RUMIYAH 8 - ARTIKEL
NIKMAT SEHAT DAN UJIAN SAKIT
Allah azza wa jalla memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk menjaga diri mereka dari setiap hal menyakitkan dan membahayakannya. Menghalalkan segala hal yang bagus dan mengharamkan semua hal yang buruk dan najis yang membahayakan akal dan fisik mereka. Dia mengutus Nabi-Nya dengan manhaj Rabbani yang sempurna, yang mencakup seluruh perkara agama dan dunia. Sunnahnya penuh dengan berbagai macam anugerah Rabbani yang menjaga akal dan fisik seorang muslim.
Allah azza wa jalla berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” (QS. al-Araf: 157).
Imam ath-Thabari rahimahullah berkata, “Firman-Nya, ‘menghalalkan bagi mereka segala yang baik’, yakni seperti bahirah (unta betina yang telah beranak lima kali dan yang terakhir jan- tan), saibah (unta yang dibiarkan liar), washilah (anak domba berkelamin jantan dari sepasang kembar jantan dan betina), dan ham (unta jantan yang dibiarkan liar karena telah membuntingkan unta betina sepuluh kali) yang diharamkan oleh orang-orang jahiliyah, ‘dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk’ seperti daging babi, riba, dan yang mereka halalkan berupa makanan dan minuman yang Allah haramkan.”
Sehat Adalah Nikmat Yang Sering Dilupakan
Di antara nikmat yang dikaruniakan oleh Allah azza wa jalla kepada makhluk-Nya adalah nikmat kesehatan yang tidak diketahui kecuali mereka yang kehilangannya. Apapun yang dimilikinya rela dikorbankan demi mengobati dirinya dan mengembalikan kesehatannya sebisa mungkin.
Hadits Nabi, yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dan penulis kitab sunan lainnya, menyebutkan tentang nikmat sehat ini. Sabdanya shallallahu alaihi wasallam, “Barangsiapa merasa aman dalam rumahnya, sehat jasmaninya, memiliki makanan pokoknya pada hari itu maka seakan-akan ia memiki seluruh dunia”.
Imam Bukhari rahimahullah juga meriwayatkan dalam Shahihnya dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, berkata, “Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Dua nikmat yang dilupakan oleh banyak manusia adalah kesehatan dan waktu luang.’ Ibnu Bathal rahimahullah berkata mensyarah hadits agung ini, “Makna hadits ini ialah bahwa seseorang tidaklah dikatakan memiliki waktu luang hingga badannya juga sehat. Barangsiapa yang memiliki dua nikmat ini (yaitu waktu senggang dan nikmat sehat), hendaklah ia bersemangat. Jangan sampai ia tertipu dengan meninggalkan syukur pada Allah atas nikmat yang diberikan. Bersyukur adalah dengan melaksanakan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan Allah. Barangsiapa yang luput dari syukur semacam ini, maka dialah yang tertipu.”
Haram Merusak Jiwa
Anehnya ada saja orang yang malah berusaha merusak kesehatannya sendiri dengan hal-hal buruk dan membinasakan yang diharamkan Allah azza wa jalla. Seperti rokok dan barang-barang memabukkan lainnya yang menghilangkan fungsi akal sesuai tingkat kerusakannya juga sangat membahayakan badan. Barang-barang haram seperti itu hakikatnya membinasakan fisik secara pelan-pelan, sementara Allah telah melarang membunuh diri sendiri, firman-Nya, “Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. an-Nisa: 29).
Demikianlah syariat datang untuk menjaga dien dan jiwa. Demi dien jiwa pun dikorbankan dengan murah dalam jihad di jalan Allah sampai tidak ada lagi fitnah dan agama ini semata-mata milik Allah. Adapun selain di jalan itu maka seorang muslim tidak boleh membahayakan badannya atau melakukan sesuatu yang membahayakan kesehatannya dengan alasan apapun.
Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam Mustadraknya, dari Jabir bahwa seorang lelaki dari kaum Thufail bin Amru ad-Dausi berhijrah bersama Thufail. Dia lalu jatuh sakit. Namun ia mengeluh karena sakitnya itu lalu memotong urat nadinya dan membiarkan darahnya mengucur sampai mati. Thufail melihatnya dalam mimpi. Thufail bertanya, “Apa yang Allah perbuat terhadapmu?” Dia menjawab, “Dia mengampuniku dengan hijrahku kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam.” Thaufail bertanya lagi, “Mengapakah tanganmu?” Jawabnya, “Dikatakan padaku bahwa kami tidak akan memperbaiki apa yang telah kamu rusak.” Jabir berkata, “Thufail lalu menceritakannya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam. Beliau lalu berdoa sembari mengangkat tangannya, ‘Ya Alllah ampunilah tangannya’.”
Lelaki ini tidak bermaksud membunuh dirinya, namun dia melakukan sesuatu yang menyebabkan kematiannya. Allah mengampuninya disebabkan hijrahnya sebagaimana disebutkan dalam doa Nabi shallallahu alaihi wasallam untuknya itu. Perhatikan apa yang dikatakan padanya, “kami tidak akan memperbaiki apa yang telah kamu rusak.” Maka dari itu, jasad ini tidak boleh dirusak kecuali dalam rangka mentaati dan mencari keridhaan Allah, bukan karena keinginan hawa nafsu semata.
Bersabar Ketika Sakit Adalah Sunnah Para Nabi dan Jalan Orang-orang Shalih
Antara nikmat sehat dan nikmat sakit seorang muslim harus bertawakal kepada Rabbnya. Ia harus mencari sebab-sebab kesembuhan. Jika sembuh maka itu adalah karunia Allah semata. Namun jika tidak maka hendaknya ia berbaik sangka kepada Rabbnya bahwa Dia ingin mengangkat derajat dan menghapus kesalahan-kesalahan dengan semua yang dideritanya. Hendaknya seorang muslim mengharap pahala dengan bersabar atas musibahnya itu karena demikianlah kondisi muslim dalam keadaan lapang maupun sempit.
Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam sabdanya, “Tidaklah seorang muslim tertimpa sakit, letih, khawatir, sedih, depresi, dan gangguan bahkan duri yang menusuknya kecuali Allah hapuskan dosa-dosannya.”
Oleh karena itu, sebagian salaf bergembira jika terkena sakit. Manusia yang paling keras ujiannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang setelahnya.
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam shahihya dari Harits bin Suwaid dari Abdullah berkata, “Aku menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau dalam keadaan sakit parah. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah sungguh anda terkena sakit yang parah?' Sabdanya, ‘Betul, sakitku dua kali lipat dari sakit kalian.’ Kataku, ‘Karena itulah anda mendapatkan dua pahala?”
Sabdanya, “Ya, begitu juga tidaklah seorang muslim terkena gangguan, duri, atau lebih dari itu kecuali Allah akan hapuskan kesalahan-kesalahannya seperti pohon yang menggugurkan daunnya.”
Begitu pula sakit berkepanjangan yang diderita oleh Nabi Ayub alaihis salam. Allah memujinya kesabarannya dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya)”. (QS. Shad: 44). Sekalipun demikian, ia tidaklah berdoa meminta secara langsung kepada Allah, namun doanya beradab dan indah sekali, “Ya Rabbku sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Rabb yang Maha Penyayang diantara semua penyayang”. (QS. al-Anbiya: 83). Tidaklah dia berdoa kecuali setelah bertahun-tahun menikmati rasa sakit. Sekalipun orang-orang menjauhinya ia tetap bersabar dan mengharap pahala atas kepahitan hidup yang dideritanya. Betapa berat dan lama penyakit yang dideritanya sehingga dia berusaha meraih sebab sembuh terbesar, yaitu doanya kepada Allah azza wa jalla.
Demikian jugalah manhaj para pengikut Nabi. Telah diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab az-Zuhud bahwa Abu Darda radhiyallahu anhu berkata, “Kefakiran yang paling kusukai adalah tawadhu’ kepada Rabbku, kematian yang paling kusukai adalah tatkala rindu kepada Rabbku, dan sakit yang paling kusukai adalah yang menghapus dosa-dosaku.”
Siapakah Yang Mau Membeli Surga Dengan Kesabaran?
Di antara kisah menakjubkan generasi pertama dalam bersabar atas ujian demi mengharapkan surga adalah yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Atha bin Abi Robah berkata, “Ibnu Abbas berkata, ‘Maukah aku perlihatkan kepadamu wanita penduduk surga.’ ‘Tentu,’ kataku. Ia bercerita, ‘Ada seorang wanita mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam dan berkata, ‘Aku terkena penyakit ayan. Ketika kambuh auratku tersingkap. Maka berdoalah kepada Allah untuk kesembuhanku.’ Sabdanya, ‘Jika kamu mau bersabar maka kamu mendapat surga, tapi jika kamu mau aku akan mendoakanmu dan Allah akan menyembuhkankmu.’ Maka dia berkata, ‘Kalau begitu aku akan bersabar, namun ketika kambuh auratku tersingkap. Berdoalah kepada Allah agar auratku tidak tersingkap.’ Maka beliau lalu mendoakannya.”
Inilah seorang muslimah yang bersabar menahan rasa sakitnya di dunia demi mendapatkan surga dengan segala kenikmatannya. Jika ada yang terheran-heran maka cukuplah baginya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Jabir berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersbada, ‘Di hari kiamat, orang-orang yang sentosa di dunia benar-benar mengharap seandainya kulit mereka diiris-iris dengan pisau di dunia lantaran melihat ganjaran orang-orang yang menderita (di dunia).”
Maka seyogyanya bagi mereka yang diberi nikmat kesehatan oleh Allah untuk memuji-Nya dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat ini dengan menggunakannya dalam ketaatan pada-Nya sebagaimana yang diperintahkan-Nya, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS. al-Qashas: 77).
Hendaknya ia memanfaatkan waktu sehatnya dan kuatnya untuk menambah tabungan kebaikannya sebelum ia terkena sakit atau masa tua dan lemah, sebagaimana yang diwasiatkan oleh Nabi Allah shallallahu alaihi wasallam, “Manfaatkan lima perkara sebelum datangnya lima perkara, masa mudamu sebelum masa tuamu, kesehatanmu sebelum sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, waktu kosongmu sebelum waktu sibukmu, dan kehidupanmu sebelum kematianmu (Diriwayatkan oleh Hakim dalam al-Mustadrak).
Barangsiapa yang diuji dengan sakit hendaknya ia memuji Allah atas apa yang dideritanya, karena sesungguhnya sebagian musibah itu lebih ringan daripada musibah lain. Hendaknya ia bersabar atas musibahnya itu dan mengharap pahala di sisi Allah azza wa jalla. Khusunya jika terluka di jalan Allah. Kesabaran atas apa yang menimpanya, dan rasa syukurnya atas nikmat yang dikaruniakan padanya berupa luka di jalan Allah adalah perkara yang diwajibkan.
Kita memohon kepada Allah agar menyembuhkan setiap kaum muslimin yang sakit, dan menjadikan rasa sakitnya sebagai penghapus dosa dan meninggikan derajat mereka, sungguh Allah Mahamampu akan hal itu, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.
NIKMAT SEHAT DAN UJIAN SAKIT
Allah azza wa jalla memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk menjaga diri mereka dari setiap hal menyakitkan dan membahayakannya. Menghalalkan segala hal yang bagus dan mengharamkan semua hal yang buruk dan najis yang membahayakan akal dan fisik mereka. Dia mengutus Nabi-Nya dengan manhaj Rabbani yang sempurna, yang mencakup seluruh perkara agama dan dunia. Sunnahnya penuh dengan berbagai macam anugerah Rabbani yang menjaga akal dan fisik seorang muslim.
Allah azza wa jalla berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” (QS. al-Araf: 157).
Imam ath-Thabari rahimahullah berkata, “Firman-Nya, ‘menghalalkan bagi mereka segala yang baik’, yakni seperti bahirah (unta betina yang telah beranak lima kali dan yang terakhir jan- tan), saibah (unta yang dibiarkan liar), washilah (anak domba berkelamin jantan dari sepasang kembar jantan dan betina), dan ham (unta jantan yang dibiarkan liar karena telah membuntingkan unta betina sepuluh kali) yang diharamkan oleh orang-orang jahiliyah, ‘dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk’ seperti daging babi, riba, dan yang mereka halalkan berupa makanan dan minuman yang Allah haramkan.”
Sehat Adalah Nikmat Yang Sering Dilupakan
Di antara nikmat yang dikaruniakan oleh Allah azza wa jalla kepada makhluk-Nya adalah nikmat kesehatan yang tidak diketahui kecuali mereka yang kehilangannya. Apapun yang dimilikinya rela dikorbankan demi mengobati dirinya dan mengembalikan kesehatannya sebisa mungkin.
Hadits Nabi, yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dan penulis kitab sunan lainnya, menyebutkan tentang nikmat sehat ini. Sabdanya shallallahu alaihi wasallam, “Barangsiapa merasa aman dalam rumahnya, sehat jasmaninya, memiliki makanan pokoknya pada hari itu maka seakan-akan ia memiki seluruh dunia”.
Imam Bukhari rahimahullah juga meriwayatkan dalam Shahihnya dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, berkata, “Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Dua nikmat yang dilupakan oleh banyak manusia adalah kesehatan dan waktu luang.’ Ibnu Bathal rahimahullah berkata mensyarah hadits agung ini, “Makna hadits ini ialah bahwa seseorang tidaklah dikatakan memiliki waktu luang hingga badannya juga sehat. Barangsiapa yang memiliki dua nikmat ini (yaitu waktu senggang dan nikmat sehat), hendaklah ia bersemangat. Jangan sampai ia tertipu dengan meninggalkan syukur pada Allah atas nikmat yang diberikan. Bersyukur adalah dengan melaksanakan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan Allah. Barangsiapa yang luput dari syukur semacam ini, maka dialah yang tertipu.”
Haram Merusak Jiwa
Anehnya ada saja orang yang malah berusaha merusak kesehatannya sendiri dengan hal-hal buruk dan membinasakan yang diharamkan Allah azza wa jalla. Seperti rokok dan barang-barang memabukkan lainnya yang menghilangkan fungsi akal sesuai tingkat kerusakannya juga sangat membahayakan badan. Barang-barang haram seperti itu hakikatnya membinasakan fisik secara pelan-pelan, sementara Allah telah melarang membunuh diri sendiri, firman-Nya, “Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. an-Nisa: 29).
Demikianlah syariat datang untuk menjaga dien dan jiwa. Demi dien jiwa pun dikorbankan dengan murah dalam jihad di jalan Allah sampai tidak ada lagi fitnah dan agama ini semata-mata milik Allah. Adapun selain di jalan itu maka seorang muslim tidak boleh membahayakan badannya atau melakukan sesuatu yang membahayakan kesehatannya dengan alasan apapun.
Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam Mustadraknya, dari Jabir bahwa seorang lelaki dari kaum Thufail bin Amru ad-Dausi berhijrah bersama Thufail. Dia lalu jatuh sakit. Namun ia mengeluh karena sakitnya itu lalu memotong urat nadinya dan membiarkan darahnya mengucur sampai mati. Thufail melihatnya dalam mimpi. Thufail bertanya, “Apa yang Allah perbuat terhadapmu?” Dia menjawab, “Dia mengampuniku dengan hijrahku kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam.” Thaufail bertanya lagi, “Mengapakah tanganmu?” Jawabnya, “Dikatakan padaku bahwa kami tidak akan memperbaiki apa yang telah kamu rusak.” Jabir berkata, “Thufail lalu menceritakannya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam. Beliau lalu berdoa sembari mengangkat tangannya, ‘Ya Alllah ampunilah tangannya’.”
Lelaki ini tidak bermaksud membunuh dirinya, namun dia melakukan sesuatu yang menyebabkan kematiannya. Allah mengampuninya disebabkan hijrahnya sebagaimana disebutkan dalam doa Nabi shallallahu alaihi wasallam untuknya itu. Perhatikan apa yang dikatakan padanya, “kami tidak akan memperbaiki apa yang telah kamu rusak.” Maka dari itu, jasad ini tidak boleh dirusak kecuali dalam rangka mentaati dan mencari keridhaan Allah, bukan karena keinginan hawa nafsu semata.
Bersabar Ketika Sakit Adalah Sunnah Para Nabi dan Jalan Orang-orang Shalih
Antara nikmat sehat dan nikmat sakit seorang muslim harus bertawakal kepada Rabbnya. Ia harus mencari sebab-sebab kesembuhan. Jika sembuh maka itu adalah karunia Allah semata. Namun jika tidak maka hendaknya ia berbaik sangka kepada Rabbnya bahwa Dia ingin mengangkat derajat dan menghapus kesalahan-kesalahan dengan semua yang dideritanya. Hendaknya seorang muslim mengharap pahala dengan bersabar atas musibahnya itu karena demikianlah kondisi muslim dalam keadaan lapang maupun sempit.
Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam sabdanya, “Tidaklah seorang muslim tertimpa sakit, letih, khawatir, sedih, depresi, dan gangguan bahkan duri yang menusuknya kecuali Allah hapuskan dosa-dosannya.”
Oleh karena itu, sebagian salaf bergembira jika terkena sakit. Manusia yang paling keras ujiannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang setelahnya.
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam shahihya dari Harits bin Suwaid dari Abdullah berkata, “Aku menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau dalam keadaan sakit parah. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah sungguh anda terkena sakit yang parah?' Sabdanya, ‘Betul, sakitku dua kali lipat dari sakit kalian.’ Kataku, ‘Karena itulah anda mendapatkan dua pahala?”
Sabdanya, “Ya, begitu juga tidaklah seorang muslim terkena gangguan, duri, atau lebih dari itu kecuali Allah akan hapuskan kesalahan-kesalahannya seperti pohon yang menggugurkan daunnya.”
Begitu pula sakit berkepanjangan yang diderita oleh Nabi Ayub alaihis salam. Allah memujinya kesabarannya dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya)”. (QS. Shad: 44). Sekalipun demikian, ia tidaklah berdoa meminta secara langsung kepada Allah, namun doanya beradab dan indah sekali, “Ya Rabbku sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Rabb yang Maha Penyayang diantara semua penyayang”. (QS. al-Anbiya: 83). Tidaklah dia berdoa kecuali setelah bertahun-tahun menikmati rasa sakit. Sekalipun orang-orang menjauhinya ia tetap bersabar dan mengharap pahala atas kepahitan hidup yang dideritanya. Betapa berat dan lama penyakit yang dideritanya sehingga dia berusaha meraih sebab sembuh terbesar, yaitu doanya kepada Allah azza wa jalla.
Demikian jugalah manhaj para pengikut Nabi. Telah diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab az-Zuhud bahwa Abu Darda radhiyallahu anhu berkata, “Kefakiran yang paling kusukai adalah tawadhu’ kepada Rabbku, kematian yang paling kusukai adalah tatkala rindu kepada Rabbku, dan sakit yang paling kusukai adalah yang menghapus dosa-dosaku.”
Siapakah Yang Mau Membeli Surga Dengan Kesabaran?
Di antara kisah menakjubkan generasi pertama dalam bersabar atas ujian demi mengharapkan surga adalah yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Atha bin Abi Robah berkata, “Ibnu Abbas berkata, ‘Maukah aku perlihatkan kepadamu wanita penduduk surga.’ ‘Tentu,’ kataku. Ia bercerita, ‘Ada seorang wanita mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam dan berkata, ‘Aku terkena penyakit ayan. Ketika kambuh auratku tersingkap. Maka berdoalah kepada Allah untuk kesembuhanku.’ Sabdanya, ‘Jika kamu mau bersabar maka kamu mendapat surga, tapi jika kamu mau aku akan mendoakanmu dan Allah akan menyembuhkankmu.’ Maka dia berkata, ‘Kalau begitu aku akan bersabar, namun ketika kambuh auratku tersingkap. Berdoalah kepada Allah agar auratku tidak tersingkap.’ Maka beliau lalu mendoakannya.”
Inilah seorang muslimah yang bersabar menahan rasa sakitnya di dunia demi mendapatkan surga dengan segala kenikmatannya. Jika ada yang terheran-heran maka cukuplah baginya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Jabir berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersbada, ‘Di hari kiamat, orang-orang yang sentosa di dunia benar-benar mengharap seandainya kulit mereka diiris-iris dengan pisau di dunia lantaran melihat ganjaran orang-orang yang menderita (di dunia).”
Maka seyogyanya bagi mereka yang diberi nikmat kesehatan oleh Allah untuk memuji-Nya dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat ini dengan menggunakannya dalam ketaatan pada-Nya sebagaimana yang diperintahkan-Nya, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS. al-Qashas: 77).
Hendaknya ia memanfaatkan waktu sehatnya dan kuatnya untuk menambah tabungan kebaikannya sebelum ia terkena sakit atau masa tua dan lemah, sebagaimana yang diwasiatkan oleh Nabi Allah shallallahu alaihi wasallam, “Manfaatkan lima perkara sebelum datangnya lima perkara, masa mudamu sebelum masa tuamu, kesehatanmu sebelum sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, waktu kosongmu sebelum waktu sibukmu, dan kehidupanmu sebelum kematianmu (Diriwayatkan oleh Hakim dalam al-Mustadrak).
Barangsiapa yang diuji dengan sakit hendaknya ia memuji Allah atas apa yang dideritanya, karena sesungguhnya sebagian musibah itu lebih ringan daripada musibah lain. Hendaknya ia bersabar atas musibahnya itu dan mengharap pahala di sisi Allah azza wa jalla. Khusunya jika terluka di jalan Allah. Kesabaran atas apa yang menimpanya, dan rasa syukurnya atas nikmat yang dikaruniakan padanya berupa luka di jalan Allah adalah perkara yang diwajibkan.
Kita memohon kepada Allah agar menyembuhkan setiap kaum muslimin yang sakit, dan menjadikan rasa sakitnya sebagai penghapus dosa dan meninggikan derajat mereka, sungguh Allah Mahamampu akan hal itu, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar