Tampilkan postingan dengan label Dabiq Edisi 3. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dabiq Edisi 3. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 April 2018

DARAH FOLEY DALAM GENGGAMAN OBAMA

DABIQ 3 - SPESIAL

DARAH FOLEY DALAM GENGGAMAN OBAMA

Adalah sebuah penyejuk hati bagi orang-orang beriman untuk menyaksikan eksekusi seorang warga negara Amerika, James Wright Foley, sebagai balasan atas agresi militer Amerika baru-baru ini terhadap ummat Islam Iraq.

Pada saat yang sama, kemarahan dan kebencian disemburkan oleh mulut-mulut orang kafir dan munafik. Di mana media, tanpa menunggu waktu yang lama, secara langsung menerjunkan diri mereka, siang dan malam, dalam upaya untuk menyesatkan masyarakat Amerika dan masyarakat di seluruh dunia tentang penyebab sesungguhnya dari eksekusi James Foley. Jadi siapakah James Foley? Dan siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas kematiannya?

James Wright Foley adalah seorang warga negara Amerika yang menghabiskan sebagian besar karirnya dengan bepergian secara eksklusif ke zona peperangan di mana militer Amerika memerangi kaum Muslimin. Dia memasuki Afghanistan dan Iraq berkali-kali dari tahun 2008 sampai 2010 selama perang salib berlangsung. TG Taylor[1] dan Mathew Gregory[2] adalah dua pengawas militernya karena ia menutupi aksi militer AS di Afghanistan.

[1] tg.taylor@afgan.swa.army.mil – tel: 0794342276
[2] mathew.gregory@afgan.swa.army.mil – tel: 0797069916

Pekerjaannya mendokumentasi peperangan, dilakukan melalui mata para tentara salib, melaporkan semua hal yang memberitakan kebijakan luar negeri dan agenda mereka, serta menutupi berita apapun yang dapat mengekspos kejahatan mereka. Dalam arsip foto yang dia ambil secara pribadi, terdapat foto yang menggambarkan pemuliaan tentara salib Amerika di Afghanistan dan Iraq, sama seperti yang dilakukan pemerintah boneka Iraq. Terdapat pula foto-foto yang menggambarkan penangkapan banyak orang miskin Afghan dan muslim Iraq di tangan tentara salib. Penyesalan bagi James, karena arsip tersebut ada padanya saat dia ditangkap.

James melakukan perjalanan ke Suriah, melakukan banyak proteksi keamanan karena pengetahuan dan pengalaman sebelumnya sebagai seorang “wartawan” Amerika. Dia tahu bahwa orang Amerika tidak diterima di negeri Muslim karena pemerintah mereka yang tidak tahu malu dan tercatat lama melakukan agresi terhadap kaum muslimin. Namun demikian, dia memasuki Suriah dengan membawa barang-barang yang digunakan untuk mengintai, yang juga ditemukan sebagai miliknya saat dia ditangkap.

Tentang siapa pihak yang bertanggung jawab atas eksekusinya, maka pemerintahan Obama sadar akan penahanan James di awal November 2013. Dalam pesan yang dikirim setelah itu, solusi sederhana untuk membebaskannya telah jelas dinyatakan kepada Amerika. Semua yang harus dilakukan Obama adalah membebaskan saudara-saudara Muslim kita dari penjara mereka.

Sejak pegiriman pesan ini sampai dengan eksekusi James, ada banyak upaya yang telah dilakukan oleh Daulah Islam untuk mencapai sebuah solusi mengenai nasib James Wright Foley, akan tetapi pemerintah AS yang sombong, bodoh, dan payah itu berpaling dari warga mereka dengan acuh.

Selama 9 bulan ini, karena pemerintah Amerika telah angkat kaki, enggan untuk mengambil langkah yang diperlukan untuk menyelamatkan nyawa James, negosiasi dilakukan oleh pemerintah sejumlah tahanan Eropa, yang menghasilkan dua belas tawanan mereka bebas, setelah tuntutan-tuntutan yang diberikan Daulah Islam dipenuhi. Tersisa sejumlah tahanan dari Inggris dan Amerika dalam penjara Daulah Islam, hanya karena keangkuhan pemerintah mereka yang menolak untuk melepaskan saudara-saudara muslim kita yang dipenjara diantaranya saudari kita, Dr. Aafia Siddiqui.

Untuk menceritakan kisah James, pemerintah Obama akhirnya memukulkan paku terakhirnya di peti mati James dan membunuhnya dengan mengebom Iraq. Sebuah pesan dikirim dua hari sebelum eksekusi James dilaksanakan, peringatan kematian sebagai akibat dari serangan udara AS di Iraq. Solusinya mudah… Hentikan serangan udara!

Pemerintah AS yang sombong tidak memperhatikan tawaran (untuk negosiasi) tidak pula ancaman yang menyertainya, maka pertanyaan yang perlu ditanyakan setiap orang berakal adalah: Apa alasan sebenarnya di balik penolakan pemerintah Obama dalam memenuhi tuntutan yang diajukan oleh Daulah Islam untuk membebaskan warganya sendiri?

Jawabannya adalah bahwa saat ini Obama mengikuti Bush –sang “presiden perang”– secara membabi buta. Dia akan terus memperkuat musuh lama dan bersejarah dari Barat –yakni Persia/Iran–. Dia mengirim kabar yang menyenangkan kepada wakil pemerintah Iran di Suriah dan Libanon (Assad dan Hizbullah). Melalui keputusannya, dia membekukan pemerintahan boneka Iran di Iraq sebagaimana pemerintahan Iran yang didukung milisi Syiah bersekutu dengan pemerintahan boneka.

Dia mendukung sekutu syiah Iran di Afghanistan. Dia menyerang mujahidin –musuh sejati syiah di Yaman–, dengan demikian maka dia telah memperkuat wakil syiah Houti Iran. Semua tindakan yang dilakukannya jauh lebih bodoh dari apa yang Bush lakukan, karena Iran adalah sekutu utama Rusia, musuh bersejarah Barat yang lain, yang saat ini berperang melawan sekutu Barat di Ukraina dan lainnya! Demi tercapainya tujuan ini, dia mengorbankan kesejahteraan rakyat Amerika demi menguntungkan “beberapa hal” meliputi Zionisme dan Kapitalisme. Amerika menghadapi krisis demi krisis termasuk gempa bumi di California, protes di Missouri, dan potensi kematian para tahanan Amerika yang dilakukan oleh Daulah Islam…

PESAN LENGKAP DARI JAMES FOLEY

Namaku James Wright Foley, aku seorang warga negara Amerika. Ini adalah pesan untuk pemerintah AS dan seluruh rakyatnya.

Tujuan dari pesan ini bukanlah permohonan untuk kebebasanku. Karena banyak kesempatan yang telah diberikan kepada pemerintah (Amerika) dan keluargaku untuk bernegosiasi agar aku dibebaskan, namun semua penyebab kegagalan berada pada pemerintah dan keluargaku.

Orang-orang yang menangkapku telah banyak berupaya untuk membuat sebuah penawaran yang menguntungkan. Di antaranya mereka membuat persyaratan yang ketat terhadap keluargaku dan orang-orang yang kucintai agar tidak memberitahu media tentang kasusku.

Alasannya adalah agar pemerintah AS dapat hadir dalam sebuah penawaran yang cepat dan bijak, dengan demikian mereka dapat membebaskanku tanpa harus merasa malu di hadapan publik dan secara jelas melawan cara kerja mereka yang tidak bernegosiasi dengan teroris.

Hal ini terbukti sangat sukses dalam negosiasi beberapa rekanku sesama narapidana yang berkewarganegaraan Eropa, (padahal Eropa) secara terbuka berbagi konsep yang mirip (dengan AS) yang menyebutkan bahwa “tidak ada toleransi” dalam bernegosiasi dengan teroris.

Walaupun begitu, semua pemerintah melaksanakan tuntutan-tuntutan untuk membebaskan warga negara mereka, sementara aku dan warga Amerika lainnya putus asa menunggu politisi egois yang tak punya belas kasih untuk memutuskan nasib kami.

Aku dan rekan sesama narapidana tidak ditangkap hanya untuk dibunuh atau ditahan tanpa alasan. Sebagaimana halnya kebanyakan kaum muslim dari Iraq, Afghanistan, Somalia, Yaman, Libya dan negara-negara muslim lainnya, saat ini mereka menjadi tahanan pemerintah AS dengan berbagai kasus yang dipertanyakan legalitasnya menurut hukum AS. Dan kami yang warga Amerika pun menjadi korban dari kebijakan luar negeri pemerintah kami.

Pemerintah kami, selama 13 tahun terakhir telah mengerahkan pasukan militernya di seluruh tanah kaum muslimin untuk mencampuri urusan mereka. Mereka membunuh atas nama “mempertahankan hidup”, menyiksa dan memperkosa atas nama “kemanusiaan”, menghancurkan atas nama “membangun”, dan merusak kehidupan jutaan orang. Mereka telah berhutang besar atas darah yang ditumpahkan dan kekayaan yang dirampas. Hal tersebut akan membuat kalian dan aku, yakni kebanyakan masyarakat Amerika, yang harus membayar hutang atas kejahatan-kejahatan mereka.

Hari ini pemerintah kami terus melancarkan serangannya terhadap tanah kaum muslimin, sekali lagi dengan bom-bom serangan udara di beberapa kota terbesar Iraq, membunuh dan melukai banyak orang.

Sebagaimana aku yang berbicara disini sebelum kalian, aku menyerumu untuk bangun dan membawa kehidupmu, dan anak-anakmu ke tanganmu sendiri. Jangan biarkan dirimu menjadi pion catur di tangan para politisi sehingga mereka dapat memutuskan apakah engkau hidup atau mati!

Dan ingat, adalah hal yang sangat mudah jika kelak engkau berada dalam posisiku!

Aku menyeru teman-teman, keluarga, dan orang-orang yang kucintai untuk bangkit melawan pembunuhku yang sebenarnya, yakni pemerintah AS. Apa terjadi padaku hanyalah akibat dari kepuasan diri mereka dan kejahatan mereka sendiri.

Pesanku kepada orang tuaku yang tercinta adalah, simpankan untukku sedikit martabat dan jangan menerima sedikit pun kompensasi kematianku dari orang yang sama yang memukulkan paku terakhir ke peti matiku dengan kampanye udara terbaru mereka di Iraq.

Aku menyeru pada adikku, John, yang saat ini merupakan bagian dari angkatan udara AS, untuk berpikir tentang apa yang ia lakukan dan betapa pekerjaannya menghancurkan kehidupan banyak orang, termasuk keluarganya sendiri.

Aku meminta kepadamu John, untuk berpikir tentang siapa saja yang telah membuat keputusan untuk mengebom Iraq baru-baru ini dan membunuh orang-orang itu, siapapun mereka yang mungkin. Pikirkan John. Siapa sebenarnya yang mereka bunuh? Dan apakah mereka berpikir tentang aku, kau, atau keluarga kita dan seperti apa pengaruh keputusannya terhadap kita?

Aku mati pada hari itu, John. Ketika rekan-rekanmu menjatuhkan bom-bom itu, mereka menandatangani surat kematianku!

Aku harap aku punya waktu lebih. Aku berharap aku bisa memohon untuk bebas dan melihat keluargaku sekali lagi. Namun sayangnya, kapal telah berlabuh.

Sekarang, semua yang dapat kukatakan adalah, aku berharap bahwa aku berasal dari negara lain yang pemerintahnya benar-benar peduli terhadap warganya.

Semua yang kuharapkan adalah, aku berharap bahwa aku bukan orang Amerika.

PERBINCANGAN MUSUH - DABIQ 3

DABIQ 3 - PERBINCANGAN MUSUH

DAULAH ISLAM DALAM PERBINCANGAN MUSUH

Pada 7 Agustus 2014, sang pasukan salib lagi kafir –Barack Obama– mengumumkan kepada dunia tentang kelanjutan perang antara tentara salib Amerika melawan Islam dan kaum Muslimin Iraq, hanya untuk membuktikan kepada pengikutnya bahwa tidak ada perbedaan antara kebijakan politiknya dengan pendahulunya –Bush– kecuali hanya polesan dan sentuhan-sentuhan yang dangkal. Keputusannya pun mengekspos politik munafik Amerika yang hanya melayani kepentingan sekutunya, yakni Yahudi dan Israel, serta kerakusan mereka sendiri terhadap harta. Saat terjadi genosida yang dilakukan oleh tentara Maliki, Assad, dan Israel terhadap kaum muslimin, baik melalui pembantaian sistematis, senjata kimia, pemerkosaan, maupun kelaparan karena pengepungan; di luar sana Obama menontonnya dengan gembira. Namun, ketika saudara-saudaranya dari kalangan setan Yazidi dan Zionis Kurdistan dibunuh, maka ia panik. Obama menghadapi hal ini dengan mengatakan:

“Hari ini saya meresmikan dua operasi di Iraq –serangan udara yang ditargetkan untuk melindungi tentara Amerika– dan upaya kemanusiaan untuk menyelamatkan ribuan warga sipil Iraq yang terjebak di gunung tanpa makanan dan air, dan hampir mengalami kematian. Izinkan saya untuk menjelaskan tindakan yang kami ambil dan alasan kami mengambil tindakan tersebut.

Pertama, saya telah mengatakan pada bulan Juni, karena kelompok teroris ISIS mulai bergerak di seluruh Iraq, maka Amerika Serikat akan bersiap untuk melakukan serangan militer di Iraq jika kami melihat bahwa situasi tersebut diperlukan. Dalam beberapa hari terakhir, kelompok teroris ini terus bergerak di sepanjang Iraq dan telah mendekati kota Irbil, tempat di mana diplomat Amerika dan warga sipil melayani konsulat kami, serta tentara militer Amerika melatih pasukan Iraq. Untuk menghentikan gerakan mereka di Irbil, saya telah mengarahkan militer kami untuk melakukan serangan udara melawan konvoi teroris ISIS yang bergerak menuju kota (Irbil). Kami berencana untuk tetap waspada dan mengambil tindakan jika pasukan teroris itu mengancam tentara atau fasilitas kami di mana pun di Iraq, termasuk konsulat kami di Irbil dan kedutaan kami di Baghdad. Kami juga memberikan bantuan darurat untuk pemerintah Iraq dan pasukan Kurdi sehingga mereka dapat lebih efektif melancarkan serangan melawan ISIS.

Kedua, atas permintaan pemerintah Iraq, kami telah memulai operasi untuk membantu menyelamatkan warga sipil Iraq yang terjebak di gunung. Karena ISIS telah bergerak di seluruh Iraq dan melakukan kampanye yang kejam melawan rakyat Iraq yang tidak bersalah. Dan kelompok teroris ini sangat barbar terhadap kelompok agama minoritas, termasuk Kristen dan Yazidi, sebuah sekte agama yang kecil dan kuno. Tidak terhitung barapa banyak rakyat Iraq yang telah mengungsi, laporan memberi gambaran mengerikan tentang militan ISIS yang mengumpulkan keluarga, melakukan eksekusi massal, dan memperbudak wanita-wanita Yazidi. Dalam beberapa hari terakhir, wanita-wanita Yazidi, pria, dan anak-anak dari daerah Sinjar melarikan diri untuk menyelamatkan hidup mereka. Dan ribuan, mungkin puluhan ribu, kini bersembunyi di atas gunung tanpa bekal kecuali pakaian di punggung mereka. Tidak ada makanan. Tidak ada air. Orang-orang kelaparan, anak-anak sekarat karena kehausan. Sementara itu, pasukan ISIS menyerukan pemusnahan seluruh kaum Yazidi secara sstematis di bawah konstitusi genosida…”

HIJRAH DARI KEMUNAFIKAN MENUJU KEJUJURAN

DABIQ 3 - FEATURE

HIJRAH DARI KEMUNAFIKAN MENUJU KEJUJURAN

Pendahuluan

"Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (Ash-Shaff : 2-3)

Ayat-ayat seperti inilah yang menggerakkan para Sahabat supaya diri mereka tidak dimasukkan oleh Allah ke dalam golongan orang-orang munafiq. Rasa takut akan kemunafiqan telah meresap ke dalam hati mereka, tidak ada waktu bagi mereka untuk berhenti dari rasa takut itu, berlawanan dengan kaum muslimin pada zaman ini yang terus menerus merasa tenang dan aman berkenaan dengan iman dan amal-amal mereka. Para Sahabat mengetahui esensi dari kemunafiqan –baik nifaq akbar (besar) maupun nifaq ashghar (kecil)- yaitu berbeda antara apa yang tersembunyi dalam hati dan apa yang ditampakkan dengan perbuatan, dan nifaq ashghar dapat mengarahkan kepada nifaq akbar.

Oleh karena itu, mengingkari janji untuk hijrah kepada Allah, dapat mengakibatkan sebuah akhir yang buruk (su’ul khatimah) bagi seorang hamba.

Allah ‘azza wa jalla berfirman, "Dan diantara mereka (orang-orang munafiq) ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pasti kami akan bersedekah dan pasti kami termasuk orang-orang yang shaleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memang orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran) Maka Allah menimbulkan kemunafiqan pada hati mereka sampai waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta." (At-Taubah : 75-77)

Dalam ayat-ayat ini, Allah mengatakan bahwa Dia menghukum orang-orang munafiq dengan menanamkan kemunafiqan yang lebih dalam lagi sebagai akibat dari pengingkaran janji mereka kepada Allah.

Sifat (pengingkaran) terhadap perintah Allah seperti ini juga sebagaimana yang terjadi pada Bani Isra’il.

Allah ‘azza wa jalla berfirman, "Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah”. Nabi mereka menjawab: “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang”. Mereka menjawab: “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?”. Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang zhalim. Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu”. Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa”. Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui." (Al-Baqarah : 246-247)

Sifat dari Bani Isra’il ini juga nampak ketika mereka menanyakan pertanyaan yang detail perihal sapi yang mereka klaim sebagai apa yang mereka cari, ketika diperintahkan oleh nabi Musa ‘alaihis salam untuk menyembelih sapi itu. Mereka menanyakan pertanyaan-pertanyaan itu agar bisa menghindar dari tanggung jawab; dan ketika mereka akhirnya mematuhi perintah tersebut, mereka melakukannya dengan malas-malasan. "Kemudian mereka menyembelihnya (sapi itu) dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu." (Al-Baqarah : 71)

Oleh karena itu, setiap Muslim “professional” yang telah menunda jihadnya di masa lalu dengan “alasan-alasan” ingin belajar syari'ah, kedokteran, atau teknik mesin, dan lain-lain. Dengan “klaim” bahwa dia akan dapat berkontribusi untuk islam di kemudian hari dengan keahliannya tersebut. Sebaiknya sekarang orang-orang semacam itu segera bertaubat dan menjawab panggilan hijrah, khususnya setelah Khilafah telah kembali ditegakkan. Khilafah inilah yang sekarang lebih membutuhkan para ahli, tenaga professional dan spesialis yang dapat membantu berkontribusi dalam menguatkan pondasinya.

Adapun kepada para pelajar Muslim (thalabul 'ilm) yang juga menggunakan “alasan-alasan” yang sama untuk terus meninggalkan kewajiban (hijrah dan jihad) pada zaman ini, maka mereka harus tahu bahwa dengan hijrah mereka dari darul kafir menuju darul islam dan berjihad, adalah sesuatu yang lebih Fardhu (wajib) dan mendesak daripada menghabiskan bertahun-tahun untuk belajar yang sementara itu mereka dapat terkena keraguan-keraguan (syubhat) dan hawa nafsu yang pada akhirnya akan menghancurkan agama mereka dan dengan demikian akan mengakhiri masa depan jihad mereka.

RASA TAKUT AKAN KEMUNAFIKAN

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang mati tanpa pernah berjihad dan tidak pernah berniat untuk berjihad sama sekali, maka dia mati dalam cabang kemunafiqan.” (Shahih Muslim)

Oleh karena itu, meninggalkan jihad adalah suatu sifat orang munafiq. Maka berhati-hatilah dengannya, atau bisa saja sifat itu membelenggu hatimu.

Al-Hasan al-Basri rahimahullah berkata, “Tidak ada seorangpun yang takut akan kemunafikan kecuali dia adalah orang yang beriman, dan tidak ada seorangpun yag merasa aman dari kemunafikan kecuali dia adalah orang munafik”. (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam).

Ibn Rajab rahimahullah berkata, “Sahl at-Tustari berkata, ‘Murid (pengikut sufi) takut akan terkena dosa-dosa, tetapi ‘arif (seorang hamba yang berilmu) takut akan terkena kekufuran.’ Karena alasan inilah para Sahabat dan Salafushalih setelahnya, takut akan terkena nifaq (kemunafikan) pada diri mereka, dan kekhawatiran mereka akan nifaq sangatlah tinggi. Oleh karena itu, orang-orang beriman takut akan adanya setitik saja nifaq pada diri mereka, dan dia takut bahwa setitik nifaq itu dapat mengalahkan dirinya sebelum dia menemui kematian dan akan menggiring dirinya menuju nifaq akbar, sebagaimana kita sebutkan sebelumnya bahwa nifaq tersembunyi dapat mengantarkan seseorang kepada kematian yang buruk (su’ul khatimah).” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam).

Maka meninggalkan hijrah –jalan menuju jihad- adalah persoalan yang berbahaya. Akibatnya, seseorang yang meninggalkan jihad harus rela menerima kondisi tragisnya sebagai ‘penonton yang munafik’. Dia tinggal di darul kufur bersama para kuffar bertahun-tahun, menghabiskan waktunya berjam-jam di internet, membaca berita-berita dan memberi komentar di forum-forum, hanya untuk terkena ayat, "Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badwi, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu. Dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja." (Al-Ahzab : 20).

Setiap orang harus bertanya kepada dirinya sendiri, “Apa jaminannya bahwa saya tidak akan terkena ayat ini atau ayat-ayat yang sejenis lainnya?”

Dia juga harus merenungkan, "Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka. Dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu”. Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antara kalian; sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zhalim." (At-Taubah : 46-47)

Ibnul Qayim rahimahullah berkata, “Allah tidak menyukai ketaatan mereka dikarenakan kotornya hati-hati mereka dan busuknya niat-niat mereka, maka Allah menghalau mereka ke belakang dan membuat mereka terduduk (bersama orang-orang yang duduk). Allah membenci ‘kedekatan’ mereka kepada diri-Nya, dikarenakan kecenderungan mereka terhadap musuh-musuh Allah, maka Allah menghalau mereka dan menjauhkan mereka dari-Nya. Mereka berpaling dari ayat-ayat Allah, maka Allah pun berpaling dari mereka, membuat mereka menderita, tidak memberikan kebahagiaan kepada mereka, dan menetapkan atas mereka agar mereka tidak mendapatkan harapan keberhasilan apapun, kecuali jika mereka bertaubat.” (Madarijus Salikin)

Tanyakan pada diri kalian, “Apa jaminannya bahwa Allah tidak membenci keberangkatanku? Apa mungkin Allah melihat bahwa dalam diriku terdapat sifat kemunafikan yang mana aku tidak dapat melihatnya, dan oleh karena itulah Allah mencegah keberangkatanku untuk berjihad?”

Perasaan keragu-raguan secara terus menerus dapat menghancurkan bagian dalam diri seseorang. Pada beberapa waktu lalu, para Muslim yang tulus akan menangis dan berdoa setiap hari agar dapat melarikan diri dari bumi-bumi “qu’ud” (tempat dimana orang-orang duduk-duduk meninggalkan jihad) lalu pergi menuju bumi-bumi jihad, bahkan mereka mau jika mereka nantinya (di bumi jihad) hanya hidup sebagai seorang prajurit yang terus menantikan kesempatan untuk bertempur. Mereka memimpikan untuk pergi ke Iraq, Afghanistan, Yaman, Chechnya, Aljazair, Somalia, dan Waziristan, tetapi tidak berhasil. Mereka tahu bahwa satu-satunya jalan bagi seseorang yang mengklaim bahwa dirinya masih memiliki sebiji sawi keimanan adalah dengan pergi meninggalkan darul kufur.

Sebelumnya, memang jalan hijrah ini terdengar mustahil bagi beberapa orang, tetapi sekarang sudah ada Khilafah yang sudap siap menerima setiap Muslim dan Muslimah untuk berhijrah menuju bumi-bumi Nya, dan Khilafah ini juga berusaha dan Khilafah ini juga berusaha semampunya dengan kekuatannya untuk melindungi mereka (para muhajirin), sambil bersandar kepada Allah semata.

KATA-KATA INSPIRASI DARI SYUHADA

Berkaca kepada keadaan emosi yang digambarkan oleh Asy-Syahid Abu Dujanah al-Khurasani rahimahullah, yang selama bertahun-tahun dalam hidupnya mencari sebuah jalan untuk berjihad, sampai akhirnya para musuh islam sendirilah yang –dengan rahmat Allah- menempatkan dirinya diatas jalan itu. Beliau kemudian mengambil keuntungan dari makar mereka untuk menghancurkan wajah-wajah mereka sendiri, berhasil membunuh sejumlah salibis amerika dan agen-agen murtad mereka.

Abu Dujanah al-Khurasani rahimahullah berkata, “Dari setiap kematian yang aku ketahui, aku dapat mati. Dari setiap penyakit yang aku ketahui, aku dapat jatuh sakit. Dari setiap tahun yang berlalu dalam hidupku, aku akan semakin tua. Inilah Sunnatullah mengenai para Qa’idun (mereka yang duduk dan meninggalkan jihad). Aku mengenal betul kondisi ini. Ini adalah sebuah kondisi yang disebut dengan “kematian secara halus (perlahan)". Oleh karena itu, kata-kataku akan sirna jika aku tidak menebusnya dengan darahku. Emosiku akan padam jika aku tidak membakarnya dengan kematianku. Apa yang aku tulis ini akan bersaksi atas diriku kelak jika aku tidak membuktikan bahwa aku bukan orang munafik. Tidak ada satupun kecuali hanya dengan darah yang dapat sepenuhnya memastikan adanya bukti itu. Jika Allah mentaqdirkan kalian untuk masuk ke sebuah kota dimana kata-kata dan perasaanku itu tinggal didalamnya, kalian akan menemukan foto-fotoku tergantung pada dinding-dinding dan tiang-tiang, dan dibawah fotoku itu tertulis, ‘Dicari : hidup atau mati’.” (Mata Tashrab Kalimati min Dima’i)

Beliau rahimahullah juga berkata, “Kecintaan ini (terhadap jihad), bagi mereka yang tidak mengetahuinya, membuat pahit hidup para “qa’idun” (mereka yang duduk dan meninggalkan jihad) dan menghancurkan kesenangan mereka. Tidak seorangpun yang akan memahami kata-kataku kecuali bagi seseorang yang berada dalam kondisi yang sama sepertiku. (…) Jika kecintaan terhadap jihad sudah merasuk pada hati seseorang, maka rasa ini tidak akan meninggalkan dirinya, walaupun dia telah berharap seperti itu. Jika dia berusaha untuk melupakan atau berpura-pura lupa, maka gejala-gejalanya akan semakin memberatkan dan kondisinya akan semakin sulit. Dia akan mendapati dirinya dikelilingi dengan segala sesuatu yang mengingatkan dia terhadap jihad. (…) Pepatah berkata, ‘terkadang cinta membunuhmu’. Aku tidak mendapati kebenaran atas perkataan itu kecuali dengan ‘kecintaan terhadap jihad’, karena cinta ini akan membunuhmu dengan penyesalan jika kalian memilih untuk duduk dan meninggalkan jihad, atau cinta ini dapat membunumu, membuat dirimu menjadi seorang syuhada fi sabilillah jika kalian memilih untuk menjawab seruan jihad. Kalian hanya dapat memilih salah satu dari dua macam kematian itu." (Thala’i’ Khurasan Edisi 15).

Kondisi ini mungkin menggambarkan satu dari sekian banyak pengalaman keseharian setiap Muslim. Yang mana tidak ada solusi atasnya kecuali dengan mengambil langkah pertama menuju jihad, (yaitu dengan) Hijrah.

PERBUDAKAN ERA MODERN

Perbudakan di zaman modern ini melalui pemekerjaan (lowongan pekerjaan), jam kerja, gaji, dll, adalah salah satu hal yang menyebabkan kaum Muslimin secara terus menerus terbuai dalam ketundukannya kepada bos atau tuan mereka dari kalangan orang kafir. Dia tidak hidup dengan kekuasaan dan kemulian yang mana setiap muslim harus hidup dengannya dan merasakannya. Ini sama halnya dengan ibarat Bilal radhiyallahu ‘anhu tidak pernah berkeinginan untuk hidup sebagai orang merdeka, lalu Daulah Islam Madinah tidak pernah didirikan, dan ayat-ayat jihad, jizyah, dan ghanimah tidak pernah diturunkan kepada Rasulullah untuk Ummat Muslim!

Padahal jika kalian membandingkan situasi para Sahabat setelah hijrah dan jihad, kalian akan melihat bahwa “Dunia” datang menghampiri mereka tanpa mereka harus mengekor kepadanya. Mereka mendedikasikan hidupnya hanya untuk Allah, maka “Dunia” pun mendatangi mereka tanpa mereka harapkan.

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang mengharapkan Akhirat, Allah akan mengumpulkan baginya segala urusannya dan akan menaruh kekayaan pada hatinya. Dunia akan mendatangi dirinya dengan sendirinya. Dan barangsiapa yang mengharapkan Dunia, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menaruh kemiskinan di pelupuk matanya. Tidak akan ada Dunia yang mendatanginya kecuali apa yang sudah ditetapkan baginya.” (Shahih, riwayat at-Tirmidzi).

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Fitnah ibarat potongan-potongan gelapnya malam yang telah membayangi kalian. Orang yang paling selamat dari fitnah ini adalah orang yang berada di pegunungan yang tinggi yang memberi makan dirinya dari susu kambing miliknya, atau orang yang menempuh jalan utama (pada garis depan dekat dengan musuhnya) yang menggenggam tali kekang kudanya dan makan dari (apa yang dia dapatkan dengan) pedangnya.” (Shahih, riwayat al-Hakim)

Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah berkata, “Para ulama telah berijma’ bahwa sebaik-baik harta penghasilan adalah ghanimah (rampasan perang) (…) selama itu bebas dari ghulul (mencuri dari ghanimah).” (Bahjatul Majalis)

Ibnul Qayim rahimahullah berkata, “Jika dikatakan, ‘Apakah sumber penghasilan (rizki) yang terbaik dan paling halal?’ (…) Pendapat yang benar adalah bahwa penghasilan yang paling halal adalah yang berasal dari sumber yang sama dengan sumber penghasilan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Yaitu penghasilan para ghanimin (para penghasil ghanimah), yang mana telah dihalalkan bagi mereka melalui Syari'at Allah. Penghasilan(rizki) ini dipuji didalam Al-Qur’an melebihi dari penghasilan apapun. Orang-orangnya (yang mendapat penghasilan dari ghanimah) juga dipuji dengan pujian yang tidak pernah didapatkan orang selainnya. Untuk alasan inilah, Allah menetapkan penghasilan ini untuk sebaik-baik makhluk Nya dan penutup dari para Nabi, yang bersabda, ‘Aku diutus menjelang hari kiamat dengan pedang sehingga Allah saja yang disembah dan tidak disekutukan dengan lain-Nya dan rizkiku terletak di bawah tombakku, dan kehinaan itu dijadikan atas orang yang menyelisihi agamaku." (Shahih, riwayat Imam Ahmad dari Ibnu Umar). Itulah penghasilan (rezeki) yang diraih melalui kekuatan, kemuliaan dan penaklukan atas musuh-musuh Allah. Ini telah menjadi hal yang paling dicintai bagi Allah, dan maka tidak penghasilan lain yang dapat menandinginya. Wallahu a’lam.” (Zadul Ma’ad)

Fa’i (rampasan yang diraih tanpa peperangan) termasuk dalam makna dari “rizkiku terletak di bawah tombakku” lebih utama dari segala macam bentuk rampasan perang, sebagaimana para ulama telah menyebutkan ketika mengomentari hadits tersebut.

Penghasilan yang mulia ini (ghanimah) membantu seseorang untuk berlepas diri dari perbudakan dan mendedikasikan hidupnya secara sungguh-sungguh kepada Tuannya (Allah) melalui Ibadah, Jihad, dan belajar ilmu agama. Padahal dedikasi hidup seseorang kepada suatu pekerjaan, jika tuannya adalah orang kafir, hanya akan menggiring dirinya kepada kehinaan yang mungkin dari waktu ke waktu dapat mengarahkan kepada pengakuan yang diikuti dengan keadaan yang rendah dan tercampuri oleh kekufuran. Mungkin, untuk alasan ini para Ulama menyebutkan bahwa merupakan suatu hal yang tidak disukai (makruh) jika seorang Muslim bekerja kepada orang kafir (lihat Fathul Bari jilid 4, hal 452).

Tetapi bagi siapapun yang telah melakukan hijrah dan secara bodoh mengharapkan untuk hidup royal atau rakus kemudian menimbulkan fitnah terhadap ghanimah, maka hijrahnya adalah sesuai niatnya, dan dia jangan mengharapkan imbalan apapun di Akhirat kecuali jika dia bertaubat.

TIADA HIDUP TANPA JIHAD DAN TIADA JIHAD TANPA HIJRAH

Allah ‘azza wa jalla berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu." (Al-Anfal : 24)

‘Urwah Ibnu Zubair rahimahullah berkata, "Suatu yang memberi kehidupan kepada kamu" maknanya adalah perang, yang mana Allah memuliakan kalian setelah kehinaan, menguatkan kalian setelah kelemahan, dan membela kalian dari musuh kalian setelah penindasan mereka terhadap kalian.” (Tafsir Ibn Katsir).

Jihad tidak hanya memberikan kehidupan bagi skala besar dari Ummat, tetapi itu juga memberikan kehidupan secara penuh pada skala individu manusia.

Ibnul Qayim rahimahullah berkata, “Jika tidak ada yang didapatkan dari Memanah kecuali itu menolak kegelisahan dan kesedihan dari hati, maka itu sudah cukup menjadi suatu keutamaan. Apalagi, para Pemanah telah merasakan ini. Juga, Ath-Thabrani meriwayatkan hadits dari Hisyam Ibnu Urwah dari ayahnya, dari A’isyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika suatu ketika kegelisahan membelenggu diri seseorang, dia hanya perlu untuk memakai busur panahnya lalu melesatkannya anak panahnya yang dengan demikian akan dapat mengusir kegelisahannya” (salah satu susunan isnadnya terdapat perawi yang sangat lemah yang bernama Muhammad az-Zubaidi, sebagaimana yang disebutkan dalam Majma’ az-Zawa’id). Perkataan ini mirip dengan perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam “Lakukanlah Jihad fi sabilillah, karena itu adalah salah satu gerbang diantara gerbang-gerbang Jannah, dimana Allah mengusir kegelisahan dan kesedihan dari jiwa-jiwa” (Shahih, Riwayat Imam Ahmad dan Al-Hakim dari Ubadah ibnu Shamit). Ini juga berasal dari firman Allah ta’ala, "Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman. dan menghilangkan panas hati orang-orang mu’min. Dan Allah menerima taubat orang yang dikehendaki-Nya. Allah maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana" (At-Taubah : 14-15).” (Al-Furusiyah)

Kehidupan Jihad ini tidak mungkin (kalian dapatkan) sampai kalian berkemas dan hijrah menuju (bumi) Khilafah.

TEMAN YANG BURUK MERUSAK HATI

Hidup di tengah-tengah ahli maksiat dapat mematikan hati seseorang, lalu bagaimana halnya jika hidup di tengah-tengah orang-orang kafir! Kekufuran mereka pada awalnya hanya membuat goresan dan jejak pada hati yang dari waktu ke waktu akan menjadi ukiran dan pahatan yang hampir tidak mungkin untuk dihilangkan. Mereka dapat menghancurkan fitrah seseorang menuju sebuah titik yang mana tidak bisa kembali lagi, jadi keraguan dan hasrat dari hatinya akan sepenuhnya membelenggu dirinya.

Dalam hadits tentang seorang pria yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang dan kemudian memutuskan untuk bertaubat, seorang ulama berkata kepadanya, “Pergilah menuju sebuah negeri ini dan ini, karena didalamnya terdapat orang-orang yang senantiasa beribadah kepada Allah. Maka Beribadahlah kamu kepada Allah bersama mereka dan jangan pernah kembali ke negerimu, karena negerimu itu adalah negeri yang buruk(jahat).” (Shahih Muslim).

Jarir ibnu Abdullah radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : "Aku berlepasdiri dari setiap muslim yang hidup di tengah-tengah kaum musyrikin. Tidak akan terkumpul dua api mereka berdua." (Hadits hasan, diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Bahkan jika seseorang selalu menghabiskan waktunya di masjid untuk sholat, dzikir dan belajar ilmu agama, sementara dia hidup bersama (komunitas) kaum Muslimin yang hidup berdampingan dengan orang-orang kafir dan meninggalkan jihad, maka orang seperti ini hanya akan membangun hujjah (bukti) yang paling kuat (untuk menjatuhkan dirinya sendiri di hari Kiamat) atas dirinya dan dosa-dosanya.

Juga dikatakan oleh Abu Musa Al-'Asy'ari radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) membakar pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap." (Al-Bukhari dan Muslim)

Jadi, teman yang buruk (ahlu maksiat) mau tidak mau akan tetap mempengaruhi kalian. Dan dosa yang paling berat pada zaman ini adalah qu’ud (meninggalkan jihad), dikarenakan hukum jihad sekarang adalah Fardhu ‘ain (Wajib atas setiap individu). Lalu bagaimana bisa seseorang merasa senang bersama teman-teman yang meninggalkan jihad?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Inti dari hijrah adalah untuk meninggalkan dosa dan para pelakunya (ahlul maksiat), termasuk hajr (menjauhi / memboikot) para penyeru bid’ah, maksiat, dan mereka yang berbaur bersama mereka atau membantu mereka. Demikian pula, bagi seseorang yang meninggalkan Jihad (amalan yang tanpanya dia tidak bisa mencapai maslahah apapun) harus dihukum dengan hajr (boikot), karena dia tidak mengarahkan kaum Muslimin menuju ketaqwaan dan jalan yang benar. Dan seperti, para zunah (pezina), para luthiyah (pelaku sodomi), para qu’ud (orang yang meninggalkan jihad), para ahlul bid’ah (orang-orang yang membuat perkara baru dalam hal agama) dan para peminum Khamr (pemabuk), semuanya berbahaya bagi Dienul Islam, dan membaur bersama mereka juga suatu hal yang berbahaya. Mereka tidak mengarahkan menuju jalan yang benar atau tidak juga mengarahkan kepada ketaqwaan. Barangsiapa yang tidak meninggalkan mereka maka dia telah meninggalkan sebuah kewajiban dan jatuh ke dalam suatu hal yang dilarang.” (Majmu’ al-Fatawa)

Apakah kalian merasa senang berbaur dengan mereka yang disebutkan oleh Syaikhul Islam yaitu para pezina, kaum sodom, dan juga para ahlul bid’ah dan para peminum khamr? Wallahi, mereka akan menghancurkan Dien seseorang sampai orang itu mendapati dirinya di Neraka!

NASEHAT BAGI MEREKA YANG MEMULAI HIJRAH

Sebelum kalian menempuh perjalanan kalian, ingat baik-baik hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Kalau kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, maka niscaya Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada burung; ia pergi pagi hari dalam keadaan perutnya kosong, lalu pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang.” (Shahih, riwayat Imam Ahmad, at-Tirmidzi dan lainnya, dari Umar)

Hadits ini dikatakan berkaitan dalam urusan dunia, lalu bagaimana halnya jika berkaitan dalam urusan Dien, yang mana Allah telah menjanjikan pertolongannya! Ibnul Qayim rahimahullah berkata: “Andaikan seorang hamba bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal untuk memindahkan gunung dari tempatnya dan dia diperintah untuk memindahkan gunung tersebut, niscaya dia akan mampu memindahkannya.” (Madarijus Salikin)

Maka jangan pernah berkata kepada dirimu sendiri, “Aku tidak akan pernah berhasil dalam hijrahku.” Kebanyakan dari mereka yang telah berusaha, mereka telah berhasil mencapai bumi Khilafah. Diantara mereka ada yang berpergian melalui darat, terkadang berjalan kaki, dari suatu Negara ke Negara yang lainnya, menyeberangi suatu perbatasan ke perbatasan lainnya, dan Allah telah mengantarkan mereka dengan selamat sampai ke bumi Khilafah.

Jangan pernah berkata kepada dirimu sendiri, “Aku akan tertangkap.” Ketakutan itu adalah suatu hal yang tidak pasti dan sedangkan kewajiban hijrah itu adalah suatu hal yang pasti. Tidaklah dibenarkan untuk membatalkan sesuatu yang pasti dengan sesuatu yang tidak pasti (sebagaimana yang telah disampaikan oleh Syaikh Abdullah Azzam dalam beberapa khutbah dan tulisannya). Jika kalian takut ditangkap, maka lakukanlah sesuai kemampuanmu untuk menghindari deteksi, dengan tidak membicarakan kepada siapapun mengenai niat kalian untuk hijrah.

Jangan khawatir mengenai pekerjaan atau tempat tinggal untuk dirimu dan keluargamu (di bumi Khilafah nanti). Disana terdapat banyak rumah-rumah dan sumber daya untuk menaungi dirimu dan keluargamu.

Ingat baik-baik bahwa Khilafah adalah sebuah Daulah yang penghuni dan pasukannya hanyalah manusia biasa. Mereka tidak sempurna seperti Malaikat. Kalian mungkin akan mendapati beberapa hal yang perlu ditingkatkan dan hal-hal lain yang sedang dalam proses perbaikan.

“JIKA KALIAN BERTAWAKKAL KEPADA ALLAH DENGAN SEBENAR-BENAR TAWAKKAL, NISCAYA ALLAH AKAN MEMBERIKAN KALIAN RIZKI SEBAGAIMANA DIA MEMBERIKAN RIZKI KEPADA BURUNG-BURUNG. MEREKA PERGI PAGI HARI DENGAN PERUT KOSONG DAN KEMBALI DENGAN KENYANG MALAM HARI..."

Kalian mungkin akan menemui beberapa kesalahan yang perlu diperbaiki. Kalian mungkin akan mendapati beberapa saudara kalian dengan sifat-sifat yang perlu diperbaiki. Tetapi ingat bahwa Khilafah sedang dalam kondisi perang terhadap banyak Negara kafir dan sekutunya, dan ini adalah sesuatu yang membutuhkan banyak pembagian sumber daya. Maka bersabarlah.

Akhirnya, jika kalian telah tiba (di bumi Khilafah), jangan biarkan pencapaian Hijrah kalian menggugurkan amal-amal kalian dengan membiarkan kesombongan merasuki hati-hati kalian dan kemudian merendahkan saudara-saudara kalian dari kalangan Anshar! Muhajirin tidak akan pernah ada tanpa Anshar. Oleh karena itu, ketahuilah bahwa hijrah adalah suatu amalan yang sangat utama tetapi itu juga bukan merupakan sebuah pembenaran untuk memandang diri kalian lebih utama daripada yang lainnya.

Ibnul Qayim rahimahullah berkata, “Telah ada riwayat shahih bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, ‘Tidak seorangpun dengan sebiji sawi kesombongan akan memasuki surga.” Mereka berkata kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, jika ada seseorang yang mengenakan sepatu dan pakaian bagus. Apakah itu merupakan kesombongan?’ Beliau bersabda, ‘Tidak, Allah itu indah dan Dia menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain’ (Shahih Muslim). Maka kesombongan adalah meremehkan kebenaran, menolaknya, mengelak darinya setelah mengetahuinya, dan memandang rendah seseorang dengan pandangan enggan, benci, dan cemooh. Tidak ada yang salah dengannya (memakai pakaian bagus) jika itu dilakukan karena Allah. Tanda bahwa hal itu dilakukan karena Allah adalah orang itu akan lebih merendahkan dirinya (tawadhu’). Tetapi jika dia merendahkan orang lain dikarenakan beranggapan bahwa dirinya lebih utama, maka inilah kesombongan yang akan menghalanginya masuk surga.” (Raudhatul Muhibbin)

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa seorang tabi’in yang bernama Wahab Ibnu Munabbih berkata, “Musa berkata kepada Bani Isra’il, ‘bawakan kepadaku orang-orang terbaik kalian’. Maka mereka membawakan seseorang kepadanya. Musa berkata, ‘apakah engkau yang terbaik dari Bani Isra’il?’ Dia menjawab, ‘ya, sebagaimana yang mereka katakan.’ Maka Musa mengatakan kepadanya, ‘pergilah dan bawakan kepadaku orang yang terburuk dari Bani Isra’il.’ Maka dia pergi dan kembali sendirian. Musa berkata, ‘Apakah engkau telah membawakan orang yang terburuk dari Bani Isra’il?’ Dia menjawab, ‘Aku tidak mengenali banyak hal mengenai mereka sebagaimana aku mengenali diriku sendiri.’ Musa berkata, ‘(Maka) memang benar engkaulah yang terbaik diantara mereka’.” (Az-Zuhud)

Wallahu a'lam. Kami memohon kepada Allah agar Dia memudahkan hijrah kalian. Aamiin.

DAKWAH DAN HISBAH DI DAULAH ISLAM

DABIQ 3 - LAPORAN

DAKWAH DAN HISBAH DI DAULAH ISLAM

Ketika kabilah Bani Syaiban menawarkan diri untuk menolong Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melawan Arab tetapi tidak melawan Persia, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepada mereka, "Agama Allah hanya akan ditolong oleh orang yang melindunginya dari segala isinya." [Ibnu Hajar berkata, diriwayatkan oleh al-Hakim, Abu Nu'aim, dan al-Baihaqi dalam ad-Dala'il dengan sanad hasan].

Hadits ini hanya sebagai gambaran akan kemauan dan tekad yang Allah tuntut dari kita ketika hendak menegakkan agama-Nya, hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak bisa dipilah-pilah dan dicapai sedikit demi sedikit. Kita tidak bisa mengadopsi pemikiran bahwa jihad dapat diterima tanpa da'wah, atau bahwa hudud tidak dapat ditegakkan selama jihad defensif, atau bahwa kami hidup di masa yang mirip dengan zaman Nabi di Makkah dan oleh karenanya harus fokus kepada da'wah karena tidak ada jihad.

Sebaliknya, Islam adalah agama yang menyeluruh yang harus diikuti dari setiap sisinya, dan dipertahankan dari segala penjuru. Jika salah satu aspeknya diabaikan atau dilalaikan, syaithan dan tentaranya akan segera mengisi kekosongan tersebut.

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara menyeluruh dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya, syaithan adalah musuh yang nyata bagimu.” [Al-Baqarah: 208].

Karena alasan inilah Daulah Islam telah lama menjaga inisiatif untuk menegakkan jihad beriringan dengan kampanye da'wah yang secara aktif memenuhi kebutuhan masyarakat, ia berperang untuk membela Muslimin, membebaskan tanah-tanah mereka, dan mengakhiri para thaghut. Dan pada saat yang sama berusaha untuk membimbing dan membina mereka yang berada di bawah kekuasaanya serta memastikan dengan baik bahwa kebutuhan agama Tambahan laporan

dan sosial mereka terpenuhi. Karena tiada kebaikan dalam pembebasan suatu kota jika hanya untuk membiarkan penduduknya berjalan di atas kebathilan dan penderitaan, menderita karena kebodohan dan perpecahan, dan terputus dari Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya shallalllahu 'alaihi wasallam.

Demikianlah, Daulah Islam secara aktif bekerja untuk mengedukasi masyarakatnya, memberi ceramah dan nasehat kepada mereka, mengajak mereka untuk berpegang teguh kepada kewajiban-kewajiban Islam, memutuskan perselisihan mereka, menerapkan syar'iat hudud, membasmi semua bentuk kesyirikan dan kebid'ahan, menyeru orang-orang untuk berjihad, dan menyeru mereka untuk bersatu di bawah Khalifah Ibrahim bin 'Awwad al-Husaini al-Qurasyi.

PEMBEBASAN DABIQ

DABIQ 3 - LAPORAN

PEMBEBASAN DABIQ

Bulan ini, tentara Daulah Islam melancarkan serangan cepat dan senyap ke utara Halab. Serangan tersebut, yang bernama "Pembalasan untuk Saudari Yang Suci", dengan sasaran para pengkhianat Shahawat murtad yang menjual diri mereka kepada Amerika dan boneka lokalnya, menikam mujahidin dari belakang, serta menawan dan memperkosa banyak Muhajirah.

Serangan di utara Halab berhasil membebaskan sejumlah kota dan desa termasuk Akhtarin, Turkman Barih, Huwar an-Nahr, dan Dabiq, yang namanya pasti dikenali oleh para pembaca sebagai nama majalah ini. Sebagaimana disebutkan di Pendahuluan edisi pertama kami, nama majalah ini diambil dari daerah bernama Dabiq di tepian utara Halab, karena peran penting yang akan diperankannya selama al-Malhamah al-Kubra (Perang Terbesar) melawan tentara Salib.

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Hari kiamat tidak akan terjadi sampai negeri Romawi di al-A'maq atau Dabiq (dua tempat berdekatan di utara Halab). Lalu pasukan dari Madinah yang berisi orang-orang terbaik di bumi akan keluar untuk melawan mereka. Ketika mereka telah berbaris, Romawi berkata, ‘Biarkan kami dan orang-orang yang telah mengambil tawanan dari kami sehingga kami bisa memerangi mereka’. Kaum Muslimin akan berkata, ‘Tidak, demi Allah, kami tidak akan menyerahkan saudara-saudara kami kepadamu’. Maka mereka akan saling berperang. Kemudian sepertiga dari mereka akan kabur (lari dari pertempuran), Allah tidak akan mengampuni mereka. Sepertiga akan terbunuh, mereka akan menjadi syuhada terbaik di sisi Allah. Dan sepertiga akan mengalahkan mereka, mereka tidak akan terkena fitnah (selamanya). Kemudian mereka akan menaklukkan Konstantinopel. Ketika mereka membagi ghanimah, menggantungkan pedang mereka di pohon zaitun, syaitan akan menyeru, ‘Dajjal Al Masih (palsu) telah mencapai keluargamu [yang tertinggal]’. Maka mereka akan kembali [kepada keluarganya], tapi berita dari syaitan itu hanya bohong. Ketika mereka kembali ke Syam, dia (Dajjal) muncul. Lalu ketika mereka bersiap untuk perang dan mengatur barisan, datang panggilan shalat. Maka Isa bin Maryam 'alaihis salam akan turun dan memimpin mereka. Ketika musuh Allah (Dajjal) melihatnya, maka dia akan meleleh seperti garam di dalam air. Seandainya dia membiarkannya (Dajjal) tentu ia meleleh sampai habis, tetapi dia membunuh Dajjal dengan tangannya, dan kemudian dia menunjukkan darah Dajjal di ujung tombaknya." [Shahih Muslim]

Kami memohon kepada Allah untuk menempatkan kami di kubu orang-orang yang beriman di hari al-Malhamah dan menguatkan kami hingga Dia menganugerahkan kepada kami kemenangan atau mati syahid.

HUKUMAN KEPADA SUKU SHU’AITAT KARENA BERKHIANAT

DABIQ 3 - LAPORAN

HUKUMAN KEPADA SUKU SHU’AITAT KARENA BERKHIANAT

Abu Mush’ab az-Zarqawi rahimahullah berkata, "Maka kami memperingatkan para kabilah, bahwa kabilah atau kelompok atau perkumpulan manapun yang terbukti ikut campur dan berkerjasama dengan Salibis dan agen-agen murtad mereka, maka demi Dzat yang mengutus Muhammad (shallallahu 'alaihi wasallam) dengan kebenaran, kami akan menjadikan mereka target sebagaimana kami menjadikan Salibis sebagai target, dan kami akan membasmi dan memisahkan mereka, karena hanya ada dua kubu: kubu kebenaran dan para pengikutnya, dan kubu kebathilan dan para pengikutnya. Maka pilihlah salah satu dari dua kubu tersebut. Dan apa yang telah terjadi dengan beberapa pengkhianat di al-Qa'im adalah bukti terbaik untuk ini." [Hadza Bayaanu Linnaas wa li Yunzharu bih].

Abu Mush’ab az-Zarqawi rahimahullah juga berkata, "Mulai sekarang, siapapun yang terbukti bersekutu dengan penjaga kesyirikan, polisi, dan tentara, atau berkerjasama dan menjadi mata-mata untuk Salibis terbukti, maka hukumannya adalah eksekusi, dan tidak hanya itu, rumahnya juga akan dihancurkan dan dibakar, setelah dikeluarkan wanita dan anak-anak. Ini adalah balasan untuk pengkhianatannya kepada agama dan umatnya, dan agar dia menjadi pelajaran yang nyata dan contoh untuk membuat jera." [Hadza Bayaanu Linnaas wa li Yunzharu bih].

Setelah mendengar pernyataan tersebut dari Syaikh pada tahun 1426H (2005), banyak kaum Muslim yang duduk-duduk di rumah, hidup di masyarakat "modern", tidak pernah merasakan perang maupun pertikaian suku, berkata pada dirinya sendiri, "Dia mengumumkan perang kepada seluruh kabilah! Bagaimana bisa ini terjadi? Apa yang harus dilakukan individu dari kabilah dengan sebab perbuatan anggota tertentu dari kabilah atau bahkan keputusan tetua kabilah?!"

Masalah yang ada pada orang-orang tersebut adalah mereka tidak mengetahui apapun tentang masyarakat kecuali apa yang mereka alami di masyarakat "modern", di mana kesukuan telah mati, dan di mana sedikit kabilah yang masih ada tidak memiliki peran yang penting sebagai kesatuan utuh dalam masyarakat dan komunitas mereka. Orang-orang tersebut beranggapan bahwa semua yang ada di luar sana adalah kota "zaman modern" dengan individualismenya.

Bagaimanapun, keadaannya berbeda di berbagai penjuru dunia, terutama di daerah pedesaan dan nomaden. Di mana kabilah -yang teracuni dengan jahiliyah- masih berperilaku seperti satu tubuh yang keras kepala atau seperti sebuah geng yang gila dengan mental gerombolan dari arogansi kesukuan.

Ketika seseorang mengalami kesukuan yang alami setelah hidup bertahun-tahun di kota, dia akan menyadari kebijaksanaan dalam kalimat Syaikh Abu Mush’ab az-Zarqawi rahimahullah. Juga lebih mudah baginya untuk menghubungkan kejadian-kejadian yang diriwayatkan dalam Sunnah dan Sirah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan kejadian-kejadian hari ini. Lalu dia akan tahu mengapa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memperlakukan kabilah-kabilah Arab dan Bani Israil sebagai satu kesatuan ketika ada anggota kabilah yang melanggar perjanjian dengan beliau. Hal ini juga bagaimana setelah beliau, Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu berurusan dengan kabilah-kabilah dalam perang kemurtaddan. Dalam manhaj Nabi dan ash-Shiddiq, kabilah-kabilah pada zaman itu dianggap sebagai kelompok yang homogen; individu khusus diperlakukan sebagai kasus pengecualian, bukan secara umum. Para fuqaha menyebut kehomogenan ini dengan "tha'ifah mumtani'ah", jika mereka menolak syari'ah. Berdasarkan definisi, jika suatu kabilah tidak bertindak sebagai sebuah kelompok dalam menentang syari'at, tentu tidak dibenarkan menerapkan aturan ini kepada para anggotanya.

Setelah penjalasan ini, akan menjadi jelas mengapa Daulah Islam menghukum suku Shu’aitat sebagai sebuah kelompok murtad yang menentang syari’at dengan senjata. Suku tersebut dibiarkan bersenjata setelah mereka setuju untuk mengikuti aturan syari'at dengan syarat mereka menyerahkan semua persenjataan berat. Kemudian mereka melanggar janji mereka dengan memberontak kepada Daulah Islam. Mereka menyergap tentara Daulah Islam, mereka menyiksa, mengamputasi dan mengeksekusi tawanan dari penyergapan itu. Semua kejahatan itu dilakukan sebagai penentangan terhadap diberlakukannya Syari'at.

Lalu Daulah Islam mengepung desa mereka dan menyuruh mereka untuk menyerahkan pelaku kejahatan terhadap Islam dan kaum Muslimin. Sebagian besar suku mereka menolak untuk bekerjasama, dan kemudian masuk ke dalam "tha'ifah mumtani'ah", karena melindungi pengkhianat. Mereka diberi waktu 24 jam untuk memperbolehkan semua orang yang tidak terlibat dalam pelanggaran untuk mengungsi keluar desa mereka. Semua laki-laki dewasa yang masih tertinggal akan diperlakukan sesuai Syari'ah. Alhamdulillah, beberapa suku yang terkait dengan mereka -yang tidak terlibat dalam pengkhianatan- menghubungi Daulah Islam sebelum penyerangan dan berlepas diri dari suku yang berkhianat.

Setelah memasuki desa Shu’aitat, tentara Daulah Islam menemukan manusia yang sangat membenci Syari'at, tenggelam dalam kemaksiatan, alkoholisme, dan narkoba, beberapa dari mereka menikahi lebih dari empat istri! Mereka telah menyembunyikan banyak senjata berat yang seharusnya diserahkan dalam perjanjian awal mereka dengan Daulah Islam. Senjata yang sama yang telah digunakan dalam penyerangan mereka, hanya berakhir sebagai ghanimah untuk Daulah Islam.

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Oilabah yang berkata bahwa Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata, "Sekelompok orang dari 'Ukal dan 'Urainah (dua kabilah) datang ke Madinah dan kemudian mengalami sakit perut. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan agar didatangkan seekor unta betina yang banyak susunya dan menyuruh mereka minum air kencing dan susunya. Lalu mereka melakukannya. Ketika telah sehat, mereka membunuh penggembala ternak Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan membawa kabur unta-unta itu. Datanglah berita tentang peristiwa itu menjelang siang sehingga Rasulullah memerintahkan untuk mengikuti jejak mereka. Pada siang harinya mereka didatangkan ke hadapan Nabi, lalu beliau memerintahkan agar mereka dipotong tangan dan kaki mereka, dicungkil matanya, dan dilemparkan ke al-Harrah (sebuah tempat yang dilapisi batu hitam di dekat Madinah). Mereka meminta-minta minum, namun tidak diberi minum, hingga mereka mati." Abu Qilabah berkata, "Orang-orang tersebut mencuri, membunuh, kafir setelah beriman, dan memerangi Allah dan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam."

Hadits ini menunjukkan kerasnya hukuman Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kepada para pengkhianat, orang-orang yang berdusta dalam klaim Islam mereka. Perbuatan jahat Shu’aitat sama dengan yang disebutkan dalam hadits, kecuali bahwa suku Shu’aitat memilih untuk dengan sombong dan bersama-sama melindungi penjahat dan oleh karenanya mereka sama dengan para pengkhianat dan pembunuh itu.

Terakhir, seorang anak kecil telah dibunuh pada masa Khalifah 'Umar bin al-Khaththab. Ketika 'Umar mendengarnya, dia berkata, "Jika orang-orang Shan'a telah bersekongkol bersama untuk membunuhnya, aku akan membunuh mereka semua." [Al-Bukhari].

DAULAH ISLAM SEBELUM MALHAMAH kUBRA

DABIQ 3 - ARTIKEL

DAULAH ISLAM SEBELUM MALHAMAH kUBRA

MUHAJIRIN KE BUMI MALAHIM

Imam Abu Mush’ab Az-Zarqawi rahimahullah berkata: “Sungguh aku bersumpah demi Dzat yang kelak aku akan kembali kepada-Nya, jihad yang sejati di Iraq tidak akan pernah terwujud tanpa keberadaan para muhajirin, putera-putera umat yang dermawan, yang keluar meninggalkan kabilah-kabilah mereka, yang membela Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka jangan sampai kalian kehilangan mereka, sebab hilangnya mereka berarti hilangnya kekuatan kalian. Hilangnya mereka berarti hilang pula berkah dan kelezatan jihad. Maka sungguh kalian tidak bisa lepas dari mereka, sebagaimana mereka pun tidak bisa terlepas dari kalian.” (Takkan Kubiarkan Dien Ini Tergerogoti, Selagi Aku Masih Hidup).

Segala puji bagi Allah yang Maha Agung lagi Maha Mulia. Shalawat serta salam semoga dilimpahkan kepada Nabi yang banyak tersenyum lagi banyak berperang, Muhammad serta kepada ahli bait-nya yang mulia lagi suci. Amma ba’du.

Jika para muwahhid mencari di setiap buku yang ditulis oleh para ahli sejarah, dia tidak akan menemukan kisah dari negara manapun yang mirip seperti Daulah Islam, terutama sebagaimana Daulah ini muncul setelah kebangkitannya di bawah sayap kepemimpinan Amirul Mu’minin Abu Bakar (semoga Allah menolongnya dan meneguhkannya). Adakah negara manapun yang didirikan dalam sejarah manusia dengan cara yang sama seperti kebangkitan Daulah Islam dengan ekspansinya ke bumi Syam(1)?

Renungkanlah -semoga Allah merahmati kalian-, Daulah yang pernah ada didalam sejarah, baik itu Daulah Islam atau Daulah Kuffar, adakah diantara Daulah itu yang didirikan dengan Hijrahnya orang-orang asing dan miskin dari Timur dan Barat, yang mana kemudian mereka berkumpul dalam sebuah “Bumi Peperangan Yang Asing” lalu mereka memberikan baiatnya kepada seorang laki-laki yang “tidak dikenal” oleh mereka.

Sedangkan bersamaan dengan itu terjadi perang politik, ekonomi, militer, media dan intellijen yang sedang dilancarkan oleh seluruh Negara di dunia ini terhadap agama mereka, Daulah mereka, dan Hijrah mereka? Dan walaupun faktanya bahwa mereka tidak memiliki “nasionalitas”, etnik, bahasa atau tujuan duniawi yang sama, bahkan mereka tidak saling mengenal sebelumnya!

Fenomena ini adalah sesuatu yang tidak pernah terjadi dalam sejarah manusia, kecuali di dalam Daulah Islam! Dan tidak ada hal semacam ini yang akan terjadi setelahnya kecuali jika masih berhubungan dengannya. Wallahu a'lam.

Bahkan dalam kasus Daulah Madinah, yang mana telah didirikan melalui darah para Sahabat (radhiyallahu ‘anhum), lalu kebanyakan para muhajirinnya adalah dari kabilah Quraisy. Mereka memiliki beberapa faktor yang menyatukan mereka, diantaranya faktor keturunan, pernikahan, bahasa (dan dialek), saling mengenal, sejarah yang sama dan asal-usul yang sama yaitu bumi Hijaz. Mereka juga pada umumnya telah membagi banyak dari kesamaan ini dengan kabilah Anshar dari Madinah bahkan sebelum islam(2).

Akan tetapi jika kalian pergi menuju medan-medan perang di ar-Raqqah, al-Barakah, al-Khair, Halab, dan lain lain, kalian akan menemukan para pasukan dan para komandan yang terdiri dari bermacam-macam warna kulit, bahasa, dan tempat asal (diantaranya berasal dari): Najd (Saudi Arabia), Yordania, Tunisia, Mesir, Somalia, Turki, Albania, Chechnya, Indonesia, Rusia, Eropa, Amerika, dan sebagainya. Mereka meninggalkan keluarga dan tanah air mereka untuk berjuang bersama Daulah para muwahiddin di bumi Syam, dan mereka tidak pernah mengenal satu sama lain kecuali setelah mereka tiba di bumi Syam!

Saya tidak punya keraguan sedikitpun bahwa Daulah ini, -yang mana telah mengumpulkan jumlah Muhajirin terbesar di bumi Syam dan telah menjadi pengumpul muhajirin terbesar di dunia ini- adalah sebuah ‘keajaiban sejarah‘ yang hanya akan muncul untuk membuka jalan bagi “Al-Malhamah Al-Kubra” (Pertempuran Terbesar Menjelang Hari Kiamat). Wallahu a'lam.

Daulah Islam telah menjadi sebuah realita yang mana setiap orang dapat melihatnya. Bahkan para Murtaddin tidak dapat mengabaikan ancamannya, apalagi para penyembah Salib dan Yahudi. Namun bagi mereka yang secara palsu mengaku terkait dengan jalan jihad malah berpaling dari Daulah islam, bahkan secara terbuka mengumumkan permusuhannya terhadap Daulah Islam dalam sebuah ‘kompetisi yang ajaib‘ bersama-sama dengan para salibis dan murtaddin.

Subhanallah, betapa sangat berharga Daulah Islam ini! Dan sungguh dahsyat nikmat yang diberikan oleh Allah dengan membimbing Daulah Islam dan menganugerahkan kepadanya dengan persaudaraan para muhajirin yang mana mereka akan terjun ke dalam al-Malahim! Agama seseorang sesuai dengan agama teman-teman dekatnya, dan tidaklah dia mencintai seseorang kecuali pasti dia akan dikumpulkan bersamanya pada Hari Kebangkitan, baik suka maupun tidak suka.

Catatan kaki :

(1) Daulah Islam telah didirikan dan dideklarasikan di Iraq. Lalu dominasi dan peleburannya dibangkitkan melalui ekspansinya menuju Syam, dengan rahmat dan karunia Allah.

(2) Perbedaan antara ‘Daulah Islam’ hari ini dengan ‘Daulah Madinah’ pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para Shahabatnya bukanlah untuk memberi kesan bahwa ‘Khalaf’(generasi akhir) lebih baik daripada ‘Salaf’ (generasi awal), karena ini hanyalah perbedaan yang berkaitan dengan sejarah, bukanlah suatu indikator preferensi agama. Ibnul Qayim rahimahullah membuat sebuah perbedaan yang mirip, beliau berkata, “Sesungguhnya, Islam yang sejati yang ada pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya, adalah sesuatu yang lebih asing hari ini daripada ketika pertama kali kemunculannya.” (Madarijus Salikin).

Juga mirip dengan hadits yang menyatakan “Bagi diantara mereka yang melakukan amal baik akan menerima 50 (kali lipat darimu)….” (Riwayat Abu Dawud dan At-Tirmidzi), dan seperti demikian juga hadits yang menyatakan, “Saudaraku adalah mereka yang beriman kepadaku walau tanpa pernah bertemu denganku…” (Riwayat Imam Ahmad). Pada akhirnya, tetaplah para Shahabat yang memiliki keutamaan yang tidak akan pernah bisa diraih oleh siapapun setelah mereka, bagaimanapun kerasnya mereka menjalankannya dan sebanyak apapun usahanya.

MEREKA YANG BERPISAH DARI KABILAH MEREKA

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing dan ia akan kembali menjadi asing sebagaimana awal mula kedatangannya, maka beruntunglah orang-orang yang asing.” Ada yang bertanya, “Siapakah yang dimaksud dengan orang-orang asing itu?” Beliau menjawab, “Yaitu orang-orang yang memisahkan diri dari kabilah-kabilah (suku-suku) mereka.” (Riwayat Imam Ahmad, ad-Darimi, dan Ibnu Majah, sanadnya Shahih)

Imam Abu Mush’ab az-Zarqawi rahimahullah berkata, “Allah telah menggambarkan para Ghuraba’ (orang-orang asing) ini dengan beberapa karakteristik, diantaranya adalah mereka ‘nuzza’ dari orang-orang, atau ‘nuzza’ dari kabilah mereka. Kata ‘nuzza’ adalah bentuk jamak dari ‘nazi’ dan arti dari ‘nazi’ adalah orang asing yang memisahkan diri dari keluarga dan kabilahnya (artinya dia pergi dan menjauhkan dirinya dari mereka), dan ‘naza’i’ dari unta-unta adalah orang luar. Al-Harawi rahimahullah berkata, ‘Dengan hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memaksudkan dengan para muhajirin yang telah meninggalkan tanah air mereka dan berhijrah demi Allah ta’ala.” (al-Qabiduna ‘alal Jamr).

Al-Baghawi rahimahullah berkata dalam Syarhus Sunnah: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memaksudkan dengan para muhajirin yang telah meninggalkan tanah air mereka dan berhijrah demi Allah ‘azza wa jalla.” Ibnul Atsir rahimahullah juga menyatakan demikian dalam An-Nihayah. As-Sindi menyatakan bahwa mereka adalah “Mereka yang meninggalkan tanah airnya untuk menegakkan Sunnah-sunnah Islam.” (Kifayatul Hajah).

Al-Qalabadhi berkata, “Jadi jika situasinya demikian (maksudnya, dien ini telah menjadi asing bagi manusia), maka orang-orang yang beriman diantara manusia adalah ibarat orang-orang beriman pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka seseorang yang meninggalkan kabilahnya maka dia adalah seorang Muhajir yang berpisah dari keluarganya, hartanya dan tanah airnya, dan beriman kepada Allah dan membenarkan kejujuran (ucapan) Nabinya. Allah telah memuji orang-orang yang beriman atas iman mereka terhadap yang ghaib, sebagaimana Allah berfirman, "Mereka yang beriman kepada yang ghaib" (Al-Baqarah: 3).

Para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beriman kepada apa yang mereka saksikan dan juga apa yang tidak bisa mereka saksikan, dengan keimanan mereka kepada Allah dan Hari Kiamat tanpa pernah menyaksikan keduanya, dan mereka beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setelah melihat dan menyaksikan beliau. Wahyu telah diturunkan kepada beliau ditengah-tengah para Shahabat, dan mereka melihat tanda-tanda dan menyaksikan mu’jizat.

‘Golongan akhir’ dari Umat ini beriman kepada apa yang diimani oleh ‘golongan umat awal’ terhadap hal yang ghaib, dan beriman kepada apa yang diimani oleh golongan awal dari umat sebagai saksi mata. Golongan akhir ini beriman kepada Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam, sedangkan mereka tidak pernah menyaksikan beliau shallallahu‘alaihi wasallam. Dan karena itulah mereka menjadi orang-orang yang paling menakjubkan dalam keimanannya, sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits dari Ibnu ‘Abbas (radhiyallahu ‘anhuma) bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Orang yang paling menakjubkan imannya adalah orang-orang yang datang sesudah (wafatnya) aku. Mereka beriman kepadaku tanpa pernah melihatku. Dan mereka membenarkanku tanpa pernah melihatku. Mereka itulah saudara-saudaraku". (Riwayat Imam Ahmad). (Ma’ani al-Akhbar)

Ibnul Qayim rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Allah subhanah mengutus Rasul-Nya, sementara manusia di bumi sedang mengikuti bermacam-macam agama. Diantara mereka ada penyembah berhala, penyembah api, penyembah patung, penyembah salib, Yahudi, Mandaean dan aliran filsafat. Ketika Islam pertama kali muncul, Islam merupakan sesuatu yang aneh (asing). Dan bagi siapapun yang memeluknya dan menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya, ia menjadi seseorang yang asing di wilayahnya, kabilahnya, keluarganya, dan sukunya. Jadi mereka yang menyambut Da’wah Islam meninggalkan kabilahnya. Sebetulnya, para individu itu lah yang hijrah dari kabilah dan suku mereka, dan masuk islam. Oleh karena itu, pada hakikatnya mereka adalah orang-orang asing, sampai Islam telah nampak, da’wahnya tersebar, dan orang-orang berbondong-bondong memasukinya, setelah itu mereka tidak menjadi asing lagi. Lalu Islam mulai terpecah dan memudar, sampai kembali menjadi sesuatu yang asing sebagaimana awal mulanya. Sebenarnya, Islam yang sejati yang ada pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para Shahabatnya adalah sesuatu yang jauh lebih asing pada hari ini, daripada ketika awal kemunculannya, bahkan jika wajah dan karakteristiknya diketahui dan terkenal. Karena Islam yang sejati itu sangat-sangat asing, dan pengikutnya adalah yang paling asing diantara orang-orang asing yang ada diantara manusia.” (Madarijus-Salikin).

Jadi, orang-orang asing (al Ghuraba’) adalah mereka yang pergi meninggalkan keluarganya dan tanah airnya, berhijrah demi ridho Allah dan demi menegakkan Dien-Nya. Pada zaman ‘ghutsa’ as-sayl’, mereka adalah makhluk ciptaan Allah yang paling menakjubkan imannya, dan yang paling asing dari keseluruhan makhluk yang ada.

Wallahu a'lam bishowab.

SYAM ADALAH BUMI MALAHIM

Kemudian, para nuzza’(1) berkumpul di Syam, bumi malahim dan bumi dari al-Malhamah al-Kubra. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengkabarkan tentang pertempuran yang akan terjadi di Syam dan sekitarnya, seperti al-Ghutah, Damaskus, Dabiq (atau al-A’maq), Sungai Eufrat, dan Konstantinopel (yang mana berada di dekat Syam), dan juga Baitul Maqdis (Jerusalem), pintu gerbang Ludd, Danau Tiberias, Sungai Jordan, Bukit Sinai, dan sebagainya. Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengaitkan bumi yang berbarokah ini (Syam) dengan banyak kejadian yang berhubungan dengan al-Masih (Nabi Isa), Al-Mahdi dan Ad-Dajjal.

Abu-Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya benteng kaum muslimin pada hari al-Malhamah al-Kubra (pertempuran terbesar di akhir zaman) berada di al-Ghutah, di samping kota yang bernama Damaskus, salah satu kota terbaik di Syam.” (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, and al-Hakim)

Abdullah Ibnu ‘Amr radhiyallahu ‘anhu berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku melihat tiang dari al-Kitab diambil dari bawah bantalku, maka aku mengikutinya dan ada sebuah cahaya bersinar yang mengarah menuju Syam. Sesungguhnya iman pada saat terjadi fitnah adalah di Syam.” (Shahih, diriwayatkan oleh al-Hakim)

Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Syam adalah bumi tempat berkumpul dan menyebar (maksudnya tempat Hari Kebangkitan).“ (Shahih, diriwayatkan oleh al-Bazzar dan yang lainnya)

Syaikh Hamud at-Tuwaijiri rahimahullah dalam mengomentari beberapa riwayat mengenai fitnah dan pertempuran di Syam berkata : “Dalam riwayat-riwayat ini adalah bukti bahwa Kelompok at-Tha’ifah al-Mansurah (kelompok yang akan dimenangkan oleh Allah) akan berada di Syam pada saat mendekati kiamat nanti, karena Khilafah akan tegak disana. Mereka akan terus berada disana dan tetap menampakkan kebenaran sampai Allah mengirimkan angin lembut dan mencabut nyawa dari setiap orang yang memiliki iman di hatinya, sebagaimana yang telah ada dalam riwayat Shahih bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sampai Allah mendatangkan keputusannya sementara mereka tetap dalam kondisi demikian’.” (Ithaful Jama’ah)

Catatan kaki :

(1) Imam Abu Mush’ab az-Zarqawi rahimahullah berkata, “Allah telah menggambarkan para Ghuraba’ (orang-orang asing) ini dengan beberapa karakteristik, diantara adalah mereka ‘nuzza’ dari orang-orang, atau ‘nuzza’ dari kabilah mereka. Kata ‘nuzza’ adalah bentuk jamak dari ‘nazi’ dan arti dari ‘nazi’ adalah orang asing yang memisahkan diri dari keluarga dan kabilahnya (artinya dia pergi dan menjauhkan dirinya dari mereka), dan ‘naza’i’ dari unta-unta adalah orang luar. Al-Harawi rahimahullah berkata, ‘Dengan hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memaksudkan dengan para muhajirin yang telah meninggalkan tanah air mereka dan berhijrah demi Allah ta’ala.” (al-Qabiduna ‘alal-Jamr)

HIJRAH KE SYAM ADALAH DARI MILLAH IBRAHIM

Hijrahnya para Ghuraba’ (orang-orang yang asing) menuju Syam adalah dalam rangka mengikuti Millah Ibrahim ‘alaihis salam yang telah memberi suri teladan dalam menyatakan permusuhan dan kebencian terhadap kaum musyrikin dan thawaghit mereka.

Abdullah Ibn ‘Amr radhiyallahu ‘anhu berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Akan ada hijrah setelah hijrah. Orang-orang terbaik di muka bumi adalah mereka yang tinggal di tempat hijrahnya nabi Ibrahim (Syam). Lalu yang akan tersisa di bumi (selain Syam) adalah seburuk-buruk manusia. Bumi memuntahkan mereka, Allah akan membenci mereka, dan api akan mengumpulkan mereka bersama kera dan babi.”(Hadits hasan, diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim)

Perkataan Rasulullah, “Lalu yang akan tersisa di bumi (selain Syam) adalah seburuk-buruk manusia… (sampai akhir hadits)” mengacu kepada periode setelah “Allah mengirimkan angin lembut yang mencabut nyawa setiap orang yang memiliki iman dalam hatinya walau seberat biji sawi. Kemudian yang tersisa hanyalah mereka yang tidak memiliki kebaikan apapun dalam diri mereka.” (Shahih Muslim)

Dalam riwayat lain, “Jadi angin lembut itu menggenggam mereka dibawah ketiaknya, mencabut nyawa dari setiap orang yang beriman dan setiap muslim. Dan di sana hanya akan tersisa seburuk-buruk manusia, yang berzina seperti para kera (melakukan perzinaan dihadapan umum). Maka atas merekalah Hari kiamat akan ditegakkan.” (Shahih Muslim)

Dan dalam riwayat lain, “Allah akan mengirim angin dingin dari arah Syam, maka tidak seorangpun yang akan tersisa di muka bumi yang memiliki iman atau kebaikan walau hanya seberat biji sawi kecuali akan dicabut (nyawanya) oleh angin itu. Bahkan jika seseorang diantara kalian bersembunyi ditengah-tengah gunung sekalipun, angin itu akan memasukinya sampai mencabut nyawanya. Lalu disana hanya akan tersisa seburuk-buruk manusia, yang memiliki kelincahan seperti burung (begitu cepatnya dalam melakukan maksiat dan memuaskan hawa nafsunya) dan akal yang sekejam binatang buas (dalam permusuhan dan penindasan satu sama lain). Mereka tidak memiliki kebaikan apapun, mereka juga tidak mengingkari kejahatan apapun.” (Shahih Muslim)

Angin lembut ini mencabut setiap nyawa dari orang beriman diseluruh muka bumi : Al-Hijaz, Iraq, Yaman, Syam, dan seterusnya. Angin ini akan dikirim ke permukaan bumi dalam beberapa tahun setelah kematian Dajjal dan wafatnya Nabi Isa al-Masih ‘alaihis salam.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Islam pada saat mendekati Hari Kiamat akan lebih berwujud di Syam. (…) Jadi orang-orang terbaik di muka bumi pada akhir zaman adalah mereka yang tinggal di tempat hijrahnya Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, yang mana itu adalah Syam.” (Majmu’ al-Fatawa)

Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata, “Maka beliau mengkabarkan bahwa penduduk terbaik di muka bumi adalah mereka yang mendiami tempat hijrah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, berbeda dengan orang-orang yang hanya melewatinya atau malah meninggalkannya[1]. Bumi yang dijadikan tempat hijrah oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam adalah Syam. Dalam hadits ini, terdapat kabar gembira kepada para sahabat kita yang telah berhijrah dari Harran (sebuah wilayah di Iraq) dan tempat lainnya, menuju tempat hijrah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, dan mengikuti Millah-Ibrahim, dan agama dari Nabi mereka Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Demikian pula, hadits ini berisi tentang penjelasan bahwa hijrah yang mereka lakukan setara dengan hijrah yang dilakukan Shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menuju Madinah, Karena hijrah itu dilakukan dimanapun para Nabi itu berada dan meninggalkan dampak. Dan bumi tempat hijrah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, telah disiapkan bagi kita setara dengan bumi hijrah Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena hijrah menuju Madinah telah terhenti setelah penaklukkan Makkah.” (Majmu’ al-fatawa).

Abdullah Ibnu Hawalah radhiyallahu ‘anhu berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Urusan ini akan terus berjalan sampai kalian menjadi pasukan-pasukan: pasukan di Syam, pasukan di Yaman, dan pasukan di Iraq.” Ibnu Hawalah berkata, “Pilihkanlah untukku (bergabung dengan pasukan yang mana) jika aku menemui saat itu.” Beliau menjawab, “Pergilah menuju Syam, karena itu adalah bumi Allah yang terbaik dan Dia akan menarik hamba-hamba-Nya yang terbaik menuju bumi Syam. Dan jika kamu enggan, maka pergilah ke Yaman dan minumlah dari sumur-sumurmu. Sesungguhnya Allah telah menjamin bagiku bahwa Dia akan menaungi Syam dan penduduknya.” (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, al-Hakim)

Jadi mereka yang meninggalkan kabilah-kabilah mereka –sebaik-baik hamba Allah- berkumpul bersama dengan seorang Imam dan sebuah Jama’ah diatas Millah-Ibrahim. Mereka berkumpul bersama di bumi Malahim sesaat sebelum terjadinya al-Malhamah al-Kubra, mengumumkan permusuhan mereka dan kebenciannya terhadap para penyembah salib, Murtaddin, salib-salibnya, perbatasan-perbatasannya, dan kotak-kotak suaranya, Dan mereka memberikan baiatnya kepada Khilafah, berjanji untuk mempertahankannya sampai mati. Kemudian mereka dimusuhi dan ditinggalkan oleh “Sang Hakimul Ummah” (doktor Aiman azh-zhawahiri), “para pemikir”, dan “para senior” yang telah melabeli mereka dengan sematan Khawarij, Haruriyah (cabang dari khawarij), Hasyasyin (sekte syiah isma’iliyah), cucu dari Ibnu Muljim (khawarij yang membunuh khalifah Ali Ibnu Abi Thalib), dan anjing anjing Neraka!

Jadi jika para muhajirin dari Daulah Islam yang berjumlah ribuan itu adalah anjing-anjing Neraka, maka siapakah yang dimaksudkan dalah hadits sebagai “Mereka yang memisahkan diri dari Kabilah-kabilah mereka” dan “sebaik-baik hamba Allah”?

Terlepas dari mereka, disana tidak ada Muhajirin lain yang tersisa di bumi Syam, kecuali sejumlah kecil yang hatinya merindukan Daulah Islam dan untuk memberikan baiatnya kepada Imam.

Kemudian yang akan tetap berada diluar Daulah Islam hanyalah mereka yang membentengi dirinya dengan bukit bergelombang yang dipenuhi dengan kedengkian dan kesombongan, sampai dia tenggelam dalam metodologi para munafiqin, penyebar gosip, dan berhati lemah, dan dia membantu para Shahawat murtaddin, mengikuti Rukhshah yang mengantarkannya menuju bid’ah.

Kita meminta ampunan kepada Allah dan keselamatan baik di dunia maupun di akhirat.

Catatan kaki :

(1) Bagi seseorang yang pergi menuju sebuah wilayah diluar Syam untuk berjihad atas perintah Amir, perjalanannya adalah bentuk ketaaatan yang mana tidak akan menggugurkan hijrahnya menuju Syam atau kependudukannya di Syam. Jika begini keadaannya maka jika dia terbunuh diluar Syam, sebagaimana para Shahabat yang terbunuh ketika mereka sedang menyerbu musuh dan menghantam barisan musuh di luar Madinah, meskipun telah berhijrah menuju Madinah dan meskipun Madinah lebih utama daripada seluruh tempat di bumi kecuali Makkah. Dan Madinah lebih utama daripada Syam. Sebagaimana juga bagi Mujahidin Iraq yang yang menjaga garis depan, kemudian Allah jalla wa a’la berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang ada di sekitar kalian itu" (At-Taubah : 123). Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah ta’ala telah memerintahkan orang-orang beriman untuk memerangi orang-orang kafir satu persatu, dimulai dari mereka yang terdekat dengan biladul muslimin, kemudian yang terdekat selanjutnya dan seterusnya.” (Tafsir Ibnu Katsir).

Cara yang paling baik untuk mematuhi perintah dari ayat ini adalah agar setiap pasukan menjaga garis depan yang paling dekat dengannya, dibawah perintah amirnya. Sebenarnya ini adalah sebuah kewajiban yang memenuhi kebutuhan jihad pada era kita ini. Terlebih lagi, mereka sedang melakukan suatu kewajiban (khususnya karena ini adalah respon terhadap perintah dari amir, karena ketaatan kepada amir juga merupakan bentuk ketaatan kepada Allah), sedangkan yang berbeda di Syam, -khususnya bagi mereka- akan menjadi sebuah keutamaan, bukan sebuah kewajiban.

Dan jika mereka meninggalkan Garis Depan (di Iraq), para Rafidhah –sekutu dari Nushairiyah- akan mengambil alih Iraq dan kemudian Syam, dan kemudian Jazirah Arab. Memilih kepada sesuatu yang ‘utama’ melebihi sesuatu yang ‘diwajibkan’ adalah sebuah talbis yang lakukan oleh Syaitan, agar hamba Allah tersebut melewatkan amalan terbaik yang dapat mendekatkan dirinya kepada Rabbnya –amal Fardhu. Dan siapapun yang menjaga Garis Depan di Iraq akan mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari Iraq dan Syam dari Allah- yaitu Jannah (surga), yang seluas langit dan bumi dan ridho dari Allah yang mana ini adalah suatu kemuliaan.

KEPUTUSAN AMERIKA MEMERANGI DAULAH ISLAM

DABIQ 3 - KATA PENGANTAR

KEPUTUSAN AMERIKA MEMERANGI DAULAH ISLAM

Segala puji hanya bagi Allah, Rabb alam semesta. Shalawat serta salam semoga terlimpah kepada Rasul-Nya Muhammad, keluarganya dan shahabatnya.

Pada tanggal 11 Syawal 1435H (7 Agustus 2014), Amerika secara resmi memutuskan untuk ikut campur sekali lagi dalam urusan Umat Muslim dengan melancarkan serangan udara kepada Daulah Islam dan rakyatnya. Ada sejumlah peristiwa terkait yang coba dihindari pemerintahan Obama dan media barat saat mendiskusikan serangan tersebut dan konsekuensinya berupa eksekusi James Foley.

1) Amerika telah ikut campur di Iraq dengan menolong militer Maliki, Peshmerga, dan dewan Shahawat yang baru, dengan informasi, nasehat, dan senjata, sebelum serangan udara akhir-akhir ini. Telah terjadi pengintaian udara yang teratur di Anbar dan Nainawa.

2) Amerika telah ikut campur di Syam dengan mendukung kelompok-kelompok yang bersekutu dengannya dan “Saudi Arabia” melawan Daulah Islam. Kelompok-kelompok tersebut sekarang meminta dukungan dan bantuan lebih lanjut dari Amerika, yang –dengan izin Allah– akan berakhir sebagai ghanimah bagi Daulah Islam.

3) Amerika telah membunuh wanita, anak-anak, dan orang tua, selama penjajahan langsung di Iraq sebelum mereka menarik mundur pasukannya. Tak terhitung pasukan Amerika dari kalangan tentara Amerika dan Blackwater yang mengeksekusi keluarga dan memperkosa kehormatan para wanita. Keluarga Muslim dibunuh dengan dalih “collateral damage”*, di mana Amerika memperbolehkan hal itu untuk dirinya sendiri. Sehingga, jika seorang mujahid membunuh seorang laki-laki dengan pisau, maka itu adalah pembunuhan cara barbar terhadap orang tak berdosa. Sedangkan jika Amerika membunuh ribuan keluarga Muslim di seluruh dunia dengan menekan tombol missil, maka itu disebut “collateral damage”.

*Collateral damage adalah istilah untuk warga sipil yang tidak sengaja terluka/terbunuh ketika penyerangan suatu target dalam operasi militer.

4) Amerika telah diberitahu bahwa status James Foley sebagai tawanan Daulah Islam. Telah ada negosiasi sebelum serangan Amerika untuk membebaskan tawanan Muslim yang ditahan Amerika sebagai ganti dengan pembebasan Foley, tetapi mereka dengan sombong menolaknya.

5) Amerika mencoba misi penyelamatan di Wilayah Raqqah, yang berakhir dengan kegagalan karena sebagian anggota misi terluka dan mungkin terbunuh, jadi mereka kembali mengalami kegagalan dan bencana.

6) Setelah serangan udara resmi Amerika dimulai di Iraq, Daulah Islam mengirim pesan peringatan akan mengeksekusi James Foley sebagai akibat serangan udara. Ancaman ini ditanggapi Amerika tidak berbeda dengan sebelumnya.

7) Setelah menerima ancaman dan sebelum eksekusi, Obama bergegas menutup-nutupi fakta tersebut dari rakyatnya. Pemerintahannya segera meminta sejumlah media sosial untuk menutup semua akun Daulah Islam, termasuk akun pendukungnya.

8) Dalam pidatonya pada tanggal 20 Agustus 2014, Obama benar-benar menghindari penyebutan Steven Sotloff, sekali lagi menunjukkan kepada “orang-orangnya” bahwa kepentingan utama pemerintah Amerika adalah kepentingan Israel dan sekutunya, termasuk pasukan zionis Peshmerga. Baginya, hal itu lebih penting daripada nyawa rakyatnya.

Dan dengan izin Allah, Obama akan melanjutkan jejak pendahulunya, Bush, hanya akan menjadi ahli waris terburuk bagi pewaris terburuk pula, dan pada akhirnya akan menuju keruntuhan total dari Kekaisaran Modern Amerika.

Walhamdulillaahirabbil alamiin.