Rabu, 25 April 2018

DEMIKIANLAH PARA RASUL ITU DIUJI, LALU DIBERI KEMENANGAN (BAGIAN 1)

RUMIYAH 8 - ARTIKEL

DEMIKIANLAH PARA RASUL ITU DIUJI, LALU DIBERI KEMENANGAN (BAGIAN 1)
SYAIKH ABU MUSHAB AL-ZARQAWI TAQABBALAHULLAH

Bismillahirrahmanirrahim.
“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi. Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. al-Ankabut: 1-3).

Segala puji bagi Allah, yang memuliakan Islam dengan pertolongan-Nya dan yang menghinakan kesyirikan dengan kuasa-Nya. Dia Yang Maha Berkuasa dengan segala perintah-Nya. Dia yang menghancurkan orang-orang kafir dengan makar-Nya. Dia yang mempergilirkan hari demi hari dengan keadilan-Nya. Dia yang menjadikan akhir yang baik untuk orang-orang bertaqwa dengan anugerah-Nya. Shalawat dan salam kepada Nabi yang dengan pedangnya Allah meninggikan menara Islam. Amma ba’du.

Inilah tetesan air mata baru yang ku kirim melalui untaian kalimat …
Inilah denyut pedih yang ku keluarkan dari lubuk hati terdalam melalui tiap helaan nafas …

Dari seorang prajurit di tengah riuh pertempuran dan denting pedang bersahutan …
Dari Abu Mush’ab az-Zarqawi kepada siapapun pemilik sikap kesatria.

Kepedihan ummat yang memprihatinkan terus menerus menyergapku. Siluet ummat yang terluka tak pernah lepas dari benakku. Ummat mulia lagi agung, namun tangan-tangan khianat telah menimpakan berbagai macam keburukan; bantalnya adalah kehinaan, minumannya adalah cangkir-cangkir kekalahan dan khianat, dilumpuhkan dari fungsi dan kewajibannya, serta dirintangi dari impian dan cita-citanya.

Penyakit telah menjangkiti seluruh tubuhnya. Lalu kemudian dihempaskan ke tanah dan tubuhnya diikat erat. Serigala-serigala kelaparan dan binatang buas mengerubutinya. Hingga seluruh tubuhnya tercabik-cabik di antara paruh dan taring.

Inilah sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud dari Tsauban radhiyallahu anhu berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Hampir-hampir bangsa-bangsa dari berbagai penjuru mengerubuti kalian layaknya orang-orang mengerubuti hidangan di atas meja.’ Kami bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah karena jumlah kita sedikit? Jawabnya, ‘Kalian ketika itu berjumlah banyak namun tak lebih seperti buih. Rasa gentar dicabut dari hati musuh kalian dan hati kalian terjangkiti wahn.’ Kami bertanya, ‘Apa itu wahn? Sabdanya, ‘Cinta hidup dan benci mati.’ Dalam riwayat Ahmad, ‘Kalian membenci perang'."

Ketahuilah wahai ummat Islam, ujian adalah sebuah kisah dan sejarah panjang sejak turunnya La ilaha illallah ke bumi ini. Diujilah karenanya para nabi, orang-orang jujur, dan para imam muwahhid. Barangsiapa mengorbankan dirinya untuk memikul kalimat La ilaha illallah, menolong dan menegakkannya di muka bumi maka hendaknya dia bersiap untuk membayar harga mahal kemuliaan itu berupa rasa letih, ujian, dan bencana.

Dimanakah dirimu?

Jalan ini adalah jalan yang melelahkan Adam dan membuat Nuh mengeluh. Di jalan ini Sang Kekasih Allah dicampakkan ke kobaran api, Isma’il dibaringkan untuk disembelih, Yusuf dijual dengan harga murah dan terperangkap dalam penjara selama beberapa waktu. Di jalan ini Zakaria digergaji hingga terbelah, Yahya disembelih, Ayub tertimpa penyakit, Dawud menangis terus menerus, Isa terpaksa hidup dengan binatang buas, dan Muhammad shallallahu alaihi wasallam tertimpa kemiskinan dan segala macam gangguan. Sedangkan engkau malah bergelimang senda gurau dan permainan?

Allah azza wa jalla menguji makhluk dengan sesamanya. Dia menguji mukmin dengan kafir, sebagaimana juga menguji kafir dengan mukmin. Semua makhluk mendapat ujian semacam ini.

Allah azza wa jalla berfirman, “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. al-Mulk: 1-2).

Muslim meriwayatkan dari Nabi kita shallallahu alaihi wasallam mengenai yang diriwayatkannya dari Rabbnya azza wa jalla, “Hanyasanya Aku mengutusmu untuk mengujimu dan menguji denganmu.”

Yang kita ketahui dari al-Qur’an dan Sunnah bahwa diantara para nabi ada yang disiksa dan dibunuh oleh musuh-musuhnya seperti Yahya alaihis salam. Ada juga yang kaumnya berkehendak membunuhnya sehingga terpaksalah ia kabur menyelamatkan dirinya seperti Ibrahim alaihis salam yang berhijrah ke Syam dan Isa alaihis salam yang diangkat ke langit. Diantara orang-orang mukmin juga ada yang tertimpa ujian berat. Ada yang dicampakkan ke parit yang menyala-nyala, ada yang menjadi syahid, ada yang sengsara lagi terancam hidupnya. Maka dimanakah janji Allah akan kemenangan kepada mereka di dunia, padahal mereka terusir, terbunuh, atau disiksa?

Ujian adalah ketentuan Allah atas seluruh makhluknya. Namun beratnya bertambah ketika menimpa orang-orang pilihan yang mendapatkan naungan Allah, khususnya para mujahidin. Mereka pasti akan menempuh madrasah ujian. Mereka pasti akan menerima pelajaran tamhish (seleksi), tahdzib (pemurnian), dan tarbiyah.

Disebutkan dalam Shahihain dari Saad bin Abi Waqqash radhiyallahu anhu berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah yang paling berat ujiannya?' Sabdanya, ‘Para nabi, kemudian orang-orang shalih dan lalu selanjutnya. Seseorang itu diuji sesuai kadar dinnya. Jika agamanya itu kokoh maka ujiannya akan ditambah. Jika diennya itu lunak maka ujiannya akan diringankan. Ujian akan terus menimpa seorang mukmin sampai ia berjalan di muka bumi tanpa dibebani kesalahannya’.”

Baihaqi meriwayatkan dalam Syu’abul Iman, ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabir, dan Ibnu Saad dalam at-Thabaqat dari Abdullah bin Iyas bin Abi Fathimah dari ayahnya dari kakeknya berkata, “Suatu kali aku sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu beliau bersabda, ‘Siapa yang ingin sehat terus tanpa terkena sakit?' Kami menjawab, ‘Tentu kami wahai Rasulullah'. ‘Apa?' Kata beliau. Kami melihat wajahnya berubah. Beliau lalu bertanya, ‘Apa kalian ingin menjadi seperti keledai buas?' Mereka menjawab, ‘Wahai Rasulullah, tentu tidak'. Beliau bertanya, ‘Tidakkah kalian ingin menjadi orang-orang yang selalu diuji dan dihapuskan dosanya?' Mereka menjawab, ‘Tentu wahai Rasulullah'. Maka beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Demi Allah, sesungguhnya Allah betul-betul akan menguji seorang mukmin. Tidaklah Dia mengujinya kecuali karena hendak memuliakannya. Si mukmin di sisi Allah mempunyai kedudukan yang tidak bisa diraih hanya dengan amalnya saja, maka ujian ditimpakan padanya sampai ia bisa meraih kedudukan itu’.”

Tirmidzi meriwayatkan dari Jabir radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Orang-orang yang sentosa di dunia di hari kiamat benar-benar berharap kulit mereka diiris-iris dengan pisau lantaran melihat ganjaran yang didapatkan orang-orang yang terkena ujian.”

Dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam beliau bersabda, “Pada hari kiamat nanti akan didatangkan orang yang paling sentosa hidupnya di dunia. Allah azza wa jalla berfirman, ‘Celupkanlah ia ke neraka secelupan saja’. Kemudian dia dihadapkan dan ditanya, ‘Wahai anak Adam, apakah kamu dapati nikmat sekecil apapun itu? Apakah kamu melihat hal yang sedap dipandang? Apakah kamu mendapati kebahagiaan?' Jawabnya, ‘Tidak, demi kemuliaan-Mu.’ Kemudian Allah berfirman, ‘Campakkan dia ke neraka.’ Lalu dihadapkan orang yang paling sengsara hidupnya di dunia. Allah azza wa jalla lalu berfirman, ‘Celupkanlah ia ke surga secelupan saja.’ Lalu kemudian dia dihadapkan lagi dan ditanya, ‘Wahai anak Adam, apakah kamu melihat sesuatupun yang kamu benci?' Jawabnya, ‘Tidak, demi kemuliaan-Mu, aku tidak mendapati sesuatupun yang aku benci’.”

Syaqiq al-Balkhi berkata, “Barangsiapa melihat ganjaran lantaran ujian tentu ia tidak akan ingin terlepas darinya.”

Allah azza wa jalla mensyariatkan jihad sebagai penyempurna syariat-syariat agama ini. Dia angkat kedudukan jihad hingga menjadi puncaknya kewajiban-kewajiban Rabbani. Dia jadikan jihad diliputi ujian yang dibenci oleh jiwa dan ditakuti oleh watak. Kemudian didekatkan-Nya dan dijadikan-Nya bagian dari intinya iman dan mutiara tauhid. Maka tidak ada yang mencintai, mendekati, dan mencarinya kecuali orang yang jujur imannya lagi kuat pengetahuannya.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. al-Hujurat: 15).

Jihad pada hakikatnya berdiri di atas jiwa yang mengkilap lagi berserah diri kepada Rabb dan penciptanya. Ia laksanakan perintah-Nya. Ia meyakini dan berusaha meraih janji-janji-Nya. Hal ini tidak akan terjadi kecuali jika jalan ini diliputi dengan ujian dan rintangan. Oleh karena itu, Allah azza wa jalla berfirman, “Apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Allah akan memberi pimpinan kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka dan memasukkan mereka ke dalam jannah yang telah diperkenankan-Nya kepada mereka.” (QS. Muhammad: 4-6).

Dia juga berfirman, “Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (QS. al-Baqarah: 253).

Ibnu Katsir berkata mengenai tafsir ayat ini, “Yakni bahwa haruslah terjadi sebuah ujian yang akan menampakkan wali-Nya dan menyingkap musuh-Nya. Dengannya diketahui mana mukmin yang bersabar dan mana munafik yang fajir. Yaitu pada Perang Uhud. Allah menguji orang-orang beriman sehingga muncullah keimanan, kesabaran, kekuatan, keteguhan, dan ketaatan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam. Pada Perang Uhud pula Dia bongkar topeng orang-orang munafik hingga terlihat keengganan mereka dari berjihad dan pengkhianatan mereka atas Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam.”

Perhatikanlah, wahai hamba Allah, firman-Nya azza wa jalla, “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. alHajj: 11).

Imam al-Baghawi meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, “Dahulu ada badui yang beriman kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Jika setelah masuk Islam ia dikaruniai keturunan yang banyak dan hartanya melimpah maka dia berkata bahwa ini adalah agama yang bagus. Dia lalu beriman dan tetap teguh. Namun jika setelah masuk Islam ia tidak dikaruniai keturunan, hartanya tidak bertambah melimpah malah tertimpa paceklik maka dia berkata ini agama yang buruk. Kemudian dia kembali kafir dan menentang.”

Penulis Fi Zhilalil Qur’an berkata, “Jiwa itu harus mengalami didikan dengan cobaan. Kekukuhan untuk terus berjuang demi kebenaran itu harus diuji. Dengan rasa takut, situasi genting, rasa lapar, kurangnya harta, hilangnya jiwa, dan hancurnya sumber pangan. Orang-orang mukmin harus mengalami ujian agar mereka mampu menanggung harga mahal akidah. Sehingga mereka tahu bahwa akidah yang tertanam dalam jiwa mereka itu sesuai dengan pengorbanan yang mereka bayar, yang tak mungkin dihindari ketika terjadi benturan pertama. Pengorbanan ini berupa sesuatu yang berharga yang membuat akidah itu tertanam kuat dalam jiwa pemeluknya terlebih dahulu sebelum tertanam dalam jiwa lainnya. Tiap kali penderitaan mereka bertambah dan tiap kali mereka berkorban demi akidah itu maka semakin dalam mengakar dalam jiwa mereka membuat mereka makin pantas. Orang lain juga tidak akan mengerti nilai dari akidah itu kecuali setelah melihat ujian yang menimpa pemeluknya dan kesabaran mereka. Ujian juga merupakan keharusan demi mengokohkan dan menguatkan pemeluk akidah itu. Musibah-musibah itu menyerang inti kekuatan dan upaya yang terpendam hingga menciptakan celah dan retakan dalam hati yang tidak mungkin dirasakan oleh seorang mukmin kecuali dalam himpitan ujian.”

Imam Syafi’i rahimahullah ditanya, “Mana yang lebih baik bagi seorang mukmin, diuji atau diberi kekuasaan?" Jawabnya, “Celaka kamu, bukankah kekuasaan itu didapat setelah ujian?"

Dari Shafwan bin Umar ia berkata, “Dahulu aku menjadi gubernur Himsh (Homs). Aku pernah mendapati seorang lelaki renta penduduk Damaskus yang alisnya telah memanjang sedang duduk di atas tunggangannya hendak ikut berperang. Maka aku berkata, ‘Wahai paman, Allah telah memberi udzur padamu.’ Maka dia mengangkat alisnya dan menjawab, ‘Wahai anak saudaraku, Allah telah memerintahkan kita untuk berperang dalam keadaan lapang dan sempit’.”

Ketahuilah wahai yang dicintai Allah dan diuji-Nya.
Bersabarlah atas hari-hari genting
Setelahnya akan ada kebahagiaan
Tiada bersabar kecuali orang-orang mulia
Sebentar lagi Allah akan membukakan jalan
Ketika itulah engkau akan terbebas dari letihmu

Penulis Fi Zhilal Qur’an berkata, “Iman bukanlah sekedar kata-kata belaka yang terucap. Ada hakikat dan harganya. Iman adalah amanat yang berat, jihad yang membutuhkan kesabaran, dan kesungguhan yang membutuhkan ketangguhan. Manusia tidak cukup hanya berkata kami beriman lalu dibiarkan begitu saja dengan klaimnya itu. Mereka harus menghadapi fitnah. Dengan fitnah itu akan membuktikan keteguhan mereka hingga mereka lulus dengan hati yang bersih dan unsur yang suci. Layaknya api yang menempa emas sehingga terlepaslah unsur-unsur yang mengotorinya. Itu juga merupakan makna kalimat fitnah secara bahasa, dan demikianlah isyarat serta indikasi yang ditunjukkannya. Demikian jugalah pengaruh fitnah kepada hati. Fitnah atas keimanan ini adalah sebuah kaidah tetap dan sunnah yang berjalan dalam timbangan Allah azza wa jalla, “Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orangorang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. al-Ankabut: 3). Iman adalah amanat Allah di bumi-Nya. Pemikulnya adalah orang yang benar-benar pantas. Mereka memang mampu dan hatinya dipenuhi pengorbanan dan keikhlasan. Orang-orang yang lebih memilih kenyamanan, rasa aman dan sentosa, serta indahnya perhiasan dunia tak akan mampu memikulnya. Karena ini adalah amanat khilafah di bumi-Nya. Ini adalah amanat memimpin manusia menuju jalan Allah dan mewujudkan kalimat-Nya dalam alam kehidupan ini. Ini adalah amanat mulia, dan juga amanat yang berat. Ini adalah perintah Allah. Manusia harus menguatkan dirinya untuk melaksanakannya. Maka dari itu ia membutuhkan sikap khusus yang bisa tetap kokoh ketika diterpa ujian.”

Hendaknya sekelompok prajurit yang menempuh jalan jihad fi sabilillah itu menyadari karakteristik dan konsekuensi pertempuran ini. Jalan yang ditempuh ini sampai pada tujuan yang diinginkannya itu harus dimuluskan dengan darah pandeganya. Hendaknya mereka menyadari bahwa jalan ini berakibat hilangnya orang-orang tercinta dan para sahabat serta terusir dari tanah tumpah darah. Sebagaimana para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam merasakan pahitnya hijrah, hilangnya harta, keluarga, dan tanah kelahiran semuanya di jalan Allah sekalipun mereka adalah sebaik-baik makhluk setelah para nabi, lalu bagaimana halnya dengan kita?

Tidak ada pilihan bagi sekelompok kecil ini kecuali bersabar pada jalan yang ditempuhnya. Hendaknya ia terus menapaki jalannya itu. Hendaknya ia berharap pahala kepada Allah melaui apa yang menimpanya berupa kehilangan pemimpin dan sahabat. Hendaknya ia menyadari bahwa itu adalah sunnatullah azza wa jalla. Hendaknya ia mengetahui bahwa Allah telah memilih hamba-hamba-Nya yang shalih dari ummat ini. Hendaknya ia tidak meminta pertolongan Allah disegerakan karena sesungguhnya pertolongan-Nya pasti datang.

Hendaknya seorang muslim mengetahui bahwa mengikuti kebenaran dan bersabar di atasnya adalah jalan kemenangan tersingkat betapapun panjangnya dan banyaknya rintangan yang dihadapinya. Ia harus menyadari bahwa menyimpang dari kebenaran hanya akan membuahkan pembelotan. Jalan yang mudah dan kemenangan yang terlihat dekat hakikatnya adalah fatamorgana. Allah azza wa jalla berfirman, “Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertaqwa.” (QS. al-An’am: 153).

Inilah jihad. Puncak dan buah yang datang setelah kesabaran panjang dan berdiri lama di tengah medan tempur menunggu serbuan musuh dan menahan gempurannya. Penantian selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun terus menerus. Jika engkau tidak merasakan kepedihan seperti ini maka Allah tidak akan membuka pintu kemenangan untukmu, karena kemenangan itu bersama kesabaran. Ibnu Taimiyah telah berkata, “Kepemimpinan dalam Dien ini hanya diraih dengan kesabaran dan yakin.”

Konsep kebenaran dan kejujuran akidah serta tauhid itu tak lebih dari boneka tak bernyawa dalam dunia khayalan kecuali jika didukung oleh orangorang yang jujur lagi sabar. Mereka tanggung beban beban perjalanan yang teramat berat ini hingga siksa terasa indah dan letih terasa manis. Mereka tidak rela kecuali kematian demi hidupnya konsep ini dan beraksi dalam dunia nyata. Bukan sebagaimana diangankan oleh sebagian orang yang ingin menyulam konsep ini dengan benang emas dalam sebuah teori filsafat, atau pidato-pidato yang menggaung namun jauh dari ruh amal, kejujuran, dan praktek.

Sungguh Islam pada hari ini amat membutuhkan lelaki-lelaki jujur lagi sabar, bersegera untuk bersungguh-sungguh, menikmati rasa letih, dan beristirahat dengan rasa lelah. Dengan diam mereka terjemahkan tuntutan-tuntutan tahapan demi tahapan. Lelaki-lelaki pemilik jiwa yang jujur, semangat yang tinggi, dan azam yang kuat. Lelaki-lelaki yang tidak memahami kecuali siap mendengar dan melaksanakan perintah tanpa patah semangat, bosan, dan tak perlu berdebat. Maka singsingkanlah lengan bajumu untuk beraksi dan bersabarlah atas kepayahan dan beratnya perjalanan. Dikatakan bahwa, “Sungguh lemahlah siapa yang tidak menyiapkan kesabaran untuk menghadapi ujian, rasa syukur untuk setiap nikmat, dan yang tidak mengerti bahwa di tiap kesulitan ada kemudahan.”

Oh wahai jiwa, semangat ini telah memuncak
Menuju surga di bawah naungan pohon Tuba
Menuju bidadari yang tunduk pandangannya
Nikmat abadi dan nyanyian yang merasuk kalbu
Menuju kandil-kandil emas yang tergantung pada ‘Arasy Rabbku
Bagi orang-orang yang terbunuh dan tiadalah mereka mati

Allah azza wa jalla berfirman, “Dan mereka tiada menafkah- kan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula) karena Allah akan memberi balasan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. at-Taubah: 121).

Imam ath-Thabari meriwayatkan dari Qotadah mengenai tafsir ayat ini, “Tidaklah suatu kaum bertambah jauh jaraknya di jalan Allah dari keluarga mereka kecuali mereka bertambah dekat kepada Allah.”

Maka perkara ini adalah di tangan Allah sebelum dan sesudahnya. Kita hanyalah hamba-Nya azza wa jalla yang sedang berusaha mewujudkan penghambaan kepada-Nya. Diantara kesempurnaan ibadah pada-Nya adalah bahwa kita mengetahui dan meyakini dengan pasti tanpa ragu bahwa janji Allah itu pasti akan terwujud. Namun kita tidak mengerti hakikatnya karena suatu hikmah yang hanya diketahui Allah. Terkadang terlambatnya pertolongan itu sebagai bentuk ujian dan cobaan. Mahabenar Allah Yang Mahaagung, “Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (QS. ar-Rum: 47).

Dia Yang Mahasuci telah menjanjikan pertolongan kepada hamba-hamba-Nya para muwahhid. Dia berikan kekuasaan pada orang-orang yang sabar. Dia kabarkan bahwa kemenangan, kekuasaan, dan kekuatan yang diraih oleh umat-umat terdahulu adalah karena seluruh kesabaran dan ketawakalan mereka kepada-Nya, sebagamana firman-Nya, “Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir´aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.” (QS. al-A’raf: 137).

Allah mengabarkan bahwa kemuliaan dan kekuasaan yang diperoleh nabi-Nya Yusuf setelah keterasingan dan kejadian yang dialaminya dalam istana al‘Aziz adalah buah dari kesabaran dan ketaqwaannya, “Sesungguhnya barang siapa yang bertaqwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik” (QS. Yusuf: 90).

Dia azza wa jalla juga menghubungkan kemenangan dengan kesabaran dalam firman-Nya, “Hai orangorang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imran: 200).

Dia azza wa jalla juga menyebutkan bahwa kesudahan yang baik di dunia adalah bagi orang-orang sabar dan bertaqwa, “Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Hud: 49).

Kita mengerti dengan yakin bahwa janji Allah itu selamanya tidak akan terlambat. Persoalannya adalah pandangan kita terbatas pada salah satu macamnya saja yaitu kemenangan dan kekuasaan. Belum tentu itulah kemenangan yang dijanjikan-Nya pada para nabi, rasul, dan hamba-hamba-Nya yang beriman. Terkadang kemenangan terwujud dalam bentuk lain yang tidak disadari jiwa yang lemah dan rapuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar