Tampilkan postingan dengan label Ummu Sumayah Al-Muhajirah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ummu Sumayah Al-Muhajirah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 April 2018

DUA, TIGA, ATAU EMPAT

DABIQ 12 - MUSLIMAH

DUA, TIGA, ATAU EMPAT
Oleh : Ummu Sumayah Al Muhaajirah

Dengan menyebut Asma Allah, Raja dari segala sesuatu, yang telah men-syari’at-kan pernikahan dan melarang perzinaan, yang telah menciptakan kami dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri) nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Shalawat dan salam semoga Allah curahkan kepada Rosulullah beserta keluarga dan para Shahabatnya, dan atas siapapun yang mengikuti Sunnah-Nya dan istiqamah di jalannya sampai Hari kiamat. Amma ba’du:

Sesungguhnya, ketika syari’at Allah disingkirkan, maka hukum dan pemerintahan orang-orang kafir mendapatkan kekuasaan di tanah Muslim, Islam ditinggalkan secara memalukan, dan wajahnya berbalik menuju arah Eropa yang kacau, bid’ah bermunculan dan bersamanya muncul suara yang memusuhi siapapun yang memegang teguh agamanya, dan mereka yang mengatur dengan selain hukum Allah subhanahu wa ta'ala itu layaknya kanker yang menggerogoti habis tubuh umat. Mereka mengharamkan / melarang apa yang Allah wajibkan / izinkan, dan mereka mewajibkan / membolehkan apa yang Allah haramkan / larang, dan salah satu syari’at yang paling nyata yang mereka hancurkan dengan fitnah keji untuk membela perempuan dan hak-hak mereka –sebagaimana klaim mereka- adalah syari’at poligini.

Mereka memanfaatkan setiap mimbar dengan tujuan untuk memfitnah poligini, termasuk mimbar parlemen kufur dan saluran TV sekuler, dan mereka menempatkan di panggung ini anjing yang selalu menggonggong, yang membodohi orang-orang yang tidak mengerti atau tidak mengetahui kebodohan mereka. Kata-kata beracun mereka merayap jauh ke dalam hati perempuan-perempuan dari tanah kaum muslimin, hingga sampai pada titik bahwa kita hampir tidak bisa menemukan wanita lajang yang menerima poligini ini, kecuali orang-orang yang dilindungi Allah.

Allah subhanahu wa ta'ala telah mengatakan dengan jelas dalam wahyu-Nya, (Dan jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat agar kamu tidak berbuat zhalim. QS. An-Nisa': Ayat 3).

Ini adalah sebuah ayat yang sangat jelas, seterang matahari di yang tidak memerlukan Penjelasan ataupun penafsiran yang panjang. Oleh karena itu wahai hamba Allah, engkau diperbolehkan untuk menikahi dua, tiga, atau empat perempuan, kecuali engkau takut atau khawatir bahwa engkau tidak mampu berlaku adil terhadap mereka atau tidak sanggup untuk memenuhi hak-hak mereka, maka engkau dalam hal ini cukup dengan satu istri saja.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, "Pernyataanya (dua atau tiga atau empat) (An-Nisa ': 3) berarti Nikahilah wanita yang kalian sukai selain wanita yang yatim tersebut. Jika kalian ingin, maka nikahilah dua, atau tiga atau jika kalian ingin lagi boleh menikahi empat wanita."

Islam bukanlah yang pertama kali memperkenalkan poligini. Akan tetapi, poligini hadir dalam syari'at dari orang-orang sebelum kita. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda, "Sulaiman bin Dawud 'alaihis salam berkata, "Sungguh malam ini aku akan menggilir seratus isteriku, atau Sembilan puluh Sembilan yang kesemuanya akan melahirkan laki-laki penunggang kuda yang berjihad fi sabilillah...." (HR Bukhari dari Abu Hurairah).

Dan yang aneh adalah bahwa orang-orang Yahudi dan Kristen mengejek kaum Muslimin yang menghormati poligini, namun jika mereka mau melihat ke dalam kitab suci mereka sendiri, mereka akan mengetahui bahwa poligini itu telah disampaikan dalam agama mereka, dan itu dinyatakan dalam injil mereka bahwa Ya'qub 'alaihis salam memiliki dua istri dan dua budak, dan juga Dawud 'alaihis salam memiliki sejumlah istri dan budak, seperti yang disebutkan dalam 2 Samuel (5: 13) dan 1 Samuel (25: 42-44). Mereka juga menyatakan bahwa Sulaiman 'alaihis salam memiliki 700 istri dan 300 budak, sebagaimana disebutkan dalam 1 Raja-raja (11: 3).

Mereka juga menyatakan Rahba'am (Rehoboam) Ibnu Sulaiman, yang menurut mereka menggantikan ayahnya sebagai raja, memiliki 18 istri dan 60 budak. Dengan demikian, orang-orang dari bangsa sebelum kita sudah terbiasa dengan banyaknya istri, dan hal ini telah di perbolehkan dalam syari'at orang-orang sebelum kita. Kemudian syari’at Islam datang dan mendefinisikan jumlah tertentu dari istri yang diperbolehkan yaitu maksimal 4 istri, sedangkan untuk budak maka itu tidak ada batasan. Dan tidak boleh ada Muslim yang melanggarnya.

Salim meriwayatkan dari ayahnya bahwa Ghaylan Ibn Salamah Ats-Tsaqafi memeluk Islam dan memiliki 10 istri pada saat itu. Kemudian Nabi Nabi Shallallahu alaihi wassalam berkata kepadanya, "Pilihlah empat dari mereka" (HR. At-Tirmidzi dalam kitab an-Nikah pada sub tema berjudul, "Bab: Apa yang harus dilakukan seorang Pria ketika memeluk Islam Sementara ia Memiliki Sepuluh Istri;" Ibnu Majah juga meriwayatkannya dalam "kitab an-Nikah" pada sub tema berjudul, "Bab: lelaki yang masuk Islam Sementara ia Memiliki Istri Lebih dari Empat ").

Sungguh, dalam pen-syari’at-an poligini ini mengandung banyak kearifan. Diantaranya adalah bahwa perempuan lebih besar jumlahnya daripada laki-laki yang menghadapi banyak bahaya dan kesulitan dalam hidup mereka, seperti perang, pekerjaan berbahaya, dan bencana. Demikian juga, laki-laki muda cenderung lebih menyukai perawan dari pada menikahi janda (baik janda karena kematian atau perceraian), jadi siapa yang kemudian akan menikahi sekelompok perempuan ini?

Selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala mungkin menetapkan / memberi ujian seorang wanita dengan infertilitas (kemandulan), disini Islam telah memberi jalan keluar dengan mengizinkan lelaki yang beristri mandul ini untuk menikah dengan wanita lain dengan tetap menjaga kehormatan dan dukungan terhadapnya daripada menceraikannya.

Dan Juga sisi lain kearifan dari poligini adalah bahwa wanita itu sebagaimana kodratnya, akan mengalami beberapa fase dalam hidupnya, fase di mana ia tidak akan mampu untuk memenuhi hak-hak suaminya, seperti menstruasi, melahirkan, dan pendarahan ketika mengandung. Jadi selama fase tersebut dia dapat mendatangi istrinya yang lain, sehingga dapat mencegahnya jatuh kedalam sesuatu yang dilarang atau hal yang mencurigakan. Tapi, demi Allah, jika tidak ada kebajikan dalam poligini selain fakta bahwa itu adalah Sunnah kenabian dari manusia yang terbaik, maka kita akan menulikan telinga jika ada orang keras kelapa yang menentangnya, dan kita akan mencukupkan diri dengan itu sebagai bukti.

Kenyataan tentang banyaknya orang yang menentang syari’at poligini telah membakar sebagian jiwaku dan membuat hati para muwahhid berdarah, mereka menentangnya baik secara langsung maupun tidak langsung, dan telah hilang dari perempuan-perempuan buta dan sekarang hanya bersemayam di hati beberapa wanita pencari ilmu dan wanita yang mematuhi aturan syari’at. Hal ini menjadi seperti itu setelah seruan dari musuh-musuh Allah, agama, dan Rosul-Nya Shallallahu alaihi wassalam menemukan jalan untuk meragukan syari’at ini dan menyebarkannya, mereka menyatakan, "Tidak untuk poligini. Poligini adalah penindasan terhadap perempuan." Dan cukuplah Allah bagi kita.

Dan saya merasa sedih untuk mengatakan bahwa beberapa dari mereka, dalam permasalahan ini dapat mencapai titik dimana mereka mengucapkan perkataan kufur – dan hanya Allah tempat berlindung- atau pernyataan yang bisa menyiratkan kekufuran. Anda akan menemukan dia berkata (setelah Setan membisiki dan menambahinya dengan kedustaan), "Akan ku taati apa pun selain poligini, apa pun itu kecuali syari’at ini. Ya Allah maafkanlah aku, tapi aku tidak bisa menghadapinya, tidak untuk diriku sendiri maupun untuk wanita lain." Dan bahkan seorang wanita pernah mengatakan kepada saya: "Apakah kau ingin aku melakukan kekufuran dan menjadi murtad? Jika saya melihat dia bersama wanita lain maka itu akan menjadi fitnah bagi saya, maka demi menjaga kepatuhan akan agama, saya akan meninggalkan rumah dan pergi dari sisinya!" kemudian ada seorang wanita yang bertanya kepada temannya, "Ketika Allah membebaskan suamimu setelah dipenjara selama bertahun-tahun, kemudian ia ingin menikahi seorang wanita lagi, maka apa yang akan kamu lakukan, apa kamu ingin ia tetap dipenjara atau melihatnya menikah lagi?" dia menjawab dengan terang-terangan, dia berkata "Saya lebih suka ia tetap dipenjara, dan itu lebih mudah bagi saya daripada melihatnya menikahi istri kedua!"

Kasihanilah kami ya Allah! Bagi seorang Muslim, suami muwahhid yang kembali dipenjarakan oleh Rafidhah atau kafir dan menjadi sasaran terburuk dari berbagai jenis siksaan, itu lebih mudah diterima bagi seorang Wanita yang cemburu melihat suaminya keluar dari penjara dan mempraktekkan sebuah hukum dari hukum-hukum Allah? Ini semua merupakan contoh disamping pernyataan berbahaya lainnya yang tidak dipikirkan dengan masak-masak oleh wanita sebelum mengatakannya, yang mungkin akan melemparkan mereka ke dalam api neraka, dan hanya Allah tempat mencari perlindungan.

Dan berapa banyak wanita di tanah kaum muslimin menampilkan "ketidakpuasan" mereka terhadap poligini! Aku pernah duduk dengan beberapa perempuan dan menasehati mereka, dan aku menemukan bahwa banyak diantara mereka yang nada bicaranya mencerminkan bahwa "ketidakpuasan" ini sebenarnya adalah kebencian akan syari’at itu sendiri, Iblis Terkutuk telah mempercantiknya hingga para wanita meremehkannya, dengan mengatakan, "Anda hanya tidak menginginkannya untuk suami Anda, dan Anda tidak dapat disalahkan atas penolakan ini!" Jadi di sini saya memperingatkanya, dan saya mengingatkannya akan firman Allah,

“Maka demi Rabbmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa ': 65).

Jadi di mana ketundukanmu dan di mana ketaatanmu akan perintah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kebijaksanaan-Nya? tidaklah Engkau disebut sebagai seorang "Muslimah" kecuali karena engkau telah menyerahkan diri secara utuh kepada Allah dengan tauhid, yang dengannya akan menghasilkan ketaan yang utuh kepada-Nya!

Dan berapa banyak para penuntut ilmu dari kalangan muhajirah yang saya yakini mereka sebagai yang terbaik diantara para wanita, ketika saya singgung masalah ini mereka benar-benar berbalik arah dan hampir saja mempromosikan slogan dari sekularis tanpa disadarinya. Dan Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah. Sebaliknya, ada diantara mereka yang memuji Allah ketika suaminya syahid sebelum menikahi beberapa istri lagi, dan Sesungguhnya Kita adalah Milik Allah Dan Kepada-Nya Kita akan Kembali! Dan Untuk orang-orang seperti dia maka saya katakan: Mengapa Anda hijrah? Bukankah itu untuk menerapkan syari'at Allah Subhanahu wa Ta’ala? Dan bukankah poligini merupakan bagian dari syari'at ini?

Ketahuilah bahwa barangsiapa yang telah menghormati wanita Muslim dan telah memberikan hak-haknya serta melindunginya dari rencana jahat orang fasik, maka ia adalah salah seorang yang telah diizinkan untuk menikahi siapa saja wanita yang menarik hatinya. Dan berdasarkan itu, maka tidak diperbolehkan bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk mendebat syari'at Allah Subhanahu wa Ta’ala, atau untuk menerima apa yang menyenangkan hatinya dan menolak apa yang tidak sesuai dengan keinginan dirinya.

Bisyr al-Hafi rahimahullah (meninggal 227H) mengatakan, "Setiap bencana bermula dari mengikuti hawa nafsumu, dan semua obatnya terletak dalam penentanganmu kepada mereka" (Sifat Ash-Shafwah).

Sesungguhnya, agama ini telah sempurna dan tidak dapat dipilih-pilih.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, (Apakah kamu beriman kepada sebagian Kitab dan ingkar kepada sebagian (yang lain)? Maka tidak ada balasan (yang pantas) bagi orang yang berbuat demikian di antara kamu selain kenistaan dalam kehidupan dunia dan pada hari Kiamat mereka dikembalikan kepada azab yang paling berat. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.) (Al-Baqarah: 85).

Jadi berhati-hatilah saudariku dari menjadi bagian di antara orang-orang seperti itu, berhati-hatilah ketika Anda membiarkan kecemburuan buta menuntun Anda untuk tidak menyukai ketetapan syari’at ini, dan yang saya khawatirkan adalah Anda akan jatuh ke dalam kemurtadan, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “yang demikian itu karena mereka membenci apa (al-Qur’an) yang diturunkan Allah, maka Allah menghapus segala amal mereka” (Muhammad: 9).

Imam Ibnu Qayim Al-Jauziyah rahimahullah menyatakan ketika menafsirkan ayat: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain, nanti (pahala) segala amalmu dapat terhapus sedangkan kamu tidak menyadari” (Al-Hujurat: 2), "Jadi jika mereka hanya meninggikan suaranya di atas suara Nabi menjadi penyebab terhapusnya amalan mereka, maka berapa banyak lagi amalan yang terhapus ketika mereka meninggikan pendapat mereka, akal mereka, hawa nafsu mereka, diatas semua yang Nabi bawa bersamanya? Apakah ini tidak lebih pantas menjadi penyebab dari pembatalan amal perbuatan mereka? " (I'lam al-Muwaqqi'in).

Setiap Muslimah harus faham bahwa adalah normal baginya untuk cemburu dan merasa sedih jika suaminya menikah lagi dengan wanita lain, sedangkan kita tidaklah lebih baik dari ummul mukminin, 'Aisyah radhiyallahu anha as siddiqah putri Ash-Shiddiq, yang juga cemburu sebagaimana telah banyak diriwayatkan. Namun, dia tidak pernah menentang apa yang telah diizinkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan juga tidak mencegah suaminya –Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam– untuk menikahi wanita lainnya. Aisyah radhiyallahu ‘anha dan juga ayahnya tidak pernah berdiri dan berkata, "pilih aku atau dia atau ceraikan aku dan menikahlah dengannya." dia tidak melakukannya sejauh itu!

Setan –mungkin setan dari kalangan wanita– akan mengatakan kepada Anda, "Jika ia mencintai Anda, dia tidak akan menikahi wanita lain saat menikah dengan Anda." Maka katakanlah kepadanya, "Nabi kami Shallallahu ‘alaihi wassalam menikahi tujuh wanita setelah beliau menikahi 'Aisyah radhiyallahu ‘anha sementara ia adalah orang yang paling beliau cintai, dan cintanya tidak pernah melemah atau bahkan berkurang, sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala mengizinkan beliau untuk wafat di kamarnya dengan kepalanya berada diantara dada dan lehernya."

Dia juga akan mengatakan kepada Anda, "Anda tidak memiliki kekurangan apapun, jadi apa hak-nya untuk menikah dengan wanita lain saat menikah dengan Anda? " maka katakanlah kepadanya," Bahkan jika saya adalah perempuan yang paling sempurna, yang terbaik di antara mereka dalam karakter, keindahan, pengetahuan, dan sopan santun, maka sang pembuat hukum tidaklah meng-istimewakan saya dari wanita lainnya, dan telah memberikan hak kepada pria untuk menikahi dua, tiga, atau empat wanita! "

Pembisik, apakah itu dari kalangan manusia atau jin, juga akan mengatakan kepada Anda, "Anda dapat mencegah dia, atau menyulitkannya, atau membuat hidupnya jadi tidak menyenangkan, dan menghasut anak-anak untuk melawannya."

Maka katakanlah kepadanya, "Ya, saya bisa melakukannya, dan memang rencana wanita itu luar biasa, sebagaimana yang telah Allah jelaskan, tetapi di mana kehormatanku ketika aku memiliki rasa takut kepada Allah? Dan di mana rasa takutku kepada-Nya yang dapat membuat keadaanku menjadi sulit di dunia, dan bagaimana aku akan menjawab pertanyaan-Nya di Akhirat jika saya menentang apa yang telah diperbolehkan dan membenci apa yang telah diizinkan ?! "

Dia juga akan mengatakan kepada Anda, "Anda tidak akan mampu bertahan melihat suami Anda bersama istrinya yang lain, dan itu pasti akan menjadi fitnah bagi Anda dalam ketaatan Anda kepada agama!"

Maka katakanlah kepadanya, "Ini tidak akan menjadi fitnah bagi saya, dan Allah subhanahu wa ta'ala adalah pelindung saya. Allah tidak akan pernah meninggalkan saya ketika saya telah menyerahkan diri kepada-Nya dan kepada hukum-Nya!"

Lalu putuskanlah setiap jalan yang mereka lalui untuk membisikimu dan merayumu dengan kedustaan, Kemudian ingatlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata.” (Al-Ahzab: 36).

Dan nasehatku kepada Anda wahai saudariku, wahai istri dari pria yang mengamalkan poligini:

Saya tahu dengan pasti bahwa tidak ada jihad yang lebih sulit bagi seorang budak daripada jihad melawan hawa nafsunya sendiri. Ibnul Qayim rahimahullah berkata, "jihad yang paling utama adalah jihad melawan diri sendiri, melawan hawa nafsunya, melawan Setan, dan melawan Dunia. Jadi siapa pun berjihad melawan empat hal ini fie sabilillah, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membimbingnya ke jalur untuk mencapai Ridha-Nya, yang mana akan membawamu ke surga-Nya "(Al-Fawa'id).

Jadi jika Anda berjihad terhadap hawa nafsumu, yang terus menerus menghasut Anda untuk berbuat jahat, maka buatlah dinding pembatas antara Anda dan para pembisik (Setan), tahanlah kecemburuan Anda dengan tali kekang syari’at, tetaplah sabar dan kuatkanlah kesabaranmu serta berharaplah pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala –Dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal– maka Anda akan merasa nyaman, ringan, dan memiliki kehidupan yang menyenangkan.

Jangan pernah mendengarkan / memperhatikan ucapan-ucapan wanita yang tidak berprinsip yang bersumber dari sandiwara keji dan sinetron. Sebaliknya, jadikanlah wanita-wanita dalam rumah tangga kenabian sebagai contoh bagi anda. Dan setiap wanita harus tahu bahwa ketika suaminya ingin menikah dengan wanita lain, maka tidak wajib baginya untuk berkonsultasi dengan istrinya, atau untuk meminta izinnya, atau untuk mencoba menenangkan istrinya. Tapi jika dia melakukan itu, maka itu adalah kemurahan hatinya dan merupakan bagian dan sarana untuk melestarikan hubungan yang terjadi antara mereka berdua.

Wahai saudariku, jika engkau ingin merasa puas dan senang maka murnikanlah ketaatan kepada-Nya, dan tunduklah kepada hukum-Nya. Dan jika seorang wanita mampu melakukan hal ini, maka sudah sepantasnya yang Maha Pemurah untuk memberikan pahala terbaik baginya di dunia dan akhirat.

Di sini, saya juga ingin menyampaikan pesan kepada lelaki, baik kepada mereka yang telah memiliki banyak istri atau mereka yang baru berniat untuk memiliki beberapa istri, dan saya ingin mengingatkan mereka tentang dua hal. Yang pertama adalah bahwa wanita seperti yang telah diketahui, ia diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok wahai saudaraku, jadi jika Anda telah memutuskan untuk menikah yang kedua kalinya, maka saya mengingatkan Anda dengan asma Allah agar bersikap ramah dan berbicara lembut kepadanya, kuatkanlah kesabaran dan toleransimu ketika Anda mengutarakan niat Anda. Jangan takut akan reaksi awalnya, bersabarlah dengan dia, dan gunakanlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hadits Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wassalam dalam setiap nasehatmu.

Dan jika dia membandel, maka ancamlah ia dengan ancaman Yang Maha Kuasa dan ingatkanlah bahwa ini adalah bagian dari syari'at islam, dan bahwa kita berada dalam sistem negara yang pemerintahannya adalah khilafah dengan metodologi kenabian insyaa Allah. Namun, jika dia tetap menolak dan sombong maka saya katakan kepada Anda sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala katakan kepada orang terbaik yang hidup di bumi: “Wahai Nabi, mengapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu? Engkau ingin menyenangkan hati istri-istrimu? Dan Allah maha pengampun, maha penyayang” (At-Tahrim: 1).

Imam Ath-Thabari rahimahullah mengatakan, "para ulama berbeda pendapat tentang hal apakah yang telah Allah halalkan untuk Rasul-Nya yang kemudian Rosul-Nya melarang hal itu untuk dirinya. Beberapa dari mereka mengatakan bahwa hal itu adalah Mariyah, budak perempuan Koptik yang beliau larang untuk dirinya sendiri dengan bersumpah bahwa beliau tidak akan mendekatinya, karena berusaha untuk menyenangkan istrinya Hafshah Binti Umar, karena dia cemburu kepada Mariyah yang bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam pada hari (jatah bermalamnya) dan berada di kamarnya. Yang lainnya berkata bahwa hal itu adalah sesuatu yang biasa beliau minum dan beliau juga menyukainya. Pernyataan yang benar tentang masalah ini adalah bahwa apa yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam larang untuk dirinya sendiri adalah sesuatu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah halalkan baginya, bisa jadi itu adalah budak perempuan, atau bisa jadi itu salah satu jenis minuman, dan atau bisa jadi hal itu adalah sesuatu yang lainnya, tapi apapun itu, beliau telah melarang sesuatu untuk dirinya sendiri sesuatu yang halal baginya, sehingga Allah menegurnya dan menyatakan pembatalan sumpah yang melarang baginya untuk berbuat seperti ini atau mengharamkan sesuatu untuk dirinya sendiri. " dan untuk alasan ini, maka bantulah mereka untuk menjaga kehormatan seorang janda atau menjadi wali dari seorang yatim, janganlah mengharamkannya untuk dirimu sendiri hanya karena Anda berusaha untuk menyenangkan istri Anda!

Adapun masalah kedua, maka saya ingin menyampaikan pesan kepada lelaki, baik kepada mereka yang telah memiliki banyak istri atau mereka yang baru berniat untuk memiliki beberapa istri, takutlah kepada Allah, dan ingatlah bahwa kezhaliman akan membawa kepada kegelapan pada hari kiamat, dan bahwa sisi miring dari tubuh Anda (karena tidak adil) tidak akan dapat diperbaiki oleh istri yang Anda lebih condong kepadanya di dunia, dengan demikian maka kezhaliman dan penganiayaan terhadap salah satu istri Anda, maka itu akan langsung menjadi tanggung jawab anda.

“Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dan ibu dan bapaknya, dan dari istri dan anak-anaknya” ('Abasa: 34-36).

Selain itu, garis perbatasan Daulah Islam - semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kemenangan kepadanya- telah meningkat dalam jumlah yang besar dan garis depannya telah berlipat ganda setelah semua sekte kufur dan nifaq bersekutu bersama-sama untuk berperang melawannya, dan tidak ada perang yang berlangsung kecuali akan ada orang-orang yang tewas di kedua belah pihak, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surge untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah sehingga mereka membunuh atau terbunuh.” (At Taubah: 111).

Berapa banyak Syuhada yang telah meninggalkan dunia ini- kami menganggap begitu, dan Allah adalah hakimnya - dan meninggalkan Istri yang berduka serta anak-anak yatim. Jadi setalah Allah, maka siapa yang bersedia untuk merawat mereka? Jika salah satu dari sahabat radhiyallahu ‘anhu meninggal dan dia punya istri, maka sahabat radhiyallahu ‘anhu yang lain akan berlomba satu sama lain untuk melamarnya setelah ia menyelesaikan 'iddah-nya, masing-masing dari mereka ingin membantu menjaga kehormatannya dan menjadi wali dari anak yatimnya, dan ketahuilah bahwa pahalanya ada disisi Allah.

Dan aku dulu selalu mengatakan kepada saudari Muslimku, "Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu, sungguh Allah maha mengetahui” (Ali 'Imran: 92), dan suami adalah bagian dari apa yang dicintai oleh seorang istri, jadi mengapa dia tidak menginfaqkannya, yaitu dia dengan senang hati menikahkannya dengan wanita lain demi mencari keridhaan Allah?" Marilah setiap dari kita menempatkan dirinya pada sepatu dari istri seorang syuhada dan mengorbankan beberapa keegoisan yang merupakan sifat alami kita!

Dan seruan terakhir kami adalah: Segala puji hanya bagi Allah, Raja dari dari segala sesuatu. Shalawat dan salam semoga Allah curahkan kepada Rasulullah beserta keluarga dan para Shahabatnya.

MEREKA BUKANLAH PASANGAN YANG HALAL SATU SAMA LAIN (NASEHAT UNTUK ISTRI MURTADDIN)

DABIQ 10 - MUSLIMAH

MEREKA BUKANLAH PASANGAN YANG HALAL SATU SAMA LAIN (NASEHAT UNTUK ISTRI MURTADDIN)
Oleh: Ummu Sumayah al-Muhajirah

Dengan nama Allah, yang Maha Hebat lagi Maha Kuat. Semoga shalawat dan salam atas Rasul yang jujur dan terpercaya, serta atas keluarganya, para sahabatnya, dan yang mengikutinya dalam kebenaran hingga Hari Perhitungan.

Seiring perang di Syam yang membongkar kemunafikan, sampai pada satu titik dimana hanya ada dua kubu tanpa ada yang ketiga -kubu iman tanpa kekufuran didalamnya, dan kubu kufur tanpa keimanan didalamnya- dan barisan yang tersaring, memisahkan antara seorang mujahid fisabilillah -dan dengan izin Allah, termasuk ke dalam ath-Thaifah al-Manshurah (kelompok yang Menang), yang tidak akan dicelakai oleh orang-orang yang melawannya dan tidak juga oleh orang-orang yang meninggalkannya- dan seorang "mujahid" yang berdasarkan konsep yang beragam-ragam: Negara sipil, patriotisme, nasionalisme, sekularisme, demokrasi, sosialisme, dll. Semua tujuan-tujuan kekufuran tidak diberi kekuasaan oleh Allah, dan tidak akan membawa para pengikutnya kecuali kehinaan di dunia dan kobaran api yang akan mereka masuki di akhirat nanti. Dan telah diketahui oleh setiap pribadi siapa yang berperang sebagai perpanjangan tangan dari anjing Gedung Putih dan boneka-bonekanya dan siapa yang bersekutu dengan perpanjangan tangan faksi-faksi yang melawan Daulah Islam seraya mengklaim bahwa mereka berjuang fi sabilillah untuk (menerapkan) syari’at-Nya, sementara anda tidak akan melihat mereka mengimplementasikan syari’at di tiap jengkal wilayah yang Allah kuasakan kepada mereka. Fokus mereka hanyalah untuk menyenangkan "kebanyakan orang" bahkan dengan menukarkannya dengan kemurkaan Allah, seperti kasus Jabhah Jaulani - telah diketahui bahwa semua jenis kelompok ini adalah Shahawat (semoga Allah menghancurkan mereka). Mereka mengumpulkan semua sampah dan najis pada satu perkara, yaitu untuk memerangi Daulah Islam -  Semoga Allah menolongnya. Mereka menggenggam permusuhan terhadap Daulah Islam yang murni aqidahnya, lurus manhajnya, dan jelas tujuannya. Tentara-tentaranya yakin pada Allah dan menunjukkan ketetapan hati dengan bersumpah bahwa perang tidak akan berhenti sampai Islam berkuasa di tiap wilayah dan kawasan, dan sampai Muslim dihormati dan kepemimpinan kembali kepada mereka.

Dengan situasi yang telah sampai pada titik ini, aku memutuskan untuk menulis artikel yang berisikan nasehat dan tuntunan pada istri-istri tentara Shahawat, yang bagiku {agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Rabbmu, dan supaya mereka bertaqwa} [Al-A'raf: 164].

Tulisan kami ini untuk istri-istri dari Shahawat yang berorientasi sekuler, yang telah mengatakan secara eksplisit atau implisit bahwa mereka berkeinginan untuk memerintah dengan demokrasi, atau sesuai dengan kehendak rakyat, atau dengan pembagian kekuasaan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, {Dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan} [Al-Kahfi: 26].

Kami juga menulis artikel ini untuk para istri Shahawat yang dengan dangkalnya mengklaim Islam dan meletakkan leher mereka bagi saudara-saudara sekuler mereka dan mendukung mereka dengan nyawa dan segala yang berharga untuk melawan para muwahiddin.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, {Dan barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka} [Al-Ma’idah: 51].

Di antara kisah-kisah indah yang ditemukan di dalam buku sejarah ialah kisah Zainab, putri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan suaminya Abul Ash Ibnu ar-Rabi, yang disatukan oleh cinta dan pernikahan, dan terpisahkan karena kekufuran dan kesyirikan. Abul Ash menikahi Zainab, yang merupakan putri dari bibi jalur ibunya yaitu Khadijah radhiyallahu ‘anha. Ketika wahyu turun atas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Khadijah dan putrinya beriman dan mengikuti agamanya, termasuk Zainab. Suaminya Abul Ash, menolak Islam dan tetap dalam kesyirikan. Pada waktu itu. Islam telah memisahkan tiap pasangan-pasangan suami istri dimana salah satu dari mereka menganut selain dari Islam. Abul Ash, bagaimanapun, mempertahankan istrinya agar tetap di Makkah. Kemudian, Allah subhanahu wa ta’ala berkehendak ia jatuh sebagai tawanan Muslimin dalam pertempuran Badar. Orang Makkah mengirimkan tebusan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Disini, Ummahatul Mu'minin Aisyah binti ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya, la berkata, "Ketika orang Makkah mengirim tebusan bagi kerabat-kerabat mereka yang tertawan, Zainab binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim sejumlah harta sebagai tebusan bagi Abul Ash Ibnu ar-Rabi', la mengirim sebuah kalung yang diberikan Khadijah yang ia kenakan saat menikah dengan Abul Ash". Aisyah berkata, "Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melihatnya, ia merasa amat kasihan padanya. Beliau berkata, 'Jika kalian ingin membebaskan tawanan dan mengembalikan hartanya padanya, maka lakukanlah'. Mereka berkata, 'ya, wahai Rasulullah'. Maka mereka membebaskannya dan mengembalikan apa yang menjadi miliknya" [Riwayat Imam Ahmad dan Abu Dawud].

Dan diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mensyaratkan padanya untuk mengembalikan Zainab ketika ia sampai di Makkah karena Zainab tidak lagi halal untuknya selama ia masih seorang musyrik. Abul Ash melakukanya, dan Zainab radhiyallahu 'anha pergi ke Madinah, negeri Islam. Zainab meninggalkan Makkah karena kecintaannya pada Allah dan dalam ketundukan pada perintah-Nya, dan tidak meletakkan suaminya dan persahabatannya diatas titah Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, karena {Dan tidak patut bagi laki-laki mukmin dan tidak pula bagi perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasulnya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah tersesat dalam kesesatan yang nyata} [Al-Ahzab: 36].

Bagaimanapun, Allah menghendaki membuka pintu hati Abul Ash pada kebenaran bertahun-tahun setelah istrinya hijrah, maka ia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan keislamannya, maka Nabi mengembalikan Zainab padanya.

Kemudian ada kisah Ummu Sulaim Binti Milhan yang serupa dengan itu, yang menolak menikah dengan seorang kafir dan mensyaratkan bahwa ia harus memeluk Islam sebagai mahar (maskawin). Diriwayatkan dari Anas yang berkata, "Abu Thalhah melamar Ummu Sulaim, maka ia menjawab, 'Demi Allah, tidak ada hal yang dapat ditolak dari diri engkau, wahai Abu Thalhah, kecuali kamu seorang pria kafir dan aku seorang wanita muslim dan hal tersebut tidak diperbolehkan bagiku untuk menikah denganmu. Jadi apabila engkau memeluk Islam, maka hal itu akan menjadi mahar bagiku, dan aku tidak akan meminta dari engkau selain itu'. Maka ia memeluk Islam dan itulah maharnya." [HR. an-Nasai dan Ibnu Hibban].

Inilah Islam. Dinyatakan secara terang-terangan, secara jelas, dan eksplisit: {Mereka (istri-istri) tidak halal bagi mereka (suami-suami), dan mereka tidak halal bagi mereka (istri-istri)} [Al-Mumtahanah: 10].

Jadi tidak ada Islam bersama kekufuran, tidak ada tauhid dengan kesyirikan, dan tidak ada iman dengan nifaq. Dan rumah kecil Muslim ini adalah inti dari Ummah, dan kisah dua pasangan dan anak-anak mereka seperti sebuah pohon yang menghasilkan cabang-cabangnya dan menguatkan mereka, dan ia tegak diatas pokok batangnya. Pohon yang sangat indah dan buahnya menggembirakan. Jika tanahnya dikotori dengan kekufuran dan kesyirikan, maka bagaimana mungkin, bagaimana mungkin pohon tersebut dapat berdiri tegak dan menggembirakan?!

Diantara istri-istri tentara Shahawat ada yang tidak peduli dengan kondisi aqidah dan iman suaminya. Tidak menjadi masalah baginya jika jika suaminya tidur sebagai muslim dan bangun sebagai seorang kafir, la melihat suaminya berenang di lautan kemurtadan dan ia tidak peduli. Dan diantara para istri Shahawat ada juga yang mengetahui kekufuran suaminya, tapi tetap tinggal bersama suaminya, takut pada kekerasan dari suaminya. Dan diantara mereka ada juga yang setuju dengan apapun yang suaminya lakukan. Bahkan, ia mungkin sangat mendukung dan memperkuat suaminya.

Pada awalnya, aku katakan, wahai wanita hamba-hamba Allah, tiap hamba akan bertanggung jawab sendiri pada hari Pengadilan atas amalan-amalannya - sebagaimana perkataan Allah, {Dan semua manusia akan datang kepada-Nya pada hari kiamat sendiri} [Maryam: 95] - tidak diperbolehkan bagi kalian dalam keadaan apapun untuk tinggal dibawah atap yang sama dengan seseorang yang telah melepas tali Islam dari lehernya, dan ikatan pernikahan antara kalian dan suami kalian telah terhapus saat ia murtad dari agama Islam. Maka ia menjadi tidak halal bagi kalian saat itu dan tidak akan menjadi halal bagi kalian seterusnya, dan tidak diizinkan baginya apa-apa yang dizinkan bagi seorang laki-laki pada istrinya - kalian adalah orang lain bagi mereka - kecuali mereka bertaubat dan kembali kepada Islam. Hubungan apapun antara kalian dengan mereka ialah hubungan yang dilarang menurut Syariah. Bahkan, hal tersebut sama dengan zina, jadi berhati-hatilah.

Kalian mungkin akan berkata bahwa banyak faktor yang menghalangi kalian untuk berpisah dengannya, hal pertama pasti masalah anak - bahwa suami kalian akan mengambil anak-anak dari kalian dan akan menghalangi kalian bertemu mereka, kalian tidak berdaya akan hal itu!

Dan kalian mungkin akan menggunakan alasan keuangan, karena suami kalian yang memberi nafkah pada kalian dan kalian tidak punya keluarga - atau mungkin mereka mengikuti bendera Shahawat, dan kalian terjebak diantara suami dan keluarga kalian, jadi bagaimana mungkin bisa selamat? Aku katakan, meskipun aku memahami perasaan kalian, perasaan keibuan kalian, dan rasa takut akan putus hubungan dengan keluarga kalian dan meskipun aku memahami ketakutan kalian akan kemiskinan, tapi aku tidak menemukan alasan apapun bagi kalian karena Allah subhanahu wa ta'ala berkata, {Katakanlah, "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri istri, kerabat kalian, harta yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya"} [At-Taubah: 24].

Jika seseorang berada dalam kondisi ini, apa balasan bagi mereka? Yang Maha Mengetahui menjawab, {"Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak menunjuki orang-orang yang fasik"} [At-Taubah: 24].

Jadi tidak ada argumen yang dapat membebaskan kalian dari pertanyaan Allah subhanahu wa ta’ala. Jika kalian takut pada Rabb kalian dan kemurkaan-Nya, maka tinggalkanlah suami murtad ini dalam ketaatan pada Allah subhanahu wa ta’ala, maka Dia subhanahu wa ta’ala akan menggantinya dengan yang lebih baik dan akan mendatangkan bagi kalian dari arah yang tidak kalian sangka-sangka. Dan la akan mengembalikan anak-anak kalian kepada kalian jika ada kebaikan pada mereka, sebagaimana la mengembalikan Musa 'alaihis salam kepada ibunya setelah beberapa waktu.

Jika, kalian menganggap enteng tinggal bersama dengan suami kalian yang kafir yang merupakan musuh Allah dan Rasul-Nya dan telah menjual akhiratnya dengan dunia, dan memerangi muwahiddin serta menyebarkan kerusakan di bumi, maka ketahuilah bahwa tidak ada yang akan menyelamatkan kalian dari hukuman Allah.

Diriwayatkan melalui Ubay bin Ka'ab yang berkata, "Tidak ada seorang hamba yang meninggalkan sesuatu dan mengamalkan sesuatu karena Allah, kecuali Allah akan membawanya pada sesuatu yang lebih baik daripada apa yang tidak dia sangka. Dan tidak ada hamba yang mengganggap enteng sesuatu atau mendapatkannya dengan cara yang tidak benar, kecuali Allah akan membawanya pada sesuatu yang lebih buruk daripada apa yang tidak dia sangka" [Hilyatul Auliya].

Serupa dengan itu ialah kondisi seorang wanita yang tinggal bersama suami Shahawatnya dengan alasan bahwa ia takut pada suaminya dan takut pada kekerasan dari suaminya, sedangkan suaminya sadar betul bahwa ia berada dalam petunjuk dari selain Allah subhanahu wa ta’ala. Seorang muhajirah yang mulia dipenjara pada masa pengkhianatan Shahawat terhadap Daulah Islam di Halab berbicara pada kami dan mengatakan, "Saya dan suami saya dihadang di pos penjagaan milik Jabhah Jaulani. Mereka menyerahkan kami kepada kaki tangan mereka yang biasa disebut Liwa at-Tauhid, dan mereka sama sekali tidak bertauhid. Mereka membawa suami saya ke suatu tempat yang saya tidak tahu, dan menjebloskan saya ke sebuah rumah yang mereka biasa gunakan sebagai penjara untuk musuh mereka. Setiap hari, salah seorang wanita akan mendatangi kami membawakan makan siang. Pada awalnya, dia tidak mau bicara dengan saya sama sekali, dan saya perhatikan bahwa dia ketakutan dan kebingungan, sedemikian sehingga ia akan meletakkan makanan untuk saya dan segera pergi. Hari demi hari berlalu, dan saya mulai merasakan perubahan sikapnya terhadap saya, ia mulai berbicara dengan saya dan menanyakan pada saya beberapa hal. Sehingga ia mengetahui bahwa saya seorang muhajirah dan saya mengetahui bahwa ia adalah istri si keledai yang datang pada saya hampir setiap hari untuk mengomeli saya dan untuk 'mengajari' saya tentang agama, atau apa yang dia pegang!". "Satu hari, ia bertanya pada saya, 'Mengapa mereka memerangi khusus kalian saja?' karena itu saya mengambil kesempatan itu dan menjelaskan padanya alasan permusuhan mendalam dan kebencian mereka terhadap kami, bahwa kami sangat ingin Allah dan hukum syariah-Nya ditegakkan di negeri ini dan karena alasan itulah kami dianggap sebagai musuh dan diperangi. Saya melihatnya menyimak, dan kemudian berkata, 'Saya tahu bahwa suami saya salah, dan saya rasa Allah tidak ridha dengan kerjanya. Saya bahkan ingin menolong kamu untuk melarikan diri, tapi saya takut dia akan membunuh saya. Dia itu orang yang jahat!"'.

Ya, dia takut pada suaminya karena ia tahu suaminya seorang kriminal! Dia tahu bahwa suaminya berada dalam kesalahan, tapi rasa takut mencegahnya menyelamatkan dirinya di dunia dan akhirat! Ketakutan seperti apa ini yang dapat membuat kalian kehilangan akhirat kalian, padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, (Apakah kalian takut kepada mereka? Padahal Allah-lah yang berhak kamu takuti jika kamu benar-benar orang yang beriman} [At-Taubah: 13]?

Ketakutan seperti apa yang membuat kalian tinggal dengan seorang pria yang memiliki kebencian terhadap para pembela ar-Rahman? Bahkan Allah subhanahu wa ta'ala berkata dalam hadits qudsi, "Siapapun yang menunjukkan kebencian terhadap para penolong (Dien)-Ku, maka Aku nyatakan perang terhadapnya" [HR. al-Bukhari].

Dan ketakutan seperti apa yang membuat kalian tetap tinggal dibawah satu atap dengan seorang pria yang tidak halal bagi kalian, dan yang kalian tidak halal bagi mereka? Bahkan, kalian melahirkan anak-anak mereka! Kalian melahirkan anak-anak seorang murtad yang merupakan orang asing bagi kalian! Demi Allah, suatu keharusan bagi seorang wanita untuk merasakan bahwa kehancuran dunia dan isinya lebih ringan baginya dibandingkan tetap tinggal dalam penjagaan seorang pria musuh Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman.

Dan betapa sering aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, tidak adakah diantara istri-istri para thaghut ini dan tentara mereka seorang wanita yang menggugat? Tidak adakah diantara mereka seorang Asiyah?! Ya, Asiyah Binti Muzahim, istri Fir'aun. Asiyah yang sama yang dipuji oleh ayat Qur'an dan akan terus dibaca hingga hari dimana Allah mewariskan bumi ini dan segala isinya. {Dan Allah membuat istri Fir'aun sebagai perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: "Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim} [At-Tahrim: 11].

Dan ia adalah orang yang sama yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebutkan, "Banyak yang mendapatkan pujian adalah para laki-laki, tapi tidak ada diantara wanita yang mendapat pujian kecuali Maryam binti Imran dan Asiyah istri Fir'aun. Dan tentu saja, kebaikan Aisyah diatas semua wanita ialah seperti kebaikan tsarid* diatas semua makanan" [HR. al-Bukhari dan Muslim].

*Catatan editor: Tsarid ialah roti keras yang dihancurkan dicampur dengan daging rebus yang ditabur diatasnya.

Dialah seseorang yang dunia mengejarnya, tapi keyakinannya tidak menyukainya dan menolaknya, karena ia merindukan yang lebih baik dan lebih abadi, di Jannah, yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang shaleh! Dia tidak mencari kekuasaan dan tidak juga kehormatan di dunia, tidak juga yang dimiliki suaminya, istana dan harta benda. Dia berkata, {"Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam Jannah"} [At-Tahrim: 11].

la mendapatkan apa yang ia inginkan sebagaimana al-Baghawi rahimahullah berkata dalan tafsirnya, "Para mufassirin berkata, 'Ketika Musa mengalahkan para tukang sihir, istri Fir'aun meyakininya, dan ketika Fir'aun mengetahui keislamannya, ia mengikat tangan dan kakinya di empat titik dan meninggalkanya dibawah terik matahari. Salman berkata, 'Istri Fir'aun disiksa dengan panas matahari, tapi ketika mereka meninggalkannya, para malaikat menaunginya', {ketika ia berkata, "Ya Rabbku, bangunkanlah untukku rumah di sisi Engkau di Jannah"}. Maka Allah membangunkannya rumah di Jannah dan ia melihatnya. Dan dalam sebuah riwayat, disebutkan bahwa Fir'aun memerintahkan untuk melemparkan batu besar pada Asiyah, tapi ketika mereka datang dengan batu besar, Asiyah berkata, {"Ya Rabbku, bangunkanlah untukku rumah di sisi Engkau di Jannah"}. Kemudian ia melihat rumahnya di Jannah, yang dibuat dari mutiara putih, kemudian jiwanya diambil. Maka ketika batu besar itu dilemparkan ke tubuhnya, ia tidak merasakan rasa sakit sama sekali. Al-Hasan dan Ibnu Kaisan berkata, 'Allah mengangkat istri Fir'aun ke Jannah, disana ia makan dan minum'. {Dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya}. Muqatil berkata, {'Dan perbuatannya}, bermakna: syirik. Abu Salih menceritakan bahwa Ibnu Abbas berkata, {Dan perbuatannya}, bermakna: persetubuhan dengannya. {Dan selamatkanlah aku dari orang-orang yang melanggar}, bermakna: kuffar".

Karena itu bagi seseorang yang mengetahui kondisi kemurtadan suaminya, dan kejahatannya terhadap hamba-hamba Allah, dan kesetiaannya pada kufar, dan dukungannya melawan Muslim, meskipun ia menyetujui dan membelanya, dan bahkan mendukungnya dengan harta dan pendapatnya, maka aku bacakan padanya cerita ini. Cerita ini tentang dua istri al-Mukhtar Ibnu Abi Ubaid ats-Tsaqafi, salah seorang pendusta yang kufur dan mengaku sebagai nabi, setelahnya Allah memberikan kesempatan untuk membawa kepalanya kepada Mus'ab Ibnu az-Zubair radhiyallahu ‘anhuma. la meninggalkan dua istri. Imam Ibnu Katsir mengatakan tentang mereka, "Mus'ab bertanya pada Ummu Tsabit binti Samurah Ibnu Jundub istri al-Mukhtar tentangnya, dan ia berkata, 'Apa yang dapat aku katakan tentang dia selain apa yang kamu katakan tentangnya'. Setelah ia meninggalkannya dan memanggil istrinya yang lain, Amrah binti an-nu'man Ibnu Basyir, dan berkata padanya, 'Apa pendapatmu tentangnya?'. Maka ia berkata, 'Semoga Allah merahmatinya. la adalah hamba Allah yang baik'. Maka ia memenjarakannya dan menulis surat pada saudaranya dan berkata, 'la berkata bahwa ia adalah seorang nabi'. Maka saudaranya menulis balasannya dan mengatakan, 'Keluarkan dia dan bunuh dia'. Maka ia membawanya ke pinggiran kota dan memukulnya beberapa kali sampai ia mati" [Al-Bidayah wan-Nihayah].

Jadi berhati-hatilah, wahai wanita hamba-hamba Allah. {Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat dengan apa yang dikerjakannya} [Al-An'am: 132]. {Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa Allah lalai dari apa yang dibuat oleh orang-orang yang zhalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata akan terbelalak} [Ibrahim: 42].

Dan jangan pernah berpikir -semoga Allah menunjuki kalian- bahwa memiliki jenggot panjang atau mengenakan Qandahariyah** adalah faktor yang menghalang takfir dan menjadikan suami kalian sempurna. Berapa banyak jenggot tebal - yang minum dari cangkir kemurtaddan hingga tetes terakhir, dan para ulama istana tertawa dan menganggap remeh, dan bersekutu dengan kufar dan memerangi kebenaran - mempunyai kekuasaan di bumi ini kemudian mereka berbalik dari Syariah-Nya, tidak menghukum dengan apa yang diturunkan oleh Rabb mereka bahkan untuk satu jam pun. Bahkan dalam kasus seorang wanita yang berzina, mereka membunuhnya dengan menembakinya dengan peluru, sementara ia terus berkata bahwa ia dituduh melakukan pelacuran! Mereka takut kalau-kalau kebenarannya terungkap di muka umum mereka yang akan terkena luka tembakan! Jenggot-jenggot ini yang telah berkompromi dengan prinsip dan pondasi agama hingga mereka benar-benar meninggalkannya dengan mendukung murtaddin melawan muslim, dan mereka baru-baru ini menolak untuk muncul bagi Ummah ini kecuali dengan "Baju Fanatisme Suriah", dengan sebuah pesan pada sekutu mereka diantara faksi-faksi menerima dukungan bersyarat, yang artinya, "Kami nasionalis. Perhatian kami hanyalah Suriah, tidak ada yang lain. Kami berdamai dengan Druze Suriah dan mengobarkan perang melawan muwahid lraq. Karena itu sambutlah kami dan jangan takut pada kami! Kami tidak akan melewati batas Sykes-Picot yang dibuat oleh salibis, menghormati kalian, dan dalam rangka menghindari dan mencegah kemarahan kalian dan mencari kesenangan kalian!"***

**Catatan Editor: jenis tsaub yang biasa dipakai para lelaki Afghanistan.

***Catatan Editor: berkaitan dengan pengkhianat Jaulani, yang muncul di sebuah wawancara dengan Al-jazeera. Pendiriannya tentang Druze dibahas secara dalam artikel berjudul "Aliansi Al-Qa’idah di Syam (Bagian 3)".

Mereka menipu kalian, wahai wanita-wanita hamba Allah. Mereka berkata, "Kami berperang karena Allah dan akan menegakkan syariah-Nya". Bagaimana mungkin? Sedangkan mereka sedang bersekutu dengan tiap kafir dan tiap pendosa?! Diantara mereka adalah orang-orang yang tidak ingin dengan "syariah", dan diantara mereka juga ada orang-orang yang ingin "syariah" yang dirubah oleh mereka dengan "kepentingan umum". Jadi bila ada bagian Syariah yang sesuai dengan kepentingan mereka, mereka ambil, dan apapun syariah yang berlawanan dengan kepentingan mereka, maka mereka membelakanginya. Dan melalui koalisi yang mereka dirikan ini, mereka telah menjadi sekutu satu sama lain, dan tidak ada bedanya barisan mereka diantara orang-orang berjenggot dan orang yang bersih tercukur, tidak juga antara penghafal Al-Qur’an dan para pelaku bid'ah.

Tentu saja, semoga Allah menunjuki kalian, kalian yang masih bersama dengan suami yang senang memiliki pesawat tempur yang terbang melintasi langit untuk menaburkan lava kematian atas muslimin, atas wanita dan anak-anak tak berdaya. Dan dengan amat buruk mereka sorot dengan walkie-talkie mereka, yang memperlihatkan kesenangan dan kegembiraan melihat serangan para koalisi salibis di tanah muslimin. Tentu saja, kalian sedang melayani suami yang tekun menyenangkan Arab, ataupun Barat, atau rakyat, bukan menyenangkan Rabbnya. Kalian akan lelah sendiri, dan semua kelelahan kalian untuknya hanya akan menjadi debu yang berterbangan!

Mungkin istri seorang tentara Shahawat akan terkejut dengan kata-kataku jika ia membacanya dan berhadapan dengan kenyataan tentang suaminya, tapi aku katakan padanya, demi Allah, aku hanyalah pemberi nasehat. {Aku tidak bermaksud kecuali merubah selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan melalui Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal, dan hanya kepada-Nyalah aku kembali} [Hud: 88].

Dan jika kalian adalah para pencari kebenaran, maka carilah dan telitilah, dan Allah tidak akan mengabaikan amalan kalian. Dan ketahuilah bahwa ada dua pilihan bagi kalian, tidak ada yang ketiga. Kalian menasehati suami kalian dan menjad- ikannya takut pada Allah subhanahu wa ta’ala dan mengingatkannya kepada-Nya. Jika ia melunak dan bertaubat, maka itulah karunia Allah, yang la anugerahkan kepada siapa yang la kehendaki. Jika dia memperlihatkan kesombongan dan harga dirinya menahannya dalam kedosaan, maka bagian kalian untuk meninggalkannya di dunia sehingga kalian akan selamat di akhirat.

Dan disini aku menyeru kalian untuk berhijrah kepada kami di tanah yang diberkahi, Daulah Islam! Tidakkah kalian mencintai Allah dan Rasul-Nya? Apa kalian tidak ingin untuk hidup di negeri dimana tidak ada hukum yang ditegakkan selain hukum Allah subhanahu wa ta’ala? Karena itu datanglah, berjalanlah menuju Darul lslam. Dan aku ingatkan kalian tentang kewajiban individual pada setiap muslim dan muslimah untuk berhijrah dari Darul Kufur menuju Darul lslam.

Allah subhanahu wa ta’ala berkata, {Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, malaikat bertanya: "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?". Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri". Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?" Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali} [An-Nisa: 97].

Imam Ibnu Katsir berkata "Ayat mulia ini umum dan berkaitan dengan setiap orang yang tinggal diantara musyrikin sementara ia mampu untuk berhijrah dan tidak dapat menegakkan agama. Karena itu ia menzhalimi diri sendiri dan berdosa sesuai dengan kalimat ayat ini dimana Allah berkata, {Sesungguhnya, mereka yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri}, bermakna: dengan meninggalkan hijrah, {[malaikat] akan berkata, "Dalam keadaan apa kamu ini?"}, bermakna: kenapa kalian tetap tinggal disini dan meninggalkan hijrah? {Mereka menjawab:"Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri"}, bermakna: kami tidak mampu meninggalkan negeri, tidak juga mampu berjalan di bumi, {para malaikat akan berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?" Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali"}.

Dan jangan tunggu wanita-wanita istri tentara Shahawat lain untuk berhijrah. Jadilah teladan dan contoh bagi mereka semua, dan betapa besar kehormatan bagi para pelopor. Ulama salaf berselisih tentang siapa muhajirah pertama pada masa awal hijrah. Beberapa mengatakan wanita pertama yang berhijrah ialah Ummu Salamah. Yang lain mengatakan Laila binti Khaitsamah, istri Amir bin Rabi'ah.

Dan ketahuilah, semoga Allah menunjuki kalian, bahwa hari ini kalian mengikuti seorang suami yang akan berlepas diri dari kalian besok. {Ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa, dan segala hubungan antara mereka terputus sama sekali} [Al-Baqarah: 166].

Dan ingatlah bahwa hanya Allah Rabb bagi mereka yang tak berdaya, dan tempat berlindung mereka yang ketakutan, dan penolong bagi siapa yang mencari pertolongan, jadi bersegeralah menuju negeri kehormatan yang dengannya kalian telah menukar dunia kalian untuk akhirat kalian.

Dan akhir seruan kami ialah Alhamdulillah, Rabb Pencipta. Shalawat dan salam bagi pemimpin kita Muhammad, dan bagi keluarga dan sahabat-sahabatnya.

MUHAJIRAH, SAUDARA KANDUNG PARA MUHAJIRIN

DABIQ 8 - MUSLIMAH

KEPADA SAUDARI KAMI :
MUHAJIRAH, SAUDARA KANDUNG PARA MUHAJIRIN
Oleh : Ummu Sumayah Al-Muhajirah

Dengan nama Allah yang telah menurunkan ayat bagi para muhajirah, dan memeliharanya di dalam Al-Qur'an hingga hari Kiamat, Shalawat dan salam semoga tercurah atas imam para mujahidin, orang yang paling dicinta oleh kaum anshar dan muhajirin, dan atas para keluarga, shahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari pembalasan. Amma ba'du.

Maka sesungguhnya, di saat hijrah di jalan Allah adalah perkara yang sangat agung, maka Allah menurunkan sebuah ayat: “Dan orang-orang yang pertama kali masuk Islam dari kalangan muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik, maka Allah meridhai mereka dan mereka ridha kepada Allah, dan Allah mempersiapkan bagi mereka surge yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, itulah kemenangan yang agung.” (At-Taubah: 100).

Demikian juga, seandainya bukan karena hijrah tentulah Nabi tidak akan memberikan permisalan kepada kita dengan sabdanya 'Setiap amal itu tergantung dari niatnya', di mana beliau bersabda: “Maka siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya”. Hijrah dari Makkah ke Madinah juga telah menjadi moment besar dan titik perubahan paling berpengaruh dalam misi kenabian, dia juga mengandung pelajaran yang sangat berharga, sehingga dia telah menjadi kejadian paling agung dalam sejarah Islam, dan dengan alasan ini dia menjadi dasar penganggalan dalam kalender Islam.

Hijrah di jalan Allah bertujuan untuk menyelamatkan diri dari fitnah, lantaran takut terjatuh ke dalamnya, dan menyelamatkan agama, karena terbiasa melihat kekufuran dan kesyirikan tanpa sedikitpun tergugah untuk merubahnya terkadang akan mematikan hati, sehingga tidak merasakan lagi perasaan Islam dan pemeluknya. Begitu juga di antara tujuan hijrah adalah untuk memperkuat barisan kaum muslimin dan membantu mereka untuk berjihad melawan musuh-musuh Allah dan juga musuh mereka.

Dan hijrah, menurut definisi yang disebutkan oleh Imam Ibnu Qudamah adalah “Meninggalkan Darul Kufr menuju Darul Islam” (Al-Mughni). Syaikh Sa'd bin Atiq rahimahullah berkata, “Berpindah dari tempat syirik dan maksiat menuju negeri Islam dan ta'at” (Ad-Durar As-Saniyah). Dan Darul Islam Adalah negeri yang diatur oleh kaum Muslimin dan berlaku di dalamnya hukum-hukum islam, sehingga yang menjadi penentu adalah kaum muslimin, walau terkadang mayoritas masyarakatnya adalah kafir, sedangkan Darul Kufr adalah negeri yang diatur oleh orang-orang kafir, berlaku di dalamnya hukum-hukum kafir dan yang menjadi penentu adalah orang-orang kafir, walaupun mungkin mayoritas masyarakatnya adalah muslim.

Adapun hukum hijrah, yaitu dari darul kufr menuju darul Islam, adalah wajib. Allah berfirman : "Sesungguhnya orang-orang yang dicabut nyawanya oleh malaikat dalam keadaan menzhalimi diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya, "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?" Mereka menjawab, "Kami orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah)". Mereka (para malaikat) bertanya, "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?" Maka orang-orang itu tempatnya di neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali." (An-Nisa : 97).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Ayat ini menunjukkan kewajiban hijrah secara umum, maka setiap yang tinggal di antara masyarakat musyrik, dan dia sanggup untuk hijrah, dan tidak bisa leluasa menjalankan agamanya, maka dia berarti telah zhalim terhadap dirinya sendiri dan telah melakukan perbuatan haram secara ijma', telah diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanadnya dari Samurah bin Jundab radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Barangsiapa yang bercampur baur bersama orang-orang musyrik atau tinggal bersama mereka maka sesungguhnya dia seperti mereka”.

Dan seandainya tidak ada dalil-dalil lain atas wajibnya hijrah kecuali hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Tidak akan terputus hijrah hingga terputusnya taubat, dan tidak akan terputus taubat hingga matahari terbit dari barat” (diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Mu'awiyah radhiyallahu anhu) dan “Tidak akan terputus hijrah selama masih ada jihad” (Diriwayatkan oleh Ahmad), dan “Aku berlepas diri dari seorang muslim yang tinggal di antara orang-orang musyrik” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Abu Dawud), dan “Tidak akan terputus hijrah selama musuh masih diperangi” (DIriwayatkan oleh Ahmad dan Nasa'i), jika kita tidak memiliki dalil-dalil kecuali hadits-hadits ini, maka ini semua telah cukup dan memadahi untuk menolak syubhat orang-orang yang membuat ragu dan kedustaan orang-orang yang membuat khawatir.

Dan hukum ini wajib atas wanita sebagaimana dia wajib atas laki-laki, di mana Allah Ta'ala ketika mengecualikan orang-orang yang tidak sanggup berhijrah, Dia mengecualikan orang-orang yang tidak sanggup dari kalangan wanita sebagaimana mengecualikan orang-orang yang tidak sanggup dari kalangan laki-laki. Allah berfirman; "Kecuali orang-orang lemah dari laki-laki, wanita dan anakanak yang tidak berdaya dan tidak mengetahui jalan, maka mereka itu mudah-mudahan Allah memaafkannya. Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun" (An-Nisa: 98-99). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda; “Wanita adalah saudara kandung laki-laki” (diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Dan hari ini, setelah kaum muslimin menegakkan sebuah daulah yang berhukum dengan Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan wilayah kekuasaan yang terbentang lebih luas dari beberapa Negara bentukan Sykes Pycot, dan para tentaranya telah mengembalikan tentang khilafah yang dijanjikan dengan tajamnya pedang bukan dengan sikap pasif, maka menguatlah alur hijrah sehingga setiap hari tidak hanya muhajirin yang berhijrah ke negeri Islam, namun juga muhajirah, mereka telah bosan hidup di tengah kekufuran dan orang-orangnya, maka ketika mentari Daulah yang mereka tunggu telah bersinar, mereka pun segera melesat ke sana, baik secara berkelompok maupun secara sendiri-sendiri, dari berbagai penjuru bumi, timur dan baratnya, berbagai warna kulit dan bermacam bahasa namun hati mereka bersatu di atas Laa ilaaha illallah, dan aku teringat di saat aku berhijrah dan aku adalah satu-satunya wanita Arab di tengah-tengah para akhawat muhajirah.

Jika pembicaraan tentang muhajirin adalah hal yang menakjubkan, maka membicarakan saudara mereka dari kalangan muhajirah adalah hal yang lebih menakjubkan! Berapa banyak kisah yang jika bukan karena aku mendengarnya langsung dari lisan pelakunya atau melihat langsung dengan mata kepalaku sendiri, maka aku mengira itu hanya dongen yang tidak masuk akal dan sesuatu yang mustahil!

Orang-orang yang tidak suka sering mengatakan bahwa mereka yang berhijrah ke Daulah Islam adalah kelompok masyarakat pinggiran di negerinya, hidup terlunta-lunta dengan susah payah antara menganggur, kemiskinan, problem rumah tangga dan gangguan jiwa, akan tetapi yang aku lihat berbeda dari itu semua! Aku melihat mereka adalah wanita yang telah mentalak dunia dan datang kepada Rabbnya, aku melihat para wanita yang zuhud dari kehidupan yang nyaman dan harta yang berlimpah, aku melihat wanita yang meninggalkan rumah megah dan mobil mewah untuk berlari di jalan Rabbnya dengan mengatakan di dalam hatinya "Wahai Rabbku bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu di surga" (At-Tahrim: 11). Kama nahsabuhu, wallahu hasibuhu (Beginilah penilaianku, dan Allahlah sebaik-baik penilai).

Mereka adalah gelas-gelas kaca tetapi jiwa mereka adalah jiwa para ksatria, bahkan semangat mereka hampir merengkuh angkasa. Ya, mereka adalah para akhawat muwahhidah yang berhijrah ke pangkuan Daulah Islamiyah, mereka telah mewarisi semangat ini dari ibunda mereka, istri Rasul mereka shallallahu ‘alaihi wasallam ibunda kaum mukminin; Saudah binti Zam'ah radhiyallahu ‘anha, wanita yang telah hijrah ke Habasyah dan ke Madinah dan keluar dari Makkah dengan berbagai kemuliaannya, bersama sebelas wanita Quraisy lainnya dan tujuh wanita dari suku lain, dan juga saat hijrah kedua.

Sesungguhnya kisah hijrah para muwahhidah yang telah dikisahkan kepadaku tidaklah terlepas dari kesulitan dan ujian, semua dimulai ketika ukhti mengajukan idenya untuk keluar di jalan Allah, dan tantangan pertama bagi para muhajirah ini tidak lain adalah keluarga, dan kalian pasti tahu siapa itu keluarga! Kebanyakan keadaan keluarga mereka adalah orang-orang Islam yang awam, yang ketika mereka melayangkan ide hijrah maka seakan dia melayangkan sebuah batu karang ke atas mereka! Ya, seorang wanita adalah kehormatan mereka dan hak mereka untuk khawatir kepada mereka, akan tetapi mereka tidak khawatir atau takut apabila ukhti ini akan melakukan perjalanan mereka ke Paris atau London untuk mencari ilmu yang tidak bermanfaat, bahkan engkau dapati mereka mengharap hal itu, berusaha membantu dan membanggakannya, tetapi jika tujuannya adalah Daulah Islamiyah, maka semua akan menjadi fuqaha, yang memutuskan ini boleh dan itu tidak boleh! Dan demi Allah, aku mengenal seseorang yang keluar menemani suaminya menuju bandara dan tiba-tiba dihentikan oleh tentara thaghut setelah keluarganya memberikan informasi tentang mereka! Ini kisah wanita yang bersama mahram, lalu bagaimana yang tidak?

Maka di sini aku ingin mengatakannya dengan suara paling lantang, kepada orang-orang yang hatinya sakit berkepanjangan atas kehormatan para wanita yang menjaga diri, hijrah wanita dari Darul Kufr adalah kewajiban atasnya, baik bersama mahram atau tanpa mahram, jika dia mengetahui jalan yang relatif aman dan takut kepada Allah terhadap dirinya, pergi keluar tanpa menunggu siapa pun, pergi bersama agamanya dan sampai di negeri yang Islam menjadi jaya dan juga pemeluknya, dan siapa yang ragu akan hal ini maka telitilah kembali kitab-kitab fiqh dan pendapat para ulama, dan beritahukanlah kami, kepada siapa ayat mulia ini diturunkan?

"Hai orang-orang yang beriman, apabila perempuan-perampuan mukmin datang berhijrah kepadamu, maka hendaklah kamu uji keimanan mereka, Allah lebih tahu tentang keimanan mereka, dan jika engkau telah mengetahui tentang keimanan mereka maka janganlah engkau kembalikan mereka kepada orang-orang kafir." (Al-Mumtahanah: 10)

Akan tetapi, orang-orang yang berisik ini tidak sepakat dengan kita dalam hal pokok, yakni tegaknya Daulah Islamiyah walau telah terpenuhi syarat dan legitimasinya, lalu bagaimana mereka mau mendebat kami dalam masalah yang hanya cabangnya saja, yaitu hijrahnya para wanita tanpa mahram dari Darul Kufr menuju Darul Islam?! Maka tidak ada yang bisa kami ucapkan kecuali cukuplah Allah bagi kami, dan Dia adalah sebaik-baik penolong kami dari setiap orang yang menghalangi para muhajirah walau dengan satu huruf, dan di sisi Allah kelak akan diputuskan segala peraduan!

Lalu ukhti kita ini pun berhasil melewati tantangan keluarga, dengan jalan dan pengawasan dari Allah dan kemudahan dari-Nya, dia harus menempuh perjalanan panjang dan berat, walau sebenarnya menyenangkan dan penuh kenangan indah, dan sungguh terkadang kami bertukar kisah dan pengalaman hijrah kami, bertukar perasaan yang dialami dalam perjalanan hijrah kami, dan seakanakan kami baru keluar dari kegelapan menuju cahaya, dari gua yang sempit dan sesak menuju lembah hijau yang luas, bahkan demi Allah, seakan kami baru saja dibangkitkan dari kematian! Ya benar, memang ada rasa takut, di sana ada rasa khawatir dan gelisah, karena mereka yang membenci muwahhid senantiasa terus mengintai, akan tetapi siapakah yang memberi keteguhan? Siapakah yang memberi rasa aman, siapakah yang memberikan rasa tenang di hati hamba-hamba yang lemah? Dia adalah Allah… Raja Diraja!

Aku pernah bertemu dengan seorang ukhti yang sedang hamil di usia keenam bulan, dia bersama suaminya berasal dari Inggris, aku sangat heran dengan petualangan mereka, aku bertanya, “Mengapa engkau tidak menunggu melahirkan bayimu lalu membawanya dan pergi berhijrah?” dia menjawab; “Tidak, kami tidak bisa lagi menunggu lebih lama, kami telah meleleh karena rindu dengan Daulah Islam!” Ada juga wanita lain yang hijrah bersama suaminya, dia dalam keadaan hamil, melakukan perjalanan menggunakan mobil dan menyeberangi tiga Negara hingga sampai di pangkuan Daulah Islamiyah, dan Allah menakdirkannya melahirkan janinnya dalam keadaan meninggal, mungkin karena perjalanan yang cukup berat yang dia hadapi hingga berpengaruh kepada janinnya. Ya, dia meninggal dan dimakamkan di Daulah Islamiyah dan ibunya dalam keadaan senang dan bersyukur –Kama nahsabuhu, wallahu hasibuhu (Beginilah penilaianku, dan Allahlah sebaik-baik penilai)– ya, dia meninggal di Daulah Islamiyah dalam keadaan fithrah, dan itu lebih baik dari pada dia dimatikan dalam keadaan teracuni kurikulum pendidikan thaghut. Betapa mahalnya hijrah dan alangkah murahnya pengorbanan di jalannya.

Dan ada juga seorang wanita tua, nenek yang menemaniku dalam perjalan yang menyenangkan, dia datang menemani seorang anak lelakinya, seorang anak perempuannya dan seorang cucunya, dan setelah bercerita panjang lebar apa yang dia hadapi dari kesulitan dan ujian hingga dia berhasil meninggalkan negerinya, dia mengatakan; “Putraku telah terbunuh, sehingga aku datang ke sini dengan anak laki-lakiku yang lain, anak perempuanku dan cucuku!” Allahu Akbar, Engkau telah membuat lelah orang yang ingin menyaingimu wahai nenek!

Maka tidaklah jalan kebenaran itu berhamparkan kecuali dengan duri, dan tidaklah surga itu dikelilingi kecuali dengan sesuatu yang dibenci jiwa, dan di jalan menuju surga maka tidak ada tempat bagi para penakut dan pengecut!

Jika aku lupa akan sesuatu, maka aku tidak akan lupa saat-saat aku pertama kali menginjakkan kaki ini ke tanah Islam yang indah, saat-saat melihat panji al-'uqab berkibar gagah! Berapa lama hati ini melihat berhala yang berkibar di negeri-negeri kufur! Dan checkpoint pertama yang kami lihat, gambaran pertama tentang tentara Daulah Islam, yang sangat jauh berbeda dengan apa yang ada di internet dan televisi, kumuh dan berdebu dengan percikan darah dan kotor, tapi sekarang aku melihatnya dengan mata kepala sendiri, air mataku menetes deras dan lisanku bertakbir dengan perlahan! Duhai, alangkah banyak kebaikan yang terhalang untukmu wahai orang yang tetap dudukduduk dan enggan berangkat jihad?

Allah berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang dicabut nyawanya oleh malaikat dalam keadaan menzhalimi sendiri, mereka (para malaikat) bertanya, “Bagaimana kamu ini?” Mereka menjawab, “Kami orang-orang yang tertindas di bumi (Mekah).” Mereka (para malaikat) bertanya, “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah (berpindah-pindah) di bumi itu?” Maka orang-orang itu tempatnya di neraka Jahanam, dan (Jahanam) itu seburuk-buruk tempat kembali" (An-Nisa: 97). Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan; “Dan ancaman keras ini menunjukkan bahwa itu adalah wajib” (Al-Mughni).

Namun ayat ini kemudian didengar oleh telinga para wanita hamba Allah dan merenungkannya, sehingga tumbuhlah semangat dan dia pun segera berhijrah meninggalkan negerinya, keluarganya, teman-teman dan cita-citanya demi hidup di bawah naungan syari'at Islam! Dan setiap kali aku bertanya kepada salah seorang dari mereka, “Apa yang membuatmu datang ke mari?” selalu aku dengar sebuah jawaban yang berulang-ulang; “Syari'at Allah” sebuah jawaban singkat namun jelas dan telah mencakup semua! Sedangkan telinga kaum laki-laki dari putra-putra kaumku, maka seolah telinga mereka tersumpal sesuatu –kecuali mereka yang dirahmati Allah– yang ini tertahan oleh dunia, yang itu tertahan oleh istrinya, dan yang lain mencari fatwa dari para 'syaikh' yang menakutkan, dan berkata; “Hai anakku, tetaplah engkau duduk di sini dan jauhilah olehmu fitnah”, dan sebagian lagi akalnya terkena tiupan setan sehingga menjadi samar beberapa hal, sehingga tidak bisa mengetahui kebenaran dari kebathilan, dan kepadanya aku katakan; “Dua raka'at di tengah malam, beberapa sujud dengan tulus, doa yang berlinang air mata, dan 'Ya Allah, perlihatkanlah aku kebenaran itu sebagai kebenaran dan karuniailah aku kekuatan untuk mengikutinya, dan tunjukilah aku kebathilan itu sebagai kebathilan dan karuniailah aku kekuatan untuk menjauhinya”, jika engkau jujur dalam melakukannya maka tidak perlu waktu lama engkau menunggu.

Sesungguhnya aku, berapa pun yang aku katakan dan apa yang aku tuliskan, maka aku tidak bisa memenuhi hak para muhajirah Daulah Islam, andaikan bukan suatu halangan tentu akan aku tuliskan dengan air mata kisah-kisah mereka, aku pernah melihat dua wanita yang mengeluarkan anak-anak mereka yang berusia sekitar lima belas tahunan, di suatu malam ketika perang sedang berkecamuk, dua wanita ini mendorong anak mereka keluar rumah sambil terus mengucapkan; “Allahu Akbar! Pergilah ke surga yang luasnya seluas langit dan bumi!” Rabbi! Sesungguhnya mereka adalah anak-anak mereka, belahan jiwa mereka, akan tetapi tidak ada yang lebih mahal dari dien ini dan dari umat ini! Ya, mereka adalah para muhajirah Daulah Islamiyah dan tidak lebih mulia dari ini, mereka telah mengenal dan faham dengan Haritsah yang berada di Firdaus lewat persaksian pemimpin para manusia, shallallahu ‘alaihi wasallam, - demi ayah dan ibuku sebagai tebusannya – “Sungguh Haritsah telah meninggal pada saat perang Badar, dan ketika itu usianya masih muda, ibunya datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata; “Wahai Rasulullah, engkau tahu kedudukan Haritsah di hatiku, jika dia sekarang berada di surga maka aku akan bersabar dan mengharap pahala Allah, jika sebaliknya maka Engkau akan melihat apa yang akan aku perbuat”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Kasihan engkau… apakah engkau telah kehilangan fikiran, apakah engkau kira hanya satu surga? Sungguh itu adalah surga-surga, dan sesungguhnya dia ada di surga Firdaus”. (Shahih Al-Bukhari).

Di sini, aku ingin berbisik di telinga setiap ukhti muha- jirah, yang diuji dengan kehilangan suami di medan juang di Daulah ini; “Teguhlah wahai saudari ku, bersabarlah dan berharaplah akan pahala Allah, dan janganlah, sekali lagi janganlah engkau berfikir untuk kembali ke bumi para thaghut, dan ketahuilah bahwa engkau juga memiliki akhawat yang juga telah diuji dengan ujian seperti ujianmu, dari terbunuhnya suami, ada yang diamputasi, ada yang lumpuh, ada juga yang tertawan musuh, akan tetapi mereka tetap teguh laksana gunung yang menjulang, tidaklah ujian itu semua kecuali membuat mereka semakin sabar dan kuat, dan janganlah engkau lupa bahwa balasan itu sesuai dengan kadar ujian, dan “Sungguh mengherankan urusan seorang mukmin, sesungguhnya seluruh urusannya adalah kebaikan, dan itu tidak terjadi pada seorang pun kecuali pada seorang mukmin, jika dia mendapat kesenangan dia bersyukur, dan itu baik untuknya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia bersabar, dan itu juga baik untuknya” (Shahih Muslim).

Ini adalah jalan para mukminat yang bersabar, tidak seperti para lelaki gadungan yang masih saja kita lihat digembosi oleh apa yang disebut 'Minbar Tauhid wal Jihad' yang menyeru untuk mengeluarkan para wanita dari wilayah Nainawa yang diberkahi.

Dan kepada mereka yang masih mengenakan pakaian nasihat dari minbar mukhadzil itu, aku katakan: “Engkau berkata dengan kedustaan atas kekhawatiran kalian kepada para wanita muwahhidah, padahal mereka sendiri tidak takut kecuali hanya kepada Allah semata, jika engkau masih memiliki kebaikan tentu engkau telah mengenakan pakaian perang untuk membela umat dan datang untuk beribath di perbatasan Mosul untuk melindungi 'akhawatmu', akan tetapi jauh dan jauh sekali… semoga Allah memburukkan turban para wanita PKK, mereka justru lebih jantan dari mereka!

Dan akhir dari seruan kami adalah segala puji hanya milik Allah. Shalawat dan salam semoga tercurah atas Nabi Muhammad, dan atas keluarga dan seluruh shahabatnya.