Jumat, 10 Februari 2017

BIOGRAFI JURU BICARA RESMI DAULAH ISLAMIYAH SYAIKH ABU MUHAMMAD AL-ADNANI

BIOGRAFI JURU BICARA RESMI DAULAH ISLAMIYAH
SYAIKH ABU MUHAMMAD AL-ADNANI

Judul asli:
Al-Lafzhu As-Sani min Tarjamah Al-‘Adnani

Penerjemah:
Ganna Pryadha

بسم الله الرحمن الرحيم

Prolog

Segala puji bagi Allah yang memuliakan orang-orang bertauhid. Shalawat serta salam untuk Nabi yang jujur lagi terpercaya, juga untuk kerabat keluarga dan para sahabat beliau. Amma ba’du.

Sebenarnya untuk orang sekaliber seperti Syaikh Mujahid Abu Muhammad Al-Adnani –semoga Allah menjaganya– tidak perlu lagi dijelaskan biografinya. Para ulama mengatakan, “Orang-orang yang terkenal tidak perlu diperkenalkan lagi.”

Hanya saja, akhir-akhir ini, saya menyaksikan banyak pelanggaran dan pelecehan terhadap simbol-simbol umat, para tokohnya, para pahlawannya, dan para ksatrianya. Sampai-sampai saya mendengar seorang “murid” Syiah Rafidhah Hani As-Siba’i melecehkan Syaikh kami dengan penuh distorsi dan kedustaan. Dia melabelinya dengan label-label yang melecehkan dan menistakan. Ada adagium (pepatah) Arab mengatakan, “Setiap wadah akan menumpahkan muatannya!”

Oleh karena itu, ada baiknya bagi saya untuk menuliskan biografi singkat untuk Sang Ksatria penyampai penjelasan dan keterangan (baca: juru bicara) yang akan disukai para wali Allah dan dibenci para musuh-Nya!

Imam Muslim mengeluarkan sebuah riwayat di dalam Shahih-nya, dari Ibnu Sirin Rahimahullahu yang berkata,

لَمْ يَكُونُوا يَسْأَلُونَ عَنِ الْإِسْنَادِ، فَلَمَّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ، قَالُوا: سَمُّوا لَنَا رِجَالَكُمْ، فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ فَيُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ، وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ فَلَا يُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ

“Dulu mereka (para ulama) tidak pernah bertanya tentang sanad. Namun ketika terjadi fitnah, mereka pun berkata, ‘Sebutkan pada kami rijal (para pelansir hadits) kalian.’ Apabila dilihat rijal tersebut dari kalangan Ahlus sunnah, maka diterimalah haditsnya, dan jika dari kalangan ahli-bid’ah, maka tidak diterima.”

Perjuangan Mencari Ilmu

Sejak kecil, Syaikh Abu Muhammad Al-Adnani Asy-Syami tumbuh dalam kecintaan terhadap masjid. Beliau rutin mendatanginya setiap waktu. Sejak kecil juga, beliau memiliki kegemaran terhadap membaca dan menelaah. Sampai-sampai, jika keluarga dan kerabatnya hendak membelikan hadiah, maka mereka membelikan buku-buku cerita dan buku-buku kecil untuknya. Karena mereka tahu bahwa Al-Adnani kecil lebih menyukai buku, sehingga mereka lebih mengutamakan membeli buku ketimbang mainan anak-anak!

Oleh sebab itu, Syaikh Al-Adnani mendapatkan banyak wawasan umum sejak kecilnya. Beliau akan membaca buku apa pun yang ada di tangannya, termasuk kitab-kitab tentang bahasa, filsafat, dan lain sebagainya. Kemudian Syaikh Al-Adnani diberi kesempatan untuk mengikuti halaqah (pengajian) Al-Qur’an, dan mulailah memperdalam bacaan Al-Qur’an kepada salah seorang qari` Al-Qur’an, lalu menghafal Al-Qur’an, dan berhasil menyelesaikan hafalan secara sempurna dalam waktu kurang dari setahun!

Hobi membaca yang dimiliki Syaikh Al-Adnani selanjutnya beralih dari buku-buku umum ke buku-buku bertema khusus –dalam disiplin ilmu-ilmu agama—dimulai dari kitab-kitab tafsir Al-Qur’an. Kitab tafsir favoritnya adalah Tafsir Ibnu Katsir yang dibacanya berulang-ulang kali, kemudian kitab tafsir Fi Zhilal Al-Qur`an. Sampai-sampai Syaikh Al-Adnani begitu menyukai gaya penulisan tafsir Fi Zhilal Al-Qur`an. Pun demikian dengan kitab-kitab hadits, terutama literatur terpenting menurutnya, yaitu kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim yang ditelaahnya secara bergantian. Begitu juga dengan kitab-kitab fikih secara umum. Syaikh Al-Adnani sangat menyenangi kitab-kitab karya Imam Asy-Syaukani Rahimahullahu, terutama kitab Nail Al-Authar, dan bersungguh-sungguh menelaah pembahasan fikih jihad. Syaikh Al-Adnani juga membaca kitab semisal Masyari’ Al-Aswaq yang dibacanya lebih dari tiga kali. Begitu pula dengan kitab-kitab sirah dan tarikh yang diberi porsi perhatian paling utama, khususnya kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah yang telah dibaca sebanyak enam kali. Sedangkan kitab-kitab bahasa dan sastra Arab, sebutkanlah literatur-literatur keduanya sekehendak Anda. Ini mengingat, keduanya merupakan disiplin keilmuan yang menjadi spesialisasi dan ranah yang paling dikuasainya! Syaikh Abu Muhammad Al-Adnani menelaah hampir semua kitab adab (sastra), semisal Al-Bayan wa At-Tabyin, kitab Al-‘Aqdu Al-Farid, dan yang lainnya. Sebagaimana beliau juga membaca kitab-kitab dawawin (berkenaan dengan syair-syair bangsa Arab) semisal Al-Mu’allaqat beserta sejumlah syarh-nya (kitab penjelas), dan menghafal begitu banyak syair mereka. Saya menduga bahwa Syaikh Al-Adnani hafal diwan (kitab syair) Al-Mutanabbi. Beliau berkata tentang Al-Mutanabbi, “Tidaklah aku memandangnya, melainkan aku merasakan kondisi bangsa Arab ketika masa Jahiliyah dan Islam.” Selain itu, beliau juga menguasai disiplin ilmu nahwu (tata gramatika bahasa Arab) dan mempelajari kitab Al-Ajrumiyah, Qatrun-nada, juga Alfiyah Ibnu Malik. Sedangkan kitab-kitab mu’jam (kamus), Syaikh Al-Adnani menelaah Lisanul-‘Arab karya Ibnu Manzhur, dan lain sebagainya.

Tiada kemuliaan, melainkan bagi ahli ilmu karena mereka berada di atas petunjuk
Siapa yang meminta petunjuk, maka akan mendapatkan dalil-dalil
Timbangan setiap orang berdasarkan apa yang menjadikannya baik
Bagi ahli ilmu, orang-orang bodoh adalah musuh

Guru-Gurunya

Selain belajar dan mengambil manfaat ilmu dari berbagai kitab literatur, Syaikh Abu Muhammad Al-Adnani juga menuntut ilmu dari sejumlah tokoh ulama di Syam. Dan mengingat situasi keamanan sangat ketat di Suriah yang berada di bawah cengkeraman para thaghut, Syaikh Al-Adnani bersama para rekan sejawatnya bersepakat secara rahasia untuk belajar bersama-sama di sejumlah rumah secara bergiliran, selama bertahun-tahun.

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya kesempatan pergi ke Iraq, untuk menuntut ilmu dan belajar ke sejumlah ulama. Di antara para ulama yang menjadi guru-gurunya:

1. Syaikh Abu Anas Asy-Syami Rahimahullahu. Syaikh Al-Adnani menemaninya dalam waktu lama, sehingga dapat mengambil banyak hal baik dari dirinya dan ilmu yang dimilikinya. Syaikh Al-Adnani mengomentari gurunya dalam dua buah bait indah:

Dari Syam terdapat singa Iraq, yaitu Abu Anas
Dengan gurauannya sirnalah segala musibah dan terbitlah bahagia
Dalam ranah ilmu, dia bak lautan. Di pertempuran, dia ahli strategi bak insinyur
Dalam ilmu hadits dia ulamanya, dan dalam bidan politik dia seorang jenius

2. Syaikh Abu Maisarah Al-Gharib Rahimahullahu. Syaikh Al-Adnani menemaninya baik ketika di penjara atau ketika bebasnya, dan belajar banyak hal darinya.

3. Amirul Mu’minin Abu Bakar Al-Baghdadi Hafizhahullahu. Syaikh Al-Adnani menyelesaikan bacaan Al-Qur’an secara sempurna kepada Syaikh Abu Bakar, melalui hafalannya. Begitu kagumnya, Syaikh Abu Bakar sampai mengomentari, “Saya tidak pernah melihat orang dengan hafalan sepertinya, selain hafalan si Fulan! (mengisyaratkan kepada Syaikh Al-Adnani)”

Jangan mengambil ilmu selain dari para pakar
Dengan ilmu kita hidup dan dengan nyawa kita berkorban
Adapun terhadap orang bodoh maka jauhilah duduk bersama mereka
Akan tersesat orang yang diberi petunjuk oleh orang bodoh

Buku-buku dan Karya Tulisnya

Karena waktu yang dimiliki Syaikh Abu Muhammad Al-Adnani begitu sempit, maka kebanyakan tulisannya masih berbentuk manzhumah (naskah atau syair yang terpisah-pisah). Di antara tulisan-tulisannya yang mencolok dan berbentuk manzhumah atau mantsur (natsar/prosa):

1. Matan (teks) tentang fikih dan persoalan-persoalan jihad.

2. Manzhumah fikih jihad. Hanya saja, tentara Amerika merampas naskah tersebut ketika Syaikh Al-Adnani berada di penjara.

3. As-Silsilah Adz-Dzahabiyah fi Al-A’mal Al-Qalbiyah, naskah tentang amalan-amalan hati dan segenap persoalannya.

4. Mu’inah Al-Huffazh, naskah yang memandu para penghafal Al-Qur’an, dan segala persoalan yang berkaitan dengannya.

5. Qashidah fi Dzikri Ma’rakah Al-Fallujah Ats-Tsaniyah, memuat sekitar lebih dari 200 bait sajak.

6. Syair-syair berjudul Al-Qa`idi. Kumpulan syair kehormatan untuk membantah para pengkritik Al-Qaidah generasi pertama.

Mengajar dan Menyampaikan Ceramah

Syaikh Al-Adnani sangat memerhatikan aktivitas ta’lim (pendidikan) dan tadris(pengajaran), terutama untuk mujahidin fi sabilillah. Bahkan Syaikh Al-Adnani pernah memberikan sekitar 14 pengajaran dalam sehari semalam untuk mereka.

Syaikh Al-Adnani juga mengarahkan upaya dan kerja kerasnya untuk mengajarkan ilmu-ilmu syari’at secara umum, serta pelajaran-pelajaran aqidah, Al-Qur’an, bahasa, dan fikih jihad secara khusus. Dalam bidang aqidah, Syaikh Al-Adnani mengajarkan hampir seluruh kitab yang berisi matan-matan aqidah semisal:

1. Al-Ushul Ats-Tsalatsah (Tiga Pokok Utama)
2. Al-Qawa’id Al-Arba’ (Empat Kaidah Aqidah)
3. Syuruth wa Nawaqidh La Ilaha Illallah (Syarat-Syarat dan Pembatal-Pembatal Tauhid)

Tak hanya itu, Syaikh Abu Muhammad Al-Adnani juga menaruh perhatian terhadap pendidikan terkait persoalan-persoalan keimanan, kekafiran, dan segala hal yang berkaitan dengan pembahasan serius tersebut.

Adapun Al-Qur’an, Syaikh Al-Adnani menyempatkan diri untuk mengisi berbagai halaqah tashhih tilawah (kajian koreksi baca Al-Qur’an) dan halaqah tahfizh (menghafal Al-Qur’an). Di seluruh halaqah itu, Syaikh Al-Adnani lebih memprioritaskan untuk mengajarkan orang-orang yang tidak bisa baca-tulis Al-Qur’an.

Syaikh Al-Adnani yang merupakan Juru Bicara Daulah Islam ini juga menyampaikan pengajaran dalam bidang bahasa Arab, dan mengajarkan sejumlah matan, termasuk matan Al-Ajurumiyah. Syaikh memiliki metode khusus dalam mengajarkan ilmu nahwu, melalui enam fase pengajaran yang beliau adaptasi dari sejumlah gurunya.

Dalam bab fikih jihad, Syaikh Abu Muhammad Al-Adnani Asy-Syami mengajarkan sejumlah kitab, di antaranya adalah kitab yang ditulisnya tentang fikih dan persoalan jihad, lalu kitab Al-‘Umdah fi I’dad Al-‘Uddah (karya Syaikh Abdul Qadir bin Abdul Aziz), serta berbagai kitab dan matan lainnya.

Jabatan-jabatan Penting

Syaikh Abu Muhammad Al-Adnani Asy-Syami terjun ke dalam kancah pergerakan tanzhim jihad sejak permulaan tahun 2000 M, ketika saat itu berbaiat kepada Syaikh Abu Mush’ab Az-Zarqawi Rahimahullahu di Suriah, bersama sekitar 35 ikhwan yang lain. Mereka melakukan I’dad (latihan) untuk memerangi rezim Nushairiyah pada waktu itu, sebelum Amerika masuk ke Iraq. Ketika Amerika melakukan invasi ke Iraq, Syaikh Al-Adnani berangkat menuju Iraq, dan bertemu dengan Syaikh Abu Muhammad Al-Libnani Rahimahullahu.

Berkat keutamaan Allah, sejak saat itu, Syaikh Al-Adnani senantiasa tampil sebagai seorang mujahid di Iraq dan Syam. Di antara berbagai kedudukan dan jabatan penting yang pernah diembannya:

1. Instruktur di kamp pelatihan militer Haditha pada masa Jamaah Tauhid wal Jihad.
2. Pemimpin kamp pelatihan militer Haditha dan dilantik oleh Syaikh Abu Mush’ab Az-Zarqawi.
3. Instruktur di kamp pelatihan militer Al-Jazira.
4. Syar’i (ulama pemegang otoritas) di Sektor Barat, Wilayah Al-Anbar.
5. Juru Bicara Resmi Daulah Islam Iraq.
6. Juru Bicara Resmi Daulah Islam Iraq dan Syam.
7. Juru Bicara Resmi Daulah Islam (Khilafah Islamiyah).

Cobaan dan Ujian

Jalan dakwah tauhid dan jihad sarat dengan cobaan dan ujian. Orang yang menapaki jalan ini tidak akan luput dari siksaan dan pemenjaraan! Pemenang di jalan ini hanyalah orang yang konsisten dan sabar. Sebagaimana disebutkan, “Orang yang tidak menjalani permulaan yang membara, maka dia takkan merasakan manisnya akhir yang berkilauan.”

Syaikh Abu Muhammad Al-Adnani Hafizhahullahu merupakan salah seorang putra yang lahir dari kerasnya gemblengan jalan tersebut. Mereka adalah orang-orang yang mendapat ujian dan cobaan di jalan Allah. Di antara ujian yang pernah dijalani Syaikh Al-Adnani:

1. Di awal-awal masa dewasa, Al-Adnani muda berulang kali dipanggil aparat keamanan rezim Syiah Nushairiyah Suriah, dan menjalani proses interogasi.

2. Mendekam dalam penjara rezim Nushairiyah sebanyak tiga kali disebabkan aktivitas dakwah dan jihad, salah satunya di kawasan Albukamal ketika untuk pertama kalinya Syaikh Al-Adnani bertolak menuju Iraq. Syaikh Al-Adnani mendekam di dalam penjara selama berbulan-bulan, sampai akhirnya dibebaskan, karena tidak mau memberi pengakuan, padahal sudah mendapatkan siksaan.

3. Ditahan di penjara-penjara pasukan Amerika sebanyak dua kali. Di salah satu tahanan mereka, Syaikh Al-Adnani dipenjara selama enam tahun, dan dimasukkan ke dalam tenda bersama orang-orang Az-Zarqawi yang notabene adalah sosok-sosok terkemuka yang mengenal lingkaran pertama dari para mujahid di sekitar Syaikh Abu Mush’ab Az-Zarqawi.

4. Di segenap tubuhnya terdapat berbagai bekas luka. Dan menderita retak di sejumlah tulang di tubuhnya.

Saya memohon kepada Allah agar senantiasa menjaga Syaikh Al-Adnani dari segenap keburukan dan memberi keberkahan pada umur dan amalnya untuk umat ini.

Lika-Liku Kehidupannya

Sepanjang meniti jalan kehidupan intelektual, dakwah, dan jihad, Syaikh Abu Muhammad Al-Adnani Hafizhahullahu memiliki sejumlah fragmen kehidupan berkesan, di antaranya:

1. Sewaktu pertama kali duduk mengikuti halaqah tilawah Al-Qur’an, di dalam jiwa Al-Adnani kecil terpatri tekad bahwa dia akan menjadi qori Al-Qur’an terbaik di antara rekan-rekannya. Karena baginya, Al-Qur’an adalah sebuah hobi. Ketika tiba gilirannya untuk membaca, Al-Adnani kecil mengalami lahn (kekeliruan), lalu sang guru mengajinya pun membenarkan bacaannya. Hal tersebut menggoreskan kesan buruk di dalam jiwa sang guru. Dari kesalahan membaca itu, Syaikh Al-Adnani muncullah tekad baja untuk menyempurnakan bacaan dan hafalan Al-Qur’an.

2. Pernah, ketika pelajaran tilawah, Syaikh Al-Adnani sampai pada firman Allah:“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir,” (Al-Maa`idah: 44), seketika dirinya tersentak oleh ayat tersebut, lalu berkata kepada salah seorang rekannya, “Apa sumber undang-undang Suriah?” Kemudian sang kawan pun menjawabnya. Syaikh Al-Adnani bertanya kembali, “Seperti apa kekuasaan legislatifnya?” Kawannya pun menjawab lagi. Lalu Syaikh bertanya lagi, “Seperti apa kekuasaan yudikatif dan eksekutifnya?” Setiap kali Syaikh Al-Adnani bertanya, sang kawan pun menjawabnya dengan pengetahuan yang didapat dari sekolah. Syaikh Al-Adnani pun menegaskan, “Wahai Fulan, berarti pemerintahan kita semuanya adalah kafir!” Mendengar pernyataan demikian, kawannya lantas berkata, “Assalamu’alaikum.” Dia pun berpaling meninggalkan Syaikh Al-Adnani. Seperti itulah prinsip yang dimiliki Syaikh Al-Adnani ketika membahas suatu persoalan.

3. Suatu kali, di usia remaja, Syaikh Al-Adnani dipanggil pihak intelijen rezim Syiah Nushairiyah. Kemudian salah seorang tentara thaghut berkata kepadanya, “Mengapa kamu memanjangkan janggutmu?” Syaikh Al-Adnani menjawab, “Karena saya membaca sejumlah hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam yang menganjurkan hal ini.” Tentara thaghut tadi berseloroh, “Apa hadits-hadits tersebut hanya ditelaah olehmu seorang?!” Sebagaimana Syaikh Al-Adnani menjelaskan kepadanya tentang persoalan memendekkan celana. Lalu tentara kafir itu berkata kepada Syaikh, “Kenapa kamu menggerakkan jarimu ketika tasyahud?” Memang Syaikh Al-Adnani terkadang menggerakkan jari telunjuknya ketika shalat. Syaikh pun memberikan jawaban berdasarkan riwayat hadits Rasulullah yang dihafalnya. Tentara thaghut itu berkata menyindir, “Masalahnya, di malam hari kalian begini.” Dia mengisyaratkannya tauhid dengan jari telunjuk yang tegak ke atas tanpa bergerak-bergerak. “Dan di siang hari, kalian begini,” ujarnya sambil mengisyaratkan jari telunjuk menunjuk ke arah depan (mendeskripsikan senjata). Syaikh Al-Adnani menandaskan, “Sejak itu tanpa disadarinya, tentara keji itu mengagitasi diriku untuk berjihad.”

4. Suatu hari di Iraq, Syaikh Al-Adnani berangkat bersama tiga orang ikhwan untuk melakukan operasi. Namun rencana mereka terbongkar, sehingga mereka pun diusir oleh para tentara murtad dengan mengendarai mobil. Sampai sekitar 8 kilometer, mereka mengalami kecelakaan disebabkan kecepatan tinggi. Dua orang tentara mencoba untuk menawan mereka. Namun Syaikh Al-Adnani kemudian bersegera lari, dan Abu Bakar Al-Kuwaiti mengikuti di belakang, lalu keduanya bersembunyi di balik batu besar. Mereka berdua terlibat bentrok senjata dengan pasukan murtad dari pukul 9 pagi hingga pukul 12 siang. Selama bentrokan senjata, kedua mujahid itu berhasil mundur melarikan diri sejauh 3 kilometer di padang pasir, sampai akhirnya keduanya berhasil sampai ke sebuah lembah. Saat itu, pasukan murtad pun menarik diri, setelah pasukan Amerika memberitahu bahwa di lembah tersebut terdapat sekitar sekompi pasukan ‘teroris’. Tak lama kemudian, konvoy pasukan Amerika menyambangi lembah dengan diperkuat sekitar 23 kendaraan tempur –tank dan kendaraan lapis baja lainnya— dan enam jet tempur. Amerika mulai menggempur dengan meluncurkan dua roket, dan seketika mengakibat tewasnya Abu Bakar Al-Kuwaiti di hadapan mata Syaikh Al-Adnani yang juga menderita luka cukup serius. Syaikh Al-Adnani menenteng senjatanya dan berusaha sekuat tenaga untuk memerangi musuh dengan darah yang tiada henti mengalir dari lukanya. Sampai akhirnya beliau kehabisan amunisi, dan waktu sudah menginjak waktu Ashar. Jarum jam saat itu menunjukkan pukul 16.45. Sungguh elok segala yang telah dan akan dilakukannya.

Sekelumit Kehidupannya

Allah Ta’ala menganugerahkan Syaikh Abu Muhammad Al-Adnani berbagai perkara mulia dalam setiap perjalanan intelektual, dakwah, dan jihadnya. Di antaranya:

1. Menghafal surat Al-Maa`idah secara utuh hanya dalam waktu sehari saja.

2. Termasuk salah seorang mujahid yang pertama kali berjihad di Haditha bersama sekitar 13 orang mujahid. Sampai akhirnya Haditha berhasil mereka kuasai.

3. Tatkala Syaikh Abu Umar Al-Baghdadi Rahimahullahu dipercaya sebagai Amir Haditha, maka Syaikh Al-Adnani menjadi salah seorang penasihatnya. Syaikh Abu Umar Al-Baghdadi saat itu berkata, “Laki-laki ini akan mempunyai kedudukan penting di kemudian hari!”

4. Syaikh Al-Adnani termasuk salah seorang mujahid yang paling terakhir meninggalkan kota Fallujah bersama Syaikh Abu Hamzah Al-Muhajir, Abu Al-Ghadiyah, Abu Ar-Rabi’, Abu Ja’far Al-Maqdisi, dan Abu Ashim Al-Urduni.

5. Selama tugas ribath (jaga perbatasan) –terkadang— Syaikh Al-Adnani berlomba membuat syair dengan Syaikh Abu Hamzah Al-Muhajir Rahimahullahu. Mereka bisa menghabiskan waktu sampai berjam-jam.

6. Syaikh Al-Adnani begitu dihormati oleh Syaikh Abu Mush’ab Az-Zarqawi. Sampai-sampai Pemimpin Para Syahid itu berkata kepada Syaikh Al-Adnani, “Engkau jangan berkonsultasi kepadaku, tapi berilah aku informasi.”

7. Tangan dingin Syaikh Al-Adnani melahirkan sejumlah pencari ilmu yang di kemudian hari memangku jabatan penting di Daulah Islam. Di antaranya adalah Syaikh Manaf Ar-Rawi Rahimahullahu.

8. Syaikh Al-Adnani adalah orang yang pertama kali menyusun program komprehensif bagi para tahanan, meliputi segenap aspek; syari’at, jasmani, dan kemampuan militer. Kemudian program yang diciptakannya ini diikuti oleh para pemuda di segenap bidang.

Epilog

Inilah beberapa informasi terkait biografi Syaikh Abu Muhammad Al-Adnani Asy-Syami Hafizhahullahu yang dijuluki sebagai ‘Manjanik’ Daulah Islam. Kami menuliskannya bukan berdasarkan rumor atau kabar burung, melainkan langsung dari sumber terpercaya berdasarkan informasi valid. Sebagaimana difirmankan Allah:

... وَمَا شَهِدْنَا إِلَّا بِمَا عَلِمْنَا وَمَا كُنَّا لِلْغَيْبِ حَافِظِينَ

“...Dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui, dan sekali-kali kami tidak dapat menjaga (mengetahui) barang yang ghaib,” (Yusuf: 81)

Kami memohon kepada Allah Ta’ala agar memanjangkan umur Syaikh Al-Adnani; menjadikan baik seluruh amalannya, membuat benar setiap perkataannya, dan meneguhkannya di atas kebenaran sampai beliau bertemu Allah dalam keadaan ridha.

Akhir seruan kami, segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat serta salam bagi nabi dan rasul mulia.

Penulis
Syaikh Abu Sufyan Turki bin Mubarak Al-Bin’ali

Maktabah Al-Himmah, Kantor Media Wilayah Nainawa

Kamis, 09 Februari 2017

AKSI DAMAI ITU AGAMA SIAPA?

AKSI DAMAI ITU AGAMA SIAPA?
Statemen Juru Bicara Resmi Daulah Islamiyah, Syaikh Abu Muhammad Al-Adnani Asy-Syami

Alih Bahasa:
Ust. Abu Sulaiman Al Arkhabiliy

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji hanya milik Allah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi yang diutus dengan pedang sebagai rahmatan lil ‘alamin. Amma Ba’du:

Allah Ta’ala berfirman:

فَقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ لا تُكَلَّفُ إِلا نَفْسَكَ وَحَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَكُفَّ بَأْسَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَاللَّهُ أَشَدُّ بَأْسًا وَأَشَدُّ تَنْكِيلا

“Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan(Nya).” (An Nisa: 84)

Ini adalah surat kepada Ahlus Sunnah seluruhnya dan khususnya kepada keluarga kami di Mesir, kami mengobarkan semangat mereka untuk berperang di jalan Allah. Dan kami di sini bukan dalam konteks menyebutkan kewajiban jihad atas setiap muslim di zaman kita ini, dan bukan pula tentang menjelaskan dosa orang-orang yang duduk atau sangsi bagi orang-orang yang absen dari jihad, dan bukan pula dalam konteks mengingatkan keutamaan-keutamaan jihad atau keutamaan Mujahidin, karena kitab-kitab fiqh sangat sarat dengan hal ini. Dan barangsiapa yang menginginkan hal itu maka silahkan baca kitab Masyari’ul Asywaq Ilaa Mashari’ul ‘Usysyaq wa Mutsirul Gharam Ilaa Darissalam milik Ibnu An Nuhhas Ad Dimasyqiy Ad Dimyathiy rahimahullah. Dan kami juga tidak bermaksud membongkar syubhat-syubhat Neo Murjiah yang menggugurkan kewajiban jihad, karena tak lama lagi -insya Allah- Allah memberikan tamkin bagi Mujahidin sehingga bisa mengeluarkan apa yang ada di dalam kepala-kepala mereka itu.

Dan bila kalajengking itu kembali datang maka kami datang
Sedangkan sandal pun sudah siap untuk menghajarnya

Akan tetapi surat kami ini adalah pernyataan sikap dan penegasan hal-hal yang disembunyikan oleh para ulama dan du’at kecuali orang yang dirahmati Allah karena takut pemenjaraan dan pengusiran.

Pertama:
Penyakit dan Obatnya

Sesungguhnya umat kita tercinta pada hari ini hidup dalam perbudakan dan kehinaan, sedangkan bukti hal itu adalah: apa yang dikenal dengan Revolusi Musim Semi Arab, yang mana mereka keluar di jalanan menuntut kebebasan dan kemuliaan, dikarenakan sesungguhnya bala tentara para thaghut telah menghinakan kaum muslimin dan menjadikan mereka sebagai budak-budak yang harus tunduk kepada undang-undang buatan yang syirik lagi zhalim, dan seandainya bukan karena hakikat yang pahit ini tentulah rakyat tidak keluar menentang dengan tangan-tangan kosong yang menantang peluru-peluru para tirani dan aparat durjana dengan dada-dada terbuka lagi bertekad kuat untuk melenyapkan kezhaliman dan memecahkan belenggu kehinaan.

ﻭﻻ ﻳﻘﻴﻢ ﻋﻠﻰ ﺫﻝ ﺃﻟﻢَّ ﺑﻪ … ﺇﻻ ﺍﻷﺫﻻﻥ ﻋﻴﺮ ﺍﻟﺤﻲ ﻭﺍﻟﻮﺗﺪ
ﻫﺬﺍ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺨﺴﻒ ﻣﺮﺑﻮﻁ ﺑﺮﻣﺘﻪ … ﻭﺫﺍ ﻳﺸﺞ ﻭﻻ ﻳﺮﺛﻲ ﻟﻪ ﺃﺣﺪ

Akan tetapi sesungguhnya kaum muslimin di dalam penentangan ini telah tersesat jalan, di mana mereka tidak mengenal apa penyakitnya dan tidak mengetahui obatnya kecuali apa yang Allah kehendaki. Mereka mengira bahwa jalan keluar adalah dengan cara merubah pemerintahan dan mengganti para penguasa, dan mereka mengira bahwa wasilah untuk mengangkat kezhaliman dan meraih kemuliaan itu adalah dengan demonstrasi-demonstrasi damai, dan sungguh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan kepada kita prihal zaman ini; yaitu zaman kehinaan, terus beliau mendiagnosa penyakit kita dan dan beliau menunjukan obatnya bagi kita, di mana telah sah dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata:

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ ، وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ ، وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ ، وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ ، سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

“Bila kalian berjual beli ‘inah, dan kalian mengikuti ekor-ekor kerbau, dan kalian rela dengan pertanian serta kalian meninggalkan jihad; maka Allah kuasakan terhadap kalian kehinaan yang tidak diangkat-Nya sampai kalian kembali kepada dien kalian.” (HR. Abu Dawud)

Dan dari Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata:

مَا تَرَكَ قَوْمٌ الْجِهَادَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ أَذَلَّهُمُ اللهُ وَمَا تَرَكَ قَوْمٌ الأَمْرَ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْي عَنِ الْمُنْكَرِ إِلاَّ عَمَّهُمُ اللهُ بِعِقَابٍ.

“Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah, melainkan Allah pasti menghinakan mereka, dan tidaklah suatu kaum meninggalkan amar ma’ruf dan nahi munkar, melainkan Allah pasti meratakan siksa-Nya kepada mereka.” (HR. Said Ibnu Mansur)

Maka hendaklah kalian mengetahui wahai Ahlus Sunnah yang berevolusi di setiap tempat bahwa penyakit kita bukanlah pemerintahan-pemerintahan yang berkuasa, akan tetapi penyakit kita itu adalah undang-undang syirik yang digunakan oleh para penguasa itu untuk memerintah, sehingga tidak ada perbedaan antara penguasa ini dan itu selagi sistimnya itu tidak kita rubah, tidak ada perbedaan antara (Husni La) Mubarak, Mu’ammar (Qaddafi) dan Ben Ali dengan Mursi, Abdul Jalil dan Al Ghannusyiy, di mana semua mereka itu adalah para thaghut yang menjalankan pemerintahannya dengan undang-undang yang sama, akan tetapi para thaghut yang akhir ini (yaitu Mursi, Abdul Jalil dan Al Ghannusyiy) adalah lebih dasyat fitnahnya terhadap kaum muslimin. Inilah penyakit kita dan bahwa sumber kehinaan kita adalah: Kecenderungan kepada dunia dan meninggalkan jihad, sehingga bila kita ingin melenyapkan kezhaliman dan meraih kemuliaan, maka kita wajib membuang undang-undang syirik buatan itu dan memberlakukan syari’at Allah, sedangkan tidak ada jalan untuk mencapai hal itu kecuali dengan jihad di jalan Allah.

Kedua:
Bentrokan Itu Adalah Ketentuan Yang Sudah Pasti, Sedangkan Seruan-Seruan Damai Itu Harus Dimasukkan Ke Dalam Tong Sampah

Sungguh telah tiba saatnya kita memahami dan mengakui bahwa aksi damai itu tidak mengukuhkan kebenaran dan tidak bisa menggugurkan kebathilan. Telah tiba saatnya bagi para pegiat aksi damai untuk menghentikan diri dari klaim mereka yang bathil itu, karena orang-orang kafir itu tidak mungkin berdamai dengan orang-orang yang beriman selamanya, dan tidak mungkin bagi keimanan yang tak bersenjata lagi pasrah dia bisa menghadang kekafiran yang bersenjata yang jahat lagi menyerang. Ini dia Kitabullah menjelaskan di hadapan kita: Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman:

قَالُوا لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ يَا نُوحُ لَتَكُونَنَّ مِنَ الْمَرْجُومِينَ

“Mereka berkata: “Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti Hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam”. (Asy Syu’ara: 116)

Dan berfirman:

قَالَ أَرَاغِبٌ أَنْتَ عَنْ آلِهَتِي يَا إِبْرَاهِيمُ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لأرْجُمَنَّكَ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا

“Berkata bapaknya: “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, Hai Ibrahim? jika kamu tidak berhenti, Maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama”. (Maryam: 46)

Dan berfirman:

قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ

“Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak”. (Al Anbiya: 68)

Dan berfirman:

قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami”. (Yaasin: 18)

Dan berfirman:

قَالَ لَئِنِ اتَّخَذْتَ إِلَهًا غَيْرِي لأجْعَلَنَّكَ مِنَ الْمَسْجُونِينَ

“Fir’aun berkata: “Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan”. (Asy Syu’ara: 29)

Dan berfirman:

لأقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ مِنْ خِلافٍ ثُمَّ لأصَلِّبَنَّكُمْ أَجْمَعِينَ

“Demi, sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kakimu dengan bersilang secara bertimbal balik, kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalib kamu semuanya.” (Al A’raf: 124)


Dan berfirman:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِرُسُلِهِمْ لَنُخْرِجَنَّكُمْ مِنْ أَرْضِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا

“Orang-orang kafir berkata kepada rasul-rasul mereka: “Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami”. (Ibrahim: 13)

Dan berfirman:

فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلا أَنْ قَالُوا أَخْرِجُوا آلَ لُوطٍ مِنْ قَرْيَتِكُمْ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ

“Maka tidak lain jawaban kaumnya melainkan mengatakan: “Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu; karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang (menda’wakan dirinya) bersih” (An Naml: 56)

Dan berfirman:

وَلَوْلا رَهْطُكَ لَرَجَمْنَاكَ وَمَا أَنْتَ عَلَيْنَا بِعَزِيزٍ

“Kalau tidaklah karena keluargamu tentulah Kami telah merajam kamu, sedang kamupun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami.” (Huud: 91)

Dan berfirman:

وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ …

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu.” (Al Anfal: 30)

Dan ayat-ayat di dalam hal itu sangatlah banyak, inilah keadaan orang-orang kafir dan para thaghut terhadap para rasul dan para pengikut mereka sepanjang masa, dan realita itu tidak akan berganti sampai hari kiamat.

Karena sesungguhnya orang-orang kafir itu pasti tidak akan mampu dari melawan hujjah dengan hujjah dan dalil dengan dalil, maka mereka akan beralih menggunakan kekuatan, dan sikap orang-orang kafir terhadap kaum muslimin ini tidak akan berubah selamanya: Allah Ta’ala ber firman:

وَلا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا

“Dan mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup” (Al Baqarah: 217)

Dan berfirman:

كَيْفَ وَإِنْ يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ لا يَرْقُبُوا فِيكُمْ إِلا وَلا ذِمَّةً

“Bagaimana bisa (ada perjanjian dari sisi Allah dan Rasul-Nya dengan orang-orang musyrikin), padahal jika mereka memperoleh kemenangan terhadap kamu, mereka tidak memelihara hubungan kekerabatan terhadap kamu dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian.” (At Taubah; 8)

Dan berfirman:

إِنَّهُمْ إِنْ يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ يَرْجُمُوكُمْ أَوْ يُعِيدُوكُمْ فِي مِلَّتِهِمْ وَلَنْ تُفْلِحُوا إِذًا أَبَدًا

“Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama lamanya”. (Al Kahfi: 20)

Dan berfirman:

إِنْ يَثْقَفُوكُمْ يَكُونُوا لَكُمْ أَعْدَاءً وَيَبْسُطُوا إِلَيْكُمْ أَيْدِيَهُمْ وَأَلْسِنَتَهُمْ بِالسُّوءِ وَوَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ

“Jika mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti(mu); dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir.” (Al Mumtahanah: 2).

Ini adalah pemberitahuan dari Allah Tabaraka Wa Ta’ala Yang Mengetahui hal yang ghaib dan yang nyata; bahwa ini adalah keadaan orang-orang kafir selamanya terhadap orang-orang mu’min dan para pembawa dakwah. Oleh sebab itu siapa saja yang beriman kepada Allah lagi mengamalkan firman-Nya, bahkan siapa saja orang yang memiliki akal dan pikiran, tentu dia meyakini bahwa kekafiran yang bersenjata itu akan menghalangi manusia dari mendengarkan atau mengikuti kebenaran yang tak bersenjata, dan bahwa harus ada kekuatan dan senjata disamping Al-Kitab yang menyampaikan kebenaran kepada manusia dan melindungi para pengikutnya, bahkan untuk menggiring manusia ke surga dengan rantai, karena orang-orang yang berakal itu akan mengambil manfaat dari penjelasan, dan adapun orang-orang bodoh maka solusi jitu bagi mereka itu adalah pedang dan tombak.

Ia tak lain adalah wahyu atau tajam pedang,
Yang tebasannya lenyapkan urat leher orang yang menyimpang.
Ini obat penyakit pada setiap orang yang berakal,
Sedang ini obat penyakit pada setiap orang bodoh.

Seandainya iman yang tak bersenjata dan seruan-seruan damai itu bisa menghadang kekafiran yang bersenjata, tentulah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak bakal menenteng senjata dan tentu beliau tidak membawa umatnya pada kondisi susah payah sedangkan beliau itu adalah sangat lembut lagi menyayangi mereka.

Dan seandainya seruan damai itu bisa mengukuhkan kebenaran dan menggugurkan kebathilan serta merubah kemungkaran, tentulah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak akan menumpahkan satu tetes darahpun, sedangkan beliau ini adalah manusia paling bertaqwa, paling santun dan paling menyayangi, dan Allah tidak mengutusnya kecuali sebagai rahmat bagi sekalian alam.

Al-Mushthafa menyeru di Makkah beberapa tahun namun tak disambut,
Padahal beliau telah lembut dalam sikap dan berbicara.
Tapi tatkala menyeru sedang pedang terhunus di tangannya,
Maka mereka tunduk patuh kepadanya dan menerima.

Barangsiapa mengklaim bahwa perubahan kemungkaran dan pengukuhan kebenaran serta pelenyapan kezhaliman itu bisa terbukti dengan seruan damai tanpa perang dan penumpahan darah, maka dia telah mengklaim bahwa dirinya lebih mengetahui dan lebih santun dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan bahwa tuntunannya lebih utama dari tuntunan beliau. Mana mungkin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seperti itu. Barangsiapa mengatakan bahwa agama Allah ini berdiri dengan seruan-seruan damai, maka berarti dia telah mencampakkan begitu saja Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam serta mengikuti hawa nafsunya.

Allah Ta’ala berfirman:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci.” (Al Baqarah: 216)

Dan berfirman:

فَإِذَا انْسَلَخَ الأشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ وَخُذُوهُمْ وَاحْصُرُوهُمْ وَاقْعُدُوا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ

“Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, Maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian.” (At Taubah: 5)

Dan berfirman:

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَإِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah” (Al Anfal: 39)

Dan berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قَاتِلُوا الَّذِينَ يَلُونَكُمْ مِنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوا فِيكُمْ غِلْظَةً

“Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu,” (At Taubah: 123)

Dan berfirman:

فَقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ لا تُكَلَّفُ إِلا نَفْسَكَ وَحَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ

“Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat orang-orang mukmin (untuk berperang).” (An Nisa: 84)

Dan berfirman:

قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنْصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ

“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman.” (At Taubah: 14)

Dan berfirman:

قَاتِلُوا الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلا بِالْيَوْمِ الآخِرِ وَلا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari Kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (Yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam Keadaan tunduk.” (At Taubah: 29)

Dan berfirman:

فَلْيُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يَشْرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالآخِرَةِ

“Karena itu hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah.” (An Nisa: 74)

Dan berfirman:

فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

“Sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” (An Nisa: 76)

Dan berfirman:

فَإِذا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا فَضَرْبَ الرِّقَابِ

“Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) naka pancunglah batang leher mereka.” (Muhammad: 4)

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

أُمِرْتُ أن أقاتِل الناسَ حتى يَشهدُوا أن لا إله إلا الله ، وأنَّ محمداً رسولُ الله ، ويقيموا الصلاةَ ، ويُؤتوا الزكاةَ

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadati selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat.” (Muttafaq ‘alaih)

Dan berkata:

بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي

“Aku diutus sebelum hari kiamat dengan pedang agar Allah sajalah yang diibadati tidak ada sekutu bagi-Nya, dan dijadikan rizkiku di bawah bayangan tombakku.” (HR. Abu Dawud)

Dan bersabda:

 وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوَدِدْتُ أَنْ أَغْزُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَأُقْتَلَ ثُمَّ أَغْزُوَ فَأُقْتَلَ ثُمَّ أَغْزُوَ فَأُقْتَلَ

“Demi Dzat Yang jiwaku ada di Tangan-Nya ingin sekali aku berperang fi sabilillah terus aku terbunuh, kemudian aku berperang terus aka terbunuh, kemudian aku berperang terus aku terbunuh.” (HR. Ibnu Majah, No 2743)

Dan bersabda:

مَنْ قَاتَلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فُوَاقَ نَاقَةٍ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ

“Barangsiapa berperang di jalan Allah walau selama satu perahan unta, maka sudah dipastikan surga baginya.” (HR. At-Tirmidzi, Abu Dawud, An-Nasa’i)

Dan bersabda:

لاَ يَجْتَمِعُ كَافِرٌ وَقَاتِلُهُ فِى النَّارِ أَبَدًا

“Tidak akan berkumpul orang kafir dengan orang yang membunuhnya di dalam api neraka selamanya.” (HR. Muslim)

Dan bersabda:

يَضْحَكُ اللَّهُ من رَجُلَيْنِ ؛ يَقْتُلُ أَحَدُهُمَا الْآخَرَ ؛ كِلَاهُمَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ: يُقَاتِلُ هٰذَا فِي سَبِيْلِ اللهِ فيُقتل ثُمَّ يَتُوْبُ اللهُ عَلَى الْقَاتِلِ فَيَسْتَشْهِدُ

“Allah tertawa dari sebab dua pria yang mana salah satunya membunuh yang lainnya, keduanya masuk surga: Yang ini berperang di jalan Allah sampai terbunuh, kemudian yang membunuh itu bertaubat kepada Allah terus dia mati syahid.” (Muttafaq ‘alaih)

Dan berkata shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِنَّ أَبْوَابَ الْجَنَّةِ تَحْتَ ظِلَالِ السُّيُوفِ

“Sesungguhnya pintu-pintu surga itu di bawah naungan pedang.” (HR. Muslim)

Dan berkata:

اغْزُوا بِاسْمِ اللَّهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَاتِلُوا مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ

“Berperanglah dengan Nama Allah dan di jalan Allah, perangilah orang yang kafir kepada Allah.” (HR. Ahmad)

Ini adalah perintah Allah Tabaraka wa Ta’ala, dan ini adalah tuntunan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, namun setelah ini semuanya malah muncul di hadapan kita para fuqaha resmi dan para du’at yang mencari damai yang mengharamkan jihad dan menganggap jahat para Mujahidin, maka dari mana fiqh semacam ini? Fiqh kehinaan, ketundukan, perendahan diri dan kenistaan yaitu fiqh jalan damai, siapa pendahulu mereka dari kalangan salaf dalam hal ini, dari agama apa mereka datang kepada kita dengan membawa jalan damai ini? Jalan damai itu agama siapa?

Tidak sama sekali, sesungguhnya penggapaian kemuliaan dan pembebasan diri dari kezhaliman serta penghancuran kehinaan itu tidak bisa dicapai kecuali dengan tebasan pedang, penumpahan darah serta pengorbanan jiwa dan raga. Dan ia itu tidak akan tercapai selamanya dengan seruan-seruan jalan damai atau pemilu-pemilu Parlemen. Tidak bisa itu semuanya.. Ini bukan tuntunan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah berkata:

وَالَّذِي نَفْسِ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ! لَوْلاَ أَنْ يَشُقَّ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ، مَا قَعَدْتُ خِلاَفَ سَرِيَّةٍ تَغْزُوْ فِي سَبِيْلِ اللهِ أَبَدًا

“Demi Dzat Yang jiwa Muhammad ada di Tangan-Nya, seandainya aku tidak khawatir menyusahkan kaum muslimin, tentu aku tidak akan tidak ikut serta bersama satu pasukanpun selamanya yang berperang di jalan Allah.” (Muttafaq ‘alaih)

Dan ini juga bukan jalan para sahabat beliau yang mulia yang mana empat dari lima orang di antara mereka itu terbunuh di dalam jihad fi sabilillah, Allah Ta’ala berfirman:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (Al Fath: 29)

Sesungguhnya tuntutan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam adalah tuntunan terbaik, dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam itu adalah manusia yang paling penyayang serta manusia yang paling mengetahui, beliau disifati oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala sebagai orang yang belas kasih dan penyayang dan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam itu tidak berbicara dari hawa nafsu. Di mana orang yang paling penyayang, paling belas kasih, paling alim, paling bertaqwa dan paling lembut itu berkata kepada kaumnya:

أَتَسْمَعُونَ يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ أَمَا وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِالذَّبْحِ

“Apakah kalian wahai Quraisy mendengar, ingatlah demi Dzat Yang jiwa Muhammad ada di Tangan-Nya, sungguh aku telah datang kepada kalian dengan penyembelihan.” (HR. Ahmad)

Bila kita hari ini ingin melenyapkan kezhaliman, menebarkan keadilan, mengukuhkan kebenaran, menggugurkan kebathilan serta mengembalikan keagungan kita, kemuliaan kita, kejayaan kita dan keberkuasaan kita, maka kita harus kembali kepada Kitab Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala yang merupakan perkataan yang paling benar dan kembali kepada tuntunan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam yang merupakan tuntunan terbaik serta kembali kepada sirah para sahabat beliau yang mulia radhiyallahu ‘anhum, kita harus menganut apa yang mereka anut dan meniti jalan yang telah mereka lalui di dalam merubah kemungkaran dan meninggikan kalimat Allah ‘Azza wa Jalla, dan kita tidak akan bisa memperbaiki akhir umat ini kecuali dengan apa yang telah memperbaiki awal umat ini.

Ketiga:
Kami harus menjaharkan suatu hakikat yang pahit yang selalu disembunyikan oleh para ulama, dan para fuqaha-pun hanya merasa cukup dengan sekedar pengisyaratan hakikat yang pahit itu adalah kekafiran bala tentara yang melindungi pemerintahan-pemerintahan para thaghut, terutama bala tentara Mesir, Libya dan Tunisia baik sebelum revolusi maupun setelah revolusi. Sedangkan bala tentara Suriah adalah sudah nampak jelas kekafirannya termasuk di hadapan pandangan wanita-wanita jompo. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا كَانُوا خَاطِئِينَ

“Sesungguhnya Fir’aun, Haman dan bala tentara mereka adalah orang-orang yang bersalah.” (Al Qashash: 8)

Kami harus menjaharkan hakikat yang pahit ini dan menyebarkannya “supaya binasa orang yang binasa di atas kejelasan dan hidup orang yang hidup di atas kejelasan.”.

Sesungguhnya bala tentara para thaghut yang menguasi negeri-negeri kaum muslimin itu secara keseluruhan mereka itu adalah bala tentara kemurtaddan dan kekafiran, dan sesungguhnya pernyataan hari ini yang mengatakan bahwa bala tentara itu kafir, murtad dan keluar dari Islam bahkan wajib diperangi apalagi bala tentara Mesir adalah pernyataan yang tidak sah diselisihi lagi di dalam Dienul Islam, yang mana ia itu telah dikukuhkan dengan dalil-dalil syar’iy dari Al-Kitab, As-Sunnah dan perkataan-perkataan para ulama pilihan yang mu’tabar, dan ia itu dipastikan bukan termasuk ucapan orang-orang yang ghuluw dan yang suka mengkafirkan tanpa dasar yang benar.

Dan sesungguhnya orang-orang yang mengaku berilmu yang suka berdebat membela-bela-bala tentara itu sampai sekarang dan mereka memerintahkan kaum muslimin agar tidak mengkafirkan dan memerangi bala tentara itu, maka mereka itu sungguh benar-benar manusia yang paling bodoh terhadap hakikat dien ini dan hakikat apa yang dilakukan bala tentara ini sekarang.

Ini buktinya tentara Mesir yang merupakan bagian dari tentara-tentara itu dan ia adalah copian darinya, ia berupaya mati-matian untuk mencegah pemberlakuan syari’at Allah Tabaraka wa Ta’ala dan ia bertindak serius untuk mengokohkan prinsip-prinsip Sekulerisme dan memberlakukan Qawanin Wadl’iyah (undang-undang buatan). Sesungguhnya tentara Mesir dan semua tentara para thaghut yang menguasai negeri-negeri kaum muslimin, mereka itu memerangi kaum muslimin karena sebab aqidah mereka dan karena seruan mereka untuk memberlakukan syari’at Rabb mereka dan Sunnah Nabi mereka yang suci, tentara-tentara itu memerangi mereka, membunuhi mereka dan menangkapi mereka karena sebab hal itu. Sesungguhnya tentara Mesir dan tentara-tentara (para thaghut) itu secara palsu dan dusta mengklaim bahwa ia itu adalah pelindung kaum muslimin, pembela mereka, pemelihara ketentraman, keamanan dan ketenangan mereka, padahal tentara-tentara ini pada dasarnya tidak dibentuk kecuali untuk melindungi para thaghut itu, membela mereka serta mengokohkan kekuasaan-kekuasaan mereka. Sesungguhnya tentara Mesir dan tentara-tentara (para thaghut) itu tidak dibentuk kecuali untuk memerangi Allah dan Rasul-Nya serta untuk menghalang-halangi dari jalan Allah. Sesungguhnya tentara Mesir yang merupakan satu copian dari tentara-tentara itu adalah tentara yang melindungi bank-bank riba, tempat-tempat maksiat dan pelacuran, ia adalah pelindung perbatasan Yahudi dan pelindung bangsa Qibthiy (kristen Koptik) dan orang-orang Nashara yang memerangi Allah dan Rasul-Nya, ia adalah tentara yang bila diperintahkan untuk meninggalkan shalat tentu ia pasti meninggalkannya, ia adalah tentara yang menjarah lagi memperkosa kehormatan, yang membakar masjid-masjid dan mushhaf-mushhaf, yang menghabisi orang-orang yang terluka agar mati serta yang membakar jasad-jasad warga yang terbunuh. Maka adakah orang berakal yang mengatakan bahwa tentara ini tidak boleh diperangi? Hatta walaupun dia menganggapnya masih muslim.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam fatwanya yang masyhur tentang Tattar:

كل طائفة ممتنعة عن التزام شريعة من شرائع الإسلام الظاهرة المتواترة من هؤلاء القوم وغيرهم فإنه يجب قتالهم حتى يلتزموا شرائعه وإن كانوا مع ذلك ناطقين بالشهادتين وملتزمين بعض شرائعه كما قاتل أبو بكر الصديق والصحابة رضي الله عنهم مانعي الزكاة وعلى ذلك اتفق الفقهاء بعدهم بعد سابقة مناظرة عمر لأبي بكر رضي الله عنهما فاتفق الصحابة رضي الله عنهم على القتال على حقوق الإسلام عملاً بالكتاب والسنة وكذلك ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم من عشرة أوجه: الحديث عن الخوارج وأخبر أنهم شر الخلق والخليقة مع قوله: “تحقرون صلاتكم مع صلاتهم وصيامكم مع صيامهم” فعلم أن مجرد الاعتصام بالإسلام مع عدم التزام شرائعه ليس بمسقط للقتال فالقتال واجب حتى يكون الدين كله لله, و “حتى لا تكون فتنة” فمتى كان الدين لغير الله فالقتال واجب فأيما طائفة امتنعت من بعض الصلوات المفروضات أو الصيام أو الحج أو عن التزام تحريم الدماء والأموال والخمر والزنا والميسر أو عن نكاح ذوات المحارم أو عن التزام جهاد الكفار أو ضرب الجزية على أهل الكتاب وغير ذلك من واجبات الدين ومحرماته التي لا عذر لأحد في جحودها وتركها التي يكفر الجاحد لوجوبها فإن الطائفة الممتنعة تقاتل عليها وإن كانت مقرة بها, وهذا ما لا أعلم فيه خلافاً بين العلماء”.

“Setiap kelompok yang menolak dari mengkomitmeni satu dari sekian ajaran Islam yang nampak (zhahir) lagi mutawatir dari kalangan orang-orang itu dan yang lainnya, maka wajib memerangi mereka itu sampai mereka komitmen dengan ajaran-ajarannya walaupun mereka itu mengucapkan dua kalimah syahadat dan komitmen dengan sebagian ajaran-ajarannya, sebagaimana Abu Bakar Ash-Shiddiq dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum telah memerangi orang-orang yang menolak dari membayar zakat, dan terhadap hal itu para fuqaha sesudah mereka telah sepakat, setelah sebelumnya terjadi munadharah Umar kepada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuma, sehingga para shahabat radhiyallahu ‘anhum sepakat untuk berperang di atas hak-hak Islam sebagai pengamalan Al-Kitab dan As-Sunnah. Dan begitu juga telah tsabit dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari sepuluh jalur; hadits tentang Khawarij, dan beliau kabarkan bahwa mereka itu manusia yang paling buruk, padahal beliau juga mengatakan tentang mereka itu: “Kalian menganggap sepele shalat kalian bila dibandingkan dengan shalat mereka dan shaum kalian bila dibandingkan dengan shaum mereka,” maka diketahuilah bahwa sekedar berpegang kepada Islam dengan disertai sikap tidak komitmen dengan ajaran-ajarannya adalah tidak menggugurkan dari diperangi, sedangkan perang itu adalah wajib sampai ketundukan seluruhnya hanya kepada Allah saja dan sampai tidak ada fitnah. Dan bila ketundukan itu masih kepada selain Allah, maka qital (perang) itu wajib. Sehingga kelompok mana saja yang menolak menjalankan sebagian shalat fardlu atau shaum atau haji atau menolak komitmen dengan pengharaman darah, harta, khamr, zina, judi atau (menolak) dari komitmen dengan pengharaman nikah dengan mahram atau dari komitmen menjihadi orang-orang kafir atau menetapkan jizyah terhadap ahli kitab serta hal lainnya dari kewajiban-kewajiban dien dan hal-hal yang diharamkan di dalamnya yang tidak ada udzur bagi seorangpun dalam mengingkarinya dan meninggalkannya, yang mana orang yang mengingkari kewajibannya dikafirkan, maka kelompok yang menolak itu diperangi karena sebab hal itu walaupun ia itu mengakuinya, dan ini adalah hal yang tidak aku ketahui perselisihan di dalamnya di antara para ulama.”

Dan beliau berkata juga tentang status hukum orang-orang Arab dan lainnya yang bergabung dengan tentara Tattar dan tentang status hukum orang yang membelot kepada mereka dari kalangan komandan pasukan dan selain komandan:

فحكمه حكمهم وفيهم من الردة عن شرائع الإسلام بقدر ما ارتد عنه من شرائع الإسلام وإذا كان السلف قد سموا مانعي الزكاة مرتدين مع كونهم يصومون ويصلون ولم يكونوا يقاتلون جماعة المسلمين فكيف بمن صار مع أعداء الله ورسوله قاتلاً للمسلمين”. ا. ه كلامه رحمه الله

“Maka status hukumnya adalah sama dengan status hukum mereka (tentara Tattar), dan pada mereka itu terdapat kemurtaddan dari ajaran Islam ini sesuai dengan kadar kemurtaddannya dari ajaran Islam ini, dan bila saja salaf telah menamakan orang-orang yang menolak dari membayar zakat sebagai orang-orang murtad padahal mereka itu melakukan shalat dan shaum serta tidak memerangi kaum muslimin, maka bagaimana gerangan dengan orang yang bergabung dengan musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya seraya memerangi kaum muslimin.” Selesai ucapan beliau rahimahullah.

Keempat:
Hakikat Hizbul Ikhwan dan saudaranya Hizbudhdhalam (maksudnya Hizbunnur milik orang-orang salafi maz’um Mesir, pent):

Permasalahan pada akhir episiodenya di Mesir telah beralih menjadi perhelatan yang nyata antara iman dan kufur, dan sesungguhnya peperangan itu bukanlah peperangan Ikhwan (IM), akan tetapi ia adalah peperangan Muwahhidin Mujahidin, peperangan umat ini, sedangkan IM tidak lain adalah partai sekuler dengan jubah Islam, justeru orang-orang partai IM itu adalah orang-orang sekuler yang paling jahat dan paling busuk, ia adalah partai yang mengibadati kursi dan Parlemen, mereka telah merelakan diri mereka untuk jihad dan mati di jalan Demokrasi, dan mereka tidak rela berjihad dan terbunuh di jalan Allah. Sungguh saya telah mendengar khathib mereka di tengah kerumunan ratusan ribu orang mengatakan dengan lantang: “Janganlah kalian pulang, matilah demi demokrasi,” ia adalah partai yang andai untuk pencapaian kursi itu diminta untuk sujud kepada Iblis, tentu mereka melakukannya tanpa ragu.

متقلب حسب الظروف فمؤمن… يوماً ويوماً كافر متزندق
لا يستقر على قرار طبعه … ومتى استقر مدى الحياة الزئبق

Membunglon sesuai keadaaan, di mana kadang mu’min,
Suatu hari dan di hari lain kafir menzindiq.
Tak tetap pada keteguhan sikapnya,
Mana mungkin air raksa bisa menetap sepanjang masa.

Bagaimana tidak demikian? Sedangkan Partai Ikhwan dan sejawatnya Hizbudhdhalam itu telah melepaskan diri dari semua pondasi-pondasi pokok keimanan dan dari sebagian cabang-cabang Islam. Mereka melepaskan diri dari pondasi-pondasi pokok iman saat mereka sepakat terhadap penyandaran hukum dan tasyri’ (pembuatan undang-undang) kepada selain Allah Ta’ala, di mana mereka berkata seraya marah dengan tanpa kesamaran dan tanpa basa-basi: “Sesungguhnya hak hukum dan pembuatan undang-undang itu ada di tangan rakyat,” kemudian mereka menambahkan: “Dan sekarang kami lah wakil-wakil bagi rakyat ini di Majelis Rakyat dan Majelis Permusyawaratan (MPR/DPR),” sedangkan di dalam apa yang mereka ucapkan dan mereka lakukan itu benar-benar terdapat pembenturan yang jelas terhadap aqidah para nabi dan tauhid Rabb bumi dan langit. Mereka telah melepaskan diri setelah itu dari banyak cabang-cabang ajaran Islam, di mana sesungguhnya mereka itu tatkala sepakat terhadap kekafiran ini dan mengakuinya mereka mengklaim secara klaim belaka bahwa dengan wasilah Demokrasi ini mereka akan menjadikannya sebagai jalan untuk penegakkan syari’at Islam dan cabang-cabangnya. Kemudian ternyata setelah itu mereka kembali muncul lagi di hadapan kita dan mengatakan: Sesungguhnya kita tidak mungkin menerapkan syari’at Islam secara total sekarang, oleh sebab itu sesungguhnya kami dari posisi kami sebagai Badan Legislatif ini akan menangguhkan pemberlakuan sebagian hukum-hukum syari’at sesuai perhitungan yang kami pandang, kemudian setelah itu dan di saat kami memandang sudah tiba saat tepat pemberlakuannya, maka kami akan menggulirkan TAP baru Badan Legislatif untuk hal itu, dan begitulah secara bertahap dari tahun ke tahun sampai kita tiba di suatu tahun yang mana penegakkan syari’at di lakukan secara total. Dan kami tidak mengklaim bahwa tahun itu akan terjadi pada tahun dari periode empat tahun yang kami diberikan kesempatan memerintah sebelum dilakukan pemilu Legislatif atau pemilu Presiden baru, akan tetapi tahun itu bisa jadi pada periode empat tahun lain selain periode empat tahun ini. Dan penangguhan ini tentunya akan dilakukan sesuai pandangan mashlahat menurut kami atau kami mengakuinya atau menggugurkannya,” maka hanya kepada Allah-lah kita mengadu.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْرِ يُضَلُّ بِهِ الَّذِينَ كَفَرُوا يُحِلُّونَهُ عَامًا وَيُحَرِّمُونَهُ عَامًا لِيُوَاطِئُوا عِدَّةَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فَيُحِلُّوا مَا حَرَّمَ اللَّهُ زُيِّنَ لَهُمْ سُوءُ أَعْمَالِهِمْ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan Haram itu adalah menambah kekafiran. Disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (syaitan) menjadikan mereka memandang perbuatan mereka yang buruk itu, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (At Taubah: 37)

Ayat ini telah turun berkenaan dengan orang-orang yang menangguhkan pengharaman bulan yang mereka yakini keharamannya dan mereka mengakuinya, dan itu mereka lakukan karena suatu alasan yang mereka pandang atau mashlahat yang mereka yakini, sehingga mereka menghalalkannya pada satu tahun supaya mereka bisa melakukan peperangan di dalamnya, maka Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan ayat Qur’an yang memberitahukan kepada mereka prihal status hukum mereka ini, yaitu firman-Nya Ta’ala:

إِنَّمَا النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْر

“Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan Haram itu adalah menambah kekafiran.” (At-Taubah : 37)

Penangguhan yang dilakukan partai IM itu adalah penambahan di dalam kekafiran, dan bukan asal kekafiran, karena asal kekafiran mereka sebagaimana yang telah kami jelaskan adalah: penyandaran hukum dan tasyri’ kepada selain Rabbul ‘Alamin, kemudian tindakan mereka yang menjadikan diri mereka sebagai penguasa dan para pembuat hukum, sehingga mereka itu menyerupai para ahbar dan pendeta Yahudi yang dijadikan sebagai arbab (tuhan-tuhan) selain Allah. Sesungguhnya para ahbar dan pendeta model baru yang mengaku muslim dan menghiasi diri mereka dengan hiasan Islam berupa jenggot, sorban dan gamis itu sungguh mereka telah menjual murah agama mereka dan mereka manukar ayat-ayat Allah dengan harga yang murah, di mana mereka terang-terangan menyerukan penangguhan pengharaman riba dan jual beli khamr dan penangguhan kewajiban hijab. Ini disamping apa yang mereka serukan sejak bertahun-tahun berupa penangguhan jihad fi sabilillah bahkan penangguhan kewajiban pengumuman sikap keberlepasan diri yang wajib dari syirik dan kaum musyrikin dengan klaim bahwa hal ini bertentangan dengan mashlahat yang utama dan malah bisa mempercepat bentrokan senjata. Maka apakah hal itu bisa mendatangkan manfaat dalam penangguhan bentrokan senjata? Ataukah bahwa militer sekarang telah memulai dan bersegera mengangkat senjata dan menggunakan kekuatan walaupun telah banyak hal yang diberikan oleh orang-orang itu berupa inbithah (sikap tengkurap/terima apa adanya) dan tanazulat (pengorbanan-pengorbanan prinsip aqidah) yang terus menerus lagi tidak berujung, sesungguhnya para ahbar dan pendeta model baru itu telah memakan harta manusia dengan cara bathil dan mereka telah menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Di mana seluruh harta yang mereka salurkan dan disalurkan kepada mereka untuk kampanye pemilihan mereka dan pengadaan seminar-seminar pensosialisasian partai mereka adalah tergololong bentuk memakan harta manusia dengan bathil, kemudian sesungguhnya mereka itu sering menghalang-halangi dari jalan Allah. Salah seorang tokoh pimpinan mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami akan menghadang setiap orang yang berupaya menegakkan syari’at secara langsung di Mesir,” maksud secara langsung itu adalah penegakkan syari’at tanpa melewati jalur Demokrasi yang telah digariskan oleh para tuan-tuan itu, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah. Allah Ta’ala berfirman:

أَمْ تُرِيدُونَ أَنْ تَسْأَلُوا رَسُولَكُمْ كَمَا سُئِلَ مُوسَى مِنْ قَبْلُ وَمَنْ يَتَبَدَّلِ الْكُفْرَ بِالإيمَانِ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ

“Apakah kamu menghendaki untuk meminta kepada Rasul kamu seperti Bani Israil meminta kepada Musa pada jaman dahulu? Dan Barangsiapa yang menukar iman dengan kekafiran, maka sungguh orang itu telah sesat dari jalan yang lurus.” (Al Baqarah: 108)

Sedangkan mengganti iman dengan kekafiran itu sebagaimana yang dikatakan para ulama adalah: penangguhan pengamalan dalil yang me-nasakh setelah ia turun atau pengamalan dalil yang mansukh setelah turunnya nasikh. Dan status hukum ini tepat sekali menimpa setiap orang yang mengklaim kebolehan mengamalkan tuntutan bara’ah ashliyah (hukum asal keterbebasan dari hukum) yang di-nasakh berupa tidak ada pengharaman hal-hal yang diharamkan; seperti khamr, judi, riba, zina, tabarruj (buka-bukaan aurat) dan sufur (wanita membuka wajah) setelah turun dalil pengharamannya dengan qath’iy lagi meyakinkan. Dan sesungguhnya kekafiran yang mana partai Ikhwan telah terjatuh ke dalamnya dan ia menjatuhkan manusia ke dalamnya: ia adalah bagian dari akibat mentaati orang-orang kafir ahli kitab yaitu Amerika dan bangsa Barat.

Kelima Dan Terakhir:
Nasehat Dan Arahan

Pertama, Kami menasehati Ahlus Sunnah secara umum dan secara khusus di Mesir dan Iraq: agar mencampakkan seruan-seruan jalan damai dan agar memikul senjata dan jihad di jalan Allah; untuk menghadang para penyerang yaitu tentara Mesir dan tentara Shafawiy (Syi’ah), di mana semua manusia yang berakal telah sepakat terhadap penghadangan musuh yang menyerang. Maka apakah akal orang komunis yang atheis itu lebih bagus dari akal Syaikh (rektor) Al Azhar yang tunduk hina lagi pasrah, padahal ayam betina saja menghadang hewan yang menyerang demi selamatkan anak-anaknya, maka apakah ayam betina itu lebih pemberani dari kalian wahai para penyeru jalan damai di Mesir dan Iraq.

Wahai keluarga kami di Mesir: Sesungguhnya kekafiran hari ini telah memamerkan taring-taringnya dan ia telah melepaskan diri dari wajah-wajah politik dan medianya yang lembut lagi busuk, dan ia menampakkan dirinya di hadapan khalayak dengan wajah yang sebenarnya, di mana telah nampak penindasan, penganiayaan, penerkaman dan pencabikan. Aparat dan militer telah bergerak dengan segala perlengkapannya dan personil-personilnya menghadang para demonstran yang tak bersenjata yang berlarian di belakang angan-angan aksi damai mereka, sehingga telah dibunuh di antara mereka dalam satu pagi seribu orang lebih, jangan tanya jumlah yang terluka, yang ditangkap dan yang terusir, maka apa yang kalian tunggu setelah ini dan apa yang kalian harapkan.

Kedua, Kami menasehati para personil tentara Mesir dan tentara para thaghut yang menguasi negeri-negeri kaum muslimin agar bertaubat dan meninggalkan barisan tentara itu serta berlepas diri darinya. Kami nasehati mereka agar mempelajari tauhid dan pembatal-pembatal keislaman serta mengkaji prinsip al-wala’ dan al-bara’, maka jangan kalian terpedaya dengan fatwa-fatwa ulama Pemerintah, karena sesungguhnya mereka itu tidak bisa menolong kalian sedikitpun dari adzab Allah.

Ketiga, Kami menasehati Al-Ikhwan Al-Muslimin dan partai lainnya agar bertaubat kepada Allah dan meninggalkan agama Demokrasi, dan kami katakan kepada mereka: Janganlah para penyembah anak sapi dari kaum Musa itu lebih baik dari kalian, karena sesungguhnya mereka itu tatkala sudah melihat sapi itu tidak bisa berbicara dengan mereka dan tidak bisa menunjukan jalan yang lurus kepada mereka, maka mereka taubat, inabah dan kembali kepada Rabb mereka. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَمَّا سُقِطَ فِي أَيْدِيهِمْ وَرَأَوْا أَنَّهُمْ قَدْ ضَلُّوا قَالُوا لَئِنْ لَمْ يَرْحَمْنَا رَبُّنَا وَيَغْفِرْ لَنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan setelah mereka sangat menyesali perbuatannya dan mengetahui bahwa mereka telah sesat, merekapun berkata: “Sungguh jika Tuhan kami tidak memberi rahmat kepada kami dan tidak mengampuni kami, pastilah kami menjadi orang-orang yang merugi.” (Al A’raf: 149)


Kalian telah melihat nyata dengan mata kalian sendiri hakikat Demokrasi dan lenyapnya kekuasaan kalian yang kalian upayakan untuk meraihnya salama satu abad, kemudian militer merebutnya secara paksa dari kalian dalam satu malam, dan esok harinya orang-orang di antara kalian antara yang ditangkap, terbunuh dan terusir, maka sampai kapan? Sungguh kalian telah disengat berkali-kali dari lobang yang sama dan kalian tidak mengambil pelajaran dari apa yang terjadi bersama si Jamal Abdunnasher, dan kalian juga tidak mengambil pelajaran dari apa yang terjadi di Aljazair saat Islamiyun rela dengan permainan Demokrasi terus mereka memenangkannya dan mereka rugi kehilangan keislaman. Maka berapa sengatan kalian akan disengat dari lobang Demokrasi sampai kalian sadar.

Keempat, Kami menasehati kaum muslimin yang berperang di setiap tempat dan di Syam secara khusus, agar mereka mengikhlaskan niat mereka dan hendaklah mereka menjauhi panji-panji buta, karena tidak setiap yang berperang itu Mujahid, dan tidak setiap yang terbunuh itu syahid, serta tidak ada perbedaan antara orang yang berperang di bawah bendera hijau dengan yang berperang di bawah bendera hitam atau merah, dan tidak ada perbedaan antara tentara lama dengan tentara baru bila amalan itu tidak tepat sunnah dan tidak ikhlas niat. Allah Ta’ala berfirman:

مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الآخِرَةَ

“Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat.” (Ali Imran: 152)

Dan rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 إِنَّ أَكْثَرَ شُهَدَاءِ أُمَّتِي لأَصْحَابُ الْفُرُشِ ، وَرُبَّ قَتِيلٍ بَيْنَ الصَّفَّيْنِ ، اللَّهُ أَعْلَمُ بِنِيَّتِهِ

“Sesungguhnya mayoritas syuhada umatku adalah orang-orang yang berada di atas tempat tidur, dan berapa banyak yang terbunuh di antara dua pasukan adalah Allah lebih mengetahui niatnya.” (HR. Ahmad)

Maka hati-hatilah jangan kalian menjadikan penentangan kalian ini dalam rangka mengganti penguasa atau menjatuhkan rezim, akan tetapi hendaklah kalian menjadikan tujuan kalian itu adalah pemberlakuan syari’at Allah. Dan jauhilah panji-panji buta, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عِمِّيَّةٍ يَغْضَبُ لِعَصَبِيَّةٍ ، أَوْ يَنْصُرُ عَصَبِيَّةً ، أَوْ يَدْعُو إِلَى عَصَبِيَّةٍ ، فَقُتِلَ فَقَتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ

“Barangsiapa berperang di bawah panji buta, yang mana dia marah karena fanatisme atau menolong karena fanatisme atau mengajak kepada fanatisme, terus dia terbunuh maka (dia terbunuh) dengan keterbunuhan model jahiliyah.” (HR. Ibnu Majah)

Panji buta adalah: urusan yang buta yang tidak jelas arahnya.

Dan terakhir: Sesungguhnya kondisi pada hari ini di Mesir dan di seluruh dunia tidaklah seperti zaman dulu, sesungguhnya dunia pada hari ini dengan berbagai kejadiannya sedang siap-siap menyongsong hal besar, dan sesungguhnya saudara-saudara kalian di Daulah Islam Iraq dan Syam sangat antusias untuk menjelaskan manhaj yang lurus dan nasehat yang tulus bagi setiap mujahid dan muslim di semua negeri kaum muslimin, dan sesungguhnya kewajiban hijrah dan jihad pada hari ini telah menjadi mudah bagi semua orang, maka gunakanlah kesempatan ini wahai hamba-hamba Allah, dan janganlah syaitan dan wali-walinya dari kalangan militer yang busuk menakut-nakuti kalian, dan katakanlah seperti yang dikatakan oleh orang-orang terdahulu:

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“(yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah Sebaik-baik Pelindung”. (Ali Imran: 173)

Maka cukuplah Allah bagi kita dan Dia-lah Penolong terbaik.

Dan segala puji hanya bagi Allah Rabbul ‘Alamiin, dan semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya dan para sahabatnya semua.

Al-Furqan Media

Rabu, 08 Februari 2017

CUKUPLAH ENGKAU MEMILIKI ALLAH, WAHAI DAULAH YANG DIZHALIMI

CUKUPLAH ENGKAU MEMILIKI ALLAH, WAHAI DAULAH YANG DIZHALIMI
Statemen Juru Bicara Resmi Daulah Islamiyah di Iraq Dan Syam, Syaikh Al-Mujahid Abu Muhammad Al-Adnani Asy-Syami

Alih Bahasa:
Al-Fajr Media

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Allah Yang Maha Kuat lagi Maha Kokoh. Shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada nabi yang diutus dengan pedang sebagai rahmat bagi seluruh alam. Amma ba’du.

Allah Ta’ala berfirman:

وَقَالَ الَّذِينَ استُضعِفُوا لِلَّذِينَ استَكبَرُوا بَل مَكرُ اللَّيلِ وَالنَّهَارِ إِذ تَأمُرُونَنَا أَن نَّكفُرَ بِاللَّـهِ وَنَجعَلَ لَهُ أَندَادًا وَأَسَرُّوا النَّدَامَةَ لَمَّا رَأَوُا العَذَابَ وَجَعَلنَا الأَغلَالَ فِي أَعنَاقِ الَّذِينَ كَفَرُوا هَل يُجزَونَ إِلَّا مَا كَانُوا يَعمَلُونَ

“Dan orang-orang yang dianggap lemah (para pengikut) berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri (para pemimpin): “(Tidak) sebenarnya tipu daya kalian di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami), ketika kalian mengajak kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya.” Kedua belah pihak (pengikut dan pemimpin) menyatakan penyesalan tatkala mereka melihat adzab. Dan Kami pasang belenggu di leher orang-orang yang kafir. Mereka tidak dibalas melainkan dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Saba’ (34): 33)

Sesungguhnya Barat yang kafir telah melancarkan serangan media massa yang gencar terhadap mujahidin Daulah Islam Iraq dan Sham. Untuk hal itu Barat telah mengerahkan seluruh chanel TV para thaghut dan “genderang-genderang” kekafiran di setiap tempat. Mereka melancarkan makar terhadap mujahidin dan kaum muslimin, siang dan malam.

Di antara serangan keji media massa yang paling menonjol adalah sebagai berikut:

Serangan Pertama:
Menuduh Daulah Islam meledakkan masjid-masjid di kawasan-kawasan sunni di Iraq

Perumpamaannya adalah seperti (rezim Syiah Iraq) menangkap seorang muslim awam penduduk kota Samara yang dizhalimi, lalu mengaraknya keliling kota dengan mengumumkan orang itu adalah tentara Daulah Islam dan pelaku peledakan di masjid jami’ Mush’ab bin Umair. Namun atas karunia Allah, tuduhan-tuduhan ngawur dan berita-berita palsu seperti ini tidak mempan terhadap penduduk Ahlus Sunnah di Iraq. Karena mereka kini telah mengetahui manhaj Daulah Islam yang sebenarnya dan berlepas dirinya kami dari menargetkan kaum muslimin atau menumpahkan darah mereka.

Bukan kami yang menargetkan kaum muslimin, atau meledakkan masjid-masjid mereka atau pasar-pasar mereka di tempat manapun… Hal itu adalah tindakan orang-orang Rafidhah dan dikoordinasikan serta di supervisi oleh Dinas Intelijen rezim Shafawi yang dengki (terhadap Ahlus Sunnah), dengan dukungan penuh dari para ulama rujukan mereka.

Kampanye pencitraan buruk ini dengan izin Allah sama sekali tidak akan berpengaruh terhadap Daulah Islam, sebab kebenaran telah sangat jelas bagi seluruh kaum muslimin dan mereka telah mengetahui hakekat kaum Rafidhah dan hakekat konflik dengan kaum Rafidhah.

Kaum muslimin sudah bisa membedakan antara mujahidin dengan para penipu yang menjual belikan nama jihad. Suku-suku (Ahlus Sunnah) telah kembali menerima, mendukung dan memberikan tempat perlindungan kepada mujahidin. Semua sarana musuh telah gagal menimbulkan perpecahan antara mujahidin dan kaum muslimin, mengucilkan mujahidin dan membolak-balikkan fakta tentang mujahidin.

Cara-cara membujuk dan menakut-nakuti yang mereka tempuh telah gagal, dengan menggelontorkan dana untuk membeli para pecundang, rayuan dengan jabatan dan gaji, dan janji-janji palsu. Juga penangkapan, pembunuhan, pengusiran, ancaman, perampasan dan perampokan, dan bentuk-bentuk kebiadaban serta teror lainnya.

Dukungan dan bantuan penduduk Ahlus Sunnah kepada mujahidin hari ini bukan hal yang asing lagi bagi orang yang mengikuti perkembangan peristiwa di kancah Iraq. Bukti paling baik atas hal itu adalah peningkatan (operasi jihad) yang selalu berlanjut. Hal itu tidak mungkin terjadi kecuali karena rumah-rumah kaum muslimin (Ahlus Sunnah) terbuka lebar-lebar untuk mujahidin.

Serangan Kedua:
Menyembunyikan peperangan-peperangan, kegiatan-kegiatan dan kesuksesan-kesuksesan yang dicapai oleh Daulah

Contohnya di Iraq adalah: Menutup-nutupi perang penyerbuan penjara Taji dan penjara Abu Ghuraib secara malu-malu, meskipun ia adalah peperangan yang sangat unik dan merupakan salah satu operasi peperangan yang paling besar dan paling rumit. Lebih dari itu melalui serangan itu berhasil dibebaskan ratusan tawanan. Sementara itu genderang ditabuh dan terompet ditiup (diekspos media massa) jika ada pihak lain (milisi oposisi sekuler) yang mampu membebaskan satu orang tawanan saja di sini atau sana.

Adapun contohnya di Syam adalah:

– Jika Daulah melakukan suatu operasi dan mengizinkan kelompok lain untuk turut serta dalam operasi tersebut, maka media massa menyatakan operasi tersebut dilakukan oleh kesatuan lain tersebut, tanpa menyebutkan nama Daulah sama sekali.

Contoh dari hal itu adalah: Media massa menyatakan pembebasan bandara militer Minnigh di pinggiran Aleppo dilakukan oleh FSA, padahal operasi tersebut dipersiapkan, dirancang dan dilaksanakan oleh Daulah, dengan keikut sertaan secara terbatas oleh sebagian kesatuan FSA. Media massa sama sekali tidak menyebutkan nama Daulah, sampai juru bicara-juru bicara Dewan Pimpinan Militer sekuler yang “melakukan ribath” dalam hotel-hotel mewah (di Turki) tanpa rasa malu mengklaim sebagai pelaku operasi tersebut!

– Adapun jika operasi sepenuhnya dilakukan oleh Daulah, maka operasi tersebut sama sekali tidak disebutkan oleh media massa. Jika salah seorang koresponden media massa “keliru” dan menyebutkannya (sebagai operasi Daulah), maka laporannya tersebut dilewatkan begitu saja dengan malu-malu.

Contoh dari hal itu adalah: Operasi-operasi Daulah Islamiyah di Iraq dan Syam di pinggiran timur Hamah, di mana Daulah berhasil membebaskan beberapa desa, menghancurkan beberapa posko militer Nushairiyah, dan menyerbu sejumlah posisi-posisi militer yang besar, merebut beberapa gudang persenjataan. Posisi-posisi militer yang besar tersebut dikenal dengan nama Perisai Hamah. Media massa tidak menyebutkan operasi Daulah ini meskipun ia merupakan salah satu operasi peperangan yang paling besar dan terhitung sebagai awal patahnya punggung rezim Nushairiyah di Hamah.

Serangan ketiga:
Ketika terjadi persoalan (konflik) apapun dengan Daulah, media massa segera memberitakannya bahkan sebelum persoalan tersebut sampai kepada para pemimpin Daulah

Media massa membesar-besarkan, memblow up dan memberitakan persoalan tersebut secara terus-menerus selama berhari-hari. Meskipun persoalan tersebut kecil saja, atau hanya berlangsung selama beberapa jam, lalu berakhir selamanya. Hal itu diberitakan dan diulang-ulang pemberitaannya oleh media massa dalam setiap waktu dan kesempatan.

Sementara itu jika kesatuan-kesatuan lain, kelompok-kelompok lain, brigade-brigade lain dan jama’ah-jama’ah lain saling bertempur selama beberapa hari sekalipun; media massa sama sekali tidak memberitakannya dan tidak ada seorang (pemerhati media massa) pun yang mengetahui beritanya, meskipun korban tewas dan cedera berjatuhan.

Sekiranya kita mengadakan perbandingan antara jumlah persoalan-persoalan atau kondisi-kondisi peperangan yang terjadi antara Daulah dan kesatuan-kesatuan lain, dan jumlahnya dengan persoalan atau peperangan yang terjadi di antara sesama kesatuan lain, niscaya semua pihak akan terkejut karena kondisi peperangan antara Daulah dan kesatuan-kesatuan lain tersebut jauh lebih sedikit dari kondisi peperangan di antara sesama kesatuan lainnya. Kami memiliki bukti-bukti dan saksi-saksi atas pernyataan ini.

Serangan keempat:
Memutar balikkan fakta dan melemparkan tuduhan-tuduhan bathil kepada Daulah

Seperti menuduh Daulah memonopoli dan mendominasi di wilayah-wilayah yang telah dibebaskan dan menuduh Daulah menikam FSA dari belakang untuk menghentikan laju FSA di beberapa front. Padahal yang benar adalah sebaliknya.

Contoh dari hal itu: Apa yang dilakukan oleh kesatuan yang dikenal sebagai Brigade Ahfad ar-Rasul, yang membuka front pertempuran melawan kami di Raqqah dan Deir Zour, pada saat pasukan daulah meraih kemajuan pesat di pinggiran Lattakia sampai mencapai pinggiran kota Kardahah, kampung halaman rezim Nushairiyah.

Contoh lainnya adalah : apa yang belakangan dilakukan oleh kesatuan yang dikenal sebagai Brigade Ashifatu asy-Syimal di kota A’zaz, yang membuka front pertempuran melawan kami di pinggiran Aleppo Utara pada saat pasukan Daulah meraih kemajuan pesat di pinggiran Hamah dan mematahkan perisai rezim Nushairiyah di sana.

Serangan kelima:
Tuduhan bahwa Daulah tidak mengakui seorang pun dan ingin menyingkirkan semua pihak

Ini juga merupakan tuduhan yang memutar balikkan fakta, karena berita sebalikannya adalah fakta yang benar. Orang-orang yang ingin meminggirkan Daulah itu banyak jumlahnya, karena kesalahan dalam manhaj dan aqidah mereka, maupun karena mereka menginginkan kekuasaan dan kenikmatan dunia.

Dan kelompok ketiga adalah (seperti dikatakan penyair):

Mereka mendengki kepada pemuda itu
Kala mereka tak bisa meraih kedudukannya
Seperti istri-istri yang di madu
Cemburu pada kecantikan wajah madunya

Maka kaum itu menjadi musuh
Dan benci pemuda itu
Karena dengki dan aniaya
Sungguh amat tercela perilaku mereka

Maka hendaklah semua pihak mengetahui, bahwasanya kami, demi Allah, tidak ingin meminggirkan seorang pun. Barangsiapa bertanya-tanya kenapa kami menjauhi banyak kelompok, maka sesungguhnya fakta sebenarnya adalah setiap hari kami bertambah kawan. Kemudian, barangsiapa berjalan satu langkah kepada kami (untuk menjalin komunikasi dan kerjasama), maka kami berlari ke arahnya dengan sigap. Dan barangsiapa mengulurkan tangannya kepada kami, maka kami membuka dada kami lebar-lebar (untuk menyambutnya).

Serangan keenam:
Orang-orang kafir telah menyebar luaskan berita palsu bahwa Daulah memerangi orang-orang yang memisahkan diri dari Daulah. Mereka menggambarkan kepada masyarakat bahwa peperangan dan pertumpahan darah itu terjadi

Padahal faktanya, atas karunia Allah semata, tidak ada setetes darah pun yang ditumpahkan meskipun faktor-faktor penyulut peperangan itu ada. Hal itulah yang membuat marah orang-orang kafir dan terbuktilah bagi semua pihak kebohongan tuduhan-tuduhan yang dilemparkan kepada Daulah, yaitu tuduhan memerangi dan membunuh orang yang berbeda pendapat dengan Daulah, atau membatalkan secara sepihak bai’at kepada Daulah, atau tidak mau menaati Daulah.

Serangan Ketujuh:
Seperti biasanya, orang-orang kafir menggambarkan kepada masyarakat bahwa Daulah menghalalkan darah kaum muslimin, bahwa Daulah akan memenggal kepala, mencambuk punggung, dan mengelupas kulit kaum muslimin

Orang-orang kafir menggambarkan kepada masyarakat bahwa Daulah memerangi kesatuan-kesatuan (kelompok/jama’ah) lain di Iraq dan menghalalkan darah mereka, dan Daulah juga akan memerangi kesatuan-kesatuan lainnya di Syam dan menghalalkan darah mereka. Orang-orang kafir menggambarkan kepada masyarakat bahwa Daulah memiliki politik yang gagal, yang mengakibatnya terbentuknya milisi-milisi Shahawat (milisi-milisi bayaran musuh) dan banyak kesatuan yang berbalik arah. Subhanallah!

Mengenai tuduhan-tuduhan ini, sebelumnya kami telah membantah keseluruhannya. Adapun peperangan kami melawan kesatuan-kesatuan bersenjata yaitu melawan liwa’ dan katibah yang dinamakan ‘Ashifatu asy-Syimal’, ‘Ahfad ar-Rasul’ dan ‘Hilful Fudhul’, maka demi Allah, kami tidak pernah menyerang salah seorang di antara mereka dan kami tidak pernah sekalipun memulai serangan terhadap mereka.

Kami telah bersikap santun kepada mereka dan kepada (kelompok-kelompok) selain mereka, dan sikap santun kami itu masih berlanjut; meskipun mereka membuat persekongkolan dengan orang-orang salibis (Barat) dan bersepakat dengan mereka untuk memerangi kami. Kami memiliki bukti-bukti sangat kuat yang membuktikan hal itu. Juga sikap-sikap mereka yang senantiasa memancing mujahidin (untuk terlibat konflik) dan sikap mereka yang keterlaluan kepada Islam dan kaum muslimin.

Adapun yang dikenal dengan Brigade Ahfad ar-Rasul, maka sesungguhnya keburukan mereka bukan hal yang samar lagi bagi kaum muslimin, sampai masyarakat awam menamakan mereka Ahfad ar-Rais (Cucu-cucu Presiden ‘Bashar Asad’).

Komandan Brigade ini telah mengunjungi Perancis dan pulang dengan membawa kesepakatan (dengan Perancis) dan rencana, sehingga mereka mendapat dukungan dana dan senjata, untuk memerangi Daulah Islam secara khusus dan mujahidin secara umum. Usaha mereka dimulai dari Raqqah, yang merupakan salah satu pangkal kekuatan Daulah Islam. Mereka mengerahkan segenap usaha mereka untuk memancing dan mendorong tentara-tentara Daulah Islam agar memulai peperangan; mereka mencaci maki nama Rabbul ‘Izzah (Allah) Azza wa Jalla di depan umum dan melalui pengeras suara. Mereka mengolok-olok (ajaran) Islam. Mereka memaksa masyarakat untuk melakukan perbuatan-perbuatan munkar, di antaranya mereka menangkap seorang penduduk dan memaksanya untuk meminum minuman keras.

Mereka berulang kali mengganggu tentara-tentara Daulah Islam. Mereka menembaki dan mencederai tentara Daulah Islam. Kami bersabar dan bersikap santun atas semua perbuatan mereka ini. Mereka mengira sikap santun kami adalah kelemahan dan sikap sabar kami adalah ketidak berdayaan. Maka mereka membunuh dua orang tentara kami, menangkap dan mencederai tiga tentara kami. Mereka memulai serangan terhadap kami dan mereka mengumumkan peperangan terhadap kami. Namun Allah menolak tipu daya mereka sehingga mengenai leher mereka sendiri. Mujahidin Daulah Islam menyerang mereka untuk menolak kejahatan mereka dan menghentikan tindakan aniaya mereka. Maka mujahidin membersihkan bumi Raqqah dari mereka. Sementara di wilayah-wilayah lainnya, kami masih terus menjaga sikap santun kepada mereka, dengan harapan mereka kembali sadar dari kesesatan mereka.

Adapun mengenai brigade yang dikenal dengan nama Ashifatu asy-Syimal, maka semua pihak juga telah mengetahui keburukan dan kejahatan mereka. Pihak yang dekat dan jauh telah mengetahui bagaimana kelompok ini menyambut babi Amerika, John McCain. Mereka menjalin kesepakatan dengannya untuk memerangi Daulah Islam dan mujahidin. Mereka juga melarikan tank-tank pasukan Nushairiyah yang menembaki kaum muslimin dari bandara militer Minnigh saat mujahidin Daulah Islam menyerbu masuk ke dalam bandara militer tersebut. Belakangan mereka berperang mati-matian untuk melindungi agen intelijen salibis dan mereka lebih dahulu memulai serangan terhadap kami demi melindungi agen tersebut. Tentara-tentara Daulah Islam telah menyita handycam agen itu yang berisi rekaman video tentang kantor-kantor dan markas-markas Daulah Islam, pada saat rencana serangan Amerika ramai dibicarakan.

Serangan gencar media massa terhadap Daulah ini memiliki sejumlah tujuan jahat. Di antaranya :

Pertama, melekatkan lebih banyak tuduhan-tuduhan palsu terhadap Daulah, untuk membangkitkan (kebencian) kaum muslimin dan memprovokasi mereka untuk menyerang Daulah di dalam negeri (Iraq dan Syam) dan membuat citranya buruk di luar negeri. Hal itu untuk memutus hubungan, dukungan dan sokongan dari umat Islam.

Kedua, menciptakan fitnah (konflik) antara Daulah dan kelompok-kelompok bersenjata lainnya, khususnya kelompok-kelompok FSA.

Ketiga, berusaha untuk mengecilkan kedudukan, kekuatan dan pengaruh Daulah dalam kancah perjuangan, dengan berpura-pura tidak mengetahui usaha dan kegiatan Daulah, bahkan menutup-nutupi beritanya. Sebaliknya media massa menonjolkan sebagian kelompok FSA, “meniup-niup”nya, membesar-besarkannya (melebihi kekuatan sebenarnya) dan memblow upnya di media, agar menjadi ‘tandingan-tandingan’ bagi Daulah.

Keempat, menciptakan gap dan jurang pemisah antara Muhajirin dan Anshar, dan mencitrakan Muhajirin sebagai orang-orang asing yang hanya membuat onar dan kerusakan.

Kelima, di antara tujuan paling keji dari serangan gencar media massa ini adalah menyiapkan dan mengisi hati kaum muslimin untuk melancarkan peperangan terhadap mujahidin.

Sesungguhnya banyaknya tuduhan palsu yang dilekatkan kepada mujahidin secara umum dan Daulah secara khusus, senantiasa menggambarkan Daulah sebagai kelompok yang sesat, merusak dan jahat, serta bersatu padunya seluruh stasiun TV orang-orang kafir dan “genderang-genderang”nya dalam memblow up hal itu, pastilah seiring berjalannya waktu akan mempengaruhi jiwa-jiwa kaum muslimin.

Akibatnya, serangan gencar media massa tersebut akan menyedikitkan dukungan kaum muslimin kepada mujahidin, membukakan jalan bagi serangan terhadap Daulah, dan melancarkan serangan salibis khusus terhadap Daulah tatkala mujahidin meraih kemenangan dan orang-orang salibis Barat gagal membentuk milisi-milisi Shahawat di Syam, atau mereka gagal memperkuat milisi-milisi Shahawat tersebut, atau mereka gagal mengadakan boneka yang kuat dari kalangan orang-orang murtad untuk memerangi mujahidin.

Berdasar atas semua hal di atas, maka kami mengatakan:

Pertama:
Kami telah dan kami akan membantah seluruh tuduhan palsu dan berita bohong yang dilemparkan kepada kami.

Maka barangsiapa ingin bersikap obyektif, hendaklah ia takut kepada Allah berkenaan dengan diri kami. Hendaklah ia menilai kami dari pernyataan-pernyataan resmi kami, rilisan-rilisan kami dan pesan-pesan kami, atau ia menilai kami dari dalil syar’i yang dengannya ia membuktikan ketidak sesuaian kami dengan pernyataan kami. Janganlah ia menilai kami dari apa yang digambarkan oleh media massa musuh-musuh kami, atau dari apa yang ia dengar dari mulut “genderang-genderang” musuh-musuh kami, dan juga bukan dari kesaksian lawan kami.

Stasiun-stasiun TV para thaghut (Razim Murtad Arab) yang memerangi orang-orang Rafidhah (Rezim Murtad Syiah Iran, Iraq atau Suriah) atas perintah para thaghut dan demi kepentingan para thaghut sekalipun mau bertindak obyektif terhadap orang-orang Rafidhah. Stasiun-stasiun TV tersebut mengambil bukti atas orang-orang Rafidhah dari buku-buku, pernyataan-pernyataan lisan dan sumber-sumber Rafidhah sendiri. Namun stasiun-stasiun TV tersebut melemparkan tuduhan-tuduhan palsu kepada Daulah Islam secara serampangan tanpa bukti apapun!

Kenapa orang yang setiap hari muncul di layar TV dan pertemuan-pertemuan tidak mau bersikap obyektif terhadap kami? Kenapa (tidak mau bersikap obyektif terhadap kami) orang yang setiap hari mengeluarkan pernyataan dan berkicau di situs-situs jejaring sosial dengan menghakimi kami, memvonis kami keliru dan berbuat kriminal padahal ia jauh dari peristiwa, jauh dari fakta, dan tidak mendengar langsung dari orang yang memiliki (terlibat langsung dalam) persoalan tersebut?

Cukuplah engkau memiliki Allah, wahai Daulah yang dizhalimi!
Cukuplah engkau memiliki Allah, wahai Daulah yang dizhalimi!

Kaum muslimin bersikap obyektif terhadap musuh-musuh mereka, namun kaum muslimin enggan bersikap obyektif kepadamu (wahai Daulah), kecuali orang yang mendapat rahmat Allah!

Kedua:
Dalam kesempatan ini kami ingin menjelaskan sebuah syubhat yang sejak lama dihembuskan lewat serangan media massa ini.

Sesungguhnya pendapat yang menyatakan bahwa (status) hukum asal masyarakat adalah kekafiran merupakan bagian dari bid’ah Khawarij modern. Adapun aqidah, manhaj dan keyakinan Daulah adalah meyakini bahwa secara umum Ahlus Sunnah di Iraq dan Syam adalah kaum muslimin, kami tidak mengkafirkan seorang pun di antara mereka kecuali orang yang terbukti bagi kami bahwa ia telah murtad berdasarkan dalil-dalil syar’i yang qath’i tsubut dan qath’i dalalah.

Barangsiapa di antara tentara-tentara Daulah, kami temukan meyakini keyakinan bid’ah (Khawarij) ini, maka kami memberikan pengajaran dan penjelasan kepadanya. Jika ia tidak mau kembali (kepada pemahaman Ahlus Sunnah), maka kami memberikan hukuman ta’zir (sanksi yang membuat jera) kepadanya. Jika ia tidak juga mau berhenti, maka kami mengusirnya keluar dari barisan kami dan kami berlepas diri darinya. Kami telah melakukan hal ini berulang kali terhadap banyak Muhajirin dan Anshar.

Ketiga:
Sesungguhnya Daulah Islamiyah selama berada di atas jalan Allah tidak pernah takut celaan orang yang mencela apa yang diyakini dan dianut oleh Daulah.

Satu hari pun Daulah Islamiyah tidak pernah menyembunyikan kebenaran dan tidak pula pernah melakukan kompromi (dengan musuh Islam).

Sesungguhnya terhadap orang-orang jahat
Aku mengintainya dengan keburukan
Dan terhadap orang yang membawa damai
Aku lebih merendah dari tanah

Kami mengingatkan dan kami menegaskan, bahwa kami belum pernah memulai dan kami tidak akan pernah memulai peperangan terhadap seorang pun. Kami akan senantiasa berdamai dengan orang yang berbuat damai dengan kami, dan kami akan berperang dengan orang yang memerangi kami. Sesungguhnya kami tidak memerangi orang-orang yang kemurtadan mereka telah terbukti bagi kami, kecuali jika mereka memulai serangan dan peperangan terhadap kami. Hal itu sebagaimana yang kami lakukan terhadap brigade yang disebut “Hilful Fudhul” di wilayah Khazzan dan pinggiran Idlib, karena mereka telah menanda tangani kesepakatan dengan orang-orang salibis (Barat) untuk memerangi kami dan menghalalkan darah (nyawa) kami. Mereka mengerahkan orang-orang untuk memusuhi kami dan mereka memprovokasi orang-orang siang dan malam untuk memerangi kami. Mereka mengumpulkan tanda tangan orang-orang untuk hal itu, dengan menuduh kami adalah Khawarij.

Allah Maha Mengetahui bahwa kami tidak pernah memerangi seorang pun di Suriah dari selain kelompok Nushairiyah, kecuali karena kami terpaksa. Lebih dari itu, tindakan yang bijaksana adalah membuat musuh bersikap netral dan meminimalkan front-front (konflik dengan kesatuan lain). Merupakan tindakan bodoh jika membuka banyak front dan memerangi semua orang. Demikian pula, tidaklah sebuah peluru pun ditembakkan oleh sebuah kelompok pun terhadap selain Nushairiyah, kecuali kami sedih karenanya, disebabkan peluru itu tertuju kepada selain Yahudi dan Nashrani. Sesungguhnya kami, demi Allah, tidak pernah menyerang seorang pun selama ia tidak menyerang kami.

Adapun ijtihad-ijtihad (inisiatif-inisiatif), tindakan-tindakan individu dan kesalahan-kesalahan, maka tidak ada seorang pun yang mampu mencegah dan menghentikannya secara total dari sebuah pasukan yang lengkap. Hal itu juga sudah ada, bahkan dalam pasukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam. Maka barangsiapa terbukti ia terzhalimi oleh kami, maka silahkan menuntut kami, inilah harta kami, punggung kami dan leher kami tunduk sepenuhnya kepada syari’at Allah, dimulai dari Amir Daulah dan berakhir pada tentara Daulah yang paling rendah. Inilah saluran-saluran komunikasi kami terbuka lebar-lebar, dan itulah kantor-kantor kami telah diketahui semua pihak.

Keempat:
Kami mengingatkan semua kelompok bersenjata di Suriah, terutama kelompok-kelompok bersenjata FSA.

Sesungguhnya serangan gencar media massa terhadap Daulah Islam di Iraq dan Syam bertujuan untuk menimbulkan perpecahan dan permusuhan di antara kita, maka sadarilah hal itu dan berhati-hatilah! Janganlah kalian membenarkan berita TV-TV dan gendang-gendangnya, apalagi mengekor di belakangnya.

Kelima:
Setelah menerima pelajaran yang keras dari Afghanistan dan Iraq, Amerika dan sekutu-sekutunya mengetahui secara yakin bahwa mereka tidak akan mampu menghadapi mujahidin secara langsung.

Mereka yakin harus memiliki agen-agen (boneka-boneka) dari orang-orang yang sebangsa dengan mujahidin guna memerangi mujahidin. Barack Obama telah menegaskan hal ini dalam pertemuan terakhirnya di PBB. Obama meminta PBB mendukung beberapa kesatuan (sekuler FSA) untuk membendung mujahidin yang ia namakan “orang-orang ekstrim”. Amerika telah mengambil pelajaran dari peperangannya melawan mujahidin. Amerika menyadari bahwa dana yang ia gelontorkan untuk milisi-milisi Shahawat dan boneka-bonekanya tidak mencapai 1 persen dari seluruh dana yang ia gelontorkan untuk memerangi mujahidin secara langsung. Maka dari dahulu hingga sekarang, siang dan malam, Amerika dan sekutu-sekutunya berusaha untuk membentuk milisi-milisi Shahawat dan memobilisasi agen-agennya, dengan gelontoran dana dan tawaran jabatan.

Maka hendaklah umatku mengetahui, inilah yang telah membentuk milisi-milisi Shahawat di Iraq, dan inilah yang sekarang akan membentuk milisi-milisi Shahawat di Syam. Janganlah orang yang berakal sehat menyangka bahwa semua kelompok bersenjata yang ada di Syam berperang di jalan Allah atau berperang untuk membela orang-orang yang tertindas. Justru di antara kelompok bersenjata ini ada kelompok yang masyarakat tidak ragu sedikit pun mengetahuinya sebagai kelompok bayaran dan pembela rezim (Nushairiyah), orang-orang yang lemah jiwanya, orang-orang yang bodoh dan orang-orang yang menyimpang sehingga mudah diiming-imingi dan dibujuk.

Contohnya adalah : kesatuan bersenjata yang dikenal dengan nama Brigade An-Nashr di kota Al-Bab, pinggiran Aleppo. Kelompok bersenjata ini telah menaruh penanda sinyal bagi pesawat-pesawat tempur Nushairiyah dan Iran untuk membombardir markas-markas mujahidin dan tempat-tempat perkumpulan kaum muslimin. Namun Allah menghinakan mereka dan memenangkan mujahidin atas mereka.

Hendaklah semua pihak mengetahui, bahwa mujahidin adalah orang-orang yang akan mendapatkan pertolongan (kemenangan) dengan izin Allah Ta’ala. Tidak akan ada (konspirasi musuh) yang akan mampu bertahan di hadapan mereka, tidak milisi-milisi boneka Shahawat dan tidak pula senjata-senjata mematikan. Sesungguhnya barisan-barisan pasti akan terpisah (antara yang jujur dengan yang dusta), dan barisan-barisan sekali-kali tidak akan terpisah kecuali dengan adanya ujian-ujian.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿الـم ﴿1﴾ أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُترَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُم لَا يُفتَنُونَ ﴿2﴾ وَلَقَد فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبلِهِم فَلَيَعلَمَنَّ اللَّـهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعلَمَنَّ الكَاذِبِينَ ﴿3﴾

“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut (29): 1-3)

Allah Ta’ala juga berfirman:

﴿وَتِلكَ الأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَينَ النَّاسِ وَلِيَعلَمَ اللَّـهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنكُم شُهَدَاءَ وَاللَّـهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ ﴿140﴾ وَلِيُمَحِّصَ اللَّـهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَمحَقَ الكَافِرِينَ ﴿141﴾ أَم حَسِبتُم أَن تَدخُلُوا الجَنَّةَ وَلَمَّا يَعلَمِ اللَّـهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنكُم وَيَعلَمَ الصَّابِرِينَ ﴿142﴾

“Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kalian dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zhalim. Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir. Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantara kalian dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran (3): 140-142)

Ya Allah, barangsiapa menginginkan keburukan bagi Islam dan kaum muslimin, maka siksalah ia dengan siksaan dari sisi-Mu Yang Maha Perkasa lagi Maha Berkuasa. Ya Allah, barangsiapa membuat berita-berita palsu tentang mujahidin, maka bongkarlah kepalsuannya di hadapan seluruh makhluk dan kelukanlah lidahnya; dan barangsiapa membuat makar terhadap mujahidin maka jadikanlah tipu dayanya menimpa dirinya sendiri dan kehancurannya pada makarnya sendiri. Ya Allah, barangsiapa menghalalkan darah seseorang tanpa alasan yang benar maka potonglah tangannya, patahkanlah punggungnya, dan jadikanlah ia sebagai pelajaran bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran.

Tidak ada Ilah Yang berhak disembah selain Engkau, Maha Suci Engkau, Engkau mengetahui orang yang membuat kerusakan dan orang yang membuat perbaikan. Tidak ada Ilah Yang berhak disembah selain Engkau, Maha Suci Engkau, tidak ada sesuatu pun di bumi maupun langit yang tersembunyi dari-Mu.

Shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada nabi kita Muhammad, keluarganya dan seluruh sahabatnya. Akhir dari seruan kami adalah segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam.

Al-Furqan Media

Selasa, 07 Februari 2017

KEMUDIAN MARILAH KITA BERMUBAHALAH, AGAR LAKNAT ALLAH DITIMPAKAN KEPADA ORANG-ORANG YANG DUSTA

KEMUDIAN MARILAH KITA BERMUBAHALAH, AGAR LAKNAT ALLAH DITIMPAKAN KEPADA ORANG-ORANG YANG DUSTA
Statemen Juru Bicara Daulah Islamiyah Di Iraq dan Syam, Syaikh Al-Mujahid Abu Muhammad Al-‘Adnaniy Asy-Syamiy

Alih Bahasa:
Ust. Abu Sulaiman Al Arkhabiliy

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji hanya milik Allah Yang Maha Kuat lagi Maha Kokoh, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada orang yang telah diutus dengan pedang sebagai rahmat bagi sekalian alam. Amma Ba’du:

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْماً بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasiq datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mecelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (Al Hujurat: 6)

Dan berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَكُونُواْ مَعَ الصَّادِقِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.” (At Taubah: 119)

Kepada orang yang menginginkan jihad di jalan Allah…
Kepada orang yang menginginkan pembelaan agama Allah…
Kepada orang yang berupaya jujur untuk memberlakukan syari’at Allah..
Kepada orang yang terkabur di hadapannya urusan-urusan itu sehingga ia berada dalam kebingungan lagi kebimbangan; dia khawatir fitnah lagi menginginkan kelurusan..
Kepada orang yang dibisikkan oleh jiwanya agar bersikap tawaqquf atau taraju’ atau netral…

Pinjamkanlah pendengaranmu kepadaku dan perhatikanlah, pikirkanlah karena Allah dengan obyektifitas dan penuh pengamatan, sungguh Rabb-mu Jalla Fi ‘Ulah telah mengatakan kepadamu:

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِّلَّذِينَ آمَنُواْ الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُواْ

“Sungguh benar-benar kamu akan mendapatkan manusia yang paling dasyat permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yahudi dan orang-orang musyrik” (Al Maidah: 82)

Dan Dia mengatakan kepadamu:

وَلاَ يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىَ يَرُدُّوكُمْ عَن دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُواْ

“Dan senantiasa mereka itu akan terus memerangi kalian sampai mereka mengembalikan kalian dari dien kalian bila mereka mampu,” (Al Baqarah: 117)

Dan berfirman:

بَلْ مَكْرُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ إِذْ تَأْمُرُونَنَا أَن نَّكْفُرَ بِاللَّهِ وَنَجْعَلَ لَهُ أَندَاداً

“Sebenarnya tipu daya (kalian) pada waktu malam dan siang (yang menghalangi kami), ketika kalian mengajak kami agar kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya,” (Saba’: 33)

Bila kamu menginginkan untuk mengetahui Al Haq, maka niatkanlah murni karena Allah, dan perhatikanlah siapakah hari ini pihak yang dimusuhi oleh Amerika, Yahudi, Rafidhah dan seluruh antek-antek mereka dari kalangan para thaghut, siapakah yang membuat mereka itu geram? Siapakah yang mengancam keamanan mereka? Siapakah yang menggoncangkan singgasana mereka?! Siapakah yang menjadi sumber kecemasan dan ketakutan mereka?! Terhadap siapa mereka itu membuat makar siang dan malam serta melakukan konspirasi?! Dalam menghadang siapa mereka itu mengerahkan seluruh media informasi mereka dan corong-corong mereka; dalam rangka mempermalukan, mencela-cela dan membuat pencitraan buruk, dalam rangka membuat gaduh, menuduh, mengada-ada kebohongan, memprovokasi dan memancing kemarahan publik?!

Maka tidak diragukan bahwa mereka itu adalah para mujahidin, akan tetapi saya bertanya kepadamu dengan Nama Allah wahai pencari jihad; bukankah Daulah Islamiyah itu berada di puncak paling atas daftar ini?! Saya bertanya kepadamu dengan Nama Allah apakah di muka bumi ini ada satu elemen yang mana negara-negara kafir, agama-agamanya dan isme-ismenya sepakat untuk memeranginya dan telah berupaya terhadap hal itu, seperti yang dialami Daulah?!

Mereka mengklaim bahwa Daulah itu telah merusak jihad di Iraq dan ia ingin merusaknya juga di Syam!

Saya bertanya kepadamu dengan Nama Allah wahai pencari kebenaran; apakah Daulah itu menjadi perusak jihad, sedangkan negara-negara kafir bersepakat untuk memeranginya dan menghabisinya?!

Bukankah sepantasnya mereka itu membiarkan Daulah kalau memang tuduhan-tuduhan itu benar?!

Ataukah bahwa negara-negara kafir dan antek-antek mereka dari kalangan para thaghut itu telah menjadi para pelindung jihad dan orang-orang yang menjaga kelestarian jihad?!

Wahai orang yang ingin menolong agama Allah; apakah kamu rela berada di barisan Salim ‘Iblis’ Idris, kelompok Al Jarba, milisi Jamal Ma’ruf dan Ahfad Ar Rais, geng-geng Badai Utara dan ‘Afasy, Hayaniy dan Jazrah?! Dan kelompok-kelompok yang didukung oleh Dinasti Salul (Saudi), Amerika dan Pihak Kafir Barat?!

Demi Allah sesungguhnya dukungan dan kebahagiaan mereka itu dengan sikapmu memerangi Daulah; adalah benar-benar sebab yang cukup bagimu untuk menghentikan diri dari memerangi Daulah atau dari membantu dan menyokong pihak yang memeranginya, jangan ditanya lagi tentang kebahagiaan Nushairiyah dan Rafidhah terhadap dirimu!

Wahai orang yang mencari kelurusan; Sesungguhnya Nabi-mu shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengatakan:

عليكَ بالشام فإنّها خيرةُ اللهِ من أرضه، يجتبي إليها خيرته من خلقه

“Hendaklah kamu menuju Syam, dikarenakan ia adalah bumi pilihan Allah, didatangkan kepadanya manusia-manusia pilihan-Nya.”

Maka perhatikanlah para muhajirin di bumi Syam di barisan mana mereka itu hari ini bergabung? Apakah kamu mengira wahai orang yang bingung; bahwa mereka itu meninggalkan negeri-negeri mereka, harta kekayaan mereka dan tanah air mereka untuk merusak jihad ataukah untuk berjihad di jalan Allah?! Apakah mereka meninggalkan anak istri mereka dan berpisah dengan orang-orang yang mereka cintai untuk memerangi mujahidin di jalan Allah ataukah untuk memerangi para thaghut dan para perusak, serta dalam rangka membela dien ini?! Apakah mereka berangkat ke front Syam untuk mencuri harta dan untuk berbuat aniaya kepada kaum muslimin, ataukah untuk melindungi kehormatan, kesucian dan orang-orang yang tertindas?!

Wahai muhajir yang masih berada di barisan faksi-faksi lain; Berhentilah sejenak dan tengoklah ke sekitarmu, dan lihatlah berapa banyak muhajirin yang masih ada bersamamu.

Wahai sekalian Anshar; perhatikanlah firman Rabb kalian ‘Azza wa Jalla:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُواْ وَالَّذِينَ هَاجَرُواْ وَجَاهَدُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ أُوْلَـئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللّهِ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah.” (Al Baqarah: 218)

Dan firman-Nya Ta’ala:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَاهَدُواْ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَالَّذِينَ آوَواْ وَّنَصَرُواْ أُوْلَـئِكَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada muhajirin), mereka itu satu sama lain saling melindungi.“ (Al Anfal: 72)

Dan firman-Nya Ta’ala:

وَالَّذِينَ آمَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَاهَدُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَالَّذِينَ آوَواْ وَّنَصَرُواْ أُولَـئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقّاً لَّهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang muhajirin), mereka itulah orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rejeki (nikmat) yang mulia..” (Al Anfal: 74)

Maka berlindunglah kalian di barisan muhajirin wahai sekalian anshar, dikarenakan Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ هَاجَرُواْ فِي اللّهِ مِن بَعْدِ مَا ظُلِمُواْ لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلَأَجْرُ الآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُواْ يَعْلَمُونَ

“Dan orang yang berhijrah karena Allah setelah mereka di zhalimi, pasti kami akan memberikan tempat yang baik kepada mereka di dunia. Dan pahala di akhirat pasti lebih besar, sekiranya mereka mengetahui..” (An Nahl: 41)

Dan berfirman:

ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ هَاجَرُواْ مِن بَعْدِ مَا فُتِنُواْ ثُمَّ جَاهَدُواْ وَصَبَرُواْ إِنَّ رَبَّكَ مِن بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Kemudian Tuhanmu (pelindung) bagi orang yang berhijrah setelah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan bersabar, sungguh, Tuhanmu setelah itu benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang..” (An Nahl: 110)

Berlindunglah kalian wahai sekalian anshar, dikarenakan mereka itu (para muhajirin) katup pengamanan bagi setiap front jihad. Berlindunglah kalian di balik muhajirin, dikarenakan Allah telah menjamin bagi mereka. Berlindunglah kalian di balik muhajirin dan berilah mereka tempat serta bela lah mereka, dikarenakan Allah tidak akan menyesatkan mereka. Berlindunglah kalian di balik muhajirin, dikarenakan jihad itu tidak tegak kecuali dengan muhajirin dan anshar.

Dan hati-hatilah wahai orang yang mengharapkan rahmat Allah; janganlah kamu menjadi pedang di tangan Amerika, atau panah di kantong Nushairiyah sedangkan kamu tidak mengetahui! Janganlah kamu berada di parit demokrasi sedangkan kamu tidak menyadari! Dan bertaqwalah kepada Allah di dalam menyikapi kami wahai hamba-hamba Allah; bertaqwalah kepada Allah di dalam menyikapi kami wahai hamba-hamba Allah, bertaqwalah kepada Allah di dalam menyikapi Daulah yang dizhalimi ini; semua sepakat untuk menjatuhkannya, menyingkirkannya dan mengakhirinya, semua sepakat untuk memeranginya. Alasan-alasannya beragam dan tuduhan-tuduhannya berbeda-beda namun tujuannya satu; yaitu menghabisi Daulah Islamiyah. Terjadi perbedaan kepentingan dan menyatu di atasnya semua tujuan; semua memerangi Daulah, hati mereka berbeda-beda, persatuan mereka cerai-berai serta perkumpulan mereka berpecah-belah kecuali terhadap memerangi Daulah.

Kaum Yahudi, Salibis dan kaki tangan mereka dari kalangan para thaghut, memerangi kami dengan tuduhan bahwa kami ini adalah teroris yang jahat lagi menentang undang-undang mereka.

Rafidhah dan Nushairiyah memerangi kami dengan tuduhan bahwa kami ini wahabi yang kafir lagi antek Amerika, Yahudi dan Dinasti Salul.

Shahawat Iraq memerangi kami dengan tuduhan bahwa kami ini antek-antek Iran.

Shahawat Syam memerangi kami dengan tuduhan bahwa kami ini adalah antek-antek Nushairiyah dan pemerintahannya.

Jabhah Islamiyah, Jabhah Dlirar, Jabhah Dinasti Salul; memerangi kami dengan tuduhan bahwa kami ini Khawarij.

Jabhah Jaulaniy, Jabhah penikaman dan pengkhianatan; memerangi kami dengan tuduhan bahwa kami ini adalah bughat yang lebih dekat kepada kekafiran lagi menolak tahkim kepada syari’at Allah.

Oh anehnya! Oh anehnya! Subhanallah! Seandainya kami meminta seseorang untuk mengutarakan satu bukti saja terhadap apa yang mereka tuduhkan kepada kami dan yang dengan berdasarkannya dia memerangi kami, tentu dia tidak mampu, dan tetaplah itu sebagai klaim-klaim dusta dan tuduhan-tuduhan bathil tanpa hujjah dan bukti, dan tidak pernah disebutkan walau satu saja sifat yang baik bagi Daulah. Ia digambarkan seolah keburukan total, bahkan tidak ada sebab bagi keburukan dan bencana di Iraq dan Syam selain Daulah;

Bila suatu rumah atau suatu kampung digerebek, mereka mengatakan: Gara-gara Daulah!

Bila suatu kampung dibombardir atau suatu rumah dihancurkan, mereka mengatakan: Gara-gara Daulah!

Bila seorang wanita dibunuh di sini atau seorang anak kecil dibunuh di sana, mereka mengatakan: Daulah!

Bila ditemukan kuburan atau didapatkan mayat atau bila seseorang dibunuh misterius, mereka mengatakan: Siapa lagi kalau bukan Daulah?!

Bila seseorang diculik, mereka mengatakan: Enyahlah bagi Daulah!

Bila aliran listrik terputus atau aliran air ditutup, mereka mengatakan: Gara-gara Daulah!

Bila air hujan ditahan dan bumi kering kerontang, mereka mengatakan: Gara-gara Daulah!

Aneh kamu ini wahai Daulah! Aneh kamu ini wahai Daulah! Semua memerangi Daulah, dan berupaya serius untuk menghabisinya, dan semua menuduh Daulah bahwa ia yang berbuat aniaya kepada semua dan ia ingin memerangi semua.

Saya meminta kepada kalian dengan Nama Allah wahai kaum; sebutkan kepada kami satu faksi saja yang kami lebih dahulu menyerangnya sebelum dia lebih dahulu memerangi kami, bahkan sesungguhnya kami ini berbuat santun kepada mereka dan kami sabar terhadap gangguan mereka, akan tetapi mereka itu tidak takut kepada kemarahan orang yang santun, sehingga mereka berani lancang terhadap kami dan malah lebih dulu menyerang kami, sesungguhnya ia itulah Dinar dan Dollar, sesungguhnya ia itulah sikap hasud yang buta dan kedengkian yang hitam.

Sesungguhnya kami setiap hari meneriakkan:

Wahai manusia; tahan diri kalian dari menyerang kami supaya kami menahan diri dari menyerang kalian tanpa batasan dan tanpa syarat, tanpa ajuan inisiatif-inisiatif dan tanpa konspirasi, maka apa untungnya bagi kalian?! Lenggangkan jalan bagi kami untuk memerangi Rafidhah, lenggangkan jalan bagi kami untuk memerangi Nushairiyah, lenggangkan jalan bagi kami untuk memerangi Salibis, lenggangkan jalan bagi kami untuk memerangi Yahudi.

Demi Allah seandainya kami ini memang lebih ghuluw dari Azariqah (satu sekte Khawarij, pent), tentu wajib atas orang yang mengklaim jihad untuk menahan dirinya dari memerangi kami selagi kami menahan diri kami dari menyerangnya dan kami menyibukkan diri dengan memerangi Rafidhah dan Nushairiyah, dan tentu wajib juga atas umat untuk membantu dan mendukung kami selagi kami memerangi musuh yang menyerang, maka bagaimana sedangkan kami ini -dan Allah sebagai saksinya- adalah pihak yang paling tegas menindak orang-orang yang ghuluw yang mana barisan jama’ah apapun sejak zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah kosong dari keberadaan orang-orang semacam itu?!

Apa kalian tidak mendengar ucapan kakek mereka: Berbuat adillah wahai Muhammad, dikarenakan sesungguhnya kamu ini tidak adil? Dan tidak sampai kepada kami keberadaan seseorang dari mereka itu melainkan kami segera untuk memberikan sangsi kepadanya, mengajarinya dan meluruskannya atau mengusirnya dan memecatnya dari barisan kami.

Dan ini adalah seruan yang kami tujukan kepada setiap orang yang menuduh kami dengan tuduhan ghuluw, baik dia itu orang alim atau syaikh atau dai atau qadli di belahan bumi mana saja, kepada setiap penanggung jawab atau komandan atau prajurit di faksi mana saja, juga kepada setiap muslim :

Agar ia datang ke wilayah-wilayah yang dikuasai Daulah Islamiyah baik di Iraq maupun di Syam, terus ia keliling mendatangi markaz-markaz kami, kamp-kamp kami dan ma’had-ma’had kami dan dia bertemu dengan siapa saja yang dia inginkan baik itu bala tentara kami, para komandan kami maupun umara kami, terus dia melihat dan mendengar langsung, bertanya, memeriksa, dan mencermati, kemudian setelah itu dia menghukumi kami dan bersaksi terhadap aqidah dan manhaj kami.

Dan ajakan ini saya lebih khususkan kepada bala tentara dari faksi-faksi lain, maka waspadalah wahai orang yang menginginkan jihad di jalan Allah; jangan sampai kamu terpedaya, sehingga kamu malah menghalang-halangi dari jalan Allah dan memerangi mujahidin di jalan Allah. Ini pintu-pintu kami terbuka lebar bagimu, maka mari datang dan lihatlah langsung oleh kedua matamu, dan hukumilah oleh dirimu langsung, di mana sesungguhnya kamu tidak akan mendapatkan kami kecuali manusia yang paling tegas terhadap orang-orang yang ghuluw dan khawarij, dan inilah sikap obyektif, dan sesungguhnya termasuk kezhaliman bila kami dituduh dengan berbagai kejahatan dan tuduhan tanpa bukti.

Dan bila saya bertanya kepada salah seorang dari mereka itu bagaimana kamu menghukumi?

Maka dia menjawab: Saya telah diberi kabar oleh orang yang tsiqah, fa subhanallah!

Apakah walaupun si orang tsiqah itu lawan kami?!

Dan bila saya bertanya kepada yang lain: Apa buktimu yang menunjukkan bahwa mereka itu Khawarij?

Dia menjawab: Mereka membunuh orang muslim, fa subhanallah!

Sesungguhnya Daulah sedang terjun di dalam perang yang sengit, bahkan peperangan yang sangar lagi panas di Iraq dan Syam, dan sesungguhnya bala tentara kami berperang siang malam yang mana senjata tidak pernah lepas dari tangan mereka termasuk di saat mereka tidur, mereka memasuki desa-desa dan kota-kota serta berbaur dengan masyarakat, sedangkan jama’ah atau pasukan manapun tidak akan kosong dari orang-orang yang bodoh dan orang-orang yang keliru, dan sesungguhnya setiap orang muslim yang terbunuh oleh tangan bala tentara Daulah bila itu memang terjadi maka itu hanyalah terjadi dengan sebab jenis orang-orang semacam ini, di mana orang jahil membunuh dengan sebab kebodohannya dan orang yang keliru membunuh dengan sebab kekeliruannya, berapa kali Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berlepas diri dari keterbunuhan orang yang dibunuh oleh shahabat. Disamping itu tuduhan yang dialamatkan kepada Daulah berupa kejadian keterbunuhan yang mana Daulah berlepas diri darinya, maka hendaklah takut kepada Allah orang yang mencap kami sebagai Khawarij dengan sebab kejadian-kejadian semacam ini.

Kemudian kenapa orang-orang itu lupa dan melupakan seluruh kekeliruan dan kejahatan berbagai jama’ah lain, kekejian-kekejian mereka dan kenistaan-kenistaan mereka, dan mereka menutup mata mereka, mereka jadikan jemari mereka menutupi telinga mereka, mereka menutupkan pakaian mereka, dan mereka membungkamkan mulut-mulut mereka, dan mereka malah sebaliknya meneliti cacat-catat Daulah, mencari-cari kesalahannya, dan mereka dengan kaca pembesar meneliti tindakan atau kejadian yang menjeratnya atau mencorengnya, terus ia dibesar-besarkan, dilebih-lebihkan, diulang-ulang dan disebarkan ke sana kemari, kemudian tindakan itu dijadikan sebagai bagian dari sifat Daulah, manhajnya dan kebiasaannya.

Maka bertaqwalah kepada Allah wahai hamba-hamba Allah di dalam menyikapi kami.

Ya Allah kami mengadukan kepada-Mu kezhaliman manusia terhadap kami. Ya Allah, mereka itu mengklaim bahwa Daulah menolak tahakum kepada syari’at Allah, oh alangkah buruknya tuduhan ini!

Bukankah Daulah diperangi oleh Barat, Timur, Bangsa yang hitam dan merah serta ia dihujani berbagai pedang, itu tidak lain adalah dikarenakan ia menegakkan syari’at Allah?!

Sesungguhnya Daulah Islamiyah itu tidak menolak tahakum kepada syari’at Allah, dan barangsiapa menolak tahakum kepada syari’at Allah maka kafir, akan tetapi orang-orang dungu itu menjadikan mubadarah (inisiatif-inisiatif) mereka itu sebagai syari’at Allah terus siapa yang menolaknya karena suatu sebab syar’iy maka ia (dianggap) menolak syari’at Allah. Maha Suci Engkau (Ya Allah), ini adalah kebohongan yang besar.

Sesungguhnya Daulah Islamiyah itu tidak pernah menolak tahakum kepada syari’at Allah kapanpun, Ma’aadzallaah, sungguh ia sudah tunduk kepada mahkamah musytarakah (mahkamah bersama) dan ia tidak menolaknya atau angkuh darinya, sebagai contoh hal itu:

– Kasus pembunuhan Abu ‘Ubaidah Al Bansyiy dan kasus pembunuhan Muhammad Faris Al Halabiy rahimahumullah, keduanya dari Ahrar, dan qadli dari pihak mereka adalah Abu Abdil Malik.

– Kasus cek point Liwa Tauhid yang mengambil tenggang dari Daulah, dan qadli dari pihak mereka adalah Hasan.

– Kasus Liwa Tauhid saat membunuh dua orang dari Daulah, dan qadli dari pihak mereka adalah Hasan.

– Kasus bersama Jabhah Jaulaniy; di mana mereka membunuh ‘Athiyah Al ‘Unaziy Syar’iy di Daulah.

– Dan dibuat juga mahkamah musytarakah dengan Jabhah Jaulaniy di dalam urusan yang berkaitan dengan Idarah Islamiyah untuk Pelayanan Sosial.

– Dan juga mahkamah bersama Ahrar Syam; dalam kasus orang-orang yang dituduh berupaya membunuh diam-diam Abu Anas Al ‘Iraqiy, sedangkan qadli dari pihak mereka adalah Mahmud Abu Malik.

Sehingga tidak memfitnah kami dan menuduh kami dengan tuduhan bahwa kami tidak menerima kecuali bila kami ini berstatus pihak yang berseteru sekaligus sebagai hakim, sama sekali tidak seperti itu; akan tetapi orang-orang itu menolak mahkamah musytarakah, dan mereka datang dengan membawa makar dan konspirasi serta tipu muslihat yang di dalamnya mereka menjadikan mubadarah (inisiatif-inisiatif usulan) mereka itu sebagai syari’at Allah, dan penolakannya dianggap sebagai penolakan terhadap syari’at Allah, serta sebagai pedang yang dihunuskan kepada Daulah.

Ya; bisa jadi putusan perdana mahkamah mustaqillah (independen) yang diserukan oleh mubadarat itu; adalah “keluarnya Daulah dari Syam” sebagaimana yang telah ditegaskan oleh salah seorang pembesar mereka di media televisi, dan menyerahkannya kepada hyena-hyena, musang-musang dan serigala-serigala, juga kepada para pengkhianat, para perampok dan para penipu, yang mana ia adalah urusan yang akan menyebabkan berjatuhannya banyak kepala, pemenggalan banyak leher dan pengoyakan banyak perut.

Sesungguhnya orang-orang itu tidak menginginkan kecuali satu hal saja; “Tidak mengakui keberadaan Daulah Islamiyah dengan sikap pembangkangan dan keangkuhan, dan menggugurkannya serta menghabisinya”.

Di awal-awal mereka telah menempuh jalan konspirasi damai, dan mereka mengira bahwa mereka akan bisa memprovokasi manusia terhadap Daulah dan membubarkan bala tentara dari sekelilingnya, namun mereka tidak mampu dan mengalami kegagalan.

Kemudian tatkala mereka melihat Daulah semakin kuat dan meluaskan kekuasaannya, maka mereka menggunakan cara kekuatan, dan mereka mengira bahwa mereka akan bisa menghapus Daulah dalam beberapa hari atau beberapa jam, di mana mereka merancang untuk serangan militer total di semua wilayah Syam, dan untuk hal itu mereka mendahuluinya dengan serangan media yang aniaya lagi busuk dalam rangka mencitrakan buruk Daulah dan memprovokasi manusia terhadapnya, di dalam hal itu dikerahkanlah semua corong, dan digunakan semua jaringan dan stasiun udara, kemudian dilakukan serangan penikaman dari belakang dan pengkhianatan, namun mereka dikejutkan dengan realita bahwa Daulah itu lebih kokoh dari apa yang mereka prediksikan dan mereka tidak mampu menghancurkannya, sehingga mereka kebingungan, saling mencela, mengadu dan menangis, dengan tetap berlangsung serangan kebohongan, pengada-adaan, pencitraan buruk dan penjelek-jelekan, yang ringkasannya ada pada statemen Syar’iy (Jabhah) Jaulaniy dan anggota majelis syura-nya yaitu Abu Abdillah Asy Syamiy Al Kadzdzab yang telah saya dengarkan statemennya sekali saja dan ternyata saya menghitung di dalamnya ada sekitar 40 kebohongan, dan ini saya sebutkan sebagiannya yang saya mengajak dia bermubahalah di atasnya, dan silahkan dia bermubahalah dengan saya bila memang dia itu jujur:

Wahai kaum muslimin, aminilah dan jadikanlah laknat Allah atas orang-orang yang dusta.

Ya Allah sesungguhnya Abu Abdillah Asy Syamiy menuduh bahwa kami ini:

– Mengadukan urusan itu kepada Syaikh Adh Dhawahiriy di mana kedua belah pihak telah ridha dengannya sebagai pemutus hukum dan qadli.

– Dan bahwa Daulah menggunakan kebohongan dan penipuan untuk berdalil terhadap keshahihan manhaj-nya.

– Dan Daulah melancarkan serangan hujatan dan pencitraan buruk pada aqidah dan manhaj para panglima jihad.

– Dan bahwa Daulah telah memulai invasi-invasinya di Syam dengan serentetan tindakan aniaya yang bertubi-tubi lagi intensif terhadap markaz-markaz dan gudang-gudang senjata Jabhah serta kamp-kamp-nya.

– Dan bahwa dengan sekedar seseorang menyelisihinya atau menasehatinya maka Daulah melakukan tindakan penjatuhannya dengan berbagai cara.

– Dan bahwa di antara sifat Daulah itu adalah penikaman dari belakang dan khianat.

– Dan bahwa ia itu melanggar berbagai perjanjian dan kesepakatan.

– Dan bahwa di antara sifatnya adalah sumpah yang dusta.

– Dan bahwa ia itu menipu bala tentaranya, di mana ia menjadikan mereka itu menyerang Jabhah Nushrah dan memberikan image kepada mereka bahwa Jabhah Nushrah itu Shahawat.

– Dan bahwa Daulah itu berkali-kali telah mengancam Abu Khalid As Suriy.

– Dan bahwa ia itu menolak tunduk kepada mahkamah syar’iyah.

– Dan bahwa ia itu memvonis kafir sebagian orang dengan sekedar ia mendengar bahwa orang itu duduk bersama orang kafir.

– Dan Abu Abdillah Asy Syamiy itu mengklaim bahwa Daulah itu mengkafirkan orang dengan berdasarkan praduga, ma-aalaat (konsekuensi jauh suatu pendapat), dan hal-hal yang mengandung banyak kemungkinan serta apa yang dinamakan dengan desas-desus.

– Dan Daulah memvonis setiap orang yang menyelisihinya bahwa dia itu Shahawat.

– Dan di Raqqah ia menempatkan para sniper dan ia mulai membunuhi setiap orang yang lewat dari kalangan awam kaum muslimin.

– Dan Abu Abdillah mengklaim bahwa Syaikh Umar Asy Syisyaniy telah melanggar janjinya yang ia sepakati dengan Abu Khalid As Suriy.

– Dan dia mengklaim bahwa Daulah memandang setiap orang yang memeranginya itu telah menjadi orang yang memerangi Islam lagi keluar dari millah Islam.

– Dan bahwa Daulah mengkafirkan dengan Lawazim, Mutasyabihat, Ihtimalaat dan Ma-aalaat.

– Dan bahwa ia mengetes manusia pada aqidah mereka dan membunuh para pemeluk islam dan membiarkan para penyembah berhala.

– Dan di antara sifatnya adalah taqiyah, dusta, pelanggaran perjanjian, penikaman, sumpah bohong dan kebejatan, serta menolak tunduk dan tahakum kepada syari’at Allah.

– Dan bahwa ia-lah yang lebih dulu bersikap aniaya dan menyerang pihak lain.

– Dan bahwa ia itu adalah sandungan terbesar di jalan jihad dan penghadangan Nushairiyah yang menyerang.

Ya Allah sesungguhnya saya menjadikan Engkau sebagai saksi bahwa apa yang telah saya sebutkan tadi dari apa yang telah dikatakan oleh hamba-Mu Abu Abdillah Asy Syamiy adalah kedustaan dan pengada-adaan terhadap Daulah, dan bahwa itu bukan termasuk manhaj-nya dan Daulah tidak menganutnya dan tidak menyengaja untuk melakukannya, bahkan ia mengingkari orang yang melakukannya.

Ya Allah, barangsiapa yang dusta maka jadikanlah terhadapnya laknat-Mu, dan perlihatkanlah kepada kami padanya tanda dan jadikanlah ia sebagai pelajaran.

Ya Allah, barangsiapa yang dusta maka jadikanlah terhadapnya laknat-Mu, dan perlihatkanlah kepada kami padanya tanda dan jadikanlah ia sebagai pelajaran.

Ya Allah, barangsiapa yang dusta maka jadikanlah terhadapnya laknat-Mu, dan perlihatkanlah kepada kami padanya tanda dan jadikanlah ia sebagai pelajaran.

Ya Allah, setiap orang yang berkonspirasi terhadap jihad dan mujahidin; maka balikanlah tipu dayanya di lehernya, dan bongkarlah kebusukannya, dan tampakkanlah apa yang dirahasiakannya, serta jadikanlah ia sebagai pelajaran bagi orang yang mengambil pelajaran.

Ya Allah, kuasakanlah kepadanya berbagai penyakit dan bencana.

واللهُ غالبٌ على أمره ولكن أكثر الناس لا يعلمون

“Dan Allah Maha Kuasa terhadap urusan-Nya, akan tetapi mayoritas manusia tidak mengetahui.”

Al-Furqan Media