeda setelah kematian sahabatnya. Dia bahkan menjadi lebih fokus, bahkan lebih kuat dalam mempraktekkan agama, dan ia mendapat banyak pelajaran dari pertempurannya dengan tentara Nushairiyah. Sekarang, hampir semua sahabatnya telah syahid dalam peperangan di jalan Allah.

Abu Qudamah berkembang menjadi seorang pejuang tangguh yang bisa melihat menuju ke mana pertempuran di Syam. Dia awalnya memasuki negara melalui wilayah FSA (Free Syrian Army), namun mulai tumbuh permusuhannya terhadap mereka dan cara-cara jahat mereka. Pada tahun 2013, ia berkata kepada ikhwah yang lain, “Perhatikanlah FSA, karena orang-orangnya akan segera memerangi kita.” Karena itu, ia dikenal atas wataknya yang keras terhadap FSA.

Tidak lama setelah kesembuhannya ia bergabung dalam pertempuran di desa Duwayrīnah dekat Halab, menghabiskan sekitar sepuluh hari di dalam Ribath. Dia mendistribusikan makanan kepada ikhwah di lokasi terjauh wilayah Ribath, padahal wilayah mereka sangat berbahaya dan, sehingga, terkadang makanan mereka terpaksa tertunda. Kualitas kepemimpinan terlihat dari dirinya dan ia diberi tanggung jawab atas sekelompok ikhwah di garis depan, mengkoordinasi jam ribath mereka dan mengurusi urusan-urusan mereka.

Selama kemajuan tentara Nushairiyah di mana banyak ikhwah yang tewas dan terluka di dekat lokasi yang dijuluki “Titik 10,” yang terkenal atas kedekatan jaraknya dengan musuh dan persenjataan berat mereka, Abu Qudamah memberikan peringatan kepada ikhwah agar tetap dalam ketabahan dan berteriak, “Surga berada di bawah bayang-bayang pedang!” lagi dan lagi untuk menyemangati mereka yang sedang diserang.

Pada hari kesepuluh Ribath, ia dan sahabatnya masuk Duwayrinah untuk membantu meringankan sekelompok mujahidin, mengganti mereka dengan beberapa ikhwah baru. Mereka tiba-tiba mendengar panggilan bantuan. Itu seorang dokter, tersengal-sengal, mengatakan bahwa ada ikhwan yang jatuh di sebuah titik Ribath yang disebut "al-Qalb" - yang berarti hati.

Mereka semua bergegas untuk melihat apa yang terjadi. Ketika mereka tiba di lokasi, mereka menemukan seorang ikhwan terbaring enam meter di depan rumah yang menghadap posisi musuh dan diketahui dijaga oleh sniper musuh. Ikhwan yang terluka itu sangat tersingkap (tubuhnya) dan tidak ada penutup apapun selain tirai gantung tipis dari salah satu dinding.

“Di mana dia ditembak?” tanya Abu Qudamah. “Di perut, ditembak 5 kali,” kata salah seorang ikhwan yang menyaksikan penembakan itu. Ikhwan yang terluka itu mengerang kesakitan dan mengulang syahadatnya lagi dan lagi.

Sniper itu tidak menembak, sehingga para mujahidin tahu bahwa itu adalah taktik lama untuk menarik petugas medis dan mendapatkan lebih banyak yang terbunuh. Abu Qudamah tidak peduli. Dia berkata, “Ya, kita harus melakukan sesuatu, kita tidak bisa meninggalkan dia di sana. Kalian melindungiku dan aku akan pergi membawanya.”

Setelah diskusi singkat, kelompok itu setuju dan rencana ini ditetapkan. Selagi petugas medis berlari untuk meraih ikhwan yang terluka, sisanya akan memberikan tembakan perlindungan ke arah sniper.

“Kami tidak ingin ada dua ikhwan di sana melainkan satu!” salah satu ikhwan memperingatkan petugas medis sebelum misi penyelamatan dilancarkan.

Saat itu merupakan situasi yang sulit, namun tak ada seorang pun yang mempunyai rencana yang lebih baik, dan teriakan nyeri ikhwan yang terluka seperti belati di hati murābithīn (orang-orang yang ribath) tersebut. Abu Qudamah menyempatkan waktu untuk shalat, mengangkat dirinya dari sujud, membersihkan debu dari rambutnya, dan berkata, “Apa kita siap? Maka ayo pergi!”

Dengan satu seruan keras takbir, semua ikhwan mulai menembak, berusaha untuk melepaskan tembakan sebagai tekanan ke arah sniper sebanyak mungkin sehingga petugas medis memperoleh kesempatan. Petugas medis mulai berlari, kemudian ragu-ragu. Dia tenang kembali dan mencoba lagi tapi ragu-ragu lagi.

Abu Qudamah melihatnya dan ia mengambil alih, dimulai dari usahanya sendiri, bergerak mendekat dan lebih dekat dengan ikhwan yang terluka sambil terus menembak, sampai tidak ada apa-apa (yang menghalangi) di antara dia dan jangkauan sniper. Magazine (tempat peluru) miliknya kosong sehingga ia dengan cepat mengisinya kembali, tidak ingin mundur ke belakang perlindungan karena ia sudah begitu dekat dengan ikhwan yang terluka dan dia hampir bisa menyentuhnya.

Dan kemudian hal itu terjadi.

Sniper menembak sekali, menyerangnya di kepala, dan dia langsung jatuh ke tanah. Ikhwan dengan cepat menariknya masuk, menempatkan dia di tandu, dan mengantarnya ke ambulans.

Dia bernapas selama sekitar 15 menit saat perjalanan ke rumah sakit. Seorang ikhwan yang menemaninya di sepanjang waktu bersaksi bahwa meskipun dia cedera berat di kepala dan tengkorak belakangnya benar-benar hancur, Abu Qudamah berulang kali mengucapkan dua kalimat syahadat tepat sebelum ia berhenti bernapas.

“Beginilah aku selalu menggambarkan seorang syahid saat hidupnya maupun kematiannya,” ucap ikhwan yang berada dalam ambulans dengannya. Abu Qudamah dimakamkan di samping sahabatnya Abu Mu’awiyah, sebagaimana yang ia minta dalam surat wasiatnya, dan persaingan mereka di dunia ini pun berakhir. Mereka berdua telah meraih mimpi mereka untuk syahid di jalan Allah, dan sekarang mereka akan terus melanjutkan persahabatan abadi mereka di dalam Jannah, bi idznillāh, setelah dibangkitkan bersama-sama.

Kami memohon kepada Allah untuk menerima mereka –dan semua syuhada’– di tingkat Jannah yang tertinggi dan agar menyertakan kami dengan mereka saat tiba waktu kami. Āamīin…