DABIQ 10 - MUSLIMAH
MEREKA BUKANLAH PASANGAN YANG HALAL SATU SAMA LAIN (NASEHAT UNTUK ISTRI MURTADDIN)
Oleh: Ummu Sumayah al-Muhajirah
Dengan nama Allah, yang Maha Hebat lagi Maha Kuat. Semoga shalawat dan salam atas Rasul yang jujur dan terpercaya, serta atas keluarganya, para sahabatnya, dan yang mengikutinya dalam kebenaran hingga Hari Perhitungan.
Seiring perang di Syam yang membongkar kemunafikan, sampai pada satu titik dimana hanya ada dua kubu tanpa ada yang ketiga -kubu iman tanpa kekufuran didalamnya, dan kubu kufur tanpa keimanan didalamnya- dan barisan yang tersaring, memisahkan antara seorang mujahid fisabilillah -dan dengan izin Allah, termasuk ke dalam ath-Thaifah al-Manshurah (kelompok yang Menang), yang tidak akan dicelakai oleh orang-orang yang melawannya dan tidak juga oleh orang-orang yang meninggalkannya- dan seorang "mujahid" yang berdasarkan konsep yang beragam-ragam: Negara sipil, patriotisme, nasionalisme, sekularisme, demokrasi, sosialisme, dll. Semua tujuan-tujuan kekufuran tidak diberi kekuasaan oleh Allah, dan tidak akan membawa para pengikutnya kecuali kehinaan di dunia dan kobaran api yang akan mereka masuki di akhirat nanti. Dan telah diketahui oleh setiap pribadi siapa yang berperang sebagai perpanjangan tangan dari anjing Gedung Putih dan boneka-bonekanya dan siapa yang bersekutu dengan perpanjangan tangan faksi-faksi yang melawan Daulah Islam seraya mengklaim bahwa mereka berjuang fi sabilillah untuk (menerapkan) syari’at-Nya, sementara anda tidak akan melihat mereka mengimplementasikan syari’at di tiap jengkal wilayah yang Allah kuasakan kepada mereka. Fokus mereka hanyalah untuk menyenangkan "kebanyakan orang" bahkan dengan menukarkannya dengan kemurkaan Allah, seperti kasus Jabhah Jaulani - telah diketahui bahwa semua jenis kelompok ini adalah Shahawat (semoga Allah menghancurkan mereka). Mereka mengumpulkan semua sampah dan najis pada satu perkara, yaitu untuk memerangi Daulah Islam - Semoga Allah menolongnya. Mereka menggenggam permusuhan terhadap Daulah Islam yang murni aqidahnya, lurus manhajnya, dan jelas tujuannya. Tentara-tentaranya yakin pada Allah dan menunjukkan ketetapan hati dengan bersumpah bahwa perang tidak akan berhenti sampai Islam berkuasa di tiap wilayah dan kawasan, dan sampai Muslim dihormati dan kepemimpinan kembali kepada mereka.
Dengan situasi yang telah sampai pada titik ini, aku memutuskan untuk menulis artikel yang berisikan nasehat dan tuntunan pada istri-istri tentara Shahawat, yang bagiku {agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Rabbmu, dan supaya mereka bertaqwa} [Al-A'raf: 164].
Tulisan kami ini untuk istri-istri dari Shahawat yang berorientasi sekuler, yang telah mengatakan secara eksplisit atau implisit bahwa mereka berkeinginan untuk memerintah dengan demokrasi, atau sesuai dengan kehendak rakyat, atau dengan pembagian kekuasaan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, {Dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan} [Al-Kahfi: 26].
Kami juga menulis artikel ini untuk para istri Shahawat yang dengan dangkalnya mengklaim Islam dan meletakkan leher mereka bagi saudara-saudara sekuler mereka dan mendukung mereka dengan nyawa dan segala yang berharga untuk melawan para muwahiddin.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, {Dan barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka} [Al-Ma’idah: 51].
Di antara kisah-kisah indah yang ditemukan di dalam buku sejarah ialah kisah Zainab, putri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan suaminya Abul Ash Ibnu ar-Rabi, yang disatukan oleh cinta dan pernikahan, dan terpisahkan karena kekufuran dan kesyirikan. Abul Ash menikahi Zainab, yang merupakan putri dari bibi jalur ibunya yaitu Khadijah radhiyallahu ‘anha. Ketika wahyu turun atas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Khadijah dan putrinya beriman dan mengikuti agamanya, termasuk Zainab. Suaminya Abul Ash, menolak Islam dan tetap dalam kesyirikan. Pada waktu itu. Islam telah memisahkan tiap pasangan-pasangan suami istri dimana salah satu dari mereka menganut selain dari Islam. Abul Ash, bagaimanapun, mempertahankan istrinya agar tetap di Makkah. Kemudian, Allah subhanahu wa ta’ala berkehendak ia jatuh sebagai tawanan Muslimin dalam pertempuran Badar. Orang Makkah mengirimkan tebusan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Disini, Ummahatul Mu'minin Aisyah binti ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya, la berkata, "Ketika orang Makkah mengirim tebusan bagi kerabat-kerabat mereka yang tertawan, Zainab binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim sejumlah harta sebagai tebusan bagi Abul Ash Ibnu ar-Rabi', la mengirim sebuah kalung yang diberikan Khadijah yang ia kenakan saat menikah dengan Abul Ash". Aisyah berkata, "Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melihatnya, ia merasa amat kasihan padanya. Beliau berkata, 'Jika kalian ingin membebaskan tawanan dan mengembalikan hartanya padanya, maka lakukanlah'. Mereka berkata, 'ya, wahai Rasulullah'. Maka mereka membebaskannya dan mengembalikan apa yang menjadi miliknya" [Riwayat Imam Ahmad dan Abu Dawud].
Dan diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mensyaratkan padanya untuk mengembalikan Zainab ketika ia sampai di Makkah karena Zainab tidak lagi halal untuknya selama ia masih seorang musyrik. Abul Ash melakukanya, dan Zainab radhiyallahu 'anha pergi ke Madinah, negeri Islam. Zainab meninggalkan Makkah karena kecintaannya pada Allah dan dalam ketundukan pada perintah-Nya, dan tidak meletakkan suaminya dan persahabatannya diatas titah Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, karena {Dan tidak patut bagi laki-laki mukmin dan tidak pula bagi perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasulnya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah tersesat dalam kesesatan yang nyata} [Al-Ahzab: 36].
Bagaimanapun, Allah menghendaki membuka pintu hati Abul Ash pada kebenaran bertahun-tahun setelah istrinya hijrah, maka ia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan keislamannya, maka Nabi mengembalikan Zainab padanya.
Kemudian ada kisah Ummu Sulaim Binti Milhan yang serupa dengan itu, yang menolak menikah dengan seorang kafir dan mensyaratkan bahwa ia harus memeluk Islam sebagai mahar (maskawin). Diriwayatkan dari Anas yang berkata, "Abu Thalhah melamar Ummu Sulaim, maka ia menjawab, 'Demi Allah, tidak ada hal yang dapat ditolak dari diri engkau, wahai Abu Thalhah, kecuali kamu seorang pria kafir dan aku seorang wanita muslim dan hal tersebut tidak diperbolehkan bagiku untuk menikah denganmu. Jadi apabila engkau memeluk Islam, maka hal itu akan menjadi mahar bagiku, dan aku tidak akan meminta dari engkau selain itu'. Maka ia memeluk Islam dan itulah maharnya." [HR. an-Nasai dan Ibnu Hibban].
Inilah Islam. Dinyatakan secara terang-terangan, secara jelas, dan eksplisit: {Mereka (istri-istri) tidak halal bagi mereka (suami-suami), dan mereka tidak halal bagi mereka (istri-istri)} [Al-Mumtahanah: 10].
Jadi tidak ada Islam bersama kekufuran, tidak ada tauhid dengan kesyirikan, dan tidak ada iman dengan nifaq. Dan rumah kecil Muslim ini adalah inti dari Ummah, dan kisah dua pasangan dan anak-anak mereka seperti sebuah pohon yang menghasilkan cabang-cabangnya dan menguatkan mereka, dan ia tegak diatas pokok batangnya. Pohon yang sangat indah dan buahnya menggembirakan. Jika tanahnya dikotori dengan kekufuran dan kesyirikan, maka bagaimana mungkin, bagaimana mungkin pohon tersebut dapat berdiri tegak dan menggembirakan?!
Diantara istri-istri tentara Shahawat ada yang tidak peduli dengan kondisi aqidah dan iman suaminya. Tidak menjadi masalah baginya jika jika suaminya tidur sebagai muslim dan bangun sebagai seorang kafir, la melihat suaminya berenang di lautan kemurtadan dan ia tidak peduli. Dan diantara para istri Shahawat ada juga yang mengetahui kekufuran suaminya, tapi tetap tinggal bersama suaminya, takut pada kekerasan dari suaminya. Dan diantara mereka ada juga yang setuju dengan apapun yang suaminya lakukan. Bahkan, ia mungkin sangat mendukung dan memperkuat suaminya.
Pada awalnya, aku katakan, wahai wanita hamba-hamba Allah, tiap hamba akan bertanggung jawab sendiri pada hari Pengadilan atas amalan-amalannya - sebagaimana perkataan Allah, {Dan semua manusia akan datang kepada-Nya pada hari kiamat sendiri} [Maryam: 95] - tidak diperbolehkan bagi kalian dalam keadaan apapun untuk tinggal dibawah atap yang sama dengan seseorang yang telah melepas tali Islam dari lehernya, dan ikatan pernikahan antara kalian dan suami kalian telah terhapus saat ia murtad dari agama Islam. Maka ia menjadi tidak halal bagi kalian saat itu dan tidak akan menjadi halal bagi kalian seterusnya, dan tidak diizinkan baginya apa-apa yang dizinkan bagi seorang laki-laki pada istrinya - kalian adalah orang lain bagi mereka - kecuali mereka bertaubat dan kembali kepada Islam. Hubungan apapun antara kalian dengan mereka ialah hubungan yang dilarang menurut Syariah. Bahkan, hal tersebut sama dengan zina, jadi berhati-hatilah.
Kalian mungkin akan berkata bahwa banyak faktor yang menghalangi kalian untuk berpisah dengannya, hal pertama pasti masalah anak - bahwa suami kalian akan mengambil anak-anak dari kalian dan akan menghalangi kalian bertemu mereka, kalian tidak berdaya akan hal itu!
Dan kalian mungkin akan menggunakan alasan keuangan, karena suami kalian yang memberi nafkah pada kalian dan kalian tidak punya keluarga - atau mungkin mereka mengikuti bendera Shahawat, dan kalian terjebak diantara suami dan keluarga kalian, jadi bagaimana mungkin bisa selamat? Aku katakan, meskipun aku memahami perasaan kalian, perasaan keibuan kalian, dan rasa takut akan putus hubungan dengan keluarga kalian dan meskipun aku memahami ketakutan kalian akan kemiskinan, tapi aku tidak menemukan alasan apapun bagi kalian karena Allah subhanahu wa ta'ala berkata, {Katakanlah, "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri istri, kerabat kalian, harta yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya"} [At-Taubah: 24].
Jika seseorang berada dalam kondisi ini, apa balasan bagi mereka? Yang Maha Mengetahui menjawab, {"Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak menunjuki orang-orang yang fasik"} [At-Taubah: 24].
Jadi tidak ada argumen yang dapat membebaskan kalian dari pertanyaan Allah subhanahu wa ta’ala. Jika kalian takut pada Rabb kalian dan kemurkaan-Nya, maka tinggalkanlah suami murtad ini dalam ketaatan pada Allah subhanahu wa ta’ala, maka Dia subhanahu wa ta’ala akan menggantinya dengan yang lebih baik dan akan mendatangkan bagi kalian dari arah yang tidak kalian sangka-sangka. Dan la akan mengembalikan anak-anak kalian kepada kalian jika ada kebaikan pada mereka, sebagaimana la mengembalikan Musa 'alaihis salam kepada ibunya setelah beberapa waktu.
Jika, kalian menganggap enteng tinggal bersama dengan suami kalian yang kafir yang merupakan musuh Allah dan Rasul-Nya dan telah menjual akhiratnya dengan dunia, dan memerangi muwahiddin serta menyebarkan kerusakan di bumi, maka ketahuilah bahwa tidak ada yang akan menyelamatkan kalian dari hukuman Allah.
Diriwayatkan melalui Ubay bin Ka'ab yang berkata, "Tidak ada seorang hamba yang meninggalkan sesuatu dan mengamalkan sesuatu karena Allah, kecuali Allah akan membawanya pada sesuatu yang lebih baik daripada apa yang tidak dia sangka. Dan tidak ada hamba yang mengganggap enteng sesuatu atau mendapatkannya dengan cara yang tidak benar, kecuali Allah akan membawanya pada sesuatu yang lebih buruk daripada apa yang tidak dia sangka" [Hilyatul Auliya].
Serupa dengan itu ialah kondisi seorang wanita yang tinggal bersama suami Shahawatnya dengan alasan bahwa ia takut pada suaminya dan takut pada kekerasan dari suaminya, sedangkan suaminya sadar betul bahwa ia berada dalam petunjuk dari selain Allah subhanahu wa ta’ala. Seorang muhajirah yang mulia dipenjara pada masa pengkhianatan Shahawat terhadap Daulah Islam di Halab berbicara pada kami dan mengatakan, "Saya dan suami saya dihadang di pos penjagaan milik Jabhah Jaulani. Mereka menyerahkan kami kepada kaki tangan mereka yang biasa disebut Liwa at-Tauhid, dan mereka sama sekali tidak bertauhid. Mereka membawa suami saya ke suatu tempat yang saya tidak tahu, dan menjebloskan saya ke sebuah rumah yang mereka biasa gunakan sebagai penjara untuk musuh mereka. Setiap hari, salah seorang wanita akan mendatangi kami membawakan makan siang. Pada awalnya, dia tidak mau bicara dengan saya sama sekali, dan saya perhatikan bahwa dia ketakutan dan kebingungan, sedemikian sehingga ia akan meletakkan makanan untuk saya dan segera pergi. Hari demi hari berlalu, dan saya mulai merasakan perubahan sikapnya terhadap saya, ia mulai berbicara dengan saya dan menanyakan pada saya beberapa hal. Sehingga ia mengetahui bahwa saya seorang muhajirah dan saya mengetahui bahwa ia adalah istri si keledai yang datang pada saya hampir setiap hari untuk mengomeli saya dan untuk 'mengajari' saya tentang agama, atau apa yang dia pegang!". "Satu hari, ia bertanya pada saya, 'Mengapa mereka memerangi khusus kalian saja?' karena itu saya mengambil kesempatan itu dan menjelaskan padanya alasan permusuhan mendalam dan kebencian mereka terhadap kami, bahwa kami sangat ingin Allah dan hukum syariah-Nya ditegakkan di negeri ini dan karena alasan itulah kami dianggap sebagai musuh dan diperangi. Saya melihatnya menyimak, dan kemudian berkata, 'Saya tahu bahwa suami saya salah, dan saya rasa Allah tidak ridha dengan kerjanya. Saya bahkan ingin menolong kamu untuk melarikan diri, tapi saya takut dia akan membunuh saya. Dia itu orang yang jahat!"'.
Ya, dia takut pada suaminya karena ia tahu suaminya seorang kriminal! Dia tahu bahwa suaminya berada dalam kesalahan, tapi rasa takut mencegahnya menyelamatkan dirinya di dunia dan akhirat! Ketakutan seperti apa ini yang dapat membuat kalian kehilangan akhirat kalian, padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, (Apakah kalian takut kepada mereka? Padahal Allah-lah yang berhak kamu takuti jika kamu benar-benar orang yang beriman} [At-Taubah: 13]?
Ketakutan seperti apa yang membuat kalian tinggal dengan seorang pria yang memiliki kebencian terhadap para pembela ar-Rahman? Bahkan Allah subhanahu wa ta'ala berkata dalam hadits qudsi, "Siapapun yang menunjukkan kebencian terhadap para penolong (Dien)-Ku, maka Aku nyatakan perang terhadapnya" [HR. al-Bukhari].
Dan ketakutan seperti apa yang membuat kalian tetap tinggal dibawah satu atap dengan seorang pria yang tidak halal bagi kalian, dan yang kalian tidak halal bagi mereka? Bahkan, kalian melahirkan anak-anak mereka! Kalian melahirkan anak-anak seorang murtad yang merupakan orang asing bagi kalian! Demi Allah, suatu keharusan bagi seorang wanita untuk merasakan bahwa kehancuran dunia dan isinya lebih ringan baginya dibandingkan tetap tinggal dalam penjagaan seorang pria musuh Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman.
Dan betapa sering aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, tidak adakah diantara istri-istri para thaghut ini dan tentara mereka seorang wanita yang menggugat? Tidak adakah diantara mereka seorang Asiyah?! Ya, Asiyah Binti Muzahim, istri Fir'aun. Asiyah yang sama yang dipuji oleh ayat Qur'an dan akan terus dibaca hingga hari dimana Allah mewariskan bumi ini dan segala isinya. {Dan Allah membuat istri Fir'aun sebagai perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: "Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim} [At-Tahrim: 11].
Dan ia adalah orang yang sama yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebutkan, "Banyak yang mendapatkan pujian adalah para laki-laki, tapi tidak ada diantara wanita yang mendapat pujian kecuali Maryam binti Imran dan Asiyah istri Fir'aun. Dan tentu saja, kebaikan Aisyah diatas semua wanita ialah seperti kebaikan tsarid* diatas semua makanan" [HR. al-Bukhari dan Muslim].
*Catatan editor: Tsarid ialah roti keras yang dihancurkan dicampur dengan daging rebus yang ditabur diatasnya.
Dialah seseorang yang dunia mengejarnya, tapi keyakinannya tidak menyukainya dan menolaknya, karena ia merindukan yang lebih baik dan lebih abadi, di Jannah, yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang shaleh! Dia tidak mencari kekuasaan dan tidak juga kehormatan di dunia, tidak juga yang dimiliki suaminya, istana dan harta benda. Dia berkata, {"Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam Jannah"} [At-Tahrim: 11].
la mendapatkan apa yang ia inginkan sebagaimana al-Baghawi rahimahullah berkata dalan tafsirnya, "Para mufassirin berkata, 'Ketika Musa mengalahkan para tukang sihir, istri Fir'aun meyakininya, dan ketika Fir'aun mengetahui keislamannya, ia mengikat tangan dan kakinya di empat titik dan meninggalkanya dibawah terik matahari. Salman berkata, 'Istri Fir'aun disiksa dengan panas matahari, tapi ketika mereka meninggalkannya, para malaikat menaunginya', {ketika ia berkata, "Ya Rabbku, bangunkanlah untukku rumah di sisi Engkau di Jannah"}. Maka Allah membangunkannya rumah di Jannah dan ia melihatnya. Dan dalam sebuah riwayat, disebutkan bahwa Fir'aun memerintahkan untuk melemparkan batu besar pada Asiyah, tapi ketika mereka datang dengan batu besar, Asiyah berkata, {"Ya Rabbku, bangunkanlah untukku rumah di sisi Engkau di Jannah"}. Kemudian ia melihat rumahnya di Jannah, yang dibuat dari mutiara putih, kemudian jiwanya diambil. Maka ketika batu besar itu dilemparkan ke tubuhnya, ia tidak merasakan rasa sakit sama sekali. Al-Hasan dan Ibnu Kaisan berkata, 'Allah mengangkat istri Fir'aun ke Jannah, disana ia makan dan minum'. {Dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya}. Muqatil berkata, {'Dan perbuatannya}, bermakna: syirik. Abu Salih menceritakan bahwa Ibnu Abbas berkata, {Dan perbuatannya}, bermakna: persetubuhan dengannya. {Dan selamatkanlah aku dari orang-orang yang melanggar}, bermakna: kuffar".
Karena itu bagi seseorang yang mengetahui kondisi kemurtadan suaminya, dan kejahatannya terhadap hamba-hamba Allah, dan kesetiaannya pada kufar, dan dukungannya melawan Muslim, meskipun ia menyetujui dan membelanya, dan bahkan mendukungnya dengan harta dan pendapatnya, maka aku bacakan padanya cerita ini. Cerita ini tentang dua istri al-Mukhtar Ibnu Abi Ubaid ats-Tsaqafi, salah seorang pendusta yang kufur dan mengaku sebagai nabi, setelahnya Allah memberikan kesempatan untuk membawa kepalanya kepada Mus'ab Ibnu az-Zubair radhiyallahu ‘anhuma. la meninggalkan dua istri. Imam Ibnu Katsir mengatakan tentang mereka, "Mus'ab bertanya pada Ummu Tsabit binti Samurah Ibnu Jundub istri al-Mukhtar tentangnya, dan ia berkata, 'Apa yang dapat aku katakan tentang dia selain apa yang kamu katakan tentangnya'. Setelah ia meninggalkannya dan memanggil istrinya yang lain, Amrah binti an-nu'man Ibnu Basyir, dan berkata padanya, 'Apa pendapatmu tentangnya?'. Maka ia berkata, 'Semoga Allah merahmatinya. la adalah hamba Allah yang baik'. Maka ia memenjarakannya dan menulis surat pada saudaranya dan berkata, 'la berkata bahwa ia adalah seorang nabi'. Maka saudaranya menulis balasannya dan mengatakan, 'Keluarkan dia dan bunuh dia'. Maka ia membawanya ke pinggiran kota dan memukulnya beberapa kali sampai ia mati" [Al-Bidayah wan-Nihayah].
Jadi berhati-hatilah, wahai wanita hamba-hamba Allah. {Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat dengan apa yang dikerjakannya} [Al-An'am: 132]. {Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa Allah lalai dari apa yang dibuat oleh orang-orang yang zhalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata akan terbelalak} [Ibrahim: 42].
Dan jangan pernah berpikir -semoga Allah menunjuki kalian- bahwa memiliki jenggot panjang atau mengenakan Qandahariyah** adalah faktor yang menghalang takfir dan menjadikan suami kalian sempurna. Berapa banyak jenggot tebal - yang minum dari cangkir kemurtaddan hingga tetes terakhir, dan para ulama istana tertawa dan menganggap remeh, dan bersekutu dengan kufar dan memerangi kebenaran - mempunyai kekuasaan di bumi ini kemudian mereka berbalik dari Syariah-Nya, tidak menghukum dengan apa yang diturunkan oleh Rabb mereka bahkan untuk satu jam pun. Bahkan dalam kasus seorang wanita yang berzina, mereka membunuhnya dengan menembakinya dengan peluru, sementara ia terus berkata bahwa ia dituduh melakukan pelacuran! Mereka takut kalau-kalau kebenarannya terungkap di muka umum mereka yang akan terkena luka tembakan! Jenggot-jenggot ini yang telah berkompromi dengan prinsip dan pondasi agama hingga mereka benar-benar meninggalkannya dengan mendukung murtaddin melawan muslim, dan mereka baru-baru ini menolak untuk muncul bagi Ummah ini kecuali dengan "Baju Fanatisme Suriah", dengan sebuah pesan pada sekutu mereka diantara faksi-faksi menerima dukungan bersyarat, yang artinya, "Kami nasionalis. Perhatian kami hanyalah Suriah, tidak ada yang lain. Kami berdamai dengan Druze Suriah dan mengobarkan perang melawan muwahid lraq. Karena itu sambutlah kami dan jangan takut pada kami! Kami tidak akan melewati batas Sykes-Picot yang dibuat oleh salibis, menghormati kalian, dan dalam rangka menghindari dan mencegah kemarahan kalian dan mencari kesenangan kalian!"***
**Catatan Editor: jenis tsaub yang biasa dipakai para lelaki Afghanistan.
***Catatan Editor: berkaitan dengan pengkhianat Jaulani, yang muncul di sebuah wawancara dengan Al-jazeera. Pendiriannya tentang Druze dibahas secara dalam artikel berjudul "Aliansi Al-Qa’idah di Syam (Bagian 3)".
Mereka menipu kalian, wahai wanita-wanita hamba Allah. Mereka berkata, "Kami berperang karena Allah dan akan menegakkan syariah-Nya". Bagaimana mungkin? Sedangkan mereka sedang bersekutu dengan tiap kafir dan tiap pendosa?! Diantara mereka adalah orang-orang yang tidak ingin dengan "syariah", dan diantara mereka juga ada orang-orang yang ingin "syariah" yang dirubah oleh mereka dengan "kepentingan umum". Jadi bila ada bagian Syariah yang sesuai dengan kepentingan mereka, mereka ambil, dan apapun syariah yang berlawanan dengan kepentingan mereka, maka mereka membelakanginya. Dan melalui koalisi yang mereka dirikan ini, mereka telah menjadi sekutu satu sama lain, dan tidak ada bedanya barisan mereka diantara orang-orang berjenggot dan orang yang bersih tercukur, tidak juga antara penghafal Al-Qur’an dan para pelaku bid'ah.
Tentu saja, semoga Allah menunjuki kalian, kalian yang masih bersama dengan suami yang senang memiliki pesawat tempur yang terbang melintasi langit untuk menaburkan lava kematian atas muslimin, atas wanita dan anak-anak tak berdaya. Dan dengan amat buruk mereka sorot dengan walkie-talkie mereka, yang memperlihatkan kesenangan dan kegembiraan melihat serangan para koalisi salibis di tanah muslimin. Tentu saja, kalian sedang melayani suami yang tekun menyenangkan Arab, ataupun Barat, atau rakyat, bukan menyenangkan Rabbnya. Kalian akan lelah sendiri, dan semua kelelahan kalian untuknya hanya akan menjadi debu yang berterbangan!
Mungkin istri seorang tentara Shahawat akan terkejut dengan kata-kataku jika ia membacanya dan berhadapan dengan kenyataan tentang suaminya, tapi aku katakan padanya, demi Allah, aku hanyalah pemberi nasehat. {Aku tidak bermaksud kecuali merubah selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan melalui Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal, dan hanya kepada-Nyalah aku kembali} [Hud: 88].
Dan jika kalian adalah para pencari kebenaran, maka carilah dan telitilah, dan Allah tidak akan mengabaikan amalan kalian. Dan ketahuilah bahwa ada dua pilihan bagi kalian, tidak ada yang ketiga. Kalian menasehati suami kalian dan menjad- ikannya takut pada Allah subhanahu wa ta’ala dan mengingatkannya kepada-Nya. Jika ia melunak dan bertaubat, maka itulah karunia Allah, yang la anugerahkan kepada siapa yang la kehendaki. Jika dia memperlihatkan kesombongan dan harga dirinya menahannya dalam kedosaan, maka bagian kalian untuk meninggalkannya di dunia sehingga kalian akan selamat di akhirat.
Dan disini aku menyeru kalian untuk berhijrah kepada kami di tanah yang diberkahi, Daulah Islam! Tidakkah kalian mencintai Allah dan Rasul-Nya? Apa kalian tidak ingin untuk hidup di negeri dimana tidak ada hukum yang ditegakkan selain hukum Allah subhanahu wa ta’ala? Karena itu datanglah, berjalanlah menuju Darul lslam. Dan aku ingatkan kalian tentang kewajiban individual pada setiap muslim dan muslimah untuk berhijrah dari Darul Kufur menuju Darul lslam.
Allah subhanahu wa ta’ala berkata, {Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, malaikat bertanya: "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?". Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri". Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?" Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali} [An-Nisa: 97].
Imam Ibnu Katsir berkata "Ayat mulia ini umum dan berkaitan dengan setiap orang yang tinggal diantara musyrikin sementara ia mampu untuk berhijrah dan tidak dapat menegakkan agama. Karena itu ia menzhalimi diri sendiri dan berdosa sesuai dengan kalimat ayat ini dimana Allah berkata, {Sesungguhnya, mereka yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri}, bermakna: dengan meninggalkan hijrah, {[malaikat] akan berkata, "Dalam keadaan apa kamu ini?"}, bermakna: kenapa kalian tetap tinggal disini dan meninggalkan hijrah? {Mereka menjawab:"Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri"}, bermakna: kami tidak mampu meninggalkan negeri, tidak juga mampu berjalan di bumi, {para malaikat akan berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?" Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali"}.
Dan jangan tunggu wanita-wanita istri tentara Shahawat lain untuk berhijrah. Jadilah teladan dan contoh bagi mereka semua, dan betapa besar kehormatan bagi para pelopor. Ulama salaf berselisih tentang siapa muhajirah pertama pada masa awal hijrah. Beberapa mengatakan wanita pertama yang berhijrah ialah Ummu Salamah. Yang lain mengatakan Laila binti Khaitsamah, istri Amir bin Rabi'ah.
Dan ketahuilah, semoga Allah menunjuki kalian, bahwa hari ini kalian mengikuti seorang suami yang akan berlepas diri dari kalian besok. {Ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa, dan segala hubungan antara mereka terputus sama sekali} [Al-Baqarah: 166].
Dan ingatlah bahwa hanya Allah Rabb bagi mereka yang tak berdaya, dan tempat berlindung mereka yang ketakutan, dan penolong bagi siapa yang mencari pertolongan, jadi bersegeralah menuju negeri kehormatan yang dengannya kalian telah menukar dunia kalian untuk akhirat kalian.
Dan akhir seruan kami ialah Alhamdulillah, Rabb Pencipta. Shalawat dan salam bagi pemimpin kita Muhammad, dan bagi keluarga dan sahabat-sahabatnya.
MEREKA BUKANLAH PASANGAN YANG HALAL SATU SAMA LAIN (NASEHAT UNTUK ISTRI MURTADDIN)
Oleh: Ummu Sumayah al-Muhajirah
Dengan nama Allah, yang Maha Hebat lagi Maha Kuat. Semoga shalawat dan salam atas Rasul yang jujur dan terpercaya, serta atas keluarganya, para sahabatnya, dan yang mengikutinya dalam kebenaran hingga Hari Perhitungan.
Seiring perang di Syam yang membongkar kemunafikan, sampai pada satu titik dimana hanya ada dua kubu tanpa ada yang ketiga -kubu iman tanpa kekufuran didalamnya, dan kubu kufur tanpa keimanan didalamnya- dan barisan yang tersaring, memisahkan antara seorang mujahid fisabilillah -dan dengan izin Allah, termasuk ke dalam ath-Thaifah al-Manshurah (kelompok yang Menang), yang tidak akan dicelakai oleh orang-orang yang melawannya dan tidak juga oleh orang-orang yang meninggalkannya- dan seorang "mujahid" yang berdasarkan konsep yang beragam-ragam: Negara sipil, patriotisme, nasionalisme, sekularisme, demokrasi, sosialisme, dll. Semua tujuan-tujuan kekufuran tidak diberi kekuasaan oleh Allah, dan tidak akan membawa para pengikutnya kecuali kehinaan di dunia dan kobaran api yang akan mereka masuki di akhirat nanti. Dan telah diketahui oleh setiap pribadi siapa yang berperang sebagai perpanjangan tangan dari anjing Gedung Putih dan boneka-bonekanya dan siapa yang bersekutu dengan perpanjangan tangan faksi-faksi yang melawan Daulah Islam seraya mengklaim bahwa mereka berjuang fi sabilillah untuk (menerapkan) syari’at-Nya, sementara anda tidak akan melihat mereka mengimplementasikan syari’at di tiap jengkal wilayah yang Allah kuasakan kepada mereka. Fokus mereka hanyalah untuk menyenangkan "kebanyakan orang" bahkan dengan menukarkannya dengan kemurkaan Allah, seperti kasus Jabhah Jaulani - telah diketahui bahwa semua jenis kelompok ini adalah Shahawat (semoga Allah menghancurkan mereka). Mereka mengumpulkan semua sampah dan najis pada satu perkara, yaitu untuk memerangi Daulah Islam - Semoga Allah menolongnya. Mereka menggenggam permusuhan terhadap Daulah Islam yang murni aqidahnya, lurus manhajnya, dan jelas tujuannya. Tentara-tentaranya yakin pada Allah dan menunjukkan ketetapan hati dengan bersumpah bahwa perang tidak akan berhenti sampai Islam berkuasa di tiap wilayah dan kawasan, dan sampai Muslim dihormati dan kepemimpinan kembali kepada mereka.
Dengan situasi yang telah sampai pada titik ini, aku memutuskan untuk menulis artikel yang berisikan nasehat dan tuntunan pada istri-istri tentara Shahawat, yang bagiku {agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Rabbmu, dan supaya mereka bertaqwa} [Al-A'raf: 164].
Tulisan kami ini untuk istri-istri dari Shahawat yang berorientasi sekuler, yang telah mengatakan secara eksplisit atau implisit bahwa mereka berkeinginan untuk memerintah dengan demokrasi, atau sesuai dengan kehendak rakyat, atau dengan pembagian kekuasaan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, {Dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan} [Al-Kahfi: 26].
Kami juga menulis artikel ini untuk para istri Shahawat yang dengan dangkalnya mengklaim Islam dan meletakkan leher mereka bagi saudara-saudara sekuler mereka dan mendukung mereka dengan nyawa dan segala yang berharga untuk melawan para muwahiddin.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, {Dan barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka} [Al-Ma’idah: 51].
Di antara kisah-kisah indah yang ditemukan di dalam buku sejarah ialah kisah Zainab, putri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan suaminya Abul Ash Ibnu ar-Rabi, yang disatukan oleh cinta dan pernikahan, dan terpisahkan karena kekufuran dan kesyirikan. Abul Ash menikahi Zainab, yang merupakan putri dari bibi jalur ibunya yaitu Khadijah radhiyallahu ‘anha. Ketika wahyu turun atas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Khadijah dan putrinya beriman dan mengikuti agamanya, termasuk Zainab. Suaminya Abul Ash, menolak Islam dan tetap dalam kesyirikan. Pada waktu itu. Islam telah memisahkan tiap pasangan-pasangan suami istri dimana salah satu dari mereka menganut selain dari Islam. Abul Ash, bagaimanapun, mempertahankan istrinya agar tetap di Makkah. Kemudian, Allah subhanahu wa ta’ala berkehendak ia jatuh sebagai tawanan Muslimin dalam pertempuran Badar. Orang Makkah mengirimkan tebusan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Disini, Ummahatul Mu'minin Aisyah binti ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya, la berkata, "Ketika orang Makkah mengirim tebusan bagi kerabat-kerabat mereka yang tertawan, Zainab binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim sejumlah harta sebagai tebusan bagi Abul Ash Ibnu ar-Rabi', la mengirim sebuah kalung yang diberikan Khadijah yang ia kenakan saat menikah dengan Abul Ash". Aisyah berkata, "Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melihatnya, ia merasa amat kasihan padanya. Beliau berkata, 'Jika kalian ingin membebaskan tawanan dan mengembalikan hartanya padanya, maka lakukanlah'. Mereka berkata, 'ya, wahai Rasulullah'. Maka mereka membebaskannya dan mengembalikan apa yang menjadi miliknya" [Riwayat Imam Ahmad dan Abu Dawud].
Dan diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mensyaratkan padanya untuk mengembalikan Zainab ketika ia sampai di Makkah karena Zainab tidak lagi halal untuknya selama ia masih seorang musyrik. Abul Ash melakukanya, dan Zainab radhiyallahu 'anha pergi ke Madinah, negeri Islam. Zainab meninggalkan Makkah karena kecintaannya pada Allah dan dalam ketundukan pada perintah-Nya, dan tidak meletakkan suaminya dan persahabatannya diatas titah Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, karena {Dan tidak patut bagi laki-laki mukmin dan tidak pula bagi perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasulnya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah tersesat dalam kesesatan yang nyata} [Al-Ahzab: 36].
Bagaimanapun, Allah menghendaki membuka pintu hati Abul Ash pada kebenaran bertahun-tahun setelah istrinya hijrah, maka ia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan keislamannya, maka Nabi mengembalikan Zainab padanya.
Kemudian ada kisah Ummu Sulaim Binti Milhan yang serupa dengan itu, yang menolak menikah dengan seorang kafir dan mensyaratkan bahwa ia harus memeluk Islam sebagai mahar (maskawin). Diriwayatkan dari Anas yang berkata, "Abu Thalhah melamar Ummu Sulaim, maka ia menjawab, 'Demi Allah, tidak ada hal yang dapat ditolak dari diri engkau, wahai Abu Thalhah, kecuali kamu seorang pria kafir dan aku seorang wanita muslim dan hal tersebut tidak diperbolehkan bagiku untuk menikah denganmu. Jadi apabila engkau memeluk Islam, maka hal itu akan menjadi mahar bagiku, dan aku tidak akan meminta dari engkau selain itu'. Maka ia memeluk Islam dan itulah maharnya." [HR. an-Nasai dan Ibnu Hibban].
Inilah Islam. Dinyatakan secara terang-terangan, secara jelas, dan eksplisit: {Mereka (istri-istri) tidak halal bagi mereka (suami-suami), dan mereka tidak halal bagi mereka (istri-istri)} [Al-Mumtahanah: 10].
Jadi tidak ada Islam bersama kekufuran, tidak ada tauhid dengan kesyirikan, dan tidak ada iman dengan nifaq. Dan rumah kecil Muslim ini adalah inti dari Ummah, dan kisah dua pasangan dan anak-anak mereka seperti sebuah pohon yang menghasilkan cabang-cabangnya dan menguatkan mereka, dan ia tegak diatas pokok batangnya. Pohon yang sangat indah dan buahnya menggembirakan. Jika tanahnya dikotori dengan kekufuran dan kesyirikan, maka bagaimana mungkin, bagaimana mungkin pohon tersebut dapat berdiri tegak dan menggembirakan?!
Diantara istri-istri tentara Shahawat ada yang tidak peduli dengan kondisi aqidah dan iman suaminya. Tidak menjadi masalah baginya jika jika suaminya tidur sebagai muslim dan bangun sebagai seorang kafir, la melihat suaminya berenang di lautan kemurtadan dan ia tidak peduli. Dan diantara para istri Shahawat ada juga yang mengetahui kekufuran suaminya, tapi tetap tinggal bersama suaminya, takut pada kekerasan dari suaminya. Dan diantara mereka ada juga yang setuju dengan apapun yang suaminya lakukan. Bahkan, ia mungkin sangat mendukung dan memperkuat suaminya.
Pada awalnya, aku katakan, wahai wanita hamba-hamba Allah, tiap hamba akan bertanggung jawab sendiri pada hari Pengadilan atas amalan-amalannya - sebagaimana perkataan Allah, {Dan semua manusia akan datang kepada-Nya pada hari kiamat sendiri} [Maryam: 95] - tidak diperbolehkan bagi kalian dalam keadaan apapun untuk tinggal dibawah atap yang sama dengan seseorang yang telah melepas tali Islam dari lehernya, dan ikatan pernikahan antara kalian dan suami kalian telah terhapus saat ia murtad dari agama Islam. Maka ia menjadi tidak halal bagi kalian saat itu dan tidak akan menjadi halal bagi kalian seterusnya, dan tidak diizinkan baginya apa-apa yang dizinkan bagi seorang laki-laki pada istrinya - kalian adalah orang lain bagi mereka - kecuali mereka bertaubat dan kembali kepada Islam. Hubungan apapun antara kalian dengan mereka ialah hubungan yang dilarang menurut Syariah. Bahkan, hal tersebut sama dengan zina, jadi berhati-hatilah.
Kalian mungkin akan berkata bahwa banyak faktor yang menghalangi kalian untuk berpisah dengannya, hal pertama pasti masalah anak - bahwa suami kalian akan mengambil anak-anak dari kalian dan akan menghalangi kalian bertemu mereka, kalian tidak berdaya akan hal itu!
Dan kalian mungkin akan menggunakan alasan keuangan, karena suami kalian yang memberi nafkah pada kalian dan kalian tidak punya keluarga - atau mungkin mereka mengikuti bendera Shahawat, dan kalian terjebak diantara suami dan keluarga kalian, jadi bagaimana mungkin bisa selamat? Aku katakan, meskipun aku memahami perasaan kalian, perasaan keibuan kalian, dan rasa takut akan putus hubungan dengan keluarga kalian dan meskipun aku memahami ketakutan kalian akan kemiskinan, tapi aku tidak menemukan alasan apapun bagi kalian karena Allah subhanahu wa ta'ala berkata, {Katakanlah, "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri istri, kerabat kalian, harta yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya"} [At-Taubah: 24].
Jika seseorang berada dalam kondisi ini, apa balasan bagi mereka? Yang Maha Mengetahui menjawab, {"Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak menunjuki orang-orang yang fasik"} [At-Taubah: 24].
Jadi tidak ada argumen yang dapat membebaskan kalian dari pertanyaan Allah subhanahu wa ta’ala. Jika kalian takut pada Rabb kalian dan kemurkaan-Nya, maka tinggalkanlah suami murtad ini dalam ketaatan pada Allah subhanahu wa ta’ala, maka Dia subhanahu wa ta’ala akan menggantinya dengan yang lebih baik dan akan mendatangkan bagi kalian dari arah yang tidak kalian sangka-sangka. Dan la akan mengembalikan anak-anak kalian kepada kalian jika ada kebaikan pada mereka, sebagaimana la mengembalikan Musa 'alaihis salam kepada ibunya setelah beberapa waktu.
Jika, kalian menganggap enteng tinggal bersama dengan suami kalian yang kafir yang merupakan musuh Allah dan Rasul-Nya dan telah menjual akhiratnya dengan dunia, dan memerangi muwahiddin serta menyebarkan kerusakan di bumi, maka ketahuilah bahwa tidak ada yang akan menyelamatkan kalian dari hukuman Allah.
Diriwayatkan melalui Ubay bin Ka'ab yang berkata, "Tidak ada seorang hamba yang meninggalkan sesuatu dan mengamalkan sesuatu karena Allah, kecuali Allah akan membawanya pada sesuatu yang lebih baik daripada apa yang tidak dia sangka. Dan tidak ada hamba yang mengganggap enteng sesuatu atau mendapatkannya dengan cara yang tidak benar, kecuali Allah akan membawanya pada sesuatu yang lebih buruk daripada apa yang tidak dia sangka" [Hilyatul Auliya].
Serupa dengan itu ialah kondisi seorang wanita yang tinggal bersama suami Shahawatnya dengan alasan bahwa ia takut pada suaminya dan takut pada kekerasan dari suaminya, sedangkan suaminya sadar betul bahwa ia berada dalam petunjuk dari selain Allah subhanahu wa ta’ala. Seorang muhajirah yang mulia dipenjara pada masa pengkhianatan Shahawat terhadap Daulah Islam di Halab berbicara pada kami dan mengatakan, "Saya dan suami saya dihadang di pos penjagaan milik Jabhah Jaulani. Mereka menyerahkan kami kepada kaki tangan mereka yang biasa disebut Liwa at-Tauhid, dan mereka sama sekali tidak bertauhid. Mereka membawa suami saya ke suatu tempat yang saya tidak tahu, dan menjebloskan saya ke sebuah rumah yang mereka biasa gunakan sebagai penjara untuk musuh mereka. Setiap hari, salah seorang wanita akan mendatangi kami membawakan makan siang. Pada awalnya, dia tidak mau bicara dengan saya sama sekali, dan saya perhatikan bahwa dia ketakutan dan kebingungan, sedemikian sehingga ia akan meletakkan makanan untuk saya dan segera pergi. Hari demi hari berlalu, dan saya mulai merasakan perubahan sikapnya terhadap saya, ia mulai berbicara dengan saya dan menanyakan pada saya beberapa hal. Sehingga ia mengetahui bahwa saya seorang muhajirah dan saya mengetahui bahwa ia adalah istri si keledai yang datang pada saya hampir setiap hari untuk mengomeli saya dan untuk 'mengajari' saya tentang agama, atau apa yang dia pegang!". "Satu hari, ia bertanya pada saya, 'Mengapa mereka memerangi khusus kalian saja?' karena itu saya mengambil kesempatan itu dan menjelaskan padanya alasan permusuhan mendalam dan kebencian mereka terhadap kami, bahwa kami sangat ingin Allah dan hukum syariah-Nya ditegakkan di negeri ini dan karena alasan itulah kami dianggap sebagai musuh dan diperangi. Saya melihatnya menyimak, dan kemudian berkata, 'Saya tahu bahwa suami saya salah, dan saya rasa Allah tidak ridha dengan kerjanya. Saya bahkan ingin menolong kamu untuk melarikan diri, tapi saya takut dia akan membunuh saya. Dia itu orang yang jahat!"'.
Ya, dia takut pada suaminya karena ia tahu suaminya seorang kriminal! Dia tahu bahwa suaminya berada dalam kesalahan, tapi rasa takut mencegahnya menyelamatkan dirinya di dunia dan akhirat! Ketakutan seperti apa ini yang dapat membuat kalian kehilangan akhirat kalian, padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, (Apakah kalian takut kepada mereka? Padahal Allah-lah yang berhak kamu takuti jika kamu benar-benar orang yang beriman} [At-Taubah: 13]?
Ketakutan seperti apa yang membuat kalian tinggal dengan seorang pria yang memiliki kebencian terhadap para pembela ar-Rahman? Bahkan Allah subhanahu wa ta'ala berkata dalam hadits qudsi, "Siapapun yang menunjukkan kebencian terhadap para penolong (Dien)-Ku, maka Aku nyatakan perang terhadapnya" [HR. al-Bukhari].
Dan ketakutan seperti apa yang membuat kalian tetap tinggal dibawah satu atap dengan seorang pria yang tidak halal bagi kalian, dan yang kalian tidak halal bagi mereka? Bahkan, kalian melahirkan anak-anak mereka! Kalian melahirkan anak-anak seorang murtad yang merupakan orang asing bagi kalian! Demi Allah, suatu keharusan bagi seorang wanita untuk merasakan bahwa kehancuran dunia dan isinya lebih ringan baginya dibandingkan tetap tinggal dalam penjagaan seorang pria musuh Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman.
Dan betapa sering aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, tidak adakah diantara istri-istri para thaghut ini dan tentara mereka seorang wanita yang menggugat? Tidak adakah diantara mereka seorang Asiyah?! Ya, Asiyah Binti Muzahim, istri Fir'aun. Asiyah yang sama yang dipuji oleh ayat Qur'an dan akan terus dibaca hingga hari dimana Allah mewariskan bumi ini dan segala isinya. {Dan Allah membuat istri Fir'aun sebagai perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: "Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim} [At-Tahrim: 11].
Dan ia adalah orang yang sama yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebutkan, "Banyak yang mendapatkan pujian adalah para laki-laki, tapi tidak ada diantara wanita yang mendapat pujian kecuali Maryam binti Imran dan Asiyah istri Fir'aun. Dan tentu saja, kebaikan Aisyah diatas semua wanita ialah seperti kebaikan tsarid* diatas semua makanan" [HR. al-Bukhari dan Muslim].
*Catatan editor: Tsarid ialah roti keras yang dihancurkan dicampur dengan daging rebus yang ditabur diatasnya.
Dialah seseorang yang dunia mengejarnya, tapi keyakinannya tidak menyukainya dan menolaknya, karena ia merindukan yang lebih baik dan lebih abadi, di Jannah, yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang shaleh! Dia tidak mencari kekuasaan dan tidak juga kehormatan di dunia, tidak juga yang dimiliki suaminya, istana dan harta benda. Dia berkata, {"Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam Jannah"} [At-Tahrim: 11].
la mendapatkan apa yang ia inginkan sebagaimana al-Baghawi rahimahullah berkata dalan tafsirnya, "Para mufassirin berkata, 'Ketika Musa mengalahkan para tukang sihir, istri Fir'aun meyakininya, dan ketika Fir'aun mengetahui keislamannya, ia mengikat tangan dan kakinya di empat titik dan meninggalkanya dibawah terik matahari. Salman berkata, 'Istri Fir'aun disiksa dengan panas matahari, tapi ketika mereka meninggalkannya, para malaikat menaunginya', {ketika ia berkata, "Ya Rabbku, bangunkanlah untukku rumah di sisi Engkau di Jannah"}. Maka Allah membangunkannya rumah di Jannah dan ia melihatnya. Dan dalam sebuah riwayat, disebutkan bahwa Fir'aun memerintahkan untuk melemparkan batu besar pada Asiyah, tapi ketika mereka datang dengan batu besar, Asiyah berkata, {"Ya Rabbku, bangunkanlah untukku rumah di sisi Engkau di Jannah"}. Kemudian ia melihat rumahnya di Jannah, yang dibuat dari mutiara putih, kemudian jiwanya diambil. Maka ketika batu besar itu dilemparkan ke tubuhnya, ia tidak merasakan rasa sakit sama sekali. Al-Hasan dan Ibnu Kaisan berkata, 'Allah mengangkat istri Fir'aun ke Jannah, disana ia makan dan minum'. {Dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya}. Muqatil berkata, {'Dan perbuatannya}, bermakna: syirik. Abu Salih menceritakan bahwa Ibnu Abbas berkata, {Dan perbuatannya}, bermakna: persetubuhan dengannya. {Dan selamatkanlah aku dari orang-orang yang melanggar}, bermakna: kuffar".
Karena itu bagi seseorang yang mengetahui kondisi kemurtadan suaminya, dan kejahatannya terhadap hamba-hamba Allah, dan kesetiaannya pada kufar, dan dukungannya melawan Muslim, meskipun ia menyetujui dan membelanya, dan bahkan mendukungnya dengan harta dan pendapatnya, maka aku bacakan padanya cerita ini. Cerita ini tentang dua istri al-Mukhtar Ibnu Abi Ubaid ats-Tsaqafi, salah seorang pendusta yang kufur dan mengaku sebagai nabi, setelahnya Allah memberikan kesempatan untuk membawa kepalanya kepada Mus'ab Ibnu az-Zubair radhiyallahu ‘anhuma. la meninggalkan dua istri. Imam Ibnu Katsir mengatakan tentang mereka, "Mus'ab bertanya pada Ummu Tsabit binti Samurah Ibnu Jundub istri al-Mukhtar tentangnya, dan ia berkata, 'Apa yang dapat aku katakan tentang dia selain apa yang kamu katakan tentangnya'. Setelah ia meninggalkannya dan memanggil istrinya yang lain, Amrah binti an-nu'man Ibnu Basyir, dan berkata padanya, 'Apa pendapatmu tentangnya?'. Maka ia berkata, 'Semoga Allah merahmatinya. la adalah hamba Allah yang baik'. Maka ia memenjarakannya dan menulis surat pada saudaranya dan berkata, 'la berkata bahwa ia adalah seorang nabi'. Maka saudaranya menulis balasannya dan mengatakan, 'Keluarkan dia dan bunuh dia'. Maka ia membawanya ke pinggiran kota dan memukulnya beberapa kali sampai ia mati" [Al-Bidayah wan-Nihayah].
Jadi berhati-hatilah, wahai wanita hamba-hamba Allah. {Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat dengan apa yang dikerjakannya} [Al-An'am: 132]. {Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa Allah lalai dari apa yang dibuat oleh orang-orang yang zhalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata akan terbelalak} [Ibrahim: 42].
Dan jangan pernah berpikir -semoga Allah menunjuki kalian- bahwa memiliki jenggot panjang atau mengenakan Qandahariyah** adalah faktor yang menghalang takfir dan menjadikan suami kalian sempurna. Berapa banyak jenggot tebal - yang minum dari cangkir kemurtaddan hingga tetes terakhir, dan para ulama istana tertawa dan menganggap remeh, dan bersekutu dengan kufar dan memerangi kebenaran - mempunyai kekuasaan di bumi ini kemudian mereka berbalik dari Syariah-Nya, tidak menghukum dengan apa yang diturunkan oleh Rabb mereka bahkan untuk satu jam pun. Bahkan dalam kasus seorang wanita yang berzina, mereka membunuhnya dengan menembakinya dengan peluru, sementara ia terus berkata bahwa ia dituduh melakukan pelacuran! Mereka takut kalau-kalau kebenarannya terungkap di muka umum mereka yang akan terkena luka tembakan! Jenggot-jenggot ini yang telah berkompromi dengan prinsip dan pondasi agama hingga mereka benar-benar meninggalkannya dengan mendukung murtaddin melawan muslim, dan mereka baru-baru ini menolak untuk muncul bagi Ummah ini kecuali dengan "Baju Fanatisme Suriah", dengan sebuah pesan pada sekutu mereka diantara faksi-faksi menerima dukungan bersyarat, yang artinya, "Kami nasionalis. Perhatian kami hanyalah Suriah, tidak ada yang lain. Kami berdamai dengan Druze Suriah dan mengobarkan perang melawan muwahid lraq. Karena itu sambutlah kami dan jangan takut pada kami! Kami tidak akan melewati batas Sykes-Picot yang dibuat oleh salibis, menghormati kalian, dan dalam rangka menghindari dan mencegah kemarahan kalian dan mencari kesenangan kalian!"***
**Catatan Editor: jenis tsaub yang biasa dipakai para lelaki Afghanistan.
***Catatan Editor: berkaitan dengan pengkhianat Jaulani, yang muncul di sebuah wawancara dengan Al-jazeera. Pendiriannya tentang Druze dibahas secara dalam artikel berjudul "Aliansi Al-Qa’idah di Syam (Bagian 3)".
Mereka menipu kalian, wahai wanita-wanita hamba Allah. Mereka berkata, "Kami berperang karena Allah dan akan menegakkan syariah-Nya". Bagaimana mungkin? Sedangkan mereka sedang bersekutu dengan tiap kafir dan tiap pendosa?! Diantara mereka adalah orang-orang yang tidak ingin dengan "syariah", dan diantara mereka juga ada orang-orang yang ingin "syariah" yang dirubah oleh mereka dengan "kepentingan umum". Jadi bila ada bagian Syariah yang sesuai dengan kepentingan mereka, mereka ambil, dan apapun syariah yang berlawanan dengan kepentingan mereka, maka mereka membelakanginya. Dan melalui koalisi yang mereka dirikan ini, mereka telah menjadi sekutu satu sama lain, dan tidak ada bedanya barisan mereka diantara orang-orang berjenggot dan orang yang bersih tercukur, tidak juga antara penghafal Al-Qur’an dan para pelaku bid'ah.
Tentu saja, semoga Allah menunjuki kalian, kalian yang masih bersama dengan suami yang senang memiliki pesawat tempur yang terbang melintasi langit untuk menaburkan lava kematian atas muslimin, atas wanita dan anak-anak tak berdaya. Dan dengan amat buruk mereka sorot dengan walkie-talkie mereka, yang memperlihatkan kesenangan dan kegembiraan melihat serangan para koalisi salibis di tanah muslimin. Tentu saja, kalian sedang melayani suami yang tekun menyenangkan Arab, ataupun Barat, atau rakyat, bukan menyenangkan Rabbnya. Kalian akan lelah sendiri, dan semua kelelahan kalian untuknya hanya akan menjadi debu yang berterbangan!
Mungkin istri seorang tentara Shahawat akan terkejut dengan kata-kataku jika ia membacanya dan berhadapan dengan kenyataan tentang suaminya, tapi aku katakan padanya, demi Allah, aku hanyalah pemberi nasehat. {Aku tidak bermaksud kecuali merubah selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan melalui Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal, dan hanya kepada-Nyalah aku kembali} [Hud: 88].
Dan jika kalian adalah para pencari kebenaran, maka carilah dan telitilah, dan Allah tidak akan mengabaikan amalan kalian. Dan ketahuilah bahwa ada dua pilihan bagi kalian, tidak ada yang ketiga. Kalian menasehati suami kalian dan menjad- ikannya takut pada Allah subhanahu wa ta’ala dan mengingatkannya kepada-Nya. Jika ia melunak dan bertaubat, maka itulah karunia Allah, yang la anugerahkan kepada siapa yang la kehendaki. Jika dia memperlihatkan kesombongan dan harga dirinya menahannya dalam kedosaan, maka bagian kalian untuk meninggalkannya di dunia sehingga kalian akan selamat di akhirat.
Dan disini aku menyeru kalian untuk berhijrah kepada kami di tanah yang diberkahi, Daulah Islam! Tidakkah kalian mencintai Allah dan Rasul-Nya? Apa kalian tidak ingin untuk hidup di negeri dimana tidak ada hukum yang ditegakkan selain hukum Allah subhanahu wa ta’ala? Karena itu datanglah, berjalanlah menuju Darul lslam. Dan aku ingatkan kalian tentang kewajiban individual pada setiap muslim dan muslimah untuk berhijrah dari Darul Kufur menuju Darul lslam.
Allah subhanahu wa ta’ala berkata, {Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, malaikat bertanya: "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?". Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri". Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?" Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali} [An-Nisa: 97].
Imam Ibnu Katsir berkata "Ayat mulia ini umum dan berkaitan dengan setiap orang yang tinggal diantara musyrikin sementara ia mampu untuk berhijrah dan tidak dapat menegakkan agama. Karena itu ia menzhalimi diri sendiri dan berdosa sesuai dengan kalimat ayat ini dimana Allah berkata, {Sesungguhnya, mereka yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri}, bermakna: dengan meninggalkan hijrah, {[malaikat] akan berkata, "Dalam keadaan apa kamu ini?"}, bermakna: kenapa kalian tetap tinggal disini dan meninggalkan hijrah? {Mereka menjawab:"Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri"}, bermakna: kami tidak mampu meninggalkan negeri, tidak juga mampu berjalan di bumi, {para malaikat akan berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?" Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali"}.
Dan jangan tunggu wanita-wanita istri tentara Shahawat lain untuk berhijrah. Jadilah teladan dan contoh bagi mereka semua, dan betapa besar kehormatan bagi para pelopor. Ulama salaf berselisih tentang siapa muhajirah pertama pada masa awal hijrah. Beberapa mengatakan wanita pertama yang berhijrah ialah Ummu Salamah. Yang lain mengatakan Laila binti Khaitsamah, istri Amir bin Rabi'ah.
Dan ketahuilah, semoga Allah menunjuki kalian, bahwa hari ini kalian mengikuti seorang suami yang akan berlepas diri dari kalian besok. {Ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa, dan segala hubungan antara mereka terputus sama sekali} [Al-Baqarah: 166].
Dan ingatlah bahwa hanya Allah Rabb bagi mereka yang tak berdaya, dan tempat berlindung mereka yang ketakutan, dan penolong bagi siapa yang mencari pertolongan, jadi bersegeralah menuju negeri kehormatan yang dengannya kalian telah menukar dunia kalian untuk akhirat kalian.
Dan akhir seruan kami ialah Alhamdulillah, Rabb Pencipta. Shalawat dan salam bagi pemimpin kita Muhammad, dan bagi keluarga dan sahabat-sahabatnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar