Jumat, 27 April 2018

ABU BILAL AL HIMSHI, SUMPAHNYA DIWUJUDKAN OLEH ALLAH

ABU BILAL AL HIMSHI, SUMPAHNYA DIWUJUDKAN OLEH ALLAH

Dari media revolusi menuju media Khilafah, dan tempat pemberhentiannya adalah tembolok burung di bawah ‘Arsy Ar Rahman, beginilah penilaian kami terhadapnya, dan Allahlah sebaik-baik penilai.

Abu Bilal, pemuda berumur 24 tahun. Putra kota Himsh yang penuh dengan kebanggaan. Ksatria dan singa yang tak kenal takut di zaman dimana para ksatria amatlah sedikit. Tidak terpengaruh sama sekali dengan celaan para pencela. Lantang menyuarakan kebenaran ketika mulut-mulut dibungkam. Tidak ada orang yang mengenalnya kecuali pasti menyukainya. Dia tinggalkan dunia dan segala perhiasannya disaat pemuda kaum muslimin menjilat-jilat manisnya dunia. Ia pemuda yang unik. Hatinya penuh dengan kecintaan akan jihad. Jiwanya yang mulia menyembunyikan kerinduan pekat akan kesyahidan. Maka dicarilah olehnya kematian itu sampai bertemu Ar Rahman dalam kondisi yang paling mulia.

Semasa di Himsh Abu Bilal mempelajari ilmu-ilmu syar’i pada Ma’had Himsh sampai mendapatkan ijazah. Namun ijazah itu sama sekali tidak berarti baginya karena hasil dari kurikulum sufi asy’ari. Ia selalu mencari apa yang dicita-citakannya tapi ia belum berhasil mendapatknya, karena jalan menuju bumi jihad tidak terbuka dihadapannya.

Sampai pecahlah revolusi di Syam. Jadilah ia provokator bagi teman-temannya untuk memberontak atas rezim Nushairiyah.

Seruan silmiyah (perdamaian) dan pekikan demonstran sama sekali tidak membuatnya tertarik karena kehinaan takkan terangkat kecuali dengan hunusan pedang. Abu Bilal mulai memprovokasi teman-temannya untuk mengangkat senjata melawan tiran. Ia juga mengumpulkan bantuan yang diberikan kaum muslimin untuk penduduk Syam. Namun dana tersebut justru digunakannya untuk membeli senjata dan beri’dad untuk menghadapi thaghut ini.

Ia beraktivitas bersama dengan para oposisi rezim di bawah payung berbagai entitas yang mana mayoritasnya bertujuan hanya untuk melengserkan rezim. Kebanyakannya malah kembali surut ke belakang, terjerat dalam kesalahan yang sama yang dlakukan oleh faksi-faksi perlawanan yang terjatuh dalam jaring-jaring “konspirasi di hotel-hotel”. Sedangkan ia bertujuan untuk mengangkat bendera suci jihad fi sabilillah.

Pada masa itu peranannya adalah memanfaatkan dana bantuan untuk membeli senjata disamping juga digunakan untuk memberitakan penderitaan kaum muslimin yang terkepung di Himsh. Ia banyak berpolemik dengan media mainstream lantaran ia menyingkap kepalsuan klaim mereka. Pada saat itu para awak media mainstream memintanya menyembunyikan skandal Dewan Nasional Syiria (SNC) dan dewan-dewan lokal lain yang mempermainkan darah kaum muslimin.

Namun kejujuran dan kebersihan fitrahnya mencegahnya menuruti permintaan mereka. Sehingga dalam setiap kesempatan wawancara ia selalu membongkar kebusukan proyek dewan antek itu. Hal itu mengakibatkan media memintanya untuk menyingkirkan bendera tauhid yang selalu menjadi latar belakang dalam wawancara-wawancaranya. Tentu saja permintaan tersebut ditolaknya mentah-mentah sekalipun mengakibatkan ia tidak pernah menjadi narasumber lagi.

Suatu ketika ‘Ar’ur -tunggangan thaghut Alu Salul, yang telah menjual Diennya demi selembar dollar dan real- menghubunginya dan membujuknya untuk ikut serta memfitnah Daulah Islam, jika tidak maka aliran bantuan atas kelompoknya akan diputus. Sekalipun ia membutuhkan bantuan itu lantaran kondisinya yang terjepit ditengah kepungan rezim yang hampir-hampir tidak ada sesuatupun yang bisa dimakan, ia tolak mentah-mentah bujukan itu. Bahkan ia permalukan ‘Ar’ur dengan terang-terangan mengatakan jika ia bisa keluar dari kepungan ini hidup-hidup maka ia akan berbai’at kepada Daulah Islam dan memerangi siapapun yang memeranginya.

Dengan hati yang pedih dan jiwa yang tersayat ia tinggalkan Himsh setelah kota itu diserahkan secara cuma-cuma tanpa syarat kepada rezim Nushairiyah dalam perundingan yang difasilitasi PBB. Ia berjanji kepada Allah akan kembali sebagai penakluk. Saat itu ia nyatakan kata-katanya sembari mengacungkan telunjuk tauhid: “Jangan kalian kira kami tidak akan kembali. Kami akan kembali, dengan izin Allah, dengan aliran darah dan potongan tubuh yang akan membakar kalian. Maka tunggulah!”.

Abu Bilal Al Himshi berhijrah menuju Darul Islam disaat orang-orang yang bersamanya pergi menuju Turki hanya untuk mencari secuil dunia. Sekalipun jalan yang ditempuhnya sulit dan melelahkan, ia tetap teguh dan sabar menempuhnya. Sungguh berbeda jauh antara jalan yang penuh onak dan duri namun berakhir di surga dengan jalan yang lapang dan mudah namun berakhir ke Jahannam.

Ia memulai kehidupan barunya bersama para muhajirin dan anshar dalam naungan Daulah Islam. Ia mencintai saudara-saudaranya itu dan merekapun mencintainya lantaran kebagusan adabnya dan pembelaannya terhadap mereka. Abu Bilal menyingkirkan semua keterkenalan dan kilatan kamera para awak media untuk menjadi prajurit tersembunyi prajurit Khilafah. Ia tidak mempedulikan sama sekali ketidak-tahuan orang-orang atasnya. Cukuplah Rabbnya yang mengetahui dan memilihnya.

Ia terus melanjutkan kehidupannya sebagai mujahid media. Ia beritakan pertempuran-pertempuran yang dijalani Daulah kita ini agar menjadi kabar gembira bagi para muwahid dan kabar buruk bari musuh-musuh Allah.

Senjata dan kamera tak pernah lepas dari genggamannya. Dua benda itu adalah kecintaannya. Salah satu tangannya memegang senjata sedangkan lainnya memegang kamera untuk mengabadikan pertempuran. Demikanlah mujahid media kita ini. Ia tak pernah ketinggalan berada di front terdepan setiap pertempuran. Jika ada kabar gembira ia jugalah yang pertama kali memberitakannya. Namun ia tidak merasa cukup dengan itu. Kecintaan terhadap kesyahidan telah mengharu-biru di hatinya. Setiap saat ia terus berdoa: “Ya Allah, aku mohon kepadamu kesyahidan yang dengannya Engkau meridhoiku. Ya Allah ambillah darah dan serpihan dagingku sampai Engkau ridho”.

Para istisyhadi dan aksi-aksi mereka amat menggembirakannya. Ia selalu merekam wasiat-wasiat mereka. Tiap kali ia bertemu mereka air mata penyesalan mengambang di matanya, bukan karena menangisi kepergian mereka namun ia menangisi dirinya kenapa tidak bisa mendapat kemuliaan itu tiap kali mendekatinya. Setiap kali ia mendapati cuplikan kisah istisyhadi dalam suatu rilisan maka engkau akan mendapatinya tenggelam dalam cuplikan itu, seakan-akan ia terputus dari dunia ini dan berpindah ke alam lain. Lalu ketika ia mendapati kesadarannya lagi, air matanya langsung menganak sungai sembari berkata: “Kapan kita bisa bergabung dengan kafilah ini?”

Jiwa istisyhadi yang mengaliri pembuluh darahnya dan memenuhi seluruh panca inderanya membuatnya selalu berusaha mencantumkan dirinya dalam daftar antrian istisyhadi. Namun tiap kali itu juga permohonannya ditolak lantaran ia adalah kader istimewa di wilayahnya.

Mereka berkata: “Kami membutuhkanmu”.

Ia balas berseru sembari air mata mengambang di pelupuk matanya: “Tapi aku ingin pergi. Aku sudah merindukan Rabbku!”

Sekalipun demikian ia tidak berputus asa. Hal itu tidak membuatnya condong kepada dunia namun semakin menambah kezuhudannya. Ia terus berusaha tak kenal lelah dan putus asa untuk mendidik kader yang akan menggantikannya. Ia curahkan seluruh pengalamannya sampai berhasil.

Setelah itu segera saja ia mendaftarkan namanya dalam antrian istisyhadi. Jangan tanyakan lagi betapa gembiranya ia ketika Allah mengabulkan permohonannya dan mendapati namanya tercantum dalam daftar emas itu, daftar orang-orang pilihan, insya Allah. Daftar yang dituliskan dengan pena kerinduan kepada Allah dan tinta darah yang suci.

Setelah hari itu semua hal tentang dirinya berubah total. Engkau tidak akan mendapatinya kecuali sedang bergembira. Allah telah menghapuskan kesedihan yang disembunyikannya jauh di lubuk hatinya. Air mata kepedihan yang membasahi tempat sujudnya berganti dengan air mata kegembiraan. Yang lebih aneh lagi hampir-hampir ia kehilangan kesabaran menunggu gilirannya. Setiap hari ia bertanya kepada para ikhwah siapa yang mau digantikannya. Tentu saja tidak ada satupun yang rela gilirannya mendapat surga yang seluas langit dan bumi diundur. Maka ia kembali memohon kepada Rabbnya: “Ya Allah segerakanlah, Ya Allah segerakanlah”.

Bagaimana Allah tidak mengabulkan permohonannya sedangkan niatnya jujur, demikianlah kami kira dan kami menyerahkannya kepada Allah. Sekalipun gilirannya belumlah tiba namun Allahlah yang menyegerakannya dan memilihnya. Operasinya dilaksanakan hanya seminggu setelah namanya tercantum dalam daftar emas itu. Mengetahui hal itu ia langsung tersungkur bersujud syukur. Jika seseorang ingin bertemu dengan Allah dan ia jujur lagi ikhlas maka Allah juga akan suka bertemu dengannya.

Ia mulai mempersiapkan dirinya untuk pertemuan dengan Ar Rahman dan para ikhwah yang telah mendahuluinya. Perilakunya mengungkapkan: “Akhirnya kata-kataku akan tertulis dengan darahku. Akhirnya aku akan menandatangani perjanjian penuh keuntungan ini, aku jual duniaku untuk ku dapatkan surga yang buah-buahannya mudah dipetik”.

Pada hari H ia mengunjungi seluruh ikhwah istisyhadi, yang dicintai dan mencintainya, untuk meminta maaf kepada mereka jika ada kesalahan yang tidak disengaja. Kemudian ia menyemangati mereka untuk tetap teguh pada jalan yang mereka tempuh dan jujur kepada Allah. Karena Dienullah tidak akan menang kecuali dengan pengorbanan.

Pada hari terakhirnya di dunia yang fana ini ia terlihat bergembira dan berbahagia. Wajahnya memancarkan cahaya tiap kali teringat bahwa beberapa jam lagi ia akan bertemu dengan Allah Azza wa Jalla. Ia paham bahwa Dienullah itu lebih mahal daripada ruh, darah dan jasad. Maka ruhnya pun lepas dan jasadnya tercerai berai namun aqidahnya tetap hidup.

Abu Bilal kembali ke Himsh sebagaimana yang dijanjikannya. Kami kira ia termasuk dalam sabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam: “Jika ia bersumpah atas nama Allah niscaya Allah akan mewujudkannya”.

Ksatria kita kembali dengan aliran darah dan potongan tubuhnya membakar hati orang-orang murtad sebagaimana mereka telah membakar hati kaum muslimin. Ksatria kita kembali dengan goncangan yang menjungkalkan peraduan mereka dan dengan jilatan api yang membakar jantung mereka. Diantara tulisan wasiatnya kepada istri dan saudara-saudaranya didapati tulisan berikut:

“Ya Allah, aku tidak meminta kepadamu bidadari ataupun istana. Aku hanya meminta agar diperkenankan melihat wajah-Mu yang mulia. Ya Allah, aku tidak meminta kecuali agar digolongkan dalam orang-orang yang Engkau tertawa kepda mereka. Ya Allah, sesungguhnya aku menyukai pertemuan denganmu maka pilihlah aku, berilah aku nikmatnya pergi dari dunia yang fana ini menuju kepada-Mu”.

Itulah kata-kata terakhirnya sebelum menghembuskan nafas terakhir. Yang terdengar setelahnya hanya suara ledakan bersamaan dengan tubuh yang tercerai berai dalam suatu amaliyah yang menggoncangkan rasa aman orang-orang murtad dan mengantarkan mereka menuju Jahannam. 

An-Naba’ Edisi 21

Tidak ada komentar:

Posting Komentar