Tampilkan postingan dengan label Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 April 2018

MAKNA LAA ILAAHA ILLALLOH

APAKAH ENGKAU MENGETAHUI MA’NA LAA ILAAHA ILLALLOH

Diambil dari perkataan asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rohimahulloh

Segala puji hanya bagi Alloh. Sholawat dan salam semoga tercurahkan ke atas Rosululloh, keluarga dan sahabat beliau, serta orang-orang yang berwala' kepada beliau, adapun kemudian;

Ini adalah penjelasan singkat tentang ma’na kalimat “Laa ilaaha illalloh”. Kalimat tawhid yang merupakan hak Alloh atas seorang hamba. “Laa ilaaha illalloh” adalah kalimat yang tinggi, mulia dan berharga. Barangsiapa yang berpegang teguh padanya dia akan selamat dan siapa yang menjaganya maka dia akan terjaga. “Laa ilaaha illalloh” adalah al-‘Urwah al-Wutsqo (ikatan yang kokoh), kalimat taqwa, al-Hanifiyah (kelurusan), millah (ajaran) Ibrohim ‘alayhis salam.

“Laa ilaaha illalloh” adalah kalimat yang karenanya makhluk-makhluk diciptakan, yang dengannya tegaklah langit dan bumi, dan karenanya diutuslah para Rosul serta diturunkanlah Kitab-kitab. Alloh ta'ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku" [adz-Dzaariyaat: 56].

Dan Dia berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
"Dan tidaklah Kami utus seorang Rasul pun sebelum kamu (Muhammad), kecuali Kami wahyukan kepadanya bawa tiada ilaah kecuali Aku, maka beribadahlah kepada-Ku" [al-Anbiyaa': 25]

Akan tetapi “Laa ilaaha illalloh” itu memiliki lafadz dan juga ma’na. Mengucapkannya adalah kulit sedangkan ma’nanya adalah intisari. Lafadz adalah cangkang sedangkan ma’na adalah mutiara. Apa guna kulit tanpa adanya intisari?! Dan apa guna cangkang tanpa adanya mutiara?!

Kedudukan “Laa ilaaha illalloh” terhadap ma’nanya, seperti kedudukan ruuh terhadap jasadnya. Maka tidak bermanfaat jasad itu tanpa adanya ruuh. Begitu juga tidak bermanfaat kalimat ini tanpa disertai ma’nanya.

Maka ketahuilah –semoga Alloh merahmatimu– bahwa bukanlah yang diinginkan itu pengucapan kalimat ini dengan disertai kebodohan terhadap ma’nanya. Karena orang-orang munafiq mengucapkannya tetapi mereka berada di bawah orang-orang kafir di dalam dasar neraka! Akan tetapi yang diinginkan adalah pengucapan kalimat ini disertai pemahaman dengan hati terhadap ma’nanya, mencintainya, mencintai para pemeluknya, serta membenci dan memusuhi orang-orang yang menyelisihinya.

Lalu apa ma’na kalimat yang agung ini?

Jika dikatakan: ma’na “Laa ilaaha illalloh” itu adalah: Tidak ada pencipta selain Alloh, maka ini telah diketahui. Karena tidak ada yang menciptakan makhluk kecuali Alloh. Tidak ada seorangpun yang bersekutu dengan-Nya dalam hal ini. Jika dikatakan: bahwa ma’nanya adalah tidak ada pemberi rizqi kecuali Alloh, maka inipun bisa diterima.

Maka pikirkanlah –semoga Alloh memberimu taufiq– tentang hal ini. Bertanyalah tentang ma’na Al Ilaah. Sebagaimana engkau bertanya tentang ma’na al-Kholiq dan ar-Roziq.

Maka ma’na “Laa ilaaha illalloh” adalah:

لا معبود بحق إلا الله
"Tidak ada sesuatu yang berhak diibadahi kecuali Alloh."

Kalimat ini terdiri dari nafyun (peniadaan) dan itsbaatun (penetapan). Peniadaan terhadap ilahiyah (ketuhanan) segala sesuatu selain Alloh ta'ala dari kalangan makhluk-makhluk, bahkan terhadap Nabi shollallohu 'alayhi wasallam sekalipun, apalagi selain beliau dari kalangan para wali dan orang-orang sholih. Dan penetapan ilahiyah (ketuhanan) itu seluruhnya hanya untuk Alloh semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Tidak ada hak ilahiyah (ketuhanan) bagi selain-Nya, tidak bagi malaikat yang didekatkan, tidak pula bagi nabi yang diutus.

Al-Ilahiyah dari kata al-ilah dan al-ilah itu adalah al-Ma'bud (sesuatu yang diibadahi), ini adalah tafsir dari lafadz ini dengan kesepakatan (ijma') ahlul ilmi. Maka siapa pun yang beribadah kepada sesuatu, dia telah menjadikan sesuatu itu sebagai ilah (tuhan) selain Alloh.

Jika engkau ingin memahami hal ini dengan pemahaman yang sempurna maka pahamilah dua hal:

Yang pertama: Hendaknya engkau memahami bahwa orang-orang kafir yang Rosululloh shollallohu 'alayhi wasallam memerangi dan membunuh mereka serta merampas harta mereka dan menghalalkan wanita-wanita mereka (untuk dijadikan budak -.pent.). Mereka itu mengakui Tauhid Rububiyah. Yaitu tidak ada yang menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan, mengatur segala urusan kecuali Alloh semata. Dalilnya adalah Firman Alloh ta'ala:

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ
"Katakanlah: 'Siapakah yang memberi rizqi kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?' Maka mereka akan menjawab: 'Alloh'." [Yunus: 31]

Ini adalah perkara yang sangat penting! Yaitu engkau memahami bahwa orang-orang kafir itu bersaksi terhadap hal ini sepenuhnya dan mengakuinya. Mereka juga shodaqoh, haji, ‘umroh, beribadah, serta meninggalkan perkara-perkara yang diharomkan karena takut kepada Alloh 'azza wa jalla. Meskipun begitu, semua itu tidak menjadikan mereka masuk ke dalam Islam. Dan tidak menjadikan haram darah dan harta mereka.

Akan tetapi perkara yang kedua: hal yang menjadikan mereka kafir dan menjadikan halal darah dan harta mereka adalah bahwa mereka tidak bersaksi terhadap Alloh dengan Tauhid Uluhiyah, yaitu bahwa tidak berdoa kecuali kepada Alloh tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak dimohon pertolongan (istighotsah) dengan selain-Nya, tidak disembelih untuk selain-Nya dan tidaklah hukum dikembalikan kepada selain syari'at-Nya. Maka barangsiapa memohon pertolongan (istighotsah) dengan selain-Nya maka dia kafir, barangsiapa menyembelih untuk selain-Nya maka dia kafir dan barangsiapa memutuskan hukum dengan selain syari'at-Nya maka dia kafir ... dan lain sebagainya.

Sebagai penyempurna hal ini, hendaknya engkau mengetahui bahwa orang-orang musyrik yang diperangi oleh Rosululloh, mereka itu berdoa kepada orang-orang sholih maka mereka kafir dengan sebab doa mereka kepada orang-orang sholih itu, sekalipun mereka mengakui bahwa Alloh adalah al-Kholiq (Sang Pencipta), ar-Roziq (Sang Pemberi Rezeki) dan al-Mudabbir (Sang Pengatur)! Jika engkau telah memahami hal ini maka engkau telah memahami ma’na (Laa Ilaaha Illallaah). Dan engkau telah memahami bahwa jika seorang muslim mengkultuskan seorang nabi, wali atau malaikat, atau dia memohon pertolongan (istighotsah) kepadanya, maka dia telah keluar dari Islam.

Jika seseorang dari kalangan orang-orang musyrik berkata: Kami tahu hal itu, akan tetapi orang-orang sholih itu mereka adalah orang-orang yang dekat dengan Alloh, maka kami berdoa kepada mereka, bernadzar kepada mereka, mengunjungi (makam) mereka, dan ber-istighotsah kepada mereka. Dan dengan itu kami mengharapkan kedudukan dan syafa'at. Sebaliknya kami memahami dan beriman bahwa Alloh itu al-Kholiq (Sang Pencipta), al-Mudabbir (Sang Pengatur) dan satu-satunya Dzat Yang Diibadahi!!

Maka katakanlah: Perkataanmu ini adalah madzhab Abu Jahal dan orang-orang semisalnya, karena sesungguhnya mereka dahulu berdoa kepada patung-patung dan para wali itu dengan menginginkan (seperti) apa yang kalian inginkan.

Sebagaimana Alloh Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى
"...Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Alloh (berkata): 'Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat-dekatnya'..." [Az-Zumar: 3]

Dan Dia Berfirman:

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ
"Dan mereka menyembah selain daripada Alloh apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfa`atan, dan mereka berkata: 'Mereka itu adalah pemberi syafa`at kepada kami di sisi Alloh'..." [Yunus: 18]

Dan itu dikarenakan mereka menyangka –sebagaimana (sangkaan) kalian– bahwa Alloh menjadikan orang-orang tertentu memiliki kedudukan khusus di sisi-Nya, di mana Dia Ridho agar manusia berlindung dan beristighotsah kepada mereka, serta menjadikan orang-orang tertentu itu sebagai wasilah (perantara) antara diri mereka dengan Alloh. Sedangkan hal itu merupakan pembatal kalimat (Laa ilaaha illalloh), karena tuntutan dari (Laa ilaaha illalloh) adalah meniadakan perantara di hadapan Alloh...

Selesai, dikutip dari "ad-Duror as-Saniyah fil Ajwibati an-Najdiyah"

Maktabah Al-Himmah

ENAM PERKARA POKOK DALAM AGAMA (TERJEMAH AL-USHUL AS-SITTAH)

ENAM PERKARA POKOK DALAM AGAMA (TERJEMAH AL-USHUL AS-SITTAH)
asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rohimahulloh

Segala puji bagi Alloh, Sholawat dan salam semoga terlimpah kepada Rosululloh, serta kepada keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang loyal kepadanya. Amma ba’d:

Al-Imam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab —rohimahulloh— berkata:

Di antara perkara-perkara yang paling mengagumkan dan di antara tanda-tanda kekuasaan Sang Raja Yang Maha Mengalahkan adalah enam pokok yang dijelaskan oleh Alloh ta’ala dengan penjelasan yang terang kepada orang-orang awam, melebihi prasangka orang-orang yang berprasangka. Kemudian setelah itu banyak di antara ulama-ulama dunia dan pemikir-pemikir Bani Adam yang salah di dalamnya, kecuali sangat sedikit sekali.

Pokok pertama: Pemurnian agama untuk Alloh ta’ala semata (ikhlash), tiada sekutu bagi-Nya, dan penjelasan tentang kebalikannya, yakni syirik kepada Alloh. Sebagian besar dari al-Qur’an menjelaskan pokok ini dari berbagai sisi dengan ungkapan yang dipahami oleh orang awam yang paling bodoh. Kemudian ketika terjadi pada sebagian besar umat apa yang terjadi, syaithon memperlihatkan kepada mereka keikhlasan dalam bentuk merendahkan orang-orang sholih dan mengabaikan hak-hak mereka, serta memperlihatkan kepada mereka kesyirikan kepada Alloh dalam bentuk mencintai orang-orang sholih dan mengikuti mereka.

Pokok kedua: Perintah Alloh untuk bersatu dalam agama dan larangan untuk bercerai-berai di dalamnya. Alloh menjelaskan ini dengan penjelasan memuaskan yang dapat dipahami oleh orang-orang awam. Dia melarang kita agar tidak menjadi seperti orang-orang sebelum kita yang bercerai-berai dan berselisih sehingga mereka binasa. Dia menyebutkan (dalam al-Qur’an) bahwa Dia memerintahkan kaum muslimin agar bersatu dalam agama dan melarang mereka dari bercerai-berai di dalamnya. Dan ini diperjelas oleh hal-hal yang sangat mengagumkan yang disebutkan oleh As-Sunnah terkait hal itu. Kemudian perkara ini berubah, sehingga perpecahan dalam pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya menjadi ilmu dan fiqh dalam agama, dan perintah untuk bersatu dalam agama menjadi tidak diucapkan kecuali oleh orang Zindiq atau orang gila!

Pokok ketiga: Di antara penyempurna persatuan adalah kepatuhan dan ketaatan kepada orang yang memimpin kita, meskipun dia adalah seorang budak Habasyah. Alloh menjelaskan ini secara panjang lebar dan mencukupi, dengan berbagai jenis penjelasan dalam bentuk pensyariatan dan ketetapan. Kemudian pokok ini menjadi tidak dikenal oleh mayoritas orang-orang yang mengaku sebagai ulama! Maka bagaimana ia diamalkan?

Pokok keempat: Penjelasan tentang ilmu dan ulama’, fiqh dan fuqoha’, serta penjelasan tentang orang yang menyerupai mereka tetapi bukan bagian dari mereka. Alloh ta’ala telah menjelaskan pokok ini pada awal surat al-Baqoroh dari firman-Nya: “Wahai Bani Isro’il! Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku limpahkan kepada kalian,” [al-Baqoroh: 40]. Sampai firman-Nya: “Wahai Bani Isro’il!” [al-Baqoroh: 122] sebelum penyebutan Ibrohim ‘alaihis salam.

Dan ini diperjelas oleh pembicaraan yang panjang, jelas dan terang bagi orang awam yang bodoh yang disebutkan oleh As-Sunnah terkait hal ini.

Kemudian ini menjadi perkara yang paling asing! Ilmu dan fiqh menjadi bid’ah dan kesesatan! Sebaik-baik apa yang ada pada mereka adalah mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan. Ilmu yang diwajibkan oleh Alloh atas makhluk dan dipuji-Nya menjadi tidak diucapkan kecuali oleh orang Zindiq atau orang gila! Dan orang yang mengingkarinya, memusuhinya, serta menulis kitab tentang peringatan dan larangan terhadapnya menjadi orang faqih yang ‘alim!

Pokok kelima: Penjelasan Alloh subhanahu tentang wali-wali-Nya dan pembedaan antara mereka dan orang-orang yang menyerupai mereka di antara musuh-musuh Alloh yang munafiq dan durhaka. Cukup dalam hal ini satu ayat dalam surat Alu ‘Imron, yaitu firman-Nya: “Katakanlah, Jika kalian mencintai Alloh, maka ikutilah aku, niscaya Alloh akan mencintai kalian.” [Alu ‘Imron: 31]

Satu ayat dalam surat al-Ma-idah, yaitu firman-Nya: “Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, niscaya Alloh akan mendatangkan suatu kaum yang Dia cintai dan mencintai-Nya.” [al-Ma’idah: 54]

Dan satu ayat dalam surat Yunus, yaitu firman-Nya: “Ingatlah wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa.” [Yunus: 62]

Kemudian perkara ini berubah di kalangan mayoritas orang-orang yang mengaku sebagai ulama dan bagian dari pemberi petunjuk bagi makhluk dan penjaga syariat: para wali haruslah orang-orang yang tidak mengikuti para rosul, sehingga orang yang mengikuti para rosul bukanlah bagian dari mereka; para wali haruslah orang-orang yang meninggalkan jihad, sehingga orang yang berjihad bukanlah bagian dari mereka; dan para wali haruslah orang-orang yang meninggalkan iman dan taqwa, sehingga orang yang memelihara iman dan taqwa bukanlah bagian dari mereka! Ya Robb kami! Kami memohon kepada-Mu maaf dan ampunan. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar segala permohonan.

