Tampilkan postingan dengan label Nasehat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasehat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 April 2018

MANFAATKAN WAKTU LUANGMU SEBELUM DATANG WAKTU SEMPITMU

RUMIYAH 13 - ARTIKEL

MANFAATKAN WAKTU LUANGMU SEBELUM DATANG WAKTU SEMPITMU

Waktu luang adalah kenikmatan yang memperdaya kebanyakan pemiliknya. Orang-orang yang telah Allah cukupkan kebutuhan hidup dan usaha mendapatkan rezeki, akan tetapi mereka tidak memanfaatkannya dan tidak pula menggunakannya, dan bahkan malah menyia-nyiakannya untuk hal sia-sia dan senda gurau. Hingga ketika kematian menjemput mereka, mereka dalam keadaan bermain-main dan melalaikan apa yang diinginkan Allah dari mereka. Mereka hidup dalam gelimang karunia yang kelak akan ditanya tentangnya. Allah Ta’ala berfirman tentangnya, “Kemudian kalian akan ditanya pada hari itu tentang nikmat-nikmat tersebut.” (At-Takatsur: 8).

Ya, mereka akan ditanya mengenainya. Karena Allah Ta’ala tidaklah menciptakan makhluk untuk bersenang-senang dengan kenikmatan fana, melainkan Dia menciptakan mereka untuk beribadah kepada-Nya, Dia Maha Kaya tidak membutuhkan makhluk-makhlukNya dan tidak memerlukan ibadah mereka. Dan atas karunia dan rahmat-Nya, Allah menyiapkan bagi hamba-hamba yang taat sesuatu yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas di hati manusia. Dia akan membalasnya dengan kenikmatan kekal sebagai balasan atas pemanfaatan waktu kosong dengan melakukan ketaatan kepada-Nya. Sebaik-baik balasan adalah Jannah tempat kembali.

Adapun bagi siapa yang berpaling dari akhirat dan condong kepada dunia fana dan kehidupan yang binasa ini, maka keadaannya setelah dibangkitkan dari kematian nanti sebagaimana yang dikabarkan Allah ta'ala: “...Ya Rabbku, kembalikan aku ke dunia, agar aku dapat berbuat kebaikan yang telah ku tinggalkan...” (Al-Mukminun: 99-100).

Apakah manusia mau mengambil pelajaran, lalu menyibukkan dirinya Dalam ketaatan kepada Allah dan mengharap ridha-Nya selama ruh masih menyatu bersama raga? Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Ya Allah tiada kehidupan (hakiki) melainkan kehidupan akhirat, maka ampunilah dosa-dosa Muhajirin dan Anshar.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Perhatikanlah sabda beliau shallallahu alaihi wasallam yang menegasikan bahwa nikmat dunia adalah kehidupan hakiki sampai meniscayakan kerja keras untuk mendapatkannya. Pasalnya, kehidupan hakiki adalah kehidupan akhirat di surga-Nya yang mulia.

Alangkah Baiknya Kiranya Dulu Aku Mengerjakan Kebaikan untuk Hidupku Ini

Begitu banyak manusia yang menyia-nyiakan barometer antara amalan-amalan dunia dan amalan-amalan akhirat, juga mereka tidak dapat menyelaraskan keduanya. Kebanyakan dari mereka bersemangat mengumpulkan harta kekayaan dan berlebih-lebihan dalam perkara-perkara yang permisif. Engkau menyaksikannya kaya-raya dan berkecukupan dalam hidup, namun miskin amalan-amalan guna memenangkan jannah Allah dan keridhaan-Nya. Allah memberikan nikmat waktu luang kepadanya, namun dia malah menyibukkan diri dengan dunia. Padahal dia tak butuh semua itu, dan sungguh dia orang yang tertipu. Sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari)

Wahai pemilik kekayaan dan waktu luang, namun lalai karena dunianya, sesungguhnya engkau adalah termasuk orang yang terhalang kebaikan. Karena sejatinya engkau tidak menghargai nilai dari waktu-waktu yang telah berlalu dari umurmu, sebagaimana disadari para pemilik tekad tinggi yang mana mereka tidak mendapati waktu kosong untuk menyempurnakan amalan-amalan dan jihad mereka. Wahai pemilik waktu luang yang akan menapaki perkara agung yang telah lenyap darimu dan engkau melalaikannya, waktu saat engkau mengatakan, “Alangkah baiknya jika dulu aku mengerjakan kebaikan untuk hidupku ini.” (Al-Fajr: 25).

Imam Ath-Thabariy rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala berfirman menginformasikan tentang penyesalan anak-cucu Adam di Hari Kiamat kelak, berupa rasa penyesalan karena mengabaikan amalan-amalan shalih di dunia yang mewariskan jaminan keabadian hidup dalam nikmat tak terputus. Alangkah baiknya jika dulu aku mengerjakan amalan kebaikan untuk hidupku di dunia untuk bekalku di kehidupan sekarang ini (akhirat) yang tak ada lagi kematian setelah ini, yang menyelamatkanku dari kemurkaan Allah dan memperoleh keridhaan-Nya.” (Jami’ Al-Bayan)

Ya, ada di antara manusia yang dianugerahi Allah kenikmatan dan dicukupkannya segala kebutuhan hidupnya, namun dia tidak peduli ketika dirinya tersesat dan melalaikan perintah-perintah Rabbnya. Alih-alih memanfaatkan waktu luangnya untuk mempelajari agamanya dan mencari tahu apa yang diinginkan Allah darinya, dia justru malah menyibukkan diri dalam hal-hal haram atau terlalu banyak bergumul dalam hal-hal permisif (tidak berguna).

Wahai orang yang tersesat lagi lalai, persiapkanlah banyak jawaban untuk menjawab banyak pertanyaan. Karena sesungguhnya engkau –demi Allah— tidaklah engkau diciptakan untuk hal sia-sia dan engkau tidak akan dibiarkan begitu saja. Engkau akan ditanya tentang waktu luangmu; untuk apa engkau menghabiskannya.

Tatkala Satu Hari Terlewati, Maka Hilang Pula Sebagian Dirimu

Ada orang yang sudah mencapai umur senja, punggungnya telah membungkuk, dia memiliki sesuatu yang dapat menopang urusan dunianya baik berupa harta maupun anak. Bersamaan dengan kenikmatan-kenikmatan tersebut, Allah juga telah menganugerahkan kenikmatan waktu luang kepadanya, akan tetapi dia tidak tahu bagaimana memanfaatkannya.

Kepada orang yang memiliki keadaan seperti itu, maka renungkanlah dengan seksama tahun-tahun yang telah engkau lalui, namun ternyata engkau tidak punya bagian keberuntungan di akhirat kelak. Pikirkanlah betapa dekatnya dirimu dengan pertemuan Rabb-mu? Bukankah telah tiba saatnya untuk dirimu mengobarkan semangat anak-anakmu dan cucu-cucumu untuk mengorbankan diri demi agama Allah dan menolongnya? Bukankah telah tiba waktunya untuk dirimu melewatkan waktu luangmu dengan berkhalwat bersama Allah; berdoa untuk dirimu, untuk kaum muslimin yang tertindas, dan untuk mujahidin hamba Allah? Bukankah telah tiba waktunya untuk engkau berkontemplasi menuju Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan segala bentuk pendekatan diri?

Tatkala menjelang usia senja, kebanyakan manusia malah durhaka. Engkau menyaksikan mereka hidup menggunakan nalar para pemuda tersesat yang tidak pernah berpikir mengenai kematian, mengenai waktu menjawab pertanyaan kelak dan hari perhitungan. Dan hal demikian –demi Allah- adalah bentuk dari panjang angan-angan dan kebinasaan itu sendiri. Di mana engkau memposisikan dirimu dari firman Allah Ta’ala:

“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak kamu hindari.” (Qaf: 19)

Imam Al-Baghawi berkata, “’Dan datanglah sakaratul maut’: kesengsaraan dan kepedihannya menggerus manusia dan mengalahkan akalnya. ‘Dengan sebenar-benarnya’: yaitu hakikat kematian. Disebutkan: dengan sebenar-benarnya dari perkara akhirat sampai menjadi jelaslah bagi manusia dan dia melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Dan disebutkan: yang mengubah urusan manusia berupa kebahagiaan dan kesengsaraan. Dan dikatakan juga: bagi orang yang dijemput sakaratul maut. ‘Itulah yang dahulu hendak kamu hindari’ artinya engkau berpaling. Al-Hasan berkata, ‘Artinya adalah engkau melarikan diri.’ Ibnu Abbas berkata, ‘Engkau membencinya.’” (Ma’alim At-Tanzil Fi Tafsir Al-Qur`an)

Dengan demikian, gunakanlah waktu luangmu sebelum engkau berada di dalam kubur. Manfaatkanlah waktu pagimu karena barangkali engkau tidak mendapati waktu petangmu. Dari Al-Hasan, dia berkata, “Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari. Tatkala satu hari itu hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu.” (Az-Zuhd, karya Ahmad bin Hanbal).

Maka teladanilah orang-orang yang telah beruban yang mempersembahkan tubuh mereka di jalan Allah, mereka mendahului para pemuda demi surga, bukan demi dunia.

Manfaatkan Waktu Luangmu

Ada golongan orang-orang berbakti yang telah Allah Ta’ala cukupkan kebutuhan hidup mereka, namun rezeki mereka berada di bawah bayangan tombak. Mereka memanfaatkannya untuk mengacaukan kehidupan orang-orang kafir dan menolong agama Rabb Semesta Alam. Di antara orang-orang yang mendapatkan taufik itu, ada lagi menekuni diri dalam ribathnya, menghabiskan shift (pergantian) waktu berjaga beberapa jam saja, lalu kembali ke waktu luang yang panjang. Waktu-waktu itu merupakan kenikmatan bagi seorang mujahid yang tekadang tidak disadarinya. Seandainya dia memanfaatkannya dengan dzikrullah (berzikir), membaca Al-Qur'an, berdoa, menjaga shalat-shalat sunnah, atau sejenak memberi peringatan kepada saudara-saudaranya dan saling mengobarkan semangat satu sama lainnya, niscaya ada manfaat agung dan keteguhan ketika berhadapan dengan orang-orang kafir, memperoleh ketinggian derajat unggul, dan juga tambahan kebaikan-kebaikan.

Ketahuilah wahai mujahid, sesungguhnya waktu luangmu adalah nikmat dari Allah, maka gunakanlah sebaik-baiknya sehingga engkau tidak menjadi orang-orang yang tertipu dan jadikan nikmat itu sebagai amunisi bagimu di sisi Allah Ta’ala. Sesungguhnya Allah telah menyiapkan seratus derajat di surga bagi para mujahid. Derajat mujahid yang berzikir kepada Allah Ta’ala, mengerjakan shalat sunnah, membaca Al-Qur'an, bersungguh-sungguh dalam ribath, dan peperangan, berbeda dengan derajat seorang mujahid murabith yang hanya sedikit berzikir kepada Allah, sekadar menunaikan waktu giliran berjaga, kemudian kembali ke waktu luang yang panjang.

Kepada para mujahid murabith yang jujur, hendaklah bersungguh-sungguhlah memanfaatkan waktu-waktu luang kalian demi memperoleh derajat tertinggi, dan ketahuilah bahwa jarak antara derajat satu ke derajat lainnya sejarak langit dan bumi. Dan sesungguhnya kenikmatan kedudukan-kedudukan yang tinggi lebih utama dan paripurna daripada yang ada di bawahnya. Jangan sampai seorang murabith tidak membekali diri dengan amal shalih, di samping keagungan amalan yang telah dikabarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Ribath sehari semalam lebih baik dari puasa san shalat malam selama satu bulan. Dan jika dia mati, maka mengalirlah amalan yang diperbuatnya dan mengalirkan rezekinya, serta aman dari fitnah.” (HR. Muslim)

Keutamaan apa lagi yang lebih agung bagi murabith yang apabila terbunuh maka mengalirlah amalan yang dikerjakannya di waktu luangnya? Maka hendaklah engkau melazimkan membaca Al-Qur'an, shalat tahajud, dan ibadah-ibadah lainnya. Dan tamaklah dalam mencari ilmu, memahami agama, dan menghafalkan Kitabullah. Waktu luang yang engkau jalani di sela-sela waktu giliran berjaga-jaga ribath, adalah sesuatu yang dicemburui orang-orang shalih lainnya.

NIKMAT SEHAT DAN UJIAN SAKIT

RUMIYAH 8 - ARTIKEL

NIKMAT SEHAT DAN UJIAN SAKIT

Allah azza wa jalla memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk menjaga diri mereka dari setiap hal menyakitkan dan membahayakannya. Menghalalkan segala hal yang bagus dan mengharamkan semua hal yang buruk dan najis yang membahayakan akal dan fisik mereka. Dia mengutus Nabi-Nya dengan manhaj Rabbani yang sempurna, yang mencakup seluruh perkara agama dan dunia. Sunnahnya penuh dengan berbagai macam anugerah Rabbani yang menjaga akal dan fisik seorang muslim.

Allah azza wa jalla berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” (QS. al-Araf: 157).

Imam ath-Thabari rahimahullah berkata, “Firman-Nya, ‘menghalalkan bagi mereka segala yang baik’, yakni seperti bahirah (unta betina yang telah beranak lima kali dan yang terakhir jan- tan), saibah (unta yang dibiarkan liar), washilah (anak domba berkelamin jantan dari sepasang kembar jantan dan betina), dan ham (unta jantan yang dibiarkan liar karena telah membuntingkan unta betina sepuluh kali) yang diharamkan oleh orang-orang jahiliyah, ‘dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk’ seperti daging babi, riba, dan yang mereka halalkan berupa makanan dan minuman yang Allah haramkan.”

Sehat Adalah Nikmat Yang Sering Dilupakan

Di antara nikmat yang dikaruniakan oleh Allah azza wa jalla kepada makhluk-Nya adalah nikmat kesehatan yang tidak diketahui kecuali mereka yang kehilangannya. Apapun yang dimilikinya rela dikorbankan demi mengobati dirinya dan mengembalikan kesehatannya sebisa mungkin.

Hadits Nabi, yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dan penulis kitab sunan lainnya, menyebutkan tentang nikmat sehat ini. Sabdanya shallallahu alaihi wasallam, “Barangsiapa merasa aman dalam rumahnya, sehat jasmaninya, memiliki makanan pokoknya pada hari itu maka seakan-akan ia memiki seluruh dunia”.

Imam Bukhari rahimahullah juga meriwayatkan dalam Shahihnya dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, berkata, “Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Dua nikmat yang dilupakan oleh banyak manusia adalah kesehatan dan waktu luang.’ Ibnu Bathal rahimahullah berkata mensyarah hadits agung ini, “Makna hadits ini ialah bahwa seseorang tidaklah dikatakan memiliki waktu luang hingga badannya juga sehat. Barangsiapa yang memiliki dua nikmat ini (yaitu waktu senggang dan nikmat sehat), hendaklah ia bersemangat. Jangan sampai ia tertipu dengan meninggalkan syukur pada Allah atas nikmat yang diberikan. Bersyukur adalah dengan melaksanakan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan Allah. Barangsiapa yang luput dari syukur semacam ini, maka dialah yang tertipu.”

Haram Merusak Jiwa

Anehnya ada saja orang yang malah berusaha merusak kesehatannya sendiri dengan hal-hal buruk dan membinasakan yang diharamkan Allah azza wa jalla. Seperti rokok dan barang-barang memabukkan lainnya yang menghilangkan fungsi akal sesuai tingkat kerusakannya juga sangat membahayakan badan. Barang-barang haram seperti itu hakikatnya membinasakan fisik secara pelan-pelan, sementara Allah telah melarang membunuh diri sendiri, firman-Nya, “Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. an-Nisa: 29).

Demikianlah syariat datang untuk menjaga dien dan jiwa. Demi dien jiwa pun dikorbankan dengan murah dalam jihad di jalan Allah sampai tidak ada lagi fitnah dan agama ini semata-mata milik Allah. Adapun selain di jalan itu maka seorang muslim tidak boleh membahayakan badannya atau melakukan sesuatu yang membahayakan kesehatannya dengan alasan apapun.

Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam Mustadraknya, dari Jabir bahwa seorang lelaki dari kaum Thufail bin Amru ad-Dausi berhijrah bersama Thufail. Dia lalu jatuh sakit. Namun ia mengeluh karena sakitnya itu lalu memotong urat nadinya dan membiarkan darahnya mengucur sampai mati. Thufail melihatnya dalam mimpi. Thufail bertanya, “Apa yang Allah perbuat terhadapmu?” Dia menjawab, “Dia mengampuniku dengan hijrahku kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam.” Thaufail bertanya lagi, “Mengapakah tanganmu?” Jawabnya, “Dikatakan padaku bahwa kami tidak akan memperbaiki apa yang telah kamu rusak.” Jabir berkata, “Thufail lalu menceritakannya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam. Beliau lalu berdoa sembari mengangkat tangannya, ‘Ya Alllah ampunilah tangannya’.”

Lelaki ini tidak bermaksud membunuh dirinya, namun dia melakukan sesuatu yang menyebabkan kematiannya. Allah mengampuninya disebabkan hijrahnya sebagaimana disebutkan dalam doa Nabi shallallahu alaihi wasallam untuknya itu. Perhatikan apa yang dikatakan padanya, “kami tidak akan memperbaiki apa yang telah kamu rusak.” Maka dari itu, jasad ini tidak boleh dirusak kecuali dalam rangka mentaati dan mencari keridhaan Allah, bukan karena keinginan hawa nafsu semata.

Bersabar Ketika Sakit Adalah Sunnah Para Nabi dan Jalan Orang-orang Shalih

Antara nikmat sehat dan nikmat sakit seorang muslim harus bertawakal kepada Rabbnya. Ia harus mencari sebab-sebab kesembuhan. Jika sembuh maka itu adalah karunia Allah semata. Namun jika tidak maka hendaknya ia berbaik sangka kepada Rabbnya bahwa Dia ingin mengangkat derajat dan menghapus kesalahan-kesalahan dengan semua yang dideritanya. Hendaknya seorang muslim mengharap pahala dengan bersabar atas musibahnya itu karena demikianlah kondisi muslim dalam keadaan lapang maupun sempit.

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam sabdanya, “Tidaklah seorang muslim tertimpa sakit, letih, khawatir, sedih, depresi, dan gangguan bahkan duri yang menusuknya kecuali Allah hapuskan dosa-dosannya.”

Oleh karena itu, sebagian salaf bergembira jika terkena sakit. Manusia yang paling keras ujiannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang setelahnya.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam shahihya dari Harits bin Suwaid dari Abdullah berkata, “Aku menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau dalam keadaan sakit parah. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah sungguh anda terkena sakit yang parah?' Sabdanya, ‘Betul, sakitku dua kali lipat dari sakit kalian.’ Kataku, ‘Karena itulah anda mendapatkan dua pahala?”

Sabdanya, “Ya, begitu juga tidaklah seorang muslim terkena gangguan, duri, atau lebih dari itu kecuali Allah akan hapuskan kesalahan-kesalahannya seperti pohon yang menggugurkan daunnya.”

Begitu pula sakit berkepanjangan yang diderita oleh Nabi Ayub alaihis salam. Allah memujinya kesabarannya dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya)”. (QS. Shad: 44). Sekalipun demikian, ia tidaklah berdoa meminta secara langsung kepada Allah, namun doanya beradab dan indah sekali, “Ya Rabbku sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Rabb yang Maha Penyayang diantara semua penyayang”. (QS. al-Anbiya: 83). Tidaklah dia berdoa kecuali setelah bertahun-tahun menikmati rasa sakit. Sekalipun orang-orang menjauhinya ia tetap bersabar dan mengharap pahala atas kepahitan hidup yang dideritanya. Betapa berat dan lama penyakit yang dideritanya sehingga dia berusaha meraih sebab sembuh terbesar, yaitu doanya kepada Allah azza wa jalla.

Demikian jugalah manhaj para pengikut Nabi. Telah diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab az-Zuhud bahwa Abu Darda radhiyallahu anhu berkata, “Kefakiran yang paling kusukai adalah tawadhu’ kepada Rabbku, kematian yang paling kusukai adalah tatkala rindu kepada Rabbku, dan sakit yang paling kusukai adalah yang menghapus dosa-dosaku.”

Siapakah Yang Mau Membeli Surga Dengan Kesabaran?

Di antara kisah menakjubkan generasi pertama dalam bersabar atas ujian demi mengharapkan surga adalah yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Atha bin Abi Robah berkata, “Ibnu Abbas berkata, ‘Maukah aku perlihatkan kepadamu wanita penduduk surga.’ ‘Tentu,’ kataku. Ia bercerita, ‘Ada seorang wanita mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam dan berkata, ‘Aku terkena penyakit ayan. Ketika kambuh auratku tersingkap. Maka berdoalah kepada Allah untuk kesembuhanku.’ Sabdanya, ‘Jika kamu mau bersabar maka kamu mendapat surga, tapi jika kamu mau aku akan mendoakanmu dan Allah akan menyembuhkankmu.’ Maka dia berkata, ‘Kalau begitu aku akan bersabar, namun ketika kambuh auratku tersingkap. Berdoalah kepada Allah agar auratku tidak tersingkap.’ Maka beliau lalu mendoakannya.”

