RUMIYAH 12 - ARTIKEL
NASEHAT PENTING UNTUK PARA MUJAHID (BAGIAN 2)
SYAIKH ABU MUSH'AB AZ-ZARQAWI
Wahai para mujahid...
Aku tidak mendapatkan hal lebih baik selain menghadirkan kepada kalian tulisan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah ketika mengomentari koalisi pasukan Ahzab di Perang Khandaq. Dia berkata, “Singkat cerita –yaitu Perang Khandaq— kaum muslimin dikepung oleh seluruh kaum musyrikin di sekitar mereka. Musuh datang dengan pasukan besar ke kota Madinah untuk membasmi orang-orang beriman. Maka, berkumpullah kaum Quraisy dan para sekutunya dari kalangan Bani Asad, Asyja’, Fazarah, dan kabilah-kabilah Nejed lainnya. Kaum Yahudi dari Bani Quraizhah dan Bani Nazhir juga ikut berkoalisi. Pasukan Ahzab ini berhimpun, jumlah mereka berkali-kali lipat dari jumlah kaum muslimin. Lantas, Nabi shallallahu alaihi wasallam membawa kaum wanita dan anak-anak ke tempat tinggi di kota Madinah.
Sementara dalam peristiwa ini –di masa Syaikhul Islam– musuh berkoalisi, mulai dari bangsa Mongol, dan beragam suku bangsa Turki, seperti Persia, Muzarab, serta berbagai bangsa murtad dari kalangan orang-orang kristen Armenia dan yang lainnya. Para musuh ini tiba di pinggiran negeri-negeri Islam, dalam posisi siap untuk maju ataupun mundur. Padahal jumlah kaum muslimin hanya sedikit, sedangkan mereka bertujuan untuk menguasai negeri dan menghabisi para penduduk, sebagaimana para musuh juga pernah tiba di pinggiran kota Madinah untuk mengepung kaum muslimin. Ketika Perang Khandaq, suhu sangat dingin dan angin bertiup sangat kencang, dan dengannya Allah mengusir pasukan Ahzab dari kota Madinah, sebagaimana Allah berfirman, “Lalu Kami mengirim kepada mereka angin kencang dan bala tentara yang tidak kalian lihat (malaikat).” (Al-Ahzab: 9)
Demikian juga tahun ini, Allah menurunkan banyak salju, hujan, dan suhu dingin yang berbeda dengan kebiasaan. Hingga banyak orang yang mengeluh tentang hal itu. Kami katakan kepada mereka, “Janganlah kalian mengeluhkan hal itu, karena Allah memiliki hikmah dan rahmat di dalamnya.” Dan semua itu menjadi faktor terbesar yang dengannya Allah menghalau musuh.
Allah ta'ala berfirman mengenai Perang Ahzab, “(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat.” (Al-Ahzab: 10-11)
Begitu juga tahun ini, musuh datang dari arah atas wilayah Syam, yaitu sebelah utara Sungai Eufrat.
Sampai dia mengatakan, “Dan manusia berprasangka kepada Allah dengan aneka prasangka”:
- Ada yang berprasangka bahwa tidak akan ada seorang pun dari tentara Syam yang mampu bertahan hingga mereka menghabisi penduduk Syam.
- Ada lagi yang berprasangka bahwa bumi Syam tidak akan lagi didiami dan tidak akan lagi berada di bawah kekuasaan Islam.
- Ada yang ditawari sejumlah jabatan yang disambut oleh keinginan nafsunya. Apalagi dia tidak bisa membedakan kabar gembira yang benar dan dusta, dalam pembicaraan tidak membedakan antara yang benar dan yang salah. Oleh karena itu, kebingungan menyelimuti orang yang setengah hati mengikuti petunjuk dan pikiran saling melempar seperti anak kecil yang dilempari kerikil.
“Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang dahsyat.” (Al-Ahzab: 11)
Allah menguji mereka seperti itu untuk menghapuskan kesalahan mereka dan mengangkat derajat mereka. Kemudian Allah ta'ala berfirman, “Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mreka berkata: “Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu.” (Al-Ahzab: 13)
Lantas, sekelompok orang di antara mereka berkata: “Tidak ada tempat bagi kalian di sini karena banyaknya musuh, maka kembalilah ke kota Madinah.” Dikatakan pula, “Tidak ada tempat bagi kalian untuk berperang, pulanglah untuk mencari keamanan dan perlindungan kepada mereka.”
Demikian juga, ketika musuh dari bangsa Tartar datang, dari kaum munafikin ada yang mengatakan:”Daulah Islam tidak akan mampu bertahan, maka sebaiknya dia masuk bergabung dengan negara Tartar.
Syaikhul Islam melanjutkan, “Sungguh, di dalam peristiwa ini mengandung perkara-perkara besar yang melampaui batas ukuran, keluar dari kebiasaan, setiap orang berakal menyaksikan pertolongan Allah untuk agama ini, dan perlindungan-Nya kepada umat ini, setelah hampir saja Islam akan lenyap.
Berbagai faktor lahiriyah telah terhenti, pasukan Ahzab gemetaran, nyali menjadi ciut, dan kelompok pemenang tetap teguh. Maka Allah pun membukakan pintu-pintu langit-Nya untuk bala tentara-Nya yang perkasa, menghempaskan mental orang-orang kafir dan munafik, serta menjadikan hal itu sebagai tanda bagi orang-orang beriman hingga Hari Kiamat.” Selesai perkataan Syaikhul Islam rahimahullah.
Ketika datang berita bahwa Tartar memobilisasi kekuatan untuk memerangi Syam, orang-orang lantas ketakutan, sarana transportasi menjadi mahal. Sampai-sampai biaya sewa kuda dari Hamasah menuju Damaskus sebesar 200 dirham pada 699 H.
Sejumlah pemimpin berpendapat bahwa penyerahan benteng ke Tartar adalah upaya untuk melindungi para penduduk. Ibnu Taimiyyah berdiri di hadapan mereka dan meminta penjaga benteng agar tidak menyerahkannya, meskipun tidak ada yang tersisa kecuali satu batu saja. Penjaga benteng mengikuti saran Ibnu Taimiyyah, yang di dalamnya mengandung kemaslahatan bagi kaum muslimin.
Sampailah berita bahwa pasukan Mesir telah tiba di Syam. Hulaghu keluar bersama pasukan Tartar menuju Damaskus. Ketika itu, Damaskus sedang tidak dijaga oleh seorang pun tentara dan penjaga. Maka para penduduknya diserukan agar keluar membawa senjata, mereka bermalam di sejumlah benteng dan gerbang masuk untuk menjaga negeri. Lantas mereka pun keluar menuju benteng. Setiap malam, Ibnu Taimiyah berpatroli di berkeliling tembok benteng sambil memotivasi orang-orang agar bersabar dan berangkat berperang, serta membacakan ayat-ayat jihad dan ribath kepada mereka.
Ketika kehidupan kembali normal di Damaskus, Ibnu Taimiyah bersama para sahabatnya berpatroli ke berbagai kedai minum, mereka memecahkan bejana-bejana berisi khamar.
Kemudian Ibnu Taimiyyah keluar bersama Atsram –wakil gubernur Damaskus— menuju negeri Jubailah dan Kasarwan untuk memberi pelajaran kepada orang-orang Syiah Rafidhah dan Bathiniyah karena mereka membantu Tartar dan menyerbu kaum muslimin. Para pemimpin mereka keluar menemui Ibnu Taimiyyah. Mereka seolah-olah menampakkan ketaatan dan penyesalan, lalu mengembalikan semua yang pernah mereka ambil.
Kemudian Atsram kembali ke Damaskus. Dikeluarkanlah perintah agar orang-orang menggantungkan senjata mereka di toko-toko, memerintahkan mereka agar belajar memanah, dan dibangunlah berbagai kamp-kamp pelatihan militer di Damaskus. Para fuqaha juga disuruh untuk belajar memanah sebagai persiapan untuk mengantisipasi apapun situasi yang muncul.
Demikianlah, umat wajib melakukan persiapan di waktu lapang, sehingga apabila kondisi memburuk, dia bisa menyiapkan para putranya untuk melawan dan mencegah makar para musuh.
Pada 702 H, Tartar masuk ke negeri Syam. Manusia pun gempar. Mereka memanjatkan doa qunut dalam shalat. Kemudian terjadilah konfrontasi pertama. Pasukan Tartar datang dengan berkekuatan 7 ribu tentara. Lalu sekumpulan kesatria Syam berjumlah 1500 personil bangkit untuk merintangi musuh. Dan Allah pun menolong bala tentara-Nya.
Seiring mendekatnya pasukan Tartar, dua pasukan mundur, yaitu pasukan dari Hama dan Aleppo, menuju Homs. Karena takut disergap oleh Tartar, mereka pun singgah di Marj Ash-Shaffar. Pasukan Tartar sampai di Homs, lalu bergerak menuju Baalbak. Ketakutan orang-orang semakin hebat. Berbagai rumor dan isu miring menyebar. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berperan besar menenangkan manusia dan menjaga jiwa mereka.
Kemudian, mulailah segelintir orang menebarkan keraguan tentang legalitas syar’i untuk memerangi Tartar. Mereka seakan-akan benar-benar menampakkan Islam, sebagaimana dilakukan sebagian orang yang kalah sekarang dalan memerangi pasukan para thaghut.
Ibnu Hazm berkata dalam kitab Al-Muhalla, “Tidak ada dosa yang lebih besar setelah kekafiran daripada dosa orang yang melarang berjihad fi sabilillah dan memerintahkan untuk menyerahkan kehormatan kepada para musuh Allah.” Selesai perkataan beliau rahimahullah.
Ibnu Taimiyyah membimbing mereka dan merilis beberapa fatwanya yang masyhur mengenai kewajiban memerangi Tartar, serta membungkam semua syubhat (kerancuan) yang muncul seputar masalah ini. Dia berkata kepada orang-orang, “Jika kalian melihat diriku berada di pihak mereka, sedangkan di atas kepalaku ada mushaf Al-Qur'an, maka bunuhlah aku!” Orang-orang pun terlecut untuk berperang dan hati mereka menjadi kokoh.
Ketika pasukan Tartar mendekat, Ibnu Taimiyah menoleh kepada salah seorang pemimpin Syam seraya berkata, “Wahai Fulan, letakkan aku di posisi kematian.”
Sang amir berkata, “Lalu, aku pun memindahkannya ke posisi menghadap musuh yang bergerak mengalir bagaikan air bah. Senjata mereka melambai-lambai di bawah debu. Kemudian aku berkata, “Wahai tuanku, inilah posisi kematian.” Lihatlah musuh telah bergerak maju di bawah debu.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengarahkan pandangannya ke langit, lalu memejamkan matanya seraya menggerak-gerakkan kedua bibirnya cukup lama, sembari berdoa kepada Rabbnya. Kemudian dia merangsek menuju pasukan Tartar, perang semakin sengit dan berkobar. Para kesatria terus bertempur hebat, hingga pasukan Tartar kabur ke arah gunung. Malam mulai gelap, kaum muslimin mengepung gunung, hati pasukan Tartar dipenuhi ketakutan.
Wahai para mujahid...
Sungguh, agama ini tidak akan tegak kecuali oleh para lelaki bertekad baja, dan tidak mungkin tegak di atas pundak orang yang gemar beralasan dan hidup glamor. Mustahil agama ini tegak di atas pundak mereka.
Bagaimana Islam akan tegak dan kembali kepada kemuliaan terdahulunya tanpa ada tekad seperti tekadnya Abu Bakar Ash-Shiddiq pada hari ketika banyak manusia yang murtad. Ketika orangtua sepuh dan lembut lagi gemar menangis itu bersumpah dengan tekad terbesar yang dimilikinya, seraya berkata, “Demi Allah, aku benar-benar akan memerangi siapapun yang memisahkan antara kewajiban shalat dan zakat, karena zakat adalah hak Harta. Demi Allah, jika mereka menolak untuk membayarkan seutas tali kepadaku, yang mana mereka biasa membayarkannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, niscaya benar-benar akan aku perangi mereka atas penolakan tersebut.”
Semangat yang tinggi benar-benar akan menggelegak di dalam hati seperti air mendidih di dalam periuk. Ia akan mendorong pemiliknya untuk melakukan perkara-perkara besar baik pagi dan petang, hingga jadilah dia sebagaimana yang dikatakan Imam Asy-Syafi’i rahimahullah, “Rehat bagi seorang lelaki adalah kelalaian.”
Tengoklah sahabat Abdullah bin Jahsy yang melantunkan doa bersama Sa’ad bin Abi Waqqash menjelang Perang Uhud. Keduanya sepakat untuk saling berdoa dan diaminkan oleh yang lainnya.
Doa Abdullah bin Jahsy adalah:
“Ya Allah karuniakan kepadaku seorang pria yang perkasa lagi kuat, aku memeranginya di jalan-Mu dan dia juga memerangiku, kemudian dia membawaku dan memotong hidung dan telingaku, sehingga bila aku berjumpa dengan Engkau nanti maka Engkau bertanya, ‘Wahai Abdullah karena hal apa terpotong hidung dan telingamu?’ Maka aku berkata, ‘Karena-Mu dan karena Rasul-Mu.’ Maka Engkau berkata, ‘Kamu benar.’
Siapakah di antara kita yang memiliki tekad seperti ini? Siapa di antara kita yang bisa seperti Ahmad bin Hanbal, Ibnu Taimiyah, dan Al-’Izz bin Abdussalam? Mereka memikul panji jihad fi sabilillah dan berani melawan musuh-musuh Allah?
Para “ulama” telah meninggalkan medan perang, mereka meninggalkan kepemimpinan kafilah, dan berat untuk berkorban demi Allah. Mereka tidak berhenti sampai di situ, mereka bahkan meneriaki para mujahid dan menuduh mereka dengan semua kekurangan. Suara mereka hanya terdengar ketika mencela para mujahid. Semua dilakukan di bawah alasan “politik dan kecerdasan”.
Aku tidak tahu, kapan mereka akan meninggalkan “fiqih kekalahan” dan “paradigma pengecut”. Tidakkah kalian mendengar, bagaimana mereka mengingkari penyembelihan seorang warga Amerika Serikat bernama Berg? Mereka mengingkari karena sebelumnya telah menolak memerangi orang-orang kafir. Mereka juga belum pernah mencium aroma kemuliaan dan belum pernah mengangkat kepala atas dasar makna-makna keimanan yang menjadikan seorang mukmin superior di atas jahiliyah dan para pemeluknya:
“Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.” (Al-Munafiqun: 8)
Orang seperti mereka pasti merasa berat untuk membayangkan dirinya –sebagai hamba hina–menyembelih tuannya, AS. Ya, mereka menyusu kepada susu kehinaan dari payudara ibu mereka, lalu membekas di hati mereka. Maka, tidak mungkin mereka melakukan perubahan atau pergantian (sikap).
Inilah realita pahit yang tidak mereka perlihatkan, tetapi mereka membalutnya dengan ‘selendang fiqih’, dan menyajikannya sebagai hiasan dalam balutan ‘pakaian hikmah’. Mereka mengira dan berdusta bahwa hal ini adalah mencoreng citra Islam dalam pandangan orang-orang Barat yang memiliki perasaan lembut. Dunia sangat prihatin dengan kejahatan penjara Abu Ghuraib dan Guantanamo. Sedangkan aksi ini justru memberangus rasa prihatin dan respons masyarakat dunia.
Bahkan popularitas si anjing Romawi, Bush, berada di level terendah. Aksi ini terjadi dan justru mengangkat popularitasnya. Seolah negara-negara merdeka di dunia, menurut persepsi mereka, telah mengasah pedang dan menyiapkan batalion pasukan dan merelakan leher-leher terpenggal demi membebaskan Irak dan menyelamatkan orang-orang tak berdosa dan para wanita dari penjara penuh pemaksaan dan kezhaliman.
Yang benar-benar tragis dan mengejutkan, dengan campur tangan putra-putra kita, media kafir Salibis berhasil mempengaruhi pola pikir dalam membentuk pribadi muslim. Melalui serangan mengerikan dan saluran-saluran televisi Arab dan internasional, mereka berhasil mencuci otak kaum muslimin dan mempengaruhi pemikiran mereka, membalikkan fitrah, dan mengerdilkan tekad mereka.
Subhanallah, musuh Salibis pendengki datang dengan program mengerikan untuk menguasai umat Islam dan memberikan kekuasaan kepada Yahudi.
Syariat diperangi, kehormatan dirampas, harga diri dicabik-cabik, manusia ditimpa keterpurukan dan kehinaan. Sedang dari kejauhan, umatku hanya bisa memantau tanpa bisa berbuat apa-apa selain menampar pipi dan meratap. Tak mampu menghancurkan belenggu kehinaan yang telah mengekangnya sekian lama.
Telah tumbuh generasi yang menenggak kehinaan dan dibalut dengan pakaian memalukan. Maka, neraca telah terbalik dan berubah sangat drastis. Lenyaplah neraca petunjuk dan hidayah ‘langit’ sebagaimana yang dikabarkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
“Fitnah akan dipaparkan pada hati manusia bagai tikar yang dianyam (secara tegak dan mendatar/silang menyilang antara satu sama lain). Mana pun hati yang dihinggapi oleh fitnah, niscaya akan terlekat padanya bintik-bintik hitam. Begitu juga mana pun hati yang tidak dihinggapinya, maka akan terlekat padanya bintik-bintik putih sehingga hati tersebut terbagi dua: sebagian menjadi putih bagaikan batu licin yang tidak lagi terkena bahaya fitnah, selama langit dan bumi masih ada. Sedangkan sebagian yang lain menjadi hitam keabu-abuan sebagaimana bekas tembaga berkarat, yang ianya tidak menyuruh pada kebaikan dan tidak pula melarang akan kemungkaran kecuali diserap akan hawa nafsunya.”
Dan inilah Abu Bakar Ash-Shiddiq, orang yang lembut lagi belas asih, ayah dan ibuku sebagai tebusannya. Dia menggariskan sebuah jalan lurus dan teladan yang jelas untuk kita, ketika dia disurati terkait tawanan yang ingin ditebus kaumnya dengan harga segini dan segini. Lantas dia menegaskan, “Bunuh dia! Membunuh seorang musyrik benar-benar lebih aku cintai daripada ini dan itu.”
Sejumlah negosiator berupaya membebaskan laki-laki itu, dan siap membayar berapapun harga yang kami kehendaki –padahal kami sangat membutuhkan uang demi melanjutkan laju kereta jihad— tetapi kami lebih memilih untuk membalaskan dendam para saudari kami dan sakit hati umat kami.
Kami juga telah berjanji kepada Allah untuk menghidupkan urusan mulia ini dan mengikuti sunah orang-orang yang mendapatkan petunjuk. Bukankah Nabi kita shallallahu alaihi wasallam yang begitu lembut dan belas kasih telah bersabda, “Sungguh, aku mendatangi kalian dengan sembelih.” Maka, hati keras para tokoh Quraisy pun bergetar, mereka begitu takut dan segera meminta maaf kepada beliau, padahal sebelumnya mengolok-olok beliau.
Kami katakan, “Jika umat ini mau menghunuskan pedang, berdiri di atas telapak kakinya, pasukan perangnya dibariskan, dan bergerak menuju Washington untuk membalas dendam. Lalu datanglah peristiwa penyembelihan, angin topan bertiup kencang dan memporak-porandakan pasukan, niscaya mereka akan berpikir lain. Tetapi, di mana umat Islam ketika semua ini terjadi dan menimpa kaum muslimin di Irak, Palestina, Afghanistan, Indonesia, Chechnya, dan yang lain? Apakah umatku hanya mampu menangis, meratap, berdemo dengan aksi damai, mencela dan menghina?!
Apa yang telah dilakukan oleh pasukan pemerintah Afghanistan?! Dan apa yang telah dilakukan oleh umat terhadap para wanita Sarajevo, Indonesia, Kashmir, Palestina, dan Irak, di mana kehormatan mereka dirampas di depan mata dan telinga umat ini semuanya?!
Demi Allah, seandainya masih tersisa pada diri kita rasa cemburu dan yang semisalnya terhadap para saudari kita yang tidak berdosa, niscaya kita tidak akan tertidur nyenyak, dan kita tidak akan bisa bersenang-senang dengan istri di atas ranjang hingga para tawanan wanita itu dibebaskan.
Celakalah engkau, wahai umatku. Kehormatanmu berada di tangan para penyembah salib, mereka menyia-nyiakannya tanpa ada yang merespon.
Para tawanan telah menuntut kepada setiap orang yang kalah
Tidak ada tawanan yang tersisa selain tawanan wanita kita
Dan tidaklah kulihat cambuk kehinaan berlumuran darah
Melainkan kulihat padanya serpihan daging tawanan kami
Dan tidaklah kita mati seperti kijang
Melainkan rasa malu kita telah mati
Demi membangkitkan tekad dan menyenangkan para muwahhid di bumi belahan Timur dan Barat, maka kami bertekad tidak menerima tebusan untuk laki-laki ini, meskipun mereka membayar kami sejumlah emas.
Bahkan, kami telah berjanji kepada Allah untuk tidak menebus tawanan dengan harta, meskipun kami berpendapat itu boleh. Tetapi, kami melakukan itu agar musuh-musuh Allah tahu bahwa tidak ada belas kasihan maupun rasa sayang kepada mereka dalam hati kami.
Jadi, bebaskan tawanan. Atau kami sembelih
Bahkan yang lebih mengherankan lagi, sikap acuh beberapa orang kalah dari golongan para pengecut, mereka telah mematikan agama kami dan rela dengan kehinaan, terutama si Harits Adh-Dhari, sekretaris umum Asosiasi Ulama Muslim Irak. Dalam beberapa kesempatan khusus, dia menegaskan bahwa dirinya tidak bisa mengangkat kepala karena penyembelihan terhadap warga AS dan seorang misionaris asal Korea Selatan.
Maka aku katakan kepadanya:
“Sungguh, sebelumnya aku mengira bahwa engkau akan menggali kubur dan tidur di sana hingga kematian tiba, karena rasa malu akan kelemahanmu untuk menolong saudari-saudarimu; para muslimah yang diperkosa di penjara Abu Ghuraib, yang letaknya hanya beberapa meter dari rumahmu. Atau kamu bersumpah untuk mengenakan ikat kepala, tidak akan mencicipi makanan dan tidak akan tidur hingga kamu berhasil membebaskan saudarimu atau mati karena hal itu. Tetapi sayang, hal itu tidak pernah terjadi. Karena tujuan jihadmu hanya mengulurkan tali cinta kasih kepada orang-orang Syi’ah Rafidhah.
Tidakkah engkau mengingat momen-momen kehinaan dan aib yang akan menghinakanmu pada Hari Kiamat tatkala engkau bergabung di berbagai wawancara keji bersama Jawwad Al-Khalishi (politikus Syiah Irak). Engkau berbicara kepadanya, “Aku mendengar tentang kesabaran dan keberanianmu, maka aku berjanji kepada diriku seandainya aku bertemu denganmu maka aku akan mencium kepalamu. Sekarang saatnya menunaikan janji.” Lalu engkau segera mencium kepala yang dipenuhi kedengkian terhadap Islam, kepala dengan lisan yang tiada henti menghujat kehormatan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.
Maka katakanlah, demi Rabbmu, dengan wajah seperti apa kelak engkau bertemu Nabimu pada Hari Mahsyar. Sungguh engkau benar-benar mencelakakan umat Islam tatkala engkau menuduh simbol-simbol jihad sebagai pengkhianatan. Sedangkan engkau adalah barang titipan bagi Rafidhah, engkau berderma kepada mereka dengan masjid-masjid kami, dengan dalih bahwa semuanya hanyalah batu dan mungkin bisa dibangun lagi.
Kepada Allah-lah kami mengadukan diri kalian. Dan di hadapan-Nya kami akan menanyai kalian, cukuplah bagi kami Allah dan sebaik-baik pelindung.
Sungguh engkau pasti sangat keheranan menyaksikan kesabaran dan kebengisan musuh-musuh agama dalam memerangi kaum muslimin, dalam mengorbankan jiwa dan waktu mereka demi menolong kebathilan mereka. Allah ta'ala berfirman, “ Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata): “Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki.” (Shad: 6)
Mereka menempuh padang pasir dan gurun dengan kendaraan dan bala tentara mereka demi menyebarkan aqidah bathil mereka meski darah mereka tertumpah, dan meski nyawa mereka melayang demi kebatilannya
Ya. Majalah Inggris “Daily Telegraph” akhir-akhir ini merilis laporan bahwa Irak kini menjadi tempat ‘penggembalaan’ untuk kampanye Kristenisasi. Laporan itu menulis bahwa anggota perhimpunan-perhimpunan misionaris AS mulai melancarkan Kristenisasi di bawah slogan “Menyelamatkan Jiwa di Irak” di mana para pemimpin perhimpunan memastikan bahwa invasi AS ke Irak memberikan kesempatan bersejarah untuk memberi petunjuk bagi jiwa-jiwa bangsa Irak yang kebingungan, baik dari kaum muslimin ataupun kaum Kristen Timur Ortodoks.
Kepala “International Mission Board” (Dewan Misionaris Internasional) yang menjadi penanggungjawab Kristenisasi di Timur-Tengah John Brady berkata bahwa anggota-anggota Gereja Baptis jumlahnya mencapai 16 juta, dan gereja meminta mereka sebelum peperangan agar mengirim doa demi penaklukan Irak.
Setelah kunjungannya ke Irak, Jon Hannah –salah seorang evangelis— berkata, “Menjadi tanggung jawab besar bagi seluruh misionaris AS, semua pintu terbuka, metode-metode misionaris tersedia, dan bantuan militer pun ada demi menyelematkan warga Irak dari nilai-nilai yang bertentangan dengan Kristen dan orang-orang Kristen.”
NASEHAT PENTING UNTUK PARA MUJAHID (BAGIAN 2)
SYAIKH ABU MUSH'AB AZ-ZARQAWI
Wahai para mujahid...
Aku tidak mendapatkan hal lebih baik selain menghadirkan kepada kalian tulisan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah ketika mengomentari koalisi pasukan Ahzab di Perang Khandaq. Dia berkata, “Singkat cerita –yaitu Perang Khandaq— kaum muslimin dikepung oleh seluruh kaum musyrikin di sekitar mereka. Musuh datang dengan pasukan besar ke kota Madinah untuk membasmi orang-orang beriman. Maka, berkumpullah kaum Quraisy dan para sekutunya dari kalangan Bani Asad, Asyja’, Fazarah, dan kabilah-kabilah Nejed lainnya. Kaum Yahudi dari Bani Quraizhah dan Bani Nazhir juga ikut berkoalisi. Pasukan Ahzab ini berhimpun, jumlah mereka berkali-kali lipat dari jumlah kaum muslimin. Lantas, Nabi shallallahu alaihi wasallam membawa kaum wanita dan anak-anak ke tempat tinggi di kota Madinah.
Sementara dalam peristiwa ini –di masa Syaikhul Islam– musuh berkoalisi, mulai dari bangsa Mongol, dan beragam suku bangsa Turki, seperti Persia, Muzarab, serta berbagai bangsa murtad dari kalangan orang-orang kristen Armenia dan yang lainnya. Para musuh ini tiba di pinggiran negeri-negeri Islam, dalam posisi siap untuk maju ataupun mundur. Padahal jumlah kaum muslimin hanya sedikit, sedangkan mereka bertujuan untuk menguasai negeri dan menghabisi para penduduk, sebagaimana para musuh juga pernah tiba di pinggiran kota Madinah untuk mengepung kaum muslimin. Ketika Perang Khandaq, suhu sangat dingin dan angin bertiup sangat kencang, dan dengannya Allah mengusir pasukan Ahzab dari kota Madinah, sebagaimana Allah berfirman, “Lalu Kami mengirim kepada mereka angin kencang dan bala tentara yang tidak kalian lihat (malaikat).” (Al-Ahzab: 9)
Demikian juga tahun ini, Allah menurunkan banyak salju, hujan, dan suhu dingin yang berbeda dengan kebiasaan. Hingga banyak orang yang mengeluh tentang hal itu. Kami katakan kepada mereka, “Janganlah kalian mengeluhkan hal itu, karena Allah memiliki hikmah dan rahmat di dalamnya.” Dan semua itu menjadi faktor terbesar yang dengannya Allah menghalau musuh.
Allah ta'ala berfirman mengenai Perang Ahzab, “(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat.” (Al-Ahzab: 10-11)
Begitu juga tahun ini, musuh datang dari arah atas wilayah Syam, yaitu sebelah utara Sungai Eufrat.
Sampai dia mengatakan, “Dan manusia berprasangka kepada Allah dengan aneka prasangka”:
- Ada yang berprasangka bahwa tidak akan ada seorang pun dari tentara Syam yang mampu bertahan hingga mereka menghabisi penduduk Syam.
- Ada lagi yang berprasangka bahwa bumi Syam tidak akan lagi didiami dan tidak akan lagi berada di bawah kekuasaan Islam.
- Ada yang ditawari sejumlah jabatan yang disambut oleh keinginan nafsunya. Apalagi dia tidak bisa membedakan kabar gembira yang benar dan dusta, dalam pembicaraan tidak membedakan antara yang benar dan yang salah. Oleh karena itu, kebingungan menyelimuti orang yang setengah hati mengikuti petunjuk dan pikiran saling melempar seperti anak kecil yang dilempari kerikil.
“Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang dahsyat.” (Al-Ahzab: 11)
Allah menguji mereka seperti itu untuk menghapuskan kesalahan mereka dan mengangkat derajat mereka. Kemudian Allah ta'ala berfirman, “Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mreka berkata: “Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu.” (Al-Ahzab: 13)
Lantas, sekelompok orang di antara mereka berkata: “Tidak ada tempat bagi kalian di sini karena banyaknya musuh, maka kembalilah ke kota Madinah.” Dikatakan pula, “Tidak ada tempat bagi kalian untuk berperang, pulanglah untuk mencari keamanan dan perlindungan kepada mereka.”
Demikian juga, ketika musuh dari bangsa Tartar datang, dari kaum munafikin ada yang mengatakan:”Daulah Islam tidak akan mampu bertahan, maka sebaiknya dia masuk bergabung dengan negara Tartar.
Syaikhul Islam melanjutkan, “Sungguh, di dalam peristiwa ini mengandung perkara-perkara besar yang melampaui batas ukuran, keluar dari kebiasaan, setiap orang berakal menyaksikan pertolongan Allah untuk agama ini, dan perlindungan-Nya kepada umat ini, setelah hampir saja Islam akan lenyap.
Berbagai faktor lahiriyah telah terhenti, pasukan Ahzab gemetaran, nyali menjadi ciut, dan kelompok pemenang tetap teguh. Maka Allah pun membukakan pintu-pintu langit-Nya untuk bala tentara-Nya yang perkasa, menghempaskan mental orang-orang kafir dan munafik, serta menjadikan hal itu sebagai tanda bagi orang-orang beriman hingga Hari Kiamat.” Selesai perkataan Syaikhul Islam rahimahullah.
Ketika datang berita bahwa Tartar memobilisasi kekuatan untuk memerangi Syam, orang-orang lantas ketakutan, sarana transportasi menjadi mahal. Sampai-sampai biaya sewa kuda dari Hamasah menuju Damaskus sebesar 200 dirham pada 699 H.
Sejumlah pemimpin berpendapat bahwa penyerahan benteng ke Tartar adalah upaya untuk melindungi para penduduk. Ibnu Taimiyyah berdiri di hadapan mereka dan meminta penjaga benteng agar tidak menyerahkannya, meskipun tidak ada yang tersisa kecuali satu batu saja. Penjaga benteng mengikuti saran Ibnu Taimiyyah, yang di dalamnya mengandung kemaslahatan bagi kaum muslimin.
Sampailah berita bahwa pasukan Mesir telah tiba di Syam. Hulaghu keluar bersama pasukan Tartar menuju Damaskus. Ketika itu, Damaskus sedang tidak dijaga oleh seorang pun tentara dan penjaga. Maka para penduduknya diserukan agar keluar membawa senjata, mereka bermalam di sejumlah benteng dan gerbang masuk untuk menjaga negeri. Lantas mereka pun keluar menuju benteng. Setiap malam, Ibnu Taimiyah berpatroli di berkeliling tembok benteng sambil memotivasi orang-orang agar bersabar dan berangkat berperang, serta membacakan ayat-ayat jihad dan ribath kepada mereka.
Ketika kehidupan kembali normal di Damaskus, Ibnu Taimiyah bersama para sahabatnya berpatroli ke berbagai kedai minum, mereka memecahkan bejana-bejana berisi khamar.
Kemudian Ibnu Taimiyyah keluar bersama Atsram –wakil gubernur Damaskus— menuju negeri Jubailah dan Kasarwan untuk memberi pelajaran kepada orang-orang Syiah Rafidhah dan Bathiniyah karena mereka membantu Tartar dan menyerbu kaum muslimin. Para pemimpin mereka keluar menemui Ibnu Taimiyyah. Mereka seolah-olah menampakkan ketaatan dan penyesalan, lalu mengembalikan semua yang pernah mereka ambil.
Kemudian Atsram kembali ke Damaskus. Dikeluarkanlah perintah agar orang-orang menggantungkan senjata mereka di toko-toko, memerintahkan mereka agar belajar memanah, dan dibangunlah berbagai kamp-kamp pelatihan militer di Damaskus. Para fuqaha juga disuruh untuk belajar memanah sebagai persiapan untuk mengantisipasi apapun situasi yang muncul.
Demikianlah, umat wajib melakukan persiapan di waktu lapang, sehingga apabila kondisi memburuk, dia bisa menyiapkan para putranya untuk melawan dan mencegah makar para musuh.
Pada 702 H, Tartar masuk ke negeri Syam. Manusia pun gempar. Mereka memanjatkan doa qunut dalam shalat. Kemudian terjadilah konfrontasi pertama. Pasukan Tartar datang dengan berkekuatan 7 ribu tentara. Lalu sekumpulan kesatria Syam berjumlah 1500 personil bangkit untuk merintangi musuh. Dan Allah pun menolong bala tentara-Nya.
Seiring mendekatnya pasukan Tartar, dua pasukan mundur, yaitu pasukan dari Hama dan Aleppo, menuju Homs. Karena takut disergap oleh Tartar, mereka pun singgah di Marj Ash-Shaffar. Pasukan Tartar sampai di Homs, lalu bergerak menuju Baalbak. Ketakutan orang-orang semakin hebat. Berbagai rumor dan isu miring menyebar. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berperan besar menenangkan manusia dan menjaga jiwa mereka.
Kemudian, mulailah segelintir orang menebarkan keraguan tentang legalitas syar’i untuk memerangi Tartar. Mereka seakan-akan benar-benar menampakkan Islam, sebagaimana dilakukan sebagian orang yang kalah sekarang dalan memerangi pasukan para thaghut.
Ibnu Hazm berkata dalam kitab Al-Muhalla, “Tidak ada dosa yang lebih besar setelah kekafiran daripada dosa orang yang melarang berjihad fi sabilillah dan memerintahkan untuk menyerahkan kehormatan kepada para musuh Allah.” Selesai perkataan beliau rahimahullah.
Ibnu Taimiyyah membimbing mereka dan merilis beberapa fatwanya yang masyhur mengenai kewajiban memerangi Tartar, serta membungkam semua syubhat (kerancuan) yang muncul seputar masalah ini. Dia berkata kepada orang-orang, “Jika kalian melihat diriku berada di pihak mereka, sedangkan di atas kepalaku ada mushaf Al-Qur'an, maka bunuhlah aku!” Orang-orang pun terlecut untuk berperang dan hati mereka menjadi kokoh.
Ketika pasukan Tartar mendekat, Ibnu Taimiyah menoleh kepada salah seorang pemimpin Syam seraya berkata, “Wahai Fulan, letakkan aku di posisi kematian.”
Sang amir berkata, “Lalu, aku pun memindahkannya ke posisi menghadap musuh yang bergerak mengalir bagaikan air bah. Senjata mereka melambai-lambai di bawah debu. Kemudian aku berkata, “Wahai tuanku, inilah posisi kematian.” Lihatlah musuh telah bergerak maju di bawah debu.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengarahkan pandangannya ke langit, lalu memejamkan matanya seraya menggerak-gerakkan kedua bibirnya cukup lama, sembari berdoa kepada Rabbnya. Kemudian dia merangsek menuju pasukan Tartar, perang semakin sengit dan berkobar. Para kesatria terus bertempur hebat, hingga pasukan Tartar kabur ke arah gunung. Malam mulai gelap, kaum muslimin mengepung gunung, hati pasukan Tartar dipenuhi ketakutan.
Wahai para mujahid...
Sungguh, agama ini tidak akan tegak kecuali oleh para lelaki bertekad baja, dan tidak mungkin tegak di atas pundak orang yang gemar beralasan dan hidup glamor. Mustahil agama ini tegak di atas pundak mereka.
Bagaimana Islam akan tegak dan kembali kepada kemuliaan terdahulunya tanpa ada tekad seperti tekadnya Abu Bakar Ash-Shiddiq pada hari ketika banyak manusia yang murtad. Ketika orangtua sepuh dan lembut lagi gemar menangis itu bersumpah dengan tekad terbesar yang dimilikinya, seraya berkata, “Demi Allah, aku benar-benar akan memerangi siapapun yang memisahkan antara kewajiban shalat dan zakat, karena zakat adalah hak Harta. Demi Allah, jika mereka menolak untuk membayarkan seutas tali kepadaku, yang mana mereka biasa membayarkannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, niscaya benar-benar akan aku perangi mereka atas penolakan tersebut.”
Semangat yang tinggi benar-benar akan menggelegak di dalam hati seperti air mendidih di dalam periuk. Ia akan mendorong pemiliknya untuk melakukan perkara-perkara besar baik pagi dan petang, hingga jadilah dia sebagaimana yang dikatakan Imam Asy-Syafi’i rahimahullah, “Rehat bagi seorang lelaki adalah kelalaian.”
Tengoklah sahabat Abdullah bin Jahsy yang melantunkan doa bersama Sa’ad bin Abi Waqqash menjelang Perang Uhud. Keduanya sepakat untuk saling berdoa dan diaminkan oleh yang lainnya.
Doa Abdullah bin Jahsy adalah:
“Ya Allah karuniakan kepadaku seorang pria yang perkasa lagi kuat, aku memeranginya di jalan-Mu dan dia juga memerangiku, kemudian dia membawaku dan memotong hidung dan telingaku, sehingga bila aku berjumpa dengan Engkau nanti maka Engkau bertanya, ‘Wahai Abdullah karena hal apa terpotong hidung dan telingamu?’ Maka aku berkata, ‘Karena-Mu dan karena Rasul-Mu.’ Maka Engkau berkata, ‘Kamu benar.’
Siapakah di antara kita yang memiliki tekad seperti ini? Siapa di antara kita yang bisa seperti Ahmad bin Hanbal, Ibnu Taimiyah, dan Al-’Izz bin Abdussalam? Mereka memikul panji jihad fi sabilillah dan berani melawan musuh-musuh Allah?
Para “ulama” telah meninggalkan medan perang, mereka meninggalkan kepemimpinan kafilah, dan berat untuk berkorban demi Allah. Mereka tidak berhenti sampai di situ, mereka bahkan meneriaki para mujahid dan menuduh mereka dengan semua kekurangan. Suara mereka hanya terdengar ketika mencela para mujahid. Semua dilakukan di bawah alasan “politik dan kecerdasan”.
Aku tidak tahu, kapan mereka akan meninggalkan “fiqih kekalahan” dan “paradigma pengecut”. Tidakkah kalian mendengar, bagaimana mereka mengingkari penyembelihan seorang warga Amerika Serikat bernama Berg? Mereka mengingkari karena sebelumnya telah menolak memerangi orang-orang kafir. Mereka juga belum pernah mencium aroma kemuliaan dan belum pernah mengangkat kepala atas dasar makna-makna keimanan yang menjadikan seorang mukmin superior di atas jahiliyah dan para pemeluknya:
“Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.” (Al-Munafiqun: 8)
Orang seperti mereka pasti merasa berat untuk membayangkan dirinya –sebagai hamba hina–menyembelih tuannya, AS. Ya, mereka menyusu kepada susu kehinaan dari payudara ibu mereka, lalu membekas di hati mereka. Maka, tidak mungkin mereka melakukan perubahan atau pergantian (sikap).
Inilah realita pahit yang tidak mereka perlihatkan, tetapi mereka membalutnya dengan ‘selendang fiqih’, dan menyajikannya sebagai hiasan dalam balutan ‘pakaian hikmah’. Mereka mengira dan berdusta bahwa hal ini adalah mencoreng citra Islam dalam pandangan orang-orang Barat yang memiliki perasaan lembut. Dunia sangat prihatin dengan kejahatan penjara Abu Ghuraib dan Guantanamo. Sedangkan aksi ini justru memberangus rasa prihatin dan respons masyarakat dunia.
Bahkan popularitas si anjing Romawi, Bush, berada di level terendah. Aksi ini terjadi dan justru mengangkat popularitasnya. Seolah negara-negara merdeka di dunia, menurut persepsi mereka, telah mengasah pedang dan menyiapkan batalion pasukan dan merelakan leher-leher terpenggal demi membebaskan Irak dan menyelamatkan orang-orang tak berdosa dan para wanita dari penjara penuh pemaksaan dan kezhaliman.
Yang benar-benar tragis dan mengejutkan, dengan campur tangan putra-putra kita, media kafir Salibis berhasil mempengaruhi pola pikir dalam membentuk pribadi muslim. Melalui serangan mengerikan dan saluran-saluran televisi Arab dan internasional, mereka berhasil mencuci otak kaum muslimin dan mempengaruhi pemikiran mereka, membalikkan fitrah, dan mengerdilkan tekad mereka.
Subhanallah, musuh Salibis pendengki datang dengan program mengerikan untuk menguasai umat Islam dan memberikan kekuasaan kepada Yahudi.
Syariat diperangi, kehormatan dirampas, harga diri dicabik-cabik, manusia ditimpa keterpurukan dan kehinaan. Sedang dari kejauhan, umatku hanya bisa memantau tanpa bisa berbuat apa-apa selain menampar pipi dan meratap. Tak mampu menghancurkan belenggu kehinaan yang telah mengekangnya sekian lama.
Telah tumbuh generasi yang menenggak kehinaan dan dibalut dengan pakaian memalukan. Maka, neraca telah terbalik dan berubah sangat drastis. Lenyaplah neraca petunjuk dan hidayah ‘langit’ sebagaimana yang dikabarkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
“Fitnah akan dipaparkan pada hati manusia bagai tikar yang dianyam (secara tegak dan mendatar/silang menyilang antara satu sama lain). Mana pun hati yang dihinggapi oleh fitnah, niscaya akan terlekat padanya bintik-bintik hitam. Begitu juga mana pun hati yang tidak dihinggapinya, maka akan terlekat padanya bintik-bintik putih sehingga hati tersebut terbagi dua: sebagian menjadi putih bagaikan batu licin yang tidak lagi terkena bahaya fitnah, selama langit dan bumi masih ada. Sedangkan sebagian yang lain menjadi hitam keabu-abuan sebagaimana bekas tembaga berkarat, yang ianya tidak menyuruh pada kebaikan dan tidak pula melarang akan kemungkaran kecuali diserap akan hawa nafsunya.”
Dan inilah Abu Bakar Ash-Shiddiq, orang yang lembut lagi belas asih, ayah dan ibuku sebagai tebusannya. Dia menggariskan sebuah jalan lurus dan teladan yang jelas untuk kita, ketika dia disurati terkait tawanan yang ingin ditebus kaumnya dengan harga segini dan segini. Lantas dia menegaskan, “Bunuh dia! Membunuh seorang musyrik benar-benar lebih aku cintai daripada ini dan itu.”
Sejumlah negosiator berupaya membebaskan laki-laki itu, dan siap membayar berapapun harga yang kami kehendaki –padahal kami sangat membutuhkan uang demi melanjutkan laju kereta jihad— tetapi kami lebih memilih untuk membalaskan dendam para saudari kami dan sakit hati umat kami.
Kami juga telah berjanji kepada Allah untuk menghidupkan urusan mulia ini dan mengikuti sunah orang-orang yang mendapatkan petunjuk. Bukankah Nabi kita shallallahu alaihi wasallam yang begitu lembut dan belas kasih telah bersabda, “Sungguh, aku mendatangi kalian dengan sembelih.” Maka, hati keras para tokoh Quraisy pun bergetar, mereka begitu takut dan segera meminta maaf kepada beliau, padahal sebelumnya mengolok-olok beliau.
Kami katakan, “Jika umat ini mau menghunuskan pedang, berdiri di atas telapak kakinya, pasukan perangnya dibariskan, dan bergerak menuju Washington untuk membalas dendam. Lalu datanglah peristiwa penyembelihan, angin topan bertiup kencang dan memporak-porandakan pasukan, niscaya mereka akan berpikir lain. Tetapi, di mana umat Islam ketika semua ini terjadi dan menimpa kaum muslimin di Irak, Palestina, Afghanistan, Indonesia, Chechnya, dan yang lain? Apakah umatku hanya mampu menangis, meratap, berdemo dengan aksi damai, mencela dan menghina?!
Apa yang telah dilakukan oleh pasukan pemerintah Afghanistan?! Dan apa yang telah dilakukan oleh umat terhadap para wanita Sarajevo, Indonesia, Kashmir, Palestina, dan Irak, di mana kehormatan mereka dirampas di depan mata dan telinga umat ini semuanya?!
Demi Allah, seandainya masih tersisa pada diri kita rasa cemburu dan yang semisalnya terhadap para saudari kita yang tidak berdosa, niscaya kita tidak akan tertidur nyenyak, dan kita tidak akan bisa bersenang-senang dengan istri di atas ranjang hingga para tawanan wanita itu dibebaskan.
Celakalah engkau, wahai umatku. Kehormatanmu berada di tangan para penyembah salib, mereka menyia-nyiakannya tanpa ada yang merespon.
Para tawanan telah menuntut kepada setiap orang yang kalah
Tidak ada tawanan yang tersisa selain tawanan wanita kita
Dan tidaklah kulihat cambuk kehinaan berlumuran darah
Melainkan kulihat padanya serpihan daging tawanan kami
Dan tidaklah kita mati seperti kijang
Melainkan rasa malu kita telah mati
Demi membangkitkan tekad dan menyenangkan para muwahhid di bumi belahan Timur dan Barat, maka kami bertekad tidak menerima tebusan untuk laki-laki ini, meskipun mereka membayar kami sejumlah emas.
Bahkan, kami telah berjanji kepada Allah untuk tidak menebus tawanan dengan harta, meskipun kami berpendapat itu boleh. Tetapi, kami melakukan itu agar musuh-musuh Allah tahu bahwa tidak ada belas kasihan maupun rasa sayang kepada mereka dalam hati kami.
Jadi, bebaskan tawanan. Atau kami sembelih
Bahkan yang lebih mengherankan lagi, sikap acuh beberapa orang kalah dari golongan para pengecut, mereka telah mematikan agama kami dan rela dengan kehinaan, terutama si Harits Adh-Dhari, sekretaris umum Asosiasi Ulama Muslim Irak. Dalam beberapa kesempatan khusus, dia menegaskan bahwa dirinya tidak bisa mengangkat kepala karena penyembelihan terhadap warga AS dan seorang misionaris asal Korea Selatan.
Maka aku katakan kepadanya:
“Sungguh, sebelumnya aku mengira bahwa engkau akan menggali kubur dan tidur di sana hingga kematian tiba, karena rasa malu akan kelemahanmu untuk menolong saudari-saudarimu; para muslimah yang diperkosa di penjara Abu Ghuraib, yang letaknya hanya beberapa meter dari rumahmu. Atau kamu bersumpah untuk mengenakan ikat kepala, tidak akan mencicipi makanan dan tidak akan tidur hingga kamu berhasil membebaskan saudarimu atau mati karena hal itu. Tetapi sayang, hal itu tidak pernah terjadi. Karena tujuan jihadmu hanya mengulurkan tali cinta kasih kepada orang-orang Syi’ah Rafidhah.
Tidakkah engkau mengingat momen-momen kehinaan dan aib yang akan menghinakanmu pada Hari Kiamat tatkala engkau bergabung di berbagai wawancara keji bersama Jawwad Al-Khalishi (politikus Syiah Irak). Engkau berbicara kepadanya, “Aku mendengar tentang kesabaran dan keberanianmu, maka aku berjanji kepada diriku seandainya aku bertemu denganmu maka aku akan mencium kepalamu. Sekarang saatnya menunaikan janji.” Lalu engkau segera mencium kepala yang dipenuhi kedengkian terhadap Islam, kepala dengan lisan yang tiada henti menghujat kehormatan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.
Maka katakanlah, demi Rabbmu, dengan wajah seperti apa kelak engkau bertemu Nabimu pada Hari Mahsyar. Sungguh engkau benar-benar mencelakakan umat Islam tatkala engkau menuduh simbol-simbol jihad sebagai pengkhianatan. Sedangkan engkau adalah barang titipan bagi Rafidhah, engkau berderma kepada mereka dengan masjid-masjid kami, dengan dalih bahwa semuanya hanyalah batu dan mungkin bisa dibangun lagi.
Kepada Allah-lah kami mengadukan diri kalian. Dan di hadapan-Nya kami akan menanyai kalian, cukuplah bagi kami Allah dan sebaik-baik pelindung.
Sungguh engkau pasti sangat keheranan menyaksikan kesabaran dan kebengisan musuh-musuh agama dalam memerangi kaum muslimin, dalam mengorbankan jiwa dan waktu mereka demi menolong kebathilan mereka. Allah ta'ala berfirman, “ Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata): “Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki.” (Shad: 6)
Mereka menempuh padang pasir dan gurun dengan kendaraan dan bala tentara mereka demi menyebarkan aqidah bathil mereka meski darah mereka tertumpah, dan meski nyawa mereka melayang demi kebatilannya
Ya. Majalah Inggris “Daily Telegraph” akhir-akhir ini merilis laporan bahwa Irak kini menjadi tempat ‘penggembalaan’ untuk kampanye Kristenisasi. Laporan itu menulis bahwa anggota perhimpunan-perhimpunan misionaris AS mulai melancarkan Kristenisasi di bawah slogan “Menyelamatkan Jiwa di Irak” di mana para pemimpin perhimpunan memastikan bahwa invasi AS ke Irak memberikan kesempatan bersejarah untuk memberi petunjuk bagi jiwa-jiwa bangsa Irak yang kebingungan, baik dari kaum muslimin ataupun kaum Kristen Timur Ortodoks.
Kepala “International Mission Board” (Dewan Misionaris Internasional) yang menjadi penanggungjawab Kristenisasi di Timur-Tengah John Brady berkata bahwa anggota-anggota Gereja Baptis jumlahnya mencapai 16 juta, dan gereja meminta mereka sebelum peperangan agar mengirim doa demi penaklukan Irak.
Setelah kunjungannya ke Irak, Jon Hannah –salah seorang evangelis— berkata, “Menjadi tanggung jawab besar bagi seluruh misionaris AS, semua pintu terbuka, metode-metode misionaris tersedia, dan bantuan militer pun ada demi menyelematkan warga Irak dari nilai-nilai yang bertentangan dengan Kristen dan orang-orang Kristen.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar