Jumat, 27 April 2018

SARIYAH, GHAZWAH DAN FUTUHAT DI BULAN RAMADHAN (BAGIAN 1)

SARIYAH, GHAZWAH DAN FUTUHAT DI BULAN RAMADHAN (BAGIAN 1)

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam tercurah kepada bag¬inda Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya dan semua yang mengikutinya, amma ba’du:

Sesungguhnya bulan Ramadhan mempunyai keistimewaan dibanding bulan-bulan lainnya; yaitu bulan berpuasa, menegak¬kan sholat, membaca Al-Qur’an, sedekah dan seluruh ibadah lain¬nya. Dalam bulan ini kesungguhan kaum muslimin dalam berib¬adah lebih dari bulan-bulan lainnya.

Adapun berperang di jalan Allah pada bulan ini, maka para mujahidin memberikan sambutan yang teramat hangat dan perhatian yang lebih besar. Karena da¬lam bulan Ramadhan, Allah menaklukkan banyak tempat untuk muslimin dan menurunkan kepada mereka rahmat-Nya. Ia adalah bulan yang diberkati, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup, serta setan-setan terbelenggu. Bulan yang mulia, dimana kebaikan dilipatgandakan dan syahwat-syahwat terkekang.

Suatu bulan, dimana orang yang berpuasa dan menghidupkan malam-malamnya dengan sungguh-sungguh, akan diampuni dosanya yang telah lalu, lalu bagaimana halnya dengan yang dia berpuasa, mendirikan malamnya, dan berjihad didalamnya dengan jiwa, harta dan lisannya!

Oleh sebab itu, sepanjang sejarah, hari-hari di bulan Ramadhan adalah hari-hari jihad dan pertempuran. Dalam bulan ini banyak terjadi pengiriman sariyah (detasemen tempur), penyerbuan, dan penaklukan-penaklukan Islam yang merubah wajah sejarah. Kami akan menyebutkan beberapa saja, karena tidaklah cukup jika peristiwa-peristiwa bersejarah tersebut dirinci satu demi satu:

Ghazwah adalah pertempuran yang dihadiri atau dip¬impin sendiri oleh Rasul Shallallahu ’alaihi wasallam. Adapun Sariyah adalah detasemen tempur yang dikirim oleh Rasul Shallallahu ’alaihi wasallam, namun Beliau tidak menghadiri atau memi¬mpin pasukan ini. Jumlah sariyah yang diutus oleh Nabi Shallal¬lahu ’alaihi wasallam adalah 73 sariyah, 11 diantaranya dikirim di bulan Ramadhan.

Sariyah-sariyah yang diutus oleh Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam ketika Ramadhan

1. Sariyah Sahil Al-Bahr (pesisir laut) – Ramadhan, tahun pertama Hijrah

Bendera perang yang pertama kali diangkat dalam sejarah Islam, dan langkah pertama dalam perjalanan panjang jihad. Rasulullah memberikannya pada Hamzah dan mengutusnya memimpin 30 laki-laki muhajirin. Mereka berangkat untuk menghadang kafilah dagang Quraisy yang datang dari Syam. Ketika mereka sampai di Siif Al-Bahr (suatu daerah di pesisir Laut Merah), kedua belah pihak bertemu dan berbaris untuk bertempur. Akan tetapi kedua kelompok ini dihalang-halangi oleh Majdi ibn ‘Amr Al-Juhani, dan ia adalah sekutu dari kedua belah pihak, sehingga pertempu¬ran tidak terjadi.

2. Sariyah ‘Umair Ibn ‘Adi Al-Khathami – Ramadhan, tahun kedua Hijrah

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam mengutus sariyah ini untuk membunuh ‘Ashmaa Binti Marwan yang telah mengejek Islam dan menghasut orang-orang untuk membunuh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Pada tengah malam, Umair bin ‘Adi men¬datanginya di rumahnya, kemudian menghunus pedangnya dan berhasil menusuk dadanya sampai tembus punggungnya.

3. Sariyah Zaid Ibn Haritsah – Ramadhan, tahun keenam Hijrah

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengirimnya ke Bani Fazarah, yang bertempat di salah satu sisi Wadil Qura, lantaran ada beberapa orang Bani Fazarah yang menghadang dagangan kaum muslimin dan merampoknya. Zaid ibn Haritsah kemudian berangkat mengepalai beberapa orang sahabat, mereka berhasil menyergap orang-orang itu secara tiba-tiba, mengepung mereka, dan berhasil menawan Ummu Qirfah Fathimah Binti Rabi’ah Al-Fazariyah, dia seorang wanita yang sudah tua, ditaati dan dimuliakan oleh kaumnya, sebelumnya dia telah menyiapkan 40 penunggang kuda dari anak-anak dan cucu-cucunya untuk mem¬bunuh Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam. Maka Zaid Ibn Haritsah membunuh mereka semua juga membunuh Ummu Qirfah.

4. Sariyah ‘Abdullah Ibn ‘Atiq – Ramadhan, tahun keenam Hijrah

Adalah suku Aus dan Khazraj selalu berlomba dalam membela Ra¬sulullah Shallallahu ’alaihi wasallam. Tatkala suku Aus membunuh Ka’ab Ibn Asyraf, yang telah menyakiti Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam, suku Khazraj mencari-cari siapa yang permusuhannya atas Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam menyerupai Ibn Asyraf. Merekapun menemukan Abu Rafi’ Salam Ibn Abi Al-Haqiq An-Nadhari. Dialah yang mengumpulkan pasukan Ahzab pada perang Khandaq, mendanai kabilah Ghathafan untuk ikut serta dalam koalisi itu, dan selalu mencaci Rasulullah dalam setiap kes¬empatan. Maka para sahabat dari kalangan Khazraj meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam untuh membunuh Abu Rafi’. Rasulullah memberi izin kepada mereka, lalu mengu¬tus 5 orang dari mereka dan menunjuk Abdullah ibn ‘Atiq untuk memimpin mereka. Sariyah itupun kemudian menyerbu kedia¬man Abu Rafi’, menghabisinya, dan kemudian kembali ke Madi¬nah dengan selamat.

5. Sariyah Ghalib Al-Laitsi – Ramadhan, tahun keenam Hijrah

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam mengutusnya kepada Bani ‘Awal dan Bani ‘Abd ibn Tsa’labah yang keduanya itu adalah kabi¬lah Arab Badui di Nejd. Sebelumnya, orang-orang dari kedua kabi¬lah itu menyerbu pinggiran Madinah ketika kaum muslimin sibuk bertempur melawan kafir Quraisy dan Yahudi. Maka kaum mus¬limin bergerak dengan berkekuatan 130 prajurit yang dikomandoi oleh Ghalib ibn ‘Abdullah Al-Laitsi. Mereka menyerbu pada waktu fajar, dan membunuh siapapun yang melawan, sedangkan sisanya melarikan diri. Mereka berhasil mendapatkan ghanimah berupa unta dan kambing dalam jumlah banyak, lalu menggiringnya ke Madinah.

6. Sariyah Abu Qatadah As-Sulami – Ramadhan, tahun kedelapan Hijrah

Ketika Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam berencana untuk menginvasi Makkah, diutuslah Abu Qatadah Al-Harits Ibn Rib’i dalam satu sariyah berkekuatan 8 orang menuju Batn Idhom (suatu lembah di utara Makkah) untuk menipu Quraisy dan mengkamuflasekan tujuan kaum muslimin yang sebenarnya. Se¬hingga mereka mengira kaum muslimin sedang bergerak menuju arah tersebut. Sariyah ini berhasil sampai ke tujuannya tanpa me¬nemui hambatan. Kemudian mereka pergi dan bergabung dengan pasukan induk kaum muslimin.

7. Sariyah Khalid ibn Walid – Ramadhan, tahun kedelapan Hijrah

Setelah Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam menghancurkan seluruh berhala yang berada di dalam Ka’bah ketika penaklukan kota Makkah, Rasulullah mengutus beberapa sariyah untuk menghancurkan berhala-berhala di daerah-daerah tetangga. Maka diutuslah Kholid dengan 30 pasukan berkuda menuju berhala Al ‘Uzza di Nakhlah (lembah diantara Makkah dan Thaif) dan dihan¬curkanlah berhala itu.

8. Sariyah ‘Amru Ibn Al-‘Ash – Ramadhan, tahun kedelapan Hijrah

Pada waktu yang sama, Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam mengirim Amru ibn Al-‘Ash memimpin sariyah menuju berhala Suwaa’ di Ruhath (jauhnya sekitar 3 mil dari Makkah), mereka lalu meng¬hancurkan berhala itu beserta rumah penyimpanannya.

9. Sariyah Sa’ad Ibn Zaid Al-Asyahili – Ramadhan, tahun kedelapan Hijrah

Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam juga mengutus Sa’ad Ibn Zaid den¬gan 20 pasukan berkuda menuju berhala Manat di wilayah yang dikenal dengan nama Musyallal (di pesisir Laut Merah). Tatkala mereka sampai di tempat itu, dari dalam bangunan berhala itu muncul seorang perempuan berkulit hitam yang telanjang, dengan rambut acak-acakan, sembari berteriak-teriak akan kecelakaan dan kebinasaan, sambil memukul-mukul dadanya, maka Sa’ad mem¬bunuhnya dan menghancurkan berhalanya.

10. Sariyah ‘Ali Ibn Abi Tholib – Ramadhan, tahun kesepuluh Hijrah

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam mengutus ‘Ali menuju Yaman, menetapkan untuknya sebuah panji khusus dan menyerahkannya dengan tangan beliau sendiri. Maka berangkatlah ‘Ali dengan 300 pasukan berkuda. Ketika tiba, ia mengutus prajuritnya, dan mere¬ka kembali dengan membawa rampasan berupa wanita, anak-anak, binatang ternak dan ghanimah lainnya. Kemudian kaum muslim¬in bertemu dengan pasukan mereka. Diserulah mereka kepada Is¬lam, namun mereka menolak, malah memanahi serta melempari kaum muslimin dengan batu. Maka Ali membariskan pasukannya, kemudian menyerbu mereka, dan berhasil membunuh 20 orang. Maka mereka mundur tercerai berai. Ali lalu menghentikan penge¬jaran, kemudian menyeru mereka kepada Islam dan mereka men-yambutnya.

11. Sariyah Jarir Ibn ‘Abdullah Al-Bajali – Ramadhan, tahun kesepuluh Hijrah

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam mengutus Jarir Ibn ‘Abdullah bersama 150 pasukan berkuda menuju berhala Dzil Khalashah, se¬buah rumah sesembahan di wilayah Tabaalah (antara Makkah dan Yaman). Rumah ini dinamakan Ka’bah Yamaniyah, karena orang-orang jahiliyah berhaji menuju rumah itu. Tatkala mereka sampai di rumah itu, mereka membakarnya, lalu kemudian menghancur¬kannya.

Ghazwah yang dipimpin oleh Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam ketika Ramadhan

Ghazwah yang dipersiapkan dan dipimpin sendiri oleh Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam berjumlah 28 ghazwah, dua ghazwah yang paling penting terjadi di bulan Ramadhan, yaitu: Ghazwah Badar Al-Kubra dan Fathu Makkah.

12. Perang Badar – Ramadhan, tahun kedua Hijrah

Adalah Perang Badr Al-Kubra, perang yang digambarkan oleh Al¬lah Ta’ala dalam firmannya: “Di hari Furqan, yaitu di hari berte¬munya dua pasukan.” [Al Anfal : 41], dan Allah Yang Maha Suci menggambarkan pertolongan-Nya kepada kaum muslimin setelah kondisi lemah mereka dengan firman-Nya: “Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepa¬da Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.” [Ali Imran : 123]

Ketika itu kaum muslimin keluar bersama Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam untuk menghadang kafilah Quraisy yang dip¬impin Abu Sufyan, akan tetapi Abu Sufyan mengubah rute kaf¬ilahnya melalui pesisir, dan ia memprovokasi penduduk Makkah untuk menolongnya. Maka keluarlah mereka untuk menghadang kaum muslimin, di bawah pimpinan Abu Jahal. Kedua belah pihak bertemu di Badr (sebuah sumur diantara Makkah dan Madinah). Allah memenangkan orang-orang mukmin, yang ketika itu hanya berjumlah 317 prajurit menghadapi kaum musyrikin yang jum¬lahnya melebihi seribu prajurit. Dalam pertempuran ini 14 orang sahabat gugur syahid, 6 orang dari kalangan Anshar dan 8 dari ka-langan muhajirin, sedangkan korban dari kaum musyrikin seban¬yak 70 orang dan 70 lainnya tertawan.

13. Ghazwah Fathu Makkah – Ramadhan, tahun kedelapan Hijrah

Makkah Al-Mukarramah, negeri yang aman sentosa dan dihormati. Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bergerak untuk menakluk¬kannya dengan 10.000 pasukan setelah kafir Quraisy melanggar perjanjian. Allah menaklukkannya untuknya dengan kemenangan yang nyata setelah terjadi kontak senjata ringan yang memakan korban 16 orang musyrikin dan tiga orang sahabat gugur syahid.

Ibnul Qayim mendeskripsikan Fathu Makkah dengan ka¬ta-katanya: “Ini adalah kemenangan besar; yang dengannya Allah memuliakan Dien-Nya, Rasul-Nya, dan tentara-Nya, ser¬ta golongan-Nya yang terpercaya, dan menyelamatkan neg¬eri dan rumah-Nya, yang dijadikannya petunjuk bagi semesta alam, dari tangan orang-orang kafir dan musyrik. Ia adalah ke¬menangan yang membuat gembira penduduk langit, gendang kemuliaan ditabuh dibawah kerlip bintang Alfa Orion, ber¬bondong-bondong manusia masuk kedalam Dien-Nya, dan bumi memancarkan kemilau kebahagiaan. [Zaadul Ma’ad]

Bersambung In Sya Allah...

Wahai Junud Daulah Islamiyah! Wahai yang menyiapkan Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah! Inilah bulan Ramadhan yang mulia mendatangi kalian, maka tunjukkan kepada Allah apa yang dicintai dan diridhai-Nya, lanjutkan jihad kalian, lipat gandakan kesungguhan kalian, sucikan najis orang-orang shafawi dan bungkam orang-orang sekuler, patahkanlah aliansi salibis, dan jangan kalian lupakan para singa dan wanita-wanita merdeka yang terpenjara, karena keluarga mereka telah menunggu untuk merayakan hari raya…

Maktabah Al Himmah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar