Selasa, 24 April 2018

PERBINCANGAN MUSUH - DABIQ 3

DABIQ 3 - PERBINCANGAN MUSUH

DAULAH ISLAM DALAM PERBINCANGAN MUSUH

Pada 7 Agustus 2014, sang pasukan salib lagi kafir –Barack Obama– mengumumkan kepada dunia tentang kelanjutan perang antara tentara salib Amerika melawan Islam dan kaum Muslimin Iraq, hanya untuk membuktikan kepada pengikutnya bahwa tidak ada perbedaan antara kebijakan politiknya dengan pendahulunya –Bush– kecuali hanya polesan dan sentuhan-sentuhan yang dangkal. Keputusannya pun mengekspos politik munafik Amerika yang hanya melayani kepentingan sekutunya, yakni Yahudi dan Israel, serta kerakusan mereka sendiri terhadap harta. Saat terjadi genosida yang dilakukan oleh tentara Maliki, Assad, dan Israel terhadap kaum muslimin, baik melalui pembantaian sistematis, senjata kimia, pemerkosaan, maupun kelaparan karena pengepungan; di luar sana Obama menontonnya dengan gembira. Namun, ketika saudara-saudaranya dari kalangan setan Yazidi dan Zionis Kurdistan dibunuh, maka ia panik. Obama menghadapi hal ini dengan mengatakan:

“Hari ini saya meresmikan dua operasi di Iraq –serangan udara yang ditargetkan untuk melindungi tentara Amerika– dan upaya kemanusiaan untuk menyelamatkan ribuan warga sipil Iraq yang terjebak di gunung tanpa makanan dan air, dan hampir mengalami kematian. Izinkan saya untuk menjelaskan tindakan yang kami ambil dan alasan kami mengambil tindakan tersebut.

Pertama, saya telah mengatakan pada bulan Juni, karena kelompok teroris ISIS mulai bergerak di seluruh Iraq, maka Amerika Serikat akan bersiap untuk melakukan serangan militer di Iraq jika kami melihat bahwa situasi tersebut diperlukan. Dalam beberapa hari terakhir, kelompok teroris ini terus bergerak di sepanjang Iraq dan telah mendekati kota Irbil, tempat di mana diplomat Amerika dan warga sipil melayani konsulat kami, serta tentara militer Amerika melatih pasukan Iraq. Untuk menghentikan gerakan mereka di Irbil, saya telah mengarahkan militer kami untuk melakukan serangan udara melawan konvoi teroris ISIS yang bergerak menuju kota (Irbil). Kami berencana untuk tetap waspada dan mengambil tindakan jika pasukan teroris itu mengancam tentara atau fasilitas kami di mana pun di Iraq, termasuk konsulat kami di Irbil dan kedutaan kami di Baghdad. Kami juga memberikan bantuan darurat untuk pemerintah Iraq dan pasukan Kurdi sehingga mereka dapat lebih efektif melancarkan serangan melawan ISIS.

Kedua, atas permintaan pemerintah Iraq, kami telah memulai operasi untuk membantu menyelamatkan warga sipil Iraq yang terjebak di gunung. Karena ISIS telah bergerak di seluruh Iraq dan melakukan kampanye yang kejam melawan rakyat Iraq yang tidak bersalah. Dan kelompok teroris ini sangat barbar terhadap kelompok agama minoritas, termasuk Kristen dan Yazidi, sebuah sekte agama yang kecil dan kuno. Tidak terhitung barapa banyak rakyat Iraq yang telah mengungsi, laporan memberi gambaran mengerikan tentang militan ISIS yang mengumpulkan keluarga, melakukan eksekusi massal, dan memperbudak wanita-wanita Yazidi. Dalam beberapa hari terakhir, wanita-wanita Yazidi, pria, dan anak-anak dari daerah Sinjar melarikan diri untuk menyelamatkan hidup mereka. Dan ribuan, mungkin puluhan ribu, kini bersembunyi di atas gunung tanpa bekal kecuali pakaian di punggung mereka. Tidak ada makanan. Tidak ada air. Orang-orang kelaparan, anak-anak sekarat karena kehausan. Sementara itu, pasukan ISIS menyerukan pemusnahan seluruh kaum Yazidi secara sstematis di bawah konstitusi genosida…”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar