DABIQ 7 – SYUHADA
DIANTARA ORANG BERIMAN ADA KESATRIA :
ABU QUDAMAH AL-MISHRI
Ketika Abu Qudamah al-Mishri memulai hijrah ke Syam dengan sahabatnya Abu Mu’awiyah al-Mishri pada tahun 2012, di antara sedikit yang mereka berdua harapkan adalah, dengan karunia Allah, (mereka) akan menjadi syuhada’ saat berperang di barisan para lelaki sejati yang pergi untuk menghidupkan kembali Khilafah.
Abu Qudamah adalah seorang pemuda kuat yang meninggalkan London Barat, Inggris pada tahun 2012 bersama sahabatnya Abu Mu’awiyah untuk memenuhi panggilan jihad di Syam. Abu Qudamah sangat bersemangat untuk berperang di jalan Allah dan mencari balasan yang terbesar, hingga ia meninggalkan Inggris dua bulan sebelum anak perempuannya lahir.
Meskipun candaan alamiah Abu Qudamah dikenal selalu menghibur saudara-saudaranya, ia tetap menjalin hubungannya kepada Allah dengan sangat serius, tidak pernah melewatkan puasa Dawud ‘alaihis salam atau menikmati tidur malam sendirian tanpa menghabiskan sebagian dari malam itu untuk mengingat Rabb-nya baik melalui shalat maupun bacaan Al-Qur’an. Dia dikenal selalu mencari hukum Islam yang benar dalam setiap hal yang dilakukannya, dan tidak pernah membiarkan keragu-raguan dan kesesatan untuk bertahan di hadapannya.
Ketika melihat video-video awal yang dirilis oleh al-Furqān Media, Abu Qudamah selalu mengungkapkan cintanya kepada Daulah Islam Iraq, bahkan sebelum pengumuman ekspansinya ke Syam. Menjelang akhir tahun 2012, Abu Qudamah mendapati adiknya Yasin telah syahid di Afghanistan, dan hal ini hanya mendorong Abu Qudamah untuk terus berusaha lebih kuat dalam pertempuran sebagaimana ia mendambakan kesempatan untuk mempersembahkan hidupnya kepada Allah. Selama bulan Ramadhan, kedua sahabat ini memerangi Nushairiyah di Halab, dan keduanya terluka dalam waktu satu minggu. Luka tembak Abu Mu’awiyah sembuh dengan cepat, sedangkan Abu Qudamah menderita cedera yang rumit pada tumitnya. Butuh enam bulan untuk fisioterapi intensif dan perawatan sebelum dia bisa menggunakan kakinya kembali dengan baik. Ketika gipsnya akhirnya dilepas ia tersungkur di tanah dalam shalat, bersujud dalam waktu yang lama untuk bersyukur kepada Allah ta’ala.
Satu tahun kemudian di bulan Ramadhan (2013), sahabat lama dan teman terbaiknya, Abu Mu’awiyah, dibunuh oleh sniper (penembak jitu) Nushairiyah saat ia mencoba menyelamatkan seorang mujahid, Abu Musa al-Jazā’irī, yang terluka pada perang dalam operasi di kota Salqīn di Idlib.
Tidak ada yang lebih membuatnya iri daripada kesyahidan sahabatnya: Dia dalam keadaan berpuasa, hal itu terjadi selama 10 hari terakhir Ramadhan, pada hari Kamis –salah satu hari di mana amal perbuatan seseorang diangkat kepada mana Allah– dan semua ini terjadi di bumi Syam tercinta yang diberkati.
Hal ini mempengaruhi Abu Qudamah. Ia menjadi cukup sedih setelah kematian sahabatnya, bukan karena ia merindukannya, tetapi karena dia kehilangan temannya yang selalu menjadi teman bersaingnya. Dia mulai menunjukkan keinginan yang lebih kuat untuk menjemput syahadah. “Ya Allah berilah aku syahadah,” dia mengatakannya dalam doa, mendorong ikhwah di sekelilingnya untuk melakukan hal yang sama.
Dia menjadi orang yang berbeda setelah kematian sahabatnya. Dia bahkan menjadi lebih fokus, bahkan lebih kuat dalam mempraktekkan agama, dan ia mendapat banyak pelajaran dari pertempurannya dengan tentara Nushairiyah. Sekarang, hampir semua sahabatnya telah syahid dalam peperangan di jalan Allah.
Abu Qudamah berkembang menjadi seorang pejuang tangguh yang bisa melihat menuju ke mana pertempuran di Syam. Dia awalnya memasuki negara melalui wilayah FSA (Free Syrian Army), namun mulai tumbuh permusuhannya terhadap mereka dan cara-cara jahat mereka. Pada tahun 2013, ia berkata kepada ikhwah yang lain, “Perhatikanlah FSA, karena orang-orangnya akan segera memerangi kita.” Karena itu, ia dikenal atas wataknya yang keras terhadap FSA.
Tidak lama setelah kesembuhannya ia bergabung dalam pertempuran di desa Duwayrīnah dekat Halab, menghabiskan sekitar sepuluh hari di dalam Ribath. Dia mendistribusikan makanan kepada ikhwah di lokasi terjauh wilayah Ribath, padahal wilayah mereka sangat berbahaya dan, sehingga, terkadang makanan mereka terpaksa tertunda. Kualitas kepemimpinan terlihat dari dirinya dan ia diberi tanggung jawab atas sekelompok ikhwah di garis depan, mengkoordinasi jam ribath mereka dan mengurusi urusan-urusan mereka.
Selama kemajuan tentara Nushairiyah di mana banyak ikhwah yang tewas dan terluka di dekat lokasi yang dijuluki “Titik 10,” yang terkenal atas kedekatan jaraknya dengan musuh dan persenjataan berat mereka, Abu Qudamah memberikan peringatan kepada ikhwah agar tetap dalam ketabahan dan berteriak, “Surga berada di bawah bayang-bayang pedang!” lagi dan lagi untuk menyemangati mereka yang sedang diserang.
Pada hari kesepuluh Ribath, ia dan sahabatnya masuk Duwayrinah untuk membantu meringankan sekelompok mujahidin, mengganti mereka dengan beberapa ikhwah baru. Mereka tiba-tiba mendengar panggilan bantuan. Itu seorang dokter, tersengal-sengal, mengatakan bahwa ada ikhwan yang jatuh di sebuah titik Ribath yang disebut "al-Qalb" - yang berarti hati.
Mereka semua bergegas untuk melihat apa yang terjadi. Ketika mereka tiba di lokasi, mereka menemukan seorang ikhwan terbaring enam meter di depan rumah yang menghadap posisi musuh dan diketahui dijaga oleh sniper musuh. Ikhwan yang terluka itu sangat tersingkap (tubuhnya) dan tidak ada penutup apapun selain tirai gantung tipis dari salah satu dinding.
“Di mana dia ditembak?” tanya Abu Qudamah. “Di perut, ditembak 5 kali,” kata salah seorang ikhwan yang menyaksikan penembakan itu. Ikhwan yang terluka itu mengerang kesakitan dan mengulang syahadatnya lagi dan lagi.
Sniper itu tidak menembak, sehingga para mujahidin tahu bahwa itu adalah taktik lama untuk menarik petugas medis dan mendapatkan lebih banyak yang terbunuh. Abu Qudamah tidak peduli. Dia berkata, “Ya, kita harus melakukan sesuatu, kita tidak bisa meninggalkan dia di sana. Kalian melindungiku dan aku akan pergi membawanya.”
Setelah diskusi singkat, kelompok itu setuju dan rencana ini ditetapkan. Selagi petugas medis berlari untuk meraih ikhwan yang terluka, sisanya akan memberikan tembakan perlindungan ke arah sniper.
“Kami tidak ingin ada dua ikhwan di sana melainkan satu!” salah satu ikhwan memperingatkan petugas medis sebelum misi penyelamatan dilancarkan.
Saat itu merupakan situasi yang sulit, namun tak ada seorang pun yang mempunyai rencana yang lebih baik, dan teriakan nyeri ikhwan yang terluka seperti belati di hati murābithīn (orang-orang yang ribath) tersebut. Abu Qudamah menyempatkan waktu untuk shalat, mengangkat dirinya dari sujud, membersihkan debu dari rambutnya, dan berkata, “Apa kita siap? Maka ayo pergi!”
Dengan satu seruan keras takbir, semua ikhwan mulai menembak, berusaha untuk melepaskan tembakan sebagai tekanan ke arah sniper sebanyak mungkin sehingga petugas medis memperoleh kesempatan. Petugas medis mulai berlari, kemudian ragu-ragu. Dia tenang kembali dan mencoba lagi tapi ragu-ragu lagi.
