RUMIYAH 7 - ARTIKEL
LAA ILAHA ILALLAH DALAM PERKATAAN DAN PERBUATAN
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata,
“Ketahuilah semoga Allah merahmatimu, bahwa Laa ilaaha illallah adalah kalimat yang tinggi, mulia, dan berharga. Siapa yang berpegang dengannya niscaya akan selamat dan siapa yang berlindung dengannya niscaya akan terjaga. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dan kufur terhadap sesuatu yang disembah selain Allah niscaya harta dan darahnya adalah haram (untuk ditumpahkan), sedangkan perhitungannya adalah kepada Allah ta'ala. (HR. Muslim dari Thariq bin Asyim). Hadits ini menjelaskan bahwa Laa ilaaha illallah itu memiliki lafadz dan makna.
Dalam hal itu manusia terbagi menjadi tiga kelompok :
Pertama; mereka mengucapkan dan merealisasikannya, mengerti maknanya lalu mengamalkannya, dan mengerti pembatal-pembatalnya lalu menjauhinya.
Kedua; mengucapkannya secara lahir, menghiasi lahirnya dengan kata-kata tetapi menyembunyikan kekafiran dan keraguan.
Ketiga; mau mengucapkannya tetapi tidak mau mengamalkan maknanya dan justru menerjang pembatal-pembatalnya. Mereka itulah, “Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. al-Kahfi: 104).
Kelompok pertama adalah yang selamat, mereka adalah orang-orang mukmin yang sebenarnya. Kelompok kedua adalah orang-orang munafik dan kelompok ketiga adalah orang-orang musyrik.
Jadi Laa ilaaha illallah itu laksana benteng, tetapi benteng itu digempur dengan manjanik kebohongan dan dilontari batu kehancuran sehingga musuh leluasa masuk menguasai lalu merampas makna namun bentuknya dibiarkan, sedangkan dalam hadits disebutkan, “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa-rupa dan postur tubuh kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amalan kalian.” (HR Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu).
Mereka merampas makna Laa ilaaha illallah, sehingga yang tersisa hanya lidah yang gagap dan ocehan huruf. Ibarat benteng kokoh tinggal nama. Seperti api yang tinggal nama itu tidak akan membakar, banjir yang tinggal nama itu tidak akan menenggelamkan, roti yang tinggal nama itu tidak akan mengenyangkan, dan pedang yang tinggal nama itu tidak akan memotong. Demikian juga benteng tinggal nama itu tidak akan melindungi. Karena ucapan itu laksana kulit dan makna adalah hatinya. Ucapan itu laksana tempurung kerang dan makna adalah mutiaranya. Apa artinya kulit tanpa hati? Apa artinya kerang tanpa mutiara?
Laa ilaaha illallah beserta maknanya adalah ibarat ruh bagi jasad, tidak ada gunanya jasad tanpa ruh. Begitu juga kalimat ini tidak ada gunanya tanpa maknanya. Orangorang mulia mengambil kalimat ini dengan segenap gambaran dan maknanya. Mereka hiasi gambaran lahirnya dengan kata-kata yang jujur dan batinnya penuh dengan maknanya. Sehingga Yang Maha Kekal menyaksikan kejujuran mereka, “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imran: 18).
Sedangkan si alim musyrik mengambil gambaran kalimat ini tanpa maknanya. Lahirnya dihiasi dengan kata-kata manis namun batinnya penuh kekafiran mengimani sesuatu yang tidak bisa memberi manfaat maupun madharat. Hati mereka hitam lagi gelap. Allah tidak memberikan furqon kepada mereka untuk membedakan antara yang haq dan yang bathil. Pada hari kiamat kelak mereka akan tetap berada dalam gelapnya kekafiran, “Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.” (QS. al-Baqarah: 17).
Siapa yang mengucapkan Laa ilaaha illallah namun dia menjadi hamba hawa nafsu, dirham, dinar, dan dunianya, jawaban apa yang akan dilontarkannya kepada Allah? “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya.” (QS. al-Jatsiyah: 23).
“Celakalah budak dinar, celakalah budak dirham, celakalah budak mode dan pakaian. Jika diberi merasa senang tetapi jika tidak maka dia akan murka. Dia akan celaka lagi terjungkir. Jika tertusuk duri niscaya tidak akan bisa dicabut.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah).
Jika Anda katakan Laa ilaaha illallah namun hanya di lisan saja tanpa ada buah di hati, maka anda adalah munafik. Tetapi jika tempatnya ada di dalam hatimu (dengan komitmen anggota tubuhmu) berarti anda adalah mukmin. Janganlah Anda menjadi mukmin hanya di bibir tanpa hatimu, karena di pengadilan hari kiamat nanti Anda akan digugat oleh kalimat ini, “Duhai tuhanku, aku telah menyertainya sekian sekian tahun, tetapi dia tidak mengakui hakku, dan tidak memelihara kehormatanku dengan baik! Kalimat ini akan bersaksi untukmu atau menggugatmu.
Kalimat ini akan memberikan penghormatannya kepada alim mulia hingga mereka masuk surga. Sedangkan kalimat ini akan mempersaksikan kejahatan alim musyrik hingga mereka masuk neraka, “Sebagian ada yang di surga dan sebagian lagi di neraka sa’ir (yang membakar).” (QS. asy-Syura: 7).
Laa ilaaha illallah adalah pohon kebahagiaan. Jika Anda menanamnya di lahan tashdiq (pembenaran), menyiraminya dengan air keikhlasan dan menjaganya dengan amal shalih niscaya akar-akarnya akan kokoh, dahannya kuat, daun-daunnya menghijau, dan buah-buahnya lebat lagi melimpah, “Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya.” (QS. Ibrahim: 25).
Tetapi jika pohon ini Anda tanam di lahan takdzib (pendustaan) dan perpecahan, disirami dengan air riya dan kemunafikan lalu Anda rawat dengan amalan buruk dan kata-kata kotor, dipenuhi oleh aneka pengkhianatan, dan ditiup oleh berbagai umpatan, niscaya berserakanlah buah-buahannya, berguguranlah daun-daunnya, akan patah dahannya dan terpotong potong akarnya, sehingga ketika topan sampah menghantamnya niscaya dia akan tercabik-cabik, “Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS. al-Furqan: 23).
Jika seorang muslim mampu merealisasikan hal ini, maka dia juga harus menyempurnakan rukun-rukun Islam yang lain, sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih, “Islam dibangun diatas 5 perkara, yaitu bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan berhaji ke Baitullah jika mampu menempuh perjalanan ke sana.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu anhu).
“Dan barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali Imran: 97).
Semoga shalawat dan salam terlimpah kepada Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabat beliau. Selesai nukilan dari kata-kata beliau rahimahullah dengan sedikit perubahan.
LAA ILAHA ILALLAH DALAM PERKATAAN DAN PERBUATAN
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata,
“Ketahuilah semoga Allah merahmatimu, bahwa Laa ilaaha illallah adalah kalimat yang tinggi, mulia, dan berharga. Siapa yang berpegang dengannya niscaya akan selamat dan siapa yang berlindung dengannya niscaya akan terjaga. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dan kufur terhadap sesuatu yang disembah selain Allah niscaya harta dan darahnya adalah haram (untuk ditumpahkan), sedangkan perhitungannya adalah kepada Allah ta'ala. (HR. Muslim dari Thariq bin Asyim). Hadits ini menjelaskan bahwa Laa ilaaha illallah itu memiliki lafadz dan makna.
Dalam hal itu manusia terbagi menjadi tiga kelompok :
Pertama; mereka mengucapkan dan merealisasikannya, mengerti maknanya lalu mengamalkannya, dan mengerti pembatal-pembatalnya lalu menjauhinya.
Kedua; mengucapkannya secara lahir, menghiasi lahirnya dengan kata-kata tetapi menyembunyikan kekafiran dan keraguan.
Ketiga; mau mengucapkannya tetapi tidak mau mengamalkan maknanya dan justru menerjang pembatal-pembatalnya. Mereka itulah, “Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. al-Kahfi: 104).
Kelompok pertama adalah yang selamat, mereka adalah orang-orang mukmin yang sebenarnya. Kelompok kedua adalah orang-orang munafik dan kelompok ketiga adalah orang-orang musyrik.
Jadi Laa ilaaha illallah itu laksana benteng, tetapi benteng itu digempur dengan manjanik kebohongan dan dilontari batu kehancuran sehingga musuh leluasa masuk menguasai lalu merampas makna namun bentuknya dibiarkan, sedangkan dalam hadits disebutkan, “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa-rupa dan postur tubuh kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amalan kalian.” (HR Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu).
Mereka merampas makna Laa ilaaha illallah, sehingga yang tersisa hanya lidah yang gagap dan ocehan huruf. Ibarat benteng kokoh tinggal nama. Seperti api yang tinggal nama itu tidak akan membakar, banjir yang tinggal nama itu tidak akan menenggelamkan, roti yang tinggal nama itu tidak akan mengenyangkan, dan pedang yang tinggal nama itu tidak akan memotong. Demikian juga benteng tinggal nama itu tidak akan melindungi. Karena ucapan itu laksana kulit dan makna adalah hatinya. Ucapan itu laksana tempurung kerang dan makna adalah mutiaranya. Apa artinya kulit tanpa hati? Apa artinya kerang tanpa mutiara?
Laa ilaaha illallah beserta maknanya adalah ibarat ruh bagi jasad, tidak ada gunanya jasad tanpa ruh. Begitu juga kalimat ini tidak ada gunanya tanpa maknanya. Orangorang mulia mengambil kalimat ini dengan segenap gambaran dan maknanya. Mereka hiasi gambaran lahirnya dengan kata-kata yang jujur dan batinnya penuh dengan maknanya. Sehingga Yang Maha Kekal menyaksikan kejujuran mereka, “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imran: 18).
Sedangkan si alim musyrik mengambil gambaran kalimat ini tanpa maknanya. Lahirnya dihiasi dengan kata-kata manis namun batinnya penuh kekafiran mengimani sesuatu yang tidak bisa memberi manfaat maupun madharat. Hati mereka hitam lagi gelap. Allah tidak memberikan furqon kepada mereka untuk membedakan antara yang haq dan yang bathil. Pada hari kiamat kelak mereka akan tetap berada dalam gelapnya kekafiran, “Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.” (QS. al-Baqarah: 17).
Siapa yang mengucapkan Laa ilaaha illallah namun dia menjadi hamba hawa nafsu, dirham, dinar, dan dunianya, jawaban apa yang akan dilontarkannya kepada Allah? “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya.” (QS. al-Jatsiyah: 23).
“Celakalah budak dinar, celakalah budak dirham, celakalah budak mode dan pakaian. Jika diberi merasa senang tetapi jika tidak maka dia akan murka. Dia akan celaka lagi terjungkir. Jika tertusuk duri niscaya tidak akan bisa dicabut.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah).
Jika Anda katakan Laa ilaaha illallah namun hanya di lisan saja tanpa ada buah di hati, maka anda adalah munafik. Tetapi jika tempatnya ada di dalam hatimu (dengan komitmen anggota tubuhmu) berarti anda adalah mukmin. Janganlah Anda menjadi mukmin hanya di bibir tanpa hatimu, karena di pengadilan hari kiamat nanti Anda akan digugat oleh kalimat ini, “Duhai tuhanku, aku telah menyertainya sekian sekian tahun, tetapi dia tidak mengakui hakku, dan tidak memelihara kehormatanku dengan baik! Kalimat ini akan bersaksi untukmu atau menggugatmu.
Kalimat ini akan memberikan penghormatannya kepada alim mulia hingga mereka masuk surga. Sedangkan kalimat ini akan mempersaksikan kejahatan alim musyrik hingga mereka masuk neraka, “Sebagian ada yang di surga dan sebagian lagi di neraka sa’ir (yang membakar).” (QS. asy-Syura: 7).
Laa ilaaha illallah adalah pohon kebahagiaan. Jika Anda menanamnya di lahan tashdiq (pembenaran), menyiraminya dengan air keikhlasan dan menjaganya dengan amal shalih niscaya akar-akarnya akan kokoh, dahannya kuat, daun-daunnya menghijau, dan buah-buahnya lebat lagi melimpah, “Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya.” (QS. Ibrahim: 25).
Tetapi jika pohon ini Anda tanam di lahan takdzib (pendustaan) dan perpecahan, disirami dengan air riya dan kemunafikan lalu Anda rawat dengan amalan buruk dan kata-kata kotor, dipenuhi oleh aneka pengkhianatan, dan ditiup oleh berbagai umpatan, niscaya berserakanlah buah-buahannya, berguguranlah daun-daunnya, akan patah dahannya dan terpotong potong akarnya, sehingga ketika topan sampah menghantamnya niscaya dia akan tercabik-cabik, “Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS. al-Furqan: 23).
Jika seorang muslim mampu merealisasikan hal ini, maka dia juga harus menyempurnakan rukun-rukun Islam yang lain, sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih, “Islam dibangun diatas 5 perkara, yaitu bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan berhaji ke Baitullah jika mampu menempuh perjalanan ke sana.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu anhu).
“Dan barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali Imran: 97).
Semoga shalawat dan salam terlimpah kepada Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabat beliau. Selesai nukilan dari kata-kata beliau rahimahullah dengan sedikit perubahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar