RUMIYAH 6 - PENGANTAR
SERAYA BERKATA, KAMI TAKUT AKAN MENDAPAT BENCANA
Ketika pemimpin faksi-faksi shahawat dengan prakarsa salibis Rusia pergi ke Astana ibukota Kazakhstan untuk bertemu dengan utusan rezim Nushairi guna menekankan perjanjian damai diantara mereka, para prajurit murtad mereka tetap melanjutkan serangan ke kota Albab di bawah bantuan dan back up dari salibis Rusia, sebagai sekutu thaghut shahawat terbesar yaitu Erdogan.
Bahkan mereka tidak berhenti sampai sini saja. Siapa yang mengikuti celotehan pemimpin mereka dewasa ini akan mendapati bahwa mereka berbicara mengenai Rusia seolah membicarakan seorang teman, bukan lagi Rusia salibis sekutu rezim Nushairi yang telah membunuh ribuan orang-orang lemah, menghancurkan kota-kota dan perkampungan, dan membantu pasukan Nushairi merebut kembali kota Aleppo serta mengusir mereka. Ternyata hari ini mereka justru menyebutnya sebagai “pahlawan perdamaian” dan berharap bisa berkoalisi dengannya untuk menumpas Daulah Islam.
Persahabatan antara shahawat murtad Syam (dengan thaghut Erdogan di belakang mereka) dan salibis Rusia terjadi setelah selama bertahun-tahun orang-orang murtad itu memberikan loyalitas kepada Amerika yang telah membantai umat islam, membantu thawaghit, dan melindungi negara kecil Yahudi yang telah menjajah tanah umat islam.
Ketika mereka sudah putus asa dengan Amerika, maka tidak sulit bagi mereka untuk beralih kepada Rusia, bahkan tidak ada sesuatu pun yang menghalangi mereka untuk sekaligus bersahabat dengan negara kecil Yahudi. Karena wala wal bara benar-benar telah hilang dari jiwa mereka. Jadi mudah saja bagi mereka untuk berwala kepada Yahudi, Kristen dan orang-orang musyrik, dan bersahabat dengan mereka melawan kaum mukminin ahlu sunnah, karena takut terhadap orang-orang musyrik atau berharap keuntungan dari mereka.
Shahawat murtad Syam juga menjustfifikasi kedekatan baru mereka dengan salibis Rusia, bahkan kemungkinan untuk bergabung di bawah bendera mereka dan bendera pemerintah Nushairi demi menghadapi Daulah Islamiyah, dengan alasan melemahkan campur tangan Iran di Syam dan mencegah rezim Nushairi memanfaatkan milisi Rafidhah karena mereka telah menggantikannya menumpas jamaah “teroris”, maksudnya Daulah Islamiyah.
Dengan demikian mereka mengulang kembali semua dalih yang dikemukakan shahawat Irak ketika menjustifikasi keikutsertaan mereka di bawah bendera Amerika beberapa tahun yang lalu, yaitu bahwa mereka ingin menjadi pengganti milisi Syiah Rafidhah yang menjadi ujung tombak Amerika dalam menumpas mujahidin, dan mengklaim bahwa kerjasama dengan salibis Amerika –yang telah mereka perangi selama bertahun-tahun– adalah dalam menghadapi musuh bersama yaitu Daulah Islamiyah. Mereka berharap Amerika menepati janjinya dengan menyerahkan pemerintahan kepada mereka setelah Amerika mundur dari Irak segera setelah berhasil menumpas Daulah Islamiyah.
Tentunya Amerika tidak akan menepati satupun janji-janjinya.
Pada akhirnya mereka hancur di tangan milisi Syiah Rafidhah yang berpakaian polisi dan tentara, setelah para shahawat memikul seluruh beban berat menumpas Daulah Islamiyah. Seluruh Irak jatuh ke tangan Rafidhah laksana rampasan perang gratis.
Kalaulah bukan karena kelembutan Allah terhadap umat islam dengan kembalinya Daulah Islamiyah hanya dalam beberapa tahun setelahnya untuk menimpakan petaka atas Rafidhah dan kroni shahawatnya serta merebut kembali negeri-negeri yang didudukinya.
Allah azza wa jalla telah menjelaskan keadaan mereka yang mengaku beriman. Di setiap zaman dan tempat mereka bersegera untuk loyal kepada orang-orang kafir karena takut tertimpa petaka sekaligus berhasrat untuk meraup keuntungan. Mereka murtad dari agama Allah azza wa jalla secara massal. Kelak Allah akan mengganti mereka dengan para hamba-Nya yang ikhlas, yang berwala kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman, yang merupakan Hizbullah dan satu-satunya golongan yang akan mendapatkan kemenangan dan kekuasaan, sebagaimana firman Allah azza wa jalla,
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai aulia (mu); mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka aulia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim. Maka kamu akan melihat orang-orang yang hatinya berpenyakit segera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata, ‘Kami takut akan mendapat bencana.’ Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya, sehingga mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka. Dan orang-orang yang beriman akan berkata, ‘Inikah orang yang bersumpah secara sungguh-sungguh dengan (nama) Allah, bahwa mereka benar-benar beserta kamu? Segala amal mereka menjadi sia-sia, sehingga mereka menjadi orang yang rugi. Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui. Sesungguhnya penolongmu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, seraya tunduk (kepada Allah). Dan barang siapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, maka sungguh, pengikut (agama) Allah itulah yang menang.” (QS. al-Maidah: 51-56).
SERAYA BERKATA, KAMI TAKUT AKAN MENDAPAT BENCANA
Ketika pemimpin faksi-faksi shahawat dengan prakarsa salibis Rusia pergi ke Astana ibukota Kazakhstan untuk bertemu dengan utusan rezim Nushairi guna menekankan perjanjian damai diantara mereka, para prajurit murtad mereka tetap melanjutkan serangan ke kota Albab di bawah bantuan dan back up dari salibis Rusia, sebagai sekutu thaghut shahawat terbesar yaitu Erdogan.
Bahkan mereka tidak berhenti sampai sini saja. Siapa yang mengikuti celotehan pemimpin mereka dewasa ini akan mendapati bahwa mereka berbicara mengenai Rusia seolah membicarakan seorang teman, bukan lagi Rusia salibis sekutu rezim Nushairi yang telah membunuh ribuan orang-orang lemah, menghancurkan kota-kota dan perkampungan, dan membantu pasukan Nushairi merebut kembali kota Aleppo serta mengusir mereka. Ternyata hari ini mereka justru menyebutnya sebagai “pahlawan perdamaian” dan berharap bisa berkoalisi dengannya untuk menumpas Daulah Islam.
Persahabatan antara shahawat murtad Syam (dengan thaghut Erdogan di belakang mereka) dan salibis Rusia terjadi setelah selama bertahun-tahun orang-orang murtad itu memberikan loyalitas kepada Amerika yang telah membantai umat islam, membantu thawaghit, dan melindungi negara kecil Yahudi yang telah menjajah tanah umat islam.
Ketika mereka sudah putus asa dengan Amerika, maka tidak sulit bagi mereka untuk beralih kepada Rusia, bahkan tidak ada sesuatu pun yang menghalangi mereka untuk sekaligus bersahabat dengan negara kecil Yahudi. Karena wala wal bara benar-benar telah hilang dari jiwa mereka. Jadi mudah saja bagi mereka untuk berwala kepada Yahudi, Kristen dan orang-orang musyrik, dan bersahabat dengan mereka melawan kaum mukminin ahlu sunnah, karena takut terhadap orang-orang musyrik atau berharap keuntungan dari mereka.
Shahawat murtad Syam juga menjustfifikasi kedekatan baru mereka dengan salibis Rusia, bahkan kemungkinan untuk bergabung di bawah bendera mereka dan bendera pemerintah Nushairi demi menghadapi Daulah Islamiyah, dengan alasan melemahkan campur tangan Iran di Syam dan mencegah rezim Nushairi memanfaatkan milisi Rafidhah karena mereka telah menggantikannya menumpas jamaah “teroris”, maksudnya Daulah Islamiyah.
Dengan demikian mereka mengulang kembali semua dalih yang dikemukakan shahawat Irak ketika menjustifikasi keikutsertaan mereka di bawah bendera Amerika beberapa tahun yang lalu, yaitu bahwa mereka ingin menjadi pengganti milisi Syiah Rafidhah yang menjadi ujung tombak Amerika dalam menumpas mujahidin, dan mengklaim bahwa kerjasama dengan salibis Amerika –yang telah mereka perangi selama bertahun-tahun– adalah dalam menghadapi musuh bersama yaitu Daulah Islamiyah. Mereka berharap Amerika menepati janjinya dengan menyerahkan pemerintahan kepada mereka setelah Amerika mundur dari Irak segera setelah berhasil menumpas Daulah Islamiyah.
Tentunya Amerika tidak akan menepati satupun janji-janjinya.
Pada akhirnya mereka hancur di tangan milisi Syiah Rafidhah yang berpakaian polisi dan tentara, setelah para shahawat memikul seluruh beban berat menumpas Daulah Islamiyah. Seluruh Irak jatuh ke tangan Rafidhah laksana rampasan perang gratis.
Kalaulah bukan karena kelembutan Allah terhadap umat islam dengan kembalinya Daulah Islamiyah hanya dalam beberapa tahun setelahnya untuk menimpakan petaka atas Rafidhah dan kroni shahawatnya serta merebut kembali negeri-negeri yang didudukinya.
Allah azza wa jalla telah menjelaskan keadaan mereka yang mengaku beriman. Di setiap zaman dan tempat mereka bersegera untuk loyal kepada orang-orang kafir karena takut tertimpa petaka sekaligus berhasrat untuk meraup keuntungan. Mereka murtad dari agama Allah azza wa jalla secara massal. Kelak Allah akan mengganti mereka dengan para hamba-Nya yang ikhlas, yang berwala kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman, yang merupakan Hizbullah dan satu-satunya golongan yang akan mendapatkan kemenangan dan kekuasaan, sebagaimana firman Allah azza wa jalla,
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai aulia (mu); mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka aulia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim. Maka kamu akan melihat orang-orang yang hatinya berpenyakit segera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata, ‘Kami takut akan mendapat bencana.’ Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya, sehingga mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka. Dan orang-orang yang beriman akan berkata, ‘Inikah orang yang bersumpah secara sungguh-sungguh dengan (nama) Allah, bahwa mereka benar-benar beserta kamu? Segala amal mereka menjadi sia-sia, sehingga mereka menjadi orang yang rugi. Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui. Sesungguhnya penolongmu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, seraya tunduk (kepada Allah). Dan barang siapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, maka sungguh, pengikut (agama) Allah itulah yang menang.” (QS. al-Maidah: 51-56).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar