Tampilkan postingan dengan label Syaikh Abu Mush'ab Az-Zarqawi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syaikh Abu Mush'ab Az-Zarqawi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 April 2018

NASEHAT PENTING UNTUK PARA MUJAHID (BAGIAN 3, SELESAI)

RUMIYAH 13 - ARTIKEL

NASEHAT PENTING UNTUK PARA MUJAHID (BAGIAN 3, SELESAI)
SYAIKH ABU MUSH'AB AZ-ZARQAWI

Wahai para mujahid...

Orang-orang munafik dan para perampok di jalan menuju Allah akan berkata kepada kalian, “Apakah kalian mengira bahwa sesuatu yang kalian inginkan akan terwujud dan bahwa Khilafah Islam atau bahkan Daulah Islam akan tegak? Sungguh, itu tidak mungkin terjadi. Hal ini tidak lebih sekedar khayalan dari pada realitas.”

Jika mereka mengatakan hal itu, maka ingatlah firman Allah Ta’ala: “(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: “Mereka itu (orang-orang mukmin) ditipu oleh agamanya”. (Allah berfirman): “Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Anfal : 49)

Dan katakan kepada mereka, “Sesungguhnya Allah akan menaklukkan kota Roma untuk kaum muslimin sebagaimana dijanjikan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di dalam hadits shahih, sebagaimana sebelumnya kota Konstantinopel telah ditaklukkan.

Katakan kepada mereka, “Sesungguhnya kita mengharapkan pertolongan Allah; sesuatu yang lebih jauh dari itu. Kita berharap kepada Allah agar menaklukkan Gedung Putih, Kremlin, dan London. Kita bersama janji Allah: “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana orang-orang sebelum mereka berkuasa.” (An-Nur: 55)

Adapun persoalan kapan hal itu terjadi, maka itu bukanlah urusan kita, dan Allah tidak membebani kita dengan hal itu. Allah hanya menugaskan kita untuk beramal untuk agama, membela syariat, fokus, dan mengerahkan kemampuan terbaik untuk hal itu. Adapun hasilnya, maka itu adalah urusan Allah.

Tugasmu adalah menabur benih, bukan memetik hasil
Dan Allah adalah penolong terbaik bagi orang-orang yang mau berusaha

Ketika Imam Ahmad rahimahullah diuji dalam fitnah “Al-Quran adalah makhluk”, dan fitnah ini muncul dengan ditopang penguasa, datanglah pemimpin bid'ah Ahmad bin Abi Duad menemui Imam Ahmad, dia lalu berkata sinis, “Tidakkah engkau lihat, bagaimana kebathilan mengalahkan kebenaran, wahai Ahmad?"

Imam Ahmad rahimahullah pun menjawab, “Sungguh, kebathilan tidak akan mengalahkan kebenaran, karena kemenangan kebathilan atas kebenaran adalah beralihnya hati manusia dari kebenaran menuju kebathilan. Sedangkan hati kami tetap melazimkan kebenaran.”

Katakan kepada mereka sebagaimana perkataan Nabi Ya’qub alaihis salam : “Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku).” (Yusuf: 94)

Di tengah banyaknya ujian dan tekanan seperti ini, tetapi kami mencium aroma kebebasan, kemenangan dan tamkin (kekuasaan). Sekiranya kalian tidak menuduhku lemah akal.

Banyak manusia yang berkata pada kalian, “Sungguh, kalian benar-benar berada dalam kesesatan kalian yang lama.”

Orang-orang munafik juga pernah berkata kepada para Sahabat setelah perang Uhud, “Kembalilah kepada agama nenek moyang kalian.”

Kata-kata ini sering diucapkan orang-orang munafik kepada orang-orang beriman di setiap waktu, apabila para mujahid fi sabilillah ditimpa musibah, atau didera pembunuhan, luka, penjara dan penyiksaan. Jadi, jika mereka berkata demikian, maka katakan pada mereka, “Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman.” (Al-Hajj: 38)

“Dan Allah benar-benar akan menolong siapa yang menolong Nya.” (Al-Hajj: 40)

Orang-orang munafik juga akan berkata kepada kalian sebagaimana yang pernah mereka katakan tentang orang-orang dalam tragedi mata air Ar-Raji’ yang dikhianati oleh orang-orang musyrik : “Kasihan, mereka adalah orang-orang yang tertipu binasa seperti ini, mereka tidak lagi bisa berkumpul dengan keluarga dan juga tidak berhasil menunaikan risalah sahabat mereka.”

Kata-kata seperti ini akan dilontarkan kepada kalian pada hari-hari ini, setiap kali sebagian ikhwah terbunuh. Mereka tidak mau duduk agar selamat, tapi juga tidak mampu menghapus kemungkaran dan dosa-dosa yang membinasakan. Maka, jika kalian mendengar hal ini, katakan pada mereka sebagaimana perkataan Ash-Shiddiqah Khadijah: “Bergembiralah, karena Allah tidak akan menghinakan anda selamanya.”

Jadi, kami katakan kepada setiap mujahid fi sabilillah, “Sekali-kali tidak, Demi Allah, Allah selamanya tidak akan menghinakan kalian, karena kalian biasa menyambung silaturahim, membela syariat, dan berjihad di jalan Allah melawan siapapun yang kafir kepada Allah dari kalangan Yahudi, Salibis, dan murtadin.

Sejarawan Muhammad Al-Bassam berkata dalam kitabnya “Ad-Durar wa Al-Mafakhir fi Akhbar Al-’Arab Al-’Awwakh” mengenai para ulama dakwah Nejed ketika memerangi Raja Mesir, “Tidak, demi Allah, Raja Mesir tidaklah mengalahkan mereka karena mereka lemah atau pengecut. Tetapi mereka kalah akibat pengkhianatan orang-orang Arab, atau kemauan para penduduk negeri.”

Wahai para mujahid...

Kalian telah menjual diri kalian kepada Allah azza wa jalla, tidak ada pilihan lain bagi kalian selain menyerahkan ‘barang’ kepada ‘Sang Pembeli’: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 111)

Jika ‘Sang Pembeli’ telah menerima barang yang dibelinya, maka terserah dia hendak berbuat apapun, dan silahkan Dia menyimpannya sekehendak-Nya. Jika mau, dia bisa menyimpannya di istana, atau di penjara. Jika mau, dia boleh memberinya pakaian mewah, atau dibuatnya telanjang bulat, hingga menyisakan kain penutup aurat. Jika mau, dia bisa membuatnya kaya atau miskin. Dan jika mau, dia bisa menggantungnya di tiang gantungan atau dibuatnya dikuasai oleh musuhnya yang kemudian membunuh atau mencincangnya.

Sayyid Quthb rahimahullah berkata mengomentari peristiwa Ashabul Ukhdud : “Tidak mesti harus ada contoh seperti ini, di mana di dalamnya orang-orang beriman tidak selamat, sedang orang-orang kafir tidak mendapat hukuman apapun. Hal itu tidak lain agar tertanam di dalam indera orang-orang beriman; para juru dakwah yang menyeru kepada Allah, bahwa terkadang mereka harus mengalami kesudahan seperti ini dalam perjalanan menuju Allah. Mereka sama sekali tidak memiliki otoritas dalam urusan ini, dan justru urusan mereka dan urusan aqidah adalah otoritas Allah.

Mereka cukup menunaikan kewajiban, setelah itu pergi. Kewajiban mereka adalah memilih Allah dan lebih memprioritaskan aqidah dari pada kehidupan. Tetap tegar dengan keimanan menghadapi berbagai fitnah, serta jujur kepada Allah dalam amal dan niat. Kemudian biarlah Allah berbuat terhadap mereka dan terhadap para musuh mereka sebagaimana yang Dia lakukan terhadap dakwah dan agama-Nya sesuai kehendak-Nya. Dan mengakhiri mereka seperti akhir kisah-kisah di atas yang telah dikenal dalam sejarah keimanan, atau akhir kisah lain yang hanya diketahui dan dilihat oleh Allah.”

Merekalah orang-orang yang akan mendapatkan pahala di sisi Allah. Pantaskah orang yang telah menjual seekor kambing marah kepada si pembeli jika dia menyembelihnya, atau pantaskah hatinya berubah karena hal itu?!

Belumkah engkau mendengar apa yang telah menimpa “sang singa Allah” dan “singa Rasul-Nya” yaitu Hamzah bin Abdul Muthalib? Perutnya dibelah, hatinya dikeluarkan, dan dia dicincang.

Dan apa yang dialami oleh Sang Manusia terbaik shallallahu alaihi wasallam sewaktu Perang Uhud. Perhatikan pula para nabi dan rasul, mereka adalah manusia pilihan; Ibrahim as dilemparkan ke dalam api, Zakaria alaihis salam digergaji, sang panutan lagi mampu menahan diri yaitu Yahya disembelih, Ayyub tinggal dalam ujian selama beberapa tahun, Yunus dipenjara di dalam perut ikan paus, dan Yusuf dijual dengan harga murah serta menetap di penjara selama beberapa tahun.

Semua itu mereka jalani, dan mereka ridha kepada Rabb dan pelindung mereka yang Maha Benar. Sebagian salaf berkata, “Seandainya tubuhku dipotong-potong dengan gunting, hal itu lebih aku cintai dari pada aku harus mengatakan tentang sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah, seandainya saja hal itu tidak terjadi.”

Wahai para ikhwah, jadilah kalian seperti mereka yang urusan mereka tidak mengintervensi pengaturan Dzat Sang Pelindung mereka, dan pilihan mereka tidak bertentangan dengan pilihan Allah Yang Maha Suci. Mereka tidak pernah mengintervensi pengaturan Allah terhadap kerajaan-Nya (seperti ucapan: “jika begini niscaya akan begini”, atau ucapan: “semoga”, “seandainya”, dan “duh kiranya”).

Pilihan Allah untuk hamba-Nya yang beriman adalah pilihan terbaik, bahkan paling utama meskipun tampaknya sulit dan berat, atau meskipun melenyapkan harta-benda, kehilangan pangkat dan jabatan, kehilangan keluarga dan harta atau bahkan lenyapnya dunia dan seisinya.

Ingatlah kisah perang Badar dan renungkan baik-baik; ketika itu sebagian sahabat radhiyallahu 'anhum ingin menguasai kafilah dagang, tetapi Allah ta'ala memilihkan perang untuk mereka. Dan Perbedaan antara keduanya sangat besar.

Apa yang ada dalam kafilah dagang? Yang ada adalah bahan makanan yang bisa dimakan yang kemudian dibuang di toilet, pakaian usang yang kemudian dicampakkan dan dunia yang segera lenyap.

Adapun pasukan perang, bersamanya ada al-furqan (pembeda) yang dengannya Allah memisahkan antara yang kebenaran dan kebathilan. Kalah dan hancurnya kesyirikan serta kemuliaan dan kemenangan tauhid. Terjadi pembunuhan terhadap tokoh-tokoh musyrikin yang sentiasa menjadi batu sandungan di hadapan Islam. Dan cukuplah Allah telah melihat para peserta Perang Badar, lalu berfirman kepada mereka, “Berbuatlah sesuka kalian, karena Aku telah mengampuni kalian.”

Wahai para mujahid...

Ketika ujian datang, maka banyak yang berguguran. Janganlah kalian bersedih. Imam Muslim meriwayatkan di dalam kitab Shahihnya, dari Anas radhiyallahu 'anhu bahwa kaum Quraisy pernah menekan perjanjian dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu mereka mengajukan syarat, “Bahwa siapapun diantara kalian yang datang kepada kami, niscaya tidak akan kami kembalikan kepada kalian. Namun jika ada di antara kami yang datang kepada kalian, maka kalian harus mengembalikannya kepada kami."

Lantas para sahabat bertanya, “Apakah kami harus menulisnya?”

Beliau shallallahu alaihi wasallam menjawab, “Ya. Sungguh, siapapun diantara kita yang pergi kepada mereka, berarti Allah akan menjauhkannya (dari hidayah), sedang siapapun di antara mereka yang datang kepada kita, semoga Allah memberikan solusi dan kebebasan kepadanya.”

Maka, jangan bersedih terhadap orang yang Allah jauhkan (dari hidayah).

Betapa indah ungkapan Ibnu Qayyim rahimahullah, “Engkau mesti menapaki jalan kebenaran, dan jangan risau karena sedikitnya orang yang berjalan di atasnya. Setiap kali engkau merasa risau dalam kesendirianmu, maka tengoklah teman pendahulu dan bersemangatlah untuk menyusul mereka. Tundukkan pandangan matamu dari selain mereka, karena mereka sama sekali tidak berguna bagimu. Jika mereka meneriakimu di jalan yang engkau tapaki, maka jangan menoleh sedikit pun ke arah mereka, karena tatkala kamu menoleh kepada mereka, niscaya mereka akan menangkap dan menghalangimu.” (Selesai perkataan beliau rahimahullah)

Waspadalah, jangan sampai hati kalian terpesona oleh syubhat (penyimpangan/kerancuan) yang dilontarkan para ‘pembegal’ dan orang-orang yang kalah, yang hendak menghalangi kalian dari jalan jihad. Hal ini, murni hidayah dan taufiq dari Allah. Sungguh, Allah Ta’ala telah berpaling dari mereka secara halus, lantas menghinakan mereka meskipun dalam hati dan akal mereka banyak ilmu karena begitu banyaknya kitab dan matan yang telah mereka telaah.

Permasalahannya bukan hanya pada banyaknya ilmu, namun rasa taqwa kepada Allah yang melahirkan al-furqan (pemisah) keimanan. “Hai orang-orang beriman, jika kalian bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqan kepada kalian.” (Al-Anfal: 29)

Semoga Allah merahmati Syaikhul Islam yang mengatakan, “Sungguh aku curahkan seluruh bidang ilmu kepada umat. Barangsiapa yang Allah sinari hatinya, niscaya Allah memberinya hidayah. Dan barangsiapa yang Allah butakan hatinya, niscaya banyaknya buku hanya akan membuatnya semakin bingung dan tersesat.”

Ya Allah, berikanlah tamkin untuk para muwahhid di muka bumi.
Ya Allah, berikanlah tamkin untuk para muwahhid di muka bumi.
Ya Allah, mobilisasilah pasukan mereka, kirimkanlah pasukan infanteri mereka, dan ikhlaskan niat-niat mereka.
Ya Allah, jagalah mereka dengan penjagaan-Mu.
Ya Allah, jagalah mereka dengan penjagaan-Mu.
Ya Allah, jagalah mereka dengan penjagaan-Mu.
Ya Allah, pantau mereka dengan mata-Mu yang tidak pernah tertidur, sedangkan para makhluk semuanya tertidur.
Ya Allah, mudahkanlah setiap kebaikan untuk mereka.
Ya Allah, siapa ingin berbuat baik kepada mereka, maka mudahkanlah dia untuk setiap kebaikan.
Dan barangsiapa yang ingin berbuat jahat kepada mereka, maka siksalah dia dengan keras.
Ya Allah, lindungi mereka dan lindungi kehormatan mereka.
Ya Allah, lindungi mereka dan lindungi kehormatan mereka.
Ya Allah, lindungi mereka dan lindungi kehormatan mereka.
Ya Allah, sungguh mereka adalah orang-orang miskin, maka muliakanlah mereka dengan kemuliaan Mu. Wahai Rabb Semesta Alam.
Ya Allah, sungguh mereka adalah orang-orang fakir, maka muliakan mereka dengan karuniaMu. Wahai Rabb Semesta Alam.
Ya Allah, hidupkanlah umat Muhammad.
Ya Allah, hidupkanlah umat Muhammad.
Ya Allah, hidupkanlah umat Muhammad.
Ya Allah, tolonglah umat Muhammad.
Wahai Rabb Semesta Alam.
Wahai Rabb kami. Wahai Rabb kami.
Wahai Rabb kami, menangkanlah kami atas kaum yang zhalim.
Wahai Rabb kami, menangkanlah kami atas orang-orang kafir.
Ya Allah, ambillah darah kami hingga Engkau ridha.
Ya Allah, ambillah darah kami hingga Engkau ridha.
Ya Allah, ambillah darah kami hingga Engkau ridha.
Ya Allah, letakkan kami di perut-perut binatang buas dan paruh-paruh burung.
Ya Allah, letakkan kami di perut-perut binatang buas dan paruh-paruh burung.
Ya Allah, letakkan kami di perut-perut binatang buas dan paruh-paruh burung.

Walhamdulillahi rabbil 'alamiin.

NASEHAT PENTING UNTUK PARA MUJAHID (BAGIAN 2)

RUMIYAH 12 - ARTIKEL

NASEHAT PENTING UNTUK PARA MUJAHID (BAGIAN 2)
SYAIKH ABU MUSH'AB AZ-ZARQAWI

Wahai para mujahid...

Aku tidak mendapatkan hal lebih baik selain menghadirkan kepada kalian tulisan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah ketika mengomentari koalisi pasukan Ahzab di Perang Khandaq. Dia berkata, “Singkat cerita –yaitu Perang Khandaq— kaum muslimin dikepung oleh seluruh kaum musyrikin di sekitar mereka. Musuh datang dengan pasukan besar ke kota Madinah untuk membasmi orang-orang beriman. Maka, berkumpullah kaum Quraisy dan para sekutunya dari kalangan Bani Asad, Asyja’, Fazarah, dan kabilah-kabilah Nejed lainnya. Kaum Yahudi dari Bani Quraizhah dan Bani Nazhir juga ikut berkoalisi. Pasukan Ahzab ini berhimpun, jumlah mereka berkali-kali lipat dari jumlah kaum muslimin. Lantas, Nabi shallallahu alaihi wasallam membawa kaum wanita dan anak-anak ke tempat tinggi di kota Madinah.

Sementara dalam peristiwa ini –di masa Syaikhul Islam– musuh berkoalisi, mulai dari bangsa Mongol, dan beragam suku bangsa Turki, seperti Persia, Muzarab, serta berbagai bangsa murtad dari kalangan orang-orang kristen Armenia dan yang lainnya. Para musuh ini tiba di pinggiran negeri-negeri Islam, dalam posisi siap untuk maju ataupun mundur. Padahal jumlah kaum muslimin hanya sedikit, sedangkan mereka bertujuan untuk menguasai negeri dan menghabisi para penduduk, sebagaimana para musuh juga pernah tiba di pinggiran kota Madinah untuk mengepung kaum muslimin. Ketika Perang Khandaq, suhu sangat dingin dan angin bertiup sangat kencang, dan dengannya Allah mengusir pasukan Ahzab dari kota Madinah, sebagaimana Allah berfirman, “Lalu Kami mengirim kepada mereka angin kencang dan bala tentara yang tidak kalian lihat (malaikat).” (Al-Ahzab: 9)

Demikian juga tahun ini, Allah menurunkan banyak salju, hujan, dan suhu dingin yang berbeda dengan kebiasaan. Hingga banyak orang yang mengeluh tentang hal itu. Kami katakan kepada mereka, “Janganlah kalian mengeluhkan hal itu, karena Allah memiliki hikmah dan rahmat di dalamnya.” Dan semua itu menjadi faktor terbesar yang dengannya Allah menghalau musuh.

Allah ta'ala berfirman mengenai Perang Ahzab, “(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat.” (Al-Ahzab: 10-11)

Begitu juga tahun ini, musuh datang dari arah atas wilayah Syam, yaitu sebelah utara Sungai Eufrat.

Sampai dia mengatakan, “Dan manusia berprasangka kepada Allah dengan aneka prasangka”:

- Ada yang berprasangka bahwa tidak akan ada seorang pun dari tentara Syam yang mampu bertahan hingga mereka menghabisi penduduk Syam.
- Ada lagi yang berprasangka bahwa bumi Syam tidak akan lagi didiami dan tidak akan lagi berada di bawah kekuasaan Islam.
- Ada yang ditawari sejumlah jabatan yang disambut oleh keinginan nafsunya. Apalagi dia tidak bisa membedakan kabar gembira yang benar dan dusta, dalam pembicaraan tidak membedakan antara yang benar dan yang salah. Oleh karena itu, kebingungan menyelimuti orang yang setengah hati mengikuti petunjuk dan pikiran saling melempar seperti anak kecil yang dilempari kerikil.

“Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang dahsyat.” (Al-Ahzab: 11)

Allah menguji mereka seperti itu untuk menghapuskan kesalahan mereka dan mengangkat derajat mereka. Kemudian Allah ta'ala berfirman, “Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mreka berkata: “Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu.” (Al-Ahzab: 13)

Lantas, sekelompok orang di antara mereka berkata: “Tidak ada tempat bagi kalian di sini karena banyaknya musuh, maka kembalilah ke kota Madinah.” Dikatakan pula, “Tidak ada tempat bagi kalian untuk berperang, pulanglah untuk mencari keamanan dan perlindungan kepada mereka.”

Demikian juga, ketika musuh dari bangsa Tartar datang, dari kaum munafikin ada yang mengatakan:”Daulah Islam tidak akan mampu bertahan, maka sebaiknya dia masuk bergabung dengan negara Tartar.

Syaikhul Islam melanjutkan, “Sungguh, di dalam peristiwa ini mengandung perkara-perkara besar yang melampaui batas ukuran, keluar dari kebiasaan, setiap orang berakal menyaksikan pertolongan Allah untuk agama ini, dan perlindungan-Nya kepada umat ini, setelah hampir saja Islam akan lenyap.

Berbagai faktor lahiriyah telah terhenti, pasukan Ahzab gemetaran, nyali menjadi ciut, dan kelompok pemenang tetap teguh. Maka Allah pun membukakan pintu-pintu langit-Nya untuk bala tentara-Nya yang perkasa, menghempaskan mental orang-orang kafir dan munafik, serta menjadikan hal itu sebagai tanda bagi orang-orang beriman hingga Hari Kiamat.” Selesai perkataan Syaikhul Islam rahimahullah.

Ketika datang berita bahwa Tartar memobilisasi kekuatan untuk memerangi Syam, orang-orang lantas ketakutan, sarana transportasi menjadi mahal. Sampai-sampai biaya sewa kuda dari Hamasah menuju Damaskus sebesar 200 dirham pada 699 H.

Sejumlah pemimpin berpendapat bahwa penyerahan benteng ke Tartar adalah upaya untuk melindungi para penduduk. Ibnu Taimiyyah berdiri di hadapan mereka dan meminta penjaga benteng agar tidak menyerahkannya, meskipun tidak ada yang tersisa kecuali satu batu saja. Penjaga benteng mengikuti saran Ibnu Taimiyyah, yang di dalamnya mengandung kemaslahatan bagi kaum muslimin.

Sampailah berita bahwa pasukan Mesir telah tiba di Syam. Hulaghu keluar bersama pasukan Tartar menuju Damaskus. Ketika itu, Damaskus sedang tidak dijaga oleh seorang pun tentara dan penjaga. Maka para penduduknya diserukan agar keluar membawa senjata, mereka bermalam di sejumlah benteng dan gerbang masuk untuk menjaga negeri. Lantas mereka pun keluar menuju benteng. Setiap malam, Ibnu Taimiyah berpatroli di berkeliling tembok benteng sambil memotivasi orang-orang agar bersabar dan berangkat berperang, serta membacakan ayat-ayat jihad dan ribath kepada mereka.

Ketika kehidupan kembali normal di Damaskus, Ibnu Taimiyah bersama para sahabatnya berpatroli ke berbagai kedai minum, mereka memecahkan bejana-bejana berisi khamar.

Kemudian Ibnu Taimiyyah keluar bersama Atsram –wakil gubernur Damaskus— menuju negeri Jubailah dan Kasarwan untuk memberi pelajaran kepada orang-orang Syiah Rafidhah dan Bathiniyah karena mereka membantu Tartar dan menyerbu kaum muslimin. Para pemimpin mereka keluar menemui Ibnu Taimiyyah. Mereka seolah-olah menampakkan ketaatan dan penyesalan, lalu mengembalikan semua yang pernah mereka ambil.

Kemudian Atsram kembali ke Damaskus. Dikeluarkanlah perintah agar orang-orang menggantungkan senjata mereka di toko-toko, memerintahkan mereka agar belajar memanah, dan dibangunlah berbagai kamp-kamp pelatihan militer di Damaskus. Para fuqaha juga disuruh untuk belajar memanah sebagai persiapan untuk mengantisipasi apapun situasi yang muncul.

Demikianlah, umat wajib melakukan persiapan di waktu lapang, sehingga apabila kondisi memburuk, dia bisa menyiapkan para putranya untuk melawan dan mencegah makar para musuh.

Pada 702 H, Tartar masuk ke negeri Syam. Manusia pun gempar. Mereka memanjatkan doa qunut dalam shalat. Kemudian terjadilah konfrontasi pertama. Pasukan Tartar datang dengan berkekuatan 7 ribu tentara. Lalu sekumpulan kesatria Syam berjumlah 1500 personil bangkit untuk merintangi musuh. Dan Allah pun menolong bala tentara-Nya.

Seiring mendekatnya pasukan Tartar, dua pasukan mundur, yaitu pasukan dari Hama dan Aleppo, menuju Homs. Karena takut disergap oleh Tartar, mereka pun singgah di Marj Ash-Shaffar. Pasukan Tartar sampai di Homs, lalu bergerak menuju Baalbak. Ketakutan orang-orang semakin hebat. Berbagai rumor dan isu miring menyebar. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berperan besar menenangkan manusia dan menjaga jiwa mereka.

Kemudian, mulailah segelintir orang menebarkan keraguan tentang legalitas syar’i untuk memerangi Tartar. Mereka seakan-akan benar-benar menampakkan Islam, sebagaimana dilakukan sebagian orang yang kalah sekarang dalan memerangi pasukan para thaghut.

Ibnu Hazm berkata dalam kitab Al-Muhalla, “Tidak ada dosa yang lebih besar setelah kekafiran daripada dosa orang yang melarang berjihad fi sabilillah dan memerintahkan untuk menyerahkan kehormatan kepada para musuh Allah.” Selesai perkataan beliau rahimahullah.

Ibnu Taimiyyah membimbing mereka dan merilis beberapa fatwanya yang masyhur mengenai kewajiban memerangi Tartar, serta membungkam semua syubhat (kerancuan) yang muncul seputar masalah ini. Dia berkata kepada orang-orang, “Jika kalian melihat diriku berada di pihak mereka, sedangkan di atas kepalaku ada mushaf Al-Qur'an, maka bunuhlah aku!” Orang-orang pun terlecut untuk berperang dan hati mereka menjadi kokoh.

Ketika pasukan Tartar mendekat, Ibnu Taimiyah menoleh kepada salah seorang pemimpin Syam seraya berkata, “Wahai Fulan, letakkan aku di posisi kematian.”

Sang amir berkata, “Lalu, aku pun memindahkannya ke posisi menghadap musuh yang bergerak mengalir bagaikan air bah. Senjata mereka melambai-lambai di bawah debu. Kemudian aku berkata, “Wahai tuanku, inilah posisi kematian.” Lihatlah musuh telah bergerak maju di bawah debu.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengarahkan pandangannya ke langit, lalu memejamkan matanya seraya menggerak-gerakkan kedua bibirnya cukup lama, sembari berdoa kepada Rabbnya. Kemudian dia merangsek menuju pasukan Tartar, perang semakin sengit dan berkobar. Para kesatria terus bertempur hebat, hingga pasukan Tartar kabur ke arah gunung. Malam mulai gelap, kaum muslimin mengepung gunung, hati pasukan Tartar dipenuhi ketakutan.

Wahai para mujahid...

Sungguh, agama ini tidak akan tegak kecuali oleh para lelaki bertekad baja, dan tidak mungkin tegak di atas pundak orang yang gemar beralasan dan hidup glamor. Mustahil agama ini tegak di atas pundak mereka.

Bagaimana Islam akan tegak dan kembali kepada kemuliaan terdahulunya tanpa ada tekad seperti tekadnya Abu Bakar Ash-Shiddiq pada hari ketika banyak manusia yang murtad. Ketika orangtua sepuh dan lembut lagi gemar menangis itu bersumpah dengan tekad terbesar yang dimilikinya, seraya berkata, “Demi Allah, aku benar-benar akan memerangi siapapun yang memisahkan antara kewajiban shalat dan zakat, karena zakat adalah hak Harta. Demi Allah, jika mereka menolak untuk membayarkan seutas tali kepadaku, yang mana mereka biasa membayarkannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, niscaya benar-benar akan aku perangi mereka atas penolakan tersebut.”

Semangat yang tinggi benar-benar akan menggelegak di dalam hati seperti air mendidih di dalam periuk. Ia akan mendorong pemiliknya untuk melakukan perkara-perkara besar baik pagi dan petang, hingga jadilah dia sebagaimana yang dikatakan Imam Asy-Syafi’i rahimahullah, “Rehat bagi seorang lelaki adalah kelalaian.”

Tengoklah sahabat Abdullah bin Jahsy yang melantunkan doa bersama Sa’ad bin Abi Waqqash menjelang Perang Uhud. Keduanya sepakat untuk saling berdoa dan diaminkan oleh yang lainnya.

Doa Abdullah bin Jahsy adalah:
“Ya Allah karuniakan kepadaku seorang pria yang perkasa lagi kuat, aku memeranginya di jalan-Mu dan dia juga memerangiku, kemudian dia membawaku dan memotong hidung dan telingaku, sehingga bila aku berjumpa dengan Engkau nanti maka Engkau bertanya, ‘Wahai Abdullah karena hal apa terpotong hidung dan telingamu?’ Maka aku berkata, ‘Karena-Mu dan karena Rasul-Mu.’ Maka Engkau berkata, ‘Kamu benar.’

Siapakah di antara kita yang memiliki tekad seperti ini? Siapa di antara kita yang bisa seperti Ahmad bin Hanbal, Ibnu Taimiyah, dan Al-’Izz bin Abdussalam? Mereka memikul panji jihad fi sabilillah dan berani melawan musuh-musuh Allah?

Para “ulama” telah meninggalkan medan perang, mereka meninggalkan kepemimpinan kafilah, dan berat untuk berkorban demi Allah. Mereka tidak berhenti sampai di situ, mereka bahkan meneriaki para mujahid dan menuduh mereka dengan semua kekurangan. Suara mereka hanya terdengar ketika mencela para mujahid. Semua dilakukan di bawah alasan “politik dan kecerdasan”.

Aku tidak tahu, kapan mereka akan meninggalkan “fiqih kekalahan” dan “paradigma pengecut”. Tidakkah kalian mendengar, bagaimana mereka mengingkari penyembelihan seorang warga Amerika Serikat bernama Berg? Mereka mengingkari karena sebelumnya telah menolak memerangi orang-orang kafir. Mereka juga belum pernah mencium aroma kemuliaan dan belum pernah mengangkat kepala atas dasar makna-makna keimanan yang menjadikan seorang mukmin superior di atas jahiliyah dan para pemeluknya:

“Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.” (Al-Munafiqun: 8)

Orang seperti mereka pasti merasa berat untuk membayangkan dirinya –sebagai hamba hina–menyembelih tuannya, AS. Ya, mereka menyusu kepada susu kehinaan dari payudara ibu mereka, lalu membekas di hati mereka. Maka, tidak mungkin mereka melakukan perubahan atau pergantian (sikap).

Inilah realita pahit yang tidak mereka perlihatkan, tetapi mereka membalutnya dengan ‘selendang fiqih’, dan menyajikannya sebagai hiasan dalam balutan ‘pakaian hikmah’. Mereka mengira dan berdusta bahwa hal ini adalah mencoreng citra Islam dalam pandangan orang-orang Barat yang memiliki perasaan lembut. Dunia sangat prihatin dengan kejahatan penjara Abu Ghuraib dan Guantanamo. Sedangkan aksi ini justru memberangus rasa prihatin dan respons masyarakat dunia.

Bahkan popularitas si anjing Romawi, Bush, berada di level terendah. Aksi ini terjadi dan justru mengangkat popularitasnya. Seolah negara-negara merdeka di dunia, menurut persepsi mereka, telah mengasah pedang dan menyiapkan batalion pasukan dan merelakan leher-leher terpenggal demi membebaskan Irak dan menyelamatkan orang-orang tak berdosa dan para wanita dari penjara penuh pemaksaan dan kezhaliman.

Yang benar-benar tragis dan mengejutkan, dengan campur tangan putra-putra kita, media kafir Salibis berhasil mempengaruhi pola pikir dalam membentuk pribadi muslim. Melalui serangan mengerikan dan saluran-saluran televisi Arab dan internasional, mereka berhasil mencuci otak kaum muslimin dan mempengaruhi pemikiran mereka, membalikkan fitrah, dan mengerdilkan tekad mereka.

Subhanallah, musuh Salibis pendengki datang dengan program mengerikan untuk menguasai umat Islam dan memberikan kekuasaan kepada Yahudi.

Syariat diperangi, kehormatan dirampas, harga diri dicabik-cabik, manusia ditimpa keterpurukan dan kehinaan. Sedang dari kejauhan, umatku hanya bisa memantau tanpa bisa berbuat apa-apa selain menampar pipi dan meratap. Tak mampu menghancurkan belenggu kehinaan yang telah mengekangnya sekian lama.

Telah tumbuh generasi yang menenggak kehinaan dan dibalut dengan pakaian memalukan. Maka, neraca telah terbalik dan berubah sangat drastis. Lenyaplah neraca petunjuk dan hidayah ‘langit’ sebagaimana yang dikabarkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

“Fitnah akan dipaparkan pada hati manusia bagai tikar yang dianyam (secara tegak dan mendatar/silang menyilang antara satu sama lain). Mana pun hati yang dihinggapi oleh fitnah, niscaya akan terlekat padanya bintik-bintik hitam. Begitu juga mana pun hati yang tidak dihinggapinya, maka akan terlekat padanya bintik-bintik putih sehingga hati tersebut terbagi dua: sebagian menjadi putih bagaikan batu licin yang tidak lagi terkena bahaya fitnah, selama langit dan bumi masih ada. Sedangkan sebagian yang lain menjadi hitam keabu-abuan sebagaimana bekas tembaga berkarat, yang ianya tidak menyuruh pada kebaikan dan tidak pula melarang akan kemungkaran kecuali diserap akan hawa nafsunya.”

Dan inilah Abu Bakar Ash-Shiddiq, orang yang lembut lagi belas asih, ayah dan ibuku sebagai tebusannya. Dia menggariskan sebuah jalan lurus dan teladan yang jelas untuk kita, ketika dia disurati terkait tawanan yang ingin ditebus kaumnya dengan harga segini dan segini. Lantas dia menegaskan, “Bunuh dia! Membunuh seorang musyrik benar-benar lebih aku cintai daripada ini dan itu.”

Sejumlah negosiator berupaya membebaskan laki-laki itu, dan siap membayar berapapun harga yang kami kehendaki –padahal kami sangat membutuhkan uang demi melanjutkan laju kereta jihad— tetapi kami lebih memilih untuk membalaskan dendam para saudari kami dan sakit hati umat kami.

Kami juga telah berjanji kepada Allah untuk menghidupkan urusan mulia ini dan mengikuti sunah orang-orang yang mendapatkan petunjuk. Bukankah Nabi kita shallallahu alaihi wasallam yang begitu lembut dan belas kasih telah bersabda, “Sungguh, aku mendatangi kalian dengan sembelih.” Maka, hati keras para tokoh Quraisy pun bergetar, mereka begitu takut dan segera meminta maaf kepada beliau, padahal sebelumnya mengolok-olok beliau.

Kami katakan, “Jika umat ini mau menghunuskan pedang, berdiri di atas telapak kakinya, pasukan perangnya dibariskan, dan bergerak menuju Washington untuk membalas dendam. Lalu datanglah peristiwa penyembelihan, angin topan bertiup kencang dan memporak-porandakan pasukan, niscaya mereka akan berpikir lain. Tetapi, di mana umat Islam ketika semua ini terjadi dan menimpa kaum muslimin di Irak, Palestina, Afghanistan, Indonesia, Chechnya, dan yang lain? Apakah umatku hanya mampu menangis, meratap, berdemo dengan aksi damai, mencela dan menghina?!

Apa yang telah dilakukan oleh pasukan pemerintah Afghanistan?! Dan apa yang telah dilakukan oleh umat terhadap para wanita Sarajevo, Indonesia, Kashmir, Palestina, dan Irak, di mana kehormatan mereka dirampas di depan mata dan telinga umat ini semuanya?!

Demi Allah, seandainya masih tersisa pada diri kita rasa cemburu dan yang semisalnya terhadap para saudari kita yang tidak berdosa, niscaya kita tidak akan tertidur nyenyak, dan kita tidak akan bisa bersenang-senang dengan istri di atas ranjang hingga para tawanan wanita itu dibebaskan.

Celakalah engkau, wahai umatku. Kehormatanmu berada di tangan para penyembah salib, mereka menyia-nyiakannya tanpa ada yang merespon.

Para tawanan telah menuntut kepada setiap orang yang kalah
Tidak ada tawanan yang tersisa selain tawanan wanita kita
Dan tidaklah kulihat cambuk kehinaan berlumuran darah
Melainkan kulihat padanya serpihan daging tawanan kami
Dan tidaklah kita mati seperti kijang
Melainkan rasa malu kita telah mati

Demi membangkitkan tekad dan menyenangkan para muwahhid di bumi belahan Timur dan Barat, maka kami bertekad tidak menerima tebusan untuk laki-laki ini, meskipun mereka membayar kami sejumlah emas.

Bahkan, kami telah berjanji kepada Allah untuk tidak menebus tawanan dengan harta, meskipun kami berpendapat itu boleh. Tetapi, kami melakukan itu agar musuh-musuh Allah tahu bahwa tidak ada belas kasihan maupun rasa sayang kepada mereka dalam hati kami.

Jadi, bebaskan tawanan. Atau kami sembelih

Bahkan yang lebih mengherankan lagi, sikap acuh beberapa orang kalah dari golongan para pengecut, mereka telah mematikan agama kami dan rela dengan kehinaan, terutama si Harits Adh-Dhari, sekretaris umum Asosiasi Ulama Muslim Irak. Dalam beberapa kesempatan khusus, dia menegaskan bahwa dirinya tidak bisa mengangkat kepala karena penyembelihan terhadap warga AS dan seorang misionaris asal Korea Selatan.

Maka aku katakan kepadanya:

“Sungguh, sebelumnya aku mengira bahwa engkau akan menggali kubur dan tidur di sana hingga kematian tiba, karena rasa malu akan kelemahanmu untuk menolong saudari-saudarimu; para muslimah yang diperkosa di penjara Abu Ghuraib, yang letaknya hanya beberapa meter dari rumahmu. Atau kamu bersumpah untuk mengenakan ikat kepala, tidak akan mencicipi makanan dan tidak akan tidur hingga kamu berhasil membebaskan saudarimu atau mati karena hal itu. Tetapi sayang, hal itu tidak pernah terjadi. Karena tujuan jihadmu hanya mengulurkan tali cinta kasih kepada orang-orang Syi’ah Rafidhah.

Tidakkah engkau mengingat momen-momen kehinaan dan aib yang akan menghinakanmu pada Hari Kiamat tatkala engkau bergabung di berbagai wawancara keji bersama Jawwad Al-Khalishi (politikus Syiah Irak). Engkau berbicara kepadanya, “Aku mendengar tentang kesabaran dan keberanianmu, maka aku berjanji kepada diriku seandainya aku bertemu denganmu maka aku akan mencium kepalamu. Sekarang saatnya menunaikan janji.” Lalu engkau segera mencium kepala yang dipenuhi kedengkian terhadap Islam, kepala dengan lisan yang tiada henti menghujat kehormatan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Maka katakanlah, demi Rabbmu, dengan wajah seperti apa kelak engkau bertemu Nabimu pada Hari Mahsyar. Sungguh engkau benar-benar mencelakakan umat Islam tatkala engkau menuduh simbol-simbol jihad sebagai pengkhianatan. Sedangkan engkau adalah barang titipan bagi Rafidhah, engkau berderma kepada mereka dengan masjid-masjid kami, dengan dalih bahwa semuanya hanyalah batu dan mungkin bisa dibangun lagi.

Kepada Allah-lah kami mengadukan diri kalian. Dan di hadapan-Nya kami akan menanyai kalian, cukuplah bagi kami Allah dan sebaik-baik pelindung.

Sungguh engkau pasti sangat keheranan menyaksikan kesabaran dan kebengisan musuh-musuh agama dalam memerangi kaum muslimin, dalam mengorbankan jiwa dan waktu mereka demi menolong kebathilan mereka. Allah ta'ala berfirman, “ Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata): “Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki.” (Shad: 6)

Mereka menempuh padang pasir dan gurun dengan kendaraan dan bala tentara mereka demi menyebarkan aqidah bathil mereka meski darah mereka tertumpah, dan meski nyawa mereka melayang demi kebatilannya

Ya. Majalah Inggris “Daily Telegraph” akhir-akhir ini merilis laporan bahwa Irak kini menjadi tempat ‘penggembalaan’ untuk kampanye Kristenisasi. Laporan itu menulis bahwa anggota perhimpunan-perhimpunan misionaris AS mulai melancarkan Kristenisasi di bawah slogan “Menyelamatkan Jiwa di Irak” di mana para pemimpin perhimpunan memastikan bahwa invasi AS ke Irak memberikan kesempatan bersejarah untuk memberi petunjuk bagi jiwa-jiwa bangsa Irak yang kebingungan, baik dari kaum muslimin ataupun kaum Kristen Timur Ortodoks.

Kepala “International Mission Board” (Dewan Misionaris Internasional) yang menjadi penanggungjawab Kristenisasi di Timur-Tengah John Brady berkata bahwa anggota-anggota Gereja Baptis jumlahnya mencapai 16 juta, dan gereja meminta mereka sebelum peperangan agar mengirim doa demi penaklukan Irak.

Setelah kunjungannya ke Irak, Jon Hannah –salah seorang evangelis— berkata, “Menjadi tanggung jawab besar bagi seluruh misionaris AS, semua pintu terbuka, metode-metode misionaris tersedia, dan bantuan militer pun ada demi menyelematkan warga Irak dari nilai-nilai yang bertentangan dengan Kristen dan orang-orang Kristen.”

NASEHAT PENTING UNTUK PARA MUJAHID (BAGIAN 1)

RUMIYAH 11 - ARTIKEL

NASEHAT PENTING UNTUK PARA MUJAHID (BAGIAN 1)
SYAIKH ABU MUSH'AB AZ-ZARQAWI

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zhalim.” (QS. Ali Imran: 139-140)

Segala puji bagi Allah .... kita memujiNya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya. Kita juga berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa dan keburukan amal perbuatan kita. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah niscaya tidak akan ada yang bisa menyesatkannya, dan siapa yang disesatkan oleh Allah niscaya tidak akan ada yang bisa memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haqq untuk disembah kecuali Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Beliau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, menasehati umat dan meninggalkannya di atas cahaya putih, yang waktu malamnya ibarat siang. Tidak ada yang tersesat darinya selain orang yang binasa.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Ali Imran: 102)

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (An-Nisaa`: 1)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (Al-Ahzab: 70-71)

Amma ba’du:

Sejarah akan kembali berulang. Sepanjang masa alur peristiwanya tidak berubah. Para pelaku dan pemerannya boleh berganti, sarananya juga boleh berkembang, tetapi skenario peristiwanya tetap dan kisah perseteruannya tetap sama.

Kebenaran akan berseteru dengan kebatilan, Islam akan berperang melawan kekafiran, jahiliyah, dan kemunafikan akan bersembunyi mengintip, sedangkan orang-orang lemah lagi pengecut memegangi tongkat dari tengah sambil mendukung ummatnya, tetapi mereka lebih mengutamakan dunia mereka, menunggu suasana tenang dan perang selesai, lalu beralih kepada pihak yang kuat dan menaiki bahtera si pemenang. Sungguh buruk apa yang mereka lakukan.

Lain halnya dengan para muwahhid robbani, mereka tetap mengibarkan panji di era kekalahan, tetap mengangkat kepala di era kehinaan yang memalukan, semangat mereka tetap menguap melalui emosi dan pergi menuju Dzat yang maha mengetahui lagi maha melihat, meneladani sang pembawa berita gembira dan pemberi peringatan (Nabi Muhammad), mereka terasing, wajah-wajah mereka diterpa angin kebengisan, kaki-kaki tanpa alas mereka berdarah di sahara yang menyala oleh api permusuhan. Pintu-pintu tertutup untuk mereka. Lantas, merekapun mengetuk pintu langit hingga terbuka. Dari roh surga terdapat sesuatu yang mampu menghidupkan hati. Cahaya iman menyatu dengan mereka, sehingga tidak ada seorangpun diantara mereka yang murtad karena benci agamanya, meskipun dunia memanah mereka dari satu busur.

Umatku...

Timbangan telah cukup penuh dan cairan telah meluber. Orang-orang zhalim telah melampaui batas, para thaghut telah merampas negeri dan para serigala, bahkan para anjing telah menyerang kita.

Manusia mencari solusi di fatamorgana sahara kesesatan, padahal solusi itu ada di hadapan dan di tangan mereka.... Solusi itu adalah jihad fi sabilillah.

Berikut adalah beberapa wasiat para pemimpin jihad yang lebih dahulu meniti jalan yang berbarakah ini, aku mengumpulkannya secara ringkas sebagai tadzkirah (pengingat) untuk diriku dan para ikhwah mujahidin, sebagai motivasi untuk tetap tegar dan ajakan untuk bersabar di atas prinsip.

Wahai para mujahid....

Sungguh, aku tidak mengkhawatirkan banyaknya musuh, canggihnya persenjataan, koalisi kekuatan jahat atas kalian dan tidak pula sedikitnya saudara kalian yang muslim di belahan dunia, tetapi aku mengkhawatirkan diri kalian. Aku khawatir kalian tertimpa virus wahn (cinta dunia dan takut mati), kelemahan, kekalahan dan banyak bermaksiat.

Apa yang pernah terjadi dalam Perang Uhud terdapat pelajaran dan peringatan bagi kalian. Allah azza wa jalla berfirman:

“Sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu.” (Ali ‘Imran: 152)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Di awal siang, kemenangan berpihak kepada umat Islam, tetapi ketika para pemanah melakukan maksiat dan sebagian pasukan melemah, maka sesuatu (kemenangan) yang telah dijanjikan yang bersyarat keteguhan dan ketaatan akhirnya tertunda.” Selesai perkataan beliau rahimahullah....

Dalam pertempuran ini, terdapat beberapa sikap yang menakjubkan, di antaranya: Bahwa musuh berjumlah tiga kali lipat jumlah kaum muslimin. Maka, di awal siang Allah memenangkan umat Islam. Tetapi, ketika mereka bermaksiat, Allah menimpakan bencana kepada mereka di akhir siang.

Jabir radhiyallahu 'anhu berkata, “Pada waktu Perang Uhud, manusia tercerai-berai dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau hanya disertai sebelas orang Anshar beserta Thalhah.”

Di dalam hadits Anas radhiyallahu 'anhu disebutkan: “Sewaktu Perang Uhud, umat Islam tercerai-berai. Anas bin Nadhar berdoa, ‘Ya Allah, aku meminta maaf kepada-Mu atas apa yang telah dilakukan oleh mereka (yaitu para sahabatnya), dan aku berlepas diri kepada mu dari apa juga telah dilakukan oleh mereka –yaitu orang-orang musyrik.’”

Abu Ad-Darda pernah duduk sambil menangis setelah penaklukan Pulau Siprus tatkala melihat tangisan penduduk dan kelompok-kelompok mereka.

Ada yang bertanya, “Apa yang membuatmu menangis wahai Abu Ad-Darda, di hari Allah memuliakan Islam?”

Dia pun menjawab, “Celaka kalian, betapa hinanya manusia di hadapan Allah jika mereka meninggalkan perintah-Nya. Padahal sebelumnya mereka adalah sebuah ummat yang kuat lagi menang. Mereka meninggalkan perintah Allah, hingga jadilah seperti apa yang kalian lihat.”

Wahai para mujahidin ...

Terkadang kemenangan itu terhambat dan terkadang berbagai kekalahan dan luka mendera barisan kalian. Hal ini tidak aneh, karena itulah sunnatullah (ketentuan Allah) yang telah berlaku pada orang-orang terdahulu dan kamu tidak akan mendapati perubahan pada sunnatullah.

Heraklius pernah bertanya kepada Abu Sufyan, “Saya bertanya kepada Anda, bagaimana perang kalian dengan dia (maksudnya Rasulullah), lantas Anda menjawab bahwa perang yang terjadi adalah silih berganti. Maka demikianlah para Rasul diuji, kemudian mereka mendapatkan kemenangan.”

Sesungguhnya ujian terberat kalian dalam perang adalah dalam hal sabar dan yakin.

Yakin: bahwa Allah akan memenuhi janji-Nya, memenangkan tentara dan kelompok-Nya meskipun setelah beberapa waktu.

Dan sabar: ketika masa-masa berat, karena kemenangan ada bersama kesabaran, solusi ada bersama kesedihan dan bahwa bersama kesulitan akan ada kemudahan.

Ada seorang lelaki bertanya kepada Imam Asy-Syafi’i, dia bertanya, “Wahai Abu Abdillah, mana yang lebih utama bagi seseorang, diberi kekuasaan atau diuji?

Maka, Imam Asy-Syafi’i menjawab, “Dia tidak akan diberi kekuasaan hingga diuji terlebih dahulu.”

Karena Allah telah menguji Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad –shalawat dan salam semoga terlimpah untuk mereka semua, ketika mereka bersabar maka Allah memberi mereka kekuasaan.

Jadi, jangan pernah ada yang beranggapan bisa terlepas dari rasa sakit.

Adalah salah orang yang berprasangka buruk kepada Allah, lalu melihat jumlah dan persenjataan musuh, tetapi lupa dengan janji Allah:

“Allah telah menetapkan bahwa Aku benar-benar menang, dan begitu juga para utusan-Ku (akan menang).” (Al-Mujadalah: 21)

“Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (Al-Maa`idah: 56)

“Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (Ar-Rum: 47)

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa.” (An-Nur: 55)

Jadi, syarat ini balasannya adalah janji yang disyaratkan, yaitu aman, ikhlas dan amal shalih. Baru kemudian kemenangan, tamkin dan kekuasaan:

“Janji Allah, Allah tidak akan menyelisihi janji-Nya.” (Az-Zumar: 20)

Alangkah indah apa yang dikatakan oleh penulis Tafsir fi Zhilal Al-Qur`an dalam mengomentari Firman Allah azza wa jalla:

“Berapa banyak kelompok yang sedikit mengalahkan kelompok yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 249)

“Inilah prinsip dalam perasaan orang-orang yang yakin akan berjumpa Allah. Prinsipnya yaitu kelompok beriman ini berjumlah sedikit, karena ia yang akan meniti tangga derita hingga sampai pada kelompok terpilih, tetapi dialah yang menjadi pemenang karena dia terhubung dengan “sumber” yang kuat, dan juga menjadi cerminan kekuatan yang menang, yaitu kekuatan Allah yang Maha Kuasa atas segala urusan-Nya, Allah yang Maha Perkasa di atas para hamba-Nya, Allah yang menghancurkan orang-orang diktator, yang menghinakan orang-orang zhalim dan yang mengalahkan orang-orang sombong.”

Wahai para mujahidin...

Sungguh demi Allah, kalian berada dalam kondisi yang menyenangkan, tidak sebagaimana yang dikatakan oleh para penggembos yang melihat urusan hanya dengan kacamata materi, lalu tersentak oleh berita-berita Barat dan Arab serta para anteknya berupa kemenangan para partai, dan para mujahidin melarikan diri. Perang itu tidak diukur dengan jumlah personil maupun persenjataan, bukan pula dengan kemenangan maupun kekalahan. Jadi, harus ada ini dan itu, baru setelah itu datang kemenangan dan tamkin (kekuasaan), meskipun setelah beberapa saat.

Syaikhul Islam berkata –ketika itu dia menerangkan berkumpulnya koalisi dari kalangan bangsa Tartar, orang-orang munafik dan yang lain atas umat Islam—: “Fitnah ini memisahkan manusia menjadi 3 kelompok:

1. Thaa`ifah Manshurah: Mereka adalah para mujahid yang memerangi mereka yang melakukan kerusakan.
2. Thaa`ifah Mukhalifah: Adalah pihak musuh dan orang yang beralih kepada mereka dari sampah orang-orang yang mengaku Islam.
3. Thaa`ifah Mukhadzilah: Adalah mereka yang duduk enggan berjihad, meskipun masih berstatus muslim.

Maka, silahkan masing-masing melihat; apakah dia termasuk thaa`ifah manshurah, mukhadzilah, atau mukhalifah? Tidak ada kelompok keempat.

Ketahuilah, bahwa di dalam jihad terdapat kebaikan dunia dan akhirat, dan jika ditinggalkan akan mengalami kerugian dunia dan akhrat. Allah azza wa jalla berfirman, “Katakanlah: “Tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan.” (At-Taubah: 52)

Artinya, kebaikan itu adalah pertolongan dan kemenangan, maupun kesyahidan dan surga.

Siapapun yang tetap hidup di antara para mujahidin, maka dia akan hidup mulia, baginya pahala dunia dan pahala yang baik di akhirat, sedangkan siapa pun yang mati atau terbunuh, maka dia akan dimasukkan ke surga.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Orang yang mati syahid akan diberi enam keistimewaan, yaitu 1. diampuni dosanya sejak tetesan darahnya yang pertama, 2. diperlihatkan tempat tinggalnya di surga, 3. dikenakan padanya perhiasan iman, 4. dinikahkan dengan 72 bidadari, 5. dilindungi dari fitnah kubur dan 6. aman dari huru-hara terdahsyat (Hari Kiamat).”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga bersabda, “Sesungguhnya di surga terdapat seratus derajat, jarak antara tiap derajat adalah ibarat jarak langit dan bumi. Allah Ta’ala mempersiapkannya untuk orang-orang yang berjihad di jalan-Nya.”

Ini artinya, ketinggian 50.000 tahun di surga adalah untuk ahli jihad...

Sampai pada perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: “Demikian juga, para ulama sepakat –sepanjang pengetahuanku— bahwa tidak ada ibadah tathawwu’ yang lebih utama dari jihad, karena jihad lebih utama daripada haji, puasa, dan shalat sunah.

Ibadah ribath (berjaga di perbatasan) lebih utama dari pada ibadah di sekitar Makkah, Madinah, dan Baitul Maqdis. Hingga Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, “Jika aku ribath satu malam di jalan Allah, itu lebih aku sukai dari pada mendapatkan malam Lailatul Qadar di samping Hajar aswad.”

Abu Hurairah lebih memilih menjalani ribath satu malam daripada ibadah di malam terbaik dan di tempat terbaik.”

Syaikhul Islam berkata lagi, “Dan ketahuilah, semoga Allah memperbaiki kalian, bahwa kemenangan adalah bagi orang-orang beriman, surga bagi orang-orang bertakwa dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan yang berbuat baik.”

Para musuh itu akan dikalahkan lagi terdesak. Allah azza wa jalla adalah penolong kita atas mereka, membalaskan dendam kita kepada mereka dan tiada daya dan kekuatan selain dengan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

Maka, bergembiralah dengan pertolongan Allah azza wa jalla dan kesudahan yang baik (surga).

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Ali ‘Imran: 139)

Dan ini adalah perkara yang telah kita yakini dan kita realisasikan. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.”

Kemudian beliau rahimahullah berkata, “Dan ketahuilah –semoga Allah memperbaiki kalian— bahwa di antara nikmat terbesar bagi orang yang dikehendaki baik oleh Allah adalah Dia menghidupkannya hingga saat ini, yaitu ketika Allah memperbarui agama ini, menghidupkan kembali simbol-simbol umat Islam dan kondisi orang-orang beriman dan para mujahidin, hingga kembali mirip dengan as-sabiqun al-awwalun dari kalangan Muhajirin dan Anshar.

Maka siapa yang saat ini melakukan hal tersebut (berjihad), maka dia termasuk orang yang mengikuti mereka dengan baik, yaitu orang-orang yang diridhai oleh Allah dan mereka juga ridha kepada-Nya, dan Allah menyiapkan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.

Maka, seyogyanya orang-orang beriman bersyukur kepada Allah ta'ala atas ujian, yang pada hakikatnya adalah karunia besar lagi mulia dari Allah, dan fitnah ini yang di dalamnya terdapat nikmat yang besar, hingga demi Allah, seandainya para as-sabiqun al-awwalun dari kalangan Muhajirin dan Anshar, seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan yang lain turut hadir di zaman ini, niscaya amal mereka yang paling utama adalah berjihad melawan mereka, orang-orang yang jahat. Dan tidak ada yang dari absen dari perang ini selain orang yang merugi perniagaannya, membodohi diri sendiri dan terhalang mendapatkan bagian yang besar di dunia dan akhirat, kecuali bagi yang diuzur oleh Allah azza wa jalla, seperti orang yang sakit, fakir, buta dan yang lain.” Selesai perkataan Syaikhul Islam Rahimahullahu.

Syaikhul Islam juga berkata, “Puncak itu semua adalah jihad fi sabilillah, karena jihad adalah hal tertinggi yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Para pencelanya cukup banyak, karena banyak orang beriman yang justru membencinya, baik mereka menjadi penggembos yang gemar melemahkan semangat dan niat, maupun menjadi murjif (penyebar kabar bohong) yang gemar melemahkan kekuatan dan kemampuan. Semua itu adalah termasuk kemunafikan.” Selesai perkataan beliau.

DEMIKIANLAH PARA RASUL ITU DIUJI, LALU DIBERI KEMENANGAN (BAGIAN 3, SELESAI)

RUMIYAH 10 - ARTIKEL

DEMIKIANLAH PARA RASUL ITU DIUJI, LALU DIBERI KEMENANGAN (BAGIAN 3, SELESAI)
SYAIKH ABU MUSH’AB AL-ZARQAWI

Setelah memahami semua hakikat ini, kita dapat mengetahui makna yang dikehendaki di balik pengokohan, keteguhan, dan dikobarkannya Perang Fallujah dengan segenap kekuatan yang dikerahkan. Karena pada hari ini*, Perang Fallujah satu-satunya perang di front Islam terdepan. Keteguhan di dalam nya dan ribath di tapal batasnya berarti berjaga-jaga di perbatasan terdepan di mana dari situlah kita akan menikam kekafiran dan agresi.

*Saat itu, Perang Fallujah sedang berkobar (Edt.)

Jika kita melihat musuh melakukan penetrasi dan berkeliling di dalam kota dan berkonsentrasi di pinggiran kota, maka bukan berarti musuh telah meraih kemenangan. Karena peperangan kita melawan musuh adalah perang jalanan dan perang kota. Taktik dan metode dalam bertahan dan menyerang cukup bervariasi. Pertempuran sengit ini tidak dapat diprediksi hasilnya dalam hitungan hari atau minggu, tetapi memakan waktu sampai tiba waktu ketika salah satu pihak mendeklarasikan kemenangan.

Sebelum diputuskan hasilnya, cukuplah kita bergembira melihat putra-putra Islam teguh bak gunung kokoh di lini pertahanan Kota Fallujah penuh berkah. Mereka memberi pelajaran baru kepada umat dalam kekuatan, kesabaran, dan keyakinan. Kami mencoba menuangkan sebuah analisa seputar beberapa pelajaran dan hasil fantastis yang dipetik dari pertempuran dahsyat tersebut. Jadi, saya katakan :

Pertama: Pertempuran ini menghidupkan kembali segenap makna kemuliaan, kehormatan, dan sifat kesatria. Umat meyakini bahwa di sana terdapat sekelompok putranya yang mampu menghadapi segala bahaya genting dengan penuh keberanian, keteguhan, dan determinasi. Kelompok ini berlaku jujur terhadap umatnya dalam hal langkah dan berbagai program yang telah direncakan demi menghidupkan kembali umat. Oleh karena itu, kelompok ini telah mengorbankan banyak darah para putra dan komandannya.

Kedua: Umat telah belajar -saat dalam kehinaan dan frustrasi- bahwa ia mampu melawan, bersabar, dan memerangi para pemimpin dan thaghut di dunia, hanya dengan sekelompok kecil putranya, dan dengan berbekal persenjataan sedikit. Kendati demikian, kelompok kecil itu mampu mendera musuh dengan kerugian parah lagi menyakitkan, dan memaksanya menenggak pahitnya gelas kekalahan.

Ketiga: Fallujah telah membuka pintunya menjadi medan perang. Dan berkobarlah semangat para putra umat baik yang di dalam maupun di luar Iraq. Darah suci putra-putra Islam telah banyak tertumpah di negerinya. Mereka bangkit melalui beban jihad dan berangkat dalam rangka melawan serangan Salibis internasional. Pertempuran dan peperangan dahsyat pun membara di berbagai sudut bumi Iraq. Lalu dibentuklah berbagai katibah (batalion) dan perhimpunan, kemudian para mujahidin bangkit menyerang konvoi musuh, menarget patroli mereka, dan menyergap pospos militer mereka. Dengan karunia Allah, kami menyaksikan besarnya kerugian yang diderita mereka di bumi Iraq seluruhnya. Yang membanggakan dari kemenangan ini adalah menjulangnya spirit para putra Jihad, sehingga di hadapan spirit tersebut, tumbanglah berbagai mitos peralatan perang canggih mereka. Tekad mereka sekarang ini telah terbebaskan dari ilusi kelemahan dan ketakutan, bergerak menuju medan-medan kegigihan dan amal.

Keempat: Perang Fallujah menorehkan kemenangan strategi militer yang krusial. Semua orang mengetahui keunggulan peralatan militer Amerika Serikat (AS), kecanggihan pasukan dan sistem perangnya yang menggunakan sistem menyerang target dari jarak jauh tanpa harus baku tembak, sehingga meniscayakan terjaminnya keselamatan jiwa tentara AS, agar tidak tewas dalam pertempuran berbahaya yang mengancam nyawanya. Akan tetapi, Perang Fallujah berhasil memperdaya peralatan canggih ini –melalui rencana yang telah disusun— menyeretnya ke perang jalanan yang bengis lagi tak terkendali, sehingga mengikis kekuatan, energi, dan artilerinya. Membuat tentara AS terpaksa menyongsong kematian dan kebinasaan dari arah yang tidak dia perkIraqan. Pasukan AS terpaksa turun langsung ke gang-gang dan jalanan, serta masuk ke rumahrumah dan bangunan-bangunan. Sehingga musuh pun terbuka dan diberondong tembakan dan sergapan mujahidin. Musuh dikejutkan kemampuan mujahidin dalam menyergap, dan melakukan hit and run. Musuh terpaksa terlibat dalam close quarter battle (perang jarak dekat) yang tidak diprediksi. Sehingga mereka menderita kerugian besar baik korban nyawa maupun peralatan militer yang jumlahnya lebih dari puluhan dan bahkan ratusan.

Kelima: Administrasi militer AS menelan kekalahan terburuk. Nampak jelas bagi para pengamat perang dan para perencananya, bahwa para mujahidin tidak akan bisa dihentikan oleh serangan model apapun, meskipun dengan menjalani perang habis-habisan secara menyeluruh untuk membasmi mereka semua. Penalaran jihad menjadi sandungan terbesar bagi rancangan-rancangan perang AS dan internasional. Apa yang terjadi di Fallujah, berupa kebanggaan dan keteguhan (mujahidin) menciutkan nyali para komandan musuh, mendatangkan depresi, kelelahan psikis, dan gangguan mental. Dan ke depannya, akan lebih dahsyat dan pahit, berkat pertolongan Allah ta’ala.

Keenam: Dengan keteguhan dan kesabarannya, Fallujah telah menyingkap kedok dari wajah kemurtadan, kemunafikan, dan pengkhianatan. Fallujah juga mencabut pakaian kedustaan yang dikenakan oleh pemerintah murtad Alawi, serta membongkar kepalsuan yang sebelumnya didengungkan bahwa pemerintah menginginkan kemaslahatan penduduk Iraq, berusaha melindungi darah mereka, menjauhkan mereka dari perang dan penderitaan, dan rela menderita demi kebahagiaan rakyat. Tetapi kemudian, justru semua orang melihat pemerintah Iraq bersegera memutuskan penyerangan ke Fallujah dan melumuri kedua tangannya dengan darah suci para putra kota Fallujah, membantai ribuan penduduk, mengusir puluhan ribu lainnya, serta merestui aksi-aksi penghancuran, perobohan, penodaan kehormatan, dan perampokan harta di bawah payung perang melawan teroris dan kepentingan nasional.

Ketujuh: Perang ini menjatuhkan topeng palsu yang menutupi wajah buruk orang-orang Rafidhah celaka. Dengan penuh kebencian, mereka menceburkan diri ke dalam perang ini. Dengan kehinaan nampak jelas, mereka berpartisipasi dalam kampanye militer terhadap Fallujah dengan restu dari imam kekafiran lagi zindik As-Sistani. Mereka berperan besar dalam aksi-aksi pembunuhan, perampasan, perusakan, serta pembunuhan nyawa tidak berdosa dari kalangan anak-anak, wanita, dan orang-orang tua renta. Bahkan nafsu busuk mereka mendorong mereka melakukan kejahatan luar biasa. Mereka menyerang rumah-rumah Allah yang damai dan mengotorinya. Mereka sengaja memajang gambar-gambar setan mereka, yaitu As-Sistani, di tembok-tembok, dan dengan penuh kedengkian membuat tulisan: Hari ini tanah kalian, dan esok giliran kehormatan kalian. Perlu diketahui, bahwa 90% pasukan Garda Nasional (baca: Garda Berhala) adalah orang-orang Rafidhah pendengki, sedangkan yang 10 persen adalah pasukan Kurdi Peshmerga. Alangkah benar seorang ulama yang berkata tentang Rafidhah, “Mereka adalah benih Nashrani, ditanam oleh kaum Yahudi, di tanah kaum Majusi.”

Kedelapan: Dalam perang ini, tersingkaplah program-program rahasia para musuh jihad. Di dalamnya bermunculan berbagai partisipasi militer sejumlah satuan militer yang mempunyai latar belakang berlawanan. Telah jelas ada partisipasi 800 tentara Israel di pertempuran. Mereka ditemani 18 rabi (pendeta Yahudi). Sebagian besar mereka tewas seperti yang diberitakan oleh koran dan media massa mereka. Begitu juga, terlihat jelas intervensi militer Yordania melalui para perwira militer Yordania yang berpartisipasi dalam perancangan dan penyerbuan militer ke kota Fallujah. Hal itu menunjukkan keyakinan semua pihak bahwa kota Fallujah adalah basis jihadis yang mengganggu tidur malam para musuh agama, dari kalangan orang-orang kafir dan murtad.

Kesembilan: Di antara hasil gemilang pertempuran adalah kembali mengalirnya darah dalam urat nadi para putra jihad, tingginya semangat mereka untuk meninggikan amal jihad menuju segenap sasaran yang diharapkan dan rencana-rencana yang telah dicanangkan. Pertempuran ini telah melahirkan generasi yang terdiri dari para komandan, kecakapan, serta pengalaman yang mendapat pelajaran dari banyak peristiwa, dan jeli menelisik eksperimen, latihan, dan pencapaian. Juga cermat penuh tekad menapaki jalan yang telah dirancang, hasil asahan kerasnya pertempuran, sehingga melahirkan cetakan yang solid lagi kuat.

Penulis kitab Fi Zhilal Al-Qur`an (Sayid Quthb) berkata: “Dalam penderitaan jihad fi sabilillah dan menyongsong kematian di setiap perjalanan, akan menempa jiwa untuk memandang remeh bahaya menakutkan ini yang seringkali membebani manusia dari jiwa, moral, dan barometer mereka, sehingga mereka pun menjauhinya. Namun ia adalah remeh bagi seseorang yang biasa menghadapinya, baik dia selamat darinya (kematian) atau benarbenar menjumpainya, sehingga dia pergi menghadap Allah dengannya. Setiap kali berefek di dalam jiwa dalam keadaan-keadaan genting, ada sesuatu yang dekat dengan deskripsi kerja arus listrik menyengat tubuh. Ia tak ubahnya format baru bagi hati dan jiwa agar senantiasa bersih, suci, dan baik. Kemudian ia merupakan faktor-faktor nyata untuk memperbaiki komunitas manusia seluruhnya. Melalui kepemimpinan di tangan mujahidin yang membersihkan jiwa mereka dari setiap tujuan dan perhiasan dunia. Sehingga kehidupan dipandang mereka mudah, dan mereka menceburkan diri ke dalam lautan kematian di jalan Allah, dan tidak ada lagi di dalam hati mereka segala sesuatu yang dapat memalingkan mereka dari Allah, dan berharap penuh keridhaan-Nya. Ketika kepemimpinan dipegang oleh orang-orang seperti ini, niscaya bumi menjadi baik semuanya, para hamba pun menjadi baik. Melalui tangan-tangan ini mustahil panji kepemimpinan diserahkan kepada kekafiran, kesesatan dan kerusakan, sedangkan mereka telah membayarnya dengan tetesan darah dan nyawa. Semua akan menjadi mulia dan berharga, jika panji ini diserahkan kepada Allah, dan bukan kepada dirinya. Kemudian setelah ini semua, adalah memudahkan sarana bagi yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, agar mereka memperoleh keridhaan dan ganjaran-Nya tanpa batas, dan juga memudahkan sarana bagi yang dikehendaki keburukan oleh Allah, agar mereka melakukan hal-hal yang mengundang kemurkaan Nya, sesuai dengan rahasia dan dalaman yang diketahui-Nya.” Selesai perkataannya rahimahullah.

Kesepuluh: Kesyahidan orang-orang pilihan. Kelompok orang-orang beriman ini terpilih menempuh jalan yang diukir dengan darah para putranya yang menjadi syuhada. Para komandan senior dan kadernya senantiasa berada di garis terdepan. Jika hal itu menunjukkan sesuatu, maka ia menunjukkan ketulusan para putra jihad serta obyektifitas tekad dan semangat mereka dalam merealisasikan tuntutantuntutan tauhid dengan tulus dan ikhlas. Kabar gembira lainnya untuk mereka adalah Allah telah memilih orang-orang terbaik dan para tokoh utama mereka untuk bertemu dengan- Nya dan memenuhi janji-Nya. Allah menetapkan kesyahidan untuk mereka, dan kesuksesan meraih keridhaan-Nya sesuai harapan dan permohonan mereka. Allah memenuhi janji- Nya kepada mereka dan mengabulkan permohonannya.

Demikianlah keadaan para pendahulu mereka yang shalih, mereka berambisi untuk mati sebagaimana ambisi generasi suksesor mereka untuk hidup. Kesyahidan adalah cita-cita mereka yang paling berharga. Mereka bergegas menuju medan perang karena ingin terbunuh di jalan Allah. Jumlah syuhada dari para sahabat mencapai 80% dari sejumlah peperangan.

Para syuhada dari golongan Muhajirin dan Anshar lebih banyak dibanding separuh syuhada Perang Yamamah [...] Cukup kita sebutkan bahwa jumlah syuhada dari kalangan al-quraa` (para penghapal Al-Qur’an dan ulama umat Islam ketika itu) berjumlah 300 syuhada –dalam Perang Yamamah— dalam riwayat lain berjumlah 500 syuhada, artinya para penghafal Al-Qur’an saja yang syahid dalam satu pertempuran mencapai 25 persen menurut satu riwayat, sedangkan menurut riwayat yang lain mencapai 45 persen. Dan jumlah ini cukup fantastis.

Orang-orang yang menelisik tentang referensi para sahabat, akan mendapatkan satu dari lima orang meninggal dunia di atas pembaringan, sedangkan empat orang lainnya mati syahid di medan jihad. Maka tak perlu heran dengan cepatnya penaklukan-penaklukan gemilang, keteguhan, dan kontinuitas yang terjadi pada abad ke-1 Hijriyah.

Dalam kesempatan ini, baik kiranya kami ketengahkan perihal keteguhan para pahlawan jihad kita, juga kami ceritakan secara ringkas beberapa nikmat Allah ta’alakepada mereka, berupa karamah dan kasih sayang Allah yang dihadiahkan kepada mereka dalam perang mereka melawan tentara AS beserta kroni-kroninya di kota Fallujah, sebagai peneguhan bagi mereka dan pendongkrak kondisi mereka.

Di antaranya: Pada hari ketiga pertempuran, setelah bombardir dahsyat dan keji ke distrik-distrik kota Fallujah, mujahidin terbangun dari tidur malam mereka, dan melihat kendaraan-kendaraan perang dan tank-tank AS berada di jalanan dan gang-gang. Maka, tampillah para pemimpin umat Islam dalam kancah perlawanan, dibawah komando al-akh Abu Azzam, Umar Hadid, Abu Nashir Al-Libi, dan Abu Harits (Muhammad Jasim Al-Aisawy) serta para kesatria lainnya. Mereka mengusir para penjajah sampai ke pinggiran Fallujah. Padahal senjata mereka dalam pertempuran itu hanya PK dan Kalashnikov. Pasukan AS mengalami korban tewas yang sangat banyak, hingga banyak dari mereka melarikan diri dari pertempuran dan bersembunyi di sejumlah rumah kaum muslimin. Awalnya para mujahidin ragu untuk menyerang rumahrumah tersebut karena khawatir membahayakan kaum muslimin. Ketika mereka sudah yakin dengan keberadaan para tentara AS, mereka merangsek masuk dan mendapati para tentara itu bersembunyi ketakutan. Mujahidin kemudian membunuh mereka seperti membunuh serangga dan lalat. Keutamaan dan karunia hanya milik Allah semata. Beberapa hari setelah pertempuran, salah seorang komandan menyarankan al-akh Umar Hadid dan al-akh Abu Harits Jasim Al-’Aisawy agar mencukur jenggot mereka, lalu keluar dari Fallujah, setelah Allah memudahkan bagi mereka jalur yang aman untuk menyelamatkan diri sehingga bisa mulai beraksi dari luar. Kedua kesatria itu menolak seraya berkata, “Demi Allah, kami tidak akan keluar dari kota, selama masih ada seorang Muhajir yang tetap di dalam.” Lalu keduanya bertempur hingga mati syahid. Semoga Allah merahmati dan menerima keduanya dalam barisan para hamba syuhada-Nya.

Contoh lainnya: Beberapa ikhwah menderita kelaparan selama berhari-hari. Setelah berharap dan berbaik sangka kepada Allah , mereka mendapatkan sebuah semangka yang besar. Setelah mereka belah, ternyata warnanya sangat merah dan menarik. Mereka pun memakannya selama beberapa hari hingga kenyang. Mereka memuji Allah dan merasa heran hingga merasa yakin bahwa mereka belum pernah mencicipi makanan selezat itu di dunia ini sebelumnya. Padahal diketahui bahwa saat itu bukanlah musim buah semangka, dan disitu bukanlah tempatnya berbuah.

Contoh lainnya: Para ikhwah sangat kekurangan makanan dan minuman, hingga stok air minum habis dan hanya tersisa sedikit. Menjelang waktu sarapan pagi, mulut dan bibir mereka terasa kering. Ketika mereka ingin mencari beberapa tetes air guna membasahi kerongkongan mereka yang kehausan, mereka memasuki sebuah rumah dan mendapati botol air dengan corak yang aneh di sisi-sisinya. Mereka merasa heran begitu melihatnya, karena di Fallujah ataupun di Iraq belum pernah ada air disimpan dalam botolbotol indah lagi asing seperti itu. Begitu mereka mencicipi airnya, mereka sadar bahwa air tersebut bukanlah air dunia. Mereka pun minum hingga puas. Setelah itu, mereka bersumpah bahwa mereka belum pernah minum air yang seperti itu sebelumnya dalam kehidupan dunia ini.

Contoh lainnya: Salah seorang ikhwah Jazrawi** terkena tembakan peluru sniper di bagian otaknya. Peluru tersebut menerobos jidat dan keluar melalui tengkuk. Serpihan otak berserakan di bahu kanannya. Para ikhwan pun bergegas menghampiri, lalu mengumpulkan serpihan-serpihan otak, dan mengembalikan ke tempat lukanya, kemudian membalutnya dan meninggalkannya. Beberapa hari kemudian dia pun sembuh, dan sekarang dia masih hidup tanpa ada masalah, hanya saja bicaranya menjadi agak gagap. Kita memohon kepada Allah agar menerima dirinya dan para ikhwah lainnya.

**Jazrawi bermakna Jazirah Arabia. Sebutan untuk para ikhwah dari negara-negara Arab Teluk (Edt.)

Kemudian terkait aroma kasturi. Tahukah kalian, apa wangi kasturi itu?! Sungguh, fenomena ini dilansir secara mutawatir (valid) di kalangan mayoritas mujahidin. Banyak ikhwah bercerita tentang fenomena aroma mewangi yang menyeruak dari jasad syuhada dan ikhwah yang terluka. Semoga Allah menerima mereka semua.

Contoh lainnya adalah apa yang dialami Sang Pahlawan al-akh Abu Thalhah Al-Baihani. Beliau  terluka cukup parah, tetapi aroma semerbak menyebar ke setiap tempat hingga menyebar ke jalanan, dan banyak ikhwah mencium aroma tersebut. Kemudian dia menemui kesyahidannya. Demikianlah kami menilainya, dan Allah-lah yang menilainya, serta kami tidak menyucikan siapa pun di hadapan Allah.

Dan di antara hal yang mengilhami keteguhan dan kedamaian (tuma`ninah) adalah cerita mayoritas ikhwah yang ikut serta dalam peperangan dahsyat tersebut, bahwa mereka mendengar suara ringkikan kuda dan dentingan pedang yang saling beradu ketika perang berkecamuk dan semakin sengit. Para ikhwah berulang kali terperangah dari hal itu, dan bertanya kepada para ikhwah Anshar; apakah ada sekumpulan kuda dekat kota Fallujah. Para ikhwah Anshar menegaskan bahwa hal itu tidak ada, dan memastikan bahwa di daerah tersebut tidak ada kuda-kuda seperti ini. Segala puji bagi Allah, baik yang pertama maupun yang terakhir.

Imam Ahmad meriwayatkan di dalam Al-Musnad, dan Al-Hakim di dalam Al-Mustadrak, dari Abu Burdah bin Qais, saudara Abu Musa, menyatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ya Allah jadikanlah kematian umatku adalah terbunuh di jalan-Mu, baik akibat tikaman atau karena penyakit tha’un.”

Allah ta’ala berfirman, “Janganlah kalian mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki, mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Ali ‘Imran: 169-170)

Hiduplah bak Raja atau matilah secara mulia jika engkau mati
Pedangmu sedang terhunus, dengan pedangmu engkau membenarkan

Inilah sekilas analisa terkait buah manis serta hasil keteguhan dan ketabahan di bumi Fallujah penuh berkah, juga beberapa pencapaian bermanfaat dan hasil luhur yang bisa diketahui dan dipahami oleh orang bijak yang menelaah berbagai peristiwa dan realitas.

Wahai Umat Islam,

Tubuhmu berkali-kali penuh luka dan tikaman. Luka dan penyakit yang membuatmu terbaring tidak akan dapat diobati kecuali dengan tauhid terikat di atas panji-panji jihad. Maka kapan engkau hendak memutuskan dengan putusan benar untuk berangkat berjihad dan melepaskan diri dari para algojo penyiksa? Pertempuran hari ini tidak pernah padam dan tidak mereda. Sungguh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam sangat ingin untuk tidak tertinggal dari satu pasukan pun yang berperang di jalan Allah. Kebiasaan beliau adalah tiada henti berperang dan berjihad.

Aku ingatkan kalian dengan hadits Malaikat Jibril bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pasca Perang Ahzab, diriwayatkan Imam Al-Bukhari, dia berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali ke Madinah, baru saja beliau meletakkan pedangnya, Jibril mendatanginya dan mengatakan, ‘Apakah engkau meletakkan senjata? Demi Allah, sesungguhnya para malaikat belum juga meletakkan senjatanya. Bangkitlah engkau bersama sahabatmu ke Bani Quraizhah, sesugguhnya aku berjalan di depanmu untuk menggoncang benteng mereka dan menanamkan rasa gentar di dalam hati mereka.’ Maka Jibril berjalan bersama rombongan para malaikat dan Rasulullah berjalan di belakangnya bersama rombongan para Muhajirin dan Anshar.”

Wahai kaum muslimin,

Bagaimana bisa kalian enteng saja melihat saudara-saudara kalian dari putra-putra agama kalian didera berbagai macam siksaan, pembunuhan, dan kehancuran, sedangkan kalian merasa aman di negeri kalian, nyaman bersama keluarga dan harta kalian, bagaimana bisa seperti itu?!

“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.” (Yusuf: 21)

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

DEMIKIANLAH PARA RASUL ITU DIUJI, LALU DIBERI KEMENANGAN (BAGIAN 2)

RUMIYAH 9 - ARTIKEL

DEMIKIANLAH PARA RASUL ITU DIUJI, LALU DIBERI KEMENANGAN (BAGIAN 2)
SYAIKH ABU MUSH’AB AL-ZARQAWI TAQABBALAHULLAH

Di Antara Gambaran Ini

Dahulu kabilah-kabilah Quraisy sepakat untuk mengembargo dan mengisolasi kaum mukminin bersama Bani Hasyim di kubu Abu Thalib. Tidak ada jual beli apapun selama tiga tahun, sampai-sampai mereka terpaksa memunguti serangga untuk dimakan. Hampir saja kaum mukminin binasa jika saja bukan karena rahmat Allah.

Ashabul-Ukhdud, mereka dicampakkan ke dalam api. Mereka tidak mau menegosiasikan agamanya dan lebih memilih mati di jalan Allah. Hingga kemudian thaghut menggali parit, menyalakan api, dan menyuruh para algojo dan tentaranya untuk membakar kaum mukminin. Terjadilah sesuatu yang mengejutkan, tak ada satupun yang menjadi lemah atau kabur. Tidak ada riwayat pun yang menyebutkan bahwa ada yang kabur, mundur, atau bersikap pengecut, akan tetapi kita dapati mereka maju dan berani. Mereka berlomba-lomba menceburkan dirinya ke dalam api. Seolah sang ghulam telah menghembuskan keberanian dan keteguhan ke dalam jiwa mereka. Inilah mereka, menyusulnya menjemput kematian, seolah mereka merasakan nikmat ketika menyuguhkan jiwa sebagai tebusan bagi agama. Mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan, bahkan Allah ta'ala menyebutnya sebagai “kemenangan yang besar.” “Sesungguhnya orangorang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah kemenangan yang besar.” (QS. al-Buruj: 11).

Dari Anas ibn Malik h, berkata, “Pamanku Anas bin an-Nazhr tidak hadir dalam perang Badar, maka dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak hadir dalam perang yang pertama kalinya engkau memerangi kaum musyrikin. Jika Allah memberikanku kesempatan untuk memerangi orang-orang musyrik, niscaya Dia akan melihat apa yang akan aku perbuat.’ Maka ketika Perang Uhud, dan kaum muslimin tersingkap, ujarnya, ‘Ya Allah, aku meminta uzur kepada-Mu dari apa yang mereka perbuat – yakni para shahabatnya – dan aku berlepas diri dari apa yang mereka perbuat – yakni orang-orang musyrik.’ Dia pun segera maju. Dia berpapasan dengan Sa’ad bin Muadz, katanya, ‘Hai Sa’ad bin Muadz, surga, demi Rabbnya an-Nazhr, surga demi Rabbnya an-Nazhr, sungguh aku mencium baunya dari arah Uhud.’ Sa’ad berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak sanggup beraksi seperti aksinya.’ Anas berkata, “Kami dapati ada lebih dari 80 luka sabetan pedang, tikaman tombak, atau tusukan anak panah. Kami dapati jasadnya telah dimutilasi oleh orang-orang musyrik. Tidak ada yang dapat mengenali jasadnya kecuali saudara perempuannya, lewat jari-jemarinya.” Anas berkata, “Kami mengira bahwa ayat ini turun untuknya atau yang semisalnya, ‘Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggununggu dan mereka tidak mengubah (janjinya)’.” (QS. al-Ahzab: 23).

Kita dapati makna kemenangan ini di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Khabbab. Ia datang menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu bertanya, “Tidakkah engkau memintakan kemenangan untuk kami? Tidakkah engkau berdoa untuk kami?” Beliau bersabda, “Dahulu di antara orang-orang sebelum kalian ada seorang laki-laki yang ditanam di dalam lubang, lalu digergajilah tubuhnya dari kepala hingga terbelah menjadi dua, namun hal itu tidak menghalanginya dari Diennya. Ada juga yang disisir dengan sisir besi hingga dagingnya terpisah dari tulangnya, namun hal itu tidak menghalanginya dari Diennya.”

Di antara kemenangan samar yang hanya bisa dilihat oleh mukmin bahwa musuh-musuh kebenaran, meskipun mereka begitu kuat dan berlebih-lebihan dalam memperlakukan lawan-lawannya, hanya saja mereka harus menelan berbagai macam kepahitan moral dan siksaan jiwa sebelum menyakiti musuhmusuhnya. Bahkan terkadang setelah melakukan kejahatannya mereka tidak bisa menemukan ketenangan dan merasakan kebahagiaan. Karena itu, tatkala al-Hajjaj ibn Yusuf membunuh Sa’id ibn Jubair, berbagai tekanan batin dirasakannya hingga tak dapat tidur nyenyak. Ia sering terbangun tiba-tiba dari tidurnya dan berkata, “Ada apa antara aku dan Sa’id?”, hingga dia mati dalam kesedihan dan kekhawatirannya itu.

Inilah yang kita yakini dalam perang melawan pembawa panji salib si thaghut durjana Amerika ini. Sekalipun dengan segala kedurjanaan dan kediktatorannya, dengan segala kekuatan dan persenjataannya, hanya saja mereka tertimpa kehinaan jiwa dan kehancuran moral yang seandainya ditumpahkan ke sebuah gunung niscaya gunung itu akan hancur.

Al-Qur’an telah menggambarkan kenyataan ini dalam surat Ali Imran, Allah ta'ala berfirman, “Dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kalian. Katakanlah (kepada mereka), ‘Matilah kalian karena kemarahan kalian itu.’ Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali Imran: 119-120).

Allah juga berfirman, “Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Mahakuat lagi Maha Perkasa.” (QS. al-Ahzab: 25).

Di antara gambaran-gambaran tersebut, yang samar bagi mereka yang tertutup mata hatinya, ialah kerinduan akan kehidupan sempurna yang telah Allah siapkan bagi para wali-Nya dan orang-orang pilihan-Nya. Allah ta'ala berfirman, “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Rabbnya dengan mendapat rizki.” (QS. Ali Imran: 169).

Siapa yang tidak mati dengan pedang maka dia pasti akan mati dengan selainnya
Sebab kematian itu beragam namun kematian itu satu

Dari penjelasan di atas, jelaslah bagi kita makna yang menyeluruh dari kemenangan, dan bahwasanya tidak boleh kita membatasi jenis kemenangan pada apa yang kita kehendaki.

Sesungguhnya di antara faktor penguat keteguhan dan kuatnya perjuangan – seperti yang kita lihat di Fallujah – bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam memberi tahu kita bahwa di antara tanda kemenangan Dien Islam adalah tidak ada kekuatan apa pun di muka bumi ini yang dapat membinasakan seluruh kaum mukminin, sebagaimana dahulu hampir terjadi di zaman nabi Nuh atau di awal risalah. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjelaskan bahwa jihad akan tetap ada dan dijalankan di muka bumi, seperti yang ditunjukkan dalam hadits shahih, “Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang menjalankan perintah Allah, tidak membahayakan mereka siapa yang menggembosi atau menyelisihi mereka, hingga datanglah keputusan Allah dan mereka tetap dalam keadaan seperti itu.”

Kemenangan dan kelangsungan dien ini ada di tangan Allah. Dia telah menjaminnya dan berjanji akan hal itu. Jika Dia berkehendak maka akan menolong dan memenangkannya, dan jika Dia berkehendak maka akan menundanya dan mengakhirkannya, dan Dia Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui akan urusan-Nya. Jika Dia memperlambatnya maka itu semua karena kebijaksanaanNya yang telah ditentukan-Nya, dan tentu di dalamnya terdapat kebaikan bagi mukmin. Tidak ada yang lebih cemburu terhadap kebenaran dan pemeluknya daripada Allah ta'ala, “Pada hari itu bergembiralah orang-orang yang beriman karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dialah Yang Maha Perkasa lagi Penyayang. (Sebagai) janji yang sebenarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. ar-Rum: 4-6).

Jangan engkau kira kemuliaan itu seperti kurma yang engkau memakannya
Engkau tidak akan meraih kemuliaan hingga engkau mengecap kesabaran

Sesungguhnya Allah ta'ala, Mahatinggi keputusanNya dan Mahamulia keagungan-Nya, Dia terkadang mengaruniakan kemenangan kepada orang-orang beriman dan terkadang menguji mereka. Dia menghalangi mereka dari nikmat ini dan menimpakan ujian karena hikmah yang telah ditentukan dan diketahui-Nya. Terkadang Allah memberikan nikmat dalam ujian meski berat dan terkadang Allah menguji suatu kaum dengan nikmat.

Ibnul Qayim rahimahullah di dalam Zadul Ma’ad telah menyebutkan hikmah-hikmah ini secara sekilas, ujarnya, “Di antaranya bahwa ini adalah salah satu ciri para rasul, seperti yang dikatakan Heraklius kepada Abu Sufyan, ‘Apakah kalian memeranginya?’ ‘Ya’, jawabnya. Heraklius bertanya lagi, ‘Bagaimana perang antara kalian dengannya?’ Jawabnya, ‘Terkadang dia mengalahkan kami dan terkadang kami mengalahkannya.’ Heraklius berujar, ‘Begitulah para Rasul, mereka diuji lalu kesudahan yang baik bagi mereka.’

Di antaranya hikmahnya yaitu untuk memisahkan antara mukmin yang jujur dan munafik pendusta. Tatkala Allah memberikan kemenangan kepada kaum muslimin pada Perang Badar sehingga mereka ditakuti, ada orangorang yang masuk Islam secara lahir namun tidak secara batin. Sehingga Allah menguji hamba-Nya, berdasarkan hikmah-Nya, agar memisahkan antara muslim dan munafik. Pada perang orang-orang munafik mengangkat kepalanya dan melontarkan apa yang selama ini mereka sembunyikan, menampakkan apa yang mereka tutupi, dan menyerukan apa yang mereka ucapkan secara samar, sehingga ketika itu manusia terbagi menjadi mukmin, kafir, dan munafik secara jelas. Kaum mukminin menjadi tahu bahwa mereka memiliki musuh dalam selimut yang hidup bersama mereka dan tidak terpisah, sehingga bisa bersiap dan bersikap waspada.

Di antaranya; jika Allah selalu menolong dan memenangkan kaum mukminin di setiap pertempuran, membuat mereka berkuasa atas musuhnya terus menerus, maka mereka akan menjadi tinggi hati, angkuh, dan berlebihan. Jika pertolongan dan kemenangan dibentangkan atas mereka tentu keadaan mereka akan menjadi seperti jika rizki dibentangkan atas mereka. Hamba-hamba-Nya tidak akan menjadi lurus kecuali dengan kemudahan disertai kesulitan, dan kesempitan disertai kelapangan. Dia menggilirkan urusan hambaNya sesuai apa yang layak menurut hikmah-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Mengetahui dan Melihat.

Di antaranya; menumbuhkan rasa penghambaan total para wali dan golongan-Nya, dalam kelapangan dan kesempitan, dalam sesuatu yang mereka sukai dan yang mereka benci, dalam keadaan menang atau ketika musuh menang. Jika mereka tetap taat dan menghamba dalam keadaan yang disukai maupun dibenci, maka itulah hamba-Nya yang sesungguhnya, bukan seperti mereka yang beribadah kepada Allah hanya dalam tepian saja, dalam kesenangan, kelapangan dan kemudahan.

Di antaranya; apabila Dia menguji mereka dengan kekalahan, kesulitan dan kehancuran, mereka akan melemah, sedih dan tunduk, sehingga akan mengundang kejayaan dan pertolongan. Kalung kemenangan selalu bersama dengan sikap merendah dan menghinakan diri, Allah ta'alaerfirman, ‘Sungguh Allah telah menolong kalian dalam perang Badar padahal kalian (ketika itu) orang- orang yang lemah.’ (QS. Ali Imran: 123), dan firman-Nya, ‘Dan (ingatlah) perang Hunain, yaitu di waktu kalian menjadi congkak karena banyaknya jumlah kalian, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun.’ (QS. at-Taubah: 25). Jika Allah ta'ala berkehendak menjayakan, menguatkan dan menolong hamba-Nya, Dia akan mematahkannya terlebih dahulu, sehingga penawar, penyembuh, dan pertolongannya berbanding lurus dengan lukanya.

Di antaranya; bahwasannya Allah telah menyiapkan kedudukan di negeri kemuliaan-Nya bagi hamba-Nya yang tidak bisa diraih dengan amal-amal mereka. Mereka tidak dapat meraihnya kecuali dengan ujian dan cobaan, hingga Dia mengikat sebab-sebab yang dapat mengantarkan mereka kepada-Nya, dengan ujian dan cobaan-Nya itu. Allah juga memberi taufiq untuk melakukan amal shalih, yang itu semua termasuk bagian dari sebab-sebab sampainya mereka kepada-Nya.

Di antaranya; sesungguhnya jika jiwa terus menerus sehat, menang, dan kaya, maka dia akan angkuh dan cenderung tergesa-gesa. Itu adalah penyakit yang menghalanginya bersungguh-sungguh berjalan menuju Allah dan negeri akhirat. Jika Rabb, Pemilik, dan Sang Maha Pengasih menginginkan kemulian baginya, maka Dia akan berikan padanya ujian dan cobaan untuk menjadi obat dari penyakit itu, yang menghalangi jalan menuju kepada-Nya. Ujian dan cobaan ini laksana dokter yang memberikan obat yang pahit kepada orang sakit, dan memutus semua faktor penyebab rasa sakit, yang seandainya dibiarkan maka penyakit itu akan menguasainya dan membinasakannya.

Di antaranya; syahid di sisi Allah adalah derajat paling tinggi bagi para wali-Nya. Para syuhada adalah orang-orang khusus dan hamba-hamba-Nya yang dekat. Tidak ada derajat setelah orang-orang jujur selain mati syahid. Dia senang untuk menjadikan dari hamba-hamba-Nya sebagai syuhada. Darah mereka mengalir demi meraih kecintaan dan kerelaan-Nya. Mereka lebih suka kerelaan dan kecintaan-Nya daripada dirinya sendiri. Tidak ada jalan untuk meraih derajat ini kecuali dengan menyuguhkan sebab-sebab yang mengarah kepadanya, seperti dengan dikuasai musuh dan lainnya.”

Allah ta'ala berfirman, “Diwajibkan atas kalian berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kalian benci. Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal itu amat baik bagimu, dan boleh jadi kalian menyukai sesuatu, padahal itu amat buruk bagi kalian; Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 216).

Imam Ibnul Qoyim rahimahullah berkata di dalam al-Fawaid, “Di dalam ayat ini terdapat sejumlah hikmah, rahasia dan kebaikan bagi hamba. Jika seorang hamba tidak mengetahui bahwa sesuatu yang dibenci terkadang membawa sesuatu yang disukai, dan sesuatu yang disukai terkadang membawa sesuatu yang dibenci, maka dia tidak boleh merasa aman dari sesuatu yang membahayakan jika datang kepadanya sesuatu yang membahagiakan, dan dia tidak boleh berputus asa dari datangnya sesuatu yang membahagiakan jika datang padanya sesuatu yang membahayakan, karena dia tidak mengetahui bagaimana suatu urusan itu akan berakhir. Allah membuatnya melakukan hal itu karena Dia mengetahui apa yang tidak diketahui hamba-Nya. Di antara hikmah ayat ini ialah bahwa tidak ada hal yang lebih bermanfaat baginya selain menjalankan semua perintah meskipun pada awalnya itu adalah hal yang berat, karena pada akhirnya semua adalah kebaikan, kebahagiaan, kenikmatan, dan kesenangan. Jika nafsunya membenci maka itu adalah kebaikan dan manfaat baginya. Juga tidak ada yang lebih berbahaya baginya dari melakukan apa yang Dia larang meski nafsunya menyukainya dan condong kepadanya, karena kesudahan itu semua adalah rasa sakit, kesedihan, keburukan dan musibah. Orang yang memiliki akal akan lebih memilih menahan rasa sakit yang ringan, yang setelahnya adalah kenikmatan yang besar dan kebaikan yang banyak, serta menjauhi kenikmatan yang sebentar yang setelahnya rasa sakit yang berkepanjangan dan keburukan yang lama.

Di antara hikmah ayat ini ialah bahwa ayat ini menuntut hamba untuk menyerahkan segala urusan kepada siapa yang mengetahui akhir segala urusan, dan rela dengan apa yang dipilih dan ditentukannya, karena mengharap kesudahan yang baik.

Di antara hikmah ayat ini ialah hendaknya seorang hamba tidak mengritik Rabbnya, tidak memilih sesuatu di luar apa yang telah ditentukan untuknya, dan tidak meminta sesuatu yang tiada diketahuinya. Bisa jadi bahaya dan kebinasaan telah menunggu pada pada hal itu dan dia tidak mengetahuinya. Maka janganlah dia memilih di luar apa yang telah ditentukan Rabbnya. Hendaknya dia meminta agar dirinya mampu melaksanakan hal itu dengan sebaik-baiknya dan agar Dia menjadikannya rela dengan apa yang telah ditentukan untuknya, tidak ada yang lebih bermanfaat baginya dari hal itu.

Di antaranya juga, apabila dia menyerahkan urusannya kepada Rabbnya serta rela dengan apa pilihan-Nya, maka Dia akan memberikan kekuatan, tekad, dan kesabaran untuk menjalani pilihan-Nya itu. Ia akan dialihkan dari keburukan, yang merupakan konsekuensi pilihannya sendiri, dan akan diperlihatkan padanya kesudahan yang dari pilihan-Nya, yang mungkin tidak bisa diraih walau sebagiannya jika dia bertindak menurut pilihannya dirinya.

Di antaranya juga, bahwa hal itu akan membuatnya tenang dari beban pikiran yang melelahkan tentang bermacam-macam pilihan, dan melegakan dadanya dari berbagai perhitungan yang terkadang naik dan terkadang turun, yang itu semua tetap tidak keluar dari ketentuanNya. Andai dia rela dengan pilihan Allah maka dia akan tertimpa takdir dalam keadaan terpuji dan mendapat pahala serta kelembutan-Nya. Jika tidak maka takdir tetap berlaku atasnya sedang dia dalam keadaan tercela dan tidak mendapat kelembutan-Nya, karena dia bertindak menurut pilihannya sendiri. Ketika kerelaan dan berserah diri-nya itu telah benar maka apa yang telah ditakdirkan akan meliputinya dibarengi dengan kelembutan dan kasih sayang, sehingga dia berada di antara kelembutan dan kasih sayang-Nya. Kasih sayang-Nya akan melindunginya dari apa yang dia takutkan, kelembutan-Nya akan membuatnya merasa ringan dengan apa yang ditakdirkan-Nya. Jika suatu takdir berlaku pada seorang hamba, maka faktor utama berlakunya takdir itu adalah ketika ia berusaha untuk menolaknya, maka tidak ada yang lebih bermanfaat daripada menyerahkan diri dan memasrahkannya di hadapan takdir sebagaimana mayat, karena binatang buas tidak senang untuk memakan bangkai.”

Dia terus mengingatkanku kepada Allah sembari duduk sedang air mata mengalir deras dari kedua pelupuknya
Wahai putri pamanku, Kitabullah telah mengeluarkanku dengan paksa, maka apakah Allah akan menghalangiku lantaran air matamu
Jika aku kembali maka alangkah banyak orang yang mengembalikanku, jika aku menemui Rabbku maka carilah pengganti
Aku bukan orang pincang atau buta sehingga itu mengudzurku, bukan juga anak kecil yang lemah yang tidak mampu berbuat apa-apa

Diriwayatkan oleh at-Thabrani dari Ibnu Ishaq bahwa ada sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang berkata, “Aku mengikuti Perang Uhud bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersama saudaraku. Lalu kami berdua kembali dalam keadaan terluka. Tatkala penyeru Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengumumkan untuk keluar mengejar musuh, aku berkata kepada saudaraku – atau saudaraku berkata kepadaku – ‘Apakah engkau akan terlewat dari perang bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam?’ Demi Allah, kita tidak memiliki tunggangan dan kita terluka berat. Maka kami pun keluar bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Lukaku lebih ringan daripada saudaraku, sehingga ketika dia kelelahan aku menggendongnya hingga ia kuat berjalan lagi, hingga kami berhasil menyusul ke lokasi konsentrasi kaum muslimin.”

Abu Darda berkata, “Puncak keimanan adalah sabar terhadap ketentuan dan rela terhadap takdir.” Maka dengan obat ini kita membebat luka-luka yang tertoreh di sana-sini.

Wahai Umat Islam

Tubuhmu telah penuh luka tusukan. Luka dan penyakit yang telah membuatmu terbaring tidak akan dapat diobati kecuali dengan tauhid yang terikat di atas panji-panji jihad. Maka kapankah engkau memutuskan dengan benar untuk berangkat berperang dan melepaskan diri dari para algojo? Pertempuran hari ini tidak pernah jeda dan tidak mereda. Sungguh Nabi kita shallallahu alaihi wasallam berharap untuk tidak tertinggal dari satu pasukan pun yang berperang di jalan Allah. Kebiasaannya adalah terus menerus berperang dan berjihad.

Aku ingatkan kalian dengan hadits Jibril bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam paska perang Ahzab, yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, dia berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kembali ke kota Madinah, baru saja beliau meletakkan pedangnya, Jibril mendatanginya dan mengatakan, ‘Apakah engkau meletakkan senjata? Demi Allah, sesungguhnya para malaikat belum juga meletakkan senjatanya. Bangkitlah engkau bersama sahabatmu ke Bani Quraizhah, sesugguhnya aku berjalan di depanmu untuk menggoncang benteng mereka dan menanamkan rasa gentar di dalam hati mereka.’ Maka Jibril berjalan bersama rombongan para malaikat dan Rasulullah berjalan di belakangnya bersama rombongan para muhajirin dan anshar.”

Bagaimana bisa kalian, wahai kaum muslimin, ringan saja melihat saudara-saudara dan putra-putra Dien kalian tertimpa berbagai macam siksaan, pembunuhan dan kehancuran, sedangkan kalian merasa aman di negeri kalian, nyaman bersama keluarga dan harta kalian, bagaimana bisa seperti itu?!

DEMIKIANLAH PARA RASUL ITU DIUJI, LALU DIBERI KEMENANGAN (BAGIAN 1)

RUMIYAH 8 - ARTIKEL

DEMIKIANLAH PARA RASUL ITU DIUJI, LALU DIBERI KEMENANGAN (BAGIAN 1)
SYAIKH ABU MUSHAB AL-ZARQAWI TAQABBALAHULLAH

Bismillahirrahmanirrahim.
“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi. Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. al-Ankabut: 1-3).

Segala puji bagi Allah, yang memuliakan Islam dengan pertolongan-Nya dan yang menghinakan kesyirikan dengan kuasa-Nya. Dia Yang Maha Berkuasa dengan segala perintah-Nya. Dia yang menghancurkan orang-orang kafir dengan makar-Nya. Dia yang mempergilirkan hari demi hari dengan keadilan-Nya. Dia yang menjadikan akhir yang baik untuk orang-orang bertaqwa dengan anugerah-Nya. Shalawat dan salam kepada Nabi yang dengan pedangnya Allah meninggikan menara Islam. Amma ba’du.

Inilah tetesan air mata baru yang ku kirim melalui untaian kalimat …
Inilah denyut pedih yang ku keluarkan dari lubuk hati terdalam melalui tiap helaan nafas …

Dari seorang prajurit di tengah riuh pertempuran dan denting pedang bersahutan …
Dari Abu Mush’ab az-Zarqawi kepada siapapun pemilik sikap kesatria.

Kepedihan ummat yang memprihatinkan terus menerus menyergapku. Siluet ummat yang terluka tak pernah lepas dari benakku. Ummat mulia lagi agung, namun tangan-tangan khianat telah menimpakan berbagai macam keburukan; bantalnya adalah kehinaan, minumannya adalah cangkir-cangkir kekalahan dan khianat, dilumpuhkan dari fungsi dan kewajibannya, serta dirintangi dari impian dan cita-citanya.

Penyakit telah menjangkiti seluruh tubuhnya. Lalu kemudian dihempaskan ke tanah dan tubuhnya diikat erat. Serigala-serigala kelaparan dan binatang buas mengerubutinya. Hingga seluruh tubuhnya tercabik-cabik di antara paruh dan taring.

Inilah sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud dari Tsauban radhiyallahu anhu berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Hampir-hampir bangsa-bangsa dari berbagai penjuru mengerubuti kalian layaknya orang-orang mengerubuti hidangan di atas meja.’ Kami bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah karena jumlah kita sedikit? Jawabnya, ‘Kalian ketika itu berjumlah banyak namun tak lebih seperti buih. Rasa gentar dicabut dari hati musuh kalian dan hati kalian terjangkiti wahn.’ Kami bertanya, ‘Apa itu wahn? Sabdanya, ‘Cinta hidup dan benci mati.’ Dalam riwayat Ahmad, ‘Kalian membenci perang'."

Ketahuilah wahai ummat Islam, ujian adalah sebuah kisah dan sejarah panjang sejak turunnya La ilaha illallah ke bumi ini. Diujilah karenanya para nabi, orang-orang jujur, dan para imam muwahhid. Barangsiapa mengorbankan dirinya untuk memikul kalimat La ilaha illallah, menolong dan menegakkannya di muka bumi maka hendaknya dia bersiap untuk membayar harga mahal kemuliaan itu berupa rasa letih, ujian, dan bencana.

Dimanakah dirimu?

Jalan ini adalah jalan yang melelahkan Adam dan membuat Nuh mengeluh. Di jalan ini Sang Kekasih Allah dicampakkan ke kobaran api, Isma’il dibaringkan untuk disembelih, Yusuf dijual dengan harga murah dan terperangkap dalam penjara selama beberapa waktu. Di jalan ini Zakaria digergaji hingga terbelah, Yahya disembelih, Ayub tertimpa penyakit, Dawud menangis terus menerus, Isa terpaksa hidup dengan binatang buas, dan Muhammad shallallahu alaihi wasallam tertimpa kemiskinan dan segala macam gangguan. Sedangkan engkau malah bergelimang senda gurau dan permainan?

Allah azza wa jalla menguji makhluk dengan sesamanya. Dia menguji mukmin dengan kafir, sebagaimana juga menguji kafir dengan mukmin. Semua makhluk mendapat ujian semacam ini.

Allah azza wa jalla berfirman, “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. al-Mulk: 1-2).

Muslim meriwayatkan dari Nabi kita shallallahu alaihi wasallam mengenai yang diriwayatkannya dari Rabbnya azza wa jalla, “Hanyasanya Aku mengutusmu untuk mengujimu dan menguji denganmu.”

Yang kita ketahui dari al-Qur’an dan Sunnah bahwa diantara para nabi ada yang disiksa dan dibunuh oleh musuh-musuhnya seperti Yahya alaihis salam. Ada juga yang kaumnya berkehendak membunuhnya sehingga terpaksalah ia kabur menyelamatkan dirinya seperti Ibrahim alaihis salam yang berhijrah ke Syam dan Isa alaihis salam yang diangkat ke langit. Diantara orang-orang mukmin juga ada yang tertimpa ujian berat. Ada yang dicampakkan ke parit yang menyala-nyala, ada yang menjadi syahid, ada yang sengsara lagi terancam hidupnya. Maka dimanakah janji Allah akan kemenangan kepada mereka di dunia, padahal mereka terusir, terbunuh, atau disiksa?

Ujian adalah ketentuan Allah atas seluruh makhluknya. Namun beratnya bertambah ketika menimpa orang-orang pilihan yang mendapatkan naungan Allah, khususnya para mujahidin. Mereka pasti akan menempuh madrasah ujian. Mereka pasti akan menerima pelajaran tamhish (seleksi), tahdzib (pemurnian), dan tarbiyah.

Disebutkan dalam Shahihain dari Saad bin Abi Waqqash radhiyallahu anhu berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah yang paling berat ujiannya?' Sabdanya, ‘Para nabi, kemudian orang-orang shalih dan lalu selanjutnya. Seseorang itu diuji sesuai kadar dinnya. Jika agamanya itu kokoh maka ujiannya akan ditambah. Jika diennya itu lunak maka ujiannya akan diringankan. Ujian akan terus menimpa seorang mukmin sampai ia berjalan di muka bumi tanpa dibebani kesalahannya’.”

Baihaqi meriwayatkan dalam Syu’abul Iman, ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabir, dan Ibnu Saad dalam at-Thabaqat dari Abdullah bin Iyas bin Abi Fathimah dari ayahnya dari kakeknya berkata, “Suatu kali aku sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu beliau bersabda, ‘Siapa yang ingin sehat terus tanpa terkena sakit?' Kami menjawab, ‘Tentu kami wahai Rasulullah'. ‘Apa?' Kata beliau. Kami melihat wajahnya berubah. Beliau lalu bertanya, ‘Apa kalian ingin menjadi seperti keledai buas?' Mereka menjawab, ‘Wahai Rasulullah, tentu tidak'. Beliau bertanya, ‘Tidakkah kalian ingin menjadi orang-orang yang selalu diuji dan dihapuskan dosanya?' Mereka menjawab, ‘Tentu wahai Rasulullah'. Maka beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Demi Allah, sesungguhnya Allah betul-betul akan menguji seorang mukmin. Tidaklah Dia mengujinya kecuali karena hendak memuliakannya. Si mukmin di sisi Allah mempunyai kedudukan yang tidak bisa diraih hanya dengan amalnya saja, maka ujian ditimpakan padanya sampai ia bisa meraih kedudukan itu’.”

Tirmidzi meriwayatkan dari Jabir radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Orang-orang yang sentosa di dunia di hari kiamat benar-benar berharap kulit mereka diiris-iris dengan pisau lantaran melihat ganjaran yang didapatkan orang-orang yang terkena ujian.”

Dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam beliau bersabda, “Pada hari kiamat nanti akan didatangkan orang yang paling sentosa hidupnya di dunia. Allah azza wa jalla berfirman, ‘Celupkanlah ia ke neraka secelupan saja’. Kemudian dia dihadapkan dan ditanya, ‘Wahai anak Adam, apakah kamu dapati nikmat sekecil apapun itu? Apakah kamu melihat hal yang sedap dipandang? Apakah kamu mendapati kebahagiaan?' Jawabnya, ‘Tidak, demi kemuliaan-Mu.’ Kemudian Allah berfirman, ‘Campakkan dia ke neraka.’ Lalu dihadapkan orang yang paling sengsara hidupnya di dunia. Allah azza wa jalla lalu berfirman, ‘Celupkanlah ia ke surga secelupan saja.’ Lalu kemudian dia dihadapkan lagi dan ditanya, ‘Wahai anak Adam, apakah kamu melihat sesuatupun yang kamu benci?' Jawabnya, ‘Tidak, demi kemuliaan-Mu, aku tidak mendapati sesuatupun yang aku benci’.”

Syaqiq al-Balkhi berkata, “Barangsiapa melihat ganjaran lantaran ujian tentu ia tidak akan ingin terlepas darinya.”

Allah azza wa jalla mensyariatkan jihad sebagai penyempurna syariat-syariat agama ini. Dia angkat kedudukan jihad hingga menjadi puncaknya kewajiban-kewajiban Rabbani. Dia jadikan jihad diliputi ujian yang dibenci oleh jiwa dan ditakuti oleh watak. Kemudian didekatkan-Nya dan dijadikan-Nya bagian dari intinya iman dan mutiara tauhid. Maka tidak ada yang mencintai, mendekati, dan mencarinya kecuali orang yang jujur imannya lagi kuat pengetahuannya.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. al-Hujurat: 15).

Jihad pada hakikatnya berdiri di atas jiwa yang mengkilap lagi berserah diri kepada Rabb dan penciptanya. Ia laksanakan perintah-Nya. Ia meyakini dan berusaha meraih janji-janji-Nya. Hal ini tidak akan terjadi kecuali jika jalan ini diliputi dengan ujian dan rintangan. Oleh karena itu, Allah azza wa jalla berfirman, “Apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Allah akan memberi pimpinan kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka dan memasukkan mereka ke dalam jannah yang telah diperkenankan-Nya kepada mereka.” (QS. Muhammad: 4-6).

Dia juga berfirman, “Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (QS. al-Baqarah: 253).

Ibnu Katsir berkata mengenai tafsir ayat ini, “Yakni bahwa haruslah terjadi sebuah ujian yang akan menampakkan wali-Nya dan menyingkap musuh-Nya. Dengannya diketahui mana mukmin yang bersabar dan mana munafik yang fajir. Yaitu pada Perang Uhud. Allah menguji orang-orang beriman sehingga muncullah keimanan, kesabaran, kekuatan, keteguhan, dan ketaatan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam. Pada Perang Uhud pula Dia bongkar topeng orang-orang munafik hingga terlihat keengganan mereka dari berjihad dan pengkhianatan mereka atas Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam.”

Perhatikanlah, wahai hamba Allah, firman-Nya azza wa jalla, “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. alHajj: 11).

Imam al-Baghawi meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, “Dahulu ada badui yang beriman kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Jika setelah masuk Islam ia dikaruniai keturunan yang banyak dan hartanya melimpah maka dia berkata bahwa ini adalah agama yang bagus. Dia lalu beriman dan tetap teguh. Namun jika setelah masuk Islam ia tidak dikaruniai keturunan, hartanya tidak bertambah melimpah malah tertimpa paceklik maka dia berkata ini agama yang buruk. Kemudian dia kembali kafir dan menentang.”

Penulis Fi Zhilalil Qur’an berkata, “Jiwa itu harus mengalami didikan dengan cobaan. Kekukuhan untuk terus berjuang demi kebenaran itu harus diuji. Dengan rasa takut, situasi genting, rasa lapar, kurangnya harta, hilangnya jiwa, dan hancurnya sumber pangan. Orang-orang mukmin harus mengalami ujian agar mereka mampu menanggung harga mahal akidah. Sehingga mereka tahu bahwa akidah yang tertanam dalam jiwa mereka itu sesuai dengan pengorbanan yang mereka bayar, yang tak mungkin dihindari ketika terjadi benturan pertama. Pengorbanan ini berupa sesuatu yang berharga yang membuat akidah itu tertanam kuat dalam jiwa pemeluknya terlebih dahulu sebelum tertanam dalam jiwa lainnya. Tiap kali penderitaan mereka bertambah dan tiap kali mereka berkorban demi akidah itu maka semakin dalam mengakar dalam jiwa mereka membuat mereka makin pantas. Orang lain juga tidak akan mengerti nilai dari akidah itu kecuali setelah melihat ujian yang menimpa pemeluknya dan kesabaran mereka. Ujian juga merupakan keharusan demi mengokohkan dan menguatkan pemeluk akidah itu. Musibah-musibah itu menyerang inti kekuatan dan upaya yang terpendam hingga menciptakan celah dan retakan dalam hati yang tidak mungkin dirasakan oleh seorang mukmin kecuali dalam himpitan ujian.”

Imam Syafi’i rahimahullah ditanya, “Mana yang lebih baik bagi seorang mukmin, diuji atau diberi kekuasaan?" Jawabnya, “Celaka kamu, bukankah kekuasaan itu didapat setelah ujian?"

Dari Shafwan bin Umar ia berkata, “Dahulu aku menjadi gubernur Himsh (Homs). Aku pernah mendapati seorang lelaki renta penduduk Damaskus yang alisnya telah memanjang sedang duduk di atas tunggangannya hendak ikut berperang. Maka aku berkata, ‘Wahai paman, Allah telah memberi udzur padamu.’ Maka dia mengangkat alisnya dan menjawab, ‘Wahai anak saudaraku, Allah telah memerintahkan kita untuk berperang dalam keadaan lapang dan sempit’.”

Ketahuilah wahai yang dicintai Allah dan diuji-Nya.
Bersabarlah atas hari-hari genting
Setelahnya akan ada kebahagiaan
Tiada bersabar kecuali orang-orang mulia
Sebentar lagi Allah akan membukakan jalan
Ketika itulah engkau akan terbebas dari letihmu

Penulis Fi Zhilal Qur’an berkata, “Iman bukanlah sekedar kata-kata belaka yang terucap. Ada hakikat dan harganya. Iman adalah amanat yang berat, jihad yang membutuhkan kesabaran, dan kesungguhan yang membutuhkan ketangguhan. Manusia tidak cukup hanya berkata kami beriman lalu dibiarkan begitu saja dengan klaimnya itu. Mereka harus menghadapi fitnah. Dengan fitnah itu akan membuktikan keteguhan mereka hingga mereka lulus dengan hati yang bersih dan unsur yang suci. Layaknya api yang menempa emas sehingga terlepaslah unsur-unsur yang mengotorinya. Itu juga merupakan makna kalimat fitnah secara bahasa, dan demikianlah isyarat serta indikasi yang ditunjukkannya. Demikian jugalah pengaruh fitnah kepada hati. Fitnah atas keimanan ini adalah sebuah kaidah tetap dan sunnah yang berjalan dalam timbangan Allah azza wa jalla, “Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orangorang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. al-Ankabut: 3). Iman adalah amanat Allah di bumi-Nya. Pemikulnya adalah orang yang benar-benar pantas. Mereka memang mampu dan hatinya dipenuhi pengorbanan dan keikhlasan. Orang-orang yang lebih memilih kenyamanan, rasa aman dan sentosa, serta indahnya perhiasan dunia tak akan mampu memikulnya. Karena ini adalah amanat khilafah di bumi-Nya. Ini adalah amanat memimpin manusia menuju jalan Allah dan mewujudkan kalimat-Nya dalam alam kehidupan ini. Ini adalah amanat mulia, dan juga amanat yang berat. Ini adalah perintah Allah. Manusia harus menguatkan dirinya untuk melaksanakannya. Maka dari itu ia membutuhkan sikap khusus yang bisa tetap kokoh ketika diterpa ujian.”

Hendaknya sekelompok prajurit yang menempuh jalan jihad fi sabilillah itu menyadari karakteristik dan konsekuensi pertempuran ini. Jalan yang ditempuh ini sampai pada tujuan yang diinginkannya itu harus dimuluskan dengan darah pandeganya. Hendaknya mereka menyadari bahwa jalan ini berakibat hilangnya orang-orang tercinta dan para sahabat serta terusir dari tanah tumpah darah. Sebagaimana para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam merasakan pahitnya hijrah, hilangnya harta, keluarga, dan tanah kelahiran semuanya di jalan Allah sekalipun mereka adalah sebaik-baik makhluk setelah para nabi, lalu bagaimana halnya dengan kita?

Tidak ada pilihan bagi sekelompok kecil ini kecuali bersabar pada jalan yang ditempuhnya. Hendaknya ia terus menapaki jalannya itu. Hendaknya ia berharap pahala kepada Allah melaui apa yang menimpanya berupa kehilangan pemimpin dan sahabat. Hendaknya ia menyadari bahwa itu adalah sunnatullah azza wa jalla. Hendaknya ia mengetahui bahwa Allah telah memilih hamba-hamba-Nya yang shalih dari ummat ini. Hendaknya ia tidak meminta pertolongan Allah disegerakan karena sesungguhnya pertolongan-Nya pasti datang.

Hendaknya seorang muslim mengetahui bahwa mengikuti kebenaran dan bersabar di atasnya adalah jalan kemenangan tersingkat betapapun panjangnya dan banyaknya rintangan yang dihadapinya. Ia harus menyadari bahwa menyimpang dari kebenaran hanya akan membuahkan pembelotan. Jalan yang mudah dan kemenangan yang terlihat dekat hakikatnya adalah fatamorgana. Allah azza wa jalla berfirman, “Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertaqwa.” (QS. al-An’am: 153).

Inilah jihad. Puncak dan buah yang datang setelah kesabaran panjang dan berdiri lama di tengah medan tempur menunggu serbuan musuh dan menahan gempurannya. Penantian selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun terus menerus. Jika engkau tidak merasakan kepedihan seperti ini maka Allah tidak akan membuka pintu kemenangan untukmu, karena kemenangan itu bersama kesabaran. Ibnu Taimiyah telah berkata, “Kepemimpinan dalam Dien ini hanya diraih dengan kesabaran dan yakin.”

Konsep kebenaran dan kejujuran akidah serta tauhid itu tak lebih dari boneka tak bernyawa dalam dunia khayalan kecuali jika didukung oleh orangorang yang jujur lagi sabar. Mereka tanggung beban beban perjalanan yang teramat berat ini hingga siksa terasa indah dan letih terasa manis. Mereka tidak rela kecuali kematian demi hidupnya konsep ini dan beraksi dalam dunia nyata. Bukan sebagaimana diangankan oleh sebagian orang yang ingin menyulam konsep ini dengan benang emas dalam sebuah teori filsafat, atau pidato-pidato yang menggaung namun jauh dari ruh amal, kejujuran, dan praktek.

Sungguh Islam pada hari ini amat membutuhkan lelaki-lelaki jujur lagi sabar, bersegera untuk bersungguh-sungguh, menikmati rasa letih, dan beristirahat dengan rasa lelah. Dengan diam mereka terjemahkan tuntutan-tuntutan tahapan demi tahapan. Lelaki-lelaki pemilik jiwa yang jujur, semangat yang tinggi, dan azam yang kuat. Lelaki-lelaki yang tidak memahami kecuali siap mendengar dan melaksanakan perintah tanpa patah semangat, bosan, dan tak perlu berdebat. Maka singsingkanlah lengan bajumu untuk beraksi dan bersabarlah atas kepayahan dan beratnya perjalanan. Dikatakan bahwa, “Sungguh lemahlah siapa yang tidak menyiapkan kesabaran untuk menghadapi ujian, rasa syukur untuk setiap nikmat, dan yang tidak mengerti bahwa di tiap kesulitan ada kemudahan.”

Oh wahai jiwa, semangat ini telah memuncak
Menuju surga di bawah naungan pohon Tuba
Menuju bidadari yang tunduk pandangannya
Nikmat abadi dan nyanyian yang merasuk kalbu
Menuju kandil-kandil emas yang tergantung pada ‘Arasy Rabbku
Bagi orang-orang yang terbunuh dan tiadalah mereka mati

Allah azza wa jalla berfirman, “Dan mereka tiada menafkah- kan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula) karena Allah akan memberi balasan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. at-Taubah: 121).

Imam ath-Thabari meriwayatkan dari Qotadah mengenai tafsir ayat ini, “Tidaklah suatu kaum bertambah jauh jaraknya di jalan Allah dari keluarga mereka kecuali mereka bertambah dekat kepada Allah.”

Maka perkara ini adalah di tangan Allah sebelum dan sesudahnya. Kita hanyalah hamba-Nya azza wa jalla yang sedang berusaha mewujudkan penghambaan kepada-Nya. Diantara kesempurnaan ibadah pada-Nya adalah bahwa kita mengetahui dan meyakini dengan pasti tanpa ragu bahwa janji Allah itu pasti akan terwujud. Namun kita tidak mengerti hakikatnya karena suatu hikmah yang hanya diketahui Allah. Terkadang terlambatnya pertolongan itu sebagai bentuk ujian dan cobaan. Mahabenar Allah Yang Mahaagung, “Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (QS. ar-Rum: 47).

Dia Yang Mahasuci telah menjanjikan pertolongan kepada hamba-hamba-Nya para muwahhid. Dia berikan kekuasaan pada orang-orang yang sabar. Dia kabarkan bahwa kemenangan, kekuasaan, dan kekuatan yang diraih oleh umat-umat terdahulu adalah karena seluruh kesabaran dan ketawakalan mereka kepada-Nya, sebagamana firman-Nya, “Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir´aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.” (QS. al-A’raf: 137).

Allah mengabarkan bahwa kemuliaan dan kekuasaan yang diperoleh nabi-Nya Yusuf setelah keterasingan dan kejadian yang dialaminya dalam istana al‘Aziz adalah buah dari kesabaran dan ketaqwaannya, “Sesungguhnya barang siapa yang bertaqwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik” (QS. Yusuf: 90).

Dia azza wa jalla juga menghubungkan kemenangan dengan kesabaran dalam firman-Nya, “Hai orangorang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imran: 200).

Dia azza wa jalla juga menyebutkan bahwa kesudahan yang baik di dunia adalah bagi orang-orang sabar dan bertaqwa, “Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Hud: 49).

Kita mengerti dengan yakin bahwa janji Allah itu selamanya tidak akan terlambat. Persoalannya adalah pandangan kita terbatas pada salah satu macamnya saja yaitu kemenangan dan kekuasaan. Belum tentu itulah kemenangan yang dijanjikan-Nya pada para nabi, rasul, dan hamba-hamba-Nya yang beriman. Terkadang kemenangan terwujud dalam bentuk lain yang tidak disadari jiwa yang lemah dan rapuh.