Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 April 2018

SIKAP KERAS DAN TEGAS KEPADA ORANG-ORANG KAFIR DALAM SEJARAH NABI DAN KHULAFA'UR RASYIDIN

SIKAP KERAS DAN TEGAS KEPADA ORANG-ORANG KAFIR DALAM SEJARAH NABI DAN KHULAFA'UR RASYIDIN

Allah mengutus Rasul-Nya Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai rahmat semesta alam. Dengan berani beliau menyeru mereka ke jalan kebenaran dan petunjuk. Siapa yang menerima, niscaya dia akan memperoleh rahmat ini. Sedangkan siapa yang menolak dan membangkang kepadanya, niscaya akan beliau perangi dan beliau perlakukan dengan keras dan tegas hingga mau tunduk kepada perintah Allah azza wa jalla. Perjalanan hidup beliau adalah saksi dan bukti terbaik akan hal itu.

Sekembalinya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dari Perang Badar, beliau memerintahkan agar tawanan bernama Uqbah bin Abi Mu’aith dieksekusi mati, karena Uqbah adalah orang yang paling keras gangguannya kepada Islam dan kaum muslimin. Berkata adz-Dzahabi dalam as-Sirah: “Uqbah bin Abi Mu’aith dieksekusi mati di ‘Irqu azh-Zhubyah (nama tempat -pent). Ketika Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam memerintahkan untuk membunuhnya ia bertanya: “Siapa yang akan mengurus anak-anakku hai Muhammad?" Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam menyergah: “Neraka” (Sebagian Ulama menjelaskan bahwa maksudnya adalah bagimu neraka dan biarkan Allah yang akan menanggung anak-anakmu). Lalu ia dibunuh oleh ‘Ashim bin Tsabit bin Abu al-Aqla radhiyallahu anhu, ada juga yang mengatakan oleh Ali radhiyallahu anhu radhiyallahu anhu”.

Dalam Perang Uhud, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga memerintahkan untuk mengeksekusi mati tawanan bernama Abu ‘Izzah al-Jumahi, yang memiliki beberapa putri. Ibnu Katsir bercerita: “Tidak ada yang ditawan dari kalangan musyrikin selain Abu ‘Izzah al-Jumahi. Sebelumnya dia juga pernah ditawan waktu Perang Badar. Ketika itu dia dibebaskan tanpa tebusan tapi dengan syarat tidak akan memerangi beliau lagi. Maka, ketika kembali ditawan di Perang Uhud, dia berkata, ‘Hai Muhammad, bebaskanlah aku demi putri-putriku, aku berjanji tidak akan memerangimu lagi’. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pun menjawab: “Aku tidak akan membiarkanmu memanfaatkan kedua buah hatimu di Makkah itu dan engkau berkata aku berhasil menipu Muhammad dua kali”. Kemudian Beliau memerintahkan untuk dipenggal lehernya. Sebagian ulama menyebutkan bahwa ketika itu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Seorang mukmin tidak akan terperosok ke lubang yang sama sebanyak dua kali”.

Kedua tawanan ini, kondisinya tidak dalam posisi bisa dibebaskan, ditebus, atau dikasihani. Karena jika sampai terjadi, niscaya akan berpengaruh pada wibawa Rasul Rabb semesta alam, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh beliau ketika mengeksekusi Abu ‘Izzah.

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam tidak pernah membiarkan orang yang telah mengganggu Islam dan umat Islam dalam kondisi aman, meskipun gangguannya cuma dengan ucapan dan tahridh (provokasi), sebagaimana yang terjadi pada si Yahudi Ka’ab bin alAsyraf.

Ibnu Ishaq berkata: “Ka’ab mulai memprovokasi untuk menyerang Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam seraya melantunkan syair-syair. Dia menangisi pembesar-pembesar Quraisy yang dilempar jasadnya ke sumur sewaktu Perang Badar. Kemudian Ka’ab bin al-Asyraf pulang ke Madinah. Dia mulai mengganggu Ummu Fadhal binti Harits, kemudian para muslimah yang lain”.

Sehingga keluarlah perintah dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam untuk memenggal kepala si thaghut ini, beliau bertanya kepada para sahabat siapa yang mampu melaksanakan operasi ini.

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: ‘Siapakah yang bisa membungkam Ka’ab bin al-Asyraf? Sungguh, dia telah menyakiti Allah dan Rasul-Nya’. Muhammad bin Maslamahpun bangkit seraya berkata: ‘Wahai Rasulullah, apakah anda ingin saya membunuhnya? Beliau menjawab: ‘Ya’, hingga akhir hadits. (HR. Bukhari dan Muslim)

Setelah Perang Ahzab, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bertolak menuju Bani Quraizhah guna mengepung mereka akibat pelanggaran mereka terhadap isi perjanjian. Hukum Allah atas mereka yaitu semua lelaki mereka dibunuh, sedangkan para wanita dan anakanak mereka ditawan.

Dari Aisyah berkata: “Sa’ad (Sa’ad bin Mu’adz –pent) terluka di tengkuknya sewaktu perang Khandaq akibat terkena panah yang dilepaskan oleh seorang lelaki Quraisy bernama Ibnul ‘Irqoh. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam membuatkannya sebuah tenda di masjid agar beliau bisa selalu menjenguknya. Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pulang dari Perang Khandaq beliau meletakkan senjata dan bergegas mandi. Jibril alaihissalam pun menemui beliau sambil membersihkan debu dari kepalanya, lalu berkata, ‘Engkau meletakkan senjata? Padahal demi Allah kami belum meletakkannya, keluarlah kepada mereka’. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bertanya, “Kemana? Jibril alaihissalam menunjuk ke arah Bani Quraizhah. Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memerangi mereka hingga mereka menyerah kepada keputusan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, tetapi justru beliau menyerahkan keputusannya kepada Saad radhiyallahu anhu. Saad berkata: ‘Saya putuskan bahwa seluruh petempur mereka dibunuh, anak-anak dan wanitanya ditawan, dan harta mereka dibagi-bagi’. Urwah bin Zubair berkata: ‘Lalu aku diberi tahu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: ‘Sungguh, engkau telah memutuskan sesuai dengan keputusan Allah ta'ala tentang mereka’. (HR. Muslim).

Demikianlah, sikap keras dan tegas pada para pengkhianat itu adalah obat mujarab dan pelajaran amat berharga bagi yang lainnya.

Sebelumnyapun Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah mengusir Bani Nadhir dari tempat tinggal mereka dan merampas harta benda mereka setelah upaya mereka untuk membunuh beliau ketika sedang berada di tengah-tengah mereka dibongkar oleh Allah. Tidak lama setelah itu, beliau segera keluar untuk mengepung dan memerangi mereka, lalu Allah menolong beliau untuk mengalahkan mereka. Begitu juga beliau telah memerangi Bani Qoinuqo’ dan mengepung mereka. Demikian pula tindakan atas Yahudi Khaibar, beliau menyerang dan menaklukkan benteng-benteng mereka secara paksa (lihat: Sirah Ibnu Hisyam).

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga tidak pernah diam saja sekalipun terhadap satu orang muslim yang dibunuh secara khianat dan zhalim, tidak seperti kelakuan para juru dakwah busuk itu yang menggembosi kaum muslim agar tidak mengambil hak mereka dari orang yang membunuh, menumpahkan darah, dan memperkosa kehormatan mereka.

Ibnu Katsir berkata: “al-Waqidi berkata, ‘Pada bulan Syawwal tahun 6 H, Sariyah Kurz bin Jabir al-Fihri berangkat mengejar orang-orang Urainah yang telah membunuh penggembala unta Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan merampas untanya”.

Dari Anas radhiyallahu anhu bahwa serombongan dari suku Ukal dan Urainah pergi ke Madinah untuk bertemu Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan menyatakan keislamannya. Mereka berkata; “Wahai Nabi Allah, sesungguhnya kami adalah orang-orang penggembala ternak bukan orang-orang yang bisa bercocok tanam”. Ternyata mereka tidak suka tinggal di Madinah karena suhunya (hingga menyebabkan sakit). Akhirnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memerintahkan untuk memberikan sejumlah unta dengan penggembalanya agar mereka dapat meminum susu dan berobat dengan air seni unta-unta itu. Mereka lalu pergi, dan sesampainya di luar Madinah mereka kembali kafir, membunuh pengembala Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan merampas unta-unta beliau. Ketika peristiwa ini sampai kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, beliau langsung memerintahkan untuk memburu dan menangkap mereka. (Setelah berhasil ditangkap), beliau memerintahkan untuk men-tasmir mata mereka dengan besi panas, (attasmir artinya memanaskan batang besi lalu mendekatkannya ke mata tanpa menyentuhnya, hanya saja panasnya akan melelehkan mata) memotong tangan-tangan mereka, dan membiarkan mereka di bawah sengatan matahari sampai mati dalam kondisi seperti itu. (HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah hukuman Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, meski beliau melarang untuk mencincang, tetapi hukum qishash telah tetap terkait mereka dan orang-orang semisal mereka. Beliau tidak membiarkan para pembunuh sang penggembala bebas berkeliaran, tetapi beliau segera mengirim sariyah untuk mengejar dan menangkap mereka, lalu menerapkan hukum qishosh kepada mereka.

Pada waktu Fathu Makkah (semoga Allah mengulangnya kembali), Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memerintahkan untuk membunuh beberapa orang meskipun mereka berlindung di balik tirai Ka’bah. Dari Anas radhiyallahu anhu bahwa pada waktu penaklukan kota Makkah, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam memasuki kota Makkah sambil mengenakan penutup kepala diatas kepala beliau, ketika beliau membukannya, seorang laki-laki langsung menemuinya sambil berkata; ‘Wahai Rasulullah, ini Ibnu Khathal sedang bergelayutan di tirai Ka’bah.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Bunuhlah dia! (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari Sa’ad bin Abi Waqqosh radhiyallahu anhu berkata: “Pada waktu penaklukan kota Makkah, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menjamin keamanan semua orang selain empat lelaki dan dua wanita, beliau bersabda: “Bunuhlah mereka meskipun sedang bergelayutan di tirai Ka’bah”. (HR. an-Nasa’i)

Yang demikian itu adalah karena gangguan mereka kepada Islam dan kaum muslimin. Ternyata tirai Ka’bah yang mulia tidak mampu melindungi mereka dari syariat Rabbul ‘alamin setelah kekafiran berat yang mereka lakukan dengan lisan dan tangan mereka.

Inilah bukti-bukti dari “sirah” Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan masih banyak lagi, tanpa menafikan sifat lembut dan kasih sayang beliau, tetapi sebagaimana firman Allah ta'ala: (Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya mereka keras kepada orang-orang kafir dan saling berkasih sayang dengan sesama mereka). (QS. al-Fath: 29).

Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pasti akan melaksanakan perintah Allah ta'ala yang telah berfirman kepadanya: (Hai orang-orang beriman, perangilah orang-orang kafir yang terdekat dari kalian dan hendaklah mereka mendapatkan perlakuan kasar dari kalian dan ketahuilah bahwa Allah bersama orang-orang-orang yang bertaqwa). (QS. at-Taubah: 123)

Demikian juga, disamping beliau Shallallahu Alaihi Wasallam Nabiyur Rahmah (pembawa kasih sayang), beliau juga Nabiyul Malhamah (pengobar perang).

Adapun sikap melihat sisi terkait kelembutan dan kasih sayang beliau kepada para wali Allah, namun justru menerapkannya kepada musuhmusuh Allah, maka ini adalah manhaj para wali thaghut yang ingin supaya umat Islam mau bermudahanah (toleransi) dengan musuh-musuh mereka. Bahkan mereka ingin supaya umat Islam mentaati mereka jika ada jalan untuk itu. Namun jika seorang muslim bangkit untuk menyerang dan melukai musuh-musuh Allah, dan memperlakukan mereka seperti perlakuan mereka kepada umat Islam berupa pembunuhan dan pengusiran, niscaya para setan itu akan segera mengingkarinya dengan alasan perbuatan itu mencoreng nama baik Islam dan kaum muslimin. Islam apa yang mereka bicarakan dan agama apa yang mereka ikuti??

Sikap Keras Dan Tegas Kepada Orang-orang Kafir dalam Sejarah Khulafaur Rasyidin

Para sahabat radhiyallahu anhum adalah kaum yang paling lembut hatinya, paling ramah sikapnya, paling bagus pergaulan dan akhlaknya, dan paling bersemangat dalam menyebarkan Dien dan mengangkat bendera Islam. Mereka juga orang-orang yang paling bersemangat dalam berpegang teguh pada petunjuk nabawi dan ittiba’ sunnah Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam dalam semua perkara. Termasuk persoalan memperlakukan orang kafir dalam peperangan. Mereka adalah orang-orang yang keras terhadap orang kafir dan bersikap kasar terhadap mereka dengan menghunuskan pedang. Sehingga dengan itu mereka bisa meneguhkan pokok-pokok Din, menegakkan pondasi Islam, dan mengangkat bendera tauhid tinggi-tinggi.

Pemuka mereka dalam hal itu adalah ash-Shiddiq radhiyallahu anhu, yang dengan keteguhannya Allah meneguhkan Islam ketika beliau berazam untuk memerangi seluruh orang-orang murtad yang enggan melaksanakan satu syariat saja dari syariat Islam yang nampak dan mutawatir (disepakati), yaitu kewajiban membayar zakat. Beliau tidak membedakan antara mereka dengan orang yang kembali pada penyembahan berhala maupun yang mengikuti para pendusta. Oleh karena itu, beliau membentuk batalyon-batalyon tempur dan mengutus berbagai detasemen, seperti batalyon yang diserahkannya kepada pedang Allah yang terhunus Khalid bin al-Walid radhiyallahu anhu.

Dalam serbuan pertamanya, Khalid berhasil mematahkan dan memporakporandakan kekuatan pasukan Thulaihah bin Khuwailid al-Asadi dan sekutu-sekutunya dari kabilah Arab. Kemudian ash-Shiddiq menyuratinya dan menyuruhnya untuk menghabisi dan menuntaskan mereka.

Ibnu Katsir berkata: “Abu Bakar ash-Shiddiq menyurati Khalid ketika sampai kabar keberhasilannya mematahkan kekuatan Thulaihah dan sekutu-sekutunya; ‘Hendaknya nikmat Allah ini semakin menambah kebaikanmu. Bertaqwalah kepada Allah, karena Allah bersama orang-orang yang bertaqwa dan berbuat baik. Bersungguh-sungguhlah dalam aksimu, tidak perlu berlembutlembut. Jangan biarkan seorang musyrik pun yang berhasil engkau tangkap sedang ia telah membunuh kaum muslimin kecuali engkau habisi, pun juga orang yang menentang Allah atau menganggap baik hal itu yang berhasil engkau tangkap kecuali engkau bunuh’. (al-Bidayah wa an-Nihayah).

Sang Pedang Allah yang terhunus itupun melaksanakan perintah tersebut dengan sebaik-baiknya. Beliau segera mengejar sisa-sisa pasukan murtaddin yang terkalahkan itu dan mengqishash serta menghabisi mereka.

Ibnu Katsir berkata: “Selama sebulan beliau terus memburu mereka dan membalaskan darah kaum muslimin yang dibantai ketika mereka murtad. Diantara mereka ada yang dibakar, ada yang dihantam dengan batu, dan ada yang dilempar dari tebing tinggi. Semua itu agar orang-orang murtad yang mendengar kabar mereka bisa mengambil pelajaran”.

Tindakan ini juga sebuah terror bagi sisa-sisa murtaddin yang mengikuti kabar-kabar ini, sehingga sebagian dari mereka segera bertaubat dan taat, sedang yang lainnya tetap ngotot bertempur.

Ketika utusan Bazakhah datang meminta perdamaian kepada Abu Bakar ash-Shiddiq dan berjanji untuk kembali melaksanakan seluruh syariat Islam, beliau memberi mereka dua opsi yaitu perang yang membinasakan atau perdamaian yang menghinakan. Ibnu Katsir berkata: “Mereka berkata, ‘Wahai khalifah Rasulullah, kita mengerti apa itu perang yang membinasakan, lalu apa maksudnya perdamaian yang menghinakan? Jawabnya, ‘Peralatan tempur kalian diambil, dan kalian akan dibiarkan mengikuti ekor-ekor sapi sampai Allah memperlihatkan pada khalifah Nabinya dan orang-orang mukmin suatu perkara yang membuat kalian bisa dimaafkan. Kalian mengganti semua kerugian kami sedangkan kami tidak mengganti kerugian kalian. Kalian bersaksi bahwa prajurit kami yang terbunuh itu berada di surga sedangkan kalian yang terbunuh berada di neraka”. Diriwayatkan oleh Bukhari secara singkat.

Tindakan ash-Shiddiq radhiyallahu anhu ini merupakan penghinaan kepada orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya agar mereka sadar betapa buruk dan berbahanya aksinya itu. Dengan itu, beliau juga bermaksud mengamankan Daulah Islam dari ancaman mereka dengan melucuti senjata mereka setelah mereka bertaubat. Tindakan ini didasarkan pada kemuliaan Islam dan kaum muslimin. Sekalipun pertempuran dengan murtaddin belumlah selesai, namun beliau tetap mendesakkan syarat ini untuk menunjukkan kemuliaan negaranya dan kaum muslimin dan menghinakan orang yang memusuhi atau memeranginya.

Beliau juga bertindak sama kerasnya terhadap seorang murtad yang menipu dan memerangi kaum muslimin, yaitu Fuja’ah as-Sulami, dengan membakarnya.

Ibnu Katsir berkata: “Adalah ash-Shiddiq pernah membakar Fuja’ah di Baqi’. Sebabnya adalah, sebelumnya ia mendatangi Abu Bakar dan mengklaim telah beriman, kemudian meminta beliau menyiapkan sebuah pasukan untuk memerangi orang-orang murtad. Setelah pasukan itu disiapkan dan diberangkatkan, ternyata ia malah membunuh dan merampas harta setiap muslim dan murtad yang dilewatinya. Ketika hal itu terdengar oleh ash-Shiddiq, beliau segera mengirim pasukan untuk mengejar dan menawannya. Setelah berhasil ditawan ia diseret ke Baqi’, tangannya lalu diikat ke tengkuknya, dan dibakar dalam keadaan terjepit”.

Adapun di Yamamah, pertempuran tersengit berlangsung melawan orangorang murtad pengikut Musailamah al-Kadzab. Para sahabat radhiyallahu anhum terpaksa bekerja keras sampai berhasil menguasai dan menangkapi mereka, lalu menghabisi mereka.

Ibnu Katsir berkata: “Jumlah korban musuh yang terbunuh di Kebun Kematian dan pada pertempuran ini mencapai sepuluh ribu, atau dikatakan dua puluh satu ribu prajurit. Sedang kaum muslimin yang terbunuh mencapai tujuh ratus, atau dikatakan lima ratus prajurit”.

Ibnul Atsir berkata dalam al-Kamil: “Ketika itu surat Abu Bakar yang memerintahkan untuk membunuh setiap orang dewasa baru sampai di tangan Khalid sedangkan ia telah membuat perjanjian damai dengan mereka, sehingga ia tetap menepati perjanjiannya itu dan tidak mengkhianati mereka”.

Jikalau bukan lantaran perjanjian damai yang telah disepakati Khalid bin al-Walid dengan perwakilan Bani Hanifah sebelum surat Abu Bakar radhiyallahu anhu sampai di tangannya niscaya ia akan menghabisi mereka.

Sementara itu di Bahrain, setelah al-‘Ala bin al-Hadhrami radhiyallahu anhu berhasil mematahkan perlawanan murtaddin dan memporakporandakan mereka, orang-orang murtad itu kabur menyeberangi teluk.

Ibnu Katsir berkata: “Kemudian kaum muslimin memburu jejak orang-orang yang terkalahkan itu dan membunuhi serta membantai mereka, sebagiannya atau mayoritasnya kabur menyeberang ke pulau Darin”.

Kaum muslimin tidak memberi kesempatan pada mereka untuk sekedar menghela nafas. Mereka memutuskan untuk menyeberangi teluk dengan menaiki kapal. Namun ketika hal itu ternyata malah memperlambat mereka, al-‘Ala bin al-Hadhrami radhiyallahu anhu dengan bertawakkal kepada Allah memutuskan untuk menceburkan dirinya dan pasukannya ke teluk tanpa menaiki kapal.

Ibnu Katsir berkata: “Dengan izin Allah mereka berjalan menyeberangi teluk laksana pasir lunak yang mengambang, air hanya menyentuh kaki-kaki unta dan kuda tidak mencapai pelananya. Perjalanan menaiki kapal membutuhkan waktu sehari semalam, namun mereka berhasil mencapai pantai pulau itu, bertempur memporakporandakan musuhnya, lalu mengangkuti ghanimah dan kembali ke tempat semula hanya dalam waktu sehari saja. Tidak ada seorangpun tawanan yang tertinggal. Semua ghanimah diangkut dan hewan ternak digiring menuju Madinah”.

Seperti inilah seluruh operasi penumpasan para murtaddin, memporak-porandakan dan menghabisi mereka sampai mereka kembali kepada perintah Allah atau mati dalam kondisi murtad.

Setelah ash-Shiddiq selesai menumpas orang-orang murtad, barulah beliau memulai penaklukkan Iraq dan Syam. Orang-orang murtad adalah batu sandungan terbesar di jalan jihad fisabilillah dan penyebaran Islam di bumi yang harus dibasmi habis, sampai umat Islam bisa berkesempatan menyeru dan memerangi umat-umat lain berdasarkan perintah Allah.

Dalam salah satu pertempurannya melawan Persia Majusi, Sang Pedang Allah yang terhunus bersumpah untuk mengalirkan sungai dengan darah mereka.

Ibnu Katsir berkata: “Khalid berkata, ‘Ya Allah, aku bersumpah jika Engkau menguasakan mereka pada kami maka aku tidak akan menyisakan seorangpun dari mereka sampai mengalirkan sungai dengan darah mereka’. Kemudian Allah ta'ala menganugerahkan kemenangan kepada kaum muslimin. Penyeru Khalid segera berteriak, ‘Tawanlah, tawanlah, jangan dibunuh kecuali yang menolak ditawan’. Maka kuda-kuda datang bergelombang menyeret para tawanan. Kemudian beberapa prajurit diperintahkan untuk memenggal kepala para tawanan satu demi satu di tepi sungai. Hal itu terjadi selama sehari semalam. Hari berikutnya perburuan tawanan masih berlanjut, demikian juga esoknya. Tiap kali seorang tawanan berhasil ditangkap maka diseret ke tepi sungai dan dipenggal lehernya. Sampai air sungai tidak mengalir lantaran darah yang membeku. Maka sebagian komandan berkata kepada Khalid bahwa sungai tidak akan mengalirkan darah mereka sampai ia mengalirkan air untuk membuang darah yang menggumpal sehingga dengan demikian sumpahnya bisa dipenuhi. Dialirkanlah aliran sungai itu, sehingga air sungai memerah karena darah, karena itulah sungai itu kemudian dinamai sungai darah sampai saat ini. Saat itu korban tentara Persia mencapai 70.000 prajurit.”

Dalam salah satu pertempuran Khalid bin al-Walid melawan Romawi, salah satu komandan pasukan Romawi yaitu Mahan meminta berdialog untuk menegosiasikan kembalinya pasukan Islam ke Madinah, jawaban mengerikan Khalid membuatnya terdiam seribu bahasa.

Ibnu Katsir berkata: "Mahan berkata, ‘Kami mengerti kalian keluar dari negeri kalian itu karena faktor kelaparan dan kemisikinan. Kami akan berikan setiap dari kalian 10 dinar, pakaian, dan makanan dengan syarat kalian kembali ke negeri kalian. Demikian juga tahun depan akan kami kirim yang semisalnya pada kalian’. Maka Khalid berkata, ‘Yang engkau sebutkan itu bukanlah yang menyebabkan kami keluar dari negeri kami, tapi kami kaum peminum darah, dan kami mendapat kabar bahwa tidak ada darah yang lebih nikmat dari darah orang Romawi, itulah yang menyebabkan kami datang. Para pengiring Mahan berkata, ‘Yang demikian ini bukanlah yang diceritakan kepada kami tentang orang Arab’."

Di masa khilafah Ali radhiyallahu anhu muncul orang-orang yang ghuluw terhadapnya menganggapnya Tuhan, maka beliau memerintahkan untuk membakar mereka semua.

Disebutkan dalam Tarikh al-Islam oleh adz-Dzahabi: “Beberapa orang mendatangi Ali dan berkata, ‘Engkaulah Dia! Ali membalas, ‘Apa maksudmu? Siapa aku? Mereka berkata, ‘Engkaulah Dia! Balasnya, ‘Celaka kalian, apa maksud kalian? Mereka menjawab, ‘Engkau adalah Tuhan kami! Ali membalas, ‘Bertobatlah kalian! Namun mereka menolak, maka Ali pun memenggal leher mereka. Kemudian digalilah parit dan bangkai mereka diletakkan di dalamnya, kemudian Ali berkata, ‘Wahai Qunbur, ambilkan seikat kayu bakar’, lalu dibakarnya mereka sembari bersyair, ‘Ketika aku melihat perkara munkar, aku nyalakan api dan kupanggil Qunbur’. Kisah ini diriwayatkan secara ringkas oleh Bukhari dari Abbas, disebutkan juga bahwa Ali membakar orang-orang zindiq dalam keadaan hidup-hidup.

Kisah-kisah yang kita sebutkan disini hanyalah sedikit contoh dari tindakan para sahabat atas orang-orang kafir dan murtad ketika memerangi mereka. Siapa yang bertindak sesuai dengan petunjuk mereka maka sungguh telah selamat dan diberi petunjuk. Namun siapa yang hendak mengikuti selain petunjuk mereka maka Allah akan membiarkannya mengikuti manhaj-manhaj dan millah-millah yang sesat lagi menyesatkan. Lalu jika setelah itu ia mengklaim lebih baik dari mereka maka sungguh telah berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam, sedangkan Dialah yang memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

An-Naba Edisi 46

Rabu, 25 April 2018

BERLEPASDIRI DARI ORANG-ORANG MUSYRIK DALAM SIRAH NABI DAN PARA SAHABAT

RUMIYAH 7 - SEJARAH

BERLEPASDIRI DARI ORANG-ORANG MUSYRIK DALAM SIRAH NABI DAN PARA SAHABAT

Al-wala wal bara adalah pondasi agung yang terkandung dalam seluruh syariat para nabi alaihimus salam, termasuk syariat penutup mereka shallallahu alaihi wasallam. Pondasi ini tampak jelas dalam sirahnya dan para sahabatnya. Mereka telah menampakkan permusuhan pada orang-orang musyrik Makkah kemudian bertikai dan memeranginya dengan pedang setelah hijrah ke Madinah. Sampai ada yang membunuh bapak atau saudaranya yang musyrik sebelum orang-orang musyrik lainnya, selama mereka terus memerangi Allah dan Rasul-Nya.

Nabi shallallahu alaihi wasallam Memulai Dakwahnya Dengan Berlepas Diri Dari Thaghut

Sejak Nabi shallallahu alaihi wasallam diperintahkan untuk terang-terangan dalam berdakwah, beliau telah mengumumkan permusuhan yang nyata atas orang-orang musyrik. Beliau cela tuhan-tuhan mereka. Beliau peringatkan mereka jika terus dalam kesyirikan maka akan digolongkan dalam penduduk Neraka.

Ibnu Hisyam berkata, “Ibnu Ishaq berkata, ‘Ketika beliau shallallahu alaihi wasallam mulai terang-terangan menyeru kaumnya kepada Islam sebagaimana diperintahkan, kaumnya tidak menjauhi atau menolaknya – menurut yang sampai padaku -. Namun setelah beliau menyebut-nyebut dan mencela tuhan-tuhan mereka, mulailah permusuhan dan pengingkaran itu. Mereka sepakat menyelisihi dan memusuhinya kecuali yang Allah lindungi lantaran keislamannya, sedangkan mereka itu sedikit lagi lemah’.”

Sekalipun kaum muslimin lemah dan sedikit, namun tauhid menuntut mereka untuk berlepas diri dari thaghut dan menampakkan permusuhan kepada penyembahnya.

Ketika Quraisy mendatangi Rasul shallallahu alaihi wasallam untuk mengajaknya saling bertukar sesembahan sekalipun sesaat, yaitu mereka bersedia menyembah tuhannya walau sesaat dengan syarat beliau menyembah thawaghit mereka itu walaupun sesaat, turunlah ayat yang melarang hal itu dan menjelaskan bahwa tidak ada kompromi antara tauhid dan syirik.

Ibnu Hisyam berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sedang thawaf di Ka’bah, al-Asud bin al-Mutthalib bin Asad bin Abdul Uzza, al-Walid bin al-Mughirah, Umayah bin Khalaf, dan al-‘Ash bin Wail as-Sahmi – mereka adalah pemuka-pemuka kaumnya – menghadangnya, lalu berkata, ‘Wahai Muhammad, marilah kita berkompromi, kita sembah sesembahanmu dan engkau sembah sesembahan kami sehingga kita sama-sama menyembah. Jika sesembahanmu itu lebih baik daripada sesembahan kami maka kami telah mendapat bagiannya. Jika sesembahan kami itu lebih baik daripada sesembahanmu maka engkau juga telah mendapat bagianmu.’ Maka Allah menurunkan ayat, “Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. al-Kafirun: 1-6).

Kaum Muslimin Memerangi Kerabatnya yang Musyrik

Ketika Allah ta'ala memudahkan Nabi-Nya untuk berhijrah ke Madinah dan mendirikan Daulah Islam, tidaklah cukup berlepas diri dari kaum musyrikin itu hanya dengan menampakkan permusuhan dan mencela mereka. Maka disyariatkanlah jihad dan perang sampai mereka tunduk kepada perintah Allah ta'ala.

Terjadilah Perang Badar pada tahun 2 H. Pedang-pedang muwahhid bersilangan dengan pedang-pedang anak-anak paman mereka yang musyrik lagi memerangi agama Allah ?. Sekalipun demikian kaum muslimin tidak menjadi lemah dalam memerangi dan membunuhi mereka. Bahkan sebagian sahabat melihat dengan kepala sendiri bapak dan saudara-saudara mereka terjungkal satu demi satu, malah ada yang membunuh kerabatnya dengan tangannya sendiri.

Ketika Allah menganugerahkan kemenangan kepada kaum muslimin dan memperoleh tawanan dalam jumlah besar, Umar al-Faruq radhiyallahu anhu berpendapat bahwa tawanan itu seluruhnya dibunuh lewat tangan kerabatnya, yang kemudian pendapat ini dikuatkan oleh wahyu.

Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, berkata, “Ketika mereka mendapatkan tawanan, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya kepada Abu Bakar dan Umar, ‘Apa pendapat kalian berdua mengenai para tawanan? Abu Bakar menjawab, ‘Wahai Nabiyullah, mereka masih ada ikatan kerabat, aku berpendapat engkau meminta tebusan sehingga kita mempunyai kekuatan untuk melawan orang-orang kafir. Semoga Allah memberi hidayah Islam pada mereka.’ Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu bertanya, ‘Apa pendapatmu wahai Ibnul Khatthab? Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, demi Allah aku tidak sependapat dengan Abu Bakar. Aku berpendapat bahwa mereka dipenggal saja. ‘Uqail diserahkan kepada Ali untuk dipenggal, si fulan diserahkan padaku untuk ku penggal lehernya. Sesungguhnya mereka adalah para imam kafir dan gembong-gembongnya.’ Rasulullah shallallahu alaihi wasallam cenderung kepada pendapat Abu Bakar, tidak sependapat denganku. Esoknya aku mendatangi Rasulullah, ternyata beliau shallallahu alaihi wasallam dan Abu Bakar sedang duduk menangis. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah apa yang membuatmu dan sahabatmu ini menangis? Aku akan ikut menangis, jika tidak ada yang membuatmu menangis aku akan menangis karena tangisanmu.’ Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Aku menangis karena sahabatmu yang menyarankan untuk meminta tebusan, ditampakkan padaku bahwa azab mereka lebih keras daripada pohon ini,’ beliau menunjuk pohon yang berada di dekatnya. Lalu Allah ta'ala menurunkan ayat, ‘Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil. Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertaqwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Maka Allah menghalalkan ghanimah untuk mereka.” (QS. al-Anfal: 67-69).

Seorang Sahabat Bernadzar Untuk Tidak Menyentuh Orang Musyrik

Dalam perkara ini, sebagian sahabat sampai bernadzar untuk tidak menyentuh musyrik sama sekali karena merasa jijik dengan najis syirik.

Bukhari meriwayatkan kisah sariyah ‘Ashim bin Tsabit al-Anshari dari Abu Hurairrah radhiyallahu anhu, berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengutus sariyah beranggotakan sepuluh orang yang diketuai oleh ‘Ashim bin Tsabit al-Anshari kakek ‘Ashim bin Umar untuk mencari informasi. Mereka bergerak sampai di Hudah, suatu tempat di antara ‘Asfan dan Makkah. Pergerakan mereka terdengar oleh salah satu cabang kabilah Hudzail yang disebut dengan Bani Lihyan. Maka lebih kurang seratus pemanah bergerak menelusuri jejak mereka. Ketika ‘Ashim dan kawan-kawannya melihat pasukan itu mereka segera menaiki sebuah bukit. Pasukan itu mengepung mereka dan berkata, ‘Turunlah kalian, serahkan diri kalian, kami berjanji akan melindungi kalian dan tidak membunuh seorangpun.’ ‘Ashim berkata, ‘Adapun aku, demi Allah, aku tidak akan masuk dalam perlindungan seorang kafir. Ya Allah kabarkanlah Nabi-Mu mengenai kita.’ Maka hujan anak panah pun terjadi. ‘Ashim dan tujuh sahabat lain terbunuh. Tiga orang yang tersisa yaitu Khubaib al-Anshari, Ibnu Datsnah dan seorang lagi turun demi mendapatkan perlindungan. Ketika tiga orang ini terkepung maka orangorang kafir segera melepas tali-tali busur dan mengikat mereka. Maka lelaki ketiga berkata, ‘Ini pengkhianatan pertama. Demi Allah aku tidak akan ikut kalian. Mereka – maksudnya tujuh sahabat yang terbunuh – telah memberi kita contoh.’ Ia tetap menolak meskipun diseret-seret, sehingga mereka membunuhnya. Mereka lalu menyeret Khubaib dan Ibnu Datsnah lalu menjualnya di Makkah.”

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa, “Sekelompok kafir Quraisy mengirimkan seseorang untuk mendapatkan sesuatu dari diri ‘Ashim ketika tersiar kabar bahwa ia terbunuh. ‘Ashim telah membunuh salah seorang pembesar Quraisy pada Perang Badar. Namun tiba-tiba sekawanan besar lebah mengerumuni jasadnya se- hingga utusan itu tidak bisa menyentuh sedikitpun jasad ‘Ashim.”

Dalam Sirah Ibnu Hisyam disebutkan, “Ketika ‘Ashim terbunuh, kabilah Hudzail hendak memotong kepalanya untuk dijual ke Sulafah binti Sa’ad bin Syahid. Wanita ini telah bernadzar ketika dua anaknya terbunuh di tangan ‘Ashim pada Perang Badar bahwa ia akan menggunakan tengkorak ‘Ashim untuk meminum khamr. Namun sekawanan besar lebah menghalangi mereka. Maka mereka berkata, ‘Biarkan saja, nanti sore akan kita ambil.’ Maka Allah mengirimkan banjir yang membawa jasadnya. Semasa hidup ia membuat perjanjian dengan Allah bahwa tidak ada seorang pun musyrik yang menyentuhnya dan ia tidak akan menyentuh musyrik sedikitpun demi terhindar dari najis.”

Demikianlah, ‘Ashim bin Tsabit tidak mau masuk dalam perlindungan kafir. Setelah kesyahidannya Allah melindunginya sehingga tidak ada seorang musyrik pun yang bisa menyentuh jasadnya sebagaimana dilakukannya sepanjang hidupnya.

Seorang Sahabat Memilih Boikot Kaum Muslimin Daripada Perlindungan Raja Musyrik

Para sahabat radhiyallahu anhum tidak pernah menjustifikasi dirinya dalam keadaan apapun untuk condong atau berlindung kepada orang kafir setelah Allah menegakkan Daulah Islam yang dipimpin Nabi shallallahu alaihi wasallam. Inilah Ka’ab bin Malik radhiyallahu anhu, ketika tidak mengikuti Perang Tabuk ia diboikot oleh kaum muslimin, tidak ada seorang pun yang mengajaknya bicara. Kemudian ia diperintahkan untuk menjauhi istrinya. Tidak cukup dengan itu, datang ujian lain untuk menguji kejujuran imannya.

Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Ka’ab bercerita, “Suatu ketika, saat aku berjalan di pasar kota Madinah, seorang laki-laki dari Syam yang menjual makanan di pasar Madinah bertanya kepada orang- orang, ‘Siapakah yang mau menunjukkan Ka’ab bin Malik kepadaku? Orang-orang pun memberitahukannya. Dia pun mendatangiku. Kemudian menyerahkan sehelai surat dari Raja Ghassan. Tertulis dalam surat itu, ‘Telah sampai berita kepadaku, bahwa temanmu telah menyia-nyiakanmu. Sedangkan Allah tidak menjadikanmu orang yang terhina dan tersia-siakan. Bergabunglah dengan kami, maka kami akan menolongmu.’ Aku berkomentar,’lni pun cobaan untukku,’ lalu aku lempar surat itu ke dalam tungku yang menyala.” Sekalipun hidupnya terasa sempit karena seluruh kaum muslimin memboikotnya lantara dosanya itu, namun dia tidak memilih untuk meninggalkan Darul Islam, sekalipun akan mendapatkan kedudukan tinggi di samping Raja Ghassan.

Jika kita ceritakan satu per satu kisah-kisah sahabat dalam perkara ini tentu akan sangat panjang. Cukuplah bagaimana Allah mensifati mereka dalam kalam-Nya, “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, seka- lipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.” (QS. al-Mujadilah: 22).

Semoga Allah menjadikan kita mampu untuk menapaki manhaj dan mengikuti jalan mereka.

Walhamdu lillahi rabbil ‘alamin.

POTRET KESUNGGUHAN PARA SAHABAT MERAIH SYAHID

RUMIYAH 6 - SEJARAH

POTRET KESUNGGUHAN PARA SAHABAT MERAIH SYAHID

Generasi as-sabiqunal awwalun mengetahui bahwa surga adalah dagangan Allah yang mahal. Mereka juga mengetahui bahwa harga surga itu tidak akan bisa dibayar kecuali oleh orang-orang yang mengerahkan seluruh kesungguhannya. Mereka cari setiap jalan yang mengantarkannya meraih ridha Allah sembari memohon agar dimudahkan dan diterima.

Engkau melihat mereka berazam kuat untuk berjual beli dengan Allah. Mereka jual jiwa dan hartanya agar bisa membeli surga-Nya,

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu kedalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ketempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS. ash-Shaf: 10-12)

Ketika telah mengetahui bahwa jalan pintasnya adalah mati syahid di jalan Allah mereka segera terjun ke medan tempur. Mereka bersegera pantang mundur menyambut kematian demi mendapatkan kehidupan sejati.

Anas bin an-Nadhr Menyerbu Orang-orang Musyrik Pada Perang Uhud

Inilah Anas bin an-Nadhr radhiyallahu anhu yang amat bersedih karena absen dalam Perang Badar. Akan tetapi kemudian dia bersumpah dan berjanji. Mari kita simak penuturan putra saudaranya Anas bin Malik tentang aksi pamannya, katanya, “Pamanku Anas bin an-Nadhr absen pada perang Badar. Lalu dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku telah absen pada pertempuran pertama engkau melawan orangorang musyrik. Sungguh seandainya Allah mengizinkanku untuk ikut memerangi orang-orang musyrik niscaya Dia akan melihat aksiku! Maka tatkala kaum muslimin tercerai-berai pada Perang Uhud dia berkata, ‘Ya Allah aku memohon ampun kepada-Mu dari apa yang dilakukan oleh mereka – para sahabatnya – dan aku berlepas diri kepadaMu dari apa yang dilakukan oleh mereka – kaum musyrikin –.’ Kemudian diapun maju. Sa’ad bin Mu’adz menghadangnya, namun katanya, ‘Wahai Sa’ad bin Muadz, surga, demi Rabb an-Nadhr, sungguh aku mencium aromanya di balik Uhud! Sa’ad berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak mampu melakukan seperti aksinya.’

Anas berkata, “Kami mendapatinya terluka lebih dari delapan puluh sabetan pedang, hujaman tombak atau tusukan anak panah. Kami mendapatinya telah terbunuh dan dimutilasi oleh kaum musyrikin. Tidak ada seorang pun yang mengenalinya kecuali saudarinya melalui jari-jemarinya.” Anas berkata, “Kami mengira bahwa ayat ini turun berkenaan dengan dirinya dan yang semisalnya, ‘Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah’.” (QS. al-Ahzab: 23).

Umair bin al-Hammam Bersegera Menuju Surga Seluas Langit dan Bumi

Anas radhiyallahu anhu menuturkan kepada kita, katanya, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat berangkat hingga mendahului kaum musyrikin sampai di Badar. Lalu kaum musyrikin datang. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Janganlah kalian melakukan sesuatupun sampai aku perintahkan!. Ketika kaum musyrikin bergerak mendekat, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Bangkitlah menuju Jannah yang seluas langit dan bumi.’ Umair bin al-Hammam berkata, ‘Wahai Rasulullah, surga itu seluas langit dan bumi? Beliau menjawab, ‘Betul.’ Dia berkata, ‘Bakhin, bakhin (kata untuk mengungkapkan rasa gembira).’ Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Apa yang membuatmu mengatakan bakh bakh? Jawabnya, ‘Tidak, demi Allah, (tidak ada yang mendorongku melakukannya) kecuali karena aku berharap menjadi penghuninya.’ Beliau menjawab, ‘Sesungguhnya engkau termasuk penghuninya.’ Dia lalu mengeluarkan beberapa butir kurma dari tanduknya dan memakannya, kemudian berkata, ‘Jika aku masih hidup hingga aku dapat memakan kurma-kurmaku ini maka sungguh terlalu lama.’ Dia langsung melemparkan kurma yang ada di tangannya, kemudian langsung melompat menyerbu orang-orang musyrik sampai gugur.

Komandan Sariyah Mu’tah Memburu Syahadah

Pada perang Mu’tah, Ja’far bin Abi Thalib mengangkat panji pasukan dengan tangan kanannya. Namun kemudian terpotong, maka dipeganngya dengan tangan kirinya hingga terpotong juga. Sehingga ia memeluknya dengan kedua lengannya hingga terbunuh. Saat itu usianya tiga puluh tiga tahun. Allah mengganti dua tangannya itu dengan sepasang sayap sehingga bisa beterbangan di surga. Dikisahkan bahwa seorang tentara Romawi telah menebasnya sehingga tubuhnya terbelah menjadi dua.

Arab Badui Muhajir

Lihatlah kejujuran mereka kepada Allah. Syaddad bin al-Hadi radhiyallahu anhu meriwayatkan, “Seorang laki-laki Badui mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam untuk beriman dan mengikutinya. Dia berkata, ‘Aku akan hijrah bersama Anda.’ Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu menitipkannya kepada sebagian sahabat. Disaat perang usai, Nabi mendapat ghanimah. Beliau membaginya dan memberikan bagian untuknya. Beliau memberi para sahabatnya sama seperti bagiannya. Dia telah melindungi punggung pasukan. Ketika dia datang mereka segera memberikan bagian itu kepadanya. Ia bertanya, ‘Apa ini? Mereka menjawab, ‘Bagian yang Nabi - ? berikan kepadamu. Dia mengambilnya lalu mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam dan bertanya, ‘Apa ini? Beliau menjawab, ‘Aku membaginya untukmu.’ Dia berkata, ‘Bukan untuk ini aku mengikutimu, akan tetapi aku mengikutimu agar mati terkena panah di sini – sambil menunjuk tenggorokannya – sehingga aku masuk surga.’ Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya Allah mempercayaimu.’ Selang beberapa saat kemudian mereka bergerak untuk berperang. Ia lalu dibawa ke hadapan Nabi dan anak panah telah menembus tempat yang ditunjuknya. Nabi bersabda, ‘Apakah dia orangnya? Para sahabat menjawab, ‘Betul.’ Nabi bersabda, ‘Dia telah jujur kepada Allah, maka Allahpun jujur kepadanya.’ Kemudian Nabi shallallahu alaihi wasallam mengkafaninya dengan jubahnya, meletakkannya di depan, lalu menyalatinya. Dalam shalatnya beliau berdoa, ‘Ya Allah ini ada- lah hamba-Mu, keluar berhijrah di jalan-Mu, lalu terbunuh syahid, dan aku saksinya.’

Abu Ukail radhiyallahu anhu Terus Bertempur Sekalipun Terluka Parah

Lihatlah pada Perang Yamamah, pada orang-orang yang membela agama selama nadi masih terus berdenyut sampai gugur sebagai syuhada. Ja’far bin Abdullah bin Aslam menuturkan, “Tatkala Perang Yamamah dan kedua pasukan telah berhadapan, orang yang pertama kali terluka adalah Abu Ukail, terkena panah diantara kedua pundak dan jantungnya namun tidak fatal. Anak panah itu lalu dicabut yang lalu melemahkan badan sebelah kirinya. Ia lalu dibawa ke kemah untuk pengobatan. Disaat puncak-puncaknya pertempuran kaum muslimin terpukul mundur sampai mendekati kemah-kemah mereka. Ketika itu Abu Ukail dalam kondisi lemah karena lukanya. Ia mendengar Ma’an bin Adi berteriak, ‘Wahai Anshar, (takutlah) kepada Allah, (takutlah) kepada Allah, serang balik musuh kalian! Abdullah bin Umar berkata, ‘Abu Ukail segera bangkit menyambut seruan itu, aku segera mencegahnya, ‘Hendak kemana? Kamu belum kuat berperang! Dia berkata, ‘Seorang penyeru telah berteriak memanggil namaku! Ibnu Umar menjawab, ‘Dia hanya memanggil Anshar, bukan orang-orang yang terluka.’ Abu Ukail menimpali, ‘Aku bagian dari Anshar, dan aku menjawab se- ruannya walaupun dengan merangkak! Ibnu Umar berkata, ‘Abu Ukail segera bangkit dan menyambar pedangnya dengan tangan kanan, kemudian dia mulai memanggil, ‘Wahai Anshar, serang balik musuhmu seperti saat Perang Hunain! Berkumpul lah kalian semua semoga Allah merahmati kalian, majulah karena sesungguhnya kaum Muslimin adalah laksana perisa pelindung! Mereka berhasil memojokkan musuhnya di al-Hadiqoh. Terjadilah perang campuh dan pedang saling berkilatan. Ibnu Umar berkata, ‘Aku melihat tangan Abu Ukail yang terluka tertebas dan jatuh ke tanah. Dia terluka sebanyak empat belas sabetan, semua itu menghantarkannya kepada kematian. Musailamah si musuh Allah juga terbunuh.’

Ibnu Umar berkata, ‘Aku menemukan Abu Ukail terkapar sekarat. Aku berkata, ‘Wahai Abu Ukail! Dia menjawab dengan lemah, ‘Labaik, pihak mana yang menang? Aku berkata, ‘Berbahagialah, sungguh musuh Allah telah tewas.’ Dia mengangkat jari telunjuknya kelangit seraya memuji Allah, kemudian wafat, semoga Allah merahmatinya.’

Al-Barra bin Malik radhiyallahu anhu In-ghimas Ke Dalam Benteng Murtadin

Pelaku in-ghimasi pertama dalam Islam adalah alBarra bin Malik saudara Anas bin Malik radhiyallahu anhu. Diriwayatkan dari Ibnu Sirin bahwasannya kaum Muslimin berhasil sampai di sebuah benteng tempat konsentrasi pasukan musyrikin. Lalu al-Barra duduk diatas sebuah tameng dan berkata, ‘Angkatlah aku dengan tombak-tombak kalian kemudian lemparkan aku.’ Maka para sahabat melemparkannya ke dalam benteng. Anas berkata, ‘Kaum muslimin lalu menemukannya dan dia telah membunuh sepuluh tentara musuh. Pada waktu itu ia mendapat lebih dari delapan puluh tusukan panah maupun sabetan pedang. Khalid bin al-Walid merawatnya selama satu bulan penuh sampai luka-lukanya sembuh.”

Amaliyah Istisyhadiyah Salim Maula Abu Hudzaifah radhiyallahu anhu

Dari Muhammad bin Tsabit bin Qais bin Syammas al-Anshari berkata, “Tatkala kaum Muslimin terpukul mundur di perang Yamamah, Salim Maula Abi Hudzaifah berkata, ‘Tidaklah seperti ini yang kami lakukan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam! Maka dia menggali sebuah lubang lalu berdiri di dalamnya sambil mengangkat panji Muhajirin, kemudian berperang hingga terbunuh syahid.

Busr bin Artha’ah Ber-inghimas Ke Dalam Markas Romawi

Dari Ala’ bin Sufyan al-Hadhrami berkata, “Busr bin Artha’ah mengomandoi penyerbuan terhadap Romawi. Namun garis belakang pasukannya selalu porak poranda. Ia berusaha mempersiapkan penyergapan, namun juga gagal. Ketika melihat hal itu ia lalu menjaga garis belakang pasukannya bersama seratus prajuritnya. Suatu hari ia sendirian menyelidiki suatu lembah Romawi. Didapatinya ada tiga puluh ekor kuda yang tertambat di samping sebuah gereja. Para penunggangnya itulah yang telah memporak-porandakan garis belakang pasukannya, mereka berada di dalam gereja. Maka dia turun dari kudanya dan mengikatnya. Kemudian dia masuk kedalam gereja dan mengunci pintunya. Para prajurit Romawi itu terheran-heran dengan kenekatannya. Belum lagi mereka sempat menyambarkan tombak-tombaknya ternyata tiga Operasi istisyhadiyah, jalan singkat untuk menggapai kesyahidan orang telah berhasil dijatuhkan. Para sahabatnya mulai sadar jika ia (Busr) hilang dan mulai mencarinya. Mereka menjumpai kudanya dan mendengar keributan di dalam gereja. Mereka mendatanginya namun ternyata pintunya terkunci. Mereka lalu membongkar atap dan turun ke dalam gereja. Saat itu Busr tengah menahan ususnya dan pedang di tangan kanannya. Saat para sahabatnya berhasil menguasai gereja Busr tersungkur pingsan. Kawan-kawannya segera menghadapi para prajurit Romawi itu dan berhasil membunuh serta menawan mereka. Para tawanan lalu bertanya, ‘Demi Allah kami bertanya kepada kalian siapa ini? Mereka menjawab, ‘Busr bin Artha’ah. Mereka berkata, ‘Demi Allah tidak ada wanita yang melahirkan manusia sepertinya! Kemudian mereka mengembalikan usus Busr ke dalam perutnya tanpa kurang sedikitpun lalu membalutnya dengan sorban. Busr lalu dievakuasi dan dirawat sampai sembuh.”

Demikianlah kesungguhan para sahabat untuk meraih derajat surga yang tinggi ini. Meski mereka itu adalah manusia yang paling bertaqwa, paling berilmu, namun kesungguhan menuntut ilmu dan mengajarkannya tidaklah menghalangi mereka untuk berusaha meraih syahadah, dan tidak pula bergantung kepada dunia, orang tua maupun anak.

Tapak kaki mereka telah menjadi petunjuk sampai hari kiamat, sampai generasi terakhir pengikut mereka memerangi Dajjal dengan izin Allah ta'ala.

PUNGGAWA MURABITHIN ABDULLAH BIN YASIN, SANG PEMBAHARU SYARIAT DI GURUN SAHARA

RUMIYAH 5 - SEJARAH

PUNGGAWA MURABITHIN
ABDULLAH BIN YASIN
SANG PEMBAHARU SYARIAT DI GURUN SAHARA

Adalah sunatullah azza wa jalla jika tiap kali makhluk-Nya tersesat dalam kedurhakaan dan kesesatan, niscaya akan diutus-Nya orang yang memperbarui agama mereka. Ada yang menaatinya tetapi kebanyakan orang mendurhakainya. Lalu para muwahhid berlepas diri terhadap orang yang menyelisihi manhaj Allah ta'ala dan mengangkat pedang untuk memerangi mereka hingga Allah memenangkan Din-Nya dan agama semua menjadi milik-Nya.

Salah satu pembaharu itu adalah seorang da’i, alim lagi mujahid Abdullah bin Yasin rahimahullah.

Kisahnya bermula ketika seorang pemuka suku Gudala yang tinggal di padang pasir Maghrib bernama Yahya bin Ibrahim memutuskan untuk mulai menjelaskan dan mengenalkan kepada kaumnya mengenai syariat-syariat Allah dan batasan-batasan-Nya. Ia adalah lelaki yang baik dan cinta terhadap agama. Beliau terus mencari seseorang yang mau membantunya mendakwahi kaumnya. Namun banyak da’i yang menolak ajakannya berdakwah di padang Sahara karena kesulitan yang bakal menghadang, kecuali seorang dai mujahid bernama Abdullah bin Yasin. Dengan memohon pertolongan kepada Allah dia menerima tugas tersebut.

As-Salawi berkata, “Ada seorang da’i yang bangkit untuk mengemban tugas tersebut. Ia bernama Abdullah bin Yasin al Jazuli. Beliau adalah murid yang cerdas, mempunyai keutamaan, agama yang bagus, wara’, dan ahli politik lagi berwawasan luas. Dia lalu pergi bersama Yahya bin Ibrahim menuju padang Sahara.”

Demikianlah Ibnu Yasin tabah berjalan di tengah padang Sahara dalam keterasingan demi menyebarkan Din pada kaum yang tersesat. Ketika Abdullah bin Yasin tiba di pemukiman kabilah Lamtunah, mereka bertanya kepadanya tentang misi yang dibawanya. Beliau lalu memberitahukan bahwa dirinya datang untuk mengajarkan syariat-syariat Islam dan menegakkah had-hadnya.

Ibnul Atsir berkata, “Mereka berkata, ‘Ingatkan kami mengenai syariat Islam.’ Maka ia memberitahu mereka mengenai akidah dan kewajiban-kewajiban Islam. Kata mereka, ‘Yang engkau sebutkan mengenai shalat dan zakat maka kami bersedia. Adapun katamu bahwa jika yang membunuh maka dibunuh, yang mencuri maka dipotong tangannya dan yang berzina maka dicambuk atau dirajam, kami tidak mau melaksanakannya. Pergilah ke tempat lain.’ Keduanya pun pergi meninggalkan mereka.”

Demikianlah kabilah ini awal mulanya menolak menegakkan syariat. Karena itulah Ibnu Yasin tidak mau tinggal bersama mereka jika mereka tidak mau melaksanakan semua syariat Islam. Abdullah bin Yasin lalu pergi ke kabilah Gudala bersama pemukanya itu.

Ibnul Atsir berkata, “Abdullah bin Yasin menyeru mereka dan kabilah-kabilah sekitarnya untuk menegakkan syariat. Ada yang mematuhi dan ada yang menolak.”

Pada akhirnya mereka mengusirnya ketika hukum-hukum syariat membuat mereka merasa sempit sehingga tidak mau tunduk. Ketika itu Ibnu Yasin tidak mempunyai kekuatan untuk memerangi mereka. Ia ingin pergi ke Sudan untuk mendakwahi mereka. Namun salah seorang pemuka Gudala menyarankannya untuk tinggal di suatu madrasah terkenal (konon terletak di dekat Sungai Senegal).

Ibnu Khaldun menuturkan, “Mereka lalu mengasingkan diri di sebuah dataran yang dikelilingi Sungai Nil. Ketika musim panas airnya dangkal dan ketika musim dingin airnya meluap sehingga dataran tersebut menjadi jajaran pulau yang terputus-putus. Mereka menyeberangi Sungai Nil untuk beribadah di situ.”

Dari Dakwah ke Jihad

Allah menghendaki sang juru dakwah ini menjadi peletak batu pertama berdirinya suatu pemerintahan Islam.

Ibnu Khaldun berkata, “Kabar mereka terdengar oleh orangorang yang ada kebaikan dalam hatinya. Maka semakin banyak orang yang bergabung dalam dakwah ini. Ketika jumlahnya mencapai seribu orang, guru mereka Abdullah bin Yasin berkata, ‘Sesungguhnya seribu itu tidak akan kalah karena sedikitnya jumlah. Wajib bagi kita untuk menegakkan kebenaran, menyerukannya, dan menggiring manusia untuk mengikutinya. Marilah kita keluar.’ Mereka lalu keluar dan memerangi orang-orang yang membangkang dari kabilah Gudala dan Lamtunah.” Ibnu Yasin akhirnya keluar berjihad fi sabilillah memerangi kabilah-kabilah murtad yang tidak mau menjalankan syariat.

Ibnul Atsir juga menuturkan, “Ibnu Yasin lalu berkata kepada para pengikutnya, ‘Telah wajib atas kalian untuk memerangi orang-orang yang menyelisihi kebenaran, mengingkari syariat, dan telah bersiap-siap untuk menyerbu kalian. Maka tegakkanlah panji dan angkatlah seorang amir’.”

Dengan sekelompok kecil orang-orang mukmin itu para Murabithin menundukkan Sahara untuk menegakkan hukum Allah ta'ala.

As-Salawi berkata, “Ia mulai menyerang kabilah demi kabilah sampai menguasai seluruh penjuru Sahara dan menundukkan kabilah-kabilahnya. Ia menjadi masyhur di seluruh penjuru negeri Sahara dan negeri-negeri sekitarnya seperti Sudan, Qiblah, negeri orang-orang Masmudah dan seluruh penjuru Maghrib; bahwa ada seorang lelaki dari Gudala yang menyeru kepada Allah dan jalan yang lurus, berhukum dengan yang diturunkan Allah, dan tawadhu lagi zuhud. Di mana-mana namanya disebut-sebut dan orang-orang banyak yang mencintainya.”

Ketika ia berusaha mencari ridha Allah sekalipun manusia murka pada mulanya maka setelahnya Allah kemudian membuat manusia ridha, mencintainya, dan mengikutinya.

Berhukum Dengan Syariat

Ketika ketua suku Gudala meninggal, Ibnu Yasin menunjuk ketua kabilah Lamtunah sebagai komandan militer.

As-Salawi menuturkan, “Lalu Abdullah bin Yasin mengumpulkan para pemimpin kabilah Sanhaja dan mengangkat Yahya bin Umar al-Lamtuni untuk memimpin mereka di bawah arahannya. Yahya bin Umar bertanggung jawab dalam masalah perang sedangkan Abdullah bin Yasin fokus kepada urusan agama dan hukum-hukum syariah, serta mengumpulkan zakat dan Jizyah.”

Orang-orang Murabithin melanjutkan perjuangan dipimpin komandan militer mereka yang baru dengan bimbingan Sang Faqih Pembaharu Abdullah bin Yasin.

Pada tahun 446 H (sebagaimana yang disebutkan oleh al-Bakri) Ibnu Yasin menyerbu Aoudaghost (hari ini terletak di selatan Mauritania) yang pernah didiami Raja Ghana sebelum masuk Islam.

Al-Bakri menuturkan, “Dalam perang tersebut Abdullah bin Yasin membunuh seorang lelaki keturunan Arab Qairawan yang terkenal wara’, shalih, suka membaca al-Qur’an dan berhaji ke Baitullah bernama Zabaqirah. Mereka menghukumnya karena dia tunduk pada hukum Raja Ghana yang ateis.” (al-Masalik wal Mamalik).

Pada tahun 447 H, orang-orang Murabithun memasuki Sijilmasa (sekarang terletak di selatan Maroko) dan menyingkirkan kezhaliman yang ada. As-Salawi berkata, “Orangorang Murabithun mengubah berbagai kemungkaran yang ada, menghancurkan seruling dan alat musik , membakar toko-toko penjual khamer, menghilangkan cukai, meniadakan utang-utang yang mencekik, menghapus semua hal yang harus dihapus menurut Kitab dan Sunnah, dan mengangkat seorang amil dari Lamtunah lalu kembali ke Sahara.”

Di penghujung tahun ini (447 H), Amir Yahya bin Umar al-Lamtuni terbunuh. Untuk menggantikannya Syaikh Ibnu Yasin lalu mengangkat saudaranya Abu Bakar bin Umar pada Bulan Muharram 448 H. Beliau bergerak di bawah bimibingan Sang Faqih sebagaimana saudaranya yang terdahulu, melanjutkan jihad fisabilillah.

As-Salawi berkata, “Orang-orang Murabithun memasuki kota Aghmat (di timur Marakesh) pada tahun 449 H. Lalu Abdullah bin Yasin menetap di sana selama dua bulan untuk mengistirahatkan pasukan. Lalu ia bergerak menuju Tadla, menaklukkannya dan membunuh siapapun raja Bani Yafran yang ditemuinya. Ia juga berhasil menangkap Laquth al-Mighrawi dan membunuhnya. Kemudian Abdullah bin Yasin bergerak menuju Tamasna lalu menaklukkan dan menguasainya.”

Ibnu Yasin rahimahullah menimpakan petaka terhadap musuh-musuh Allah dengan banyak membunuh dan menawan hingga berita itu sampai di telinga sang Faqih yang mengutusnya, yang tidak mengerti situasi mujahidin.

Imam adz-Dzahabi berkata, “Berita-berita mengenai tindakan Abdullah bin Yasin itu sampai di telinga al-Faqih (gurunya, edt), yang membuatnya sedih dan menyesal. Al-Faqih menulis surat kepadanya mengingkari banyaknya tawanan dan korban yang terbunuh. Namun jawabnya, ‘Adapun pengingkaranmu dan penyesalanmu karena telah mengutusku, maka sungguh anda telah mengutusku kepada kaum jahiliyah. Salah satu dari mereka menyuruh putra dan putrinya untuk menggembala ternak, lalu putrinya itu kembali dalam keadaan hamil karena bersetubuh dengan saudaranya, tetapi mereka tidak mengingkari hal itu. Kebiasaan mereka itu saling rampok satu dan saling bunuh satu sama lain. Jadi aku lakukan apa yang seharusnya dilakukan dan aku tidak melanggar hukum Allah. Wassalam’.” (Tarikhul Islam).

Demikianlah Ibnu Yasin membantah orang yang mengkritisi jihadnya padahal jauh dari realitas dan malah membenarkan isu yang dibicarakan manusia.

Setelah mendapatkan semua kemenangan ini orang-orang Murabithun dengan arahan guru mereka bertekad untuk memerangi kabilah Berghouata yang murtad.

As-Salawi berkata, “Berghouata adalah suku yang bercabang-cabang kabilahnya. Mulanya mereka mendukung Shalih bin Tharif si pembohong pengaku nabi. Namun hingga sekarang kondisi mereka tetap berada di atas kesesatan dan kekufuran. Ketika Abdullah bin Yasin mendengar kekufuran yang merajalela di suku Berghouata, beliau melihat bahwa yang wajib adalah lebih dulu memerangi mereka dari pada yang lain. Beliau bersama pasukan Murabithun pun segera bergerak.”

Allah Ta’ala menetapkan bahwa Ibnu Yasin terluka di saat puncak peperangannya melawan orang-orang kafir (tahun 451 H) sehingga beliau memperoleh kesyahidan.

Penulis buku al-Ightibath berkata, “Ia berhasil menaklukkan Maghrib hingga akhirnya tunduk terhadap aturan-aturan Islam setelah sebelumnya hampir ditinggalkan sama sekali.”

Wasiat Ibnu Yasin

As-Salawi berkata, “Menjelang wafat beliau berkata kepada mereka, ‘Hai orang-orang Murabithun, hari ini aku tidak bisa menghindari kematian sedang kalian masih berada di negeri musuh kalian. Maka janganlah kalian pengecut atau saling bertikai sehingga akibatnya kalian menjadi lemah dan kekuatan kalian hilang. Jadilah kalian para pembela kebenaran dan bersaudara karena Allah. Janganlah kalian saling iri hati terhadap kepemimpinan karena Allah memberikan kerajaan-Nya kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki dan mengangkat siapa yang Dia kehendaki diantara para hamba-Nya untuk berkuasa di bumi-Nya.”

Ibnu Yasin meninggal setelah berhasil meletakkan pondasi pemerintahan Islam yang membentang dari Sungai Senegal di selatan hingga di mencapai Marakesh di utara. Kemudian setelah itu berekspansi hingga Andalusia yang berbatasan dengan Perancis di sebelah utara melalui tangan muridnya Yusuf bin Tasyfin, dan hingga menjangkau jantung belantara Ifriqiyah di sebelah selatan melalui tangan muridnya Abu Bakar bin Umar. Beliau wafat setelah berhasil meninggalkan generasi mujahidin yang akan menyempurnakan perjuangannya, dan setelah berhasil menegakkan syariat islam bersama mereka dan dengan mereka.

Semoga Allah merahmati Ibnu Yasin dan memberkati para tentara khilafah hari ini yang terus memerangi setiap orang murtad yang menolak hukum syariat. Mereka tidak akan meninggalkan hal itu meskipun telah berkorban banyak hingga agama ini semuanya menjadi milik Allah.

Abu Bakar al-Lamtuni
Sang Punggawa Penyebaran Islam di Negeri-negeri Sudan

Pada bagian sebelumnya kita telah membahas sedikit biografi Sang Faqih Mujaddid Abdullah bin Yasin pendiri Daulah Murabithin, daulah para mujahidin. Seorang lelaki yang tidak hanya mendirikan sebuah negara tapi membentuk generasi penerus pembawa bendera perjuangan sepeninggalnya. Generasi Yusuf bin Tasyfin yang bergerak ke utara bersama pasukannya menyeberang ke Andalusia dan berhasil mengalahkan Salibis. Juga generasi Sang Komandan Abu Bakar bin Umar yang menyeberangi hamparan padang pasir demi menyebarkan Islam dan syariat ke Ifiriqiyah (Afrika).

Biografi lelaki ini amat istimewa. Dia bersedia mengorbankan segala sesuatu demi Din dan umatnya agar persatuan tetap terjaga. Lelaki ini bukanlah seseorang yang mementingkan diri sendiri dengan mengorbankan persatuan umat sebagaimana tingkah banyak orang yang mengaku Islam dahulu dan sekarang.

Komandan Militer Baru

“Karir” militer Ibnu Lamtunah dimulai ketika ia digembleng lewat tangan Ibnu Yasin. Kemudian ia diangkat menjadi pemimpin militer pasukannya. Pada bulan Muharram 448 H Abu Bakar bin Umar diangkat sebagai komandan militer tertinggi pasukan Murabithin menggantikan saudaranya Yahya bin Umar. Dia meneruskan perjalanan jihad yang telah dimulai saudaranya itu dengan bimbingan Ibnu Yasin.

Menyerang Rafidhah Sekte Bajaliyah

Pada tahun 448 H Abu Bakar bin Umar menyerbu negeri Sous. Pada bulan Muharram 449 H ia berhasil menaklukkan Massah dan Taroudant. Kota ini adalah salah satu pusat kekuatan Rafidhah di Maghrib ketika itu.

as-Salawi berkata di dalam al-Istiqsha, “Pada kota itu tinggal sekelompok sekte Rafidhah yang disebut Bajaliyah, diambil dari nama Ali bin Abdullah al-Bajali ar-Rafidhi. Abdullah bin Yasin dan Abu Bakar bin Umar menggempur mereka dan berhasil merebut paksa kota Taroudant. Kaum Rafidhah banyak yang terbunuh. Sisanya bertaubat dan kembali pada mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah.”

Pengganti Ibnu Yasin Meneruskan Perjuangannya

Setelah memberantas Rafidhah, Abu Bakar bin Umar bersama gurunya Ibnu Yasin bergerak untuk memerangi suku murtad Berghouata. Di tengah pertempuran Ibnu Yasin terluka yang menyebabkan kematiannya, sehingga kepemimpinan Murabithin sepenuhnya dipegang Abu Bakar bin Umar.

As-Salawi berkata, “Aksi pertama kalinya setelah selesai mengurusi dan menguburkan jenazah Ibnu Yasin adalah bergerak menuju suku Berghouata dengan bertawakkal kepada Allah hendak menggempur mereka. Ia menghabisi dan menawan mereka sampai mereka tercerai berai bersembunyi di mana-mana. Kekuatan mereka dihabisi total dan sisanya menyerah serta kembali masuk Islam. Abu Bakar bin Umar berhasil membersihkan pengaruh dakwah mereka di Maghrib. Ia lalu membagi-bagi ghanimah kepada seluruh Murabithin lalu kembali ke kota Aghmat.”

Ini adalah salah satu dari kemenangan beruntunnya dalam memerangi orang-orang sesat dan menyebarkan tauhid. Dunia laksana terhampar untuk Abu Bakar bin Umar satu-satunya pemimpin Murabithin.

Abu Bakar Meninggalkan Maghrib Untuk Kembali ke Sahara

Namun kepemimpinan Abu Umar atas negeri-negeri Maghrib yang baru saja ditaklukkan itu tidak berjalan mulus. Setelah mewujudkan semua kemenangan itu suatu berita buruk datang padanya.

As-Salawi berkata, “Kemudian seorang utusan dari negeri-negeri Qiblah menemuinya dan mengabarkan bahwa situasi di Sahara memburuk karena terjadi perpecahan.”

Di sini Sang Komandan berada di persimpangan jalan. Apakah ia akan mengutus salah satu keponakannya untuk menengahi perpecahan ini atau dia sendiri yang berangkat? Jika dia sendiri yang pergi apakah kepemimpinan di Maghrib ini ditinggalkannya begitu saja setelah mendapatkan semua kemenangan ini? Di sinilah muncul lelaki-lelaki sejati.

As-Salawi berkata, “Abu Bakar adalah seorang amir yang wara’. Berat baginya jika kaum muslimin itu saling bertikai sedangkan ia mampu mencegahnya. Ia menganggap dirinya tidak punya alasan karena dialah yang mengurusi dan bertanggung jawab atas mereka. Maka ia kemudian berazam untuk kembali ke negerinya dan memperbaiki kondisinya serta menegakkan panji jihad di sana.”

Ia tinggalkan seluruhnya fi sabilillah.

Sang Komandan Menyatukan Manusia Untuk Memerangi Orang-orang Musyrik

Pemimpin Murabithin ini pergi ke Sahara. Ia lalu berhasil memperbaiki kondisinya dan menyiapkannya untuk ditegakkan hukum Islam. Kemudian ia bergerak menuju negeri-negeri Sudan dalam rangka berjihad dan berdakwah.

Ibnu Khaldun berkata, “Ia kembali ke kaumnya dan berhasil menutup lubang fitnah. Kemudian membuka pintu jihad ke negeri-negeri Sudan. Ia lalu berhasil menguasai menguasai wilayah sejauh sembilan puluh malam.”

Beliau rahimahullah tidak hanya berhasil memperbaiki kaumnya bahkan dibukanya pintu bagi pasukan muslimin untuk menaklukkan dan menegakkan hukum Islam di wilayah barat Ifriqiyah.

As-Salawi berkata, “Abu Bakar bin Umar kembali ke Sahara pada bulan Dzulhijjah 453 H. Sesampainya di sana, situasi yang ada berhasil dikontrolnya lalu ia mengumpulkan pasukan besar untuk menaklukkan negeri-negeri Sudan. Ia berhasil menguasai wilayah sejauh sembilan puluh malam.”

Abu Bakar bin Umar Menundukkan Orang-orang kafir Penduduk Sahara

As-Salawi menuturkan di tempat lain bahwasannya Abu Bakar bin Umar menyerang dan menyebarkan Islam di Kerajaan Ghana dan wilayah sekitarnya, katanya, “Kerajaan Ghana mulai melemah dan tercerai berai setelah lima ratus tahun berlalu. Permasalahan orang-orang bertudung itu (julukan orang-orang Murabithin, edt) yang bertetangga dengan mereka di sisi utara dengan suku Berber tidak terkontrol lagi. Sang Amir Abu Bakar bin Umar al-Lamtuni mulai merengsek maju.”

As-Salawi menuturkan bahwa Abu Bakar bin Umar berhasil menaklukkan wilayah seluas tiga bulan perjalanan dan, “Mampu mendorong banyak orang untuk memeluk Islam.”

Kepemimpinan Maghrib Diberikannya Kepada Ibnu Tasyfin dan Kembali Berjihad di Sudan

Ahli sejarah menuturkan bahwa Abu Bakar bin Umar rahimahullah kembali ke Maghrib ketika perkara anak pamannya Yusuf bin Tasyfin membesar. Namun setelah didapatinya bahwa putra pamannya itu berhasil meraih banyak kemenangan ia tidak berusaha merebutnya, bahkan diserahkannya tampuk kekuasaan pada putra pamannya itu dan kembali ke gurun Sahara.

As-Salawi menyebutkan dalam al-Istiqsha wasiat Ibnu Umar untuk Ibnu Tasyfin, katanya, “Abu Bakar berkata, ‘Sesungguhnya aku telah menyerahkan perkara ini kepadamu, dan sungguh aku akan diminta pertanggungjawaban, maka bertaqwalah kepada Allah azza wa jalla dalam mengurusi kaum Muslimin. Bebaskan aku dan dirimu dari api neraka. Jangan sia-siakan rakyatmu sedikitpun karena engkau akan dimintai pertanggungjawaban’.”

Al-Lamtuni Syahid di Negeri Sudan

Setelah Ibnu Umar memberikan wasiat kepada putra pamannya ia kembali ke gurun Sahara untuk berjihad memerangi orang-orang kafir di Ifriqiyah.

As-Salawi berkata, “Ia tinggal di sana sambil terus berjihad memerangi orangorang kafir Sudan sampai dikaruniai syahid karena terkena anak panah beracun pada bulan Sya’ban 480 H, setelah seluruh penjuru Sahara sampai Pegunungan Emas di Sudan tunduk padanya.”

Lembaran-lembaran hidup Sang Kesatria Islam ini telah ditutup. Ditinggalkannya kelezatan dunia dan kekuasaan maka Allah menggantinya dengan yang lebih baik.

Ibnu Katsir berkata, “Ia mempunyai wibawa yang tidak pernah dimiliki raja-raja sebelumnya. Ia mempunyai pasukan sejumlah 500.000 prajurit yang seluruhnya loyal padanya. Ia juga menegakkan hudud, menjaga batasan-batasan Islam, memelihara agama, mengatur manusia sesuai dengan syariat, ditambah lagi dengan akidahnya yang benar serta loyal kepada Daulah Abbasiyah.”

Semoga Allah merahmati Syaikh Mujahid asy-Syahid -biidznillah- Abu Bakar al-Lamtuni. Semoga Allah menerima dakwah dan jihadnya, dan menolong anak cucunya Junud Khilafah di Barat dan Utara Ifriqiyah, serta di gurun Sahara. Mereka terus berusaha menegakkan agama Allah dan membersihkan pengaruh syirik di sana. Semoga Allah mengaruniai mereka kemenangan dan tamkin.

KISAH-KISAH KEMENANGAN SETELAH KESABARAN

RUMIYAH 4 - SEJARAH

KISAH-KISAH KEMENANGAN SETELAH KESABARAN

Allah azza wa jalla menjelaskan kepada umat syarat-syarat kemenangan dan sebab-sebabnya agar kemenangan dan kemuliaan itu tetap kekal jika memang yang diketahuinya itu dilakasanakan. Diantara sebab-sebab itu adalah kesabaran dan keteguhan, Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah nama Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (QS. al-Anfal: 45).

Allah azza wa jalla juga menyebutkan bahwa sesungguhnya kelompok yang sedikit dari kaum Muslimin namun bersabar dapat mengalahkan kelompok yang banyak dari orang-orang kafir dengan izin Allah, Allah berfirman: “Hai Nabi, kobarkanlah semangat kaum Mukminin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantara kamu, nisacaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh, dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang kafir itu tidak mengerti.” (QS. al-Anfal: 65).

Bukti-bukti sirah Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para pengikut beliau serta sejarah kaum Muslimin menunjukkan bahwa kesabaran dan menguatkan kesabaran adalah faktor terbesar kemenangan.

Dalam perang Ahzab pada tahun 5 H kaum musyrikin Arab bersatu dengan koalisi Yahudi mereka untuk memerangi kaum Muslimin dan mengepung kota Nabi shallallahu alaihi wasallam hingga situasinya seperti yang digambarkan oleh Allah azza wa jalla, “(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan (mu) dan hatimu naik menyesak sampai ketenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purba sangka. Di situlah diuji orang-orang yang beriman dan di goncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat. Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata, ‘Allah dan RasulNya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya’.” (QS. Al-Ahzab: 10-12).

Meskipun demikian, tekad dan keteguhan kaum Muslimin tidaklah melemah. Mereka justru berjaga-jaga di perbatasan Madinah. Hembusan isu orang-orang munafik tidak melemahkan mereka. Bahkan mereka sangat yakin dengan janji Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa pada akhirnya merekalah yang menang. Mereka pasti akan menaklukkan kota-kota Syam dan Irak serta menghancurkan singgasana Kisra dan Kaisar, Allah azza wa jalla berfirman: “Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan RasulNya kepada kita.’ Dan benarlah Allah dan RasulNya. Yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (QS. al-Ahzab: 22).

Lantaran iman dan kepasrahan inilah Allah mengaruniakan pertolongan-Nya kepada mereka dan mengalahkan musuh mereka, setelah Allah menyeleksi kaum Muslimin dan menyingkap kedok orang-orang munafik. Kemudian penaklukkan demi penaklukkan terjadi hingga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wafat pada tahun 11 H. Pada tahun itu juga bangsa Arab murtad secara massal. Hal itu tidak melemahkan tekad Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu anhu dan para sahabat. Ia tetap sabar dan teguh, dan bertekad untuk menegakkan perintah Allah dengan memerangi orang-orang murtad meskipun lengkapnya peralatan tempur dan banyaknya jumlah mereka.

Pada perang Yamamah (11 H) terjadi pertempuran melawan konsentrasi terbesar orang-orang murtad di bawah komando Musailamah al-Kadzab. Kaum muslimin menghadapi lawan yang cukup berat. Berbagai kesulitan mereka hadapi dalam pertempuran ini sampai hampir-hampir orang-orang murtad berhasil memukul mundur posisi kaum muslimin.

Ibnul Atsir berkata, “Terjadi pertempuran sengit. Belum pernah sekalipun kaum Muslimin menghadapi pertempuran seperti itu. Kaum Muslimin terpukul mundur. Bani Hanifah berhasil mencapai Maja’ah (tertawan di tangan kaum Muslimin) dan mendekati paviliun Khalid hingga memaksanya meninggalkannya.” Kemudian kaum Muslimin mengatur ulang barisannya. Para sahabat radhiyallahu anhum dan khususnya para ahlul Qur’an mulai menghasung orang-orang untuk memburu syahadah dan memperingatkan mereka akan akibat dari kabur dari medan tempur.

Ibnul Atsir berkata, “Kemudian kaum Muslimin saling menyeru, maka Tsabit bin Qais berkata, ‘Buruk sekali apa yang kalian lakukan terhadap diri kalian wahai kaum Muslimin! Ya Allah aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yang dilakukan mereka – yakni penduduk Yamamah – dan aku meminta ampun kepada-Mu dari apa yang dilakukan mereka – yakni kaum Muslimin –. Kemudian ia maju bertempur sampai terbunuh. Abu Hudzaifah juga berkata, ‘Wahai ahlul Qur’an, hiasilah al-Qur’an dengan amal! Khalid lalu menyerbu orangorang murtad dan berhasil mendesak mereka jauh dari posisi sebelumnya.” Kedua kelompok bertempur dengan gigih meskipun banyak yang terbunuh dan terluka.

Ibnul Atsir berkata, “Pertempuran semakin sengit. Bani Hanifah saling memprovokasi untuk berperang dan bertempur dengan sengitnya. Ketika itu pertempuran terkadang dimenangkan oleh kaum Muslimin dan terkadang dimenangkan oleh orang-orang kafir. Dalam pertempuran ini Salim, Abu Hudzaifah, Zaid bin al-Khattab dan orang-orang berilmu lainnya gugur terbunuh.”

Maka harus ada penyaringan barisan agar dapat diketahui dari arah mana kaum muslimin diserang, Ibnul Atsir berkata, “Ketika mereka telah saling mengenali, sebagian berkata kepada yang lain, ‘Hari ini sangat memalukan jika sampai lari dari perang’.” Demikianlah jalannya pertempuran sengit dari sekian banyak pertempuran yang dialami umat ini. Harus ada pengorbanan jiwa agar Din ini tersampaikan dengan sempurna tidak kurang sedikitpun.

Ibnul Atsir berkata, “Korban berjatuhan dari kedua belah pihak, terlebih di kalangan Bani Hanifah, namun mereka tetap bertempur hingga Musailamah terbunuh. Yang membunuhnya adalah Wahsyi maula Jubair bin Muth’im dan seseorang dari Anshar.” Dengan terbunuhnya dajjal ini kaum Muslimin menyudahi pertempuran. Mereka dianugerahi kemenangan yang gemilang setelah jalan panjang kesabaran dan keteguhan.” Setelah Perang Riddah ini kaum Muslimin dapat memfokuskan diri untuk memerangi dua negara adidaya yaitu Persia dan Romawi dan menundukkan kekuasaan mereka kepada hukum Islam.

Pada Perang Yarmuk (13 H) Romawi memobilisasi 240.000 prajurit siap tempur, sedangkan jumlah tentara kaum Muslimin hanya empat puluh ribu orang. Jumlah yang seperti itu menggentarkan orang yang hatinya lemah, sampai-sampai salah seorang dari pasukan Muslim menoleh kepada Khalid radhiyallahu anhu dan berkata, “Betapa banyaknya pasukan Romawi itu, dan betapa sedikitnya kaum Muslimin! Khalid menjawab, “Betapa banyaknya kaum Muslimin dan betapa sedikitnya pasukan Romawi. Banyaknya pasukan itu dibuktikan dengan kemenangan dan sedikitnya pasukan itu ketika kabur dari medan tempur.” (al-Kamil, Ibnul Atsir).

Kaum muslimin tetap sabar dan teguh sekalipun banyak korban berjatuhan, sampai pada derajat mereka saling berbaiat untuk mati. Ibnul Atsir berkata, “Ikrimah bin Abu Jahal pada hari itu berucap, ‘Aku telah berperang bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam banyak pertempuran, apakah aku hari ini malah kabur?! Kemudian dia menyeru, ‘Siapa yang mau berbaiat untuk mati? Harits bin Hisyam dan Dhirar bin al-Azwar membaiatnya bersama empat ratus pasukan berkuda kaum muslimin. Mereka bertempur habis-habisan untuk melindungi kemah Khalid sampai seluruhnya terluka. Ada yang berhasil sembuh namun ada juga yang lalu terbunuh.” Setelah kesabaran dan keteguhan ini Allah azza wa jalla mengaruniakan kepada mereka kemenangan dan tamkin. Romawi takluk, terpukul mundur dan kabur tidak mempedulikan sesuatupun. Kemudian setelah itulah Damaskus dan kota-kota Syam lain berhasil ditaklukkan satu demi satu.

Pada tahun 14 H Umar al-Faruq radhiyallahu anhu menyiapkan pasukan untuk menyerang Persia. Beliau menunjuk Sa’ad bin Abi Waqash radhiyallahu anhu untuk mengomandoi pasukan. Wasiat beliau kepadanya sebelum berangkat adalah seperti yang dinukil ath-Thabari, “Jagalah wasiatku. Sesungguhnya engkau akan menghadapi perkara yang sangat dibenci, tidak ada yang dapat selamat darinya kecuali dengan kebenaran. Maka biasakanlah dirimu dan pasukanmu untuk berbuat kebaikan, dan mintalah kemenangan dengan perantaranya. Ketahuilah bahwa setiap kebiasaan itu membutuhkan penopang, sedangkan penopang kebaikan adalah kesabaran.”

Ini adalah wasiat yang harus dilaksanakan. Apalagi ada ketimpangan besar antara jumlah kaum Muslimin dan musuhnya bangsa Persia Majusi. Jumlah total pasukan kaum Muslimin yang mengikuti Perang Qodisiyah adalah 33.000 sekian setelah datangnya bala bantuan dan berkumpulnya seluruh pasukan. Sedangkan jumlah pasukan Persia melebih dua ratus ribu prajurit yang dibekali dengan pasukan gajah, suatu senjata unik pada waktu itu.” (Tarikh Ath-Thabari).

Selama beberapa hari terus menerus terjadi pertempuran yang amat sengit. Kaum Muslimin betul-betul bersabar. Jika rincian kejadiannya disebutkan tentu tulisan ini akan menjadi panjang. Pada hari pertama saja jatuh korban terbunuh dan terluka sebanyak 500 prajurit dari Kabilah Asad saja. Ibnul Atsir berkata, “Ketika Persia melihat prajurit dan gajah-gajahnya berjatuhan akibat serangan kabilah Asad, mereka menghujaninya dengan anak panah dan menyerbu mereka di bawah komando si pemilik alis lebat (Bahman Jadhuyih) dan Jalinus. Sedangkan kaum Muslimin menunggu takbir keempat dari Sa’ad. Pasukan Persia berhasil mengepung kabilah Asad dengan gajah-gajahnya, meski begitu mereka tetap teguh. Lalu Sa’ad pun meneriakkan takbir yang keempat… Pada hari itu 500 prajurit dari kabilah Asad terbunuh. Mereka adalah pelindung pasukan, dan Ashim juga adalah pelindung pasukan. Ini adalah hari pertama, yaitu hari al-Armats (Hari Kacau Balau).”

Tiga hari berlalu sedangkan kaum muslimin masih dalam kondisi menyerang dan mundur dan terus menghadapi pasukan gajah, namun mereka tetap sabar menunggu-nunggu janji Allah berupa kemenangan dan tamkin. Pada malam hari keempat kaum Muslimin bermalam dalam keadaan amat kelelahan karena mereka tidak bisa tidur, sementara saat subuh menyingsing mereka harus segera kembali menyongsong musuh. Mereka melakukannya dengan penuh kesabaran meskipun kondisi yang menimpa mereka.

Ibnul Atsir berkata, “al-Qa’qa’ berjalan di tengah-tengah pasukan seraya berkata, ‘Kemenangan akan diraih sebentar lagi bagi yang menyerang lebih dahulu, maka bersabarlah sebentar dan seranglah, karena sesungguhnya kemenangan itu berserta kesabaran’.” Hanya beberapa jam saja berlangsung sampai Allah azza wa jalla menurunkan kemenangan dan menghancurkan musuh-Nya, setelah kaum Muslimin mencurahkan seluruh kesabarannya menghadapi pasukan kekaisaran yang persenjataan dan jumlahnya mengungguli mereka berkali-kali lipat.

Ibnul Atsir berkata, “Jumlah kaum Muslimin yang gugur sebelum malam al-Harir adalah dua ribu lima ratus prajurit. Adapun yang gugur tepat pada malam al-Harir dan pada hari penentuan berjumlah enam ribu prajurit.” Pada hari itu sang Jenderal Persia Rustum terbunuh. Pasukan Muslim lalu mengejar dan membunuhi sisa-sisa pasukan Majusi serta merampas banyak ghanimah. Pertempuran ini menjadi pintu gerbang jatuhnya kota-kota Irak satu demi satu ke tangan kaum Muslimin termasuk al-Madain ibukota Persia Majusi.

Jika kita ikuti satu demi satu kemenangan kaum muslimin melawan koalisi kafir setelah mewujudkan keteguhan dan kesabaran tentu akan panjang sekali. Cukup kita mengingat pertempuran ‘Ainul Jalut (658 H) ketika Tartar hendak menginvasi Mesir setelah berhasil menaklukkan semua negeri di bawah kekuasaan mereka. Namun kaum Muslimin tetap teguh di hadapan pasukan musuh dan bersabar. Sehingga Allah menolong mereka dan membinasakan musuh-Nya. Kemudian setelah itu kaum Muslimin bergerak untuk mengusir Tartar dari kota-kota di Syam, dan Allah memberikan kemenangan kepada mereka. Masih banyak lagi pertempuran yang serupa dengan ‘Ain Jalut yang terukir dan diceritakan dalam sejarah.

Pada hari ini musuh-musuh Allah kembali mengerahkan seluruh prajurit dan persenjataannya untuk memerangi Daulah Islam dan memadamkan cahayanya, akan tetapi dengan izin Allah mereka tidak akan dapat melakukannya. Maka dari itu wahai Junud Khilafah di Mosul, Halab, Sirte dan di wilayah-wilayah Daulah Islam lainya, bersabar dan bersabarlah, kuatkanlah kesabaran kalian, sesungguhnya kemenangan itu hanyalah membutuhkan kesabaran sesaat.

SULTAN MAHMUD AL-GHAZNAWI, PENGHANCUR BERHALA DAN PENOLONG SUNNAH

RUMIYAH 3 - SEJARAH

SULTAN MAHMUD AL-GHAZNAWI
PENGHANCUR BERHALA DAN PENOLONG SUNNAH

Menghancurkan dan membakar patung-patung berhala adalah salah satu bentuk kufur kepada thaghut. Para nabi amat memperhatikan hal itu, dari sejak sang kekasih ar-Rahman Ibrahim alaihis salam, diikuti oleh Kalimullah Musa alaihis salam ketika membakar patung anak sapi Bani Israil, dan ditutup oleh penutup para nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang menghancurkan dan membakar Lata, Uzza, Manat, dan patung-patung berhala orang Arab ketika Fathu (penaklukan) Makkah. Kemudian hal itu dilanjutkan oleh para sahabat, tabiin dan orang-orang yang mengikuti petunjuknya hingga saat ini.

Kita mendapati dari kisah orang-orang terdahulu pengikut para nabi bahwa mereka menjadikan penghancuran berhala orang-orang musyrik adalah tujuan terbesar hidup. Dalam usaha mewujudkannya mereka rela berperang, menghadapi situasi berbahaya dan menembus marabahaya. Diantaranya adalah al-Ghazi Mahmud bin Sabaktakin rahimahullah yang dijuluki sebagai Penghancur Berhala lantaran jumlah dan kualitas berhala yang dihancurkannya, sekalipun hal itu hanya salah satu dari sekian banyak prestasinya diantaranya menghidupkan sunnah dan menekan bid’ah serta usahanya untuk menyatukan barisan kaum muslimin dengan berbaiat kepada khalifah Abbasi dan menaatinya.

Sultan Mahmud bin Sabaktakin lahir pada bulan Muharram 360 H di kota Ghazah, Khurasan. Ia didaulat sebagai sultan setelah bapaknya wafat pada tahun 387 H. Kemudian ia memusatkan usahanya untuk berjihad melawan orang-orang musyrik di India, menghancurkan berhala mereka, dan menyebarkan Islam.

Pada tahun 396 H Sultan Mahmud al-Ghaznawi bergerak menuju Kastil Kawaker yang di dalamnya terdapat 600 patung sesembahan orang-orang musyrik. Ia berhasil menaklukannya dan membakar semua patung itu. (Ibnul Atsir, al-Kamil fi at-Tarikh).

Pada tahun 398 H Sultan Mahmud al-Ghaznawi kembali bergerak untuk menaklukan tanah India. Ibnul Atsir berkata, “Beliau bergerak sampai mencapai tepi sungai Hindmand (sekarang Helmand, sebuah provinsi di Afghanistan, Edt.). Pergerakannya dihadang oleh pasukan Hindu yang dipimpin oleh Brahmanpal putra Anandpal. Pertempuran berlangsung sepanjang siang. Hampir-hampir pasukan Hindu mengalahkan kaum muslimin. Namun kemudian Allah berkehendak menolong hamba-hamba-Nya. Kaum muslimin berhasil mengalahkan mereka. Mereka kabur kocar-kacir di bawah sabetan pedang kaum muslimin. Yamin ad-Daulah (gelar Sultan Mahmud al-Ghaznawi –pent) mengejar Brahmanpal sampai di Benteng Bhimnagar yang terletak di sebuah gunung tinggi sebagai tempat penyimpanan harta sesaji berhala agung mereka. Ketika orangorang Hindu melihat banyaknya jumlah pasukan kaum muslimin, semangat tempur mereka, dan serbuan yang terus menerus, mereka ketakutan. Mereka akhirnya meminta perjanjian damai dan membuka gerbang benteng sehingga benteng berhasil dikuasai kaum muslimin. Yamin ad-Daulah kemudian memasuki benteng bersama berapa penasihat terpercayanya, lalu mengambil sejumlah besar permata dan 9 juta dirham perak murni.” Allah menghinakan orang-orang musyrik dan thaghut-thaghut mereka, patung berhala mereka dihancurkan, dan kaum muslimin mendapatkan ghanimah sejumlah besar barang-barang berharga sesaji berhala.

Pada tahun 400 H Sultan Mahmud al-Ghaznawi kembali bergerak untuk menaklukan tanah India dan menghancurkan patung-patungnya. Pada tahun 405 H ia kembali bergerak untuk menaklukkan Tanishr sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Atsir atau Thanesar seperti namanya saat ini. Ibnul Atsir berkata, “Ketika mendekati daerah tujuan, sungai yang mengalir deras dan sulit diseberangi terbentang menghalangi mereka. Di seberangnya penguasa negeri (Thanesar –pent) telah menunggu dengan balatentaranya bersama dengan gajah-gajahnya untuk mencegah pasukan muslim menyeberang. Maka Yamin ad-Daulah memerintahkan pasukannya yang paling pemberani untuk menyeberang terlebih dahulu dan menyerbu orang-orang kafir untuk menyibukkan mereka sehingga sisa pasukan bisa menyeberang dengan selamat. Mereka melakukan hal itu, menyerbu pasukan Hindu dan menyibukkan mereka sampai seluruh pasukan berhasil menyeberang dengan selamat. Pasukan muslim menyerbu dari segala penjuru dan mereka bertempur sengit sampai berakhirnya siang. Pasukan Hindu terkalahkan dan kaum muslimin berhasil meraih kemenangan. Mereka memperoleh harta rampasan dan gajah yang amat banyak”.

Sebagian ahli sejarah menyebutkan bahwa salah satu raja Hindu meminta sang Sultan untuk menghentikan penghancuran berhala dan kuil-kuil mereka, katanya, “Saya tahu bahwa hal itu kalian anggap sebagai ibadah kepada Tuhan kalian, namun tidak cukupkah kalian menghancurkan berhala dan kuil-kuil, apalagi yang berada di Benteng Nagarkot?.” Ia juga berjanji akan memberikan harta yang banyak. Namun sang Sultan menolaknya mentah-mentah dan menerangkan bahwa tujuannya memerangi mereka adalah untuk meninggikan kalimat Allah dan mendapatkan ridha-Nya bukan karena menginginkan dunia yang fana. Kemudian sang Sultan segera bergerak menuju kuil itu dan menghancurkan berhala-berhalanya, kecuali satu berhala yang dibawa untuk diinjak-injak di negerinya.

Pada tahun 407 H pergerakan Sultan Mahmud mencapai sebuah kuil pemujaan yang terkuat pertahanannya*. Ibnul Atsir berkata, “Di dalamnya terdapat banyak patung pemujaan. Ada lima patung yang terbuat dari emas merah yang bertatahkan batu-batu permata. Jika ditimbang berat emasnya mencapai 690.300 mitsqal. Ada sejumlah 200 patung yang disepuh emas. Semuanya diambil oleh Yamin ad-Daulah, sedangkan sisanya dibakar. Kemudian ia bergerak ke Kannauj dan menaklukan benteng serta area-area di sekitarnya yang berjumlah tujuh buah, terletak di sekitar sungai Gangga. Terdapat rumah-rumah berhala yang berjumlah mencapai 10.000 buah yang menurut legenda mereka dibangun selama 200.000 sampai 300.000 tahun. Ketika ditaklukkan, pasukannya merampas rumah-rumah berhala itu.”

*Terletak di sebuah kota yang sekarang bernama Meerut, negara bagian Uttar Pradesh, India.

Adapun penaklukkan terbesar sang Sultan adalah menghancurkan patung sesembahan terbesar para paganis itu, yaitu patung Somnath pada tahun 416 H. Diceritakan oleh Ibnul Atsir, “Berhala ini adalah berhala Hindu yang paling agung. Di kuil itu mereka melakukan ritual pada setiap malam gerhana yang dihadiri lebih dari 100.000 orang. Mereka membawa barang-barang berharga sebagai persembahan dan memberikan banyak harta kepada pelayannya. Tanah yang diwakafkan untuknya mencapai lebih dari 10.000 desa.”

Faktor yang mendorong sang Sultan rela menempuh kesulitan demi menyerang dan menghancurkan patung ini bukanlah lantaran harta yang melimpah namun ia ingin menghentikal total praktek penyembahan berhala dengan menghancurkan berhala yang paling agung bagi orang-orang India. Ibnul Atsir berkata, “Tiap kali Yamin ad-Daulah berhasil menaklukkan tanah India dan menghancurkan patungnya, orang-orang India berkata bahwa Somnath murka pada patung-patung (yang dihancurkan) itu, jika tidak tentu ia akan membinasakan orang yang hendak menghancurkannya. Ketika Yamin ad-Daulah mengetahui hal itu ia bertekad bulat untuk menyerbu patung Somnath dan menghancurkannya. Ia mengira jika orang-orang India kehilangan Somnath dan menyadari klaim dusta mereka niscaya mereka akan masuk Islam. Maka ia beristikharah kepada Allah azza wa jalla, lalu bergerak dari Ghaznah pada tanggal 10 Sya’ban tahun ini (416 H) membawa pasukan berkekuatan 30.000 penunggang kuda ditambah para sukarelawan.”

Untuk mencapai patung ini harus menempuh perjalanan yang sulit karena harus menyeberangi gurun. Namun kesulitan itu tidak mengendorkan tekad sang Sultan muwahhid untuk menghancurkan berhala ini. Ibnul Atsir berkata, “Ketika Sultan berhasil menyeberangi gurun, ia melihat ada sebuah benteng yang penuh dengan prajurit. Di sekelilingnya ada beberapa sumur yang telah ditimbun agar tidak mudah dikepung (karena jika sumber air tidak ada maka pengepung tiada akan bertahan). Allah memudahkannya untuk menaklukkannya melalui rasa takut yang timbul di hati mereka. Ia menguasai benteng itu, membunuhi prajuritnya dan menghancurkan patung-patungnya. Disini pasukan muslim mengumpulkan kembali perbekalan mereka.” Sang Sultan berhasil mencapai patung Somnath setelah menempuh perjalanan panjang dan menaklukkan beberapa benteng. Ibnul Atsir berkata, “Sultan sampai di patung Somnath pada hari Kamis pertengahan Dzulqo’dah. Ia mendapati sebuah benteng kokoh yang dibangun di tepi pantai dan deburan ombak menyentuhnya. Para penjaganya telah bersiap di dinding-dinding benteng mengawasi kaum muslimin. Mereka yakin sesembahannya akan menghabisi dan mengancurkan kaum muslimin.” Seperti inilah mentalitas penyembah berhala. Tidak mungkin mereka mampu bertahan melawan tentara tauhid yang berjihad di jalan Allah untuk membersihkan bumi dari kotoran najis syirik dan pelakunya.

Ibnul Atsir menceritakan kepada kita pertempuran yang terjadi secara rinci. Para penyembah berhala itu terkaget-kaget mendapati ternyata sesembahannya itu tetap diam seribu bahasa ditengah-tengah orang-orang yang hendak menghancurkannya. Padahal mereka telah menaruh beribu harapan padanya. Mereka sebelumnya mengklaim bahwa patung-patung mereka dihancurkan lantaran murka sesembahan mereka ini, karena mereka meyakini bahwa sesembahan-sesembahan mereka itu saling bermusuhan. Ibnul Atsir berkata, “Orang-orang India melihat motivasi tempur kaum muslimin yang tidak pernah mereka dapati sebelumnya. Merekapun meninggalkan dinding benteng. Pasukan muslim memasang tangga dan menaiki benteng. Mereka meneriakkan kalimat tauhid dan mengangkat panji-panji Islam. Pertempuran berlangsung sengit dan kondisi semakin genting. Sekelompok prajurit Hindu berlari menuju Somnath, mengotori pipi mereka dengan tanah dan memohon pertolongan. Malampun tiba dan pertempuran berhenti sementara. Esok harinya pagi-pagi buta pasukan muslim tiba-tiba menyerbu mereka. Korban tentara Hindu berjatuhan satu demi satu. Mereka terdesak dan terpojok di dekat rumah berhala mereka Somnath. Mereka bertahan di pintu rumah dan bertempur membabi buta. Kelompok demi kelompok prajurit Hindu memasuki rumah, memeluk Somnath dan menangis meminta pertolongan. Lalu mereka keluar dan bertempur sampai titik darah penghabisan. Sampai hampir tidak ada prajurit yang tersisa. Tinggal sedikit dari mereka yang berhasil menyelamatkan diri menaiki dua buah kapal. Namun pasukan muslim berhasil menghadang mereka sehingga sebagiannya terbunuh dan sebagiannya tenggelam.” Adapun nasib berhala mereka Somnath, “Yamin ad-Daulah mengambilnya dan menghancurkannya. Sisa-sisanya dibakar. Sebagian pecahannya diambil dan dibawa ke Ghaznah agar menjadi pelajaran bagi orang-orang.” Maka patung itu betul-betul dihinakan setelah dihancurkan.

Harta rampasan yang diperoleh pasukan muslim pada pertempuran ini sampai bisa mengganti seluruh biaya jihad mereka, sebagai rizki dari Allah azza wa jalla. Ibnul Atsir berkata, “Ghanimah yang didapat melebihi 20 juta dinar. Semuanya diambil. Prajurit yang terbunuh mencapai lebih dari 50.000 orang.”

Sultan Mahmud al-Ghaznawi terus melanjutkan jihadnya sampai Allah azza wa jalla mewafatkannya pada tahun 421 H. Penaklukkan dan jihadnya di India meninggalkan pengaruh besar Islam di India selama beberapa puluh tahun berikutnya. Tindakannya menghancurkan berhala Somnath juga meninggalkan pengaruh penting atas para penyembah berhala. Usaha Sultan Mahmud al-Ghaznawi tidak terbatas pada memerangi orang-orang musyrik, beliau juga laksana pedang terhunus atas leher para ahli bid’ah, orang-orang zindik, dan pengikut Bathiniyah. Beliau telah menekan bid’ah dan menghidupkan sunnah. Pada masanya kedudukan hadits menjadi tinggi.

Sultan Mahmud al-Ghaznawi rahimahullah telah terbiasa menghancurkan patung-patung berhala. Telah kita jelaskan aksi-aksi beliau, terutama penghancuran berhala terbesar orang-orang Hindu yaitu patung Somnath. Demikian juga semangat beliau dalam beriltizam kepada Jama’atul Muslimin dan memerangi kelompok-kelompok sesat seperti semangat beliau dalam menghempaskan kesyirikan dan para pelakunya. Dalam hal itu beliau memiliki sikap yang terabadikan dalam sejarah.

Pada tahun 404 H sepulang dari salah satu ekspedisinya, ia menyurati Khalifah Abbasiyah al-Qodir Billah rahimahullah memintanya mengangkat dirinya untuk mengepalai wilayah kekuasaannya.

Ibnul Atsir berkata, “Setelah selesai dari ekspedisinya, ia kembali ke Ghaznah dan mengirim surat kepada al-Qodir Billah memintanya membuat pernyataan pengangkatannya sebagai penguasa Khurasan dan daerah sekitarnya, al-Qodir Billah pun melakukannya.” Sebenarnya Sultan al-Ghaznawi tidak butuh restu tersebut untuk mengukuhkan kekuasaannya, tetapi karena semangatnya untuk bersatu di bawah naungan seorang Imam Quraisy yang disepakati oleh kaum muslimin.

Sebagai penghormatan, Khalifah lantas menganugerahkan beberapa gelar kepada beliau.

Ibnul Jauzi berkata, “Khalifah mengirim jubah kebesaran padanya dan memberinya gelar Yamin ad-Daulah (tangan kanan daulah) dan Amin al-Millah (pengemban agama), lalu ditambah lagi gelar Nizhamuddin dan Nashirul Haq (penolong kebenaran).” (al-Muntadzim)

Yamin ad-Daulah tidak pernah berpikir keluar dari menaati seorang khalifah Quraisy dan ganti menaati khalifah palsu yang mengklaim dirinya keturunan Fatimah. Ibnu Katsir berkata, “Beliau selalu mendoakan Khalifah al-Qadir Billah dalam khutbahnya di seluruh kerajaannya, sedangkan para utusan Daulah Fatimiyah dari Mesir terus mengirim surat dan hadiah agar berpihak kepada mereka, beliaupun marah dan membakar surat-surat serta hadiah-hadiah mereka.”

Yamin ad-Daulah juga pernah mengirimkan salah satu utusan Daulah Fatimiyah berikut hadiah yang mereka bawa kepada Khalifah Abbasi untuk diadili. Ibnu Jauzi berkata, “Abul Abbas menyerahkan semua yang dibawa oleh utusan Mesir dan membacakan surat Yamin ad-Daulah yang mengabarkan bahwa beliau adalah pelayan yang tulus, yang memahami bahwa ketaatan adalah wajib dan berlepas diri dari segala upaya yang menyelisihi Daulah Abbasiyah. Esoknya, semua pakaian (hadiah) dikeluarkan menuju pintu Nubiyu (nama pintu istana), lalu dibuatkan sebuah lubang dan diisi dengan kayu bakar, pakaian itu diletakkan diatasnya dan disulut dengan api.”

Abul Abbas bin Taimiyah berkata, “Penguasa Ubaidi Mesir pernah mengirim surat kepada Sultan al-Ghaznawi meminta dukungannya, namun dibakarnya surat itu di hadapan utusannya, dan ia terkenal dengan pertolongannya terhadap Ahlu Sunnah.” (Minhaju Sunnah).

Pada tahun 396 H Yamin ad-Daulah bergerak menuju Multan (terletak di negara Pakistan) untuk melengserkan penguasanya yang seorang pengikut Qaramithah atheis. Ibnul Atsir berkata, “Penyebabnya adalah tersiar kabar bahwa penguasanya yaitu Abul Futuh memiliki akidah yang rusak dan tertuduh atheis. Disamping itu dia juga mengajak rakyatnya untuk mengikuti akidahnya itu dan mereka menyambutnya. Yamin ad-Daulah pun berpandangan untuk memerangi dan melengserkannya dari kekuasaannya. Beliau lalu bergerak membawa pasukannya. Ternyata ia harus menyeberangi sungai-sungai yang lebar dan deras airnya. Utamanya sungai Jihun yang menjadi penghalang terbesarnya. Ia lalu mengirim utusan kepada Anandpal (raja India) untuk meminta ijin melewati negerinya menuju Multan. Namun ia tidak diijinkan. Maka terpaksalah diserangnya negeri Anandpal itu terlebih dahulu, katanya, “Kita akan melakukan dua pertempuran sekaligus.”

Dengan karunia Allah Sultan al-Ghaznawi berhasil mengalahkan Anandpal dan sampai ke Multan. Ibnu Atsir berkata, “Ketika Abul Futuh mengetahui berita kedatangan Ghaznawi, dia segera menyadari ketidakmampuannya melawan maka harta bendanya segera dipindahkannya ke Serendip (sekarang bernama Srilanka, Edt.) dan meninggalkan Multan. Yamin ad-Daulah tiba di Multan dan menyerangnya. Ternyata penduduknya tetap bersikeras dalam kesesatan mereka. Beliau mengepung mereka, menekan, dan terus menyerang hingga berhasil menaklukkannya dengan paksa dan mewajibkan penduduknya membayar denda sebanyak 20.000 dirham sebagai hukuman atas pembangkangan mereka.” Maksudnya disertai taubat mereka.

Sultan Mahmud al-Ghaznawi selalu berusaha semaksimal mungkin menaati seorang khalifah Quraisy dan memberantas bid’ah serta zindik. Pada tahun 408 H, “Yamin ad-Daulah dan Amin al-Millah Abu Qasim Mahmud bin Sabaktakin melaksanakan kebijakan dan amanat Amirul Mukminin yang diembannya sebagai pemimpin Khurasan dan sekitarnya dalam memerangi kelompok Mu’tazilah, Rafidhah, Ismailiyah, Qaramithah, Jahmiyah dan Musyabbihah. Ia menyalib, memenjarakan, mengasingkan, dan memerintahkan untuk melaknat mereka di mimbar-mimbar masjid kaum muslimin. Ia juga mengisolasi masing-masing kelompok bid’ah dan mengusir mereka dari negerinya. Kebijakannya itu kemudian menjadi sunnah dalam Islam.” (al-Bidayah wa an-Nihayah)

Pada tahun 420 H Yamin ad-Daulah bergerak menuju Kota Rey (sebuah kota di Teheran, Iran, Edt. ) yang dikuasai oleh Majdu ad-Daulah al-Buwaihi ar-Rafidhi untuk melengserkannya dan menghabisinya bersama bala tentaranya. Tindakannya ini dikabarkannya kepada al-Qodir Billah. Isi suratnya sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnul Jauzi, “Allah telah melenyapkan tangan-tangan zhalim dan membersihkan tempat ini dari seruan Bathiniyah kafir dan ahli bid’ah fajir. Yang Mulia telah mengetahui realitas kondisi ketidakoptimalan Hamba memerangi orang kafir dan sesat serta memberantas bibit-bibit Bathiniyah fajir di Khurasan. Kota Rey dikenal sebagai tempat suaka dan pusat kegiatan mereka menyeru kepada kekafiran. Di sana mereka berbaur dengan kelompok Mu’tazilah bid’ah dan ekstremis Rafidhah yang menyelisihi Kitabullah dan Sunnah, terang-terangan mencela para sahabat dan menampakkan aqidah kafir serta paham permisivisme.”

Sang Sultan juga mempunyai kisah tersendiri berhadapan dengan Asya’irah (sekte Asy’ariyah) sesat. Adz-Dzahabi menyebutkan beberapa diantaranya di dalam Siyaru A’lam an-Nubala, berkata, “Ibnu Furak pernah menemui Sultan Mahmud lalu berkata, ‘Allah tidak boleh disifati dengan fauqiyah (berada diatas), karena berarti Dia juga harus disifati dengan tahtiyah (berada di bawah), karena siapa yang bisa berada di atas pasti juga bisa berada di bawah.’ Sultan menjawab, ‘Aku bukan yang menyifati-Nya hingga mengharuskanku, tetapi Dia sendiri yang menyifati diri-Nya.’ Ibnu Furak langsung terdiam seribu bahasa.”

Adz-Dzahabi kembali menceritakan, “Abul Walid Sulaiman al-Baji berkata, ‘Ketika Ibnu Furak mendebat al-Karramiyah habis-habisan mereka kewalahan dan meminta dukungan Mahmud bin Sabaktakin penguasa Khurasan dengan berkata, ‘Orang yang mendebat kami ini lebih besar kebid’ahan dan kekufurannya dihadapan anda dari pada kami. Tanyakan padanya tentang Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutthalib apakah hari ini masih menjadi utusan Allah atau tidak? Hal itu menjadi perkara besar baginya, katanya, ‘Jika ini benar, pasti aku akan membunuhnya! Ia lalu memanggil Ibnu Furak dan bertanya padanya. Jawabannya, ‘Dulu dia utusan Allah, tetapi sekarang tidak.’ Sultanpun memerintahkan untuk membunuhnya, tetapi dia meminta ampun. Ada yang bilang, bahwa dia sudah tua. Lalu Sultan memerintahkan untuk meracuniya, lantas dia pun diracuni.”

Ibnu Hazm berkata, “Aku diberitahu bahwa ada sekelompok ahli bid’ah yang beranggapan bahwa Muhammad bin Abdillah bin Abdul Mutthalib sekarang bukan lagi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ini yang jadi anggapan Asy’ariyah. Sulaiman bin Khalaf al-Baji – sekarang salah satu tokoh mereka – memberitahuku bahwa Muhammad bin Hasan bin Furak al-Ashbahani diracun oleh Mahmud bin Sabaktakin penguasa Khurasan karena hal itu. Kita berlindung kepada Allah dari ucapan ini karena tidak diragukan lagi adalah kekafiran yang nyata. Mereka telah mendustakan al-Qur’an terkait firman Allah azza wa jalla, “Muhammad adalah utusan Allah.” Mereka juga mendustakan adzan dan iqamat yang telah diwajibkan oleh Allah sebanyak lima kali sehari semalam atas setiap komunitas Muslim. Mereka juga mendustakan dakwah umat Islam yang sepakat untuk menyeru orang-orang kafir kepadanya dan bahwa tidak akan ada yang selamat dari neraka kecuali dengannya. Mereka juga mendustakan semua generasi umat Islam sejak para sahabat dan generasi setelah mereka, – baik itu yang shalih maupun fajir – yang telah mendeklarasikan bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak untuk disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Konsekuensi dari perkataan si laknat ini berarti dia telah mendustakan semua muazin, pengumandang iqamat dan para da’i islam yang mengatakan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Berdasarkan pendapat itu seharusnya mereka mengatakan ‘Muhammad adalah mantan utusan Allah’. Karena hal inilah Amir Mahmud bun Sabaktakin wakil Amirul Mukminin dan penguasa Khurasan membunuh Ibnu Furak sang guru besar Asy’ariyah. Semoga Allah membalas kebaikan Mahmud atas perbuatannya itu dan melaknat Ibnu Furak, kelompok dan para pengikutnya”. (al-Fashl). Jadi Sultan al-Ghaznawi tidak pernah berdiam diri dari para da’i sesat dan ahli kalam.

Abul Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullah memuji-muji Sultan al-Ghaznawi, katanya, “Masa kekuasaan Mahmud bin Sabaktakin adalah masa terbaik dalam Dinastinya. Islam dan Sunnah pada masa kekuasaannya terangkat mulia. Beliau memerangi orang-orang musyrik India dan menebarkan keadilan yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Sunnah pada masa kekuasaannya nampak mencolok sedangkan bid’ah diberantas.” (al-Fatawa).

Beliau rahimahullah juga berkata, “Beliau termasuk raja terbaik dan paling adil, juga paling keras sikapnya terhadap ahlu bid’ah.” (Minhajus Sunnah).

Demikianlah berkah berbaiat kepada Imam dan memerangi ahlu bid’ah dan zindik, yaitu berupa tamkin dan kemenangan atas musuh. Ibnu Katsir menceritakan peristiwa yang terjadi pada tahun 421 H, “Pada bulan Rabi’ul Awwal tahun ini, meninggallah raja yang adil, agung, penjaga perbatasan, mujahid yang ditolong, Yamin ad-Daulah Abu Qasim Mahmud bin Sabaktakin, sang penguasa negeri Ghaznah dan wilayah yang luas. Penakluk paksa sebagian besar tanah India, penghancur berhalanya, pemberantas Hindu dan penakluk kerajaan agung mereka.”

Inilah sekelumit kisah perjalanan hidup seorang Sultan yang adil, penolong tauhid dan sunah, pemberantas syirik dan bid’ah, serta berusaha semaksimal mungkin mengukuhkan Jamaah Muslimin disaat banyak kelompok-kelompok bid’ah dan sesat berupaya memerangi khilafah dan melemahkannya. Loyalitas Sultan Mahmud kepada Amirul Mukminin al-Qodir berperan besar dalam memberantas kelompok-kelompok tersebut dan mengembalikan wibawa Khilafah Quraisyiyah.

Pada hari ini di Khurasan juga terdapat generasi Muwahhid yang dengan mereka Allah memenangkan Islam dan kaum muslimin. Mereka memerangi syirik, memberantas bid’ah dan berpegang teguh dengan al-jamaah. Kita memohon kepada Allah agar melalui tangan-tangan mereka Sind dan India bisa ditaklukkan kembali. Sesungguhnya Dia Mahamampu untuk itu. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.