Jumat, 27 April 2018

HUBUNGAN ANTARA THAGHUT DAN ULAMA QO’IDUN

HUBUNGAN ANTARA THAGHUT DAN ULAMA QO’IDUN

Ilmu, keutamaan, kemuliaannya dan keutamaan para ulama adalah diperuntukkan pada ulama ‘amilin mujahidin lantaran jihad lisan dan pedang mereka. Adapun ulama yang tidak mengamalkan ilmunya maka ia tidak mendapat keutamaan itu. Lalu bagaimana halnya dengan ‘alim qo’id yang membela dan menyokong para thaghut yang telah memerangi tauhid dan Daulah Islam?

Tidak diragukan lagi akan kesesatan dan kemurtadannya. Tidak usah terperdaya dengan banyaknya wawasan dan hafalannya. Karena pangkal ilmu, buahnya dan porosnya adalah rasa takut kepada Allah dan mengamalkan apa yang diilmuinya. Firman Allah Ta’ala: “Hanyasanya hamba-hamba-Nya yang takut kepada-Nya adalah para ulama”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Ini menunjukkan bahwa setiap orang yang takut kepada Allah maka ia adalah seorang ‘alim. Sebaliknya tidak menunjukkan bahwa setiap ‘alim itu pasti takut kepada-Nya”.

Para ulama suu’ yang bermajelis bersama para thaghut, melayani mereka, berfatwa sesuai keinginan dan hawa nafsu mereka demi mendapat secuil dunia dari mereka, hubungan mereka dengan para thaghut itu adalah hubungan produktif yang harganya adalah dienullah. Perkara ini telah dijelaskan oleh Amirul Mukminin dan Khalifah kaum muslimin Abu Bakar Al Baghdadi -semoga Allah memenangkannya- dalam pidatonya yang berjudul Walau Karihal Kafirun (Walaupun orang-orang kafir membencinya): “Titik lemah salibis dan sekutunya terletak pada kebutuhan mereka akan para penyihir jahat dari kalangan ulama thaghut. Tugas mereka adalah menyihir mata manusia dan menipu kaum muslimin awam dengan daya sihir fatwa mereka agar menghalangi kaum muslimin dari menyokong dan berkumpul di sekeliling mujahidin dan khilafah”.

Diantara mereka ada orang-orang yang menunjukkan dirinya berada di pihak jihad dan mujahidin, padahal siapapun yang memperhatikan kondisi mereka akan mengetahui bahwa mereka hanyalah antek-antek thaghut dalam memerangi khilafah. Sebagian dari mereka ada yang dibebaskan oleh thaghut hanya untuk menjadi narasumber sebuah channel thaghut untuk menyerang khilafah. Yang lain menggantikan intelijen kafir Barat untuk menyerang khilafah. Yang lainnya lagi malah bersumpah menghormati thaghut kafir Barat untuk mendapatkan kewarga-negaraannya lalu menyerang khilafah. Ini tidak lain hanyalah makar para penyihir itu. Maka janganlah engkau lengah wahai akhi muslim.

Itulah hubungan antara para thaghut itu dengan orang-orang yang duduk-duduk dari berjihad dan malah menyerang khilafah. Bahkan salah satu mereka sering menjadi narasumber dalam acara-acara tertentu hanya untuk mencaci mujahidin terbaik dan menyerang Daulah Islam (yang dibangun diatas batu bata tauhid dan puing-puing kesyirikan), serta menipu kaum muslimin awam. Betapa sedikitnya ulama haq, yang jujur dan berjihad.

Sebaliknya betapa banyaknya -semoga Allah tidak membanyakannya- ulama suu. Ulama akhirat itu asing dibanding ulama dunia seperti kata-kata Ibnu Rajab rahimahullah yang menerangkan macam-macam keterasingan: “Diantaranya adalah asingnya ulama akhirat diantara ulama dunia yang rasa takut dan belas kasihan telah dicabut dari hati mereka”.

Akhi muslim, tentu anda sudah mengetahui bahwa setiap yang berilmu pasti akan tergelincir dan binasa jika memperturutkan dunia. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Setiap ahli ilmu yang memperturutkan dan menyukai dunia maka pasti akan berkata atas nama Allah tanpa ilmu dalam fatwanya, keputusannya, pengajarannya dan pemaksaannya. Hal itu lantaran hukum-hukum Rabb Yang Maha Suci mayoritasnya menyelisihi keinginan manusia. Terutama para pemegang tampuk kepemimpinan dan orang-orang yang memperturutkan hawa nafsu yang mana kebanyakan kehendak mereka tidak akan terpuaskan kecuali dengan menyelisihi dan menyingkirkan kebenaran. Maka jika seorang alim dan pemimpin itu menyukai kursi kepemimpinan dan memperturutkan hawa nafsu pasti ia akan menyingkirkan kebenaran yang menghalanginya”.

Akhi muslim, yang demikian itu menjelaskan kepadamu mengapa mereka menjual Dien mereka dan berfatwa untuk memerangi khilafah dan mendukung shahawat. Yaitu lantaran keinginan para pemegang tampuk kekuasaan itu berlawanan dengan khilafah yang menghendaki tegaknya Dien. Khilafah menghendaki jihad sedangkan mereka menghendaki syahwat. Disinilah peranan ulama suu dan orang-orang yang duduk-duduk dari berjihad. Fatwa-fatwa bermunculan, program-program diciptakan, artikel-artikel ditulis, semuanya untuk memerangi khilafah.

Akhi muslim, banyak dari ulama suu’ yang duduk-duduk dari berjihad, yang memerangi Daulah Khilafah -semoga Allah memenangkannya- mengetahui bahwa Daulah itu benar dan bahwa Daulah adalah benar Daulah Islam. Namun mereka tidak ingin susah, lelah, dimusuhi thaghut dan alasan lain. Hal ini ada disetiap zaman ketika orang-orang yang jujur terhadap Diennya berdiri menyeru kepada kebenaran dan jihad. Betul akhi muslim, ketika Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah menyeru kepada tauhid dan memerangi syirik, orang-orang yang disebut ulama itu mendukungnya. Namun ketika beliau rahimahullah mulai berjihad, berperang dan mengkafirkan thaghut mereka memungkirinya karena beratnya hal itu atas mereka dan dunia mereka. Beliau berkata: “Yang mengaku dirinya ulama di setiap negerinya membenarkan dakwahku kepada tauhid dan menyingkirkan syirik, namun mereka menolak takfir dan perang yang kulakukan”.

Dan inilah yang kita lihat sekarang. Berapa banyak orang yang berilmu yang duduk-duduk dari berjihad, mereka menjelaskan hukum-hukum jihad, jizyah, memerangi murtad dan memberi kabar gembira akan kembalinya khilafah. Namun ketika khilafah benar-benar telah kembali sembari mengumandangkan tauhid, menghancurkan syirik, memerangi orang kafir dan murtad, dan menghapus tapal batas ciptaan thaghut, mereka menolaknya mentah-mentah lantaran ingin nyaman, santai, hidup dikelilingi istana, nama baik, jabatan, dan harta. Inilah penyakit terbesar yang menjadikan mayoritas mereka memerangi
Daulah Khilafah.

Akhi muslim, engkau tidak perlu heran dengan hal itu. Karena memang ada orang yang berilmu namun lebih memilih kufur daripada iman, lebih memilih thaghut daripada syariat hanya karena dunia -na’udzubillah- sekalipun ia tahu hal itu akan menyeretnya kepada kebinasaan di akhirat. Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab berkata: “Diantara orang yang berilmu itu ada yang memilih kufur daripada iman sekalipun tahu tidak akan mendapatkan apapun di akhirat lantaran pilihannya itu”.

Akhi muwahhid, ketahuilah bahwa jika seorang alim itu meninggalkan apa yang diketahuinya dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam untuk mengikuti hukum penguasa yang menyelisihi hukum Allah dan Rasul-Nya maka ia murtad kafir. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah
berkata: “Ketika seorang alim itu meninggalkan apa yang diketahuinya dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya untuk mengikuti hokum penguasa yang menyelisihi hukum Allah dan Rasul-Nya maka ia murtad kafir yang berhak mendapatkan hukuman di dunia dan di akhirat”.

Terakhir akhi muslim di Daulah Islam, hendaknya engkau memuji Allah atas nikmat yang agung ini yaitu engkau hidup di Daulah Islam yang berhukum dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam serta menghancurkan syirik dan menebarkan tauhid. Ini betul-betul nikmat yang agung. Kita memohon kepada Allah agar kita mampu mensyukurinya dan berkenan memilih kita mendapatkan ridho-Nya.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.

An-Naba Edisi 12

Tidak ada komentar:

Posting Komentar