Abu Qudamah melihatnya dan ia mengambil alih, dimulai dari usahanya sendiri, bergerak mendekat dan lebih dekat dengan ikhwan yang terluka sambil terus menembak, sampai tidak ada apa-apa (yang menghalangi) di antara dia dan jangkauan sniper. Magazine (tempat peluru) miliknya kosong sehingga ia dengan cepat mengisinya kembali, tidak ingin mundur ke belakang perlindungan karena ia sudah begitu dekat dengan ikhwan yang terluka dan dia hampir bisa menyentuhnya.
Dan kemudian hal itu terjadi.
Sniper menembak sekali, menyerangnya di kepala, dan dia langsung jatuh ke tanah. Ikhwan dengan cepat menariknya masuk, menempatkan dia di tandu, dan mengantarnya ke ambulans.
Dia bernapas selama sekitar 15 menit saat perjalanan ke rumah sakit. Seorang ikhwan yang menemaninya di sepanjang waktu bersaksi bahwa meskipun dia cedera berat di kepala dan tengkorak belakangnya benar-benar hancur, Abu Qudamah berulang kali mengucapkan dua kalimat syahadat tepat sebelum ia berhenti bernapas.
“Beginilah aku selalu menggambarkan seorang syahid saat hidupnya maupun kematiannya,” ucap ikhwan yang berada dalam ambulans dengannya. Abu Qudamah dimakamkan di samping sahabatnya Abu Mu’awiyah, sebagaimana yang ia minta dalam surat wasiatnya, dan persaingan mereka di dunia ini pun berakhir. Mereka berdua telah meraih mimpi mereka untuk syahid di jalan Allah, dan sekarang mereka akan terus melanjutkan persahabatan abadi mereka di dalam Jannah, bi idznillāh, setelah dibangkitkan bersama-sama.
Kami memohon kepada Allah untuk menerima mereka –dan semua syuhada’– di tingkat Jannah yang tertinggi dan agar menyertakan kami dengan mereka saat tiba waktu kami. Āamīin…
DIANTARA ORANG BERIMAN ADA KESATRIA :
ABU QUDAMAH AL-MISHRI
Ketika Abu Qudamah al-Mishri memulai hijrah ke Syam dengan sahabatnya Abu Mu’awiyah al-Mishri pada tahun 2012, di antara sedikit yang mereka berdua harapkan adalah, dengan karunia Allah, (mereka) akan menjadi syuhada’ saat berperang di barisan para lelaki sejati yang pergi untuk menghidupkan kembali Khilafah.
Abu Qudamah adalah seorang pemuda kuat yang meninggalkan London Barat, Inggris pada tahun 2012 bersama sahabatnya Abu Mu’awiyah untuk memenuhi panggilan jihad di Syam. Abu Qudamah sangat bersemangat untuk berperang di jalan Allah dan mencari balasan yang terbesar, hingga ia meninggalkan Inggris dua bulan sebelum anak perempuannya lahir.
Meskipun candaan alamiah Abu Qudamah dikenal selalu menghibur saudara-saudaranya, ia tetap menjalin hubungannya kepada Allah dengan sangat serius, tidak pernah melewatkan puasa Dawud ‘alaihis salam atau menikmati tidur malam sendirian tanpa menghabiskan sebagian dari malam itu untuk mengingat Rabb-nya baik melalui shalat maupun bacaan Al-Qur’an. Dia dikenal selalu mencari hukum Islam yang benar dalam setiap hal yang dilakukannya, dan tidak pernah membiarkan keragu-raguan dan kesesatan untuk bertahan di hadapannya.
Ketika melihat video-video awal yang dirilis oleh al-Furqān Media, Abu Qudamah selalu mengungkapkan cintanya kepada Daulah Islam Iraq, bahkan sebelum pengumuman ekspansinya ke Syam. Menjelang akhir tahun 2012, Abu Qudamah mendapati adiknya Yasin telah syahid di Afghanistan, dan hal ini hanya mendorong Abu Qudamah untuk terus berusaha lebih kuat dalam pertempuran sebagaimana ia mendambakan kesempatan untuk mempersembahkan hidupnya kepada Allah. Selama bulan Ramadhan, kedua sahabat ini memerangi Nushairiyah di Halab, dan keduanya terluka dalam waktu satu minggu. Luka tembak Abu Mu’awiyah sembuh dengan cepat, sedangkan Abu Qudamah menderita cedera yang rumit pada tumitnya. Butuh enam bulan untuk fisioterapi intensif dan perawatan sebelum dia bisa menggunakan kakinya kembali dengan baik. Ketika gipsnya akhirnya dilepas ia tersungkur di tanah dalam shalat, bersujud dalam waktu yang lama untuk bersyukur kepada Allah ta’ala.
Satu tahun kemudian di bulan Ramadhan (2013), sahabat lama dan teman terbaiknya, Abu Mu’awiyah, dibunuh oleh sniper (penembak jitu) Nushairiyah saat ia mencoba menyelamatkan seorang mujahid, Abu Musa al-Jazā’irī, yang terluka pada perang dalam operasi di kota Salqīn di Idlib.
Tidak ada yang lebih membuatnya iri daripada kesyahidan sahabatnya: Dia dalam keadaan berpuasa, hal itu terjadi selama 10 hari terakhir Ramadhan, pada hari Kamis –salah satu hari di mana amal perbuatan seseorang diangkat kepada mana Allah– dan semua ini terjadi di bumi Syam tercinta yang diberkati.
Hal ini mempengaruhi Abu Qudamah. Ia menjadi cukup sedih setelah kematian sahabatnya, bukan karena ia merindukannya, tetapi karena dia kehilangan temannya yang selalu menjadi teman bersaingnya. Dia mulai menunjukkan keinginan yang lebih kuat untuk menjemput syahadah. “Ya Allah berilah aku syahadah,” dia mengatakannya dalam doa, mendorong ikhwah di sekelilingnya untuk melakukan hal yang sama.
Dia menjadi orang yang berbeda setelah kematian sahabatnya. Dia bahkan menjadi lebih fokus, bahkan lebih kuat dalam mempraktekkan agama, dan ia mendapat banyak pelajaran dari pertempurannya dengan tentara Nushairiyah. Sekarang, hampir semua sahabatnya telah syahid dalam peperangan di jalan Allah.
Abu Qudamah berkembang menjadi seorang pejuang tangguh yang bisa melihat menuju ke mana pertempuran di Syam. Dia awalnya memasuki negara melalui wilayah FSA (Free Syrian Army), namun mulai tumbuh permusuhannya terhadap mereka dan cara-cara jahat mereka. Pada tahun 2013, ia berkata kepada ikhwah yang lain, “Perhatikanlah FSA, karena orang-orangnya akan segera memerangi kita.” Karena itu, ia dikenal atas wataknya yang keras terhadap FSA.
Tidak lama setelah kesembuhannya ia bergabung dalam pertempuran di desa Duwayrīnah dekat Halab, menghabiskan sekitar sepuluh hari di dalam Ribath. Dia mendistribusikan makanan kepada ikhwah di lokasi terjauh wilayah Ribath, padahal wilayah mereka sangat berbahaya dan, sehingga, terkadang makanan mereka terpaksa tertunda. Kualitas kepemimpinan terlihat dari dirinya dan ia diberi tanggung jawab atas sekelompok ikhwah di garis depan, mengkoordinasi jam ribath mereka dan mengurusi urusan-urusan mereka.
Selama kemajuan tentara Nushairiyah di mana banyak ikhwah yang tewas dan terluka di dekat lokasi yang dijuluki “Titik 10,” yang terkenal atas kedekatan jaraknya dengan musuh dan persenjataan berat mereka, Abu Qudamah memberikan peringatan kepada ikhwah agar tetap dalam ketabahan dan berteriak, “Surga berada di bawah bayang-bayang pedang!” lagi dan lagi untuk menyemangati mereka yang sedang diserang.
Pada hari kesepuluh Ribath, ia dan sahabatnya masuk Duwayrinah untuk membantu meringankan sekelompok mujahidin, mengganti mereka dengan beberapa ikhwah baru. Mereka tiba-tiba mendengar panggilan bantuan. Itu seorang dokter, tersengal-sengal, mengatakan bahwa ada ikhwan yang jatuh di sebuah titik Ribath yang disebut "al-Qalb" - yang berarti hati.
Mereka semua bergegas untuk melihat apa yang terjadi. Ketika mereka tiba di lokasi, mereka menemukan seorang ikhwan terbaring enam meter di depan rumah yang menghadap posisi musuh dan diketahui dijaga oleh sniper musuh. Ikhwan yang terluka itu sangat tersingkap (tubuhnya) dan tidak ada penutup apapun selain tirai gantung tipis dari salah satu dinding.
“Di mana dia ditembak?” tanya Abu Qudamah. “Di perut, ditembak 5 kali,” kata salah seorang ikhwan yang menyaksikan penembakan itu. Ikhwan yang terluka itu mengerang kesakitan dan mengulang syahadatnya lagi dan lagi.
Sniper itu tidak menembak, sehingga para mujahidin tahu bahwa itu adalah taktik lama untuk menarik petugas medis dan mendapatkan lebih banyak yang terbunuh. Abu Qudamah tidak peduli. Dia berkata, “Ya, kita harus melakukan sesuatu, kita tidak bisa meninggalkan dia di sana. Kalian melindungiku dan aku akan pergi membawanya.”
Setelah diskusi singkat, kelompok itu setuju dan rencana ini ditetapkan. Selagi petugas medis berlari untuk meraih ikhwan yang terluka, sisanya akan memberikan tembakan perlindungan ke arah sniper.
“Kami tidak ingin ada dua ikhwan di sana melainkan satu!” salah satu ikhwan memperingatkan petugas medis sebelum misi penyelamatan dilancarkan.
Saat itu merupakan situasi yang sulit, namun tak ada seorang pun yang mempunyai rencana yang lebih baik, dan teriakan nyeri ikhwan yang terluka seperti belati di hati murābithīn (orang-orang yang ribath) tersebut. Abu Qudamah menyempatkan waktu untuk shalat, mengangkat dirinya dari sujud, membersihkan debu dari rambutnya, dan berkata, “Apa kita siap? Maka ayo pergi!”
Dengan satu seruan keras takbir, semua ikhwan mulai menembak, berusaha untuk melepaskan tembakan sebagai tekanan ke arah sniper sebanyak mungkin sehingga petugas medis memperoleh kesempatan. Petugas medis mulai berlari, kemudian ragu-ragu. Dia tenang kembali dan mencoba lagi tapi ragu-ragu lagi.
Abu Qudamah melihatnya dan ia mengambil alih, dimulai dari usahanya sendiri, bergerak mendekat dan lebih dekat dengan ikhwan yang terluka sambil terus menembak, sampai tidak ada apa-apa (yang menghalangi) di antara dia dan jangkauan sniper. Magazine (tempat peluru) miliknya kosong sehingga ia dengan cepat mengisinya kembali, tidak ingin mundur ke belakang perlindungan karena ia sudah begitu dekat dengan ikhwan yang terluka dan dia hampir bisa menyentuhnya.
Dan kemudian hal itu terjadi.
Sniper menembak sekali, menyerangnya di kepala, dan dia langsung jatuh ke tanah. Ikhwan dengan cepat menariknya masuk, menempatkan dia di tandu, dan mengantarnya ke ambulans.
Dia bernapas selama sekitar 15 menit saat perjalanan ke rumah sakit. Seorang ikhwan yang menemaninya di sepanjang waktu bersaksi bahwa meskipun dia cedera berat di kepala dan tengkorak belakangnya benar-benar hancur, Abu Qudamah berulang kali mengucapkan dua kalimat syahadat tepat sebelum ia berhenti bernapas.
“Beginilah aku selalu menggambarkan seorang syahid saat hidupnya maupun kematiannya,” ucap ikhwan yang berada dalam ambulans dengannya. Abu Qudamah dimakamkan di samping sahabatnya Abu Mu’awiyah, sebagaimana yang ia minta dalam surat wasiatnya, dan persaingan mereka di dunia ini pun berakhir. Mereka berdua telah meraih mimpi mereka untuk syahid di jalan Allah, dan sekarang mereka akan terus melanjutkan persahabatan abadi mereka di dalam Jannah, bi idznillāh, setelah dibangkitkan bersama-sama.
Kami memohon kepada Allah untuk menerima mereka –dan semua syuhada’– di tingkat Jannah yang tertinggi dan agar menyertakan kami dengan mereka saat tiba waktu kami. Āamīin…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar