DABIQ 7 - SPESIAL
PABRIK KEMARAHAN
Oleh: John Cantlie
Adalah taktik kejam pemerintah Barat yang menimbulkan tumbuhnya kemarahan yang akan meruntuhkan negara-negara Barat menjadi abu…
Hal menarik yang aku baca di The Independent pada 19 Januari adalah bahwa hampir setengah penduduk Prancis menentang penerbitan kartun yang menyerang Nabi Muhammad dan bahwa mereka meyakini harus adalah pembatasan lebih terhadap kebebasan berbicara.
Dalam sebuah polling, “42 persen responden menyatakan penentangan terhadap gambar kartun Nabi Muhammad,” kata Zachary Davies Boren dalam artikelnya. Hal ini tidak lama setelah Charlie Hebdo, yang biasanya terjual sekitar 60.000 per edisi, dicetak sebanyak tujuh juta untuk mengatasi permintaan publik setelah serangan Paris. Dan apa yang mereka taruh di sampulnya? Kartun lain dari Nabi Muhammad! Serentak, ratusan ribu Muslim di seluruh dunia meluapkan amarah di jalan-jalan sebagai bentuk protes. Dan siapa yang tahu berapa banyak lainnya yang akan merencanakan serangan lagi kepada Eropa?
Jadi sepertinya setengah dari Prancis memohon agar akal sehat dan rasa saling menghormati yang menang. Dan setengah lainnya ingin meneruskan ucapan asusila dan perilaku agresif. Ini bukan satu-satunya contoh terbelahnya opini menyusul penyerangan setelah seorang komedian ditahan oleh polisi karena memuji operasi tersebut. Jadi dengan kata lain, tidak apa-apa menyinggung Islam dengan mengolok-olok Nabi Muhammad tetapi membela Islam dengan menyatakan dukungan untuk mujahidin adalah suatu pelanggaran.
Serangan Prancis telah menyoroti tumbuhnya kemarahan Muslim di seluruh dunia kepada Eropa. Hanya tiga pemuda Muslim telah mampu membawa satu negara bertekuk lutut sementara di Timur Tengah bom-bom senilai satu milyar dollar telah dijatuhkan hanya dalam waktu tiga bulan terakhir. Namun setiap orang terkejut dan marah setelah serangan yang relatif kecil di sebuah ibukota yang terjadi sebagai akibat langsung darinya.
Kenapa kita? Kenapa di sini? Apa yang telah kita lakukan sehingga berhak mendapatkannya? Nah, ingatlah puluhan Muslim laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang terbunuh di Syria akibat bom-bom koalisi hanya di bulan Januari.
Politisi-politisi segera mendukung Islam, tentu saja, namun hanya “Islam” tipe mereka. Di Inggris, seseorang yang bernama Eric Pickles menulis sebuah surat terbuka kepada komunitas Muslim Inggris meminta bantuan untuk “mengatasi masalah radikalisasi.”
“Nilai-nilai Inggris adalah nilai-nilai Muslim,” ujarnya, sangat jelas dia tidak memahami sama sekali tentang apa yang dia ucapkan, sebelum dengan cepat menambahkan bahwa “pesan perdamaian dan persatuan” Islam membuat negara menjadi lebh baik dan lebih kuat.
Pemimpin Inggris David Cameron memotong fakta, sebagaimana yang biasa ia lakukan, dengan berkata, “Siapa saja yang, dengan terus terang, membaca surat ini, yang memiliki masalah dengannya, aku pikir dia memang memiliki masalah. Apa yang dia katakan bahwa Muslim Inggris membuat kontribusi besar kepada negara kita, itulah yang terjadi dari segi teror para ekstrimis tidak ada hubungannya dengan agama Islam yang sebenarnya. Ia telah diselewengkan oleh segolongan minoritas yang telah teradikalisasi. Terus terang, semua dari kita memiliki tanggung jawab untuk mencoba dan melawan radikalisasi ini, dan memastikan kita menghentikan pemuda-pemuda ditarik ke dalam sekte yang beracun dan gila mati yang telah diciptakan oleh orang-orang yang sangat minoritas.”
Wow.
Apa yang kita saksikan di sini adalah dua orang, politisi, dengan kekuasaan luar biasa, yang tidak memiliki sedikitpun gagasan mengenai apa yang mereka bicarakan. Mereka jelas-jelas hanya memiliki sedikit pengetahuan tentang Islam, Syari’ah, jihad, mujahidin, atau mengapa Muslim menjadi semakin marah tentang bagaimana Barat dengan arogan memaksakan prinsip dan keyakinannya di seluruh dunia.
Namun, sebagai politisi dan pemimpin, mereka memiliki podium untuk menyebarkan opini mereka dan mempengaruhi jutaan lainnya. Sampah yang sama juga kita dengar dari Obama, Hollande, Netanyahu, dan lainnya dan sekali lagi, cacian lama “Islamic State tidak Islami”. Betapa hebat Islam, kami sangat menyukai Muslim, tetapi hanya “Muslim” yang sesuai dengan definisi kami bagaimana seharusnya seorang “Muslim”, yang hampir sesuai dengan definisi pekerja demokrasi. Dan siapa saja yang tidak sesuai dengan definisi “Muslim” yang baru ini akan dianiaya.
Inilah, teman-temanku, Pabrik Kemarahan.
Pemerintah sedang menumbuhkan semakin banyak kemarahan setiap harinya dengan pandangan mereka yang semakin keras yang sama sekali tidak berhasil di dunia nyata. Mereka tidak mau berubah atau beradaptasi. Dihadapkan dengan situasi yang kompleks dan semakin berkembang yang butuh ditangani dengan cerdas atau berbeda, pemerintah Barat hanya mengulang untuk membentuk, dan menggunakan taktik polisi yang kejam atau mendukung intervensi militer ke luar negeri sedangkan respon seperti itulah yang selama beberapa dekade ini membuat situasi semakin memburuk.
Respon mereka seringkali merupakan reaksi yang keras bukannya malah berpikiran ke depan. Menyusul serangan, pemerintah Prancis merespon dengan membanjiri jalan-jalan dengan bala tentara dan tank, sebuah langkah sia-sia yang hanya akan meningkatkan tingkat kepanikan dalam masyarakatnya. Menyusul penangkapan seorang pilot Yordania oleh Daulah Islam, koalisi merespon dengan melancarkan serangan udara intensif dalam satu malam kepada kota ar-Raqqah di Suriah yang hanya akan mendorong mujahidin untuk menembak jatuh lebih banyak pesawat dan mengeksekusi lebih banyak pilot.
Hampir sama dengan politisi yang gagal melihat ledakan pertumbuhan Daulah Islam tahun lalu, mereka juga gagal mengantisipasi gelombang serangan di tanah air mereka dan sama sekali tidak mampu mengatasi situasi tersebut. Kuda telah melesat sejak dulu sedangkan pemerintah baru menutup pintu kandangnya sekarang, hal ini tidak mengherankan karena sejak awal campur tangan mereka-lah yang telah menciptakan cocktail[1] berbahaya ini.
Dan mereka tidak akan pernah mengakuinya.
Pemerintah akan dengan senang hati berbicara dengan organisasi teroris yang dekat dengan tanah air mereka jika cocok dengan mereka. Inggris bernegosiasi dengan separatis IRA dan Spanyol bernegosiasi dengan separatis ETA Basque. Tetapi saat diajak berbicara dengan kelompok Islam, kekerasan dan agresi adalah satu-satunya jawaban, dan mujahidin selalu menimbulkan bahaya yang jauh lebih besar dari kelompok lokal manapun. Jadi betapa sangat jauh lebih berbahaya Khilafah Islam yang didirikan oleh pejuang-pejuang pantang menyerah itu!
Dengan mengambil jalan kekerasan, pemerintah telah menempatkan diri mereka di jalan kematian. Setiap bom yang dijatuhkan di Suriah dan Iraq menjadi alat rekrutmen untuk Daulah Islam. Ini adalah tindakan yang tidak bijaksana ketika jutaan Muslim hidup di negara-negara yang sama yang mungkin saja tidak berlambat-lambat dalam menjawab seruan jihad, dan tindakan ini tak dapat disangkal telah membawa kepada situasi yang sekarang meledak di hadapan mereka baik di rumah maupun luar negeri.
Penolakan mutlak pemerintah untuk melihat gambaran yang lebih besar dan untuk mengambil setiap tindakan perbaikan telah secara gamblang terlihat olehku di dunia kecilku.
Aku telah diperbolehkan untuk mengakses sejumlah laporan berita dan kabar Twitter berkaitan dengan situasiku, dan satu-satunya yang kuperhatikan adalah bahwa yang telah dilakukan pemerintah Inggris dalam kasusku hanyalah berkomentar tak berguna terhadap rilisan video-videoku.
“Kami memperhatikan rilisan video lain dan sedang mempelajari isinya,” kata seorang juru bicara Kantor Luar Negeri. Luar biasa. Kerja yang bagus. Keluarga dan teman-teman telah melakukan jauh lebih banyak untuk orang Inggris lainnya dan diriku yang ditahan di sini. Aku bahkan mengetahui sebuah kampanye online yang diluncurkan oleh sebagian teman-teman lamaku untuk mencoba menyampaikan kisahku di hadapan pemerintah. Terima kasih teman, aku berharap hal tersebut memiliki sedikit efek tapi sungguh, meminta tolong pada pemerintah ketika merekalah yang membuat aturan sejak awal terbukti tidak membuahkan hasil.
Karena dalam kasusku, pemerintah Inggris sangat senang untuk menonton seorang lelaki 81 tahun dari atas ranjang rumah sakit membuat sebuah film meminta pembebasanku, lalu meninggal karena tidak ingin melihat putra terkecilnya dieksekusi. Ia adalah ayahku. Mereka baik-baik saja dengan seorang ibu tiga anak membuat video meminta secara personal kepada Daulah Islam untuk “memulai kembali hubungan langsung” tanpa mereka ikut campur. Ia adalah saudara perempuanku. Dan mereka baik-baik saja dengan seorang wanita yang melakukan banyak wawancara dengan media mencoba menggalang perhatian terhadap situasi sedangkan mereka tidak berbuat sesuatupun. Ia adalah tunanganku, yang kuharapkan namun telah lama melupakanku dan berpaling.
Untuk mereka aku juga mengucapkan terima kasih, terima kasih banyak untuk usaha tanpa kenal lelah kalian. Tetapi biarlah ini terjadi. Biarlah seperti ini dan lanjutkan hidupmu, kalian semua. Apa yang dapat tersisa dari sebuah keluarga, terpukul dan lelah secara emosional setelah dua tahun pencarian, sesuai dugaan mereka harus melakukan sendiri sedangkan pemerintah, penuh dengan pejabat-pejabat cerdas, pemikir, dan lelaki berjas, duduk diam dan tidak melakukan apapun?
Dengan melakukan hal itu Cameron dan teman-temannya telah menarikku ke dalam Pabrik Kemarahan atas penderitaan yang harus ditahan oleh keluargaku atas ulah mereka. Ayahku sedikit membaik tetapi dia tidak seburuk itu ketika aku melihatnya terakhir, dan aku menganggap kurangnya dukungan politik kepada keluargaku, dan oleh karena itu pemerintah, ikut bertanggung jawab atas kematian ayahku.
Oh ya, jangan menyalah artikan ini seperti ucapan “malangnya aku.” Aku benci mengomentari diriku sendiri dan hanya menggunakan diri sendiri sebagai contoh.
Jika kau tidak sesuai masuk ke slot rapi yang dibuatkan pemerintah untukmu, maka kau telah jatuh ke jaring masyarakat biasa dan akan mendapati namamu dalam sebuah daftar atau dengan tenang diabaikan jika situasi menuntutnya. Dan ini tidak hanya politisi. Media juga sayangnya bisa sangat acuh tak acuh dalam pendekatannya. Ini masuk akal jika kau ingat bahwa mayoritas media cetak sekarang juga sayap kanan (di Inggris, the Telegraph, Times, Daily Mail, Sunday Times, dan The Sun semuanya berperang untuk Konservatif) dan sehingga semuanya disuapi dari sistem yang sama. Sangat sedikit laporan yang melihat ke gambaran yang lebih besar atau mengajukan pertanyaan seperti, “Haruskah pemerintah membantu lebih banyak?” Atau, “Dapatkah kita mencegahnya terjadi lagi?” Atau bahkan, “Apa yang bisa dilakukan untuk membantu keluarga-keluarga dalam situasi seperti ini?”
Akhir-akhir ini, dan tetap dengan situasiku sebagai contoh, mereka hanya melaporkan bahwa aku telah membuat video lain dan tampaknya hanya melakukan usaha kecil untuk menelusuri lebih dalam.
“John Cantlie, 43, memainkan peran sebagai wartawan TV di sebuah video jalan-jalan di Mosul yang tampaknya menjadi usaha bagi militan untuk menunjukkan bahwa kehidupan ‘berjalan seperti biasa’ di kota yang dikuasai ISIS di Iraq utara,” lapor Mashable pada 3 Januari.
“Bermaksud untuk menunjukkan bahwa kehidupan berjalan normal di kota Mosul yang dikontrol Jihadi, video ini diproduksi dengan gaya kisah perjalanan televisi mirip dengan yang digunakan dalam program acara liburan,” lapor The Telegraph pada 3 Januari.
“Mr Cantlie berkata bahwa dia telah menerima ‘sejak lama’ bahwa nasibnya ‘sangat mungkin’ sama dengan tawanan-tawanan lainnya,” kata the Express pada 4 Januari.
Dalam banyak laporan ada sedikit komentar atau analisis, hanya “Cantlie membuat film lain dan berbicara mengenai ini dan itu.” Luar biasa, media berpikir situasiku layak untuk dikomentari jika itu membuat orang-orang berpikir melebihi yang tampak tetapi yang pasti poin dari jurnalisme –dan ada beberapa jurnalis yang sangat bagus di luar sana– adalah selalu untuk menembus sedikit lebih dalam dari apa yang nampak di permukaan. Ancaman kematianku selalu disebut-sebut dalam artikel berita dan aku telah membaca hal yang sama berulang kali hingga aku curiga media tidak sabar menunggu eksekusiku. Aku yakin ini akan menjadi hari yang tak terlupakan bagi mereka ketika kepalaku dipotong.
Salah satu situs internet, Newsday 24/7, begitu ingin aku mati, mereka menerbitkan sebuah cerita tentangnya dalam bahasa Inggris yang buruk pada 13 Desember. “Sumber dari dalam Islamic State mengatakan kepada Newsday 24/7 bahwa jurnalis Inggris, John Cantlie telah dieksekusi oleh kelompok tersebut,” kata mereka tanpa, dengan jelas, melakukan verifikasi terhadap pernyataan yang sangat serius tersebut. Luar biasa. Aku menyarankan keluargaku untuk mencari hacker untuk menutup website tersebut karena penderitaan mereka diakibatkan laporan seperti itu.
Publik tampaknya mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan cerdas dan mencoba melihat gambaran yang lebih besar. Perubahan wajah media dalam 10 tahun terakhir berarti publik tidak harus bergantung kepada media yang sama yang telah membuat mereka lelah selama bertahun-tahun, dan membuat media mereka sendiri, yang seringkali lebih cepat, selalu lebih menarik, dan terkadang lebih dapat diandalkan. Setiap hari masyarakat semakin terbuka terhadap dunia yang berkembang dan segala sesuatu yang terjadi di dalamnya dan kurang terpengaruh oleh campur tangan pemerintah dalam apa yang mereka baca. Dalam banyak cara, media sosial telah menjadi alat yang lebih hebat daripada media “nyata”, asalkan Anda tidak terhipnotis oleh tren menipu bahwa media sosial terkadang salah dalam menyampaikan.
Akhir-akhir ini, publiklah yang menjadi pengumpul berita dan para jurnalis membaca apa yang mereka katakan. “Apakah ISIS bermain game kucing dan tikus dengan #JohnCantlie?” tanya seorang tweeter para 3 Januari. “Bermain dan mengejek tawanan hingga mereka membunuhnya? Aku harap tidak namun khawatir iya.”
“Akun twitter ISIS tidak bisa mendapatkan cukup #JohnCantlie,” ucap tweeter lain. “Lupa bahwa dia adalah tawanan dengan pemotong leher tergantung di atas kepalanya.” Dan komentar favoritku, juga di tweet tanggal 3 Januari, “Menggelikan bagaimana seorang tahanan Islamic State terlihat lebih gembira dan lebih bebas daripada sebagian besar dari kita yang hidup di Barat!”
Menarik, hal-hal yang merangsang pikiran, masyarakat mengajukan pertanyaan sulit dan menyuarakan gagasan yang tidak dapat ditemui di media mainstream. Kebenaran dari masalah tersebut, bagi siapapun yang tertarik, adalah bahwa aku menentukan sendiri sebagian besar dari situasiku. Pada bulan September lalu aku berkata bahwa aku akan berbicara melawan pemerintah kita yang pendusta selama mujahidin mengizinkanku untuk hidup, dan sekarang di bulan Februari tetap itulah yang terjadi.
Jika mujahidin memintaku membuat video atau menulis artikel yang dengan cara tertentu ditujukan kepada sistem politik yang sama sekali tidak memperhatikan rakyatnya, walaupun tanpa henti mengatakan sebaliknya, maka aku akan menerima tawaran tersebut. Aku telah melihat puluhan video Cameron mengatakan betapa dia menghargai hidup masyarakat Inggis, namun perbuatan terkadang lebih terdengar daripada perkataan dan hal tersebut bukan yang kusaksikan terkait keluarga rakyat Inggris yang ditahan di Suriah.
Ini hal yang aneh, untuk mengungkapkan kemarahanmu yang sebenarnya kepada pemerintahmu. Bagiku ini sebuah sensasi baru, politik tidak pernah menyentuhku sebelumnya karena aku hidup bahagia di bawah radar. Aku tidak pernah ikut pemilu karena kau menyadari bahwa semua politisi, secara alami, adalah pembohong yang selalu mengatakan apa saja yang perlu dikatakan untuk meraih kekuasaan dan kemudian melakukan persis sama dengan pemimpin sebelumnya kecuali menggunakan warna dasi berbeda.
Sekarang, setelah merasakan secara langsung politisi yang dingin dan bagaimana kejamnya mereka setelah terpilih, aku menyadari betapa aku telah benar sejak awal. (2)
Walaupun menjadi tahanan, aku diperlakukan dengan hormat dan ramah, yang tidak pernah aku lihat dari pemerintahku sendiri, bisakah aku dengan rela hati kembali dan hidup di negara yang tidak mengakui warga Inggris lainnya, semua keluarganya, dan diriku sembari terus menghina?
Aku pikir tidak.
Catatan kaki :
[1] Campuran berbagai macam hal, seringkali tak terduga, berbahaya atau mengejutkan, pent.
(2) Catatan Editor: Keburukan terbesar dalam pemilu dalam sistem demokrasi bukan karena janji-janji palsu dari politisi bermuka dua, melainkan karena hal tersebut mengharuskan melekatkan hak dan sifat Allah –termasuk hak membuat hukum– kepada manusia. Oleh karenanya, ini adalah bentuk syirik akbar. “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih” (Asy-Syuuraa’: 21).
PABRIK KEMARAHAN
Oleh: John Cantlie
Adalah taktik kejam pemerintah Barat yang menimbulkan tumbuhnya kemarahan yang akan meruntuhkan negara-negara Barat menjadi abu…
Hal menarik yang aku baca di The Independent pada 19 Januari adalah bahwa hampir setengah penduduk Prancis menentang penerbitan kartun yang menyerang Nabi Muhammad dan bahwa mereka meyakini harus adalah pembatasan lebih terhadap kebebasan berbicara.
Dalam sebuah polling, “42 persen responden menyatakan penentangan terhadap gambar kartun Nabi Muhammad,” kata Zachary Davies Boren dalam artikelnya. Hal ini tidak lama setelah Charlie Hebdo, yang biasanya terjual sekitar 60.000 per edisi, dicetak sebanyak tujuh juta untuk mengatasi permintaan publik setelah serangan Paris. Dan apa yang mereka taruh di sampulnya? Kartun lain dari Nabi Muhammad! Serentak, ratusan ribu Muslim di seluruh dunia meluapkan amarah di jalan-jalan sebagai bentuk protes. Dan siapa yang tahu berapa banyak lainnya yang akan merencanakan serangan lagi kepada Eropa?
Jadi sepertinya setengah dari Prancis memohon agar akal sehat dan rasa saling menghormati yang menang. Dan setengah lainnya ingin meneruskan ucapan asusila dan perilaku agresif. Ini bukan satu-satunya contoh terbelahnya opini menyusul penyerangan setelah seorang komedian ditahan oleh polisi karena memuji operasi tersebut. Jadi dengan kata lain, tidak apa-apa menyinggung Islam dengan mengolok-olok Nabi Muhammad tetapi membela Islam dengan menyatakan dukungan untuk mujahidin adalah suatu pelanggaran.
Serangan Prancis telah menyoroti tumbuhnya kemarahan Muslim di seluruh dunia kepada Eropa. Hanya tiga pemuda Muslim telah mampu membawa satu negara bertekuk lutut sementara di Timur Tengah bom-bom senilai satu milyar dollar telah dijatuhkan hanya dalam waktu tiga bulan terakhir. Namun setiap orang terkejut dan marah setelah serangan yang relatif kecil di sebuah ibukota yang terjadi sebagai akibat langsung darinya.
Kenapa kita? Kenapa di sini? Apa yang telah kita lakukan sehingga berhak mendapatkannya? Nah, ingatlah puluhan Muslim laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang terbunuh di Syria akibat bom-bom koalisi hanya di bulan Januari.
Politisi-politisi segera mendukung Islam, tentu saja, namun hanya “Islam” tipe mereka. Di Inggris, seseorang yang bernama Eric Pickles menulis sebuah surat terbuka kepada komunitas Muslim Inggris meminta bantuan untuk “mengatasi masalah radikalisasi.”
“Nilai-nilai Inggris adalah nilai-nilai Muslim,” ujarnya, sangat jelas dia tidak memahami sama sekali tentang apa yang dia ucapkan, sebelum dengan cepat menambahkan bahwa “pesan perdamaian dan persatuan” Islam membuat negara menjadi lebh baik dan lebih kuat.
Pemimpin Inggris David Cameron memotong fakta, sebagaimana yang biasa ia lakukan, dengan berkata, “Siapa saja yang, dengan terus terang, membaca surat ini, yang memiliki masalah dengannya, aku pikir dia memang memiliki masalah. Apa yang dia katakan bahwa Muslim Inggris membuat kontribusi besar kepada negara kita, itulah yang terjadi dari segi teror para ekstrimis tidak ada hubungannya dengan agama Islam yang sebenarnya. Ia telah diselewengkan oleh segolongan minoritas yang telah teradikalisasi. Terus terang, semua dari kita memiliki tanggung jawab untuk mencoba dan melawan radikalisasi ini, dan memastikan kita menghentikan pemuda-pemuda ditarik ke dalam sekte yang beracun dan gila mati yang telah diciptakan oleh orang-orang yang sangat minoritas.”
Wow.
Apa yang kita saksikan di sini adalah dua orang, politisi, dengan kekuasaan luar biasa, yang tidak memiliki sedikitpun gagasan mengenai apa yang mereka bicarakan. Mereka jelas-jelas hanya memiliki sedikit pengetahuan tentang Islam, Syari’ah, jihad, mujahidin, atau mengapa Muslim menjadi semakin marah tentang bagaimana Barat dengan arogan memaksakan prinsip dan keyakinannya di seluruh dunia.
Namun, sebagai politisi dan pemimpin, mereka memiliki podium untuk menyebarkan opini mereka dan mempengaruhi jutaan lainnya. Sampah yang sama juga kita dengar dari Obama, Hollande, Netanyahu, dan lainnya dan sekali lagi, cacian lama “Islamic State tidak Islami”. Betapa hebat Islam, kami sangat menyukai Muslim, tetapi hanya “Muslim” yang sesuai dengan definisi kami bagaimana seharusnya seorang “Muslim”, yang hampir sesuai dengan definisi pekerja demokrasi. Dan siapa saja yang tidak sesuai dengan definisi “Muslim” yang baru ini akan dianiaya.
Inilah, teman-temanku, Pabrik Kemarahan.
Pemerintah sedang menumbuhkan semakin banyak kemarahan setiap harinya dengan pandangan mereka yang semakin keras yang sama sekali tidak berhasil di dunia nyata. Mereka tidak mau berubah atau beradaptasi. Dihadapkan dengan situasi yang kompleks dan semakin berkembang yang butuh ditangani dengan cerdas atau berbeda, pemerintah Barat hanya mengulang untuk membentuk, dan menggunakan taktik polisi yang kejam atau mendukung intervensi militer ke luar negeri sedangkan respon seperti itulah yang selama beberapa dekade ini membuat situasi semakin memburuk.
Respon mereka seringkali merupakan reaksi yang keras bukannya malah berpikiran ke depan. Menyusul serangan, pemerintah Prancis merespon dengan membanjiri jalan-jalan dengan bala tentara dan tank, sebuah langkah sia-sia yang hanya akan meningkatkan tingkat kepanikan dalam masyarakatnya. Menyusul penangkapan seorang pilot Yordania oleh Daulah Islam, koalisi merespon dengan melancarkan serangan udara intensif dalam satu malam kepada kota ar-Raqqah di Suriah yang hanya akan mendorong mujahidin untuk menembak jatuh lebih banyak pesawat dan mengeksekusi lebih banyak pilot.
Hampir sama dengan politisi yang gagal melihat ledakan pertumbuhan Daulah Islam tahun lalu, mereka juga gagal mengantisipasi gelombang serangan di tanah air mereka dan sama sekali tidak mampu mengatasi situasi tersebut. Kuda telah melesat sejak dulu sedangkan pemerintah baru menutup pintu kandangnya sekarang, hal ini tidak mengherankan karena sejak awal campur tangan mereka-lah yang telah menciptakan cocktail[1] berbahaya ini.
Dan mereka tidak akan pernah mengakuinya.
Pemerintah akan dengan senang hati berbicara dengan organisasi teroris yang dekat dengan tanah air mereka jika cocok dengan mereka. Inggris bernegosiasi dengan separatis IRA dan Spanyol bernegosiasi dengan separatis ETA Basque. Tetapi saat diajak berbicara dengan kelompok Islam, kekerasan dan agresi adalah satu-satunya jawaban, dan mujahidin selalu menimbulkan bahaya yang jauh lebih besar dari kelompok lokal manapun. Jadi betapa sangat jauh lebih berbahaya Khilafah Islam yang didirikan oleh pejuang-pejuang pantang menyerah itu!
Dengan mengambil jalan kekerasan, pemerintah telah menempatkan diri mereka di jalan kematian. Setiap bom yang dijatuhkan di Suriah dan Iraq menjadi alat rekrutmen untuk Daulah Islam. Ini adalah tindakan yang tidak bijaksana ketika jutaan Muslim hidup di negara-negara yang sama yang mungkin saja tidak berlambat-lambat dalam menjawab seruan jihad, dan tindakan ini tak dapat disangkal telah membawa kepada situasi yang sekarang meledak di hadapan mereka baik di rumah maupun luar negeri.
Penolakan mutlak pemerintah untuk melihat gambaran yang lebih besar dan untuk mengambil setiap tindakan perbaikan telah secara gamblang terlihat olehku di dunia kecilku.
Aku telah diperbolehkan untuk mengakses sejumlah laporan berita dan kabar Twitter berkaitan dengan situasiku, dan satu-satunya yang kuperhatikan adalah bahwa yang telah dilakukan pemerintah Inggris dalam kasusku hanyalah berkomentar tak berguna terhadap rilisan video-videoku.
“Kami memperhatikan rilisan video lain dan sedang mempelajari isinya,” kata seorang juru bicara Kantor Luar Negeri. Luar biasa. Kerja yang bagus. Keluarga dan teman-teman telah melakukan jauh lebih banyak untuk orang Inggris lainnya dan diriku yang ditahan di sini. Aku bahkan mengetahui sebuah kampanye online yang diluncurkan oleh sebagian teman-teman lamaku untuk mencoba menyampaikan kisahku di hadapan pemerintah. Terima kasih teman, aku berharap hal tersebut memiliki sedikit efek tapi sungguh, meminta tolong pada pemerintah ketika merekalah yang membuat aturan sejak awal terbukti tidak membuahkan hasil.
Karena dalam kasusku, pemerintah Inggris sangat senang untuk menonton seorang lelaki 81 tahun dari atas ranjang rumah sakit membuat sebuah film meminta pembebasanku, lalu meninggal karena tidak ingin melihat putra terkecilnya dieksekusi. Ia adalah ayahku. Mereka baik-baik saja dengan seorang ibu tiga anak membuat video meminta secara personal kepada Daulah Islam untuk “memulai kembali hubungan langsung” tanpa mereka ikut campur. Ia adalah saudara perempuanku. Dan mereka baik-baik saja dengan seorang wanita yang melakukan banyak wawancara dengan media mencoba menggalang perhatian terhadap situasi sedangkan mereka tidak berbuat sesuatupun. Ia adalah tunanganku, yang kuharapkan namun telah lama melupakanku dan berpaling.
Untuk mereka aku juga mengucapkan terima kasih, terima kasih banyak untuk usaha tanpa kenal lelah kalian. Tetapi biarlah ini terjadi. Biarlah seperti ini dan lanjutkan hidupmu, kalian semua. Apa yang dapat tersisa dari sebuah keluarga, terpukul dan lelah secara emosional setelah dua tahun pencarian, sesuai dugaan mereka harus melakukan sendiri sedangkan pemerintah, penuh dengan pejabat-pejabat cerdas, pemikir, dan lelaki berjas, duduk diam dan tidak melakukan apapun?
Dengan melakukan hal itu Cameron dan teman-temannya telah menarikku ke dalam Pabrik Kemarahan atas penderitaan yang harus ditahan oleh keluargaku atas ulah mereka. Ayahku sedikit membaik tetapi dia tidak seburuk itu ketika aku melihatnya terakhir, dan aku menganggap kurangnya dukungan politik kepada keluargaku, dan oleh karena itu pemerintah, ikut bertanggung jawab atas kematian ayahku.
Oh ya, jangan menyalah artikan ini seperti ucapan “malangnya aku.” Aku benci mengomentari diriku sendiri dan hanya menggunakan diri sendiri sebagai contoh.
Jika kau tidak sesuai masuk ke slot rapi yang dibuatkan pemerintah untukmu, maka kau telah jatuh ke jaring masyarakat biasa dan akan mendapati namamu dalam sebuah daftar atau dengan tenang diabaikan jika situasi menuntutnya. Dan ini tidak hanya politisi. Media juga sayangnya bisa sangat acuh tak acuh dalam pendekatannya. Ini masuk akal jika kau ingat bahwa mayoritas media cetak sekarang juga sayap kanan (di Inggris, the Telegraph, Times, Daily Mail, Sunday Times, dan The Sun semuanya berperang untuk Konservatif) dan sehingga semuanya disuapi dari sistem yang sama. Sangat sedikit laporan yang melihat ke gambaran yang lebih besar atau mengajukan pertanyaan seperti, “Haruskah pemerintah membantu lebih banyak?” Atau, “Dapatkah kita mencegahnya terjadi lagi?” Atau bahkan, “Apa yang bisa dilakukan untuk membantu keluarga-keluarga dalam situasi seperti ini?”
Akhir-akhir ini, dan tetap dengan situasiku sebagai contoh, mereka hanya melaporkan bahwa aku telah membuat video lain dan tampaknya hanya melakukan usaha kecil untuk menelusuri lebih dalam.
“John Cantlie, 43, memainkan peran sebagai wartawan TV di sebuah video jalan-jalan di Mosul yang tampaknya menjadi usaha bagi militan untuk menunjukkan bahwa kehidupan ‘berjalan seperti biasa’ di kota yang dikuasai ISIS di Iraq utara,” lapor Mashable pada 3 Januari.
“Bermaksud untuk menunjukkan bahwa kehidupan berjalan normal di kota Mosul yang dikontrol Jihadi, video ini diproduksi dengan gaya kisah perjalanan televisi mirip dengan yang digunakan dalam program acara liburan,” lapor The Telegraph pada 3 Januari.
“Mr Cantlie berkata bahwa dia telah menerima ‘sejak lama’ bahwa nasibnya ‘sangat mungkin’ sama dengan tawanan-tawanan lainnya,” kata the Express pada 4 Januari.
Dalam banyak laporan ada sedikit komentar atau analisis, hanya “Cantlie membuat film lain dan berbicara mengenai ini dan itu.” Luar biasa, media berpikir situasiku layak untuk dikomentari jika itu membuat orang-orang berpikir melebihi yang tampak tetapi yang pasti poin dari jurnalisme –dan ada beberapa jurnalis yang sangat bagus di luar sana– adalah selalu untuk menembus sedikit lebih dalam dari apa yang nampak di permukaan. Ancaman kematianku selalu disebut-sebut dalam artikel berita dan aku telah membaca hal yang sama berulang kali hingga aku curiga media tidak sabar menunggu eksekusiku. Aku yakin ini akan menjadi hari yang tak terlupakan bagi mereka ketika kepalaku dipotong.
Salah satu situs internet, Newsday 24/7, begitu ingin aku mati, mereka menerbitkan sebuah cerita tentangnya dalam bahasa Inggris yang buruk pada 13 Desember. “Sumber dari dalam Islamic State mengatakan kepada Newsday 24/7 bahwa jurnalis Inggris, John Cantlie telah dieksekusi oleh kelompok tersebut,” kata mereka tanpa, dengan jelas, melakukan verifikasi terhadap pernyataan yang sangat serius tersebut. Luar biasa. Aku menyarankan keluargaku untuk mencari hacker untuk menutup website tersebut karena penderitaan mereka diakibatkan laporan seperti itu.
Publik tampaknya mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan cerdas dan mencoba melihat gambaran yang lebih besar. Perubahan wajah media dalam 10 tahun terakhir berarti publik tidak harus bergantung kepada media yang sama yang telah membuat mereka lelah selama bertahun-tahun, dan membuat media mereka sendiri, yang seringkali lebih cepat, selalu lebih menarik, dan terkadang lebih dapat diandalkan. Setiap hari masyarakat semakin terbuka terhadap dunia yang berkembang dan segala sesuatu yang terjadi di dalamnya dan kurang terpengaruh oleh campur tangan pemerintah dalam apa yang mereka baca. Dalam banyak cara, media sosial telah menjadi alat yang lebih hebat daripada media “nyata”, asalkan Anda tidak terhipnotis oleh tren menipu bahwa media sosial terkadang salah dalam menyampaikan.
Akhir-akhir ini, publiklah yang menjadi pengumpul berita dan para jurnalis membaca apa yang mereka katakan. “Apakah ISIS bermain game kucing dan tikus dengan #JohnCantlie?” tanya seorang tweeter para 3 Januari. “Bermain dan mengejek tawanan hingga mereka membunuhnya? Aku harap tidak namun khawatir iya.”
“Akun twitter ISIS tidak bisa mendapatkan cukup #JohnCantlie,” ucap tweeter lain. “Lupa bahwa dia adalah tawanan dengan pemotong leher tergantung di atas kepalanya.” Dan komentar favoritku, juga di tweet tanggal 3 Januari, “Menggelikan bagaimana seorang tahanan Islamic State terlihat lebih gembira dan lebih bebas daripada sebagian besar dari kita yang hidup di Barat!”
Menarik, hal-hal yang merangsang pikiran, masyarakat mengajukan pertanyaan sulit dan menyuarakan gagasan yang tidak dapat ditemui di media mainstream. Kebenaran dari masalah tersebut, bagi siapapun yang tertarik, adalah bahwa aku menentukan sendiri sebagian besar dari situasiku. Pada bulan September lalu aku berkata bahwa aku akan berbicara melawan pemerintah kita yang pendusta selama mujahidin mengizinkanku untuk hidup, dan sekarang di bulan Februari tetap itulah yang terjadi.
Jika mujahidin memintaku membuat video atau menulis artikel yang dengan cara tertentu ditujukan kepada sistem politik yang sama sekali tidak memperhatikan rakyatnya, walaupun tanpa henti mengatakan sebaliknya, maka aku akan menerima tawaran tersebut. Aku telah melihat puluhan video Cameron mengatakan betapa dia menghargai hidup masyarakat Inggis, namun perbuatan terkadang lebih terdengar daripada perkataan dan hal tersebut bukan yang kusaksikan terkait keluarga rakyat Inggris yang ditahan di Suriah.
Ini hal yang aneh, untuk mengungkapkan kemarahanmu yang sebenarnya kepada pemerintahmu. Bagiku ini sebuah sensasi baru, politik tidak pernah menyentuhku sebelumnya karena aku hidup bahagia di bawah radar. Aku tidak pernah ikut pemilu karena kau menyadari bahwa semua politisi, secara alami, adalah pembohong yang selalu mengatakan apa saja yang perlu dikatakan untuk meraih kekuasaan dan kemudian melakukan persis sama dengan pemimpin sebelumnya kecuali menggunakan warna dasi berbeda.
Sekarang, setelah merasakan secara langsung politisi yang dingin dan bagaimana kejamnya mereka setelah terpilih, aku menyadari betapa aku telah benar sejak awal. (2)
Walaupun menjadi tahanan, aku diperlakukan dengan hormat dan ramah, yang tidak pernah aku lihat dari pemerintahku sendiri, bisakah aku dengan rela hati kembali dan hidup di negara yang tidak mengakui warga Inggris lainnya, semua keluarganya, dan diriku sembari terus menghina?
Aku pikir tidak.
Catatan kaki :
[1] Campuran berbagai macam hal, seringkali tak terduga, berbahaya atau mengejutkan, pent.
(2) Catatan Editor: Keburukan terbesar dalam pemilu dalam sistem demokrasi bukan karena janji-janji palsu dari politisi bermuka dua, melainkan karena hal tersebut mengharuskan melekatkan hak dan sifat Allah –termasuk hak membuat hukum– kepada manusia. Oleh karenanya, ini adalah bentuk syirik akbar. “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih” (Asy-Syuuraa’: 21).