Pokok keenam: Bantahan terhadap syubhat yang dibuat oleh syaithon untuk meninggalkan al-Qur’an dan As-Sunnah serta mengikuti pendapat dan hawa nafsu yang berbeda-beda. Yaitu bahwa al-Qur’an dan As-Sunnah tidak bisa diketahui kecuali oleh mujtahid muthlaq, dan mujtahid adalah orang yang memiliki sifat demikian dan demikian; sifat-sifat yang barangkali tidak ditemukan secara sempurna pada Abu Bakr dan Umar. Jika seseorang tidak memiliki sifat-sifat ini, maka hendaklah dia berpaling dari al-Qur’an dan as-Sunnah, sebagai suatu keharusan yang pasti, tanpa ada keraguan dan permasalahan di dalamnya. Dan barang siapa mencari petunjuk dari al-Qur’an dan as-Sunnah, maka dia antara orang Zindiq atau orang gila, karena sangat sulitnya memahami keduanya.

Subhanalloh wa bi hamdih. Berapa banyak Alloh subhanahu menjelaskan dalam bentuk pensyariatan, ketetapan, akhlaq dan perintah dalam membantah syubhat yang terla’nat ini, dari berbagai macam sisi, sehingga sampai ke tingkat perkara-perkara umum yang diketahui secara aksiomatis. Tetapi sebagian besar manusia tidak mengetahui.

“Sungguh, pasti berlaku perkataan (hukuman) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman. Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, karena itu mereka tertengadah. Dan Kami jadikan di hadapan mereka sekat (dinding) dan di belakang mereka juga sekat, dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. Dan sama saja bagi mereka, apakah engkau memberi peringatan kepada mereka atau engkau tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman juga. Sesungguhnya engkau hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, walaupun mereka tidak melihat-Nya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.” [Yasin: 7-11]

Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam. Semoga Alloh melimpahkan sholawat kepada junjungan kita Muhammad, serta kepada keluarga dan para sahabatnya, serta melimpahkan salam yang sebanyak-banyaknya sampai hari kiamat (qiyamah).

Dikutip dari: ad-Duror as-Saniyyah fi al-Ajwibah an-Najdiyyah.

Maktabah Al-Himmah

RISALAH TENTANG NIFAQ DAN ORANG MUNAFIQ

RISALAH TENTANG NIFAQ DAN ORANG MUNAFIQ
KARYA SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB
DIRINGKAS DARI RISALAH SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYAH RAHIMAHULLAH

Ketahuilah -semoga Allah merahmatimu- bahwa sejak Allah azza wa jalla mengutus Muhammad shallallahu alaihi wasallam manusia terbagi menjadi tiga;
Pertama. orang-orang mukmin yang beriman kepadanya zhahir dan batinnya,
Kedua. orang-orang kafir yang terang-terangan mengkufurinya, dan
Ketiga. orang-orang munafik yang beriman secara zhahir namun tidak batinnya.
Oleh karena itu, Allah membuka surat al-Baqarah dengan empat ayat seputar sifat mukmin, dua ayat seputar sifat kafir, dan tiga belas ayat seputar sifat munafik.

Semua bagian itu; iman, kufur, dan nifak, masing-masing mempunyai pondasi dan cabang-cabangnya sebagaimana disebutkan dalam Kitab dan Sunnah, dan sebagaimana ditafsirkan oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu dalam hadits yang diriwayatkannya. Maka nifak terbagi menjadi nifak akbar yang mengakibatkan pelakunya dijerumuskan dalam dasar neraka yang terdalam. Yaitu seperti nifaknya Abdullah bin Ubay dan selainnya, atau terang-terangan mendustakan Rasul, menentang atau membenci sebagian risalahnya, meyakini tidak wajib mengikutinya, senang dengan keterpurukan Dien dan sebaliknya sedih dengan kemenangan Dien, dan yang semisalnya yang tidak mungkin muncul kecuali dari musuh Allah dan Rasul-Nya. Yang seperti itu sudah muncul pada zaman Rasul shallallahu alaihi wasallam dan zaman setelahnya. Padahal pada zamannya faktor pendukung keimanan amat kuat. Jika pada zamannya saja yang faktor pendukung keimanan itu amat kuat sudah muncul nifak apalagi pada zaman setelahnya. Ini adalah contoh nifak akbar, kita berlindung kepada Allah.

Adapun nifak asghar adalah seperti nifak amal dan yang semisalnya. Yaitu seperti berdusta ketika berbicara, menyelisihi janji dan berkhianat jika dipercaya seperti disebutkan dalam hadits masyhur, bersabda shallallahu alaihi wasallam, “Tanda-tanda munafik itu ada tiga; jika berbicara maka berdusta, jika berjanji maka mengingkari, jika dipercaya maka berkhianat, (dia itu munafik) sekalipun shalat, berpuasa dan mengaku muslim.” (HR. Muslim).

Termasuk nifak asghar juga adalah enggan berjihad. Enggan berjihad adalah salah satu sifat munafik berdasarkan sabdanya shallallahu alaihi wasallam, “Barangsiapa mati sedangkan ia belum berperang atau meniatkan dirinya untuk berperang, maka dia mati dalam salah satu cabang kemunafikan.” (HR. Muslim).

Allah telah menurunkan surat Bara’ah yang juga dinamakan al-Fadhihah lantaran membongkar orang-orang munafik, sebagaimana perkataan Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, “Ia (surat at-Taubah) adalah al-Fadhihah (pembongkar), terus menerus turun “Dan diantara mereka” sampai mereka mengira tidak ada seorangpun yang tidak disebutkan.” Dari al-Miqdad bin al-Aswad berkata, “Ia adalah surat al-Bahuts karena menyingkap lubuk hati terdalam orang-orang munafik.” Qotadah berkata, “Ia adalah al-Mutsirah karena mempermalukan orang-orang munafik”.

Surat ini turun ketika ghazwah terakhir Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yaitu Ghazwah Tabuk. Pada ghazwah ini Allah memuliakan Islam dan pemeluknya, dan membongkar kondisi orang-orang munafik. Allah menyifati mereka dengan sifat kikir dan pengecut. Yang dimaksud pengecut adalah meninggalkan jihad.

Adapun kikir, yaitu enggan berinfak fi sabilillah. Allah berfirman, “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali Imran: 180), dan berfirman, “Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” (QS. al-Anfal: 16).

Allah juga menyifati mereka dengan sifat pengecut dan panik, firman-Nya azza wa jalla, “Dan mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa sesungguhnya mereka termasuk golonganmu; padahal mereka bukanlah dari golonganmu, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang sangat takut (kepadamu). Jikalau mereka memperoleh tempat perlindungan”, yaitu seperti benteng atau kastil, “atau gua-gua”, untuk bersembunyi dengan cepat seperti air yang mengalir, “atau lobang-lobang (dalam tanah)”, yaitu tempat-tempat yang susah payah dibangun atau susah dimasuki (seperti bunker – pent), “niscaya mereka pergi kepadanya” dan kabur dari jihad “dengan secepat-cepatnya.” (QS. at-Taubah: 56-57). Yaitu pergi secepat-cepatnya tanpa bisa dicegah lagi seperti kuda liar yang jika dihardik maka tali kekangnya tidak akan bisa mencegahnya.

Allah azza wa jalla berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. al-Hujurat: 15). Maka Dia membatasi orang-orang beriman pada yang beriman dan berjihad.

Allah berfirman, “Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertaqwa. Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya.” (QS. at-Taubah: 4445). Maka ini merupakan kabar dari Allah bahwa seorang mukmin tidak akan meminta ijin untuk meninggalkan jihad, hanyasanya yang meminta ijin adalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, maka bagaimana halnya dengan yang meninggalkan jihad tanpa ijin?

Firman-Nya tentang sifat kikir mereka, “Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (QS. at-Taubah: 54). Jika dalam ayat ini Allah azza wa jalla mencela orang-orang yang berinfak dengan rasa enggan, maka bagaimana halnya dengan yang sama sekali tidak mau berinfak?

Telah dikabarkan bahwa ketika orang-orang munafik mendekati Madinah (setelah selesai dari ghazwah –pent), terkadang mereka berkata-kata kepada orang-orang mukmin, “Inilah kesialan yang menimpa kita lantaran kalian, kalianlah yang menyeru manusia kepada Din ini, kalianlah yang memerangi dan menyelisihi mereka.” Terkadang mereka mengecam, “Kalianlah yang memerintahkan kita untuk berdiam di sini, jika kita pergi tentu tidak akan tertimpa yang sepert ini! Terkadang juga mereka menyindir, “Kalian itu sudah sedikit dan lemah namun tetap nekat hendak mengalahkan musuh, sungguh agama kalian telah menipu kalian! Juga kecamannya, “Kalian orang-orang gila, tidak berakal, kalian hendak membinasakan diri kalian dan menyeret manusia dalam kebinasaan!

Mereka juga sering menyemburkan kata-kata yang menyakitkan lainnya. Maka Allah berfirman tentang mereka, “Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badwi, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu. Dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja.” (QS. al-Ahzab: 20).

Dalam ayat ini Allah azza wa jalla menyifati mereka dengan tiga sifat;

Pertama: bahwa mereka –lantaran ketakutannya– mengira golongan-golongan sekutu itu tidak akan pergi. Seperti inilah kondisi para pengecut yang hatinya sakit. Ia akan segera memakan mentah-mentah kabar yang menakutkan dan sebaliknya mendustakan kabar baik.

Kedua; jika pasukan sekutu datang mereka berangan-angan bisa kabur jauh ke pedalaman di antara orang-orang badui dan menanyakan kabar kalian, “Bagaimana kabar Madinah? Bagaimana kondisi manusia?

Ketiga; jika pasukan sekutu telah datang sedangkan mereka ada di antara kalian maka mereka tidak akan bertempur kecuali sedikit. Ketiga sifat ini ternyata banyak didapati pada diri banyak manusia.

An-Naba Edisi 50

Rabu, 25 April 2018

LAA ILAHA ILALLAH DALAM PERKATAAN DAN PERBUATAN

RUMIYAH 7 - ARTIKEL

LAA ILAHA ILALLAH DALAM PERKATAAN DAN PERBUATAN

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata,

“Ketahuilah semoga Allah merahmatimu, bahwa Laa ilaaha illallah adalah kalimat yang tinggi, mulia, dan berharga. Siapa yang berpegang dengannya niscaya akan selamat dan siapa yang berlindung dengannya niscaya akan terjaga. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dan kufur terhadap sesuatu yang disembah selain Allah niscaya harta dan darahnya adalah haram (untuk ditumpahkan), sedangkan perhitungannya adalah kepada Allah ta'ala. (HR. Muslim dari Thariq bin Asyim). Hadits ini menjelaskan bahwa Laa ilaaha illallah itu memiliki lafadz dan makna.

Dalam hal itu manusia terbagi menjadi tiga kelompok :

Pertama; mereka mengucapkan dan merealisasikannya, mengerti maknanya lalu mengamalkannya, dan mengerti pembatal-pembatalnya lalu menjauhinya.

Kedua; mengucapkannya secara lahir, menghiasi lahirnya dengan kata-kata tetapi menyembunyikan kekafiran dan keraguan.

Ketiga; mau mengucapkannya tetapi tidak mau mengamalkan maknanya dan justru menerjang pembatal-pembatalnya. Mereka itulah, “Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. al-Kahfi: 104).

Kelompok pertama adalah yang selamat, mereka adalah orang-orang mukmin yang sebenarnya. Kelompok kedua adalah orang-orang munafik dan kelompok ketiga adalah orang-orang musyrik.

Jadi Laa ilaaha illallah itu laksana benteng, tetapi benteng itu digempur dengan manjanik kebohongan dan dilontari batu kehancuran sehingga musuh leluasa masuk menguasai lalu merampas makna namun bentuknya dibiarkan, sedangkan dalam hadits disebutkan, “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa-rupa dan postur tubuh kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amalan kalian.” (HR Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu).

Mereka merampas makna Laa ilaaha illallah, sehingga yang tersisa hanya lidah yang gagap dan ocehan huruf. Ibarat benteng kokoh tinggal nama. Seperti api yang tinggal nama itu tidak akan membakar, banjir yang tinggal nama itu tidak akan menenggelamkan, roti yang tinggal nama itu tidak akan mengenyangkan, dan pedang yang tinggal nama itu tidak akan memotong. Demikian juga benteng tinggal nama itu tidak akan melindungi. Karena ucapan itu laksana kulit dan makna adalah hatinya. Ucapan itu laksana tempurung kerang dan makna adalah mutiaranya. Apa artinya kulit tanpa hati? Apa artinya kerang tanpa mutiara?

Laa ilaaha illallah beserta maknanya adalah ibarat ruh bagi jasad, tidak ada gunanya jasad tanpa ruh. Begitu juga kalimat ini tidak ada gunanya tanpa maknanya. Orangorang mulia mengambil kalimat ini dengan segenap gambaran dan maknanya. Mereka hiasi gambaran lahirnya dengan kata-kata yang jujur dan batinnya penuh dengan maknanya. Sehingga Yang Maha Kekal menyaksikan kejujuran mereka, “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imran: 18).

Sedangkan si alim musyrik mengambil gambaran kalimat ini tanpa maknanya. Lahirnya dihiasi dengan kata-kata manis namun batinnya penuh kekafiran mengimani sesuatu yang tidak bisa memberi manfaat maupun madharat. Hati mereka hitam lagi gelap. Allah tidak memberikan furqon kepada mereka untuk membedakan antara yang haq dan yang bathil. Pada hari kiamat kelak mereka akan tetap berada dalam gelapnya kekafiran, “Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.” (QS. al-Baqarah: 17).

Siapa yang mengucapkan Laa ilaaha illallah namun dia menjadi hamba hawa nafsu, dirham, dinar, dan dunianya, jawaban apa yang akan dilontarkannya kepada Allah? “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya.” (QS. al-Jatsiyah: 23).

“Celakalah budak dinar, celakalah budak dirham, celakalah budak mode dan pakaian. Jika diberi merasa senang tetapi jika tidak maka dia akan murka. Dia akan celaka lagi terjungkir. Jika tertusuk duri niscaya tidak akan bisa dicabut.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah).

Jika Anda katakan Laa ilaaha illallah namun hanya di lisan saja tanpa ada buah di hati, maka anda adalah munafik. Tetapi jika tempatnya ada di dalam hatimu (dengan komitmen anggota tubuhmu) berarti anda adalah mukmin. Janganlah Anda menjadi mukmin hanya di bibir tanpa hatimu, karena di pengadilan hari kiamat nanti Anda akan digugat oleh kalimat ini, “Duhai tuhanku, aku telah menyertainya sekian sekian tahun, tetapi dia tidak mengakui hakku, dan tidak memelihara kehormatanku dengan baik! Kalimat ini akan bersaksi untukmu atau menggugatmu.

Kalimat ini akan memberikan penghormatannya kepada alim mulia hingga mereka masuk surga. Sedangkan kalimat ini akan mempersaksikan kejahatan alim musyrik hingga mereka masuk neraka, “Sebagian ada yang di surga dan sebagian lagi di neraka sa’ir (yang membakar).” (QS. asy-Syura: 7).

Laa ilaaha illallah adalah pohon kebahagiaan. Jika Anda menanamnya di lahan tashdiq (pembenaran), menyiraminya dengan air keikhlasan dan menjaganya dengan amal shalih niscaya akar-akarnya akan kokoh, dahannya kuat, daun-daunnya menghijau, dan buah-buahnya lebat lagi melimpah, “Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya.” (QS. Ibrahim: 25).

Tetapi jika pohon ini Anda tanam di lahan takdzib (pendustaan) dan perpecahan, disirami dengan air riya dan kemunafikan lalu Anda rawat dengan amalan buruk dan kata-kata kotor, dipenuhi oleh aneka pengkhianatan, dan ditiup oleh berbagai umpatan, niscaya berserakanlah buah-buahannya, berguguranlah daun-daunnya, akan patah dahannya dan terpotong potong akarnya, sehingga ketika topan sampah menghantamnya niscaya dia akan tercabik-cabik, “Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS. al-Furqan: 23).

Jika seorang muslim mampu merealisasikan hal ini, maka dia juga harus menyempurnakan rukun-rukun Islam yang lain, sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih, “Islam dibangun diatas 5 perkara, yaitu bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan berhaji ke Baitullah jika mampu menempuh perjalanan ke sana.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu anhu).

“Dan barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali Imran: 97).

Semoga shalawat dan salam terlimpah kepada Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabat beliau. Selesai nukilan dari kata-kata beliau rahimahullah dengan sedikit perubahan.

SEKELUMIT TENTANG NIFAQ

RUMIYAH 4 - ARTIKEL

SEKELUMIT TENTANG NIFAQ
KARYA SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB
DIRINGKAS DARI RISALAH SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYAH RAHIMAHULLAH

Ketahuilah -semoga Allah merahmatimu- bahwa sejak Allah azza wa jalla mengutus Muhammad shallallahu alaihi wasallam manusia terbagi menjadi tiga; 1. orang-orang mukmin yang beriman kepadanya zhahir dan batinnya, 2. orang-orang kafir yang terang-terangan mengkufurinya, dan 3. orang-orang munafik yang beriman secara zahir namun tidak batinnya. Oleh karena itu, Allah membuka surat al-Baqarah dengan empat ayat seputar sifat mukmin, dua ayat seputar sifat kafir, dan tiga belas ayat seputar sifat munafik.

Semua bagian itu; iman, kufur, dan nifak, masing-masing mempunyai pondasi dan cabang-cabangnya sebagaimana disebutkan dalam Kitab dan Sunnah, dan sebagaimana ditafsirkan oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu dalam hadits yang diriwayatkannya. Maka nifak terbagi menjadi nifak akbar yang mengakibatkan pelakunya dijerumuskan dalam dasar neraka yang terdalam. Yaitu seperti nifaknya Abdullah bin Ubay dan selainnya, atau terang-terangan mendustakan Rasul, menentang atau membenci sebagian risalahnya, meyakini tidak wajib mengikutinya, senang dengan keterpurukan Dien dan sebaliknya sedih dengan kemenangan Dien, dan yang semisalnya yang tidak mungkin muncul kecuali dari musuh Allah dan Rasul-Nya. Yang seperti itu sudah muncul pada zaman Rasul shallallahu alaihi wasallam dan zaman setelahnya. Padahal pada zamannya faktor pendukung keimanan amat kuat. Jika pada zamannya saja yang faktor pendukung keimanan itu amat kuat sudah muncul nifak apalagi pada zaman setelahnya. Ini adalah contoh nifak akbar, kita berlindung kepada Allah.

Adapun nifak asghar adalah seperti nifak amal dan yang semisalnya. Yaitu seperti berdusta ketika berbicara, menyelisihi janji dan berkhianat jika dipercaya seperti disebutkan dalam hadits masyhur, bersabda shallallahu alaihi wasallam, “Tanda-tanda munafik itu ada tiga; jika berbicara maka berdusta, jika berjanji maka mengingkari, jika dipercaya maka berkhianat, (dia itu munafik) sekalipun shalat, berpuasa dan mengaku muslim.” (HR. Muslim).

Termasuk nifak asghar juga adalah enggan berjihad. Enggan berjihad adalah salah satu sifat munafik berdasarkan sabdanya shallallahu alaihi wasallam, “Barangsiapa mati sedangkan ia belum berperang atau meniatkan dirinya untuk berperang, maka dia mati dalam salah satu cabang kemunafikan.” (HR. Muslim).

Allah telah menurunkan surat Bara’ah yang juga dinamakan al-Fadhihah lantaran membongkar orang-orang munafik, sebagaimana perkataan Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, “Ia (surat at-Taubah) adalah al-Fadhihah (pembongkar), terus menerus turun “Dan diantara mereka” sampai mereka mengira tidak ada seorangpun yang tidak disebutkan.” Dari al-Miqdad bin al-Aswad berkata, “Ia adalah surat al-Bahuts karena menyingkap lubuk hati terdalam orang-orang munafik.” Qotadah berkata, “Ia adalah al-Mutsirah karena mempermalukan orang-orang munafik”.

Surat ini turun ketika ghazwah terakhir Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yaitu Ghazwah Tabuk. Pada ghazwah ini Allah memuliakan Islam dan pemeluknya, dan membongkar kondisi orang-orang munafik. Allah menyifati mereka dengan sifat kikir dan pengecut. Yang dimaksud pengecut adalah meninggalkan jihad.

Adapun kikir, yaitu enggan berinfak fi sabilillah. Allah berfirman, “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali Imran: 180), dan berfirman, “Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” (QS. al-Anfal: 16).

Allah juga menyifati mereka dengan sifat pengecut dan panik, firman-Nya azza wa jalla, “Dan mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa sesungguhnya mereka termasuk golonganmu; padahal mereka bukanlah dari golonganmu, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang sangat takut (kepadamu). Jikalau mereka memperoleh tempat perlindungan”, yaitu seperti benteng atau kastil, “atau gua-gua”, untuk bersembunyi dengan cepat seperti air yang mengalir, “atau lobang-lobang (dalam tanah)”, yaitu tempat-tempat yang susah payah dibangun atau susah dimasuki (seperti bunker – pent), “niscaya mereka pergi kepadanya” dan kabur dari jihad “dengan secepat-cepatnya.” (QS. at-Taubah: 56-57). Yaitu pergi secepat-cepatnya tanpa bisa dicegah lagi seperti kuda liar yang jika dihardik maka tali kekangnya tidak akan bisa mencegahnya.

Allah azza wa jalla berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. al-Hujurat: 15). Maka Dia membatasi orang-orang beriman pada yang beriman dan berjihad.

Allah berfirman, “Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertaqwa. Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya.” (QS. at-Taubah: 4445). Maka ini merupakan kabar dari Allah bahwa seorang mukmin tidak akan meminta ijin untuk meninggalkan jihad, hanyasanya yang meminta ijin adalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, maka bagaimana halnya dengan yang meninggalkan jihad tanpa ijin?

Firman-Nya tentang sifat kikir mereka, “Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (QS. at-Taubah: 54). Jika dalam ayat ini Allah ? mencela orang-orang yang berinfak dengan rasa enggan maka bagaimana halnya dengan yang sama sekali tidak mau berinfak?

Telah dikabarkan bahwa ketika orang-orang munafik mendekati Madinah (setelah selesai dari ghazwah –pent), terkadang mereka berkata-kata kepada orang-orang mukmin, “Inilah kesialan yang menimpa kita lantaran kalian, kalianlah yang menyeru manusia kepada Din ini, kalianlah yang memerangi dan menyelisihi mereka.” Terkadang mereka mengecam, “Kalianlah yang memerintahkan kita untuk berdiam di sini, jika kita pergi tentu tidak akan tertimpa yang sepert ini! Terkadang juga mereka menyindir, “Kalian itu sudah sedikit dan lemah namun tetap nekat hendak mengalahkan musuh, sungguh agama kalian telah menipu kalian! Juga kecamannya, “Kalian orang-orang gila, tidak berakal, kalian hendak membinasakan diri kalian dan menyeret manusia dalam kebinasaan!

Mereka juga sering menyemburkan kata-kata yang menyakitkan lainnya. Maka Allah berfirman tentang mereka, “Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badwi, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu. Dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja.” (QS. al-Ahzab: 20).

Dalam ayat ini Allah azza wa jalla menyifati mereka dengan tiga sifat;

Pertama: bahwa mereka –lantaran ketakutannya– mengira golongan-golongan sekutu itu tidak akan pergi. Seperti inilah kondisi para pengecut yang hatinya sakit. Ia akan segera memakan mentah-mentah kabar yang menakutkan dan sebaliknya mendustakan kabar baik.

Kedua; jika pasukan sekutu datang mereka berangan-angan bisa kabur jauh ke pedalaman di antara orang-orang badui dan menanyakan kabar kalian, “Bagaimana kabar Madinah? Bagaimana kondisi manusia?

Ketiga; jika pasukan sekutu telah datang sedangkan mereka ada di antara kalian maka mereka tidak akan bertempur kecuali sedikit. Ketiga sifat ini ternyata banyak didapati pada diri banyak manusia.