Rabu, 25 April 2018

JANGANLAH KALIAN MENJADI LEMAH DALAM MENGHADAPI MUSUH

RUMIYAH 6 - ARTIKEL

JANGANLAH KALIAN MENJADI LEMAH DALAM MENGHADAPI MUSUH

Orang-orang musyrik ahli kitab dan orang-orang murtad sekutunya tidak akan berhenti menyebarkan isu tentang jumlah fantastis tentara Daulah Islamiyah yang diklaim gugur dalam pertempuran atau akibat serangan udara. Tujuannya ialah untuk menyebarkan rasa putus asa dalam jiwa para mujahidin. Yaitu dengan mengintimidasi akan kerugian besar yang akan diderita jika tetap melanjutkan jihad melawan orang-orang musyrik demi menegakkan Dien dan melenyapkan kesyirikan.

Inilah kebiasaan orang-orang kafir. Mereka menimbang segala sesuatu hanya berdasarkan materi duniawi, karena itulah yang diketahuinya. Sebagaimana tingkah salah satu gembong mereka usai Perang Uhud. Ia membanggakan diri karena berhasil membunuh sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, berusaha menyelipkan kesedihan dalam jiwa kaum muslimin. Para sahabat pun menyanggahnya, tidaklah sama karena kaum muslimin yang gugur berada di surga sedangkan orang-orang musyrik yang tewas berada di neraka.

Allah ta'ala memerintahkan hamba-Nya para muwahhid agar jangan sampai luka-luka yang menimpa menghentikan mereka dari terus berupaya untuk mengejar, membunuh, dan memerangi orangorang musyrik, merampas tanah dan harta benda dari tangan mereka, sebagaimana firman Allah ta'ala, “Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. an-Nisa: 104).

Perang tidak hanya menghasilkan kemenang dan rampasan perang, terapi juga mengakibatkan luka, rasa sakit, lelah, khawatir, senjata yang rusak, harta benda habis, dan hilangnya anggota badan.

Para Muwahhid berharap kedekatan kepada Allah ta'ala dengan segala hal yang mereka korbankan fi sabilillah. Mereka juga berharap pertolongan-Nya ketika Dia melihat kejujuran jihad mereka. Bahkan disamping mereka memohon pertolongan untuk mengalahkan para musuh, mereka sangat yakin bahwa sekalipun mengalami kekalahan namun jika disertai niat yang ikhlas dan totalitas upaya maka justru akan semakin menambah pahala sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, “Tidaklah seseorang atau sekelompok orang berperang lalu memperoleh ghanimah dan pulang dengan selamat melainkan sepertiga pahala mereka telah disegerakan, dan tidaklah seseorang atau sekelompok orang berperang lalu gugur dan terluka melainkan mendapatkan pahalanya secara sempurna.” (HR. Muslim).

Maka setiap kekalahan justru akan menambah pengorbanan demi mendapatkan kerelaan Rabb pemilik bumi dan langit hingga agama ini hanya milik Allah atau mereka binasa karenanya, sebagaimana Dia menyifati mereka dalam kalam-Nya, “Yaitu orangorang yang menyambut seruan Allah dan Rasul setelah mereka tertimpa luka. Bagi orang-orang yang berbuat baik dan bertaqwa diantara mereka ada pahala yang besar.” (QS. Ali Imran: 172).

Disaat yang sama, kita dapati bahwa para wali thaghut tidak mendapatkan apapun. Apa yang mereka curahkan dalam perang hanya berujung kerugian. Setiap kekalahan yang mereka derita melalui tangan para muwahid hanya menambah patah semangat. Setiap kerugian harta benda dan personal hanya akan melemahkan semangat mereka untuk melanjutkan dan menuntaskan perang sampai merasa putus asa dan akhirnya terkalahkan. Oleh karena itu, Allah ta'ala memerintahkan para hamba-Nya untuk tidak menahan diri. Dia juga mengingatkan akan dampak serangan-serangan itu pada diri mereka, dan kesudahan mereka tidak lain adalah kehancuran di tangan Allah.

Kita telah menyaksikan kebenaran hal ini berkalikali dalam sejarah jihad yang berbarokah ini. Jihad yang tidak pernah berhenti sejak Rasul shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat yang mulia memulainya sehingga kota Makkah dan Jazirah Arab takluk hanya dalam waktu beberapa tahun. Lalu Imperium Kisra berhasil takluk setelah melalui pertempuran panjang berdarah-darah melawan Persia musyrik sampai Allah menjatuhkan singgasana Kisra. Kemudian giliran Negara Romawi terus menerus diserang selama beberapa abad hingga Allah berkenan untuk melenyapkan dan menghapuskan peninggalan-peninggalannya. Lalu aksi umat islam yang tak kenal lelah terhadap para thaghut dan bangsa-bangsa kafir hingga Allah berkenan menghancurkannya dan menjaga Dien serta negeri kaum muslimin.

Demikian juga yang kita lihat hari ini dalam perjalanan perang para mujahid melawan semua bangsabangsa syirik lagi kafir terutama negara-negara salibis Barat, khususnya selama dua dekade yang lalu. Dengan panji yang jelas dan tujuan yang benar sehingga para muwahhid dengan karunia Allah terus meningkat dan berkembang. Allah menambah jumlah mereka, memperbanyak senjata dan harta benda, memberikan kekuasaan di bumi-Nya, menolong mereka menegakkan Dien-Nya, dan menghidupkan kembali jamaatul muslimin yang hari ini dipimpin oleh Amirul Mukminin Syaikh Abu Bakar al-Baghdadi hafizhahullah, sedangkan urusan kaum musyrikin sentiasa menurun dan mundur. Semua itu berkat peneguhan Allah ta'ala terhadap para mujahidin dan petaka yang ditimpakan-Nya kepada orang-orang kafir dan murtad hingga Allah menghancurkan mereka sebagaimana orang-orang terdahulu sebelum mereka.

“Yang demikian itu karena Allah adalah pelindung bagi orang-orang beriman sedangkan orang-orang kafir tidak ada pelindung bagi mereka.” (QS. Muhammad: 11).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar