Tampilkan postingan dengan label Ulama Suu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulama Suu. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 April 2018

DIANTARA CIRI DAN TANDA ULAMA SUU

DIANTARA CIRI DAN TANDA ULAMA SUU

Dalam artikel terdahulu yang berjudul “Ulama Sesat Dilaknat dan Dimurkai” kami telah menjelaskan definisi ahli ilmu yang benar. Kami juga telah menjelaskan beberapa karakteristik penting sehingga mereka bisa dianggap sebagai pemuka Dien. Berdasarkan kaca mata Syariat sudah gamblang bahwa para ulama Durjana dan sesat sama sekali tidak termasuk golongan ulama betapapun banyaknya hafalan dan karyanya, dan betapapun populernya mereka. Mereka lebih menyerupai Yahudi yang mengetahui namun menyembunyikannya dan tidak mengamalkan justru menyeru kepada kesesetan. Lantaran banyaknya ulama Durjana dewasa ini yang berusaha menyesatkan hamba-hamba Allah maka sudah seharusnya dijelaskan sifat-sifat mereka sehingga manusia tidak ragu lagi.

Pertama: Menyembunyikan Kebenaran

Diantara maksud ilmu adalah untuk disebarkan dan diajarkan karena hidayah dan maslahat manusia bergantung padanya, sehingga menyembunyikan ilmu merupakan perbuatan yang diharamkan dan dosa besar yang paling berat. Oleh karena itu, Allah mengambil janji setiap orang yang diberi anugerah ilmu agar menjelaskannya dan tidak menyembunyikan apa yang dibutuhkan manusia.

Allah azza wa jalla berfirman, “Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi al-Kitab (yaitu), ‘Hendaklah kalian benar-benar menerangkannya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya.’ Lalu mereka melemparkannya ke belakang punggung mereka dan menjualnya dengan harga murah. Maka amat buruklah jual-beli yang mereka lakukan.” (QS. Ali Imran: 187).

Karena itulah ulama Durjana itu seorang pengkhianat Dien Allah. Dia mengkufuri nikmat ilmu, dan menyebabkan kesesataan manusia. Oleh karena itu, Allah melaknatnya dan menimpakan laknat manusia terhadapnya karena telah menipu makhluk dengan menyembunyikan kebenaran.

Allah azza wa jalla berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami menjelaskannya kepada manusia dalam al-Kitab, mereka itu dilaknat Allah dan dilaknat oleh orang-orang yang melaknat.” (QS. al-Baqarah: 159)

Perkara terbesar yang disembunyikan oleh para ulama Durjana adalah keterangan mengenai kondisi para thaghut dan hukum Allah terhadap mereka. Allah telah memerintahkan kita untuk menjauhi dan mengkufuri thaghut. Dia jadikan hal ini sebagai pokok tauhid dan iman. Namun tatkala manusia melihat ulama terkemukanya menjilat para penguasa thaghut, mendiamkan kesyirikan dan kerusakannya, bahkan membolehkan syirik dengan dalih maslahat, jadilah banyak dari mereka beriman kepada thaghut, bersikap loyal, mengadopsi agamanya, bahkan menjadi bala tentaranya.

Penyebab semua fenomena ini adalah karena para ulama Durjana menyembunyikan kebenaran dan mencampurnya dengan kebathilan. Bagi yang mengamati Jazirah Arab misalnya, akan mendapati bahwa Alu Salul tidaklah berani menampakkan kekufuran dan kerusakanya, sehingga sebagian orang ikut-ikutan murtad, kecuali disebabkan oleh Hai’ah Kibarul Ulama’ (Lembaga Ulama Senior) seperti Ibnu Baz, Ibnu ‘Utsaimin, Shalih al-Fauzan, Alu asy-Syaikh (keluarga asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab) kontemporer, dan semisal mereka; lantaran mereka menyembunyikan kebenaran dan tidak menjelaskan hakikat Alu Salul kepada masyarakat, bahkan menambah rancu dengan menyebut Alu Salul adalah ulil amri dan mengklaim bahwa mereka adalah para pemimpin syar’i! Mereka menyembunyikan hukum mengenai keputusan-keputusan legislatif thaghut, hukum mengenai pendirian pangkalan-pangkalan militer Salibis, dan hukum menghalalkan riba. Sehingga banyak orang tertipu, tersesat, dan bahkan murtad. Mereka akan mendapatkan bagian dari dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa berkurang sedikitpun dosa itu.

Kondisi yang sama terjadi di Mesir. Masyayikh al-Azhar dan klaimer salafi lah yang menyebabkan manusia tersesat dan mengikuti Husni Mubarak lalu kemudian as-Sisi. Demikian juga yang menyebabkan orang-orang ikut serta dalam syirik parlemen dan pemilu adalah para thaghut Ikhwanul Murtaddin dan Partai azh-Zhalam (Partai an-Nur, edt). Gambaran seperti ini akan kita temukan di negeri-negeri lainnya.

Kedua: Mengganti dan Menyelewengkan Syariat

Ciri ulama Durjana lainnya adalah mengganti dan menyelewengkan syariat – jika mereka tidak bisa menyembunyikannya – melalui takwil-takwil rusak terhadap nash-nash syar’i sehingga mengubah maknanya yang benar, sebagaimana firman Allah azza wa jalla tentang orang-orang Yahudi, “Mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya.” (QS. an-Nisa: 46).

Kemudian penyelewengan dan takwil yang bathil itu disandarkan kepada Allah ta'ala. Mereka mengubah makna nash yang sebenarnya dan mengelabuhi manusia bahwa inilah maksud dari Kitab Allah. Dengan begitu mereka menampik makna yang benar dan menetapkan makna yang bathil. Pendahulu mereka dalam hal itu adalah orang-orang Yahudi yang selalu menyandarkan tindakan mempermainkan nash-nash itu kepada Allah azza wa jalla.

Sebagaimana firman Allah ta'ala, “Sesungguhnya di antara mereka benar-benar ada segolongan yang memutar lidah mereka dalam membaca al-Kitab, agar kalian menyangka itu sebagian dari al-Kitab, padahal itu bukan dari al-Kitab. Mereka berkata, ‘Itu dari Allah,’ padahal itu bukan dari Allah. Mereka mengatakan kedustaan atas nama Allah, padahal mereka mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran: 78).

Nash-nash syar’i yang memerintahkan jihad misalnya. Para ulama Durjana berusaha menyelewengkan maknanya yang berarti perang menjadi makna-makna lain, agar orang-orang tidak memerangi orang-orang kafir dan murtad. Lebih jauh lagi, mereka mengarang makna-makna jihad lain yang Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentangnya, bahkan makna-makna tersebut bertentangan dengan hakikat jihad. Misalnya klaim mereka bahwa jihad adalah bergabung dengan pasukan thaghut, atau ikut serta dalam proyek demokrasi syirik untuk menyaingi kaum sekuler menandingi Allah menciptakan undang-undang, dan perbuatan murtad lain yang dikait-kaitkan oleh orang-orang terlaknat itu dengan jihad.

Begitu pula nash-nash syar’i yang memerintahkan untuk berterus terang dengan kebenaran. Para ulama Durjana sengaja meniadakan dan tidak mengamalkannya, seraya mengklaim bahwa itu adalah perintah Allah sesuai firman-Nya azza wa jalla, “Dan janganlah kalian melemparkan diri kalian ke dalam kebinasaan.” (QS. al-Baqarah: 195).

Padahal, yang dimaksud dengan kebinasaan di sini adalah meninggalkan jihad. Sebagaimana yang dijelaskan oleh sahabat Abu Ayub al-Anshari radhiyallahu anhu ketika dia berkata, “Yang dimaksud melemparkan diri kita ke dalam kebinasaan ialah bahwa kita sibuk memperbaiki kondisi perekonomian kita dan meninggalkan jihad.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud)

Maka alangkah buruknya para ulama Durjana dan alangkah buruknya pembodohan yang mereka lakukan!

Ketiga: Menghalangi dari Jalan Allah

Sesungguhnya ulama Durjana, dengan jalan kesesatan dan kerusakan yang ditempuhnya, berhasrat kuat untuk menyeret manusia menempuh jalannya dan menghalangi mereka dari jalan kebenaran. Sebab dia khawatir tingkah lakunya akan membongkar kedustaannya jika dia memperlihatkan ayat- ayat syariat tanpa menutupi dan mengaburkannya. Dia pun sengaja melakukan perubahan dan memelintir nash-nash agar sesuai dengan kondisi dan hawa nafsunya. Oleh karena itu, engkau dapati mereka menghalangi para pemuda untuk berjihad disebabkan condong kepada dunia dan terkena fitnah qu’ud (meninggalkan jihad). Dikarenakan takut berterus terang dengan kebenaran jadilah mereka campuradukkan kebenaran dengan kebathilan, menjadikannya sebagai landasan dakwah, dan memperlihatkannya seolah-olah suatu kebijaksanaan dan kecerdasan.

Dia tidak memperlihatkan kebenaran, tidak pula sekedar menyembunyikannya, tapi justru mencampuradukkan, mengaburkan, menyamarkan, dan menutupi cacatnya. Mereka berbicara atas nama Allah tanpa ilmu untuk menghalangi dari jalan Allah, seperti yang dilakukan oleh para rahib dan pendeta dalam firman-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya banyak dari para rabi (Yahudi) dan para rahib (Nasrani) itu benar-benar memakan harta manusia dengan bathil dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalan Allah, maka beritakanlah kepada mereka akan azab yang pedih.” (Qs. at-Taubah: 34)

Keempat: Sangat Rakus Kepada Dunia

Tidak ada yang mendorong para ulama suu untuk menyembunyikan dan mengaburkan kebenaran selain kecintaan dan kerakusan kepada dunia. Tidak ada seorang pun yang mengharuskan atau memaksa mereka untuk berbuat nifak, berdusta atas nama Allah, dan kufur. Namun keinginan mereka untuk mendapatkan pekerjaan dan gaji dari para thaghut itulah faktor utama yang menyebabkan mereka melakukan hal tersebut. Motivasi sebagian dari mereka adalah hasrat untuk mendapatkan kedudukan dan kedekatan dengan para penguasa thaghut. Sebagian yang lain tergiur lantaran muncul di layar-layar (televisi) dan mendapatkan banyak pemberian. Maka berat bagi mereka jika harus kehilangan ketenaran dan sorotan kamera karena (mengatakan) kalimat haq. Mereka pun lebih memilih untuk menyembunyikan apa yang diturunkan oleh Allah —yang tidak ingin ditampakkan kepada manusia oleh para thaghut— dan menjualnya dengan harga murah.

Allah azza wa jalla telah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu al-Kitab, dan menjualnya dengan harga murah, mereka itu tidaklah memakan dalam perut mereka kecuali api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan menyucikan mereka, dan mereka akan mendapat azab yang pedih.” (QS. al-Baqarah: 174), dan firman-Nya, “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya,” lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima.” (QS. Ali Imran: 187)

Ibnul Qayim berkata: “Setiap orang diantara para ahli ilmu yang lebih mengutamakan dunia dan mencintainya, maka pasti dia akan mengatakan selain kebenaran atas nama Allah.” (al-Fawaaid)

Kelima: Terpengaruh dengan gembosan dan ancaman serta melenceng dari kebenaran lantaran hal tersebut

Ini juga merupakan salah satu sifat para ulama Durjana; berpaling dari kebenaran setelah meyakininya, dan menampakkan kebathilan karena tunduk dan patuh kepada hawa nafsu para thaghut, agar dunia mereka selamat. Alangkah besarnya kejahatan ini! Alangkah kejamnya pengkhianatan ini!

Sebagaimana dalam kisah Bal’am bin Ba’uro`. Dia berasal dari kota Jabarin. Seandainya semua ulama suu pada zaman kita berkumpul, niscaya ilmu mereka tidak akan sampai sepersepuluh dari ilmu Bal’am. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu anhu berkata, “Dia mengetahui nama Allah yang paling besar” (Tafsir Ibni Abi Hatim) Ini menunjukkan tingginya kedudukan keilmuannya. Sebagian salaf berkata, “Dia adalah orang yang doanya mustajab, dan selalu yang terdepan dalam menyelesaikan keadaan-keadaan genting, dan dia merupakan Ulama bani Israil.” Meskipun demikian, ketika dia menyimpang dari manhaj dan melenceng dari kebenaran yang terang, dia diserupakan dengan anjing!

Yang demikian itu ketika singgah di kota Jabarin, Bal’am didatangi oleh sepupu-sepupunya dan kaumnya. Mereka berkata, “Sesungguhnya Musa adalah orang baru dan dia memiliki tentara yang banyak. Jika dia berhasil mengalahkan kita maka kita akan binasa. Berdoalah kepada Allah agar mengusir Musa dan para pengikutnya dari kita.” Bal’am berkata, “Sesungguhnya jika aku berdoa kepada Allah agar mengusir Musa dan para pengikutnya, maka dunia dan akhiratku akan hilang.” Mereka pun terus merayunya, sampai akhirnya dia mendoakan keburukan atas Musa dan para pengikutnya. Maka Allah melepas apa yang sebelumnya ada padanya. (Diriwayatkan oleh Ibni Abi Hatim dari Ibnu Abbas)

Allah azza wa jalla berfirman, “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaithon, maka jadilah dia termasuk orang-orang yang Durjana. Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami tinggikan (derajat)nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia menempel ke tanah (cenderung kepada dunia) dan mengikuti hawa nafsunya. Maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya ia menjulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya ia menjulurkan lidahnya (juga).” (QS. al-A’raf: 175-176)

Malik bin Dinar berkata, “Musa alaihis salam mengutusnya menemui raja Madyan untuk menyerunya kepada Allah. Namun sang raja terus menerus menggelontorkan pemberian sampai Bal’am mengikuti agamanya dan meninggalkan agama Musa, maka turunlah ayat ini.” (Tafsir Ibnu Abi Hatim).

Bal’am “Cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa nafsunya”, condong kepada dunia dan kenikmatan-kenikmatannya, berpaling dari ayat-ayat Allah, sampai dikuasai hawa nafsunya bak anjing yang terus-menerus menjulurkan lidah.

Diriwayatkan dari Mujahid rahimahullah, dia berkata, “Ini adalah perumpamaan orang yang membaca al-Kitab dan tidak mengamalkan isinya.” (Tafsir ath-Thabariy). al-Qurthubiy berkata, “Perumpamaan ini, menurut pendapat banyak dari ahli ilmu tafsir, mencakup setiap orang yang diberi ilmu al-Qur’an lalu tidak mengamalkannya.” (Tafsir al-Qurthubiy). Alangkah banyaknya mereka di zaman kita.

Penutup

Inilah beberapa sifat ulama suu yang dijelaskan oleh Allah azza wa jalla untuk membongkar kedok mereka dan mewanti-wanti hamba-hamba-Nya agar menjauhi, tidak mendengarkan maupun mengambil ilmu dari mereka. Kita menemukan bahwa Allah azza wa jalla menyebutkan sifat mereka namun tidak menyebut mereka ulama. Meskipun mereka mengetahui hukum-hukum Allah, tetapi ketika mereka kehilangan rasa takut kepada Allah dan tidak mengamalkan apa yang mereka ketahui, ilmu mereka tidak bermanfaat, bahkan menjadi penyebab mereka dilaknat di dunia dan akhirat, disifati dengan sifat-sifat yang paling buruk, dan dijebloskan ke dalam neraka Jahannam.

Bahkan Allah menjadikan sikap menaati dan mengikuti para rabi dan para rahib —mereka adalah salaf (pendahulu) para ulama Durjana yang menyimpang dari agama Allah— dalam kekafiran, sebagai syirik akbar yang mengeluarkan dari agama, sebagaimana firman Allah ta'ala, “Mereka menjadikan para rabi (Yahudi) dan para rahib (Nasrani) sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan (juga) al-Masih putra Maryam, padahal mereka tidak diperintah kecuali untuk menyembah Tuhan Yang Esa, tidak ada tuhan selain Dia. Maha Suci Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. at-Taubah: 31).

Tidak ada seorangpun yang diperbolehkan kafir dengan alasan taklid kepada ulama thaghut. Wajib bagi setiap orang untuk bersungguh-sungguh mencari kebenaran dan mengamalkannya. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.

An-Naba Edisi 48

HUBUNGAN ANTARA THAGHUT DAN ULAMA QO’IDUN

HUBUNGAN ANTARA THAGHUT DAN ULAMA QO’IDUN

Ilmu, keutamaan, kemuliaannya dan keutamaan para ulama adalah diperuntukkan pada ulama ‘amilin mujahidin lantaran jihad lisan dan pedang mereka. Adapun ulama yang tidak mengamalkan ilmunya maka ia tidak mendapat keutamaan itu. Lalu bagaimana halnya dengan ‘alim qo’id yang membela dan menyokong para thaghut yang telah memerangi tauhid dan Daulah Islam?

Tidak diragukan lagi akan kesesatan dan kemurtadannya. Tidak usah terperdaya dengan banyaknya wawasan dan hafalannya. Karena pangkal ilmu, buahnya dan porosnya adalah rasa takut kepada Allah dan mengamalkan apa yang diilmuinya. Firman Allah Ta’ala: “Hanyasanya hamba-hamba-Nya yang takut kepada-Nya adalah para ulama”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Ini menunjukkan bahwa setiap orang yang takut kepada Allah maka ia adalah seorang ‘alim. Sebaliknya tidak menunjukkan bahwa setiap ‘alim itu pasti takut kepada-Nya”.

Para ulama suu’ yang bermajelis bersama para thaghut, melayani mereka, berfatwa sesuai keinginan dan hawa nafsu mereka demi mendapat secuil dunia dari mereka, hubungan mereka dengan para thaghut itu adalah hubungan produktif yang harganya adalah dienullah. Perkara ini telah dijelaskan oleh Amirul Mukminin dan Khalifah kaum muslimin Abu Bakar Al Baghdadi -semoga Allah memenangkannya- dalam pidatonya yang berjudul Walau Karihal Kafirun (Walaupun orang-orang kafir membencinya): “Titik lemah salibis dan sekutunya terletak pada kebutuhan mereka akan para penyihir jahat dari kalangan ulama thaghut. Tugas mereka adalah menyihir mata manusia dan menipu kaum muslimin awam dengan daya sihir fatwa mereka agar menghalangi kaum muslimin dari menyokong dan berkumpul di sekeliling mujahidin dan khilafah”.

Diantara mereka ada orang-orang yang menunjukkan dirinya berada di pihak jihad dan mujahidin, padahal siapapun yang memperhatikan kondisi mereka akan mengetahui bahwa mereka hanyalah antek-antek thaghut dalam memerangi khilafah. Sebagian dari mereka ada yang dibebaskan oleh thaghut hanya untuk menjadi narasumber sebuah channel thaghut untuk menyerang khilafah. Yang lain menggantikan intelijen kafir Barat untuk menyerang khilafah. Yang lainnya lagi malah bersumpah menghormati thaghut kafir Barat untuk mendapatkan kewarga-negaraannya lalu menyerang khilafah. Ini tidak lain hanyalah makar para penyihir itu. Maka janganlah engkau lengah wahai akhi muslim.

Itulah hubungan antara para thaghut itu dengan orang-orang yang duduk-duduk dari berjihad dan malah menyerang khilafah. Bahkan salah satu mereka sering menjadi narasumber dalam acara-acara tertentu hanya untuk mencaci mujahidin terbaik dan menyerang Daulah Islam (yang dibangun diatas batu bata tauhid dan puing-puing kesyirikan), serta menipu kaum muslimin awam. Betapa sedikitnya ulama haq, yang jujur dan berjihad.

Sebaliknya betapa banyaknya -semoga Allah tidak membanyakannya- ulama suu. Ulama akhirat itu asing dibanding ulama dunia seperti kata-kata Ibnu Rajab rahimahullah yang menerangkan macam-macam keterasingan: “Diantaranya adalah asingnya ulama akhirat diantara ulama dunia yang rasa takut dan belas kasihan telah dicabut dari hati mereka”.

Akhi muslim, tentu anda sudah mengetahui bahwa setiap yang berilmu pasti akan tergelincir dan binasa jika memperturutkan dunia. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Setiap ahli ilmu yang memperturutkan dan menyukai dunia maka pasti akan berkata atas nama Allah tanpa ilmu dalam fatwanya, keputusannya, pengajarannya dan pemaksaannya. Hal itu lantaran hukum-hukum Rabb Yang Maha Suci mayoritasnya menyelisihi keinginan manusia. Terutama para pemegang tampuk kepemimpinan dan orang-orang yang memperturutkan hawa nafsu yang mana kebanyakan kehendak mereka tidak akan terpuaskan kecuali dengan menyelisihi dan menyingkirkan kebenaran. Maka jika seorang alim dan pemimpin itu menyukai kursi kepemimpinan dan memperturutkan hawa nafsu pasti ia akan menyingkirkan kebenaran yang menghalanginya”.

Akhi muslim, yang demikian itu menjelaskan kepadamu mengapa mereka menjual Dien mereka dan berfatwa untuk memerangi khilafah dan mendukung shahawat. Yaitu lantaran keinginan para pemegang tampuk kekuasaan itu berlawanan dengan khilafah yang menghendaki tegaknya Dien. Khilafah menghendaki jihad sedangkan mereka menghendaki syahwat. Disinilah peranan ulama suu dan orang-orang yang duduk-duduk dari berjihad. Fatwa-fatwa bermunculan, program-program diciptakan, artikel-artikel ditulis, semuanya untuk memerangi khilafah.

Akhi muslim, banyak dari ulama suu’ yang duduk-duduk dari berjihad, yang memerangi Daulah Khilafah -semoga Allah memenangkannya- mengetahui bahwa Daulah itu benar dan bahwa Daulah adalah benar Daulah Islam. Namun mereka tidak ingin susah, lelah, dimusuhi thaghut dan alasan lain. Hal ini ada disetiap zaman ketika orang-orang yang jujur terhadap Diennya berdiri menyeru kepada kebenaran dan jihad. Betul akhi muslim, ketika Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah menyeru kepada tauhid dan memerangi syirik, orang-orang yang disebut ulama itu mendukungnya. Namun ketika beliau rahimahullah mulai berjihad, berperang dan mengkafirkan thaghut mereka memungkirinya karena beratnya hal itu atas mereka dan dunia mereka. Beliau berkata: “Yang mengaku dirinya ulama di setiap negerinya membenarkan dakwahku kepada tauhid dan menyingkirkan syirik, namun mereka menolak takfir dan perang yang kulakukan”.

Dan inilah yang kita lihat sekarang. Berapa banyak orang yang berilmu yang duduk-duduk dari berjihad, mereka menjelaskan hukum-hukum jihad, jizyah, memerangi murtad dan memberi kabar gembira akan kembalinya khilafah. Namun ketika khilafah benar-benar telah kembali sembari mengumandangkan tauhid, menghancurkan syirik, memerangi orang kafir dan murtad, dan menghapus tapal batas ciptaan thaghut, mereka menolaknya mentah-mentah lantaran ingin nyaman, santai, hidup dikelilingi istana, nama baik, jabatan, dan harta. Inilah penyakit terbesar yang menjadikan mayoritas mereka memerangi
Daulah Khilafah.

Akhi muslim, engkau tidak perlu heran dengan hal itu. Karena memang ada orang yang berilmu namun lebih memilih kufur daripada iman, lebih memilih thaghut daripada syariat hanya karena dunia -na’udzubillah- sekalipun ia tahu hal itu akan menyeretnya kepada kebinasaan di akhirat. Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab berkata: “Diantara orang yang berilmu itu ada yang memilih kufur daripada iman sekalipun tahu tidak akan mendapatkan apapun di akhirat lantaran pilihannya itu”.

Akhi muwahhid, ketahuilah bahwa jika seorang alim itu meninggalkan apa yang diketahuinya dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam untuk mengikuti hukum penguasa yang menyelisihi hukum Allah dan Rasul-Nya maka ia murtad kafir. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah
berkata: “Ketika seorang alim itu meninggalkan apa yang diketahuinya dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya untuk mengikuti hokum penguasa yang menyelisihi hukum Allah dan Rasul-Nya maka ia murtad kafir yang berhak mendapatkan hukuman di dunia dan di akhirat”.

Terakhir akhi muslim di Daulah Islam, hendaknya engkau memuji Allah atas nikmat yang agung ini yaitu engkau hidup di Daulah Islam yang berhukum dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam serta menghancurkan syirik dan menebarkan tauhid. Ini betul-betul nikmat yang agung. Kita memohon kepada Allah agar kita mampu mensyukurinya dan berkenan memilih kita mendapatkan ridho-Nya.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.

An-Naba Edisi 12

Rabu, 25 April 2018

HANYASANYA YANG TAKUT PADA ALLAH ADALAH ULAMA

RUMIYAH 7 - ARTIKEL

HANYASANYA YANG TAKUT PADA ALLAH ADALAH ULAMA

Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim ibnu Taimiyah rahimahullah berkata tentang firman Allah ta'ala ‘Diantara hamba-hamba Allah yang takut kepadanya hanyalah para ulama (QS. Fathir: 28) maknanya tiada yang takut kepada-Nya kecuali seorang alim. Allah mengabarkan bahwa semua orang yang takut kepada Allah maka dia seorang alim sebagaimana firman-Nya dalam ayat yang lain “Apakah (kamu orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, karena takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabbnya? Katakanlah: “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.” (QS. az-Zumar: 9), khasy-yah (takut) sampai kapanpun mengandung raja’ (pengharapan). Seandainya khasy-yah tidak diiringi dengan raja’ maka itu berarti keputusasaan. Sebagaimana raja’ harus diiringi dengan khauf, jika tidak maka itu berarti rasa aman. Maka mereka yang memiliki rasa khauf dan raja’ kepada Allah adalah ahli ilmu yang dipuji Allah.

Diriwayatkan dari Abi Hayan at-Taimi bahwasanya dia berkata, “Ulama itu ada tiga, orang yang alim kepada Allah namun tidak alim kepada perintah Allah, alim kepada perintah Allah namun bukan alim kepada Allah, dan alim kepada Allah juga alim kepada perintah Allah. Orang yang alim kepada Allah adalah orang yang takut kepada-Nya, sedangkan orang yang alim kepada perintah-Nya adalah yang mengerti perintah dan larangan-Nya. Disebutkan dalam ash-Shahih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda, “Demi Allah sesungguhnya aku sangat berharap menjadi orang yang paling takut (khasy-yah) diantara kalian kepada Allah, dan orang yang paling mengerti diantara kalian terhadap batasan-batasan (hudud)Nya.”

Ahlul khasy-yah adalah para ulama yang terpuji di dalam Kitab maupun Sunnah, yang tidak berhak dicela, itu tidak lain karena mereka selalu mengerjakan perintah-perintah Allah sebagaimana ditunjukkan dalam firman-Nya, “Maka Rabb mewahyukan kepada mereka, “Kami pasti akan membinasakan orang yang zhalim itu. Dan kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu setelah mereka. Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (menghadap) ke hadirat-Ku dan takut akan ancaman-Ku.” (QS. Ibrahim: 13-14) dan juga firman-Nya: “Dan barangsiapa yang takut akan menghadap Rabbnya baginya dua surga.” (QS. ar-Rahman: 46).

Allah menjanjikan pertolongan di dunia dan pahala akhirat bagi ahlul khauf, tidak lain karena mereka selalu menunaikan kewajibannya. Hal ini menunjukkan bahwa rasa takut mengharuskannya menunaikan perintah Allah. Karena itulah dikatakan kepada orang fajir bahwa dia tidak takut kepada Allah. Makna ini ditunjukkan dalam firman Allah, “Sesungguhnya bertaubat kepada Allah itu hanya (pantas) bagi mereka yang melakukan kejahatan karena tidak mengerti, kemudian segera bertaubat.” (QS. an-Nisa: 17).

Barangsiapa Mengetahui Allah Pasti Mentaati-Nya

Abul Aliyah berkata, “Aku bertanya kepada para sahabat Muhammad tentang ayat ini, maka mereka menjawab, ‘Siapa saja yang bermaksiat kepada Allah maka dia adalah orang yang jahil, dan setiap orang yang bertaubat sebelum mati maka dia telah bersegera bertaubat’.” Demikian juga yang dikatakan oleh semua ahli tafsir. Mujahid berkata, “Setiap orang yang bermaksiat maka dia adalah jahil ketika bermaksiat.” al-Hasan, Qatadah, Atha’ dan as-Suddi serta lainnya berkata, “Mereka dinamakan juhhal (orang-orang bodoh) lantaran maksiatnya, bukan karena mereka tidak mumayiz (tidak dapat membedakan baik dan buruk .penj).” az-Zujjaj berkata, “Makna ayat itu bukanlah bahwa mereka tidak mengerti jika itu adalah buruk. Karena sesungguhnya seorang muslim jika melakukan perbuatan yang tidak diketahuinya (hukumnya) maka dia sama seperti orang yang tidak melakukan keburukan (tidak berdosa .penj), hanya saja mengandung dua kemungkinan:

Pertama: mereka melakukannya sedangkan tidak mengetahui kemakruhan di dalamnya.

Kedua: mereka mengetahui pasti bahwa balasannya akan buruk, akan tetapi mereka lebih memilih dunia daripada akhirat, sehingga mereka disebut sebagai orang-orang bodoh karena mereka lebih memilih yang sedikit dibanding nikmat yang banyak dan selamanya.” Az-Zujjaj memaknai bodoh di situ yaitu ketidaktahuan dengan akibat perbuatannya dan keinginan yang rusak. Bisa juga dikatakan bahwa keduanya saling berkaitan. Rincian penjelasan mengenai hal ini disebutkan dalam pembahasan mengenai Jahmiyah.

Yang dimaksud disini adalah bahwa setiap pelaku kemaksiatan adalah orang jahil, dan setiap orang yang takut kepada Allah adalah orang alim lagi taat kepada Allah. Dia menjadi jahil dikarenakan kurangnya rasa takutnya kepada Allah, karena jika rasa takutnya kepada Allah itu sempurna maka dia tidak akan bermaksiat.

Ibnu Masud radhiyallahu anhu berkata, “Cukuplah takut (khasy-yah) kepada Allah itu sebagai ilmu, dan cukuplah hanya berangan-angan kepada Allah itu sebagai kebodohan.”

Mengetahui sesuatu yang menakutkan akan membuat orang itu menjauhinya, dan mengetahui sesuatu yang disukai akan membuat orang mencarinya. Jika ia tidak menjauhinya juga tidak mencarinya maka itu berarti dia tidak mengetahui dengan sebenar-benarnya. Mungkin saja dia mengetahuinya dari cerita yang didengarnya, namun gambaran yang didapatnya dari cerita yang didengarnya itu tidaklah sama dengan gambaran sesungguhnya. Demikian juga jika yang diceritakan itu ternyata tidak disukai maupun dibencinya. Manusia itu memang bisa membenarkan apa yang ditakuti dan dicintai oleh selain dirinya, namun hal itu tidak mempengaruhinya. Demikian juga jika ia diceritakan mengenai sesuatu yang disukai dan dibencinya, ia tidak mendustakan si pencerita, namun hatinya sibuk dengan perkara-perkara lain sehingga tidak mengacuhkannya, maka dia tidak akan bereaksi sedikitpun.

Siapa Yang Tidak Mengamalkan Ilmunya Maka Dia Bodoh

Ada sebuah kata-kata yang terkenal dari Hasan al-Bashri dan diriwayatkan secara mursal dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, “Ilmu ada dua, ilmu di hati dan ilmu di lisan. Ilmu hati adalah ilmu yang bermanfaat, sedangkan ilmu (sekedar di) lisan adalah hujjah Allah atas hamba-hamba-Nya.”

Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan dalam Shahihnya dari Abu Musa, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwasannya beliau bersabda, “Perumpamaan seorang mukmin yang membaca al-Qur’an itu seperti buah limau, rasanya manis dan baunya harum. Perumpamaan seorang mukmin yang tidak membaca al-Qur’an adalah seperti buah kurma, rasanya manis namun tidak memiliki aroma. Sedangkan perumpamaan seorang munafik yang membaca al-Qur’an dan menghafalnya adalah seperti raihanah (tanaman wangi) aromanya harum namun rasanya pahit. Perumpamaan seorang munafik yang tidak membaca al-Qur’an adalah seperti hanzhalah rasanya pahit dan tidak ada aromanya.”

Si munafiq yang membaca al-Qur’an, menghafalnya, dan memahami makna-maknanya, bisa jadi dia percaya bahwa al-Qur’an adalah kalam Allah dan bahwasanya Rasul adalah haq, akan tetapi dia tidak menjadi mukmin. Seperti Yahudi yang mengenal beliau seperti mengenal anak-anaknya sendiri, akan tetapi mereka bukanlah orang-orang yang beriman. Demikian halnya Iblis, Fir’aun dan lainnya. Yang kondisinya seperti itu maka dia tidaklah mendapatkan ilmu maupun makrifat yang sempurna. Karena ilmu dan makrifat itu harus diamalkan konsekuensinya. Sehingga orang yang tidak mengamalkan ilmunya itu disebut sebagai orang bodoh sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

Demikian juga kata ‘akal’. Asalnya ia adalah mashdar dari kata (‘aqola-ya’qilu). Banyak para peneliti menggolongkannya sebagai salah satu jenis ilmu sehingga harus dianggap sebagai ilmu yang wajib diamalkan. Maka tidak dinamakan orang berakal kecuali orang yang mengerti kebaikan dan mencarinya, serta mengetahui keburukan dan menjauhinya. Karena itulah para penghuni neraka berkata, “Sekiranya dahulu kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) tentulah kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. al-Mulk: 10).

Allah berfirman tentang orang-orang munafik “Kamu kira mereka itu bersatu padahal hati mereka terpecah belah. Yang demikian itu karena mereka orang-orang yang tidak berakal (mengerti).” (QS. al-Hasyr: 14).

Siapa yang melakukan sesuatu yang diketahui akan membahayakannya, maka ia tidaklah memiliki akal. Takut kepada Allah berarti harus mengenal-Nya. Mengenal-Nya berarti harus memiliki rasa takut kepada-Nya, dan takut kepada-Nya berarti taat terhadap-Nya. Maka orang yang takut kepada Allah adalah orang yang melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, dan inilah yang kami maksud dalam penjelasan di awal.

Orang Yang Takut Kepada Allah Akan Mendapat Pelajaran

Hal itu ditunjukkan dalam firman Allah, “Oleh sebab itu berikanlah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat, orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran, dan orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya, (yaitu) orang-orang yang akan memasuki api yang besar (neraka).” (QS. al-A’ala: 9-12).

Allah mengabarkan bahwa orang yang takut kepada-Nya akan mendapat pelajaran, palajaran disini mengharuskan beribadah kepada-Nya, Allah ta'ala berfirman, “Dialah yang memperlihakan tanda-tanda (kukuasaan)-Nya keapdamu dan menurunkan rezeki dari langit untukmu. Dan tidak lain yang mendapat pelajaran hanyalah orang-orang yang kembali kepada (Allah).” (QS. Ghafir: 13), dan kalam-Nya, “Untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi setiap hamba yang kembali (tunduk kepada Allah).” (QS. Qaf: 8).

Karena itu para mufassir berkata tentang kalam Allah, “orang yang takut kepada Allah akan mendapat pelajaran” yaitu bahwa orang yang takut kepada Allahlah yang akan mendapat pelajaran dari al-Qur’an, dan dalam menafsirkan firman-Nya “yang mendapat pelajaran hanyalah orang yang kembali kepada (Allah)” yaitu bahwa orang yang kembali kepada ketaatanlah yang akan mendapat pelajaran. Dikarenakan bahwa ketika betul-betul mengingat kembali sesuatu maka hal itu akan mempengaruhinya, jika ia mengingat sesuatu yang dicintai maka akan dicarinya, dan jika mengingat sesuatu yang ditakuti maka akan dijauhinya, kalam-Nya, “Sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman.” (QS. al-Baqarah: 6). Allah ta'ala berfirman: “Sesungguhnya engkau hanya memberi peringatan kepada orang orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Rabb yang Maha pengasih, walaupun mereka tidak melihat-Nya.” (QS. Yasin: 11)

Dalam firman-Nya, “Sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman” Dia menafikan peringatan dari mereka. Di satu sisi Allah menetapkan peringatan pada mereka dan menafikannya di sisi lain. Indzar (peringatan) itu adalah i’lam (pemberitahuan) terhadap sesuatu yang ditakuti, maka indzar itu adalah seperti mengajari sekaligus menakut-nakuti. Jika orang yang engkau ajari itu belajar maka selesai sudah pengajarannya, namun ada juga yang engkau ajari tetapi tidak mau belajar. Demikian pula orang yang engkau takut-takuti kemudian ia ketakutan, maka engkau berhasil menakut-nakutinya. Adapun siapa yang ditakut-takuti tetapi tidak ketakutan, engkau gagal menakut-nakutinya. Demikian halnya orang yang engkau beri petunjuk kemudian dia mengambil pentunjuk maka sempurna hidayahnya, ini ditunjukkan oleh firman Allah, “Petunjuk bagi orang-orang yang beriman.” (QS. al-Baqarah: 2), namun barangsiapa yang engkau beri petunjuk tetapi tidak mau, maka dia sebagaimana kalam-Nya, “dan adapun kaum Tsamud, mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai kebutaan (kesesatan) daripada petunjuk itu.” (QS. Fushshilat:17). Seperti jika engkau berkata aku memotongnya maka ia terpotong, dan aku memotongnya namun tidak terpotong.

Pengaruh yang sempurna itu harus ada efeknya, jika tidak berefek maka tidak sempurna. Suatu perbuatan jika mendapat tempat yang sesuai maka menjadi sempurna, jika tidak maka tidak sempurna. Mengetahui sesuatu yang disukai maka membuatnya berusaha mencarinya, dan mengetahui sesuatu yang dibenci maka membuatnya berusaha menjauhinya. Oleh karena itu, ilmu ini dinamakan dengan faktor pendorong. Adanya faktor pendorong ditambah dengan kemampuan maka terjadilah tindakan. Mengetahui sesuatu yang hendak dicari maka akan menciptakan keinginan untuk mencari sesuatu yang diketahuinya itu.

Namun semua ini terjadi jika fitrahnya sehat sentosa. Terkadang seseorang itu mengetahui bahwa sesuatu itu enak namun tidak bisa merasakan enaknya bahkan mungkin terasa menyakitkan. Demikian juga jika ia merasa nikmat dengan rasa sakit yang dideritanya. Itu semua jika fitrahnya rusak. Rusaknya disini berefek pada pengetahuan dan tindakannya, seperti orang yang terkena iritasi lidahnya sehingga madu berasa pahit. Indera perasanya telah rusak sampai madu yang manis berasa pahit karena iritasinya itu, juga karena batinnya yang rusak, Allah berfirman, “Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang mereka tidak akan beriman. Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (al Qur’an) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.” (QS. al-An’am: 109-110). Sampai di sinilah kutipan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dari Kitabul Iman dengan sedikit perubahan.

SEBAGIAN SIFAT ULAMA SUU

RUMIYAH 5 - ARTIKEL

SEBAGIAN SIFAT ULAMA SUU
ABU HAFS ASY-SYAMI

Dalam artikel terdahulu yang berjudul “Ulama Sesat Dilaknat dan Dimurkai” kami telah menjelaskan definisi ahli ilmu yang benar. Kami juga telah menjelaskan beberapa karakteristik penting sehingga mereka bisa dianggap sebagai pemuka Dien. Berdasarkan kaca mata Syariat sudah gamblang bahwa para ulama Durjana dan sesat sama sekali tidak termasuk golongan ulama betapapun banyaknya hafalan dan karyanya, dan betapapun populernya mereka. Mereka lebih menyerupai Yahudi yang mengetahui namun menyembunyikannya dan tidak mengamalkan justru menyeru kepada kesesetan. Lantaran banyaknya ulama Durjana dewasa ini yang berusaha menyesatkan hamba-hamba Allah maka sudah seharusnya dijelaskan sifat-sifat mereka sehingga manusia tidak ragu lagi.

Pertama: Menyembunyikan Kebenaran

Diantara maksud ilmu adalah untuk disebarkan dan diajarkan karena hidayah dan maslahat manusia bergantung padanya, sehingga menyembunyikan ilmu merupakan perbuatan yang diharamkan dan dosa besar yang paling berat. Oleh karena itu, Allah mengambil janji setiap orang yang diberi anugerah ilmu agar menjelaskannya dan tidak menyembunyikan apa yang dibutuhkan manusia.

Allah azza wa jalla berfirman, “Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi al-Kitab (yaitu), ‘Hendaklah kalian benar-benar menerangkannya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya.’ Lalu mereka melemparkannya ke belakang punggung mereka dan menjualnya dengan harga murah. Maka amat buruklah jual-beli yang mereka lakukan.” (QS. Ali Imran: 187).

Karena itulah ulama Durjana itu seorang pengkhianat Dien Allah. Dia mengkufuri nikmat ilmu, dan menyebabkan kesesataan manusia. Oleh karena itu, Allah melaknatnya dan menimpakan laknat manusia terhadapnya karena telah menipu makhluk dengan menyembunyikan kebenaran.

Allah azza wa jalla berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami menjelaskannya kepada manusia dalam al-Kitab, mereka itu dilaknat Allah dan dilaknat oleh orang-orang yang melaknat.” (QS. al-Baqarah: 159)

Perkara terbesar yang disembunyikan oleh para ulama Durjana adalah keterangan mengenai kondisi para thaghut dan hukum Allah terhadap mereka. Allah telah memerintahkan kita untuk menjauhi dan mengkufuri thaghut. Dia jadikan hal ini sebagai pokok tauhid dan iman. Namun tatkala manusia melihat ulama terkemukanya menjilat para penguasa thaghut, mendiamkan kesyirikan dan kerusakannya, bahkan membolehkan syirik dengan dalih maslahat, jadilah banyak dari mereka beriman kepada thaghut, bersikap loyal, mengadopsi agamanya, bahkan menjadi bala tentaranya.

Penyebab semua fenomena ini adalah karena para ulama Durjana menyembunyikan kebenaran dan mencampurnya dengan kebathilan. Bagi yang mengamati Jazirah Arab misalnya, akan mendapati bahwa Alu Salul tidaklah berani menampakkan kekufuran dan kerusakanya, sehingga sebagian orang ikut-ikutan murtad, kecuali disebabkan oleh Hai’ah Kibarul Ulama’ (Lembaga Ulama Senior) seperti Ibnu Baz, Ibnu ‘Utsaimin, Shalih al-Fauzan, Alu asy-Syaikh (keluarga asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab) kontemporer, dan semisal mereka; lantaran mereka menyembunyikan kebenaran dan tidak menjelaskan hakikat Alu Salul kepada masyarakat, bahkan menambah rancu dengan menyebut Alu Salul adalah ulil amri dan mengklaim bahwa mereka adalah para pemimpin syar’i! Mereka menyembunyikan hukum mengenai keputusan-keputusan legislatif thaghut, hukum mengenai pendirian pangkalan-pangkalan militer Salibis, dan hukum menghalalkan riba. Sehingga banyak orang tertipu, tersesat, dan bahkan murtad. Mereka akan mendapatkan bagian dari dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa berkurang sedikitpun dosa itu.

Kondisi yang sama terjadi di Mesir. Masyayikh al-Azhar dan klaimer salafi lah yang menyebabkan manusia tersesat dan mengikuti Husni Mubarak lalu kemudian as-Sisi. Demikian juga yang menyebabkan orang-orang ikut serta dalam syirik parlemen dan pemilu adalah para thaghut Ikhwanul Murtaddin dan Partai azh-Zhalam (Partai an-Nur, edt). Gambaran seperti ini akan kita temukan di negeri-negeri lainnya.

Kedua: Mengganti dan Menyelewengkan Syariat

Ciri ulama Durjana lainnya adalah mengganti dan menyelewengkan syariat – jika mereka tidak bisa menyembunyikannya – melalui takwil-takwil rusak terhadap nash-nash syar’i sehingga mengubah maknanya yang benar, sebagaimana firman Allah azza wa jalla tentang orang-orang Yahudi, “Mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya.” (QS. an-Nisa: 46).

Kemudian penyelewengan dan takwil yang bathil itu disandarkan kepada Allah ta'ala. Mereka mengubah makna nash yang sebenarnya dan mengelabuhi manusia bahwa inilah maksud dari Kitab Allah. Dengan begitu mereka menampik makna yang benar dan menetapkan makna yang bathil. Pendahulu mereka dalam hal itu adalah orang-orang Yahudi yang selalu menyandarkan tindakan mempermainkan nash-nash itu kepada Allah azza wa jalla.

Sebagaimana firman Allah ta'ala, “Sesungguhnya di antara mereka benar-benar ada segolongan yang memutar lidah mereka dalam membaca al-Kitab, agar kalian menyangka itu sebagian dari al-Kitab, padahal itu bukan dari al-Kitab. Mereka berkata, ‘Itu dari Allah,’ padahal itu bukan dari Allah. Mereka mengatakan kedustaan atas nama Allah, padahal mereka mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran: 78).

Nash-nash syar’i yang memerintahkan jihad misalnya. Para ulama Durjana berusaha menyelewengkan maknanya yang berarti perang menjadi makna-makna lain, agar orang-orang tidak memerangi orang-orang kafir dan murtad. Lebih jauh lagi, mereka mengarang makna-makna jihad lain yang Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentangnya, bahkan makna-makna tersebut bertentangan dengan hakikat jihad. Misalnya klaim mereka bahwa jihad adalah bergabung dengan pasukan thaghut, atau ikut serta dalam proyek demokrasi syirik untuk menyaingi kaum sekuler menandingi Allah menciptakan undang-undang, dan perbuatan murtad lain yang dikait-kaitkan oleh orang-orang terlaknat itu dengan jihad.

Begitu pula nash-nash syar’i yang memerintahkan untuk berterus terang dengan kebenaran. Para ulama Durjana sengaja meniadakan dan tidak mengamalkannya, seraya mengklaim bahwa itu adalah perintah Allah sesuai firman-Nya azza wa jalla, “Dan janganlah kalian melemparkan diri kalian ke dalam kebinasaan.” (QS. al-Baqarah: 195).

Padahal, yang dimaksud dengan kebinasaan di sini adalah meninggalkan jihad. Sebagaimana yang dijelaskan oleh sahabat Abu Ayub al-Anshari radhiyallahu anhu ketika dia berkata, “Yang dimaksud melemparkan diri kita ke dalam kebinasaan ialah bahwa kita sibuk memperbaiki kondisi perekonomian kita dan meninggalkan jihad.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud)

Maka alangkah buruknya para ulama Durjana dan alangkah buruknya pembodohan yang mereka lakukan!

Ketiga: Menghalangi dari Jalan Allah

Sesungguhnya ulama Durjana, dengan jalan kesesatan dan kerusakan yang ditempuhnya, berhasrat kuat untuk menyeret manusia menempuh jalannya dan menghalangi mereka dari jalan kebenaran. Sebab dia khawatir tingkah lakunya akan membongkar kedustaannya jika dia memperlihatkan ayat- ayat syariat tanpa menutupi dan mengaburkannya. Dia pun sengaja melakukan perubahan dan memelintir nash-nash agar sesuai dengan kondisi dan hawa nafsunya. Oleh karena itu, engkau dapati mereka menghalangi para pemuda untuk berjihad disebabkan condong kepada dunia dan terkena fitnah qu’ud (meninggalkan jihad). Dikarenakan takut berterus terang dengan kebenaran jadilah mereka campuradukkan kebenaran dengan kebathilan, menjadikannya sebagai landasan dakwah, dan memperlihatkannya seolah-olah suatu kebijaksanaan dan kecerdasan.

Dia tidak memperlihatkan kebenaran, tidak pula sekedar menyembunyikannya, tapi justru mencampuradukkan, mengaburkan, menyamarkan, dan menutupi cacatnya. Mereka berbicara atas nama Allah tanpa ilmu untuk menghalangi dari jalan Allah, seperti yang dilakukan oleh para rahib dan pendeta dalam firman-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya banyak dari para rabi (Yahudi) dan para rahib (Nasrani) itu benar-benar memakan harta manusia dengan bathil dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalan Allah, maka beritakanlah kepada mereka akan azab yang pedih.” (Qs. at-Taubah: 34)

Keempat: Sangat Rakus Kepada Dunia

Tidak ada yang mendorong para ulama suu untuk menyembunyikan dan mengaburkan kebenaran selain kecintaan dan kerakusan kepada dunia. Tidak ada seorang pun yang mengharuskan atau memaksa mereka untuk berbuat nifak, berdusta atas nama Allah, dan kufur. Namun keinginan mereka untuk mendapatkan pekerjaan dan gaji dari para thaghut itulah faktor utama yang menyebabkan mereka melakukan hal tersebut. Motivasi sebagian dari mereka adalah hasrat untuk mendapatkan kedudukan dan kedekatan dengan para penguasa thaghut. Sebagian yang lain tergiur lantaran muncul di layar-layar (televisi) dan mendapatkan banyak pemberian. Maka berat bagi mereka jika harus kehilangan ketenaran dan sorotan kamera karena (mengatakan) kalimat haq. Mereka pun lebih memilih untuk menyembunyikan apa yang diturunkan oleh Allah —yang tidak ingin ditampakkan kepada manusia oleh para thaghut— dan menjualnya dengan harga murah.

Allah azza wa jalla telah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu al-Kitab, dan menjualnya dengan harga murah, mereka itu tidaklah memakan dalam perut mereka kecuali api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan menyucikan mereka, dan mereka akan mendapat azab yang pedih.” (QS. al-Baqarah: 174), dan firman-Nya, “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya,” lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima.” (QS. Ali Imran: 187)

Ibnul Qayim berkata: “Setiap orang diantara para ahli ilmu yang lebih mengutamakan dunia dan mencintainya, maka pasti dia akan mengatakan selain kebenaran atas nama Allah.” (al-Fawaaid)

Kelima: Terpengaruh dengan gembosan dan ancaman serta melenceng dari kebenaran lantaran hal tersebut

Ini juga merupakan salah satu sifat para ulama Durjana; berpaling dari kebenaran setelah meyakininya, dan menampakkan kebathilan karena tunduk dan patuh kepada hawa nafsu para thaghut, agar dunia mereka selamat. Alangkah besarnya kejahatan ini! Alangkah kejamnya pengkhianatan ini!

Sebagaimana dalam kisah Bal’am bin Ba’uro`. Dia berasal dari kota Jabarin. Seandainya semua ulama suu pada zaman kita berkumpul, niscaya ilmu mereka tidak akan sampai sepersepuluh dari ilmu Bal’am. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu anhu berkata, “Dia mengetahui nama Allah yang paling besar” (Tafsir Ibni Abi Hatim) Ini menunjukkan tingginya kedudukan keilmuannya. Sebagian salaf berkata, “Dia adalah orang yang doanya mustajab, dan selalu yang terdepan dalam menyelesaikan keadaan-keadaan genting, dan dia merupakan Ulama bani Israil.” Meskipun demikian, ketika dia menyimpang dari manhaj dan melenceng dari kebenaran yang terang, dia diserupakan dengan anjing!

Yang demikian itu ketika singgah di kota Jabarin, Bal’am didatangi oleh sepupu-sepupunya dan kaumnya. Mereka berkata, “Sesungguhnya Musa adalah orang baru dan dia memiliki tentara yang banyak. Jika dia berhasil mengalahkan kita maka kita akan binasa. Berdoalah kepada Allah agar mengusir Musa dan para pengikutnya dari kita.” Bal’am berkata, “Sesungguhnya jika aku berdoa kepada Allah agar mengusir Musa dan para pengikutnya, maka dunia dan akhiratku akan hilang.” Mereka pun terus merayunya, sampai akhirnya dia mendoakan keburukan atas Musa dan para pengikutnya. Maka Allah melepas apa yang sebelumnya ada padanya. (Diriwayatkan oleh Ibni Abi Hatim dari Ibnu Abbas)

Allah azza wa jalla berfirman, “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaithon, maka jadilah dia termasuk orang-orang yang Durjana. Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami tinggikan (derajat)nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia menempel ke tanah (cenderung kepada dunia) dan mengikuti hawa nafsunya. Maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya ia menjulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya ia menjulurkan lidahnya (juga).” (QS. al-A’raf: 175-176)

Malik bin Dinar berkata, “Musa alaihis salam mengutusnya menemui raja Madyan untuk menyerunya kepada Allah. Namun sang raja terus menerus menggelontorkan pemberian sampai Bal’am mengikuti agamanya dan meninggalkan agama Musa, maka turunlah ayat ini.” (Tafsir Ibnu Abi Hatim).

Bal’am “Cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa nafsunya”, condong kepada dunia dan kenikmatan-kenikmatannya, berpaling dari ayat-ayat Allah, sampai dikuasai hawa nafsunya bak anjing yang terus-menerus menjulurkan lidah.

Diriwayatkan dari Mujahid rahimahullah, dia berkata, “Ini adalah perumpamaan orang yang membaca al-Kitab dan tidak mengamalkan isinya.” (Tafsir ath-Thabariy). al-Qurthubiy berkata, “Perumpamaan ini, menurut pendapat banyak dari ahli ilmu tafsir, mencakup setiap orang yang diberi ilmu al-Qur’an lalu tidak mengamalkannya.” (Tafsir al-Qurthubiy). Alangkah banyaknya mereka di zaman kita.

Penutup

Inilah beberapa sifat ulama suu yang dijelaskan oleh Allah azza wa jalla untuk membongkar kedok mereka dan mewanti-wanti hamba-hamba-Nya agar menjauhi, tidak mendengarkan maupun mengambil ilmu dari mereka. Kita menemukan bahwa Allah azza wa jalla menyebutkan sifat mereka namun tidak menyebut mereka ulama. Meskipun mereka mengetahui hukum-hukum Allah, tetapi ketika mereka kehilangan rasa takut kepada Allah dan tidak mengamalkan apa yang mereka ketahui, ilmu mereka tidak bermanfaat, bahkan menjadi penyebab mereka dilaknat di dunia dan akhirat, disifati dengan sifat-sifat yang paling buruk, dan dijebloskan ke dalam neraka Jahannam.

Bahkan Allah menjadikan sikap menaati dan mengikuti para rabi dan para rahib —mereka adalah salaf (pendahulu) para ulama Durjana yang menyimpang dari agama Allah— dalam kekafiran, sebagai syirik akbar yang mengeluarkan dari agama, sebagaimana firman Allah ta'ala, “Mereka menjadikan para rabi (Yahudi) dan para rahib (Nasrani) sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan (juga) al-Masih putra Maryam, padahal mereka tidak diperintah kecuali untuk menyembah Tuhan Yang Esa, tidak ada tuhan selain Dia. Maha Suci Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. at-Taubah: 31).

Tidak ada seorangpun yang diperbolehkan kafir dengan alasan taklid kepada ulama thaghut. Wajib bagi setiap orang untuk bersungguh-sungguh mencari kebenaran dan mengamalkannya. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.

WAJIBNYA MENYINGKAP KEDOK ULAMA SUU

RUMIYAH 3 - ARTIKEL

WAJIBNYA MENYINGKAP KEDOK ULAMA SUU

Syariat Islam telah diturunkan untuk menjaga lima perkara pokok yang merupakan pondasi terpenting kehidupan manusia dalam Din dan dunia mereka, yaitu menjaga Din (Agama), jiwa, akal, kehormatan, dan harta mereka, tidak diragukan lagi bahwa terjaganya agama adalah kemaslahatan dan tujuan tertinggi. Oleh karena itu, Allah mengharamkan syirik dan semua penyebabnya. Allah juga mengharamkan berbicara atas nama-Nya tanpa ilmu, mengharamkan bid’ah, dan semua hal yang diada-adakan (dalam agama). Karenanya, mengingatkan umat dari kesyirikan dan bid’ah, menerangkan keadaan para pelaku dua hal tersebut, menyingkap kepalsuan dan kebathilan mereka, merupakan salah satu kewajiban. Ini termasuk nasehat wajib, demi menjaga agama kaum muslimin, sebagaimana diriwayatkan dari Tamim ad-Dari radhiyallahu anhu bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Agama adalah nasehat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para imam kaum muslimin, dan kaum muslimin umumnya.” (HR. Muslim).

Oleh sebab itu, membantah ahli bid’ah dan mengingatkan umat terhadap perkara mereka, termasuk dari amar makruf nahi munkar. Allah berfirman, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imran: 104).

Abul Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Seperti para gembong bid’ah dari kalangan para pelontar pendapat yang menyelisihi al-Kitab dan as-Sunnah maupun para pelaku ibadah-ibadah yang menyelisihi al-Kitab dan as-Sunnah. Sejatinya, menyingkap kedok mereka dan memperingatkan umat dari mereka adalah wajib menurut kesepakatan kaum muslimin. Pasalnya, memurnikan jalan Allah, agama-Nya, manhaj-Nya, dan syariat-Nya, serta menghindari kezhaliman dan permusuhan mereka itu adalah perbuatan wajib kifayah menurut kesepakatan kaum muslimin. Jika saja Allah tidak menggerakkan orangorang yang menghadang bahaya mereka, niscaya agama ini akan rusak. Sesungguhnya kerusakan agama lebih berbahaya daripada kerusakan penjajahan musuh dari golongan ahli harbi (kafir yang wajib diperangi, Edt.), karena apabila mereka merampas suatu negeri, tetaplah tidak bisa merusak hati dan agama penduduknya kecuali setelah berlalu beberapa waktu. Sedangkan para gembong bid’ah itu sasaran utama mereka adalah merusak hati.” (Majmu’ al-Fatawa).

Ditetapkan dalam as-Sunnah tentang bolehnya membicarakan aib seorang laki-laki berperangai buruk, dengan menyebut namanya langsung bukan secara umum saja. Dan dianalogikan darinya untuk ahli bid’ah, maka diperbolehkan untuk menggunjingnya (ghibah) untuk memperingatkan manusia darinya. Dari Aisyah radhiyallahu anhda berkata, “Seorang lelaki meminta izin menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka beliau bersabda, “Izinkan dia, sungguh dia seburuk-buruk saudara kabilah”, atau, “anak kabilah.” Ketika dia masuk, ternyata Rasulullah berkata lembut kepadanya. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, engkau mengatakan apa yang engkau katakan itu, lalu engkau berkata lembut padanya?” Beliau menjawab, “Wahai Aisyah, sejelek-jelek manusia adalah orang yang ditinggalkan orang-orang karena takut akan kekejiannya.” (Muttafaq ‘Alaih).

Para salaf selalu memperingatkan agar tidak menuntut ilmu kepada pelaku bid’ah. Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Imam Ibnu Sirin yang berkata, “Sesungguhnya ilmu ini adalah (bagian dari) agama, maka perhatikanlah darimana kalian mengambil agama kalian.” Dia juga berkata, “Dulu para salaf tidak menanyakan tentang sanad. Namun ketika terjadi berbagai fitnah mereka berkata, ‘Sebutkan siapa saja perawimu! Jika ahlu sunnah, maka haditsnya diambil, namun jika ahlu bid’ah maka haditsnya ditolak.”

Inilah Syababah bin Sawar al-Fazari yang wafat pada 206 H, ketika dia terkena paham Murjiah, maka Imam Ahmad pun meninggalkannya dan berkata, “Aku tidak akan menulis hadits-haditsnya lantaran dia terkena paham Murjiah.” (Tahdzib al-Kamal).

Berarti ada dari ahlu bid’ah yang berilmu, menguasai keilmuan, dan piawai dalam berbagai disiplin ilmu. Namun hal itu tidak menyilaukan mata para imam ahlu sunnah yang justru menjauhi mereka. Alih-alih menjadi legitimasi, ilmu para ahli bid’ah justru menjadi hujjah yang membantah mereka. Ilmu adalah rasa takut kepada Allah, dan ilmu adalah amal, sebagaimana Ibrahim an-Nakha’i mengatakan, “Jika kami hendak berguru kepada seorang syaikh, maka kami tanyakan kepadanya tentang makanannya, minumannya, tempat apa yang ia singgahi dan kemana dia berpergian. Jika perilakunya lurus maka kami akan berguru kepadanya, namun jika tidak, maka kami tidak akan mendatanginya.” (al-Kamil fi Dhu’afaa' ar-Rijal).

Para salaf bahkan tidak segan-segan menyebutkan nama perawi yang salah dalam periwayatan –lantaran buruknya hafalan maupun kecermatannya— secara tegas, sekalipun dia orang baik dan istiqamah.

Demikianlah agar manusia mewaspadai kesalahannya. Ini bukanlah ghibah yang diharamkan, melainkan nasehat wajib sehingga kesalahan pada syariat tidak melekat di pikiran manusia yang akan mengiranya bagian dari agama, lalu mereka mengikutinya.

Oleh karena itu, dalam sejarah Islam muncul satu ilmu mulia lagi agung bernama ilmu “Al-Jarh wa at-Ta’dil” (kaidah-kaidah kritik dan penetapan kejujuran perawi hadits, Penj). Ilmu ini adalah salah satu kebanggaan umat, menjaga as-Sunnah dan membedakan yang shahih dan yang dha’if.

Ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil adalah salah satu disiplin ilmu hadits. Topik pembahasannya adalah mengenai kondisi para perawi hadits –para periwayat ilmu— terkait sifat adil mereka, kecermatan, kebenaran, dan kejujuran mereka. Kondisi para perawi itu disebutkan secara rinci, termasuk jika mereka punya semisal lemah hafalannya, tadlis (menyembunyikan perawi yang cacat dari silsilah sanad, Penj.), wahm (hafalannya tercampur baur, Penj.), atau karena dusta.

Para ulama telah menulis kitab-kitab khusus menyangkut para perrawi yang cacat itu. Imam al-Bukhari menulis kitab adh-Dhu’afaa', Abu Ja’far al-‘Uqaili (wafat 322 H) juga menulis kitab dengan judul sama, an-Nasaa'i (wafat 303 H) penulis kitab Sunan menulis kitab berjudul adh-Dhu’afaa' wa al-Matrukun (Para Perawi Lemah dan Matruk), ad-Daraquthni (wafat 385 H) dan Ibnul Jauzi (wafat 598 H) menulis kitab berjudul sama, Ibnu ‘Addi al-Jurjani (wafat 365 H) menulis kitab berjudul al-Kamil fi Dhu’afaa'ar-Rijal (Ensiklopedi Para Perawi Lemah), dan masih banyak ulama lain yang menulis kitab-kitab masyhur lagi penting dalam disiplin ilmu ini.

Abdullah bin Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah menceritakan, “Suatu ketika Abu Turab an-Nakhsyabi mendatangi ayahku (untuk menuntut ilmu). Ayahku ketika itu berkata, ‘Si Fulan lemah, si Fulan terpercaya.’ Mendengar hal itu Abu Turab berkata, ‘Wahai syaikh, janganlah engkau meng-ghibah ulama. Maka ayahku menengok kepadanya dan berkata, ‘Celaka engkau, ini nasehat, bukan ghibah.’ (Tarikh Baghdad).

Ibnul Jauzi menyebutkan dari Muhammad bin Bandar al-Jurjani, dia berkata, “Aku mengungkapkan kepada Ahmad bin Hanbal bahwa aku merasa keberatan untuk mengatakan Fulan ini lemah, Fulan itu pendusta, maka dia menanggapi, ‘Jika engkau diam dan aku diam, maka kapan orang bodoh akan mengerti mana (hadits) yang benar dan yang cacat?’” (adh-Dhu’afaa' wa al-Matrukun).

Jika ternyata demikian manhaj para imam berkenaan dengan perawi yang salah dalam meriwayatkan sekalipun mereka itu orang shalih dan istiqamah, namun kesalahannya tetap disebutkan agar manusia bisa mewaspa- dainya, maka petunjuk mereka berkenaan dengan ahli bid’ah dan hawa nafsu lebih keras dan tegas lagi, yaitu men-tahdzir (peringatan) dan meng-hajr (boikot) sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

Adapun terhadap para pelaku bid’ah mukaffirah (bid’ah pemicu vonis kekafiran, Edt.), para imam berlepas diri dari mereka dengan membuat banyak bantahan, celaan, peringatan, cercaan, dan bahkan pengkafiran. Perhatikanlah Bisyr al-Murisi yang mengatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk, mengingkari nama-nama Allah dan prinsip-prinsip yang qath’i (konstan, baku). Para imam Ahlussunnah telah mencelanya dan memperingatkan manusia darinya. Mereka menulis bantahan terhadapnya dengan menyebut namanya secara jelas, seperti yang dilakukan Imam Abu Sa’id ad-Darimi dalam kitabnya Naqdhu Utsman bin Sa’id ‘Ala Bisyr al-Murisi al-Jahmi al-‘Anid fi Ma Iftara ‘Alallah fi at-Tauhid (Kritikan Utsman bin Sa’id Atas Bisyr al-Murisi Si Jahmi Keras Kepala Karena Kedustaannya Kepada Allah Dalam Tauhid). Bahkan para imam Ahlussunnah mengkafirkannya dan menggolongkannya kepada pendahulunya, yaitu Jahm bin Shafwan. Ketika ditanya tentang Bisyr al-Murisi, Hammad bin Zaid berkata, “Dia itu kafir.” (ad-Darimi: an-Naqdhu ‘Ala al-Murisi). Syaikh Abdul Lathif Alu Syaikh rahimahullah berkata, “Para ulama sepakat mengkafirkannya.” (Majmu’ah ar-Rasail).

Padahal al-Murisi ini salah seorang yang berguru kepada para ulama dan fuqaha di zamannya, mendengarkan riwayat mereka, dan berdiskusi dengan mereka. Bahkan adz-Dzahabi berkata ketika menyebutkan biografinya, “Ahli kalam, ahli debat, dan seorang pakar. Bisyr adalah seorang ahli fikih ternama, berguru kepada al-Qadhi Abu Yusuf, meriwayatkan dari Hammad bin Salamah dan Sufyan bin Uyainah. Dia mempelajari ilmu kalam dan menguasainya, sehingga hilanglah ketaqwaan dan wara’-nya. Dengan beraninya dia berkata bahwa al-Qur’an adalah makhluk, dan menyeru kepada pemahamannya itu sampai menjadi gembong dan ulama Jahmiyah pada masanya.” (Siyaru ‘Alam an-Nubala).

Bahkan kita mendapati di antara imam Ahlussunnah yang bukan hanya mengkafirkan Jahmiyah dan pemimpinnya, si al-Murisi, namun juga memprovokasi untuk membunuh para pembesarnya. Imam Yazid bin Harun rahimahullah berkata, “Jahmiyah itu kafir, sudah lebih dari sekali aku memprovokasi penduduk Baghdad untuk membunuh al-Murisi.” (ad-Darimi, ar-Raddu ‘Ala al-Jahmiyah).

Tidak ketinggalan, Amirul Mukminin Harun ar-Rasyid berkata, “Aku mendengar Bisyr al-Murisi mengklaim bahwa al-Qur’an adalah makhluk, jika aku berhasil menangkapnya maka aku berjanji kepada Allah untuk membunuhnya dengan cara yang tidak pernah dilakukan sebelumnya. (Abdullah bin Ahmad, as-Sunnah).

Sepanjang sejarah telah terjadi berbagai peristiwa pengkafiran, pembunuhan, dan penyaliban terhadap orang- orang zindiq (atheis) dan gembong-gembong ahli bid’ah ekstrem, seperti pembunuhan terhadap al-Ja’d bin Dirham, Jahm bin Shafwan, dan Husain bin Manshur al-Hallaj.

Demikianlah metode para imam terkemuka dalam menghadapi gembong-gembong kesesatan dan zindiq. Kita dapati Abul Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullah mengkritik si zindiq Ibnul ‘Arabi yang berkeyakinan hulul (pemahaman bahwa Allah menitis kepada makhluk-Nya, Penj.) secara khusus. Dia juga menulis kitab berjudul Minhaj as-Sunnah khusus untuk membantah si Rafidhah Abu Manshur al-Hulli, dan juga menulis beberapa risalah yang membantah si penyembah kubur al-Bakri al-Mishri serta para juru dakwah sesat lain.

Metode ini juga kita dapati jelas pada diri Imam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dan para muridnya. Mereka tidak membiarkan satu kesempatan pun kecuali membongkar kedok orang-orang zindiq penyeru kesyirikan, yang membela-bela orang-orang musyrik lagi berdusta atas ahli tauhid seperti Ibnu ‘Afaliq, Ibnu Fairuz, anak-anak Muwais, Ibnu Jirjis, dan orang-orang seperti mereka. Bahkan sebagian muridnya menulis ensiklopedia bantahan lengkap di samping juga risalah-risalah khusus dan banyak fatwa.

Mengkritik dan menyingkap kedok ahli bid’ah dan orang-orang zindiq serta menghukumi mereka dengan hukum yang layak adalah manhaj otentik dari Ahlussunnah wal Jamaah. Terlebih lagi terhadap ulama thaghut dan Jahmiyah kontemporer yang menggiring manusia kepada kekafiran dan kesyirikan, berujung pada neraka Jahannam. Mereka telah menyembunyikan kebenaran, memoles kesesatan, dan menipu manusia. Kita memohon pertolongan Allah dalam membongkar kedok mereka dan menyajikan wajah yang sesungguhnya kepada manusia.

ULAMA SUU, DILAKNAT DAN DIMURKAI

RUMIYAH 1 – ARTIKEL

ULAMA SUU, DILAKNAT DAN DIMURKAI

Allah telah memuliakan ilmu, mengangkat derajat ulama dan meninggikan kedudukannya. Allah berfirman: (Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana). (QS Ali Imran: 18)).

Imam al-Qurthubi berkata: “Tidak ada seorangpun yang lebih mulia daripada ulama. Tidak ada yang namanya disandingkan dengan nama Allah dan malaikatnya seperti nama ulama.” (al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an)

Oleh karena itu, Allah menolak jika ulama disamakan dengan selain ulama, firman-Nya: (Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?“ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran). (QS az-Zumar: 9)), dan Allah juga memerintahkan untuk merujuk kepada mereka, firman-Nya: (Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui). (QS an-Nahl: 43)).

Namun, apakah yang dimaksud dengan ilmu itu sekedar menghafal matan, membuat ensiklopedia, mentahqiq naskah, mengetahui berbagai pendapat, dan menulis untuk diperjual belikan? Tidak demikian. Sesungguhnya ulama yang dipuji dan dinamakan oleh Allah sebagai ‘orang-orang yang berilmu’ mereka adalah yang menyampaikan dan mengamalkan ilmunya. asy-Syathibi berkata: “Ilmu yang muktabar secara syari – maksudku yang dipuji Allah dan Rasul-Nya secara mutlak – adalah ilmu yang mendorong kepada amal” (al-Muwafaqat). Maka ilmu dan amal itu dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Tidak ada amal tanpa ilmu, dan tidak ada ilmu tanpa amal.

Ilmu itu menyeru amal
Jika tidak dibalas maka ia akan pergi

Ilmu yang diamalkan maka akan berbuah takut kepada Allah, sehingga rasa takutnya kepada Allah membawanya meyuarakan kebenaran lantaran takut akan murka Allah. Allah berfirman: (Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama) (QS Fathir: 28)). Dari Ibnu Abbar radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Orang-orang yang mengetahui Allah itu adalah orang-orang yang takut kepada-Nya.” (az-Zuhdi li Abi Dawud). Ibnu Mas’ud berkata: “Ilmu itu bukanlah dengan banyaknya riwayat, namun ilmu itu adalah rasa takut kepada Allah.” (Hilyah al-Auliya`).

Dari buah ilmu itu juga berjihad di jalan Allah. Jihad itu adalah teman dekatnya ulama, seperti dalam hadits Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu, berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan baginya maka Allah akan memahamkannya perkara-perkara agama. Akan selalu ada sekelompok kaum muslimin yang terus berperang di jalan kebenaran, mereka terus menang dari lawan-lawannya sampai hari kiamat.” (HR Muslim)

Kedua perkara yang disandingkan dalam hadits tersebut menunjukkan bahwa ilmu dan jihad adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Yang melakukannya merekalah thaifah manshurah. Tegaknya agama dan menangnya kebenaran tidak mungkin terjadi kecuali dengan ilmu dan jihad. Demikanlah kondisi sahabat radhiyallahu ‘anhum yang mereka adalah para ulama umat ini. Mereka sandingkan antara ilmu dengan jihad. Yang memperhatikan biografi para sahabat muhajirin dan ansar akan mendapati bahwa banyak dari mereka yang terbunuh di medan-medan jihad. Mereka wujudkan ilmunya dengan amalnya. Pada Perang Yamamah saja para sahabat penghafal al-Qur’an banyak yang terbunuh. Ketika bendera perang pasukan muslimin jatuh, maka Salim maula Abu Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu segera mengambilnya. Melihat hal itu kaum muslimin berkata kepadanya: “Wahai Salim, kami takut diserang dari arahmu”, Salim menjawab: “Sungguh sejelek-jelek penghafal al-Qur’an aku ini jika kalian diserang dari arahku”. Ia menerjang maju dan bertempur sampai terbunuh.

Demikian jugalah perjalanan hidup para tabiin dan imam-imam setelahnya. Mereka banyak didapati di medan-medan ribat dan pertempuran, sekalipun pada masanya jihad itu hukumnya fardhu kifayah. Para imam ahli hadits dan zuhud itu, sebagaimana mereka mempunyai riwayat mereka juga ikut serta dalam ribat menjaga perbatasan dan berlatih memanah. Mereka seperti al-Auza’i, Abdullah bin Mubarak, Ibnul Qasim, Abu Ishak al-Fazari, Mukhallad bin Husain, Ibrahim bin Adham, ?uzaifah al- Mar’asyi, Yusuf bin Asbath, dan masih banyak ulama lain. Mereka terjemahkan ilmu mereka dengan amal jihad dan ribat. Bahkan diantara ahli hadits ada yang terus menjaga perbatasan tidak pernah meninggalkannya, seperti Imam Isa bin Yunus. Oleh karena itu dua imam mulia Ibnu Mubarak dan Ahmad bin Hanbal serta selainnya berkata: “Jika manusia berselisih dalam suatu hal, maka lihatlah sikap ahli tsughur, karena kebenaran berpihak kepada mereka, berdasarkan firman Allah: (Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami). (QS al-‘Ankabut: 69)).

Sepanjang sejarah, engkau dapati ulama ahli hadits menegakkan kewajiban beramal dengan berjihad dan menyerukan kebenaran, semisal Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, yang menyuarakan kebenaran dan berjihad melawan bangsa Mongol, sampai masa Imam Muhammad bin Abdul Wahhab, yang memerangi musyrikin di Jazirah Arab dengan pedang dan argumentasi. Sampai pada masa kita sekarang. Orang-orang yang Allah menghidupkan ilmu dan akidah melalui tangan mereka, mereka tampakkan kebenaran dan kebenaran nampak melalui usaha mereka. Mereka termasuk orang-orang yang menyandingkan ilmu dengan jihad, semisal Syaikh Abu Mush’ab az-Zarqawi, Syaikh Abu Anas asy-Syami, Syaikh Abdullah ar-Rasyud, Syaikh Abul Hasan al-Filisthini, dan Syaikh Abu Maisarah al-Gharib, semoga Allah merahmati mereka semua.

Sehingga, siapa yang mengetahui ilmu namun tidak mengamalkannya, maka ia tercela secara syar’i. Ia bukan termasuk orang-orang yang berilmu secara makna syar’i. Bagaimana ia disebut berlimu sedangkan ia dibenci dan dilaknat Allah. Allah murka kepada Yahudi dan menyebut mereka sebagai kaum yang dimurkai karena mereka tidak mengamalkan ilmunya. Allah berfirman: (Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan). (QS as-Shaff: 3)). Dalam ayat ini dijelaskan betapa besar kebencian dan kemurkaan Allah atas orang yang tidak mengamalkan ilmunya.

al-Qur’an juga menjelaskan bahwa orang yang berilmu namun menyembunyikannya ia adalah terlaknat, sebagaimana termaktub dalam firman-Nya: (Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknati). (QS al-Baqarah: 159). Bisa dipahami dari semua itu bahwa orang yang berilmu adalah orang yang membawa, mengamalkan dan menyerukan ilmunya.

Allah menyifati orang yang tidak mengamalkan ilmunya itu dengan kebodohan dalam firman-Nya tentang ulama Yahudi yang mulai menyukai dan memilih sihir: (Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui). (QS al-Baqarah: 102)).

Maka dari itu, yang tidak mengamalkan ilmunya dengan menyuarakan kebenaran dan berjihad, malah menyembunyikan ilmunya dan menutupi kebenaran dengan kebathilan, ia bukanlah seorang alim. Bahkan ia adalah imam setan bisu atau setan yang berbicara.

Para ahli ilmu itu tidak pernah menganggap Ahlu Bid’ah itu sebagai ulama, sebagaimana perkataan Ibnu Abdil Barr tentang ahli kalam: “Para ahli fikih dan atsar di seluruh penjuru negeri, sepakat bahwa perkataan ahli Kalam dan Ahlu bid’ah tidak dianggap di tingkatan Fuqaha’ manapun. Hanyasanya ulama itu adalah ahlul atsar.” (Jami’ Bayan al-Ilmi wa Fadhlihi). Maka bagaimana jika mereka melihat umat ini sekarang diuji dengan para imam kekafiran?

Yang melihat kondisi para pengaku ahli ilmu pada zaman kita sekarang mendapati bahwa mayoritasnya bukanlah ulama bahkan tidak masuk sama sekali dalam golongan orang berilmu. Hal itu lantaran mereka tidak mengamalkan ilmunya. Mereka tidak menyuarakan kebenaran di hadapan para thaghut, malah menyembunyikan ilmu dan menutupi kebenaran dengan kebathilan. Mereka sesatkan hamba-hamba Allah. Mereka mengerti ayat-ayat qital dan perang, namun mereka enggan melaksanakan kewajiban yang dibebankan kepada mereka itu. Mereka menyelisihi Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabatnya dan para tabiin. Engkau dapati mereka mempelajari nash-nash tentang al wala’ wal bara’ namun malah menyimpang darinya. Mereka mengerti ayat-ayat tentang wajibnya menyampaikan dan menerangkan kebenaran namun mereka sembunyikan kebenaran itu.

Lalu apakah mereka itu yang dinamakan Allah sebagai orang-orang yang berilmu? Pastilah bukan. Bahkan mereka adalah orang-orang sesat. Mereka terancam diazab karena tidak mengamalkan ilmunya malah menyembunyikannya. Bahkan, mayoritas yang kita tahu ia dijadikan rujukan dan diakui orang-orang yang mengaku berilmu di zaman kita ini ternyata telah menampakkan ketaatan kepada thaghut, tunduk pada kekuasaannya, dan membantunya memberangus para muwahhid yang keluar menentangnya. Hukum orang yang melakukan hal ini sudah jelas dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.

Maka dari itu, Bin Baz, Ibnu Utsaimin, al-Fauzan, Alu Syaikh (yang masih hidup saat ini), Muhammad Hassan, Abu Ishaq al-Huwaini, Husain Ya’qub, al-Qaradhawi, al-Buthi, an-Nablusi, al-Gharyani, al-Maqdisi, Abu Qotadah, al-Hadusyi, dan al-Fahl, mereka semua bukanlah ulama. Mana amal mereka dengan ilmu yang mereka miliki? Mana seruan mereka kepada kebenaran? Mana pengingkaran mereka atas kemusyrikan para thaghut? Mana perang dan ribat mereka? Mana bimbingan dan penjelasan mereka kepada kebenaran? Mana perlawanan mereka kepada koalisi kafir yang menyerang kaum muslimin? Ataukah mereka dengan sukarela telah menjadi tongkat di tangan para thaghut untuk menggebuk dan menghabisi mujahidin dengan mengatasnamakan agama dan syariat? Bukankah mereka itu tidak lain hanyalah para imam kesesatan dan ulama thaghut?

Janganlah engkau tertipu dengan keilmuan mereka. Ilmu mereka telah menjadi hujjah atas mereka. Bahkan keilmuan mereka itu lebih mirip dengan keilmuan orientalis. Bahkan sebagian orientalis Kristen itu betul-betul mahir dalam ilmu hadits semisal A. J. Wensinck seorang orientalis Belanda yang menulis buku al-Mu’jam al-Mufahras li Alfazh al-Hadits an-Nabawi yang terkenal itu. Demikian juga orientalis lain yang bernama Whittstam yang mentahqiq kitab ar-Radd ‘ala al-Jahmiyah karya ad-Darami. Apakah orientalis-orientalis itu bisa dikategorikan sebagai orang yang berilmu dan bisakah mereka dikategorikan sebagai ulama?

Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah memberi tahu golongan yang pertama kali dihisab pada hari kiamat dengan sabdanya: “Didatangkan seseorang yang mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan membaca alQur’an, lalu ditanya tentang nikmat itu dan mengakuinya. Allah bertanya: Apa yang engkau kerjakan? Jawabnya: Aku mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan membaca al-Qur’an itu karena-Mu. Allah menjawab: Engkau dusta, engkau mempelajari ilmu itu agar disebut seorang alim, engkau membaca al-Qur’an itu agar disebut qori’, dan semuanya telah dikatakan. Maka diseretlah orang itu dan dilemparkan ke dalam neraka.” (HR Muslim)

Jika rusaknya niat seorang alim itu menyeretnya pada kebinasaan, maka bagaimana halnya dengan orang yang amalnya menyelisihi ilmunya, menyembunyikan kebenaran, dan menyesatkan manusia? Dan bagaimana juga halnya dengan orang yang tunduk pada kekuasaan thaghut dan mendukung hukumnya?

Dari Harim bin Hayan, ia berkata: “Berhati-hatilah dengan seorang alim fasik”. Kata-katanya ini sampai di telinga Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu, maka beliau menyuratinya menanyakan apa yang dimaksud dengan perkataannya itu. Harim membalas: “Yaitu seorang imam yang berbicara tentang keilmuan, namun melakukan kefasikan, sehingga membingungkan manusia yang berakibat menyesatkan mereka.” (HR Darami). Ini tentang seorang alim fasik, maka bagaimana halnya dengan seorang alim sesat menyesatkan yang keluar dari millah?

Dengan ini jelaslah kekeliruan kata-kata sebagian orang bodoh tentang orang-orang yang menisbatkan dirinya kepada ilmu, “Ambillah ilmunya dan tinggalkan perilakunya”. Justru tanyakanlah amalnya, jihadnya, seruannya pada kebenaran, dan rasa takutnya kepada Rabbnya sebagaimana engkau tanyakan ilmu dan keseksamaannya. Sehingga jelaslah bagimu siapa itu seorang alim. Karena yang mengkhianati amanat amal maka ia juga akan mengkhianati amanat ilmu.