Tampilkan postingan dengan label Kisah Syuhada. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Syuhada. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 April 2018

SYAIKH ABU ALI AL-ANBARI, SEORANG ALIM, DAI, ABID DAN MUJAHID

SYAIKH ABU ALI AL-ANBARI, SEORANG ALIM, DAI, ABID DAN MUJAHID

Allah memberi karunia kepada Irak sebelum invasi Amerika dengan sekumpulan muwahhid yang memikul harapan dakwah tauhid dan memerangi kesyiri¬kan serta kebid’ahan sekalipun di bawah tirani Partai Ba’ats sekuler yang selalu memerangi Islam dan kaum mus¬limin. Ketika salibis menjejakkan kakinya di bumi Irak, merekalah tembok kokoh yang menggagalkan derap salibis. Mereka berhasil menggagalkan strategi salibis dan mengusirnya dengan kehinaan. Mereka tegakkan Daulah Islam di bumi Rafidain. Mereka ter¬us teguh dalam jihadnya. Sebagian dari mereka telah menemui Rabbnya dan sebagian lain Allah beri kes¬empatan untuk menikmati hidup ketika seluruh Dien itu milik Allah, dalam naungan Daulah Islam yang dipimpin oleh seorang Khalifah keturunan Quraisy yang mengarahkan manusia dengan manhaj kenabi¬an.

Diantara para juru dakwah itu yang menapaki man¬haj para Nabi dalam mempe¬lajari dan mengajarkan tauhid, menjihadi musuh-musuh Allah dengan pedang dan hujjah, ber¬sabar atas ujian yang menimpa mereka di jalan ini, sampai mer¬eka terbunuh syahid di jalan Al¬lah; adalah Syaikh Mujahid Abu Ali Al Anbari taqobbalahullah, demikian kami menilai dan kami tidak mensucikan seorangpun di hadapan Allah.

Ketika thaghut Ba’ats Saddam Husein yang binasa itu bersama partai murtadnya menguasai Irak layaknya Fir’aun yang kejam, yang tidak saja mengganti hukum Allah dengan undang-undang buatan, namun juga berusaha merubah aqidah kaum muslimin dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya dan membuka pin¬tu selebar-lebarnya kepada orang-orang sufi musyrik dan Rafidhah untuk menyebarkan agama rusak mereka, serta menyebarkan seku¬lerisme dan berbagai isme lain, di saat manusia dikangkangi oleh tha¬ghut kejam ini; di salah satu mas¬jid kota Tal ‘Afar yang terletak di barat kota Mosul, Syaikh Abdu¬rrahman Al Qoduli (yaitu nama aslinya) berdiri menyeru manusia kepada tauhid.

Tiap hari Jum’at, orang banyak selalu berkumpul di masjidnya sampai memenuhi jalan-jalan di sekitarnya. Dan ia¬pun tidak terlepas dari kekejaman thaghut dan agen intelijenn¬ya.

Namun ancaman-ancaman Ba’atis tidak dipedulikannya. Sekalipun ia adalah satu-satunya tulang punggung keluarga be¬sarnya, hal itu tidak mencegahn¬ya terus menggelorakan jihad. Di antara tiang-tiang masjidnya, ia terus menyeru kepada Allah, mengkafirkan Partai Ba’ats dan anggotanya, serta memprovoka¬si teman-temannya untuk juga mengkafirkan dan memerangi mereka.

Orang-orang Ba’ats murtad tidak mampu bersabar lebih lama lagi terhadapnya. Segera saja mereka mencekalnya dari berkhutbah, bahkan adzanpun mereka mela¬rangnya. Mereka terus mem¬persempit ruang geraknya sampai tidak pernah berlalu satu bulan kecuali ia dipanggil oleh intelijen thaghut.

Pada saat itu, rezim Ba’ats Irak se¬makin melemah setelah rangkaian perang gagal yang mereka terjuni. Para muwahhid sedang menung¬gu-nunggu kehancurannya. Mer¬eka sudah mengira jika di saat yang sama salibis Amerika akan datang menginvasi Irak dengan alasan menjatuhkan pemerintah¬an thaghut. Namun mereka tidak mempunyai kemampuan untuk membentuk gerakan yang kuat yang mampu melengserkan tha¬ghut pada saatnya.

Maka solusin¬ya adalah setiap elemen di setiap daerah berkumpul membentuk kelompok-kelompok kecil untuk saling mengenal dan mempela¬jari Dien pada tempat yang jauh dari pantauan orang-orang Ba’ats. Terbentuklah beberapa kelompok yang tidak saling terikat di Bagh¬dad dan daerah sekitarnya, di Anbar dan pedesaannya, di Diya¬la, Karkuk, Mosul, dan Tal ‘Afar yang mana Syaikh Abu ‘Ala (yai¬tu kunyah aslinya) adalah pemi¬mpinnya dan sumber fatwa serta keputusannya.

Aktifitas Syaikh Abu ‘Ala tidak terbatas di kota Tal ‘Afar, kota tempat tinggalnya dan tempat mengajarnya pada salah satu ma’had syari’i di sana. Aktifitasn¬ya meliputi banyak tempat lain di Irak, khususnya Baghdad sebagai tempatnya mengajar pada salah satu universitasnya, yang mana di situ terjalin hubungannya dengan jama’ah salafiyah Syaikh Fayiz taqobbalahullah, dengan para muwahhid kota Mosul yang ketika itu berada di utara Irak, dan dengan para mujahid Kurd¬istan yaitu Jama’ah Anshar al Is¬lam yang mengatur satu-satunya medan jihad di daerah tersebut yang menjadi tujuan jihad ban¬yak pemuda Irak dan negeri-neg¬eri lain.

Dakwah Syaikh Abu ‘Ala dan kawan-kawannya di Tal ‘Afar membuahkan hasil baik. Banyak dari elemen-elemen Rafidhah penduduk kota Tal ‘Afar bertau¬bat di hadapannya. Penduduknya juga banyak yang telah mengkaf¬irkan aqidah Ba’ats, dan berlepas diri dari bekerja di dinas keten¬taraan dan perangkat keamanan thaghut Saddam.

Diantara mereka ada yang Allah tetap teguhkan pada aqidahnya dan menjadi se¬baik-baik mujahidin sampai Allah wafatkan mereka sebagai syuhada di jalan-Nya, demikianlah kami menilai dan kami tidak mensucikan seorangpun di hadapan Allah.

Disamping kegiatan dakwah, Syaikh tidak melalaikan jihad fie sabilillah. Maka beliau beker¬ja sama dengan mujahidin di gunung-gunung Kurdistan. Ia juga bekerja sama dengan mu¬wahidin Tal ‘Afar yang diper¬cayanya membentuk jama’ah ji¬had untuk melaksanakan operasi militer melawan pemerintahan thaghut Saddam Husein dan par¬tai jahiliyahnya, serta tentara dan pendukung murtadnya. Pelatihan jama’ah jihad tersebut dikoman¬doi oleh Syaikh Abu Al Mu’taz Al Qurasyi taqobbalahullah yang sebelumnya merupakan perwira Ba’ats yang telah bertaubat dan mengkufuri serta berlepas diri dari loyalitas kepada thaghut dan tentara murtadnya. Namun Allah mentakdirkan aktifitas jama’ah ji¬had ini menghadapi musuh yang lebih besar, yaitu tentara salibis pimpinan Amerika yang mengin¬vasi Irak.

Invasi salibis atas Irak mengaki¬batkan banyak hal. Hancurnya pemerintahan Ba’ats dan ten¬tara serta seluruh perangkat kea¬manannya, kekacauan melanda seluruh negeri, senjata tersebar di tangan penduduk, hantaman kuat atas Jama’ah Anshar Al Islam dengan banyaknya anggotanya yang terbunuh oleh rudal-rudal penjelajah Amerika, masukn¬ya sejumlah besar muhajirin ke bumi Irak memanfaatkan keka¬cauan tersebut yang diantaranya adalah Syaikh Abu Mush’ab Az Zarqawi taqobbalahullah, de-mikian juga Ikhwanul Murtaddin di Irak memanfaatkan kekacauan tersebut untuk menampakkan aqidah syirik dan manhaj kufur mereka dengan masuk ke dalam barisan salibis dan Rafidhah.

Tidak beberapa lama setelah Baghdad jatuh ke tangan salibis, di seluruh penjuru Irak telah ter¬bentuk sejumlah besar faksi-faksi perlawanan dengan aliran dan tujuan yang bermacam-macam. Diantara jama’ah-jama’ah terse¬but terbentuklah Jama’ah Tauhid wal Jihad yang beranggotakan sejumlah muhajirin dan anshor di bawah pimpinan Syaikh Abu Mush’ab Az Zarqawi, dan Ja¬ma’ah Ansharus Sunnah yang ter¬bentuk dari sisa-sisa Anshar Al Islam setelah mereka mundur ke kota-kota Irak ditambah dengan sekelompok muwahid yang terse¬bar di berbagai penjuru Irak, yang petingginya melindungi petinggi Anshar Al Islam setelah mereka kehilangan kontrol atas gunung-gunung Kurdistan.

Majmu’ah salafi Tal ‘Afar adalah diantara kelompok-kelompok yang ber¬gabung dalam Ansharus Sunnah, segera setelah mereka memulai aktifitas militernya dengan nama Batalyon Muhammad Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam. Tidak berselang lama sampai Syaikh Abu Iman (yaitu kunyah Syaikh Al Anbari yang dipilihnya sendiri setelah invasi Amerika) diangkat menjadi penanggung jawab syar’i tentara Ansharus Sunnah.

Allah menakdirkan kedua syaikh, yaitu Syaikh Abu Mush’ab dan Syaikh Abu Iman bertemu. Per¬temuan itu membuahkan ke¬cintaan di antara mereka ber¬dua, dan masing-masing pihak senang mengetahui kebersihan aqidah dan manhajnya. Ketika itu opini umum mujahidin An¬sharus Sunnah adalah berusaha menyatukan kalimat dan bersatu di bawah kepemimpinan Syaikh Abu Mush’ab Az Zarqawi dan Tanzhim Al Qaeda.

Maka mere¬ka menekan petinggi jama’ah un¬tuk mewujudkan hal itu. Syaikh Abu Iman sendiri berusaha sung¬guh-sungguh mengadakan per¬temuan langsung petinggi kedua jama’ah. Pertemuan antara Syaikh Abu Mush’ab Az Zarqawi dengan amir Ansharus Sunnah Abu Abdil¬lah Asy Syafi’i berhasil diadakan, namun Syaikh Abu Abdillah me¬nolak bergabung dengan alasan hendak bermusyawarah terlebih dahulu dengan prajuritnya, seka¬lipun sebenarnya ia mengetahui bahwa prajuritnyalah yang men¬dorong Ansharus Sunnah berbaiat kepada Tanzhim Al Qaeda.

Ke¬tika itu Syaikh Abu Iman segera mengumumkan bai’atnya kepada Syaikh Abu Mush’ab Az Zarqa¬wi dan bergabung dalam barisan Tanzhim Al Qaeda fi Bilad Ar Rafidain bersama dengan mayor¬itas mujahidin Ansharus Sunnah. Bai’at ini merupakan bai’at terbe¬sar dalam sejarah jihad Irak, yang ketika itu terkenal dengan baiat “Al Fatihin”. Syaikh Abu Mush’ab lalu memilih Syaikh Abu Iman sebagai wakilnya dalam struktur Tanzhim. Namun tidak beberapa lama salibis berhasil menangkap¬nya dan menjebloskannya dalam penjara Abu Ghuraib. Teta¬pi selang beberapa bulan beliau kembali bebas setelah mata salibis dibutakan oleh Allah sehingga ti¬dak mengetahui identitasnya dan perannya dalam medan pertem¬puran yang sedang memanas.

Ketika itu media salibis sedang melancarkan kampanye me¬dia sengit untuk merusak nama baik mujahidin Irak, khusus¬nya Syaikh Abu Mush’ab Az Zarqawi taqobbalahullah dan teman-temannya. Kampanye ini diikuti oleh petinggi-petinggi fak¬si-faksi sesat itu dan juga petinggi partai Ikhwanul Murtaddin yaitu Al Hizbu Al Islami, khususnya setelah nama Syaikh Az Zarqa¬wi berdengung memenuhi langit Irak, dan mujahidin Tanzhim Al Qaeda fi Bilad Ar Rafidain men¬jadi batu sandungan kokoh setiap proyek khianat orang-orang sesat yang terang-terangan murtad itu.

Namun yang membuat Syaikh Az Zarqawi bersedih adalah kri¬tikan-kritikan yang bersumber dari Tanzhim Al Qaeda di Khu¬rasan. Tidak diragukan lagi jika mereka malah percaya dengan isu yang disebarkan oleh media salibis. Namun dengan tersing¬kapnya topeng penyimpangan mayoritas faksi-faksi perlawa¬nan, mereka tidak punya pilihan kecuali mengkritik buruknya hubungan Syaikh Az Zarqawi dan kawan-kawannya dengan petinggi Ansharus Sunnah, dan ketika itu petinggi Ansharus Sun¬nah terus berhubungan dengan Athiyatullah Al Libi melalui jal¬ur Iran.

Menghadapi prasangka buruk dan kritikan demi kritikan Tanzhim Al Qaeda Khurasan, pilihan terbaik yang ada adalah mengutus utusan khusus kepada mereka untuk menjelaskan haki¬kat permasalahan yang terjadi dan tuduhan-tuduhan petinggi Ansharus Sunnah atas mujahidin. Dan siapa yang lebih baik dar¬ipada Syaikh Abu Iman untuk melaksanakan tugas ini. Beliau dahulu adalah penanggung jawab syar’i Ansharus Sunnah yang pasti lebih tahu dengan kondisi mereka dan mengerti hal-hal yang mere-ka sembunyikan. Maka Syaikh menyambut dengan senang hati permintaan amirnya.

Beliau lalu pergi ke Khurasan, menerangkan hakikat permasalahan yang ter¬jadi, lalu kembali ke Irak untuk memberitahukan kisah perjala¬nannya dan hasil yang dicapain¬ya.

Tentara salibis Amerika semakin merajalela di Irak. Proyek orang-orang sesat juga mulai menceng-keram bumi Irak. Semuanya be¬rusaha mencuri buah jihad Irak melalui permainan setan-setan Sururi dan intelijen pemerintah¬an Arab murtad terkhusus nega¬ra-negara Teluk. Maka Syaikh Az Zarqawi dengan kawan-kawann¬ya segera bergerak mengembang¬kan proyeknya dengan menyatu¬kan faksi-faksi terbaik dari sisi aqidah dan manhajnya termasuk Tanzhim Al Qaedah fi Bilad Ar Rafidain dalam payung Majelis Syuro Mujahidin Irak. Mereka sepakat bahwa kepemimpinan majelis digilir di antara faksi-fak¬si yang menjadi anggota majelis. Dan dipilihlah Syaikh Abu Iman sebagai amir pertama Majelis Syuro Mujahidin. Beliau sendi¬ri yang menyampaikan statemen pertama majelis dengan nama samaran Abdullah bin Rasyid Al Baghdadi, yang kemudian menja¬di terkenal dikalangan media.

Pada bulan Rabi’ul Awwal 1437 H, Allah mentakdirkan Syaikh Abu Iman harus pergi dari utara Irak untuk bertemu dengan dua penanggung jawab tanzhim yang lalu mereka bersama-sama pergi untuk bertemu dengan Syaikh Az Zarqawi di daerah selatan Baghdad. Ketika mereka sedang menginap di suatu rumah dalam perjalanan ke Baghdad, mereka dikejutkan dengan penerjunan pasukan Amerika pada rumah yang mereka tempati. Ketika itu mereka terpaksa tidak membawa senjata karena harus melewati jal¬ur yang banyak terdapat cekpoin. Dengan takdir Allah, salibis ber¬hasil menangkap mereka setelah baku tembak dengan majmu’ah istisyhadi yang tinggal di dekat rumah tersebut. Sehingga ters-ingkaplah tempat peristirahatan yang ditempati Syaikh Abu Iman dan kawan-kawannya. Peristi¬wa itu adalah pukulan terberat yang menghantam Tanzhim Al Qaeda fi Bilad Ar Rafidain.

Di penjara, Allah kembali mem¬butakan penglihatan interogator akan hakikat mayoritas peran dua mas’ul tanzhim yang men¬jadi tawanannya. Ketika salibis mendapati betapa para ikhwah bersungguh-sungguh berusa¬ha menjauhkan Syaikh Abu Iman (ketika itu salibis Amerika menyebutnya Haji Iman) dari se¬gala tuduhan dan membebaskan¬nya dengan segala cara sekalipun para ikhwah harus menanggung tuduhan itu, mereka semakin curiga dengan beliau. Kecurigaan itu semakin bertambah melihat betapa tenang dan bermartabatn¬ya Syaikh. Mereka meningkatkan usaha penyelidikan untuk meny¬ingkap indentitasnya karena mer¬eka yakin beliau adalah orang penting dalam tanzhim.

Namun Allah menggagalkan usaha mer¬eka, paling jauh mereka hanya mendapati bahwa beliau adalah anggota tanzhim, dan mereka menyangkanya amir Tal ‘Afar lan¬taran Syaikh beraktifitas di kotan¬ya hampir terang-terangan karena beliau adalah orang yang dikenal di daerahnya. Sehingga mendekamlah beliau di pen¬jara selama be¬berapa tahun.

Masa-masa penahanann¬ya dihabiskan dengan ber¬pindah-pin¬dah dari satu blok ke blok lain dan dari satu penjara Amerika ke penjara-pen¬jara lain di penjuru Irak. Tidak lama berdiam di salah satu blok sampai segera dipindahkan ke blok lain, tidak lama berdiam di satu penjara sampai segera dipin¬dahkan ke penjara lain yang jauh. Karena mereka mengetahui pen¬garuhnya atas para tahanan.

Di setiap tempat yang dimasukinya, para tahanan segera berkumpul di sekelilingnya. Hampir-hampir salibis membunuhnya di pen¬jara ketika salah satu murtadin terbunuh namun tidak diketa¬hui pelaku dan provokatornya. Namun Allah menyelamatkan¬nya dari makar mereka dengan keutamaan-Nya. Mereka terus berusaha meletihkannya dengan terus memindah-mindahkannya di berbagai penjara. Sedang mereka tidak tahu usaha itu justru amat membantunya. Tiap kali pindah ke tempat yang baru, kesempatan untuk berdakwah dan mengajar kembali terbuka di ha¬dapannya. Mayoritas dakwahnya berfokus pada pengajaran tauhid kepada Allah dalam hukum-Nya dan yang membatalkannya be¬rupa syirik ketaatan, istana dan undang-undang.

Tidaklah beliau bertempat di suatu tempat kecua¬li menyeru penghuninya dengan seruan Yusuf ‘Alaihis salam: “Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang ber¬macam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perka¬sa”.

Maka para ikhwah pun ber¬kumpul di sekelilingnya mena¬dah ilmu yang mengalir darinya, dan jadilah beliau amir serta sum¬ber keputusan dalam seluruh perkara mer¬eka. Pada saat itu banyak dari Junud Daulah yang belajar lewat tangan din¬ginnya, dian¬taranya adalah dua orang wali yang Allah ja¬dikan keduan¬ya adzab atas Rafidhah di Baghdad, yai¬tu Manafi Ar Rawi dan Hudzaifah Al Bathawi taqobbalahumallah.

Pada masa penahanannya terjadi peristiwa-peristiwa penting da¬lam sejarah jihad Irak. Yaitu ke-pindahan Syaikh Abu Mush’ab Az Zarqawi taqobbalahullah ke Diyala untuk menyiapkan deklarasi Daulah Islam Irak. Na¬mun beliau terbunuh di tangan salibis sebelum mendeklarasikan¬nya sendiri. Tongkat kepemimpinan kemudian diterima oleh Syaikh Abu Hamzah Al Muhajir taqobbalahullah yang kemu¬dian mengumumkan pembuba¬ran Tanzhim Al Qaeda fi Bilad Ar Rafidain dan berbai’at kepada Syaikh Abu Umar Al Baghdadi taqobbalahullah, amir pertama Daulah Islam Irak. Juga peristiwa murtad massal faksi-faksi perla¬wanan yang berpartisipasi dalam proyek shahawat Amerika.

Bumi menjadi sempit bagi muwahi¬din. Mujahidin banyak yang ter¬bunuh, sampai Syaikh Abu Umar Al Baghdadi dan Abu Hamzah Al Muhajir taqobbalahumallah pun terbunuh. Kemudian bende¬ra diambil oleh Syaikh Abu Bakar Al Baghdadi hafizhahullah dan dimulailah tahapan baru dalam sejarah Daulah Islam Irak.

Syaikh Abu Ali Al Anbari be¬bas dari penjara pada permulaan tahapan penting ini yang ditan¬dai dengan masuknya mujahi¬din Daulah Islam Irak ke Syam setelah gelombang demonstrasi yang melanda banyak dari neg¬eri-negeri kaum muslimin (rev¬olusi Arab spring). Daulah Islam Irak berekspansi ke Syam, berubah menjadi Daulah Islam Irak dan Syam. Beliau rahimahul¬lah berpartisipasi dalam banyak peristiwa penting sampai kema¬tiannya, setelah matanya dise¬jukkan dengan tegakknya Dien dan kembalinya Khilafah. Dan ini yang akan kita bicarakan pada biografi indah beliau berikutnya taqobbalahullah.

An-Naba Edisi 41

SYAIKH UMAR ASY-SYISYANI, PAHLAWAN KAUKASUS DAN KSATRIA KHILAFAH

SYAIKH UMAR ASY-SYISYANI, PAHLAWAN KAUKASUS DAN KSATRIA KHILAFAH

Ujian dalam bentuk kebaikan adalah fitnah yang tidak bisa dilewati oleh seorangpun kecuali mereka yang Allah selamatkan lantaran keikhlasan dan keinginan akan akhirat saja. Banyak yang mampu untuk tetap teguh menghadapi gelombang demi gelombang ujian buruk berupa penjara, siksaan dan keterusiran, namun ia terjatuh tatkala semua ujian itu telah selesai dan Allah letakkan ujian baru dengan dibukanya pintu dunia serta keindahannya. Ia mengira kemuliaan dan kenikmatan yang didapatkannya itu adalah balasan atas kesabarannya dalam menghadapi ujian, terlupa akan adanya sisi lain dari ujian dimana sebagian orang bisa bersabar menghadapinya, namun sebagiannya malah kufur.

Kisah paling menarik tentang keteguhan dalam menghadapi gelombang ujian, namun ia tetap bersyukur kepada Allah atas nikmat-Nya dengan semakin giatnya ia beramal pun beribadah; adalah kisah Syaikh Umar Asy Syisyani taqabbalahullah, demikianlah kami menilai beliau dan kami tidak mensucikan seorangpun di hadapan Allah.

Seorang pemuda yang sedang berada di masa "mekar-mekarnya" berhijrah ke Syam, memenuhi jeritan pertolongan kaum muslimin di sana, berharap semoga dengan hijrahnya ia digolongkan dalam kaum yang di sabdakan oleh Nabi shollallahu 'alaihi wasallam, "Berpeganglah kamu dengan Syam, karena ia adalah sebaik-baik tempat di bumi-Nya, dimana hamba-hamba-Nya yang terpilih menuju".

Ia menetap di Halab, sebagai pejuang salah satu faksi yang mengklaim menapaki manhaj Tauhid. Ia beramal di dalamnya selama beberapa lama, sampai kemudian bergabung bersama beberapa muhajirin Kaukasus, yang sebelumnya dipimpin oleh Abu Muhammad al Abbasi taqabbalahullah (Majelis Syura Mujahidin), namun beliau mengizinkan mereka keluar dari katibahnya. Dengan demikian, beberapa belas muhajir ini berkumpul, lalu di kemudian hari membentuk Katibah al Muhajirin. Syaikh Umar menjabat sebagai komandan militernya, lalu diangkat menjadi komandan umum.

Tak memakan waktu lama, sampai Syaikh Umar dan katibahnya itu bergerak bebas di berbagai medan tempur di utara Syam. Setiap pertempuran yang diterjuninya semakin mempertegas reputasinya sebagai faksi perlawanan dengan administrasi kepemimpinan yang baik dan pejuang yang cerdas, di saat tatkala mayoritas faksi lainnya kurang berpengalaman dan tak teratur di medan tempur.

Dengan semakin terkenalnya Katibah al Muhajirin dan semakin banyaknya mujahidin yang bergabung, nama Umar Asy Syisyani kian bersinar. Khususnya setelah Allah memberikan kemenangan dalam beberapa operasi, yang paling terkenal adalah operasi militer gabungan Katibah al Muhajirin menggempur Batalyon kuat rezim di Syaikh Sulaiman, bersama Kataib Al Battar, Majelis Syura Mujahidin dan Junud Daulah Islamiyah yang saat itu bernama Jabhah Nushrah.

Katibah al Muhajirin juga ikut berpartisipasi dalam mayoritas operasi militer di pinggiran Aleppo, seperti pertempuran Tha'anah, Khan Tuman, Brigade 80, Batalyon Handarat, Al Jandul, dan Penjara Pusat Aleppo, pun berbagai pertempuran lain. Dengan setiap kemenangan yang diraih, Katibah Al Muhajirin semakin bertambah besar dan semakin baik suplai persenjataannya. Jadilah Umar Asy Syisyani sebagai komandan salah satu faksi terbesar di Syam, dimana faksi-faksi lain berlomba-lomba untuk menjalin persekutuan dengannya dan berharap bisa berperang di sampingnya.

Namun Umar taqabbalahullah siap untuk menanggalkan semua itu dan menjadi prajurit bagi siapapun yang aqidah dan manhajnya terpercaya. Ketika itu, dalam pandangannya tidak ada yang lebih baik dari Jabhah Nushrah. Ia tak tahu bahwa Jabhah Nusrah hanyalah kepanjangan tangan dari Daulah Islamiyah, lantaran para petinggi Jabhah Nushrah selalu menyembunyikan hal itu dengan maksud tertentu yang kemudian Allah beberkan.

Ketika Abu Atsir al Halabi taqabbalahullahmengajukan tawaran penggabungan Majelis Syura Mujahidin dengan Katibah al Muhajirin, Umar malah menyodorkan tawaran lain, yakni bergabungnya kedua faksi itu dengan Jabhah Nushrah guna menyatukan kalimat dan memperkuat barisan mujahidin. Namun Abu Atsir menolak tawaran tersebut karena mengetahui penyelewengan manhaj petinggi Jabhah Nushrah saat itu dan buruknya akhlaq mereka, yang ia ketahui setelah membersamai mereka, khususnya di penjara Sednaya yang terkenal itu.

Peristiwa pertama yang memperlihatkan padanya perihal hakikat para pengkhianat itu ketika ia ikut serta bersama mereka dalam pertempuran Syaikh Sulaiman dan Batalyon Tha'anah. Ketika itu mujahidin berhasil mendapatkan ghanimah yang banyak. Mereka berprasangka baik terhadap Jabhah Nushrah sehingga menyerahkan ghanimah tersebut untuk dibagikan dengan adil. Namun ternyata mereka dikejutkan dengan pengkhianatan Jabhah Nushrah. Bagian mujahidin dimakan secara bathil oleh mereka. Jumlah ghanimah persenjataan dipermainkan. Sampai bagian kecil yang mereka akui sebagai bagian faksi-faksi yang ikut serta dalam pertempuran itu tidak diserahkan selama berbulan-bulan. Bahkan kemudian mereka manfaatkan bagian dari ghanimah itu untuk memaksa faksi-faksi tersebut berbai'at kepada mereka. Ketika mereka melemah, mereka gunakan harta ghanimah itu untuk mengiming-imingi faksi-faksi tersebut agar tidak berbai’at kepada Amirul Mukminin setelah Daulah Islamiyah mengumumkan secara resmi ekspansinya ke bumi Syam.

Sekalipun demikian, si pengkhianat Jaulani tetap mengajukan tawaran bai'at kepada Umar dan katibahnya, dengan memanfaatkan Haji Salam dan Abu Usamah al Maghribi taqabbalahumullah untuk mewujudkan hal itu lantaran kecintaan Umar kepada keduanya. Maka Umar berkumpul dengan majelis syuranya dan bersepakat bahwa bai’atnya kepada Jaulani (yang ketika itu mulai mengambil bai'at untuk dirinya sendiri) hanya terbatas pada bai'at qital. Mereka ingin mempelajari Jabhah Nushrah dari dekat terlebih dahulu melalui operasi bersama.

Terjadilah pertemuan yang mana Allah menakdirkan tersingkapnya sifat busuk lain Jaulani di samping sifat khianatnya dalam permasalahan ghanimah tersebut. Ia mengikuti pertemuan tersebut dengan pongah, berbicara dengan sombong dan congkak, dan menolak syarat apapun untuk berbai'at padahal ia sendiri yang menawarkan bai'at tersebut. Allah masih melindungi mereka dari konspirasi si busuk itu lantaran mereka melihat dengan mata kepala sendiri kebusukan tabiatnya.

Penyelewengan Jaulani dan gengnya terdengar sampai telinga Amirul Mukminin hafizhahullah yang akhirnya terpaksa pergi menuju Syam untuk memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan para perusak itu. Dengan demikian, terbukalah kesempatan bagi Umar Asy Syisyani dan teman-temannya untuk bertemu langsung dengan beliau, dimana pertemuan itu akhirnya melahirkan bai'atnya kepada Amirul Mukminin setelah menyaksikan langsung sifat-sifat kepribadian beliau yang menyejukkan matanya. Peristiwa itu terjadi setelah pengumuman resmi ekspansi Daulah Islamiyah ke Syam. Syaikh Abu Bakar al Baghdadi menerima persyaratan Katibah al Muhajirin agar ia memberikan bantuan kepada mujahidin Kaukasus.

Beliau kala itu berkata, "Tidak ada kebaikan dalam diri kita, jika kita tidak menolong saudara-saudara kita (maksudnya mujahidin Kaukasus)”. Maka dengan demikian, Umar asy Syisyani telah menjadi salah satu prajurit Daulah Islamiyah. Di sinilah beliau rahimahullah memasuki babak ujian baru.

Keengganannya berdiri sendiri dengan katibahnya yang kuat itu dan malah menjadi prajurit biasa yang harus mendengar dan taat kepada pemimpinnya, bukanlah perkara yang mudah. Di antara barisan Katibah al Muhajirin muncul pihak yang ingin memisahkan diri demi menjaga reputasi Katibah dan apa yang telah mereka peroleh, yang lenyap seketika akibat berbai'atnya mereka kepada Daulah Islamiyah karena mereka semua menjadi prajurit biasa. Di sini, respon Umar amat jelas. Ia tetap teguh pada bai'atnya dan menolak membatalkan janji setianya, serta menyerahkan semua yang dimilikinya berupa persenjataan dan prajurit pada kepemimpinan Daulah Islamiyah. Demikianlah para penyeru fitnah itu tidak mendapat dukungan.

Umar meninggalkan untuk mereka nama Katibah al Muhajirin, yang ternyata sama sekali tidak berguna bagi mereka lantaran satu demi satu orang-orang mulai meninggalkan mereka. Bahkan mereka malah menghadapi kerendahan dan kehinaan. Sebaliknya, Allah mengangkat orang yang bertawadhu' karena- Nya, sedangkan mereka tidak disebut lagi. Alhamdulillah.

Sisi lain dari ujian tersebut terwujud ketika para pendonor yang disetir oleh para syaikh Sururi dan Ikhwani serta diberi tumpangan oleh intelijen thaghut mengiming-imingi gelontoran dana. Diantara mereka ada dua orang busuk itu, yaitu Hajjaj al Ajmi dan Abdullah al Muhaisini. Segera paska kabar bai'at Umar asy Syisyani kepada Amirul Mukminin tersebar, kedua orang itu langsung berusaha memikatnya dengan gelontoran dana, sampai mereka menawarkan gaji bulanan ratusan ribu Dollar dengan imbalan membatalkan bai'atnya. Namun ia tolak mentah-mentah Dollar murahan mereka, agar semakin menegaskan bahwa bai'atnya adalah atas dasar ingin bersatu dalam bingkai jama'ah dan menghendaki ridha Allah, bukan lantaran bantuan atau gaji.

Ketika seluruh sarana tekanan yang mereka miliki baik berupa provokasi ataupun iming-iming harta gagal, maka mereka beralih kepada cara lain, yaitu dengan mencemarkan nama baiknya. Mereka sebarkan berbagai isu lewat teman-teman setan manusia mereka yang mengangkat diri mereka sebagai penasihat jihad di Chechnya. Diantara isu itu adalah beliau seorang Salibis antek Intelijen Rusia, berdasarkan latar belakang bahwa beliau lahir di Georgia dari seorang bapak beragama Kristen, sekalipun hal ini tidak bisa dijadikan alasan karena jika demikian semua muslim yang lahir dari orang tua kafir adalah nista. Di saat yang sama mereka menyembunyikan fakta bahwa beliau sebenarnya berkebangsaan Chechnya dan bapaknya masuk Kristen ketika beliau masih kecil.

Mereka juga memusatkan fitnahannya pada saat ketika beliau masih menjadi tentara Georgia, menyembunyikan fakta bahwa beliau telah berlepas diri dari hal itu dan bahwasanya dinas ketentaraannya hanyalah sebentar, yang ternyata berakhir dengan penahanan atas dirinya, kemudian menghadapi siksaan sampai salah satu paru-parunya rusak.

Mereka juga menyembunyikan fakta bahwa ia adalah seorang munashir mujahidin Kaukasus, yang masih terus melanjutkan hubungannya dengan mereka, dan salah satu syarat yang ditolak oleh Jaulani adalah permintaannya pada Jabhah Nushrah guna memberikan bantuan kepada mujahidin Kaukasus, serta fakta bahwa beliau terus menyurati para pemimpin mujahidin Kaukasus untuk mengumumkan bai'atnya kepada Amirul Mukminin.

Sebagaimana Umar asy Syisyani tidak mempedulikan popularitas nama Katibahnya dan mengorbankannya demi menyatukan jama'ah kaum muslimin, ia juga tidak mempedulikan popularitas namanya sekalipun para pendengki menistakan harga dirinya. Merekalah yang sebelumnya memuji dan menyanjungnya setinggi langit, menyematkan padanya julukan yang mentereng. Namun semua itu malah semakin menambah kecintaannya kepada Daulah Islamiyah. Ia menyeru faksi-faksi perlawanan untuk bergabung kepadanya.

Bai'atnya dan bai'at Abu Atsir taqabbalahumallah telah memprovokasi mujahidin Katibah al Battar untuk berbaiat, yang kemudian disusul Abu Muhannad Hassan Abboud dan mujahidin Liwaa' Dawud serta mujahidin katibah lainnya.

Sebagaimana Allah telah memberikan kemenangan kepadanya dalam pertempuran bersama Katibah al Muhajirin, Allah memberikan kemenangan yang lebih besar setelah berbai'at kepada Daulah Islamiyah. Diantara kemenangan itu adalah pembebasan Bandara Minnigh di utara Halab bersama dengan Abu Usamah al Maghribi taqabbalahullah, pertempuran gudang senjata al Hamra di pinggiran timur Hamah bersama 'Abid al Libi taqabbalahullah yang dalam pertempuran ini Allah memberikan ghanimah yang banyak kepada pasukan Daulah Islamiyah. Setelah itu dimulailah persiapan operasi penaklukan besar-besaran di Syam.

Setelah analisa, pengintaian panjang dan perbandingan antara kota al Barakah dan al Khair, di pilihlah kota al Khair sebagai target penaklukkan. Dan Syaikh Umar dipilih sebagai komandan umum operasi ini. Namun pada saat yang sama, Shahawat Syam sedang merencanakan makar pengkhianatan atas Daulah Islamiyah, memanfaatkan kondisi lengah konsentrasi prajuritnya dalam mempersiapkan operasi besar-besaran ini. Ditambah lagi dengan front pertempuran yang memanjang di Halab, Idlib dan daerah pesisir Syam, sehingga Junud Daulah Islamiyah yang tersisa di barak hanyalah sedikit.

Shahawat bergerak keluar dan mengumumkan pengkhianatannya. Jalanan diputus. Mujahidin Daulah Islamiyah yang bertugs ribath di pos-pos checkpoint ditangkapi. Banyak dari mereka yang berada di pinggiran Halab terkepung. Sehingga terpaksalah operasi besar al Khair dihentikan karena pentingnya untuk segera bergerak menyelamatkan ikhwah yang terkepung. Syaikh Umar lalu memobilisasi pasukan dan menarik mundur mereka dari wilayah al Khair melalui wilayah Raqqah, yang ketika itu faksi-faksi shahawat semisal Jabhah Jaulani dan Ahrar Syam mengaku tidak terkait dengan aksi pengkhianatan teman-teman mereka di Halab, Idlib dan Sahiil. Syaikh Umar mempercayai mereka mereka.

Ia lantas kosongkan Raqqah dari mujahidin untuk memusatkan kekuatan mereka mematahkan pengepungan ikhwah di kota-kota wilayah Halab. Segera setelah konvoi para ikhwah yang dipimpin Syaikh Umar keluar dari Raqqah, para murtaddin shahawat langsung berkhianat dan menyerang ikhwah yang tersisa di kota Raqqah. Namun Allah menghinakan murtaddin dan menggagalkan serangan mereka sampai mereka lari kabur dari Raqqah menuju wilayah al Khair.

Di tengah jalan, Syaikh Umar dan mujahidin yang bersamanya kembali menghadapi pengkhianatan Ahrar Syam di dekat kota Maslamah. Orang-orang murtad itu memintanya mengadakan kesepakatan, setelah sebelumnya mereka menghadang konvoi tersebut dan menyergapnya namun meraih kegagalan; si busuk yang binasa Abu Khalid as Suri mendatanginya untuk mengadakan kesepakatan merubah rute konvoi, karena mereka takut mujahidin memaksa untuk menerobos dengan kekuatan dan merebut Bandara al Jarrah yang ketika itu dikuasai murtaddin. Maka Syaikh Umar berhasil mencapai pinggiran timur Halab dan mematahkan pengepungan atas ikhwah di kota Manbij, al Baab dan Jarabulus, membantu ikhwah yang terkepung di Huraytan untuk mematahkan pengepungan, lalu terus bergerak menuju A'zaz dan akhirnya sampai di daerah kekuasaan Daulah Islamiyah di Halab, Raqqah dan al Barakah.

Pertempuran melawan Shahawat belumlah berhenti, namun Allah menganugerahkan kepada hamba-hambaNya yang bertauhid penaklukkan satu per satu kota Iraq setelah pembebasan Mosul. Ketika Khilafah dideklarasikan, Syaikh Umar tengah sibuk mempersiapkan salah satu operasi terbesar di Syam dengan misi mengeliminasi seluruh posisi rezim yang terletak di dekat daerah kekuasaan Daulah Islamiyah, yang selama bertahun-tahun hanya bisa dikepung oleh faksi-faksi pemberontak Suriah. Operasi militer tersebut menargetkan Markas Militer Divisi 17, Brigade 93, dan Bandara Militer Tabqah di wilayah Raqqah, Resimen 121 di wilayah al Barakah, Bandara Militer Kuwayris di wilayah Halab.

Hasilnya adalah keberhasilan menaklukkan seluruh pangkalan militer tersebut, membunuh dan menawan ribuan tentara Nushairi, serta mendapatkan ghanimah berupa tumpukan senjata dan gudang-gudang persenjataan yang penuh akan peluru. Namun tidak untuk Bandara Militer Kuwayris lantaran pengkhianatan Shahawat di pinggiran utara Halab yang menyebabkan pasukan khusus penyerang terpaksa ditarik mundur guna menghalau serangan mereka.

Setelah kemenangan gemilang ini, menyusul banyaknya penaklukkan di Iraq dan kembalinya Khilafah, dimulailah tahapan baru pertikaian dengan orang-orang musyrik dan antek-antek mereka dari kalangan murtaddin. Ditandai dengan pembentukan Koalisi Salibis pimpinan Amerika, atas bantuan seluruh sekte musyrikin dan murtaddin yang bermacam-macam. Maka datanglah perintah Amirul Mukminin hafizhahullah untuk memindahkan Syaikh Umar asy Syisyani ke wilayah-wilayah di Iraq, yang ketika itu telah kehilangan salah satu pejuangnya yang paling tangguh, Syaikh Abu Abdurrahman al Bilawi taqabbalahullah. Dan beliau adalah sebaik-baik pengganti bagi sebaik-baik pendahulu.

Ia bergerak di seluruh wilayah-wilayah Iraq memerangi murtaddin Rafidhah, Shahawat dan Peshmerga, sebagai amir Departemen Kemiliteran dan komandan umum Junud Khilafah untuk wilayah-wilayah di Iraq. Beliau tetap menjabat dan berjihad sampai maut menjemputnya di medan pertempuran yang dicintai dan dirindukannya, begitulah kami menilai beliau. Semoga Allah menempatkannya di dalam surga-Nya yang kekal.

An-Naba Edisi 39

SYAIKH ABU NU’MAN YANTARI, SEKIAN LAMA BERJIHAD DI SOMALIA, NAMUN DENGAN LICIK MEREKA MEMBUNUHNYA

SYAIKH ABU NU’MAN YANTARI, SEKIAN LAMA BERJIHAD DI SOMALIA, NAMUN DENGAN LICIK MEREKA MEMBUNUHNYA

Sahabat yang mulia Abdullah Ibn Salam Radhiyallahu ‘anhu adalah seseorang yang mempunyai kedudukan diantara para sahabatnya (orang-orang Yahudi). Ia berkata kepada Nabi, ‘alaihis sholatu wasalam ketika masuk islam:

“Wahai Rasulullah sesungguhnya Yahudi itu kaum pemfit¬nah, sesungguhnya mereka jika mengetahui keislamanku sebelum engkau bertanya kepada mereka, mereka akan memfitnahku”. Maka ketika orang-orang Yahudi datang, Nabi Sholallahu ’alaihi wasallam bertanya kepada mereka: “Lelaki seperti apa Abdullah bagi kalian?” Mereka berkata: “Ia ada¬lah sebaik-baik kami dan sebaik-baik putra kami, ia adalah tuan kami dan anak lelaki tuan kami”. Berkata Rasulullah: “Bagaimana pendapat kalian jika Abdullah Ibn Salam masuk Islam?” Maka mereka berkata: “Semoga Allah melindunginya dari hal itu!” Maka keluarlah Abdullah kemudian berkata: “Asyhadu allaa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah” (saya bersaksi tiada sesembahan yang berhak disembah kec¬uali Allah dan Muhammad Rasulullah). Mereka berkata: “Seburuk-buruk kami dan seburuk-buruk putra kami!” Dan mereka (orang-orang Yahudi) menghinanya. Abdullah ibn Salam berkata: Inilah yang aku khawatirkan wahai Rasulullah” (HR Bukhari).

Inilah tabiat Yahudi di setiap tempat, dan demikian juga karakter siapapun yang mengadopsi manhaj bathil mere¬ka; berupa menyombongkan diri dari mengikuti kebenaran dan membuat makar atas pemeluknya. Hal itu lantaran kedengkian akut dalam diri mer¬eka ketika mengetahui kebenaran ada pada pihak lawannya.

Syaikh Abu Nu’man Yantari taqob¬balahullah, dari sedikit manusia yang selalu berusaha menggali kebenaran dan menjelajahi jalan pe¬tunjuk. Ketika memperolehnya, maka tak dipedulikannya lagi kedudukannya di antara kaumnya, sekalipun mereka akan berbuat makar atasnya dan memfitnahnya. Bahkan, ia meyakini kebenaran itu dengan sepenuh hatinya, melaksanakan konsekuen¬sinya, menyeru manusia pada apa yang diya¬kininya itu, dan bersabar dengan gangguan yang didapatnya.

Adalah keikutsertaan beliau cukup bagus dalam meletakkan pondasi jihad di Soma¬lia. Bahkan beliau termasuk para petinggin¬ya yang terkemuka. Berjuang memerangi murtaddin dan salibis dan terluka beberapa kali. Tertimpa celaka, kelaparan, dipenja¬ra dan diusir, semuanya fi sabilillah. Yang pada akhirnya, perjalanan emasnya ini be¬rakhir terbunuh secara licik ditangan orang-orang yang dahulu menganggapnya sebagai orang terbaik mereka putra terbaik mereka. Hanya dengan kebergabungannya dalam kafilah Khilafah, beliau berubah menjadi target tikaman mereka. Mereka memfit¬nahnya, mencederai kehormatannya, yang akhirnya menikamnya dari balik punggun¬gnya, setelah sebelumnya beliau menolong, menaungi dan mengamankan mereka.

Syaikh Basyir Adam Feili, yang masyhur (ter¬kenal) dengan panggilan Abu Nu’man Yan¬tari, lahir di tahun 1390 H di desa Gaduud, distrik Saakow. Nasabnya kembali ke kabilah Yantar yang merupakan bagian dari kabilah Rahanweyn.

Beliau keluar dari kampungnya untuk menuntut ilmu ketika masih kecil. Ia mem¬pelajari Al Qur’an di desa Hakarka di daerah administratif Bay. Kemudian pindah ke kota Baidoa untuk mendaftar di Darul Hadits, lalu bergabung di Ma’had Syar’i di Distrik Luuq dan mendapat pelatihan militer dalam kamp-kamp Al Ittihad Al Islami pada masa pemerintahan milisi Somalia.

Kemudian ia pindah ke kota Saakow untuk bertugas se¬bagai da’i dan pengajar ilmu-ilmu Syar’i. Tugasnya itu membuatnya berbenturan den¬gan orang-orang Sufi musyrik dan pemu¬ka-pemuka milisi kabilah yang menguasai kota itu. Allah menyelamatkannya dari usaha pembunuhan yang dirancang mereka, den¬gan cara menembakinya ketika sedang men¬yampaikan pidato di salah satu jalanan kota.

Setelah peristiwa 11 September, Syaikh langsung terjun ke medan perang. Perjalanan jihadnya ini dimulai dengan bantuannya ke¬pada Syaikh Adam Hashi Ayro taqabbal¬ahullah dalam membentuk Mu’askar Al Huda (Kamp Al Huda) di desa kelahirannya, desa Gaduud. Beliau juga ikut bertugas di kamp tersebut sebagai juru dakwah dan pela¬tih rekrutmen.

Setelah itu beliau pindah ke mu’askar Kam¬boni sebagai pelatih, yang semakin menam¬bah pengalaman jihad dan wawasan militern¬ya. Sehingga kemudian beliau ditetapkan sebagai amir dan penanggung jawab syar’I di salah satu desa Distrik Kamboni, yaitu desa Burkabo.

Bersamaan dengan dibentuknya Shahawat di Mogadishu dengan nama “Aliansi Anti Terorisme”, para mujahidin mengirimnya ke desa kelahirannya untuk kembali mem¬buka Mu’askar Al Huda, yang dikemudian hari menjadi sumber logistik dan bala ban¬tuan penting bagi mujahidin di Mogadishu.

Kemudian beliau ikut serta bersama gerakan Ittihad al-Mahakim al-Islamiyyah (Persatuan Pengadilan Islam) dalam penaklukan kota Kismayo. Beliau terus beraktivitas bersama mereka sampai masuknya tentara Salib Ethi¬opia menginvasi Somalia. Beliau ikut serta dalam pertempuran Idale yang terkenal itu dan terkena luka tembak.

Pada tahun 1427 H bersamaan dengan kem¬balinya momentum perang melawan tentara Ethiopia, beliau rahimahullah kemba¬li berpartisipasi dalam pertempuran demi pertempuran. Namun, dalam suatu operasi, salibis berhasil menangkapnya. Kemudian beliau dipindah ke salah satu penjara Addis Ababa ibukota Ethiopia dan ditahan selama dua tahun, setelah mengalami masa penah¬anan selama enam bulan di salah satu penjara Mogadishu.

Bersamaan dengan kebebasannya, ketika itu Harakah Asy Syabab telah didirikan dan memulai perjuangannya melawan pasukan Aliansi Afrika (AMISOM) dan para agen murtadnya. Beliau kemudian bergabung dan bertempur bersama Harakah Asy Sy¬abab. Mereka mengangkatnya menjadi wali daerah administratif Juba Bawah (Jubbada Hoose). Sekalipun demikian, beliau tidaklah lupa dengan isu-isu kaum muslimin di luar Somalia. Adalah beliau amat mendukung Daulah Islamiyah Irak, selalu menyeru un¬tuk membela dan mendukungnya.

Setelah deklarasi kembalinya Khilafah, be¬liau berada di antara orang-orang yang pertama kali mendukungnya dan selalu be¬rusaha untuk bergabung dengannya. Dan itulah yang akhirnya dilakukannya pada bulan Muharram 1438 H. Bai’atnya kepa¬da Amirul Mukminin tidak dilakukan se¬cara sembunyi-sembunyi, bahkan dengan terang-terangan beliau menantang para kriminal petinggi Harakah Asy Syabab yang mengancam siapa saja yang meninggalkan detasemennya dan menggabungkan diri dalam jama’ah kaum muslimin dan imam mer¬eka.

Para kriminal itu, yang berbai’at kepada antek intel Pakistan, Akhtar Manshur, yang fanatik dengan faksinya yang memecah belah kaum muslimin, tidak tinggal diam dengan aksi beliau. Apalagi mereka mengetahui kedudu¬kannya di sisi masyarakat Somalia secara umum dan di sisi pejuang Harakah Asy Syabab secara khusus, yang mana beliau adalah seorang ‘alim mujahid yang selalu berribath, salah satu penggagas jihad di Somalia, dan pendidik bergenerasi-generasi mujahidin. Maka, merekapun merencanakan pembunuhannya.

Beliau menyadari niat mereka, namun beliau tidak mempedulikannya, bahkan beliau terus menyeru para pejuang untuk bergabung dalam jama’ah kaum muslimin.

Mereka merencanakan pembunuhannya

Keislamannya yang lurus, tahun-tahun panjang jihadnya, cobaan demi cobaan yang menimpanya dalam berbagai pertempuran melawan musuh-musuh Dien, dan kesabarannya menghadapi cobaan berat di jalan Allah, sama seka¬li tidak menghalangi rencana busuk itu. Pandangan mereka terhadapnya persis sebagimana pandangan Yahudi atas Abdullah Ibn Salam Radhiyallahu ’anhu. Maka mereka membunuhnya dan tidak menyembunyikan perbuatan kotor itu, bahkan mereka membanggakannya dan mengumumkannya di depan khayalak ramai, untuk menanamkan ketakutan pada diri praju¬ritnya, dan memberi pelajaran kepada mereka bahwa para petinggi Harakah tidak segan-segan menumpahkan darah yang suci jika persoalannya menyangkut mashlahat kerdil mereka.

Kisah pembunuhannya taqabbalahullah adalah contoh nyata pengkhianatan atas prajurit Daulah Islamiyah yang telah menjadi kebanggaan Tanzhim Al Qaeda dan sekutunya dari para shahawat.

Setelah beliau mengumumkan bai’atnya kepada Amirul Mu’minin dan menyeru orang-orang untuk bergabung dalam kafilah Khilafah yang diberkahi, petinggi Harakah Asy Syabab mengutus sekolompok mata-matanya yang mempunyai hubungan pribadi dengan beliau untuk menemuinya, dengan alasan mereka ingin membai’at Amirul Mu’minin. Maka beli¬au bersedia bertemu mereka, dan mengutus sekelompok ikhwah untuk menjemput mereka. Beliau sendiri yang menanggung ongkos perjalanan mereka. Beliau lalu menyambut mereka dengan sebaik-baiknya, menyampaikan nasihat, mengingatkan mereka atas Allah, dan men¬dorong mereka untuk berbai’at kepada Amirul Mukminin. Untuk menjamu mereka, beliau menyembelih seekor kambing, dan memberi makan mereka dari simpanannya sendiri. Un¬tuk menjamin keamanan mereka, beliau membiarkan mereka menenteng senjata mereka. Namun, balasan yang didapatkan adalah pengkhianatan dan pembunuhan, setelah kelicikan dan penipuan.

Ketika itu Syaikh Abu Nu’man pergi bersama dua orang ikhwah untuk beristirahat. Tiga ikhwah sisanya ditugaskan untuk melayani tamu-tamunya itu. Namun para pengkhianat itu berhasil menyelinap ke kamarnya dan membunuh beliau beserta dua ikhwah itu. Mereka juga membunuh ikhwah yang melayani mereka. Tidak ada yang selamat kecuali satu ikhwah yang ketika itu sedang turun ke sumur untuk mengambil air. Para penjahat itu lalu kabur ke tuan-tuan mereka membawa kabar pembunuhan Syaikh Asy Syahid –demikianlah kami menilai dan kami tidak menyucikan seorangpun di hadapan Allah.

Syaikh Abu Nu’man taqabbalahullah telah terbunuh, namun pohon Khilafah di bumi dua hijrah (Somalia) belumlah mati, sebagaimana yang diharapkan Yahudi jihadi (tanzhim al Qaeda), bahkan semakin tumbuh –dengan keutamaan Allah– memanjangkan dahan dan rantingnya. Para sahabat beliau, prajuritnya, dan murid-muridnya masih akan dan terus mengalir bergabung dalam kafilah Khilafah. Persatuan dan jihad mereka akan membuahkan, dengan izin Allah, kemuliaan dan tamkin.

An-Naba Edisi 28

SYAIKH ABU MUHANNAD ASY SYAMI, LELAKI YANG MENGINJAK FANATISME GOLONGAN DENGAN KAKI BESINYA

SYAIKH ABU MUHANNAD ASY SYAMI, LELAKI YANG MENGINJAK FANATISME GOLONGAN DENGAN KAKI BESINYA

Ketika Salibis Amerika menginvasi Iraq, ribuan pemuda bangkit untuk menghadangnya, khususnya para pemuda dari negeri Syam. Diantara mereka adalah Hassan ‘Abdul Jalil ‘Abbud, yang dikenal di tanah kelahirannya Sarmin, Idlib sebagai seseorang yang pemberani dan berwibawa. Dia pergi berperang dan menjalin interaksi dengan mujahidin Iraq. Ia mencintai mereka dan merekapun mencintainya. Allah mentakdirkannya bertemu dengan Syaikh Abu Anas asy Syami taqobbalahullah. Ia membersamainya dalam setiap pertempuran, termasuk operasi penyerangan penjara Abu Ghuraib, pertempuran yang mana Allah takdirkan Salibis mengetahui persis posisi mujahidin dan membombardir mereka. Ketika itu banyak dari mujahidin yang gugur, diantaranya Syaikh Abu Anas. Namun Allah tetapkan tokoh kita ini selamat dari kematian. Beberapa waktu setelah peristiwa itu ia kembali ke Syam.

Setelah kepulangannya ke Syam, diapun tetap membantu dan menolong para mujahidin, diantaranya dengan menyambut para muhajirin dan menyiapkan tempat bagi mereka serta berusaha menyelundupkan mereka ke Iraq. Aktivitasnya tersebut berlanjut sampai beberapa waktu, hingga akhirnya terputuslah komunikasi dengan mujahidin. Bersamaan dengan pecahnya demonstrasi-demonstrasi di Syam melawan rezim Nushairiyah, Hassan ‘Abbud bersama orang-orang terdekat dan para sahabatnya pun mulai bersiap-siap untuk berperang melawan Nushairiyah.

Mereka mulai mengumpulkan persenjataan dan mengadakan pelatihan pembuatan bom IED. Mereka termasuk dalam golongan yang pertama kali mengangkat senjata melawan tentara Nushairiyah di daerah utara Syam. Seiring dengan semakin sengitnya pertempuran-pertempuran di Syam, kelompok yang dipimpinnya setelah melalui berbagai peristiwa dan pergantian nama akhirnya menetapkan nama terakhir, Liwaa' Dawud.

Di waktu yang sama ia senantiasa mencari kebenaran dan mengikutinya. Ketika di Iraq ia tidak bisa mengenal lebih dalam manhaj mujahidin dengan sempurna lantaran sulitnya situasi dan kondisi ditambah setelah kembalinya ke Syam yang kemudian terputusnya komunikasi dengan mujahidin. Namun Allah mentakdirkan sebagian du’at dari muhajirin mendekati beliau. Mereka memberikan nasehat dan membimbingnya menuju aqidah yang benar dan manhaj yang bersih. Hal itu bersamaan dengan dideklarasikannya ekspansi wilayah Daulah Islamiyah ke Syam. Peristiwa ini adalah faktor terbesar yang mendorongnya membangun hubungan dan menjalin aliansi dengan Daulah Islamiyah melawan Nushairiyah.

Setelah keikutsertaannya bersama Junud Daulah Islamiyah di beberapa pertempuran, diantaranya pertempuran merebut gudang-gudang penyimpanan senjata al Hamra’ di pinggiran Hama, Syaikh Hassan ‘Abbud dan pengikutnya berbaiat kepada Amirul Mu’minin. Ia dan prajuritnya melebur ke dalam wilayah Idlib dan diangkat sebagai penanggung jawab militer untuk wilayah tersebut. Ini terjadi sekitar tiga minggu sebelum dimulainya pengkhianatan shohawat terhadap Daulah Islamiyah.

Ikhwah yang berada di Idlib ketika itu berjumlah beberapa ratus orang saja, mayoritasnya para muhajirin, di tengah-tengah rimba faksi-faksi pemberontak yang selalu berusaha mencari celah untuk menghabisi mereka. Dengan bergabungnya Liwaa' Dawud yang jumlah tentaranya mencapai tujuh ratusan lebih pada Daulah Islamiyah, dan berbai’atnya pemimpin lagi pendirinya Hassan Abbud kepada Amirul Mu’minin, betul-betul merupakan pertolongan dan karunia Allah kepada mujahidin. Segera setelah menerima jabatannya sebagai penanggung jawab militer wilayah ia mulai merancang operasi militer besar untuk membersihkan kota Khan Syaikhun dan checkpoint di sekitarnya dari najis Nushairiyah.

Seharusnya operasi ini akan diikuti oleh pasukan Daulah Islamiyah dari wilayah Idlib dan Hama, akan tetapi operasi tersebut tidak pernah terlaksana akibat pengkhianatan shohawat di seluruh utara Syam, membuat prajuritnya terpaksa mundur untuk mengumpulkan kembali kekuatan mereka agar mereka tidak menjadi santapan empuk faksi-faksi pemberontak seperti yang terjadi di pinggiran barat dan utara Aleppo.

Kota Sarmin dan Saraqib adalah pilihan terbaik ketika itu. Di kedua kota itu Syaikh Hassan Abbud berhasil mengamankan para ikhwah dan menggagalkan seluruh usaha shohawat, utamanya faksi Suqur asy Syam, untuk menyerbu mereka.

Beberapa waktu lamanya Syaikh mencurahkan segenap usahanya untuk membentengi wilayahnya dari Shohawat. Ia berhasil mengurai banyak jaringan sel-sel intelijen Shohawat di Saraqib dan Sarmin. Ia juga berhasil menyeru sebagian kelompok di sana untuk berbai’at kepada Amirul Mu’minin. Ia pun menetap di sana sembari menunggu perintah untuk bergerak merebut kembali wilayah Idlib dari cengkraman shohawat.

Setelah dideklarasikannya Khilafah, datanglah perintah pada setiap Junud Daulah yang berada di wilayah kekuasaan Shohawat untuk berhijrah ke wilayah Daulah Islamiyah, agar bisa hidup di negeri Islam di bawah naungan Syari'at Islam, disamping adanya kekhawatiran akan pengkhianatan Shohawat. Begitu perintah untuk berhijrah turun, dengan segera Syaikh Hassan Abbud beserta prajuritnya bersiap-siap untuk berhijrah menuju Darul Islam.

Dalam perjalanan, Allah menganugerahkan kemenangan dan ghonimah yang banyak kepada mereka. Ketika itu tentara Nushairiyah menyergap kafilah muhajirin dan hampir-hampir berhasil menawan keluarga mereka yang berada dalam beberapa bus, akan tetapi Allah pun menyelamatkan mereka. Para ikhwah berhasil membendung sergapan tersebut kemudian menyerang balik dan berhasil membunuh banyak tentara Nushairiyah serta merampas dua mobil lapis baja.

Setelahnya mereka juga memerangi rezim di kota Halab, yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mencatat kemenangan untuk hamba-hambaNya. Mereka berhasil memutus jalur logistik satu-satunya rezim dan memaksanya masuk dalam pertempuran yang tidak mereka sangka. Dalam pertempuran ini ratusan anggota pasukan khusus rezim terbunuh. Dalam pertempuran ini pula Allah menakdirkan Syaikh Abu Muhannad asy Syami terkena luka yang cukup serius ketika berusaha menusuk jauh ke dalam wilayah rezim.

Satu sifat yang tampak dalam karakter Syaikh

Abu Muhannad asy Syamiy taqobbalahullah adalah terus bersungguh-sungguh dengan segenap kekuatan dan kemampuannya mencari kebenaran dan berpegang teguh kepadanya setelah menemukannya meskipun harus bersusah payah dan mengorbankan banyak hal. Dialah yang sejak permulaan jihadnya melawan Nushairiyah selalu mencari-cari siapa yang menginginkan tegaknya syari’at Islam untuk segera membangun hubungan dengannya dan berperang di bawah benderanya.

Yang pada akhirnya pencariannya membuahkan bai’at kepada Amirul Mu’minin dan bergabung kepada Daulah Islamiyah setelah jelas baginya kedustaan klaim-klaim faksi-faksi perlawanan Islamis namun sejatinya hendak menegakkan demokrasi. Dialah yang sejak mengetahui kebenaran yang didapatinya dalam manhaj Daulah Islamiyah segera dipegangnya erat-erat tanpa mempedulikan tawaran dan iming-iming yang digelontorkan para murtaddin baik di dalam dan luar negeri. Ia tinggalkan kekuatan, persenjataan dan personil yang dimilikinya untuk diberikan semuanya kepada Daulah Islamiyah. Banyaknya musuh yang mengintai tak membuatnya gentar. Ia tetap teguh dengan bai’atnya kepada Amirul Mu’minin dan meneguhkan ikhwah yang bersamanya.

Sejak awal jihadnya ia suka bermajelis dengan para du’at dan tholabatul ilmi, khususnya dari para muhajirin. Ia mendengarkan pembicaraan mereka dan meminta fatwa mereka dalam rangka mencari kebenaran. Sampai ia selalu mengajak para tholabatul ilmi itu kemanapun agar bisa selalu menasihatinya dan mengingatkannya akan Allah.

Diantara mereka itu adalah teman dekatnya yaitu Abu Mush’ab al Urduniy taqobbalahullah. Ia selalu berusaha menghadiri pelajaran-pelajaran syari’ah, khususnya pelajaran tauhid. Ia juga mewajibkan seluruh tentaranya untuk menghadirinya. Seakan-akan dengan itu ia berusaha menambal apa saja yang terlewat selama terisolasinya ia di wilayah Shohawat sebelum hijrahnya. Ia adalah orang yang selalu berusaha keras mengikuti kebenaran. Senantiasa menanyakan hukum Syar’iy dalam setiap permasalahan yang dihadapinya. Jika telah jelas hukumnya, maka diskusi segera dihentikannya dan ia segera beramal sesuai dengan konsekuensi hukum syar'I tersebut.

Ia adalah seseorang yang amat takut dengan kezhaliman sekalipun mengakibatkan dirinya di qishos. Saking takutnya dengan kezhalimannya, ia sampai berkeliling sendiri dan bertanya-tanya kepada para tahanan tentang bagaimana kasus mereka lantaran takut jika ada salah seorang yang seharusnya sudah bebas namun masih ditahan karena keterlambatan menghadirkan kasusnya kepada hakim untuk ditinjau.

Beliau tidak segan-segan menghentikan kaum muslimin awam yang sedang berada di jalanan sekalipun mereka tidak mengetahuinya untuk menanyakan bagaimana hubungan mereka dengan Junud Daulah Islamiyah dan bagaimana mu’amalah para ikhwan yang duduk di berbagai kantor Departemen Daulah kepada mereka. Lantaran ia takut jika salah seorang tentaranya melakukan kezhaliman kepada salah seorang yang Allah perintahkan untuk mengayominya.

Adapun tentang keteguhannya di atas jalan jihad fie sabilillah, maka ia sama sekali tidak tergoyahkan dengan ujian dan luka-luka yang dideritanya. Ketika awal mula menapaki jalan ini, Allah mentakdirkan sebuah roket home-made meledak sebelum meluncur, mengakibatkan terputusnya dua kakinya. Ia kemudian diberi dua kaki palsu dari besi yang dipakainya ketika berjalan dan dilepasnya ketika duduk atau beristirahat. Dengan kedua kaki palsu itu ia menceburkan diri dalam puluhan pertempuran.

Setelahnya Allah mentakdirkan Abu Muhannad beberapa kali terluka parah. Salah satunya ketika pesawat Nushairiyah menembaki mobilnya dalam operasi penaklukan Tadmur yang menghancurkan dua kaki besinya, namun ia selamat. Demikian juga ketika pecahan roket tank Nushairiyah melukainya dalam pertempuran di Dawwah, sebelah barat Tadmur dan membunuh Abu Mush’ab al Urduniy taqobbalahullah yang ketika itu berada di sampingnya. Ditambah lagi ia juga menderita diabetes sehingga luka-lukanya tidak kunjung sembuh.

Adapun tentang wala’nya kepada Daulah Islamiyah, semua orang yang mengenalnya tahu bahwa ia selalu mementingkan semua yang mendatangkan mashalahat kepada Daulah. Ketika perintah hijrah sampai kepadanya maka segera saja ia kumpulkan seluruh anggota beserta persenjataan dan logistik Liwaa' Dawud untuk berangkat berhijrah menuju Darul Islam.

Ketika sampai, segera diserahkannya seluruh properti kepemilikan Liwaa' Dawud kepada Daulah yang berupa uang sejumlah ratusan ribu dollar hasil ghonimah dari pertempuran-pertempurannya ditambah dengan 12 tank dan mobil lapis baja serta ratusan persenjataan serta alutsista lainnya.

Kemudian segera nama Liwaa' Dawud dihapuskannya secara total dan memeriksa semua orang yang masih menggunakan nama tersebut. Itu dilakukannya untuk menanamkan kecintaan kepada Daulah Islamiyah dan ketaatan kepada Amirul Mu’minin dalam hati tentaranya.

Beliau adalah seseorang yang memiliki pemikiran militer cerdas. Ia mempersiapkan operasinya dengan baik. Terbukti dengan suksesnya banyak operasi yang dipimpinnya sebelum berbai’at kepada Daulah Islamiyah. Diantaranya operasi penyerangan checkpoint Hamisyu, operasi penyerangan checkpoint Bab Al Hawa, Gedung Universitas Ilmu Administrasi, Bandara Militer Taftanaz, Kamp asy Syabibah, Akademi Pertahanan Udara, checkpoint al Jadida, pabrik SADCOB, dan pos-pos checkpoint-checkpoint lainnya yang tersebar diantara Idlib dan Ariha dan masih banyak lagi operasi militer lainnya.

Setelah berbaiat kepada Amirul Mu’minin, ia juga kembali memimpin operasi-operasi militer berskala besar. Yang paling penting adalah operasi pembebasan Tadmur, salah satu operasi terbesar khilafah dilihat dari jumlah pasukan dan luasnya front pertempuran. Lalu pertempuran Khonashir yang membuktikan dengan jelas skill kepemimpinan militernya karena perintah untuk bersiap-siap datang hanya lima hari sebelum eksekusi serangan. Sekalipun demikian, Allah membuatnya mampu mempersiapkan segala sesuatunya baik tentara, transportasi, ataupun logistik. Dan operasi inipun sukses atas karunia Allah.

Sekalipun ia amat perhatian dengan front-front pertempuran dan para prajuritnya namun ia taqobbalahullah tidak termasuk orang yang melalaikan sektor-sektor lain wilayah dan departemen- departemen palayanannya. Bahkan ia sering duduk dengan para penanggung jawab departemen tersebut dan mendorong mereka untuk terus menambah kesungguhan mereka disamping ia juga berusaha menyediakan semua hal yang dibutuhkan oleh mereka. Sampai-sampai setiap dari mereka merasa bahwa Abu Muhannad hanya memperhatikan bidang yang digarapnya saja.

Diantara kebiasaannya itu jika ingin mengumpulkan para ikhwah untuk suatu perkara penting maka ia akan membawa mereka jauh dari kota agar semua hal yang mungkin mengganggu pertemuan itu bisa dieliminasi sehingga pertemuan itu pun sukses.

Dia juga dikenal selalu meminta pendapat para ikhwah baik sendiri ataupun kelompok. Dia ajukan permasalahannya lalu meminta solusinya kepada mereka. Dan ketika ada suatu pendapat yang dianggapnya baik maka akan diajukannya kepada ikhwah lainnya sembari menjelaskan bahwa ini adalah pendapat al Akh fulan sehingga tidak mengklaim sesuatu yang bukan miliknya, dan agar semakin menambah keyakinan serta mengangkat kedudukan al Akh tersebut.

Disamping semua itu, ia rahimahullah amat rajin beribadah. Dia amat menyukai qiyamul lail. Selalu membangunkan keluarganya pada sepertiga malam terakhir dan sholat bersama mereka.

Ia juga amat suka bersegera dalam memulai aktivitas. Ia memulai seluruh aktivitasnya segera setelah shalat fajar. Mayoritas pertemuan diadakan pada waktu ini. Ia juga selalu menyemangati para ikhwah untuk tidur cepat dan bersegera dalam memulai aktivitas agar mendapat barokah.

Jika pertempuran sedang memanas Ia terkenal suka menyendiri dari para ikhwah untuk bersujud dan berdoa meminta pertolongan. Ia terus mengulang-ulangnya sampai Allah menetapkan kemenangan melawan musuh-musuhnya.

Adapun tentang keberaniannya maka tak perlu ditanyakan lagi. Para ikhwah telah bersaksi bahwa ia adalah penanggung jawab militer Daulah Islamiyah yang paling pemberani. Ia adalah komandan lapangan yang terjun langsung mengarahkan operasi militer bahkan selalu berada di front terdepan bukan berada di tengah atau di belakang.

Yang bersamanya ketika operasi pembebasan Tadmur bersaksi ketika pertempuran sedang memanas maka ia pergi ke front terdepan dan terus membersamai mujahidin disana untuk meneguhkan mereka. Prinsip utamanya dalam setiap pertempuran melawan tentara Nushairiyah adalah sebaik-baik pertahanan yaitu menyerang. Maka ia tidak akan membiarkan musuh bernafas sejenakpun. Ia tidak akan menarik pasukan untuk mengatur ulang serangan, namun serangan yang berkesinambungan dari berbagai sisi akan terus dilancarkan sehingga musuh akan terus bersiaga.

Ia juga selalu berusaha mengintai musuh sendirian. Ia mendatangi seluruh titik yang memungkinkan untuk mengumpulkan informasi tentang musuh sebanyak mungkin. Sampai-sampai pada pertempuran Khonashir terakhir ia bersikeras melakukan pengintaian sendiri titik penyerbuan para ikhwah sampai ia berada terlalu dekat dengan posisi tentara Nushairi yang berada di sekitar jalan Khonashir sekalipun ia tahu banyak ranjau telah ditanam di daerah itu. Sehingga meledaklah ranjau yang tidak sengaja terinjaknya dan mengakibatkannya terluka parah.

Beberapa hari ia mengobati luka-lukanya. Namun ternyata Allah menetapkan ruhnya meninggalkan jasadnya setelah mengucapkan dua kalimat syahadat. Kata-kata terakhirnya di dunia kepada ibunya yang menangis sedih memohon kesembuhannya adalah, “Kita akan bertemu di surga”.

Ia adalah seorang hamba yang meninggalkan dunia begitu saja sekalipun datang mengemis kecintaannya. Ia injak dunia dan syahwatnya dengan dua kaki besinya hanya karena mengharap apa yang ada di sisi Allah. Maka ia pun mendapatkan apa yang dicita-citakannya. Demikianlah kami menilainya dan Allahlah sebaik-baik penilai.

An-Naba Edisi 25

SYAIKH ABUL MUGHIRAH AL QAHTHANI, TETAP TEGUH SAMPAI MATI

SYAIKH ABUL MUGHIRAH AL QAHTHANI, TETAP TEGUH SAMPAI MATI

Orang-orang yang tak mengetahui, mengira bahwa tamkin, penegakkan Dien, dan kehancuran atas orang-orang kafir yang berhasil dicapai oleh Daulah Islamiyah muncul dalam sekejap mata. Mereka menyangka semua itu diraih dengan begitu mudah. Itu lantaran ketidak-tahuan mereka akan sejarah Daulah Islamiyah, dimana badai fitnah dan ujian terus menerpanya sebagai bentuk penyaringan dari Allah, sampai akhirnya Dia jadikan kemudahan setelah kesusahan, Allah teguhkan kedudukan hamba-hambaNya yang lemah itu dan diwariskannya tanah serta rumah orang-orang kafir, dan Allah jadikan mereka imam yang memberi petunjuk dengan perintahNya ketika mereka bersabar dan yakin akan kebenaran janji Allah berupa kemenangan atas orang-orang musyrik.

Siapapun yang membuka-buka lembaran sejarah Daulah Islamiyah, para tentara dan komandannya, niscaya akan melihat hal yang sangat menakjubkan, kesabaran mereka yang luar biasa meski dahsyatnya ujian, keyakinan mereka yang tinggi meski fitnah berjejalan, keteguhan mereka di atas jalan meski banyaknya para penggembos, dan kuatnya kesabaran mereka dalam memerangi kaum musyrikin meski kepayahan dan luka parah.

Diantara para pahlawan itu adalah komandan kita yang mulia ini, yang tidak pernah lemah sedikitpun dalam memerangi musuh-musuh Allah ‘azza wa jalla sampai akhirnya Dia berkenan mencabut ruhnya sebagai seseorang yang syahid di jalanNya –beginilah kami menilai dan Allahlah sebaik-baik penilai– setelah Allah menimpakan berbagai macam adzab kepada Salibis, Rofidhoh, dan orang-orang murtad lewat tangannya, dimana dengan aksinya itu Allah melegakan hati orang-orang yang beriman. Allah cabut ruhnya setelah lewat tangannya pula panji tauhid berkibar dengan megah di bumi Afrika (Libya), dan menara Daulah Islamiyah tegak di wilayah Libya.

Sang komandan adalah teman dekat Abu Hamzah al Muhajir, Manaf ar Rawiy, dan Abdullah Azzam al Qahthani. Beliau adalah salah satu komandan yang berhasil dibebaskan dari kerangkeng penjara Abu Ghuraib. Dia mengomandoi eksekusi massal tentara Rofidhoh yang tertawan di pangkalan militer COB Speicher, dan amir yang dibebani untuk mengatur seluruh wilayah Libya. Dialah Abul Mughirah al Qahthani –semoga Allah menerimanya-.

Wisam ‘Abd Zaid –ini adalah nama aslinya– memulai perjalanan jihadnya saat ia membentuk sekelompok kecil mujahidin bersama putera-putera Fallujah untuk memerangi para salibis, kemudian bersama para sahabatnya itu ia bergabung dengan Syaikh Abu Mus’ab Az Zarqowi taqobbalahullah. Dia turut andil mempertahankan kotanya pada peperangan Fallujah pertama, ikut ribath dalam parit-parit perlindungan, dimana hal itu semakin mempererat hubungannya dengan Syaikh Abu Hamzah al Muhajir taqobbalahullah yang selalu menjadi tamunya ketika berada di Fallujah.

Ketika Jama’ah Tauhid dan Jihad dideklarasikan, Abu Humam –ini kunyah pertamanya dalam jihad– termasuk orang yang pertama bergabung dan menjadi orang yang terpercaya di dalamnya, sampai kemudian ia dikirim sebagai utusan ke Jazirah Arab. Ia berhasil memasuki negara itu bersama dua saudaranya (Al Hajj Afaan) dan (Al Hajj Ibrahim) –semoga Allah menerima keduanya– dengan alibi umroh. Kepergiannya itu dalam rangka bertemu dengan beberapa ikhwah disana dan menyelesaikan beberapa urusan penting yang dibebankan kepadanya untuk kemaslahatan jamaah. Selama kepergiannya itu terjadi pertempuran Fallujah yang kedua yang memaksa mujahidin mundur dari sana.

Sekembalinya ke Iraq, ia langsung menyusun strategi bersama para ikhwah untuk melakukan operasi di dalam kota. Beliau memasuki Fallujah sebagai amir atas sekelompok mujahidin untuk mengaktifkan kembali aktivitas Intelijen melawan orang-orang Amerika. Selang beberapa lama setibanya di Fallujah Amerika berhasil menangkapnya dan menjebloskannya ke dalam penjara Abu Ghuraib yang terkenal mencekam itu.

Di samping siksaan yang dialaminya, ia juga ditempatkan di bagian “cougar 5” bagian penjara yang paling mencekam yang terdiri dari berblok-blok sel isolasi. Syaikh mendekam di dalamnya selama berbulan-bulan. Kemudian beliau dipindah menuju “Kamp 10” penjara Bucca yang terkenal. Kira-kira pasca setahun penangkapannya, Allah mengaruniakan kebebasan padanya.

Sehari setelah terbebas dari penjara (pada bulan Jumadal Ula 1427 H) beliau langsung menghubungi ikhwah para komandan aksi militer di Fallujah dan sekitarnya untuk menyampaikan kabar tentang kebebasannya dan tekadnya untuk memulai lagi aksi perlawanan terhadap para salibis secepat mungkin, maka ia pun kembali melakukan kegiatan Intelijen di dalam kota tersebut.

Setelahnya, ia ditunjuk oleh penanggung jawab Intelijen wilayah al Anbar, Abdullah Azzam Al Qahthani taqobbalahullah, sebagai penanggung jawab intelijen kota. Saat itu Fallujah adalah sebuah sektor yang dikomandoi oleh Abu Hakim al Jazrowi taqobbalahullah di bawah pimpinan Jiroh asy Syamiy taqobalahullah, amir Al Anbar.

Ketika Abu Haqqi –ini kunyah beliau di masa itu– bersama sekelompok pasukannya sedang mengeksekusi satu murtaddin di kota Fallujah, beliau tertembak di pundaknya. Lukanya tidak membuatnya berhenti dari jihad kecuali sebentar. Setelah sembuh dari lukanya beliau kembali melanjutkan aktivitasnya menjihadi musuh-musuh Allah dari kalangan salibis dan orang-orang murtad.

Setelah dideklarasikannya Daulah Islamiyah Iraq dan munculnya shohawat, beliau rahimahullah pindah beraktivitas di sektor “Abu Ghuraib” dan mengomandoi daerah tersebut dengan kunyah barunya Abu Ghozi, sampai ia ditangkap di salah satu pos keamanan di dalam kota Baghdad (pada bulan Rajab 1429 H).

Selama beberapa bulan beliau mendekam di penjara “Divisi Kelima” milik Badan Intelijen murtaddin. Kemudian setelah itu ia dipindah ke Fallujah, ia dipindah ke Fallujah lantaran statusnya yang buron dengan beberapa tuduhan. Allah menyelamatkannya dari tangan polisi dan shohawat, yang mana mereka selalu mengeksekusi semua tentara Daulah Islamiyah yang tertangkap. Ketika itu mereka memindahkannya dari penjara kepolisian pusat ke penjara di al Kholidiyah, tempat mereka mengeksekusi ikhwah mujahidin tanpa interogasi terlebih dahulu, akan tetapi Allah menggerakkan salah satu murtaddin yang dahulu pernah di penjara bersamanya, ia mengeluarkan beliau dari situ dan mengembalikannya ke penjara kepolisian pusat Fallujah, dimana beliau dibebaskan setelah mereka tidak mampu merayunya.

Tidak beberapa lama sekeluarnya beliau dari penjara, ia bertemu dengan wali baghdad Manafi ar Rawi dan wali Fallujah Abbas al Jiwariy –semoga Allah menerima keduanya– guna berkoordinasi dalam rangka kembali ke medan jihad. Dia kembali beraktivitas di Fallujah, khususnya di sektor Abu Ghuraib, sebelum menjadi wakil wali, lalu diangkat menjadi wali Fallujah.

Dia terus mengemban tanggung jawabnya itu sampai tertangkap pada operasi yang menjadi pukulan keamanan terbesar atas mujahidin, dimana ia ditangkap oleh orang-orang Amerika bersama sekelompok kecil teman-temannya di bulan Sya’ban tahun 1431 H. Mereka menyerahkannya kepada Rofidhoh yang kemudian menjebloskannya ke dalam penjara terburuk mereka, penjara milik unit kontra terorisme, yang terkenal dengan nama penjara “Jaraim 52”, dimana kasusnya terbongkar. Rofidhoh berhasil mengungkap sepak terjangnya di Daulah Islamiyah yang bisa berujung pada hukuman eksekusi mati.

Seusai investigasi, ia diisolasi di penjara Taji. Di sana ia menjadi amir para ikhwah yang menghuni salah satu bloknya sebelum para ikhwah di luar penjara menasehati untuk mengamankan kepindahannya ke penjara Abu Ghuraib karena para ikhwah sedang merencanakan untuk membebaskan para tahanan di situ. Beliau, bersama dengan tiga Ikhwannya berhasil pindah setelah mengiming-imingi si Rofidhoh kepala sipir penjara dengan sejumlah uang.

Sesampainya di Abu Ghuraib, rencananya adalah kabur melalui terowongan yang digali oleh ikhwah di salah satu sel. Ia ketika itu mengganti kunyahnya menjadi Abu Zaid dan ditunjuk menjadi koordinator pelaksanaan operasi tersebut, yang dilakukan dengan koordinasi antara ikhwah di dalam dan di luar penjara. Namun Allah menakdirkan rencana kabur ini gagal karena Rofidhoh menemukan lubang galian tersebut, lalu menyegel sel tersebut dan memindah mereka dari situ.

Beliau dan para ikhwah tak berputus asa, bahkan mereka kian bersemangat untuk kabur. Apa lagi beliau telah dipilih menjadi amir setiap ikhwah di penjara Abu Ghuraib. Ketika itu ia mengganti kunyahnya menjadi Abu Hamid. Ia berkoordinasi dengan Syaikh Abu Abdirrahman Al Bilawi taqobbalahullah untuk menyelesaikan rencana ini sampai Allah menyempurnakannya.

Allah mengeluarkannya bersama ratusan ikhwah lainnya dari kerangkeng penjara. Ia kembali menjadi salah satu prajurit Daulah Islamiyah di padang pasir al Anbar, sebelum akhirnya dipindahkan Syaikh al Bilawi untuk menjadi amir wilayah Shalahuddin dengan kunyah barunya Abu Nabil. Masuknya ia ke wilayah Shalahuddin dibarengi dengan operasi besar-besaran Daulah Islamiyah di Iraq, yang berbuah penaklukan Nainawa dan sederat penaklukan setelahnya. Abu Nabil memimpin semua pertempuran di wilayah Shalahuddin pada saat itu, utamanya pertempuran Samarra’. Ia muncul dalam sebuah rilisan video berjudul “’Ala Minhajin Nubuwah” ketika sedang berkhutbah menyemangati para ikhwah sebelum dimulainya pertempuran. Dia juga yang mengomandoi eksekusi massal ribuan Rofidhoh kader angkatan udara Iraq di Pangkalan Udara Militer COB Speicher.

Pasca dideklarasikannya Khilafah, bai’at demi bai’at untuk Amirul Mu’minin berdatangan dari segala penjuru, terutama bai’at dari mujahidin Libya. Maka Amirul Mu’minin Syaikh Abu Bakar al Baghdadi hafizhohullah mengirim pedangnya yang mujarab Abu Nabil sebagai amir mereka. Di sana ia meletakkan batu pertama pondasi menara Daulah Islamiyah.

Abul Mughirah al Qahthani terus memberi pelajaran pada musuh-musuh Allah dari kalangan murtaddin sampai akhirnya melalui tangannya Allah menaklukan kota Sirte dan sekitarnya, setelah pengkhianatan Shohawat di Derna yang mengakibatkan banyak terbunuh pasukannya dan para ikhwah. Pengorbanan itu berbuah manis. Allah memberinya tamkin, maka mereka tegakkan syari’at, melaksanakan hudud, terus memerangi orang-orang kafir dan murtaddin.

Perjalanan panjang jihad komandan kita ini berakhir setelah ia terbunuh di tangan salibis Amerika dalam sebuah serangan udara yang menargetkannya di kota Derna setelah bertahun tahun panjang jihadnya. Semoga Allah menerimanya bersama orang-orang yang shalih.

Keteguhan merupakan sifat yang paling nampak dari Syaikh Abul Mughirah al Qahthani rahimahullah. Siapa pun yang mengikuti perjalanan panjang jihadnya yang melebihi 13 tahun lamanya, akan melihat dengan jelas bagaimana ia bak karang yang tegar di tengah hempasan gelombang ombak ujian. Fitnah tak melemahkan tekadnya. Tiap kali diuji dengan penjara yang Allah selamatkan darinya, segera setelah lepas dari cengkeraman musuh-musuhNya ia kembali menghantam mereka. Tiap kali terluka, ia bersabar atasnya dan tetap melanjutkan jihadnya. Di saat yang sama, usaha orang-orang murtad untuk mengendorkan tekadnya dengan iming-iming gelontoran uang, tak pernah berhasil.

Saat penangkapan terakhirnya, ia tahu bahwa hukuman mati telah menantinya karena tuduhan atasnya berhasil dibuktikan oleh Rofidhoh. Ketika itu perwira-perwira intelijen berusaha membujuknya demi kebebasannya dengan imbalan secuil dunia. Mereka berjanji akan membatalkan hukuman mati dengan syarat beliau membantu mereka menangkap Syaikh Abu Ibrahim az Zaidi taqobbalahullah. Jawabannya atas permintaan mereka menyerupai jawaban Yusuf ‘alaihis salam saat menanggapi orang yang mengancam akan menjebloskannya ke dalam penjara dan menghalanginya dari Diennya: “Ya Rabbku, sungguh penjara lebih aku sukai dari pada memenuhi ajakan mereka kepadaku”.

Selang beberapa tahun, Allahlah yang menyelamatkannya dari penjara dan hukuman mati. Ketika ia sampai di Libya ternyata didapatinya kebanyakan manusia di sana terpengaruh dengan manhaj rusak Tanzhim al Qaeda dalam menyikapi murtaddin. Maka ia mulai memprovokasi mereka untuk memerangi dan membasmi murtaddin, dengan berkata: ”Tidak akan kita biarkan seorang murtadpun hidup aman bersama kita”.

Ketika salah seorang ikhwah mujahid menanggapinya dengan berkata, “Jika kita memerangi mereka maka kita akan diusir dari kota ini”, Beliau rahimahullah menjawab, “Jatuhnya kota dengan keutuhan al wala wal baro itu jauh lebih baik dari pada runtuhnya al wala wal baro meski kota tetap ada”.

Beliau rahimahullah adalah contoh nyata keberanian, kepahlawanan dan bagaimana bersikap keras terhadap musuh-musuh Allah. Dia selalu berada di front terdepan bersama para ikhwah di setiap pertempuran dan penyerbuan, melakukan operasi pembunuhan bersama mereka, dengan tangannya sendiri menangkap murtaddin shohawat, sampai ia beberapa kali cedera lantaran hal itu. Salah satunya saat melaksanakan pembunuhan terhadap salah satu murtaddin di Fallujah yang menyebabkannya terkena luka tembak di bahu, dan lainnya di saat orang-orang murtad itu berusaha menangkapnya setelah salah satu dari mereka mengetahui keberadaannya, tapi beliau terlebih dahulu melesatkan timah panas dari pistolnya yang langsung membunuhnya. Allah menyelamatkannya dari penangkapan meski mereka mengepung dan menyisir daerah tempat persembunyiannya.

Di saat yang sama beliau sangat menyayangi saudara-saudaranya, amat tawadhu’ di hadapan mereka, bahkan sering kali ia menutup suratnya dengan ungkapan “Dari saudaramu yang hina” sehingga membuatnya disukai semua orang yang beraktivitas bersamanya, baik dari kalangan komandan maupun prajurit biasa.

Beliau taqobbalahullah amat memperhatikan orang-orang di sekelilingnya, merelakan dirinya dalam mara bahaya demi keselamatan saudara-saudaranya. Salah satu ikhwan bersaksi bahwa ia pernah masuk sendirian ke sebuah rumah aman di pulau danau Tsar tsar yang hancur akibat bombardir Salibis, semua ikhwah yang berada di dalamnya terbunuh atau luka berat, sementara pesawat drone terus mengudara dan menembaki siapapun yang mendekati rumah yang hancur lebur itu, kelompok pertama yang bermaksud mengeluarkan ikhwah yang terluka disambut dengan bom sehingga semuanya juga terbunuh, namun Abu Humam tidak menyerah, Ia turun tangan sendiri dan berhasil mengeluarkan ikhwah yang terluka parah itu, meski kondisi amat mencekam dan berbahaya.

Adapun tentang sikap kerasnya terhadap musuh-musuh Allah, tak ada seorangpun yang tak mengetahui eksekusi massal Rofidhoh di COB Speicher, dimana dialah yang memerintahkan pembunuhan ribuan musyrikin sekaligus tanpa ampun dan belas kasih sedikitpun.

Di Libya, sebelum ia sampai, sebagian ikhwah mengeksekusi murtaddin secara diam-diam, dan mereka tidak ingin mengakuinya, namun ia berkata kepada mereka: “Jika kalian ingin orang-orang kafir takut kepada kalian maka bunuhlah mereka dan katakan: ”Kamilah pembunuhnya”, ketika para ikhwah melakukan hal itu, hasilnya kantor-kantor istitabah (pertaubatan) dipenuhi murtaddin yang bertaubat.

Meskipun beliau amat keras ketika dibutuhkan, namun beliau rahimahullah adalah orang yang bijaksana, meletakkan pedang dan kesantunan pada tempatnya masing-masing. Pembicaraannya menarik hati dan telinga. Pada suatu kesempatan sebelum pertempuran Samarra’, ia kumpulkan semua petinggi kabilah dan berbicara dengan kata-kata yang membuat mereka gembira, dan hal itu merupakan salah satu sebab taubatnya puluhan anggota shohawat, sehingga mereka menyerahkan senjata mereka kepada Daulah Islamiyah, padahal Daulah Islamiyah telah berbulan-bulan memerangi mereka.

Setelah pengkhianatan yang dialami Junud Khilafah di kota Harawah, Barqah, Syaikh mengirim seorang perantara kepada para pengkhianat itu untuk menyerahkan senjata mereka, jika tidak mereka akan djadikan pelajaran bagi orang-orang setelah mereka, maka mereka pun menuruti permintaannya dan seluruh persyaratannya, di antaranya adalah mengganti seluruh senjata dan peluru.

Setelah mereka bertaubat dan mengirim angsuran pertama dari jumlah yang telah disepakati, Syaikh menghubungi perantaranya dan berkata kepadanya, “Beri tahu penduduk Harawah bahwa kita telah memaafkan mereka, dengan izin Allah Dia akan mengganti yang lebih baik untuk kita“. Dua hari kemudian Allah menaklukkan Sirte. Para ikhwah berhasil memperoleh ghonimah berupa persenjataan dan peluru yang amat banyak.

Adapun mengenai ibadahnya dan kegigihannya dalam belajar dan mengajarkan Dien, maka salah satu teman sepenjaranya bercerita bahwa ia adalah orang yang rajin berpuasa dan amat disiplin dalam mengikuti majelis ilmu di penjara, sampai salah satu komandan Daulah Islamiyah yang ditahan di Abu Ghuraib memberinya ijazah qiro’ah riwayat Hafsh dan Warsy.

Disamping ia giat menuntut ilmu, ia juga mempunyai halaqoh siroh yang disampaikan kepada para ikhwah yang tertawan, dan jumlah yang datang untuk mendengarkan kajian ini melebihi peserta yang mendatangi kajian lain yang di adakan di penjara Abu Ghuraib. Orang yang pernah di penjara bersamanya bercerita banyak sekali sumpah yang ia lontarkan di saat di penjara yang kemudian Allah menjawab sumpahnya ketika bebas, serta banyak doa yang beliau panjatkan yang kemudian Allah mengabulkannya.

Diantaranya adalah dia pernah berdoa akan menjadikan shohawat menggali kuburannya sendiri jika Allah mengaruniakan kebebasan kepadanya. Ini terwujud dalam kisah terkenal didokumentasikan dalam video rilisan al Furqon (Sholilush Showarim 4), dimana seorang komandan shohawat mengatakan sebuah ungkapan yang menjadi bahan lelucon di seluruh penjuru dunia, “Aku takut kalian adalah Daisy”, ketika Syaikh Abu Nabil menangkapnya lalu kemudian memaksanya menggali kuburannya sendiri sembari menyumpahi tuannya, Nuri al Maliki.

Pun saat ia mendengar cerita bahwa jasad Syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah dibuang di laut, ia langsung bersumpah akan mencampuri air laut dengan darah orang-orang kafir. Allah kabulkan sumpahnya, ia bebas dari penjara, kemudian berpindah dari negeri yang tidak ada lautnya (Iraq) untuk menyembelih Musyrikin Nashrani di pantai Tripoli (Libya) sehingga air laut menjadi merah dengan darah mereka.

Kisah yang lain, bahwa salah seorang ikhwah meminta kepadanya satu musyrik Rofidhoh untuk disembelihnya, Syaikh menanggapinya dengan berkata:

“Bergembiralah, dengan izin Allah kamu akan mendapatkan ribuan kepala Rafidhah”, dan dua hari setelahnya Allah mengaruniakan kepadanya tawanan ribuan Rofidhoh dari pangkalan militer COB Speicher untuk disembelih dan bertaqorrub kepada Allah dengan darah mereka, serta memenuhi janjinya kepada ikhwah tersebut.

Inilah secuplik biografi yang harum mewangi dari salah seorang prajurit Khilafah, salah seorang ksatria Daulah Islamiyah, yang mana paragrafnya ditulis dengan darah dan serpihan tubuh, dan dilukis dengan pengorbanan tanpa batas, sampai akhirnya pemilik kisah ini mendapatkan derajat syuhada’, demikanlah penilaian kami dan kami tidak mensucikan siapapun di hadapan Allah.

An-Naba’ Edisi 24

ABU BILAL AL HIMSHI, SUMPAHNYA DIWUJUDKAN OLEH ALLAH

ABU BILAL AL HIMSHI, SUMPAHNYA DIWUJUDKAN OLEH ALLAH

Dari media revolusi menuju media Khilafah, dan tempat pemberhentiannya adalah tembolok burung di bawah ‘Arsy Ar Rahman, beginilah penilaian kami terhadapnya, dan Allahlah sebaik-baik penilai.

Abu Bilal, pemuda berumur 24 tahun. Putra kota Himsh yang penuh dengan kebanggaan. Ksatria dan singa yang tak kenal takut di zaman dimana para ksatria amatlah sedikit. Tidak terpengaruh sama sekali dengan celaan para pencela. Lantang menyuarakan kebenaran ketika mulut-mulut dibungkam. Tidak ada orang yang mengenalnya kecuali pasti menyukainya. Dia tinggalkan dunia dan segala perhiasannya disaat pemuda kaum muslimin menjilat-jilat manisnya dunia. Ia pemuda yang unik. Hatinya penuh dengan kecintaan akan jihad. Jiwanya yang mulia menyembunyikan kerinduan pekat akan kesyahidan. Maka dicarilah olehnya kematian itu sampai bertemu Ar Rahman dalam kondisi yang paling mulia.

Semasa di Himsh Abu Bilal mempelajari ilmu-ilmu syar’i pada Ma’had Himsh sampai mendapatkan ijazah. Namun ijazah itu sama sekali tidak berarti baginya karena hasil dari kurikulum sufi asy’ari. Ia selalu mencari apa yang dicita-citakannya tapi ia belum berhasil mendapatknya, karena jalan menuju bumi jihad tidak terbuka dihadapannya.

Sampai pecahlah revolusi di Syam. Jadilah ia provokator bagi teman-temannya untuk memberontak atas rezim Nushairiyah.

Seruan silmiyah (perdamaian) dan pekikan demonstran sama sekali tidak membuatnya tertarik karena kehinaan takkan terangkat kecuali dengan hunusan pedang. Abu Bilal mulai memprovokasi teman-temannya untuk mengangkat senjata melawan tiran. Ia juga mengumpulkan bantuan yang diberikan kaum muslimin untuk penduduk Syam. Namun dana tersebut justru digunakannya untuk membeli senjata dan beri’dad untuk menghadapi thaghut ini.

Ia beraktivitas bersama dengan para oposisi rezim di bawah payung berbagai entitas yang mana mayoritasnya bertujuan hanya untuk melengserkan rezim. Kebanyakannya malah kembali surut ke belakang, terjerat dalam kesalahan yang sama yang dlakukan oleh faksi-faksi perlawanan yang terjatuh dalam jaring-jaring “konspirasi di hotel-hotel”. Sedangkan ia bertujuan untuk mengangkat bendera suci jihad fi sabilillah.

Pada masa itu peranannya adalah memanfaatkan dana bantuan untuk membeli senjata disamping juga digunakan untuk memberitakan penderitaan kaum muslimin yang terkepung di Himsh. Ia banyak berpolemik dengan media mainstream lantaran ia menyingkap kepalsuan klaim mereka. Pada saat itu para awak media mainstream memintanya menyembunyikan skandal Dewan Nasional Syiria (SNC) dan dewan-dewan lokal lain yang mempermainkan darah kaum muslimin.

Namun kejujuran dan kebersihan fitrahnya mencegahnya menuruti permintaan mereka. Sehingga dalam setiap kesempatan wawancara ia selalu membongkar kebusukan proyek dewan antek itu. Hal itu mengakibatkan media memintanya untuk menyingkirkan bendera tauhid yang selalu menjadi latar belakang dalam wawancara-wawancaranya. Tentu saja permintaan tersebut ditolaknya mentah-mentah sekalipun mengakibatkan ia tidak pernah menjadi narasumber lagi.

Suatu ketika ‘Ar’ur -tunggangan thaghut Alu Salul, yang telah menjual Diennya demi selembar dollar dan real- menghubunginya dan membujuknya untuk ikut serta memfitnah Daulah Islam, jika tidak maka aliran bantuan atas kelompoknya akan diputus. Sekalipun ia membutuhkan bantuan itu lantaran kondisinya yang terjepit ditengah kepungan rezim yang hampir-hampir tidak ada sesuatupun yang bisa dimakan, ia tolak mentah-mentah bujukan itu. Bahkan ia permalukan ‘Ar’ur dengan terang-terangan mengatakan jika ia bisa keluar dari kepungan ini hidup-hidup maka ia akan berbai’at kepada Daulah Islam dan memerangi siapapun yang memeranginya.

Dengan hati yang pedih dan jiwa yang tersayat ia tinggalkan Himsh setelah kota itu diserahkan secara cuma-cuma tanpa syarat kepada rezim Nushairiyah dalam perundingan yang difasilitasi PBB. Ia berjanji kepada Allah akan kembali sebagai penakluk. Saat itu ia nyatakan kata-katanya sembari mengacungkan telunjuk tauhid: “Jangan kalian kira kami tidak akan kembali. Kami akan kembali, dengan izin Allah, dengan aliran darah dan potongan tubuh yang akan membakar kalian. Maka tunggulah!”.

Abu Bilal Al Himshi berhijrah menuju Darul Islam disaat orang-orang yang bersamanya pergi menuju Turki hanya untuk mencari secuil dunia. Sekalipun jalan yang ditempuhnya sulit dan melelahkan, ia tetap teguh dan sabar menempuhnya. Sungguh berbeda jauh antara jalan yang penuh onak dan duri namun berakhir di surga dengan jalan yang lapang dan mudah namun berakhir ke Jahannam.

Ia memulai kehidupan barunya bersama para muhajirin dan anshar dalam naungan Daulah Islam. Ia mencintai saudara-saudaranya itu dan merekapun mencintainya lantaran kebagusan adabnya dan pembelaannya terhadap mereka. Abu Bilal menyingkirkan semua keterkenalan dan kilatan kamera para awak media untuk menjadi prajurit tersembunyi prajurit Khilafah. Ia tidak mempedulikan sama sekali ketidak-tahuan orang-orang atasnya. Cukuplah Rabbnya yang mengetahui dan memilihnya.

Ia terus melanjutkan kehidupannya sebagai mujahid media. Ia beritakan pertempuran-pertempuran yang dijalani Daulah kita ini agar menjadi kabar gembira bagi para muwahid dan kabar buruk bari musuh-musuh Allah.

Senjata dan kamera tak pernah lepas dari genggamannya. Dua benda itu adalah kecintaannya. Salah satu tangannya memegang senjata sedangkan lainnya memegang kamera untuk mengabadikan pertempuran. Demikanlah mujahid media kita ini. Ia tak pernah ketinggalan berada di front terdepan setiap pertempuran. Jika ada kabar gembira ia jugalah yang pertama kali memberitakannya. Namun ia tidak merasa cukup dengan itu. Kecintaan terhadap kesyahidan telah mengharu-biru di hatinya. Setiap saat ia terus berdoa: “Ya Allah, aku mohon kepadamu kesyahidan yang dengannya Engkau meridhoiku. Ya Allah ambillah darah dan serpihan dagingku sampai Engkau ridho”.

Para istisyhadi dan aksi-aksi mereka amat menggembirakannya. Ia selalu merekam wasiat-wasiat mereka. Tiap kali ia bertemu mereka air mata penyesalan mengambang di matanya, bukan karena menangisi kepergian mereka namun ia menangisi dirinya kenapa tidak bisa mendapat kemuliaan itu tiap kali mendekatinya. Setiap kali ia mendapati cuplikan kisah istisyhadi dalam suatu rilisan maka engkau akan mendapatinya tenggelam dalam cuplikan itu, seakan-akan ia terputus dari dunia ini dan berpindah ke alam lain. Lalu ketika ia mendapati kesadarannya lagi, air matanya langsung menganak sungai sembari berkata: “Kapan kita bisa bergabung dengan kafilah ini?”

Jiwa istisyhadi yang mengaliri pembuluh darahnya dan memenuhi seluruh panca inderanya membuatnya selalu berusaha mencantumkan dirinya dalam daftar antrian istisyhadi. Namun tiap kali itu juga permohonannya ditolak lantaran ia adalah kader istimewa di wilayahnya.

Mereka berkata: “Kami membutuhkanmu”.

Ia balas berseru sembari air mata mengambang di pelupuk matanya: “Tapi aku ingin pergi. Aku sudah merindukan Rabbku!”

Sekalipun demikian ia tidak berputus asa. Hal itu tidak membuatnya condong kepada dunia namun semakin menambah kezuhudannya. Ia terus berusaha tak kenal lelah dan putus asa untuk mendidik kader yang akan menggantikannya. Ia curahkan seluruh pengalamannya sampai berhasil.

Setelah itu segera saja ia mendaftarkan namanya dalam antrian istisyhadi. Jangan tanyakan lagi betapa gembiranya ia ketika Allah mengabulkan permohonannya dan mendapati namanya tercantum dalam daftar emas itu, daftar orang-orang pilihan, insya Allah. Daftar yang dituliskan dengan pena kerinduan kepada Allah dan tinta darah yang suci.

Setelah hari itu semua hal tentang dirinya berubah total. Engkau tidak akan mendapatinya kecuali sedang bergembira. Allah telah menghapuskan kesedihan yang disembunyikannya jauh di lubuk hatinya. Air mata kepedihan yang membasahi tempat sujudnya berganti dengan air mata kegembiraan. Yang lebih aneh lagi hampir-hampir ia kehilangan kesabaran menunggu gilirannya. Setiap hari ia bertanya kepada para ikhwah siapa yang mau digantikannya. Tentu saja tidak ada satupun yang rela gilirannya mendapat surga yang seluas langit dan bumi diundur. Maka ia kembali memohon kepada Rabbnya: “Ya Allah segerakanlah, Ya Allah segerakanlah”.

Bagaimana Allah tidak mengabulkan permohonannya sedangkan niatnya jujur, demikianlah kami kira dan kami menyerahkannya kepada Allah. Sekalipun gilirannya belumlah tiba namun Allahlah yang menyegerakannya dan memilihnya. Operasinya dilaksanakan hanya seminggu setelah namanya tercantum dalam daftar emas itu. Mengetahui hal itu ia langsung tersungkur bersujud syukur. Jika seseorang ingin bertemu dengan Allah dan ia jujur lagi ikhlas maka Allah juga akan suka bertemu dengannya.

Ia mulai mempersiapkan dirinya untuk pertemuan dengan Ar Rahman dan para ikhwah yang telah mendahuluinya. Perilakunya mengungkapkan: “Akhirnya kata-kataku akan tertulis dengan darahku. Akhirnya aku akan menandatangani perjanjian penuh keuntungan ini, aku jual duniaku untuk ku dapatkan surga yang buah-buahannya mudah dipetik”.

Pada hari H ia mengunjungi seluruh ikhwah istisyhadi, yang dicintai dan mencintainya, untuk meminta maaf kepada mereka jika ada kesalahan yang tidak disengaja. Kemudian ia menyemangati mereka untuk tetap teguh pada jalan yang mereka tempuh dan jujur kepada Allah. Karena Dienullah tidak akan menang kecuali dengan pengorbanan.

Pada hari terakhirnya di dunia yang fana ini ia terlihat bergembira dan berbahagia. Wajahnya memancarkan cahaya tiap kali teringat bahwa beberapa jam lagi ia akan bertemu dengan Allah Azza wa Jalla. Ia paham bahwa Dienullah itu lebih mahal daripada ruh, darah dan jasad. Maka ruhnya pun lepas dan jasadnya tercerai berai namun aqidahnya tetap hidup.

Abu Bilal kembali ke Himsh sebagaimana yang dijanjikannya. Kami kira ia termasuk dalam sabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam: “Jika ia bersumpah atas nama Allah niscaya Allah akan mewujudkannya”.

Ksatria kita kembali dengan aliran darah dan potongan tubuhnya membakar hati orang-orang murtad sebagaimana mereka telah membakar hati kaum muslimin. Ksatria kita kembali dengan goncangan yang menjungkalkan peraduan mereka dan dengan jilatan api yang membakar jantung mereka. Diantara tulisan wasiatnya kepada istri dan saudara-saudaranya didapati tulisan berikut:

“Ya Allah, aku tidak meminta kepadamu bidadari ataupun istana. Aku hanya meminta agar diperkenankan melihat wajah-Mu yang mulia. Ya Allah, aku tidak meminta kecuali agar digolongkan dalam orang-orang yang Engkau tertawa kepda mereka. Ya Allah, sesungguhnya aku menyukai pertemuan denganmu maka pilihlah aku, berilah aku nikmatnya pergi dari dunia yang fana ini menuju kepada-Mu”.

Itulah kata-kata terakhirnya sebelum menghembuskan nafas terakhir. Yang terdengar setelahnya hanya suara ledakan bersamaan dengan tubuh yang tercerai berai dalam suatu amaliyah yang menggoncangkan rasa aman orang-orang murtad dan mengantarkan mereka menuju Jahannam. 

An-Naba’ Edisi 21

MUHAJIR AL-JAZAIRI, SEBAIK-BAIK PEMBAWA AL-QUR’AN ADALAH DIRIMU

MUHAJIR AL-JAZAIRI, SEBAIK-BAIK PEMBAWA AL-QUR’AN ADALAH DIRIMU

Tatkala ia akan berangkat, ia pun berhenti sejenak karena hendak meninggalkan para sahabat-sahabat terdekatnya di bandara. Lantas dia berkata kepada mereka, “Aku sekarang adalah seorang muhajir, dan dengan izin Allah aku akan bertemu dengan kalian di wilayah Daulah Khilafah untuk berperang bersama-sama, jika Allah mempermudah urusanku dan urusan kalian agar berangkat dan sampai ke medan perang, atau jika tidak maka tempat bertemu kita kita adalah surga jika Allah memberi rizki syahadah (mati syahid) kepadaku sebelum kalian.”

Tatkala kedua kakinya memijak bumi Khilafah, yang pertama kali ia kerjakan adalah masuk ke lembaran internetnya, agar bisa menulis sebuah ungkapan, “Allahu akbar.. impianku telah terwujud .”

Muhajir al-Jazairi adalah seorang pemuda berusia 29 tahun, merupakan yang paling muda usianya dari saudara-saudaranya yang lain. Ia pemuda yang murah senyum, sangat mudah meneteskan air mata, tidaklah kedengkian menemukan jalan untuk masuk ke relung hatinya, dan jika ia berselisih dengan saudara-saudaranya, maka ia pun memilih untuk diam. Tidaklah kalian akan mendengar darinya satu patah katapun pembelaan diri, dan apabila telah jelas dirinya yang salah kepada saudaranya, ia segera rujuk dan minta maaf tanpa ragu ataupun malu kepada saudaranya.

Dia merupakan seorang anak yang terdidik untuk dekat dengan masjid, seorang Hafizh Qur’an sejak dini. Muhajir menyempurnakan pendidikan di bangku universitasnya di Takhashush Syari’ah Islamiyyah Universitas Kharubah. Saat itu pula ia mengajarkan al Qur’an kepada 200 lebih penuntut ilmu di salah satu masjid. Melalui tangannya, lahir puluhan pemuda penghafal al Qur’an al Karim dengan hafalan yang sempurna. Ia juga menjadi imam Sholat Tarawih kaum muslimin di bulan Romadhon padahal umurnya masih muda sekali. Allah telah mengaruniakan hadiah kepadanya berupa kemampuan menghafal al Qur’an yang mulia, pun merdunya suaranya dalam melantunkan bacaan Qur’an tersebut.

Ia sendiri bekerja sebagai seorang pedagang, dengan menjual sembako. Dalam pandangan orang-orang di kotanya, ia adalah seorang pemuda yang jujur, menjaga amanah,dan bermu’amalah dengan baik kepada seluruh manusia. Bagaimana tidak, sedangkan ia adalah seseorang yang lembut, apabila berdagang, dengan lembut, dan apabila membeli pun pasti dengan lembut.

Hatinya terikat dengan jihad, meskipun banyak orang tidak suka dan merasa takut dengan tersebarnya aqidah salimah ataupun memperbincangkanya, lantaran rasa takut terhadap para thoghut dan aparat intelijen yang suka memberangus kaum Muslimin di al Jazair, namun Muhajir adalah seseorang yang memanfaatkan Rekreasi dan perkemahan-perkemahan untuk mendirikan muhadharah-muhadharah bagi para penuntut ilmu dan menceritakan kepada mereka tentang mujahidin, memperdengarkan nasyid-nasyid jihad yang membangun jiwa-jiwa kepahlawanan para mujahidin, agar nasyid-nasyid tersebut menjadi kesenangan rekreasi mereka dan saat-saat mereka berkemah, tidaklah ia berijtihad kecuali hasil-hasilnya sungguh akan berakibat baik.

Keinginannya adalah berada di medan-medan jihad, diantaranya keinginan pergi ke Iraq yang telah dimulai sejak satu dekade yang lalu. Akan tetapi, temannya yang mengatur perkara hijrahnya lebih dahulu tertangkap, maka hilanglah kesempatan Muhajir. Rasa sedih yang mendalam benar-benar menimpanya, sampai akhirnya Allah pun membuka pintu-pintu rahmatnya, setelah tegaknya Khilafah, dimana salah seorang pelajar penghafal Qur’an didikannya, lebih dahulu berhijrah menuju bumi Khilafah. Ketika muridnya ini telah sampai di bumi hijrah, diapun menghubungi Muhajir, guna membantu gurunya ini untuk berhijrah dan mengatur perjalanannya.

Saat itu Muhajir berniat untuk menikah, tapi ia tinggalkan karena waktu hijrah telah tiba. Dia pun pergi meninggalkan rumahnya dengan alasan ingin bertamasya yang tidak akan memakan waktu lama kepada orang-orang di sekitarnya, meski pada hakikatnya tujuannya adalah Daulah Khilafah. Ia pernah gagal berangkat hijrah selama dua kali, sangat sulit baginya untuk lolos dari pantauan keamanan para thoghut. Karenanya, dia mencoba berhijrah dan bergabung dengan Mujahidin untuk ketiga kalinya setelah 2 tahun menahan diri.

Berubah drastislah kehidupan Muhajir, seorang pemuda yang telah melupakan mimpi-mimpi masa depannya, bisnisnya, rumahnya, mobilnya, teman-temannya, pernikahannya. Benar-benar telah ia lempar dunia ke belakang punggungnya, jadilah dia orang mulia dengan keinginannya menjadi seorang mujahid yang berjuang membela agamanya agar kalimat Allah menjadi tinggi. Dengan kesabarannya, ia pun menjadi seorang Junud Khilafah.

Sesampainya, dia berada di salah satu rumah safe house, yang terhitung sebagai langkah-langkah awal masuknya setiap muhajirin ke bumi Khilafah. Disana, semua orang melihatnya sebagai seorang Muhajirin yang banyak menunaikan sholat, tidak berhenti beribadah, dan mushaf tak pernah terlepas dari tangannya, kecuali ketika dia hendak pergi tidur. Al Qur’anul Karim adalah sedekat-dekat teman di sisinya, bahkan sahabat yang ia tidak rela berpisah dengannya selamanya.

Waktu penantian di safe house pun berlalu hari demi hari, diapun melihat para pemuda sibuk menggerutu karena lambatnya waktu bagi mereka bergabung di kamp-kamp muaskar guna berlatih. Kewajiban mereka saat itu adalah menunggu sampai datangnya peran bagi mereka. Disaat yang lain hanya sebatas menunggu, Muhajir justru sibuk dengan dzikir kepada Allah dan membaca al Qur’an sebagaimana kebiasaannya.

Ketika telah dekat waktu bergabungnya dia dengan mu’askar syar’iy, semangatnya meluap-luap seakan-akan dia telah masuk ke dalam medan perang. Tekadnya melebihi tingginya awan, ia bak kesatria yang menaiki pelana kuda melaju cepat mendahului angin yang berhembus kencang.

Diantara pelatihan shobahiyyah (pagi hari) yang khusus di mu’askar syar’iy, adalah diwajibkannya peserta tadrib untuk menempuh jarak beberapa kilometer dalam hitungan beberapa menit, dengan tujuan secara khusus untuk menguji kecepatan, kekuatan dan ketahanan. Jarak latihan ini di setiap harinya bertambah dan waktu semakin dikurangi, dan itu merupakan tantangan besar dalam masalah waktu. Akan tetapi Muhajir termasuk orang yang selalu meraih juara tiga besar pertama, ia telah menyiapkan badan dan fisiknya untuk menghadapi latihan jenis ini sejak jauh-jauh hari. Sebelum hijrahpun ia termasuk perenang yang mahir, dan olahragawan yang baik.

Ia menjadi imam bagi teman-temannya ketika di mu’askar, oleh sebab kemahiran dan bagusnya bacaan al Qur’an-nya di dalam shalat, menjadikan makmum berharap agar ia memanjangkan bacaannya dan tidak menyudahinya kecuali sampai seluruh al Qur’an dibaca. Sering ia berhenti membaca ketika menjadi imam, karena ia banyak menangis saat shalat. Ia pun dipilih sebagai penanggung jawab untuk seluruh halaqah tahfizh al Qur’an yang terhitung sebagai pondasi-pondasi mu’askar syar’iy.

Dan di Mu’askarnya, yaitu Mu’askar Tadrib ‘Askariy yang penuh rintangan, kerap kali para amir mu’askar tadrib mengumpulkan peserta tadrib dan memberikan khuthbah atau memotivasi mereka agar senantiasa memberikan tambahan pengorbanan untuk agama ini, atau mengingatkan larangan dalam Dien, atau menasehati kelalaian mereka dalam latihan, mendengar itu Muhajir mulai menangis dengan kuat, dan ketika ia ditanya tentang sebab tangisnya, ia pun menjawab: “karena malu kepada Allah.”

Pada suatu hari, dia dan salah seorang peserta tadrib berseteru, padahal ia bukanlah orang yang menyukai pertikaian. Saat itu salah seorang ikhwah peserta tadrib marah kepadanya karena menolak untuk khuthbah jum’at ketika diminta. Muhajir waktu itu takut berkhuthbah di depan mujahidin, karena baginya para mujahidin jauh lebih baik darinya, padahal ia lebih berilmu dan lebih hafal al Qur’an dibanding mereka. Muhajir pun bingung dan tertunduk di hadapan peserta tadrib tersebut, lalu segera meminta maaf kepadanya, padahal ia tidaklah berbuat buruk kepada peserta tadrib itu. Akhiy Muhajir terus menerus meminta maaf kepadanya, sampai akhirnya al Akh tersebut menciumnya, meminta maaf kepadanya dan mereka pun saling berpelukan. Tidak ada hari selainnya yang mampu menyamai kebahagiaannya di hari itu.

Ia tergolong orang yang mahir dalam berbahasa ‘Arab dengan kaedah-kaedahnya, begitu juga halnya dalam ilmu syar’iy. Karena itulah ia ditetapkan sebagai seorang da’i dan pengajar saat pelatihan militer berakhir. Sungguh kebutuhan terhadap orang-orang semisalnya tidaklah sedikit.Dan bagi para mujahidin yang memiliki ilmu syar’iy, maka bagi mereka terdapat kedudukan.

Inilah orang-orang yang Khalifah Abu Bakr al Baghdadi Hafizhahullah seru untuk berhijrah ke bumi Khilafah, seperti para ulama’ dan para masyayikh, orang-orang yang terpandang dan orang selain mereka yang memiliki peran, keahlian, dan pelayanan-pelayanan mereka di bumi Khilafah dibutuhkan oleh kaum muslimin. Akan tetapi saat itu ia diperintahkan untuk pergi ribath dan andil dalam pertempuran-pertempuran dahulu, sebelum ia berkonsentarasi dengan tugas pentingnya yaitu di bidang dakwah dan pengajaran.

Ia pun bergabung di markas katibah/batalyon yang memang di kirim kepadanya. Persiapan pertama menjelang pertempuran telah selesai. Ketika datang waktunya mengumpulkan tulisan dan wasiat-wasiat setiap Junud di dalamnya, ia justru masih disibukkan dengan al Qur’an dan menyiapkan senjatanya.

Dia pun senang karena ayah dan ibunya sudah ridho kepadanya, padahal keduanya pernah mencela Muhajir lantaran safar dan tidak memberi kabar kepada keduanya, lantaran ia hendak pergi ke bumi jihad. Sekarang, keduanya mengabarkan bahwa mereka telah ridho, dan tempat bertemu kembali adalah surga, jika tidak, maka pertemuan mereka adalah di dunia ini.

Muhajir pun meminta teman-temannya agar merekam wasiat berupa audio, ia mewasiatkan agar kabar syahidnya sampai kepada keluarganya sebagai kabar gembira, dan dia ingin agar ibunya senang ketika mendengar kabar terbunuhnya. Dia juga berpesan agar rekaman tersebut dikirimkan segera dengan bagus, dan ibunya bahagia ketika ia syahid di sisi Rabbul ‘Alamin, Insyaa Allah. Ia pun senantiasa memperbanyak doa agar Allah menerima kesyahidannya, dan agar Allah mengizinkannya untuk memberikan syafa’at kepada ibu, bapak, saudara dan saudarinya serta teman-temannya.

Baru beberapa hari saja setelah dia sampai di medan pertempuran, Muhajir pun gugur oleh tembakan rudal pesawat Salibis, dengan kondisi jasadnya bertebaran lagi berceceran, hingga hampir-hampir tidak ada bekas yang bisa menunjukkan bahwa itu adalah jasadnya. Tubuhnya terpotong di jalan Allah, adapun ruhnya telah bersemayam dan berada tinggi di sisi Rabbnya. Tiada angan-angan dari sebuah jasad kecuali dia ingin kembali ke dunia agar dia terbunuh sekali lagi di jalan Allah, beginilah kami menilainya dan Allahlah sebaik-baik penilai.

Wahai Muhajir, wahai engkau yang telah meninggalkan orang terdekatmu seperti ibumu, bapakmu, dan saudara-saudaramu, senang dan bergembiralah dengan kemenangan yang engkau peroleh, dan kami meminta kepada Rabb kami yang tinggi agar Allah menerimamu di ‘Illiyyin, dan memberikanmu rizki surga yang kekal, dan mengganti pengantinmu di dunia dengan bidadari surga, ia lebih baik dari wanita di dunia ini.

An-Naba Edisi 17