Inilah seorang muslimah yang bersabar menahan rasa sakitnya di dunia demi mendapatkan surga dengan segala kenikmatannya. Jika ada yang terheran-heran maka cukuplah baginya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Jabir berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersbada, ‘Di hari kiamat, orang-orang yang sentosa di dunia benar-benar mengharap seandainya kulit mereka diiris-iris dengan pisau di dunia lantaran melihat ganjaran orang-orang yang menderita (di dunia).”

Maka seyogyanya bagi mereka yang diberi nikmat kesehatan oleh Allah untuk memuji-Nya dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat ini dengan menggunakannya dalam ketaatan pada-Nya sebagaimana yang diperintahkan-Nya, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS. al-Qashas: 77).

Hendaknya ia memanfaatkan waktu sehatnya dan kuatnya untuk menambah tabungan kebaikannya sebelum ia terkena sakit atau masa tua dan lemah, sebagaimana yang diwasiatkan oleh Nabi Allah shallallahu alaihi wasallam, “Manfaatkan lima perkara sebelum datangnya lima perkara, masa mudamu sebelum masa tuamu, kesehatanmu sebelum sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, waktu kosongmu sebelum waktu sibukmu, dan kehidupanmu sebelum kematianmu (Diriwayatkan oleh Hakim dalam al-Mustadrak).

Barangsiapa yang diuji dengan sakit hendaknya ia memuji Allah atas apa yang dideritanya, karena sesungguhnya sebagian musibah itu lebih ringan daripada musibah lain. Hendaknya ia bersabar atas musibahnya itu dan mengharap pahala di sisi Allah azza wa jalla. Khusunya jika terluka di jalan Allah. Kesabaran atas apa yang menimpanya, dan rasa syukurnya atas nikmat yang dikaruniakan padanya berupa luka di jalan Allah adalah perkara yang diwajibkan.

Kita memohon kepada Allah agar menyembuhkan setiap kaum muslimin yang sakit, dan menjadikan rasa sakitnya sebagai penghapus dosa dan meninggikan derajat mereka, sungguh Allah Mahamampu akan hal itu, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

ZUHUD DI DUNIA ADALAH MANHAJ SALAF

RUMIYAH 8 - MUSLIMAH

ZUHUD DI DUNIA ADALAH MANHAJ SALAF

Nabi kita shallallahu alaihi wasallam adalah tuannya para ahli ibadah dan ahli zuhud, Jibril alaihis salam mendatanginya sebagai utusan dari Rabbnya para hamba, menawarkan dua pilihan kepadanya antara diutus sebagai Nabi berposisi Raja atau Nabi berposisi Hamba, maka ia memilih yang kedua, beliau menolak kunci-kunci pembendaharaan dunia yang fana, sehingga beliau dan keluarganya merasakan berbagai macam bentuk kemiskinan dan kemlaratan, hidup bersama para Shahabat pilihan dalam kesederhanaan, sedangkan mereka adalah sang pemilik bumi dan leher-leher (manusia) ditundukkan untuk mereka.

Pada masa ini setelah dibukakannya dunia untuk kita, kita mulai kehilangan ruh itu, ruh generasi awal dari para ahli zuhud, yang tidak tertipu oleh gemerlapnya dunia, dan mereka memahami bahwa untuk selamat dari (fitnah dunia) adalah dengan meninggalkan apa yang ada didalamnya.

Jika diperhatikan keadaan sebagian wanita pada hari ini, maka akan terlihat kemewahan yang berlebih dan ketamakan terhadap dunia dan kotoran-kotorannya dari mereka, jika mereka belanja maka berlebih-lebihan, bila menuntut suami mereka akan memaksa dan melelahkan, namun jika suami terlambat memberi nafkah karena kurangnya penghasilan, mereka menggerutu dan mengeluh, barangkali malah sampai kredit dan berhutang, sehingga ia buang rasa malunya dihadapan kaum lelaki, menderita dihadapan manusia karena banyaknya permintaan.

Dahulu salah seorang wanita kaum salaf selalu mengiringi suaminya setiap hari ke pintu rumah untuk memberikan wasiat kepadanya sebelum keluar agar selalu bertaqwa kepada Allah dalam hal yang telah Dia anugrahkan kepada mereka, perhatiannya terhadap halal dan haram! Adapun sebagian wanita hari ini menyusul suaminya ke pintu rumah untuk mengingatkannya tentang daftar belanja yang tiada habisnya, bagaimanapun cara (mendapatkan)nya itu bukan urusan dia (wanita), dan dari mana sang suami akan mendapatkannya untuk istrinya!

Engkau dapati salah seorang dari mereka (para wanita) itu tidaklah memiliki perhatian terhadap dunia kecuali sebatas makanan dan busananya, jika ia makan maka berlebihan, jika berbusana maka bermewah-mewahan, jika duduk untuk ngobrol maka yang dibicarakan adalah seputar makanan, pakaian, tentang gaya dan warna rambut, padahal sungguh di- antara doa Nabi shallallahu alaihi wasallam “Dan janganlah Engkau jadikan dunia itu tujuan terbesar dan puncak ilmu kami” (HR At-Tirmidzi).

Wahai saudariku se-Islam, wahai cucu Aisyah, Aisyah yang dulu busananya tambalan, mari kita sedikit berimajinasi tentang rumah terbaik, termulia dan terwangi, berdasarkan rasio, agama dan kebaikan, ‘iffah, kekayaan dan ketaqwaan, ketahuilah ia adalah rumah Nabimu shallallahu alaihi wasallam. Sungguh kamar-kamarnya sangatlah kecil, sangat sederhana, sangking kecilnya ruangan hampir tidak muat untuk dua orang, adapun alas yang beliau gunakan tidur diatasnya, adalah sebagaimana yang dituturkan oleh Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha, beliau menuturkan: adapun alas tidur Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah adam, isinya dedaunan.” (Muttafaq Alaih). Adam adalah kulit yang telah disamak, dan daunnya adalah daun kurma.

Al-Faruq Umar radhiyallahu anhu bercerita kepada kita dalam sebuah hadits yang panjang, dimana ia datang menemui beliau: “Maka aku masuk menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sedangkan beliau berbaring diatas tikar, kemudian akupun duduk, maka beliau menurunkan sarungnya yang tidak ada selainnya, ternyata tikar itu membekas pada punggung beliau, maka aku melihat lemari beliau shallallahu alaihi wasallam, ternyata aku melihat segenggam gandum kira-kira satu sho’, dan juga aku melihat semisalnya di sisi ruangan, tiba-tiba aku terenyuh, kemudian berlinang kedua mataku, beliau bersabda: “Apa yang membuatmu menangis wahai putera Al-Khattab?” Aku berkata: "Wahai Nabi Allah, bagaimana aku tidak menangis sedangkan tikar ini yang telah membekas di punggung anda, sedangkan lemari anda aku tidak melihat didalamnya kecuali apa yang telah aku lihat, sementara Kaisar Kisra ditengah buah-buahan dan sungai, sedangkan engkau adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam namun beginilah almari anda", maka beliau menjawab: “Wahai Ibnul Khattab, apakah engkau tidak ridha jika akhirat itu untuk kita sedangkan dunia untuk mereka?”, aku berkata: “Iya....” (HR. Muslim).

Adapun makanan beliau dan keluarga beliau shallallahu alaihi wasallam sungguh telah berlalu dua kali hilal namun tidak pernah menyalakan api, sedangkan kebanyakan hidup mereka bergantung kepada dua hal: kurma dan air, bahkan Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha menuturkan apa yang terkadang mereka dapati berupa daging, dia berkata: “Luhaim (daging kecil)” sebagai ungkapan saking sedikitnya!

Imam Ath-Thabari rahimahullah berkata: “Di dalam pilihan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan generasi Salaf terbaik dari para Shahabat, Tabi’in terhadap kesulitan hidup, serta bersabar diatas pahitnya kefaqiran, dan kemiskinan serta penderitaan keras, pakaian dan makanan yang kasar serta kenyamanan yang sangat rendah, meninggalkan manis dan nikmatnya kekayaan, apa yang dapat menjelaskan tentang keutamaan zuhud di dunia, mengambil makanan dan bekal khusus, dahulu Nabi shallallahu alaihi wasallam melalui hari-hari dan mengganjalkan batu diperutnya karena lapar; itsar darinya dikarenakan kerasnya hidup dan bersabar atasnya, dengan pengetahuan beliau bahwa seandainya beliau memohon kepada Rabbnya agar menjadikan gunung Tihamah menjadi emas dan perak untuk beliau niscaya akan dilakukan, dan diatas jalan inilah orang-orang shalih berjalan.”

Demi Allah wahai saudari muslimah renungilah hadis Ummu Salamah radhiyallahu anha dimana dia berkata: “Sungguh dahulu kami mengalami haid pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam salah seorang dari kami melewati hari-hari haidhnya kemudian suci, maka diapun melihat pakaian yang ia kenakan, jika terkena darah maka kami mencucinya dan kami shalat menggunakannya, namun jika tidak terkena sesuatu kami biarkan dan hal itu tidak menghalangi kami untuk sholat dengannya.” (HR. Abu Dawud).

Ya Subhanallah! Sungguh ada salah seorang wanita dari generasi terbaik barang kali tidak memiliki pakaian kecuali hanya satu, dengan mengenakan baju itu dia haidh dan suci, adapun kaum wanita umat kita pada hari ini hampir-hampir saja rumah-rumah mereka ditelan oleh perkakas yang ada di dalamnya berupa pakaian dan perhiasan!

Bisa jadi ada wanita yang berkata: Aku tidak melihat kalian kecuali hanya bisa mengharamkan apa yang Allah halalkan yang mana Dia suka melihat nikmat-Nya atas hamba-Nya!

Kami katakan ketika itu: Kami memohon perlindungan kepada Allah dari mengharamkan kebaikan-kebaikan-Nya atas hamba-Nya, akan tetapi ia adalah dakwah untuk bertabiat dengan akhlak sebaik-baik makhluk, dan zuhud adalah perhiasan mukmin sejati, yaitu orang yang memandang dunia itu kecil dimatanya dan akhirat besar di hatinya.

Sedangkan Allah azza wa jalla mencintai apabila melihat bekas nikmat-Nya atas hamba-Nya, bukan tanda israf dan tabdzir, dan tidak (suka) melihat para isteri itu membebani punggung suami mereka dengan memburu setiap apa yang mereka (para Isteri) inginkan meskipun memenuhi hal itu sangatlah menyulitkan mereka (para suami).

Dan kami jika menyeru para wanita untuk berhias dengan perhiasan indah ini (zuhud di dunia), tidaklah terlewatkan oleh kami ditempat ini untuk mengingatkan dari kekikiran dan kepelitan terhadap keluarga.

Maka bagi suami yang muslim wajib memberi nafkah kepada keluarganya, dan anak-anaknya dengan ma’ruf tanpa berlebihan ataupun melalaikan (hak mereka), dan hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, hingga dengan demikian dia dapat meraih derajat orang-orang mulia bukan menjadi saudara setan, maka janganlah sekali-kali orang yang memiliki harta kemudian mempersempit belanja keluarganya, dan hendaklah ia mengharapkan pahala atas setiap suapan yang ia letakkan di mulut keluarganya, dan atas setiap kebahagiaan yang ia berikan kepada mereka, dan Allah memiliki tujuan dibalik itu, sebagaimana janganlah sekali-kali orang yang memiliki kebutuhan kemudian membebani dirinya dengan apa yang tidak dia mampu demi mendapatkan ridha sang isteri yang tidak pernah mempertimbangkan keadaan (suami) nya, dan tidak kasihan terhadap kelemahan (suami) nya.

Dan akhir seruan kami segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, Ya Allah curahkanlah shalawat dan berkah atas Sayidul Anbiya Wal Mursalin (Penghulu Para Nabi dan Rasul), serta atas keluarga dan para Shahabat beliau seluruhnya.

BERTAWAKKALLAH PADA ALLAH, BUKAN PADA KEKUATAN

RUMIYAH 7 - ARTIKEL

BERTAWAKKALLAH PADA ALLAH, BUKAN PADA KEKUATAN

Setiap muslim tidak akan menyangkal bahwa mempersiapkan kekuatan untuk jihad fisabilillah itu adalah perkara wajib yang mendesak. Allah ta'ala telah memerintahkannya di dalam kitab-Nya yang mulia dengan firman-Nya, “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. al-Anfal: 60).

Tidak diragukan lagi bahwa mempersiapkan kekuatan termasuk hal yang sangat membantu untuk meraih kemenangan.

Para tentara khilafah -dengan karunia Allah ta'ala– telah melaksanakan perintah Ilahi ini. Mereka siapkan segala sesuatunya sesuai dengan taufik Allah. Buahnya telah sedikit terlihat oleh musuh, sedang yang akan datang akan lebih mengerikan dan lebih pahit dengan izin Allah. Namun hendaknya seorang muslim muwahhid tidak sepenuhnya bersandar dan bertawakkal kepada apa yang telah disiapkannya. Hendaknya dia berlepas diri dari daya dan kekuatannya dan hanya bersandar pada daya dan kekuatan Allah. Jangan sekali-kali tertipu dengan kekuatan yang dipunyainya. Meski kekuatan materi adalah salah satu faktor kemenangan tetapi tertipu dengannya adalah salah satu sebab kekalahan.

Sejarah para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah teladan yang baik bagi kita. Yang menimpa mereka ketika perang Hunain adalah sebuah pelajaran berharga bagi kita. Allah ta'ala berfirman, “Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai orang-orang mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu ketika kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dan bercerai-berai. Kemudian Allah memberi ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah telah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikian pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. at-Taubah: 25-26).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsirnya, “Allah ta'ala mengingatkan orang-orang beriman akan karunia dan kebajikan-Nya yang telah dilimpahkannya ketika Dia menolong mereka di berbagai pertempuran bersama Rasul-Nya, bahwa pertolongan itu semata-mata dari sisi Allah, dengan sokongan dan takdir-Nya. Kemenangan itu bukanlah karena jumlah maupun persenjataan. Allah mengingatkan bahwa kemenangan itu datang dari sisi Nya, tanpa memandang banyak atau sedikitnya jumlah pasukan. Di saat Perang Hunain, kaum muslim merasa bangga dengan jumlah yang banyak. Tetapi jumlah yang banyak itu tidak bermanfaat sedikitpun, karena mereka lari mundur kecuali sebagian kecil yang tetap bertahan dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Kemudian Allah menurunkan pertolongan dan bantuan-Nya kepada Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.”

Maka wahai mujahid muwahhid, ketahuilah bahwa i’dad kalian itu adalah untuk melaksanakan perintah Allah, sedangkan kemenangan itu hanya datang dari sisi-Nya ?. Engkau beriltizam untuk taat kepada Allah dan menjauhi larangan-Nya itu adalah sebuah kemenangan. Ketahuilah bahwa sebagaimana engkau diperintahkan untuk mempersiapkan kekuatan, engkau juga diperintahkan untuk bertawakkal kepada-Nya saja bukan kepada yang lain. Allah ta'ala berfirman, “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. ath-Thalaq: 3).

Hendaklah seorang mujahid muwahhid memahami bahwa goyahnya niat dan berubahnya hati lebih berbahaya daripada berapapun jumlah musuh dan lebih berbahaya daripada berapapun jumlah pesawat dan bom-bom yang berjatuhan. Hendaknya ia terus periksa hatinya. Hendaknya ia terus waspada terhadap bisikan-bisikan Iblis, karena ia sangat berupaya untuk merubah niatmu. Dia tidak akan bosan hingga ruh berpisah dari jasad. Hendaklah hatinya selalu bergantung pada Allah semata tanpa ada yang bisa mencabutnya sedikitpun. Hendaknya seorang mujahid muwaahid juga harus mewaspadai ungkapan-ungkapan yang terucap namun amat berpengaruh ke hati, seperti misalnya, “Bahwa para istisyhadi – selain mampu memporak-porandakan musuh – lah yang menentukan jalannya pertempuran.” Atau ungkapan, “Selama kita masih memiliki senjata begini begitu niscaya kita tidak akan pernah mundur atau kalah.” Juga ungkapan, “Segala sesuatu yang telah kita siapkan cukup untuk menimpakan kekalahan kepada musuh.”

Hendaklah aktivitas, ucapan, dan keyakinannya yang kokoh mengungkapkan bahwa tidak boleh bersandar kepada apa yang telah disiapkannya – betapapun pentingnya – kecuali bahwa hal ini adalah dalam rangka melaksanakan perintah Allah.

Wahai mujahid, wahai orang yang keluar dengan niat agar kalimatullah tinggi dan kalimat orang-orang kafir menjadi rendah. Wahai orang yang telah berkorban dengan segala sesuatunya supaya tauhid berkuasa di seluruh penjuru dunia. Jagalah tauhidmu, jangan jadi orang yang mengurangi atau merusaknya. Bertawakkallah kepada Allah dengan sebenar-benarnya, karena Dialah yang mengatur segala urusan dan pencipta sebab musabbab dengan perintah-Nya ta'ala.

JANGANLAH KALIAN MENJADI LEMAH DALAM MENGHADAPI MUSUH

RUMIYAH 6 - ARTIKEL

JANGANLAH KALIAN MENJADI LEMAH DALAM MENGHADAPI MUSUH

Orang-orang musyrik ahli kitab dan orang-orang murtad sekutunya tidak akan berhenti menyebarkan isu tentang jumlah fantastis tentara Daulah Islamiyah yang diklaim gugur dalam pertempuran atau akibat serangan udara. Tujuannya ialah untuk menyebarkan rasa putus asa dalam jiwa para mujahidin. Yaitu dengan mengintimidasi akan kerugian besar yang akan diderita jika tetap melanjutkan jihad melawan orang-orang musyrik demi menegakkan Dien dan melenyapkan kesyirikan.

Inilah kebiasaan orang-orang kafir. Mereka menimbang segala sesuatu hanya berdasarkan materi duniawi, karena itulah yang diketahuinya. Sebagaimana tingkah salah satu gembong mereka usai Perang Uhud. Ia membanggakan diri karena berhasil membunuh sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, berusaha menyelipkan kesedihan dalam jiwa kaum muslimin. Para sahabat pun menyanggahnya, tidaklah sama karena kaum muslimin yang gugur berada di surga sedangkan orang-orang musyrik yang tewas berada di neraka.

Allah ta'ala memerintahkan hamba-Nya para muwahhid agar jangan sampai luka-luka yang menimpa menghentikan mereka dari terus berupaya untuk mengejar, membunuh, dan memerangi orangorang musyrik, merampas tanah dan harta benda dari tangan mereka, sebagaimana firman Allah ta'ala, “Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. an-Nisa: 104).

Perang tidak hanya menghasilkan kemenang dan rampasan perang, terapi juga mengakibatkan luka, rasa sakit, lelah, khawatir, senjata yang rusak, harta benda habis, dan hilangnya anggota badan.

Para Muwahhid berharap kedekatan kepada Allah ta'ala dengan segala hal yang mereka korbankan fi sabilillah. Mereka juga berharap pertolongan-Nya ketika Dia melihat kejujuran jihad mereka. Bahkan disamping mereka memohon pertolongan untuk mengalahkan para musuh, mereka sangat yakin bahwa sekalipun mengalami kekalahan namun jika disertai niat yang ikhlas dan totalitas upaya maka justru akan semakin menambah pahala sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, “Tidaklah seseorang atau sekelompok orang berperang lalu memperoleh ghanimah dan pulang dengan selamat melainkan sepertiga pahala mereka telah disegerakan, dan tidaklah seseorang atau sekelompok orang berperang lalu gugur dan terluka melainkan mendapatkan pahalanya secara sempurna.” (HR. Muslim).

Maka setiap kekalahan justru akan menambah pengorbanan demi mendapatkan kerelaan Rabb pemilik bumi dan langit hingga agama ini hanya milik Allah atau mereka binasa karenanya, sebagaimana Dia menyifati mereka dalam kalam-Nya, “Yaitu orangorang yang menyambut seruan Allah dan Rasul setelah mereka tertimpa luka. Bagi orang-orang yang berbuat baik dan bertaqwa diantara mereka ada pahala yang besar.” (QS. Ali Imran: 172).

Disaat yang sama, kita dapati bahwa para wali thaghut tidak mendapatkan apapun. Apa yang mereka curahkan dalam perang hanya berujung kerugian. Setiap kekalahan yang mereka derita melalui tangan para muwahid hanya menambah patah semangat. Setiap kerugian harta benda dan personal hanya akan melemahkan semangat mereka untuk melanjutkan dan menuntaskan perang sampai merasa putus asa dan akhirnya terkalahkan. Oleh karena itu, Allah ta'ala memerintahkan para hamba-Nya untuk tidak menahan diri. Dia juga mengingatkan akan dampak serangan-serangan itu pada diri mereka, dan kesudahan mereka tidak lain adalah kehancuran di tangan Allah.

Kita telah menyaksikan kebenaran hal ini berkalikali dalam sejarah jihad yang berbarokah ini. Jihad yang tidak pernah berhenti sejak Rasul shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat yang mulia memulainya sehingga kota Makkah dan Jazirah Arab takluk hanya dalam waktu beberapa tahun. Lalu Imperium Kisra berhasil takluk setelah melalui pertempuran panjang berdarah-darah melawan Persia musyrik sampai Allah menjatuhkan singgasana Kisra. Kemudian giliran Negara Romawi terus menerus diserang selama beberapa abad hingga Allah berkenan untuk melenyapkan dan menghapuskan peninggalan-peninggalannya. Lalu aksi umat islam yang tak kenal lelah terhadap para thaghut dan bangsa-bangsa kafir hingga Allah berkenan menghancurkannya dan menjaga Dien serta negeri kaum muslimin.

Demikian juga yang kita lihat hari ini dalam perjalanan perang para mujahid melawan semua bangsabangsa syirik lagi kafir terutama negara-negara salibis Barat, khususnya selama dua dekade yang lalu. Dengan panji yang jelas dan tujuan yang benar sehingga para muwahhid dengan karunia Allah terus meningkat dan berkembang. Allah menambah jumlah mereka, memperbanyak senjata dan harta benda, memberikan kekuasaan di bumi-Nya, menolong mereka menegakkan Dien-Nya, dan menghidupkan kembali jamaatul muslimin yang hari ini dipimpin oleh Amirul Mukminin Syaikh Abu Bakar al-Baghdadi hafizhahullah, sedangkan urusan kaum musyrikin sentiasa menurun dan mundur. Semua itu berkat peneguhan Allah ta'ala terhadap para mujahidin dan petaka yang ditimpakan-Nya kepada orang-orang kafir dan murtad hingga Allah menghancurkan mereka sebagaimana orang-orang terdahulu sebelum mereka.

“Yang demikian itu karena Allah adalah pelindung bagi orang-orang beriman sedangkan orang-orang kafir tidak ada pelindung bagi mereka.” (QS. Muhammad: 11).

BERILAH KABAR GEMBIRA PADA ORANG-ORANG YANG BERSABAR AKAN DEKATNYA PERTOLONGAN ALLAH

RUMIYAH 2 - ARTIKEL

BERILAH KABAR GEMBIRA PADA ORANG-ORANG YANG BERSABAR AKAN DEKATNYA PERTOLONGAN ALLAH

Allah azza wa jalla telah menciptakan hamba-hamba-Nya dan menjalankan sunnah ujian-Nya pada mereka, sampai terpisah antara yang buruk dan yang bersih, dan agar orang yang binasa itu binasanya setelah mendapat keterangan dan demikian juga orang yang hidup. Karena itu, tidak ada tamkin kecuali setelah penyeleksian, tidak ada kemenangan kecuali setelah beratnya ujian, dan tidak ada rasa lapang kecuali setelah dihimpit kesulitan.

Jalan menuju Allah azza wa jalla dengan balasan terbaik yang telah disiapkan untuk orang-orang beriman, adalah jalan yang berharga teramat mahal. Harga ini tidak akan mampu dipikul kecuali oleh orang-orang mukmin yang sebenar-benarnya, yang hatinya bergantung hanya kepada Allah saja dan tetap teguh pada manhaj Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya yang mulia. Mereka itu orang-orang yang tidak tertipu dengan figur atau slogan-slogan mentereng. Mereka adalah para pencari kebenaran yang telah menemukan pemeluknya. Para pemegang kebenaran itu bukanlah orang-orang yang telah sekian lama berkecimpung dalam jihad lalu kemudian menyimpang dan melenceng lantaran panjangnya masa sehingga mereka sekarang menjadi para penggembos dan penipu. Juga bukan orang-orang yang menghabiskan umurnya diantara wadah tinta dan lembaranlembaran kosong, lalu ketika seorang penyeru kabar gembira menyeru bahwa inilah Daulah Islam telah tegak maka kemarilah buktikan ilmu kalian dengan amal, tiba-tiba mereka memalingkan muka, seakan-akan ada sumbatan di telinga mereka.

Ibnul Qayim al-Jauziyah rahimahullah berkata menggambarkan jalan yang menuju surga-surga yang kekal: “Dimana engkau, sedangkan jalan ini adalah jalan yang melelahkan Adam alaihis salam, membuat Nuh alaihis salam mengeluh, Ibrahim alaihis salam dilemparkan ke dalam kobaran api, Isma’il alaihis salam dibaringkan hendak disembelih, Yusuf alaihis salam dijual dengan harga murah dan dipenjara selama beberapa masa, Zakariya alaihis salam digergaji, Yahya alaihis salam disembelih, Ayub alaihis salam menderita penyakit keras, membuat Dawud alaihis salam menangis tersengal-sengal, Isa alaihis salam berjalan bersama binatang buas, dan Muhammad shallallahu alaihi wasallam merasakan kerasnya kefakiran dan berbagai macam gangguan”. (al-Fawaid)

Jika seperti itu kondisi para nabi termasuk para ulul azmi – sebaik-baik shalawat dan sejernih-jernihnya salam terhatur kepada mereka dan kepada Nabi kita – mendapatkan apa yang mereka dapatkan itu demi membela Allah azza wa jalla namun mereka tetap bersabar dan teguh, dan mereka disakiti dengan keras lantaran menyeru kepada tauhid yang murni namun tidak merasa lemah dan berkecil hati, maka bagaimana halnya dengan orang-orang selain mereka? Bukankah lebih pantas untuk diuji agar menjadi bersih, dan diseleksi agar mereka menjadi orang-orang mukhlis?

Imam Syafi’i rahimahullah suatu ketika ditanya: “Mana yang lebih utama bagi seorang lelaki, diberi kekuasaan atau diuji? Jawabnya: “Ia tidak akan diberi kekuasaan sampai diuji”. (al-Fawaid karya Ibnu Qoyim)

Ya, siapa langkah awalnya tak diwarnai dengan kelam maka takkan ada penghabisan yang bercahaya. Tidak ada tamkin sampai merasakan pahitnya ujian, sempitnya hidup, dan kerasnya krisis. Karena janji untuk para lelaki dan wanita yang jujur adalah surga. Surga yang di dalamnya wajah Allah azza wa jalla diperlihatkan, yang merupakan setinggi-tingginya nikmat dan angan-angan. Lalu, apakah hal itu bisa didapatkan dengan nyamannya dunia dan nikmatnya hidup? Bahkan sebaliknya, dengan tikaman tombak di bawah kilatan pedang; (Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” (QS al-Baqarah: 214)).

Imam at-Thabari rahimahullah berkata: “Makna firman Allah ini yaitu: Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, apakah kalian mengira akan masuk surga sedangkan kalian belumlah terkena ujian dan tumpukan kesulitan seperti pengikut para nabi dan rasul sebelum kalian. Sehingga kalian diuji dan digoncangkan dengan kesengsaraan, yaitu kefakiran yang amat sangat, dan malapetaka, yaitu wabah penyakit, seperti mereka dahulu. Juga kalian belumlah digoncangkan dengan kegoncangan mereka, yaitu merasakan ketakutan dan kengerian yang teramat sangat lagi melelahkan lantaran musuh, sampai mereka merasa lelah menanti pertolongan Allah dan berkata, “Bilakah Allah akan menolong kita?”.

Hal itu juga diketahui oleh Kaisar Romawi Heraklius ketika berkata kepada Abu Sufyan: “Aku bertanya kepadamu bagaimana peperangan antara kalian dengannya, engkau menjawab bahwa terkadang menang terkadang kalah, maka demikianlah para rasul, mereka diuji lalu kemudian mendapatkan kemenangan”. (Muttafaq ‘alaih).

Maka bagaimana seorang muwahhid yang berprasangka baik kepada Allah tidak mengetahui hal ini?

Sesungguhnya Dien ini adalah mahal. Menyeru kepada tauhid yang murni dan meninggikan kalimat Allah di bumi-Nya membutuhkan pengorbanan teramat besar, seperti pengorbanan Ashabul Ukhdud, yang diberantas dan dihabisi secara dini oleh thaghut sehingga tidak ada seorangpun yang tersisa. Mereka para Ashabul Ukhdud itu – setelah beriman kepada Rabbnya ghulam – menyaksikan para thaghut membuat parit dan menyalakan api untuk membakar yang tetap beriman, namun hal itu tidak mencederai iman mereka dan tidak berhasil menggeserkan Din mereka, sampai datang seorang wanita yang menggendong anak kecil, ia ragu-ragu untuk melemparkan dirinya ke dalam api lantaran anaknya itu, maka anaknya berkata: “Wahai ibu, bersabarlah, karena engkau benar”. (Muttafaq ‘alaih).

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dalam al-Mushannaf dari Hasan yang berkata: “Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam jika menyebutkan kisah Ashabul Ukhdud beliau berlindung dari beratnya ujian”.

Imam Bukhari membuat bab dalam shahihnya, ‘Bab Tentang Orang Yang Memilih Dipukul dan Dihinakan Daripada Kafir”, beliau mengeluarkan hadits dari Khabbab bin al-Art radhiyallahu anhu, berkata: “Kami mengadu kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika beliau tengah bersandar pada Ka’bah beralaskan burdahnya. Kami berkata padanya: ‘Tidakkah engkau mendoakan kita? Tidakkah engkau meminta tolong kepada Allah? Beliau bersabda: ‘Orang sebelum kalian digalikan sebuah lubang untuknya di atas tanah, kemudian mereka dimasukkan ke dalamnya. Setelah itu diambilkan sebuah gergaji dan diletakkan di atas kepalanya hingga terpotong menjadi dua bagian. Akan tetapi, hal tersebut tidak menggoyahkan agamanya. Kemudian ada juga yang disisir besi, sehingga terlepas daging dari tulangnya. Akan tetapi, hal itu juga tidak menggoyahkan agamanya. Allah pasti akan menyempurnakan masalah ini, sehingga akan berjalan seorang dari Shan’a ke Hadramaut, di mana ia tidak takut sedikitpun kecuali kepada Allah, sampai serigala bisa berdampingan dengan kambing (tanpa memangsanya). Akan tetapi, kalian terburu-buru.’

Ada harga yang harus dibayarkan seorang mukmin dalam benturan antara kebenaran dan kebathilan, Allah azza wa jalla berfirman: (Maka mereka membunuh dan dibunuh). (QS at-Taubah: 111).

Betapa berharganya pelajaran dan konsekuensi yang diambil dari Perang Uhud, perang yang memakan korban bukan sekedar menteri, amir, atau komandan, tidak hanya satu, dua, tiga, atau sepuluh, namun justru penghulu para syuhada Hamzah paman Nabi shallallahu alaihi wasallam bersama dengan 70 sahabat terbaik. Dalam satu hari saja para kesatria sejumlah demikian terbunuh, bukan sekedar kesatria biasa, tapi mereka adalah para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam!

Pada Perang Uhud juga suara orang-orang kafir meninggi mengira berhasil membinasakan Islam. “Abu Sufyan naik ke tempat yang tinggi dan berseru, ‘Apakah di antara kalian ada Muhammad? Beliau bersabda: ‘Jangan dijawab’. Abu Sufyan kembali bertanya, ‘Apakah di antara kalian terdapat Ibnu Abi Quhafah (Abu Bakar – pent)? Beliau bersabda: ‘Jangan dijawab’. Dia kembali bertanya, ‘Apakah di antara kalian terdapat Ibnul Khatthab? Abu Sufyan melanjutkan, ‘Sesungguhnya mereka semua telah tewas, sekiranya mereka masih hidup, tentu akan menjawabnya’. Ternyata Umar tidak dapat menahan dirinya dan berkata, ‘Kamu berdusta wahai musuh Allah, Allah masih membiarkan orang yang akan membuat kalian terhina’. Abu Sufyan berkata, ‘Tinggilah Hubal’. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Jawablah’. Para sahabat bertanya, ‘Apa yang harus kami katakan? Beliau bersabda: ‘Katakanlah, Allah lebih tinggi dan lebih mulia’. Abu Sufyan membalas, ‘Kami memiliki ‘Uzza sementara kalian tidak memilikinya’. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Jawablah’. Para sahabat bertanya, ‘Apa yang harus kami katakanya? Beliau bersabda: ‘Katakanlah, Allah adalah penolong kami dan kalian tidak memiliki penolong’”. (HR Bukhari).

Lalu, apakah orang-orang mukmin sekarang itu lebih mulia di sisi Allah daripada generasi pertama itu yang diuji dan digoncangkan segoncang-goncangnya sampai hati menyesak ke tenggorokan? Yang mengira bahwa penaklukan Roma dan Konstantinopel itu bisa dicapai hanya dengan pekikan kata saja(1) tanpa luka-luka, maka sungguh ia telah tertipu lagi berimajinasi saja!

Dengan demikian, jelaslah bahwa melalui ujian dan penyeleksian sajalah seorang mukmin muwahid bisa bertahan seijin Rabbnya, dan seorang munafik serta yang imannya lemah akan terpuruk, sehingga setelahnya tidak tersisa kecuali orang-orang pilihan. Orang-orang yang jiwanya telah tersucikan dari kotoran najis dunia. Ketika itulah, dan hanya ketika itu jiwa mereka dipenuhi suara kebenaran sehingga datanglah pertolongan yang menyejukkan hati mereka: (Ketahuilah, bahwasanya pertolongan Allah itu dekat). (QS al-Baqarah: 214).

Sungguh kami telah merasakan hembusan angin khilafah kita yang diberkahi ini, yang bertiup dari ujung timur bumi sampai ujung baratnya, sekiranya mereka tidak menuduh kita lemah, maka bersabar itulah yang baik, Allahul musta’an.

Catatan kaki :

(1) Penaklukan Konstantinopel terjadi setelah memakan korban sekian banyak syuhada dan prajurit yang terluka. Pada peristiwa sebelumnya, sepertiga pasukan kaum muslimin terbunuh dalam pertempuran sengit melawan salibis di Dabiq. Kemudian pasukan yang tersisa melanjutkan pergerakannya untuk mengepung Konstantinopel sampai mencapai pinggiran kota. Disinilah, dan hanya ketika inilah -setelah banjir darah dan keringat- pertahanan kota jatuh hanya dengan tahlil dan takbir para muwahhid mujahid yang tetap sabar dan teguh. Nikmat dan keutamaan dari Allah ini - pertahanan kota jatuh hanya dengan tahlil dan takbir - adalah balasan keikhlasan niat dan kesungguhan amal, bukan sekedar hasil kata-kata belaka tanpa ada niat dan kesungguhan, seperti kata-kata orang munafik dan yang berpenyakit hatinya.