Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 April 2018

SIFAT-SIFAT ORANG MUNAFIQ (BAGIAN 1)

RUMIYAH 13 - ARTIKEL

SIFAT-SIFAT ORANG MUNAFIQ (BAGIAN 1)
IBNUL QAYYIM

Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, meminta pertolongan-Nya, memohon ampunan-Nya, dan berlindung kepada-Nya dari keburukan jiwa kita dan kejelekan perbuatan kita. Barangsiapa diberi petunjuk-Nya maka tak akan ada yang mampu menyesatkannya, dan barangsiapa disesatkan-Nya maka tak akan ada yang mampu memberi petunjuk kepadanya. Aku bersaksi bahwa tidak ilah yang berhak disembah keecuali Allah. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Ali ‘Imran: 102)

“Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabbmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (An-Nisaa`: 1)

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (Al-Ahzab: 70-71).

Amma ba’du:

Munafiq (nifaq) adalah penyakit hati yang akut. Bisa jadi hati seseorang itu terjangkiti kemunafiqkan namun dia tidak merasakannya. Nifaq adalah perkara yang tersembunyi dan tidak disadari banyak manusia. Apalagi oleh orang yang hatinya terjangkit nifaq, sehingga mengklaim dirinya itu reformer namun sejatinya perusak.

Nifaq ada dua macam; ashghar (kecil) dan akbar (besar). Nifaq akbar menyebabkan kekal di neraka yang paling bawah. Di mata kaum muslimin seseorang nampak beriman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, para rasul, dan Hari Akhir, namun batinnya terlepas dari semua itu lagi mendustakannya. Dia tidak beriman bahwa Allah berbicara dengan kata-kata yang diturunkan-Nya kepada seorang manusia yang dijadikan-Nya sebagai rasul, memberi petunjuk dengan seizin-Nya, memperingatkan mereka akan keperkasaan-Nya, dan menakut-nakuti mereka akan siksa-Nya.

Allah Yang Mahasuci telah menyingkap tirai orang-orang munafiq dan membongkar rahasia mereka di dalam Al-Qur'an. Dia telah mengekspos perkara orang-orang munafiq kepada para hamba-Nya agar mereka berhati-hati dari nifaq dan orang-orang munafiq.

Di awal Surat Al-Baqarah, Allah menyebutkan tiga golongan manusia; orang-orang beriman, orang-orang kafir, dan orang-orang munafiq. Empat ayat menjelaskan mengenai orang-orang beriman, dua ayat mengenai orang-orang kafir, dan sepuluh ayat mengenai orang-orang munafiq.

Hal itu dikarenakan banyaknya jumlah orang munafiq, efeknya yang sangat luas, dan fitnah mereka yang teramat dahsyat bagi Islam dan kaum muslimin. Hantaman mereka terhadap Islam teramat keras, karena mereka terlihat konsekuen dengan Islam, serta mengklaim membela dan bekerja demi Islam, namun sejatinya dia adalah musuh bebuyutan.

Dalam setiap kesempatan, mereka akan mengeluarkan permusuhannya. Orang-orang bodoh mengira mereka berilmu dan reformer, namun sesungguhnya amat bodoh lagi perusak.

Demi Allah, betapa banyak kubu pertahanan Islam yang telah mereka hancurkan. Betapa banyak benteng Islam yang telah mereka porak-porandakan. Betapa banyak syiar Islam yang telah mereka padamkan. Betapa banyak bendera Islam yang berkibar yang telah mereka turunkan paksa. Betapa banyak mereka tanamkan akar-akar syubhat (penyimpangan/kerancuan) untuk membongkar akar Islam. Betapa banyak ‘mata air’ Islam yang mereka kubur dan mereka bendung.

Islam dan kaum muslimin senantiasa terganggu dan tertimpa malapetaka karena mereka. Serangan demi serangan syubhat mereka tiada henti menggedor pintunya. Semua itu, mereka mengklaim sebagai reformer.

“Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” (Al-Baqarah: 12).

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.” (Ash-Shaff: 8)

Mereka sepakat untuk meninggalkan wahyu. Mereka bersatu untuk tidak mencari petunjuk dari wahyu.

“Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing).” (Al-Mukminun: 53).

“Sebagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (Al-An’am: 112).

Untuk itulah, “Mereka menjadikan Al-Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan.” (Al-Furqan: 30)

Tanda-tanda iman telah punah dari hati mereka hingga mereka tak mengetahuinya lagi. Bangunannya telah hancur karena mereka membiarkannya terbengkalai begitu saja. Cahayanya yang gemerlap telah padam karena mereka tak menjaganya. Sinarnya tenggelam terhalangi gelapnya pikiran mereka hingga mereka tak melihatnya lagi. Mereka tak menerima petunjuk Allah yang disampaikan melalui rasul-Nya. Mereka tak mengacuhkannya dan tak merasa jengah mengabaikannya demi kata-kata dan pikiran mereka sendiri. Mereka telanjangi nash-nash wahyu dari hakikat sejatinya. Mereka lengserkan nash-nash wahyu dari wilayah yakin. Mereka lancarkan serangan demi serangan ta'wil-ta'wil bathil. Nash-nash wahyu itu laksana seseorang yang bertemu segerombolan preman. Seharusnya diterima dengan tangan terbuka dan penghormatan, namun mereka malah mencengkeram kerahnya dan mendorong dadanya. “Anda tak boleh lewat, kecuali bisa mengalahkan kami,” demikian ujar mereka.

Mereka siapkan berbagai macam rintangan untuk menghalanginya. Ketika nash-nash wahyu menang, mereka berkata, “Kami tak peduli dengan lafazh-lafazh lahir yang tak memberikan keyakinan sedikitpun.” Yang awam berkata, “Cukuplah bagi kami apa yang ditinggalkan cendekiawan kontemporer. Mereka lebih alim daripada orang-orang yang sudah berlalu, dan lebih memahami argumentasi dan bukti-bukti nyata.”

Orang-orang yang terlalu lugu dan polos. Tak pernah berusaha memahami kaidah, yang penting melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan. Bagi mereka, metode orang-orang kontemporer itu lebih cerdas dan bijak, sedangkan metode orang-orang terdahulu lebih bodoh namun lebih selamat.

Bagi mereka, nash-nash wahyu itu laksana khalifah pada zaman ini. Namanya terpampang di jalanan dan disebut-sebut di mimbar-mimbar, namun kekuasaannya milik orang lain. Hukumnya tak diterima dan tak didengar. Mereka kenakan pakaian iman pada hati yang menyimpang dan rugi, dan hati yang dengki dan kafir.

Lahirnya layaknya seorang penolong, namun batinya berpihak pada orang-orang kafir. Lisannya enak didengar, namun hatinya penuh api peperangan. Mereka berkata, “Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhir, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.” (Al-Baqarah: 8)

Modal mereka adalah makar dan tipu daya. Barang dagangannya adalah dusta dan curang. Yang ada di otak mereka hanyalah agar bisa hidup aman, sentosa, dan disukai oleh dua kelompok. “Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.” (Al-Baqarah: 9)

Penyakit syubhat dan syahwat telah menjangkiti hati mereka hingga membinasakannya. Keinginan-keinginan buruk telah menguasai niat dan kehendak mereka hingga merusaknya. Amat rusak hingga hampir binasa. Dokter ahli pun tak mampu mengobatinya. “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (Al-Baqarah: 10)

Barangsiapa di hatinya tertanam kuku-kuku keraguan, mereka niscaya akan tercabik-cabik habis. Barangsiapa hatinya terkena bara fitnah mereka niscaya akan terbakar habis. Siapa yang telinganya termasuki syubhat-syubhat tipuan mereka niscaya hatinya akan terhalangi dari kebenaran. Betapa banyak kerusakan mereka di bumi ini, namun kebanyakan manusia lalai. “Dan bila dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi.’ Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.’ Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadarinya.” (Al-Baqarah: 11-12)

Mereka menganggap orang yang berpegang pada Kitabullah dan Sunnah itu orang yang hanya mengerti kulit luarnya saja, tak memahami intisarinya. Bagi mereka, orang yang mengikuti nash itu seperti keledai yang membawa bertumpuk-tumpuk kitab, tak memahami sedikitpun yang dibawanya. Barang dagangan “pedagang wahyu” bagi mereka itu teramat buruk, tak bisa diterima. Bagi mereka, ahlul-ittiba’ (orang-orang yang berpegang kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah) adalah orang-orang dungu. Pasti mereka akan mengolok-oloknya di setiap kesempatan majelis. “Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman.’ Mereka menjawab, ‘Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?’ Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu.” (Al-Baqarah: 13)

Tiap-tiap mereka mempunyai dua muka, muka yang diperlihatkannya ketika bertemu dengan orang-orang beriman, dan muka ketika bertemu kawan-kawan gerombolan mereka. Tiap-tiap mereka mempunyai dua lidah, yang manis-manis diucapkannya kepada kaum muslimin dan yang lainnya mengungkapkan rahasia terdalam hatinya. “Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, ‘Kami telah beriman.’ Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.’” (Al-Baqarah: 14)

Mereka berpaling dari Kitabullah dan As-Sunnah karena memperolok-olok dan menghina orang-orang yang mengikuti keduanya. Mereka menolak tunduk kepada aturan dua wahyu demi pengetahuan yang ada pada diri mereka, yang tidak menambah kecuali semakin tinggi hati dan sombong. Selamanya mereka akan terlihat memperolok-olok orang-orang yang berpegang pada nash wahyu. “Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.” (Al-Baqarah: 15)

Mereka mengarungi lautan kegelapan dalam perdagangan yang sudah pasti rugi. Menaiki kapal-kapal syubhat dan keraguan. Terombang-ambing dalam gelombang khayalan. Angin ribut menghantam kapal-kapal mereka hingga menghempaskannya dalam kapal-kapal orang-orang binasa. “Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah: 16)

Api iman tampak berkelip di depan mereka hingga terlihatlah tempat-tempat petunjuk dan tempat-tempat kesesatan. Namun tiba-tiba cahayanya padam. Yang tersisanya hanya api yang membakar menyala-nyala. Mereka diazab dengan api itu, dan dalam kegelapan itu mereka kebingungan. “Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.” (Al-Baqarah: 17)

Telinga hati mereka telah tertutupi kotoran. Panggilan iman tak terdengar lagi. Bashirah (mata hati) mereka telah dibutakan. Hakikat-hakikat Al-Qur'an tak terlihat lagi. Lidah-lidah mereka telah terkunci dari kebenaran. Kebenaran takkan terucap lagi. “Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar).” (Al-Baqarah: 18)

Tetesan wahyu yang menghidupkan roh dan hati terdengar menitik. Namun mereka tak mendengarnya kecuali gelegar petir ancaman demi ancaman beban yang harus dilaksanakan setiap hari. Maka disumbatlah telinga mereka dengan telunjuk, ditutupkanlah baju ke kepala, dan mereka segera kabur. Namun dibelakang mereka teriakan-teriakan pengejar membuntuti. Mereka diseru di depan khalayak. Orang-orang melihat hakikat mereka. Lalu jadilah ungkapan yang menggambarkan para pengekor dan idelognya sekaligus. “Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.” (Al-Baqarah: 19)

Pandangan mereka tak mampu menahan terangnya cahaya kilat makna-makna yang menyelingi hujan itu. Telinga mereka tak mampu menahan gelegar petir ancaman, perintah, dan larangan-larangannya. Mereka berdiri kebingungan di lembah kesesatan. Suara dan cahaya apapun tak akan bermanfaat sedikitpun. “Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” (Al-Baqarah: 20)

Mereka mempunyai tanda-tanda yang telah diterangkan di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. Akan terlihat jelas pada bashirah siapapun orang-orang beriman yang mentadaburinya. Demi Allah, mereka berdiri di atas riya', dan itulah seburuk-buruk tempat berdiri manusia. Rasa malas mendudukkan mereka dari perintah-perintah Ar-Rahman. Ikhlas akan terasa amat berat bagi mereka. Jika mereka berdiri untuk melaksanakan shalat maka mereka berdiri dengan bermalas-malasan, hanya agar manusia melihatnya, dan tidak mengingat Allah kecuali hanya sedikit.

Mereka seperti anak kambing yang kebingungan di antara dua kambing. Terkadang pergi ke yang pertama, terkadang pergi ke yang kedua. Tidak bisa memilih salah satunya. Posisi mereka berada di antara dua kelompok, untuk melihat mana yang lebih kuat dan lebih mulia. Kebingungan di antara keduanya, tidak ke salah satu sisi, tidak juga ke sisi yang lain. Barangsiapa disesatkan oleh Allah maka dia tidak akan mendapat petunjuk.

Mereka menunggu-nunggu dan melihat-lihat pihak yang berpegang pada Al-Qur'an dan As-Sunnah. Jika mendapatkan kemenangan dari Allah maka mereka berkata, “Bukankah kami bersama kalian?” Mereka bersungguh-sungguh bersumpah atas nama Allah. Namun jika musuh-musuh Kitabullah dan As-Sunnah mendapat kemenangan, maka mereka akan berkata, “Bukankah kita dan kalian terikat pertemanan, dan
nasab kita dekat?”

Wahai orang yang hendak memahami mereka, ambillah sifat-sifat mereka dari firman Rabb semesta alam. Engkau tak membutuhkan dalil lain. “Yaitu orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mukmin). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata, ‘Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu?’ Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata, ‘Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin?’ Maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu di hari kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” (An-Nisaa`: 141)

Manis dan lembut kata-kata mereka akan menakjubkan pendengar. Namun Allah bersaksi bahwa hati mereka penuh dengan dusta dan tipu daya. Anda melihatnya tertidur di hadapan kebenaran, namun berdiri tegak di hadapan kebathilan. Maka perhatikanlah sifat mereka dari kalam Yang Mahasuci, “Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras.” (Al-Baqarah: 204)

Perintah-perintah yang mereka titahkan kepada pengikutnya hanya membuahkan kerusakan. Sebaliknya, mereka melarang dari hal-hal yang membuahkan kebaikan di dunia dan akhirat. Mungkin anda akan menemukan mereka terlihat bersama orang-orang beriman dalam shalat, zikir, zuhud, dan sungguh-sungguh beribadah. “Dan apabila ia berpaling (dari kamu), dia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanaman-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan.” (Al-Baqarah: 205)

Tiap-tiap mereka adalah jenis yang saling menyerupai. Memerintahkan kepada yang mungkar setelah mereka sendiri mengerjakannya. Melarang dari yang ma'ruf setelah mereka sendiri meninggalkannya. Pelit tidak mau menafkahkan hartanya demi keridhaan dan di jalan Allah. Betapa sering Allah mengingatkan mereka akan nikmat-nikmat-Nya namun mereka enggan mengingatnya. Betapa sering Allah menyingkap hakikat mereka kepada para hamba-Nya yang beriman agar mereka menjauhinya.

Dengarlah wahai orang-orang beriman: “Orang-orang munafiq laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma'ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafiq itu adalah orang-orang yang fasik.” (At-Taubah: 67)

NASEHAT PENTING UNTUK PARA MUJAHID (BAGIAN 3, SELESAI)

RUMIYAH 13 - ARTIKEL

NASEHAT PENTING UNTUK PARA MUJAHID (BAGIAN 3, SELESAI)
SYAIKH ABU MUSH'AB AZ-ZARQAWI

Wahai para mujahid...

Orang-orang munafik dan para perampok di jalan menuju Allah akan berkata kepada kalian, “Apakah kalian mengira bahwa sesuatu yang kalian inginkan akan terwujud dan bahwa Khilafah Islam atau bahkan Daulah Islam akan tegak? Sungguh, itu tidak mungkin terjadi. Hal ini tidak lebih sekedar khayalan dari pada realitas.”

Jika mereka mengatakan hal itu, maka ingatlah firman Allah Ta’ala: “(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: “Mereka itu (orang-orang mukmin) ditipu oleh agamanya”. (Allah berfirman): “Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Anfal : 49)

Dan katakan kepada mereka, “Sesungguhnya Allah akan menaklukkan kota Roma untuk kaum muslimin sebagaimana dijanjikan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di dalam hadits shahih, sebagaimana sebelumnya kota Konstantinopel telah ditaklukkan.

Katakan kepada mereka, “Sesungguhnya kita mengharapkan pertolongan Allah; sesuatu yang lebih jauh dari itu. Kita berharap kepada Allah agar menaklukkan Gedung Putih, Kremlin, dan London. Kita bersama janji Allah: “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana orang-orang sebelum mereka berkuasa.” (An-Nur: 55)

Adapun persoalan kapan hal itu terjadi, maka itu bukanlah urusan kita, dan Allah tidak membebani kita dengan hal itu. Allah hanya menugaskan kita untuk beramal untuk agama, membela syariat, fokus, dan mengerahkan kemampuan terbaik untuk hal itu. Adapun hasilnya, maka itu adalah urusan Allah.

Tugasmu adalah menabur benih, bukan memetik hasil
Dan Allah adalah penolong terbaik bagi orang-orang yang mau berusaha

Ketika Imam Ahmad rahimahullah diuji dalam fitnah “Al-Quran adalah makhluk”, dan fitnah ini muncul dengan ditopang penguasa, datanglah pemimpin bid'ah Ahmad bin Abi Duad menemui Imam Ahmad, dia lalu berkata sinis, “Tidakkah engkau lihat, bagaimana kebathilan mengalahkan kebenaran, wahai Ahmad?"

Imam Ahmad rahimahullah pun menjawab, “Sungguh, kebathilan tidak akan mengalahkan kebenaran, karena kemenangan kebathilan atas kebenaran adalah beralihnya hati manusia dari kebenaran menuju kebathilan. Sedangkan hati kami tetap melazimkan kebenaran.”

Katakan kepada mereka sebagaimana perkataan Nabi Ya’qub alaihis salam : “Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku).” (Yusuf: 94)

Di tengah banyaknya ujian dan tekanan seperti ini, tetapi kami mencium aroma kebebasan, kemenangan dan tamkin (kekuasaan). Sekiranya kalian tidak menuduhku lemah akal.

Banyak manusia yang berkata pada kalian, “Sungguh, kalian benar-benar berada dalam kesesatan kalian yang lama.”

Orang-orang munafik juga pernah berkata kepada para Sahabat setelah perang Uhud, “Kembalilah kepada agama nenek moyang kalian.”

Kata-kata ini sering diucapkan orang-orang munafik kepada orang-orang beriman di setiap waktu, apabila para mujahid fi sabilillah ditimpa musibah, atau didera pembunuhan, luka, penjara dan penyiksaan. Jadi, jika mereka berkata demikian, maka katakan pada mereka, “Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman.” (Al-Hajj: 38)

“Dan Allah benar-benar akan menolong siapa yang menolong Nya.” (Al-Hajj: 40)

Orang-orang munafik juga akan berkata kepada kalian sebagaimana yang pernah mereka katakan tentang orang-orang dalam tragedi mata air Ar-Raji’ yang dikhianati oleh orang-orang musyrik : “Kasihan, mereka adalah orang-orang yang tertipu binasa seperti ini, mereka tidak lagi bisa berkumpul dengan keluarga dan juga tidak berhasil menunaikan risalah sahabat mereka.”

Kata-kata seperti ini akan dilontarkan kepada kalian pada hari-hari ini, setiap kali sebagian ikhwah terbunuh. Mereka tidak mau duduk agar selamat, tapi juga tidak mampu menghapus kemungkaran dan dosa-dosa yang membinasakan. Maka, jika kalian mendengar hal ini, katakan pada mereka sebagaimana perkataan Ash-Shiddiqah Khadijah: “Bergembiralah, karena Allah tidak akan menghinakan anda selamanya.”

Jadi, kami katakan kepada setiap mujahid fi sabilillah, “Sekali-kali tidak, Demi Allah, Allah selamanya tidak akan menghinakan kalian, karena kalian biasa menyambung silaturahim, membela syariat, dan berjihad di jalan Allah melawan siapapun yang kafir kepada Allah dari kalangan Yahudi, Salibis, dan murtadin.

Sejarawan Muhammad Al-Bassam berkata dalam kitabnya “Ad-Durar wa Al-Mafakhir fi Akhbar Al-’Arab Al-’Awwakh” mengenai para ulama dakwah Nejed ketika memerangi Raja Mesir, “Tidak, demi Allah, Raja Mesir tidaklah mengalahkan mereka karena mereka lemah atau pengecut. Tetapi mereka kalah akibat pengkhianatan orang-orang Arab, atau kemauan para penduduk negeri.”

Wahai para mujahid...

Kalian telah menjual diri kalian kepada Allah azza wa jalla, tidak ada pilihan lain bagi kalian selain menyerahkan ‘barang’ kepada ‘Sang Pembeli’: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 111)

Jika ‘Sang Pembeli’ telah menerima barang yang dibelinya, maka terserah dia hendak berbuat apapun, dan silahkan Dia menyimpannya sekehendak-Nya. Jika mau, dia bisa menyimpannya di istana, atau di penjara. Jika mau, dia boleh memberinya pakaian mewah, atau dibuatnya telanjang bulat, hingga menyisakan kain penutup aurat. Jika mau, dia bisa membuatnya kaya atau miskin. Dan jika mau, dia bisa menggantungnya di tiang gantungan atau dibuatnya dikuasai oleh musuhnya yang kemudian membunuh atau mencincangnya.

Sayyid Quthb rahimahullah berkata mengomentari peristiwa Ashabul Ukhdud : “Tidak mesti harus ada contoh seperti ini, di mana di dalamnya orang-orang beriman tidak selamat, sedang orang-orang kafir tidak mendapat hukuman apapun. Hal itu tidak lain agar tertanam di dalam indera orang-orang beriman; para juru dakwah yang menyeru kepada Allah, bahwa terkadang mereka harus mengalami kesudahan seperti ini dalam perjalanan menuju Allah. Mereka sama sekali tidak memiliki otoritas dalam urusan ini, dan justru urusan mereka dan urusan aqidah adalah otoritas Allah.

Mereka cukup menunaikan kewajiban, setelah itu pergi. Kewajiban mereka adalah memilih Allah dan lebih memprioritaskan aqidah dari pada kehidupan. Tetap tegar dengan keimanan menghadapi berbagai fitnah, serta jujur kepada Allah dalam amal dan niat. Kemudian biarlah Allah berbuat terhadap mereka dan terhadap para musuh mereka sebagaimana yang Dia lakukan terhadap dakwah dan agama-Nya sesuai kehendak-Nya. Dan mengakhiri mereka seperti akhir kisah-kisah di atas yang telah dikenal dalam sejarah keimanan, atau akhir kisah lain yang hanya diketahui dan dilihat oleh Allah.”

Merekalah orang-orang yang akan mendapatkan pahala di sisi Allah. Pantaskah orang yang telah menjual seekor kambing marah kepada si pembeli jika dia menyembelihnya, atau pantaskah hatinya berubah karena hal itu?!

Belumkah engkau mendengar apa yang telah menimpa “sang singa Allah” dan “singa Rasul-Nya” yaitu Hamzah bin Abdul Muthalib? Perutnya dibelah, hatinya dikeluarkan, dan dia dicincang.

Dan apa yang dialami oleh Sang Manusia terbaik shallallahu alaihi wasallam sewaktu Perang Uhud. Perhatikan pula para nabi dan rasul, mereka adalah manusia pilihan; Ibrahim as dilemparkan ke dalam api, Zakaria alaihis salam digergaji, sang panutan lagi mampu menahan diri yaitu Yahya disembelih, Ayyub tinggal dalam ujian selama beberapa tahun, Yunus dipenjara di dalam perut ikan paus, dan Yusuf dijual dengan harga murah serta menetap di penjara selama beberapa tahun.

Semua itu mereka jalani, dan mereka ridha kepada Rabb dan pelindung mereka yang Maha Benar. Sebagian salaf berkata, “Seandainya tubuhku dipotong-potong dengan gunting, hal itu lebih aku cintai dari pada aku harus mengatakan tentang sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah, seandainya saja hal itu tidak terjadi.”

Wahai para ikhwah, jadilah kalian seperti mereka yang urusan mereka tidak mengintervensi pengaturan Dzat Sang Pelindung mereka, dan pilihan mereka tidak bertentangan dengan pilihan Allah Yang Maha Suci. Mereka tidak pernah mengintervensi pengaturan Allah terhadap kerajaan-Nya (seperti ucapan: “jika begini niscaya akan begini”, atau ucapan: “semoga”, “seandainya”, dan “duh kiranya”).

Pilihan Allah untuk hamba-Nya yang beriman adalah pilihan terbaik, bahkan paling utama meskipun tampaknya sulit dan berat, atau meskipun melenyapkan harta-benda, kehilangan pangkat dan jabatan, kehilangan keluarga dan harta atau bahkan lenyapnya dunia dan seisinya.

Ingatlah kisah perang Badar dan renungkan baik-baik; ketika itu sebagian sahabat radhiyallahu 'anhum ingin menguasai kafilah dagang, tetapi Allah ta'ala memilihkan perang untuk mereka. Dan Perbedaan antara keduanya sangat besar.

Apa yang ada dalam kafilah dagang? Yang ada adalah bahan makanan yang bisa dimakan yang kemudian dibuang di toilet, pakaian usang yang kemudian dicampakkan dan dunia yang segera lenyap.

Adapun pasukan perang, bersamanya ada al-furqan (pembeda) yang dengannya Allah memisahkan antara yang kebenaran dan kebathilan. Kalah dan hancurnya kesyirikan serta kemuliaan dan kemenangan tauhid. Terjadi pembunuhan terhadap tokoh-tokoh musyrikin yang sentiasa menjadi batu sandungan di hadapan Islam. Dan cukuplah Allah telah melihat para peserta Perang Badar, lalu berfirman kepada mereka, “Berbuatlah sesuka kalian, karena Aku telah mengampuni kalian.”

Wahai para mujahid...

Ketika ujian datang, maka banyak yang berguguran. Janganlah kalian bersedih. Imam Muslim meriwayatkan di dalam kitab Shahihnya, dari Anas radhiyallahu 'anhu bahwa kaum Quraisy pernah menekan perjanjian dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu mereka mengajukan syarat, “Bahwa siapapun diantara kalian yang datang kepada kami, niscaya tidak akan kami kembalikan kepada kalian. Namun jika ada di antara kami yang datang kepada kalian, maka kalian harus mengembalikannya kepada kami."

Lantas para sahabat bertanya, “Apakah kami harus menulisnya?”

Beliau shallallahu alaihi wasallam menjawab, “Ya. Sungguh, siapapun diantara kita yang pergi kepada mereka, berarti Allah akan menjauhkannya (dari hidayah), sedang siapapun di antara mereka yang datang kepada kita, semoga Allah memberikan solusi dan kebebasan kepadanya.”

Maka, jangan bersedih terhadap orang yang Allah jauhkan (dari hidayah).

Betapa indah ungkapan Ibnu Qayyim rahimahullah, “Engkau mesti menapaki jalan kebenaran, dan jangan risau karena sedikitnya orang yang berjalan di atasnya. Setiap kali engkau merasa risau dalam kesendirianmu, maka tengoklah teman pendahulu dan bersemangatlah untuk menyusul mereka. Tundukkan pandangan matamu dari selain mereka, karena mereka sama sekali tidak berguna bagimu. Jika mereka meneriakimu di jalan yang engkau tapaki, maka jangan menoleh sedikit pun ke arah mereka, karena tatkala kamu menoleh kepada mereka, niscaya mereka akan menangkap dan menghalangimu.” (Selesai perkataan beliau rahimahullah)

Waspadalah, jangan sampai hati kalian terpesona oleh syubhat (penyimpangan/kerancuan) yang dilontarkan para ‘pembegal’ dan orang-orang yang kalah, yang hendak menghalangi kalian dari jalan jihad. Hal ini, murni hidayah dan taufiq dari Allah. Sungguh, Allah Ta’ala telah berpaling dari mereka secara halus, lantas menghinakan mereka meskipun dalam hati dan akal mereka banyak ilmu karena begitu banyaknya kitab dan matan yang telah mereka telaah.

Permasalahannya bukan hanya pada banyaknya ilmu, namun rasa taqwa kepada Allah yang melahirkan al-furqan (pemisah) keimanan. “Hai orang-orang beriman, jika kalian bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqan kepada kalian.” (Al-Anfal: 29)

Semoga Allah merahmati Syaikhul Islam yang mengatakan, “Sungguh aku curahkan seluruh bidang ilmu kepada umat. Barangsiapa yang Allah sinari hatinya, niscaya Allah memberinya hidayah. Dan barangsiapa yang Allah butakan hatinya, niscaya banyaknya buku hanya akan membuatnya semakin bingung dan tersesat.”

Ya Allah, berikanlah tamkin untuk para muwahhid di muka bumi.
Ya Allah, berikanlah tamkin untuk para muwahhid di muka bumi.
Ya Allah, mobilisasilah pasukan mereka, kirimkanlah pasukan infanteri mereka, dan ikhlaskan niat-niat mereka.
Ya Allah, jagalah mereka dengan penjagaan-Mu.
Ya Allah, jagalah mereka dengan penjagaan-Mu.
Ya Allah, jagalah mereka dengan penjagaan-Mu.
Ya Allah, pantau mereka dengan mata-Mu yang tidak pernah tertidur, sedangkan para makhluk semuanya tertidur.
Ya Allah, mudahkanlah setiap kebaikan untuk mereka.
Ya Allah, siapa ingin berbuat baik kepada mereka, maka mudahkanlah dia untuk setiap kebaikan.
Dan barangsiapa yang ingin berbuat jahat kepada mereka, maka siksalah dia dengan keras.
Ya Allah, lindungi mereka dan lindungi kehormatan mereka.
Ya Allah, lindungi mereka dan lindungi kehormatan mereka.
Ya Allah, lindungi mereka dan lindungi kehormatan mereka.
Ya Allah, sungguh mereka adalah orang-orang miskin, maka muliakanlah mereka dengan kemuliaan Mu. Wahai Rabb Semesta Alam.
Ya Allah, sungguh mereka adalah orang-orang fakir, maka muliakan mereka dengan karuniaMu. Wahai Rabb Semesta Alam.
Ya Allah, hidupkanlah umat Muhammad.
Ya Allah, hidupkanlah umat Muhammad.
Ya Allah, hidupkanlah umat Muhammad.
Ya Allah, tolonglah umat Muhammad.
Wahai Rabb Semesta Alam.
Wahai Rabb kami. Wahai Rabb kami.
Wahai Rabb kami, menangkanlah kami atas kaum yang zhalim.
Wahai Rabb kami, menangkanlah kami atas orang-orang kafir.
Ya Allah, ambillah darah kami hingga Engkau ridha.
Ya Allah, ambillah darah kami hingga Engkau ridha.
Ya Allah, ambillah darah kami hingga Engkau ridha.
Ya Allah, letakkan kami di perut-perut binatang buas dan paruh-paruh burung.
Ya Allah, letakkan kami di perut-perut binatang buas dan paruh-paruh burung.
Ya Allah, letakkan kami di perut-perut binatang buas dan paruh-paruh burung.

Walhamdulillahi rabbil 'alamiin.

KEDUDUKAN IMAMAH (KEPEMIMPINAN) DALAM AGAMA

RUMIYAH 13 - ARTIKEL

KEDUDUKAN IMAMAH (KEPEMIMPINAN) DALAM AGAMA

Segala puji bagi Allah yang senang apabila para hamba-Nya berdoa kepada-Nya, “Dan orang orang yang berkata, ‘Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Al-Furqan: 74).

Shalawat dan salam kepada Rasul-Nya; pemimpin orang-orang bertaqwa. Allah telah menjadikan beliau seorang pemimpin yang berhukum dengan apa yang diturunkan-Nya, sekaligus pemimpin agama yang diteladani dan diikuti. Kemudian Allah menjadikan para Khulafaur Rasyidin sebagai penerus minhaj (metodologi) dan perjalanannya. Shalawat dan keselamatan semoga tercurahkan kepada para keluarga dan para sahabat beliau, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga Hari Kiamat. Amma ba’ du:

Imam Ahmad, Al-Hakim, dan Ibnu Hibban meriwayatkan di dalam Shahih-nya dari hadits Abu Umamah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Simpul-simpul Islam niscaya akan benar-benar terlepas satu demi satu. Tiap kali satu simpul terlepas maka orang-orang akan bergantung dengan simpul lainnya. Yang pertama terlepas adalah kekuasaan, dan yang terakhir adalah shalat.”

Imamah Al-’Uzhma (kepemimpinan tertinggi/ kekhilafahan) yang menjadi kewajiban syariat adalah salah satu simpul Islam. Terlepasnya persoalan berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah ini, berarti suatu kekurangan besar yang menggerogoti agama dan dunia kaum muslimin. Betapa banyak cabang Islam dan iman yang tidak bisa terwujud kecuali dengan kokohnya salah satu simpul Islam ini. Berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah adalah tanggung jawab yang hanya bisa diemban dengan baik oleh seorang penguasa, dengan bantuan dan nasehat para ulama. Allah ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya.” (Al-Maa`idah: 44)

Allah azza wa jalla menerangkan bahwa yang ditugasi-Nya untuk berhukum dengan apa yang diturunkan-Nya adalah para nabi karena merekalah yang memimpin Bani Israil sebagaimana sabda Nabi: “Dulu Bani Israil itu dipimpin oleh para nabi. Tiap kali seorang nabi meninggal maka nabi lain akan diutus menggantikannya. Sesungguhnya tidak ada nabi sepeninggalku, namun akan muncul banyak khalifah.” Para sahabat bertanya, “Apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Nabi menjawab, “Penuhilah bai'at yang pertama kali. Berikan hak mereka. Karena Allah akan menanyai mereka mengenai tanggung jawab yang dibebankan-Nya itu.” (HR. Muslim).

Dengan demikian, berarti para khalifah itu menggantikan kedudukan para nabi dalam mengatur manusia dengan apa yang diturunkan oleh Allah, dan dalam hal itu mereka dibantu oleh para ulama rabani.

Khilafah Rasyidah Mewarisi Manhaj Nubuwah

Salah satu tugas terpenting khilafah pada masa ini adalah mereformasi dan menegakkan agama berdasarkan manhaj nubuwah, sebagaimana dijanjikan Nabi kita shallallahu alaihi wasallam dalam sabdanya, “Periode kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya. Setelah itu datang periode khilafah ala minhaj nubuwwah (kekhilafahan sesuai manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah Ta’ala mengangkatnya. Kemudian datang periode mulkan ‘adhdhan (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa. Selanjutnya datang periode mulkan jabriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah Ta’ala. Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah ala minhaj nubuwwah.” (HR. Ahmad).

Maka khilafah yang dikehendaki adalah khilafah berdasarkan dengan manhaj kenabian. Yaitu yang tersematkan sifat ar-rusyd (petunjuk) padanya, sebagaimana sifat kekhalifahan para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Suatu khilafah disifati dengan khilafah rasyidah itu jika para khalifahnya mengikuti Kitabullah dan petunjuk Nabi kita shallallahu alaihi wasallam pada segala bidang kehidupan.

Terdapat beberapa makna ar-rusyd dalam Kitab Allah. Yang paling agung adalah yang terdapat dalam firman-Nya ketika Ia menceritakan keutamaan dan hidayah yang dianugerahkan-Nya pada yang dicintai-Nya, “Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (Al-Hujurat: 7).

Maka, konsekuenlah terhadap seluruh rukun iman dan cabang-cabangnya, mencintai keimanan, berpegang teguh dengan keimanan, menjauhi seluruh hal yang menyelisihinya baik berupa kekafiran, kefasikan, maupun maksiat, maka semua itu adalah ar-rusyd (jalan yang benar). Hal yang paling membantu dalam memperoleh ar-rusyd (hidayah, jalan yang lurus) adalah Kitabullah, sebagaimana dikabarkan-Nya mengenai ucapan seorang jin, “Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur'an yang menakjubkan, yang memberi petunjuk kapada jalan yang benar.” (Al-Jinn: 1-2).

Allah ta'ala juga mengabarkan bahwa Dia menganugerahi Nabi dan ‘kekasih’-Nya Ibrahim dengan ar-rusyd (petunjuk). Lantas dia menyeru manusia untuk mentauhidkan Allah, berdebat seraya menjelaskan kesesatan mereka, serta bersabar atas gangguan, ancaman, dan bahkan usaha pembunuhan yang mereka lakukan. Ia bersandar hanya kepada Allah, sehingga Allah menyelamatkannya dari api dan menjadikannya dingin. Dia menyatakan keberlepasan dirinya dari bapaknya dan kaumnya, dan berhijrah memisahkan diri dari mereka ketika kaumnya bersikukuh di atas kekafiran. “Dan Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada rabbku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku’.” (Ash-Shaffat: 99)

Dengan demikian, Khilafah Rasyidah adalah khilafah yang menegakkan seluruh syiar-syiar agama, menghidupkan sunnah, memberantas bid'ah, dan mendeklarasikan jihad melawan orang-orang kafir dan para penentang. Khilafah yang berjalan di atas petunjuk tidak akan mengikuti hawa nafsu manusia. Khilafah tersebut hanya melaksanakan perintah-perintah Allah, mengikuti apa yang dicintai-Nya, dan menjauhi semua yang mendatangkan murka-Nya. Allah Ta’ala berfirman, “Hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al-Baqarah: 186)

Kepemimpinan Tertinggi Senantiasa Memenangkan Agama Islam

Di samping menegakkan agama Allah, mengatur urusan dunia dan agama, melindungi agama, mempertahankan Daulah Islam, serta membela kehormatan dan harta kaum muslimin. Tugas terpenting seorang khalifah adalah berusaha melebarkan sayap kekuasaan agama Allah ke setiap jengkal bumi Allah.

Allah menginginkan, dengan iradah syar’ iyyah-Nya (kehendak-Nya), agar kaum muslimin berusaha menjadikan agama Allah menghegemoni seluruh agama. Hingga ‘kalimat’ Allah adalah menjadi tinggi dan kalimat orang-orang kafir adalah rendah. Pun demikian, Allah dengan iradah kauniyyah-Nya, menginginkan agama-Nya menguasai seluruh agama dengan kekuasaan yang sejelas-jelasnya, Allah Ta’ala berfirman, “Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur'an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.” (At-Taubah: 33)

Allah memenangkan agama Islam di atas seluruh agama, berarti bahwa Islam mengungguli seluruh agama dengan hujjah dan burhan (bukti-bukti nyata). Islam adalah agama yang benar, dan selainnya adalah bathil, palsu, lagi binasa. Sebagaimana “memenangkannya” juga berarti bahwa Islam mengalahkan seluruh pemeluk agama-agama lainnya, sehingga kekuasaan mereka lenyap dan bangunannya runtuh. Dengan Islam dan para mujahidin generasi pertama, Allah mengeliminasi dua negara adidaya yang lebih dulu berkuasa saat memancarnya cahaya kenabian, yaitu negara Persia dan Romawi, selain kerajaan-kerajaan kafir yang lainnya.

Maksudnya, agama Allah akan berkuasa dan menang atas orang-orang kafir ketika berdirinya sebuah negara untuk kaum muslimin. Negara yang dibentuk dan ditancapkan pondasi-pondasinya oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan dilanjutkan kemudian oleh para Khulafaur Rasyidin setelahnya. Begitu pula, saat ini, tugas tersebut juga dilakoni oleh Khalifah kaum muslimin dan para prajuritnya, dengan pertolongan Allah Ta’ala. Tak bisa dibayangkan kaum muslimin akan menang dan mulia tanpa tegaknya Daulah Islam yang menghidupkan kembali Khilafah Rasyidah.

Bumi adalah Milik Allah yang Dipusakakan kepada Orang-orang Shalih

Salah satu tugas orang yang diserahi pengaturan urusan kaum muslimin (ulil amri/khalifah –semoga Allah memuliakannya) adalah memperluas kekuasan Daulah Islam hingga mencakup setiap jengkal bumi. Karena bumi ini adalah milik Allah, tak ada hak sedikitpun bagi orang kafir. Allah berfirman, “Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang shalih.” (Al-Anbiyaa`: 105).

Para ulama tafsir, di antaranya Ibnu Abbas, menafsirkan bumi di situ adalah maksudnya surga. Ibnu Abbas juga berkata, “Yang Mahasuci mengabarkan dalam Taurat dan Zabur, dan ilmu-Nya telah ada sebelum adanya tujuh lapis langit dan bumi, bahwa Dia mewariskan bumi ini kepada umat Muhammad shallallahu alaihi wasallam, lalu memasukkan mereka ke dalam surga, dan mereka adalah orang-orang shalih.”

Dua pendapat ini shahih, tidak bertentangan. Mewarisi bumi ini itu tidak akan mungkin tanpa jihad fi sabilillah, yang merupakan puncaknya Islam. Orang-orang kafir tidak akan meninggalkan kekafirannya dan tidak akan berhenti menyimpangkan manusia dari agama Islam kecuali dengan perang. Perang yang dilaksanakan oleh wali-wali Allah melawan wali-wali setan. Allah berfirman, “Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.” (Al-Anfal: 39).

Allah berfirman, “Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa, “Ya Rabb kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Makkah) yang zhalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!’ Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” (An-Nisaa`: 75-76).

Jika Daulah Islam dan para prajuritnya tidak melaksanakan kewajiban berperang di jalan Allah dan menyelamatkan orang-orang mukmin yang lemah dari cengkeraman kekafiran, lalu siapa yang akan melaksanakannya?! Hal itu adalah perkara teramat penting, yang mesti dilaksanakan dengan baik oleh seluruh pemimpin dan prajurit Daulah Islam. Kami benar-benar yakin dengan dekatnya pertolongan Allah untuknya. Allah telah bersumpah akan menolong orang yang menolong agama-Nya, “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Al-Hajj: 40).

Allah menegaskan terlaksana janji-Nya akan kemenangan itu dengan sumpah, yang ditunjukkan oleh lam al-qasam (huruf lam yang digunakan untuk bersumpah). Lalu ditekankan-Nya lagi dengan” إن ” (huruf “inna”)
yang ber-tasydid dan lam taukid (huruf lam afirmasi) yang menyertai dua nama-Nya yang baik –dan seluruh nama-Nya adalah baik. Tak ada kekuatan yang menyamai kekuatan-Nya. Dialah Sang Pencipta makhluk. Dialah yang memberikan mereka apapun sebab-sebab kekuatan yang dikehendaki-Nya. Dialah yang Mahakuat dan makhluk-Nya teramat lemah. Dialah yang Mahakaya dan makhluk-Nya amat membutuhkan-Nya. Dialah yang Mahaperkasa tak terkalahkan, yang menjadikan kemuliaan bagi para hamba-Nya yang beriman, dan yang menjanjikan kemenangan-Nya untuk mereka.

Allah berfirman, “Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya.” (Az-Zumar: 36).

Dengan menggunakan lafazh jama’ (plural) berdasarkan qiraat (metode) Hamzah, Al-Kassa`i, Khalaf (riwayat Khalaf yang dihitung masuk dalam sepuluh qiraat), dan Abu Ja’far.

Dalil-Dalil Kewajiban Menegakkan Al-Imamah Al-’Uzhma

Pertama: Dalil-Dalil dari Al-Quran

1. Allah Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (An-Nisaa`: 59)

Imam Ath-Thabari meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa dia berkata, “Ulil amri itu adalah para pemimpin.” Kemudian Ath-Thabari berkata, “Pendapat yang paling mendekati kebenaran adalah bahwa mereka merupakan para wali dan pemimpin yang ditaati karena Allah dan mempunyai maslahat bagi kaum muslimin.”

Ibnu Katsir berkata, “Yang nampak –wallahu a’ lam– adalah bahwa ayat tersebut mencakup seluruh ulil amri baik para pemimpin maupun para ulama.”

Dalam ayat tersebut Allah mewajibkan kaum muslimin untuk menaati ulil amri, yaitu para penguasa. Perintah
untuk taat berarti adalah dalil wajibnya mengangkat ulil amri, karena Allah Ta’ala tidak akan memerintahkan untuk menaati sesuatu yang tak berwujud dan tidak akan mewajibkan menaati sesuatu yang wujudnya boleh-boleh saja. Perintah untuk menaatinya berarti perintah untuk mengadakannya. Maka dari itu, mengangkat seorang imam adalah kewajiban kaum muslimin.

2. Allah Ta’ala berfirman kepada Rasul shallallahu alaihi wasallam, “Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (Al-Maa`idah: 48). Lalu ayat setelahnya, “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.” (Al-Maa`idah: 49)

Ini adalah perintah Allah azza wa jalla kepada Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam untuk memutuskan perkara kaum muslimin dengan apa yang diturunkan oleh Allah, yakni dengan syariat-Nya. Perintah kepada Rasul shallallahu alaihi wasallam juga merupakan perintah kepada umatnya, selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya. Demikianlah ayat ini.

Maka ayat ini adalah juga perintah kepada seluruh kaum muslimin untuk menegakkan hukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah hingga Hari Kiamat. Hukum dan kekuasaan tidak akan tegak berdiri kecuali dengan menegakkan imamah (kepemimpinan), karena demikianlah fungsi imamah. Semua itu tidak akan bisa dilaksanakan dengan baik kecuali melalui imamah. Dengan demikian, semua ayat yang memerintahkan untuk berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah, menunjukkan wajibnya mengangkat seorang imam yang melaksanakannya.

3. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah
mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Al-Hadid: 35)

Tugas para rasul adalah menegakkan keadilan di antara manusia berdasarkan apa yang diturunkan dalam Al-Qur'an, dan menyokongnya dengan kekuatan. Pengikut para rasul tidak akan bisa melaksanakannya kecuali dengan mengangkat seorang imam yang menegakkan keadilan dan mempersiapkan pasukan penolong agama Allah. Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Karena itulah Nabi shallallahu alaihi wasallam memerintahkan umatnya untuk mengangkat para pemimpin. Kemudian juga memerintahkan para pemimpin untuk menunaikan amanat pada yang berhak. Lalu jika mereka memutuskan, maka hendaknya memutuskan dengan adil. Nabi juga memerintahkan umatnya untuk menaati ulil amri berdasarkan ketaatan kepada Allah.”

4. Dalil-dalil lainnya dari Al-Quran adalah ayat-ayat tentang hudud, qishash, pengumpulan zakat, dan hukum-hukum lainnya. Kesemua itu sejatinya merupakan fungsi imam dan kemudian yang mewakilinya. Seluruh ayat yang turun mensyariatkan hukum-hukum yang berkenaan dengan persoalan imamah itu menunjukkan bahwa penegakkan imamah yang diwajibkan syariat dan Daulah Islam adalah persoalan inti syariat Islam.

Kedua: Dalil-Dalil dari As-Sunnah

Pertama, Dalil-dalil dari sabda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Banyak hadits yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam yang menunjukkan wajibnya mengangkat imam, di antaranya:

1. Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhu, dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda, “Barangsiapa melepaskan diri dari ketaatan (kepada imam) maka tidak
ada hujjah baginya ketika bertemu Allah pada hari kiamat nanti. Barangsiapa mati sedangkan pada lehernya tidak ada ikatan bai'at maka dia mati jahiliyah.” (HR. Muslim).

Yakni berbai'at dan taat kepada imam. Hadits ini adalah petunjuk yang amat jelas mengenai wajibnya mengangkat seorang imam dan menaatinya. Karena jika bai'at itu adalah wajib atas tiap individu muslim, dan bai'at tidak diberikan kecuali kepada seorang imam, maka mengangkatnya adalah wajib. Demikian juga wajib untuk terus menaatinya, tidak menentangnya, dan tidak mengudetanya.

2. Hadits yang masyhur di dalam kitab-kitab Sunan yang diriwayatkan dari Irbadh bin Sariyah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda, “Sesungguhnya siapa saja di antara kalian yang masih hidup maka akan mendapati banyak perselisihan. Maka hendaklah kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang diberi petunjuk setelahku. Gigitlah kuat-kuat dengan geraham, dan jauhilah oleh kalian daripada perkara-perkara yang diada-adakan, karena tiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Tak diperselisihkan lagi bahwa para sahabat radhiyallahu 'anhum membai'at Abu Bakar radhiyallahu 'anhu sebagai khalifah setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kembali ke haribaan Allah. Kemudian Abu Bakar menyerahkan tongkat kekhalifahan kepada Umar radhyallahu 'anhu. Lalu Umar menyerahkan perkara khilafah kepada enam sahabat terpilih, lalu mereka memilih Utsman radhiyallahu 'anhu. Kemudian setelah Utsman syahid, mereka membai'at Ali radhiyallahu 'anhu sebagai khalifah. Demikianlah sunnah yang mereka lakukan radhiyallahu ‘anhum terkait khilafah. Mereka tidak meremehkan penegakkannya. Maka kita harus mencontoh mereka, sebagaimana telah diperintahkan oleh Nabi shallallahu ‘alahi wasallam.

3. Demikian juga hadits-hadits yang menunjukkan akan wajibnya taat kepada penguasa selama tidak dalam maksiat. Juga hadits-hadits tentang perintah memenuhi hak yang pertama kali dibai'at, serta hadits-hadits yang mengharamkan membangkang kepada imam kaum muslimin dan hadits-hadits yang memerintahkan untuk memenggal leher orang yang mengangkat senjata atas imam yang haqq. Semua hadits itu menunjukkan akan adanya seorang imam muslim, yang juga berarti wajib mengangkatnya. Bahkan menunjukkan bahwa kehidupan kaum muslimin tidak akan baik tanpa seorang imam syar’i.

Kedua; Dalil-dalil dari tindakan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Sejak Allah mengutus Nabi-Nya, dan berimanlah kepada beliau siapa saja orang yang dikehendaki-Nya kebaikan yang banyak, para sahabat yang mulia selalu mentaati perintah beliau. Tidak hanya dalam persoalan ibadah saja, Nabi adalah rujukan utama sahabat dalam persoalan dakwah, bersikap kepada orang-orang kafir, dan seluruh permasalahan lainnya seperti hijrah ke Habasyah, lalu ke Madinah. Kaum muslimin yang pada waktu itu
tidak menguasai Makkah itu tidaklah berarti bahwa kaum muslimin hidup tanpa pemimpin yang mengatur segala persoalan hidup. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah imam, pendidik, dan bapak yang penuh kasih sayang atas kaum muslimin.

Ketika Allah Ta’ala menyiapkan penolong-penolong (Anshar) dari penduduk Madinah yang siap membantunya dan melindunginya layaknya keluarga dan anak-anak mereka sendiri, yang mereka membai'atnya untuk mendengar dan taat dalam segala kondisi, dan mereka mempunyai kekuatan di negeri mereka sendiri, ketika itulah Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat beliau berhijrah. Tegaklah kekuasaan Nabi shallallahu alaihi wasallam yang melindungi kaum muslimin dan negeri mereka. Sempurnalah bangunan Daulah Islam melalui tangan Nabi Sang Pemimpin dan para sahabatnya yang mulia.

Selain dalil dari Kitabullah dan As-Sunnah, kesepakatan (konsensus) para sahabat radhyallahu 'anhum untuk mengangkat seorang pemimpin dan mendahulukan persoalan itu daripada persoalan penguburan Nabi shallallahu alaihi wasallam yang juga wajib, serta bagaimana mereka terus berpegang pada ijma' itu dengan mengangkat imam demi imam, juga merupakan dalil atas persoalan imamah yang merupakan fardhu ‘ain (kewajiban individual) atas setiap muslim.

Kewajiban imamah yang dilegitimasi syariat adalah di antara perkara yang disepakati oleh para ulama Ahlus sunnah sepanjang masa. Tidak ada yang menyelisihinya kecuali ahli bid'ah dan orang sesat yang pendapat mereka itu tak dianggap.

Segala puji bagi Allah Rabb Semesta Alam.

MANFAATKAN WAKTU LUANGMU SEBELUM DATANG WAKTU SEMPITMU

RUMIYAH 13 - ARTIKEL

MANFAATKAN WAKTU LUANGMU SEBELUM DATANG WAKTU SEMPITMU

Waktu luang adalah kenikmatan yang memperdaya kebanyakan pemiliknya. Orang-orang yang telah Allah cukupkan kebutuhan hidup dan usaha mendapatkan rezeki, akan tetapi mereka tidak memanfaatkannya dan tidak pula menggunakannya, dan bahkan malah menyia-nyiakannya untuk hal sia-sia dan senda gurau. Hingga ketika kematian menjemput mereka, mereka dalam keadaan bermain-main dan melalaikan apa yang diinginkan Allah dari mereka. Mereka hidup dalam gelimang karunia yang kelak akan ditanya tentangnya. Allah Ta’ala berfirman tentangnya, “Kemudian kalian akan ditanya pada hari itu tentang nikmat-nikmat tersebut.” (At-Takatsur: 8).

Ya, mereka akan ditanya mengenainya. Karena Allah Ta’ala tidaklah menciptakan makhluk untuk bersenang-senang dengan kenikmatan fana, melainkan Dia menciptakan mereka untuk beribadah kepada-Nya, Dia Maha Kaya tidak membutuhkan makhluk-makhlukNya dan tidak memerlukan ibadah mereka. Dan atas karunia dan rahmat-Nya, Allah menyiapkan bagi hamba-hamba yang taat sesuatu yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas di hati manusia. Dia akan membalasnya dengan kenikmatan kekal sebagai balasan atas pemanfaatan waktu kosong dengan melakukan ketaatan kepada-Nya. Sebaik-baik balasan adalah Jannah tempat kembali.

Adapun bagi siapa yang berpaling dari akhirat dan condong kepada dunia fana dan kehidupan yang binasa ini, maka keadaannya setelah dibangkitkan dari kematian nanti sebagaimana yang dikabarkan Allah ta'ala: “...Ya Rabbku, kembalikan aku ke dunia, agar aku dapat berbuat kebaikan yang telah ku tinggalkan...” (Al-Mukminun: 99-100).

Apakah manusia mau mengambil pelajaran, lalu menyibukkan dirinya Dalam ketaatan kepada Allah dan mengharap ridha-Nya selama ruh masih menyatu bersama raga? Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Ya Allah tiada kehidupan (hakiki) melainkan kehidupan akhirat, maka ampunilah dosa-dosa Muhajirin dan Anshar.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Perhatikanlah sabda beliau shallallahu alaihi wasallam yang menegasikan bahwa nikmat dunia adalah kehidupan hakiki sampai meniscayakan kerja keras untuk mendapatkannya. Pasalnya, kehidupan hakiki adalah kehidupan akhirat di surga-Nya yang mulia.

Alangkah Baiknya Kiranya Dulu Aku Mengerjakan Kebaikan untuk Hidupku Ini

Begitu banyak manusia yang menyia-nyiakan barometer antara amalan-amalan dunia dan amalan-amalan akhirat, juga mereka tidak dapat menyelaraskan keduanya. Kebanyakan dari mereka bersemangat mengumpulkan harta kekayaan dan berlebih-lebihan dalam perkara-perkara yang permisif. Engkau menyaksikannya kaya-raya dan berkecukupan dalam hidup, namun miskin amalan-amalan guna memenangkan jannah Allah dan keridhaan-Nya. Allah memberikan nikmat waktu luang kepadanya, namun dia malah menyibukkan diri dengan dunia. Padahal dia tak butuh semua itu, dan sungguh dia orang yang tertipu. Sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari)

Wahai pemilik kekayaan dan waktu luang, namun lalai karena dunianya, sesungguhnya engkau adalah termasuk orang yang terhalang kebaikan. Karena sejatinya engkau tidak menghargai nilai dari waktu-waktu yang telah berlalu dari umurmu, sebagaimana disadari para pemilik tekad tinggi yang mana mereka tidak mendapati waktu kosong untuk menyempurnakan amalan-amalan dan jihad mereka. Wahai pemilik waktu luang yang akan menapaki perkara agung yang telah lenyap darimu dan engkau melalaikannya, waktu saat engkau mengatakan, “Alangkah baiknya jika dulu aku mengerjakan kebaikan untuk hidupku ini.” (Al-Fajr: 25).

Imam Ath-Thabariy rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala berfirman menginformasikan tentang penyesalan anak-cucu Adam di Hari Kiamat kelak, berupa rasa penyesalan karena mengabaikan amalan-amalan shalih di dunia yang mewariskan jaminan keabadian hidup dalam nikmat tak terputus. Alangkah baiknya jika dulu aku mengerjakan amalan kebaikan untuk hidupku di dunia untuk bekalku di kehidupan sekarang ini (akhirat) yang tak ada lagi kematian setelah ini, yang menyelamatkanku dari kemurkaan Allah dan memperoleh keridhaan-Nya.” (Jami’ Al-Bayan)

Ya, ada di antara manusia yang dianugerahi Allah kenikmatan dan dicukupkannya segala kebutuhan hidupnya, namun dia tidak peduli ketika dirinya tersesat dan melalaikan perintah-perintah Rabbnya. Alih-alih memanfaatkan waktu luangnya untuk mempelajari agamanya dan mencari tahu apa yang diinginkan Allah darinya, dia justru malah menyibukkan diri dalam hal-hal haram atau terlalu banyak bergumul dalam hal-hal permisif (tidak berguna).

Wahai orang yang tersesat lagi lalai, persiapkanlah banyak jawaban untuk menjawab banyak pertanyaan. Karena sesungguhnya engkau –demi Allah— tidaklah engkau diciptakan untuk hal sia-sia dan engkau tidak akan dibiarkan begitu saja. Engkau akan ditanya tentang waktu luangmu; untuk apa engkau menghabiskannya.

Tatkala Satu Hari Terlewati, Maka Hilang Pula Sebagian Dirimu

Ada orang yang sudah mencapai umur senja, punggungnya telah membungkuk, dia memiliki sesuatu yang dapat menopang urusan dunianya baik berupa harta maupun anak. Bersamaan dengan kenikmatan-kenikmatan tersebut, Allah juga telah menganugerahkan kenikmatan waktu luang kepadanya, akan tetapi dia tidak tahu bagaimana memanfaatkannya.

Kepada orang yang memiliki keadaan seperti itu, maka renungkanlah dengan seksama tahun-tahun yang telah engkau lalui, namun ternyata engkau tidak punya bagian keberuntungan di akhirat kelak. Pikirkanlah betapa dekatnya dirimu dengan pertemuan Rabb-mu? Bukankah telah tiba saatnya untuk dirimu mengobarkan semangat anak-anakmu dan cucu-cucumu untuk mengorbankan diri demi agama Allah dan menolongnya? Bukankah telah tiba waktunya untuk dirimu melewatkan waktu luangmu dengan berkhalwat bersama Allah; berdoa untuk dirimu, untuk kaum muslimin yang tertindas, dan untuk mujahidin hamba Allah? Bukankah telah tiba waktunya untuk engkau berkontemplasi menuju Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan segala bentuk pendekatan diri?

Tatkala menjelang usia senja, kebanyakan manusia malah durhaka. Engkau menyaksikan mereka hidup menggunakan nalar para pemuda tersesat yang tidak pernah berpikir mengenai kematian, mengenai waktu menjawab pertanyaan kelak dan hari perhitungan. Dan hal demikian –demi Allah- adalah bentuk dari panjang angan-angan dan kebinasaan itu sendiri. Di mana engkau memposisikan dirimu dari firman Allah Ta’ala:

“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak kamu hindari.” (Qaf: 19)

Imam Al-Baghawi berkata, “’Dan datanglah sakaratul maut’: kesengsaraan dan kepedihannya menggerus manusia dan mengalahkan akalnya. ‘Dengan sebenar-benarnya’: yaitu hakikat kematian. Disebutkan: dengan sebenar-benarnya dari perkara akhirat sampai menjadi jelaslah bagi manusia dan dia melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Dan disebutkan: yang mengubah urusan manusia berupa kebahagiaan dan kesengsaraan. Dan dikatakan juga: bagi orang yang dijemput sakaratul maut. ‘Itulah yang dahulu hendak kamu hindari’ artinya engkau berpaling. Al-Hasan berkata, ‘Artinya adalah engkau melarikan diri.’ Ibnu Abbas berkata, ‘Engkau membencinya.’” (Ma’alim At-Tanzil Fi Tafsir Al-Qur`an)

Dengan demikian, gunakanlah waktu luangmu sebelum engkau berada di dalam kubur. Manfaatkanlah waktu pagimu karena barangkali engkau tidak mendapati waktu petangmu. Dari Al-Hasan, dia berkata, “Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari. Tatkala satu hari itu hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu.” (Az-Zuhd, karya Ahmad bin Hanbal).

Maka teladanilah orang-orang yang telah beruban yang mempersembahkan tubuh mereka di jalan Allah, mereka mendahului para pemuda demi surga, bukan demi dunia.

Manfaatkan Waktu Luangmu

Ada golongan orang-orang berbakti yang telah Allah Ta’ala cukupkan kebutuhan hidup mereka, namun rezeki mereka berada di bawah bayangan tombak. Mereka memanfaatkannya untuk mengacaukan kehidupan orang-orang kafir dan menolong agama Rabb Semesta Alam. Di antara orang-orang yang mendapatkan taufik itu, ada lagi menekuni diri dalam ribathnya, menghabiskan shift (pergantian) waktu berjaga beberapa jam saja, lalu kembali ke waktu luang yang panjang. Waktu-waktu itu merupakan kenikmatan bagi seorang mujahid yang tekadang tidak disadarinya. Seandainya dia memanfaatkannya dengan dzikrullah (berzikir), membaca Al-Qur'an, berdoa, menjaga shalat-shalat sunnah, atau sejenak memberi peringatan kepada saudara-saudaranya dan saling mengobarkan semangat satu sama lainnya, niscaya ada manfaat agung dan keteguhan ketika berhadapan dengan orang-orang kafir, memperoleh ketinggian derajat unggul, dan juga tambahan kebaikan-kebaikan.

Ketahuilah wahai mujahid, sesungguhnya waktu luangmu adalah nikmat dari Allah, maka gunakanlah sebaik-baiknya sehingga engkau tidak menjadi orang-orang yang tertipu dan jadikan nikmat itu sebagai amunisi bagimu di sisi Allah Ta’ala. Sesungguhnya Allah telah menyiapkan seratus derajat di surga bagi para mujahid. Derajat mujahid yang berzikir kepada Allah Ta’ala, mengerjakan shalat sunnah, membaca Al-Qur'an, bersungguh-sungguh dalam ribath, dan peperangan, berbeda dengan derajat seorang mujahid murabith yang hanya sedikit berzikir kepada Allah, sekadar menunaikan waktu giliran berjaga, kemudian kembali ke waktu luang yang panjang.

Kepada para mujahid murabith yang jujur, hendaklah bersungguh-sungguhlah memanfaatkan waktu-waktu luang kalian demi memperoleh derajat tertinggi, dan ketahuilah bahwa jarak antara derajat satu ke derajat lainnya sejarak langit dan bumi. Dan sesungguhnya kenikmatan kedudukan-kedudukan yang tinggi lebih utama dan paripurna daripada yang ada di bawahnya. Jangan sampai seorang murabith tidak membekali diri dengan amal shalih, di samping keagungan amalan yang telah dikabarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Ribath sehari semalam lebih baik dari puasa san shalat malam selama satu bulan. Dan jika dia mati, maka mengalirlah amalan yang diperbuatnya dan mengalirkan rezekinya, serta aman dari fitnah.” (HR. Muslim)

Keutamaan apa lagi yang lebih agung bagi murabith yang apabila terbunuh maka mengalirlah amalan yang dikerjakannya di waktu luangnya? Maka hendaklah engkau melazimkan membaca Al-Qur'an, shalat tahajud, dan ibadah-ibadah lainnya. Dan tamaklah dalam mencari ilmu, memahami agama, dan menghafalkan Kitabullah. Waktu luang yang engkau jalani di sela-sela waktu giliran berjaga-jaga ribath, adalah sesuatu yang dicemburui orang-orang shalih lainnya.

HUKUM SYARIAT BUKAN HUKUM JAHILIYAH

RUMIYAH 13 - ARTIKEL

HUKUM SYARIAT BUKAN HUKUM JAHILIYAH

Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kita dari hukum thaghut, dan mencurahkan nikmat kepada kita dengan hukum syariat, juga mengembalikan Khilafah untuk kita. Shalawat serta Salam dan keberkahan semoga senantiasa tercurahkan kepada hamba dan Rasul-nya, melalui terjangan kuda, beliau menghapus hukum jahiliyah. Dan aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Amma ba’du:

Sungguh Allah telah mengutus Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam dengan dakwah Tauhid (pengesaan) kepada Allah dalam hal Rububiyah, Uluhiyah, serta asmaa` (nama-nama) dan sifat-Nya, meskipun orang-orang jahiliyah dahulu menetapkan tauhid Rububiyah secara global, hanya saja mereka membatalkan pengakuan tersebut dengan terjatuhnya mereka ke dalam berbagai macam syirik yang membatalkan tiga jenis tauhid itu (Rububiyah, Uluhiyah, serta asmaa` dan sifat-sifat-Nya).

Sebagian Besar Mereka Tidak Beriman Kepada Allah, Melainkan Mereka Menyekutukan Allah

Allah azza wa jalla mengabarkan bahwa sesungguhnya orang-orang kafir itu ketika ditanya, “Kepunyaan siapakah bumi ini dan semua yang ada di dalamnya?” Mereka akan menjawab, “Kepunyaan Allah.” Dan jika mereka ditanya, “Siapakah Rabb (pemilik) ketujuh langit dan Rabb Arsy yang agung?” Mereka akan menjawab, “Milik Allah.” Dan jika mereka ditanya, “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (adzab)-Nya?” Mereka akan menjawab, “Kepunyaan Allah.” Meskipun begitu, mereka tidaklah ingat, tidak pula takut kepada Allah, serta tidak takut kepada azab-Nya! Kendati mereka mengakui bahwa sesungguhnya Allah-lah Sang Pemilik kerajaan, Sang Pencipta, Sang Pengatur, Maha Pemberi Rizki, Dzat yang Maha menghidupkan dan mematikan, namun sejatinya mereka menyekutukan Allah dengan selain-Nya. Padahal mereka mengakui bahwasanya segala sesuatu selain Allah adalah makhluk.

Dari Abdullah ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu, ia berkata: “Dulu kaum musyrikin mengatakan, ‘Labaika La Syarika Laka (Aku penuhi seruan-Mu tiada sekutu bagi-Mu),’ maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Celakalah kalian, cukup, cukup!’ Maka mereka berkata, ‘Kecuali sekutu dia bagi-Mu, Engkau kuasai ia sedangkan ia tidak menguasai, mereka mengatakan ini saat mereka thawaf di Baitullah.” (HR. Muslim).

Padahal kaum musyrikin itu ketika dalam bahaya, mereka berlindung kepada Allah semata, hanya saja di saat dalam kondisi lapang, mereka kembali kepada apa yang biasa mereka lakukan berupa menyekutukan Allah. Allah ta'ala berfirman, “Maka apabila mereka naik kapal mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (Al-Ankabut: 65)

Sungguh mereka telah berbuat syirik dalam beribadah kepada Allah, mereka berdoa kepada yang tidak dapat mendatangkan bahaya dan tidak pula memberi manfaat bersama Allah. Mereka menghadap kepada para thaghut dengan berbagai macam ibadah, berhukum kepada mereka, dan mendustakan Allah dengan perkataaan mereka: “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (Az-Zumar: 3)

Sungguh Allah telah mengutus para rasul dan para nabi-Nya; mereka mengajak beriman kepada Allah dan mengesakan-Nya dengan ibadah, kafir kepada thaghut seluruhnya. Maka tidaklah sah iman seseorang dari golongan manusia maupun jin kecuali mereka harus menghimpun dua perkara; beriman kepada Allah dan kafir kepada thaghut. Allah ta'ala berfirman, “Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (para rasul).” (An-Nahl: 36)

Maka setiap orang yang menolak mengesakan Allah dengan ibadah, atau menolak menjauhi thaghut dan kufur kepadanya, maka dia itu orang yang sesat serta mendustakan para rasul Allah, dia berhak mendapatkan siksa Allah yang dengan siksa itu Dia juga membalas orang-orang kafir.

Para rasul menerangkan bahwa Allah tidaklah menerima dari para hamba-Nya kecuali Islam yang jernih dan tauhid yang murni. Para rasul itu mengabarkan kepada manusia bahwa sesungguhnya mereka tidaklah diutus melainkan agar hanya Allah sajalah yang diibadahi, sebagaimana Allah berfirman, “Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (Al-Anbiyaa`: 25)

Dan mengabarkan kepada mereka bahwasanya Allah : “Tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (An-Nisaa`: 48)

Dan ketika kaum kafir menawarkan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam agar mereka menyembah Allah selama setahun dan beliau menyembah tuhan-tuhan mereka selama setahun pula, Allah menurunkan surat Al- Kafirun sebagai pemisah antara iman dan pemeluknya serta antara syirik dan pemeluknya: “Katakanlah: “Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (Al-Kafirun: 1-6)

Mengesakan Allah Dalam Menetapkan Syariat Dan Hukum

Para rasul alaihimus salam telah menjelaskan kepada kaumnya apa yang dicintai dan diridhai Allah berupa tauhid, iman dan amalan-amalan shalih, serta memperingatkan mereka dari hal-hal yang dapat membatalkan semua itu berupa berbagai macam kekafiran, kesyirikan, kefasikan, dan kemaksiatan. Lalu di antara perkara yang dijelaskan para rasul dengan sangat jelas adalah perkara bahwa sesungguhnya menentukan hukum itu hak Allah d semata, sebagaimana bahwasannya Allah itu esa dalam penciptaan, maka Dia pun esa dalam memerintah. Allah berfirman, “Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.” (Al-A’raaf: 54), dan telah turun tiga ayat Makiyah (turun di Makkah) yang menetapkan bahwasannya: “Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah.” (Al-An’am: 57, Yusuf: 40 & 67)

Padahal Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para Sahabat saat itu dalam keadaan tertindas di Makkah, hanya saja Allah memerintahkan beliau untuk melantangkan bahwa agama yang agung ini datang dari sisi Allah untuk mengatur kehidupan manusia dengan setiap rinciannya dan tidak membiarkannya mengikuti hawa nafsu mereka. Maka, penetapan syariat adalah hak murni milik Allah ta'ala sebagaimana Dia tidak memiliki sekutu dalam peribadatan-Nya, demikian pula tiada sekutu bagi-Nya dalam hukum-Nya. Allah berfirman terkait ibadah, “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabbnya,” (Al-Kahfi: 110) dan Dia berfirman terkait hukum, “Dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan.” (Al-Kahfi: 26) Dalam ayat ini ada dua bacaan yang sama-sama mutawatir (valid); “la yusyriku” dengan huruf “kaf” ber-dhammah, jadi Allah mengabarkan bahwa tidak ada seorang pun dari makhluk-Nya yang boleh menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan hukum-Nya, sedangkan bacaan kedua: “wala yusyrik” dengan bentuk melarang untuk menjadikan makhluk sebagai sekutu bagi-Nya dalam penetapan hukum, Allah berfirman dalam surat Al-Jatsiyah, “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui,” (Al-Jatsiyah: 18) dan sebagian ulama menamainya dengan surat “Asy-Syariat” karena ayat ini disebutkan di dalamnya.

Tauhid (Pengesaan) Dalam Hukum Dan Tasyri’ (Pensyariatan) Masuk Dalam Ketiga Macam Tauhid

Pertama: masuk ke dalam tauhid Rububiyah: Allah-lah yang memiliki hak (mengatur) urusan, dan Dia pulalah yang memiki hak menetapkan hukum dan syariat, hal ini merupakan salah satu perbuatan Allah (di antara keduanya ada yang umum dan khusus) dan ia (mentauhidkan Allah dalam hak hukum dan tasyri’) merupakan bentuk pentauhidan Allah dengan Rububiyah, Allah berfirman, “Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Rabb semesta alam,” (Al-A’raaf: 54) “Tabaraka” artinya Maha Banyak kebaikan dan kedermawanan-Nya, maka Maha suci Allah, Ilah yang Maha Mencipta, Mahamampu, Maha Memerintah dengan perbuatan baik dan meninggalkan keburukan serta segala yang dapat membinasakan.

Kedua: masuk ke dalam tauhid Asmaa` (nama-nama) dan sifat-sifat Allah. Allah adalah Al-Hakam (Maha Menghukumi) dan hanya kepada-Nyalah hak menetapkan hukum, sebagaimana telah tetap dari Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam hadits riwayat An-Nasaa`i dan Abu Dawud di dalam As-Sunan. Dan perhatikanlah ayat yang mulia berikut: “Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Qur'an) kepadamu dengan terperinci?” (Al-An’am: 114) Bagaimana ayat ini menunjukkan bahwa berhukum dengan apa yang Allah turunkan termasuk ke dalam tiga macam tauhid. Maka Allah adalah Al-Hakam yang berarti Al-Hakim (Dzat yang memutuskan hukum) juga bermakna Al-Hakiim (Dzat yang dijadikan rujukan hukum), karena Al-Hakam adalah bagian dari nama-nama-Nya, sedangkan Al-Hukmu (hukum) adalah bagian dari sifat dan perbuatan- Nya; “Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya,” (Al-Maa`idah: 1). Dan dalam sebuah ayat terdapat istifham inkari (pertanyaan pengingkaran); “Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah?!” (Al-An’am: 114). Maka barangsiapa yang mengerti keagungan Allah, nama-nama-Nya yang baik, dan sifat-sifat-Nya yang tinggi, bagaimana bisa dia mencari hakim selain daripada Allah?

Ketiga: masuk ke dalam tauhid Uluhiyah; berhakim kepada syariat Allah adalah sebuah bentuk ibadah yang hanya diarahkan untuk Allah saja, sedangkan berhakim kepada selain syariat Allah adalah syirik akbar, sehingga barangsiapa berhakim kepada selain syariat Allah, maka sungguh dia telah berhakim kepada thaghut dan beriman kepadanya, wal ’iyadzubillah. Allah berfirman, Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya,” (An-Nisaa`: 60), dan jika seorang manusia tidaklah dapat masuk Islam kecuali ketika dia telah beriman kepada Allah dan kafir kepada thaghut, maka tidak ragu lagi bahwa sesungguhnya mereka yang mencari hukum kepada hakim yang tidak memutuskan hukum dengan syariat Allah, maka mereka adalah orang-orang yang beriman kepada thaghut dikarenakan tahakum (berhukumnya) mereka kepadanya, dan barangsiapa yang beriman kepada thaghut maka dia bukanlah seorang muslim, kita memohon kepada Allah keteguhan di atas agama-Nya.

Hukum Allah atau Hukum Jahiliyah

Tidak ada selain hukum Allah yang Maha Menghukumi lagi Maha Mengetahui selain pastilah hukum-hukum jahiliyah yang zhalim lagi menzhalimi. Apapun nama yang disematkan manusia kepada hukum dan undang-undang (UU) tersebut, maka sejatinya ia adalah hukum jahiliyah yang dimainkan oleh hawa nafsu orang-orang kafir. Sehingga UU tersebut tidak dapat memberi ketetapan kepada penganutnya. Dan dengan UU itu, mereka tidak dapat menggapai kebahagiaan agama maupun dunia. Akan tetapi siapakah yang mengetahui bahwa hukum Allah itulah sebaik-baiknya hukum? Hanya orang beriman yang yakin: “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Maa`idah: 50)

Kita memohon kepada Allah agar menolong Daulah Khilafah dan meneguhkan para pemimpin serta bala tentaranya, dan menahan serangan orang-orang kafir, Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan-Nya.

NASEHAT PENTING UNTUK PARA MUJAHID (BAGIAN 2)

RUMIYAH 12 - ARTIKEL

NASEHAT PENTING UNTUK PARA MUJAHID (BAGIAN 2)
SYAIKH ABU MUSH'AB AZ-ZARQAWI

Wahai para mujahid...

Aku tidak mendapatkan hal lebih baik selain menghadirkan kepada kalian tulisan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah ketika mengomentari koalisi pasukan Ahzab di Perang Khandaq. Dia berkata, “Singkat cerita –yaitu Perang Khandaq— kaum muslimin dikepung oleh seluruh kaum musyrikin di sekitar mereka. Musuh datang dengan pasukan besar ke kota Madinah untuk membasmi orang-orang beriman. Maka, berkumpullah kaum Quraisy dan para sekutunya dari kalangan Bani Asad, Asyja’, Fazarah, dan kabilah-kabilah Nejed lainnya. Kaum Yahudi dari Bani Quraizhah dan Bani Nazhir juga ikut berkoalisi. Pasukan Ahzab ini berhimpun, jumlah mereka berkali-kali lipat dari jumlah kaum muslimin. Lantas, Nabi shallallahu alaihi wasallam membawa kaum wanita dan anak-anak ke tempat tinggi di kota Madinah.

Sementara dalam peristiwa ini –di masa Syaikhul Islam– musuh berkoalisi, mulai dari bangsa Mongol, dan beragam suku bangsa Turki, seperti Persia, Muzarab, serta berbagai bangsa murtad dari kalangan orang-orang kristen Armenia dan yang lainnya. Para musuh ini tiba di pinggiran negeri-negeri Islam, dalam posisi siap untuk maju ataupun mundur. Padahal jumlah kaum muslimin hanya sedikit, sedangkan mereka bertujuan untuk menguasai negeri dan menghabisi para penduduk, sebagaimana para musuh juga pernah tiba di pinggiran kota Madinah untuk mengepung kaum muslimin. Ketika Perang Khandaq, suhu sangat dingin dan angin bertiup sangat kencang, dan dengannya Allah mengusir pasukan Ahzab dari kota Madinah, sebagaimana Allah berfirman, “Lalu Kami mengirim kepada mereka angin kencang dan bala tentara yang tidak kalian lihat (malaikat).” (Al-Ahzab: 9)

Demikian juga tahun ini, Allah menurunkan banyak salju, hujan, dan suhu dingin yang berbeda dengan kebiasaan. Hingga banyak orang yang mengeluh tentang hal itu. Kami katakan kepada mereka, “Janganlah kalian mengeluhkan hal itu, karena Allah memiliki hikmah dan rahmat di dalamnya.” Dan semua itu menjadi faktor terbesar yang dengannya Allah menghalau musuh.

Allah ta'ala berfirman mengenai Perang Ahzab, “(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat.” (Al-Ahzab: 10-11)

Begitu juga tahun ini, musuh datang dari arah atas wilayah Syam, yaitu sebelah utara Sungai Eufrat.

Sampai dia mengatakan, “Dan manusia berprasangka kepada Allah dengan aneka prasangka”:

- Ada yang berprasangka bahwa tidak akan ada seorang pun dari tentara Syam yang mampu bertahan hingga mereka menghabisi penduduk Syam.
- Ada lagi yang berprasangka bahwa bumi Syam tidak akan lagi didiami dan tidak akan lagi berada di bawah kekuasaan Islam.
- Ada yang ditawari sejumlah jabatan yang disambut oleh keinginan nafsunya. Apalagi dia tidak bisa membedakan kabar gembira yang benar dan dusta, dalam pembicaraan tidak membedakan antara yang benar dan yang salah. Oleh karena itu, kebingungan menyelimuti orang yang setengah hati mengikuti petunjuk dan pikiran saling melempar seperti anak kecil yang dilempari kerikil.

“Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang dahsyat.” (Al-Ahzab: 11)

Allah menguji mereka seperti itu untuk menghapuskan kesalahan mereka dan mengangkat derajat mereka. Kemudian Allah ta'ala berfirman, “Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mreka berkata: “Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu.” (Al-Ahzab: 13)

Lantas, sekelompok orang di antara mereka berkata: “Tidak ada tempat bagi kalian di sini karena banyaknya musuh, maka kembalilah ke kota Madinah.” Dikatakan pula, “Tidak ada tempat bagi kalian untuk berperang, pulanglah untuk mencari keamanan dan perlindungan kepada mereka.”

Demikian juga, ketika musuh dari bangsa Tartar datang, dari kaum munafikin ada yang mengatakan:”Daulah Islam tidak akan mampu bertahan, maka sebaiknya dia masuk bergabung dengan negara Tartar.

Syaikhul Islam melanjutkan, “Sungguh, di dalam peristiwa ini mengandung perkara-perkara besar yang melampaui batas ukuran, keluar dari kebiasaan, setiap orang berakal menyaksikan pertolongan Allah untuk agama ini, dan perlindungan-Nya kepada umat ini, setelah hampir saja Islam akan lenyap.

Berbagai faktor lahiriyah telah terhenti, pasukan Ahzab gemetaran, nyali menjadi ciut, dan kelompok pemenang tetap teguh. Maka Allah pun membukakan pintu-pintu langit-Nya untuk bala tentara-Nya yang perkasa, menghempaskan mental orang-orang kafir dan munafik, serta menjadikan hal itu sebagai tanda bagi orang-orang beriman hingga Hari Kiamat.” Selesai perkataan Syaikhul Islam rahimahullah.

Ketika datang berita bahwa Tartar memobilisasi kekuatan untuk memerangi Syam, orang-orang lantas ketakutan, sarana transportasi menjadi mahal. Sampai-sampai biaya sewa kuda dari Hamasah menuju Damaskus sebesar 200 dirham pada 699 H.

Sejumlah pemimpin berpendapat bahwa penyerahan benteng ke Tartar adalah upaya untuk melindungi para penduduk. Ibnu Taimiyyah berdiri di hadapan mereka dan meminta penjaga benteng agar tidak menyerahkannya, meskipun tidak ada yang tersisa kecuali satu batu saja. Penjaga benteng mengikuti saran Ibnu Taimiyyah, yang di dalamnya mengandung kemaslahatan bagi kaum muslimin.

Sampailah berita bahwa pasukan Mesir telah tiba di Syam. Hulaghu keluar bersama pasukan Tartar menuju Damaskus. Ketika itu, Damaskus sedang tidak dijaga oleh seorang pun tentara dan penjaga. Maka para penduduknya diserukan agar keluar membawa senjata, mereka bermalam di sejumlah benteng dan gerbang masuk untuk menjaga negeri. Lantas mereka pun keluar menuju benteng. Setiap malam, Ibnu Taimiyah berpatroli di berkeliling tembok benteng sambil memotivasi orang-orang agar bersabar dan berangkat berperang, serta membacakan ayat-ayat jihad dan ribath kepada mereka.

Ketika kehidupan kembali normal di Damaskus, Ibnu Taimiyah bersama para sahabatnya berpatroli ke berbagai kedai minum, mereka memecahkan bejana-bejana berisi khamar.

Kemudian Ibnu Taimiyyah keluar bersama Atsram –wakil gubernur Damaskus— menuju negeri Jubailah dan Kasarwan untuk memberi pelajaran kepada orang-orang Syiah Rafidhah dan Bathiniyah karena mereka membantu Tartar dan menyerbu kaum muslimin. Para pemimpin mereka keluar menemui Ibnu Taimiyyah. Mereka seolah-olah menampakkan ketaatan dan penyesalan, lalu mengembalikan semua yang pernah mereka ambil.

Kemudian Atsram kembali ke Damaskus. Dikeluarkanlah perintah agar orang-orang menggantungkan senjata mereka di toko-toko, memerintahkan mereka agar belajar memanah, dan dibangunlah berbagai kamp-kamp pelatihan militer di Damaskus. Para fuqaha juga disuruh untuk belajar memanah sebagai persiapan untuk mengantisipasi apapun situasi yang muncul.

Demikianlah, umat wajib melakukan persiapan di waktu lapang, sehingga apabila kondisi memburuk, dia bisa menyiapkan para putranya untuk melawan dan mencegah makar para musuh.

Pada 702 H, Tartar masuk ke negeri Syam. Manusia pun gempar. Mereka memanjatkan doa qunut dalam shalat. Kemudian terjadilah konfrontasi pertama. Pasukan Tartar datang dengan berkekuatan 7 ribu tentara. Lalu sekumpulan kesatria Syam berjumlah 1500 personil bangkit untuk merintangi musuh. Dan Allah pun menolong bala tentara-Nya.

Seiring mendekatnya pasukan Tartar, dua pasukan mundur, yaitu pasukan dari Hama dan Aleppo, menuju Homs. Karena takut disergap oleh Tartar, mereka pun singgah di Marj Ash-Shaffar. Pasukan Tartar sampai di Homs, lalu bergerak menuju Baalbak. Ketakutan orang-orang semakin hebat. Berbagai rumor dan isu miring menyebar. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berperan besar menenangkan manusia dan menjaga jiwa mereka.

Kemudian, mulailah segelintir orang menebarkan keraguan tentang legalitas syar’i untuk memerangi Tartar. Mereka seakan-akan benar-benar menampakkan Islam, sebagaimana dilakukan sebagian orang yang kalah sekarang dalan memerangi pasukan para thaghut.

Ibnu Hazm berkata dalam kitab Al-Muhalla, “Tidak ada dosa yang lebih besar setelah kekafiran daripada dosa orang yang melarang berjihad fi sabilillah dan memerintahkan untuk menyerahkan kehormatan kepada para musuh Allah.” Selesai perkataan beliau rahimahullah.

Ibnu Taimiyyah membimbing mereka dan merilis beberapa fatwanya yang masyhur mengenai kewajiban memerangi Tartar, serta membungkam semua syubhat (kerancuan) yang muncul seputar masalah ini. Dia berkata kepada orang-orang, “Jika kalian melihat diriku berada di pihak mereka, sedangkan di atas kepalaku ada mushaf Al-Qur'an, maka bunuhlah aku!” Orang-orang pun terlecut untuk berperang dan hati mereka menjadi kokoh.

Ketika pasukan Tartar mendekat, Ibnu Taimiyah menoleh kepada salah seorang pemimpin Syam seraya berkata, “Wahai Fulan, letakkan aku di posisi kematian.”

Sang amir berkata, “Lalu, aku pun memindahkannya ke posisi menghadap musuh yang bergerak mengalir bagaikan air bah. Senjata mereka melambai-lambai di bawah debu. Kemudian aku berkata, “Wahai tuanku, inilah posisi kematian.” Lihatlah musuh telah bergerak maju di bawah debu.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengarahkan pandangannya ke langit, lalu memejamkan matanya seraya menggerak-gerakkan kedua bibirnya cukup lama, sembari berdoa kepada Rabbnya. Kemudian dia merangsek menuju pasukan Tartar, perang semakin sengit dan berkobar. Para kesatria terus bertempur hebat, hingga pasukan Tartar kabur ke arah gunung. Malam mulai gelap, kaum muslimin mengepung gunung, hati pasukan Tartar dipenuhi ketakutan.

Wahai para mujahid...

Sungguh, agama ini tidak akan tegak kecuali oleh para lelaki bertekad baja, dan tidak mungkin tegak di atas pundak orang yang gemar beralasan dan hidup glamor. Mustahil agama ini tegak di atas pundak mereka.

Bagaimana Islam akan tegak dan kembali kepada kemuliaan terdahulunya tanpa ada tekad seperti tekadnya Abu Bakar Ash-Shiddiq pada hari ketika banyak manusia yang murtad. Ketika orangtua sepuh dan lembut lagi gemar menangis itu bersumpah dengan tekad terbesar yang dimilikinya, seraya berkata, “Demi Allah, aku benar-benar akan memerangi siapapun yang memisahkan antara kewajiban shalat dan zakat, karena zakat adalah hak Harta. Demi Allah, jika mereka menolak untuk membayarkan seutas tali kepadaku, yang mana mereka biasa membayarkannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, niscaya benar-benar akan aku perangi mereka atas penolakan tersebut.”

Semangat yang tinggi benar-benar akan menggelegak di dalam hati seperti air mendidih di dalam periuk. Ia akan mendorong pemiliknya untuk melakukan perkara-perkara besar baik pagi dan petang, hingga jadilah dia sebagaimana yang dikatakan Imam Asy-Syafi’i rahimahullah, “Rehat bagi seorang lelaki adalah kelalaian.”

Tengoklah sahabat Abdullah bin Jahsy yang melantunkan doa bersama Sa’ad bin Abi Waqqash menjelang Perang Uhud. Keduanya sepakat untuk saling berdoa dan diaminkan oleh yang lainnya.

Doa Abdullah bin Jahsy adalah:
“Ya Allah karuniakan kepadaku seorang pria yang perkasa lagi kuat, aku memeranginya di jalan-Mu dan dia juga memerangiku, kemudian dia membawaku dan memotong hidung dan telingaku, sehingga bila aku berjumpa dengan Engkau nanti maka Engkau bertanya, ‘Wahai Abdullah karena hal apa terpotong hidung dan telingamu?’ Maka aku berkata, ‘Karena-Mu dan karena Rasul-Mu.’ Maka Engkau berkata, ‘Kamu benar.’

Siapakah di antara kita yang memiliki tekad seperti ini? Siapa di antara kita yang bisa seperti Ahmad bin Hanbal, Ibnu Taimiyah, dan Al-’Izz bin Abdussalam? Mereka memikul panji jihad fi sabilillah dan berani melawan musuh-musuh Allah?

Para “ulama” telah meninggalkan medan perang, mereka meninggalkan kepemimpinan kafilah, dan berat untuk berkorban demi Allah. Mereka tidak berhenti sampai di situ, mereka bahkan meneriaki para mujahid dan menuduh mereka dengan semua kekurangan. Suara mereka hanya terdengar ketika mencela para mujahid. Semua dilakukan di bawah alasan “politik dan kecerdasan”.

Aku tidak tahu, kapan mereka akan meninggalkan “fiqih kekalahan” dan “paradigma pengecut”. Tidakkah kalian mendengar, bagaimana mereka mengingkari penyembelihan seorang warga Amerika Serikat bernama Berg? Mereka mengingkari karena sebelumnya telah menolak memerangi orang-orang kafir. Mereka juga belum pernah mencium aroma kemuliaan dan belum pernah mengangkat kepala atas dasar makna-makna keimanan yang menjadikan seorang mukmin superior di atas jahiliyah dan para pemeluknya:

“Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.” (Al-Munafiqun: 8)

Orang seperti mereka pasti merasa berat untuk membayangkan dirinya –sebagai hamba hina–menyembelih tuannya, AS. Ya, mereka menyusu kepada susu kehinaan dari payudara ibu mereka, lalu membekas di hati mereka. Maka, tidak mungkin mereka melakukan perubahan atau pergantian (sikap).

Inilah realita pahit yang tidak mereka perlihatkan, tetapi mereka membalutnya dengan ‘selendang fiqih’, dan menyajikannya sebagai hiasan dalam balutan ‘pakaian hikmah’. Mereka mengira dan berdusta bahwa hal ini adalah mencoreng citra Islam dalam pandangan orang-orang Barat yang memiliki perasaan lembut. Dunia sangat prihatin dengan kejahatan penjara Abu Ghuraib dan Guantanamo. Sedangkan aksi ini justru memberangus rasa prihatin dan respons masyarakat dunia.

Bahkan popularitas si anjing Romawi, Bush, berada di level terendah. Aksi ini terjadi dan justru mengangkat popularitasnya. Seolah negara-negara merdeka di dunia, menurut persepsi mereka, telah mengasah pedang dan menyiapkan batalion pasukan dan merelakan leher-leher terpenggal demi membebaskan Irak dan menyelamatkan orang-orang tak berdosa dan para wanita dari penjara penuh pemaksaan dan kezhaliman.

Yang benar-benar tragis dan mengejutkan, dengan campur tangan putra-putra kita, media kafir Salibis berhasil mempengaruhi pola pikir dalam membentuk pribadi muslim. Melalui serangan mengerikan dan saluran-saluran televisi Arab dan internasional, mereka berhasil mencuci otak kaum muslimin dan mempengaruhi pemikiran mereka, membalikkan fitrah, dan mengerdilkan tekad mereka.

Subhanallah, musuh Salibis pendengki datang dengan program mengerikan untuk menguasai umat Islam dan memberikan kekuasaan kepada Yahudi.

Syariat diperangi, kehormatan dirampas, harga diri dicabik-cabik, manusia ditimpa keterpurukan dan kehinaan. Sedang dari kejauhan, umatku hanya bisa memantau tanpa bisa berbuat apa-apa selain menampar pipi dan meratap. Tak mampu menghancurkan belenggu kehinaan yang telah mengekangnya sekian lama.

Telah tumbuh generasi yang menenggak kehinaan dan dibalut dengan pakaian memalukan. Maka, neraca telah terbalik dan berubah sangat drastis. Lenyaplah neraca petunjuk dan hidayah ‘langit’ sebagaimana yang dikabarkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

“Fitnah akan dipaparkan pada hati manusia bagai tikar yang dianyam (secara tegak dan mendatar/silang menyilang antara satu sama lain). Mana pun hati yang dihinggapi oleh fitnah, niscaya akan terlekat padanya bintik-bintik hitam. Begitu juga mana pun hati yang tidak dihinggapinya, maka akan terlekat padanya bintik-bintik putih sehingga hati tersebut terbagi dua: sebagian menjadi putih bagaikan batu licin yang tidak lagi terkena bahaya fitnah, selama langit dan bumi masih ada. Sedangkan sebagian yang lain menjadi hitam keabu-abuan sebagaimana bekas tembaga berkarat, yang ianya tidak menyuruh pada kebaikan dan tidak pula melarang akan kemungkaran kecuali diserap akan hawa nafsunya.”

Dan inilah Abu Bakar Ash-Shiddiq, orang yang lembut lagi belas asih, ayah dan ibuku sebagai tebusannya. Dia menggariskan sebuah jalan lurus dan teladan yang jelas untuk kita, ketika dia disurati terkait tawanan yang ingin ditebus kaumnya dengan harga segini dan segini. Lantas dia menegaskan, “Bunuh dia! Membunuh seorang musyrik benar-benar lebih aku cintai daripada ini dan itu.”

Sejumlah negosiator berupaya membebaskan laki-laki itu, dan siap membayar berapapun harga yang kami kehendaki –padahal kami sangat membutuhkan uang demi melanjutkan laju kereta jihad— tetapi kami lebih memilih untuk membalaskan dendam para saudari kami dan sakit hati umat kami.

Kami juga telah berjanji kepada Allah untuk menghidupkan urusan mulia ini dan mengikuti sunah orang-orang yang mendapatkan petunjuk. Bukankah Nabi kita shallallahu alaihi wasallam yang begitu lembut dan belas kasih telah bersabda, “Sungguh, aku mendatangi kalian dengan sembelih.” Maka, hati keras para tokoh Quraisy pun bergetar, mereka begitu takut dan segera meminta maaf kepada beliau, padahal sebelumnya mengolok-olok beliau.

Kami katakan, “Jika umat ini mau menghunuskan pedang, berdiri di atas telapak kakinya, pasukan perangnya dibariskan, dan bergerak menuju Washington untuk membalas dendam. Lalu datanglah peristiwa penyembelihan, angin topan bertiup kencang dan memporak-porandakan pasukan, niscaya mereka akan berpikir lain. Tetapi, di mana umat Islam ketika semua ini terjadi dan menimpa kaum muslimin di Irak, Palestina, Afghanistan, Indonesia, Chechnya, dan yang lain? Apakah umatku hanya mampu menangis, meratap, berdemo dengan aksi damai, mencela dan menghina?!

Apa yang telah dilakukan oleh pasukan pemerintah Afghanistan?! Dan apa yang telah dilakukan oleh umat terhadap para wanita Sarajevo, Indonesia, Kashmir, Palestina, dan Irak, di mana kehormatan mereka dirampas di depan mata dan telinga umat ini semuanya?!

Demi Allah, seandainya masih tersisa pada diri kita rasa cemburu dan yang semisalnya terhadap para saudari kita yang tidak berdosa, niscaya kita tidak akan tertidur nyenyak, dan kita tidak akan bisa bersenang-senang dengan istri di atas ranjang hingga para tawanan wanita itu dibebaskan.

Celakalah engkau, wahai umatku. Kehormatanmu berada di tangan para penyembah salib, mereka menyia-nyiakannya tanpa ada yang merespon.

Para tawanan telah menuntut kepada setiap orang yang kalah
Tidak ada tawanan yang tersisa selain tawanan wanita kita
Dan tidaklah kulihat cambuk kehinaan berlumuran darah
Melainkan kulihat padanya serpihan daging tawanan kami
Dan tidaklah kita mati seperti kijang
Melainkan rasa malu kita telah mati

Demi membangkitkan tekad dan menyenangkan para muwahhid di bumi belahan Timur dan Barat, maka kami bertekad tidak menerima tebusan untuk laki-laki ini, meskipun mereka membayar kami sejumlah emas.

Bahkan, kami telah berjanji kepada Allah untuk tidak menebus tawanan dengan harta, meskipun kami berpendapat itu boleh. Tetapi, kami melakukan itu agar musuh-musuh Allah tahu bahwa tidak ada belas kasihan maupun rasa sayang kepada mereka dalam hati kami.

Jadi, bebaskan tawanan. Atau kami sembelih

Bahkan yang lebih mengherankan lagi, sikap acuh beberapa orang kalah dari golongan para pengecut, mereka telah mematikan agama kami dan rela dengan kehinaan, terutama si Harits Adh-Dhari, sekretaris umum Asosiasi Ulama Muslim Irak. Dalam beberapa kesempatan khusus, dia menegaskan bahwa dirinya tidak bisa mengangkat kepala karena penyembelihan terhadap warga AS dan seorang misionaris asal Korea Selatan.

Maka aku katakan kepadanya:

“Sungguh, sebelumnya aku mengira bahwa engkau akan menggali kubur dan tidur di sana hingga kematian tiba, karena rasa malu akan kelemahanmu untuk menolong saudari-saudarimu; para muslimah yang diperkosa di penjara Abu Ghuraib, yang letaknya hanya beberapa meter dari rumahmu. Atau kamu bersumpah untuk mengenakan ikat kepala, tidak akan mencicipi makanan dan tidak akan tidur hingga kamu berhasil membebaskan saudarimu atau mati karena hal itu. Tetapi sayang, hal itu tidak pernah terjadi. Karena tujuan jihadmu hanya mengulurkan tali cinta kasih kepada orang-orang Syi’ah Rafidhah.

Tidakkah engkau mengingat momen-momen kehinaan dan aib yang akan menghinakanmu pada Hari Kiamat tatkala engkau bergabung di berbagai wawancara keji bersama Jawwad Al-Khalishi (politikus Syiah Irak). Engkau berbicara kepadanya, “Aku mendengar tentang kesabaran dan keberanianmu, maka aku berjanji kepada diriku seandainya aku bertemu denganmu maka aku akan mencium kepalamu. Sekarang saatnya menunaikan janji.” Lalu engkau segera mencium kepala yang dipenuhi kedengkian terhadap Islam, kepala dengan lisan yang tiada henti menghujat kehormatan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Maka katakanlah, demi Rabbmu, dengan wajah seperti apa kelak engkau bertemu Nabimu pada Hari Mahsyar. Sungguh engkau benar-benar mencelakakan umat Islam tatkala engkau menuduh simbol-simbol jihad sebagai pengkhianatan. Sedangkan engkau adalah barang titipan bagi Rafidhah, engkau berderma kepada mereka dengan masjid-masjid kami, dengan dalih bahwa semuanya hanyalah batu dan mungkin bisa dibangun lagi.

Kepada Allah-lah kami mengadukan diri kalian. Dan di hadapan-Nya kami akan menanyai kalian, cukuplah bagi kami Allah dan sebaik-baik pelindung.

Sungguh engkau pasti sangat keheranan menyaksikan kesabaran dan kebengisan musuh-musuh agama dalam memerangi kaum muslimin, dalam mengorbankan jiwa dan waktu mereka demi menolong kebathilan mereka. Allah ta'ala berfirman, “ Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata): “Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki.” (Shad: 6)

Mereka menempuh padang pasir dan gurun dengan kendaraan dan bala tentara mereka demi menyebarkan aqidah bathil mereka meski darah mereka tertumpah, dan meski nyawa mereka melayang demi kebatilannya

Ya. Majalah Inggris “Daily Telegraph” akhir-akhir ini merilis laporan bahwa Irak kini menjadi tempat ‘penggembalaan’ untuk kampanye Kristenisasi. Laporan itu menulis bahwa anggota perhimpunan-perhimpunan misionaris AS mulai melancarkan Kristenisasi di bawah slogan “Menyelamatkan Jiwa di Irak” di mana para pemimpin perhimpunan memastikan bahwa invasi AS ke Irak memberikan kesempatan bersejarah untuk memberi petunjuk bagi jiwa-jiwa bangsa Irak yang kebingungan, baik dari kaum muslimin ataupun kaum Kristen Timur Ortodoks.

Kepala “International Mission Board” (Dewan Misionaris Internasional) yang menjadi penanggungjawab Kristenisasi di Timur-Tengah John Brady berkata bahwa anggota-anggota Gereja Baptis jumlahnya mencapai 16 juta, dan gereja meminta mereka sebelum peperangan agar mengirim doa demi penaklukan Irak.

Setelah kunjungannya ke Irak, Jon Hannah –salah seorang evangelis— berkata, “Menjadi tanggung jawab besar bagi seluruh misionaris AS, semua pintu terbuka, metode-metode misionaris tersedia, dan bantuan militer pun ada demi menyelematkan warga Irak dari nilai-nilai yang bertentangan dengan Kristen dan orang-orang Kristen.”